Seruling Sakti Jilid 51-55

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 51 Sampai 55

51 – Berlatih Ilmu Dasar

Senja sudah dijelang satu jam lalu. Jaka dan orang-orang yang berkepentingan, sudah berada di dalam sebuah ruangan luas sebagai tempat latihan silat.

Ruang latihan silat yang ada di bawah tanah itu benar-benar luas, untuk latihan sendiri atau berpasangan, bisa muat sampai dua puluh pasang. Jaka tak habis pikir entah bagaimana cara membangun tempat rahasia seperti ini tanpa diketahui orang? Tapi Jaka tak mau ambil pusing, sebab banyak yang ia pikirkan bayak hal yang ingin ia ketahui. Tentu saja untuk saat ini ia sama sekali tak ingin memikirkan masalah sepele.

Jaka sengaja memintanya pengajaran pada yang masih muda. Sebab jika ia meminta pada orang yang sudah sangat matang dalam penguasaan, inti sari ilmu yang ia dapatkan akan memakan waktu, tapi tidak demikian jika orang-orang muda—walau dia sudah berkemampuan sempurna. Mereka memiliki keluwesan yang kurang dari yang dimiliki oleh para guru atau para senior mereka.

Faktor seperti itu disebabkan karena usia yang masih muda. Dan sebelumnya, Jaka sudah meminta pada empat gadis yang menjadikan dirinya ketua kelompok, tapi beberapa orang seperti Wiratama, Pranayasa, Adiguna, Palada, dan Nawang Sari—gadis itu merupakan saudara sepupu Nawang Tresni, tak keberatan memberi pelajaran ilmu dasar padanya, tentu saja Jaka sangat berterima kasih karena kesudian mereka.

Sedikit banyak, kemauan mereka memberikan dasar ilmu masing-masing pada Jaka karena rasa ketertarikan pada pemuda bernama Jaka. Sebab guru-guru mereka sudah memberi isyarat, bahwa pemuda berbakat aneh itu akan banyak membawa hal-hal menarik juga aneh, siapa tahu mereka dapat menarik manfaat besar. Begitu pesan guru mereka.

Jadi saat ini di ruangan itu sudah ada sepuluh—sebelas orang dengan dirinya. Sebenarnya Jaka merasa sungkan kalau melihat begitu banyak orang, tetapi tak mungkin dirinya mengusir mereka yang ingin melihat latihan.

Baru saja permulaan latihan hendak dimulai, Jaka sudah membuat orang-orang merasa keheranan. Karena pemuda ini meminta banyak kertas dan tinta. Mereka mendiamkannya, karena tak tahu apa yang dilakukan Jaka.

“Sebelumnya, saya ucapakan terima kasih atas kesediaannya, untuk mengajar saya.” Kata pemuda ini agak sungkan. Memang tiap anggota perkumpulan itu berwibawa besar. Walau masih muda, kemampuan mereka rata-rata sudah begitu hebat.

Bersikap sungkan… itulah salah satu sifat baik-buruknya Jaka. Dia merasa orang lain selalu lebih hebat darinya, dengan demikian ia tidak pernah bersikap sombong, ia selalu bersikap wajar dan sebagaimana biasa, bahkan kadang terlalu merendahkan diri. Sifat buruknya adalah; Jaka tak menyadari potensi dirinya. Dia cenderung tak perduli pandangan orang lain terhadapnya.

Boleh jadi para anggota Perkumpulan Garis memiliki wibawa besar, tapi mereka yang berwibawa itu ternyata masih bisa sungkan terhadap Jaka. Hanya saja, pemuda ini selalu bertindak menurut kehendak hatinya, tanpa melihat pertimbangan, atau pandangan orang lain. Mungkin kalau dalam keadaan serius, Jaka adalah pengamat yang sangat cerdik dengan akal dan siasat jitu, tetapi dalam keadaan seperti ini—keadaan yang tidak ada resiko, pemuda ini cenderung seperti kebanyakan orang bodoh. Karena hal itulah—yang tidak disadarinya, maka orang jadi sungkan padanya.

“Siapa yang akan memulainya?” tanyanya sopan.

“Aku,” sahut seseorang. Ternyata yang maju lebih dulu adalah Pranayasa, dia kakak Ayunda. Pemuda ini sifatnya hampir sama dengan Wiratama, angkuh, agak sombong, dan ingin menang sendiri.

“Berapa ilmu dasar yang dikuasai?” tanya Jaka.

“Dua.” Jawabnya singkat dan kaku.

“Apa saja?”

“Angin Tanpa Arah dan Langkah Tujuh Raja.” Jawabnya singkat.
Setelah tahu nama ilmu dasarnya, Jaka segera menuliskan nama dua ilmu itu pada dua kertas berbeda.

Andai saja Jaka orang yang luas pengalaman, tentu dia akan terkejut, sebab dua ilmu dasar itu adalah ilmu tingkat tinggi dari Perguruan Awan Putih dan Perguruan Angin Tanpa Gerak. Tapi karena Jaka tak tahu—atau pura-pura tak tahu? Dengan sendirinya pemuda ini tak menampilkan perubahan wajah apapun.

Pranayasa heran, tapi menurutnya, mungkin saja Jaka sudah tahu sebelumnya. Sang guru—kakeknya sendiri, sudah memberi tahu lebih dulu.

“Silahkan, kalau boleh saya ingin lebih dulu mencermati ilmu Langkah Tujuh Raja.”

Pranayasa mengangguk. Ia segera berjalan ke tengah ruang latihan. Tindakan kakinya mantap penuh percaya diri, orang yang ahli melihat gerak-gerik seseorang untuk menentukan sifat, dapat segera memberikan penilaian, bahwa Pranayasa adalah pemuda tangguh yang berpegang teguh pada pendiriannya.

Untuk sesaat ia terlihat menarik nafas panjang, setelah itu kedua tangan bergerak menyamping di pinggang. Kakinya melangkah satu jangkauan kedepan dengan gerakan amat cepat, ia memukul kedepan, pukulan itu terlihat biasa, begitu sederhana, namun Jaka tahu saat memukul, sudah ada tujuh perubahan gerak yang terdapat pada kaki kanan dan tangan kiri yang tadi memukul. Perubahan gerak itulah yang disebut sebagai Tujuh Raja karena begitu orang menghindar kesamping, maka pukulan itupun akan mengarah kesamping, jika orang mundur, maka perubahan kaki kanan akan segera maja dan memberikan gerakan menendang.

Tentu saja jurus-jurus seperti itu tidak mudah dikuasai, sebab orang yang dapat melakukan jurus rumit itu harus dapat bereaksi secepat kilat. Jika lawan menghindar kesamping, maka dengan cepat pula ia harus membelokkan serangannya kesamping, dan harus dengan cepat pula ia menyimpan cadangan tenaga, siapa tahu lawannya menghindar lagi, dan iapun harus membelokkan serangannya lagi. Jadi singkatnya jurus itu bagaikan anak panah bermata yang mengejar kemanapun sasarannya. Tentu saja ada keterbatasan pada jurus ini, yakni perubahan serangan hanya bisa dilakukan sebanyak tujuh kali. Jika lebih dari itu, tenaga yang menyertainya tak lebih dari pukulan anak-anak. Sebab makin lama bergerak, makin menyusut tenaganya. Sepintas ilmu ini berada ditingkatan ‘bodoh’, tak layak untuk dipelajari, lagipula gerakannya tidak efesien—karena harus lebih cepat dari lawan, berulang tujuh kali pula. Lebih memeras tenaga.

Tentu saja orang yang mencipta jurus ini sudah mengambil langkah antisipasi, tak mungkin dirinya menciptakan jurus selemah itu sebagai andalan. Si pencipta ilmu memakai dalil ‘penambahan tenaga adalah penyusutan seketika’. Dalam prakteknya, jika perubahan pertama tidak kena, maka pada perubahan serangan kedua, tenaga yang menyertainya akan bertambah satu bagian, demikian seterusnya sampai perubahan ketujuh. Pada perubahan kedelapan, terjadilah dalil penyusutan seketika, karena pada gerakan kedelapan itulah tenaga yang terkumpul hilang, membuyar membentuk perlindungan badan. Siapa tahu lawan akan balik menyerang. Jika tetap ngotot melakukan gerak perubahan serangan kedelapan, akan ada dua kerugian yang dialaminya.

Pertama; Jika pukulan itu mengena, efek tenaganya yang mengenainya maksimal, sehingga sanggup membuat musuh mati seketika, tapi dia sendiri kehabisan tenaga, dan harus beristirahat beberapa lama untuk pemulihan. Kedua; Jika gerak perubahan kedelapan tak mengena, maka selain dia lemas kehabisan bertenaga, serangan lawan dengan mudah akan masuk menghantam. Karena tidak ada pertahanan, serangan lawan dapat membuatnya mati seketika.

Terlihat sederhana penguraiannya, tetapi sampai sejauh ini, belum pernah ada yang sanggup memaksanya sampai mengeluarkan perubahan tujuh gerakan. Paling banter empat, itupun harus segera ditangkis.

Jaka takjub melihatnya, ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh, menurut pandangannya cara kerja jurus itu hampir sama dengan teknik serangan Ki Benggala, yakni tambahan tenaga berkesinambungan. Hanya saja, teknik olahan Ki Benggala lebih unggul segalanya dari ilmu Langkah Tujuh Raja.

Jurus kedua Langkah Tujuh Raja, tergelar, kali ini bukan tangan yang melakukan gerakan, namun kedua kaki bergerak melingkar memutar dan kesamping kanan-kiri dalam kecepatan luar biasa. Jika orang awam melihat, maka ia hanya melihat gerakan melingkar Pranayasa, istilahnya seperti balik kanan dua kali.

Tentu saja Jaka tahu perubahan itu berguna untuk menghindar sekaligus menyerang, tangan yang diam disamping bukan berarti tak melakukan gerakan apapun, jika ada kesempatan, maka tangan itu akan menyerang.

Jurus ketiga sampai jurus ketujuh bergerak cepat dengan membuat pecahan gerakan sampai enam belas, kalau dihitung-hitung, dari jurus pertama sampai ketujuh, sudah ada pecahan gerak sebanyak; tujuh, empat, dua belas, enam belas, enam belas, lima, dan enam belas. Berarti keseluruhan ada perubahan variasi sampai 76 gerakan.

Jaka bertepuk tangan, “Luar biasa, hebat!” katanya memuji kagum. “Kali ini bisakah memainkannya dengan satu tangan?”

“Maksudmu?”

“Tapak tanganmu yang satu harus bersentuhan dengan tapakku. Hanya satu jurus saja..”

“Baik.”

Jaka segera maju dan rentangkan tangannya, tapak tangan keduanya saling bersentuhan, dalam sekejap jurus pertama tergelar, lalu selesai. Jaka manggut-manggut sambil tesenyum.

“Terima kasih banyak.” Katanya, lalu ia berjalan ke tempatnya semula, di wajahnya terlihat kerut sesaat. Begitu duduk di lantai, tangan Jaka langsung mengambil pena dan membuat coretan-coretan garis pada kertas yang ia beri judul Langkah Tujuh Raja.

Orang-orang yang kebetulan berdiri di dekat Jaka, terheran-heran melihat kelakuan Jaka. Karena apa yang tertuang dalam kertas hanyalah coretan garis lurus, melengkung, tegak lurus, lingkaran dan lukisan poros. Pokoknya gambar itu tidak dipahami oleh mereka yang melihat. Tampak Jaka mengangguk puas.

“Silahkan ilmu kedua,”

Pranayasa mengangguk, tetapi ia agak bingung, sebab ilmu Angin Tanpa Arah harus dimainkan berpasangan, artinya ilmu itu hanya bisa dikeluarkan jika ia diserang.

Jaka mana tahu apa yang dibingungkan Pranayasa. Harusnya mudah saja Pranayasa mengatakan bahwa ia harus memiliki lawan, tetapi pemuda angkuh seperti itu pasti mengatakan tak butuh siapa-pun. Beruntung, adiknya cepat tanggap.

“Biar aku menemanimu berlatih.” Kata Ayunda seraya maju.

Jaka tak keberatan, sebenarnya ia malah lebih suka kalau orang-orang mengeluarkan ilmunya saat berlatih tanding. Tetapi mana berani ia mengatakan permintaannya itu. Pemuda ini menyadari, dirinya adalah anggota baru. Kalau banyak ini-itu malah membuat orang tak suka. Padahal pandangan orang tidak demikian.

“Yunda, ilmu apa yang kau gunakan?”

“Aku hanya memiliki satu ilmu dasar saja, Kuncup Seri Teratai Salju.”

Jaka segera menuliskan nama jurus itu pada kertas lain. “Maaf membuat kalian harus bertanding.”

“Tidak apa-apa, sebenarnya yang seperti ini yang lebih menyenangkan.” Kata Pranayasa.

“Eh, benar?”

Dua orang itu mengangguk.

“Kalau begitu untuk selanjutnya apa boleh dengan cara berlatih tanding saja?” tanya pemuda ini penuh harap. Yang lain terlihat mengangguk setuju. Tentu saja Jaka girang, sebab bagaimanapun meminta sesuatu pada mereka yang belum dikenalnya, bagaimanapun dia sendiri ragu—juga sungkan.

“Kalau begitu silahkan dimulai.”

Begitu aba-aba keluar, Ayunda langsung menyerang kakaknya dengan gesit dan sangat cepat. Gerakan gadis itu begitu bertenaga, tapi luwes, penempatan serangannyapun sangat akurat. Jaka berulang kali berseru kagum, memang ilmu Ayunda lebih unggul dua-tiga tingkat dari ilmu Mahesa Ageng, Seta Angling. Padahal dua pemuda kenalan Jaka itu sudah begitu tangguh.

Sesuai dengan namanya, ilmu Kuncup Seri Teratai Salju, menekankan pada gerakan yang dinamis dan tanpa putus. Tentu saja yang dinamakan tanpa putus disini, jika ‘Teratai Salju’ belum mekar. Gerakan tangan Ayunda selalu saling bertautan dengan tangan sebelahnya. Cara menyerangnya-pun sangat unik dan indah, kedua tangan yang ditakupkan seperti menyembah, disorongkan ke muka. Jika serangan dua tangan menyembah itu tak berhasil, tangan yang tertakup itu membuka ke kiri dan kanan dengan gerakan menggunting. Saat bisa dihindari, secepat kilat badannya membalik, dan melayangkan tendangan tinggi setengah lingkaran, sebagai perlindungan serangan balasan. Indah sekali… begitu gemulai dan pas! Kelihatannya jurus itu kusus untuk kaum hawa, sebab selain mengandalkan keluwesan gerak, dan keringanan tubuh, gerak gemulai bak penari juga merupakan bagian darinya.

Perubahan gerakan jurus Ayunda sulit ditebak, banyak ragam cara memuka kembangan jurus serangan. Jika tangannya bergerak menggunting, tetapi luput, secara tak terduga tangan itu kembali menakup dan membuka kembali kekanan dan kiri dengan gerakan biasa, bukan menggunting. Memang sederhana, tetapi karena gerakannya sangat cepat dan lentur, jika lawan terkena, paling sedikit bisa patah tulang. Sebab yang menjadi dasar serangan ilmu Ayunda adalah telapak tangan yang menampar dan jari-jemari yang menotok.

Sesaat gadis itu terlihat hendak menampar, tetapi jarinya meliuk dan menotok bahu sang kakak. Memang gerakannya sulit diduga, orang yang menghadapi kembangan jurus seperti itu harus pandai menduga serangan lawan, apakah tamparan atau totokan? Untung saja kembangan jurus Ayunda hanya dikerahkan dua tingkat saja, jika seluruhnya ia keluarkan—sampai enam tingkat, maka sang kakak pasti kewalahan.

Sebab dia harus menebak anggota tubuh mana yang akan menyerang. Karena selain telapak tangan dan jari, lutut, siku, tendangan dan rambut juga ikut menyerang.

Pada tingkatan tertinggi, ilmu dasar Ayunda dapat membuat lawan terkapar cukup dengan satu jurus. Sebab dalam satu jurus dia dapat melakukan enam perubahan gerakan dengan enam anggota badan berbeda, dan dapat dilakukan berulang-ulang dengan sasaran berbeda. Misalnya pada gerak perubahan pertama, sasaran totokan adalah ubun-ubun, pada gerak perubahan ketujuh—yakni gerakan pertama yang kembali diulang untuk kedua kalinya, totokan tidak mengarah ubun-ubun lagi, mungkin saja ke mata, ulu hati atau tempat vital lainnya.

Ilmu seperti itu hanya dapat dilakukan dengan sempurna oleh kaum wanita, sebab keunggulan wanita terletak pada kelenturan tubuh, peringan tubuh, dan gerakan badan yang dinamis tanpa putus. Tentu saja pria juga dapat, tetapi perbandingannya itu mungkin diantara seribu orang pria hanya satu yang dapat bergerak seperti wanita.

Meski serangan adiknya begitu gencar dan tanpa putus, Pranayasa dapat menghadapi dengan tenang. Sebab kalau Pranayasa kalah dari adiknya, maka ia tak pantas sebagai penyandang ilmu mustika, karena orang yang memiliki ilmu mustika kecerdasan dan perhitungannya pasti di atas kebanyakan orang.

Ciri ilmu Angin Tanpa Arah yang dimainkan Pranayasa adalah, bergerak sesuai dengan arah serangan lawan. Hampir mirip dengan ilmu langkah milik Jaka, cuma yang membedakannya adalah; ilmu langkah Jaka dapat bergerak mendahului serangan lawan dan selalu mengikuti serangan lawan tepat dibelakangnya. Dengan kata lain, bergerak dengan membaca lebih dulu arah serangan lawan. Dan ilmu yang dimiliki Pranayasa walupun bersifat sama, namun jika kalah cepat dari lawan, maka resiko terkena serangan juga tak dapat dihindari. Sebab ilmu itu hanya berkisar pada pergerakan kaki dan tangan, sangat sulit untuk mengantisipasi serangan mendadak yang memiliki perubahan seperti Langkah Tujuh Raja.

Tentu saja keunggulan jurus ini juga ada, selain dapat bergerak menurut serangan, ilmu ini juga bisa membuat seseorang menyerang tanpa berpikir. Jadi bereaksi lebih dulu tanpa memperhitungkan serangan lawan. Atau dengan kata lain, begitu serangan lawan selesai, serangan ilmu Angin Tanpa Arah ini segera bergerak, mencapai sasaran lebih dulu. Dalil yang dipakai sederhana, yakni ada aksi maka rekasi-pun timbul.

Serangan Ayunda selalu hampir masuk, jika tamparannya hendak menyentuh bagian tubuh Pranayasa, maka tubuh pemuda ini bergeser satu langkah lebih jauh dari serangan, maka serangan Ayunda sia-sia. Begitu serangan Ayunda selesai, maka giliran Pranayasa yang melakukan serangan, cepat dan sangat mematikan. Hakikatnya tidak mirip dengan latihan tanding lagi.

Jaka berdebar-debar melihat tarung sedahsyat itu, apalagi mengingat kalau keduanya adalah kakak beradik. Serangan Pranayasa begitu mematikan dan sangat bertenaga, tepat mengarah telinga kiri adiknya, jika Ayunda terkena serangan tersebut, saat itu juga ia pasti geger otak, mungkin tuli sebelah.

Tetapi ilmu Kuncup Seri Teratai Salju tidak semurah dugaan Jaka, begitu datang serangan susulan kakaknya, Ayunda segera bergerak dengan tipu Mengembangkan Kuncup Teratai. Tangan kirinya bergerak menangkis dan tangan satunya bergerak menangkap tangan kanan sang kakak. Cepat dan sangat akurat.

Tap! Kena… tapi saat itu juga Pranayasa memperlihatkan kehebatan ilmu Angin Tanpa Arah, begitu tangannya tertangkap, detik itu juga, tenaga serangan yang semula hendak diarahkan ke telinga kiri, sontak menjadi tenaga pelindung. Tangan Ayunda yang hendak menangkap tangan kakaknya, tergetar sesaat, dan kesempatan itu sudah cukup bagi Pranayasa untuk mundur.

Serangan dan pertahanan tingkat tinggi terus bergerak dinamis, sampai akhirnya semua jurus dan seluruh variasi gerakan tergelar habis. Keduanya melompat kebelakang dengan menghembuskan nafas panjang-panjang.

“Terima kasih, benar-benar pertandingan hebat, sangat bagus.” Seru Jaka bertepuk tangan, yang lain juga ikut bertepuk tangan. Sebab pertandingan itu selain berteknik tinggi, juga karena hampir segenap kemampuan dikerahkan. Kakak beradik itu merasa girang melihat tanggapan pemirsa.

“Bagaimana denganmu Jaka? Karena statusmu kali ini adalah pelajar, sebagai pengajar aku wajib menanyakan kepahamanmu tentang gerakan tadi.” Kata Pranayasa serius.

Jaka mengangguk mafhum, “Untuk saat ini aku rasa masih bisa memahaminya.”

“Jangan cuma berkata begitu, kalau bisa aku hendak melihat hasilnya. Ingat, statusku kali ini ada pengajar!” katanya dengan muka keren.

“Aku paham…” sahut Jaka sambil tertawa kecil. “Tapi beri aku waktu beberapa saat,”

“Untuk apa?” tanya Ayunda.

“Tentu saja memahami lebih lanjut. Aku harap kalian tak kecewa, apa yang diajarkan kurang sesuai dengan yang seharusnya.”

Jika orang lain yang mengatakannya, mereka pasti mengira, dia tak bisa menangkap intinya. Tapi, kalau Jaka yang mengatakannya, sudah pasti bukan karena dia tak memahaminya. Pasti ada hal lain yang ingin dia ‘katakan’.

—ooOoo—

52 – Bertukar Ilmu- Siapa Berlatih, Siapa Melatih?

Seandainya Jaka belum memperlihatkan kelihayannya dihadapan mereka, tentu mereka mengira pemahaman Jaka terhadap ilmu silat, seperti; ketika sang guru memukul lurus dengan kembangan tersembunyi, dia hanya memukul lurus tanpa kembangan apapun, tidak sesuai contoh. Jika seperti itu kasusnya, berarti dia baru dalam tahap ‘mengamati’. Andai bisa melakukan gerakan dengan baik—mirip contoh, dia masih dalam tahap ‘meniru’. Kalau contoh sang guru bisa dilakukan dengan sempurna, dia dalam tahap ‘mempelajari dengan baik’. Tapi… jika dia sudah ‘berani merubah contoh’ yang diberikan sang guru—dengan hasil yang sama, maka dia dalam tahapan ‘pemahaman sempurna’. Mungkinkah itu yang ingin dikatakan Jaka? Bahwa dia sudah memahaminya hanya dari melihat saja?

Pranayasa tidak berkomentar apapun. Dia tak ingin berprasangka buruk, atau baik, mengenai jawaban Jaka tadi.

“Kalau begitu tak masalah. Tapi, kuminta ciri dan inti masing-masing ilmu dasar harus tetap ada.”

“Oh…” Jaka mengumam seolah tak paham.

“Jika ciri itu hilang, maka apa yang kuajarkan sia-sia. Aku ingin ilmu perguruanku juga turut menjadi dasarmu.” Tukasnya.

Jaka tersenyum melihat tanggapan Pranayasa yang serius. “Akan kuusahakan. Cuma, kuminta engkau tidak kecewa dengan hasil ajaranmu.”

“Ya?”

“Tentu kau paham, meskipun engkau ingin agar ciri gerakan dapat terlihat, tapi menurutku itu tak sepenuhnya bisa dilakukan. Karena ilmu dasar ini berasal dari perguruan terkemuka, dengan sendirinya aku tidak boleh sembarang menggunakan. Aku bukan murid mereka.”

Pranayasa mengerti maksud Jaka. “Tapi, bukankah kau berniat menguasainya, karena hanya memiliki ilmu mustika yang tak boleh digunakan sebelum ada ijin? Bagaimana mungkin kau tak akan menggunakan ilmu ajaranku pula? Lalu apa gunanya latihan ini?”

Jaka tersenyum. “Pasti ada gunanya. Maksudku, mungkin setelah engkau ajarkan ilmu itu padaku, kau sendiri tidak akan mengenalinya.”

Pranayasa paham dengan maksud Jaka, tapi ia tidak percaya. Menyerap pelajaran—gerakan silat—dari menyaksikan pertandingan, dia sendiri bisa. Tapi mengubahnya saat itu juga? Rasanya jarang… bukan jarang, tapi tidak ada! Tidak ada orang yang sanggup melakukannya!

Dengan perasaan kurang senang, karena menganggap Jaka bermaksud menggodanya, wajah pemuda ini mengeras.

“Aku tidak perduli dengan apa yang akan kau lakukan, yang jelas kewajibanku untuk mengajari-mu sudah kulakukan. Dan hasil yang harus kau perlihatkanpun tidak boleh mengecewakanku!”

“Baik!” sahut Jaka sungguh-sungguh. Sikap pemuda ini sedikit mengikis kegusaran Pranayasa.

Jaka membalikkan tubuhnya dan hendak kembali duduk, tapi mendadak ia membalikan tubuh lagi.

“Ehm, aku ada usul bagus..” ujar pemuda ini.

“Usul apa?” Pranyasa menanggapi dengan acuh tak acuh, tapi Jaka tak marah, karena Ayunda menggapinya dengan wajah berseri.

“Begini, setelah semua ini selesai, aku ingin memberi penawaran. Kupikir ini ide bagus, saling menguntungkan.”

“Ada apa sih, langsung saja bicara.” Seru Nawang Sari penasaran.

“Kita bertukar ilmu.”

“Bertukar ilmu?” ujar semuanya heran. “Eh, bukankah kau cuma memiliki tiga ilmu mustika saja? Itu yang akan kau tukarkan?” tanya Pertiwi.

“Tidak mungkin!” sambung Andini. “Sekalipun kami ingin, para tetua pasti melarangnya. Lagi pula tak semudah itu dapat kami pahami.”

Jaka menggeleng sambil tertawa, “Maksudku bukan seperti itu, aku hanya ingin memperbanyak ‘koleksi’ jurus kalian. Katakanlah, ada bagian yang kurang jika belum kutambahkan satu-dua gerakan baru. Tentu saja aku juga memohon pada kalian, selain memperlihatkan ilmu dasar, kalau boleh perlihatkan pula satu jurus serangan, atau pukulan, atau apa saja, yang menurut kalian hebat, dapat dijadikan pegangan untuk bertarung.”

Mereka agak tercengang mendengar bahasa Jaka, yang mengatakan ‘perlihatkan’, bukannya ‘mengajarkan’.

“Oh, kalau masalah itu, seharusnya kau tidak perlu mengusulkan barter segala. Kau cukup meminta pada kami saja, bukannya menyombong sih, rasanya kita tidak perlu bertukaran ilmu segala.” Kata Palada ramah.

Jaka memandang orang itu dengan tatapan mata terima kasih. Dia paham, bagi seorang pesilat, ilmu-ilmunya—katakanlah ilmu pamungkas—adalah nyawa kedua. Jika itu diajarkan pada orang lain, bukankah sama dengan membuka celah fatal pada diri sendiri? Tapi dengan entengnya Palada mengatakan ‘…cukup meminta pada kami saja’.

Jaka yakin pemuda itu bukanlah orang yang suka menyombongkan diri. Mungkin dia dapat berkata demikian karena rendah hati, atau karena punya pegangan yang cukup membuatnya percaya diri.

“Aku tahu, tapi sebagai tanda terima kasihku, tentu saja tak akan kubiarkan kalian memberi cuma-cuma. Apalagi kalian tidak tahu ketrampilan apa yang akan kutukarkan, bukan? Kuharap kalian bisa menunggu sejenak,”

“Ada apa sih?” potong Andini penasaran.

“Kau akan segera tahu,” jawab Jaka membingungkan. Andini cemberut, tapi hanya sesaat saja, sebab dia sadar Jaka memiliki maksud tertentu. Dan yang pasti bakal mengejutkan mereka, berpikir seperti itu, si gadis tak lagi merasa kesal.

Jaka duduk bersila di lantai, pemuda ini terlihat sedang menekuni tiga lembar kertas yang penuh coretan. Sesekali dia menopang dagu—berpikir—dan kembali mencoret lagi. Muda-mudi lainnya yang melihat tingkah Jaka menggeleng penuh tanya.

“Sedang apa dia?” begitu pikir mereka.

Mereka bisa menduga apa yang sedang ditekuni Jaka, karena pada tiga lembar kertas itu tertulis, dua ilmu dasar Pranayasa, dan satu ilmu dasar Ayunda. Waktu terasa berjalan sangat lambat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jaka berdiri.

“Selesai sudah.” Ujar pemuda ini sambil menggeliat.

“Apanya yang sudah selesai?” tanya Pranayasa.

“Pelajaran darimu. Memang kurang sesempurna yang seharusnya, tapi aku bisa memahaminya.” Kata Jaka sambil melambaikan tiga kertas tadi.

“Maksudmu dari hasil perenungan coretan tak karuan itu?” tanya Pranayasa mengerutkan kening.

Jaka tertawa. “Benar, dan ini kuberikan padamu, anggap saja sebagai barter.” Jaka menyerahkan kertas yang penuh coretan garis dengan judul Langkah Tujuh Raja dan Angin Tanpa Arah.

“Apa ini?” seru Pranayasa tak mengerti. “Kau main-main?” katanya tak senang, ia melempar kertas itu jatuh tepat di depan Jaka.

“Tidak.” Jawab Jaka kalem, ia memungut kembali catatan coretan itu, lalu dilipat dan disimpan dalam bajunya. “Kalau ingin jawabannya kau harus menyerang aku dulu.”

“Hgm….” pemuda berpendirian keras ini menggeram sebal. “Kalau kau jadi muridku, aku bisa mati saking jengkelnya.”

“Sebelum mati, tentu saja akan kuobati lebih dulu.” Tanggap Jaka.

Semua hadirin tersenyum, hanya Diah yang tidak. Dia memperhatikan Jaka dengan seksama, sepertinya ada kenangan yang di ingat dari pemuda ini, tapi entah apa… apakah mereka pernah berjumpa? Tidak tahulah, dia sendiri bingung memikirnya.

“Bersiaplah! Aku akan menyerangmu dengan Langkah Tujuh Raja!”

“Silahkan.” Jaka berdiri membelakangi Pranayasa. “Maaf aku bukannya meremehkan engkau, tapi sebentar lagi kau juga akan tahu.”

“Baik!” geram Pranayasa dengan geraham beradu, agaknya pemuda ini jengkel benar dengan tingkah Jaka.

Tanpa melangkah dari tempatnya, Pranayasa menendang Jaka. Padahal jaraknya ada satu setengah tombak, mana bisa tendangan itu sampai. Tendangan itu hanya menjangkau setengah tombak. Tapi mendadak saja, tendangan memutar kesamping itu membuat tubuh Pranayasa berputar seperti gasing, seolah tendangan pertama itu untuk mencari pijakan dari angin! Dan jarak satu tombak terlampaui. Dalam sekejap saja tendangan kedua sudah mengarah kepala Jaka.

“Luar biasa, jurus pertama!” seru Jaka, pemuda ini membungkukkan badan, sedangkan kakinya melangkah ke depan, berputar setengah lingkaran. Tendangan Pranayasa lewat begitu saja. Tapi jika serangan tadi hanya segampang itu, tidaklah pantas menggolongkan Pranayasa dalam daftar pemuda berbakat besar.

Tendangan itu memang lewat diatas kepala Jaka, tapi secepat kilat kaki itu membalik kebawah. Jaka masih bersikap tenang, tangannya diangkat keatas hendak menangkis.

“Kena kau!” seru Pranayasa dalam hati. Tapi hatinya mencelos, karena sekejap ia hanya bisa melihat bayangan tangan Jaka saja, tubuhnya entah kemana. Melihat pola gerakan Jaka yang aneh, Pranayasa segera mengembangkan Langkah Tujuh Raja yang kedua. Begitu tendangan gagal, kakinya segera menutul tanah, tubuh Pranayasa kembali berputar, dan ia melihat Jaka berada tepat diatas kepalanya. Rupanya saat menghindar tadi, Jaka melompat keatas dan bersalto, sehingga kakinya memancal langit-langit, secepat itu pula, jari Jaka menyarangkan totokan di bahu Pranayasa yang sedang berputar.

Pemuda bertampang dingin ini terkesip, tapi dengan cekatan ia segera mengibaskan tangan menangkis totokan Jaka, tapi tidak kena! Ternyata totokan itu hanya tipuan, karena serangan sebenarnya adalah kaki. Diudara kaki Jaka menendang seperti gerakan kalajengking, tepat mengarah sasarannya, kepala!

Biarpun bertampang, dingin namun Prnayasa adalah orang yang lurus dan jujur. “Bagus!” pujinya seraya melompat menghindar.

Kalau diceritakan serangan itu sepertinya lambat, tapi sesungguhnya kejadian itu cepat sekali. Kalau dihitung dari awal gebrakan, hanya memakan waktu empat detik, dan tiga jurus tingkat tinggi sudah tergelar!

Begitu serangannya tidak kena. Jaka bersalto dan menjejak tanah kembali, namun serangan Pranayasa sudah menanti. Pusaran angin dari gerakan melingkarnya, sudah menerpa Jaka.

“Hebat, tapi jangan senang!” teriak Jaka juga bergerak menghindar. Gerakan keduanya sangat cepat, namun jika diteliti lebih lanjut, bengonglah hadirin yang menonton. Sebab gerakan Jaka dan Pranayasa begitu serasi, begitu indah dan klop. Gerakan serangan Pranayasa itu bukan lagi gerakan menyerang, tapi gerakan yang mencoba mengimbangi langkah dan tiap jurus yang dikembangkan Jaka. Orang-orang merasa kalau Pranayasa sedang didikte. Jika diteliti lebih lanjut, hakikatnya kedua orang itu bukan sedang bertarung tetapi sedang menari.

Dalam sepersekian detik Pranayasa sadar, kalau Jaka mendikte semua serangannya. “Gila, masa Langkah Tujuh Raja demikian mudah diredamnya? Aku bahkan sudah menggunakan jurus delapan besar langkah bolak balik, kenapa dia sama sekali tak terpengaruh? Serangankupun tak kunjung kena!”

“Perhatikan!” tiba-tiba saja Jaka berseru. “Tiga…” berkata begitu, gerakan Jaka memutar dan lurus ke depan, mendekati Pranayasa, seolah hendak menabrak, karuan saja pemuda itu terkejut, tapi mendadak Jaka melejit ke samping.

“Tujuh…” begitu mengatakan tujuh, dari kelitan berubah menjadi tendangan berantai, yang melingkupi tubuhnya dan menghajar sekujur tubuh Pranayasa, tentu saja pemuda ini tidak mau jadi bulan-bulanan. Tanpa sungkan ia langsung mengerahkan Langkah ke tujuh—langkah tertinggi dari ilmu dasarnya.

Tapi lagi-lagi ia harus segera kembali ke langkah delapan—yakni merubah tenaga serangan jadi perlindungan, karena tendangan Jaka hanya kamuflase.

“Satu…” hanya suaranya yang terdengar, tapi entah dimana Jaka berada. “Pendek, pendek, panjang, panjang, panjang, lengkung, lenting jauh, tanah, jatuh!” kali ini suara Jaka terdengar lagi, dan orangnya masih tidak kelihatan.

Pranayasa terpengaruh dengan ucapan Jaka, ia bergerak sesuai serangan dan instruksi Jaka, tapi setelah sekian lama ia bergerak dan memutar lehernya ke sekeliling penjuru, juga keatas, Jaka tidak kelihatan.

“Jangan terpancing suara.” Seru Jaka dan pemuda ini muncul tepat di depan Pranayasa.

“Ih..” tentu saja Pranayasa berjingkat kaget.

Wajah Jaka terlihat seperti tidak ada kejadian apa-apa. “Bagaimana menurutmu?”

“Bagaimana apanya?”

“Gerakan tadi…”

Pranayasa tertegun, sekalipun dia tinggi hati dan tak mau kalah, tapi kenyataan tadi membuatnya mengakui kalau gerakan Jaka lebih hebat darinya. “Kenapa kau tak terlihat?” tanyanya, tanpa menanggapi pertanyaan Jaka tadi.

Jaka maklum dengan perasaan Pranayasa. “Aku tetap terlihat, hanya aku mengindar dari sudut pandangmu.”

“Bagaimana bisa?!” tanyanya tanpa sadar.

Jaka tersenyum. “Tentu bisa, dan kau, pasti bisa melakukannya juga, bahkan lebih baik dariku.”

“Eh…” serunya tanpa sadar. Sebagai pemuda yang cenderung melakukan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain—Pranayasa sangat jarang bertanya atau terkejut—tapi kali ini, dia menyadarinya kalau perasaan itu timbul spontan, tanpa bisa dicegah.

“Maksudmu?”

“Inilah harga yang kutawarkan untuk barter ilmu, aku sangat berterima kasih padamu dan kalian semua yang dengan tulus, mau memberikan bimbingan padaku. Tapi aku juga tidak ingin jadi orang yang tidak tahu balas budi. Karena itu apa yang akan kuberikan pada kalian ibarat sarung pedang dan batu pengasah. Kalian sudah memiliki pedang hanya tinggal mempertajamnya dan melindunginya…”

“Maksudnya, engkau…”

“Benar, aku tahu maksudmu.” Kata Jaka memotong ucapan Pertiwi, karuan gadis ini dongkol. “Orang membawa pedang telanjang, suatu saat—seberapa pun lihaynya dia, pedang itu bisa melukai dirinya.”

“Maksudmu… maksudmu, semua gerakan tadi kau ambil dari Langkah Tujuh Raja?” tanya Pranayasa dengan keheranan membucah.

“Benar.” Jawab pemuda ini sambil mengangsurkan kembali coretan kertas yang tadi dibuang Pranayasa, dan pemuda itu menerimanya dengan perasaan campur aduk. “Dan aku ingin kau menerimanya, menjadikannya sebagai satu bagian dengan ilmumu. Bukan aku berkata sombong, tapi aku yakin jika jurus tambahan tadi sudah melebur dengan ilmu aslinya, orang yang menciptakan ilmu inipun bakal kewalahan.”

“Masa?” seru Pranayasa tak percaya.

“Tak perlu aku jawab. Tapi kau bisa merasakan sendiri bukan? Menurutmu bagaimana rasanya saat kita bertanding tadi? Aku mohon engkau mau menjawab secara jujur.”

Pranayasa termenung sesaat. “Aku merasa didikte.” Katanya singkat.

“Kau benar, tapi juga salah.”

“Kenapa?”

“Seharusnya lebih tepat lagi engkau berusaha mengiringi, bukan didikte, kau mencoba mengiringi gerakanku, mencoba mengimbangi, bukan untuk menyerang. Mungkin bisa dimisalkan… kau ingin mengatakan sesuatu maksud hatimu, tapi tak bisa mengutarakannya dengan kata-kata. Dan begitu melihat gerakanku, kau baru bisa temukan kata-kata itu.”

“Jelasnya, apa yang ingin dikatakan kakak selalu didahului engkau, begitu bukan?” timbrung Ayunda.

“Bisa juga begitu.” Jaka.

“Jaka, Eyang Lukita penah bercerita padaku, kalau engkau adalah orang yang menguasai barisan kuno jaman dulu, apakah benar?” tanya Nawang Tresni.

Jaka membenarkan.

“Lalu semua ilmu langkah itu kau dapat dari mana?”

Jaka sulit menjawabnya, bukan karena hal lain, tapi disebabkan jika ia menjawab yang sebenarnya, orang bisa menilai dirinya sombong. “Aku…”

“Kau menciptanya sendiri kan?” potong Pertiwi menuntaskan rasa dongkolnya.

“Ya, kurasa memang demikian.” Jaka mengiyakan serba salah.

Hadirin terkesip, mereka hendak tidak percaya, tapi bukti didepan mereka tadi membuat mereka harus percaya. Membuat ilmu yang berkualitas bukanlah pekerjaan gampang. Biasanya hanya cikal bakal pendiri perguruan besar saja yang sanggup berbuat seperti itu.

“Bagaimana caramu menciptakannya?” tanya Pranayasa. Benar-benar keajaiban kalau pemuda ini mau bertanya, Ayunda melirik kakaknya dengan perasaan heran campur senang. Diam-diam semua orang mengela nafas gegetun.

Entah daya magis apa yang dibawa Jaka, orang yang paling sulit bergaul pun dengan mudah ia bawa dalam percakapannya. Aih…

“Ah, sebenarnya semua orang juga bisa menciptakan apapun. Tinggal mengolahnya dari bahan yang sudah ada. Tapi, kadang kala kita perlu kunci yang tepat untuk membuka gerbang yang tepat pula. Kebetulan kunci itu sudah ada padaku. Bukannya aku tak mau menjelaskan. Hanya saja penciptaan suatu ilmu itu timbul dari pikiran, hati, budi pekerti, keadaan, dan tentu saja bahan yang ada. Semua tergantung diri kita masing-masing.”

“Kalau begitu kau ini bisa dikatakan spesialis pencipta ilmu?” tanya Pranayasa kagum, kekagumannya tak ia sembunyikan.

Jaka jadi sungkan. “Wah, julukan yang kau beri itu terlalu besar untukku. Tapi memang tidak aku pungkiri untuk membuat sejenis olah langkah, mudah bagiku. Tentu saja karena keterbatasan waktu, apa yang kuberikan padamu tadi masih kurang, tapi itu sudah lebih dari cukup jika didalami lebih lanjut, mungkin lain waktu kita bisa menyempurnakannya.”

Pranayasa paham, ia melihat kertas penuh coretan tadi. “Lalu bagaimana aku mempelajari ini?”

“Ingat yang aku katakan saat kita berlatih tadi?” tanya Jaka.

Pemuda itu mengangguk.

“Nah, gunakan itu, lalu dengan sendirinya kau akan menemukan kuncinya. Tentunya jika semua itu bisa dikuasai, dapat pula dikembangkan lebih lanjut. Kau bisa lebih maju menguasainya dengan pemahamanmu sendiri, dari pada meniru apa yang kulakukan.”

Pemuda ini mendehem, tanda ia mengerti. “Dan kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan dari pertandingan tadi?”

“Kurasa sudah…” Jawab Jaka.

“Tentu saja dia sudah menguasainya!” celetuk Pertiwi. “Kalau tidak, bagaimana dia bisa membuat coretan tak karuan itu.”

Jaka nyengir serba salah. Dia tahu gadis itu agak dongkol padanya. Jadi ia memakluminya, jika ada waktu dimana Pertiwi bisa membuatnya kesal, pasti akan dilakukan saat itu juga.

Pranayasa tak menanggapi, ia sedang mengamati coretan itu dengan kening berkerut. “Ah…” tiba-tiba wajahnya cerah. “Aku tahu!” Serunya.

“Syukurlah, dan ini, untuk ilmu yang kedua.” Jaka mengangsurkan kertas berjudul Angin Tanpa Arah.

Pranayasa segera menerimanya. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Jawab Jaka.

“Apakah caranya juga sama dengan mempelajari Langkah Tujuh Raja?”

Jaka menggeleng. “Tidak sama, perhatikan baik-baik, nanti kau akan tahu sendiri.”

“Kalau begitu, jika aku paham dan mulai mempelajarinya, tentu tidak sama dengan yang kau kuasai, bukan?”

“Benar! Ibarat aku menyerahkan uang padamu, aku bermaksud membelikanmu pakaian, tapi kau sudah punya, dan kau ingin membeli yang lain. Jadi ilmu yang akan kau dapat, sesuai dengan pribadimu, kehendak hatimu, keinginanmu yang tak pernah terwujud… bisa engkau wujudkan dalam olah langkahmu sendiri. Seperti yang kukatakan, aku hanya menunjukkan jalannya. Kau yang punya kunci, masuklah kedalamnya, dan itu milikmu…”

Pranayasa kembali menekuni coretan Jaka. “Ah!” serunya terkejut, dia menatap Jaka dengan kaget. “Ini… bagaimana bisa?”

Jaka tersenyum. “Tiap pikiran orang berbeda, apa yang aku maksudkan sudah tentu berbeda dengan apa yang engkau pahami. Tapi aku bisa memahami kekagetanmu. Sikap ksatriamu, dapat menjelaskan semuanya. Kurasa, olah langkah yang baru kau dapat bisa mengantisipasi serangan licik lawan, seperti serangan mendadak, atau lontaran senjata rahasia tak terduga. Apa benar begitu?”

“Bagaimana kau bisa tahu?” seru Pranayasa makin heran.

“Tentu saja aku tahu, kan aku yang membuat coretan tak karuan itu.” Sahut Jaka tertawa.

Wajah pemuda itu yang biasanya dingin memerah sekejap. “Maaf, tadi aku menghinanya, sebab aku tak tahu apa yang ada dalam gambar yang kau buat.”

“Aku bercanda… tentu saja aku hanya menebak. Prilakumu yang ksatria, yang mengisaratkan bahwa kau selalu maju tanpa mencari jalan belakang! Isyarat itulah yang menyatakan bahwa engkau menemukan sesuatu!”

Pranayasa termangu, ucapan Jaka kali ini benar-benar tepat mengenai hatinya.

Jaka menepuk bahu pemuda itu. “Kita sama-sama mendapatkan keuntungan dalam hal ini. Aku berterima kasih padamu. Satu pesanku, meski coretan itu hanya kau yang mengetahui maknanya, jagalah baik-baik, jangan sampai hilang. Tentu saja kecuali engkau mengingat tiap detilnya.”

Pranayasa mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu dia tidak mengacuhkan situasi lagi. Pranayasa berjalan ke tepi arena latihan dan duduk bersila sambil merenungi dua kertas itu, wajahnya berubah-ubah. Kadang terlihat girang, kadang berkerut tak paham.

“Dan berikutnya, milikmu…” kata Jaka mengangsurkan kertas berjudul Kuncup Seri Teratai Salju pada Ayunda. Dan gadis itu menerimanya dengan hati berdebar girang.

“Apakah dengan menguasai olah langkah ini, aku bisa seperti engkau?” tanya gadis itu pada Jaka.

Jaka bingung sesaat, lalu katanya. “Bagaimana aku menjawabnya ya? Mungkin saja bisa begitu, tapi semua tergantung padamu. Ingat, aku memiliki latar pengetahuan berbagai formasi barisan lebih banyak dari yang lain, karena itu pengembangan olah langkah yang kumiliki tak bisa terhafal olehku, semuanya sudah menyatu dan terlahir begitu saja, saat aku ingin bergerak menghindar. Tapi jika pertanyaanmu dilatar belakangi ilmu dasarmu sendiri, maka olah langkah itupun terbatas pada ilmu dasarnya. Ini juga berlaku untuk yang lain.”

“Memangnya kenapa?”

“Kalian pasti tahu banyak tentang formasi barisan, alangkah baiknya, jika sudah mempelajari apa yang kuberikan ini, kalian mencoba untuk menelaahnya dan membandingkan dengan formasi-formasi yang kalian ketahui, pasti akan dapat manfaat tersendiri. Tapi kusarankan, sebelum mempelajari coretanku dengan sempurna, jangan sekali-kali mencoba membandingkan, apa lagi sampai menambahnya.”

“Kenapa?”

“Apa yang kubuat, boleh dibilang sistematis dan hanya satu arah. Jika ada tambahan dari luar, dengan sendirinya perubahan akan bertambah banyak. Olah langkah itu akan rancu dan kacau, dan itu bisa mempengaruhi sistim serangan dalam jurus dasar kalian. Syukur kalau pengaruhnya baik, tapi kalau jelek? Mungkin malah memperlihatkan gerakan terbuka dan menunjukkan kelemahan… bagaimana jadinya?”

“Oh…” Ayunda kelihatannya paham, namun ia masih memandangi Jaka dengan sorot penuh pertanyaan.

“Kuberi satu contoh, misal saja ilmu dasarmu jika sudah mencapai tingkat sempurna, memiliki tandingan seimbang ilmu ‘anu’.. karena seimbang, tentunya tidak ada yang menang dan yang kalah. Tapi dengan olah langkah yang kau dapatkan dari ilmu itu sendiri, maka engkau akan lebih unggul dari ilmu ‘anu’ tadi. Jika gerak tambahan itu belum sempurna dipelajari, tapi sudah diuji dengan membandingkan dengan—misalnya dengan formasi Lima Langit Menjaring Bumi, maka kelemahan jurus dasar kalian akan lebih jelas terlihat, dan jangan bermimpi untuk menang dari ilmu ‘anu’ itu.”

Kali ini Ayunda paham benar, tapi wajahnya merah menahan tawa. Sungguh sembarangan orang ini mencari nama. Seenaknya saja dia bilang lawan ilmuku adalah ilmu anu.. memangnya itu anumu? Berpikir begitu wajah Ayunda makin jengah.

“Kenapa?” tanya Jaka heran, melihat gadis itu mesam-mesem dengan wajah merah.

“Eh, ti..tid-dak..” sahut gadis ini tergagap. Lalu ia membalikkan badan dan mengambil tempat duduk disamping kakaknya. Kelihatannya gadis ini akan segera mendalami olah langkah yang baru saja diberikan padanya, tapi jika melihat mulutnya yang masih tersenyum-senyum kecil itu, Jaka meragukan dugaannya sendiri.

Aih dasar wanita, entah apa yang kau pikirkan. Gerutunya penasaran.
Suasana hening sekejap, mereka menganggap barter yang di usulkan Jaka benar-benar menarik.

“Aku ingin tahu apakah kau sudah menguasai ketiga ilmu dasar tadi?” tiba-tiba saja Diah Prawesti memecah keheningan.

Jaka memandang gadis itu beberapa saat, sungguh harus diakui olehnya kalau gadis berwajah dingin ini benar-benar cantik. Ayunda dan yang lain memang sama cantiknya, tapi wajah cantik yang beku itu seolah-olah nilai plus yang dimiliki Diah.

Gadis itu mana tahu apa yang ada dibenak Jaka, wajahnya yang sudah kebal dipandang begitu rupa, tiba-tiba saja merasa merah terbakar. Terasa olehnya sorot mata Jaka seolah mengelus wajahnya.

“Hei..” seru Nawang Tresni sambil terkikik. “Kalian sedang apa? Mau bertanding atau mau bikin janji? Kok pelotot-pelototan begitu?”

“Ah tidak, aku hanya sedang mencari jawaban yang tepat.” Sahut Jaka keripuhan. “Memang sudah kukuasai, dan seperti yang kukatakan, bentuknya berbeda.”

“Cuma dari melihat begitu saja?” tanya Palada.

“Ya, tapi tidak hanya dengan melihat saja beres, pengamatan, penjiwaan dan konsentrasi, kan perlu juga.”

Semua orang juga begitu. Gerutu Palada dalam hati. Tapi kan tidak secepat anak ini, sambungnya lagi.

“Eh, aku hampir lupa!” seru Pranayasa sambil berdiri. “Aku belum melihat sampai dimana kau menguasai ilmu-ilmu tadi.”

“Benar,” sahut Ayunda menimpali.

“Kelihatannya semua menagih.” Ujar pemuda ini sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. “Baiklah…”

Jaka melangkah ke tengah, ia berdiri disitu dengan memejamkan matanya, satu menit, dua, tiga.. empat menit berlalu.

“Lho.. jurus apa itu, hanya berdiri saja? Mana inti sari yang kau dapatkan?” seru Ayunda heran.

Jaka membuka matanya. “Lho, bukankah aku harus diserang?” tanya pemuda ini juga heran.

Melihat kondisi yang salah wesel itu, mereka tertawa. “Biar aku yang mengujimu.” Mendadak saja Diah maju.

Jaka setuju saja, “Sebaiknya tidak satu orang, tapi tiga orang.” Wajah Diah agak kelam mendengar ucapan Jaka.

“Eh-eh, jangan marah dulu…” seru Jaka buru-buru. “bukan maksudku merendahkanmu, tapi semua itu karena, tiga ilmu dasar tadi kusatukan dengan olah langkah. Jadi bukannya aku meremehkanmu Diah, kau harus maklum, olah langkahku ini bisa dimatikan gerakannya kalau memiliki lawan lebih dari dua orang yang kekuatannya sama. Dengan demikian ilmu dasar yang kupelajari tadi bisa di perlihatkan.”

Mendengar penjelasan Jaka, emosi gadis itu agak mereda. “Kenapa kau katakan harus tiga orang, baru bisa mematikan gerakan? Dengan demikian olah langkah yang akan kau berikan pada kami tiada gunanya.” Kata gadis ini tandas.

“Agar kau tidak penasaran, boleh menyerangku lebih dulu. Sekali lagi, bukan aku bermaksud meremehkanmu.”

“Baik!” selesai berucap, serangan Diah segera tergelar. Gadis ini memiliki pola serangan yang sangat aneh. Gerakannya kadang terpatah-patah, tapi kadang luwes sekali. Serangannya meliuk-liuk, jarinya membentuk paruh bangau.

“Hebat!” Puji Jaka di sela-sela serangan gadis itu. “Ingat, aku hanya menggunakan olah langkah ilmu dasar Angin Tanpa Arah milik Pranayasa.”

Serangan yang gencar Diah, sama sekali tak bisa menyentuh Jaka. Padahal gadis ini sudah mengerahkan seluruh daya upaya. “Inilah yang kumaksudkan ‘sampai mematikan langkah…’ serangan satu-dua orang masih bisa dihindari dengan sempura oleh jurus olah langkah ini tanpa perlu menyerang, tapi jika tiga orang yang maju, olah langkah tak begitu leluasa menghindar tanpa membalas, dan akan kembali leluasa menghindar, jika balas menyerang.” Jelas Jaka di sela-sela serangan Diah.

Gempuran gadis ini selalu berjarak satu jengkal dari tiap sasaran yang ditujunya. Jika Diah mengarahkan tutukan jarinya ke ubun-ubun dengan sendirinya kepala Jaka merendah satu jengkal dari serangan, tapi karena Diah sudah tahu tipikal gerakan Jaka, kakinya segera menendang perut Jaka, padahal tubuh pemuda ini sedang merendah—setengah jongkok, sangat sulit untuk menghindar di posisi itu.

Tapi tiba-tiba saja badan Jaka mundur ke belakang satu jengkal lagi, tubuhnya agak cekung kebelakang tanpa mengubah posisi kaki. Agaknya Diah sudah menduga gerakan itu, secepat kilat ia memutar badannya—juga setengah jongkok, lalu kakinya menyapu kaki Jaka.

Lagi-lagi Jaka bisa menghindar, begitu sapuan kaki gadis itu hampir kena, tubuh Jaka melambung satu jengkal dari tanah. Rasa frustasi menghinggapi Diah, karena sapuannya tak kena, kedua tangannya segera menjojoh kedepan sekuat tenaga, mengarah dada Jaka.

Ciit..!

Pukulan itu sampai mengeluarkan suara mendecit. Kali ini jika pukulan tak kena, maka angin pukulan akan meneruskan menghajar dada Jaka, tapi begitu pukulan Diah menerpa, dada Jaka menjauh satu jengkal, dan saat angin pukulan menghempas datang, tubuh Jaka berputar dua kali kesamping.

Mereka yang melihat pertarungan itu terpesona, gerakan tubuh Jaka nyaris serupa dengan gerakan Angin Tanpa Arah, serupa tapi tak sama. Terkadang mirip, terkadang gerakannya adalah kebalikan dari gerakan semula, aneh! Kelincahan, dan keluwesan gerakan Jaka membuat Pranayasa terbelalak kagum.

“Luar biasa, pantas.. tiap jurusku bisa didiktenya. Gerakannya klop sekali, jurus itu seperti kebalikan ilmu Angin Tanpa Arah, tapi juga seiring dan sejalan. Aneh, kenapa begitu? Kenapa gerakan itu terasa seperti saling membimbing?” pemuda ini bertanya-tanya dalam hati. Tapi konsentrasinya masih pada pertarungan itu.

Diah berhenti menyerang, ia menatap Jaka sesaat. Ia benar-benar penasaran, sebab sudah seluruh jurus dalam ilmu dasarnya—seluruhnya 78 jurus—ia keluarkan semua, tapi masih tersisa satu, semula dia bimbang mengerahkannya, tapi keadaan kali ini memukul egonya! Dan ia berniat mengeluarkannya.

“Terima ini!” bentak Diah di puncak kekesalannya, tangannya ditarik sejajar pinggang, dengan satu kaki berlulut ditanah, agaknya dia hendak melepaskan jurus pamungkas ilmu dasar.

Jaka melihat gelagat buruk, secepat kilat, pemuda ini sudah ada didekat Diah dan menangkap kedua tangan gadis itu.

“Jangan melakukan itu Diah, kita hanya bertanding, bukan bertarung mati-matian. Aku tak ingin kau terluka… apa yang kulakukan tadi bukan untuk menghinamu, tapi memberimu penjelasan.”

Gadis itu memandang Jaka, ia berdiri dan Jaka juga ikut berdiri, wajah gadis itu terlihat merah membara, entah karena marah, atau malu… atau malah senang? Tiada yang tahu selain gadis itu sendiri.

“Sampai kapan kau pegang tanganku?” katanya dengan nada datar, wajahnya sudah menjadi dingin seperti semula, tapi matanya memancaran kehangatan.

“Sampai kau tidak marah lagi dan kau menjadi anak manis seperti tadi.” Jawab Jaka tersenyum menggoda.

—ooOoo—

53 – Berselisih Pendapat

Gadis ini cemberut dan mengipatkan tangannya. Wajahnya terlihat lebih merah, ucapan Jaka yang terakhir, bisa saja berarti kalau selamanya Diah adalah gadis yang manis.

“Baiklah, aku percaya padamu.” Katanya gemas.

Jaka mengacungkan jarinya, “Tunggu sebentar.” Ucapnya pada gadis ini. Jaka mengambil kertas dan ia duduk di lantai. “Ilmu dasar apa yang kau keluarkan tadi?”

Diah mengerti maksud Jaka, hatinya yang terbiasa sunyi dan beku, kembali terasa hangat. “Samudera Melintas Awan.” Jawabnya singkat.

“Kenapa namanya terbalik? Apa bukannya Awan Melintas Samudera?”

“Memang dari sananya.” Sahut gadis ini kaku.

“Ya sudah, tapi, lho… kalau tak salah itu salah satu ilmu dasar dari Perguruan Elang Laut?”

“Kau tahu?”

Jaka mengangkat bahunya, “Kebetulan saja aku pernah berkunjung kesana.”

“Berkunjung? Kapan?” cecar Diah antusias, agaknya apa yang mengganjal hatinya bisa ia temukan.

“Ah… kapan-kapan saja kukasih tahu, sekarang aku sibuk.” Jaka menjawab sambil menulis coretan-coretan seperti tadi, hanya saja coraknya berbeda.

“Hh…” dengus Diah kecewa, tapi ia tak marah, toh untuk masa yang akan datang, mereka—bersama tiga saudaranya yang lain, akan selalu dekat dengan Jaka? Berpikir seperti itu wajahnya jadi jengah—tapi hanya sesaat.

Hanya Ayunda yang melihat perubahan wajah Diah, sudah tahu apa yang bergolak dalam hatinya. Ia mendekati Diah.

“Sebaiknya jangan kau ganggu dia…” katanya sambil merangkul Diah. Gadis ini mengangguk kecil, bibirnya membentuk sebaris senyum tipis.

“Ai.. Jaka-Jaka, entah apa yang kau buat pada kami? Kenapa bisa jadi begini?” pikir Ayunda, iapun berperasaan sama dengan Diah. Benar-benar dilema yang sulit.

Jauh di dasar hatinya Ayunda sama sekali tidak menyalahkan Jaka, sebab pemuda ini sama sekali tidak merayu mereka atau melakukan tindakan untuk menarik perhatian, tapi kehadiran pemuda itu saja sudah menarik perhatian baik para tetua ataupun anggota, konon lagi gadis-gadis muda ini.

Tak berapa lama, Jaka sudah menyelesaikan coretannya. “Nah… ini dia.” Ia mendekati Diah yang berdiri berdampingan dengan Ayunda, Andini dan Pertiwi.
Diah menerimanya, “Cara bagaimana aku mempelajari ini?” tanya gadis ini sambil menerima kertas itu.

“Sama seperti penjelasanku tadi, coba lihat garis ini…” Jaka menunjuk dengan jarinya. “lalu engkau kaitkan dengan jurusmu, kemudian kau sambungkan dengan baris dan lengkungan yang berdekatan,dan seterusnya.”

Gadis ini paham, tapi mendadak ia teringat sesuatu. “Kau memberikan ini padaku, tapi aku belum memberikan apa-apa padamu.”

“Salah, kau sudah memberikannya.”

“Tadi? Lewat pertarungan kita?” tanya gadis itu tak percaya.

Dan bukan hanya dia yang tidak percaya, semua orang juga begitu. Mereka berpikir sama, ‘jika tiap pertarungan sedemikian mudahnya dia menyadap jurus-jurus lawan, bukankah seharusnya dia sudah tidak memerlukan ilmu-imu ini lagi?’

“Masa begitu?” Diah bertanya meyakinkan.

“Benar kok, aku tidak bohong, hanya saja aku kurang jelas mengenali…”

“Aku bersedia mengulanginya.” Sahut gadis ini cepat-cepat. Tapi mendadak ia sadar dengan jawabannya yang terlalu cepat, wajahnya merona sekejap. Namun dengan jawaban itu kini orang tahu, perubahan apa yang terjadi didalam dirinya.

“Bukan itu maksudku… maksudku aku hanya kurang jelas, dengan jenis tenaga yang kau gunakan. Kalau kau bersedia, coba pukul telapakku.”

Jaka menyorongkan telapak kanannya ke depan.

“Pukul?”

“Benar, dengan pukulan tadi yang kau urungkan.”

Tanpa basa-basi, Diah memukul tapak Jaka dengan tenaga dua bagian.

Deesh!

Tangan Jaka terpental, rupanya pemuda ini sama sekali tidak menggunakan tenaga dalam untuk menahannya, karuan tulangnya ngilu bukan main.

“Aduh… dasar aku yang bodoh. Aku lupa mengatakan kalau kau cukup memukul tanpa tenaga murni.” Katanya sambil mengibas-kibaskan tangannya.

Melihat Jaka kesakitan seperti itu, reflek Diah maju menghampirinya dan menggenggam tangan Jaka.

“Sakitkah?” tanya si gadis dengan suara penuh khawatir… dan juga lembut. Rasanya iapun tak mengenal suaranya sendiri, kenapa bisa begitu lembut?

“Wah, minta ampun sakitnya..”

Wajah Diah agak pias sesaat, “Maaf..” katanya lirih.

“Bisa kau pijit?’ goda Jaka.

“Ih..” pekik Diah kaget karena memegangi tangan Jaka, beberapa saat.

“Terima kasih, pijitanmu manjur benar, tanganku sudah tak sakit.” Kata pemuda ini mengibas-kibaskan tangannya sambil tertawa menggoda. Beberapa gadis yang melihat adegan tadi cemberut, jelas mereka tak suka, atau iri… atau cemburu?

“Nah, sekarang siapa yang akan mengujiku?”

“Sebentar Jaka…” tiba-tiba saja Palada berseru.

“Ya?”

“Aku ingin bertanya padamu satu hal mendasar…”

“Silahkan.”

“Maaf bila aku terlalu blak-blakan,”

“Tak apa, aku malah senang.”

“Begini, kulihat dengan mudahnya engkau menyadap jurus-jurus yang diberikan oleh beberapa saudara kami, aku sangat kagum. Tapi hal itu membuatku berfikir, bukankah—menurut ceritamu—kau pernah bertarung dengan orang yang melukaimu dengan Racun Getah Biru, menurutmu bukankah ilmunya sangat hebat, apakah kau juga juga menyadap ilmunya?”

Jaka tersenyum mendengar pertanyaan Palada, dia sadar apa yang akan dipertanyakan, tetapi pemuda itu harus memutar dulu mencari cara untuk membuat suasana tidak tegang, benar-benar pemuda baik.

“Aku tahu apa maksudmu, dan memang aku sudah menyadap ilmunya.”

“Ah.. hebat sekali.” Desis Palada. “Kau berkata kalau tingkat kepandaian orang itu di atas delapan tetua, bukan?”

“Benar.”

‘Dengan sendirinya ilmu yang kau sadap darinya lebih hebat dari ilmu dasar yang akan kami berikan.”

“Benar.” Jaka menjawab sembari tersenyum.

“Kalau begitu, kenapa kau harus mempelajari ilmu dasar kami?”

Orang-orang saling berpandangan, apa yang dikemukakan Palada masuk akal juga, dan semuanya ingin penjelasan.

Jaka menghela nafas panjang. “Kalian ingin jawaban panjang atau pendek?”

“Hah, ucapan macam apa itu, tentu saja kami ingin jawaban sebenarnya.” Tukas Wiratama.

“Baik, sebelumnya aku ingin meminta maaf kalau jawabanku ada yang tidak berkenan. Pertama; yang harus kau sadari bahwa aku ingin belajar ilmu dasar adalah dari keempat anggotaku, bukan yang lain.”

Wajah mereka tampak berubah mendengar ucapan Jaka yang menurut mereka terkesan melecehkan.

“Apa maksud ucapanmu?” tukas Adiguna tersinggung.

“Sebentar, aku belum selesai menjelaskan.” Jaka berkata tegas. “Jujur saja, pada awalnya kalian hanya ingin melihat seberapa jauh aku bisa membuat hal-hal aneh bukan? Jangan potong dulu..’ tukas Jaka tegas melihat Adiguna hendak bicara.

“Aku tak ingin jawaban kalian, karena apa yang kutunjukan saat awal masuk kesini sudah cukup untuk menjelaskannya. Dan mungkin kalian berharap ada yang bisa dimanfaatkan dariku.”

“Kau…” seru Adi guna tak bisa meneruskan lagi.

“Kalian tidak perlu tersinggung, karena hal seperti itu sudah banyak sekali kualami! Dan mungkin kalian juga akan mengalaminya. Dulu… banyak orang-orang yang pernah kutemui, hampir seluruhnya hanya selalu ingin mengambil, memanfaatkan… istilah kasarnya ‘memeras’, dan jika sudah selesai, dibuanglah ia.” Jaka berbicara dengan nada pahit. “Aku sudah tidak terkejut lagi dengan apa yang akan terjadi.” Gumamnya.

“Ah…” orang-orang mendesah terkejut, juga gusar. Mereka tahu kalau Jaka sama saja dengan menyatakan, ‘bahwa mereka tak lebih dari orang-orang yang pernah ditemui Jaka’ juga dari ucapan sebelumnya Jaka seolah berkata ‘ilmu yang kumiliki lebih tinggi dari kalian’, dan memang kenyataan itu benar, tetapi mereka tak menyangka Jaka akan segamblang itu.

“Alasan kedua; kenapa aku ingin mempelajari ilmu dasar keempat anggotaku, karena memang aku harus melakukannya, cuma itu!” Jaka sengaja menekankan kata keempat anggota, yang artinya dia tidak meminta siapapun selain anggotanya, dan itu sudah cukup jelas.

“Jadi kau sama sekali tidak menghendaki ilmu dasar kami?” potong Wiratama tajam.

“Hh…” Jaka mendesah serba salah. “Siapa yang mengatakan begitu? Apa aku pernah berkata begitu? Kalian tahu kenapa aku mengajukan syarat pertukaran ilmu? Kalau dipikir-pikir aku yang rugi, bukannya kalian.”

“Kau…”

“Tunggu dulu.” Mendadak Diah menyela ucapan Wiratama. Semua orang berpaling kearahnya. Kali ini mereka tidak lagi terkejut melihat ke-aktif-an Diah.

“Ada apa?” tanya Wiratama dengan nada lembut—tapi raut mukanya berkerut tak senang, sudah jelas kalau pemuda ini cemburu pada Jaka, sebab Jaka-lah yang membuat Diah ‘hidup’ kembali, bukan dirinya.

“Aku rasa percakapan ini tidak perlu dilanjutkan lagi.”

“Kenapa kau berkata begitu?’ tanya Nawang Tresni.

“Karena ini menyangkut prinsip! Dan diantara kita tak satupun yang ingin direndahkan, bukankah begitu? Kalian pikir Jaka sudah berkata jujur? Dia sengaja berbicara keras pada kita demi melihat ego kita terlalu tinggi, ia ingin menyampaikan bahwa urusan ini tak usah diperpanjang, tak sadarkan kalian kalau dia sengaja mengulur jawaban?”

Tidak ada yang menanggapi.

“Sudahlah Diah, tak perlu kau…”

“Kau diam saja.” Tukas Diah memotong ucapan Jaka sambil melotot, kelihatannya marah, tapi Jaka tahu, si gadis membela dirinya..

Jaka mengangkat bahunya, artinya ‘ya, terserah kau saja’.

“Dia pasti punya alasan kenapa harus belajar pada kita. Jujur saja, diantara kita siapa yang sanggup menandingi Paman Benggala?” Diah memandang saudara-saudaranya, tidak ada tanggapan. “Tidak ada! Dan kalian lihat… Jaka sanggup mengalahkan paman Benggala.”

Kembali tidak ada tanggapan, memang kalau orang pendiam berbicara, biasanya ucapannya tajam—hampir-hampir nyelekit, penuh sarkasme.

“Kami, anggota-anggotanya, memahami mengapa dia harus belajar ilmu dasar.”

“Tapi Diah, seperti yang dikatakan Adiguna, bukankah ilmu sadapannya lebih bagus dari pada ilmu yang akan kita ajarkan?” akhirnya Nawang Sari memberi komentar.

“Dia pasti punya alasan sendiri.” Jawab Diah mantap, dan pasti. Lalu ia menoleh Jaka.

Jaka tahu apa arti pandangan gadis itu, dia ingin dirinya membuktikan kalau ucapannya benar.

Terdengar Jaka menghela nafas panjang, raut mukanya yang biasa bersinar terang dan wajah senyum tak senyum itu menghilang… tapi hanya sesaat.

“Baiklah… seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tidak bermaksud menyombong, aku punya alasan sendiri, dan kalian akan tahu kenapa aku harus berbuat begini. Sayangnya alasanku tak bisa dikatakan.”

Lalu Jaka melangkah ke tengah arena latihan. “Aku ingin beberapa dari kalian maju mengujiku.”

Tanpa menunggu sedetikpun, Palada, Adiguna, Wiratama, Nawang Sari, Nawang Tresni dan… Pranayasa, kecuali anggota Jaka—semuanya maju.

“Ini tidak adil!” hampir bersamaan, semua anggota Jaka berseru membela.

“Tak perlu gusar begitu,” ujar Jaka menyabarkan dengan lembut. “Kalau belum lega, kesalah-pahaman tidak akan hilang.”

“Tapi…” Ayunda membantah.

“Aku tahu, tidak ada yang perlu dicemaskan.”

“Huh, siapa yang cemas?” gerutu gadis ini lirih, tapi toh dia tetap saja khawatir.

Senyap menggigit. Inilah pemandangan hebat… keenam orang yang hendak menguji Jaka menguasai ilmu mustika. Dalam dunia persilatan, keenam orang itu termasuk bintangnya para bintang pesilat muda, mereka adalah generasi terbaik yang pernah dimiliki dunia persilatan. Siapapun pasti berpikir seratus kali kalau ingin bertarung dengan keenam orang itu, bahkan Delapan tetua sekalipun.

Pernah, beberapa tahun yang lalu—saat keenamnya belum memiliki ilmu mustika, salah seorang delapan tetua, bertarung melawan mereka. Dan hasilnya tetua itu bisa didesak, walau akhirnya mereka kalah, kalah pengalaman saja. Kalau saat itu saja sudah begitu hebat, bagaimana dengan saat ini?

Dan lawannya bukan salah satu dari tetua, tetapi Jaka… pemuda misterius, yang entah memiliki kepandaian apa.

****

Beberapa saat sebelumnya, di waktu yang sama…
Delapan tetua duduk di satu meja. Mereka membincangkan banyak hal. Kemudian menyinggung masalah Jaka.

“Kalau kupikir-pikir, rasanya agak mustahil, orang semuda Jaka bisa menguasai sejenis Hawa Mayat Tanpa Batas.” Ujar Ki Sugita.

“Benar, menurut catatan kepemilikian ilmu mustika, yang bisa menguasai ilmu ini hanya orang berusia rata-rata tiga puluh lima tahunan. Boleh jadi aku yang termuda, tapi rasanya mustahil untuk hal prinsip seperti itu, Jaka bisa melampauiku.” Sambung Ki Benggala.

“Menurutmu, apa yang membuat Jaka bersungguh-sungguh jika ia bertarung?”

“Kenapa kakang bertanya begitu?” Tanya Ki Wisesa pada Ki Lukita.

“Jawab saja.”

“Mungkin karena terdesak?”

“Tidak, itupun sudah kupikirkan, selama pengujian ilmu mustika, apa yang bisa mendesak Jaka?” Semuanya terdiam mendengar komentar Ki Lukita.

“Aku jadi teringat waktu perbincangan pertama dan pelantikan anggota tadi.” Gumam Ki Banaran.

“Benar, benar!” tiba-tiba saja Ki Sugita melonjak berdiri. Tapi kembali duduk. “Dari tadi, sebenarnya aku berpikir satu hal, tapi entah apa yang kupikirkan aku sendiri lupa, kuingat-ingat terus, dan kini aku tahu…”

“Apa yang kau ingat?”

“Saat pelantikan anggota, kenapa Jaka begitu gusar?”

“Ada yang tak berkenan dihatinya?”

“Tepat sekali! Sesuatu yang tak sesuai dengan pemikirannya bisa membuat dirinya marah. Ingat saat dia hendak balas menyerang Dwiyana? Dalam sekejap aku merasakan hawa membunuh begitu tebal. Tapi hanya sekejap, dan hilang. Itulah yang kucoba mengingatnya dari tadi.”

“Ah…” Ki Lukita mendesah pelan.

“Kalian ingat ucapannya? Bahwa dia harus sabar—itu yang diceritakan dirinya, tentang nasehat si kakek baik hati… sekarang aku tahu alasannya, kenapa orang itu mengharuskan Jaka melatih kesabaran.”

“Kalau begitu, usahanya memang berhasil baik.” Ki Wisesa menimpali ucapan Ki Sugita.

“Ya, benar. Dia tentu orang hebat, dia bisa melihat sifat buruk Jaka sejak dini.”

Kini mereka tahu alasannya, kenapa Jaka begitu tenang. Karena Jaka memang sudah melatih kesabaran sejak kecil.

“Kalau begitu…” ujar Ki Lukita memandang Ki Glagah.

“Hm, kalau begitu, setiap saat Jaka bisa lepas kendali, jika dia terus menerus didesak.” Gumam Ki Glagah pula.

“Mungkinkah…”

“Mungkin sekali!” potong Ki Wisesa.

“Gawat!” Ki Benggala dan Gunadrama segera menyadarinya, mereka bangkit dan segera menuju ruang latihan. Saat ini mereka ada di atas, sedangkan ruang latihan ada di ruang bawah.

—ooOoo—

54 – Meditasi Batu Mulia

“Cara bagaimana kami harus menguji dirimu?” tanya Pranayasa. Agaknya dia yang memimpin kelima rekannya.

“Terserah, keluarkan saja serangan terbaik kalian.” Sahut Jaka singkat.

“Termasuk ilmu mustika?”

Jaka mengangguk.

Paras keenam orang itu berubah pias, lalu dari pias menjadi kemerahan, raut mereka jadi sangat serius. Agaknya apa yang dilakukan Jaka benar-benar menyentil ego mereka. Biarpun hati merasa panas, tetapi merekapun sadar, kalau orang secerdik Jak tidak akan sembarang bertindak.

Kalau saja tenaga yang dikerahkan Jaka adalah tenaga saat melawan Ki Benggala, mereka yakin bukan tandingan Jaka, tapi jika keenamnya bergabung, entah apa yang akan terjadi, siapa yang tahu?

“Bersiap Jaka!” desis Pranayasa.

Jaka mengangguk, tapi, tunggu…

Keenam orang itu kembali memperhatikan wajah Jaka, dan kini perasan terkejut, gusar, ngeri, atau takut bercampur aduk jadi satu!

Saat mereka masih berbicara tadi, wajah Jaka tiada menampilkan perubahan, tetap tenang dan penuh senyum. Tapi kini… kini?

Tiada lagi wajah penuh senyum, wajah itu kini berpenampilan seperti wajah orang mati, tapi anehnya warna wajah Jaka tidak pias, tapi hijau cerah, cuma matanya yang bening agak memburam. Lamat-lamat terasa hawa yang membuat pori-pori mereka merinding. Sekalipun mereka orang goblok, tanda yang ditimbulkan Jaka pasti diketahui. Itulah hawa membunuh! Tapi hawa ini lain dari yang lain…

Apakah itu, Meditasi Batu Mulia? Tapi mengapa begitu beda? bisik mereka dengan hati miris, ngeri.

Meditasi Batu Mulia adalah sejenis ilmu pemusatan pikiran yang sangat hebat, pemusatan pikiran hanya pada satu titik, yakni… membunuh! Istilah Meditasi Batu Mulia dikenal seluruh pakar ilmu silat, lantaran itulah tataran tingkat tinggi meditasi untuk menuju tingkatan tenaga sakti paling hebat tapi juga paling berbahaya, dan merupakan jalan terakhir bagi seorang pakar. Tentunya untuk menuju tingkat meditasi itu sulitnya bukan main, dan tidak tiap pakar bisa melakukannya. Cuma anehnya kenapa Jaka bisa?

Kenapa dinamakan Meditasi Batu Mulia? Tentu saja ada maksudnya, yakni; pada hakikatnya, hanya batu mulia seperti giok, permata, bijih baja, bijih emas dan sebagainya… tahan terhadap, cuaca, tanpa terpengaruh, cuaca seburuk apapun justru membuktikan kadar kemurnian batu murni.

Begitu pula dengan Meditasi Batu Mulia ini, jika seseorang sudah memasuki tahapan ini, tekanan apapun tidak akan menggoncangkan perhatiannya, tujuan membunuh akan menjadi prioritasnya, apakah dia sendiri akan mati atau tidak, tidak akan diperdulikan! Tapi yang jadi masalah, jika meditasi ini sudah memuncak dalam pengerahan, siapapun lawannya pasti mati!

Itulah kenapa lawan Jaka tergucang hatinya melihat keadaan Jaka, merekapun tak berani ayal. Seluruh puncak ilmu kepandaian masing-masing—sampai pada ilmu mustika, dikerahkan untuk menyambut serangan Jaka.

Aneh… bukankah mereka yang mengeroyok? Tetapi kenapa perasaan mereka justru sebaliknya? Seolah merekalah yang dikepung oleh pasukan di berbagai penjuru?
Jika Adiguna dan Palada berpendapat bahwa kehebatan Jaka melulu tenaga saja, kali ini mereka harus menelaah kembali dugaan itu, mereka harus menambahkan kalau Jaka adalah orang pintar… atau jenius? Dan jika sebelumnya Nawang bersaudari berpendapat kalau kecerdikan Jaka hanya melulu pengobatan dan tanaga besar, kali ini mereka harus menambahkan bahwa Jaka adalah orang yang memiliki daya pengamatan bagus… tetapi kata bagus itu lebih tepat jika diganti, sangat bagus?

Dan jika Wiratama berharap dengan serangan serentak sekuat tenaga bisa mengakhiri segalanya, maka kali ini dia harus berpikir seratus kali. Dalam kondisi Jaka saat ini, bukan hal yang tepat jika mereka menyerang serentak. Sebab situasi kali ini serupa orang saling menempelkan golok di leher masing-masing. Salah bergerak, matilah!

Dan tadinya Pranayasa sangat menantikan inspirasi gerakan barunya bisa mengejutkan Jaka, kali ini dia sadar bahwa daya pengamatannya, masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Jaka.

Lalu bagaimana dengan Jaka? Sebelumnya dia sangat berharap bisa mengontrol dirinya, tetapi begitu ini dilakukan, maka menyesallah ia. Menyesal? Apa yang disesalinya?

Kondisi saat itu benar-benar tegang, keempat gadis anggota Jaka hanya bisa mengawasi dengan hati tegang. Mereka sadar jika pertandingan kali ini tidak bisa dibilang pertandingan biasa, tapi pertandingan hidup-mati? Tidak, tidak… mereka mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh. Mereka berharap itu cuma ajang saling gebrak. Hanya saling gebrak!

Hanya…?

Merekapun tak yakin dengan pikirannya sendiri.

Ketujuh orang itu berdiri bagai patung. Jika lawan Jaka mengawasi Jaka seperti harimau mengintai mangsa, maka Jaka sebaliknya, pemuda ini seolah sedang menghadapi persoalan maha sulit dalam hidupnya. Tapi perasaan pemuda ini sama sekali tak tercermin di wajahnya, atau di matanya, atau pada tindakannya. Sebab, dia seperti orang menunggu ajal…

“Bagaimana ini?” bisik Andini dengan suara lirih, wajahnya pucat.

“Aku tak tahu…” gumam Pertiwi.

“Apakah sebaiknya…”

“Benar!” Ayunda memotong ucapan Diah, “Lebih baik para tetua tahu.” Ujar gadis ini dengan hati kalut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera beranjak dari ruangan.

Tapi…

Bluk!

Ayunda terjatuh, kakinya lemas, ia merasa tak punya tenaga. Padahal hanya empat langkah ditempuhnya. Kenapa bisa begitu?

“Yunda, kau kenapa?” pekik ketiga saudaranya kaget, mereka memburu, dan… merakapun ikut jatuh. Lemas!

“Kenapa ini?” bisik ketiganya bingung. Tapi sebagai orang-orang berpikiran luas, keempatnya mengetahui kalau keadaan tak wajar ini berasal dari pertarungan—yang belum lagi terjadi.

Tanpa berpikir lebih jauh, keempat gadis ini segera menghimpun hawa murni dan memfokuskan pikiran pada perlindungan badan. Tak lama kemudian… berhasil! Mereka bisa bergerak, tetapi rasanya seperti baru keluar dari himpitan batu gunung, sungguh melelahkan. Untuk langsung melangkah keluar dari ruangan itu, mereka harus segera memulihkan tenaga kembali, tapi kejadian seperti ini sungguh mengherankan.

“Bagaimana ini?” pikir mereka makin bingung. Mereka tak ingin saudara-saudaranya terluka, dan merekapun tak ingin Jaka cedera.

Tiba-tiba saja…

“Apa yang terjadi?!” mendadak terdengar bentakan menggelegar. Sosok tubuh yang disusul beberapa orang lainnya, melesat masuk ruangan.

“Oh, syukurlah…” bisik Andini lega, melihat Ki Benggala dan Ki Gunadarma datang.
Sebagai orang yang berpengalaman, kedua tetua itu langsung tahu apa yang terjadi.

“Gila!” pekik keduanya terkejut setengah mati.

Bagaimana mereka tak akan kaget? Kalau dari kepala keenam anak didik mereka lamat-lamat mengepulkan asap tipis? Bukankah itu tandanya keenamnya sedang beradu tenaga? Benarkah adu tenaga? Tapi mereka cuma berdiri saja… dan jika benar itu adu tenaga, dengan siapa? Dalam sekejap saja mereka tahu… Jaka!

Rupanya karena keenam orang ini memunggungi pintu masuk, dengan sendirinya posisi Jaka tak terlihat.

“Pertiwi, apa yang terjadi?” teriak Ki Benggala dengan wajah kawatir.

“Tidak tahu paman, tapi hentikanlah mereka…” seru gadis ini gugup.

Belum lagi Ki Benggala bertindak, mendadak muncul berturut-turut tetua yang lain.

“Apa yang terjadi?” tanya Ki Glagah bingung.

“Entahlah, aku kurang jelas kakang.” Sahut Ki Benggala, sekalipun ia tahu, dia pun kurang begitu paham dengan kondisi yang berkembang saat ini.

“Celaka…” desis Ki Alit Sangkir. Mendadak dia melangkah ke pinggir kepungan—antara Jaka dan enam pemuda-pemudi itu.

“Hentikan!” bentaknya menggelegar. Ia menunggu sesaat, tetapi teriakannya tak dihiraukan. “Bocah-bocah keras kepala!” geramnya seraya memukulkan telapak tangannya kelantai.

Blar!

Sungguh hebat goncangan yang ditimbulkan pukulan itu, Ternyata Ki Alit Sangkir berusaha memisah ketujuh orang itu, tetapi gagal. Tapi akibat pukulan tadi, Jaka dan lawannya tergontai sesaat. Dan pada detik itu juga…

“Hiaa….!”

Lengkingan nyaring memekik memecah situasi tegang. Lengkingan itu sangat nyaring!

Ki Banaran berseru kaget.

Ki Sugita yang baru saja masuk, tertegun bingung. Dia bisa menduga apa yang terjadi.

Ki Wisesa berseru mencegah.

Ki Gunadarma tekejut.

Ki Benggala pucat pasi, ia memalingkan wajahnya.

Ki Alit Sangkir menyesali keputusannya melerai.

Ki Lukita dan Ki Glagah ingin bertindak, sayang tak sempat lagi.

Enam orang itu melesat, melesat sangat cepat! Sebab seantero tenaga telah mereka kerahkan, mereka tak ingin ada rasa sesal, sekalipun itu artinya harus membunuh.. atau terbunuh?! Serangan bagai gugur gunung itu, mengarah Jaka…..!!

Pranayasa, berusia 28 tahun, menyerangnya dengan ilmu mustika Jari Sakti Tanpa Tanding! Ilmu itu sudah dikuasai 81% dan konon dua bulan lagi dia akan mencapai tingkat ke-9.

Berusia 27 tahun, Palada, mengerahkan ilmu mustika Tapak Naga Besi tingkat 6. penguasaan ilmu ini sudah mencapai 67%.

Dengan ilmu mustika Pasir Awan Hitam, Adiguna yang berusia 25 tahun, menyerang Jaka dengan sekuat tenaga. Prosentase penguasaannya sudah sampai tingkat ke-4 dan mencapai 53%.

Dengan prosentase 76%, dan penguasaan pada tingkat 7, ilmu mustika Api Pembakar Dunia, pemuda berusia 25 tahun bernama Wiratama, menyerang Jaka tanpa belas kasihan.

Dua bersaudari Nawang, menyerang Jaka dengan dua ilmu mustika yang sama, yakni Pukulan Naga Beracun. Nawang Tresni yang merupakan tunangan Pranayasa, dan berusia 24 ini, sudah menguasai ilmu itu sampai pada tingkat ke-6 dengan prosentase 56%. Sedangkan Nawang Sari, adik sepupunya yang berusia 22 tahun, sudah pada tingkat ke-5 dengan prosentase penguasaan 44%.

Enam orang ini, dengan ilmu-ilmu yang dimaklumkan sebagai ilmu paling hebat, menyerang Jaka. Bagaimana pemuda ini lolos? Apa hanya karena ilmu pegangan Jaka adalah 3 ilmu mustika, yang justru, tidak bisa digunakan karena belum ada izin dari dewan penjaga ilmu mustika, ia bisa lolos? Atau karena Jaka memiliki ilmu olah langkah yang sudah mencapi tingkat tak terurai? Cara bagaimana Jaka harus menghindari, atau balas menyerang serangan-serangan super hebat itu?

Jika dilihat dari kemampuan penyerang Jaka, mereka adalah jagonya para bintang persilatan. Perlu diketahui, untuk menguasai ilmu mustika, siapapun orangnya, harus memiliki penalaran baik, daya ingat kuat, bakat—keharusan—diatas rata-rata. Jadi, jika dari tiga hal itu tidak dimiliki, jangan bermimpi bisa menguasainya, tentu saja tiap orang bisa. Cuma kualitasnya akan semakin rendah, dan semakin baik mereka memiliki ketiga hal tersebut, makin baik pula penguasaannya. Lalu Jaka sendiri? Tiada yang tahu seberapa penguasaan dalam hal ilmu silat, pemuda ini sangat sukar dijajaki.

Apa yang akan terjadi? Jarak mereka sebelumnya hanya delapan langkah. Kini keenamnya melesat begitu cepat menyerang Jaka. Nyaris tak memerlukan satu detik-pun untuk menyerang dalam jangkauan delapan langkah.

Begitu cepat!

Penuh energi…

Itulah serangan terdahsyat, yang pernah mereka lancarkan!

Lalu Jaka? Dalam waktu—nyaris—sedetik itu, ekspesi wajahnya tak berubah, sorot matanya buram, tetap mirip dengan orang yang menunggu kematian, dan saat serangan tinggal seperseratus detik hendak menghantam dari seluruh penjuru, matanya berkilat tajam.

Kemudian?

…..

…..

****

Ruang latihan sudah kembali semarak. Tidak ada lagi ketegangan. Rasa penasaran sudah hilang—setidaknya kelihatan begitu—kali ini mereka begitu antusias menyambut permintaan Jaka, termasuk Wiratama yang tadinya merasa iri, dan kini sadar dengan perbedaan yang ditujukan Jaka, rasanya masih jauh jika ingin mendekati kepandaian Jaka.

Sebenarnya apa yang tadi terjadi? Mana ketegangan mereka akibat pertarungan? Bagaimana pertandingan Jaka dengan enam orang itu?

Jika ditanya pada mereka, maka enam orang itu enggan menjawab. Malukah? Kesalkah? Dendamkah? Tidak ada yang tahu, mungkin saja dendam… karena dikalahkan Jaka.

Kalah?

Keenam orang itu kalah?

Bagaimana bisa?

Bukankah keenamnya menguasai ilmu mustika? Dan mereka menyerang Jaka sekuat tenaga? Lalu kalah?! Sungguh tak bisa dipercaya.

Pada detik pertama mereka sudah sadar kalau kalah, pandangan mereka pada Jaka sudah berbeda sama sekali. Mereka seperti orang putus asa, kagum, dan entah perasaan apa lagi yang mereka rasakan.

Dulu—sebelum datang masa kekalahan—mereka beranggapan bahwa untuk mengalahkan keenam orang itu, butuh selaksa pasukan—bukannya menyombong, tetapi karena kemampuan mereka memang hebat, sampai pada akhirnya ada seorang bernama Jaka.
Bagaimana bisa pemuda sepantar mereka memiliki kemampuan begitu hebat?

Kata hebat bisa ditafsirkan biasa saja jika untuk golongan orang awam, tetapi, ini berada dalam golongan luar biasa, jadi seberapa hebat Jaka?

Kau tanya pada Wiratama, Pranayasa, Palada, Adi Guna, dan dua bersaudara Nawang, maka mereka hanya membungkam, dan selekasnya ingin melupakan saat-saat pahit.

Saat pahit, hm?

“Bagaimana? Sudah mengerti?” Suara Jaka memecah keheningan, muda-mudi yang sedang memahami goresan buatan Jaka, tampak menatap Jaka. Ada yang mengangguk, ada yang diam, tetapi lebih banyak yang menghela nafas, mungkin pikiran mereka belum jernih.

Belum jernih? Untuk orang jenius macam mereka kesulitan apa yang menghambat berkonsentrasi? Apa mereka masih terpengaruh dengan kejadian Enam lawan satu? Tiada yang tahu.

“Aku paham kalau kalian belum banyak mengerti tentang ilmu olah langkah yang kuberikan, tetapi kuyakin jika kalian sabar, banyak manfaat yang bisa diambil.”
Tiada jawaban, sebab siapapun tahu kalau ucapan Jaka bisa keluar dari mulut siapapun. Meski perasaan orang-orang ini seperti diganduli sesuatu, entah apa, antusias mereka untuk lebih maju, terlihat lebih besar… mungkin karena kemampuan olah langkah Jaka yang sudah mendarah daging benar-benar memukau mereka.

Pranayasa, Palada, Adiguna, Wiratama, Nawang Sari, Nawang Tresni, Ayunda, Diah, Pertiwi, dan Andini sudah mendapatkan olah langkah dari Jaka, dengan barter masing-masing ilmu dasar.

Kecuali Pranayasa—memberi dua ilmu dasar—yang lain memberi satu ilmu dasar. Masing-masing dari mereka memberikan ilmu;

Pranayasa memberi ilmu dasar Langkah Tujuh Raja, ilmu ini berasal dari Perguruan Awan Putih, lalu ilmu Angin Tanpa Arah, berasal dari Perguruan Angin Tanpa Gerak.

Palada menurunkan ilmu Kibasan Tinju Tunggal, dapat dipastikan ilmu tangan kosong itu dari Perguruan Lengan Tunggal.

Ilmu Tapak Bangau Batu diberikan oleh Adiguna, ilmu dasar ini berasal dari Perguruan Cadas Merapi.

Lalu Wiratama memberikan ilmu dasar yang menurutnya paling sempurna, yakni Silat Hawa Kosong, ilmu ini asalnya dari Perguruan Salju Tanpa Hawa.

Ayunda menurunkan Kuncup Seri Teratai Salju yang sudah tentu berasal dari Perguruan Tapak Salju .

Diah memberikan ilmu dasar Samudera Melintas Awan, yang berasal dari Perguruan Elang Laut.

Nawang Sari dan Nawang Tresni, masing-masing memberikan ilmu Tangan Pelumat Baja yang berasal dari Perguruan Pasir Besi, dan ilmu Seribu Pal Satu Jangkauan, yakni ilmu khas Perguruan Jarum Sakti, sudah tentu keistimewaannya adalah ilmu melontar benda.

Andini menurunkan ilmu Lima Rangkaian Tarian Sakti, ilmu ini khas untuk wanita, dan berasal dari Perguruan Gelang Api.

Dan yang terakhir, Pertiwi memberikan ilmu dasarnya yang paling ia kuasai dan paling ia sukai, yakni ilmu Merengkuh Arwah Rembulan, ilmu ini juga serupa dengan milik Andini, yakni khas untuk wanita, dan berasal dari Perguruan Alam Tanpa Batas.

Setelah beberapa lama—dalam satu hari itu—Jaka mempelajari ke sebelas ilmu dasar, Jaka asyik duduk menghadap tembok dan perhatiannya tertumpu pada setumpuk kertas, begitu juga dengan yang lain, mereka sibuk memahami ilmu olah langkah ajaran Jaka.

Tapi apa yang tertulis dalam kertas di tangan Jaka, berbeda dengan kertas-kertas yang diberikan pada teman-temannya. Yang aneh, tidak ada penjelasan apapun pada tulisannya, hanya ada coretan, garis, lengkung dan sebagainya… serupa pada kertas-kertas yang berisi olah langkah, tetapi terlihat lebih rumit. Mereka yang melihat cara Jaka menulis—yakni dengan simbol—merasa kagum, sebab selain Jaka sendiri, tak ada yang bisa membaca apa maksudnya.

Tiap ilmu dasar rata-rata tertulis—paling banyak—tujuh lembar, jadi untuk sebelas ilmu silat dasar, ada tujuh puluh lima lembar. Sungguh catatan yang tebal dan memusingkan.

“Hh…” Jaka menghembus nafas panjang. “Entah kapan aku bisa menyelesaikan ini, kurasa butuh waktu lagi.” Ujarnya sambil membereskan tumpukan kertas.

“Sudah kau kuasai?” tanya Andini.

“Hah, kau bercanda, tentu saja belum…”

“Masa?”

“Kenapa kau tak percaya?”

Andini mendelik, “Mengingat ucapanmu tadi, memangnya aku harus percaya kalau kau belum menguasai imu-ilmu kami?”

Jaka tertawa salah tingkah. “Jangan kau masukkan hati ucapanku tadi, namanya orang lagi agak dongkol kan bisa saja terlepas ucapan yang tidak semestinya, bukan begitu?”

“Ah, aku tetap tak percaya, buktinya kau bisa mengal… menghindar serangan dahsyat tadi?” Nyaris saja Andini keceplosan, dia tahu bagaimana perasan enam saudaranya.

Jaka menghela nafas. Ia tak menjawab, hanya mengangkat bahunya, artinya; lupakan saja kejadian tadi.

Tapi semua orang tak bisa melakukannya, mereka teringat ucapan Jaka saat pertandingan—sebenarnya pertarungan—usai.

“Kalian tahu? Gerakan apapun yang terlihat olehku bisa kucerna dengan mudah.” Lalu dengan tampang acuh tak acuh Jaka menambahkan, “Dan tentunya kalian tahu kenapa aku harus mempelajari ilmu lain.”

Jika membayangkan pertarungan tadi, orang-orang sama bergidik mengingatnya.
Tanpa penjelasan Jaka, kini mereka sadar kenapa pemuda itu harus menguasai ilmu dasar. Bukannya Jaka tidak bisa menyerang dengan menggunakan sembarang ilmu, atau gerakan yang lain, bukan itu sebabnya! Justru lantaran Jaka sangat bisa melakukannya… sangat! Makanya dia harus mengendalikan dirinya, mencegah dirinya agar tidak mengerahkan ilmunya.

“Ehm.. tentu saja belum, tapi semuanya bisa di ingat. Aku butuh waktu luang untuk mempelajari dan mendalami, syukur bisa menyempurnakannya. Kurasa saat ini bukan saat yang tepat. Hari kan masih panjang…”

“Setidaknya sudah bisa untuk bertarung?” tanya Pertiwi.

“Tentu saja bisa. Sebenarnya tiap orang juga bisa berkelahi tanpa jurus-jurus tertentu, aku juga bisa berkelahi walau tanpa ilmu dari kalian ini… bukan maksudku untuk tidak berterima kasih… hanya memberi tahu saja. Ada yang harus diketahui, kalau aku tidak menguasai ilmu mustika, maka setiap gerakan pukulan, tendangan atau setiap seranganku tidak mengandung tenaga dari ilmu mustika. Lain halnya, jika kita menguasai ilmu mustika. Sepandai apapun menyembunyikan ciri dari tenaga ilmu tersebut, orang seperti para tetua pasti tahu kalau dia menguasai ilmu mustika.

“Karena itu aku sangat berterima kasih pada kalian, apa yang kalian berikan padaku ini sangat berharga dan rasanya terlalu banyak untukku. Lagi pula beberapa dari ilmu ini adalah ilmu dasar dari perguruan enam belas besar…”

“Kau salah Jaka.” Sahut Pranayasa.

“Salah?”

“Ya, bukan beberapa.. tapi seluruh ilmu dasar yang diberikan padamu adalah ilmu-ilmu dasar dari enam belas perguruan besar.”

“Ah..” Jaka terkejut, juga girang. “Sungguh tak kusangka, dari perguruan mana saja?” tanyanya. Dan Pranayasa menjelaskannya.

Lalu dari mereka, Jaka mendapatkan pernyataan, bahwa sebenarnya mereka ingin memberikan lebih dari satu ilmu dasar seperti yang diberikan oleh Pranayasa pada Jaka. Mungkin disamping ingin memberikannya, mereka juga mengharapkan ilmunya mendapat pasangan olah langkah.

Tapi Jaka menolak. Pemuda ini beralasan, bahwa apa yang diberikan padanya sudah cukup banyak, ia khawatir tak bisa meringkasnya dengan cepat untuk dijadikan satu rangkaian ilmu tersendiri. Karena memang pada awalnya maksud Jaka belajar ilmu silat dasar adalah disebabkan waktunya sudah mendesak, dan siapa tahu setiap saat—sejak saat ini, pertarungan bisa saja terjadi.

Pemuda ini memang memiliki olah langkah yang diyakini tak sembarang orang sanggup menembusnya, dan memang sampai saat ini belum pernah ada yang sanggup menundukkan olah langkahnya. Dengan bekal itulah, Jaka memberi pengertian ke sepuluh sahabat barunya pengertian tentang olah langkah bagi masing-masing ilmu dasarnya.

Mereka tidak tahu, olah langkah yang diturunkan Jaka masih berkaitan sedikit dengan tujuh formasi barisan kuno. Karenanya ilmu olah langkah yang mereka dapatkan begitu tangguh, apalagi anggota perkumpulan garis tujuh adalah orang-orang pilihan. Kelak kemajuan yang mereka dapatkan saat ini akan menggemparkan dunia persilatan.

“Aku ingin kalian mengetahui satu hal. Apa yang kutuliskan tadi, akan tetap berkembang selama kalian tidak kehilangan akal, jiwa, pikiran jernih dan keinginan kuat. Ingat kata tetua Glagah mengenai air.. biarkan pikiran kita bergerak seperti air, bebas lepas dan selalu kembali ke asal. Kemajuan kalian tidak akan terhambat. Sebab kemajuan manusia itu tiada batasannya, bukan berarti tak punya batas. Tak ada batasan yang dimaksud, adalah jika selama dia tidak mengganggu hukum Tuhan dan hukum alam yang sudah digariskan.”

“Dan kau, kan sudah menguasai ilmu-ilmu dasar kami?” ujar Adiguna mengomentari.
Jaka tahu maksud pemuda itu, Adiguna ingin mengatakan ‘apakah kau juga menyadari dan melakukan perkataanmu sendiri berkenaan dengan dasar ilmu silat tadi’.

“Sedikit… dan pemberian kalian ini merupakan sumbangan besar, kelak akan aku tunjukkan gabungan seluruh jurus dasar ini. Mudah-mudahan pada saat itu kita bisa berkumpul seperti saat ini.”

“Kalau begitu, sekerang kau tidak perlu menggunakan ilmu mustika?”

“Tidak. Oh, aku hampir lupa menyampaikan hal penting.”

“Apa itu?”

“Mengenai ilmu mustika… memang sembilan ilmu mustika adalah ilmu yang sampai saat ini merajai dunia persilatan, tapi harus diingat, di atas langit masih ada langit! Mungkin saja selama ini ilmu mustika memang yang terhebat, tapi tidak tertutup kemungkinan akan ada ilmu lain yang lebih hebat.”

“Apa alasanmu mengatakan demikian?” Tanya Palada dengan nada tak setuju.

Jaka tersenyum. “Aku paham dengan kenapa engkau tak setuju. Memang jika tak menyaksikan sendiri, akupun akan beranggapan bahwa ilmu mustika mungkin yang terhebat.”

“Menyaksikan sendiri?”

“Ya, mereka yang memegang Pedang Baja Biru.. boleh dibilang keganasan mereka tak banyak yang menyainginya.”

“Bagaimana kalau dibanding dengan ilmu Paman Benggala?”

Jaka tercenung sesaat. “Aku bukan bermaksud merendahkan. Tapi rasanya mereka berdua masih di atas Ki Benggala.”

“Oh…” beberapa dari mereka mendesah getun.

“Jadi, setiap ilmu bisa mencapai puncaknya masing-masing? Dan tidak tertutup kemungkinan menyamai ilmu mustika?” Tanya Adiguna.

“Ya. Tentu saja semua tergantung si pemilik ilmu. Kumisalkan saja ilmu Tapak Bangau Batu milikmu Adiguna, jika kau rasa sudah sempurna menguasainya, apakah itu berarti kau bisa menang dengan pencipta ilmu itu?”

“Tidak.”

“Kalau begitu apa bedanya?”

“Kematangan dan tenaga..”

“Benar, tapi ada satu hal yang dilupakan orang.”

“Dilupakan?”

“Benar.. mari kuberi contoh, bukankah ini jurus pertama dari Tapak Bangau Batu?”
Jaka segera bersilat, tangan kirinya membentuk paruh, tangan kanan terbuka sejajar bahu sedangkan kakinya terbuka setengah meter, lalu ia bergerak kedepan, patukan tangannya memukul, gerakan sederhana, tapi tidak memperlihatkan kelemahan.

“Benar itu jurus pertama.” Sahut Adiguna dengan terkesip. Dulu dia mampu melakukan gerakan seperti itu setelah berulang kali melatihnya, tapi Jaka… hanya sekali melihat!

“Ya.. siapapun dia pasti bisa menguasainya, terlepas dari teknik tenaga dan kesempurnaan akurasi antar jurus. Tapi bisakah kau bedakan dengan jurus yang ini?”

Jaka bergerak seperti tadi, bedanya kakinya tetap rapat, dan tubuhnya hanya bergoyang sedikit, tidak terlihat tangannya menutuk kedepan. Tapi kayu—memang disediakan untuk latihan—yang ada didepannya cekung sesaat lalu terbelah.

“Ya… aku tahu bedanya, lebih cepat.” Jawabnya kembali dengan perasan terkesima.

“Cuma itu?”

Adiguna melihat kayu yang terkena pukulan tadi. “Lebih akurat, dan tepat kelemahan.”

“Benar, yang ingin kusampaikan disini adalah, jika engkau sudah mencapai tingkat sempurna pada ilmumu, maka buatlah jurus pertama, sama hebatnya dengan jurus pamungkas terakhir ilmu yang sama, begitu seterusnya. Dengan demikian kemajuan orang itu tidak akan terhambat.”

“Maksudmu, ilmu itu senantiasa mendapat tambahan tenaga dan menyederhanakan gerakan?”

“Benar, logikanya untuk menuju jurus kedua, itu butuh keterampilan yang lebih dari saat melakukan jurus pertama. Dengan demikian, jika engkau sanggup bergerak secepat tadi pada jurus pertama, maka untuk jurus kedua, harus lebih cepat, lebih sederhana, dan lebih tepat, pendek kata tiap memasuki jurus yang lebih keatas, gerakan harus makin sederhana, hilangkan gerakan rumit untuk tipuan-tipuan—karena tujuannya sama, yakni mengenai sasaran dengan tepat dan mematikan. Dan pada akhirnya, tiap gerakan, untuk aliran apa saja, jika kau memperhatikannya, semuanya sama. Dari satu tujuan, biasanya akan muncul banyak jalan. Tetapi jika hendak mendekati tujuan akhir, jalan itu, hanya tinggal satu.”

“Tapi itu teori tinggi ilmu silat.” Celetuk Wiratama.

“Benar sekali. Teori itu pasti di pahami oleh ahli-ahli silat.”

“Ah.. belum tentu.” Sahut Andini. “Buktinya aku tidak tahu.”

Jaka tertawa, “Jangan marah kalau kukatakan kau bukan ahli.” Andini langsung cemberut dikatakan bukan ahli, Jaka tertawa geli melihatnya, buru-buru ia menyambung. “Yang kumaksud ahli adalah orang-orang yang sudah memiliki kewaspadaan pada dirinya sendiri. Seperti para tetua..”

“Oh,” biarpun paham, gadis ini tetap cemberut.

“Dan maksudmu supaya kami-kami mengetahui hal itu?”

“Benar, karena itulah semua penjelasan tadi harus diketahui tiap pesilat agar tidak berpuas diri terlalu cepat. Dulu aku pernah membaca sebuah kisah… yang menceritakan seorang pendekar sakti—dia tak perlu mengalahkan musuhnya dengan bergerak, ia cukup memandangi musuhnya saja dan kalahlah ia.”

“Aih, cerita khayal, kalau musuhnya seperti engkau misalnya. Punya Ten…” Jaka mendelik. Dan perkataan Pertiwi tak jadi diteruskan, gadis ini cemberut. “Bagaimana.. engkau bisa kalah?” sambungnya dengan bibir mencibir.

“Namanya cerita kan cuma cerita, maksud penulis cerita itu adalah menyampaikan pesan bahwa, untuk mencapai suatu tingkatan tertentu itu butuh kesabaran, waktu dan jangan cepat puas dengan hasil yang dicapai.”

Beberapa dari mereka mengiyakan. Dan kini suasana semakin rileks. Mereka menanggapi segala percakapan dengan canda, bahkan pemuda macam Pranayasa dan Wiratama yang terbiasa menyendiri juga larut dengan canda tawa.

Kali ini makin yakinlah mereka, bagaimana sifat sesungguhnya pemuda bernama Jaka Bayu itu. Mereka semua sama-sama mendapatkan perlakuan yang adil, tidak ada yang merasa kalau apa yang diberikan Jaka lebih tinggi satu sama lain.

Begitu juga perlakukan Jaka pada gadis-gadis cantik itu. Hal menarik yang tak dilihat Jaka adalah, persaingan para gadis untuk menarik perhatian pemuda itu.

Tapi Jaka tidak mengacuhkannya, karena dia tidak tahu, dan ini mengesalkan semua pihak (para gadis) tapi juga melegakan, karena Jaka tidak pilih kasih saat mengajari olah langkah.

Tak terasa malam telah dijelang. Pertiwi mengajak semuanya untuk meninggalkan ruang latihan, agar segera membersihkan diri lalu makan.

Suasana ruang latihan yang sejak sore tadi hiruk pikuk, kini lengang. Tidak ada lagi suara ciat-ciat atau canda tawa. Kini semuanya sedang bersiap untuk makan malam.

Beberapa orang yang belum menyusul, masih memandangi Jaka dari belakang. Mereka adalah Pranayasa, Wiratama, Palada, dan Adiguna. Diam-diam mereka berempat menghela nafas panjang.

“Tadinya aku ingin sekali mengukur ilmu silatnya.“ Ujar Palada sesaat kemudian, memecah hening. “Saat adi Wiratama mengujinya ilmu Hawa Bola Saktinya tadi pagi, aku berpikir kalau aku bisa mengerahkan serangan lebih baik dan bisa mengalahkan Jaka. Tapi setelah dia bisa mengalahkan paman Benggala, pikiranku berubah. Dan saat dia menggabungkan tenaga tiga ilmu mustika, pikiranku kembali berubah. Dan setelah dia menerima serangan kita berenam, pikiranku berubah lagi.”

Tiga rekannya mendengarkan saja. mereka paham apa yang dimaksud Palada.

“Entah bagaimana sesungguhnya kepandaian Jaka, jika kuamati, tiap saat, aku merasakan kemampuannya selalu berkembang.” Ujarnya lagi. “Tak terpikir olehku, ingin menguji kemampuannya lagi.”

Beberapa dari mereka ada yang setuju dengan ucapan terakhir Palada.

“Benar.” Sahut Wiratama, blak-blakan. “Saat kita menyerangnya tadi, kupikir aku bisa membalaskan kekalahanku tadi pagi. Ternyata…” pemuda ini menghela nafas. “Nasib kita lebih parah. Aku baru sadar, pada saat aku menguji ilmunya, dia hanya menjaga mukaku saja. Entah bagaimana kejadiannya, kalau dia menggunakan tenaganya, seperti saat melawan paman Benggala.”

Tidak ada yang mengomentari ucapan Wirtama, sebab itulah jeritan hati si pemuda pendiam. Karena itu dengan bijak mereka cukup menyimak.

“Untung saja para tetua menyaksikan kita.” Sambung Adiguna.

“Benar.” Jawab Wiratama.

“Kalau saja tiada para tetua, entah bagaimana nasib kita…”

Pranayasa tidak berkata sepatah katapun, dia hanya berulang kali mendesah. Kembali ia mengingat kejadian tadi. Saat serangan mereka serentak menerpa, tiba-tiba saja sekujur tubuh mereka dalam beberapa saat terasa kaku dan saat itu juga Jaka sudah membelakangi mereka. Sadar kalau Jaka sudah ada dibelakang mereka, tanpa komando dirinya dan teman-temannya segera berbalik dan kembali menyerang, tapi lagi-lagi mereka merasa kaku, dan Jaka tidak ada ditempatnya semula. Mereka berenam menyerang kembali, sampai empat kali.

Padahal perbawa ilmu yang mereka kerahkan sangat hebat bahkan delapan tetua yang menyaksikan sampai terbengong-bengong, tetapi tidak untuk Jaka. Dirinya merasa kalau Jaka sama sekali tidak menganggap ilmu yang mereka kerahkan itu hebat. Dan pada kenyataan memang demikian. Sebab serangan mereka berenam mentah semua.

Kembali Pranayasa mendesah. Untung saja ada tetua, pikirnya dengan perasaan bergidik.

Ya, dia memang merasa takut dalam beberapa saat tadi. Jika saja serangan mereka tidak dihentikan para tetua, mungkin saat ini mereka bisa terkapar tak bernyawa. Empat kali serangan mereka tidak menyentuh Jaka, tapi gerakan Jaka bisa menyayat-nyayat pakaian mereka.

“Berhenti.” Begitu bentak kedelapan tetua serentak.

Dan saat itu mereka segera menghentikan serangan, lalu keenam orang itu bisa menatap Jaka. Kali ini mereka bisa mengerti kenapa mereka harus berhenti. Wajah Jaka sudah tidak ramah lagi, hawa pembunuhan sudah sangat tebal. Teringat oleh Pranayasa, kalau Jaka mengatakan.

“Kalian tahu? Gerakan apapun yang terlihat olehku bisa kucerna dengan mudah.” Lalu dengan tampang acuh tak acuh Jaka menambahkan, “Sekarang, tentu kalian tahu, kenapa aku harus mempelajari ilmu lain.”

Setelah itu terlihat olehnya, Jaka memejamkan mata, berangsur-angsur raut wajahnya sudah seperti semula. Tidak ada lagi hawa membunuh.

Kini mereka semua paham kenapa Jaka harus mempelajari ilmu lain. Sebab ilmu yang disadapnya dari pemegang Pedang Baja Biru, entah bagaimana, membuat Jaka jadi sesosok algojo sadis. Untung saja mereka dihentikan para tetua.

Dan sekali lagi Pranayasa bersyukur, bahwa mereka tidak membuat kesalahan tadi berlarut-larut. Dalam hidupnya, baru kali inilah, dia merasakan ketakutan begitu hebat, saat melihat raut muka Jaka, dan saat serangan mereka berakhir.

“Sudahlah…” akhirnya Pranayasa memutuskan pikirannya sendiri. “Tidak perlu dipikirkan lagi, anggap semua ini pelajaran bagi kita.”

Yang lain mengiyakan, lalu mereka meninggalkan ruangan latihan. Dan hening kembali menyelimuti—ruangan yang hampir saja menjadi tempat kesalahan dilakukan.

—ooOoo—

55 – Hari Kedua Berakhir

Makan malam sudah usai, banyak hal yang diperbincangkan para anggota perkumpulan garis. Jaka menemukan kenyataan, bahwa hubungan kekeluargaan mereka sangat erat. Dari penjelasan gurunya, mereka juga bergaul seperti biasa dengan tetangga, dan penduduk lain, tanpa membocorkan atau meninggalkan jejak.

Jaka sangat kagum dengan cara kerja Perkumpulan Garis Tujuh Laut. Kini, hubungan Jaka dengan anggota lain, tambah akrab.

Pemuda ini tidak perduli, apakah hubungan itu terjalin karena dia orang yang ‘layak diamati’, dan menyimpan banyak hal penting, atau karena mereka suka padanya. Apapun pandangan anggota lain, Jaka tak perduli. Satu hal yang sudah sukses dijalaninya, adalah; dia sudah menanamkan kesan kuat dalam perkumpilan itu.

Sudah masuk kentungan kesepuluh sejak tengah hari, berarti sudah jam sepuluh malam, Jaka berniat untuk kembali ke penginapan. Ia menemui gurunya di halaman belakang, tempat Jaka di uji pagi tadi.

“Guru, saya harus segera pergi.”

“Kau tidak menginap disini?”

“Tidak, ada beberapa persoalan yang harus saya urus.”

“Persoalan?”

“Diluar masalah ini.”

“Kalau boleh aku tahu…”

“Maaf, saya tidak bisa memberi tahu guru. Ini menyangkut rahasia banyak orang. Saya harap guru maklum.”

“Tak apa.” Sahut Ki Lukita berlapang dada. Kakek ini merasa bangga, tapi juga terasa ada sesuatu yang mengganjal. Dulu dia merasa sangat beruntung memiliki perkumpulan rahasia yang mengetahui hal-hal misterius. Tapi murid barunya ini justru hal paling misterius yang pernah ia temui.

Kakek ini juga merasa beruntung memiliki kepekaan indera, untuk melihat prilaku dan watak seseorang dari tingkah-lakunya—gerak-gerik.

Tapi dihadapan muridnya, dia bahkan tidak tahu prilakunya. Bahkan untuk menebak apa yang dipikirkannya, kini dia tak mau berspekulasi. Pada pertemuan pertama, dia yakin atas penilaiannya sendiri bahwa watak Jaka bisa dipahami—sepintas gampang ditebak. Tapi pada hari berikutnya, baru ia sadari kalau Jaka memang membiarkan dirinya dinilai, bukan lantaran dia bisa menebak.

Sekarang, Ki Lukita lebih penasaran lagi dengan segala urusan Jaka. Seolah perkumpulan yang didirikan pemuda ini, tahu lebih banyak, ketimbang perkumpulannya, yang didirikan jauh lebih lama. Memang, ada rasa bangga punya murid, lain dari yang lain. Tapi setiap melihat Jaka, entah kenapa dia merasakan adanya kekawatiran besar—bukan kawatir lantaran dia mengangkat Jaka sebagai murid, justru sebaiknya, dia mengkawatirkan nasib muridnya yang terlalu banyak mencampuri persoalan orang.

Meskipun dia percaya pada murid barunya, satu hal lagi yang membuat kawatir adalah, tindakan Jaka yang seperti angin, mau tak mau dirinya harus selalu waspada.

“Jadi sekarang juga kau mau pergi?”

“Ya, kalau guru mengizinkan.”

“Tentu aku mengizinkan.” Sahut gurunya dengan rasa senang.

“Sayang, kau terburu-buru… Rubah Api sudah siuman. Kau tidak ingin bertemu dengannya?”

“Lain waktu saja guru.”

“Sungguh ajaib, kondisinya berangsur pulih seperti sedia kala. Beberapa saat setelah sadar, dia bahkan berjalan ke sana-kemari.”

“Syukur kalau begitu. Apa tanggapannya saat berada disini?”

“Dia terkejut… tapi setelah itu tak banyak bicara, kelihatannya masih curiga dengan kita.”

“Apa orang itu tahu kalau disini, adalah rumah tetua… maksud saya sebuah perkumpulan?”

“Tidak. Setelah pengobatan terakhir, dia kami tempatkan dipondok kecil,. Di belakang rumah makan Adi Gunadarma.”

“Oh… saya harap tak seorangpun tahu.”

“Tentu saja. Begitu kondisinya mendingan, Adi Gunadarma segera membawanya lewat jalan rahasia, kau tenang saja.”

“Ya, mudah-mudahan…”

“Apa maksudmu?”

“Ada kemungkinan diantara para pekerja yang menjadi orang luar.”

“Oh, kami sudah tahu, dan sengaja dibiarkan, karena secara tak langsung dia menjadi sumber informasi kami.”

“Syukurlah kalau sudah tahu…”

“Hei, kau juga tahu?”

“Saya sudah bertemu dengannya.”

“Bertemu?”

“Sebelum kita bertemu, saya mampir ke rumah makan paman Gunadarma dan saya melihatnya. Kami bahkan sempat bertukar cerita.”

“Oh, dia? Ya, kau benar. Dia salah satu diantaranya.”

“Salah satu? Kalau begitu ada banyak…”

“Benar. Hebat juga kau, dalam satu hari sudah tahu ada yang tak beres.”

Jaka tertawa, “Hanya kebetulan..” sebelum pemuda ini mengatakan itu sang guru lebih dulu mengucapkannya, keduanya saling berpandangan dan tertawa.

“Jadi kau mau pergi sekarang?”

“Iya guru.”

“Ada rencana menemui Rubah Api?”

“Entahlah… mungkin dini hari nanti. Kabarkan saja pada Paman Gunadarma, mungkin setiap saat saya akan datang.”

“Baiklah. Dia juga sudah menduga, setelah kau tahu Rubah Api disana, cepat atau lambat pasti akan menemuinya. Pesanku, hati-hatilah! Jangan sampai kepergok siapapun.”

“Saya mengerti.” Sahut pemuda ini sambil mengangguk. “Sudah waktunya saya pergi guru.” Jaka menghormat sesaat, begitu sang guru mengiyakan, secepat kilat ia melompat keatas wuwungan rumah, lalu lenyap.

“Hh, anak hebat.” Ujar kakek ini sambil masuk ke dalam rumah.

Baru saja pintu ditutup, begitu ia membalikkan badan, dia sudah disambut beberapa anak gadis. Raut wajah gadis-gadis itu kelihatan cemas.

“Ada apa?”

“Kakek mana dia?” tanya Ayunda.

“Dia siapa?” Tanya sang kakek pura-pura tak tahu.

“Ih, kakek jangan bercanda. Tentu saja, Jaka!”

“Oh, dia sudah pergi.”

“Yah, kenapa aku tidak diberitahu?”

“Katanya ada yang penting.”

“Sebel!” Ayunda membanting kaki dengan cemberut.

“Ada apa sih, toh dia sudah manjadi kakang seperguruanmu. Menjadi anggota kita, tiap saat bisa bertemu.”

“Bukan itu masalahnya, ada yang ingin kami sampaikan. Ini penting!”

“Benar eyang,” timpal Pertiwi. “Kami memiliki satu permasalahan yang harus dia ketahui.” Diah, Ayunda dan Andini mengangguk membenarkan.

“Hm…” Ki Lukita mengangguk. “Aku kan gurunya, jadi bisa diwakilkan padaku?”

“Ih, eyang genit!” Seru Andini, mendadak dia sadar apa yang dikatakannya.

“Maaf..”

Kakek ini tersenyum kecil. “Kalian membuatku tak habis pikir. Dasar perempuan…” gumam Ki Lukita seraya melangkah meninggalkan empat dara itu.

“Aih, Jaka… kau membuat permasalahan besar. Hati mereka kau buat porak poranda, kini kau akan mendapat persoalan lebih pelik dari sekedar perkumpulan rahasia. Mudah-mudahan kau cukup bijak untuk memutuskan persoalan ini.” Kakek ini menggeleng-geleng prihatin… juga geli.

Permasalahan tadi, memang tidak dia pikir panjang lagi. Hanya saja, ada sedikit kekawatiran dirinya, jika menyangkut urusan wanita, kadang kala persoalan sederhana bisa jadi rumit. Ki Lukita hanya berharap Jaka bisa bertindak bijak.

****

Ada sebuah kelegaan manakala meninggalkan rumah gurunya, beberapa kali pemuda ini menghela nafas panjang. Dia merasa menyesal memainkan peran yang keterlaluan…

Tapi itu semua dilakukan karena curiga dengan jarum yang dipakai untuk bersumpah. Dia sangat mengenal jarum itu… biarlah peran sebagai orang bertipikal meledak-ledak diyakini mereka, Jaka benar-benar ingin tahu latar belakang perkumpulan sang guru dengan lebih detail. Khususnya, sejak kapan jarum itu digunakan untuk bersumpah.

Kali ini Jaka sedang tidak bersemangat menerapkan rencana apapun, seharian ini ia merasa lelah, dan ingin lekas-lekas pulang ke penginapan. Karena itu ia mengerahkan peringan tubuh tanpa ragu, tubuhnya berkelebat cepat melesat, melompat, terkadang bergerak menyusuri tanah dengan cepat.

Mendadak, Jaka berhenti di sebuah tanah yang agak luas. Telinganya pasti tidak salah dengar, ia merasa dikuntit sejak beberapa saat yang lalu.

Jaka ingin menoleh, tetapi nalurinya mengatakan, jangan! Saat itu Jaka ada disebelah utara kota Pagaruyung. Memang kota itu seakan tak pernah tidur, selalu ramai, tetapi tidak di bagian utara, Jaka sengaja memilih tempat ini, karena dia ingin bergerak bebas—berlari, bergerak secepat yang dia bisa.

Tapi pilihannya kali ini tak tepat, biarpun jarak antara satu rumah penduduk dengan rumah yang lain cukup membuatnya merasa aman—sebab jauh, tapi perasaan aman itu tak ada saat ini. Untuk beberapa lama Jaka berdiri tertunduk, matanya menatap tanah di depan kakinya.

Aku ingin tahu sejauh kapan mereka sabar menantiku, apa mereka akan menemuiku? Pikirnya merasa tegang.

Jaka pantas merasa tegang, sebab ia menyadari kecerobohan dirinya. Tempat yang sepi justru akan lebih berbahaya dari pada sebuah arena pertarungan atau tempat keramaian.

Semua orang bisa saja berpikir sama, bahwa bagian inilah yang paling cocok untuk bersembunyi, mungkin saja aku sedang diintai oleh orang-orang yang sejak lama ada disini? Pertanyaan tak terjawab di benaknya berulang ia tanyakan sendiri.

Pemuda ini tersenyum, rupanya dia sudah tahu pemecahan yang tepat. Matanya berkeliling mencari tempat yang enak untuk duduk. Ah.. sebuah batu besar, pikirnya.

Jaka berjalan tanpa tergesa kearah batu besar di samping sekelompok pohon pisang, dan segera duduk. Tidak memperlihatkan gerakan terburu atau cemas, Jaka mengeluarkan seruling bambu lenturnya.

Kali ini seruling bambu ini tak ia masukkkan dalam tongkat bambu lentur, Jaka sengaja membiarkan terselip begitu saja di pinggangnya. Sebab ia berfikir, akan sangat menyenangkan sewaktu-waktu bisa mencabut serulingnya tanpa melepas ‘sabuk’—tongkat bambu lenturnya.

Lantunan suara seruling terdengar lembut dan syahdu, siapapun yang mendengar pasti tertarik menyimaknya lebih lanjut. Kemampuan meniup seruling Jaka, boleh dibilang menakjubkan, pemuda ini bisa mengeluarkan unek-unek, rasa kagum dan semua tumpahan perasaannya dalam bentuk nada, suara, melodi, dan dipadu dengan keselarasan yang harmoni, sehingga tercipta satu irama lagu, yang merasuk kalbu—kemampuan seperti itu sudah tidak memerlukan lagi perantara(seperti harus menghafal sebuah lagu), sebab seni itu tidak berbentuk, juga tidak terkotak-kotak, seni itu seperti air, mengalir tanpa henti, tetapi bukan berarti kalau itu ‘air seni’.

Begitu juga kali ini, hati Jaka terasa ringan, senang, ia meniupnya dengan perasaan girang, tak perduli lagi dengan orang yang menguntit dirinya.

Suara seruling itu lambat laun menyusup kalbu, menyentak hati, membuat berdiri bulu roma.. tapi yang paling bagus adalah saat nadanya berubah riang gembira.

Dalam hal musik, Jaka memang tergolong pemuda berbakat lumayan, dia tak perlu terikat dengan kunci-kunci nada yang lazim ada pada seruling, tangannya dengan cepat bergerak lincah—bergerak begitu saja, menutup dan membuka lubang-lubang di seruling, tanpa tahu nada apakah itu, yang penting menurut Jaka lagu yang dihasilkannya enak didengar.

Jaka baru bersuling tujuh-delapan menit saja, tiba-tiba tanpa terduga sama sekali, tubuh pemuda ini melesat dan hilang entah kemana, suara suling terputus begitu saja.

Suasana kembali lengang, sunyi senyap, sepi menggigit perasaan. Mendadak terlihat beberapa bayangan di balik gerumbulan pohon dan di tempat-tempat lain.

“Orang yang berbahaya… kau tahu siapa dia?” tanya seseorang.

“Entah, tak pernah kudengar ada pengelana atau pendekar seperti dia.” Jawab salah satu dari mereka.

“Mungkin murid dari salah satu enam belas perguruan yang baru turun gunung?”

“Mungkin saja, tapi… kok tidak mungkin ya?”

“Benar, dia masih terlalu muda, tak mungkin punya ringan tubuh sehebat itu.”

“Orang-orang dari Walet Hijau juga punya peringan tubuh hebat.”

“Benar, tapi tak sehebat tadi. Kurasa dia masuk pada kategori siaga—orang yang harus dapat perhatian lebih.”

“Engkau yakin kakang?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu anggota kita harus segera mengikutinya?”

“Ya, siapapun tidak ada yang lepas dari pantauan kita selama ada dikota ini.”

Percakapan lirih itu menghilang, dan agaknya kedua orang itu pun sudah tidak ada di tempat itu lagi. Beberapa bayangan terlihat bergerak mengikuti kedua orang itu, ada juga yang berpencar ke berbagai arah.

Kelihatannya mereka mau menguntit Jaka, tapi tak satupun yang tahu kemana arah pergi si pemuda. Sebab suara seruling itu membius semua orang yang ada disekitar tempat itu. Dan pada saat itulah Jaka menghilang.

Tapi apa benar dia hilang? Tidak! Begitu suara seruling lenyap, Jaka melejit keatas sekuat, selincah dan secepat mungkin—bayangkan saja, jika diukur tenaga Jaka mungkin lebih besar, dari delapan tetua. Tentu saja percepatan daya lejitnya mengejutkan, mungkin tingginya bisa mencapai belasan tombak. Ditambah lagi saat itu malam hari, bagaimana orang bisa menduga Jaka masih melayang di udara?

Sesampainya diatas, Jaka segera memberatkan badannya kembali, tetapi ia tidak turun ditempat semula. Jaka turun dan bersembunyi di rimbunan pohon pisang—disamping batu tempat duduknya tadi.

Dan saat itulah Jaka mengetahui pembicaraan sekilas dari orang-orang yang menguntitnya. jaka bisa menduga mereka orang-orang Perguruan Naga Batu. Ini benar-benar sebuah kebetulan, Jaka bermaksud mencari tahu, siapa yang ‘berperan aktif’ dalam hajatan di perguruan itu.

Oh.. benar-benar malam yang panjang. Pemuda ini ingin mengejar, tapi dia merasa malas, dengan sendirinya dia lebih suka pekerjaan itu diambil alih Si Penikam, menyerahkan pekerjaan pada ahlinya pasti akan mendapatkan hasil terbaik.

Sesaat kemudian Jaka keluar dari rimbunan pohon, dia berjalan santai menuju penginapannya. Padahal jaraknya masih empat-lima pal lagi. Apakah Jaka tidak ingin beristirahat? Padahal kalau mau dihitung secara cermat, total ia tidur dalam satu minggu ini paling banter hanya tujuh jam saja. Begitu banyakkah urusan yang ditanganinya? Benar. Sebelum memasuki babak masalah di kota Pagaruyung, Jaka sudah banyak melakukan penyelidikan tentang isyarat tersembunyi dari Semburan Bisa Naga-sebuah alat pelontar senjata rahasia yang digunakan anak murid Golok Sembilan. Tentu saja Jaka menyadari tubuh manusia punya batas.

Karena itu ia tidak ingin bertindak ceroboh, tak ngoyo. Dan ingin santai sejenak dengan berjalan lambat. Harus diakui istirahat terbaik adalah tidur, tapi dengan membiarkan pikiran tenang dan tubuh rileks, juga cukup baik.

—ooOoo—

About these ads

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers

%d bloggers like this: