Mataram Binangkit Buku 403

MATARAM BINANGKIT

Lanjutan Api Di Bukit Menoreh

Karya Ki Agus S. Soerono

Seri V

Buku 403

Demikianlah mereka berbagi kegembiraan. Namun mereka juga menyadari bahwa kegembiraan mereka atas kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu menjadi Ki Tumenggung Jaya Santika, juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar.

Mereka semua, seluruh pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh, harus meningkatkan kemampuan ilmu olah kanuragan mereka. Mereka harus bisa mempertahankan kekuatan pasukan khusus Mataram, harus bisa memperluasnya bahkan kalau perlu menguasai sampai ke seberang lautan.

Oleh karena itu segala yang ditanamkan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika dalam diri mereka, mereka camkan dengan sungguh-sungguh. Mereka juga menyadari bahwa kesatuan dan persatuan Kerajaan Mataram, sesungguhnya hanya kelihatan seperti permukaan air danau yang tenang, bahkan sangat tenang. Namun di bawah permukaan itu, air itu bergolak dengan derasnya. Bahkan mempunyai beberapa pusaran yang kuat yang siap menenggelamkan kapal jung yang mereka tumpangi.

Oleh karena itu, para prajurit terutama dari pasukan khusus di bawah Ki Tumenggung Jaya Santika, mempunyai tanggung jawab yang paling berat. Karena setiap waktu pergolakan yang berada di bawah permukaan itu mencuat ke atas, maka mereka harus siap setiap saat untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan itu.

Bahkan kalau perlu, mereka harus sudah tahu sebelum pergolakan dari pusaran air di bawah permukaan itu mencuat ke atas. Karena itu peranan pasukan telik sandi menjadi sangat penting.

Oleh karena itu, kepada para senapati sehari dalam sepekan Ki Tumenggung Jaya Santika memberi arahan mengenai cara-cara peningkatan ilmu kanuragan mereka. Ia memberi bimbingan khusus bagi para senapati tersebut, dan bimbingan khusus itu tidak hanya untuk meningkatkan tenaga cadangan mereka, namun juga sudah merambah ke ilmu jaya kawijayan.

Beberapa senapati yang menonjol seperti Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta mendapat gemblengan khusus dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Hal pertama yang dilakukan terhadap kedua lurahnya itu adalah meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh. Hal ini menjadi perhatiannya, karena sebagai senapati armada laut Kerajaan Mataram, mereka harus bisa berjalan di atas air. Dan untuk bisa berjalan di atas air, tentu saja mereka harus mempunyai kemampuan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Apabila kemampuan ilmu meringankan tubuh mereka sudah tinggi, maka mereka akan dapat menapak di atas air laut bahkan berlari, seperti saat mereka berjalan di atas tanah.

Para senapati itu juga dilatihnya dengan ilmu jaya kawijayan. Ki Tumenggung Jaya Santika setelah mendapat izin dari Ki Jayaraga, juga menurunkan ilmu Sigar Bumi yang sempat dipelajarinya kepada para senapatinya itu. Bahkan Ki Tumenggung sempat mengenalkan para senapati itu dengan Ki Jayaraga, sebagai sumber ilmu yang akan diberikannya kepada para senapati itu. Memang setelah Ki Tumenggung Jaya Santika mempelajari ilmu aji Kendali Sukma dari Ki Jayaraga, ternyata orang tua itu tidak mau tanggung-tanggung dalam menurunkan segala ilmunya. Ki Jayaraga juga menurunkan aji Sigar Bumi yang telah dipelajari Glagah Putih kepada Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Inilah kakek guru kalian, yang menjadi asal muasal diturunkannya ilmu Sigar Bumi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

Ki Jayaraga bahkan sempat memberikan petunjuk-petunjuk khusus kepada para senapati yang di bawah pimpinan Ki Tumenggung Jaya Santika. Sehingga dengan demikian para senapati itu pun semakin meningkat tenaga cadangannya, ilmu meringankan tubuhnya dan ilmu jaya kawijayannya. Untuk bisa mencapai tataran yang diinginkan, maka para senpati itu harus menjalani bebagai laku sebagaimana yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Jaya Santika.

Mereka menjalani tirakat berupa puasa, patigeni dan ngebleng. Ngebleng adalah suatu laku berupa puasa terus menerus dan tidak keluar dari bilik selama melakukan puasa itu. Sedangkan patigeni adalah laku tidak tidur selama menjalani laku tirakat itu. Sungguh suatu laku yang berat.

Dalam pada itu, di Kadipaten Panaraga, prajurit telik sandi Glagah Putih dan Rara Wulan terus mengamat-amati Pangeran Ranapati. Namun setelah sekian lama tidak ada pergerakan yang nampak dari Istana Kadipaten, maka mereka bertemu kembali.

Glagah Putih, Rara Wulan, Madyasta, Sumbaga, Sungkana dan Ki Darma Tanda bertemu di tempat persembunyiannya yang tidak diketahui oleh Pangeran Ranapati atau anak buahnya. Dalam pertemuan itu, Glagah Putih dan Rara Wulan menyampaikan bahwa sampai detik ini mereka belum mengetahui sampai sejauh mana pergerakan Pangeran Ranapati untuk menggosok Pangeran Jayaraga untuk memberontak kepada Mataram.

“Saya rasa harus ada di antara kita yang melapor ke Mataram, dalam situasi yang sangat tidak menentu ini,” kata Glagah Putih.

Mereka yang hadir di ruangan itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka setuju dengan pernyataan Glagah Putih bahwa ada di antara mereka yang harus pergi ke Mataram. Tetapi siapa?

“Siapakah menurut kalian yang harus kembali ke Kotaraja Mataram untuk melaporkan situasi ini,” tanya Glagah Putih.

Ki Madyasta yang paling dituakan di antara mereka pun kemudian berkata.

“Kurasa adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan saja yang kembali ke Mataram. Karena adi berdua sudah cukup lama berada di Panaraga. Kalian sudah cukup lama tidak kembali ke Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Madyasta.

Mereka kemudian kembali manggut-manggut. Mereka semua setuju dengan pendapat Ki Madyasta itu.

“Benar, kakang Madyasta. Kali ini biarlah kita tugaskan adi Glagah Putih dan adi Rara Wulan untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Ki Sungkana.

“Aku setuju dengan pendapat kalian berdua. Bukankah sudah cukup lama adi Glagah Putih dan Rara Wulan tidak bertemu dengan Ki Patih Mandaraka,” kata Ki Sumbaga pula.

Glagah Putih yang pertama melontarkan pendapat bahwa harus ada yang melapor ke Kotaraja Mataram menjadi terperangah. Ia tidak menyangka bahwa justru dia sendiri yang mendapat tugas untuk kembali ke Kotaraja Mataram.

“Bagaimana Wulan? Apakah kau juga sudah rindu kepada ayah dan ibumu?” tanya Glagah Putih sambil menahan senyumnya.

Rara Wulan tidak menjawab, ia hanya bergeser merapat dan tangannya menyambar pinggang Glagah Putih yang membuat Glagah Putih meringis kesakitan.

“Biar kakang punya ilmu kebal, pinggangmu tidak akan aku lepaskan,” katanya.

Dengan wajah yang dibuat memelas, Glagah Putih menghiba-hiba kepada Rara Wulan.

“Ampun Wulan. Ilmu kebalku tidak mempan menghadapi ilmu cengkeraman mautmu,” katanya.

Kata-kata Glagah Putih itu justru membuat Rara Wulan memperkeras cengkeramannya. Semua yang hadir di ruangan itu pun tertawa melihat ulah mereka berdua.

“Sudahlah Wulan. Aku hanya bercanda,” kata Glagah Putih dengan nada bersungguh-sungguh sambil memegang tangan Rara Wulan dan membelainya.

Hati Rara Wulan pun menjadi luruh karenanya. Namun pada akhirnya semua yang hadir di ruangan itu sepakat bahwa Glagah Putih dan Rara Wulan yang akan berangkat ke Kotaraja Mataram pada keesokan harinya.

Glagah Putih dan Rara Wulan bangun pagi-pagi benar sebelum berangkat. Mereka menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung. Rara Wulan masih sempat menanak nasi, memasak sayur dan menghangatkan ayam goreng yang dipotong kemarin. Mereka pun kemudian menyantap sarapan bersama di pendapa. Sedangkan sebagian dari makanan itu dibungkusnya sebagai bekal mereka dalam perjalanan. Setelah selesai sarapan, Glagah Putih dan Rara Wulan pun segera berkemas-kemas.

Mereka pun sudah siap untuk berangkat ketika mentari pagi menyembul di ufuk timur. Mereka berdua pun segera berpamitan kepada Ki Madyasta, Ki Sumbaga dan Ki Sungkana serta Ki Darma Tanda. Glagah Putih memilih untuk berjalan kaki untuk kembali ke Mataram. Sedangkan kuda mereka dititipkannya kepada Madyasta, dengan harapan kalau kelak kembali ke Kotaraja Mataram kuda itu dibawa serta.

“Wah sekarang tidak ada lagi yang memasakkan sayur bagi kita,” kata Ki Madyasta.

Yang lain merasa tergugu. Karena sekian lama mereka berada di Kadipaten Panaraga dalam waktu yang cukup lama. Mereka merasa seperti sudah menjadi saudara.

“Wah jangan khawatir. Doakan saja aku selamat dan segera kembali. Nanti aku masakkan lagi sayur kacang panjang, sayur lodeh atau gudeg,” kata Rara Wulan.

Namun tanpa terasa setitik air mengembun di pelupuk matanya. Air yang mengembun itu perlahan-lahan berubah menjadi air mata. Rara Wulan tidak tahan dan ia terisak. Betapa pun perkasanya Rara Wulan yang menghadapi para pengikut Pangeran Ranapati, ternyata hati perempuannya tersentuh. Ia menangis dalam isaknya.

Akhirnya dengan menebalkan tekadnya, Rara Wulan dapat meredam tangisnya itu. Mereka lalu bersalaman. Lalu perlahan-lahan Glagah Putih dan Rara Wulan meninggalkan pemondokan mereka di tempat yang terpencil itu.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun melambaikan tangannya. Ki Madyasta, Ki Sumbaga, Ki Sungkana dan Ki Darma Tanda pun melambaikan tangannya. Mereka pun terus memperhatikan kedua sejoli itu yang semakin menjauh dan mengecil, akhirnya hilang di balik tikungan.

Glagah Putih dan Rara Wulan terus berjalan. Mereka menapak tilas jalan-jalan yang mereka lalui dulu ketika mereka berangkat dari Kotaraja Mataram dan akhirnya sampai di Kadipaten Panaraga. Hanya saja kali ini mereka berjalan dalam arah yang berlawanan.

Mereka pun sempat menengok rumah di tengah hutan, ketika mereka bertemu dan mereguk ilmu olah kanuragan dari Kiai Namaskara. Namun setelah sekian lama mereka tinggalkan jejak di tengah hutan itu tidak nampak sama sekali. Mereka berputar-putar mencari rumah di tengah hutan lebat itu, namun tidak menemukannya.

“Aneh sekali kakang,” kata Rara Wulan yang masih penasaran dan berusaha mencari rumah yang dulu sudah mulai reyot.

Ketika mereka memasuki hutan itu, masih nampak tanda-tanda yang bisa mengantar mereka ke rumah Kiai Namaskara, bahkan mereka bisa mengenali beberapa pohon yang menjulang tinggi. Namun begitu masuk dalam lindangan hutan yang pepat, mereka kehilangan jejak.

“Iya. Perasaanku, kita memasuki lorong di bawah pohon ara ini, lalu berbelok ke kanan. Namun sekarang belokan ke kanan itu sudah hilang tertutup pohon,” kata Glagah Putih.

Mereka pun mencoba melingkar ke belakang pohon ara itu, namun mereka tidak dapat menemukan jalan masuk menuju ke rumah itu. Semuanya pepat, gelap pekat, dan tidak ada rongga barang sedikit pun. Namun anehnya hutan itu terasa sunyi. Tidak ada suara cenggeret, monyet atau kampret yang terbang. Sepi. Di kejauhan masih terdengar auman suara harimau. Namun lamat-lamat.

Akhirnya Glagah Putih memutuskan untuk tidak meneruskan mencari petilasan Kiai Namaskara itu. Ia pun mengajak Rara Wulan untuk berdoa bagi Kiai Namaskara, meskipun mereka tidak menemukan kembali rumahnya. Mereka berniat meneruskan perjalanan meskipun tidak menemukan rumah Kiai Namaskara di tengah hutan yang sudah berubah itu.

Setelah berdoa dan mempunyai ketetapan hati demikian, maka Glagah Putih mengajak Rara Wulan untuk keluar dari hutan itu. Mereka pun kembali menelisik jalan yang mereka tempuh semula untuk memasuki hutan itu, untuk kembali keluar. Tidak berapa lama mereka sudah sampai di tepi hutan. Di tepi hutan itu ternyata ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih, sehingga nampak ikan yang berenang di dasar sungai itu.

Melihat air yang jernih dan kebetulan perut mereka sudah mulai terasa lapar, maka Rara Wulan mengajak suaminya untuk berhenti sejenak. Sambil berjuntai di atas sebuah batu hitam yang besar, mereka menikmati bekal yang mereka bawa.

“Apakah aku boleh berenang di sungai ini, kakang?” tanya Rara Wulan.

“Boleh. Apakah kau ingin berenang di siang yang panas ini? Bukankah kau tadi pagi sudah mandi di rumah?” tanya Glagah Putih.

“Iya. Tadi aku ingin berenang. Sangat ingin. Tetapi setelah mendengar pertanyaanmu, aku membatalkan niatku,” kata Rara Wulan.

“He? Kenapa?”

“Tidak. Tidak kenapa-kenapa.”

Mata Rara Wulan nampak mulai mengembun dan setitik air hampir menetes dari sudutnya. Tiba-tiba Rara Wulan meloncat dan berlari sekencang-kencangnya. Karuan saja Glagah Putih menjadi terkejut. Ia buru-buru membenahi kampil Rara Wulan yang ditinggalkan begitu saja. Kampil itu tadi dipakai untuk menyimpan bekal mereka. Setelah masuk dengan rapi, ia segera berlari mengejar Rara Wulan.

Namun Rara Wulan sudah lenyap di tengah lebatnya hutan. Glagah Putih pun mulai berteriak-teriak memanggil.

“Wulan. Wulan. Di mana kau? Maafkan kalau kata-kataku ada yang salah,” kata Glagah Putih.

Glagah Putih merasa heran, kenapa belakangan ini Rara Wulan menjadi sedikit lebih perasa daripada biasanya. Ia pun mencari ke sana kemari, menubras-nubras di tengah lebatnya hutan itu. Setelah sekian lama Rara Wulan tidak ditemukan juga, maka Glagah Putih pun kini tidak mau kehilangan akal. Ia segera meloncat naik ke sebatang pohon, lalu diam pada salah satu cabangnya. Ditunggunya beberapa saat. Akhirnya dari bawah sebuah pohon ia melihat dedaunan yang bergerak-gerak. Lalu muncul Rara Wulan yang celingak-celinguk. Mencarinya.

Glagah Putih diam dan membiarkan Rara Wulan mencarinya.

“Kakang. Kakang Glagah Putih. Jangan tinggalkan aku,” teriak Rara Wulan.

Glagah Putih bergeming. Kini giliran Rara Wulan yang mencari Glagah Putih di tengah hutan yang lebat itu.

Tiba-tiba Glagah Putih melihat seekor harimau yang mengendap-endap mendekati Rara Wulan. Ia tidak sampai hati. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah tidak ada bandingannya itu, Glagah Putih turun di belakang harimau itu. Ia melempar harimau itu dengan sebuah batu yang mengenai pinggangnya. Harimau itu menggeram dan berbalik arah. Harimau itu merunduk dan mengambil ancang-ancang untuk menerkam Glagah Putih.

Glagah Putih pun bersiap-siap menyambut terkaman harimau itu. Sang raja hutan itu melompat tinggi, kuku kedua kaki depannya terjulur lurus-lurus ke depan. Siap mencabik-cabik tubuh Glagah Putih dalam satu kali hentakan. Tentu saja Glagah Putih tidak mau tubuhnya menjadi sarang kuku harimau itu. Dengan cepat ia berkelit ke samping, sambil tangan kanannya menyodok ke dada sang penguasa hutan. Harimau itu kembali menggeram dengan kerasnya. Agaknya ia belum jera. Kembali ia merunduk.

“Hati-hati kakang,” terdengar teriakan Rara Wulan yang merasa khawatir melihat suaminya diterkam harimau.

Glagah Putih pun bersiaga kembali. Ia pun memasang kuda-kuda yang kuat. Harimau itu kembali merunduk, seperti seekor kucing yang sedang mengincar mangsanya. Kepalanya menempel di tanah dan ekornya mengibas-ngibas. Dengan sepenuh tenaga ia kembali meloncat. Glagah Putih kembali mengelak ke samping.

Ketika cakar depan harimau itu sudah melintasi tubuhnya, tendangan yang sangat kuat mengenai kaki belakang harimau itu. Harimau itu kembali menggeram. Namun kali ini geraman ketakutan. Ia segera menyusup ke dalam semak-semak di sebelah Rara Wulan. Rara Wulan yang melihat harimau itu berlari ke arahnya segera bersiaga. Namun harimau itu tidak menghiraukannya dan justru menghindarinya lalu masuk ke dalam hutan. Dengan lincah meskipun terseok-seok karena kena tendangan Glagah Putih, harimau itu pun pergi jauh dan tidak terdengar lagi aumannya.

Rara Wulan pun lari mendekat dan memeluk suaminya.

“Aku takut kakang,” kata Rara Wulan.

“Sudahlah Wulan, harimau itu sudah pergi,” kata Glagah Putih sambil mengelus-elus pundak istrinya.

Tiba-tiba perut Rara Wulan terasa mual, dan ia pun menjauh dari suaminya lalu menumpahkan isi perutnya. Segala makanan yang dikunyahnya dalam makan siang di tepi sungai tadi terhambur ke luar. Beberapa kali ia memegangi pinggangnya lalu terbungkuk-bungkuk dan melontarkan kembali isi perutnya beberapa kali. Meskipun cairan yang keluar dari perutnya sudah habis, Rara Wulan masih terbungkuk-bungkuk kembali.

“Kau kenapa Wulan? Kau masuk angin?” tanya Glagah Putih.

“Tidak kakang. Aku sudah terlambat satu bulan,” kata Rara Wulan.

“He? Kau sudah isi. Kau sudah mengandung Wulan? Pantaslah kau tadi mudah sekali tersinggung ketika aku tanya mengenai keinginanmu untuk berenang di sungai tadi,” kata Glagah Putih.

“Iya kakang. Tiba-tiba saja aku merasa benci melihat kakang,” kata Rara Wulan.

“He? Benci? Kenapa kau benci aku?” tanya Glagah Putih.

“Iya. Aku benar-benar cinta, kakang,” kata Rara Wulan dengan senyum dikulum.

Glagah Putih pun kemudian memeluk istrinya.

“Terima kasih sayang. Kau akan memberikan keturunan padaku,” katanya.

Lalu ia melanjutkan.

“Kalau demikian kita berjalan lambat-lambat saja, agar kandunganmu yang masih sangat muda itu tidak terganggu karena kau kecapekan atau makanan dalam perutmu keluar semua, karena muntah,” kata Glagah Putih lagi.

Demikianlah mereka berjalan dengan pelan-pelan, karena kondisi Rara Wulan yang sedang hamil. Perjalanan yang mereka tempuh selama empat hari ketika datang, kini mereka tempuh dalam waktu hampir dua kali lipatnya. Setiap sebentar mereka beristirahat. Bila senja sudah membayang, mereka pun segera mencari penginapan yang layak untuk bermalam.

Di suatu desa sebelum sampai di Banyu Asri, mereka bermalam di sebuah penginapan yang terletak dekat pasar. Pagi-pagi sekali Rara Wulan sudah terbangun dan mandi, lalu berhias diri. Glagah Putih yang mendengar kesibukan Rara Wulan segera terbangun.

“Hendak ke manakah engkau sepagi ini Wulan?” tanya Glagah Putih.

“Aku ingin makan nasi gudeg dan ayam goreng di pasar,” kata Rara Wulan.”Apakah kau ikut?”

“Tentu saja aku ikut. Tunggulah sebentar.”

Glagah Putih pun segera mandi, menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Agung, lalu mengajak Rara Wulan ke pasar di sebelah penginapan mereka. Mereka pun berjalan pelan-pelan sambil menikmati kesegaran udara pagi, saat sang mentari baru muncul dari balik bukit di ufuk timur.

Burung-burung berkicau gembira menyambut sang fajar. Mereka terbang kian kemari sambil berdendang dan menari. Mereka tidak pernah memikirkan, apakah makan yang mereka peroleh hari ini akan cukup hingga petang. Yang penting mereka terbang, menyanyi, menari dan mematuk ulat daun yang tersedia di mana-mana. Asal mereka mau terbang dan mencari, maka ulat dan makanan lainnya terasa berlimpah.

Dalam kesejukan udara pagi itulah Glagah Putih dan Rara Wulan terus menapaki jalan menuju pasar yang sudah tidak jauh lagi. Mereka pun sampai di pasar, dan menemukan warung gudeg itu di sudut kiri depan pasar. Mereka masuk ke dalam warung gudeg itu dan memilih duduk di sudut dekat jendela. Udara semilir menyejukkan suasana di warung gudeg itu. Rara Wulan segera memesan nasi gudeg, telur, tempe orek dan tahu bacem cukup untuk dua orang. Rara Wulan memesan dua gelas jeruk hangat.

Tidak berapa lama makanan yang mereka pesan pun datang, karena di pagi seperti itu warung gudeg itu belum begitu ramai. Orang-orang masih sibuk menjual dagangannya dan berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Biasanya setelah barang dagangannya laku atau pembeli sudah memperoleh apa yang dicarinya, barulah mereka mampir ke warung gudeg itu untuk makan.

Glagah Putih dan Rara Wulan pun dapat menikmati makanan yang mereka pesan sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berjual beli di pasar. Ketika mereka sedang makan itu, beberapa orang yang kekar memasuki warung gudeg itu pula.

Mereka duduk di arah yang berseberangan dengan sepasang suami istri itu di sudut yang lain warung gudeg. Setelah memesan makanan, mereka berceritera dengan riuhnya. Mereka tidak peduli betapa pembeli yang lain merasa terganggu atau tidak.

“Kakang Sukarta, bagaimana pandangan kakang mengenai kekuatan dan kesiagaan pasukan khusus Kerajaan Mataram di Prambanan, Kotaraja, maupun di Tanah Perdikan Menoreh?” tanya salah seorang yang gemuk berjambang lebat dan berambut ikal.

“Seperti kau lihat, adi Ragil. Ternyata pasukan Kerajaan Mataram semakin kuat saja. Mereka membangun kekuatan di mana-mana. Selain di ketiga tempat itu masih ada lagi tempat pemusatan barak mereka di Galur, khusus untuk prajurit pasukan armada laut mereka,” kata Ki Sukarta. Seperti halnya Ragil, Sukarta juga gemuk berjambang lebat dan berambut ikal. Agaknya mereka dua orang yang bersaudara dan berguru di padepokan yang sama.

Ia menoleh ke kiri kanan sejenak. Namun ia tidak menaruh curiga kepada sepasang suami istri yang duduk di sudut dekat jendela. Mereka lihat Glagah Putih dan Rara Wulan makan dengan asyiknya, tidak menghiraukan mereka yang berceritera dengan riuhnya.

“Apakah kita akan mencoba mengganggu dan mengacaukan prajurit pasukan khusus itu, kakang?” tanya orang yang disebut Ragil oleh temannya.

Sukarta tercenung sejenak. Ia nampak berpikr keras, lalu menjawab.

“Aku kira kita tidak usah membuat gara-gara, jangan sampai terulang kembali seperti Gerombolan Gagak Hitam yang ternyata bisa digulung oleh prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram. Padahal Gerombolan Gagak Hitam, termasuk di antara yang terkuat dalam kelompok padepokan yang mendukung gegayuhan Pangeran Jayaraga dari Kadipaten Panaraga,” kata Ki Sukarta.

“Bukankah kemarin kita berpapasan dengan Ki Gondang Legi yang hendak kembali ke padepokannya? Ki Gondang Legi sudah menceriterakan secara singkat betapa kuatnya prajurit pasukan khusus Kerajaan Mataram yang ada di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Ki Sukarta lagi. Lalu ia menambahkan.

“Tugas kita adalah tugas telik sandi. Bukan untuk mengadakan pengacauan atau gangguan keamanan,” katanya tegas.

Rekan-rekannya yang lain pun mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Benar Ki Ragil. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan prajurit pasukan khusus, agar tidak mengganggu rencana kita secara keseluruhan,” kata rekannya yang lain. Ki Barong Landung. Sesuai dengan namanya orang ini berwajah seram, matanya juling dan badannya tinggi melebihi rekannya yang lain.

Glagah Putih dan Rara Wulan yang mendengar pembicaraan mereka menjadi tertarik. Dengan berbisik-bisik mereka berbicara. Mereka berdua telah menyelesaikan makanan yang dipesannya.

“Wulan apakah kau setuju apabila aku menangkap mereka semua?” tanya Glagah Putih kepada Rara Wulan.

“Mereka berlima kakang. Sedangkan aku masih dalam keadaan lemah karena aku sedang isi, kakang,” kata Rara Wulan.

“Tenang saja Wulan aku dapat mengatasi mereka,” kata Glagah Putih.

“Setelah kakang berhasil menangkap mereka, apakah kakang akan membawa mereka ke Kotaraja Mataram?” tanya Rara Wulan.

“Tentu Wulan. Namun kita akan membawanya sampai di Pajang. Di sana nanti kita serahkan kepada prajurit penghubung yang ada di sana untuk dibawa ke Kotaraja Mataram,” kata Glagah Putih.

“Baiklah jika demikian, kakang. Berhati-hatilah,” kata Rara Wulan.

Glagah Putih kemudian berdiri dan melangkah menuju meja para telik sandi Kadipaten Panaraga itu. Ia berjalan melingkar-lingkar di sekitar meja tempat duduk mereka. Glagah Putih memperhatikan mereka satu persatu. Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung dan dua orang lagi yang disebut temannya bernama Ki Semprong serta Ki Slorog.

Agaknya langkah Glagah Putih yang melingkar-lingkar di sekitar mereka membuat kelima orang itu tidak nyaman.

“He? Apa yang kau lakukan di sini,” tanya Ki Sukarta.

“Aku sedang mencari lima orang telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah kalian mengenalnya?” tanya Glagah Putih.

“Telik sandi Kadipaten Panaraga?” tanya Ki Ragil.

“Ya lima orang telik sandi Panaraga, namanya Ki Sukarta, Ki Ragil, Ki Barong Landung, Ki Semprong dan Ki Slorog,” kata Glagah Putih.

“He? Kurang ajar. Kau siapa?” tanya Ki Sukarta.

“Aku Glagah Putih. Aku petugas dari Mataram,” kata Glagah Putih sambil menunjukkan timang di pinggangnya yang bergambarkan pertanda petugas dari Mataram.

“Kau datang sendiri?”

“Ya.”

“Kalau kelima telik sandi yang kau cari itu adalah kami, kau mau apa?”

“Aku akan menangkap kalian.”

“Apakah kau tidak salah, Glagah Putih?” tanya Ki Sukarta lagi.”Kau datang sendiri, kami berlima. Badanmu kecil, kami berlima kokoh kuat.”

“Apakah kau memakai tubuhmu yang dempal itu sebagai ukuran?” tanya Glagah Putih.

“Hahaha….Hebat. Berani juga kau menghadapi kami berlima. Baiklah kita semua keluar. Supaya warung gudeg ini tidak berantakan. Kita ke lapangan di depan pasar. Di sana tempatnya agak lapang,” kata Ki Sukarta.

Mereka berenam pun segera menuju ke lapangan di depan pasar. Suasana di pasar itu pun gempar dan panik, ketika enam orang yang tidak mereka kenal sudah saling menyerang di tengah lapangan yang terletak di depan pasar. Para pedagang yang tidak ingin barang dagangannya menjadi korban, buru-buru menutup warungnya, mengemasi barang dagangannya dan membawanya pulang.

Glagah Putih yang seorang diri mulai dikepung oleh kelima orang itu. Mereka masih menggunakan tangan kosong. Dengan mengendap-endap mereka maju menyerang, seperti lima ekor harimau yang mengepung seekor kerbau korbannya.

Namun Glagah Putih ternyata bukan seperti seekor kerbau seperti anggapan mereka. Ketika sudah semakin dekat, maka tiba-tiba kelima orang itu maju menerjang. Ki Sukarta menendang, Ki Ragil meninju, Ki Barong Landung menyodok dengan tinjunya, Ki Semprong dan Ki Slorog juga menendang. Mereka merasa akan segera dapat meringkus lawannya itu.

Namun kelima orang itu tiba-tiba menjerit kesakitan, ketika serangan mereka saling berbenturan dan Glagah Putih tidak ada di depan mereka. Mereka mengaduh-aduh tidak karuan.

“Kenapa kalian saling berbenturan? Aku di sini,” kata Glagah Putih yang ternyata sudah hinggap bak merpati yang terbang ke sebatang cabang pohon randu yang terdapat di tepi lapangan dekat mereka bertarung.

Kelima orang itu pun kemudian berusaha menggoyang-goyang pohon randu yang cukup besar itu.

“Hahaha. Kalian tidak usah menggoyang-goyang pohon randu seperti itu. Aku segera turun,” kata Glagah Putih.

Sementara itu, Rara Wulan yang melihat dari depan warung gudeg itu pun tersenyum melihat ulah kelima orang lawan suaminya. Glagah Putih pun segera meloncat turun dari pohon randu itu. Ia pun kembali bersiaga di tengah kepungan para telik sandi dari Kadipaten Panaraga.

Glagah Putih pun sejak dini menyiapkan ilmu kebalnya, karena ia tidak mau menjadi kantong pasir sasaran kelima lawannya. Sebab kalau ia tidak melambari dirinya dengan ilmu kebal aji Tameng Waja, maka kemungkinan akan menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya.

Glagah Putih pun kemudian menyiapkan kembangan tata gerak ilmu olah kanuragan yang diresapinya dari perguruan Jati Laksana peninggalan Ki Sadewa yang dipadukannya dengan ilmu jaya kawijayan yang diwariskan oleh Ki Jayaraga.

Setiap kali serangan lawannya menggempur dirinya, Glagah Putih menghadapinya dengan dada tengadah. Ia tidak lagi meloncat-loncat menghindar. Namun semua serangan lawannya itu dipapakinya. Ia sengaja membentur serangan lawannya. Mula-mula kelima lawannya merasa yakin akan dapat meringkus Glagah Putih dalam waktu singkat. Namun semakin lama mereka semakin heran. Setiap pukulan atau tendangan mereka mengenai bagian-bagian tubuh Glagah Putih, anak muda itu bergeming. Bahkan terasa tangan atau kaki mereka yang membentur bagian tubuh Glagah Putih menjadi nyeri atau ngilu. Bagaikan membentur dinding baja yang tebalnya sedepa. Sedangkan Glagah Putih seperti tidak mengalami apa-apa.

Namun lama kelamaan, Glagah Putih juga tidak mau hanya menjadi sasaran. Sekali lagi ia meloncat di atas kepala kelima penyerangnya ketika mereka merandek hendak menyerang secara berbareng. Kini Glagah Putih sudah berada di luar kepungan kelima lawannya. Dengan sebuah sodokan ia menggempur punggung lawannya, Ki Sukarta, yang dianggapnya terkuat di antara mereka.

Gempuran di punggung itu ternyata membuat Ki Sukarta terpelanting dan menimpa teman-temannya. Ki Semprong yang masih berdiri di sebelah Ki Sukarta, juga mendapat sebuah tendangan di dadanya, sehingga ia pun terbanting di atas tumpukan teman-temannya.

Ki Sukarta segera bangun, meloncat dan menghunus pedangnya. Kawan-kawannya juga melakukan hal yang sama. Kini mereka semua bersenjata. Tentu saja Glagah Putih tidak mau ketinggalan. Ia melolos ikat pinggangnya dan memutar-mutar di atas kepalanya.

“Apakah kau tidak membawa senjata selain ikat pinggangmu?” tanya Ki Sukarta dengan nada setengah mengejek.

“Ikat pinggangku inilah senjata andalanku,” kata Glagah Putih dengan tenang. Ia tidak terpengaruh oleh ejekan lawannya.

Ternyata ikat pinggang itu di tangan Glagah Putih bisa menjadi kaku dan bisa menjadi lentur. Sesekali ia memutar ikat pinggangnya yang menjadi kaku seperti tongkat. Tongkat dari ikat pinggang itu pun berputaran di tangannya, dan mematuk dengan ganasnya seperti seekor ular.

Dalam benturan pertama dengan senjata Ki Semprong, terdengar dentingan yang keras. Menimbulkan rasa nyeri di tengan Ki Semprong. Ki Semprong meloncat surut dua langkah. Ia memperhatikan ikat pinggang glagah Putih yang sebentar-sebentar berubah bentuk. Sekali kaku dan sesaat kemudian menjadi lentur sebagaimana ikat pinggang pada umumnya. Ternyata kekuatan tenaga cadangan Glagah Putih mampu mengubah-ubah bentuk ikat pinggang itu.

“Luar biasa,” katanya.

“Apanya yang luar biasa?” tanya Glagah Putih.

“Kau mampu mengubah ikat pinggangmu menjadi seperti benda yang kaku dan liat, sehingga bisa membentur pedangku, dan di saat lain kembali menjadi lentur seperti ikat pinggang pada umumnya,” katanya.

“Apakah dengan pengakuanmu itu, berarti bahwa kalian hendak menyerah,” tanya Glagah Putih..

“Tidak. Sama sekali tidak,” kata Ki Sukarta buru-buru.

Ki Sukarta tidak ingin menyerah dengan begitu mudah kepada seorang anak muda, meskipun ia memakai timang pertanda sebagai prajurit dari pasukan Kerajaan Mataram.

Mereka kemudian mulai mengepung kembali Glagah Putih. Melihat kemampuan Glagah Putih yang demikian besar, mereka pun menjadi semakin berhati-hati. Para telik sandi dari Kadipaten Panaraga itu pun kemudian semakin meningkatkan kemampuan ilmu kanuragannya. Tata gerak mereka demikian gesit, bergerak memutar seperti hendak membuat bingung Glagah Putih. Namun Glagah Putih yang sudah berpengalaman tidak mau dibuat bingung oleh serangan lawannya yang bergerak memutar.

Glagah Putih yang sudah menerapkan ilmu kebal aji Tameng Waja tidak perlu merasa khawatir bahwa serangan lawannya akan mampu melukai dirinya. Karena itu, Glagah Putih mulai memperhatikan tata gerak kelima lawannya. Setiap kali berhasil membentur senjata ikat pinggang Glagah Putih, mereka meloncat surut sambil dalam arah yang masih memutar. Sehingga dengan demikian, serangan mereka meliuk-liuk, sekali memukul atau membentur senjatanya, mereka bergerak surut dan kawannya yang lain lah yang maju.

Setelah mengamati bentuk serangan mereka yang demikian, Glagah Putih pun kemudian menyerang dengan arah sebaliknya dari arah putaran serangan lawannnya.

Dentang senjata semakin sering terjadi. Kembali serangan rasa nyeri menusuk ke tangan kelima lawannya, ketika terjadi benturan senjata. Setiap kali terjadi benturan senjata, mereka berusaha sekuat tenaga memegang pedangnya erat-erat agar senjata itu tidak terlepas dari tangan. Mereka meringis ketika terjadi benturan senjata.

Akhirnya Glagah Putih mengambil kesimpulan, bahwa dari kelima orang telik sandi Kadipaten Panaraga hanya Ki Sukarta yang mempunyai kemampuan tenaga cadangan dan ilmu kanuragan yang mumpuni. Sedangkan empat orang kawannya, tidak setinggi ilmu kanuragan yang dimiliki oleh Ki Madyasta, Ki Sumbaga atau Ki Sungkana.

Setelah mendapat kesimpulan demikian Glagah Putih ingin menjajaki lebih jauh perlawanan kelima orang lawannya, ia pun selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Tata geraknya semakin ganas dan trengginas, menyerang kelima lawannya. Kalau tadi seakan-akan Glagah Putih yang menjadi kebingungan dengan tata gerak kelima lawannya, maka kini Glagah Putih yang bergerak semakin cepat, membuat kelima lawannyalah yang menjadi kebingungan.

Glagah Putih pun meningkatkan tenaga cadangannya setiap kali membenturkan ikat pinggangnya ke senjata lawannya. Setiap kali terjadi benturan, gagang pedang mereka terasa panas. Sehingga rasa nyeri yang menyerang genggaman tangan mereka kini berubah menjadi terasa panas. Setiap kali pedang mereka berbenturan dengan ikat pinggang Glagah Putih, genggaman tangan atas pedang mereka menjadi kian panas. Satu dua kali sabetan ikat pinggang Glagah Putih mulai menimbulkan luka di tubuh para telik sandi Kadipaten Panaraga. Darah pun mulai menetes dari luka-luka yang timbul di tubuh mereka. Pakaian mereka pun mulai berubah warnanya, menjadi bersemu merah. Mereka tidak dapat lagi mempertahankan senjata mereka di tangannya.

Akhirnya satu per satu senjata lawannya terlepas. Tinggallah kini Ki Sukarta saja yang masih menggenggam pedangnya. Ketika sebuah tendangan berantai yang dlancarkan kepada keempat kawan Ki Sukarta, maka keempat orang itu jatuh tersungkur. Pingsan.

Tinggallah kini Ki Sukarta yang berhadapan dengan Glagah Putih. Ia ingin menangkap Ki Sukarta hidup-hidup sehingga bisa dikorek keterangan tentang jaringan telik sandi yang ada di dalam kelompok mereka.

Glagah Putih kemudian terus mendesak Ki Sukarta. Segera saja terjadi pertarungan yang semakin sengit. Ki Sukarta memutarkan pedangnya bagaikan baling-baling. Ia menutup semua lubang pertahanannya, sehingga ujung ikat pinggang Glagah Putih tidak bisa menyentuhnya. Namun setiap kali terjadi benturan ia masih merasakan betapa rasa panasnya yang merembet ke gagang pedangnya.

Glagah Putih terus berusaha mengimbangi kemampuan Ki Sukarta. Agaknya Ki Sukarta pun sudah mulai merambah ke lambaran ilmu kebalnya. Karena ia juga tidak mau ujung ikat pinggang Glagah Putih merobek kulitnya seperti yang terjadi pada kawan-kawannya.

Demikianlah pertarungan itu semakin lama semakin seru. Glagah Putih yang telah dapat mengukur kemampuan Ki Sukarta pun kemudian mulai meningkatkan ilmu kanuragannya. Selapis demi selapis serangan Glagah Putih mampu menekan ilmu olah kanuragan Ki Sukarta. Hal itu mendorong Ki Sukarta untuk meningkatkan penggunaan tenaga cadangannya. Namun Glagah Putih masih tetap mampu mengatasinya. Hal itu membuat Ki Sukarta pun mulai merambah ilmu pamungkasnya. Aji Segara Mawut.

Dari puncak ubun-ubun Ki Sukarta keluar asap putih tipis, Semakin lama semakin tebal dan dengan cepat menyelimuti udara di sekitar dirinya. Ki Sukarta pun nampak semakin pudar bayangannya. Antara ada dan tiada.

Glagah Putih yang melihat perubahan keadaan lawannya, segera dapat membaca bahwa lawannya sudah mulai merambah ilmu pamungkasnya. Karena itu, ia pun segera secara perlahan-lahan mulai melambari dirinya dengan aji Sigar Bumi.

Ki Sukarta yang sudah merambah ke aji Segara Mawut, membuat pandangan mata Glagah Putih terasa menjadi kabur, karena Ki Sukarta seolah-olah antara ada dan tiada ditutupi oleh selapis kabut tipis yang semakin tebal menghalangi.

Menghadapi kenyataan demikian, Glagah Putih pun tidak mau ragu-ragu lagi menggunakan aji Sigar Bumi. Ketika Glagah Putih menghentakkan kedua kakinya ke permukaan tanah, maka terasa bahwa bumi ini berguncang dengan hebatnya. Meski pun Glagah Putih tidak dapat melihat dengan jelas di mana Ki Sukarta berada, namun ia masih dapat menangkap ujung bayangannya. Berdasarkan arah tangkapan ujung bayangan lawannya itulah Glagah Putih menerjangkan hentakan kakinya.

Ki Sukarta berusaha berkelit ke samping. Namun Glagah Putih yang melalui ketajaman panggraitanya mampu merasakan di mana lawan berada, segera menghadang dengan hentakan berikutnya ke arah lawannya menghindar. Kembali bumi terasa seperti teraduk-aduk dan berguncang dengan kerasnya. Seperti gempa. Glagah Putih terus menggempur tempat kedudukan Ki Sukarta. Ke mana pun Ki Sukarta bergerak, ke sana arah gempuran Glagah Putih. Akibat gempuran glagah Putih itu, Ki Sukarta yang tidak mencermati arah serangan dari Glagah Putih, akhirnya tidak dapat bertahan. Ia jatuh terbanting. Namun ia masih dapat bergerak, meskipun lemah..

Orang-orang di pasar yang masih mempunyai keberanian, masih melihat meskipun dari kejauhan. Namun setelah kelima orang itu dapat ditaklukkan, maka mereka pun berjalan mendekat. Namun sebelum dekat benar, terdengar derap puluhan kuda yang mengarah ke pasar itu.

Setelah sampai, seorang penunggang kuda yang paling depan dengan perawakan tegap, segera turun dari kuda itu. Ia menyibak orang-orang yang berkerumun di lapangan depan pasar.

“Kakang Sabungsari?” teriak Glagah Putih lalu mendekati orang yang sudah dikenalnya dengan baik itu.

“Oo. Kau rupanya adi Glagah Putih. Aku tengah meronda hingga daerah perbatasan, namun ada orang yang melaporkan bahwa telah terjadi pertarungan di pasar ini satu orang melawan lima orang. Ternyata aku sampai di sini sudah terlambat. Pertarungan ini sudah usai,” kata Sabungsari dengan nada penuh kecewa.

“Hahaha….Kakang Sabungsari tidak terlambat. Aku justru ingin menitipkan kelima telik sandi dari Kadipaten Panaraga kepada kakang Sabungsari untuk dikirim ke Kotaraja Mataram. Terus terang aku tidak bisa untuk membawanya ke Kotaraja karena Rara Wulan sedang isi,” kata Glagah Putih.

“He? Isi? Maksudmu sedang mengandung?” tanya Sabungsari.

“Benar kakang. Rara Wulan sedang hamil, jadi aku menghadapi kelima orang itu sendiri. Aku tahu Rara Wulan sedang hamil, baru kemarin, padahal kami berangkat dari Panaraga sudah tiga hari yang lalu,” kata Glagah Putih.

“Baiklah jika demikian. Biarlah aku mengambil alih masalah telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Apakah adi sekalian akan tetap berjalan kaki untuk pulang ke Kotaraja Mataram? Kalau boleh aku menyarankan agar kalian pergi berkuda saja. Dua dari kuda yang kami bawa dapat kau pakai untuk kembali ke Kotaraja Mataram. Aku kasihan kalau dalam keadaan hamil, Rara Wulan mesti berjalan kaki sampai Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

“Baiklah aku terima dan sangat berterima kasih atas tawaran kakang itu,” kata Glagah Putih.

“Kakang Sabungsari?” tiba-tiba seorang wanita menyeruak dari kerumunan orang yang berada di tepi lapangan itu.

“Adi Rara Wulan. Apakah adi sehat-sehat saja,” tanya Sabungsari.

“Berkat doa kakang dan perlindungan Yang Maha Agung, aku sehat-sehat saja,” kata Rara Wulan. Lalu ia melanjutkan.

“Marilah kakang Sabungsari, mampir sejenak di warung gudeg di tepi pasar itu,” kata Rara Wulan.

“Baiklah kita mengobrol di sana sambil minum kopi setelah tidak bertemu lama sekali,” kata Sabungsari. Sabungsari kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk meringkus para telik sandi dari Kadipaten Panaraga. Mereka pun kemudian mengikat kelima orang itu dengan menggunakan tali janget yang kuat sekali.

Pemilik warung yang tadi menjadi panik dan ketakutan, karena terjadi perkelahian di tepi lapangan, segera membuka warung gudeg dan barang dagangannya kembali. Mereka semua memesan makanan dan minuman. Matahari sudah memanjat kaki langit semakin tinggi. Sambil menanti pesanan makanan dan minuman, Sabungsari bertanya kepada Glagah Putih dan Rara Wulan yang duduk di hadapannya.

“Apakah kalian sudah tahu bahwa kakang Untara diangkat menjadi Panglima Pasukan Wiratamtama?” tanya Sabungsari.

“He? Kakang Untara jadi Panglima?” tanya Glagah Putih dan Rara Wulan hampir berbarengan.

“Benar. Kakang Untara sejak dua pekan lalu tidak lagi berada di Jati anom, melainkan sudah pindah ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

“Wah…wah. Syukurlah. Lalu siapakan yang menggantikan kakang Untara di wilayah Selatan Gunung Merapi?” tanya Glagah Putih.

“Aku.”

“He? Kau kakang? Kau jadi senapati di wilayah Selatan?” tanya Glagah Putih sambil menyodorkan tangannya.

Sabungsari dengan segera menyambutnya dan mereka berjabatan tangan sangat erat.

“Syukurlah. Aku mengucapkan selamat atas pengangkatan kakang Sabungsari sebagai seorang senapati di wilayah Selatan,” kata Glagah Putih.

“Terima kasih adi. Semuanya berkat doa kalian berdua,” jawab Sabungsari. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

“Sekarang apakah rencana kalian? Apakah kalian akan kembali ke Kotaraja Mataram?” tanya Sabungsari.

“Benar kakang. Kami akan kembali ke Kotaraja. Tetapi terlebih dahulu kami akan mampir ke Banyu Asri untuk menengok ayah dan ibu. Apakah mereka sehat-sehat saja?” kata Glagah Putih.

“Mereka sehat-sehat saja adi.”

“Syukurlah.”

“Adi berdua, bukan maksudku untuk tidak ingin ngobrol lebih panjang dengan adi sekalian. Tetapi karena tugasku, aku harus meninggalkan kalian. Tawanan telik sandi Kadipaten Panaraga itu, biarlah aku yang mengurusnya. Nanti ada sepuluh orang yang akan mengawalnya sampai Kotaraja Mataram. Adi berdua gunakan saja dua kuda kami untuk kembali ke Banyu Asri. Nanti kuda itu kalian tinggal di Banyu Asri, dan nanti prajuritku akan mengambilnya. Kalian pakai kuda milik paman Widura untuk kembali ke Kotaraja Mataram,” kata Sabungsari.

“Baik kakang. Terima kasih atas bantuan kakang,” kata Glagah Putih.

Demikianlah setelah makan nasi gudeg dan minuman hangat wedang jahe mereka berpisah di warung gudeg yang terletak di pinggir pasar.

Senapati Sabungsari melanjutkan meninjau situasi keamanan di wilayah yang menjadi wewenangnya, sedangkan sepuluh prajurit membawa lima orang telik sandi Kadipaten Panaraga ke Kotaraja Mataram dan Glagah Putih serta Rara Wulan melanjutkan perjalanan mereka ke Banyu Asri dengan berkuda pelan-pelan.

Dalam pada itu, Pangeran Ranapati dan Ki Gondang Legi terus berjalan menuju Padepokan Cambuk Petir yang terletak di sebelah Barat Gunung Wilis. Mereka menyusuri persawahan, bulak-bulak panjang, gumuk dan lereng, lembah dan ngarai. Tidak jarang mereka harus melompati jurang sempit yang menghadang perjalanan mereka.

Setelah melintasi hutan yang agak lebat, mereka akhirnya memasuki suatu wilayah yang terbuka. Di kiri kanan jalan terdapat persawahan yang cukup luas. Dan di sudut persawahan itu terdapat pategalan yang ditumbuhi beraneka warna tanaman keras seperti kelapa, mangga, jambu, duren, rambutan dan pohon buah-buahan. Di tengah pategalan itulah terdapat sebuah padepokan. Padepokan itu nampak asri, di sudut-sudut halaman ditanami dengan pepohonan bunga berwarna-warni. Di sebelah kiri pendapa terdapat sebuah belumbang yang dihuni oleh berbagai jenis ikan, yang berenang ke sana ke mari.

Pada saat menjelang siang, mereka berdua pun kemudian memasuki halaman padepokan yang dibatasi oleh pagar setinggi dada orang dewasa. Mereka segera menuju ke pendapa. Di depan pendapa mereka disambut oleh seorang cantrik yang segera mengenali Ki Gondang Legi.

“Kakang Gondang Legi,” sapa cantrik itu.”Silakan kakang duduk di pendapa, aku segera memberi tahu Kiai Cambuk Petir mengenai kedatangan kalian.”

Mereka pun kemudian duduk di pendapa. Tidak beberapa lama kemudian Kiai Cambuk Petir keluar dari peringgitan ke pendapa.

“He? Kau Gondang Legi? Mana saudaramu yang lain?” tanya Kiai Cambuk Petir tanpa sempat mengendalikan rasa herannya, karena dari empat muridnya yang dikirim ke Kotaraja Mataram, hanya satu yang kembali. Ia bahkan tidak sempat menanyai Ki Karaba Bodas yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati.

“Ampun guru. Ketika kami telah selesai menjajaki kekuatan Mataram, kami menyeberangi Kali Praga untuk melihat keadaan terakhir di Tanah Perdikan Menoreh sebelum kembali ke Panaraga. Kami bertemu dan bertempur dengan prajurit Mataram. Kami berhasil dikalahkan. Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas dan aku berhasil melarikan diri,” kata Ki Gondang Legi.

Ki Gondang Legi bersiap-siap menerima tamparan gurunya. Apabila salah seorang murid gagal menjalankan tugasnya, maka dengan ringan tangan gurunya memberi hadiah tamparan, pukulan atau tendangan. Namun kali ini gurunya nampak menahan diri, mungkin karena di depannya ada Pangeran Ranapati.

“Jadi kalian telah gagal menjalankan tugas yang aku berikan?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Ampun guru. Kami tidak gagal sama sekali, karena kami sudah mendapat catatan yang kami perlukan mengenai kekuatan pasukan Kerajaan Mataram,” kata Ki Gondang Legi.

“Manakah catatan itu?” tanya Kiai Cambuk Petir.

Ki Gondang Legi mengeluarkan beberapa lembar rontal dari dalam kampilnya, lalu menyerahkan catatan itu kepada gurunya. Kiai Cambuk Petir menerima rontal itu dan membacanya sekilas. Ia mengangguk-angguk.

“Apakabar Pangeran Ranapati? Mohon maaf aku telah mengabaikan kehadiran Pangeran? Hal itu justru karena rasa tanggung jawabku atas tugas mereka untuk menyelidiki kekuatan pasukan Mataram,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Tidak apa-apa Kiai Cambuk Petir,” kata Pangeran Ranapati singkat.

Sebenarnya Pangeran Ranapati merasa sangat tersinggung diabaikan demikian oleh Kiai Cambuk Petir. Namun apabila rasa tersinggung itu yang ditonjolkannya, akan bisa mengacaukan segala rencana besarnya. Padahal Kiai Cambuk Petir adalah salah seorang yang sangat mendukung rencananya untuk memperkuat Kadipaten Panaraga dalam upaya mengguncang kekuatan Kerajaan Mataram. Oleh karena itu ia berusaha meredam rasa tersinggung yang membuncah amat sangat di dalam jantungnya.

“He? Apa kau bilang tentang saudara-saudaramu?” tiba-tiba Kiai Cambuk Petir tersentak.

“Kakang Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, kakang Tanda Rumpil tewas,” kata Ki Gondang Legi.

“Siapakah yang melumpuhkan Bargas dan Bergawa,” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Seorang prajurit pasukan khusus Mataram, guru. Ia juga mempergunakan senjata cambuk seperti cici-ciri perguruan kita,” kata Ki Gondang Legi.

“He? Orang Bercambuk seperti kita, katamu?”

“Benar guru.”

“Di manakah kalian bertempur dengan orang yang bersenjatakan cambuk itu?”

“Di tepian kali Praga, guru.”

“Apakah ciri-ciri senjata cambuk yang dipakainya sama seperti yang kita pakai?”

“Benar guru. Cambuknya berjuntai panjang seperti cambuk kita. Bahkan juga berkarah-karah baja berbentuk bintang bersegi sembilan.”

“He? Sama persis dengan cambuk ciri-ciri perguruan kita,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Benar guru. Sama persis seperti ciri-ciri cambuk kita.”

“Baik. Aku akan menanyakan hal itu kepada kakak seperguruanku Kiai Ajar Karangmaja. Mungkin ia tahu, siapakah sebenarnya guru prajurit dari pasukan Mataram yang mempunyai ciri-ciri Orang Bercambuk seperti yang kita miliki,” kata Kiai Cambuk Petir.Ia berhenti sejenak. Lalu meneruskan kata-katanya.

“Sekarang apakah rencana anakmas Pangeran Ranapati?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Begini Kiai. Sesuai dengan rencana yang telah kita sepakati, kita akan tetap bergabung dalam kekuatan yang kita sebut sebagai kekuatan pendukung Kadipaten Panaraga,” kata Pangeran Ranapati. Lalu ia melanjutkan.

“Aku akan meneruskan perjalanan untuk mencari dukungan dari beberapa padepokan yang berada di wilayah Kadipaten Panaraga. Selain itu juga, mencari dukungan dari beberapa Kadipaten seperti Madiun, Demak, Kudus, Pacitan, Surabaya, Pajang atau Jipang. Kita gerakkan orang-orang yang tidak puas terhadap bangkitnya Kerajaan Mataram sehingga bisa menjadi kekuatan yang mampu mengguncang Mataram itu sendiri,” kata Pangeran Ranapati.

Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia nampak setuju dengan pendapat Pangeran Ranapati. Namun Kiai Cambuk Petir sesungguhnya mempunyai kepentingannya sendiri. Ia justru hendak membelokkan arah perjuangan Pangeran Ranapati dengan membangkitkan kebesaran dari masa lalu, yaitu bangkitnya Kerajaan Majapahit yang mampu menguasai seluruh Nusantara. Akan tetapi hal itu, baru akan dilakukannya setelah perjuangan besar ini sudah separuh jalan. Lebih mudah membelokkan arah perjuangan itu, daripada mendorongnya sejak awal seperti sekarang ini.

“Baiklah anakmas. Anakmas silakan menghubungi orang-orang dalam jalur perjuangan untuk mendukung Kadipaten Panaraga, seperti anakmas katakan tadi. Aku pun demikian. Namun terlebih dahulu aku akan menghubungi kakak seperguruanku. Apabila Kiai Ajar Karangmaja bisa ikut kita gerakkan, maka di belakangnya akan berbaris orang-orang dari kebesaran masa silam yaitu Kerajaan Majapahit yang siap mendukung perjuangan kita,” katanya.

“Dengan berbekalkan keterangan yang berhasil dihimpun oleh Gondang Legi, maka kita membutuhkan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk bisa menggempur Mataram,” kata Kiai Cambuk Sakti.

Pangeran Ranapati pun setuju dengan pendapat Kiai Cambuk Sakti. Ia sependapat bahwa diperlukan pasukan sedikitnya dua puluh laksa untuk dapat menggulung Mataram.Apabila dapat terkumpul pasukan dengan anggota berjumlah dua puluh laksa, maka hal itu akan memudahkan pergerakan selanjutnya.

Kiai Cambuk Sakti kemudian memerintahkan para cantrik untuk bersantap siang bagi mereka bertiga. Mereka makan seadanya sebagaimana yang biasa tersedia di padepokan. Nasi, sayur lodeh, goreng ikan dan sedikit kue ringan seperti nagasari atau juadah.

Setelah selesai bersantap, maka mereka pun segera membagi tugas. Kiai Cambuk Petir akan mengunjungi kakak seperguruannya, Ki Gondang Legi mengawasi para cantrik selama Kiai Cambuk Petir pergi, Pangeran Ranapati menghimpun berbagai kekuatan yang mau dan mampu mendukung Kadipaten Panaraga.

Demikianlah Kiai Cambuk Petir kemudian mengendarai kudanya menuju ke kaki sebelah utara Gunung Wilis. Di sanalah kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja membangun padepokan. Padepokan Ajar Karangmaja.

Meskipun jalan yang ditempuhnya cukup rumit dan rumpil, namun karena Kiai Cambuk Petir sudah mengenal dengan baik jalan menuju ke sana, Ia melintasi bulak-bulak panjang, daerah persawahan, lalu masuk hutan yang agak lebat, jalanan yang berliku, lembah dan ngarai pun dilintasinya. Semakin dekat dengan padepokan kakak seperguruannya itu, semakin sulit jalan yang harus ditempuhnya.

Ia sampai di Padepokan Ajar Karangmaja setelah menempuh perjalanan berkuda hampir sehari penuh. Sungguh suatu perjalanan yang melelahkan. Namun Kiai Cambuk Petir adalah termasuk orang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Meskipun tubuhnya sudah mulai dimakan usia, namun ia tetap tegar menghadapi perjalanan yang sulit dan panjang seperti yang ditempuhnya sekarang ini.

Kiai Cambuk Petir meloncat turun ketika kudanya mencapai regol halaman Padepokan Ajar Karangmaja. Ia segera disambut oleh seorang cantrik yang menerima tali kekang dan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang tersedia.

“Apakah Kiai Ajar Karangmaja ada,” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Ada Kiai. Kiai Ajar Karangmaja sedang di sanggarnya. Silakan Kiai duduk di pendapa. Aku segera memberitahukan kepada Kiai Ajar Karangmaja mengenai kehadiran Kiai,” kata cantrik yang termasuk paling muda..

Demikianlah setelah menunggu sejenak, Kiai Ajar Karangmaja keluar dari sanggarnya setelah cantrik tadi memberitahukan bahwa adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir datang berkunjung.

“Selamat datang adi. Apakabar? Sudah lama sekali kau tidak datang ke mari,” kata Kiai Ajar Karangmaja menyambut tamunya. Adik seperguruannya.

“Terima kasih kakang. Aku sehat-sehat saja. Semoga demikian hendaknya dengan keadaan kakang,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Syukurlah. Aku juga selalu dalam lindungan-Nya. Apakah ada hal yang penting dan mendesak, sehingga kau menyempatkan diri untuk menemuiku yang jauh di pucuk Gunung Wilis ini?” tanya Kiai Ajar Karangmaja, langsung ke inti masalah. Ia tidak mau bertele-tele untuk mengetahui keinginan adik seperguruannya, yang sering datang dan selalu mempunyai maksud-maksud tertentu di luar ukuran nalarnya.

“Benar, kakang. Aku datang ke mari untuk kembali mengajak kakang guna bergabung dalam apa yang disebut sebagai barisan pendukung Kadipaten Panaraga untuk bisa menguasai tlatah ini. Apabila kita gabungkan dengan kekuatan yang berada di belakang kita, maka bukan tidak mungkin kita bisa membangkitkan kekuatan dari masa silam, yaitu membangun kembali Kerajaan Majapahit yang besar dan mampu menguasai Nusantara,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Sudah berulangkali aku katakan adi. Aku ini sudah sangat lanjut. Bahkan badanku sudah berbau tanah. Aku tidak mau lagi memikirkan masalah duniawi seperti itu. Apakah aku akan menjadi senapati atau tumenggung kalau bisa kau bujuk untuk bergabung? Untuk orang seumur aku, untuk apa lagi jabatan senapati atau tumenggung? Aku sudah tidak mempunyai gegayuhan seperti itu. Ketiga anakku juga sudah mentas dan aku sudah sudah mempunyai enam cucu. Kebahagiaanku sekarang adalah momong keenam cucuku itu. Itu saja,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Akan tetapi kakang, bukankah kita masih keturunan langsung dari trah Kerajaan Majapahit? Bukankah dengan demikian kita juga wajib menjunjung tinggi leluhur kita. Mikul dhuwur, mendem jero. Apakah kakang tidak merasa mempunyai kewajiban untuk membangun kembali kejayaan dari masa silam?“ tanya Kiai Cambuk Petir.

“Adi jangan keliru. Yang mempunyai trah langsung kerajaan Majapahit adalah guru kita Mpu Windujati. Sedangkan kita hanyalah cantrik di padepokannya, yang kemudian mendapat kesempatan menjadi muridnya. Aku dan kau bukan trah langsung dari Kerajaan Majapahit. Kita hanyalah keturunan pidak pedarakan, yang tidak seorang pun bisa mengaitkannya dengan trah Majapahit,” tutur Kiai Ajar Karangmaja dengan nada yang mulai meninggi. Ia berhenti sejenak. Nafasnya agak tersengal-sengal, karena menahan hati mendengar ucapan adik seperguruannya yang sekan-akan baru datang sudah memanas-manasi suasana.

“Sekarang tidak lagi, adi. Aku sedikit pun tidak mempunyai gegayuhan untuk membangkitkan kembali kejayaan Majapahit. Kerajaan Majapahit sudah mengukirkan dalam kitab sejarah negeri ini dengan tinta emas. Sekali terbilang, lalu hilang. Sekarang berilah kesempatan kepada kerajaan Mataram untuk kembali mengukirkan tinta emas dalam kitab sejarah itu. Sehingga pada saatnya nanti, anak cucu keturunan kita ratusan tahun mendatang akan melihat bahwa sejarah negeri kita ini penuh dengan warna-warni,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kembali ia terdiam sesaat.

“Aku tidak lagi mempunyai gegayuhan seperti itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Kenapa, kakang?”

“Karena yang ada sekarang ini sudah merupakan saluran yang tepat untuk meneruskan kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, bangkit Demak. Demak pun diteruskan oleh Pajang. Kemudian Pajang dilanjutkan oleh Mataram. Nah kurang apa lagi?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Kekurangannya adalah karena tidak ada peran kita di dalamnya, kakang. Kalau kita ikut berperan dalam perubahan pemerintahan itu dengan menjadi sarana berpindahnya wahyu keraton, maka barulah merupakan saluran yang tepat. Akan tetapi di sini kita tidak dilibatkan sama sekali,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Lalu kalau dilibatkan, kita sebagai apa? Sebagai pengusung wahyu keraton, begitu?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Benar kakang. Apabila kita dilibatkan sebagai pengusung wahyu keraton, maka paling tidak kita bisa memiliki kedudukan penting di dalam pemerintahan,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Kedudukan apa yang kau inginkan adi, dalam usiamu yang sudah jauh memanjat naik dan menjelang turun. Kalau usiamu masih tiga puluh tahunan, bolehlah apabila kau minta kedudukan. Pada saat menjelang purnatugas pada saat usiamu lima puluh tahun, kau sudah menjadi tumenggung. Akan tetapi dengan usiamu yang sudah enam puluhan tahun seperti sekarang ini apa lagi yang kau harapkan?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Paling tidak kita akan bisa meletakkan dasar bagi lingkungan kita. Meletakkan dasar bagi anak cucu kita,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Akan tetapi apa yang bisa kita lakukan. Karena kita akan tetap berada di luar jalur kekuasaan yang bisa menentukan hitam putihnya keadaan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Tentu saja kita memberikan dukungan yang perlu bagi terwujudnya gegayuhan kita itu,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Sudahlah adi. Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan yang sama sekali aku tidak mengerti. Aku juga tidak mempunyai wewenang untuk memasukkan keterangan yang berguna bagi perubahan kekuasaan itu. Seandainya terjadi perubahan kekuasaan pun, tentu saja kita akan tersingkir dan tidak akan bisa memperjuangkan kepentingan anak cucu kita. Karena kita sudah uzur,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Wah kakang terlalu berkecil hati sebelum berbuat sesuatu,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Yang jelas, aku tidak ingin melibatkan padepokanku dan keluarga besar perguruan Windujati dalam pertengkaran ini karena ingin memperebutkan kekuasaan,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kiai Cambuk Petir yang semasa mudanya bernama Kulantir sebenarnya adalah adik seperguruan dari Kiai Ajar Karangmaja. Ketika berguru kepada Mpu Windujati, mereka terpaut cukup jauh umurnya maupun tingkat ilmunya. Pada saat terjadi pergolakan terakhir di Demak Bintara mereka mendapat tugas untuk mengamati keadaan di Demak Bintara itu. Namun pada saat mereka kembali ke perguruan Windujati, mereka mendapati guru mereka ”Mpu Windujati” telah tiada. Kiai Ajar Karangmaja yang merupakan murid tertua Perguruan Windujati, kemudian mendapat kepercayaan untuk meneruskan padepokan itu. Sesuai dengan nama pemimpinnya, akhirnya orang lebih mengenal Padepokan Ajar Karangmaja, ketimbang Padepokan Windujati.

Kiai Ajar Karangmaja yang kakak seperguruan Kulantir kemudian menurunkan ilmu yang telah diperolehnya hampir secara lengkap dari Mpu Windujati. Sehingga dengan demikian Kiai Ajar Karangmaja adalah kakak seperguruan sekaligus guru bagi Kulantir yang kemudian menyebut dirinya Kiai Cambuk Petir ketika telah berdiri sendiri dengan membangun padepokannya sendiri.

Kiai Ajar Karangmaja mempunyai dua murid utama. Yang seorang bernama Putut Kalibata, dan seorang lagi Putut Jimbaran.

“Kemanakah kedua muridmu kakang. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Mereka berdua mulai kemarin minta izin untuk pulang ke kampung masing-masing selama dua bulan. Padi di sawah mereka sudah mulai panen dan mereka harus mengolah sawah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Wah sayang sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengajak mereka untuk bergabung denganku untuk memperjuangkan gegayuhan membangkitkan kejayaan Kerajaan Majapahit,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Adi jangan melibatkan padepokanku, atau pun kedua muridku itu dalam mencapai gegayuhanmu,” kata Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sengit.

“Baiklah kakang. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa,” kata Kiai Cambuk Petir dengan nada enteng.

Betapapun ia masih tetap menghormati kakang seperguruan yang sekaligus menjadi guru tunggak semi-nya setelah Mpu Windujati tiada. Perbawa kakak seperguruannya itu demikian besar.

“Oo ya, kakang. Aku ingin bertanya apakah di antara sanak kadang kita yang masih trah Keraton Majapahit ada yang tinggal di Mataram dan menjadi prajurit pasukan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Memangnya ada apa? Aku tidak tahu apakah di antara keluarga besar trah Majapahit atau sanak kadang kita yang berpihak atau berada di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Begini kakang. Dua pekan lalu aku mengirim keempat muridku Bargas, Bergawa, Tanda Rumpil dan Gondang Legi untuk mengamat-amati kekuatan pasukan Kerajaan Mataram. Nah dalam suatu pertempuran dengan seorang prajurit Mataram, ternyata Bargas dan Bergawa berhasil dilumpuhkan, Tanda Rumpil tewas dan Gondang Legi berhasil melarikan diri kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Keempat muridmu kalah?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Iya kakang. Yang membuatku heran, justru yang melumpuhkan kedua murid utamaku ”Bargas dan Bergawa” adalah orang yang mempunyai ciri-ciri seperti perguruan kita. Ciri-ciri perguruan Orang Bercambuk,” kata Kiai Cambuk Petir.

“He? Ciri-ciri Orang Bercambuk? Apakah cambuknya berjuntai panjang dan berkarah-karah baja di ujungnya?” tanya Kiai Ajar Karangmaja lagi.

“Benar kakang. Apakah kakang tahu bahwa ada sempalan dari ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Aku tidak tahu persis, adi. Tetapi setahuku tidak ada orang atau sempalan ilmu Orang Bercambuk yang kini mengabdi sebagai prajurit di Mataram,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Apakah orang itu murid dari Raden Timur yang sering juga disebut Pamungkas?” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada dirinya sendiri.

“Maksud kakang, Raden Timur cucu dari Mpu Windujati?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Benar. Raden Timur yang selalu mengamati kalau kita sedang berlatih ilmu kanuragan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Raden Timur adalah cucu sekaligus murid utama dari Mpu Windujati,” tutur Kiai Ajar Karangmaja.

“He? Tetapi aku tidak pernah melihat Raden Timur berlatih ilmu kanuragan dengan kita, para murid perguruan Mpu Windujati,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Iya. Karena Mpu Windujati berkenan melatihnya secara langsung di dalam sanggar. Aku beberapa kali mendapat tugas untuk berlatih tanding dengan Raden Timur. Meskipun Raden Timur sedikit lebih muda daripada aku, namun ilmunya ngedab-ngedabi dan hampir sesempurna Mpu Windujati sendiri,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Selain itu, Raden Timur juga berguru kepada adik seperguruan Mpu Windujati yang merupakan sahabat dekat dengan seorang yang bernama Kebo Kanigara, putera sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Dengan demikian ilmu yang dikuasai Raden Timur adalah gabungan ilmu dari beberapa perguruan.

Kiai Ajar Karangmaja terdiam lagi. Seakan-akan sedang mengenang kembali hubungannya dengan Raden Timur di Perguruan Windujati yang tersimpan dalam bilik ingatannya. Kejadian yang terjadi puluhan tahun yang lalu itu, seakan terputar kembali di dalam angan-angannya. Betapa Raden Timur yang masih muda itu, bertarung dengan dirinya di dalam sanggar. Meskipun ilmu yang diraihnya secara tuntas itu dikerahkannya untuk menyerang Raden Timur, namun cucu gurunya itu masih tetap bisa mengatasinya.

Sebagai pertanda bahwa ilmu yang mereka pelajari di perguruan Windujati telah tuntas, maka mereka berdua menjalani suatu ritual khusus di dalam sanggar itu. Gurunya membakar sebatang baja yang pada ujungnya terdapat semacam cap stempel dari baja. Pada cap stempel itu tertera gambar semacam cambuk yang pada ujungnya terdapat karah-karah baja bersegi sembilan.

Gurunya, Mpu Windujati yang masih merupakan trah Keraton Majapahit, meminta mereka berdua mengerahkan ilmu kebal yang telah mereka kuasai secara tuntas. Sebagai pertanda bahwa ilmu kebal mereka telah tuntas, maka ruangan sanggar Mpu Windujati terasa seperti panas membara. Sepanas cap stempel yang dipanaskan oleh gurunya. Karena agaknya, ilmu kebal mereka berdua telah berhasil membangkitkan sifat panas di dalam udara sekitar mereka.

Ketika Mpu Windujati merasa pengerahan ilmu kebal kedua muridnya telah cukup, Mpu Windujati segera menempelkan cap stempel dari baja yang membara itu ke pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Tercium bau seperti daging yang terbakar. Dengan sekuat tenaga kedua murid Mpu Windujati menahan nyeri yang mereka rasakan akibat diselomot dengan cap stempel membara itu. Gurunya segera memborehkan obat-obatan yang telah disiapkan untuk mengatasi luka bakar di tangan kedua muridnya itu. Ketika sembuh, sebuah cap bergambarkan cambuk menghiasi pergelangan tangan kiri kedua muridnya. Dalam kesempatan itu, gurunya mewariskan kitab perguruan Windujati kepada Raden Timur.

Gurunya kemudian memberi wejangan kepada mereka berdua, bahwa hubungan mereka sebagai dua saudara seperguruan harus tetap mereka jaga hingga kapan pun. Selama hayat masih dikandung badan. Hubungan itu tidak hanya di antara mereka saja, namun juga hubungan di antara murid-murid mereka, apabila kelak mereka membangun padepokan sendiri.

Gurunya berpesan agar mereka tidak mudah-mudahnya mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ilmu Pamungkas Orang Bercambuk. Apabila mereka ragu-ragu, apakah sudah saatnya atau belum mempergunakan ilmu pamungkas mereka, maka Mpu Windujati meminta agar mereka mengelus-elus pergelangan tangan kiri mereka dan bertanya di dalam hati:”Guru apakah sudah saatnya aku pergunakan ilmu pamungkasku?” Kelak mereka akan tahu, bahwa gurunya akan memberikan jawaban atas pertanyaan mereka.

Pesan wanti-wanti dari gurunya, Mpu Windujati, itulah yang selalu terngiang di dalam pendengaran Kiai Ajar Karangmaja yang semasa mudanya bernama Soma.

Ketika Soma menurunkan ilmunya kepada Kulantir, pesan yang sama selalu ditekankannya kepada adik seperguruan sekaligus muridnya itu. Namun, meskipun ilmu yang diturunkannya kepada Kulantir telah tuntas, namun Soma tidak berani mengadakan ritual khusus memberi cap stempel cambuk kepada Kulantir. Hal itu karena ia mengamati perangai Kulantir yang sering tidak sesuai dengan keinginannya. Kulantir lebih sering mengetengahkan sifat tamaknya akan kekuasaan. Namun sifat tamaknya itu tidak disalurkan secara benar melalui jalur kekuasaan yang ada.

Soma masih akan bisa memahami keinginan adik seperguruannya itu apabila Kulantir menyalurkan keinginannya untuk berkuasa misalnya dengan memasuki jenjang keprajuritan. Apabila Kulantir ketika masih muda memasuki jenjang keprajuritan mungkin ia sudah mengantongi pangkat tumenggung atau bahkan sudah purnawira. Namun hal itu tidak dilakukannya. Kulantir lebih suka tenggelam dalam kesibukannya di padepokan yang dibangunnya di Panaraga. Sekarang, ketika usianya sudah senja, baru ia berkeinginan untuk membangkitkan kenangan akan masa silam. Sungguh itu suatu tindakan yang dinilainya terlalu ngayawara.

“Apakah kakang pernah berhubungan Raden Timur setelah guru tiada?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Tidak pernah adi. Raden Timur seperti tenggelam ditelan bumi dan tidak pernah ada kabar beritanya,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak. Lalu melanjutkan.

“Yang aku ketahui Raden Timur kemudian sering berkelana dan bertualang ke sana ke mari. Ia sering memadamkan upaya perampokan di desa-desa yang dilaluinya. Ia menggunakan seribu nama untuk menyembunyikan jati dirinya. Raden Timur bisa memakai nama yang seram-seram seperti Ki Brewok, Ki Gondoruwo, Ki Bangor, atau Ki Arwah Gentayangan. Atau bisa juga ia menggunakan nama yang manis seperti Ki Madu, Ki Tanu Metir, Ki Kumitir, Ki Langendriyan dan nama-nama yang aneh lainnya. Namun pertanda yang tidak bisa dibuangnya, adalah ia selalu menggunakan kain geringsing. Sejak muda ia suka sekali dengan kain batik bercorak geringsing,” kata Kiai Ajar Karangmaja mengenang.

“Aku beberapa kali berusaha membuntutinya. Namun tidak pernah berhasil. Raden Timur selalu berhasil menghilangkan jejak dengan penyamarannya yang aneh-aneh itu. Bahkan tidak jarang ia menggunakan berbagai jenis topeng dari kulit kayu. Entah apa sebabnya ia selalu menghindari pertemuan denganku,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.

“Karena getolnya aku ingin membuntuti Raden Timur, bahkan aku sampai pernah kecele. Ketika terjadi perampokan di suatu kademangan, aku membuntuti sang perampok. Benar saja tidak lama kemudian, muncul seorang pahlawan yang menangkapi semua perampok itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Lalu apa yang kakang lakukan?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Aku yakin benar bahwa yang menangkap para perampok itu adalah Raden Timur dalam penyamarannya. Aku menguntit orang yang menangkap para perampok itu. Setelah perampok itu dilumpuhkan dan diikat di pojok lapangan, orang yang melumpuhkan perampok itu pergi. Aku tetap mengikutinya,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.

“Kemudian?”

“Aku cegat dia dan kuajak bertarung. Ternyata orang itu tidak menunjukkan ciri-ciri sebagai Orang Bercambuk. Aku masih belum percaya. Kujajal dia sampai ilmu pamungkasnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kiai Cambuk Petir tertarik mendengar ceritera kakak seperguruannya.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Ternyata baru kemudian aku mengetahui bahwa orang yang aku pergoki itu bukan Raden Timur setelah sempat berperang tanding, melainkan Ki Sadewa,” kata Ki Ajar Karangmaja lagi.

“He? Ki Sadewa dari perguruan Jati Laksana,” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Benar. Orang itu adalah Ki Sadewa dari perguruan Jati Laksana,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya.

“Apakah adi mengenal Ki Sadewa?”

“Aku mengenalnya kakang. Aku dan Ki Sadewa pernah bertemu pada awal masa kerajaan Pajang,” kata Kiai Cambuk Petir. “Kami ketika bahu membahu mengatasi kawanan perampok yang kuat di kawasan Alas Roban. Sejak itu kawanan perampok Macan Loreng dari Alas Roban tidak terdengar lagi, karena berhasil kami taklukkan.”

Kiai Ajar Karangmaja terdiam mendengar jawaban adik seperguruannya itu. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia juga mengenal sifat Ki Sadewa yang selalu berusaha menegakkan kebenaran dan memerangi kesewenang-wenangan macam apa pun yang terjadi jauh dari lingkaran kekuasaan.

“Menurut kakang, apakah Raden Timur dan Ki Sadewa saling mengenal?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Aku tidak tahu persis adi. Namun apabila melihat sepak terjang mereka yang sama-sama memerangi kebatilan, aku rasa mereka saling kenal atau saling berhubungan,” kata Kiai Ajar Karangmaja lagi.

Kiai Cambuk Petir mengangguk-anggukkan kepalanya lagi. Ia berpikir sejenak, lalu berkata.

“Berarti kalau aku ingin menelusuri Raden Timur, aku dapat memulainya dari jalur Ki Sadewa atau melalui Ki Rangga Agung Sedayu, prajurit pasukan khusus Mataram di Tanah Perdikan Menoreh,” kata Kiai Cambuk Petir.

Kiai Ajar Karangmaja mengerutkan keningnya. Ia heran dengan sikap Kulantir yang kemudian menyebut dirinya sebagai Kiai Cambuk Petir itu, yang masih saja hendak menelusuri keberadaan Raden Timur dengan seribu namanya itu.

“Apakah yang hendak kau lakukan jika pada akhirnya kau bertemu dengan Raden Timur, adi,” tanya Kiai Ajar Karangmaja dengan nada sedikit meninggi.

“Tidak apa-apa kakang. Aku hanya ingin merekatkan ikatan tali silaturahmi saja, yang terputus sejak wafatnya guru. Mpu Windujati. Apalagi Raden Timur dengan segala penyamarannya itu selalu berusaha menghindari pertemuan dengan kakang. Aku justru menjadi semakin penasaran. Syukur-syukur apabila aku diberi pinjaman kitab pusaka dari perguruan Windujati. Karena tentu masih ada yang bisa aku pelajari dari kitab pusaka itu, apabila aku bisa membacanya secara langsung. Aku rasa masih ada ilmu yang belum kupelajari secara tuntas dari kakang,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Sudahlah adi. Kitab pusaka itu sudah diwariskan oleh Mpu Windujati kepada Raden Timur dan tentu beliau pun tidak sembarangan mewariskan kitab pusaka itu kepada orang yang tidak berhak. Aku tidak setuju apabila engkau hendak merebut dengan cara kasar maupun cara halus kitab pusaka itu. Aku diangkat dan menjadi murid Mpu Windujati saja sudah merupakan anugerah yang tiada terkira. Kau tidak usah ngogrok-ngogrok, untuk mendapatkan kitab pusaka itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja memberi nasihat kepada adik seperguruannya itu.

“Tidak kakang. Aku sebagai murid Mpu Windujati juga merasa berhak untuk mempelajari kitab pusaka itu. Karena kitab pusaka itu adalah sumber dari segala sumber ilmu yang ada di perguruan kita. Kalau Mpu Windujati menurunkan ilmu kepada kakang hanya sembilan bagian, lalu kakang juga menurunkan kepadaku ilmu itu sembilan bagian lagi dari ilmu yang kakang pelajari dari Mpu Windujati, dan aku pun menurunkan ilmu kepada muridku sebanyak sembilan bagian, maka pada suatu saat ilmu dari perguruan Windujati akan sirna dari muka bumi ini. Raden Timur sudah berpuluh-puluh tahun menguasai kitab pusaka itu. Sekarang giliran kita, aku dan kakang, untuk ikut mempelajarinya agar ilmu perguruan kita tidak punah,” kata Kiai Cambuk Petir.

Kiai Ajar Karangmaja terperangah dengan ucapan adik seperguruannya itu. Ia tidak menyangka adik seperguruannya itu selain kemaruk akan kekuasaan, juga tamak dengan kitab pusaka yang tidak menjadi haknya.

“Jangan adi. Sekali lagi aku peringatkan adi untuk tidak meminjam, merebut atau menguasai kitab pusaka itu secara paksa atau kasar. Kalau itu kau lakukan, maka kau akan berhadapan dengan aku,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Baik kakang. Aku tidak akan melakukannya,” kata Kiai Cambuk Petir.

Pembicaraan mereka terputus sejenak ketika dua orang cantrik menyajikan makanan dan minuman ke pendapa. Mereka pun segera menyantapnya. Setelah merasa kenyang, maka mereka melanjutkan pembicaraan. Namun suasananya sudah berbeda. Mereka berbicara dengan nada yang lebih rendah. Apalagi setelah kenyang ternyata mata Kiai Cambuk Petir mulai meremang. Perlahan-lahan ia mulai menguap.

“Sudahlah adi. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Kadipaten Panaraga sampai di gubukku ini. Sebaiknya kau beristirahat barang sejenak untuk mengendurkan urat-uratmu yang tegang,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kiai Cambuk Petir tidak kuasa menolak ajakan setengah perintah dari kakak seperguruannya Kiai Ajar Karangmaja. Apalagi ia memang benar-benar merasa diserang kantuk yang tak tertahankan saat perutnya terasa kenyang.

“Kau dapat beristirahat di gandok kanan yang sering kau pergunakan apabila kemari,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Baiklah kakang. Aku ingin beristirahat sejenak di gandok kanan,” kata Kiai Cambuk Petir.

“Silakan. Silakan adi beristirahat. Untuk orang seumur kita, memang lekas sekali merasa lelah apalagi setelah menempuh perjalanan panjang,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Setelah Kiai Cambuk Petir setelah membersihkan diri, kemudian beristirahat di gandok kanan. Tidak lama kemudian terdengar desir nafasnya yang mengalir teratur, pertanda ia sudah terlelap dalam tidurnya.

Setelah mendengar desir nafas adik seperguruannya yang mengalir teratur, Kiai Ajar Karangmaja kemudian segera pergi ke halaman belakang padepokannya. Di sana ada beberapa rumah petak tempat para murid dan cantriknya tinggal selama mondok di padepokannya.

Ia segera menemui Putut Kalibata dan Putut Jimbaran, yang ternyata ada di belakang karena baru datang dari sawah untuk mencangkul sawah padepokan yang cukup luas.

Kiai Ajar Karangmaja segera menceriterakan tentang kedatangan adik seperguruannya Kiai Cambuk Petir yang hendak membenturkan mereka dengan Kerajaan Mataram. Karena itu ia memerintahkan mereka untuk segera pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk menemui Ki Rangga Agung Sedayu.

“Kalian berangkatlah terlebih dahulu. Nanti aku menyusul setelah pamanmu Kiai Cambuk Petir pergi dari padepokan. Aku minta kalian meninggalkan pertanda seperti biasa, agar kita bisa saling berhubungan. Kalau ada yang bertanya, katakan saja kalian hendak pulang ke kampung untuk membantu memanen padi, dan mengolah tanah untuk musim tanam berikutnya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kedua Putut itu pun kemudian segera berangkat, sesuai perintah gurunya. Mereka membawa kedua kudanya dan memilih jalan yang jarang dilalui orang. Agar tidak menimbulkan suara berisik karena derap kaki kuda, mereka menuntun kudanya sampai jarak yang cukup jauh. Baru kemudian mereka meloncat ke punggung kudanya dan menarik tali kendali agar kudanya segera berlari.

Kiai Ajar Karangmaja kemudian kembali ke pendapa. Ketika melintasi gandok kanan, ia masih mendengar suara nafas yang teratur pertanda adik seperguruannya, Kiai Cambuk Petir, masih tertidur lelap. Mungkin ia merasa kelelahan menempuh perjalanan yang cukup jauh itu.

Ketika sang mentari harus terpelanting di pinggang bukit, barulah Kiai Cambuk Petir terbangun dari tidurnya. Ia mengucak-ucak matanya. Ia lalu menggeliat untuk meregangkan urat-urat di pinggangnya.

Setelah agak regang urat di pinggangnya, ia pun segera pergi ke pakiwan, untuk membersihkan diri. Setelah mandi ia kembali ke pendapa. Di sana kakak seperguruan yang sekaligus gurunya sudah menanti. Tidak lama kemudian para cantrik menghidangkan makanan dan minuman untuk santap malam.

“Marilah adi, kita bersantap malam dulu, sebelum kita mengobrol-ngobrol ringan sambil mengenang masa kita meguru dulu kepada Mpu Windujati,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Baiklah kakang, kita makan dulu.”

Mereka berdua pun segera menyantap makanan yang disediakan oleh para cantrik berupa sayur lodeh, ikan mas goreng, ayam goreng, tahu bacem dan wedang jahe. Segera saja makanan itu berpindah tempat. Meskipun tidak sampai habis semuanya. Sebagai orang-orang yang telah lanjut usia, tidak banyak mereka makan. Mungkin karena usus mereka telah susut, sehingga tidak lagi bisa memuat banyak makanan. Namun makanan yang tidak terlalu banyak itu, telah membuat mereka merasa kenyang.

“Bagaimana kakang, apakah kakang bersedia bergabung dengan kami untuk mendukung Adipati Panaraga guna menggulingkan Mataram?” tanya Kiai Cambuk Petir.

“Sudahlah adi. Keputusanku sudah tetap. Aku tidak mau ikut campur dalam usaha menggulingkan Mataram itu. Kalau kau paksa-paksa begitu, aku bisa justru bersikap sebaliknya,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Maksud kakang?”

“Aku bisa saja justru membela Mataram. Lebih baik kita berbicara yang ringan-ringan saja.”

Demikianlah mereka malam itu berbicara mengenai berbagai hal yang tidak ada kaitannya dengan penggulingan kekuasaan Mataram.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Menoreh Ki Tumenggung Jaya Santika seiring dengan berjalannya waktu, hari demi hari sudah hampir menyelesaikan kapal jung yang dibangunnya di daerah Galur yang terletak di tepi barat Kali Praga, tidak jauh dari muara sungai itu..

Kapal jung itu sudah nampak bentuknya. Kapal itu yang pada awalnya dibentuk rangkanya dengan menggunakan kayu jati yang ditebang dari pohon jati yang ada di Alas Mentaok. Dengan kayu itu terlebih dahulu dibentuk kayu lunas yang membujur dari ujung ke ujung. Kemudian di sebelah lunas itu didirikan kayu penyangga untuk menahan rangka. Pada kayu lunas itu juga dipasang tiga batang tiang layar yang menjulang tinggi. Tiang layar yang berada di tengah lebih tinggi daripada tiang layar yang berada di sebelahnya. Kapal itu agak meruncing di bagian haluannya, dan melebar di bagian buritan. Pada bagian haluannya dibentuk menyerupai ikan cucut yang sedang membuka mulutnya. Nampak giginya yang tajam seperti sedang menyeringai.

Setelah rangka dipasang, kemudian mulai dibuat rangka palka kapal yang terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama adalah dasar kapal, di sini terdapat ruangan untuk mendayung kapal jung, ruang para juru masak meracik makanan, dan sekaligus tempat istal kuda.

Kemudian lantai kedua tempat para prajurit beristirahat atau tidur, dan lantai ketiga adalah dek atau lantai paling atas tempat para prajurit bersiaga pada saat akan maju berperang atau mengadakan upacara khusus.

Setelah rangka ketiga lantai dipasang dengan sempurna, maka dimulailah menutup rangka kapal itu dengan papan kayu jati yang tebal-tebal. Untuk menghindari kemungkinan papan penutup rangka itu bocor, maka pada ujung papan setiap sambungan dibuat cowakan yang kait mengait. Dengan demikian, papan itu bisa saling mengikat dengan rapat.

Ketika telah usai penutupan rangka dengan papan, maka mulai nampaklah kapal itu berdiri dengan megahnya di daerah Galur di tepian kali Praga. Selanjutnya adalah pemasangan pagar keliling di atas dek kapal dan pembuatan kapal sekoci sebagai alat untuk turun jika kapal jung itu tidak dapat merapat ke pantai. Pekerjaan berikutnya adalah pemasangan kemudi di bagian buritan kapal, pemasangan tangga-tangga untuk pergerakan dari satu tingkatan lantai ke tingkat lainnya serta penghalusan bagian-bagian kapal yang masih kasar.

Pekerjaan berikutnya adalah pemasangan layar pada tiang layar yang telah berdiri dengan kokohnya. Ketika semua bagian kapal itu sudah selesai, maka Ki Tumenggung Jaya Santika meninjau kembali semua bagian kapal yang masih berada di tepi kali Praga itu. Ki Tumenggung Jaya Santika nampak mengangguk-angguk puas ketika melihat perkembangan terakhir dari pembangunan kapal jung itu.

Setelah semuanya dirasakan cukup, maka Ki Tumenggung Jaya Santika menyusun rencana untuk pergi ke Mataram guna melaporkan kepada Panglima Wiratamtama Ki Tumenggung Prabayudha, Ki Patih Mandaraka, Pangeran Purbaya dan Panembahan Hanyakrawati.

Terlebih dahulu Ki Tumenggung Jaya Santika mengumpulkan para senapatinya yang ada di barak pasukan khusus. Sebagaimana biasa apabila Ki Tumenggung Jaya Santika harus pergi ke Mataram, maka ia membagikan tugas-tugas kepada para senapati. Ki Tumenggung Jaya Santika pergi ke Mataram didampingi oleh dua lurah prajurit yaitu Ki Lurah Darma Samudra dan Ki Lurah Suprapta.

Setelah pembagian tugas itu usai, ia pulang lebih awal daripada biasanya. Ki Tumenggung memberitahukan kepada istrinya Nyi Sekar Mirah, bahwa ia hendak pergi ke Kotaraja Mataram guna melaporkan kepada Panglima Wiratamtama Ki Tumenggung Prabayudha, Ki Patih Mandaraka, Kanjeng Pangeran Purbaya dan Kanjeng Panembahan Hanyakrawati.

“Aku terlebih dahulu hendak menghadap Ki Gde Menoreh malam ini mengenai rencana kepergianku ke Mataram esok pagi,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika kepada Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra.

Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memahami bahwa tugas sebagai Senapati Utama Pasukan Khusus di Tanah Perdikan Menoreh memang menuntutnya untuk hilir mudik ke Kotaraja Mataram. Apalagi Ki Tumenggung Jaya Santika mendapat tugas untuk membangun armada laut Kerajaan Mataram. Hubungan dengan Kotaraja, merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindari.

Demikianlah, ketika mentari bersembunyi di balik bukit, setelah membersihkan diri di pakiwan, sesuci dan melaksanakan kewajiban kepada Yang Maha Agung, maka Ki Tumenggung Jaya Santika berpamitan kepada istrinya Nyi Sekar Mirah, Ki Jayaraga dan Sukra, untuk pergi ke rumah Ki Gde Menoreh.

Sebagaimana biasa, Ki Tumenggung Jaya Santika memilih berjalan kaki untuk datang ke rumah Ki Gde Menoreh. Malam itu, terasa sejuk dengan angin yang semilir. Binatang malam sudah mulai menguasai suasana dengan memperdengarkan suaranya. Mereka terdiri dari jangkerik, belalang, cenggeret, kelelawar, burung hantu, burung kedasih, burung bence. Di kejauhan terdengar lolong serigala dan anjing hutan serta auman harimau. Suara mereka yang saling bersahutan, membuat suasana menjadi nyman tenteram. Suara katak pohon sesekali ikut menyemarakkan paduan suara itu. Namun karena sudah beberapa hari tidak turun hujan, suara kodok tidak terdengar. Mungkin mereka merasa kepanasan, sehingga menjadi tidak begitu gembira.

Setelah melintasi bulak panjang, dan pohon gayam yang besar di sudut tikungan, Ki Tumenggung Jaya Santika tinggal melangkah beberapa ratus langkah. Tiba-tiba langkahnya yang ringan itu terhenti. Ia merandek sejenak. Ki Tumenggung Jaya Santika merasa ada beberapa orang yang mengikutinya. Namun ia berbuat seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya sedang dikuntit.

“Berhentilah sejenak Kisanak. Apakah Kisanak adalah Ki Rangga Agung Sedayu?” tanya seseorang dari tiga orang yang tiba-tiba menghadangnya di tengah gelap malam. Namun dengan mengerahkan aji Sapta Pandulu, Ki Tumenggung Jaya Santika dapat melihat dengan jelas ketiga orang yang mencegatnya di tengah persawahan itu.

“Kalian salah Kisanak. Aku bukan Rangga Agung Sedayu. Aku Tumenggung Jaya Santika,” katanya.

“He? Bukankah itu nama gelar kekancinganmu setelah menjadi tumenggung?” tanya seorang di antara mereka yang paling tua. Orang itu sebenarnya sudah sangat tua, seandainya Kiai Geringsing masih hidup tentu mereka sebaya.

“Siapakah kalian?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Aku Kiai Ajar Karangmaja, saudara seperguruan dari Orang Bercambuk, sedangkan dua orang lagi yang berada di sebelahku adalah muridku. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran,” katanya.

“Apakah maksud kalian menemuiku di tengah persawahan ini?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Aku sebenarnya berkepentingan dengan gurumu. Apakah gurumu adalah Raden Timur atau Pamungkas?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Bukan. Guruku bukan Raden Timur atau Pamungkas. Tetapi guruku adalah Ki Tanu Metir atau sering juga menyebut dirinya adalah Kiai Geringsing,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Apakah gurumu suka mengenakan kain geringsing?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Benar. Apakah ada yang dapat aku lakukan bagi Kisanak. Apakah guruku mempunyai utang-piutang dengan Kisanak?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Tidak. Gurumu tidak mempunyai urusan utang-piutang denganku Ki Tumenggung. Namun aku sebagai saudara seperguruan hendak bertemu dengan gurumu itu.”

Ki Tumenggung Jaya Santika mengerutkan keningnya. Apabila menilik usia Kiai Ajar Karangmaja, ia memang percaya bahwa mereka sepantaran. Kiai Ajar Karangmaja nampak beberapa tahun lebih tua daripada Kiai Geringsing, jika orang tua itu masih hidup.

“Apakah pertanda bahwa Kiai adalah saudara seperguruan dengan guruku?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Ada. Ki Tumenggung. Ini,” kata Kiai Ajar Karangmaja sambil mengurai sesuatu yang membelit pinggangnya.

Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya, ketika melihat sebuah cambuk berjuntai panjang yang disodorkan oleh Kiai Ajar Karangmaja.

“Bolehkah aku melihatnya?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Tentu. Silakan,” kata Kiai Ajar Karangmaja sambil menyodorkan cambuk miliknya itu.

Ki Tumenggung Jaya Santika pun segera mengurai cambuk berjuntai panjang yang juga membelit pinggangnya, lalu membandingkan dengan cambuk yang disodorkan Kiai Ajar Karangmaja. Ia pun merapatkan ujung dan pangkal kedua cambuk itu yang ternyata sama persis panjangnya. Ia lalu membandingkan karah-karah baja bersegi sembilan. Keduanya sama persis, ketika ditempelkannya, tidak sedikit pun ada perbedaannya. Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu bertanya.

“Apakah Kiai mempunyai pertanda lain yang dapat meyakinkan aku, bahwa Kiai saudara seperguruan dari guruku?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika lagi.

“Apakah maksudmu?” tanyanya.

“Ya, berupa cap atau stempel atau semacam itu,” katanya.

“Apakah ini yang kamu maksudkan,” tanya Kiai Ajar Karangmaja sambil menyodorkan pergelangan tangan kirinya.

Ki Tumenggung Jaya Santika mengerutkan dahinya ketika melihat gambar sebuah cambuk yang tertera di pergelangan tangan Kiai Ajar Karangmaja. Ia kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia lalu menyerahkan kembali cambuk berjuntai panjang berkarah-karah baja milik Kiai Ajar Karangmaja. Lalu katanya.

“Kiai lihat batu sebesar kerbau yang berada di tepi sawah itu. Apakah yang dapat Kiai lakukan dengan cambuk Kiai dari sini,” Ki Tumenggung Jaya Santika sambil menunjuk sebuah batu kali yang berjarak sekitar dua puluh depa dari mereka.

“Baiklah anak muda. Karena aku ingin bertemu dengan Raden Timur yang lebih kau kenal sebagai Kiai Geringsing, aku penuhi keinginanmu,” katanya.

Kiai Ajar Karangmaja melangkah beberapa tindak dari kedua muridnya dan Ki Tumenggung Jaya Santika. Ia lalu memutar-mutar cambuk itu di atas kepalanya. Cambuk itu berdesing-desing menimbulkan suara yang gemuruh. Tiba-tiba dari sebuah sentakan yang dilakukannya, meluncur seleret sinar putih kebiruan menerjang batu kali itu. Batu kali itu nampak bergeming. Masih utuh di tempatnya.

“Cobalah kau lihat batu kali itu,” kata Kiai Ajar Karangmaja kepada Putut Kalibata.

Putut Kalibata melangkah mendekati batu kali itu diikuti oleh Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika Putut Kalibata menyentuh batukali itu dengan ujung jarinya, maka batu kali itu runtuh menjadi serpihan pasir yang halus. Kini Ki Tumenggung Jaya Santika percaya bahwa orang tua itu memang saudara seperguruan gurunya, dan hendak menemuinya.

Ki Tumenggung Jaya Santika kemudian membungkuk hormat kepada Kiai Ajar Karangmaja.

“Maafkan aku uwak guru. Aku telah meragukan kebenaran uwak guru sebagai saudara seperguruan guruku Kiai Geringsing,” katanya.

“Tidak apa-apa ngger. Memang sudah sewajarnya angger berbuat demikian. Semua pertanyaan angger itu memang sudah sepatutnya kau tanyakan,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ia terdiam beberapa saat, lalu bertanya.

“Dari tadi angger belum menjawab pertanyaanku. Di manakah kini gurumu itu?”

“Guru telah tiada beberapa tahun silam, Kiai.”

“He? Raden Timur telah tiada?”

“Benar Kiai.”

“Di manakah makamnya?”

“Maaf Kiai. Kami sekeluarga harus merahasiakan makamnya. Karena sebagai seorang ahli pengobatan, banyak orang yang mendewa-dewakan kemampuannya. Sampai suatu ketika datang seorang ibu yang membawa anaknya yang sudah meninggal kepada Kiai Geringsing. Ia menganggap Kiai Geringsing sebagai seorang yang sakti dan mampu mengobati orang sakit, bahkan bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Ibu itu menggerung-gerung minta kepada guru, agar anaknya dihidupkan. Tentu saja guru tidak bisa melampaui kemampuannya yang hanya bisa menyembuhkan orang sakit.”

“Lalu?”

“Guru siang malam berdoa agar anak yang sudah meninggal itu dihidupkan kembali. Sejak saat itu, guru menjadi bersedih dan menurun kesehatannya.”

“Kemudian?

“Guru meminta agar apabila ia meninggal makamnya dirahasiakan. Ia takut apabila orang mendewa-dewakan dirinya, meskipun ia sudah tiada.”

Kiai Ajar Karangmaja dan kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka dapat memahami apa sebab Raden Timur atau Pamungkas atau Kiai Geringsing minta agar makamnya dirahasiakan.

“Apakah Ki Bargas, Ki Bergawa, Ki Tanda Rumpil dan Ki Gondang Legi adalah murid-murid Kiai?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Bukan. Mereka bukan muridku. Tetapi murid dari adik seperguruanku Kiai Cambuk Petir,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah maksud Kiai datang kepadaku untuk menuntut balas atas kekalahan keempat murid adik seperguruanmu?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Tidak Ki Tumenggung. Aku berbeda pandangan dengan adik seperguruanku. Aku tidak ingin mengganggu Ki Tumenggung barang seujung rambut pun,” katanya.

“Lalu maksud Kiai menemuiku atau mencari guru apa?”

“Pertama aku ingin melepaskan rindu, setelah puluhan tahun tidak bertemu dengan gurumu.”

Kiai Ajar Karangmaja berhenti sejenak.

“Yang kedua, aku ingin memperingatkan kepadamu, bahwa adik seperguruanku Kiai Cambuk Petir ingin menguasai kitab pusaka peninggalan Mpu Windujati. Kalau boleh aku nasihatkan, sebaiknya tidak kau turuti permintaannya apabila ia datang kepadamu untuk meminta kitab pusaka itu.”

“Terima kasih atas peringatan uwak guru. Tetapi bukankah Kiai Cambuk Petir juga berhak untuk mempelajarinya?”

“Iya. Adik seperguruanku itu sebenarnya juga berhak untuk mempelajari kitab itu. Akan tetapi aku tidak setuju, apabila penguasaannya atas segala ilmu kanuragan yang ada di dalam kitab itu dipergunakannya untuk makar. Untuk menggulingkan pemerintahan yang sah di Mataram ini.”

“He? Maksud uwak guru?”

“Ia ingin membangkitkan kejayaan masa silam dengan menegakkan kembali kerajaan Majapahit. Bagiku itu suatu kerja ibarat menegakkan benang basah. Untuk mewujudkan gegayuhannya itu, ia bekerja dengan Pangeran Ranapati dan Kanjeng Adipati Panaraga Pangeran Jayaraga.”

“He? Jadi uwak guru ini jauh-jauh dari Panaraga untuk memberitahukan hal itu kepadaku?”

“Benar angger. Kalau aku tahu siapakah orang tuamu? Sepertinya aku mengenal seseorang yang mirip dengan dirimu beberapa puluh tahun yang lalu. Apakah ayahmu Ki Sadewa?”

“He? Uwak guru mengenal ayahku?”

“Bukan hanya mengenalnya, bahkan aku sempat bertempur seharian dengannya. Hal itu terjadi karena aku mengira Ki Sadewa yang mengenakan topeng dan menumpas perampok adalah Raden Timur yang sedang menyamar. Karena Raden Timur sempat berguru kepada beberapa orang, maka aku berusaha menaklukkannya dengan ilmu kanuragan Orang Bercambuk. Tentu saja Ki Sadewa tidak pernah keluar ilmu cambuknya. Karena aku terus mendesak untuk membuka topengnya dengan mengatakan tidak ada gunanya Raden Timur bersembunyi di balik topeng itu. Akhirnya, karena jengkel Ki Sadewa membuka topengnya. Lalu berkata.

“Apakah aku Raden Timur, orang yang kau cari itu Soma?” kata Kiai Ajar Karangmaja menirukan ucapan Ki Sadewa beberapa puluh tahun yang lalu.

Kiai Ajar Karangmaja menjelaskan kepada Ki Tumenggung Jaya Santika bahwa namanya sewaktu muda dulu adalah Soma, sebelum ia memimpin padepokan.

Ki Tumenggung Jaya Santika mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi Kiai mengenal ayahku maupun guruku?”

“Bukan hanya sekadar mengenal. Bahkan aku bersahabat dengan ayahmu. Namun sejak Mpu Windujati tiada, aku tidak pernah bertemu barang sekali pun dengan gurumu. Aku sampai sekarang tidak habis pikir, kenapa ia selalu menghindari diriku. Padahal aku hanya ingin merekatkan tali silaturahmi saja. Tidak ada niatku untuk meminta sesuatu darinya, apalagi meminta kitab pusaka. Raden Timur adalah orang yang paling berhak menguasai kitab pusaka itu, karena Raden Timur adalah murid utama sekaligus cucu dari Mpu Windujati. Aku tetap menghormatinya sampai kini sekali pun.”

Kiai Ajar Karangmaja menahan air yang mengembun di pelupuk matanya.

“Ternyata Raden Timur lebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Agung daripada aku,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Mereka termangu-mangu sejenak mendengar pengakuan Kiai Ajar Karangmaja. Ki Tumenggung Jaya Santika tidak mengira demikian hormat dan rindunya Kiai Ajar Karangmaja kepada gurunya.

“Sekarang apakah rencana uwak guru selanjutnya?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Aku akan kembali ke padepokanku di Panaraga,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Di malam yang dingin begini, uwak? Tinggallah beberapa hari di rumahku. Malam ini aku akan menghadap Kepala Tanah Perdikan Menoreh, Ki Gde Menoreh. Sebaiknya Uwak guru ikut bersamaku, nanti sekalian kuperkenalkan.”

“Baiklah. Aku ingin mengetahui serba sedikit mengenai Tanah Perdikan Menoreh ini. Siapa tahu ada hal-hal yang bisa kupelajari dari sini,” kata Kiai Ajar Karangmaja. Ternyata orang tua itu, meskipun dari keriput raut mukanya jauh lebih tua daripada Kiai Geringsing, namun masih mempunyai semangat hidup yang membara.

Demikianlah mereka berempat pun segera melangkah perlahan sambil berceritera tentang berbagai hal menyangkut Mpu Windujati, perguruannya, serta kitab pusaka peninggalannya.

Tanpa terasa, saat wayah sepi bocah mereka telah sampai di rumah paling besar yang ada di Tanah Perdikan Menoreh. Rumah Ki Gde Menoreh.

Ki Gde Menoreh yang melihat kedatangan Ki Tumenggung Jaya Santika, segera tergopoh-gopoh menyambut tamunya.

“Ki Gde Menoreh, perkenalkan ini uwak guruku Kiai Ajar Karangmaja. Sedangkan dua orang ini adalah muridnya. Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran.”

“Mari Ki Tumenggung. Marilah Kisanak sekalian, naik ke pendapa.”

Ki Gde Menoreh pun kemudian memanggil pembantunya dan minta disediakan minuman hangat dan beberapa kue basah yang masih tersedia. Dalam waktu tidak terlalu lama, hidangan ringan itu pun segera tersedia di tengah tikar yang digelar di pendapa. Mereka menikmati hidangan ringan itu. Ki Tumenggung Jaya Santika lalu meneruskan berbicara.

“Ki Gde. Pertama, aku mengenalkan uwak guruku yang baru saja tiba di Tanah Perdikan Menoreh ini.”

“Dari manakah Kiai Ajar Karangmaja datang?” tanya Ki Gde Menoreh.

“Aku datang dari Panaraga, Ki Gde Menoreh,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Sedemikian jauhnya? Apakah Kiai datang dengan berkuda?”

“Benar Ki Gde. Kami bertiga datang berkuda.”

“Alangkah kuatnya tubuh Kiai yang sudah sesepuh ini mampu menempuh perjalanan sedemikian jauh dengan berkuda.”

“Sedemikian rinduku kepada Raden Timur, membuatku tak mengenal lelah untuk menempuh perjalanan sedemikian jauh.”

“Siapakah yang Kiai maksudkan dengan Raden Timur?”

“Yang kumaksudkan dengan Raden Timur adalah Pamungkas, atau mungkin di sini dikenal dengan nama Kiai Geringsing.”

“He? Kiai Geringsing? Apakah Kiai Geringsing guru Ki Tumenggung Jaya Santika.”

“Benar, Ki Gde. Raden Timur yang merupakan trah Majapahit, mempunyai seribu nama untuk menyembunyikan dirinya. Ia memakai seribu topeng untuk menutup wajah aslinya. Entah apa sebabnya ia mengambil sikap demikian. Raden Timur adalah cucu dari Mpu Windujati yang merupakan keturunan langsung dari Prabu Brawijaya.”

“He? Apakah aku tidak salah dengar Kiai?”

“Tidak Ki Gde. Ki Gde tidak salah dengar. Raden Timur atau Kiai Geringsing memang benar keturunan langsung dari trah Majapahit. Namun ia tidak suka menonjol-nonjolkan hal itu.”

“Benar Kiai. Bahkan Kiai Geringsing lebih suka ikut berperang di pihak Mataram,” kata Ki Gde Menoreh.” Ia sempat beberapa kali membela Mataram, bahkan sejak Alas Mentaok baru dibuka, tidak terlepas dari peran Kiai Geringsing.”

“Kemudian yang kedua, Ki Gde. Maksud kedatanganku adalah untuk melaporkan kepada Ki Gde bahwa aku besok akan pergi ke Mataram untuk melaporkan bahwa kapal jung percontohan yang aku bangun sudah selesai sama sekali.”

“Oya? Syukurlah bahwa tugas berat itu sudah anakmas selesaikan. Aku turut bergembira. Kalau keadaanku sesehat dahulu, tentu aku ingin melihat bagaimana bentuk kapal jung yang anakmas bangun itu.”

“Terima kasih Ki Gde.”

Ki Tumenggung Jaya Santika berhenti sejenak, lalu melanjutkan berkata.

“Hari sudah larut malam, Ki Gde. Kami mohon pamit. Biarlah Kiai Ajar Karangmaja, Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran menginap di rumahku saja.”

“Apakah tidak sebaiknya Kiai menginap di sini saja?”

“Tidak Ki Gde. Biarlah kami menginap di rumah Ki Tumenggung saja.”

Demikianlah, maka Ki Tumenggung Jaya Santika, Kiai Ajar Karangmaja, Putut Kalibata dan Putut Jimbaran berpamitan kepada Ki Gde Menoreh. Mereka pun segera berjalan mengikuti Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika sampai di tengah jalan yang semakin sunyi, Kiai Ajar Karangmaja menggamit Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Ki Tumenggung. Apakah ku boleh melihat sedikit kemampuan Ki Tumenggung?” tanya Kiai Ajar Karangmaja.

“Untuk apakah Kiai mengetahui kemampuanku? Apakah aku harus bertarung dengan Kiai atau kedua murid Kiai?” tanya Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Tidak. Kita tidak perlu bertarung angger. Kita tidak sedang bermusuhan atau berlawanan angger. Aku hanya ingin sekadar tahu sampai di manakah kemampuan angger. Dari kemampuan angger itu, aku akan bisa mengira-ngirakan sampai di manakah kemajuan Raden Timur yang angger kenal sebagai Kiai Geringsing. Itu saja.”

“Baik. Marilah kita berjalan ke depan, Kiai. Di depan itu ada sebuah tebing sungai yang banyak terdapat batu-batuan. Kita ke sana,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

Mereka terus berjalan lalu menuruni sebuah tebing sungai, di tepian sungai itu terdapat banyak bebatuan sebesar kerbau, bahkan ada sebesar gajah yang gemuk.

“Kiai lihat batu itu. Batu sebesar gajah yang gemuk,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Ya angger aku melihatnya. Baiklah aku ingin menunjukkan sedikit kemampuanku yang dangkal ini. Aku mohon maaf bila kurang berkenan di hadapan Kiai,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika lagi.

“Silakan. Silakan angger.”

Ki Tumenggung Jaya Santika pun kemudian duduk bersila di atas sebuah batu pipih yang terdapat di tepian sungai itu. Tangannya bersedakep. Terjadi suatu perubahan. Langit yang tadinya terang disinari rembulan tujuh hari, perlahan-lahan seperti ditutupi oleh kabut putih. Semakin lama kabut putih itu semakin tebal dan kian menebal. Pada akhirnya kabut itu seperti lembaran-lembaran kapas yang menghalangi pandangan mata. Sehingga untuk melihat tangan sendiri pun tidak bisa.

Namun Kiai Ajar Karangmaja yang juga menguasai ilmu semacam itu, segera melambari dirinya dengan aji Panggraita. Meskipun matanya tertutup kabut, namun ia bisa mengetahui secara persis di mana Ki Tumenggung Jaya Santika berada. Ki Tumenggung Jaya Santika masih tetap berada di tempatnya, tangannya masih bersedakep. Ia bergeming dari tempatnya duduk bersila tadi.

Ketika kabut putih tadi semakin tebal, maka tidak ada lagi yang bisa dilihat. Sinar rembulan sama sekali tidak bisa menembus kabut tebal itu. Hanya Putih. Putih di mana-mana. Putut Kalibata dan Putut Jimbaran sama sekali tidak bisa melihat apa yang terjadi, meskipun mereka telah melambari dirinya dengan aji Panggraita. Mereka pun kehilangan jejak, di manakah Ki Tumenggung Jaya Santika berada. Karena kemudian Ki Tumenggung Jaya Santika menyerap segala gerak tubuh, suara nafasnya dan detak nadinya. Mereka berdua benar-benar tidak tahu, apakah Ki Tumenggung Jaya Santika masih berada di tempatnya atau tidak.

Agaknya hanya Kiai Ajar Karangmaja saja yang melalui ilmu panggraitanya yang tajam melihat betapa dengan ringan Ki Tumenggung Jaya Santika meloncat ke sebuah batu yang berada di belakang mereka.

Tiba-tiba terdengar suara gemerasak di depan mereka dari tiga arah. Mereka bertiga menajamkan pendengarannya. Kiai Ajar Karangmaja segera menyadari bahwa Ki Tumenggung Jaya Santika tengah menerapkan aji Angin Puyuh. Ilmu jaya kawijayan yang juga sangat dikuasainya. Namun angin puyuh yang dimunculkannya hanya pusaran angin yang kecil saja. Perlahan-lahan angin puyuh kecil itu mengisap kabut yang tadi menutupi udara seperti lembaran-lembaran kapas. Perlahan-lahan kabut tipis itu mulai sirna dan sinar rembulan mulai nampak di atas cakrawala.

Sejalan dengan semakin terangnya udara malam yang diterangi sinar rembulan, mereka pun mencari-cari Ki Tumenggung Jaya Santika yang sudah tidak berada di tempatnya semula. Mereka menoleh ke kiri kanan. Namun mereka terkejut. Pada tiga sudut yang berseberangan mereka melihat ada tiga orang wujud dari Ki Tumenggung Jaya Santika. Tiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika tidak mengatakan sesuatu pun.

“Aji Kakang Kawah Adi Ari-ari,” desis Putut Kalibata.

Tiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu pun segera mengurai cambuk dari pinggangnya masing-masing. Ketiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu pun kemudian berdiri berjajar, menghadap ke tiga buah batu kali sebesar gajah gemuk yang berjarak lima puluh depa dari mereka. Mereka bertiga memutar-mutar cambuknya di atas kepala. Suara cambuk itu menderu-deru dengan gemuruhnya. Ketika dihentakkan dengan gerakan sendal pancing, suara cambuk itu tidak meledak dengan suara yang keras. Suaranya pelan, tapi mampu menggetarkan jantung. Meremasnya seakan-akan hendak melepas dari tangkainya.

Bersamaan dengan hentakan sendal pancing itu, dari cambuk yang berada di tangan ketiga wujud Ki Tumenggung Jaya Santika itu meluncur cahaya putih kebiru-biruan menerpa ketiga batu kali itu dari tiga arah. Namun batu itu bergeming.

Ketiga wujud Ki Tumenggung itu meloncat bersilangan, kemudian bergabung menjadi satu.

“Silakan Kiai melihat ketiga batu itu.”

Kiai Ajar Karangmaja pun segera mendekati batu kali sebesar gajah gemuk itu, diikuti oleh kedua muridnya. Ia pun menyentuh batu itu. Seketika itu pula batu itu runtuh menjadi debu, yang lebih halus daripada pasir.

“Luar biasa. Luar biasa sekali angger,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

Kedua muridnya pun mengucapkan kata yang sama.

“Penguasaan ilmu perguruan Windujati Ki Tumenggung Jaya Santika nyaris sempurna,” katanya.

“Ah tidak Kiai. Kita sebagai manusia hanya mencoba untuk menjadi sempurna. Namun yang paling sempurna adalah Yang Maha Sempurna. Yang Maha Agung. Kita ini tidak lebih dari setitik debu dibelah selaksa, di hadapan-Nya.”

“Pernyataan angger itu, semakin membuat aku semakin kagum. Ternyata Raden Timur tidak salah memilih angger menjadi muridnya. Aku mengucapkan selamat dan hormat setinggi langit kepada Raden Timur yang angger kenal sebagai Kiai Geringsing. Juga kepada angger yang dengan rendah hati telah menunjuki kami dengan kemampuanmu yang luar biasa,” kata Kiai Ajar Karangmaja.

“Maaf Kiai, bukan maksudku untuk pamer kepada Kiai dan kedua murid Kiai. Namun aku rasa cara ini adalah cara paling baik yang bisa kita tempuh. Sebab kalau kita bertarung, mungkin sampai besok pagi, kita belum selesai. Dan kalau kita bertarung, tentu akan menimbulkan geseran-geseran yang tidak perlu.”

“Angger benar. Dengan cara ini kita sudah bisa menjajaki tingkat ilmu kita masing-masing, meskipun tidak secara persis.”

“Baiklah Kiai. Aku rasa pameran kita ini sudah cukup. Aku mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan di hati Kiai dan kedua murid Kiai.”

“Tidak apa-apa angger. Aku rasa aku sekarang harus minta diri untuk kembali ke Panaraga. Aku kini puas sudah mengetahui berita bahwa Raden Timur telah tiada, meskipun tidak mengetahui di mana makamnya. Sungguh sayang aku tidak dapat menjumpai semasa hidupnya, karena sifatnya yang tertutup.”

“Kiai jangan pulang dulu. Sebaiknya Kiai Ajar Karangmaja dan kedua murid Kiai, Ki Putut Kalibata dan Ki Putut Jimbaran singgah di gubukku, yang tentunya kalian sudah mengetahui tempatnya,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

“Baiklah apabila demikian, dengan senang hati aku mampir ke rumah Ki Tumenggung. Udara di musim bediding ini terasa sangat dingin, yang merasuk sampai ke tulang-tulangku kalau harus berjalan di malam hari. Akan tetapi aku mohon maaf jikalau membuat repot Ki Tumenggung dan keluarga.”

“Tidak Kiai. Kehadiran Kiai dan kedua murid Kiai, tidak akan merepotkan keluarga kami,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika.

Demikianlah mereka menyusur jalanan yang menuju ke rumah Ki Tumenggung Jaya Santika. Ketika sampai di depan regol, Ki Tumenggung Jaya Santika segera membuka pintu regol itu, yang agaknya ditutup oleh Sukra sepeninggalnya ke rumah Ki Gde Menoreh.

Ki Tumenggung Jaya Santika pun kemudian mempersilakan mereka bertiga duduk di atas tikar yang ada di pendapa, lalu mengetuk pintu, yang dibukakan oleh Ki Jayaraga yang agaknya belum tidur.

“Ki Jayaraga kita kedatangan tamu,” kata Ki Tumenggung Jaya Santika kepada Ki Jayaraga.

“Siapakah tamu itu angger.”

“Mereka kakak seperguruan Kiai Geringsing.”

“He? Siapakah mereka?,” desis Ki Jayaraga.

“Mereka Ki Ajar Karangmaja dan kedua muridnya,” bisik Ki Tumenggung Jaya Santika.

“He? Apakah mereka berasal dari Panaraga?”

“Benar Ki. Apakah Ki Jayaraga mengenalnya?”

“Kenal. Aku kenal Kiai Ajar Karangmaja. Aku baru ingat sekarang ada perguruan Windujati di Panaraga.”

Ki Jayaraga segera menemui Kiai Ajar Karangmaja yang sudah duduk di atas sehelai tikar yang lebar di pendapa.

“Angin apakah yang membawa Kiai Ajar Karangmaja sampai ke Tanah Perdikan Menoreh?” tanya Ki Jayaraga.

“He? Siapakah Kisanak? Kisanak mengenalku?”

“Apakah Kiai lupa kepadaku?”

“Siapa ya? Maaf Kisanak, aku sudah semakin tua dan tidak lagi dapat mengenali setiap orang yang dulu pernah kukenal. Siapakah Kisanak?”

“Aku Jayaraga, Kiai. Belasan tahun yang lalu aku pernah mampir ke padepokan Kiai Ajar Karangmaja, ketika aku mencari keempat muridku yang berkhianat dan menjadi perampok. Apakah Kiai masih ingat aku?”

“Ya. Ya. Aku ingat sekarang. Ki Jayaraga.”

Bersambung ke Buku 404

—oo0oo—

62 Comments (+add yours?)

  1. karijadi
    Mar 01, 2012 @ 04:10:19

    lanjutannya kok ndak ada lagi ya mataram binangkit buku ke 404 dst

    Reply

  2. eds5
    Mar 07, 2012 @ 11:25:02

    harus ada izin dari penulisnya bro….

    Reply

    • tanto
      Apr 16, 2013 @ 09:56:25

      yg penting adanya penjelasan dari mas agus ,bahwa 404 dstnya sdh ada,nah baru deh kita rame2 ikuti prosedur utk membaca kelanjutannya mataram binangkit,atau kalau bukunya sdh terbitpun mohon informasinya mas agus,kami tdk merasa keberatan u8tk mengikuti prosedur yg tlh ditetapkan tetapi karena komentnya sejak 2011, dan tdk pernah ada responnya maka kamipun menjadi ragu, apakah masih aktif atau sdh dutttttttttttttttttt. nuwun mas

      Reply

  3. choirul
    Apr 28, 2012 @ 06:54:24

    caranya izin gimana bro…..
    hub gimana?

    Reply

  4. tutuk
    May 12, 2012 @ 04:08:57

    buku nya udah terbit apa belumya kalau udah dimana belinya suwun

    Reply

  5. Atmojo
    Jun 13, 2012 @ 07:00:11

    Mohon ma’af sebelumnya ki Agus. Saya cuma ingin urun sedikit kritik tentang beberapa pengetahuan saya dalam cerita adbm yang tidak sejalan dengan cerita Mataram Binangkit yang panjenengan tulis ini. Saya hanya ingin tau apakah perbedaan/perubahan itu dilakukan dengan sengaja atau tidak.
    Pertama tentang putra ki Untoro yang oleh ki SHM di ceritakan bernama Putut Pratama lalu di Mataram Binangkit di ceritakan bernama Wira Senjaya.
    Kedua tentang gelar bagi ki Untoro sendiri yang pernah mendapat gelar Tumenggung Untorodiro yang kemudian diganti Proboyudo.
    Ketiga tentang Kedudukan Pangeran Purbaya. Sepengetahuan saya, Pangeran Purbaya adalah salah satu putra Panembahan Senopati yang brarti merupakan saudara Panembahan Hanyokrowati. Tapi di buku ini Panembahan Hanyokrowati memanggil Pangeran Purbaya dengan sebutan “paman”.
    Itu saja ki Agus, mohon penjelasanya. Dan sekali lagi saya mohon ma’af bila pertanyaan ini kurang berkenan.
    Terimakasih.

    Reply

  6. Edi Saputra
    Jun 20, 2012 @ 16:17:13

    Sori bro… saya bukan ki agus… saya cmn mencoba untuk berbagi kelanjutan dari Api di Bukit Menoreh…🙂

    Reply

    • shedhoel
      Jul 18, 2012 @ 15:10:48

      Sorry bro kelanjutan hilangnya kitab perguruan windujati ga ada kelanjutannya tau2 langsung ada perguruan windujati yang lain kayanya kurang nyambung dengan adbm seri yang terahir memang sich waktu mau meninggalnya ki ageng pemanahan kyai tanumetir menceritakan tentang 2 orang murid perguruan windujati tapi ga diceritakan kalo 2 orang tsb buka perguruan, kecuali kakang panji yang waktu runtuhnya pajang yang merupakan sempalan dari cikal bakal perguruan windujati tu lanjutannya gmn bro srry aq blm baca seri mataram binangkit 404 kl bs di ksh tau kapan tampilnya pangapunten saderenge, Matur suwun

      Reply

  7. cipto
    Nov 12, 2012 @ 14:47:35

    updatenya gan.., please..!
    cariin solusinya biar bisa baca kelanjutan seri ini..
    maturnuwun..

    Reply

  8. Ki Among Roso
    Dec 30, 2012 @ 14:04:03

    Kayaknya penulis kurang memahami atau pun mendalami kitab2 SH Mintarja khususnya ADBM sehingga banyak carut marut didalam penulisan naskahnya.
    Suatu misal tentang murid2 Kiai Jayaraga, murid Kiai Jayaraga yang mursal adalah tiga Bajak llaut yg. merupakan adik seperguruan dengan Tumenggung Prabadaru, kemudian ada seorang murid lagi ialah seorang bongkok yg. bernama Lodra. Dengan kenyataan2 yg. ada pada naskah Mataram Binangkit maka saya sarankan hendaknya cerita2 yang menyuarakan kelanjutan ADBM janganlah menyimpang jauh dari ADBM sendiri. Nuwun.

    Reply

  9. arif
    Jan 05, 2013 @ 12:42:50

    updatenya gan.., please..!

    Reply

  10. rifqi
    Feb 08, 2013 @ 14:04:47

    kapaan ya kelanjutannya mataram binangkit……? atau memang cuma sampai 403 aja…..? mohon infonya , trims

    Reply

  11. rifqi
    Feb 08, 2013 @ 14:05:47

    trus kalu mau beli bukunya di mana ya….?

    Reply

  12. santosa
    Mar 07, 2013 @ 23:43:10

    ada beberapa yang kurang sreg juga dengan pembiasan sejarah. jika di era mataram itu tidak ada angkatan laut, karena adipati demak dan adipati pati tidak begitu sejalan dengan mataram, dan kedatangan bangsa portugis dan belanda setelahnya lebih banyak mempengaruhi keadaan di pesisir utara. dan juga pembuatan dermaga di ujung kali progo tidak bisa dilakukan, karena selain ombak yang sangat besar dan pantai yang sangat curam, kondisi muara kali progo itu tidak langsung ke laut, karena keadaan di sana sangat dangkal dan tertutup pasir, jadi cuman tanah resapan air, bukan langsung bertemu ke laut.

    jika hanya membuat tokoh untuk menceritakan sejarah seperti agung sedayu, untara dll itu tidak menjadi persoalan, tetapi pembuatan dermaga dan angkatan laut sudah membias jauh, tidak cocok dengan kondisi sejarah, dalam hal ini kekuatan prajurit mataram

    Reply

  13. tanto
    Apr 12, 2013 @ 15:04:37

    panjengan harus bertanggung jawab utk melanjutkan cerita ini ,karena saya tdk bisa tdr bro

    Reply

  14. achmad chusanudin
    Apr 28, 2013 @ 20:03:51

    lanjutkan perjuangan anda kiai sahabat…
    saya masih menunggu edisi berikutnya di gandok sebelah…
    terima kasih..

    Reply

  15. Hanifah
    May 08, 2013 @ 10:52:10

    Kenapa tdk ada mataram binangkit 404? Saya sangat mengharapkan sekali. Saya sdh menunggu lama. Tolong di upload secepatnya ya kisanak. Terimakasih sebelumnya

    Reply

  16. Sedayu605
    May 12, 2013 @ 11:03:13

    Lanjutan ADBM ada di Terusan ADBM ..Karya Mbah_Man……Klik aja…..Semoga ngak jadi penasaran buat penggemar Karya SH.Mintarja………Salam

    Reply

  17. Sedayu605
    May 12, 2013 @ 11:04:30

    Lanjut…

    Reply

  18. amir
    May 23, 2013 @ 12:57:48

    kisanak saya tunggu buku Mataram binangkit 404 bersama pamanku kipatih mandaraka di serambi.pusiiiiii….ng aku, suwimen

    Reply

  19. daffa
    Jun 07, 2013 @ 09:26:12

    walaupun agak berbeda terusin saja yang penting ada penjelasan atau revisi misalnya.terus kita tunggu lanjutanya 404 dan seterusnya

    Reply

  20. ki pass
    Jun 24, 2013 @ 16:16:21

    lanjutkan penulisannya mas , wong namanya juga cerita , penulis bole2 saja berkreasi lah

    Reply

  21. Dudi Rahman
    Jul 15, 2013 @ 13:29:03

    apakah ki agus membuat lanjutan ADBM dari 397 s.d. 400?
    soalnya ketika baca seri V-01,,nyambung darimana ceritanya?

    Reply

  22. torro
    Jul 16, 2013 @ 14:11:21

    masalah nya tidak ada yang tau, Bagaimana keadaan Ki Agus sekarang ini, apakah masih sehat, atau ada halangan, semoga dengan sekian lamanya absen, Ki Agus dapat mempersembahkan lanjutan admn ini dengan alur cerita yang sesuai,

    Reply

  23. lukito
    Aug 23, 2013 @ 00:18:40

    Mas tolong dong lanjutkan ceritanya, biar tidak nglangut bayangin lanjutan kisah tokoh adbm. Matur sanget nuwun

    Reply

  24. cahyo
    Sep 22, 2013 @ 19:14:35

    di ganti aja ceritanya biar pada penasaran,..wkwkwkwkkwkwwk

    Reply

  25. Sis
    Dec 23, 2013 @ 19:23:14

    Maaf ki agus, sekedar pngin tau aja…
    Knp kog banyak yang tidak sesuai dg yg sblumnya ya, seharusnya klo lanjutan itu sesuai dengan sebelumnya.
    Misalx nama anak untara, nama anak swandaru brbeda dg namax dg cerita sebelumx.
    Karah cambuk AS, memang berkerah baja tp tdk dg berbentuk segi sembilan spt yg ki agus sebutkan, tp kerah baja hanya melingkar melapisi janget cambuk AS.
    Dan masih banyak lagi yg tidak sesuai.
    Mhn maaf Ki Agus, sekedar kritik dan saran agar alur cerita ki agus tidak bertolak belakang terlalu jauh dr cerita sebelumx…

    Reply

  26. Toto
    Feb 03, 2014 @ 13:06:08

    Tolong kami tunggu lanjutannya Mataram Binangkit 404 dst….

    Reply

  27. Toto
    Feb 03, 2014 @ 13:07:59

    Kalau masih ada lanjutanya semua penggemar pasti akan GEMBIRA….

    Reply

  28. lukito
    Feb 05, 2014 @ 16:08:16

    Selamat sore penggemar cerita lanjutan adbm, khususnya Mas Agus/Ki Agus kita penggemar cerita silat tradisional memang penasaran dengan kelanjutan cerita yang Ki Agus wedar beberapa waktu lalu. Buat saya episode 404 terlalu lama munculnya ( he he … gak mau tahu kesulitan orang ) soalnya jelas, rasa penasaran …..
    Tolong dong Ki Agus, memang masih berlajut kan ?

    Reply

  29. anto
    Feb 12, 2014 @ 21:09:36

    emangnya mbuat tulisan itu seperti bim salabim, seperti kitab kinamaskara he he hee tulisannya saja ya salah

    Reply

  30. Toto
    Jun 28, 2014 @ 08:59:53

    Saya masih menunggu kapan keluarnya MB 404, apakah Ki Agus dalam keadaan Sehat wal’afiat, kalau perlu bantuan mari rekan2 sama2 kina bantu. Tq

    Reply

    • Toto
      Jun 28, 2014 @ 09:01:21

      Saya masih menunggu kapan keluarnya MB 404, apakah Ki Agus dalam keadaan Sehat wal’afiat, kalau perlu bantuan mari rekan2 sama2 kita bantu. Tq

      Reply

  31. Misbahul Munir
    Aug 10, 2014 @ 21:46:16

    kapan buku 404 nya MB……..

    Reply

  32. Ki Guntoro
    Dec 04, 2014 @ 13:42:35

    Dimana cari Mataram Binangkit 404

    Reply

  33. zainiyacub
    Apr 25, 2015 @ 20:26:04

    Ki Agus, apa khabar? Semoga tidak wedarnya rontal-rontalmu bukan karena sampean sakit, ya. Tetapi karena kesibukan lain. Saya berharap agar Ki Agus tetap berkarya. Karna berkat karya-karyamu banyak orang terhibur lahir dan batin.

    Reply

  34. Djarot Saptono
    Apr 26, 2015 @ 14:33:55

    Kalau judul bukunya sudah berubah menjadi mataram binangkit, mendingan gak usah menggunakan tokoh-tokoh dalam buku adbm lah, apalagi dialog-dialogmya tidak menggambarkan karakter tokoh-tokoh yang ada di adbm. Sudah benar kalaupun menggunakan judul buku mataram binangkit, dan lebih baik kalau semua tokohnya baru dan penggambaran karakter sesuai dengan selera penulis yang baru…maaf beribu maaf….

    Reply

  35. ruswanto himawan tasma
    May 13, 2015 @ 12:41:30

    Saya melihat ceritanya terlalu terburu buru dan maaf tdk sesuai dgn cerita dan sifat tokoh adbm

    Reply

  36. ekosupraptosh@gmail.com
    Nov 05, 2015 @ 13:48:10

    Sampe hari inipin MB 404 masih saya tunggu Ki Agus . . . . . mohon keterangannya . . . . . suwun

    Reply

  37. Suharto
    Dec 02, 2015 @ 13:52:32

    Yth. Ki Agus, kami tetap setia menunggu lanjutan MB-nya. Kapan MB 404 wedar?
    Dipun tenggo……..

    Reply

  38. hario
    Dec 18, 2015 @ 22:54:53

    Reply

  39. kamasfibri
    Dec 23, 2015 @ 16:29:07

    soal angkatan laut sya sbg pecinta adbm juga kurang setuju (jarak kli progo jga terlampau jauh dari pesisir utara), ki agus mungkn agak rancu antara pangeran singasari (adik panembahan senapati) dg pangeran purbaya alias jaka umbaran (putra panembahan senapati), kopi juga baru masuk jawa setelah perang diponegoro (era tanam paksa). perlu dipadukan cerita awal adbm dg babad tanah jawa. maaf terlalu panjang, buka maksud menggurui (meskipun pernah jd guru🙂 ). Bagaimanapun ‘Mataram Binangkit’cukup mengobati kerinduan akan adbm. Salam dari Wong Ponorogo.

    Reply

  40. Niwayanseniasih
    Jan 22, 2016 @ 07:01:04

    KI AGUS lanjutin ya ceritanya supaya tidak penasaran

    Reply

  41. Yan Cha
    Feb 19, 2016 @ 15:22:12

    ki jayaraga kok mencla mencle.. pada jilid sebelumnya tidaak tahu..tapi di jilid ini tahu dan kenal.. aneh..

    Reply

    • Ki Juru Masak
      Nov 10, 2016 @ 21:49:51

      Lah, Ki Jayaraga kan mantan pengembra yg tahu segalanya… Wkwkwkwk
      Dulu lupa, sekarang pura2 ingat. Hihi…

      Reply

  42. eko suprapto
    Mar 31, 2016 @ 14:05:29

    Bagi saya sing penting penulisan Ki Agus S Soerono sangat menghibur, jadi tidak begitu saya hiraukan perbedaannya dengan yang lain …. matur nuwun Ki Agus … silahkan dilanjutken …. tak tunggu terusan ceritamu …. Sumonggo

    Reply

  43. Hari P
    Apr 01, 2016 @ 07:40:15

    lanjutin critanya dooongg..pleaasee dech
    gk usah nurutin sejarah om, krn sejarah bangsa kita menyedihkan smpai skr
    trims

    Reply

  44. Hari P
    Apr 01, 2016 @ 07:43:40

    sejarah bangsa kita menyedihkan (s/d skr), so gk usah repot2 nurut sejarah, pokoknya seruuu…

    Reply

  45. Hari P
    Apr 01, 2016 @ 07:49:53

    buat fans adbm dn lanjutan critanya: gk perlulah kritik. yg diperlukan adl ide/saran buat nerusin critanya biar makin seruu n happy ending..wkwkwk
    namanya jg cerita fiksi om

    Reply

  46. Wied Koeseckoez
    Apr 13, 2016 @ 09:03:41

    Sampai bingung mencari MB 404, ternyata belum ada kelanjutannya.,, Memang ada beberapa salah nama: mungkin Pangeran Purbaya yang di MB adalah harusnya Pangeran Singasari, Anak Ki Untara sebelumnya adalah Wira Permana di MB menjadi Wira Sanjaya. Memang sedikit mengganggu tapi tidak bisa mengalahkan RASA PENASARAN saya menunggu kelanjutan MB…!!!

    Reply

  47. Trio
    Apr 13, 2016 @ 20:50:46

    dalam cerita adbm SH Mintardja; putra Ki Untara bernama Putut Pratama, disebutkan juga Nyi Untara hamil kedua. Coba baca lg dech klo gk percaya🙂
    Kali Progo hanya dijadikan sbg bengkel pembuatan kapal&pantai tumaritis sbg dermaga sementara. Klo membaca jgn pake mengantuk ya :))

    Reply

  48. heksa
    Apr 13, 2016 @ 21:43:09

    menurut sejarah versi entah siapa, masa kejayaan ker.mataram saat dipimpin Mas Rangsang/Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo/Panembahan Hanyokrokusumo/lebih dikenal dgn sebutan Sultan Agung. th 1615-1625: penaklukan daerah2 di P.jawa,sebagian besar daerah telah dikuasai kecuali Banten,cirebon, batavia&blambangan.th 1628&1629 menyerang banten&cirebon yg dikuasai VOC tapi gagal karena kapal2 pengangkut beras&perbekalan ditenggelamkan voc

    Reply

  49. wiwied
    Jul 30, 2016 @ 09:59:39

    saya lagi berhayal, bbrp orang yg ahli menulis cerita bergabung utk melanjutkan lakon ADBM.

    (Versi gabungan)

    Reply

  50. wiwied
    Jul 30, 2016 @ 10:07:59

    ADBM (versi siapapun,yg original,mbah man,flam zahra,ki agus) bnr2 bikin sy gila.

    saya baca mulai jam 8 malam sampai subuh.
    tentu saja dgn istirahat sebentar.

    ini yg bikin saya jd penasaran ,,,, tlatah Menoreh itu seperti apa ya?

    Reply

    • Ki Juru Masak
      Nov 10, 2016 @ 21:53:37

      Datanglah ke rumah saya, Dusun Derepan, Desa Menoreh, Kecamatan Magelang.
      Eh… Salah alamat ya? Itu kan menoreh Kulon Progo. Hihi…

      Reply

  51. dik Har
    Aug 04, 2016 @ 14:05:20

    Tlatah Menoreh itu dulu di bagian pegunungannya kaya akan bahan mineral, seperti barium suffat, pyrit berkadar hingga 98 %, dan beberapa mineral lainnya.

    Wilayah datarannya cukup subur dengan air Progonya.Jika anda ingin rujak degan ijo, wah..tentu akan sangat puas.

    Di area pantai selatannya banyak pasir besi yang diduga kuat mengandung thorium, tapi harus di extract dulu ( jangan di jual mentah ).
    Sebentar lagi akan memiliki lapangan udara internasional …….

    Reply

  52. turmudi
    Aug 08, 2016 @ 18:49:22

    sing penting seru ae lahhh lanjuuttttt

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: