Pedang Tetesan Embun 03

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

03 – Pertarungan

Suta Sena berkacak pinggang. “Jangan lupa, aku hanya menghadapimu dengan jari kelingkingku saja!” katanya tak ambil pusing dengan perubahan aura lawannya.

Seluruh orang di ruangan itu merasakan tekanan sangat hebat berpendar dari tubuh Manda Paradipa, lamat-lamat muncul asap kemerahan.

“Huh! Api Pembakar Dunia tingkat berapapun yang kau punya, silahkan kau pakai!” seru Suta Sena tetap menganggap remeh, padahal tiap orang disitu mengetahui, Ilmu Api Pembakar Dunia adalah, salah satu sembilan ilmu mustika.

Udara makin panas, menggersang. Tiba-tiba diantara desakan hawa panas luar biasa itu muncul setitik hawa dingin yang amat sangat, hawa dingin itu hanya timbul tenggelam, tapi begitu mucul, dinginnya langsung mengalahkan udara yang panas membakar! Tapi, hanya dalam waktu dua hitungan saja, berikutnya panas meranggas sudah kembali menerpa, begitu seterusnya.

“Ck-ck-ck… Hawa Dingin Penghancur Sumsum, ternyata belum bisa kau lebur dengan Api Pembakar Dunia, itu alasanku mengatakan bakatmu terbatas!” ujar Suta Sena tidak bergeming menghadapi perubahan di hadapannya.

Manda Paradipa tidak bergeming dengan hinaan Suta Sena, sementara tiap anak buah Manda Paradipa makin yakin bahwa majikan mereka akan menang.

“Aku tahu, kau menguasai tiga ilmu mustika, coba keluarkan sisanya, jangan buat aku menunggu!”

Ucapan Suta Sena yang begitu sombong, membakar nalar Manda Paradipa. Nafasnya terasa bergelora, dari hidungnya keluar uap panas, macam ular.

“Ck-ck-ck.. ilmu murahan membuat penampilanmu macam ketel busuk begitu…” ejek Suta Sena.

Jika orang lain melihat perubahan Manda Paradipa, sudah pasti mereka akan terkejut, sebab uap yang keluar dari hidung merupakan tanda melubernya hawa sakti, untuk mencapai tingkat seperti itu mungkin hanya bisa dilakukan para tetua yang sudah menyepi dan berada pada puncak ilmunya masing-masing. Tak disangka perasaan Suta Sena tidak tergerak sama sekali, apa dia hanya berpura-pura bersikap seperti itu, untuk menutupi rasa takut?

“Makan ini bangsat!” seru Manda Paradipa tiba-tiba menyerang Suta Sena yang duduk sembari kaki terangkat satu, dengan tinju yang membahana.

Satu serangan pukulan yang membawa hawa sangat dahsyat, panas-dingin memporak porandakan tiap materi yang dilewatinya, lantai batu tercabut, dan kejap kemudian hancur menjadi abu. Kecepatan serangan Manda Paradipa adalah mustahil untuk dielakkan, jika ditahan mungkin masih bisa.. itupun jika lawannya sanggup bertahan!

“Hm!” terdengar dengusan dari mulut Suta Sena, seperti yang di janjikan, dia tidak mengelak, sebab dia masih tetap duduk, lelaki ini mengangkat jari kelingkingnya.

Ngiiing! Tiba-tiba terdengar suara mendenging menusuk telinga, begitu jarinya di jentikkan, sontak saat itu juga serangan Manda Paradipa seperti berhenti begitu saja, kepalan lelaki berhenti, tertahan begitu saja!

Wajah Manda Paradipa berubah hebat, dengan membentak keras, dia menendang kepala Suta Sena. Karena sudah berjanji hanya akan mengunakan kelingking, mau tak mau, jari lelaki itu harus dialihkan untuk menangkis tendangan Manda Paradipa, tapi ternyata, tendangan itu hanya tipuan. Manda Paradipa sudah mundur dengan wajah pias. Nafasnya menggelora tak teratur.

Suta Sena tertawa dingin. “Seranganmu memang cukup mematikan bagi orang-orang tolol, tapi bagiku.. hm, tak lebih dari mainan anak-anak!”

“Kenapa kau tak mengerahkan Tapak Naga Besi?” tanya Suata Sena dengan kening berkerut.

Manda Paradipa tidak menjawab, sebab nafasnya masih terengah-engah, dalam hati timbul rasa ngeri yang tak terperi, kini dia paham kenapa Suta Sena dengan sesumbar mengatakan, semua orang yang memiliki hawa sakti tidak akan sanggup menghadapi dirinya. Ternyata satu sentuhan Suta Sena membuat tenaga sakti dirinya terhisap, untung saja dia hanya mengerahkan delapan bagian, jika seluruh tenaga dia keluarkan, sama artinya dia menyerahkan kepala untuk dipecahkan Suta Sena, seluruh landasan hawa saktinya bisa habis!

“Oh, aku tahu… dengan bakatmu yang terbatas itu, kau belum bisa mengabungkannya?” gumam Suta Sena. “Sembilan Ilmu Mutika memang ilmu yang hebat, ilmu menarik, entah siapa yang menyebar fitnah bahwa itu ilmu terhebat?!” ujarnya membuat wajah banyak orang berubah.

Jika ucapan Suta Sena dilontarkan didepan Dewan Penjaga Sembilan Mustika, bisa dipastikan, mereka langsung turun tangan. Tapi agaknya lelaki ini tidak takut langit-bumi. Apa yang diucapakannya memang memiliki bukti kuat bahwa dia memang sanggup melakukannya.

“Tadinya aku akan menggunakan serangan untuk membuatmu tunduk, tapi aku berubah pikiran, biar kujelaskan tentang tingkatan ilmu Awan Berkobar. Kubiarkan kau menilai dengan bakat rendahmu itu!” ucap Suta Sena dengan menatap Manda Paradipa lekat-lekat, lelaki yang pernah menjadi majikannya itu tanpa sadar menunduk.

“Kau perhatikan baik-baik! Tingkat awal adalah begini…” tiba-tiba seluruh tubuh Suta Sena dikelilingi kabut kebiruan yang sangat pekat.

“Tingkat kedua adalah begini…” kabut kebiruan itu memudar dan berwarna hijau terang.

“Tingkat ketiga adalah ini…” kabut yang menyelimuti tubuh Suta Sena tiba-tiba saja menipis seperti uap ditanah yang disinari terik mentari, seperti fatamorgana.

“Tingkat keempat..” kabut hawa fatamorgana yang mengelilingi tubuh Suta Sena sontak lenyap, seolah-olah lelaki itu tak mengerahkan tenaga. Tapi semua orang merasakan tekanan luar biasa pada udara, untuk bernafaspun berat.

“Tingkat kelima..” sontak tekanan dalam udara lenyap tak berbekas. Tapi digantikan oleh hawa yang amat tajam, begitu tajamnya, hingga menyengat kulit.

“Terakhir…” tangan Suta Sena mengibas perlahan, tapi akibatnya luar biasa, belasan orang tak sanggup berdiri tegak lagi, mereka tergontai tak terkecuali Manda Paradipa! Lamat-lamat mereka merasa, tenaga mereka seperti dibetot, dengan terburu, seluruh orang dalam ruangan mengerahkan tenaga sakti untuk mementahkan betotan tenaga yang ingin memeras hawa murni mereka.

“Jadi, sekarang bisa kau bedakan tingkat kemampuan kita..” desis Suta Sena. “Dengan tingkatan awal ilmu leluhurku, kau bisa mendapat penghormatan di dunia persilatan. Kini waktu untuk orang-orang sepertimu sudah habis! Giliranku untuk memerintah kalian… Kalian akan jadi anjing-anjingku yang pintar!”

Manda Paradipa termangu-mangu, dia sadar ilmunya tak akan bisa menandingi orang itu. Mendadak dia menjatuhkan lututnya dan memberikan hormat dengan kepala tunduk dalam-dalam. “Mulai hari ini, aku jadi pembantumu…”

Melihat pimpinannya yang berilmu tinggi saja menyerah, maka seluruh orang dalam ruangan pun berlutut memberikan sumpah untuk setia. Apalagi mereka merasa, lelaki itu belum mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya—itupun sudah cukup mengguncang perasaan.

Suta Sena tidak bergeming, dia menatap orang-orang itu dengan hina. Dia bahkan tahu kenapa Manda Paradipa mau menyerah, tak lain ingin berguru padanya, sebab ilmu yang dia dapatkan tak selengkap yang dia peroleh. Dirinya yakin, kelak jika ada kesempatan Manda Paradipa akan membunuhnya. Tapi Suta Sena menganggap itu sebagai tantangan yang menyenangkan, membuat dirinya selalu dalam bahaya adalah hal yang diinginkannya, sebab itu membuat dirinya makin tajam dan terasah, kemampuanya akan meningkat dengan kemungkinan tanpa batas!

“Bersikaplah seperti anjing! Anjing, tidak mempunyai kehormatan, anjing hanya menurut satu perintah! Jika kalian sudah menjadi anjingku, tak akan kusia-siakan penghambaan kalian!”

Lalu, Suta Sena berjalan mendekati Manda Paradipa, didekatkan alas kaki pada kepalanya.
Manda Paradipa dengan tanpa ragu menjilat alas kaki Suta Sena. Lelaki ini tersenyum dingin.

“Bagus! Dengan sikapmu ini, ada kemungkinan ilmu Awan Berkobarmu naik setengah tingkat..”

Gema suara Suta Sena masih menggaung diruangan, tapi orangnya sudah lenyap entah kemana. Kejadian aneh itu membuat mereka bingung. Tapi Manda Paradipa dengan tangkas mengambil kendali.

“Majikan sedang ada kepentingan, kalian tetap bersikap seperti biasa!” Dia bisa mengatakan itu dengan tenang, membuat anak buahnya tercengang! Seolah perbuatannya tadi adalah hal yang seharusnya. Orang yang biasa dijunjung tinggi, ternyata sekarang menjadi budak orang lain, dalam pandangannya adalah hal wajar. Tapi siapa yang tahu apa yang dipikirkannya? Benarkah penghinaan tadi tak dimasukan dalam hati?

—o0Ooo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: