Seruling Sakti Jilid 21-26

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

21 – Menjumpai Para Sesepuh

Jaka memutuskan menggunakan peringan tubuhnya, mengingat dia sudah terlalu banyak membuang waktu.
“Bagaimana ya, apa aku harus menjadi murid Ki Lukita atau tidak?” pikirnya setengah melamun. “Tidak ada ruginya memang, tetapi sama saja aku mengikatkan diri pada sebuah peraturan.”


Jaka kembali menimbang, “Hh,” dihelanya nafas panjang. “Toh tidak ada salahnya aku menjadi murid beliau, banyak manfaat yang bisa kuperoleh darinya.”
Tak berapa lama kemudian, Jaka sudah sampai dijalan besar yang melewati kediaman Ki Lukita.
Tentu saja Jaka tidak begitu bodoh untuk masuk lewat depan, karena malam itu tidak sesepi yang ia kira. Banyaknya pengunjung dikota itu membuat malam dihari biasa yang seharusnya sepi, kini bagaikan waktu menjelang fajar.
Banyak orang yang berjalan-jalan disekitar jalan besar itu. Jaka tahu, kini gerakannya sudah tidak leluasa lagi, sebab ia masih harus berperan bahwa dirinya sudah dikuasai salah satu orang Naga Batu.
Karena terlalu riskan untuk masuk lewat pintu depan, Jaka ambil jalan memutar, jalan kecil yang ia lewati itu hanya berselang tiga rumah dari kediaman Ki Lukita. Jaka memang bermaksud mengambil jalan memutar, tapi ia belum tahu apakah jalan disitu berhubungan langsung dengan rumah Ki Lukita? Sebab sudah beberapa puluh langkah, jalan itu tetap lurus.
“Kelihatannya, aku harus cari jalan sendiri.” pikir Jaka. Jaka menyesap keadaan sekeliling dan berdiam diri sesaat, “Aman!” pikirnya. Begitu terpikir demikian tubuhnya sudah melecat ringan bagai burung camar. Jaka melompat dari pohon ke pohon lain, dan dalam waktu singkat saja Jaka sudah berada tepat dibelakang rumah si kakek.
“Wah, rupanya kediaman Ki Lukita luas sekali.” gumam pemuda ini sambil memperhatikan dengan seksama.
Baru ia sadari bagian depan dan bagian belakang rumah Ki Lukita sebenarnya memanjang. Dan lagipula pekarangan belakang begitu luas, tertata rapi dan indah.
Menurut pengamatan Jaka, orang yang tinggal dirumah itu kemungkinan lebih dari sepuluh orang. Belum lagi pembantu. Kini, baru Jaka sadari bagaimana baiknya memasuki rumah Ki Lukita.
Langsung masuk atau harus menunggu? Ah, terlalu memakan waktu. Bagaimana nanti saja, yang penting sekarang masuk dulu! Tanpa ragu lagi, Jaka melompat dari pohon dan turun di halaman belakang. Begitu melihat apa saja yang terdapat di halaman belakang, hati Jaka tercekat.
Bagaimana tidak, setiap jalan setapak yang ada, merupakan formasi dari Barisan Angin Kencana dan pohon-bunga setinggi dagu yang tumbuh disitu diatur dalam bentuk Barisan Tujuh Hari. Jaka tahu kehebatan barisan itu, meski tidak sehebat barisan kuno Lima Langit Menjaring Bumi, tapi karena daya yang diterapkan dua barisan tersebut maksimal, kehebatannya sejajar dengan barisan yang ada di halaman depan.
“Barisan ini cukup lihay, tapi untuk mengurung tokoh lihay, jangan banyak berharap. Paling banter hanya menghambat sesaat saja. Kelemahan barisan ini sangat jelas…” pikir Jaka sambil memandangi segala sesuatu yang ada di setiap sudut halaman belakang itu.
Tanpa sadar Jaka melangkah ketengah-tengah halaman, saat sudah berada ditengah baru Jaka sadar kalau ia sudah masuk dalam perangkap barisan lain.
“Heh! Hebat, rupanya ini yang menutup kelemahan dua barisan tadi? Putaran dua belas sisi? Benar-benar ide bagus, siapa yang membuat barisan biasa jadi hebat begini? Apakah Ki Lukita atau orang lain?” gumam Jaka. Sudah menjadi kebiasan Jaka, jika dia menemukan hal baru, maka akan benar-benar diamati dengan seksama sampai dia paham, hal lain tak dia acuhkan lagi. Sampai-sampai Jaka tidak menyadari ada sembilan pasang mata mengintai dari dalam.
Selang beberapa saat kemudian, wajah pemuda ini cerah, dan tersenyum lebar, rupanya dia sudah paham. Ya, dari satu muncul dua puluh satu, lalu menjadi kelipatannya—441, benar-benar perubahan lihay, cuma terlalu rumit… tidak sepadan!
Jaka melangkah kedepan setapak demi setapak, menurut pandangan orang lain, langkah Jaka biasa saja, tapi tidak dalam pandangan sembilan orang yang mengitai! Mereka terperanjat, sebab langkah Jaka merupakan sudut mati bagi barisan itu. Sekilas gerak langkah itu mirip sudut 90 derajat dan berubah sampai 45 derajat, berulang kali sampai 18 kali. Tapi saat diamati lebih lanjut, mereka makin terperanjat menyadari langkah Jaka lebih rumit, kisaran gerak dua sudut dalam langkah Jaka, menggeser tiap jengkal dan langkah itu telak menohok kelemahan barisan tersebut.
Ah, salah! Barisan hanya mengandalkan rumit untuk menyesatkan. Dengan sendirinya kunci keluarnya dapat berubah-ubah, ha-ha, jika yang membuat terlupa satu langkah… diapun bakal terperangkap. Lalu Jaka melangkah ke tiap sudut barisan itu. Pemuda ini menggeleng.
“Sayang, disini terlalu banyak titik lemah,” gumamnya. Rumit mengalahkan sederhana, tapi kadang kala sederhana juga mengalahkan rumit… hukum alam memang tidak bisa dihindari. Yah, mudah saja melapaskan diri dari semua ini, siapapun orang yang menguasai ilmu peringan tubuh sangat mahir, dapat segera keluar, dengan catatan dia teguh imannya, jadi perubahan barisan tak akan menggoyahkan akalnya. Andai saja barisan ini ditambah formasi Menggiring Ribuan Prajurit, kuyakin walau tokoh paling lihay dalam bidang ini, baru bisa merumuskan sebagian jalan keluar lebih dari satu bulan.
Jaka tersadar, ini bukan saat yang tepat untuk memahami barisan pengurung itu.
“Dua jam lagi aku harus berjumpa dengan tiga orang itu, aku harus cepat-cepat bertemu beliau.” Pikir Jaka sambil melangkah kepintu belakang rumah.
Tapi baru beberapa langkah, pintu itu sudah terbuka, lalu muncul empat orang dihadapan Jaka. Sekilas, selain Aki Lukita Jaka seperti mengenali orang kedua dan ketiga, tapi entah dimana ia pernah bertemu muka dengan mereka.
“Maaf kalau saya berkunjung tidak semestinya Ki, atau saya musti memanggil guru?” kata Jaka sambil membungkuk memberi hormat.
Kakek itu tertegun sesaat, demikian juga dengan tiga orang lainnya. Mereka pikir cara pemuda ini menjadi satu bagian dari sebuah organiasi—bagian dari orang lain—sangat tidak lazim. Tapi bagaimanapun juga, semua itu bukanlah masalah.
Ki Lukita mengelus janggutnya. “Tak kusangka kau menerimanya, aku sangat bahagia dan bangga dengan keputusanmu.” ujar Ki Lukita mendekat sambil menepuk pundak Jaka.
“Sebaliknya, seharusnya saya yang merasa bangga mendapat kepercayaan begini besar dari tokoh besar.”
Aki Lukita tersenyum, dia tidak mengatakan apa-apa, karena saat itu hatinya diliputi perasaan girang, juga haru.
Memang agak aneh, seharusnya penerimaan murid tidaklah sesederhana itu. Tapi karena keduanya—guru dan murid itu, enggan melakukan ritual yang sudah umum, maka menjadi guru dan murid terjadi hanya kesepakatan saja. Upacara resmi mungkin menyusul.
Saat empat orang itu keluar dari ruangan yang gelap, sinar lentera tidak menerangi jelas ke empat wajah itu. Dan kini begitu mereka melangkah keluar, Jaka agak kaget, namun ia sama sekali tidak menampilkan perubahan diwajahnya.
“Kedatanganmu tidak mengganggu, justru kebetulan. Kau pasti datang kemari karena urusanku bukan?” tanya gurunya.
“Benar.” Sahut Jaka dengan memandang wajah tiga orang yang mendampingi gurunya.
Agaknya sang guru tahu apa yang dipikirkan Jaka. “Mereka ini..”
“Mereka adalah paman yang menyamar jadi nelayan dan satu lagi paman yang menyamar jadi pemilik rumah makan besar di kota ini, bukankah begitu?” potong Jaka. “Hanya saja murid tidak mengenal rekan guru yang satu lagi, karena murid belum pernah melihat beliau.”
Empat orang kakek itu kelihatannya terperanjat, tapi yang paling terkejut tentu saja orang yang menyamar jadi nelayan dan jadi pemilik rumah makan besar yang pernah Jaka kunjungi tempatnya. Mereka tidak menyangka, Jaka bisa menebak siapa mereka.
“Bagaimana kau bisa tahu siapa mereka?” tanya gurunya heran.
“Meski saat itu paman ini menyamar jadi nelayan, saya tetap mengenalinya saat ini, begitu pula dengan paman yang menyamar jadi pemilik rumah makan, saya sempat melihatnya sekilas.” Jawab pemuda ini.
Dua orang yang sempat menyamar itu saling berpandangan, mereka merasa takjub, karena Jaka sanggup mengenali raut wajah mereka yang sebenarnya. Padahal ilmu menyamar mereka berdua termasuk top dikalangan para tokoh silat.
Karena ilmu penyamaran mereka, lain dari yang lain, orang lain menyamar dengan menggunakan topeng kulit, menggunakan bedak, atau, obat tertentu untuk menyamarkan wajah asli mereka, namun tidak dengan kedua orang itu… mereka menyamar, hanya dengan menghilangkan ciri khas pada raut wajah masing-masing, dan menampilkan ciri khas yang baru. Sehingga biarpun orang yang kenal dengan mereka, juga tidak bisa menggenalinya.
Tapi hebatnya Jaka bisa mengenali mereka, padahal Jaka hanya sekilas memandang saja. Dari kejadian barusan, pandangan dua orang itu terhadap Jaka berubah, semula mereka hanya kagum dengan bakatnya, tapi kini mereka pikir Jaka sudah sangat berpengalaman. Padahal bukan begitu, mereka tidak tahu bahwa Jaka dapat mengenali mereka karena Jaka memiliki kemampuan untuk mengingat bentuk bola mata seseorang, jadi bukan karena pengalaman atau penyelidikan lebih dulu. Sebab itulah, begitu menjumpai wajah keduanya, Jaka segera tahu bahwa mereka itu orang yang pernah ia jumpai sebelumnya.
“Baiklah, mengenai penyamaran biar kita sudahi saja. Orang yang menyamar jadi nelayan bernama Benggala, sedangkan yang menjadi pemilik rumah makan yang pernah kau datangi itu adalah Gunadarma. Dan ini,” kata Aki Lukita sambil menepuk bahu satu orang lagi yang usianya sepantar dengan dirinya. “Dia bisa kau panggil dengan sebutan Aki Glagah…”
Jaka segera membungkuk memberi hormat. “Salam jumpa, perkenalkan, saya yang bernama Jaka.”
“Ha-ha, kita orang sendiri, tak perlu terlalu sungkan…” ujar Aki Glagah.
“Maaf, mohon tanya, apakah Aki Glagah ada hubungannya dengan Sakta Glagah?” Pertanyaan Jaka membuat tawa kakek itu makin lebar.
“Kau benar, dia adalah putraku.”
“Wah, senang rasanya bisa berjumpa dengan ayah dari tokoh kosen paling sakti.”
“Apanya yang sakti?! Didunia ini banyak orang yang lebih kuat dari yang kita lihat, sebaiknya engkau jangan menilai orang dari luarnya saja.”
“Nasehat Aki akan saya ingat selalu.” kata Jaka dengan sikap menghormat. “Guru…”
“Ya?!”
“Kalau boleh, murid bertanya, hubungan guru dengan beliau-beliau ini bagaimana?”
Mendengar pertanyaan muridnya Aki Lukita saling pandang dengan tiga orang lainnya, “Baiknya kita bicara didalam saja.” Ujar Aki Lukita sambil masuk kerumah, kemudian tiga orang lainnya menyusul, begitu pula dengan Jaka yang masuk belakangan.
Mereka duduk saling berhadapan, ada meja bundar yang menjadi penengah. Dimeja itu sudah tersedia lima gelas air teh. Rupanya mereka sudah mengetahui kedatangan Jaka, dan pemuda ini pun tak merasa heran. Tadi dia sengaja berdiri sesaat di jalan besar—depan rumah gurunya, sebagai tanda bahwa ia akan datang kesitu. Karena cangkir sudah tersedia untuknya, Jaka dapat memastikan, isyaratnya sudah dilihat tuan rumah.
“Seperti yang kau duga, kami memang memiliki hubungan yang sangat erat. Kakang Glagah sebagai orang pertama, aku sebagai orang kedua dan ada empat orang lain yang tidak datang sebagai urutan berikutnya, sedangkan adi Gunadarma dan Benggala berada pada urutan ketujuh dan kedelapan. Tiga puluh tahun silam kami disebut orang sebagai Delapan Sahabat Empat Penjuru…”
“Oo, kiranya begitu..”
“Untuk lebih jelasnya lagi, kau bisa baca pada catatanku pada kitab pertama dan ketiga.”
Jaka manggut-manggut, sesaat ia melirik kesana kemari untuk melihat suasana dalam rumah gurunya. Jaka tercengang. “Sepertinya setiap jengkal rumah ini dipasangi perangkap?” gumamnya.
“Tajam benar matamu, memang benar apa yang kaukatakan tadi. Bukan cuma dirumahku saja, tapi disemua rumah sesepuh kota ini. Tentu saja semua itu ada maksudnya… hanya saja aku sama sekali tidak menyangka kalau kau bisa memecahkan barisan yang ada di belakang!” ujar sang Guru sembari menghirup tehnya.
“Hanya kebetulan paman..” sahut Jaka.
“Mana bisa disebut kebetulan begitu?!” seru Gunadarma. “Kau bukan saja bisa memecahkan kelemahannya bahkan tahu semua perubahannya, kalau bukan orang yang menguasai Barisan Langit Tunggal mana bisa kau mengenali setiap langkah barisan yang ada?”
Jaka tidak menyahut, pemuda ini hanya tersenyum saja. Terkadang kata-kata tidak diperlukan lagi sebagai jawaban. Meski orang sudah tanggap akan dirinya, Jaka tidak bermaksud memperbicangkan masalah dirinya lebih lanjut. Saat ia hendak mengatakan maksud kedatangannya, gurunya sudah bicara lebih dulu.
“Sekarang ada masalah apa hingga kau datang malam-malam?”
“Di samping memberikan jawaban pada Aki, saya cuma mau menanyakan satu masalah kecil pada guru, apakah dini hari nanti, guru akan memberi sedikit jejak pada Bergola, bahwa guru bisa ilmu silat?”
“Tidak! Aku tidak akan memberinya petunjuk walau setitik. Kau tahu kenapa?”
Jaka tak menjawab, biarpun ia tahu, ia juga harus bertindak bijak, terlalu banyak bicara bukanlah hal yang baik.
“Sebab dewasa ini perkumpulan rahasia begitu menjamur, salah satu upaya yang kita lakukan dua puluh tahun terakhir ini adalah untuk mengantisipasi setiap kegiatan mereka! Jadi mana mungkin aku mengorbankannya hanya untuk mengatasi soal kecil?!” tegas sang guru.
Jaka mengangguk paham. “Saya mengerti, lalu apa yang akan guru lakukan?”
Kakek itu tertawa berderai. “Kau ini sudah tahu tapi masih tanya juga.. kalau aku datang, berarti kau menganggur? Bukankah kau punya rencana sendiri?”
Jaka tertawa kecil. “Benar, saya memang mengharapkan guru tidak datang, saya memang punya rencana.”
“Rencana macam apa?”
Pemuda ini tersenyum saja. Diam-diam ke empat kakek itu menghela nafas, aih, orang macam apa dia ini? Mereka berfikir demikian bukan karena masalah perkumpulan rahasia, mereka hanya dibingungkan dengan lain persoalan. Didunia ini jarang terdapat manusia yang setiap dipandang orang, kelihatan menyenangkan—walau dalam keadaan apapun. Dan orang macam itu kini ada didepan mereka—itulah Jaka.
“Bagaimana?” tanya sang guru lagi.
Jaka kembali tersenyum. “Pasti guru akan tahu.” Sahutnya. Diam-diam keempat orang itu kembali memberi penilaian, agaknya bocah ini memang murah senyum pada tiap orang, atau memang wajahnya memang wajah senyum tak senyum?
“Kalau begitu apakah guru hendak menyerahkan peninggalan Rubah Api?” tanya Jaka membuat empat orang itu terperanjat.
Aki Lukita dan tiga orang lainnya terkejut. “Jadi kau sudah tahu persoalannya?” tanyanya heran.
“Kebetulan saja,” jawab Jaka tidak mengatakan dari mana ia tahu persoalan itu.
“Aih.. yang jelas, apa yang diserahkan Rubah Api pada kami akan kami pertahankan dan tidak akan kami gunakan kecuali dalam keadaan terpaksa sekali.”
“Memangnya apa yang diserahkan Rubah Api pada guru? Bukankah saat itu dia dalam keadaan sekarat?”
“Kau tahu sampai begitu jauh, padahal baru satu hari kau tiba disini. Ha-ha-ha, dari sini sudah dapat membuktikan kecerdikanmu.”
“Ah, guru terlalu menyanjung, semua itu kebetulan saja. Nanti akan saya ceritakan kejadian menarik, hanya saja, saya perlu penjelasan dari berbagai soal saat ini. Sebab saya yakin persoalan seperti saat ini tentu tidak guru tuliskan dalam buku bukan?”
“Memang benar, baiklah.. kau dengarkan baik-baik penuturan kami. Tapi apa kau sudah baca catatanku?”
“Sudah, tapi baru bab pertama, dan dua bab terakhir.” Sahutnya.
“Itu sudah cukup, kalau begitu tentunya kau sudah tahu garis besar dari asal-usul perkumpulan Dewa Darah yang sempat kusinggung tadi siang?” Jaka mengiyakan.
“Justru permasalahan muncul dari situ, setelah perkumpalan Dewa Darah hilang, dalam tiga puluh tahun terakhir, banyak muncul perkumpulan rahasia baru bagai jamur. Diantaranya pekumpulan Angin Barat, Lidah Api, Ikan Tombak, Kuda Api, Lima Jalur dan banyak lagi.. yang jelas setelah kami selidiki dengan seksama, perkumpulan itu bertindak dengan corak dan motif yang sama, bahkan ada sedikit kemiripan dengan perkumpulan yang dikepalai Anusapatik. Namun ada beberapa perkumpulan mereka yang lenyap begitu saja, dugaan kami mungkin saja mereka sudah menggabungkan diri dengan induknya, atau bahkan terbasmi. Singkat cerita, setelah tahun ini, ada seorang kenalan kawan karibku—tentu kau sudah dapat menduga—dia adalah Rubah Api. Rupanya Rubah Api pernah gabung dengan kelompok Banyu Asin. Menurutnya divisi kelompok Banyu Asin adalah kelompok tertinggi ketiga selain perkumpukan Dewa Darah? Kalau saja saat itu Rubah Api tidak cerita, sampai sekarang kami masih meraba-raba rahasianya,” Aki Lukita berhenti sejenak, ia meneguk tehnya.
“Rubah Api dulu terkenal sebagai bandit besar diwilayah utara. Karena itulah pihak Banyu Asin menariknya untuk menjadi anggota, tapi mereka sama sekali tidak tahu kalau Rubah Api merupakan Bandit Budiman! Sudah hampir empat tahun Rubah Api menyusup di kelompok itu, semua bukti dan semua kejahatan yang dilakukan kelompok itu ada padanya. Ia tidak berani bertindak terang-terangan karena kebanyakan anggota kelompok itu adalah pendekar-pendekar yang memiliki nama harum. Ia tak ingin berbuat ceroboh, karena itulah selama empat tahun ia dengan sabar mengumpulkan bukti dan akhirnya membuat tempat persembunyian dari bukti tersebut dalam bentuk peta. Rupanya pihak Banyu Asin mencurigai tindak-tanduk Rubah Api, karena itu saat ia hendak menjumpai sobat karibku, ia dikejar-kejar dan akhirnya sampai disini. Tapi nasibnya benar-benar malang, Rubah Api sudah terkena racun hebat dan sekujur tubuhnyapun terluka parah, meski begitu ia ngotot untuk memberitahukan apa yang ia ketahui selama ini pada kami. Untung saja saat itu aku membawa Puyer Sambung Nadi, nasib Rubah Api tertolong, ia masih hidup, tapi keadaannya tak jauh beda dengan mayat hidup. Ia hanya bisa diam termangu.. aih, sungguh tragis nasibnya. Padahal masih ada sanak keluarga yang membutuhkan perlindungannya, sayang ia tidak mengatakan dimana adanya mereka..” Sang Guru mengakhiri penjelasannya.

—ooOoo—

22 – Intai Mengintai

Sang guru dan tiga rekannya menatap pemuda itu, kelihatannya Jaka sama sekali tidak menampilkan perubahan pada raut wajahnya.
“Syukurlah Rubah Api masih hidup,” gumam pemuda ini dengan suara lirih. Tapi empat orang sesepuh itu mendengarnya.
“Ya, sekarang giliranmu, kau bilang ingin menceritakan sesuatu yang menarik?!” tagih sang guru sambil tertawa.
Jaka tersenyum lalu ia mengeluarkan kertas dari balik pakaiannya, kertas itu ada lima lembar. Empat lembar berisi, sedangkan lembar lainnya kosong. Rupanya sebelum berangkat dari penginapan, Jaka sempatkan diri untuk menuliskan apa yang ia alami di Telaga Batu dan beberapa rencananya. Sementara tentang kejadian baru seperti; saat ia memergoki pelayan gadungan dan bertemu orang-orang Perguruan Sampar Angin, belum ia tambahkan, Jaka berniat memberitahu sang guru sekedarnya saja; bahwa dia berjumpa dengan orang-orang Perguruan Sampar Angin, cuma itu.
Sejak awal, Jaka memang berniat menguraikan rencana dan beberapa hal yang perlu diketahui Ki Lukita, secara tertulis. Pemuda ini juga sengaja menuliskannya hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada kejadian diluar dugaan, dan kelihatannya tulisan Jaka dibutuhkan pada saat ini.
Jaka mengambil pena arangnya, lalu ia menulis.
Ada orang menyusup kemari! Tentu saja empat orang itu kaget—atau setidaknya seperti itulah keadaannya, mereka saling pandangan untuk sesaat, lalu serentak memandang Jaka.
Jaka tahu keheranan empat sesepuh itu. Ia sodorkan pena dan kertas pada Aki Glagah.
Darimana kau bisa tahu? Aki Glagah menulis dengan perasaan heran juga tak percaya.
Orang itu lihay, mungkin dia seangkatan dengan Aki sekalian atau bahkan kenalan lama, saya tidak dapat mendeteksi keberadaanannya, namun saya bisa membaui keberadaan orang lain—orang yang bukan berasal dari dalam rumah ini. Kemungkinan besar orang itu berada di tembok halaman belakang!
Empat orang yang membaca tulisan Jaka tercengang, antara percaya juga tidak percaya, bukan kaget dengan adanya kejadian itu, tapi mereka kaget melihat penjelasan Jaka. Tapi kemudian Aki Lukita teringat, Jaka menguasai Kitab Pertabiban yang pernah bikin heboh, tentu saja ada pelajaran mengenai perbedaan aroma dan bau-bauan. Keempat orang itu saling pandang, dan Ki Lukita kelihatan mengangguk.
Kenapa dia tidak mendekat kemari? Tulis Benggala, ia percaya dengan anggukan Aki Lukita.
Dia tidak berani melewati barisan yang berada di halaman belakang. Kemungkinan besar orang itu sekarang sedang mengamati kita di pepohonan belakang rumah. Sebab bau yang saya cium sedikit membunyar. Tulis Jaka.
Menurutmu percakapan kita disadapnya? Gunadarma turut menggoreskan kata tanya pula.
Kalau tokoh itu selihay aki sekalian, kemungkinan besar dia mendengarkan percakapan kita, tapi aki jangan kawatir, dia datang setelah setengah penjelasan guru. Biarpun dia tahu permasalahannya, hal itu tidak akan membuat rencana kita berantakan biarkan saja ia mengintai. Tulisan Jaka membuat mereka heran, namun sekejap saja mereka paham apa artinya. Rupanya Jaka ingin menjebak orang yang mengintai itu dengan percakapan palsu, agar orang itu terjebak.
Jaka kelihatan menulis lagi, Guru, semua yang hendak saya ceritakan ada pada lembar ini, aki sekalian juga boleh membaca. Dan saya harap guru tidak bertindak tergesa-gesa setelah membaca rencana saya, bahkan guru bisa santai.
Aki Lukita dan yang lainnya membaca keterangan Jaka agak tak mengerti, tapi segera mereka salah satu dari mereka membaca tulisan dalam empat lembar kertas itu.
“Jadi sekarang bagaimana guru?” tanya Jaka dengan suara seperti biasa, setelah mereka cukup lama terdiam.
Aki Lukita dapat membaca apa yang dimaksudkan Jaka, “Hh..” orang tua itu menghela nafas panjang. “Peta yang dibuat Rubah Api juga merupakan sesuatu hal yang amat penting!”
“Benar!” sambung Gunadarma. “Sebab Rubah Api mengatakan kalau di penyimpanan bukti itu terdapat sebuah peta lain, katanya peta itu merupakan peta harta karun..”
“Ah..” Jaka pura-pura terhenyak kaget. “Pantas saja Rubah Api di buru seperti binatang, rupanya mereka sudah tahu semuanya. Kita harus hati-hati bertindak!”
“Benar apa katamu Jaka,” sahut Benggala. “Bukan mustahil saat kita mencari tempat yang dilukiskan peta, ada orang yang menguntit semua gerak-gerik kita!”
“Kalau begitu, lebih baik guru serahkan peta itu pada murid saja, biar urusan ini murid selesaikan.” Setelah berkata begitu, Jaka menulis dengan cepat. Jika tidak keberatan, guru berita tahu saja dimana letak peta itu, biar murid yang mengurus segalanya.
Ki Lukita mengangguk, iapun segera menulis. Menurut Rubah Api, tempat penyimpanan peta itu ada di Sungai Batu, aku tidak jelas dimana letaknya, yang jelas ia sempat mengatakan sanjak begini, kemilau emas membentang pertama, kemilau suasa membentang akhir, tertuju pada sebilah pedang, kilatan tembaga selalu ikut serta. Hal itulah yang sempat ia katakan sebelum pingsan. Aku sudah memeras otak, tapi belum juga dapat kusimpulkan artinya. Setelah menulis begitu, Aki Lukita berkata,
“Baiklah, peta itu akan kuserahkan padamu, tapi ingat jangan sampai hilang, sebab peta itu sangat berharga!”
Setelah berkata begitu, terdengar suara ‘kriit’ rupanya Ki Lukita menggeser tempat duduknya dan ia berjalan untuk mengambil sesuatu.
“Jaga peta ini baik-baik!” pesan gurunya dengan muka antara tertawa dan tidak, kelihatannya dia suka dengan sandiwara yang diatur Jaka.
“Murid akan jaga sebisa mungkin!” jawab Jaka sambil menerima lipatan kertas dari gurunya.
“Memang seharusnya begitu,” sahut Ki Glagah, ia sudah selesai membaca apa yang ditulis Jaka. Orang tua itu kelihatannya tersenyum terus, ia mengacungkan jempol pada Ki Lukita. “Kau harus selalu bertindak hati-hati, siapa tahu orang yang membayangi tindakanmu adalah kenalanmu sendiri atau bahkan orang yang sama sekali tidak diperhitungkan!” kata Ki Glagah sambil menyerahkan kertas Jaka pada Aki Lukita.
“Jadi baiknya sekarang bagaimana? Malam seperti ini saya sama sekali tidak leluasa bergerak.”
“Itu tidak mengapa, lebih baik kau kembali ke penginapan. Kan masih banyak waktu untuk mencarinya.”
“Benar juga.”
Masih satu setengah kentongan dari tengah malam, Jaka teringat dia harus menemui orang lain di dekat kuil dekat perbatasan timur.
“Kalau begitu, sekarang juga murid pamit.” Ucap pemuda ini, tapi sebelumnya ia menghabiskan air teh.
Setelah berbasa-basi sejenak akhirnya Jaka keluar lewat pintu belakang, pemuda ini agak berkerut kening saat keluar. Bau lain yang ia cium masih terasa, tapi sosoknya tidak terlihat sama sekali. Karena malam bulan purnama, dengan gerakan sadar tak sadar, Jaka mendongkak keatas, tiba-tiba sekelebatan ingatan membuatnya lega.
“Saya berangkat…” begitu selesai berucap, tubuh Jaka bagaikan asap yang tertiup angin. Hilang begitu saja dari depan keempat sesepuh itu, sungguh sebuah ilmu peringan tubuh langka.
Begitu Jaka keluar, empat orang itu juga masuk kembali, dan suasana dalam rumah Aki Lukita kembali hening bagai kuburan, biarpun lentera di tiap sudut rumah menyala terang, tapi melihat kelengangan rumah itu, mau tak mau orang akan bergidik ngeri juga.
Satu sosok bayangan kelihatan berindap dari kerimbunan pohon di belakang halaman rumah. Orang ini mengenakan pakaian biru pekat, dari wajahnya orang akan menduga kalau usianya sekitar empat puluhan tapi siapa yang menduga kalau sesungguhnya sudah berusia enam puluh tujuh tahun?
Kiranya ia bersembunyi di pepohonan yang dahannya menjulur ke dalam halaman belakang. Karena dahannya amat besar dan menjulur sampai atas atap rumah dengan daunnya sangat rimbun, maka orang itu dengan mudah bersembunyi tanpa ketahuan, untung saja sebelumnya Jaka tanpa sengaja mengetahui tempat persembunyiannya.
Orang itu kelihatannya akan terus mengintai, tapi sudah sekian lama ia sama sekali tidak melihat gerak gerik di dalam rumah. Karena itu dengan peringan tubuh piawai, ia melesat dari dahan itu. Melenting tinggi dan turun tepat didepan pintu.
“Masuklah.” Seru suara dari dalam.
Pengintai ini tanpa ragu membuka pintu, dan dia segera duduk berendeng dengan empat orang sesepuh.
“Bagaimana?” tanyanya pada empat sesepuh itu.
“Hh…” Ki Glagah menghela nafas panjang. “Lebih dari yang diharapkan.”
“Maksudmu?”
“Kau gagal.”
“Tidak mungkin!” serunya berjingkrak kaget.
“Tapi ternyata dia tahu.” Sahut Ki Lukita sambil menyerahkan kertas berisi percakapan tadi.
Orang ini membacanya sepintas. “Mustahil…” desisnya tak percaya.
“Kami juga tidak menyangka.”
Terdengar gigi saling beradu, agaknya orang ini agak kesal. “Aku akan membuktikannya sekali lagi.” Tanpa bicara lagi dia bangkit dan berkelebat lenyap. Agaknya orang tersebut ingin membuntuti Jaka.
Angin berdesir lembut, dahan rimbun yang menjulur diatas atap rumah terlihat sedikit bergoyang karena angin atau mungkin bergoyang karena pijakan orang tadi?
Sebenarnya apa yang terjadi, ternyata pengintai tadi adalah kenalan empat sesepuh. Apa yang sedang mereka direncanakan?
Beberapa saat setelah orang itu pergi, nampak Ki Lukita dan tiga rekannya keluar.
Ki Lukita memandang dahan pohon yang tadi mendesir. “Aku tidak tahu, sebenarnya anak itu yang hebat atau kita terlalu tua untuknya?”
Ki Glagah tertawa. “Seharusnya kau bersyukur punya penerus seperti dia. Aku iri.”
“Ya, aku memang bersyukur.”
“Apa yang diperhitungkan anak itu benar-benar jitu.. sangat cermat!” puji Ki Gundarama lebih lajut.
“Aku bahkan tidak menduga sama sekali,” sahut Ki Lukita. “Dugaanku, dia baru saja terjun kekancah rumit, tapi siapa yang menyangka kalau beberapa bagian rahasia yang dulu kita peroleh bertahun-tahun dapat ia berolah dalam waktu satu hari saja?”
“Aku sudah bilang, anak itu memiliki peruntungan sangat bagus. Mungkin apa yang disebut penemuan tak terduga adalah beberapa persoalan yang kini ia hadapi,” timpal Benggala.
Ki Glagah dan Ki Lukita menggumam saja, sementara Gunadarma tidak berkomentar lagi, karena dia masih membaca tulisan Jaka.
“Bahaya… ini mungkin terlalu berbahaya, kuharap ini bukan rencana gegabah.” Gumam Gunadarma setelah selesai membaca empat lembar kertas itu, ia segera menyerahkan pada Benggala.
“Kupikir tidak demikian,” sahut Ki Glagah. “Kau tidak perlu cemas, orang secerdik dan sepintar dia jarang ditemui. Aku ingin melihat bagaimana dia menyelesaikan urusan ini, andaikata ia memperoleh kesulitan, masa tidak dapat memecahkannya? Bekalnya lebih dari cukup.”
“Mudah-mudahan demikian.” Ujar Ki Gunadarma dan Aki Lukita hampir bersamaan. Sebab menurut mereka, Jaka masih terlalu muda, sedangkan perkumpulan yang dihadapinya sangat misterius dan sudah terorganisir hampir setengah abad.
Rasanya hampir mustahil kalau seorang diri bisa menyusup tanpa ketahuan, apalagi sampai merongrongnya dari dalam.
Andai saja mereka tahu siapa-siapa yang mendukung Jaka, barang kali Ki Lukita akan berpikir seratus kali untuk mengangkatnya sebagai murid.

***
Bayangan gelap berkelebat cepat bagai setan gentayangan, sejauh itu kelihatannya ia seperti orang bingung. Sebab sebentar-sebentar berhenti dan menoleh kekanan kiri.
“Kemana dia?” gumamnya.
Bayangan itu adalah orang yang mengintai di tempat Ki Lukita. Ia membayangi Jaka untuk melihat sejauh mana pemuda itu mengetahui rahasianya.
Tapi setelah sekian lama mencari, ia sama sekali tidak melihat bayangan orang yang dimaksud.
“Begitu lihaykah peringan tubuh anak muda itu?” gumam orang itu dengan terheran-heran. Karena tidak menjumpai bayangan Jaka, akhirnya orang itu berlalu, begitu bayangannya hilang, dari kegelapan melesat kembali sosok bayangan hitam yang berkelebat tak kalah cepat. Arah yang diambil bayangan itu sama dengan lelaki tadi.
“Apa memang disini dia tinggal?” gumam sosok itu yang ternyata Jaka adanya. Memang tidak malu pemuda itu dikatakan manusia cerdik, sebelum ia berlalu dari rumah Aki Lukita, sebetulnya ia hanya mengambil jalan memutar dan kembali kerumah Aki Lukita. Dengan sabar Jaka menunggu munculnya orang yang mengintai tadi, Jaka ingin melihat macam apa si pengintai itu, dan ternyata perkiraannya sangat tepat, sebab begitu ia pergi tak berapa lama kemudian orang yang mengintai membuntutinya. Tapi sampai sejauh itu lelaki pengintai tadi sama sekali tidak sadar bahwa sesungguhnya dirinyalah yang dikuntit Jaka.
Sayangnya Jaka tidak tahu kalau pengintai itu sempat bercakap-cakap dengan empat tetua.
Hingga akhirnya Jaka menemukan lelaki tadi masuk kesebuah rumah penduduk. Rumah yang dimasuki tadi bukan rumah yang terpencil atau rumah kecil yang mencurigakan, tapi justru rumah yang umum ditinggali penduduk, lagi pula letaknya dengan rumah penduduk lainnya berdekatan, bahkan satu komplek dengan rumah lainnya.
Tentu saja Jaka memperhatikannya dari jarak jauh saja, biarpun Jaka yakin perhitungannya benar, tapi pemuda ini tidak mau bertindak ceroboh dengan mengabaikan kemungkinan lain. Misalnya saja lelaki itu sudah tahu kalau dirinya dikuntit, dan ia sengaja memancing Jaka mendekati tempat yang sama sekali tidak di sangka.
Persembunyian seorang pesilat kawakan paling ideal memang berada ditempat yang ramai, musuh-musuhnya sama sekali tidak pernah menyangka kalau tempat tetirahnya tidak di pegunungan sunyi atau terpencil. Bisa juga orang itu.. tapi bagaimanapun juga kemungkinan lainnya tidak dapat kulepaskan, pikir Jaka.
Dengan tindakan mendekati kecerobohan, Jaka merosot turun dari pohon. Biasanya orang yang mengintai, dia akan selalu bertindak hati-hati, tapi dalil itu tidak berlaku bagi pemuda ini. Jaka memiliki berpendapat aneh, ‘tindakan orang bodoh bisa mengacaukan perhitungan orang cerdik,’ tentu saja bukan karena kebetulan dia bisa berpikir demikian, semua itu memang di dapat dari pahit getir pengalaman hidupnya.
Jaka berjalan kearah timur, tujuannya sudah pasti, yakni kuil yang ada di perbatasan timur kota. Waktu yang dijanjikan antara Bergola dengan gurunya masih dua kentongan lagi, tapi Jaka mempunyai janji dengan orang lain, dan waktunya tinggal seperempat jam lagi. Dengan berjalan santai seperti itu tentu saja memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk sampai diperbatasan, tapi Jaka seolah tidak memperdulikan hal itu.
Malam itu sinar bulan begitu terang, jalan itu benar-benar diterangi sinar rembulan. Jaka sangat menikmati suasana terang bulan itu. Matanya tidak habis-habisnya melirik kekiri kanan dan keangkasa. Jaka melihat di kiri kanan jalan yang ia lalui penuh ditumbuhi rerumput liar setinggi lutut, ia juga melihat rumput-tumput itu digoyang angin malam. Lalu Jaka melihat beberapa pohon jambu air yang sudah berusia belasan tahun, pohon itu begitu besar dan kokoh, bayangan pohon itu terlihat membulat ditanah karena tersorot sinar bulan.
Kemudian didekat pepohonan itu banyak terdapat pohon-pohon bambu. Bambu yang doyong dengan lemah kekiri dan kekanan karena tertiup angin. Semuanya begitu alami dan ‘terlalu alami’ hal itu membuat Jaka tersadar bahwa ada sesuatu yang membuatnya harus memberikan perhatian lebih.
Setelah berjalan jauh, Jaka membalikan tubuhnya. “Tuan, apakah anda ada keperluan denganku?” tanya Jaka dengan lirih, pandangan matanya mengawasi rumput dan rumpun bambu. Padahal jalan yang dilewati Jaka saat itu sunyi senyap, tanpa rumah penduduk dan seorangpun tidak terlihat.
Tidak ada tanda-tanda adanya manusia, tapi wajah Jaka sangat tenang, dia yakin sekali kalau ada orang yang mendengarnya, juga membuntutinya. Setelah beberapa saat tiada tanda adanya orang lain, Jaka membalikan tubuhnya, tapi sebelumnya ia berkata.
“Jika tuan tidak ada keperluan, saya harap tuan silahkan meninggalkan jalan ini atau memperlihatkan diri. Tapi kalau tuan memang kebetulan satu perjalanan dengan saya, silahkan meneruskan tujuan anda, dan satu hal yang perlu saya ingatkan kepada anda, tepatnya pada anda semua, jika anda ingin menyelidiki apa, bagaimana dan siapa saya, maka langkah yang paling baik tidak perlu mengganggu segala tindakan yang akan saya kerjakan, sebab saya kira itu hanya akan menyulitkan langkah anda sendiri. Ini permintaan dari saya.. tapi, jika kalian menganggap ini peringatan-pun, malah lebih baik.”
Jaka kembali meneruskan langkahnya, kali ini langkah pemuda itu agak sedikit lambat dari yang tadi.
Apakah pemuda ini sekedar paranoid? Tidak. Jauh-jauh hari, sebelum dirinya terlibat dalam gegap gempita dunia persilatan, dia merasa selalu ada yang membuntuti, tak perduli bagaimanapun caranya mencari, pembuntut itu tak pernah dia temukan. Dengan sendirinya insting Jaka terasah untuk mencium keadaan yang tidak membuatnya nyaman itu.
Lalu, darimana kali ini Jaka mengetahui ada orang yang menguntitnya? Tentu saja kalau orang lain yang menghadapi hal semacam itu, tidak akan pernah sadar kalau dirinya dikuntit.
Alasan pertama; adalah rumpunan rumput yang tidak ikut tertiup semilir angin, memang Jaka melihatnya hanya sekilas saja, tapi pemuda ini segera tahu itu tidak wajar. Rerumput setinggi betis yang terkena angin, pada umumnya bergoyang sampai pertengahan—atau bahkan lebih—badan rumput itu, tapi ada beberapa bagian dari, katakanlah lahan rumput, yang tidak bergoyang karena tertiup angin. Bergoyang memang, tapi hanya satu atau setengah jengkal dari ujungnya, tentu saja mudah menyimpulkan keadaan seperti itu, yakni ada sesuatu atau tepatnya orang yang bersembunyi disitu sehingga menahan desiran angin.
Kemudian Jaka juga menyadari orang yang mengamati dirinya itu lebih dari satu, karena gerakan rumpun bambu terlalu alami! Seharusnya pohon bambu yang terkena angin, yang bergerak itu hanya ujung pohon yang diatas dan daun-daunnya saja, tapi kenapa pada bagian batang bambu yang besar juga bergerak lemah?
Ada dua penyebab kenapa ‘dia’ menggerakkan batang itu, pertama; sebelumnya angin terlalu keras, sehingga batang bambu juga ikut bergerak, karena ia berada ditengah rumpun bambu, perubahan angin diluar tidak bisa ia rasakan, maka dengan menggerak-gerakan batang bambu, membuat ia yakin kalau persembunyiannya tidak akan diketahui. Alasan kedua; situasi yang ia ciptakan adalah kamuflase sebuah penguntitan dan persembunyian ketiga, artinya ia memancing perhatian siapapun yang lewat disitu—seandainya dia orang cerdik, agar berpikir bahwa memang disitu ada yang bersembunyi.
Dan memang benar! Disitu ada yang bersembunyi. Tetapi setelah itu, sadarkah kalau orang ketiga akan menguntit si pelewat jalan? Mereka—orang secerdik Jaka, pasti beranggapan kalau persembunyiannya sudah ketahuan, jalan yang diambil adalah berdiam diri, atau menampakkan diri. Jarang ada yang berani menguntit. Namun teori seperti itu sudah berada digenggaman Jaka.
Untuk orang biasa tidak akan sampai terpikir keadan itu janggal, tapi untuk Jaka keadaan itu justru sangat memperlihatkan kelemahan sebuah persembunyian, iapun tahu alasannya kenapa. Orang yang bersembunyi itu, terlalu takut kalau tempatnya ditemukan, sehingga ia ikut menggerakkan batang bambu saat angin keras datang. Dan tentu saja dengan mudah Jaka menyimpulkan kalau pengintainya lebih dari satu orang.
Hanya saja sesungguhnya dalam hati Jaka, saat melihat kejanggalan pada lahan rumput, Jaka tidak terlalu yakin kalau ada orang yang bersembunyi dengan bertiarap disana, sebab bisa jadi itu bukan orang lagi, tapi batu, atau… mayat?! Memang masa itu pembunuhan banyak terjadi dimana-mana, apalagi kaum kelana dan pesilat yang terbiasa dengan kekerasan, membunuh bagi mereka serupa dengan berburu.
Tapi pikiran jelek seperti itu segera dihilangkan Jaka, sebab tidak mungkin ada orang yang berani nekat melakukan pembunuhan disaat banyak jago sakti berkumpul di kota itu. Dengan demikian Jaka segera menyimpulkan kalau yang berada di rumput itu sesungguhnya pengintai!
Hanya saja, Jaka dipusingkan dengan satu hal, yakni apakah orang-orang itu datang lebih dulu dari dirinya atau sebelum dirinya sampai disitu? Kalau memang orang-orang itu mengintai dengan jalan menguntitnya, Jaka tidak akan ambil pusing. Tapi persoalannya, ia menemukan kenyataan, bahwa mereka datang lebih dulu dari dirinya! Karena ia menemukan kejanggalan pada rumput dan bambu saat ia melewatinya, dengan demikian ia dapat memastikan kalau orang yang bersembunyi disitu pasti lebih dulu darinya.
Kadang, terlalu banyak ingin tahu memang tidak baik. Mungkin saja mereka bersembunyi disitu karena menanti kedatangan orang lain, kenapa aku membongkar keberadaan mereka? Bisa-bisa dengan kejadian tadi aku dianggap musuh.. pikirnya sembari nyengir.
Jaka tidak memikirkan persoalan tadi ia kembali mempercepat langkahnya, dan akhirnya peringan tubuhnyapun ia terapkan. Bagaikan burung garuda, sosok pemuda itu melesat cepat di keremangan sinar rembulan.
“Tak sangka bertemu manusia cerdik!” gumam sebuah bayangan yang berada di rerumputan.
“Kurasa apa yang diperintahkan tuan muda, cukup sampai disini. Berurusan dengan orang cerdik seperti dia, mungkin saja cuma sial yang kita dapatkan.” sahut satu sosok lagi.
“Mungkin…” sahut sebuah suara. “Ada pepatah mengatakan, jika ingin melihat naga, jangan mengusik tidurnya, kurasa apa yang dikatakan pemuda itu sangat beralasan, kita bisa membuntutinya untuk mengetahui siapa dia sebenarnya, tapi dengan syarat jangan mengusiknya. Kita juga tidak ingin semuanya berantakan, apalagi sampai menyeret tuan muda kedalam masalah pemuda itu!”
“Baiklah kalau itu memang keputusan kita! Jadi saat ini, kira-kira kemana ia pergi?”
“Tidak perlu kita repot mencarinya, kalau sebelumnya tuan muda sudah memperhitungkan bahwa dia memang akan lewat dijalan sini, berarti tujuan berikutnya tuan muda sudah mengetahuinya, lebih baik kita tanyakan saja.”
“Baiklah…” tiga suara terdengar menyahut. Lalu suasana kembali hening mencekam. Dalam rumpun bambu dan gerombolan rumput semak terlihat sedikit goyangan tak wajar, empat orang itu sudah meninggalkan tempat persembunyian mereka dan entah kemana.
Malam kian menua, sosok bayangan kembali muncul dari balik rumpun bambu. “Perlukah aku menguntit mereka?” gumamnya. Ternyata bayangan itu Jaka adanya, tentu saja kalau empat orang itu tahu bahwa Jaka masih ada disitu mereka akan mengutuki kebodohan masing-masing.
Setelah pergi, Jaka memang kembali lagi ketempat itu untuk menyelidiki kembali, ia ingin membuang rasa gundah yang melanda otaknya, tapi siapa sangka malah mendapatkan hasil diluar dugaan. Ternyata gerak-geriknya sudah diperhitungkan orang lain! Apakah mereka penguntit yang sama? Orang-orang yang selalu mengikuti dirinya sejak dulu? Jika tidak, tuan empat orang itu mungkin merupakan manusia yang memiliki kewibawaan besar dan amat cerdik.
Rasanya, tak berapa lama aku akan kembali bertemu dengan mereka, tidak perlu kuikuti.
Jaka memandang arah bulan, Wah.. agaknya waktu perjanjian dengan mereka yang menunggu dikuil terpaksa terlambat setengah kentungan. Hitung-hitung sebagai pelajaran. Menunggu itu melatih kesabaran, dan kesabaran itu menjadi dasar tiap orang yang masih berjiwa manusia. Aku ingin tahu apa mereka orang yang perlu diajar atau orang yang cukup di beri peringatan?”
Kali ini Jaka benar-benar meninggalkan tempat itu. Gerakan yang ia gunakan biasa saja, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat, yang jelas dengan gerakan tubuh seperti itu, Jaka bisa sampai di tempat tujuan setengah kentungan atau lebih!

—ooOoo—

23 – Perjumpaan Yang Tak Sesuai Rencana

Suasana perbatasan di wilayah timur, kelihatan lengang. Kalau di hari biasa, penduduk kota itu juga jarang kesitu, sebab yang namanya perbatasan tentu saja selalu dilalu orang-orang yang berniat keluar-masuk kota.
Tak jauh dari gapuran perbatasan, ada sebuah kuil cukup besar. Kuil itu sudah ditinggalkan penghuninya, disana sini banyak semak meranggas. Kuil itu disebut para penduduk kota sebagai Kuil Ireng atau kuil hitam. Disebut itu karena baik siang atau malam dinding kuil yang seharusnya abu-abu selalu terlihat hitam legam. Tentunya kalau malam orang tak perlu memikirkannya, sebab tiap benda berwarna selain putih pasti terlihat hitam. Tapi karena disiang hari kuil itu selalu dilindungi bayangan pohon besar se¬hingga sinar matahari tidak bisa menembus sedikitpun, karena itulah dinding yang kelabu terlihat hitam.
Kuil itu jarang disinggahi orang, kata penduduk setempat Kuil Ireng termasuk angker. Entah apa yang membuat orang menyebutnya begitu, yang jelas ada alasan tertentu.
Jaka sampai ditempat itu lebih lambat setengah kentongan dari waktu yang dijanjikan. Dia mengedarkan pandangannya, banyak pepohonan besar disekitar kuil. Karena saat itu Jaka berada ditempat terbuka, tentu saja bila ada orang bersembunyi disitu, akan melihat kedatangannya.
Jaka bersiul, menirukan suara burung malam, suaranya cukup keras. Di keremangan malam, terdengar suara semacam itu, jika kau seorang penakut, pasti akan berpikir segera berlalu dari tepat itu. Pemuda ini menunggu sesaat, sebelumnya Jaka tak berpikir untuk menggunakan ‘cara bodoh’ seperti itu untuk memberitahukan kehadirannya, tapi untuk saat ini, dia memang ‘cara bodoh’ itulah yang dirasa tepat.
Jaka menunggu sesaat, dan ia melihat tiga sosok berkelebat cepat kehadapannya.
“Hm…” pemuda ini menggumam penuh arti. Ia melihat orang yang menyamar jadi pelayan juga ada. “Maaf kalian menunggu terlalu lama, aku ada kepentingan mendadak, jadi kedatangku tertunda.” Kata Jaka berbasa-basi.
“Tidak apa-apa,” sahut orang yang berdiri paling depan.
“Kaukah yang menjadi tuan dari dua orang itu?” tanya Jaka.
“Benar, akulah orangnya, aku Mahesa Ageng!” sahut orang itu dengan nada tegas dan berwibawa.
“Tidak mengecewakan,” sahut Jaka sambil tertawa. “Apakah kalian membawa barang-barangku?”
“Tentu saja!” sahut Mahesa Ageng tanpa ekspresi. Ia menoleh dan meminta barang pada orang yang berada disebelah pelayan gadungan. “Ini barangmu!” katanya sambil menyerahkan buntalan barang itu pada Jaka.
“Tunggu dulu,” seru Jaka cepat saat tangan Mahesa Ageng terulur. “Aku ingin pelayanmu yang memberikan padaku…” kata pemuda ini membuat wajah Mahesa Ageng berubah sesaat.
Permintaan Jaka disetujui tanpa mengucap sepatah katapun. Jaka menerima buntalannya dari tangan pelayan gadungan. “Eh, omong-omong siapa namamu?” tanya Jaka pada si pelayan itu.
“Durba!” jawabnya singkat.
“Durba ya, memang sudah seperti yang kuduga.” Gumam Jaka dengan tersenyum penuh misteri. Setelah menerima barangnya, Jaka tidak segera memeriksanya, perbuatan Jaka ini membuat ketiganya tercengang.
Tiga orang itu saling berpandangan, wajah mereka kelihatannya agak tegang.
“Baiklah kalian boleh pergi.” Kata Jaka dengan santainya, ia membalikkan badan.
“Eh, ta-tapi…” tiba-tiba saja Durba berseru.
“Tapi apa?” tanya Jaka.
“Bag-bagaimana dengan penawarnya tuan?” tanya pelayan itu dengan wajah cemas, sesekali ia melirik tuannya.
“Aku tidak akan memberikannya, sebab dua orang temanmu itu bukan orang yang ingin kutemui, walau aku belum pernah melihat kawanmu yang lain, tapi aku yakin keduanya yang sekarang berdiri didepanku, bukan sosok yang berkunjung kekamarku. Jika kalian ingin main-main denganku, mungkin.. ini sangat tidak tepat. Tidak baik, tidak baik…” Kata Jaka masih dengan suara ramah.
Pemuda ini kembali melangkah pergi. Wajah Durba dan dua orang lainnya berubah, kalau wajah Durba berubah pucat pasi karena kawatir, dua orang lainnya tampak kelam membesi.
“Berhenti kau!” bentak orang yang mengaku sebagai Mahesa Ageng.
Jaka berhenti, ia menoleh sambil tersenyum. “Ada apa tuan? Apakah anda ingin merintang jalanku?” tanya pemuda ini dengan sikap yang sangat tenang.
Mahesa Ageng kelihatan tercengang, “Kalau benar, kenapa?!”
“Kalau benar, berarti kau harus segera menyiapkan pemakamanmu.” Sahut Jaka halus dengan nada berduka.
Ucapan Jaka yang pasti, tindak tanduknya yang begitu tenang, membuat Mahesa Ageng terkejut, tapi wajahnya sama sekali tidak menampilkan perubahan.
“Hh!” ia mendengus keras. “Kau menggertak?!” geramnya dengan suara mengancam.
Jaka menatap Mahesa Ageng dan satu orang lainnya yang mengurung dirinya.
Tiba-tiba saja Jaka tersenyum geli, biarpun senyum itu tak menandakan apa-apa, tapi dari raut wajahnya Jaka seolah menunjukan kejadiannya sangat lucu.
“Kalian lucu sekali, sungguh beruntung nasibku bertemu pemain sandiwara hebat, seperti engkau ini!”
“Keparat!” dengus lelaki yang disamping Mahesa Ageng. Ia menyerang dengan satu pukulan.
Jaka tersenyum sambil menghindar. “Pukulan bagus, sayang luput, kelihatannya latihanmu belum sempurna!”
“Bangsat, jangan menghina!” geram orang itu marah. Ia mengerahkan serangan berantai yang amat luar biasa. Andai saja ada orang berpengalaman yang melihat serangan itu, tentu dia akan mengatakan serangan lelaki itu adalah rangkaian jurus Matahari Tanpa Kutub salah satu andalan dari Perguruan Matahari Tanpa Sinar yang ada di wilayah Timur.
Serangan lelaki itu mengalir seperti air bah, tanpa putus-putusnya mematikan gerak langkah Jaka. Tapi anehnya tiap serangan yang bagaimana sulit dan berbahaya sekalipun, tidak dapat menyetuh Jaka. Lima puluh jurus berlalu dengan sia-sia, lelaki itu sadar, Jaka selalu mengalah. Kelihatannya pemuda ini hanya memperhatikan serangannya saja.
“Sungguh serangan yang bagus, dasar ilmu silatmu sangat kokoh,” puji Jaka. “Tapi sayang sekali, kau mempercepat jalan kematian!” sambung Jaka dengan tersenyum ringan.
“Tutup mulut anjingmu!” maki orang itu marah.
“Uh, selain tak becus menyerang, kau juga punya serangan mematikan dengan memaki orang,” goda Jaka sambil berkelit. Gerakan Jaka sangat wajar dan tidak dibuat-buat, Mahesa Ageng yang dari tadi memperhatikan cara Jaka mengelak, wajahnya makin melegak heran. Seolah pemuda itu mengetahui gerakan apa yang akan diperbuat temannya.
Tiba-tiba saja Jaka berkelit, dan menubruk ke arah Mahesa Ageng. Tentu saja orang itu tidak ingin serangan Jaka menngenainya, dengan cepat Mahesa Ageng menggeser langkah kekanan, tapi sayang gerakannya kurang cepat, lengannya sempat terpegang Jaka, tapi dengan sigap orang itu mengibasnya.
Jaka tertawa, seolah mengejek, “Hebat betul bisa menghindar.” Puji Jaka dengan suara dalam. Wajah Mahesa Ageng kelihatan kelam mendengar pujian Jaka yang berarti sindiran baginya. Ia ingin menyerang, tapi Jaka dengan cepat membaca situasi, ia melompat menjauh dan kembali bergebrak dengan lawannya.
Seratus jurus sudah berlalu dengan cepatnya, tapi jangankan menyarangkan pukulan, menyentuh ujung baju Jaka saja, orang itu sama sekali tidak bisa.
“Kena…” seru Jaka sambil tertawa. Pemuda ini mengarahkan tinjunya kemuka si penyerang.
“Ih…” lelaki itu terkejut sekali, dengan cepat ia menghindar kesamping, tapi karena terlalu terburu-buru, keseimbangan badannya tidak terjaga ia malah terguling-guling.
“Keparat!” makinya dengan amarah makin memuncak. Tapi ia tidak bisa melampiaskan amarahnya, sebab setiap seranganya tidak bisa menyentuh Jaka. Bahkan saking kesalnya tadi, ia melepaskan jurus penjagaan, dan menyerang membabi buta, tanpa di perkirakan saat ia melepas pertahanan atas dirinya, Jaka menyerang dengan satu pukulan sederhana.
“Cukup Gemanti!” bentak Mahesa Ageng.
“Benar kata kawanmu itu Gemanti,” sahut Jaka menimpali. “Kalau kau makin banyak mengeluarkan tenaga, maka racun yang kusebarkan tadi akan semakin cepat menjalar keseluruh tubuhmu!” kata Jaka.
Mendengar ucapan Jaka, orang yang disebut Gemanti itu tercekat dengan muka pias. “Huh! Segala macam bualan kau keluarkan aku tak akan percaya!” dengusnya marah.
“Aku tidak hanya sekedar menggertak, kalau kau tidak percaya, sekarang coba kau tekan paha kiri dekat kemaluanmu dan bahu kiri satu jengkal dari leher…”
Kata-kata Jaka makin membuat wajah orang itu memerah jengah tapi merasa kawatir juga, apalagi Jaka berkata serius. Tapi bagaimanapun ia harus segera memeriksa tempat yang dikatakan Jaka. Ia menekan tempat itu, tiba-tiba saja ia menjerit dan jatuh terduduk, hingga akhirnya terguling rebah.
“Bagaimana, aku tidak bohong bukan?” tanya Jaka sambil tersenyum ramah.
Bagaimana bisa begitu? Apakah Jaka menggunakan racun?
Tentu saja kejadian sesungguhnya Jaka sama sekali tidak menyebarkan racun, Jaka mengatakan hal seperti itu karena ia paham benar dengan tata letak syaraf manusia. Jaka sengaja memancing Gemanti untuk menyerangnya dengan segala kekuatan, dan dengan jarak hindar yang ia kehendaki pula, sehingga Gemati sering melakukan pukulan dan tendangan tak terarah, dan terus buru-buru menyerang pula, manakala dia menganggap sedikit lagi Jaka bisa terpukul olehnya. Gerakan memukul dan menendang yang dipaksa keluar dari pakem jurus itulah, yang membuat gumpalan darah yang terhimpit lemak, berhenti pada syaraf paha dan bahu, maka Jaka segera mengatahui kalau pada syaraf bagan paha dan bahu orang itu akan terjadi pembalikan aliran darah yang tidak stabil.
Boleh dibilang inilah kepandaian utama Jaka, dia mengetahui efek apa yang akan terjadi manakala seseorang melakukan sebuah gerakan. Tentu saja bukan cuma itu, gerakan menghindar Jaka-pun merupakan satu syarat mempercepat reaksi penyumbatan darah. Olah langkah Jaka yang cermat dalam menarik semua emosi lawan, membuatnya makin leluasa ‘mengerjai’ lawannya.
Seperti pada saat Gemanti menyerang lurus kedepan, Jaka menghindar kesamping, dengan sendirinya Gemati akan menyerang ke samping kiri atau kanan dengan kaki atau tangannya. Pada saat serangan kedua dilakukan, Jaka menghindar kembali keposisi awal, begitu seterusnya. Artinya, Jaka-lah yang mengontrol cepat lambatnya, aliran darah itu berantakan. Jika aliran darah tidak lancar, pembuluh darahpun segera merasakan akibatnya. Lambat-laun serangannya tak bisa lagi menggunakan tenaga dengan optimal. Walau dia menyerang dengan jurus secara ‘rapi’ dan ‘teratur’, tapi jika distribusi aliran darah dalam tubuhnya terganggu, diapun akan segera merasakan akibatnya. Belum lagi ditambah pengerahan tenaga yang tidak seimbang karena emosinya terpancing, klop-lah jebakan Jaka.
Dengan demikian Jaka bisa membuat seseorang percaya bahwa ia ahli dalam racun karena bisa mempengaruhi tubuh seseorang.
Karena Gemanti terlalu banyak mengerahkan tenaga, begitu ia menekan bahu dan pahanya sontak saja bagian itu jadi tempat kelemahan yang paling fatal. Karuan saja ia jatuh saking lemasnya. Seluruh tubuh ia rasakan tidak dialiri tenaga lagi.
Mahesa Ageng yang melihat keadaan Gemanti yang begitu menderita jadi ragu-ragu untuk menyerang Jaka.
Tentu saja Jaka tahu apa yang dipikirkan orang itu, pemuda ini segera memanfaatkan situasi.
“Kau pikir hanya Gemanti saja yang terkena racunku? Durba dan kau sendiri kena… jadi jangan bertindak ceroboh, kalau ingin hidup sampai dua hari dimuka. Ah, sebenarnya aku tidak bermaksud buruk, andai saja kau tidak membaluri racun pada buntalanku, tentu aku juga tidak akan menaburkan racunku pada kalian. Sayang sekali kau mencoba-coba bermain racun, apakah sebelumnya Durba tidak memperingatimu? Aku yakin dia sudah mengatakannya bukan?”
Wajah Mahesa Ageng terlihat kelam juga pucat pasi, sebab ia melihat Gemanti makin lama makin payah keadaannya.
“Kau jangan mengkawatirkan keadannya, untuk saat ini dia tidak apa-apa. Tapi satu jam kemudian ajal baru merenggutnya.” Kata Jaka dengan santai. Pemuda ini membalikan badan dan segera melangkah pergi.
“Tttu-tuan..” panggil Durba tergagap.
“Ada apa lagi? Apa kau ingin menanyakan kapan kau masih bisa hidup? Kalau begitu biarlah kujawab, kau masih memiliki waktu dua jam lagi. Racun yang berada dibuntalanku tadi sudah menyusup kepori-porimu, lalu racun yang kutebarkan dengan bantuan angin juga sudah kau hirup, dan sebelumnya bukankah kau sudah terkena racunku yang lain? Beruntung sekali kau akan mati tanpa penderitaan. Tiga kombinasi racun yang ada ditubuhmu membuat setiap saraf perasamu mati. Jadi, jangan kawatir kalau kau akan kesakitan.” Tutur kata Jaka terdengar enak, tapi siapapun yang mendengarnya merinding. Lalu ia membalikan tubuhnya kembali, siap untuk pergi.
“Bukan itu yang ingin saya tanyakan tuan…” seru Durba dengan suara diberanikan.
Jaka kembali membalikan badannya, “Jadi apa? Oh.. aku tahu, kau pasti ingin aku membantumu membebaskan tuanmu yang ditawan dua orang itu bukan?”
“Be-benar tuan… tapi dari mana tuan tahu?” tanya Durba heran dengan suara terbata-bata.
“Mudah saja, saat aku memanggil tadi, seharusnya.. sebelum tiga hitungan kalian sudah muncul. Tapi aku harus menunggu beberapa saat kemudian, lalu saat aku ingin pergi, hanya kau yang memanggilku dengan kawatir, mudah sekali bukan? Aih, aku harus minta maaf, karena sandiwara tadi tidak membuatku tertarik. Tapi boleh juga sikap tuan penyamar yang berperan sebagai tuanmu. Dia cukup berwibawa, sayangnya sudah terbongkar, hanya gara-gara kesalahan kecil semuanya jadi kacau!” ujarnya, lalu Jaka terdiam sesaat.
“Tapi, aku sedang mempertimbangkan maksudmu…” ujar Jaka seperti sedang berpikir. “Baiklah aku bersedia menolong, kemari kau!” perintah Jaka pada Durba. Kali ini Durba merasa dirinya benar-benar jadi pelayan. Ia mendekati Jaka dengan kepala tertunduk.
“Kau masih ingin hidup lama?”
“Tentu saja ingin!” sahut Durba cepat.
“Baik, jadi sekarang ini kau memintaku untuk membebaskan tuanmu?”
“Benar tuan, biar tubuh saya hancur lebur asal tuan majikan saya selamat, saya tidak menyesal!”
“Benar-benar pelayan yang setia!” puji Jaka. “Tenang sajalah, tanpa aku berbuat apa-apa, dia pasti akan menyerahkan majikanmu padaku. Kuyakin dia masih ingin hidup!” ucapan Jaka yang terakhir disertai lirikan pada Mahesa Ageng.
Setelah itu Jaka duduk dengan santainya ditempat terbuka itu. Durba mengikuti perbuatan Jaka, ia duduk di samping kiri belakang pemuda itu.
Jaka memandang Mahesa Ageng dengan tatapan lekat, pemuda yang berusia paling tidak dua puluh lima tahun itu kelihatannya makin gugup.
“Tuan…”
”Ada apa?”
“Bukankah tuan bilang kalau nyawa majikanku dan temanku hanya sampai besok saja? Sedangkan racun yang mengenai orang itu baru bereaksi setelah dua hari, lalu bagaimana kalau dia berpikir…” Durba tidak meneruskan ucapannya agaknya ia sadar kalau ucapannya itu bisa dijadikan senjata oleh Mahesa Ageng palsu.
Dan memang wajah pemuda itu tiba-tiba saja berubah agak tenang. Muncul sekulum senyum menyeringai dibibirnya.
Jaka memandang Durga dan Mahesa Ageng palsu sekejap. Lalu ia tertawa geli. “Oh Durba, si pelayan yang setia, kau ini terlalu lugu!” seru Jaka. “Tentu saja aku sudah memikirkannya sampai disitu, memangnya waktu aku berkelit dan memegang lengannya itu untuk apa? Tentu saja aku menebarkan racun yang lebih ganas. Paling tidak dia masih bisa hidup lebih lama satu jam dari kawannya…” Ucapan Jaka kontan saja membuat muka Mahesa Ageng palsu pucat pasi.
Jaka tidak banyak bicara lagi, tapi ia duduk seenaknya di atas batu sambil mengawasi Mahesa Ageng dan sesekali melihat Gemanti yang masih mengerang-erang.
Setelah beberapa saat berlalu, Jaka menghela nafas panjang. “Banyak jalan mencari surga, mengapa orang selalu ingin ke neraka? Memangnya neraka itu lebih asik dari surga? Ah, benar-benar membuat orang tidak habis pikir.” Gumam pemuda ini.
“Eh, Mahesa..” panggil Jaka dengan suara ramah dan bersahabat. “Kalau kau lelah kenapa tidak duduk, berdiri terus juga tak enak. Jangan-jangan kau sulit membuat keputusan ya? Aku yakin kalau kau sudah menyentuh mata kaki kanan kirimu kau tidak akan ragu lagi.”
“Hm, omongan busuk!” Geram pemuda itu agak kaget mendengar ucapan Jaka. Ia ingin melakukannya, tapi ia kawatir kalau kejadian serupa Gemanti menipa dirinya.
“Kau takut?” jengek Jaka mengejek. “Memang seharusnya begitu, menyekap orang untuk tujuan tak jelas dan takut bertindak memang tindakan pengecut. Jika memang begitu sifatmu, tidak ada alasan bagiku untuk menyalahkanmu!” kata Jaka dengan nada apa boleh buat.
“Keparat! Kau pikir kau ini siapa? Dari pada terhina, lebih baik kita mati bersama!” bentaknya dengan sangat marah.
Ia berkelebat menyerang Jaka dengan seluruh tenaganya. Deruan angin panas dan dingin merebak cepat, kesiuran angin serangan Mahesa Ageng palsu itu dapat membuat tulang ngilu. Tapi Jaka sama sekali tidak bergerak dari tempat duduknya. Nyali Durba tak seperti Jaka, dia buru-buru mengelak dan bersembunyi dibalik pohon. Saat serangan tinggal setengah tombak.
“Aaakh…”
Jerit kesakitan melengking menghiasi malam yang lengang. Tampak satu sosok ambruk tersungkur. Durba mengira Jaka terkena serangan itu, tapi ternyata yang jatuh tersungkur adalah Mahesa Ageng palsu.

—ooOoo—

24 – Singo Lugas, Matahari Dua Bukit

Mengapa Mahesa Ageng palsu bisa terjatuh sampai kesakitan seperti itu? Padahal Jaka tidak menyerangnya. Memangnya Jaka punya ilmu sihir? Selain Jaka, bagi siapun yang melihatnya, tak akan mengerti alasan lain kenapa dia jatuh, kecuali dia terkena racun. Tapi bagi Jaka, tak ada penjelasan lain, kecuali bahwa; orang itu terkena ‘strees’ ringan. Seperti yang telah dijelaskan, bahwa Jaka sangat menguasai semua pengetahuan anatomi tubuh manusia berserta syarafnya.
Mahesa Ageng yang berdiri lama dengan perasaan tegang dan tertekan, lalu akan segera menyerang Jaka, semua itu sudah diperhitungkan. Setelah Mahesa berdiri terlalu lama, Jaka segera memancingnya dengan kata-kata yang memanaskan telinga—memprovokasinya—untuk melancarkan semua perhitungannya.
Pada saat Mahesa berdiri lama dengan perasan tertekan, jalan darah di tubuhnya akan mengalir lebih cepat, dan kusus untuk jalan darah dikakinya akan mengalir lebih cepat lagi, andai saja saat itu Mahesa langsung menyerang Jaka maka dia tidak akan mengalami keadaan menyedihkan begitu rupa. Tapi Mahesa berdiri terlalu lama, sehingga aliran darah pada syaraf kakinya tidak sesuai dengan tarikan nafas—oksigen yang masuk—dan tak selaras dengan putaran hawa murninya.
Tentu saja itu tidak dirasakan Mahesa gadungan, sebab sebelumnya Jaka memicu dengan totokan halus pada lengannya; yakni saat Jaka menyentuh Mahesa palsu ketika dirinya di serang Gemanti.
Dalam keadaan itulah, Mahesa menyerang Jaka dengan sepenuh tenaga dalamnya, dan itu merupakan kesalahan fatal. Sebab dengan penghimpunan tenaga dalam yang mendadak, aliran darah pada syaraf kaki yang sedang mengalir cepat tersentak berhenti dengan paksa. Efek itu seperti orang yang terkena totokan dengan aliran darah sungsang atau kebalik, sakitnya tak usah ditanya.
Sesungguhnya yang dilakukan Jaka tadipun bisa dikatakan taruhan. Jika saja Jaka belum melihat ilmu macam apa yang dikuasai Mahesa Ageng gadungan, maka Jaka tak akan bersikap seperti itu (seolah-olah lawannya terkena racunnya). Lantaran ilmu yang dikuasai olehnya berhawa panas keras, Jaka segera tahu kalau hawa murni lawannya pasti sangat cepat bereaksi dengan sistem pernafasan. Dan pernafasan sangat tergantung pada emosi. Saat emosi memuncak, pernafasan akan makin cepat dan tak teratur, saat itupula sedikit banyaknya tenaga murni didalam tubuh Mahesa Ageng gadungan akan berputar mengikuti sirkulasi darahnya dengan tak teratur pula. Dan terjadilah malapetaka tadi…

“Argh…” erangan kesakitan pemuda itu membuatnya kelihatan makin mengenaskan.
“Aih.. jadi orang pemarah itu tak baik,” gumam Jaka. “Sudah kubilang jangan mengerahkan tenaga terlalu banyak, tapi kau membandel. Yah, apa boleh buat, sesaat lagi kau akan segera menghadap Tuhan,” kata Jaka dengan nada murung.
“Andai kau tadi mau menyentuh mata kakimu tentu kau tidak akan kesakitan seperti saat ini, sungguh sayang.”
Suasana malam yang diterangi sinar rembulan itu kelihatan makin mengerikan karena erangan Gemanti dan Mahesa Ageng gadungan.
“Cukup perbuatanmu anak muda!” terdengar bentakan menggelegar memecahkan keheningan malam yang ditingkahi erang kesakitan.
Tiba-tiba saja ditanah terbuka itu muncul seorang kakek berwajah merah yang memanggul dua sosok tubuh. Usia kakek itu kurang lebih enam puluh tahun, wajahnya yang merah kelihatannya sangar sekali. Pandangan matanya sangat tajam berapi, baju yang dikenakannyapun rapi dan mengesankan. Untuk sesaat Jaka terpana, tapi ia tidak ingin hatinya dikuasai perasaan terkejut.
“Ini temanmu!” bentak kakek itu sambil melemparkan Mahesa Ageng yang asli dan Dirga.
Jaka tidak gugup, ia menyambuti tubuh Mahesa Ageng, sedangkan Durba menyambuti tubuh Durga.
Tap! Tap!
Tubuh dua orang itu sudah tertangkap, tapi saat Durga menangkap tubuh rekannya, ia terpental dan baru berhenti setelah membentur pohon. Dada dan punggungnya terasa nyeri bukan main, sedangkan Jaka yang menerima Mahesa Ageng, sama sekali tidak terpental seperti Durba. Jaka menyambut tubuh itu dengan santai, dianggapnya si kakek melempar biasa saja. Padahal ia merasakan getaran kuat yang menyerang dada, tapi Jaka bisa menahannya.
“Terima kasih kek, kau baik sekali.” Kata Jaka sambil menjura masih dengan menggendong Mahesa Ageng.
“Tidak perlu berbasa-basi! Bebaskan dua orang itu dari racun laknatmu!” bentak si kakek dengan suara makin keras.
Jaka tertawa perlahan, wajahnya kelihatan bersemu, seperti gadis ketahuan mengintip pacarnya. Kelihatannya Jaka menikmati kejadian saat itu. Jaka menunduk sesaat, baru disadarinya sesungguhnya Mahesa Ageng (asli) hanya tertotok saja, pemuda itu masih dalam keadaan sadar.
“Kau sabar sebentar sobat, biar kuurus masalah ini.” Kata Jaka pada Mahesa Ageng. Jaka agak heran saat melihat wajah Mahesa Ageng tiba-tiba dari pucat agak berubah.
Mungkin dia malu dengan perbuatannya menyatroni kamarku, dan sekarang aku malah menolongnya, pikir Jaka.
“Ng.. tuan,” Durga kelihatan gugup.
“Ada apa?” tanya pemuda ini.
“Bukankah lebih baik tuan menurunkan majikan kami dulu?”
“Oh..” Jaka baru sadar kalau dari tadi ia masih memondong Mahesa Ageng. “Maaf sobat, tapi tidak apa-apa aku membopongmu agak lama bukan? Kau toh bukan wanita.” Kata Jaka bergurau. Tapi pemuda ini segera mendudukkan Mahesa Ageng di batu tempat duduknya tadi. Lalu Jaka kembali berhadapan dengan kakek itu.
“Maaf kek, kalau boleh saya bertanya, mengapa kakek berada disini? Apa tujuan kakek menyandera dua orang tadi, lalu apa kedatangan kakek kesini ada kaitannya dengan Perguruan Naga Batu? Apakah kakek berserta dua orang ini memiliki hubungan dengan perguruan tersohor, atau perguruan terkemuka?” Jaka bertanya tidak kepalang tanggung.
“Bocah keparat! diberi hati minta jantung?!” geram kakek itu dengan tangan terkepal kencang. Ia mengibaskan tangannya, seberkas angin padat yang panas menghambur kencang kearah Jaka.
“Ih…” Jaka terkejut, namun dengan tenang ia menggeser kaki kekiri dan tangannya bergerak gemulai bagai penari. Menyambuti serangan jarak jauh si kakek.
Brees!
Angin panas itu lenyap seketika, namun baju Jaka terlihat berkibar kencang karena terpaan pukulan jarak jauh itu.
“Wah, hanya anginnya saja sekuat ini. Ilmu yang luar biasa kek…” puji Jaka dengan tulus. Tapi kakek itu malah menganggapnya penghinaan,
Dasar…! Bocah ini dapat melenyapkan empat bagian tenagaku tanpa terguncang sedikitpun, hm.. sepertinya aku tidak boleh menganggap remeh anak ini! Katanya dalam hati.
”Bocah, boleh juga ilmumu!” dengus kakek itu geram.
“Ah, kakek terlalu memuji, ini semua belum apa-apa.” Kata Jaka sambil tertawa. Karuan saja ucapan Jaka membuat amarah kakek itu kian meledak, sebab secara tak langsung Jaka berkata padanya, aku sama sekali tidak mengeluarkan ilmu.
Dengan demikian berarti Jaka menyindir dirinya yang mengerahkan pukulan lihay dapat dipatahkan dengan gerakan ngawur. Tentu saja ucapan Jaka tadi menyinggung harga dirinya. Padahal Jaka tak bermaksud begitu.
“Coba kau terima lagi!” bentak kakek ini makin marah. Tangannya terangkat keatas, dan samar-samar terlihat memerah.
“Hiat!” pekikan bagai naga mengamuk berkumandang dimalam sunyi itu. Dua hawa panas yang luar biasa dahsyatnya menghantam Jaka yang berdiri dengan tenangnya.
“Ilmu hebat!” seru Jaka kagum sambil bergerak. Pemuda ini bukannya bergerak mundur untuk mengindar, tapi malah maju dengan pesat menghampiri dua pukulan dahsyat itu.
Blaap..!
Terdengar letupan lembut, tampak Jaka tergetar dua langkah, sedangkan kakek muka merah itu tergetar satu langkah.
Jaka berdiri tegak sambil memandangi kakek itu, pemuda ini mengibas-ngibaskan tangan. Sepertinya dia merasa kesakitan dengan benturan tadi, dan itu sudah membuat puas lawannya.
Dengan tertawa perlahan, Jaka berkata. “Kau hebat sekali Ki, sungguh menyenangkan.” serunya dengan nada gembira. “Maaf kalau saya bertindak tidak sopan,” katanya sambil menutup mulutnya yang masih menyisakan tawa.
“Dalam keadaan seperti ini, seharusnya kakek harus bersikap terbuka menghadapi pertanyaan dan tingkah saya. Karena kakek menyandera sobat-sobatku, kan wajar kalau saya bertanya seperti orang kehilangan anak?”
“Kau…” geram kakek itu dengan wajah kian merah. “Baiklah, aku akan jawab pertanyaanmu tadi,” katanya dengan nada mencoba diramahkan. Dia terpaksa harus berbuat begitu, karena kedua orangnya berada dibawah kekuasaan Jaka. Bisa-bisa kalau ia bertindak salah, Jaka akan membunuh dua orang itu, hal tersebut tidak ia inginkan sama sekali.
“Aku bernama Singo Lugas, orang-orang menyebutku Matahari Dua Bukit.”
“Maaf, saya yang lancang ini bernama Jaka..” potong Jaka sambil menyoja hormat. “Senang bertemu dengan tokoh angkatan tua seperti Ki Lugas.”
“Hmk…” Ki Lugas hanya menjengek sinis, lalu ia meneruskan keterangannya. “Dua orang itu adalah keponakan muridku, dan kami berasal dari Perguruan Matahari Tanpa Sinar.” Kakek itu menekankan ucapan terakhirnya, ia berharap Jaka akan terkejut, dan berbalik munduk-munduk hormat padanya—setidaknya Jaka menjadi jerih. Tapi harapnya tak terkabul karena pemuda itu kelihatan tenang-tenang saja.
“Aku kemari memang ada sedikit keperluan dengan Perguruan Naga Batu. Baru hari ini, aku dan dua murid keponakanku itu baru sampai dikota ini, kami berminat menginap di kuil, tapi tiba-tiba saja Gemanti melihat tiga sosok mengindap-indap dan bersembunyi di dekat kuil. Aku pikir ketiganya mungkin orang jahat, lalu dua orang keponakan muridku meringkusnya…”
“Tentu saja meringkus dari belakang…” ujar Jaka dengan nada datar.
“Benar!” kata kakek itu tegas tanpa menyembunyikan sesuatu, hal itu yang membuat Jaka kagum.
“Lalu kenapa harus menyamar menjadi dua orang sobatku?” tanya Jaka dengan nada sedikit mengejek.
“Sobat? Justru orang itulah yang mengatakan bahwa mereka sedang menunggu musuhnya!” geram Ki Lugas marah.
Jaka tahu yang dimaksud orang itu tentunya Durba. “Benar begitu?” tanya Jaka tanpa memalingkan wajahnya.
“Be-benar tuan, karena kita belum bertemu muka secara langsung maka saya menganggap tuan adalah musuh kami,” tutur Durga agak gugup.
“Oh, rasanya aku dapat meraba persoalannya.” Gumam Jaka. “Kalau begitu semuanya sudah kau ceritakan pada mereka?” tanyanya lagi.
“Tidak tuan, saya menceritakan bahwa kami bertiga teracuni dan suruh menunggu disini.”
“Mereka melihat isi buntalan?” tanya Jaka tanpa menghiraukan tatapan marah Ki Lugas.
“Tidak tuan.”
“Jadi siapa yang menaruh racun pada buntalanku?”
“Tentu saja orang yang menyamar jadi majikan kami tuan.”
“Betulkah begitu Ki?” tanya Jaka dengan nada datar tanpa tekanan emosi.
“Memang benar! Aku hanya heran kenapa engkau tidak lumpuh terkena salah satu racun khas perguruan kami?”
“Hm, Aki bilang racun usang Bubuk Besi merupakan racun khas perguruan tersohor? Sungguh aku tak dapat mempercayaianya!” gumam Jaka.
“Racun usang kau bilang?!” geram Ki Lugas kembali marah.
“Memangnya Racun Bubuk Besi lebih hebat dari Racun Tujuh Langkah milikku?” kata Jaka sambil tersenyum kecil.
“Ah…” Ki Lugas terlihat sangat kaget. “Racun Tujuh Langkah?”
“Memangnya keponakan muridmu yang bagus itu terkena racun apa, sehingga belum delapan langkah terus rubuh?” gumam Jaka dengan acuh tak acuh.
Kali ini Ki Lugas terpaksa percaya dengan bualan Jaka, sebab ia memang menyaksikan sendiri kejadian tadi. “Apa hubunganmu dengan Setan Rawa Racun?” tanya kakek ini dengan suara bergetar.
Pemuda ini terdiam sesaat, ingatannya kembali ke masa lalu, ada sebuah kenangan pahit dan manis dengan racun-racun yang kini dia sebut namanya. “Dia pembantuku!” jawab Jaka datar.
“Pembantu?” Ki Lugas menjengek tak percaya.
“Tak percaya? Kalau begitu kenalkah Aki dengan Racun Bunga Angin yang di idap Gemanti?”
“Bunga Angin?!” pekik Ki Lugas kaget. “Jadi Gemanti terkena racun keji itu?”
“Ah… jangan dibilang keji, toh keponakan muridmu itu belum mati.” sahut Jaka asal-asalan.
“Kau.. apamu-kah Trah Raja Racun?”
“Sudah tentu bukan guruku, mereka adalah pembantu orang tuaku, dan ayah memberikannya padaku!” sahut Jaka sekenanya.
Jaka sengaja menjawab seperti itu untuk memancing nama semua orang yang menguasai pengetahuan racun, dari Ki Lugas. Sekedar untuk ‘cek cross‘ saja, siapa tahu, ada nama orang yang belum di ketahui Jaka, tapi diketahui Ki Lugas.
“Ayahmu yang menaklukkan mereka?” gumam Ki Lugas setengah percaya setengah tidak.
Diam-diam Jaka jadi geli, sebab pembicaraan semula sudah menyimpang jauh. “Memangnya selain ayahku, siapa lagi yang bisa menundukkan orang-orang yang mengaku sebagai jago racun?” sahut Jaka dengan lagak bangga.
“Semua jago racun?” seru Ki Lugas kembali terkejut. Anak ini benar-benar bisa membuat orang ketularan sinting, pikir kakek ini gemas.
“Ya, mungkin Aki pernah mendengar orang berjuluk Petir Abang?” tanya Jaka dengan serius.
“Maksudmu manusia doyan racun dari negeri seberang itu juga ditaklukan ayahmu?” ujar Ki Lugas makin terkejut.
“Aku tidak bilang begitu, yang kutahu dia juga pembantu ayahku,” ujar Jaka dengan serius. Padahal dia tahu julukan itu karena dia memang pernah bertemu dengan Petir Abang. “Untung saja sebelum aku merantau, mereka sudah kutitahkan untuk tidak berkeliaran kesana-kemari. Saya takut mereka bakal mengacau, karena itulah ayah memberi mereka racun cekokkan yang paling ampuh. Pernah dengar Pil Kebenaran?”
“Hah… Pil Kebenaran?!” kali ini kaget Ki Lugas tidak kepalang tanggung. “Maksudmu pil yang dibuat oleh Tabib Hidup-Mati hampir dua abad lalu?”
“Memang ada yang lain? Tentu saja itu yang saya maksud, cuma pil itu bukannya dicipatkan dua abad silam. Nah, pertemuan kali ini biarlah sebagai tanda perkenalan kita. Perlu Aki ketahui, baru kali ini saya terjun di kancah persilatan secara terang-terangan. Saya ingin meminta sesuatu pada Aki, apakah Aki berkenan atau tidak?”
“Silahkan utarakan, aku akan mencoba menerima usulmu kalau tidak keterlaluan.”
“Tidak mungkin saya sampai berbuat begitu. Saya tahu Aki penasaran dengan asal usulku bukan?”
“Memang benar,” sahut Ki Lugas dengan nada tak sekasar dan sekeras tadi.
“Saya tak keberatan memberitahukan. Tapi saya minta untuk tidak menyebarkan pada orang lain.”
“Kalau itu yang kau minta, tentu saja aku mengabulkannya.” jawab Ki Lugas.
“Saya merupakan generasi kelima dari Sapang Saroruha (satu dahan bunga teratai) atau yang dikenal dengan sebutan Tabib Hidup-Mati. Karena itulah saya menguasai semua racun yang pernah muncul di dunia persilatan, jadi saya harap Aki memaafkan kelancanganku mengatakan racun Bubuk Besi sebagai racun usang, saya mengatakan begitu karena sejak kecil ayah selalu mendidikku dengan dasar racun, seperti Bubuk Besi, Bunga Kuning, Kayu Harum, Peluluh Mayat, Pelumpuh Syaraf dan lain sebagainya. Hampir satu tahun ayah menurunkan dasar-dasar racun seperti itu, karena itulah secara spontan saya menyebut racun perguruan Aki sebagai racun usang karena sejak kecil racun sejenis itulah yang memang harus saya kuasai.”
Penuturan Jaka yang begitu meyakinkan, apa lagi dengan adanya kejadian keracunan yang menimpa dua keponakan muridnya, membuat Ki Lugas jadi percaya penuh.
“Seperti dunia persilatan akan mengalami perubahan besar,” gumamnya setelah mendengar cerita Jaka.
“Apa maksud Aki?”
“Kemunculanmu mungkin akan membawa banyak badai atau juga meredakan semua badai..”
“Ah, aki terlalu membesar-besarkan. Saya kan sama seperti orang lain?! Mungkin ada kalanya saya bisa bertindak salah atau benar, itu kan sudah wajar… tapi satu hal yang perlu Aki ketahui, bahwa benar dan salah memiliki garis pembatas yang sangat nyata. Kebenaran, kejujuran, dan keadilan merupakan tujuan ayah mendidik saya.”
“Kalau benar begitu, alangkah baiknya!”
Jaka tidak menanggapi lagi, ia jongkok untuk memeriksa keadaan dua pemuda itu. Wajahnya memerah, karena malam semakin larut, maka perubahan wajah Jaka sama sekali tidak diketahui, kalaupun orang tahu tentu mereka mengira Jaka sedang serius. Tapi siapa yang tahu bahwa pemuda itu sedang menahan tawa?
Umpan yang tepat memang bisa mendapatkan ikan besar. Pikirnya dengan tertawa geli yang ditahan. Jaka pura-pura pegang sana pegang sini untuk memeriksa, setelah beberapa saat lamanya, Jaka menotok urat nadi leher dan menekan ulu hati Gemanti dengan jarinya. Erangan kesakitan Gemanti juga berhenti setelah Jaka menyudahi pengobatannya. Karena sebenarnya Jaka menotok urat syaraf hanya sebagai pelemasan dan pelancar jalan darah saja. Setelah selesai, dengan lagak mengusap keringat, Jaka lalu memeriksa Mahesa Ageng palsu.
Tangannya berada satu jengkal diatas tubuh pemuda itu. Ki Lugas yang melihat apa yang dilakukan Jaka menggeleng kagum, sebab kondisi tangan Jaka sepengetahuannya, adalah gerakan pemeriksaan urat nadi penting dengan tenaga dalam.
Orang yang bisa memeriksa nadi dan jalan darah seseorang yang terluka dengan menyalurkan tenaga dalamnya seharusnya termasuk golongan tokoh tua yang memiliki tenaga dalam lihay. Dan kini Ki Lugas melihat apa yang di lakukan Jaka itu merupakan pemeriksaan dengan menggunakan tenaga dalam yang hanya bisa dilakukan tokoh-tokoh tingkatan tua. Tapi apa Ki Lugas tahu kalau sesungguhnya Jaka tidak mengerahkan tenaga apapun? Bahwa; Jaka hanya menekan-nekan tangan diudara begitu saja?! Memang sepintas gaya Jaka sangat meyakinkan.
Arus dibelakang memang selalu mendorong arus didepan. Memang sudah seharusnya tunas-tunas cemerlang seperti pemuda itu yang memegang kesejahteraan dunia persilatan…. pikir Ki Lugas
Jaka menjalankan tangannya satu jengkal di atas sekujur tubuh pemuda yang sedang terbaring dengan menggeliat kesakitan itu. Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya Jaka menotok tujuh simpul syaraf dan nadi tangan pemuda itu.
“Selesai!” seru Jaka.
“Bagaimana keadaan mereka?” tanya Ki Lugas.
“Tidak apa-apa, semua racun sudah saya keluarkan dan tubuh mereka bersih dari racun. Gemanti akan pulih satu jam kemudian, sedangkan dia ini,” kata Jaka sambil menujuk Mahesa Ageng palsu, “Akan segera pulih setengah jam kemudian…”
“Benarkah?”
“Aki harus mempercayai saya, lebih baik aki menginap di kuil itu saja. Untuk dua jam akan datang saya akan tetap disini, karena saya memang ada kepentingan.”
“Baiklah kalau begitu,” lalu dengan entengnya Ki Lugas mengangkat dua keponakan muridnya kedalam kuil ireng.
Menunggu Ki Lugas menghilang dibalik kuil, Jaka baru membalikan tubuhnya.
“Nah, sobat.. sekarang saatnya menyelesaikan urusan kita.” Kata Jaka sambil tersenyum ramah.
“Tapi tuan…” sahut Durga dengan gugup.
Jaka mengangguk, tentu saja ia masih ingat kalau Dirga dan Mahesa Ageng masih tertotok. Jaka mengambil tangan Dirga yang lunglai.
“Hm, Ki Lugas terlalu keras turun tangan, kenapa harus menotok dengan Cara Anak Sebelas Sungai?”
“Anak Sebelas Sungai? Ha-ha, agaknya kau mengetahui istilah rumit itu anak muda?” ujar sebuah suara dari jarak jauh mengiang di telinga Jaka.
Jaka tahu kalau suara itu suaranya Ki Lugas. “Tentu saja tahu, kalau tidak, malu saya menanggung nama generasi kelima Tabib Hidup-Mati.” Lalu Jaka menyambung dalam hatinya, Sebelas totokan jalan darah yang membuat orang tak sanggup bergerak selama dua hari… bukanlah pekerjaan sulit.
Jika Ki Lugas tahu, apa yang dipikirkan Jaka, dia pasti mencak-mencak tak karuan. Maklum saja totokan Anak Sebelas Sungai, di pelajari dengan susah payah. Sedangkan Jaka menganggap itu sebagai pekerjaan mudah, bagaimana bisa setimpang itu? Tentu saja hal itu bisa dimaklumi, karena Jaka mempelajarinya ‘langsung’ dari sang ahli.

—ooOoo—

25 – Sobat Baru dari Perguruan Walet Hijau

“Ha-ha, bagus! Kau bisa tahu tentang totokan rumit itu. Kini kutantang kau melepaskan totokanku itu.”
Jaka tak menyahut, dia berpikir. Kakek itu sudah tua tapi masih suka bermain, tapi sifatnya yang blak-blakan cukup menyenangkan juga. Walau cepat emosi, diapun cepat mengerti. Kuharap aku dapat bersahabat dengan orang-orang seperti itu.
Plak! plak!
Jaka menampar kepala dan leher Durga tidak terlalu keras, dan anehnya tamparan Jaka membebaskan orang itu dari pengaruh totokan Anak Sebelas Sungai.
“Hebat, sungguh hebat! Terus terang saja aku tidak menyangka kau bisa membebaskan dengan cara seperti itu.…” puji Ki Lugas dari dalam kuil.
Jaka tak menyahut, tapi dia sangat kagum pada Ki Lugas, padahal hanya suara tamparan saja yang didengar, tetapi Ki Lugas sudah bisa mengerti cara apa yang digunakan Jaka. Diam-diam Jaka merasa gembira, bahwa apa yang dipelajarinya berguna banyak.
Kini ia mengalihkan perhatiannya pada Mahesa Ageng, ia menekan urat nadi Mahesa Ageng. “Wah, Tujuh Lingkar Urat, benar-benar kakek yang suka iseng.” Gerutu Jaka.
“Ha-ha, kau anak yang menyenangkan, sungguh lucu! Kalau Tujuh Lingkar Urat kau bilang iseng bagaimana pula dengan istilah Satu Jalur Mengitari Sungai?”
Jaka mengeleng-geleng, ia tak menyahuti. Tapi dalam hati dia menggerutu—walau merasa geli; itu sih bukan iseng lagi Ki, tapi kelewatan! Dia tahu yang dimaksudkan Ki Lugas adalah, totokan yang bisa membuat orang terus terusan kentut dan akan membuat tubuh kaku pada saat-saat tertentu.
Walau Jaka tak menyahut, terdengar Ki Lugas tertawa lepas, agaknya malam ini, dia sangat gembira. Tapi ia sudah tidak memperhatikan perbuatan Jaka, sepertinya ia sudah beristirahat.
Istilah yang tadi mereka ucapkan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang belajar ilmu syaraf. Kalau cuma belajar saja belum tentu mengetahui istilah ketiga totokan tadi. Mungkin bagi mereka yang benar-benar mencurahkan perhatiannya pada ilmu syaraf mengerti benar kegunaan dan bahaya, dari tiga totokan tadi. Lagipula, bagi yang mendalami secara serius-pun belum menjamin bahwa mereka bisa melakukan tiga totokan itu.
Jaka meraba urat nadi leher, lalu menekan perut pemuda itu. Kemudian dengan tiba-tiba Jaka menepuk pipi pemuda itu cukup keras.
Plak-plak!
Dua tepukan serentak mengenai pipi kanan kiri Mahesa Ageng, tidak menimbulkan bekas memang, hanya saja tepukan yang memang lebih mirip elusan itu membuat wajah Mahesa Ageng merah.
“Sebaiknya melancarkan jalan darah lebih dulu, sebelum kita bercakap-cakap…” kata Jaka sambil duduk di samping Mahesa Ageng. Jaka mengatupkan matanya, agaknya pemuda ini sedang memikirkan sesuatu.
“Durba kemari kau!” panggil Jaka.
“Ada apa tuan?” sahut Durba sambil mendekat.
“Mari, biar kuhilangkan racun yang ada ditubuhmu.” kata Jaka dengan nada datar, namun berkesan bersahabat. Tentu saja Durba terkejut girang.
“Silahkan tuan,” katanya dengan penuh semangat.
Jaka mencengkeram pergelangan tangan Durba. Sesungguhnya dia hanya terkena racun Bubuk Besi, pikir Jaka. Hm, untung baru sampai di lengan.
Plak! Jaka menepuk dada kiri Durba cukup keras. Tiba-tiba saja Durba merasa seluruh tangan kirinya mati rasa dan dadanya juga perih. Tapi rasa yang menyiksa itu tak lebih dari lima menit saja. Setelah itu ia merasa tubuhnya nyaman sekali.
“Terima kasih tuan…” kata Durba setelah beberapa lama kemu¬dian.
“Apa sudah benar-benar pulih?” tanya Jaka tanpa menoleh.
“Rasanya memang iya, saya tidak merasakan keanehan pada tubuh saya.”
“Bagus!”
Jaka bangkit dari duduknya, ia membelakangi tiga orang itu. “Aku tahu kalian sudah kembali seperti semula,” kata Jaka begitu mendengar helaan nafas panjang. “Aku tak merencanakan pertemuan begini meriah. Tapi… kejadian sepeti ini juga menjadi pelajaran bagiku—mungkin juga bagi kalian. Lalu, mengenai masalah kita… ah, lebih baik tidak kusebut masalah, bagaimanapun semua itu hal wajar, andai aku berada diposisimu mungkin akan bertindak sama. Lagi pula, sedikit banyak aku juga bersalah, karena ingin mencampuri urusan orang lain. Dengan demikian kita tidak ada ikatan apa-apa—setidaknya untuk saat ini. Kemudian, ada yang ingin kusampaikan pada kalian,” Jaka menghentikan ucapannya.
“Silahkan.” Ujar Mahesa Ageng dengan nada bersahabat.
“Kuharap cara yang pernah digunakan padaku tidak digunakan lagi. Ini hanya sekedar himbauan. Jika lawan yang kalian hadapi tak sepertiku, tapi dia mahir racun, kurasa resiko yang kalian tempuh terlalu besar.”
“Baiklah, kami akan mempertimbangkan usulmu… ehm bukan, kami akan melakukannya.”
“Terima kasih, racun kalian sudah kupunahkan seiring dengan lepasnya totokan tadi. Kalian boleh pergi.”
“Tapi, bukankah tuan mengatakan ada beberapa permintaan?” tanya Dirga dengan suara tersekat.
“Sebelumnya memang iya, tapi kupikir sekarang tidak perlu lagi. Sebab apa yang kurencanakan semula tak akan terjadi malam ini, jadi anggap saja permintaanku sudah kalian sanggupi dengan janji tadi.”
“Begitukah?” ujar Mahesa Ageng tersinggung sebab Jaka berbicara dengan membelakangi mereka. Bagaimanapun juga dia merasa sebagai orang yang terpandang dikalangannya, dan kini ada orang bicara dengannya tanpa bertatap muka, tentu saja dia tersinggung. Tapi dia pun tak berani marah, karena Jaka adalah penolongnya.
“Ya, dan tentunya sekarang kita bisa bicara dengan bebas. Karena tidak ada lagi ganjalan diantara kita. Bagiku, kejadian tadi bukanlah masalah. Kuharap begitu pula dengan kalian…” kata Jaka seraya membalikan tubuh. Lalu ia membungkukkan badan menyoja.
“Kembali memperkenalkan diri, aku bernama Jaka Bayu…”
Mahesa Ageng dan dua pengiringnya juga buru-buru bangkit dari duduk, mereka balas menghormat dan saling memperkenalkan kembali nama masing-masing.
“Kalau boleh tahu, dari mana asal saudara Mahesa?”
“Ah, terlalu sungkan. Kami bertiga berasal dari utara, Perguruan Walet Hijau adalah tempat tinggalku.”
“Wah, perguruan tersohor… dan orang yang menyamar tadi, berasal dari Perguruan Matahari Tanpa Sinar. Kelihatannya undangan yang disebarkan tidak sedikit.” Kata Jaka getun.
“Hei, kau tahu?”
Jaka agak tertegun mendengarnya. “Ya, karena aku juga salah satu yang diundang.” Jawabnya, asal.
“Oh, tapi… kau bukan berasal dari enam belas perguruan utama.”
Jaka mengangkat bahunya. “Aku juga tak paham, undangan itu baru kuterima kemarin.”
“Hm…” Mahesa Ageng menggumam penuh arti. “Kalau begitu, ada yang aneh.”
“Yah, mungkin saja ada hal-hal lain yang harus dipertimbangkan. Tapi kurasa, kita tak perlu menyangsikannya, nama sebesar itu tak akan mereka pertaruhkan, hanya sekedar ambisi kecil.”
“Kupikir juga begitu,” gumam Mahesa Ageng. “Tak masalah jika hanya ambisi kecil, kalau besar?”
Jaka angkat bahu. “Tidak ada kaitannya denganku, aku tak perlu memikirkannya.”
“Tapi… ah, sudahlah. Jika memang ada yang tak beres, kami akan bertindak sesuai situasi saja.”
“Keputusan bagus.”
“Sekalipun undangan kali ini agak aneh, firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu.”
“Mungkin saja..” gumam Jaka. “Boleh jadi firasatmu benar, kedengarannya bakal ada kericuhan. Mungkin dari dalam, atau luar.” Jaka menanggapi sambil lalu.
“Kaupun tahu tentang tahu hal itu?”
“Tidak, hanya menduga saja. Kalau boleh tahu, undangan yang diberikan pihak Perguruan Naga Batu, apakah mengharuskan salah satu petinggi dari perguruan?”
“Memang demikian, karena suatu urusan terpaksa aku mewakili ayahku untuk menghadiri pertemuan. Sebenarnya aku merasa kikuk, angkatan tua yang diundang, tapi angkatan muda yang memberi selamat.”
“Tidak juga, mungkin memang sudah diatur sedemikian rupa,” gumam Jaka. “Eh, omong-omong…” namun Jaka tak meneruskan ucapannya, agaknya ia ragu.
“Ya?”
“Kalau boleh aku tahu, apa tujuan kalian kesini?”
Mahesa menghela nafas panjang. “Selain menghadiri pertemuan, kedatangan kami untuk mencari harta pusaka perguruan yang pada tujuh puluh tahun lalu dicuri orang,”
“Memang benar ada disini?” tanya Jaka heran.
“Saudara Jaka sudah tahu, tidak perlu kujelaskan lagi.” kata Mahesa dengan nada tetap ramah.
Jaka melegak sejenak, tapi kemudian ia mengangguk dan tersenyum. “Harta pusaka memang harus kembali ketangan yang berhak, tapi kadang kala ada juga orang yang menginginkan pusaka orang lain.” Ucapan Jaka membuat paras ketiga orang ini merasa panas.
“Maksudnya ada yang ingin merebut dari kami?” tanya Mahesa menghilangkan rasa canggungnya.
“Tentu saja! Jika dulu pernah tercuri mustahil tidak ada orang mengetahui sebesar apa manfaat pusaka perguruan kalian. Dan tentunya bakal ada pihak-pihak tertentu yang akan merintangi perjalanan kalian mencarinya. Atau mungkin saja mereka membiarkan kalian mendapatkannya, lalu merampasnya.”
“Saudara Jaka berpandangan luas, dengan segala kerendahan hati aku mohon petunjuk.”
“Ah.. terlalu sungkan. Menurutku, jika kau ingin perjalanan lancar, setelah memasuki tempat lain, percayakan semua urusan pada dirimu sendiri!” tegas Jaka.
Mahesa dan dua pengiringnya mengerutkan kening, mereka tidak paham apa yang dibicarakan Jaka.
“Maksudmu?”
“Aku tak dapat menjelaskannya, tapi pertemuan kita berikutnya pasti akan kujelaskan keadaan yang sesungguhnya!”
“Keadaan sesungguhnya?” ketiga orang itu makin heran.
“Benar! Urusan ini sepertinya awal dari angin yang segera membadai…” ujar Jaka, lagi-lagi dengan arti tak jelas.
“Ah…” Mahesa Ageng mendesah kecewa. Orang ini benar-benar menarik, sayang banyak persoalan menarik yang disembunyikan. Tapi tak masalah, bisa mendapat sahabat seperti dia merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku! Pikirnya.
Mereka tak bercakap-cakap lagi. Angin dingin malam itu dibiarkan menghempas sekujur tubuh. Waktu sudah menjelang tengah malam, Jaka memandang rembulan yang menggantung diatas sana.
Niat Jaka mengundang tiga orang itu datang ke Kuil Ireng adalah untuk membantunya membuat Bergola mengalami sedikit ‘kecelakaan’—seandainya Bergola memang benar-benar datang. Bukannya Jaka tidak bisa menyergap Bergola, tapi dia tak ingin kondisi sesungguhnya—bahwa ia tidak terkena Bubuk Perlumpuh Otak—terbuka. Tapi dengan kenyataan banyaknya tokoh yang berkumpul di Kuil Ireng, dan juga ditegurnya Bergola oleh sang ketua, membuat Jaka yakin kalau Bergola tidak akan datang ketempat itu.
Pemuda ini menghela nafas panjang-panjang, “Ada pasang tentu ada surut, ada api pasti ada asap! Sungguh menggelikan seandainya muncul badai yang berhembus sepanjang masa, benar-benar pintar yang pandir, cerdik tapi tolol!” gumam Jaka dengan suara sayup-sayup, namun tiga orang dibelakangnya mendengar dengan kening berkerut, mereka tak paham.
“Aku ingin bertanya,” kata Mahesa Ageng membuka kembali percakapan.
“Silahkan,” ujar Jaka sambil menghadapi pemuda itu.
“Kuharap kau jangan tersinggung.”
“Oh… akan kucoba,” sahut Jaka dengan tenang, seperti biasa.
“Benarkan apa yang kau bicarakan dengan salah satu tetua perguruan Matahari Tanpa Sinar tadi?”
Jaka terdiam sesaat, lalu ia tersenyum, senyum yang bermakna sangat dalam. “Sebelum kujawab, aku ingin bertanya dulu.”
“Silahkan.” Sahut Mahesa dengan ramah.
“Ehm, kalau melihat tingkahmu ini, aku yakin kau orang yang biasa dimanja,” kata Jaka sambil tertawa. “Hanya saja menurutku, sifatmu selalu ingin menang sendiri, itu mungkin yang menjadi sisi baik-buruk bagimu,” gumam Jaka, membuat Mahesa Ageng menunduk kikuk.
“Tapi ini tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang akan kukemukakan, aku hanya ingin tahu, sejauh apa kau mengetahui mengenai Tabib Hidup-Mati?”
Mahesa Ageng tercenung sesaat, “Bagi kami—maksudku setiap murid perguruan besar—pasti tahu kisah masa lalu yang menggemparkan itu. Para tetua menginginkan, supaya kami senantiasa waspada, supaya kejadian lampau tak terulang lagi.”
“Itu bagus.” Sahut Jaka.
“Sedangkan mengenai Tabib Hidup-Mati, aku hanya tahu sedikit.”
“Oh, itu lebih baik, dari pada tidak sama sekali. Jadi, apa kau tahu siapa nama asli Tabib Hidup-Mati, dan nama gurunya?”
“Sayangnya aku tak tahu. Tapi ada satu peraturan aneh, bagi yang ingin tahu kisah Tabib Hidup-Mati…”
“Ya?”
“Menurut ayahku, nama dan cerita lengkap sang tabib hanya boleh diketahui para ketua perguruan utama, dan itu diwariskan turun temurun. Lalu mengenai guru si Tabib Hidup-Mati, kupikir tak seorangpun yang tahu.”
“Ya, tak bisa disalahkan. Itu sudah lama berlalu, wajar kalau orang tak ada yang tahu. Tapi aku harus dikecualikan…” sahut Jaka tertawa.
Mahesa heran mendengar ucapan Jaka. Ingin percaya tapi masih ragu, tak percaya… bukti sudah ada didepan mata. Jadi bagaimana dirinya harus bersikap? Ah, bagaimana nanti saja. Pikirnya agak gelisah. Menurutnya jika benar Jaka adalah generasi kelima Tabib tersohor itu, maka dunia persilatan akan membuka babak baru.
Jika saja Mahesa tahu apa yang dikuasai Jaka, sekalipun Jaka bukan keturunan Tabib Hidup-Mati, dunia persilatan pun bisa membuka babak baru. Karena boleh dibilang, semua pengetahuannya lebih lengkap dari pengetahuan Tabib Hidup-Mati. Pemuda ini sudah menguasai pengetahuan lima insan berbakat pertabiban,yang berbeda corak.
“Kenapa hanya para ketua saja yang boleh tahu?” tanya Jaka.
“Aku tak tahu, mungkin ada hal yang perlu dirahasiakan. Tapi kalau tidak salah, tadi kau menyebut nama Sapang Saroruha? Betulkah?”
“Ya…” sahut Jaka. “Sangat memalukan jika seorang keturunan langsung sepertiku, tidak tahu nama moyangnya sendiri. Apalagi semua cerita serta apa yang pernah dilakukan moyangku itu aku-pun tahu. Pendek kata, semua pengetahuan Tabib Hidup-Mati diwariskan pada anak cucunya turun temurun…” bual Jaka
“Maksudmu, kau juga menguasai apa yang leluhurmu kuasai?” tanya Mahesa tak percaya.
“Tentu saja tidak,” Jaka meneruskan karangannya. “Ilmu yang dimiliki moyangku ibarat samudera, begitu luas… aku hanya menguasai beberapa bagian, salah satunya adalah bab racun!”
“Oh.. karena itu kau menyebut dirimu sebagai ahli racun?” tanya Mahesa Ageng menyindir.
“Memang,” sahut Jaka tanpa canggung. “Terus terang saja Dewa Obat Timur sendiri tidak bisa menawarkan racun buatanku, bahkan ayahku juga menyerah. Karena itu ayah berpendapat bahwa aku sudah merupakan salah satu ahli racun yang mungkin dapat dikatakan satu tingkat dibawah leluhurku, si Tabib Hidup-Mati. Yah, tentu saja aku tidak bangga dengan sebutan itu. Hal terpenting yang dipesan orang tuaku, adalah; aku harus mengenali semua racun yang pernah ada, lalu aku harus sanggup menawarkannya… setelah itu, coba kau tebak….”
Mahesa menggeleng tak mengerti.
“Aku harus mencobanya pada semua tokoh racun dan tabib yang berkecimpung di kancah persilatan ini. Hm, kedengarnnya bagus bukan?” Jaka berbicara seperti orang bercita-cita besar, dan yakin bisa mewujudkannya!
Apalagi semua kejadian yang berhubungan dengan racun dan obat, sudah dilihat banyak orang, mau tak mau Mahesa Ageng merinding mendengar-nya.
“Ma-maksudmu kau akan menguasai dunia persilatan?” tanya pemuda ini dengan suara ditekan setenang mungkin.
“Harus dilihat dulu situasinya, kalau memang menguntungkan, ya… apa boleh buat. Kalau tidak, tak ada alasan bagiku untuk tidak mencobanya,” sahut Jaka sembari tertawa ringan. Mereka yang mendengar, terkesip kaget, ucapan Jaka memang seperti main-main, tapi jika melihat kelihayannya ‘bermain racun’, siapapun tidak akan ragu! Mereka harus memperhitungkan orang bernama Jaka.
“Menurutmu, kau akan menguasai para tokoh dengan cara apa?”
“Mudah, bagi mereka yang mengaku orang baik-baik, akan kurengkuh dengan menjujung keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan. Bagi mereka yang tergolong bukan orang baik, kau bisa menebaknya sendiri.”
“Aku tak ingin menebak.” Sahut Mahesa.
“Kubuat mereka bertekuk lutut dengan pengaruh racunku. Menurutku, itu cara yang berseni!”
“Cara yang berseni? Oh, kau ini orang aneh… kupikir nyaris kejam.”
Jaka tertawa. “Jika kau menghadapi orang yang suka membunuh, memperkosa… cara terbaik apa yang akan kau lakukan?”
“Tidak ada ampun!” seru Mahesa tegas.
“Begitu pula denganku, tapi tenaga mereka masih berguna, jadi… apapun bisa kulakukan.”
“Kau kelihatannya sudah yakin dengan tindakanmu…”
“Tentu! Manusia harus punya keyakinan untuk hidup. Lagipula orang yang memiliki kemampuan tertentu harus menghormati kepandaiannya sendiri. Dari semua jago silat yang pernah kukalahkan, mereka kena racun, atau selalu keletihan. Aku menggunakan racun jika aku ingin bertindak singkat, tak membuang waktu, contohnya terjadi pada kalian, maaf bukannya aku merendahkan kalian. Tindakan berikut, saat aku ingin melemaskan tubuh, kugunakan olah langkah. Aku cukup percaya diri, siapapun penyerangnya tidak akan pernah bisa menyentuhku! Andai saja kau melihat pertarunganku dengan Gemanti, maka kau dapat memikirkan sampai selihay apa olah langkahku.” Jaka terlihat sangat lancar mendeklarasikan identitas palsunya.
“Apakah kau bermaksud mengatakan itu ciptaanmu sendiri?” tanya Mahesa Ageng tak percaya. Saat ia tertotok dan berada dalam pondongan Ki Lugas, dari tempat persembunyian ia memang melihat bagaimana Jaka bertarung dengan Gemanti. Dan olah langkah yang dlakukan Jaka memang lihay.
“Kau pun bisa menciptanya, mudah untuk membuat sembarang olah gerak. Kelihayannya, bisa kau bandingkan dengan pengalamanmu, tentu dengan tingkatan berbeda. Asal kau dapat kuncinya, kau dapat memasuki pintu yang benar. Begitu pula denganku, aku mengetahui kunci penciptaan olah langkah. Walau belum bisa dibilang tanpa tanding, sejauh ini tokoh lihay yang kutemui tak berdaya menghadapinya!” tutur Jaka terdengar sombong.
Sebenarnya dia tak bermaksud begitu, Jaka sadar kini langkahnya diamati orang, mungkin lebih dari satu kelompok, maka dia harus membuat identitas dan karakter baru dalam tiap langkahnya.
“Wah…” seru Mahesa Ageng tanpa sadar.
“Kita jadi melantur dari pembicaraan asal. Kurasa aku tak perlu membuktikan bahwa aku keturunan Tabib Hidup mati.”
“Kenapa?”
“Buktinya sudah ada pada kalian, dan dua orang Perguruan Matahari Tanpa Sinar. Tapi terus terang saja, racun yang kukeluarkan tadi hanya racun ringan saja.” Kata Jaka sambil tersenyum tipis berkesan geli.
“Racun ringan!? Racun Peluluh Mayat dan racun Tujuh langkah kau bilang ringan?” seru Mahesa Ageng gemas.
“Yah, itu menurutku, kalau menurutmu terlalu ringan, aku tidak bisa berkomentar.” Sahut Jaka sambil mengangkat bahunya.
“Terlalu ringan? Wah-wah, kalau ada tabib top mendengar ucapanmu, mereka pasti bisa melabrakmu.” Ujar Mahesa Ageng dengan suara riang. “Rasanya aku-pun bisa mati berdiri kalau menganggap Racun Peluluh Mayat terlalu ringan. Sebelum kejadian hari ini, aku pernah terkena racun itu. Hh, rasanya aku tak perlu lagi mengalaminya.”
“Kau bisa selamat saja sudah hebat.” Komentar Jaka.
“Tentu saja! Karena aku mendapat penawar di saat yang tepat! Jika tidak, benar-benar gawat!”
Jaka tertawa kecil mendengarnya. “Ya, orang yang tidak tahu seninya menerima rasa sakit, selalu menganggap segala hal yang menimpa dirinya merupakan siksaan yang pedih.” Ia menanggapi dengan ucapan yang maknanya terlalu dalam untuk diselami.
“Cara bicaramu mengingatkan aku dengan kakek buyutku…” ujar Mahesa Ageng, seraya menatap lekat pemuda dihadapannya.
Jaka memandang pemuda itu sekejap, “Masih bugarkah kakek buyutmu itu? Kalau masih sehat, beliau pasti berumur seratusan.”
“Benar, beliau berumur seratus dua puluh empat tahun, sejauh ini kesehatannya sama sekali tidak terganggu, sungguh mengagumkan! Hanya saja, kalau bicara dengan beliau, selalu cenderung membicarakan filasafat. Bosan…”
“Pemikiran orang lanjut memang kebanyakan seperti itu,” komentar Jaka. “Eh, tapi kau jangan mengira kalau aku seumur kakek buyutmu.”
Mahesa dan dua pelayannya tertawa. “Tentu saja tidak.”
“Tapi bagaimanapun juga, kalau yang kau ucapkan benar, berarti kakek buyutmu sangat mengagumkan! Aku jadi ingin menjumpainya.” Kata Jaka berbasa basi.
“Benarkah?” sahut Mahesa menanggapinya dengan sungguh-sungguh.
Jaka tertegun sesaat, sambil tertawa ringan ia menjawab. “Tentu saja kalau kau tidak keberatan,”
“Tentu tidak, bukankah kita sudah bersahabat?”
“Ehm…” sahut Jaka sambil mengangguk.
Percakapan mereka terhenti kembali, hening kembali melingkupi tanah terbuka disekitar kuil ireng. Durba dan Durga yang menyaksikan tuannya akrab dengan Jaka, wajahnya terlihat berseri-seri seperti orang habis dapat lotre.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: