Terusan ADBM Jilid 413

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-413/)

Jilid 413

Demikianlah, akhirnya Ki Patih dan orang-orang tua itu segera menempatkan diri duduk bersila di atas sehelai tikar pandan yang terbentang di tengah-tengah pendapa. Sementara Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya serta orang-orang yang lain telah ikut pula duduk bersila melingkar menghadap ke arah Ki Patih.

Dalam pada itu, di antara gerumbul dan semak belukar yang bertebaran di belakang dinding banjar padukuhan induk, dua sosok bayangan tampak merayap mendekati dinding pembatas yang berada di belakang banjar.

More

Terusan ADBM Jilid 412

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-412/)

Jilid 412

Dalam pada itu, Ki Patih yang telah menghentakkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan perlawanan Ki Ajar ternyata mengalami kelelahan yang sangat luar biasa sehingga tumpuan kedua lututnya menjadi goyah. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah terdorong ke belakang dan rebah di atas tanah. Sejalan dengan mengendornya pemusatan nalar dan budi Ki Patih, bayangan-bayangan semu yang semula bertebaran di seluruh medan perang tanding itu pun perlahan-lahan telah menghilang bagaikan asap tertiup angin.

“Ki Patih!” hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga berseru sambil meloncat memasuki medan perang tanding. Sedangkan Raden Mas Rangsang serta kedua cucu Ki Patih dengan tergesa-gesa telah berlari mendekat.

More

Terusan ADBM Jilid 411

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-411/)

Jilid 411

“Nah,” berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Aku akan melanjutkan perjalananku mendaki pebukitan Menoreh. Terserah kepadamu anak muda, apakah engkau akan mengikuti aku ataukah melanjutkan perjalananmu sendiri menemui Ki Rangga Agung Sedayu?”

Untuk beberapa saat anak muda itu masih termangu-mangu. Namun ketika orang yang dipanggil Kanjeng Sunan itu mulai bergerak melangkahkan kakinya, dengan tanpa berpikir panjang, anak muda itu pun segera menyusul sambil berkata, “Ampun Kanjeng Sunan, jika diijinkan, perkenankan hamba mengikuti kanjeng Sunan mendaki pebukitan Menoreh.”

More

Terusan ADBM Jilid 410

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-410/)

Jilid 410

“Alangkah dahsyatnya kemampuan orang ini dalam menyerap bunyi dan mengaburkan pengamatan batin sehingga kehadirannya telah luput dari pantauan ajiku sapta pangrungu,” desis Kiai Sabda Dadi dalam hati sambil mencoba mengenali wajah yang terlihat samar-samar dari tempat Kiai Sabda Dadi berdiri.

Namun belum sempat Kiai Sabda Dadi menduga-duga siapakah orang yang datang paling akhir itu, tiba-tiba saja Punjul dan Wareng telah maju beberapa langkah. Kemudian hampir bersamaan mereka menyapa sambil membungkukkan badan mereka dalam-dalam.

More

Terusan ADBM Jilid 409

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-409/)

Jilid 409

Untuk sejenak raksasa itu tertegun. Bagaimanapun juga ilmu Ki Rangga yang dipelajarinya dari kitab Ki Waskita itu nyaris sempurna. Bukan hanya ujud-ujud semu yang hanya dapat mengelabuhi pandangan mata wadag saja, namu kedua ujud Ki Rangga itu juga mempunyai kemampuan ilmu yang sama dengan ujud aslinya.

Raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Suaranya bagaikan auman berpuluh-puluh singa gurun yang kelaparan.

More

Terusan ADBM Jilid 408

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-408/)

Jilid 408

KI GEDE Menoreh yang mengamati pergerakan para pengawal dalam mengejar lawan-lawannya itu menjadi berdebar-debar ketika pasukan lawan sudah mulai mendekati dinding padukuhan induk. Sambil bergerak mundur mereka terus mengadakan perlawanan yang sengit. Sementara para pengawal Menoreh tidak menyadari bahaya yang dapat mengancam nyawa mereka dari balik dinding padukuhan induk.

“Hentikan pengejaran!” teriak Ki Gede Menoreh mencoba menghentikan gerak maju para pengawal Menoreh yang sudah hampir mendekati dinding padukuhan induk.

More

Terusan ADBM Jilid 407

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-407/)

Jilid 407

SEJENAK Ki Ajar Wiyat masih termangu mangu sambil menatap Ki Gede Menoreh yang tegak bediri tak tergoyahkan bagaikan sebuah bukit. Pemimpin perguruan dari Tumapel itu seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Tenaga lawannya tak ubahnya dengan tenaga seekor gajah walaupun Ki Gede terlihat sudah sangat tua dan lemah.

“Baiklah, perhitunganku mungkin sedikit keliru,” akhirnya Ki Ajar Wiyat berkata sambil mulai mempersiapkan serangan berikutnya, “Namun semua ini tidak akan menggoyahkan ilmuku, tidak ada sekuku ireng dari ilmu yang telah sempurna aku kuasai. Berdoalah Ki Gede, umurmu tidak akan lebih dari suwe mijet wohing ranti.”

More

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers