Seruling Sakti Jilid 26-30

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

26 – Bertukar Jurus

Suasana kembali senyap, namun percakapan dua pemuda itu menjadi tanda tanya besar dalam hati seseorang yang sudah sejak tadi berada disitu. Dan beberapa orang yang juga ada di sekitar Kuil Ireng.
Orang itu memakai baju biru tua, sangat pas dengan keadaan malam, wajahnya tak terlihat jelas sebab ia bersembunyi di sebuah pohon rindang disamping kiri Kuil Ireng. Tapi, jika kau perhatikan binar matanya yang berkilatan tajam di kegelapan, dapat dipastikan dia tentu seorang tokoh berilmu tinggi.
Aneh, kenapa anak itu harus mengarang cerita sambal terlalu jauh? Pikirnya merasa geli, juga bingung. Dari lagak ia mengamati si pemuda dan caranya bersembunyi, orang itu pasti kenal dengan Jaka. Jika pemuda ini melihatnya pasti akan segera mengenali, sebab dia adalah Ki Gunadarma.


“Sampai berapa lama kau ada dikota ini?” tanya Jaka.
“Kau sendiri?” tanya Mahesa balik bertanya.
Jaka tertawa, orang ini mau menangnya sendiri, pikirnya. “Entahlah… mungkin lama, mungkin juga sebentar, tergantung situasi.” Katanya berbasa basi.
“Demikian juga denganku.” sahut Mahesa cepat-cepat. “Ehm, mengenai ilmu langkah tadi, aku sangat tertarik…” kata pemuda ini sambil memandang Jaka dengan tatapan mata menyiratkan permohonan.
Tentu saja Jaka tahu apa artinya, Mahesa mengharap dirinya mau memberi petunjuk. Ah, terbiasa dimanja, pikir Jaka. Kalau dia mengatakan hal ini pada orang yang berangasan, mungkin bakal terjadi keributan. Yah.. siapa sih yang mau teknik istimewanya dikuasai sembarang orang? Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Jaka. Sebab menurut pemuda ini, tidak ada teknik istimewa segala, yang penting adalah akal, hati dan jiwa. Tiga hal utama itulah yang telah membantunya menelurkan karya yang hebat.
“Dengan senang hati. Tapi, saatnya tidak tepat.” Ucapan Jaka melihat wajah Mahesa murung, namun buru-buru pemuda ini menyambung. “Kalau, sekedar memuaskan keingintahuanmu, aku akan membiarkan kau menyerang lima puluh jurus. Jika aku menangkis, atau balas menyerang, berarti aku kalah.”
“Benarkah?!” seru Mahesa tak percaya.
“Ya. Maaf, bukan maksudku untuk meremehkan kemampuanmu.”
“Aku tahu,” sahut Mahesa cepat. “Tentunya kau juga bermaksud menguji ilmu langkahmu terhadap seranganku, kan?”
”Bisa dikatakan demikian,” sahut Jaka sambil tersenyum. “Mulailah..”
“Hati-hati!” seru Mahesa dengan suara nyaring.
Pemuda ini bergerak amat cepat, bagaikan kapas dihembus badai tubuhnya berkelebat, langsung menubruk Jaka. Benar-benar peringan tubuh yang amat lihay. Tapi Jaka juga bergerak menjauh, menghindarinya.
“Jurus pertama!” pekik Mahesa. “Awas, ini Walet Menerobos Angin!”
“Silahkan,” sahut Jaka tenang.
Mengejar Jaka, luncuran tubuh Mahesa bertambah pesat, gerakan tangan dan kakinya terlihat gemulai, dan… bisa dikatakan indah. Namun dibalik keindahan itu, Jaka melihat satu hawa penghancur amat kuat. Tangan Mahesa meluncur seperti ular, menotok, memukul dan menjentikkan tenaga dalam. Semua sasaran tentu saja bagian mematikan, Jaka sangat kagum melihat serangan itu.
“Jurus yang bagus!” puji Jaka ia mengamati gerakan itu dengan cermat, tentu saja dia tak lupa menghindar—sambil menggeser kaki kekanan dan kekiri dalam saat dan jarak yang sama, yakni selalu satu tapak demi satu tapak, tentu saja cara menggesernya sangat cepat! Tergantung kecepatan serangan Mahesa.
“Hati-hati Mahesa, sudah tujuh jurus kau menyerang, jangan lupa pertahanan sendiri!” kata Jaka sembari tertawa, membuat gemas lawan.
“Aku tahu!” sahut pemuda ini dengan nada tinggi, kelihatannya dia sedang jengkel karena serangannya tidak pernah dapat menyentuh Jaka, jangankan menyentuh tubuhnya, menyambar pakaian Jaka yang berkibar-kibar saja dia tak sanggup.
“Lihat rangkaian Walet Hijau Mencuri Permata!” pekik Mahesa nyaring. Jaka tak berkomentar, tapi dia memperhatikan serangan Mahesa dengan sungguh-sungguh.
Jari tangan Mahesa meluncur tepat kedahi Jaka, namun dengan manisnya Jaka menggeser langkah kesamping sambil maju, sehingga jari Mahesa melewati samping telinga. Namun rangkaian jurus yang satu itu memang luar biasa, begitu jarinya gagal menotok, lutut Mahesa bergerak cepat menyodok perut Jaka, tapi lagi-lagi serangan seperti itu tak dapat mengenai Jaka, pemuda ini dengan gerakan sangat gesit menyampingkan badannya satu langkah kekanan, namun begitu gerakan menghindarnya selesai, tiba-tiba saja sebuah angin tajam menghantam dahinya, Jaka terkejut, tapi dengan tenang, ia merunduk dan melentik keudara seperti udang… benar-benar gerakan yang amat cekatan, dan serangan itu luput lagi!
“Dua puluh delapan jurus, Mahesa,” kata Jaka mengingatkan.
“Baik!” seru Mahesa dengan nada lebih sabar ketimbang tadi.
“Ingat baik-baik langkah dan cara menghindarku ini, mungkin kaudapat mengambil manfaatnya. Tak terlepas kemungkinan kau bisa mencari jalan menyarangkan seranganmu!” kata Jaka memberi semangat.
“Baik, berhati-hatilah!”
Keduanya kembali terlibat dalam gerakan sengit, tanpa mereka sadari Ki Lugas yang tadinya berada di kuil, bersama dua keponakan muridnya sudah kembali mendekat, agaknya mereka sangat tertarik dengan pertandingan itu.
“Kena!” pekik Mahesa sambil memukul dengan gerakan secepat petir, pukulan itu lurus dan hampir mengenai pundak Jaka, tapi mendadak saja arah pukulan menyamping kekiri.
“Belum tentu sobat!” sahut Jaka memiringkan tubuhnya. Dan pukulan dua perubahan Mahesa luput, “Ingat, engkau jangan terlalu terpaku pada perubahan kaki dan cara menghindarku. Aku bisa menjebakmu dengan gerakan yang berlawanan!”
“Hh…” Mahesa Ageng menghela nafas kesal, namun harus diakuinya langkah menghindar Jaka memang sangat lihay.
Tiba-tiba saja gerakan Mahesa yang tadinya bagai kelincahan seekor walet, kini berubah tenang, setenang Harimau yang mengincar mangsanya. Gerakan seranganya begitu mantap, tiap serangannya terisi gerak tipu lihay yang mematikan.
“Bagus, tenang melawan tenang. Siasatmu pantas dipuji, tapi aku tidak akan berlaku tenang lagi.” Kata Jaka sambil melejitkan badannya, Mahesa Ageng terpana, melihat peringan tubuh Jaka yang jauh lebih unggul darinya.
“Awas pukulanku!” seru Mahesa.
Dua gulung angin melibas kearah Jaka, angin serangan itu ibarat anak panah yang memiliki mata, selalu mengikuti gerakan Jaka, meliuk dan meliuk terus mengikuti tiap perubahan.
“Pukulan yang lihay!” puji Jaka. Tiba-tiba saja Jaka meloncat dengan gaya yang teramat aneh dan dilain saat Jaka sudah tidak kelihatan lagi, menghilang dari tempat itu!
Blar!
Pukulan Mahesa mengenai batu sebesar kerbau, batu itu terlihat rengkah menjadi tiga empat bagian.
“Tepat lima puluh jurus,” seru Jaka entah dari mana, pemuda ini memuji pukulan Mahesa sambil bertepuk tangan girang.
Mahesa mengedarkan pandangannya, “Dimana kau?”
“Disini!” jawab Jaka sambil melompat dari pohon yang ada dibelakang dua pengiring Mahesa. Tampak Mahesa, Ki Lugas dan dua keponakan muridnya terkejut melihat gerakan menghindar Jaka yang terakhir. Mereka yakin sekali gerakan melejit secepat dan seringan itu adalah gerakan peringan tubuh Langkah Mencabut Batang, yang merupakan salah satu bagian tertinggi dari tingkatan ilmu peringan tubuh.

Gerakan lompatan itu diasumsikan seperti orang yang sedang berjalan lalu tangannya iseng menyambar batang pohon di samping jalan. Disini ada hal yang jadi titik perhatian; jika dahan atau batang itu berakar kuat, maka saat menyambar dahan, langkahnya akan terhenti. Tapi jika akarnya agak lemah, langkahnya hanya akan terhenti sesaat dan karena pengaruh tarikan seiring tercabutnya pohon, maka seseorang itu akan terjerumus kedepan, akibat akar yang tak kuat menahan tarikan pada dahan.
Dan mereka yang sempat melihat gerakan Jaka, menyangka bahwa itulah peringan tubuh terkenal—Langkah Mencabut Pohon. Sebab gerakan yang diperlihatkan Jaka tadi, sama sekali tidak menekukan lutut sebagai daya pegas untuk melompat, melainkan tubuhnya terlontar begitu saja, seolah ada per dalam bumi yang melemparkannya. Hal itu menandakan kalau tenaga yang dipusatkan Jaka pada kedua tumit kakinya sudah begitu sempurna, benar-benar kuat. Tapi apa benar Jaka mempunyai ilmu itu? Padahal pemuda ini hanya asal bergerak, sesuai dengan kehendak hatinya, dan tanpa menekuk lututpun ia bisa meloncat mengandalkan jari dan tumitnya.
“Luar biasa! Gerakanmu benar-benar luar biasa! Mengingatkanku pada gerakan kakek buyut!” puji Mahesa tulus, setelah sesaat ia tertegun kagum.
“Ah, jangan meletakan topi kebesaran dikepalaku, gerakan ini semua orang juga bisa.” Jaka bersikap sewajarnya.
“Memang, tapi kalau tidak berlatih keras dan tidak memiliki tenaga dalam hebat, tak bakal dapat bergerak sepertimu.”
“Aku belum sehebat itu, mungkin kebetulan.” Kata Jaka sambil tertawa kecil. “Di dunia ini memang penuh dengan kejadian yang, yah… orang menyebutnya kebetulan.”
Mahesa menggelangkan kepalanya dengan pandangan takjub, “Lain kali kau harus memberiku petunjuk lebih.” Katanya tanpa sadar.
“Kalau keadaan memungkinkan, dengan senang hati akan kulakukan. Tapi semua itu juga terpulang padamu…” jawab Jaka sungguh-sungguh. Namun dalam hati Jaka kembali berpikir dengan gemas, Aih, benar-benar anak yang manja!
Tentu saja Mahesa Ageng senang sekali, namun ungkapan kegirangnya tidak tampil diwajahnya, yang terlihat hanya senyum manis yang menyatakan terima kasih.
“Bersediakah kau bertanding denganku?!” terdengar suara dingin dibelakang Jaka.
Jaka membalikan badan, ia melihat tiga sosok yang tentunya sudah ia kenali, orang itu adalah Ki Lugas dan dua keponakan muridnya.
“A-ha, rupanya saudara Gadungan dan Gemanti sudah sembuh, lebih cepat dari perkiraanku.” Kata Jaka sambil tertawa ringan, agaknya dalam tawa itu terdapat ucapan lain, sesuatu yang penuh rahasia.
“Aku bukan gadungan! Namaku Seta Angling!” seru pemuda yang tadi menyamar sebagai Mahesa Ageng dengan suara mendengus, tanpa sadar ia terpancing menyebutkan namanya, dan memang itu yang Jaka inginkan.
“Kurasa Aki memberi bantuan tenaga pada mereka?” tanya Jaka tidak menanggapi kemarahan Seta.
“Memang benar,” sahut Ki Lugas sambil tersenyum ramah.
Jaka menggeleng kepala dengan wajah muram, “Ah, sayang sekali!” gumamnya.
“Apa maksudmu?” pekik Seta dan Gemanti kaget.
“Racun yang berada ditubuh kalian memang sudah hilang, tapi bukan berarti jalan darah kalian sudah normal kembali, kalau memang benar Ki Lugas memberi tenaga tambahan pada kalian, aliran darah kalian akan semakin bergolak cepat dan bisa mengalir terbalik. Dengan demikian biarpun tidak ada efek buruk pada kalian, jika mengerahkan tenaga murni untuk bertarung, aliran darah kalian akan bergerak terbalik perlahan, makin sering mengerahkan tenaga, aliran darah akan semakin cepat. Kemudian tenaga murni kalian akan membuyar perlahan…”
“Seburuk itukah?!” tanya Ki Lugas kaget.
“Tentu saja bagi kaum pesilat macam kita, lebih baik kehilangan nyawa dari pada kehilangan tenaga murni yang sudah kita latih bertahun-tahun. Karena itu kusarankan engkau tidak bertanding denganku sobat.”
“Hmk! Segala omong kosong kau lontarkan seperti seorang lelaki sejati, padahal kau takut berhadapan denganku! Hh, kau ini pengecut sejati!” maki Seta dengan marah.
Jaka tidak tersinggung, tapi Mahesa yang sudah merasa cocok dengan Jaka kelihatan mulai meradang. Sebab dia marah tentu saja bukan karena Jaka dimaki begitu rupa, karena sebelumnya dia juga pernah dibokong dengan cara licik, maka Mahesa Ageng menaruh dendam atas perbuatan Seta Angling itu.
“Kau…” geram Mahesa merasa mangkel. “Kalau saja aku tak mengingat bahwa perguruan kita bersahabat, aku pasti menghajarmu!”
Seta Angling pun tak mau kalah gertak. “Sayang sekali kenyataan memang begitu, andai kata tidak, hmk! Jangan harap orang sial macam dia bisa menghalangiku!” kata pemuda itu sambil menuding Jaka.
Mahesa Ageng maju selangkah, agaknya ia tak bisa menahan sabar, tapi Jaka menghalanginya, pemuda ini malah tertawa ringan. “Kemarahanmu memang beralasan.” Ucapnya membuat Mahesa dan Seta melegak heran. “Jangan menebar bibit permusuhan hanya karena urusan kecil.” Kata pemuda ini pada Seta dan Mahesa. Lalu ia menoleh kearah Seta.
“Kau kira ucapan tadi hanya untuk menghindar darimu? Aih, padahal aku bermaksud baik, tapi kau tidak percaya. Memang ada bagusnya menaruh waspada pada tiap orang, tapi kalau sebelumnya kau sendiri sudah membuktikan ucapanku, tentu saja apa yang kuucapkan kali ini juga benar.”
Seta terdiam, namun matanya memancarkan sinar kemarahan yang amat sangat.
“Ah, kita baru berkenalan… ehm, maksudku baru berjumpa, tapi rasa permusuhan sudah memuncak dalam hati. Manusia memang mahluk yang aneh. Kalau memang tindakanku padamu dan pada Gemanti keterlaluan, aku minta maaf dengan segenap perasaanku. Tapi kusayangkan kalian bertindak ceroboh mencampuri urusan orang lain, bukankah tidak akan terjadi hal-hal seperti ini? Apa kata orang luar, kalau ada murid handal dari perguruan ternama dikalahkan orang tak dikenal? Kejadian seperti ini memang pukulan buat siapa saja yang mengalaminya, tadi terus terang, aku menjatuhkanmu dengan cara yang tidak wajar dan karena situasi memang tidak menguntungkan bagi kita, untuk bertarung. Tapi aku punya alasan kuat untuk melakukan hal itu, sayangnya kau juga tidak punya alasan yang dapat kau gunakan untuk menyamar sebagai orang lain.” Kata Jaka panjang lebar.
“Mungkin apa yang kusampaikan ini tidak berkenan dihatimu, tapi dengan hati tulus, aku memintamu untuk tidak bermusuhan denganku dan tentu saja aku tidak ingin bermusuhan denganmu, bukankah lebih baik mendapat seorang teman dari pada mendapatkan musuh?” sambungnya kembali. Ki Lugas tanpa sadar mengangguk membenarkan mendengar ucapan Jaka.
“Teman?!” dengus Seta dengan keras kepala. “Mungkin aku lebih suka membalas perbuatanmu dulu baru kita berteman!” jengeknya sinis.
Tapi dengan tidak terduga Jaka malah tertawa, “Kalau memang begitu keinginanmu tentu saja aku sanggup. Baik, balaslah… asal balasanmu masih bersifat manusiawi, dengan senang hati kuterima!”
“Hm, kau terlalu percaya diri!” ejeknya sembari menyeringai.
“Memang, sebab kau tidak akan membalas perbuatanku dengan menggunakan tenaga murni.” Sahut Jaka serius. “Camkan kata-kataku ini!”
“Omong kosong, jangan bermimpi disiang bolong!” bentak Seta. “Kau pikir aku tak berani?! rasakan ini!”
Sebuah pukulan berhawa sangat panas dan amat dahsyat, menerpa Jaka, tapi di tengah jalan pukulan itu musnah begitu saja.
“Argh..” Seta Angling jatuh terpuruk sambil menjerit kesakitan.
“Aku tidak pernah menggertak, dan aku juga tidak bermimpi disiang bolong, hari ini sudah malam, terlalu larut, bukan siang lagi…” gumam Jaka membuat Mahesa tertawa tanpa suara.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Seta? Saat Jaka menyembuhkan Seta dan Gemanti dari pembalikan aliran darah, Jaka sengaja membuat beberapa jalan darah penting yang berhubungan dengan tenaga murni, tersekat sementara waktu. Tentu saja Jaka berbuat begitu karena dia memiliki alasan tertentu. Dan semua itu akan jelas untuk beberapa hari yang akan datang…
Ki Lugas begitu terperanjat melihat keadaan Seta Angling, ia menatap Jaka dengan tatapan mata membara.
“Jangan salahkan aku Ki, bukankan aku sudah menasehatinya? Tapi dia memang orang yang keras kepala!”
Ki Lugas menggertak gigi, “Ya, memang benar!” katanya dengan suara parau. “Apakah masih bisa ditolong?” tanyanya.
“Masih!” jawab Jaka singkat.
“Kalau begitu tolonglah!” kata Ki Lugas dengan nada tegas memerintah, tapi terkesan memohon.
Jaka tidak banyak bicara, ia menepuk bahu Seta Angling. Aneh, gejala kesakitan itu mereda, wajah Seta sudah tidak berkerut lagi, diwajahnya kini hanya ada kemuraman.
“Kau beruntung sobat…” kata Jaka dengan suara sungguh-sungguh.
“Beruntung apa?! Sial seperti ini kau sebut beruntung?” sembur Seta dengan marah.
“Kau masih bisa tertolong, atau mungkin kau tidak ingin ditolong?” tanya Jaka sambil tersenyum. Tanpa meminta persetujuan pemuda itu, tangan Jaka segera menekan dada Seta.
Plak!
Seta menampel tangan Jaka yang hampir menyentuh dadanya, “Keparat! Siapa minta pertolonganmu?” bentaknya bengis.
Jaka tertawa perlahan, dia bangkit dan memandang Ki Lugas dengan tatapan yang mengatakan, ‘Ini bukan salahku!’
“Anak Seta, mengapa kau harus keras kepala?” tanya Ki Lugas dengan suara lembut.
“Aku tak ingin dia menyentuhku!” katanya setengah menjerit.
Jaka tertawa, “Memangnya kau ini wanita?” tanyanya dengan nada rendah berkesan mengoda.
“Keparat! Siapa yang wanita? Apa matamu sudah lamur!” teriak Seta seperti orang kalap.
“Kalau tidak mau kesentuh ya sudah, tapi kau memang masih bisa tertolong kok, asal tidak mengerahkan tenaga murni lewat dari empat bagian, lima hari kedepan dengan sendirinya penderitaanmu hilang, tapi bukan berarti kau bebas, tenagamu masih belum bisa digunakan, tapi akan normal kembali setelah sepuluh hari berikutnya.” Jelas Jaka dengan suara bersahabat. “Oh ya… lebih baik kau percayai kata-kataku, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi!”
“Hmk!” Seta hanya menjengek saja, sama sekali tidak mengomentari omongan Jaka, ia bangkit dari rebahnya. “Kita kembali ke kuil paman.” Katanya dengan nada setengah merajuk.
Setelah tiga orang itu masuk kekuil, Jaka menggelang sambil tertawa lepas. “Aih.. kalau ada dua pasti ada tiga, manusia dimana saja sama, hanya hati yang membedakannya.”
“Agaknya kau sedang tidak enak hati?” tanya Mahesa.
“Tidak, aku justru sedang merasakan kelegaan yang luar biasa. Hanya saja semua itu datang beberapa hari kemudian.”
Mahesa dan dua pengiringnya saling pandang tak mengerti. Dalam pandangan mata mereka seolah mengatakan hal yang sama, Benar-benar orang yang sulit dijajagi maksud hatinya.
“Ehm, apakah kalian tidak ingin kembali kepenginapan? Malam sudah sangat larut.”
“Kau sendiri?” tanya Mahesa.
“Aku ada kepentingan disini, mungkin akan bermalam disini.” Sahut Jaka ringan.
“Kalau bisa kami bantu…”
“Terima kasih, aku sangat menghargai tawaranmu, tapi maaf…”
Mahesa tahu kalau Jaka ingin ditinggal sendiri. “Kalau begitu kami akan kembali.”
“Silahkan, maaf tak bisa mengantar..”
“Tak apa,” sahut Mahesa cepat, ia berjalan paling depan, namun beberapa tindak kemudian ia menoleh. “Kapan kita bertemu lagi?” tanyanya.
Jaka berpikir sesaat. “Saat hari yang ditentukan tiba…” Jawabnya mengambang.
Mahesa tampak mengangguk. Lalu tiga orang itu melesat cepat di kegelepan malam bagai burung walet. Kejap kemudian bayangan ketiganya sudah lenyap.
“Malam yang menyenangkan…” seru Jaka. Pemuda ini melangkah mendekati batu besar yang tadi menjadi tempat duduknya. Ia duduk bersila di situ sambil memejamkan matanya. Melihat gelagatnya, Jaka seperti menunggu orang.

—ooOoo—

27 – Koordinasi Taktik

Di persembunyiannya, Gunadarma merasa gelisah. Di tempat Ki Lukita-setelah Jaka pergi-Ki Gunadarma dan ketiga rekannya memang memutuskan untuk memantau apa yang dilakukan Jaka, karena sebelumnya Jaka juga meminta mereka mengikutinya. Maka itulah, begitu Jaka pergi, tak berapa lama kemudian Ki Gunadarma keluar dengan pesat. Hanya sepuluh menit saja ia sudah sampai di Kuil Ireng. Dengan sendirinya ia melihat semua peristiwa ditotoknya Mahesa Ageng, dari awal hingga akhir. Dan kini melihat Jaka duduk seperti itu, ia jadi resah. Apakah sudah waktunya untuk menemui pemuda itu. Sesaat ia ragu, tapi kemudian ia putuskan untuk menunggu beberapa saat setelah pertemuan yang direncanakan Aki Lukita dan Bergola.
Sejauh ini rasa herannya belum lagi tuntas, yakni; kenapa Jaka tidak bersembunyi? Bukankah akan membuat pihak musuh kawatir? Dan mungkin saja bisa menebak apa yang direncanakan Jaka sebelumnya? Tapi dia yakin, Jaka tidak akan bertindak seceroboh itu, pemuda ini pasti sudah memperhitungkan segala sesuatunya.
Memangnya dia membual besar-besaran hanya untuk menakut-nakuti orang? Tentu tidak begitu, hanya saja salah satu tujuan Jaka adalah menanamkan kesan mendalam pada orang yang sudah berada di sekitar tempat itu. Karena Jaka tahu, jika ada beberapa orang datang ketempat itu, pasti ada yang lain, mungkin saja karena kebetulan, atau ada kepentingan lain.
Lalu apakah Jaka tidak kawatir kalau kedoknya diketahui orang-orang yang sehaluan dengan Bergola?
Tentu saja kawatir, hanya saja kekawatirannya tak ada lagi setelah mengalami berbagai kejadian. Kenyataannya Jaka sudah dapat menebak bahwa Bergola dan begundalnya tidak akan berani bertindak sembarangan malam ini, sebabnya, mereka kawatir dengan musuh tangguh, orang-orang dari perguruan Sampar Angin.
Sebelum kejadian itu, Jaka memperkirakan anak buah Bergola atau tokoh yang dimungkinkan sederajat dengan Bergola, mungkin saja sudah bersembunyi di sekitar Kuil Ireng. Tapi karena Bergola dan rekannya telah berjumpa dengan pimpinan mereka, dan di beri pengarahan berbeda dengan rencana Bergola, maka kemungkinan besar rencana untuk bertemu dengan Ki Lukita ditempat itu, batal! Lagi pula Jaka juga menyarankan agar gurunya tidak datang.
Pihak gurunya tidak akan ambil resiko dengan menampilkan jati diri sebenarnya, biarpun hanya mengutus mata-mata untuk mengintai tempat itu.
Jaka yakin sebelum dirinya datang, pasti ada mata-mata dari kawanan Bergola, tapi karena sebelumnya mereka sempat melihat tindakan Ki Lugas dan dua keponakannya—saat meringkus Mahesa Ageng dan Dirga—tentu saja mereka segera pergi. Mereka tidak akan tinggal ditempat itu terus, karena resiko tertangkap basah oleh tiga orang lihay itu sangat besar.
Lalu apa tujuan utama Jaka membual besar tenang asal usulnya? Tentu saja untuk menarik perhatian, khususnya bagi yang memperhitungkan gerak-geriknya. Jaka yakin, ada orang yang bisa menebak bahwa ia akan lewat jalan sepi yang menuju perbatasan timur, pasti orang itu juga sudah memperhitungkan bahwa tempat pertemuan atau mengintai, yang paling ideal adalah Kuil Ireng. Dengan jaminan kejadian itu saja, Jaka seribu persen yakin mereka yang sekomplotan dengan Bergola tidak akan pernah muncul di Kuil Ireng. Sebab mungkin saja di tengah jalan mereka sudah dibereskan orang-orang misterius yang mengintai Jaka; atau mereka mundur mengingat resikonya terlalu besar.
Dan Jaka berani memastikan empat orang yang tadi mengintai perjalanannya beserta tuannya sudah berada di tempat ini!
Jika kalian mengira bisa memperhitungkan tindakan, aku akan buat seperti yang kalian kira. Pikir Jaka. Mula-mula aku harus tahu siapa dia dan apa maunya, apa mereka sehaluan dengan kelompok rahasia yang sedang berkembang, atau malah sama sekali tiada sangkut pautnya. Sedangkan rencana yang sedang dipupuk beberapa orang di Perguruan Naga Batu harus segera kuurus, sebelum mereka bertindak keterlaluan. Hh, pekerjaan ini terlalu beresiko, tapi harus tetap kukerjakan.
Jaka memikirkan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Tak disadarinya, ia sudah duduk dengan mata terpejam, setengah jam lebih.
Sekarang adalah saat penentuan.
Kurasa anak buah, bahkan Bergola sendiri tak akan meninjau tempat ini. Mereka pasti mengerti, datang kemari lebih banyak rugi dari pada untungnya. Tapi, jika mereka tak terpikir demikian? Kemungkinan tersebut, membuat Jaka harus menimbang ulang rencananya. Tak masalah mereka datang atau tidak, yang penting mereka tidak tahu, penyebab semua keramaian ini adalah aku. Tapi, sebenarnya aku ingin, kejadian ini dilaporkan pada atasannya, dan dia mengerti jadti diriku. Ah, tapi biarlah.. toh nantinya akan kujumpai Bergola juga. Jaka tertawa dalam gumam. Segurat senyuman mengartikan dia mendapat ide baik.
Tentu saja yang di maksud ‘jati diri’ adalah; Jaka mengerti ilmu silat. Pemuda ini memang jarang menggunakan ilmunya, tapi bukan berarti dia bermaksud menyembunyikan.
Begitu banyak ide terlintas, kali ini Jaka sudah yakin dengan rencananya, dia tidak perlu ragu lagi untuk bertindak.
“Tuan-tuan yang bersembunyi, apakah anda sudah mendapatkan kesimpulan tentang diriku?” ujar Jaka seperti sedang bicara sendiri. Padahal Jaka berniat mengatakan pada sahabat gurunya—Ki Gunadarma—bahwa dirinya sengaja membual untuk mengelabui orang-orang yang ada disitu.
Tak berapa lama setelah Jaka bicara seperti itu, muncul lima bayangan yang bergerak sangat pesat.
“Peringan tubuh hebat!” puji Jaka melihat gerakan lima orang itu.
“Tak sebagus milikmu!” terdengar suara dengan nada berat.
Ada sedikit keterkejutan dalam hati Jaka melihat penampilan empat orang itu, sebab di gelapnya malam, penampilan mereka persis Lima Pelindung Putih dari Perguruan Sampar Angin. Empat orang itu juga berpakaian serba putih, mengenakan jubah panjang hingga menjulai tanah. Rambut merekapun putih berkilat. Jaka merasa sosok empat orang berambut putih itu memiliki wibawa lebih dari orang-orang Sampar Angin, diam-diam Jaka mengeluh. Jika mereka menjadi lawannya, dia bisa repot. Belum selesai satu masalah, muncul yang lain.
Dengan cara apa mereka menutupi kilau rambut perak, dan warna putih pakaian saat mengintai? Batin Jaka. Oh.. aku tahu. Pikir Jaka kemudian. Jubah itu! Jika jubah itu dibalik, warna hitamlah yang ada didalamnya.
Dan benar, saat Jaka mengamati, lamat-lamat terlihat jubah bagian berwarna gelap. Tapi, Jaka merasa heran, dengan penampilan orang yang dia kira sebagai sang majikan. Pakaian orang itu juga putih ringkas, dibajunya ada selempang kain hitam, lebih aneh lagi wajahnya ditutupi kain begitu rupa, yang tersisa hanya sepasang mata yang mencorong tajam.
Orang pasti sangat tangguh, duga Jaka.
“Sudah lamakah anda menunggu di sana?” tanya Jaka seraya menunjuk sebuah tempat.
Walau Jaka tak dapat melihat rekasi akibat ucapanya, tapi dia merasa lima orang itu sedikit terperanjat.
“Mungkin selisih seperempat jam lebih lambat dari saudara,” sahut orang yang wajahnya ditutupi kain hitam. Suara orang itu terdengar berat seperti orang tua, tapi Jaka yakin suara itu hanya untuk menutupi identitas sebenarnya.
“Saya rasa cukup berguna untuk mengetahui semua yang terjadi.” Ujar Jaka bergumam.
“Benar, tentu saja aku tahu saat saudara mengaku sebagai turunan tabib mashyur masa silam.” Sahut orang itu dengan tenang.
“Hm…” Jaka tidak menanggapi, pemuda ini mengamati gerak-gerik lima orang itu—yang kelihatannya serba aneh—Jaka mengambil kesimpulan yang ia sendiri tidak begitu yakin.
Mendadak Jaka bersenandung lirih. “Kala malam hujan badai, sesuatu muncul tanpa terasa, rupa tak teraba, kadang orang merasa tentram, tapi lebih banyak rasa terancam mencekamnya. Sayang… semua itu cuma masa lalu, tapi kini dia kembali!”
“Syair yang bagus..” puji si kedok itu.
Jaka tertawa. “Kau mengakuinya, aku jadi tersanjung. Padahal aku sendiri tak tahu apa yang kulantunkan.”
“Aku cuma mencoba menghargaimu.”
“Terima kasih. Kau bilang seperti itu, mau tak mau aku harus berterus terang, aku memang selalu mengagumi syair sendiri. Kalau bukan kita yang menikmati jerih payah sendiri, siapa lagi yang mau, bukankah begitu?” ujar Jaka. “Kalau boleh tahu, apa maksud kedatangan anda?” tanya Jaka langsung ke pokok permasalahan.
“Sebenarnya tidak begitu penting, cuma ingin bertanding denganmu!” kata si kedok itu tegas.
“Oh,” Jaka tertegun, “Sangat menyenangkan!” sambungnya. “Kapan? Sekarang jugakah?”
Si kedok tidak menduga jawaban Jaka begitu mudah, menurutnya, seharusnya Jaka menanyakan alasan dirinya yang—bahkan belum mengenalkan diri—terus menantang. Menurutnya, akan ada perdebatan, lalu seperti rencananya… pertarungan.
Tak banyak berpikir, ia segera menjawab. “Menurutmu?”
“Lebih baik setelah keramaian..” ujar Jaka menyelidik, kalau Si Kedok tidak mengetahui persoalan yang dibicarakan, Jaka bisa mengambil kesimpulan orang itu tidak ada sangkut pautnya dengan Perguruan Naga Batu, atau kejadian yang akan berlangsung di sana. Dengan demikian, dia bermaksud tak akan berurusan dengan orang itu.
“Tidak bisa! Pilihan waktumu sangat buruk!” cela orang itu seenaknya.
Tapi Jaka tidak tersinggung ia tertawa ringan, dalam hatinya ia sudah ada dugaan kuat tentang maksud Si Kedok, ia dapat menduga maksudnya karena mendengar jawaban tadi.
“Jadi apakah saudara mempunyai usul waktu yang lebih baik?”
“Hari keempat!”
“Maksudmu?” tanya Jaka bingung.
“Keramaian masih enam hari lagi, agar tidak mengganggu perayaan, maka dua hari sebelumnya, kita adakan perjumpaan yang menentukan!”
Jaka manggut-manggut, “Baik, aku setuju!” serunya senang.
“Kau tidak ingin tahu pertandingan macam apa yang akan kita lakukan?” tanya si kedok itu dengan suara datar dingin.
“Rasanya tidak perlu,” sahut Jaka. “Paling-paling saling gebuk, jika saudara suka sastra mungkin saja itu yang akan di pertandingankan, atau mungkin bertanding racun untuk membuktikan kebenaran tentang diriku? Atau…” Jaka tidak melanjutkan ucapannya, ia tertawa penuh arti.
“Atau apa?!” seragah si kedok itu tak sabar.
“Aku sendiri tidak tahu kata apa yang cocok setelah ‘atau’ tadi,” sahutnya dengan wajah sungguh-sungguh. Sambil menghela nafas Jaka menyambung. “Aku tahu kedatangan saudara tidak sekedar memberi undangan bukan?”
“Benar! Kami datang untuk menunggu pertemuan yang akan berlangsung.”
“Pertemuan?” tanya Jaka heran.
“Hm…” orang itu menggumam sambil melirik keempat orang dibelakangnya, empat orang itu mengangguk pasti. “Pertemuan orang lama dengan begundal cilik!”
Jaka termangu heran, Apakah yang dimaksud mereka adalah guru? Kalau benar demikian, dari mana dia tahu kabarnya? pikirnya heran.
“Orang lama ya… apakah aku tahu dia?” akhirnya Jaka bertanya.
“Ya!” jawab si kedok getas.
“A-ha…” sorak Jaka terkejut juga girang, ia bertepuk tangan. “Kalau begitu, benar dugaanku!”
Melihat Jaka begitu riang, Si Kedok terheran-heran, dia tidak paham apa yang membuat Jaka berubah begitu cepat.
“Sobat, sayang sekali dugaanmu sedikit keliru!” ujar Jaka kemudian.
“Apa maksudmu?”
“Bajingan cilik yang kau maksudkan tidak akan hadir, mereka tahu situasi macam apa yang di hadapi saat ini. Tentu dia tak akan bertindak bodoh, apalagi banyak kakap berdatangan, mereka tidak akan bertindak gegabah. Pepatah mengatakan, memancing ikan besar lebih baik menggunakan umpan yang besar. Jika engkau ingin mengetahui siapa mereka itu, lebih baik buatlah umpan… umpan yang sangat lezat!”
Si pimpinan saling berpandangan dengan empat orang yang mengiringinya.
“Kelihatannya kau tahu banyak…” katanya memancing.
Jaka tertawa lebar, tentu saja dia tahu apa maksud ucapan si kedok itu. “Ah, kau terlalu menyanjung, aku tak lebih cuma pengunjung yang kebetulan lewat, jika urusan selesai sudah tentu harus buru-buru pergi. Lagi pula apa yang kuketahui hanya sedikit, tapi… jika kau mau menyimpulkan bahwa aku sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi, aku bisa menerimanya.”
Orang ini berbelit-belit! Pikir Si Kedok merasa jengkel. Tapi diluarnya, dia memuji.
“Lumayan untuk seorang pengunjung!”
Jaka tidak menanggapi, “Tapi ada beberapa hal yang membuatku resah, salah satunya kau…”
“Aku? Aku membuatmu resah?”
“Ya.” Jaka mengakui dengan jujur.
“Aku merasa tersanjung.” Ujar Si Kedok seraya terbahak, kelihatannya dia merasa menang angin.
Jaka tersenyum. “Kalau boleh tanya, apa yang akan kau lakukan? Maksudku, memancing ikan teri bukanlah hal yang perlu, apalagi menggunakan daging mahal. Menurutku itu tak baik..” kata Jaka.
Si Kedok tertegun, dia pikir Jaka tak tahu menahu tentang dirinya, ternyata pemuda itu bisa menebak sedikit maksud hatinya. Diam-diam dia mulai memperhitungkan Jaka.
Siapapun yang mendengar ucapan Jaka, tentu berbeda penafisrannya satu dengan yang lain. Tapi hanya Si Kedok yang maksud Jaka.
Mereka berpikir, orang ini sembarangan bicara, kenapa mengisyaratkan sesuatu tak menggunakan bahasa sedikit lebih halus? Seenaknya saja!
“Kau yakin dengan dugaanmu?”
Bagi orang berego tinggi ucapan ‘dugaan’ sangat memukul harga diri. Karena arti ‘dugaan’ bisa berarti sembarang bicara. Dalam hal ini Si Kedok tak bisa disalahkan, karena dia tak melihat bukti ucapan Jaka.
Jaka pun paham dengan ‘makian’ Si Kedok, pemuda ini cuma tertawa. “Aku sangat yakin.”
Si Kedok diam sesaat. “Seandainya teri terbawa arus, bagaimana harus memancingnya?” tanya si kedok, memancing kecerdasan Jaka.
Jaka tertawa lebar, ia senang si kedok paham sepenuhnya dengan apa mereka bicarakan. “Sejak dulu mana ada orang memancing teri? Jadi buat apa mengurus ikan teri? Kalau kau inginkan besi berkualitas, tak akan luput dari api! Hh, kebanyakan orang tidak ingin melewatkan hal menarik, jika memikirkan sesuatu yang bisa membentuk besi jelek, jadi berkualitas. Walaupun dalam keadaan darurat ikan teri tak bisa dibuat mengganjal perut, akan datang saatnya kakap mampir ke kailmu!”
“Sepertinya harus berpuasa…”
Jaka tertawa senang mendengarnya. “Ternyata, kau memahaminya.”
Orang berkedok itu mengangguk samar. Dia paham betul apa yang dimaksudkan, yakni; ikan teri—Bergola, kemungkinan sudah melaporkan apa yang dilihat anak buahnya, yang sebelumnya datang untuk memata-matai keadaan. Mereka pasti sudah memberi kabar pada atasan, bahwa banyak jago kuat yang berkumpul di Kuil Ireng.
Tentu saja si bandeng adalah pimpinan Bergola, bahkan orang yang lebih tinggi kedudukannya, mungkin akan segera datang kuli Ireng, dengan sembunyi-sembunyi, atau terang-terangan. Tentu saja orang seperti Bergola tak akan datang, ilmu mereka terlalu cetek untuk menghindari dari pantauan tokoh sakti seperti Ki Lugas.
Dari sini, Jaka juga bisa mengambil kesimpulan, bahwa malam ini Si Tuan Entah Siapa itu, belum bersinggungan dengan Bergola atau atasannya.
“Apa yang kau pikirkan mungkin saja terjadi, tapi kakap tidak semudah, selunak ikan teri.” Gumam si kedok.
“Siapa bilang sekeras itu? Memangnya engkau mau memakannya mentah-mentah? Tentu saja harus merebus, menggulainya pasti jauh lebih enak.” Jawab Jaka seperti sekenanya, terdengar melantur.
Si Kedok tergelak. “Pemikiran bagus, tapi kurasa kurang tepat, menggulai tanpa api? Bagaimana dengan alat masak? Kurasa ini tak akan berhasil!”
“Ya, kusadari api juga belum cukup, bagaimana kalau aku yang menyediakan bumbu, lalu kau yang menyediakan peralatan masaknya.”
Orang berkedok itu termenung, “Boleh juga usulmu, tapi aku tidak dapat menduga bumbu apa yang akan kau pakai, jangan-jangan tak enak.”
“Jangan kawatir,” sahut Jaka. “Bumbu olahanku ditanggung enak! Supaya kelezatan terjamin, aku sendiri yang akan memasaknya. Setelah mencicipi, kau tak akan melewatkan bumbu olahan berikutnya.”
Si Kedok menatap Jaka sesaat. “Jika kau begitu yakin, aku tak keberatan. Cuma… menyediakan bumbu berbeda dengan memasak, aku meragukan itu!” ujar Si Kedok bergumam.
Jaka terdiam sesaat, mendadak ia tertawa. “Aku memang tak bisa menjamin hal itu, tapi aku punya keyakinan, masakanku seenak bumbu olahannya.”
“Semoga saja.”
“Tentang ikan kakap… pernahkah kau dengar ikan itu bisa jadi umpan? Umpan ikan besar pemakan daging, seperti hiu?”
“Ya, aku pernah mendengarnya!” ujarnya cepat seperti tersinggung.
“Kalau kita… aku bisa melihat hiunya, maka tak perlu menggunakan bumbu terlalu lezat.”
“Cukup bagus!” sahut si kedok memuji sambil bertepuk tangan. Tapi bagi pendengaran Jaka tepuk tangan itu dapat mengartikan dua hal; yakni mengejek kesalahan bicaranya—kita, yang berarti tindakan Jaka akan tergantung pada Si Kedok; atau orang ini memang memuji rencananya.
Kedua orang itu kelihatannya cocok satu sama lain, sikap mereka menimbulkan kebingungan bagi yang mengikuti percakapan dari awal. Bahkan Ki Lugas dan dua keponakan muridnya yang kembali mengintai keluarpun makin tak mengerti melihat tingkah Jaka yang kelihatannya makin ngelantur.
Lain dengan Ki Gunadarma, dia mulai paham dengan kecerdikan Jaka, tapi yang tidak ia mengerti kenapa membicarakan soal penting dengan istilah ikan segala? Kejadian itu membuatnya geli.
Empat orang yang mengiringi si manusia berkedok hanya bisa diam dengan tatapan mata menyiratkan kebingungan, walau mereka terlihat menyeramkan dalam kedoknya, namun melihat tuannya bisa akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya, merekapun merasa tercengang.
Benar kata orang bijak, jika dua cendekia berbicara lebih baik tak perlu mengikuti alur pikiran mereka… cukup mendengar saja, batin mereka dalam hati.
Siapapun tak bisa menyalahkan empat pengiring itu, mereka bukannya orang bodoh, tapi percakapan Jaka dan Si Kedok itulah yang terlalu aneh dan janggal, seperti penjual ikan sedang berembuk dengan pemilik restoran saja… mereka berdua lebih tepat dikatakan dua orang koki yang ingin duet membuat masakan selezat mungkin—kira-kira begitulah anggapan empat orang pengiring itu.
“Menurutmu, api yang paling baik, kita… kuambil dari mana?” tanya si kedok itu.
Jaka tertawa seperti biasa, agaknya si kedok itu tidak dapat menyembunyikan persetujuan bekerja sama dengan dirinya. Rupanya kesalahan dirinya diulangi Si Kedok.
“Api?” Jaka bergumam. “Menurutku, tidak perlu menggunakan api!”
“Memasak tanpa api? Terori dari mana?!” seru orang itu.
“Bukan begitu sobat,” Jaka menyahut tenang. “Aku tak perlu mencari sumber api, sebab sudah kutemukan api besar! Api yang dapat membakar hangus masakan kita… masakkanku,” ralat Jaka dengan nada agak canggung seperti si kedok tadi, ia memang sengaja berbicara salah agar orang itu tidak canggung.
Jaka tidak dapat menduga perubahan wajah si manusia berkedok karena ucapannya. Tapi dari kilatan matanya, Jaka tahu orang itu gembira, mungkin karena kedudukan mereka ‘dua-satu’, keduanya sama-sama salah mengucap.
“Jadi api bagaimana yang kau maksudkan?”
“Aku ingin menceritakannya, tapi lebih baik saat sebelum atau sesudah kita bersua secara serius saja. Aku yakin, api itu tak baik disulut terburu, yang perlu adalah, bagaimana cara mengolah bahan, bumbu dan memasaknya, apalagi dengan alat yang aku sendiri tak tahu lengkap atau tidak!”
“Hm…” si kedok itu mengumam penuh arti. “Aku bisa menjamin alat masak, selengkap yang diperlukan.”
“Bagus!”
“Eh, tadi, kau katakan api itu mungkin terlalu besar?”
“Benar.”
“Kalau begitu tidak perlu menggunakan bumbu lagi!” katanya dengan nada setengah menyindir.
Jaka tersenyum, “Aku paham! Memakai bumbu atau tidak, rasanya akan sama jika hangus.”
“Ya!”
“Tapi, ada satu hal yang perlu kusampaikan…” Jaka tidak meneruskan ucapannya, ia melihat reaksi si kedok itu.
“Silahkan…”
“Pernahkan saudara pergi ke pesisir laut Pulau Karang?”
Si kedok itu diam sesaat, ia tidak menyangka Jaka merubah arah pembicaraan. “Rasanya sudah!”
Jaka mengangguk, jawaban yang dipikir terlalu lama dari waktu yang seharusnya, membuat ia mengerti, mungkin saja orang itu belum pernah ke wilayah itu. “Andai kau pernah ke sana, mungkin pernah mendengar, melihat, atau bahkan merasakan, masakan khas daerah sana.”
Orang berkedok itu tertegun sesaat, mendadak selintas ingatan membuatnya mengangguk tegas. “Apakah yang kau maksud Tumis ikan Arang?”
“Benar sekali!” jawab Jaka sambil bertepuk tangan. “Tentu kau sudah mengerti maksudku bukan?” tanya Jaka kemudian.
Kelihatannya Si Kedok memang sangat cerdik, begitu yang dimaksudkan Jaka terucap, ia langsung memahaminya.
Orang itu tertawa panjang. “Tak sangka ada pemikiran seperti itu. Aku salut. Ini benar-benar jitu!” puji orang itu.
“Terima kasih atas pujianmu.”
“Aku masih ada satu ganjalan…”
“Silahkan kau utarakan.”
“Apa pernah terpikir, api akan mengecil karena tertiup angin besar?”
Jaka melegak sesaat, pikirnya. Kau bisa mengajukan pertanyaan semacam ini berarti kau sangat cerdik.
“Mengenai masalah itu engkau tak perlu repot memikirkannya. Aku selalu punya cadangan minyak untuk membuat api lebih besar, jikalau masih kurang membesarkan api, aku bisa membangun tembok untuk menghalang datangnya angin.”
Si Kedok tertegun, ia memandang Jaka lekat-lekat. Dia baru sadar bahwa orang yang sedang dihadapinya, memiliki sesuatu… sesuatu yang besar pengaruhnya, mungkin mirip perasaan takjub bagi orang lain yang memandangnya.
“Kau punya daya sebesar itu?”
“Tidak juga, hanya kebetulan. Di dunia ini selalu banyak kejadian yang tidak terencana, kita sebut itu kebetulan, yang sebenarnya adalah campur tangan Tuhan. Dan kebetulan—nah, kebetulan lagi—aku menemukan semua faktor itu.”
Si kedok tertegun memandang Jaka, tapi hanya sesaat. Belum pernah kujumpai orang bertingkah setenang ini. Jika yang dibicarakannya benar, aku pasti sangat kagum padanya, puji si kedok itu dalam hati.
Suasana lengang sesaat. Kecuali Jaka dan Si Kedok yang sedang bercakap-cakap, sesungguhnya masih banyak orang lain yang berada di tempat itu secara sembunyi-sembunyi.
Mereka bukan hanya Ki Lugas dan dua keponakan muridnya, atau empat orang pengiring si manusia berkedok, atau Ki Gunadarma! Tapi orang lain yang kedatanganya tidak dirasakan oleh siapapun… atau mungkin sengaja tidak dirasakan oleh siapapun!
Mereka berjumlah tujuh orang, dan tujuh orang itu datang dari tempat yang berbeda. Artinya, mereka sama sekali tidak saling berhubungan… mungkin hubungan yang hanya terbatas pada malam itu saja. Mungkin di lain hari mereka sudah saling mengenal.
Tujuh orang itu berada di tujuh tempat berbeda. Jika ada yang melihat, dari cara berpakaian, orang dapat menebak mereka bukan kaum awam atau penduduk biasa, pakaian mereka ringkas ketat, mereka adalah kaum pesilat.
Sebenarnya, kehadiran mereka jauh lebih dulu dari siapapun, sebelum Ki Lugas, sebelum Mahesa Ageng, dan tentu saja sebelum Jaka. Ketujuh orang itu tidak banyak tertarik dengan kejadian sebelum Jaka datang… yah, memang sebelum Jaka datang, banyak orang persilatan yang singgah sebentar di Kuil Ireng, tapi mereka melanjutkan perjalanannya kembali, menyadari kota tujuan sudah dekat. Banyak pendatang yang bercakap-cakap mengenai banyak hal, termasuk kabar terbaru yang menarik, misalnya saja kemunculan jago-jago muda, atau pertempuran dahsyat di sebuah tempat.
Namun macam ragam berita tidak menarik minat mereka, tapi begitu Jaka datang, tujuh orang itu seperti dikomando dan langsung memperhatikan semua tingkah si pemuda, dan semua yang diucapkan Jaka.
Mereka seperti sedang menunggu isyarat, tapi di lain hal, mereka tertarik dengan kisah, Jaka adalah keturunan seorang tokoh yang menggemparkan di masa satu setengah abad lalu. Apakah itu bualan atau bukan, mereka kelihatannya senang dengan cerita Jaka tadi.

—ooOoo—

28 – Menguji Pancawisa Mahatmya (Lima Racun Yang Mematikan)

Seluruh percakapan Jaka mereka ikuti dengan seksama, mulai dari caranya menyelesaikan persoalan Mahesa Ageng palsu, lalu bentrokan sekejap dengan Ki Lugas, dan pertandingan dengan Mahesa Ageng asli. Semuanya diikuti dengan jelas, tentunya percakapan dengan si kedok itu juga tidak lepas dari pengamatan mereka bertujuh.
Dan apa yang Jaka sampaikan, terakhir, cukup jelas mereka tangkap. Dengan sendirinya, mereka tau apa yang harus dilakukan dan siap bergerak kapan saja.
Mereka memberi catatan khusus pada pembicaraan terakhir, mendengar percakapan kedua orang itu. Dalam hati, mereka sama-sama membatin. Dua orang itu memang memiliki kecerdikan di atas orang top dunia persilatan, tapi dari gerak-geriknya, kelihatannya Si Kedok masih kalah pengalaman. Entah ada maksud lainkah selain ‘itu’, dari percakapan mereka? Rasanya dari pada jadi lawan, mereka berdua lebih baik jadi kawan.
“Bagaimana, kau sudah mengambil keputusan dengan tindakanku nanti?” tanya Jaka setelah mereka diam beberapa saat.
“Ya! Kuputuskan untuk percaya padamu, tapi ada satu permintaanku yang mungkin kurang layak…” kata si kedok itu dengan nada berat, terkesan sungkan.
Jaka berpikir, orang ini basa-basinya payah, jika memang tak layak mengapa masih diajukannya juga?
Jaka tersenyum seperti biasa, “Silahkan, kau tidak perlu ragu, katakan saja.”
“Begini, terus terang saja aku tidak percaya bahwa kau ini generasi penerus Tabib Hidup-Mati, jadi untuk membuang rasa penasaranku, aku mohon saudara mau menerima beberapa cendramataku…” kata Si Kedok terlihat begitu sungkan.
Tentu saja Jaka tahu maksudnya. Orang itu menginginkan dirinya menerima racunnya, untuk membuktikan bahwa dia benar-benar keturunan sang tabib, atau mungkin—setidak-tidaknya—orang itu ingin memastikan bahwa Jaka memiliki pengetahuan mengenai racun.
Jaka termenung sesaat, “Baik, dengan senang hati!” katanya dengan suara mantap. Percakapan yang terakhir ini benar-benar menarik hati siapa pun yang ada di sekitar kuil ireng.
Bahkan Ki Lugas yang sudah kembali masuk ke kuil, tanpa malu-malu keluar lagi untuk menyaksikan lebih dekat, dua orang keponakan muridnyapun ikut serta.
“Kalau kau memang keturunan sang tabib, apapun ‘bingkisan‘ yang kuberikan pasti mudah kau punahkan. Karena kudengar Tabib Hidup-Mati juga mahir dalam pengobatan, aku juga minta kau terima hadiahku tanpa bantuan apa pun!”
“Maksudnya?”
“Kau tidak boleh memakan pil pemunah racun sebelumnya, tak boleh menggunakan mustika, penolak racun, atau hal semacam itu.”
“Oo, aku paham.”
“Jika kau hanya memahami tanpa punya keberanian mencoba, buat apa? Usulku, jika kau tak yakin dengan kemampuanmu, kau boleh menelan obat apa pun untuk berjaga-jaga. Jika obatmu kurang manjur, aku yang akan memberi penawarnya!” ucapan seperti itu kelihatannya memang wajar, tapi bagi orang yang bermartabat tinggi, harga diri mereka pasti merasa dilecehkan.
Sebab Si Kedok seperti berbicara; jika kau tak sanggup punahkan racunku, nama sang tabib pun hanya omong kosong belaka. Sekali pun Jaka tak ada sangkut pautnya dengan tabib yang dimaksud, paling tidak, dia harus menjaga nama yang dicatutnya.
“Menarik sekali…” ujar Jaka seolah sedang mempertimbangkan.
Jika Ki Lugas dan dua orang keponakan muridnya tertegun dengan ucapan Si Kedok, jawaban Jaka membuat mereka tak paham. Tapi yang lebih terkejut, adalah Ki Gunadarma.
Menurut Kakang Lukita, anak ini menguasai kitab pertabiban nomer satu yang pernah beredar di dunia persilatan, tapi kalau melihat usia yang baru dua puluh tahun, aku kawatir dia celaka. Pikirnya gundah. Mudah-mudahan ia tidak terlalu terburu nafsu menjawab tantangan gila itu!
“Bagaimana, kau terima alasanku tadi?”
“Tergantung…” ujar Jaka tak terburu-buru. ”Kupikir masih ada beberapa syarat lagi, jangan sungkan-sungkan katakan saja?” pinta Jaka dengan entengnya.
“Sungguh cerdik! Kuakui hal itu, kalau kau tidak sanggup menawarkan racunku, maka syarat pertama; aku mengharapkan untuk seterusnya kau jangan memperkenalkan diri yang bersangkutan dengan nama si tabib sakti!”
Jaka tertawa pendek. “Itu mudah.” Sahutnya Enteng. “Berikutnya?”
“Yang kedua, selamanya kau harus tunduk dibawah perintahku!”
“Tak mengherankan, kurasa itu wajar.” Ujar pemuda ini sambil manggut-manggut.
Justru ketenangan Jaka membuat hati Si Kedok bergetar. Dia pikir, jika lawannya tak punya pegangan, bagaimana bisa bersikap begitu santai?
Sebenarnya anggapan Si Kedok agak meleset. Jaka bukannya santai atau memang berlagak santai, sebab pembawaan pemuda itu memang selalu tenang seperti air. Padahal dalam hati, Jaka merasa heran dengan syarat itu. Meski syarat pertama Si Kedok bukan halangan baginya, karena dia hanya mencipta tokoh fiktif belaka, tapi syarat kedua… harus diakui, dirinya agak ragu. Sebab dia tak yakin bisa menghilangkan racun Si Kedok.
Pikir punya pikir, tantangan itu membuat hatinya bergolak… kalau kutampik, rasanya percuma saja banyak penderitaan kualami demi menelaah kitab pertabiban, sudah seharusnya aku menerima tantangan orang ini, untuk menguji kemampuan sendiri! Tekad Jaka dalam hati.
“Hm, baiklah… kedua syaratmu aku terima.” Ujar pemuda ini ringan, seolah dia hanya memutuskan harus membeli tahu atau tempe, padahal nyawa taruhannya!
Persetujuan Jaka di luar dugaan Si Kedok, juga Ki Gunadarma. Mereka tidak menyangka Jaka begitu mudah mengambil keputusan menyangkut nyawanya.
“Kau tidak menyesal andai kemampuanmu tak sebanding dengan tekadmu? ” tanya si kedok itu memastikan.
Jaka tertawa ringan, “Apa yang kuperbuat—kalau aku yakin itu benar dan tidak merugikan orang lain—maka tidak akan ada kata menyesal! Lagi pula kalau aku kalah, apa susahnya menepati syaratmu? Kalau gagal menawarkan racun, nama leluhur tak perlu lagi disebut, hanya membawa malu! Mengenai tunduk dibawah perintahmu, apa susahnya? Paling juga jadi pesuruh, disuruh ini itu…”
Si Kedok memiringkan kepalanya, dia menatap Jaka seolah pemuda itu adalah hal teraneh yang pernah dilihat. “Kau tak kawatir aku menyuruhmu membunuh orang, atau memfitnah orang?”
“Jelas khawatir, cuma aku yakin kau tidak akan memerintahkan hal semacam itu. Eh, tentu semua ini terjadi kalau aku benar-benar kalah bukan?”
“Ya!”
“Ada hal yang ingin kutekankan padamu.”
“Apa itu?”
“Jika aku kalah, sudah sewajarnya setiap perintah harus kupatuhi, tapi kalau perintahmu keterlaluan, kuyakin kau menyesalinya…”
“Menyesal?!” jengek Si Kedok menyepelekan. Dalam bayangannya di pikir Jaka akan menggertak dengan ungkapan ‘seram-seram’.
“Ya, tentu kau akan menyesal, sebab aku tidak akan mematuhi semua perintahmu. Aku akan pergi kemana aku suka. Kalau aku pergi kau juga yang merasa kehilangan, aku tidak rugi. Karena aku kau anggap berguna, dengan sendirinya kau enggan kehilangan tenaga sebaik aku kan? Kalau alasanmu bukan seperti itu, tak mungkin kau masukan perjanjian itu pada syarat kedua. Kesimpulanku, kau pasti akan menyesalinya jika orang sehandal diriku lenyap begitu saja.”
Si Kedok terkesima mendengarnya, dipikirnya Jaka akan mengatakan hal-hal yang aneh, atau seram. Tak nyana hanya ungkapan merajuk seperti anak kecil. Tapi, sanggahan Jaka memang sangat beralasan.
“Hm, jika kuberikan racun yang tak bisa kau tawarkan?”
Jaka tertawa geli. “Kau aneh, di dunia ini tak ada racun yang tak punya penawar. Dan tidak ada racun yang tak dikenal keluarga Tabib Hidup-Mati. Kau Jangan lupa, racunmu yang akan kucoba memang harus kutahan tanpa bantuan dari luar, bukan berarti racunmu tak bisa kutawarkan. Bukan begitu?”
Si Kedok tak menjawab, mungkin karena merasa jawaban Jaka masuk akal.
“Yah, akupun tak menutup kemungkinan ada racunmu yang tak bisa kutawarkan. Walau begitu, aku akan tetap pergi tanpa minta penawarmu.”
“Kurasa kata-kata yang cocok adalah, nekat!”
“Mungkin kau benar.” Ujar Jaka. “Hidup manusia itu tergantung dari niat dan kemauan. Sehebat apapun sebuah perhitungan manusia, tak akan lolos takdir yang diemban tiap manusia.”
“Hmk!” si kedok itu menjengek.
“Ah, sebaiknya tidak perlu kita bicarakan hal ini. Kalau begini terus, seolah akulah yang kalah.”
Si Kedok tertawa dingin, tapi dia tak menanggapi.
“Kurasa inilah saatnya aku harus mencoba bingkisanmu.” Tukas Jaka sebelum Si Kedok berkomentar.
“Baik! Tapi, ada satu hal yang belum kusampaikan padamu,”
“Silahkan?” tanya Jaka.
“Racun yang akan kuberikan padamu ada tiga macam, kalau kau bisa menawarkan dua diantaranya berarti kau menang, jika kurang atau tidak ada, sudah tentu kalah!” tegas Si Kedok.
“Huh! Permainan yang menggelikan, benar-benar tidak adil!” dengus seseorang.
Biarpun suara itu lirih, namun suasana hening malam itu membuat tiap orang bisa mendengarnya, Jaka dan Si Kedok memalingkan wajah mereka, didapatinya yang mendengus tadi adalah Seta Angling.
Si kedok itu mendengus perlahan dan memalingkan wajahnya kembali, sementara Jaka tersenyum ke arah Seta Angling, sambil menjura. “Terima kasih kau membelaku.”
“Siapa yang membelamu?!” seragah pemuda itu berang. Ia memalingkan wajahnya ke samping, agar Jaka tidak menghadap ke arahnya lagi.
Jaka geleng-geleng kepala, Pemuda manja, tingkahnya terlalu kekanakan, mana pemberang, sedikit-sedikti marah, cerewet lagi, seperti perempuan saja. Gerutu Jaka dalam hati.
Jaka kembali menghadap Si Kedok, dia melihat orang itu sudah menyiapkan tiga buah benda yang masing-masing diletakkan di nampan kecil, yang dibawa tiga orang pengiringnya.
“A-ha, bingkisan itukah yang akan kau berikan padaku?” tanya Jaka.
“Benar sekali!”
Jaka mendekat, dilihatnya nampan pertama. Dia melihat bungkusan kecil berwarna kuning emas, Jaka menyentuh perlahan bungkusan itu, terasa olehnya banyak butiran kecil. Setelah itu ia mencium jarinya yang dipakai untuk memeriksa bungkusan itu. Wajah Jaka sama sekali tidak menampilkan perubahan, bahkan sekilas, ada senyuman tipis tersungging dibibirnya. Tanpa berkomentar, Jaka mendekati nampan kedua, ia melihat pada nampan itu terdapat botol porselin tembus pandang, didalamnya nampak gumpalan-gumpalan gelap. Gelapnya malam, membuat Jaka tidak bisa menebak, apakah warna gumpalan itu hitam, atau biru, atau hijau, atau mungkin merah. Jaka mengambil porselin itu, ia mengguncang sesaat… terlihat isi porselin itu bergolak.
Bukan cairan, namun asap padat, pikir Jaka. Lalu ia menuju nampan ketiga, ia melihat empat jarum emas yang berkilat keperakan. Sekilas Jaka menampilkan perubahan pada wajah, namun ia kembali tenang dan wajahnya dipenuhi senyuman seperti biasa.
“Bagaimana? Apakah kau benar-benar ingin meneruskan?!” tanya si kedok itu dengan nada tinggi hati.
Jaka menggeleng.
Orang itu melegak, “Maksudmu kau tidak ingin mencoba!?” tanyanya dengan suara tak percaya.
“Andai aku mengiyakan, kau pasti kebingungan? Apa lagi aku tidak perduli segala caci maki. Tapi aku tak bermaksud begitu, aku hanya mau mengajukan syarat padamu.”
“Oh, syarat?!”
“Kau keberatan?”
“Tidak, kupikir ini adil.”
“Bagus, jadi-tidaknya aku mencoba mainanmu tergantung sikapmu. Mungkin setelah mendengarnya, kau sendiri yang akan mundur…”
“Katakan!” serunya dengan penasaran melihat sikap Jaka yang sangat tenang.
“Kau benar-benar tidak menyesal menerima syaratku?”
“Setidaknya aku mendengarkan dulu!”
Jaka manggut-manggut, “Kalau aku menang, aku hanya ingin mengenal siapa dirimu yang sebenarnya. Meskipun aku bisa menebaknya, kurasa baru enam bagian saja, karena itu aku ingin kepastian darimu.”
“Baik, aku menerima!” sahut si kedok itu tanpa banyak pikir.
“Apanya?” tanya Jaka dengan senyuman menjengkelkan.
“Syaratmu!” seru si kedok itu gemas.
“Semua syaratku yang tadi?”
“Betul!”
“Oh, terima kasih. Kalau begitu…” tiba-tiba pemuda ini tersentak, “Oh, tapi ada yang terlupa…”
“Apa itu?!” tanya si kedok makin gemas.
“Aku lupa menyebutkan syaratku yang lain,”
“Kau…” geram si kedok itu tertegun.
Keparat ini ternyata licin sekali, sudah terlanjur kusetujui syaratnya, mudah-mudahan syarat yang ketinggalan tidak terlalu memberatkan! Pikirnya gemas. Ia sadar Jaka sudah mengakalinya, menyanggahpun tak ada artinya. Jika saja Jaka hanya mengucapkan ‘syaratku yang tadi’ dengan sendirinya masih bisa dibantah, tapi karena ada ucapan ‘semua..’ didepannya, maka bisa diartikan ada satu atau beberapa syarat yang ketinggalan—lupa diucapkan, celakanya itu telah disetujui olehnya.
”Hm, mudah saja, tapi aku tidak ingin mengatakannya sekarang. Lebih baik kucoba dulu racunmu.”
Ucapan terakhir Jaka membuat suasana terasa kian hening. Ki Gunadarma kebat-kebit melihat tingkah ugal-ugalan Jaka. Sedangkan Ki Lugas melihat dengan penuh pengharapan, ia ingin menyaksikan betul tidaknya bahwa Jaka memang keturunan si tabib sakti.
Tujuh orang yang bersembunyi sejak tadi, berusaha tak berkedip sekalipun, seolah mereka tak ingin melewatkan tiap detiknya. Apa lagi mereka ingin sekali melihat cara apa yang akan dilakukan Jaka.
“Jadi, aku harus memulai yang mana?” tanya Jaka.
“Terserah, namun perlu kujelaskan, nampan yang pertama kaulihat tadi berisi sebuah pil, kau harus menelannya. Nampan kedua berisi asap racun, kau harus menghirupnya, dan nampan ketiga berisi adalah jarum, kau harus bersedia ditusuk jarum tersebut!”
Jaka manggut-manggut, tiga mainan yang menakutkan. Hh… entah ada maksud apa orang-orang ini membawanya? Mudah-mudahan aku bisa mengatasinya, pikirnya.
“Tiga racun yang kau bawa ini hebat sekali, pil ini kalau aku tidak salah lihat, adalah Racun Pemutus Nadi, sedangkan asap yang ada di dalam porselen ini pasti asap Racun Lima Mayat, yang terakhir… hanya sekilaspun aku bisa tahu dengan jelas, bahwa jarum yang kau gunakan ini bukan racun! Tapi inilah obat penawar Racun Ulat Emas. Terus terang, aku kagum denganmu, orang yang mengetahui bahwa obat penawar Racun Ulat Emas merupakan pemicu racun tertentu, tergolong jarang. Bahkan tak ada, tapi kau mengetahuinya, aku salut! Tapi harus kau ketahui, semua ini belum begitu menyulitkanku.”
Ucapan Jaka membuat Si Kedok itu tertegun sebuah perasaan ngeri terbersit dihatinya, orang ini tahu seluk beluk racun hanya dengan meraba. Hebat sekali! Tapi siapa yang bisa menahan Jarum Pemicu Racun? pikirnya. “Bagaimanapun belum pernah ada orang yang sanggup menerima semua racun ini tanpa penawar! Kelihatannya dia juga tidak punya pelindung apa pun… bagaimana dia bisa begitu yakin?
Jaka kembali berkata, “Kalau boleh aku memberi sedikit saran, tapi ini bukannya aku takut, hanya saja aku ingin mempertimbangkan soal mencoba racun ini. Kalau aku bisa menahan, katakanlah menawarkan racun, berarti kau kalah. Dan kau harus menepati perjanjian. Dengan beberapa syarat yang kau tidak tahu isinya, bukankah itu membuat gelisah? Bagaimana jika syaratku mengharuskan kau menjadi budakku? Atau bahkan pembunuh, em… mungkin menjadi pengemis selama setahun. Bukankah itu belum kau ketahui? Jadi aku ingin kau berfikir baik-baik!”
Si kedok menyipitkan matanya, agaknya diapun tergerak dengan ucapan Jaka, sesaat ia akan mengatakan sesuatu, Jaka sudah menyela lebih dulu.
”Aku mengatakan hal seperti ini karena aku juga menawarkan harga tinggi padamu, aku dinyatakan menang apabila semua racunmu berhasil kuredam!”
Bagus, inilah yang kutunggu! Serunya dalam hati, mendengar ucapan Jaka.
Di luarnya Si Kedok tidak memberikan tanggapan apapun. Jaka juga tidak mengusiknya, tidak ada salahnya racun orang ini kuketahui semuanya, pikir Jaka.
“Kalau kau kurang puas, kau boleh keluarkan semua racun yang kau punya.” Tantang Jaka dengan suara datar tanpa nada sombong, setelah membiarkan keadaan dicekam kesunyian sesaat lamanya.
Hm tak sabaran, akhirnya masuk jebakan juga! seru si kedok ini dalam hati merasa gembira. Apa dia tahu kalau Jaka berkata begitu bukan karena tak sabaran? Melainkan sengaja?! Hanya untuk memberi muka pada si kedok.
“Itu keinginanmu?” tanyanya memastikan. Jaka tak menjawab, namun ia mengangguk pasti.
“Berarti kau dinyatakan menang kalau sudah berhasil meredam seluruh racunku?!” si kedok ini kembali memastikan dengan pertanyaan yang menjebak. Sebab tadi Jaka mengatakan, bahwa ia dinyatakan menang apabila semua racun si kedok itu berhasil ditahan atau ditawarkan.
He, rupaya dia cepat tanggap, batin pemuda ini. Ternyata Si Kedok menemukan celah dalam ucapan Jaka. Orang cukup teliti, sayang sekali aku memang bermaksud mencicipi seluruh mainanmu, kalau tidak, jangan harap bisa ada kejadian seperti ini. Memang ini yang kuinginkan, mudah-mudahan bisa kunetralisir! Hitung-hitung sebagai latihan, tak ada ruginya, pikir Jaka sambil menimbangkan apa keputusannya benar atau tidak.
Jika ada yang tahu cara pikir Jaka, tentu mereka mengira pemuda ini kurang waras.
“Baik, kalau begitu keluarkan semua racunmu!” tantang Jaka lagi.
“Kau tidak menyesal?” tegas si kedok.
Jaka menggeleng, “Paling kau tambahkan sepuluh atau duapuluh jenis racun lagi, tapi aku ragu apa kau punya racun yang lebih hebat dari Racun Pemutus Nadi lebih banyak?”
“Kau benar, karena itu aku hanya menambahkan dua saja.”
“Menarik, apa saja?”
“Satu Napas, Enam Langkah, setingkat lebih hebat dari Racun Tujuh Langkah milikmu.” Katanya dengan suara biasa. “Kelima racunku dikenal dengan Pancawisa Mahatmya.”
Memang tidak menakutkan kedengarnya, tapi bagi orang yang tahu macam apa racun yang akan dicoba Jaka, hati mereka bergetar keras. Apalagi saat itu pengiring keempat mengeluarkan nampan yang berisi dua bungkusan, hati mereka makin gundah. Sekalipun mereka tak mengenal Jaka, siapapun akan berpihaknya, secara psikologis, orang memang akan membela pihak yang dirugikan.
Mereka yang kenal dengan Racun Satu Napas, tahu betul keganasannya, konon racun itu bisa menghanguskan isi paru-paru dan membuat usus berantakan kalau si korban menarik nafas panjang lebih dari satu kali. Jadi bisa dipastikan siapapun yang terkena racun Satu Nafas, umurnya tak akan lebih dari satu tarikan nafas.
Sedangkan Racun Enam Langkah, reaksinya sama dengan Racun Tujuh Langkah, apabila si korban terkena racun itu maka dalam enam langkah semua nadi penting dalam tubuhnya akan bergetar keras bagai dialiri arus bertegangan tinggi, lalu perlahan akan putus. Tentunya saat nadi putus, siksaan datang lebih lambat dan membuat orang lebih memilih mati saat itu juga.
Jaka berpikir sejenak, “Baik, semua persetujuan sudah kita sepakati. Tapi aku ada usul, entah kau menerima atau tidak…”
“Katakan saja!”
“Begini, adalah suatu kemustahilan, ada orang sanggup menahan racun tanpa bantuan dari luar.”
“Oh… jadi maksudmu kau ingin menelan sesuatu lebih dulu atau akan menggunakan sejenis mustika penolak racun?” tanya si kedok itu dengan nada sinis, tapi ia juga merasa kagum—sebab Jaka tanpa malu-malu mengutarakan maksud hatinya.
“Bukan begitu!” sahut Jaka tegas.
“Jadi?” ucapan itu menyiratkan keheranan yang besar, begitu juga dengan semua orang yang sedang asyik memperhatikannya.
Mereka pikir, sehebat-hebatnya orang, menahan lima racun yang memiliki daya membunuh sangat besar tanpa bantuan semacam mustika penolak racun, adalah mustahil! Bagaimana Jaka akan menahannya?
“Aku minta, saat menahan racun diberi batasan waktu, andai dalam waktu yang ditentukan aku tak sanggup, bahkan sampai roboh, maka tanggung jawab untuk menolongku berada padamu… dan tentunya saat itu aku kalah. Jika aku dapat menahan atau memunahkan dalam jangka waktu yang sudah disepakati, aku menang!”
Orang itu termenung sebentar, “Kau yakin?” tanyanya, ada sepercik nada kawatir disana. Namun karena ucapannya bernada berat dan datar, orang tidak tahu.
“Yakin sekali!” ucap Jaka mantap.
“Baiklah, bagaimana kau sampai fajar nanti?” si kedok menawarkannya sembarangan, sebab ia tidak tahu waktu yang tepat itu bagaimana, kalau ada orang yang bisa bertahan dengan lima racun hebat itu selama dua puluh hitungan saja sudah termasuk tokoh kosen, konon lagi sampai fajar menyingsing? Bukankah itu tiga-empat jam lagi? Dan artinya itu 14400 detik atau 14400 hitungan?
“Fajar? Boleh juga..” jawab Jaka ringan.
Bukan cuma si kedok yang terkejut mendengar jawaban Jaka, orang-orang yang ada di sekitar kuil itu lebih tercekat lagi, dari waktu sekarang sampai fajar nanti masih ada tiga-empat jam lagi, mereka berpikir.
Menahan sampai sepuluh hitungan saja sudah luar biasa, konon lagi sampai fajar nanti? Benar-benar cari mati!

—ooOoo—

29 – Memunahkan Pancawisa Mahatmya

Suasana dini hari makin senyap, hanya suara serangga malam yang terus berderik, mendengking dan makin melengking.
Jaka mengambil bungkusan di nampan pertama, “Tak ada peraturan bahwa aku harus menelan, atau memakainya sekaligus, bukan?”
Si Kedok menggangguk membenarkan, saat itu dia tidak ada minat untuk menjawab, suasana sudah diliputi ketegangan luar biasa.
Namun Jaka masih bisa bersikap santai, bukan main! Bahkan kelihatannya terlalu santai, seolah ia tidak menaruh perhatian pada kejadian yang akan dialaminya. Jaka membuka bungkusan kecil itu, dalam bungkusan ada tujuh pil berwarna kuning,
“Wah, ini bagus sekali…” seru Jaka membuat orang tambah tegang.
Tangannya menjumput, dengan gerakan wajar, Jaka memasukan pil itu kemulutnya. Terdengar suara desisan kecil, rupanya pil langsung mencair begitu kena air liur. Mau tak mau Jaka terkejut, sebab rencananya ia akan menahan pil itu lebih dulu dan menyelami sifatnya, baru ditelan, siapa sangka pil itu mencair cepat sekali.
Kelihatannya si pembuat merancang dua maksud dalam membuat pil itu, pertama; tentu saja untuk meracuni orang, agar tidak sempat mengetahui racun apa yang ditelan korban—sehingga tak bisa diantisipasi. Kedua; jika ada bahaya mendadak, pil itu bisa mudah digunakan untuk bunuh diri, sangat efektif.
Sungguh, pembuatannya terlalu lihay, pikir Jaka kagum. Dengan menarik nafas panjang, Jaka mengalirkan semua hawa murninya ke dalam dada dan menanjak ke atas, dalam sekejap saja Jaka merasakan segulung hawa panas yang sangat menggigit berputar di sekitar kerongkongan sampai dada. Racun ini masih tergolong ringan, batin Jaka. Kemudian, dengan pernafasan yang dia gubah dari kitab pertabiban, Jaka menekan hawa Racun Pemutus Nadi, makin ke bawah dan dialirkan ke tempat lain. Beberapa saat lamanya, racun itu sudah dipindahkan di urat syaraf tangan, tepatnya di pertengahan tapak tangan kiri.
Aneh, seharusnya begitu dia telan pil itu, setangguh apapun seorang jago, tubuhnya pasti kejang untuk beberapa saat. Kenapa dia tenang-tenang saja? Pikir si kedok itu bingung.
Jaka melihat telapak tangannya, ada titik warna gelap sebesar uang logam. Hm, dengan cara menekan racun ke daerah yang paling rawan, aku bisa menahan cukup lama, rasanya racun akan segera kehilangan unsur racunnya kalau memasuki wilayah rawan. Lemah menampung kuat, benar juga dalil itu. Sekarang adalah sebuah ujian untuk mengetahui sejauh mana aku mendalami pengetahuan ini.
Jaka menghela nafas, ia teringat dengan catatan pada kitab pertabiban, bahwa sebagian besar racun, tidak akan bisa bereaksi pada benda mati. Berpulang pada dalil itu, maka Jaka menyimpulkan sendiri bahwa racun tidak akan berekasi pada bagian tubuh yang tidak pernah bergerak, atau bagian paling lemah yang bisa disebut bagian pasif atau mati.
Bahkan racun apa pun dapat kehilangan unsur racunnya, karena racun yang menyerang daerah tidak aktif tidak akan mendapat reaksi apa-apa, namun daerah rawan itu sendiri memberikan reaksi pada racun, yang secara perlahan bisa menyirnakan unsur racun dengan bantuan darah dan udara—tapi kelemahannya adalah, kapan racun itu sirna, tak dapat dipastikan.
Karena darah yang melewati daerah rawan biasa lebih sedikit dibanding saat mengaliri tempat yang aktif, karena itu proses pemunahan racun bisa dua hari, atau dua minggu, atau dua bulan, atau mungkin dua tahun. Tapi pada proses ini ada satu keuntungan besar, biarpun terkena racun, aliran darah manusia pada daerah non aktif tetap berjalan seperti biasa, dengan kata lain, lambat laun darah dalam tubuh akan terbiasa dengan racun tersebut, selain membuat racun tersebut menjadi tawar, darah juga membuat suatu sistem kekebalan tubuh pada racun yang sama—antibody.
Sayangnya, cara pernafasan yang bisa membawa racun mengalir ke daerah rawan itu, dianggap sangat mustahil bagi para ahli pertabiban, atau tokoh kosen yang biasa mencipta ilmu berkualitas. Ibarat meletakkan telur di ujung rambut—sebuah hal sangat mustahil! Tapi guru Tabib Hidup-Mati menemukan cara melatih pernafasan yang amat lihay itu. Dan kini, Jaka menguasai pernafasan lihay itu!
Biarpun sudah ada teori, jika saja bukan orang yang berani, cerdik dan berbakat, tidak mungkin begitu mudah menguasai meditasi pernafasan yang dianggap mustahil.
Cuma, ada satu hal yang tak diketahui pemuda ini, sekalipun teori pernafasan tersebut tercipta, bahwa sesungguhnya baik sang guru atau muridnya, tak ada yang sanggup menguasai pernafasan seperti itu. Mereka hanya dapat menemukan teori tanpa membuktikan betul tidaknya. Karenanya lahirlah sebuah dalil umum yang menyatakan lemah mengatasi kuat, dengan beberapa keterangannya. Tapi dari situlah Jaka bisa mengubahnya menjadi sebentuk kepandaian yang ia sendiri tidak menyadari kehebatannya. Sebab saat melatih teori yang belum diketahui benar tidaknya, Jaka banyak merubah, menyusun dan menambahkan pemahamannya sendiri.
Padahal saat ia mempelajari pernafasan itu, kondisinya sedang payah-payahnya, ada saat-saat tertentu dimana dia harus berpacu dengan waktu…
Jaka menghela nafas panjang, dari bibirnya terdengar desisan lirih, nampaknya seperti senandung nada. Suara desisan tersebut, membuat kuduk orang berdiri, suasana juga terasa makin mencekam. Terbayang oleh mereka, kondisi ini adalah percobaan bunuh diri.
“Mainan kedua…” ujar Jaka pada dirinya, tapi ucapan itu seolah genta besar yang memberitahukan pada mereka, bahwa tahap pertama sukses dilalui. Kini, mereka menanti dengan hati berdebar tegang.
“Asap Racun Lima Mayat ya?” gumam Jaka, lalu ia hendak membuka tutup proslen itu.
“Tunggu!” tiba-tiba saja si kedok berseru kaget.
“Ya?”
“Kau tidak boleh membuka tutup itu seluruhnya, sebab asap akan menyebar sepanjang lima pal! Kau bisa bayangkan sendiri akibatnya, bukan?”
Jaka manggut-manggut, “Kau tahu, yang aku kagumi dari racunmu adalah cara pembuatannya, sebotol kecil ini saja bisa membuat orang dalam jarak lima pal teracuni. Metode pembuatan racun keluargamu sungguh luar biasa.”
“Terima kasih atas pujianmu!” jawab si kedok itu dengan suara berat dan kedengaran hambar.
Jaka tidak ambil perduli lagi, ia membuka tutup porselen itu sedikit saja. Tapi bagaikan sebuah magma yang tersumbat, asap itu langsung menyembur wajah Jaka. Tentu saja pemuda ini sudah menduga sejak awal, begitu asap menyembur wajahnya, Jaka bergegas menutup kembali porselen itu.
Sementara, mereka yang ada di sekitar Jaka—walau dalam jarak aman—mundur beberapa tindak, begitu melihat semburan asap.
Tapi Jaka sendiri dengan acuh tak acuh langsung menarik nafas dalam-dalam, sampai terdengar suara dan dadanya membusung, asap yang tadi menyembur keluar tersedot masuk seluruhnya. Bau harum menyengat, membuat Jaka pusing dalam beberapa detik, walau dia sudah bersiap-siap sebelumnya, harum sangat menyengat itu di luar perhitungannya, dan untuk sesaat menghambat tindakannya.
Ah, seperti terjeblos ke liang hitam tanpa batas! Keluhnya dalam hati.
Mereka melihat Jaka memejamkan mata, dan duduknya agak limbung. Tapi kejadian itu hanya berlangsung dalam tujuh hitungan saja, pada hitungan kedelapan, Jaka sudah membuka mata, dan posisi duduknyapun tak lagi limbung, siapa pun bisa melihat dia tak seperti orang keracunan.
“Gila!” Seru Si kedok terperanjat. Racun yang bisa membuat puluhan orang sekarat dalam lima hitungan bisa ia tahan begitu rupa? pikirnya heran.
Mendengar itu Jaka hanya tertawa saja, dia tidak menanggapi keheranan yang terpancar dari mata empat pengiring Si Kedok itu. Kalau aku tidak bersiap memadatkan asap ini, tentu aku akan celaka seperti yang kalian inginkan.” batin Jaka.
Memang sesaat setelah Jaka menghirup asap itu, hawa murni yang tidak pernah ia gunakan segera bereaksi dan bergolak menekan asap agar tidak memasuki paru-paru, jadi begitu asap melewati tenggorok, dengan cepat pula Jaka menekan agar asap masuk ke-kerongkong agar bisa dipadatkan dalam lambung. [tenggorok, sebagai saluran udara—kerongkong, sebagai saluran sesuatu yang masuk lewat mulut]
Tentu saja memadatkan asap adalah mustahil, tetapi itu mustahil terjadi jika asap masih berada di tenggorokan dan langsung ke paru-paru. Begitu asap bisa dialihkan di kerongkongan, maka dengan bantuan hawa murni, dan kontaminasi udara yang terdapat pada lambung—dikenal sebagai asam lambung, asap itu segera dinetralisir dan ditekan menuju usus besar, dan asap beracun itu berbaur dengan udara busuk di perut—yang akan segera keluar menjadi kentut.
Dan tentunya teknik memadatkan asap dan mencampurkannya secara teknis tidak akan bisa dilakukan oleh siapa pun, tapi agaknya Jaka adalah manusia anti teori, apa yang dianggap tak bisa, dia justru bisa. Dan mungkin orang akan bisa menguasai teknik itu—jika dan hanya jika—dapat menguasai ilmu tubuh manusia beserta semua 6236 syarafnya. Jaka adalah orang yang menguasai hal itu, dia paham semua pengetahuan yang berkaitan dengan syaraf, otot dan semua bagian tubuh manusia.
“Mainan ketiga…” gumamnya tanpa ketegangan sama sekali. Jaka tidak mengambil nampan ketiga yang berisi Jarum Pemicu Racun, tapi ia langsung mengambil Racun Enam Langkah. Tanpa basa-basi Jaka segera menelannya.
Kelemahan racun ini, tidak bisa bereaksi sebelum korban mencapai enam langkah. Hh, tapi ini hebat, ada yang bisa menciptakan racun lebih hebat dari Racun Tujuh Langkah, merupakan orang hebat, ah.. luar biasa, mungkin suatu saat aku akan bertemu para pencipta racun ini, pikirnya senang. Sungguh aku merasa kagum dengan pembuatan racun ini, seharusnya hanya bisa dalam bentuk bubuk, atau asap, tapi dia bisa membuatnya dalam bentuk pil. Penciptanya pastilah jeniusnya pakar.
“Mainan keempat…” Jaka segera mengambil dua batang Jarum Pemicu Racun. Lalu membuka bungkusan kecil yang berada di nampan lainnya. “Racun Satu Nafas? Kupikir, ini baru bisa dinamakan racun…” gumamnya.
“Tapi, sayang…” ucapan Jaka yang tak tuntas membuat siapapun penasaran. Pemuda ini berdiri.
Mereka makin berdebar tegang melihat Jaka melangkah kedepan. Satu, dua, tiga, empat, lima, en… ternyata Jaka hanya melangkah sampai lima langkah saja.
“Sungguh pengalaman menarik,” serunya sambil tertawa.
Lalu dengan cepat Jaka menelan pil Racun Satu Nafas. Begitu tertelan untuk beberapa saat lamanya, Jaka diam, sampai hitungan ketigapuluh, pemuda ini menarik nafas panjang dan melangkah ke depan sampai dua langkah, sedangkan tangan kanannya yang memegang Jarum Pemicu Racun, bergerak menusukkannya tepat di telapak tangan kiri, dan disimpul perut kecil, empat jari di bawah pusar.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat, gerakan Jaka-pun terjadi wajar, tidak membawa ketegangan sedikitpun. Tapi begitu semuanya berlangsung, wajah Jaka tiba-tiba memucat, nafasnya tersenggal-senggal, bahkan orang yang bersembunyi pun bisa mendengar nafas tak wajar pemuda ini.
Namun matanya tetap setenang danau, hanya saja ia menggertak giginya keras-keras sampai berkeriutan.
“Kalau tidak kuat, mengangguklah!” seru Si Kedok sangat terperanjat melihat keadan Jaka yang makin payah, kelihatannya ia sangat kawatir.
Jaka mengibaskan tangannya, menolak tawaran. “Masih sanggup kutahan…” sahut Jaka dengan suara lirih, agak tersendat, tapi nadanya tenang, penuh percaya diri.
Wajah yang tadi memucat kini merah merona, tubuh yang tadi menggetaran karena lemas, kini menegang. Keadaan Jaka ibarat laut yang dilanda dua badai berlawanan arah. Karena begitu wajahnya merah membara, beberapa saat kemudian wajahnya kembali pucat pias. Begitulah, keadaan Jaka berubah-ubah begitu rupa sampai seperempat jam lamanya.
Mereka yang menyaksikan kejadian itu adalah manusia berkemampuan unggul, mereka bisa melihat perubahan aneh pada rona wajah Jaka. Suasana jadi makin tegang saja, adalah tidak wajar orang yang terkena lima racun hebat tidak mengerang sedikitpun, tapi dari bibir Jaka bukannya terdengar erangan atau rintihan akibat racun, malah terdengar siulan yang tadi dilantunkan samar-samar, orang-orang tidak mengerti apa manfaat siulan, padahal Jaka bersiul hanya untuk melepas ketegangan hatinya.
Pada saat wajah Jaka pucat dan membara, biarpun tubuhnya letih—lemas, bahkan terkadang mengejang, Jaka tetap pada posisi semula—menggendong tangannya di depan dada, menandakan keteguhan pantang menyerah.
Lamat-lamat orang merasakan bahwa yang mereka pandang itu bukan sekedar pemuda berusia dua puluh tahun, ada semacam kewibawan darinya.
“Hhhh…” tiba-tiba saja Jaka menghembuskan nafas panjang dengan suara keras. Tangan yang semula bersedekap, kini menghentak bersamaan ke samping, lalu dipukulkan ke tanah.
Braak!
Suara akibat hentakan itu amat keras, bagaikan ratusan kati batu gunung yang longsor, namun tanah yang terkena hentakan itu tidak membekas apapun, hanya lamat-lamat debu mengepul tebal karena hentakan tangan Jaka. Akibat hentakan tadi tubuh Jaka melambung sampai tiga tombak, kemudian turun dengan perlahan. Begitu kaki menjejak tanah, Jaka berlutut sambil menghempaskan tangannya ke atas, seolah sedang membangkat beban.
“Selesai!” serunya dengan suara amat nyaring. Jaka bangkit, ia mencabut jarum yang menancap di pertengahan telapak kiri dan simpul kecil perutnya. Ia masukkan kembali jarum itu ke dalam kantung kulit yang sebelumnya untuk membungkus.
Orang baru sadar, ketika Jaka mencabut jarum di telapak tangannya, bukankah tadi Jaka menghantamkan tapak ke tanah dengan begitu kerasnya? Kenapa jarum yang menancap itu tidak menembusnya? Sungguh aneh.
Dengan tindak lambat, Jaka menyerahkan tiap nampan pada empat pengiring manusia berkedok.
“Apakah perlu ditunggu hingga fajar?” tanya Jaka dengan suara lembut, dari suaranya yang mantap, orang awampun tahu kalau Jaka sehat-sehat saja.
Sampai beberapa saat Si Kedok tak dapat bicara, ia merasa takjub, sangat takjub. Dan tentunya bukan cuma si kedok itu saja, empat pengiring, Ki Lugas bertiga, Ki Gunadarama dan tujuh orang misterius, merasa sangat kaget juga kagum.
Kalau ada orang yang kebal racun, mereka tidak begitu kagum, karena paling tidak orang yang kebal itu pernah menelan sebuah mustika langka, atau membawa sejenis mustika penolak racun.
Sepanjang sejarah persilatan, kecuali hari ini mereka belum pernah melihat dan mendengar ada orang bertahan dari lima racun hebat, dengan keadaan tubuh yang wajar—tanpa bantuan dari luar seperti mustika penolak racun atau sejenisnya. Tak disangka hari ini mereka menjadi saksi kejadian fenomenal.
“K-kau, kau yakin baik-baik saja?” tanya si kedok itu dengan suara agak melengking dari biasanya.
Jaka heran mendengar perubahan suara yang mulanya berat seperti orang tua, kini melengking nyaring seperti masih berusia belasan tahun. Tapi kekagetannya tidak ia pikirkan, buru-buru Jaka menjawab pertanyaan orang itu.
“Aku baik sekali, memang harus kuakui, selama hidupku aku belum pernah melakukkan perbuatan bodoh macam ini, tapi setelah mengalaminya, jadi orang bodoh ternyata melegakan.” Kata Jaka sambil tertawa.
“Sebenarnya bagaimana kau tawarkan lima racun tadi?” tanya Ki Lugas tak sabar. Sejak tadi ia menonton saja, rasanya sangat disisihkan, walaupun ia harus mengakui bahwa kejadian tadi memang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Tapi ia berpendapat sebagai orang yang dituakan, dirinya seharusnya mendapat prioritas lebih.
Jaka menoleh kearah Ki Lugas, ia ingin menjawab, tapi bagaimanapun juga Ki Lugas tidak termasuk orang yang terlibat dengan kejadian tadi. Pemuda ini menoleh kearah si kedok.
Tampak si kedok itu menganggukkan kepalanya, Ah, tak sangka diapun mengerti tata karma, pikirnya. Lalu mengangguklah ia sebagai jawaban, karena dirinya juga sangat ingin tahu jawabannya.
“Bukan hal sulit untuk menawarkan racun.” Kata Jaka memulai, lalu ia diam beberapa saat lamanya.
“Cuma itu saja keteranganmu?!” potong Seta Angling, si pemuda pemarah.
Jaka menoleh sekejap sambil tersenyum. “Tentu saja tidak… aku sedang berpikir bagaimana memberikan penjelasan yang gampang dimengerti.”
Meski dia seperti dilecehkan Seta, tapi dia tak marah. Untuk beberapa saat, Jaka kembali berpikir, tidak bisa kuterangkan secara gamblang, bisa-bisa mereka tahu, darimana kuperoleh cara itu. Mungkin bisa membongkar keberadaan kitab pertabiban yang pernah ada padaku. Hh, ini akan banyak membawa kesulitan, kalau begitu terpaksa aku mengarang cerita dengan latar si Tabib Hidup-Mati, Jaka memutuskan demikian, kemudian ia mulai memberi penjelasan.
”Begini, sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati, aku mempelajari sistem pernafasan berbeda dari olah pernafasan kaum persilatan pada umumnya. Pernafasan itu disebut…” Jaka termenung sebentar, ia harus mengarang sebuah nama yang bagus.
“Sembilan Putaran Nadi, awalnya pernafasan ini diciptakan untuk menahan racun apa saja. Dan itu juga yang kugunakan untuk menahan racun yang masuk ke tubuhku. Pada tingkatan tertentu, tanpa waspada sebelumnyapun aku sanggup menahan, lalu mengeluarkan racun, tapi tingkatanku belum sampai kesitu. Aku harus bersiap-siap memunahkan racun dengan segala kumpulan hawa murni yang terbentuk dari latihan pernafasan tersebut. Dalam keluarga kamu, itu barulah tingkat awal…” mendengar itu, beberapa orang menghela nafas tertahan, jika awal saja sudah begitu hebat, bagaimana tingkat akhirnya?
“Sedikit penjelasan, tidak setiap racun bisa ditahan dengan baik kalau kita tidak mengetahui semua sifat dan jenis racun yang masuk ke tubuh, karena itu sehebat apapun pernafasan tersebut dilatih, tidak akan mendapat hasil apapun jika dia buta hal racun.” Ada yang menghela nafas lega mendengar penjelasan itu, maklum saja, jika hanya dengan mempelajari pernafasan yang dimaksud Jaka, maka seseorang bisa terbebas dari semua racun, boleh dibilang dia sudah menjagoi dunia persilatan. Terlalu menakutkan! Untunglah tak seperti itu.
“Aku sendiri berkemampuan mengetahui setiap jenis, dan sifat racun, walau aku tidak tahu nama racun itu… dengan demikian olah pernafasan yang kulatih dapat menahan bahkan memunahkan daya racun.” Entah bagaimana perasaan mereka saat itu, mendengar ucapan Jaka terdengar begitu ringan. Padahal esensi—pesan utamanya, seolah mengata-kan; aku perlu kalian waspadai.
Walau mereka paham dengan penjelasan Jaka, tapi penjelasan itu barulah garis besar saja.
“Kalau cuma itu yang kaujelaskan, aku juga bisa mengarang ceritanya…” seru Seta Angling tak puas.
Perkataannya seolah mendapat dukungan semua orang, biarpun mereka hanya diam saja, tapi Jaka merasa semua orang setuju dengan Seta.
Jaka tertawa tanpa suara, “Aku memang belum menjelaskannya,” katanya mengelak tuduhan Seta. “Maksudku bercerita seperti itu, sebagai pembukaan penjelasanku berikutnya. Sebab intinya adalah olah nafas Sembilan Putaran Nadi.”
“Saat aku menelan Racun Pemutus Nadi, dengan hawa murni yang terbentuk akibat latihan olah nafas itu, kupindahkan racun tersebut pada bagian mati, atau bagian yang tidak aktif dalam tubuh, yakni pada pertengahan telapak tangan sebelah kiri..”
“Tidak mungkin!” tanpa sadar Si Kedok menyangkalnya.
“Kenapa tidak?” sahut Jaka. “Teorinya kan sama dengan memindah hawa murni ke telapak tangan.”
Si kedok ini melegak sejenak. “Tapi itu racun hebat.” Katanya dengan nada getas. Tiba-tiba dia teringat, selama ini kecuali Racun Satu Nafas, Jaka menyebut racun lain sebagai mainan. Dengan ini dia bisa memahami maksud lawannya. Bahwa, menurut Jaka tiga racun utamanya tergolong ringan, dongkol juga dia menghadapi kenyataan seperti itu, tapi ingin mendebat pun dia tak punya keberanian, sebab bukti sudah jelas! Seluruh racunnya memang ‘mainan’ bagi Jaka!
“Tak masalah, selama kau bisa menahannya, dan bisa mencegah timbulnya akibat racun lebih luas.” Jelas Jaka sederhana.
Penjelasan Jaka yang ini membuat wajah mereka berubah, tanpa sadar mereka berseru tertahan. Jaka tidak tahu mereka berseru karena apa, tapi yang jelas bagi mereka yang tahu seluk beluk melatih hawa murni, memindahkan racun pada bagian tak aktif tanpa menimbulkan keracunan pada jalur yang dilewatinya, adalah perbuatan yang mustahil! Jika berhasil tentunya akan berakibat luar biasa—racun makin meluas. Tapi Jaka tak mengalaminya, sebab itulah mereka kagum.
Tidak menanti lama, Jaka melanjutkan. “Saat kuhirup asap dari porselen, aku tidak membiarkan asap itu menerjang masuk ke paru-paru, dengan olah nafas ciptaan keluargaku, aku memindahkan asap racun itu ke kerongkongan dan memadatkan dalam lambung lalu kudorong untuk bergabung dengan angin kotor di perut,”
Ah, manusia macam apa dia ini! Seru Si Kedok dalam hati. Ia tak ingin bersuara lagi, karena apapun bantahannya, Jaka menjawabnya dengan jawaban sederhana dan masuk akal, tapi jika orang lain yang melakukan sulit luar biasa.
Untuk penjelasan ini tidak mendapat tangapan. Bukan berarti mereka tidak berekasi terhadap penjelasan Jaka, karena tekhnik mengalihkan asap racun ini lebih sulit ketimbang mengalihkan racun ke bagian tak aktif, mereka tidak berkomentar terhadap penjelasan Jaka, karena terlalu takjub!
“Alasan kutelan Racun Enam Langkah, dan Racun Satu Nafas hampir bersamaan, karena aku paham dengan sifatnya. Harus kutelan Racun Enam Langkah lebih dulu, karena racun itu dapat sedikit menghambat daya kerja racun satu nafas. Begitu keempatnya sudah ada di dalam tubuh, aku segera menusukkan jarum pemicu racun pada tangan kiri di mana Racun Pemutus Nadi berkumpul, dan juga kutusukkan jarum kedua pada simpul perut kecil, dimana asap Lima Mayat berkumpul. Kau bisa memahami tindakkanku itu?”
“Tentu saja tidak tahu, bodoh!” seru Seta gemas, “Memangnya aku ini cacing dalam perutmu, yang tahu tiap kelakuanmu?!”
Jaka tertawa mendengar ucapan Seta, tanpa menanggapi sindiran tadi, Jaka melanjutkan penjelasannya. “Aku paham dengan perbedaan dan persamaan racun, dan juga mengerti asap Lima Mayat, dan Pemutus Nadi, katakanlah masih empat tingkat lebih rendah dari Racun Satu Nafas, dan dua tingkat lebih rendah dari Racun Enam Langkah. Karena itulah kutusukkan Jarum Pemicu Racun agar dua racun yang berkumpul itu dapat meningkat menjadi berlipat ganda. Pada saat racun sudah meningkat kekuatannya, aku melangkahkan kaki dua langkah ke depan dan menarik nafas panjang, agar dua racun yang terakhir kutelan segera bereaksi. Tujuan utamaku adalah racun melawan racun… andaikata empat racun yang kutelan itu memiliki sifat yang sama, aku tidak yakin bisa memunahkannya, mungkin hanya bisa menahan sampai fajar datang saja. Tapi berhubung racun itu sangat berlawanan sifatnya, maka dengan sendirinya aku bisa memunahkan dengan cepat.”
“Jika tidak ada Jarum Pemicu Racun?” tanya si kedok dengan suaranya yang kembali berat.
“Sama saja, tetap bisa kutawarkan, aku akan menggunakan perbandingan racun satu banding tiga. Diantara keempat racun itu racun satu nafas yang paling ganas, aku harus menggunakan kombinasi ketiga racun lainnya untuk saling memunahkan.” Jelas Jaka.
“Untuk menentukan perbandingan kadar racun tidak boleh gegabah asal tebak, sebab jika salah sedikit saja, tidak akan terjadi fase racun melawan racun, tapi akan terjadi fase racun bergabung dengan racun, itu sangat membahayakan.”
Penjelasan Jaka yang satu ini membuat semua orang—yang sembunyi, dan tidak—mengangguk paham. Jarang mereka mendapat pelajaran berharga seperti ini. Dengan kejadian ini, pandangan mereka pada Jaka berubah.
“Kelihatannya begitu mudah, kupikir setiap orang bisa melakukan apa yang kau lakukan!” seru Seta Angling sentimen. Kelihatannya hanya pemuda ini yang selalu menentang Jaka, mungkin untuk menutupi kekaguman dihatinya.
Jaka tersenyum, ia sama sekali tidak tersinggung. “Benar, tiap orang bisa melakukannya,” kata Jaka dengan suara bersahabat.
“Tapi harus ada syaratnya, pertama; dia harus memiliki pernafasan Sembilan Putaran Nadi, kedua; mengetahui semua sifat racun, ketiga; mengenali semua urat syaraf pada tubuh manusia, juga harus mengenali susunan otot, tulang, dan jalan darah, keempat; dapat bertindak dengan tenang, dan kelima; menggunakan waktu yang tepat untuk saling memunahkan racun, jika kelima hal itu tidak dimiliki, kejadiannya akan lain.”
“Hmk..” Seta hanya menjengek gusar. Ia merasa apa yang diucapkan Jaka seolah ditujukan padanya.
“Jadi bagaimana?” tanya Jaka pada Si Kedok.
“Aku kalah!” kata si kedok itu dengan tegas.
Jaka manggut-manggut, “Sungguh jantan, dan bertanggung jawab,” puji Jaka. “Baiklah, kita akan saling mengenal lebih akrab pada pertemuan kita berikutnya.”
“Baik.” Jawab si kedok itu agak gelisah. “Tapi bagaimana dengan syarat yang belum kau katakan?” tanya orang itu menyiratkan kekawatiran hatinya, ia sama sekali tidak menanggapi pujian Jaka.
“Saat ini belum terpikir, mungkin saat pertemuan kita berikutnya, tapi kau jangan kawatir mengenai syarat yang lain, aku tidak akan membuatmu merasa rugi atau dilecehkan.”
Ucapan Jaka membuat si kedok itu tertegun. “Aku heran, kenapa orang semacam kau kujumpai sekarang, apakah kau baru turun gunung?”
Jaka tahu orang itu bukan sedang menghina dirinya, istilah ‘turun gunung’ adalah ungkapan yang dipakai untuk seorang yang sudah tamat belajar. Sekalipun Jaka sudah banyak tahun muncul di kancah persilatan, karena tak ingin dikenal, maka siapapun tak akan mengenalnya. Lagi pula dari ucapan Si Kedok, Jaka seolah mendapat penjelasan, bahwa Si Kedok mengenal para pendekar atau jago-jago yang malang melintang di dunia persilatan. Dengan demikian, Jaka makin yakin dengan dugaannya. Bahwa Si Kedok itu adalah…
“Sejujurnya, sudah banyak tahun aku ‘turun gunung’, tapi aku jarang sekali bentrok dengan tokoh persilatan, kalaupun bentrok, juga hanya selisih paham saja. Selama ini aku hanya bergerak kesana kemari, sekedar memuaskan isi hati.” Tutur Jaka.
“Jadi, apa keinginan hatimu?” tanya Si Kedok.
“Hm…” Jaka mendehem. “Sejak kecil aku dididik dalam lingkungan yang keras dan terpelajar, sedikit-sedikit aku harus belajar ini-itu yang berkaitan dengan kesusastraan, ilmu bumi, dan begitu banyak hal yang kupikir itu membosankan. Tak tahunya begitu aku keluar rumah, semua pengetahuan itu sangat membantuku. Orang bilang membaca buku tanpa melihat kenyataan tak berguna, karena itu hampir tiga tahun ini, kutinggalkan rumah hanya untuk mengunjungi tempat yang bisa membuatku kagum!”
“O, jadi begitu…” ujar si kedok ini.
“Ya, sesederhana itu. Dengan kejadian hari ini, aku hanya ingin menyatakan kepada saudara sekalian. Bahwa saya, tak bermaksud mendompleng nama besar leluhur, akan terjun total di kancah persilatan. Tak perduli apa pendapat kalian nanti, mungkin aku akan menimbulkan badai.”
“Maksudmu?” Tanya Si Kedok.
Jaka menghela nafas. “Kalau kau tahu keadaan saat ini seperti apa, seharusnya kau tidak perlu minta penjelasan.”
“Oh…” si kedok terlihat tercekat. “Maksudmu untuk mengimbangi badai lain?”
“Bisa diartikan demikian.” Ujar Jaka sambil tersenyum, jawaban itu kembali menimbulkan banyak pertanyaan.

—ooOoo—

30 – Sebuah Cita-cita

Dini hari kian hening menggigit. Masing-masing menerka; jika pemuda itu ingin menimbulkan suatu badai, badai bagaimana yang akan ia ciptakan? Mengingat kepandaian racunnya—walau hanya sebatas menangkal racun, yang diperlihatkan secara nyata—mereka berpendapat sama; bahwa kelak jika pemuda itu akan melakukan suatu hal, maka tidak ada yang bisa menahannya.
Walau mereka ingin membantah dugaan sendiri, toh kenyataan berbicara lain. Potensi Jaka untuk mengarah ke sana memang tak diragukan. Meski Ki Gunadarma yang sudah tahu keandalan Jaka dari cerita Ki Lukita, bahkan mulai ragu dengan melihat kenyataan yang terpampang di depannya.
Hatinya goyah, Mungkinkah dia keturunan langsung si tabib sakti? Pikirnya dengan perasaan tak menentu. Sebab menurut Ki Lukita asal usul Jaka belum jelas.
“Kau memiliki tujuan tertentu?” tanya Si Kedok setelah sekian lamanya suasana senyap.
“Manusia pasti memiliki tujuan hidup, sudah jelas aku pun demikian. ” jawab Jaka tegas.
“Apa tujuanmu?!”
Jaka diam sesaat, ia berpikir lagi, Selain orang-orang yang memperlihatkan diri di tempat ini, bukan mustahil ada beberapa jago silat lihay yang bersembunyi, harus kubuat jawaban yang cukup membuat mereka berpikir panjang. Dengan demikian jika aku melawan perkumpulan misterius, akan mudah bergerak, dan mudah meminta bantuan.
Memutuskan berpikir seperti itu, Jaka menjawab, “Ya, tujuanku yang sebenarnya adalah… tidak ada!”
Orang bisa saja tertawa mendengar ucapan Jaka, tapi mereka urungkan niat itu sebab jawaban yang terucap tidak ada kesan bercanda, Jaka bersungguh-sungguh! Bahkan Seta Angling yang biasa nyeletuk, tak berani bercuit lagi.
“Tidak ada?” gumam Si Kedok itu bingung.
“Ya,’tidak ada’…”
“Maksudmu kau ingin menyirnakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada?”
“Seperti itulah.”
“Apakah, jika sebelumnya tak pernah ada perkumpulan A, maka kau pun akan meniadakan-nya?” Tanya Si Kedok menegaskan.
“Kira-kira seperti itu.”
“Bagus sekali cita-citamu, tapi apa tidak terlalu besar, bocah?!” seru Ki Lugas. “Dengan kata lain kau akan menyirnakan apa yang seharusnya tidak ada?” desaknya dengan suara bengis. Agaknya Ki Lugas terpengaruh dengan ucapan Si Kedok tentang keinginan Jaka untuk meniadakan—misal—sebuah perkumpulan, sempat terpikir olehnya, jangan-jangan dia bermaksud melenyapkan perguruan kami!?
Jaka menoleh kearah Ki Lugas. “Tidak benar, selain Tuhan, mahluk atau benda apakah yang tidak berawal?”
Ucapan Jaka kali ini membuat Ki Lugas terkesip. Sangat sederhana, tapi mengandung makna sangat dalam.
”Tentunya aku harus memilah mana yang harus tiada, dan mana yang tetap ada. Kalau dipikir secara mendalam, makna ‘tidak ada’ mengartikan, selain Tuhan adakah alam bisa tercipta? Memangnya siapa aku ini bisa mengatakan hal sesombong itu? Aku hanya manusia lemah yang hanya bisa menggunakan apa yang diberikan Tuhan untuk meniadakan sesuatu yang seharusnya tidak ada!”
Tutur kata Jaka membuat mereka terpekur, memang perkataan pemuda ini ditujukan pada Ki Lugas, tapi secara tidak langsung semua orang merasa diberi penjelasan, bahwa sesungguhnya Jaka ingin mengatakan; apapun yang bertentangan dengan keadilan harus dilenyapkan!
“Bagus!” tanpa sadar Ki Lugas memuji.
Jaka menggeleng, “Tidak bagus. Aku hanya menyadari bahwa kita, sesungguhnya manusia. Seseorang yang ditugaskan oleh Tuhan untuk menjaga ciptaan-Nya, diantara seribu orang, mungkin hanya beberapa gelintir saja yang bisa disebut manusia. Karena itu, aku ingin mencapai tahapan tersebut, aku hanya menekankan pada diriku sendiri, bahwa aku adalah manusia. Mahluk ciptaan-Nya yang diberi akal pikiran untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat bagi setiap mahluk.
“Jarang ada manusia yang benar-benar manusia, wujud boleh manusia, tapi sifat, sikap, dan pribudinya mungkin seekor ular atau entah apa lagi. Aku sadar bahwa aku masih jauh dari tingkat itu. Setidaknya aku selalu berusaha mengingatkan nurani sendiri, bahwa aku ini adalah seorang manusia. Andai kata dunia ini banyak terdapat manusia yang tahu untuk apa hakekat mereka hidup di dunia, kuyakin tidak ada lagi pertikaian dan kejahatan macam apa pun!”
Tiada yang menanggapi, sebab mereka merasa tidak perlu menanggapi ungkapan Jaka. Terlalu pelik apabila ingin menanggapinya. Memang benar, kata ‘manusia’ itu sangat dalam apabila dikaji secara teliti.
Apa, siapa, dan bagaimana, manusia itu harus ada dimuka bumi ini? Semua itu terpulang kepada batin masing-masing. Tuhan tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia! Manusia diciptakan untuk menjadi seorang pimpinan di muka bumi ini, tentu saja arti pimpinan ini bisa melingkupi ruang yang luas dan sempit.
Untuk sekop luas, adalah memimpin ummat—manusia yang lain—agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik; untuk lingkup yang lebih kecil, manusia harus bisa memimpin dirinya sendiri, agar tidak terjerumus ke jurang kehinaan dengan melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan.
Orang sering berfikir ada manusia baik tentu ada yang jahat. Benar, tapi yang disebut jahat, juga manusia, dan yang baik, juga manusia! Apa yang menyebabkan perbedaan baik-buruk, jahat-tidak jahat, berawal dari manusia itu sendiri.
Dipandang dari sudut mana pun, seorang manusia memiliki potensi baik-buruk. Tergantung lingkungan dan didikan yang diterima. Omong kosong jika ada yang menyatakan dirinya ditakdirkan untuk menjadi orang jahat atau baik. Selain mati, reziki, dan jodoh, takdir itu tidak ditetapkan, tapi dijalani. Manusia yang menyadari betapa berharganya waktu, itulah yang lebih mendekati takdir terbaiknya. Dan itu butuh proses berpikir dari individu itu sendiri.
Kadang kala, sifat baik-buruk masih ditutupi tabir dari pengertian hakikat seorang manusia! Batin mereka tertutup oleh tabir nafsu yang dibenarkan akal, membuat kesadaran manusia akan potensi prilaku terbaiknya, tidak optimal. Ini semua dapat dijelaskan dalam satu kalimat… yakni, qalbu—hati. Jika seseorang itu baik hatinya, maka baiklah seluruh elemen tubuhnya, jika buruk, maka buruklah seluruhnya.
Jadi, apakah untuk menjadi seorang manusia sejati—tak tercemari hawa nafsu, maka nafsu itu harus dihilangkan? Tidak! itu salah! Seharusnya manusia bisa mengendalikan nafsu itu.
Ditinjau dari berbagi pandangan; ‘Si jahat’, jelas karena nafsunya-lah yang mengendalikan dirinya. Tapi yang dianggap ‘si baik’ juga bisa dikejar nafsu yang tidak kalah bahayanya. Sebagai contoh; keinginan untuk tenar apabila berhasil meniadakan ‘si jahat’, lalu keinginan untuk disanjung orang… dan akan semakin banyak keinginan lain. Nafsu seperti itu bisa membuat seorang jadi munafik—apa yang ada dalam hati, tak sama dengan di mulut.
Pendek kata, orang yang disebut manusia sejati adalah mereka tahu aturan yang digariskan Tuhan, dapat mengendalikan nafsu secara baik. Jika kau mendengarkan kata hatimu—qalbumu—maka kau akan tahu sendiri seberapa jauh kau menyimpang, atau seberapa jauh kau sudah berbuat baik.
Secara samar Jaka ingin menjelaskan hal itu. Bagi mereka yang paham dengan ucapan pemuda ini, tentu dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan.
Kali ini mereka tak lagi menilai Jaka adalah pemuda yang mahir racun, melainkan seorang lelaki berpandangan luas, memiliki tujuan yang pasti. Semua itu tercetus dari tindak tanduknya, walau Jaka mengatakan semua itu untuk maksud tertentu, tapi apa yang memang dikatakannya tadi adalah pedoman hidupnya.
”Jadi sebuah keinginan yang tidak ada, bukannya tidak ada keinginan?!”
“Ya,” sahut Jaka menanggapi ucapan Si Kedok. Lalu ia menghela nafas panjang-panjang. “Tiada manusia yang luput dari kesalahan, aku juga demikian. Keinginan untuk dikenal orang banyak selalu ada di hati tiap orang, bagaimanapun sifat orang itu, pasti ada keinginan tersebut. Aku juga demikian… aku ingin dikenal orang lain, karena sebuah tujuan, dan tiap tujuan orang berbeda! Sebab tujuanku adalah tidak ada!”
Jujur benar orang ini. Pikir Si Kedok itu. Apa yang diucapkannya memang tepat. Biarpun orang ada yang bertindak sembunyi-sembunyi, toh akhirnya ia akan dikenal orang, dan pada akhirnya setitik perasaan ingin dikenal dan dikenang orang lain akan timbul! Hh, hebat… orang ini bukan lawan yang enteng! Sikap hidupnya terpuji.
“Jadi apa rencanamu berikutnya?” tanya Si Kedok, kali ini nadanya agak melengking seperti tadi.
Jaka tak habis pikir dengan nada suara itu, bisa jadi orang ini usianya sebaya denganku, tapi kenapa dia ‘menyembunyikan kepala menampakkan ekor’?
“Rencanaku?” Ujarnya tersebyum. “Ada banyak, tapi tak akan kubertahu, mungkin saat ini aku ingin menyendiri sejenak, sembari memancing ikan…”
“Hei, bukankah itu sudah kesepakatan kita?! Ehm, sudah kesepakatan bahwa aku yang pergi memancing?”
Jaka tertawa geli, ia tahu maksud Si Kedok. Tentu dia mengira dirinya akan membuat pentolan perkumpulan rahasia ‘memakan umpannya’.
“Ya, silahkan saja. Tapi sobat, yang kumaksud memancing, adalah benar-benar memancing. Sejak kecil aku paling suka memancing, karena itu mungkin besok aku akan memancing ikan, yah… ikan apa sajalah, yang penting besar.”
“Oh…” mau tak mau Si Kedok itu tertawa geli, menyadari kesalah pahaman pemikirannya.
“Sungguh melelahkan… beberapa hari ini aku jarang memicingkan mata barang sejenak. Dua-tiga jam lagi fajar menyingsing.” Ujar Jaka pada dirinya. Lalu ia menoleh ke arah Si Kedok.
“Saudara-saudara, aku harus permisi untuk istirahat…” kata Jaka sambil menjura kearah Ki Lugas dan Si Kedok itu. “Bila ada kesempatan, lain waktu kita akan bertemu dalam suasana yang lebih menyenangkan.”
Seperti biasa, Jaka unjuk senyuman khasnya. Lalu ia juga menjura kearah Seta dan Gemanti, “Mudah-mudahan kita bersua kembali,” katanya ramah.
“Huh! Siapa yang kepingin ketemu orang macam kau ini?” seru Seta masih dengan suara mendongkol.
“Ah, rupanya perbuatanku masih membuatmu tidak enak hati. Maafkan aku, semua ini karena aku bertindak terlalu ceroboh, kalau aku tidak janji dengan Mahesa Ageng bertiga, bukankah kita tidak perlu bentrok? Untuk waktu yang akan datang mudah-mudahan kita menjadi sahabat, jika saudara Seta kurang lega, ‘pengajaranmu’ akan kuterima dengan senang hati,” kata Jaka dengan ramah. Karuan saja ucapan Jaka membuat Seta melegak.
Manusia macam apa dia ini? Menyalahkan diri sendiri membela orang yang salah, berpikir sampai disitu muka Seta merasa hangat, dia sadar bahwa dirinyalah yang salah. Hm, lagi pula dia tidak bisa kubuat marah! Huh! Jangankan marah, membuatnya mendongkol saja susah setengah mati! Gerutunya dalam hati menutupi sepercik rasa malu dan sesal.
Jaka tidak banyak komentar lagi, tak lupa membawa bungkusan yang berisi pakaian dan bekal perjalanan, ia segera melangkah pergi. Langkahnya lambat, terkesan malas-malasan, tapi entah kenapa mereka yang memandang, merasa bahwa langkah itu cukup anggun, punya kharisma, seperti seorang pimpinan yang baru saja meninggalkan anak buahnya.
Seolah badai telah berlalu, pikir Ki Lugas dengan hati lega, merasa lepas dari ketegangan. Terheran-heran dengan pikirannya sendiri, Ki Lugas menatap punggung Jaka dari kejauhan, mengapa pula aku berpikir demikian? Dia hanya seorang pemuda berusia 20-an, paling banter juga terpengaruh akibat ucapannya… pikirnya, masih memandangi punggung Jaka yang sebentar kemudian hilang di tikungan.
Bagai dikomando, sesaat setelah Jaka lenyap dari pandangan, semua orang mengundurkan diri. Si Kedok dan empat pengiringnya pergi entah kemana, sedangkan Ki Lugas dan dua keponakan muridnya kembali keKuil Ireng. Ki Gunadarma diam-diam pergi melalui jalan setapak di samping kuil.
Sedangkan ketujuh orang aneh yang belum jelas identitasnya itu, kembali ke tempat persembunyian semula dan beristirahat untuk menanti datangnya fajar.
Suasana kembali normal, tidak ada tanya jawab lagi, tidak ada suara saling mendebat, tidak ada perasaan mendongkol. Kini semua orang sudah meninggalkan tempat itu—yang masih ada di situ, sedang sibuk berfikir tentang pemuda bernama Jaka.
Dan.. hari kedua di Pagaruyung telah dijelang..

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: