Bu Lim Tiap 03 – Tamat

Bu Lim Tiap (Pusaka Rimba Hijau)

Dituturkan Oleh : TSE YUNG

SCAN IMAGE : Lunjuk’s Corner dan Arman

DjVU : Dewi KZ

JILID III

“Nah, sejak hari ini kau harus turut denganku dan mendengar kata2ku, kuyakin kau akan memperoleh banyak kemajuan,” kata Kiu Heng.

“Bagus! Aku berusia tujuh puluh tahun mengangkat guru seorang bocah yang masih ingusan dan berbulu seperti monyet. bukankah hal ini akan menjadi berita yang menggemparkan dunia Bu Lim. Siluman monyet, kau jangan mengimpi, kau…..”

Ia tidak melanjutkan kata2nya, tangannya keluar dan ditotokkan dengan perlahan, inilah ilmu yang luar biasa dari dunia persilatan yang bernama Pit Kiang Tiam Hiat (menotok terhalang tembok), tahu2 Kiu Heng kena tertotok urat gagunya, sehingga diam saja tidak bisa menjawab ejekan si orang tua.

To Pei Lojin sengaja mempertunjukkan kepandaiannya ini dengan tujuan mematikan kecongkakan dan keangkuhan Kiu Heng, agar di kemudian hari tidak menderita kerugian dari sifat buruknya itu.

Kiu Heng merasa gusar tak alang kepalang, pedangnya dihunus untuk mengadu jiwa mati2an. To Pei Lojin tetap duduk tak bergerak begitu ia melihat si pemuda menghampiri, lengannya kembali menotok, membuat Kiu Heng seperti patung, tinggal matanya melarak-lirik dengan gusar tanpa bisa berbuat sesuatu apa.

“Kepandaianku sudah cukup sempurna, kenapa kena totok tidak berdaya untuk memecahkannya?” pikir Kiu Heng,

“Kalau si bungkuk ini tidak bermain sihir pasti menggunakan ilmu menotok Pit Kiang Tiam Hiat yang lihay luar biasa. Ilmu ini menurut suhu sudah hilang dari dunia persilatan, kenapa bisa dimiliki si bungkuk ini?”

Dengan wajah serius To Pei Lojin berkata: “Bocah, kau harus tahu dunia ini luas dan mengandung berbagai keanehan, orang2 berilmu tinggi tidak terhitung jumlahnya, dengan kepandaianmu yang tidak seberapa, segera menganggap diri sangat lihay, akibatnya bisa mencari binasa sendiri. Sadarlah, gunung yang tinggi masih ada yang tinggi! Ilmu dan pelajaran tidak habis untuk dipelajari! Sudah beberapa kali aku mencoba kepandaianmu dan tabiatmu, dan yakin kau adalah bibit yang baik untuk dipupuk! Aku sudah tua dan mengharap mencari seorang murid guna mewariskan kepandaianku. Bocah, kalau kau mendengar kata2ku yang kuucapkan sejujurnya ini, kau bisa menjadi seorang yang berguna di kemudian hari.”

Sehabis berkata si orang tua menggoyangkan lengannya, Kiu Heng terbebas dari totokan, cepat ia bertekuk lutut di hadapan To Pei Lojin, kedua matanya berlinang air mata haru, kepalanya tunduk, seperti menyesal sekali.

“Anak yang baik, kutahu kau seorang murid yang berbakti pada gurumu yang terdahulu. Karena itu akupun tidak mau mempersukar dirimu. Kalau kau tidak memandang hina kepadaku, boleh kau memanggil Giehu atau Kan-tia (ayah angkat) pada diriku !”

Kiu Heng terharu, tanpa disuruh kedua kali Ia berkata: Gihu! terima hormat anakmu!”

“Kiu Heng menghormat pada diriku dan mengakui aku sebagai Giehu,” kata si orang tua sambil memimpin bangun, “tapi aku belum mengetahui namamu, bukankah hal yang lucu? Kan jie-cu (anak angkat) sebutkanlah namamu!”

“Kiu Heng!”

“Bagus,” jawab To Pei Lojin, “sedangkan kau pun harus tahu, aku she Siauw nama Siong, bergelar Tohiap (pendekar bungkuk). Kini aku berusia berapa, aku sendiri lupa menghitungnya, ya kira2 tujuh puluh tahun lebih!”

Siauw Siong tertegun sejenak sambil ber-batuk2, parasnya menunjukkan tengah terpekur, per-lahan2 Ia bertanya: “Menurut namamu yang demikian ganjil, mungkin kau hidup mempunyai sakit hati yang hebat, kuharap kau bisa menuturkan, agar kubisa membantumu memecahkan kesulitan ini!”

Kiu Heng ragu2 sejenak, achirnya menceriterakan kejadian waktu kecilnya, dengan jujur dan jelas.

“Baiklah! Nanti aku men-dengar2 siapa pembunuh diri ayahmu dan keluargamu itu!’ kata Siauw Siong.

“Atas bantuan Giehu, aku mengucapkan terima kasih, tapi biar musuh itu berkepala tiga dan bertangan enam, harus beres di tanganku sendiri!”

“Oh, sudah pasti!” jawab Siauw Siong.

Lengannya merogo saku mengeluarkan semacam benda yang bercahaya dan diserahkan kepada Kiu Heng. “Kini kau sudah menjadi anak angkatku, terimalah pemberianku ini sebagai tanda mata.”

“Ah!” seru Kiu Heng terkejut karena ia mengenali benda itu.

“Bukankah ini yang dinamakan Sam-cun-giok-cee? Dari mana Giehu mendapatkannya?”

“Kau tentu ingat kejadian di Pek Tio Hong, dari salah seorang yang kau binasakan, aku mendapatkan benda ini!” jawab Siauw Siong.

Kiu Heng terdiam meng-ingat2.

“Kalau begitu, salah seorang di antara mereka adalah pencuri Sam-cun-giok-cee dari Pek-bu-siang Siang Siu, kini ia sudah binasa, bebanku menjadi ringan!” kata Kiu Heng seraya menuturkan pesan2 dari Pek-bu-siang.

“Aku mengenal Pek-bu-siang maupun Ang Hoa Kek,” kata Siauw Siong, “mereka merupakan tokoh2 Kang Ouw yang aneh dan sudah lama mengasingkan diri, tak kira kedua2nya sudah meninggal dunia!”

Mereka tertegun sejenak, keadaan menjadi sunyi: “Fajar hampir menyingsing, kau masih memakai pakaian malam, mari kita pulang,” kata Siauw Siong.

Dengan secepat kilat mereka turun dari atas gunung, Kiu Heng bermalam di sebuah hotel yang bernama Huay Yang Lauw, sedangkan Siauw Siong baru beberapa hari dalang di Hang Ciu, ia belum mempunyai tempat tinggal yang tetap, kini ia mengikuti ke tempat, bermalamnya si anak.

Malam berganti siang, mereka tidak tidur lagi, melainkan duduk bersemadi menjalankan pernapasan untuk menghilangkan seluruh kelelahannya.

Tengah hari Kiu Heng dan Siauw Siong pergi belanja, mereka membeli baju2 yang indah dan menanggalkan bajunya yang buruk, sehingga ayah dan anak angkat seperti seorang saudagar kaya raya saja. Dengan pakaian yang ganteng, mereka pesiar beberapa hari di telaga See Ouw dan aksi2an, sambil makan dan minum sepuas2nya.

Malamnya mereka tidur sekamar. Sewaktu kentongan berbunyi tiga kali, tiba2 Siauw Siong berbalik badan dan turun dari ranjang, Kiu Heng pun mengguling tubuh mengikuti turun.

“Ha, ada apa?”

“Di genteng ada orang,” bisik Siauw Siong dengan perlahan.

“Kenapa aku tidak mengetahuinya?” kata Kiu Heng dengan heran.

“Karena kurang pengalaman dan latihan, semalaman suntuk kau tak tidur, sampai ada orang di atas genteng tidak mengetahuinya! Bagaimana jadinya kalau pendatang itu untuk menuntut balas, bukankah kau akan dicelakakan dengan mudah?”

Kiu Hong merasa jengah, wajahnya merah, untung waktu malam, sehingga tidak terlihat Siauw Siong.

“Yang datang hanya seorang!” kata Siauw Siong.

Kiu Heng manggut menyusul kakinya menotol bumi dan mencelat keluar melalui jendela. Sesampainya di atas, ia tidak melihat bayangan maupun sesuatu yang mencurigakan.

“Jangan2 Giehu sudah pikun, pendengarannya tak tajam lagi!’ pikir Kiu Heng.

Sebelum ia turun, berkelebat sesosok bayangan hitam yang cepat sebagai meteor! Tahu2 di depan mukanya berdiri seorang pemuda ganteng.

“Kau menyusahkan diriku saja, lekas kau keluarkan barangmu!” kata si pemuda dengan aseran.

“Aku tidak berhutang maupun meminjam barangmu, apa yang harus kukeluarkan?”

“Apakah kau tidak mengerti?”

“Bertanya pada dirikukah?”

“Ya, kalau tidak pada siapa?”

“Aku tak mengerti!”

“Kau jangan berlagak pilon! Lekas kau keluarkan kotak Bu Lim Tiap, perkara menjadi beres. Bilamana tidak jangan sesalkan aku berlaku kurang ajar!”

Kiu Heng baru sadar pemuda itu menjadi Bu Lim Tiap.

“Kenapa ia bisa tahu, aku memiliki Bu Lim Tiap?” pikirnya.

“Apakah kau tetap bersikap keras tak mau menyerahkan?” desak si pemuda.

“Di dunia hanya ada perampok yang memaui barang orang dengan kekerasan, kau manusia macam apa berani berlaku keras padaku?”

“Aku Gui Wie, putera dari Pek-tok-thian-kun bagaimana?” jawab si pemuda.

“Ku kira siapa, kiranya puteranya binatang beracun!”

“Kau sudah dijadikan musuh seluruh kaum Bu Lim, berani betul memaki pemegang Bu Lim Tiap, sudah bosan hidupkah?”

“Segala binatang beracun, dimaki apa salahnya, bilamana kau masih gila2an, aku pun bisa memakimu!”

Pemuda itu menjadi gusar dengan cepat, Ia mengebut kepada mata Kiu Heng memakai jurus Tek Cee Kie Goat (memetik bintang meraih bulan).

Dikata cepat memang cepat, begitu Kiu Heng mengegos, serangan Gui Wie mengenai angin. Ia penasaran, tapi sebelum bisa memberikan serangan susulan, punggungnya merasakan angin dingin, sehingga menjadi terkejut. Untung ia bukan manusia biasa, kakinya menotok genteng dan mencelat beberapa tombak dengan ilmu Goan Yau Ca Liu (membungkukkan tubuh menancapkan pohon liu).

Gui Wie yang muda berpenyakit memandang ringan kepada musuh, akibatnya hampir menderita kerugian besar. Kini Ia tak berani ber-lambat2an lagi begitu turun, lengan bajunya mengebut lagi, tahu2 ia sudah menghunus pedangnya. Dengan cepat melakukan penyerangan deras ke arah dada musuhnya.

Kiu Heng pun menghunus pedangnya, dengan cepat diputarkan, sehingga serangan musuhnya kembali kandas! Gui Wie menjadi cemas atas serangan2nya yang gagal, keringatnya mengucur deras, ia sadar bukan menjadi tandingan si pemuda cepat2 mencelat keluar gelanggang.

“Jangan bertarung sudah, aku mengaku kalah!” serunya.

Kiu Heng merasa heran kepada pemuda itu.

“Kau yang mengajak berkelahi, kini kau pula yang mengajak sudahan,” pikirnya.

“Aku memukulmu dan menggertakmu dengan aseran, tak lain untuk me-nakut2i saja, sekadar mencoba ketabahan dan ilmu kepandaianmu!” kata Gui Wie.

“Aku tak menginginkan kotak Bu Lim Tiap milikmu, tapi menginginkan persahabatan denganmu!”

Kiu Heng diam tidak menjawab seketika lamanya.

“Apakah kau sudah memakan obat bisu sehingga tidak mau bicara?”

“Aku heran atas kelakuanmu yang tidak keruan. Kau harus tahu, ayahmu adalah musuhku dan kubenci dengannya, kenapa kau ingin bersahabat denganku?”

“Lain bapak lain anak!” jawab Gui Wie dengan tegas.

”Aku menghormati mendiang gurumu yang jujur dan baik budi. Di samping itu aku tidak senang atas kelakuan ayahku yang tidak patut, karena itulah aku meninggalkan rumah secara menggelap untuk mengabarkan kepadamu soal bahaya yang mengancam jiwamu! Kau harus tahu ayahku sudah membagikan selebaran ke seluruh dunia persilatan dan menitahkan mereka mencarimu dan membunuhmu, sebab kau sudah dijadikan musuh bersama kaum Bu Lim atas tindakanmu yang tidak menghargai Bu Lim Tiap.

Kiu Heng meng-angguk2kan kepala.

“Pedangmu itu terlalu menyolok dan mudah dikenali, sebaiknya kau simpan saja terlebih rapi!”

“Terima kasih atas kebaikanmu, lain kali kita bertemu pula!” kata Kiu Heng.

Sambil merangkapkan kedua tangannya, Gui Wie segera berlalu dengan cepat.

Begitu Kiu Heng kembali ke kamar, Siauw Siong segera berkata:

“Apa yang kamu ucapkan sudah kudengar, sesungguhnya kota Hang Ciu terlalu ramai dan bukan merupakan tempat yang baik untuk ditinggali terus!”

“Tia, mengandalkan kepandaianmu dan kepandaianku, mungkinkah takut pada Pek Tok Thian Kun?”

“Bukan soal takut pada Pek Tok Thian Kun, tapi ia sudah menyebarkan undangan pada berbagai golongan Bu Lim untuk memusuhi dirimu! Kau boleh merasa tak takut tapi harus ingat, di luar langit masih terdapat langit. Dapatkah kau menghadapi mereka yang berjumlah banyak? Barusan kumendengar soal Bu Lim Tiap, benar2kah kau memilikinya?

“Ah, ini kesalahanku, sampai lupa memberi tahu pada Giehu,” kata Kiu Heng sambil mengeluarkan Bu Lim Tiap dari dalam sakunya.

“Ah, ini adalah Bu Lim Tiap yang sesungguhnya. Sewaktu kukecil, pernah melihat Sucou memegang Bu Lim Tiap ini. Dari mana kau dapat?”

Kiu Heng menuturkan bagaimana didapatnya pusaka rimba hijau itu.

“Heng-jie, dengan kepandaianmu yang sekarang ini belum cukup kuat untuk melindungi Bu Lim Tiap dari rongrongan kaum Bu Lim yang menghendakinya!”

“Habis harus bagaimana?”

“Untuk sementara kita harus menyingkir dari dunia yang ramai dan harus mengumpet dulu. Bukan berarti takut, tapi untuk melatih diri terlebih lihay! Kau mungkin tahu Kay-hiap sedang dihukum di Tay San, tak halangannya kita ke sana! Bagaimana? Apa kau setuju?”

“Aku menurut pada Giehu!” jawab Kiu Heng.

***

Sementara itu kita menengok kepada Cui-jie dan Ping Ping yang meninggalkan Pek Tio Hong. Sepanjang jalan mereka bergurau dan mengobrol dengan asyik, sehingga tidak merasa sepi.

Pada suatu hari, Cui-jie mengingat gurunya pernah mengatakan, bilamana ada waktu ia akan merantau lagi di dunia Kang Ouw, tempat pertama yang akan dikunjungi adalah Bu Kong San di Kiang Say. Karena itulah mereka menuju ke sana untuk menemukan Na Wan Hoa.

Beberapa bulan kemudian mereka tiba di Tie-cui di Propinsi An Hui, lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu menuju Kiang Say.

Perahu yang mereka pakai tidak terlalu besar, tapi cukup menyenangkan, se-olah2 mereka tengah piknik di atas air untuk menikmati pemandangan alam.

Beberapa hari kemudian tiba di sebuah pelabuhan kecil yang bernama Tang Liu Sian. Sebelum perahu bisa melanjutkan perjalanan, angin besar dan keras menghalangi perjalanan. Mereka terpaksa berdiam beberapa hari menantikan angin reda. Penumpang2 banyak yang mendarat untuk mencari hiburan dan jalan2.

“Adik Ping, kenapa kau tampaknya lesu dan lemas?” tanya Cui-jie.

“Angin sangat besar, perahu ber-goyang2, entah bagaimana kepalaku menjadi pening dan ingin muntah2!” jawab Ping Ping.

“Sebaiknya kita mendarat beristirahat sambil membeli obat, bagaimana?”

“Aku tak bisa berjalan lagi, kepalaku bukan main peningnya.”

“Baiklah, kau tunggu sebentar, aku akan mencari obat untukmu,” kata Cui-jie seraya mendarat, sehingga di atas perahu tertinggal jurumudi dan Ping Ping berdua.

Belum lama Cui-jie pergi, angin keras tiba2 menyampok, air bergelombang dahsyat, tali pengikat perahu menjadi putus di-koyak2 angin yang menggila. Si pengemudi perahu mencoba sekuat tenaga mempertahankan perahunya, tapi kekuatannya sangat terbatas, ia kena disampok ombak dan jatuh ke air, sehingga perahu terombang-ambing.

Sedangkan Ping Ping yang tengah mabuk kapal dan pening menjadi pingsan lupa daratan.

***

Menurut tukang2 perahu yang sering melintasi pulau Ce Cu To, menganggap sebagai pulau iblis yang menakutkan. Setiap kali kapal atau perahu yang terkena angin ribut pasti tersampok ke pulau itu. Se-olah2 pulau itu sebagai juga kawa2 yang berjaring kuat, sedangkan perahu2 dan kapal2 merupakan korban2 dari kawa2 itu. Karena itulah pulau ini bernama Cee Cu To.

Di atas pulau itu terdapat gunung yang indah dan permai. Anehnya, setiap kali hujan lebat dan angin dahsyat bergelombang tinggi, dari puncak gunung itu sering terdengar irama merdu yang menawan hati.

Dalam anggapan tukang2 perahu yang sederhana, suara itu dianggapnya sebagai nyanyian dewa. Banyak juga di antara tukang2 perahu yang bernyali besar datang ke atas pulau sewaktu terjadi malapetaka atas diri kawan2nya dan sanak saudaranya, guna menolong. Sayang sekali, setiap yang pergi belum pernah terlihat pulang, lama kelamaan penduduk yang mencari nafkah sebagai nelayan atau tukang perahu, menganggap dewa yang berdiam di gunung itu sangat gusar dan sengaja menghukum orang-orang ini, sebagai peringatan jangan berlaku gegabah lagi berani datang menyatroni tempat kediamannya.

Kini Ping Ping yang malang berada di dalam perahu dan terhempas ke atas pulau itu. Sewaktu siuman, ia merasa heran berada di atas perahu yang kandas di tepi pulau. Ia merasakan peningnya sudah hilang. Tanpa mengenal takut ia turun dari perahu itu sambil memandankan matanya keempat penljuru.

Saat ini ia baru ingat pada Cui-jie, dan mengingat dirinya yang malang, sehingga air matanya bercucuran.

Saat ini hari hampir malam, Ping Ping kembali ke perahunya mencari sisa makanan Kala malam mendatang, angin ribut men-jadi2 lagi, kilat meng-gelugur2, perahu tergoyang2 dibuatnya.

Ping Ping takut kalau2 angin ribut itu membawa lagi perahunya ke tengah lautan, cepat2 ia naik ke darat. Lalu berlari-larian ke atas gunung. Ia dibesarkan di atas gunung, dengan sendirinya sudah merasa biasa berjalan di tempat yang sukar untuk orang biasa.

Tiba2 ia terhenti sejenak, karena mendengar irama seruling yang tajam dan merdu.

“Untung terdapat orang, aku bisa bermalam juga,” pikirnya tanpa curiga barang sedikit pun.

Ia menelusuri jalanan yang ber-liku2 menuju ke atas. Untung hujan sudah berhenti sehingga sinar bulan yang terang keluar menerangi jagat, atas bantuan sinar yang redup ini, Ping Ping melanjutkan perjalanan terus.

Semakin lama jalanan semakin lebar, di kiri kanan terlihat tengkorak2 manusia berserakan.

Ia terkesiap ketakutan. Tubuhnya menggigil, kakinya menjadi lemas. Ia jatuh duduk sambil memeramkan mata.

Keadaan menjadi sunyi, keresekan pohon dan air berkerucukan terdengar tegas, waktu berlalu tanpa terjadi apa2.

Ping Ping memberanikan diri membuka mata, dengan hati ber-debar2 Ia mengawasi tengkorak2 yang berjumlah besar itu. Anehnya, di samping tengkorak2 itu terdapat juga emas2 balokan yang besar2. Tengkorak2 itu setiap tangannya memegang harta itu erat2 sampai matinya.

Ping Ping seorang gadis yang tidak tertarik kepada segala emas intan, melihat harta yang berserakan itu, sedikitpun tidak menggoncangkan hatinya.

“Emas2 ini diambil orang tapi tidak bisa dibawa pergi, pasti mengandung racun yang maha dahsyat! Agar orang2 yang berani datang kemari dan kemaruk harta2 menjadi mati konyol,” pikirnya.

Lalu Ia berdiri dan meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.

Tiba2 dari balik batu terlihat seorang yang tengah borjongkok, kedua lengannya memegang kepalanya yang sudah berambut putih, ia tengah menangis dengan menyedihkan. Ping Ping tergerak, ia menghampiri kepada orang tua itu.

“Popo (nenek), kenapa kau menangis di malam hari, siapa yang mengganggumu?” tegurnya.

Agaknya si orang tua sangat tajam pendengarannya. Begitu kaki Ping Ping mendekati, Ia sudah bangun, matanya memancarkan sinar tajam. Orang tua itu seperti gusar. Ping Ping tidak kenal gelagat. Ia tersenyum manis pada si nenek.

“Kau datang dari mana?” tegur si nenek dengan galak.

“Aku mendapat nasib malang, naik perahu terkena topan dan terdampar kemari!”

“Kau murid siapa, menghantarkan kematian ke sini?”

“Kenapa kau mengatakan demikian, aku adalah orang malang. mati hidup tidak kupikirkan. Mengenai siapa aku, tak perlu kau tahu!”

Ping Ping mengatakan demikian karena berpikir tengah menghadapi orang jahat.

“Dilihat dari parasmu belum terlihat tanda mati, kenapa datang kemari. Apakah kau tidak melihat tengkorak2 yang berserakan itu?” kata si nenek terlebih lunak.

“Sudah kukatakan aku datang karena mengalami kecelakaan, bila tidak aku pun tidak mau datang kemari! Kini hari sudah malam, begitu siang tanah dan ada perahu yang lewat, aku akan pergi meninggalkan pulau yang menyeramkan ini!”

“Aku tak percaya, kau pasti menghendaki emas dan harta2 dari pulau ini!”

“Harta2 itu di pandangan mataku tak ubahnya dengan kotoran yang menjijikkan. Percayalah padaku, aku datang karena menderita kesialan!”

“Kini kau sudah datang kemari, kematian berada di depan mata, karena itu sebelum kau mati, kau harus mengerti agar mati dengan puas!”

Sehabis berkata, si nenek tua segera mengajak Ping Ping menuju sebuah terowongan tanah yang lebarnya beberapa tombak.

“Hai, anak gadis, apa yang kau lihat tak perlu merasa heran dan jangan berkata. Jika tidak, dirimu segera mati seketika juga.”

Ping Ping merasa heran, tapi Ia sebal dan tidak mau banyak bicara, sesudah menjawab “Ya” segera mengikuti si nenek.

Per-lahan2 dari dalam terowongan itu terdengar bunyi air yang berkerucuk, lalu terdengar pula suara angin yang masuk, disusul suara tajam seruling. Sebenarnya bukan seruling, tapi lubang2 terowongan yang berliang terkena tiupan angin sehingga bersuara seperti seruling.

Suaranya demikian keras dan terdengar jauh.

Segala yang dialami ini membuat Ping Ping heran, tapi Ia tidak mau bertanya, karena sudah dipesan si nenek.

Sesudah melalui terowongan yang aneh, di depan terlihat sebuah kolam yang bening dan jernih, di tepian kolam penuh dengan pohon teratai yang berbunga lebat. Wewangian harum semerbak menerjang hidung, keindahan alam luar biasa, seumur hidupnya Ping Ping belum pernah melihat keadaan yang demikian mempesona, tanpa terasa ia diam sejenak menikmati keindahan ini.

Tengah asyiknya ia menikmati keindahan itu, tiba2 mendengar suara seorang perempuan yang halus dan merdu.

“Hei anak gadis, kau datang dari mana?”

Ping Ping celingukan, Ia tidak melihat siapa2 terkecuali si nenek yang cuci kaki di tepian kolam. Ia heran dan bingung, tahu2 di tepian telinganya mendengar lagi suara tadi.

“Hei anak gadis, kau datang dari mana?”

Ping Ping kaget dan bertambah bingung, pikirnya kini bukan berada di dunia lagi, pasti di suatu tempat dewa atau bangsa roh2 berada. Karena ada suara tanpa terlihat wujud merupakan hal yang terlalu gaib untuknya.

“Mungkinkah yang bicara itu setan?” pikirnya.

Tapi ia tidak menjawab pertanyaan itu hanya meng-angguk2an kepala.

“Anak gadis, kau jangan takut, aku menggunakan suara Cian Li Toan Im (berkata dan terdengar ribuan li). Kau tentu tak akan melihat aku, sebaliknya aku dapat melihatmu dengan tegas.”

Ping Ping hampir2 berkata, Tapi keburu dicegah si nenek tua.

“Kau tidak boleh berkata-kata, sebab bisa dipagut ular2 berbisa dan mati seketika.”

Ping Ping menarik lagi kata2nya yang sudah sampai dikerongkongannya.

Si nenek cepat menarik lengan Ping Ping dan dibawa lari dengan cepat. Ping Ping hanya mendengar suara angin keras berkesiur di telinganya dan terasa pedih mukanya. Sebelum Ia bisa membuka mulut, si nenek sudah berkata: “Sudah tiba!’

Tampak sinar terang berkilas di depan mata, Ping Ping tahu tadi masih malam dan terlihat bulan, kenapa tahu2 sudah menjadi siang?

Sewaktu matanya mengawasi sekeliling, kembali ia terpesona oleh keindahan alam. Pohon2 bunga banyjak terlihat di sekelliing lereng gunung. Pohon2 besar yang sudah berusia tua penuh meneduhi sekeliling. Daunnya yang hijau bergoyang tertiup angin, sedangkan wewangian terendus lebih harum lagi dari yang pernah dilihatnya.

Saat ini Ping Ping merasakan otaknya menjadi bening dan segar, napasnya lapang, sesuatu kerisauan seperti tersapu bersih dari kalbunya melihat taman indah yang seperti di kahyangan adanya.

Di tengah2 pohon2 bunga yang menebarkan harum terlihat sebuah gedung indah serupa mahligai. Pintunya terbentang lebar, di dalam ruangan terlihat perabotan yang indah2. Dinding2 bersinar terang dan berkilauan karena bertatahkan mutu manikam. Tiang2 rumah yang terbuat dari emas murni berkelerep-kelerep dengan angkernya.

Ping Ping menggigit jarinya. Ia ingin mengetahui benar2 masih hidupkah atau sudah berada di alam baka?

Ia merasakan sakit dan percaja masih hidup di dunia yang fana ini.

Si nenek dengan laku hormat, membungkuk ke hadapan mahligai, sesudah itu membisiki telinga Ping Ping:

“Di hadapan majikanku, kau jangan banyak bicara, sebab beliau sedang risau terus2an. Asal kau tidak menyenangkan dirinya pasti akan dibunuh mati.”

Setelah itu ia membuka mulut ke dalam.

“Cujin, ada tamu dari tempat jauh!”

“Aku sudah tahu!” jawab dari dalam.

“Silahkan bawa masuk!”

Ping Ping mengenali suara itu adalah yang tadi bertanya.

Si nenek segera membawa Ping Ping ke dalam mahligai yang mentereng.

Di tengah ruangan terdapat kursi yang mengkilap, di situ duduk seorang wanita pertengahan umur yang berpakaian putih.

Ping Ping membungkukkan tubuh memberi hormat. Begitu ia mendongak memandang menjadi terpesona sekali, karena wajah wanita yang sudah setengah tua itu masih tetap cantik dan manis, hingga seperti juga seluruh kecantikan dari yang terdapat di dunia ini berkumpul di parasnya, tak ubahnya seperti gadis kahyangan yang hanya bisa dijumpai dalam impian.

Di samping wanita cantik itu terdapat pula seorang gadis yang cantik. Raut wajahnya sangat mirip satu sama lain, bedanya yang satu berusia setengah umur. yang satu lagi gadis belasan tahun.

Si nenek masuk ke dalam, dan kembali lagi membawa air teh yang mengepul dan harum.

“Kau datang dari mana, nak?” tegur wanita cantik berbaju putih.

Ping Ping mengatakan hal yang dialaminya dengan jujur.

Agaknya si wanita sangat sayang pada Ping Ping, dipersilahkan duduk sambil disuruhnya minum teh dan tak lupa ia memperkenalkan dara manis yang bukan lain dari anaknya.

“Ini adalah puteriku namanya Soat jie,” katanya.

Ping Ping pun memperkenalkan dirinya tanpa segan2.

“Oh, kalau begitu kau pun terhitung sebagai orang Kang Ouw,” kata wanita berbaju putih.

“Dapatkah kau menceriterakan sesuatu kejadian di Tionggoan setahun belakangan ini? Terus terang aku sudah setahun lebih menyekap diri di dalam gunung yang sunyi ini. Kini kau datang, membuat aku terkenang lagi pada masa mudaku…. ah,” katanya sambil menghela napas.

“Sungguhpun aku dibesarkan dalam keluarga Kang Ouw, tapi sebegitu lama belum pernah menerjunkan diri dan hidup sebagai orang Kang Ouw. Karena itu, maafkanlah jika aku hanya bisa menceriterakan sekelumit apu yang pernah kualami,” kata Ping Ping, seraya menuturkan kejadian di Oey San dan bagaimana keluarganya mengalami malapetaka hebat, dan bagaimana ia meninggalkan gunung dan berpisah dengan Kiu Heng serta Cui-jie.

Si wanita baju putlih merasa tertarik pada penuturan Ping Ping yang sederhana. Sedangkan Ping Ping sendiri menjadi berlinang-linang sesudah menuturkan nasib malangnya.

“Kau tak perlu bersedih hati nak, kini rumah kau sudah tidak punya, saudara pun tidak, sebaiknya tinggallah di sini. Di samping menemani aku dan Soat-jie, aku pun bisa membantumu dalam ilmu pelajaran silat.”

Ping Ping seorang gadis yang pintar, cepat2 Ia bertekuk lutut menghaturkan terima kasih.

Sejak itulah Ia hidup di pulau Cee Cu To menuntut pelajaran silat sebagai murid si wanita cantik.

Pada suatu hari sewaktu Ping Ping dan Soat-jie ber-main2 di sekeliling gunung, dikejutkan suara keras dari udara. Ping Ping merasa kaget, Ia dongak ke atas, tampak seekor bangau putih menukik turun dan hinggap di dekat Soat-jie.

Dengan aleman, burung itu meng-gosok2an kepalanya di tubuh Soat-jie.

“Cici Ping, apakah kau senang dengan bangau ini?” tegur Soat-jie.

“Ya,” jawab Ping Ping.

“Ia mengerti betul, apakah kau sendiri yang memeliharanya?”

“Bukan! Tapi kutahu, sejak aku ingat, bangau ini sudah ada, entah ibuku atau nenekku yang memelihara.”

Bangau itu seperti mengerti perkataan majikannya, Ia diam saja mendengari.

Sewaktu Soat-jie menyuruhnya mendekati Ping Ping, bangau itu dengan patuh melompat dan menghampiri.

Ping Ping sangat girang dan tak henti2nya meng-usap2 dengan kasih sayang.

“Cici Ping, kau belum pernah terbang barang kali?”

“Sudah tentu, orang mana bisa terbang?”

“Mari ikut denganku!”

Soat-jie segera menumplak bangau itu, dan diajaknya Ping Ping duduk dibelakangnya, dengan cepat bangau itu menerjang angkasa dan ber-putar2 sambil memperdengarkan suaranya yang tajam.

Suara bangau ini membuat Sian Popo kaget, cepat2 Ia keluar dari dalam rumah dan segera memperdengarkan siulan panjang. Bangau yang tengah ber-putar2 itu segera turun begitu mendengar suara panggilan.

Ping Ping dan Soat-jie berlompatan turun menghampiri si nenek.

“Sian Popo,” kata Soat-jie, “kenapa kau panggil turun bangau ini sehingga mengganggu kesenangan kami? Dan aku heran, kenapa setiap kali naik bangau ini, kau panggil turun?”

Sebenarnya Sian Popo adalah bekas budaknya neneknya Soat-jie, tapi sejak nenek itu meninggal, Soat-jie memanggilnya Sian popo.

“Sudah kularang kau naik bangau terbang ke sebelah timur, kenapa kau membandel terus? Nanti kalau Ibumu tahu, aku yang kena maki. Kau jangan menanyakan sebabnya itu kepadaku, aku hanya menurut perintah yang diberikan ibumu!”

Sehabis berkata, Sian Popo segera masuk ke dalam rumah. Dari parasnya tampak benar ia sangat berduka. Hal ini dibenarkan oleh suara tangisannya yang kedengaran kemudian.

“Soat-jie, pertama kali aku datang, kulihat Sian Popo tengah nangis seorang diri di bawah rembulan,” kata Ping Ping.

“Ya, akupun heran, setiap bulan purnama Ibuku menangis. Sian popo pun menangis, hal ini terjadi setahun lebih. Setiap kali aku bertanya selalu tak mendapat jawaban yang memuaskan,” kata Soat-jie sambil terpekur.

Kejadian ini merupakan hal yang aneh untuk Ping Ping, ia pun turut berpikir apa sebabnya mereka berlaku demikian, walaupun tidak pernah mengetahui sebab2nya.

Dengan uring2an Soat-jie menemukan ibunya. Didapatkan Ibunya dan Sian Popo di dalam kamar tengah bertangis-tangisan. Karuan saja ia menjadi terlebih heran, sehingga turut2an menangis. Sedangkan Ping Ping yang cetek air matanya turut pula menangis, sehingga keadaan kamar yang mewah dan mentereng itu banjir air mata. Mereka nangis secara ber-sama2 dengan se-puas2nya Sedangkan burung bangau di luar rumah pun men-jerit2 keras, tak ubahnya sedang menangis pula.

Saking asyiknya menangis, satu persatu jatuh tertidur. Sedangkan waktu yang tidak menantikan orang berjalan terus, tahu2 siang sudah berganti malam

Per-lahan2 rembulan yang bulat naik ke cakrawala.

Wanita berbaju putih bangun terlebih dulu menyusul yang lainnya. Dengan lemah lembut ia menyuruh Sian Popo menyediakan meja di pelataran.

Si nenek agaknya sudah mengerti kehendak majikannya, dengan cepat meja sudah tersedia. Di situ terletak barang sesajian.

Begitu wanita baju putih memasang hio bersembahyang, disusul oleh si nenek dan Soat-jie.

Ping Ping mengawasi heran

“Nak, kalau kau tidak keberatan, tak halangannya bersembahyang juga. Kami bersembahyang pada orang yang dicintai, sedangkan kau hitung2 bersembahyang kepada seorang jago bulim yang luar biasa.”

Ping Ping menurut, Ia melakukan sembahyang tapi hatinya ber-tanya2, siapakah yang disembahyangi itu?

Tampak wanita berbaju putih mengajak pelayan dan anak serta Ping Ping menuju ke gunung sebelah timur.

Soat-jie merasa girang karena sudah setahun lebih tidak diijinkan ke sana, padahal ia tahu di situlah letak makam neneknya.

Perjalanan mereka tidak terlalu lama, tempat yang dituju sudah dekat. Dari jauh terlihat sebuah kuburan indah. Di samping itu terdapat pula kuburan lain.

Soat-jie merasa heran, karena ia tahu, di samping kuburan neneknya tidak pernah ada kuburan lagi. Ia ber-lari2 ke depan diikuti Ping Ping dari belakang.

Di kuburan yang pertama terlihat, tulisan: Di sinilah tempat beristirahatnya Lie Siu Lan. Sedangkan di kuburan yang baru itu tertulis: Di sinilah mengaso dengan tenang Cie Yang Tojin dari Bu Tong Pay.

Ping Ping menjadi kaget melihat nama itu, karena ia sering mendengar nama besar Cie Yang Tojin, dan iapun mengetahui betul bahwa nama itu adalah nama gurunya Kiu Heng. Cepat2 Ia berlutut memberi hormat di hadapan batu nisan itu, lalu memberi hormat pula pada kuburan neneknya Soat-jie.

“Soat-jie, berlututlah di hadapan nisan nenekmu dan ayahmu!” kata wanita berbaju putih.

Dengan heran Soat-jie memandang ibunya, karena baru pertama kali ini ia mendengar tentang ayahnya. Kakinya tertekuk dengan patuh, diikuti ibunya dan Sian Popo. Sesudah mereka menghaturkan hormat, kepada orang2 yang sudah meninggal, segera duduk di tepian nisan itu.

“Kini kau sudah dewasa, kau sudah boleh mengetahui semua yang ku ketahui,” kata wanita berbaju putih.

“Kejadian dan peristiwa ini sudah berselang puluhan tahun. Saat itu, aku masih muda remaja sebaya dengan dirimu. Penuh angan2 dan cita2, tanpa memperdulikan larangan nenekmu, aku men-colong2 menunggangi burung bangau. Aku menyeberangi lautan berkeliling se-puas2nya menikmati tanah Tiong Goan yang kaya raya. Hal ini sering2 kulakukan di luar tahu nenekmu, dan sebegitu jauh hanya Siau Popo ini yang mengetahui, tapi ia sangat sayang kepadaku, dan membiarkan aku pergi.

Akupun bertambah berani karena sebegitu jauh belum pernah mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi karma seseorang itu rupanya sudah ditentukan oleh alam yang maha kuasa.

Aku masih ingat sewaktu pulang ber-jalan2 menemukan seorang pemuda yang terkapar di dalam terowongan tanah. Ia terluka digigit ular berbisa yang dipelihara nenekmu. Untung aku membawa obat dan menyembuhkan penderitaannya. Nenekmu mengetahui kejadian ini, dan merasa heran kenapa seorang muda bisa datang ke tempat kediamannya tanpa tertarik barang berharga yang berserakkan di sekitar pulau ini. Atas dasar inilah ayahmu diterima berdiam di sini. Akibat dari perhubungan yang erat di antara kami, timbullah benih cinta yang tidak dapat dirintangi segala kekuatan apa pun. Memang sudah dasarnya bahwa ayahmu itu memiliki sifat kejantanan yang luar biasa. Pendeknya mempesonakan kaum gadis, lebih2 aku seorang yang dibesarkan di dalam pegunungan sunyi, sebegitu jauh belum pernah berhubungan dengan laki2. Sebentar saja hatiku sudah goncang dan jatuh cinta. Kami saling cinta mencintai satu sama lain, tahu2 darah muda yang kurang pikir mengakibatkan soal yang memalukan. Aku hamil sebelum kawin.

Nenekmu mengetahui ini merasa gusar, segera me-maki2 aku dan ayahmu. Yang paling hebat, aku dilarang melakukan pertemuan lagi. Ayahmu yang bukan lain dari Cie Yang Cinjin mengetahui perbuatannya salah, lalu meninggalkan Cee Cu To. Ia bertobat atas kelakuannya terdorong oleh napsu itu, lalu menjadi tojin di Bu Tong Pay.

Dengan men-colong2 aku sering datang ke Bu Tong Pay dengan burung bangau itu. Pertemuan kami ini mengharukan sekali, ayahmu tetap dengan pendiriannya, yakni mencuci bersih dulu keburukannya yang dikeram di dalam hatinya, hitung2 mencuci noda yang pernah dilakukannya.

Aku menjelaskan bahwa perbuatannya itu sudah menghasilkan seorang anak yang bukan lain dari kau adanya. Ia tetap membisu. Dan akupun pulang kembali lagi ke sini.

Belakangan aku mendatangi lagi ayahmu, ia mengatakan akan merebut dulu Bu Lim Tiap, sesudah itu baru mau pulang lagi berkumpul denganku. Jika tidak demikian, ia tidak akan menemui aku lagi.

Aku sedih dan berputus asa, tahun demi tahun kulalui merawatmu sambil menanti kedatangannya yang tak kunjung tiba. Tahu2 pertandingan untuk merebut Bu Lim Tiap tiba, inilah yang pertama kali, ayahmu gagal, berikutnya Ia mengikuti lagi pertandingan yang kedua, kembali gagal, demikian pula dengan pertandingan yang ketiga kembali ia mengalami kegagalan. Padahal kalau ia mau dengan mudah bisa mengalahkan lawan2nya, tapi nenekmu sewaktu menurunkan ilmu kepandaian kepadanya, sudah berjanji tidak boleh dipergunakan untuk menjatuhkan lawan bilamana tidak terpaksa. Ia mematuhi larangan nenekmu.

Aku datang terlambat, sewaktu terjadi pertarungan yang ketiga kali, ayahmu sudah dilukai Gui Sam Seng. Padahal lukanya tidak berat, tapi, begitu aku datang ia membunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri. Ia malu menemui aku lagi dan membunuh diri. Aku menjadi kalap dan bersedih hati. jenasahnya kubawa pulang dan kukubur di samping makam nenekmu yang sudah terlebih dulu meninggalkan dunia ini.”

Sehabis menuturkan riwayatnya wanita baju putih itu bersedu-sedan.

“Suhu,” kata Ping Ping. “akupun cukup mengenal Cie Yang Cinjin, karena beliau adalah gurunya kawanku yang bernama Kiu Heng.”

“Di mana kini anak itu berada?” tanya si wanita.

“Entahlah.”

Cepat2 wanita cantik berbaju putih itu mengeluarkan seikat kain dari dalam pinggangnya.

“Kutahu memang ia mempunyai seorang murid, tapi sudah lupa akan namanya. Bahkan Ia pernah berpesan sebelum melakukan pertandingan merebut Bu Lim Tiap tentang muridnya itu.

Saat itu aku tengah gusar dan tidak mengambil perhatian. Kini kejadian sudah demikian maunya, aku terkenang lagi pemberiannya yang pernah kubuka ini. Di dalam kain ini, suamiku mengatakan bahwa muridnya seorang anak piatu menderita kecelakaan kematian serumah tangga, akibat perbuatan jahat Yo Guat Tiong, si piansu bangsat. Nah, anak Ping, bilamana nanti kau bertemu lagi dengannya, serahkanlah tulisan ini kepadanya.”

Ping Ping menyambut dengan hormat dan menyimpan dengan hati2.

Hari berganti malam. Seterusnya, Ping Ping dan Soat-jie dengan tekun menuntut pelajaran pada wanita berbaju putih. Sedangkan Sian Popo di waktu senggang pun suka membantu mereka memberikan pelajaran yang luar biasa dari pulau Cee Cu To.

“Aku ingat kepada ayahmu sewaktu datang kemari, ia seorang pemuda yang gagah dan keren. Akupun suka kepadanya, tapi akibat dari perasaanku memberikan banyak kelonggaran kepadanya sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan.

Aku ditegur nenekmu, sehingga merasa sedih, sewaktu beliau meninggal masih tetap menyalahkan aku, sehingga aku menangis setiap bulan terang benderang.

Demikian pula dengan ibumu, akan menangis kalau bulan terang benderang, karena pada malam yang indah inilah ayahmu meninggal dunia.”

Kesedihan Soat-jie maupun Ping Ping lama kelamaan hilang juga, mereka terus berlatih ilmu dengan giat.

***

Kiu Heng dan Tohiap siang hari malam melakukan perjalanan menuju Thai San. Akhirnya mereka tiba pula di Giok Hong Hong, dan bertemu pula dengan Kay Hiap Bu Tie. Pertemuan ini bukan main menyenangkan mereka.

Di bawah didikan Tohiap dan di bawah bantuan Bu Tie, Kiu Heng memperdalam ilmunya dengan pesat, sehingga merupakan seorang Kang Ouw muda yang berilmu luar biasa.

Pepatah mengatakan, waktu itu tidak menantikan seseorangpun. Tanpa terasa tiga tahun telah dilalui.

***

“Gie-hu,” kata Kiu Heng pada suatu malam.

”Tak lama lagi bulan delapan akan tiba, aku mempunyai janji dengan kawan2ku untuk bertemu dan berkumpul di telaga See Ouw. Bolehkah aku ke sana?”

“Seorang jantan harus mematuhi perkataannya, sudah tentu kau harus pergi ke sana. Aku pun sudah bosan tinggal di gunung sepi ini terlalu lama. Sedangkan Bu Lo Cianpwee sudah habis menjalankan hukumannya. Ia pun pasti ingin keluar dari sini. Nah, hari esoklah kita turun gunung ber-sama2.”

Begitu pagi mendatang, mereka meninggalkan Thay San ber-sama2. Setibanya di kaki gunung, tampak mendatang lima orang dari depan ke arah mereka.

Seorang tua yang berjanggut indah maju menghampiri sambil memberi hormat kepada Kay Hiap dan Tohiap.

“Jie-wie Tayhiap sudah lama tidak bertemu, kuyakin selama itu kamu dalam keadaan baik2 saja. Pagi ini beruntung aku bertemu dengan kamu di sini, hitung2 perjalanan jauh yang kutempuh tidak sia2 belaka! Tapi kumohon Jie-wie, jangan salah paham karena itu aku harus menerangkan dulu dengan jelas….”

“Oh, kiranya Ciok Cung-cu,” kata Tohiap dan Kay-hiap secara berbareng. Mereka segera menghaturkan hormatnya. Hanya Kiu Heng tetap berdiam diri tanpa bergerak.

Adapun Ciok Cungcu seorang rimba hijau yang kenamaan, ia bernama Ciok It Hong dan bergelar Tok Hiat-cu (kalajengking beracun).

“Sesungguhnya kedatangan Lohu ke sini untuk meminjam semacam barang, dapatkah jie-wie mengabulkannya?” kata Ciok It Hong.

“Ciok Cungcu, kenapa berkata demikian She-jie, katakanlah apa yang dikehendaki. Kalau kubisa pasti akan membantumu. Nah, benda apa yang Cungcu inginkan?” kata Tohiap.

“Sebenarnya aku tidak berani mengganggu jie-wie. Ada pun beuda yang kuingin pinjam itu berada di tangan Siauw-ko ini!”

Begitu mendengar perkataan ini, Kiu Heng menjadi kaget.

“Aku tidak mengenal dirimu, kenapa bisa meminjam barang padaku? Benar-benar aneh!” pikirnya.

Tiba2 Tohiap ter-bahak2.

“Ah, Cungcu jangan mabuk di pagi buta! Budak ini mempunyai benda apa yang Cungcu kehendaki? Coba terangkan!”

Kiu Heng pun menghampiri sambil memberi hormat.

“Yang Cianpwee maksud sebenarnya barang apa? Dapatkah menerangkan dengan jelas?”

Tiba2 wajah Ciok It Hong berubah, ia berpaling kepada kawan2nya. Di antara mereka itu terlihat dua orang menghampiri. Satu berwajah merah, satu lagi berwajah hitam, masing2 lengannya telah hilang sebelah. Mereka ini bukan lain dari Lauw Siong dan Lauw Pek yang sudah diusir Tiong Peng Hoan dari Thian Tou Hong.

Sejak kejadian di atas, ia merasa dongkol dan datang ke Ciok It Hong untuk melaporkan bahwa buku Pai Kut Sin Kang sudah dimiliki Kiu Heng. Tepat keledai tunggangan Siang Siu sudah pulang tapi tidak membawa majikannya, keruan saja Ciok Cuncu merasa kuatir Siang Siu mendapat celaka.

Sesudah mendapat keterangan dua saudara Lauw, Ia baru sadar bahwa Siang Siu sudah mati. Tanpa mengenal lelah ia mengajak dua saudara Lauw dan dua muridnya yang lihay mencari Kiu Heng.

Ia mendapat kabar bahwa Gui Sam Seng mengumpulkan orang2 Kang Ouw untuk mengerpuk Kiu Heng, sehingga bocah itu hilang dari dunia Kang Ouw. Pada belakangan, ia mendapat kabar juga sesungguhnya Kiu Heng tengah bersembunyi di Thai San. Ia datang ke situ dan tepat bertemu dengan mudah.

“Kutanya, siapa yang pura2 mengangkat guru pada Pek Bu Siang di Cee In Hong di depan Kuan Tee Bio? Kau kenapa berlaku tak tahu malu, mengambil Pai Kut Sin Kang sewaktu ia dalam luka parah?”

Kiu Heng mengetahui kedatangan mereka bukan lain untuk Pai Kut Sin Kang, lebih2 sesudah mengenali kepada dua saudara Lauw yang menjadi cekcok jalan. Hatinya gusar, tapi tidak berani berbuat apa2, sebab ada ayah angkatnya di samping.

“Cianpwee jangan salah paham. Aku Kiu Heng sebagai laki2 sejati dan sudah berguru kepada Cie Yang Cinjin dari Bu Tong Pay, tak mungkin mengangkat guru lagi pada orang lain. Lebih2 fitnahan yang mengatakan aku mencelakakan orang dalam bahaya, adalah perkataan ngawur!”

“Aku hanya bertanya, kaukah yang mengambil Pai Kut Sin Kang?”

“Lo Cianpwee, kita saling tak mengenal, tapi aku memanggilmu Lo Cianpwee sebab memandang muka ayah angkatku, karena itu kau pun harus sopanlah sedikit di hadapan orang tuaku!”

“Siauwko,” kata Clok It Hong mengubah sebutan lagi sambil ter-senjum2.

“Karena sudah tua gampang lupa, sehingga kebiasaan memperlakukan murid sendiri secara demikian, sampai kaupun tidak dikecualikan. Atas ini kuminta Siauwko jangan gusar! Kini kuyakin betul bahwa Pai Kut Sin Kang ada di tangan Siauwko bukan?”

“Lo Cianpwee, sepatah dua patah selalu tidak ketinggalan Pai Kut Sin Kang. Mungkinkah Lo Cianpwee dengan Siang Locianpwee itu sebagai saudara?”

“Bukan saudara bukan teman tapi hanya sekampung! Ia penduduk desa, aku kepala desa sehingga sudah wajib mengambil sesuatu barang dari penduduk desaku, bilamana ia mengalami kecelakaan!”

“Ya, buku itu memang berada di tanganku, tapi kudapat bukan seperti yang Cianpwee katakan, buku itu diserahkan Siang Locianpwee dengan kedua tangannya secara ridlah kepadaku!”

Ciok It Hong tiba2 ter-bahak2.

“Sesudah Pek Bu Siang mati… Pai Kut Sin Kang harus kumiliki, sesudah itu kudapat meyakinkannya, dan dalam beberapa tahun, diriku bisa menjadi jago kelas utama yang tidak mempunyai bandingannya bukan? ha… ha… ha…”

“Mungkinkah Pai Kut Sin Kang itu jatuh ke tanganmu?” ejek Kiu Heng.

“Mungkinkah kau akan menolak permintaanku? Lagi pula kutahu benar kaum Bu Tong Pay sebagai partai yang jujur dan bersih, sudah pasti tidak akan mempelajari ilmu Pai Kut Sin Kang yang keji, karena itu kuyakin kau tidak mempergunakannya bukan?”

“Bagaimana jadinya kalau buku itu kuhancurkan dan tidak mau menyerahkan kepadamu?”

“Siauwko harus tahu, Ciok It Hong adalah manusia keji yang tidak segan2 membunuh orang, bilamana maksudnya tidak tercapai!” “Oh begitu, tapi kaupun harus tahu, Kiu Heng seorang beradat angkuh yang membenci kejahatan sampai ke tulang sumsumnya!”

Tohiap yang diam saja, mengetahui gelagat buruk di depan mata.

“Ah, Tok Hiat-cu keterlaluan sekali,” pikirnya, “sampai akupun tidak dipandang sama sekali. Kalau kutetap diam, lagaknya semakin men-jadi2!”

Cepat ia menghampiri sambil tersenyum: “Cungcu, kau jangan mendesak anakku dengan keterlaluan sebab disampingnya masih ada aku. Pendeknya, kuharap kalau Cungcu tidak keberatan, boleh menimpakan kedongkolan itu pada pundakku! Kalau kau menang, Pai Kut Sin Kang boleh kau miliki, sebaliknya kalau kau kalah, sejak hari ini harus mengasingkan diri dari dunia Kang Ouw, bagaimana?”

“Bagus,” kata Ciok It Hong. Ia memberi tanda kepada muridnya yang bernama Tie Houw dan Tie Liong. Sesudah itu mereka membuat, satu lingkaran segi tiga yang merupakan barisan aneh. Sedangkan Lauw Siong dan Lauw Pek turut mengambil bagian dari kiri kanan.

Begitu barisan selesai, Ciok It Hong memberikan tanda. Seketika kedua muridnya dan dua saudara Lauw serta dirinya sendiri mengebutkan lengannya. Segera terlihat benda2 halus, yang serupa jarum berterbangan sambil mendengarkan bunyi berkesiuran. Serentak senjata2 rahasia itu menuju pada To Hiap.

Senjata2 rahasia dari Ciok It Hong ini luar biasa sekali, bentuknya tidak seperti jarum maupun seperti piau, tapi seperti panah mainan anak2. Kepalanya berbentuk dua, tak ubahnya seperti jepitan kalajengking. Begitu mengenai daging segera menjepit dan menyalurkan bisa.

Tohiap diserang dari segala penjuru sudah tak mungkin melarikan diri. Untunglah dalam keadaan bahaya, Kiu Heng sudah mencabut pedang wasiatnya, dan memutarkan dengan keras, sehingga senjata2 rahasia musuh itu tersampok bersih.

Ciok It Hong merasa heran, cara melepas senjata rahasia berlima yang menurut barisan Ngo Hiat Lian Hoan Kie kena dipecahkan Kiu Heng dengan mudah.

Di balik itu Ia pun merasa kagum pada lawannya yang masih muda sudah memiliki ilmu yang tinggi. Tapi dalam keadaan yang demikian, pikiran damai tidak terdapat di otaknya.

Sekali lagi ia memberi tanda, dua muridnya dan saudara2 Lauw segera menyerang ke arah Kiu Heng dengan membabi buta. Sedangkan ia sendiri menghadapi To Hiap. Perkelahian menjadi kalut.

Kay Hiap Bu Tie sedari tadi berdiam diri, kini dilihatnya Kiu Heng dikerubuti berempat, hatinya menjadi tak senang, dengan cepat ia maju membantu.

Perkelahian menjadi tiga rombongan, Tohiap melawan Ciok It Hong sedangkan Kiu Heng menghadapi Tie Houw dan Tie Liong, yang terakhir adalah Kayhiap melawan dua saudara Lauw.

Dengan cepat Kiu Heng melancarkan serangan pedang, ia menggores dari kiri ke kanan, lalu membalik arah dari kanan ke kiri, disusul rangsakan2 yang meluncur dari bawah ke atas. Sehingga dua lawannya menjadi repot dibuatnya.

Sedangkan Tohiap dan Ciok It Hong merupakan tandingan yang setimpal, mereka bergumul secara seru, dalam jurus2 yang penuh ketegangan dan bahaya, satu sama lain tidak mau mengalah. Inilah pertandingan antara naga dan harimau yang sukar disaksikan di dalam rimba persilatan.

Ciok It Hong tengah gusar, ia ingin menyudahkan perkelahian dengan cepat, senjata rahasianya tahu2 dilepaskan dengan mendadak sebanyak tiga buah.

Untuk menghindarkan diri, To Hiap mundur tiga langkah, seolah-olah sudah menduga bahwa musuhnya bisa berlaku demikian. Sehingga sewaktu senjata rahasia mendekat, Ia melompat ke atas dan selamat dari bahaya.

Sesudah itu Ia menukik turun dengan kecepatan kilat menerjang musuhnya dari atas. Lengannya mengebut pulang pergi ketiga jurusan.

Ciok It Hong tengah heran atas kelincahan musuh. Tahu2 ia sudah merasakan serangan tiba2. Tanpa banyak pikir lagi ia menggelindingkan tubuh. Saat inilah dengan tiba2 Ia mendengar jeritan mengerikan dari dua saudara Lauw. Begitu Ia berpaling, tampak Lauw Pek sudah tak berkutik lagi di atas tanah, sedangkan Lauw Siong sudah luka parah. Ia merasa sengit melihat kematian kawannya yang mengerikan.

Tanpa memperdulikan lagi Tohiap, Ia mengalihkan serangan kepada Kayhiap.

Kay Hiap Bu Tie mengetahui bahwa musuhnya tengah mengamuk seperti harimau luka, Ia tidak mau menyambut serangan dari depan, cepat Ia melancarkan ilmu Cui Hong Put Eng (mengejar angin menangkap bayangan), tubuhnya memutar ke belakang Ciok It Hong.

Begitu ilmu meringankan tubuh yang luar biasa ini dilancarkan, angin keras segera timbul dan dirinya Kayhiap melejit laksana bayangan, me-mutar2 sebanyak dua kali mengelilingi musuh dengan kecepatan kilat.

Kegesitan yang luar biasa ini membuat Tohiap yang berilmu tinggi merasa kagum.

Ciok It Hong mengetahui kepandaian Ginkangnya tidak memadai musuh, karena itu ia tidak mau dikekang musuh karena kelemahannya ini. Ia memantapkan hatinya, mengikuti bayangan musuhnya, ber-putar2.

Dalam sekejap Kayhiap sudah membuat delapan lingkaran pulang pergi, dalam waktu sebegitu lama, lengan Kayhiap tidak tinggal diam, beberapa kali totokan ampuhnya hampir bersarang di tubuh musuh.

Ciok It Hong gusar sekali, dengan cepat, ia menghunus senjata pendek yang berupa belati.

Tanpa menunggu waktu lagi Ia menikamkan belatinya ke arah musuh.

Sudah puluhan tahun Ciok It Hong tidak mempergunakan senjatanya, kini ia menghunusnya, menandakan kedongkolannya sudah sampai d batas tinggi.

Sementara itu Tohiap sudah membuat Lauw Siong pulang ke alam baqa dalam beberapa jurus, kini ia menyaksikan Ciok It Hong menghunus senjata, ia berlaku waspada, menjaga keselamatan kawannya.

Dugaannya tidak salah, senjata musuh yang berupa belati itu sangat lunak dan bisa dipergunakan sebagai pecut.

Agaknya Kayhiap mengetahui sukar memperoleh kemenangan dengan tangan kosong, tapi ia tidak mempunjai senjata. Karena itu terpaksa meninggalkan gelanggang perkelahian.

Ciok It Hong memburu terus tanpa mengenal capai tapi Ia kena dirintangi Tohiap. Kini pertarungan antara dua jago ini masing2 menggunakan senjata, Ciok It Hong memakai belati istimewa sedangkan Tohiap menggunakan Huncwe.

Tampak dua bayangan seperti me-nari2 ke atas dan ke bawah, memutar ke kiri dan beralih ke kanan. saling gempur dengan sengit dan cepat.

Tiba2 terlihat Ciok It Hong menggempur dahsyat lalu mengubah melakukan pertahanan, perubahan antara menyerang dan menangkis sangat cepat sekali, menandakan ilmu kepandaiannya sudah cukup sempurna.

Tapi Tohiap melayani dengan mantap. Pertahanannya cukup kokoh. Di balik itu, serangannya pun sangat dahsyat.

Dalam sekejap tiga puluh jurus sudah dilalui, tapi belum terlihat siapa yang kalah maupun yang menang. Selama jurus2 yang dilalui Tohiap berlaku hati2, kini ia sudah meraba sampai dimana kepandaian musuh, karena itu sewaktu memasuki jurus ketiga puluh satu segera melancarkan serangan maut yang luar biasa sehingga diri tuanya yang agak bungkuk itu seperti seekor harimau bersayap yang ganas dan tangguh.

Dalam sekejap Ciok It Hong terdesak di dalam bahaya.

Sementara itu, Kiu Heng yang menghadapi Tie Houw dan Tie Liong sudah memperoleh kemenangan, dua orang she Tie itu sudah mandi darah dan tidak berkutik lagi. Hal ini diketahui pula oleh Ciok It Hong, sehingga dirinya yang tengah kejepit bertambah gentar lagi.

Dengan cepat dan nekad Ia meloloskan diri dari serangan, tangannya pun tidak tinggal diam. Senjata rahasianya yang ampuh dihamburkan ke jurusan Tohiap sehingga ia bisa melepaskan diri.

Sesudah itu Ia pun menyerang dengan senjata rahasianya secara membabi buta dan keji pada Kiu Heng dan Kayhiap lalu lari sipat kuping ke jurusan timur.

Kejadian ini berjalan dengan cepat, sehingga Ciok It Hong bisa merat. Di samping itu Kiu Heng yang berlaku alpa terkena senjata rahasia musuh yang beracun.

Begitu Tohiap mengetahui anaknya mendapat celaka, segera mengejar musuhnya untuk merebut obat pemunahnya.

“Kau jangan bergerak,” kata Kay hiap pada Kiu Heng.

“Bu Locianpwee, sebetulnya aku tidak terluka, tapi hanya lecet sedikit,” kata Kiu Heng.

“Tapi senjata itu mengandung racun.”

Kiu Heng mengawasi jempolnya yang leljet, benar saja sudah menjadi bengkak, lalu iapun merasakan lengannya mulai ba-al. Kayhiap menyobek bajunya dan mengikat pergelangan Kiu Heng keras2, di samping itu ia pun memberikan sebutir pel anti racun.

Cepat2 dipondongnya Kiu Heng kembali ke Thai San, menantikan kedatangannya Tohiap Siauw Siong.

Sementara itu, Siauw Siong yang mengejar musuhnya, merasa kuatir atas keselamatan anak angkatnya, ia ingin mendapatkan obat pemunah, disamping itu harus membuang waktu dulu me-ngejar2.

Karena pikirannya kusut, Ciok It Hong dapat melarikan diri semakin jauh dan hilanglah dari pandangan mata.

Dengan kesal dan gemas, Tohiap terpaksa kembali ke Thai San. Di sana sudah menantikan Kayhiap Bu Tie.

“Eh, bagaimana? Apakah penyakitnya hebat?”

“Kuyakin tidak membahayakan jiwanya, karena sudah kuberi obat sepesial memunahkan racun!” jawab Kayhiap.

”Kini ia tengah tidur nyenyak.”

Tohiap merasa lega, Ia memperhatikan luka anaknya secara seksama, jalan darah diraba dan diurut. Sesudah mendapat kenyataan bahwa Kiu Heng tidur nyenyak dan tidak pingsan, baru menghentikan urutan.

“Sungguhpun demikian, lukanya belum sembuh betul, obatmu itu hanya bisa menahan jalan racun seketika, lama-kelamaan racun itu akan menyerang ke ulu hatinya, bilamana sampai demikian, biar ada obat dewa pun jiwanya pasti tidak tertolong lagi!”

“Menurut kau, harus memakai obat apa?”

“Obatnya ada, tapi sukar didapat. Tahukah kau akan obat yang bernama Coa Tie Tau?”

“Oh, yang begitu, hanya terdapat di sini, kenapa kau cemas betul!”

Sehabis berkata, Kay Hiap segera berlalu. Sejenak kemudian Ia sudah kembali membawakan obat yang diperlukan.

“Obat semacam inikah?” tanya Kay Hiap sambil memperlihatkan sejenis tumbuh2an yang berbentuk ular.

“Ya betul,” jawab Tohiap, seraya mengambilnya dan menumbuk, lalu dicampur dengan arak dan diberikan kepada Kiu Heng.

Sungguh luar biasa kasiat obat itu, dalam waktu sejenak saja Kiu Heng dibikin bangun dari tidurnya.

“Heng-jie untung ada Kay Hiap sehingga kau tertolong, haturkanlah terima kasihmu kepadanya.”

Dengan memaksakan diri, Kiu Heng mencoba bangun, tapi keburu dicegah oleh Kayhiap.

“Kau harus istirahat, tak perlu sejie2 menghaturkan terima kasih yang tidak perlu. Lekaslah bersemadi menenangkan pikiran.”

Sambil menyandarkan diri, Kiu Heng menatap dengan sinar mata berterima kasih kepada Kayhiap . Sesudah itu mulailah ia menenangkan pikiran, melancarkan Nuikang agar racun yang berada di tubuhnya keluar semua.

Apa mau dikata, begitu matanya rapat, segera ter-bayang2 kejadian2 yang pernah dialaminya. Pertama2 muncul wajah Cui-jie, lalu terlihat pula wajah Ping Ping. Ia ingat dua wanita yang manis2 akan ditemuinya di malaman Tiong-ciu. Kini sudah tanggal sepuluh bulan delapan, hanya tinggal beberapa hari lagi. Bagaimana jadinya kalau sampai ia tidak bisa datang karena masih sakit?

Di samping itu, otaknya pun mengingat sakit hatinya yang belum terbalas, dan pesan gurunya pergi ke Cee Cu To yang belum dijalankan. Otaknya menjadi mabuk, kekusutan ini membuatnya berkeringat dingin.

“Heng-jie,” kata Tohiap, yang selalu mengawasi dari samping. “Hilangkan seluruh pikiran kusut itu, ingatlah akan sakitmu.”

Kiu Heng seperti kena disiram air dingin, ia kaget dan ingat kembali tengah menjalankan semadi.

Cepat ia memusatkan pikirannya. Sekali ini ia berhasil menyingkirkan pikiran2 yang mengganggu. Sehingga merasa otaknya jernih, dan dadanya lapang. Sebentar kemudian, ia pun sampai di batas melupakan diri.

Waktu berlalu terus, sewaktu Ia sadar dari semadinya merasakan kesehatan tubuhnya sudah demikian maju. Sewaktu ia bangun tidak merasakan sesuatu yang mengganggu.

Tohiap dan Kayhiap menjadi girang, mereka cepat2 menyediakan lagi obat. Atas rawatan mereka yang tidak mengenal letih, Kiu Heng menjadi sembuh seperti sedia kala dalam empat hari.

Hari raya Tiongciu sudah di depan mata, Kiu Heng menjadi cemas dan risau. Ia bukan cemas karena berjanji dengan Ping Ping dan Cui-jie tapi mengenang dirinya yang baru sembuh dari sakit.

Empat hari yang lalu ia masih bersemangat sekali datang dari Thai San ke See Ouw. Sesudah tiba hatinya menjadi demikian hampa, tak napsu makan dan tak tidur nyenyak, kecuali melatih diri di pagi hari, segala sesuatu tidak membangkitkan napsunya lagi.

Sewaktu malam mendatang dan bulan menggeserkan tubuhnya dari ufuk timur ke tengah2 cakrawala, Kiu Heng masih merebahkan dirinya di tempat tidur. Tiba2 ia menggigit lidahnya dengan kaget. “Perjanjian tiga tahun yang diucapkan di Pek Tio Hong sekilas mata sudah tiba, wajah rembulan yang mempesonakan alam demiklan terang benderang, memancarkan penuh kegembiraan dan harapan, aku harus lekas2 menuju ke See Ouw!”

Keadaan telaga See Ouw tetap indah sebagai tahun2 yang selain pengunjung malam yang menikmati rembulan bulat ramai sekali. Lebih2 pasangan muda-mudi berdua2 dan ber-pasang2 menjauhkan diri rombongan ramai.

Kiu Heng menuju Hong Hong San. Di situ tidak terlihat gadis2 yang ingin diketemukan. Ia dongak memandang rembulan.

“Berdongak melihat rembulan, menunduk melihat kekasih, di mana kini kekasihku, hanya rembulan yang tahu………”

Ia menyanyi dengan perlahan. Belum Ia bernyanyi habis, tiba2 terlihat seorang gadis menghampirinya. Orang itu bukan lain adalah Cui-jie.

“Cui Cici,” teriak Kiu Heng sambil merangkul.

Sedih dan girang bercampur haru meliputi jiwa Kiu Heng. Lama dan lama sekali, sampai Ia pun lupa berapa lama kekasihnya itu dirangkul, tahu2 Cui-jie melepaskan dirinya sambil berkata:

“Adikku, perjalananku ini tidak sia2, dan bisa bertemu lagi denganmu. Tapi kumohon dengan sangat, agar peristiwa dan kejadian yang pernah kita alami bersama, anggaplah impian di siang hari.”

“Kenapa? Kenapa?”

“Kau masih muda dan tidak mengetahui di dalam dunia ini sering terjadi sesuatu yang di luar dugaan,” kata Cui-jie.

”Tahukah sejak perpisahan denganmu di Pek Tio Hong. Karena angin ribut aku dan Ping Ping menjadi berpisah, sehingga melakukan perjalanan seorang diri untuk mencari guruku. Mula pertama aku ke Kiang Say. Di situ aku mencari dan mendengarkan dengan guruku. Sesungguhnya aku mendapat kabar dari penduduk situ bahwa guruku sewaktu mudanya sering datang ke situ. Di samping keterangan2 yang kuperoleh, akupun mendapatkan tempat2 bekas guruku di Bu Kong San. Karena mendapatkan kenyataan demikian, aku menetap beberapa hari menantikan kedatangan beliau. Tapi aku menunggu dengan sia2, karena beliau tak kunjung datang…

Tiga bulan sudah berlalu, aku masih menunggu dengan hampa.

Aku berpikir, cara yang demikian itu kurang baik. Dan kuingat pula guruku sudah cacat, tentu tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Karena itu kuambil kesimpulan, beliau masih berada di sekitar Oey San.

Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku meninggalkan Bu Kong San menuju Oey San.

Singkatnya aku tiba kembali Thian Tou Hong tempat yang dulu pernah kutinggal berubah betul dengan dulu. Dimana aku berlatih silat dimana aku bermain, kini seperti mati dan mendatangkan kesedihan saja. Guruku yang tercinta tidak terdapat di situ. Aku mencari ke gua di mana terdapat lebah2, di situ pun hanya kekosongan yang mencekam jiwa. Beliau tiada, kau pun tiada, kesan beberapa saat sewaktu berdua denganmu itu membuat aku menangis ter-sedu2 tapi apa mau dikata takdir berjalan lain dari apa yang dikehendaki.

Aku tidak berputus asa. Sesudah beberapa hari mencari beliau dengan ninil, aku menduga guruku mungkin ditawan Gui Sam Seng. Dengan memberanikan diri, aku mencoba2 mencari Gui Sam Seng untuk meminta keterangan tentang dimana rimbanya guruku.

Entah bagaimana sewaktu aku melintasi Thian Bok San, tiba-tiba mendengar suara tertawa aneh yang tajam, semakin lama semakin dekat. Darahku menjadi bergolak tak keruan, menyusul hati menjadi gatal. Aku terkejut dan sadar bahwa, suara itu adalah ilmu Pek Tok Thian Kun yang lihay dan pernah kualami.

Aku menyalurkan ilmu dalam melakukan perlawanan, tapi sebelum aku menderita, Pek Tok Thian Kun sudah berhenti tertawa. Sebagai gantinya jahanam itu sudah berada di depan mataku sambil ter-senyum2. Sedikitpun tidak menunjukkan paras bermusuhan atau mengandung niatan jahat.

Aku menjadi terlebih tenang.

“Cui Kounio tak kusangka sesudah menderita luka terkena ilmuku, kau masih bisa hidup sampai sekarang. Siapa yang menolong dirimu?” tegur Gui Sam Seng.

Aku menjadi naik darah begitu mendengar perkataannya itu. Dengan gusar aku menjawab:

“Kau jangan menganggap dirimu lihay, kau harus tahu di luar langit masih ada langit lagi, sampai kematian di depan mata masih belum sadar !”

“Mungkinkah kekasih kecilmu itu datang juga bersamamu? Bagus!” kata Pek Tok Thian Kun.

“Sebagai seorang gadis sangat memalukan sekali, meninggalkan suhu yang tengah sakit untuk mengikuti bocah itu! Kini kuminta kau unjukkan di mana bersembunjinya bocah itu. Kalau tidak, jangan sesalkan aku berlaku telengas!”

Aku menjadi gusar tak alang kepalang mendapat makian yang demikian keji dengan lenganku melayang mengirimkan serangan tanpa mengenal takut barang sedikitpun.

“Hm, kau si budak tidak tahu malu yang membuang guru sendiri demi untuk kekasih, biar bagaimana harus kumampusi, hitung2 mencuci noda kotor di dunia Kang Ouw,” kata Pek Tok Thian Kun sambil berkelit.

“Tak perlu kau urus diriku, kau tak berhak!” bentakku seraya merangsek dengan nekad.

“Bilamana tidak memandang kepada gurumu, siang2 sudah kubikin mampus!” bentak Pek Tok Thian Kun.

“Kini jalan yang terbaik tunjukkanlah dimana bersembunyinya bocah itu sehingga aku bisa mengampuni jiwamu dari kematian.”

Aku tidak mau meladeni lagi ocehannya, lenganku menyerang terus. Perbuatanku ini menimbulkan dongkolnya musuh dengan keras ia tertawa lalu mencelat pergi menghindarkan seranganku,

Dari udara Ia menukik turun sambil mencabut kipasnya di-putar2kan dengan keras melingkari diriku.

Sepuluh jurus berlalu, aku bermandi keringat dan bernapas empas-empis. Begitu Ia merangsak lagi, aku kena ditendang pergi sejauh beberapa tombak. Sebelum aku bisa berbuat apa2, Ia sudah datang dan memberilkan beberapa totokan di tubuhku sehingga membuatku tak berdaya.

Aku berpikir, mungkinkah ia tidak membunuhku karena menghormati guruku? Biarlah kalau sampai diriku dicemarkan binatang ini, sampai mati pun tak akan kuampuni.

Pek Tok Thian Kun adalah seorang kejam yang luar biasa, mana mungkin ia mengampuni diriku karena memandang guruku? Sebenarnya kutahu diriku akan dihabiskan seketika itu juga, tapi ia mengubah pikirannya begitu mengingat bahwa aku adalah kawan baikmu. Ia ingin menjadikan aku sebagai umpan untuk memancingmu datang.

Tubuhku dikempit dan dibawa pulang ke rumahnya. Untunglah sewaktu aku dikurung dalam tahanan mendapat pertolongan seorang anak muda. Pemuda itu bukan lain dari pada anaknya Gui Sam Seng sendiri yang baru pulang merantau. Tanpa memperdulikan akibat perbuatannya aku dilepas pergi.

Sewaktu kubertanya kenapa ia mau menolongku, ia hanya tersenyum saja.

Aku menghaturkan terima kasih kepadanya lalu meninggalkan sarang yang penuh bahaya itu untuk melanjutkan usahaku mencari guruku. Tak kira, belum selang lama aku meninggalkan tempat ce1aka itu, pemuda yang bernama Gui Wie mengikuti terus.

Aku sudah menerima budi kebaikannya, sehingga tidak bisa berlaku garang atau menolak permintaannya untuk mengantar aku dalam perjalanan.

Apa mau dikata takdir itu sukar diketahui orang terlebih dulu, aku berhasil menemui guruku di Bu Kong San, ia sudah sembuh dari sakitnya. Pertemuan ini mengharukan dan menggirangkan. Kuceriterakan tentang nasib yang kualami dengan panjang lebar, lalu menceriterakan pula tentang Gui Wie.

Setahun berlalu, aku dan Gui Wie tinggal sama2 di Bu Kong San, dua tahun berlalu, aku masih tetap bersama Gui Wie, tiga tahun berlalu. Gui Wie masih tetap di samping diriku Sedangkan kau sendiri tidak terdengar lagi kabar beritanya. Dalam kusedih dan kesal, Gui Wie lah yang selalu menghibur. Entah sudah jodoh entah bagaimana, ketekunan dan kesabaran Gui Wie membuatku iba dan kasihan, sehingga menurut saja sewaktu ia mengajukan lamarannya. Padahal kutahu hatiku sangat cinta kepadamu, hanya kaulah yang bisa menghidupkan lagi perasaanku dari beku sehingga wajar! Tapi perasaan kasihan yang berkecamuk di otakku.

Biar bagaimana tidak bisa menolak kebaikan Gui Wie, karena itu aku sudah mengikat jodoh dengannya, dan kuminta kau melupakan saja kejadian yang pernah kita alami.”

Kiu Heng menjadi linglung. Perkataan itu seperti juga petir di siang hari, ia tidak bisa menjawab apa2, hanya air matanya berlinang-linang. Inilah air mata jantan yang turun karena cinta?

Ia terpekur sambil melamun, sehingga tidak mengetahui lagi bahwa Cui-jie sudah meninggalkan dirinya.

Malam semakin larut, keadaan di sekeliling telaga See Ouw sudah menjadi sepi dan sunyi, tinggal Kiu Heng masih terpekur mengenangkan nasibnya yang malang. Tiba2 ia tersentak dari lamunannya sewaktu mendengar bunyi burung bangau dari atas udara.

Seperti dalam impian, burung bangau putih melayang turun dari udara dan hinggap di hadapannya, dari punggung bangau berlompatan dua gadis yang cantik seperti bidadari.

Kiu Heng meng-ucak2 matanya, se-olah2 tidak percaya lagi pada pandangannya.

“Kiu Koko,” kata Salah seorang gadis sambil lari menubruk dan merangkul Kiu Heng seperti seorang mati yang hidup lagi.

Sambil bercucuran air mata ia memekap si gadis terlebih erat.

“Ping Ping….” katanya se-begitu2nya.

Lama dan lama sekali mereka saling peluk dengan mesra, sedangkan si gadis yang satu lagi yang bukan lain dari Soat Jie menjadi bengong terpekur menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dilihatnya. Mukanya menjadi merah. Ia mencoba berpaling tidak mau melihatnya, tapi tenaga gaib selalu berusaha membuat kepalanya menoleh lagi kepada dua muda-mudi yang tengah asyik terbenam dalam cinta yang sudah lama dirindukan dan baru sempat dilampiaskan !

Sesudah lebih tenang, Ping Ping baru sadar bahwa ia datang bersama Soat-jie, cepat2 Ia memperkenalkan saudara seperguruannya kepada Kiu Heng.

Kecantikan yang luar biasa dari Soat-jie mempersonakan Kiu Heng, sehingga si gadis menjadi likat ditatap terus2-an.

Ping Ping tersenyum kecil menyaksikan mereka terpaku demikian lama. Dengan cepat ia berkata. “Adik Soat-jie inilah Kiu Koko yang sering ku-sebut2!”

“Oh,” kata Soat-jie, sedangkan htinya menjadi ber-debar2 tak keruan.

Ping Ping mengajak Kiu Heng dan Soat-jie duduk di sebuah batu untuk menikmati rembulan purnama.

“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, sayang Cui-cici belum juga datang,” keluh Ping Ping.

“Cui Cici sudah datang tapi sudah berlalu lagi,” jawab Kiu Heng dengun singkat seraya menuturkan pertemuan dan kisah yang diceriterakan Cui Jie. “Sedangkan kau sendiri sesudah mengalami kecelakaan di kapal itu achirnya bagaimana?”

“Aku terdampar di sebuah pulau yang bernama Cee Cu To, pulau itu demikian indah dan aneh, di sana aku bertemu dengan Sian Popo, guruku yang sekarang dan adik Soat-jie,” kata Ping Ping seraya menuturkan terus pengalamannya.

Sehabis mendengar ceritera Ping Ping. Kiu Heng menjadi terpaku diam, karena Ia terkenang kepada gurunya dan pesan gurunya.

“Kiu koko. kutahu kau terkenang akan pulau Cee Cu To bukan?” tanya Ping Ping.

“Kuberi tahu bahwa gurumu sendiri dikubur di pulau itu!”

“Betulkah? Kenapa sedari tadi tidak kau ceritakan?”

“Tahukah bahwa adik Soat-jie ini sebagai anak dari mendiang gurumu?”

Kiu Heng menjadi kaget. Sebegitu lama gurunya belum pernah menceriterakan hal-hal itu kepadanya, pantasan sewaktu mendekati ajalnya, sang guru meninggalkan pesanan untuknya ke Cee Cu To.

“Sedangkan guruku sendiri adalah ibunya adik Soat-jie!”

“Oh, kenapa mengherankan betul?” kata Kiu Heng.

“Ping Ping dapatkah kau menuturkan dengan cermat sesuatu yang kau pernah dengar atau yang pernah kau ketahui tentang guruku dan diriku sendiri.”

Ping Ping mengeluarkan sebuah kain yang penuh tulisan.

“Ini adalah peninggalan gurumu sendiri yang dititipkan pada guruku, kau boleh lihat sendiri. Tapi kuharap jangan sekarang melihatnya, karena bisa menghilangkan malam baik yang indah dan romantis Ini!”

“Tapi aku sudah tidak bergembira lagi untuk menikmati pemandangan ini, karena itu lebih baik kita pulang saja,” kata Kiu Heng.

“Kau pulanglah dulu, beberapa hari lagi aku pasti datang mengunjungi tempat tinggalmu,” kata Ping Ping.

“Bolehkah aku ikut ke Cee Cu To?”

“Menurut ibuku, seorang laki2 tidak diperkenankan menginjakkan kakinya di Pulau Cee Cu To,” kata Soat-jie yang sedari tadi berdiam diri.

Ping Ping sebetulnya enggan berpisah, tapi ia malu mengutarakannya. Sedangkan Kiu Heng lebih cenderung untuk mengetahui apa yang ditulis di dalam kain itu.

Sesudah memberikan alamat, Kiu Heng segera berpisah dari dua gadis, dan lari ter-birit2 menuju penginapannya.

Ping Ping dengan lemas2an menuntun Soat-jie dan naik ke atas bangau kembali lagi ke pulau Cee Cu To.

Tohiap dan Kayhiap belum pulang, Kiu Heng segera membuka tulisan di kain dan membacanya dengan asyik.

Dari dalam tulisan itu ia mengetahui tentang kisah gurunya dan dirinya sendiri. Kiranya perusahaan Wie Bu Piaukiok yang dibuka ayahnya sangat laku dan terkenal, hal ini membuat salah satu perusahaan piau lain yang bernama Hian An Piaukok, merasa iri. Akibatnya terjadi main saing2an.

Sungguhpun demikian Wie Bu Piaukiok tetap menang di atas angin. Pengusaha Hian An Piaukok yang bernama Yo Goat Tong mengetahui dengan jalan bersaing tidak bisa menjatuhkan lawan. Dinantikan kesempatan guna menjatuhkan lawan dengan jalan keji.

Pada suatu ketika Kiu Heng merayakan ulang tahun yang keempat, ayahnya mengadakan perjamuan, dan mengundang para langganan dan handai toulan. sedangkan Yo Goat Tong pun turut hadir dengan orang bawaannya yang bernama Lie Keng.

Sewaktu orang2 Wie Bu Piaukok mabuk, ia menurunkan tangan keji, sehingga keluarga Kiu dibasmi habis2an dan hanya tertinggal Kiu Heng seorang yang tertolong Cie Yang Cinjin.

Sesudah membaca dan mengetahui soal gurunya dan dirinya sendiri, tanpa terasa air matanya ber-linang2, inilah tangisannya yang keempat. Ia terpekur dan bengong membayangkan sewaktu dirinya belajar silat di Bu Tong San, bagaimana gurunya memperlakukan dirinya, kesemua ini hanya membangkitkan kenangan getir saja.

“Heng-jie sedang apa kau?”

Kiu Heng menjadi kaget, ia tidak mengetahui bahwa Tohiap, Kayhiap sudah pulang. Di samping mereka turut pula seorang nikoh. Cepat2 ia menghampiri memberi hormat.

“Heng-jie, inilah Liau Tim Sutay yang kenamaan di dunia Kang Ouw,” kata Tohiap sambil memperkenalkan.

“Benar-2 tak dinyana, Kiu Siecu sungguhpun masih muda merupakan seorang yang sudah matang di dalam ilmu maupun pergaulan!” puji Liauw Tim Sutay.

“Aku mengharapkan petunjuk2 dan didikan dari Sutay,” kata Tohiap dengan merendah.

Kiu Heng tahu Liauw Tim Sutay adalah salah seorang yang turut merebutkan Bu Lim Tiap di telaga See Ouw ber-sama2 gurunya. Tanpa banyak pikir ia menanyakan kejadian masa silam itu dengan hormat.

Dengan didahulukan tarikan napas panjang, Liauw Tim berkata: “Sesunggulnya dalam ilmu gurumu tidak kalah oleh Gui Sam Seng, sedangkan aku sendiri pun tak mungkin kalah di tangan Gui Sam Seng, sedangkan Hui Kong Taysupun tak mungkin kalah!”

“Maksud Sutay kepandaian Gui Sam Seng adalah yang paling rendah?” tanya Tohiap.

“Sesungguhnya demikian! Tapi aneh ia yang mendapatkan Bu Lim Tiap.” kata Liauw Tim Sutay sambil melirik ke arah Kayhiap.

“Sayang saat itu saudara Bu datang terlambat, merebut Bu Lim Tiap, di balik itu terlalu ter-gesa2 pula meninggalkan medan pertarungan, sehingga kejadian curang dan keji yang diperbuat Gui Sam Seng tidak kau saksikan!”

“Ah. Semua gara2 si Hui Kong botak yang menghukum aku, kalau tidak, kuyakin tidak sampai Gui Sam Seng memperoleh Bu Lim Tiap,” jawab Bu Tie.

“Kejadian sudah demikian maunya,” kata Liauw Tim Sutay seraya menuturkan kecurangan yang dilakukan Gui Sam Seng, saking dongkolnya Ia pun meninggalkan gelanggang pertandingan.

“Tapi aku tidak terus kabur, ku lihat bagaimana hebatnya Cie Yang Tojin menghajar Gui Sam Seng sampai buntung, sedangkan ia sendiri hanya menderita luka ringan. Dalam pada inilah kulihat datang seorang wanita berbaju putih yang menunggang burung bangau, tahu2 Cie Yang Cinjin dipeluknya dan ditangisi. Kutahu Cie Yang Toyu yang menderita luka ringan tak mungkin menjadi meninggal. Sampai sekarang kejadian itu masih merupakan teka-teki untuk diriku.”

“Guruku meninggal dunia karena membunuh diri dengan jalan menggigit lidahnya sendirl,” kata Kiu Heng.

“Bagimana kau tahu?” tanya Tohiap.

“Karena ada yang memberi tahu kepadaku?” kata Kiu Heng.

“Siapa?”

“Puterinya wanita baju putih yang menangisi kematian guruku di telaga See Ouw,” jawab Kiu Heng sambil menuturkan dengan singkat apa yang diketahuinya.

“Kini ada keperluan apa Sutay ke See Ouw? Mungkinkah untuk menikmati rembulan, atau ada maksud lain?” tanya Kayhiap Bu Tie.

“Mungkinkah kau tidak mengetahui bahwa Gui Sam Seng sudah mengumpulkan orang2 Bulim dengan Bu Lim Tiap untuk menghadapi kalian?”

“Kami baru saja turun dari Thai San, kenapa sudah diketahuinya?” kata Tohiap dengan heran.

“Kudengar kabar, Ciok It Hong bertemu dengan kalian dan kena dikalahkan, achirnya Ia merat dan menemui Gui Sam Seng. Hal ini memang sangat di-nanti2kan, cepat2 ia mengumpulkan orang dari berbagai penjuru, sedangkan aku yang selalu berkelana, kebetulan sekali bertemu kalian di See Ouw.”

“Ah, kalau begitu kita harus siap sedia menghadapinya!” kata Tohiap.

“Mungkinkah kau akan melawan pemegang Bu Lim Tiap yang diakui kekuasaannya di seluruh dunia persilatan?” tanya Liauw Tim Sutay. “Coba kau tanya bagaimana rasanya seseorang yang pernah mengganggu Bu Lim Tiap dan pernah dihukum oleh karena perbuatannya itu.”

“Sebenarnya akupun tolol mau mematuhi peraturan Bu Lim Tiap,” kata Bu Tie.

“Kini aku masih mau melanggarnya! Lebih2 Bu Lim Tiap yang dikuasai Gui Sam Seng itu adalah yang palsu!”

“Ha? ada yang palsu?” kata Liauw Tim Sutay kaget.

“Ya,” jawab Tohiap Siau Siong. “Kau nantikan saja tanggal mainnya.”

Mereka ter-tawa2 dengan puas, sedangkan mulut mereka tak hentinya mengunyah Tiong Ciu Pieh dan buah2an serta teh harum.

Malam semakin larut, Liauw Tim berpisah. Sebelum itu mereka berjanjl akan bertemu lagi keesokan harinya.

Pada suatu hari tengah ramai2nya, Kiu Heng, Tohiap, Kay Hiap dan Liauw Tim Sutay mengobrol, tahu2 ada jongos hotel mengabarkan kedatangan dua nona yang ingin bertemu dengan Kiu Heng.

Kabar ini keruan saja menggirangkan diri si pemuda. Dengan cepat ia melompat keluar pintu. Sedangkan ketiga orang tua yang menyaksikan tersenyum lucu.

Benar saja dugaan Kiu Heng, karena yang datang itu bukan lain dari Ping Ping dan Soat-jie. Diajaknya masuk kedua gadis itu dan diperkenalkan pada yang lain.

Baru saja mereka duduk2 lagi belum lama, kembali datang jongos yang mengatakan datang tamu, seraya menyodorkan kartu nama.

Tohiap menyambut dan membacanya.

“Pek Tok Sin Kuay Mu Kun!”

“Ha?” kata Bu Tie, “bukankah Ia Suheng seperguruan Gui Sam Seng?”

“Ya,” jawab Tohiap dan Liauw Tim Taysu hampir berbareng.

Sesungguhnya Pek Tok Sin Kuay adalah saudara seperguruan dari Pek Tok Thian Kun, hanya saja sudah lama sekali tidak menampilkan diri di dunia Kang Ouw sehingga untuk golongan yang lebih muda tidak mengenalnya.

Tempo dulu sewaktu terjadi pertandingan silat, ia kena dikalahkan Siang Siu dengan Ilmu Pai Kut Sin Kang, sehingga menyembunyikan diri puluhan tahun untuk melatih ilmu Han Peng Im Hong Ciang (pukulan angin negatif yang dingin). Kini sesudah rampung mempelajari ilmunya itu, kembali Ia terjun ke Sungai Telaga untuk mencari Pek Bu Siang. Sayang musuhnya itu sudah meninggal dunia, tapi ia mendapat tahu dari Ciok It Hong buku Pai Kut Sin Kang yang pernah mengalahkan dirinya itu berada di tangan Kiu Heng. Bertepatan dengan itu, Gui Sam Seng sudah mengirimkan undangan, memanggil seluruh kaum Bu Lim berkumpul, untuk menyeterukan Kiu Heng dan To Hiap.

Berkat penyelidikan mereka yang seksama, tempat kediaman Kiu Heng diketahuinya, Pek Tok Sin Kuay mencapaikan diri untuk memanggil penghianat Bu Lim Tiap itu ke suatu tempat, di mana berkumpul kaum2 Kang Ouw.

Begitu Tohiap keluar pintu, Pek Tok Sin Kuay memberi hormat dengan angkuh.

“Aku Pek Tok Sin Kuay,” katanya, “dan siapa Cunhe ?”

“Oh, kukira siapa tidak tahunya pecundang Pek Bu Siang, ha… ha… ha… Mengenai aku sendiri adalah seorang penangkap Sin Kuay (Iblis sakti) Tohiap, Siauw Siong!”

“Oh, kau si penghianat perguruan Pek Tok Bun! Orang lain tak tahu riwayat busukmu, tapi mana mungkin mengelabui aku!?”

Tohiap mempunyai pantangan, Ia paling gusar bilamana diungkat2 bekas murid Pek Tok Bun. Dengan gusar dan mata mendelik ber-api2 ia menyerang dengan tiba2.

Pek Tok Sin Kuay mengetahui musuhnya lihay, dengan cepat berkelit, tapi serangan susulan dari Tohiap kembali datang. Sekali ini dengan terpaksa ia menggulingkan tubuh ke belakang, tapi serangan susulan Tohiap lagi2 datang, ia benci dan tidak memberikan kesempatan pada musuhnya untuk memperbaiki diri.

Pek Tok Sin Kuay tahu dengan berkelit terus bukan jalan yang terbaik, lengannya yang mengandung racun diangkat untuk menangkis dengan keras. Tak kira begitu dua lengan saling bentrok, Ia merasakan lengannya menjadi kaku, sehingga tidak dapat digunakan sekehendak hati lagi. Tohiap berpikir untuk menghabiskan riwayat musuhnya seketika juga. Tapi musuhnya sudah melakukan serangan membabi buta dengan nekat sekali. Diseruduknya Tohiap sekuat tenaga.

Demi dilihat jurus mengadu jiwa yang ganas, Tohiap menjadi kaget, dengan tangkas ia melompat pergi. Pek Tok Sin Kuay tidak mau mengerti, Ia merangsang terlebih gila. Saking jengkelnya, Tohiap sambil melompat sambil mengebutkan lengannya menghajar ke pundak musuh dengan ilmu menotok yang ampuh. Pek Tok Sin Kuay sudah tak memikirkan lagi dirinya, serangan musuh yang lihay dibiarkan terus, Ia menyergap dengan penuh harapan luka bersama, mati berdua!

“Gila kau, mana mau aku mampus bersamamu?” pikir Tohiap seraya menarik serangan dan melompat keluar gelanggang.

Pek Tok Sin Kuay gagal dalam serangan, tubuhnya berputar cepat, tahu2 iapun sudah keluar gelanggang dan merat ter-birit2.

Tohiap tidak mau mengejar, ia membiarkan musuhnya kabur.

Sebaliknya Kiu Heng yang sudah berada di depan pintu beserta yang lain2 merasa gusar melihat musuh kabur.

Dengan ginkangnya yang luar biasa ia melakukan pengejaran. Saling kejar ini berlaku seru sekali, karena dua2nya mempunyai ilmu ginkang yang lihay.

Sementara itu Tohiap, Kayhiap, Liauw Tim Sutay dan kedua gadis pun turut mengejar dari belakang, karena mereka takut kalau2 Kiu Heng mengalami kecelakaan seorang diri.

Keadaan kota yang ramai sudah dilewati, mereka memasuki daerah luar kota yang agak sepi, achirnya tibalah di tepian sungai Ngo Tian yang sunyi sepi.

Pek Tok Sin Kuay menuju ke sebuah rumah, Kiu Heng mengejar terus sebelum musuhnya masuk ke rumah, berhasil Ia mencandaknya.

“Siapa kau!” bentak Pek Tok Sin Kuay sambil berbalik badan.

“Aku Kiu Heng!”

“Oh, kau si penghianat kaum Bu Lim, kebetulan sekali menghantarkan diri ke sini. lekas bertekuk lutut untuk menghadap kepada pemegang Bu Lim Tiap!”

“Apa katamu?” tanya Kiu Heng, sedangkan pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam sudah dihunus.

Pek Tok Sin Kuay pun merasa gusar, cepat menghunus senjatanya.

Dengan cepat perkelahian berlangsung dengan serunya.

Kiu Heng melancarkan ilmu Kie-hwee-liau-tian (Mengangkat sauh menerangkann jagat), pedangnya menyerosot keras ke bawah mengarah sepasang kaki musuhnya.

Pek Tok Sin Kuay mula pertama tidak memandang mata pada musuhnya yang masih muda, cepat ia mencelat ke atas, lalu kembali turun dengan ilmu Hui-lim-to-niau (burung terbang hinggap di pohon). Pedang berikut dirinya menukik keras dari udara sambil menikam musuh.

Untuk menghindarkan serangan maut ini, Kiu Heng mengangkat pedangnya ke atas, Pek Tok Sin Kuay terkejut heran mendapat tangkisan lihay, cepat serangannya ditarik, dirinya membalik ke kiri dan turun ke bumi, lalu menjerosot keras menyerang dengan mendadak.

Kiu Heng mengetahui musuh bisa menyerang lagi, cepat2 melancarkan ilmu silatnya yang dipelajari di gua dan dimatangi di Thaisan. Tubuhnya mencelat ke kiri dan ke kanan, pedangnya ke-atas ke bawah, tak ubahnya dengan seekor harimau gagah yang tengah jongkok bangun mempermainkan mangsanya.

Biarpun Pek Tok Sin Kuay seorang Kang Ouw yang berpengalaman luas, belum pernah menyaksikan ilmu kepandaian yang demikian aneh dan tak teraba jalannya. kedudukan dirinya perlahan-lahan terdesak dan berada di bawah angin, sedangkan Kiu Heng semakin galak dan bersemangat.

Pek Tok Sin Kuay yang sudah menderita cedera sewaktu menghadapi Tohiap tak berdaya lagi menghadapi tekanan2 maut. ilmu kepandaiannya tak kuasa dikembangkan lagi. Keringatnya mengucur memenuhi tubuhnya.

“Mampus kau!” bentak Kiu Heng seraya menyepak keras.

Pek Tok Sin Kuay berikut pedangnya terpental ke udara dan jatuh terbanting di halaman rumah batu. Kiu Heng mengejar untuk menghabiskan jiwa musuh. Sebelum pedangnya ditabaskan dengan cepat ia merasakan angin sambaran, tahu2 pedangnya kena ditangkis. Ia berbalik badan, kaki-kakinya mundur2 saking kaget, lalu maju lagi ke depan sambil bertekuk lutut !

Air sungai bergelombang tinggi dan men-deru2, pasir2 berterbangan tinggi, Kiu Heng tetap bertekuk lutut di hadapan seseorang dengan patuhnya.

Sementara itu, Tohiap dan kawan2 sudah tiba juga di rumah batu itu. Mereka menjadi heran menyaksikan Kiu Heng yang bertekuk lutut, cepat2 menghampiri.

Keheranan mereka bertambah karena orang itu bukan lain dari pada Suhengnya Cie Yang Cinjin yang bernama Cee Sie Tojin!

Kenapa Cee Sie Tojin bisa berada di rumah yang sunyi itu dan tidak di Bu Tong San? Kiranya Pek Tok Thian Kun sudah memanggilnya datang dengan kekuatan Bu Lim Tiap!! Sebegitu jauh Cee Sie Tojin sangat sayang kepada Kiu Heng, ia tahu kepergiannya bisa menimbulkan kerugian pada Kiu Heng, tapi Bu Lim Tiap yang diakui sebagai pusaka rimba hijau itu biar bagaimana harus dipatuhinya juga.

“Heng-jie, kenapa kau tidak mematuhi peraturan Bu Lim Tiap? Mungkinkah kau tidak mengetahui buku itu sebagai pusaka rimba hijau yang harus dipatuhi seluruh kaum Bu Lim?” kata Cee Sie Tojin dengan lembah lembut, seraya memasukkan pedangnya lagi ke dalam serangka.

Perkataan dari Cee Sie Tojin, mengandung makna yang membela kepada si anak, se-olah2 mengatakan bahwa Kiu Heng masih muda dan tidak mengetahui apa2, sehingga melanggar Bu Lim Tiap.

Tengah mereka bicara dari dalam rumah terdengar suara memanggil.

“Kuminta Totiang bicara di dalam!”

Cee Sie Totiang mengenali suara itu bukan lain dari pada Pek Tok Thian Kun. Dengan wajah keren ia berkata: “Siau-heng, Buheng, Sutay dan jiwie Kouwnio, Ikutlah aku ke dalam!”

Yang turut masuk hanya Tohiap dan Kiu Heng, sedang yang lain menjaga di luar.

Rumah batu yang sepi itu sangat luas dan besar, pekarangan bunga di kiri kanan sangat indahnya. ruangan2 di dalam rumah pun sangat Iuas2, sesudah melalui beberapa ruangan, akhirnya tibalah mereka di ruangan tengah yang besar.

Di situ sudah banyak orang dari berbagai golongan, mereka datang atas panggilan Bu Lim Tiap.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja, yang berlilin besar, di tengah2 meja tampak Bu Lim Tiap disandarkan miring. Di kiri meja tampak Gui Sam Seng, di samping kanan terlihat seorang tojin yang memakai jubah panjang, mukanya demikian kering dan hijau, alisnya keren dan panjang, sekali lihatpun dapat mengetahui tojin itu berilmu tinggi.

Di sebelah depan mereka tampak berbaris dengan rata jago2 Bu Lim lainnya, antaranya terlihat Ciok It Hong, Cun Cu Taysu dari Siauw Lim Sie, juhiap Kong Tat, Siu-cee-kong Say Lam San yang sudah mengasingkan diri. Kesemua ini sudah dikenal Kiu Heng.

Antaranya tampak seorang pertengahan umur yang berjanggut Indah dan keren, di sisinya berdiri pula seorang yang gagah, kedua orang ini Kiu Heng tidak mengenalnya.

Tampak Pek Tok Thian Kun seperti tertawa seperti bukan, dengan angkuh dan congkaknya berkata per-lahan2: “Bangsat yang bernyali besar, sewaktu di Oey San berani betul kau menghina Bu Lim Tiap, dan barusan kau membunuh saudara seperguruanku Pek Tok Sin Kuay, kebandelanmu kini masih tetap tegas, lekas kau bertekuk lutut menerima hukuman!”

Kiu Heng sudah gatal untuk membalas memaki, tapi kurang leluasa, karena Supeknya berada di situ, tapi untuknya menerima dosa tanpa beralasan sudah tentu tidak mau pula. Dengan gusar Ia diam saja, dan tidak mengetahui harus berbuat apa. Saking cemasnya, mukanya menjadi merah sendiri.

Dalam suasana yang gawat ini, tiba2 Tohiap membuka mulut:

“Gui Sam Seng, kau jangan mengandalkan Bu Lim Tiap dengan se-wenang2 demi kepentingan diri sendiri. Ketahuilah soal Bu Lim Tiap adalah satu urusan, sedangkan soal kematian Pek Tok Sin Kuay pun satu urusan lain, kenapa kau jadikan dua urusan menjadi satu secara kacau balau?”

Begitu perkataan ini keluar, sekalian hadirin menatap ke arah Tohiap dengan heran.

“Kau tahukah bahwa saudara seperguruanmu melatih llmu Han Peng Im Hong Ciang yang beracun? Kau tahu sendiri ilmu itu diyakininya harus memakai tubuh gadis2 cilik yang dibeset kulitnya. Karena itu perbuatannya yang jahat ini harus mendapat hukuman yang setimpal. Kenapa dosanya dijatuhkan kepada Kiu Heng?”

Pek Tok Thian Kun mengetahui salah omong, seketika diam saja.

Tampak parasnya menjadi jengah sendiri, cepat Ia melirik kepada kawannya yang memakai jubah, agaknya ia meminta pendapat Tojin itu, agar kedudukannya yang kejepit ini menjadi terbebas.

Tojin itu yang bernama Tiang Bie Cinjin agaknya mengetahui maksud kawannya, segera berkata: “Di sini bukan tempatmu untuk bicara, yang diperiksa adalah Kiu Heng, ada urusan apa denganmu?”

Gui Sam Seng seperti mendapat angin.

“Kami rnengadakan rapat kaum Bu Lim ini untuk mengadili seorang pendurhaka Bu Lim Tiap, karena itu kau jangan banyak bicara. Kalau kau melanggar peraturan, aku berhak menjatuhkan hukuman!”

Kiu Heng jadi berani melihat ayah angkatnya membela dirinya, dengan bertolak pinggang ia menunjuk kepada si tojin: “Kau manusia apa? Berani betul mencampuri urusan orang?”

Cee Sie Cinjin, kuatir timbul onar yang tidak diinginkan, lekas ia mencegah: “Heng-jie, kau harus patuh dan jangan berlaku kurang sopan !”

Si tojin yang kena maki Kiu Heng mukanya berubah pucat, sambil bersenyum dingin ia berkata: “Bilamana Pinto tidak menerangkan kau pasti tidak mengetahui, aku adalah tuan rumah dari gedung ini yang bergelar Siang Bie Cinjin!”

Tiang Bie Cinjin sepatah demi sepatah menyebutkan namanya dengan tegas, dengan tujuan melunakkan kegarangan orang dan menghargai dirinya.

Tohiap Siauw Siong tiba2 bergelak-gelak.

“Kukira siapa, tidak tahunya Tiang Bie Cinjin yang sudah mengasingkan diri dari puluhan tahun, tak heran aku tak mengenalnya. Tiang Bie Cinjin, kuyakin ilmu kepandaianmu yang diyakini selama bersembunyi puluhan tahun pasti sudah maju dengan pesat! Ilmu apa yang kau sudah yakini, dapatkah kau perlihatkan kepadaku?”

Sesungguhnya Tohiap bukan tidak kenal kepada Tiang Bie Cinjin, tapi Ia pura2 tidak mengenalnya, sewaktu melihat Cinjin itu duduk di bagian atas dengan angkuh dan congkaknya, kini mendapat kesempatan untuk “ngeledek” dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Gui Sam Seng tahu bahwa Tohiap sengaja memancing keributan, bilamana tidak lekas2 dicegahnya, urusan bisa meluas dan rnenyimpang dari tujuan pokok pembicaraan. Cepat ia bangun.

“Cuwie kuminta menghentikan kata2! Dan Kiu Heng lekas2 bertekuk lutut menerima hukuman !”

Begitu kata2 ini keluar, keadaan di dalam ruangan menjadi sunyi sepi.

Kiu Heng menjadi mendelik saking gusarnya.

“Apa yang kau andalkan menyuruh aku bertekuk lutut dengan sesuka hatimu? Dan apa dosaku pula harus menerima hukuman?”

“Anakku, kau tidak berdosa! jangan mau berlutut!” empos Tohiap dari samping,

“Heng-jie, kau jangan berlaku kurang ajar, kenapa tidak lekas berlutut!” bentak Cee Sie Tojin dengan cepat.

“Bukannya aku tak dengar kata, tapi aku tak mengetahui harus berlutut pada siapa?” jawab Kiu Heng.

Wajah Pek Tok Thian Kun menjadi hijau saking gusarnya, lengannya menunjuk ke atas. meja. “Berlutut ke arah meja!’’

“Kenapa harus berlutut pada meja? Ini permainan apa?” kata Kiu Heng.

“Buku itu mempunyai khasiat apa harus dihormati?” sambung Tohiap.

Cee Sie Tojin berjiwa jujur, Ia mengira Kiu Heng sesungguhnya tidak mengetahui benda yang harus dihormati itu adalah Bu Lim Tiap.

“Heng-jie! Yang harus kau hormati itu adalah Bu Lim Tiap, lekaslah kau lakukan!” suruhnya.

Kiu Heng mempermainkan matanya, menunjukkan perasaan curiga.

“Tapi aku tidak mengetahui bahwa, Bu Lim Tiap itu yang palsu atau yang tulen? Bilamana kena yang palsu, bukankah sia-sia dan sayang kehormatan yang kuberikan dengan percuma ini?”

Agaknya Tiang Bie Cinjin sudah tak sabaran lagi.

“Bu Lim Tiap di dunia ini hanya satu, kenapa ada yang palsu dan yang tulen Kalau begitu, terang kau yang bersalah dan berkeras kepala, tanpa mempunyai alasan!”

“jatuhkan saja hukuman yang setimpal, kalau Ia membangkang, kita hajar!” kata si orang pertengahan umur yang berjanggut indah.

”Akur! Aku setuju pendapat saudara Yo Goat Tong!” kata Ciok It Hong.

“Diam!” bentak Kiu Heng, “kalian tidak berhak untuk bicara.”

Sedangkan hatinya menjadi ber-debar2 sewaktu mendengar nama Yo Goat Tiong, tapi ia masih bisa mengendalikan hatinya.

“Sungguhpun aku belum pernah melihat Bu Lim Tiap, tapi kau tidak berhak menjatuhkan hukuman dengan se-wenang2, sedikitpun kau harus memanggil datang tiga orang Ciang Bun jin dari tiga partai untuk mengadili diriku!”

Kiu Heng mempunyai Bu Lim Tiap dan pernah membacanya berulang kali, sehingga mengerti betul peraturan2 yang berada di dalamnya.

Kini Ia meminta agar Pek Tok Thian Kun memanggil datang tiga Ciang-bun-jin untuk mengadili dirinya, se-mata2 mengingatkan pada musuh, bahwa ia pun mengerti peraturan yang terdapat di Bu Lim Tiap.

Sekaitan yang mendengar menjadi kaget atas permintaan Kiu Heng.

Mereka tidak menyangka anak muda itu dapat menimbulkan pertanyaan yang demikian tepat dan sempurna. Orang2 di dalam ruangan sudah mulai ber-bisik2 satu sama lain, ada yang girang ada juga yang kesal.

Yang bergirang adalah Cee-Sie Tof.jin, Kong Tat, Say Lam San dan Cun-cu Taysu.

Sebaliknya Tohiap Siauw Siong mempunyai pikiran lain; bagaimanapun Bu Lim Tiap yang tulen harus diperlihatkan. Kalau tidak, kegawatan yang meruncing ini tak mungkin dapat diatasi, sehingga pikirannya terbenam di dalam keraguan.

“Sudah terang berdurhaka pada Bu Lim Tiap, masih tetap berani menggoyang lidah untuk membela kesalahan,”bentak Pek Tok

Thian Kun.

“Gui-heng,” kata Cee Sie Tojin yang mempunyai kesempatan untuk membela Kiu Heng.

“Dalam hal ini kau yang salah, Pinto mengakui belum pernah memegang Bu Lim Tiap, tapi sudah terang mengetahui peraturan yang terdapat di dalamnya! Apa yang dikatakan Kiu Heng memang betul, setiap orang yang berbuat salah harus diadili ber-sama2 tiga orang Ciang-bun-jin dari tiga partai yang dikehendaki si terdakwa! Sedangkan kau kini berlaku menurut kehendak sendiri, sehingga membuat aku pusing dan melupakan peraturan yang tertera di dalam Bu Lim Tiap. Kini aku sudah sadar, bilamana kau tetap melaksanakan kekerasan kepada Kiu Heng, jangan sesalkan tindakanku yang kurang sopan!”

“Apa yang dikatakan Cee Sie Toyu memang benar.” kata Cuncu Taysu membenarkan.

Pek Tok Thian Kun terdiam sejenak lalu tertawa bergelak-gelak.

“Kau boleh mengatakan demikian, tapi apa yang dilakukan Hui Kong Taysu terhadap Kayhiap Bu Tie? Bukankah ia menjatuhkan hukuman dengan seorang diri, padahal di situ terdapat Cie Yang Cinjin, Liauw Tim Sutay, dan aku sendiri, tapi sedikit pendapat pun tidak dimintanya!”

“Kalau begini sudah terang Cee Sie Totiang, membela murid durhakanya tanpa mengindahkan lagi Bu Lim Tiap, aku sebagai pemilik rumah ini mana mungkin membiarkan kau berlaku gila di sini?” kata Tiang Bie Cinjin.

“Hei, orang tua, kau jangan bicara sekehendak hati, bilamana kau berani lagi menghina Supekku, aku tak segan2 menghajar dirimu!” kata Kiu Heng.

Seumur hidupnya Tiang Bie Cinjin belum pernah mendapat dampratan yang demikian keras di muka umum, matanya mendelik lebar.

“Sudah tiga puluh tahun lebih aku belum pernah menggerakkan kaki tanganku, kini kau menantang aku? Baiklah, aku bisa mengirim kau dan Supekmu menemui Giam Lo Ong!”

Tohiap tidak bicara lagi, ia maju dua langkah, mulutnya mesem2 geli: “Hei Lo-tau, rupanya kau sudah tak sabar lagi hidup di dunia ini. Inginkah mati dengan cepat?” ejeknya.

“Kuyakin ilmu yang kau pelajari puluhan tahun itu tidak bisa menunda kematianmu terlebih lama lagi! Semoga kau bisa tinggal di alam baka dengan senang dan gembira!”

“Hai, bungkuk, kau jangan berkata sembarangan,” kata Pek Tok Thian Kun.

Sehabis berkata ia bersiap untuk menerjang.

Kiu Heng tidak tinggal diam dengan tangkas ia melangkah maju. Tahu2 Pek Tok Thian Kun melangkah miring dan menjamberet Bu Lim Tiap dari atas meja, dimasukkannya ke dalam sakunya, perubahan dari gerakannya yang di luar perkiraan ini membuat Kiu Heng tersenyum simpul.

Keadaan tegang yang memenuhi isi ruangan menjadi gelak tertawa riuh atas kelakuan Pek Tok Thian Kun yang kesusu.

“Kau si manusia berhati cupet, mengaku sebagai seorang Kuncu, tak tahunya orang rendah yang tidak tahu malu. Kau kira aku kepengen segala buku itukah?” bentak Kiu Heng. “Lihat apa ini?”

“Bu Lim Tiap!” seru sekalian yang hadir dengan terkejut.

Agaknya Tiang Bie Cinjin yang paling tak sabaran, kembali ia bicara:

“Kita adalah golongan persilatan, untuk menyelesaikan persoalan gawat takkan selesai dengan lidah, dan takkan beres dengan Bu Lim Tiap. sejujurnya adalah: kekuatan senjata adalah cara terbaik memecahkan persoalan!”

“Kau jangan banyak bicara!” bentak Tohiap seraya mencabut huncwenya dan menyerang kepada musuh.

“Bagus,” kata Tiang Bie Cinjin, tubuhnya mundur berkelit, lalu menghunus pedangnya.

Tohiap jadi gusar begitu sadar serangannya tidak membawa hasil. Serangannya berubah dengan cepat, senjatanya tak ubahnya merupakan titik2 air hujan yang deras, mengurung kepala musuhnya!

Tak malu Tiang Bin Cinjin meyakinkan ilmu puluhan tahun lamanya, karena pedangnya pun bisa berubah dengan cepat, menghalau seluruh serangan2 musuhnya.

Menghadapi musuh yang lihay, Tohiap menjadi girang. Dengan tertawa mengejek ia mencoba membuyarkan perhatian musuh.

“Tiang Bie Cinjin, sudah puluhan tahun kau belajar silat, mungkinkah hanya belajar menangkis melulu dan berkelit?”

Tanpa menjawab Tiang Bie Cinjin, membentangkan pedangnya, jurusnya kembali berubah, dari bertahan menjadi menyerang.

Gerakannya yang lincah dan matang luar biasa cepatnya, sehingga tubuhnya seperti hilang di dalam lingkungan sinar putih yang ber-kilat2 dari pedangnya.

Dalam beberapa jurus ia berhasil mendesak musuhnya terus2an. Hal ini membuat keberaniannya semakin menjadi2. Seluruh kepandaianya yang diyakini dari puluhan tahun dipergunakan dengan ganas mencecar terus musuhnya, sehingga pertarungan benar2 hebat dan rnenggidikkan.

Kepandaian silat Tohiap sesungguhnya tidak berada di sebelah bawah musuhnya, sayang senjatanya tidak sebaik pedang musuh yang lebih panjang. Di samping itu, iapun harus mengakui ilmu rangsakan musuhnya yang sudah terlatih matang.

Perhatiannya dicurahkan seratus persen melawan musuh. tak berani untuknya mengganggu atau mengejek lagi.

Cee Sie Tojin dan Kiu Heng mengucurkan keringat dingin untuk keselamatan Tohiap.

Tiba2 terdengar bentrokan senjata yang nyaring, disusul lelatu api membujar ke empat penjuru, sinar pedang segera sirna, apa yang tampak ialah pedang Tiang Bie Cinjin, tengah menikam ke depan dan tepat mengarah kerongkongan musuhnya.

“Celaka!” teriak Kiu Heng tanpa disadari.

Tapi sebelum kata2nya keluar dari mulut, perubahan di medan pertarungan sudah berubah.

Kiranya Tohiap yang tengah mundur2 terangsak lawan, tiba2 kesandung sesuatu benda, sehingga keseimbangan tubuhnya tak baik lagi. Kesempatan ini dipergunakan musuhnya, sehingga ujung pedang hampir menembus kerongkongan musuhnya. Tapi Tohiap bukan seorang yang lemah, sungguhpun dalam keadaan bahaya, pertahanannya masih tetap tak kalut.

Tubuhnya dengan cepat kembali seperti sedia kala, sedangkan kakinya ditendangkannya ke muka, sehingga ia berjungkir balik ke belakang, pedang Tiang Bie Cinjin dengan ganas lewat dari sasaran beberapa senti.

“Celaka!” pikir Tohiap di dalam hati.

Tubuhnya begitu berdiri tetap, langsung menyerobot ke depan, huncwenya seperti kilat menyerampang. Tiang Bie Cinjin melompat, membiarkan senjata musuh lewat dari bawah sepatunya.

Sementara itu, Pek Tok Thian Kun sudah mengeluarkan perintah untuk menghajar Kiu Heng.

Akan tetapi anjuran yang berupa perintah ini hanya menarik sebagian orang, sedangkan Cuncu Taysu dan Cee Sie Tojin serta Kong Tat membela pihak Kiu Heng. Say Lam San sendiri mengambil jalan tengah, ia menonton tanpa mengeluarkan pendapat,

Ciok It Hong, Yo Goat Hong dan seorang lagi yang bukan lain dari Lie Keng, tanpa menunggu perintah dua kali sudah menghunus — senjatanya. Hal ini diikuti orang2 Bu Lim lain yang kurang “ kenamaan tapi sealiran dengan Pek Tok Thian Kun.

Pertarungan kalang kabut berkobar dengan cepat. Kiu Heng menghadapi Yo Goat Tiong, Ia ingin melampiaskan sakit hatinya pada musuhnya yang membasmi keluarganya.

“Apakah kau yang bernama Yo Goat Tiong?” tegurnya.

“Memang aku Yo Goat Tiong seorang Piausu yang kenamaan….”

“Tutup mulutmu, apakah kau ingat nama Wie Bu Piaukiok? Ingatkah perbuatan terkutukmu itu? Aku adalah sisa dari keluarga Kiu itu yang tertinggal hidup dan kini berhadapan denganmu untuk menagih hutang!”

Yo Goat Tiong tahu banyak cakap tidak ada gunanya, cepat menangkis serangan Kiu Heng yang sudah datang.

Lalu melancarkan ilmu kepandaiannya dari puluhan tahun, pedangnya lincah dan tangkas, ber-putar2 seperti seekor walet mengitari gunung.

Sepuluh jurus Kiu Heng merangsek keras, tapi tidak membawa hasil, karena dalam perkelahian ini Ia terlalu napsu. Hampir2 kecerobohannya mendatangkan luka. Kiu Heng semakin bernapsu dan gusar, pedangnya dibulang-baling tiga kali membabat musuh dengan telengas. Tapi sedikitpun tidak membawa hasil, karena musuhnya cukup berpengalaman dan tangguh.

Sesudah melihat musuh dalam keadaan kalap, Yo Goat Tiong menyerang dengan cepat, ujung pedangnya bergetar, ilmu Ban-hong Cut-cau atau sepuluh ribu tawon keluar sarang, dilancarkan dengan hebat, ujung pedang se-olah2 berubah menjadi banyak, kekuatannya luar biasa dan mengejutkan yang menyaksikan.

Kiu Heng kesal serangannya dipatahkan terus, kini dilihatnya musuh menyerang dengan llmu yang indah dan luar biasa, hatinya merasa heran.

Ketenangan dirinya pun terkendalikan lagi, dengan cepat. Ia melancarkan ilmu pedang Cit-cuat-kiam dari Kong Tat, pedangnya menggulung seperti pelangi, mengurung jurus Ban-hong-cut-cau musuhnya, sedangkan lengan kirinya mendorong keras dengan jurus Geledek Membelah Gunung.

Yo Goat Tiong tak mengira serangannya kena dibendung. di samping itu serangan lengan lawan pun memberikan ancaman keras. Ia mundur sambil menarik pedangnya. Tak kira Kiu Heng membarengi dengan serangan lain, pedangnya menikam tajam ke pergelangan musuhnya sedangkan kakinya menyepak pula ke arah ke mana lengan yang berpedang itu mengegos. Inilah jurus dari Bu Lim Tiap yang dilancarkan.

Yo Goat Tiong tak menduga perubahan musuhnya berjalan dengan cepat dan di luar dugaan, ia tak bisa melakukan egosan lagi, tahu2 lengannya tertusuk pedang dan lemas.

Senjatanya jatuh, berbareng dengan itu tendangan musuh berkelebat di samping tubuhnya. Pertahanannya berantakan seketika.

“Hutang darah bayar darah, dosa tidak berampun!” teriak Kiu Heng sambil mengerjakan pedangnya.

Yo Goat Tiong menjerit keras, ia mandl darah dan mati seketika juga.

Akibat dari kematian Yo Goat Tiong mempengaruhi medan pertarungan. Ciok It Hong yang berhadapan dengan Cuncu Taysu dari Siauw Lim Sie, segera merat keluar, karena ia tahu bahwa Pek Tok Thian Kun tidak bisa membela dirinya lagi.

“Jangan kasih lolos!” teriak Kiu Heng, karena ia sangat benci pada Ciok It Hong yang pernah mencelakakan dirinya.

Atas seruan ini, Cuncu Taysu mencoba mengejar, tapi kena dihalangi beberapa orang2 lain.

Lie Keng menghadapi Cee Sie Tojin, tapi Ia bukan lawan dari si jago Bu Tong, dalam sekejap sudah berada di bawah angin. Sungguhpun demikian, Ia tidak mau merat seperti Ciok It Hong yang licik. Kiu Heng yang sudah berhasil paling pagi membereskan musuhnya, kini dihadang empat orang Bu Lim lainnya, sehingga tidak bisa mengejar Ciok It Hong.

Pek Tok Thian Kun sendiri tengah sengit melawan Kong Tat, menilik dari ilmu mereka masing2 sama2 kuat, tapi Kong Tat menang di hati. Sedangkan Pek Tok Thian Kun sudah bimbang menghadapi keadaan yang gawat ini. Tak heran begitu Ia mendapatkan kesempatan segera menerjang jendela dan kabur.

Ia ber-lari2, pikirannya sudah aman. Tak kira baru keluar dari rumah dari depannya mendatang seorang nikoh. dan dua gadis.

“O Mi To Hud, tak diduga kita bertemu lagi di sini!” kata nikoh itu yang bukan lain dari Liauw Tim Sutay.

“Sesudah berpisah dari See Ouw, Sutay baik2kah?’’ tegur Pek Tok Thian Kun.

Ia merasa heran si nikoh yang tidak mempunyai ganjelan dengannya bisa mengeluarkan perkataan yang mengandung tantangan, tapi ia tenang dan tidak mengentarakan di wajahnya.

“Aku tidak bersangkutan denganmu, karena itu tak perlu kuatir atas diriku ini. Sedangkan yang akan meminta berurusan adalah kedua Kounio ini,” kata Liauw Tim Sutay.

Ping Ping dengan mata berlinang menatap musuhnya dengan gusar, sedangkan Soat-jie pun mengetahui orang yang mencelakakan ayahnya adalah Pek Tok Thian Kun juga.

“Gui Sam Seng, masih ingatkah kau kejadian di Oey San, dimana keluargaku habis kau bantai?” tegur Ping Ping.

“Oh, kau si bocah, kukira sudah mati menjadi setan!” kata Gui Sam Seng dengan heran.

“Ping Cici, untuk apa banyak bicara dengan manusia iblis yang kejam,” kata Soat-jie.

“Siapakah kau?”

“Aku puteri dari Cie Yang Cinjin!”

“Ha?” Gui Sam Seng heran, “jadinya kau ingin melawan aku?”’

“Ya,” jawab kedua gadis itu hampir berbareng.

“Tahukah bahwa kau berhadapan dengan pemilik Bu Lim Tiap?”

Liauw Tim Sutay menjadi tertawa mendengar keterangan itu.

”Gui Sam Seng, kau tak perlu menimbulkan Bu Lim Tiap yang kau peroleh secara licik! Hadapilah kedua Kounio ini dengan jantan, aku pasti tidak campur tangan!”

Perkataan ini memang yang diinginkan Gui Sam Seng karena Ia takut si nikoh melawannya. Tapi ia pura2 bersikap lain: “Biar siapapun aku tak takuti, apa lagi cuma dua bocah ini,” katanya.

Ping Ping menghadapi musuhnya di depan mata, dan saatnya untuk turun tangan sudah tiba, hatlnya menjadi ber-debar2. Pada saat inilah kesiuran angin keras tiba menyerang dirinya, cepat ia menggeser kaki dan memutar tubuh menghindarkan serangan lewat. Lalu Ia mencurahkan ‘perhatian pada musuhnya sambil menantikan serangan selanjutnya.

Pek Tok Thian Kun melakukan serangan sewaktu musuh tak bersiaga, tapi kena diegoskan Ping Ping dengan mudah, tanpa berkata lagi Ia maju mendekat dan mengayunkan lengannya menabas, kelihayan dari pukulannya ini tak ubahnya dengan kekuatan badai di laut.

Ping Ping tahu kekuatan lengan musuh yang sebelah itu cukup berbahaja, Ia menggeserkan kakinya dan mundur per-lahan2.

Pek Tok Thian Kun merasa heran melihat musuhnya yang mundur2 terus, segera mengubah pukulannya dari membabat menjadi mendorong, seiring dengan itu tubuhnya pun seperti angin topan cepatnya menyergap ke muka.

Ping Ping seperti sudah menduga musuhnya akan berbuat demikian, begitu musuh mendekat segera memutarkan tubuh di atas sebuah kakinya, keadaan sangat berbahaya, hampir Ia tertotok jari musuh. Tapi perhitungannya cukup matang, sewaktu ia memutar tubuh, jurus yang dilancarkan bukan main indahnya, inilah pelajaran rahasia yang diperolehnya selama tiga tahun di pulau Cee Cu To.

Pek Tok Thian Kun tahu jurus dan gerakan musuh sangat dahsyat, tapi Ia menang pengalaman, sebelum serangan datang sudah menduga lebih dulu, tak heran sewaktu Ping Ping melancarkan tangan kena dipatahkan secara mudah.

Kedua tubuh mereka dari merapat tiba2 berpisah, lalu saling tatap dan bersiaga, sesudah itu saling serang lagi, kembali dari berpisah bergumul lagi menjadi satu. Tubuh Pek Tok Thian Kun di bawah baju hitamnya yang besar ber-putar2 seperti gulungan asap yang luar biasa lincah.

Ping Ping didesak terus, sehingga gugup dan kalang kabut, maklumlah seumur hidupnya Ia pertama kali menghadapi musuh, lagi pula musuhnya sangat tangguh.

Segala kepandaiannya yang diperoleh dalam tiga tahun agaknya belum bisa mengimbangi daya kekuatan musuh yang diyakini puluhan tahun. Biar pun demikian Ia melakukan terus perlawanan dengan gigih.

Soat-jie mengetahui saudara seperguruannya berada di bawah angin, maka itu ia mengambil sikap siap sedia, begitu dilihatnya Ping Ping terdesak terus, Ia menghampiri.

Sewaktu perkelahian berpisah dengan cepat. tubuhnya menggantikan kedudukan Ping Ping.

Pek Tok Thian Kun merasa heran atas gerakan si gadis yang lincah dan cepat. Di samping itu ia tidak habis mengerti kenapa Ping Ping sudah demikian lihay sekali, ia merasa penasaran tidak bisa menjatuhkan seorang gadis dalam waktu singkat.

Kini dilihatnya Soat-jie menggantikan Ping Ping. sehingga kegusaran Gui Sam Seng ditumplakkan pada si gadis.

Biarpun digenjot pulang pergi dengan tekanan2 keras, Soat-jie tidak menunjukkan paras gusar, ia memusatkan seluruh perhatiannya pada gerakan2 musuh. Lalu menghindarkan diri dengan indahnya, tubuhnya yang ramping dengan gerakannya yang lincah, ber-putar2 mengimbangi musuh, sehingga seperti uap putih dan asap hitam tengah ber-putar2. Bukan saja kecepatannya luar biasa dan mengagumkan juga sangat indah di pandangan mata yang menyaksikan.

Seorang Ciang-bun-jin dari Pek Tok Bun melawan seorang gadis dari Cee Cu To, dua2 sama2 kuat, masing2 ia memamerkan ilmu golongan atas yang jarang dilihat di dunia persilatan. Mereka seperti mempertaruhkan jiwa masing2 yang satu merasa penasaran tidak berdaya menghancurkan seorang gadis, sedangkan si gadis merasa benci dan ingin membalas dendam.

Ilmu kekuatan Pek Tok Thian Kun sudah lihay, sedangkan Soat-jie yang masih mudapun cukup lihay, dan kalau dinilai ilmu kepandaiannya tidak berada di bawah kekuatan Cie Yang Cinjin sewaktu merebut Bu Lim Tiap yang ketiga kali.

Sesudah perkelahian berjalan satu jam, Pek Tok Thian Kun masih belum berhasil menjatuhkan puterinya Cie Yang Cinjin, keadaan tetap berimbang. Sehingga Pek Tok Thian Kun mem-bentak2 dengan nyaring, tegas ia merasa cemas belum memperoleh kemenangan sesudah bertarung demikian lama. Di samping itu iapun kuatir kalau kawan2-nya di dalam rumah kalah dan datang ke tempat mereka bertarung, dirinya pasti akan terkurung dan mati di bawah kepungan musuh.

Tengah hebatnya mereka bertarung, tiba2 tendengar jeritan keras dari jarak beberapa tombak. Pek Tok

Thian Kun berkesempatan melihat juga ke arah suara. Di sana ia melihat sesosok tubuh jatuh bermandikan darah dan berkerejetan lalu mati.

Di samping mayat itu berdiri seorang pengemis yang bukan lain dari Kayhiap Bu Tie.

Kiranya sewaktu Ciok It Hong sipat kuping melarikan diri, kena dihadang Bu Tie, sehingga pertarungan seru tak dapat dihindarkan. Mereka bertarung ber-puluh2 jurus, tapi kemenangan akhir diperoleh Bu Tie juga. Sesudah menyelesaikan perkelahian berat, Bu Tie mendekat pada Liauw Tim Sutay sambil menyaksikan perkelahian antara Soat-jie dan Pek Tok Thian Kun.

Sementara itu keadaan di dalam rumah batu masih tetap ramai, pertarungan berjalan semakin seru. Masing2 ingin menjatuhkan musuh dalam waktu sesingkat mungkin.

Sedangkan Tohiap yang saling hantam dengan Tiang

Bie Cinjin, sudah melancarkan ilmu simpanannya yang terdiri dari dua puluh empat jurus dengan gencar, tampak huncwenya ke atas menyangsot enam kali, lalu ke bawah menotok enam kali, kiri kanan enam kali, seluruhnya dua puluh empat serangan dilancarkan dalam waktu singkat.

Tiang Bie Cinjin sesudah menghadapi dua puluh empat serangan hatinya merasa gentar, sehingga tertekan habis2an, tak heran senjatanya begitu beradu segera terpental, dirinya sendiri tergempur mundur beberapa langkah dengan terhuyung. Sebelum sempat memperbaiki dirinya serangan susulan dari Tohiap membuatnya terkapar di lantai dan mati seketika.

Kekuatan musuh sudah berkurang, banyak yang sudah lari sipat kuping, hanya Lie Keng tetap melakukan perlawanan, tapi dalam waktu tak seberapa lama Ia pun menyusul Tiang Bie Cinjin di bawah tekanan maut Cee Sie Tojin. Tempat perkelahian yang seram dan menegangkan urat saraf kini menjadi sunji sepi, di samping yang terbunuh mati terdapat pula yang terluka parah sambil merintih kesakitan.

Yang tidak sempat melarikan diri dilucuti senjatanya dan disuruh mengurus jenazah2, sesudah itu rumah itu dibakar.

Tohiap dan kawan2 segera meninggalkannya, mereka menjadi terkesiap sewaktu menyaksikan perkelahian yang masih berlangsung antara Soat-jie dengan Pek Tok Thian Kun. Tapi sebagai jago2 mereka tidak mau turun tangan mengerubuti musuhnya yang tinggal seorang diri.

Dua manusia bertarung terus, seperti me-nari2 agaknya, membuat pandangan mata kabur.

Tiba2 Soat-jie berteriak keras dan garing, tubuhnya merapung ke atas, lalu bergeliat sejenak dan menukik dengan kecepatan kilat, kaki dan tangannya dibentangkan demikian macam, seperti seekor elang menyergap anak ayam, langsung menghajar ubun2 musuhnya. Inilah salah satu jurus dari Cee Cu To yang bernama Elang Saktl Menerkam Ayam.

Saat ini Pek Tok Thian Kun tengah risau, sebab melihat api berkobar dan datangnya kawan2 pihak musuh. Sehingga tak ampun lagi Ia terkena serangan tangan si gadis, tubuhnya terhuyung2, untung Ia masih bisa berlaku tangkas kalau tidak jiwanya pasti mati seketika juga.

Kekalahan agaknya sudah terbayang di depan mata Pek Tok Thian Kun, serangan2 musuh yang semakin lama semakin aneh dan belum pernah dilihatnya membuatnya semakin repot. Untuk menyelamatkan jiwa ia mencoba “modalnya” yang ampuh yakni ilmu tertawa yang bernama Li-seng-tuan-hun-im. Begitu mendengar suara tertawa yang dahsyat ini sekalian jago menjadi bergolak hatinya, untunglah mereka terhitung ahli2 kelas satu. Sesudah menenangkan hati seketika sudah tak terganggu lagi suara aneh itu. Sedangkan Soat-jie mula pertama merasa tak kuat mendengar suara itu, tapi sesudah menyalurkan Lui-kangnya ia bisa menahannya, dan per-lahan2 suara tertawa musuh yang bisa melukakan orang di dalam jarak beberapa ratus meter itu, tak ubahnya seperti tertawa biasa. Saat inilah Ia melancarkan ilmunya yang terlihay.

Tampak tangannya mencabut belati lalu melontarkan keras.

Pek Tok Thian Kun melihat sinar putih yang berkilauan, ia kaget dan mengingat lagi sewaktu serangan Cie Yang Cinjin di See Ouw, kipasnya cepat dicabut dan dipakai menangkis.

Pisau itu berkekuatan luar biasa, kipas ditembus langsung menikam ke depan. Dengan jeritan keras yang memilukan, Pek Tok Thian Kun rebah di bumi. Tubuhnya berkelejetan sejenak, lalu tampak sepasang kakinya menjadi lurus, seorang jago tamat riwajatnya secara demikian.

Tiba2 tampak berkelebat seseorang muda yang langsung menubruk mayat Gui Sam Seng sambil ter-sedu2.

Sekalian yang menyaksikan merasa kasihan juga melihat nasib Gui Sam Seng, tapi kalau mengingat kejahatannya, semua merasa gusar dan ingin menelannya hidup-hidup.

Pemuda itu bukan lain dari pada Gui Wie, sesudah menangis seketika diangkatnya tubuh ayahnya dan dibawa pergi.

“Saudara Gui!” kata Kiu Heng sambil mengejar. “Kau tentu merasa benci pada kami bukan?”

“Ayahku berlaku jahat dan sudah seharusnya menerima ganjaran serupa ini, tapi untukku ia tetap seorang ayah. Karena itu aku harus mengurus jenazahnya sebaik mungkin!”

“Bagaimana dengan Cui-cici?” tanya Kiu Heng.

“Ia baik2 saja, dan kalau kau sempat di kelak kemudian hari mampirlah di Bu Kong San, kami hidup di sana mendampingi suhunya yang sudah tua!” jawab Gui Wie sambil pergi dan tidak menoleh lagi.

Sesudah berkumpul sejenak, Say Lam San pun mohon pamit untuk bertapa lagi, sedangkan Kayhiap dan Tohiap yang sudah ada umur ingin melewatkan hari dengan tenang jauh di pegunungan.

“Heng-jie kau masih muda, masih penuh cita2 untuk menempuh hidup, sedangkan aku sudah tua, karena itu ingin mengasingkan diri. Kuharap kalau sempat kunjungilah aku di Thai San,” kata Tohiap.

“Giehu,” kata Kiu Heng dengan terharu.

Kong Tat datang menepak-nepak pundak Kiu Heng.

“Kau anak yang baik, bagaimana dengan Pai-kut-sin kang, apakah kau tidak pelajari?” kata Kong Tat.

Kiu Heng tersenyum.

“Hai, pengemis dan orang bungkuk, kau pergi masa berdua saja, akupun sudah jemu luntang lantung di dunia Kang Ouw, karena itu ajaklah aku bersama2,” kata Kong Tat.

Sekalian yang mendengar tersenyum.

“Heng-jie, kalau sempat datanglah ke Bu Tong San,” pesan Cee Sie Tojin.

“Baik,” jawab Kiu Heng Tohiap, Kayhiap, juhiap pergi serombongan ke Thai San, Liauw Tim Sutay kembali ke Hoa San, Cee Sie Tojin seiring dengan Cuncu Taysu meninggalkan medan pertarungan yang sudah menjadi mati.

Kiu Heng berlinang air matanya, sedangkan Ping Ping dan Soat-jie memegang lengan kanan dan kiri si pe muda sambil menatap kepergian jago2 Bu Lim.

“Kiu Koko, sejak hari ini kita, harus pergi kemana?” tegur Ping Ping.

“Tidak tahu, aku tak akan berpisah darimu lagi!”

“Kiu Koko,” kata Soat-jie dengan likat. “Aku sudah meminta pada ibu untuk membawamu ke Cee Cu To. Mula pertama ia tidak mengizinkan, sesudah kudesak pulang pergi, kau dibolehkan juga datang ke sana.”

Kiu Heng menganggukkan kepala tanda setuju. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan pulang Cee Cu To.

Sejak itu, Kiu Heng hidup bahagia di pulau kecil yang aneh didampingi dua gadis cantik.

TAMAT

About these ads

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers

%d bloggers like this: