Bu Lim Tiap 01

Bu Lim Tiap (Pusaka Rimba Hijau)

Dituturkan Oleh : TSE YUNG

SCAN IMAGE : Lunjuk’s Corner dan Arman
DJVU : Dewi KZ

JILID I

(Mohon maaf, banyak yang ga kebaca)

…….. sunyi ……. jagat raya ……. dan segala …… penuh ketenangan dan ketenteraman.

Tatkala ini di tepian danau See Ouw tertera jejak kaki memanjang, diiringi derap suara sepatu di atas pasir. Dalam kesunyian malam, suara itu semakin tegas di pendengaran, membayangkan kesepian seorang diri!

Sinar rembulan menembus celah2 daun liu, sungguh pun suram dan sayu, dapat pula menerangi keadaan di pantai itu. Seseorang berwajah kurus dengan pedang di punggung, mengenakan pakaian kuning panjang, usianya lima puluhan dengan jenggot putihnya ……………. (bukunya robek, Editor)

………… bukan lain dari seorang Ciangbunjin Bu Tong Pay yang bernama Cie Yang Cinjin.

Tiba-tiba ia menghela napas, ……… dihentikan tiba2 ………. sinar rembulan ter ………. cahaya ……. terbenam …….. nya sendiri.

Dengan mengerutkan kening ia kemak-kemik sendiri: “Mati hidupnya manusia bergantung kepada waktu, ada yang lebih panjang ada juga lebih pendek, akhirnya sama juga.. mati! Dalam sekejap mata telah berpuluh tahun aku menjabat sebagai Ciangbunjin Bu Tong Pay ………. kembali …….. mengadakan pertemuan yang ke………… Aku tak habis ……. dalam pertemuan ……..lalu dua kali mengalami ….. dan selalu …… kunci dalam ………. itu. Aih…….. Bu Tong Pay dari berdiri beratus tahun lalu diminta bisa menjadi ………. terkenal seluruh negara …. hancur di dalam …. yang tak berguna ….. puluh tahun ….. Siau Lim Pay …… Pay….. mend….. dan ber….. Bu-lim ……… girang…… bang.

…..nya kalau aku kalah lagi. Ah, jalan satu2nya harus mati. Dengan mati tentu aku bisa membalas budi kebaikan pintu perguruanku! Ya hanya mati, mati, mati!

Ia tertegun sejenak, wajahnya semakin gelisah dan cemas sekali. Dari dua matanya berlinang air mata haru, sewaktu berkata matanya parau. “Aku mati tak mengapa, tapi… bagaimana dengan dendam kasihku yang dalam sebagai lautan itu? Ah, soal ini benar2 membuat aku sulit, kecuali… kecuali aku bisa merebut Bu Lim Tiap, bilamana tidak tidak, Aku tidak ada muka lagi kembali ke Bu Tong ……………… dia?”

…………… dan kecemasan …….. muram di dalam ……… seperti mencari ………. untuk dilampiaskan.

Jari-jari tangan kanannya tiba2 dikeluarkan memelintir ranting2 pohon liu, lalu menggentak sambil ber …………

Ia menyadari bahwa ilmu silatnya yang tinggi secara otomatis sudah ……… di jarinya itu.

…….. terdengar bunyi ……….. ginya pasir dan …………..ngan. Terlihat ……..pohon liu di …….. patah, tapi ………… itu sudah ……… roboh.

Mengagumkan dan luar biasa anehnya. Bilamana tidak melihat dengan mata kepala sendiri siapa pun tidak akan mempercayainya, bahwa di dunia Bu-lim terdapat manusia yang demikian lihay.

“…Ilmu ini untuk apa? Apa gunanya!? Aih, Biar aku memiliki ilmu yang bagaimana lihaypun terkekang dengan sumpah tempo hari, membuatku seperti burung yang tidak bisa membentangkan sayap untuk terbang di alam bebas, mengecap kemerdekaan. Sedikitpun aku tidak boleh memakai ilmuku menghajar musuh. Ai! Dalam pertandingan terdahulu, aku melihat dengan mata penasaran Bu Lim Tiap dikuasai mereka. Ah, benar2,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala tanpa meneruskan perkataannya.

Tiba2 Ia menjadi terkejut, karena mendengar suara berkesiur angin, sewaktu dirinya membalik badan, terlihat seorang Hweesio berbaju putih menghampiri dirinya dengan cepat.

Tak terpikir olehku dalam sepuluh tahun Hweesio tua ini sudah memiliki ilmu yang demikian tinggi. Gelagatnya malam ini aku bakal kalah lagi…..” pikir Cie Yang Cinjin.

Hweesio itu sudah ………………. menggirangkan hati!”

“Hui Go Siansu, perpisahan sepuluh tahun tidak terhitung lama, kemajuan taysu membuatku kagum. Atas ini aku menghaturkan selamat.”

Hui Go Siansu adalah Ciang Bun Hong Tio dari Siau Lim Sie, dan pemenang Bu Lim Tiap dalam pertandingan kedua.

“Mana bisa! Toyu terlalu memuji saja, yang benar Lolap sudah semakin tua dan mengalami kemunduran,” katanya merendah.

Tiba2 ia melirik kepada pohon liu yang rebah. Hatinya menjadi terkesiap. Ia menghampiri batang pohon dan mengusap di bagian yang patah, terasa licin dan rata.

Hui Go Siansu bukan saja berilmu tinggi, pengetahuannya pun cukup luas. Begitu melihat keadaan segera ia jadi terkejut dan bengong terpekur.

“Bilamana hal ini dilakukan Cie Yang Cinjin, Bu Lim Tiap pada malam ini pasti harus pindah tangan, dan tidak ada bagianku lagi…..” pikirnya.

Seketika Hui Go Siansu menahan perasaan kagetnya, dengan lagak seorang berkedudukan tinggi, ia berkata: “Sepuluh tahun telah lalu, kemajuan Toyupun membuatku kagum, tampaknya Bu Lim Tiap takkan lari lagi dari tangan Toyu.”

Cie Yang Cinjin seperti tidak mendengar apa yang dikatakan Hui Go Siansu, karena ia terbenam dalam pikirannya sendiri.

“Oh Mie To Hud!” kata Go Siansu dengan pelan.

Cie Yang Cinjin terkejut, segera tersadar dari lamunannya. Ia tahu kurang hormat, cepat2 tersenyum lalu menarik napas panjang dengan wajah kusut pertanda cemas, kepalanya segera tunduk perlahan-lahan.

Hui Go Siansu tertegun.

“Oh Mie To Hud!” serunya. “Toyu sudah memiliki ilmu yang tidak ada bandingannya, mungkinkah masih mempunyai sesuatu urusan yang tidak bisa diselesaikan?”

“Taysu! Sungguhpun kita berlainan partai, tapi satu sama lain mempunyai kecocokan, bukan? Jika sebentar Pinto menginginkan sesuatu pesanan kepada taysu pasti tidak akan ditolak, bukan?” kata Cie Yang Cinjin dengan paras sayu. Matanya menatap menantikan jawaban dengan hampa.

Mimpi pun Hui Go Siansu tidak akan menduga, bahwa kawannya yang terhitung seorang Ciang-Bunjin dari suatu partay besar meminta bantuan dirinya.

Dengan paras kaget ia tertawa keras, lalu berkata: “Jika Toyu menaruh kepercayaan besar pada Lolap, pasti Lolap tidak akan membuatmu kecewa.”

Ia tahu hal ini teramat penting dengan mengerutkan kening ia mendesak: “Tapi, hal apakah itu?”

“Tang!”

Dalam kesunyian malam, suara genta dari kuil Leng-in Sie terdengar nyata. Mereka menjadi terkejut dan tanpa berjanji mereka menuju ke tengah danau, entah sedari kapan di danau itu terlihat tiga titik pelita.

“Toyu mari lekas! Liau Tim Sutay sudah sampai duluan, mari jangan sampai kita terlambat,” seru Hui Go Siansu.

Belum habis Ia berkata tubuhnya sudah berlari ke tengah danau dengan kecepatan kilat melalui daun2 teratai.

Cie Yang Cinjin dengan tenang menggerakkan tubuhnya mengikuti Hui Go Siansu dengan jarak tertentu. Kepandaian mereka luar biasa tingginya, tubuhnya merapung cepat seperti perahu layar tertiup angin maju ke muka.

Di tengah2 danau yang dikelilingi bunga2 teratai terlihat tiga batu yang bulat, ………….. yang dinamai Sam ……….. in In Goat, satu sama lain berjarak beberapa tombak, sinar pelita dari atas batu bergoyang2 ke tengah air, membayangkan rembulan bulat indah dilihatnya.

Di salah sebuah batu yang menghadap ke selatan, terlihat seorang Nikoh duduk bersila, di punggungnya terlihat sebilah pedang pendek yang mempunyai bentuk aneh. Parasnya yang tenang dan berwibawa membuat yang melihat merasa tunduk dan kagum.

Nikoh Ini bukan lain dari pada Ciang Bunjin Hoa San Pay yang pernah memperoleh Bu Lim Tiap dalam pertandingan pertama.

Tiba2 Ia membuka matanya yang tajam menatap kepada dua orang tersebut.

“Kukira siapa, kiranya jiwie, sudah lama tak bertemu, terimalah hormatku,” katanya.

Hui Go dan Cie Yang berkata dengan berbareng.

“Maafkan keterlambatanku!”

Begitu mereka selesai berkata tubuhnya segera memencar, satu ke timur satu ke barat dan tepat menduduki batu bulat yang masih kosong.

“Rembulan sudah tepat di tinggi langit, suara genta pun sudah berbunyi sekali dan masih terdengar gemanya, mana terhitung telat!” kata Liau Tim Sutay.

Cie Yang Cinjin dan Hui Go Siansu begitu mendengar suara genta menjadi kaget, cepat berlari keras, karena kalau sampai terlambat tidak boleh lagi turun bertanding. Untunglah mereka berilmu tinggi, sehingga masih keburu juga memburu waktu. Tapi dengan demikian, mereka menjadi letih melakukan perjalanan dengan tenaga penuh. Cepat2 mereka duduk memelihara semangat.

“Waktu sudah sampai, belum terlihat dari partay lain datang ke sini, tampaknya malam ini yang turut bertanding seperti dulu saja, hanya kita bertiga,” kata Liau Tim Sutay.

Tapi sebelum nada suaranya hilang dari pendengaran, dari tengah2 danau yang terdalam terdengar suara orang berkata dengan tegas.

“Ah enak………… enak betul……… enak……….. rasanya……… tidur nyenyak!”

Suara ini menembus air, seperti keras seperti lembut, bergelombang tidak teratur, tiba2 seperti pindah ke timur, juga seperti di barat. Dekat bukan dekat jauhpun tidak, membuat pendengaran sukar menduga dimana manusianya yang berkata itu.

“Siapa dia?” pikir Cie Yang Cinjin. “Ia memiliki ilmu tidak kalah dengan Hui Go Siansu maupun Liau Tim Sutay. Ah, malam ini bertambah lagi seorang musuh tangguh!”

Hui Go dan Liau Tim tidak kurang kagetnya, mereka tahu suara itu adalah semacam ilmu Li-seng-toan-hun-lui (nada suara mematikan ruh) yang sukar dipelajari. Ilmu semacam ini kalau sudah sampai titik sempurna, bisa membuat gema dari empat penjuru dengan keras, lalu mendesak gelombang udara menyerang orang, membuat si terserang mati engap dengan mengeluarkan darah dari tujuh lubang!

“Orang berilmu dari partay manakah yang bergurau? Jika berhasrat turut bertanding, janganlah sampai melewatkan waktu!” kata Liau Tim Sutay dengan Ilmu Coan Im Jut Bie (melepaskan suara terdengar kemana-mana).

“Ha! Ha! Ha!”

Tertawa gila membatu roboh keras sekali, membuat air danau bergelombang tinggi tanpa ditiup angin.

Di tengah2 gelombang yang bergoyang2 terlihat seorang duduk dengan tenang, sedangkan pakaiannya tidak terlihat basah.

Orang ini berusia empat puluhan, tampaknya seperti seorang pelajar, wajahnya bersih, tidak berkumis maupun berjanggut, di balik pakaian hitamnya tampaknya sangat ganteng, tapi sinar matanya yang tajam dan berkilat2 tak ubahnya seperti seekor ular beracun yang ganas.

“Pelajar ini berlaku congkak dan tidak memandang mata sekali pada kami,” pikir Cie Yang Cinjin.

“Biar dia lihay aku tidak takut, dan harus kusikat juga, agar ia pun mengetahui di luar dunia masih ada dunia lain, aku harus membentangkan ilmu Kan Sin Cie.”

Diam2 Ia mengumpulkan tenaganya di ujung telunjuk kanannya, lengan bajunya tampak tergerak, sesuatu tenaga hebat segera tersalur keluar dengan cepat, makin lama tenaga itu memencar semakin meluas.

Ombak yang bergelombang dengan tiba2 menjadi diam tak bergerak, hening tenang seperti semula. Pelajar itu terkesiap menghadapi perubahan yang demikian mendadak. Hawa Cin-kie yang dipusatkan di Tan Tian menjadi kendur, akibatnya sebagian dari tubuhnya amblas ke dalam air. Cepat2 Ia menenangkan lagi pikiran dan memusatkan tenaganya. Lengannya menepak air, tubuhnya kembali merapung ke udara dan duduk kembali di atas sebuah daun teratai. Tak ubahnya seperti bocah pengikut dari dewi Kuan Im. Sinar matanya yang masih membayangkan kekagetan menyapu kepada tiga orang itu bolak-balik. Dengan perasaan kecewa Ia menarik pandangannya, karena tidak menempatkan sesuatu ciri2 mencurigakan.

“Tiga manusia tua yang tak tahu mampus ini, biar belajar lagi berpuluh sampai dua puluh tahun, tak mungkin mempunyai ilmu yang menggetarkan jagat seperti barusan. Tapi terkecuali mereka bertiga, siapa lagi? Ah… kuyakin terdapat orang ke empat yang bersembunyi,” pikir si pelajar.

Semakin ia berpikir semakin kaget, sinar matanya semakin mencorong, berputar ber-dilak2 keempat penjuru, tapi hanya air danau terlihat dan tiga tubuh di batu bulat, lain dari itu hanya kabut di kejauhan.

Diam2 Cie Yang Cinjin tersenyum geli melihat kekagetan orang didahului dengan deheman kecil, ia berkata: “Ilmu kepandaian yang Siecu pertunjukkan luar biasa hebatnya, seumur hidupku belum pernah mendengar maupun melihatnya, benar2 membuat Pinto kagum, bolehkah pinto mengetahui Siecu dari partay mana? Dan memperkenalkan nama?”

“He he,” pelajar itu tersenyum kering, wajahnya menjadi merah, tapi cepat berubah ke dalam tenang.

“Tenaga Im Juan Kang Kie yang barusan menyerang diriku tanpa kusadari, mungkinkah dia?” pikirnya.

Hm! tak mungkin kini kau memuji dengan nada mengejek, tunggulah sebentar, kumampusi!”

Ia berpikir dan berpikir, kegusarannya berkerut2 berbayang di keningnya, dua sinar mata galaknya, menyapu sekujur tubuh Cie Yang Cinjin, dengan bengis dan kecut ia berkata: “Aku Pek Tok Thian Kun (si ganteng beracun) Gui Sam Seng, seorang liar dari selatan. Ha ha….. mana bisa dikenali oleh kau si orang Bu Tong yang kenamaan? Ha ha…….”

Dari perkataannya dapat diambil kesimpulan bahwa ia kenal pada Cie Yang Cinjin, di balik itu seperti juga masih mempunyai rasa permusuhan dengan kaum Bu Tong Pay.

“Kiranya dia? Tak heran memiliki ilmu demikian hebat!” pikir Cie Yang Cinjin. Hui Go Siansu, Liau Tim Sutay di masing2 hatinya.

Cie Yang Cinjin merasa tertusuk dan gusar mendapat jawaban yang congkak dan kasar, alisnya berkerut, dengan keren Ia bersenyum dan niat berkata:

“Agaknya malam ini tidak bisa mencari sahabat dengan bertanding seperti tahun2 yang silam.”

Kiranya yang berlagak sombong dan kasar itu memang seorang Ciang Bunjin dari Pek Tok Bun (perguruan beracun), di balik pintar iapun lihay, karena pernah menjadi murid dari Leng Ku Cu yang lihay. Dengan mengandalkan ilmunya ia malang melintang di sungal telaga, sebegitu jauh belum pernah mendapat tandingan. Kekejamannya sangat terkenal, bukan sedikit orang2 yang dibunuhnya secara buas, membuat kaum Bu-lim pusing.

Tiga puluh tahun yang lalu, masing2 perguruan pernah mengadakan pibu di Thian Tie, ayahnya Pek Tok Thian Kun yang bergelar Lat Ciu Sian Mo (dewa bertangan telengas) mengatur barisan yang bernama Bie-thian-man-tee-pek-tok-tin. Barisan ini tidak sedikit membinasakan kaum Bu Tong Pay. Akhirnya Ia pun meninggal di barisan Bu Tong Pay yang bernama Liok-cu-liau-hong-tin. Akibatnya dua perguruan ini menjadi bermusuhan hingga sekarang.

Begitu Hui Go selesai berkata, dari tengah udara terdengar suara siulan panjang, gelaran nada yang tinggi melengking membuat pengang pendengaran. Disusul sesosok tubuh yang bergerak laksana kilat ke jurusan Hui Go.

Hal ini membuat Hui Go Siansu terkejut, ia tidak mengetahui pendatang itu lawan atau kawan, demi keselamatan lengannya segera bergerak.

“Hai! Hweesio yang mempunyai titik enam di atas kepala, bermurah hatilah, duduklah agak ke sana sedikit, bagi aku tempat!” kata orang itu.

Hui Go mengurungkan serangannnya, ia membuka mata lebar2, karena mengenali suara itu. Pendatang itu adalah seorang pengemis yang berkepala setengah botak, sisa rambutnya sudah menjadi putih, tubuhnya kurus kering dan kasihan melihatnya. Dengan kaki kanannya ia hinggap di atas batu bulat.

Hui Go menggeser tubuh sambil berkata: “Bu Lo-Cianpwe, sejak berpisahan di Eng Hian Teng sudah tiga puluh tahun tidak bertemu. Kini Lo-Cianpwe datang kemari, mungkinkah untu……….”

“Jangan berkata yang tak berguna!” potong si pengemis, “mungkinkah aku si pengemis datang dari ribuan li tidak untuk hal itu, melainkan ingin melihat kau si hweesio tak berguna?”

Sehabis berkata ia tidak memperdulikan apa2 lagi, segera duduk sambil membanting diri.

“Lo Cianpwee, sayang malam ini kau datang terlambat,” kata Hui Go dengan tenang.

Atas kata2 si pengemis yang kasar dan menyakiti hati seperti tidak digubris.

“Apa?” bentak si pengemis. “Hui Go apa yang kau katakan? Sudahlah, aku si pengemis karena keenakan mencari makan sampai lupa dengan waktu, membuatku sia-sia melakukan perjalanan demikian jauh. Ah, benar2 harus mampus!”

Lengannya segera diangkat dipukulkan kepada kepalanya sendiri, sehingga suara “plak, plak” terdengar nyaring beberapa kali.

Tiba2 Ia berteriak. “Aya! Ha ha ha!”

Seolah-olah mendapatkan sesuatu, lengannya berhenti memukul kepala, dengan nada lemas ia menghibur diri: “Ha ha! Haha! Betul-betul bagus! Aku Si pengemis ditakdirkan bernasib malang, lagi pula benda bau itu tidak bisa dimakan, untuk apa?”

Ia sadar sesudah berkata bahwa perkataaannya itu tidak benar, buru2 meleletkan lidah tanda menyesal, dan memalu-malu dahi sendiri dengan jerijinya yang dituil-tuilkan ke atas. Matanya melirik, dilihatnya empat pasang sedang mata menatap dirinya. ia tahu gelagat buruk, cepat-cepat ia mengumpulkan tenaga dan mencelat pergi.

Hui Go cepat2 mengeluarkan semacam buku berkulit kambing.

“Kay Hiap Bu Tie, dengar perintah!” teriaknya dengan keras.

Cie Yang Cinjin dan yang lain menjadi kaget, mereka memang sudah tahu si pengemis yang tidak karuan dan berlagak lucu itu adalah seorang berilmu tinggi, tapi tidak menduga bahwa dia adalah seorang Liok-lim yang menggetarkan empat penjuru lautan bernama Kay Hiap Bu Tie.

Pengemis ini bertabiat luar biasa, apa yang dikerjakan selalu tidak melalui saringan otak, membuat orang bingung. Ia paling baik dengan gurunya Hui Go, bahkan tiga bagian ilmunya Hui Go diperoleh dari si pengemis ini, karena itu tak heran ia kalau Hui Go menaruh hormat betul kepadanya.

Kay Hiap Bu Tie begitu mendengar seruan Hui Go segera berhenti di atas bunga teratai, wajahnya sangat pucat, tak ubahnya dengan patung yang terbuat dari marmer putih.

Tampak Hui Go mengangkat tinggi sebuah buku yang terbuat dari kulit kambing, yakni barang yang dicaci makinya si pengemis tadi. Di sampulnya tertera tiga huruf emas yang berbunyi Bu Lim Tiap.

Inilah benda yang dibuat sesudah terjadi pertarungan hebat di Thian Tie, masing2 perguruan mengakuinya sebagai pusaka yang harus dihormati segala partay. Bilamana tidak mematuhinya, seluruh partay lain akan bersatu padu untuk menggempurna sampai habis ke akar-akarnya pada pembangkang itu.

Kini Bu Lim Tiap diangkat Hui Go, biar Kay Hiap Bu Tie berkedudukan tinggi, menjadi kaget dan pucat menandakan takutnya.

“Bu Tie! Kau jangan mengandalkan kepandaianmu yang tidak bertara itu untuk menghina ini!” seru Hui Go Siansu.

“Teecu tidak berani, hanya saja………………”

“Tutup mulut!’ potong Hui Go, “Kenapa kau tidak berlutut melihat Bu Lim Tiap ini?”

Kay Hiap Bu Tie selalu sombong, seumur hidupnya hanya pernah berlulut kepada gurunya, kini menjadi ragu2, tapi perlahan2 lututnya ditekuk juga, ia berlutut sambil menundukkan kepala.

“Bu Tie, kau bernyali besar, berani menghina pada Bu Lim Tiap, tahukah hukuman apa yang harus kau terima?”

“Teecu tahu salah, terserah padamu menghukumku.”

“Sejak hari ini kau harus menghadap tembok selama tiga tahun di puncak Giok-liong Hong di Thay San. bilamana berani melanggar lagi, kau tahu sendiri akibatnya. Hm, kau boleh berlalu!!”

Kay Hiap Bu Tie seumur hidupnya belum pernah mendapat kekangan, ia mengembara sekehendak hatinya. Kini harus menghadap tembok, merupakan hukuman yang sangat berat untuk dirinya.

Tapi Ia menerima keputusan itu dengan girang, dengan tersenyum ia berkata: “Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi ini, dan akan menurut perintah!”

Sehabis berkata segera ia berlalu dengan cepat.

Pek Tok Thian Kun merasa kecewa atas keputusan Hui Go.

“Sayang, sayang,” katanya, “Bilamana aku yang menjatuhkan hukuman, sedikitnya, kaki tangannya akan kuputuskan agar seumur hidupnya tidak bisa lagi menjadi jago di dunia Kang Ouw!”

Kay Hiap Bu Tie seolah-olah mendengar perkataan ini, hatinya menjadi dongkol, ia menjawab dari arah jauh: “Benar2 sialan, daging ayam tidak kena dimakan, tulang ayam sudah mengetuk kepala.”

“Kini waktu sudah sampai untuk bertanding,” kata Hui Go.

Menurut peraturan Bu Lim Tiap, pertandingan ini terbagi tiga macam. Pertama mengadu Lwee-kang, kedua ilmu surat atau sastera, ketiga mengadu senjata.”

“Taysu, mungkinkah hanya tiga macam?” tegur Pek Tok Thian Kun. Ia bertanya demikian karena memiliki ilmu melepas senjata rahasia yang ampuh. Ia merasa kecewa sekali, kepandaiannya itu tidak bisa dipergunakan.

“Oh Mie To Hud, Lolap sudah lima puluh tahun lebih menjadi Hweesio, mungkinkah harus membohong. Bilamana Sicu tidak percaya, tanyalah kepada dua Toyu ini!”

“Siaute salah berkata, harap maaf,” kata Pek Tok Thian Kun.

“Lolap sebagai pemegang Bu Lim Tiap menentukan pertandingan pertama, adakah pendapat lain dari Ko-kwie?”

Dilihatnya ketiga orang tidak mengeluarkan pendapat, Hui Go Siansu segera berkata: “Dalam pertandingan Lweekang, akulah yang pertama melakukannya.”

Sehabis berkata segera Ia bersemadi memeramkan matanya. Dalam waktu cepat dari sekujur tubuhnya mengalir peluh dengan derasnya, urat di atas keningnya makin lama makin tegas terlihat, wajahnya menjadi merah seperti bara, tubuhnya perlahan2 membenam ke dalam. Sebab batu bulat yang kena diduduki perlahan2 kena tertekan masuk ke dalam air, dirinya sendiri hampir terkena air, tapi dengan cepat Ia menarik ilmunya, dan batu bulat kembali muncul ke permukaan air seperti sediakala.

“Maafkanlah atas pertunjukan Lolap yang buruk ini,” kata Hui Go.

“Lihay amat!” pikir ketiga orang yang lain.

“Taysu kenapa mengeluarkan perkataan demikian? Pinni yang bodoh ingin menunjukkan keburukan, harap jangan ditertawakan!” kata Liau Tim Sutay.

Lalu Ia meramkan matanya. Sekian lama Ia duduk tanpa terlihat sesuatu gerakan, anggapan yang lain ia tengah mengumpulkan semangat dan akan mempertunjukkan kelihayan yang tidak bertara, sehingga enam mata semakin membulat, memperhatikan tanpa ber-kedip2. Tak kira sekian lamanya belum juga terlihat ia bergerak, membuat yang lain semakin heran.

Tiba2 tubuh Liau Tim Sutay meninggalkan menara batu, lalu mumbul naik ke atas, mula2 hanya beberapa senti meter, lalu meningkat menjadi beberapa puluh senti meter, kemudian diam tak bergerak.

Matanya dibuka dengan tiba2 dan memancarkan sinar tajam yang ber-nyala2 seperti matahari, tubuhnya turun naik seperti layangan, lalu turun lagi ke tempatnya dengan tenang.

Pek Tok Thian Kun yang biasa tinggal menyendiri di tempat sunyi dan sepi, merasa kagum melihat ilmu kedua orang itu, tanpa terasa bersorak2 kegirangan: “Ilmu yang luar biasa, dua2nya indah dan hebat,” katanya, lalu ia melirik kepada Cie Yang Cinjin sambil tersenyum mengejek.

Cie Yang Cinjin tidak meladeni, ia tahu dirinya dianggap sepi dan dihina, tapi tetap berlaku sabar.

Pek Tok Thian-kun melihat Cie Yang Cinjin diam saja, tanpa sebab musababnya segera mencemoohnya : “Ha ha! Sudah sampal gilirannya juara ketiga atau juru kunci dari Bu Tong Pay mempertunjukkan ilmu, tapi kenapa tidak terlihat gerakannya sampai saat ini? Mungkinkah segan dilihat aku si orang liar dari selatan? Ha ha ha ha.”

“Ah, kenapa aku bodoh, betul, sedikitpun tidak memikir sampai ke situ. kini biar tengah Pibu, tetapi tidak terhitung menghadapi musuh! Ha ha…… kepandaianku yang luar biasa ini tidak terkekang dalam sumpahku, dan boleh kupertunjukkan!” pikir Cie Yang Cinjin.

Sehabis berkata segera ia berdiri, lalu mendongak memandang bulan sehingga yang menyaksikannya merasa heran, entah ilmu apa yang akan diperttunjukkannya.

Tapi dengan mendadak uap putih segera keluar dan ubun2nya, semakin lama semakin banyak, akhirnya dari mulut dan hidungnyapun mengeluarkan uap pulih yang serupa, dalam waktu sekejap uap itu semakin tebal dan membungkus tubuhnya, merupakan seorang dewa di dalam mega.

Sekalian yang menyaksikan merasa kagum dan tercengang, lebih2 Pek Tok Thian Kun yang mengejek menjadi diam terpaku dengan kagumnya.

Cie Yang Cinjin berseru dengan mendadak: “Naik!”

Suaranya yang keras dan menggelugur seperti petir, membuat air danau be-riak2 jadinya.

Sekalian yang menyaksikan terkejut bangun, cepat2 memusatkan pikirannya sambil memperhatikan, mereka semakin heran dan tercengang, hampir2 tidak percaya atas pandangan matanya sendiri.

Tampak uap putih yang membungkus tubuh Cie Yang Cinjin entah sedari kapan menjadi buyar, tapi batu yang dipijaknya, mengikuti tubuhnya sedikit demi sedikit naik ke atas, seolah2 seperti dicabut raksasa.

“Dunggg!!” sekali terdengar bunyi menggelugur keras, air bergelombang besar, batu itu sudah kembali ke tempatnya lagi, sedangkan Cie Yang Cinjin terlihat tenang, napasnya tidak memburu, wajahnya tidak berubah. Dengan tenang Ia bersila.

“Maaf, maaf, dengan pertunjukan jelek ini!” katanya.

“Bagus, bagus! Dalam hal ini aku dan Sutay tidak bisa berkata lain, kini giliran Thian Kun!” kata Hui Go Taysu.

Wajah Pek Tok Thian Kun menjadi jelek dilihatnya, sebentar pucat sebentar merah, dengan dingin ia berkata: “Dalam pertandingan ini, aku rela mengaku kalah, dan tak perlu bertanding lagi.”

“Thian Kun harus tahu dalam pertandingan silat malam ini, berdasarkan ilmu dan bukan mengadu kekejaman untuk merenggut nyawa orang, dengan demikian Thian Kun sengaja tidak mau memperlihatkan kepandaian bukan?” tegur Liau Tim Sutay.

Wajah Pek Tok Thian Kun berubah semakin buruk, matanya membayangkan hawa membunuh. Ia tahu Liau Tim Sutay mengejek dirinya berdasarkan kata2nya barusan terhadap Cie Yang Cinjin, sehingga membuatnya dongkol.

Dengan tertawa besar ia membesarkan dirinya lagi. “Bagus! Hm, mungkinkah aku kalah denganmu?” katanya.

Dengan cepat Ia menarik napas, perutnya menjadi kempes, lengan kanannya segera menjulur, jeriji2nya sebentar merapat sebentar terbuka. “Datang, sini!” teriaknya.

Semacam tenaga tersembunyi yang mempunyai daya sedot seperti magnit keluar dari telapaknya, bunga2 teratai berikut. daun2nya serentak menjadi patah dan bererot laju ke arah lengannya. Sesudah itu ia berteriak lagi: “Pergi!”

Sedangkan lengannya tidak bergerak, tapi pohon2 teratai seperti ditiup angin pergi lagi ke tempatnya masing-masing.

“Cie Yang Toyu dapat mengeluarkan uap putih yang mengandung kekuatan mencabut gunung, menandakan berilmu dalam tak ada bandingannya, karena itu babak pertama ini’ tetap dimenanginya, ada pendapat lain dari jiewie?” tegur Hui Go Taysu.

Yang lain tidak membantah, karena mengakui Lweekang Cie Yang Cinjin sesungguhnya lebih lihay dari mereka.

“Satu pertandingan sudah kumenangi, babak kedua dalam soal sastera, kuyakin dengan pertemuan aneh dan pelajaran yang kudaput di Tie-cu-to (pulau kawa2) sudah cukup untuk memenangi mereka! Asal kumenang berarti Bu Lim Tiap jatuh ke tanganku!” pikir Cie Yang Cinjin.

“Taysu, pertandingan sudah berakhir, babak kedua harus siapa yang mengeluarkan soal? Ditentukankah oleh Bu Lim Tiap?” tanya Pek Tok Thian Kun.

“Di dalam Tiap (buku) tidak tertera peraturan itu, dalam babak kedua dan ketiga tidak ditentukan. Tapi pada tahun2 yang sudah, kami menentukan dengan, menghitung jari, hal ini pun cukup adil. Kini cara itu dapat kita pakai!” kata Hui Go Taysu.

“Siautee masih hijau dalam hal ini, dapatkah meminta keterangan tentang menghitung jari?” tanya Pek Tok Thian Kun.

“Sebenarnya hal ini adalah permainan anak kecil, mudah dan sederhana! Kita mengeluarkan beberapa jari sesuka hati, sesudah itu dihitung dari Lolap memutar timur, bilamana hitungan akhir jatuh ke siapa, dialah yang mengeluarkan soal dalam pertandingan ini,” kata Hui Go menjelaskan.

“Baiklah!” kata Thian Kun. “Hayo kita mulai!”

“Satu.. dua.. tiga!” seru Hui Go.

Serentak seluruhnya mengeluarkan jari, jumlah seluruhnya ada delapan. Sesudah dihitung, nyatanya hitungan terakhir jatuh pada Pek Tok Thian Kun.

“Thian Kun, sekali ini kaulah yang mengeluarkan soal dalam pertandingan sastera,” kata Hui Go.

Pek Tok Thian Kun tersenyum lebar, se-olah2 sudah mempunyai siasat untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

“Siautee mengeluarkan Lian, yang pertama kubuat sendiri, sedangkan pasangannya terserah kepada Ko-kwie,” katanya.

“Bertapa di dalam rumah, duduk di permadani, mengenakan pakaian kasa (pakaian biksu). Kala senggang memainkan mutiara, membuat orang muda ingin keluar rumah.”

Cie Yang Cinjin bertiga diam2 memaki: “Binatang gila, kau jangan main gila, lihat apakah yang kau akan alami nanti!”

Mereka merasa gusar mendengar Lian yang disebutkan itu.

Serentak mereka bangun berdiri dengan gusar, dan sinar mata ketiga orang seperti berbayangan kegusaran yang ingin menelan hidup2 pada Pek Tok Thian Kun, Tapi Hui Go Taysu seorang Hweesio yang saleh, ia bisa mengekang kegusarannya.

“Mungkinkah mengeluarkan soal pun tidak bebas?” tegur Thian Kun dengan kaget.

“Aku tidak turut lagi dalam pertandingan ini, sepuluh tahun kemudian baru kembali lagi!” seru Liau Tim Sutay seraya mengundurkan diri dan berlalu.

Sebenarnya Lian yang dikeluarkan Thian Kun adalah mudah sekali mencari pasangannya, tapi untuk ketiga lawannya yang masing2 menjadi orang suci merupakan kesukaran besar, karena jawaban lian itu harus berbunyi: “Minum arak, makan daging anjing, berbini cantik, memiara gundik masuk ke kamar berciuman dan bercumbu-cumbu. membuat Hweesio lupa daratan lalu meninggalkan kelenteng mencari pelacuran!”

Kini Liau Tim Sutay sudah gusar dan kabur, tinggal Hui Go Siansu dan Cie Yang Cinjin, tidak bisa menjawab, hal ini membuat Pek Tok Thian Kun kegirangan. Cepat2 memutuskan pertandingan untuk kemenangan dirinya.

“Taysu hanya tinggal yang ketiga, bagaimana harusnya bertanding?” tegur Thian Kun.

“Hm, terhitunglah kau menang dalam pertandingan kedua, karena itu sebagai pemenang boleh memutuskan pertandingan yang ketiga. Kau boleh sesuka hati seperti barusan tanpa batas2nya, Sedangkan Lolap sudah kalah dua kali, dalam pertandingan yang ketiga ini hanya sebagai penonton saja!” kata Hui Go.

“Cie Yang si kerbau tak mau mampus, mempunyai kekuatan yang tidak bertara, aku tidak bisa memenanginya,” pikir Pek Tok Thian Kun.

“Aku harus menggunakan siasat tajam, bilamana tidak lebih banyak celakanya dari untungnya.”

Sehabis berpikir matanya melirik ke air, hatinya menjadi girang. “Sekali ini pasti kau beruntung! Senjata rahasiaku dan barisan Tin perguruanku tidak bisa digunakan, tapi ilmu Ginkangku yang tinggi boleh digunakan!“ katanya dalam hati.

“Air bening bulan terang, yang kalah mandi…” katanya.

Cie Yang Cinjin merasa geli, tidak menantikan lawannya selesai berkata sudah mengerti apa yang dikehendaki Pek Tok Thian Kun, tubuhnya segera mencelat meninggalkan batu bulat, lalu turun tepat di bunga teratai dengan sikap Kim Kee Tok Lip, tubuhnya tidak menjadi kelelap, melainkan merapung.

“Dalam pertandingan ini sebagai batasnya adalah tiga bunga ini, barang siapa mengeluarkan langkah keluar dari bunga ini, dialah yang kalah!” kata Cie Yang Cinjin.

Pek Tok Thian Kun menjadi kaget.

“Si hidung kerbau ini tampaknya memiliki ilmu meringankan tubuh tidak di sebelah bawahku, benar aku mencari penyakit sendiri. Sial betul!” pikirnya.

Tapi ia seorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam dunia Bu Lim biar bagaimana tidak bisa menarik lagi apa yang sudah diucapkan, dengan mengeraskan hati Ia menjawab; “Benar, apa yang dikatakan Cinjin cocok dengan hatiku.”

Setelah berkata segera mencabut kipas yang terbuat indah terukir, kipas itu sangat besar dan jarang terlihat dimanapun juga.

“Aku pernah mendengar bahwa Bu Tong Pay terkenal dengan llmu pedang yang bernama Kiu-kiong-lian-hoan-kiam-hoat, kuyakin Cinjin tidak akan pelit2 mempertunjukkannya.” Sehabis berkata Ia mencelat meninggalkan bunga teratai dan hinggap di atas bunga yang ditunjuk.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Cie Yang menghunus pedangnya. Hal ini membuat Hui Go Siansu menjadi kaget, Ia berpikir: “Duapuluh tahun berselang setiap kali pibu belum pernah terlihat Ia menghunus senjata, selalu ia menggunakan pedangnya dengan serangkanya. Tiap kali kutanya, selalu ia tersenyum dan tidak menjelaskan sebabnya, kuyakin pedangnya ini mempunyai keajaiban!”

Matanya memandang tajam, tapi apa yang dipikir dan kenyataan membuat kecewa karena ia melihat pedang itu hanya berwarna emas dan tidak bercahaya.

Pedang itu sangat panjang dan kecil, seperti tidak mempunyai mata yang tajam, membuat orang tak akan percaya bahwa pedang semacam itu bisa membunuh orang. (Untuk jelasnya pedang itu berbentuk seperti anggar jaman sekarang………. penutur)

Hui Go Siansu seorang yang berpengalaman, Ia mengetahui bahwa Cie Yang Cinjin menghunus senjata pasti mempunyai sesuatu keistimewaan. Cepat Ia mengawasi terlebih seksama, samar2 Ia melihat di atas pedang itu terlihat garis2 yang rapat, dan di ujung pedang terlihat dua butir mutiara hitam yang tidak bersinar, terkecuali dari itu tidak terlihat lagi yang aneh.

Sehabis menghunus senjatanya Cie Yang Cinjin memeramkan matanya, kedua lengannya memegang pedang, mulutnya tampak kemak-kemik seperti mendoa, sehingga Pek Tok Thian Kun menjadi heran.

Tiba2 Cie Yang Cinjin membuka matanya, tampak sinar terang, memancar tajam dari kedua penglihatannya itu. Ia lalu menundukkan kepala dan menciumnya dua butir mutiara hitam di atas pedangnya sambil berkata: “Silahkan!”

Pek Tok Thian Kun, mengetahui musuh berilmu tinggi, kalau tidak turun tangan terlebih dulu, berarti kesempatan memperoleh kemenangan akan hilang.

“Baik!” serunya.

Tubuhnya segera loncat serta melancarkan ilmu Hui San Ko hoo (menerbangkan kipas menyeberangi sungai).

Kipasnya menotok berbareng menebas, menyerang keras baju kanan musuhnya.

Belum kipas sampai, Cie yang Cinjin merasakan suatu tenaga keras menggempur dirinya, tanpa membuang waktu tubuhnya bergoyang2, mencelat pindah ke lain bunga yang terletak di sebelah selatan. Berbareng dengan itu ia pun melancarkan jurus Cee It Tou Heng (bintang bergeser miring), terdengar suara keras dan dari deruan angin, pedang itu tampak seperti menabas dan membacok ke arah perut musuhnya.

Begitu Pek Tok Thian Kun melihat kipasnya menyerang angin dan pedang musuh menghantam dirinya, kagetnya tidak kepalang, dalam waktu yang sekilas mata yang tegang, tubuhnya cepat merapung!

Dengan sekali ubah antara kaki dan tangan menjadi rata, pedang emas musuh menyabat lewat di bawah dadanya, bahayanya bukan main. Tak heran ia mengaku sebagai ahli Ginkang kelas wahid, memang sesungguhnya demikian.

Saat ini tubuhnya yang berada di udara belum hinggap pada bunga teratai, tiba2 lengannya berbalik mengebut, kipasnya yang besar sekali lagi dijadikan senjata rahasia menghajar musuhnya.

Sehabis menyerang Cie Yang Cinjin harus kembali lagi menaruh kakinya di bunga teratai. Karena itu sewaktu Ia kembali dan baru sampai di tengah jalan mendengar deruan senjata menebak angin, kagetnya tidak alang kepalang. Sudah lama ia mengetahui senjata rahasia beracun yang amat hebat dari golongan Pek Tok Bun, tak ayal lagi, pedangnya diputar keras2 membuat jaringan sinar kuning yang ampuh.

“Trang!”

Dua senjata bentrok keras.

Cie Yang Cinjin menguatirkan musuhnya tidak menghiraukan peraturan dari Bu Lim Tiap dan membentangkan Ilmu Bie-thian-man-tee-pek-tok-tin yang teramat lihay untuk mencelakakan dirinya.

Begitu senjata beradu ia meminjam tenaga tubuhnya segera mencelat pergi ke bunga teratai di sebelah timur, dengan pedang Ia menjaga diri lalu memandang ke arah musuhnya tanpa terasa lagi dongkolnya menjadi2.

Tampak Pek Tok Thian Kun tenang2 di atas bunga sebelah barat, mengawasi ke arahnya dengan ber-senyum2, lagaknya sangat sombong. membuat dirinya tak tahan lagi. cepat2 menunjuk dengan pedang.

“Pek Tok Thian Kun, kau salah seorang yang sudah terkenal dan berkedudukan tinggi, kenapa berani melanggar peraturan dengan tak tahu malu?’’ tegurnya.

“He he! Cie Yang Cinjin kau jangan me-lotot2 me-maki2 orang, pendeknya kita tanyakan saja kepada Hui Go Siansu, siapa yang salah?”

Hui Go cepat2 berkata: “Masing2 salah paham, yang benar Pek Tok Thian Kun tidak menggunakan senjata rahasia tapi ……….”

“Taysu tidak boleh banyak bicara, sebegitupun cukup,” potong Pek Tok Thian Kun dengan ter-gesa2.

”Kini Taysu boleh menjadi saksi terus dalam pertandingan, bahwa aku tidak menggunakan senjata rahasia melanggar peraturan.”

Ciu Yang Cinjin merasa aneh dan bingung ia bungkam tak bisa bicara.

Pek Tok Thian Kun tidak memberikan banyak waktu untuk musuhnya berpikir segera tertawa menggila, tubuhnya mengiringi suara berkilat cepat ke udara lalu menyerang dengan jurus Ban liong Cut co (ribuan tawon keluar sarang)! Kipasnya berputar, ber-kilap2 putih dengan bayangan yang ber-getar2 menotok seluruh jalan darah musuhnya.

Tanpa gugup maupun takut, Cie Yang Cinjin mengebutkan pedangnya dengan jurus Pohon melintang menghadang angin, mematahkan dengan kekerasan serangan kipas yang gencar.

Melihat keadaan musuh membuat Pek Tok Thian Kun teringat kepada babak pertama dari pertandingan ilmu dalam, hatinya menjadi kecut.

“Ia memiliki Ilmu Lweekang yang tidak ada bandingannya, aku tidak boleh mengadu tenaga dengan musuh,” pikirnya.

Cepat2 Ia mengumpulkan tenaga di pusar, lalu mengubah gerakan dengan Walet Lincah Membalik Awan tubuhnya yang tengah menjorok ke muka tiba2 menjadi poksay ke belakang ke tempat semula.

Cie Yang Cinjin tidak mau membuang, kesempatan dengan begitu saja, pedangnya maju ke muka dengan jurus Kiam Ko Giok Bun (pedang melalui pintu Giok Bun) menikam keras pada punggung musuh, begitu pedang akan sampai tiba2 segera berubah dengan jurus Tiang Hong Kuan Jit (pelangi panjang mengitari surya), hawa pedang meresap ke tulang2, beralih ke hati Pek Tok Thian Kun.

Tatkala ini baru saja Pek Tok Thian Kun hinggap di atas bunga sebelah selatan, tiba2 merasakan kesiuran dingin ke arah dirinya, membuatnya kaget. Tapi pengalamannya yang banyak tidak membuatnya gugup, lengan kirinya segera mengebut, kekuatan maha dahsyat mendesak serangan pedang, lalu Ia menyingkir ke sebelah barat dengan jurus To Pau Koan Wie (membuka pakaian beralih tempat).

Cie Yang Cinjin kehilangan sasaran menjadi panas, dengan jeritan panjang tubuhnya berputar dengan lincah seperti naga sakti mengejar dan menyerang terus. Pek Tok Thian Kun didesak dan digempur sehingga kalah angin. Untuk memperbaiki dirinya, ia melontarkan lagi kipasnya memunahkan serangan.

“Sekali ini kutangkap kipasmu sebagai buku,” pikir Cie Yang Cinjin dengan gusar lengannya dijulurkan siap menangkap.

“Boleh kau tangkap asal mau mau kipas ini mengandung racun! Ha, ha, ha!” ejek Pek Tok Thian kun.

Cie Yang Cinjin merasa kaget, cepat2 menarik lengannya. Ia menjadi heran. karena kipas itu entah bagaimana bisa berbalik lagi ke tangan Pek Tok Thian Kun.

Dengan mata membulat diawasinya kipas itu terlebih teliti, terlihat olehnya bahwa kipas itu diikat seutas benang perak dapat dilepas dan ditarik sesuka hatinya, tak ubahnya dengan Liu-heng-cui. Se-kali2 tidak bisa digolongkan dengan senjata rahasia. Tak heran bahwa Hui Go Taysu tidak bisa menyatakan Pek Tok Thian Kun menggunakan senjata rahasia, karena soalnya demikian.

Dengan kegusaran yang me-luap2 Cie Yang Cinjin menggerak2an pedang dengan jurus yang telengas dan ganas menghajar musuhya. “Kau jangan gugup dan cemas! Sebenarnya kipasku tidak mengandung racun! Tunggulah racun yang sesungguhnya belum kukeluarkan! Ha ha!” ejek Pek Tok Thian Kun dengan tawar.

Tapi kegirangannya tidak berlangsung lama, karena merasakan kulit sekujur tubuhnya menjadi dingin tak ubahnya terkena es. Ia tidak mengira musuhnya demikian tangkas dan cepat, tak bisa lagi ia mengegos, terpaksa ia mengeraskan hati sambil mengertekkan gigi seluruh kekuatannya disalurkan ke lengan kanan, segera menangkis dengan keras!

Begitu dua senjata beradu menerbitkan suara keras, masing2 merasa gentar, berikutnya ke-dua2nya mental beberapa tombak, dengan demikian tampaknya pertandingan seimbang. Dengan indahnya mereka mengumpulkan tenaga dan mengambil tempat di atas bunga dengan tenang.

“Awas pedang!” seru Cie Yang Cinjin.

Lagi2 Ia mencecar hebat dengan kepandaiannya. Tiga jurus dirangkai dengan hebat dilancarkan seketika. “Ser! ser! ser!” tiga gelombang pedang mengamuk seperti naga membalik lautan meng-gulung2 seperti ombak menerjang tanggul, kekuatannya terpencar dari delapan penjuru secara dahsyat.

Pek Tok Thian Kun sesudah bentrok keras tidak menderita rugi, merasakan kekuatannya seimbang dengan musuhnya sehingga tidak merasa takut seperti semula. Dengan memutarkan kipas Ia menangkis dan memecahkan serangan pedang dengan tenang, di samping itu ia pun mencoba melakukan serangan balasan, akibatnya masing2 bergumul menjadi satu di tengah udara. Sesudah itu segera kembali lagi ke bunga teratai. Inilah suatu pertarungan yang benar2 mengadu kekuatan hebat. Begitu hinggap segera melakukan serangan lagi, sehingga perkelahian berjaalan dengan semakin hebat. Pek Tok Thian Kun melancarkan serangan dengan hebat di samping itu kipasnya sering dilontarkan sebagai senjata rahasia. membuat musuhnya repot dan kewalahan.

Satu jurus sudah berlalu, bintang2 mulai menyepi, embun malam mulai menetes turun membasahi mereka, membuatnya tidak tahu lagi yang mana keringat yang mana embun.

Entah bagaimana pedang emas yang tidak bersinar dari Cie Yang Cinjin, tiba2 memancarkan sinar kuning yang menyilaukan mata, terkecuali itu sinarnya semakin lama semakin hebat, sehingga embun yang meliputi sekujur dirinya tersapu bersih sinar kuning yang berkilauan. Ia menghantam musuhnya semakin bersemangat sehingga Pek Tok Thian Kun yang licik dicecar terus menerus, ia tak berdaya hanya bisa menangkis tanpa bisa melakukan serangan balasan lagi.

Per-lahan2 Pek Tok Thian Kun merasakan sinar kuning menusuk matanya, membuat dirinya berkeringat seperti hujan. Seluruh kulitnya terasa seperti dibakar saja. Darah di tubuh seperti ber-golak2, kepalanya mulai pening, membuatnya kaget. Tapi Ia seorang pandai, hal ini ia tahu tentu pedang musuh yang mengakibatkan. Semangatnya segera diempos, serangan musuh ditangkis terus, sementara otaknya berputar mencari akal.

Kiranya pedang Cie Yang Cinjin itu adalah benda kuno yang bernama Kim-liong-cee-lwee-kiam (pedang naga emas berapi sakti), bisa menyerap embun dari udara lalu berkumpul menjadi satu, ditambah lweekang yang tersalur masuk dari tangan pemiliknya, membuatnya se-olah2 hidup.

Seratus tahun pedang ini tinggal di dalam serangkanya, sebegitu lama belum pernah menghirup embun, karena itu begitu dikelurkan tidak terlihat cahayanya. Tapi sesudah dipergunakan dan mulai menghirup embun segera memancarkan sinarnya yang hebat.

Cie Yang Cinjin melihat ciri2 kekalahan musuh, membuatnya menarik napas lega. Segala kekuatannya disalurkan pada pedangnya. Ia tidak membiarkan musuhnya banyak pikir segera menerjang sambil melompat, sinar pedang yang berkilauan mengeluarkan hawa panas yang hebat, menikam ke arah pusar musuhnya. Dalam gugupnya Pek Tok Thian Kun mendapat akal, cepat2 Ia merapung lalu turun dengan cepat, kedua kakinnya tepat memijak pedang musuh lalu menekan dengan ilmu Cian-kin-tui. Berbareng dengan itu Ia pun mengeluarkan suara aneh, dan ditambah kipasnya dibuka ke hadapan muka musuh.

Cie Yang Cinjin merasakan pedangnya menjadi berat, kaget tak alang kepalang, waktu ia mau mengawasi, terlihat kipas musuh merintangi pandangan matanya. Terkecuali itu di dalam kipas itu terlukis tujuh bidadari yang tidak berpakaian dengan tubuh ramping dan padat serta menggiurkan membuat Cie Yang Cinjin gusar dan meluap, sehingga kekuatannya sedikit berpencar, akibatnya Ia tidak bisa mempertahankan diri, hampir2 kebebes ke dalam air. Tapi dengan cepat Ia menyalurkan tenaga ke atas pedang, membuat musuhnya terlontar pergi.

“Thian membantu diriku!” pikir Pek Tok Thian Kun.

Begitu terlontar ia membalik tubuh kipasnya segera merapat dan dikeprokkan kepada punggung musuh dengan telengas.

Cie Yang Cinjin baru saja mau kembali ke atas bunga, segera merasakan angin dingin menghantam dirinya. cepat mendongak lalu membuang diri beberapa tombak. Akibatnya punggungnya lolos dari serangan tapi pundak kanannya terkena juga kipas musuh.

Segera pandangannya menjadi kabur, darahnya meluap gusar dengan melompat pergi hatinya menjadi risau. Pek Tok Thian Kun ter-bahak2 girang. membuat Cie Yang Cinjin merasakan hatinya pusing dan gusar bercampur menjadi satu. Otaknya segera membayangkan Heng Jie murid kesayangannya, memikir gurunya yang berbudi, mengenang nasibnya yang malang, semuanya menjadi terpikir………. hatinya menjadi sedih dan pilu.

Tiba2 di otaknya berkilas ingatan, sebelum kalah, ia ingin hancur seperti ratna dan tidak mau utuh seperti koral. Tanpa ragu2 lagi segera ia melancarkan pelajaran gaib yang pernah diperolehnya di Tie-cu-to. Lengannya membalik, keluarlah jurus Hin Hong Cok Lang (angin santar menjadikan gelombang), inilah ilmu hebat yang jarang terlihat di dunia Bu Lim. Berikutnya pedang terlepas dari tangan merupakan seekor naga emas menerjang datang diiringi gelombang dan angin.

Pek Tok Thian Kun yang memperoleh hasil merasa girang dan ter-tawa2, tapi sebelum membuatnya terlampau gembira, matanya menjadi silau melihat sinar kuning.

“Celaka! Hidung kerbau ini mengeluarkan ilmu siluman!” teriaknya seraya membuka kipasnya menangkis pedang.

Kipasnya dikebutkan dengan tenaga besar, mengeluarkan deruan hebat. tapi tetap tidak bisa menangkis kehebatan pedang musuh, dengan menerbitkan suara keras kipas itu kena ditembus. Terkecuali itu sebelah lengan kirinya segera terpapas putus, darah merah mengucur deras. Dengan mengertekkan gigi menahan sakit, ia lompat ke atas batu, dan lekas mengeluarkan obat luka. Matanya meram seketika sambil duduk bersemedi. menjalankan pengobatan.

Sementara itu Cie Yang Cinjin yang tidak menghiraukan dunia terbalik melancarkan kepandaiannya yang luar biasa, akibatnya luka yang diderita bertambah hebat. Kekuatan yang berkumpul di Tan Tiannya menjadi buyar, tubuhnya seperti bintang jatuh separuh tubuhnya masuk ke dalam air dan kalah dalam pertandingan secara mutlak.

Dengan masgul ia melompat pada batu bulat, tampak air mata membasahi matanya. Ia menghela napas panjang sambil memandang rembulan, bertanya kepada langit yang luas dengan perasaan.

Melihat keadaan demikian, Hui Go Taysu turut berduka.

“Bilamana kepandaianmu yang ampuh itu siang2 dikeluarkan, tidak mungkin kau kalah,” sesalnya.

Ia tidak mengetahui bahwa Cie Yang Cinjin mempunyai kesukaran pribadi yang tidak dapat dituturkan. Dalam keadaan terpaksa ia melancarkan pelajaran yang tidak boleh digunakan untuk membunuh Pek Tok Thian Kun. Agar Bu Lim Tiap tidak jatuh di tangan seorang yang suka membunuh secara se-wenang2 dan mengakibatkan onar di rimba hijau. Tapi maksudnya itu gagal, Ia hanya berhasil membuntungkan sebelah lengan musuh. Hal ini membuat hatinya pilu dan sedih.

Tiba2 dari udara terdengar suara tangis burung Hoo, suara itu demikian lembut, untuk pendengaran Cie Yang Cinjin tak ubahnya dengan petir di siang hari. Tubuhnya menggigil, ia segera dongak memandang ke atas awan. Begitu ia melihat parasnya segera berubah pucat.

“Kau benar2 datang! Aku sudah melanggar janji…” keluhnya.

Matanya memancarkan cemas dan liar, sukar dibedakan dendam atau cinta, girang atau cemas.

Tiba2 terdengar suara pengumuman dari Hui Go Siansu.

“Dalam pertandingan ini biar Pek Tok Thian Kun menderita luka parah tapi tidak jatuh ke dalam air, sedangkan Cie Yang Cinjin jatuh ke air. Sehingga Pek Tok Thian Kun memperoleh kemenangan dua kali dalam tiga pertandingan ini berhak untuk menguasai Bu Lim Tiap,” serunya.

“Bagaimana dengan Toyu, ada pendapat lain?”

“Tidak!” jawab Cie Yang Cinjin dengan senyum getir. Setelah berkata ia merobek bajunya lalu menggigit jarinya dan menulis enam belas huruf secara ter-gesa2. Lalu meminta kepada Hui Go Taysu mengambil kembali pedangnya dari kipas Pek Tok Thian Kun. Kain itu dipilin menjadi kecil dan ditusukkan ke dalam tubuh pedang dengan kekuatan Kim Cian In Sian (jarum emas membawa benang) per-lahan2 kain itu masuk ke dalam tubuh pedang dan hilang tidak terlihat.

“Crang!” sekali terdengar bunyi, tahu2 pedangnya sudah masuk ke dalam serangka. Dengan terharu Ia meng-usap2 pedangnya, lalu mengeluarkan jarinya menulis di atas serangka pedang.

“Kalau ingin tahu soalku, terdapat di dalam pedang ini.”

Dengan kesedihan yang tidak terkira air matanya ber-linang2. Dilihatnya Hui Go Taysu tengah menyerahkan Bu Lim Tiap pada Pek Tok Thian Kun. Dengan lengan bergetar dan laku hormat, Pek Tok Thian Kun menerima Bu Lim Tiap.

Cie Yang Cinjin menarik napas, hal ini membuat Hui Go merasa duka juga, cepat2 ia menghampiri untuk menghibur. Tapi kena didahului kawannya.

“Taysu, masih ingatkah kata2 pinto di tepi danau tadi?” tanya Cie Yang Cinjin.

“Kuminta pedang ini kau bawa ke Bu Tong San dan serahkan kepada seorang anak yang bernama Kiu Heng, atas ini Pinto sangat berterima kasih pada Taysu.”

Hui Go Taysu menyambut pedang itu.

Pek Tok Thian Kun yang menderita luka mengancam dengan gemas.

“Cie Yang Cinjin, hutang darah ini, kita perhitungkan sepuluh tahun kemudian,” serunya.

“Ha ha ha,” Cie Yang Cinjin tertawa. “Hutang piutang ini jangan baru dapat diselesaikan dalam penitisan yang akan datang!”

Pek Tok Thian Kun merasa dongkol, pikirnya Cie Yang Cinjin mentertawakan dirinya, sehingga mukanya menjadi merah matang bahna jengahnya.

Burung Hoo yang berbunyi tadi terdengar kembali, Ia turun mengitari kepala Cie Yang Cinjin. Lalu, terdengar suara dari punggung burung itu.

“Yat Hoan! Yat Hoan! Kutunggu kedatangan kau demikian lama tapi kau salah janji, masih ada kata2 lainkah yang enak dibicarakan? Sebaiknya lekas2 turut denganku.”

Hui Go Taysu dan Pek Tok Thian Kun menjadi kaget, mereka memandang kepada burung itu. Tampak seorang wanita berada di punggungnya. Mereka menjadi heran tak mengerti, diawasinya Cie Yang Cinjin.

Sang Tosu diam tak berkata2, sedangkan matanya membulat lebar.

“Bagaimana? Apakah kau tidak mendengar kata2ku?” tegur wanita di atas burung.

Ia mengenakan kain penutup muka, sehingga tidak terlihat parasnya, sedangkan suaranya menandakan sudah merasa gusar.

Cie Yang Cinjin merapatkan mata sambil menjawab : “Lie Na! Kau jangan harap menjadi isteriku pada penitisan sekali ini!”

Wanita itu menjadi kaget mendapat jawaban ketus, terpikir olehnya penghidupan hampa selama dua puluh tahun untuk menantikan hari ini, tapi impian manisnya menjadi buyar juga seketika.

Timbul rasa cinta yang bercampur dengan dendam menjadi satu, giginya berketrekan nyaring. Dengan gemas Ia mengebutkan lengan kanannya, segera tekanan tenaga keras menyambar turun, Hui Go Taysu yang masih berada di sisi Cie Yang Cinjin segera mencelat pergi. Sedangkan Cie Yang Cinjin menerima serangan itu dengan dadanya. Tubuhnya segera ber-goyang2 tapi tidak membuatnya jatuh ambruk.

Wanita itu tersenyum mengejek melihat keadaan sang Tosu, tubuhnya ringan seperti walet melayang turun ke atas batu. Jarinya yang putih bersih seperti perak menunjuk ke arah Hian Kie Hiat Cie Yang Cinjin.

“Hm! Aku tidak percaya kau memiliki ilmu kebal. Kuingin lihat dapatkah kau bertahan atas sebuah jariku?” katanya dingin.

Tapi lengannya segera ditarik kembali waktu melihat darah mengucur dari mulut Cie Yang Cinjin. Ia bingung dan ragu2, dengan setengah memaksakan diri jarinya membuka mulut si Tosu dengan paksa.

Tiba2 ia menjadi terkejut. “Kau… kau… kau…” katanya kaget.

Kiranya Cie Yang Cinjin sudah menggigit hancur lidahnya membunuh diri. Si wanita menjadi sedih. Dengan ter-sedu2 Ia memeluki jenazah si Tosu dengan penuh sesal.

Hui Go Taysu menjadi kaget, pikirnya wanita itu membunuh Cie Yang Cinjin, dengan gusar Ia membentak dan menghampiri seraya menyerang dengan tongkatnya.

Dalam sedihnya wanita itu seperti tidak mendengar kejadian di sekeliling, sewaktu Ia merasakan keadaan tidak benar, tongkat sudah sampai. Untung ia memiliki ilmu ginkang yang ‘luar biasa’, cepat2 merapung ke udara dengan membawa jenazah Cie Yang Cinjin. Lalu hinggap di punggung burung Hoo dan segera berlalu.

Hui Go Taysu menyerang tempat kosong, padahal Ia melihat tegas tongkatnya hampir berhasil melukai musuh, dengan heran Ia terpekur sambil melihati kepergian wanita itu.

“Segera kau tulis kejadian malam ini berikut perempuan yang tidak terang asal-usulnya di dalam Bu Lim Tiap!” katanya pada Pek Tok Thian Kun.

“Bagaimana menulisnya?” kata Pek Tok Thian Kun seraya mengasongkan Bu Lim Tiap dengan lengan kanannya di samping itu Ia mengumpulkan tenaga penuh kepada Bu Lim Tiap.

Hui Go Taysu tidak tahu dan tidak menduga bakalan dicelakakan secara pengecut, begitu Ia menyambut Bu Lim Tiap segera merasakan tenaga keras menyerang dirinya, kagetnya tidak alang kepalang. Tapi apa daya, tidak ada jalan untuknya mengegos lagi. Karena batu itu kecil sekali, tubuhnya tak ampun jatuh ke dalam air dari mulutnya keluar darah merah.

Pek Tok Thian Kun ter-bahak2 sambil berlalu.

Berbarengan dengan itu Hui Go Taysu memaki kalang kabut dari dalam air.

Lalu keadaan menjadi sunyi hanya bunyi genta terdengar beruntun sebanyak lima kali. Siapa pun tidak akan menduga segala dendam dan permusuhan sudah tersebar luas.

Sinar surya mulai keluar mengusir kegelapan.

Kebaikan dan kebajikan tidak berhasil mengalahkan kejahatan pada malam itu, akan demikian teruskah?

***

Musim salju terasa dingin, lebih2 keadaan di gunung Bu Tong, lereng2 gunung menjadi putih. Sinar matahari yang memancarkan terang menyorot salju membuat pandangan berkunang-kunang. Di balik pohon2 cemara yang hijau terlihat seorang Hweesio tua dan dua Hweesio kecil mendaki gunung. Mereka dapat berjalan cepat seperti di tanah datar, menunjukkan limu ginkangnya sudah tinggi. Dalam sekejap tibalah mereka di suatu tempat yang bertulisan tiga huruf “jurang melucuti senjata”.

Begitu melihat peringatan “harus melepaskan senjata” mereka menjadi diam sejenak.

“Supek? Perlukah kita…” tegur salah satu Hweesio kecil dengan hormat.

“Tidak usah,” potong si hweesio.

Dua Hweesio kecil menjawab: “Baik,” lalu mengikuti langkah Supeknya mendaki ke atas.

Di bawah terangnya surya, tiga senjata mereka menjadi ber-sinar2. Sewaktu mereka melewati (pepohonan cemara terdengar suara seorang yang tengah gusar: “Sekali ini kau akan lari ke mana? Kalau tak kubunuh jangan sebut orang, hm, akan kubeset kulitmu, ku-cingcang dagingmu agar kau selamanya tidak bisa menitis menjadi manusia lagi!”

Kata2 yang kejam dan ganas ini membuat mereka menjadi bergidik.

“Bu Tong Pay dan Siau Lim Sie merupakan partay terbesar yang dihormati kaum rimba persilatan, kenapa ada yang berani main gila di sarang harimau?” pikir si hweesio.

Kembali terdengar kata2 orang itu.

“Kau kira sesudah berhasil menggigitku bisa membuatku mati? Kau jangan bermimpi. Andaikata benar, kaupun harus mati terlebih dulu!”

Semakin mendengar semakin membuat si hweesio heran. Dicobanya melihat ke dalam, tapi daun yang rimbun membuatnya tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam situ.

“Sun In, San Ko, kau jaga di sini dan jangan sembarangan bergerak, aku ingin melihat siapa manusianya yang berani main gila di Bu Tong San,” kata si hweesio kepada dua pengikutnya.

Begitu ia masuk segera memasang lengan di dada dan mengangkat tongkat siap siaga atas sesuatu yang tidak dikehendaki. Tapi di dalam pepohonan itu tidak terlihat barang seorangpun, suara yang didengarnya tadi entah dari mana datangnya? Ia menjadi kesa1 dan balik kembali untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi suara tadi itu mulai terdengar lagi begitu ia menggerakkan kaki.

“Kulihat kau bisa hidup berapa lama lagi?”

Sesudah meng-amat2i sejenak si hweesio segera mengetahui suara itu datangnya dari balik batu besar, tak heran ia tidak melihat orang itu.

“Siapa?” bentaknya keras seperti bahana membelah bumi.

“Siapa?” jawaban keras yang menggeledek terdengar dari balik batu.

“Siapa yang berani mencampuri urusanku?”

Berbareng dengan habisnya perkataan tersebut, terlihat sinar merah berkilat datang, bercampur pula bau amis menyerang datang. Kiranya seekor ular yang sudah dibeset kulitnya dan dagingnya hancur dilempar orang menghajar si hweesio.

Si hweeesio menjadi sadar begitu melihat ular itu, Ia tahu salah paham, dengan cepat Ia mengebas dengan tangan membuat bangkai ular itu terpukul dan menghajar batu besar.

Segera terdengar bunyi keras, karena batu itu segera terdorong roboh.

“Ilmu Pek Pou Sin Kun yang teramat lihay dari Siau Lim,” kata orang itu seraya mencelat keluar dari balik batu.

”Kau jangan sok aksi dulu, mari kita coba dulu dengan Kiam-hoat Bu Tong Pay, bagaimana?”

Kira si hweesio orang itu seorang yang memiliki ilmu tinggi, tapi waktu mengawasi ia menjadi heran. Orang itu hanya seorang bocah tanggung berusia lima belas tahun.

Si hweesio mengetahui bahwa bocah itu adalah murid dari Bu Tong Pay.

“Ah, aku mana boleh melawannya dan membuat onar, lebih2 kejadian ini karena salah paham…..” pikirnya.

Tapi serangan si bocah sudah sampai, membuatnya terpaksa mengangkat tongkat menangkis. Begitu senjata beradu terdengar bunyi “krak” sekali.

Anak itu menjadi kaget dan lari dengan kecepatan luar biasa, menandakan ginkangnya sudah sempurna.

Di atas tanah menggeletak sebilah pedang kayu yang patah. Dengan menarik napas si hweesio menoleh kepada dua pengiringnya.

“Mari kita berangkat!” katanya.

Sementara itu, anak tanggung tadi kembali menampakkan diri dari balik pohon, diikutinya tiga Hweesio dari belakang. Tapi Ia tidak bsa berjalan cepat karena merasakan paha kirinya sakit sekali.

Dengan cepat Ia menggulung celana. Terlihat olehnya warna hitam yang bengkak pada kakinya. Dengan kaget dan geregetan ia menghampiri kembali bangkai ular, dengan gemas di-injak2nya sampai hancur.

“Kenapa kau menggigitku, bila tidak akupun tak akan melakukan demikian macam!” katanya.

“Kau harus tahu barang siapa yang menggangguku, akibatnya akan begini!”

Tiba2 perasaan sakit menyengat seperti antuk lebah membuatnya berkeringat menahan sakit, sungguhpun demikian Ia tidak merintih, hanya giginya berkeretekan.

Ia tahu bisa ular itu sangat berbahaya, tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat tempat yang kena gigit dipotong seketika. Dengan menahan sakit ia duduk membalut lukanya.

Mendadak dari atas gunung terdengar genta dan tambur ber-talu2, bunyinya keras dan menggema keseluruh lembah dan jurang.

“Sebal betul! Siang hari malam kalau bukan suara genta pasti suara tambur, membuat pusing kepala,” gerutunya.

“Heh! Beberapa tahun ini aku belum pernah mendengar suara tambur yang sekaligus dibunyikan dengan genta, mungkinkah di atas gunung terjadi sesuatu yang hebat? Ya, benar, pasti tiga Hweesio pembawa senjata yang membikin onar, keadaan ramai ini biar bagaimana harus kusaksikan.”

Dengan ter-pincang2 ia naik ke atas. Belum selang berapa lama dari atas gunung terlihat seorang Tosu muda menghampiri ke arahnya sambil memanggil: “Kiu Susiok! Sucun memanggil kau lekas2 masuk ke dalam biara Sam Goan Kuan.

“Ceng Siong! Apakah kau buta? Bukankah aku tengah menuju kesana?” jawab si anak.

Ceng Siong biar lebih tua dari si anak tapi berkedudukan lebih muda.

“Kiu Susiok, maukah kugendong?” karena siang2 sudah mengetahui si anak ter-pincang2.

“Apa katamu? Menggendongku? Mungkinkah? Pergi! Pergi! Jangan membuatku gusar,” bentaknya seperti orang dewasa.

“Ceng Siong, apakah kau tahu sebab apa aku dipanggil?” tambahnya.

“Tidak terlalu tegas, tapi seperti tiga Hweesio…”

“Tiga Hweesio yang membawa senjata?” potong si anak.

“Kenapa Kiu Susiok bisa tahu?’’

“Kenapa tidak?” jawab si anak, dilihatnya Ceng Siong mengawasi pada kakinya yang luka. membuatnya mengerutkan kening, ia kuatir timbul sslah paham, cepat2 Ia menjelaskan: “Kau jangan sok pintar dan men-duga2, lukaku bukan karena Hweesio itu melainkan digigit ular! Mungkinkah mereka datang untuk membuat onar?”

“Bukan, karena Sucun tidak gusar atau memarahi mereka, melainkan memukul genta dan tambur mengumpulkan sekalian murid2 untuk menyambut.”

Anak itu yang bukan lain dari pada Kiu Heng tiba2 mengingat sewaktu gurunya turun gunung pernah mengatakan sesuatu kepadanya, membuatnya segera tahu maksud kedatangan dari tiga Hweesio itu.

“Celaka,” serunya, seraya berlari cepat2 tanpa menghiraukan pada luka dan sakit. Dengan napas memburu tibalah ia di dalam biara Sau Goan Kuan. Dilihatnya Cee Sie Supeknya tengah menemani si Hweesio yang dikemukakan tadi. Cepat Ia berlutut dan meminta maaf atas kekurangajarannya tadi.

“Tapi guruku pernah mengatakan bahwa Hui Go Taysu sudah berusia tujuh puluh tahun, tapi kenapa menjadi muda begini, mungkinkah Ia sudah mempelajari llmu awet muda?” pikir Kiu Heng.

Dengan kedua matanya Ia melihat peninggalan dari pedang gurunya yang bernama Kim-liong-cee-hwee-kiam terletak di atas meja.

Tak terasa lagi matanya menjadi merah, air matanya pun segera menggenangi di dalam kelopaknya, lalu mengetel turun.

“Aku tidak boleh menangis, aku laki2 sejati mana boleh di depan mereka menangis,” pikirnya.

Cee Sie Tojin baru melihat tegas bahwa anak yang berdarah dan menderita luka itu adalah Kiu Heng, dengan kaget ia bertanya: “Heng-jie! Kenapa kau? Coba sini kuperiksa!” nada suara yang manis dan penuh rasa kasih sayang.

“Supek! aku tidak kenapa-napa!” jawab Kiu Heng. “Hanya digigit ular.”

“Ular apa?”

“Tidak kutahu namanya,” kata Kui Heng, “tapi jangan kuatir tempat yang digigit sudah kupotong.”

Dengan kasih sayang Cee Sie Tojin mengelus-ngelus kepala Kiu Heng.

“Heng-jie! Gurumu sudah ………..”

“Aku sudah tahu, supek tak perlu mengatakan lagi,” potong Kiu Heng.

“Aku tahu suhu sudah meninggalkan dunia yang fana ini, tapi tetap hidup di dalam hatiku. Aku tidak senang mendengar perkataan mati atau meninggal,” pikirnya dengan sedih.

“Heng-jie,” kata Cee Sie Tojin, “ini adalah Cun Cu Taysu, Ciang Bun Hong Tio dari Siau Lim Sie.”

Kiu Heng menjadi kaget. Ia tahu dugaannya tidak salah, bahwa Hweesio itu adalah ketua Siau Lim Sie, tapi bukan Hui Go Taysu.

Ia heran kenapa Siau Lim Sie bisa mempunyai dua ketua, mungkinkah Hui Go Taysu sudah meninggal dunia seperti gurunya? Tapi kenapa pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam bisa dibawanya? Tapi Ia seorang anak yang pintar, tidak mau terpekur terus cepat-cepat maju memberi hormat.

“Terimalah, hormat Siautee,” katanya.

Cun Cu Taysu berkedudukan sama dengan Kiu Heng, lekas membalas hormat. “Sutee tak perlu memakai banyak peradatan.”

Bagaimana dengan Hui Go Supek……?” tanya Kiu Heng.

“Sudah pulang ke alam baka,” potong Cun Cu Taysu.

“Karena itu Pinceng harus mengurus jenazahnya dan bersembahyang seratus hari, sehingga terlambat datang ke sini.”

“Taysu, dapatkah menjelaskan siapa pembunuh guruku dan bagaimana kejadiaannya?” kata Kiu Heng.

“Dalam hal ini Pinceng tidak tahu jelas, sewaktu Siansu (membahasakan guru sendiri yang sudah meninggal) kembali dari See Ouw, sudah luka parah, beliau tidak bisa bicara seperti sedia kala. Tapi sebelum meninggal beliau mengatakan dengan terputus-putus seperti berikut: Pedang panjang… Bu Tong San… Kiu Heng… perempuan. Kata2 dari Siansu ini sudah dipelajari baru kutahu garis besarnya, begitulah sesudah beres berkabung, kami datang ke sini.”

Kiranya sesudah Hui Go Taysu dicelakakan Pek Tok Thian Kun, menderita luka hebat. Si hweesio tahu dirinya akan mati, tapi dengan penuh daya kekuatan dan tak menghiraukan sakitnya, terus berjalan cepat2 menuju Siau Lim Sie. Begitu tiba di tempat kediamannya, lukanya sudah parah betul, sebelum bisa menerangkan apa yang dialami dengan jelas sudah keburu menarik napas yang penghabisan.

Kaum Siau Lim Pay mengetahui Ciang Bun Hong Tio mereka dicelakakan Pek Tok Thian Kun, tapi sesudah mengadakan rapat untuk sementara tidak boleh menyebarkan ke luar. Dan mengatakan Hui Go Taysu meninggal dunia karena sakit. Hal ini dilakukan mencegah terjadinya tumpah darah lebih hebat di dunia Bu Lim.

Sedangkan soal sakit hati akan diselesaikannya di kemudian hari bilamana ada kesempatan.

Begitu Kiu Heng mengetahui Hui Go Taysu mengatakan perempuan sebelum matinya, segera mengambil kesimpulan bahwa gurunya pasti dicelakakan perempuan.

“Tahukah Taysu siapa yang dimaksud dengan perempuan itu?” tegurnya.

“Pinceng tidak tahu!” jawab Cun Cu Taysu.

“Berapa orangkah yang turut ambil bagian dalam pertemuan di See Ouw?”

“Terkecuali dari Siau Lim Sie dan Bu Tong Pay, masih ada Hoa San Pay yang diwakili Liau Tim Sutay dan Pek Tok Thian Kun.’’

“Oh,” kata Kiu Heng.

Dalam empat orang hanya satu perempuannya. Hui Go Taysu pasti menunjuk perempuan itu adalah Liau Tim Sutay!” pikirnya.

Tapi Ia tidak memikir kenapa Hui Go Taysu menyebutkan Liau Tim Sutay dan hanya mengatakan perempuan?

Cee Sie Tojin menyerahkan pedang Kim-liong-cee-kwee-kiam pada Kiu Heng.

“Itu adalah pedang peninggalan gurumu, tampaknya di dalam pedang bersembunyi rahasia besar, baik-baiklah kau jaga.”

Dengan hormat Kiu Heng menyambut pedang itu dengan kedua tangannya. Dilihatnya di serangka pedang tertera bunyi: Kalau ingin tahu soalku terdapat di dalam pedang ini.

Ia menjadi girang bercampur sedih. Girang karena gurunya tidak melupakan pada sakit hatinya dan memberi tahu. Sedih karena ditinggal gurunya.

Dalam cemasnya, cepat2 ia mencabut pedang, tapi antara pedang dan serangkanya yang sudah ditekan Cie Yang Cinjin dengan ilmu Kiu Yang Sin Kang (sembilan kekuatan sakti), agaknya sudah seperti menjadi satu. Beberapa kali ia mencoba mencabutnya dengan sekuat tenaga. Sampai tangannya sakit belum juga berhasil menghunusnya. Ia menjadi malu dan buru2 keluar ruangan.

“Dalam bidang lain anak ini cukup baik, hanya adatnya terlalu keras dan angkuh,” pikir Cee Sie Tojin sambil meng-geleng2kan kepala.

Cun Cu Taysu melihat apa yang dikerjakan sudah beres segera mohon pamit. Cee Sie Tojin tidak dapat menahan, terpaksa mengumpulkan semua murid2 Bu Tong Pay menghantarkan kepergiannya Cun Cu Taysu dan dua pengiringnya.

Hari ini Kiu Heng merasa tidak enak makan, seharian penuh ia menyekam diri di dalam kamar, waktu malam mendatang otaknya menjadi kacau dan berpikir-pikir tentang kejadian yang membuatnya masuk ke dalam suatu hidup sedih yang memilukan hati.

Waktu itu Ia baru berusia lima tahun, ia masih kecil tapi tidak bisa melupakan kejadian di suatu malam.

Saat itu tidak ada bintang maupun rembulan, Ia terjaga dari tidurnya. Sebelum bisa berteriak-teriak kaget, ada seseorang membekap mulutnya. lalu melemparkannya keluar pekarangan dan tepat masuk ke dalam sumur.

Ia tidak menangis, hanya merasakan bahwa manusia itu terlalu tidak mempunyai kebajikan. Sampai dimana ia kena ditolong gurunya dari dalam sumur. Tampak rumahnya yang enak dan hangat sudah menjadi puing2 dan berantakan. Baris berbaris malang melintang mayat yang tidak berkepala memenuhi pekarangan tempat bermainnya. Diantaranya terdapat jenazah dari kakeknya, ayahnya, ibunya, saudara2nya, dan seluruh famili serta pengawal2 yang tidak kurang dari seratus orang.

Di luar pintu tiang2 bendera yang biasa digunakan untuk mengibarkan bendera Wie Bu Piau Kie (perusahaan pengawal barang Wie Bu) berpancungan kepala2 manusia. Ia tidak menangis, hanya merasakan seluruhnya adalah darah, terkecuali darah masih tetap darah dan kelak ia akan meminta darah membayar darah …..

Renungannya ber-bayang2 terus, membuatnya tidak bisa tidur. Bintang2 sudah menyepi hanya tinggal satu masih terlihat berkedip-kedip. Ia mengerutkan kening sambil mengusap-usap pedangnya, dengan senjata ini Ia akan melakukan tagihan darah. Ia girang dan mengucurkan air mata, lalu tidur sejenak, sesudah itu dengan tergesa-gesa ia bangun, tanpa banyak pikir lagi ia keluar pintu, dilihatnya murid2 Bu Tong belum pada bangun. Dengan tanpa pamit lagi ia meninggalkan Bu Tong San.

***

Musim semi di Kang Lam indah sekali, burung kenari bersiul2 sepanjang pagi, bunga2 indah menerbangkan bebatuan harum, dunia sudah beralih dari kebekuan musim salju dan kembali pada kesegaran baru.

Dalam sekejap mata Kiu Heng sudah melewati tiga bulan dengan penghidupan baru yang tidak karuan. Ia merantau kesana kemari tanpa arah tujuan dan tibalah di daerah Ciat Kang. Tiga bulan ini membuatnya kecewa, dadanya seperti ditembus anak panah yang tak mengenal kasihan, hancur luluh pengharapannya.

Kini, terkecuali dari ilmu pelajaran yang pernah didapat dari gurunya, tidak ada kemajuan lain yang diperolehnya. Ingin ia mencari orang2 luar biasa guna menuntut ilmu, tapi tidak ada daya untuk menemuinya. Se-waktu2 timbul niatnya kembali ke Bu Tong San, menuntut penghidupan yang menjemukan dan mempelajari ilmu yang tidak bisa dipergunakan melawan musuh. Tapi perasaan hati kecilnya terlampau besar. Sehingga pikiran itu sekali timbul segera tertekan hilang lagi.

Pikirnya berbuat demikian itu tidak berguna dan bisa ditertawakan kawan2 seperguruan. Ia ingin kembali sesudah berhasil’ menjadi seorang yang berilmu tinggi, agar saudara2 seperguruannya merasa iri dan kagum.

Mengingat demikian kekerasan hatinya semakin hebat, tanpa mengenal lelah ia maju terus dengan harapan besar.

Pada suatu hari Kiu Heng tiba di kota Sin Cong, pikirnya di kota besar demikian itu pasti tempat mengeramnya segala harimau dan naga. Tapi Ia berpikir salah. Terkecuali dari kaum penjual silat, tidak didapatkannya orang2 berilmu tinggi yang dikehendaki. Sepuluh hari ia membuang waktu di kota itu dengan harapan nihil.

Hari ini Ia pergi keluar kofa untuk menghilangkan kesepian hatinya dan mengharap-harapkan ketemu orang luar biasa. Dengan langkah berat ia berjalkan perlahan-lahan.

“Mungkinkah cita2ku tidak akan dikabuli alam? Kalau terus demikian macam, aku harus bagaimana?” pikirnya.

Tiba2 ia mendengar suara kelenengan nyaring yang bercampur dengan ketoprakan kaki kuda, sungguhpun bukan suara musik tapi cukup menarik pendengaran.

Dengan cepat penunggang kuda itu sudah tiba di hadapannya dan berhenti. Kui Heng menundukkan kepala terus sambil minggir membuka jalan. Anehnya penunggang kuda itu tidak melanjutkan perjalanan. Ia dongak memandang, tampak seekor keledai yang kokoh dan hitam mengkilap, lalu melihat kelenengan yang tergantung di leher binatang itu, hal ini membuatnya kaget karena kelenengan itu terbuat dari kumala yang mahal.

“Penunggang keledai itu kalau bukan kaum bangsawan tentu seorang saudagar besar. Tapi kenapa berhenti di hadapan mukaku?” pikir Kiu Heng tidak mengerti.

Untuk mencari jawaban Ia menatap penunggang keledai itu. Ia menjadi kaget tapi tidak membuatnya berseru.

Tampak penunggang keledai itu adalah seorang tua yang sudah putih rambut janggutnya, mukanya pucat tidak berdarah, barang siapa melihatnya pasti akan merasa gentar.

Waktu pandangan mata Kiu Heng bentrok dengan sinar mata orang tua itu membuatnya menggigil tidak karuan, karena matanya si orang tua lebih banyak putihnya dari hitamnya, memancarkan sinar terang berkilat-kilat memaksa membuatnya takut dan menundukkan kepala.

“Dilihat dari Tay Yang Hiatnya yang menonjol demikian macam, pasti seorang berilmu tinggi yang luar biasa, tapi kenapa demikian adem dan tawar? Mungkinkah, aku dapat memperoleh beberapa pelajaran darinya?” pikir Kiu Heng.

“Hm,” kata si orang tua dengan dingin, seolah-olah menghina Kiu Heng seorang pengecut besar yang melihat matanya saja tidak berani. Mana bisa menjadi jago Bu Lim di kemudian hari?

Begitu Kiu Heng mendengar suara ejekan, perasaan hatinya segera tersinggung, cepat2 memandang dengan gusar dan penuh keberanian.

Tapi si orang tua sudah merapatkan matanya, dan menjalankan lagi keledainya.

Kembali suara keleningan dan ketoprakan kaki keledai terdengar nyaring.

Entah bagaimana Kiu Heng seperti kena guna2 juga mengikuti terus di belakang keledai. Sewaktu tiba di sebuah rumah makan yang besar, keledai itu berhenti sendiri tanpa diperintah. Si orang tua membuka matanya, seolah-olah Ia tahu bahwa Kiu Heng mengikutinya sedari tadi.

Sedikitpun tidak menjadi heran, akan tetapi dengan sengaja tidak sengaja Ia melirik beberapa kali pada si anak.

Sekali ini Kiu Heng tidak takut seperti tadi. Ia memandang pula dengan tersenyum.

suatu senyum persahabatan yang manis dengan harapan mendapat kesan baik dari si orang tua.

Tapi si orang tua seperti tidak melihat saja, sedikit pun tidak menunjukkan perasaan apa2, ia berjalan perlahan-lahan ke dalam rumah makan dengan tenang sesudah turun dari keledainya. Lalu duduk di tempat yang sunyi dan menghadap jendela.

Kiu Heng menjadi tertegun melihat pengawakan si orang tua. karena kalau dirinya dibanting tidak sampai sepinggangnya.

Sejenak kemudian ia pun membusungkan dada meniru lagak si orang tua masuk ke dalam. Sambil jalan otaknya sambil terpikir: ”Orang tua ini jangkungnya luar biasa sekali. tak ubahnya dengan Bu Siang Kui (setan jangkung). Oh, yang tepat adalah setan jangkung yang putih.”

Berpikir sampai di situ hatinya mengingat: “Oh,” serunya tak terasa.

Cepat2 ia berhenti melangkah, wajahnya berubah ketakutan, dengan sinar mata cemas Ia memandang si orang tua jangkung.

“Mungkinkah orang tua ini Cungcu dari Ban Seng Cung yang bergelar Pek Bu Siang dan bernama Siang Siu?” pikirnya.

Ia adalah seorang dari jalan hitam kelas wahid dan ditakuti seluruh Kaum Bu Lim.

Teringatlah gurunya sering menceriterakan keadaan dunia rimba hijau. Ia ingat bahwa Pek Bu Siang dilukiskan gurunya seorang yang berwajah tawar dan beku, tapi memiliki ilmu tinggi yang hebat. Sewaktu terjadi pertemuan di Thian Tie ia menjadi jago tanpa tandingan, tapi akhirnya kena dikalahkan Jiak Hiap Kong Tat. Sejak itulah ia menyembunyikan diri di pegunungan sepi, sehingga tersebar kabar ia sudah mati.

“Ah, tak mungkin dia,” bantah Kiu Heng pada dirinya sendiri.

“Hei! Bocah apa perlumu datang ke sini, kau harus tahu inilah Cui Hong Ciu Lauw (rumah makan burung Hong hijau) yang terbesar dan kenamaan,” kata pelayan rumah makan.

Perkataan yang berbau menghina ini membuat Kiu Heng sadar dari lamunannya. Cepat2 ia merogo sakunya yang masih mempunyai beberapa gelintir perak hancur.

“Tak perduli rumah makan yang bagaimana besarpun untuk makan sekali tidak menjadi soal,” pikirnya.

Lalu ia memandang kepada pelayan dengan garang. Tampak pelayan itu tengah mengawasi dengan mata yang menghina dan mengejek, hal ini membuatnya panas, dengan keras ia berkata: “Hai, kau boleh sediakan segala makanan untuk Siauya makan!”

Tiba2 ia merasakan perkataannya ini kurang tepat, ia kuatir pelayan itu mempersukar dirinya dan memberikan segala sayuran sebanyak-banyaknya. Bagaimana jadinya kalau sampai tak kuat membayar? Bukankah ia harus malu di muka umumn?

Sungguhpun ia masih kecil tapi sudah mempunyai malu, lekas2 Ia mengubah perkataannya barusan.

“Hai, jangan banyak2, karena Siauya baru makan!” serunya.

“Kurang ajar, siang2 aku menemui setan!” pikir si pelayan, ”Mana ada aturan sepiring nasi dibagi dua. Inginkah kau makan perdeo? Awas kalau kau anglap, perhitunganmu bakal salah. Pendeknya kalau kau tak bayar, kulitmu akan kubeset,” gerendeng si pelayan di dalam hati.

Tapi sewaktu ia memandang pedang panjang Kiu Heng, pikirannnya menjadi berubah.

“Ah, bocah ini masih mempunyai pedang yang dapat digadai, gelagatnya aku tak bisa membeset kulitnya,” pikirnya lagi.

Saat ini keadaan rumah makan tengah ramainya, tidak ada tempat kosong lagi. Hanya ada sebuah kursi yang masih kosong, yakni yang di sebelah orang tua jangkung. Tanpa memperdulikan Kiu Heng senang atau tidak, segera menunjuk kursi itu. Hal ini cocok dengan permintaan Kiu Heng, dengan girang Ia ke sana.

Tak perduli ia seorang jahat yang menggemparkan

Bu Lim dengan kekejaman dan ketelengasannya, yang penting aku harus mencapai cita2-ku. Tapi harus menantikan ketika baik. Bila tidak, bisa2 aku mati konyol secara kecewa,” pikirnya.

Si orang tua makannya sangat lambat, seperti tengah mempunyai urusan lain yang maha penting, dan terpancang pula seperti menantikan seseorang. Sehingga Kiu Heng yang semeja dengannya tidak pernah dianggap ada.

Perlakuannya yang demikian adem dan kecut, seolah-olah di dalam dunia ini terkecuali dia sendiri tidak ada orang kedua lahir hidup, membuat sekali pandang sudah nyata bahwa ia bersifat menyendiri.

Sesaat kemudian orang tua itu berdehem dua kali. Kiu Hrng menengok, hatinya menjadi terkejut: Dua mata si orang tua yang bersinar tajum dan dingin menatap ke arah pintu tanpa berkedip, mukanya yang beku dihiasi senyum dingin yang getir.

Kiu Heng yang pintar segera menduga bahwa di rumah makan ini akan terjadi onar hebat, cepat2 Ia memandang keluar.

Ia menjadi heran karena tidak ada sesuatu yang menimbulkan kecurigaannya, otaknya menjadi heran tak mengerti.

Tiba2 dari arah luar dua kuda yang berlari cepat datang ke rumah makan, penunggangnya sudah turun dengan cepat dan berdiri berjajar di depan pintu. Yang berdiri di sebelah kiri adalah seorang tua botak, yang berwajah welas asih. Wajahnya merah bersinar. lengannya memegang tongkat besi yang panjang. Yang di sebelah kanan adalah seorang tua gemuk yang tembem, perutnya gendut, lengannya memegang kipas yang digoyang-goyangkan.

Sungguhpun mereka sudah tua tapi semangatnya masih gagah, gerak-geriknya sangat lincah, sinar mata mereka tajam menyapu sekeliling, sekali lihatpun orang akan tahu bahwa mereka adalah jago yang berkepandaian tinggi.

(Bukankah mereka ini yang bergelar Thian Lam Sam Cee (tiga bintang dari Thian Lam), yang botak itu pasti Siu-cee Kong Say Lam San dan yang gemuk adalah Hok-cee-kong Sin Tong Hai. Mereka tinggal di daerah Thian Lam, kenapa bisa datang ke Ciat Kang? Ah, apa hubungan mereka dengan si orang tua jangkung? Kalau begitu biar si orang tua jangkung berilmu bagaimana tinggi pun mana bisa menang melawan mereka berdua?” pikir Kiu Heng.

Entah bagaimana perasaan kuatir atas keselamatan si orang tua jangkung timbul di hatinya.

Memang dua orang tua yang baru datang itu adalah dua dari tiga bintang Thian Lam, sedangkan seorang lagi yang bernama Hok Sam Kang dan bergelar Liok-cee-kong tidak menampakkan diri.

“Ih, bukankah itu Siang Siu-heng?” kata mereka dengan kaget.

“Ah, tak kira si orang tua ini benar2 Siang Siu adanya,” pikir Kiu Heng.

Si gendut Sin Tong Hai pura2 terkejut.

“Aiihh,’’ serunya, “Kita seperti buta saja! Sesudah melihat keledai hitam yang bernama Cui-hong-pen-goat seharusnya berpikir bahwa Siang Heng berada di sini. Benar2 harus mampus, Lo Toa lekas kau minta maaf, jangan sampai membuat Siang Heng, gusar dan mencengkeram kita, bilamana sampai begitu urusan jadi berabe!”

Ia seperti berkata-kata pada diri sendiri, tapi mirip pula berkata pada saudaranya, tapi suaranya cukup terdengar Pek Bu Siang.

Kiu Heng tidak mengetahui persoalan antara mereka dan tidak dapat menangkap makna2 dari perkataan Sin Tong Hai itu berupa sindiran tajam untuk Pek Bu Siang.

“Pek Bu Siang ini benar2 kenamaan sekali, sampai Thian Lam Sam Cee yang menggetarkan empat penjuru masih merasa jeri, pikirnya.

“Siang Heng sehabis berpisah pasti baik2 saja bukan? Masih ingatkah dengan kawan lama? Tiga puluh tahun kita berpisah, tampaknya Siang Heng masih tetap sejaya dulu, bahkan kuyakin ilmu Pai Kut Sin Kang (ilmu tulang kering) sudah diyakinsampai tarap sempurna,” kata Siu-cee-kong Say Lam San sambil membungkukkan tubuh.

Pek-bu-siang Siang Siu membalas hormat tanpa berdiri.

“Tak kukira Thian Lam Cee yang kenamaan di masa lalu bisa berubah menjadi Thian Lam Sam Ciu (tiga badut dari Thian Lam)! Ha ha ha! jiwi tidak berasakah lagak yang demikian itu terlalu menyebalkan yang melihat? Hm, satu lagi kemana? Mungkinkah pulang ke rumah mertuanya? Beberapa hari yang lalu aku masih melihat ia bersama kamu mengikutiku secara mencurigakan, kenapa kini tidak terlihat mata hidungnya? Mungkinkah tidak mempunyai muka dan malu karena kejadian yang dulu? Sebenarnya Ia tak perlu demikian, biar bagaimana kita toh tetap kawan lama bukan? Ha ha ha!” kata Pek-Bu-siang Siang Siu sambil ter-tawa2.

Biar Ia berkata-kata demikian banyak, mulutnya tidak terlihat bergerak-gerak, karena Ia mengeluarkan suara dari hidung, apa yang diucapkan kedengarannya, tak sedap sekali dan menusuk pendengaran.

Kiu Heng pertama kali mendengar ia berkata-kata. Bulu romanya menjadi bergidik dan pada bangun. Sesudah selesai Ia berbicara, Kiu Heng baru merasa tenteram kembali.

Say Lam San dan Sin Tong Hai merasa malu dan jengah, karena dalam beberapa bulan ini mereka membayangi pada Siang Siu. Pikir mereka tidak diketahui, siapa tahu perbuatan mereka, siang2 sudah diketahui. Karena perbuatannya dibuka dan membuat mereka malu atau dikarenakan perkataan Siang Siu yang demikian kasar dan sombong membuat mereka gusar. Dengan wajah dongkol Sin Tong Hai memandang tajam kepada Siang Siu.

Say Lam San lebih tenang dari saudaranya. cepat2 memberi tanda dengan mata. lalu ia tertawa: “Kalah menang dalam perkelahian adalah soal biasa, lebih2 kami yang berupa bintang2 kecil berkelap-kelip mana bisa menang melawan Siang Heng yang terang seperti matahari? Sungguhpun pernah menderita kekalahan dari Siang Heng, tapi kejadian itu sudah berlalu tiga kali sepuluh tahun, kini kita bertemu lagi. Kupercaya kalah menang itu tidak bisa ditentukan terlebih dulu!”

“Siang-heng,” kata Sin Tong Hai melanjutkan perkataan saudaranya, “Saudara kecil ini pasti adalah murid kebanggaanmu bukan?”

Sehabis berkata tubuhnya memiring sedikit, lengannya terangkat dan menepuk pundak Kiu Heng. Lengannya ini dikerjakan dengan maksud lain dan bukan untuk melukai!

Orang2 di kalangan rimba hijau mengetahui dengan jelas bahwa Pek-bu-siang Siang Siu adalah manusia aneh menyendiri, tidak mempunyai kawan maupun murid, kesana kemari seorang diri. Pendeknya bilamana orang2 yang tidak mempunyai hubungan dengannya, biar mati di depan matanya, tak akan Ia menolong. Dibiarkan saja sejadinya, mau mati kek mau hidup kek bukan urusannya. Kehidupannya itu demikian terus adanya dan belum pernah dilanggarnya atau dikecualikan.

Sin Tong Hai melihat Kiu Heng yang serupa dengan anak jembel berada di dalam rumah makan yang mewah dan duduk di sebelah Siang Siu yang terkenal sebagai orang kejam nomor wahid, sehingga merasa heran dan ingin tahu. Karena itu lengannya yang ditepukkan pun tidak menggunakan tenaga besar.

“Jika anak ini bukan murid Siang Siu, pasti tidak akan ditolongnya, mana boleh meninggal dengan konyol di tanganku,” pikir Sin Tong Hai.

Kiu Heng mana tahu si gemuk mempunyai pikiran demikian, begitu melihat tangan datang ke arahnya menjadi terkejut, sekali. “Celaka, biar aku belajar sepuluh tahun lagi mana bisa melawannya,” pikirnya.

Ia ingin mengegos tapi menjadi urung, karena ia berpikir lagi: “Aku ingin melihat apakah Ia akan diam saja melihat kematianku?”

Dengan tenang Kiu Heng berduduk terus seperti tidak melihat apa yang tengah mengancam dirinya. Entah bagaimana Siang Siu yang biasanya tidak mencampuri urusan orang segera menggerakkan lengan kanannya dengan kecepatan kilat. Tentu saja membuat Sin Tong Hai tidak habis mengerti. Ia kaget karena mengetahui di dalam kuku musuhnya mengandung racun yang luar biasa, bilamana kena dicengkeramnya sedikit, kulit dan sebuah pukulan segera akan menjadi mati tak tertolong.

Tanpa ayal lagi Ia mencelat beberapa tombak, sungguhpun berhasil menghindarkan diri dari bahaya, keringatnya mengucur deras, tanda kagetnya.

“Pengemis kecil ini pasti muridnya Siang Siu,” pikir Sin Tong Hai begitu melihat musuhnya bergerak. Padahal ia tidak tahu bahwa Siang Siu sudah melakukan kekecualian atas tradisi yang dilakukan. Ia turun tangan untuk orang yang tidak dikenal. Cepat2 ia menarik tangannya.

“Siu-peng, kau sudah berpuluh tahun hidup di dunia, mungkinkah muka tuamu itu sudah menjadi tebal?” berkata Siang Siu.

Tanpa menantikan jawaban diserangnya Sin Tong Hai dengan ilmu Pai-kut-sin-kang, terdengar lengan kirinya berkeretekan dan segera mengulur agak panjang, ser! sekali, tahu2 lengan itu seperti tidak mempunyai tulang, lemah gemulai dan bergoyang-goyang. Dapat diputar sesuka hatinya ke mana jurusan pun, karena tidak terikat engsel2 tulang. Jarinya terbuka lebar, kukunya yang panjang2 tak ubahnya dengan ujung pedang.

Ia memutarkan tangan seperti menyapu dan mencengkeram, deruan angin yang ditimbulkan sangat dingin dan langsung menyerang kepada Sin Tong Hai.

Dengan kecepatan kilat ilmu kipasnya yang bernama Tay-pu-bu-tee-san-hoat dilancarkan cepat, ujung kipas yang tajam digunakan seperti pedang, menabas lengan Pek-bu-siang.

Tanpa mengegos atau mengganti jurus, Pek-bu-Siang bersenyum dingin secara angkuh, seolah-olah serangan musuhnya itu tidak dipandang sebelah mata. Sehingga membuat Sin Tong Hai bertambah gusar. Sewaktu kipasnya sampai di tengah jalan, segera mengempos semangat menambah tenaga dan berhasil mengenai lengan baju musuhnya.

Saat inilah Siang Siu terbahak-bahak. Lengannya bergoyang halus seperti ranting pohon dan berputar cepat menghindarkan serangan musuhnya, sesudah itu sebuah lengan kirinya melakukan serangan balasan tidak kalah cepatnya mengarah tenggorokan.

Sin Tong Hai cukup berpengalaman dan sering menghadapi musuh besar, begitu merasakan serangannya yang hampir berhasil mengenai tempat kosong, segera sadar keadaan tidak baik, perutnya segera dikembungkan, bagian atas dari tubuhnya segera mental ke belakang.

Tak kira lengan Pek-bu-siang kembali berbunyi dan bertambah panjang lagi. Keruan saja Sin Tong Hai bertambah kaget, untung masih keburu ia menjalankan jurus Tiat-pan-kiau, tubuhnya melengkung ke belakang dan mental seperti terlepas dari rintangan.

“Bret!” terdengar suara pecah.

Kiranya Sin Tong Hai biar berhasil menghindarkan diri dari serangan musuh, tapi bajunya kena tersobek. Sehingga bagian dadanya yang gemuk tampak keluar, ia kaget dan pucat mukanya, dengan bengong Ia berdiri di samping.

Kiu Heng merasa kaget dan girang. Ia merasa kagum pada kepandaian Pek-bu-siang. “Kalau ia mau memberikan beberapa pelajarannya ini bukan main baiknya,” pikirnya dengan penuh pengharapan.

“Lojie!” kata Say Lam San, “kepandaian Siang-heng nampaknya bukan menjadi tandingan kila, maka itu tak perlu heran kalau Lo Sam menderita kekalahan di tangannya.”

“Kulihat jiwie orang2 yang pandai dan pintar, karena itu kuminta kalau bicara sebaiknya terang2an saja, jangan ngelantur berputar-putar seperti lagak nenek2!” tegur Pek Bu Siang.

“Bagus!” kata Sin Tong Hai, ”kalau begini tidak sia2 perjalanan kami. Eh, katanya Siang-heng memiliki Sam Cun Giok Cee yang serupa dengan julukan kami, karena itu…….” kata Sin Tong Hai.

“Oh, kiranya kamu jauh2 mengintil terus ingin memperoleh benda ini,” kata Pek Bu Siang seraya tergelak-gelak. “Memang Sam Cun Giok Cee itu ada padaku.”

Lalu dikeluarkan dari dalam kantongnya.

Tatkala ini sekalian orang merasakan mata mereka menjadi terang, tampak di atas meja berdiri dengan baik sebuah patung kumala hijau yang tingginya lima dim, ukirannya yang demikian indah membuat patung itu seperti hidup. Sinarnya yang menyilaukan dan bagusnya yang membuat kagum. Benar2 benda antik yang tidak ternilai.

Say Lam San dan Sin Tong Hai adalah orang2 Kang Ouw yang berpengalaman, tapi seumurnya belum pernah melihat benda semacam itu.

“Benar benda langka yang tidak ternilai, kini hitung2 kami tidak sia2 berjalan jauh, karena bisa membuka mata melihat benda mustika,” pikir mereka seraya melangkah mendekati.

Pek-bu-siang cepat menyimpan kembali Sam Cun Giok Cee ke dalam sakunya. “Sebenarnya benda ini adalah warisan dari jieteeku. Kemudian entah bagaimana bisa berada di dalam istana raja. Beberapa bulan yang lalu dengan memeras tenaga dan mengadu jiwa aku berhasil mengambilnya kembali,” katanya sambil larak-lirik.

Sesudah itu melanjutkan lagi perkataannya: “Benda ini semacam benda pembawa sial. Waktu Jieteeku memperoleh benda ini dua bulan entah bagaimana tahu-tahu menjadi mati, andaikata kamu tidak percaya bahwa benda pembawa sial, tidak halangan…….. ha ha ha……. karena masing2 memperolehnya bukan dengan jalan yang benar!”

Say Lam San merengut, lalu mengambil teko arak dengan tenaga lweekangnya dibuatnya arak mendidih dan keluar melalui mulutnya seperti air mancur masuk ke dalam dua cawan, lalu mengangkat sebuah cawan dan berkata: “Mari! Siang-heng, Siautee meminjam arak menghormati dirimu dan meminta petunjuk juga darimu!”

Tanpa bangun atau berdiri Pek-bu-siang mengangkat cawan menyambut cawan arak itu. “Ah, jangan memberabekan! Ha ha! Arak dari Say-heng mungkin adalah yang terenak diminumnya katanya mengejek.

Tampak dua cawan dibenturkan tanda dari menghormat, sekali-kali tidak mnerbitkan suara, melainkan menjadi nempel dan tidak bisa dipisahkan.

Kiu Heng tahu bahwa mereka tengah mengadu Lweekang, masing2 memusatkan tenaganya ke dalam cawan. Seketika berlalu, tampaknya kalah menang sudah mulai terlihat. Pek-bu-siang masih tetap duduk seperti semula sedangkan ilmu Pai-kut-sin-kang sudah disalurkan ke dalam cawan sehingga arak itu menjadi beku.

Sedangkan Say Lam San sudah berkeringat. Ubin yang dipijaknya sering2 memperdengarkan suara berkeretek. Gelagatnya arak yang dibikin mendidih oleh tenaga dalam sudah kembali menjadi dingin, dan pasti per-lahan2 akan menjadi es.

Seketika kembali berlalu tiba2 arak di dalam cawan Say Lam San mendidih lagi, seperti tenaganya belum dikeluarkan semua, dan kini baru digunakan.

Pek-bu-siang menggigil juga dibuatnya. Dengan cepat ia memejamkan mata.

Tampaknya tengah memusatkan tenaga dan semangat menghadapi musuhnya.

Kiu Heng merasa senang pada Pek-bu-siang, lebih2 sesudah mendapat pertongannya, begitu melihat keadaan Pek-bu-siang terdesak, segera timbul akal bulusnya. Dua tangannya menekap mulut seperti mau bersin.

“Hacihhh!” sekali sikut kanannya dengan wajar menusuk ke bawah ketiak Say Lam San dengan telak. Hal ini di luar dugaannya. Tak ampun lagi Ma-hiatnya seperti kena ditotok, ia merasakan sekujur tubuhnya menjadi kaku dan hilang kekuatan tenaganya.

Berbareng dengan ini terdengar “trang”, dua cawan yang merapat tiba2 menjadi berpisah. Say Lam San menjadi pucat, tubuhnya terhuyung-huyung sesudah berdiri tetap segera meminum araknya.

“Ilmu Siang-heng luar biasa sekali, aku mengaku kalah, tapi kalau Siang-heng tidak keberatan, esok malam kita bertemu lagi di kuil Kuan Tee Bio yang berada di puncak Cee In Hong di Oey San! Di situ kami bertiga akan meminta pelajaran lagi pada Siang-heng dengan menggunakan Sam-cee-pan-goat-tin (barisan tiga bintang menemui rembulan), bagaimana?” tanyanya terpaksa.

Pek-bu-siang memandang pada Kiu Heng. Ia tidak menjawab, tapi meminum araknya.

Kiu Heng cukup pintar. Ia tahu bahwa Pek-bu-siang meminta dirinya menalangi menjawab. Sungguhpun ia merasa heran, tapi dengan cepat sudah menjawab: “Baik!”

Say Lam San tentu saja percaja pada perkataan Kiu Heng, karena menganggapnya murid dari Pek-bu-siang.

“Baiklah, sampai ketemu lagi pada hari esok!”

Sehabis berkata, segera ia memutar tubuh mengajak saudaranya berlalu.

Sesudah mereka keluar dari pintu, Pek-bu-siang Siang Siu baru menarik napas panjang, lalu bangun. Kursi yang didudukinya sudah hancur seperti tepung dan berantakan di lantai.

“Oh, kiranya Ia takut bicara, sebab bisa membuyarkan tenaganya dan menyuruh aku menjawab!” pikir Kiu Heng.

Ia menoleh ke tempat bekas Say Lam San berdiri, di situ tertera bekas tapak kaki yang dalamnya setengah dim, di belakang tapak kaki itu masih terlihat pula telapak kaki lagi, itulah telapak kaki Sin Tong Hai.

Kiu Heng memandang pada Pek-bu-siang dengan kagum.

“Lihay betul dia ini: Thian Lam Sam Cee dengan tenaga bergabung, mereka masih tidak bisa menang!” pikirnya.

Saat ini Pek-bu-siang sudah mengganti kursi lain, sehingga tempat makan yang ramai ini sudah menjadi sepi. Tamu2 yang demikian banyak entah kemana perginya, sedangkan pelayan dan pemilik rumah makan, berdiri jauh2 dengan wajah pucat. Sungguhpun Pek-bu-siang mempunyai tabiat aneh, cukup mempunyai perasaan juga. Ia tahu semua ini akibat ia mengadu silat dan membuat tetamu ketakutan.

Cepat2 Ia merogo saku mengeluarkan uang perak lalu dilemparkan kepada kasir.

“Terimalah ini, hitung2 mengganti kerugian kamu hari ini!” katanya sambil meminum arak lagi.

Pek-bu-siang segera berdiam diri seketika lamanya, membuat Kiu Heng tidak habis mengerti, tapi ia cukup sabar untuk menantikan terus di samping tak pergi2.

“Siau-cu (bocah kecil), coba kau terangkan kenapa kau bisa tahu aku akan turun tangan membantumu?” kata Pek-bu-siang dengan dingin, sesudah diam diri seketika lamanya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya mempunyai keyakinan kau akan menolong bahaya kematian yang akan terjadi di depan matamu!”

Wajah kaku dari Pek-bu-siang tiba? menunjukkan senyuman, tapi segera ditarik kembali sebelum Kiu Heng melihatnya.

“Anak ini aneh, berani betul mengadu jiwa dengan kepercayaannya,” pikirnya.

“Hai,” tegurrnya lagi, “mungkinkah kau sudah tahu siapa aku? Tapi kau tidak tahu, akan sepak terjangku bukan?”

“Ya,” kata Kiu Heng, “aku sudah tahu semua, tapi merasa heran kenapa kau memecahkan tradisimu dan membantu diriku?”

“Ya” jawab Pek-bu-siang mengakui. Ia merasa kalah dan si anak menang. Karena itu tidak menjelaskan terlebih panjang.

Ia tidak habis pikir dalam keadaan yang mendesak bisa membantu Kiu Heng, karena itu ia terpekur sejenak sesudah itu baru bertanya lagi: “Siaucu, siapa namamu?”

Kiu Heng mengerutkan kening, dua kali Ia disebut Siaucu, entah bagaimana sebutan itu membuatnya tersinggung dan tidak senang mendengarnya. Tapi untuk memperoleh pelajaran dari Pek-bu-siang, Ia bisa berlaku sabar.

“Namaku Kiu Heng,” katanya.

Sesudah itu ia memalingkan muka keluar dan berkata dengan sombong. ”Lain kali kau jangan memanggil Siaucu lagi sesudah mengetahui nama itu, belum pernah aku mendengar orang memanggil demikian padaku? Tapi aku dapat memaafkan dirimu karena tidak tahu namaku!”

Adapun nama Kiu Heng berarti dendam dan sakit hati. Pek-bu-siang yang kenyang malang melintang di dunia hitam dan membunuh tanpa mengenal belas kasihan merasa kaget mendengar nama yang demikian itu.

“Anak ini pasti mempunyai dendam dan sakit hati yang setinggi langit dan dalam seperti lautan!” pikirnya.

Sungguhpun demikian, Ia tidak marah atas kelakuan Kiu Heng, berbalik semakin merasa suka dan sayang.

“Anak ini pasti akan menjadi seorang jago aneh di kemudian hari,” pikirnya lagi.

Segera ia menganggukkan kepala. “Bagus, lain kali aku tidak mau memanggilmu Siaucu. Eh, apakah kau sadar, pertolongan yang kuberikan tadi itu segera membuat kaum Bu Lim menyangka kau sebagai muridku!”

Kiu Heng menganggukkan kepala. Ia tahu maksud Pek-bu-siang ingin menjadikan muridnya, tapi hatinya berpikir lain.

“Dengan pelajaran yang kuperoleh darimu itu mana bisa dipakai membalas sakit hatiku? Suhu sudah mengatakan musuhku adalah jago kelas utama yang tidak ada tandingnya di kolong langit. Aku hanya bisa mempelajari berbagai ilmu dari macam2 perguruan baru mempunyai harapan melaksanakan cita2ku. Akupun merasa heran, suhu memiliki ilmu luar biasa kenapa tidak mau menurunkan kepadaku, dan hanya memberikan pelajaran Bu Tong Pay. Setiap kali aku memohon untuk mempelajarinya, ia selalu mengatakan: Sesudah kau mengetahui siapa musuhmu dan sudah menjadi ahli warisku, kau boleh menuntut balas.”

“Kini segala riwayat hidupku berada di dalam pedang yang tidak bisa kucabut ini.”

Pek-bu-siang salah kira, pikirnya Kiu Heng sudah mempunyai guru dan tidak mau menjadi muridnya lagi.

“Heng-jie, dari sinar matamu dan pedang yang kau soren, pasti sudah pernah beladiar silat. Entah siapa gurumu itu?” tanyanya.

“Guruku sudah… sudah meninggalkan dunia ini, lebih baik jangan menceritarakan soal ini!” kata Kiu Heng.

“Manusia hidup harus mati, hanya waktu yang menentukan, perlu apa disedihkan. Yang lalu biar berlalu, yang baru harus ditempuh dengan baik!” kata Pek-bu-siang.

“Caramu berkelana di dunia Kang Ouw kurasa kurang tepat. Kalau kau tidak mempunyai lain tujuan yang baik, lebih baik kau turut denganku.”

“Terima kasih banyak atas perhatianmu, tapi aku mempunyai kesukaran untuk menerangkan bahwa aku tidak bisa mengangkat kau sebagai guru. Tapi aku menginginkan kau bisa memberikan pelajaran silat kepadaku,” pinta Kiu Heng.

Pek-bu-siang menjadi kaget.

“Hm! Mungkinkah aku tidak cocok menjadi gurumu? Kau harus yakin inilah hokkiemu, orang lain biar memberi soja kepadaku tidak akan kuterima menjadi murid! Katakan… katakan… apa kekuranganku? Siaucu, jika kau tidak mau akupun tidak memaksa dan jangan ‘bebelian’ betul, lekas kau enyah dari mukaku!”

“Lucu! Kau kira dirimu kuperlukan betul? Pergi ya pergi!’’ kata Kiu Heng seraya menjengkat keluar.

Pek-bu-siang berpuluh-puluh tahun malang melintang di dunia Kang Ouw, belum pernah mendapat kesukaran seperti sekarang, karena dongkolnya sampai tak bisa bersuara.

Setelah lama baru berkata: “Siaucu! Berani betul kau melawan Lohu, bosan hidup barangkali!”

Lengannya segera terangkat, tulangnya berkeretek nyaring, ilmu beracun dari Pai-kut-sin-kang segera akan dilancarkan untuk merenggut nyawa Kiu Heng.

Dengan gagah dan tidak takut, Kiu Heng berdiri di depan pintu, seolah-olah mati dan hidup tidak dipikirkan.

Pek-bu-siang menjadi urung melihat keadaan ini. Ia merasa heran atas dirinya sendiri. Sejak kukenal urusan, belum pernah berlaku seperti sekarang, kenapa aku bisa ragu2 dan hilang kekerasan hatiku, mungkinkah sebab berjodoh dengan anak ini?” pikirnya.

Lengannya segera diturunkan.

“Kau pergilah! Tapi awas, kalau kedua kali berjumpa denganku, jiwa kecilmu akan tamat riwayatnya!”

Dengan cepat Kiu Heng meninggalkan rumah makan.

“Kenapa? Kenapa?” demikian hatinya bertanya-tanya, ”Seorang golongan hitam yang terkenal kejam dan telengas bisa memperlakukan aku demikian baik?”

Sebenarnya Pek-bu-siang pun mengalami pertanyaan yang tidak bisa dijawab, kenapa Ia bisa berbuat demikian. Hatinya menjadi ragu. “Mungkinkah dalam pertemuan kedua bisa tega menurunkan tangan jahat kepadanya?” pikirnya.

Sambil menghela napas panjang ia meninggalkan kursinya. Baru saja sampai di depan pintu, tiba2 dari arah luar datang seorang yang terhuyung-huyung dan tepat berbenturan dengannya.

Pek-bu-siang mengira sedang diserang, sehingga menjadi kaget. Tapi sesudah merasakan benturan orang itu demikian lunak tak bertenaga, hatinya menjadi tenang kembali.

Diawasinya orang itu yang beralis pendek dan hidung kecil, mulut lebar, badan panjang, usianya lebih kurang empat puluh tahun, matanya saju tak bersinar, dari mulutnya menyembur bau arak. Pikirnya segala pemabukan ini gila betul, lalu tidak memperhatikan lagi, cepat minggir dan pergi keluar.

Keledai hitam begitu melihat majikannya keluar segera mendekati, dengan aleman keledai itu menggosok-gosokkan kepalanya ke pinggang tuannya. Pek-bu-siang merasakan napas keledainya panas betul. Ia menjadi terkejut, otaknya segera memikir sesuatu, sedangkan tangannya merogoh saku.

“Celaka!” serunya, karena Sam Cun Giok Cee yang di dalam sakunya sudah hilang tak berbekas. Dengan gusar Ia mencabut senjatanya yang berupa eloan hijau. Di atasnya tertulis delapan huruf yang berbunyi: “Kalau Pek-bu-siang tiba, segala urusan menjadi habis.”

“Copet jahanam, berani betul menimpa barangku!” gumamnya seraja cepat mencari orang mabuk tadi. Tapi orang yang dicari sudah hilang tanpa bayangan.

“Tunggulah hukumanmu,” katanya di dalam hati.

“Sesudah selesai mengurus pertemuanku dengan Thian Lam Sam Cee, biar kau lari ke manapun akan kukejar, tubuhmu akan kuhancurkan!”

Cepat2 Ia mencemplak keledainya, kelenengan berbunyi, makin lama makin jauh dan hilang dari pendengaran.

***

Malam bulan purnama, keadaan di Cee In Hong di depan Kuan Tee Bio tengah berlangsung pertandingan hebat yang jarang dapat disaksikan di dalam dunia Kang Ouw.

Pek-bu-siang yang terkenal kejam tengah dikurung Thian Lam Sam Cee dengan barisan Tiga Bintang Mengitari Rembulan.

Dalam perkelahian ini Pek-bu-siang tidak bisa memecahkan barisan musuh, sebaliknya Thian Lam Sam Cee pun dengan tiga tenaga mereka tetap tidak bisa membuat musuhnya luka.

Pertarungan sudah berjalan enam jam, di luar tahu siapa pun terlihat sesosok tubuh anak tanggung tengah mengintai jalannya pertandingan dengan penuh perhatian. Anak ini bukan lain dari pada Kiu Heng.

Sejak Ia berpisah dengan Pek-bu-siang segera mendahului datang ke Oey San dengan harapan dapat mencuri pelajaran Pek-bu-siang dan Thian Lam Sam Cee. Karena Ia datang terlebih dulu dari yang lain, segera mencari tempat bersembunyi di dalam bio, lalu tidur. Tiba2 ia terbangun mendengar percakapan orang. Dengan hati2 ia membalik tubuh dan mendengar percakapan orang2 itu.

Yang ber-kata2 itu adalah Thian Lam Sam Cee, mereka memperbincangkan soal Sam Cun Giok Cee, sebelum perkataan mereka dikatakan panjang lebar, dari arah jauh mendatang suara keledai dari Pek-bu-siang.

Mereka tidak banyak bicara lagi segera bertarung. Dari perkelahian ini terdengar suara deruan angin.

Kiu Heng mengetahui perkelahian berjalan sudah sampai di puncak sengitnya, cepat ia keluar dari tempat persembunyian.

Apa yang dilihatnya membuatnya heran, karena cara mereka bertarung itu berjalan lembek, tidak mengadu jiwa dengan sengit, melainkan seperti bergurau.

Empat orang berada di sebuah lapangan rumput yang lebih kurang sepuluh meter persegi berputair-putar lalu bergerak, kemudian mengadu tangan dan demikian seterusnya.

Perlahan-lahan pertarungan masih tetap berjalan ayal-ayalan, tapi sudah masuk ke dalam ketegangan. Hal ini nyata dari paras keempat orang; Pek-bu-siang yang pucat beku tidak membayangkan sesuatu tapi kedua alisnya yang sudah dikerutkan menandakan sudah mengeluarkan tenaga penuh. Sedangkan di antara Thian Lam Sam Cee terkecuali Say Lam San, yang dua lagi sudah berwajah merah seperti dibakar.

Tiba2 Thian Lam Sam Cee berpekik keras secara berbareng, lalu melakukan serangan bertambah gencar, mereka melancarkan serangan tangan, di balik itu sudah menghunus senjata-senjatanya. Tampaknya Sam Cee Pan Goat Tin baru memperlihatkan kekuatan sejatinya.

Pek-bu-siang pun tidak mau ketinggalan, senjatanya yang berupa eloan segera dihunus, dengan kelincahan tubuhnya tiga serangan senjata musuh kena diegos lalu disingkirkan dengan senjatanya. Pertarungan yang berjalan demikian cepat tidak dapat terlihat tegas oleh Kiu Heng.

“Apa yang harus kucuri untuk dipelajari?” gumam Kiu Heng. “Mereka bertarung terlampau cepat, biar seumur hidup kudapat mencuri lihat pun tak mungkin dapat mempelajarinya barang setengah jurus.”

Sementara itu medan perkelahian sudah berubah keadaannya.

Liok-cee-kong Hok Sam Kong sewaktu membentangkan jurus Kim Tiau Can (garuda emas membentangkan sayap) menarik lengannya terlampau lambat, sehingga lengan kanannya kena kesabet senjata musuh nya, segera Ia merasakan sakit yang pedih. Berbareng dengan itu Siang Siu sendiri pun tidak luput dari senjata Sin Tong Hai, bajunya tergores pecah.

“Kekagetan dan kegusaran Pek-bu-siang tidak alang kepalang. Dengan mengerang keras senjatanya berkilat cepat dengan jurus Liu Heng Kan Goat (meteor mengejar rembulan), geraknya lincah. satu jurus menyerang ketiga penjuru. Tampaknya seperti di kanan lalu terlihat pula di kiri, sukar menduga di sebelah mana yang akan diserang.

Say Lam San yang bersenjata tongkat berani melawan keras, sedangkan kipas Sin Tong Hai dan Giok jie Ie (senjata yang berupa kumala) Hok Sam Kang, sedikit pun tidak berani melawan keras. Karena itu, mereka terpaksa mundur beberapa langkah menghindarkan beradunya senjata. Hal ini membuat Pek-bu-siang memikir untuk menghancurkan barisan musuh dengan cepat dan kekerasan. Tubuhnya segera merapung ke udara, lalu menyergap turun pada Sin Tong Hai, ia benci kepada si gendut ini karena merobek bajunya. Begitu senjatanya menghajar, musuhnya sudah tidak berdaya lagi, tapi mendadak ia merasakan suatu tenaga kuat yang memaksanya turun dan kembali ke tempatnya semula.

Tenaga yang bersembunyi itu adalah jurus penyelamat dari barisan, barang siapa di antara mereka mendapat gempuran dan tidak bisa menangkis lagi, dua kawannya yang lain meminjam tenaga putaran mereka mendorong dengan bengis, sedangkan seorang lagi menyedot kuat sehingga kawannya yang tengah tergencet dapat pertolongan dan mendapat ketika untuk melancarkan serangan.

Pek-bu-siang tidak mengetahui tenaga kuat dari mana datangnya itu merasa tidak boleh bentrok, karena jiwany akan berada dalam bahaya.

Dengan …………….. Pek-bu-siang ………….. kepandaian …………. merasakan tekanan dari musuhnya lebih hebat dari semula. Senjata tongkat dari Say Lam San ……….. kekuatan …………… sedangkan serangan dari Sin Tong Hai.

Hok Sam Kang…………. bung menjadi……………. kan tekanan …………… Pek-bu-siang Siang Siu……………. ki senjata eloan ………… lan Pai-kut-sin-kang ………… seketika terdesak dan keteter.

Seketika berlalu, wajah pucat dan beku dari Pek-bu-siang mengeluarkan keringat, otaknya berputar keras untuk memecah barisan. Ia tahu bilamana bisa keluar dari kurungan berarti bisa memperoleh kemenangan.

“Siang-heng, sebenarnya kita adalah kenalan lama di dunia Bu Lim, untuk apa ma…………nya, karena …………..gan mendapat……….tiga musuhnya …………… memperhatikan …………. n2 Ia meng-………….. sehingga berhasil ………. menjadi girang. ……………girangnya selesai ………….dengan matanya silau. Karena Giok-jie-ie musuh hampir tiba di perutna. Ia mencoba menangkis dengan senjatanya, apa mau dikata serangan musuh lain sudah berkesiur di belakang tubuhnya.

Dalam keadaan demikian ia tidak berani menangkis, melainkan mengegos secepatnya. Akan tetapi dengan berbuat demikian ia terkena perangkap Sam Cee Pan Goat Tin. Tubuhnya segera terjepit dan terkena hajaran kipas Sin Tong Hai, sehingga membuatnya kesakitan berbareng dengan itu Ia pun membalik tangan dan berhasil membuat Sin Tong Hai terpental beberapa tombak.

“Ha ha, Pek-bu-siang Siang-sin menjadi jago golongan hitam dapat menukar jiwanya dengan dua musuh-musuh cukup berharga. Say Lam San apakah kau masih mau pibu? Siang Siu akan melawanmu dengan tenaga yang penghabisan, ba gaimana?”

Liok-cee-kong Hok Sam Kang sesudah melepaskan Giok-jie-ienya segera tidak terlihat bergerak lagi, sedangkan Hok-cee-kong Sin Tong Hai sesudah terpental tidak merayap bangun. Hal ini membuat Siu-cee-kong Say Lam San menjadi tertegun, ia tahu lebih banyak celakanya dari pada baiknya nasib kedua saudaranya itu.

Ia tersenyum meringis.

“Siang-heng, hal ini terjadi benar2 di luar dugaanku. Kau… silathkan kau pergi, aku biar bagaimana tidak mau mengadu jiwa habis-habisan!”

“Ya, kalau kau tidak mau memukul aku lagi aku akan berlalu tapi aku tidak menerima kebaikanmu ini!” jawab Pek-bu-siang.

Sehabis berkata segera ia berlalu sambil terhuyung-huyung.

Perkelahian yang berakhir mengenaskan ini membuat Kiu Heng yang mencuri lihat menjadi terpaku kaget. Dilihatnya Pek-bu-siang dengan susah payah naik ke atas keledainya, lalu berjalan pergi di bawah sinar rembulan. Baru beberapa langkah tampak Pek-bu-siag jatuh tengkurap di atas tunggangannya.

Say Lam San tiba2 mendongak ke atas bio, lalu membentak: “Siapa yang bersembunyi di atas, lekas turun!”

“Wah, celaka betul, tentu ia mengira aku murid Pek-bu-siang dan pasti tidak akan memberi ampun,” pikirnya.

“Ah, masa bodoh, aku yakin nama besar dari Say Lam San tidak akan menganiaya seorang Houpwee smacamku.”

Sehabis berpikir Kiu Heng segera turun ke depan Siu-cee-kong Say Lam San.

Kiu Heng baru berusia lima belas tahun, sungguhpun ilmu kepandaiannya tidak seberapa tinggi, tapi sudah memiliki ilmu ginkang yang cukup tinggi.

Say Lam San kaget.

“Siau-ko-jie (sebutan ramah untuk yang lebih kecil), apakah kau bukan murid dari Pek-bu-siang? Kenapa kau tidak turut pergi? Suhumu luka parah, mungkin tidak bisa melewatkan malam ini ia akan meninggal!”

“Aku bukan muridnya!”

“Kenapa bukan? Mungkinkah melihat ia sudah mau mati dan tidak mau mengaku sebagai guru? Kau seorang anak yang tidak berbudi, karena itu aku harus menyingkirkan kau dari dunia ini sebagai murid durhaka,” semakin berkata Say Lam San semakin gusar, paling akhir Ia menutup perkataan sambil menghajarkan tongkatnya kepada Kiu Heng.

“Lo Cianpwee jangan salah paham. Aku pertama kali bertemu dengannya di rumah makan, ia bermaksud mengangkatku menjadi murid tapi aku tidak mau karena sudah mempunyai guru.”

“Hai bocah berani betul kau membohong di depanku, rasakanlah tongkatku ini!”

Kiu Heng yang angkuh dan bersifat keras merasa gusar sekali melihat Say Lam San tidak mengerti penjelasannya.

“Lo Cianpwee, kalau kau tidak percaja jangan sesalkan aku berlaku kurang ajar!”

“Bocah, jangan kurang ajar,” bentak Say Lam San seraya menyapu dengan tangannya.

Kiu Heng melawan dengan gesit. Ia tidak mau mengadu tenaga, sesudah beberapa jurus berlalu, Say Lam San menjadi kaget, segera mundur teratur. “Siaucu, kau pernah apa dengan Cie Yang Cinjin dari Bu Tong Pay?”

“Beliau adalah guruku,” jawab Kiu Heng.

Ia tahu lawannya sudah mengenali dirinya sebagai murid Bu Tong Pay.

“Kiranya murid dari Cie Yang Cinjin, atas ini kumohon maaf,” kata Say Lam San. “Menurut kabar, gurumu itu sudah meninggal dunia?”

Kiu Heng menganggukkan kepala.

“Ah, umur orang di tangan yang maha kuasa, seperti dua saudaraku, tadi masih segar bugar, kini sudah mati,” keluh Say Lam San. “Dapatkah kau membantuku mengubur jenazahnya saudara2ku ini?”

“Baik,” kata Kiu Heng.

Mereka segera menggali lubang, dengan cepat dua jenazah sudah dikubur dengan rapi. Hari pun sudah menjadi terang, dua kuburan yang baru ini menemani kesunyian Kuan Tee Bio di Cee In Hong secara menyedihkan.

“Kini kita berkumpul sebentar lagi segera berpisah, entah kapan bisa bertemu lagi, atas bantuanmu mengurus dan mengubur jenazah2 dua saudaraku, kuhaturkan banyak terima kasih. Kuserahkan buku ini sebagai tanda mata dan kenang2an. Kalau kau senang boleh mempelajarinya, kalau tidak suka boleh kau serahkan lagi kepada orang lain,” kata Say Lam San seraya menyerahkan buku.

Tidak menantikan Kiu Heng menjawab ia sudah berlalu.

Dengan penuh perhatian buku itu ditatap Kiu Heng, disampulnya tertulis Sam Cee Pan Guat.

“Untuk apa Ia menyerahkan buku ini kepadaku? Dari mana aku harus mencari dua kawan untuk mempela-jarinya?” pikirnya sambil tersenyum.

Tapi ia menjadi girang sesudah mem-balik2 lembaran buku itu, karena di dalamnya tertera dengan jelas inti sari pelajaran penting dari ketiga orang itu. Seluruhnya terdiri dari dua belas jurus, sedangkan Thian Lam Sam Cee setiap orangnya hanya mempelajari empat jurus. Bilamana seorang mau mempelajari dua belas jurus, tidak berarti mengurangi kelihayan dari ilmu itu. Ia menjadi girang dan berjingkrakan, cepat2 Ia masukkan ke dalam sakunya. dan bertindak pergi.

Langkahnya menjadi berhenti sewaktu ia melihat senjata Pek-bu-siang mengeletak di atas rumput lalu mengambilnya menoleh kemana keledai hitam berlalu sambil terpekur.

Ia merasa kesian dan terharu sewaktu melihat Pek-bu-siang jatuh tengkurap di atas tunggangannya.

“Coba kalau kau melulusi permintaanku memberikan pelajaran dan tidak mengusir aku pergi, sudah tentu aku bisa mencarimu dan merawat lukamu itu dan tidak sampai mati tanpa dikubur dan digerogoti binatang buas,” pikirnya.

Lalu ia ikuti jejaknya keledai.

Dua bukit sudah dilalui, di bawah sebuah tebing curam ia melihat keledai hitam.

Keledai itu diam menjamajikannya, aku harus ke sana menengoknya, tapi kalau ia belum mati bisa2 aku dihajarnya dan mati konyol tidak keruan!” pikirnya.

Ia diam dari kejauhan seketika lamanya, sadikit pun tidak berani mendekati.

Tiba2 keledai itu meringkik secara mengenaskan membuat Kiu Heng sedih dan pilu.

“Dari suaranya keledai yang demikian menggoncangkan perasaan haru, mungkin Siang Siu sudah meninggal dunia,” sehabis berpikir ia maju dengan memberanikan hati.

Benar saja Pek-bu-siang sudah meninggal dunia sambil menyandarkan tubuh di tebing gunung.

Kiu Heng menghampiri memegang lengan orang, ia merasakan dingin. Ia meng-geleng2kan kepala sambil berkata:

“Seorang jago utama rimba persilatan, akhirnya menemui ajal secara menyedihkan…”

Tanpa banyak pikir Kiu Heng menggunakan senjatanya Pek-bu-siang menggali lubang dan meletakkan jenazah orang malang itu ke dalamnya dengan perlahan.

“Lo Cianpwee, tenanglah kau mengaso di sini! Ini senjatamu boleh kau bawa, sedangkan keledai hitam bisa kuurus, tenanglah… tenanglah kau mengaso!”

Mulailah ia menguruk.

Mendadak berkelebat bayangan putih, tahu2 tubuh Pek-bu-siang mencelat bangun dari dalam lubang. Kiu Heng kaget dan hilang semangatnya.

Ia berkata dengan gemetaran: “Lo Cianpwee, aku tidak berbuat salah kepadamu, kenapa sampai sudah meninggal masih mau mengagetkan dan memusuhi diriku?”

Pek-bu-siang tersenyum.

“Heng-jie, kuyakin aku bakalan mati, tapi sebelum mati aku masih mempunjai beberapa hal yang memberatkan. Aku sedih atas hal ini, kebetulan kau datang. Untuk menguji kebaikan hatimu, aku pura2 mati dengan ilmu menutup jalan napas. Tak kira kau benar2 seorang yang baik, karena itu aku ingin memesan satu soal yang belum kuselesaikan kepadamu, yakni carilah seorang pemabukan, ia mencuri Sam Cun Giok Cee.”

Lalu ia menceritakan potongan si pencuri itu dengan jelas.

Mendengar keterangan itu Kiu Heng menjadi berdebar-debar.

“Untunglah dalam urusan ini aku tidak mengetahuinya terlebih dulu, bilamana tidak diriku bisa2 menemaninya dikubur, dalam belukar sepi, inilah yang dinamai kemujuran di dalam kemalangan,” pikirnya.

Tak sempat untuknya menjawab, karena melihat Pek-bu-siang tengah menggigil, ia tahu kematian orang yang dihadapi tak lama lagi. Hanya saja tertunda karena memiliki ilmu dalam yang tinggi. Cepat ia memayang Pek-bu-siang duduk, saat inilah Pek-bu-siang menghembuskan napasnya yang penghabisan dengan memeramkan mata untuk selama-lamanya. Ia berjanji di dalam hati untuk memenuhi pesanan Siang Siu.

Dari dalam sakunya Pek-bu-siang, Ia mendapatkan kitab pelajaran Pai-kut sin-kang, ia girang sekali, cepat2 jenazah Pek-bu-siang dikebumikan. Lalu berdiam seorang diri dalam kesunyian sambil mem-balik2 lembaran kitab Pai-kut-sin-kang dengan penuh perhatian.

Belum selang berapa lama Ia membaca, tiba2 ia mengerutkan alis, lalu dibacanya lembaran demi lembaran dengan ter-gesa2, begitu selesai, buku Pai-kut-sin-kang dibantingnya ke tanah kuat2.

“Biar aku mempunyai dendam setinggi langit dan sakit hati sedalam lautan, tak mungkin mempelajari ilmu beracun semacam ini karena harus membunuh seratus manusia untuk berlatih,” pikirnya.

Tanpa menoleh lagi Ia turun gunung cepat2.

Tiba2 ia berhenti, buku itu akan lebih celaka lagi kalau jatuh di tangan orang jahat, pikirnya, “lebih baik kumusnahkan.”

Ia balik lagi sambil menyalakan api, diambilnya buku itu dan dibakarnya.

Mendadak berkesiur angin keras, api menjadi mati, buku Pai-kut-sin-kang tahu2 hilang dari tangannya. Sebagai gantinya seorang pelajar tua berdiri di mukanya sambil mem-balik2 kitab Pai-kut-sin-kang.

“Kembalikan kepadaku, buku itu tak berguna untuk dibaca!” bentak Kiu Heng seraya menyergap.

Dengan sedikit gerakan si orang tua berkelit dan berkata: “Bocah, kau jangan cemas, buku ini aku tak mau, lebih2 mempelajarinya, tapi buku kuno semacam ini terhitung pusaka kaum Bu Lim! Buku ini diciptakan bukan mudah, kenapa kau mau membakarnya seenak hati?”

“Itu sih kemauanku, apa hubungannya denganmu?” jawab Kiu Heng.

“Bocah, kau jangan berkeras, dari parasmu sudah kubaca kau sudah menyesal untuk membakarnya. Hm, ambillah! Kau harus tahu pelajaran Pai-kut-sin-kang tanpa memakai tulang manusia dapat juga dipelajari asal saja mempunyai kemauan! Tapi kalau kau mau menjadi muridku, segala ilmu semacam Pai-kut-sin-kang tak ada artinya untuk dipelajari!”

Kiu Heng menjadi terkejut, Ia memandang terlebih lama kepada si orang tua yang berani membuka mulut besar.

Tiba2 ia ingat cerita gurunya tentang seorang pendekar tua yang bernama Jiak Hiap Kong Tat.

“Cianpwee bukankah Jiak hiap Kong Tat Lo Cianpwee? Maafkan kalau Boanpwee tidak mengenalinya.”

“Kau bisa mengenali aku sudah terhitung bukan orang sembarangan. Bocah kalau kau mau menjadi muridku, lekaslah tuturkan riwayatmu se-benar2nya!“

Kiu Heng merasa girang dapat bertemu dengan seorang jago Bu Lim, tapi Ia pun merasa bingung. Ia tidak mau melupakan gurunya yang lalu untuk berguru pada orang lain, di samping itu Ia pun tidak mau melepaskan jago Bu Lim tersebut pergi dengan begitu saja.

“Jiak-hiap Cianpwee,” katanya sesudah memikir lama juga, “Bukannya aku tak mau mengangkat kau sebagai guru, tapi aku mempunyai musuh yang bukan main lihaynya, karena itu sebelum guruku meninggal menyerahkan sebilah pedang ini, di dalamnya terdapat sesuatu pesanan, boleh apa tidaknya aku berguru lagi, harus melihatnya dulu pesanan itu.”

Sehabis berkata ia menyerahkan pedang itu.

Begitu jiak-hiap Kong Tat, mengawasi pedang itu, ia berseru kaget sambil berkata: “Kiranya kau muridnya Bu Tong Pay! Kudengar kabar Cie Yang Cinjin meninggal dunia sesudah- bertanding silat di danau See Ouw. Kini aku baru tahu jelas sesudah menemui kau yang menjadi muridnya.”

Sedangkan hatinya merasa heran kenapa pedang itu tidak dicabutnya sendiri untuk dilihat?

Per-lahan2 ia menarik gagang pedang, pikirnya dengan mudah pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam kena dicabut. Tak kira sedikit bergemingpun tidak, herannnya men-jadi2, cepat ia menyalurkan tenaga dan menariknya keras2, pedang itu tetap tidak bergerak dari sarungnya, ia menjadi jengah sendiri.

Seluruh gerakannya ini dilihat Kiu Heng dengan tegas, Ia merasa heran pedang itu kenapa tidak tercabut juga?

Jiak-hiap Kong Tat merasa penasaran, seluruh tenaganya dikumpulkan, lalu ia berseru keras sambil menggentak pedang dari serangkanya, berbareng dengan itu terdengar bunyi “njlung” sekali, menyusul tubuh Jiak-hiap jatuh terduduk di tanah. Di dahinya terlihat keluar keringat dingin, sesudah lama baru Ia bangun lagi.

“Ko-jie,” katanya mengubah sebutan, terlebih halus, “Sekali coba ini membuat aku hilang muka, tapi aku tak menyalahkan dirimu, karena perbuatanku sendirl. Tapi aku tak habis mengerti, mengenai rahasia apa yang tersembunyi pada pedang ini? Mungkinkah seluruh kekuatan dari Cie Yang Cinjin ditinggalkan dalam pedang ini?”

“Mungkinkah kekuatan itu disalurkan dan ditaruh dalam pedang?” tegur Kiu Heng dengan heran.

“Ya, sudah pasti bisa, karena itu tak salah lagi kalau kuduga begitu! Aku sudah menariknya dengan sekuat tenaga, tapi kena dilawan tenaga sembunyi yang lebih besar, sehingga aku terpukul sampai jatuh terduduk! Di samping itu sebagian dari tenagaku sudah masuk juga ke dalam pedang, inilah rejekimu yang besar. Kini sudah kepalang tanggung aku ingin menjadikan kau seorang yang lihay!” katanya.

Sehabis berkata jiak-hiap Kong Tat segera memutarkan pedang berikut dengan serangkanya, lalu menusuk dengan perlahan. Tapi sinar kuning keemasan segera memancar terang dan menyilaukan pandangan mata.

Kiu Heng menjadi kaget. Inilah ilmu pedang yang bukan main hebatnya.

Dilihatnya terus Jiak-hiap memainkan pedang, tiap jurusnya mengandung ilmu yang rapi dan ber-ubah2 secara menakjubkan.

Kiu Heng mengingatnya sejurus demi sejurus apa yang dipertunjukkan itu, sedangkan permainan pedang jiak-hiap sudah berubah dari perlahan menjadi cepat. Waktu sampai pada taraf yang tertingginya. dengan tiba2 jiak-hiap melancarkan perubahan yang tidak di-duga2. Sinar pedang tak ubahnya dengan lembayung senja, memancarkan sinar kemilauan memenuhi angkasa.

Ilmu pedang jiak-hiap Kong Tat ini meliputi tujuh jurus yang dapat berubah menjadi duapuluh delapan permainan. Tapi sangat aneh dan cermat, lincah tak bertara. Dari jurus perlahan sampai pada jurusnya yang cepat mengandung kedahsyatan yang luar biasa.

Dengan napas ter-sengal2 jiak-hiap Kong Tat menghentikan permainannya.

“Ko-jie, bilamana tidak tiga sampai lima tahun berlatih lagi, tenagaku yang dihisap pedang tidak bisa kembali lagi. Ilmu Pedang ini bernama Cit Coat Kiam (tujuh pedang maha hebat). Kau jangan memandang ringan ilmu yang terdiri dari tujuh jurus ini, karena mengandung kekuatan dahsyat yang tidak bertara. Karena itu bernama Cit Cuat Kiam, asal kau bisa memainkan dengan mahir baru bisa menghargai kelihayannya.”

Kiu Heng menghaturkan banyak terima kasih atas kesudian jiak-hiap memberrikan pelajaran pedang.

“Aku sangat heran kekuatan Cie Yang Cinjin demikian hebat, kenapa dalam tiga kali memperebutkan Bu Lim Tiap selalu gagal? Benar2 soal yang aneh!” kata Kong Tat.

“Ko-jie, sebaiknya sekarang kau pertunjukkan ilmu yang kumainkan tadi, kuyakin kau bisa mengingatnya, kalau ada yang salah, boleh kubetulkan!”

Tanpa diminta dua kali, Kiu Heng mulai memainkan ilmu Cit Coat Kiam yang diingatnya.

Begitu ia selesai mempertunjukkannya, Kong Tat menjadi girang. Ia sudah habis tak sangka, si anak sekali lihat bisa memainkan ilmunya. Betul masih terdapat kekurangan2, tapi tidak berarti apa2. Ia membenarkan atas kesalahan kecil itu.

“Kau kini sudah bisa mengingat dengan baik, tapi kau jangan lupakan Cit Coat Kiam dimainkan berdasarkan ketenangan, ganas, cepat. Kuharap kau dapat mempelajarinya dengan tekun dan mengingat terus kata2ku ini,” kata Kong Tat sambil menarik napas.

Ini bukan tarikan napas duka, melainkan ia merasa menyesal seorang anak yang demikian berbakat tidak berjodoh menjadi muridnya.

“Hari sudah hampir senja, aku harus berlalu,” katanya lagi, “Pek-bu-siang sudah meninggal dunia, orang2 kalangan hitam yang menjadi anak buahnya tidak sedikit. Bilamana soal kematiannya tidak teruar masih cukup bagus, bilamana teruar, mungkin kau akan menghadapi banyak kerewelan yang tidak diinginkan. Tapi kau seorang anak yang baik, pasti akan dilindungi oleh yang maha kuasa.”

Sehabis berkata segera ia berlalu dengan cepat.

Dengan pandangan mata simpatik dan terima kasih, Kiu Heng menghantar kepergian jiak-hiap Kong Tat.

Malam mendatang, Kiu Heng dalam suasana girang yang tidak terhingga, membuatnya lupa makan dan lupa tidur. Ia memainkan terus ilmu yang baru diperolehnya tanpa jemu2nya.

Tengah asyiknya ia mengulangi pelajarannya, datang dua orang tua berbaju hitam, mereka berbadan gemuk dan kate, sehingga lebih surup disebut buntet, pandangan mereka berdua sangat tajam dan ber-api2 seperti mau mencaplok orang saja.

Kiu Heng menjadi kaget, cepat2 menghentikan latihannya, pedangnya disimpan di punggung, karena kuatir dirampas dua orang kate itu.

Dua orang tua mendesak semakin dekat dengan sikap jahat.

“Kamu manusia macam apa? Untuk apa datang ke sini?” tegur Kiu Heng dengan berani.

Orang tua yang di sebelah kiri, memandang pada Kiu Heng sambil bersenyum kering. “Hei bocah,” katanya. “Namamu siapa?”

“Kau tak perlu tahu!”

“Kau tentu murid Bu Tong Pay bukan?”

“Ya bagaimana, tidak bagaimana?”

Orang tua itu segera menggampar, mendapat jawaban kasar.

Kiu Heng berhasil berkelit tapi pipinya merasakan panas yang pedas. Ia kaget dan gusar, segera melancarkan jurus Kua Pou Ten San (melangkah besar mendaki gunung) menghajar dada lawannya dengan kepalan, sedangkan mulutnya turut memaki: “Aku heran di atas dunia ada dua bangsat kejam seperti kamu! Kamu kira aku mudah dihina?”

Orang tua yang menyerang Kiu Heng mengegos, lalu ter-bahak2.

“Dari gerakanmu ini kau sudah terang dari Bu Tong Pay, kalau ingin hidup lekas bertekuk lutut dan Koutou (membenturkan kepala ke-tanah) tiga kali, lalu menurut perintahku!”

“Bert! bert! bert!” tiga kali Kiu Heng melancarkan kepalannya, sungguh pun tenaganya kecil, cukup membuat pasir dan debu berhamburan.

Orang tua itu tergentar mundur dua langkah. Begitu mendapat hasil, keberanian Kiu Heng semakin men-jadi2.

“Bocah, kau tidak mengenal gelagat, tahun depan pasti hari ulang tahun kematianmu. Bilamana tidak, jangan sebut kami Ek Lam Siang Sat!” serunya si orang tua sambil menyerang.

Sekali ini mereka melakukan kurungan dari kiri dan kanan. Menjadikan pertarungan satu lawan dua.

Kiu Heng menjadi kaget begitu mendengar julukan kedua orang tua itu, karena ia pernah mendengar ceritera gurunya bahwa Ek Lam Siang Sat adalah dua saudara kembar, bedanya yang tuaan berwajah hitam yang mudaan berwajah merah. Sang kakak Lauw Siong, mempelajari ilmu Tiat Sat Ciang, si adik bernama Lauw Pek mempelajari ilmu Cee Sat Ciang, sehingga kalau ditegasi telapak tangan Lauw Siong hitam, sedangkan telapak tangan Lauw Pek berintilan seperti berpasir. Bilamana seseorang terkena serangan tangan mereka yang beracun segera akan mati.

Kini Kiu Heng diserang dengan lengan2 beracun dari dua jurusan kiri dan kanan, tentu saja menjadi repot. Ia seorang beradat angkuh dan keras kepala tidak termakan gertakan, biar ia tahu musuhnya lihay sedikitpun tidak menjadi gentar, de ngan lincah ia melawan terus.

Dalam sekejap pertarungan sudah berjalan sepuluh jurus. Kiu Heng dapat mengimbangi kedua musuhnya dengan pukulan2 Bu Tong Pay dan kelincahannya, ia mencelos ke sana ke mari, sebentar ke depan sebentar lagi ke belakang. Dalam ketika ini dua bersaudara Lauw belum bisa apa2 terhadap musuhnya yang masih kecil.

Tiba2 Lauw Siong tertawa keras.

“Jie-tee kita kena perangkapnya, kita tidak selincah dia, untuk apa ber-putar2 terus. Gunakanlah ketenangan untuk mematikannya.

Mereka segera mengganti siasat, membuat Kiu Heng mati jalan. Untung ia ingat pada pedangnya dengan tiba2, cepat2 dihunusnya dengan segera dipergunakan dengan ilmu Cit Coat Kiam, dan menyerang ke muka sambil menangkis ke belakang, menghajar ke kiri mengegos ke kanan, dalam waktu tak lama kembali Ia berhasil membuat repot kedua musuhnya yang bertangan kosong.

Pertarungan mereka berlangsung terus, Kiu Heng mulai merasa letih, pedang di tangannya terasaa semakin berat, timbul rasa laparnya yang tiba2 terus membuanya semakin lelah. Ia ingin kabur, tapi kepungan musuh tidak bisa dipecahkan dengan mendadak. Ia repot dan terdesak, tiba2 mendengar orang berkata dengan garing.

“Lauw Siok-siok, taruhlah belas kasihan!”

Lengan Lauw Siong yang bau amis hampir mengenai Kiu Heng, lalu ditariknya cepat2 setelah mendengar seruan tersebut.

Yang datang itu adalah seorang gadis berusia empat-lima belasan tahun, herannya Ek Lam Siang Sat menaruh hormat sekali kepadanya.

“In Kouwnio, kenapa malam2 begini meninggalkan lembah dan datang ke puncak ini, ada urusan pentingkah?” tanya Lauw Song.

Kalian mau mengurus aku?” kata si gadis. “Hai, perlu apakah, kenapa kamu berdua mengerubuti seorang anak kecil?”

Dalam keadaan malam, sinar matanya tak ubahnya bagaikan bintang yang berkelip-kelip, menekan dua gembong iblis yang kenamaan yang tak bisa menjawab.

“Bagus ya!” si gadis membentak lagi, “Kamu tentu tanpa sebab mengganggu rakyat baik2. Awas, sebentar kuadukan kepada ayah, pasti kamu akan dibuat cacat dan diusir dari lembah.”

Ketakutan Ek Lam Siang Sat men-jadi2, dengan meratap mereka meminta agar si gadis jangan melaporkan tentang kelakuan mereka.

“Kamu harus berkata terus terang, aku baru bisa mengampuni,” kata si gadis.

“In Kounio, kami terpaksa berkelahi dengannya karena soal sejilid buku.”

“Buku apa yang demikian berharga sehingga kamu maui sampai berkelahi? Katakan lekas!”

“In Kounio, kalau kau mau buku itu aku bisa merampasnya dari bocah ini, tapi jangan kau beri tahu kepada tia-tiamu!” kata Lauw Siong.

Kiranya dua saudara Lauw mendengar kabar dari orang2 di rumah makan Cui Hong Lauw bahwa Thian Lam Sam Cee akan mengadu kekuatan dengan Pek-bu-siang, tapi kedatangan mereka sudah terlambat, sehingga apa yang ingin disaksikan tidak pernah dilihatnya. Tengah mereka uring2an, dilihatnya Kiu Heng memegang buku Pai-kut-sin-kang. Segera juga mereka ingin merampas, tapi keburu datang jiak-hiap Kong Tat, sehingga mereka membatalkan dulu niatnya.

Begitu Jiak-hiap berlalu, mereka segera datang menyerang kepada Kiu Heng tanpa menyebutkan alasannya, pikir mereka sesudah berhasil menghajar baru merampas buku itu, lalu mengubur si anak muda.

“Hei, mereka mengatakan kau mempunyai buku, coba keluarkan untuk kulihat!” kata si gadis seraya mendekati.

Kiu Heng merasa kurang senang atas pertanyaan si gadis yanq tidak sopan, matanya menjadi mendelik, alisnya berdiri, ia menatap tanpa menjawab.

“Hm, kau anak kurang ajar, jangan harap dapat jawaban dengan sikapmu yang kurang ajar,” pikirnya sambil buang muka.

Si gadis bertabiat keras kepala, tapi paling menghargai pada orang2 yang bersikap keras juga. Ditatapnya Kiu Heng yang berbaju compang-camping, ia ingin membalik badan, tapi wajah keren penuh semangat membuatnya tergerak, timbullah rasa sukanya seketika.

“Lauw Siok-siok, kamu pergilah sekarang juga! Aku tak akan mengadukan kepada tia-tia! Tapi kau harus memanggil datang Ping Moy! Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih,” kata si gadis separuh mengusir.

“In Kounio, dapatkah buku itu kau miliki?” tegur Lauw Pek.

“Jangan banyak rewel, bilamana mungkin pasti aku takkan membuatmu kecewa!”

Ek Lam Siang Sat segera membungkukkan tubuh dan berlalu.

“Hai! Siapa namamu?” tanya si gadis.

Kiu Heng menganggap angin berlalu atas pertanyaan si gadis, sampai tiga kali ia ditegur masih tidak menyahut. Agaknya si gadis hilang sabar, segera menghunus pedang yang berupa belati.

“Jika kautetap tidak menjawab, jangan sesalkan aku berlaku kurang ajar!”

“Apa yang harus kau marahi? Kau pirkir aku takut?” kata Kiu Heng sambil memalangkan pedangnya di dada.

“Kukira kau seorang gagu, kiranya bisa bicara! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku sampai nama pun tak mau memperkenalkan?”

“Kau sendiri manusia macam apa? Sengaja tidak kujawab pertanyaanmu, lalumau apa? Kalau jago, mari kita tarung, untuk apa berlagak yang tidak laku?”

“Kau tidak menjawab akhirnya toh menjawab juga, perlu apa bersikap keras lagi? Soal tarung adalah soal yang mengherankan, belum pernah ditantang orang! Tapi kau mengatakan tidak takut, akan menghajarmu sampai kau merasa takut kepadaku!”

Sehabis berkata tubuhnya segera bergerak, belatinya memainkan kembangan ilmu silat, lalu menikam keras hati dengan kecepatan yang sukar dikatakan.

Dengan cepat Kiu Heng mengegos seraya menyerang, sehingga perkelahian menjadi seru dengan mendadak, sepuluh jurus berlalu. Tahu2 Kiu Heng terdesak mundur beberapa tombak. Hal ini membuatnya berkeringat dingin. Belum sempat untuknya memperbaiki diri, musuhnya sudah merangsang dengan gencar dari kiri kanan tak ketentuan.

Pandangan matanya menjadi kabur, ia kewalahan sekali. Lalu pedangnya pun kena dipukul jatuh.

“Menyerah tidak? Kalau tidak mari kita lanjuti lagi!” bentak si gadis.

“Tidak nyerah! Boleh berkelahi lagi, aku Kiu Heng adalah manusia yang tidak takut gebukan maupun bacokan! Hm, kau lihatlah nanti, sesudah ilmuku rampung, aku bisa mencarimu.”

“Kiu Heng! Kiu Heng! Aneh! Suatu nama yang buruk dan beracun! Aku tak senang mendengar nama ini, bagaimana kalau kuubah!” kata si gadis.

“Eh, apa yang kau katakan barusan? Mau mencariku sesudah rampung dalam pelajaranmu, betulkah kata2 ini?”

Kiu Heng memungut senjatanya.

“Kenapa tidak? Aku akan kembali untuk membalas penghinaan yang kuderita hari ini, apa kau takut?”

“Urusan nanti itu perlu apa dibicarakan sekarang, yang penting aku harus menghajarmu sampai tunduk dulu!”

Tiba2 terdengar suara panggilan.

“In In……… In In………”

Si gadis kaget, cepat menarik serangannya.

“Ayahku memanggil! Aku harus datang. Kiu Heng sesudah ilmu silatmu rampung, kau boleh datang lagi mencari balas, atau mencari apa kek. Aku menantikan kedatanganmu!”

Panggilan nama In In semakin gencar terdengarnya.

“Aku harus berlalu, kau lekas tinggalkan gunung ini. Ingat kelak di kemudian hari,

kunantikan kau di sini……..”

Sehabis berkata segera ia turun gunung tak terlihat lagi.

Kiu Heng merasa aneh menghadapi gadis itu, begitu si gadis hilang dari pandangannya, tanpa terasa mulutnya berkata: “In In…”

Ia tidak habis pikir kenapa bisa demikian? Bukankah barusan mereka habis tarung dengan sengit, bertengkar mulut dan berpisah secara begitu saja.

Sesudah ter-pekur2 ia pun turun dari Oey San pada keesokan harinya.

***

Suatu pagi di akhir musim semi, cuaca terang cerah, langit biru tak berawan.

Di perbatasan antara Propinsi Ciat Kang dan An Hwee terdapat sebuah bukit yang agak tinggi, bernama Pek Tio Hong. Di situ terdapat batu hijau yang datar dan licin. Pagi ini terlihat seorang anak tanggung tengah duduk di batu itu sambil bersemadi, agaknya tengah menghirup udara pagi yang segar. Sedangkan lengannya pun memegang pedang panjang yang samar2 memancarkan sinar emas.

Anak ini bukan lain dari Kiu Heng, ia datang ke bukit ini sudah sepuluh hari. Sejak meninggalkan Oey San pikirannya tidak seberapa cemas seperti Ia turun dari Bu Tong Pay. Ia tahu untuk memperlajari ilmu yang diperolehnya dari jiak-hiap, dan kitab dari Thian Lam Sam Cee harus mempunyai tempat sunyi untuk belajar.

Di samping itu, sebelum gurunya meninggal pernah memaksa dirinya mempelajari semacam ilmu. Waktu itu dalam pandangan Kiu Heng ilmu itu tidak ada gunanya. Cie Yang Cinjin memakinya bodoh. Hal ini masih teringat terus olehnya, bahwa gurunya memakinya bodoh hanya sekali2nya, kini kalau direnungkan kembali gurunya itu memaki betul.

Ilmu itu bernama Lwee Put Kui Cin (dari keaslian menghisap kemurnian) digunakan menyedot isi sesuatu benda untuk menambah kekuatan diri sendiri. Pelajaran Bu Tong Pay sangat terkenal dengan meminjam tenaga memukul musuh, lalu digubah menjadi Lwee Put Kui Cin, sehingga di kalangan kebatinan sangat terkenal.

Kiu Heng mempelajari Ilmu Sam-cee-pan-guat dan Cit-coat-kiam, di samping itu ia berniat menggunakan Ilmu Lwee Put Kui Cin untuk menyedot kekuatan di atas pedang, untuk menambah kekuatannya sendiri. Dalam hal yang belakangan ini bukan soal mudah yang dapat dijalankan sehari dua hari, tapi harus lama dan tekun.

Dalam sepuluh hari yang lalu, setiap pagi Ia belajar Ilmu Lwee Put Kui Cin, lalu mempelajari Cit-cuat-kiam, sorenya memburu binatang untuk menangsel perut, malamnya melatih Sam-cee-pan-goat yang terdiri dari dua belas jurus. Sedangkan buku Pai Kut Sin Kang sedikit pun tidak pernah dipelajarinya. Tanpa disadari lima bulan sudah dilalui dengan cepat!

Pada suatu hari, tengah asyiknya suara angin bergedebaran, dari atas bukit tampak berkelebat sesosok tubuh yang cepat dan aneh luar biasa, menandakan ilmu ginkangnya sudah sampai di batas sempurna.

Dengan ringan orang itu hinggap di atas batu. Dengan tertawa kering yang menusuk pendengaran, Ia menatap si anak muda.

Kiu Heng menjadi kaget, ia mengawasi dengan seksama. Orang itu sudah tua, mukanya merah dan berejulan seperti tumbuh bisul. Alisnya pendek dan mata sipit. Hidungnya lancip dan mulutnya kecil. Di bawah dagunya tumbuh jenggot kambing yang jarang.

Wajah yang demikian tak ubahnya seperti daging merah yang masih segar, membuat yang melihat menjadi kaget.

Kiu Heng menjadi kaget, hampir-hampir ia berteriak “Aduh!” untung sebelum suara seruannya diucapkan si orang tua sudah mendahului tertawa lagi, sehingga Kiu Heng menggigil dan urung berteriak kaget.

Dapat dikatakan suara tertawa si orang tua sudah menolong jiwa Kiu Heng. Jika tidak, tentu Kiu Heng akan berteriak kaget, dengan demikian si orang tua pasti akan mencabut nyawa kecilnya.

Karena orang tua itu sejak kecil berparas buruk, sering mendapat penghinaan dan hidup diasingkan, sesudah mempelajari ilmu, Ia menetapkan suatu aturan, barang siapa melihatnya kaget segera akan dibunuh mati.

Karena hal ini banyak sekali jumlah orang2 yang mati konyol di bawah tangannya karena tidak mengetahui peraturan si orang tua. Hal ini sudah sepuluh tahun lebih, sudah tentu Kiu Heng tidak mengetahuinya.

Si orang tua sengaja mencegah Kiu Heng membatalkan teriakannya, karena memandang si anak muda seorang yang berbakat baik, dan enggan melukainya.

“Siapa kau? Siang2 berlagak jadi setan me-nakut2i orang, kau kira aku bocah berusia tiga tahun yang akan lari tunggang langgang?” bentak Kiu Heng.

“Bocah, kau bukan anak berumur tiga tahunkah? Mungkinkah sudah tiga puluh tahun? Tampangmu yang masih bau susu ibumu, kalau bukan tiga tahun, paling banyak lebih beberapa tahun bukan?”

Semakin si orang tua berkata, kekagetan Kiu Heng semakin hilang.

Ia mengetahui bahwa orang tua itu bukan menggunakan kedudukannya untuk me-nakut2i, tapi memang sewajarnya berparas buruk.

“Lo Cianpwee, dapatkah memperkenalkan nama? Boanpwee Kiu Heng memberi hormat pada cianpwee!”

“Barusan kusebut bocah, kau berlagak tua, kini apa2an memakai Cianpwee, Boanpwee segala, aku tidak menerima hormatmu ini. Aku tidak bernama, untuk kau tahu, akupun tidak mau tahu siapa namamu. Yang paling baik kita tidak berhubungan!”

Perkataan si orang tua ini hampir2 membuat Kiu Heng tertawa, tapi si orang tua sudah bersenyum dingin.

Sekali ini nadanya lebih dingin dan menusuk, membuat jalan darah Kiu Heng seperti beku. Ia terkejut sambil mundur2.

”Kenapa selagi berkata baik2 orang tua ini berbuat galak lagi!” pikirnya.

“Siapa yang sembarangan naik ke Pek Tio Hong, kalau sudah datang kenapa tidak menunjukkan muka, men-colong2 dan ber-sembunyi2 seperti maling, haruskah kuseret keluar?”

Berbareng dengan habisnya Ia berkata, dari balik pohon besar mencelat keluar seorang berumur empat puluh tahun lebih. Dengan hormat sekali ia membungkukkan tubuh pada si orang tua.

Kiu Heng sadar bahwa senyum dingin itu bukan ditujukan kepada dirinya.

“Lo Cianpwee,” kata si orang pertengahan umur sambil berlutut, “kuminta kau kecualikan aku dan terimalah aku menjadi muridmu. Aku sudah merasa beruntung!”

“Lagi2 kau, kau si orang tak berguna, kenapa kau mau menjadi binatang ter-bungkuk2 terus di depanku? Sudah kukutakan, asal kau bisa tahu namaku dan ilmu yang kupelajari segera memberikan pelajaran. Kini kau datang tanpa mengetahui syarat2 yang kuberikan, lekaslah kau enyah dari sini. Bilamana tidak, akan kuhajar!”

Agaknya laki2 pertengahan umur itu sudah beberapa kali menerima kerugian, buru2 mencelat dan turun ke bawah gunung, gerakannya yang cepat dan lincah ini membuat Kiu Heng heran sekali.

“Dari Ginkangnya yang demikian tinggi, ia bisa menggolongkan diri dengan jago2 Kang Ouw kelas satu, kenapa ia me-ratap2 ingin belajar padamu? Aku tak habis mengerti!”

“Ini namanya perkataan anak umur tiga tahun! Kau sebagai kodok di dalam tempurung yang tidak mengerti luasnya dunia, apa yang kau bisa mengerti? Orang2 Kang Ouw kelas utama, hanya beberapa orang yang memiliki ilmu tinggi, lagi pula dari sudut apa kau menilai orang sebagai jago kelas utama? Bocah, coba kau saksikan Ginkang ini, bagaimana?”

Habis berkata orang tua itu tahu2 hilang dari pandangan mata, Kiu Heng yang mendelik pun tidak tahu dengan cara apa si orang tua pergi? Bahkan suara angin pun tidak terdengar. Ia heran dan kagum bercampur aduk.

“Bocah, apakah kau ingin belajar ilmu kepandaianku? Kalau benar, lekaslah kau pergi dari sini, aku tidak bisa menerima murid!” kata si orang tua dari jauh sekali, sehingga suara itu terdengar seperti nyamuk meng-iang2.

“Oh, ilmunya tinggi betul,” pikirnya, tapi ia seorang anak beradat angkuh yang tidak kena dimakan kekeraaan, segera menjawab keras: “Kau kira ilmu yang kau pertunjukkan itu sudah luar biasa? Aku datang ke sini untuk belajar sendiri, jangan kuatir diratapi untuk beri pelajaran padaku, sesudah latihan selesai aku bisa berlalu sendiri tanpa diusir!”

Kiu Heng tidak mendapat jawaban, waktu ia menoleh tampak orang tua itu sudah duduk di batu yang dipergunakannya melatih ilmu.

“Tak heran batu itu demikian licin dan mengkilat seperti kaca, kiranya karya si setan tua ini, kalau begitu batu itu sudah puluhan tahun di-usap2!” pikirnya.

Tiba2 dari hidung lancipnya si orang tua keluar dua asap putih, berkumpul tidak buyar, panjangnya beberapa dim, cepat keluar masuk seperti anak kecil memainkan ingusnya.

Kiu Heng kaget, Inilah ilmu Bu-siang-kie-kang (pelajaran hawa yang tidak ada tandingannya) yang sudah sampai puncak tertinggi, dapat digunakan membunuh orang sekehendak hati dalam jarak beberapa meter.

Ia ingat orang tua ini akan memberikan ilmunya kalau dapat menyebutkan ilmunya dan gelarnya.

Kiu Heng ingin sekali mempelajari ilmu itu tapi tidak dapat menyebutkan pelajaran apa yang dinamakan Bu-Siang-kie-kang, ia pernah mendengarnya, tapi tidak bisa ingat dalam waktu sekejap.

Sesudah sejam, asap putih itu segera berhenti, agaknya si orang tua sudah menghentikan latihannya. Kiu Heng pun tidak mau nonton terus, waktu sangat berharga untuknya, segera Ia berlatih dengan pedangnya. Dalam beberapa hari ini Ia sudah mempelajari Ciat-cuat-kiam dengan mahir, dan dapat memainkannya sesuka hati.

Tiba2 tampak bayangan hitam masuk ke dalam sinar pedang, Kiu Heng kaget, tahu2 pedangnya kena dirampas orang. Kiu Heng tahu bayangan itu adalah si orang tua.

Tampak orang tua itu tengah mengerutkan kening dan mengusap-usap pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam, Ia menjadi girang.

“Lo-kui (setan tua), sekali ini kau akan terjebak, asal kau berani mencabut pedang, kau tidak bisa lari lagi!” pikirnya.

Tiba2 si orang tua membuang pedang ke tanah, seperti kena dipagut ular kagetnya.

“Bocah, kiranya kau ingin mengambil Ilmu Im-kangku yang murni, Ha! ha! aku tidak terjebak, aku tidak terjebak!”

Padahal siang2 ia sudah terjebak.

Sewaktu Kiu Heng melatih ilmu, si orang tua merasa heran kenapa pedang itu digunakan dengan serangkanya, Ia memaki Kiu Heng seorang anak yang malas, sampai pedang pun tidak dicabut dari serangkanya.

Semakin dilihatnya semakin tak sedap, karena itu ia mengambil pedang itu dengan tujuan mencabutnya dari dalam serangka.

Tak kira sesudah ia mengusap dengan tenaga, pedang itu tak keluar juga, segera Ia sadar di dalamnya tentu mengandung rahasia, cepat2 dibuangnya.

Kiu Heng mengambil pedangnya. Ia menyesal si orang tua tidak terjebak.

“Kalau kau tidak terjebak. menyatakan dirimu masih merasa takut, dari sini dapat dinilai ilmu yang kau miliki tidak seberapa hebat! Apakah kau masih mau menyombongkan diri?” ejek Kiu Heng.

Si orang tua menjadi jengah mendapat jawaban demikian, ia mengedipkan mata menghilangkan kejanggalan, lalu ter-bahak2.

“Bocah, kau jangan memanasi hatiku, kubilang tidak terjebak tetap tidak terjebak. Kau jangan menganggap pedangmu luar biasa, coba pukulkan kepada batu itu, bilamana bisa membuatnya semplak, aku menyerah padamu!”

Sekali ini Kiu Heng yang kaget, ia sudah menduduki batu itu ber-bulan2 tapi tidak melihat keanehannya, mungkinkah mengandung sesuatu yang luar biasa?

Dengan dua tangan ia memegang dan menghampiri batu itu.

“Hal ini kau yang mengatakan, kau jangan ingkar pada janji!”

“Bukan saja aku menyerah padamu, bahkan kau mau apapun aku akan memberikannya! Ha ha ha!”

“Tring!” sekali dengan nyaring, Kiu Heng sudah menghajar batu itu, akibatnya ia merasakan kedua tangannya sakit dan ngilu seperti patah. Pedangnya sendirl terlepas dari tangan, sedangkan batu itu tetap utuh!

“Ha ha ha! Anak kecil, anak kecil,” kata si orang tua.

”Kau harus tahu, lima belas tahun yang lalu, aku di atas batu ini melatih diri. Pada suatu hari tengah asyiknya aku mengeluarkan hawa Im sepanjang tiga elo dari lubang hidungku, dari atas puncak datang seorang gadis berbaju merah. Ia melihatku tengah melatih ilmu, segera membuka seluruh bajunja. dan hanya ditutup dengan kain jarang yang tembus ke dalam, ia me-mutar2kan tubuh dengan laku yang menggiurkan.

Seumur hidupku belum pernah mendekati wanita, karena itu hatiku menjadi guncang dan lupa daratan sehingga sesat jalan. Untuk menjaga diriku dan anggota tubuhku, ia memaksa aku mengeluarkan seluruh kepandaianku dan disebar di atas batu ini. Kini sudah lima belas tahun, sedikit demi sedikit aku bisa mengambil kembali kekuatanku yang hilang dengan ketekunan yang luar biasa, tapi kalau dibanding dengan dulu masih jauh sekali! Aku mencoba mengambil kembali tenagaku dari dalam batu, tapi selalu berhasil nihil!”

Sehabis berkata ia menarik napas panjang dan tidak melanjutkan kata2nya, ia berpaling kepada Kiu Heng lalu turun gunung sambil menundukkan kepala.

—oooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: