Seruling Sakti Jilid 06-10

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

6 – Riyut Atirodra

Dengan termangu, salah seorang dari mereka menjawab. “Sekalipun kami punya sembilan kepala, kami tak berani mengusik kaum Riyut Atirodra.” (Riyut Atirodra=Gelap gulita yang menakutkan).

Ya, Riyut Atrirodra adalah perkumpulan orang-orang yang tidak punya aturan, menurut mereka, di dunia persilatan apapun kehendak hati itulah batas aturan yang berlaku. Konon kaum Riyut Atirodra adalah tempatnya para sampah persilatan berkumpul. Jika mereka bertarung, sudah pasti selalu main keroyok dan menggunakan cara apapun untuk menang—menggunakan racun dan sandera adalah hal biasa bagi mereka.

Perkumpulan ini ada sejak empat puluh tahun silam. Kaum persilatan mengenalnya karena seragam baju mereka yang khas dan atribut lainnya yang berwarna warni, sangat mencolok.

Orang-orang rimba persilatan sama pusing kepala, jika berurusan dengan kaum Riyut Atrirodra, karena itu sebisa mungkin mereka menghindarinya. Lima tahun berselang, ada seorang tokoh ternama yang juga menjadi ketua perguruan besar, berurusan dengan kaum Riyut Atirodya. Meskipun dia dan anak muridnya sangat tangguh, tapi menghadapi gempuran ribuan orang yang menggunakan beragam senjata dengan bertempur tanpa mengindahkan peraturan, racun mematikan digunakan, bahkan lawan yang tertangkap dipakai sebagai tameng… mereka hanya menunggu waktu kejatuhan saja. Dalam waktu tempo semalam, Perguruan Teratai Lindu yang ternama, beserta penghuninya lenyap tak berbekas. Hanya tinggal bangunan kosong dan ceceran darah saja yang tersisa dari pertempuran itu.

Dalam dunia persilatan, Perguruan Teratai Lindu pernah tercatat memiliki andil besar, tapi kini hanya tinggal sejarah.

Itulah cara kerja kaum terbuang, tak perduli lawannya satu orang atau bahkan perkumpulan besar, mereka akan menyerang dengan jumlah besar, bahkan tak jarang dengan seluruh kekuatan. Tentu saja tak satu orangpun berani mengambil resiko melawan kaum terbuang itu.

Markas besar Riyut Atirodra ada di sebuah Pulau Cangkang diseberang lautan. Dari Jawa Dwipa, butuh sehari semalam untuk mencapainya. Jumlah mereka sangat banyak, konon mencapi belasan ribu, ada divisi-divisi tertentu yang mengurusi berbagai keperluan. Menurut kabar yang beredar, ada sebelas divisi yang pernah berkeliaran di dunia persilatan. Sebelas pimpinan divisi juga termasuk orang-orang berilmu tinggi. Belum lagi pimpinan tertinggi yang mengepalai seluruh divisi.

Tapi sejauh ini kaum persilatan hanya mengetahui para pimpinan divisi saja, siapa pimpinan tertinggi yang mengendalikan seluruh divisi, hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Untungnya kaum Riyut Atirodra juga orang-orang yang malas mencari urusan. Mereka lebih suka berada di markasnya, ketimbang keluyuran di dunia persilatan.

Kini… tak disangka, ada sebelas anggota Riyut Atirodya yang tergolek di punggung kudanya dalam kondisi mengenaskan. Siapakah orang yang berani berurusan dengan kaum terbuang itu?

Walau anggota Pratyantara selalu menganggap remeh perkumpulan manapun, tapi untuk yang satu ini, tak terbayangkan untuk meremehkan. Bahkan jika berselisih—andai ini terjadi—dengan kaum terbuang, mereka lebih baik mencari pengampunan.

“Bangsat! Siapa berani cari mampus mengusik kaum Riyut Atirodra?!” bentakan dengan suara melengking tinggi, memecah kebekuan suasana.

Tentu saja baik dari biro pengiriman dan anggota Pratyantara, tak berani menyahut. Tapi mendadak dari kejauhan terdengar gelak suara membahana.

“Bangsat cilik macam Riyut Atirodya belum pantas untuk menjadi tukang cuci pantat kudaku, kenapa aku harus berurusan dengan manusia sampah macam kalian?”

“Keparat! Keluar kau!” bentak pemilik suara melengking itu gusar.

Belum lagi gaung suara berhenti, mendadak dari atas tebing muncul bayangan besar dan mendarat tepat diatas kereta kuda.

Brak! Tertimpa bobot berat dari ketinggian seperti itu, kereta kuda langsung hancur berkeping-keping. Demikian keras dan kasar cara mendaratnya, membuat orang tak percaya ada cara bodoh menuruni tebing seperti itu, tapi anehnya tekanan bobot tubuhnya hanya ada pada kereta saja, begitu kakinya menembus kereta dan menyentuh tanah, bahkan jejak kakipun tak membekas di tanah tebing.

Kini semua orang bisa melihat siapa gerangan orang itu, badannya yang tinggi besar dan kekar, membuatnya begitu berwibawa. Wajahnya gagah penuh cambang dan berapa luka sayat menghiasi pipinya. Saat tatapan matanya memandang berkeliling, dia mendengus.

“Huh! Maling kecil macam kalian pun sedang beraksi? Hendak bertingkah dihadapanku, heh?!”

Pemuda pertama—si pemilik kereta yang hancur—segera menyahut. “Siapa kau? Bukannya minta maaf sudah menghancurkan kereta, datang-datang malah memaki!”

Tak menyahuti ucapan itu, orang ini malah tergelak keras. Suaranya begitu menggelegar dan membuat telinga sakit.

“Begundal Riyut Atirodra, aku ada disini kalau kau sudah bosan hidup!” Ucapan sederhana itu semacam tanda, bahwa lelaki ini susah dihadapi. Sebab ucapan tadi sama saja dengan, ‘muncul dihadapanku kau pasti mampus’.

“Kurang ajar, segala keparat tak bernama mau ikut campur urusan kami?” suara melengking itu bergaung, tak lama kemudian melesat sosok tubuh dari atas tebing. Caranya turun berbeda dengan orang tadi, dia hanya sekali memantulkan kaki ke tebing, dan turun dengan enteng tepat didepan lawannya.

“Kau ini cuma pengawal kelas dua, berani pasang tampang didepanku?” bentak lelaki itu gusar.

Tanpa tanya ini-itu, tinjunya segera melayang menyerang. Tentu saja orang itu terkejut, dia pikir orang didepannya masih tahu aturan, tak tahunya sifatnya sama persis dengan kaumnya sendiri.

Tak sempat berkelit, dengan mengerahkan seluruh tenaga, di tangkisnya jotosan itu dengan tapaknya. Buuk! Tak terkira rasa kejutnya, begitu menahan jotosan itu, badannya terasa lunglai tanpa tenaga dan jatuh terjerembab tanpa daya.

Hadirin yang menyaksikan pertarungan singkat itu, tercengang. Pukulan tadi sungguh sederhana, sebuah serangan lurus, cepat dan akurat, tak membuang peluang, jurus umum seperti inipun bisa menjadi begitu mematikan di tangan lelaki tinggi besar itu. Sungguh penggunaan teknik yang sempurna. Tiba-tiba hadirin teringat akan suatu nama, ya! Dia adalah Hastin Hastacapala (Si Gajah yang sembarangan mengunakan tangannya; Hastin=Gajah/Liman).

Lelaki itu berusia paling banter 45 tahun, tapi wajahnya tak menyiratkan usianya. Pamornya di dunia persilatan bagaikan mentari di siang bolong. Tiap orang yang berkecimpung di Telaga Hijau(Dunia Persilatan) pasti tahu siapa dia. Kisah yang paling sering diceritakan dari mulut kemulut adalah saat dia seorang diri menyatroni Pulau Bala—markas para begal paling bengis dan lihay saat itu, hanya demi memaksa salah satu penghuninya membayar ongkos tukang sampan. Gara-gara masalah itu pula, Pula Bala tak lagi berpenghuni. Para begal itu tak lagi ada kabar beritanya. Menurut tukang sampan yang diberi uang Si Hastin, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, tak satupun begal selamat. Sebab semua kepala mereka pecah oleh pukulan Si Hastin. Banyak kisah Si Hastin yang membuat orang takut berurusan dengan dia, sebab tak satupun akan berakhir damai. Selalu bogem mentahnya yang bicara lebih dulu, golongan hitam lebih memilih kabur dan sembunyi jika berurusan dengannya, sedangkan golongan Putih lebih memilih diam jika bersinggungan dengan orang ini.

Dengan berkacak pinggang, dia membalikan badan, “Kalian kaum maling kenapa masih disini? Memangnya tunggu bapakmu menghajar kalian?!”

Usai berkata begitu, tangannya menyapu kearah dua kereta yang masih tersisa, angin dari sapuan tangannya membuat kuda-kuda penarik kereta panik dan terus lari, sayangnya kuda-kuda itu lari ke sebelah kanannya—tepat kearah jurang. Pasangan muda-mudi itu terkesip ketakutan, tapi mereka tak beranjak dari tempatnya.

Tak lama kemudian suara berdebum terdengar, “Wah, aku lupa melepas kekang kuda.” Gumam lelaki tinggi besar ini menyeringai sesal.

“Kau memang selalu seperti itu!” mendadak terdengar suara dari dalam jurang. Beberapa saat kemudian satu sosok tubuh muncul dari bawah sana, dengan ringannya dia menapak di jalanan sempit itu. Ditangannya nampak tali kekang kuda.

Si Hastin tertawa gembira melihat orang itu, “Ah, kau …” ujarnya sembari mendekat dan meraih tali kekang itu. Dengan sekali sentak saja, kuda-kuda yang tadi tergantung di dinding tebing, terangkat naik! Padahal ada empat ekor kuda yang tertambat pada kekang. Hadirin terperangah melihat demontrasi kekuatan Si Hastin.

“Terima kasih sudah membantuku melepas grobak tak berguna itu.”

“Sama-sama, lagi pula aku merasa sayang, kuda-kuda bagus ini mati di dasar jurang.” Ucap lelaki yang baru datang tadi dengan tersenyum.

Lelaki itu bertubuh tinggi, sama seperti Si Hastin, tapi badannya jauh lebih langsing—kalau tak mau di sebut kurus. Di pinggangnya terselip pedang pendek. Tapi ada yang khas dari dandanannya itu, leher bajunya yang tinggi, dan penutup kepala warna hijau ala kadarnya itu mengingatkan hadirin pada sosok yang membuat bergidik, dia tak lain Si Arwah Pedang.

Anggota Pratyantara tercekat, cukup salah seorang dari mereka saja sudah bisa membuat perkumpulan mereka tutup, konon lagi dua orang pentolan besar muncul sekaligus. Kali ini ketiga pasang muda mudi itu tak berani bercuit.

Yang aneh lagi, salah satu dari kusir tiba-tiba berjalan menjura pada Arwah Pedang, “Tak berapa lama lagi, saya kira beliau, akan sampai.” Katanya.

Kontan ucapan yang tak jelas tujuannya membuat semua orang heran. Tentu saja yang paling heran adalah sepasang muda mudi yang dikusirinya, mereka terperangah. Siapa sebenarnya kusir mereka? Tapi tidak bagi Arwah Pedang, di justru tersenyum.

“Oh, benarkah? Kalau begitu sampaikan pada beliau, aku ada disini.”

“Baik.” Kemudian si kusir dari kereta kedua ini, melontarkan bungkusan kecil ke udara, letupan asap putih terlihat.

“Hei apa maksudnya ini?” tanya Hastin pada Arwah Pedang.

Arwah Pedang tak langsung menjawab, dia menatap lurus kearah jurang. “Bukankah aku dulu pernah mengundangmu masuk kelompokku?” ujarnya.

“Ya, dan aku tidak mengatakan akan masuk.”

“Aku juga tak memaksa, siapa tahu setelah berjumpa beliau, kau berubah pikiran.”

Alis mata Hastin terangkat, beliau? Seingatnya, selama 22 tahun bersahabat dengan Arwah Pedang, belum pernah dia melihat sobatnya itu begitu menaruh perindahan pada orang sedemikian hormat. Sekalipun itu sesepuh dunia persilatan, Arwah Pedang juga akan menghadapinya dengan santai dan seadanya. Tapi sekarang? Mau tak mau hati Si Hastin tergelitik ingin tahu, orang macam apa yang telah menundukkan hati karibnya ini.

Praktis suasana menjadi senyap, kecuali dua orang itu tak satupun berani buka omongan. Bahkan sepasang muda-mudi yang begitu marah atas sikap kusirnya, terpaksa menelan keingintahuan mereka.

“Lalu kau ada urusan apa dengan Riyut Atirodra?”

“Huh! Biarpun aku tak ada kepentingan apapun, ketemu kaum laknat macam mereka pasti kubasmi satu persatu.” Dengus Hastin gemas.

Arwah Pedang tertawa sambil geleng-geleng kepala, sifat berangasan Si Hastin memang membuatnya sering pusing kepala.

“Cuma sesederhana itu?”

“Seharusnya.” Seru Hastin geram.

“Seharusnya?”

“Ya! Tadi aku menjumpai mereka memasang bubuk belerang, 8 pal dari sini. Kelihatannya mereka mau meledakkan jalan itu!”

“Ah…” Arwah Pedang terkejut, hadirin juga terkejut, tapi mereka tetap tak berani bersuara. “Tak kuduga kaum yang paling malas berurusan dengan segala tetek bengek menjadi begitu giat?”

“Aku juga merasa heran. Pasti ada sesuatu yang mereka incar!”

Mendengar ulasan Hastin anggota Pratyantara terkesip, jika Riyut Atirodra menginginkan hal yang mereka inginkan juga, berarti persoalannya tak sesederhana yang mereka kira.

Hastin mendekati anggota biro pengiriman, dia memeriksa dua orang yang tergeletak tanpa diketahui nasibnya itu. “Hm, sangat parah…”

“Apakah saudara-saudaraku bisa disembuhkan tuan?” Tanya seorang lagi yang bersandar di dinding tebing.

Hastin menatap orang itu, lalu mendekatinya. Tak dinyana Hastin justru menampar orang itu, sampai pingsan.

“Hei apa yang tuan…” dua anggota biro pengiriman yang masih bugar, terkejut.

“Tenang saja,” potong Arwah Pedang,.”Begitu cara dia menyembuhkan cedera dalam.” Ujarnya menenangkan.

Mendengar penjelasannya, hadirin baru paham, tapi tak disangka orang yang sangat ditakuti kaum persilatan ternyata sangat ramah, diluaran sana, tersiar kabar Arwah Pedang hanya bicara dengan orang yang setimpal dengan ilmunya, atau dengan musuh yang akan dihabisinya. Jika dalam sehari dia tak berjumpa musuh, maka jangan harap bisa mendengar suaranya.

Hastin mendudukan orang yang tadi ditamparnya. “Aku mungkin masih sanggup mengobati temanmu yang ini, tapi dua orang yang lain aku tak sanggup.”

“Terima kasih banyak, tuan. Kami juga tak banyak berharap melihat kondisi mereka.”

Tiba-tiba terdengar tawa kusir yang tadi memberi kabar pada Arwah Pedang. “Kau tak perlu kawatir, dua saudaramu pasti bisa disembuhkan kembali. Aku jamin!” Katanya pasti.

Hastin heran dengan keyakinan kusir misterius itu, tapi begitu sobatnya juga turut mengamini. Dia lebih merasa heran lagi.

“Eh, kau sendiri, ada urusan apa datang kesini?” tanya Si Hastin pada Arwah Pedang.

“Mungkin alasanku sama dengan alasan orang pada umumnya.”

“Harta?”

Arwah Pedang tertawa geli. “Harta? Kau pikir aku terlalu miskin? Aku tak mengarapkan apa-apa lagi, aku hanya butuh melemaskan otot.” Ujarnya.

“Memangnya ada orang yang layak kau tunggu lagi?”

“Masih banyak, baru kali ini aku merasa harus lebih giat berlatih lagi. Ternyata lautan itu sangat luas, langit pun begitu tinggi. Saat ini aku hanyalah puncak gunung.”

Hasti terperangah mendengar ucapan sobatnya, satu tahun yang lalu, tak mungkin Arwah Pedang berkata demikian rendah hati.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanyanya penuh keheranan.

“Kau akan tahu sesaat lagi.” Ujarnya dengan santai. “Lalu, menurutmu, akan kau apakan orang-orang ini?” tunjuknya pada tubuh-tubuh bergelimpangan kaum Riyut Atirodra.

Si Hastin tercenung sesaat, “Sebenarnya aku ingin melenyapkan mereka. Tapi, mungkin saat ini mereka masih berguna.”

“Kau tak khawatir berurusan dengan mereka?”

Hastin tertawa geli. “Paling-paling mati, apa yang kutakutkan?”

Arwah Pedang menggeleng prihatin. “Aku tak menanyakan dirimu, yang kukhawatirkan justru orang-orang disekitarmu.”

Hastin menghela nafas panjang, wajahnya menunjukkan rasa khawatir. Jika kau tanyakan pada kaum persilatan dimana kampung Si Hastin, orang pasti akan segera menunjuk Telaga Lungsir(sutera), disana ada lebih 200 kepala keluarga yang hidup dibawah perlindungan Hastin Hastacapala. Meskipun sebagian dari mereka kaum persilatan dan memiliki kedigdayaan, tapi menghadapi serbuan Riyut Atirodra yang tak tahu aturan dalam jumlah ribuan? Siapa yang sanggup?

“Kita lihat nanti saja…” gumamnya gundah.

Arwah Pedang ikut prihatin, jika mereka adalah jiwa-jiwa yang bebas merdeka, tak memiliki tanggungan, setan kepala sepuluhpun akan mereka tantang duel.

“Saya rasa, permasalah ini bisa dirembuk dengan seksama nantinya.” Tiba-tiba si kusir misterius menyahut.

“Memangnya ada orang yang bisa menahan ribuan kaum bangsat ini?!” tukas Hastin gusar.

Arwah Pedang menyahut. “Sebenarnya ada banyak orang dan perkumpulan yang sanggup menahannya, permasalahannya; kita tak tahu keberadaan mereka.”

“Huh! Berita tak berguna!” gerutu Hastin.

“Tapi aku tahu satu orang…”

“Hah! Siapa?!”

Berita itu benar-benar menguncangkan hadirin, termasuk orang dari Riyut Atirodra yang baru saja dilumpuhkan Si Hastin.

“Puih! Omong kosong!” geramnya gusar.

Hastin menoleh padanya, “Aha! orang tak berguna sudah siuman rupanya…”

Buuk! Kakinya menyepak perut orang itu dengan keras. Untung saja dia tak mengunakan tenaga kelewat keras. Meski demikian orang ini tetap merasakan perutnya sangat mulas.

“Siapa dia?”

Arwah Pedang mengangkat bahunya, sembari tersenyum dia berkata. “Aku tak akan mengatakan sekarang, tapi biarlah kau yang menyimpulkan, apakah menurutmu dia sanggup atau tidak.”

“Ada orang yang sanggup menghadapi Riyut Atirodra, tentu berita besar ini sudah menyebar lama di dunia persilatan!” sinis terdengar perkataan dari anggota Riyut Atirodra.

Hadirin terpekur mendengarnya; benar juga, masalah sebesar itu tentu saja tiap orang akan segera tahu. Jadi, apa benar yang diucapkan Arwah Pedang? Tak mungkin tokoh sekaliber dia mengucapkan omong kosong. Hastin pun sudah berkesimpulan, pasti seseorang yang sanggup menaklukkan hati sahabatnya itulah orangnya.

Suasana jadi senyap sesaat.

“Kalian bilang menunggu orang lain, siapa yang kalian tunggu?” mendadak si kusir misterius bertanya pada dua anggota biro pengiriman.

Terbatuk sesaat, mereka berdua saling pandangan dan menjawab lirih. “Swara Nabhya.” (Swara Nabhya=Suara berkabut, tak ada wujud—sosok misterius)

“Ah!” Jeritan kaget terdengar dari seorang gadis anggota Pratyantara, selebar wajahnya pucat pasi. “Ke-kenapa kalian bisa tahu?” tanyanya dengan bimbang.

“Tahu?!” dengus mereka melirik dengan tatapan nyalang penuh dendam, namun sesaat sinar mata itu meredup. “Kami tak tahu apapun, sepanjang perjalanan, selalu ada suara yang memberi kami petunjuk, tapi di lain pihak dia juga mengancam akan merebut barang titipan kami.”

“Kenapa kau namakan demikian?”

“Sebab suara itu muncul seperti kabut, hanya terdengar pagi dan sore hari.”

Si Kusir misterius menatap dua orang anggota biro pengiriman dengan mimik aneh. “Yang kalian dengar suara lelaki apa wanita?”

“Keduanya, dan silih berganti.“

“Hm…” gumaman Hastin menarik perhatian orang. “Tak aku sangka akan jadi begini. Orang-orang Lembah Halimun sampai ikut campur. Apa yang kalian bawa?”

“Kami tak tahu, hanya ada titipan dari sekolompok orang supaya disampaikan pada suatu tempat.”

“Dan kalian ingin benda itu?” tanya Hastin pada orang-orang Pratyantara.

“Be-benar,” jawab pemuda dari kereta pertama terbata.

“Info apa yang kalian dapatkan sampai mengejar demikian jauhnya?”

Mereka saling pandang, bimbang. Keenam muda-mudi ini adalah tipe manusia yang sering menindas orang lain, tapi di hadapan Hastin, keberanian mereka menguap entah kemana.

Menuruti watak mereka, sudah pasti tak ingin menjawab, tapi mereka sangat paham, jika Hastin mendapat jawaban kurang memuaskan, kepalannya pasti akan ikut campur. Itulah hal paling pasti dari lelaki berjuluk Hastin Hastacapala. Dan itu sangat mereka hindari.

“Kurang jelas juga, ketua kami yang mendapatkannya. Kami hanya diperintah supaya kemari, mengejar lima orang ini, dan merebut barangnya. Entah barang apa, kamipun tak tahu.”

“Hm, tak mengherankan. Dengan otak maling Jung Simpar, apapun di sikatnya, sudah menjadi kewajaran kalian mudah ditipu.” Dengus Hastin. (Jung Simpar= Kaki Terasing, bisa diartikan orang yang jarang keluar, cukup mengutus anak buahnya)

“Tuan memang benar,” Si Kusir Misterius menimpali. “seseorang memberikan kabar pada Jung Simpar, cara memberikannya pun sangat istimewa. Benda-benda koleksi berharganya, dicuri dari tempat rahasianya.”

“Dari mana kau peroleh informasi itu?” tanya pemuda dari kereta ketiga. Tadinya dia merasa sangat marah dan ingin membunuh kusir penghianat ini. Tapi dia sadar, persoalannya tak semudah itu. Semudah itukah orang luar masuk ke perkumpulan mereka? Dia sendiri tak yakin. Karena tiap anggota utama mereka kenal satu persatu, dan orang diluar lingkaran mereka tidak memiliki akses kedalam, sudah pasti ada banyak kejanggalan jika seorang bisa menyusup.

Si Kusir misterius tertawa. “Aku tak perlu menceritakan padamu, cukup kalian tanyakan pada Jung Simpar. Kuyakin kali ini dia akan berpikir panjang jika ada berita menggiurkan.”

“Kalian harus pahami sesuatu…” mendadak Arwah Pedang bicara. “kalian pikir kusir ini sudah bekerja berapa lama di perkumpulan kalian? Kenapa tiba-tiba dia berada pada pihak lain? Hal seperti itu sangat lumrah. Jadi tak usah berpikir bahwa perkumpulan kalian sangat sulit untuk disusupi.” Seolah bisa membaca pikiran, ucapan Arwah Pedang benar-benar tepat sasaran.

Mereka tahu kusir yang mereka pakai sudah ada sebelum mereka masuk perguruan, jadi sebenarnya apa yang terjadi? Makin dipikir, malah makin membingungkan.

“Aneh…” gumam Hastin. “Apakah ketua kalian mengatakan sesuatu pada kalian?” dia bertanya pada orang-orang biro pengiriman.

“Menurut ketua, akan ada yang mengejar kami, tapi kami disuruhnya tak usah berkawatir. Karena akan ada pihak lain yang saling berebut. Saat itu kami bisa meloloskan diri. Tapi, kami tak mengira, akan begini jadinya.”

“Ketua kalian mengatakan asli palsunya barang yang kalian bawa?”

Mereka menggeleng.

“Tentu saja dia tak tahu apa-apa.” Mendadak terdengar suara bergaung.

“Ah… dia!” seru orang-orang biro pengiriman.

Mendadak mereka sadar, ternyata hari sudah menjelang sore. Dan menurut orang biro pengiriman, pada waktu-waktu seperti inilah terdengar suara yang mereka sebut Swara Nabhya.

“Dan kau tahu hal ini?” tanya Arwah Pedang penasaran.

Tiba-tiba terdengar gelak tawa, “Apa yang kutahu tak jauh beda dengan apa yang kalian tahu. Makanya aku mengikuti mereka.” Kali ini, suara perempuan. Begitu mendengar suara tersebut, mendadak gadis-gadis dari Pratyantara menggigil, wajah mereka pucat pasi, hadirin memperhatikan kejadian itu, tapi tak memperdulikannya.

“Cuma satu hal yang aku paham…” sambung Swara Nabhya. “Ada orang yang berani mengusik kami, tentu saja aku harus turun tangan!” desisnya dengan nada geram.

Suasana jadi hening, kali ini hadirin merasa persoalan jadi makin rumit. Utusan Biro Pengiriman yang dikejar kaum maling elit; Swara Nabhya yang membayangi utusan biro pengiriman; Kemunculan kaum Riyut Atirodra; bahkan hadirnya Hastin dan Arwah Pedang yang kebetulan juga merupakan satu tanda tanya besar. Lalu pertanyaan paling penting; barang apa yang akan dikirim?

“Kau sendiri ada urusan apa, berkeliaran disini?” Tanya Hastin pada pentolan Riyut Atirodra yang tadi dia hajar.

“Memangnya, ini dunia bapakmu? Kemana kami pergi, suka-suka kami!”

Hastin tertawa. “Memang, itu bukan urusanku, tapi menjadi urusanku saat kalian ingin menghancurkan separuh jalan ini.”

“Huh! Cara kami mengatasi pencuri memang begitu! Aku tak perlu menunggu kau setuju atau tidak!” jawabnya ketus.

Seolah tak ada kaitannya, tapi karena berbagai pihak bertemu dalam satu kejadian, maka hadirin bisa mengambil kesimpulan. Swara Nabhya yang diusik ketenangannya, dan kaum Riyut Atirodra yang kecurian. Rupanya ada orang yang saling membenturkan berbagai pihak, dan tentunya mereka yang akan mengambil keuntungan. Lalu, apa hubungannya dengan barang yang akan dikirim, dengan ‘pemanis’ gangguan dari gerombolan pencuri elit, yang sudah direncakan pihak misterius ini?

Makin mereka paham persoalan yang sedang terjadi, makin terasa pula aroma darah yang akan tertumpah. Bahkan pihak yang paling tak ambil perduli dengan untung-rugi—Riyut Atirodra, bisa mengambil kesimpulan sama. Kali ini mereka harus berhitung, apakah dengan turun tangannya mereka ada pihak yang diuntungkan? Diuntungkan dengan hasil yang berlipat! Tentu saja mereka tak ingin bertindak bodoh.

Suasana jadi kikuk, karena masing-masing pihak memiliki kepentingan sendiri, mereka tak akan bertindak gegabah dengan melakukan aksi lebih dulu. Orang-orang biro pengirimanpun tak lagi dalam posisi mengurung, mereka sibuk mengobati temannya yang terluka.

Dari kejauhan terdengar sayup-suyup derap kaki kuda, menilik bunyinya kuda itu cuma ada satu. Situasi yang kaku membuat tiap orang ingin tahu siapa penunggang kuda itu. Tak berapa lama kemudian dari tikungan sana muncul kuda yang dinanti. Hanya kuda saja… entah dimana yang menungganginya. Beberapa saat kemudian, dari belakang disusul dua orang yang berlari dengan begitu pesat, membuntuti kuda tadi.

-—ooOOOoo—-

7 – Beliau, Jaka Bayu

Karena didepannya begitu banyak halangan, dengan sendirinya kuda itu berhenti, dan dua orang yang membayangi pun ikut berhenti. Hadirin memandang dua orang itu dengan seksama, belum lagi mereka tahu siapa mereka.

Arwah Pedang berseru, “Beliau tak ada bersama kalian?”

Dan hadirin pun paham siapa mereka, keduanya adalah orang dari perkumpulan yang sama dengan Arwah Pedang.

“Seharusnya tadi bersama kami, tapi ditengah jalan beliau ingin berbincang dengan seorang teman, dan memisahkan diri. Kami pikir sebentar lagi akan sampai.”

“O…” Arwah Pedang merasa heran, di jalan yang hanya ada satu tujuan ini, dan jarang orang awam lewat, siapa pula yang akan diajaknya berbincang? Bukankah tidak ada orang lain, kaum pesilatkah?

“Kalian tahu siapa yang diajak bicara?”

“Tidak. Kami tak melihat siapapun, tapi sesaat setelah beliau turun, di tepi jalan tadi kami lihat beliau tertawa.”

Arwah Pedang tertawa, “Ah, dasar! Anak itu selalu tak bisa di tebak.” Ucapan terakirnya membuat Hastin heran, jika dia tak salah tangkap, ‘Beliau’ ini adalah ‘anak itu’?! Apa tidak aneh?

Semula Hastin mengira ‘Beliau’ adalah orang hebat, dan ternama, terbukti dari keberadaan Arwah Pedang pada pihaknya, maka Hastin bisa memperkirakan kelihayan orang itu. Tapi kini dia melihat ada dua orang pengiring ‘beliau’ yang demikian hebat peringan tubuhnya. Sebelumnya dia tak mengenali siapa mereka, mendadak hatinya tercekat, mereka adalah Si Penikam dan Si Cambuk. Baginya, mereka bukan lawan sepadan, tapi justru keberadaan orang macam Penikam dan Cambuk itulah yang membuatnya tak berani mengambil kesimpulan, orang macam apa ‘beliau’ itu.

Si Penikam, tak dikenal di dunia persilatan, tapi jika kau tanya dikalangan penjual informasi—telik sandi/mata-mata, julukan orang ini cukup disegani. Lain lagi dengan Cambuk, orang ini pesilat tulen, cukup dikenal didunia persilatan, dia adalah murid Mpu Dwiprana, seorang ahli pembuat senjata; teristimewanya, Si Cambuk adalah ajudan Adipati Kalagan dari wilayah Hulubekti—salah satu daerah makmur yang jadi tujuan kaum kelana untuk mencari rezki. Jadi, jika seorang petinggi kerajaan—ajudan adipati ikut keluyuran keluar demi mengiring ‘beliau’, Hastin tak bisa membayangkan pengaruh ‘beliau’.

“Dia tak mengatakan apapun selain akan menyusul?”

“Sebelum turun tadi, beliau berkata; menghadapi yang terlihat memang menyenangkan, tapi tak terlihat lebih menyenangkan.”

Arwah Pedang seperti menyadari sesuatu. “Saudara dari Lembah Halimun, kau masih disini?”

Tak ada jawaban, hadirin memandang berkeliling. Jangan-jangan yang ditemuinya adalah Swara Nabhya?

Hastin terperanjat, jika benar ‘beliau’ menemui Swara Nabhya, maka orang ini benar-benar tak bisa dianggap enteng. Kaum Lembah Halimun di dunia persilatan dipandang bagai roh halus, belum pernah terdengar kabar, ada yang menemui secara langsung.

Dari kejauhan sayup-sayup terdengar tawa lelaki dan perempuan berselang-seling. “Baiklah, akan kami pikirkan.” Suara itu terdengar menjauh seperti sedang menuruni tebing. Dan selanjutnya dari tikungan jalan itu, muncul lelaki. Sosoknya tinggi sekitar 6 kaki (183 cm)—tapi tak setinggi Arwah Pedang, penampilannya bersahaja, membuat orang tidak perlu memberi perhatian lebih, makin dekat sosok itu, mereka bisa melihatnya dengan jelas… ternyata dia masih sangat muda, sepintas orang akan senang memberi penilaian baik untuknya.

Wajah pemuda itu terlihat ramah, bibirnya terulas gurat senyum tak senyum, di dagunya terdapat gurat luka dengan belahan tipis, menambah kharisma. Sepintas kilas dia seperti kebanyakan pemuda lain, tapi begitu wajahnya diperhatikan lebih lanjut, orang akan tahu, hal yang paling menarik adalah, mata jernihnya yang cemerlang. Penikam dan Cambuk segera datang mendekat, Si kusir misterius dan Arwah Pedang juga.

“Apa kabar Paman Pariçuddha?” ucapan pertamanya bernada sangat hormat, membuat Hastin ragu apakah orang ini ‘beliau’?

“Baik sekali.” Jawab Arwah Pedang seraya menjabat tangan pemuda itu.

“Engkau Paman Alih?” pada Si Kusir misterius.

“Baik sekali tuan. Sebagai laporan, apa yang tuan amanahkan sudah saya kerjakan. Dan kejadian saat ini juga sudah termasuk dalam perhitungan saya.”

Pemuda ini mengangguk. “Terima kasih banyak paman, jadi merepotkanmu.”

“Ah tidak, ini hal yang ringan bagi saya.”

Pemuda itu mengangguk paham.

“Hanya saja disini ada sedikit masalah.” Sambungnya seraya melirik orang-orang Riyut Atirodra.

“Aku bisa melihatnya.”

Pemuda itu menyapu pandangannya ke depan, lalu dia melangkah mendekati Hastin dan membungkuk hormat. “Engkau pasti tuan Hastin Hastacapala yang terkenal itu, sungguh sebuah kerhormatan bisa berjumpa.”

“Selamat berjumpa juga.” Hastin balas menghormat, dan dia menyodorkan tangannya untuk dijabat. Pemuda ini menjabatnya sambil tersenyum.

Hasti Hastacapala adalah orang yang tak mau kalah, dia ingin tahu seberapa tangguh orang yang membuat sobatnya jadi ‘lembek’, begitu jemari pemuda ini digenggam, dia meremasnya dengan kuat. Tapi alangkah terkejutnya ia, menyadari sekian lama dan makin kuat dia remas, tangan pemuda ini terasa kadang lunak kadang keras.

Pemuda ini tersenyum, dengan halus dia menarik tangannya, dengan penasaran Hastin melepaskan. “Apakah teman-teman dari Riyut Atirodra tuan yang melumpuhkannya?”

“Benar, dan tolong jangan panggil aku tuan. Cukup Hastin saja.” Dia memandang pemuda didepannya dengan tatapan heran.

“Bolehkah, mereka diserahkan padaku, paman?” pemuda ini membahasakan Hastin dengan sebutan lebih akrab.

“Terserah…” Hastin tak merasa keberatan—temasuk panggilan paman baginya. Dia ingin tahu apa yang akan diperbuat pemuda itu pada Riyut Atirodra, terus terang jika pemuda ini yang mengambil tanggung jawab atas kaum itu, dia sangat lega.

“Terima kasih.” lalu pemuda ini menghampiri orang-orang biro pengiriman. “Bagaimana keadaannya?”

“En-entahlah…” jawab mereka tergagap. Entah dari mana datangnya rasa segan, padahal pemuda ini lebih muda dari mereka.

Dia berjongkok dan memeriksa nadi mereka, pertama yang diperiksa adalah ketua mereka. “Tak terlalu parah…” dari balik bajunya di keluarkan bungkusan kecil, isinya puluhan jarum halus. Saat tangannya mengulap diatas tubuhnya, dalam sekejap sekujur tubuh itu sudah ditancapi jarum dalam beragam posisi. Lalu ubun-ubunnya dihantam dengan perlahan, cukup menggidikkan bagi yang mendengarnya, suara pletak—bagai tengkorak pecah. Membuat mereka mengira entah pengobatan atau pembunuhan yang sedang dilakukannya.

“Kalian balut luka luarnya.”

“Ta-tapi jarum-jarum ini?”

“Jangan sampai mengenainya.”

“Baik.”

Pemuda ini memeriksa orang kedua, dadanya melesak kedalam, kondisinya lebih parah dari yang pertama. Tapi selama masih ada nafas, dia optimis bisa membuat perubahan.

Dengan hati-hati dia berdirikan tubuh lunglai itu, dangan yang satu menempel pada punggungnya, nampaknya dia sedang menyalurkan hawa murni.

“Hiaa!” tiba-tiba pemuda ini memekik dan tubuh itu dilemparkannya keatas, belum hilang kejut para hadirin, dalam kejap berikutnya pemuda ini menyusul tubuh itu dan detik selanjutnya hadirin terperangah dengan ‘penganiayaan’ yang dilanjutkan pemuda ini. Pukulan bertubi ke punggung, tendangan ke paha dan tamparan pada ubun-ubun terjadi dalam sekali gerak. Begitu tubuhnya hampir menyentuh tanah, pemuda ini sudah menyangganya kembali.

Terdengar suara batuk-batuk, nampaknya orang yang tadi tak diketahui hidup matinya sudah siuman, rintihan kesakitan membuat rekannya sadar, dan dia buru-buru menghampiri.

“Rendam dia dengan air hangat selama satu hari penuh.”

“Ta-tapi, tugas kami…”

“Jangan kawatir, guru kalian—Golok Sembilan Bacokan, sudah memikirkan kejadian seperti ini. Lagi pula benda yang banyak diperebutkan orang tak disini.” Ujarnya sambil tersenyum.

“Lalu bagaimana kami harus merendam dia?”

Pemuda ini tetawa, “Terserah kalian, mau menuruni tebing pun boleh, ada sungai disana; atau melanjutkan perjalananan sejauh 25 pal lagi juga terserah, nanti akan kalian temukan penginapan.”

Pemuda ini memeriksa balutan yang diperintahkannya tadi, sambil manggut-manggut, dia mencekal kedua pergelangan kaki orang itu, lalu dengan satu sentakan tenaga murninya, seluruh jarum yang menancap pada tubuh orang itu terlontar, dengan gerakan memutar lengan, dia ‘tangkap’ jarum-jarum itu dalam lipatan lengan bajunya yang lebar.

“Kalian tidak keberatan kuda ini kugunakan?” tiba-tiba pemuda ini bertanya pada anggota Pratyantara.

Muda-mudi itu mana berani bercuit lagi, sambil mengangguk paksa, mereka mengiyakan. Tak menunggu lama, para anggota biro pengiriman sudah dinaikkan diatas kuda, dengan sekali hela empat ekor kuda itu sudah tak nampak lagi, mereka memacu kudanya demikian cepat.

Hastin dan pentolan Riyut Atirodra—yang masih tergeletak ditanah, memperhatikan pemuda itu dengan seksama.

Semula mereka menganggap remeh karena usianya yang masih muda, tapi sambutan Si Arwah Pedang membuat mereka ragu. Mungkin saja pemuda itu adalah putra si ‘beliau’? Sejak kemunculannya; sapaan pada teman-temannya, pada Hastin, lalu pengobatannya pada anggota biro pengiriman, dilakukan tanpa ragu—sangat efektif, tak membuang-buang waktu. Seolah dia sudah terbiasa melakukan itu. Sikap dan tata cara seperti ini jarang dimiliki orang-orang seusianya. Apalagi melihat caranya melakukan pertolongan pada anggota biro pengiriman, tak diragukan lagi ilmu pengobatan seperti itu bukanlah ilmu pasaran yang tiap orang bisa melakukannya. Mereka belum pernah melihat—bahkan mendengar, cara penyembuhan seperti itu. Belum lagi cara penyampaian informasi pada anggota biro pengiriman—tentang sungai dan penginapan—mereka sadar, pemuda ini tentu memiliki wawasan luas, bisa dipastikan dia selalu bergerak kemana-mana. Sehingga hal-hal remeh pun dia ketahui. Maka tak diragukan lagi, mereka menarik kesimpulan sama—dialah ‘si beliau’.

“Menurutku, kalian harus segera pergi.” Ucapnya singkat, ditujukan pada enam muda-mudi itu. “Paman Alih, tolong kawal mereka kembali.”

Kusir misterius itu mengiyakan dengan takzim. Pemuda ini memberikan bungkusan kecil pada kusir itu, dia juga membisikkan sesuatu padanya. Kusir ini berkali-kali mengiyakan.

“Segeralah berangkat.” Tanpa disuruh si pemuda-pun mereka ingin lekas-lekas pergi, berdekatan dengan orang-orang yang tak jelas kemampuannya—khususnya Hastin dan Arwah Pedang—mereka merasa takut

“Tuan…” belum lagi mereka berjalan lima langkah, pemuda dari kereta kedua kembali lagi dan menghadap ‘si beliau’.

“Ya?”

“Maafkan kelancanganku..”

“Ada yang ingin dikatakan, katakan saja.”

“Kami belum tahu namamu, dan aku juga sangat penasaran dengan kemampuanmu…” Ucapan terakhir itu tak diduga siapapun, mereka tak mengira pemuda ini berani juga.

Tak satupun orang-orang bereaksi keberatan dengan permintaannya itu. Hastin dan pentolan Riyut Atirodra juga, mereka bahkan ingin sekali melihat—sebenarnya apa yang menjadi andalan si beliau ini.

“Silahkan…” ucap si beliau tersenyum.

Sesaat pemuda dari kereta kedua ragu, apa maksudnya ‘silahkan’, karena orang dihadapannya tak bergerak. Maka dia memutuskan bahwa, si beliau memang menunggu serangannya.

Tak menunggu lama, tanpa aba-aba, pemuda ini melontarkan senjata rahasianya. Bahkan Hastin sendiri terperanjat melihat serangan itu, sebab jarak mereka hanya dua langkah saja. Detik itu senjata gelap terlontar, sebuah serangan mematikan mencuat dari bilah pedangnya. Dalam kilasan detik, orang akan mengira ‘si beliau’ pasti kena dua serangan mendadak itu.

Mendadak, secara aneh, tubuhnya beringsut kekiri. Jika gerakan itu adalah upaya menghindar, itu wajar, tiap kaum persilatan bisa melakukan gerak reflek semacam itu. Tapi ingsutan ‘si beliau’ ini serupa orang yang mendadak di tarik oleh tangan tak terlihat—seperti besi yang terhisap daya magnet raksasa—dengan kecepatan luar biasa. Setengah detik berikutnya, serangan pedang lawan lewat sejarak satu jengkal dari lengan terluar.

“Sudah?”

Pemuda dari kereta kedua terperangah, tergagu, tak bisa menjawab. Dia tak mengerti dengan cara apa dua serangannya itu bisa dielakkan demikian cepat. Serangan tadi adalah andalan baginya, dan itu terjadi dalam sekejapan mata saja. Tapi jurus yang dibanggakan itu, kali ini bagai mainan anak-anak di hadapan ‘si beliau’.

“Hanya demikian saja?”

“I-iya…” apa lagi yang perlu dia katakan? Belum lagi lawannya menyerang, dia sudah kalah dengan tragis. Jika si beliau mau turun tangan, setelah lolos dari serangan tadi, detik berikut giliran nyawanya yang melayang. Hanya butuh tiga hitungan saja untuk menghabisinya.

“Kira-kira aku perlu menyebutkan namaku?”

Dengan wajah pias, pemuda ini menggeleng. “Aku sadar, aku tak cukup berharga mengetahui namamu.”

Si beliau tertawa kecil. “Kau salah, jika kau tak cukup berharga, apa bedanya dengan orang mati? Namaku Jaka Bayu.”

Pemuda dari Pratyantara ini termenung sesaat, dan dia paham maksud yang dikatakan si beliau itu. Dengan kata lain, si beliau mengatakan padanya; ‘kalau kau tak cukup berharga lebih baik kumatikan saja’ atau ‘belum terlambat jika ingin kembali’, kembali? Ya, kembali ke jalan yang semestinya—kebenaran.

“Terima kasih, sungguh pelajaran berharga.” Ucapanya seraya menghormat—membungkukkan badan, dia berlalu di ikuti rekan-rekannya. dan terakhir si kusir misterius juga menyusul enam muda mudi itu.

Jaka menghampiri orang-orang Riyut Atirodra yang masih tergeletak lemas di atas kuda, dia membantu mereka siuman.

“Jadi apa yang membuat anda melakukan rencana penghancuran tebing?” pertanyaan Jaka membuat pimpinan Riyut Atirodra yang tadi dihajar Hastin, tertawa sinis.

“Kau pikir setelah, apa yang kau lakukan, bisa leluasa berbicang-bicang dengan kami?” ujarnya dengan sengit.

Jaka tertawa. “Saudara Kanayana, jika tiap perbuatanku selalu mengambil keuntungan, saat ini aku pasti sudah jadi orang sepertimu dulu—terpandang.”

Ucapan Jaka membuat Arwah Pedang dan Hasitn heran, tapi orang-orang Riyut Atirodra justru terkejut sekali.

“Da-dari mana kau tahu namaku?”

“Ah, hal sesepele ini pun kau tanyakan. Tentu saja aku bertanya, apakah nama-nama kalian didunia persilatan demikian rahasia?” ucapan yang sederhana itu justru membuat orang-orang Riyut Atirodra tercekam.

Sudah diketahui bersama, bahwa Kaum Atirodra adalah golongan orang-orang hina yang bisa melakukan perbuatan keji apapun tanpa berkerut kening, dan mereka juga terkenal karena memiliki loyalitas. Bahkan sangat loyal—jika tak ingin dibilang fanatik. Keloyalan mereka pada perkumpulan tak perlu di pertanyaan. Sejak berdirinya perkumpulan Riyut Atirodra, belum pernah ada satupun pihak lawan yang berhasil mengorek keterangan dari mereka—apapun informasinya. Siksaan atau ancaman apapun bukan hal baru bagi mereka. Para anggota lebih memilih mati daripada harus membocorkan rahasia perkumpulan. Jadi menjadi sebuah pukulan telak, saat Jaka menyatakan bahwa dia mengetahui apa yang dia perlu ketahui dari bertanya.

“Jadi bisakah kau memberitahu padaku apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Lelaki paruh baya yang disebut Kanayana tercenung, agaknya dia sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Tegaskan padaku satu hal!”

“Ya?”

“Apakah tanggung jawab ini kau yang memikulnya?”

Pemuda ini sadar, Kanayana mungkin ingin mengatakan, dia bisa bicara hanya dengan orang yang memiliki posisi jelas, mungkin dia menganggap posisi Hastin yang ternama tak cukup baik untuk bicara dengannya—berbicara dengan Kaum Riyut Atriodra.

Jaka menoleh pada Hastin, meminta kepastiannya. Lelaki ini mengerutkan kening sesaat. Jika menuruti egonya, sudah jelas akan ditolak mentah-mentah. Dia lebih baik menghadapi Kaum Riyut Atirodra sampai mati—jika itu terjadi, tapi mengingat banyak orang yang berada dalam perlindungannya, diapun harus berpikir lagi jika ingin bertindak tanpa perhitungan. Dengan mantap dia mengangguk.

“Benar! Kau cukup berurusan denganku.”

“Baiklah, jadi hutangnya akan kami tagih padamu!” Tegas Kanayana sembari memandang Hastin dengan sengit.

“Jangan lupakan ucapanmu.” Pemuda ini berujar serius. Siapapun yang mendengar perbicangan mereka, sudah jelas pihak mana yang mengancam—Kanayana, tapi dengan ucapan Jaka barusan, ancaman Kanayana bukanlah apa-apa, kedatangan mereka akan sangat ditunggu. Jaka seolah menegaskan; ‘apapun urusan kalian, jangan palingkan wajah kalian dariku, tidak ada pihak lain yang pantas kalian ganggu, kecuali aku!’ tentu saja ucapan Jaka juga bisa ditafsirkan, ‘jika kalian tak mendatangiku, aku yang akan mendatangi kalian’.

“Lalu?”

Kanayana terpekur senjenak. “Sebenarnya bagi kami bukan hal penting, tapi pelanggaran sekecil apapun dari kalangan luar, sudah merupakan aib, ada beberapa …”

“Cukup.” Potong Jaka.

“Ha? Cukup? Maksudmu?!” Tanya Kanayana terheran-heran.

Jaka tersenyum, “Tak perlu saudara lanjutkan, aku sudah tahu apa yang membuat kalian bergerak seperti ini.”

Bukan cuma orang-orang Riyut Atirodra yang terkesima, bahkan Arwah Pedang yang sudah mengenal Jaka terkejut sekali. Sedangkan Hastin, justru menyangka Jaka sedang bermain api. Api yang sangat besar! Dia tak habis pikir, entah keyakinan apa yang menopangnya, sehingga dia begitu nyaman mempermainkan Riyut Atirodra?

Kali ini Kanayana benar-benar habis akal, sebenarnya dia ingin mengorek keterangan siapa pemuda dihadapannya itu. Tapi, baru beberapa patah kata saja, Jaka sudah tahu apa yang bergolak di kalangan mereka? Benarkah?! Sungguh hal ini membuatnya penasaran! Dia ingin menanyakan sejauh apa yang Jaka tahu, tapi egonya sebagai anggota Riyut Atirodra melarangnya. Bahkan sebuah celah pertanyaan untuk ‘menyerang’ pemuda itu, tak ditemukannya.

Skak mat! Si beliau—Jaka Bayu, diatas angin. Situasi sepenuhnya dikendalikan pemuda ini, bahkan sebelum dia memperlihatkan apa yang menjadi andalannya.

“Kupikir, ada hal besar lain yang ingin kalian kerjakan.” Pemuda ini memecah keheningan sesaat dengan ungkapan yang kembali membuat kening berkerut.

Sebenarnya ada tanya yang nyaris terlontar, tapi urung, wajah merekapun pias, saat melihat raut muka Jaka. Wajah yang terlihat tenang penuh senyum sekarang terlihat begitu serius. Dengan sendirinya mereka mengira Jaka akan menyerang. Tapi tidak ada tanda-tanda pemuda itu bergerak, hanya saja ada perasaan sangat kuat untuk segera menyingkir dari situ.

Arwah Pedang menarik sobatnya untuk mundur beberapa langkah. Tiba-tiba saja Hastin merasa ada tekanan hebat terpancar dari tubuh Jaka. Kaum Riyut Atirodra-pun demikian, tanpa dikomando mereka segera menjauh dari Jaka.

-—ooOOOoo—-

8 – Bersiasat

Terlihat oleh mereka tanah yang dipijak pemuda ini sedikit amblas, dan makin amblas. Padahal jalan pegunungan itu terbuat dari batu cadas. Bagi seorang yang memiliki hawa sakti handal, membuat amblas kaki ke dalam batu cadas itu hal sepele, tapi yang membuatnya jadi rumit dan luar biasa, tak kala hawa murni itu bukan sekedar membuat amblas, namun dalam jarak belasan langkah ke samping kanan kiripun ikut amblas. Seolah-olah ada benda raksasa jatuh menghantam tanah cadas itu.
Detik berikutnya Jaka melecat tinggi ke sisi kiri dinding tebing dan dengan gerakan aneh pula, dia memutar tubuh dan kakinya menjejak tebing. Hadirin terperangah manakala jejakan kaki Jaka menimbulkan efek yang serupa seperti pada jalanan cadas, cuma ini jauh lebih dalam.
Dengan pekikan lantang tindakan aneh pemuda ini ternyata belum berhenti, tubuhnya kembali melesat dan memutar diudara. Kejap kemudian, dia sudah berdiri di samping orang-orang Riyut Atirodra. Tak ada tanda-tanda kelelahan, nafasnya teratur seperti biasa. Sudah tentu mereka terkaget-kaget, dengan tergesa kembali menjauhi Jaka.
Akibat tindakan Jaka tadi debu berhamburan, dalam sorotan cahaya mentari sore, kepulan debu terlihat menipis, dan saat debu meluruh, hadirin terkesiap melihat adanya goresan tajam, dalam, panjang, pendek tak teratur dalam jumlah puluhan.
Pemuda ini menatap jauh kedepan dengan menghembuskan nafas panjang, mungkin terasa lega, seolah dia telah menyelesaikan persoalan besar.
Dalam banyak hal Kaum Riyut Atirodra nyaris tak memikirkan apapun, karena mereka sangat percaya diri dengan jumlah dan kekuatan mereka. Tapi kini ada sebuah fakta baru yang membuka mata Kanayana. Cukuplah melihat orang dibelakang pemuda ini—Arwah Pedang, dia yakin Jaka memiliki jumlah pengikut cukup besar, apalagi jika melihat pameran kekuatan tadi, pemuda ini benar-benar lawan yang menakutkan.
Sekalipun mereka orang yang tak pernah mengindahkan peraturan apapun, menghadapi orang semacam Jaka yang diliputi teka-teki, tak teraba apa maunya, mau tak mau Kanayana harus memikirkan langkah berikutnya. Kali ini dia tak bisa mengambil keputusan sendiri. Tentang pembalasan yang akan mereka timpakan pada Jaka-pun, dia belum yakin dengan keputusannya. Tanpa mengucapkan apapun mereka berlalu, debu akibat derap kaki kudapun membumbung.
Jalan disela tebing itu kembali lengang, hanya tersisa tiga orang.
Hastin sibuk melihat yang ditimbulkan Jaka tadi, dia terpesona dengan bekas-bekas itu.
“Seperti pertempuran.” Gumamnya.
“Satu lawan banyak.” Timpal Arwah Pedang.
Jaka mengangguk. “Aku membuat benteng, sebuah bendungan ilusi.” Alis kedua tokoh itu terangkat, mereka bingung dengan pernyataan Jaka.
“Maksudnya?” Tanya Arwah Pedang.
“Apa yang paman lihat itu?”
“Bekas pertarungan.”
“Menurut paman, pertarungan macam apa?”
Arwah Pedang bersama Hastin mendekati bekas-bekas ‘pertempuran’ itu.
Arwah Pedang melesat dan menjejak sisi tebing yang ada disebelah timur—tepat menjejak relief yang dibuat Jaka, sedangkan Hastin berdiri menghadap selatan. Begitu Arwah Pedang bergerak datang menerjang, pahamlah dirinya, dia berperan sebagai orang yang sangat dominan, karena ‘serangan’ Arwah Pedang dari samping tak digubrisnya, dia cukup menjulurkan tangan kesamping, menangkis! Tiba-tiba ada kesiuran angin dari belakang dan depan, pahamlah dirinya, Jaka berperan sebagai.. tiga, empat, bukan… tujuh orang penyerang yang lain!
Sesaat dia bingung harus bertindak apa, tapi mendadak dia melihat bekas tapak kaki dibawahnya beringsut kedepan dua kali dan empat kali menyerong, dengan posisi seperti itulah dia bergerak dan ‘menghadapi’ serangan dari Jaka. Serangan Jaka lewat begitu saja, dan dengan mudah tangannya yang lain menepis bahkan hampir menjamah dada Jaka, dalam saat yang bersamaan, Hastin menghentak, Jaka dan Arwah Pedang ‘terpental’. Usai sudah rekonstruksi ’bekas pertempuran’, itu.
“Apa kesimpulan paman?” kali ini Jaka bertanya pada Hastin.
Hastin tercenung sesaat, “Aku adalah orang yang sangat percaya diri, tak memandang sebelah mata siapapun. Menguasai olah langkah aneh, tak takut dengan gempuran kombinasi Tujuh Satwa Satu Baginda! Bahkan mengalahkan mereka!”
Arwah Pedang manggut-manggut membenarkan, sebab dia yang bertindak menjadi pihak Satu Baginda.
“Sebentar-sebentar-sebentar… gila! Kenapa kau bermain-main dengan Tujuh Satwa Satu Baginda?!” seru Hastin dengan tegang.
Jaka tersenyum, “Mereka tak akan keberatan.” Jawaban Jaka yang singkat dibenarkan Arwah Pedang.
Hastin terkesiap, mendadak dia menyadari sosok pemuda didepannya ini jauh lebih misterius dari pada Riyut Atirodra. Jika Arwah Pedang pun mengiyakan, artinya Tujuh Satwa Satu Baginda adalah bagian dari perkumpulan anak muda ini? Padahal Tujuh Satwa Satu Baginda adalah delapan orang yang tak saling berhubungan, tapi julukan itu dipertautkan kaum persilatan karena kedelapan orang itu menduduki delapan penjuru mata angin dengan kemampuan yang lihay. Mereka selalu bertindak masing-masing, dan jadi raja di daerah masing-masing pula. Tujuh Satwa terdiri dari: Beruang, Singa, Ular, Elang, Kijang, Kera, dan Srigala. Sedangkan Satu Baginda adalah julukan tokoh bernama Watu Agni, dia adalah orang yang congkak, selalu menganggap remeh orang, mirip Arwah Pedang. Ilmu kedelapan orang itu setingkat dengan Arwah Pedang, dan dirinya. Dan dengan ringannya Jaka menyebut mereka tak keberatan? Artinya mereka rela bekerjasama dengan pemuda ini?! Mengesampingkan ego kebesaran namanya sendiri? Seperti halnya Arwah Pedang?
Terlepas benar tidaknya semua itu, cara Jaka membuat ‘tanda’ yang hanya di ketahui tokoh tingkat tinggi, jika dibandingkan dengan ‘bekas pertarungan’ biasa, tingkat kerumitan kreasi Jaka ini jauh lebih tinggi. Membuat Hastin mengambil kesimpulan, pemuda ini orang yang sangat rumit, dan penuh perhitungan, apalagi dari kombinasi serangan yang dimunculkan Jaka, serta gerak pemecahannya, dia bisa melihat sampai dimana kelihayan pemuda ini. Tapi jika dia mengamati cara Jaka menghadapi persoalan, pemuda ini penuh celah dan mudah diserang. Kombinasi aneh.
Memandang ‘bekas pertempuran’ itu lagi, Hastin menutup matanya sejenak, membayangkan apa yang harus dilakukan jika berada pada posisi yang diserang Tujuh Satwa Satu Baginda. Keringat dinginpun mengucur, dalam hitungan detik saja, dia hanya punya satu jawaban, tanpa berjibaku, dirinya tak akan lolos, diapun tak bisa menjamin dirinya tak terluka.
“Benar, ini sebuah benteng ilusi yang sempurna…” gumam Hastin.
“Tidak juga paman, utamanya aku hanya mengantisipasi pihak yang bergerak membuat onar ditubuh Riyut Atirodra.”
“Tapi orang Riyut Atirodra sudah melihatnya.” Tukas Arwah Pedang.
“Justru itu akan lebih membantu.”
“Kenapa?”
“Kanayana memiliki alibi atas kegagalan misinya, sedangkan atasannya akan mengurungkan niat keluar pulau.”
Hastin dan Arwah Pedang saling pandang, dalam hati mereka, tercetus satu kata yang sama, cerdik! Kegagalan Kanayana tentu akan diselidiki oleh atasannya, dengan sendirinya mereka akan kesini dan melihat ‘bekas pertempuran’ ini, sudah tentu Kanayana tak akan menyebutkan Jaka sebagai pelaku tunggal, selain sebagai alibi, dirinya juga belum ingin mati—karena harus membayar dendam atas perbuatan Hastin pada Jaka. Apalagi Kanayana sangat ingin tahu dengan cara apa Jaka bisa mengetahui namanya.
Jadi, tak kala ‘artefak’ ini ditemukan, pihak Riyut Atirodra akan mengurungkan niatnya keluar sarang, mengingat mereka harus memperhitungkan kebijakan perkumpulan, ‘apakah harus bermusuhan dengan tokoh hebat’, padahal pihak pengacau justru sangat berharap Riyut Atirodra keluar sarang.
Dengan sendiri mereka akan mengacau lagi, memanas-manasi Riyut Atirodra supaya bergerak. Pada saat itu mudah bagi Jaka untuk membekuknya. Bagi Jaka ‘melindungi Riyut Atirodra’ jauh lebih penting, sebab sudah menjadi rahasia umum, saat mereka keluar menuju dunia ramai, akan ada pergolakan hebat disetiap jalan yang dilalui, dan sudah tentu banyak korban berjatuhan, belum lagi tindakan itu sangat menguntungkan pihak pengacau, karena usaha mereka akan lebih mudah dengan menumpang atas nama Riyut Atirodra. Hal inilah yang diantisipasi Jaka.
Boleh dikatakan kunci peredam pergolakan dunia persilatan sementara ini adalah ‘bekas pertempuran’ karya Jaka.
“Kau tidak memperhitungkan siapa saja yang akan melihat ini?”
Jaka tersenyum mendengar pertanyaan Hastin, “Makin banyak makin bagus. Dan aku yakin dalam lima hari kedepan, makin banyak orang yang melihatnya.”
“Entah mereka paham atau tidak.” Gumam Arwah Pedang.
“Tidak perlu paham, cukuplah mereka tahu, itu saja.”
“Memangnya apa yang akan kau ambil dari semua ini?”
Jaka tersenyum, “Ada banyak hal yang aku sendiri tidak tahu paman, biarkan berjalan apa adanya saja. Toh nanti akan muncul juga pembawa keonaran ini.”
Ucapan Jaka yang berkesan pasrah tapi begitu yakin dengan kesimpulan akhir, membuat kedua tokoh senior ini geli.
“Lalu kau ingin memunculkan siapa disini?” tanya Hastin.
Jaka paham yang dimaksud memunculkan adalah siapa tokoh imajiner yang begitu hebat mengalahkan Tujuh Satwa Satu Baginda.
“Biarkan mereka mengambil kesimpulan masing-masing. Aku juga tak tahu tokoh seperti apa yang sangat disegani akhir-akhir ini. Aku yakin paman berdua punya nama yang berbeda.”
“Ini menarik, sebentar lagi akan ada isyu…” ujar Hastin seraya tertawa lebar.
“Kuharap isyu yang menenangkan.” Gumam Arwah Pedang merasa khawatir.
Jaka tersenyum kecut. “Usaha apapun harus kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik.”
“Ya, aku setuju!” sahut Hastin.
Hening melingkup sejenak, Arwah Pedang buka suara. “Aku masih penasaran dengan orang yang kau sebut Kanayana, kau tahu orang itu?” tanya Arwah Pedang.
Jaka tersenyum seraya memandang lepas kedepan. “Kanayana artinya terpandang. Dulu, dia orang yang terpandang, baik hati pula. Sayang dendam membakar kebaikan hatinya, kebencian meracuni jiwanya, tapi masih tersisa dalam dirinya kehormatan. Sedikit, hanya sedikit. Tapi bisa kita manfaatkan itu.”
“Bagaimana caranya?” tanya Arwah Pedang.
Jaka tak langsung menjawab, dia terpekur sejenak. “Orang-orang semacam mereka hanya bisa disentuh dengan satu hal…”
“Apa itu?” potong Hastin.
“Pengertian dan kasih sayangmu.”
“Huh! Untuk kaum Riyut Atirodra?! Mereka tak kenal bahasa itu!” dengus Hastin tak percaya.
Jaka tertawa kecil. “Engkau benar paman, tapi dari awal tak ada satupun manusia yang dilahirkan dengan otak licik, bercita-cita jadi kaum terbuang, apa lagi menjadi orang yang diremehkan. Semua ingin menjadi apa yang mereka inginkan, sayangnya tak seperti bayangan mereka.”
“Penghayal itu tak berbahaya, tapi penghayal macam mereka tak perlu dikasihani.” Gumam Arwah Pedang, tak setuju dengan pandangan Jaka.
“Lalu, dari mana datangnya informasi mereka?” ucapan Jaka yang ini membuat keduanya terdiam, mereka tak membantah kebenaran itu.
Loyalitas anggota terhadap perkumpulan Riyut Atirodra, tak pernah disangsikan. Seperti yang telah disinggung tadi, mereka lebih rela mati dari pada harus membocorkan rahasia. Jadi dengan apa Jaka memperoleh sekelumit informasi anggota perkumpulan itu? Ancaman, siksaan, atau apapun niat burukmu tak akan meluluhkan tekad mereka. Anggota Riyut Atirodra pada saat terdesak, lebih memilih bunuh diri, dari pada tertangkap. Adalah masuk akal Jaka menyatakan, menyentuh mereka dengan pengertian dan kasih sayang. Tapi pengertian model apa, kasih sayang seperti apa, yang bisa diterapkan pada kaum-kaum ‘sampah’ masyarakat itu?
“Ada kalanya, sebuah persolan tak bisa kita lihat hanya dari depan.”
Hastin merasa ucapan barusan itu, seperti yang biasa dia dengar dari anggota tertua keluarganya. Terlalu bijak untuk orang seusianya. Kembali dia mengkaji ulang bobot kelayakan tokoh ‘beliau’ yang ternyata pemuda ini orangnya.
“Lagipula kupikir orang-orang Riyut Atirodra bukannya kumpulan otak kosong saja, jika tiba-tiba mereka kecurian, tentu merekapun berpikir ada tokoh hebat yang berani mendalangi ini.” Tukas Hastin kembali mengulas persoalan tadi.
Jaka mengangguk.
“Lalu, apa hubungannya dengan kita?” Tanya Arwah Pedang pada pemuda ini.
“Erat sekali paman, ini berkaitan dengan isyu yang sedang beredar akhir-akhir ini.”
“Barang diantarkan ke biro pengiriman?”
“Salah satunya.”
“Salah satu?! Memang ada berapa persoalan yang terjadi akibat barang titipan?” tanya Hastin heran.
“Aku belum bisa menyimpulkan sejauh itu paman, yang jelas kita sudah bisa memegang ekor salah satu pelaku. Tinggal mencari tahu tujuan si pengirim barang saja.”
“Lalu. apa rencanamu sekarang Jaka?” tanya Arwah Pedang.
“Tentu saja menyusul anggota biro pengiriman.”
“Bukankah mereka sudah tak berguna lagi?” tanya Hastin.
“Memang benar, tapi Semburan Bisa Naganya sangat berguna.”
“Kau tak berpikir, alat itu akan menarik kaum persilatan kelas tinggi kan?” ujar Arwah Pedang tak yakin.
“Tentu tidak, tapi ada sementara orang yang sangat paham rahasianya. Bukan sebagai senjata, tapi sebagai petunjuk.”
“Sebentar-sebentar…” Hastin kembali menyela. “Aku jadi bingung. Belum lagi beres urusan yang ini kau menimbulkan wacana aneh pula, kita ulangi sebentar; Semburan Bisa Naga bagiku hanyalah alat rahasia yang dulu pernah tenar, lain tidak. Mungkin masih menggiurkan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi para tokoh tinggi. Dan tadi kau menganggap sebagai petunjuk? Aku baru mendengarnya, petunjuk apa?”
“Barang yang pernah menjadi legenda, selalu memiliki daya tarik, meski seusang apapun itu. Ini juga sama. Sayangnya petunjuknya bukan pada benda itu, tapi yang menyertainya.”
Hastin dan Arwah Pedang berpandangan heran. Makin lama pemuda ini bicara makin tak jelas kemana arahnya.
“Kau dapat keterangan itu dari mana?”
“Tentu saja bertanya…” ujar Jaka sembari mengerjapkan matanya berulang kali. Arwah Pedang tahu, pemuda ini tak serius menanggapi pertanyaannya.
“Maaf paman, bukan aku tak mau menjawab, tapi ada satu hal yang ingin kubuktikan sendiri.”
Arwah Pedang memahami itu, meski sudah cukup lama dia bergaul dengan Jaka, tapi begitu banyak kemisteriusan meliputi pemuda ini. Dia tak ingin tahu lebih lanjut, baginya rahasia seseorang, biarlah tetap menjadi rahasia. Jadi, bila Jaka sudah memutusakan demikian, biasanya tak berapa lama kemudian Arwah Pedang akan dikenalkan dengan anggota-anggota baru. Memikirkan hal itu, diam-diam dia tersenyum geli. Entah cara apa yang anak ini kerjakan, kalau begini terus, makin banyak saja orang bergabung dengannya. Pikirnya.
“Terserah kau saja. Tapi kau harus dengarkan nasehat dari orang tua ini, jangan pernah meremehkan Riyut Atirodra, apalagi orang-orang Lembah Halimun.”Ungkapnya serius.
“Tentu saja. Terimakasih atas peringatan paman. Sekarang ijinkan aku pergi lebih dulu…”
Arwah Pedang mengangguk, Jaka juga berpamitan pada Hastin. Jaka menghela kudanya perlahan. Seolah dia ingin menikmati pemandangan di bibir tebing sore itu. Tak berapa lama pemuda ini menghilang ditikungan. Arwah Pedang menghela nafas panjang melepas berlalunya pemuda ini.
“Kini aku tahu…” gumam Hastin. Arwah Pedang tak menyahutinya. “aku tahu ternyata anak itu memang layak di sebut ‘beliau’, dia orang yang tepat untuk menyelesaikan persoalan berat.”
“Sejak awal aku bertemu dengannya juga memahami itu.”
“Kau pernah bertarung dengannya?” Arwah Pedang mengangguk.
“Ilmu yang dipakai kau tahu dari aliran apa?” Hastin tak menanyakan hasilnya sebab dia khawatir akan menyinggung perasaan.
Arwah Pedang tertawa geli mendengar pertanyaan itu. “Aku tahu di otak keparatmu bukan itu yang ingin kau tanyakan.” Hastin nyengir serba salah.
“Terus terang aku tak tahu dia mempelajari ilmu jenis apa, hakikatnya saat bertarung kau tak akan pernah berkesempatan menyentuh, bahkan mendekat barang sesaat. Sampai saat ini akupun belum jelas cara bagaimana dia mengalahkanku.”
Alis mata Hastin terangkat, mengalahkan Arwah Pedang? Bahkan dirinya jika harus bertarung dengan sobatnya itu, lebih baik menghindar saja, sebab kemampuan utama Arwah Pedang justru ada pada ilmu jarinya—bukan ilmu Pedangnya. Saat dia tak punya jalan keluar, ada semacam jurus yang memaksa penyerang kabur atau mati bersama, ini keistimewaan Arwah Pedang.
“Kau tahu, jika musuh mengalahkan aku, apa yang akan aku lakukan?”
Hastin tercenung, “Waktu kau dikalahkan Santanu Aji kau tetap membuntuti dirinya sampai delapan bulan, niatmu satu; hanya sekedar menyarangkan satu pukulan saja.”
Arwah Pedang tertawa getir, “Ya, meski akhirnya dia meninggal karena sakit, aku tetap tak bisa mengalahkan dia, tapi kau tahu sendiri semangatku untuk menghapus kata kalah dari diriku itu seperti apa.” Hastin mengangguk. “Dan semangatku hilang saat menghadapi anak itu, aku tak memiliki keinginan untuk membalaskan kekalahanku.”
Hastin tersenyum. “Sejauh ini kau belum memiliki anak, aku yakin salah satu alasan semangatmu dilemahkan karena kau menganggap Jaka sebagai putramu sendiri.”
Arwah Pedang terdiam beberapa saat. “Ya mungkin saja, diluar semua itu aku merasa sia-sia jika berusaha mengejarnya. Sejauh ini aku belum bisa menjajaki kedalaman ilmunya.”
Hastin terperangah. “Masa? Bagaimana dengan ciri ilmunya?”
Arwah Pedang menggeleng.
“Kau bahkan sama sekali tak tahu ciri ilmunya?”
“Ada beberapa yang aku paham, tapi aku yakin rasanya tak mungkin itu ilmu utamanya, sebab yang dikeluarkannya hanya jurus-jurus umum.”
“Lalu metode pengobatannya itu?”
“Katanya dipelajari sendiri.”
“Dan olah langkah yang ajaib tadi?” ternyata sampai saat ini Hastin masih terpesona dengan gerakan olah langkah yang tercipta oleh bekas tapak kaki Jaka.
“Justru itu… sejauh ini olah langkah menjadi andalannya. Akupun kalah karena oleh langkahnya, siapapun yang bergabung dengannya selalu kalah karena oleh langkahnya.”
Hastin manggut-manggut sambil tertawa diapun berkata, “Kalau kau berkata begitu, akupun tak malu aku takluk dengan olah langkahnya.”
Arwah Pedang ikut tertawa. “Jadi, kau bergabung dengan kami?”
“Kau pikir aku punya muka untuk mengatakan tidak, setelah dia mengambil tanggung jawabku?” dengus Hastin ketus. Keduanya berpandangan sejenak, lalu terbahak.

—-ooOOOoo—-

9 – Kota Pagaruyung

Hari Kesatu
Siang itu tidak begitu panas, tapi penduduk kota jarang yang keluar rumah, padahal langit cerah tanpa awan. Di ujung jalan, terlihat beberapa orang berlalu lalang, dan diantaranya seorang pemuda. Dia berpa¬kaian serba hijau agak lusuh, mengenakan penutup kepala dari kain putih yang di ikatkan begitu saja. Ikat pinggang yang membelit pinggang berwarna kuning tua agak kontras dengan bajunya.
Penampilannya bersahaja, membuat orang tidak perlu memberi perhatian, dialah Jaka Bayu, pemuda ini memutuskan untuk menunda perjalanan ke Perguruan enam Pedang. dia teringat ada sebuah kota, yang dulu pernah disinggahinya, maka ia memutuskan untuk berdiam beberapa hari di kota ini.
“Cerah sekali hari ini,” pemuda ini memandang berkeliling. “Kenapa tak seramai biasanya? Sayang, cuaca sebagus ini disia-siakan…”
Dengan langkah pasti dia memasuki sebuah rumah makan cukup mewah. Begitu masuk, dia segera merasakan hawa sejuk dalam ruangan itu, dan membuatnya ingin berlama-lama.
“Ah…” desahnya sambil meregangkan badan. “Semoga tak percuma aku menghabiskan uang di tempat ini.”
Seorang pelayan langsung menghampirinya. “Mau pesan apa tuan?” sapanya.
“Ehm, sebentar…” dari tadi dia asyik mengamati sekeliling rumah makan. “Apa yang tersedia disini?”
“Macam-macam tuan, ada ayam bakar, kambing panggang, sup dan masih banyak lagi.”
“Bagus, aku minta nasi, dan ayam bakarnya satu, supnya juga.”
“Ayam bakar satu? Maksudnya?” tanya pelayan itu bingung.
“Satu ekor ayam, secepatnya hidangkan kemari,” katanya. “Semoga tidak terlalu lama.” Tambahnya menandaskan.
“Baik tuan…” pelayan itu segera berlalu.
Dia kembali menikmati pemandangan di sekitar rumah makan. Karena dia mengambil tempat di pojok dekat jendela, maka semua sudut ruangan terpantau olehnya.
“Silahkan tuan…” tiba-tiba pelayan sudah datang mendekat dengan pesanan tadi.
Melihat nasi putih masih mengepul, dan ayam panggang yang terasa panas, dengan aroma harum menyengat, tanpa terasa pemuda ini mendecak.
“Harum sekali, mudah-mudahan rasanya seenak aromanya.” Katanya berharap.
“Ini memang masakan khusus tuan, dan mungkin hanya ada di kota ini. Beruntung sekali tuan mampir kemari,” kata pelayan itu dengan yakin.
Pemuda ini tersenyum, mendengar promosi si pelayan. ”Mudah-mudahan kau benar, untung aku datang kemari. Jangan lupa sup yang kupesan.”
”Sebentar lagi tuan…” sahut pelayan itu tergesa-gesa bergegas kembali kedapur. Sudah biasa, kalau ada pelanggan baru yang kelihatan berduit, mereka harus melayani sebaik-baiknya. Pokoknya kalau bisa service plus, dalil ini kan sudah diketahui dimana pun?
Begitu pelayan pergi, dia segera menyantap hidangannya. “Hm, enak. Benar-benar bercita rasa. Aku jarang makan enak, beruntung sekali…” gumamnya sambil meneruskan makan. Tak berapa lama pelayan itu datang dengan membawa sup kari. Aroma sup itu benar-benar membangkitkan selera makan.
“Benar-benar enak. Kalau saja membuka usaha dikota yang lebih besar dan lebih ramai, pasti laku keras…” puji pemuda itu sambil menerima sop tadi.
Pelayan muda itu berbinar-binar mendengar ucapan tamunya. “Kami dulu pernah membuka usaha di Kotaraja Ganyu, memang laku keras. Hanya saja pemilik rumah makan ini tidak mau berada dikotaraja lama-lama, mungkin lantaran banyak orang makan tanpa bayar. Bisanya ngebon dan ngebon terus… padahal mereka orang berduit, lama-lama kami jadi bangkrut.”
Pemuda itu tertawa kecil. “Beginilah kalau masakan terlalu enak, siapa saja pasti mau kalau makan terus menerus, tak perduli perut sudah kenyang. Bukankah kalian harus bangga?”
Si pelayan mengiyakan, lalu dia melangkah masuk kedalam. Pemuda ini menikmati masakan yang dipesannya dengan perlahan, setiap suapnya benar-benar dinikmati. Dia makan sambil mengedarkan pandangan matanya, suasana rumah makan besar itu tidak terlalu ramai, termasuk dia sendiri seluruhnya ada empat belas orang. Pemuda ini melihat pelayan muda yang tadi sudah menyelesaikan beberapa pekerjaannya dan ia berdiri bengong, karena tidak ada yang dikerjakannya.
Baru saja mau kedapur, mendadak ada beberapa tamu masuk, dengan segera dia menyambutnya.
“Mari, silahkan tuan…”
Empat orang yang masuk memiliki perawakan sedang-sedang saja, namun diantara mereka ada satu orang yang dituakan, yakni sosok yang memakai baju biru gelap. Matanya menyorot tajam, wajahnya juga gagah, usianya paling tidak baru tiga puluh tahunan.
“Makan, empat orang!” katanya singkat. Tanpa banyak cingcong, pelayan tadi segera bergegas menyiapkannya.
Pemuda ini, memperhatikan empat orang tamu yang baru masuk. “Gagah benar mereka.” Pujinya dalam hati.
Memang keempat orang itu beroman tampan dan berpawakan tegap, gerakan merekapun cekatan—sangat terlatih. Pasti mereka bukan sembarang orang. Lelaki yang memakai baju biru gelap datang dari Perguruan Pedang Mentari, dia bernama Swatantra; lalu orang berbaju hijau muda, datang dari Perguruan Merak Inggil, usianya paling baru dua puluh lima tahun; dua orang lainnya memakai baju putih berbaret hitam dan satunya berbaret biru pada dadanya, adalah murid-murid Perguruan Awan Gunung, kelihatannya usia dua orang itu yang paling muda, mungkin baru dua puluh tahun.
Begitu melihat mereka, pemuda ini menghela nafas prihatin. Ya, dia kenal dengan mereka—kenal dari dandanan masing-masing. Melakukan perjalan bersama-sama memang tidak ada yang dibuat heran, tapi bagi empat orang yang berasal dari perguruan ternama dengan menyandang segala macam atribut kebesarannya, dan merekapun memiliki ego tinggi, bagaimana bisa seakur itu? Dibalik semua itu pasti ada persoalan lain, dan pemuda ini bisa menebak beberapan diantaranya.
Tak berapa lama hidangan sudah datang dan ditata di meja keempat pendatang baru itu. Selain nasi, lauk pauk yang disajikan lebih beragam dan terlihat enak, hal ini membuat pemuda itu mengerutkan alisnya sesaat.
“Apa mereka langganan rumah makan ini? Kalau bukan, kenapa langsung dihidangkan makanan semewah itu? Memangnya si pelayan sudah tahu kalau mereka sanggup membayar makanan semahal itu?”
Mereka menikmati makanan dengan tenang, tidak lambat juga tak cepat, namun sesaat kemudian makanan sudah terlahap habis. Setelah minum Swatantra meletakkan uang dimeja, agaknya mereka bergegas hendak pergi—tanpa menunggu pencernaan mereka yang masih bekerja—tapi baru saja berdiri, mendadak terdengar orang berseru.
“Eh, empat pecundang jalanan hendak kemana?”
Seruan itu benar-benar mengagetkan semua orang. Sebab hanya melihat cara keempat orang itu memakai baju, tiap orang juga tahu kalau mereka pasti bukan orang awam, kelihatannya orang yang mengejek tadi, cari mati!
Pemuda berbaju putih berbaret biru membalikkan badan kearah suara tadi. “Kaukah yang bicara?” tanyanya dengan suara sabar, tetapi terdengar dingin.
Orang yang ia tuju adalah lelaki separuh baya yang sedang duduk sambil menggigit tulang ayam.
“Benar.” Katanya acuh tak acuh.
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Aku cuma iseng saja…”
“Kalau begitu, kumaafkan.” Kata pemuda tadi, lalu mereka bergegas melangkah pergi.
“Aih, memang susah menantang para pengecut.” Gumam lelaki paruh baya ini sambil minum wedang jahenya. Biarpun ucapannya tak begitu keras, namun sudah cukup keras di telinga empat orang itu.
Dengan sorot mata marah, pemuda tadi kembali mendatanginya. “Kau inginkan pertarungan? Kau dapatkan!” usai berkata begitu, kepalannya diayunkan menghajar wajah orang itu.
“Enteng!” ejek lelaki paruh baya tersebut sambil memiringkan kepalanya, wuut… pukulan itu lewat hanya beberapa mili dari telingannya. Wajahnya tak menampakkan perubahan dengan serangan tadi, sungguh kalau dia tidak lihay, tak nanti akan bertidak begitu. “Kau harus belajar sepuluh tahun lagi untuk menyentuhku!” katanya kembali mengejek.
“Tak perlu sepuluh tahun!” sahut pemuda ini getas, kembali tangannya menampar, tapi kali ini bukan sembarang tamparan, sebab dari situ terkembang lima perubahan serangan. Totokan, tamparan, kepalan, cakaran, dan tebasan.
“Fiuw… ralat-ralat-ralat, kali ini kau perlu waktu sembilan tahun untuk mengejarku.” Dan lelaki paruh baya itu mengelak masih sambil duduk, tapi tangan kirinya tidak tinggal diam, dia juga menyerang, gerakan tangan lelaki itu hampir mirip dengan si pemuda.
“Ih…” pemuda ini nampak kaget. Ia mundur setapak dan kaki kirinya merendah, kedua tangannya berada dipinggang kiri dalam keadaan terkembang. Agaknya siap melancarkan serangan dahsyat.
“Cukup!” Swatantra menghampiri dan menepuk bahu pemuda itu. “Tak perlu kau tanggapi gurauan paman ini. Kita memang masih perlu belajar… semua manusia perlu belajar.” Katanya dengan datar tanpa emosi, matanya melirik tajam kearah lelaki itu. Tanpa menanti tangapan lawan, dia membalikan badan dan keluar dari rumah makan.
Lelaki paruh baya itu terkejut, kejadian ini agaknya diluar dugaan. “Salut-salut-salut,” gumam-nya sambil minum. Lalu ia berdiri. “Maafkan gurauanku.” Ucapnya lagi sambil menyoja hormat.
Si pemuda inipun agaknya merasa diluar dugaan, namun karena orang tertua dari mereka sudah memberi peringatan padanya, iapun cuma mengangguk saja, lalu pergi.
Suasana rumah makan itu jadi lengang untuk sesaat, tapi kembali menjadi ramai karena ada lima orang pelanggan datang, dan memesan banyak makanan. Agak aneh keadaannya, sebab kejadian seperti tadi kan tidak biasa, cara bagaimana orang-orang yang ada didalamnya menerima kejadian itu sebagai hal biasa? Pemuda berikat kepala ini terpekur heran melihatnya, dia menyimpulkan, bahwa kejadian seperti tadi mungkin sering terjadi.
“Hei…” pemuda yang memesan ayam panggang dan sup ini, memanggil pelayan rumah makan.
“Ada yang diperlukan lagi tuan?” tanya pelayan itu ramah.
“Tidak. Kalau kau senggang, aku ingin bercakap-cakap denganmu, kau keberatan?”
“Tentu tidak…”
“Duduklah, jangan sungkan.” Kata pemuda ini seraya menyilahkan, karena ia melihat pelayan muda itu tampak sungkan.
”Terima kasih tuan…”
Sambil menyantap masakan didepannya, pemuda itu mulai membuka percakapan. “Kau kenal dengan empat orang tadi?”
“Tidak tuan.” Jawabnya singkat.
“Mereka langganan sini?”
“Bukan, tapi saya pernah melihat mereka di penginapan.” Jawab si pelayan membuat pemuda ini tersenyum tipis.
“Penginapan,” gumamnya.
“Ya, tapi agak jauh dari sini…”
“Oh begitu, tapi aku hanya ingin tahu penginapan yang bagus.” Potong si pemuda sambil tersenyum tipis, penuh arti.
“Maaf…”
“Lalu apa kau kenal lelaki separuh baya tadi?”
“Kalau yang itu saya kenal, eh… maksudnya saya cuma kenal lihat saja, dia memang langganan tetap kami. Biarpun tidak setiap hari makan disini.”
“Langganan tetap? Berarti sudah lama?”
“Belum begitu lama, baru tiga minggu ini.”
“Hm, apa sifatnya memang seperti itu?”
“Entahlah, karena sebelum ini dia belum pernah bertingkah seaneh tadi, tapi entah kenapa begitu melihat empat orang tamu tadi, sikapnya jadi begitu jelek.”
“Manusia kan tidak bisa dipegang tindak tanduknya.” Ucap pemuda ini bijak, sambil tersenyum penuh arti. “Sudahlah, sebenarnya aku ingin tanya yang lain, tapi dengan kejadian tadi mau tak mau jadi harus bertanya denganmu.” Kemudian ia menyambungnya, “Aku tadi mau tanya apa ya,” gumam pemuda ini berkerut kening. “Oh, daerah ini termasuk wilayah mana?”
“Kota kami ini bernama Pagaruyung dan termasuk dalam wilayah kerajaan Kadungga.”
“Begitu ya, kupikir kota ini masih termasuk wilayah Kerajaan Rakahayu, kulihat banyak penduduk yang mengenakan baju santin khas wilayah kerajaan itu.”
“Pandangan tuan sangat tajam. Memang, kebanyakan penduduk sini berasal dari kerajaan Rakahayu. Mereka menetap dikota ini paling tidak sudah satu generasi.” Tutur pelayan itu menjelaskan.
Pemuda ini manggut-manggut. “Meskipun mereka sudah lama disini, kenapa masih mengenakan pakaian khasnya?”
“Mungkin supaya mereka selalu teringat tempat asal.”
“Benar juga.” sahut pemuda ini sambil bersantap lebih lanjut.
“Tuan,”
“Ada apa…”
“Sebelumnya maaf, saya lihat penampilan tuan sederhana, tapi pandangan tuan mengenai hal-hal remeh sangat teliti, apakah tuan seorang pendekar?”
“Hm,” pemuda ini mendehem sambil tersenyum geli. “Pendekar? Kau pasti bercanda, kalau kau sebut aku pengelana, bisa kubetulkan. Mungkin karena aku sering singgah di banyak tempat, hal-hal remeh yang tidak terpandangan orang lain, terpandang oleh mataku. Cuma kebiasaan saja.”
“Enak juga memiliki pengalaman luas, tapi apa tuan memiliki tempat tinggal tetap?” tanya sang pelayan lebih lanjut, nada pertanyaan ini biasa saja, tetapi kalau diteliti lebih lanjut bagi pengelana seperti pemuda itu dapat segera diselami maksudnya.
Dengan tersenyum simpul pemuda ini menjawab, “Aku hidup tak tetap tempat, tapi kalau ada wilayah yang asri seperti ini rasanya aku ingin tinggal beberapa lama.”
“Oh, kelihatannya tuan seorang pengelana sejati?” tanya pelayan muda itu dengan nada agak aneh.
Kali ini dia tertawa pendek, mendengar ucapan si pelayan. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, jangan kawatir, aku memiliki uang untuk membayar. Kau tak perlu cemas kalau aku tak membayar, tidak setiap pengelana tak mempunyai uang.” Katanya blak-blakan.
Wajah pelayan muda itu merah, karena ketahuan mencurigai langganan barunya. “Maafkan saya tuan, hanya saja kami tak ingin diru¬gikan lagi. Beberapa saat yang lalu juga ada pengelana banyak memesan ini-itu, tapi uangnya kurang. Tapi mereka lantas pergi.” Jelasnya buru-buru mencari alasan karena maksud hatinya untuk menyelidik apakah orang didepannya berduit atau tidak, ketahuan lebih dulu.
“Tak apa-apa, aku juga maklum. Memang kebanyakan pengelana yang sedikit memiliki kepandaian sering memaksakan kehendaknya, tetapi untung saja aku bukan termasuk golongan itu, kalau tidak, masa aku harus repot-repot tanya hal tetek-bengek padamu?” tandas pemuda ini.
“Maaf,” kata pelayan ini malu, pandangan matanya tak berani menatap si pemuda.
“Ah sudahlah,” sahut pemuda acuh tak acuh.
”Tuan, kalau boleh saya tahu, tuan berasal dari mana?” tanya pelayan muda itu. Memang pertanyaan biasa, tetapi situasainya yang tidak biasa, kalau benar-benar mau diperhatikan, maka kejanggalan itu pasti terlihat. Dan pemuda ini melihatnya.
“Apa dia sedang menyelidik?” pikirnya, “andai benarpun aku justru ingin tahu, peran apa yang dimainkannya.”
“Aku berasal dari kota Kunta, kebetulan aku tak senang menetap lama, aku memutuskan untuk berkelana. Yah, jelek-jelek begini aku memiliki kemauan, lantaran ingin bebas menentukan jalan hidup, terpaksa aku meninggalkan kotaku.” Sahut pemuda ini sambil lalu.
“Lalu bagaimana dengan keluarga tuan?” tanyanya lagi, sungguh pelayan yang aneh!
Tapi pemuda ini juga tidak kalah aneh, sebab dia meladeni pertanyaan yang menyangkut privasi—masalah pribadi! Kalau dia orang pintar, tentu tak akan menjawabnya. Tapi dia mau menjawabnya, lalu orang macam apa?
“Aku tidak memiliki keluarga. Setidaknya begitulah anggapanku saat ini. Semua saudaraku menganggap aku adik yang layak, mungkin lantaran aku terlalu bengal, tak pernah mendengar kata mereka, dari pada diolok-olok diomeli terus, lebih baik aku berkelana mencari pengalaman. Kebebasan malah membuatku tenang, hati jadi lapang.” Tutur pemuda ini blak-blakan. Tapi cukup membuat alis pelayan itu berkedut sejenak, dan itupun tak lolos dari pandangan mata si pemuda.
“Oh… begitu, jadi tuan tidak memiliki keluarga lagi, maksud saya untuk saat ini, lalu bagaimana dengan istri?” tanya pelayan ini lagi.
“Istri,” gumamnya sambil tersenyum tipis, alis kirinya terangkat sedikit.
“Pertanyaanmu aneh, memangnya kau mau kawin? Tapi itu bukan urusanku. Kalau kau mau tahu, sampai saat ini aku malah tidak pernah memikirkan untuk berumah tangga, mungkin karena masih terlalu muda.” Lalu pemuda ini menyuap lagi, kemudian ia melanjutkan. “Apa kau punya adik perempuan? Kenapa tanya-tanya begitu, memangnya mau kau jodohkan adikmu denganku?”
“Ah, tuan…” pelayan ini tersipu, dia tahu kalau pemuda itu hanya bercanda, sebab si pemuda bicara sambil tersenyum. “Tapi usia muda kan bukan halangan untuk berumah tangga?” pelayan muda itu jadi tertarik dengan pelanggan yang satu itu. Sebab pemuda yang ada didepannya begitu enak diajak bicara dan begitu rendah hati.
“Sebelum kujawab, aku ingin bertanya dulu.” Ujar pemuda itu sambil menyantap suapan yang terakhir, kemudian ia minum. “Kau sudah berkeluarga?”
“Belum tuan.”
“Menurutmu kalau seseorang ingin menikah, syarat apa yang paling dibutuhkan?”
Pelayan muda itu berpikir sejenak. “Menurut saya, rasa saling cinta antara keduanya. Saya rasa itu sudah jamak…”
“Memang benar, itu memang syarat mutlak. Tapi terpikirkah olehmu biarpun kau menikah dengan orang yang saling cinta, tetapi hidupmu tak bahagia?”
“Eh, rasanya tidak.”
“Hm, memang begitulah kalau orang buru-buru ingin menkah, yang di pikir hanya enaknya. Dengar, menikah itu berarti mengikatkan diri dalam kewajiban, kau harus membuat dua belah pihak keluarga bahagia, yang paling penting lagi, harus ada saling kecocokan dan pengertian, kau harus ingat tak selamanya cinta itu bisa menumbuhkan saling pengertian.”
“Ooo…” si pelayan hanya mengangguk-angguk saja sambil melongo. Pemuda ini bicara pada si pelayan, tapi berhubung suaranya cukup keras dan situasi juga tak terlalu ramai, maka banyak orang yang mendengar perkataannya, bahkan ada diantaranya yang mendengar dengan serius.
“Jangan lupa, kau juga harus bisa menghidupi isteri dan anakmu. Nah sekarang, dari mana modal yang kau peroleh untuk mencukupi kebutuhan keluarga? Apakah cukup dengan cinta saja? Kau akan mati penuh penderitaan kalau hanya mengandalkan cinta. Memangnya dengan cinta kau bisa kenyang? Jadi kau harus tahu, bahwa menikah berarti kita ber¬tanggung jawab dalam segala hal.
“Karena itu, jika hendak menikah, berpi¬kirlah baik-baik. Apakah kau sudah sanggup lahir batin atau belum, kalau hanya besar nafsu saja, lebih baik tak usah. Jika hidup seperti itu yang kau jalani, kurasa kau akan berpikir bagaimana mengakhirnya. Demikian juga kebalikannya, kalau kau siap hanya semata karena hartamu cukup, maka penderitaan jualah yang akan kau alami. Dengan kata lain, kau harus siap harta dan kebutuhan batiniah yang kalian perlukan sebagai suami istri… dan tentu saja ada satu hal yang wajib kau perhatikan,”
“Apa itu tuan?”
“Restu orang tua, jika tidak… jangan harap perkawainan kalian akan bahagia. Mungkin menurutmu bahagia, tetapi tetap ada sebuh ganjalan yang tak mengenakkan. Seperti yang kukatakan, usia juga menuntukan. Menikah terlalu muda tidak baik, apalagi kalau terlalu tua. Dengan bertambahnya usiamu, maka kau akan bisa berpikir lebih dewasa dan melihat segala sesuatu itu bukan dengan mata saja, dan…” pemuda ini berkerut, rasanya penjelasannya terlalu berat untuk ukuran pelayan. “Yah, seperti itulah.” Dia memutuskan untuk tidak meneruskan pendapatnya.
Pelayan muda itu terperangah mendengarnya, juga orang lain yang ikut memperhatikannya.
“Wah, belum pernah saya mendengar keterangan seperti itu, saya jadi takut menikah mendengarnya.”
Pemuda itu tertawa perlahan. “Aku menjelaskan begitu bukan untuk membuatmu takut, hanya untuk memperingatimu saja. Kalau kau memang sudah siap, tak perlu kau pikirkan apa yang akan terjadi. Memang, menentukan masa depan itu perlu, tapi kita juga harus melihat sampai seberapa jauh usaha kita sendiri. Misalnya, kalau kau seorang penebang kayu, apakah kau mengharapkan suatu saat kau menjadi seorang kaya raya dari hasil penebangan kayumu itu?”
“Tentu saja tidak.” jawab pelayan itu.
“Nah, dari sini kita bisa ambil kesimpulan. Kehidupan macam apa yang kita perlukan untuk membahagiakan keluarga. Kau ingin istri, mertua dan semua keluargamu bahagia, tetapi kalau kau sendiri tertekan, lebih baik tak usah berkeluarga. Karena dalam kehidupan rumah tangga dituntut tanggung jawab yang seimbang, antara suami dan istri.”
“Oh, begitu… jadi semisalnya saya ingin hidup sederhana dan istri saya juga setuju, bagaimana menurut pendapat tuan?”
“Itu baik sekali, tetapi ada kalanya kehidupan suami istri itu pasti memiliki goncangan, cekcok dan sebagainya. Dari kesederhanaan itu engkau dapat mengambil hikmah dan pelajaran untuk dapat memper¬tahankan hidup yang lebih harmonis sampai masa tua.”
“Hebat, pandangan tuan kelihatannya sederhana, tetapi dalam maknanya.”
Pemuda itu tersenyum mendengar ucapan si pelayan, sederhana? Pikirnya geli. Sungguh orang yang tak pandai menutupi peranannya. “Ah tidak juga, aku mendapatkanya dengan belajar.” Ia menjawab sambil lalu.
“Jadi tuan pernah menikah?” tanya pelayan itu.
Pemuda ini tersenyum ia belum menjawab, dia sekarang tahu pelayan iin memang bukan sekedar pelayan, jika dilihat dari betapa cepat dia mengambil kesimpulan.
Melihat orang didepannya tak menjawab, pelayan itu buru-buru meinta maaf. “Maaf kalau pertanyaan saya lancang tuan..”
“Tidak apa-apa, aku hanya teringat masa lalu sebentar. Baiklah pertanyaanmu akan kujawab, aku memang pernah menikah, ehm… maksud¬ku hampir menikah. Sayangnya tidak ada unsur saling cinta didalamnya—jangankan cinta kenalpun tidak! Lalu dengan sangat menyesal, terpaksa aku harus membatal¬kan pernikahan itu. Aku bicara baik-baik dengannya, dan, yah… begitulah, akhirnyapun kami sepakat berpisah, lalu karena orang tuaku dan semua saudaraku menganggap aku anak yang mau menangnya sendiri, maka aku memutuskan pergi berkelana. Nah itu sekilas pengalamanku, mudah-mudahan bisa kau ambil hikmahnya.”
Pelayan itu mengangguk, ia memandangan pemuda itu dengan kagum, karena dari cerita itu, dapat disimpulkan kalau pemuda itu adalah orang yang sederhana, tidak ingin bermewah-mewah meskipun keluarganya adalah orang terpandang.
“Ehm, maaf kalau saya lancang bertanya, kenapa tuan katakan kalau tuan tidak kenal dengan tunangan tuan? Sedangkan tuan berpisah baik-baik dengannya?” tanya pelayan itu agak takut-takut.
Pemuda ini memandang si pelayan sesaat, lalu tersenyum tipis. Makin yakin dirinya kalau pelayan itu memang hanya profesi sampingan saja. “Aku memang tidak kenal, melihatpun belum pernah, jadi saat berpisah baik-baikpun kami hanya bertemu dari balik tabir. Jadi cuma suara kami yang saling berhubungan…” jawabnya sambil tersenyum.
“Maaf,” ucap pelayan ini sambil tertunduk.
“Kenapa pula kau minta maaf, kejadian itu adalah hal biasa. Dari tadi kita asyik bercerita, tapi aku belum tahu namamu, ”
“Oh…” pelayan itu menggeragap. “Saya Giri… Sugiri, tuan.”
“Aku Jaka,” ujar pemuda itu memperkenalkan diri. Mereka kembali bercakap-cakap, tanpa sadar, salah seorang dari pengunjung rumah makan itu memperhatikan percakapan pelayan dan pelanggan baru itu dengan serius, malah sangat serius.
“Pelayan!” panggil seorang lelaki yang duduk diujung—dibelakang Jaka.
Sugiri segera berdirit, “Maaf tuan, saya ada pekerjaan.”
Pemuda bernama Jaka—nama lengkapnya Jaka Bayu, mengangguk paham, ia melirik sesaat pada orang yang minta dilayani, lalu tersenyum tipis.
Jaka kembali menikmati minumannya sambil memperhatikan seluruh ruangan dan bagian luar dari rumah makan itu sambil lalu. Makanannya masih ada, dengan gerakan lambat Jaka segera menghabiskan.
Tanpa sengaja, matanya memandang kearah pojok sebelah ruangan, sebenarnya pemuda ini hanya memandang begitu saja, pikirannya tidak tertuju dengan pandangannya. Tapi anehnya orang yang ada di pojok sana sebentar-sebentar menunduk seolah sedang menuruskan makanannya lalu sebentar-sebentar menarik bajunya.
Pemuda itu baru sadar kalau gerak-gerik orang itu agak aneh. Setelah dia termenung sekian lama, barulah dia sadar kalau orang itu kelihatan grogi lantaran pandangannya mengarah padanya, padahal dia sedang melamun.
Jaka tersenyum geli. Sadar kesilafannya, pemuda ini segera menghabiskan minumannya. Namun terpikir olehnya hal janggal, Orang itu aneh, waktu ada ribut-ribut dia setenang batu, tapi kenapa tadi begitu gugup?
Lalu Jaka memutuskan untuk pergi dari situ, dengan agak tergesa, ia segera membayar. Tanpa banyak cakap lagi ia terus keluar, tapi belum berapa jauh ia melangkah,
“Tuan…”
Jaka menoleh, ternyata yang memanggilnya pelayan muda tadi. “Ada apa?”
“Tuan segera meninggalkan kota ini?” tanya pelayan muda itu, untuk sesaat mimik wajah membayangkan sesuatu.
Pemuda itu termenung sesaat, ia mengerling kesana kemari dengan gerakan lambat. “Aku rasa tidak akan secepat itu, kota ini belum lagi kujelajahi.”
“Oo…” seru pelayan muda itu kedengaran riang, tapi mimik wajah berubah.
”Memangnya kenapa?” tanya Jaka tersenyum, dibenaknya sudah terbetik satu persoalan mengenai, si pelayan! Walau cuma sesaat, ia melihat perubahan wajah si pelayan.
“Ehm eh, tidak tuan, hanya saja mungkin saya bisa mengajak tuan berkeliling dikota ini. Lagi pula banyak hal yang ingin saya tanyakan pada tuan, apakah tuan keberatan?” kata pelayan itu polos, gamblang tanpa basa-basi.
Jaka tertawa lebar, karena hakekatnya ia sangat menyukai orang yang selalu berterus terang—biarpun dia agak curiga dengan keluguan Sugiri. “Maksud baikmu tentu saja tidak mungkin kutampik, kau boleh datang kapan saja, aku akan menginap di…” sampai disini pemuda itu agar tertegun. “Menurutmu penginapan mana yang cocok?”
“Eh, tuan lebih baik menginap dirumah saya saja, biarpun kecil saya rasa cukup nyaman.
Jaka tersenyum, pasti agar mudah diawasi pikirnya, “Aku sangat menghargai tawarmu, tapi aku tak ingin merepotkanmu. Mungkin aku akan berada dikota ini cukup lama, kalau kau mau mengantar aku ketempat yang ingin kau tunjukan, datang saja ke penginapanku.”
Sambil mengangguk berulang kali, pelayan itu mengiyakan. “Penginapan yang bagus dan murah saya rasa tak jauh dari sini, silahkan tuan berjalan kedepan akan tuan jumpai penginapan Bunga Kenanga, itu penginapan bagus.”
“Terima kasih…” sahut Jaka pendek sambil tersenyum. “Kau bisa menemuiku kapan saja.”

—ooOOOoo—

10 – Perjumpaan Dengan Calon Guru

Rupanya saran Sugiri cukup baik, penginapan itu besar dan nyaman, tidak terlalu mewah, sangat sesuai dengan selera Jaka. Dengan langkah lebar, ia memasuki penginapan itu dan langsung disambut pihak penginapan dengan penuh suka cita. Tentu saja mereka menyambutnya penuh suka cita, siapa sih yang tidak mau duit?
Karena hari masih siang, Jaka tidak berminat tinggal dalam kamar, pemuda ini memesan sebuah kamar nomer satu yang berada di pojok ruangan pada tingkat kedua. Usai menaruh barang bawaannya, pemuda itu segera melangkah keluar dari penginapan. Sejak semula dia memang ingin mengunjungi tempat yang menjadi objek wisata, hanya saja ia tidak tahu dimana tempatnya—walau dia sudah pernah beberapa kali kekota itu, untuk suatu keperluan (bukan untuk santai)—setidaknya ia berharap ada orang yang menjadi pemandu, kalau ia menginginkan pelayan itu, rasanya ada yang tidak pas. Ada banyak hal kenapa ia menganggap pelayan itu tak pantas, pertama karena dia ‘mirip’ pelayan. Kedua, dan seterusnya, masih banyak alasan yang memberatkan menurut Jaka.
Dengan berjalan mengikuti kemana arah jalan besar, dia mengharap ada sesuatu pemandangan yang dapat menarik minat hatinya sebagai petualang dan pencinta alam, juga sebagai…
Namun sejauh itu, Jaka tidak menemukan hal-hal baru yang dapat membuatnya terkesima. Maklum, dulu dia pernah ada di kota ini untuk urusan lain. Hanya saja corak kota itu memang lain dari pada kota yang pernah ia kunjungi selama ini. Penduduk di kota itu sangat menaruh perhatian pada pengunjung atau orang asing yang baru pernah terlihat satu dua kali.

Dari hal itu, Jaka dapat menarik kesimpulan bahwa, penduduk kota ini memiliki hubungan kekeluargaan amat erat. Karena bingung hendak pergi kemana, pemuda itu berniat menanyakan tempat pada salah seorang warga.
Langkah pemuda itu santai, tak terburu. Namun ia terpaksa surutkan langkah tak kala melihat orang yang hendak ia tanya sedang berbicara keras dengan lelaki tinggi besar.
“Bergola, karena memandang Aki dan ayahmu, sejauh ini aku selalu mengalah padamu, tapi kali ini tindakanmu sangat keterlaluan…” Jaka mendengar si Aki berkata dengan nada prihatin.
“Hm, siapa suruh kau pandang ayah dan Aki-ku? Apa yang kulakukan tiada sangkut pautnya dengan nama keluargaku! Jadi singkatnya, sekali lagi kutanyakan, apakah kau setuju atau tidak? Kalau setuju, tengah malam kentongan pertama datanglah ke kuil diujung timur perbatasan kota…”
“Kalau tidak?” ujar Aki itu dengan nada sengit.
“Kalau tidak? He-he, kalau tidak kau bilang? Berarti kau gali lubangmu sendiri! Dan ingat baik-baik, apa yang kulakukan juga untuk kebaikanmu sekeluarga!” Dengus lelaki besar itu dengan nada dalam. Usai berkata demikian ia melangkah pergi dari beranda rumah Aki itu.
Melihat kejadian tadi, Jaka jadi agak ragu untuk masuk menemui Aki tadi, saat hendak berlalu pemuda itu melihat Aki tadi melambaikan tangan padanya, rupanya Aki berwajah ramah itu sudah melihat kehadirannya. Mau tak mau pemuda ini segera datang.
“Maaf kalau saya mengganggu Ki…” kata pemuda ini begitu sampai didepan lelaki tua berusia mendekati tujuh puluhan, tapi kelihatan masih bugar.
”Ah, tidak apa-apa.” sahut si Aki ramah. “Ada keperluan apa anak muda?”
Jaka agak canggung karena melihat kejadian tadi, apapun juga, biasanya seseorang yang menahan amarah pasti akan melampiaskan pada orang lain, tetapi agaknya Aki itu tidak terpengaruh peristiwa tadi. Diam-diam Jaka Bayu mengagumi ketabahan sang Aki.
”Eh, sebenarnya tidak ada hal penting yang saya tanyakan, hanya saja karena baru hari ini saya datang, maka saya ingin mengunjungi tempat-tempat yang dipandang indah untuk melancong.”
“Ooo..” Aki itu tersenyum sambil manggut-manggut.
“Nama saya Jaka Bayu…” pemuda ini tidak lupa mengenalkan dirinya.
“Nama yang bagus sekali seperti orangnya,” gumam Aki itu. “Aku Sasro Lukita, hanya karena aku merupakan salah satu sesepuh di kota ini, banyak orang memanggilku Aki Lukita.”
Pemuda ini manggut-manggut. “Maaf Aki, saya lihat pemuda yang datang seperti ada keperluan dengan Aki?” tanya pemuda ini menyelidik.
“Ah, tidak apa-apa. Biasa, anak muda jaman sekarang memang kalau ada masalah selalu saja merepotkan orang tua seperti aku ini.” Gumam Aki Lukita dengan senyum tawar.
Jaka menangkap ada sesuatu yang tidak beres di balik perkataannya. Ia ingin menanyakan tetapi diurungkan, karena disadari bahwa dirinya adalah pendatang dan belum ketahuan baik buruknya di mata orang, tentu saja orang mudah bercuriga kepadanya, tak terkecuali Aki ramah di depannya.
“Ayo masuk,” Aki itu mempersilahkan Jaka untuk duduk kemudian dengan santai ia pun duduk dikursinya, rokok kawung yang tadi dimatikannya ia sulut kembali.
“Ah, sampai lupa… kau tadi menanyakan tempat yang cocok untuk berpesiar ya? Di kota ini memang banyak tempat seperti itu, di sebelah barat kota ini ada Telaga Batu, airnya jernih sekali, biarpun telaga itu tidak terlampau luas, tapi termasuk salah satu telaga besar di daerah ini. Terus, jika engkau menuju selatan, di sana ada Gua Batu, tempat itu dijaga ketat oleh pemerintah kota ini, sebab daerah itu salah satu petilasan dari tetua kerajaan ini. Hanya saja setelah puluhan tahun, daerah itu dibuka untuk umum, tetapi bagi yang ingin masuk harus menjalani pemeriksaan ketat. Kemudian disebelah timur terdapat Sungai Batu dengan air terjun Watu Kisruh, dan disebelah utara dapat dikatakan ada dua macam tempat yang cocok untuk berpesiar, yang pertama sebuah kuil tua yang berumur ratusan tahun dan yang kedua Perguruan Naga Batu.”
Uraian singkatnya membuat Jaka heran, bukan tak percaya, hanya saja mengenai namanya, kenapa pakai batu semua? Apa karena daerah ini lebih banyak batunya ketimbang daerah lain? Kunjungan waktu lampau, tak membuatnya sempat memperhatikan kondisi kota, maklum saja… saat itu dirinya berdaya menyembuhkan orang.
Melihat pemuda itu memandangnya dengan raut muka heran, Aki itu tertawa, tentu saja dia dapat menyelami pikiran pemuda itu. “Kau tentu heran dengan penamaan tempat-tempat itu bukan?”
“Benar Ki, mengapa harus memakai nama batu semua?”
“Ceritanya panjang, aku khawatir kau tidak sabar dan bosan mendengarkannya…” katanya sembari tersenyum.

“Ah, tidak, sebagai seorang petualang, terhadap tempat yang saya pandang menarik dan memiliki keanehan, saya selalu menaruh perhatian, dan waktu lebih…”
“Oh, jadi kau seorang petualang?” tanya Aki itu.
“Benar,” sahut Jaka merasa kelepasan omong. Di mata orang berpendidikan, seorang petualang itu dipandang seperti pengangguran, bisa juga disamakan dengan preman.
“Bagus… bagus sekali,” Aki itu tertawa sambil manggut-manggut.
Jaka bengong tak mengerti. Tapi pemuda itu tidak mau mengusik Aki itu, mungkin saja ia tertawa karena satu hal, bukan menyangkut dengan dirinya.
“Anak muda yang bersemangat, kulihat dari sinar mata dan postur tubuh, kau tidak cocok jadi seorang kelana, tetapi kau dapat menuruti kata hatimu, aku yakin asal usulmu tentu bukan sembarangan.” Kata Aki itu sambil menatap tajam anak muda itu.
Jaka Bayu terkejut, ia tak menyangka kalau Aki ini begitu lihay menilai orang—meski hanya melihat raut wajah dan postur tubuh.
Sambil menenangkan hati, Jaka menjawab kalem, “Ah, Aki salah mengira, saya hanya seorang biasa, asal usul juga tak luar biasa. Saya sama dengan orang lain. Punya tempat tinggal, punya teman, dan lain-lain, tidak ada yang luar biasa…”
Aki itu tertawa tanpa suara, “Aku hidup lebih tujuh puluh tahun, semua macam pengalaman hidup sudah bisa kurasakan manis dan pahit getirnya. Memang hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat jelas seseorang, hanya dari wajah dan gerak-geriknya, dan mungkin aku salah satu diantaranya.” Sambil menyedot rokok kawungnya, Aki itu menuruskan ucapannya. “Tadi aku hanya mengatakan kalau asal usulmu luar biasa, jika tebakanku salah, kau cukup menyangkal dengan satu kalimat saja, tidak perlu memberi alasan, apalagi contoh. Bagaimana?”
Jaka tertawa canggung. “Terserah Aki sajalah bagaimana menilai saya.”
Aki ini mengangguk. “Diluar penilaianku yang tadi, kulihat pancaran matamu tenang dan dalam, tapi di sana aku masih melihat kegelisahan, resah dan pertentangan, kuyakin kau berasal dari keluarga terhormat, mungkin hanya karena beda prinsip maka kau bisa luntang lantung begini rupa.”
Jaka terkesip mendengar uraian sang Aki. “Hebat kakek ini, dia dapat meraba kejadian masa lalu hanya melihat tampangku, orang ini bukan sekedar sesepuh kota!” katanya dalam hati.
”Mungkin apa yang Aki katakan benar.” Sahut Jaka tersenyum tanpa merasa terpancing. “Oh ya, bagaimana asal usul nama tempat itu tadi Ki?” Tanya Jaka mengalihkan pembicaraan.
Aki itu manggut-manggut sambil tersenyum, dia tahu mengapa pemuda itu mengalihkan perhatian. Diapun maklum, membicarakan seseorang tanpa orang itu menyetujui bukanlah hal yang mengenakkan.
“Sebenarnya yang membuat setiap tempat itu bernama batu, disebabkan satu hal—dulu, hampir satu abad lalu—ada seorang tokoh persilatan yang memiliki nama gemilang, julukannya Pedang Emas Kepalan Batu, beliau juga merupakan adipati wilayah ini. Pada waktu itu suasana antar kerajaan selalu diliputi ketegangan, tetapi dengan adanya beliau, daerah ini merupakan satu-satunya wilayah bebas konflik.”
“Hebat sekali.”
“Memang, beliau adalah lelaki hebat yang memiliki tanggung jawab besar dan sanggup pula memikulnya. Saat beliau meninggal, maka Sang Prabu membuat tiap tempat yang sering dikunjungi dan merupakan tempat kesukaan adipati, di tambahkan kata Batu, sesuai dengan julukan sang adipati, sebagai tanda hormatnya.”
“Siapakah nama adipati hebat itu?” tanya Jaka, rupanya pemuda ini tertarik.
“Cakra Sapta, namanya Cakra Sapta…”
Mendengar nama itu, tiba-tiba wajah pemuda ini berubah, selebar mukanya merah semu dan tiba-tiba matanya sedikit menyipit. Perubahan itu hanya sekejap, tetapi Aki Lukita melihatnya. Diam-diam Aki itu tersenyum ringan.
“Ki, apakah nama Perguruan Naga Batu hanya mengambil kebesaran nama Adipati Cakra Sapta atau karena sebab lain?” tanya Jaka.
Mendengar nada pertanyaan anak muda itu, Aki ini makin melebarkan senyumnya, rupanya dugaan dalam hatinya kemungkinan besar benar. “Tentu saja ada alasan lain, kalau tidak pihak kerajaan tentu tak akan mengijinkan penamaan itu.”
“Apa alasannya?”
“Mudah saja, karena sang adipati sendiri yang menjadi cikal bakal dari perguruan itu. Karena itu tiap masyarakat di kota ini sangat menghormati Perguruan Naga Batu.”
Jawaban itu membuat Jaka makin terkesip, tetapi diluarnya ia tetap tenang, cuma kali ini matanya tampak berkilat tajam. Aki Lukita merupakan orang tua berpengalaman luas, melihat anak muda itu terdiam tentu saja ada yang dipikirkannya.
“Bolehkan aku bertanya padamu Jaka?”
“Oh, tentu saja Ki,” sahut Jaka buru-buru menjawab.
“Apakah kau memiliki hubungan dengan perguruan itu?”
Mendengar pertanyaan itu Jaka terheran-heran, namun hatinya tergetar juga dengan pertanyaan itu, mimpi pun ia tak menyangka kalau Aki Lukita bertanya segamblang itu.
“Andai saja seperti itu.” Jawab Jaka dengan nada mengharap, tapi Ki Lukita melihat kalau itu cuma candanya. “Yang saya tahu, saya tidak punya rejeki sebesar itu. Andai menjadi murid perguruan itu saja sudah merupakan kebahagiaan tersendiri, konon ada hubungan, sungguh tidak berani membayangkan…” Jawab Jaka sambil tersenyum canggung.
Tapi ia berpikir, jawabannya kurang bijak, maka buru-buru ia menambahkan. “Tapi mungkin juga dugaan Aki ada benarnya. Kita hidup saling bergantung satu sama lain, mungkin saja kelak atau entah kapan saya ada hubungannya dengan perguruan itu atau bahkan Aki sendiri.” Tutur Jaka.
Mulanya Aki itu mengira bisa membaca karakter Jaka semudah melihat wajah pemuda itu, tetapi dengan jawaban barusan, membuat Aki itu tertegun. Kata-kata bersayap Jaka, membuatnya bingung.
Setelah lengang beberapa saat, Jaka berniat untuk menanyakan masalah Aki itu dengan lelaki tinggi besar bernama Bergola. “Aki, maaf kalau saya kurang sopan, saya ingin menanyakan sesuatu…”
Aki itu tertawa ramah, “Tanyakanlah,” biarpun ia berkata begitu namun ia sudah dapat apa yang akan ditanyakan pemuda itu.
“Menurut saya, pemuda tadi tidak begitu… ehm, baik? Mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu?” Jaka bertanya dengan nada mengambang, ragu. Tetapi bagi yang bersangkutan justru sangat jelas sekali.
Aki itu tertawa ramah, “Andai kata seratus orang muda saja yang memiliki perasaan dan rasa hormat sepertimu aku yakin tidak akan banyak pergolakan dalam dunia persilatan.” Ucapan Aki itu seperti sambil lalu, tetapi nadanya aneh sekali, bagaimana orang biasa yang hidup tentram di kota bisa membicarakan masalah dunia persilatan? Lagi pula mengapa dia membicarakan dengan Jaka?
Dari sini Jaka sudah dapat menduga—dan yakin akan kebenaran dugaannya—bahwa kemungkinan besar Aki itu adalah salah satu tokoh ternama dalam dunia persilatan, dan tentunya sudah mengasingkan diri. Sambil menghela nafas panjang Aki itu meneruskan bicaranya.
“Sebenarnya aku tidak ingin masalah kecil seperti ini diketahui orang lain, tetapi aku tahu kalau aku tak memberi tahu mungkin kau tak enak makan tidur dan bakal menguntit diriku tengah malam nanti.” Perkataan tersebut membuat wajah Jaka bersemu. Ia tidak bisa mengingkari kenyataan yang diucapkan Aki itu.
“Memang benar Ki,” sahut pemuda ini membenarkan tanpa ragu.
Aki Lukita tersenyum penuh arti mendengar jawaban Jaka. “Aku tak menyalahkanmu, kalau saja aku yang menjadi dirimu, sebagai pemuda yang berdarah panas, tentu saja selalu ingin mencari tahu rahasia yang dianggap menarik.” Sambil menghembuskan asap rokok, Aki ini kembali bertutur. “Baiklah, aku akan memberitahu padamu tetapi ini hanya sepintas lalu saja… lelaki tadi bernama Bergola. Sesungguhnya dia seorang pemuda yang memiliki semangat besar, hanya saja salah menggunakan kemampuannya. Apalagi akhir-akhir ini terdengar kabar amat santar, munculnya Perkumpulan Lidah Api, aku tidak tahu perkumpulan macam apa itu, tetapi aksi mereka selalu merangkul pejabat pemerintahan dan tokoh-tokoh silat kelas atas.” Tutur Aki itu dengan menghela nafas panjang.
“Kemungkinan besar ada hubungannya dengan Perkumpulan Dewa Darah.” Sambungnya lagi, sambil menatap Jaka dengan tajam. Tapi dia tidak menemukan perubahan pada raut wajah Jaka. Tapi sesaat tadi diapun melihat ‘senyuman’ pada mata pemuda itu. Apakah dia paham dengan yang dikatakannya tadi?
“Aki tahu begitu banyak, saya rasa Aki masih memiliki hubungan dengan tokoh sakti kelas atas?” tanya Jaka memotong.
Ki Lukita memandang Jaka sesaat, lalu tertawa lepas. Dia maklum dengan ucapan Jaka yang mengartikan bahwa dirinya salah satu tokoh sakti. “Ah, berbohong denganmu kelihatannya percuma,” ujarnya. “Kutahu dirimupun bukan orang biasa, karenanya aku juga bersikap terbuka padamu.”
Jaka tertawa mendengarnya, yah, apa lagi yang harus dikatakannya, kalau perkataan itu benar?
“Dulu aku seorang pesilat yang hanya mengandalkan satu dua jurus cakar ayam, cuma saja tidak seorangpun tahu akan hal itu, kecuali keluargaku, para sahabatku dan kini… dirimu. Aku yakin, sekali melihat engkau pasti dapat menilai orang macam apa aku ini, tentu saja hal itu tergantung pada pengalaman dan pandanganmu dalam menilai seseorang. Dan kedatangan Bergola tidak ada sangkut pautnya dengan diriku yang dulu.”
“Saya ingin tanya, apakah Bergola asli penduduk kota ini?”
“Terhitung asli. Orang tua dan kakeknya adalah penduduk sini, tapi pada masa kecilnya dulu, orang tua Begola pernah berdagang ke kota lain. Setelah hampir sepuluh tahun, mereka kembali kesini.”
“Tentu dagangannya berhasil.”
“Dari mana kau tahu?”
“Orang yang berhasil dengan usahanya, pasti senang jika keluarganya dan orang lain tahu.”
“Benar.”
“Saya bisa memastikan, setelah orang tua dan anaknya—Bergola—kembali kesini, sikap mereka masih seperti dulu dan tak berubah dalam janga waktu tertentu.”
Ki Lukita mengangguk membenarkan. Dia juga agak merasa heran, sekalipun dia tahu hal itu, tapi cara Jaka menganalisis persoalan sepele seperti itu, membuatnya makin curiga—yakin akan satu hal—bahwa anak muda dihadapannya bukan sekedar petualang biasa.
“Saya tak tahu seberapa kaya mereka, tapi sifat mereka pada awalanya pasti simpatik, dan lambat laun, tidak lagi. Dan saya yakin penduduk tidak merasa heran lagi.”
Ki Lukita mengiyakan.
“Kalau begitukan persoalannya jadi mudah ditebak. Hanya pedagang batu mulia saja yang bisa memiliki kekayaan besar dalam sepuluh tahun—dengan catatan tak merugi. Tapi jika bukan, pasti ini suatu kejanggalan.”
“Kau salah, justru mereka adalah perdagang emas dan permata.”
“Sebelum pindah kekota lain, juga pedagang batu mulia?”
Ki Lukita berpikir sejenak. “Hanya pedagang klontong dan penjulan perhiasan dari logam.”
Jaka tersenyum. “Perkumpulan Dewa Darah, Perkumpulan Lidah Api… entah seperti apa mereka.” Katanya sambil mendesah.
Baru kali ini Ki Lukita paham sepenuhnya dengan penuturan Jaka. Ternyata pemuda ini hendak mengatakan bahwa, sejak semula orang tua Bergola memang merupakan kepanjangan tangan orang lain—itu disebutkan saat Jaka mengatakan dua perkumpulan tadi, ‘entah seperti apa mereka’. Lelaki tua ini menatap pemuda dihadapannya dengan sedikit terpana, apakah pemuda ini sama seperti dirinya?
Sama… tentang apa?
“Uraianmu cukup bagus.”
Jaka menghela nafas. “Jadi, tentunya masuk akal jika dia membuat masalah dengan Aki.”
“Masuk akal? Kau dapat dalil dari mana?”
“Ah, masa itu terhitung dalil segala Ki?” ujar Jaka tersenyum. “Orang juga akan berpikir sama, sebab siapapun yang ingin menguasai suatu tempat, harus mengetahui seluk beluk tempat itu, khususnya para pamong—orang-orang yang sangat dikenal oleh warga setempat, betul tidak?”
“Betul.”
“Nah, kalau sudah begitu kan mudah untuk menjalankan rencana selanjutnya?”
“Ya…”
“Dengan sendirinya Bergola juga tidak bekerja seorang diri.”
“Kau benar lagi,”
“Dan akan lebih baik jika orang yang sangat paham seluk beluk daerah tersebut—dalam hal ini mungkin kota ini—bisa merangkul orang-orang tertentu. Betul tidak?”
Ki Lukita tertawa, dia tidak menjawab, hanya tersenyum saja.
Jaka juga tersenyum. “Kalau cara itu gagal kan paling mudah jika orang itu mengintimidasi—mengancam—si korban, jika tidak mempan juga, pasti akan ada siasat lebih baik lagi.”
“Ha, kelihatannya kau pandai menebak,” kata Ki Lukita seraya tersenyum. “lalu menurutmu siasat apa yang akan dilakukan orang itu?”
Jaka memutar bola matanya, “Kalau aku jadi orang itu, aku akan membuat dia—dalam hal ini Aki, agar tidak bisa hidup dimana tanah dipijak langit dijunjung.”
Gemerdep mata Ki Lukita, “Kau maksudkan dengan fitnah?”
“Benar, dengan sendirinya, apapun yang akan Aki katakan jika para warga tidak lagi percaya, maka sia-sialah semuanya, bukankah dengan demikian satu-satunya cara terbaik adalah pergi dari sini, atau melawan dengan siasat yang serupa pula?”
“Pintar, kau benar, memang harusnya seperti itu…” gumam Ki Lukita memandang jauh kedepan.
Keduanya diam. Mereka berdua sama tahu bahwa percakapan mereka tidak lazim bagi orang yang baru saling berjumpa sepuluh menit seumur hidupnya. Namun merekapun tidak menyangkal kalau percakapan mereka saling melengkapi dan tidak ada perasaan mengganjal diantaranya. Tapi justru menambah banyak pertanyaan di benak masing-masing, tetang ‘siapa dia sebenarnya’. Kedua orang ini merasa penasaran dengan masing-masing pihak.
“Jadi, apakah Bergola itu salah satu anggota Perkumpulan Lidah Api atau Dewa Darah?” tanya Jaka kemudian.
“Aku salah. Seharusnya aku tidak membicarakan masalah ini padamu.”
Alis Jaka terangkat satu, “Mengapa?”
“Sebab jika kau terlibat didalamnya, runyamlah nasibmu!”
Pemuda ini tersenyum, sungguh heran hati si Aki melihatnya, puluhan tahun dia hidup, sudah ratusan, mungkin ribuan senyum ia lihat, tetapi tiada yang semenarik senyuman pemuda dihadapannya. Jika dia bisa memisalkan, senyum si pemuda seolah-olah serumpun bunga yang mekar serentak, dan membuat suasana tenang, membuat damai.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Aki ini penasaran juga.
“Kenapa? Saya sendiri tidak tahu, tapi yang membuat saya tersenyum adalah, cara Aki memandang kehidupan orang dari satu sisi saja.”
“Satu sisi?”
Pemuda ini mengangguk, “Ya, Aki hanya memandang siapapun yang terlibat hal tertentu pasti sedikit-banyak akan tertimpa kemalangan, itu mungkin benar. Tapi manusia hidup itu perlu usaha, perlu cita-cita, dan untuk itulah dia mengerti kenapa dia ada di dunia ini.”
Aki ini termenung mendengar perkataan Jaka, perlu usaha, perlu cita-cita. Sungguh kata-kata yang sederhana, tapi tahukah kau, jika kau tidak pernah memikirkan untuk apa kau dilahirkan didunia, maka celakalah hidupmu. Memangnya setiap saat dirimu akan terus menggantungkan diri pada orang lain?
Dan benarlah apa yang dikatakan Jaka! Untuk lingkup sempit, manusia perlu kerja, perlu aktivitas, dan punya tujuan, supaya hidup ini tidak hambar.
“Benar… benar sekali ucapanmu!” gumam Aki ini sambil menatap tajam pemuda yang ada dihadapannya.
Dia tahu siapapun yang bisa mengatakan ucapan bijak seperti itu, pastilah sudah banyak pengalaman pahit-getir yang dialaminya. Tetapi, pemuda itu masih begitu ‘kecil’ mungkin dua puluhan? Tapi bagaimana dia bisa berfikir seperti itu? Diam-diam Aki ini menghela nafas, sungguh dia merasa kagum juga heran.
Jaka balas menatap Aki itu. “Dan bagaimana menurut Aki?”
“Menurutku?” tanya Aki ini sedikit kaget, dipikirnya tentang ucapan bijak Jaka tadi yang ditanyakan tanggapannya.
“Masalah Bergola tadi.”
“Entahlah, tetapi aku menduga dia pasti salah satu anggota dari dua perkumpulan itu. Setelah percakapanmu denganku, aku yakin dirimu akan dibuat susah orang tertentu, mungkin saja karena mereka menganggap kau ikut campur urusan mereka.”
“Mengenai masalah itu, saya rasa Aki tidak perlu kawatir, saya punya cara sendiri menghindari mereka.”
“Aku percaya padamu.”
Alis Jaka terangkat, tapi sebelum dia bertanya, orang tua ini sudah memberi penjelasa. “Sebab menurut penilaianku, kau merupakan tunas cemerlang dari dunia persilatan. Sungguh sebuah keberuntungan bagi dunia persilatan…”
Pemuda ini tersenyum kecil. “Ah, Aki terlalu menyanjung, biarpun hanya memiliki kepandaian sejurus dua jurus, itupun hanya dapat melindungi diri dari gangguan binatang buas, saya belum pantas disebut pesilat.”
Aki ini kembali menghela nafas, dengan perkataan Jaka barusan, dia sudah dapat mengambil kesimpulan sedikit, sebenarnya pemuda macam apa yang ada didepannya itu? Pemuda itu tak takut dirinya direcoki kelompok Bergola, bahkan secara samar Jaka mengatakan bahwa tujuan hidupnya itu memang untuk menghapus orang-orang yang terkumpul dalam satu wadah yang sedang mereka bicarakan, mungkin itu sedikit kesimpulan yang diperolehnya.
“Merendah sih boleh, tetapi jangan terlalu kelewatan,” ujar Aki itu menasehati, setelah beberapa lama dia terdiam. “Kutahu engkau bukan sembarang orang, apa lagi mengenai…” sampai disini si Aki menggantung ucapannya.
Jaka mengerutkan dahi, mau tak-mau dia merasa penasaran juga dengan ucapan Aki itu. “Mengenai apa?”
“Tentu saja mengenai asal usulmu yang kemungkinan besar ada hubungannya dengan Perguruan Naga Batu…” tukas Aki ini dengan santai, tetapi ucapan itu membuat Jaka terdiam membeku, lalu menyeringai serba salah. Dia enggan menyangkal, kalaupun ingin menyangkal rasanya tidak ada yang perlu disangkal, sebab kenyataannya mungkin saja begitu, mungkin juga tidak.
“Dan sekarang kuberi tahu kau satu rahasia.” Ujar Ki Lukita setelah—kelihatannya—menimbang ucapannya matang-matang.
“Rahasia, apa itu?”
“Jangan pernah sebutkan nama Perkumpulan Dewa Darah sembarangan, perkumpulan itu merupakan salah satu rahasia dalam dunia persilatan. Diantara seratus orang pendekar yang aktif berkelana, paling tidak hanya ada lima orang yang tahu apa itu Dewa Darah.”
“Mengapa begitu?”
“Sudah kubilang itu perkumpulan rahasia, dan mungkin ada hubungannya dengan Perkumpulan Lidah Api atau banyak lagi perkumpulan lain—yang jelas mereka selalu meneror dan membuat kerusuhan.”
Jaka tersenyum samar, ia manggut-manggut paham. “Baik, saya tidak akan sembarang menyebut namanya. Tapi kalau kita membicarakan dengan santai begini, kan sudah termasuk bukan rahasia lagi?”
Aki ini melegak, “Ehm, kau benar.” katanya menjawab serba salah, sungguh tak disadarinya dia bisa membuka celah fatal seperti itu, tadinya dia memikirkan jika membicarakan hal itu tidak berbahaya—untuk identitasnya.
Tapi kini?
Kalau semua orang tidak tahu kenapa dia bisa tahu? Itu kan sama seperti orang memasang papan nama didahinya bahwa dia lain dari yang lain? Lalu orang macam apa dia itu? Diam-diam Aki ini mengeluh, mudah-mudahan pemuda itu tidak bertanya, demikian ia berharap.
“Lalu dari mana Aki tahu?” pertanyaan Jaka mengandaskan harapan si Aki.
Percuma mengelak, Aki ini tersenyum, senyum yang tenang, bukan senyum serba salah—memang tak malu dia disebut jago kawanan. “Tentu saja aku tahu karena aku sudah tua.” Jawabnya bijak. “Jadi banyak mengerti banyak hal.”
Jaka tersenyum, “Memang benar Ki, orang yang lebih tua lebih tahu dari kaum muda, itu kan sudah jamak?”
“Nah, kau sendiri menyadarinya.” Sahut si Aki tanpa ragu, dengan demikian dia tak perlu membuka rahasia dirinya.
“Ya, saya langsung menyadarinya, dan kini saya paham, mungkin saja Aki salah satu Telik Sandi Kwancasakya, benar begitu Ki?” tanya Jaka membuat Aki itu terperanjat setengah mati.
Dia adalah orang berpengalaman, tapi bisa dibuat terkejut dengan ucapan Jaka yang baru dikenalnya, sungguh membuat dirinya serupa orang tersadung batu—sangat mengherankan—dan kini dia merasa tidak mengenal dirinya lagi, ketenangan yang dipupuknya sekian puluh tahun, bisa lenyap secepat itu, hanya karena satu kalimat yang di utarakan Jaka. Untuk beberapa saat Aki ini terdiam, rasanya dia akan mengomentari hal itu, tapi rasanya tidak pas.
“Bukan!” Akhirnya ia menjawab apa adanya, sebab terkadang jawaban bertele-tele akan membuat lebih banyak rahasia terungkap. “Anggap saja aku banyak tahu rahasia orang. Tapi dari mana kau tahu ada Telik Sandi Kwancasakya?” tanyanya heran.
Jaka garuk-garuk kepala. “Mungkin kebetulan Ki.” Katanya tersenyum. Mereka sama-sama tersenyum, dan kini keduanya maklum, mereka sama tak inginnya membicarakan rahasia yang mungkin hanya diketahui mereka sendiri.
Perlu diketahui, Telik Sandi Kwancasakya adalah sebuah perkumpulan yang bergerak dalam banyak bidang, apakah itu politik, ekonomi, bahkan sampai kebijakkan yang diatur dalam kerajaanpun mereka bisa mempengaruhinya, mereka memiliki jaringan diseantero negeri. Sesuai dengan namanya, mereka mengkhususkan diri sebagai mata-mata. Mereka mempunyai informasi dan menjualnya dengan harga tinggi pada orang yang membutuhkan. Keberadaan perkumpulan ini entah ada sejak kapan, yang jelas jika ada orang yang dirundung kesulitan, selalu saja ada anggota mata-mata itu yang menawarkan jalan keluar dengan imbalan besar. Mereka datang, dengan, dan, atau, tanpa diundang. Mereka ada dimana-mana. Dan mereka bisa sangat berbahaya. Adalah luar biasa kalau pemuda macam Jaka tahu adanya perkumpulan mata-mata itu. Dan lebih aneh lagi bagaimana bisa seorang sesepuh kota tahu tentang mereka? Bukankan perkumpulan itu sama rahasianya dengan Perkumpulan Dewa Darah? Bahkan jaringan mata-mata itu jauh lebih rahasia, dan lebih menakutkan!
“Mengenai perkumpulan tadi, aku tidak banyak mengetahui, tetapi kalau kau ingin tahu, tidak ada salahnya kau mulai ‘melancong’ dari Telaga Batu sampai Pesanggrahan Batu, dan Goa Batu, mungkin ada beberapa petunjuk yang bisa menambah keingintahuanmu.” Aki ini kembali menjelaskan persoalan tadi.
Jaka paham penjelasan itu, si Aki ingin dirinya menyelediki tempat itu, tentu saja kalau memungkinkan.
Tapi mendengar keterangan barusan, dia agak heran, “Kenapa beliau begitu gamblang menjelaskannya padaku? Apa tidak takut kalau urusan ini diketahui orang lain? Apa karena Aki ini salah satu dari anggota perkumpulan yang berusaha menjebakku?” Atas dugaan yang dikemukakan dalam hatinya, Jaka merasa kalau kecurigaan ini mungkin saja terjadi.
“Mengapa Aki begitu mudah membuka rahasia pada saya?” tanya Jaka berlagak heran.
“Tak perlu lagi kuberi jawabannya, engkau tentu sudah mengerti sendiri, semua itu karena aku melihat dirimu, kalau bukan kau yang bertanya tak nanti aku mengatakan yang kutahu.” Ujar Aki ini dengan nada ramah yang berkesan santai, namun ucapannya itu harus direnungkan dalam-dalam. Sebab bisa saja itu jebakan, tapi bisa saja sebuah jalan? Jalan apa itu? Hanya Jaka sendiri yang bisa menebaknya.
Atas semua ucapan Aki itu Jaka makin yakin kalau Aki itu bukan sekedar purnapendekar (pendekar yang sudah tidak aktif lagi), sebab selama dalam perjalanan berkelana hanya beberapa orang saja yang mengetahui bahwa dirinya memiliki kelihayan tersendiri. Karena sebagian identitas dirinya dapat dibaca maka iapun berniat mengorek setiap rahasia dari urusan penting yang ingin dia ketahui, secara terang-terangan.
“Baiklah, saya anggap Aki sudah mengetahui siapa saya ini, karena ini penting, saya ingin sekali mengetahui urusan ini.”
Ki Lukita tertawa panjang. “Sungguh baik sekali, dari dulu aku memang paling suka dengan orang yang bicara berterus terang. Baiklah, terhadap orang seperti kau ini, tentu saja aku menaruh pengecualian bahwa aku hanya seorang tetua kota ini,” ujar sang Aki sambil bangkit berdiri. “Tunggulah sebentar.”
Perkataan Aki Lukita membuat Jaka heran, tetapi sebagai pemuda yang selalu memikirkan tiap persoalan dengan hati-hati, ia pun tak ingin berlaku ceroboh.
Maka dengan senyum mengembang di bibir ia berkata, “Silahkan Ki.”
Begitu punggung Aki itu lenyap dibalik pintu, Jaka duduk bersandar sambil mengalihkan perhatiannya kesekeliling penjuru, dia mengamati keadaan rumah. Halaman depan rumah Ki Lukita cukup lebar, disitu ditanami dengan berbagai bunga, dari anggrek sampai melati semuanya ada, kebetulan saat itu sedang waktunya bunga bermekaran, suasana di rumah Aki Lukita makin asri dan sejuk, benar-benar membuat betah.
Saat masuk Jaka tidak memperhatikan keadaan rumah itu, tetapi sekarang baru ia sadar kalau setiap jengkal tanah di halaman Aki Lukita benar-benar dimanfaatkan untuk menanam berbagai bunga indah. Rasanya kalau dilihat dari usianya memang pantas kalau Aki itu punya hobi menanam bunga, atau mungkin saja ia memiliki seorang cucu atau seorang putri, yang mengurus dan menanami bunga itu.
Makin memperhatikan rumpun bunga, hati Jaka makin terguncang—rasanya ia bisa merasakan bulu kuduknya merinding perlahan—sebab dia yakin, rumpunan bunga indah itu merupakan Barisan Lima Langit Menjaring Bumi. Dulu saat pertama kali belajar mendalami banyak hal—termasuk silat, dia pernah menemukan kitab-kitab kuno di perpustakaan rumah, diantara kitab itu terdapat sebuah kitab yang khusus membahas mengenai barisan yang memiliki daya unsur gaib.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: