Mataram Binangkit Buku 397

Mataram Binangkit

Lanjutan Api di Bukit Menoreh

Oleh Ki Agus S. Soerono

Seri IV

Buku 397

ORANG yang berdesis luar biasa itu, masih belum berbuat apa-apa. Ia masih berlindung di kegelapan di balik pepohonan. Lelaki itu dengan seksama masih memperhatikan betapa Ranti yang bergerak dengan gesit di tengah kepungan keempat pengikut Pangeran Ranapati itu. Ranti meskipun dikepung oleh empat orang pengawal Pangeran Ranapati, namun tidak membuatnya kebingungan. Justru keempat lawannyalah yang menjadi gelisah menghadapi kecepatan gerak Ranti yang sulit diduga.


Lelaki itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Ranti yang diserang lambungnya dengan sebuah tendangan memutar oleh orang yang rambutnya ubanan, dengan tangkasnya berkelit ke samping sambil merendahkan badannya. Orang yang rambutnya ubanan itu mengumpat kasar ketika serangannya tidak mengenai sasaran. Sebaliknya secepat kilat siku kanan Ranti menyodok pinggangnya, sehingga serasa seolah-olah tulang rusuknya retak semua. Namun sebagai pengikut Pangeran Ranapati yang setia, orang yang berambut ubanan itupun ternyata sudah mendapat bekal ilmu yang cukup dan sudah termasuk yang paling tinggi tatarannya.
Dengan geram ia menyerang kembali dengan bertubi-tubi. Tendangan yang mematikan disusul dengan tusukan keempat jarinya dirapatkan, namun ibu jarinya menekuk ke dalam. Ketika serangan beruntun itu masih juga gagal, orang yang berambut ubanan itupun menyusulnya dengan pukulan dengan tinjunya yang mengarah ke kening. Tentu saja Ranti tidak mau keningnya menjadi sasaran tinju lawannya. Ranti merendah sedikit, lalu dengan cepat kakinya menyerang ke arah pinggang lawannya. Lawannya tidak menduga akan mendapat serangan balik yang demikian deras. Ia tidak bisa lagi menghindar. Yang dapat dilakukannya adalah buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan pinggangnya. Sehingga terjadi benturan yang keras sekali.
Orang yang berambut ubanan itu terdorong dua langkah lalu terpelanting ke belakang. Pinggangnya terasa nyeri sekali. Ternyata kedua tangannya yang disilangkan di depan pinggangnya itu tidak mampu menahan tendangan kaki yang menyerang pinggangnya. Justru kedua tangan yang disilangkan itu membentur pinggangnya dengan keras. Kedua tangannya kesakitan, pinggangnya juga menjadi nyeri. Ia meringis kesakitan sambil mengumpat-umpat.
Namun orang yang berambut ubanan itu sebenarnyalah tidak ingin bertempur terlalu lama lagi dengan Ranti. Mereka ingin segera menyelesaikan Ranti yang bertempur sendiri itu lalu mereka ingin segera meninggalkan sanggar itu. Mereka sudah jemu dengan para pengikut Pangeran Ranapati yang lain, yang bersikap mendua. Mereka tidak ikut membantu bertempur, justru kini dalam keadaan sulit seperti sekarang mereka tidak membantu. Mereka hanya menonton.
Setelah nanti Ranti bisa diselesaikan mereka ingin segera menyusul Pangeran Ranapati. Siapa tahu dengan demikian Pangeran itu bisa memasukkan mereka ke lingkungan pasukan keprajuritan. Seperti telah dikatakan oleh Pangeran Ranapati, begitu Pangeran Ranapati diangkat menjadi Senapati di Panaraga maka mereka akan segera disusupkan kedalam lingkungan keprajuritan. Namun mereka tidak ingin menunda keberangkatan mereka ke Istana Kadipaten Panaraga. Karena mereka pun ingin melihat saat-saat Pengeran Ranapati diwisuda menjadi Senapati pinilih.
“Jika aku bisa diangkat menjadi prajurit, maka aku bisa mengakhiri cara hidupku yang kelam dengan mencuri, merampok dan menyamun,” kata orang yang berambut ubanan itu dalam hatinya.
Orang itu menyadari, kalau tidak ada orang berpengaruh yang membawanya, tentu akan sulit baginya memasuki lingkungan keprajuritan. Apalagi usianya sudah merambat cukup jauh dan terlihat dari ciri kewadagannya dari rambutnya yang sudah menjadi berwarna dua.
Namun orang yang berambut ubanan itu tidak ingin berangan-angan terlalu jauh. Di depannya Ranti masih berdiri tegak siap menghadapinya. Namun Ranti tidak segera menyerangnya. Ia sengaja memberi kesempatan kepada keempat orang itu untuk segera menyadari keadaannya.
“Sudahlah. Menyerahlah. Sebagian pengikut Pangeran Ranapati kecuali kalian sudah mengambil keputusan yang tepat dengan tidak ikut mengepungku”
“Ah mereka para lelaki pengecut. Mereka hanya berani di depan Pangeran Ranapati. Tetapi begitu Pangeran pergi mereka nyalinya menjadi ciut sebesar menir.”
“Tetapi mereka agak lebih mempunyai nalar daripada kalian”
“Perempuan binal, kubunuh kau”kata orang yang ubanan itu sambil mencabut belati panjang dari ikat pinggangnya.
Ketiga orang kawannya yang lain, ketika melihat orang yang ubanan itu mencabut senjatanya, segera mengikutinya.
Ranti menjawab”Kau dari tadi hanya bisa berteriak-teriak saja. Kalau kau mampu, tentu sudah kau lakukan.”
“Genderuwo betina. Kukoyak mulutmu dengan belatiku ini. Belatiku ini sudah menghirup darah puluhan orang sampai nyawanya lepas dari raga mereka”
“O ya. Aku justru ingin melihat ujung belatimu menghirup darahmu sendiri atau darah kawan kalian sendiri.–
Dengan belati panjang di tangannya, mereka secara serentak menyerang Ranti. Ranti yang tidak mau menjadi sasaran senjata keempat lawannya, segera bergeser surut. Dalam sekejap di tangannya telah terpegang selembar selendang berwarna merah muda yang selama ini membelit pinggangnya.
“Apa yang dapat kau lakukan dengan ikat pinggangmu itu. Apakah kau akan menari serimpi di sini”tanya orang yang berambut ubanan dengan nada mengejek.
“Baik. Aku akan mengajakmu menari di tengah halaman ini”kata Ranti sambil memutar selendangnya.
Belum selesai kalimat Ranti itu, selendangnya”yang pada ujung-ujungnya diberi butiran timah pemberat itu”sudah menyodok bahu orang yang berambut ubanan itu. Pukulan selendang itu terasa seperti pukulan alugora dari baja yang mengguncang bahunya. Pedih sekali rasanya, sehingga dadanya terasa sesak. Napasnya menjadi tersengal-sengal. Belum lagi orang yang rambutnya ubanan itu memperbaiki kedudukannya, selendang itu sudah menyambar belati panjang di tangannya.
Dengan kuatnya selendang membelit belati itu, lalu dengan hentakan sendal pancing yang sangat kuat, belati itu terlepas dan meluncur deras ke arah kawannya yang bertubuh tinggi besar dan menusuk lambungnya. Orang itu mengaduh sambil mengumpat-umpat kawannya yang ubanan. Tapi umpatannya tidak berlangsung lama, karena darah segar segera memancar deras dari luka di lambungnya.
Orang bertubuh tinggi besar itu segera tersungkur. Sedangkan orang yang rambutnya ubanan merasa bersalah karena senjata belatinya, meskipun tidak sengaja, telah melukai kawannya sendiri.
Selendang Ranti masih menari-nari dengan lincahnya, menarikan irama kematian. Ketiga lawannya yang masih tinggal, dengan sisa-sisa tenaganya berusaha berloncatan menghindar. Selendang itu meledak-ledak mengejar kaki ketiga lawan Ranti.
“Nah begitukah cara kalian menari serimpi?”kata Ranti mengejek ketiga lawannya. Ketiga lawannya hanya bisa mengumpat-umpat sambil meloncat-loncat menghindari belitan selendang Ranti itu. Malang seorang yang terlambat meloncat, tersambar oleh selendang pada betisnya. Sebuah luka menganga di betisnya itu, seperti tersambar sebuah pedang tipis. Ketika Lelaki yang kurus dan berambut keriting itu meraba betisnya, terasa pedih dan tangannya basah. Darah. Ia mengaduh kesakitan dan bergerak menepi dari arena.
Kini tinggal dua orang yang mengeroyok Ranti, yaitu orang yang berambut ubanan dan seorang kawannya yang gemuk bulat dan berbadan kekar, tapi tidak begitu tinggi.
Namun tenaga kedua orang itu sudah semakin lemah. Orang yang berambut ubanan yang sudah tidak bersenjata belati panjang lagi itu, lebih banyak meloncat menghindar daripada menyerang. Sedangkan kawannya karena masih bersenjata, satu dua kali masih sempat menyerang. Tetapi kedua orang itu tetap masih di bawah tekanan senjata selendang Ranti yang meluncur meledak-ledak, meskipun suaranya tidak keras seperti suara cambuk. Betapa pun lembutnya selendang itu, namun di tangan Ranti selendang yang biasanya menjadi kelengkapan pakaian perempuan itu menjadi sangat berbahaya.
Mereka terus menyerang sekuat tenaga. Orang yang berambut ubanan itu masih berusaha mengerahkan tenaganya, meskipun ia sudah tidak bersenjata lagi. Namun betapapun Ranti yang bersenjata sebuah selendang itu, jauh lebih panjang daripada kaki atau tangannya. Orang yang berambut ubanan itupun menjadi semakin kesulitan.
Seorang lagi kawannya yang gemuk bulat dan berbadan kekar, tapi tidak begitu tinggi itupun, meskipun bersenjata sebilah belati panjang tetap saja bukan lawan Ranti. Meskipun Ranti dikeroyok yang kini tinggal dua orang, kedua orang itu tetap saja terdesak.
Mereka pada akhirnya kehabisan tenaga dan nafas mereka menjadi terengah-engah. Sebaliknya Ranti tidak kelihatan terlalu letih. Mukanya masih cerah seperti pada waktu baru mulai memasuki arena itu dan tenaganya masih utuh.
“Cukup. Cukup”tiba-tiba terdengar teriakan seorang lelaki yang berlindung dan muncul dari balik kegelapan pepohonan perdu di sudut halaman. Ia ternyata tidak lain adalah Pangeran Ranapati yang membentak dengan suara menggelegar.”Tidak kusangka kau juga memiliki sedikit ilmu olah kanuragan, Ranti. Ternyata aku bisa kau kelabui. Siapa kau sebenarnya?”
Ranti tersentak kaget, ketika mengetahui bahwa Pangeran Ranapati sudah ada pula di halaman sanggarnya yang tidak jauh dari tempat petilasan batu pipihnya itu. Memang panggraita Pangeran Ranapati cukup tajam. Ketika melangkah meninggalkan halaman sanggarnya, setelah berjalan beberapa ratus langkah hatinya merasa tidak enak.
Ternyata panggraitanya itu tidak salah. Ketika ia berbalik ke sanggarnya dan ternyata ia mendapati empat orang pengikutnya sedang bertempur menghadapi Ranti. Sedangkan sebagian besair lainnya dari pengikutnya memilih menjauh dari arena. Ternyata mereka berempat tidak bisa mengatasi keganasan ilmu olah kanuragan Ranti yang dikiranya gadis desa yang lugu. Bahkan sebaliknya, Ranti-lah yang mengendalikan jalannya perkelahian itu.
Ia sempat memperhatikan beberapa saat sampai kedua orang pengikutnya tersingkir dari arena. Pada akhirnya ia tidak tahan lagi bersembunyi di kegelapan.
“Aku adalah Ranti, Pangeran gadungan”kata Ranti.
“Apa kau bilang? Pangeran gadungan? Kusobek-sobek bibirmu. Kanjeng Adipati Panaraga, Pangeran Jayaraga, saja mengakui aku adalah Pangeran. Kau perempuan pidak pedarakan berani mengatai aku Pangeran gadungan.”
Ranti hanya tertawa. Sebenarnyalah dua lurah telik sandi yang menyamar dengan nama Sungkana dan Sumbaga yang kembali ke Panaraga dari Mataram, telah mendapat keterangan dari Ki Patih Mandaraka bahwa petugas sandi yang dikirim ke lereng Merapi sudah melaporkan tentang asal-usul Pangeran Ranapati itu.
Petugas sandi itu telah mendapat keterangan dari penduduk bahwa ibu dari orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu masih hidup, meskipun sudah tua sekali.
Perempuan tua itu meskipun wadagnya sudah renta, tapi masih mempunyai ingatan yang tajam. Dari perempuan tua itulah diperoleh keterangan bahwa orang yang mengaku seorang Pangeran dan menyebut dirinya Pangeran Ranapati, sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan Panembahan Senapati.
Menurut keterangan yang berhasil dihimpun petugas sandi yang mendapat petunjuk dari keluarga Punta yang seorang cantrik di Padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing, diketahui bahwa Pangeran Ranapati sebenarnya bernama Karaba Bodas. Karaba Bodas adalah anak seorang saudagar kain yang menjajakan dagangannya dari kota ke kota di tanah ini. Setelah ayahnya yang pedagang kain itu meninggal karena sakit yang menahun ketika Karaba Bodas menanjak dewasa, Karaba Bodas lalu mengembara dan berguru di berbagai padepokan.
Merasa ilmunya sudah cukup, Karaba Bodas di masa dewasanya ternyata telah salah bergaul dan memilih berkawan dengan pencuri, perampok, kecu, gegedug dan penyamun.
“Ah Ken Arok saja dari Padang Karautan bisa menjadi Raja besar di tanah ini”kata Ki Karaba Bodas di dalam hatinya. Atas dasar pemikiran itulah Karaba Bodas mulai menganyam cita-citanya. Dengan cerdik Ki Karaba Bodas mulai menggalang kawan-kawannya untuk mewujudkan keinginannya. Ki Karaba Bodas mulai membangun padepokan yang sering disebutnya sebagai pertapaan, yang tidak jauh dari tempat tinggal ibunya.
“Kau jangan terlalu berangan-angan, ngger. Sungguh tidak pantas kalau kau mengaku-aku sebagai seorang Pangeran”kata ibunya suatu ketika. Ibunya ternyata mempunyai penalaran yang wajar atas segala tindak tanduk anaknya. Ibunya melihat bahwa keinginan anaknya yang berusaha meraih jabatan dengan mengaku-aku sebagai Pangeran, sungguh suatu tindakan yang sangat deksura. Sebelum anaknya menjadi telanjur melangkah, ibunya masih berusaha mengingatkannya. Namun tidak selalu nasihat yang baik dari seorang orang tua mendapat tanggapan yang baik dari seorang anak. Apalagi nasihat itu datang dari seorang ibu. Ibunya sangat khawatir atas jalan salah yang ditempuh anaknya dalam menggapai gegayuhannya itu.
“Ibu jangan menghalang-halangi gegayuhanku”kata Ki Karaba Bodas.
“Ngger, kalau kau ingin menjadi pemimpin, jangan mulai dengan menipu dirimu sendiri. Ibu tidak suka itu”
“Sudah. Sudah. Ibu jangan mencampuri dan menghambat gegayuhanku. Gegayuhanku itu harus dicapai dengan segala pengorbanan, termasuk dengan mengelabui diri sendiri. Apa salahnya? Bukankah aku tidak merugikan orang lain?”
“Ngger, ngger. Sing eling ngger, becik ketitik, ala ketara. Kalau ngger mau jadi prajurit, lalu menjadi senapati atau tumenggung, itu wajar. Tetapi kalau kau menipu diri sendiri dan menipu asal-usulmu, itu sungguh tidak wajar. Aku sama sekali tidak pernah kenal dengan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga dan kemudian menjadi Panembahan Senapati. Apalagi jika kau akan mengaku sebagai putera lembu peteng Panembahan Senapati, itu sungguh sudah kebablasan, ngger. Berarti kau hendak mengatakan bahwa aku pernah berselingkuh dengan Raden Sutawijaya”
“Lalu akan kau kemanakan ceritera tentang mendiang ayahmu? Aku rasa ayahmu di alam yang abadi, yang menurunkan kau, akan tidak ikhlas jika kau tidak mengakuinya”kata ibunya sambil mengelus dada.”Aku rasa ayahmu tidak pernah mengajarimu berbuat culas dan licik seperti itu.”
“Sudahlah Ibu. Jika aku mukti, ibu akan ikut menikmati”kata Ki Karaba Bodas.
Ibunya hanya bisa menangis dalam hati dan mengelus-elus dadanya menanggapi anaknya yang telah deksura dan dinilainya salah langkah.
Keterangan bahwa putera Panembahan Senapati yang bernama Pangeran Jayaraga mendapat jabatan menjadi Kangjeng Adipati di Panaraga rupanya merupakan kesempatan bagi Ki Karaba Bodas untuk menumpang mukti pada Pangeran yang akan diakunya sebagai adiknya lain Ibu.
Ki Karaba Bodas segera meninggalkan padepokannya, lalu pergi ke Panaraga. Ia berhasil mendekati seorang Senapati kepercayaan Kangjeng Adipati Jayaraga. Mas Panji Wangsadrana. Senapati ini termasuk pengiring yang dibawa Kangjeng Adipati Jayaraga dari Mataram.
Pertemuan dengan Senapati Mas Panji Wangsadrana terjadi secara kebetulan saja. Ketika Mas Panji Wangsadrana sedang berkeliling melihat-lihat wilayah Kadipaten Panaraga, setelah seharian berputar mengelilingi wilayah itu dengan menunggang kuda Mas Panji Wangsadrana beristirahat sejenak di sebuah kedai.
Karena ia tidak ingin dikenal oleh banyak orang, maka Mas Panji Wangsadrana tidak mempergunakan pakaian keprajuritannya. Dengan diiringkan oleh dua orang pengikutnya mereka memasuki kedai yang terletak di dekat pasar itu.
Mas Panji Wangsadrana mengambil tempat duduk sebuah lincak panjang di sudut ruangan. Tak lama kemudian pelayan kedai itu mendatanginya dan mereka masing-masing memesan nasi megana dan sepotong ayam serta wedang sere hangat.
Baru saja mereka mulai menyantap makanan yang mereka pesan, lima orang lelaki yang berwajah garang memasuki kedai itu. Dengan membentak-bentak mereka memanggil pemilik kedai. Mereka meminta Mas Panji Wangsadrana berpindah tempat, karena setiap mereka datang kekedai itu para lelaki berwajah garang itu selalu duduk di sudut itu. Sudut itu terasa sejuk karena pada sudut itu terdapat jendela yang mengalirkan udara segar. Agaknya di belakang jendela itu terdapat belumbang yang berisi ikan berwarna-warni. Rupanya tempat duduk di sudut itu merupakan tempat yang paling disukai oleh para pedagang yang mampir untuk makan di kedai itu.
Ketika kelima orang yang berwajah garang itu hendak mengusir rombongan Mas Panji Wangsadrana ke tempat duduk yang lain, tiba-tiba seorang lelaki yang duduk di tengah ruangan itu bangkit dari duduknya.
“Kalian tidak bisa mengusir orang yang sudah duduk dan makan di tempatnya seenak hati kalian”kata lelaki yang duduk di tengah ruangan itu.”Kita sama-sama punya hak untuk duduk di mana saja, selama tempat itu kosong.”
“Kau jangan mencari perkara. Jangan ikut campur. Siapa kau?”tanya seorang setengah baya dengan muka garang, berkumis tebal dan sebuah bekas luka melintang di pipinya.
“Aku Pangeran Ranapati. Kau siapa?”tanya seorang lelaki yang duduk di tengah ruangan tersebut.
“Kami gegedug di pasar ini. Kalau mau selamat jangan mencari perkara dengan kami”kata orang setengah baya itu.
“Kalian keluar semua. Jangan mengganggu orang yang sedang makan di kedai ini”kata orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu.
Dengan geram kelima orang itu menantang orang yang bernama Pangeran Ranapati itu.”Kami tunggu kau di halaman kedai ini”katanya.
Demikianlah, dalam sekejap di halaman kedai yang cukup luas itu terjadi pertarungan yang sengit, namun tidak seimbang. Semua orang termasuk Mas Panji Wangsadrana keluar menyaksikan pertarungan yang tidak imbang itu. Satu orang dikerubuti oleh lima orang yang berwajah garang.
Namun orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati ternyata bukan lawan yang sepadan bagi kelima orang yang berwajah garang itu. Dalam satu gebrakan tiga orang di antaranya jatuh terguling-guling kena sambaran kaki dan tangan orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu.
Kedua orang yang tersisa segera menyadari kemampuan diri mereka.
“Ampun Pangeran. Ampun. Kami minta ampun”kata mereka.
“Nah kalau kau minta ampun, cepat tinggalkan tempat ini dan jangan lagi berbuat seperti itu lagi di tempat ini atau tempat lainnya. Jika aku mendengar kalian berbuat lagi demikian, aku tidak segan-segan untuk membunuh kalian.”
“Terima kasih Pangeran. Kami mohon diri”
“Cepat tinggalkan tempat ini, sebelum aku mengubah pendirianku”kata orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu.
Para pembeli makanan di kedai itupun kembali memasuki kedai. Mulai dari sanalah orang yang mengaku Pangeran Ranapati itu berkenalan dengan Mas Panji Wangsadrana dengan akrab. Setelah beberapa kali mengadakan pertemuan yang semakin akrab, orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itupun kemudian mengusulkan kepada Mas Panji Wangsadrana untuk mengadakan adon-adon di Panaraga untuk memilih senapati untuk memperkuat pasukan Kadipaten Panaraga.
Kepada Mas Panji Wangsadrana, orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu menyatakan kalau Kadipaten Panaraga mengadakan adon-adon, ia menyatakan siap untuk turun ke gelanggang. Namun sebelum terpilih sebagai senapati dalam adon-adon, dengan pesan wanti-wanti orang yang mengaku sebagai Pangeran Ranapati tidak menyebutkan kepada siapapun bahwa dirinya bernama Pangeran Ranapati.
“Dalam adon-adon nanti sebut saja namaku Ki Laksana”kata orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati. Ia menjelaskan meskipun sejatinya ia seorang Pangeran, namun ia tidak diakui oleh Panembahan Senapati. Ia mengaku sebagai putera lembu peteng Panembahan Senapati, namun hidupnya terlunta-lunta karena harus menyepi di padepokannya di lereng Merapi. Orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati dan dalam adon-adon itu menyebut namanya Ki Laksana itu pun ternyata berhasil menyingkirkan semua lawan-lawannya. Bahkan Kangjeng Adipati Jayaraga sudah menetapkannya sebagai senapati terpilih dan memintanya tinggal dalam kompleks keraton Kadipaten Panaraga, sambil menunggu saatnya diwisuda dan wisma baginya selesai dibangun.
Ceritera yang diperoleh petugas Sandi itulah yang disampaikan oleh Sungkana dan Sumbaga kepada Glagah Putih. Secara beranting keterangan itu sudah disampaikan kepada Ranti melalui Aji Pameling.
“Bukankah namamu sebenarnya Karaba Bodas. Nah sekarang kau mau apa Karaba Bodas?”tanya Rara Wulan yang dalam penyamarannya itu bernama Ranti.
Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu terperanjat dan menjadi pucat pasi mukanya.
“Siapa yang memberi tahumu?”tanya Ki Karaba Bodas.
“Bukankah namamu sebenarnya Karaba Bodas? Kau tidak bisa ingkar lagi , pangeran gadungan”tanya Ranti.
“Keterangan itu aku peroleh dari Ki Patih Mandaraka”kata Ranti.
“Bohong. Bohong”kata Ki Karaba Bodas.
“Kedokmu sudah terbuka Pangeran gadungan. Kau tidak bisa ingkar lagi Karaba Bodas. Petugas sandi dari Mataram sudah melacak keterangan dari ibumu di lereng Merapi, tak jauh dari padepokanmu”kata seorang laki-laki muda yang tiba-tiba muncul dari balik kegelapan pohon di sudut lain halaman itu. Laki-laki itu adalah Glagah Putih.
“Kami mendapat tugas dari Ki Patih untuk membayangi dan menangkapmu”kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang sebagai pertanda petugas sandinya kepada Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati dan juga mengaku sebagai putera lembu peteng dari Panembahan Senapati itu.
“Kau sudah menghancurkan jerih payahku membangun angan-anganku menjadi kenyataan. Gegayuhanku itu sudah hampir tercapai, tetapi kalian sudah menghancurkannya. Karena itu kalian harus ditumpas habis”kata Ki Karaba Bodas geram.
Tiba-tiba Ki Karaba Bodas tertawa terbahak-bahak. Mula-mula suaranya rendah, berputar-putar, bergaung dan semakin lama semakin menggeletar. Suara tertawanya semakin lama semakin mengguncangkan udara sekitarnya, dedaunan, ranting pohon. Bahkan dedaunan yang sudah menguning menjadi berguguran diterpa gelombang tertawanya.
“Aji Gelap Ngampar”desis Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan.
Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah mempunyai kemampuan ilmu yang bertimbun dalam dirinya, terutama setelah mereka mendapat petunjuk yang aneh dari Kiai Namaskara dari alam tiada menjadi ada, dan menjalani laku Tapa Ngidang sebagaimana termuat dalam kitab yang ditemukannya, sama sekali tidak terguncang oleh Aji Gelap Ngampar itu.
Apalagi selama dalam perjalanan dari Mataram ke Panaraga, Glagah Putih dan Rara Wulan sudah mulai menjalani laku untuk mendapat ilmu kebal Tameng Waja sebagaimana petunjuk yang diberikan oleh Ki Patih Mandaraka sebelum mereka berangkat ke Panaraga. Karena dasar ilmu Glagah Putih yang sudah tinggi berkat bimbingan kakak sepupunya yang sekaligus gurunya Ki Rangga Agung Sedayu, kemudian dari Kiai Jayaraga yang merasa kecewa dengan keempat muridnya terdahulu karena mereka menjadi perompak di laut. Kiai Jayaraga serasa mendapat mutiara yang bersinar terang ketika mendapat kesempatan dari Ki Rangga Agung Sedayu yang mengijinkan Kiai Jayaraga menurunkan ilmunya kepada Glagah Putih.
Ilmu Glagah Putih kian bertimbun ketika dalam petualangannya dengan Raden Rangga memperdalam ilmunya dengan berbagai laku yang aneh dan berat di tepian kali yang berbatu dekat Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan di saat-saat terakhirnya sebelum meninggal, Raden Rangga sempat mewariskan ilmunya secara aneh kepada Glagah Putih melalui genggaman kedua tangan mereka yang berpegangan erat.
Namun akibat Aji Gelap Ngampar itu justru membentur dada para pengikut Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati. Para pengikut Ki Karaba Bodas itu terguncang-guncang sambil menekan dadanya seakan-akan jantungnya terasa mau lepas dari pangkalnya.
Kantil yang diambil selir oleh Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati dan kemudian dicampakkan seperti bunga yang layu, bahkan jatuh terkapar terkena guncangan Aji Gelap Ngampar. Begitu pula orang yang berambut ubanan.
Meskipun orang yang berambut ubanan itu merupakan pengikut yang tertua dan memiliki ilmu paling tinggi dibandingkan dengan pengikutnya yang lain dari Ki Karaba Bodas, orang yang berambut ubanan itu terguncang-guncang dibentur oleh kekuatan Aji Gelap Ngampar yang dilontarkan Ki Karaba Bodas.
Ki Karaba Bodas yang kecewa karena merasa kedoknya sudah terbongkar itu tidak peduli dan melampiaskan kekecewaannya melalui gelak tawanya yang dilambari Aji Gelap Ngampar. Sesungguhnya tertawa Ki Karaba Bodas itu tertawa yang pahit dan penuh dengan muatan rasa geram, kecewa, pedih dan marah bercampur menjadi satu. Ki Karaba Bodas tidak peduli bahwa justru serangannya itu mengguncang dada para pengikutnya.
Suara tertawanya semakin lama semakin tinggi dan lambaran ilmu yang mengiringinya pun semakin meningkat, sejalan dengan kepedihan hatinya.
Glagah Putih yang iba melihat kondisi Kantil yang terguncang akibat Aji Gelap Ngampar, tidak tega hatinya. Ia merogoh sakunya dan mengambil sebuah benda kecil dari dalamnya serta menempelkannya ke bibir. Segera saja terdengar suara yang rendah dari rinding yang memecah udara. Suara rinding yang rendah itu bergulung-gulung, menerkam, menindih dan akhirnya melibas suara yang dipantulkan tawa Ki Karaba Bodas yang dilontarkan dengan Aji Gelap Ngampar.
Suara rinding itu seolah-olah menari-nari di celah-celah suara tawa Ki Karaba Bodas yang masygul dan kecewa. Semakin lama suara rinding itu menindih, memutar dan menggulung suara tawa Ki Karaba Bodas. Akhirnya, karena tenaga dalam dan ilmu yang dimiliki oleh Glagah Putih lebih tinggi, maka suara rinding itu bisa melipat suara tawa Ki Karaba Bodas yang dilambari Aji Gelap Ngampar. Akhirnya suara tawa Ki Karaba Bodas itu terasa hampa, tidak bertenaga lagi.
“Anak setan, iblis, genderuwo”Ki Karaba Bodas akhirnya memaki-maki ketika suara tawanya sudah tidak menggetarkan udara dan tertekan habis oleh suara rinding itu.
“Nah kau mau apalagi”kata Glagah Putih sambil memasukkan rinding itu ke saku bajunya.
“Aku mau mengirimmu ke neraka, anak setan”kata Karaba.
“Neraka? Kau tahu pula neraka?”kata Glagah Putih.”Kalau kau tahu neraka yang gelap tapi panasnya mampu membakar jiwa-jiwa yang kotor, mengapa pula tingkahmu aneh-aneh dengan mengaku-aku sebagai putera lembu peteng Panembahan Senapati.”
“Kalian sudah merusakkan gegayuhanku yang kurancang bertahun-tahun. Kalian benar-benar telah memorakporandakan semuanya.”
“Majulah kalian berdua, biar cepat aku menghabisimu”kata Ki Karaba Bodas.
“Biarlah aku yang menyelesaikannya Rara. Kau awasi Kantil agar tidak diterkam oleh para pengikut KI Karaba Bodas yang mengaku Pangeran Ranapati ini”kata Glagah Putih kepada Rara Wulan.
“Baik kakang”
Glagah Putih pun mulai mempersiapkan diri menghadapi Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati dan mengaku pula sebagai putera lembu peteng dari Panembahan Senapati.
Ki Karaba Bodas yang merasa terbongkar kedoknya mulai mengambil ancang-ancang. Sorot matanya yang licik dan culas itu mengawasi gerakan Glagah Putih. Mereka berputar saling mengincar kelemahan lawannya. Tak lama kemudian mereka segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Ki Karaba Bodas meloncat cepat lalu menendang ke arah dada sambil tangannya memukul ke arah kening dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Glagah Putih yang tidak ingin dada dan keningnya menjadi sasaran serangan Ki Karaba Bodas bergeser surut sambil merendahkan badannya.
Glagah Putih segera membalas serangan beruntun Ki Karaba Bodas itu dengan sisi telapak tangannya mengarah ke dagu. Dengan cekatan Ki Karaba Bodas yang tidak mau dagunya ditimpa sisi telapak tangan Glagah Putih menghindar. Ki Karaba Bodas tidak mau tulang dagunya retak tersambar tangan lawannya.
Demikianlah dalam waktu singkat terjadi pertarungan yang sangat seru. Silih berganti mereka menyerang dan menghindar. Ki Karaba Bodas pun semakin lama semakin meningkatkan serangannya dengan jurus-jurus olah kanuragannya yang sudah mapan. Namun setiap kali Ki Karaba Bodas meningkatkan tahapan ilmunya, Glagah Putih pun selalu mampu mengimbanginya. Semakin lama ilmu mereka semakin tinggi dan gerakan mereka semakin cepat.
Kantil dan para pengikut Ki Karaba Bodas yang selama ini mereka kenal sebagai Pangeran Ranapati itu, melihat kedua orang yang bertarung itu seperti dua bayangan yang saling melibat, saling berputar, bergulung-gulung. Karena demikian cepatnya gerakan kedua orang yang bertempur itu, Kantil dan pengikut Ki Karaba Bodas sudah tidak bisa membedakan mana Ki Karaba Bodas dan mana Glagah Putih.
Mereka bertarung dengan sengitnya. Saling serang dengan serunya. Glagah Putih pun semakin meningkatkan ilmunya setiap kali Ki Karaba Bodas menggapai tingkat ilmu yang lebih tinggi. Ki Karaba Bodas tiba-tiba melenting tinggi seperti belalang, lalu menyerang dengan tangan terkepal ke arah punggung. Glagah Putih merasa kesiur angin yang tajam menyambar punggungnya.
Secara spontan Glagah Putih mengikuti dorongan akibat pukulan yang tajam itu sambil berguling menghindar. Setelah tiga kali berguling, Glagah Putih melenting tinggi dan ketika kakinya mencapai permukaan tanah segera mengambil ancang-ancang. Glagah Putih pun mulai menerapkan ilmu meringankan tubuhnya serta mulai melapisi dirinya dengan ilmu Tameng Waja yang diperoleh petunjuknya dari Ki Patih Mandaraka.
Meskipun Ki Patih Mandaraka hanya memberi petunjuk secara garis besarnya saja, namun karena dasar-dasar ilmu Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah tinggi, maka tidak ada kesulitan bagi mereka untuk menerapkannya. Terlebih lagi ketika menjalani laku Tapa Ngidang setelah mereka mendapat kitab secara aneh dari Kiai Namaskara, ilmu Kebal Tameng Waja seolah-olah dengan mudahnya masuk dalam perbendaharaan ilmu mereka.
Kalau seseorang harus menjalani laku untuk meraih ilmu Kebal Tameng Waja secara khusus sampai berbilang ratusan hari, maka Glagah Putih dan Rara Wulan dapat mencapainya tidak sampai sepersepuluh waktu yang diperlukan itu.
Karena itu, dapat dipahami jika Ki Karaba Bodas yang sudah menerapkan puncak ilmunya, tidak dapat menyentuh kulit Glagah Putih.
Namun Glagah Putih yang belum pernah mempergunakan Aji Tameng Waja itupun merasa mendapat kesempatan untuk mengamalkan ilmunya dengan membenturkannya kepada Ki Karaba Bodas. Ketika Ki Karaba Bodas dengan serangan berganda menyerang kaki dan lambung Glagah Putih, maka Glagah Putih sengaja telah membenturnya. Ia tidak menghindar. Ki Karaba Bodas merasa kaki dan tangannya telah membentur sebuah gunung baja di depannya. Glagah Putih bergeming ketika benturan itu menerpanya.
“Ilmu Kebal Tameng Waja”desis Ki Karaba Bodas.”Meskipun kau memiliki Aji Tameng Waja, bukan berarti aku tidak dapat menembus ilmu kebalmu dengan Aji Gundala Geni, anak setan.”
“Memang tidak ada ilmu kebal yang tidak mempunyai kelemahan, Ki Karaba Bodas. Tetapi aku selalu memohon perlindungan dan petunjuk kepada Yang Maha Agung dalam setiap langkahku. Sehingga pada akhirnya Yang Maha Agung-lah yang menentukan apakah usaha kita memberantas kemungkaran akan direstui-Nya atau tidak.”
“Sebaik-baik perlindungan adalah berlindung kepada Yang Maha Agung. Aji Tameng Waja atau Gundala Geni hanya lantaran saja bagi kita dalam berbakti kepada-Nya.”
“Aku tidak memerlukan sesorahmu, anak setan”
Mereka pun kembali bertempur dengan dilambari Aji Tameng Waja, ilmu meringankan tubuh dan Aji Gundala Geni.
Ki Karaba Bodas pun mulai menerapkan Aji Gundala Geni. Pukulan-pukulannya menimbulkan hawa panas yang menyengat dan memanaskan udara di sekitarnya. Namun karena Glagah Putih baru merambah ke ilmu Kebal Tameng Waja, maka sengatan ilmu Gundala Geni itupun mulai menembus ilmu kebalnya yang baru mulai dibangunkannya pada tahap awal, meskipun ia telah meloncat pesat karena dukungan ilmu yang telah dimilikinya dan berbagai laku yang berat yang telah dijalaninya.
Karenanya, Glagah Putih pun mulai terdesak oleh ilmu Gundala Geni yang menimbulkan hawa panas di sekitar arena pertarungan kedua orang itu. Sementara itu, suara ayam yang berkokok untuk ketiga kalinya terdengar dari perkampungan.
“Hampir fajar”desis Ki Karaba Bodas.
Akibat ilmu Gundala Geni memang dahsyat. Gempuran-gempuran tangan dan kaki Karaba menimbulkan hawa panas yang terasa sampai jarak yang cukup jauh. Tanpa sadar Rara Wulan, Kantil dan pengikut Ki Karaba Bodas semakin menjauh dari arena, karena mereka tidak tahan kena panasnya. Meskipun semakin menjauh, Rara Wulan tetap tidak meninggalkan kewaspadaannya. Karena bisa saja orang yang rambutnya beruban itu atau pengikut Ki Karaba Bodas yang lain, tiba-tiba menyergap Rara Wulan atau Kantil.
Pada akhirnya Glagah Putih mulai merasa pengap akibat panas yang ditimbulkan oleh aji Gundala Geni. Namun Glagah Putih adalah selain murid Ki Rangga Agung Sedayu, adalah juga murid dari Kiai Jayaraga yang menguasai inti ilmu yang menyerap kekuatan unsur api, air, angin dan bumi. Untuk mengatasi Aji Gundala Geni, Glagah Putih mulai menyerap inti kekuatan air. Air sendiri bersifat mengikuti keinginan penggunanya. Jika penggunanya menginginkan panas, maka panaslah jadinya, namun jika penggunanya menginginkan dingin sedingin udara di musim bediding, maka dinginlah jadinya.
Karena Ki Karaba Bodas menyerap inti kekuatan udara panas dengan Aji Gundala Geni, maka Glagah Putih mengambil sifat yang sebaliknya. Dingin. Perlahan-lahan pengaruh udara panas yang dilontarkan Ki Karaba Bodas berkurang panasnya. Lama kelamaan, udara panas itu menjadi hambar dan bahkan mulai terasa dingin. Kembali Ki Karaba Bodas mengumpat-umpat.
Ki Karaba Bodas sudah mulai terkuras tenaganya. Karena untuk mengerahkan ilmu puncaknya Aji Gundala Geni, Ki Karaba Bodas harus memeras tenaga dan keringatnya. Ki Karaba Bodas tidak mau kehabisan tenaga sebelum berhasil menyelesaikan perlawanan musuhnya.
“Aku harus menggunakan Aji Cakra Birawa”katanya dalam hati.
Ketika Glagah Putih menyerang dengan kaki kanan disusul dengan tangan kanan mengarah ke dahi, Ki Karaba Bodas melenting beberapa langkah surut. Kesempatan yang sesaat itu dipergunakan oleh Ki Karaba Bodas untuk membangkitkan ilmunya yang lebih dahsyat. Aji Cakra Birawa.
Ki Karaba Bodas menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menakupkan tangannya itu dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil memusatkan nalar budinya. Sekejap kemudian telapak tangannya segera mengeluarkan asap berwarna hijau kemerah-merahan.
“Aji Cakrabirawa”desis Glagah Putih. Memang gurunya Kiai Jayaraga membekalinya dengan pengetahuan tentang ciri-ciri berbagai ilmu-ilmu pamungkas yang dahsyat di tanah ini.
Kiai Jayaraga yang disegani kawan dan lawan dalam dunia olah kanuragan telah menjelajahi dari pesisir utara sampai pesisir selatan, bahkan sampai Bang Wetan dan Bang Kulon. Aji Cakrabirawa sebenarnya merupakan pengembangan dari Aji Sasra Birawa yang sudah sangat jarang, dan justru berkembang pada zaman Demak lama.
Ilmu itu adalah senjata andalan yang dipergunakan oleh seorang abdi keraton Demak, Mahesa Jenar, yang mendapat tugas dari Sultan Demak untuk mencari dua senjata sipat kandel yang dianggap sebagai sarang wahyu keraton yang hilang dari gedung perbendaharaan senjata. Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten.
Dengan berbekal ilmu pamungkas itulah Mahesa Jenar dapat menyelesaikan tugasnya itu. Namun seiring dengan perputaran zaman, ilmu itu semakin jarang dipergunakan. Namun pada saat-saat terakhir, ternyata ilmu pamungkas yang dahsyat itu jatuh ke kalangan dunia olah kanuragan yang hidupnya buram. Termasuk Ki Karaba Bodas. Karena sudah berubah dari bentuk asalnya, kemudian ilmu itu disebut Aji Cakrabirawa.
Aji Cakrabirawa sendiri sebenarnya merupakan penghalusan dari Aji Sasra Birawa yang menjadi andalan Mahesa Jenar dan dipadukan dengan ilmu yang dimiliki oleh tokoh pewayangan Prabu Drestarata. Prabu Drestarata adalah Raja Negeri Hastina Pura yang menurunkan Korawa. Ketika Korawa yang keturunan Prabu Drestarata tumpas tapis oleh Satria Pandawa keturunan Raden Pandu, maka pada saatnya Satria Pandawa Lima yang terdiri dari Raden Yudistira, Raden Bima, Raden Arjuna dan Raden Nakula serta Raden Sahadewa, menghadap kepada Prabu Drestarata meminta agar kekuasaan atas Negeri Hastina Pura diserahkan kepada Pandawa Lima.
Sebelum penyerahan Negeri Hastina Pura, dengan dituntun oleh abdinya Prabu Drestarata meminta bersalaman terlebih dahulu dengan Pandawa Lima. Ketika bersalaman dengan Raden Yudistira, Prabu Drestarata tidak mempunyai dendam barang secuil pun, karena Raden Yudistira dalam Perang Bharata Yudha tidak turun ke medan perang di Kurusetra. Raden Yudistira dengan demikian tidak membunuh seorang pun dari seratus orang Korawa yang adalah putera dari Raja Drestarata.
Namun ketika abdinya mengatakan bahwa yang bersalaman berikutnya adalah Raden Bima, timbullah amarahnya. Karena dalam Perang Bharata Yudha, Raden Bima lah yang membunuh anak sulungnya bernama Duryudana di Kurusetra. Padahal kalau perang selesai dan Pandawa Lima bisa dikalahkan, maka Duryudana adalah calon ahli waris yang akan menjadi raja di Hastina Pura sesuai dengan rencana Prabu Drestarata. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Seratus orang Korawa bisa dibabat habis oleh Pandawa yang hanya lima orang saja. Karena itu bisa dimaklumi betapa dendam Prabu Drestarata yang menderita tunanetra seja kecilnya itu menjadi dendam setinggi gunung, terutama kepada Raden Bimasena.
Ketika dituntun mendekati Raden Bima, Prabu Drestarata yang sejak kecil tunanetra itu menggosok-gosokkan tangannya. Dari kedua tangannya mengepul asap tipis dan tangan itu mulai kelihatan merah membara. Raden Bima yang sudah siap bersalaman dengan Prabu Drestarata terkejut melihat tangan Sang Prabu. Raden Bima pun melangkah surut. Karena kebetulan di sebelah Raden Bima berdiri terdapat sebuah patung Dwarapala yang besar setinggi Raden Bima sendiri, maka patung Dwarapala yang memegang gada itu hancur berkeping-keping menjadi debu ketika tersentuh tangannya.
Glagah Putih yang menyadari betapa berbahayanya Aji Cakrabirawa, sempat terhenyak sesaat. Tetapi Glagah Putih tidak mau terlambat. Segera saja Glagah Putih memusatkan nalar budinya untuk membangkitkan Aji Namaskara. Glagah putih tidak mau mengambil risiko untuk menghadapi Aji Cakrabirawa dengan Aji Sigar Bumi. Apalagi Glagah Putih tidak tahu secara pasti ketinggian ilmu Ki Karaba Bodas, maka dalam waktu yang sekejap ia membangkitkan Aji Namaskara.
Ketika dalam waktu yang sekejap itu dari tangan Ki Karaba Bodas meloncat seleret cahaya hijau kemerah-merahan, dalam waktu yang hampir bersamaan dari tangan Glagah Putih juga meluncur seberkas cahaya putih kebiru-biruan seperti tatit menyambar di langit.
Akibatnya sungguh hebat. Terdengar ledakan hebat, disusul guncangan dahsyat. Sanggar Ki Karaba Bodas yang berjarak beberapa depa dari kedua orang yang bertarung itu berguncang. Atap genteng yang bertengger di atas rangka atap berguguran dan jatuh berantakan seperti dilanda gempa. Sementara itu atap regol yang terbuat dari sirap mengepulkan asap dan ternyata terbakar akibat tersambar benturan kedua ilmu yang nggegirisi itu.
Untunglah Rara Wulan, Kantil dan para pengikut Ki Karaba Bodas sudah semakin menjauh dari arena pertarungan akibat panas yang timbul dari Aji Gundala Geni, sehingga tidak terlalu terpengaruh akibat guncangan itu. Namun betapapun, pengaruh yang sedikit itu telah menggoyang posisi mereka. Mereka semua kecuali Rara Wulan, terdorong jatuh ke tanah akibat guncangan bak gempa itu. Mereka terbatuk-batuk karena menghirup debu yang menghambur akibat benturan kedua aji pamungkas itu.
Namun yang paling merasakan akibat benturan ilmu itu adalah mereka berdua. Glagah Putih dan Ki Karaba Bodas. Glagah Putih terdorong surut tiga langkah dan hampir jatuh terkapar ke belakang. Namun untunglah Glagah Putih mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa dan tenaga dalam yang selapis lebih tinggi dari lawannya. Sehingga tidak membuatnya jatuh terbanting. Glagah Putih segera duduk bersila dan memusatkan nalar budinya untuk memperbaiki jalan pernapasan dan memperbaiki bagian dalam tubuhnya yang terguncang akibat benturan ilmu itu. Perlahan-lahan hawa murni yang dihirup dari hidung, mengalir melalui tenggorokan, menjalar ke perut dan terkumpul sedikit di bawah perut. Hawa hangat itu kemudian bergerak ke jantung dan mengalir ke seluruh bagian-bagian tubuh. Hawa hangat itu segera membenahi segenap bagian renik tubuh yang rusak akibat benturan itu.
Rara Wulan segera berlari mendekati Glagah Putih yang dalam kondisi lemah setelah terjadi benturan itu. Ia ingin melindungi Glagah Putih. Karena kondisi Glagah Putih yang lemah dan sedang memusatkan nalar budinya untuk memulihkan kondisi dari luka dalam yang dideritanya, sangat rawan terhadap serangan dari pengikut Ki Karaba Bodas yang setia. Kantil yang merasa mendapat perlindungan Rara Wulan dari tindakan pengikut Ki Karaba Bodas yang hendak melecehkannya, segera pula berlari mendekati Glagah Putih.
Akibat benturan yang agak parah dirasakan oleh Ki Karaba Bodas. Karena tenaga dalamnya selapis sedikit di bawah tenaga dalam dan ilmu Glagah Putih, maka ia mendapat dorongan yang lebih keras daripada yang dirasakan oleh Glagah Putih. Tubuhnya terdorong surut lima langkah lalu terguling-guling pula beberapa kali. Namun daya tahan Ki Karaba Bodas sungguh luar biasa. Meskipun mendapat guncangan yang demikian keras, Ki Karaba Bodas masih bisa bergerak bangun.
Perlahan dengan bertelekan pada kedua tangannya Ki Karaba Bodas akhirnya bisa duduk bersila dan memusatkan nalar budinya seperti dilakukan oleh Glagah Putih. Beberapa saat ia bersidakep menghirup hawa segar dari hidungnya lalu menyalurkannya ke jantung, ke paru-paru, kemudian ke seluruh organ tubuhnya. Namun Ki Karaba Bodas yang melihat kedahsyatan Aji Namaskara menjadi gentar. Hatinya tergetar. Ia melihat kenyataan bahwa ilmunya selapis tipis berada di bawah ilmu Glagah Putih. Karena itu, konsentrasinya terpecah dan pada akhirnya buyar.
Apalagi Rara Wulan yang dikenalnya sebagai Ranti yang mempunyai ilmu yang juga sangat tinggi masih utuh kondisinya. Ki Karaba Bodas tidak mau ditangkap, dibawa ke Mataram dan dimasukkan ke penjara atau dijadikan pengewan-ewan.
Sebelum pulih benar, Ki Karaba Bodas sudah menghentikan pemusatan nalar budinya, meskipun dari sela-sela bibirnya mengalir cairan merah kental. Darah. Tiba-tiba Ki Karaba Bodas bersuit nyaring.
Tiga pengikutnya yang setia dipimpin orang yang berambut ubanan segera paham maksudnya. Sejenak mereka menghambur menuju Ki Karaba Bodas, mengangkatnya berdiri lalu memapahnya pergi. Rara Wulan dan Kantil termangu-mangu. Rara Wulan tidak dapat meninggalkan Kantil dan Glagah Putih yang berada dalam kondisi lemah.
“Pangeran. Pangeran”Teriak Kantil.
“Ssst dia bukan Pangeran. Dia Pangeran Gadungan”kata Rara Wulan.
“Tapi aku bagaimana? Orang tuaku tahunya aku diambil oleh Pangeran.”lirih Kantil.
“Sudahlah. Lupakan saja Pangeran Gadungan itu. Nanti kami antarkan kau pulang dan kami akan jelaskan kepada kedua orang tuamu.
“Kalau aku mengandung bagaimana?”kata Kantil lagi dengan nada cemas.
“Nanti kedua orang tuamu dan bebahu kedemangan dan pedukuhan tentu bisa mencarikan jalan keluar bagimu”kata Rara Wulan.
Rara Wulan teringat kepada seorang gadis yang juga menjadi korban Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati ketika mereka dalam perjalanan menuju Panaraga. Gadis yang malang itu juga ditinggalkan begitu saja oleh Ki Karaba Bodas, seperti tebu yang habis manisnya dan tinggal ampasnya.
Rupanya pengikut Ki Karaba Bodas terbelah pendapatnya. Hanya pengikut setianya yang tiga orang saja yang mengikuti pemimpin mereka, sedangkan sisanya tetap berada di tempat itu.
Glagah Putih dan Rara Wulan lalu memerintahkan kepada mereka yang tetap tinggal di sanggar itu untuk menyelenggarakan mayat seorang kawannya yang tinggi besar akibat lambungnya kena belati panjang, sedangkan yang terluka ringan dan parah segera dipanggilkan tabib yang baik yang ada di kedemangan itu.
Glagah Putih dan Rara Wulan juga memerintahkan bahwa jika mereka telah sembuh dari lukanya untuk segera kembali ke kampung asalnya dan menghentikan kegiatan yang selama ini merugikan orang lain.
“Lebih baik kalian makan dari hasil keringat sendiri daripada mencuri, menyamun atau merampok hak milik orang lain”kata Rara Wulan.
“Tetapi kami tidak punya sawah di kampung”
“Kalau kalian berniat insyaf, tentu bebahu kedemangan dengan sukacita bersedia memberikan beberapa petak lahan hutan dekat kampung kalian untuk digarap menjadi sawah atau ladang yang mencukupi untuk keperluan keluarga kalian”kata Glagah Putih.
Ternyata pendapat Glagah Putih telah membuka cakrawala pikiran mereka untuk bisa mendapat nafkah dari rezeki yang mendapat restu-Nya.”Kami akan kembali ke kampung halaman kami untuk mulai ikut membangun tempat kelahiran.”
Para bekas pencuri, perampok dan penyamun yang bergabung dengan Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itupun seakan mendapat secercah cahaya terang ke dalam pikiran mereka.
“Walaupun hasilnya tidak sebanyak yang kami peroleh dari mencuri, menyamun atau merampok, tetapi rasanya akan menjadi darah daging yang baik bagi anak-istri di rumah.”
Setelah memberikan berbagai petunjuk kepada bekas pencuri, penyamun dan perampok itu, meskipun mereka lebih tua daripada Glagah Putih dan Rara Wulan, maka suami istri itu bersama Kantil pergi ke rumah gadis itu yang tidak jauh dari sanggar Ki Karaba Bodas.
Mereka melintasi beberapa bulak dan gumuk kecil serta padang perdu yang tidak begitu luas. Setelah itu di depan pandangan mereka terhampar sawah luas yang menghijau. Di balik hamparan sawah itu terdapat sekelompok pepohonan kayu keras seperti jati, meranti, gamal dan sengon lainnya itulah terdapat kedemangan tempat Kantil tinggal.
Ketika mentari sudah sepenggalah mereka memasuki bulak persawahan dan bertemu dengan beberapa tetangganya yang hendak ke sawah untuk sekedar melihat apakah aliran air berjalan wajar menuju petak sawah mereka yang sebentar lagi bunting. Bahkan seorang petani yang tinggal tidak jauh dari rumah Kantil, sempat terkejut melihat Kantil muncul di pedukuhannya setelah sebelumnya sempat dibawa pergi oleh seorang Pangeran. Tetangganya itupun berbalik arah dan mengantarkan Kantil ke rumahnya.
Mereka lalu melintasi jalan utama, berbelok ke kanan masuk ke jalan yang lebih sempit dan di tengah jalan yang lebih sempit itulah rumah Kantil. Rumah Kantil yang berhalaman tidak begitu luas itu terlihat bersih meskipun tidak begitu baik. Namun pekarangannya terlihat asri dan ditanami berbagai tanaman bunga dan daun perdu berwarna-warni.
Kantil, Rara Wulan dan Glagah Putih memasuki regol dan melintasi halaman depan yang tidak begitu luas itu. Rumah itu kelihatan sepi dan tidak ada terlihat seorang pun. Mereka lalu naik ke pendapa.
Kantil mendekati pintu peringgitan, lalu mengetuknya.
“Ibu. Ibu. Bapak. Bapak”katanya berteriak memanggil.
Di dalam peringgitan terdengar langkah mendekati pintu.
“Siapa? Kaukah itu ngger?”terdengar suara seorang wanita dengan nada serak dari dalam sambil terbatuk-batuk.
Pintu itu selaraknya dibuka dari dalam dan daun pintu pun terbuka.
“Kantil. Kaukah itu Kantil”kata wanita yang keluar dari pintu sambil menggeser mendekatinya dengan perlahan-lahan.
“Ibu. Ini aku Ibu–kata Kantil sambil menghambur memeluk kaki ibunya.
Ibunya yang terbatuk-batuk itu berusaha mengangkat Kantil agar berdiri, lalu dipeluknya erat-erat. Tangis mereka memecah ketenangan pagi hari itu. Mereka menangis sesenggukan.
“Maafkan Kantil, Ibu”kata Kantil. Sesaat kemudian dari dalam rumah muncul seorang lelaki tua yang juga kurus. Orang itu adalah ayah Kantil.
“Kenapa kau kembali”kata lelaki tua itu.”Bukankah hidupmu sudah senang dengan menjadi istri Pangeran itu?”
“Ampun ayah. Kantil minta ampun.”
“Kenapa kau minta ampun? Hidupmu sudah mukti dengan menjadi istri Pangeran itu. Kenapa pula kau kembali ke gubug reyot ini.”kata ayah Kantil dengan nada tajam.
“Ampunilah Kantil ayah”
“Kau sejak kecil kutimang-timang, kukudang-kudang agar menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, ternyata telah membuat malu aku Kantil. Sejak pandangan pertama, perasaan hatiku sudah tidak ikhlas kau diperistri oleh orang yang mengaku Pangeran itu. Apakah ia memang benar seorang Pangeran?”
“Tidak ayah. Ternyata dia bukan seorang Pangeran. Dia Pangeran gadungan.–
“Ternyata kata hati pertamaku tidak bisa dibohongi. Kau jangan hanya silau dengan bentuk-bentuk kewadagan dari luar saja. Ibarat buah mangga, dari luar kelihatan cantik, manis, tapi isinya busuk dan bisa menyakiti perutmu. Tapi buah Manggis yang hitam, mempunyai isi yang putih dan rasanya manis.”
“Iya Kantil telah mengaku bersalah ayah. Maafkan Kantil.”
“Nasi sudah menjadi bubur, sekarang baru kau menyesal”kata ayahnya.
“Sudahlah ayah. Yang penting bukankah Kantil sudah kembali dengan selamat dan kita bisa berkumpul kembali.”
“Iya Kantil selamat, tapi ia sudah mempermalukan kita di mata calon besan kita. Ki Waranggana sebelumnya telah setuju untuk mengawinkan Kantil dengan anak sulungnya, tapi kau pergi begitu saja dengan Pangeran itu. Mau ditaruh di mana mukaku. Ha?”
“Ayah dan Ibu, kenalkan ini Ranti dan Wira yang menyelamatkan aku dari cengkeraman orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu.”
“Mengaku katamu? Jadi orang itu hanya mengaku-aku bernama Pangeran, kau lalu percaya begitu saja? Ha.”
“Maaf Kisanak, aku Wira dan ini istriku Ranti, memang benar kami yang menyelamatkan Kantil dari cengkeraman orang yang mengaku Pangeran Ranapati, padahal namanya yang sebenarnya adalah Ki Karaba Bodas.”
“Sekarang kau mau apa?”
“Maaf Kisanak, kami hanya mengantarkan Kantil pulang. Jika tidak ada keperluan lain tentu kami minta diri.”
“Apakah semudah itu kalian melepaskan diri atas tanggung jawab kalian?”
“Tanggung jawab? Tanggung jawab apa? Bukan kami yang melarikan Kantil, kenapa pula kami harus bertanggung jawab? Kalau Pengeran itu ada di sini, Kisanak bisa minta pertanggungjawabannya. Kalau Kisanak minta pertanggungjawaban kami, Kisanak aneh.”
“Ayah ini aneh. Kenapa pula ayah meminta pertanggungjawaban angger berdua yang sudah menolong anak kami”kata Nyi Palagan kepada suaminya.
Ayah Kantil itu pun tiba-tiba menyadari segala kesalahannya. Alih-alih kedua suami istri itu telah menolong anaknya, ia dan keluarganya bukannya ia berterima kasih kepada mereka justru meminta pertanggungjawabannya.
“Maafkan aku ngger. Aku hanya terbawa arus perasaanku saja, tanpa memajukan nalarku.”
“Tidak apa-apa Kisanak. Memang seseorang bisa saja khilaf karena mengikuti arus perasaan saja. Apalagi jika menyangkut anak yang semata wayang. Yang penting Kantil telah kembali dengan selamat dan kini kita carikan jalan pemecahannya, agar hidupnya tidak menjadi kelara-lara.”
“Terima kasih ngger. Panggil saja aku Palagan. Namaku Palagan. Aku memang selama ini terlalu memanjakan Kantil, sehingga ia bisa berbuat semaunya tanpa dapat terkendali.”
“Baik Ki Palagan. Jika Ki Palagan tidak berkeberatan, ada baiknya Ki Palagan memanggil calon besan Ki Palagan yang bernama Ki Waranggana itu kemari bersama anaknya, agar bisa dicarikan jalan penyelesaian yang sebaik-baiknya bagi masa depan Kantil ini. Apakah anak Ki Waranggana yang sebenarnya calon suami Kantil itu sudah menikah setelah ditinggalkan Kantil?”
“Belum. Belum ngger. Anak Ki Waranggana yang bernama Werda sudah berniat untuk tidak menikah jika tidak dengan Kantil.”
“Jika demikian, cobalah panggil Ki Waranggana dan anaknya yang bernama Werda itu kemari. Siapa tahu mereka masih bisa direkatkan kembali.”
“Biarlah aku yang memanggil Ki Waranggana dan anaknya itu kemari”kata tetangga Kantil yang bertemu di bulak persawahan dan ikut naik ke pendapa.”
“Maafkan kami tuan rumah yang deksura ini ngger. Silakan kalian duduk di atas pendapa itu. Nyi, sediakanlah hidangan bagi kedua tamu kita ini.”
Nyi Palagan bersama Kantil kemudian masuk ke dapur untuk menyediakan makanan dan minuman seadanya bagi kedua tamunya. Ki Palagan yang sudah mulai turun arus perasaannya yang tadi sempat memuncak, mulai bertanya-tanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang dalam pengembaraannya bernama Wira dan Ranti.
“Dari manakah angger berdua ini?”
“Kami dari Jati Anom, Ki Palagan. Kami sedang dalam pengembaraan mengikuti ke mana arah kaki kami membawa kami berjalan. Kini kami sampai di Kadipaten Panaraga dan akhirnya sampai di Pedukuhan ini. Apakah nama Pedukuhan ini.”
“Pedukuhan kami ini bernama Pedukuhan Sawo Jajar. Pedukuhan ini disebut demikian karena di sepanjang jalan pedukuhan kami ditanami pohon sawo yang berjajar di kiri kanan jalan. Jika sedang musim berbuah, kami bisa menikmati buah sawo itu. Sayang sekali sekarang sedang tidak banyak buahnya. Meskipun demikian, pohon sawo adalah pohon yang berbuah tidak mengenal musim. Boleh dibilang buahnya hadir tidak ada hentinya. Memang yang ditanam oleh Ki Buyut Sawo Jajar adalah jenis sawo unggul, sehingga berbuah terus menerus.”
Pembicaraan mereka pun terhenti sejenak ketika Kantil keluar menyuguhkan makanan dan minuman kepada mereka. Bahkan di sebelah piring makanan ringan itu terdapat pula piring lainnya yang berisi buah sawo yang besar-besar dan nampaknya sudah masak.
“Marilah ngger kita nikmati hidangan ala kadarnya ini.”
“Terima kasih Ki Palagan.”
Ternyata buah sawo yang dihasilkan dari pinggir jalan itu memang manis. Ki Palagan menceriterakan bahwa jika musim panen sawo itu mencapai puncaknya, mereka bisa mengirim buah sawo itu ke berbagai pasar di Kadipaten Panaraga. Sehingga warga bisa mendapat penghasilan tambahan dari buah sawo itu. Setiap warga Kadipaten Panaraga mengetahui bahwa jika banyak terdapat buah sawo di pasar-pasar yang ada di wilayah itu, tentu merupakan hasil tanaman dari Pedukuhan Sawo Jajar. Warga Pedukuhan Sawo Jajar ternyata termasuk penduduk yang rajin. Setiap kali ada pohon sawo yang tua dan sudah tidak lebat lagi buahnya, maka mereka menyelipkan pohon yang baru. Dengan demikian pohon sawo itu tetap berbuah di sepanjang musim.
Pepohonan sawo yang berdaun lebat itu juga bisa menjadi tempat berteduh bagi orang yang melintas di siang hari, sehingga mereka tidak menjadi kepanasan disengat sinar matahari.
Pada waktu bulan purnama membelah langit di ufuk timur, anak-anak remaja pun bermain sembunyi-sembunyian di balik pohon-pohon sawo itu.
Dalam pada itu, tak berapa lama kemudian tetangga Ki Palagan yang menjemput Ki Waranggana, telah datang bersama Ki Waranggana, Nyi Waranggana dan anaknya Werda.
Sebenarnyalah Ki Waranggana itu adalah sahabat Ki Palagan, oleh karena itu ia ingin mempererat hubungan persahabatan itu menjadi hubungan kekerabatan.
“Mari. Mari silakan naik Kakang Waranggana.”
“Terima kasih adi.”
Ki Waranggana, Nyi Waranggana dan Werda pun duduk melingkar di atas tikar pandan yang berwarna putih halus itu bersama Ki Palagan, Glagah Putih, Rara Wulan dan tetangganya. Werda nampak menundukkan kepala. Nyi Palagan yang mendengar suara tamunya yang bertambah, segera menyiapkan makanan dan minuman tambahan serta buah sawo. Kantil-lah yang bertugas membawanya ke pendapa. Kantil tersirap darahnya ketika matanya bertatapan dengan Werda. Keduanya lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Setelah menghidangkan suguhan untuk tamunya, Kantil pun beringsut ke ruang dalam.
Kemudian Ki Palagan pun mulai menceriterakan segala yang terjadi menyangkut anaknya Kantil kepada Ki Waranggana sekeluarga. Karena Ki Waranggana memang sahabat Ki Palagan, mereka sekeluarga meskipun kecewa namun dapat mengerti apa yang telah terjadi. Namun mereka sekeluarga telah berketetapan hati untuk meneruskan hubungan persahabatan mereka bahkan meningkatkannya menjadi hubungan kekerabatan. Terlebih lagi bagi Werda yang sejak kecil sudah mengenal Kantil, tidak mudah baginya untuk melupakan Kantil apalagi untuk meninggalkannya.
“Jika demikian kita carikan saja saat yang tepat bagi mereka untuk meningkatkan hubungan yang telah terjalin selama ini”ujar Ki Waranggana. Ki Waranggana pun tidak ingin karena noda yang setitik itu, anaknya menjadi patah hati dan tidak mau menjalin kehidupan berumah tangga. Namun Ki Waranggana yang bijaksana itu pun telah meminta kepada anaknya Werda untuk bisa menerima Kantil apa adanya. Agar jangan sampai di kemudian hari mereka menjadi bertengkar karena mengenangkan masa lalu Kantil yang ternoda.
“Werda, kau harus bisa menerima Kantil apa adanya. Jangan sampai karena suatu masalah yang kecil lalu kau bangkit-bangkitkan masa lalu Kantil.”
“Baik ayah.”
Demikianlah setelah tercapai kesepakatan di antara kedua keluarga yang bersahabat itu, Glagah Putih dan Rara Wulan pun meminta pamit kepada Ki Waranggana sekeluarga dan Ki Palagan sekeluarga serta kepada tetangganya yang menjemput Ki Waranggana tadi.
“Kenapa kalian tidak bermalam di sini saja ngger. Hari sudah mulai senja. Tentu kalian akan sulit mencari penginapan jika malam sudah turun.”
“Terima kasih Ki Palagan, Ki Waranggana. Kami adalah pengembara yang sekadar mengikuti arah kaki kami berjalan. Tentu bukan masalah di mana kami harus bermalam. Kami mohon diri”
“Jika demikian baiklah kalian makan malam dulu di sini. Nanti setelah makan tentu kalian akan mengantuk karena perut sudah penuh. Nah jika demikian tentu kalian tidak berkeberatan lagi untuk bermalam di sini.”
Glagah Putih dan Rara Wulan pun tertawa bersama. Begitu pula keluarga Ki Waranggana dan Ki Palagan.
“Baik. Baik. Jika demikian tentu tidak ada lagi keberatan kami. Makan enak, tidurpun nyenyak.”
Nyi Palagan dengan dibantu Nyi Waranggana dan beberapa tetangganya pun segera sibuk di dapur. Beberapa ekor ayam yang berada di kandang pun segera ditangkap dan suaranya berkeok-keok ketika disembelih.
Sementara itu Werda pun sempat bertemu dengan Kantil di longkangan, di bawah sebatang pohon sawo yang berbuah lebat.
“Maafkan aku kakang”kata Kantil sambil terisak-isak.
“Sudahlah Kantil. Kita lupakan masa yang buram itu. Kita mulai melangkah dengan langkah yang baru. Semoga kita bisa merajut bahtera rumah tangga yang sejak lama kita impi-impikan.”
“Terima kasih kakang.”kata Kantil. Dalam hatinya ia berjanji untuk mengabdikan dirinya bagi calon suaminya yang sempat dikhianatinya itu. Untunglah ia sempat diselamatkan oleh suami istri pengembara itu.
Sementara menunggu hidangan itu matang, maka Glagah Putih dan Rara Wulan pun bergantian ke pakiwan untuk mandi. Mereka bersalin baju dengan pakaian yang mereka bawa, sehingga mereka bisa menjadi segar kembali setelah tubuh mereka diguyur air padesan yang terasa sejuk. Malam itu, mereka berdua ternyata memang harus menginap di rumah Ki Palagan. Keesokan harinya, sebelum fajar mereka telah ke pakiwan untuk mandi dan mengambil air sesuci. Setelah menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, mereka pun berpamitan kembali kepada keluarga Ki Palagan dan keluarga Ki Waranggana yang juga bermalam di rumah itu.
“Pagi-pagi benar kalian sudah siap”kata Ki Palagan dan Ki Waranggana.
“Iya Ki Palagan dan Ki Waranggana. Kalau kemarin kami tertahan oleh ayam yang disembelih, maka kini kami tidak bisa dihalangi lagi”kata Glagah Putih sambil tertawa.
“Haha…Di kandang kami masih banyak ayam yang siap disembelih”kata Ki Palagan yang tertawa diikuti oleh Ki Waranggana dan Werda yang juga tertawa.
“Haha…Kalau demikian kami menyerah. Biarlah ayam-ayam itu bisa menjadi persiapan jika upacara untuk Werda dan Kantil jadi terlaksana.”
“Baiklah. Tapi sebelum kalian berangkat kalian sarapan dulu. Ayam yang kemarin masih tersisa banyak dan sudah dihangatkan, sehingga cukup untuk kita sarapan bersama.”
Demikianlah, setelah mereka sarapan Glagah Putih dan Rara Wulan sekali lagi berpamitan kepada kedua keluarga itu. Sebelum berangkat Rara Wulan sempat menyelipkan beberapa keping uang perak kepada Nyi Palagan.
“Terimalah ini Nyi. Mungkin nanti diperlukan pada saat acara kedua anak muda itu ke pelaminan.”
“Aduh. Aduh. Apa pula ini. Terima kasih. Terima kasih.”kata Nyi Palagan sambil memasukkan beberapa keping uang perak itu ke dalam lipatan stagennya.
Glagah Putih dan Rara Wulan pun kemudian berjalan kembali menuju ke pusat kota Kadipaten Panaraga. Perjalanan mereka tidak terasa panas, karena terlindung oleh jajaran pohon sawo yang berdaun lebat dan berbuah banyak.
Glagah Putih dan Rara Wulan memang melihat bahwa pohon sawo yang berjajar itu, daunnya hampir bergabung satu pohon dengan pohon lainnya. Di sela-sela dedaunan mereka melihat burung-burung pemakan buah bertengger di dahan yang berbuah lebat. Ketika melintas di bawah pohon, mereka sempat terkejut karena seekor tupai yang sedang memakan buah sawo yang masak di pohon meloncat dan menerjang sederet kelelawar yang bergelayutan dengan kepala terbalik. Kelelawar yang kekenyangan makan buah sawo semalaman, itu pun beterbangan dibangunkan oleh tupai yang meloncat tadi. Namun kelelawar itupun menjadi silau ketika mereka terbang keluar dari kerimbunan pohon sawo yang berjajar sepanjang jalan.
Dalam pada itu, Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu, yang dalam keadaan terluka melarikan diri dari hadapan Glagah Putih dan dipapah oleh ketiga pengikut setianya. Mereka pun pergi ke rumah seorang pengikut Ki Karaba Bodas yang tidak jauh dari pusat Kadipaten Panaraga. Begitu sampai di rumah pengikutnya itu, orang yang berambut ubanan segera menggedor pintu peringgitan.
Sementara itu Ki Karaba Bodas yang masih dalam keadaan lemah karena luka dalamnya belum pulih, segera dituntun ke atas tikar di pendapa. Setelah duduk kembali Ki Karaba Bodas menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, sambil memusatkan nalar budinya untuk memulihkan diri dari luka dalam yang dialaminya.
Tidak lama terdengar selarak pintu dibuka dan dari balik pintu keluar seorang laki-laki gundul, perut buncit, berkumis. Dia keluar sambil mengucak-ucak matanya yang masih silau karena baru terbangun dari tidur.
“Sesiang begini kau masih tertidur, pemalas”kata orang yang berambut ubanan itu.
Ketika matanya sudah melihat dengan jelas, barulah laki-laki gundul, perut buncit, dan berkumis itu terperanjat.
“Pangeran kenapa?”tanyanya dengan nada berbisik berbisik kepada orang yang berambut ubanan itu.
“Pangeran terluka”
“Siapa yang melukai?”
“Seorang telik sandi dari Mataram”
“He? Telik sandi dari Mataram.”
“Sudahlah jangan ribut. Biarkan Pangeran memulihkan luka dalamnya. Nanti aku ceriterakan apa yang terjadi. Sekarang siapkan makanan dan minuman. Kami lapar dan haus. Apakah air di pakiwan sudah penuh?”
“Baik. Baik aku akan segera ngangsu”
Sementara temannya laki-laki yang gundul, perut buncit, dan berkumis itu menimba air, maka orang yang berambut ubanan itu segera membersihkan badannya. Badannya terasa sedikit segar ketika air yang sejuk mengguyur badannya. Namun luka-luka akibat juntai di ujung selendang Rara Wulan terasa pedih ketika air dingin itu menyentuh lukanya. Demikianlah bergantian mereka mandi ke pakiwan.
Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu agak lama memulihkan dirinya dari luka dalam yang dideritanya. Meskipun di beberapa anggota tubuhnya ada bekas luka dalam yang melepuh, namun secara sepintas orang yang bertemu dengannya tidak dapat mengenali lukanya itu. Ketika matahari sudah bergeser ke Barat, barulah Ki Karaba Bodas menyelesaikan semedinya. Meskipun demikian terasa bahwa tenaganya masih sangat lemah.
“Air. Aku minta air.”katanya lirih. Laki-laki gundul, perut buncit dan berkumis, yang sedari tadi menunggu di sebelah Ki Karaba Bodas segera berlari ke dapur dan mengambil sebuah kendi yang berisi air yang sejuk. Kendi itu segera diserahkannya kepada Ki Karaba Bodas. Ki Karaba Bodas segera mereguk beberapa teguk air dari kendi itu. Ia lalu menselunjurkan badannya di atas tikar. Tenaganya terasa masih sangat lemah.
“Pangeran. Pangeran makan dulu baru tidur”kata orang yang berambut ubanan.
“Terima kasih. Nanti saja.”
“Jika Pangeran makan beberapa suap, tentu tenaga Pangeran akan cepat pulih”katanya.
“Nanti saja. Aku masih belum ingin makan. Nanti kalau aku sudah ingin makan tentu akan aku makan nasi itu.”
“Baik. Baik Pangeran. Silakan beristirahat. Kalau Pangeran perlu sesuatu jangan segan-segan memerintahkan kepadaku.”
Ki Karaba Bodas itupun sempat tidur terlelap beberapa saat. Namun kegelisahannya akibat pertemuannya dengan Glagah Putih membuatnya terbangun. Kembali ia mencoba memicingkan matanya, namun karena pikirannya menerawang ke mana-mana, matanya sulit terpejam. Ki Karaba Bodas tidak habis pikir, anak semuda Glagah Putih yang mengaku sebagai telik sandi dari Mataram itu mampu mengalahkan ilmunya meskipun selapis tipis.
Ki Karaba Bodas merasa bahwa untuk memulihkan luka dalamnya ia membutuhkan waktu sedikitnya dua tiga hari. Padahal ia minta izin kepada Kangjeng Adipati Jayaraga untuk berpamitan dengan kawan-kawannya hanya sehari. Kalau belum pulih benar kesehatan dan kekuatannya, tentu ia belum bisa menghadap Kangjeng Adipati. Namun di rumah laki-laki gundul, perut buncit dan berkumis itu Ki Karaba Bodas merasa aman. Ia bisa bersemadi untuk secepatnya memulihkan kesehatan dan tenaganya. Baru setelah tenaganya pulih barulah ia bisa bergerak meneruskan rencana-rencananya.
“Semoga keterangan tentang diriku belum sampai ke Kangjeng Adipati”katanya dalam hati.”Kalau keterangan itu sudah masuk tentu akan mengganggu jalannya rencana wisudaku sebagai Senapati.”
“Bahkan bukan hanya mengganggu rencana wisuda itu saja. Bukan tidak mungkin Kangjeng Adipati memerintahkan untuk menangkapku karena merasa tertipu.”
Demikianlah pergolakan batin masih terjadi dalam diri Ki Karaba Bodas. Ia merasa menghadapi buah simalakama. Di makan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. Ingin rasanya ia menjual saja buah simalakama itu. Tapi siapa yang mau membelinya, kalau pembelinya juga nanti harus mati.
Kalau Kangjeng Adipati Jayaraga belum mengetahui bahwa ia adalah Pangeran gadungan, tentu sebutannya masih akan tetap semesra pada saat ia meninggalkan Istana Kadipaten.
“Sampai bertemu kembali kakangmas.”kata Kangjeng Adipati kepadanya, yang dijawabnya”Baik adimas.”
Tapi Ki Karaba Bodas sudah sampai ke titik dia tidak bisa kembali lagi. Mukti atau mati. Jika ia tidak datang ke Istana Kadipaten, tentu Kangjeng Adipati akan menganggapnya tinggal gelanggang, colong pelayu. Seorang pilih tanding yang memenangkan adon-adon di lapangan depan Istana, tapi tidak datang-datang pada saatnya diwisuda menjadi Senapati.
Sebaliknya, kalau ia datang ke Istana dan Kangjeng Adipati sudah mendapat keterangan tentang dirinya, maka Ki Karaba Bodas merasa seperti harimau masuk kampung. Ia bisa menjadi bahan rampogan yang menarik bagi para prajurit dan Senapati di Kadipaten Panaraga. Betapapun tinggi ilmunya, betapapun kuat tenaganya tentu ia tidak akan sanggup mengalahkan semua orang berilmu tinggi di Kadipaten Panaraga. Bahkan hanya menghadapi seorang telik sandi yang sangat muda itu seorang diripun, ia tidak dapat mengalahkannya apalagi membunuhnya. Yang tidak boleh dilupakannya adalah bahwa Kangjeng Adipati Jayaraga pun tidak dapat dianggapnya dengan sebelah mata. Kangjeng Adipati Jayaraga tentu mempunyai banyak guru pinilih di Istana Mataram, sehingga ia mempunyai ilmu yang tinggi dan mendapat kepercayaan untuk mengendalikan Kadipaten Panaraga dari Panembahan Hanyakrawati.
Ki Karaba Bodas membayangkan dirinya dikepung berlapis-lapis prajurit dan Senapati kadipaten Panaraga.
“O. Inikah rupanya yang dicemaskan oleh ibu”katanya dalam hati.
“Rupanya panggraita seorang ibu, demikian tajamnya. Dia weruh sadurunge winarah.”katanya lagi masih di dalam hati.
Memang ada sedikit rasa penyesalan di dalam hati Ki Karaba Bodas, bahwa ia tidak mengikuti nasihat-nasihat ibunya. Ia bahkan cenderung menyepelekan segala petunjuk ibunya itu. Sebenarnya kalau ia tidak usah menyebut dirinya sebagai putera lembu peteng Panembahan Senapati, jabatan Senapati pinilih itupun sudah dapat diraihnya. Tetapi kini karena ia ingin meloncat terlalu tinggi, kepalanya telah terantuk para-para.
“Ngger, ngger. Sing eling ngger, becik ketitik, ala ketara. Kalau angger mau jadi prajurit, lalu menjadi senapati atau tumenggung, itu wajar. Tetapi kalau kau menipu diri sendiri dan menipu asal-usulmu, itu sungguh tidak wajar. Aku sama sekali tidak pernah kenal dengan Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati ing Ngalaga dan kemudian menjadi Panembahan Senapati. Apalagi jika kau akan mengaku sebagai putera lembu peteng Panembahan Senapati, itu sungguh sudah kebablasan, ngger. Berarti kau hendak mengatakan bahwa aku pernah berselingkuh dengan Raden Sutawijaya”
Kata-kata penuh nasihat dari ibunya dan berbau tudingan itu kembali terngiang di telinganya. Tetapi penyesalan itu datangnya selalu terlambat.
“Ah belum. Belum terlambat–Bantahnya pula dalam hati.”Tentu Kangjeng Adipati belum mendengar bahwa aku adalah bukan Pangeran yang sebenarnya. Tetapi apakah telik sandi yang sangat muda dan berilmu tinggi dari Mataram itu begitu bodoh, sehingga tidak berusaha menagkap aku?”
Berbagai gejolak batin itu terus berkecamuk di dalam pikiran Ki Karaba Bodas. Memang ada sedikit rasa sesal di hatinya. Kalau ia tidak nggege mangsa dengan menyebut dirinya sebagai seorang Pangeran, tentu perjalanannya sebagai Senapati berlangsung mulus. Namun karena ulahnya itulah ia harus mendapat perhatian dari pejabat tinggi Mataram. Bahkan dari Ki Patih Mandaraka. Benar-benar seperti ular mencari gitik. Ia seperti sengaja mengumpankan kepalanya untuk digebug dengan sebuah pentungan.
Karena pikirannya yang berkelana ke mana-mana membuat proses pemulihannya pun menjadi lamban. Ki Karaba Bodas tidak bisa berkonsentrasi penuh untuk menyembuhkan dirinya dari luka dalam itu. Setelah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya untuk menambah tenaga, iapun segera duduk bersila sambil bersedakep. Tapi setiap ia memusatkan pikiran, pemusatannya itu segera buyar.
Ternyata pikiran yang berkelana ke mana-mana itu membuat wadagnya juga letih. Karena ia belum juga berhasil mengonsentrasikan pikirannya, maka Ki Karaba Bodas itupun menyelesaikan semadinya. Ia lebih baik beristirahat dengan meluruskan badannya di atas tikar pandan.
“Niyat ingsun tidur. Pergi semua pikiran yang mengganggu. Pergi. Pergi. Pergi.”katanya di dalam hati. Rupanya niat yang begitu kuat untuk tidur itu, akhirnya tidak menggoyahkan lagi pikirannya. Perlahan-lahan rasa kantuk menyerangnya. Ketika udara malam yang dingin menyusup ke pendapa yang separuh terbuka itu membelai kedua matanya, akhirnya Ki Karaba Bodas itupun terlelap ke dalam pelukan Dewi Mimpi.
Buaian Dewi Mimpi itu ternyata demikian kuatnya mencekam Ki Karaba Bodas. Namun Dewi Mimpi itu seakan-akan berubah menjadi Kantil, Kenari, Suli, Mawar, Melati dan belasan gadis-gadis yang dipetiknya dan ditinggalkan setelah menjadi layu. Belasan gadis itu mengejarnya terus ke mana pun ia berlari di sudut-sudut ruang mimpinya. Ia menjadi letih, terengah-engah, tersengal-sengal dan menjadi pepat dadanya. Ia serasa melayang di awang-awang. Tetapi gadis-gadis yang mengepungnya berubah wajahnya menjadi menyeramkan. Mereka tumbuh taring dan siap menggigit lehernya dari berbagai arah. Ada pula yang menempelkan taringnya di kakinya, di badannya, di bahunya, di tangannya, di keningnya, di bahunya, di dadanya. Bahkan ada pula yang menempelkan mulutnya yang bertaring ke bibirnya.
“Tidak. Tidak. Tidaaak.”tiba-tiba Ki Karaba Bodas berteriak-teriak.
“Pangeran. Pangeran. Bangun Pangeran”tiba-tiba pengikutnya yang gundul, perut buncit, dan berkumis itu menggoyang-goyang badannya untuk membangunkannya. Terpegang oleh pengikutnya itu, betapa tubuh Ki Karaba Bodas itu menjadi panas, sepanas bara. Agaknya Ki Karaba Bodas mengigau dalam tidurnya. Kemungkinan hal itu terjadi karena setelah benturan dengan Glagah Putih, Ki Karaba Bodas terlalu memaksakan diri untuk melarikan diri dari hadapan Glagah Putih dan Rara Wulan. Selain itu, ia tidak menelan obat untuk mengatasi luka dalam seperti yang selalu dilakukan oleh Glagah Putih bila menderita luka dalam akibat benturan ilmu dengan lawan-lawannya.
Glagah Putih selalu membawa obat berupa pil kecil yang selalu disimpan di dalam bumbung kecil di bawah ikat pinggangnya. Oleh karena itu, meskipun sering beradu ilmu dengan orang yang tinggi ilmunya seperti Ki Karaba Bodas, setelah itu Glagah Putih selalu menelan dua butir pil pemberian Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga meracik obat-obatan itu sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya tentang obat-obatan dari kitab peninggalan Kiai Gringsing.
Sebelum mengenalnya sebagai Kiai Gringsing, orang tua itu dikenal oleh Ki Rangga Agung Sedayu sebagai Ki Tanu Metir, seorang dukun pengobatan dari pedukuhan Pakuwon di dekat Jati Anom. Karena itu sebagai murid Orang Bercambuk yang juga ahli obat-obatan, maka Ki Rangga Agung Sedayu juga semakin ahli dalam meracik berbagai jenis obat-obatan. Ibaratnya dengan dunia olah kanuragan Ki Rangga Agung Sedayu siap menyakiti orang, tapi dengan ilmu pengobatan Ki Rangga siap mengobati orang yang sakit. Sungguh suatu dunia yang berlawanan kutub, tapi saling membutuhkan.
Tidak demikian halnya dengan Ki Karaba Bodas. Agaknya ia hanya mengandalkan ilmunya yang tinggi dalam dunia olah kanuragan saja. Ilmu pengobatan hanya dianggapnya dengan sebelah mata dan menjadi pekerjaan para tabib, dukun pengobatan atau dukun beranak.
Karena Ki Karaba Bodas menderita demam tinggi, maka pengikutnya yang selau setia menungguinya itu meminta kawannya untuk menggantikannya. Pengikutnya yang gundul, perut buncit, dan berkumis itu akan memanggil seorang tetangganya yang kebetulan menjadi tabib yang dikenal di kedemangannya.
Tak lama kemudian, tabib yang sudah dikenalnya dengan baik itu datang, dan memeriksa Ki Karaba Bodas sebentar. Tabib itu lalu meminta semangkuk air untuk mengencerkan beberapa jenis pil yang diaduknya menjadi satu. Perlahan-lahan tabib itu meneteskannya di bibir Ki Karaba Bodas.
Berangsur-angsur panas Ki Karaba Bodas itu mulai turun, sehingga nafasnya yang tadinya tersengal-sengal karena demam tinggi perlahan-lahan pula mulai normal kembali. Sehingga pada akhirnya Ki Karaba Bodas terlelap tidur. Pengikutnya yang setia itu pun secara bergantian menungguinya. Mereka terkantuk-kantuk bergantian menjaganya. Namun sampai fajar Ki Karaba Bodas belum terbangun, bahkan sampai matahari memanjat langit sepenggalah barulah ia terbangun.
“Uh. Aku lapar”katanya sambil mencoba bangkit. Namun matanya terasa berkunang-kunang sehingga ia urung untuk bangkit.
“Pangeran tidak usah bangkit”kata orang yang berambut ubanan yang pada saat itu mendapat giliran untuk menjaganya.”Biarlah aku suapi dengan bubur encer agar mudah masuk ke dalam perut.”
Dengan telaten orang yang berambut ubanan itu menyuapi Ki Karaba Bodas dengan bubur encer setetes demi setetes. Setelah merasa cukup, Ki Karaba Bodas lalu minta diminumkan obat pemberian tabib tadi malam. Obat itu pun ditelannya perlahan-lahan. Secara berangsur pula Ki Karaba Bodas mulai merasa segar. Namun ia belum berani bangkit. Sambil berbaring ia bersedakep dan mulai memusatkan nalar budinya. Karena dorongan obat dan kondisi badannya yang sudah tidak demam lagi, maka iapun mulai bisa menghimpun hawa murni ke dalam rongga dadanya lalu menyebarkan ke seluruh anggota tubuhnya.
Berulang-ulang hal itu dilakukannya, sehingga kekuatannya mulai terkumpul. Ketika matahari sudah mencdapai puncak langit, Ki Karaba Bodas itu mulai merasa bahwa ia sudah lebih kuat daripada sebelumnya. Ia pun sudah bisa menelan bubur lunak dan mulai bisa bangkit bersila sambil bersedakep. Dalam posisi bersila sambil bersedakep ternyata dia bisa lebih berkonsentrasi dibandingkan dengan dalam posisi berbaring. Sejalan dengan kondisi yang semakin membaik, maka proses pemulihan luka dalamnya pun semakin cepat.
Ketika memasuki hari ketiga, Ki Karaba Bodas pun sudah semakin kuat. Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, ia sudah bisa bangkit, berdiri, lalu berjalan-jalan di halaman. Namun ia belum berani berjalan terlalu jauh dari rumah itu. Ia pun merasa semakin baik di siang harinya, lalu mulai menggerak-gerakkan anggota tubuhnya dengan jurus-jurus ringan dari dasar olah kanuragannya.
Pada hari keempat ia sudah benar-benar merasa pulih tenaganya. Ia sudah mulai mengamati secara seksama semua unsur-unsur ilmunya sampai tataran yang paling tinggi. Ternyata tidak terjadi sesuatu. Ki Karaba Bodas pun akhirnya mengambil keputusan pada esok hari akan menghadap Kangjeng Adipati Jayaraga walaupun apa yang akan terjadi. Ia telah siap. Kegelisahannya yang terjadi ketika demam tinggi sepekan yang lalu, sudah tidak dihiraukannya lagi. Ia berprinsip mukti atau mati.
Yang masih menjadi bahan pemikirannya adalah bagaimana agar bisa berkilah jika Kangjeng Adipati Jayaraga menanyainya ke mana saja ia jika pada esok hari ketika ia harus menghadap. Karena pekan lalu ia hanya minta izin untuk sehari saja guna mempersiapkan diri sebelum dia diwisuda menjadi senapati. Berarti ia empat hari lebih lama melewati batas waktunya untuk menghadap kembali.
Dalam pada itu, Glagah Putih sudah bertemu dengan Madyasta. Madyasta mengatakan bahwa ia telah mengadakan pendekatan dengan orang dalam yang selama ini memberikan keterangan kepadanya mengenai perkembangan di seputar kekuasaan di Kadipaten Panaraga.
Madyasta mendapat keterangan bahwa seharusnya empat hari yang lalu Ki Karaba Bodas sudah menghadap Kangjeng Adipati Jayaraga. Namun sampai hari kelima setelah adon-adon, Ki Karaba Bodas yang mengaku bernama Pangeran Ranapati itu belum juga menghadap guna persiapan wisudanya sebagai Senapati.
“Mungkin Ki Karaba Bodas terluka parah dalam benturan ilmu denganku”kata Glagah Putih. Madyasta hanya mengangguk-angguk.
“Mungkin sekali”katanya lirih.”Untuk sementara baru itu keterangan yang aku peroleh dari lingkungan Istana. Jika nanti ada perkembangan terbaru tentu aku segera menghubungimu.”
Meskipun telah mempunyai dugaan yang hampir tepat, namun Glagah Putih maupun Madyasta masih tetap bertanya-tanya dalam hatinya. Ke mana gerangan calon Senapati terpilih tersebut pergi?
Meskipun belum mendapat kepastian yang meyakinkan, Madyasta dan sekelompok anggota telik sandi yang sudah ditanamkan di Istana Kadipaten Panaraga selalu mengawasi lingkungan sekitar Istana tersebut.
Baik Glagah Putih, Sungkana, Sumbaga maupun Madyasta belum bisa mengambil sikap apakah mereka akan mengambil Ki Karaba Bodas sebelum wisuda ataukah setelah wisuda. Kedua pilihan itu cenderung sama sulitnya. Sebab Ki Karaba Bodas yang menghilang sekian lama tetap menjadi teka-teki. Ternyata Ki Karaba Bodas sangat licin begitu diketahui bahwa kepalsuan jati dirinya mulai tercium petugas dari Mataram. Jejaknya yang menghilang selama lima hari telah menimbulkan tanda tanya bagi para petugas dari Mataram itu. Bahkan tidak kurang dari Ki Patih Mandaraka memberikan perhatian yang sangat besar atas kehadirannya di Panaraga.
Agaknya ketidakhadiran Ki Karaba Bodas yang mengaku dirinya adalah Pangeran Ranapati, juga membuat Kangjeng Adipati Jayaraga menjadi bertanya-tanya. Sekali dua kali secara tidak langsung hal itu ditanyakannya kepada senapati kepercayaannya Mas Panji Wangsadrana.
“Ampun Kangjeng Adipati, sampai saat ini Pangeran Ranapati yang pada saat adon-adon memakai nama Ki Laksana itu belum memberi isyarat atau pertanda kehadirannya kepada hamba.”
“Apakah kau tahu ke mana ia pergi?”
“Ampun Kangjeng Adipati, hamba tidak mendapat keterangan ke mana Pangeran Ranapati pergi.”
Kangjeng Adipati pun kemudian terdiam. Ia termangu-mangu dan sedikit merasa masygul. Namun Kangjeng Adipati belum mendapat keterangan dari penghubung dari Mataram bahwa sebenarnya Pangeran Ranapati adalah Pangeran gadungan. Petugas penghubung tersebut memang sengaja menyimpan rahasia tersebut, sehingga pada saatnya nanti Ki Karaba Bodas bisa ditangkap dan diselesaikan masalahnya secara tuntas.
Petugas penghubung itu pun sependapat dengan Glagah Putih, Rara Wulan dan para telik sandi lainnya, bahwa sebaiknya Ki Karaba Bodas itu ditangkap sebelum saat wisudanya. Sebab jika ditangkap setelah wisuda, tentu akan mempertaruhkan pamor Kangjeng Adipati Jayaraga. Kangjeng Adipati dapat merasa sangat tersinggung, sehingga bisa menimbulkan akibat yang tidak diinginkan dalam hubungan antara Mataram dan Panaraga.
Oleh karena itu, para telik sandi dan petugas penghubung itu sepakat bahwa mereka akan mengawasi terus pintu gerbang Istana Panaraga, untuk mengetahui jika Pangeran Ranapati memasuki Istana itu.
Dalam pada itu, di malam keesokan harinya, Pangeran Ranapati sudah mengambil keputusan bulat untuk menghadap Kangjeng Adipati Jayaraga. Oleh karena itu, dengan hati mantap ia telah berbenah diri dan mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia akan menghadap Kangjeng Adipati Jayaraga.
“Apakah Pangeran akan menghadap Kangjeng Adipati malam-malam begini.–
“Iya. Aku ingin menghadap pada wayah sepi bocah ini, agar aku bisa terlepas dari pengamatan telik sandi Mataram.–
“Baik Pangeran. Semoga Pangeran berhasil dan tidak ada halangan apapun di jalan.”
Demikianlah, Pangeran Ranapati yang sebenarnya bernama Ki Karaba Bodas itu pun meninggalkan regol halaman rumah pengikutnya, lalu melangkah menyusuri jalan-jalan menuju Istana Panaraga. Namun ia tidak meninggalkan kewaspadaannya. Ia sadar bahwa telik sandi Mataram pastilah selalu mengawasi Istana Panaraga. Karena itu, dengan berhati-hati Pangeran Ranapati memasuki pintu gerbang Istana Panaraga.
Namun agaknya saat Pangeran Ranapati memasuki Istana Panaraga itu luput dari pengamatan telik sandi Mataram. Sehingga dengan bebasnya Pangeran Ranapati menuju ke gardu penjagaan.
“Siapakah Kisanak dan hendak bertemu siapa”tanya penjaga di gardu penjagaan.
“Aku Pangeran Ranapati dan hendak bertemu dengan Senapati Mas Panji Wangsadrana”
“O. Silakan tunggu Pangeran. Akan aku sampaikan ke petugas di dalam”
Demikianlah Pangeran Ranapati itu menunggu di pos penjagaan. Tak berapa lama Mas Panji Wangsadrana keluar dari gedung Istana dan menjemput Pangeran Ranapati.
“Marilah masuk Pangeran”kata Mas Panji Wangsadrana.
“Pangeran ke mana saja. Lama nian Pangeran tidak muncul”tanya Mas Panji Wangsadrana dengan wajah yang ceria.”Kangjeng Adipati berulangkali menanyakannya kepadaku.–
“Maaf Mas Panji Wangsadrana, aku kemarin kedatangan guruku dan memerintahkanku untuk menjalani laku sebelum aku diwisuda menjadi Senapati. Agar ilmuku menjadi semakin meningkat. Menurut guruku, aku harus menguasai sampai tuntas ilmu pamungkasku. Bukankan perbedaan waktu yang hanya sepekan tidak mengubah keputusan Kangjeng Adipati.”
“Tentu saja tidak Pangeran. Apalagi Pangeran terpilih menjadi Senapati melalui adon-adon dan terlebih lagi Pangeran sebenarnya masih kerabat Kangjeng Adipati.”
Mas Panji Wangsadrana pun kemudian menyampaikan kepada seorang narpacundaka, bahwa ia dan Pangeran Ranapati mohon menghadap.
Kangjeng Adipati yang malam itu sedang tidak ada kesibukan, segera memerintahkan agar kedua tamu itu menemuinya di serambi kanan.
“Kakangmas ke mana saja?”tanya Kangjeng Adipati.
“Maafkan adimas, karena suatu keperluan aku baru bisa menghadap malam ini”kata Pangeran Ranapati. Demikianlah Pangeran Ranapati kemudian bercerita kepada Kangjeng Adipati sebagaimana diceritakannya kepada Mas Panji Wangsadrana. Bahwa ia telah kedatangan gurunya yang memintanya untuk menjalani laku guna meningkatkan ilmunya agar tuntas menguasai aji pamungkas perguruannya sebelum diwisuda menjadi senapati.
Kangjeng Adipati mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya tentang siapa guru Pangeran Ranapati itu dan di mana Pangeran Ranapati menjalani laku itu.
“Kakangmas sebaiknya malam ini tidak usah kembali. Aku sudah menyediakan gandok kanan untuk kakangmas. Esok lusa pagi aku akan mengadakan paseban rutin setiap bulan sekaligus pada saat itu aku akan mewisuda Kakangmas sebagai Senapati di Kadipaten Panaraga.”
“Kenapa tergesa-gesa Adimas?”
“Tidak ada apa-apa Kakangmas. Aku hanya ingin agar pasukan Kadipaten Panaraga menjadi lebih kuat. Dengan bergabungnya Kakangmas dalam pasukan Kadipaten, tentu Kakangmas sudah mempunyai rencana-rencana selain rencanaku sendiri yang bisa kita laksanakan untuk memperkuat pasukan itu.”
“Apakah rencana adimas itu?”
“Tidak ada rencana khusus Kakangmas, tapi secara umum aku ingin bahwa pasukan Kadipaten bisa kuat. Itu saja.”
“Baiklah adimas. Jika itu keinginan adimas untuk mengadakan paseban sekaligus mewisudaku, tentu dengan senang hati aku akan menjalaninya.”
Demikianlah, maka Pangeran Ranapati menempati gandok kanan Istana Kadipaten Panaraga itu sambil menanti saat wisudanya. Namun rencana Kangjeng Adipati Jayaraga untuk mewisuda Pangeran Ranapati sama sekali tidak tercium oleh telik sandi dari Mataram. Yang mereka ketahui bahwa esok lusa Kadipaten Panaraga akan mengadakan paseban rutin setiap bulan.
Pangeran Ranapati yang mengetahui dirinya menjadi bahan pengamatan secara khusus oleh telik sandi dari Mataram, sama sekali tidak keluar dari gandoknya. Dua hari yang tersisa dipergunakannya untuk bersemadi guna mengamati kembali kemampuan tenaga dalam dan ilmunya, setelah mengalami penyembuhan setelah mengalami benturan ilmu dengan telik sandi dari Mataram. Glagah Putih. Ternyata waktu yang hanya dua hari itu benar-benar dimanfaatkan oleh Pangeran Ranapati untuk mesu diri guna memperdalam dan mempertajam ilmunya. Aji Gundala Geni dan Aji Cakrabirawa
Pangeran Ranpati menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menakupkan tangannya itu dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil memusatkan nalar budinya. Sekejap kemudian telapak tangannya segera mengeluarkan asap berwarna hijau kemerah-merahan.
Hal itu berulang-ulang dilakukannya, sehingga Aji Cakrabirawa itupun semakin tajam dan lebih cepat diterapkannya. Kalau pada saat bertarung dengan Glagah Putih, Pangeran Ranapati masih memerlukan beberapa saat untuk menerapkan Aji Cakrabirawa, maka dengan latihan-latihan pernapasan, pemusatan nalar budi dan mesu diri yang terus menerus, maka ilmunya yang nggegirisi itu pun semakin dalam dan semakin tajam. Kalau semula asap yang keluar dari telapak tangannya berwarna hijau kemerah-merahan, maka dengan latihan yang terus menerus, warna hijau kemerahan itu sudah bergeser menjadi biru kemerahan. Berarti dalam waktu yang dua hari itu telah dimanfaatkan oleh Pangeran Ranapati untuk meningkatkan ilmunya selapis tipis lagi.
Sementara itu, Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta dan pasukan telik sandi dari Mataram, dari luar Istana Kadipaten tidak melihat ada gerakan apapun dalam waktu dua hari menjelang paseban. Begitu pula orang yang ditanamkan Madyasta di lingkungan dalam Istana Kadipaten, tidak menemukan suatu hal yang khusus atau aneh. Secara bergantian mereka mengadakan pengamatan. Jika Glagah Putih sedang tidak bertugas, maka kesempatan yang sempit itu masih sempat dimanfaatkannya untuk meningkatkan kemampuan olah kanuragan, tenaga dalam dan ilmunya.
Yang mendapat perhatian dari Glagah Putih secara khusus adalah Aji Sigar Bumi, Aji Tameng Waja, ilmu meringankan tubuh dan Aji Namaskara. Karena Glagah Putih tinggal di padukuhan yang banyak rumahnya, maka tentu akan kurang baik akibatnya kalau ia berlatih di rumah Madyasta atau Sungkana. Oleh sebab itu, Glagah Putih menyempatkan diri bersama Rara Wulan untuk pergi ke tebing sungai dekat rumahnya yang jarang diambah orang. Di sana mereka bisa dengan leluasa menerapkan ilmunya. Batu kali dan tebing sungai menjadi sasaran penerapan ilmu mereka.
Ternyata dengan latihan yang berulang-ulang, maka penguasaan mereka atas ilmu itu semakin meningkat dan semakin dalam.
Kalau dalam latihan-latihan sebelumnya mereka memerlukan waktu beberapa saat, maka saat yang diperlukan untuk membangkitkan Aji Namaskara setelah mengadakan latihan berulang-ulang, menjadi semakin cepat. Kalau semula Glagah Putih hanya mampu menyentuh batu kali pada jarak sepuluh depa, maka melalui latihan yang sungguh-sungguh, maka penguasaan ilmunya mampu menyentuh dan melumatkan batu itu dalam jarak yang berlipat dua. Dengan demikian kekuatannya pun menjadi semakin besar.
Demikian pula Rara Wulan, yang tingkat ilmu dan tenaga dalamnya hanya beda beberapa lapis dengan Glagah Putih, maka melalui latihan yang mereka adakan berdua telah meningkatkan ilmu Rara Wulan itu.
Bahkan dalam latihan itu, Glagah Putih bukan hanya mempertajam kemampuan Aji Namaskara-nya. Namun Glagah Putih juga meningkatkan ilmu Tameng Waja-nya. Dalam latihan itu Glagah Putih menerapkan Aji Tameng Waja sepenuhnya, sedangkan Rara Wulan mempergunakan Aji Tameng Waja selapis demi selapis. Dengan demikian kedua orang suami istri itu bisa menakar, seberapa besar akibat benturan kedua ilmu itu terhadap diri mereka masing-masing.
Ternyata dari latihan bersama tersebut bahwa ketika Glagah Putih menerapkan Aji Tameng Waja secara penuh ketika dibenturkan dengan Aji Namaskara yang dikuasai oleh Rara Wulan dengan tenaga sepenuhnya tidak menimbulkan akibat apapun bagi keduanya. Berarti posisi puncak kedua ilmu mereka merupakan takaran yang seimbang dan tidak saling membahayakan.
Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang sibuk-sibuknya memperluas baraknya, mendapat sebuah kejutan yang tidak dinyana-nyana. Ketika Sekar Mirah sedang pergi ke pakiwan, tiba-tiba ia merasa perutnya mual dan muntah-muntah. Kebetulan saat itu Ki Rangga Agung Sedayu sudah berangkat ke baraknya, Kiai Jayaraga sedang ke sawah untuk membajak sawah mereka yang baru habis dipanen dan Sukra sedang ke banjar pedukuhan induk. Semula Sekar Mirah mengira ia hanya masuk angin biasa.
Sehingga Sekar Mirah tidak menanggapinya terlalu sungguh-sungguh, dan tidak menyampaikannya kepada suaminya. Ketika hal itu terjadi berulang kali dua tiga kali kemudian, maka Sekar Mirah baru merasa ada suatu yang tidak sewajarnya dalam dirinya.
Sekar Mirah berniat menyampaikannya ketika semua anggota keluarga mereka berkumpul pada malam harinya. Meskipun wajahnya nampak pucat karena muntah-muntah, namun Sekar Mirah nampak ceria menyambut Ki Rangga Agung Sedayu yang baru pulang. Setelah Ki Rangga berganti pakaian dan kemudian pergi ke pakiwan untuk mandi, maka ditariknya tangan suaminya ke kamar.

—ooOOOoo—

3 Comments (+add yours?)

  1. Heru Pramono
    May 22, 2013 @ 12:10:48

    Ada 2 lanjutan ADBM, sama-2 bagus. Semua adalah upaya untuk menyenangkan para penggemar Agung Sedayu.

    Reply

  2. lukman kato
    May 26, 2013 @ 08:55:52

    Mohon ada link untuk download agar bisa dibaca off line. Terima kasih. Salam

    Reply

  3. Yapi
    Mar 28, 2015 @ 13:34:07

    Bagaimana caranya sy bisa baca mataram binangkit epesode 405 dstnya secara link offline atau downloadnya tq

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: