Mataram Binangkit Buku 398

Mataram Binangkit

Lanjutan Api Di Bukit Menoreh
Membangun Armada Laut Yang kuat bagi Mataram
Oleh Ki Agus S. Soerono

Seri IV

Buku 398

“KAKANG jangan terkejut ya”kata Sekar Mirah kepada suaminya. Justru nada percakapan yang dimulai dengan larangan supaya jangan terkejut, membuat wajah Ki Rangga menjadi bertanya-tanya.
“Ada apa Mirah?”tanya Ki Rangga Agung Sedayu.


“Tetapi kakang berjanji dulu untuk tidak terkejut”kata Sekar Mirah, yang justru membuat dahi suaminya berkerut-kerut.
“Baik-baik. Aku berjanji untuk tidak terkejut”kata Ki Rangga Agung Sedayu. Namun dari raut wajahnya nampak penuh tanda tanya.
Meskipun Ki Rangga sudah berjanji untuk tidak terkejut, namun Sekar Mirah belum juga mengatakan sesuatu kepada suaminya.”Katakan Mirah, apa yang terjadi padamu”
“Coba kakang tebak, apa yang terjadi padaku”kata Sekar Mirah sambil tersenyum-senyum.
“Nyi Soma sudah mengembalikan uang yang dipinjamnya”kata Ki Rangga menebak sekenanya.
“Bukan. Kakang salah tebak”kata Sekar Mirah yang membuat Ki Rangga menjadi penasaran.
“Coba tebak lagi”
“Hasil panen sawah kita hasilnya memuaskan dan melebihi hasil panen kita pada musim yang lalu.”
“Bukan juga”kata Sekar Mirah.”Kakang masih mempunyai kesempatan untuk menebak sekali lagi.”
“Wah aku menyerah. Masak salah tebak terus”kata Ki Rangga yang mulai merasa semakin penasaran bahwa istrinya sengaja menggodanya.
“Kakang boleh menebak sekali lagi”kata Sekar Mirah.
“Kalung emas yang kau pesan dari pedagang di pasar sudah jadi”kata Ki Rangga.
“Bukan. Bukan itu kakang”kata Sekar Mirah.
“Baiklah aku menyerah. Coba katakan apakah yang membuatmu begitu gembira malam ini?”
“Tetapi kakang harus berjanji tidak akan menjadi pingsan kalau aku katakan apa yang terjadi” kata Sekar Mirah sambil meraba dada suaminya, seolah-olah ia memegang agar jantung Ki Rangga tidak copot.
“Baiklah. Aku sekali lagi berjanji. Belum sepenginang aku sudah harus dua kali berjanji. Jadi katakanlah”
“Baik kakang. Ini ada berita gembira. Aku sudah terlambat kedatangan bulan. Aku mulai isi”
“Apa? Jadi kau sudah mengandung Mirah. Syukurlah”kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil membungkukkan punggungnya, menekuk lututnya lalu meletakkan dahinya di atas lantai. Ki Rangga mengucapkan puji syukur kepada yang Maha Agung atas karunia yang ternilai yang diterima keluarganya.
Setelah mengucap puji syukur ke hadirat Yang Maha Agung, Sekar Mirah menggandeng tangan suaminya ke pendapa. Di sana ada Kiai Jayaraga dan Sukra.
Kiai Jayaraga dan Sukra yang sedang duduk di atas tikar pandan, menoleh ketika melihat suami istri itu keluar dari ruang dalam. Keduanya tersenyum-senyum gembira. Tidak biasanya keduanya keluar ruangan sambil bergandengan tangan dan tersenyum-senyum gembira seperti itu.
“Nampaknya kalian gembira sekali malam ini”kata Kiai Jayaraga. Sukra juga bertanya-tanya dalam hati”Ada apa gerangan dengan Ki Rangga Agung Sedayu.”
“Iya. Kiai Jayaraga sudah dapat menebak delapan per sepuluh bagian”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Ada berita gembira Kiai Jayaraga dan Sukra”kata Sekar Mirah yang masih menggandeng lengan Ki Rangga Agung Sedayu.
“Apakah itu?”tanya Kiai Jayaraga dan Sukra hampir berbareng.
“Kami akan mendapat keturunan. Sekar Mirah mulai isi”kata Ki Rangga Agung Sedayu. Sekar Mirah pun kemudian menceritakan apa yang dialaminya selama sepekan ini.
“Syukurlah bahwa Yang Maha Agung mendengar dan mengabulkan apa yang menjadi keinginan kalian”kata Kiai Jayaraga.
“Wah aku akan punya adik kecil”kata Sukra sambil tertawa gembira.
“Ya. Kau akan punya adik kecil Sukra”kata Sekar Mirah.
“Mulai sekarang Nyi Rangga harus mengurangi kegiatan yang berat-berat, agar tidak mengganggu isi kandungan Nyi Rangga”kata Kiai Jayaraga pula.
“Terima kasih Kiai. Dengan demikian pekerjaan yang memerlukan tenaga berat akan aku kurangi termasuk untuk tidak masuk untuk berlatih di sanggar”kata Sekar Mirah.
“Biarlah tugas yang akan terasa memberatkan bagi Nyi Rangga akan kami bagi berdua. Aku dan Sukra”
“Ya. Nyi Rangga harus banyak menjaga kesehatan dan makanan serta minuman agar janin dalam kandungan Nyi Rangga bisa tumbuh sehat dan pada waktunya bisa lahir dengan selamat”kata Sukra yang sudah mulai beranjak dewasa.
Demikianlah mereka berempat, terutama pasangan suami istri itu selalu mengucapkan syukur ke hadiran yang Maha Agung, bahwa penantian mereka yang panjang untuk mendapat keturunan pada akhirnya dikabulkan-Nya.
Dengan demikian irama kehidupan di antara keluarga kecil itu pun terasa sedikit berubah. Betapapun sibuknya Ki Rangga Agung Sedayu dalam pekerjaan di baraknya karena pembangunan barak itu sedang pada puncak-puncaknya, namun Ki Rangga tidak lagi pulang terlalu larut malam seperti biasanya.
Biasanya Ki Rangga pulang pada wayah sepi bocah, maka sejak kehamilan istrinya, kalau tidak ada kesibukan atau kesibukan itu bisa dilimpahkan kepada para senapati, maka Ki Rangga sudah berada di rumahnya pada wayah surup.
Ki Rangga lebih banyak tirakat dengan puji-pujian yang dipanjatkan kepada Yang Maha Agung. Ia memanjatkan puji syukur kepada Yang Maha Memberi Hidup, bahwa garis keturunannya tidak terputus dan akan berlanjut dengan lahirnya jabang bayi dari dalam kandungan istrinya. Ki Rangga merasa bersyukur pula bahwa ujian kesabaran yang dihadapinya benar-benar bisa dijalaninya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada sedikit pun rasa kecewa atau gundah dan gelisah dalam waktu sekian lama menanti kehadiran janin pelanjut keturunannya selama ini.
Namun karena waktunya kini sengaja diluangkan untuk lebih banyak berada di rumahnya, maka waktu itupun terasa begitu panjang. Oleh karena itu Ki Rangga Agung Sedayu berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk mempertajam ilmunya sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dari Kitab Perguruan Windujati yang diperolehnya dari Kiai Geringsing.
Ki Rangga Agung Sedayu mulai mesu diri untuk meningkatkan ilmunya sesuai dengan kitab peninggalan Kiai Gringsing tersebut. Ia pun sekali-sekali membuka-buka kitab rontal yang berisi inti ilmu peninggalan Kiai Geringsing yang masih disimpannya di Tanah Perdikan Menoreh, karena Ki Swandaru Geni lebih merelakan kitab itu berada di tangannya.
Dengan membuka-buka lagi kitab itu, Ki Rangga Agung Sedayu menyegarkan kembali ingatannya atas guratan huruf demi huruf, gambar demi gambar, bait demi bait yang sudah terpateri di balik lipatan ingatannya. Ternyata Ki Rangga mempunyai daya ingat yang tajam atas sesuatu yang pernah dilihat dan diamatinya secara teliti.
Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian mulai menekuni salah satu puncak ilmu yang pernah dipergunakan oleh Kiai Geringsing. Ilmu Panglimunan. Suatu ilmu yang bisa membangkitkan selembar demi selembar kabut tipis di sekitar tubuhnya.
Jika Ki Rangga sudah memusatkan nalar budinya, maka kabut tipis itu selapis demi selapis turun. Semakin lama kabut itu semakin tebal dan pada akhirnya benar-benar menutupi pandangan. Karena Ki Rangga Agung Sedayu sudah pernah menjalani laku yang berat-berat, ketika ia merapal ilmu Panglimunan, Ki Rangga sudah tidak perlu lagi menjalani laku yang berat.
Betapa pun tebal kabut yang berhasil dihadirkannya, namun dengan Aji Sapta Pandulu, Ki Rangga tetap bisa melihat segala benda yang terdapat di sanggarnya dengan jelas. Ki Rangga Agung Sedayu tidak mau tanggung-tanggung dalam mesu diri untuk meningkatkan ilmunya.
Setelah menguasai dengan baik Aji Panglimunan, ia melanjutkan dengan Aji Angin Puyuh. Seperti halnya pada waktu Ki Rangga Agung Sedayu mulai menguasai Aji Panglimunan, ketika ia mempelajari Aji Angin Puyuh ini pun Ki Rangga dengan mudah merapal Aji ini.
Dengan memusatkan nalar budinya, maka Ki Rangga bisa membangkitkan putaran angin yang mula-mula kecil saja. Garis tengahnya tidak lebih dari sejengkal. Pusaran angin yang kecil itu seolah-olah muncul dari salah satu sudut sanggar. Kemudian memutar ke tengah, ke pinggir, ke tengah lagi sesuai dengan keinginan Ki Rangga Agung Sedayu. Ketika Ki Rangga memerintahkan melalui batinnya agar pusaran angin kecil itu menari berputar-putar, maka berputarlah pusaran angin kecil itu mengitari ruangan sanggar.
Ketika Ki Rangga Agung Sedayu melalui keinginannya di dalam pikirannya memerintahkan pusaran angin kecil itu menari-nari, maka angin itu pun berputar meliuk-liuk ke kanan ke kiri dengan lucunya.
Pusaran angin itu bergerak ke salah satu sudut ketika Ki Rangga Agung Sedayu melalui batinnya memerintahkan agar angin itu bergerak mendekati sebuah batu sebesar kambing dewasa. Ki Rangga Agung Sedayu kemudian berusaha mengangkat batu itu dengan kekuatan batinnya. Perlahan-lahan batu hitam itu terangkat setinggi satu depa dan bergeser menuju ke sudut di seberang sudut di mana batu itu berasal. Batu yang cukup berat itupun kemudian dengan irama yang aneh bergerak ke sudut yang ditujunya. Perlahan-lahan batu hitam itu kemudian diturunkannya di sudut itu.
Karena masih dalam tahap mengenali watak dan sifat dari Aji Angin Puyuh itu, maka Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjadi terburu-buru untuk menguasainya. Hal itu berulang-ulang dilakukannya, sehingga pada akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu tidak memerlukan waktu yang panjang untuk membangkitkan pusaran angin kecil itu. Kekuatannya pun kian bertambah sejalan dengan kian dikuasainya Aji Angin Puyuh itu.
Ki Rangga Agung Sedayu pun mulai mengadakan percobaan-percobaan dengan ilmunya yang baru itu. Belum puas dengan penguasaan ilmu itu dengan satu pusaran, ia pun membelah pusaran angin kecil itu menjadi tiga, seiring dengan ilmunya Kakang Kawah Adi Ari-ari yang juga mampu menciptakan wujud semu dirinya.
Mula-mula pusaran angin kecil itu bergemerasak berputar-putar seolah-olah saling berkejaran. Ketiga pusaran angin itu saling silang di antara ketiganya, lalu bergabung menjadi satu dengan garis tengah yang lebih besar. Setelah bergabung menjadi besar, Ki Rangga pun memperkecilnya kembali seperti semula. Pusaran angin itu pun berjoged seolah-olah orang yang mempunyai jiwa, mengikuti kemauan Ki Rangga Agung Sedayu. Ketika melintasi sebuah oncor jarak yang menyala, maka apinya pun mati tersambar oleh pusaran angin kecil itu. Namun karena penguasaan ilmunya yang sudah mulai semakin mantap, maka oncor buah jarak itu sama sekali tidak bergeser barang senyari pun.
Namun Ki Rangga Agung Sedang belum puas dengan latihan-latihan di dalam sanggar tertutup itu. Karena sifatnya yang tertutup, maka garis tengah angin yang bisa dibangkitkannya pun tidak terlalu besar. Kalau Ki Rangga membangkitkan angin yang lebih besar, ia khawatir akan memorakporandakan sanggarnya.
Karena itu, Ki Rangga Agung Sedayu ingin melihat hasilnya jika pusaran angin itu dibangkitkan di tempat terbuka di tepian kali kecil yang jarang dirambah orang. Agar bisa mendapat bahan pertimbangan, maka Ki Rangga Agung Sedayu sengaja mengajak Kiai Jayaraga ke tepian sungai itu. Sukra tidak diajaknya, karena anak yang baru menanjak dewasa itu mendapat tugas meronda sebagai anggota pasukan pengawal Tanah Perdikan.
Ketika malam itu bulan bersinar dengan terangnya namun belum mencapai bulatannya yang penuh, maka Ki Rangga Agung Sedayu duduk di atas sebuah batu kali yang rata di tepian. Tak lama kemudian selembar-selembar kabut tipis turun di tepian sungai itu. Semakin lama semakin banyak kabut tipis yang turun di tepian itu.
Kiai Jayaraga yang menyaksikan tingkat pencapaian Ki Rangga Agung Sedayu itu pun menjadi berdebar-debar. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Semakin lengkap saja ilmu Ki Rangga”katanya di dalam hati.
Ketika kabut yang semula tipis itu semakin menebal, maka jarak pandang Ki Jayaraga pun semakin terhalang. Tetapi Ki Jayaraga adalah seorang yang juga linuwih, meskipun pandangan matanya terhalang kabut, ia masih bisa melihat dengan mata batinnya Ki Rangga Agung Sedayu yang masih duduk di atas batu hitam itu.
Tak berselang lama tepian sungai yang tadinya disinari oleh rembulan menjadi gelap. Kiai Jayaraga menengadah melihat bulan di puncak langit. Cahaya bulan nampak berpendar-pendar di balik kabut yang semakin tebal. Pada akhirnya sinar sang candra tidak mampu menembus kabut yang sangat tebal itu. Bahkan wujud rembulan itupun tidak nampak lagi.
Kiai Jayaraga tiba-tiba terkejut ketika dari gerumbul pepohonan di dekatnya berdiri, terdengar suara gemerasak dari tiga arah. Dengan panggraitanya yang tajam Kiai Jayaraga akhirnya mengetahui bahwa suara gemerasak tadi ditimbulkan oleh tiga pusaran angin kecil yang saling bersilang. Pusaran angin kecil yang dibangkitkan dengan Aji Angin Puyuh itupun berputar mengitari Ki Jayaraga dan meliuk-liuk ke sana kemari. Karena sudah demikian lulutnya angin itu dengan kemauan Ki Rangga, maka angin itu sama sekali tidak menyentuh Ki Jayaraga. Hal itu benar-benar membuat KI Jayaraga semakin kagum. Karena dari balik kabut itu Ki Rangga masih bisa mengendalikan pusaran angin itu.
Beberapa saat kemudian angin itu bergabung menjadi satu, lalu membesar, semakin besar dan semakin besar lagi berputar dengan cepatnya. Angin itu berpusar dengan garis tengah setinggi dua kali tinggi orang dewasa, bahkan semakin lama semakin besar.
Tak lama kemudian pusaran angin itu pun menghembus sekaligus menghisap kabut tebal yang tadi menyelimuti sinar rembulan. Dalam sekejap kabut tebal itu terpilin oleh kekuatan pusaran angin itu lalu diterbangkan jauh-jauh. Dalam sekejap pandangan Ki Jayaraga menjadi terang kembali dan rembulan kembali menyinari tepian kali berbatu itu.
Ki Rangga sendiri yang membangkitkan Aji Angin Puyuh itu sempat termangu-mangu sejenak mengamati kekuatan angin yang luar biasa itu. Apapun yang dilaluinya segera diangkat dan dihembuskan dengan ganasnya. Sebatang pohon pucang yang cukup besar tercerabut akar-akarnya dan jatuh berderak.
Namun waktu yang sesaat itu ternyata dapat menimbulkan suatu bencana. Ki Rangga Agung Sedayu agaknya sempat lepas kendali atas angin yang kian membesar dan kian menjauh itu. Ia tersentak kaget, karena jika angin itu sempat melintas menuju rumah penduduk di pedukuhan terdekat, tentu akan terjadi bencana. Rumah penduduk akan porak poranda dan bahkan bukan tidak mungkin akan menelan korban jiwa penduduk yang tidak berdosa.
Ki Rangga Agung Sedayu tentu tidak mau hal itu terjadi. Karena jika terjadi musibah, tentu ia akan merasa sangat bersalah dan menyesal. Sekali lagi Ki Rangga memusatkan nalar budinya untuk membangkitkan satu lagi angin yang dengan cepatnya membesar. Angin yang meskipun tidak sebesar angin yang pertama itu pun dengan kecepatan lebih tinggi mengejar pendahulunya yang lepas dari kendali. Sesaat kemudian terjadi benturan antara angin yang pertama dengan angin kedua yang menyusulnya.
Terdengar suatu ledakan seperti suara guntur yang menggelegar di langit. Kedua angin itu pun kemudian pecah berhamburan kehilangan kekuatannya, kemudian lenyap.
“Luar biasa Ki Rangga”kata Kiai Jayaraga.
“Terima kasih Kiai”kata Ki Rangga Agung Sedayu.”Namun aku masih harus menyempurnakan penguasaanku atas angin yang timbul, agar jangan sampai lepas kendali seperti tadi lagi.”
Tanpa terasa kedua orang yang berilmu sangat tinggi itu berada di tepian sungai sampai menjelang fajar yang ditandai oleh suara kokok ayam untuk ketiga kalinya. Karena demikian penuhnya pemusatan nalar budi Ki Rangga Agung Sedayu, sehingga tidak terasa waktu bergeser demikian cepatnya.
“Hampir fajar”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Ya. Hampir fajar”kata Kiai Jayaraga.
“Marilah kita kembali ke rumah Kiai”
“Mari. Mari ngger”
Demikianlah sambil berjalan ke rumahnya, mereka membahas pencapaian yang dapat diraih oleh Ki Rangga Agung Sedayu atas kedua ilmunya yang baru. Mereka berbincang sambil berjalan perlahan-lahan.
Namun dari caranya berbicara, Ki Rangga Agung Sedayu merasa bahwa Kiai Jayaraga tidak sesemangat seperti biasanya. Menurut pengamatan Ki Rangga, dalam beberapa hari terakhir ini Kiai Jayaraga nampak lesu, seolah-olah gairah hidupnya menjadi menurun. Ki Rangga merasa bahwa Kiai Jayaraga nampak lebih lemah dan wajahnya agak pucat.
“Apakah Kiai sakit”
“Tidak ngger. Aku tidak sakit. Aku hanya merasa tenagaku jauh susut. Yah begitulah kalau usia sudah lanjut seperti aku ini.”
Ki Rangga Agung Sedayu mengerutkan dahinya. Menurut penilaiannya, Kiai Jayaraga jauh lebih muda daripada Kiai Gringsing pada saat hari akhirnya. Namun nampak bahwa kebugaran Kiai Jayaraga itu memang telah nampak susut. Meskipun demikian, Ki Jayaraga masih berusaha tetap menjalankan tugasnya untuk ke sawah bersama Sukra dan para tetangganya untuk mengolah lahan yang merupakan sumber kehidupan mereka sekeluarga.
Kiai Jayaraga yang merasa diperhatikan oleh Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menoleh.
“Sebenarnya ada yang hendak aku katakan Ki Rangga”
“Apakah itu Kiai? Apakah mengenai sawah kita?”tanya Ki Rangga.
“Bukan. Bukan itu ngger”
“Jangan ragu-ragu Kiai. Aku tentu dengan senang hati akan mendengarkannya.”
“Sebenarnyalah aku tidak ingin nggege mangsa atau sok tahu dengan bersikap seolah-olah weruh sakdurunge winarah. Tetapi aku merasa bahwa umurku sudah tidak panjang lagi. Rasanya ada panggilan dari alam gaib yang seakan-akan melambai-lambai memanggilku.”
“Apakah Kiai mempercayai perasaan Kiai itu? Bukankah saat-saat seperti itu adalah menjadi rahasia Yang Maha Agung?”
“Entahlah Ki Rangga. Sebenarnya aku tidak ingin. Sama sekali tidak ingin nggege mangsa. Tapi mungkin juga karena aku tidak punya sanak kadang, lalu timbul perasaan seperti itu.”
“Bukankah Kiai Jayaraga sudah kami anggap sebagai kadang sendiri?”tanya Ki Rangga Agung Sedayu pula.
“Iya. Aku berterima kasih bahwa keluarga Ki Rangga bahkan juga keluarga Ki Gde Menoreh telah menganggap aku sebagai kadangnya. Sehingga aku bisa ikut menumpang hidup dan makan di sini.”
“Ah hal itu jangan sampai memberatkan hati Kiai. Anggap saja aku dan Sekar Mirah seperti anak Kiai dan Sukra itu anggap pula sebagai cucu Kiai. Lalu anggap saja Ki Gde sebagai kakak Kiai. Bukankah tidak ada keberatannya?”
“Sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan, ngger”
“Maksud Kiai?”
“Aku merasa bahwa waktuku tidak panjang lagi. Namun aku ingin agar ilmuku berkembang. Aku juga tidak ingin ilmu yang menumpuk dalam diriku akan lenyap bersama tarikan nafasku yang terakhir. Jika itu terjadi, maka habislah riwayat perkembangan ilmu dari perguruanku”
“Sebenarnya kalau boleh aku ingin pula mengambil Sukra sebagai muridku. Namun aku melihat kematangan sikap jiwani Sukra itu belum begitu mantap untuk menerima puncak ilmuku. Karena itu aku ingin menitipkan puncak ilmuku kepada Ki Rangga. Kelak kalau Ki Rangga sudah menganggap bahwa sikap jiwani Sukra sudah mantap, tentu Ki Rangga dapat pula meneruskan ilmu itu kepada Sukra atau kepada Glagah Putih.”
“Bukankah Kiai sudah menurunkan Aji Sigar Bumi kepada Glagah Putih?”
“Ya ngger. Aku sudah menurunkan aji Sigar Bumi kepada Glagah Putih.”
“Lalu?”
“Sebenarnya masih ada ilmuku yang jarang sekali bahkan hampir tidak pernah aku pergunakan, namun belum sempat aku turunkan kepada Glagah Putih.”
“Ilmu apakah itu Kiai?”
“Ilmu itu bernama Aji Kendali Sukma.”
“Aji Kendali Sukma?”
“Ya ngger. Aji Kendali Sukma.–
“Ilmu macam apakah pula itu Kiai?”
“Aji Kendali Sukma ini sebenarnya mempunyai dasar yang hampir sama dengan ilmu yang angger dan juga angger Sabungsari miliki. Menurut guruku, dasar-dasar ilmu yang hampir sama sebenarnya pernah dimiliki oleh Pangeran Balaputra Dewa, seorang dari zaman Mataram Hindu yang menaklukkan negeri Swarnadwipa. Pada zaman itu, masih menurut guruku, ilmu itu disebut aji Netra Dahana. Netra berarti mata dan dahana berarti api. Netra Dahana berarti pancaran sinar atau api yang meluncur dari mata yang mempunyai kekuatan nggegirisi.”
“Netra Dahana?”
“Ya. Aji Netra Dahana.”
“Apakah aku boleh menyebut ilmuku dengan nama itu Kiai? Aji Netra Dahana?”
“Tentu tidak ada yang berkeberatan, jika angger menyebutnya demikian.”
“Ya. Aji Netra Dahana. Mulai sekarang aku mendapat nama untuk menyebut nama ilmuku. Aji Netra Dahana. Sebuah nama yang bagus. Terus terang, aku selama ini memang agak kesulitan untuk memberi nama pada ilmuku ini. Ilmu itu secara tidak sengaja aku dapatkan ketika mesu diri di dalam sebuah gua di atas tebing sungai. Terima kasih atas penjelasan Kiai, sehingga aku mengetahui nama yang cocok untuk ilmuku ini.”
“Terima kasih kembali, ngger”
“Kiai. Setahu Kiai, apakah di tanah ini masih ada yang memiliki ilmu itu selain aku dan Sabungsari?”
“Semasa mudaku aku adalah seorang pengembara yang sudah melintasi tanah ini dari ujung ke ujung, bahkan ke negeri seberang ketika aku mengejar murid-muridku yang berkhianat dan mencemari nama baik perguruanku. Tetapi belum pernah aku jumpai ilmu seperti ilmu angger dan ilmu angger Sabungsari miliki. Kalaupun ada itu tentu dari kalangan perguruan angger Sabungsari. Selebihnya, tidak ada.”
“Lalu kenapa dengan Aji Kendali Sukma, Kiai?”
“Kalau Ki Rangga menerapkan aji Netra Dahana, maka para musuh angger sudah hampir dapat dipastikan akan mati di tempat pada saat itu juga. Namun kalau angger menerapkan aji Kendali Sukma, dengan dasar penguasaan aji Netra Dahana yang sudah matang itu, angger akan dapat hanya melumpuhkan musuh yang angger hadapi.”
“Lumpuh? Hanya lumpuh?”
“Ya ngger. Hanya lumpuh. Bahkan kelumpuhan yang diderita oleh musuh angger itu akan terjadi seterusnya. Ilmu lawan yang berbenturan dengan ilmu angger akan punah pula, namun Kendali Sukma tidak akan membunuh lawan-lawan angger.”
“Apakah hal itu akan menguntungkan bagiku?”
“Tentu saja akan menguntungkan Ki Rangga. Bukankah selama ini setiap orang yang Ki Rangga hadapi seperti Ki Ajar Tal Pitu, Kakang Panji, Tumenggung Wanakerti dan tokoh-tokoh yang memberontak terhadap Mataram semuanya tewas di tangan Ki Rangga?”
“Padahal jikalau Ki Rangga dapat menangkapnya hidup-hidup, seharusnya dari mereka dapat diperoleh keterangan mengenai rencana gerakan serta siapa orang-orang yang terlibat di balik kegiatan pemberontakan mereka.”
“Alangkah dahsyat aji Kendali Sukma”
“Ya dahsyat. Sama dahsyatnya dengan Aji Netra Dahana. Namun akibatnya tidak mematikan lawan-lawan angger. Meskipun mereka menjadi lumpuh tetap dan bahkan ilmunya menjadi punah.”
Ki Rangga Agung Sedayu tiba-tiba teringat kembali akan sahabatnya Rudita. Anak Ki Waskita itu selalu berkelana mengikuti perjalanan pasukannya, kalau mendengar pasukan Mataram berangkat berperang. Di tengah malam yang sepi, ketika api peperangan di siang hari telah pudar, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seruling yang ngelangut, menyentuh hati.
Suara seruling itu seperti mengingatkan Ki Rangga Agung Sedayu akan hati nuraninya. Kalau Ki Rangga dengan pasukannya memberantas suatu pemberontakan dan membunuh lawan-lawannya, maka yang tertinggal adalah tangis istri-istri yang kehilangan suami, ibu-ibu yang tidak bisa lagi menjumpai anaknya yang ketika kecil ditimang dan dibesarkan. Setelah besar anak itu berangkat berperang dan menjadi korban perang serta tidak pernah kembali. Bahkan si ibu tak tahu di mana gerangan anaknya dikuburkan. Yang paling menderita adalah anak-anak yang kehilangan ayahnya yang menjadi panutan, yang memberi nafkah dan mengayomi mereka sehingga mereka merasa tenteram tinggal di rumah.
Akibat perang tersebut sangat dirasakan oleh Rudita yang sengaja membuat sanggar kegiatan belajar sekaligus rumah yatim piatu bagi anak-anak korban perang. Rudita dengan tekun dan telaten mengumpulkan anak-anak korban perang itu di sanggar yang dibangunnya di lahan yang diperolehnya dari ayahnya. Ki Waskita.
Setiap selesai berperang melawan pemberontak, Ki Rangga Agung Sedayu pun menghadapi pergolakan batin. Apalagi kalau di tengah malam yang sepi terdengar seruling Rudita yang meliuk-liuk mewartakan kepedihan hati para anak yatim piatu, istri-istri yang ditinggal suami dan anak gadis yang kehilangan sang kekasih hati. Paling tidak, jika ia tidak membunuh lawan-lawannya maka pergolakan batin itu tidak menghantui dirinya.
Karena itu Ki Rangga Agung Sedayu pun menjadi tertarik dengan penjelasan Kiai Jayaraga mengenai rencananya menurunkan ilmu Kendali Sukma itu.
“Tetapi apakah aku tidak dianggap terlalu serakah jika dalam kondisi seperti ini aku masih menumpuk ilmu dalam diriku, Kiai?”
“Siapakah yang menganggap demikian ngger? Bukankah kita harus menuntut ilmu mulai dari dalam buaian sampai ke liang lahat? Selagi kita mampu, aku rasa tidak ada salahnya kita menuntut ilmu. Asal kita tidak mempergunakan ilmu itu untuk berbuat semena-mena dan menghancurkan peradaban manusia.”
“Jika demikian aku tidak berkeberatan untuk menerima ilmu dari Kiai. Aji Kendali Sukma.”
“Baiklah. Jika angger bersedia menerimanya, mulai besok lusa angger mulai menjalani laku puasa dan patigeni. Untuk tingkat ilmu setinggi yang angger miliki sekarang ini aku rasa angger cukup hanya menjalani laku selama tiga hari tiga malam. Berbeda dengan ketika aku harus mendapat ilmu ini, aku menjalani laku selama satu sasi, tiga hari terakhir aku jalani dengan patigeni.”
“Baiklah Kiai. Besok aku akan mempersiapkan diri, mandi keramas dengan abu merang padi. Selain itu aku juga akan menjelaskan kepada Sekar Mirah mengenai kesediaan Kiai untuk menurunkan aji Kendali Sukma kepadaku.”
Demikianlah sambil berbincang, tidak terasa mereka telah sampai di depan regol rumah Ki Rangga Agung Sedayu ketika terang tanah. Suara sapu lidi yang bergerak di tanga Sukra memecah keheningan pagi. Seperti halnya Ki Rangga Agung Sedayu dan Glagah Putih, Sukra pun kalau menyapu berjalan mundur.
Jejak-jejak sapu lidi yang ditinggalkan tidak membekaskan telapak kaki. Agaknya Sukra sebelum menyapu halaman telah pula mengisi jedhing di pakiwan hingga penuh. Sehingga Ki Rangga Agung Sedayu yang hendak membersihkan diri dan sesuci, tidak perlu menimba air dari sumur di sudut belakang.
Setelah sesuci, Ki Rangga pun menghadapkan dirinya kepada Yang Maha Agung. Ia memohonkan ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Sebagai seorang prajurit, ia telah banyak menghilangkan nyawa orang meskipun itu bukan atas kehendaknya. Itu semua dilakukannya demi menegakkan kepentingan yang lebih luas, bebrayan agung.
Setelah selesai dengan kewajibannya itu, Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian menemui Sekar Mirah yang sedang sibuk di dapur. Sambil duduk di atas amben bambu di sudut dapur, Ki Rangga pun menjelaskan perkembangan ilmunya. Ki Rangga juga menjelaskan rencana Kiai Jayaraga menitipkan ilmunya kepada dirinya.
“Apakah sifat kedua ilmu yang berlawanan itu tidak membahayakan, kakang?”tanya Nyi Rangga.
“Sebuah pertanyaan yang baik. Nanti coba aku tanyakan pula kepada Kiai Jayaraga.”
Demikianlah setelah hidangan sarapan pagi siap, Ki Rangga dan Nyi Rangga Agung Sedayu duduk bersama Kiai Jayaraga di pendapa rumah yang tidak terlalu luas itu. Mereka duduk di atas sebuah tikar pandan berwarna putih yang dianyam halus. Sambil menikmati sarapan pagi mereka berbincang. Sementara itu Sukra masih sibuk dengan tugasnya membersihkan kandang kuda.
“Apakah benar Kiai akan menambahi lagi ilmu kakang Rangga?”tanya Nyi Rangga.
“Benar Nyi Rangga. Aku khawatir ilmuku akan punah sejalan dengan kondisi tubuhku yang semakin lemah. Ilmuku akan hilang ditelan bumi kalau aku harus menghadap-Nya, tanpa mewariskan ilmu ini kepada seseorang pun.”
“Bukankah ilmu-ilmu yang kakang Rangga miliki sangat nggegirisi. Tidak akan ada orang yang mampu mengatasinya selain Ki Patih Mandaraka, mendiang Panembahan Senapati dan mendiang Pangeran Benawa? Mungkin masih bisa ditambah lagi dengan nama Kiai Jayaraga sendiri dan Ki Waskita–
“Benar Nyi Rangga. Namun sifat ilmu ini sangat berbeda dengan aji Netra Dahana yang dimiliki oleh Ki Rangga.”
“Aji Netra Dahana?”
“Ya. Ilmu yang memancar dari mata meluncurkan cahaya api seperti yang dimiliki Ki Rangga Agung Sedayu dan Sabungsari. Ilmu semacam ini dahulu kala menurut guruku disebut aji Netra Dahana. Ilmu sejenis itu pernah dimiliki oleh seorang Pangeran dari zaman Mataram Hindu untuk menyerbu ke pulau Swarnadwipa.
“Apakah bedanya?”
“Jika ilmu Ki Rangga yang kusebut dengan aji Netra Dahana itu mematikan seketika siapapun yang berani beradu dada dengan Ki Rangga, maka aji Kendali Sukma adalah ilmu yang bersifat sebaliknya. Ilmu ini hanya bersifat melumpuhkan lawan-lawannya dan memunahkan segala ilmunya. Dengan demikian, meskipun sudah tidak berdaya, Ki Rangga tidak harus membunuh lawannya dan bahkan bisa menangkapnya hidup-hidup.”
“Jika lawan bisa tertangkap hidup-hidup, bukankah Mataram akan mampu membongkar jaringan gerombolan yang memberontak itu?”tanya Nyi Rangga Agung Sedayu pula.
“Nyi Rangga benar. Selama ini Mataram selalu mengalami kesulitan untuk membongkar pemberontakan sampai ke akar-akarnya, karena pentolannya tewas jika harus berbenturan ilmu dengan Ki Rangga.–
“Tetapi karena sifatnya yang bertentangan, apakah tidak justru membahayakan bagi Ki Rangga?”tanya Sekar Mirah.
“Aku Rasa tidak akan membahayakan bagi Ki Rangga. Aku akan memberi petunjuk kepada Ki Rangga bagaimana caranya agar kedua ilmu itu tidak saling berbenturan. Ada laku khusus yang harus dilakukan Ki Rangga di dalam sanggar. Tentu saja dengan terus mendapat bimbingan dan penjelasan dariku. Sebagai langkah awal aku akan menyalurkan tenaga dari aji Kendali Sukma yang ada dalam diriku kepada Ki Rangga. Dengan demikian Ki Rangga sudah mendapat bibit ilmunya, tinggal mengembangkannya.”
“Apakah jika Kiai menyalurkan ilmu kepada Ki Rangga, tidak justru membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan Kiai sendiri”tanya Nyi Rangga.
“Itu tidak masalah Nyi Rangga. Aku sudah mengecap pahit, asin dan getirnya segala segi kehidupan. Aku juga merasa perjalananku sudah hampir sampai ke ujung. Aku sudah berusaha bertobat dan membenahi kehidupanku yang keliru di masa lalu. Syukurlah di masa pencarianku yang panjang itu, aku bertemu dengan mendiang Kiai Gringsing yang memberiku jalan untuk menurunkan sebagian besar ilmuku kepada angger Glagah Putih.”kata Kiai Jayaraga sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Tetapi sungguh sayang kalau ilmuku yang terakhir ini tidak sempat aku turunkan kepada angger Glagah Putih dan Ki Rangga tidak bersedia menerimanya sebagai titipan”kata Kiai Jayaraga melanjutkan.
“Baiklah Kiai. Aku tadi sudah sempat berbincang dengan Sekar Mirah. Istriku tidak berkeberatan bahwa Kiai menitipkan ilmu itu kepadaku. Tetapi sebagai barang titipan, tentu saja aku akan mengambil manfaat jika ilmu itu bertimbun dalam diriku.”
“Tentu. Tentu ngger. Tentu saja Ki Rangga boleh menggunakannya. Karena pada tataran Ki Rangga, aku rasa Ki Rangga tidak akan semena-mena menggunakannya.”
“Terima kasih atas kepercayaan Kiai untuk menitipkan aji Kendali Sukma kepadaku. Mulai lusa aku akan mulai menjalani laku seperti petunjuk Kiai.”
“Aku juga berterima kasih ngger. Bahwa melalui angger ilmuku tidak menjadi punah”
“Berapa lamakah aku harus menjalani laku untuk dapat menguasai aji Kendali Sukma, Kiai”
“Untuk tingkatan setinggi yang Ki Rangga miliki seperti sekarang ini, aku rasa Ki Rangga cukup menjalani patigeni selama tiga hari, lalu memulihkan tenaga dua hari sambil mulai melatih pengaturan pernafasan guna menguasai aji Kendali Sukma.”
“Apakah memang bisa demikian singkat?”
“Tentu Ki Rangga. Pada awalnya aku akan membuka simpul syaraf di punggung Ki Rangga, untuk menyalurkan kemampuan dariku. Jika kemampuanku sudah tersalur, maka akan lebih mudah bagi Ki Rangga untuk mempertajam dan meningkatkannya.”
Sebelum masuk ke dalam sanggar, Ki Rangga Agung Sedayu hari itu datang ke barak dan mengumpulkan para senapati yang berada di lingkungan pasukan khusus. Kepada para senapati itu Ki Rangga menjelaskan bahwa dalam sepekan ke depan ia tidak bertugas.
Ki Rangga pun telah membagi tugas-tugas yang diembannya kepada orang-orang kepercayaannya itu.
“Apakah Ki Rangga akan pergi ke Mataram”tanya seorang senapati yang baru ditempatkan di barak pasukan khusus itu.
“Tidak Ki Lurah. Aku tidak ke mana-mana. Namun aku berada di rumah saja untuk mesu diri”kata Ki Rangga.
Semua yang hadir mengangguk-angguk dan mereka tidak menanyakannya lebih lanjut. Memang sudah menjadi kebiasaan di lingkungan pasukan khusus itu, bahwa para prajurit bahkan senapati boleh meminta izin untuk meningkatkan ilmunya.
Jika yang minta izin tersebut seorang senapati, maka tugasnya segera dibagi di antara para senapati yang sedang bertugas. Begitu pula jika yang minta izin adalah seorang prajurit, maka tugasnya dialihkan kepada prajurit lain yang bertugas. Kebiasaan tersebut ditetapkan mengingat bahwa kemampuan perseorangan di dalam pasukan khusus sangat diperlukan dalam menghadapi tugas-tugas keprajuritan. Dengan demikian, kemampuan yang tinggi itu akan sangat bermanfaat jika pasukan khusus Mataram itu harus menghadapi pasukan lawan.
Namun pembicaraan kemudian beralih ke proses perluasan barak itu, yang kini sudah hampir jadi. Demikianlah keesokan harinya, Ki Rangga Agung Sedayu dengan ditemani Kiai Jayaraga mulai mesu diri untuk bisa menimba ilmu Kendali Sukma.
Pada hari pertama, Ki Rangga mulai proses patigeninya. Patigeni adalah suatu bentuk tirakat dengan melakukan puasa terus menerus. Jika patigeni tiga hari tiga malam, maka berarti yang melaksanakan laku itu berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus. Perutnya sama sekali tidak boleh disentuh makanan atau minuman.
Orang yang menjalani laku juga tidak boleh keluar dari ruangan yang sengaja dibuat gelap. Meskipun dibuat gelap, orang yang melaksanakan laku tidak boleh tidur selama waktu yang ditetapkan tanpa pernah putus. Namun yang lebih penting orang yang melaksanakan laku itu harus menjalani semadi untuk memusatkan nalar budinya dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung.
Pada hari kedua, Kiai Jayaraga memasuki ruangan sanggar itu guna membuka syaraf-syaraf dan urat nadi yang memudahkan bagi Ki Rangga Agung Sedayu menguasai aji Kendali Sukma. Kiai Jayaraga kemudian duduk bersila di belakang Ki Rangga Agung Sedayu. Tangannya ditempelkan di punggung Ki Rangga yang sudah dibuka urat syaraf dan nadinya itu. Perlahan-lahan dari tangan Kiai Jayaraga mengalir gumpalan-gumpalan hawa murni yang hangat, lembut dan menerobos punggung Ki Rangga, masuk ke jantung, paru-paru turun ke bawah perut.
Gumpalan-gumpalan hawa murni itu berkumpul di bawah perut lalu memecah diri menjadi gumpalan-gumpalan kecil yang bergerak ke atas lagi, sampai ke kepala lalu menyebar ke seluruh organ tubuhnya sampai ke ujung jari tangan dan ujung jari kaki.
Ketika gumpalan-gumpalan hawa murni itu telah memecah diri dan tersebar merata ke seluruh tubuh Ki Rangga Agung Sedayu, maka Kiai Jayaraga menghentikan penyaluran gumpalan-gumpalan hawa murni itu. Pada saat ia menghentikan penyaluran gumpalan-gumpalan hawa murni itu, Kiai Jayaraga menjadi tersengal-sengal. Tubuhnya menjadi lemah. Iapun kemudian bersila dan bersedakep untuk mengendalikan hawa murni yang masih ada di dalam dirinya. Agar goncangan akibat berkurangnya gumpalan hawa murni di dalam dirinya tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.
Ki Rangga Agung Sedayu tetap memusatkan nalar budinya dengan mengendalikan gumpalan-gumpalan hawa murni yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia juga tidak ingin gumpalan-gumpalan hawa murni yang menerobos tubuhnya tidak terkendali dan menjadi liar, sehingga membahayakan dirinya.
Setelah Kiai Jayaraga berhasil mengendalikan hawa murni yang tersisa dalam dirinya, ia pun keluar dari sanggar itu. Ki Rangga kembali melanjutkan mesu diri dengan menjalani laku patigeni. Pada hari ketiga, kembali Kiai Jayaraga memasuki ruangan sanggar dan mengulangi lagi usahanya untuk membuka syaraf-syaraf dan urat nadi yang memudahkan penguasaan atas aji Kendali Sukma tersebut.
Keesokan harinya, Ki Rangga pun menyelesaikan patigeninya. Sekar Mirah segera menyiapkan bubur cair untuk memulihkan tenaganya. Setelah beristirahat sehari, maka tenaga Ki Rangga Agung Sedayu mulai pulih tenaganya. Demikian pula Kiai Jayaraga pun telah mulai kembali kuat. Kiai Jayaraga pun kemudian mengajak Ki Rangga Agung Sedayu untuk masuk kembali ke sanggarnya.
Di dalam sanggar Kiai Jayaraga memberi petunjuk kepada Ki Rangga Agung Sedayu mengenai cara menerapkan aji Kendali Sukma itu. Namun Ki Rangga Agung Sedayu maupun Kiai Jayaraga tidak hendak menerapkan ilmu itu untuk dipergunakan sebagai kekuatan yang beradu dada di antara mereka. Sebab jika mereka mempergunakan berhadapan beradu dada, dapat berakibat fatal bagi salah satu di antara mereka.
“Ki Rangga harus mempergunakan aji Kendali Sukma dengan sangat hati-hati, karena ilmu ini jika salam dalam penerapannya akan sangat merugikan lawan Ki Rangga”katanya.
Kiai Jayaraga menjelaskan bahwa aji Kendali Sukma ini diterapkan terhadap lawan, maka lawan merasa badannya ditusuk oleh sejuta jarum dalam sekali hentakan.
“Karena serasa ditusuk jarum itulah yang membuat lawan Ki Rangga akan lumpuh, meskipun tidak membunuhnya”kata Kiai Jayaraga.
” Ki Rangga harus memahami, bahwa ilmu ini tidak akan menunjukkan pengaruhnya terhadap benda mati seperti batu atau kayu kering sesuai dengan namanya aji Kendali Sukma. Namun pepohonan kayu, binatang yang hidup serta manusia yang masih hidup akan kena pengaruhnya.”
Kiai Jayaraga mengatakan bahwa jika yang menjadi sasarannya adalah binatang, maka binatang itu akan lumpuh. Sedangkan kalau pepohonan yang masih hidup, sebagai akibat serangan aji Kendali Sukma yang seperti gempuran sejuta jarum, maka pepohonan itu akan hancur seperti debu.
“Apakah kita bisa mencobanya di tepian sungai yang berpasir dan berbatu itu Kiai”tanya Ki Rangga Agung Sedayu.
Sebenarnya Ki Rangga dan Kiai Jayaraga ingin hanya mereka berdua saja yang pergi ke sungai untuk melihat hasil mesu diri selama lima hari itu. Namun Nyi Rangga Agung Sedayu yang sedang hamil itu tidak mau ditinggal di rumah. Ia ingin melihat apa yang telah dicapai suaminya selama mesu diri di sanggar. Keinginannya yang sangat kuat telah mengalahkan berbagai alasan yang diajukan oleh Ki Rangga Agung Sedayu maupun Kiai Jayaraga.
“Bukankah tidak baik bagi wanita hamil pergi ke sungai di malam hari. Aku khawatir kalau Nyi Rangga akan masuk angin yang dapat mengganggu bayi dalam kandungan itu”tanya Kiai Jayaraga.
“Baiklah aku akan berkerudung selimut, agar tidak ada kesempatan angin itu masuk ke dalam tubuhku”kata Nyi Rangga sambil merengut
“Aku ikut ya kakang”kata Nyi Rangga merajuk.
Demikianlah pada malam harinya, Kiai Rangga Agung Sedayu, Kiai Jayaraga dan Sekar Mirah pun berjalan menyusur tepian sungai. Sekar Mirah menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut sesuai dengan kata-katanya tadi.
Setelah sampai di tepian sungai yang berpasir dan berbatu, Ki Rangga Agung Sedayu dan Kiai Jayaraga pun mulai memilih sasaran apa yang akan dibenturkan dengan aji Kendali Sukma.
Kiai Jayaraga pun lalu menunjuk sebuah batu sebesar kerbau dewasa yang ada di tengah sungai sebagai sasaran pertama yang harus diserang oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga pun mulai mengambil ancang-ancang. Ia berdiri tegak dengan kaki direnggangkan. Kedua tangannya mengembang ke samping badannya seperti sayap burung garuda yang hendak terbang, lalu kedua tangan itu bersilang di depan dada, dan mendorong ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar. Dua leret cahaya meluncur dari kedua telapak tangannya itu menerjang batu hitam di tengah sungai. Namun batu hitam itu bergeming. Tidak terjadi apapun atas batu itu.
Ki Rangga Agung Sedayu menjadi penasaran terhadap batu itu. Ia pun melenting tinggi dan turun di sebelah batu hitam di tengah sungai itu. Ternyata batu itu masih utuh.
“Sekarang pohon nyamplung itu yang menjadi sasaran Ki Rangga”kata Kiai Jayaraga sambil menunjuk pohon nyamplung setinggi pohon kelapa yang ada di tepi sungai. Pohon itu menghalangi sinar sang candra yang menggapai langit sepenggalah. Daunnya yang lebat membuat sinar bulan yang belum bulat benar itu terhalang sampai di tepian sungai.
Ki Rangga Agung Sedayu kembali menyiapkan aji Kendali Sukma. Ki Rangga pun mulai mengambil ancang-ancang. Ia berdiri tegak dengan kaki direnggangkan. Kedua tangannya mengembang ke samping badannya seperti sayap burung garuda yang hendak terbang, lalu kedua tangan itu bersilang di depan dada, dan mendorong ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar. Dua leret cahaya meluncur dari kedua telapak tangannya itu menerjang pohon nyamplung yang tumbuh di tepi sungai. Pohon sebesar pemeluk orang dewasa itu pun bergoyang-goyang, ranting dan cabangnya menjadi lemas dan merunduk. Tidak berapa lama satu per satu daunnya berguguran, disusul oleh ranting dan cabangnya. Ketika angin bertiup kencang di tepian sungai, maka pohon itu pun berhamburan runtuh menjadi debu. Sinar rembulan yang tadinya terhalang oleh daun pohon nyamplung yang lebat itu, kini bisa langsung menerobos ke tepian, karena pohon itu kini sudah tiada.
“Luar biasa kakang”kata Nyi Rangga. Lalu ia bertanya kepada Kiai Jayaraga”Kiai, kalau menurut aku aji Kendali Sukma jauh lebih dahsyat daripada aji Netra Dahana. Apakah lawan-lawan Kakang Rangga, tidak justru hancur menjadi debu kalau berhadapan dengan Kakang Rangga?”
“Memang benar Nyi, aji Kendali Sukma lebih dahsyat daripada aji Kendali Sukma. Akan tetapi, bukankah lawan Ki Rangga adalah orang yang berilmu tinggi? Lawannya tentu tidak tinggal diam jika Ki Rangga membenturkan aji Kendali Sukma. Selain itu Ki Rangga juga bisa mengukur seberapa kuat tenaga yang harus dibenturkan terhadap lawan-lawannya, agar lawannya itu tidak hancur menjadi debu.”
“Jika sudah sering melatihnya, Ki Rangga akan bisa mengira-ngira dan menakar hawa murni yang harus disalurkan untuk menghadapi lawannya. Selain itu, dalam pertempuran sangat jarang terjadi bahwa dua orang yang bertarung dengan serta merta langsung menuju ilmu puncaknya. Biasanya mereka sudah melakukan penjajakan dan mengetahui besarnya kekuatan hawa murni lawannya.–
Demikianlah setelah beristirahat sehari lagi, maka Ki Rangga Agung Sedayu pada keesokan harinya telah berangkat ke barak pasukan khusus. Para senapatinya pun kemudian melaporkan segala perkembangan keadaan di barak pasukan khusus yang sudah hampir selesai pembangunannya itu.
Barak pasukan khusus setelah pembangunan barak tambahan selesai secara keseluruhan luasnya hampir tiga kali lipat luas barak semula. Hal itu karena para prajurit pasukan khusus berkuda yang ada di Ganjur akan ditarik ke barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh. Keadaan alam Tanah Perdikan Menoreh yang berbatu-batu dan berbukit-bukit itu memang merupakan tempat yang baik untuk tempat latihan berkuda itu. Bahkan tanah lapang yang cukup luas di depan barak itu, menjadi arena yang baik untuk perang gelar pasukan berkuda.
Sedangkan lokasi pasukan khusus berkuda di Ganjur, menurut Ki Patih Mandaraka akan digunakan sebagai kawah candradimuka bagi pasukan Mataram secara keseluruhan. Lokasi di Ganjur akan dijadikan lokasi pendadaran dan penempaan para pemuda dari seluruh wilayah Mataram yang ingin menjadi prajurit.
Bahkan Ganjur dan juga barak pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh yang terletak tidak jauh dari sungai Praga yang cukup lebar itu, kini memanfaatkan kali Praga sebagai lokasi penempaan prajurit. Para calon prajurit sekarang dipersyaratkan untuk bisa berenang dan menyelam.
Calon prajurit yang hendak maju dalam pendadaran, diharuskan berlomba berenang dan menyelam menyeberangi sungai Praga. Namun ada saja calon prajurit yang tidak kuat napasnya untuk menyeberangi sungai Praga, sehingga para senapati yang mengawasi calon prajurit dari atas rakit segera meloncat terjun ke air untuk menyelamatkan calon prajurit yang gagal itu.
Bagi calon prajurit yang bisa menempuh setengah lebar sungai Praga, mereka masih mendapat kesempatan untuk lulus percobaan dalam pendadaran selama tiga bulan. Dengan catatan bahwa ia harus berlatih berenang dan menyelam setiap pekan dua kali. Namun bagi calon prajurit yang tidak bisa mencapai setengah lebar sungai, maka mereka harus mengikuti pendadaran pada musim pendadaran berikutnya.
Sungai Praga yang cukup lebar dan berarus sangat deras di musim penghujan itu benar-benar menjadi arena pembajaan diri. Bahkan Ki Rangga secara khusus pula telah sering memanfaatkan sungai Praga sebagai tempat latihan bagi pasukannya.
Ki Rangga Agung Sedayu yang pada masa anak-anaknya adalah seorang penakut bahkan terhadap arus sungai pun tidak berani, telah menyempatkan diri untuk berlatih berenang dan menyelam di sungai Praga. Karena mempunyai tenaga dalam yang demikian besar maka Ki Rangga dapat berenang dengan cepat dan bahkan dapat menyelam paling lama.
Namun Ki Rangga bukan hanya berlatih berenang dan menyelam, melainkan dengan bekal ilmu meringankan tubuhnya ia mencoba melintasi sungai itu.
Dengan sebuah bakiak yang agak lebar dari kayu sengon yang ringan karena sudah kering, Ki Rangga dengan cepat bisa berjalan bahkan berlari seolah-olah menapak di atas tanah pada permukaan air.
Bersama beberapa orang senapatinya yang sudah mempunyai dasar-dasar ilmu meringankan tubuh, dua pekan sekali Ki Rangga mengajak mereka berkejaran di atas permukaan air. Ki Rangga mampu menyeberangi sungai yang sangat lebar itu dalam waktu kurang dari sepenginang. Namun tidak ada air setetes pun yang tepercik pada baju Ki Rangga, karena ilmunya yang sudah mendekati sempurna.
“Yang Maha Sempurna adalah Yang Maha Agung”kata Ki Rangga kepada seorang senapatinya yang terkagum-kagum dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Dari pengalaman berlatih di atas permukaan air itulah timbul gagasan Ki Rangga Agung Sedayu untuk mengembangkan armada laut Mataram. Karena betapapun Mataram adalah terletak di bentangan kepulauan yang menyebar bak ratna mutu manikam di atas persada nusantara.
Ketika gagasan itu disampaikan kepada Ki Patih Mandaraka, maka Ki Patih yang sudah semakin tua dan sakit-sakitan itu pun menanggapinya dengan baik.
“Sungguh gagasan yang sangat baik Ki Rangga. Aku akan menyampaikannya kepada Pangeran Purbaya dan Panembahan Hanyakrawati”kata Ki Patih yang suatu ketika menerimanya di serambi kanan Istana Kepatihan.
Demikianlah setelah menerima Ki Rangga Agung Sedayu, Ki Patih Mandaraka pun menghadap ke paseban dalam meskipun hari itu tidak ada pisowanan. Ki Patih pun menjelaskan kepada Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya mengenai gagasan Ki Rangga Agung Sedayu untuk membangun armada laut Mataram yang kuat.
Mataram menurut Ki Rangga dapat membangun armada kapal perangnya di pantai Karang Tumaritis yang terletak di muara sungai Praga pada sisi selatan Mataram. Memang laut Selatan terkenal keganasannya, namun dengan mengambil tempat berlatih yang keras seperti itu akan bisa teruji ketangguhan armada laut Mataram.
Ternyata laporan Ki Patih Mandaraka itu mendapat sambutan yang baik dari Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya. Gagasan Ki Rangga yang disampaikan Ki Patih kepada kedua pemimpin tertinggi Mataram itu ternyata segera mendapat jawaban. Kesatuan dalam pasukan khusus itu pun kemudian ditambah dengan satu kesatuan lagi. Kesatuan armada laut.
Selain menyelesaikan perluasan dan pembangunan barak, Ki Rangga Agung Sedayu kini bahkan mendapat tugas tambahan untuk membangun lima puluh kapal jung untuk tahap pertama. Sedangkan prajurit pasukan khusus yang bisa berenang cepat dan memiliki ilmu meringankan tubuh mulai dipilah dan dipilih untuk ditempatkan dalam kesatuan armada laut.
Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya pun tidak tanggung-tanggung pula dalam menerima gagasan itu. Petinggi Mataram itupun segera menurunkan dana awal bagi pembangunan kekuatan armada laut Mataram.
Untuk memudahkan dalam pembuatan kapal armada laut Mataram, maka Ki Rangga Agung Sedayu yang mendapat tugas tambahan ketika baraknya hampir selesai, telah memilih satu tempat di tepi sungai Praga yang mudah dicapai dari Tanah Perdikan Menoreh sebagai bengkel kerja pembuatan kapal jung armada laut itu. Namun tempat itu sengaja dipilih yang tidak mengganggu jalur penyeberangan sungai dengan rakit antara Tanah Perdikan dan Mataram.
Namun Ki Rangga Agung Sedayu tidak secara langsung membuat lima puluh perahu tersebut. Sebagai langkah awal, maka Ki Rangga telah membuat gambar rencana perahu yang harus dibuat oleh para tukang kayu dan sungging itu. Sesuai dengan keahliannya untuk menggambar, maka Ki Rangga telah membuat gambar rencana itu sedemikian baiknya. Gambar perahu yang digambarnya nampak kokoh dengan sepasang cadik yang melengkung pada kedua sisinya.
Dengan adanya cadik itu, maka perahu itu tidak mudah oleng dalam pelayarannya melintasi laut dan samudera. Di tengah-tengah perahu itu dipasang tiang layar yang tinggi. Jika layar tersebut terkembang, maka kapal dari armada laut Mataram itu akan mampu menangkap kekuatan angin yang besar untuk mendorong perahu tersebut mengarungi lautan. Dengan permainan tali temali yang tidak begitu rumit, maka perahu tersebut dapat diarahkan bahkan melawan arus angin itu sendiri.
Jika angin bergerak ke Timur, maka dengan permainan tali temali layar, kapal tersebut dapat diarahkan bergerak ke Barat. Apalagi sebaliknya, jika searah dengan angin maka kecepatan kapal itu dalam meluncur di atas air kian cepat.
Di tengah-tengah lambung kapal di kiri-kanannya dibuat beberapa lubang untuk menurunkan dayung. Dayung itu berguna untuk mendorong perahu ketika baru siap keluar dari bengkelnya di tepian Sungai Praga menuju ke pangkalannya di pantai Tumaritis di tepian Laut Selatan.
Geladak kapal itu pun dibuat bertingkat dua, satu geladak sebagai ruang dayung bagi awak kapal, sedangkan geladak kedua sebagai tempat beristirahat bagi awak kapal yang tidak mendapat tugas mendayung atau mengawasi layar.
Sedangkan di atas geladak kedua ada lagi atap yang sekaligus sebagai tempat pemantauan situasi di sekitar perahu.
Di atas tiang layar disediakan pula semacam rumah monyet yang menjadi tempat bagi para pengawas yang bergantian naik melalui tangga untuk dapat melihat pada jarak pandang yang lebih jauh. Di atas puncak tiang layar itu, diikatkan bendera pertanda kebesaran pasukan armada laut Mataram.
Demikianlah, ketika Ki Rangga Agung Sedayu yang mempunyai keahlian menggambar itu telah menyelesaikan gambar rencananya, maka gambar rencana itupun ditunjukkannya kepada Sekar Mirah, Kiai Jayaraga dan Sukra. Mereka mengagumi gambar rencana yang dibuat oleh Ki Rangga Agung Sedayu.
Ki Rangga Agung Sedayu memang mempunyai keahlian khusus dalam menggambar. Ketika ia berseteru dengan Sidanti di Sangkal Putung pada waktu masih muda, Ki Rangga itu berlatih silat dengan cara yang aneh. Agung Sedayu ketika itu meminta lembaran-lembaran daun rontal dari pamannya Ki Widura yang menjadi Senapati Pajang di Sangkal Putung.
Di atas lembaran-lembaran daun rontal itulah Agung Sedayu menuangkan gagasannya berupa jurus-jurus silat yang rumit dan aneh. Ternyata keahliannya menggambar itu kembali berguna dalam merancang gambar kapal dari armada laut Mataram itu.
Kiai Jayaraga merasa heran juga, karena setahunya Ki Rangga Agung Sedayu belum pernah melintasi laut. Namun Ki Rangga mampu membayangkan gambar rencana perahu seperti yang pernah dilihatnya. Kiai Jayaraga memang telah berulangkali menumpang perahu untuk mengejar keempat anak muridnya yang menjadi perompak di lautan yang luas.
Pada beberapa bagiannya, Kiai Jayaraga sempat memberikan masukan kepada Ki Rangga Agung Sedayu agar antara geladak pertama dan geladak kedua dibuat jarak agak renggang, sehingga para awak kapal yang sedang beristirahat atau bertugas mendayung mendapat tempat yang lebih lega.
Kiai Jayaraga juga menyarankan agar di sekeliling tepi geladak paling atas yang bisa menjadi tempat berkumpul para awak kapal sebelum turun ke darat, diberi berpagar. Lalu sebagai tempat turun naik awak kapal dibuatkan tangga yang akan memudahkan para awak kapal itu dalam melintas.
Kiai Jayaraga menyarankan agar tangga dari kayu tersebut disiapkan pada kedua sisinya, sehingga akan lebih memudahkan untuk turun ketika kapal itu merapat ke darat.
Ketika kapal merapat ke darat dengan lambung kiri, maka para awak kapal tidak perlu lagi memindahkan tangga itu dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Tetapi awak kapal tinggal menurunkan tangga dari sisi yang terdekat ke darat.
Sebelum kapal jung armada laut tersebut benar-benar mulai dibangun, Ki Rangga telah menghadap Ki Patih Mandaraka di Istana Kepatihan. Dengan diiringkan oleh dua orang lurah prajurit, sebelum matahari sepenggalah Ki Rangga telah sampai di regol Istana Kepatihan. Mereka pun segera turun dari kudanya yang tegar dan memasuki Istana itu setelah menyerahkan kendali kuda itu kepada prajurit yang sedang jaga di regol.
“Selamat pagi Ki Rangga. Pagi-pagi benar Ki Rangga telah sampai di Istana Kepatihan”kata seorang lurah prajurit jaga yang telah mengenal dengan baik Ki Rangga karena sering bertemu dalam berbagai perang besar.
“Selamat pagi Ki Lurah Wirasentanu”kata Ki Rangga pula sambil tersenyum.”Kami berangkat pagi-pagi benar dari Tanah Perdikan Menoreh”
“Silakan Ki Rangga masuk, biar aku antarkan kepada narpacundaka yang bertugas di dalam.”
“Terima kasih Ki Lurah”kata Ki Rangga Agung Sedayu mengikuti lurah prajurit itu masuk ke dalam Istana Kepatihan. Lurah prajurit itupun menyampaikan bahwa Ki Rangga Agung Sedayu hendak menghadap Ki Patih Mandaraka.
“Baiklah. Perintahkan Ki Rangga Agung Sedayu menunggu di serambi kanan”kata Ki Patih kepada narpacundaka itu. Setelah berbenah sejenak, maka Ki Patih yang sudah sangat lanjut usia, namun mendapat anugerah pikiran yang jernih itu pun segera datang ke serambi kanan.
Setelah saling menanyakan kesehatan dan keselamatan masing-masing, maka Ki Patih dengan sungguh-sungguh memperhatikan penjelasan Ki Rangga Agung Sedayu mengenai bentuk kapal dari armada laut Mataram yang sudah dirancangnya. Ki Patih Mandaraka terlihat mengangguk-angguk dan menjadi kagum melihat gambar rencana perahu yang dibuat Ki Rangga.
“Siapakah yang menggambar kapal ini Ki Rangga?”tanya Ki Patih Mandaraka sambil tersenyum gembira.
“Hamba sendiri Ki Patih”kata Ki Rangga sambil menundukkan kepalanya.
Ki Patih Mandaraka masih tersenyum, berkata”Seharusnya Ki Rangga menjadi pelukis Istana. Tentu Panembahan Hanyakrawati senang melihat lukisan Ki Rangga.”
“Hahaha. Ki Patih bisa saja. Kalau hamba menjadi pelukis Istana siapakah yang mengurus pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan dan siapakah yang akan merencanakan pembangunan armada laut Mataram?”
Ki Patih Mandaraka pun tertawa pula sambil mengangguk-angguk.
“Ternyata Ki Rangga mempunyai berbagai keahlian yang tidak dimiliki bahkan oleh para Tumenggung lainnya di Mataram”
Ki Rangga Agung Sedayu pun hanya menundukkan kepalanya. Namun ia tidak berani menanyakan kepada Ki Patih Mandaraka mengapa pangkatnya masih saja hanya sebatas seorang Rangga. Padahal prajurit yang sama-sama dengan dirinya memasuki dunia keprajuritan sudah menjadi Panji bahkan ada pula yang sudah menjadi Tumenggung. Ki Rangga sempat menyadari bahwa keragu-raguan hatinya untuk menjadi prajurit pada awal pembentukan Pasukan Khusus bersama Ki Lurah Branjangan dulu, yang menunda kesiapannya menjadi prajurit.
“Baiklah Ki Rangga. Marilah kita menghadap wayah Panembahan di Istana. Kebetulan tadi aku juga sudah mendapat laporan bahwa Pangeran Purbaya sedang berada di Istana”
Walaupun Istana Mataram dan Istana Kepatihan berjarak tidak terlalu jauh, namun mereka memilih berkuda untuk pergi ke Istana. Karena Ki Patih Mandaraka sudah terlalu sepuh, sehingga sudah tidak kuat lagi untuk berjalan kaki ke Istana. Bahkan untuk menaiki kudanya pun Ki Patih Mandaraka dibantu pula oleh Ki Rangga dan seorang prajurit di pendapa Istana Kepatihan. Setelah Ki Patih menaiki kudanya maka Ki Rangga Agung Sedayu mengambil kudanya sendiri di regol, lalu mengiringi Ki Patih Mandaraka menuju Istana Mataram.
Petugas jaga yang berada di regol itupun segera mempersilakan Ki Patih Mandaraka berkuda sampai pendapa istana. Dua orang prajurit yang sedang bertugas di pendapa segera membantu Ki Patih untuk turun dari kudanya yang sangat tinggi tegar itu. Ki Rangga Agung Sedayu segera meloncat turun ketika akan memasuki Istana dan menyerahkan kudanya kepada petugas jaga di regol.
“Silakan Ki Rangga”kata petugas itu yang sudah melihat bahwa Ki Rangga datang bersama Ki Patih Mandaraka. Ki Rangga Agung Sedayu pun segera berjalan menuju pendapa mendekati Ki Patih yang sedang menantinya.
“Marilah Ki Rangga. Aku sudah menyampaikan kepada narpacundaka bahwa kita akan menghadap Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya”
Demikianlah Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga Agung Sedayu pun diterima Panembahan Hanyakrawati yang didampingi oleh Pangeran Purbaya di paseban dalam. Hari itu memang tidak ada pisowanan. Panembahan Hanyakrawati pun kemudian menanyakan kesehatan dan keselamatan Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga Agung Sedayu serta keluarga di Tanah Perdikan Menoreh.
“Ampun Panembahan. Pangabekti kami sampaikan kepada Panembahan dan Pangeran. Berkat doa Panembahan dan Pangeran, keadaan kami di Tanah Perdikan Menoreh dalam lindungan yang Maha Agung. Semoga demikian pula hendaknya keadaan Istana Mataram dan seluruh wilayah yang dalam perlindungannya.”
“Pangabektimu aku terima Ki Rangga”ujar Panemabahan Hanyakrawati.”Apakah ada hal yang penting hendak kau laporkan kepadaku?”
“Ampun Panembahan, kehadiran hamba bersama Ki Patih Mandaraka adalah untuk melaporkan rencana persiapan pembangunan armada laut Mataram”kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil mengeluarkan satu ikat rontal yang disimpan di dalam kampil yang dibawanya di pinggangnya. Ki Rangga pun kemudian membuka kampil dan mengeluarkan rontal-rontal itu.
“Kemarilah. Mendekatlah Ki Rangga”ujar Panembahan Hanyakrawati yang ingin melihat lebih jelas gambar rencana pembangunan kapal jung armada laut Mataram yang dilengkapi dengan pelabuhan di pantai Tumaritis dan dermaga di tepi sungai Praga yang terletak di dekat rencana bengkel pembuatan kapal itu.
Ki Rangga Agung Sedayu pun segera menjelaskan berbagai tahapan dalam pembangunan kapal armada laut Mataram. Sebelum pembangunan tahap pertama lima puluh kapal dimulai, maka Ki Rangga Agung Sedayu akan membuat satu kapal jung dulu sebagai contoh.
“Tentu Panembahan nanti dapat memberikan kritik dan saran-saran atas kapal contoh itu, sebelum pembangunan tahap pertama dimulai”
Ki Rangga Agung Sedayu menjelaskan bahwa untuk kapal contoh itu, ia telah memilih pohon jati yang bisa ditebang di alas Mentaok. Sedangkan untuk pembangunan kapal jung armada laut tahap pertama tentu membutuhkan pohon jati yang lebih banyak lagi.
“Ampun Panembahan, untuk pembangunan armada laut tahap pertama sebanyak lima puluh kapal jung nanti kami mohon izin untuk menebang pohon jati lebih banyak lagi. Pembuatan bengkel kerja tempat pembangunan kapal jung dan dermaga itu sudah siap. Kami sudah menebang satu pohon jati yang cukup besar untuk bahan pembuatan kapal jung contoh. Setelah izin kami peroleh kami segera menebang lima puluh pohon lainnya untuk kapal-kapal jung itu.”
“Baiklah Ki Rangga. Segera laksanakan pembangunan kapal jung armada laut itu. Segala sesuatu untuk keperluan pembangunan kapal jung itu, kau dapat menghubungi Pangeran Purbaya. Namun di bagian buritan kapal jung, aku minta disediakan tempat untuk tiga sampai lima ekor kuda beserta kelengkapannya. Ki Rangga dapat menggeser bilik pada gambar itu, atau memperbesar kapal jung sehingga selain memuat pasukan armada laut juga bisa membawa tiga sampai lima ekor kuda–
“Aku juga minta dibuatkan kapal sekoci yang cukup untuk menaikkan dan menurunkan awak kapal, kalau kapal jung tidak bisa merapat ke darat. Selain itu perlu pula dibuat kapal jung penunggahan yaitu kapal jung yang berfungsi sebagai dapur bagi kapal-kapal yang lain. Pada setiap empat kapal jung, akan dilayani oleh satu kapal jung penunggahan. Jadi pada setiap kelompok kapal jung yang terdiri dari lima kapal, maka empat di antaranya mengangkut pasukan dan satu kapal jung berfungsi sebagai kapal jung penunggahan.”
“Jika demikian hamba akan memperbesar ukuran kapal jung, agar bisa memuat selain pasukan juga tiga sampai lima ekor kuda beserta kelengkapannya. Kemudian merancang sekoci dan kapal jung penunggahan yang berfungsi sebagai dapur terapung dengan segala kelengkapannya”
“Baiklah Ki Rangga. Dalam laporan berikutnya, aku ingin mendengar bahwa kapal jung contoh dan kapal jung penunggahan itu sudah jadi–
“Sendika dawuh Gusti Panembahan. Amanat Gusti siap kami laksanakan.”
“Oh Ya Ki Rangga, satu hal lagi. Aku malu melihat kemampuan olah kanuraganmu yang sangat tinggi dalam peperangan yang terakhir di Demak, jasa-jasamu, kesetiaanmu serta pemikiranmu yang luar biasa mengenai pembangunan kapal jung untuk armada laut Mataram. Padahal kau masih saja berpangkat Rangga. Dalam pembicaraanku dengan Pangeran Purbaya, kami tadi sedang membicarakan segala pengabdianmu selama ini. Kebetulan sekali kau datang kemari sekarang”kata Panembahan sambil terdiam sejenak.
“Dalam perbincangan tadi kami telah memutuskan bahwa dalam Paseban Agung bulan berikutnya, aku akan mewisudamu menjadi Panji. Segala sesuatunya akan disiapkan oleh Ki Patih dan Pangeran Purbaya. Sambil menunggu serat kekancingan, maka kau sudah boleh mulai pembangunan kapal jung contoh itu. Aku sendiri yang akan meluncurkan kapal jung contoh itu setelah jadi nanti.”
“Sendika dawuh Gusti Panembahan. Segala amanat siap kami laksanakan. Hamba juga mengucapkan beribu terima kasih kepada Gusti Panembahan dan Gusti Pangeran yang telah memberi kepercayaan dan penghargaan kepada Hamba dan keluarga hamba”
“Oh ya. Karena Pantai Tumaritis mempunyai gelombang yang besar, sehingga kurang menguntungkan untuk kapal jung armada laut kita merapat, maka pelabuhan di Pantai Tumaritis itu hanya bersifat sementara. Mataram akan menempatkan armada laut itu di Kadipaten Demak. Karena gelombang di pantai Demak tidak begitu besar dan aku sering mendapat laporan bahwa perompak banyak yang merugikan dan meresahkan nelayan di pantai Utara.”
“Jika kapal itu sebagian sudah mulai jadi, maka tugas berikutnya adalah membangun pelabuhan di Kadipaten Demak. Pangeran Purbaya kelak akan mengirimkan penghubung ke Kadipaten Demak untuk menyampaikan perintahku untuk membangun pelabuhan itu.”
“Baik Angger Panembahan, segala perintah akan hamba laksanakan”kata Pangeran Purbaya.
“Jika kapal-kapal jung itu sudah jadi dan pelabuhan di Kadipaten Demak juga sudah jadi, maka tugas armada laut itu adalah memindahkan kapal jung dari pantai Tumaritis ke pelabuhan di kadipaten Demak dengan mengitari Bang Wetan, ke utara lalu ke Barat. Menuju Demak. Jika dalam perjalanan kapal jung itu nanti ditemukan perompak, maka malang-malang putung, rawe-rawe rantas. Adalah tugas armada laut itu untuk membersihkan para perompak yang merugikan para nelayan di wilayah kita.”
“Sendika dawuh Gusti. Segala amanat akan kami laksanakan”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga Agung Sedayu pun segera mohon diri kepada Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya untuk kembali ke Istana Kepatihan. Ketika Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga Agung Sedayu telah sampai di Istana Kepatihan, maka Ki Patih pun segera mempersilakan Ki Rangga dan dua orang lurah prajurit yang mendampinginya untuk beristirahat dan makan siang meskipun agak terlambat karena sang mentari sudah jauh condong ke Barat.
Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga Agung Sedayu pun sempat berbincang sejenak sambil menanti pelayan di Istana Kepatihan mempersiapkan makan siang.
“Aku mengucapkan selamat Ki Rangga, karena agaknya angger Panembahan dan Pangeran Purbaya agaknya tidak melupakan nasib Ki Rangga dan keluarga dalam bidang pengabdian sebagai prajurit Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh”
“Hamba dan keluarga mengucapkan terima kasih kepada Ki Patih Mandaraka. Tanpa masukan dari Ki Patih, tentu para petinggi Mataram tidak akan pernah mengambil keputusan demikian.”
Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk.
“Aku juga berterima kasih atas jasa, pengabdian dan kesetiaanmu kepada Mataram. Kau, mendiang gurumu Kiai Gringsing, Tanah Perdikan Menoreh dan segala isinya serta Pasukan Khusus Mataram di Tanah Perdikan yang kau ikut pula membangunnya. Aku kira kenaikan pangkat itu wajar, meskipun masih agak terlambat”ujar Ki Patih Mandaraka sambil melanjutkan .
“Orang-orang terdekatmu seperti Ki Tumenggung Untara, Ki Swandaru yang anak Demang Sangkal Putung, Ki Widura yang pernah menjadi Senapati di Jati Anom dan kini memimpin Padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing merupakan saka guru pertama berdiri tegaknya Kerajaan Mataram bahkan sampai sekarang. Begitu pula Glagah Putih dan Rara Wulan, meskipun masih muda mereka telah ikut berperan menegakkan Kerajaan Mataram. Mereka bahu membahu membangun Mataram ini sejak membabat Alas Mentaok sampai berkembang pesat seperti sekarang. Semua ini tidak terlepas dari jasa-jasamu dan orang-orang terdekatmu”kata Ki Patih pula.
“Bahkan dalam saat-saat kritis seperti dalam perang dengan Madiun, Pajang dan Demak, justru kau menjadi penentu dalam perang itu. Rasanya tidak adil jika kau tidak mendapat anugerah atas segala jasa dan pengabdianmu.”ujarnya lagi.
Ki Rangga Agung Sedayu hanya menunduk dan termangu-mangu, ketika semua jasa dan pengabdian dirinya dan orang-orang terdekatnya disebut-sebut oleh Ki Patih Mandaraka.
Pembicaraan mereka pun terhenti sejenak ketika seorang pelayan dalam menyampaikan kepada mereka bahwa santap siang telah siap di ruang dalam.
“Marilah Ki Rangga”kata Ki Patih mempersilakan makan setelah pelayan itu menyampaikan kesiapan makanan di ruang dalam.
Ketika Ki Patih Mandaraka mulai menyendok nasi putih yang pulen, Ki Rangga Agung Sedayu pun memperhatikan Ki Patih hanya menyendok satu sendok nasi saja ke dalam piringnya. Ki Patih pun mengambil lauknya berupa tahu tempe, sayur daun lembayung dan sepotong ikan gurami.
“Ki Patih makan sedikit sekali”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Orang-orang seumurku, sudah tidak banyak lagi bisa mengisi perutnya. Berbeda dengan ketika aku masih semudamu, atau bahkan waktu masih lebih muda lagi, aku bisa makan tiga piring nasi jagung”kata Ki Patih sambil tersenyum.
” Ki Patih ketika zaman susah bisa makan tiga piring, tapi setelah mukti menjadi Patih Mataram justru tidak bisa makan banyak lagi. Bahkan banyak pantangan”kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil tersenyum menggoda.
“Yah itulah karena faktor usia. Apalagi kemampuan kewadaganku sudah tidak mendukung lagi. Aku senang melihat kau masih bisa makan dua-tiga piring nasi dan lauk pauknya”
“Hahaha. Ki Patih bisa saja. Kalau aku bisa makan dua tiga piring, tentu aku bisa segemuk adi Swandaru.”
Ki Patih pun tertawa.
“Oh ya Ki Patih. Hamba juga menyampaikan kabar gembira bahwa istri hamba Sekar Mirah sudah mulai isi dalam arti mengandung. Hamba mohon doa restu dari Ki Patih agar kandungan Sekar Mirah selamat dan kelak lahir jabang bayi yang sehat dan selamat dari rahimnya.”
“Oh ya. Kabar itu tentu saja sangat menggembirakan. Aku gembira bahwa kelak akan ada generasi penerusmu yang tentu saja aku harapkan akan bisa menjadi benteng-benteng Mataram di masa depan. Karena itu aku minta agar kau menjaga hati dan kesehatan istrimu. Karena dalam kondisi mengandung begitu biasanya ada saja permintaannya yang aneh-aneh. Orang sering menyebutnya sebagai wanita yang sedang ngidam.”
“Ketika istriku mengandung anakku yang pertama, ia minta ikan sembilang. Ikan yang bentuknya seperti belut itu hidup di laut, dan agak sulit diperoleh. Aku sampai mencarinya kepada nelayan yang baru turun melaut. Ketika itu aku masih bertugas di Pajang, sehingga tidak terlalu jauh dari pantai. Ikan itu rasanya gurih jika dibakar, lalu diberi bumbu pecel. Tetapi mendiang istriku lebih suka ikan itu disayur dan diberi bumbu rempah-rempah lengkap berupa bumbu kuning. Memang rasanya gurih sekali.–
“Alangkah enaknya ikan sembilang dibumbu kuning”gumam Ki Rangga Agung Sedayu.
“Enak. Enak. Gurih sekali. Aku yakin kau bisa makan nasi tiga piring nasi untuk menemani makan seekor ikan sembilang. Apalagi kalau diberi bumbu kuning yang pedas”
“Hahaha. Ki Patih bisa saja”
“Hahaha. Kalau kau malam ini bermalam di Kepatihan, aku akan menyuguhkan ikan sembilang bumbu kuning kepadamu. Aku akan memerintahkan pelayan dalam untuk mencari ikan sembilang sampai dapat dan memberinya bumbu kuning pedas. Sebagian kita makan di sini dan sebagian lagi bisa kau bawa pulang untuk istrimu di rumah.”
“Wah sungguh suatu tawaran yang sangat sulit untuk hamba tolak”kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil meneguk liur di kerongkongannya. Ki Patih hanya tersenyum mendengar jawabannya.
“Nah kalau demikian, aku akan memerintahkan pelayan dalam untuk menyiapkan tempat tidurmu di gandok kiri.”
Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu dan pengiringnya pun malam itu menginap di Istana Kepatihan. Sebelum tidur Ki Rangga pergi ke pakiwan dan mengambil air untuk sesuci. Ia pun segera bersujud menghadap Yang Maha Agung dan mengucapkan puji syukur bahwa ia dan keluarganya mendapat anugerah kesehatan dan keselamatan serta anugerah lainnya yang berlimpah, termasuk kenaikan pangkatnya dari Panembahan Hanyakrawati. Setelah itu ia berbaring dan mulai terlelap ke dalam mimpinya. Selapis senyum tipis menyungging di bibirnya.
Keesokan harinya, Ki Rangga Agung Sedayu terbangun ketika fajar mulai menyingsing. Setelah ke pakiwan untuk mandi dan sesuci serta menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, Ki Rangga berjalan-jalan ke halaman. Dilihatnya Ki Patih Mandaraka sudah berjalan-jalan dengan sebatang tongkat setinggi pinggangnya. Gagang tongkat itu menekuk siku pada ujungnya yang tidak lebih dari sejengkal panjangnya. Pada ujung tekukan siku itu, terukir seekor naga raja dengan sunggingan yang halus.
“Tongkat Ki Patih bagus sekali”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Yah beginilah kalau kelak kau sudah setua aku. Ke mana-mana harus membawa tongkat. Kakiku sudah tidak dua lagi, tapi sudah bertambah menjadi tiga.”kata Ki Patih sambil tersenyum.
“Meskipun aku tidak memerlukannya, tongkat ini juga mempunyai fungsi yang lain”
“Apakah fungsi itu Ki Patih?”
“Ini”kata Ki Patih sambil menarik ujung dan pangkal tongkat itu. Tongkat itupun terpisah menjadi dua, satu berupa pedang tipis yang keluar dari wrangkanya dan satu lagi wrangkanya itu sendiri.
Pedang tipis itu pun ternyata bukan pedang sembarangan. Bilahnya yang lentur ternyata mempunyai pamor yang sangat baik.
“Pamor wos wutah”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Ya. Pamor wos wutah”kata Ki Patih Mandaraka.
“Aku mempunyai sepasang tongkat yang berisi pedang tipis di dalamnya. Aku ingin memberikannya salah satu kepadamu. Tongkat yang satunya lagi dengan pedang di dalamnya memiliki pamor udan mas. Kau boleh memilih salah satunya.”
“Wah, wah. Kedatangan hamba ke Mataram kali ini agaknya penuh dengan berkah. Bermimpi apa hamba sebelumnya. Kemarin Gusti Panembahan Hanyakrawati menganugerahkan kenaikan pangkat hamba. Dan hari ini Ki Patih memberi sebuah tongkat dengan pedang tipis berpamor udan mas. Terima kasih. Terima kasih Ki Patih”
Perbincangan mereka terputus sejenak ketika seorang pelayan dalam memberitahukan bahwa sarapan dengan ikan sembilang dibumbu kuning telah siap.
“Marilah Ki Rangga”kata Ki Patih Mandaraka sambil berjalan tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya. Ki Rangga Agung Sedayu berjalan pula pelan-pelan di sampingnya.
Mereka pun segera masuk ke ruang dalam dan duduk di depan meja yang sudah digelar hidangan nasi putih pulen dan ikan sembilang dibumbu kuning. Selain air putih telah pula disediakan wedang jahe dan buah-buahan sebagai pencuci mulut.
Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak di pendapa, Ki Rangga pun mohon pamit untuk kembali ke Tanah Perdikan.
“Tunggu sebentar”kata Ki Patih Mandaraka sambil berjalan menuju ke ruang tidurnya. Dari sebuah gapit di dinding, diraihnya sebuah tongkat yang serupa dengan tongkat yang dipakainya. Lalu Ki Patih Mandaraka berjalan keluar dengan membawa dua buah tongkat. Satu tongkat berwarna hitam yang dipakainya tadi dan sebuah lagi tongkat berwarna putih kekuning-kuningan di tangannya yang lain.
“Inilah tongkat yang aku katakan tadi”kata Ki Patih sambil meletakkan tongkat hitam di atas tikar pandan lalu menarik ujung dan pangkal tongkat yang berwarna putih kekuning-kuningan.
“Lihatlah pamornya. Udan mas”kata Ki Patih sambil mengangsurkan tongkat yang menjadi pedang tipis dan wrangkanya.
“Dari kayu cendana”desis Ki Rangga Agung Sedayu ketika menempelkan hidungnya pada wrangka pedang tipis itu. Sedangkan gagangnya terbuat dari gading berukir kepala nagaraja..
“Ya. Kayu cendana. Kayu itu aku peroleh dari seorang pedagang wesi aji yang berkelana sampai pulau yang jauh di timur tanah ini. Mereka menyebutnya Pulau Timor. Aku lalu teringat akan bilah pedang tipis yang belum ada wrangkanya. Maka aku perintahkan tukang sungging untuk membuat wrangka itu. Sedangkan tongkat yang berwarna hitam ini aku dapat lebih dulu kayunya dari pedagang yang sama ketika ia sebelumnya merantau ke Borneo. Pedagang itu menyebutnya dengan kayu eben”
“Nah kau boleh memilih yang mana kau suka, Ki Rangga”
“Terserah Ki Patih. Yang mana pun akan hamba terima dengan penuh rasa syukur”
“Aku suka yang berwarna hitam ini. Jadi kau aku beri yang berwarna putih kekuning-kuningan ini saja”
“Sekali lagi hamba mengucapkan terima kasih”
Ketika Ki Rangga Agung Sedayu sekali lagi meminta diri, Ki Patih Mandaraka memanggil pelayan dalam yang sudah menyiapkan bungkusan ikan sembilang untuk Sekar Mirah dan penghuni rumah Ki Rangga Agung Sedayu di Tanah Perdikan Menoreh. Ki Rangga menggantungkan bungkusan itu pada pelana kudanya.
Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian berkuda beriringan dengan pengikutnya menuju Sungai Praga, menyeberang dengan rakit dan mereka tiba di Tanah Perdikan ketika matahari berada di puncak langit.
Ki Rangga Agung Sedayu pun menyerahkan bungkusan daun pisang yang berisi ikan sembilang dibumbui dengan bumbu kuning itu kepada istrinya. Mereka pun mengajak Kiai Jayaraga dan Sukra yang sedang ada di rumah untuk makan dengan ikan sembilang itu selain masakan yang dibuat Sekar Mirah.
Setelah selesai makan Ki Rangga Agung Sedayu pun menunjukkan tongkat bergagang kepala nagaraja itu kepada istrinya, Kiai Jayaraga dan Sukra. Namun ia tidak menceriterakan tentang rencana wisuda kenaikan pangkatnya kepada mereka. Ia ingin membuat kejutan.
“Ikan sembilang dan tongkat ini pemberian Ki Patih Mandaraka”kata Ki Rangga Agung Sedayu.
“Wah pantas enak sekali masakannya. Semula aku kira kakang membelinya dari kedai di pinggir jalan. Tapi masakan di kedai tidak seenak masakan ini. Masakan Istana Kepatihan, mana ada lawan”kata Sekar Mirah. Ki Rangga Agung Sedayu hanya tersenyum menanggapinya.
Kiai Jayaraga tertarik kepada tongkat bergagang kepala nagaraja itu.
“Tongkat yang bagus”katanya.
Ki Rangga Agung Sedayu pun mengulurkannya kepada Kiai Jayaraga. Kiai Jayaraga menempelkan tongkat itu di depan hidungnya. Tercium bau harum dari batang tongkat itu.
“Tongkat kayu cendana”katanya.
“Iya. Kayu cendana Kiai.–
“Tongkat ini mempunyai kegunaan lain Kiai”kata Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga mengambil tongkat itu dari tangan Kiai Jayaraga, menarik ujung dan pangkalnya, sehingga keluarlah pedang tipis itu lalu menjulurkannya kepada Kiai Jayaraga.
“Pamor udan mas”kata Kiai Jayaraga.
“Ya Kiai. Pamor udan mas”
Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian secara singkat menceriterakan perjalanannya ke Mataram untuk bertemu Ki Patih Mandaraka, Panembahan Hanyakrawati dan Pangeran Purbaya. Pada dasarnya mereka menerima rencana gambar kapal armada laut Mataram yang dirancang oleh Ki Rangga Agung Sedayu, dengan mengadakan perubahan di sana sini, termasuk memperbesar ukuran kapal jung agar dapat memuat tiga sampai lima ekor kuda dan kelengkapannya.
Para blandong telah pula mulai dikerahkan untuk menebang sebatang pohon jati yang tumbuh di Alas Mentaok atau Tambak Baya sebagai bahan baku pembuatan kapal jung itu. Mereka menandai pohon-pohon jati mana yang bisa ditebang untuk pembangunan kapal-kapal jung itu.
Para tukang kayu dan tukang sungging terbaik pun dikumpulkan untuk mulai membuat lima puluh perahu jung berukuran besar yang mampu memuat satu regu prajurit yang terdiri dari dua puluh lima hingga tiga puluh orang beserta perlengkapan persenjataannya.
Sebatang pohon jati yang dipilih itu adalah pohon yang sudah sangat tua bahkan berusia ratusan tahun, sehingga garis tengahnya sudah sebesar pemeluk lima laki-laki dewasa. Pohon yang besar itu pun segera ditebang, lalu dibelah-belah menjadi balok-balok kayu yang besar serta papan-papan yang besar dan tebal. Balok besar dan papan tebal itu pun lalu digotong beramai-ramai ke bengkel kerja.
Setelah sampai di tempat yang digunakan sebagai bengkel kerja, maka para tukang kayu dan tukang sungging itu pun mulailah membentuk rangka perahu. Mereka mempergunakan sistem pasak dan tiang dalam merekatkan gelagar dengan gelagar, balok dengan balok, balok dengan papan dan dan papan dengan papan.
Sebagai tiang layar telah dipilih cabang pohon jati itu yang cukup besar dan batangnya lurus, sedangkan sebagai lembaran layarnya telah pula mulai ditenun kain terpal dari serat rami yang kuat dan diawetkan sehingga tidak mudah lapuk.
Sementara Ki Rangga Agung Sedayu semakin sibuk dengan penyelesaian perluasan dan pembangunan barak tertutup, dan dilanjutkan dengan rencana pembangunan armada laut Mataram, di Jati Anom Ki Tumenggung Untara semakin sibuk dengan tugasnya dan kesibukan mengawasi puteranya. Wira Sanjaya.
“Wira Sanjaya ke mana Nyi”tanyanya kepada istrinya.
“Tadi ia pamitan kepadaku untuk pergi ke padepokan paman Widura bersama seorang temannya yang putera Ki Demang Jati Anom”kata istrinya.
“Kalau begitu aku akan menyusulnya ke sana. Aku ingin menitipkan Wira Sanjaya kepada paman Widura, agar anak itu digembleng dalam bidang olah kanuragan dan widya sastra”
“Baiklah kakang. Mumpung masih sore. Aku ingin titip buah-buah ini kepada paman Widura”kata istrinya sambil memasukkan ke dalam keranjang kecil buah-buahan berupa jambu air, belimbing dan sawo.
“Di padepokan juga sudah banyak buah”kata Ki Tumenggung Untara.
“Bukankan pemberianku ini merupakan bentuk perhatian seorang kemenakan kepada pamannya”kata istrinya.
“Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau paman Widura juga nanti menitipkan buah-buahan dari padepokan kepada kita.”
“Wah tentu aku dan paman Widura akan saling kirim-kiriman buah-buahan.”
Ki Tumenggung Untara tersenyum lalu keluar ke halaman depan, menggantungkan keranjang buah itu di pelana kudanya, melepas tali kendali lalu meloncat ke punggung kuda. Ia melambaikan tangannya dan menyentak tali kendali kudanya. Kuda tersebut pun berlari ke padepokan yang tidak terlalu jauh dari barak itu.
Ketika kudanya mencapai regol padepokan itu, maka Ki Tumenggung Untara turun dari kudanya. Seorang cantrik yang sedang berada di halaman depan segera menyambutnya.
“Apakah paman Widura ada di padepokan”tanya Ki Tumenggung Untara.
Belum lagi cantrik itu sempat menjawab, terdengar tertawa dari pendapa.
“Kemarilah angger Tumenggung. Pantaslah dari pagi burung perenjak tak putus-putusnya berbunyi di halaman padepokan ini. Agaknya ada tamu agung yang datang”kata Ki Widura sambil menyambut kemenakannya itu.
Di sanggar terbuka di bagian belakang padepokan, sekilas Ki Tumenggung Untara melihat anaknya Wira Sanjaya dan temannya itu sedang berlatih olah kanuragan dengan beberapa orang cantrik.
“Hahaha. Paman ada-ada saja. Mungkin burung prenjak itu sudah mencium bauku yang akan datang ke padepokan ini. Padahal aku datang kemari sama sekali tanpa rencana. Tiba-tiba saja aku ingin datang kemari dan langsung berangkat.”
” Aku senang sekali anakmas mau bertandang ke padepokan kecil ini”
“Bahkan istriku telah menitipkan sekeranjang buah-buahan untuk Paman Widura. Kalau pun dimakan bersama-sama oleh para cantrik, buah-buahan itu tidak cukup seorang mendapat satu buah”kata Ki Tumenggung sambil meminta seorang cantrik untuk membawa ke belakang sekeranjang buah yang tergantung di pelana kudanya.
“Hahaha. Nyi Tumenggung merepotkan diri saja. Baiklah. Nanti aku tugaskan cantrik untuk memetik buah yang ada di padepokan ini guna membalas titipan Nyi Tumenggung.”
Demikianlah mereka bersenda gurau sebagaimana layaknya dua orang kerabat yang telah lama tidak bertemu meskipun mereka dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh.
Ki Tumenggung pun kemudian menjelaskan mengenai maksud kedatangannya guna menitipkan anaknya Wira Sanjaya untuk mereguk ilmu olah kanuragan di padepokan kecil itu dari kakeknya. Ki Widura.
Ki Widura pun dengan senang hati menerima penjelasan mengenai maksud kedatangan kemenakannya itu yang kini sudah menjadi seorang Tumenggung. Ki Widura pun kemudian menceriterakan perjalanan pengelolaan padepokan kecil itu sepeninggal Kiai Gringsing. Jumlah cantrik padepokan itu kian banyak, meskipun Ki Widura memilih dan meneliti dengan amat hati-hati orang yang akan diterima oleh padepokan itu.
Meskipun Ki Widura bukan dari aliran perguruan Windujati, namun karena murid utama perguruan Orang Bercambuk yang lain semuanya mempunyai kesibukan masing-masing maka Ki Widura yang telah ditetapkan sebagai murid utama oleh Kiai Gringsing mendapat tugas untuk menangani padepokan itu.
Ketika menjelaskan itu, tiba-tiba Ki Widura teringat kepada aliran perguruan Ki Sadewa yang juga dikuasainya seperti halnya juga dikuasai oleh Ki Tumenggung Untara. Karena itu Ki Widura pun menerangkan bahwa telah sejak lama sebenarnya ia ingin menyampaikan kepada Ki Tumenggung Untara bahwa ada warisan ilmu yang harus dimantapkan oleh Ki Tumenggung Untara sebagai penerus perguruan Ki Sadewa.
Ki Widura pun kemudian menjelaskan bahwa aliran ilmu olah kanuragan Ki Sadewa itu terdapat di dalam sebuah gua yang terletak di tebing sungai tidak jauh dari padepokan itu.
“Bukankah gua itu tempatku bermain-main dahulu waktu kecil? Ayah pernah mengajakku untuk masuk ke dalamnya”kata Ki Tumenggung Untara.
“Benar anakmas. Di sanalah ilmu itu tersimpan. Agaknya kakang Sadewa sengaja mengajakmu ke sana agar kau dapat mengetahui bahwa di sana ada gudang ilmu. Sebagai salah seorang penerus perguruan Ki Sadewa, akupun sudah pernah masuk ke gua itu setelah angger Agung Sedayu menemukan guratan jurus-jurus ilmu olah kanuragan perguruan kita. Kalau tidak berkeberatan, akupun ingin agar anakmas pergi ke sana dan mempelajarinya.”
“Aku sibuk sekali paman”kata Ki Tumenggung Untara.
“Aku rasa anakmas tidak perlu berlama-lama mempelajarinya, karena anakmas sudah menguasai dasar-dasarnya. Aku kira anakmas dapat meninggalkan tugas sekitar tujuh hari sampai dua pekan. Selebihnya anakmas bisa menuntaskannya di rumah atau di padepokan ini.”
KI Tumenggung Untara termangu-mangu sejenak. Alih-alih ia ingin menitipkan anaknya Wira Sanjaya, justru Ki Widura memintanya meningkatkan ilmu yang dikuasainya di dalam gua itu.
Meskipun ketika kecil sampai remaja Ki Tumenggung Untara berulangkali memasuki gua itu, baru sekarang ia mengetahui bahwa ilmu olah kanuragan aliran perguruan Ki Sadewa tergurat di dinding gua itu, meskipun puncak ilmunya secara tidak sengaja telah dihancurkan oleh Agung Sedayu.
“Baiklah paman. Aku akan menyampaikan rencana untuk melaksanakan kewajibanku guna meningkatkan ilmu olah kanuragan dari perguruan Ki Sadewa itu kepada istriku. Semoga ia dapat mengerti.”
“Semoga Nyi Untara bisa memakluminya pula”kata Ki Widura.
“Apakah aku bisa berbicara dengan Wira Sanjaya di depan paman?”
“Tentu. Tentu saja bisa.”jawab Ki Widura.
Kepada seorang cantrik, Ki Widura memerintahkan untuk memanggil Wira Sanjaya ke pendapa.
“Aku senang Ayah datang ke mari”kata Wira Sanjaya kepada ayahnya setelah ia duduk di pendapa.
“Ya ngger. Ayahmu kangen kepada pamannya ini”kata Ki Widura mendahului sebelum Ki Tumenggung Untara menjawab.
Ki Tumenggung Untara pun kemudian menjelaskan bahwa meskipun Wira Sanjaya dan temannya telah sering datang ke padepokan, namun Ki Tumenggung Untara ingin secara resmi menyerahkan Wira Sanjaya ke padepokan itu untuk mempelajari dengan tekun, baik ilmu olah kanuragan aliran perguruan Orang Bercambuk maupun aliran Ki Sadewa. Selain itu juga untuk mempelajari mengenai ilmu sastra, pertanian, pengetahuan mengenai musim dan ilmu perbintangan.
“Aku dengan senang hati akan mempelajarinya, ayah”kata Wira Sanjaya.
“Aku harapkan angger mau belajar dengan tekun di sini kepada kakekmu”kata Ki Tumenggung Untara.
“Baik ayah. Pesan ayah akan aku perhatikan”jawab Wira Sanjaya.
Setelah menyampaikan hal itu kepada Wira Sanjaya dan seorang kawannya, maka Ki Tumenggung Untara pun berkeliling melihat-lihat keadaan di padepokan itu.
Ki Widura pun menjelaskan bahwa padepokan itu semakin berkembang. Para cantrik terus bertambah sehingga satu bilik ditempati tiga sampai empat orang. Agaknya Ki Tumenggung Untara pun cepat tanggap terhadap ungkapan Ki Widura.
“Baiklah, paman. Aku akan menyumbang pembangunan beberapa bilik, termasuk untuk Wira Sanjaya dan kawannya, apabila mereka harus mondok di sini.”
“Terima kasih anakmas. Semoga padepokan ini semakin bertambah maju”kata Ki Widura sambil tersenyum gembira.
Ki Widura menjelaskan bahwa di sebelah sanggar terbuka di belakang masih tersedia lahan untuk pembangunan bilik-bilik itu.
Ketika berkeliling itu Ki Tumenggung Untara melihat beberapa orang cantrik sedang memetik buah-buahan untuk dibawa oleh Ki Tumenggung. Ia pun melihat ikan berwarna-warni berenang di dalam belumbang yang terdapat di halaman depan padepokan itu. Semuanya masih nampak asri seperti pada waktu masih dipimpin oleh mendiang Kiai Gringsing.
Di dalam kandang terdapat beberapa ekor kuda yang dipakai untuk keperluan yang mendadak jika mereka harus pergi ke Jati Anom atau ke Kademangan Sangkal Putung.
Di belakang padepokan itu terdapat pula sawah yang diolah oleh para cantrik sebagai sumber bahan makanan mereka.
“Sawah itu baru saja kami panen dan hasilnya cukup baik”kata Ki Widura yang mengantarkan Ki Tumenggung Untara melihat-lihat ke sawah milik padepokan itu.
Ki Tumenggung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah hasil panen itu masih mencukupi untuk keperluan para cantrik”tanya Ki Tumenggung Untara.
“Masih. Hasilnya masih berlebih anakmas”kata Ki Widura.
Demikianlah setelah puas berkeliling melihat keadaan padepokan itu, Ki Tumenggung Untara pun kemudian berpamitan kepada Ki Widura dan para penghuni padepokan itu.
“Paman, nanti setelah aku memberitahukan kepada istriku, aku akan masuk ke dalam gua di tebing sungai itu untuk mesu diri menyadap ilmu yang merupakan peninggalan perguruan ayah. Ki Sadewa. Aku akan berangkat dari sini”kata Ki Tumenggung Untara.
“Baik anakmas. Semakin banyak yang menguasai ilmu dari perguruan Ki Sadewa akan semakin baik. Sehingga ilmu yang sangat jarang itu tidak lenyap dari muka bumi ini.”jawab KI Widura.
“Baiklah aku mohon pamit dulu paman.”
Ki Tumenggung Untara segera menerima kendali kudanya dan meloncat ke punggung kuda setelah seorang cantrik menggantungkan sekeranjang buah-buahan di pelana kudanya.
Tak berapa lama kudanya menyusuri jalanan lurus dan panjang yang sangat dihafalnya setiap sudutnya. Segalanya tidak berubah seperti ketika ia masih kecil. Di sudut tikungan Ki Tumenggung Untara berbelok ke kiri dan agak di tengah itulah rumahnya. Ia meloncat turun ketika kudanya memasuki regol. Lalu ia menuntun kudanya ke belakang, seorang prajurit yang tinggal di barak yang bersebelahan dengan rumahnya itupun menerima tali kendali dan membawa kuda itu ke kandangnya.
Tak lama prajurit tadi kembali ke rumah dan membawa sekeranjang buah-buahan yang dibawanya dari padepokan.
“Nyi. Nyi. Benar kan, paman Widura mengirim balik buah-buahan dari padepokan”kata Ki Tumenggung Untara. Istrinya yang muncul dari balik pintu tersenyum melihat sekeranjang besar buah-buahan yang dibawanya dari padepokan.
“Perasaanku tadi keranjangnya kecil, sekarang kenapa keranjangnya menjadi besar dan buahnya ranum-ranum?”tanyanya.
“Hahaha. Agaknya keranjang kecil itu senang hatinya berada di padepokan sehingga dalam waktu tidak lama sudah membesar. Biarlah kita ambil sebagian saja buah itu, selebihnya kita berikan kepada prajurit tadi biar dibagi di dalam barak”kata Ki Tumenggung Untara.
Demikianlah setelah makan malam dan beristirahat sejenak di pendapa, Ki Tumenggung Untara pun menyampaikan rencananya untuk menyadap ilmu dari perguruan Ki Sadewa secara tuntas sesuai petunjuk pamannya. Ki Widura.
“Apakah ilmu kakang masih kurang tinggi? Bukankah kakang adalah seorang Tumenggung yang mumpuni dan sangat disegani oleh kawan maupun lawan?”tanya Nyi Tumenggung Untara.
“Memang aku disegani oleh kawan maupun lawan dalam olah keprajuritan dan olah gelar perang. Namun aku belum mempelajari ilmu dari perguruan ayahku Ki Sadewa sampai tuntas, karena sejak berangkat dewasa aku dititipkan kepada paman Widura di Pajang dan oleh paman aku dimasukkannya menjadi seorang prajurit. Ketika aku bertugas di Pajang, paman Widura dipindahkan bertugas ke Sangkal Putung sebagai seorang Senapati untuk mengatasi Raden Tohpati dari Jipang yang bergelar Macan Kepatihan. Setelah aku kembali ke Jati Anom, ternyata ayah sudah tiada. Sehingga aku belum sempat menuntut ilmu dari perguruan Ki Sadewa sampai tuntas. Kalau pun aku menguasainya, hanya sepotong-sepotong sebagaimana diberikan oleh ayah kepadaku–katanya. Lalu ia melanjutkan.
“Ketika Adi Agung Sedayu mesu diri di dalam gua itu, ia menemukan goresan ilmu jalur perguruan ayahku. Ki Sadewa. Karena itu meskipun aku seorang Tumenggung, tetapi dari ketinggian ilmu secara perorangan mungkin aku masih berada jauh di bawah adi Swandaru, Glagah Putih bahkan dari Adi Agung Sedayu.”kata Ki Tumenggung Untara sambil berhenti sejenak.
“Memang aku perlu tidak menjadi iri atau dengki dengan kemajuan ilmu adi Agung Sedayu, tetapi aku ingin agar perbedaan ilmu itu tidak terlalu besar.”
“Berapa lamakah kakang akan mesu diri di dalam gua itu?”
“Tidak lama Nyi. Sekitar tujuh hari hari sampai dua pekan.”
“Jika kakang menganggapnya perlu, silakan. Aku sangat mendukung keinginan kakang itu. Semoga dengan semakin meningkatnya ilmu olah kanuragan kakang, kakang semakin mendapat kemuliaan dari pemimpin tertinggi Mataram”
“Iya Nyi. Terima kasih atas doamu, semoga Yang Maha Agung berkenan mendengarnya. Besok aku akan membagi tugas-tugasku kepada para senapati. Sehingga lusa aku akan mulai dengan perjalanan tirakatku ini.”
Demikianlah maka pada keesokan harinya, Ki Tumenggung Untara pun telah memanggil para senapati pasukan Mataram yang berada di barak Jati Anom. Kepada mereka Ki Tumenggung Untara menyampaikan niatnya untuk mesu diri di padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing selama paling lama dua pekan.
Oleh karena itu, Ki Tumenggung Untara pun kemudian membagikan tugas termasuk mengawasi rumahnya kepada para senapatinya selama ia tidak berada di barak.
Setelah menyampaikan rencana dan tugas-tugas kepada para senapatinya, Ki Tumenggung Untara pun pulang ke rumahnya. Ia minta agar istrinya untuk menyiapkan abu merang untuk mandi keramas guna menyucikan diri untuk bersiap-siap mesu diri di dalam gua di atas tebing sungai yang terjal itu.
Pada keesokan harinya, ketika matahari sudah naik lengser ke Barat maka Ki Tumenggung Untara pun berpamitan kepada istrinya dan para prajurit yang berjaga di rumahnya. Ia berangkat berkuda ke padepokan kecil peninggalan Kiai Gringsing yang tidak begitu jauh dari rumahnya itu.
Tidak beberapa lama Ki Tumenggung Untara telah sampai di padepokan dan berhenti di depan regol dan meloncat turun. Ia segera menyerahkan kendali kudanya kepada seorang cantrik yang tergopoh-gopoh menyambutnya.
“Apakah paman Widura ada di padepokan?”tanyanya kepada cantrik itu.
“Ada. Ada Ki Tumenggung. Silakan Ki Tumenggung naik ke pendapa”

—ooOOOoo—

4 Comments (+add yours?)

  1. tonny cahyono
    Jan 17, 2013 @ 16:10:04

    Kang nama anak untara itu putut pratama…..coba baca ADBM lagi..dan cerita sampean terhitung terlalu cepat…,

    Reply

  2. yoyok g. pakuan
    Jan 19, 2014 @ 01:06:30

    Alhamdulillah, saya mensyukuri..menikmati…menghargai atas hadirnya lanjutan ADBM, KI AGUS S. Dan semua yg berperan munculnya MATARAMBINANGKIT ini, semoga menjadi pahala amal ibadah baik saudara ….amin Trims, —–> yok pakuan-purworejo

    Reply

  3. Pandhu Sanjoto
    Jul 26, 2014 @ 20:33:10

    Wuaahh …. meski bangga tapi aku juga bingung, ada Mataram Binangkit nya Ki Agus tapi ada lagi ADBMnya mbah_man. bagaimana nih? ASehingga komentarku terdahulu juga kacau

    Reply

  4. yoyok g. pakuan
    Aug 08, 2014 @ 23:58:18

    Bagiku …cukup bisa mengobati kerinduan ADBM-nya karya SH MINTARDJA…coba tingkatkan lagi dengan lebih menghayati karakter tokoh-tokohnya, akan lebih hidup dalam penyajian susunan dialognya…semangat Kang…

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: