Pedang Tetesan Embun 05

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

05 – Menerobos Lembah Angin

Yoga makin dalam masuk ke Lembah Angin. Jarak pandangnya hanya sejengkal, mungkin lebih, tapi tidak cukup membantu, sebab dia hanya bisa me1ihat tangannya sendiri, satu langkah kedepan, sama sekali tak bisa dia lihat. Kabut begitu pekat, dan menyesakkan pernafasan. Hanya berbekal kepekaan rasa sajalah, membuat Yoga dapat menempatkan kakinya di permukaan tanah yang keras.

Berhubung dia sudah sangat letih, kehati-hatiannya tak urung makin turun. Sebelah kakinya terperosok ke dalam lumpur, membuat dia kehilangan keseimbangan dan nyaris saja jatuh terjerembab.

Dengan menghentakkan kakinya yang sebelah, Yoga mencoba melejit… tapi alangkah terkejut dirinya, menyadari dia tak dapat menarik kaki kanannya yang masuk dalam lumpur, dirasa olehnya lumpur itu menghisap dengan sangat ganas. Dia sudah terjebak pada kubangan ‘lumpur hidup’!

Cemas dan kawatir dengan kondisinya, Yoga menggerakkan tangan kesana kemari, dengan kalap, sembari mengerahkan hawa saktinya untuk menghisap sesuatu, sebagai pegangan tangannya.

Tap! Dirasa usahanya berhasil, tanpa berpikir panjang, Yoga membetot ‘akar gantung’ yang dia dapat, sekuat-kuatnya. Tapi ternyata ‘akar gantung’ yang dia tarik ternyata melilit pergelangan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

Yoga terkesip, buru-buru dia kerahkan tenaga sakti untuk melindungi pergelangan tangan. Baru dia sadari yang di tarik olehnya ternyata ular, entah ekor atau kepala yang dia dapat, tapi mengingat belitan kencang pada tangannya, Yoga segera tahu, bagian ekorlah yang dia tarik. Pemuda ini segera menghentak tangannya kebawah, harapannya dengan gerakan yang mendadak itu, membuat ular yang membelit tangannya akan melepaskan belitannya.

Tapi ternyata usahanya membuahkan hasil yang tak terduga! Bukannya belitan yang lepas, tapi malah tubuh Yoga dibetot dengan kekuatan luar biasa, begitu kerasanya betotan itu membuat pemuda ini seolah-olah tulang lengannya seperti tercabut.

Wus! Kibasan ekor ular itu membuat tubuh Yoga terlempar, dalam kondisi seperti itu meskipun Yoga merasa tangannya sakit luar biasa, diapun masih sempat bersyukur, karena dia terbebas dari jerat lumpur hidup. Hanya saja masalahnya satu… dia tidak bisa melihat kondisi sekeliling, dan saat ini tubuhnya sedang dihempas kencang pula, harapan Yoga, dia tidak menubruk batu, atau bahkan terjatuh kepdalam lumpur lagi!

Terkilas pikiran itu membuat Yoga merasa ngeri dan marah, dengan memekik keras, Yoga memutar tubuhnya lalu dengan gerakan yang dipaksakan, dia memukul kesegala arah, dengan harapan pukulan jarak jauhnya dapat membentur sesuatu.

Brak! Di hadapannya persis, pukulan Yoga membentur batang pohon sampai berderak patah, akibat pukulan itu membuat gerak hempas Yoga tertahan, tapi dengan cekatan Yoga memanfaatkan sisa tenaga lontar tubuhnya untuk sedikit melambung dan memperbaiki posisi gerakannya. Entah bagaimana Yoga merasa ada sesuatu di belakang tubuh sedang mengincar dia, dengan amarah meluap, Yoga mengibaskan pukulan kebelakang, dia sadar, jika perasannya benar maka nyawa adiknya jadi taruhan!

Dengan tubuh yang terpelating, nyaris tanpa kendali—akibat kibasan pukulan kebelakang—Yoga menjejakkan kakinya kedepan untuk menapak pada batang yang terhajar tumbang.

Tap! Kedua kakinya menjejak batang pohon, dan dengan cekatan Yoga mengaitkan salah satu kakinya sebagai pegangan, pada batang pohon, sementara jangannya mencengkeram batang pohon erat erat.

Kress!kress! Cengkaraman Yoga menghunjam mengunci ayunan tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan. Dengan sekuat tenaga Yoga menenangkan dirinya yang masih berayun.

Terdengar desir dari belakang tubuhnya, tak berpikir panjang lagi, Yoga mengeratkan kaitan kaki untuk menggeser posisi tubuhnya 180 derajat, sehingga dia sudah berhadap muka dengan suara desiran itu.

Saat itu Yoga benar-benar bagai orang buta, segala sesuatunya bisa diarasa, tapi tak bias dia lihat. Yoga tak ingin mengandalkan perasaan untuk menuntun tiap langkahnya, sebab dia tak yakin akan berhasil.

Dalam benaknya, Yoga membayangkan desir itu adalah ular yang tadi membelit tangannya, sebab setelah menghempaskan tubuhnya, dia merasa dalam waktu yang singkat itu, di belakang tubuhnya berkesiur gerakan yang sangat lembut, gerakan itu bisa terdeteksi olehnya karena ditolong tebalnya kabut. Pecahnya gumpalan kabut akibat gerakan ular bisa direspon baik oleh telinga dan kulitnya.
Menyadari memperhatikan dengan mata terbuka tidak banyak gunanya, Yoga memejamkan mata. Dalam hitungan detik, seluruh karsa dan cipta di fokuskan untuk melindungi diri dan adiknya. Dalam hati dia sangat bersyukur adiknya tak banyak bergerak. Meski sesekali menggeliat, tapi dia tak bersuara.

Desir halus itu, terdengar bergerak kekiri tubuhnya, tidak langsung menyerang dari depan. Perasan Yoga sangat berat, dia berharap ular yang dia tak bisa perkirakan besarnya itu menjauh dari dirinya, tapi ternyata dugaannya salah, gerakan tadi ternyata gerak melingkar, ular itu bergerak melingkari batang dimana Yoga bertengger.

Peluh dingin bercucuran dari dahi, perlahan-lahan kulit Yoga meremang. Pada saat seperti ini dia lebih suka menghadapi pengeroyokan satu pasukan paling ganas, dari pada harus berhadapan secara membuta seperti ini.

Suara desis berbaur pekik yang menyeramkan terdengar dari atas, benak Yoga dengan sempurna memetakan imajinasi, bahwa gerakan ular itu melingkari batang dimana dia berada dan dengan kecepatan menakjubkan tentunya ular itu mematuk dari atas. Terbayang gerakan seperti itu, keringat dingin makin mengucur deras, sebab, hanya ular yang benar-benar besar baru bisa melakukan gerakan itu.

Yoga tak bisa bergerak sembarangan, dia harus memperhitungkan waktu serangan binatang itu dengan sangat tepat. Dia sudah merasakan belitan ular yang membuat lengannya serasa remuk, dalam waktu yang sangat singkat itu, pikiran Yoga berkilas kebelakang, saat dia mendapatkan ’akar gantung’, genggamannya pada ’akar gantung’ yang ternyata ekor ular, tidak bisa penuh. Artinya, jika ujung ekor saja tak bisa dia genggam penuh, maka besar ular yang menyerangnya mungkin sebesar batang pohon. Membayangkan hal itu, membuat rasa kawatir Yoga makin meningkat.

Di detik menentukan, manakala bau amis makin santar, Yoga bisa memastikan mulut ular yang menyerang dirinya sudah terbuka lebar! Dengan gerakan atraktif, Yoga melepas cengkaraman pada batang pohon, dia membuang tubuhnya kebelakang! Sebelum gerakan itu selesai dia lakukan, secepat kilat tangannya meraih gendongan pada punggungnya dan melontarkan keatas!

Jika saja saat itu Yoga bisa melihat perbuatannya, mungkin dia tak mau melakukannya lagi! Sebab tubuh adiknya hanya terpaut satu jari dari mulut ular yang sedang menganga menerjang kearah dirinya! Tubuhnya yang melengkung kebelakang sampai-sampai kepalanya hampir membentur batang pohon, tiba-tiba melenting.

Dalam perhitungan Yoga, lontaran tubuh sang adik akan memberinya waktu sedetik lebih cepat, dalam memecah perhatian ular. Apalagi begitu, tubuh adinya terlontar, bayitu segera menangis karena terkejut, tentu saja itu lebih menarik bagi si ular!

Kepala yang sedianya sudah menjulur, tinggal dalam satu lahapan, saja bisa menjangkau kaki Yoga, mendadak terangkat karena tertarik dengan suara tangis bayi. Momen itu tidak bisa diikuti mata Pemuda ini, tapi dia bisa merasakan, sebab tekanan udara yang menerpa dirinya berkurang.

Sedetik yang sangat berharga itu tak disia-siakan oleh Yoga. Tubuhnya yang melengkung kebelakang dan hanya bertahan pada kaki yang mengait batang, tiba-tiba melejit sangat cepat! Kedua tapak tangannya disatukan, lamat-lamat dari tapaknya itu terdengar suara mendesis, seperti bara masuk kedalam air.

Tapak kirinya memutih pucat, sedang tapak kanannya bersemu merah muda. Itulah sebuah ilmu yang tak mungkin sembarangan di kuasai orang, ilmu yang hanya di dapatkan setelah mendapat ujian berat dan permaklumkan syarat-syarat tertentu dari Dewan Penjaga Ilmu Mustika. Ilmu Badai Gurun Salju.

Tingkat yang diyakini pemuda ini adalah tahap awal dari tingkat puncak. Yoga sudah berhasil memasuki tingkat panas keras dan dingin lembut. Tapi.. bagaimana mungkin pemuda yang tidak pernah menemui para tetua dewan penjaga ilmu mustika bisa menguasai ilmu mustika sampai pada tahap seperti itu?

Dengan menguatnya pengerahan hawa sakti Yoga, suara mendesis itu makin kuat, dan kepulan asap dari perpaduan dua hawa berbeda itu membuat bentuk semacam sulur yang bergerak dinamis.

Karena hawa panas yang menyelimuti tapak kanannya. samar-samar Yoga bisa melihat wujud ular yang menyerangnya! Meski hanya sekelebatan dan kemudian kabut kembali menutup pandangan, Yoga tak membiarkan hatinya di tutupi ketakutan. Ular itu benar-benar besar, ukurannya lebih dari tiga paha orang dewasa, bentuknya benar-benar menyeramkan, tapi karena besarnya ukuran itu, Yoga-pun sempat melihat bagian bawah rahang ular.

Kesempatan itu tak mungkin dia sia-siakan, bagai kilat, tusukan kedua tangan menyunggi sembah, bergerak di ikuti sulur asap yang bergerak-gera seperti jemari gurita!

Craaap! Tidak membutuhkan sampai dua hitungan, tangan Yoga sudah menembus dari bawah rahang sampai tembus ke batok kepala! Sulur asap perpaduan panas dingin itupun bukan cuma bentuk yang tiada arti. Sulur asap itu membelit tubuh ular, dan begitu telapak tangan Yoga tak lagi menakup, asap itu menghilang dan membenam kedalam kulit ular, lalu saat tangan pemuda ini mengibas, daging ular itu meluruh terserpih, bagai di cincang ratusan pisau.

Jerit tangis adiknya membuat Yoga tetap sadar bahwa dia harus selalu waspada, dengan mengbiaskan tangan yang dilambari hawa panas keras ilmu Badai Gurun Salju, kabut tebal itu sedikit membuyar, dan Yoga bisa melihat adiknya meluncur turun tepat di atasnya. Diapun bisa menangkap adiknya dengan tepat.

Gemuruh jantung Yoga belum juga tenang, dia merasa ular tadi adalah hal paling ringan yang dia jumpai. Sementara sang adik masih saja menangis. Pemuda ini merasa serba salah, memberi makan adiknya di tempat seperti ini benar-benar bukan saat yang tepat. Tapi jika adiknya tak di beri maka, boleh jadi dengan kejadian-kejadian berikut, bisa mempengaruhi kesehatannya.

Dengan menahan hati dan segala kerepotan tempat pijakan, Yoga meraba-raba kain pembungkus adiknya. Dia memang membawa bahan makanan yang paling bisa ditoleransi seorang bayi. Madu. Madu itu adalah olahan ibunya, dicampur dengan ramuan penguat badan, bahkan dirinya selalu makan madu sampai usia empat tahun, tanpa pernah mau makan makanan lain.

”Anak pintar, minum ini.. sayang.” gumam pemuda ini meneteskan madu ke bibir mungil adiknya, begitu meminum beberapa tetes, Bayu nampak tenang dan akhirnya bisa tertidur lagi.

Yoga dengan hati-hati membungkus adiknya dan menggedongnya kembali. Kakinya sudah merasa pegal karena selalu mengait batang. Tapi diapun tidak tahu sekarang apa yang harus dilakukannya.

”Kemana lagi aku harus pergi? Apa kakek tidak salah memberi informasi pada ibu?” gumamnya gundah.

Disaat-saat penuh kebimbangan seperti itu, Yoga teringat tadi, saat mengerahkan Badai Gurun Salju, bagian panas keras, kabut yang tebal itu bisa dia sibakkan, lebih cepatnya dia cairkan. Dari pada tidak ada jalan sama sekali, maka dia mengerahkan ilmu itu di sekujur badannya.

Mula-mula Yoga kawatir hawa panasnya akan mempengaruhi Bayu, tapi ternyata, pengaruh hawa dingin dalam kabut itu ternyata cukup membuat nyaman kondisi Bayu yang sebelumnya sudah cukup kenyang.

Dengan hati penuh rasa syukur, Yoga berulang kali mengibaskan tangannya, setahap demi setahap dia kerahkan ilmu itu sampai kepuncak, benar saja!

Kabut yang sedianya mengepung dirinya, dapat meluruh dan menguap, meski hanya bisa melihat dalam jarak empat langkah saja, itu sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali. Dari batang tempat dia bergayut, Yoga memukulkan tangan kebawah. Hawa panas menerpa kabut, membuat tersibak sementara. Tapi kondisi itu sudah cukup membantunya mengawasi keadaan.

Ternyata dia ada di ketinggian yang cukup mengejutkan, sekitar empat meter dari tanah. Diam-diam pemuda ini bergidik mengingat betapa kuat kibasan ular yang tadi dia bunuh. “Entah rintangan apa saja yang ada ditempat ini?” pikirnya sembari melompat menjejakkan kaki di tanah.

Yoga termenung sejenak, setelah banyak mengeluarkan tenaga, baru dia merasa lapar, sementara makan yang bisa di makan hanya bangkai ular, yang masih ‘hangat’. apa boleh buat, pikirnya, dia mendekati bangkai ular itu, berjongkok dan bermaksud memotongnya. Mendadak, dari dalam perut ular itu melesat secercah sinar kilat tepat mengarah mata Yoga!

“Aaaah….” pemuda ini memekik tinggi!

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: