Seruling Sakti Jilid 11-15

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

11 – Sekelumit Kisah Jaka Bayu

Perlahan-lahan Jaka Bayu berjalan mendekati rumpunan bunga indah itu. Ia melangkahkan kaki dipinggir rumpunan bunga, “Astaga, lihay benar barisan ini, jika aku tidak tahu tentang ini, jangan harap bisa keluar dari tempat ini tanpa pertolongan orang yang paham. Hm, mungkin karena tempat ini adalah sebuah kota dan bukan wilayah yang patut dipasangi barisan selihay ini, maka Aki itu hanya menampilkan sebagian kecil kelihayannya.”


Pemuda ini melangkah memasukinya. Dia bermaksud mengujinya,a apak benar barisan itu seperti yang di maksud. Ternyata sesuai dengan teori yang dia ketahui! Jaka menghela nafas prihatin, bahwa Ki Lukita bukan pendekar biasa, memang dia percaya penuh. Tapi dengan adanya formasi barisan itu, dia sadar, urusannya tak semudah yang dibayangkan.
Pemuda ini sengaja salah melangkah, tiba-tiba matanya seperti melihat gambar buram, dia seperti melihat beratus bayangan turun dari langit mengurung dirinya, padahal itu hanya formasi yang dibuat pada bunga setinggi lutut! Benar-benar hebat dan mengerikan. Menyadari hal itu dengan cepat Jaka melangkah tiga tindak kekanan dan dua langkah kedepan lalu dengan cepat ia juga meneruskan tujuh langkah kebelakang memutar teratur, setelah itu dengan gerakan bagai burung elang ia melenting kebelakang, gerakannya cepat sekali, jika ada orang yang melihat dari luar, pasti mengira pemuda itu cuma melompat kecil. Padahal refleknya, bukan saja gerakan penuh perhitungan, tapi merupakan jurus menghindar yang lihay.
“Luar biasa, sekalipun aku sudah mengetahui kelihayannya, tetapi apa yang disebutkan dalam kitab dengan kenyataan yang ada memang beda.” Batinnya, merasa kagum.
Dengan berdiri termangu, Jaka mengamati barisan itu dengan seksama. “Bukan main, kelihayan barisan kuno ini tak bisa sembarangan muncul begitu saja, kenapa bisa ada disini?” Jaka berpikir keras. Sesaat, dia menghela nafas panjang, agaknya sudah bisa memahami sesuatu. “Benar, mungkin mereka termasuk didalamnya.”
Didalamnya? Di dalam apa?
Pemuda ini kembali memperhatikan barisan bunga itu baik-baik, “Aneh, rasanya ini bukan seperti barisan yang kukenal.” Kepalanya sedikit miring, pemuda ini makin seksama memperhatikan barisan rumpun bunga itu.
“Ah, tahulah aku! Lima Langit Menjaring Bumi dikombinasikan dengan formasi Teratai Mengurung si Cantik! Hebat sekali, benar-benar luar biasa cerdik. Sebuah formasi barisan biasa digabung dengan barisan hebat, menghasilkan kombinasi aneh, benar-benar pintar. Cerdik sekali, sejak semula aku yakin, Aki itu memang bukan orang biasa.”
Pemuda ini masih saja berdiri termangu memperhatikan bunga-bunga itu, kalau dari luar halaman, orang mengira kalau pemuda ini hanya memperhatikan keindahan bunga itu, padahal tidak, Jaka sedang menyelami kelihayan dari dua barisan yang bergabung itu.
“Betapapun, barisan ini belum bisa menjaring orang yang punya peringan tubuh tinggi.”
Pemuda ini tidak sadar kalau sejak ia melangkah memasuki rumpun bunga, sedikitnya ada dua pasang mata yang memperhatikannya. Pertama sepasang mata sang Aki dan yang kedua sepasang mata jeli milik seorang gadis.
Setelah sekian lama, barulah pemuda ini tertawa penuh kagum, “Aku memang salah lihat. Lihay sekali, pantas saja formasi Teratai Mengurung Si Cantik hanya dikembangkan separuh, ternyata warna-warni bunga inipun mempengaruhi daya pandang dan daya pikir orang. Jika barisan Lima Langit Mengurung Bumi dikembangkan separuh saja, kuyakin tiada orang yang mampu melepaskan diri dari kurungan bunga ini.” Jaka menghal nafas dalam. “Benar juga kata Kakek baik hati, pada setiap keindahan terdapat hal misterius yang kadang kala lebih menakutkan, malah menyesatkan pikiran orang.”
Dengan senyum ringan, Jaka kembali duduk, dan tak lama kemudian Aki Lukita keluar. Ia membawa sebuah buku cukup tebal.
“Apa yang pernah kuketahui sebagian terdapat di dalam catatan ini, mungkin bisa bermanfaat buatmu.” Kata Aki Lukita begitu duduk langsung menyerahkan catatan tadi.
Jaka menerimanya dengan hati masih diliputi keheranan.
Beberapa saat kemudian, Ki Lukita mengajak Jaka untuk pindah di beranda samping rumah, sehingGa percakapan mereka lebih leluasa. Mereka duduk di bawah pohon rambutan, tak jauh dari situ ada kolam ikan cukup luas. Sungguh situasi yang asri dan melenakan.
Jaka mengikuti Aki itu dengan pikiran diliputi kebingungan, dia sama sekali tak menyangka si Aki bisa berbaik hati seperti itu.
“Ini-ini…” Jaka tergagap serba salah. “Kita baru berjumpa sekali, mengapa Aki begitu percaya pada saya? Bukankah catatan kitab ini merupakan sebuah catatan berharga?”
“Tentu saja berharga, karena itu kuputuskan untuk menyerahkannya padamu. Sebelumnya aku memang sudah percaya padamu apalagi setelah kau masuki barisan bunga milik cucuku, aku jadi tambah percaya kalau kau bukan pemuda kelana biasa, karena itu aku harap kau dapat mempergunakan sebaik mungkin. Nah, simpanlah, aku tidak butuh penolakan juga kata terima kasih atau basa-basi lainnya.”
“Ah…” Jaka mendesah terkejut, ia tak menyangka kalau Aki itu begitu memperhatikan dirinya. Buru-buru ia meletakkan kitab itu di meja, dan mengangguk memberi hormat. “Mendapat kepercayaan dari seorang tetua seperti Aki sungguh sebuah kehormatan, saya tidak akan menyia-nyiakannya.”
Jaka tidak mengucapkan terima kasih dan berbasa basi, hanya saja ia mengangguk memberi hormat dan mengucapkan janjinya, tentu saja itu bukan tergolong basa-basi.
Dari sini Aki itu dapat menilai sampai dimana pribadi anak muda tersebut, yakni; menuruti apa kata seorang tetua dan selalu mengindahkan orang yang lebih tua.
Kakek ini tertawa lepas. “Aku sudah hidup hampir tujuh puluh tahun, bisa bertemu tunas secemerlang kau ini tak sia-sia hidupku, sungguh aku merasa beruntung.”
Pemuda ini hanya bisa diam saja, ia tak tahu apa yang hendak dikatakannya. Kemudian Aki Lukita melanjutkan perkataannya,
“Aku tahu benar kalau bukan orang yang mengetahui kelihayan dan seluk beluk barisan Lima Langit Menjaring Bumi, belum tentu kau bisa keluar, tapi nyatanya kau bahkan sangat paham sekali seluk beluk barisan itu. Bahkan kau tahu kalau barisan itu hanya dikerahkan sebagian kecil dari yang sesungguhnya, apalagi setelah kau mencoba untuk melakukan langkah salah, kau langsung mengetahui kalau barisan itu digabung dengan formasi biasa, Teratai Mengurung Si Cantik. Dewasa ini, orang yang mengetahui barisan Lima Langit Mengurung Bumi hanya ada satu-dua orang saja, itupun hanya dari angkatan tua. Tapi kau yang masih berusia begini muda malah mengetahui lebih mendalam. Jadi aku bisa berkesimpulan, kau memiliki bekal baik sekali, lebih dari cukup, untuk sekedar berkelana! ”
Jaka mendesah. “Ah, Aki terlalu berlebihan, tentu saja saya manusia biasa, tentang barisan itu, saya ketahui juga karena kebetulan.”

“Barisan selangka itu, kau ketahui hanya kebetulan, aku tak percaya.” Ujar Aki Lukita agak mangkel, dari tadi Jaka selalu menjawab serba kebetulan. “Bolehkah kutahu siapa gurumu?” tanyanya.
Mendengar pertanyaan Aki Lukita, Jaka jadi tertegun. Untuk sesaat lamanya pemuda ini tak tahu harus menjawab apa. Sambil menghela nafas dalam Jaka berkata, “Kalau saya katakan mungkin Aki tidak percaya…”
“Katakan saja, apa yang kaukatakan sudah pasti benar dan aku pasti percaya sepenuhnya.”
“Tidak seperti yang Aki bayangkan, saya tidak punya guru,” jawab pemuda ini mantap.
Mendengar ucapan pemuda didepannya, Aki itu tertegun, tadinya ia menyangka kalau Jaka adalah murid salah satu tokoh termasyur yang tentu saja namanya pernah menggetarkan kolong langit.
Melihat Aki itu agak tertegun, pemuda ini tahu kalau Aki itu tidak percaya, maka ia lanjutkan ceritanya.
“Sejak usia empat-lima tahun, orang tua saya selalu menekankan pentingnya belajar sastra dan menghafal, karena itu hampir lima tahun lamanya saya hanya belajar ilmu sastra dan senantiasa dipaksa menghafal. Mungkin karena paksaan orang tua lama kelamaan saya dapat menyelami keindahan dari sastra dan saya sangat menyukainya. Tentu saja kalau yang Aki maksudkan sembarang guru, tentu saya punya. Beliaulah yang mengajari kesusastraan pada saya.”
“Maksudku dari mana kau mengetahui semua hal yang… kupikir aneh dan agak mustahil itu?”
“Formasi barisan tadi?”
“Benar.”
Jaka terpekur sesaat, satu hal yang ia sukai adalah hidup dengan hati yang jujur, dan tentunya menjawab dengan jujur pertanyaan orang, tetapi ada kalanya harus ada yang disembunyikan. Apalagi kalau sudah menyangkut rahasianya, sungguh terasa berat dilidah, tetapi iapun kini memutuskan untuk menjawab dengan jujur—seluruhnyakah? Entahlah!
“Saya menemukannya di perpustakaan keluarga. Jangan tanya saya dari mana datangnya kitab-kitab itu. Sebab tugas saya saat itu hanya mempelajarinya dan mendalaminya saja.”
“Tugas?”
“Oh, istilah tugas merupakan kewajiban yang saya buat untuk diri saya sendiri, supaya bersemangat belajar.”
Ki Lukita tidak menanggapi, dia hanya menggumam pendek.
“Dan ada satu hal aneh yang menjadi pertanyaan saya, hingga kini.”
“Apa itu?”
Jaka tercenung sampai beberapa lama, dan akhirnya ia mengatakan juga. “Awal mulanya terjadi saat usia saya menjelang dua belas tahun,” Jaka memutuskan menceritakan sekelumit persoalan yang mengganggu benaknya. “Secara tidak sengaja saya menemukan sebuah kitab di perpustakan keluarga, karena saya pikir kitab itu merupakan kitab sastra kuno, maka dengan bersemangat saya pelajari. Dalam waktu satu bulan kitab itu sudah selesai saya hapal, namun belakangan saya tahu kalau kitab itu tidaklah lengkap karena bagian depannya sengaja disobek, karena penasaran saya mencari bagian pertama dari kitab itu. Singkatnya saya menemukan bagian depan kitab itu tanpa sengaja di gudang itu juga, dan ternyata baru saya sadari kalau kitab yang saya baca merupakan kitab ilmu silat,” tutur Jaka bercerita, tentu saja tak mungkin ia ceritakan semuanya, dan kebenarannya mungkin perlu diragukan? Entahlah, itupun hanya Jaka yang tahu.
“Apa nama kitab itu?’ tanya Aki Lukita tertarik.
“Tidak jelas Ki, hanya saja di sampul kitab itu tertera kata Bola, dan beberapa huruf yang tidak jelas.”
Mendengar penjelasan itu, wajah Aki ini berubah, “Apakah kitab itu memuat pelajaran bersemadi secara tergantung dan mengutamakan peringan tubuh?”
“Eh, bagaimana Aki tahu?”
Dari ucapan Jaka tentu saja Aki ini tahu kalau dugaannya memang benar. “Hanya sekedar tahu saja, dulu waktu aku masih muda ada seorang kenalan dari sobatku yang memiliki ilmu silat lihay sekali. Nanti saja kuceritakan, sekarang bagaimana kelanjutannya?”
“Karena tertarik, maka saya berniat mempelajari seluruhnya, dan dalam tempo satu tahun saya berhasil menguasainya, hanya saja dalam kitab itu dikatakan kalau ingin melatihnya tidak diperbolehkan untuk diketahui orang, maka apa yang saya pelajari banyak kelemahan di sana sini.
“Kemudian tanpa sengaja, kembali saya menemukan dua kitab yang kelihatannya sudah kuno. Kitab pertama menuliskan berbagai macam pengetahuan mengenai barisan gaib,”
“Jadi kau menemukannya setelah menemukan kitab Bola itu?” potong Ki Lukita bertanya.
“Benar,” jawab Jaka.
Ia kembali melanjutkan, “…kalau tidak salah dalam kitab itu hanya memuat tujuh catatan barisan gaib saja, namun membuat banyak penjelasan tentang formasi barisan lain—dan Lima Langit Menjaring Bumi termasuk salah satunya. Karena dalam kitab itu menuliskan bahwa tujuh barisan itu adalah sebagian dari barisan yang pernah merajai formasi barisan, dan sangat ditakuti tiap insan persilatan. Dalam kitab itu menyebutkan bahwa; barisan kuno itu jarang diketahui orang, kecuali orang itu adalah para ahli formasi barisan, dan keturunan atau murid dari salah satu Tujuh Malaikat Gunung Api. Karena itu saya sangat terkejut melihat dalam rumpun bunga tertanam unsur barisan gaib, yang katanya mengejutkan orang persilatan…” Saat itu Jaka memandang wajah Aki Lukita dalam sekejap. Agaknya sang Aki tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.
“Lanjutkan ceritamu, setelah kau bercerita barulah gantian aku bercerita…” ujar Aki ini sambil tertawa.
“Maaf…” sahut Jaka tersipu karena maksud hatinya ketahuan, pemuda ini memang ingin tahu dari mana Aki itu bisa membuat barisan gaib Lima Langit Menjaring Bumi.
“Karena saya sangat tertarik, maka kitab itu saya pelajari sampai tuntas. Seluruh perubahan dan bagaimana kelihayannya, saya ketahui dengan jelas.”
Jaka berhenti sesaat, dia memutuskan apakah akan menceritakannya atau tidak, akhirnya dia memutuskan untuk bercerita sekelumit saja. “Kemudian pada kitab kedua tercantum ilmu pengobatan, dalam sampulnya tertulis Selaksa Racun, Selaksa Dewa, Selaksa Malaikat, Selaksa Hidup Mati. Kitab pengobatan itu tebal sekali, mungkin sampai satu jengkal. Saya menguasainya lebih lama dari yang lain, hampir satu setengah tahun.”
“Oh…” Ki Lukita terperanjat, sekalipun pemuda didepannya membual, tapi kabar berita adanya kitab pengobatan itu bukanlah suatu kabar yang beredar murahan. Hanya angkatan sesepuh saja yang masih ingat adanya kitab itu. Tapi bagaimana pemuda itu tahu? Seandaianya dia berkata benar, berarti dibalik semua itu masih ada latar belakang persoalan yang rumit. Jika Jaka berbohong, dari mana di tahu adanya kitab itu? Lalu apa motifasi pemuda ini menceritakan pada dirinya? Apa keuntungannya? Pikir punya piker, kakek ini merasa Jaka tidak memiliki keuntungan dengan menceritakannya. Ki Lukita menghela nafas panjang perlahan-lahan, sungguh tidak kecil kejutan yang dituturkan Jaka.
“Setelah selesai menguasainya, timbul keinginan saya untuk berkelana agar bisa memanfaatkan tiga kitab yang pernah saya pelajari. Tapi orang tua saya melarang. Saya malah dijodohkan dengan gadis yang konon tercantik di kota, karena saya jenuh dan bosan dengan kondisi yang selalu serba mudah dicapai tanpa tantangan—maksud saya—semuanya begitu lancar. Pendek kata tinggal kujentikkan jari, apapun bisa dipenuhi, hidup seperti itu tidak membuat hati nyaman. Maka saya memutuskan untuk menentukan jalan hidup saya sendiri. Setelah memutuskan pertunangan, saya pergi…”
“Bagus-bagus sekali,” ujar Aki ini tertawa kering, maklum saja dia masih terkesima dengan kitab-kitab kuno, yang dituturkan Jaka.
“Dan begitulah… akhirnya saya merantau kesana kemari, saya berharap dapat menjumpai peristiwa-peristiwa hebat, seperti yang ditulis dalam kitab syair, tentang pertarungan, tentang kisah roman, tentang semuanya…” sambungnya lagi—tentu saja itu tidak sepenuhnya benar.
Tapi diam-diam Jaka heran, kenapa ia mau bercerita begitu gambling, apalagi yang ia ceritakan termasuk rahasia besar dunia persilatan (kalau mau disebut begitu). Apa mungkin karena penampilan Ki Lukita bisa membuat orang mempercayakan ‘sesuatu’ padanya? Entahlah, yang jelas pemuda ini merasa tidak ada salahnya menceritakan sekelumit dirinya pada orang tua itu. Perkara apakah keputusannya salah, itu urusan nanti!
”Hm…” suara Ki Lukita membuatnya tersadar dari pikiran yang berbelit-belit. “Jadi kau sama sekali tidak memiliki guru?” tanya Aki itu menyimpulkan.
“Hakikatnya selain guru sastra, saya memang tidak memiliki guru lain.”
“Apakah kau membekali senjata saat merantau?”
“Bisa dibilang ada bisa dibilang tidak, betapapun saya tidak suka berkelahi dan saya juga tidak suka melukai orang karena itu saya lebih suka tak bersenjata. Tapi beberapa waktu lalu saya lebih merubah kebiasaan, saya menggunakan tongkat sebagai senjata, ya… hitung-hitung tongkat tersebut bisa membantu kalau ada kejadian di luar dugaan.”
Mendengar uraian pemuda itu wajah Aki ini terlihat riang.
“Lalu dalam perantauanmu itu apa yang pernah kau perbuat?” tanya Aki ini lagi.
Mendengar pertanyaan Aki itu, pemuda ini ragu apakah perlu dia ceritakan kejadian sesungguhnya atau tidak sama sekali. Setelah menimbang beberapa saat dia memutuskan untuk tidak menceritakannya.
“Ah, saya hanya mondar-mandir kesana kemari, kadang kala menetap di sebuah kota untuk berapa lama lalu meneruskan perjalanan kembali.”
Aki itu manggut-manggut. “Oh ya, mengenai ceritamu tadi, aku sangat tertarik dengan cerita tiga kitab yang kau temukan, apakah setelah kau pelajari seluruhnya lalu kau musnahkan?”
“Eh, Aki tahu hal itu?” pemuda ini malah balas bertanya, kelihatannya begitu polos.
“Hh…” Aki Lukita menghela nafas panjang. “Aih, benar-benar anak yang baru turun gunung,” pikirnya sambil menggelang kepala. “Coba kalau orang lain yang dia temui, mustahil tidak akan kepincut mendengar tiga kitab yang menggemparkan insan persilatan itu.”
“Ada apa Ki?”
“Tahukah kau mengapa kau harus cepat-cepat memusnahkannya?”
“Saya tidak tahu, tapi pada tiga kitab itu selalu disinggung bahwa setelah saya dapat menguasai bab pertama atau selanjutnya, bab itu harus dibakar musnah. Menurut beberapa orang tua, bahwa mempelajari sesuatu itu, berarti; sesuatu itu adalah guru kita, karena kitab itu menganjurkan begitu maka sayapun tidak membantah, lagi pula saya pikir alasannya bisa dipahami.”
“Jadi kau sama sekali tidak tahu alasan sebenarnya?” Ki Lukita bertanya dengan menekankan pada kata terakhir.
“Hm…” Jaka berpikir sejenak. “Saya pikir mungkin sebagai cambuk, sebab bagi orang yang mempelajari tidak dengan serius biarpun sudah hafal tentu akan lupa kembali. Karena disebutkan bahwa; tiap bab yang sudah dipelajari harus dibakar, maka mau tak mau bab tersebut sudah dihapal mati.”
“Memang itu salah satu alasannya, apakah kau tahu alasan yang lain?”
“Tidak.” sahut Jaka singkat.
“Sebab kitab itu merupakan mustika pusaka yang banyak diperebutkan orang,”
“Lho…” pemuda ini terperangah-begitu kelihatannya.
“Tahukah kau bahwa ilmu silat yang kau pelajari merupakan salah satu pusaka dunia persilatan?”
“Hah, masa?” Ujar pemuda, beberapa tahun berkelana, tahulah dirinya bahwa di dunia persilatan ada dimaklumkan sembilan ilmu sakti, yang katanya menjadi mustika tak terkalahkan—Jaka selalu mencibir bila mendengar kabar itu. Tapi selama itu dia tidak tahu apa nama sembilan mustika ilmu silat—atau mungkin Jaka memang enggan mencari tahu. Bahwa dia menguasai ilmu yang dia cibir, sungguh di luar dugaan.
“Kalau dari keteranganmu tadi, ilmu yang kau pelajari adalah Hawa Bola Sakti.”
“Hawa Bola Sakti?”
“Benar, ilmu itu termasuk dalam sembilan mustika ilmu silat dunia persilatan. Karena kau memperolehnya secara kebetulan, maka kuanjurkan padamu jangan sekali-kali memperlihatkan ilmu itu sembarangan. Sebab bila orang lain tahu, maka para sesepuh dan petugas yang menjaga sembilan mustika ilmu silat akan memburumu dan meminta kembali ilmu silat itu.”
“Masa begitu serius?” ujar pemuda ini dengan wajah tercengang, ia tahu arti dari ‘meminta kembali ilmu silat’ tak lain adalah tindakan memunahkan kepandaiannya. Tentu saja tindakan itu kelewatan, tapi mau bagaimana lagi?
“Tentu saja serius, bahkan orang dari golongan hitam dan golongan putih selalu mengindahkan peraturan tersebut tanpa kecuali. Bahkan ada peraturan dari Dewan Penjaga Sembilan Mustika, bahwa bagi siapa saja yang mengetahui dan dapat menangkap seseorang yang bisa menggunakan sembilan ilmu mustika tanpa sepengetahuan Dewan Penjagaan Sembilan Ilmu Mustika, maka orang itu akan diberi imbalan sejurus ilmu sakti…”
“Wah, kalau begitu aku tidak boleh memakainya sembarangan.” Gumam Jaka.
“Benar sekali,”
“Untung sekali selama ini saya tidak pernah menggunakannya walau sekali.” Tentu saja berkata seperti itu untuk membuat Ki Lukita tenang. Memang ia tak pernah mengeluarkannya… selain tiga kali, atau mungkin lebih? Entah juga, dia memang enggan menghitung. Sebab dihitung ataupun tidak, bagi Jaka tak ada bedanya.
“Syukurlah.” Sambut Aki Lukita.
“Ki, apakah ilmu yang ada terdapat kata Sumsum dan Salju termasuk dalam sembilan ilmu mustika?” tanya Jaka lagi.
“Apa kau bilang?” seru Aki ini terlonjak kaget. “Kau menguasai Hawa Dingin Penghancur Sumsum dan Badai Gurun Salju?”
“Apa itu nama lengkap ilmu dengan potongan kata Salju dan Sumsum?”
Ki Lukita memandang wajah Jaka tak berkesip sambil mengangguk.
“Ya, saya memang menguasainya, keduanya termasuk sembilan ilmu mustika?”
Aki itu menggelang-geleng perlahan. “Anak macam apa dia ini? Kenapa ilmu yang begitu rumit dan belum tentu sempurna walau dipelajari dua puluh tahun bisa dia kuasai? Ada dia hanya membual?” pikir Ki Lukita.
“Syukur jika bukan…” gumam pemuda ini.
Ki Lukita menyeringai, antara rasa percaya dan tidak. “Dua ilmu itu justru merupakan bagian dari sembilan pusaka ilmu silat.”
“Kenapa Aki tadi menggeleng?” tanya pemuda ini heran.
“Aku menggelang karena tak habis pikir, cara bagaimana kau mempelajari tiga ilmu silat yang amat rumit itu.”
Jaka hanya mengangkat bahunya. “Saya belajar sama seperti orang lain belajar itu saja.” Jawab Jaka. “Jadi bagaimana baiknya?” tanya pemuda ini merasa diluar dugaan.
“Tak usah takut, aku tak bakal melaporkanmu.”
“Bukan begitu maksud saya…”
“Aku paham, terus terang saja kukatakan padamu, kalau aku adalah satu orang yang menguasai satu dari sembilan pusaka ilmu silat.”
“Ah…” desah Jaka terkejut. “Aki mempelajari ilmu apa?”
” Tapak Naga Besi.” sahut Aki itu datar.
“Oo… tapi kenapa Aki membuka rahasia pada saya?” tanya Jaka beruntun, sebab ia merasa sangat janggal. Masa baru kenal belum lagi setengah hari, sudah bicara blak-blakan, dan pembicaraan mereka menyangkut rahasia besar pula.
Aneh bukan?
Kakek wajah ramah itu tertawa ringan, “Aih, kau tidak tahu hati orang tua. Jika kau melihat ada orang yang sudah kau ketahui hitam-putihnya, tentu kau akan mudah menentukan sikapmu pada siapapun. Begitu juga aku, aku yakin dengan penilaianku padamu—semoga begitu. Dan sesungguhnya yang harus bertanya seperti kau ini adalah aku, mengapa kau begitu percaya padaku? Apa kau tidak kawatir kalau pusaka-pusaka yang pernah kau pelajari akan kurebut atau beritanya akan kusiarkan? Apa kau tidak kawatir kalau wajah ramahku merupakan kedok untuk memancing keluar semua rahasiamu?”
Jaka tertegun mendengar perkataan Ki Lukita, pemuda ini menggaruk kepalanya. “Saya memang kawatir. Terus terang saja, saya juga berpikir demikian, tapi entah kenapa saya percaya begitu saja… mungkin karena sifat jelek saya.”
“Sifat jelek?”
“Kadang orang menganggap saya bodoh, karena selalu berpikir tiap orang bisa dipercaya. Kadang kala, bahkan menceritakan hal-hal yang tidak perlu, yang mungkin bisa dikategorikan rahasia.”
“Kau tidak takut dengan sikap itu bisa menjadi bumerang bagimu?” tanya Aki ini heran, rasa sukanya pada pemuda itu bertambah lagi.
“Tentu saja takut, tapi saya selalu berkeyakinan jika saya berada dipihak yang benar, apapun rencana orang pasti bisa saya atasi. Entah itu keyakinan berlebihan, atau lantaran saya belum pernah mengalami masalah lebih pelik. Tapi selama ini perhitungan saya belum pernah salah, semoga saja…”
“Belum pernah salah?”
“Syukurlah sejauh ini, belum sama sekali.” Ujar Jaka menegaskan, tanpa bermaksud sombong.
Kembali Aki ini tertegun, belum pernah salah sama sekali? Sungguh kata-kata yang kedengaran sombong itulah, yang ingin dia tanyakan. Dengan demikian, Jaka seperti mengatakan kalau sudah banyak hal yang membuat dirinya waspada, selalu bisa menaklukkan orang yang menjebak dirinya? Apa memang benar begitu? Sangat banyak pertanyaan yang mungkin akan dilontarkannya, tapi dia tahu itu kurang etis, tak sopan, dan lagi pula jika ia menanyakannya, sama saja dia ingin tahu seluk beluk si pemuda, itu kan serupa orang memancing ikan tapi tak pakai umpan? Atau bahkan tidak pakai kail? Mana bisa?
“Mudah-mudahan memang begitu seterusnya.” Akhirnya ia cuma bisa mengatakan itu saja.
“Saya harap demikian, tentu saja bukan lantaran mengandalkan keberuntungan semata.”
Ki Lukita tertawa menanggapi perkataan Jaka, namun belum lagi ia bicara, Jaka sudah menyambung pembicaraan semula.
“Ki, selain keempat ilmu yang sudah Aki sebutkan, bagaimana dengan ilmu lain yang termasuk sembilan mustika pusaka silat?”
“Masih ada Ilmu mustika Api Pembakar Dunia, Pasir Awan Hitam, Naga Beracun, Hawa Mayat Tanpa Batas dan Jari Maut Tanpa Tanding.”
“Jadi, bisa dikatakan keselamatan saya senatiasa terancam jika menggunakan ilmu mustika tanpa seijin Dewan Penjaga? ”
“Tentu saja, kalau kita harus pikirkan akibat buruknya, keselamatanmu senantiasa terancam! Jadi berhati-hatilah bertindak…”
Mendengar ucapan Aki, pemuda ini tidak menjadi cemas, kelihatannya dia tenang-tenang saja, malah tersenyum pula. “Air dimanapun juga tetap air, kenapa musti kawatir? Kalau memang keadaannya begitu rupa, aku tidak perlu cemas,” gumam pemuda ini.
“Tak perlu khawatir?” ujar Aki itu tak mengerti.
“Ah,” pemuda ini tersadar bahwa Aki Lukita mendengar ucapannya. “Tentu saja serupa air…”
“Serupa air?”
“Benar, bisa atau tidak bisa ilmu silat, serupa orang diam tak bergerak, dua orang yang berbeda itu sama-sama perlu makan dan minum.”
Ki Lukita melegak. “Kau maksudkan tidak perlu kau menggunakan ilmu silat?”
Jaka tertawa, “Hampir benar,” mendengar jawaban Jaka, merahlah wajah Ki Lukita, sungguh dia merasa gemas. “orang makan-minum tidak perlu ilmu silat, orang tidur juga tidak memerlukannya. Bukankah lebih mudah menghindari apapun jika memang hati kita ingin menghindarinya?”
“Oh, apa kau bermaksud mengatakan kalau tanpa menggunakan ilmu silat kau bisa hidup di dunia persilatan?”
“Benar, maksud saya, sayangnya jawaban saya memang seperti itu.”
“Apa kau gila?” tanya Ki Lukita dengan kening berkerut.
Jaka tertawa lagi, sungguh, diapun merasa heran dengan situasi akrab yang tercipta diantara mereka. Padahal berkenalan satu jampun belum ada “Tentu saja saya tidak gila. Maksud saya, dengan menghindari segala macam urusan, kita tidak perlu berkelahi? Apa susahnya?”
Ki Lukita tercengang, apalagi istilah bertarung mempertahankan hidup—di rimba persilatan—dirubah ‘berkelahi’, tentu saja itu merendahkan arti mempertahankan jiwa. “Kau ini aneh. Memang ada beberapa orang berpikiran begitu, dan ada yang lolos dari banyak persoalan saat ia bekecimpung di dunia persilatan. Tetapi, ada sementara urusan yang tak perlu kau urusi, mau tak mau kau harus turut campur.” Kata Aki Lukita sambil tertawa. “Kau menguasai ilmu silat, tetapi kau tak mau berkelahi, suatu saat, ada orang yang membutuhkan pertolonganmu, apa kau hanya diam saja?”
“Tentu saja tidak, saya kan punya mulut, tinggal berteriak minta tolong saja kan beres?” ujar Jaka sambil tertawa.
“Sinting…” seru Ki Lukita merasa gemas. “Kalau begitu apa gunanya kau belajar ilmu silat?”
“Tentu saja ada gunanya, kalau tidak terlihat orang, kita bisa berolah raga dengan ilmu silat untuk membuat tubuh sehat, bukankah itu lebih berguna?”
“Busyet!” seru Ki Lukita sambil terbahak. Sungguh bercakap-cakap dengan Jaka, dirinya merasa dua puluh tahun lebih muda, gregetan benar hatinya, mana geli, jengkel, tapi juga kagum, sungguh dia merasa gemas dengan pemuda itu.
“Mungkin kau memang tidak ingin berkelahi, tapi apakah bukan mustahil orang mengajak kau berkelahi?” Ki Lukita kembali mendebat.
“Benar juga…” ujar pemuda ini, membuat Aki ini tersenyum merasa menang. “Tapi kalau kita selalu berbuat baik, memangnya ada orang yang mengajak kita berkelahi?”
Ki Lukita melongo mendengar jawaban Jaka. Ia menggeleng kepalanya merasa gegetun, benar-benar anak sialan, pikirnya gemas. “Kebaikan menurutmu, tapi mungkin juga menjadi kejahatan bagi orang lain.”
“Masa? Misalnya menolong orang yang hendak dirampok termasuk kejahatan?” Jaka juga menjawab tak mau kalah.
“Tentu saja tidak, tapi dari pandangan si perampok itu, kau telah mencampuri urusannya, dan kau dipandang jahat oleh penjahat itu.”
Jaka tertawa mendengarnya. “Logika bengkok.” Ujarnya geli. Ki Lukita juga tertawa—tertawa masam, mendengar ucapan Jaka. “Tapi jika kita menghindar dan melarikan diri kan tidak apa-apa?”
Mendengar ucapan pemuda didepannya, Aki Lukita menghela nafas perlahan, “Sungguh pemuda yang naif, aku malah khawatir dia lebih banyak celakanya dari pada selamat kalau cara berpikirnya demikian.” Ujar Aki ini dalam hati, rupanya dia mengalah.
“Kau bicara seperti itu seolah memiliki pegangan kuat. Apa kau memiliki sesuatu yang bisa kau andalkan untuk menghindari perkelahian?” Aki ini bertanya sambil lalu, tanpa bermaksud menanggapi ucapan Jaka tadi—dan rasanya dia juga enggan mendebat Jaka lagi.
“Memang benar,” jawaban pemuda ini di luar dugaan Ki Lukita. “Saat mempelajari formasi barisan kuno, terpikir oleh saya untuk menciptakan sebuah gerakan langkah untuk menghindari serangan. Saya rasa itu lebih bermanfaat dari pada menghamburkan tenaga untuk bertarung.”
Kali ini, ucapan Jaka benar-benar membuat Ki Lukita kaget, sebab untuk menciptakan sebuah ilmu biarpun inti sarinya diambil dari ilmu yang sudah dikuasai, bukanlah pekerjaan gampang. Memang banyak juga orang yang bisa menciptakan gerakan-gerakan silat, tetapi jika gerakan itu tak mampu dilakukan dan kualitasnya pun rendah, jika digunakan bertarung, bukankah serupa ular cari penggebuk?
Lagi pula sampai saat ini yang dapat menciptakan hal seperti itu hanya tokoh besar yang kerjanya bersemadi untuk mendapatkan ilham dalam menciptakan ilmu, sudah tentu ilmu itu berkualitas tinggi. Tapi dengan entengnya anak muda yang baru berusia dua puluh tahun itu mengatakan bahwa dia mencipta¬kan ilmu langkah? Segampang itukah? Memangnya seperti orang jualan pisang?
Tapi jika melihat fisiknya, dan dari percakapan mereka tadi yang menyiratkan kecerdikan pemuda itu, dia yakin Jaka merupakan pemuda berbakat. Tapi bakat tidak cukup untuk mencipta suatu ilmu berkualitas tinggi, sebab penciptaan seperti itu juga harus membutuhkan ketenangan jiwa, karsa, dan rasa yang sempurna. Dan kemungkinannya kini hanya fifty-fifty, apakah ilmu yang diciptakan Jaka tinggi kualitasnya atau rendah?
Hakikatnya yang menilai apakah suatu ilmu ciptaan itu tinggi atau rendah, hanya lawan yang pernah bergebrak dengannya saja yang bisa menilai. Lalu apa kata lawan-lawan Jaka? Sungguh inilah pertanyaan menggelitik yang ingin segera diketahui jawabannya.

Aki Lukita tertegun sampai sekian lama. Saat memperhatikan Jaka dengan benar-benar barulah hatinya dapat diyakinkan, mata pemuda itu jernih dan menyorot hangat, itu menandakan Jaka adalah pemuda cerdas, dan menurutnya juga berjiwa terbuka—itulah point terpenting, pikir Ki Lukita, berjuwa lurus dan terbuka!
Pernahkah kau mendengar teori hakikat ilmu, mungkin bisa juga disebut sebagai tataran menuju satu tingkat lebih tinggi, yakni; Jika jiwamu lapang, apapun yang kau kerjakan selalu membuahkan hasil terbaik, dan jika hatimu lurus, apapun yang kau pelajari akan sampai pada tujuan akhir.
Terlepas dari ujian apa yang diberikan Tuhan bagi orang berjiwa lurus, jika dia berhasil melewatinya dengan ikhlas dan sabar, maka sampailah dia pada suatu karuni yang besar, dan lebih besar lagi. Tapi, bukan hal mudah untuk mencapai tataran itu. Berapa banyak orang yang sudah hampir menyentuh tataran itu kembali terlempar dari awal, saat itu mereka tergoda, harta, wanita, tahta, dan banyak alasan lain…
Mungkin banyak orang, sama berpikir kalau pada saat mencapai tataran menentukan, suatu ketika ia ditimpa azab—cobaan—dari situlah baru bisa diketahui, apakah dia akan terus maju atau mundur, jika maju apakah ‘sesuatu’ yang diperolehnya berkualitas atau tidak. Hal inipun bersangkutan dengan penciptaan sebuah ilmu; semakin kau sulit untuk melangkah maju, semakin terbuka sebuah hasil maksimal yang bisa kau raih. Masih banyak hal yang menyangkut tentang penciptaan sebuah ilmu, dan itu sangat rumit.
Tapi dengan mudahnya seorang ‘bocah’ berkata, ‘…terpikir oleh saya untuk menciptakan…’ sungguh tidak bisa dipercaya.
Berpikir bolak-balik seperti itu, membuat kepala Ki Lukita pusing, apa perkataannya benar, bisa dipercaya? Dia bertanya dalam hatinya berulang kali. Seharusnya, Ki Lukita bisa saja mengutarakan pertanyaan itu, tapi rasanya berat, lagipula kurang etis. Tapi akhirnya Ki Lukita hanya berkata,
“Kalau begitu bagus…” Memang cuma itu yang bisa dikatakannya, memangnya dia bisa berkata apa lagi, apa dirinya harus berkata; Ah, yang benar? Ah, mana mungkin? Justru ucapan seperti itu akan meragukan kapasitas dirinya, sebagai seorang sesepuh yang waspada. Perkara orang mau bicara bohong atau tidak, bukan urusannya. Berpikir begitu, redalah rasa penasaran hatinya.
Jaka manggut-manggut. “Saya pikir juga begitu Ki, selama berkelana saya pernah menghadapi beberapa orang, dengan menggunakan olah langkah itu, dan berhasil. Senang rasanya, jerih payah sebulan memeras tenaga dan pikiran, ternyata menghasilkan manfaat besar. Dengan begitu, bukankah saya tidak perlu memukul orang?”
Aki Lukita mengangguk. Kalau tadi dia sudah cukup kaget, kali ini ‘terpaksa’ mengurut dada, cuma sebulan? Setengah tahun mencipta sebuah ilmu, termasuk manusia jenius, tapi dalam jangka sebulan? Manusia macam apa dia? Seharusnya dengan kepintaran dan hati lurus seperti itu, pemuda ini tentunya tahu, mana yang harus ia lakukan dan mana yang tidak. Tapi dengan pedoman bahwa ia tidak mau menyakiti orang lain, mungkin saja siasat licik lawan yang dia ketahui, bukannya dihindari, tapi mungkin saja dia sengaja masuk dalam siasat lawan. Ah, anak yang rumit! Pikirnya.
“Jika dilihat dari segi menghemat waktu, mungkin kau kurang memperhatikan,” kata Aki ini melanjutkan kritiknya.
“Maksud Aki?”
“Kau tidak ingin memukul dan melukai lawanmu, tapi apakah lawanmu juga akan melakukan hal seperti itu? Kalau kau memukul dengan salah satu gerakan dari tiga ilmu pusaka dunia persilatan, bukankah orang akan segera mengetahui? Karena itu tindakanmu yang hanya menghindar saja mungkin akan mendatangkan celaka yang lebih besar untukmu.”
“Ucapan Aki ada benarnya,” pemuda ini merenung sesaat, lalu ia mengela nafas panjang. “Tapi, peringan tubuh saya cukup bagus. Jika saya lari—menghindari musuh saya, kan tak jadi soal.”
Ki Lukita melegak. Anak aneh, pikirnya merasa geli. Bagi kebanyakan jago muda, lari dari lawan adalah pantangan—itu hal hina dan memalukan. Bahkan kebanyakan dari mereka berpendapat; apapun yang menghalangi langkahnya akan dihadapi dengan cara apapun. Ya, sifat khas seorang yang masih hijau. Belum berpengalaman. Tapi Jaka? Dia mengatakan seolah tidak perduli jika orang mengatakan dirinya pegecut, atau penakut. Dengan kata lain pemuda ini tak perduli dengan harga dirinya. Anak yang unik, pikir Ki Lukita.
“Bagaimana jika lawanmu bisa mengejar?” Tanya Ki Lukita.
“Ya, kemungkinan ini memang ada. Tapi, jika serangan lawan selalu bisa dihindari, bukankah itu cukup bagus?”
Ki Lukita menggelengkan kepala. “Kau bisa menghindarinya, sudah tentu bagus! Tapi jika suatu saat kau dikejar waktu, apakah seterusnya kau harus melayani pertarungan yang tak berkesudahan itu?”
Jaka tersenyum. “Seandainya saya menciptakan jurus serangan dengan dasar ketiga ilmu pusaka, apakah ada kemungkinan orang akan tahu induk ilmunya?”
“Tentu saja, tetapi kau tak perlu kawatir, sebab kemampuan untuk mengetahui sebuah gerakan bersumber dari ilmu apa, hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya.” Sambung Ki Lukita. “Dan kukira itu jarang dimiliki kebanyakan orang persilatan.”
Jaka manggut-manggut. “Terima kasih atas pemberitahuannya. Pendek kata, saya akan berhati-hati dalam semua tindakan. Sekali lagi terima kasih.”
Aki ini tertawa mendengar ucapan pemuda didepannya. “Kalau kau berperinsip berhati-hati dalam tiap tindakan, itu juga lebih baik.” Sahut Aki Lukita agak mengambang perkataannya, sepertinya Aki ini sedang mempertimbangkan sesuatu.

”Ki…”
“Ada apa?”
“Menurut Aki apakah tujuh barisan dan ilmu pertabiban yang saya dapatkan juga merupakan pusaka berharga?” Jaka bertanya serupa orang menguji.
“Tentu saja, anak bodoh!” seru Aki Lukita sambil tertawa lebar. Jaka tidak merasa tersinggung, justru ia merasa heran kenapa hatinya terasa hangat, seolah kakek itu sama seperti orang tua sendiri.
Melihat Jaka diam saja, Ki Lukita tersenyum ramah, ia melanjutkan ucapannya. “Apakah kau tidak bisa menebak dari pelajaran yang terkandung didalamnya? Tujuh formasi barisan itu memang termasyur pada jamannya, sebagai tujuh barisan kuno yang berdaya gaib tak tertembus. Aku tidak tahu bagaimana hebatnya kelima barisan yang lain, tapi kalau Lima Langit Menjaring Bumi termasuk diantaranya, dapat diduga lima barisan lainnya benar-benar hebat…”
“Lima?” potong Jaka bertanya.
“Ya, kami menguasai dua macam barisan.”
“Hanya dua? Kenapa bisa begitu?”
“Banyak lika-likunya, lagi pula mempelajari ilmu barisan jauh lebih sulit dari mempelajari ilmu silat. Karena ilmu barisan termasuk ilmu pasti, juga berunsur mistik, gaib. Kau tahu perbintangan?”
Jaka mengangguk. “Sedikit…”
“Begitulah prinsip ilmu barisan dibuat.”
“Oo…”
“Sedangkan,”
“Tunggu, tadi Aki katakan ‘kami’ apa maksudnya?” tanya Jaka memotong penjelasan Aki itu.
“Kenapa kau harus bertanya? Kau bisa menebak sendiri, atau bahkan bisa menyimpulkan sendiri, bukan? Malah bisa jadi kau sudah tahu sejauh yang harus diketahui?” ujar Ki Lukita tertawa penuh kemenangan.
Jaka menghela nafas. “Mungkin…” sahutnya tanpa semangat.
“Kulanjutkan penjelasanku,”
“Silahkan.”
“Sedangkan kitab pertabiban yang kau dapatkan, juga merupakan pusaka luar biasa. Kau tahu, dulu, pada masa dua abad silam, dunia persilatan dilanda kerusuhan yang luar biasa besar,”
“Sebab apa Ki?” kembali Jaka memotong ceritanya, kelihatannya dia merasa tertarik.
“Tentu saja disebabkan kitab yang kau pelajari itu! Tapi saat itu, kitab yang kau pelajari belum lagi ada, sumber dari kehebohan adalah munculnya seorang tabib yang amat piawai di bidangnya, juga amat lihay dibidang tata formasi barisan. Ada pameo memuji kehebatan si tabib, yakni; ‘asal masih tersisa nafas, tiada penyakit yang tidak bisa disembuhkannya’. Namun tabib itu memiliki sikap sangat aneh, ada kalanya ia tidak mau mengobati orang, padahal sakit yang dideritanya belum tergolong parah. Tiada satu pun orang yang mengetahui sebab apa tabib tersebut kadang tak mau mengobati orang. Hingga puluhan tahun kemudian orang baru tahu apa sebab tabib itu tidak mau mengobatinya, alasannya cuma satu, yakni dia tidak ingin menentang takdir! Sebab selain mengetahui pertabiban, dia juga sangat lihay dalam perbintangan, dan pandai meramal. Sehingga ia tahu pasien mana yang harus di sembuhkan dan mana yang tidak perlu, karena kematian memang sudah takdirnya,”
“Takabur…” gumam Jaka.
“Ya, namanya juga tokoh bertabiat aneh. Walau ramalannya tak selalu benar, tapi ada juga yang tepat.”
“Tapi apa yang membuatnya menjadi kerusuhan? Lalu apa sebabnya kitab tabib itu disebut Selaksa Racun-Selaksa Dewa-Selaksa Malaikat-Selaksa Hidup-Mati?”
“Tunggu saja, nanti toh aku ceritakan… kalau cuma kejadian macam itu tentu belum seberapa menghebohkan orang. Pada saat tabib itu menjelang tua, dia mengambil tiga orang anak berusia lima, enam, dan delapan tahun, untuk dijadikan murid. Singkat cerita setelah murid-muridnya dewasa, tabib itu melepas mereka untuk berkelana mencari pengalaman. Mereka sudah menguasai semua ilmu pertabiban sang guru. Tapi, kadang yang disebut- bahwa guru tidak menurunkan semua kepandaian, ada kalanya benar. Ternyata sang tabib ini menyisakan tiga bagian ilmunya. Saat tiga orang muridnya tahu bahwa sang guru belum mengajarkan semua ilmunya, hati mereka jadi sirik. Namun diluarnya mereka bertiga seperti murid-murid alim yang patuh,”

“Dengan maksud bagaimana, tabib itu tidak mengajarkan semua ilmunya?” pemuda ini memotong cerita.
“Karena dia kenal watak murid-muridnya. Murid tertua memiliki watak angkuh dan sombong, murid kedua licin, dan licik sedangkan murid ketiga pendendam, dan kejam. Tentu saja sejak mereka kecil, sang tabib sudah tahu watak dasar mereka. Sejak semula ini memang berpegang teguh pada prinsip tidak ingin menentang takdir, tapi melihat tiga anak yang amat berbakat itu, dia memutuskan menentang kebiasannya.”
“Maksudnya, tabib itu sengaja mendidik mereka bertiga agar semua sifat jelek mereka hilang?”
“Benar! Hanya saja, perhitungan manusia memang tidak bisa mengungguli takdir Tuhan. Bukan saja watak tiga muridnya jadi hilang, justeru apa yang selama ini diajarkan sang tabib menjadikan ketiga muridnya menjadi orang yang sanggup tersenyum diatas derita orang lain, pendek kata mereka luar biasa munafik. Diluarnya saja mereka tersenyum dan bermanis muka, padahal didalam hatinya memendam kebencian yang luar biasa, orang persilatan mencaci kaum munafik macam itu dengan pameo menyembunyikan golok dibalik senyum… setelah dua tahun turun gunung, dalam dunia persilatan timbul badai besar yang amat mengerikan,”
”Apakah ditimbulkan tiga murid tabib itu?”
“Benar, memang tiga orang itulah yang menyebabkan semua kerusuhan. Murid tertua menjuluki dirinya Tabib Malaikat, murid kedua Tabib Dewa sedangkan murid ketiganya adalah…”
”Maha Racun?” sahut Jaka dengan mendadak.
“Benar, kau tahu dari mana?” serunya heran.
”Waktu saya membaca kitab pertabiban, kitab itu terbagi dalam lima bab. Bab pertama dinamakan Kehidupan Jalan Untuk Mati; bab kedua Kematian Menguatkan Hidup; bab ketiga tertulis Malaikat Menggenggam Takdir; bab kempat Dewa Menabur Benih Kehidupan; bab terakhir Semesta Maha Racun. Dari cerita Aki, saya dapat mengambil kesimpulan kalau yang menulis bab ketiga adalah murid pertama bab keempat adalah murid kedua sedangkan bab terakhir ditulis murid ketiga…”
Aki itu manggut-manggut, “Kalau menilik judul babnya mungkin saja benar. Tiga orang itu memang sangat tinggi hati dan congkaknya bukan kepalang, tapi jika menilik kelihayan mereka yang amat termasyur, tak heran mereka menyombongkan diri. Aku tidak kaget jika mereka menamakan kitabnya dengan nama muluk-muluk,”
“Kitab?” tanya pemuda ini heran.
“Apakah kau tidak memperhatian bahwa mungkin saja kitab yang kau baca itu sesungguhnya gabungan dari lima buah kitab?”
Jaka berpikir sesaat seperti menimbang sesuatu, lalu mengerutkan kening sejenak, “Rasanya benar, setiap kali saya membaca ulang bab pertama dan kedua, tidak ada hubungan sama sekali, demikian juga dengan bab berikutnya, seperti bagian tersendiri. Lalu bagaimana kelanjutan kisah tadi?”
Dengan menghembuskan asap rokok kuat-kuat, Aki Lukita meneruskan ceritanya. “Tiap orang murid itu berkelana, tapi setelah dua tahun tindakan mereka benar-benar membuat dunia persilatan banjir darah. Rupanya mereka sudah bersepakat dalam tiap tindakkan. Murid tertua mengguncang daerah selatan, murid kedua membuat banjir darah di utara, dan murid ketiga membuat situasi makin rumit didaerah timur, tindakan mereka benar-benar telegas, sayangnya tiada satupun tokoh sakti yang sanggup menghentikan tindakan brutal itu…”
“Eh, bukankah Aki tadi menceritakan kalau guru tiga orang itu tidak memiliki ilmu silat? Bagaimana muridnya bisa membuat situasi jadi tak karuan tanpa seorangpun sanggup mencegahnya?” Pemuda ini bertanya dengan serius.
“Memang mereka tidak memiliki ilmu silat, tapi semenjak kecil guru mereka mengajarkan ilmu perbintangan, ilmu bangunan dan berbagai macam kemahiran yang lain. Dalam dua tahun itu, dengan mengandalkan kecerdasan otak mereka, akhirnya mereka sanggup membuat begitu banyak ragam racun, yang sangat ditakuti kalangan persilatan. Salah satu karya murid tertua adalah Bubuk Pelenyap Sukma, jika ada orang yang terkena benda itu, dalam jangka waktu beberapa hitungan saja takluk! Apa yang dikatakan tuan mereka, tidak dapat ditolak.
“Oh, sejenis obat bius…”
“Benar, tapi lebih sadis.” Ujar Ki Lukita. Lalu ia meneruskan,
“Murid kedua membuat Pil Pembuyar Nyawa, apabila menelan pil ini dapat dipastikan hidupnya berakhir begitu saja setelah mengalami penyiksaan berat selama satu bulan—sungguh mengerikan. Dan murid ketiga menciptakan Racun Sembilan Belas Aroma, kupikir ini racun paling mematikan diantar ketiganya. Siapapun yang terkena, bila ia membaui sesuatu yang agak menyengat, dengan sendiri ia akan gila dan mati perlahan-lahan. Sungguh harus di akui kejeniusan orang-orang itu…”
“Ya, sayangnya terlalu pintar membuat mereka tak sadar dengan perbuatannya sendiri! Hh, mereka tidak memandang sebelah mata orang lain.”
Ki Lukita membenarkan pendapat Jaka.
“Lalu apa reaksi para penguasa dan pendekar silat masa itu?”
Kakek ini mengakat bahunya. “Siapa yang tahu? Kurasa yang mengetahui kisah sebenarnya hanya keturunan orang-orang yang dekat dengan mereka.”
“Apa mereka tak mempunya sanak saudara? Anak atau istri?”
“Entahlah, tidak ada informasi jelas tentang itu.”
Jaka merenung sesaat, dia sangat tertrarik dengan cerita itu. Maklum saja, siapapun orangnya yang tahu ihwal sejarah tentang apa yang dia kuasai, mau tak mau jadi menaruh perhatian besar. Begitu pula dengan Jaka. Tak disangkanya apa yang dia pelajari ternyata begitu berharga.
Ki Lukita kembali bertutur sambil menghela nafas panjang. “Entah apa yang mereka pikirkan, tapi sehebat apapun mereka, manusia bukanlah mahluk abadi. Satu hal yang pasti, kematian pasti mendekat.”
Jaka mengangguk membenarkan.
“Kemunculan mereka bagai badai yang menyapu kalangan pesilat. Hakikatnya para pendekar seperti laron menerjang api saat menghadapi mereka. Beberapa dari mereka terjungkal lantaran jebakan licik, tapi lebih banyak lagi yang menderita lantaran racun.”
“Apa mereka menguasai para tokoh persilatan dengan racun?”
“Mungkin saja demikian, mengenai hal itu aku kurang begitu jelas. Tapi satu hal yang diyakini kebenarannya, sejak pertama kali mereka mencipta racun-racun laknat, belum ada yang sanggup membuat penawarnya.”
Pemuda ini mendesah, antar percaya dan tidak. Maklum, darah muda.
“Tentunya bukan cuma racun-racun itu saja yang mereka ciptakan, banyak lagi bermacam ramuan yang bermanfaat, tetapi lebih banyak bersifat keji.”
“Kalau yang mereka ciptakan kebanyakan racun, apa mereka benar-benar tak terlawan? Mungkin saja para pendekar tak sanggup memunahkan racunnya, tapi mereka bisa menghindarinya?! Apakah saat itu tidak ada satupun cendekia—seorang pemikir yang bisa mengatasi siasat licik dengan siasat pula?”
“Entahlah. Kejadiannya sudah begitu lama, mengenai lika-liku masa lampau, sungguh tidak mudah mendapat kebenarannya. Mungkin kabar yang beredar di luaran sana, lebih banyak bualan dari pada kebenarannya. Mengenai tokoh cendekia, sudah pasti ada. Saat itu sudah pasti banyak pendekar cerdik, tapi sepanjang pengetahuanku, tak satupun dari mereka sanggup mengatasi rencana ketiga saudara seperguruan itu. Pada akhirnya tentu dapat diduga, mereka semua kalah. Kalau tidak mati, tentu menjadi budak. Karena itu dalam dua tahun sejak mereka turun gunung, dunia persilatan benar-benar porak-poranda.”
“Oh…” Jaka tercenung takjub mendengarnya. “Lalu bagaimana dengan guru tiga orang itu, setelah mendengar kabar itu?”
“Tentu saja dia tidak berdaya apa-apa, tapi bukan berarti ia tidak berusaha. Untuk mengantisipasi tindakan tiga orang muridnya itu, satu tahun setelah mereka turun gunung ia sudah mengambil seorang murid lagi. Ilmu pertabiban orang itu sangat hebat, anak muda yang tadinya tidak tahu apa-apa dalam tiga tahun saja memiliki kepandaian sejajar dengan tiga orang murid sebelumnya,”
“Kepandaian sejajar? Maksud Aki dalam hal pertabiban?”
“Ya, juga dalam ilmu silat. Menurut cerita, dalam ilmu pertabiban orang itu, ada sebuah kemampuan membangkitkan semua daya potensi manusia yang terpendam. Karena itu sang tabib mengoperasi otak, dan membobol seluruh jalan darah tubuh murid terakhirnya, tujuannya tentu saja untuk mengeluarkan semua kepintaran dan memunculkan hawa murni dalam tubuh murid keempatnya. Tentu saja prosesnya berbelit-belit, menurut cerita hampir memakan waktu setengah tahun. Ada juga yang mengatakan satu tahun”
“Wah, hebat juga kemampuannya…” gumam Jaka kagum.
“Hebat juga?” seru Ki Lukita mengerinyitkan kening. Sekalipun itu cerita lampau dan terasa pahit jika dikenang, tapi kehebatan tiga gembong ibils dan gurunya itu tidaklah pantas diberi predikat ‘hebat juga’ yang bisa berkonotasi lumayan. “Bagaimana mungkin kau menyebut dedengkot para tabib dengan penilaian seperti itu?”
“Itukan cerita turun temurun, bisa jadi ada lika-liku lain yang sama sekali tidak diketahui. Mungkin saja sumber cerita itu menambah-nambahkan atau mengurangi keaslian cerita siapa yang tahu?”
“Benar, siapa pula yang tahu. Tapi kenapa pula kau bilang hebat juga—lumayan? Rasanya terkesan meremehkan, bagaimanapun juga tabib eksentrik itu sesepuh dunia persilatan.”
“Aki benar, mungkin saja saya kurang hormat kepada para pelaku sejarah dunia persilatan, tapi toh manfaat cerita itu tidak banyak. Paling sebagai peringatan jangan terlalu rakus kedudukan.”
“Ucapanmu memang benar. Ah, dasar anak keras kepala. Tapi yang kutanyakan dari tadi belum kau jawab.”
“Tentang lumayan tadi?”
“Ya!”
Jaka tertawa perlahan. “Aki mau jawaban basa-basi atau jawaban jujur?”
“Kau anak aneh, tentu saja jujur!” gerutu Aki ini dengan muka masam.
“Kalau begitu saya akan bertanya satu hal, menurut Aki, dalam perbandingan biasa, mana lebih hebat kemampuan guru dan murid; di misalkan sang murid sudah lama berkelana, dan mendapatkan banyak pengalaman.”
“Tentu masih lebih hebat sang guru, kecuali si murid menemukan ilmu yang lebih hebat dari yang dipelajari. Kalau memang begitu kesimpulannya, semisal si murid tak menemukan apa-apa, tapi dia mengembangkan ilmu gurunya, dengan sendirinya banyak kemajuan yang didapat.”
“Kalau begitu sekalipun satu sumber, jika yang ditemukan berbeda dengan gurunya, apa memiliki kemajuan pula?” tanya Jaka, di iyakan Ki Lukita.
“Lalu apa maksud pertanyaanmu itu?” tanya Ki Lukita.
“Apa jadinya ilmu sang guru di gabung dengan semua pengetahuan empat muridnya yang sudah berbeda dengan sang guru, jika dijadian satu?”
Ki Lukita terperanjat. “Tentu saja jadi satu kesatuan hebat, ampuh dan saling melengkapi.”
“Itu yang akan saya katakan. Kemampuan satu orang jika dibandingan dengan lima orang secara keseluruhan, maka logikanya ia hanya mengantongi seperlima bagian saja. Karena itu saya katakan lumayan. Sekalipun mereka satu sumber, tetapi pengembangannya justru jauh dari sumbernya, mereka sudah menjadi asing satu sama lain.”
Ki Lukita mengangguk paham. Kalau apa yang dikatakan anak ini benar, berarti pengetahuannya tentang pertabiban diatas Tabib Hidup-Mati, dan sang guru? pikirnya dalam hati. Apa mungkin begitu? Apakah semudah itu dia menguasai pengetahuai demikian rumit? Jangan-jangan hanya bualannya saja!”
Kalau sekedar untuk mengoperasi seperti yang dilakukan sang guru pada murid keempatnya. Akupun bisa melakukan hal itu, hanya banyak hal rumit yang aku tak sempat mencobanya, tapi aku yakin bisa. Pikir pemuda ini sambil menerawang, membayangkan kegetiran masa lalunya—yang menurutnya dari situlah dia dilahirkan jadi manusia baru…
Apapun juga, dia merasa berterima kasih pada Ki Lukita. Meski cerdas, tapi pada saat mempelajari ilmu pertabiban, bisa dikatakan hanya belajar secara membuta, keterangan Ki Lukita bisa membuka suatu kazanah baru bagi dirinya.
“Selanjutnya bagaimana Ki?”
Ki Lukita segera meneruskan ceritanya. “Memang, kalau kita tahu caranya segala sesuatu yang dianggap mustahil juga bisa dibuat… kemudian setelah satu tahun itu, akhirnya murid keempat yang masih berusia sebaya denganmu, turun gunung untuk mencari tiga orang murid murtad sang tabib. Dalam waktu dua tahun berikutnya tiga orang murid murtad itu dapat diringkus, sampai disini tidak ada cerita lagi.
“Sebab tiada seorangpun yang tahu bagaimana kisah sebenarnya, bahkan saat murid keempat meringkus tiga orang kakak seperguruannya, tiada orangpun yang tahu dimana tempat dan bagaimana kejadiannya… hanya saja setelah tiga empat tahun nama Tabib Malaikat, Tabib Dewa dan Maha Racun hilang, muncul seorang yang amat aneh sekali tabiatnya. Orang itu tabiatnya persis dengan sang tabib, guru dari tiga orang manusia laknat itu. Kau tahu julukan orang itu?” tiba-tiba saja Aki ini bertanya pada Jaka.
Pemuda ini tertegun sesaat, “Mungkin orang itu murid ke empat? Kalau benar begitu julukannya pasti Tabib Hidup Mati.”
“Pintar! Memang orang itu adalah murid terakhir sang tabib, selain tabiatnya sangat aneh, orang itu benar-benar ringan tangan. Siapa saja yang kebentur dirinya, kalau tidak minta pengobatan tentu ia beri sejurus ilmu silat sakti. Tindakannya memang sangat aneh, tapi hanya beberapa tokoh saja yang tahu kenapa ia bertindak seperti itu, ia ingin menebus kesalahan tiga kakak seperguruannya. Sebab waktu itu hampir semua tokoh sakti yang masih aktif gugur semua, tindakan Tabib Hidup-Mati yang sangat royal mengajarkan ilmu-ilmu sakti pada tiap orang yang dijumpai menjadi buah bibir. Tapi sayangnya dia hanya muncul selama tiga tahun saja, namun hasil kerjanya benar-benar luar biasa. Dalam tiga tahun itu banyak bermunculan jago-jago lihay yang berkepandaian amat tinggi, dan tentunya itu semua adalah karya dari Tabib Hidup-Mati,”
“Ki, apakah tindakan Tabib Hidup Mati tidak terlalu ceroboh?” tanya pemuda ini.
“Memang sepintas kelihatan sangat ceroboh, orang yang tidak tahu akan mengira dia mungkin saja ingin menimbulkan badai dalam dunia persilatan. Tapi dia memberikan ajaran ilmu-ilmu sakti hanya pada ketutunan yang menjadi korban, saudara seperguruannya. Meski dia juga memberi satu-dua jurus pada orang lain, dia selalu meminta mereka dengan tiga syarat berat—bisa disebut tiga syarat mulia, tiga syarat itulah yang menjadi panji dari kebenaran saat itu.”
“Apa itu?”
“Pertama, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, kedua tidak mendurhakai orang tua dan guru, sedangkan syarat ketiga, adalah membunuh jika patut dibunuh, mengampuni jika patut diampuni. Itulah tiga syarat Tabib Hidup-Mati,”
“Memang bagus, tapi bisa saja orang-orang itu memang mau bersumpah hanya karena kepingin ilmu sakti.”
“Semula aku juga berpikir begitu,” sahut Aki Lukita. “Tapi ternyata setelah orang-orang itu mengucapkan janji, Tabib Hidup-Mati memberi sebuah obat untuk ditelan setiap orang yang akan dia ajari ilmu. Menurut cerita, Pil itu bernama Pil Kebenaran, siapa saja yang meminum pil itu, konon selalu bertindak membela kebenaran, kalau ada pikiran untuk menyimpang, maka dalam jangka waktu satu bulan kematian akan segera menghampirinya.”
Omong kosong macam apa itu? Batinnya tak percaya. Tapi demi menghargai cerita Ki Lukita, diluarnya di berkata. “Ah, aneh…”
“Apa anehnya?”
“Tingkahnya tak beda dengan saudara perguruannya, cuma mengatasnamakan keadilan. Menarik, dan perlu dicurigai…”
Ki Lukita manggut-manggut sambil tertawa, dalam hatinya dia tahu, Jaka memang tak mau mengakui kebesaran Tabib Hidup Mati. “Benar memang ada yang aneh. Sekalipun kau ingin melacaknya juga tak mungkin, karena kejadian itu sudah lama. Apapun yang terjadi dulu, sudah tidak ada kaitannya dengan sekarang.”
“Cuma lucu juga ada obat yang seperti itu, apa tadi, pil kebenaran?” ujar Jaka setengah tertawa.
Kakek ini menggeleng getun mendengar antipati Jaka pada tokoh yang dia kisahkan. “Kalau ada pil yang menguasai kesadaran orang, kenapa tidak ada pil semacam itu? Lagi pula Tabib Hidup-Mati memang jenius, untuk menciptakan pil semacam itu mudah baginya,” Aki ini menarik nafas panjang, lalu ia melanjutkan lagi. “Setelah Tabib Hidup-Mati lenyap setengah abad, dunia persilatan dikejutkan dengan munculnya sebuah kitab,”
“Apakah itu kitab yang saya pelajari?” tanya pemuda ini tak sabar.
“Benar, itulah kitab Selaksa Racun-Selaksa Malaikat-Selaksa Dewa-Selaksa Hidup-Mati. Tapi orang lebih suka menyebutnya sebagai Kitab Racun Selaksa Malaikat-Dewa Hidup Mati, kenapa dinamakan begitu tentu kau sudah tahu bukan?” tanpa menunggu jawaban pemuda ini, Aki Lukita menyambung lagi.
“Sebab sejak kemunculan tiga orang murid sang tabib dan kemunculan Tabib Hidup-Mati, dunia persilatan bagaikan di hancur leburkan lalu dibangkitkan kembali. Arti dari Dewa Mati berarti para tokoh persilatan yang gugur di tangan tiga manusia sesat itu, sedangkan Malaikat Hidup Teracuni adalah kemunculan Tabib Hidup-Mati yang memberikan berbagai ilmu silat, namun di dasari dengan syarat dan harus menelan sebuah obat.”
“…atau racun!” sambung Jaka.
“Terserah kau…” gumam Ki Lukita sembari tertawa geli.
Mendengar penjelasan tadi, Jaka terpikir sesuatu, yang dulu pernah ia curigai, tapi dia simpan rapat-rapat kembali pemikiran itu, “Lalu bagaimana dengan nasib kitab itu?”
Ki Lukita tertawa geli. “Kalau kau bertanya padaku, aku harus bertanya pada siapa? Bukankah kitab itu sudah kau pelajari?”
“Eh, maksudnya nasib kitab pada waktu itu…” kata pemuda ini buru-buru, menyadari pertanyaan bodohnya.
“Entah bagaimana nasibnya, kemunculannya bagai angin berhembus, dalam tempo setahun saja kitab itu lenyap entah kemana. Konon, kitab itu diperebutkan tiap insan persilatan—bisa kau bayangkan bagaimana kacaunya suasana. Bahkan orang-orang dari lain negara juga turut serta. Mereka tak sayang mengorbankan apa saja untuk merebutnya. Tapi bagaimana akhir perebutan itu, tiada satu kabar beritapun yang bisa dipercaya. Kitab itu lenyap entah kemana. Orang tidak tahu dari mana kitab itu datang, dan lenyapnya pun tiada yang tahu, apakah kitab itu didapatkan seseorang atau bahkan sengaja dihancurkan, siapa yang tahu?” sampai disini Aki itu menghebus nafas panjang. “Sekarang ini aku hanya punya perasaan heran yang menggelitik hatiku,”
“Apa itu Ki?”
“Aku ingin tahu, dari mana kau dapatkan kitab-kitab pusaka itu?”
Pemuda ini kelihatan serba susah mendengar pertanyaan Aki itu, ia sendiri tidak tahu kenapa kisah yang biasanya dikategorikan rahasia, malah diceritakan pada Aki yang baru dikenalnya. Kenapa dia bisa langsung percaya padanya?
“Kitab ilmu itu saya temukan tanpa sengaja…” akhirnya pemuda ini memutuskan untuk bercerita, tentu saja hanya bagian yang tak perlu—yang tak terhitung sebagai rahasia.
“Waktu itu saya baru saja berlatih ilmu Badai Gurun Salju, karena ilmu itu memusatkan latihan hawa dingin keras dan lunak, maka saya membuat sebuah lubang yang dalamnya mencapai leher. Lubang itu saya maksudkan untuk menyerap hawa dingin keras dari dalam tanah, tapi siapa sangka saat kedalamnya mencapai leher, muncul sebuah lubang di dasarnya.
“Karena terkejut, saya terjeblos masuk kesitu. Rupanya lubang itu merupakan lorong yang berhubungan dengan gua, saya terus menelusuri gua itu dan akhirnya setelah menjumpai jalan buntu, tak disangka saya menemukan sebuah peti yang terpendam di tanah. Peti itu hanya terlihat tutup bagian atasnya saja, mungkin sudah terpendam berpuluh tahun disitu, maka saya mengangkatnya dengan hati-hati. Ternyata didalamnya terdapat sebuah kitab tebal,” tuturnya—tentu saja Jaka tidak menuturkan kejadian sesungguhnya.
“Eh, tunggu kalau tak salah kau menemukan kitab itu diperpustakan keluargamu?”
Jaka tertawa. “Tentu saja tidak, saya tidak bertutur demikian saat bercerita, yang ada diperpustakaan keluarga, hanya kitab ilmu mustika.” Lalu Jaka meneruskan penuturannya.
“Karena penasaran, saya mengambil kitab itu, dan ternyata merupakan sebuah kitab pengobatan yang memuat berbagai macam pelajaran membuat obat, racun dan segala macam pengetahuan syaraf. Pada saat itu, saya merasa seperti kejatuhan durian runtuh. Karena menurut saya, sayalah satu-satunya yang bisa membaca kitab itu.”
“Ho, kenapa kau berkesimpulan seperti itu?”
“Sebab aksara yang tertulis adalah aksara kuno, anehnya lagi, dari aksara itu bukan seperti yang kita kenal dulu atau sekarang.”
“Oh, berarti bukan dari Nuswantara Dwipa?”
“Ya, itu bahasa Farisi, Hindi dan Tiongkok kuno.”
“Wah, beruntung sekali kau sebelumnya menguasai kesusastraan.”
Jaka tersenyum. “Kenyataan itulah yang membuat saya senang dan lega.”
“Kenapa bisa begitu?” Ki Lukita sudah tahu alasannya, toh dia tetap bertanya.
“Karena saya tak perlu mengkhawatirkannya, jika kitab itu terjatuh ketangan orang lain. Sebab dia harus memenuhi tiga syarat utama untuk membacanya.”
“Oh, ada kejadian semacam itu?” Tanya Ki Lukita tertarik.
“Ya, selain dia harus bisa tiga bahasa kuno, dia juga harus cukup pintar untuk memecahkan rumus sastra, yang terakhir, coba tebak…”
Ki Lukita tersenyum sambil menggeleng. “Aku tak dapat mengiranya.”
“Dia harus paham ilmu pasti. Itu semacam perhitungan dalam mempelajari formasi barisan.”
“Ah…” rupanya memang sudah jodohnya, pikir Ki Lukita ikut bergembira—perasaan yang menurutnya aneh, dapat timbul spontan. “Lalu kau apakan kitab itu?”
“Takut ada semacam jebakan, tidak menunggu lama, saya ambil kitab itu, segera keluar, lalu menimbun lubang itu rapat-rapat. Sebelumnya saya juga menyumbat pintu gua,”
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Aki Lukita heran.
“Sebab dinding dekat peti itu terlihat tulisan yang memerintahkan, jika sudah menemukan pusaka dimaksud, harus segera menutup gua dan jalan yang menuju gua itu, bahkan kalau bisa gua itu diruntuhkan. Mungkin dibalik perintah ini ada satu isyarat lain, dan benar juga dugaan saya… sebab setelah membaca tulisan itu beberapa saat kemudian muncul banyak binatang aneh dari dalam dasar peti yang berlubang. Terburu-buru saya segera keluar dari tempat itu. Untung saja segala sesuatunya memang sudah dipersiapkan oleh orang yang dulunya menyimpan kitab itu, dalam tulisan di dinding menyebutkan kalau setelah mendapatkan kitab itu harus segera menghancurkan kotak batu di pojok gua. Begitu saya hancurkan kotak itu, seluruh langit-langit gua runtuh, dengan begitu pekerjaan saya hanya menimbun lubang yang saya buat.”
“Wah, untuk ukuran usiamu. Pengalamanmu sangat hebat. Lalu tiga kitab mustika ilmu silat itu berasal dari mana?”
“Seperti yang saya ceritakan tadi, ketiga kitab itu memang asalnya ada di perpustakaan keluarga saya. Seperti yang tadi saya ceritakan pada Aki, selain kitab Hawa Bola sakti, dua kitab lainnya malah terpencar tiga-empat bagian. Setelah mencarinya hampir setengah bulan akhirnya saya temukan secara lengkap…”
Aki itu termenung sesaat, seperti ada yang ia pikirkan. “Bagaimana dengan pelajaran tiga ilmu itu?”
“Maksudnya?”
“Apa kau sudah menyelesaikan semuanya dengan sempurna?
“Semuanya sudah saya pelajari, hanya latihan dan pengalaman yang diperlukan untuk menambal latihan saya.” Tutur pemuda ini menjelaskan.
“Berapa lama kau pelajari tiga kitab itu?”
Jaka mengangkat bahunya. “Mungkin, jika tanpa latihan, total seluruhnya ada dua bulan. Saat itu saya terlalu malas, seharusnya tiga kitab itu bisa saya selesaikan dalam satu bulan, tapi karena saya juga harus mempelajari kitab sastra lain, maka banyak hal yang terhambat.”
“Oo…” Aki ini hanya bisa mengatakan begitu saja. “Apakah sudah kau hafal seluruhnya?”
“Tentu saja sudah, kalau belum bagaimana mungkin saya berani memusnahkan tiga kitab itu?”
“Tapi apa kau sendiri juga paham dengan apa yang dimaksudkan kitab-kitab itu?”
Jaka diam sesaat, akhirnya dia memutuskan menjawab secara samar. “Pengetahuan manusia itu berawal dari nol, yakni ketidaktahuan, dan kelak juga akan kembali ke titik nol, saat dia mati. Masalah paham tidaknya, itu tergantung bagaimana dia mengerti atau tidak, akan kebodohan dirinya.”
Ki Lukita menatap Jaka agak lama, dia membatin, sungguh anak yang menarik. Dia bisa memahami maksud Jaka, karena hanya orang yang tahu akan sesuatu, yang tidak mau mengutarakannya terang-terangan. Tapi jika dilihat dari persoalan yang mereka bicarakan tadi, seharusnya yang mengatakan seperti itu adalah orang yang sudah uzur, artinya dia sudah paham dengan makna kehidupan yang dijalani. Dia selalu mengintrospeksi keadaan dirinya. Tapi ‘anak kecil’ berusia 20-an itu kenapa bisa bicara se-uzur itu? Ki Lukita menemukan banyak hal kontradiktif pada Jaka.
“Memang seharusnya begitu,” ujarnya kemudian sambil menghela nafas panjang. Ombak belakang memang selalu mendorong ombak yang ada didepan, gumamnya perlahan sekali.
Memang Aki ini sepantasnya mengatakan demikian, sebab untuk menghafal satu kitab dari sembilan mustika ilmu silat, orang pintarpun harus membutuhkan waktu minimal tiga-empat tahun, belum lagi ditambah waktu untuk memahaminya. Tapi pemuda ini sanggup menghafal dan memahaminya—Ki Lukita mengambil kesimpulan bahwa Jaka juga paham—dalam jangka waktu dua bulan? Bukan satu yang dipahami tapi tiga kitab mustika sekaligus! Jika itu memang benar terjadi, hati siapa tak akan bergetar mengetahui hal itu?
“Ki, boleh saya bertanya?”
“Tentu saja,”
“Sebenarnya aturan Dewan Pelindung Sembilan Mustika siapa yang menetapkan? Dan bagaimana pula asal usul sembilan ilmu itu sehingga bisa menjadi mustika dunia persilatan?”
“Panjang sekali kalau mau diceritakan, untuk jelasnya lebih baik kau baca kitab yang kuberikan padamu.”
“Bukankah kitab ini merupakan catatan tentang Perkumpulan Dewa Darah?”
“Itu hanya salah satu diantaranya, bukankah aku tadi mengatakan kalau kitab itu merupakan catatan apa yang kuketahui? Berarti semua pengalaman dan perjalanan hidupku-pun tertuang dalam kitab itu.”
“Kalau begitu kitab ini benar-benar berharga… saya merasa tidak sanggup menerimanya,” ujar pemuda ini gugup.
“Kau tak perlu merasa sungkan. Sebab menurutku kau pantas menerimanya. Catatan itu terbagi dalam tiga buku, buku yang berada padamu adalah buku kedua. Kalau kau memang berminat bisa kuberikan dua buku lainnya,”
“Eh, Aki tidak perlu berbuat begitu, bagi saya menerima satu buku ini saja sudah merupakan kehormatan tak terhingga, konon lagi tiga buku sekaligus? Saya tidak berani menerimanya.” Kata pemuda ini terburu-buru.
“Em, terserah kau saja. Tapi aku memang berniat untuk menyerahkan sisa buku lainnya,” ujar Aki ini sambil tertawa, ia diam sebentar, lalu menyambung lagi perkataannya.
“Kalau kau tidak keberatan maukah kau menjadi muridku?” tanya Aki ini dengan mendadak.
Suasana yang hangat, tiba-tiba saja seperti berubah menjadi sedingin salju, agaknya ketegangan mencekam situasi saat itu. Pemuda ini khawatir telinganya salah dengar.
“Ehm, ini, ini…” Jaka terkejut, ia sama sekali tidak menyangka kalau Aki Lukita bakal mengajukan permintaan yang begitu menarik juga sangat mendadak. Dalam hatinya, Jaka merasa senang.
Senang? Jika orang lain berada pada posisi Jaka, mungkin malah merasa curiga. Bayangkan, jika dia menguasai apa yang menjadi impian kaum persilatan, tiba-tiba ada seseorang menawarkan diri menjadi guru, bukankah sama artinya dia menghendaki apa yang dikuasai si calon murid? Apa itu tak terlalu aneh? Apakah Jaka tidak berpikir kearah itu? Apa lantaran pemuda ini memang punya kebiasaan mencari tantangan, atau katakanlah semacam pertaruhan, bahwa; apakah dirinya akan dimanfaatkan atau tidak… Di lain pihak, jika orang lain berada pada posisi Ki Lukita, apakah dia akan menarik keuntungan seandainya semua yang diceritakan Jaka hanya bualan? Apa orang tua ini memang tulus meminta Jaka menjadi muridnya atau karena ada maksud lain? Tiada yang tahu kecuali hati dua orang ini sendiri.
Pemuda ini menghala nafas dalam. “Ini… entahlah, rasanya terlalu mendadak, tapi seandainya saja saya mau, apakah Aki tidak salah memilih? Apa Aki tidak memperhitungkan, mungkin kelak saya bakal membuat Aki menyesal?”
Ki Lukita tertawa lepas. “Kau seharusnya menyadari keadaan dirimu, dari ucapanmu saja aku yakin kalau apa yang akan kau lakukan nantinya tidak akan demikian, lagi pula aku dapat meraba tingkah-lakumu dari gerak gerik… dari perbawamu. Tapi permintaanku ini memang buru-buru, ada baiknya kalau kau pikirkan masak-masak.”
“Baik. Tapi saya harap Aki tidak menyesal apapun jawaban saya nanti. Sebagai rasa terima kasih karena permintaan Aki dan juga kepercayaan Aki, terimalah hormat saya.” Setelah berkata begitu, Jaka hendak membungkuk memberi penghormatan. Namun belum sampai Jaka menghormat kedua kalinya segulung tenaga kuat sudah menahannya, karuan Jaka tidak bisa membungkuk lagi, sebenarnya bisa saja ia mengerahkan tenaganya, tapi dia sadar kenapa pula dia harus ngotot?
“Ha-ha…” Aki Lukita tertawa terbahak-bahak, air matanya sampai menitik keluar. “Mendapatkan calon murid seperti kau ini siapa yang tidak bangga? Sudahlah tidak perlu berbasa-basi, mulai besok atau kapan kau bisa, datang saja kerumahku, kita bisa membicarakan banyak hal.”
“Baik Ki,” sahut pemuda ini dengan hikmat. “Kalau begitu rasanya saya tidak perlu membawa kitab catatan Aki, toh nanti juga akan kembali.”
“Tidak usah, tiga kitab catatanku memang sudah seharusnya diserahkan pada generasi muda, agar bisa belajar dari pengalaman generasi tua. Bawa saja kitab itu, siapa tahu saat berpesiar nanti kau merasa bosan, tidak ada salahnya kau baca kitab itu. Apalagi kau juga seorang kutu buku, apakah kau bisa tahan tidak mempunyai bacaan dikala senggang?” mendengar ucapan Aki Lukita itu Jaka Bayu tersipu. “Karena itu lebih baik lagi kalau kitab itu ada padamu, dari pada disini hanya menjadi setumpuk lembaran kertas tak berguna.”
“Kalau begitu, saya hanya bisa menurut,” sahut Jaka dengan hormat. Mendengar jawaban pemuda ini Aki Lukita tertawa lepas.
“Sesungguhnya kejadian ini perlu kita rayakan, tapi berhubung kau baru satu hari dikota ini, tidak ada salahnya setelah puas berkeliling, baru kita adakan pembicaran lebih dalam. Perlu kau ketahui, jika kau sudah menjadi muridku, kita akan lakukan perayaan dan upacara pengangkatan murid.”
“Ah, apakah itu tidak terlalu berlebihan Ki?” sahut Jaka menimpali perkataan Ki Lukita, seakan dia sudah menjadi murid Aki itu. “Menurut hemat saya, rasanya tidak perlu mengadakan perayaan segala, kalau upacara mungkin bisa juga, tentu saja tidak berlebihan.”
Ki Lukita tersenyum girang, dari perkataan Jaka ia jadi tahu kalau kemungkinan besar pemuda itu mau menjadi muridnya. “Baik, aku setuju pendapatmu. Sejak dulu, secara turun temurun dalam keluargaku, harus diadakan upacara apabila mau mengangkat seorang murid.”
“Apakah sebelumnya Aki juga mempunyai murid?”
“Ya, aku mempunyai dua murid. Tiap tahun mereka pulang dari perantauan untuk menjengukku. Kukira tahun ini usia mereka sudah masuk kepala empat, lagi pula mereka sudah berkeluarga, jadi aku maklum kalau suatu saat mereka tak datang.”
“Menurut kebiasan, kalau hendak mengadakan penerimaan guru-murid bukankah murid tertua atau angkatan atas harus datang? Kalau angkatan atas tidak datang, paling tidak harus lebih dari satu murid yang diresmikan oleh sang guru.”
“Memang benar, jika kau jadi muridku, kau memiliki calon adik seperguruan…”
“Adik seperguruan?” pemuda ini terpelongok heran.
“Dia cucu perempuanku, sudah banyak tahun ia menerima pelajaranku, tapi hubungan kami hanya sebagai Aki dan cucu saja, belum resmi sebagai guru murid. Karena itu, upacara pengangkatan guru murid nanti sekalian saja,”
”Oh, kiranya begitu…” ujar pemuda ini paham, namun hatinya agak risau, karena bagaimanapun dia belum menyatakan mau menjadi murid Ki Lukita, tapi pembicaraan ini rasanya sudah seperti guru dan murid saja, ini sudah melampaui batas, pikirnya.
Jaka tidak bertanya lagi, karena ia sudah merasa cukup lama berada disitu, sekalipun mereka berada diberanda samping rumah, gerak-geriknya juga terbatas. Bagaimanapun juga, orang asing yang berbicara terlalu lama dengan seorang sesepuh kota, mudah menjadi sasaran kecurigaan sekelompok orang.
“Ki, bisakah saya ikut serta nanti malam?” Jaka bertanya tanpa canggung.
“Boleh, tapi tidak bisa terang-terangan.”
“Kalau begitu sekarang saya harus pergi.” Pinta Jaka dengan hormat.
“Baiklah, kapan kau kemari lagi?”
“Mungkin dua atau tiga hari kemudian, bisa juga malam nanti…”
Setelah memberi hormat, Jaka segera pamitan. Di iringi pandangan mata penuh harap Ki Lukita, akhirnya bayangan pemuda bersahaja itu menghilang di belokan jalan.
Tiba-tiba saja pintu rumah terbuka, muncul gadis berbaju biru muda, wajahnya cantik sekali, kalau tersenyum atau tertawa, muncul lesung pipi. Tapi kali ini wajahnya tampak cemberut.
“Kek, kenapa engkau tidak menahan calon kakak seperguruan lebih lama? Kenapa tidak di kenalkan pada keluarga kita?” tanya gadis itu bertubi.
“Ha-ha-ha, budak cerewet. Keluarga kita, kau bilang? Ah alasan yang kau buat memang bagus, kalau sudah kembali kesini tentu saja segera kuperkenalkan kepadamu, kau tidak usah khawatir. Hari ini, dia baru datang ke kota, mungkin butuh istirahat. Bukankah dua tiga hari lagi kau bakal kenal dengannya?” ujar Aki ini dengan tertawa menggoda.
“Ih…” seru gadis baju biru ini sambil cemberut, wajahnya yang jelita terlihat merona merah. Dengan terburu-buru ia masuk kembali.
Sambil tertawa riang dan geleng-geleng kepala, Aki Lukita kembali menghisap rokok kawungnya. “Dasar budak binal.” Gerutu Aki itu melihat tingkah cucu perempuannya.
Kakek tua yang dihormati penduduk kota itu, kembali meneruskan pekerjaan sehari-harinya, dia merawat bunga yang kelihatannya begitu indah. Padahal, kalau saja orang tahu rumpunan bunga yang terdapat di seluruh halaman rumah Aki ini adalah formasi barisan lihay, belum tentu mereka dapat memuji seperti saat melihat bunga indah bermekaran, sebab siapapun tidak bisa melihat nilai keindahan dan kemisteriusannya.

—ooOOOoo—

12 – Telaga Batu

Jaka berjalan santai menyusuri jalan besar. Hari masih siang, mungkin sudah dua kentongan sejak matahari diatas ubun-ubun. Pemuda ini memang berniat jalan-jalan lebih dulu, baru ia kembali ke rumah Ki Lukita. Sesaat kemudian ia sudah sampai di penginapan Bunga Kenanga, tanpa terburu dia masuk kekamar. Pemuda ini mengambil kantung tempat menyimpan uang. Sungguh ceroboh dia menaruh sembarangan barang berharga, kalau semua itu hilang bagaimana? Tapi memang begitulah sifat Jaka, terkadang ceroboh.
Setelah itu dia bergegas hendak keluar, tapi Jaka merasa bajunya tak cocok, dia bermaksud ganti, lalu melepas ikat pinggang… begitu ikat pinggang itu terlepas, mendadak benda itu mengejang! Ternyata ‘ikat pinggang’ itu adalah sebuah tongkat bambu kuning! Aneh sekali, bambu itu memiliki daya lentur luar biasa, hingga bisa dibuat menjadi ikat pinggang. Jika di lihat besarnya—seukuran lengan anak kecil—adalah mustahil dapat dilengkungkan seperti itu, kecuali rotan, namun kenyataannya tongkat bambu itu lentur melebihi rotan! Bambu biasa saat dilengkungkan, tentu pecah. Tapi bambu kuning itu dikecualikan.Begitu dililitkan, bagian dalam bambu yang kosong, kempes tanpa ada kerutan atau tonjolan.Saat digunakan sekilas mirip ikat pinggang. Tentu saja selain pemiliknya, orang lain tidak ada yang tahu jenis bambu apa yang dibuat menjadi ikat pinggang.
Kini Jaka mengenakan baju warna kuning gading serupa dengan ‘ikat pinggangnya’, sehingga begitu ‘ikat pinggang’ dililitkan, tak begitu terlihat. Kepala pemuda ini juga ditutup dengan seikat kain kuning, yang terlihat hanya dahi dan rambut belakang saja.
Lalu dia keluar kamar dan berjalan menuju jalan besar, tak berapa lama kemudian Jaka menjumpai perempatan jalan. Pemuda ini menimang, apakah ia akan pergi ke Gua Batu, Perguruan Naga Batu, atau pergi ke Telaga Batu? Setelah menimbang, maka diputuskan untuk pergi ke Telaga Batu. Jaka mengambil jalan ke barat. Tapi baru beberapa puluh langkah saja, terasa ada orang yang mengikutinya.
“Wah-wah, ucapan Aki Lukita benar, ada orang yang tadi memperhatikan aku berbincang. Kini mereka mengikutiku. Terserah kalian mau berbuat apa, asal tidak menggangguku, akupun tidak akan mengusik kalian.”
Tanpa berusaha mempercepat langkah, Jaka menikmati perjalanannya. Sepanjang jalan menuju Telaga Batu, kondisi panorma alam sangat indah. Dari perempatan jalan, dekat penginapan Jaka, jarak menuju Telaga Batu kira-kira ada empat pal (1 pal= 1½ kilometer), cukup dekat.
Sepanjang jalan, rumah penduduk terlihat berderet memanjang, ada kalanya selang seratus meter, baru ada rumah penduduk. Meski dikuntit orang, tanpa hambatan berarti sampailah Jaka di Telaga Batu.
Pemandangan pertama yang dilihat adalah sebuah tebing batu menjulang tinggi, kelihatannya dinding itu sebagai pembatas telaga dari daratan tinggi, disekitar telaga itu banyak sekali berserakan batu-batu besar kecil, serakan batu itu tertata alam, bukannya menjadi pemandangan jelek, tapi di situlah daya tariknya, itulah seni alam yang menakjubkan. Sementara disepanjang pinggir telaga terlihat pasir putih bagai permadani yang menutupi permukaan tanah, dalam pandangan orang, suasana telaga itu seperti layaknya sebuah pesisir pantai. Luas telaga itu mungkin lebih dari lima puluh hektar, disebelah timur terlihat aliran air deras dari luar, kiranya aliran air itu berasal dari Sungai Batu yang memiliki air terjun Watu Kisruh.
Luar biasa, memang tempat yang cocok di beri nama Telaga Batu, batin Jaka merasa nyaman begitu melihat Telaga Batu, dia juga begitu takjub, sampai-sampai saat menarik nafas terasa olehnya badannya mengeletar.
Apa yang dikatakan Jaka memang cocok, di sekitar telaga banyak terdapat batu besar, suasana Telaga Batu bisa dibilang ramai, terutama jumlah nelayan—yang memanfaatkan telaga untuk mencari nafkah. Air di telaga itu benar-benar jernih, andai saja kedalaman telaga tak lebih dari lima tombak (1 tombak = 2 meter) atau kurang dari itu, tentu saja dasar telaga bisa kelihatan. Tapi kedalaman telaga itu mungkin lebih dari dua puluh tombak, saat melihat kebawah yang terlihat hanya selapis warna hijau kebiruan—indah, tapi mengerikan jika ada orang punya kenangan tenggelam. Agak lama Jaka terpukau oleh keindahan Telaga Batu, pemuda ini segera menyewa perahu, untuk mengelilingi Telaga Batu.
Tindakan Jaka, jika dipandang kaum persilatan, terhitung sangat ceroboh dan berbahaya. Dalam dunia persilatan ada pameo mengatakan;
Jika kau tak pandai berenang, jangan sekali-kali mendekati sungai. Jika kau menjumpai hutan, jangan sekali-kali masuk kalau tidak yakin bisa keluar.
Dua peringatan itu sudah ada entah sejak kapan, kedengarannya menggelikan, tapi memang benar. Sudah banyak kejadian yang diperingatkan lantaran pameo tadi.
Mungkin saja gara-gara ingin berpesiar ke sebuah telaga, seseorang—tentu, kaum pesilat—akan kehilangan nyawa! Bila lawan mengetahui incarannya lengah dengan memasuki hutan atau sungai, bisa saja saat itu adalah kesempatan emas untuk balas dendam. Karena itulah, kedua pameo tadi merupakan peringatan yang baik.
Tapi jika ada orang yang dicurigai mengerti ilmu silat, dan ia dengan tenangnya menyewa perahu sendiri untuk berpesiar, ada dua alasan untuk menjelaskannya, mungkin dia benar-benar seorang pencinta alam sehingga melupakan peringatan yang berlaku di dalam dunia persilatan, atau dia justru menguasai keahlian dalam air sampai mengacuhkan peringatan.
Dan kali ini Jaka melakukan hal itu dengan tenangnya. Mungkin bagi pandangan kaum persilatan dia bertindak ceroboh, tapi bagi dirinya justru pandangan seperti itu—pameo pertama, terlalu cupat untuk sekedar mengukur keselamatan jiwa.
Tentu saja yang menguntit Jaka jadi khawatir, bukankah mereka seharusnya senang? Ya, sebab bisa jadi buruan mereka adalah orang awam yang tertarik dengan keindahan alam, artinya pekerjaan mereka sia-sia. Itu tidak efisien. Atau bisa juga dia (Jaka) seorang pesilat tangguh yang tidak takut dengan kedalaman telaga, jika demikian halnya, tindakan mereka harus lebih hati-hati.
Sayangnya mereka tidak menduga, Jaka datang ke Telaga Batu karena ingin menikmati keindahan alam, juga lantaran mau membaca catatan Ki Lukita tanpa gangguan. Alasan berikutnya, siapa yang tahu apa lagi yang akan dilakukannya?
Para penguntit itu tidak akan pernah menduga, bahwa Jaka adalah orang ‘awam’, seorang ahli silat, yang juga mahir dalam air.
Jaka mengalihkan pandangan kesekeliling telaga, dia mencari nelayan yang mungkin bersedia menyewakan perahunya. Dalam soal memilih, agaknya Jaka juga banyak pertimbangannya. Pemuda ini mencari nelayan yang berpakaian layak dan bersih, karena orang berciri seperti itu, mungkin terpelajar, agak mudah berurusan dengan orang seperti itu.
“Maaf…” tegur pemuda ini sopan pada lelaki setengah baya yang sedang berdiri termangu.
“Ya, bisa saya bantu?”
“Bapak punya perahu?”
“Oh, tentu saja ada.” jawab lelaki itu agak kaget.
“Bisakah kusewa perahumu?” tanya pemuda ini lagi.
“Bisa tuan. Silahkan, apakah tuan membutuhkan tenaga untuk mendayung?”
“Tidak perlu paman, biar saya dayung sendiri… mungkin saya akan memakai perahu ini cukup lama.”
“Tapi bukankah telaga ini sangat luas, apakah tuan tidak capek? Lagi pula saya juga harus menangkap ikan untuk dijual…” sahut orang itu agak tergagap.
“Ah, masalah itu paman tidak usah risau, saya sudah terbiasa mendayung perahu. Lagi pula saya memerlukan perahu ini cukup lama… begini saja paman, ini sebagai ganti tangkapan ikanmu, dan ini sebagai uang sewa perahu.” Pemuda ini menyerahkan seratus keping perak—uang sejumlah itu bisa membeli seekor kuda—karuan saja nelayan itu tertegun kaget. Tapi mendadak saja matanya mengerjap tak wajar, mungkin lantaran kaget, atau karena hal lain?
“Ini… ini terlalu banyak tuan muda,” seru nelayan ini kaget campur gembira, dia masih menyangka Jaka salah memberi uang.
Jaka tersenyum, dia memakluminya, atau karena memahami satu hal? “Tidak apa-apa paman, hitung-hitung membayar kerugian waktumu menangkap ikan, cukupkah?”
“Cukup, cukup… wah, tentu saja lebih dari cukup. Terima kasih tuan muda.” Sahut si nelayan riang.
“Kalau begitu tidak ada masalah lagi. Mana perahunya?”
Setelah lelaki itu menunjukan perahunya, Jaka segera meloncat ke dalam perahu, dan dengan galah bambu, ia mendorong pinggiran telaga agar perahunya bergerak meninggalkan bibir telaga.
Sementara si empunya perahu menatap pemuda itu dengan pandangan aneh, juga senyum yang bermakna entah apa.
Siang itu tidak begitu menyengat, suasana disekitar Telaga Batu begitu sejuk dan nyaman. Jaka betul-betul terpesona melihat pemandangan di sekeliling telaga itu. Di depannya terbentang dinding yang amat tinggi, dinding itu adalah tebing yang menjadi salah satu dinding pembatas alam dari telaga. Rasanya tubuh dan jiwanya sudah menyatu dengan keindahan alam Telaga Batu, Jaka benar-benar terpana. Hatinya makin tenang, ia benar-benar menyadari bahwa Tuhan itu Ada dan Maha Kekal.
Pernah dia mendengar cerita tentang dinding itu, konon telaga itu sebenarnya sangat luas, tetapi karena gempa bumi dahsyat ratusan bahkan ribuan tahun silam, maka pada pertengahan telaga itu ditimbuni tanah, batu dan cadas yang sudah berusia ratusan tahun silam, karena termakan usia, timbunan itu akhirnya terkikis sedikit demi sedikit dan membentuk sebuah dinding tebing, tinggi dari permukaan telaga kurang lebih dua puluh tombak.
Dilihat dari tingginya dinding tebing itu, orang dapat membayangkan bagaimana dahsyatnya gempa bumi yang pernah melanda daerah itu. Dari mana cerita itu berasal, tiada seorangpun tahu, mereka semua mempercayai cerita itu sebab di belakang tebing itu masih terdapat telaga lain yang dinamakan Telaga Bening. Tapi jika menilik 18 pal jarak antara tebing dinding Telaga Batu sampai tebing dinding Telaga Bening, maka cerita itu patut dipertimbangkan, sebab kecuali gempa yang maha dahsyat hingga mencabik seluruh permukaan bumi, tak mungkin sebuah telaga dapat dipisah dengan tebing cadas seluas itu.
Tapi Jaka tidak memperdulikan cerita itu, kini dia hanya ingin mengagumi keindahan alam. Saking kagumnya, Jaka sama sekali tidak memperhatikan kalau ada dua perahu yang bergerak mendekatinya. Jika ditilik dari situasinya saat ini, sekalipun orang yang paling berpengalaman—andai ia tidak tahu sebelumnya dibuntuti—maka melihat dua perahu mendekat perlahan, dia tidak akan curiga sama sekali, sebab kejadian itu wajar saja, bukankah para pelancong juga ingin menikmati keindahan tebing dan panorama lainnya? Tapi tidak begitu juga dengan Jaka, dia sudah tahu sebelumnya kalau dirinya dikuntit, kenapa dia tidak curiga bahwa perahu yang mendekatinya adalah perahu para penguntit? Apakah Jaka lalai, atau dia merencanakan sesuatu?
Tanpa sadar, Jaka bersenandung lirih, senandung yang lebih mirip sebuah syair. Keindahan Telaga Batu telah menyihir perasaannya. Sambil berdiri diujung perahu, mata pemuda ini tidak pernah beralih dari tebing yang menjulang tinggi. Tanpa sadar dia merogoh sakunya. Sebelumnya Jaka menyimpan sebuah bambu yang lebih kecil di dalam bambu kuning itu, karena tak mau repot saat mengambilnya, Jaka sudah mengeluarkannya lebih dulu. Bambu itu panjangnya sampai tiga jengkal dan terdapat banyak lubang berderet teratur. Tentu saja itu sebuah suling, sebuah suling bambu yang berwarna kuning, dan juga lentur seperti karet pula!
Jaka menempelkan seruling itu dibibirnya. Segera suara syahdu tersiar keseluruh penjuru. Alunan suara seruling begitu memukau hati siapa saja yang mendengar. Suara itu begitu lembutnya tapi nyaring, dan irama-irama yang dihasilkan bunyi suling itu sanggup menyusup relung paling dalam bagi yang menikmatinya.
Irama yang dihasilkan Jaka bukan karena not-not yang dihafal, semuanya itu tercurah, semata-mata dari perasaan kagum, perasaan mulia yang disampaikan mata, yang mengagumi sebuah keindahan alam tak terlukiskan, membuat orang yang mendengar lantunan irama itu makin hanyut oleh keindahan yang ada dibentangan mata. Jaka meniup suling itu dengan mata terpentang lebar, seolah ia ingin menumpahkan perasan kagumnya karena keindahan alam di sekitar Telaga Batu.
Agaknya suara seruling yang mengalun merdu dan amat memukau itu begitu menarik perhatian semua orang yang berperahu maupun yang ada di pinggir telaga. Karena angin di situ berhembus pulang balik terhadang dinding tebing, maka suara seruling Jaka dapat didengar orang yang berada di sekitar Telaga Batu.
“Indah nian…” seru sebuah suara nyaring bening datang dari sebuah perahu pesiar lainnya. Nada suara itu bisa berarti mengagumi pemandangan alam ataupun suara seruling pemuda bersahaja ini.
Jaka tidak mengubris, hakikatnya ia tidak mendengar seruan tadi, karena seluruh perasannya tercurah untuk melukiskan kekagumannya pada keindahan alam.
Suara seruling yang merdu dan spontan itu berlangsung cukup lama, dan akhirnya setelah seperempat-jam, suara itu berhenti. Terlihat pemuda itu mengulum senyum, rupanya ia puas sekali setelah mencurahkan kekagumannya.
Sambil menghela nafas, Jaka membatin. Maha Besar Kuasa-Nya, pada setiap kehancuran timbul keindahan, pada keindahan terselip sebuah kehancuran. Benar-benar luar biasa, kiranya perjalanan jauhku ini tidak sia-sia dapat menjumpai keelokan alam seindah ini.
Sampai saat itu, Jaka masih tidak sadar bahwa hampir tiap pasang mata memperhatikan dirinya yang masih berdiri termangu-mangu mengawasi sekitar tebing batu.
“Keparat!” dengus seseorang diseberang sana. “Dia benar-benar pintar merusak rencana.”
“Kutahu itu.” sahut seseorang dengan nada dingin.
“Kalau kau tahu, kenapa tidak bilang dari tadi?” damprat satunya.
“Aku sudah mengatakan padamu, menyergapnya saat di telaga, cuma pekerjaan orang bodoh.”
“Hmk!” dengus orang itu kesal sekali.
Keduanya segera berkelebat kearah selatan, gerakan dua orang itu sungguh menakjubkan, tapi tiada orang yang melihat keduanya, sebab semua orang masih sama terpana mendengar irama seruling tadi.
Siapa kedua orang itu? Dan memangnya mereka kesal kenapa? Tentu saja mereka kesal karena rencana menguntit Jaka dan hendak membuat suatu kecelakan atas pemuda itu, batal! Sebab dengan tiupan seruling Jaka, semua mata sama memandang pemuda itu. Artinya kalau mereka bertindak saat itu, sama saja dengan berteriak, ‘aku mau membunuh orang ini.’ Jadi tidak mungkin rencana semula terlaksana.
Lalu apakah Jaka menyadari perbuatannya? Apa dia memperhitungkan tindakan penguntit? Atau dia sama sekali tidak tahu? Entahlah, rasanya melihat mimiknya—kalau ada yang melihat—rasanya juga tidak mungkin kalau pemuda ini sudah memperhitungkannya sejak semula. Tapi siapa yang tahu?

—ooOOOoo—

13 – Menjumpai Tokoh Perguruan Naga Batu

“Hei!” sebuah seruan nyaring memecah keheningan. Ternyata seruan itu berasal dari perahu pesiar mewah. Hampir semua orang menoleh ke arah perahu itu, kecuali Jaka. “Hei peniup suling,”
Mendengar seruan ini, tentu saja Jaka harus menoleh, karena dirinya yang dipanggil.
“Aku?” ujarnya bingung.
“Memangnya siapa lagi yang sedang meniup suling?” ujar suara dari dalam perahu pesiar itu terdengar melengking merdu.
“Ada urusan apa?”
“Guru dan nona kami mengundangmu…” suara lain terdengar melengking, kali ini terlihat sosok tubuh muncul di ujung perahu pesiar mewah itu. Seorang nona berusia paling banyak tujuh belas tahun berpakaian merah, wajahnya mungil dan terlihat amat manis. Kalau melihat bibirnya yang kecil dan tipis, serta raut mukanya, orang pasti dapat menduga kalau nona itu cerewet.
Pemuda ini tertegun, seingatnya dia tidak memiliki kenalan di daerah ini. “Tapi aku tidak mengenal guru dan nonamu.” Sahut pemuda ini bimbang.
“Tidak perlu berkenalan segala, kalau guru kami ingin mengundang siapa yang dapat menolak?” sahut seorang nona berbaju hijau yang muncul dari perahu itu.
Karena jarak antara perahu Jaka dengan perahu mewah itu hanya tujuh tombak, maka pemuda ini dapat melihat jelas bagaimana wajah dua nona yang suaranya terdengar amat binal dan centil itu. Keduanya memang cantik dan sama-sama cerewet.
“Ada keperluan apa sebenarnya?” pemuda ini masih enggan kesana. Sebab dari tingkah dua gadis ini saja ia mungkin sudah dapat gambaran dari tuan rumah perahu mewah itu.
“Mana kami tahu…” tukas nona baju hijau.
“Wah bagaimana ya,” pemuda ini mengangkat bahunya, seakan tak perduli. “Kalau bukan masalah penting, lebih baik aku tidak perlu berkunjung, mengganggu ketenanganku.” Sambung pemuda ini tegas.
“Eh, kau berani menolak?” teriak nona maju merah sewot.
Jaka tersenyum, “Aku bukannya menolak, hanya saja karena maksud mengundangku tidak jelas, kan tidak salah jika aku tidak begitu berminat bertemu dengan guru kalian. Tapi jika sungguh-sungguh menginginkan aku jadi tamu, tanya kembali pada gurumu, apa maksud mengundang diriku, kalau tidak ada jawabnya yang pasti lebih baik jangan mengganggu. Alam seindah ini bukan tempat yang cocok untuk beradu kata-kata, nona…”
Ucapan pemuda ini benar-benar membuat nona baju merah jadi gemas sekali. Tapi ia tidak bisa marah, karena Telaga Batu merupakan daerah umum, dia tidak bisa seenaknya bertingkah. Lagi pula alasan pemuda itu memang tepat. Apalagi diantara mereka sebelumnya tidak saling mengenal, orang bisa langsung memastikan kalau penghuni perahu mewah itu sengaja cari gara-gara, bisa jatuh pamor meraka.
Belum lagi nona baju merah menjawab ucapan Jaka, nona baju hijau menyerobot lebih dulu. “Memangnya kau ini siapa? Berani menolak undangan guru…” belum sampai ia menyelesaikan ucapannya nona baju merah menyikut dirinya.
Mendengar nada ucapan nona tadi, Jaka sudah dapat meraba situasinya. Dengan tersenyum ramah pemuda ini membungkuk hormat. “Aku bukan siapa-siapa nona, aku hanya orang biasa yang senang berkelana, karena itu undangan dari gurumu yang mendadak membuatku merasa tersanjung, tapi juga membuat bingung. Dengan tidak mengurangi rasa hormatku, aku menolak undangan ini karena tidak jelas apa arti undangan ini!”
Perkataan Jaka diutarakan dengan lemah lembut, dan lagi pula benar, dua nona itu tidak bisa apa-apa. Mereka saling berpandangan, dengan muka cemberut, nona baju merah segera masuk kedalam untuk bertanya maksud dari undangan gurunya pada Jaka.
“Tunggulah sebentar, adikku akan menanyakan apa yang menjadi ganjalanmu!” kata nona baju hijau ketus.
“Baik, aku tunggu.” Sahut pemuda ini masih tetap ramah. Lalu dengan duduk di ujung perahu, pemuda ini kembali mengawasi dinding tebing batu untuk menikmati keindahannya. Pemuda ini menghela nafas, dia sudah tidak begitu selera lagi menikmatinya, sekejap dia melirik, ada dua perahu yang jaraknya hanya berkisar lima-enam tombak dari perahunya.
Jaka melihat setiap perahu memiliki penumpang empat orang. Pemuda ini menggeleng gemas, Sekaliapun kalian bekerja secara rahasia, jika cara membuntuti orang, hanya berkemampuan begini, andaikan aku atasan kalian, siang-siang aku sudah memecatnya. Sepintas saja Jaka sudah tahu kalau mereka membuntutinya. Bagi orang awam, kedua perahu itu tiada sesuatu yang patut dicurigai. Tapi bagi pandangan Jaka, justru banyak hal yang dapat ia simpulkan—sekali pandang saja.
Jika mereka adalah pelancong, bagaimana bisa ke delapan orang dalam dua perahu itu memiliki ciri yang sama? Rata-rata bertubuh kekar. Sekalipun mereka bersikap santai, tapi gerak-geriknya tidak leluasa—itu satu alasan kenapa Jaka mencela cara kerja mereka.
Adalah jamak jika Jaka berpikiran, bahwa penguntitnya hanya pion-pion—seorang keroco. Dan pandangan Jaka melayang tepi Telaga Batu, dia melihat sesosok tubuh tinggi besar, agak tersembunyi dari keramaian nelayan. Jaka tersenyum sembari menghela nafas, dia sudah dapat menarik kesimpulan bahwa delapan orang yang ada didua perahu itu adalah kawan, atau anak buah Bergola. Sebenarnya timbul dalam pikiran Jaka untuk melambaikan tangan kearah Bergola, tapi sesaat dia menyadari kalau itu bisa mengganggu ketenteraman keluarga Ki Lukita.
Untuk sesaat dia mengawasi perahu pesiar yang mewah, perahu itu berwarna abu-abu, di ujung badan perahu terlihat pahatan kepala naga. Dan pada bagian badan perahunya juga terlihat lukisan naga.
“Tapi, mungkinkah mereka juga anggota Perguruan Naga Batu?”
Sambil mengawasi perahu mewah itu, Jaka juga melirik sekilas ke arah dua perahu yang menguntit perahunya, bibirnya tersenyum tipis.
Mereka seharusnya bertindak sebelum aku jadi perhatian, ha-ha… kalian harus bersabar kalau tidak ingin bentrok dengan orang-orang Perguruan Naga Batu. Hh, menyenangkan… kelihatannya persoalan ini bisa kuraba arahnya, tak jadi masalah bagaimana akhirnya nanti. Aku punya banyak alternatif untuk menyelesaikannya. Yah, tentunya dengan catatan, jika orang dalam perahu mewah itu adalah anggota Perguruan Naga Batu. Jika bukan, kemungkinan besar mereka satu perkumpulan dengan Bergola, mungkin tingkatan mereka lebih tinggi. Jika dugaanku benar, penguntitku ini pasti tidak ingin bertindak ceroboh, saat atasannya turun tangan sendiri. Rasanya cukup beralasan, mereka menguntitku setelah Bergola meninggalkan rumah Ki Lukita. Mungkin ada salah satu dari mereka, melihat diriku menjumpai Ki Lukita. Tapi aku yakin mereka tidak mengetahui untuk apa aku berjumpa dengan beliau! Kalian salah perhitungan, salah sasaran, salah pula mencari pelampiasan! Hh… senang rasanya aku bisa menggerakkan badan lagi. Keterlibatanku pada kejadian ini mungkin kebetulan, kusangka sederhana, tak nyana cukup gawat. Apakah ini keberuntungan atau kemalangan? Aku tak tahu… sambil memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, dengan sabar pemuda ini menunggu munculnya orang dari perahu mewah.
Berkelana beberapa lama dalam dunia persilatan, sudah cukup banyak pengalaman yang diperoleh anak muda ini. Hanya saja dia sering kali bertindak ceroboh, masa bodoh, kadang acuh tak acuh. Meskipun dia tahu apa yang dilaluinya merupakan jebakan. Terkadang Jaka mengikuti permainan lawan lebih dahulu, baru setelah dia berada didalam, segala daya upaya dia curahkan untuk memecahkan kesulitan yang di alami. Menurutnya kesempatan itu sangat langka, dan dengan hal tersebut seluruh potensinya bisa ditarik keluar. Sungguh pikiran yang aneh. Tentu saja dengan pikiran seperti itu, taruhannya sangat besar, nyawa! Tapi Jaka tak pernah menghiraukannya, bukan karena Jaka tidak takut mati, tetapi dia memiliki alasan tertentu, yang memang seharusnya dia lakukan. Sebagai ujian dan sebagai bekal.
Perlu diketahui, selama berkelana, pemuda ini boleh dibilang jarang—bukannya tidak pernah—sekali mempergunakan ilmu silatnya, ia selalu bertindak wajar, sebagai layaknya orang awam yang tidak tahu kepandaian silat, kalaupun keadaan terpaksa ia hanya mengerahkan olah-langkah dan peringan tubuhnya saja. Alasan utama dia bertindak demikian, karena dia mencegah dirinya agar tidak mencelakai siapapun. Tentu saja masih banyak alasan lain…
Tapi itu tidaklah absolut, artinya bisa saja Jaka bertindak, melihat situasi dan kondisi. Jika memang memungkinkan baginya tidak mengeluarkan ilmu silat, dia lebih suka berdiplomasi dari pada harus bertempur.
Kali ini Jaka berpikir apakah dirinya harus memperlihatkan bahwa dirinya mahir ilmu silat? Sambil menghela nafas panjang, pemuda ini makin tenggelam dalam lamunan. Dia tidak sadar kalau nona baju merah sudah keluar dari dalam bilik perahu.
Tapi anehnya, melihat pemuda itu sedang melamun, dia sama sekali tidak mengganggu. Mungkin setelah melapor, nona itu malah kena tegur sang guru, agar tidak bertindak kasar dengan calon tamunya.
Jaka masih merenung, Jika aku membuyarkan identitas—bahwa aku memiliki ilmu silat, saat aku berkunjung kerumah Ki Lukita, mungkin tak leluasa lagi. Bisa saja, beliau malah dicurigai. Nanti malam Aki akan menghadari sebuah pertemuan, yang aku sendiri tidak tahu untuk apa. Jika kali ini mereka tahu bahwa aku menguasai ilmu silat, bukankah saat kukuntit pertemuan nanti malam, Bergola mungkin sudah menduga bahwa aku yang datang? Lalu bagaimana dengan Ki Lukita? Sekalipun aku tahu beliau memiliki semacam kelompok rahasia, aku tidak boleh membuat beliau hidup tak tenang. Hh, masih banyak pemecahan dari persoalan ini. Kalau saja saat ini kutunjukan bahwa aku mahir ilmu silat maka gerak-gerik Bergola tidak akan seberani saat ini, lagi pula Ki Lukita tidak akan di curigai bahwa beliau punya ilmu silat. Wah, apapun tindakan yang kuambil harus hati-hati, apa lagi aku juga dilarang menggunakan ilmu mustika. Hh, sebenarnya aku tak perlu merisaukan masalah seperti ini. Lagi pula, siapa bisa menduga apa yang akan kulakukan? Berpikir demikian, Jaka kelihatan lebih tenang.
Perlahan ia berdiri, lalu mendongkakkan kepala kearah perahu mewah itu. Entah berapa lama ia berpikir merangkai satu kesimpulan. Dilihatnya geladak perahu mewah besar itu sudah ada lima orang nona yang terlihat menanti dirinya. Menyadari ia tak bisa menghindari undangan itu, iapun segera menaruh perhatian.
“Bagaimana, ada maksud apa tuan kalian ingin mengundangku?” tanya Jaka tak berbasa basi.
“Guru kami mengatakan bahwa ia selalu menjamu setiap orang berbakat bagus, ia mengatakan kalau tuan adalah orang yang berbakat bagus dalam bidang yang tuan tekuni, jadi beliau tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjamu tuan.” Kata nona berbaju merah. Jaka agak heran mendengar nona itu tidak berani berbicara keras dan kurang ajar seperti tadi, sesungguhnya pemuda ini paling suka kalau ada seorang gadis yang tidak pernah menutup-nutupi sifat aslinya dengan sikap ramah seperti itu.
Tapi kalau menilik dari nada bicara nona baju merah itu pemuda ini dapat menyimpulkan bahwa orang dalam perahu mengetahui kalau ia menguasai sebuah kepandaian, mungkin orang itu mengukur tingkat kehandalan dan bakat dirinya dari seruling yang ia tiup tadi. Suara, ya… mereka mengukur keandalan orang dari suara! Berpikir seperti itu, mau tak mau Jaka harus waspada, sebab orang yang dapat mengetahui bakat orang hanya dari frekuensi suara, tergolong tokoh tingkatan tinggi.
“Jika aku menolak?” tanya Jaka sambil tersenyum.
Gadis-gadis itu saling tatap. “Berarti kau…” si nona baju merah tak meneruskan ucapannya.
“Ya?”
“Kau…”
“Aku kenapa?”
“Kau orang tolol!”
Jaka melegak sesaat, lalu ia tertawa. “Memang benar aku orang tolol, malah tidak membuat repot guru kalian untuk mengundangku segala?”
Sungguh gemas mereka mendengar ucapan Jaka, memang benar ucapan Jaka, logikanya kalau dia adalah orang tolol, maka undangan untuk menjamu orang berbakat kan tidak berlaku?
“Kau…” geram si gadis baju merah dongkol.
“Aku bagaimana nona?”
“Maafkan dia tuan.” Tiba-tiba saja gadis baju hijau menyoja kearah Jaka.
“Ucapannya hanya menuruti kata hatinya.”
Jaka tertawa. “Tidak mengapa, aku malah senang menghadapi orang-orang polos seperti dia.”
Sungguh, baru disadari olehnya—si gadis baju merah—bahwa; ia sangat beruntung memakai baju merah, sebab pipinya yang merona tidak diketahui teman-temannya. Ucapan Jaka yang sepintas lalu tadi, baginya lebih berpengaruh, dari pada rayuan.
Sejak awal Jaka memang tertarik untuk mengenal siapa orang dalam perahu. Jaka berkata menolak cuma iseng saja.
“Baiklah, demi menghormati kalian yang mau bersusah payah bertanya, aku akan segera datang.”
“Terima kasih.” Sahut gadis berbaju hijau.
“Sebelum aku lupa, kuingin bertanya… apakah kalian keberatan?”
“Silahkan, jangan sungkan-sungkan…” suara nona baju biru ini terdengar lebih empuk dan merdu ketimbang nona baju hijau dan nona baju merah.
“Apakah kalian… guru kalian, adalah anggota Perguruan Naga Batu?”
“Benar!” sahut nona baju biru memperhatikan Jaka lekat-lekat, meski jaraknya agak jauh, tetapi dia bisa melihat raut wajah si pemuda dengan jelas, dan sesaat kemudian ia tak berani memandangnya lagi.
Mendengar jawaban itu, Jaka menghela nafas antara lega dan gelisah, namun begitu, seluruh perhitungannya tadi jadi tidak sia-sia.
“Kalau begitu apakah aku harus segera datang?” tanya pemuda ini lagi.
“Tentu saja, guru kami sudah menanti…” setelah berkata begitu, nona baju biru menoleh kearah nona baju merah. “Adik sediakan tangga tali!”
“Tidak perlu nona!” sahut Jaka. “Biar aku yang datang kesitu…” setelah berkata begitu, Jaka mengeluarkan batu pemberat yang terikat pada tali di ujung perahu, di cemplungkan batu itu agar perahunya tak berpindah karena terhempas gelombang telaga. Setelah selesai, seperti tak sengaja, pemuda ini melirik sekejap kearah dua perahu yang ada dibelakangnya.
“Hm,” mengumam perlahan penuh perhitangan, mendadak tubuhnya melecat keatas dan melayang bagai burung. Perahu yang dibuat tumpuan untuk meloncat, tak bergerak—kecuali karena hempasan gelombang telaga.
Semula jarak antara perahunya dengan perahu mewah itu ada tujuh tombak, tapi kini sudah terpisah sepuluh tombak, karena perahunya terhempas oleh gelombang telaga. Dan anehnya Jaka tidak melompat menuju perahu mewah itu, pemuda ini malah melompat tinggi di atas perahunya.
Tiba-tiba saja di udara tubuh pemuda menggeliat lembut bagaikan sehelai kapas tertiup angin, dengan perlahan tubuhnya bergeser atau lebih tepat lagi, melayang! Dan akhirnya mencapai ujung perahu mewah.
Wajah pemuda itu terlihat biasa, nafasnya juga tidak terengah. Dari sini saja sudah terlihat betapa menakjubkan kelihayan peringan tubuh pemuda itu. Lima nona yang ada di perahu mewah itu terbelalak takjub melihat demonstrasi peringan tubuh yang amat sempurna. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berusia paling tidak dua puluh tahun itu, memiliki peringan tubuh lihay.
Andai saja Jaka meloncat dari perahunya ke perahu mereka dengan jarak yang sama, kelima nona itu akan tetap mengaguminya. Bagaimanapun juga, meloncat tanpa ancang-ancang sejauh sepuluh tombak (20 meter) hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki dasar olah ilmu murni, dan latihan keras belasan tahun. Tapi apa yang dilakukan Jaka berkali lipat lebih hebat dari sekedar meloncat, hakikatnya ilmu meringankan tubuh macam itu belum pernah terlihat oleh mereka. Padahal selama banyak tahun mengikuti sang guru, mereka sudah merasa cukup berpengalaman, mereka yakin cukup tahu berbagai gerakan jurus-jurus perguruan lain. Tapi pengalaman kali ini benar-benar membungkam mereka dan makin melebarkan mata mereka, bahwa peringan tubuh pemuda ini tidak sama dengan pengetahuan yang mereka ketahui. Mereka sadar, sang tamu itu bukan sekedar pemuda biasa, mungkin saja salah satu murid sesepuh persilatan yang sudah mengundurkan diri. Tanpa terasa timbul rasa hormat padanya…
Ternyata, bukan hanya lima nona itu saja yang terkejut, mereka yang tadi menguntit Jaka, juga kaget bukan kepalang, dalam hati, mereka sangat bersyukur tidak bertindak ceroboh. Mereka sadar bisa jadi merekalah yang menjadi bulan-bulanan pemuda yang dikuntit tadi.
Begitu pula dengan Bergola dan temannya—dia yang melihat sembunyi-sembunyi dari tepi telaga—turut tercekat kaget. Wajahnya pias, rasa kawatirnya makin besar, begitu melihat pertunjukan peringan tubuh lihay tadi. Dia berpikir untuk menyusun rencana baru, kalau rencana lamanya gagal.
Tentu saja yang dimaksud ‘rencana’ disini adalah urusannya dengan Aki Lukita, ia mendapat laporan dari anak buahnya bahwa setelah kepergiannya datang seorang pemuda menjumpai Aki Lukita, karena takut Aki Lukita meminta bantuan atau membocorkan rahasianya pada pemuda itu, maka Bergola memata-matai Jaka dari jauh, dan berniat menghabisinya jika ada kesempatan. Tapi siapa duga peringan tubuh Jaka selihay itu? Sekalipun pemuda itu hanya memiliki peringan tubuh, bagi dirinya itu sudah cukup mengawatirkan. Kelak jika saling berhadapan, bisakah aku membunuhnya? Berpikir begitu, ciut nyali Bergola. Dia sadar, hal apapun tentang lawan, dia tak tahu sama sekali, jangankan untuk menghabisi, membayangkan jika dirinya bertemu dengan Jaka, tubuh Bergola berkeringat dingin. Bergola segera mengundurkan diri, dia tak ingin ada orang tahu dirinya bersikap aneh—maklum saja, sehari-hari dia dikenal cukup supel…
“Dimana aku bisa menemui tuan rumah, nona?” tanya Jaka.
Mendengar pertanyaan itu, kelimanya terkejut, hampir bersamaan mereka tampak tersipu-sipu, begitu juga dengan nona baju merah. Sebab tadi dia bersikap sinis, akibat hatinya tersentil ucapan Jaka. Tapi begitu menyaksikan kelihayan peringan tubuh tadi, nona baju merah itu merasa malu pada dirinya. Saat Jaka sibuk menyangkal ucapannya, timbul keinginan dalam hati untuk menantang bertarung. Nyatanya setelah melihat pertunjukan lihay tadi, hatinya langsung dingin, perasaannya jadi tak tentram, untung saja sikap sinisnya tadi semata-mata lantaran dongkol, karena alasan yang diucapakan pemuda itu tak bisa dia bantah.
“Silahkan mengikutiku…” nona baju biru yang pertama kali tersadar.
Di iringi lima nona itu, akhirnya Jaka masuk ke dalam perahu mewah. Sesampainya didalam, pemuda ini melihat dua orang laki-laki paruh baya, dan seorang lagi sedikit lebih tua dari keduanya, mereka terlihat gagah berwibawa.
Wibawa mereka itu pasti bukannya didapatkan dengan cara yang mudah. Gurat tekad, kemauan tercermin dari sikapnya. Diam-diam Jaka menghela nafas prihatin, dia sadar urusan ini bukan sekedar perjamuan saja, pasti akan berkembang lebih rumit. Meskipun merasa kurang nyaman, Jaka tidak bertindak kurang hormat.
Begitu berhadapan dengan mereka, Jaka sedikit membungkuk memberi hormat, “Saya Jaka, merasa terhormat dapat berjumpa dengan tokoh dari Perguruan Naga Batu.”

—ooOOOoo—

14 – Beruluk Salam Menukar Muslihat

“Ah, saudara Jaka tidak perlu begitu sungkan,” sahut lelaki berusia lima puluhan tahun itu. Dua lelaki berusia empat puluh tahun itu juga membalas memberi hormat pemuda itu.
“Mari, mari… silahkan duduk.”
Begitu duduk, nampak nona baju hijau membawa nampan yang berisi air teh dan makanan. Setelah nona baju hijau menghilang di balik bilik, tanpa basa basi lagi Jaka bertanya, “Maaf jika pertanyaan saya agak keterlaluan, saya ingin tahu apa tujuan anda mengundang saya?”
“Jika tidak dijelaskan bisa jadi salah paham. Begini saudara Jaka, jabatan kami adalah pelindung Perguruan Naga Batu. Aku bernama Sadewa dan dua rekanku ini bernama Kunta Reksi dan Kundalini, kami bertiga memiliki kesenangan yang sama yakni suka menjamu orang yang memiliki bakat hebat seperti anda ini. Tidak sangka saudara Jaka memiliki kemampuan diluar dugaan kami.”
”Ah, terlalu memuji.” pemuda ini tersenyum tersipu. Orang bisa tertipu dengan lagak Jaka, diluarnya saja ia nampak seperti orang yang polos tidak tahu masalah. Diamnya Jaka disebabkan memikirkan langkah yang harus ditempuh untuk menghadapi lawan.
“Menjamu orang berbakat? Aih, dari ucapanmu saja sudah menimbulkan prasangka yang buruk, kesenangan orang memang berbeda-beda, tapi ini aneh.” Pikirnya.
“Untuk pertemuan yang pertama kali ini mari kita bersulang agar segala sesuatu selalu berjalan baik,” kata Kundalini sambil mengangkat gelasnya. Lalu keempat orang itu sama-sama menenggak air teh itu.
Waspada adalah senjata utama berkelana, sudah tentu Jaka tidak mau bertindak bodoh. Meskipun dia tahu Perguruan Naga Batu bukan aliran sesat, mewaspadainya bukanlah hal buruk. Diluarnya saja ia terlihat minum air teh, padahal begitu air teh memasuki kerongkongan, ia segera mengerahkan hawa murni dan dengan cepat menggumpalkan air teh itu. Hawa murni yang dimiliki Jaka sangat kuat, teh yang masuk itu dapat ia gumpalkan menjadi es dan ia mutahkan kembali. Tentu saja gumpalan es air teh itu, begitu sampai di tangannya dengan cepat diuapkan dengan hawa panas. Tentu saja ‘proses’ itu berjalan sebagai mana layaknya orang minum. Begitu ketiga orang itu meletakan gelas, Jaka juga meletakkannya dalam keadaan kosong.
Andai saja salah satu dari ketiganya tahu apa yang dilakukan Jaka, mungkin mereka mengira Jaka adalah anak murid tokoh sakti yang mendapat limpahan tenaga dari sang guru.
“Kejadian ini merupakan kehormatan bagi kami. Kami sering menjamu orang-orang berbakat bagus dan memiliki kepandaian silat tinggi, tapi yang berkemampuan seperti saudara Jaka benar-benar baru kali ini kami temui…” kata Kunta Reksi sambil tertawa lebar.
Pemuda ini berlagak kikuk, “Ah, terlalu memuji. Sesungguhnya selain meringankan tubuh, saya hanya menguasai sedikit sastra dan keterampilan memainkan seruling. Tiada yang lain…”
“Benarkah demikian?” tanya Sadewa dengan menatap pemuda itu lekat-lekat.
“Ya, sejak kecil ayah saya selalu ingin mengajarkan ilmu silat, tetapi ibu tidak setuju. Karena beda pendapat, maka kakek menganjurkan agar saya menguasai ilmu peringan tubuh saja, sehingga tidak perlu berkelahi,” tutur pemuda ini asal bicara. Tentu saja bertemu dengan orang semacam mereka, Jaka tidak ingin bertindak ceroboh.
Tiga orang itu manggut-manggut, dari raut muka mereka terlihat percaya dengan perkataan Jaka. Sekalipun tak ingin percaya juga susah, karena tidak ada alasannya, apalagi cara bertutur kata pemuda itu, begitu polos, dan sepertinya tidak kawatir kalau orang hendak mencelakainya. Tentu saja Jaka tahu benar dengan kelebihan dirinya—dalam hal bicara dia yakin, caranya membawakan cerita sangat meyakinkan. Tapi, meski mereka terlihat percaya, tentu hanya tampak diluarnya saja, mereka mewaspadai kalau-kalau keterangan Jaka dibuat untuk menipu. Alasan mereka tidak percaya adalah, menilik dari ilmu peringan tubuh Jaka. Untuk menguasai peringan tubuh, syarat utama justru penguasaan tenaga murni yang luwes.
Dengan kemampuan yang diperlihatkan Jaka tadi, mutlak ilmu yang dikuasai pasti aliran murni. Diantara para pendekar yang berkelana, mereka yang tergolong aliran murni—yakni aliran yang diciptakan untuk kalangan sendiri, bukan mencangkok dari luar—bisa dihitung dengan jari. Jika kekesimpulannya demikian, maka mereka bisa memastikan, keluarga si pemuda pasti pendiri aliran murni tertentu. Mereka berpendapat angkatan tua si pemuda pasti bukan manusia sembarangan. Kata pepatah; bapak macan tak akan melahirkan anak anjing. Dengan demikian, meski mereka merasa Jaka adalah anak yang polos, kekuatan yang menopang dibelakangnnya harus diperhitungkan.
“Oh begitu. Omong-omong, saudara Jaka datang dari mana? Melihat keadaanmu, kusimpulkan engkau termasuk orang berada, yang sengaja melihat dunia luar…”
“Tepat sekali,” seru pemuda ini sambil tertawa. Agak heran juga mereka melihat Jaka tidak terkejut, mungkinkah Jaka memang selugu itu?
Dalam bercakap-cakap, pemuda ini memang tidak menggunakan istilah paman atau sebutan untuk orang yang lebih tua, sebab dia merasa tidak seharusnya begitu. Bagaimanapun juga dia adalah tamu yang diundang. Seorang tamu undangan kan tidak perlu merendahkan diri?
“Orang tua saya tinggal di kota Kunta. Jika saudara menduga bahwa saya orang berada—tak bisa saya pungkiri bahwa orang tua saya termasuk keluarga terkaya. Kekayaan mereka berlimpah ruah—begitu yang dikatakan orang. Tapi saya tidak suka dengan keadaan itu.”
“Kenapa?”
“Orang kaya memang bagus, jika dermawan lebih bagus lagi. Jika kekayaan itu adalah hasil usahanya sendiri, apapun yang akan dilakukan olehnya pasti tak akan disesali. Berbeda dengan kekayaan turunan… yang terpikir hanya bagimana menghabiskan harta, atau bagaimana menjaga agar harta tetap banyak.”
“Kau maksud, maaf… orang tuamu seperti itu?”
“Seperti itu?”
“Memiliki harta turunan?”
Jaka merasa girang dengan pertanyaan ini, karena dia ingin tahu secerdik apa mereka. Sebab dipandang dari sudut kecepatan pikir untuk berekasi terhadap sesuatu, mereka memiliki rasio bagus. Tapi ada hal lain yang membuat pemuda ini makin girang bahwa; dia tidak perlu susah-susah mengarang cerita, karena apa yang akan diucapakan bisa berarti ganda, biarlah mereka yang menebak sendiri, dan dirinya hanya akan meneruskan pemikiran mereka—menurut Jaka itu rencana yang lumayan.
“Oh, tidak. Justru mereka mendapat kekayaan karena usaha sendiri, cukup dermawan dan cukup terpandang di kota.”
“O… jadi apa keluhanmu?”
“Hidup susah sudah pasti tidak enak. Tapi lebih tak menyenangkan lagi, jika semuanya terlalu mudah. Coba saudara bayangkan, ingin ini-itu tinggal tunjuk, semuanya terkabul. Apa enaknya hidup seperti itu? Otak jadi malas berpikir, tak ada tantangan untuk merangsang semangat hidup. Hh… bisa-bisa mati lantaran bosan.”
Penjelasan Jaka membuat ketiganya terkesip, hanya orang berprinsip saja yang sanggup meninggalkan harta benda demi mencari kebebasan. Karena kebanyakan orang, selalu sayang harta.
“Yah, berpikir demikianlah yang membuat saya memutuskan untuk pergi mencari pengalaman. Kabar terakhir yang saya dengar, orang tua sayapun pindah begitu saya pergi, mungkin mereka mencari saya.”
“Tapi… rasanya agak kurang wajar pemuda seusiamu, berani mengambil keputusan begitu besarnya.” Kata Kundalini menyahut sambil melirik sekejap kearah gelas minuman Jaka. Ia melihat gelas pemuda itu kosong, tinggal ampas teh. Jaka tertawa dalam hati melihat lirikan sang tuan rumah, dia sudah tahu apa maksudnya.
“Hanya karena merasa lebih enak berada di alam bebas, seperti ditelaga ini. Pekerjaan saya selama berkelana, tak jauh dari mengunjungi tempat-tempat pesiar yang terkenal keindahannya.”
“Maaf kalau boleh kami tahu,”
“Silahkan,”
“Jika sehari-hari saudara Jaka hanya kesana kemari tanpa tujuan seperti itu, dari mana anda dapatkan uang, untuk menutup biaya keseharian? Apakah sebelumnya anda membawa bekal banyak dari rumah?”
Jaka tertawa. “Jika sebelumnya saya membawa bekal, bukankah sama artinya saya orang munafik?”
Mereka tertegun dengan gaya tutur Jaka yang membahasakan diri; bahwa, jika dia masih membawa harta kekayaan orang tuanya, sama saja munafik. Sungguh tak mereka sangka ada orang sepolos itu. Meski yang diucapakan Jaka lebih banyak ngelanturnya, untuk hal ini memang sesuai kenyataan.
“Jadi apa yang kau bawa?”
“Tentu saja hanya yang melekat dibadan saja.”
“Jadi untuk makan, keseharian bagaimana?”
Jaka tersenyum, “Kenapa harus repot begitu? Saya tidak pernah memikirkan bahwa besok harus makan begini-begitu, harus menginap tempat tertentu. Alam begini luas, manusia tak akan kekurangan jika hanya untuk mengisi perut saja. Ya, memang kadang kala saya melakukan pekerjaan ini-itu, untuk sekedar bisa membeli baju atau bekal di perjalanan. Saya merasa bebas, orang tak punya apa-apa, tidak menjadi perhatian kaum begal.”
Mereka tersenyum mendengar komentar Jaka, mereka pikir Jaka ini pemuda unik. Mana ada orang yang hidup berkecukupan, mau hidup menggelandang demi sepatah kata bebas? Mau percaya rasanya agak mustahil, tak percaya juga susah—mengingat bahwa pemuda secakap Jaka yang memiliki peringan tubuh handal, hidup menggelandang… agak susah dinalar.
Pembicaraan berlanjut dengan menanyakan masing-masing kesukaan dan berbagai macam hal tetek bengek lainnya. Tentu saja Jaka menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar dan seolah tidak menyembunyikan sesuatu. Namun mata pemuda ini awas sekali, ia sempat melihat Kundalini melirik kearah gelasnya lagi. Tiba-tiba saja Jaka merasa akan ada—mungkin sudah—sesuatu.
Sebenarnya permainan apa yang mereka siapkan? Ah, kenapa tadi tidak kucicipi dulu ini? Percuma aku punya pengetahuan racun kalau masih kawatir, seharusnya aku tidak perlu ragu.
Memutuskan demikan, dengan lagak ketagihan air teh, pemuda ini meminta lagi. “Air teh ini sungguh harum, boleh saya menambah?”
“Ah, saudara terlalu sungkan, bukankah kita sudah bersahabat? Silahkan, silahkan…” sahut Sadewa dengan simpatik. Sekilas matanya lelaki umur pertengahan abad itu berkilat gembira, dan tentu saja hal ini tidak lepas dari perhatian Jaka.
“Terima kasih,” ucap pemuda ini, segera menuang air teh kedalam gelasnya. Dengan santai Jaka menyesapnya perlahan, namun sejak semua ia sudah mengambil tindakan antisipasi.
Hawa murni panas-dingin dikerahkan untuk melindungi bagian lambung. Dua pengerahan hawa itu merupakan ajaran murni yang dia dapatkan dari teori-teori dalam kitab pengobatan—salah satu kegunaannya untuk mengetahui apakah makanan, minuman atau sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya itu beracun atau tidak. Tentu saja selain kemampuan itu, indera penciumanlah yang berperan penting.
Meski Jaka sudah merasa ada yang kurang beres, tetapi indra penciumnya tak mendeteksi adanya racun. Jaka sangsi, jangan-jangan teh itu memang tak beracun, karena ragu pemuda ini memutuskan untuk mendeteksi dengan hawa murninya. Tapi begitu air teh menyentuh lidah, dalam sekejap lidah terasa kelu dan samar-samar ada aroma manis pahit getir tercampur. Keadaan seperti itu hanya terasa dalam sepersekian detik, tentu saja kalau orang biasa atau orang tidak tahu cara mengenali segala macam racun, tidak bakal menemukan tanda-tanda seperti itu! Apalagi air teh memang kebanyakan sedikit pahit. Sungguh cara meracun yang unik, lihay. Menyembunyikan rasa pahit dalam pahit, siapa pula yang dapat menduga?
Jika orang lain tak akan mengetahui hal itu, tentu saja Jaka berbeda. Lebih-lebih ketika menyadari racun apa yang dia minum, tapi diluarnya Jaka terlihat seperti biasa.
Gila, air ini berisi Bubuk Pelumpuh Otak. Sialan orang-orang ini, untung aku sudah curiga lebih dulu… Jaka terkejut karena perbuatan tuan rumah. Pemuda ini tidak perduli seberapa besar kadar dan pengaruh racun yang menyerang dirinya, karena ia mempunyai kepercayaan diri yang besar atas dirinya—bahwa ia sanggup mengatasi racun itu.
Setelah meminum air teh, wajah pemuda ini terlihat merah merona, sehingga seluruh wajahnya yang putih tersaput warna merah jingga. Tentu saja perubahan muka ini adalah hasil karya pemuda ini, dia sadar betul, reaksi pertama orang yang terkena Bubuk Pelumpuh Otak untuk takaran tertentu, adalah; untuk sesaat kepalanya terasa pusing dan wajah memerah untuk jangka waktu yang cukup lama—tanpa si korban tahu. Setelah tanda-tanda itu hilang berangsur-angsur si korban akan kehilangan kesadaran dan jati dirinya, dia mudah diperbudak, menerima perintah tanpa membantah pada orang yang pertama dilihatnya (setelah meminum racun), yang ada hanya jawaban ‘ya’! Sebab seluruh rasio dan pertimbangan akalnya tak seimbang lagi.
Tapi Jaka tahu kalau kadar yang diberikan dalam minumannya masih tergolong ringan, pemuda ini memperhitungkan kalau sebelumnya ia kelihatan sudah meminum satu gelas dan kini ditambah satu gelas lagi, maka kadar bubuk pelumpuh itu dalam tubuhnya sudah ada seperenam bagian. Dengan takaran seperti itu, maka orang yang terkena bubuk itu akan merasa sedikit bingung dan sungkan kepada orang yang ditemui pertama kali, dan jika pem-format-an (penghapusan) memori otak sudah dilakukan menyeluruh, dia tidak mungkin bisa membantah perintah orang yang ditemui pertama kali, untuk selamanya! Selama dia masih dalam kekuasaan Bubuk Pelumpuh Otak.
Tentu saja kejadian itu hanya berlaku untuk orang lain. Untuk meracun pemuda ini, rasanya butuh metode lebih hebat dan racun yang lebih keras lagi, sebab urusan racun adalah hal biasa bagi Jaka. Hakikatnya permainan mereka serupa main kapak didepan tukang kayu. Pemuda ini hanya bermaksud hendak mengetahui sebenarnya apa yang hendak mereka lakukan pada dirinya.
Sedikit banyak bisa kuduga maksud terselubung mereka. Pasti sebelumnya sudah banyak orang yang pernah mereka jamu seperti ini. Aih, berarti mereka sudah hilang kesadaran. Sungguh berbahaya, apa tujuan mereka?
Perlahan dia meletakkan gelas, wajahnya agak berkerut sedikit, kelihatannya diseperti sedang menahan pusing. Setelah beberapa waktu barulah kondisi Jaka berangsur-angsur pulih.
“Agaknya saudara Jaka benar-benar suka dengan teh ini?” ujar Sadewa kembali berbicara.
“Memang benar,” sahut pemuda ini sambil manggut-manggut. “Teh harum ini sungguh enak, sayang agak sedikit pahit.”
Ketiganya tersenyum maklum. “Ehm, sebenarnya saya ingin bertanya, sebelumnya saudara Jaka tinggal dimana?” tanya Kunta Reksi dengan ramah. Seharusnya setelah meminum bubuk pelumpuh otak, segala ingatannya sudah punah sama sekali, tapi dengan dosis tertentu, kondisi korban bisa beragam, mereka memiliki ingatan, tetapi mereka tunduk pada si pemberi perintah—seperti peran yang kini dimainkan Jaka.
Jaka tahu, orang ini sedang mencoba apakah kasiat dari bubuk mereka sudah bekerja atau belum. “Bukankah tadi …” hanya sampai disini saja Jaka bicara sebab ia kembali mengerutkan kening, seakan menahan pusing. Tiga orang itu saling pandang sekejap.
“Oh, saya sampai lupa menjawab pertanyaan tadi, saya dulu tinggal di kota Kunta, orang tua saya merupakan hartawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah. Saya terpaksa kabur berkelana karena dipaksa menikah dengan anak seorang hartawan yang juga memiliki kekayaan sebanding dengan kekayaan orang tua saya,”
Cara Jaka bertutur kali ini—seandaianya jaman itu sudah ada Piala Oskar, sebagai penghargaan Academy Award—ia pasti pantas dianugerahi sebagai aktor terbaik.
“Lalu kenapa kau kabur? Apakah gadis itu berwajah jelek?” tanya Kundalini tak sungkan lagi.
“Jelek? Ha-ha-ha, justru gadis itu adalah gadis tercantik di kotaku—kata mereka yang pernah melihat. Namun aku tidak mau, karena mereka menjodohkan kami semata-mata karena ingin melipat gandakan harta kekayaan mereka…”
Penjelasan pemuda ini tidak beda dengan yang tadi, diam-diam Sadewa membatin. “Anak ini benar-benar polos, banyak sudah pendekar muda yang terjatuh ditangan kami, satu pun tidak pernah menceritakan asal usul mereka, kalaupun ada, sudah tentu bohong. Tapi anak ini benar-benar menarik.”
“Lalu selama berkelana, apa saja yang kau lakukan?” kembali Kundalini bertanya.
“Tidak banyak yang kulakukan, hanya sekedar mengunjungi tempat indah, agar bisa melepaskan kepenatan hati. Suasana asri dan indah, memudahkan ber biasanya saya menetap sampai satu dua bulan, dengan membuat syair dan mencurahkan keindahan lewat suling, puaslah hati ini…” tentu saja penjelasan pemuda ini tidak beda dengan yang tadi, ketiga orang ini saling pandang dan perasaan heran.
Anak ini benar-benar polos! Gerutu Kundalini dalam hati. Tak ada informasi berarti yang bisa mereka dapatkan sebagai perbendaharaan.
“Wah, agaknya kita kali ini salah menjaring ikan. Pemuda yang seperti ini tidak cocok buat kita,” pikir Kunta Reksi.
Lain yang dipikir dua orang itu lain pula yang dipikir Sadewa. “Orang yang terkena bubuk kami, setangguh apapun dia, pasti jadi jinak, tak terkecuali bocah ini, sayang dia memiliki bakat begitu bagus, apa yang dikatakannya tadipun semua serupa, tiada kebohongan. Anak ini benar-benar menarik… sungguh bocah yang polos.”
Kalau saja Sadewa tahu apa yang dilakukan Jaka, dia bisa mati karena keki.
“Lalu apakah kau punya pengalaman yang menarik?” tanya Sadewa lebih lanjut.
“Ehm, rasanya ada, pernah juga dulu saya mengalahkan gerombolan bandit kelas teri. Tapi sebenarnya bukan mengalahkan tapi membuat mereka menyerah sendiri.”
”Bagaimana caranya?” Kunta Reksi bertanya penasaran.
“Mudah… cukup menghindar terus menerus. Karena sejak kecil yang kupelajari hanya ilmu meringankan tubuh, dan ilmu sastra saja, maka saya tidak tahu bagaimana caranya menyerang, paling juga hanya hajar-tendang sana-pukul sini. Tapi kalau masalah mengelak, bukannya menyombong sih… kurasa jarang yang sebaik aku. Dan tentu saja mereka yang menyerangku, menyerah! Mungkin kecapaian. Lucunya, mereka mengira kalau sengaja kupermainkan, padahal aku sendiri bingung memikirkan bagaimana cara menyerang mereka.
“Hi-hihi, sungguh lucu, dua puluh satu orang itu tiba-tiba berlutut didepanku. Tentu saja waktu itu aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, namun kuberi nasehat pada mereka agar lebih baik lagi menjalani hidup ini bukan dengan cara sekarang, menjadi bandit. Kukatakan lebih baik hidup sederhana tapi dilandasi hati yang jujur dan bersih, orang akan lebih menghargainya. Setelah mendengar pesan itu mereka semua mengiyakan dan pergi…” untuk cerita yang ini Jaka memang tidak bohong.
Kali cerita Jaka benar-benar membuat hati tiga orang itu tergerak. “Apa lagi pengalaman menarikmu?”
“Mm…” pemuda ini berpikir sekejap. “Oh, ada lagi yang lebih menarik. Kalau tidak salah sudah selang satu tahun yang lalu, waktu itu aku berada di air terjun Lawang Pitu, saking terpana dengan keindahan alam, tanpa sadar aku melompat diantara batu dan kayu untuk lebih dekat ke air terjun, eh… tidak tahunya ada seseorang yang memperhatikan ulahku.
“Beliau seorang kakek berusia delapan puluh tahun atau mungkin lebih. Hanya aneh, wajahnya itu merona merah segar seperti anak muda, benar-benar mengherankan! Beliau menegurku, begini katanya
‘Eh, bocah cilik! Bakatmu jarang terdapat di dunia persilatan, kenapa kau hanya bisa melompat-lompat seperti kodok saja?’, mendengar ucapannya itu, aku tidak mengira hanya dengan sekali lihat saja, Aki itu tahu bahwa aku memang hanya memiliki peringan tubuh. Lalu dengan sabar kukatakan padanya,
‘Orang tua saya memang hanya mengajarkan ini,mereka tidak ingin saya terlibat dalam perselisihan atau perkelahian yang tidak berarti…’, mendengar ucapanku Aki itu tertawa geli.
‘Bocah bodoh! Dengan bakat seperti ini kau hendak jadi orang biasa? Jadi petani yang hanya mengenal lumpur?’,
“Aku tidak paham maksud perkataannya, terpaksa aku hanya diam. Mendadak Aki aneh itu bertanya lagi, ‘Bocah cilik, apakah kau tidak ingin namamu termasyur mengalahkan nama tenar enam belas partai besar? Mengalahkan semua nama pendekar besar lainnya?’, mendengar ucapan Aki itu aku paham dengan ucapannya yang tadi, lalu kujawab,
”’Menjadi tenar hanya membuat susah, kalau orang lain tahu bahwa saya ini orang tenar maka kemanapun pergi tidak akan ada tempat yang tenang buat kita. Sebagai orang tenar tentu saja banyak orang yang ingin mengambil hati kita dengan menjilat… saya malah ngeri, ketenaran bisa membawa manfaat besar tapi bisa pula membawa bencana yang lebih besar,’ itulah yang kukatakan padanya.
Untuk beberapa lamanya Aki itu diam termenung. Tiba-tiba saja dia tertawa terbahak-bahak suaranya bahkan mengalahkan deruan air terjun. Dapatlah kuduga tenaga dalamnya sungguh sempurna. Setelah puas tertawa ia berteriak dengan nada girang,
“’Setua ini bisa bertemu dengan anak semacam kau, puas hatiku! Kau jauh dari noda, jauh dari rakus dan jauh dari gemerlap dunia yang menyesatkan…’ Beliau mengulang kata itu lagi, kemudian ia menyambung lagi ucapannya, ‘Nak, maukah kau menjadi muridku?’ tiba-tiba saja Aki ini bertanya begitu. Tentu saja aku kelabakan, lalu kukatakan padanya,
‘Menjadi murid Aki merupakan kehormatan besar bagi saya, namun saya ingin berkelana lebih dulu, saya ingin menuntaskan keinginan hati, agar lebih terang melihat dunia.’
“Mendengar perkataan saya itu Aki aneh itu tertawa, ‘Bagus-bagus, aku mendapat calon murid sepertimu, tidaklah rugi kalau aku mengalah,’ Aki itu berkata begitu sambil pergi, lalu sayup-sayup dari kejauhan, terdengar Aki itu berkata, ‘Apa itu sembilan mustika silat? Huh! Hanya membuat malu saja, tunggulah dunia. Aku akan munculkan seorang maha jago yang dapat melipat sembilan mustika!’ mendengar perkataan Aki itu, aku memahami bahwa; beliau merasa tidak puas pada pemilik sembilan mustika. Percakapan kami membuatku lupa bahwa aku mendengar deruan air terjun. Kesan kakek itu sangat dalam terpatri diingatan, aku merasa simpati padanya.” Dan Jaka mengakhiri ceritanya.
Tiga orang itu saling pandang, agaknya cerita pemuda ini yang terakhir memang sangat mengesankan, apalagi saat Jaka menekankan kata pada melipat sembilan mustika hingga tak berdaya, tiga orang itu tahu apa artinya. Lagi pula tokoh yang digambarkan Jaka tadi mengingatkan mereka pada seseorang, dan wajah tiga orang itu berubah hebat. Padahal mereka mana tahu kalau semua itu hanya cerita karangan Jaka? Memang ada kejadian seperti itu, tetapi mengenai diangkat menjadi murid segala, hanya karangan Jaka saja. Hakikatnya saat itu tiada percakapan basa-basi segala.
Kalau begitu masih ada ilmu yang lebih lihay dari sembilan mustika ilmu silat? Kalau benar, kejadian nanti benar-benar menghebohkan… pikir Sadewa.
“Lalu apakah kau mendengar janji, kapan Aki itu akan datang lagi?” tanya Kunta Reksi.
“Tidak, tapi menurut beliau, dia bisa menemukan aku dimana saja. Bagiku, tak menjadi masalah, apakah nanti menjadi muridnya atau tidak. Masih banyak hal-hal penting yang bisa kulakukan selain menjadi muridnya.”
Suasana hening dalam sesaat, “Apakah saudara Jaka memang baru pertama kali datang ke tempat ini?” tanya Kundalini.
Mendengar pertanyaan itu, dalam hatinya Jaka sudah dapat menuju kemana arah pembicaraan orang itu. Ha-ha, rupanya kau mulai menyelidiki diriku dengan seksama. Silahkan saja kalian telan semua bualanku, jika kalian tahu cerita tadi tak lebih cuma khayalan, kalian bisa mati lantaran dongkol, pikir pemuda ini geli.

“Saya memang baru datang hari ini.” Jawab pemuda ini singkat. Jaka tidak bohong bahwa dia baru datang hari ini, beda jika dia mengatakan ‘pernah’. Dan mereka tak menyadari hal ini.
“Apakah saudara Jaka ada mampir,”
“Tentu saja,” potong pemuda ini cepat. “Aku sempat mampir di rumah makan, dan penginapan Bulan Kenanga.”
“Bukan itu maksud kami, apakah kau mampir ke tempat seseorang?” tanya Kunta Reksi dengan nada meyakinkan.
“O…” pemuda ini mangut-manggut, namun pikirannya berkerja cepat. “Apa mungkin mereka sekomplotan dengan Bergola? Jika benar, mungkin saja mereka salah satu pimpinannya.”
Pemuda ini mengerutkan keningnya, agaknya ia kembali berlagak menahan pusing. Ketiga orang itu menunggu dengan sabar, sebab mereka memang tahu apa yang sedang terjadi.
Selang beberapa saat, pemuda ini sudah normal kembali. “Ya, selain itu aku mampir di rumah Ki Sasro Lukita, dia salah satu sesepuh kota ini …”
“Apa tujuanmu kesitu?” potong Kundalini tak sabar.
“Tak ada tujuan khusus, aku hanya ingin menanyakan tempat yang cocok untuk pesiar, tapi pada saat itu ada seorang tamu lelaki, dia bicara kasar dengan Aki itu. Aku enggan mencampuri urusan mereka, setelah lelaki itu pergi sebenarnya aku juga ingin pergi karena takut membuat perasaan Aki itu makin kalut. Tapi siapa sangka Aki Lukita mengetahui kedatanganku, dan diundang masuk. Apa boleh buat, akhirnya kuutarakan maksud kedatanganku. Eh, benar-benar kebetulan, ternyata Aki Lukita merupakan salah satu sesepuh kota, beliau banyak bercerita mengenai sejarah kota dan berbagai tempat yang bisa dikunjungi untuk melancong. Dari beliau aku mengenal adanya Perguruan Naga Batu, karenanya begitu melihat perahu ini, aku bisa menduga kalau penghuninya pasti anggota perguruan itu.”
Tiga orang itu manggut-manggut, tentu saja mereka percaya karena hakekatnya mereka mengira Jaka sudah terkena bubuk racun mereka. Hanya saja mereka benar-benar menggerutu tak habis-habisnya, sebab pemuda macam Jaka ini jenis yang langka dan aneh, mereka berpendapat Jaka tidak bisa dimanfaatkan.
“Lalu apa saja yang diceritakan Aki Lukita?” tanya Kundalini.
“Selain mengenai cerita seputar kota. Aki Lukita juga menceritakan pengalamannya saat muda,”
“Bagaimana dengan lelaki besar itu? Apakah ini juga menceritakannya?” tanya Sadewa.
“Tidak, namun Aki Lukita mengatakan bahwa dia bernama Bergola. Seorang lelaki bersemangat, namun sayangnya salah memilih jalur, aku tidak tahu apanya yang salah dari lelaki itu, makanya tidak kutanggapi lebih lanjut. Mungkin saja jika aku menanggapi ucapannya, beliau akan menceritakan masalah berkenaan dengan Bergola. Sebab kulihat Aki itu begitu senang bercerita.”
Mereka saling berpandangan, seperti sedang mencurahkan pemikiran mereka. Bibir mereka terlihat agak bergerak, kelihatannya orang itu sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara.
Perlu diketahui, ilmu menyampaikan suara dengan mengirim getaran gelombang suara kepada orang yang dituju merupakan kepandaian khusus yang tak sembarang orang bisa memilikinya. Minimal, sebagai standar kemampuan tersebut, dia adalah salah satu guru besar perguruan terkemuka.
Diam-diam Jaka mengamati ketiganya dengan hati kagum juga mangkel, sebab pemuda ini berfikir tindakan ketiganya sangat tidak layak.
“Bagaimana adi Reksi, apakah anak ini akan kita pakai?” tanya Sadewa meminta pendapat.
“Menurutku tidak perlu, dia hanya bisa menggunakan ilmu peringan tubuh. Rasanya tidak banyak berguna…” sahut Kunta Reksi.
”Kau jangan salah, peringan tubuh yang ditujukan bocah ini, hanya beberapa orang yang bisa melakukannya. Mungkin diantara keluarganya malah ada yang lebih hebat lagi. Kesimpulanku, untuk menguasai peringan tubuh seperti itu dibutuhkan bakat yang sangat bagus dan menurutku anak ini bisa jadi anggota kita yang sangat hebat. Bakat anak ini bisa dibilang luar biasa, dalam beberapa tahun mendatang, kita bisa menciptakan seorang pengawal amat tangguh.” Kata Kundalini memberikan pendapatnya.
“Benar juga kata adi Kundalini,”
“Tapi kakang, dengan di bawah pengaruh bubuk kita, perkembangan otaknya tidak mungkin seperti biasa…” timbrung Kunta Reksi, dari nadanya orang ini sepertinya setuju dengan usul Kundalini.
“Kalau begitu kita tawarkan sebagian saja, dan kita sisakan sedelapan bagian, dengan begitu kecerdasan dan segala sesuatunya tidak akan terhambat… sayang sekali kita menyia-nyiakan orang berbakat hebat seperti dia.”
“Bagus, usul kakang memang baik sekali…” sahut Kunta Reksi. Dan tentunya suara mereka tidak terdengar keluar, sebab mereka bicara dengan ilmu menyampaikan suara tingkat tinggi sehingga bisa didengar oleh tiga orang sekaligus. Karena biasanya ilmu menyampaikan suara hanya bisa ditujukan pada satu orang saja, kalau ada orang yang bisa menujukan suaranya pada dua orang atau lebih berarti tenaga dalam mereka memang luar biasa.
Plok-plok!
Sadewa menepuk tangannya, lalu dari dalam bilik keluar nona baju biru, dengan cekatan nona baju biru segera mengangkat poci, empat gelas serta makanan ringan tadi, dalam sekejap matanya menatap Jaka, pandangannya kelihatan sayu. Sepertinya nona ini sedang bersedih hati.
“Bawa kemari teh wangi dan sekalian daharan untuk makan siang,” perintah Sadewa.
“Baik guru,” sahut nona baju biru itu dengan segera, untuk sesaat Jaka melihat wajah nona itu berkilat gembira, pandangan sayunya tidak terlihat lagi.
Diam-diam pemuda ini heran, entah persoalan apa yang membebani si nona. Tapi karena sedang memperhitungkan sesuatu dia tidak memikirkan lebih lajut, kali ini Jaka merasa akan ada permainan lain. Mungkin lebih berbahaya.
Tak berapa lama kemudian, nona baju biru dibantu nona baju merah kelihatan keluar. Dua nona itu memegang nampan kayu. Dua poci cukup besar dan makan dengan berbagai macam lauknya segera tersedia didepan meja. Setelah menghidangkan makanan dan minuman yang diperlukan dua nona itu segera masuk kembali kedalam bilik.
“Mari kita bersantap,” tanpa basa-basi Sadewa segera mempersilahkan.
Jaka-pun tidak mau banyak tanya lagi, karena hakekatnya dia harus terus bersandiwara masih dalam pengaruh bubuk pembuyar syaraf otak. Setelah makan Sadewa menyuguhkan air teh wangi kepada pemuda ini.
“Mari…” dan mereka berempat minum.
Jaka segera tahu apa yang terkandung dalam air teh itu, ternyata dalam air teh ada penawar dari bubuk tadi, hanya saja kadarnya begitu ringan. Tapi pemuda ini tidak mau ceroboh dengan begitu saja menelannya, pemuda ini menggumpalkan apa yang ia makan dan minum sehingga terkumpul jadi satu di lambung.
“Ah, kenapa begitu mengantuk?” gumamnya sambil menguap tertahan, lalu diapun tidur.
Tentu saja tindakan Jaka demi memperlancar sandiwaranya belaka. Dia tahu, apabila racun bubuk bertemu penawar, korban akan merasakan kantuk biarpun penawar bubuk itu hanya sedikit. Tiga orang itu membiarkan Jaka tertidur dikursinya, tangan pemuda ini bersedekap di dada.
Kelihatannya posisi tangan pemuda ini tidak memiliki maksud apa-apa, padahal Jaka sengaja begitu karena ia kawatir tiga orang itu menggeledah pakaiannya dan mendapatkan catatan Aki Lukita. Jika saja mereka mengusiknya, pemuda ini akan segera bertindak… Ternyata tiga orang itu sama sekali tidak mengusiknya.
Beberapa saat kemudian, Jaka menggeregap terbangun. “Heran, kenapa bisa sampai ketiduran?” gerutu pemuda ini sambil menggaruk kepalanya. “Maaf, entah kenapa saya ketiduran…” pemuda ini berkata dengan lagak serba salah.
“Ah, tidak apa-apa, mungkin kau terlalu capai. Perjamuan kita sudah berakhir, kami sangat berkesan sekali dengan pertemuan ini… tentunya saudara Jaka juga begitu bukan?”
“Tentu saja, hanya saya tidak menyangka bakal bertindak kurang sopan.”
“Ah, itu bukan masalah, kalau sudah bersahabat, kenapa mesti sungkan lagi?” ujar Kunta Reksi ramah.
“Ehm, saya rasa… saya sudah terlalu lama disini. Saya mohon pamit,” pinta pemuda ini sambil berdiri.
“Oh, silahkan.” Sadewa juga ikut berdiri, lalu ketiga orang ini mengantar Jaka keluar dari bilik kapal mewah itu. Dibelakang mereka, kelima nona juga ikut mengiringi keluar.
“Berapa lama saudara Jaka berada di kota ini?” tanya Kundalini.
“Saya belum bisa memastikan, tapi melihat suasana tenteram dan sejuk seperti ini, mungkin saya akan tinggal satu atau dua bulan.” Jawab pemuda ini.
“Apakah saudara Jaka akan tetap tinggal di penginapan Bunga Kenanga?” kali ini Kunta Reksi yang bertanya.
“Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya lebih suka menginap dialam bebas, tapi rencana saya dalam lima hari ini saya masih ada di penginapan, untuk selanjutnya saya akan melewatkan malam hari di alam bebas, dengan menikmati sinar bintang dan bulan.” Sahutnya tanpa canggung—sok penyair.
Benar-benar pemuda kutu buku yang tidak perduli apa-apa! Gerutu tiga orang itu dalam hati.
“Kalau begitu, kami harap lima hari mendatang, tepatnya tengah hari saudara Jaka datang ke Pesanggrahan Naga Batu, kurang lebih empat pal dari komplek Perguruan Naga Batu.” Kata Sadewa dengan nada datar.
“Baik, saya akan datang.” Jawab pemuda ini dengan mantap.
“Simpan ini…” Sadewa memberikan lencana berukir naga yang terbuat dari perunggu, ukurannya hanya separuh telapak tangan.
Jaka tak banyak bertanya, dia segera menyimpan lencana itu, tapi alisnya terus berkerut dan itu sudah cukup bagi Sadewa untuk mengetahui maksudnya.
“Lencana ini merupakan tanda masuk ke Perguruan Naga Batu, dengan lencana ini kau tidak akan menemui kesulitan untuk menjumpai kami.” Jelas lelaki ini dengan nada datar dan mengandung wibawa.
Jaka manggut-manggut paham, “Kalau begitu terima kasih banyak!” katanya sedikit membungkuk hormat dan membalikan badan untuk segera pergi, ia harus bertindak begitu karena ia tahu bahwa hakikatnya mereka menganggap bahwa bubuk pelumpuh otak yang ada ditubuhnya tinggal sepedelapan bagian. Maka itu dia harus mengiyakan segala yang diminta mereka.
“Ada yang ingin saya tanyakan,” tiba-tiba pemuda ini membalikan badannya.
”Silahkan,” ujar Kundalini.
“Tadi saya mendengar yang mengundang saya adalah anda sekalian dan nona, tapi saya tidak menjumpai nona yang dimaksudkan…” pemuda ini tampak penasaran.
Sadewa mengangguk-angguk, Anak ini cermat, segala apa yang dibicarakan orang ia ingat baik-baik bahkan hal yang sepele. Kelihatannya memang sebuah keberuntungan mendapatkannya, pikirnya dalam hati.
“Kau jawab pertanyaannya…” seru Sadewa pada nona baju merah.
“Baik guru,” sahut nona ini sambil membungkuk. Lalu ia memutar tubuh dan menghadapi Jaka dengan wajah tertunduk. “Tadinya memang nona kami ingin bersua dengan tuan, tapi tiba-tiba saja nona tidak enak badan.”
“Oh.. kiranya begitu,” seru Jaka manggut-manggut. “Mudah-mudahan saja ia segera sembuh.” Sambungnya.
“Terima kasih atas perhatian tuan,” sahut nona baju biru. “Akan saya sampaikan pada nona.”
“Ah, tidak perlu. Mungkin apa yang saya katakan hanya sekedar basa-basi.” Kata pemuda ini sambil tertawa lebar. Hanya saja ucapan pemuda ini, membuat lima nona pengiring itu saling pandang heran, didunia ini mana ada orang mengatakan kalau dirinya berbuat hanya untuk basa basi? Begitu juga tiga orang pelindung Perguruan Naga Batu, mereka menggeleng dengan prihatin, mereka menganggap bahwa pemuda ini kelewat jujur dalam tindakannya. Apa yang ingin ia katakan dan ia lakukan selalu terang-terangan.
Jaka agak rikuh juga melihat semua orang tidak menanggapi ucapannya. “Tadi itu… tentu saja saya mengatakannya dengan bersungguh hati.” Sambungnya. “Karena tidak ada kepentingan lain, saya mohon diri,” pemuda ini berkata seraya membungkukkan badannya lagi, setelah tiga orang itu mengangguk, ia membalikan badan dan berjalan keujung perahu.
Dilihatnya jarak antara perahu mewah dengan perahunya itu sekarang sudah dua puluh tombak lebih. Untung saja sebelumnya Jaka sudah memasang pemberat pada perahu, kalau tidak tentu perahunya sudah terhempas ombak telaga entah kemana.
“Hiaah…” lengkingan kecil itu begitu nyaring bagai pekikan naga. Seiring dengan pekikan tadi, tubuhnya segera melayang tinggi dan bagai bulu tertiup angin pemuda ini turun perlahan dan sudah berada diperahunya kembali. Gerakannya tak berubah—seperti tadi, kelihatannya perbedaan jarak sepuluh tombak bukan hal berarti bagi pemuda ini. Apa yang dipertunjukan pemuda ini benar-benar peringan tubuh yang amat lihay, hakikatnya tiga orang itu belum pernah melihat ilmu sehebat itu.
Bagi mereka yang berpengalaman, dapatlah mengambil kesimpulan, jika peringan tubuh pemuda ini belum lagi dikembangkan penuh. Sebab caranya melompat begitu enteng, tanpa ancang-ancang, tak pengaruh jarak, nafaspun tak terlihat terengah.
Diam-diam ketiga orang ini menghela nafas gegetun, Baru anaknya saja sudah sehebat itu, entah bagaimana kehebatan orang tua, dan kakeknya? Sungguh berbahaya jika kita bermain api terlalu lama. Pikir Sadewa gelisah.
Lain yang dipikir Sadewa, lain pula yang dipikir kedua rekannya—Kundalini dan Kunta Reksi. Dengan bakat dan kemampuan sehebat itu, andai dia menguasai salah satu ilmu mustika, agaknya kecuali ditumbangkan oleh sesepuh persilatan, sulit mencari lawan sepadan.
Andai saja mereka tahu, bahwa Jaka menguasai tiga dari sembilan mustika ilmu silat, tentu saja mereka tidak akan bertindak dan berpikir demikian ceroboh. Orang yang menguasai ilmu mustika kan tidak berasio—IQ—rendah, dan tidak akan semudah itu terjebak dalam permainan tadi.
Sesampainya di perahu, Jaka segera menarik pemberat dan mendayungnya perlahan-lahan, meninggalkan keramaian—menjauhi perahu mewah tadi, hingga akhirnya ia sampai di pinggir tebing batu. Saat itu matahari sudah sedikit condong kebarat, sekitar dua-tiga jam kemudian bakal menjelang magrib.
Perahu yang ditumpang pemuda ini kembali dikayuh sehingga terhenti saat ujung perahunya menumbuk lembut sebuah batu yang mencuat dari permukaan air telaga. Jarak batu yang menjadi tambatan perahu, dengan dinding tebing kira-kira masih sepuluh tombak lagi. Melihat keadaan itu, Jaka berkesimpulan, sekitar dua puluh meter mendekati dinding tebing, banyak dipenuhi batu-batu menyembul. Mungkin, karena longsoran dari atas, atau berasal dari bongkahan batu dinding tebing yang retak.
Jaka menghela nafas, sungguh tak habis rasa kagumnya menatap bangunan alam dengan Tuhan sebagai ‘arsitek’. Saat dia berada ditepi telaga, rasanya tinggi tebing ini tak lebih sepuluh tombak, tapi saat mendekat, rasanya tebing itu bagaikan dinding raksasa yang menjulang tinggi, mungkin tingginya sampai empat atau lima puluh tombak lebih, lagipula dibagian puncak dinding tebing itu ada juga yang diselimuti awan. Pemandangan itu benar-benar membuat Jaka takjub.
Aih, sampai lupa… harus segera mengeluarkan apa yang tadi kutelan. Terpikir demikian, di ujung perahunya pemuda ini segera mengerahkan hawa murni, dia tekankan dibagian perut—lambung. Perlahan-lahan dibawa keatas, setelah gumpalan makanan sampai di kerongkongan, Jaka kembali menghimpun hawa murninya untuk mengangkat lagi sisa-sisa makanan dan minuman tadi.

“Huaaak…” seluruh makanan dan minuman yang ia telan tadi tumpah tanpa sisa.
Jaka menghela nafas lega. Untung keburu, kalau terlupa mungkin racun ini bisa membuatku sakit perut seharian… pikir pemuda ini seraya menghapus keringatnya. Sungguh tidak disangka, dalam perguruan yang diagungkan orang terdapat manusia seperti mereka. Benar-benar diluar dugaan, gerutunya gemas. Entah apa motivasi mereka berbuat begitu. Aku harus bertindak cepat, jangan sampai perguruan itu tertimpa musibah… tapi bagaimana jika tindakan mereka bukan seperti dugaanku? Bisa saja mereka punya kepentingan yang baik? Ah tak mungkin, orang baik-baik tak akan menempuh jalan seperti mereka, menggunakan racun! Hh, biar sajalah, toh pada saatnya bisa diselesaikan.
Jaka memperhatikan sekelilingnya gejolak hatinya langsung padam. Satu hal yang dia sendiri sadari, betapapun berat masalah yang sedang dihadapi, jika berada di alam seindah ini, emosi dan pikiran liar akan mengendap dengan sendirinya.
Jaka kembali memperhatikan keindahan Telaga Batu, sesaat ia melihat kesekelilingnya, banyak perahu pesiar yang sedang berlayar hilir mudik. Orang-orang yang mengikuti dirinya sudah tidak ada lagi. Dia juga tidak melihat perahu persiar mewah milik orang Perguruan Naga Batu.
“Setidaknya saat ini gerak-gerikku bebas. Siapa pun mereka, pasti menyangka aku terpengaruh racun mereka, huh! Misalkan mereka tahu, bahwa aku hanya terkena seperdelapan bubuk itu, merekapun tidak akan berani kurang ajar padaku. Lagi pula andai kata nanti malam aku menguntit gerak-gerik Ki Lukita, mereka jadi tidak curiga padaku. Hh, segala macam racun bulukan jangan harap bisa mencelakaiku,” desah Jaka jengkel.
Pemuda ini kembali mendesah, terbayang betapa pedih dan menderitanya saat ‘dipaksa’ harus menemukan penawar racun. Begitu banyak momen berbahaya—seperti saat dirinya diracuni, dengan sendirinya sedapat mungkin Jaka berupaya menawarkannya, sebesar apapun resikonya! Sebab itulah jalan yang harus dia perjuangkan untuk hidup! Dan itu pula yang harus terpaksa dia pelajari sekalipun bertentangan dengan hatinya… dan tak disangka-sangka semua itu membuatnya menjadi manusia, seperti saat ini… kembali ia menghela nafas. Sungguh rasa syukurnya pada Tuhan tak pernah putus, bahwa dia masih hidup hingga kini.
Latar belakang Jaka akan dikisahkan dalam bab tersendiri…

—ooOOOoo—

15 – Kisah Lampau Dalam Catatan Ki Lukita

Mengambil resiko—tanpa disadari—mungkin sudah menjadi kebiasaan Jaka. Saat racun pemilik perahu naga dilolohkan padanya, Jaka mengira bisa mengambil pelajaran, dengan menawarkannya. Tapi, nyatanya racun itu sudah pernah dia ketahui sebelumnya. Tentu saja menurut Jaka, kejadian itu tidak bermanfaat, selain kadarnya telalu rendah, racun semacam itu juga pernah dia tawarkan sebelumnya. Jika bagi dirinya bubuk pelumpuh tadi termasuk ‘obat usang’, mungkin berbeda bagi orang lain, bubuk itu termasuk racun yang jarang ditemui. Sudah tentu menurut pandangan kebanyakan orang, racun itu bukanlah ‘obat usang’, tapi masuk dalam jajaran racun mematikan.
Setidaknya rasa kesalku terobati, bisa mengelabui mereka juga hasil cukup memuaskan. Apa tak pernah terpikir dibenak mereka, sebuah kegagalan? Memangnya setiap perbuatan yang berlaku untuk seseorang, bisa berlaku untuk yang lain? Pikir Jaka merasa beruntung, bahwa mereka ‘ceroboh’.
Pemuda ini tak memikirkan kemampuan dirinya, seolah tiap orang bisa berbuat seperti dia. Dengan sendirinya mereka—orang Perguruan Naga Batu—yakin 100% atas keberhasilan racunnya. Tentu saja tak terpikir, bahwa; ada orang yang paham—dan bisa memunahkan—racun yang mereka gunakan.
Jaka mengayuh perahunya dengan tenang, perasaan ¬dongkolnya sudah lenyap. Pemuda ini kembali menuju tengah telaga, karena dia harus mengembalikan perahu yang dipakainya, sebelum matahari tenggelam. Tapi sesaat sebelum dia berpikir untuk menyudahi pesiarnya, teringat olehnya catatan pemberian Ki Lukita.
Tidak ada salahnya aku membaca catatan Ki Lukita, tak ada orang yang menggangguku. Paling tidak, setengah jam aku sudah selesai dengan catatan ini.
Jaka berpikir, meskipun dia lebih lama lagi membaca catatan itu, rasanya tak masalah jika hanya sekedar mengembalikan perahu. Apalagi Jaka memutuskan, setelah ‘acara pesiar yang mendebarkan’ hari ini, malam nanti dia harus segera kerumah Aki, untuk membicarkan banyak hal.
Mumpung masih ada waktu luang sedikit, Jaka segera mengeluarkan catatan Ki Lukita. Saat menerimanya, Jaka tidak memperhatikan rupa dan tulisannya. Dia baru sadar, pada sampul catatan itu, tertulis goresan huruf yang indah. CATATAN KEDUA, begitulah tertulis disampul depannya. Di bawahnya, terdapat tulisan lain; Di usia tiga puluh tahun meraih ketenaran dan julukan kosong, semuanya tertuang didalam.
Jaka sangat tertarik dengan gaya bahasa yang ditulis Ki Lukita, dari tulisan dan caranya ia menyampaikan, ia dapat menilai, Ki Lukita adalah orang yang sadar dengan kelebihan dan kekurangan dirinya. Dia sudah dapat melepaskan rasa ke-aku-an atau egois.

Halaman pertama
Berkecimpung di dunia persilatan terlalu banyak pahit-getir dari pada kesenangannya. Kudapati, saat itu terlalu banyak ragam manusia yang bertindak sesuka hati. Terlalu banyak yang menempuh jalan sesat, mengerjakan segala perbuatan kotor, entah apa enaknya. Tapi ada pula yang menuruti ajaran kebenaran.
Biasanya para penjahat yang tergolong ‘amatiran’ selalu bertindak terang-terangan, kupikir itu lebih mudah dihadapi, dari pada mereka yang melakukannya sembunyi-sembunyi.
Diam-diam atau terang-terangan, tak masalah buatku, itu adalah tantangan, dan aku sangat menyukai seni berpikir—cara bagaimana menangkap para durjana. Tapi tak terpikir olehku, ada juga durjana yang mengendalikan semua operasi busuknya di sebuah perguruan terhormat, Menak Inggil!
Siapapun tidak akan mengira dalam perguruan yang cukup masyur, bercokol seorang durjana, ya… apapun julukan baik padanya, orang itu memang iblis, seorang munafik yang membuatku merinding jika melihat wajahnya. Dia bernama Anusapatik… pada waktu kejadian itu, aku sudah dijuluki orang Naga Kepalan Baja. Mungkin orang menjulukiku karena aku adalah salah satu pewaris sembilan mustika ilmu silat.
Aku mengetahui perihal Anusapatik dari seseorang, ya… bagiku si pembawa kabar sangat aneh dan misterius. Tak terbayangkan olehku ada orang memiliki peringan tubuh selihay dia. Saat itu aku baru sadar diatas langit masih ada langit. Karena tak tahu siapa orang itu, kujuluki saja dia Si Bayangan Angin.
Orang itu mengabarkan bahwa sedang ada sesuatu yang mengerikan tumbuh di dalam Perguruan Menak Inggil. Jika tak diberantas akan mengancam ketenangan orang banyak, aku diharuskan olehnya segera bertindak—tentu saja secara diam-diam.
Semula aku tak ingin mengetahui apakah kabar itu benar atau tidak, jadi aku tidak mengambil tindakan apa-apa. Menurutku tak mungkin Perguruan Merak Inggil bertindak sejauh itu, apalagi aku kenal baik dengan ketuanya. Tapi pendapatku itu terpaksa kurubah, karena sahabat karibku sendiri Si Manusia Karet juga memberi kabar, bahwa dalam Perguruan Menak Inggil bercokol ‘bisul busuk’—itu istilahnya mengartikan keadaan bahaya, haha… orang itu memang kocak.
Tak perlu kupertimbangkan lagi, aku memang harus bertindak secepatnya! Rasa penasaranku lebih banyak merangsang hatiku, dari pada harus menangani urusan yang semula kupandang penting… aku dan sobatku segera pergi kesana.
Namun apa yang kami temui waktu itu? Ternyata orang yang dikabarkan merupakan gembong iblis dan seorang munafik berbahaya, tak lebih hanya lelaki berumur sebaya denganku (30-an). Lelaki itu sangat ramah, kami hampir tak pecaya dengan apa yang di lihat, jika tak mengingat kenyataan yang sudah diketahui, kami pasti terjebak dalam perangkap orang itu. Tak kuduga sudah banyak jago yang dilumpuhkannya dengan pengaruh bubuk laknat Pelumpuh Otak. Sungguh, tindakannya itu tidak lagi tanggung-tanggung, dia benar-benar berambisi besar!
Membaca sampai disitu Jaka terkejut. Eh, bubuk itu lagi? Heran, barang busuk itu kenapa banyak berperan… apakah Pelindung Perguruan Naga Batu juga ada hubungannya dengan cerita ini? Jangan-jangan, mereka salah satu anggota Anusapatik yang meneruskan cita-citanya? Apa mungkin semua ini hanya kebetulan? Jaka berpikir untuk beberapa saat. Merasa tak ada gunanya memikirkan hal yang belum tentu berkaitan—meski ada kesamaan, Jaka kembali membaca catatan Ki Lukita.
Halaman Keempat
Sekian lama kami menyelidik, kami memperoleh kenyataan yang mengejutkan, yakni Anusapatik ada hubungan dengan Si Nyawa Pedang, konon orang itu pernah berjumpa dengan Raja Jagal, dan belajar beberapa kepandaian. Usut punya usut, Raja Jagal pernah berguru pada salah satu cucu murid Tabib Malaikat. Jadi aku berkesimpulan Anusapatik memperoleh kepandaian mengolah racun, lantaran para penghubungnya (Si Nyawa Pedang dan Raja Jagal) ada sedikit berhubungan dengan tokoh menggemparkan Tabib Malaikat.
Sampai disitu, mendadak wajah Jaka memucat, wajah yang biasa berseri itu terlihat berkerut-kerut sesaat, seolah pemuda ini menahan suatu perasaan yang tak bisa ia kemukakan pada siapapun, kecuali pada dirinya sendiri. Selang beberapa saat, Jaka menghela nafas panjang.
Untuk apa kupikirkan lagi, yang lalu biarlah berlalu. Suatu saat akan datang kesempatan baik bagiku, dengan alasan yang lebih baik pula… memangnya apa yang berlalu bagi pemuda ini? Apakah lantaran ada sepotong kata Tabib Malaikat, atau Si Nyawa Pedang, atau Raja Jagal? Apapun itu, rahasia tersebut masih tersimpan jauh dihati Jaka. Pemuda ini kembali membaca dengan cermat.
Nama Tabib Malaikat sudah mengguncangkan dunia persilatan satu setengah abad silam. Mulanya kami benar-benar tidak percaya pada penyelidikan kami sendiri. Tapi menilik kepandaian Anusapatik dalam hal obat bius dan racun, kesimpulanku memang benar! Cuma yang membuatku bingung, apakah dia menguasai keahlian racun itu lantaran sebuah nama Tabib Malaikat? Jika bukan, lantas apa? Apakah penyelidikan kami itu sia-sia belaka? Aku benar-benar bingung, beruntung rekan-rekan selalu mendukungku. Apapun hasil penyelidikan kami, kuputuskan untuk tidak bertindak gegabah.
Kabar miring kembali kuterima, kali ini menyatakan bahwa jago kelas satu dan kelas dua dari enam belas perguruan ternama, sudah dia pengaruhi. Tapi anehnya semua murid perguruan Menak Inggil, bahkan ketuanya sendiri, tidak tahu apa yang dilakukan manusia durjana itu. Aneh… dari mana Si Bayangan Angin mengetahui kabar itu?
Setengah tahun setelah berkunjung ke Menak Inggil, kami mendengar kabar, banyak jago-jago silat yang menghilang. Segera kami menduga bahwa kejadian itu pasti ulah Anusapatik. Tapi kami tidak bisa bertindak begitu saja, sebab dunia persilatan juga memiliki peraturan keras. Kalau tidak ada bukti kuat, justru kamilah yang dituduh sebagai pengacau yang mencoba merusak hubungan baik Anusapatik dengan tokoh-tokoh sakti.
Perkara bahwa tokoh-tokoh sakti mendukung apa yang dilakukan Anusapatik, tak terpandang sebagai kejadian mencurigakan oleh para sesepuh. Tapi salah satu dari beliau memberi isyarat, ‘lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi berikan kami bukti’. Terang saja kami tak bisa memberi mereka bukti dalam waktu dekat. Kami berpikir betapa ironisnya sebuah harga keadilan.
Kami insaf dengan situasi tersebut, apalagi karena hampir semua tokoh silat, mendukung—mungkin sudah dikuasai sepenuhnya—manusia itu. Kondisi yang maju salah mundur salah itu benar-benar buntu bagi kami, apa yang harus kami lakukan, kami hampir menyerah! Padahal pertarungan belum lagi dimulai! Sungguh, kuakui betapa pandainya manusia bernama Anusapatik mengelola kekacauan, berkedok ‘memberantas kejahatan’.
Untung saja—dalam keadaan bimbang—kami kembali dikejutkan oleh kemunculan Bayangan Angin. Orang yang sangat misterius itu menyarankan agar kami masuk kedalam tubuh perkumpulan rahasia yang sedang dibentuk Anusapatik. Namun saat itu kami menolak, ada banyak alasan kenapa kami tolak,
Pertama : Anusapatik mungkin sudah curiga dengan berbagai penyelidikan yang kami lakukan.
Kedua; seandaianya dia tak curiga, bagaimana caranya kami memasukinya? Kami tak punya jalur kesana.
Ketiga; mutlak bagi kami, tidak bisa memasuki kelompok rahasia—walaupun sebagai anggota tingkat rendahan, karena setiap anggotanya dicekoki dengan bubuk racun. Lalu bagaimana kami bertindak?
Si Bayangan Angin hanya tertawa saja mendengar keluhan kami, dia berkata, cara apapun supaya kami lakukan untuk menyusup kedalam, dan untuk masalah racun, dia yang mengatasi. Si Bayangan Angin menyerahkan sebuah karung besar… ternyata isinya obat penawar racun.
Sungguh tak habis pikir aku dibuatnya. Kabar pertama kami terima, antisipasi racun juga kami terima dari dia, kenapa dia tidak menindaknya sendiri? Malah dikabarkan kepada kami? Memangnya dia ada urusan lebih penting?
Sebimbang apapun aku memikirkan tindakannya, akhirnya aku percaya saja. Dia menyarankan kepada kami asal memakan sebuah pil berwarna merah, maka dalam jangka empat bulan biarpun kami dicekoki racun paling ganas, tak bakal mencelakakan kami begitulah katanya. Memangnya ada pil sehebat itu?
Sekalipun aku sudah percaya padanya, mendengar uraiannya tadi toh, muncul kembali kecurigaanku. Jangan-jangan Si Bayangan Angin juga salah satu antek Anusapatik yang bekerja diam-diam, seolah menetang orang itu, padahal ia justru membantu—melenyapkannya. Berpikir seperti itu, kami tak ingin bertindak ceroboh dengan mempercayai ucapannya begitu saja. Tapi nyatanya melihat kami berdua terdiam, Si Bayangan Angin tahu apa yang kami pikirkan. Orang itu mengeluarkan sebuah lencana dari emas, sebuah lencana yang bergambar naga kepala tiga dan kepala harimau ditengahnya.
Melihat lencana itu kami tertegun tak percaya, lencana itu adalah milik pendekar besar yang amat disegani pada masa delapan dasawarsa lalu, orang yang disegani kaum persilatan itu adalah Pisau Empat Maut, pada jamannya, beliau merupakan tokoh yang menumpas Perkumpulan Angin Emas, sebuah perkumpulan yang berniat menguasai seluruh dunia persilatan dengan ilmu sihir dan racun.
Kami tahu, waktu itu beliau hanya bertindak sendirian, namun berhasil menghancurkan perkumpulan yang memiliki jaringan luas. Karena jasanya maka orang memilih dia untuk menjadi Ketua Dunia Persilatan. Dan mulai saat itu Lencana Tiga Naga Harimau muncul sebagai tanda keberadaannya…
Setelah melihat lencana itu, kami sadar bahwa orang itu berniat membantu kami. Saat itu sebelum kami bertindak, Si Bayangan Angin mengatakan kalau dia adalah keturunan dari pemimpin dunia persilatan. Menurutnya, dia terpaksa bertindak secara rahasia, karena keadaan, juga lantaran tradisi dalam keluarga Pisau Empat Maut, karena hal itulah maka identitasnya aslinya tidak boleh tersiar.
Mendapatkan bantuan keturunan tokoh besar, tentu saja kami sangat bersyukur. Saat kami hendak pergi, orang itu menyarankan pada kami agar tiap tindakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati, sebab hakikatnya apa yang dilakukan Anusapatik sama sekali tiada orang yang tahu, tiada yang curiga. Hanya kami dan Bayangan Angin saja yang tahu tindakannya itu. Bayangan Angin juga mengatakan pada kami, dalam kurun waktu setengah tahun kedepan, Anusapatik segera muncul ke permukaan.
Kaget juga kami mendengarnya, sekalipun kami bertindak hati-hati, ada juga orang yang mengendus kegiatan kami. Dan segala sesuatunya terlambat… saat kami sudah berhasil menyelundup kedalam perkumpulan yang dinamakannya dengan Perkumpulan Dewa Darah, Anusapatik sudah bertindak! Padahal menurut perhitungan kami, masih ada empat bulan lagi baru bertindak. Sungguh gawat…
Tapi kamipun bersyukur bisa menyelundup masuk. Kami berencana akan membebaskan semua rekan dari kungkungan bubuk racun. Tapi sayangnya kami memang terlambat dan tidak bisa membaca situasi, hanya ada tujuh orang saja yang sanggup kami bebaskan dari bubuk laknat itu. Tapi itupun sudah cukup, tenaga mereka sangat kami butuhkan.
Keadaan makin gawat, kami tidak berani bertindak terang-terangan. Kami bertindak seolah masih berada dibawah pengaruh bubuk racun itu. Namun hati kami benar-benar sakit, apa yang dperintahkan pada kami dan semua rekan yang masih teracuni, adalah melakukan segala kekejian yang tak pernah terpikirkan. Manusia Karet—sobatku berpendapat bahwa, lebih baik kita segera memberontak, dari pada mengerjakan perintah laknat. Aku terpaksa menghalanginya, dan kukatakan kepadanya, bahwa kita tidak akan bertindak sebrutal itu, kita akan menotok orang yang kita lawan dengan totokan hidup-mati.
Dengan demikian korban yang terkena hanya akan pingsan dalam tiga hari dan mereka akan segera pulih kembali. Mula-mula ia tak setuju, namun aku juga mengatakan alasannya bahwa di perjalanan nanti kita bisa menyadarkan tiap anggota dengan membinaskan tiga orang yang menjadi pengamat dan juga merupakan kepercayaan Anusapatik. Setelah rencana tersusun matang, maka kami segera menjalankannya.
Tapi mendadak kami sadar, ada satu kesulitan yang tak terpikirkan lebih dulu, yakni; sebagai orang yang terkena racun, korban sama sekali tidak memiliki keinginan pribadi, konon lagi untuk bercakap-cakap dengan orang. Bagaimana mungkin kami bertindak diluar perintah para pengawas? Menyadari sulitnya situasi, Manusia Karet menyarankan padaku, saat giliran membagi makan minum kita bisa menaruh obat penidur didalamnya.
Rencana itu memang bagus dan sangat sempurna, tapi pelaksanaannya sangat sulit. Pertama kami tidak memiliki obat bius, yang kedua karena rombongan kami ada puluhan orang, sedangkan giliran kami untuk menyediakan makan minum masih lama, jadi untuk bertindak sangat sulit. Bisa jadi sebelum kami sempat memperoleh giliran, kami sudah sampai ditempat tujuan, dan mulailah semua kebrutalan…
Berpikir demikian, hati kami merasa sangat ngeri, untunglah ditengah jalan tiga orang pengamat itu menghentikan rombongan dan memutuskan untuk mencari jalan memutar agar perjalanan kami tidak diketahui orang. Tapi sialnya, diperjalanan memutar itulah tiga pengamat itu membawa kawan lagi, mereka ada dua belas orang. Dan tentunya dua belas orang itu adalah antek kepercayaan Anusapatik pula.
Akhirnya, tiba saatnya bagi kami menyediakan makan minum… tapi kami tidak tahu harus bertidak apa, obat bius yang dimaksudkan sobatku tidak ada pada kami.
Dari pada tak melakukan apapun, aku memutuskan bertindak, obat penawar yang diberikan oleh Bayangan Angin, kucampurkan pada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman yang kami butuhkan sangat banyak, maka obat penawar terpaksa kami habiskan untuk men¬campur kedalamnya. Kami sadar, takaran dan kadar racun pada tiap korban berbeda-beda, menawarkan racun tak semudah—hanya dengan mencampurkan saja. Tapi kondisi saat itu benar-benar tak memungkinkan kami untuk berpikir lain hal. Saat memasukkan penawar, aku berharap obat itu benar-benar semujarab yang diceritakan Bayangan Angin, jadi tak ada takaran tertentu—bahwa harus memberinya penawar dengan kadar sekian, sekian, sekian… mudah-mudahan tidak begitu.
Tapi ada satu hal lagi yang kami lupakan, orang yang terkena bubuk racun, setelah meminum penawarnya akan tidur lelap dua-tiga jam. Saat mereka tertidur, tentunya lima belas pengamat curiga pada kami, sebagai orang yang menyiapkan makan minum. Kuduga, mereka akan segera menyerang kami…
Untuk bertarung, kukira itu bukan masalah. Karena kami berdua adalah orang yang mewarisi salah satu sembilan mustika ilmu silat, aku menguasai Tapak Naga Besi sedangkan sobatku menguasai Hawa Bola Sakti.
”Oh, jadi yang dimaksudkan dengan sahabat karib Ki Lukita, bahwa beliau memiliki ilmu lihay apakah Manusia Karet? Mungkin aku harus banyak minta petunjuk padanya.” Jaka melanjutkan membacanya.
Jadi untuk masalah kemampuan ilmu silat kami bisa diandalkan. Tapi lima belas orang pengamat itupun bukan manusia gentong nasi belaka, mereka juga memiliki kelihayan hebat. Kami memperhitungkan, paling tidak kami bisa menahan lima belas orang itu dalam jangka waktu satu-dua jam. Tapi waktu itu Manusia Karet berpendapat lain, dia berpikir sekalipun kami sanggup menahan mereka, tapi setelah siuman tentu rekan kami sekalian akan linglung sebentar, mungkin saja keadaan itu bisa digunakan oleh lima belas orang itu untuk menyandera atau memfitnah bahwa kami adalah orang yang meracuni mereka.
Sebelum terjadinya pertarungan, kami meninggalkan semua resiko yang mungkin ditanggung. Berpikir demikian, kami segera memasukkan seluruh obat penawar kedalam makanan dan minuman. Dan satu hal paling penting dilakukan sahabatku, dia menulis keterangan singkat, yang rencananya akan dimasukan kesaku salah seorang rekan kami yang keracunan. Tulisan itu berisi penjelasan, bagaimana mereka diracuni oleh Anusapatik, pada tulisan terakhir, terpaksa dibubuhi dengan julukan kami agar mereka percaya bahwa, kondisi saat itu memang gawat.
Waktu berlalu terasa lambat, akhirnya semua orang segera menyantap makanan yang kami sediakan. Satu jam setelah makan, empat puluh tujuh jago yang keracunan tertidur lelap. Saat itu aku bimbang, tapi Manusia Karet segera bertindak cepat. Ia juga pura-pura tertidur. Akupun melakukan hal yang sama. Sayang sekali para pengawas itu bukan manusia bodoh, mereka bertindak cekatan, tanpa pikir panjang lagi mereka langsung menyerangku dan menyerang Manusia Karet.
Dengan kemampuan kami berdua, ramalanku tepat sekali, dalam waktu satu-dua jam kami bisa menahan lima belas orang itu. Waktu itu kami sama sekali tidak menjatuhkan tangan maut pada mereka, sebab kami ingin menyadarkan orang-orang itu—siapa tahu mereka juga kena bius.
Sungguh keputusan tepat, mulia, pikir Jaka kagum dengan tindakan Ki Lukita dan sahabatnya. Kembali dia membaca.
Di saat-saat seperti itu, kami sama sekali tidak menyangka bahwa lima belas orang itu masih memiliki teman, untungnya teman mereka datang pada saat kami bertarung hampir dua jam, kalau tidak, usaha kami untuk mengulur waktu akan gagal. Lawan kami bertambah dua belas orang lagi. Saat itu kami bertekad mengadu jiwa, agar orang-orang itu tidak ada kesempatan mencekoki kembali, rekan kami yang sedang terlelap. Namun usaha kami agaknya akan mengalami kegagalan, sebab tenaga kami habis terkuras. Lawan terlalu tangguh, untung saja Tuhan masih melindungi kami, di saat genting Bayangan Angin dengan dua orang rekannya, muncul membantu kami. Akhirnya kami berhasil menyadarkan kembali rekan kami yang terkena racun.
Dan mereka yang mengeroyok kami, segera menyadari situasi tidak memungkinkan, apalagi mereka juga melihat empat puluh tujuh jago sudah siuman, mereka segera kabur. Kami membiarkan mereka pergi. Dan kami berlima memberi penjelasan pada rekan kami bahwa mereka baru saja terbebas dari racun. Empat puluh tujuh jago itu akhirnya mengingat kembali kejadian sebetulnya hingga mereka di cekoki racun oleh Anusapatik.

Lalu dengan kekuatan kami yang bertambah banyak, dan bekal obat penawar racun, kamipun segera membebaskan rekan yang ada di kelompok lain. Pada saat kami hendak mencari Anusapatik dan gerombolannya, ternyata mereka sudah raib entah kemana. Selama dua tahun kami bersama puluhan bahkan ratusan jago, mencari jejak orang itu untuk diadili. Tapi orang itu bagaikan ditelan bumi. Hingga akhirnya Perkumpulan Dewa Darah-pun lenyap dengan sendirinya.
Syukurlah tidak ada perusakan berarti selama intrik Anusapatik. Kami merasa sangat lega. Tapi aku berpendapat, bisa saja setiap saat perkumpulan itu bangkit kembali. Karena itu kami harus waspada dan senantiasa mengingatkan keturunan atau murid kami agar bertindak hati-hati. Menurut Bayangan Angin perkumpulan yang dipimpin Anusapatik, bertindak telengas dan memiliki ciri yang hampir sama dengan tindakan yang pernah dilakukan Perkumpulan Angin Emas.
Hari-hari berikutnya kami lalu dengan tenang. Tapi pada saat itu Bayangan Angin datang kembali, dia mengatakan Perkumpulan Dewa Darah hanya satu diantara banyak perkumpulan lainnya yang dipegang oleh seseorang yang bertindak lebih rahasia. Aku sebenarnya sangat heran, dari mana Bayangan Angin mendapat berita itu?
Padahal aku dan puluhan jago lainnya sudah mencari kemana-mana, namun tak ketemu juga. Berita adanya perkumpulan lain juga tak kami dapati.
Karena kecurigaanku beralasan, maka tanpa sungkan kutanyakan pada Bayangan Angin. Lalu dia menjelaskan padaku, bahwa sesungguhnya keturunan dan anak murid Pisau Empat Maut adalah para mata-mata yang disebarkan diseluruh penjuru. Maksud mereka tersebar seperti itu untuk mengantisipasi agar kejadian seperti yang dilakukan Tabib Malaikat, Tabib Dewa dan Maha Racun, tidak terulang kembali.
Akupun memahami tindakan mereka, namun Bayangan Angin mengatakan padaku agar setiap keterangan yang dikatakan padaku, harus dirahasiakan, tidak boleh seorangpun tahu akan hal ini—bahkan sobatku sendiri juga tak terkecuali.
Tentunya aku harus merahasiakan hal itu. Karena itulah kutulis buku ini untuk mencurahkan semua isi hatiku dan semua pengalamanku. Dan bagi yang mewarisinya juga harus menjaga rahasia ini.
Jaka menghela nafas panjang, ternyata catatan Ki Lukita itu belum pernah diberikan pada siapapun, bahkan pada cucunya sendiri, hal ini membuat dia merasa terharu. Jaka menyadari pada bab pertama yang dia baca, perkumpulan yang digambarkan Ki Lukita masih sepintas kilas saja.
Mungkin penjelasan berikutnya ada di bab kedua atau bab selanjutnya… pikir Jaka sembil membalik lembar berikutnya.

Halaman kedua belas
Tetulis disana, Latar Belakang Sembilan Mustika Ilmu Silat, tentu saja Jaka girang membaca tulisan itu. Hal inilah yang ingin dia ketahui, sebenarnya keistimewaan apa yang membuatnya menjadi sembilan mustika ilmu silat? Tapi sebelum dia kembali membaca, Jaka merasa ragu untuk meneruskan. Jaka melongok keluar bilik perahu.
“Rupanya sudah mulai senja. Aku harus segera pulang, membacanya bisa kuteruskan kapan saja, tapi masalah yang baru kualami tadi tidak boleh dibiarkan saja, kupikir Ki Lukita harus tahu kejadian tadi.” Pikir Jaka mengambil keputusan.
Jaka segera mengayuh dayungnya, tak berapa lama kemudian dia sampai di pinggir Telaga. Senja sudah menjelang, tapi suasana Telaga Batu masih ramai, telaga ini dipenuhi nelayan yang ingin menangkap ikan malam hari, tapi banyak diantara pelancong sudah pulang.
Jaka melihat lelaki setengah abad itu sedang duduk terkantuk-kantuk menunggui perahu yang disewanya.
“Pak,” seru Jaka memanggil.
“Ya-ya…” lelaki itu menggeregap bangun. “Oh, tuan sudah kembali?”
“Ya, terima kasih kau mau menyewakan perahumu, apa aku terlalu lama?”
“Ah, tidak apa-apa, saya malah merasa kalau tuan terlalu sebentar, saya pikir kalau yang namanya lama tentu sampai tujuh-delapan jam. Tapi tuan hanya memakai perahu empat jam saja.”
Jaka tersenyum tidak menanggapi ucapan nelayan itu. “Kalau begitu saya pamit,” kata pemuda ini sambil mengangguk ramah.
“Oh, silahkan,” seru nelayan ini sambil munduk-munduk. Setelah Jaka tak kelihatan lagi, lelaki ini mengela nafas panjang. Dia mengapai seseorang di kejauhan sana, dan diserahkan perahu tadi padanya. Orang yang digapainya segera datang dengan wajah riang, dia tambah riang saat lelaki ini memberinya uang. Oh, ternyata lelaki itu bukan pemilik perahu sebenarnya. Tapi ada juga nelayan yang menyewa perahu, apa dia sengaja menyewanya untuk kepentingan lain?
“Sungguh, dia adalah satu-satunya pelancong yang bersikap ramah dan pemurah pada nelayan, jarang kiranya ada orang seperti itu. Apa yang dikatakan Kakang Lukita tidak salah, pemuda ini berbakat bagus, berwatak baik pula.”
Lelaki paruh baya itu mengayunkan langkah, segera pergi dari situ. Ia terlihat mendekati seorang lelaki lainnya, oh… ternyata seorang kakek, mungkin sepantar Ki Lukita. Kakek itu sedang duduk ongkang-ongkang kaki sambil menghisap rokok lintingan.
“Bagaimana Benggala, apakah benar calon yang cocok?” tanya Aki itu, begitu lelaki berusia separuh abad sampai disitu.
“Lebih dari cocok, kurasa dia yang terbaik, calon sempurna Kakang Glagah. Peruntungannya, dan bakatnya jarang ditemui.” Sahut orang itu yang ternyata bernama Benggala.
“Bagaimana dengan persiapan kita?”
“Sempurna kakang.”
“Jika ada pion yang bisa menggertak lari lawan, menurutmu bagiamana?”
“Sangat baik, tapi bisa membuat perhitungan lawan berubah, begitupula dengan kita, mau tak mau siasat juga harus diperbaharui.”
Ki Glagah menghembuskan asap rokok jauh-jauh, “Kesimpulannya, kita tidak perlu kawatir dengan pemunculan mereka.”
“Benar kakang…”
“Kabar yang kuterima, mereka segera beraksi dua bulan lagi.” Gumamnya sambil menghisap rokok lintingannya dalam-dalam. “Bisa apa saja anak itu?” kembali Aki ini bertanya pada Benggala.
Ki Benggala memandang telaga sesaat. “Kakang bertanya padaku, bagaimana kepandaian seseorang yang sudah kakang saksikan.”
“Ya, peringan tubuh seperti itu diantara kita tak ada yang memilikinya.”
Ki Benggala tersenyum, “Bukannya membela dia, tapi peringan tubuh sehebat itu jarang terdapat didunia persilatan.”
“Kau benar.”
“Darinya, Kakang Lukita mengetahui bahwa dia mahir olah langkah. Di tambah peringan tubuh yang lihay, siapa yang sanggup mengejarnya?”
Ki Glagah menggumam tak jelas, tadi dia sempat melihat Jaka menggembangkan peringan tubuhnya, dia berkesimpulan hanya orang berbakat, tekun, dan cerdas yang bisa menguasainya. Tapi menurutnya jika hanya kecerdasan yang ditonjolkan, bukan hal menyenangkan untuk membawanya menjadi bagian dari mereka. Orang cerdas sulit diatur, sulit diarahkan, bisa saja dia selalu yakin bahwa pendapatnya yang paling bagus—merasa lebih superior. Yang terpenting justru budi pekerti, dan kesetiaan.
“Masa Adi Lukita percaya begitu saja? Sekalipun cukup lihay peringan tubuhnya, belum tentu hal lain—seperti olah langkah, bisa dia kuasai.”
Ki Benggala paham, maksud kakangnya. “Tentu saja Kakang Lukita tidak sembarang menarik kesimpulan. Dia bisa menyimpulkan demikian, lantaran pemuda itu mengerti barisan rumpun bunga dirumahnya, adalah formasi Lima Dewa Menjaring Langit. Mungkin bagi pakar fomasi barisan, tatanan bunga itu hanya terlihat sebagai formasi Teratai Mengurung si Cantik. Tapi bagaimana mungkin anak itu bisa tahu, bahwa ada formasi di balik formasi? Jika dia bukan orang yang paham seluk beluk segala macam formasi, aku yakin dia tak bisa lolos dari dalam barisan. Adalah suatu kemustahilan dia bisa lolos karena kebetulan.”
“Ada kejadian semacam itu?”
Ki Benggala mengangguk. “Aku sendiri tak percaya, tapi menurut ceritanya, dia juga paham seluk beluk enam formasi barisan gaib lain. Coba kakang pikir, mana ada kejadian kebetulan seperti ini?”
“Oh…” kakek ini terkesip. “Benar-benar tidak dinyana, bekal mapan digenggamannya!” kakek itu menghembuskan asap rokok jauh-jauh. “Hh, ombak dibelakang selalu lebih besar dari ombak didepan. Ada hal lain?”
“Hanya dugaan belaka, tak patut dijadian acuan. Kiranya kakang bisa menilainya sendiri. Sayang, kakang tidak sempat menemuinya. Tapi menurut Kakang Lukita, anak itu keras kepala, masih terlalu polos. Tetapi jika ditilik kecerdikannya, dia musuh yang menakutkan bagi siapa yang ingin menjadi seteru. Kalau melihat gerak geriknya, Kakang Lukita menilai anak itu terlau sering bertindak ceroboh, acuh tak acuh. Ia memisalkan, seandainyapun dia tahu bahwa ada rencana keji yang mengincarnya, dia tak bakal mundur menghadapinya, malah sengaja membuat rencana tersebut lancar. Dan dari dalam baru ia hancurkan. Hh, mana ada orang semacam itu? Mulanya Kakang Lukita agak ragu untuk meminta dia menjadi muridnya, sebab dia kawatir usia anak itu tidak panjang dengan sifat seperti itu. Toh, ia memintanya juga.”
“Lalu kau berkesimpulan apa?” Ki Glagah tahu, saudaranya itu ahli perbintangan dan bisa meramal nasib—tentu saja tidak mutlak benar.
“Kesimpulanku, pilihan Kakang Lukita tidak berlebihan. Seperti yang kukatakan tadi, bisa dikatakan dia calon yang sempurna, anak itu banyak memiliki rejeki tak terduga.”
Ki Glagah manggut-manggut mendengar penilaian Benggala. “Kalau begitu kapan peresmian dan pengujiannya?”
“Tak bisa ditentukan, anak itu kabarnya ingin berpesiar dulu.”
Mendengar jawaban Benggala, kakek ini tertawa geli, “Benar-benar sangat mencocoki seleraku. Bagus, aku jadi ingin cepat-cepat mengujinya.” Katanya sambil tergelak.
Dia tidak kawatir pembicaraan mereka disadap orang, meski ada orang yang menyadapnyapun mereka belum tentu tahu artinya. Lagi pula mereka tidak kawatir sama sekali, karena mereka duduk di tempat terbuka, selang jarak puluhan langkah tiada satu orangpun yang ada disekitar mereka, lagi pula saat itu angin berhembus ke telaga. Sekalipun suara mereka cukup keras, tak akan ada yang mendengar.
“Kalau begitu mari kita pergi!” ajak Ki Gelagah. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Telaga Batu. Suasana telaga terlihat lebih hening, meski banyak nelayan mencari ikan. Sedikit demi sedikit matahari mulai condong kebarat dan akhirnya tenggelam…

—ooOOOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: