Pedang Tetesan Embun 04

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

04 – Melarikan Diri

Tapi Suta Sena tidak pernah muncul lagi, satu hari, satu minggu, satu bulan, hingga empat bulan! Hal itu yang membuat keluarga Suta Sena jadi makin kawatir, sebab sikap semua orang tak lagi sungkan, bahkan dengan terang-terangan berani menghina dan makin mengintimidasi.

Tentu saja sebagai anak sulung, Yoga Sena harus melindungi ibu, dan adiknya yang masih bayi.

Tapi lambat launpun dia bisa membaca situasi, orang-orang itu akan mencelakai mereka. Diam-diam dia sudah merencanakan untuk kabur, adalah sebuah keuntungan, karena mereka adalah keluarga pelayan, tempat tinggalnya justru ada di luar komplek keluarga Dahanagni.

Tepat setengah tahun sejak, sang ayah memutuskan untuk mengikuti gelora hatinya, maka Yoga yakin, di luar sana pasti tak akan aman. Dia mengenal ayahnya cukup baik, bahwa sumpah leluhurnya untuk taat pada sebuah janji tak lagi dihiraukan, maka malapetaka pun sudah mulai ditentukan awal mulanya.

Yoga sudah menentukan hari, untuk kabur. Ibunya pun sudah bersiap. Perbekalan yang dibawa untuk keperluan adiknya, sudah dipersiapkan dengan seksama. Ibunya tak henti-hentinya menghela nafas panjang, Yoga tahu, kegelisahan itu.

“Apakah Bayu sudah kau tidurkan?” tanya ibunya sembari melipat kain.

“Sudah bu.” Jawab Yoga pendek. Dia membuka sebuah kotak penyimpanan keluarga, didalamnya terdapat beragam benda.

“Kau ambil yang paling penting saja…” tukas ibunya melihat anak sulungnya termangu memandang benda-benda itu. “Beberapa kitab itu adalah jerih payah leluhur kita, aku tak ingin itu terjatuh ketangan orang lain.”

“Termasuk… ayah?” tanya Yoga dengan ragu.

Dengan berat hati, sang ibu mengangguk, “Ayahmu adalah keturunan langsung, seharusnya dia yang menjaga ini, meskipun dia tak membutuhkannya. Tapi dengan ambisinya itu, sangat memungkinkan barang leluhur juga digadaikan untuk ditukarkan dengan sesuatu! Kita wajib menyimpannya…”

Menurut hati, Yoga ingin membawa seluruh kotak penyimpanan itu, tapi tentu sangat merepotkan, karena terlalu banyak. Tapi Yoga-pun tak ingin kotak itu jatuh ke tangan orang lain, dengan sangat cermat, Yoga membongkar seluruh peti menanam seluruh isinya di dalam kotak-kotak kecil buatannya.

Sejak kecil Yoga memiliki hobi membuat kerajinan, jika kerajinan pada umumnya untuk ditampilkan, tapi Yoga justru membuat kerajinan untuk di sembunyikan. Pada usia sembilan tahun, Yoga membuat ukiran pola harimau di kaki kursi, meski hasilnya bagus, Yoga kembali menempel serpihan kayu di kaki kursi, membuat ukirannya tak kelihatan lagi.

Mencapai usia dewasa seperti saat ini-sembilan belas tahun, kemahiran untuk mengkamuflasekan buah karyanya, makin sempurna. Orang tak akan menyangka benda yang remeh menjadi tempat rahasia penyimpanan. Begitupula saat ini, Yoga mencerai beraikan benda peninggalan leluhur untuk disembunyikan secara terpisah, yang dia bawa adalah empat jilid kitab. Kitab itu dibongkar helai demi helai dan dijadikan satu dengan kain selimut yang mendekap adiknya dalam kehangatan. Melihat adiknya masih tertidur, Yoga merasa hatinya sangat perih.

“Oh, adik… Entah masa depan apa yang akan kau alami kelak..” gumamnya dengan jari gemetar membenahi selimut yang membungkus adiknya.

Sang Ibu mendengar ucapan anak sulungnya, dalam hatipun dia menangis, tapi dengan hembusan nafas panjang, seolah dia ingin melepaskan semua beban hati.

“Kau sudah selesai bersiap?” tanya ibunya.

Yoga mengangguk mantap.

“Ini adalah pertemuan terakir kita, jika Tuhan izinkan kita semua berkumpul, aku.. Aku.. yakin kita akan bersua dalam suasana lebih baik…” ucapnya dengan suara sumbang, dalam hatinya dia menyambung, ‘semoga saja…’

Sambil menggertak gigi Yoga mengangguk yakin. “Aku percaya bu! Dengan nyawaku, akan kujaga adik!”

“Aku percaya padamu…” desis sang ibu sembari memeluk Yoga, dan menciumi anak bungsunya. “Waktu tak banyak lagi, ibu akan mengecoh Manda Paradipa dan para penjaga utama.”

Yoga memperhatikan ibunya yang menggendong buntalan kain, seolah menyerupai bayi. Pemuda ini paham, siasat ibunya ini adalah yang paling baik.

“Kau harus sampai di Lembah Angin sebelum orang-orang itu mendapatkanmu.”

Yoga mengangguk paham.

“Ibu belum pernah kesana, tapi kakekmu memberikan petunjuk, jika terjadi hal-hal yang menyulitkan keluarga, kau harus kesana.”

“Apakah ayah tahu hal ini?”

“Kukira tidak, kakekmu membicarakan hal ini pada waktu yang khusus.” Jawab ibunya. “Sudah saatnya…” desis sang ibu, mendadak saja orang yang biasanya berpenampilan lembut, pendiam, sekarang begitu lincah dan cekatan.

Dengan tenang sang ibu memperhatikan situasi diluar, “Pada saat aku berbenturan dengan Manda Paradipa, kau harus menyelinap.”

Yoga mengangguk, dia kembali memeriksa sang adik, nampaknya perut kenyang membuatnya lelap.

Dari kejauhan terdengar petir bersahutan, nampaknya sebentar lagi akan hujan.

“Semoga turun hujan lebat…” gumam Yoga menyiapkan baju dari kulit yang dilapis minyak, semacam baju pelindung hujan.

Duar! Ledakan petir hampir bersamaan dengan benturan tenaga yang sama dahsyatnya. Perasaan Yoga dapat meraba itu, hawa sakti milik ibunya terasa sangat familier baginya. Dan itu merupakan tanda baginya untuk bergerak!

Saat itu dia segera melesat, tak seorangpun melihat dia, sayang pada saat itu ada Pengawas Luar dan anak buahnya baru saja pulang. Keduanya mempergoki Yoga tengah keluar dari pintu belakang benteng.

“Hei, berhenti!” seru mereka dengan memburu pemuda itu.

Meski gugup gara-gara terpergok, pemuda ini masih bisa berpikir panjang. Mencegah kecurigaan orang, dia berhenti dan menunggu keduanya datang mendekat. Hujan deras benar-benar membantu menyamarkan sosok Yoga.

“Kau siapa, mau kemana?”

Yoga pura-pura tak dengar, “Apa?” katanya sembari mendekatkan telinganya, jarak mereka tinggal satu jangkauan.

“Kau si…” belum habis ucapanya, Yoga sudah menyerang keduanya dengan cengkraman. Begitu cengkraman menyentuh dada mereka, Yoga memutar tangannya ke dalam, dan kedua lawannya terpelanting dengan tubuh melintir. Tak melihat hasil serangannya, Yoga melejit kabur.

Tubuh keduanya terkapar dalam kondisi mengenaskan, anak buah Pengawas Luar merasa rusuknya dan dada kirinya sakit sekali. Sementara Pengawas Luar begitu terpelanting langsung melenting bangkit, tapi dia tak bisa langsung mengejar, karena lamat-lamat dirasakan olehnya nyeri menyesap ulu hati.

“Tapak Elang Marah…” desisnya menggertak gigi. Tak perduli hujan yang makin deras, buru-buru dia duduk bersila mengerahkan hawa sakti untuk memulihkan kondisinya.

Rupanya kondisi keduanya diketahui oleh penjaga yang sedang berkeliling mencari wanita yang sempat melabrak Manda Paradipa. Meskti wanita itu terdesak, tapi kelincahannya benar-benar luar biasa, begitu wanita itu kabur, Manda Paradipa sadar siapa yang tadi dihadapi.

Dia merasa sangat terhina, suami-istri bekas pelayannya benar-benar sudah mengecohnya, meskipun dia tunduk pada si suami—Suta Sena, tapi untuk bersikap menghormati anak istrinya yang sebelumnya selalu melayani, tak mungkin dia lakukan!

“Siapa yang menyerangmu?” tanya orang yang baru datang itu pada anak buah Penjaga Luar.

Dengan menyeringai dia menjawab. “Se-sepertinya, dia anak kke-ketua kita…” orang ini masih segan menyebut Suta Sena sebagai ketua, tapi diapun tak mungkin menyebut Suta Sena dengan nama yang tak enak, sebab entah kapan orang yang memiliki kemampuan seperti iblis itu, pasti kembali ke tempat ini.

“Terkutuk! Benar-benar keluarga yang menyusahkan!” umpat orang yang baru datang itu.

“Ayo kalian masuk!”

Kedunya berjalan dengan tertatih, meski luka yang di alami Penjaga Luar sudah cukup dinetralisir, tapi dia masih merasa getaran-getaran kecil mengigit disekitar ulu hatinya.

“Kenapa dia memiliki ilmu terkutuk itu?” pikirnya dengan bingung.

Tapak Elang Marah adalah sebuah ilmu dari kalangan keluarga Gumilata, yang jelas ilmu itu tak mungkin beredar bebas dikuasai orang lain, sebab syarat utama penguasaan ilmu-ilmu keluarga Gumilata adalah, memakan racun hasil racikan keluarga selama empat puluh hari dengan dosis yang berbeda-beda. Pada hari ke empat puluh satu, baru ilmu itu bisa diajarkan.

Orang ini masih terheran-heran dengan kemampuan Yoga. “Mereka keluarga yang aneh…” desisnya sembari meringis menahan rasa sakit dalam dada.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: