Seruling Sakti Jilid 16-20

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

16 – Jebakan Kejutan Untuk Penyatron

Jaka berjalan lambat seolah ingin menikmati setiap jengkal pemandangan, sudah tentu Jaka memiliki maksud tersendiri. Bila ada yang membuntuti, tentu dia merasa jenuh, dan meninggalkan Jaka saking kesalnya. Selain berjalan terlalu lambat, sesekali Jaka berhenti dan memandang sesuatu dengan seksama. Padahal hari sudah menjelang petang, apa sih yang bisa terlihat jelas? Dari telaga batu sampai ke penginapan, hanya berjarak 2 pal, tapi waktu yang dibutuhkan Jaka untuk menempuh perjalan pulang hampir 2 jam!


Dan memang, mereka yang mengikutinya, jadi gemas. Sudah tentu, sebelum mereka ketiduran lantaran terlalu lama menunggu Jaka bertingkah, diam-diam tiga orang penguntit itu meninggalkan Jaka. Mereka pikir, jika sudah mengetahui dimana sasaran menginap, apa yang harus dikawatirkan?
Tak terpikir oleh mereka, justru Jaka memancing supaya mereka putus asa. Pemuda ini ingin tahu untuk apa mereka mengikuti dia. Bahwa Jaka adalah seorang pendatang, mutlak mereka tak akan tahu identitas dirinya yang sebenarnya. Dengan demikian, Jaka bisa mengambil kesimpulan, bahwa kemungkinan mereka bersengket dengan Ki Lukita, atau dengan penghuni perahu naga.
Tak bisa menunggu lebih lama lagi, para penguntit itu segera mengundurkan diri (secara diam-diam). Ketidaksabaran kadang kala dapat menimbulkan kecerobohan, dan mereka juga tidak luput—dengan bertindak sedikit ceroboh.
Hal ini diketahui Jaka. Tapi pemuda ini tak langsung mengejar, secara seksama dia memeriksa tempat, begitu yakin tiada yang menguntit lagi, pemuda ini menutupi wajahnya dengan secarik kain, dan melepas bajunya. Sudah tentu tindakan Jaka untuk berjaga-jaga supaya tak dikenali. Selesai dengan persiapannya, Jaka melesat cepat kearah para penguntit tadi.
Arah selatan yang dituju adalah tempat dimana Gua Batu berada. Jaka melesat diantara rerimbunan pohon, pemuda ini melesat dengan menutul kakinya diantara batang pepohonan, hakikatnya semenjak melewati rimbunan pohon, kaki pemuda ini tak menyentuh tanah. Dia meloncat kesana kemari seperti bajing.
Mendadak Jaka melesat cepat keatas, menyusup masuk kedalam rerimbunan daun. Rupanya Jaka mendapati ada beberapa bayangan yang melesat bergabung dengan tiga penguntitnya.
Dengan bergerak dari rimbunan daun diantara pepohonan, Jaka kembali menguntit. Pemuda ini tidak berani ambil resiko dengan mengikuti terlalu dekat. Siapa tahu ada beberapa orang kembali bergabung dengan orang yang dikuntit, bisa repot.
Komplek Gua Batu sudah didepan mata. Mereka berhenti (termasuk Jaka). Seperti menunggu sesuatu, mereka mengambil tempat istirahat masing-masing.
Dari kejauhan, satu sosok tubuh keluar dari salah satu komplek Gua Batu. Jaka menyipitkan matanya untuk mempertegas pandang. Sayangnya orang itu mengenakan kedok muka, dan baju yang dipakainya pun serupa daster, menyembunyikan lekuk tubuh. Pemuda ini tak bisa memastikan apakah dia lelaki atau wanita.
Terlihat olehnya orang itu memberi isyarat dengan melambai. Dan para penguntit yang sudah bergabung dengan rekan-rekannya, mengangguk. Mereka segera bergerak menuju mulut goa. Tapi mereka bukannya masuk dalam satu gua, melainkan berpencar, tiap orang memasuki gua yang lain!
Jaka melongo melihatnya.Sambil menghela nafas getun, pemuda ini berpikir bahwa orang-orang yang mungkin akan dihadapi, berada di bawah pimpinan hebat. Terbukti, mereka bertindak waspada, dengan tidak menunjukkan petunjuk apapun—sekalipun Jaka bisa mengikuti mereka.
Merasa tidak ada gunanya terlalu lama ditempat itu, Jaka memutuskan kembali ke penginapan.
Tak berapa lama, sampailah dia di penginapan. Tempat itu merupakan bangunan merangkap rumah makan. Untuk penginapannya sendiri ada dua tingkat dengan kapastitas 40 kamar. Sedangkan rumah makan, berada di halaman depan—lantai satu.
Saat memasuki halaman depan penginapan, pemuda ini merasa heran. Sekalipun belum terlalu malam, tapi restoran penginapan itu dipadati pengunjung.
Padahal siang tadi, dia mendapati hanya empat orang saja. Suasana restoran sedikit bising, maklum saja banyak orang mengobrol. Tapi Jaka bisa mengambil kesimpulan, jika pengunjung restoran itu bukan penduduk kota ini. Sebab diantara meja satu dengan lainnya, tidak ada tegur sapa.
Jaka mengebut pakaian, membersihkan debu. Dengan langkah sedikit tergesa, dia masuk ke restoran, tapi perasaannya jadi tak nyaman, sekalipun tidak terang-terangan, dia tahu ada beberapa pengunjung mengamatinya. Mungkin mereka sedang saling menaksir, apakah dia—Jaka—lawan atau kawan, apakah dia pihak yang bisa diajak kerja sama atu tidak.
Tentu saja Jaka enggan menduga hal-hal yang menurutnya tidak berguna. Meski sedikit riskan, pemuda ini menganggap perhatian mereka bukan tertuju padanya.
“Hmk…” terdengar orang mendengus dingin melihat sikapnya. Jaka tak menghiraukannya, dia hanya menoleh sedikit, dan mengangguk, tapi ia tidak berhenti untuk berbasa-basi. Langkahnya berlanjut menaiki tangga.
Sebelum masuk kamar, Jaka melihat seorang pelayan. Kebetulan, pikirnya. Ia tidak jadi masuk kekamar, tapi menunggu pelayan yang baru saja memenuhi pesan si pelanggan.
“Hei,” pemuda ini berseru memanggil.
“Ya, tuan?” sahut pelayan itu sambil mendatangi.
“Bisa kau siapkan air panas untuk cuci muka dan makanan paling baik?” pinta pemuda ini.
“Oh, tentu…” sahutnya. “Apakah ada keperluan lain yang harus saya siapkan?” tanya pelayan ini.
Pemuda ini berpikir sejenak.”Tidak, cukup itu saja.” Saat ia hendak masuk kamar, Jaka membalik badannya dan bertanya lagi. “Sejak kapan restoran penuh?”
“Menjelang senja tadi, tidak seperti biasanya tempat kami seramai ini.”
“Apa di kota ini ada perayaan khusus?”
“Setahu saya tidak, tuan.”
Jaka mengangkat bahu, gumamnya. “Kurasa para pengunjung itu bukan penduduk asli kota ini.”
“Benar, pandangan tuan memang tajam. Bukannya saya ingin membanggakan diri, hampir semua penduduk kota saya mengenal wajahnya.”
Jaka tersenyum mendengarnya. “Aku melihat diantara mereka ada yang bersikap kasar. Kau tidak khawatir melayani orang seperti itu?”
“Bagi saya tidak masalah, kaum pengelana kebanyakan memang begitu, saya sudah terbiasa, tuan.”
“Bagus.” Ujar pemuda ini tersenyum samar, dia memahami sesuatu. “Kulihat ada yang membawa senjata segala. Apa tindakan pemilik tempat ini?”
“Sejauh ini belum ada. Tapi saya rasa beliau tidak akan ikut campur masalah ini.”
“Ya sudah, sediakan saja pesananku.”
“Baik tuan.”
Pelayan itu bergegas turun kebawah. Sebelum Jaka masuk, dia melirik kamar sebelah—kamar yang sebelumnya ditinggalkan si pelayan, ternyata pintu kamar kembali terbuka, sebenarnya tidak tepat jika dibilang terbuka karena hanya menyisakan celah sedikit. Bagi orang lain mungkin itu hal wajar, tapi tidak bagi Jaka. Pemuda ini menggeleng kepala sambil masuk kekamarnya.
Kenapa hal seperti ini selalu kutemui pada saat ingin santai? Pikirnya sembari menyeringai. Bagi yang tahu jalan pikiran pemuda ini pasti heran. Bagaimana mungkin sebuah kejadian yang tiada sangkut paut dengan dirinya, yang mungkin saja membuat nyawanya terancam, dianggap sebuah kejadian menarik?
Tak berapa lama, si pelayan sudah kembali keatas dengan membawa tatakan makanan. Perlahan dia mengetuk pintu.
“Masuk…” seru suara dari dalam.
Tanpa canggung, pelayan itu segera mendorong pintu, ia melihat tamunya duduk membelakangi pintu. Sinar lentera terlihat menyala terang, dia bisa menduga, pemuda itu sedang membaca.
“Ini pesanan tuan,” kata pelayan itu dengan suara rendah.
Jaka tak menyahut, dia berdiri menyingkir dari meja, pemuda itu menyilahkan pelayan itu untuk mengatur makanan.
Dengan cekatan si pelayan meletakan makanan dan sajian yang dipesan tadi. Rupanya dia baru sadar kalau di meja sang tamu, tergeletak buku. Seperti tidak sengaja, dia meletakkan lauk dekat buku, dalam sesaat dia bisa membaca sampul buku itu.
Jaka tersenyum melihat tingkah pelayan itu, tadi pemuda ini tak mau buru-buru membongkar permainan yang dia yakini cukup menarik.
“Saya segera kembali untuk membawa air hangat pesanan tuan.”
Jaka mengangguk, sambil mengambil bukunya. Pemuda ini berlagak seolah tidak menyadari tindak tanduk canggung si pelayan, saat ia mengambil bukunya.
Pelayan itu segera keluar untuk mengambil air hangat pesanan Jaka, sesaat kemudian dia sudah kembali, dia meletakkan tempayan air hangat di samping meja.
“Terima kasih,” ucap Jaka sambil menyilahkan pelayan itu keluar. Begitu keluar, Jaka segera membanting pintu cukup kencang. Blam!
“Eh,” karuan si pelayan berjingkat kaget. Sungguh dia tak mengerti sikap sang tamu yang tadi cukup ramah. Heran, kenapa itu bisa ada padanya? Aneh sekali, pikir sipelayan sambil masuk kedapur rumah makan.
Di dalam kamarnya Jaka tersenyum. Kena kau! Rasanya umpanku cukup enak! Pikirnya membayangkan si pelayan turun tangga dengan wajah masam.
Jaka bukan pemuda yang suka berbuat iseng, dia selalu melakukan sesuatu kalau ada tujuan dan tentu saja dianggap penting olehnya. Kalau saja Jaka tidak menaruh curiga pada tingkah si pelayan, tentu ia tak akan berbuat aneh.
Dia merasa janggal dengan tingkah si pelayan, karena beberapa hal. Pertama; apa sih yang menarik percakapan dirinya dengan si pelayan, sehingga orang di kamar sebelah menaruh perhatian? Kelihatannya remeh, tapi bagi Jaka itu sebuah pertanda, adanya hubungan antara si pelayan dengan sang tamu.
Kecurigaan yang kedua adalah; saat makanan dihidangkan. Dimanapun adanya, sudah jamak bagi pelayan apabila menghidangkan makanan, tentu yang diletakkan adalah nasi—bahan pokok—lebih dulu, baru lauk pauk. Tapi dia tidak melakukan hal itu, si pelayan malah menampilkan hal-hal yang riskan, yakni saat menata makanan dimeja—jika pelayan benaran, tentu dia akan memperhatikan makanan dalam tatakan lebih dulu—tapi pelayan itu malah menyelidik buku Jaka yang berada di ujung meja.
Dari pertimbangan tadi, Jaka bisa memastikan si pelayan adalah samaran tokoh dari golongan tertentu. Mungkin saja dia mempunyai kepentingan di kota Pagaruyung ini, atau mungkin dia penduduk asli yang dipekerjakan sebagai mata-mata.
Tentu saja dengan kejadian di Telaga Batu, Jaka dapat menduga-duga, mungkin saja si pelayan adalah antek Bergola, atau mata-mata dari Perguruan Naga Batu.
Dia pikir, jika si pelayan ada hubungan dengan Bergola atau Perguruan Naga Batu, tentu tidak akan berani bertindak macam-macam. Tapi bila bukan, pemuda ini yakin, saat dirinya lengah—pada saat tak berada di kamar—akan datang tamu tak diundang. Jaka tersenyum, menyenangkan, pikirnya gembira.
Lepas dari persoalan tadi, Jaka merasa ada sedikit ganjalan. “Aneh,” gumamnya sambil mengunyah perlahan. Mendadak wajah Jaka cerah, Ah, apanya yang aneh? Kurasa memang demikian adanya. Pemuda ini memahami satu hal.
Dia berpikir, hal-hal yang mencurigakan itu tidak berhubungan dengan Bergola. Karena sebelum menjalin kontak dengan Ki Lukita, Jaka berurusan dengan… pelayan rumah makan. Jadi keduanya sama-sama pelayan! Bukankah begitu? Siapa yang merekomondasikan Jaka harus menginap di penginapan ini? Karena menduga seperti itu, Jaka paham beberapa hal lain. Mungkin saja mereka—kedua pelayan itu—punya hubungan, yang jelas bukan hubungan saudara.
Pemuda ini menghela nafas panjang. Sayang, aku tidak bisa menunggu si pelayan, beraksi. Jauh sebelum kentungan pertama, aku harus segera menemui Ki Lukita. Kurasa kejadian di telaga, harus diketahui beliau. Boleh jadi identitasnya sudah diketahui lawan. Andai saja aku sedikit paham seluk beluk konflik disini… mungkin bisa kuberi sedikit celah, sayang Perguruan Enam Pedang cukup kritis untuk dilewatkan, pikirnya.
Jaka mengingat-ingat tingkah Bergola saat menemui Ki Lukita. Kurasa dia menginginkan sesuatu, yang jelas apapun itu berada pada Ki Lukita. Pikir pemuda ini.
Jaka menguap, matanya terasa pedih. Sudah beberapa hari ini dia tak beristirahat secara layak. Badan pegal-pegal, alangkah enaknya jika saat ini dirinya berendam air hangat. Tapi mengingat ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukannya, dia mengurungkan niat bermalas-malasan.
Sambil menguap lagi, Jaka berpikir sesaat, bibirnya menyunggingkan senyum aneh. Jika ada yang mengerti baik sifat pemuda ini, saat tersenyum seperti itu, pasti akan ada ‘korban’. Mendadak, pemuda ini tertawa keras, terbahak…
“Berhasil!” serunya nyaring sembari terbahak lagi. Tentunya suara nyaring seperti itu dimalam hari sangat menarik perhatian orang, dan justru keadaan inilah yang dikehendaki Jaka. Biarpun di lantai dasar banyak tamu, toh suara Jaka terdengar juga oleh mereka.
Tentu saja orang tidak tahu maksud Jaka, mereka yang tak tahu, hanya mengira penghuni kamar sedang ngelindur. Tapi bagi pelayan dan orang yang sehaluan dengannya, mungkin saja paham dengan ‘igauan’ Jaka. Tapi apakah maksud Jaka seperti yang mereka kira?
Tentu mereka mengira Jaka berhasil menguasai keahlian dalam kitab yang dilihat si pelayan. Kitab? Kitab apa?
Tentu saja sebuah kitab pusaka. Apakah Jaka membawa kitab pusaka dan diletakan demikian ceroboh? Tentu saja tidak! Lagi pula, buku itu bukan kitab pusaka…
Salah satu hobi pemuda ini adalah menulis indah. Perihal kesusastraan, boleh dibilang dia jagonya. Dan tulisan cina periode kekaisaran Han adalah kegemarannya. Sekedar iseng, Jaka menuliskan tulisan indah pada kitab sasatranya dengan goresan bermakna, Tujuh Rembulan Penakluk Mentari, tentu saja disertai aksara yang mengartikan tulisan itu.
Dan perbuatan Jaka dengan meletakan bukunya, adalah untuk memancing reaksi si pelayan. Jika dia kalangan persilatan kelas atas, tentu akan mengerti betapa berharga kitabnya. Bagi orang awam tentu tidak tahu menahu perihal kitab itu. Tapi bagi kalangan tertentu persilatan, kitab itu adalah kitab mustika yang sama harganya—bahkan lebih—dengan sembilan mustika ilmu silat yang terdapat dalam dunia persilatan ini.
Meski Jaka enggan mencari tahu berita ‘hangat’ dikalangan persilatan, seperti peta harta karun, atau kabar burung adanya kitab sakti, dan semacamnya, bukan berarti Jaka tidak tahu. Dia memiliki banyak sahabat, dan dari merekalah dia banyak mendengar informasi akurat, atau sekedar isyu yang beredar di dunia persilatan.
Diantara cerita yang dia terima, adanya Kitab pusaka Tujuh Rembulan Penakluk Mentari, merupakan salah sataunya. Pemuda ini cukup berkesan dengan cerita itu, karenanya iseng-iseng, dia menuliskan sebuah kaligrafi cina kuno pada bukunya.
Tertarik dengan cerita itu, Jaka jadi ingin tahu seluk beluk—asal usul, kenapa kitab itu jadi rebutan. Tak tahunya, dalam buku catatan Ki Lukita juga menulis adanya kitab itu. Sungguh kebetulan.
Menurut tulisan Ki Lukita, Kitab Tujuh Rembulan Penakluk Mentari merupakan salah satu 12 kitab populer yang menjadi rebutan kaum persilatan, selama 5 generasi terakhir. Dalam catatan Ki Lukita pada tiga lembar terakhir, dijelaskan asal muasal beberapa kitab yang dijadikan rebutan, termasuk kitab favorit Jaka.
Ki Lukita menuliskan bahwa, kitab itu muncul sekitar 16 dasa warsa silam, dibawa oleh seorang pendeta dari Tiong-goan. Menurut kabar, pendeta itu merupakan ketua angkatan ke-15 dari Siau-lim-si. Pendeta itu datang ke Jawa Dwipa karena ingin menyelamatkan dirinya yang menjadi incaran pada tokoh Kang-ouw di Tiong-goan.
Jika dia bukan seorang yang welas asih, bisa saja dia mengandalkan murid-murid siau-lim-si untuk menjaga keselamatan kitab pusaka itu. Biarpun biara Siau-lim-si dikenal sebagai Kubangan Naga Sarang Harimau, sang pendeta tidak mau mengorbankan murid-murid Siau-lim-si sia-sia. Sebab bagaimana mungkin anak murid Siau-lim-si menahan ribuan tokoh kang-ouw yang memiki kelihayan sempurna? Sebab itulah ia lebih rela dirinya yang menanggung semua akibat. Tanpa banyak pertimbangan, sang pendeta segera berlayar menuju Jawa Dwipa.
Dalam catatan Ki Lukita disebutkan, setiba di Jawa Dwipa sang pendeta merasa aman dan memutuskan untuk menetap sampai akhir hayatnya. Tapi siapa tahu, anggapannya ternyata keliru, orang-orang Kang-ouw Tiong-goan meluruk sampai Jawa Dwipa. Tentu saja masuknya tokoh-tokoh negeri Tiong-goan membuat para tokoh Jawa Dwipa marah. Karena kebanyakan dari mereka yang mengejar adalah golongan hitam yang bertindak semaunya.
Para tokoh petinggi berunding dan memutuskan untuk mengusir pendatang dengan jalan kekerasan. Akhirnya terjadi bentrok antara dua golongan yang sebelumnya tidak pernah bertemu.
Seharusnya saat itu tokoh Jawa Dwipa dengan mudah dapat mengusir pada pendatang, tapi setelah mengetahui masalahnya, mereka malah berbalik membantu tokoh Tiong-goan untuk mencari Wi-Tiong-Hwesio, sang pendeta. Sungguh kasihan, di negeri sendiri diburu, di negeri rantaupun nasibnya tak jauh beda.
Tapi Tuhan memang menetukan lain, di saat kritis, muncul penolong yang dirasa tindak tanduknya cukup misterius. Orang itu berjubah putih dengan seluruh wajahnya tertutup kain putih, matanya juga tidak terkecuali. Sekilas pandang orang menyangka manusia itu adalah hantu. Saat itu banyak tokoh persilatan dua negeri sedang mengepung Wi Tiong Hwesio, tapi dasarnya pendeta itu orang yang asih, sekalipun orang berniat membunuh, ia sama sekali tidak membunuh, bahkan pendeta itu hanya merobohkan lawannya dengan totokan ringan saja.
Karena tindakannya ini, sang pendeta jadi rugi sendiri. Tapi betapapun dia adalah orang yang selalu memegang teguh prinsip, bahwa nyawa adalah ciptaan Tuhan! Mana boleh manusia merenggutnya dengan paksa? Karena prinsip itulah, sang pendeta hampir mati mengenaskan, untunglah penolong misterius muncul, dialah manusia berkerudung putih yang belakangan hari dijuluki Hantu Bisu. Akhirnya sang pendeta selamat dan dibawa entah kemana. Tentu saja kitab yang menjadi rebutan itu-pun raib bersama raibnya sang pendeta.
Konyolnya, begitu buruan mereka lenyap, kedua golongan (tokoh Jawa Dwipa dan Tong-goan) kembali bertarung. Dan akhirnya para pendatang itu bisa dienyahkan dari Jawa Dwipa.
Rupanya kejadian itu tidak berakhir begitu saja, selang dua tahun kemudian, muncul kembali seorang tokoh misterius. Orang itu bertindak seperti setan, tak teraba, tak diketahui kapan dan dimana dia akan muncul. Dengan kemunculannya itu, banyak tokoh persilatan yang mendadak lumpuh, ada juga yang ilmu silatnya punah.
Selidik punya selidik, akhirnya semua orang dapat menduga bahwa lelaki itu tak lain adalah Hantu Bisu. Orang itu bertindak demikian karena ingin membuat para tokoh yang dulu pernah mengeroyok Wi Tiong Hwesio kapok dan tidak akan mengulang perbuatan serupa.
Para tokoh gempar, mereka gentar jika membayangkan kedatangan Hantu Bisu… selain rasa kawatir, keherananpun menyelimuti mereka. Pada saat menolong sang pendeta, banyak diantara tokoh yang lumpuh sesaat karena menghirup racun yang ditebarkan Hantu Bisu. Mereka sadar, senjata andalannya hanya racun. Ilmunya tak seberapa, hawa murninya juga hanya bisa digolongkan pada tingkat menengah.
Tapi kemunculan berikutnya, membuat hati siapa saja bergidik. Ketangguhan ilmu Hantu Bisu bisa disejajarkan dengan Si Pedang Maut—tokoh pembunuh bayaran yang begitu ditakuti. Konon, jika ada orang yang sudah diincarnya, sedetikpun tak akan ada waktu baginya untuk kabur.
Jika Hantu Bisu disejajarkan dengan Pedang Maut, artinya kelihayannya tidak perlu disangsikan lagi. Untungnya tindak-tanduk Hantu Bisu tidak sebuas Pedang Maut.
Julukannya sebagai Hantu Bisu bukan berarti dia benar-benar bisu, lantaran jarang bicara, maka dia selalu menggunakan tulisan sebagai tantangan. Tulisannya berbunyi;
Sebagai balasan ketololan kalian mengeroyok Insu—guruku yang berbudi,kalian harus menerima akibatnya! Aku menuntut keadilan dari kalian tokoh yang disebut sebagai pengayom. Sayang sekali insu tidak memperbolehkan aku membunuh lawan… Sambut kedatanganku!
Ternyata Hantu Bisu menjadi murid sang pendeta. Tapi kenapa kehebatan Hantu Bisu bisa begitu mengejutkan, bahkan lebih hebat dari sang pendeta? Beberapa tokoh berpikir, mungkin karena sang pendeta merasa sangat berterima kasih, selain mengangkat Hantu Bisu sebagai murid, ilmu pada kitab yang penah mereka perebutkan, pastilah sudah dikuasai Hantu Bisu.
Tantangan Hantu Bisu memang luar biasa, dalam waktu tiga bulan, tokoh yang pernah mengeroyok gurunya dibuatnya bertekuk lutut dan mengakui kesalahan mereka sendiri, padahal mereka sangat tangguh. Setelah semua orang habis dijatuhi hukuman, Hantu Bisu pergi ke Tiong-goan, disana dia juga melakukan perbuatan serupa.
Setahun kemudian Hantu Bisu pulang, tapi dia mendapati gurunya sudah meninggal, hatinya sangat sedih. Tapi begitu mengetahui gurunya meninggal bukan lantaran sakit tapi karena dibunuh secara licik, mulai saat itu Hantu Bisu kembali menggembara untuk mencari si pembunuh.
Sampai kisah ini kutulis, apakah Hantu Bisu menemukan pembunuhnya atau belum, aku tak tahu. Yang jelas semenjak kemunculan Hantu Bisu kembali, banyak tokoh berencana keji terhadapnya, mereka begitu kemaruk ingin menguasai kitab dari Tiong-goan. Sejak saat itu bagaimana nasib Hantu Bisu, tiada seorangpun yang tahu…
Pengetahuan Jaka mengenai seluk beluk kitab itu tidak sedetail apa yang diketahui Ki Lukita. Karenanya dia merasa girang bisa mengetahui lebih detail. Meski demikian, Jaka merasa heran, dari mana Ki Lukita bisa menghimpun cerita lengkap seperti ini? Mengingat waktu yang terentang ada 1½ abad?
Mungkin perlu kutanyakan nanti. Pikirnya.
Pemuda ini menatap sampul bukunya sambil tersenyum, dia yakin si pelayan percaya seratus persen dengan ‘keaslian’ kitabnya. Maklum saja selain buku Jaka sudah kumal, juga terlihat tua dan usang—cukup menyakinkan dugaan siapapun yang melihatnya. Apalagi pada sampulnya tertulis huruf tiong-toh!
Jaka melihat, saat si pelayan melirik bukunya, dia sulit mengendalikan perasaan. Dari situ pulalah kecurigaan Jaka terbukti, bahwa dia bukan pelayan tulen.
Pemuda ini tertawa geli, seandainya aku yang menjadi kau, pikirannya melayang pada si pelayan. Aku akan waspada, memangnya ada kitab usang bisa melekat tinta baru? Pemuda ini menggeleng kepala.
Jaka memang tak sempat menaburkan debu diatas sampulnya. Dia hanya bertindak untung-untungan, siapa tahu pelayan itu bertindak ceroboh. Klop-lah rencananya.
Pasti mereka akan bertindak malam ini, nampaknya aku harus memuluskan rencana mereka, pikir pemuda ini.
Dari tempat pakaian, Jaka mengeluarkan sebuah kotak, ternyata kotak itu berisi berbagai jenis bubuk halus, dia menggelengkan kepala sambil tertawa geli.
“Siapa sangka bumbu masak bisa berguna pada saat-saat begini?”
Jaka mengusap bubuk itu diseluruh permukaan bukunya. Sebenarnya dia merasa sayang dengan buku—juga merasa sayang atas bumbunya. Tentu saja Jaka tidak akan mengorbankan buku yang dia anggap berharga. Bagaimanapun juga buku itu telah menemani perjalanannya selama ini.
Di saat-saat rawan seperti ini, rasanya kurang bijak berbuat begini. Tapi, kalau mereka tak memperoleh pil pahit dariku, kapan mereka bisa menghargai keinginan orang? pikir pemuda ini membela diri. Jaka sendiri merasa alasannya terlalu dipaksakan, tapi dia berdalih—atas dirinya—tidak ada salahnya, membuat jera orang yang punya potensi berbuat jahat.
Semula dia berniat mengorbankan bukunya, tapi Jaka berubah pikiran. Karena ingin mengetahui siapa yang menyusupkan mata-mata di penginapan murah ini, Jaka meninggalkan sampul buku dengan harapan, bisa menarik perhatian dan menjebak mereka. Untuk menghilangkan kecurigaan, agar bukunya terlihat berisi, Jaka mematahkan papan alas dipannya—tempat tidur—seukuran kertas buku, dan diselipkan kedalamnya.
“Sempurna…” Lalu pemuda ini menuliskan sesuatu pada beberapa lembar kertas dan menyelipkannya di dalamnya. Jaka mencari tepat untuk menyembunyikan bukunya. Pemuda ini juga menaruh beberapa benda yang dirasa ‘cukup membuat curiga’ di tempat-tempat yang mungkin akan di selidiki.
“Nah, kini saatnya…” Jaka berencana berangkat setelah dia makan, dan cuci muka. Jaka juga bersalin pakaian dengan warna gelap. Tak lupa pula menuliskan analisanya pada beberapa lembar kertas. Analisa yang membuat para penyatron serba salah.
Pemuda ini menarik tali didalam kamarnya, tali itu dihubungkan dengan lonceng ruang petugas, jika tali ditarik artinya penginap memerlukan sesuatu. Tentu saja tiap kamar memliki lonceng berbeda, dengan demikian bisa ditentukan kamar mana yang meminta sesuatu.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar Jaka diketuk.
“Ya?” seru Jaka dari dalam.
“Pelayan, tuan…” jawab suara dari luar.
“Masuk,”
Pelayan yang masuk adalah orang yang tadi menyiapkan makanan. “Ada yang bisa saya Bantu, tuan?” tanyanya.
“Tolong bawa ini semua.” Tunjuk Jaka pada piring-piring kotor.
Si pelayan segera bergegas membereskan daharan tamunya. “Ada perlu lagi tuan?”
“Tidak.” Sahut Jaka agak ketus.
“Apa air cuci muka perlu saya ganti tuan?”
“Tak perlu. Kalau kau mau mengambilnya, silahkan!” sahut pemuda ini agak dingin. Memang seharusnya Jaka menampilkan sikap begitu agar pelayan itu mengira bahwa kedatangan dirinya hanya sebantas untuk membereskan saja.
“Baik tuan,” lalu dengan cekatan pelayan itu mengambil tempat cuci muka juga. Sekejap, matanya melirik meja, dia tidak menemukan buku yang tadi dilihatnya.
“Hanya ini saja tuan? ” tanyanya.
Jaka tidak menjawab, ia hanya mendengus. “Kalau sudah selesai, lekas keluar. Jangan banyak omong.” Perintah pemuda ini.
“Baik tuan. Maaf saya mengganggu,” sahutnya dengan tertunduk. Sikap Jaka benar-benar diluar dugaan, sebenarnya begitu masuk ke kamar si pelayan sudah menyiapkan rencana untuk mencari keterangan siapa pemuda itu. Tapi sikap dingin pemuda itu membuatnya kecut.
“Berbeda dengan tadi…” pikirnya sambil keluar, dia membandingkan sikap Jaka dengan awal percakapan mereka.
Setelah pintu tertutup, Jaka tersenyum. “Kurasa kau tahu apa yang harus di lakukan.” Pikirnya.
Waktunya pergi, pikirnya. Jaka membuka jendela kamar, mengamati situasi sejenak, lalu keluar lewat jendela. Setelah menutup kembali, dengan gerakan cepat, pemuda ini melompat dan melesat entah kemana. Sekejap saja bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.
Bebeberapa saat kemudian, di satu sudut kegelapan lainnya, muncul tiga orang berpakaian hitam, mereka menggunakan kedok muka.
“Dia sudah pergi?” tanya seseorang pada rekan disebelahnya.
“Sudah, sebelumnya jendela kamar itu kuberi tanda dengan tali dan lonceng. Dan lonceng sudah berbunyi, berarti dia sudah keluar. Lagi pula kita juga melihat sekelabatan bayangannya, berarti dia sudah pergi.”
“Sebaiknya kita menunggu sebentar, mungkin dia belum jauh dari sini.” Kata orang kedua.
“Benar.”
“Untung kau tidak bertindak bodoh didepannya.” Kata orang ketiga yang dari tadi diam.

—ooOoo—

17 – Penjebak Terjebak

“Tentu saja saya tidak mungkin bertindak ceroboh. Tapi kalau dia tahu apa yang kulakukan, dia bisa apa?”
“Bodoh. Sekalipun hanya sekelebatan, aku sempat melihat gerakannya. Dia bukan lawan yang bisa diremehkan. Dan kalau kau pikir bisa menghadapinya, hm… rasanya tak mungkin! Coba pikir baik-baik, apakah orang yang menguasai ilmu itu, bisa kau kalahkan?”
Lelaki itu tertegun sejenak, kemudian dia mengangguk. “Tuan benar. Toh, dia tetap jatuh ke tangan kita.”
“Benar, sehebat apapun dia, jika kalah siasat, tetap saja kalah.” Sahut satunya mendukung ucapan rekannya.
“Hh…” orang yang mereka sebut tuan muda, tidak menjawab, dia hanya menghela nafas saja. Rupanya ada yang dirisaukan.
Mereka menunggu sekian lama, setelah tidak ada tanda-tanda mencurigakan, tiga orang itu melesat kejendela kamar Jaka.
Klik…
Jendela terbuka, dua orang yang ikut mengiringi meloncat lebih dulu ke dalam. Orang terakhir segera masuk kedalam, mengamati keadaan dalam kamar sejenak, lalu dia menutup jendelanya.
Suasana dalam kamar gelap gulita, salah seorang dari mereka menyalakan geretan api. Sinar lentera segera menyala terang, sungguh mereka bertindak tidak kepalang tanggung. Biasanya seorang penyusup atau maling, paling kawatir menarik perhatian, dan menyalakan sinar, tentu saja perbuatan ceroboh.
“Tuan muda, anda begitu yakin dia tidak membawa barangnya. Saya pikir kemungkinan itu kecil?” tanya orang kedua pada orang ketiga—yang ternyata sang majikan.
Si tuan muda tertawa. “Kau kurang memikirkan alasannya mengapa aku berkeyakinan begitu.”
“Saya rasa, tak perlu dibuat pertimbangan lagi. Siapapun yang memiliki barang berharga, jika bukan berada ditempatnya sendiri, pasti akan dibawa kemana-mana.”
“Alasanmu cukup bagus. Tapi tak cukup baik untuk situasi kali ini.”
“Oh, jadi bagaimana menurut anda tuan muda?”
“Begini, saat Durba masuk terakhir kalinya, bukankah ia melihat pemuda itu sudah mengenakan pakaian gelap? Bisa disimpulkan dengan pakaian seperti itu dia tidak akan bertamu—aku yakin dia pergi untuk mengintai seseorang atau sesuatu.” Kedua abdinya mengangguk.
“Bukankah menurutmu dia baru satu hari disini?” orang pertama itu balik bertanya.
“Benar.” Sahut Durba—samaran si pelayan.
“Nah, dengan begitu mudah kuambil kesimpulan, bahwa pemuda itu memiliki kepentingan disini. Sekalipun dia cukup lihay, kalau dia pergi untuk kepentingan sesaat—mengintai misalnya, sudah tentu, dia tidak akan bertindak ceroboh dengan membawa barang berharga, sebab setiap waktu apapun yang dia intai, bisa membahayakan. Dia sudah memperhitungkan kemungkinan pada saat tertangkap, tidak ada barang berharga atau barang yang bisa merujuk pada identitasnya.”
“Betul juga analisamu tuan,” kata orang ketiga. “Tapi bagaimana dengan kata-katanya tadi? Berhasil? Saya rasa, dia tidak mengigau, jika kita anggap dia menguasai ilmu dalam kitab, saya rasa sulit baginya tertangkap.”
“Benar,” ujar si tuan muda. “Tapi seperti yang kukatakan tadi, apapun alasannya dia tidak akan membawa barang berharga.”
Kedua abdi itu bisa menerima alasan tuannya.
“Nah, sekarang yang menjadi masalah, dimana dia menyimpannya?”
“Ah, mudah saja tuan, kita tinggal sembarang mencari saja. Hanya kamar sekecil ini, pasti kita bisa menemukannya.” Kata Durga—abdi kedua.
Si tuan muda hanya menanggapi dengan gumam. Dia memberi isyarat agar keduanya segera mencari.
“Waktu kita terbatas, cepat kalian geledah seluruh sudut.” Perintahnya.
Keduanya segera menggeledah tiap susut kamar, tempat yang diduga dapat menjadi tempat penyimpanan. Tapi setelah sekian lama mencari tiap penjuru kamar, tak satupun barang yang ditemukan. Dari langit-langit kamar, kolong tempat tidur, lantai—yang terbuat dari kayu, bahkan sampai tempat ditidur dan sarung bantal-pun diperiksa, tapi mereka tidak menemukan sesuatu.
“Jangan-jangan dia tidak menyimpan disini?” ujar Durga.
“Tidak!” seru si tuan muda tegas. “Dia pasti menyimpan disini! Justru setelah sekian lama mencari tanpa hasil, akan terpikir oleh kita, bahwa dia menyimpan ditempat lain. Kalau sudah demikian, rencana orang itu—bahwa kita tidak akan meneruskan mencari disini—akan terwujud. Hm, orang yang cerdik.”
“Tapi, dimana kira-kira dia menyembunyikan kitab itu?” ujar Durba kesal.
“Apa tiap sudut sudah kalian cari?”
“Sudah!”
“Kalau begitu cari pada tempat yang tak pernah kau duga.” Kata si tuan muda dengan tenang.
Dua orang itu segera berpikir seksama. “Apakah kolong meja sudah kau periksa?” tanya orang Durba pada rekannya.
“Sudah,” katanya dengan menggumam.
“Apakah langit-langit meja sudah kau periksa?” tanya sang tuan muda.
Kedua orang itu saling pandang. “Belum,” desah Durba girang. “Ya, mungkin disitu!” serunya semangat, tanpa banyak bicara, ia memeriksa langit-langit meja.
Karena meja di kamar itu berada di pojok dan merupakan meja permanen—artinya sudah tidak bisa dipindah lagi, Durba terpaksa merangkak saat memeriksa meja, dia mendongkakkan kepala untuk memeriksa langit-langit meja..
“Uuh…” serunya kaget.
“Ada apa?” tanya Durga.
“Tak apa-apa…” sahutnya. “Aku kaget, mataku kemasukan sesuatu.” Katanya sambil mencari-cari. Dan dipojok langit-langit meja, ia melihat benda berbentuk persegi dibungkus kain hitam yang terjepit diantara sela-sela kayu meja.
“Dapat…” serunya girang. Segera diambilnya bungkusan itu. Buru-buru ia keluar dan menyerahkan bungkusan itu pada tuannya.
Si tuan muda melihat bungkusan itu dengan mata berbinar gembira. “Terima kasih,” sahutnya dengan suara menggeletar. Dia bahkan merasa gemetar saking girangnya. Bisa dimaklumi, siapa sih yang tidak gembira mendapatkan kitab mustika yang sejak dulu menjadi perebutan para tokoh sakti?
“Sungguh tidak disangka kita menemukan kitab mustika disebuah penginapan murahan,” dia mendesah di sela rasa girangnya.
“Apakah tuan hendak memeriksa sekarang?” tanya Durga.
“Lebih baik begitu,” sahutnya.
Dengan tangan masih gemetar, ia mulai membuka kain hitam yang membungkus kitab. Tampak kain itu agak berdebu, karena debu itu terlihat sedikit mengganggu, maka ia menepuknya hingga bersih. Agak tergesa, ia buka ikatan pada kain hitam.
Begitu dibuka, ternyata masih ada bungkusan lain, kain lapis kedua itu tidak kasar bahkan sangat halus, sepertinya terbuat dari kain sutra.
Buru-buru, kain itupun disingkap, dan terlihatlah sebentuk kitab yang mereka cari. Sampul kitab itu sudah sangat usang, kalau melihat bentuknya, mereka menduga kitab itu berusia paling delapan dasawarsa. Sayangnya mereka tidak menyadari, bahwa usia tulisan cina itu tak setua sampulnya…
“Akhirnya…” seru si tuan muda dengan suara gemetar. Dilihatnya sampul depan kitab itu tertulis huruf Cina, ia raba penuh perasaan, dibawah huruf cina itu ia melihat terjemahannya, yakni; Tujuh Rembulan Penakluk Mentari! Tulisan itu tergores rapi, tapi aneh… goresan itu terlihat baru.
Sekalipun merasa heran, orang ini tidak perduli. Akhirnya dia membuka sampul kitab… tapi pada halaman pertama tidak terlihat tulisan setitik¬pun! Hanya kertas polos!
“Ah…” ketiga orang itu tersentak kaget. “Kosong?!” hampir bersamaan ketiganya terpekik.
“Kita tidak tahu seluk-beluk kitab ini tuan, mungkin melihat tulisan dari kitab ini dengan cara merendamnya di air atau,”
“Betul juga,” si tuan muda memotong ucapan Durba.
Lalu ia membuka lembar berikutnya, tapi apa yang didapatinya? Mata mereka tambah terbeliak saat melihat lembar kedua. Menyusul terlihatnya lembar kedua, ada sesuatu yang terjatuh dari dalam kitab… ternyata sebuah papan! Kini dengan jelas mereka bisa melihatnya! Sebuah kenyataan pahit menghempas perasaan ketiga orang itu.
Pada halaman kedua tidak kosong, tapi ada sederet tulisan dengan goresan indah.
Selamat, anda mendapatkan sampul buku tua. Kedatangan anda sekalian sudah saya tunggu dari tadi… sayangnya, kalian terlalu lama bergerak dan terpaksa saya harus meninggalkan kamar untuk memancing kedatangan anda berdua? Atau bertiga? Atau berempat?
Saya tidak tahu, tapi menurut perhitungan, anda akan datang bertiga. Apa tebakan saya betul? Sesungguhnya anda tidak perlu bertindak seperti ini, kalau mau berpikir ’bagaimana mungkin sebuah kitab pusaka bisa berada pada orang yang kurang layak?’ yah, katakan saja saya kurang layak…
Jika anda bertanya bagaimana bisa ‘kitab pusaka’ saya ini bisa semirip ciri kitab mustika, mungkin jawaban yang tepat hanya kebetulan saja. Mengenai tulisan asing (cina) ini, memang saya sendiri yang membuatnya.
Sebenarnya saya tidak ingin berbuat seperti ini, tapi pelayan yang anda ‘titipkan’ disini, membuat saya kurang leluasa. Rasanya tidak perlu saya utarakan panjang lebar apa yang membuat saya merasa kurang nyaman. Sebab hanya ada satu kesimpulan saja, dia tidak cocok jadi pelayan!
Mungkin anda harus melatihnya lebih keras lagi. Jika diperhatikan lebih seksama banyak kelemahan yang harus dibenahi. Ini sebuah saran gratis dari saya.
Sampai disitu wajah ketiga orang ini kelihatan masam—terutama Durba ‘si pelayan’, keringat dingin mengalir tanpa dapat dicegah.
“Tak kukira, dia memperhatikan gerak-gerikku dengan cermat. Aku tidak menyadarinya…” ujarnya gemetar, sambil bersusah payah menelan ludah.
“Hm…” si tuan muda mendengus dingin. “Dia memiliki daya analisa lumayan, sedikit jejak bisa ditelusuri… kesimpulannya tepat pula.”
Durba membenarkan ucapan tuannya. “Saya tak habis pikir, kenapa dia tahu, kita datang bertiga?”
“Tebakan, hanya tebakan kebetulan!” Timpal Durga merasa getun. Si tuan muda mengumam lirih, mungkin dia membenarkan dugaan itu, mungkin tidak. Mereka kembali membaca tulisan berikutnya.
Anda harus paham, saya kurang suka dengan orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Saya paham, anda bertindak demikian mungkin ada alasan yang menurut anda bisa dibenarkan, bagi saya tidak masalah.
Cuma yang menjadi ganjalan saya, jika anda mengirim mata-mata, hendaknya dia bisa bekerja dengan baik, tanpa orang menyadari bahwa dia mengamati gerak-geriknya.
Dengan kata lain, anda harus mempekerjakan orang yang bisa bertindak praktis dan taktis. Dengan demikian apapun rencana anda, bisa dijalankan dengan baik.
Sayangnya sekarang, anda harus merencana ulang apapun ‘agenda kerja’ anda disini. Bukankah dengan kejadian seperti ini, langkah anda sudah diketahui lawan? Dalam hal ini sayalah lawan anda.
Ada kenyataan yang harus anda ketahui… setiap orang yang berurusan dengan saya, mereka akan selalu memikirkan tindakan selanjutnya untuk membalas, sayangnya selalu gagal.
Oh, mungkin anda juga ingin tahu fakta yang saya ketahui tentang kecurigaan saya. Yah, terus terang saja, kamar anda yang terbuka sedikit saat pelayan berbicara dengan saya, membuat saya mau tak mau harus menaruh perhatian.
Tapi, peran si pelayan tidak seluruhnya jelek. Harus saya puji, keluwesan dia melayani orang. Saya rasa, dari gerak-geriknya, pelayan anda sudah beradaptasi disini kurang lebih satu bulan. Apa tebakan saya benar?
Wajah mereka terlihat pias saat membaca tulisan terakhir. Dalam hati, timbul suatu perasan takut dan ngeri, saat membayangkan perjumpaan yang berikutnya. Mereka juga kagum karena dugaan Jaka tepat. Padahal Jaka cuma sekedar menduga saja, sebab tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa si pelayan sudah satu bulan disitu.
Saya rasa kedatangan anda kekota ini berhubungan dengan Perguruan Naga Batu, atau karena hal lain? Saya tidak bisa menduga apa hubungan anda dengan Perguruan Naga Batu, atau cerita dari Telaga Batu. Kalau kesimpulan saya tidak salah, kemungkinan besar anda ada maksud tertentu dengan dua hal yang saya sebutkan tadi.
Perlu dijelaskan bahwa Jaka menulis ‘atau cerita Telaga Batu’ hanya kata-kata tambahan belaka, tidak ada maksud lain. Maksud Jaka, supaya mereka menilai dirinya sebagai orang yang sok tahu, tak mengenal masalah. Jika sudah demikian, mereka akan memandang rendah dirinya, kalau sudah begitu, Jaka mudah membalikkan situasi—saat berhadapan. Diluar dugaan, apa yang dituliskan Jaka benar-benar membuat wajah tiga orang itu pucat pasi.
“Orang ini siluman,” gumam si tuan muda dengan perasaan tak tenteram, tertekan… dengan menggertak gigi, mereka kembali membaca.
Tapi dengan kejadian ini, saya sungguh-sungguh merasa berterima kasih. Baiklah saya perkenalkan diri saja, nama saya Jaka. Bagaimana dengan nama anda bertiga? Apakah… sepertinya saya tidak perlu menebaknya. Kalau nama yang saya sebutkan benar, bukankah anda bertiga mengira saya ini dukun? Gawat kalau begitu.
Oh-iya, ada hal penting yang harus anda bertiga perhatikan. Setelah memasuki kamar ini dan mendapatkan benda yang dicari, maka anda bertiga sudah keracunan. Keracunan? Bagaimana bisa? Tentu itu pertanyaan anda… dan saya yakin anda tidak percaya. Baiklah, untuk jelasnya saya terangkan saja satu persatu.

Pertama, bila anda sudah mencari kitab ini di semua tempat, sampai di langit-langit kamar, apakah anda merasa sedikit rasa nyeri pada jari, saat meraba langit-langit? Jika demikian, anda tidak beruntung, karena ditempat itulah saya memasang racun.
Untuk lebih meyakinkan anda, saya kira jika anda merasakan nyeri pada jari, pinggang anda juga terasa sedikit geli, begitu rasa nyeri hilang. Itulah tanda, bahwa anda terkena Racun Bunga Kuning. Anda kenal racun itu? Saya kira anda kenal…
“Ah!” seru Durga kaget.
“Kau terkena racun itu?” tanya si tuan muda dan Durba bersamaan.
“Kelihatannya memang benar, sungguh sial nasib kita malam ini.” Keluh Durga dengan muka kuyu. “Semua ini karena kecerobohanku,” sesalnya kembali.
Dia tahu apa itu Racun Bunga Kuning, racun itu dapat membuat isi perut melepuh dan akhirnya rapuh, biarpun korban terkena sedikit saja, memang prosesnya lambat, tetapi cukup mematikan.
Tapi keduanya tidak mengacuhkan ucapan Durga, sebab mereka juga ingin tahu penjelasan berikut.
Kedua, bagi anda yang menemukannya, tentu terpaksa merangkak dikolong meja, saat mencari pada langit-langit meja apakah mata anda kemasukan sesuatu? Tahukan anda, bahwa saat itu juga mata anda telah kemasukan Racun Kayu Harum? Sebagai orang berpengalaman anda pasti tahu Racun Kayu Harum… hm, bagaimana?
Wajah Durba terlihat mengelam, “Orang ini iblis!” desisnya bergetar marah, tapi lebih banyak perasaan jeri menguasainya.
Dia tahu betul bagaimana Racun Kayu Harum bekerja, racun ini hanya kusus menyerang bagian paling lemah tubuh manusia, misalnya liang telinga, mata atau… tertelan. Jika tiga hal itu salah satunya terjadi, jangan berharap satu hari dimuka si korban masih hidup.
Racun itu bersifat seperti borok, makin lama makin banyak pembusukkan di setiap daging atau tempat yang ia singgahi. Tapi bila racun itu hanya tersentuh kulit, atau bila ada orang yang berendam, mereka tidak akan apa-apa. Dengan catatan, racun tidak masuk ke hidung, telinga, mata dan mulut—juga kulit yang terluka.
Si tuan muda makin tertekan perasaannya. Dia tidak menggubris keluhan dua orang pengikutnya. Dengan hati berdebar tegang, ia membacanya lagi.
Ketiga… Oh, saya hampir lupa menjelaskannya, anda yang terkena racun ketiga ini adalah pimpinan rekan-rekan anda? Terus terang, anda sudah kena Racun Peluluh Mayat. Saya rasa anda dapat menduga bagaimana anda terkena. Tapi biarlah saya jelaskan.
Saat anda membuka bungkus, apakah terlihat banyak debu? Dan adakah tercium sedikit bau harum? Nah, debu yang ada pada kitab, adalah Bubuk Pelumpuh Syaraf, sedangkan bau harum yang anda bertiga hisap setelah membuka bungkusan terakhir adalah Racun Tujuh Bunga, saya yakin anda tahu kedua racun, sebab kaum kelana biasapun mengenal namanya.
Pada lembaran itu tulisan Jaka habis, tidak ada tulisan lain lagi. Sampai disitu tiga orang itu membaca tulisan Jaka dengan perasaan takjub, ngeri, juga dongkol.
“Kurang ajar! Setan ini benar-benar cerdik! Dia bisa menebak tindakan kita dengan tepat.” Geram si tuan muda gusar.
“Tuan, rasanya kita tidak perlu disini lagi. Aku sungguh menyesal dengan kejadian ini. Semuanya adalah tanggung jawabku, kalau aku tidak terpancing kitab tulisan pemuda itu, tentu kita tidak akan menjadi maling seperti ini…” kata Durba dengan suara lirih.
“Sudahlah… jika orang lain yang menemukan kejadian serupa denganmu, dia juga akan bertindak seperti kita.” Kata si tuan muda dengan nada datar. Wajahnya memang agak kaku, tapi orang ini cukup bijak. Lagipula dari suaranya, kelihatannya dia tidak begitu kawatir.
“Sebelum kau mengambil semua makannya, apakah sudah kau tebarkan Racun Sembilan Kuntum Kamboja milik-ku?” tanya si tuan muda.
“Sudah tuan,” sahut Durba, kembali semangat, dia sadar mereka punya harapan untuk bernegoisasi obat pemunah. “Sebelum saya mengambilnya, saya sudah menyebarkan racun itu dalam gelas air minum, lalu di sisi tempat tidurnya juga saya sebarkan. Ya-ya… dengan demikian keadaan kita saat ini satu sama.”
Durga dan majikannya mengangguk. “meski demikian, kita tidak boleh mengabaikan kecerdikan orang itu. Kalau dalam satu hari ini kita tidak memperoleh penawarnya, tentu riwayat kita habis untuk satu hari mendatang.”
“Tapi bagaimana cara kita bertransaksi dengan orang itu? Dia tidak memberikan petunjuk apa-apa.” Durga merasa khawatir harapannya sia-sia.
Belum sempat si tuan muda menjawab, terdengar seruan kaget Durba.
“Eh…”
“Ada apa?” hampir serempak mereka menjawab.
“Masih ada lembar berikut!” seru Durba memberi tahu, dan memang lembaran yang ditulis Jaka masih sisa dua lembar. Tanpa banyak komentar, mereka segera membacanya.
Saya tahu anda orang yang cerdik. Jangan bertindak bodoh kalau masih ingin hidup sampai besok, tapi jika anda sudah bosan hidup, terserah anda.
Ada beberapa hal yang mengganjal hati saya, tapi mau tak mau harus saya sampaikan. Yakni, apa yang nanti saya sampaikan pada anda bertiga, tidak boleh dibantah, tidak ada tawar menawar, kecuali anda ingin mengakhiri hidup anda sendiri.
“Huh! Tulisan macam apa ini?!” seru Durga gemas. Maklum saja, gaya tulisan Jaka yang ‘sok malu-malu’ membuat mereka punya harapan untuk mengakalinya, tapi di akhir tulisan yang ‘agak sungkan’ itu, ternyata mengandung perintah.
Sang majikan juga merasakan hal serupa, tapi dia tak ambil pusing, dia membaca kembali.
Sebelumnya, saya ingin anda tahu, bahwa saya adalah… ya, boleh dikatakan ahli racun, racun yang anda kirim pada saya, masih terlalu ringan. Saya menyadarinya, begitu ‘si pelayan’ datang, dia menaburkan sesuatu, bagi orang lain mungkin racunnya, cukup mematikan, tapi bagi saya racun seperti itu, tidak lebih makanan sehari-hari. Sebenarnya saya juga malas bermain racun, tapi anda mendahului saya bermain racun. Ya, sebagai rasa hormat, saya perkenankan anda mengenal racun yang lebih baik dari bubuk anda.
“Sialan!” seru si majikan. Bisa dimaklum kekesalannya, jika racun yang diandalkan diberi predikat bubuk, artinya sama dengan bedak, sama sekali tak membahayakan. Hati siapa yang tak panas?
Saya pikir dengan penjelasan ini, anda sadar bahwa untuk menawar apapun perintah saya, adalah mustahil. Bisakah di mengerti?
Membaca tulisan itu, hembusan nafas tertahan hampir terdengar bersamaan. Dan kali ini si tuan muda tidak berhasil menahankan ketenangannya.
“Habis sudah!” desisnya. “Entah apa kemauan orang itu… jika dia menginginkan kita melakukan perbuatan aneh-aneh…” sang majikan tampak putus asa.
Seolah tahu apa yang akan dipikirkan para penyatron kamarnya, Jaka menulis begini,
Jika anda adalah orang baik, tentu tidak pernah bertindak keji dan curang, bukan? Yah, meski tindakan kali ini bisa dikatakan curang. Tapi saya yakin anda berasal dari keturunan baik-baik.
Dan beberapa perintah saya, sesuai dengan tindakan yang anda lakukan, boleh dibilang semacam hukuman. Saya harap anda memakluminya. Dan jangan kawatir, saya tidak akan memerintah anda, untuk melakukan perbuatan tercela.
Saya hanya ingin anda bertiga datang ke kuil sebelah timur perbatasan kota, satu kentongan sebelum tengah malam. Pada saat itu, anda bersembunyi disebuah tempat diluar kuil, tapi jangan terlalu dekat dengan kuil. Jika anda mendengar suara burung malam, anda boleh keluar dari tempat persembunyian.
Itu perintah pertama, selanjutnya anda bertiga akan menerima perintah berikut, setelah bertemu dengan saya. Dengan ini, cukuplah perkenalan kita. Semoga anda masih ingin hidup.
Oh, hampir saya lupa… tolong kemasi barang-barang saya yang ada di kamar ini, yakni; tempat penyimpanan pakaian, lalu sampul buku yang anda pegang beserta kertas yang anda baca ini, dan terakhir, tolong katakan pada pengurus penginapan kalau saya sudah tidak menginap dikamar ini lagi.
Anda tidak perlu kawatir ditagih membayar kamar ini, saya sudah membayar lunas. Satu hal lagi yang harus anda lakukan, tolong bersihkan sisa racun yang anda tebarkan dikamar ini, saya kawatir penginap berikutnya bisa celaka. Saya rasa itu permintaan layak…
Semoga untuk kesempatan berikutnya kita bisa bersahabat. Kalau boleh saya memberi nasehat, jika anda ingin memiliki barang milik orang lain, lebih baik bertindak secara jantan dan terbuka. Jangan main sergap seperti ini, toh anda sendiri yang rugi.
Satu lagi nasehat saya; jika anda mendapatkan sesuatu yang dipandang berharga, jangan keburu senang, selalu waspada, kadang rasa girang menutup rasio. Pikirkan dulu sebab-akibatnya, dan telitilah. Siapa tahu kejadian seperti saat ini, kembali terjadi pada anda. Itu sekedar nasehat saja, semuanya tergantung anda. Semoga menjadi pertimbangan anda sekaliam (bertigakah anda?)
Hormat saya,
Jaka
Mereka bertiga menghela nafas panjang-panjang. “Malam ini kita berjumpa tokoh hebat.” Kata sang majikan. “Apakah kau melihat dengan jelas bagaimana cirinya?” tanyanya pada Durba.
“Tentu.” Sahutnya.
“Seperti apa orangnya?”
“Dia masih muda, saya rasa umurnya baru dua puluh tahunan. Sekalipun dia orang yang menarik, saya menilai sikapnya terlalu acuh tak acuh. Dan dengan wajah dan gerak-gerik seperti itu, dia lebih cocok jadi orang terpandang, tapi anehnya ia seperti orang kebanyakan. Warna bajunya juga sudah pada luntur, rasanya terlalu bersahaja untuk potongan orang seperti dia.”
“Hm…” sang majikan mengumam penuh arti, mungkin dia punya perhitungan baru. “Masih ada empat jam sebelum waktu yang ditentukan, lebih baik kita bersiap-siap.” Katanya dengan nada datar.
Lalu mereka segera keluar—lewat jendela, tentunya mereka sudah membereskan kamar, menghilangkan sisa racun, dan memadamkan lentera. Dan kini, jendelapun kembali tertutup rapat.

—ooOoo—

18 – Geliat Perkumpulan Rahasia

Meski malam belum terlalu larut, tapi untuk menghindari kecurigaan orang, Jaka harus mengambil jalan yang lebih sunyi. Pemuda ini menyunggingkan senyum, agaknya memang sedang girang.
Ya, bagaimana Jaka tak merasa girang, sebab selama petualangannya, momen-momen menantang yang memaksa dia untuk berpikir, adu licik dan membakar keberanian, adalah kegemarannya. Siapa sangka malam ini diapun bisa ‘kembali beraksi’.
Meski jika dibanding dengan kejadian lampau, belumlah memadai, [akan diceritakan dalam lain kisah] toh pemuda ini tetap beranggapan pantas untuk merasa puas, sebab dia berhasil membuat para penyatron tak dikenal—menurutnya mereka cukup cerdik—ketar-ketir.
Andai saja Jaka tidak melihat tindakan pelayan yang agak canggung saat berada dikamarnya, tentu tidak akan terbetik olehnya untuk bertindak ‘nakal’. Dia dapat memperhitungkan mereka yang datang adalah tiga orang, karena begitu si pelayan keluar, Jaka sempat melihat seutas benang tipis melintang dijendelanya. Dari benang itu, Jaka bisa menyimpulkan, si pelayan dan si pemasang benang, satu kelompok. Dua orang.
Jika ada yang bekerja tentu ada yang mempekerjakan—tuannya. Menyadari hal itu, Jaka bisa menduga mereka ada tiga orang. Sebenarnya kesimpulan itupun hanya spekulasi.
Melihat kualitas si pelayan, Jaka bisa menilai, bahwa ‘sang tuan’ pastilah seorang cendekia cerdik. Apalagi ‘sang tuan’ bisa mempersiapkan segala sesuatu dalam jangka pendek—maklum saja, bahwa dirinya membawa ‘barang mustika’, tidak ada dalam rencana mereka.
Sebab itulah, Jaka membuat ide perangkap dalam perangkap, jika lawannya menilai dia orang cerdik, dengan sendirinya dia akan menduga tempat penyimpanan bukunya tak mungkin ditemukan. Dan sesuai perkiraan Jaka, jika orang lain mencarinya tentu tidak bisa menemukannya, tapi bagi ‘sang tuan’, pasti bisa! Memang orang itu berhasil menemukannya! Sayangnya, saat itulah dia baru sadar dirinya terjebak…
Perhitungan pemuda ini memang jitu, jebakan kecil pada langit-langit kamar, ‘diperoleh’ Durga. Dia terkena kayu lancip yang sengaja dipasang pada asbes langit-langit. Jaka sedikit mengeser langit-langit supaya kesan habis dibuka, terlihat jelas. Dan ‘jarum kayunya’ dipasang sedemikian rupa. Dengan sendirinya, tiap orang yang membuka langit-langit mau-tak-mau menyentuh asbes, dan kenalah dia.
Tapi untuk apa itu semua? Hakikatnya pemuida ini tidak punya racun, konon lagi racun ganas seperti Racun Bunga Kuning. Jaka boleh dibilang seorang ahli ilmu syaraf, karena itu dia bisa menuliskan kemungkinan yang terjadi, setelah terkena tusukan kecil. Dalam ilmu syaraf yang Jaka pelajari, terdapat beberapa pelajaran yang menyebutkan bahwa, pada bagian tubuh yang terkena atau tersentuh sesuatu, akan ada syaraf lain yang ikut merespon, dengan kata lain, setiap syaraf dalam tubuh manusia selalu berpasangan dan ada hubungan timbal balik. Biasanya jika ujung-ujung jari tangan tertusuk, orang akan merasakan rasa nyeri sekejap pada betis, atau telapak kaki lalu merambat kepinggang—tentu saja tidak setiap orang tahu hal itu, dan juga tidak semua manusia bisa merasakan, karena rekasinya itu hanya seperatussekian detik saja—sangat singat.
Lalu hal yang terjadi pada Durba, sudah tentu dalam perhitungan Jaka. Sudah lazim bagi seseorang jika akan mencari sesuatu di kolong meja, tentu ia akan melongok keatas—setelah ia tak menemukan apa yang ia cari di kolong. Dan Jaka menaruh debu-debu pada langit-langit meja yang ditempel sedemikian rupa, sehingga begitu Durba masuk ke kolong, debu itu akan segera jatuh. Jika dia melongok keatas, tentu saja matanya jadi korban—kelilipan.
Kemudian kejadian terakhir yang diperhitungan Jaka adalah; jika seseorang telah mendapatkan sesuatu yang amat di inginkannya, maka dia akan kehilangan kewaspadaan. Begitu pula dengan si tuan muda, seharusnya ia curiga kenapa pada kain pelapis kitab ditemukan debu? Semestinya kain pelapis itu bersih, karena pelayan juga menyaksikan Jaka sudah membuka dan membaca kitabnya.
Secara nalar, jika Jaka ingin membacanya, bukankah pelapis kitabnya harus di lepas—dengan sendirinya di bersihkan? Seharusnya si tuan muda dapat berpikir sampai kesitu. Tapi Jaka tahu, rasa girang berlebih akan menghilangkan kewaspadaan seseorang, itulah kelemahan physikologis manusia pada umumnya.
Lalu bagaimana cara Jaka tahu, jika si tuan muda yang membuka kitab pertama kalinya—sehingga dia menuliskan kata-kata itu pada kertasnya? Itu kesimpulan gampang, pelayan tidak mungkin mendahului tuannya, jadi mana mungkin pelayan bertindak lancang mendahului membuka ‘kitab mustika’ tersebut?
Pengalaman mengajarkan Jaka, agar selalu bersahabat dengan situasi apapun, dengan demikian kemahiran dan analisisnya semakin terasah. Dan, apa yang ia tuliskan benar-benar mengejutkan mereka. Sungguh tak di sangka, Jaka dapat memperhitungkan sampai hal sekecil itu.
Tapi, tidak seluruhnya benar, ada satu dugaan yang salah. Bahwa pada mulanya dia mengira orang ketiga—selain si pelayan dan tuannya—adalah pelayan di rumah makan yang pernah Jaka singgahi, yakni Sugiri. Nyatanya orang ketiga bukan Sugiri, siapapun namanya orang ketiga—si Durga—masih dimungkinkan punya hubungan dengan organisasi lain.
Pemuda ini berjalan sambil membayangkan apa yang terjadi dikamarnya. Baju gelap ini sudah memastikan keyakinan mereka, bahwa aku akan keluar. Memang benar… dan sayangnya aku juga bermaksud mengecoh mereka.
Sesaat Jaka berkerut kening membayangkan keadaan kamarnya sebelum ia pergi. Racun yang mereka tebarkan cukup berbahaya, jika orang lain kena, mereka bisa sengsara! Benar-benar ceroboh!
Pemuda ini berjalan melalui jalan yang jarang dilewati orang. Dari tempat dia menginap ke rumah Aki Lukita, hanya berjarak satu pal saja. Tapi lantaran Jaka mengambil jalan memutar, jarak yang dia tempuh sampai tiga pal lebih. Dan karena itulah Jaka mendapat penemuan tak terduga. Jalan yang di laluinya adalah kebun yang banyak ditumbuhi pohon berusia puluhan tahun.
Krak! Disuasana sehening ini, sekalipun orang awam juga bisa mendengar suara itu. Demikian pula dengan Jaka, sejak semula dia selalu waspada dengan kemungkinan terburuk. Tak disangka ada sesuatu yang membuatnya menaruh perhatian. Pemuda ini tidak merasa kuatir perjalanannya dikuntit orang, sebab bunyi tadi ada didepannya.
Aneh, bukan binatang yang menginjaknya, pasti ada seseorang disitu. Pikir pemuda ini, lalu ia segera menuju kepusat bunyi. Gerakan Jaka cekatan dan ringan, tidak menimbulkan suara.
Dalam sekejap Jaka sudah sampai ditempat asal bunyi, dan memanjat pohon. Dia tidak langsung memeriksa ketempat itu, untuk sesaat lamanya, Jaka mengamati dari dahan pohon, ia memeriksa segala sesuatu yang ada dibawahnya.
Aneh, terlalu lengang… pikirnya heran. Andai ada orang, pasti ada disekitar sini. Terkilas satu dugaan, membuat Jaka bertindak. Dengan gerakan cepat, pemuda ini melejit lebih tinggi, nyaris berada di puncak pohon.
Kurasa dia berada satu pohon denganku. Apa maksudnya dia bersembunyi? Suasana gelap, ada tempat tersembunyi, benar-benar sempurna! Gelap memang membantu, tapi juga membuat apa yang seharusnya terlihat jadi tak terlihat. Jaka menghela nafas getun.
Seperti akan ada pertemuan rahasia saja. Apakah dia salah satu dari orang yang menghadiri pertemuan? Atau hanya sekedar mengintip saja? Berbagai pikiran bertaburan dalam benaknya.
Orang ini cerdik dia bersembunyi ditempat yang tepat. Jaka diam-diam memuji. Tak terpikirkan oleh orang, bahwa pada pohon yang hampir tidak ada daunnya dapat dijadikan tempat persembunyian.
Jaka sempat merasa sangsi, apakah orang itu melihatnya, atau tidak? Jika dia melihatnya, kenapa tidak segera pindah persembunyian? Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa dia menginjak ranting—yang menimbulkan suara nyaring? Apakah untuk memancing kedatangan seseorang, atau dia terlalu gugup untuk mengetahui persoalan orang lain?
Jaka memikirkan kemungkinan yang terjadi, bahkan terbetik dalam benaknya, jika orang itu sudah tahu dirinya akan lewat, dan ingin ‘berkenalan’.
Sayangnya tiap dugaan tidak menemukan jawaban, Jaka belum mempunyai titik terang—itulah kelemahan orang cerdas pada umumnya. Dia selalu berpikir bahwa keadaan disekitarnya apabila mencurigakan, pasti berkaitan dengan dirinya.
Tak jauh dari persembunyiannya ada dua sosok berkelebat tiba. Jaka merasa kagum dengan peringan tubuh mereka. Dengan ini dia makin yakin masalahnya tentu tak sesepele yang ia kira.
Dua sosok itu mengenakan pakaian gelap, di wajahnya terlilit kedok, sehingga yang terlihat hanya matanya.
“Heran, memangnya semua orang dikota ini senang pakai kedok?” gerutu Jaka. Maklum saja sudah dua kali ini, Jaka memergoki orang berkedok.
Jaka merasakan batang tempat nangkringnya bergetar sedikit, Jaka waspada, dengan menegaskan pandangannya, pemuda ini melongok kebawah. Hampir saja ia bersorak girang, sebab terlihat satu bayangan pada ranting besar yang memiliki lekukan cukup besar sehingga dapat untuk sembunyi.
“Ini dia! Rupanya kau bersembunyi disitu…” pikir Jaka lega. Sebab dia yakin kedatangannya tidak diketahui.
Orang itu bergerak dari tempat sembunyinya, pasti dua pendatang tadi bukan temannya. Mana mungkin dia gelisah kalau yang datang adalah temannya? Kurasa dia kawatir lantaran temannya tak datang juga, mungkin karena kepergok dua orang itu? Pikir Jaka menebak
Setelah melihat kejadian itu Jaka bisa merasa sedikit santai, tentu saja ia tak mengendurkan kewaspadaan. Untung Jaka bersembunyi di pucak pohon, kalau tidak, tentu gerak-geriknya bisa diketahui dua pendatang itu.
Suasana malam makin lengang, sepeminuman teh sudah berlalu. Diam-diam Jaka mengeluh dalam hati. Kalau begini terus, aku bisa terlambat ketempat Ki Lukita, belum lagi nanti menjumpai si pelayan gadungan. Sial, kenapa aku bisa ikut dalam pertunjukan ini? Masih untung jika bagus, kalau cuma begini-begini saja, terpaksa pergi dari sini.
Baru saja Jaka hendak memutuskan untuk kabur, dari kejauhan saja terdengar lengkingan sempritan. Pemuda ini tertegun sesaat, lengkingan itu biasa digunakan sebagai kode rahasia.
Sedetik lengkingan itu berhenti, dua orang itu juga membunyikan lengkingan yang sama, tapi nada yang digunakan jauh lebih tinggi dan lebih nyaring.
Kode mereka berbeda. Jika mereka anggota suatu perkumpulan, pasti tak jauh beda dengan perkumpulan rahasia. Pemuda ini menduga dua orang itu punya sangkut paut dengan perkumpulan rahasia yang sedang berkembang pesat.
Jaka tahu, salah satu peraturan dalam organisasi rahasia mereka adalah, sesama anggota sendiri tidak boleh memperlihatkan wajah, ini supaya menjaga efesiensi kerja. Pimpinan organisasi itu tak mau jika perasaan berperan dalam menentukan keputusan.
Aneh, apakah dua orang itu sama seperti orang-orang yang pernah ditemui Paman Alit? Jaka terbayang kejadian dua bulan silam, mana kala Paman Alit-Sang Kusir Misterius yang menyusup ke dalam Perkumpulan Pratyantara, membawa tiga orang terluka parah padanya.
Sementara itu dibawah sana, dua sosok bayangan mendatangi tempat itu. Sosok pertama berbadan tinggi besar, dan satu lagi tinggi kurus seperti lidi. Jaka yang melihat orang itu hampir saja berteriak girang juga geli. Orang tinggi besar itu ternyata Bergola adanya, sedangkan sosok tinggi kurus itu pasti rekannya.
“Hamba menjumpai ketua tujuh belas.” Ucap Bergola dan lelaki tinggi kurus itu bersamaan, satu lutut mereka menempel tanah, badan mereka membungkuk rendah.
Ketua tujuh belas? Pasti Berhubungan dengan Sora Barung dan kerabatnya, pikir Jaka sambil mengamati kedua orang yang baru saja datang.
“Hm…” orang yang dituju Bergola hanya mengumam saja.
Bergola dan rekannya bangkit.
“Bagaimana persiapanmu Panah Sebelas?” tanya orang itu pada Bergola.
Mendengar pertanyaan orang bercadar itu pada Bergola, Jaka menyeringai, rupanya Bergola dipanggil Panah Sebelas. Wah, perkembangan situasi ini diluar dugaanku.
“Hamba sudah mempersiapkan dengan cermat, tapi terus terang saja hamba merasa agak kawatir dengan orang yang datang ke rumah tua bangka itu.”
“Kau tidak usah kawatir, dia tidak berbahaya!” sahut lelaki bercadar yang satu lagi.
Tidak berbahaya? Dari mana dia tahu aku tidak berbahaya? Hm, kecuali dia tahu aku kena racun… tapi yang tahu hanya tiga orang dari Perguruan Naga Batu, tapi kenapa dia tahu? Apa dua orang ini punya hubungan dengan Sadewa? Kalau tidak ada hubungan, kenapa dia bisa berkesimpulan ngawur begitu? Jangan-jangan keduanya adalah Sadewa dan Kundalini, atau Kunta Reksi… tapi masa iya sih? gerutu Jaka sambil tetap menyimak pembicaraan empat orang itu.
“Kalau begitu, hamba rasa memang tidak ada masalah lagi.” Kata Bergola dengan nada rendah, kelihatannya dia jerih menghadapi kedua orang itu. “Hanya saja..” perkataan itu tidak ia teruskan.
“Kenapa?” sahut dua orang itu dengan kening berkerut.
“Terus terang saja, hamba curiga dengan tingkah tua bangka itu ketua. Dia begitu tenang, yang lebih mengkawatirkan, mungkin dia mahir silat, paling gawat lagi kalau dia adalah anggota perguruan enam belas besar!”
“Hm, alasan apa yang kau pegang sampai bisa mengambil kesimpulan seperti itu?” tanya orang bercadar itu dengan nada dalam.
“Saat si tua bangka itu menolong Rubah Api, ada tiga orang anak buah hamba yang menyaksikannya. Saat itu hamba yakin sekali Rubah Api tidak bakal hidup lebih lama lagi, tapi anehnya begitu tua bangka itu menolongnya, nyawanya seakan-akan disambung kembali. Menurut hamba, saat itu si tua sedang mengerahkan hawa murninya..”
“Lalu kenapa anak buahmu hanya diam melongo saja? Kenapa mereka tidak membinasakan si tua itu atau si Rubah Api?!” tanya orang itu dengan nada gusar. “Benar-benar tak becus!”
“Ampun ketua, tadinya hambapun beranggapan demikian, tapi mereka mengatakan ada tiga alasan penting mengapa tidak menyerang si tua. Pertama; bahwa si tua itu sesungguhnya sudah mengenali siapa mereka, dikawatirkan andaikata si tua lolos dari penyerangan, dia akan terus mencari titik terang atas kejadian penyerangan dan terlukanya Rubah Api. Kedua; mereka tidak tahu seberapa hebatnya kekuatan si tua, dan yang terakhir, mereka mengatakan sesungguhnya si tua itu tidak datang sendirian, ada beberapa orang yang sering bekerja dirumahnya turut serta menolong Rubah Api. Kalau pada saat itu mereka bertiga menyerang si tua, bukankah salah satu dari pekerja itu bisa meminta bantuan orang? Dan apa yang telah direncanakan oleh ketua akan berantakan?”
“Hm.. benar juga.” Gumam orang itu merasa apa boleh buat.
“Berapa lama dia didekat Rubah Api?” tanya orang itu dengan tiba-tiba.
“Kira-kira setengah kentungan, setelah itu nampaknya Rubah Api tidak bisa mempertahankan hidupnya. Hamba rasa pandangan anak buah hamba tidak salah. Siapa sih yang bisa hidup lebih lama setelah terkena Panah Bunga Batu?!” ujar Bergola dengan nada menjilat.
“Lalu persiapan bagaimana yang kau rencanakan malam nanti?” tanya lelaki bercadar yang satu lagi.
“Hamba akan membinaskan si tua dan seluruh keluarganya. Setelah dia berangkat ke kuil, beberapa pembunuh gelap akan hamba kirim ke rumahnya. Tentu saja mereka akan membunuh tanpa sisa dan setelah itu membakar rumahnya, atau mungkin akan kami buat seolah-olah terjadi perampokan. Dengan sendirinya, hamba akan membinasakan si tua di kuil tua.” Tutur Bergola dengan semangat.
Dasar tolol! Sungut Jaka geli, juga merasa sebal melihat tingkah Bergola.
“Rencanamu cukup bagus,” puji orang bercadar itu. “Cuma sayang, terlalu banyak kelemahan!”
“Ma..makk-maksud ketua bagaimana?” tanya Bergola dengan gugup.
“Kau tidak memperhitungkan banyak pendekar yang sudah sampai dikota ini? Apakah kau tidak memperhitungkan bahwa di kuil tua itu bisa jadi merupakan tempat menginap kaum kelana?! Dan apakah kalian sudah memikirkan kalau kemungkinan besar di rumah si tua juga ada beberapa jago yang menginap?!”
“Eh.. ini.. ini,” sahut Bergola tergagap.
“Lebih baik kau tinjau rencanamu. Kegagalan kecil bisa mengakibatkan kekacauan pada rencana besar. Kita belum saatnya memunculkan diri, kalau ada sesuatu yang kurang beres. Marga Syiwa segera memburumu, kau dihukum atas kecerobohanmu!”
“Ampun ketua, hamba akan berupaya sebaik mungkin. Kalau perlu rencana pembunuhan akan hamba tangguhkan..”
“Seharusnya memang begitu, lebih lama lebih baik! Menurut pandanganku, belum tentu tua bangka itu memiliki ilmu silat. Sebab kemungkinan besar saat si Rubah Api berada didekat orang itu, ia sedang mengerahkan kekuatan terakhir untuk mengatakan hal-hal yang penting, sebelum akhirnya mati.”
“Hamba rasa pendangan ketua benar, hamba yakin itu benar.” Sahut Bergola kembali mengupak.
“Hmk..” orang bercadar itu hanya menjengek sinis. “Yang perlu bagi kita sekarang adalah mendapatkan apa yang sudah di peroleh Rubah Api, aku yakin si tua tahu akan hal itu. Dan kau tidak perlu tergesa-gesa bertindak. Biarkan si tua hanya mengira dirimu sebagai seorang begundal tengik! Dan yang paling penting, hati-hati saat bertemu dengannya di kuil. Kemungkinan besar ada jago lihay yang berkeliaran ditempat itu. Bertindakanlah secermat mungkin! Untuk sementara, paling baik jika kau berlagak bodoh”
“Baik ketua!” sahut Bergola dengan suara tegas.
Jaka geli mendengar ucapan orang bercadar itu, berlagak bodoh? Tanpa berlagak bodohpun, Bergola sudah bertindak bodoh. Dengan caranya yang kasar meminta Rubah Api pada Ki Lukita bukankah usaha paling bodoh? Selain menimbulkan kecurigaan, juga membuat orang jadi waspada. Mau berlagak bodoh seperti apa lagi?
“Lalu bagaimana denganmu Panah Tiga Belas?!” tanya orang bercadar yang satu lagi.
“Hamba telah mengerjakan apa yang ketua perintahkan, hasilnya hamba rasa cukup memuaskan,” setelah berkata begitu, ia segera menyerahkan sebuah bungkusan cukup besar. “Apa yang kita perlukan nanti, semuanya sudah hamba siapkan disitu, tapi menurut perasaan hamba, itu belum semuanya. Hamba rasa setiap tindakan harus dengan perencanaan matang. Untuk sementara hamba merencanakan tidak bergerak lebih dulu, apalagi banyak para jago yang datang kesini. Dalam waktu satu minggu ini hamba akan bekerja seperti biasa, dan kegiatan wajib, akan hamba lakukan setelah usai keramaian.”
“Bagus!” puji orang kedua bercadar itu. “Tindakanmu lebih terarah dari pada si Panah Sebelas.”
“Ah, ketua terlalu menyanjung. Sebenarnya tindakan hamba ini hanya melihat keadaan saja.” kata orang tinggi kurus itu dengan merendah. Namun sesungguhnya dalam hati orang itu ia merasa sangat senang, sebab dengan tindakannya itu, kemungkinan besar ia bisa mengganti posisinya menjadi Panah Sebelas!
Sementara diam-diam Bergola mendengus dingin, dia tidak puas dengan sanjungan sang ketua. Dan tentunya dia tidak akan bertindak bodoh—lagi—dengan memperlihatkan ketidakpuasannya.
“Dalam satu minggu ini, kalian jangan bertindak ceroboh. Banyak tokoh sakti yang berkunjung kekota ini, salah-salah pergerakan kita akan terhambat. Walau kekuatan mereka tak cukup besar untuk menandingi kita, tapi kelihayan mereka harus diperhitungkan!”
“Baik ketua, segera hamba laksanakan!” Sahut dua orang itu dengan serempak.
“Bagus! Kami akan pergi, dan kalian urus orang itu.” Kata orang bercadar sambil menunjuk bawah pohon. “Aku menjumpai dia didekat perkebunan ini, kami tidak sempat menanyakan apapun. Apa tujuannya, kalian harus mengoreknya dengan jelas, kalau kira-kira masih mencurigakan, kalian tahu tindakan apa yang mesti diambil!” Usai berkata begitu, dua orang itu bergerak dan bayangan mereka lenyap ditelan kegelapan malam.
Sementara Bergola dan lelaki tinggi kurus itu saling berpandangan. Mereka melihat satu sosok tubuh tergeletak tak jauh di bawah pohon waru.
“Hm, tikus seperti ini kenapa kita perlu mengurusnya?!” gumam Bergola dengan nada kesal.
“Kalau memang kau enggan mengurusnya, biarlah kuurus tikus ini.” Sahut lelaki tinggi kurus itu.
“Hm.. kau ingin berebut jasa? Lalu ingin menggeser kedudukanku? Jangan harap impianmu bisa terlaksana, bajingan!” geram Bergola dalam hati. Tapi diluarnya ia tampak tersenyum.
“Ah.. aku hanya merasa kesal saja, tentunya perintah atasan tak boleh dibantah!” tegas Bergola dengan nada serius.
“Hal itu memang benar,” sahut lelaki tinggi kurus sambil tersenyum. Kembali Bergola mendengus dalam, ia tahu betul watak orang tinggi kurus itu. Selain licik, orang itu juga keji, karena itulah diluaran anak buahnya menyebut padanya Momok Wajah Ramah. Sebab selain si tinggi kurus itu kelihatan seperti orang yang ramah, tutur katanyapun sanggup membuat orang percaya.
Jaka yang melihat dari atas, tertawa ringan. Ia tahu apa yang berkecamuk dibenak dua orang itu, tapi dia tidak akan memperdulikan hal-hal remeh yang sedang diperebutkan dua orang itu, yang jelas ada orang yang memerlukan pertolongan.
Sebelumnya Jaka menduga, orang yang bersembunyi itu gelisah karena kemunculan dua manusia berkedok, ternyata bukan!
Kelihatannya dia mencemaskan orang yang baru ditawan, mungkin itu temannya. Mulanya Jaka hendak turun tangan langsung, namun dia urungkan, Jaka ingin melihat reaksi orang yang bersembunyi itu.
Bergola dan orang tinggi kurus itu menyeret si tawanan. Batang tempat Jaka bersembunyi terasa bergetar. Hal ini membuat Jaka yakin, kalau orang yang tertawan ada hubungan dengannya.
“Puih! benar-benar seekor tikus kecil!” gerutu Bergola, sekalipun gelap dia melihat tawanan ketuanya adalah seorang pemuda tanggung berbadan kecil.
Pemuda itu masih pingsan karena jalan darahnya tertotok. Momok Wajah Ramah mengurut punggungnya, tak berapa lama kemudian dia siuman. Biasanya jika seseorang pingsan, begitu dia menjumpai orang asing didekatnya, tentu akan terkejut. Tapi pemuda itu lain, ia membuka matanya dengan mimik tenang, ia menoleh kearah Bergola dan Momok Wajah Ramah. Pemuda itu sama sekali tidak terkejut melihat kehadiran dua orang itu.
“Hei, siapa kau?” tanya Momok Wajah Ramah dengan suara terdengar ramah.
Jaka yang ada diatas pohon, geleng-geleng kepala menyadari betapa berbisanya Panah Tiga Belas.
“Kau menanya asal-usulku atau cuma namaku?” tanya pemuda itu dengan kalem, tiada perasaan gentar.
“Kalau kau bersedia, terangkan nama dan asal-usulmu.” Sahut Momok Wajah Ramah sambil tersenyum.
Pemuda itu bergerak, beringsut duduk dan menyandarkan tubuhnya di pohon waru. Untuk sesaat lamanya, dia tidak menjawab, tapi malah menengadahkan wajahnya melihat kelangit. Karena malam itu terang bulan, secara samar Jaka dapat melihat raut wajahnya.
Aneh, kenapa semua orang yang kujumpai malam ini seperti sudah kukenal semua? Si manusia bercadar, pemuda ini… atau mungkin juga temannya yang bersembunyi di pohon, mungkin aku juga pernah kenal dengannya?
“Baiklah, jika kalian ingin mengetahuinya..” sahut pemuda ini dengan datar. “Aku bernama Danu Tirta, asalku dari Perguruan Sampar Angin. Sebenarnya malam ini aku enggan kemana-mana, tapi ada seseorang berkedok yang menyerahkan surat padaku agar bertemu di tempat ini. Tapi sialnya baru saja berada di mulut perkebunan, aku diringkus oleh orang berkedok juga.”
Dua orang itu terlihat saling berpandangan, mereka tidak menyangka pemuda yang mereka tangkap adalah anak murid perguruan besar. Wah bisa jadi masalah besar, pikir mereka.
“Apakah dia juga yang memberimu surat?” tanya Bergola tertarik.
“Entahlah, menurutku bukan, yang memberiku surat dan yang menangkapku, adalah dua orang berbeda. Sebab dalam surat yang kuterima di sebutkan akan membicarakan masalah perguruan.”
Keterangan pemuda itu membuat mereka berdua sungkan untuk bertindak lebih jauh. Kalau mereka menganiaya pemuda itu, dan si pemuda diketemukan oleh si kedok—yang memberi surat, bukankah urusannya bakal runyam? Kalau mereka bunuh, kegemparan malah akan lebih besar lagi, sebab pemilik kebun itu adalah salah satu sesepuh kota, yakni Ki Glagah! Jika mereka membunuh dan membuang pemuda ini diluar kota, malah lebih kacau, sebab banyak tokoh sakti yang berkeliaran di kota ini. Bisa-bisa mereka malah bentrok dengan mereka, repot!

—ooOoo—

19 – Tawanan dari Perguruan Sampar Angin

Untuk sesaat dua orang itu kelihatan tertegun. Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Keduanya saling berpandangan, dari mata mereka terkandung satu maksud. Membunuh pemuda itu dan melenyapkan bukti, atau menyekap dan melepaskan sampai waktunya memungkinkan!
“Entah kami ini kurang ajar, atau memang terpaksa bertindak kurang ajar,” kata Panah Tiga Belas. “Si kedok yang kau ceritakan tadi terpaksa kami kesampingkan, dan sekarang kami ingin tahu asal-usul dirimu yang sebenarnya. Kalau tidak, engkau sudah bisa membayangkan apa yang akan kami lakukan padamu.” Kata orang tinggi kurus ini dengan ramah. Justru ucapan bernada ramah seperti itulah yang membuat orang bergidik, kalau orang bersuara dengan bengis, sedikit banyak keberanian akan tersentak, tapi suara ramah seperti itu justru menimbulkan perasaan ngeri.
Pemuda itu menyadari bahaya yang sedang dia hadapi, hatinya bergetar, wajahnya pias. Untung baginya kegelapan malam bisa menyembunyikan perubahan wajahnya—karena cemas.
Dengan menenangkan hati ia berkata. “Kalau kalian tidak percaya, aku mau bilang apa lagi? Andai kalian sanggup mengenali jurus Perguruan Sampar Angin, kupersilahkan kalian membebaskan totokan, dan kita bertarung sampai puas! Aku yakin, kalian pasti kalah!”
Dua orang itu saling pandang, mereka merasa serba ragu untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.
“Lagipula aku yakin, kalian tidak akan bertindak bodoh dengan membunuhku begitu saja…”
“Ha, dari mana kau bisa punya pikiran lucu seperti itu?” Bergola bertanya mencemooh.
Lambat laun pemuda ini merasa keberaniannya tumbuh. “Karena bukan hanya aku yang banyak mengetahui rahasia kalian…”
“Rahasia?” ujar Panah Tiga Belas dengan suara heran. “Kami punya rahasia apa?”
“Ah ya, aku lupa kalian tidak punya rahasia…” gumam pemuda ini sambil tertawa geli.
Justru ucapan yang ringan seperti itu menyentak mereka, pasti ada sesuatu di balik ucapannya! Keduanya saling berpandangan. Untuk ukuran anak muda, nyali pemuda ini sungguh besar, kalau tidak punya pegangan mana mungkin begini berani menghadapi maut.
“Rahasia apa yang kau tahu?” Tanya Panah Sebelas dengan ketus.
Si pemuda batuk sebentar. “Aih, apa kalian tidak bisa melihat gelagat? Walaupun aku tidak tahu apa-apa dengan kejadian ini, aku sudah bisa mengambil kesimpulan jelas. Rupanya perkumpulan kalian bercita-cita besar, tapi kalian melupakan andil orang dari golongan kami yang bertindak sembunyi-sembunyi.”
“Oh, begitu…” timpal Panah Tiga Belas seperti tak perduli. Padahal dalam hati, dia merasa kaget.
“Jika kau berkesimpulan seperti itu, apa susahnya kami menghapus jejak? Menghilangkan keberadaanmu sebelumnya?”
Pemuda itu mendengus hina mendengar ucapan Bergola. “Kupikir perkumpulan kalian berisi orang cerdik pandai, tak kira hanya gentong kosong belaka. Untuk menyelidiki kalian, satu orang tidak cukup. Jangan kalian pikir dengan membunuhku urusan jadi selesai. Memangnya jumlah mereka yang lebih banyak juga akan kalian hilangkan keberadaannya?”
Pemuda ini seolah ingin menekankan kembali ucapan, ‘bukan cuma aku yang tahu’, dengan sendirinya dia bermaksud menggertak, bahwa: jika dirinya dicelakai, tentu akan ada yang mencari jejaknya.
“Hm, apakah hanya mengandalkan orang golonganmu yang bertindak secara bersembunyi-sembunyi? Rasanya belum cukup.” Ucap Bergola acuh tak acuh.
Pemuda ini tertawa perlahan. “Kenapa tidak kau coba saja? Dengan menghilangnya diriku, berarti informasi yang kucaripun terputus. Tapi segala kabar berita tentang perkumpulan kalian yang sudah sampai di tangan enam belas perguruan besar akan segera ditindak lanjuti. Yah, jika ditakdirkan mati hari ini, kurasa kematianku tidak sia-sia.”
Jaka geleng-geleng kepala melihat kecerdikan pemuda itu, dia tahu bahwa pemuda itu mungkin hanya bicara omong kosong belaka, namun ia berbicara seolah sudah mengetahui apa yang perlu ia utarakan.
Bergola dan si kurus saling pandang, mereka tidak marah mendengar ucapan pemuda itu, yang membuat mereka tercekat heran ketika mendengar bahwa pemuda itu banyak tahu tentang perkumpulan mereka. Tapi dari mana mereka dapat menduga kalau apa yang diucapkan Danu Tirta hanya omongan nyeplos belaka?!
Meski demikian, dua orang itu bukanlah manusia sembarangan, mereka termasuk dalam anggota Panah berarti sebelumnya sudah diseleksi dengan ketat oleh pihak perkumpulan mereka. Dengan mengacuhkan ucapan pemuda itu, mereka tetap mempertahankan ketenangan diri.
“Baiklah… aku tidak akan membunuhmu, hanya saja mungkin ada pesan yang ingin kau berikan padaku?” tanya Momok wajah Ramah dengan suara wajar.
Jaka yang mendengar pertanyaan orang itu, geleng kepala. “Orang ini benar-benar licin. Hm, jika kau berjumpa denganku, jangan harap bisa berlalu tanpa kesan.” Gumamnya dalam hati.
Dalam hatinya Danu Tirta bergidik ngeri, pertanyaan orang kurus itu dapat ia pahami artinya, mereka berdua bisa saja menyiksa, atau menyekap dirinya disuatu tempat… atau bahkan yang lebih parah lagi, mereka akan mengutus orang yang menyaru sebagai dirinya, dan orang itu berperan sebagai dirinya—tapi tentu saja itu mustahil! Tapi kalau begitu kejadiannya, maka kemungkinan besar apa yang dikerjakan perkumpulan mereka bisa bocor, karena keduanya tidak paham seluk belum dirinya.
Meski merasa ngeri, Danu Tirta tergolong jenis manusia tahan banting, dengan tersenyum dingin, ia berkata. “Baiklah, aku akan menitipkan pesan padamu, dan pesan ini harus kau sampaikan pada orang yang kutujukan.”
“Katakanlah,” seru Bergola tak sabar.
“Lima hari berselang, kota ini akan kedatangan seorang tokoh besar yang dikawal tiga pendekar masyur. Tiga pendekar itu berjuluk, Kepalan Maut, Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh. Mereka bertiga merupakan pelindung keluargaku, kalian sampaikan pesan pada tiga orang itu, bahwa aku telah tertawan ditangan kalian dan mintalah barang sebagai jaminan bagi kebebasanku. Aku yakin kalian sudah pernah mendengar kebesaran nama tiga pendekar itu bukan? Dan tentunya kalian akan terkejut mengetahui siapa nama keluargaku yang sebenarnya!”
“Memangnya kenapa?” sahut Momok Wajah Ramah dengan nada biasa, namun dalam hatinya, orang ini benar-benar terperanjat. Tiga orang yang disebutkan Danu Tirta tadi adalah manusia-manusia pilih tanding yang belum pernah tumbang di tangan siapapun. Konon mereka pernah menerima gemblengan dari Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika Dunia Persilatan.
“Kau tidak takut?!” tanya pemuda ini dengan nada heran.
“Untuk apa takut?” jengek Momok Wajah Ramah. “Toh, aku belum tentu menyampaikan pesanmu itu..”
“Ha-ha-ha.. benar-benar manusia pengecut, penjilat dan munafik sejati!” ejek pemuda ini sambil tertawa terbahak, ada kegetiran terselip disana. “Aku tidak menyangka kalau didunia ini ada manusia bermuka tebal seperti dirimu. Sama sekali tidak sangka…” kata pemuda ini sambil menggelengkan kepalanya.
Jaka manggut-manggut mendengar makian pemuda itu, pemuda ini memang gemas melihat ulah si tinggi kurus. Dan rasa gemasnya sudah terlampiaskan mendengar makian Danu Tirta tadi.
Sementara Momok Wajah Ramah, hanya ganda tertawa mendengar makian Danu Tirta.
“Pujianmu tidak dapat kuterima. Tapi memang, sudah banyak orang yang menyebutku demikian. Jadi kau tidak perlu berkecil hati karena pujianmu tidak kuterima…”
“Ha-ha-ha.. hebat benar saudaraku ini!” seru Bergola tertawa keras. “Kau tikus kecil, jika ingin berdebat dengannya, hanya kerugian yang ada dipihakmu. Jadi lekaslah kau tentukan nasibmu sendiri. Apakah kau ingin mati perlahan atau cepat?”
“Mati?” ujar pemuda itu dengan suara mendengus. “Memangnya aku takut mati, yang kutakutkan justru kalianlah yang mati!”
“Aha.. ancaman sebelum ajal ya, tidak apa-apa, aku toh berbaik hati untuk mengeluarkan semua unek-unek dihatimu. Toh satu orang mati, sama sekali tidak menimbulkan perubahan dunia,” ujar Momok Wajah Ramah dengan nada santai.
“Kau salah! Justru jika aku mati, maka tamat pula riwayat kalian! Hm.. memang orang yang mau mati selalu berlagak tenang, padahal hatinya terasa kalut!” dengus pemuda itu dengan suara datar.
“Aku menyayangkan nasib kalian hanya dalam hitungan jam saja. Dan tugas yang dilimpahkan pemimpin kalianpun terbengkalai, lalu posisi kalian digantikan orang lain, sungguh sayang…” Gumam pemuda ini tetap tenang, ia sama sekali tidak menanggapi ancaman dari dua orang itu.
“Mengagumkan, sungguh aku salut dengan ancamanmu.” Puji Momok Wajah Ramah. “Aku jadi ingin tahu, apa yang membuatmu percaya bahwa kami berdua akan segera mati?!” tanya orang kurus itu.
Danu Tirta tertawa geli. “Aku kan hanya bilang nasib kalian tinggal hitungan jam saja, aku tak mengatakan kapan kalian mati… ha-ha, aku sudah menduga kalian memang pengecut, dan kini benar-benar ketakutan.”
Keduanya tak berkomentar, jika mereka memaki atau marah-marah, kan sama saja mengiyakan tuduhan tawanannya. Danu Tirta juga sadar, tak baik mempermainkan keduanya, jika mereka gusar dan hilang akal sehat, dirinya yang celaka, segeralah ia berkomentar lagi.
“Apa yang akan kukatakan ini, tergantung kecerdasan dan pengalaman kalian, biarpun kujelaskan juga percuma saja.” Sahut Danu Tirta ogah-ogahan.
“Baiklah,” kali ini Bergola yang bicara. “Bicara masalah pengalaman, kau tidak usah kawatir, kami berdua ibarat angin di barat dan di timur, segala sesuatu yang terjadi disana kami ketahui dengan jelas!” kata Bergola mulai gemas.
“Kalau begitu, apakah kalian benar-benar mengetahui seluk beluk perguruanku?” tanya Danu Tirta.
“Siapa yang tidak tahu Perguruan Sampar Angin, tentu saja kami mengetahui dengan jelas. Bahkan bagaimana pengaturan dan pembagian tugas, jabatan dan segala sesuatunya kami tahu.” Jawab Bergola dengan nada sombong.
Baik Danu Tirta, atau Jaka, tidak heran Bergola bisa berkata begitu. Jika memang benar, adalah jamak jika orang awam tahu struktur kepengurusan dan organisasi perguruan besar.
“Bagus, kalau begitu aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada kalian. Dalam perguruanku terdapat empat kelompok yang menangani masalah diluar perguruan. Kalian tahu?” tantang pemuda ini dengan senyuman menyindir.
Bergola dan Momok Wajah Ramah saling pandang. Sambil tersenyum, orang tinggi kurus itu berkata, “Aku mengetahuinya, tapi nama dan tugas mereka aku tidak begitu paham..”
“Hm, yang seperti itu kau sebut mengetahui? Omong kosong yang bagus! Angin di barat dan ditimur apanya?” jengek Danu Tirta menyindir. “Dengar baik-baik, empat kelompok itu dinamakan Guntur, Bayangan, Angin, dan Kilat. Mengenai tugas keempat kelompok itu aku tidak perlu menerangkannya! Yang jelas saat aku tidak terlihat dalam dua puluh empat jam tanpa meninggalkan tanda-tanda rahasia, maka kelompok Kilat akan melacakku sampai dapat. Saat mereka menemukan jejakku, dapat dipastikan nasib kalian lebih naas daripada disambir petir!” ujar Danu Tirta tanpa emosi.
Bergola dan rekannya terkesip kaget, namun terlihat hanya sesaat. Tentunya mereka bukan terperanjat karena uraian pemuda itu, tapi mereka teringat pada sesuatu hal yang sangat penting, yang berkaitan dengan petir—kelompok Kilat.
Satu tahun yang lalu, di wilayah timur pernah muncul perkumpulan misterius yang menamakan dirinya, Angin Barat. Pekerjaan perkumpulan itu sangat terorganisir, dan tentunya tidak lepas dari masalah pembunuhan, pemerkosaan, penculikan dan banyak perbuatan keji yang dilakukan, bahkan perbuatan berkedok pertolongan juga ada. Tapi baru berdiri dua bulan saja, perkumpulan Angin Barat itu hancur lebur tanpa sisa, 90% anggotanya terbunuh.
Meski khalayak persilatan ada juga yang tahu markas besarnya, keberadaan perkumpulan yang sesungguhnya sangat dirahasiakan, dan gerak-gerik merekapun tak terdeteksi. Toh, markas mereka yang tersembunyi bisa didatangi orang, dan mereka terbantai dengan bagian tubuh tiap korban yang hangus terdapat luka seperti garis petir.
Dan ironisnya lagi, perkumpulan itu merupakan satu kelompok dengan Bergola dan Momok Wajah Ramah, karena masalah kehancuran itulah keduanya ‘dimutasikan’ menjadi Anggota Panah—setingkat lebih rendah! Masalah kehancuran Angin Barat hanya perkumpulan mereka yang tahu, tidak nyana penjelasan pemuda yang mereka anggap tikus kecil itu adalah benang merah yang sangat penting. Dengan demikian kelompok yang pernah membantai Angin Barat ada kaitannya dengan pemuda itu.

—ooOoo—

20 – Lima Pelindung Putih

Tapi tentu saja kedua orang itu tidak mudah untuk dibuat takut, apalagi dasarnya dua orang itu adalah orang licik yang pandai memanfaatkan situasi.
“He-he, mati hangus aku tak mau, tapi dapat tato petir enak juga. Sudah lama aku ingin menato tubuhku, hanya saja tidak pernah kudapatkan ahli yang terbaik. Kalau ada yang ingin menatoku dengan gratis, tentunya aku setuju saja…” kata Bergola dengan tertawa terkekeh-kekeh.
“Benar sekali perkataan saudaraku ini,” sambung Momok Wajah Ramah sambil tersenyum girang, agaknya ia mendapatkan satu pemikiran bagus. “Terus terang saja kami sudah pernah mendengar kabar kehebatan empat kelompok kusus itu, dan aku ingin sekali berjumpa dengan mereka. Kini kami memiliki kesempatan untuk menjumpai salah satunya, ini kejadian yang menggembirakan…”
Mendengar ucapan Momok Wajah Ramah, mau tak mau Danu Tirta melegak. Sedikit banyaknya ia dapat meraba siapa sesungguhnya dua orang itu, karena itulah semua sedikit bualannya, adalah kenyataan bagi kedua orang itu. Tapi Danu Tirta tidak mengira kalau Momok Wajah Ramah sangat memperhatikan hal-hal kecil, dengan ucapannya tadi, dapat disimpulkan kalau orang itu ingin menyanderanya untuk memancing kedatangan kelompok Kilat.
“Manusia ini susah dilayani!” umpat Danu Tirta dalam hati, namun wajahnya sama sekali tidak menampilkan perasaan apapun. Ia malah berkata dengan suara datar,
“Terserah kau mau berbuat apa terhadapku, tapi kuingatkan padamu, selama dua puluh tahun terakhir, kelompok Kilat belum pernah terjegal. Kalau kau ingin menggunakan diriku untuk memancing mereka, bersiap-siap menghitung mundur usia kalian saja. Sepengetahuanku mereka belum pernah terpedaya tipu muslihat!”
Ucapan yang tanpa emosi itu mau tak mau menggetarkan perasaan Momok Wajah Ramah, belum lagi ia sempat berkata, Danu Tirta sudah menyambung lagi.
“Aku berkata begini bukan karena kalian menawanku, seperti yang kalian pahami, bisa menawanku seperti ini karena kebruntungan atasan kalian. Cuma kusayangkan, umur kalian sejak malam ini tinggal satu hari lagi. Coba pikir, dalam sehari bisa menyiapkan taktik untuk menjebak orang? Kecuali kalian melebihi Datuk Mata Merah, bolehlah kunilai kalian lebih tinggi..” Danu Tirta menekankan perkataan terakhir.
Dan memang perasaan dua orang itu tergetar, mereka dapat mengartikannya, bahwa Datuk Mata Merah, mengalami nasib jelek di tangan kelompok Kilat.
Mereka tahu siapa Datuk Mata Merah, mereka kenal dengan orang yang paling keji yang pernah berkelana di Jawa Dwipa. Memang dibandingan dengan Datuk Mata Merah, Bergola dan Momok Wajah Ramah bukan apa-apanya. Ibarat kunang-kunang melawan matahari.
Mereka hanya tahu empat tahun lalu orang keji itu lenyap, konon sudah dibinaskan segerombolan orang. Dan tidak disangka yang membinasakan manusia keji itu, sama dengan yang menyingkirkan Angin Barat. Mereka mendengar kabar, bahwa ada orang yang menemukan jenazah Datuk Mata Merah, konon sekujur tubuhnya juga hangus dan melepuh, hebatnya lagi didahi sang datuk ada goresan melintang dan mirip dengan garis sebuah petir. Sama dengan kematian anggota perkumpulan Angin Barat. Kali ini, mereka benar-benar susah menghadapi pemuda itu.
“Hh..” Momok Wajah Ramah kelihatan serba susah, ia menghembuskan nafas panjang, agaknya orang itu juga sudah habis pikir bagaimana cara mengorek keterangan yang cukup berharga bagi perkumpulanya.
“Aih, kau ini sungguh susah dihadapi..” gerutu orang kurus itu sambil tertawa. “Karena kami juga tidak ingin kerepotan dalam mengurusmu, maka…” sampai disitu orang kurus itu menoleh kearah Bergola. “Lebih baik kami mempercepat kematianmu dengan cara yang paling gampang!” sambungnya dengan nada hambar.
Jaka mengeriyitkan kening, sampai sejauh itu Jaka tidak ingin turan tangan lebih dulu. Pemuda ini merasakan getaran pohon yang ia tumpangi makin terasa. “Rasanya emosi orang ini sebentar lagi meledak…” pikir Jaka, dia ingin tahu bagaimana orang yang bersembunyi akan bertindak.
“Silahkan…” sahut Danu Tirta dengan nada datar dan hambar pula, agaknya ia sama sekali tidak khawatir dengan keselamatan jiwanya. Malah bibirnya menyungingkan senyuman.
Momok Wajah Ramah tertegun, sebagai orang licik yang menimbang untung-ruginya, melihat ketenangan calon korbannya, dia jadi goyah. Dia merasa ada yang tidak beres.
Bergola yang tidak kalah liciknya juga merasa ada sesuatu yang jadi andalan pemuda itu. “Anak ini terlalu tenang, dia pasti menyembunyikan sesuatu. Kalau begini terus, persiapanku menghadapi si tua keparat bisa telat! Harus cepat bertindak.”
Tanpa menoleh kepada rekannya, Bergola menghantamkan tinjunya tepat di kepala Danu Tirta. Orang tinggi besar ini ingin menghancurkan kepala pemuda itu dengan sekali pukul. Terdengar deruan angin dalam pukulan Bergola, agaknya tenaga dalam yang menyertai pukulan Panah Sebelas ini cukup untuk meremukan batu karang.
Bukan Danu Tirta saja yang terkesip, rekan Bergola juga tak kalah kagetnya. Danu Tirta sama sekali tidak menyangka kalau Bergola bertindak secepat itu. Menurut perhitungannya dengan sikap yang hambar dan acuh itu, dua orang itu akan mengurungkan niat untuk mencelakainya, tapi siapa tahu Bergola malah bertindak kelewat cepat.
Dilain pihak orang yang bersembunyi satu pohon dengan Jaka, kelihatan terperanjat, Jakapun terkejut, hanya saja pemuda ini tidak bergerak, sebab saat hendak bertindak, dalam waktu hampir bersamaan dia melihat kelebatan bayangan di kejauhan. Luncuran bayangan itu sangat cepat, dan lebih gelombang padat sarat hawa sakti menyertai mereka. Hanya tinggal seujung kuku pukulan Bergola hendak mengenai dahi Danu Tirta, sebuah deruan keras bagai naga mengamuk menggebu tepat dibelakang Bergola.
Wuush!
Oh, ternyata deruan angin kencang itu adalah serangan gelap yang luar biasa, sangat cepat, dan dalam jangka waktu yang sama pasti akan menghantam Bergola dan rekannya.
Bergola menyadari bahaya serangan itu, ia segera menghindar kesamping. Momok Wajah Ramah yang ada di samping Bergola-pun tidak berani bertindak ayal, ia juga melompat menghindar, berlawanan arah dengan Bergola.
Braak!
Deruan angin kencang itu menyerempet pohon besar yang ada didepan mereka. Pohon yang kena pukulan jarah jauh itu adalah pohon jati berusia puluhan tahun dan sangat keras, tapi kulit dan hampir setengah batangnya pecah terkena deruan angin tadi. Coba kalau batang pohon itu yang menjadi sasaran pukulan itu, tentu sadah hancur tak berbentuk.
Panah Sebelas dan Panah Tiga Belas mengucurkan keringat dingin, dari pukulan jarak jauh tadi mereka dapat menyimpulkan kalau orang yang datang kelihayanya tidak kalah dengan dua orang ketua yang mereka jumpai tadi, mereka sadar situasi kali ini sangat buruk. Tanpa banyak cakap, keduanya segera kabur.
Kejadian itu hanya terjadi beberapa detik saja, untuk sesaat Jaka terpana dengan semua itu. “Sungguh dahsyat!” Pemuda ini kagum dengan teknik menyembunyikan hawa serangan pendatang itu, dalam jarak sejauh itu (diperkirakan 70 tombak), menyembunyikan hawa tekanan, biasanya melemahkan serangan itu sendiri, tapi serangan itu bukan saja tak berbunyi (sebelum mendekati sasaran), bahkan kecepatannya tak berkurang.
Sementara itu beberapa kejap setelah kejadian tadi, terlihat lima sosok bayangan sampai di tempat itu. Jaka memperhatikan semuanya dengan seksama, dia tidak ingin ada kejadian yang lepas dari pengamatannya.
Lima sosok yang baru saja datang mengenakan pakaian putih-putih, rambut mereka juga putih berkilat seperti perak. Sungguh suatu keadaan yang amat ganjil! Jaka menilai usia mereka, paling banyak lima puluhan. Tapi anehnya rambut mereka semuanya putih. Dalam pikiran Jaka, putihnya rambut itu tidak sewajarnya, mungkin saja kelima orang itu menguasai suatu ilmu berhawa panas sehingga dapat mempengaruhi rambut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya orang yang berada paling depan pada Danu Tirta.
“Terima kasih atas bantuan paman sekalian, saya tidak apa-apa. Aih, untung saja paman datang kalau tidak entah apa jadinya.” Kata pemuda ini sambil menggeliat, tapi jalan darahnya belum lancar.
Orang kedua dari lima orang itu segera membantu melepaskan sisa pengaruh totokan.
“Terima kasih,” kata Danu Tirta sambil berdiri. Ia menghimpun tenaganya dan segera dialirkan pada pembuluh darah yang sudah sekian lama tersumbat totokan.
“Adik…” terdengar suara dari atas pohon, lalu mendadak saja sosok bayangan meluncur turun.
Danu Tirta terkejut, ia segera berseru girang, “Kak Dd..”
“Huss!” Potong orang itu dengan cepat.
“Kau tidak apa-apa?” tanya orang itu sambil memegang tangan Danu Tirta.
“Ya, nyaris saja…” sahut Danu Tirta sambil tertawa ringan. Kiranya yang datang adalah pemuda yang bersembunyi satu pohon dengan Jaka.
Jaka yang melihat adegan itu, nyaris bersorak. “Rupanya mereka saling kenal, kalau begitu apa yang tadi diceritakan pemuda itu benar. Paling tidak sebagian… bagus, tidak sia-sia aku lewat sini.”
“Maafkan aku karena tak keburu menolongmu, tadinya aku hendak turun tangan. Tapi aku menimbang kekuatan sendiri, kalau kita berdua jatuh di tangan dua orang jahanam itu bukankah ruyam? Saat terakhir tadi, hampir saja aku mengadu nyawa dengan mereka, untung saja para paman datang, kalau tidak, habislah…” kata pemuda yang baru datang ini penuh rasa syukur.
“Ah, tidak apa-apa. Meskipun berbahaya, kini kita lebih jelas mengetahui siapa orang-orang itu. Kuyakin tak lama lagi, setelah para sesepuh tahu berita ini, kita bisa segera menyingkap kedok-kedok mereka!” ujar Danu Tirta dengan gemas.
Mendengar itu Jaka tersenyum girang, kini dia sudah mendapat kepastian bahwa cerita Danu Tirta benar.
”Oh, jadi cerita tentang si kedok yang memberimu surat adalah eyang sepuh?”
“Benar, memang aku tadi bertemu dengan eyang sepuh, tapi beliau tidak memberikan surat apa segala, itu kan cuma bualanku saja.”
“Dasar!”
“Apa yang terjadi sebelumnya tuan… muda?” sela orang ketiga yang menyelamatkan Danu Tirta.
“Ah, hanya kejadian biasa.. tapi yang luar biasa, mereka bergerak secara gelap, kukira semacam perkumpulan rahasia. Dugaanku mereka begundalnya Perkumpulan Kuda Api…” Lalu Danu Tirta menceritakan apa yang tadi terjadi.
Jaka tercengang mendengarnya. “Kuda Api? Apa bukannya anggota Perkumpulan Lidah Api, atau Dewa Darah?”
Jaka berpikir tanpa menghiraukan keadaannya lagi. Sebelumnya, saat Jaka mengintai pemuda ini menggunakan pernafasan kura-kura. Dalam dunia persilatan ilmu pernafasan kura-kura merupakan ilmu umum yang dikuasai setiap pesilat, bahkan bakul jamu-pun berlatih ilmu seperti itu. Kegunaan ilmu ini dapat membuat orang bernafas lebih lembut dan lebih lama menghembuskan udara, tentunya makin lama dapat menahan nafas tanpa sesak, berarti orang itu tergolong tokoh tingkat tinggi. Dan saat mengintai tadi, Jaka menggunakan pernafasan tersebut agar tidak terdeteksi kehadirannya. Dan tanpa sadar, kini Jaka menghembus nafas panjang.
“Hh… memangnya ada berapa perkumpulan rahasia? Persoalan ini tidaklah rumit seperti yang kukira, hanya saja banyak point penting yang belum banyak kuketahui”
Saat Jaka merenung, lima orang pelindung itu, tercengang kaget.
“Siapa disitu?!” bentak mereka hampir bersamaan.
Jaka menggeregap kaget, ia baru menyadari kecerobohannya. Sesaat dia berpikir untuk kabur, tapi dilain kejap, Jaka memutuskan untuk bertemu dengan mereka.
“Orang lewat…” sahut Jaka dari atas pohon, dan ia belum memutuskan untuk turun lebih dulu.
“Sedang apa kau disitu?” tanya rekan Danu Tirta dengan perasaan heran, sebab setahunya saat sedang sembunyi ia tidak merasakan kehadiran orang.
“Tentu saja bukan sedang iseng.” Sahut Jaka sembari tertawa. “Aku sedang menunggu seorang kawan, tapi dari tadi dia tak kunjung muncul. Malah kalian bertujuh dan empat orang brengsek sebelum kalian yang datang kemari, sebenarnya akulah yang harusnya bertanya demikian pada kalian, sedang apa kalian berada di kebun ini?” tanya Jaka dengan nada berat.
Tujuh orang itu saling pandang, agaknya mereka juga enggan mencari masalah pada saat seperti itu. Tapi sepertinya Danu Trita berpandangan lain.
“Sobat, maukah engkau turun? Agar kita bisa berbicara dengan lebih leluasa?” pinta Danu Tirta.
“Boleh juga,” sahut Jaka.
Mendengar jawaban itu, ketujuhnya mendongkakkan kepala mengawasi pohon yang jarang daunnya. Tapi setelah beberapa lama diawasi, tiada satu bayanganpun terlihat. Diam-diam mereka tercengang kaget, “Apakah orang itu sudah pergi?” tanya hati mereka masing-masing.
Kalau iya, berarti mereka telah berjumpa dengan tokoh luar biasa. Sebab jelas-jelas dari pohon itulah suara Jaka berasal. Tapi sampai saat ini, jangankan sosok tubuh, gerak-geriknya juga tak terlihat sama sekali!
“Apa yang akan kita bicarakan?” tiba-tiba dari belakang mereka terdengar pertanyaan orang.
Serentak ketujuh orang itu membalikkan tubuh dengan kewaspadaan dan hawa murni untuk melindungi tubuh dari serangan gelap si pendatang. Hati mereka bergetar hebat, menyadari kalau kehadiran orang itu, tidak dapat dideteksi.
“Benar-benar, manusia pilih tanding.” Seru mereka dalam hati.
Mereka melihat sosok berbaju gelap berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Bolehkah kutahu siapa sobat ini?” tanya orang pertama dari lima orang berambut putih.
Karena suasana malam itu diterangi cahaya bulan purnama, mereka bisa melihat bahwa orang yang berdiri disitu adalah seorang pemuda berbaju sederhana.
“Saya Bagas Arta, aih.. sungguh tidak terduga malam ini saya bisa berjumpa orang-orang hebat dari Perguruan Sampar Angin. Maaf, apakah tuan berlima ini adalah salah satu empat kelompok dari perguruan Sampar Angin, mungkin kelompok Kilat?” tanya Jaka tanpa basa-basi.
“Ah.. kami mana pantas disebut kelompok Kilat, kami disebut Lima Pelindung Putih.” Kata orang pertama itu menjelaskan. “Aku dipanggil Putih Tunggal,” sambungnya dengan suara ramah.
“Selamat berjumpa…” kata Jaka dengan menyoja hormat. Dalam hati ketujuh orang itu, terbetik perasaan aneh begitu menjumpai suasana seperti malam ini.
Penampilan Jaka yang bersahaja lamat-lamat menimbulkan perasaan hormat dihati mereka. Padahal mereka tahu usia pemuda itu paling banter sama dengan tuannya.
“Maaf kalau saya mengagetkan tuan sekalian, sebenarnya saya ada janji dengan seorang teman di tempat ini, tapi keadaan yang berlangsung di luar dugaan saya,” kata Jaka memberi alasan. “Mungkin mengetahui kejadian tadi, teman saya sudah pergi dari sini.” Sambungnya menambahi keterangan.
“Oh..” merekapun hanya bisa tercengang, orang pergi dari situ tanpa mereka ketahui, berarti teman orang didepan mereka adalah tokoh kosen. “Ah, tidak mengapa, kami hanya merasa heran. Mengapa begitu kebetulan kita bertemu disini?! Kami juga mengadakan perjanjian untuk bertemu di tempat ini…” akhirnya Putih Tunggal berkata sebisanya, agar lawan bicaranya tidak menyangka dia tadi sempat tertegun. Padahal Jaka cuma asal cakap.
“Kita sama-sama pendatang, dan sama–sama tidak tahu dimana tempat yang enak untuk berjumpa secara rahasia. Dan anehnya, tempat ini yang jadi tujuan. Bukan saja olehku tapi oleh kalian dan banyak orang lainnya. Tapi mungkin juga ini yang dinamakan jodoh,” sahut Jaka sambil tertawa. Lalu setelah berkata seperti itu, ia membalikkan tubuhnya. Perbuatan pemuda itu membuat tujuh orang itu heran juga was-was.
“Tidak lekas pergi? Memang menunggu mereka menyergap kalian? Atau kalian meminta supaya orang-orang ini menggrebek sarang anjing kalian?” seru Jaka dengan suara keras, namun sama sekali tidak ada reaksi dari ucapannya, tapi rasa-rasanya ada suara semak-semak saling bergesek dikejauhan. Beberapa lama kemudian Jaka menggumam, “Bagus kalian sudah pergi, jadi kita masih bisa berurusan dengan tenang.”
Sesaat kemudian, Jaka membalikan badannya dan menyoja. “Maaf, saya perkenalkan sekali lagi pada tuan sekalian. Nama saja Jaka Bayu..” kata pemuda ini membuat lima orang itu bingung. Dan membuat dua pemuda tadi kaget.
“Ah..” terdengar desahan dari Danu Tirta dan pemuda kawannya, mereka saling berpandangan sesaat.
“Ehm.. maaf, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya orang kedua yang dipanggil Dwi Putih.
“Orang yang tadi hendak mencelakai saudara Danu Tirta sebenarnya belum pergi dari sini, mereka hanya bersembunyi untuk melihat keadaan. Atau lebih tepat dikatakan untuk menyelidiki kekuatan Perguruan Sampar Angin.” Tutur Jaka menjelaskan.
Danu Tirta terkejut, “Kenapa tidak saudara Jaka bilang dari tadi? Bukankah kami bisa menangkap mereka?”
“Tidak semudah itu, biarpun saya memberitahukan kepada tuan, belum tentu anda mempercayai keteranganku. Lagi pula, kalian belum mengenalku. Dan andai saya memberitahu pada tuan sekalian tentunya mereka berdua tahu apa yang sedang terjadi. Masa orang selicik mereka mau menerima nasib sial begitu saja? Tentu mereka sudah kabur entah kemana.”
Danu Tirta baru sadar kalau pertanyaannya tadi terlalu berlebihan. “Oh.. kiranya begitu.” ujarnya merasa malu, baru ia sadari kebodohannya.
“Kenapa saudara Jaka harus memperkenalkan diri dengan nama palsu?” tanya Putih Tunggal.
“Saya hanya tidak ingin dikenali mereka. Mungkin suara saya bisa dikenali, tapi jarak sejauh ini saya yakin mereka tidak bisa melihat wajah saya.” Tegas Jaka.
“Oh, sepertinya anda mengenal mereka?!” tanya pemuda yang tadi bersembunyi dengan nada agak sinis, dia bernama Damar Kemangi.
“Memang saya mengenal mereka. Tapi hanya sekedar kenal lihat, belum sempat bertegur sapa. Alasan saya tidak ingin berjumpa mereka, karena saya punya kejutan menarik untuk mereka!” tutur Jaka, dia tidak gusar biarpun disindir oleh orang tak dikenal. Pembawan Jaka kadang memang acuh tak acuh.
“Oh, kelihatannya saudara lebih percaya kami?” ujar Tetra Putih—orang ke empat.
“Nama baik yang kalian junjung sudah pasti merupakan jaminan bahwa kalian tidak sama dengan orang-orang tadi.”
“Oo..”
“Jadi kau sudah kenal dengan Perguruan Sampar Angin?” Tanya Damar Kemangi.
“Tidak sepenuhnya begitu, saya hanya mengenal nama saja, dan apa yang kudengar nama perguruan kalian, memang tidak salah menjadi salah satu dari enam belas tiang penopang dunia persilatan.”
“Ah, terlalu memuji…”
Suasana malam itu makin hening, meski sudah agak akrab mereka berdialog, tetap saja suasana kaku tak dapat dicairkan. Jaka menatap langit, dia baru sadar kalau harus bergegas menuju rumah Ki Lukita.
“Maaf, saya tidak bisa menemani saudara sekalian lebih lama. Bagaimanapun juga saya harus berjumpa dengan kawan saya yang seharusnya datang kemari.” Kata Jaka memberi alasan sambil menghormat, lalu tanpa menanti jawaban pemuda ini membalikan tubuh dan berlalu. Tapi baru beberapa tindak..
“Tunggu!” Danu Tirta menahannya.
Jaka menoleh, “Apakah ada keperluan lain?” tanya Jaka ramah.
“Tidak.. tapi bisakah kami mengenalmu lebih lanjut?” tanya pemuda itu blak-blakan.
Jaka tertawa, “Pepatah bilang, empat penjuru adalah saudara, kalau tuan-tuan memang ingin mengenal orang sepertiku, tentu saja merupakan kehormatan besar bagiku, sayangnya… dalam satu dua hari ini, saya punya kesibukan. Kalau tuan-tuan tidak keberatan, tiga hari dimuka, tepat tengah hari kita bisa bertemu di Sungai Batu…”
“Baik, kami akan kesana!” ujar Danu Tirta lugas.
“Terima kasih.” ucap Jaka. Saat hendak berlalu, ia melihat Damar Kemangi seperti ingin mengatakan sesuatu. “Apakah saudara ingin menyampaikan sesuatu?” tanya pemuda ini sambil tersenyum.
“Ehm, memang benar, saya ingin bertanya. Apakah kedatangmu tadi lebih dahulu dari pada kedatanganku?”
“Terus terang saja kedatanganku lebih lambat sesaat dari kedatanganmu. Waktu itu kau sudah bersembunyi didekat cekungan batang pohon. Sebelumnya aku tidak sadar kalau dipohon itu ada orang, tapi beberapa saat kemudian baru kusadari kalau aku tidak sendirian…”
“Bagaimana cara kau mengetahuinya?” tanya Limas Putih, si orang kelima tertarik.
Heran, cara sepele seperti itupun ditanyakan, namun ia tetap menjawabnya. “Andai saja saudara ini tidak mencemaskan ketidak hadiran rekannya, mungkin aku tidak pernah mengetahui kalau di pohon itu ada orang lain.”
Mereka terlihat mengangguk, tapi dalam hatinya tujuh orang itu sangat tercengang. “Orang yang bisa merasakan getaran tak wajar, paling banter tergolong dalam tingkatan tokoh tua, tapi dia.. bagaimana bisa?” pikir mereka heran.
“Em, lalu bagaimana bisa anda turun dipohon itu tanpa kami ketahui?” tanya Trigan Putih, si orang ketiga.
Jaka tertawa tanpa suara. “Sebenarnya sejak tuan sekalian memintaku turun, saya sudah turun. Mungkin anda tidak memperhatikan saat saya turun, saya kan tidak punya ilmu menghilang. Kalau kemunculan saya yang mengejutkan, mungkin karena sebelumnya tuan sekalian sedang terpaku pada dua begundal tadi, jadi tidak memperhatikan kedatangan saya.”
Jawaban Jaka malah membuat hati mereka makin tercengang, mereka tahu kalau sesungguhnya Jaka sedang merendahkan dirinya. Tapi siapa yang tahu kalau ucapan Jaka itu adalah ucapan sebenarnya? Siapa yang dapat menduga kalau Jaka memang bertindak demikian?
“Maaf, saya harus segera pergi,”
Tanpa banyak basa-basi lagi Jaka melangkahkan kakinya. Setapak demi setapak dan akhirnya bayangan tubuhnya lenyap ditelan kegelapan malam.
“Kita berjumpa dengan orang yang luar biasa…” gumam Putih Tunggal sambil menghela nafas panjang, seolah tadi ia tak berani bernapas keras-keras.
“Paman, apakah orang itu benar-benar hebat?” tanya Danu Tirta.
“Aku tidak tahu, hanya saja dari bukti yang kita saksikan sendiri, siapa yang dapat menduga apa yang ia lakukan saat turun dari pohon? Tadinya aku mengira itu semacam tipuan, tetapi saat tadi aku menghormat, kukirimkan gelombang serangan kedadanya, tapi aneh.. rasanya tenagaku seperti amblas ke dasar samudra.”
“Mungkin meleset.” Sahut Danu Tirta.
“Kau meragukan hawa Menusuk Bangau Diawan-ku?”
“Bukan, bukan maksudku meragukan paman, kuyakin ilmu yang paman yakini puluhan tahun pasti tidak meleset, tapi kan siapa tahu?”
“Tidak mungkin, karena seranganku jelas-jelas kena didadanya, tetapi kejap berikutnya hilang, tersedot entah kemana.”
Suasana makin hening setelah Putih Tunggal mengemukakan alasannya, malam yang semakin larut itu makin sepi, namun tingkah jengkrik dan binatang malam tidak berhenti begitu saja.
“Aku semakin tertarik dengan pemuda bernama Jaka, ingin kutahu sebenarnya orang macam apa dia itu!” kata Trigan Putih.
Meskipun yang lain tidak menyahut, tapi dalam hati mereka juga timbul keinginan serupa. Biarpun mereka lamat-lamat melihat raut dan wujud Jaka, namun rimbunan pohon yang menghalangi sinar rembulan belum memberikan kejelasan wajah pemuda itu.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: