Mataram Binangkit Buku 401

MATARAM BINANGKIT

Karya: Ki Agus S. Soerono

Lanjutan Api Di Bukit Menoreh

Seri V

 

Buku 401

Membangun Armada Laut Yang Kuat bagi Mataram

DENGAN sigap Ki Lurah Suprapta menghindari semua serangan orang yang bermata juling dan berambut keriting. Namun Ki Lurah tentu saja tidak mau menjadi kantong pasir yang diam saja diserang bertubi-tubi seperti itu. Sambil menghindari serangan yang membabi buta itu, Ki Lurah pun dengan gencar balik menyerang lawannya.

Sebuah tendangan mendatar yang mengincar dadanya dengan cepat bisa dihindarinya, lalu Ki Lurah pun membalasnya dengan sebuah tendangan beruntun dengan kaki kiri dan kaki kanan. Orang yang bermata juling itu pun terjengkang ke belakang ketika tendangan Ki Lurah Suprapta menghajar pundaknya.

Orang berwajah kasar dan bermata juling itu mengumpat-umpat kasar ketika pundaknya terasa nyeri. Ia pun segera surut selangkah lalu mempersiapkan diri menghadapi serangan Ki Lurah yang datang membadai seperti burung sikatan yang menyambar belalang. Namun agaknya ilmu olah kanuragan orang yang berwajah kasar dan bermata juling itu hampir setingkat lebih rendah daripada ilmu olah kanuragan Ki Lurah Suprapta.

Setiap kali mendapat serangan yang cepat dan keras, orang bermata juling itu kesulitan untuk menghindari serangan lawannya. Sebuah tendangan yang kuat dan cepat telah menyambar lambungnya. Orang bermata juling itu surut selangkah dan jatuh terbanting ketika Ki Lurah Suprapta mengejarnya dan memukul dagunya dengan sisi telapak tangan kanannya.

Ki Lurah membiarkan orang bermata juling itu dengan tertatih-tatih bangun dan bersiap menyerang kembali.

Sementara itu di arena pertempuran lainnya, Ki Lurah Darma Samudra menghadapi orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya. Orang yang tinggi kurus itu bertempur sambil mulutnya berteriak-teriak kasar.

“Apakah mulutmu tidak bisa diam” kata Ki Lurah.

“Persetan”jawabnya sambil menyerang dengan tinjunya menyambar kening. Ki Lurah mundur selangkah sambil menundukkan kepalanya.

“Siapakah sebenarnya kalian?”tanya Ki Lurah sambil menghindari serangan lawannya. Ki Lurah segera bersiap-siap menyerang kembali menghadapi serangan lawannya yang kasar itu.

Sisi telapak tangannya segera menyambar lambung lawannya. Orang yang tinggi kurus itu agaknya sedikit mempunyai kelebihan daripada kawannya yang bermata juling. Ia pun meloncat menghindar ke samping ketika sisi telapak tangan Ki Lurah menyambar lambungnya.

Ki Lurah yang sebelum mendapat kesempatan menjadi prajurit di pasukan khusus itu adalah murid sebuah padepokan di Mangir, ternyata memang mempunyai bekal yang cukup dalam olah kanuragan.

Dengan lincahnya Ki Lurah mempergunakan berbagai tata gerak yang sulit dimengerti oleh lawannya. Gerakannya sungguh rumit dan sulit diduga oleh lawannya. Sebuah pukulan yang cepat ke arah pundak, disusul oleh tendangan, lalu serangan dengan siku mengarah ke dada, kemudian serangan sisi telapak tangan menyambar ke dahi.

Serangan Ki Lurah yang beruntun itu sulit dihindari oleh lawannya yang bertubuh tinggi kurus itu. Meskipun ia mampu menghindari tiga serangan Ki Lurah, namun ia tidak bisa menangkis serangan sisi telapak tangan yang menyambar ke dahi.

Orang bertubuh tinggi kurus itu, selangkah surut. Meskipun ia tidak jatuh terbanting, matanya berkunang-kunang. Ki Lurah yang melihat lawannya sudah kena dahinya, tidak mau kepalang tanggung. Sebuah pukulan di ulu hati orang yang tinggi kurus itu membuatnya jatuh terjengkang.

Namun orang yang tinggi kurus ini ternyata mempunyai daya tahan yang kuat. Dengan cepat ia meloncat bangun dan bersiap menghadapi serangan Ki Lurah berikutnya.

Di lingkaran pertempuran lainnya Ki Rangga Agung Sedayu bertempur dengan ringannya menghadapi kedua lawannya. Meskipun Ki Rangga secara sekilas sudah dapat menakar kemampuan kedua lawannya, namun ia tidak ingin menimbulkan kesan bahwa ia meremehkan lawannya. Ki Rangga sengaja bertempur dari tahap awal, setapak demi setapak meningkat dan semakin lama semakin tinggi tatarannya.

Karena Ki Rangga dengan telaten meladeni lawannya setingkat demi setingkat, maka kedua lawannya tidak bisa menjajaki ketinggian ilmu Ki Rangga Agung Sedayu. Bahkan kerapkali Ki Rangga menunjukkan dirinya seolah-olah terdesak oleh serangan kedua lawannya.

“Menyerahlah Kisanak. Sebelum aku menyakitimu. Lebih cepat lebih baik”kata lawan Ki Rangga yang agak gemuk.

“Tetapi siapakah sebenarnya kalian”pancing Ki Rangga yang semakin terdesak oleh kepungan serangan kedua lawannya. Lawan Ki Rangga yang agak gemuk ini agaknya merasa yakin bisa akan mengalahkan lawannya dengan mudah.

“Apakah ada gunanya kalau kami menjelaskan kepadamu siapa kami sebenarnya”tanya lawan Ki Rangga yang agak gemuk itu.

“Tentu. Tentu ada gunanya. Kalau aku harus mati di tepi Kali Praga hari ini, paling tidak arwahku tidak menjadi penasaran dan membuntuti kalian ke mana-mana”kata Ki Rangga.

“Hahaha. Agaknya kau sudah menjadi berputus asa mendapat serangan kami berdua”kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal.

“Kami adalah prajurit telik sandi dari Panaraga” kata orang yang kurus dan berkumis tebal.

“Kenapakah kalian begitu terburu-buru menyeberang sehingga melanggar tata kesopanan dalam menunggu giliran untuk menyeberang”kata Ki Rangga memancing sambil menghindari serangan kedua lawannya yang datang secara beruntun dan dalam keteraturan gerak yang rapi.

“Kami harus segera bertemu dengan atasan kami mengenai hasil penyelidikan kami di Mataram” kata lawannya yang gemuk sambil melakukan serangan yang sulit dihindari.”Kami utusan dari Panaraga”

Menghadapi serangan yang sulit itu, Ki Rangga segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada sehingga membentur tendangan lawannya. Untuk memancing keterangan lawannya yang sudah merasa di atas angin, Ki Rangga pun jatuh bergulingan, lalu mencoba bangkit sambil menyeringai kesakitan.

Belum lagi Ki Rangga bersiap benar, lawannya yang kurus dan berkumis tebal telah meloncat tinggi lalu menendang dadanya. Ki Rangga sengaja tidak menghindari serangan itu dan membiarkan dadanya menjadi sasaran kedua lawannya itu.

Kali ini Ki Rangga jatuh terbanting, meskipun dalam posisi yang tidak membahayakan dirinya. Kedua Lurah yang mengawal Ki Rangga sempat terkejut melihat Ki Rangga demikian mudah dikalahkan oleh kedua lawannya. Mereka meloncat surut beberapa langkah dan hendak mendekati Ki Rangga untuk menolongnya.

“Aku tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa”kata Ki Rangga kepada kedua lurah prajurit itu. Kedua lawan Ki Rangga tertawa berkepanjangan mendengar ucapan Ki Rangga bahwa ia tidak apa-apa.

“Sebentar lagi kawanmu ini aku lempar ke Kali Praga untuk menjadi makanan buaya di kedung dalam di tikungan sungai”kata orang yang kurus dan berkumis tebal.

“Apakah yang kalian selidiki di Mataram”tanya Ki Rangga sambil berjalan terseok-seok mendekati kedua lawannya yang sudah siap menyerang kembali.

“Kami menyelidiki kekuatan Mataram, seberapa pasukannya, seberapa kuat pasukan berkudanya dan seberapa banyak prajuritnya”kata orang yang kurus dan berkumis tebal.

“Untuk apakah kalian menyelidiki kekuatan Mataram, bukankah Panaraga dan Mataram tidak bermusuhan” kata Ki Rangga.

“Panaraga memang tidak memusuhi Mataram, namun Mataramlah yang memusuhi Panaraga” katanya lagi.

“Kau aneh Kisanak. Setahuku hubungan Mataram dan Panaraga baik-baik saja. Tidak ada bibit permusuhan di antara penguasa kedua wilayah itu.

“Kau tahu apa?” kata orang yang berkumis itu.

“Aku sangat tahu, Kisanak. Karena aku juga seorang prajurit, meskipun aku berdiri di pihak Mataram.” kata Ki Rangga.

“Kebetulan sekali aku berhadapan dengan seorang prajurit. Jadi aku tidak usah repot-repot mengintai semua barak dan menghitung jumlah prajurit yang ada di sana. Kalau kau membantu aku memberikan keterangan mengenai kekuatan pasukan Mataram, aku berjanji akan membunuhmu dengan cara yang baik.” kata orang yang kurus dan berkumis tebal.

“Bagaimana jika aku yang menangkap kalian dan membawa kalian ke Mataram” tanya Ki Rangga dengan tenangnya.

“Apa? Apa yang kalian dapat lakukan atas kami?”tanya orang yang gemuk dan bermuka kasar.

“Apakah kalian tidak pernah mendengar nama kami Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng?” tanya orang yang berwajah kasar, kurus dan berkumis tebal.

Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengubah tata geraknya. Gerakannya yang tadi seolah-olah asal-asalan saja menghadapi serangan lawannya, kini berubah.

Ia kini mempergunakan tata gerak yang dipelajarinya dari perguruan Orang Bercambuk. Gerakannya cepat, kuat dan trengginas. Kalau tadi gerakannya seperti orang yang tidak mengenal tata gerak dasar ilmu olah kanuragan, maka kini gerakannya benar-benar nggegirisi.

Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Ki Rangga bergerak cepat dari satu sisi ke sisi yang lain. Sehingga membuat kedua lawannya menjadi bingung. Satu saat, Ki Rangga berada di sudut dan terkepung oleh kedua orang itu.

Namun dengan kecepatan di luar tangkapan mata wajar, Ki Rangga sudah berada di luar kepungan. Ki Rangga mulai memberi sentuhan-sentuhan dengan tangannya kepada kedua lawannya.

Semakin lama sentuhan-sentuhan itu semakin keras dan mengganggu serangan kedua lawannya. Kalau tadi Ki Rangga yang nampaknya seolah-olah terdesak, maka yang terjadi kini adalah sebaliknya.

Di lingkaran pertarungan lainnya, Ki Lurah Suprapta pun semakin meningkatkan tekanan terhadap lawannya, orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.

Memang pada awalnya, Ki Lurah Suprapta agak kebingungan menghadapi orang yang bermata juling itu. Setiap kali ia salah menebak arah serangan lainnya. Karena memperhatikan arah pandangan orang yang bermata juling itu, Ki Lurah sering terkecoh.

Arah pandangan lawannya ke kanan, namun serangannya ke kiri. Begitu pula sebaliknya. Karena arah pandangan kedua mata lawannya yang tidak kompak, membuatnya terkena gerak tipu.

Akhirnya Ki Lurah tidak lagi memperhatikan arah gerakan mata lawannya sebagai arah gerakan lawannya. Kini ia lebih memperhatikan getaran pundak lawannya untuk mengetahui arah serangannya. Begitu pula gerakan kakinya, Ki Lurah memperhatikan posisi kakinya sebelum memulai gerakan untuk mengetahui arah gerakan lawannya.

Lama kelamaan keseimbangan pertarungan di lingkaran pertarungan itu pun semakin nampak jelas. Ki Lurah terus mendesak lawannya dengan gerakan-gerakan yang sulit dimengerti dan ditanggapi lawannya. Kini Ki Lurah yang mengendalikan pertarungan itu. Dengan gerakannya yang keras dan cepat, Ki Lurah Suprapta menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting.

Ki Lurah Suprapta melakukan serangan beruntun, tendangan memutar ke arah lambung dengan bertumpu pada kakinya yang sebelah, lalu meloncat dengan tendangan menggunting, dilanjutkan dengan serangan siku dan sisi telapak tangannya dalam gerakan yang cepat.

Lawannya yang bermata juling itu bisa menghindari dua tendangan beruntun Ki Lurah, tetapi serangan dengan siku dan sisi telapak tangannya tak bisa dihindari. Orang bermata juling itupun mengaduh sambil menekan hulu hatinya.

Sesaat kemudian ia menarik goloknya yang besar dari wrangkanya. Dengan marah ia mengayun-ayunkan goloknya untuk menyerang Ki Lurah. Ki Lurah yang tidak siap mendapat serangan senjata lawannya, meloncat surut dua langkah. Ia lalu mencabut pedang di pinggangnya dan bersiap menghadapi serangan golok lawannya.

Lawan Ki Lurah Darma Samudra yang juga sudah terdesak, segera pula mencabut senjatanya berupa golok besar seperti milik saudara seperguruannya yang bermata juling.

Orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu pun dengan kasarnya bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra. Dari mulutnya keluar kata-kata kotor yang tidak sepantasnya didengar.

Namun Ki Lurah Darma Samudra yang sudah mempunyai pengalaman yang banyak dalam dunia olah kanuragan, sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata kotor dan kasar yang diucapkan oleh lawannya.

Ia maklum bahwa kata-kata kasar dan kotor seperti itu biasa dlontarkan oleh orang-orang yang hidup di dunia kelam untuk mempengaruhi ketahanan jiwani lawannya.

Namun lama kelamaan Ki Lurah menjadi semakin terdesak. Ia pun melangkah surut dua langkah lalu mencabut pedangnya. Sebilah pedang yang biasa dipergunakan prajurit Mataram. Pedang seperti itu mempunyai bilah yang agak lebih panjang, dan lebih tebal daripada pedang biasa. Pedang milik prajurit Mataram adalah pedang yang terbuat dari baja pilihan. Sehingga mempunyai kekuatan yang cukup untuk membentur golok lawannya.

Setelah Ki Lurah Darma Samudra menggenggam pedangnya, maka keseimbangan pertempuran itu pun segera berubah. Kini Ki Lurah Darma Samudra yang mengendalikan jalannya pertarungan itu. Dengan lincahnya Ki Lurah mematuk-matukkan ujung pedangnya di sela-sela putaran golok besar milik lawannya. Betapapun orang yang tinggi kurus dan luka di pipinya itu berusaha melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang rapat, namun ujung pedang Ki Lurah seakan-akan mempunyai mata untuk menerobos putaran golok lawannya

Sesekali Ki Lurah Darma Samudra membenturkan ujung pedangnya untuk mengukur kemampuan, kecepatan gerak dan tenaga lawannya. Semakin lama semakin terlihat bahwa ilmu olah kanuragan lawan Ki Lurah Darma Samudra selapis tipis di bawah Ki Lurah. Ketika Ki Lurah semakin menekan lawannya dengan ilmu pedang yang dipadukan antara ilmu pedang perguruannya dengan ilmu pedang keprajuritan, maka lawannya itu menjadi semakin kesulitan.

Namun karena perbedaan ilmu pedang mereka hanya selapis tipis saja berbeda, maka Ki Lurah juga tidak segera dapat mengalahkan lawannya. Benturan demi benturan terjadi diwarnai dengan percikan api yang meloncat dari sisi pedang mereka.

Namun ternyata bahwa pedang Ki Lurah yang merupakan pedang keprajuritan sama kuatnya dengan golok lawannya yang nampaknya memang bukan golok biasa.

Selain besar, ternyata golok itu juga dibuat oleh pandai besi kebanyakan. Jika dilihat dari bahannya, ternyata golok itu juga terbuat dari besi baja pilihan. Karena tenaga mereka hampir seimbang, maka ketika terjadi benturan rasa nyeri merambat ke kedua telapak tangan mereka.

Bahkan jika mereka melepaskan tenaga yang cukup besar, maka rasa nyeri itu terasa sangat menusuk ke telapak tangan mereka. Untunglah mereka masih mampu mempertahankan genggamannya atas senjata-senjata mereka.

Sementara itu, di tepian Kali Praga itu semakin banyak saja orang yang datang untuk menyeberang. Namun karena ada tiga lingkaran pertempuran di tepi sungai, maka para tukang satang itu makin asyik saja menonton pertarungan yang seru itu. Sehingga mereka lupa pada kewajibannya untuk menyeberangkan orang yang hendak melintas.

Sedangkan orang-orang yang semula datang dengan terburu-buru untuk menyeberang, karena para tukang asyik menonton ketiga lingkaran pertempuran itu, maka pada akhirnya mereka pun ikut meramaikan penonton yang melingkari ketiga arena tersebut.

Seperti halnya pertarungan Ki Lurah Darma Samudra yang semakin lama semakin seru, maka di lingkaran pertarungan yang kedua Ki Lurah Suprapta berusaha menekan lawannya yang juga tidak kalah garangnya.

Ki Lurah Suprapta terus menekan lawannya yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting. Meskipun goloknya besar dan berat, namun lawannya yang berambut keriting itu dengan mudah bisa memutar-mutar golok besar itu dengan rapatnya menjadi perisai yang melindungi dirinya.

Namun Ki Lurah juga bukan orang sembarangan. Ia telah menapaki jenjang keprajuritannya dari tingkat yang paling bawah. Sehingga ketika ia telah menjadi lurah prajurit, Ki Lurah telah melalui pengalaman yang panjang dalam segala medan pertempuran dan peperangan. Ilmunya pun yang semula diperolehnya dari sebuah padepokan silat, semakin terasah dan teruji.

Oleh karena itu dalam benturan demi benturan yang terjadi, Ki Lurah Suprapta pun mampu terus bertahan menghadapi lawannya. Bahkan sedikit demi sedikit Ki Lurah dapat menguasai lawannya. Pedangnya yang panjang dan tipis seperti layaknya sebuah pedang milik prajurit, juga terbuat dari bahan baja pilihan. Pedangnya seperti cakar seekor elang yang menyambar-nyambar di sela-sela cakar serigala yang berusaha melindungi dirinya.

Pedangnya seolah-olah mempunyai mata, dan dapat menikam ke tempat-tempat yang kurang rapat terlindungi oleh golok lawannya.

Orang yang berwajah kasar, bermata juling dan berambut keriting itu yang merasa mempunyai tenaga lebih kuat daripada Ki Lurah, memanfaatkan kelebihan tenaganya itu untuk menyerang sambil berlari berputaran mengelilingi Ki Lurah. Semula Ki Lurah menjadi kebingungan menghadapi perubahan tata gerak lawannya. Namun ia membiarkan lawannya itu berlari berputaran sambil mengacu-acukan goloknya yang besar.

“Biarlah ia berlari berputaran. Yang penting aku tidak lengah. Nanti tentu tenaganya akan habis dengan sendirinya”katanya dalam hati. Karena itu, Ki Lurah tidak terpancing oleh ulah lawannya yang bertempur sambil berlari berputaran dan berteriak-teriak kasar.

Dengan seksama ia memperhatikan gerak lawannya. Kadang-kadang ia sempat memotong gerakan lawannya dengan meloncat ke samping. Orang yang berambut keriting itu kembali mengumpat-umpat kasar ketika ia kehilangan lawannya yang tidak berada dalam lingkaran serangannya.

Bahkan ketika lawannya itu lengah, Ki Lurah menikamkan pedangnya dan satu demi satu pedangnya mulai menggores kulit lawannya. Mula-mula sebuah goresan tipis melintang di lengan kirinya. Goresan tipis berikutnya menyambar lengan kanannya. Semakin lama semakin banyak goresan tipis yang menyambar di punggung, di dada, di pundak. Dari goresan tipis itupun cairan merah segera mengembun. Darah. Rasa nyeri dan pedih mulai menggerataki luka-lukanya. Semakin lama semakin banyak darah yang mengalir dari lukanya.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Ki Rangga Agung Sedayu masih juga dengan sabar melayani gerakan kedua lawannya. Ki Rangga menghadapi kedua lawannya yang juga berwajah kasar, namun yang satu agak gemuk dan yang satu lagi agar kurus dan berkumis tebal masih dengan tenaga yang utuh.

Ia tetap tenang, meskipun kedua lawannya itu berlari berputaran berusaha membuatnya bingung. Ternyata kedua orang lawannya itu beberapa lapis di atas kemampuan lawan kedua pengawalnya. Namun Ki Rangga tidak segera mencabut pedangnya atau melolos cambuk yang melingkar di pinggangnya menghadapi kedua lawannya yang sudah menggunakan goloknya.

Ki Rangga hanya menerapkan beberapa lapis ilmu kebalnya, ketika lawannya itu mulai mencabut goloknya. Ketika senjata kedua lawannya itu semakin cepat dan kuat menyerangnya, maka selapis demi selapis ditingkatkannya ilmu kebalnya.

Semula lawannya tidak menyadari kelebihan Ki Rangga yang mulai menerapkan ilmu kebalnya. Namun ketika mereka merasa ujung goloknya membentur kulit Ki Rangga, dan dari bekas goresan golok itu sama sekali tidak menimbulkan torehan luka, maka barulah mereka menyadari Ki Rangga kulitnya tidak tedas dimakan golok yang besar itu.

“Ilmu kebal”desis mereka berdua hampir bersamaan. Ki Rangga tidak menjawab.

“Meskipun kau mempunyai ilmu kebal, Kisanak, masakan golokku tidak dapat menembus dinding ilmu kebal itu”kata lawannya yang berwajah kasar dan agak gemuk hampir segemuk kakak seperguruannya. Swandaru.

Setelah menyadari kemampuan Ki Rangga yang menerapkan ilmu kebalnya selapis demi selapis kian meningkat, kedua lawannya pun terus menggempur Ki Rangga dengan tenaga dan kemampuan olah kanuragan yang kian meningkat.

Ki Rangga sengaja sejak awal tidak mempergunakan senjatanya berupa cambuk yang melilit di pinggangnya maupun pedang yang tergantung di pinggangnya. Ia ingin menangkap lawannya hidup-hidup dengan aji Panglimunan dan aji Kendali Sukma.

Naluri keprajuritan Ki Rangga merasa tergelitik. Ia merasa ada yang aneh dengan gerak gerik mereka yang mencurigakan. Dari percakapan sesaat di awal pertarungan, dengan pendengarannya yang tajam ia menangkap kesan bahwa mereka adalah prajurit sandi dari Panaraga yang ingin menakar kemampuan Mataram.

Karena serba sedikit Ki Rangga dapat mengetahui adanya awan hitam yang menggelayut antara Mataram dan Panaraga. Awan hitam itu semakin lama semakin gelap dan memberikan suasana yang ngelangut di antara rakyat kedua wilayah itu.

Gangguan ketertiban pun semakin terasa. Berbagai keterangan yang masuk dari prajurit sandi Mataram yang ditempatkan di Panaraga dan disampaikan oleh prajurit penghubung, ternyata semakin banyak kejadian gangguan keamanan di daerah perbatasan. Karena itu, ketika mereka sempat berbincang sesaat tadi, serba sedikit terungkap bahwa mereka paling tidak adalah prajurit telik sandi Panaraga, atau orang-orang padepokan yang mendapat tugas khusus untuk memata-matai Mataram.

Agaknya panggraita Kangjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga cukup tajam. Dari senapatinya Mas Panji Wangsadrana Kangjeng Adipati mendapat laporan bahwa Mataram”terutama Ki Patih Mandaraka”menaruh curiga terhadap keberadaan Pangeran Ranapati di dalam lingkungan keprajuritan Kadipaten Panaraga.

Namun Mataram belum dapat berbuat sesuatu, meskipun Glagah Putih dan Rara Wulan sebagai sepasang suami istri yang menjadi prajurit telik sandi di Panaraga telah lama berada di Panaraga. Pangeran Ranapati juga telah dilantik menjadi senapati Panaraga. Mataram bertindak semakin hati-hati, namun juga tidak mau terlambat. Mataram berada dalam keadaan serba sulit, seperti menghadapi buah simalakama. Dimakan ibu mati, tidak dimakan ayah mati. Mau dijual, siapa yang mau beli?

Demikianlah dengan berbekal laporan prajurit telik sandi Mataram, maka Ki Rangga bertekad untuk menangkap semua prajurit telik sandi Panaraga itu hidup-hidup. Mungkin dari keempat orang yang dicurigainya sebagai prajurit telik sandi itu, dapat segera dibongkar jaringan yang berada di belakangnya.

Namun meskipun sibuk menghadapi kedua orang lawannya yang berwajah kasar itu, maka Ki Rangga masih sempat memperhatikan kedua lurah prajurit yang mengawalnya.

Sambil meloncat surut menghindari serangan kedua lawannya, Ki Rangga melihat bahwa keadaan kedua lurah prajurit itu tidak begitu mengkhawatirkan. Ia melihat bahwa baik Ki Lurah Darma Samudra maupun Ki Lurah Suprapta, bisa mengatasi kedua lawannya, meskipun hanya berbeda selapis tipis.

Namun kedua lawan Ki Rangga juga bukan orang sembarangan. Kalau mengamati tata gerak olah kanuragan yang dipakai keempat orang itu, Ki Rangga melihat bahwa tata gerak dasar ilmu olah kanuragan yang mereka pakai hampir sama. Kemungkinan besar mereka adalah saudara seperguruan, meskipun dua orang yang dilawannya nampaknya dari tataran tertinggi dari ilmu perguruan mereka.

Namun Ki Rangga merasa agak aneh juga, beberapa unsur gerak yang dipakai oleh keempat orang itu ada kesamaan dengan ilmu perguruan Orang Bercambuk. Semakin lama semakin banyak kesamaan yang terlihat, meskipun ilmu yang dipakai oleh kedua lawannya itu nampak semakin kasar.

Tata gerak ilmu olah kanuragan perguruan Orang Bercambuk yang penuh keluwesan dan dilandasi dengan kasih sayang terhadap sesama itu, di tangan keempat orang itu berubah mengerikan menjadi kasar, ganas, trengginas dan nggegirisi.

Hal itu membuat Ki Rangga menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati di balik setiap gerakannya. Meskipun sudah berubah kasar, namun ilmu olah kanuragan yang dipergunakan oleh kedua lawannya masih dapat dilihatnya memiliki ciri-ciri yang mirip dengan ilmu olah kanuragan dari perguruan Orang Bercambuk.

Karena itu, ketika kedua lawannya semakin cepat mengepungnya, maka seolah-olah Ki Rangga dapat membaca arah selanjutnya dari serangan lawannya. Ketika seorang lawannya menekuk lututnya untuk menendang dengan arah menyilang, dengan sigap Ki Rangga menangkap kaki lawannya. Lalu mendorongnya keras ke belakang. Sisi telapak tangannya menghantam pergelangan tangan dengan keras, sehingga golok yang terpegang erat di tangannya terlepas jauh dan terpental di belakang lawannya. Sambil berguling Ki Rangga menyapu kaki lawannya yang lain, lalu melenting berdiri dan menendang loncat mengarah ke dada. Gerakan yang cepat dan rumit demikian hanya dapat dilakukan oleh Ki Rangga yang sudah memahami kekuatan dan kelemahan dari perguruan Orang Bercambuk.

Begitu pula ketika lawannya yang satu lagi menyerang dengan goloknya yang besar, Ki Rangga berkelit ke samping lalu dengan gerakan yang sulit dimengerti lawannya, golok itu sudah terpental, lepas dari tangannya.

Tetapi lawannya segera bersiap meskipun tanpa senjata goloknya. Ia menyerang dengan siku disusul dengan pukulan sisi telapak tangan, dilanjutkan dengan tendangan berputar mengarah ke kepala. Dengan sigap Ki Rangga meloncat surut dua langkah, lalu berjongkok dan menyapu dengan dua kali putaran kakinya.

Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu pun meloncat berjumpalitan ke belakang. Ki Rangga yang sudah mengetahui arah gerakannya segera meloncat dengan dilambari ilmu meringankan tubuhnya. Sambil meloncat kakinya dua kali menendang ke arah dada dan paha.

Lawannya menggelepar ketika dada dan pahanya terkena serangan Ki Rangga. Namun sekali lagi Ki Rangga bisa menebak ke mana arah gerakan lawannya.

Lawannya yang kurus dan berkumis tebal itu bangkit, lalu ia langsung menerjang dengan tusukan empat jari tangan kanan yang dirapatkan dan jempolnya menekuk ke dalam.

Gerakan lawannya itu sangat cepat. Tetapi gerakan Ki Rangga lebih cepat lagi. Dengan sigap ia menangkap pergelangan tangan lawannya, lalu dengan mempergunakan tenaga dorongan lawannya ia justru menariknya. Lalu dengan ditambahi sedikit tenaga, maka lawannya itu terbanting terlontar melayang di atas kepalanya. Namun lawannya yang kurus ini ternyata juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi tatarannya.

Meskipun sudah terlontar di atas kepala, dengan sigap ia berputar sehingga bisa mendarat di atas tanah dengan kedua kakinya yang merenggang.

Lawannya itu segera menyerang dengan tendangan beruntun mengarah ke dada dan kepala. Tentu saja Ki Rangga tidak mau dada dan kepalanya menjadi sasaran tendangan beruntun dari lawannya.

Sambil meningkatkan ilmu kebalnya, Ki Rangga menyilangkan kedua tangannya untuk membentur tendangan lawannya. Lawannya melangkah surut dua langkah, sementara Ki Rangga masih berdiri tegak di tempatnya.

Ki Rangga kembali terperanjat ketika kedua lawannya menarik sesuatu dari pinggangnya. Cambuk. Keduanya menggenggam cambuk yang mirip dengan cambuknya yang berjuntai panjang.

“He. Dari perguruan manakah kalian?” tanya Ki Rangga heran.

“Kami dari perguruan Windu Jati. Apakah kau takut?” jawab lawannya.

“Tidak. Aku tidak takut. Tetapi aku mengenal ciri-ciri perguruan kalian” kata Ki Rangga.

“Lalu kenapa, kalau kau mengenal ciri-ciri perguruan kami” tanya orang yang kurus dan berkumis tebal.

“Aku juga mempunyai senjata yang sama seperti kalian”kata Ki Rangga sambil mengurai cambuk dari balik bajunya.

“He rupanya kau berusaha menyamai senjata perguruan kami”kata orang yang berkumis tebal.

“Apa gunanya aku menyamai atau meniru senjata perguruanmu, kalau aku tidak dapat menggunakannya”kata Ki Rangga.

“Apakah kau dapat mempergunakan senjata cambukmu”tanya orang yang berwajah kasar dan agak gemuk.

“Tentu. Tentu saja aku dapat menggunakan cambuk ini seperti mengenal tangan dan kakiku”jawab Ki Rangga.

“Ah kau hanya membual saja. Menggerakkan cambuk itu tidak seperti menggerakkan cambuk untuk memukul sapi atau kambing” katanya lagi.

Ki Rangga pun kemudian menghentakkan cambuknya yang menimbulkan suara menggelegar memekakkan telinga. Kedua orang lawannya yang mengaku dari perguruan Windu Jati itu pun hanya tersenyum-senyum melihat cara Ki Rangga menghentakkan cambuknya yang memekakkan telinga itu.

“Kalau kau menghentakkan cambukmu seperti itu hanya akan mampu mengusir sapi atau kambing”katanya. Ki Rangga hanya tersenyum mendengar ejekan lawannya.

“Yah, maafkan aku. Karena aku hanya bisa mengejutkan sapi atau kambing, karena aku hanyalah seorang gembala sapi”jawab Ki Rangga.

“Tetapi apakah di Pegunungan Kendeng ada perguruan Windu Jati. Kalau ada aku ingin berguru ke sana” kata Ki Rangga. ”Karena aku baru bisa sekadar menggetarkan cambukku yang hanya mengejutkan sapi atau kambing saja”

Orang berbadan gemuk tertawa mengejek mendengar pertanyaan Ki Rangga.

“Aku berasal dari Panaraga dan aku mengembara sampai Pegunungan Kendeng. Orang menyebut diri kami sebagai Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Pegunungan Kendeng. Hal itu karena kami berwajah kasar dan kulit kami hitam”katanya.”tetapi hati kami baik. Hahahaha”

“Siapakah gurumu?”tanya Ki Rangga.

“Apa urusanmu sehingga ingin mengetahui nama guruku?”tanya orang yang agak kurus dan berkumis tebal.

“Tidak. Tidak ada urusan apa-apa. Aku hanya sekadar ingin tahu”kata Ki Rangga.

“Nama guruku adalah Kiai Praptala” jawab orang yang berkumis tebal.

“Bukankah perguruan Windu Jati dari garis keturunan orang berdarah Majapahit?” tanya Ki Rangga.

“He. Dari mana kau tahu?” tanya kawannya yang gemuk.

Ki Rangga termangu-mangu sejenak. Jika ia mengamati unsur tata gerak lawannya, memang ia melihat ada unsur kesamaan dengan ilmu yang diperolehnya dari Kiai Gringsing. Namun di sisi lain, sebagai seorang prajurit Mataram ia mempunyai kepentingan untuk menangkap mereka yang diduganya sebagai petugas telik sandi Panaraga.

“Bukankah perguruan Windu Jati merupakan ilmu yang berkembang sampai akhir kekuasaan Prabu Brawijaya? Setiap perguruan olah kanuragan tentu memberi pengetahuan kepada murid-muridnya mengenai ciri-ciri perguruan lain yang pernah mempunyai nama besar”jawab Ki Rangga.

“Apakah menurutmu perguruan Windu Jati merupakan perguruan yang pernah mempunyai nama besar?”

“Tentu. Tentu saja perguruan Windu Jati merupakan salah satu perguruan yang mempunyai nama besar menjelang jatuhnya Majapahit.”

“He. Agaknya kau banyak tahu tentang perguruan Windu Jati. Karena itu aku harus menangkapmu” kata lawan Ki Rangga yang kurus dan berkumis tebal sambil memutar-mutar cambuknya. Kawannya yang gemuk segera pula mengikuti gerakannya. Dalam sekejap Ki Rangga sudah terkepung dua pusaran cambuk.

Ki Rangga segera menyiapkan diri, meskipun ia masih memegang gagang cambuknya dengan tangan kanan dan memegang juntainya dengan tangan kirinya.

Segera saja di tepi Kali Praga kembali terjadi pertempuran yang lebih sengit lagi. Teriakan-teriakan yang keras dan kasar segera ditimpali dengan ledakan cambuk yang bersahutan menggetarkan dada.

Para penyeberang sungai itu, semakin menjauh dari ketiga arena pertempuran itu. Bahkan para tukang satang yang ikut menonton pertarungan itu, membuat semakin banyak orang yang tidak bisa menyeberang dan ikut menonton adu ilmu cambuk yang jarang terjadi itu.

Sambil bertempur, Ki Rangga mengamati gerakan kedua lawannya. Sekali-sekali ia meloncat surut di sela-sela putaran ujung cambuk yang menyambar-nyambar. Namun ia tidak ingin kulitnya terkoyak oleh ujung cambuk lawannya yang berkarah baja bersegi sembilan. Karenanya, Ki Rangga semakin meningkatkan kadar ilmu kebalnya, meskipun belum sampai menimbulkan hawa panas di sekitar tubuhnya.

Ki Rangga semakin meningkatkan ilmu meringankan tubuhnya yang hampir mendekati kesempurnaan. Dengan menerapkan ilmu meringankan tubuhnya itu, Ki Rangga dengan lincah bisa melakukan gerakan-gerakan yang rumit dan cepat dibalik kabut putaran cambuk kedua lawannya. Namun ternyata kedua lawannya juga bukan orang sembarangan.

Gerakan kedua orang itu seakan-akan bisa saling mengisi dan menutupi kelemahan yang lain. Kedua orang yang mengaku dari perguruan Windu Jati itupun perlahan-lahan menjadi heran. Karena tidak biasanya ilmu mereka yang tiada duanya itu, bisa dihadapi sampai puluhan jurus tata gerak. Jangankan lagi mereka berdua, jika seorang saja yang maju, lawannya tidak akan bisa bertahan lama menghadapi mereka. Karena itu keduanya sibuk menebak-nebak, siapakah lawan mereka itu.

Begitu pula sebaliknya. Ki Rangga Agung Sedayu hatinya juga bertanya-tanya. Selama ini Kiaia Gringsing tidak pernah menyebut-nyebut aliran perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga yang muridnya kemudian mengembara ke pegunungan kapur Kendeng. Karena itu, semakin besar tanda tanya hatinya, maka semakin besar keinginan Ki Rangga untuk menangkap keduanya.

“Mereka harus ditangkap” katanya dalam hati.

Namun lawannya itu, juga semakin heran bahwa kedua ujung cambuk mereka tidak segorespun bisa melukai lawannya. Meskipun Ki Rangga belum meningkatkan ilmu cambuknya, keduanya semakin terheran-heran.

Demikianlah, Ki Rangga terus menjajaki kemampuan kedua lawannya. Semakin diperhatikan, semakin ternyata bahwa tata gerak mereka memang mempunyai aliran yang sama dengan tata gerak dasar ilmu Orang Bercambuk, meskipun pengungkapannya secara lahiriah sudah jauh lebih kasar.

Makin lama Ki Rangga semakin yakin bahwa mereka adalah mempunyai sumber yang sama dengan ilmu olah kanuraga dari perguruannya. Namun kesimpulan seperti itu membuat dirinya menjadi mulai ragu-ragu untuk bertindak.

Kalau ilmu mereka dilumpuhkan dengan aji Kendali Sukma, maka segala tenaga cadangan yang mereka miliki akan sirna. Musnah habis. Sungguh sayang. Padahal untuk mencapai kemampuan tenaga cadangan seperti yang mereka miliki memerlukan latihan selama puluhan tahun.

Karena itu sambil melayani gerakan mereka, seperti biasanya Ki Rangga Agung Sedayu terbentur pada sikap dan sifatnya yang selalu ragu-ragu. Dalam keragu-raguannya itu, ia terus mengamati gerakan mereka. Semakin lama, kedua orang itu semakin meningkatkan tataran ilmunya.

Mereka berusaha mendesak, mengepung dan menyudutkan Ki Rangga dengan putaran cambuknya yang semakin lama semakin nggegirisi. Suara cambuk mereka yang tadinya meledak-ledak memekakkan telinga, kini tidak lagi menimbulkan suara yang keras. Tetapi akibat letupan ujung cambuk dengan gerakan sendal pancing itu seakan-akan mampu menggetarkan udara di sekitarnya.

Pepohonan yang berada tak jauh dari arena pertarungan mereka nampak bergetar. Getaran pepohonan itu ternyata bisa meruntuhkan dedaunan yang sudah menguning. Bahkan getaran yang semakin lama semakin kuat itu ternyata bisa mematahkan ranting-ranting kecil yang terkulai lemas karena letupan ujung cambuk itu.

Setelah melihat dan mengamati gerakan kedua lawannya, Ki Rangga pun semakin meningkatkan ilmu kebalnya. Tanpa terasa, udara di sekitar tubuhnya perlahan-lahan menjadi panas. Kedua lawannya tersentak ketika merasakan panas yang mulai menggerumiti kulitnya.

“Ilmu setan apa yang kau pakai, he?”katanya.

Ki Rangga hanya tertawa kecil. Namun Ki Rangga belum dapat mengambil keputusan, apakah yang harus dilakukan terhadap kedua orang itu. Apakah mereka harus dilumpuhkan atau dihabisi dengan aji Netra Dahana.

Karena keragu-raguannya yang sekejap itu, membuat dirinya terlena sejenak. Waktu yang sejenak itu, ternyata dapat dimanfaatkan dengan baik oleh kedua lawannya. Satu sentakan sendal pancing menyambar dadanya, dan sebuah lagi menghajar punggungnya. Namun kedua hempasan ujung cambuk itu, sama sekali tidak menimbulkan bilur-bilur baik di punggung maupun di dadanya.

Pukulan dari dua arah itu seperti hajaran palu godam, dan membuat Ki Rangga menjadi sesak nafas. Untunglah Ki Rangga sudah meningkatkan ilmu kebalnya, sehingga tidak berakibat terlalu fatal baginya. Ketika sebuah pukulan beruntun kembali menerpanya, tiba-tiba kedua lawannya menjadi kebingungan. Karena tiba-tiba saja, di hadapannya terdapat dua orang Ki Rangga Agung Sedayu. Keduanya membawa cambuk yang nampak mulai menyala pada gagangnya.

“Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari”kata lawannya yang agak kurus dan berkumis tebal.

“Ya. Tetapi kau tidak bisa mengelabui kami dengan ilmu itu”katanya kawannya yang gemuk menimpali.

“Apakah kau pikir dengan ilmu semacam ini kau bisa menipu kami”katanya. Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab, namun sebuah letupan sendal pancing menyambar kedua lawannya dari dua arah yang berlawanan.

Kedua lawannya terperanjat. Ternyata kedua ujung cambuk itu menyambar mereka berdua, dan mereka merasakan betapa ujung cambuk itu bukan hanya merupakan bayangan semu. Benar-benar nyata dan mampu menerpa dada mereka secara wadag.

Padahal, biasanya orang yang menerapkan aji Kakang Kawah Adi Ari-ari, sosok yang kedua adalah hanya bayangan semu. Sehingga dengan demikian nampak seolah-olah dua sosok kembar Ki Rangga Agung Sedayu yang bertempur melawan kedua musuhnya. Dari segi gerakannya pun, mereka nampak begitu mandiri. Kalau yang satu bergerak menyerang ke kanan, maka sosok Ki Rangga yang lain bisa saja melompat mundur menghindari serangan lawannya yang kurus.

Kenyataan tersebut benar-benar membuat bingung kedua lawannya. Namun yang bingung bukan hanya lawannya. Ki Rangga Agung Sedayu pun menjadi bingung dalam keragu-raguannya. Ia menggeretakkan giginya. Matahari pun sudah mulai condong ke Barat, dan di tepi Kali Praga semakin banyak orang yang menonton pertarungan itu.

“Aku tidak boleh ragu-ragu”katanya di dalam hati. Setelah mendapat ketetapan hati demikian, Ki Rangga pun kemudian berkata dengan suara yang seolah-olah menggulung-gulung di dalam perutnya.

“Menyerahlah kalian. Kalian akan kutangkap”katanya kepada kedua lawannya.

“Apakah kau sudah merasa menang, sehingga hendak menangkap kami”kata lawannya yang gemuk.

“Jangan menyesal Kisanak, kalau aku harus menangkapmu dalam keadaan lumpuh dan segenap ilmu kalian punah tidak berbekas”kata Ki Rangga lagi. Suaranya seolah-olah berpindah-pindah dari sosok yang satu ke sosok yang lain.

“Kau hanya membual saja dari tadi. Buktinya sudah sejak tadi kita bertempur, kau tidak dapat mengalahkan kami”katanya.

“Sebenarnya sangat sayang, kalau aku harus memunahkan ilmumu. Karena sebenarnya adalah satu jalur perguruan. Aku pun dari perguruan Windu Jati” kata Ki Rangga.

“He? Kau jangan membual lagi. Perguruan Windu Jati hanya ada di Panaraga. Guru kami yang keturunan langsung dari Majapahit adalah kini tinggal satu-satunya penerus perjuangan untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan kerajaan yang pernah mempersatukan nusantara.”

“Hahaha. Sayang kau keliru Ki Sanak. Penerus perguruan Windu Jati tidak hanya terdapat di Panaraga. Kami, maksudku aku dan saudara seperguruanku pun adalah penerus perguruan Windu Jati yang dikenal dengan nama perguruan Orang Bercambuk” kata Ki Rangga.

“Kalau benar kau dari perguruan Windu Jati, apakah kau akan bergabung dengan kami untuk membangkitkan kebesaran dan keagungan Majapahit” kata kawannya yang kurus.

“Sayang sekali tidak, Kisanak. Aku harus melumpuhkan dan menangkapmu, karena kau adalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga” kata Ki Rangga.

“Hahaha. Mana bisa kau menangkap kami dengan ilmu petak umpet seperti ini.Apakah kau pikir hanya kau yang mempunyai ilmu Kakang Kawah Adi Ari-ari?”dengus lawannya yang gemuk.

Ki Rangga Agung Sedayu pun kemudian meningkatkan serangannya. Namun kedua lawannya itu ternyata mempunyai ilmu olah kanuragan yang tidak bisa dipandang enteng. Bahkan Ki Rangga pun terhenyak. Karena tiba-tiba bayangan kedua lawannya menjadi kabur dan beberapa saat kemudian kedua lawannya telah membelah diri pula menjadi dua orang. Sehingga Ki Rangga yang telah membelah diri menjadi dua orang itu harus menghadapi lawannya yang juga membelah diri menjadi empat orang. Karena itu arena pertarungan tersebut menjadi semakin luas. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta yang sedang bertarung melawan musuhnya masing-masing, terpaksa bergeser menepi. Begitu pula orang-orang yang hendak menyeberangi Kali Praga itu pun semakin bergeser menjauh, karena mereka tidak ingin tersambar pukulan nyasar dari pertarungan ilmu olah kanuragan dalam tingkat tinggi tersebut.

Maka dalam sekejap pertarungan ketiga raksasa di bidang olah kanuragan itu pun menjadi semakin seru. Walaupun tidak seseru pertarungan antara Ki Rangga dengan kedua lawannya, ternyata pertempuran antara kedua lurah prajurit melawan kedua musuhnya juga berlangsung nggegirisi.

“Baiklah. Jika kalian ingin tetap main petak umpet. Kita lanjutkan permainan kita”kata Ki Rangga dengan nada tegas. Sudah tidak nampak lagi keragu-raguan dalam sikapnya, seperti yang terjadi sebelumnya.

“Tapi bolehkah aku tahu siapa nama kalian? Agar jika nanti kau mati, aku tidak dipersalahkan karena tidak tahu nama kalian?”kata Ki Rangga Agung Sedayu.

“Alangkah sombongnya kau anak muda. Tapi baik juga aku tahu namamu. Sungguh sayang kalau ilmumu yang setinggi itu, siapa mengira akan berakhir sampai di sini. Namaku adalah Bargas dan kawanku yang kurus itu adalah Bergawa. Siapakah namamu?”kata Ki Bargas, lawannya yang bermuka kasar dan bertubuh gemuk.

“Namaku Agung Sedayu. Aku seorang prajurit dari Mataram”jawab Ki Rangga.

“Oo. Inilah rupanya Agung Sedayu, yang namanya terkenal seantero Mataram, tetapi pangkatnya tidak naik-naik. Bukankah pangkatmu masih lurah prajurit?”celoteh Ki Bergawa dengan nada melengking tinggi.”Kau salah Kisanak. Pangkatku sekarang sudah Rangga”jawab Ki Rangga dengan nada polos dan jujur.

“Sayang sungguh sayang. Kalau kau mengabdi di Panaraga, dengan ilmu setinggi ini tentu pangkatmu sudah menjadi tumenggung”katanya dengan nada merendahkan.

“Kau salah Kisanak. Dengan tingkat ilmuku sekarang ini, aku memang sepantasnya menjadi seorang rangga. Di Mataram terlalu banyak orang yang berilmu sangat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkat ilmuku.”

“Apakah kau pikir aku tidak tahu tingkat ilmu para senapati Mataram?”dengus Ki Bargas.

”Apa gunanya kau berceloteh tentang tata keprajuritan di Mataram? Bersiap-siaplah. Kalian akan kutangkap”kata Ki Rangga yang sosoknya sudah menyatu kembali ketika mereka bercakap-cakap. Begitu pula kedua lawannya.

“Apakah kau akan semudah itu bisa menangkap kami? Seekor cacing saja akan melawan, kalau terinjak”.

“Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kalian aku tangkap, bahkan semua tenaga cadangan kalian akan punah menghadapi ilmuku aji Kendali Sukma, meskipun kalian adalah berasal dari satu guru satu ilmu dengan aku, jika ditelusuri silsilah perguruan Windu Jati sampai ke masa Majapahit”

“Aji Kendali Sukma”.

“Ya. Aji Kendali Sukma”.

“Apakah aji Kendali Sukma termasuk ilmu aliran perguruan Orang Bercambuk?”tanya Ki Bargas dan Ki Bergawa hampir berbareng.

“Bukan Kisanak. Kalau aku menggunakan ilmu olah kanuragan Windu Jati, tentu kalian juga mengetahuinya. Karena kita satu aliran. Namun aku ingin menangkap kalian hidup-hidup, karena aku ingin menelusuri garis wewenang dalam segala tindakan yang hendak merongrong kewibawaan Mataram”katanya.

“Karena itu, sebelum kalian menyesal karena ilmu kanuragan kalian punah, aku masih memberi kesempatan kepada kalian untuk menyerah”kata Ki Rangga.

“Ah kau terus membual saja dari tadi”kata Ki Bargas.

“Baiklah. Kalian tidak mau mendengar kata-kataku.Yang penting aku sudah memperingatkan kalian. Kalian tidak percaya terserah kalian”kata Ki Rangga Agung Sedayu yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.

Tanpa terasa matahari sudah bergeser dari sudutnya semula, sehingga bayangan pohon yang terbentuk sama panjang dengan tinggi pohon itu sendiri.

Ki Rangga Agung Sedayu pun mulai membangkitkan tenaga cadangannya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Ki Jayaraga untuk membangkitkan aji Kendali Sukma.

Karena ia sudah bertempur sekian lama dengan kedua lawannya, maka Ki Rangga sudah bisa menakar kemampuan kedua lawannya. Dengan demikian ia sudah mempunyai ukuran seberapa banyak tenaga cadangan yang harus dibenturkan dengan mereka. Dalam beberapa kali benturan dengan ujung cambuknya, Ki Rangga mengerahkan enam bagian dari tenaga cadangannya. Karena itu, untuk melumpuhkan mereka berdua Ki Rangga mengerahkan tujuh bagian dari tenaga cadangannya.

Ki Rangga pun mulai mengambil ancang-ancang. Begitu pula kedua lawannya. Ki Bargas dan Ki Bergawa.

Ki Rangga berdiri tegak dengan kaki direnggangkan. Kedua tangannya mengembang ke samping badannya seperti sayap burung garuda yang hendak terbang, lalu kedua tangan itu bersilang di depan dada, dan mendorong ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar.

Sedangkan Ki Bargas dan Ki Bergawa mengambil sikap lebih sederhana, tangan kanannya diangkat di depan dagu, lalu terbuka di depan dada. Ketika kedua tangan itu disentakkan ke depan, maka seleret sinar meluncur ke arah Ki Rangga, yang juga sudah bersiaga.

Namun Ki Rangga tidak mau hancur oleh ilmu pamungkas kedua lawannya. Dalam waktu sekejap, dua leret cahaya meluncur dari kedua telapak tangannya itu menerjang Ki Bargas dan Ki Bergawa.

Hebat akibatnya baik bagi Ki Rangga sendiri maupun kedua lawannya. Namun betapa pun, tenaga cadangan Ki Rangga ternyata jauh lebih kuat daripada Ki Bargas dan Ki Bergawa. Ki Rangga selangkah surut ke belakang. Namun Ki Bagas dan Ki Bergawa terdorong lima langkah, kakinya bergoyang-goyang lalu jatuh terguling ke belakang. Keduanya tersungkur. Lalu tidak bergerak lagi. Pingsan.

Ki Rangga yang merasakan dadanya seolah-olah terhempas dua buah godam besar, segera duduk bersila, bersedakep, matanya terpejam. Ia memusatkan nalar budinya untuk memulihkan tenaga cadangannya.

Kedua kawannya yang bertarung melawan Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta, sempat melirik ketika terjadi benturan ilmu yang sangat dahsyat itu. Bahkan udara sekitarnya terasa seperti gelombang lautan yang mendorong segala yang dilaluinya.

Ketika mereka melihat kesudahannya, maka lawan Ki Lurah Darma Samudra bersuit nyaring. Lawan Ki Lurah Suprapta segera mengerti isyarat kawannya. Mereka berdua melangkah mundur lalu berbalik untuk melarikan diri. Ketika mereka hendak lari, dua buah belati mengejar lawannya.

Agaknya Ki Lurah Darma Samudra tidak mau kehilangan lawannya begitu saja. Lawannya itu tidak sempat lari lebih jauh lagi. Ia terguling ketika belati itu menancap di punggungnya dan menembus ke jantung. Ia mengeluh tertahan dan jatuh tertelungkup di tepian sungai berpasir itu.

Tetapi tidak demikian dengan kawannya. Ketika mendengar kesiur angin tajam menyambar ke arah punggungnya, ia sempat menjatuhkan diri, berguling lalu meneruskan larinya. Dalam sekejap orang yang tinggi kurus dan berkumis tebal itu sudah lenyap dari pandangan.

Ketika Ki Rangga Agung Sedayu telah menyenakkan mata dan sudah pulih tenaga cadangannya, maka dari sela-sela orang-orang yang menonton pertempuran itu, masuklah seorang laki-laki yang tinggi tegap berwibawa, diiringi seorang pengawalnya. Orang itu bertepuk tangan, lalu berkata.”Hebat. Hebat Ki Rangga. Kau mampu menaklukkan kedua lawanmu”katanya.

“Ampun Pangeran. Hanya sebatas itulah kemampuan Hamba”katanya.

Agaknya lelaki tinggi tegap dan berwibawa itu adalah Pangeran Purbaya. Dari pasukan Mataram yang meronda sampai ke tepi Kali Praga, ia mendengar bahwa terjadi pertarungan seru antara Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, sedangkan dua lurah yang mengiringinya bertempur melawan musuhnya masing-masing.

Ketika laporan itu masuk, Pangeran Purbaya sedang menghadap Panembahan Hanyakrawati. Atas seizin Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya diperkenankan menilik pertarungan yang sengit itu.

“Silakan Pamanda menilik pertarungan itu. Aku ingin mendapat laporan segera atas kesudahan pertempuran itu.

“Sendika dawuh, Ananda Panembahan”.

Demikianlah maka Pangeran Purbaya sempat menilik pertarungan mereka. Bahkan Pangeran sempat mendengar percakapan Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua lawannya, seandainya ia bergabung dengan pasukan Panaraga akan diberi pangkat tumenggung. Dan Pangeran pun melihat kesudahan pertempuran itu, yang ternyata kedua lawan Ki Rangga bisa dilumpuhkan, seorang kena lemparan belati dan seorang lagi bisa melarikan diri.

Ki Lurah Darma Samudra mengambil dua utas tali kulit janget yang kuat dari pelana kudanya. Sebuah tali diserahkan kepada Ki Lurah Suprapta. Lalu mereka mengikat tangan dan kaki lawan Ki Rangga Agung Sedayu. Kedua orang yang seperti terlolosi tulang belulangnya, segera dinaikkan ke atas kuda masing-masing. Sedangkan yang tewas diserahkan kepada tukang satang untuk dikuburkan.

“Kalau kau sudah pulih, marilah kita berangkat ke Mataram. Ananda Panembahan Hanyakrawati sedang menantimu” ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.

“Sendika dawuh, Pangeran”jawab Ki Rangga, sambil membungkuk hormat. Demikianlah, maka iring-iringan kecil yang terdiri dari Pangeran Purbaya dan seorang pengiringnya, Ki Lurah Darma Samudra, Ki Lurah Suprapta, dan kedua telik sandi Panaraga itu segera bergerak menuju Mataram.

Dalam waktu tidak terlalu lama rombongan kecil itu sudah sampai di Istana Mataram. Lurah Prajurit jaga yang melihat bahwa orang yang berkuda paling depan adalah Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu, tidak menghalangi ketika mereka melintas ke pendapa. Sedangkan kedua lurah pengiring Ki Rangga dan pengiring Pangeran Purbaya berhenti di regol depan guna menyerahkan kedua tawanan itu kepada prajurit jaga.

“Kau ikutlah aku ke ruangan khusus ananda Panembahan”ujar Pangeran Purbaya kepada Ki Rangga Agung Sedayu.

“Hamba Pangeran”jawab Agung Sedayu.

Demikianlah, maka Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menghadapi Panembahan Hanyakrawati di dalam ruangan khusus.

“Marilah masuk, Pamanda dan Agung Sedayu”ujar Panembahan.

Pangeran Purbaya duduk di atas sebuah dampar yang lebih rendah daripada dampar kencana yang diduduki Panembahan Hanyakrawati, sedangkan Ki Rangga Agung Sedayu duduk bersila di atas tikar pandan yang dianyam halus dengan motif-motif berwarna cerah.

Sebagaimana biasanya, maka Panembahan Hanyakrawati menanyakan keselamatan tamunya.

“Atas pangestu tuanku Panembahan, hamba selalu dilimpahi keselamatan oleh Yang Maha Agung”jawab Ki Rangga Agung Sedayu. Lalu Panembahan Hanyakrawati menanyakan kejadian yang baru saja terjadi di tepian Kali Praga kepada Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu. Pangeran Purbaya lalu menjelaskan kepada Panembahan Hanyakrawati apa yang baru saja terjadi itu. Ki Rangga Agung Sedayu hanya menjawab, jika ada keterangan tambahan yang ingin didengar Panembahan Hanyakrawati.

Pangeran Purbaya pun menjelaskan urut-urutan kejadian itu seperti yang dilaporkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu ketika mereka berkuda menuju Mataram.

“Demikianlah Anaknda Panembahan. Ternyata kedua lawan Ki Rangga Agung Sedayu yang ternyata dari jalur perguruan Orang Bercambuk berhasil dilumpuhkan dan dapat ditangkap. Mereka sudah disimpan di pakunjaran oleh penjaga regol Istana”ujar Pangeran Purbaya mengakhiri laporannya. Panembahan Hanyakrawati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mereka adalah tawanan yang penting Pamanda. Sudah sewajarnya mereka mendapat pengawalan yang lebih ketat”katanya.

“Sendika dawuh, Anaknda Panembahan”jawab Pangeran Purbaya.

“Kejadian yang Pamanda Pangeran Purbaya saksikan itu, membuat aku membuat keputusan lain,” ujar Panembahan Hanyakrawati. Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu menjadi berdebar-debar.

“Apakah keputusan itu, Anaknda Panembahan” tanya Pangeran Purbaya dengan nada penuh khawatir.

“Pamanda Pangeran dan Ki Rangga tidak perlu khawatir,” ujar Panembahan Hanyakrawati, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Pangeran Purbaya dan Ki Rangga Agung Sedayu tidak berani mendesak lebih jauh. Mereka hanya termangu-mangu, mendengar jawaban Panembahan Hanyakrawati.

“Aku persilakan kau beristirahat di ruangan yang telah disediakan oleh pelayan dalam Istana, sedangkan Pamanda aku harapkan tetap di ruangan ini” ujar Panembahan Hanyakrawati kepada Ki Rangga Agung Sedayu.

“Ampun Panembahan, apakah hamba diperkenankan beristirahat di Istana Ki Patih Mandaraka. Karena hamba dengar beliau dalam keadaan sakit” kata Ki Rangga Agung Sedayu.

“Baiklah kalau memang itu keinginanmu.Besok pagi ketika wayah temawon, kau harus sudah hadir di Paseban Agung dengan pakaian lengkap keprajuritanmu” ujar Panembahan Hanyakrawati.

Atas perkenan Panembahan Hanyakrawati, maka Ki Rangga Agung Sedayu dan dua orang lurah pengawalnya, kemudian menuju Istana Ki Patih Mandaraka yang terletak tidak begitu jauh dari Istana Mataram. Ki Lurah prajurit yang menjaga regol Istana Ki Patih Mandaraka segera mengenal bahwa yang datang adalah Ki Rangga Agung Sedayu.

“Oo, Ki Rangga Agung Sedayu, bagaimana keadaan kesehatan Ki Rangga”tanyanya.

“Aku baik-baik saja Ki Lurah Wirasentanu”jawabnya.

“Sungguh dahsyat pertarungan yang terjadi di Kali Praga siang tadi” tiba-tiba Ki Lurah Wirasentanu berkata.

“He? Kau tahu dari maka Ki Lurah?” tanya Ki Rangga Agung Sedayu heran.

“Wah semua orang di Kotaraja membicarakan kejadian tadi siang itu”jawab Ki Lurah Wirasentanu.

“Tentu yang kau dengar itu terlalu dilebih-lebihkan”kata Ki Rangga merendahkan diri.

“Seluruh Kotaraja geger, Ki Rangga Agung Sedayu bisa memecah diri menjadi dua dan menang menghadapi dua lawannya yang membelah diri menjadi empat orang”.

“Ah tidak seluruhnya itu benar. Namanya ceritera dari mulut ke mulut, kalau mulut yang satu menambahkan isi ceritera, maka pendengar yang ke seratus mendengar kejadian yang tadinya semenir, menjadi kejadian segede gajah” kata Ki Rangga Agung Sedayu sambil tertawa.

Ki Lurah Wirasentanu pun tertawa. Ia sudah hafal dengan sikap rendah hati dari Ki Rangga Agung Sedayu. Ki Rangga lalu meminta diri untuk menghadap Ki Patih.

“Marilah Ki Rangga, aku antarkan menghadap Ki Patih. Biasanya Ki Patih berada di pendapa kiri di sore hari seperti ini” katanya. Ki Rangga dengan diantar Ki Lurah Wirasentanu kemudian diterima Ki Patih di pendapa kiri.

Dilihatnya Ki Patih sedang berbaring di kursi panjang yang mempunyai sandaran miring. Ki Lurah Wirasentanu menemani Ki Rangga Agung Sedayu menemui Ki Patih. Mereka duduk di atas tikar pandan yang terhampar di depan kursi panjang itu.

“Oo kau, Agung Sedayu. Kemarilah”kata Ki Patih yang menyenakkan matanya sambil tetap berbaring di kursinya.

“Badanku terasa agak meriang, biarlah aku menerimamu sambil berbaring begini”ujar Ki Patih.

“Silakan Ki Patih tetap berbaring. Hamba akan menginap di sini, karena hamba akan hadir di Pisowanan Agung esok hari” katanya.

“Ya. Kau memang diundang ke Pisowanan Agung besok. Kau boleh menginap di sini. Bukankah kau sudah tahu di ruangan mana kau harus tidur nanti”ujar Ki Patih.

“Hamba Ki Patih”jawab Ki Rangga Agung Sedayu.

“Apakah kau sebelumnya sudah mengenal siapa lawanmu tadi siang”tanya Ki Patih tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Ki Rangga terkejut, ternyata kejadian di tepi Kali Praga itu cepat sekali menyebar di Kotaraja, bahkan telah pula sampai kepada Ki Patih yang sedang beristirahat di Istananya.

“Ampun Ki Patih, hamba belum mengenal mereka sebelumnya. Bahkan guru hamba Kiai Gringsing, tidak pernah berceritera bahwa ada Perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahu hamba hanya ada di Madiun, yang sempat hamba kunjungi sebelum perang Madiun dahulu” jawab Ki Rangga.

Demikianlah mereka berbincang-bincang cukup lama membicarakan perkembangan yang terjadi di seputar kebangkitan Mataram.

“Kini tugas kalian yang muda-muda untuk mengisi kebangkitan Mataram ini dengan berbagai kegiatan pembangunan di segala bidang”ujar Ki Patih Mandaraka seakan-akan ingin berpesan kepada Agung Sedayu.

“Tentu kami akan melakukannya, Ki Patih” katanya.

“Tugas kami yang tua-tua ini seakan-akan sudah selesai dengan telah berdirinya Mataram. Tugas kalianlah untuk melanjutkannya”ujar Ki Patih lagi.

“Akan hamba ingat-ingat pesan Ki Patih itu”kata Ki Rangga Agung Sedayu.

Ki Patih Mandaraka mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak berkata apa-apa lagi. Badannya yang dahulu kelihatan gagah, tinggi besar, dan berwibawa, kini nampak kurus, pucat dan seakan tidak ada lagi nyala kehidupan yang terpancar dari pandang matanya.

Ki Patih terbaring lemah di pembaringan kursi bambu yang terbuat dari bambu wulung. Di atas kursi itu diletakkan bantalan kapuk terbungkus beludru berwarna cokelat muda. Ki Rangga Agung Sedayu memperhatikan keadaan Ki Patih yang nampak mulai digerogoti oleh penyakit akibat usia yang semakin uzur. Matanya nampak terpejam dan jalan nafasnya mengalir halus.

“Ki Patih tertidur”kata Ki Rangga Agung Sedayu dalam hatinya. Perlahan-lahan Agung Sedayu memberi isyarat kepada Ki Lurah Wirasentanu sambil bergeser hendak meninggalkan Ki Patih Mandaraka yang telah beristirahat. Namun desir langkahnya yang ringan, masih terdengar oleh Ki Patih yang segera membuka matanya.

“Jika kau letih beristirahatlah”ujar Ki Patih Mandaraka.

”Ampun Ki Patih, hamba kira Ki Patih tertidur. Karena itu hamba tidak ingin mengganggu Ki Patih yang sedang beristirahat. Biarlah hamba ke bangsal yang telah disediakan pelayan dalam Istana Kepatihan.

“Baiklah. Kau pergilah beristirahat. Ki Lurah akan menunjukkan kepadamu bangsal tempatmu berisitirahat. Kalau makan malam nanti sudah siap, kau makanlah. Aku tidak bisa menemani bersantap di meja makan seperti dulu lagi” kata Ki Patih.

“Sendika dawuh, Gusti Patih” kata Ki Rangga Agung Sedayu.

Demikianlah Ki Rangga Agung Sedayu diantarkan oleh Ki Lurah Wirasentanu ke ruangan yang telah disiapkan oleh pelayan dalam istana. Ki Rangga kemudian beristirahat sejenak. Ketika baru memicingkan matanya sejenak, terdengar pintu kamarnya diketuk pelan.

Ki Rangga melangkah ke pintu dan ketika pintu terbuka, matanya terbelalak.

“Kakang Untara dan Adi Swandaru?” katanya terperanjat.

“Iya Agung Sedayu” kata mereka hampir berbareng. Bergantian mereka memeluk erat Agung Sedayu.

“Kami juga baru datang sore ini”kata Ki Tumenggung Untara.

“Apakah kalian datang bersama-sama”Agung Sedayu menimpali.

“Iya. Kami berdua mendapat juga undangan untuk datang ke Pisowanan Agung besok”jawab Ki Swandaru Geni.

Demikianlah mereka kemudian berceritera mengenai keadaan keselamatan masing-masing. Ki Tumenggung Untara mengisahkan tentang kedaan keluarganya, padepokan kecil Kiai Gringsing, tentang anaknya Wira Sanjaya yang sudah berguru di padepokan itu untuk mendapat bimbingan dari ilmu olah kanuragan dari Ki Widura yang kini menjadi pimpinan padepokan itu.

“Tentu Wira Sanjaya sudah besar dan segagah ayahnya sekarang” kata Agung Sedayu.

“Iya. Sekarang ia sudah beranjak dewasa dan sudah tidak nakal lagi. Jiwanya sudah tatag. Ia mengirim salam untukmu dan berniat menuntut ilmu di Perdikan Menoreh dari pamannya” kata Untara.

”Kakangmbok juga mengirim salam kepadamu sekeluarga. Ia sudah kangen dengan Sekar Mirah”.

“Sekar Mirah juga kangen dengan kakangmbok. Tetapi ia sekarang tidak dapat bepergian ke mana-mana, karena sedang mengandung, Kakang” kata Agung Sedayu.

“Oh ya?” hampir berbareng Untara dan Swandaru berteriak kaget. Tetapi mereka segera menutup mulutnya dengan tangan kanan, setelah menyadari bahwa Ki Patih sedang beristirahat di pendapa kiri. Mereka pun kemudian bergeser ke belakang untuk tidak menimbulkan suara berisik yang dapat mengganggu istirahat Ki Patih Mandaraka.

Setelah bergeser agak menjauh mereka bisa bebas berceritera tentang keadaan masing-masing dengan suara yang tidak perlu ditahan-tahan. Kalau harus tertawa, mereka dapat dengan bebas tertawa.

“Aku mendengar dari para prajurit, kau tadi bertempur di tepi Kali Praga dengan orang-orang dari jalur perguruan Windu Jati. Siapakah mereka?” tanya Swandaru.

“Aku tidak tahu siapa mereka yang sebenarnya, Adi. Tapi menurut pengakuan mereka, mereka adalah Empat Bersaudara Gagak Hitam dari Gunung Kendeng. Masih menurut penuturan mereka, mereka adalah pengikut perguruan Windu Jati dari Panaraga, dan mengembara sampai ke Gunung Kendeng. Dua orang lawanku yang nampaknya merupakan murid utama dari perguruan Windu Jati di Panaraga di bernama Ki Bargas dan Ki Bergawa. Sekarang mereka ditahan di pakunjaran di lingkungan Istana Mataram.”kata Agung Sedayu.

“Bagaimana dengan dua orang lainnya?” tanya Ki Untara.

“Yang seorang tewas kena lemparan belati, lurah pengiringku dan seorang lagi bisa melarikan diri” jawab Agung Sedayu.

Ki Untara mengangguk-angguk, katanya kemudian, ”Kau harus berhati-hati, karena yang seorang lolos itu tentu akan melaporkan kepada gurunya di Panaraga, bahwa saudaranya Ki Bargas dan Ki Bergawa bisa kau kalahkan. Bukan tidak mungkin gurunya akan mencarimu”

“Iya kakang. Aku akan berhati-hati” kata Agung Sedayu.

Tiba-tiba Ki Untara melolos pedang dari lambungnya, sambil berkata”Apakah kau mengenal pedang ini?”

Sambil meraih pedang yang cukup berat itu, Agung Sedayu mengamat-amatinya. Pada gagangnya tergurat huruf-huruf dalam bahasa Kawi.”Jati Laksana”.

“Bukankah pedang ini pedang ayah. Ki Sadewa?” tanya Agung Sedayu sambil menatap Ki Untara.

“Ingatanmu sungguh tajam” kata Ki Untara ”padahal kau masih kecil, ketika ayah sering membawa-bawa pedang ini”.

“Di manakah kakang mendapatkan pedang Jati Laksana ini?”tanya Agung Sedayu.

“Aku mendapatkan pedang ini di dalam gua tempat kita berlatih” kata Ki Untara.

“Ketika aku memasuki gua itu, aku tidak melihatnya” kata Agung Sedayu lagi.

“Aku menemukannya secara kebetulan. Ketika aku mengangkat meja batu pipih di tengah ruangan gua, ternyata di bawahnya ada sebuah rongga yang dipergunakan ayah untuk menyimpan Kitab Jati Kencana, Pedang Jati Laksana dan sebuah nawala”.

“He? Nawala?” tanya Agung Sedayu.

“Ya. Nawala itu dari ayah” kata Ki Untara sambil membuka kampilnya, lalu menyerahkan seikat rontal kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu lalu membaca rontal itu. Wajahnya nampak bersungguh-sungguh membaca rontal itu. Setelah membaca rontal itu, Agung Sedayu menghela nafas lega.

“Apakah dalam kitab itu, ada ilmu puncak perguruan Jati Kencana?”tanya Agung Sedayu.

“Tentu. Tentu saja ada. Bahkan aku sudah dapat menguasainya” kata Untara.

“Syukurlah. Aku khawatir sekali karena secara tidak sengaja aku telah merusakkan pahatan puncak ilmu yang terletak di puncak kubah gua dengan aji Netra Dahana” kata Agung Sedayu.

“Aji Netra Dahana?”tanya Untara dan Swandaru hampir berbareng.

“Ya. Ajiku yang menggunakan kekuatan tenaga cadangan melalui remasan pandangan mata, kunamakan aji Netra Dahana” katanya lagi.

“Oo” hampir berbareng Untara dan Swandaru berseru kagum.

“Apakah kakang membawa kitab itu?”tanya Agung Sedayu.

“Ya. Aku sengaja membawanya, untuk kuperlihatkan kepadamu.”

Ki Untara merogoh kampilnya dan mengeluarkan sebuah ikatan besar rontal, lalu menyerahkan kepada Agung Sedayu. Agung Sedayu menerima rontal itu sambil mengembalikan pedang Jati Laksana kepada kakaknya Untara.

“Apakah kau ingin memakai pedang ini?”kata Untara menawarkan kepada Agung Sedayu.”Pedang ini adalah pedang mustika yang dibuat dari logam khusus dan sangat tajam”.

“Biarlah kakang saja yang menyimpannya. Aku sudah mempunyai senjata cambuk yang menjadi ciri khusus perguruanku” kata Agung Sedayu.

“Tetapi kau pun berhak mempelajari ilmu Jati Laksana dan menggunakan pedang ini”katanya.

“Biarlah kakang yang menggunakan pedang itu. Aku hanya ingin meminjam kitab ini barang sebulan dua bulan. Aku ingin mempelajari bagian ilmu pamungkas yang hilang dari puncak kubah gua” katanya.

“Baiklah kalau begitu” kata Ki Untara.

Swandaru Geni yang menyimak pembicaraan mereka, tidak berkata apa-apa. Karena itu menyangkut masalah ke dalam dari perguruan Ki Sadewa, yang ternyata kemudian bernama perguruan Jati Kencana.

Mereka bahkan sempat bergojeg, mengenang masa-masa muda mereka yang terasa lucu untuk diceriterakan. Padahal ketika mereka mengalami dan merasakannya kala itu terasa betapa tegangnya. Swandaru dan Agung Sedayu tertawa terbahak-bahak, ketika Untara menceriterakan betapa Agung Sedayu menjadi ketakutan ketika dikejar Alap-alap Jalatunda dan Pande Besi dari Sendang Gabus. Tetapi untunglah kemudian hadir Kiai Tanu Metir yang menyamar menjadi Kiai Gringsing.

Swandaru pun menambahkan betapa wajah Agung Sedayu pias pucat pasi, ketika ia berteriak-teriak kepada kepada peserta pertandingan memanah di lapangan Sangkal Putung, bahwa Sidanti bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung.

Setelah puas bergojeg, Swandaru tiba-tiba berkata, ”sehabis Pisowanan Agung, aku akan ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok Sekar Mirah”.

“Aku pun sebenarnya ingin menengok Sekar Mirah dan Ki Gde Menoreh. Tapi sayang tugasku tidak dapat ditinggalkan lama-lama” kata Ki Tumenggung Untara.”Aku titip salam saja, kepada keduanya.”

Ki Untara pun memandang Agung Sedayu lekat-lekat. Ia teringat, betapa dulu ia sangat kecewa ketika dimintanya Agung Sedayu menjadi prajurit Demak dan adiknya itu menolak. Adiknya itu bahkan lebih suka tinggal di Kademangan Sangkal Putung, dan dianggapnya hanya ngenger kepada Ki Demang, karena menginginkan anak gadisnya. Sekar Mirah.

Namun siapa kemudian mengira bahwa Agung Sedayu kini telah menjadi seorang Rangga. Berdasarkan kabar yang didengarnya, ia bahkan mendengar bahwa adiknya itu esok hari akan dilantik menjadi seorang panji dalam Pisowanan Agung. Ia hanya menggeleng-geleng. Namun karena suasana di halaman belakang Kepatihan itu agak gelap, maka baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak melihat gerakan kepala Ki Untara.

Perjalanan nasib, siapa yang bisa mengira. Yang tahu hanya Yang Maha Agung”katanya di dalam hati.

Tidak berapa lama kemudian, seorang abdi dalem mempersilakan mereka bertiga untuk makan di dekat bangsal.

Tidak berapa lama kemudian, seorang abdi dalem mempersilakan mereka bertiga untuk makan di dekat bangsal tempat Agung Sedayu menginap. Makan malam itu tidak disediakan di tempat biasanya Ki Patih Mandaraka menjamu tamu-tamunya, justru karena Ki Patih yang dalam keadaan sakit. Dengan demikian, mereka bisa bersantap sambil melanjutkan ceritera mereka tadi, tanpa harus mengganggu Ki Patih.

Demikianlah mereka asyik berbincang, sehingga tanpa terasa gugusan bintang Gubug Penceng yang terletak di kaki langit Selatan, garis yang menghubungkan titik bawah dan atasnya sudah condong ke Barat.

“Di manakah kalian menginap?”tanya Agung Sedayu.

“Aku menginap di bangsal yang terletak di depan bangsalmu. Dan kakang Untara di sebelahnya” kata Swandaru.

“He?. Ki Patih tidak mengatakannya”.

“Tentu Ki Patih ingin membuat kejutan untukmu”kata Untara. Ternyata Swandaru yang lebih dahulu menguap.

“Aku sudah mengantuk. Kalau perutku kenyang, aku cepat sekali mengantuk”katanya”aku mau tidur”

Ki Untara dan Agung Sedayu tertawa, dan tidak berkata apa-apa lagi. Namun kemudian Ki Untara menyahut.

“Aku juga. Besok pagi kita harus bangun, agar tidak keduluan ayam jantan”kata Ki Untara. Mereka pun kemudian memasuki ruangan yang telah disediakan untuk mereka masing-masing. Tak berapa lama mereka terlena dalam pelukan dan buaian dewi mimpi.

Ketika terdengar kokok ayam jantan yang terakhir kalinya, mereka pun segera terbangun. Mereka seolah-olah tidak mau didahului ayam jantan. Untara pikirannya melayang ke masa kecilnya, di mana ayahnya Ki Sadewa membangunkannya setiap pagi sambil berkata.

“Kau harus selalu bangun pagi, agar rezeki tidak dihabiskan oleh ayam” kata ayahnya. Dan ternyata kebiasaan bangun pagi sejak kecil itu, terbawa sampai masa tuanya sekarang. Kebiasaannya itupun ditularkannya kepada adiknya Agung Sedayu, yang ketika kecil lebih suka bermalas-malasan, karena terlalu dimanjakan oleh ibunya.

Kini ajaran ayahnya itu telah pula diturunkan kepada anaknya Wira Sanjaya. Seperti Untara, wira Sanjaya pun ternyata seorang anak yang rajin dan tekun. Terlebih lagi kini ia mendapat bimbingan dari Ki Widura, adik dari kakeknya Ki Sadewa.

Setelah mandi pagi dan sesuci, mereka pun masing-masing menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Setelah itu, seolah-olah berjanji mereka turun ke halaman dan berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi di halaman Istana Kepatihan.

Tak berapa lama mereka melihat Ki Patih yang baru turun dari pendapa dengan ditopang tongkat kayu hitam yang gagangnya diukir dengan kepala naga raja.

“Apakah Ki Patih sudah merasa sehat kembali”tanya Ki Untara.

“Ya Syukurlah, Untara. Aku sudah sehat. Tapi sesehat-sehanya orang tua seperti aku ini, ya tetap diincar oleh berbagai penyakit. Kelak kalau kau menjadi setua aku, kau akan merasakan hal serupa”ujar Ki Patih.

“Iya Ki Patih. Hal itu sudah merupakan kodrat manusia. Manusia itu lahir, hidup, besar, dewasa, mencapai puncak kejayaannya, lalu surut, menurun, menjadi tua dan akhirnya akan kembali kepada Yang Maha Agung”kata Agung Sedayu.

“Iya Ki Patih. Selama orang itu bernama manusia, ia tidak bisa terlepas dari kodratnya. Kalau orang itu lahir dan besar, tapi tanpa pernah mati tentu dunia ini akan penuh dengan orang-orang tua yang usianya mencapai ratusan tahun” kata Swandaru.

“Itulah hakekat kehidupan. Lahir, hidup, mengisi peradaban, lalu tua dan akhirnya mati. Peradaban itu bergeser dari zaman ke zaman, bersama dengan bergeraknya bumi mengitari sang surya. Pagi bergeser menjadi siang, siang bergerak menjadi sore, sore menjadi malam. Malam menjadi fajar. Fajar menjadi subuh. Subuh menjadi pagi dan begitu seterusnya.”kata Ki Patih Mandaraka pula.

Lalu katanya melanjutkan, ”Begitu pula kerajaan di nusantara ini, mulai dari Kalingga, Mataram kuno, Sriwijaya, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, lalu sekarang menjadi Mataram.”

”Semua itu seakan-akan gumpalan awan-awan putih yang bergerak berarak-arak di atas langit. Kalau awan itu putih, maka cuaca akan cerah. Langit pun menjadi indah. Tapi adakalanya pula awan hitam yang bergerak di langit. Awan itu berwarna hitam, karena mengandung butir-butiran air, yang pada suatu saat menurunkan hujan. Hujan pun bisa mendatangkan baik berkah maupun bencana. Hujan itu mendatangkan berkah bagi petani, karena bisa mengairi daerah persawahan dan menghidupi padi-padi yang baru mereka tanami. Itu kalau hujan itu turun secara normal, dalam arti tidak sedikit namun juga tidak berlebihan.

Jika hujan itu turun berlebihan, bisa menimbulkan bencana, mulai dari menenggelamkan areal persawahan. Menyeret apa saja yang dilaluinya bahkan memporakporandakannya.

Kembali ke hakekat awan itu, kalau boleh kuibaratkan peradaban manusia itu sendiri. Semuanya itu silih berganti mewarnai bumi ini, dan pada akhirnya akan sirna tersapu angin yang kencang.

Kalaupun ada bekas-bekas yang ditinggalkannya adalah berupa candi-candi yang merupakan pertanda kebesaran sejarah suatu peradaban. Sebagai misal, di dekat lingkungan kita ini terdapat sebuah candi yang terletak di desa Prambanan. Kita tidak tahu, berapa lama suatu peradaban membangunnya. Lima, sepuluh, dua puluh tahun? Yang jelas, pekerjaan itu dilakukan oleh suatu tatanan yang ajeg, tatag, dan mempunyai ketabahan dari generasi ke generasi.

Untuk mendirikan Mataram ini saja sudah dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Mulai dari membabat Alas Mentaok, mulai membuat patok-patok, membangun jalan-jalan raya, selokan-selokan, bendungan-bendungan, lahan pertanian, gedung-gedung, dan segala kelengkapannya. Semua itu merupakan batu dasar bagi pertumbuhan Mataram untuk seterusnya. Tugas itu sudah dilaksanakan oleh Ki Gde Pemanahan, aku, dan para sesepuh Mataram lainnya. Ki Patih menghela nafas, lalu melanjutkan.

Nah selanjutnya, maka tugas kalianlah untuk membangkitkan Mataram agar menjadi negeri yang kuat, kokoh dan tahan menghadapi segala badai sejarah. Oleh karena itu, sangat tepat istilah para tetua dan sesepuh negeri ini dari segala zaman, bahwa kalau suatu negeri ingin damai maka harus bersiap-siap untuk berperang.

”Kenapa kalau kita ingin damai harus bersiap-siap untuk berperang? Bukankah hal itu suatu hal yang bertolak belakang? Kalau diibaratkan dengan masa kanak-kanak kita. Ketika itu ada saja anak-anak nakal yang selalu mengganggu kawannya. Jika ada anak yang rajin belajar atau menekuni sesuatu, maka niat anak yang sungguh-sungguh itu akan terganggu karena ulahnya. Tetapi jika anak yang rajin dan bersungguh-sungguh itu badannya besar dan tenaganya kuat, maka anak nakal tadi tidak berani menganggunya.

Begitu pula dalam ukuran yang lebih besar. Dalam bentuk negara atau kerajaan. Kerajaan yang kuat akan bisa membangun negerinya dengan aman jika mempunyai kekuatan pasukan yang besar. Hal ini sudah pernah dialami oleh Mataram yang mengalami guncangan akibat berbagai pertarungan kepentingan, seperti sisa-sisa laskar Jipang yang hendak membangkitkan kekuatan bekas pasukan Macan Kepatihan, lalu Madiun, Demak dan sekarang Panaraga yang hendak membangkitkan sisa-sisa kejayaan masa lalu dari trah Majapahit.

Semua itu membutuhkan perhatian kita, agar proses pembangunan kerajaan Mataram yang kuat dan bisa bangkit di jajaran pulau-pulau nusantara bisa terlaksana. Kita hanya bisa bangkit, kalau kita bisa membangun pasukan darat yang kuat, armada laut yang kuat dan perdagangan yang ramai, agar bisa mendukung kemampuan keuangan negara untuk menggalang kekuatan itu. Tanpa mempunyai suatu sistem tata laksana keuangan yang kuat, maka sejarah akan terulang kembali.

Kalian tentu ingat betapa Majapahit dahulu runtuh, karena para pejabatnya hidup terlalu bermewah-mewahan, berpesta pora dan melupakan kehidupan rakyat kecil. Rakyat diperas dengan upeti dan pajak yang mencekik leher, namun tak ada pasukan yang kuat untuk mengamankan keadaan negeri. Yang terjadi adalah kezaliman di mana-mana. Pencurian, perampokan, perkosaan, perjudian dan segala penyakit masyarakat tumbuh dan berkembang subur.

Akibatnya apa? Rakyat tidak suka kepada pemerintahan. Mereka dengan segera beralih ke Demak, karena mereka anggap Demak akan memberikan pilihan lain bagi kemajuan negeri. Wahyu keraton seakan-akan bergeser ke Demak, ketika negeri itu dianggap sebagai pembaharu. Namun sejarah kembali berulang. Kini wahyu keraton dianggap bergeser ke Mataram. Dan menjadi tugas kalian lah di masa datang harus menjaga agar wahyu keraton itu tetap dianggap berada di Mataram?

”Apakah yang dapat kami lakukan agar wahyu keraton tersebut dianggap tetap berada di Mataram, Gusti Patih”tanya Untara.

“Ya seperti aku katakan tadi. Kalau mau damai bersiaplah untuk perang. Dalam keadaan perang dan damai, pasukan darat dan armada laut yang segera dibangun oleh Agung Sedayu, harus paling kuat di tanah ini. Dengan pasukan darat dan armada laut yang kuat, maka tidak akan ada negeri yang berani mengganggu Mataram. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Tanpa terasa mereka cukup lama berbincang. Sesaat kemudian seorang abdi dalem mempersilakan mereka bersantap pagi. Agung Sedayu yang merasa dekat dengan Ki Patih Mandaraka, segera menuntun orang tua itu untuk berjalan menuju ruang tengah untuk menikmati santapan pagi yang telah tersedia.

Dengan tertatih-tatih Ki Patih berjalan. Dan meskipun lambat, akhirnya mereka sampai di meja makan dan setelah Ki Patih mempersilakan, mereka makan dengan lahap. Setelah selesai, mereka mulai berkemas-kemas untuk hadir dalam Pisowanan Agung yang digelar di paseban. Agung Sedayu dan Untara menggunakan pakaian lengkap keprajuritannya, sedangkan Swandaru Geni yang bukan prajurit menggunakan pakaian lengkap adat jawa. Sebilah keris diselipkannya di pinggang.

Ketika mereka memasuki paseban, maka di ruangan yang besar itu sudah mulai terisi dengan para undangan yang harus hadir dalam Pisowanan Agung tersebut. Beberapa petugas segera menyambut mereka. Ki Tumenggung Untara dan Ki Rangga Agung Sedayu segera menempati tempat yang disediakan di sayap kanan gedung, sedangkan Ki Swandaru Geni ditempatkan di sayap kiri.

Ketika semua tempat telah terisi, maka Panembahan Hanyakrawati, didampingi Pangeran Purbaya, Ki Patih Mandaraka dan para petinggi pemerintahan di Mataram memasuki ruangan yang besar itu.

Semua yang hadir menyampaikan sembah pangabekti, sampai Panembahan Hanyakrawati duduk di dampar kencana yang berada di panggungan yang agak tinggi. Di kiri kanannya, duduk Ki Patih Mandaraka dan Pangeran Purbaya. Agak di belakang berjajar para petinggi pemerintahan. Sedangkan di kiri kanan agak ke pinggir, duduk para perwira prajurit yang mempunyai kedudukan agak tinggi.

Acara Pisowanan Agung itu pun segera dimulai. Ternyata Pisowanan Agung kali ini adalah acara khusus untuk melantik dan menyerahkan serat kekancingan bagi para prajurit dan para kepala wilayah kademangan yang mendapat pangkat istimewa setara dengan prajurit, karena pengabdian mereka yang tulus, jujur dan teruji dalam waktu lama sejak berdirinya Mataram.

Acara itu dibagi menjadi dua, pertama penyerahan serat kekancingan kepada para prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan. Ada dua puluh prajurit yang mendapat kenaikan pangkat dan jabatan tersebut, termasuk di antaranya Ki Tumenggung Untara yang mendapat kedudukan sebagai Panglima Pasukan Wira Tamtama berkedudukan di Kotaraja, dan Ki Rangga Agung Sedayu yang karena jasa-jasanya yang sangat besar bagi negara diberi kenaikan pangkat luar biasa langsung menjadi tumenggung. Ki Agung Sedayu masih membawahi pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, yang meliputi pasukan khusus darat dan pasukan khusus armada laut yang kini tengah dibangunnya.

Karena Ki Tumenggung Untara menduduki jabatan baru sebagai Panglima Wiratamtama, maka jabatannya sebagai pimpinan pasukan di wilayah Selatan diserahkan kepada Sabungsari yang mendapat kenaikan pangkat menjadi rangga.

Semua hadirin yang mendengar pengumuman kenaikan pangkat dan jabatan itu terperanjat, meskipun mereka tidak berani berkata apapun. Sebab keputusan itu adalah langsung diambil oleh Panembahan Hanyakrawati. Dan hal itu adalah Sabda pandita ratu. Sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dipertanyakan.

Sedangkan para kepala wilayah kademangan, termasuk Ki Swandaru Geni, mendapat pangkat istimewa sebagai lurah prajurit meskipun ia tidak membawahi prajurit. Sebab pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung adalah pasukan yang kuat, yang jasa dan pengabdiannya sudah teruji sejak menghadapi pasukan Jipang di masa kerajaan Demak. Dalam setiap peperangan pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung selalu ikut membaktikan tenaga, jiwa dan raganya bagi tegaknya kerajaan Mataram. Anugerah itu diterimakan kepada Ki Swandaru Geni, karena ayahnya yang semula menjadi Demang Sangkal Putung, sudah uzur dan tidak lagi dapat melaksanakan tugas-tugasnya karena masalah usia tadi.

Dengan demikian, Ki Swandaru Geni mendapat dua hal. Pertama menggantikan ayahnya sebagai demang dan yang kedua mendapat pangkat lurah prajurit atas jasa-jasanya dalam membela Mataram.

Ternyata ada dua puluh kademangan di sekitar Mataram yang mendapat kedudukan istimewa karena demangnya mendapat pangkat lurah prajurit.

Setelah selesai pelantikan dan penyerahan serat kekancingan itu, maka Panembahan Hanyakrawati menyampaikan sambutan atau sesorah. Panembahan Hanyakrawati pertama-tama menyampaikan ucapan selamat kepada semua orang yang mendapat anugerah itu.

Selanjutnya Panembahan Hanyakrawati menyatakan bahwa anugerah itu merupakan bukti perhatian kerajaan Mataram terhadap orang-orang yang telah membaktikan dirinya bagi Mataram dengan siap mengorbankan darah, jiwa dan raganya bagi kemajuan Mataram.

Ternyata pemikiran Panembahan Hanyakrawati senada dengan pemikiran Ki Patih Mandaraka tadi pagi, yang menyatakan bahwa jika suatu negara seperti Mataram ingin damai, maka harus bersiap-siap untuk perang. Kedamaian di tlatah tanah ini harus ditegakkan dengan kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan. Tanpa kekuatan senjata dan ilmu olah kanuragan yang mumpuni, maka kedamaian itu tidak akan bisa ditegakkan.

Sebab jika kekuatan senjata dan kemampuan ilmu olah kanuragan itu dimiliki oleh para perampok atau penyamun, maka kedamaian itu menjadi milik mereka. Dan rakyat yang tertindas oleh kekuatan dan ilmu olah kanuragan para perampok atau penyamun, tidak akan bisa menikmati hidup yang tenteram, aman, damai dan sejahtera. Mereka hanya menjadi bahan pemerasan oleh para perampok dan penyamun yang ingin hidup enak tanpa harus mengucurkan keringat.

Oleh karena itu, Panembahan Hanyakrawati meminta kepada para prajurit untuk terus meningkatkan kemampuannya untuk mesu diri dalam ilmu olah kanuragan dan mesu diri dalam olah sastra dan tata pemerintahan. Sehingga jika pada waktunya mereka menjabat suatu kedudukan tertentu dalam keprajuritan maupun dalam pemerintahan, mereka sudah siap dan tidak terkejut lagi.

Panembahan Hanyakrawati kembali mengingatkan akan kebesaran kerajaan Majapahit yang kini sudah pudar.

“Kita bisa belajar dari kebesaran kerajaan Majapahit, bahwa kerajaan itu pernah memiliki soko guru utama yang menopang kejayaannya, yaitu kemampuan luar biasa yang dimiliki Mahapatih Gajahmada yang mumpuni dalam bidang olah kanuragan, namun juga mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam tata pemerintahan.”ujarnya.

Terlepas dari baik buruknya dan itu bersifat manusiawi, Gajahmada dan Majapahit seolah-olah satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan, selain Raja-Raja besar yang pernah dimiliki Majapahit seperti Raden Wijaya, Prabu Hayam Wuruk dan lainnya.

“Karena itu, marilah kita bangkitkan Mataram menjadi sebuah kerajaan yang besar yang bisa menguasai seluruh penjuru nusantara. Hal itu bukan semata-mata untuk menunjukkan ketamakan atau keserakahan, melainkan aku ingin Mataram menjadi satu kekuatan yang mampu menegakkan ketertiban dalam masyarakat yang beradab” ujarnya.

“Sebagai penutup, aku mengucapkan selamat bertugas dan bersungguh-sungguhlah dalam mencapai gegayuhan kita dalam mewujudkan Mataram yang kokoh kuat, tidak lekang oleh matahari dan tidak runtuh oleh badai yang betapa pun kuatnya. Hidup Mataram,” ujar Panembahan Hanyakrawati mengakhiri sambutannya.

Demikianlah hadirin dalam Pisowanan Agung tersebut pun membubarkan diri, kecuali Ki Untara, Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Rangga Sabungsari yang diminta untuk tetap berada di paseban.

Ketika hadirin yang lain sudah bubar, maka Pangeran Purbaya yang menjalankan pemerintahan sehari-hari sejak Ki Patih Mandaraka menderita sakit, menemui Ki Untara, Agung Sedayu dan Sabungsari.

Pangeran Purbaya mengucapkan selamat kepada ketiga orang itu. Kemudian Pangeran Purbaya yang sebelumnya boleh dibilang menjabat Panglima Wira Tamtama Mataram, dengan telah diserahkannya jabatan itu kepada Ki Untara, maka pekerjaan menjadi lebih ringan. Ia kini bisa memusatkan perhatiannya kepada tata pemerintahan. Sedangkan urusan keprajuritan diserahkannya kepada Ki Untara.

Namun karena Ki Untara tadinya pimpinan pasukan Mataram di wilayah Selatan berkedudukan di Jati Anom, maka Ki Untara harus kembali ke Jati Anom untuk menyerahkan jabatannya itu di depan anggota pasukannya. Karena itu Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari mendapat tugas untuk berangkat ke Jati Anom untuk melakukan serah terima jabatan.

Untuk selanjutnya Ki Untara kembali ke Kotaraja untuk mulai menduduki jabatannya sebagai Panglima Wira Tamtama. Banyak hal yang harus dilakukan untuk membenahi tata keprajuritan, termasuk kesejahteraan mereka, meningkatkan kemampuan tempur pasukan dengan berbagai latihan-latihan.

Sedangkan kepada Ki Tumenggung Agung Sedayu, Pangeran Purbaya minta agar segera diwujudkan pembangunan armada laut Mataram.

Demikianlah keesokan harinya, setelah meminta diri kepada Panembahan Hanyakrawati, Pangeran Purbaya dan Ki Patih Mandaraka, maka Ki Untara dan Ki Rangga Sabungsari berangkat ke Jati Anom. Karena kedudukannya yang baru sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kepergian Ki Untara dikawal oleh dua puluh prajurit berkuda.

Sedangkan dalam arah yang lain Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru Geni berangkat ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menengok adiknya Sekar Mirah yang sedang mengandung.

Ketika matahari memanjat kaki langit setinggi penggalah, setelah meminta diri kepada Ki Patih maka mereka mulai mengikuti jalanan yang menuju ke Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mengendalikan kudanya perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan. Seperti ketika berangkat, ketika kembali kedua lurah pengawalnya pun mengiringinya di belakang. Hanya saja, anggota rombongan mereka bertambah karena Ki Lurah Swandaru Geni ikut dalam rombongan itu.

Demikianlah tidak ada halangan yang berarti dalam perjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh itu. Ketika sang surya sudah bergeser ke dinding langit di tepi Barat, maka rombongan kecil itu sampai di Tanah Perdikan Menoreh. Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta langsung membelok ke barak pasukan khusus dan Ki Tumenggung Agung Sedayu dan Ki Lurah Swandaru, langsung menuju padukuhan induk.

Mereka langsung menuju ke rumah Agung Sedayu. Agung Sedayu sudah tidak sabar, seakan-akan ingin meloncat langsung masuk ke dalam rumahnya, ketika dari jauh ujung atap rumahnya sudah terlihat. Akhirnya mereka sampai ke regol halaman, Agung Sedayu dan Swandaru segera turun dari punggung kudanya.

Sukra yang sudah menjelang dewasa segera menyambutnya, ia berteriak gembira lalu menyalami Agung Sedayu dan Swandaru berganti-ganti lalu mencium tangannya. Teriakan Sukra yang cukup keras itu menarik perhatian penghuni rumah lainnya. Ki Jayaraga keluar dari pintu dan Nyi Sekar Mirah menyusul di belakangnya.

“Kakang Swandaru” kata Nyi Sekar Mirah sambil berjalan tergopoh-gopoh dengan perutnya yang semakin membesar. Nyi Sekar Mirah memeluk kakaknya dan meneteskan air mata harunya, karena telah lama tidak berjumpa.

“Kandunganmu sudah besar Mirah” kata Swandaru Geni.

“Iya kakang. Sudah delapan bulan” kata Nyi Sekar Mirah.

“Sebentar lagi Swantara akan punya adik teman sebagai bermain” kata Ki Swandaru sambil tertawa senang.

“Sekarang Swantara sudah bisa apa kakang” tanya Nyi Sekar Mirah.

“Wah Swantara semakin nakal saja, ia sudah berlari-lari ke sana kemari, sehingga merepotkan ibunya dan emban pemomongnya. Bahkan ia sudah bisa memanjat pepohonan yang ada di halaman rumah dan rumah tetangga” jawab Swandaru.

“Oo ya, bagaimana dengan kakangmbok Pandan Wangi? Apakah ia dalam keadaan sehat walafiat?” tanya Nyi Sekar Mirah.

“Kakangmbokmu sehat-sehat saja. Begitu juga ayah Demangdan Ibu,” katanya.

“Oo syukurlah. Rasanya sudah hampir setahun aku tidak berjumpa dengan ayah dan ibu” kata Nyi Sekar Mirah.

“Ya. Mudah-mudahan mereka sehat dan bisa menengokmu kemari, jika kelak anakmu lahir” kata Ki Swandaru.

Mereka kemudian naik ke pendapa dan duduk di atas tikar pandan yang dianyam halus. Tidak lama kemudian Sukra muncul dengan membawa makanan kecil dan minuman di atas talam.

Ki Jayaraga, Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru kemudian duduk melingkar sambil menikmati hidangan yang disediakan Sukra. Setelah menghidangkan makanan kecil dan minuman Sukra kembali ke dapur dan membantu Nyi Sekar Mirah menyiapkan makanan bagi mereka.

Ki Agung Sedayu kemudian menceriterakan pengalamannya sejak berangkat ke Mataram, dicegat oleh orang-orang perguruan Windu Jati dari Panaraga dan cerita kenaikan pangkatnya menjadi tumenggung.

“Sungguh pengalaman perjalanan yang luar biasa ngger” kata Ki Jayaraga.

“Ya. Berkat aji Kendali Sukma yang Ki Jayaraga berikan, aku bisa melumpuhkan kedua lawanku, tidak membunuhnya” kata Ki Agung Sedayu.

“Pangeran Purbaya melihat langsung pertarungan itu dan melaporkannya kepada Panembahan Hanyakrawati, sehingga beliau mengambil keputusan lain setelah mengetahui kemampuanku” kata Ki Agung Sedayu.

“Apakah yang kau maksudkan dengan keputusan lain?” tanya Ki Swandaru.

“Semula Panembahan akan meningkatkan pangkatku menjadi panji seperti beliau sampaikan kepadaku ketika aku menghadap dua bulan lalu” kata Ki Agung Sedayu.”Tetapi ketika beliau mendengar ceritera Pangeran Purbaya, maka beliau mengambil keputusan lain yaitu meningkatkan pangkatku menjadi tumenggung” katanya.

“Aku semula sempat khawatir, ketika beliau sempat mengatakan akan mengambil keputusan lain,” kata Ki Agung Sedayu.

“Yang tidak kuduga, bahwa adi Swandaru juga mendapat pengangkatan menjadi lurah prajurit, meskipun tidak membawahi pasukan Mataram. Tetapi pasukannya adalah pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung. Itu sungguh merupakan penghargaan yang sangat sulit diduga,” kata Ki Agung Sedayu.

“Jadi mulai hari ini, aku harus memanggil anakmas Swandaru dengan Ki Lurah Swandaru Geni?” tanya Ki Jayaraga.

“Benar Ki Jayaraga,” kata Ki Lurah Swandaru Geni bersemangat.

“Wah. Wah. Selamat. Selamat. Ki Lurah Swandaru Geni. Alangkah gagah namamu setelah mendapat pangkat keprajuritan,” kata Ki Jayaraga. Ki Agung Sedayu pun tersenyum gembira, mendengar ucapan Ki Jayaraga tersebut.

Tidak lama kemudian hidangan segera mengalir dari dapur yang dikeluarkan oleh Sukra. Sejenak kemudian mereka menjadi sibuk menggerumiti makanan yang dihidangkan itu.

Setelah menikmati hidangan itu, Sukra segera membereskan tempat makanan dan minuman itu dan mencucinya di pakiwan.

Ki Agung Sedayu, Ki Swandaru Geni dan Ki Jayaraga, kembali bercakap-cakap tentang pengalaman mereka mengikuti acara Pisowanan Agung di paseban Istana Mataram. Setelah membereskan kesibukannya di dapur, Nyi Sekar Mirah pun bergabung duduk di pendapa. Namun karena perutnya besar, ia tidak bisa duduk di atas tikar. Ia memilih duduk di atas dingklik kecil.

Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan kepada istrinya, bahwa kemarin ia telah diwisuda menjadi tumenggung di Istana Mataram. Ki Agung Sedayu pun kemudian menyerahkan serat kekancingan yang diterimanya kemarin kepada Nyi Sekar Mirah. Dengan gembira Nyi Sekar Mirah membaca serat kekancingan itu dan membolak-baliknya. Ia memperhatikan tulisan dalam huruf jawa yang terlihat rapi di atas kertas yang halus.

“Selamat kakang. Selamat. Kakang kini menjadi seorang tumenggung. Lalu bagaimana dengan kakang Untara?” tanyanya.

“Kakang Untara diangkat menjadi Panglima Wira Tamtama. Karena jabatan itu praktis kosong setelah terakhir dijabat oleh Ki Gde Pemanahan pada zaman Demak, yang kemudian disebut Ki Gde Mataram. Selama ini jabatan itu dipegang oleh Ki Patih Mandaraka. Lalu setelah Ki Patih sakit-sakitan, jabatan itu dipegang oleh Pangeran Purbaya. Dengan dipegangnya jabatan itu oleh kakang Untara, maka kakang Untara menyerahkan jabatannya kepada Sabungsari sebagai senapati pasukan Mataram di wilayah Selatan. Sekarang Sabungsari sudah naik pangkat menjadi rangga.”

“Lalu di manakah kedudukan kakang Untara?” tanya Sekar Mirah.

“Sebagai Panglima Wira Tamtama, maka kelak kedudukan kakang Untara di Kotaraja” katanya.

“Oo. Syukurlah. Kalau ke kotaraja kelak, aku akan bisa berbincang-bincang dengan kakangmbok Nyi Untara” kata Nyi Sekar Mirah.

Ki Agung Sedayu tiba-tiba teringat dengan dua murid utama perguruan Windu Jati yang dilumpuhkannya di tepian Kali Praga. Ia lalu bertanya kepada Ki Jayaraga.

“Menurut Ki Jayaraga apakah perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga, akan menaruh dendam kepadaku, karena dua orang muridnya telah aku lumpuhkan dan satu orang lagi tewas kena lemparan belati Ki Lurah Darma Samudra” tanya Ki Tumenggung Agung Sedayu.

“Aku rasa memang akan demikian, ngger” kata Ki Jayaraga.

Pertama, karena ini menyangkut sesama perguruan yang satu aliran. Yang kedua, dua orang murid utama itu bisa dilumpuhkan sehingga akan menjadi sumber keterangan yang berharga. Ketiga, gurunya tentu akan turun ke tlatah Menoreh ini untuk mencari Angger.”

“Karena itu, kalau boleh, aku ingin menyarankan agar Nyi Sekar Mirah diungsikan ke rumah Ki Gde, karena dengan membawa dendam yang demikian besar, bukan tidak mungkin guru dari perguruan Windu Jati di Panaraga itu melepaskan dendamnya kepada siapa saja yang ada di rumah ini,” katanya.

“Jika demikian nanti akan aku sampaikan kepada Ki Gde, mengenai kemungkinan pembalasan dendam dari perguruan Windu Jati di Panaraga kepada siapa saja yang ada di rumah ini,” kata Ki Agung Sedayu. Lalu ia bertanya.”Apakah Ki Jayaraga pernah mendengar perguruan Windu Jati yang ada di Panaraga?”

“Aku baru mendengar bahwa ada perguruan Windu Jati di Panaraga. Setahuku perguruan Windu Jati ada di Madiun, yang sudah pernah angger kunjungi beberapa waktu lalu,” kata Ki Jayaraga.

Setelah selesai membicarakan berbagai masalah, maka Ki Agung Sedayu minta diri untuk menghadap Ki Gde Menoreh.

“Apakah adi Swandaru akan pergi bersamaku menghadap Ki Gde?” tanya Ki Agung Sedayu.

“Baiklah. Aku akan pergi bersamamu ke rumah Ki Gde” kata Ki Swandaru.

Sebelum berangkat, ia sempat memberitahukan kepada Nyi Sekar Mirah mengenai kepergiannya bersama Ki Swandaru ke rumah Ki Gde.

“Baiklah kakang. Sampaikan salam hormatku kepada Ki Gde”kata Nyi Sekar Mirah.

Dalam waktu tidak terlalu lama mereka telah sampai di rumah Ki Gde Menoreh. Ki Gde yang melihat kedatangan Ki Agung Sedayu dan Ki Swandaru segera tergopoh-gopoh menyambutnya.

“Oo anakmas Swandaru. Kapan anakmas tiba?” tanya Ki Gde Menoreh menyambut menantunya. ”Apakah anakmas datang bersama dari Mataram bersama anakmas Agung Sedayu?”.

“Iya Ayahanda. Aku baru datang dari Mataram bersama kakang Agung Sedayu”jawab Ki Swandaru.

“Mari. Mari silakan duduk di pendapa” kata Ki Gde Menoreh.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka Ki Swandaru mulai menceriterakan undangan yang diterimanya dari Istana Mataram. Ternyata ia yang menggantikan ayahnya Ki Demang Sangkal Putung yang mengundurkan diri karena faktor usia, mendapat pangkat lurah prajurit Mataram meskipun ia tidak membawahi pasukan prajurit Mataram.

“Kehormatan itu aku terima karena aku pemimpin pasukan pengawal Kademangan Sangkal Putung, dan kini menjadi pelaksana harian Demang Sangkal Putung,” katanya.

“Syukurlah kalau demikian” kata Ki Gde Menoreh.”Mengenai kakang Agung Sedayu, biarlah kakang sendiri yang menceriterakannya kepada Ki Gde Menoreh” katanya.

Ki Agung Sedayu pun kemudian menceriterakan pengalaman perjalanannya bersama dua orang lurah prajurit. Di tengah perjalanan, di tepi Kali Praga ternyata ia harus bertempur dengan dua murid utama perguruan Windu Jati dari Panaraga.

Dua orang berhasil dilumpuhkan, seorang tewas dan seorang lagi melarikan diri.

“Yang aku khawatirkan adalah aksi balas dendam dari saudara seperguruan Ki Bargas dan Ki Bergawa itu, karena jika aku ke barak, Sukra ke banjar kademangan induk dan Ki Jayaraga ke sawah, maka yang ada di rumah hanya Nyi Sekar Mirah”kata Ki Agung Sedayu.

“Tentu mereka bisa melepaskan dendam kepada siapa saja yang ada di rumah, apalagi istriku dalam keadaan hamil besar” katanya.

“Jadi apa yang dapat aku lakukan, anakmas?”tanya Ki Gde Menoreh.

“Untuk menghindari kemungkinan yang tidak diharapkan, untuk sementara aku ingin menitipkan Nyi Sekar Mirah di sini, Ki Gde” kata Ki Agung Sedayu.

“Tentu saja aku tidak berkeberatan anakmas” katanya.

“Ini hanya sementara saja Ki Gde, jika besok aku sudah ke barak, aku tentu bisa menugaskan satu dua orang prajurit untuk ikut mengawasi rumah Ki Gde ini dan rumahku” kata Ki Agung Sedayu.

—ooOOOoo—

8 Comments (+add yours?)

  1. eds5
    Feb 07, 2012 @ 06:00:33

    Bagi temen2 yg punya update terbaru dari Mataram Binangkit ini, monggo ditambahin…

    Reply

  2. Joko
    Jan 29, 2013 @ 08:26:15

    Entah bagaimana dengan teman2 cantrik yang lain tapi saya kok merasa kualitas alur cerita dan cara pembawaan tokohnya kurang ya.. Terlalu “to the point gitu”, kurang bumbunya.

    Reply

  3. Sis
    Dec 23, 2013 @ 01:07:43

    Setuju dengan ki joko, maaf kaya baca cerpen

    Reply

  4. yoyok g. pakuan
    Jan 20, 2014 @ 00:50:41

    Memang kalau aku baca karya Bpk. SH.MINTARDJA. dalam cerita dialognya, yg aku dapatkan….karakter/sifat, dari tokoh2nya,..situasi alam dan gejolak sosialnya,…dan yg hebat lagi…kita tahu tingkat wawasan intelektualnya,….semoga KI AGUS S. Berusaha dan berhasil menuju ke bobot ini….

    Reply

  5. Yan Cha
    Feb 19, 2016 @ 15:19:50

    di sini musuh agung sedayu juga bisa aji kakang kawah ada ari2…pada hal sama@ dari perguruan windu jati…kiai gringsing saja tidak bisa.. kok ini lawan nya bisa.. agung sedayu menguasai aji tersebut karna berguru pada waskita.. termasuk ilmu meringankan tubuh..sedang musuhnya hanya berguru pada 1 aliran windujati kok bisa… aneh sekali…

    Reply

  6. enJoy
    Apr 04, 2016 @ 08:01:41

    gpp..jalan teruuss mantaaap

    Reply

  7. Nugroho
    Apr 28, 2016 @ 15:19:35

    Baru ngeh kalo ada yg melanjutkan ADBM yg dulu belum tuntas, bahkan ternyata ada tiga aliran cabang. Senang bisa mengenang masa2 mahasiswa jadul yg suka baca cersil dari sanggar penyewaan buku. Baru baca versi electronik dari aliran ini 5 seri, memang terasa ada pergeseran sifat pada karakter Agung Sedayu, tetapi tidak mengapa karena memperkaya aliran ADBM yg ada. Penulisan ini adalah ida yg bagus karena telah membangkitkan kenangan masa muda dulu. Tetapi, kalau boleh usul mungkin harus di perbaiki silsilah tokoh2 nya, terutama yg secara langsung bersentuhan dengan sejarah, khususnya sejarah mataram. Seperti Pangeran Purboyo, misalnya, yg di versi ini menyebut Panembahan Hanyokrowati sebagai, Ananda Panembahan, dan sebaliknya Panembahan Hanyokrowati menyebut beliau Paman. Padahal, menurut silsilah yg diketahui, beliau adalah saudara dari Kanjeng Panembahan. Namun demikian, saya pribadi mengucapkan terma kasih banyak. Sambungan ADBM ini memperkaya cerita epic rakyat kita. Biarlah setiap orang membaca, bahkan ketiga2 versinya, untuk memperkaya wawasan. Terima kasih banyak Ki Agus yg sudah bersusah payah menulis. Sementara itu saya akan melanjutkan membaca.

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: