Bu Lim Tiap 02

Bu Lim Tiap (Pusaka Rimba Hijau)

Dituturkan Oleh : TSE YUNG

SCAN IMAGE : Lunjuk’s Corner dan Arman
DjVU : Dewi KZ

JILID II

Kiu Heng merasa tertarik pada penuturan si orang tua, begitu ia berlalu segera Kiu Heng duduk di atas batu mencoba kekuatan yang terkandung di dalamnya. Tak kira, begitu ia menyalurkan tenaga melakukan tekanan, tubuhnya mental sejauh tiga tombak, bilamana ia tidak mempunyai persiapan terlebih dulu, pasti akan terpental terlebih jauh.

Waktu ia duduk lagi kedua kalinya di atas batu, Ia diam tidak berani men-coba2 lagi. Ia melancarkan ilmu Lwee Put Kui Cin pada dua tangannya, lalu meng-usap2 batu itu. Tak selang berapa lama, kedua telapak tangannya terasa panas, tapi hatinya merasa nyaman. hawa panas itu dari telapak tangannya tersalur kepada pusarnya, lalu terpencar ke seluruh anggota tubuhnya.

Perjalanan hawa dingin hanya berlangsung sepemakan nasi. Lalu Ia menarik tangan dan melakukan semadi, Ia menyatukan tenaga yang sudah ada di dalam tubuhnya dengan hawa yang diambil dari dalam batu.

Demikianlah ia mengerjakan ilmu Lwee Put Kui Cin ber-bulan2 lamanya pada batu hijau dan pedang yang dimilikinya, sehingga di dalam tubuhnya mempunyai kekuatan Yang yang keras dari pedang Cie Yang Cinjin dan mempunyai kekuatan Im yang murni darl batu itu.

Dalam waktu yang dilalui itu, Ia belajar dengan tekun segala ilmu yang sudah pernah dipelajarinya. Sehingga di luar pengetahuannya sendiri, ia sudah memiliki ilmu yang maha tinggi.

Sewaktu Ia berlatih seperti sedia kala, orang tua berwajah merah itu kembali datang.

“Hai bocah, kau belum pergi?” tegurnya.

Sedangkan kedua matanya sangat tajam dan penuh rasa heran, Ia melihat terus pada Kiu Heng.

“Lima bulan kita tidak bertemu, apakah kau baik2 saja?” tegur Kiu Heng sambil turun dari batu hijau.

Orang tua itu seperti tidak mendengar perkataan Kiu Heng, ia menghampiri batu hijau lalu mengusap per-lahan2. Ia menjadi get sekali. Mukanya yang merah menjadi pucat pasi.

“Kau si bocah jahanam, kau datang bukan belajar ilmu tapi kau mencuri ilmu. Nah, rasakan pukulanku!”

Sehabis berkata segera Ia menghajar pada Kiu Heng.

“Kenapa ia mengatakan aku mencuri ilmu?” pikirnya.

Tapi pukulan si orang tua tidak mengijinkannya berpikir lama2. Ia berkelit dan mencelat. Anehnya sekali mengenjot tubuh, Ia bisa merapung lima tombak lebih, padahal pada hari-hari biasa hanya bisa setombak.

“Anak tak berguna, baru kucoba saja sudah ketakutan setengah mati. Mari kita mengadu tangan, kuingin tahu kekuatanmu sudah sampai di batas apa?”

“Lokui, lebih baik kau jangan men-coba2 adatmu yang buruk ini membuat aku tak mengerti. Kalau aku jadi muridmu, barang kali bisa mati dongkol!” makinya di dalam hati.

Sebelum si orang tua melakukan percobaannya lagi, dari bawah bukit tampak awan tebal membubung tinggi, diiringi suara peletak peletik yang susul menyusul, burung2 dan binatang2 hutan berserabutan lari, membuat mereka menjadi kaget.

“Bangsat, anjing berhati hitam, barusan kulihat kau meng-umpat2 di bawah bukit, kukira kau masih ingin berguru kepadaku, dan hatiku menjadi kagum atas ketekunanmu, lalu ingin memberikan tiga jurus pelajaran kepadamu, agar kau merasa puas. Tak kira kau kecewa dan menjadi gila, berani melakukan perbuatan yang biadab! Hm, jika tidak kubunuh, jangan panggil lagi aku Ang Hoa Kek si jago Bu Lim,” katanya seraya turun gunung. Kiu Heng mengikuti dari belakang.

Sebelum sampai di lereng bukit, asap tebal sudah menyerang mereka, lalu satu sama lain tidak bisa melihat. Kiu Heng menjadi kaget, karena merasakan matanya pedih dan kepalanya pusing sesudah mencium asap itu.

Cepat2 ia kembali ke atas bukit, tenaganya sudah hampir habis, ia kecapaian sendiri.

“Lekas kau duduk bersemedi, salurkan ilmu memulihkan pernapasan. Kau harus tahu asap itu beracun sekali,” kata Ang Hoa Kek yang sudah kemball terlebih dulu.

Tanpa ayal lagi, Kiu Heng memeramkan matanya dan memperbaiki jalannya pernapasan. Ia baru kena racun, jadinya tidak parah, begitu berdiam tak berapa lama tenaganya segera pulih kemball. Tapi ia menjadi kaget sekali waktu membuka mata kembali, karena asap beracun itu sudah semakin mendekati mereka.

“Celaka!” serunya.

“Hm, bocah kau takut ya?”

“Takut? Tiada yang kutakuti di atas dunia ini!”

“Asap beracun ini pun kau tidak takuti? Coba kau pikir, adakah jalan untuk turun gunung?”

Kiu Heng diam, ia sudah berbulan-bulan tinggal di atas bukit, kemana pun sewaktu mencari kelinci atau ayam hutan ia sudah menjelajahi selebar gunung itu. Ia tahu tak ada jalan lagi untuk keluar, sedangkan asap sudah semakin mendekat.

Ang Hoa Kek tahu si bocah tidak mempunyai daya sehingga tidak menjawab, cepat Ia berkata: “Kini tinggal satu jalan yang masih bisa dilalui. Terkecuali aku, tidak ada orang kedua yang mengetahui. Kalau kau mau pergi denganku, kau harus memenuhi dulu syaratku. Terkecuali kau seorang yang boleh masuk, se-lama2nya tidak boleh membawa orang kedua masuk ke situ. Kau sanggupkah?”

“Bagaimana kalau dalam keadaan seperti sekarang ini, tidak bolehkah membawa orang masuk?”

Ang Hoa Kek tersenyum.

“Dalam keadaan begini boleh juga kau membawa orang, tapi dalam keadaan 1ain tetap tidak boleh, kau setujukah?”

Kiu Heng menganggukkan kepala.

“Aku percaya kepadamu,” kata Ang Hoa Kek.

Lalu ia mengebut pada batu hijau, dengan perlahan batu itu segera menjadi hancur seperti tepung, bertebaran ke empat penjuru.

Di bawah batu itu segera tampak sebuah lubang hitam.

“Ah, kenapa batu itu bisa pecah?” teriak Kiu Heng.

“Jangan berlagak pilon! Aku mengumpulkan seluruh tenagaku menutup lubang ini selama enam puluh tahun, tak kira dalam beberapa bulan tenaga itu sudah kau sedot habis. Kini kau sudah memiliki kekuatan lebih tinggi dariku, kenapa kau masih tidak menyadari? Atau pura2 gila?

Kiu Heng menjadi girang, Ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah merupakan orang berilmu. Ia percaya bahwa kekuatan di batu hijau itu sudah menjadi miliknya dan Ia baru mengerti kenapa sewaktu dihajar pakai pedang batu itu tidak gompal dan kini hancur hanya diusap per-lahan2. Ia pun tidak heran dimaki Ang Hoa Kek sebagai pencuri ilmu, memang sesungguhnya demikian.

Tanpa banyak pikir, pedangnya segera dicabut. Ia menjadi terlebih kaget, pedang itu dengan mudah kena dihunusnya.

“Lekas kau bantu aku,” pinta Ang Hoa Kek. “Pindahkan batu itu ke sini, lalu kita sumbat kembali lubang ini, agar mereka tidak mengetahui kita pergi melalui liang ini.”

Batu yang ditunjuk terletak di atas puncak, besarnya bukan buatan, pikir Kiu Heng bagaimanapun tak mungkin ia bisa melaksanakan permintaan si orang tua.

Ang Hoa Kek memaksa dan mem-buru2, membuat Kiu Heng terpaksa untuk men-cobanya. Mula pertama Ia mendorongnya sebagai pelabi dan jangan dikatakan tidak mau. Tak kira dorongannya itu berhasil benar2. Batu besar segera menggelinding dan tepat menutup lubang tadi, Ang Hoa Kek segera mengangkat sebuah sudut batu sambil berseru: “Bocah, lekas kau masuk ke dalam lubang lalu kau tahan batu ini agar aku bisa masuk. Lekas! Lekas!”

Kiu Heng berlaku lambat-lambatan.

“Bagaimana kalau kau merasa benci sebab ilmu kepandaianmu yang di dalam batu hijau sudah kuambil, lalu menggunakan cara ini membunuhku? Bisa2 aku menjadi setan penasaran,” pikirnya.

Ang Hoa Kek yang mengangkat batu sudah menjadi pucat, ia tidak bisa bicara lagi. Kiu Heng cepat menceplos dengan kecepatan seperti anak panah masuk ke dalam lubang gua.

Sementara itu, Ang Hoa Kek belum terlihat masuk, Ia menjadi heran. Tangannya yang menahan batu dari dalam gua semakin letih tambahan asap semakin tebal. Ia menjadi cemas.

“Ang Hoa Lo Cianpwe…” serunya, “kau…”

Sebelum bisa melanjutkan perkataannya, Ang Hoa Kek sudah dekat ke arahnya lalu jatuh tak bangun lagi, sedangkan batu yang ditahan Kiu Heng sudah semakin turun.

Ia menoleh kepada Ang Hoa Kek dengan maksud menyuruhnya cepat2 masuk, tapi ia kaget, karena dari tujuh lubang di tubuh Ang Hoa Kek mengeluarkan darah. Ia sudah meninggalkan dunia yang penuh dosa secara menyedihkan.

Batu segera diturunkan, membuat tubuh Ang Hoa Kek tergencet. Kiu Heng merasa sedih, tapi di dalam gua yang lebarnya tiga meter persegi dan gelap ini tidak ada daya untuknya melihat air matanya itu.

“Ang Hoa Lo Cianpwee, sungguhpun seorang iblis dunia Bu Lim yang berdosa besar, padaku tetap baik dan berbudi. Ia mati karena tidak kupercaya. Siapakah manusia yang membakar dan melepas asap beracun itu. kelak akan kuhajar, hitung2 menalangi melakukan pembalasan untuk kematian Ang Hoa Kek Lo Cianpwee!”

“Oh, aku ingat, orang yang melepaskan asap itu, menurut Ang Hoa Lo Cianpwee seperti laki2 pertengahan tahun yang pernah kulihat beberapa bulan yang lalu. Baik, aku akan mengingatnya terus!”

Ia segera bangun, dalam keadaan gelap ia tidak bisa melihat apa2. Begitu tubuhnya bergerak segera jatuh ke bawah, tubuhnya kebanting, membuatnya pening dan pusing. Lama kelamaan, matanya dapat melihat dengan tegas keadaan sekeliling. Karena, di dalam liang yang kecil ini Ia merasakan hawa segar. Ia percaya dengan ilmu kepandaian yang dimilikinya bisa mencari jalan keluar.

Segera Ia mencari dari mana hawa segar itu masuk, didapatinya sebuah lubang yang pas2an muat seorang, lubang itu letaknya miring ke bawah dan penuh dengan lumut yang licin.

Ia masuk dengan me-rangkak2, malang baginya belum lama kemudian tubuhnya sudah menggeleser turun tanpa berdaya untuk mengendalikannya lagi.

“Brukkkk!”

Ia jatuh terbanting pada tumpukan rumput yang tebal.

Sungguhpun tidak menderita luka, tapi membuatnya pingsan seketika.

“Tak… tak…… tak……!”

Suara yang halus ini per-lahan2 membangunkan Kiu Heng dari pingsannya.

Ia memegangi kepala dan me-nepak2nya perlahan, se-olah2 kepusingan kepala yang nyelenot2 mengganggu sekali jalan plkirannya.

Akhirnya Ia membuka mata dan memandang keadaan sekeliling. Didapatinya dirinya berada di sebuah gua batu. Ia merayap keluar dari rumput itu.

Alangkah tercengangnya, karena kamar itu penuh dengan emas balokan, mutiara dan berbagai macam permata, sehingga ruangan seperti diterangi sinar bulan.

“oh! Kiranya banyak harta karun!” serunya.

“Tak heran kalau Ang Hoa Kek tidak mengijinkan orang kedua datang ke sini, karena segala benda berharga ini. Ah, ia salah melihat orang, aku Kiu Heng memandang benda2 ini tak ubahnya dengan kotoran manusia!”

Ia melangkah memeriksa terlebih jauh.

Tiba2…

“Trang”

Pedangnya bentrok dengan sebuah batu kumala Dilihatnya pedang itu segera ia ingat akan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Cepat ia mencabut pedang keluar dari serangkanya dan ditariknya kain yang berada di dalam pedang.

Kiu Heng sangat ter-gesa2 dan diliputi napsu untuk segera tahu siapa sebenarnya musuh dari orang tuanya. Lengannya bergemetaran, tanpa banyak tenaga kain itu dibuka.

Di dalam itu terkecuali tetesan darah, samar2 terlihat beberapa patah kata yang berbunyi; “Ce-cu-to, Goat Tong (rembulan di timur), wanita baju putih, dan lain2.”

Dengan demikian kecewa sekali perasaan Kiu Heng. Ia terpekur sambil menundukkan kepala.

Dua jam berlalu, Kiu Heng sadar dari lamunannya, segala pengharapannya, kini menjadi hancur! Siapa musuh itu? Tetap merupakan teka-teki untuknya.

Kini Kiu Heng menenangkan hati. Ia mencurahkan pikiran untuk mencari jalan keluar. Ia berputar pulang pergi, tapi tidak menemukan apa yang dicari, karena lubang itu merupakan jalan mati. Ia semakin cemas lemas.

Untunglah saat ini terdengar “tik tak… tik tak…” suara air yang halus dan yang pernah membuatnya siuman dari pingsannya.

Ia mengikuti suara air dan tibalah di tempat yang berdinding agak rata. Dari situlah air itu terdengar.

Ia berpikir kenapa air itu bisa menembus dan terdengar, saking ingin tahunya Ia menghajar dengan tangannya.

“Dung” bunyinya keras, lalu bergema dengan keras dari empat penjuru, tahu2 ia merasakan sesuatu desakan angin dari atas kepalanya, cepat2 Ia mencelat pergi,

“Dung!”

Suara bahana keras terdengar lagi.

Kiu Heng cepat2 menekap telinganya, kiranya pukulannya yang keras membuat geger dinding gua, hingga batu besar yang berada di atas kepalanya berguguran jatuh.

Dipandangnya ke atas, masih terdapat sebuah batu besar yang ber-goyang2, bilamana batu ini jatuh kembali, seluruh ruangan gua akan kepercikan petelan dua batu yang saling tumbuk.

“Bagaimana baiknya,” pikir Kiu Heng.

Ia tak berani lagi menggunakan tangannya secara serampangan, kalau2 membuatnya dalam bahaya?

Ia kembali ke dalam gua. Ia merasakan sangat dahaga dan perutnya lapar benar. Ingin sekali bisa meninggalkan gua cepat2. Saat Ia teringat akan pedang pusakanya yang dapat membelah batu maupun benda keras lainnya, tanpa ayal lagi pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam dicabut dari serangkanya, lalu dihajarkannya ke dalam dinding gua. Batu2 kerikil berhamburan, pedang menancap masuk sampai di gagangnya.

Diputarkannya sekali, sebidang batu dindingnya segera tercungkil keluar. Tapi dinding itu demikian tebal, sampai kapan bisa ditembus?

Kiu Heng kembali terpekur bingung! Tapi Ia tidak berputus asa. Di kelilinginya dinding itu sambil di-ketuk2. empat penjuru dan lantai gua sudah diperiksa semua, lalu ia inerayap naik sambil me-ngetuk2 terus. Perbuatannya ini membuat kedua tangannya menjadi pegal, untuk menunjang dirinya. Ia menggunakan pedangnya yang ditancapkan ke dinding.

Sekali ini pedang itu kembali membuat batu2 bertebaran, mau tak mau Kiu Heng harus turun kembali.

Sesudah batu2 meluruk jatuh dari atas gua, terlihat sinar sayu. Kiu Heng girang sekali, tak ubahnya sebagai kafilah di padang tandus yang menemukan sumber air.

Tanpa mengenal lelah, Ia merapung ke atas dan menggali dinding gua bagian atas itu. Dalam sekejap, liang yang berukuran dua meter persegi selesai dikerjakan. Dengan tangkas tubuhnya menerobos keluar, pikirnya ia berhasil meninggalkan tempat gelap itu.

Tak kira, tempat yang baru itu merupakan sebuah kamar batu pula, sedangkan sinar sayu yang dikiranya matahari tadi, merupakan sebutir mutiara yang memancarkan sinar.

Di kamar ini terdapat sebuah meja dan kursi batu, seperti peninggalan orang jaman dulu dengan demikian Ia boleh berbesar hati, karena tempat itu pasti mempunyai jalan keluar. Suara tetean air dicarinya terus, berkat keuletannya, Ia berhasil menemuinya. Cepat Ia mencekungkan kedua tangannya, tapi segera ditariknya kembali begitu mengenai air, karena dingin sekali.

Ia kembali ke kamar batu mencari sesuatu untuk penadah air. Ia menemui cangkir kumala. Anehnya air yang masuk ke dalam cangkir itu menjadi hangat!

Dengan penuh napsu ia menceguk habis, berulang kali ia meminum dengan puas.

Di-sela2 batu terdapat pepohonan setinggi rumput yang mengeluarkan hawa harum, Kiu Heng mencoba memotes dan men-cium2nya. Ia tidak berani memakan untuk men-coba2. Ia pernah tinggal di Bu Tong-san, segala macam rumput2nya yana berupa obat2an pernah dimakannya, tapi belum pernah melihat yang semacam ini.

Ia ragu2 sejenak, akhirnya dimakan juga rumput2an itu saking laparnya.

Sesudah memakan beberapa batang, Ia tidak merasakan sesuatu keanehan sehingga berbesar hati untuk memakannya sampai kenyang.

Ia mengaso sambil duduk di kursi batu, sebuah kotak yang terbuat dari batu kumala, siang2 sudah dilihatnya, tapi tidak menarik perhatiannya. Kini mulai Ia memeriksa.

Ia menjadi terkejut tak alang kepalang waktu melihat kotak ini bertulisan huruf2 yang terbuat dari rangkaian permata indah. Hatinya ber-debar2 seperti menghadapi bahaya, Ia menatap terus tiga huruf itu yang berbunyi Bu Lim Tiap!

Ia pernah melihat gurunya bersedih hati dan menarik napas panjang pendek karena soal Bu Lim Tiap. Ia pun tahu Pek Tok Thian Kun adalah pemilik Bu Lim Tiap sekarang.

Bermimpi pun tidak kalau Bu Lim Tiap yang dianggap pusaka kaum rimba hijau bisa diketemuinya di sini. Ia tidak berani sembarangan menyentuh kotak itu, karena mengetahui bahwa Pek Tok Thian Kun terkenal sebagai manusia pemain racun yang luar biasa. Bajunya maupun barangnya tidak ada yang berani menyentuh bahkan barang yang pernah dipegangnya tidak ada yang berani pegang.

Kini Kiu Heng teringat kepada cangkir kumala yang dipakai minum dan rumput2an yang dimakan, hatinya kaget sekali, keringatnya mengucur keluar cepat2 ia duduk bersemadi untuk mengetahui dirinya keracunan atau tidak.

Belum selang lama Ia duduk berslla, segera merasakan kepalanya menjadi mabuk…

“Celaka!” serunya.

Ia menekap perut sambil ber-guling2an.

“Habis! Habis segala pengharapanku!” keluhnya.

“Dalam riwayatku ini tidak perlu memikir lagi menjadi seorang pendekar pedang! Tak perlu membalas sakit hati! Semua ini habis dalam sekejap mata!”

Ia merasakan matanya ber-kunang2. ber-bayang2 seperti awan indah di depan matanya! Menyusul terlihat bidadari-bidadari cantik menarik di depannya sambil meng-ejek2 dirinya.

Kini awan dan bidadari berubah menjadi awan merah, lalu berganti lagi menjadi darah merah yang bertetes.

Darah…… Darah……

Kiu Heng tidak bisa mengekang amarahnya lagi, ia mengumpulkan kekuatan dirinya, lalu berteriak keras2 melampiaskan kegusarannya.

Belum suaranya bergelora habis, suara bahana yang keras menggoncangkan bumi, terdengar keras di dalam kamar!

Kiranya batu yang terdapat di gua sebelah kini sudah jatuh turun berbareng dengan suara pekikannya. Kiu Heng menenangkan diri, air matanya entah bagaimana turun sendiri, ia menangis atas nasibnya!

Mati itu bisa ringan seperti bulu ayam juga bisa berat seperti gunung! Tapi harus dilihat bagaimana cara matinya! Mati secara berguna tidak ditakuti Kiu Heng. Ia takut mati konyol secara kecewa!

Berikut, dengan hilangnya air matanya, kepeningan kepalanya pun menjadi hilang, terkecuali itu pandangan matanya pun menjadi terang.

Ia heran, di-kucak2 matanya. Pikirnya bermimpi, tapi kenyataan sesungguhnya demikian, ia girang sekali, sampai alr matanya keluar lagi. Bedanya, sekali ini air mata kegirangan!

“Aku berpikir terlampau berat di bagian buruknya!” kata Kiu Heng sambil me-nepak2 kepalanya.

Bu Lim Tiap yang terletak di atas meja dicongkelnya dengan pedang dan dibuka selembar.

Ia melihat tulisan kecil2 dan rapat2 yang ber-beda2. Di situ tertera nama2 orang yang seperti dikenal tapi tidak dikenal, begitu selesai dilihatnya, Ia pun tidak begitu heran dan kagum lagi atas benda pusaka itu dari pada sebelum melihat.

Ia ingin memiliki buku itu tapi tetap takut keracunan, akhirnya ia berpikir juga untuk mengetahui ada atau tidaknya racun di buku Bu Lim Tiap itu.

Ia kembali ke gua perak.

Dua batu yang sudah turun dari atas menghancurkan benda2 permata yang mahal2 itu, terkecuali dari perak2 balokan yang besar2 sukar mencarinya yang berupa korek kuping atau tusuk gelung.

Ia meng-korek2 tumpukan benda2 itu, dilihatnya sepasang singa2an dari kumala, ia merasa suka dan diambilnya. Didapatinya juga sebuah tusuk kondai yang bertatahkan batu2 permata.

Sesudah diuji dengan tusuk kondai itu, menyatakan bahwa Bu Lim Tiap tidak beracun, Ia pun menjadi berani. Tanpa banjak pikir dimasukkannya ke dalam sakunya.

Dengan pandangan matanya yang menjiadi tajam, Ia mengawasi sekeliling, tampak di dinding kamar itu terlukis gambar2 beraneka ragam, ada yang duduk, ada yang berdiri, dan lain2, tak ubahnya seperti tengah main silat.

Kiu Heng semakin melihat semakin suka. Ia men-coba2 beberapa gerakan yang terdapat pada gambar, sesudah memainkannya beberapa kali, membuatnya menjadi letih.

Ia mulai tidur dengan nyenyak sebelum keluar dari kamar batu itu!

Begitu ia bangun, semangatnya menjadi lebih hebat, segera Ia mencari jalan keluar. Sekali ini tidak sesukar tadi, dari bawah meja yang mendatangkan hawa segar, terlihat sebuah lubang. Ia mencelos masuk, baru berjalan beberapa langkah, tampak batu besar menghadang jalan. Dengan sekali dorong ia berhasil membuat renggangan, dan keluar dari situ dengan girang, lalu ditutupnya kembali seperti sedia kala.

Keadaan bukit Pek Tio Hong menjadi gersang termakan api. Pepohonan yang menghijau kini hilang, berganti menjadl warna hitam pekat. Kesunyian yang mati sepi membawa perasaan ke alam berduka dan sedih.

Sisa2 api dan asap memenuhi sekeliling bukit gundul, lolongan serigala menyayat sukma pendengarnya, inilah tanda2 sesudah bencana berlalu?

***

Seorang pertengahan umur ber-indap2 di sela2 reruntuhan pohon, memilih jalan. Ia duduk mengaso sesampai di puncak bukit sambil menarik napas panjang. Matanya celingukan nanar ke kiri dan kanan seperti mencari sesuatu dengan penuh harapan.

Dari balik bukit yang berlawanan, mendatang pula seseorang pertengahan umur, begitu tiba segera bertanya kepada yang datang duluan.

“Kan Giam Lo, sekeliling bukit sebelah barat ini sudah kuputari, tapi tidak terlihat si tua bangka jelek itu?”

“Kiong Lou Tauw, mungkinkah usaha kita ini sia2 belaka? Kuyakin andai kata Ia tidak mati terbakar pasti mati kena racun!”

“Ya, benar. Tapi kenapa tidak terlihat mayat maupun tulang2nya?” kata Kiong Lou Tauw.

Kan Giam Lo tidak menjawab, ia terpekur memutar otaknya.

Kiranya mereka adalah dua tokoh golongan hitam yang kenamaan di dunia Kang Ouw berilmu tinggi, sehingga bisa malang melintang sekehendak hati di dunia Kang Ouw dengan berbagai kejahatan.

“Jangan buang waktu, mari kita periksa sekeliling bukit ini, mungkin juga Ia bersembunyi di dalam gua!” desak Kiong Lou Tauw.

Dengan tekun mereka berputar ke sana ke mari, akhirnya tibalah di mana Kiu Heng berada. Mereka masuk ke gua dengan obor terang!

“Mereka mencari apa? Mungkin aku? Tapi untuk urusan apa?” pikir Kiu Heng.

Dua orang itu semakin dekat, Kiu Heng kuatir kepergok, Ia jongkok sambil memungut batu.

“Siapa?” bentak Kiong Lou Tauw.

“Ah,” pikir Kiu Heng. ”Aku hanya memungut batu sudah diketahuinya, pasti dia lihay.”

Cepat2 ia menerbangkan batunya. Ser, ser dua kali, obor itu susul menyusul menjadi padam.

“Kiranya kau bersembunyi di sini!” seru Kan Giam Lo.

Mereka segera berpencar ke kiri dan ke kanan sambil merapatkan dirinya ke samping gua. Biar di dalam gelap Kiu Heng bisa melihat tegas pada dua orang itu, hatinya menjadi gusar begitu mengenali salah seorang di antara mereka adalah si orang pertengahan umur yang pernah soja paykui ingin berguru pada Ang Hoa Kek. Karena ditolak lalu membakar gunung.

“Jahanam!” gumamnya, “karena kebusukan kau, Ang Hoa Kek Lo Cianpwee menjadi mati, aku harus menuntut balas!”

Sehabis berpikir, ia memungut batu lagi dan dihajarkan kepada musuhnya.

Kan Giam Lo cukup lihay, dari suara samberan angin, Ia bisa mengetahui dirinya sedang diserang, dengan mudah Ia mengegos.

“Hai, Lo Kiong! Hati2 kau diserang batu,” kata Kan Giam Lo memperingati kawannya.

Kiu Heng mengetahui kedua orang itu seperti buta di dalam keadaan gelap, dengan berani ia menghampiri per-lahan2 tanpa menimbulkan suara. Lalu memungut batu dan menerbangkannya, berbareng dengan itu Ia tertawa ter-bahak2.

Keadaan gua menjadi tegang dan menyeramkan. Kiong Lou Tauw dan Kan Giam Lo seperti menemukan hantu kelaparan, masing2 merasa mengkirik. Untung mereka merupakan jago2 Kang Ouw berpengalaman, bilamana orang lain pasti akan lari tunggang langgang.

Beberapa batu mengenai tubuhnya, sebelum mereka bisa membuka mulut memaki, merasakan pipinya ditampar bolak-balik.

“Kamu berdua si orang jahat, masing2 kupersen dua tamparan sesudah itu akan kucabut nyawa kamu!” maki Kiu Heng.

Tamparan yang dikira Kiu Heng tidak seberapa keras, membuat kedua orang itu jatuh duduk, tapi dengan gesit mereka bangun lagi dan lari keluar.

Kiu Heng tidak mengira tamparannya demikian ampuh, ia sadar dan percaya bahwa kekuatan yang diperolehnya dari pedang dan batu hijau besar sekali.

Dengan girang ia menghajar dinding mencoba kekuatannya, batu bertebaran. Ia puas dan buru2 keluar mengejar dua musuh.

Baru saja ia keluar dari gua, berbagai macam senjata rahasia menyerang dirinya, cepat ia menarik tubuhnya kembali lagi ke dalam. Ada juga senjata2 yang mengejar masuk tapi kena dipukul jatuh oleh kekuatan tenaga tangannya. Cepat pedangnya dihunus, lalu diputarkan seperti kitiran derasnya, tubuhnya se-olah2 dibungkus sinar emas, lalu menerjang keluar gua.

Senjata2 rahasia yang menyerang dirinya berguguran seperti daun rontok terhempas angin.

“Ginkang yang indah,” puji Kiong Lou Tauw seraya melepaskan Bwee-hoa-ciam. Anehnya senjata halus yang sukar ditangkis itu tersedot di pedang Kim-liong-cee-hwee-kiam, waktu pedang digetarkan, senjata2 rahasia itu berterbangan pergi! Dengan berpoksay, Kiu Heng berhasil menyelamatkan dirinya dari kepungan senjata rahasia, ia turun di depan dua musuhnya dengan mata ber-api2.

“Siaucu, kiranya kau! Mana si tua bangka jrelek itu?” bentak Kiong Lou Tauw.

Di mulut Ia berkata demikian padahal hatinya menjadi kaget melihat pemuda kita yang pernah diketemukannya beberapa bulan yang lalu.

Pikirnya kalau si pemuda ini tidak mati lebih2 Ang Hoa Kek yang berkepandaian tinggi?

“Ha ha ha! Untuk apa kau tanya si orang tua? Mungkinkah hendak ter-bungkuk2 lagi seperti kera tua? Sabarlah, sebentar lagi Ia akan menemukan kalian untuk memberikan pelajaran!”

“Siaucu, kau jangan jumawa, di dalam gelap kau boleh main gila, tapi jangan harap bisa mengulangi lagi keunggulanmu di tempat terang!” kata Kiong Lou Tauw seraya menerjang dengan kecepatan kilat.

Sementara itu, kawannya pun tidak tinggal diam segera membantu melakukan kurungan.

Kiu Heng mengetahui kedua musuhnya di tempat terang jauh lebih lihay dari di tempat gelap tapi Ia tidak takut, dengan lincah ia mengegosi setiap serangan, lalu membalas menyerang dengan pedangnya secara tenang.

Kiong dan Kan tidak mengira musuhnya yang masih kecil ini memiliki ilmu kepandaian demikian tinggi. Segera melancarkan ilmu simpanannya ber-tubi2. Kiu Heng bukan Kiu Heng dulu lagi, setiap hajaran musuh itu biar bagaimana dahsyat tidak membuatnya gugup, malahan menambah semangat tempurnya.

Pertarungan berjalan semakin sengit, gerakan mereka menjadi cepat, sehingga sukar dibedakan yang mana Kiu Heng yang mana Kan atau Kiong. Tiba2 Kiu Heng membentak: “Kena!”

Berbareng dengan bentakan itu tampak Kiong Lou Tauw ter-huyung2 menekap dada, darah mengalir deras, ia terjungkal sambil menarik napas yang penghabisan. Sedangkan Kan Giam Lo melihat kawannya meninggal segera membentangkan ilmu langkah seribu, tapi Ia kalah cepat kakinya kena diserampang dan jatuh nyungsep. Ia kena dibekuk, dan ditotok sehingga tidak berdaya.

“Apa maksudmu membakar kami?” tegur Kiu Heng.

Kan Giam Lo tidak menjawab.

“Kau jangan menyesal aku berlaku kejam,” ancam Kiu Heng seraya menyodokkan pedangnya ke perut musuh.

“Sebelum pedang ini masuk ke dalam perutmu, kuminta terangkan sebab2nya membakar gunung dan sebab2nya kau ingin berguru dengan Ang Hoa Kek.”

Kan Giam Lo tetap tidak menjawab.

Kiu Heng melaksanakan ancamannya, sehingga musuhnya itu seketika meninggal dunia. Dengan wajah benci Kiu Heng menatap mayat kedua musuhnya, lalu ia menggali lubang untuk mengubur.

Saat inilah terdengar bentakan nyaring dari belakang tubuhnya.

“Hei! Siluman monyet, kenapa kau berani membunuh di siang hari? Kau kira dunia ini sudah terbalik dan boleh berlaku se-wenang2?”

Seiring dengan perkataan ini terlihat To Pei Lojin (seorang tua berbadan bungkuk) sudah berada di belakang Kiu Heng.

Sejak kecil ia kehilangan kasih sayang orang tuanya, sehingga mempunyai tabiat paling benci dimaki orang. Kini si bungkuk tanpa alasan memakinya siluman monyet, terang menghinanya sebagai orang yang tidak berorang tua seperti Sun Go Kong.

Ia merasa tak senang, tapi lupa pada diri sendiri yang berpakaian compang-camping dan penuh dengan debu, tanpa memperdulikan lagi orang yang dihadapi itu siapa, segera Ia membentak:

“Bungkuk, kau jangan mencampuri urusan aku. Enyahlah sekarang juga, aku sebal melihatmu!”

Orang tua bungkuk itu biasa membahasakan dirinya sebagai To Loko (si kakak bungkuk), tapi Ia sendiri tidak mau dipanggil si bungkuk. Barang siapa berani mengatakannya demikian, pasti membuatnya gusar dan menghajarnya sampai mati!

Kini begitu Kiu Heng membuka mulut perkataan “bungkuk” keluar paling dulu, sehingga membuat To Loko meluap-luap kegusarannya tapi ia tetap bisa membawa diri dengan ramah tamah.

“Hei, Siluman monyet! Mulutmu besar betul! Apakah kau memaki aku?”

“Bungkuk, kau jangan sembarangan memaki orang, akibatnya berat untukmu! Kau lihat nasibnya kedua orang ini, bagaimana?” tegur Kiu Heng sambil bersikap untuk menerjang.

“Sabar2, perlu amat ter-gesa2? Aku To Loko sedang kebelet…. ingin kencing, nanti air kencing itu dapat kau gunakan sebagai kaca,

atau cuci muka……… Aha,

kau persis seperti monyet, berangasan dan tak bisa sabar.. Hai! Siluman monyet, kenapa kau kesusu betul?”

“Bert, bert!’

Serangan tangan mendesak mundur si bungkuk beberapa tombak.

Kiranya sewaktu ia bicara, Kiu Heng sudah tak sabaran lagi dan melakukan serangan enam kali. Empat yang pertama dapat dielakkan, serangan kelima dan keenam mendapat hasil.

Si bungkuk menjadi heran.

“Hai! Hidung kerbau dari Bu-Tong-san itu biar sudah mampus harus masuk ke dalam neraka, karena mengambil murid seekor monyet siluman!”

“Crang!”

Suara berbunyi keluarnya Kim-liong-cee-hwee-kiam dari serangkanya.

“Hai bungkuk, tutup bacotmu, bilamana tidak, segera kau mati berlumuran darah!”

Orang tua bungkuk itu mana kena digertak, Ia pun segera mengeluarkan senjatanya yang berupa pipa tembakau atau huncwe.

“Siluman monyet, kuingin lihat, sampai di mana lihaynya permainan pedang monyetmu!”

Dengan satu gerangan keras, Kiu Heng menyerang ketiga penjuru dengan ilmu pedang Cit-Coat-kiam. Pedang memancarkan sinar keempat penjuru, bilamana To Pei Lojin tak bergerak cepat mungkin akan termakan pedang yang tidak bermata itu.

“Bocah, kau apanya si Kong Tat?” tegur To Pei Lojin.

Kiu Heng segera mengubah ilmu silatnya begitu diketahui musuhnya.

Sekali ini ia mempergunakan ilmu Sam-cee-pan-guat yang terdiri dari dua belas jurus.

To Pei Lojin menjadi bingung.

“Dari perguruan mana kunyuk ini?” pikirnya.

Pada hari2 biasa Ia sering membanggakan diri mengetahui segala ilmu dari berbagai golongan dan menyebutkan ilmunya sendiri tak mungkin diketahui dari pintu perguruan mana. Barang siapa dapat menyebutkan ilmunya ia akan tunduk dan rela menjadi budak orang yang dapat mengenali ilmunya.

Kini ia bingung sendiri atas ilmu yang dilancarkan si bocah. Ia tidak mau banyak pikir karena didesak terus, dengan cepat ilmu kepandaiannya yang ampuh dilancarkan secara hebat!

Kiu Heng pun segera mengubah ilmu silatnya, pedangnya memutar ke kanan, lengan kirinya melakukan penjagaan, jurus ke jurus bersambung menjadi satu dan kuat bukan main. Tiap kali ia menyerang pasti si orang tua kena dipukul mundur. Begitu si orang tua maju lagi, dengan cepatnya dibikin mundur lagi dengan ilmunya yang cepat dan ganas.

To Pei Lojin menjadi mundur maju. Hal ini berlangsung sepuluh jurus lebih. Si orang tua menjadi kewalahan juga. Akhirnya ia berseru: “Hai kunyuk, hari sudah hampir malam, perkelahian ini sebaiknya kita tunda saja sampai besok!”

“Hai, bungkuk, kau takut?”

“Kau jangan menghina aku sudah tua! Aku takut? Hm!”

Kiu Heng melihat orang tua itu kembali menerjang, Ia tersenyum.

“Bungkuk, apakah kau tidak takut? Mari kita bertarung lagi!”

Kembali sepuluh jurus berlangsung dengan cepat. Semakin berkelahi, kekuatan dan keberanian Kiu Heng semakin hebat. Per-lahan2 hari hampir malam, dalam keadaan demikian, biar To Pei Lojin sudah melatih diri bisa melihat di dalam keadaan gelap, kalau dibanding dengan ketajaman mata Kiu Heng, masih terlalu jauh.

To Pei Lojin semakin berada di bawah angin, Ia makin heran dan bingung.

“Kenapa kunyuk kecil ini memiliki ilmu dalam maupun ilmu silat demikian tinggi? Terkecuali itu jurus2nya tidak beraturan sekali, se-olah2 pelajarannya itu sebagai hasil curian. Lebih2 matanya yang tajam seperti mata kucing membuatku heran betul,” pikirnya.

Tiba2 pedang Kiu Heng menyerang dengan keras memapas lengan kanan, lalu beralih dengan tiba2 ke sebelah bawah. Inilah salah satu jurus dari Cit-coat-kiam yang ganas dan beracun.

Dalam keadaan begitu, hampir2 si orang tua kena dimakan pedang musuh. Keringat dinginnya mengucur tanpa dirasa. Untung Ia bisa memutarkan tubuh secara lincah. Biar begitu, tak urung sebagian dari celananya kena disobek pedang.

Hal ini membuat To Pei Lojin kesal dan malu. Ia menggereng keras, suaranya menggetarkan keadaan malam, menyusul terlihat pipa tembakaunya memutar di udara melancarkan jurus yang luar biasa anehnya. Inilah ilmu simpanan yang sudah lama tidak dipergunakan. Bilamana tidak terdesak tak mungkin Ia melancarkannya.

Dengan cepat Kiu Heng kena terdesak, sehingga siorang tua berbalik menang angin.

Kiu Heng sadar bahwa si orang tua benar2 orang yang berilmu tinggi, kalau terus2-an melayaninya pasti tidak bakalan menang cepat.

Ia menangkis serangan si orang tua dan melancarkan serangan balasan. Lalu ia mencelat ke samping beberapa tombak jauhnya, sesudah itu, ia memutarkan tubuh dan merat di dalam keaduan malam yang gelap.

“Hai, kunyuk, kenapa kau lari?” tegur si orang tua.

“Maafkan aku tak bisa mengantar. Hati2lah, jangan sampai jatuh!”

Dalam kesunyian malam, Kiu Heng mendengar tegas kata2 To Pei Lojin itu, Ia menjadi gusar dan ingin balik lagi. Tapi sesudah berpikir, bahwa pertarungan yang dilakukan itu tidak berarti, segera Ia berlari terus tanpa meladeni.

***

Hari sudah mulai terang, Kiu Heng mengaso di lereng gunung, ia sudah berlari semalaman penuh tanpa berhenti.

Kini ia sedang melamun. Untuk mencari musuhnya yang membinasakan orang tuanya.

Tiba2 Kiu Heng dikejutkan oleh suara garing gadis muda, menyusul terdengar pula suara tertawa gadis itu dengan nyaringnya.

Buru2 Ia naik ke puncak gunung untuk menyaksikan dan mencari siapa gerangan gadis itu.

Anehnya, suara tertawa gadis tadi menjadi hilang tertekan suara gemuruh air terjun di puncak gunung. Ia segera turun lagi ke bawah mengikuti air terjun itu. Air itu berkumpul di bawah dan merupakan sebuah kolam yang berair jernih, air berpercikan dan beruap putih, sehingga indah betul terlihatnya.

Ia turun mendekat, di balik air yang biru terlihat olehnya dua wanita tengah mandi dengan girangnya. Ia melompat ke atas pohon dan memandang terus gadis2 yang mandi itu dengan asyiknya.

Iapun heran, kenapa pemandangan itu demikian menarik hatinya. Terkecuali itu, kenapa hatinya bak-bik-buk-bek tak karuan.

Dua gadis itu berenang ke sana-kemari dengan lincahnya, tak ubahnya seperti ikan duyung di dalam dongengan.

Kiu Heng semakin kaget waktu mengenali salah satu dan gadis itu adalah In In yang pernah diketemukannya di Oey San.

Tengah ia memandang seenaknya, dari arah belakangnya berkesiur angin dingin menyerang dirinya. Ia tidak dapat mengelak karena tidak dapat membedakan angin serangan itu dengan gemuruh air terjun.

Tubuhnya berikut cabang pohon yang dipegang jatuh ke bawah. Untung tidak jatuh terbanting, sebab sebelum mencapai tanah, ia membanting dulu cabang yang dipegang, lalu mencelat pergi dengan tenaga balikan.

Begitu Ia berdiri segera menjadi kaget, karena lengan kirinya merasa sakit sampai ke pori2, lengan ini tidak bisa diangkat lagi. Ia menjadi gusar, cepat2 membalik.

Di jarak sepuluh tombak, tampak seorang tua pucat dan berjanggut indah, tengah menatap ke arahnya dengan sinar mata ber-api2. Mulutnya kemak kemik tapi tidak terdengar karena suara air terjun lebih keras lagi. Setelah itu si orang tua segera berlalu.

Kiu Heng merasa dongkol, tanpa memperdulikan kepada lengannya yang sakit, Ia mengejar sekuat tenaga. Si orang tua berlari terus, begitu melalui pepohonan yang rimbun, Ia menghentikan kaki. Ia menoleh dan melihat Kiu Heng yang tertinggal di belakang dengan perasaan heran, karena ia sudah menyaksikan kehebatan ginkang Kiu Heng sewaktu datang, kini mengejarnya tanpa berhasil. Ia tidak mengetahui. Karena lukanya, Kiu Heng menjadi kurang tangkas seperti semula.

Si orang tua menghajar Kiu Heng secara membokong karena menganggap si anak kurang ajar dan sengaja datang untuk mengintip gadis2 yang tengah mandi!”

“Bangsat tua! Kurang ajar kau, berani membokong dari belakang!” maki Kiu Heng begitu ia datang.

“Bagus! Kau boleh memaki aku sepuas hati karena aku berlaku salah. Tapi kau pun tidak boleh mengintip orang yang sedang mandi!” jawab si orang tua.

“Kini kita beristirahat dulu baru bicara, kau menderita luka, makan obat dulu, jangan sampai semakin parah dan membuatmu cacat,” tambahnya.

Ia mengeluarkan peles hijau lalu mengeluarkan beberapa butir dengan hati2 dan melemparkannya kepada Kiu Heng dengan lengan bergetar.

Dalam keadaan demikian. orang yang sedang gusar pun bisa menjadi tenang kembali, tapi tidak demikian dengan Kiu Heng, keras kepala! Obat itu dipijaknya.

“Siapa yang mau menerima budimu? Biar obatmu berkhasiat atau beracun tidak akan kuterima!”

Si orang tua berjanggut menjadi gusar.

“Kau si bocah gila, aku merasa menyesal melukakan dirimu secara salah paham sehingga mengeluarkan obat, kini kau pijak2 obat luar biasa yang bernama Kie-hun-kui-goan-tan (obat pengumpul semangat dan hawa sejati) secara kurang ajar! Kau tidak tahu diri, biar bagaimana kau harus mengganti sebutir obatku dengan nyawa!”

Sehabis berkata tubuhnya menyergap laksana harimau luka.

“Ha ha ha,” Kiu Heng tertawa sambil mengegos dengan cepat.

“Seorang bangsat tua tak tahu malu, Kiu-hun-kui-goan-tan sebagai pusaka Bu-Tong-pay mana bisa kau miliki! Hm, kau jangan sok2an, aku tak takut padamu!”

Padahal di dalam hati Kiu Heng sudah merasa menyesal bukan menginjak obat itu, karena hidungnya mengendus hawa harum yang semerbak dari obat itu dan percaya sebagai obat yang berkhasiat.

Serangan keras yang susul menyusu1 dari si orang tua mendesak terus pada Kiu Heng sehingga jatuh di bawah angin. Tengah sengitnya jalannya pertandingan, terdengar “buk-buk” dua kali, tubuh Kiu Heng ter-huyung2, dari mulutnya menyembur darah, sedangkan si orang tua sendiri terpukul mundur juga.

Sesudah menenangkan pikirannya, Kiu Heng menekan perasaan meluapnya, ia mengumpulkan tenaga, lalu menyerang dengan nekad, membuat si orang tua merasa gentar dan tepat pada detik itu terdengar bentakan nyaring:

“Lim Siok-siok, siapa bocah gila ini? Tunggulah In In menghadapinya.”

Seiring dengan habisnya perkataan itu, tampak dua sosok tubuh ramping di hadapan mereka.

Kiu Heng merasa terkejut, serangannya ditarik kembali.

“In In, In In, mungkin Ia tak kenal lagi padaku,” pikirnya.

“Hei bocah jelek, untuk apa kau datang ke sini berniat ugal2an, nyalimu besar betul! Lekas kau haturkan maaf pada Lim Siok-siok sebelum kuusir dari gunung ini!”

Kiu Heng menjadi gusar, ia menyerang pada In In.

Si gadis tidak menjadi kaget. Ia mengegos ke samping, lalu membarengi dengan satu pukulan.

“Plak!” sekali.

Kiu Heng kena dihajar dan jatuh numprah di tanah, Kembali dari mulutnya memuntahkan darah dan hampir membuatnya pingsan.

“Segala manusia tidak berguna begini berani datang ke sini, lekas enyah dari sini. Kalau tidak, bisa mati konyol!” bentak In In.

Si orang tua dan seorang gadis lain menjadi kaget melihat Kiu Heng menderita luka parah. Sebelum mereka bisa menegur pada si gadis, Kiu Heng sudah menjawab: “Hm aku datang untuk mati, bunuhlah kalau kau suka! Bilamana aku mengedipkan mata, jangan sebut sebagai jantan sejati. Bilamana kau tidak memukul mati padaku, kau lihat saja nanti. Aku bisa menuntut balas,” kata Kiu Heng.

“Oh,” kata In In dengan kaget. “Kau…. kau…. Kiu Heng…………”

“Kini baru tahu aku Kiu Heng. Yah, aku dibesarkan oleh dendam dan sakit hati. Ingatlah, bilamana kedua perasaan itu sudah bertimbun, aku menagihnya….. ha ha ha ha…..”

Sambil berkata ia mencoba bangun.

Sesosok bayangan kecil mencelat datang kepada Kiu Heng.

“Apakah kau Kiu Koko? Aku bernama Ping Ping. Kata Lim Sioksiok, kau menderita luka berat dan menyuruh aku memberikan obat. Nah makanlah buru2! Kata Lim Sioksiok sesudah memakan obat ini, akan segera sembuh!”

Kira Kiu Heng yang datang itu adalah In In, ia sudah siap untuk mem-bejak2 obat yang diberikan untuk melampiaskan kegusarannya. Tak kira yang memberikan itu adalah seorang gadis ayu, suaranya demikian merdu, membuat perasaannya menjadi senang, dan mempunyai kekuatan yang tidak dapat dilawan!

Kiu Heng menatap pada si gadis yang bernama Ping Ping, hatinya merasakan sesuatu perasaan hangat yang tidak terkira. Ia semakin terpincuk sewaktu mencium wewangian yang semerbak datang dari arah si gadis.

Keluwesan dan keayuan si gadis membuat gugur keangkuhan Kiu Heng.

Per-lahan2 ia mengangkat tangan, diasongkan ke jurusan lengan si gadis untuk mengambil obat.

Pada saat ini dengan tiba2 terdengar bunyi “tringggg” dari suara kim yang digentak demikian keras dan menusuk perasaan yang membuat Kiu Heng merasakan dadanya sesak.

Kegusarannya kembali timbul, lengannya yang dijulurkan dengan tiba-tiba menggampar ke arah Ping Ping dengan keras, sehingga pipi si gadis merah dan tertera lima jari si pemuda.

Ping Ping tidak mundur juga tidak gusar, Ia tetap diam di depan Kiu Heng, lengannya masih memegang obat.

Ia berkata: “In Cici sudah memukulmu, kini kau memukul aku, hitung2 menjadi impas. Bedanya kau menderita luka dalam sedangkan aku tidak ke-napa2. Kiu Koko, kenapa kau tidak mau menerima kebaikanku? Kiu Koko? Kenapa?”

Biar bagaimana angkuh dan kukoay adatnya Kiu Heng, mana mungkin bertahan menghadapi seorang gadis yang baru diketemukan demikian ramah dan penyayang. Ia menatap terus pada si gadis yang ditampar, sedikit pun tidak terlihat gusar maupun kesal, hanya dari matanya yang indah mengembang tetesan air mata sedih!

Dari kelunakan dan keramahan si gadis membuat tubuh Kiu Heng dan jiwanya terserang runtub, demikian terharu dan menyesalnya.

Ia tidak bisa berkata apa2 karena dari mulutnya kembali memuntahkan darah merah!

Tiba2 terdengar suara parau dari nenek2 memecah angkasa.

“Hai! Siang hari bolong kamu berani mencelakakan orang? Tak sangka orang2 Lian Hoa Hong kerjanya mencelakakan yang lemah dengan se-wenang2! Aku si nenek2 merasa tak senang!”

“Perempuan gila, kenapa kau menjerit2 dan ber-teriak2 tak keruan? Kapan kau pernah menyaksikan kami melakukan pengeroyokan pada musuh? Dan kapan kami menghina dan mencelakakan orang lemah dengan se-wenang2? Kami bukan mencelakakannya tapi sedang memberikan obat!”

“Kebaikan yang di-bikin2! Tidak kau katakan tidak mengapa, sesudah kau katakan membuat benakku semakin sebal,” jawab Si nenek.

“Aku melihat dengan mata kepala sendirl perbuatan kalian yang demikian rendah, sesudah mencelakakan baru memberi obat. Apa artinya berbuat demikian dan siapa yang akan memakan obatmu?”

Saat ini Kiu Heng sudah dipayang oleh Ping Ping, mulutnya dibuka dan obat itu dimasukkan Ping Ping. Kiu Heng menolak sambil mendorong lengan si gadis.

“Siapa yang menginginkan obatmu?” kata Kiu Heng.

Ia berbuat demikian karena mendengar perkataan si nenek. Lalu Ia bangun dengan gagah, matanya menatap, dilihatnya wajah yang buruk dari si nenek dengan heran, tapi tidak membuatnya takut, malahan ia menghampiri.

“Adik kecil, kenapa mukamu demikian kotor dan banyak debu tidak di-cuci2?”

“Ah,” kata Kiu Heng, karena ia baru sadar dan ingat kenapa si orang tua mengatakannya sebagai monyet, In In tidak mengenalinya, kiranya mukanya sudah dekil dan kotor.

Ia menggosok mukanya dengan tangan, debu yang sudah bercampur keringat melekat demikian keras dan tidak mudah tergosok lagi.

In In yang mendengar perkataan si nenek menjadi gusar dengan membentak keras ia mendatangi.

“Hei perempuan iblis, kau jangan menganggap dirimu luar biasa. Aku sudah lama ingin mengadu kekuatan denganmu, tapi selalu dicegah tia-tiaku. Kini kau berani merusak perhubungan kita, menyatakan bernyali besar. Sekarang, jangan banyak bicara lagi, mari kita bertarung!”

Sehabis berkata, ia mencabut pedangnya dan memainkan beberapa kembangan silat.

“Ah, aku si nenek sudah tua, mana berani lompat2an seperti kau yang masih muda. Karena itu, kuminta kau jangan galak2 dan me-nakut2i aku…………”

Sebelum si nenek melanjutkan perkataannya, si orang tua berjanggut indah sudah menghadang perjalanan In In.

“In In, semakin lama kelakuanmu semakin tidak keruan! Lekas mundur!”

“Sioksiok, dapatkah kau mengalah sekali ini? Lain kali aku akan menurut perkataanmu! Nenek ini terlalu ugal-ugalan dan menjemukan, aku harus menghajarnya!”

“In In, kau berani membantah perkataan Sioksiok?”

In In terpaksa mundur dua langkah.

“Aku bukan membangkang atas perkataan Sioksiok, soalnya aku tidak mengerti, kenapa harus menakuti si nenek Iblis ini,” kata In In.

“Lagi pula, kenapa sampai Tia-tia pun seperti menakuti sepasang cakar iblisnya! Seluruh orang2 Lian Hoa Hong menakutinya, bisanya memaki di belakang tapi tidak berani menghantamnya secara berdepan!”

Orang tua berjanggut sudah tidak menjadi gusar mendengar perkataan In In.

“Betul! Kita menakutinya, sampai ayahmu, engkongmu menakutinya. Kenapa kau tidak takut?”

“Hm, aku tidak takut! Tampangnya yang setengah gila itu perlu amat ditakuti. Ia pun belum tentu berani menggunakan tangan, melulu mulutnya yang dipakai!”

“Ini pun betul, karena Ia pun serupa dengan kita, yakni takut!“

“Apa? Mungkinkah ia pun menakuti kita? Aku tidak percaya. Kenapa di seluruh Lian Hong Hong Ia bisa berkeluyuran sesuka hati dan boleh mengganggu kita seenaknya. Sebaliknya Tian Tou Hong tidak boleh kita injak dengan sebelah kaki, apa alasannya?”

Sehabis berkata, In In menatap kepada Siok-sioknya dengan sinar mata aneh menanti jawaban.

“Dalam hal ini kau akan mengerti sendiri. Kalau ingin mengetahui sekarang, kau boleh bertanya kepada Tia-tiamu atau ibumu! Mereka bisa menerangkan kepadamu, kenapa harus ddemikian!”

“Siang2 sudah kutanyakan, mereka tidak mau menerangkan, hanya menyuruh aku menantikan tiga tahun lagi. Sesudah itu baru mau memberi tahu. Tiga tahun! Ah, waktu yang terlalu lama. Aku tak sabar menantikannya.”

Tiba2 si nenek yang jelek turut ber-kata2.

“Tiga tahun terhitung panjangkah? Aku sudah menantikan tiga kali sembilan tahun, kini harus menantikan tiga tahun yang terakhir. Mungkinkah tiga tahun yang terachir ini lebih panjang dari yang lalu? Mungkin terlalu lama dan panjang, membuat si nenek merasa tak sabaran, karena itu kuharus pergi lebih dulu…..! Tidak! Aku tak bisa mencuci tangan dengan demikian, biar bagaimana capai lelahku yang ber-puluh2 tahun tidak boleh hilang secara percuma.”

Sehabis berkata, si nenek segera memutarkan tubuh, lengannya mencekal pergelangan tangan Kiu Heng.

“Adik kecil! Mari kita berlalu!”

Tiba2 berkelebat bayangan In In yang cepat laksana kilat menghadang perjalanan mereka. Ia memalangkan pedang dan berkata dengan tajam:

“Tidak boleh berlalu, boleh pergi tapi harus meninggalkan Kiu Heng!”

Kiu Heng merasa dongkol mendengar teguran yang demikian kasar.

“Urusanku tak berhak kau campuri!”

“Kiu Koko, bolehkah kau tak pergi?” tanya Ping Ping dengan lemah lembut.

Perkataan ini lebih berhasil dari pada In In.

Kiu Heng menjadi lunak dibuatnya, berpaling, dan seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi menjadi urung begitu merasakan lengan si nenek yang memegang pergelangannya terasa sangat halus dan hangat. Aliran itu menembus sampai di lubuk hatinya. Ia terkejut dan tidak bisa habis pikir lengan seorang nenek yang keriput bisa demikian hangat dan lunak.

Tiba-tiba terdengar bunyi: “cring” dua kali dari suara Kim.

Si orang tua berjanggut indah begitu mendengar suara ini segera memegang lengan In In dan Ping Ping.

“Lo Sianseng sedang memanggil kalian, hayo lekas pulang!”

In In berontak-rontak.

“Lepaskan lenganku’! Lepaskan! Aku tak maupergi!”

Ping Ping tidak merontak-rontak, Ia menatap Kiu Heng sambil berkata:

“Kiu Koko, kuharap kau tidak turut dengannya, ia adalah musuh dari kami, sedangkan Kiu Koko adalah kawan kami. Karena itu, kuharap jangan turut dengannya!”

“Cring! Cring!” kembali terdengar bunyi Kim.

“Lo Sianseng sudah memanggil kalian, kalau masih membandel jangan sesalkan tindakanku!”

In In tidak berani merontak-rontak lagi, Ia memandang pada Kiu Heng.

“Kalau kau ikut si nenek iblis, aku akan membencimu seumur hidup!”

Sedangkan Ping Plng masih tetap berlaku lemah lembut.

“Kiu Koko, kuharap kau jangan ikut dengannya, bolehkah?”

Sebelun suara dua gadis habis dari pendengaran, orang tua berjanggut indah sudah membawanya pergi, layap2 masih terdengar suara mereka yang mengatakan:

“Kiu Koko, kuharap jangan ikut dengannya!” “Kalau kau ikut dengannya, aku akan membencimu seumur hidup!”

Kalimat2 ini seperti me-ngiang2 di dalam telinga Kiu Heng, di dalam hatinya merasakan seperti manis dan pahit, seperti kawan dan musuh, ia tidak dapat membedakan, ia mabuk tak keruan!

Tiba2, ia menatap pada si nenek yang tengah tersenyum.

Senyum kemenangan atau senyum apa, Kiu Heng tidak bisa membedakan, karena otaknya sudah gelap dan mabok.

“Adik kecil, mari kita berlalu.”

Sebelum Kiu Heng bisa berkata baik, terlebih dulu sudah berteriak : “Aduh!”

Kembali ia muntah darah dan jadi pingsan

Ia tidak mengetahui berapa lama sudah berlalu, tiba2 Kiu Heng merasakan semacam cairan harum yang manis per-lahan2 masuk ke kerongkongannya.

Ia menelannya dan merasakan nyaman sekali, waktu Ia membuka mata, tampak sebuah lengan halus yang putih tengah memegang gelas memberikan obat padanya.

Sesudah minum obat, Kiu Heng merasakan dadanya menjadi lapang, lengannya pun menjadi baikan Sesudah Kiu Heng menceguk habis, lengan putih yang halus itu pun bergeser pergi. Ditatapnya lengan itu dengan penuh perhatian, kiranya adalah lengan seorang gadis berusia tujuh delapan belas tahun.

Si gadis berambut hitam, cantiknya luar biasa, tapi bersifat dingin dan tidak menarik seperti gadis kebanyakan.

Kiu Heng menatap kepergian si gadis. Setelah itu Ia mendengar percakapan dari kamar sebelah yang gelap. “Suhu! Ia sudah siuman!” “Siuman? Kalau begitu lekaslah suruh dia berlalu! Kita tidak bisa menahannya lama2!” jawab seseorang dengan suara parau.

Kiu Heng mengetahui yang berkata dengan suara parau itu, adalah seorang berilmu dalam yang tinggi, karena suaranya me-ngiang2 di dalam telinganya.

Ia kaget, karena mengenali suara itu adalah suara si nenek yang jelek. Oh, kiranya ini rumahmu, dan kau membawaku kemari!” pikirnya. Kembali terdengar lagi suara si nenek.

“Tak perlu berkata demikian di depan mukaku, sekali kubilang tidak tetap tidak. Ia sudah ditolong, boleh merasa beruntung besar! Karena itu, lekas suruh Ia pergi kalau sudah siuman! Se-kali2 jangan membuat aku gusar…..”

Perkataan ini tak ubahnya seperti parang yang tajam menusuk ke hati Kiu Heng membuatnya menjadi gusar.

“Aku tidak meminta datang kemari, kau sendiri yang membawaku! Aku tidak meminta kau obati, kau sendiri yang mengobati. Aku tak membutuhkan rasa kasihan orang. Kau ingin kuberlalu, segera aku bisa pergi, karena akupun tidak berpikir untuk tinggal di sini selamanya! Tak heran In In dan Ping Ping mencegah aku kemari, kiranya kau adalah nenek jahat! Kau menolongku karena takut hilang muka di depan orang2 Lian Hoa Hong. Hm! Kau kira aku bisa meratap? Kau jangan bermimpi, aku tidak membutuhkan belas kasihanmu….” pikirnya.

Ia berpikir dan berpikir, lalu turun dari pembaringan yang beralasan rumput kering, suara dari kamar sebelah masih terdengar tapi tidak setegas semula, karena telinga Kiu Heng seperti menjadi tuli disebabkan gelora kemendongkolan yang berkobar di dalam hati.

Ia masih merasakan lengan kirinya sakit, menyatakan sakitnya belum sembuh betul, tapi ia tidak memperdulikan ini. Dengan mengertekkan gigi, Ia turun terus, tiba2 ia mendengar lagi perkataan dari sebelah.

“Suhu, kau harus berpikir sedikit, aku bukan mencegah agar ia tak berlalu, tapi karena hal yang tiga tahun ini disebut panjang ya panjang, disebut pendek sekejap mata bisa berlalu. Tapi, bagaimana dengan kaki suhu, dapatkah sembuh seperti sedia kala? Merupakan hal yang tidak bisa diramalkan, tapi kalau tidak sembuh, kita harus bagaimana?”

“Cui-jie, kau bernyali besar berani memakiku?”

“Bruk!” sekali.

Kiu Heng tahu si gadis berlutut sambil mendatuhkan diri. Kini ia menjadi bingung, dirinya tak perlu dikasihani orang, tapi si gadis itu membuatnya kasihan. Ia heran kenapa si gadis mau meratap dan meminta kasihan pada suhunya untuk dirinya?

“Suhu, biar Cui-jie bernyali besar pasti tidak berani menjumpai kau si orang tua! Suhu harus berpikir dengan cermat, bagaimana baiknya kalau kaki itu tidak sembuh juga?”

“Biar bagaimana, aku tidak mau menahannya, lebih2 mengandalkan seorang anak kecil!”

“Suhu, kau belum melihatnya bukan?”

Kiu Heng merasa heran, kenapa Cui-jie mengatakan suhunya belum pernah melihat dirinya? Bukankah Ia membawanya kemari? Kalau begini lebih baik kupergi saja dari sini, tak perlu mengucapkan segala terima kasih!

Per-lahan2 Ia menarik pintu, baru saja akan keluar dari kamar, tlba2 di depan pintu menghadang seseorang yang bukan lain dari pada Cui-jie.

“Kiu Heng, percakapan kami mungkin kau sudah dengar semua bukan? Dapatkah kau menerima sedikit penjelasan? Kini guruku ingin melihatmu barang sekali, karena itu kau jangan gusar dulu, sesudah suhuku melihatmu, aku dapat menjelaskan per-lahan2!”

Kiu Heng bertabiat angkuh dan keras, tapi terhadap kelunakan ia tidak berdaya. Segala kegusarannya seperti hilang begitu mendengar perkataan halus si gadis.

“Baik! kulihat si nenek jelek itu, apa yang akan dikatakan padaku, bilamana mendongkolkan, aku segera berlalu. Bilamana ia memohon dengan halus, aku bisa bertindak melihat suasana!” pikirnya.

Cui-jie segera menuntun Kiu Heng ke dalam kamar. Lengan si gadis yang lembut mengalirkan hawa hangat merembes ke dalam hatinya, ia pernah merasakan kehangatan yang demikian unik, tapi ia lupa dimana mengalaminya. Tanpa terasa lagi Ia menatap dengan penuh perhatian pada wajah Cui-jie.

Begitu mereka masuk ke kamar, si nenek menatap pada Kiu Heng dengan sinar mata yang tajam, tak henti2nya dari atas ke bawah silih berganti. Si nenek menarik napas, lalu memeramkan kedua matanya dan berkata seorang diri:

“Aneh! Aneh! Kenapa bisa terjadi hal ini? Kenapa bisa begini?”

Perkataannya ini diucapkan demikian halus, tapi Kiu Heng dapat mendengarnya dengan tegas. Ia menjadi heran kenapa si nenek bisa mengucapkan kata2 yang demikian, agaknya seperti belum pernah melihat dirinya saja. Ia heran dan tidak habis mengerti apa yang dikandung hati si nenek. Apa yang aneh apa yang tak mungkin?

“Cui-jie,” kata si nenek, “ajaklah ke depan untuk beristirahat! Segala urusan boleh kau sampaikan sesudah hari terang!”

Cui-jie mengajak Kiu Heng keluar gua, lalu masuk ke sebuah gubuk.

“Kau tiduran sejenak, tak lama lagi aku datang!” sehabis berkata Cui-jie segera berlalu.

Sambil menatap kepergian si gadis, di dalam hati Kiu Heng timbul berbagai pertanyaan. Ia heran kenapa di Thian Tou Hong maupun Lian Hua Hong berdiam orang yang aneh2.

Si orang tua berjanggut indah, In In dan Ping Ping, si nenek yang berparas buruk dan Cui-jie, apa sangkutan antara mereka? Semuanya sukar ditebak dan diraba, semakin diingat semakin kusut otaknya.

Tak selang berapa lama, sesosok bayangan hitam menghampiri dirinya, pikirnyaa Cui-jie yang datang, tapi ia menjadi kaget, karena yang datang sesungguhnya adalah si nenek berparas buruk.

“Untuk apa kau datang?” pikirnya heran.

“Adik kecil, kau kira aku siapa?” tanya si nenek dengan suara parau.

“Kau belum pernah mengatakan dirimu siapa? Mana kutahu!?”

“Benar2kah kau tidak tahu? Adik kecil, aku akan memberi tahu!”

“Siapa dirimu? Apa hubungannya denganku, mau kasih tahu atau tidak, terserah padamu sendiri,” pikir Kiu Heng.

“Adik kecil, kalau kau tidak tahu aku siapa, kenapa kau tidak menjawab?”

“Apa yang harus kuucapkan, aku sudah mengatakan tidak tahu? Apa hubunganmu denganku, sampai mendesak ber-ulang2!”

“Tolol, kau jangan berpikir yang bukan2!”

Suara ini berubah dari parau menjadi girang.

“Oh, kiranya Cui-jie!” teriak Kiu Heng dengan kaget. Karena saat ini si nenek sudah mencopot kedoknya dan berubah menjadi Cui-jie.

“Kau berani memanggilku Cui-jie?”

“Ah! Tidak! Tidak! Cui Cici, Heng-jie salah sebut karena kaget!”

Cui-jie tidak menjawab tapi dari parasnya yang beku dan dingin berbayang sebuah senyum, tapi dalam seketika menjadi hilang, dan tampak kembali wajah bekunya yang tidak menarik.

Cui-jie membuka kedok dan seluruh pakaian penyamarannya serta sarung tangannya.

Kini Kiu Heng mengerti, suhunya Cui-jie tidak mengenalinya, karena yang membawa dirinya bukan lain dari Cui-jie sendiri. Tapi ia tidak mengerti kenapa Cui-jie melakukan penyamaran sebagai gurunya.

“Sekarang aku tak perlu menjelaskan lagi bukan? Tapi kuyakin kau ingin tahu kenapa aku berlaku demikian. Dalam hal ini aku bisa menerangkan tapi kau harus meluluskan permintaanku, yakni jangan menceriterakan hal ini kepada orang ketiga, karena hal ini merupakan kelemahan dari Thian Tou Hong!”

Kiu Heng mengangguk-anggukkan kepala.

“Baik, kau sudah manggut2, aku boleh merasa puas,” kata Cui-jie. “Sepuluh tahun berselang, antara Thian Tou Hong dan Lian Hoa Hong terjadi perselisihan dari soal kecil ini mengakibatkan urusan besar, masing2 bersumpah tidak mau sama2 berdiri di kolong langit ini. Mereka segera bertarung hebat. Sesudah berkelahi beberapa kali, tidak tampak yang menang maupun yang kalah. Mereka berjanji lagi sesudah sepuluh tahun akan bertarung lagi untuk menyelesaikan ganjelan ini. Saatnya tinggal tiga tahun lagi, hal ini suhu yang mengatakan kepadaku. Ia mengatakan dengan serampangan sehingga aku tidak mengetahui dengan terang soal ini sampai se-dalam2nya.

Lima tahun yang lalu, guruku selalu diganggu impian buruk. Tengah nyenyaknya tidur sering men-jerit2. Bilamana menilai kepandaian guruku, pasti tidak ada yang ditakuti, tapi kenyataannya bukan saja Ia terjaga dari tidurnya, bahkan setiap kali seperti kaget dan ketakutan.

Karena itulah mengakibatkan guruku terganggu dari latihannya dan masuk ke jalan sesat, sehingga kedua kakinya tidak bisa digunakan. Berbareng dengan itu, ia pun tidak suka bermimpi buruk dan ketakutan. Guruku menjadi cacat disebabkan penyakit jiwa. Kalau ingin mengandalkan obat biasa untuk menyembuhkan sudah tak bisa lagi. Menurut guruku, kedua kakinya akan sembuh sendiri sesudah tiga tahun lagi.”

Berkata sampai di sini, Cui-jie menarik napas, kedua matanya mengawasi kepada Kiu Heng, lalu melanjutkan lagi perkataannya.

“Karena Thian Tou Hong dan Lian Hoa Hong mempunyai sangkutan berat, dalam pertemuan yang terakhir guruku hanya seorang diri, karena itu dibolehkan kemana saja Ia hendak pergi, sedangkan orang2 dari Lian Hoa Hong dilarang datang ke Thian Tou Hong. Tapi ada satu larangan, yakni tidak boleh sembarangan melukai orang bilamana tidak diperlukan, hal ini disebutkan guruku sewaktu pertama kali aku menyamar sebagai dirinya.

Ia berkata: Kesatu, sesudah kau menyamar, boleh pergi kemana saja tanpa mendapat gangguan dari siapa pun. Kedua, sesudah menyamar, aku disuruh sering2 datang ke Lian Hoa Hong, agar mereka mengetahui bahwa guruku masih dalam keadaan sehat, sehingga bisa merahasiakan cacat guruku.

Karena disuruh menyamar, sejak kecil aku dilatih ilmu Ginkang dengan keras, di samping itu aku pun harus mempelajari gerak-gerik dan segala kelakuannya. Cara melatih diriku mendekati kekejaman, tapi aku tidak menjadi benci, karena kutahu kesukaran guruku. Aku menaruh simpati padanya.

Kuingat pada suatu ketika, aku pernah membuat guruku gusar, Ia mengatakan tentang diriku. Katanya aku adalah anak malang yang sudah tak mempunyai orang tua, sewaktu berusia tiga tahun diketemukan guruku. Karena menganggap aku berbakat untuk mempelajari ilmu silat, dibawanya ke Thian Tou Hong. Sesudah memaki panjang lebar dan menuturkan riwayatku, kegusarannya masih me-luap2. Aku diusir turun gunung. Hal ini adalah kejadian beberapa tahun berselang. Tapi aku tidak pergi karena kutahu guruku tengah sakit dan terganggu sewaktu tidur, aku berdiam di dekat rumah gubuk tanpa berlalu.

Pada tengah malam bulan purnama, guruku men-jerit2 dari mimpinya, begitu ia bangun, tidak terdengar lagi suaranya, cepat2 aku hampiri gubuk itu, tapi tidak berani langsung masuk, saat inilah kudengar guruku tengah me-nyebut2 namaku, karena itu tanpa memperdulikan sesuatu, aku menerobos masuk. Guruku pun menjadi kaget, kulihat ia pertama kali mengucurkan air mata, akupun merebahkan diri dalam pelukannya dan menangis ter-sedu2. Ku mendapatkan kami seperti juga seorang ibu dan anaknya yang tengah dirundung malang. Aku tak bisa pergi lagi dari sampingnya, guruku pun tidak pernah menegur atau memaki lagi sejak hari itu. Bukan saja demikian, diriku dianggap seperti anaknya, aku pun memperlakukannya seperti ibu, saling sayang dan mengasihi dengan hati ikhlas.

Sayang waktu yang demikian manis itu berjalan terlalu singkat. Guruku memasuki jalan sesat sewaktu berlatih karena terganggu impian2 buruk. Ia menderita dan tak ada waktu lagi menghiraukan aku, sebaliknya aku berlebih telaten merawat dan mengurusnya. Di samping bertambah giat belajar silat. Demikianlah kisahku yang sudah lampau!”

Kiu Heng mendengari ceritera Cui-jie dengan terharu, sebaliknya yang ceritera tetap dengan wajah beku tak berubah.

“Mungkinkah sampai wajah beku yang demikian dingin ini dipelajari juga dari gurunya?” pikir Kiu Heng.

Pada hari itu aku tengah berada di dekat air terjun, kulihat kau berlalu dengan ginkang yang luar biasa, belakangan kulihat kau dicelakakan si orang tua berjanggut indah. Karena itu kutolong dirimu, tak kira sesudah kucuci wajahmu, mendapatkan di mukamu bersemu hijau yang samar2. Menurut guruku, bilamana seseorang sudah memiliki ilmu dalam yang luar biasa baru bisa berwajah demikian. Aku heran dan tidak mengerti, benar2kah kau memiliki ilmu yang tinggi? Kenapa kau bisa dilukakan mereka? Bahkan terhadap pukulan si gadis saja kau seperti tak tahan?”

Ia menjadi girang mendengar keterangan Cui-jie bahwa dirinya memiliki ilmu yang tinggi, tapi ia tidak menjawab pertanyaau Cui-jie.

“Cui Cici, bagaimana ilmuku? Aku sendiri tidak tahu, tapi kuyakin tak bisa seperti yang Cui Cici sebutkan. Karena itu, kumohon di hari2 kemudian mendapat bantuan Cui Cici dalam ilmu silat ini!”

Cui-jie menjadi heran, menurut apa yang dikatakan gurunya maupun pengetahuannya bahwa Kiu Heng memang memiliki ilmu yang tinggi. Tapi kalau dilihat wajah Kiu Heng yang demikian wajar, sedikitpun tidak berdusta. Karena inilah ia tidak mau banyak ber-kata2.

“Kau lekas2lah tidur, lukamu akan menjadi sembuh sesudah tiga hari. Sesudah itu, mungkin kami akan memohon sesuatu kepadamu!”

Sehabis berkata Cui-jie masuk ke kamarnya, sedangkan Kiu Heng menatap dari belakang dengan berpikir: “Apa yang hendak kau minta dariku? Mungkinkah soal Lian Hoa Hong? Mereka melihatmu sudah ketakutan, perlu apa meminta pertolonganku? Dalam perkelahian menghadapi mereka, tak perlu diminta pun aku bisa menghajar mereka. Si orang tua berjanggut indah hutang pukulan! In In juga jahat, hanya Ping Ping si gadis lembut, yang baik hati.”

Memikir dirinya Ping Ping, Ia merasa jengah dan menyesal menggamparnya. Hal ini akan diingatnya seumur hidup sebagai penyesalan terbesar di dalam jiwanya.

Ber-hari2 turun hujan, Kiu Keng tidur nyenyak di atas rumput. Ia sering bangun dari tempat tidurnya, tapi tidak pergi ke-mana2 karena gangguan hujan.

Saat ini Kiu Hepg bukan merupakan jembel yang kotor dan dekil, tapi ia sudah mengenakan pakaian seorang petani pegunungan yang sederhana. Baju ini adalah pemberian Cui-jie yang didapatnya di desa, sungguhpun tidak pas, cukup pantas dipakainya. Ia merasa berterima kasih pada si gadis.

“Sejak kecil aku berlatih silat dan tidak bisa membuat baju. Karena itu kau pasti memaafkan diriku,” kata Cui-jie sewaktu menyerahkan baju itu.

“Cici, hujan2 kau pergi membelikan aku baju, aku merasa berterima kasih sekali. Aku mengerti dan mengucapkan syukur di dalam hati. Kenapa kau harus mengucapkan perkataan yang demikian? Aku yang menjadi adik mengharapkan kau jangan mengatakan demikian untuk kedua kalinya, bolehkah?”

Wajah Cui-jie menjadi merah, sedangkan matanya menjadi hidup, tapi dalam seketika menjadi hilang kembali. Kiu Heng ingln bertanya tentang wajah si gadis yang bisa berubah dengan cepat dan selalu beku dan dingin, tapi ia tidak berani mengetahui persoalan diri si gadis, hanya di dalam hati, ia ingin bertanya, sedangkan di mulut tak berani berkata-kata!

Beberapa hari kembali berlalu, cuaca cerah, tak hujan tak berawan, sinar surya yang ke-merah2an menerangi jagat dari ufuk timur.

Kiu Heng mengikuti Cui-jie dari belakang mendekati sebuah bukit. Dari sini mereka memandang jauh ke muka. Rumput dan pepohonan yang hijau dan batu yang berserakan menarik perhatian mereka.

Di sebuah bukit yang rata Cui-jie berhenti. Sewaktu ia menoleh ke belakang tak alang kepalang kagetnya. Pikirnya Kiu Heng yang ditinggalkannya itu pasti berada jauh di belakang, tak kira tetap berada di sampingnya.

“Adik, kau memiliki ilmu ginkang yang demikian tinggi, kenapa bisa dilukai si gadis dari Lian Hoa Hong? Andaikata kau tidak memiliki ilmu yang tinggi toh bisa mengegos menyelamatkan diri, bukan?”

“Cici jangan menertawakan aku, bilamana Cici tidak sengaja memperlambat kaki tak mungkin aku menyandak. Sedangkan aku kena dilukai si gadis, karena berkepandaian lebih rendah darinya.”

“Apakah kau berkata secara sungguh2 atau main2?“

“Oh, sesungguhnya ilmu In In tidak seberapa, aku kalah karena sedang terluka!”

“Dalam beberapa hari lukamu sudah sembuh seperti sedia kala karena itu aku ingin mencobamu beberapa jurus, dalam hal ini kau tidak boleh menggunakan segala kepandaianmu. Bilamana kutahu kau tidak mengeluarkannya semua, berarti tidak menghargai diriku. Karena itu, akibatnya lebih banyak buruknya daripada baiknya. Kau mengertikah maksudku?”

“Cici, kalau begitu kau ingin menyaksikan kepandaianku, dari mana aku harus mulai?”

“Dari manapun baik!”

Kiu Heng tertegun sejenak.

“Kenapa kau ragu2, mungkinkah tidak mau bertanding denganku?”

“Bukan tidak mau tapi bagaimana jadinya andaikata keterlepasan tangan, mungkin bisa…..”

“Mungkin melukai diriku?” potong Cui-jie.

“Kau legakan hatimu, jika kau bisa berbuat demikian, aku merasa girang dan tidak akan membencimu. Lagi pula suhu mempunyai obat mujarab yang luar biasa!”

Begitu selesai berkata, tubunnya segera menyergap keras dan cepat. Kiu Heng memutar mengegoskan serangan baru ia berbalik kembali serangan sudah menghajar datang, jurus ini membuat Kiu Heng serba susah.

“Plok!” sekali bahu kanannya terkena pukulan. Sungguh pun tidak berat tapi terasa sangat sakit.

Kiu Heng menjadi sengit, tubuhnya maju melancarkan serangan tangan, tiga jurus berlalu.

“Adikku, kiranya kau adalah murid dari Bu Tong San tapi ilmu kepandaian semacam ini se-kali2 jangan dipertunjukkan di atas Oey San, hal ini bukan disebabkan aku memandang rendah…….”

Kiu Heng merasa tersinggung, ia menggereng keras memutuskan perkataan Cui-jie. Ia tidak memperdulikan bisa membuat Cui-jie luka berat, tenaganya disalurkan di kedua telapak tangannya.

“Bert! Bert!”

Dua kali, segera menyerang!

Cui-jie tidak mengira kekuatan Kiu Heng, ia terhempas beberapa tombak.

Dari pada gusar, Cui-jie menjadi girang.

“Adikku, awas atas serangan balasanku!”

Tubuhnya menggeliat di udara lalu meluncur turun dengan kecepatan kilat di-sela2 tenaga pukulan Kiu Heng. Ringan sebagai walet lincah sebagai ular, ia mencelos dalam sekejap mata lalu menepak per-lahan2 di tangan Kiu Heng, lalu melejit lagi sejauh beberapa tombak.

Gerakan tubuhnya, jurusnya yang dipertunjukkan membuat kagum Kiu Heng yang beradat tinggi. Tapi Ia tidak mau mengalah, Ia pun mengubah gerakan, tubuhnya mengejar, lengan kirinya memukul dengan telapak tangan, lengan kanannya menotok dengan jari2nya, gerakannya sangat aneh dan indah, dikata cepat tidak seperti kilat, dikata lambat tidak lambat. Sukar diegos dan dihindarkan, lebih sukar pula ditangkisnya.

jurusnya yang sederhana ini membuat Cui-jie pucat pasi, keringatnya mengucur, cepat Ia membentangkan ilmu Walet Menerjang Angkasa Luas, semacam ilmu menolong diri dalam keadaan bahaya.

Gerakan yang Kiu Heng pergunakan adalah salah satu jurus dari pelajaran di dalam gua yang ditemukan di Pek Tio Hong. Dengan tiepat ia pun mengikuti tubuh Cui-jie, dengan perlahan dan pasti Kiu Heng berhasil membayangi si gadis, lalu menotoknya secara ringan.

Cui-jie terpaksa turun dari udara dengan heran, ia menatap pada Kiu Heng, hatinya berpikir bolak-balik, ia merasa heran Kiu Heng bisa melancarkan ilmu yang maha luar biasa dan indah!

Kiu Heng menjadi heran melihat Cui-jie tidak ber-kata2, kiranya ia sudah melukainya dan membuat si gadis menjadi gusar, cepat2 ia minta maaf.

“Dalam seketika aku kurang cepat menarik serangan, sehingga mengenai Cici, harap jangan gusar.”

Cui-jie menarik napas sambil meng-geleng2kan kepala, lalu berkata. “Aku tidak bisa menyalahkan dirimu, tapi kuminta kau mengeluarkan jurus yang indah semacam ini se-banyak2nya! Agar kubisa membuka mata mengenal dunia!”

“Tapi sayang sekali, jurus ini hanya sejurus dan kuperoleh kepandaian ini dengan tak sengaja sampai namanyapun aku tak tahu, mana bisa kuperlihatkan lagi yang lainnya?”

“Aku bukan anak kecil berusia tiga tahun yang mudah dibohongi orang. Caramu yang demikian cupat, menyembunyikan pelajaran tak mau mempertunjukkan membuat hatiku merasa kesal tapi tak ada lain perkataan yang dapat kuucapkan. Mari kita pulang!” kata Cui-jie.

“Kau tidak mengetahui namanya ilmu yang kau pergunakan, sedangkan aku pun tidak tahu, sebaiknya pulang saja menanyakan kepada suhu, pasti Ia akan mengetahuinya!

Cui-jie segera berlalu begitu selesai berkata.

Kiu Heng merasa girang kalau gurunya Cui-jie bisa mengenali Ilmu yang dipergunakannya ini, cepat2 ia mengikuti kembali ke gubuk. Lalu ia mondar-manjr di luar gua dimana si nenek tinggal.

Dinantikannya Cui-jie keluar dengan tak sabaran, ia ingin mengetahui selekasnya ilmu yang diperoleh dari dinding batu itu termasuk, dari perguruan mana.

Cui-jie keluar juga sesudah lama. Ia mengajak Kiu Heng ke dalam gua tanpa ber-kata2.

Kiu Heng kedua kali masuk ke dalam gua. Sekali ini Ia merasakan jauh berbeda dengan pertama kali ia pergi. Di dalam gua tampak sangat terang. Dengan penuh perhatian Kiu Heng mencari dari mana datangnya sinar itu, ia dongak ke sekeliling, dilihatnya dua butir mutiara bersinar tergantung di pojok ruangan.

“Mungkin mereka ingin melihat ilmu kepandaianku, sengaja menggantungkan mutiara bersinar, baiklah! Kamu boleh melihat, dengan tegas!” pikir Kiu Heng.

“Kiu Heng sudah datang,” kata Cui-jie.

“Kau boleh mulai dengan ilmumu, jangan mencoba menyembunyikan, seluruhnya kau keluarkan!”

Kiu Heng segera memasang kuda2 dan mempertunjukkan ilmu yang dipakainya menghadapi Cui-jie tadi, lalu menambahnya dua jurus ilmu yang diperolehnya dari dinding gua. Tiga jurus ini tidak bisa dirangkaikannya menjadi satu seri yang indah, sehingga ia merasa tak enak dan tidak meneruskan jurus2 yang lain.

“Bocah! Siapa yang menyuruh kau datang ke sini? Lekas katakan, bilamana kau tidak mengatakan dengan jujur jangan salahkan aku tak mengenal kasihan!” bentak si nenek, begitu selesai menyaksikan Kiu Heng memainkan ilmunya.

Perkataan si nenek membuat Kiu Heng dan Cui-jie menjadi kaget.

“Lo Cianpwee jangan salah paham! Heng-jie datang ke sini tidak diperintah orang lain, melainkan diajak Cui-cici. Karena itu kuharap Lo Cianpwee bisa mengetahuinya.”

“Hm.” kata si nenek, “kau mempergunakan jurus pertama yang bernama Keng Liong Cin Kouw (Naga Terkejut binatang Kouw Terpental), jurus kedua bernama Hoo Lui Wan Tie (Bangau Menangis Kera menjerit), jurus ketiga bernama Siong Ma In Coan (Sepasang Kuda Minum di Mata Air). Ketiga jurus ini adalahpeninggalan orang2 berilmu di dunia Kang Ouw yang terkenal, kini kusudah memberi tahu kepadamu, mungkinkah kau masih berniat untuk membohong?”

Kiu Heng seperti pernah mendengar nama ketiga jurus itu tapi Ia lupa dimana mengetahuinya. Ia terpekur memikir, matanya ber-kilat2 memancarkan sinar aneh bahna asyiknya, sampai lupa menjawab pertanyaan si nenek.

Tiba2 deruan angin keras mendesak dirinya, berbareng dengan itu terdengar Cui-jie berseru keras, Kiu Heng tidak berdaya menyingkirkan diri, terpaksa mengangkat lengannya melakukan tangkisan dengan Ilmu lunak dan keras seenaknya.

Si nenek yang melihat Kiu Heng menangkis secara demikian, memaki di dalam hati: Ah, si binatang kecil tak tahu mati, berani betul menyambut seranganku secara demikian. Biar kau lihaypun akan terluka dan mati!”

Tapi begitu dua tenaga tangan beradu, serangan si nenek menjadi pudar!

Si nenek menjadi kaget. Ia tak habis pikir seorang muda yang sederhana bisa mempunyai kepandaian yang demikian tinggi.

Ia berputus asa.

“Sret,” sekali, lengannya dengan mendadak mengusap mukanya, selembar kedok segera copot dan memperlihatkan parasnya yang sesungguhnya. Ia merupakan seorang wanita pertengahan umur yang berparas cantik.

Berbareng dengan itu, tubuhnya segera bertiarap di atas tanah, lalu menangis dengan sedih.

“Ilmu kepandaian Siau-ko sangat tinggi, Na Wan Hoa mengaku bersalah dan menerima untuk dihukum!” katanya.

Sekali ini membuat Kiu Heng menjadi heran dan tak mengerti.

Cui-jie berseru dengan tiba2, Ia mencelat memayang gurunya sambil berkata: “Suhu! Suhu! Kenapa kau bisa begini?”

Saat ini, air mata sudah membasahi pipi Na Wan Hoa.

“Cui-jie, sejak hari ini habis sudah perhubungan dan perjodohan antara kau dan aku! Siauko ini diutus oleh musuh kita! Kau tentu masih ingat apa yang pernah kuucapkan pada tahun yang lalu! Yakni, orang2 dari Lian Hoa Hong tidak diperkenankan memijakkan kakinya di daerah Thian Tou Hong, tapi asal mereka bisa mendidik seorang murid yang lihay dan pasti bisa mengalahkan aku, boleh datang ke sini. Kini aku sudah menyerah kalah, segala sesuatu mengenai kau dan aku berarti habis pula, karena aku harus menerima segala syarat yang dikehendaki musuh!”

Mendengar keterangan ini, Cui-jie memandang kepada Kiu Heng dengan sinar mata tajam.

“Adikku, apakah benar2 kau diutus oleh orang2 dari Lian Hoa Hong?”

Kiu Heng sudah terkejut dan terpesona oleh kejadian yang mendadak ini. Dilihatnya Cui-jie menatap dengan air mata berlinang-linang. Cepat ia berlutut.

“Cici, mungkinkah sampai kau sendiri tidak percaya kepadaku? Aku hanya bisa bersumpah kepada yang maha kuasa, aku tidak mempunyai hubungan dengan orang2 dari Lian Hoa Hong. Bilamana aku berkata salah sepatah pun, boleh menyuruh aku ……….”

Tiba2 Cui-jie menjerit keras, lengannya membekap mulut Kiu Heng, sedangkan Na Wan Hoa sudah bangun dan duduk di hadapan Kiu Heng, ia me-nepak2 pundak pemuda kita sambil bertanya: “Haicu, duduklah, mari kita mengobrol! Jika bukan utusan dari musuh2ku, darimana kau memperoleh pelajaran silat itu? jika bisa menerangkan, kupersilahkan. Kalau tidak bisa, aku tidak memaksa. Percayalah bahwa aku sudah percaya betul kepadamu, dan tak mungkin untuk menegur serta menyalahkan dirimu lagi.”

Kiu Heng enggan menerangkan pengalamannya. Ia hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan Na Wan Hoa.

Malam mendatang Kiu Heng bolak-balik di atas pembaringannya tidak bisa tidur. Di otaknya mengingat terus tiga jurus ilmu yang bernama Keng Liong Cin Kau, Hoo Lui Wan Tie, Siang Ma In Coan, yang dipertunjukkan tadi. Ia tidak bisa melupakan nama2 itu sebab pernah mengetahuinya, tapi lupa dimana dan kapan melihat atau mendengarnya?

Mulai dari Cit-coat-kiam lalu ke Sam Cee Pan Goat sejurus demi sejurus ia mengusut, tiba2 ia teringat buku Pai-kut-sin-kang dari Siang Siu. Cepat2 buku itu dikeluarkannya. Dengan kedua matanya yang bisa melihat di dalam keadaan gelap, ia membaca dari kepala sampai di akhir dengan cermat dan teliti, tapi tidak menemui nama2 dari ilmu silat itu.

Lalu Ia teringat kepada Bu Lim Tiap, cepat ia mengeluarkan buku yang merupakan pusaka rimba hijau itu. Ah! Benar di sini! Aku ingat, disinilah tertera beberapa kalimat yang ter-putus2 dan tidak kumengerti!

Cepat2 ia membalik lembaran demi lembaran.

“Ah, di sini!” serunya.

Kiranya di setiap nama orang2 yang pernah memiliki Bu Lim Tiap tertera nama dari ilmu2 silat yang dimiliki orang itu. Di samping itu, masih terdapat penjelasan2 yang membikin Kiu Heng mengerti dengan mudah!

Ia mengakuri gambar2 yang pernah dipelajarinya dari dinding gua dengan perkataan2 yang tertera di bawah nama orang itu. Dengan cepat ia menghapal perkataan2 itu! Berbareng dengan itu ia mendengar suara “Cring” dari .suara kim. dan menyusul suara orang tua bersuara parau.

“Na Kounio, Tiong-mo minta bertemu untuk merundingkan soal penting!”

Sungguh pun suara ini datang dari arah jauh, Kiu Heng dapat menangkapnya dengan tegas, cepat2 ia menyembunyikan Bu Lim Tiap, dan merebahkan dirinya di atas pembaringan. Karena ia mengingat, malam2 datang, tamu pasti akan merundingkan soal penting dengan tuan rumah. Sedangkan dirinya merupakan orang luar, biar bagaimana pun tidak boleh mencuri dengar. Karena itu satu2nya jalan yang terbaik, lekas2 menjadi pulas!

Tepat di saat Ia akan pulas, mendadak berkesiur angin yang diiringi berkelebatnya sesosok tubuh di samping tempat tidurnya. Ia melihat orang itu adalah Cui-jie yang mengenakan kedok buruk keluar rumah.

“Kedok itu hanya sebuah, mereka menggunakan secara bergilir, untuk mengelabui orang luar tentang keadaan jasmaniahnya. Na Wan Hoa yang sudah cacat. Entah siapa yang datang ini? Ah, mendengar suara Kim sudah dapat dipastikan orang itu adalah ayahnya In In! Mungkinkah ayahnya In In yang sudah tua sebaya dengan Na Wan Hoa yang masih tampak muda dan cantik? Mungkinkah ia awet muda? …..Sebelum ia bisa berpikir terlebih banyak, telinganya mendengar suara bentakan keras yang menggelegat seperti petir di dalam ribut, membuat dirinya kaget dan membalik tubuh.

Tiba2 ia mendengar suara Na Wan Hoa.

“Haicu, pergilah kau lihat Cicimu, jangan sampai orang luar menghinanya!”

Kiu Heng cepat bangun, pedangnya dibawa.

“Lo Cianpwee tenangkan hatimu, barang siapa berani mengganggu Cui Cici tidak akan kuampuni!”

Dengan kecepatan luar biasa Kiu Heng sudah sampai di mulut lembah, dilihatnya Cui-jie tengah berhadapan dengan seorang tua yang sudah berjanggut putih. Mereka saling tatap tanpa ber-kata2.

Orang tua itu memegang Cit Hian Kouw Kim (alat musik kuno yang berkawat tujuh), tiba-tiba berkata : “Hm, siapa kau? Berani betul menyamar sebagai Na Kouwnio mempermainkan Lohu! Kau harus tahu, sudah berapa tahun aku tidak membunuh, karena itu sadarlah terlebih dahulu, jangan sampai salah paham! Panggil secepatnya Na Kouw Nio datang!”

Perkataan ini membuat Cui-jie terkesiap, Ia mengira bisa berlaku seperti biasa, mengelabui orang tanpa ketahuan. Tak kira begitu ketemu musuh besar gurunya segera diketahui. Mana berani lagi Ia membuka mulut, ia berlagak gagu dan tidak menjawab pertanyaan itu.

“Na Kouwnio!” teriak si orang tua yang memegang kim. “Wan Hoa….. hari ini bahaya mengancam di depan matamu, biar bagaimana aku harus turun tangan. Apakah kau tahu budak kecil yang bernama Kiu Heng itu siapa? Ia adalah orangnya Gui Sam Seng dari Pek Tok Bun: Ia diutus datang untuk mencelakakan dirimu!”

Peringatan ini membuat Cui-jie yang menyamar menjadi kaget, sedangkan Na Wan Hoa yang berada di kamar pun tidak kurang kagetnya. Hanya Kiu Heng sendiri yang merasa heran.

“Kenapa di Oey San ini dtinggali manusia2 aneh, yang dikerjakan maupun yang dikatakan selalu perkataan yang tidak melalui otak, seperti lelucon besar saja…” pikirnya.

Ia tidak bisa berpikir terlalu lama, karena kesiuran angin keras, lewat di sampingnya dengan kecepatan kilat, Ia melirik dengan tajam. Orang itu bukan lain dari pada Na Wan Hou yang keluar dengan tongkat di tangan.

“Wah celaka! Angin keributan bisa timbul karena salah paham. Bagaimana aku harus menerangkan diriku?” pikir Kiu Heng.

“Tiong Peng Hoan, Tiong Ngo-ko. betulkah kata2 yang kau ucapkan?” tegur Na Wan Hoa.

“Kau mempunyai bukti apa? Ih! Kemana dia? Aku melihat ia sudah keluar!”

Orang tua yang memegang kim dan dipanggil Tiong Peng Hoan, me-mentil2 alat musiknya, memperdengarkan irama lembut yang menyedihkan, sehingga membuat orang mengucurkan air mata.

“Wan Moay, hari ini Ek Lam Siang Sat, Lauw Siong dan Lauw Pek tanpa sengaja memasuki Thian Tou Hong, dan mereka melihat Kiu Heng berada di dalam gubuk tengah memegang Bu Lim Tiap sambil memeramkan mata. Sedangkan Bu Lim Tiap itu kini berada di tangan Gui Sam Seng, tapi mendadak bisa dilihat di tempat kediaman Wan Moay, keruan saja hatiku menjadi cemas! Sedangkan dua saudara Lauw yang memasuki daerahmu yang terlarang sudah kuhukum, masing2 kubuntungi sebuah lengannya dan kuusir dari Lian Hoa Hong! Mengingat bahaya Jyng mengancam Wan Moay, aku tak memperperdulikan larangan dan segala akibat yang mengancam diriku, kuperlukan datang kemari memberi kabar!”

Pek Tok Thian Kun dan keluarga Tiong serta Na dari Oey San mempunyai permusuhan yang dalam sebagai lautan, kumohon Wan Moay bisa menghilangkan ganjelan antara kita, untuk menghadapi bahaya ber-sama2 yang datang dari luar!

Ah! Wan Moay! Kau……….. Kau…….. kenapa memakai tongkat? Bagaimana dengan kedua kakimu? Mungkinkah sudah dicelakakan tangan jahat?”

Sambil herkata ia datang menghampiri untuk melihat, tak kira baru saja Ia mendekat, sebuah tongkat Na Wan Hoa melayang dan menghantam, memaksa si orang tua kembali ke tempatnya lagi.

“Tak perlu kau pura-pura baik, urusanku jangan kau campuri,” bentak Na Wan Hoa.

”Yang kuingin tahu adalah soal Kiu Heng….. Ia…… Ia apakah benar2 dari Pek Tuk Bun?”

“Siapa yang mengatakan aku dari Pek Tok Bun?” kata Kiu Heng dengan tiba2 sambil menampakkan diri di antara mereka.

Sekalian orang yang berada di situ menjadi kaget, masing2 mundur beberapa langkah, agaknya mereka sangat jeri pada Kiu Heng. Selanjutnya keadaan menjadi sunyi sepi, sesudah lama baru terdengar Tiong Peng Hoan berkata:

“Tak perduli kau orang dari Pek Tok Bun atau bukan, Oey San melarangmu tinggal terlebih lama lagi! Bu Lim Tiap boleh memerintahkan seluruh orang2 Bu Lim, tapi keluarga Tiong dan Na tidak pernah melanggar peraturan maupun mencelakakan jiwa orang2, karena itu Bu Lim Tiap tidak bisa digunakan untuk menundukkan kami!”

Kiu Heng menjadi gusar, matanya mendelik.

“Siaucu harap kau mengerti, biar Gui Sam Seng si bangsat busuk yang datang sendiri, tidak mungkin berani mem-bentak2 sembarangan dengan Tiong Peng Hoan. Kau jangan mengira memiliki Bu Lim Tiap, lalu merasa aman dan tidak boleh dicelakakan. Kau harus berpikir dirimu berada di Oey San, bilamana melakukan kesalahan, pasti akan menyukarkan dirimu sendiri, kupikir jalan yang terbaik untukmu, lekas2 meninggalkan Oey San!”

Kiu Heng mengetahui mereka salah paham karena dirinya memiliki Bu Lim Tiap, tapi ia tidak bisa menjelaskan dan menghilangkan kecurigaan orang, melainkan menjadi dongkol.

“Co Lotau (orang tua celaka) untuk apa kau galak2? Pergi ya pergi, berapa susahnya!”

“Asal kau mau meninggalkan Oey San, biar dimaki pun aku tidak menjadi gusar. Lekaslah kau berlalu, jangan menimbulkan soal yang tidak diinginkan. Sepulangnya ke rumah, kau tanyakan siapa sebenarnya Tiong Peng Hoan ini, Gui Sam Seng pasti bisa menerangkan dengan jelas kepadamu!”

“Kau jangan banyak bicara, aku tak perduli kau siapa, kini aku berbalik pikir tidak mau berlalu dari Oey San, aku mau lihat, kau bisa berbuat apa pada diriku?” bentak Kiu Heng dengan aseran

Tiong Peng Hoan merasa heran atas sikap Kiu Heng yang mudah berubah, ia diam tidak menjawab.

Kiu Heng merasa geli.

“Mereka mengetahui aku memiliki Bu Lim Tiap, sehingga tidak berani menghajar diriku, dapat dilihat bahwa Bu Lim Tiap mempunyai pengaruh besar sekali,” pikirnya.

“Baiklah, aku pergi juga! Tapi kuminta kalian jangan mengatakan lagi aku muridnya Gui Sam Seng si jahanam, bilamana bertemu lagi di hari kemudian!”

Belum makian Kiu Heng hilang dari pendengaran, mendadak terdengar suara siulan halus yang panjang dan terdengar nyata seperti keras seperti lunak seperti dekat seperti jauh. Tiba2 berubah di timur, lalu ke barat, ber-pindah2 tidak teratur, tapi suara itu membuat pendengaran orang menjadi kacau menusuk hati dan membuat jalan darah tak teratur ber-golak2 seperti ber-debar2.

Sekalian yang mendengar menjadi pucat, mereka mengetahui kedatangan seorang berilmu tinggi, tapi tidak mengetahui siapa manusianya.

Seiring dengan suara itu berkelebat sesosok tubuh dari udara ke hadapan orang2 di situ. Pendatang itu merupakan pelajar berusia empat puluhan, cakap dan keren, bilamana matanya tidak ber-kilat2 siapa pun tidak mengira memiliki ilmu yang demikian tinggi.

Tiong Peng Hoan, tanpa terasa mengejek dengan mengeluarkan suara dari hidung. “Hm, kukira siapa tidak tahunya Gui Sianseng dari Pek Tok Bun, pantasan memiliki Ilmu demikian mengejutkan orang!”

Gui Sam Seng ter-bahak2.

“Tiong Cianpwee, duapuluh tahun kita tidak bertemu, kau masih sehat2 saja membuat aku girang juga melihatnya, entah bagaimana dengan Na Toa Kouwnio masih sehat2kah? Jika Na Kouwnio mengalami sesuatu yang tidak baik, bisa2 Gui Sam Seng merasa tak enak seumur hidup.”

Na Wan Hoa yang sudah duduk bersila di atas tanah, begitu mendengar Gui Sam Seng me-nyinggung2 namanya segera tertawa.

“Tak kukira kedua mata anjingmu tidak mengenal Kouwnio! Bagaimana? Murid dan guru berdatangan susul menyusul, apakah akan mempergunakan Bu Lim Tiap untuk memutuskan peristiwa duapuluh tahun yang lalu?”

Gui Sam Seng tersenjum.

“Biarpun Bu Lim Tiap merupakan pusaka rimba hijau, Gui Sam Seng tidak perlu menggunakannya! Tapi kuminta penjelasan, apa artinya guru dan murid? Gui Sam Seng malang melintang selamanya seorang diri dan belum pernah me-nuntun2 murid!”

Sekalian orang memandang kepada Kiu Heng dengan sinar tajam.

Kiu Heng seperti menang angin, ia ter-senyum2 dilihat orang, ia tidak mengetahui bahaya besar tengah mengancam dirinya.

“Adik kecil, apakah benar2 kaupun memiliki Bu Lim Tiap?” tegur Cui-jie.

Pertanyaan ini membuat sekalian orang menjadi kaget dan berubah parasnya, sedangkan Gui Sam Seng sendiri merasa heran juga. Ia meng-usap2 sakunya, Bu Lim Tiap masih tetap berada di tempatnya, sehingga hatinya menjadi lega.

“Bu Lim Tiap di dalam rimba persilatan hanya satu, mana mungkin ada Bu Lim Tiap yang kedua?” katanya.

“Apa anehnya dengan segala. Bu Lim Tiap, kau lihat ini apa?” kata Kiu Heng.

Sekalian mata yang menyaksikan menjadi silau, di atas sebuah kotak kumala putih tertulis Bu Lim Tiap dengan batu2 permata biru.

Sebelum Kiu Heng bisa mengangkat tinggi2 kotak Bu Lim Tiap, ada angin serangan menyambar keras, cepat Ia memutar langkah dan mencelat beberapa tombak, lalu memasukkan kotak kumala itu ke dalam sakunya, sedangkan matanya menatap tajam dengan siap sedia.

Tiba2 angin serangan datang lagi, untuk menjaga diri, Ia tidak memperdulikan siapa yang menyerang, segera mengangkat tangan membalas menyerang.

“Bung!” dua kekuatan saling tumbuk menimbulkan suara keras.

Yang menyerang kena didesak mundur beberapa langkah. Kiu Heng menegasi, kiranya penyerang itu bukan lain dari Gui Sam Seng.

Gui Sam Seng tidak menduga sama sekali, seorang bocah muda memiliki kotak Bu Lim Tiap yang ber-sinar2, pikirnya dengan kepandaiannya bisa merampas kotak itu dengan mudah, tak kira kejadian berjalan di luar perhitungannya, bukan saja benda itu tidak dapat dirampas ia sendiri kena ‘digempur mundur, Hal ini terjadi karena Ia memandang terlalu enteng pada Kiu Heng sehingga mendapat malu di depan banyak orang.

Ia gusar tak alang kepalang.

“Tak kukira di dunia Bu Lim terdapat seorang bocah busuk yang berani memalsu Bu Lim Tiap dan berani mengaku sebagai murid Pek Tok Bun. Hm, bocah, lekaslah kau keluarkan Bu Lim Tiap, bilamana tidak, jangan sesalkan aku menurunkan tangan jahat!”

Kiu Heng tidak menjadi kaget atau gugup, dengan tenang Ia menjawab.

“Pek Tok Thian Kun, kau mengatakan aku memalsu Bu Lim Tiap, kalau begitu yang kau miliki masih ada dan belum hilang, bukan?”

“Siapa yang tidak mengetahui bahwa Bu Lim Tiap itu berada di tanganku. dan siapa pula yang berani berlaku gegabah berani menyamber Bu Lim Tiap dari tangan Pek Tok Thian Kun. Mungkin juga ada orang berani berbuat demikian karena sudah bosan hidup?”

Mendengar keterangan itu hati Kiu Heng menjadi lega.

“Asal kau bisa membuktikan bahwa Bu Lim Tiap ini bukan milikmu, menyatakan aku bukan mencuri darimu, sehingga hatiku menjadi lega. Aku tidak menginginkan orang2 menghargai diriku karena memiliki Bu Lim Tiap, dan tidak menginginkan menjadi ketua Bu Lim karena memiliki Bu Lim Tiap, karena itu kau pun tak perlu mengurus atau mengetahui Bu Lim Tiap yang kumiliki palsu dan dari mana kudapat, bukankah dengan demikian jadi beres!?”

Perkataan ini membuat Gui Sam Seng bingung.

“Bocah ini tidak memandang mata pada Bu Lim Tiap, membunuh mati pun tidak ada salahnya.”

Begitu Ia berpikir segera ia menjerit panjang. Tubuhnya menerjang angkasa menyergap datang, tapi ia membatalkan serangannya di tengah jalan.

“Bagus, apa yang kau katakan tidak salah! Tapi kutanya, apakah kau terhitung orang Bu Lim bukan? Kau harus mempunyai nama. Nah, terangkanlah padaku sejujurnya!”

Kiu Heng sudah siap siaga begitu melihat gerakan musuh, tapi ia tidak mengira serangan itu bisa dibatalkan dengan mendadak.

Ia menjawab dengan cepat: “Aku adalah laki2 sejati, aku she Kiu nama Heng! Sudah pernah berguru dan menerjunkan diri dalam dunia Kang Ouw, karena itu sudah tentu sebagai orang Bu Lim!”

Gui Sam Sang ter-senyum2, tiba2 Ia mengeluarkan dan mengangkat tinggi2 Bu Lim Tiap sambil membentak keras:

“Kiu Heng! Kau lihat ini apa?”

Kiu Heng siang2 sudah melihat Bu Lim Tiap yang hampir serupa dengan yang dimilikinya, matanya menatap terus kepada Gui Sam Seng yang menjunjung tinggi Bu Lim Tiap dengan kedua tangannya.

“Buku itu bertuliskan Bu Lim Tiap tiga huruf. kenapa Ia bertanya lagi kepadaku? Mungkinkah ada soal di balik ini?” pikirnya.

Gui Sam Seng tidak memperdulikan Kiu Heng yang tengah ragu2, ia membentak lagi: “Kiu Heng, kau bernyali besar, kenapa sesudah melihat Bu Lim Tiap tidak bertekuk lutut?”

Kiu Heng terkejut, ‘a tidak mengetahui ada peraturan demikian.

“Bu Lim Tiap buku yang terbuat dari kulit kambing, sudah mencelakakan guruku, untuk apa kubertekuk lutut padanya?” jawab Kiu Heng dengan cepat.

Sekalian yang menyaksikan menjadi pucat mukanya mendengar jawaban yang di luar dugaan. Karena mereka mengetahui, Barang siapa berani membangkang atas perintah pemegang Bu Lim Tiap berarti kematian.

“Bocah, terhitung kau berani! Kau berani menghina Bu Lim Tiap dan tidak menghormati, berarti sama juga menghina Cousumu sendiri. Sejak hari ini kau menjadi musuh sekalian orang2 Bulim, masing2 orang boleh membunuhmu!”

Kiu Heng tidak mengira perkataannya itu sama dengan durhaka besar, ia merasa menyesal berlaku gegabah, sehingga terpekur diam.

“Bangsat, apakah kau mengaku berdosa? Kau masih muda, tidak mengetahui peraturan Bu Lim Tiap, tambahan pertama kali kau melanggarnya, karena itu dosamu bisa dientengkan. Lekaslah kau keluarkan kotak Bu Lim Tiap!”

Kiu Heng yang agak menyesal menjadi gusar mendengar perkataan itu.

“Kiranya kau berlaku galak, untuk merampas kotak Bu Lim Tiap yang kumiliki, aku tidak mau tertipu…. aku tidak mau menyerahkannya, biar aku mendapat nama busuk dan menjadi musuh setiap orang Bu Lim, pada suatu ketika aku bisa menerangkan dan memperbaiki namaku sendiri!” pikirnya.

“Bocah, apakah kau sudah berpikir dengan baik. Lekas kau berlutut dan serahkan kotak Bu Lim Tiap!” desak Gui Sam Seng tak sabaran.

Kiu Heng sudah mengambil ketetapan.

“Tidak!“ jawabnya ketus.

“Kiu Heng hidup di atas dunia tanpa sanak tanpa kadang, juga tidak mengharapkan bantuan orang lain! Dunia Bu Lim gelap dan kotor, karena itu tidak kuharapkan bantuannya. Kini kau boleh menganggap aku menghina guru atau dijadikan musuh bersama, aku tak takut, pendeknya Bu Lim Tiap tetap tidak kuserahkan! Terkecuali kepalaku sudah berpisah dengan leher, kau boleh miliki yang kau kehendaki itu! Mari maju, terhadap mati aku tidak takut, apalagi terhadap kamu!”

Perkataan ini diucapkan dengan santer, membuat sekalian orang di situ merasa bergetar jiwa sukmanya. Mereka memuji bocah yang berumur belasan ini demikian besar nyalinya, di balik itu mereka menguatirkan pula jiwa Kiu Heng yang terancam kematian.

Gui Sam Seng ter-tawa2 beberapa kali mendengar jawaban Kiu Heng, dari suara tawanya itu seperti juga benang halus yang tajam menusuk telinga membuat yang mendengar merasa gentar sendiri!

Kiu Heng dapat dibilang sudah memiliki Ilmu kepandaian yang sudah tinggi, sayang belum mengalami latihan lagi, sehingga belum sempurna, Sungguhpun demikian, ia mempunyai tenaga yang kuat untuk mempertahankan diri.

“Aku sudah dijadikan musuh kaum Bu Lim, untuk apa terus2an diam di sini? Lebih baik cepat2 berlalu?” pikirnya.

Sewaktu sekalian orang bingung mendengar suara tertawa Gui Sam Seng, Ia menotolkan kakinya mencelat pergi dengan cepat.

Berbareng dengan itu, Cui-jie pun berseru keras dan memburu pada Kiu Heng. Mereka berlari ber-sama2 dan satu jurusan pula.

Kenapa terjadi demikian?

Kiranya sewaktu Gui Sam Seng tertawa ia melancarkan ilmu Lie-seng-toan hun-im yang lihay! Ketiga orang tua yang mendengar segera bersemedi melawan suara itu, sedangkan Cui-jie yang tidak memiliki ilmu dalam dari suhunya merasakan darahnya seperti mau membeku, bilamana tidak lari segera bisa mati seketika juga, karena itu ia berseru dan merat mengikuti Kiu Heng.

Gui Sam Seng tidak mengejar, pikirnya Ia bisa membuat anak muda itu tunduk dengan mudah, ia terlalu percaya kepada ilmu Lie-seng-toan-hun-im yang bisa melukai orang dalam jarak puluhan tombak. Ia tertawa terlebih hebat dari semula!

Apa mau dikata, suara tertawanya yang mengandung kehebatan itu tidak berguna sama sekali pada diri Kiu Heng! Sebaliknya Cui-jie segera jatuh ambruk, mukanya menjadi pucat pasi, keringat dingin mengucur se-besar2 kacang kedelai dari keningnya. Kiu Heng yang mengira sedang dikejar Cui-jie segera menoleh, ia menjadi kaget melihat keadaan Cui-Cicinya menderita luka parah demikian macam.

Cepat2 Ia mengempit Cui-jie dan berlari lagi ke atas puncak dengan kecepatan kilat, ia menuju ke suatu gua yang pernah diketahuinya dari Cui-jie.

Sewaktu Cui-jie diserang suara Gui Sam Seng, dadanya menjadi sesak. Karena itu men-cakar2 diri sendiri, tak heran bajunya menjadi cabik2!

Sesudah meletakkan tubuh Cui-jie Kiu Heng memandang dengan cemas di samping itu, hatinya pun menjadi berdebar melihat dua bukit kecil yang putih laksana salju. Mukanya menjadl panas. cepat dipelengoskan ke lain jurusan.

Ia mengetahui kalau Cui-jie bangun dan mengetahui dirinya dalam keadaan demikian, pasti akan menjadi malu, cepat2 ia membuka bajunya sendiri dan menutupi tubuh si gadis.

Tak selang berapa lama, Cui-jie siuman dari pingsannya. Ia merasa aneh berada di dalam gua.

“Adik, kenapa aku bisa berada di sini?”

“Cici, mungkinkah kau menjadikan aku sebagai musuh juga?” Kiu Heng berbalik menanya.

“Legakan hatimu! Aku bukan manusia rendah demikian macam. Aku tetap akan memperlakukan kau sebagai adik kandungku sendiri!” kata Cui-jie.

Tiba2 ia menjadi kaget melihat keadaan dirinya, sehingga menjadi gusar.

“Aku….. kau….. si manusia rendah, kenapa berani berbuat demikian kotor? Aku buta tak mengenal orang!”

Sehabis berkata Cui-jie mendorong dengan tangan diiringi jeritan kerasnya. Akan tetapi sebelum suara itu keluar dari mulut, lengan Kiu Heng terlebih cepat membekapnya.

Ia kuatir suara itu didengar musuh dan mendatangkan bencana yang tidak diinginkan. Tak kira Cui-jie yang tengah gusar tak dapat dilampiaskan, napasnya menjadi sesak, Ia pingsan lagi.

“Cici……… Cici,” panggil Kiu Heng.

Cui-jie tetap tak bangun.

Ia mengetahui untuk menyadarkan si gadis harus memencet sepasang jalan darah yang terletak di bawah buah dada. Tanpa ragu2 lagi, apa yang dipikir segera dikerjakan. Lengannya segera dimasukkan ke bawah baju, lalu menekan dan mengurut agar Cui-jie siuman.

Disebabkan Kiu Heng terlalu cemas dan ter-gesa2, Ia salah tekan! Bukan jalan darah yang kena dijamah, melainkan bukit salju si gadis! “Benda” itu demikian bulat dan segar, sehingga licin dan sukar terpegang!

Kiu Heng seorang anak muda yang baru berangkat dewasa, mana mengerti soal orang dewasa? Tadi ia sudah ber-debar2 melihat sepasang gunung salju, hal itu disebabkan keanehan alam. Kini lengannya menyentuh sepasang benda yang mengandung keanehan itu. sehingga merasa heran tak habis2nya.

Atas desakan keanehan yang ingin diketahuinya, ia me-nekan2, alhasil lengannya itu seperti terkena aliran listerik yang maha dahsyat! Sekujur tubuhnya menjadi gemetar, ia menjadi terkesiap dan kaget. Cepat2 menarik lengannya, tapi sudah terlambat, sesuatu kenikmatan yang sebelumnya tak pernah dirasakan mengalir ke seluruh perasaannya, unik dan segar!

Sesudah menenangkan pikiran dengan bersemadi, mulai lagi Ia me-nekan2 jalan darah, sekali ini ia tidak menyeleweng seperti tadi, sesudah mengurut seketika lamanya. Cui-jie mulai siuman, sedangkan Kiu Heng sudah mandi keringat.

Sewaktu Cui-jie menarik napas yang pertama, Kiu Heng sudah menarik lengannya. Ia bukan letih dan lelah sewajarnya, melainkan lengannya itu mengenai kulit dan daging yang lunak dan licin seperti mengalirkan hawa hangat dan wangi. Di samping itu sering2 lengannya itu salah jalan meraba ke tempat lain sehingga hatinya ber-debar2, untuk menahan perasaan yang aneh ini membuatnya lebih berkeringat.

Per-lahan2 Cui-jie membuka matanya, padahal siang2 ia sudah siuman, tapi tidak mau lekas bersuara, karena merasakan dirinya tengah diurut secara mengasyikkan.

Ia menggunakan kesempatan ini membiarkan diurut terus, achirnya ia mengetahui kesalah-pahaman tadi, ia merasa tak enak pada Kiu Heng.

Ia berpikir pulang pergi harus bagaimana menghilangkan perasaan salah paham ini?

Sementara itu urutan Kiu Heng tetap berjalan, ia sadar menderita luka dan lukanya itu tak mungkin baik di-urut2 demikian, karena itu Ia membuka suara.

Sewaktu matanya dibuka, tampak tubuh Kiu Heng yang mandi keringat, Ia merasa berterima kasih, lengannya tanpa disadari diangkat mengusap keringat2 yang berada di dahi Kiu Heng.

“Adikku, menyusahkan kau saja,” kata Cui-jie.

“Lukaku terlampau berat dan tak mungkin sembuh dengan diurut! Mungkin juga bila tidak mendapat obat yang mujarab dalam beberapa hari lagi akan meninggal dunia? Entah bagaimana dengan guruku? Ia mempunyai obat yang bernama Kie-hun-kui-goan-tan yang pernah kau makan juga. Dengan obat itu umurku baru bisa bertambah panjang! Kutahu bisa demikian karena, merasakan seluruh isi perutku seperti bergeser dan pindah tempat, dan tak mungkin sembuh dengan obat biasa!”

“Cici, legakan hatimu! Sebentar malam aku akan mencari gurumu,” jawab Kiu Heng.

Tapi kukuatir ia menganggap aku sebagai musuh pula! Kalau sampai demikian, terpaksa aku harus mencurinya. Pendeknya aku harus berdaya sekuat mungkin menolong cici!

Di samping itu, kuyakin pula Na Lo Cianpwee pasti akan memberikan obat itu kepadamu, karena ia sangat menyayang kepadamu seperti menyayang seorang anak kandungnya. Kau rebahanlah dengan tenang!”

“Ah, tidak boleh begitu! Perbuatanmu sangat berbahaya, kau harus sadar Pek Tok Thian Kun tak mungkin melepaskanmu begitu saja. mungkin ia masih berada di sekeliling gunung ini mencarimu!”

“Cici, kau tak perlu kuatir. Aku tak akan berbuat bodoh, Aku bisa berlaku hati2 dan cermat menjalankan pekerjaan ini,”

Cui-jie memandang pada Kiu Heng dengan sinar mata tajam, membuat pemuda kita merasa heran, ia terkejut sejenak, menantikan perkataan Cui-jie.

“Siapa yang pernah mengatakan kau bodoh, hanya mengatakan keadaan sangat berbahaya!”

Kiu Heng menjadi lega, mendengar keterangan itu! Mereka sudah berkumpul lama juga, tapi untuk pertama kali Cui-jie menatap demikian macam. Di samping itu, pertama kali pula Ia melihat wajah Cui-jie yang tadinya beku dan dingin berubah menjadi terang dan manis. Kesemua ini membuat Kiu Heng girang, tak terasa lagi Ia memegang lengan si gadis dan dikepalnya erat2.

Kelakuannya ini sangat wajar, sedikit pun tidak mempergunakan kekerasan. Cui-jie merasa heran, tapi Ia melihat wajah Kiu Heng yang tenang dan demikian wajar, membiarkan saja tangannya di-kepal2, hanya wajahnya menjadi merah seperti kepiting direbus!

Kiu Heng berdiam diri di dalam gua, karena mereka mengetahui musuh2 masih menjaga di luar. Malam pertama dilalui menyusul malam kedua. Orang2 yang mencari mereka masih terdengar suaranya di luar gua.

Kini malam yang ketiga, Cui-jie sudah tiga kali pingsan, Kiu Heng selalu menolongnya dengan cara memijit jalan darah. Setiap kali Cui-jie terbangun, selalu Ia menyebutkan dengan suaranya yang lemah. “Air, air air…….”

Tiga hari tidak keluar gua, tanpa memakan barang sedikit makanan maupun air, masing2 merasa kering dan haus yang luar biasa. Atas ini Kiu Heng sedih dan duka, ia bertekad pada malam ini akan keluar gua untuk mencarj makanan dan air, yakni untuk menolong Cui-jie dan dirinya sendiri.

Sebelum meninggalkan gua, Kiu Heng merasakan dadanya sangat dingin. Ia ingat kepada kotak Bu Lim Tiap, lalu dikeluarkan. Di samping itu, ia pun memegang singa2-an kumala yang didapatnya sewaktu di gua Pek Tio Hong.

Pikirnya dengan batu kumala yang adem bisa menghilangkan haus, lekas2 ia memasukkan singa2an itu ke dalam mulut, benar saja mulutnya yang kering menjadi adem, seperti juga terkena air yang sejuk.

Ia memberikan yang satu lagi kepada Cui-jie. Dengan demikian mereka bisa menahan rasa dahaga dari kasiat singa2an itu.

Sungguhpun demikian rasa lapar tetap tak kunjung hilang, orang yang sakit tidak tahu apa2 dan bisa menahan lapar, tapi tidak demikian dengan orang sehat. Kiu Heng merasakan lapar yang tidak alang kepalang.

***

Rembulan per-lahan2 bergeser ke tengah2 langit yang terang, binatang2 hutan memperdengarkan suara mereka beraneka macam, sedangkan bumi terasa sunyi dan sepi.

Saat inilah dari atas gunung melayang sesosok tubuh yang demikian lincah dan ringan menuju ke dalam lembah. Bayangan ini bukan lain dari Kiu Heng adanya.

Ia berhenti sebentar di atas sebatang pohon Siong, telinganya dipasang, sesudah memastikan tiada musuh lagi di sekitarnya, baru turun ke tanah dan langsung pergi ke rumah gubuk di mana Ia pernah tinggal.

Ia menjadi terkejut karena rumah gubuk sudah tidak terlihat lagi, berganti menjadi satu tumpukan puing dan abu, demikian pula gua di depannya sudah hangus terbakar!

Kiu Heng tertegun sekian lamanya. Ia tidak bisa berpikir kemana perginya Na Wan Hoa dan harus kemana mencari obat untuk Cui-jie?

Sesudah menenangkan pikiran, ia berlalu dari tempat yang membangkitkan kedukaan untuk mencari sedikit makanan. Dalam keadaan malam ia bisa melihat tegas seperti di siang hari. Sungguhpun demikian terkecuali buah2an gunung, tidak ada makanan lain.

Akhirnya ia menggunakan cara yang pallng bodoh untuk mendapatkan binatang hutan, diambilnya batu dan dilemparkan ke semak2 yang rimbun. Dalam sekejap caranya yang tolol ini berhasil membuat seekor menjangan terkejut keluar dari sarangnya.

Tanpa ayal lagi Ia mengejar sambil menyambit dengan batu. Tak kira menjangan itu bisa berlari dengan gesit, ia menghindarkan diri dari batu dan menuju ke atas gunung lalu hilang tak terlihat. Ia mengejar terus dengan penuh harapan. Sesampainya di atas, terlihat tebing, di situ terdapat tikungan, sedangkan menjangan yang sudah tak tertampak menjadi hilang benar2.

Kiu Heng berjalan terus di sebelah tikungan tebing itu terdapat sebuah gua yang besar.

“Ah, kukira ia sudah kabur, tak tahunya pasti bersembunyi di sini?” pikir Kiu Heng.

Dengan cepat ia masuk ke dalam, benar saja menjangan itu terdapat di dalam, ia tengah menekuk kakinya menatap pada Kiu Heng dengan sinar mata bening dan takut, ia diam tak berani bergerak.

Tiba2 Kiu Heng merasa tak tega untuk mencelakakan menjangan itU.

“Jika aku terjun lagi ke dunia Bu Lim, mungkin bisa seperti menjangan ini. Di-kejar2 dan dimusuhi untuk dibunuh!”

Menjangan itu dengan tiba2 mendengking, menyusul terdengar bunyi bergemuruh yang ramai, membuat Kiu Heng kaget dan melompat.

“Mungkinkah blnatang ini pun pintar, sehingga bisa menjebak aku?” pikirnya.

Tengah Ia ragu2, tahu2 ratusan ekor binatang yang bergemuruh atau lebah menyambar dirinya. Ia tidak berani berlaku ayal2an lagi, cepat2 sipat kuping.

Kiu Heng berlari cepat, lebah2 itu bisa terbang lebih cepat pula, sehingga beberapa antukan lebah itu bersarang di atas jidat dan kepalanya. Sehingga ia benjol dan babak belur.

Dengan dongkol Ia kemba1i ke gua sebelum itu ia memetik buah2an gunung lagi dan mengisi kotak Bu Lim Tiapnya dengan air.

Cui-jie merasa girang melihat Kiu Heng kembali tak kurang suatu apa.

“Adikku, apakah Pek Tok Thian Kun sudah pergi?” tegumya.

“Sudah!” jawab Kiu Heng, lalu ia membuka kotaknya, dan memberikan Cui-jie minum.

Buah2an itu dikupas disuapi si gadis sedikit2.

Keadaan malam di dalam gua luar biasa gelapnya, tapi Kiu Heng bisa melihat seperti di dalam siang. Sinar surya masuk ke dalam gua dari celah2 pepohonan, Cui-jie sudah tak sabaran membuka mata untuk menaiap Kiu Heng, karena ia mempunyai firasat buruk tadi malam.

Benar saja Ia melihat jidat Kiu Heng dan pipi yang benjol dan bengkak2, segera Ia menegur. “Adikku, tadi malam kau tidak menemukan guruku bukan?”

Kiu Heng tidak berani mendusta, tapi ia kuatir Cui-jie menjadi ‘berduka. “Cici, lebih baik kau merawat dirimu baik2 dan jangan terlalu berduka! Na Lo Cianpwee tidak kutemukan, dan rumah gubuk yang bekas kita tinggali telah…..”

“Telah dibakar!” potong Cui-jie.

Ia tidak menjadi duka mendengar kabar buruk itu malahan menjadi girang. “Suhu pernah mengatakan kepadaku, bilamana ia mendapat kesempatan berkelana di Sungai Telaga kembali rumah gubuk itu akan dibakarnya, dengan demikian ia bisa menghilangkan kekesalan dan kedukaan hatinya!

Ia tertegun sejenak sambil memandang kepada Kiu Heng, lalu melanjutkan perkataannya: “Adikku, kau pasti tersengat lebah hitam. betulkah? Bolehkah kau membawaku ke tempat lebah2 itu? Lebah2 itu bisa menolong diriku!”

“Cici, kau jangan mengaco, lebah-lebah itu mana mungkin menolongmu?”

“Adikku, kau lupakah pada madu yang pernah kau minum? Madu itu bisa menambah semangat dan kekuatan, merupakan obat yang mujarab. Madu itu didapat dari lebah2 hitam, Bawalah aku kesana, kau tak perlu kuatir, sebab lebah2 itu peliharaan guruku.”

Kiu Heng girang mendengar keterangan ini, tapi ia tidak segera berangkat.

“Cici dapatkah kau menderita seharian lagi? Sekarang sudah siang, aku kuatir dipergoki musuh!”

Cui-jie mengangguk.

Pada malam harinya Kiu Heng menggendong Cui-jie ke gua di mana terdapat lebah2. Ia merasa takut dan tidak berani masuk, Ia terpaku di luar gua, Cui-jie yang digendong membunyikan suara aneh yang terdengar “sing… sing… sing…”

Lebah2 segera mengaung2 datang, binatang2 itu mengitari di atas kepala Cui-jie, sedangkan si gadis semakin seru membunyikan suara gaibnya.

Lebah2 itu ber-putar2 secara teratur, sedikitpun tidak mengeluarkan tanda2 untuk menyengat. Melihat keadaan ini, Kiu Heng menjadi berbesar hati, cepat2 ia masuk ke dalam.

Di bawah petunjuk Cui-jie, Ia masuk terus ke dalam gua. Di slni terdapat dinding batu yang mengelilingi empat penjuru, di situ terletak belasan cangkir yang penuh madu, harumnya semerbak menusuk hidung.

Cui-jie mengajari Kiu Heng harus bagaimana membunyikan suara gaib dan bagaimana mengambil madu2 itu. Kiu Heng yang cerdas dalam sekejap sudah mengerti.

Dengan petunjuk2 Cui-jie, Ia bisa mengambil madu2 dengan mudah, lalu memberikan pada Cui-jie untuk menghirupnya.

Sesudah menghirup dua cangkir, Cui-jie merasakan semangatnya terbangun, hatinya pun menjadi tenang. Disuruhnya Kiu Heng membawa dirinya masuk terus ke dalam, di situ terdapat kamar batu.

“Kamar batu ini adalah tampat yang dipergunakan suhuku melatih ilmu pada mula pertama, ilmu yang dipelajari itu bernama “Ban-hong-cie” atau puluhan ribu jari lebah. Ia membunyikan suara gaib, leba2 keluar dari liang2, pertama suhu hanya melepaskan sepuluh ekor, yang lain liangnya ditutup. Dikeluarkannya lagi suara aneh, berbeda dari yang semula, sehingga lebah2 itu berputar dan menyerang dirinya sekaligus. Ia menggerakkan lengannya menotok lebah2 yang datang. Lebah2 berjatuhan dan mati, ia sendiri terkena antukannya. Tapi pada latihan yang belakangan ia bisa mengatasi keadaan, sehingga ilmunya menjadi sempurna.

“Adikku, kau mempunyai ilmu dalam yang sudah tinggi, tapi ilmu pukulanmu masih terlalu buruk, kau pergunakanlah kesempatan ini untuk melatih diri! Kujamln kau akan memperoleh banyak kemajuan. Bilamana jarimu bisa menjatuhkan seratus lima puluh ekor lebah dengan cepat dan sekaligus, berarti kekuatan dan kecepatan jarimu sudah tidak ada tandingannya lagi di dunia Bu Lim!”

“Baik ya baik, tapi kalau kena diantup sakitnya luar biasa……. Ih? kenapa sakitnya hilang dan jadi sembuh?” kata Kiu Heng.

Ia mendapatkan tempat yang bekas diantup sudah sembuh sama sekali, benjol maupun bengkaknya hilang tak tertampak.

“Kau sangat tolol, itulah berkat madu lebah itu sendiri, karena itu kau tak perlu takut, kena diantup lagi, bukan?”

Kiu Heng menjadi girang, segera ia minta diberi petunjuk2 cara melatih Ilmu Ban Hong Cie.

Kiu Heng baru pertama kali melatih diri, Ia mempergunakan duapuluh ekor lebah. Begitu ia membunyikan suara aneh, lebah2 itu seperti menghadapi musuh, dengan garang mereka me-raug2, lalu meluruk pada kepala pemuda kita.

Dalam sekejap Kiu Heng dibikinnya kalang kabut, kepalanya segera terasa sakit kena antupan2 berbisa, sedangkan lebah itu satu pun tidak ada yang blnasa. Cui-jie yang menyaksikan dari samping segera membunyikan suara “sing… sing… sing…”

Yang gaib, lebah2 segera berserabutan ke atas kepalanya tanpa menyengat lagi.

Kiu Heng sangat penasaran. Ia rajin berlatih terus menerus, sesudah tiga hari, baru ia berhasil memperoleh kemajuan. Dua puluh lebah kena dltotok mati sedangkan ia sendiri tidak kena diantup.

Berbareng dengan itu, madu2 sudah beberapa cangkir diminum Kiu Heng, sehingga otaknya bertambah cerdas. Kegirangannya tak dapat dilukiskan dengan kata2. Ia bertambah rajin dalam latihannya.

Pada hari keempat, Kiu Heng mempergunakan empat puluh lebah untuk melatih diri. sekali ini pun ia berhasil membinasakan seluruh lebah2 itu tanpa menderita luka.

Keesokannya Ia menambah lagi dengan dua puluh ekor. Sungguh pun Ia tidak menderita luka, tapi harus menggunakan seluruh tenaga dan pikirannya baru berhasil membinasakan enam puluh ekor itu.

Sementara itu, Cui-jie yang minum madu biar sudah baikan, belum sehat seperti sedia kala, ia bisa bangun dan duduk. Ia pun turut bergirang atas kemajuan yang diperoleh Kiu Heng. Hari ini ia berdiam diri di dalam goa seorang diri karena Kiu Heng sedang keluar mencari makanan. Inilah untuk pertama kalinya Kiu Heng keluar gua di waktu siang, karena memikir Pek Tok Thian Kun sudah berlalu.

Kiu Heng yang tengah berjalan dan ber-indap2 dengan hati2 menjadi terkejut mendengar gedebaran dari baju orang, agaknya bukan seorang saja, tengah menuju ke tempa ia berada. Cepat2 Ia berjongkok di samping batu besar, telinganya dipasang lebar2, sedangkan matanya pun mengawasi ke jurusan suara tadi.

Ah, sungguh kebetulan sekali, karena yang datang itu adalah In In, Ping Ping dan si orang tua berjanggut indah.

“Hari ini Tia-tia menghapuskan pantangan dan larangan menginjak Thian Tou Hong, sehingga keinginanku datang bermain ke sini dari tahun2 yang lalu terkabul juga. Tapi sesudah, bermain dan ber-jalan2 di sini sejenak, yang terlihat hanya gunung dan pepohonan yang serupa dengan Lian Hoa Hong, sedikit pun tiada yang aneh. Pepatah mengatakan barang yang tidak didapat harum dan manis, sesudah didapat keharuman dan kemanisannya menjadi pudar!” kata In In menggerutu.

Tiba2 terdengar suara rintihan, membuat ketiga orang ini terkesiap, mereka memasang telinga dengan tajam ke empat penjuru.

“Sioksiok. kau mengatakan di sini sudah tak ada orang lagi, baru memberi ijin kami bermain bukan? Kenapa kini terdenngar suaara orang merintih seperti menderita luka berat. Mari kita lihat!” kata Ping Ping.

“Baik,” jawab si orang tua berjanggut indah, “menolong jiwa orang lebih berjasa dari pada membuat menara bertingkat tujuh…”

Tiba2 suara rintihan kembali terdengar dengan nyata, seperti juga tengah menderita sakit berat Mereka segera dalang ke belakang batu. Alangkah terkejut mereka, sewaktu melihat yang merintih itu bukan lain dari Kiu Heng adanya.

Kiu Heng memperlihatkan wajah kesakitan yang tidak alang kepalang. Gigi atasnya menggigit bibir bawah dengan erat, seperti mau menggigit masuk saja, kedua matanya agak meram, keringat mengucur dari keningnya.

In In dan Ping Ping dengan cepat menghampiri, yang seorang di sebelah kanan yang seorang lagi dri sebelah kiri. Yang seorang berteriak: “Kiu Koko!” Yang seorang berteriak: “Kiu Heng!”

“Kiu Koko, kau….. kau…. kenapa? Kau katakanlah!” kata Ping Ping sambil meng-goyang2 tubuh Kiu Heng.

“In In, Ping Ping,” kata si orang tua berjanggut indah, “kau jangan ber-teriak2, bocah ini mungkin minum air gunung. Menurut kata Tia-tiamu, sebelum Gui Sam Seng berlalu, Ia menyebarkan racun di dalam air. Barang siapa meminumnya pasti akan mati. Bocah ini bisa menghindarkan diri dari tangan Gui Sam Seng, tapi tidak bisa meloloskan diri dari racunnya.”

“Siok-siok, bukankah kau masih mempunyai pel Kie-hun-kui-goan-tan? Kau berikan sebutir! Kasihan dia!” pinta Ping Ping sambil mengucurkan air mata.

“Memang obat itu bisa memunahkan segala racun, tapi belum tentu bisa menawarkan racun Pek Tok Thian Kun, tambahan ia sudah terkena lama dan terlambat untuk ditolong!”

“Tidak terlambat!” bantah Ping Ping. “Kau lihat ia masih merintih terus menerus! Berikanlah sebutir!”

In In yang diam saja pun meminta agar si orang tua memberikan obat pada Kiu Heng sehingga si orang tua mengalah juga didesak dari kiri dan kanan.

“Baiklah,” katanya.

“Hitung2 bocah ini berhokkie besar. bilamana hari ini Tia-tiamu tidak mengatakan Ia seorang yang baik, pasti tidak kutolong!”

Sehabis berkata segera Ia mengeluarkan peles obat, dengan hati2 dikeluarkannya sebutir dan diberikan ke tangan Ping Ping.

Ia sendiri mengangkat pelesnya dan menutup obatnya yang masih bersisa sebutir.

“Tinggal sebutir lagi! Ah, tinggal sebutir lagi,” katanya.

Tiba2 terdengar suara kaget dari In In dan Ping Ping, membuat si orang tua terkejut dan melompat setombak lebih. Berbareng dengan itu ia mendengar suara ter-gelak2.

“Terima kasih banyak! Lo Sianseng, pendeknya obatmu ini sama saja dipergunakan menolong orang! Pada jiwie Kounio pun aku menghaturkan banyak terima kasih juga. Aku tidak mempunyai waktu terlalu lama, karena lebih penting menolong jiwa orang. Sampai ketemu lagi!”

Berbareng dengan habisnya Kiu Heng berkata, ia mencelat pergi dengan cepat, ketiga orang bahna terkejut lupa untuk mengejar. Sewaktu melihat Kiu Heng sudah pergi jauh, In In baru sadar, dan cepat mengejar.

“Kiu Heng, kurang ajar kau, berani betul menipu kami, selamanya tidak akan kuberi ampun!”

Ping Ping pun sudah mengejar. Begitu ia mendengar In In memaki segera menasehatkan:

“Cici tak perlu memakinya, maafkanlah perbuatannya itu! Kuyakin obat itu akan dipergunakan menolong orang juga! Obat itu terlalu mahal dan sukar didapat, untuk mendapatkannya ia menipu kita, kalau tidak demikian pasti tidak akan didapat bukan?”

“Bocah gila, kau bernyali besar betul berani menipuku, bilamana tidak kuhajar jangan panggil aku Lim Peng Sian si berjanggut indah………..”

“Siok-siok, Kiu koko dalam keadaan terpaksa baru berbuat demikian, maafkanlah! Untuk apa bergusar demikian!?” kata Ping Ping.

Mereka mengejar terus, tapi tidak berhasil.

Sewaktu Kiu Heng bersembunji dan melihat datangnya si orang tua berjanggut indah, segera teringat kepada obat Kie-hun-kui-goan-tan yang dimiliki si orang tua. Ia sangat ingin memperoleh obat itu untuk menyembuhkan penyakit Cui-jie, karena itu ia ber-pura2 sakit untuk mengelabui si orang tua. Sesudah memperoleh obat segera berlari dengan kencang ke dalam gua untuk menemui Cui-jie. Begitu ia masuk segera menyumpalkan obat itu ke dalam mulut Si gadis tanpa berkata putih atau hitam.

Cui-jie sangat girang melihat obat itu, tanpa sungkan2 membuka mulutnya. Wewangian yang harum bertebaran. Cui-jie merasakan nyaman, cepat2 ia bersemadi, dengan bantuan obat yang mujarab, dalam sekejap penyakitnya menjadi sembuh.

“Adikku, apakah kau menemukan suhuku? Kini ia berada dimana?” kata Cui-jie sambil mengucurkan air mata haru.

Kiu Heng merasa tak mengerti.

“Cici! Kau kenapa menangis? Mungkinkah obat itu palsu? Mungkinkah kau merasa tidak enak minum obat itu? Cici! Kau katakanlah, aku bisa segera mencari mereka untuk berhitungan!”

“Adikku, mereka itu siapa? Mungkin si orang tua berjanggut indah dan dua gadis dari Lian Hoa Hong bukan? Mereka bisa menipu kau tapi mana mungkin menipuku? Aku mengenali obat itu adalah yang sesungguhnya, hanya saja sesudah meminum obat itu aku merasakan waktu untuk berpisah antara kita sudah dekat sekali……..”

Berkata sampai di sini, dipeluknya Kiu Heng erat2, sedangkan air mata terlebih banyak lagi dialirkan.

“Sejak kecil aku menemani suhu, aku mempelajari kehidupannya yang beku dan dingin, sebegitu lama aku tidak mengenal apa namanya menangis, dan tidak tahu pula apa yang dinamai tertawa. Tapi kedua perasaan yang berlawanan itu sudah kucicipinya kini; aku menangis di hati dan tertawa! Aku akan menangis dengan perasaan, dan tertawa dengan perasaan pula. Kutahu perpisahan hari ini teramat berat untukmu maupun untukku, entah kapan kita bisa bertemu kembali untuk merasakan kehangatan sebagai sekarang…….”

Tiba2 Kiu Heng berdongak dari pelukan si gadis.

“Cici, Cici, apakah kau akan pergi? Kau harus ingat kau baru sembuh dari luka parah…..”

“Karena aku sudah sembuh segera akan pergi, aku harus mencari guruku, aku tidak bisa meninggalkan guruku yang sudah cacat, aku harus merawatnya sampai guruku meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan demikian aku baru bisa membalas budi kebaikannya yang dilimpahkan atas diriku.”

Kiu Heng tidak menyangka begitu sembuh Cui-jie segera akan berlalu. Bilamana tahu demikian, tak mungkin ia melakukan penipuan untuk mendapatkan obat itu.

Andaikata mendapat obat pun tidak semudah itu memberikannya. Ia berpikir demikian karena untuk kepentingan peribadinya.

Mungkinkah sebab di lubuk hatinya sudah mengenal cinta? Memang cinta itu selalu mementingkan diri sendiri? Memang dalam beberapa hari sesudah berkumpul di dalam satu gua, Ia merasakan sesuatu yang sukar dilukiskan dengan kata2, ia terjerat di kancah pergolakan batin usia remaja yang menginjak dewasa. Ia merasa sayang dan enggan berpisah dari tubuh si gadis.

Hal demikian meresap di jiwanya, mungkin Ia akan membantah kalau ditanya orang lain, tapi ia tidak akan membantah bilamana dirinya sendiri yang bertanya!

“Bilamana Cici ingin mencari Na Lo Cianpwee, bolehkah aku menemani pergi?”

Cui-jie mendorong Kiu Heng dari rangkulannya, Ia mendelik.

“Kau tidak boleh pergi denganku! Ilmi yang kau pelajari belum sempurna, karena itu kularang mempelajarinya sampai di tengah jalan dan berhenti! Di samping itu, kau harus mengerti kesukaran hatiku.”

Hampir2 Kiu Heng menangis.

“Aku mengerti kandungan hatimu. Kau takut berjalan sama2 dengan seorang yang dianggap musuh sekalian kaum Bu Lim, bukan? Karena…”

“Ah! Thian!” seru Cui-jie, “kau anggap aku sebagai manusia macam apa? Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu! Di depanmu aku mengatakan jiwaku dari beku bisa mempunyai perasaan antara sedih dan duka, ini sudah cukup menerangkan perasaan dan jiwa hatiku. Tapi budi kebaikan guruku tinggi seperti gunung dalam sebagai lautan. Aku harus mengenal budi, baru bisa hidup tenteram! Mengertikah apa yang kukatakan? Sesudah kuketemukan guruku, aku akan mendampinginya sampai ia meninggalkan dunia ini. Sesudah itu aku bisa turun gunung mencarimu!”

Kiu Heng merasa sedih dan kecewa, Ia mengucurkan air mata haru sambil menganggukkan kepala.

“Jika cici berlalu aku pun akan berlalu. Aku tidak mau tinggal di dalam gua ini barang sejenak pun!”

Perkataannya diucapkan demikian tegas.

Cui-jie goncang mendengar ketetapan si pemuda.

“Balklah, aku menemanimu beberapa saat lagi, sesudah kau beres mempelajari ilmu di sini baru kita berlalu. Sebelum itu aku harus berterang dulu padamu; se-kali2 tidak boleh mencegah diriku mencari suhuku. Di balik itu kau sendiri harus tahu diri sendiri pula, sakit hatimu yang dalam, harus kau selesaikan dengan memuaskan. Bilamana tidak, sama dengan kau seorang yang tidak berbakti pada orang tuamu!”

Tiga hari kembali berlalu. Kiu Heng sudah bisa menotok mati seratus duapuluh lebah2, boleh dikatakan ilmunya sudah setarap dengan Na Wan Hoa. Hanya saja kepalanya tidak urung terkena tiga kali antupan, hal ini disebabkan kerisauan hatinya juga.

Malam harinya bulan terang benderang, pemandangan gunung indah sekali. Kiu Heng dan Cui-jie duduk di mulut gua menikmati pemandangan alam yang romantis. Malam semakin larut, tapi tidak terpikir oleh mereka untuk beristirahat.

“Pemandangan bulan yang romantis ini membuat orang mabuk! Entah tahun kapan, bulan kapan kita bisa bergembira lagi seperti sekarang?” kata Cui-jie.

Belum sempat Kiu Heng menjawab dari udara terdengar suara.

“Kiu koko! Kiu koko! Kau dimana? Kau dimana?”

“Adikku, suara ini sudah tiga malam terdengar terus! Kenapa kau tidak mau menemuinya? Mungkin ia mempunyai urusan yang penting dan luar biasa untuk disampaikan kepadamu, lekaslah kau menemuinya !”

Kiu Heng mengenali suara panggilan itu tak lain dari Ping Ping. Ia heran kenapa di malam hari gadis itu mencarinya dan sudah tiga malam me-manggil2 terus.

“Ping Ping adalah gadis yang baik, mari kita ketemukan ber-sama2,“ kata Kiu Heng.

“Kau lihat dandananku semacam ini, mana kotor mana buruk, bagaimana enak menemui dia?”

Kiu Heng menatap pada Cui-jie, tanpa terasa jadi bersenyum. “Lekaslah, kau ketemui Ping Ping,” desak Cui-jie.

Kiu Heng terpaksa keluar dari dalam gua.

“Ping Ping Kounio, aku di sini!” teriaknya.

Berbareng dengan habisnya perkataan, tampak Ping Ping datang ke arahnya dengan cepat.

“Kiu Koko! Setengah mati aku mencarimu!” serunya seraya menangis tersedu-sedu.

Kiu Heng merasa Ping Ping seorang gadis yang lucu, Ia tersenyum dan me-nepak2 pundaknya.

“Ping Kounio jangan menangis! Soal apa membuatmu bersedih hati? Katakanlah padaku!“

Ping Ping semakin sedih, ia menangis meng-gerung2, lalu memeluk Kiu Heng erat2, membuat Kiu Heng semakin tak mengerti. Pemuda kita yang belum pernah berkenalan dengan sifat perempuan, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menghibur. Ia pun turut berdiam diri seperti patung melihati Ping Ping yang bersedu sedan.

“Untuk kau Kiu koko, aku tak mempunyai rumah untuk ditinggali lagi!” kata Ping Ping sambil ber-isak2.

Kiu Heng terpekur kaget. “Kenapa menyangkut aku? Kenapa ia tidak bisa pulang lagi? Mungkinkah dikarenakan sebutir pel Kie-hun-kui-goan-tan. Ia diusir Tiong Peng Hoan? Ah tak mungkin!” pikirnya berbantahan di dalam diri sendiri.

“Ping Kounio, menangis tidak bisa menyelesaikan urusan. Mari duduk, kau tuturkan apa yang menyebabkan kau bersedih hati!“

Dengan cepat Ping Ping berhenti menangis.

“Kiu koko, aku tidak menyalahkan padamu, semuanya ini terjadi terlalu mendadak dan di luar dugaan, karena terdorong emosi aku tak bisa ber-kata2 begitu bertemu. Dalam hal ini kuminta kau memaafkan aku!” Kem bali Ia menangis.

Aku paling sebal menghadapi orang yang suka menangis, kalau kau menangis terus, aku tak suka meladeni maka itu diamlah dan teruskan ceriteramu!”

“Baik, aku tak menangis lagi,” kata Ping Ping, “Pek Tok Thian Kun dua hari tiga malam mencarimu di Thian Tou Hong dengan hasil hampa. Lalu Ia datang ke Lian Hoa Hong, dan menuduh ayahku menyembunyikan kau, sehingga terjadi peristiwa yang mengerikan!”

Kiu Heng mengerutkan kening.

“Sesungguhnya aku tidak berada di Lian Hoa Hong, kenapa Pek Tok Thian Kun begitu kurang ajar sekali membuat onar, mentang2 memiliki Bu Lim Tiap!”

“Ya, sebab Bu Lim Tiap dipandang sebagai pusaka rimba hijau yang harus dipatuhi segenap orang Bu Lim makanya ia bertingkah ugal-ugalan. Tanpa alasan ia mendesak ayahku. Katanya Lian Hoa Hong dan Thian Tou Hong di bawah kekuasaan ayahku, membataskan jangka semalaman, untuk menyerahkan kau padanya, bilamana tidak ia bisa menggunakan Bu Lim Tiap mengumpulkan golongan putih maupun hitam untuk menghukum ayahku. Hal ini membuat ayahku sengit, segera ia menghajar Pek Tok Thian Kun, pertarungan seru berkobar seketika juga. Dalam hal ini ayahku hanya ingin memberikan pelajaran saja atas sifatnya yang gila2an. sehingga turun tangan tidak terlampau keras, sebaliknya Pek Tok Thian Kun secara ganas dan kejam menghantam ayahku.”

Ping Ping tak meneruskan perkataannya, karena tersedak sedu-sedannya.

“Lalu bagaimana?” tanya Kiu Heng tak sabaran.

“Dalam keadaan terpaksa ayahku melancarkan serangan dahsyat, membuat Pek Tok Thian Kun terkejut dan merat sambil terbahak-bahak!”

“Dengan demikian, bukan bereskah soal itu?”

“Baru saja Pek Tok Thian Kun berlalu, tak seberapa lama, ayahku gemetar sekujur badan, matanya mendelik, sepatah katapun tak bisa diucapkannya lagi, ia….. ia…. segera meninggal dengan mengenaskan!”

“Apa? Meninggal?”

“Seluruh Lian Hoa Hong menjadi gempar karena kematian ayahku,” kata Ping Ping.

“Aku pernah mendengar ceritera ayahku, di Lian Hoa Hong terdapat empang teratai, bilamana airnya kering, menandakan Lian Hoa Hong akan mengalami bencana. Berbareng dengan kejadian matinya ayahku, aku teringat kata2nya itu, aku mencari In In untuk melihat empang itu, tapi tidak menemuinya, terpaksa kudatang sendiri.

Apa yang dikatakan ayahku sedikitpun tidak salah, nyatanya empang itu airnya kering. Tengah kumerasa heran, tiba2 dari atas Lian Hoa Hong terdengar jeritan2 yang memilukan hati. Aku terkejut, cepat2 kembali ke atas.

Kembali terdengar bunyi “beng” yang luar biasa kerasnya, lalu terlihat api menjulang ke langit, sehingga aku terkejut tak alang kepalang, sukmaku seperti hilang, sedangkan hatiku hancur luluh tak kepuguhan.

Kala kusampai di atas puncak, yang terlihat hanya api. Sedangkan ibu, In In, Lim Siok-siok dan jenazah ayahku sudah hilang….. saat inilah kumendengar suara yang menggila, tertawa Pek Tok Thian Kun dan dekat berpindah semakin jauh, lalu hilang tak terdengar…”

Selesai mendengar, Kiu Heng mengerutkan keningnya, matanya bersinar tajam dongkol dan geregetan. menatap pada sebatang pohon besar yang dianggapnya seperti Pek Tok Thian Kun.

“Ping Kounio, kejadian sudah demikian maunya menangis teruspun tidak berguna. Kuatkanlah hatimu dan busungkanlah dadamu menghadapi kenyataan yang getir ini. Aku sendiri sejak kecil kehilangan kasih sayang orang tua dan sanak saudara, karena itu kusudah merasakan penderitaan dan kesengsaraan menjadi anak yatim piatu. Legakan hatimu, hari kemudian aku bisa turut membantu dirimu!”

“Kiu koko! Disebabkan mencarimu, tiga hari tiga malam aku tidak pernah makan, kini aku merasa lapar betul!”

“Ah, kau terlalu bodoh tiga hari tidak makan bukan soal main2, lekas ikut denganku!”

Mereka segera menuju ke gua, jauh2 Cui-jie sudah memandang kedatangan mereka. “Belum terang tanah, kenapa sudah kembali lagi?” tegurnya dengan ter-gesa2.

Cui-jie menguatirkan Kiu Heng ketemu Pek Tok Thian Kun, kini dilihatnya si pemuda kembali sambil bertuntun tangan dengan Ping Ping, hatinya merasa kecut. Sesudah mengatakan perkataan gurau untuk menghilangkan perasaan hatinya, ia terdiam bengong.

Kiu Heng mengerti apa yang menyebabkan Cui-jie demikian. Ia tersenjum saja. Lalu dengan Ping-Ping mukanya menjadi merah kemaluan. Ketiga orang itu masuk ke dalam gua, lalu duduk di tempat masing2. Dengan sungguh2, Kiu Heng berkata: “Cui Cici, kini bukan saatnya bergurau, kau harus tahu dalam beberapa hari ini Lian Hoa Hong mengalami malapetaka hebat, hal ini akan kuterangkan dengan teliti. Sekarang, kau berikanlah dulu secangkir madu pada Ping Kouwnio, karena sudah tiga hari Ia tidak makan.”

Cui-jie mengerti keadaan sesungguhnya sangat berat, tanpa banyak tanya ia masuk mengambil madu dan menjerahkan pada Ping Ping.

“Eh, lekaslah kau makan!” Ping Ping menyambut, lalu mengatakan dengan perlahan dan hampir tidak terdengar. Kiu Heng menyaksikannya menjadi geli.

“Ah, kamu sebagai juga anak kecil, kenapa jadi uring2an? Sejak hari ini, kamu harus akur satu sama lain!” kata Kiu Heng di dalam hati.

Sesudah Kiu Heng melihat Ping Ping selesai menghirup madu lalu menceriterakan kejadian di Lian Hoa Hong dengan panjang lebar dan teliti pada Cui-jie. Hal ini membangkitkan lagi kesedihan Ping Ping, sehingga ia menangis. Terkecuali itu Cui-jie pun turut berduka.

“Tian Tou Hong dan Lian Hoa Hong, didiami keluarga Na dan keluarga Tiong yang tadinya serumah, dikarenakan soal salah paham, sepuluh tahun lebih tidak berhubungan satu sama lain. sehingga kini rnengalami bencana yang tidak diinginkan. Ping-moy, legakan hatimu, kau boleh turut denganku untuk melewatkan hari yang akan datang! Aku lebih tua darimu beberapa tahun, sejak hari ini kau boleh membahasakan aku Cici!”

“Cui-Cici, atas kemurahan hatimu aku mengucapkan banyak terima kasih!” kata Ping Ping.

Kiu Heng tersenyum simpul penuh kemenangan.

“Untuk kebaktianmu pada gurumu, aku tidak bisa mencegah,” katanya.

“Kau sudah menjanjikan Ping Kounio turut denganmu, kau bawalah dan ajaklah menemui suhumu, agur ia bisa mempelajari ilmu silat terlebih dalam, untuk keperluan di kemudian hari!”

“Aku sudah menyanggupi kamu berdua,” kata Cui-jie, “tapi perpisahan ini sampai kapan bisa bertemu lagi, sebelum itu kita berjanji, tiga tahun kemudian, kita berkumpul lagi di See Ouw pada malaman Tiong Ciu. Adikku, kau pikir bagaimana?”

“Bagus, tiga tahun kemudian kita berjumpa, bilamana tidak bertemu tidak akan berlalu!” kata Kiu Heng memastikan.

Hari kedua, ketiga orang itu sudah bangun.

“Ping-moy, kau minum lagi madu ini,” kata Cui-jie. “Di pegunungan ini sukar mendapatkan makanan.”

“Mungkinkah kita akan berpisah secara demikian?” tegur Kiu Heng.

“Ya,” jawab Cui-jie dengan sedih.

“Aku lupa,” kata Kiu Heng “kamu pergi, apakah mempunyai uang?”

Cui-jie dan Ping Ping saling menatap.

“Kami selamanya hidup di pegunungan, untuk apa mempergunakan uang?” kata mereka hampir berbareng.

“Tapi sesudah meninggalkan gunung dan masuk ke kota, segalanya harus memakai uang? Lebih2 kamu kaum perempuan. Tidak ada uang akan lebih sengsara! Mari ikut denganku mencari uang, sekalian menghantarkan kamu berangkat!”

“Ikut mencari uang? Di dalam gunung yang sambung menyambung ini, dari mana uang bisa didapat?” tegur Cui-jie.

“Aku mernpunyai daya!” kata Kiu Heng dengan yakin.

Mereka segera meninggalkan gua dengan ilmu meringankan tubuh, puncak demi puncak dilalui mereka. Kala matahari condong ke barat, dan angin senja bertiup nyaman, keadaan di gunung terasa semakin dingin, Kiu Heng mengajak kedua gadis berlari terus dan tiba di Pek Tio Hong.

Pek Tio Hong yang sudah terbakar hangus, masih gundul, tidak ada rumput maupun pohon. Kiu Heng berdiri di atas puncak, ia mengenang kembali pada Ang Hoa Kek, ia menarik napas panjang tanda berduka.

Cui-jie dan Ping Ping merasa heran.

“Kenapa baik2 menarik napas duka?” tegur mereka serentak.

“Aku pernah mengalami bahaya kebakaran dan keracunan di bukit ini, bilamana tidak ada seorang Lo Cianpwee yang menolong jiwaku, siang2 sudah melayang. Aku selamat dan kematian berbalik Lo Cianpwee itu yang binasa. Ia binasa secara menyedihkan sekali, sampai pun tulangnya pun tidak bisa dikubur. Keadaan lalu berbayang membawa kesedihan, hatiku sesak dan menarik napas.”

“Kau bersedih karena beralasan, menandakan hatimu yang suci,” kata Cui-jie, tapi hari sudah mendekati malam, bagaimanapun kita harus mencari tempat bermalam. Dan tidak boleh mematung terus di bukit gundul ini sambil menarik napas !”

“Kau percayalah, aku mengajakmu pasti bisa memberikan makanan, untuk bermalam tempat sudah tersedia. Nah, di bawah selokan gunung itulah kita bermalam. Di situ sering2 terlihat binatang hutan minum air, kamu boleh menangkapnya barang dua ekor untuk menangsel perut. Sedangkan aku akan mencari tempat beristirahat di tempat lain, tak lama lagi segera datang!”

Habis berkata Kiu Heng berlalu, Cui-jie dan Ping Ping menurut kata Kiu Heng turun ke dekat selokan.

Dalam sekejap Kiu Heng sudah tiba di dalam gua tempo hari, ia menggeser batu besar. Keadaan di dalam masih tetap seperti sedia kala, menandakan sejak ditinggalkan, gua itu belum ada orang kedua yang memasukinya. Sesudah Ia mengambil segala benda berharga, segera meninggalkan gua dengan cepat.

Cui-jie dan Ping Ping sudah memanggang seekor rusa kecil. Mereka terbahak2 melihat Kiu Heng. Kiranya kantong berikut bajunya sudah dipenuhi emas dan segala benda berharga lainnya sehingga berenggulan tidak rata dan aneh kelihatannya.

Benda2 itu dikeluarkan satu persatu, Cui-jie terkesiap melihat semua itu tak henti2nya Ia memegang dan me-lihat2 dengan girang. Sedangkan Ping Ping seperti tidak tertarik, ia tersenyum saja.

Begitu terang tanah, mereka segera berpisah dengan bersedih hati.

Sejak saat itu, Kiu Heng tinggal di dalam gua. Ia melatih diri memperdalam ilmunya. Ia mempelajari gambar2 di atas tembok dengan tekun di samping melihat keterangan yang tertera di Bu Lim Tiap. Di samping itu, ilmu Cit-Cuat-kiam dan Sam-cee-pan-goat dimatangkan pula, sehingga Ia memiliki ilmu lebih sempurna dari sebelumnya.

Waktu berlalu dengan cepat, setengah tahun dilalui tanpa terasa. Kiu Heng sudah bosan tinggal di dalam gua, Ia meninggalkannya untuk berkelana lagi di dunia Kang Ouw.

***

Musim gugur telah tiba, telaga See Ouw banyak dikunjungi para pelancong dari berbagai tempat. Kupel2 dan restoran2 di pesisir pantai penuh sesak para pengunjung.

Seorang muda tampak di kupel yang terletak di tengah2 danau. Pakaiannya sangat mentereng, Ia menghadapi berbagai hidangan, sambil menundukkan kepala, pemuda itu bukan lain dari Kiu Heng adanya. Ia tidak memperhatikan para tamu lain yang asyik mengobrol ke barat ke timur sambil menikmati pemandangan alam yang maha indah.

Tiba2 tampak sesosok tubuh berkelebat ke meja Kiu Heng, gerakannya sangat cepat. Kiu Heng kagum melihatnya. Sebelum Ia berkata, orang yang datang itu sudah membuka mulut.

“Ha… siluman monyet, rupanya kau sudah kaya! Setengah tahun tidak bertemu, sudah mentereng betul. Kau pasti dipungut anak seorang hartawan, yah!”

Kiu Heng mengenali orang itu bukan lain dari si bungkuk atau To Pei Lojin yang diketemukan di Pek Tio Hong.

Ia merasa tersinggung mendengar ejekan itu, dengan gusar ia membentak: “Tak perlu kau usilan!”

“Oh, kau malu mengatakannya? Mungkin juga kau mendapat rejeki tak halal dengan jalan menimpah!”

Kiu Heng menatap keempat penjuru, untung keadaan sangat gaduh sehingga perkataan si orang tua tidak ada yang dengar.

“Oh, yang jadi maling selalu ketakutan dan tak tenteram, sehingga takut didengar orang!” ejek To Pei Lojin.

“Hei Bungkuk! Kita tidak bermusuhan apa2, kenapa kau mengganggu terus padaku?”

“Ini yang dinamai karena karma, dalam penitisan dulu kita berjodoh, arwah kita menitis kembali sehingga bertemu lagi! Siapa suruh kau memanggil aku si bungkuk! Kau harus tahu yang memaki aku si bungkuk seumur hidup akan kulibat terus, terkecuali ia sadar dan menghaturkan maaf sambil soja dan paykui, aku baru membebaskannya. Siluman monyet, kalau kau merasa takut, lekas2lah soja paykui!”

“Siapa yang takut padamu? Mau berkelahi?”

“Bagus! Itu yang kucari! Siapa yang kalah harus menjadi murid, yang menang menjadi guru! Sebentar malam kita bertemu di Hong Hong San, bagaimana?” kata si orang tua. sehabis berkata segera berlalu.

Malam harinya, Kiu Heng mengenakan pakaian malam, dengan cepat ia berlari ke atas gunung, keadaan sangat, sunyi dan sepi. Ia merasa heran kenapa si bungkuk belum juga datang. Sebelum ia bisa menggerutu, tampak pepohonan bergoyang menyusul terdengar bunyi aneh, tahu2 si orang tua merosot jatuh dan hinggap di atas batu.

Dengan ter-senyum2, Ia berkata: “Siluman monyet, kau bisa tepat datang di sini. Aku mengucapkan syukur!”

“Memang kau kira aku takut dan tidak datang?” jawab Kiu Heng, seraya maju menyerang.

“Sabar, sabar. Kau jangan seperti kunyuk yang tidak sabaran. Kita harus berjanji terlebih dulu, dalam pertandingan ini asal kena kena towel sudah cukup, aku tak mau mengadu jiwa dengan seekor siluman monyet, tahu?”

Kiu Heng tidak menjawab.

“Siluman monyet, mari maju!” tantang si orang tua,

“Tempo hari aku kalah, sekali ini kau jangan harap menang!” bentak Kiu Heng, seraya mengebut dengan lengan kanan, semacam tenaga tersembunyi yang keras menyambar datang.

Si orang tua cepat2 mengangkat lengan kirinya dan didorongkan dengan mendadak, sehingga pukulan keras dilawan keras.

“Blang!”

Angin pukulan yang bentrok berbunyi keras. Masing2 tidak ada yang terpukul mundur.

Satu sama lain maju merangsak tak mau mengalah, kepandaian yang luar biasa dikeluarkan, keadaan mereka berimbang, semakin bertarung kekuatan mereka semakin hebat.

Dalam setengah tahun Kiu Heng sudah mempelajari matang sekalian ilmu silat yang terdapat di dinding gua, tapi belum pernah dipergunakan untuk melawan musuh. Kini Ia bertemu To Pei Lojin yang tangguh, dan merasa tidak terdesak, hatinya girang. Bagaikan ikan yang dapat air, ia semakin bersemangat menghadapi musuhnya jurus demi jurus.

Sejak menerjunkan diri ke sungai telaga, si orang tua belum pernah mendapat tandingan yang setimpal, kini ia heran betul menghadapi si pemuda yang bisa maju pesat dalam jangka setengah tahun; lebih2 pukulan2 yang dilancarkan Kiu Heng membuatnya heran dan tak mengerti.

Tiba2 Kiu Heng mengundurkan diri sewaktu perkelahian berjalan sedang seru2nya.

“To Cianpwee,” katanya mengubah sebutan, “dalam tangan kosong kita seri, bagaimana kalau memakai senjata?”

“Bagus, kenapa sekarang kau tidak memaki aku lagi?” kata si orang tua. “Siau-ko memain senjata bukan soal yang gampang, bisa2 kita mati tak keruan!”

“Biar mati pun aku tidak menyesal!” jawab Kiu Heng dengan getas.

“Ha! Kau masih muda, belum kawin sudah mati, sayang bukan?”

“Jangan ngelantur! Hunuslah senjatamu!” bentaknya.

“Crang” sekali, Kim-liong-cee-hwee-kiam keluar dari serangkanya.

“Ya, tapi baik2lah sekali ini!”

Pertarungan mengadu senjata melanjuti pertarungan bertangan kosong, lebih hebat dan berbahaya sepuluh kali.

Pedang Kiu Heng memutar bulat memancarkan sinar berkilauan, sedangkan si orang tua memainkan huncwenya dengan gapah.

Sewaktu Kiu Heng melancarkan jurus Sin Liong Cut Hay (naga sakti keluar dari laut), si orang tua membalas dengan jurus Tui Cong Bong Goat (mendorong jendela menatap rembulan), dengan demikian, serangan Kiu Heng kandas tak berbekas. Menyusul terlihat si orang tua mengebutkan huncwenya menotok ke timur, membabat ke barat, tampaknya seperti sedang mabuk arak, dan kesurupan pula yang sering disebut kelakuan orang yang angin2an, gerak lengannya tidak tampak terlalu cepat tapi gaya kekuatannya bukan main kerasnya, membuat orang kaget dan bergidik.

Menghadapi ilmu lawan yang luar biasa aneh ini, Kiu Heng tidak menjadi gentar, dengan cepat lengan kirinya mengebut, si orang tua berjingkrak2an seperti kelabakan. Tapi setiap jepitan jarinya dapat memecahkan serangan si orang tua sehingga luput dari bahaya.

Tu Pei Lojin merasa kagum dan heran, tapi tidak bisa berpikir terlalu lama karena serangan Kiu Heng kembali datang.

Pertarungan berlangsung terus penuh kehebatan dan mendebarkan jantung. Tiga ratus jurus berlalu tanpa dirasai mereka.

“Kalau begitu terus, aku tidak bisa menang!” pikir Kiu Heng, “aku harus menggunakan llmu yang terlihay dari pelajaran yang terdapat di Bu Lim Tiap!”

Begitu habis berpikir, segera ia berseru: “To Cianpwee, awas!” seiring dengan peringatan nya, jurusnya segera berubah, tubuhnya merapung ke udara, lalu menukik turun dengan deras, lengan kiri dan lengan kanan yang berpedang dipergunakan berbareng dengan jurus Siang-ma-in-coan (sepasang kuda minum di mata air), langsung menikam dan mengeprak si orang tua.

Tanpa ragu si orang tua melancarkan keahliannya dengan jurus Hoo I.ui Wan Tie (burung Hoo menangis, orang hutan menjerit), memecahkan serangan dahsyat lawannya.

Kiu Heng membarengi lagi dengan serangan Keng Liong Cin Kau yang ampuh, memaksa si orang tua mundur beberapa langkah, dengan demikian ia menang di atas angin, sampai To Pei Lojin hanya bisa menangkis tanpa bisa menyerang lagi.

Sungguhpun demikian, benteng pertahanan To Pei Lojin luar biasa ampuhnya, huncwenya diputar demikian macam, niscaya setitik air pun tidak bisa tembus. Serangan ber-tubi2 yang ampuh maupun yang ganas dari Kiu Heng tak berdaya menjebolkan benteng pertahanan musuh, sehingga berkutet terus menerus tanpa sudah-sudahnya.

Beberapa jam kembali berlalu, parkelahian berubah dari gencar dan seru menjadi lambat dan ayal, tak ubahnya seperti hujan ribut yang sudah reda.

To Pei Lojin melawan terus dengan alot dan gerakan lambat seperti kecapaian. Sebaliknya Kiu Heng yang sudah menerima tenaga luar biasa dari pedang peninggalan Cie Yang Cinjin, dan separuh tenaga Kong Tat serta tenaga Ang Hou Kek dari batu hijau, ditambah sering meminum madu lebah hitam yang berkasiat, tenaganya tetap kuat.

“Mungkinkah bocah ini terbuat dari besi dan baja? Kenapa ia kuat betul dan tidak terlihat letih?” pikir To Pei Lojin dengan heran.

“To Cianpwee, terimalah serangan ini!”seru Kiu Heng.

Suara tiba pedang sampai, menjurus lurus ke arah dada dengan kecepatan kilat. To Pei Lojin tidak berani menangkis dengan kekerasan, tubuhnya miring menghindarkan ujung pedang. Begitu serangannya mengenai angin, Kiu Heng mengubahnya dengan cepat, Kim-liong-cee-hwee-kiam tidak ditarik, melainkan dipakai menyerang terus, seperti bayangan mengikuti tubuh si orang tua.

Dengan cepat To Pei Lojin menangkis, lalu mencelat pergi beberapa tambak dengan gerak ayal2an. Tiba2 si orang tua merasakan di bawah ketiaknya hawa yang dingin, sewaktu menundukkan kepala menegasi, bajunya sudah pecah tergores pedang.

“To Locianpwee, bagaimana? Apakah mengaku kalah? Kalau masih penasaran mari kita lanjutkan lagi!” tantang Kiu Heng sambil ber-gelak2.

“Siau-ko mempunyai tenaga yang sakti sekali, aku menyerah kalah! Pepatah mengatakan, gelombang Sungai Tiang Kang yang belakang mendorong yang di depan, yang baru menggantikan yang tua, aku menyerah kalah!”

“Benar2kah kau mengaku kalah atau pura-pura kalah?” tanya Kiu Heng sambil menyimpan pedangnya ke dalam serangka.

“Kecil2 sudah mengetahui banyak istilah, aku tidak mengerti apa yang dinamai benar2 menyerah dan apa yang dinamai pura2 menyerah!” kata To Pei Lojin.

“Lagipula kalau benar2 menyerah bagaimana? Sebaliknya bagaimana?”

“Kalau pura2 menyerah perkelahian ini cukup sampai di sini, kemudian hari siapa pun tidak boleh mencoba merintangi atau mengganggu satu sama lain, lagi pula aku tidak ingin menerima seorang murid setua dirimu,” kata Kiu Heng.

”Sebaliknya, kalau kau benar2 menyerah kalah, aku bisa menuturkan asal usuhmu, dan sejak hari ini kau harus mendengar kataku bagaimana?”

Kiranya To Pei Lojin sejak bertemu dengan Kiu Heng sudah mengandung niatan menjadikan si anak muda sebagai muridnya, karena itu dalam pertarungan ia tidak menggunakan tenaga sepenuhnya, karena ia tahu pemuda yang dihadapi berhati keras, bilamana tidak menang tidak akan mengerti, sengaja Ia memberikan lowongan dan pura2 kalah.

Kini Ia mendengar Kiu Heng ingin menyebutkan asal usulnya, sehingga membuatnya ketarik, karena Ia tahu pasti tiada orang kedua di atas dunia ini terkecuali suhunya yang mengetahui peladiaran silat apa yang dipelajarinja.

“Ya, coba kau katakan!” katanya.

“Orang lain tidak mengetahui dirimu dari golongan mana, tapi aku bisa mengetahui dengan jelas. Kau adalah murid dari Hui Hui Ho-siang dari Pek Tok Bun. Disebabkan Hui Hui Hosiang melihat sepak terjang Pek Tok Bun tidak senonoh, Ia meninggalkan pintu perguruan itu dan berdiam di atas gunung empat puluh lahun lamanya. Ia mengumpulkan berbagai macam ilmu dari perguruan silat dan mengubahnya menjadi satu gabungan silat yang luar biasa, lalu diturunkan kepadamu, sehingga merasa sombong dan menganggap paling pintar mengenali ilmu silat dari golongan manapun. Ya atau tidak?”

“Aku benar2 tunduk! Apa yang kau katakan benar semua, aku tidak menyangka dan mengira di otak monyet seperti dirimu bisa menyimpan pengetahuan yang maha tinggi!” kata To Pei Lojin sambil ter-bahak2.

—oooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: