Terusan ADBM Jilid 405

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-405/)

Jilid 405

DALAM pada itu, di tepian sebelah barat Kali Praga, para pengikut Panembahan Cahya Warastra tampak sedang berjaga jaga di sepanjang tepian. Mereka duduk bergerombol gerombol sambil menyalakan api untuk mengusir dingin. Di beberapa tempat yang lain ada yang sekedar duduk-duduk sambil memeluk lutut berselimutkan kain panjang, bahkan ada yang tidur-tiduran di atas batu-batu besar yang banyak berserakan di tepian.

More

Terusan ADBM Jilid 404

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-404/)

 

Jilid 404

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu memutuskan untuk berterus terang, “Pandan Wangi, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu telah menghimpun perguruan-perguruan yang sehaluan dengannya untuk menghancurkan Mataram di tepian Kali Praga sebelah barat dengan menduduki beberapa padukuhan kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.”

More

Terusan ADBM Jilid 403

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-403/)

Jilid 403

PANDAN WANGI terkesiap. Penunggang kuda yang memasuki regol rumah Ki Demang Sangkal Putung itu sangat dikenalnya. Hampir hampir tak percaya dengan pandangan matanya sendiri, Pandan Wangi yang kebetulan sore itu sedang menyirami bunga di sebelah pendapa hampir saja meneriakkan sebuah nama jikalau saja kesadarannya sebagai seorang perempuan, terlebih seorang perempuan yang sudah bersuami, telah mencegahnya.

More

Terusan ADBM Jilid 402

Terusan ADBM

Karya mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-402 )

 

Jilid 402

Ketika kemudian mereka telah menaiki tlundak pendapa dari bangunan utama barak pasukan khusus itu, Perwira yang bertanggung jawab atas pelaksanaan penjagaan di barak pasukan khusus itupun berhenti sejenak dan berpaling ke belakang sambil berkata, “Silahkan Ki Sanak berdua menunggu di pendapa, aku akan menyampaikan permohonan kalian untuk menghadap kepada Ki Lurah Sanggabaya.”

“Terima kasih,” hampir berbareng keduanya menyahut.

More

Terusan ADBM Jilid 401

Terusan ADBM

Karya mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-401 )

Jilid 401

Matahari telah merambat semakin tinggi. Sinarnya yang hangat terasa mulai menggatalkan kulit. Mereka bertiga yang masih duduk duduk di pendapa rumah yang selama ini digunakan oleh kedua murid perguruan Tal Pitu itu masih diam membisu. Agaknya mereka bertiga sedang asyik dengan lamunan masing masing. Sesekali terdengar helaan nafas yang panjang, namun mereka lebih banyak termenung sambil menundukkan kepala dalam dalam.

“Ki Rangga,” tiba tiba Ki Ageng Sela Gilang bergumam pelan, “Masih ingatkah Ki Rangga dengan suara jeritan seorang perempuan yang telah menyebabkan kita menelusurinya sampai ketempat ini?”

More

Terusan ADBM Jilid 400

Terusan ADBM

Karya mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/ )

Jilid 400

Keragu raguan masih membayang di wajah Ki Rangga Agung Sedayu, maka kemudian katanya, “Wiraguna adalah salah satu dari sekian anak anak muda yang berusaha mengambil hati Endang Mintarsih. Apakah Panembahan Senapati mempunyai pertimbangan khusus untuk memilih Wiraguna?”

Ki Singa Wana Sepuh tersenyum sekilas. Agaknya dia memaklumi mengapa Ki Rangga Agung Sedayu tidak habis pikir bahwa Raden Sutawijaya justru telah memilih salah satu dari kakak beradik yang nyata nyata mengambil sikap berseberangan dengannya sebelum mereka menyadari dengan siapa mereka berhadapan.

“Raden Sutawijaya memilih Wiraguna dengan pertimbangan Wiraguna adalah putra tertua dari Ki Dukuh Cepaga. Secara langsung Wiraguna akan menggantikan kedudukan Ayahnya kelak apabila masanya telah tiba. Dan ternyata Raden Sutawijaya telah mempercepat datangnya masa itu, masa pergantian pemimpin di padukuhan Cepaga dengan memberikan serat kekancingan atas nama Putra Sultan Hadiwijaya penguasa tertinggi di Pajang untuk menaikkan kedudukan dari sebuah Padukuhan menjadi sebuah Kademangan.”

More

Terusan ADBM Jilid 399

Terusan ADBM

Karya mbah_man

(Sumber: http://cersilindonesia.wordpress.com/terusan-adbm/ )

Jilid 399

Orang yang berkumis dan berjambang lebat itu hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Sambil mulutnya masih sibuk mengunyah juadah, tangan kanannya menerima semangkok dawet jabung dari pelayan kedai, seorang perempuan muda yang berwajah cerah.

Baru saja pelayan itu memutar tubuhnya, tiba tiba saja sebuah jerit kecil keluar dari mulutnya yang mungil ketika sebuah remasan yang sangat kurang ajar terasa di pantatnya, sementara orang yang berkumis dan berjambang lebat itu hanya tertawa terkekeh kekeh.

More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers