Pedang Tetesan Embun 02

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

02 – Bibit Masalah

Dalam dunia persilatan ada lima keluarga yang tenar karena keahliannya. Pertama: Sandhaka, mereka adalah keluarga yang mengkhususkan pada kemahiran pedang. Kedua: Jawaraga, mereka adalah para pencipta senjata, dan ahli bangunan. Ketiga: Tumparaka, para ahli golok selalu merujuk pada keluarga ini. Keempat: Gumilata, begitu banyak benda aneh diciptakan keluarga ini, mulai dari senjata rahasia sampai racun mematikan. Dan terakhir, yang kelima: Dahanagni, tidak ada yang tahu apa kemahiran khas keluarga itu. Mereka dicantumkan sebagai salah satu keluarga besar dalam dunia persilatan, karena satu hal. Sapang Saroruha. Ya, nama legendaris dari penolong dunia persilatan pada tiga belas dasawarsa lampau, membuat keluarga Dahanagni bisa menancapkan kewibawaan di dunia persilatan.

Kali ini salah seorang keluarga Dahanagni dikejar-kejar oleh anggota perkampungan mereka sendiri! Keluarga Dahanagni sangat tertutup dari pengaruh luar, meski pemuda ini adalah orang dari perkampungan Dahanagni, tapi dia bukan keturunan langsung. Keluarganya merupakan bagian berbeda dari Dahanagni, boleh dibilang mereka adalah anak keturunan para pelayan Dahanagni. Hanya saja, sebuah keanehan-kalau tak mau disebut bencana-terjadi, orang tua si pemuda, tak mau lagi melayani keluarga Dahanagni.

Bahkan ayah si pemuda terang-terangan membangkang. Dia bahkan sengaja membanting gelas dan makanan di depan tuannya seraya mengatakan, “Aku bosan jadi budak kalian! Aku akan keluar dari sini, siapa yang menghalangiku, mampus!”

Ucapan yang tak pantas pada sang majikan, tentu saja membuat berang banyak orang, dalam sekejap kepala pengawal keluarga yang merupakan atasan dari si pembangkang, segera maju dan menampar.

Plak!

“Tak tahu diri, cepat berlutut meminta maaf pada tuan!” bentaknya.

“Matipun aku tak mau menghormatnya!” Seru lelaki ini lebih berani, dan tiba-tiba saja..

Plak! Dia ganti menampar atasannya! Bagaimana mungkin pelayan yang biasanya bersikap ramah dan tak bisa silat, sanggup bergerak secepat itu, menampar atasannya.

Semua orang tercengang menyaksikan kelincahan orang itu. “Aku sudah muak dengan janji dan rencana gila keluarga ini! Aku juga punya ambisi! Kalian tak lebih hanya akan jadi alas kakiku!”

Dengan sangat mengejutkan, dia menyerbu tuannya sendiri dengan gerakan sangat cepat, detik itu dia sudah di depan si majikan, tangannyapun menampar ubun-ubun. Pukulan lelaki ini membawa uap kebiruan sangat tipis.

Berubah wajah si majikan menyadari hal itu. “Ilmu Awan Berkobar!” desisnya sembari melompat elak.

Brak! Pukulan lelaki itu menghancur luluhkan tempat duduk si majikan menjadi debu. Padahal kursi itu terbuat dari batu yang dilapis kapas bludru.

Setiap orang tahu sampai dimana tingkat kelihaian sang majikan, tapi mereka jadi terheran-heran, menyadari majikanya tak berbuat apa-apa, tidak membalas serangan itu, kesan diwajahnya sepintas lebih mirip ngeri dari pada terkejut.

“Aku sudah muak dengan semua ini!” ketus lelaki itu. “Syukur otakmu masih waras, tidak coba-coba melawanku!” ucapannya membuat gusar semua orang.

“Tutup mulutmu, budak!” bentak seseorang dibalik kerumunan.

Amarah lelaki ini tersulut, harga dirinya terluka dengan cacian itu.

“Keparat! Kemari kau!” serunya dengan melambai. Bukan sekedar melambai, tapi timbul arus sangat dahsyat menyibak kepungan, dan arus itu melibat seseorang dan terus menyeretnya sampai terguling-guling dihadapannya.

“Mulutmu memang harus dibrangus!” desisnya dengan mimik kejam. Tangan kirinya mencengkram wajah orang itu. Jerit memilukan terdengar menggidikkan.

“Lepaskan dia Suta Sena!” sang majikan membentak sambil berdiri dihadapannya, tapi dia tak mencoba menyerang, dia hanya memandang dengan tatapan memohon.

“Aku akan lepaskan dia, jika kau mau bertarung denganku!” Semua orang kaget mendengar ucapan Suta Sena.

Sampai dimana kehebatan sang majikan mereka paham, bahkan tetua dari penjaga ilmu mustika juga tak berani bersikap sembarangan. Tapi yang aneh memang tingkah sang majikan sendiri, dia sepertinya tak ingin turun tangan.

“Aku tahu, kau bukanlah tandinganku! Tapi aku tak mau dibelakangku kau menjelek-jelekan namaku dengan mengatakan bahwa, dirimu tak mungkin bertarung karena sudah kuracun lebih dulu..” Suta Sena tertawa terbahak. Membuat wajah semua orang berubah, khususnya si majikan. “Aku paham dengan tindakanmu! Aku sangat paham cara kerja licikmu! Kemari kau.. Kita lihat sebenarnya kau punya kemampuan apa!” Usai berkata begitu Suta Sena melempar kesamping orang yang dia hisap dengan tenaganya. Diwajahnya sudah muncul 5 lubang jari, memang tidak membuatnya mati, tapi adanya bekas luka itu mungkin membuatnya jauh lebih buruk daripada dia terus hidup.

Si majikan memandang Suta Sena dengan mata berapi-api. “Kau sangat sombong!” Desisnya.

“Sombong?” Suta Sena tergelak panjang. “Baik! Kau ingin melihat kesombonganku? Untuk menghadapimu yang tidak ada artinya ini, aku akan menggunakan tangan kiri saja!”

Seisi ruangan gempar dengan pernyataan Suta Sena.

“Tapi aku khawatir kau tak banyak berkutik, maka aku akan permudah lagi.. Aku hanya menggunakan jari kelingking saja!”

Wajah si majikan terlihat menyeramkan. “Kukabulkan permintaanmu!”

“Bagus! Sudah kutunggu saat-saat seperti ini!”

Suta Sena tidak bersiap-siap, dia berdiri santai sembari mengawasi si majikan. Tubuh si majikan yang kurus, tiba-tiba berderak dan kelihatan mengembung, samar-samar dari tubuhnya terpancar uap biru yang tebal.. Selaras dengan apa yang dikuasai Suta Sena, Ilmu Awan Berkobar!

Suta Sena tertawa, “Manda Paradipa, selain licik, ternyata kau tidak berbakat. Ilmu hebat, ditanganmu berubah macam tahi begitu, memalukan!”

Sang Majikan yang bernama Manda Paradipa, makin marah mendengar hinaan Suta Sena.

“Aku menahan diri untuk tidak menyerang dirimu, mengingat leluhurmu! Sungguh tak tahu diri!” geram Manda dengan kemarahan memuncak.

“Ha-ha.. Kau ini lucu. Jangan membawa-bawa nama leluhurku! Dimataku mereka hanya pecundang, apalagi kau…!” geramnya. “Tak ada yang tahu manusia seperti apa kau ini, kecuali aku!” mendengar ucapan suta Sena, wajah Manda Paradipa memerah.

Tiba-tiba saja dia teringat, pada saat Suta Sena melayaninya, dia baru saja melakukan transaksi dengan kelompok yang paling berbahaya, Kwancasakya. Saat itu, dia tidak memperhitungkan seperti apa wujud sesungguhnya dari Suta Sena.

“Tapi, akan kubuktikan satu hal dulu, baru nanti kujelaskan kenapa selamanya kau tak akan pernah menang melawanku!” terdengar Suta Sena menyambung ucapannya.

Sebuah sabetan punggung tangan, melanda Suta Sena. Bagi orang lain serangan itu, bukan alang kepalang dahsyatnya, lantai batu yang dilewati serangan itu menggaris sedalam setengah jengkal! Jika terlanda serangan macam itu, kalau bukan tokoh yang memiliki hawa pelindung tubuh sangat kuat, jangan harap bisa selamat.

Tapi Suta Sena hanya mengacungkan jari kelingking kirinya, angin serangan yang tajam menyayat itu laksana memasuki ruang tanpa batas, tersedot dan hilang begitu saja dalam pusaran tenaga sakti yang ditimbulkan jari itu.

Wajah Manda terlihat sangat terkejut, demikian juga para anak buahnya.

“Awan Berkobar itu ilmu rumit, dengan bakat terbatasmu bisa mempelajari pembukaannya saja sudah kuanggap hebat.” Ujar Suta Sena melangkah mendekati satu-satunya kursi yang tersisa, dia duduk dengan angkuh.

“Kau harus tahu, begitu jauh perbedaan diantara kita. Kau ini cuma darah pembantu, hanya anjing pesuruh! Aku adalah darah murni. Dari situ saja mutlak bagimu tak akan mungkin mencapai, apa yang kucapai!”

Manda Paradipa, si majikan berusia pertengahan empat puluh itu menggertak gigi, dia sungguh tak terima dirinya dihina sedemikian rupa. Meski apa yang di bicarakan Suta Sena adalah kebenaran, tapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa Suta Sena akan menyadari siapa dia sesungguhnya. Lain daripada itu, jika orang—khususnya para tetua penjaga sembilan ilmu mustika—memandang Manda Paradipa sebagai orang terhormat dan berbakat, karena tiga dari sembilan ilmu mustika dia kuasai sebelum masuk usia 35 tahun. Tapi kini Suta Sena mencaci dirinya dengan sebutan bakat terbatas, sungguh tida tak bisa terima hal itu. Sebab itu merupakan kehormatannya!

“Aku akan hadapi dirimu dengan duduk, anggap saja aku kalah jika berkisar dari sini.”

Manda Paradipa makin geram, tapi dia sadar, ternyata Suta Sena sudah tak sanggup dia kekang lagi. “Nafas tersisa, hanya kau atau aku!” geramnya dengan suara seperti hewan terluka.

Suta Sena tertawa menghina. “Bicara masalah nafas… sampai saat ini aku mengijinkanmu untuk bernafas, aku belum ingin mencabut nyawamu!” ujar Suta Sena dingin. Dia duduk dengan tenang, sorot matanya mengawasi Manda Paradipa.

Meski kegusaran memuncak, tak membuat Manda Paradipa kehilangan penalaran, diam-diam dia menganalisa serangan tadi. Di saat dia menghempaskan Ilmu Awan Berkobar, dengan tujuh bagian tenaganya, ternyata dengan begitu mudah dinetralkan oleh Suta Sena. Bekas pelayannya itu mengatakan, bakatnya terbatas, sehingga baru bisa menguasai tingkat awal saja?! Padahal dirinya mendalami ilmu itu sudah lima belas tahun, dibandingkan gerakan ringan Suta Sena, dia yakin tingkatan dirinya tak akan selisih jauh. Meski keraguan melanda dirinya, dia tak ingin Suta Sena makin memandang rendah dirinya.

“Agaknya kau sangat yakin dengan kemampuanmu..” ujar Manda Paradipa balas menatap Suta Sena.

Lelaki ini tergelak. “Kemampuanku tidak seperti yang kau lihat, setiap orang yang memiliki hawa sakti, tidak mungkin sanggup melawanku!” serunya dengan sombong.

“Kalau begitu, biar kubuktikan!” Manda Paradipa, nampak begitu tenang disaat-saat menegangan seperti saat ini. Dia menghilangkan bayangan lawannya, dalam dirinya hanya ada sebuah niat.

“Aku akan membuka segel tenagaku.” Gumam Manda Paradipa dengan perlahan, tapi suara yang mendesis lambat itu seperti bergaung di udara.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: