Seruling Sakti Jilid 31-35

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

31 – Sambutan Aneh

Hari Kedua
Matahari pagi bersinar gilang gemilang, kota Pagaruyung kelihatannya lebih ramai dari biasanya. Kalau setiap harinya orang sibuk dengan urusannya masing-masing seperti berdagang, kali ini datangnya serombongan manusia yang mungkin ada ratusan orang, membuat kota itu makin ramai. Biasanya kalau ada setiap keramaian, pasti ada saja kerusuhan.

Namun di kota ini adalah kekecualian, sebab para pendatang, kebanyakan tamu terhormat dari perguruan kenamaan, tentu saja mereka tidak sudi berbuat onar, memalukan nama perguruan. Kalaupun ada diantara mereka bersikap tengil dan kurang ajar, orang langsung menyimpulkan, bahwa kemungkinan besar mereka adalah pengelana, seorang pesilat bebas (istilah bagi yang tidak memiliki perguruan).
Di sebuah sudut jalan, pada sebuah penginapan, di lantai ketiga, seorang sedang memandang dari jendelanya dengan tatapan lurus.
Wajahnya tampan, matanya jernih memikat, dia Jaka. Setelah pulang dari Kuil Ireng, Jaka berputar-putar mencari penginapan lagi. Sebelumnya ia sudah keluar dari penginapan Bunga Kenanga, gara-gara urusan Mahesa Ageng. Setelah cukup lama mencari, barulah ia temui penginapan yang kebetulan memiliki dua kamar sisa.
Biarpun harganya agak keterlaluan, Jaka tak mau repot-repot ribut menawar, yang dia perlukan kali ini adalah, istirahat. Tiga-empat jam, sudah cukup baginya.
Sebelum sampai di kota ini, Jaka bahkan tidak tidur empat malam, banyak pekerjaan lain yang menguras tenaganya, ditambah dengan satu hari di kota Pagaruyung itu, maka total lima hari Jaka tidak tidur. Biarpun sinar matanya jernih, tapi sekeliling matanya tidak luput dari warna kebiruan, akibat letih.
Jaka memesan makanan dan air hangat untuk cuci muka, setelah selesai, pemuda ini segera membersihkan badannya di kamar mandi yang telah disediakan. Tadinya Jaka menggerutu karena harga kamar terlalu mahal, namun setelah menikmati semua pelayanan, Jaka menganggap harga itu tidak terlalu mahal. Sudah cukup sebanding dengan apa yang didapatkan dari penyajian makanan dan pelayanan penginapan.
Setelah selesai dengan semua persiapannya, Jaka bergegas keluar dari penginapan itu. Karena saat sarapan Jaka minta diantar di dalam kamar, maka ia tidak tahu situasi yang ada di penginapan itu. Dan alangkah terkejutnya melihat lantai dasar dan kedua yang merangkap sebagai rumah makan, penuh sesak para pendatang.
Jika saja tamunya penduduk kota itu, Jaka tidak kaget, tapi pendatang itu kebanyakan anggota persilatan, baju mereka ringkas, tak terlalu, mewah atau glamour, tapi menimbulkan kesan hormat bagi yang melihatnya.
Tapi ia enggan memikirkannya, sebab hal penting yang harus dikerjakan oleh Jaka adalah, berkunjung kerumah Ki Lukita, guru barunya.
Dia berpikir, mungkin hari itu juga upacara penerimaan dirinya sebagai murid akan dimulai. Karena itulah Jaka segera bergegas, pemuda ini tidak sadar—begitu ia turun dari tangga—tiga diantara sepuluh orang ada yang memperhatikannya.
Tentu saja mereka memperhatikan karena melihat cara berpakaian Jaka yang lazimnya digunakan para pengelana berduit, bajunya yang berwarna hijau tua dengan motif garis—coraknya seperti daster, dengan lengan panjang, sehingga sepintas lalu, Jaka seperti menggunakan mantel atau jubah yang ditutupkan begitu saja.
Mereka yang memperhatikan—bukan karena Jaka memakai baju seperti itu, tapi mereka memperhatikan Jaka karena cara jalan pemuda itu mantap, kokoh, walau tak menggambarkan apakah dia bisa ilmu bela diri atau tidak. terkadang, bagi yang terlatih, dengan melihat cara jalan orang saja, mereka sudah dapat menentukan apakah orang itu hanya rakyat awam saja atau seorang pesilat.
Melihat dandanan Jaka yang beda dengan pengelana pada umumnya, membuat beberapa Kaum Kelana yang suka usil berniat untuk membikin gara-gara.
Seorang lelaki usia pertengahan yang duduk berseberangan dengan jalan keluar, tampak mengangkat cawan tehnya, dan begitu Jaka lewat, seperti gerakan wajar saja, cawan yang di angkat, terpercik air.
Bagi orang awam kalau melihat kejadian itu, tentu saja tidak akan memikirkannya, sebab air muncrat dari cawan saat diminum terburu adalah hal wajar. Tapi bagi mereka jago-jago silat, begitu melihat gerakan orang pertengahan umur itu, mengerti kalau orang itu sengaja hendak menguji Jaka.
Muncratan air teh itu bukan sembarang muncratan, sebab jika sipelontar memiliki tenaga dalam handal, benda apa pun bisa dijadikan senjata, termasuk air dan tentunya orang yang kena bisa terluka, apalagi dari jarak dekat.
Lesatan air itu cepat bukan kepalang, serangan air itu tinggal tinggal satu jengkal lagi, seujung kuku lagi… mendadak tubuh Jaka bergerak maju lebih cepat dan agak menyerong, dan serangan air itupun lewat di sampingnya, hanya seujung kuku.
Brak!
Tembok kayu yang terkena muncratan air itu berlubang seujung jari. Dari situ orang dapat mengukur sampai dimana kekuatan lontaran air orang pertengahan umur itu, yang jelas bila terkena badan orang, paling tidak bisa membuat memar atau lebih parah lagi patah tulang!
Tapi Jaka acuh tak acuh saja, gerakan tadi merupakan reflek tubuhnya yang sudah terlatih dan siap siaga setiap saat, bahkan kejadian tadi sama sekali tidak ia rasakan, sebab Jaka memang sedang berpikir secepatnya sampai d irumah sang guru, karena dari penginapan sampai kerumah gurunya, cukup jauh jaraknya. Apabila ia menggunakan peringan tubuh, tentunya menarik perhatian orang. Karena itu ia berjalan terburu-buru, tanpa menoleh lagi Jaka keluar dari penginapan.
Orang pertengahan umur itu terkesip, ia berpikir. Orang yang dapat menghindar dari sambitan airku ini paling tidak anak murid enam belas besar tingkat empat. Seingatku belum pernah ada tokoh muda seperti dia yang memiliki kemampuan hebat seperti itu, apa dia ini baru turun gunung?
Bukan cuma orang itu saja yang terkesip, beberapa pasang mata yang sempat mengawasi Jaka-pun terkejut melihat gerakan yang sepertinya tak disengaja. Mereka sadar cara berkelit pemuda itu, bukan sembarang gerakan. Mereka pikir, pasti dia murid seorang tokoh besar.
Sudah merupakan penyakit kaum persilatan untuk mengetahui apa saja. Mereka selalu ingin tahu hal baru.
Tapi, karena suasana terlalu ramai, mereka yang penasaran tidak leluasa untuk membuntuti Jaka, sebab kebanyakan orang yang ada disitu merupakan jagoan berpengalaman. Kalau ada satu dua orang yang keluar dari rumah makan tanpa tujuan tertentu, pasti menarik perhatian, karena itulah mereka membiarkan Jaka berlalu begitu saja, padahal dalam hati mereka sangat ingin tahu siapa pemuda itu.
Tak ingin menyiakan waktu, beberapa saat kemudian Jaka sudah sampai di rumah Ki Lukita, tentunya ia masuk lewat pintu depan—tidak seperti malam hari, seolah-olah dirinya hendak bertamu.
Jaka mengetuk pintu perlahan, tak berapa lama kemudian, muncul seseorang membukakan pintu. Dia, seorang lelaki berusia empat puluhan, wajahnya gagah, matanya lebar dan jidatnya yang juga lebar menyiratkan watak keras dan jujur, Jaka menduga orang itu pasti bukan salah satu delapan sahabat gurunya, dia terlalu muda, mungkin dia anak Aki Lukita, atau muridnya.
“Jaka?” tanya orang itu singkat. Pemuda ini mengangguk, tanpa menjawab.
“Silahkan masuk, guru sudah menunggu…”
Tak memberi komentar, Jaka segera masuk, ia berpikir. Orang ini calon kakak seperguruanku.
“Silahkan mengikutiku.”
Jaka mengiyakan, selain ruang belakang, Jaka belum pernah masuk ke rumah gurunya. Pemuda ini tak menyangka rumah gurunya yang sederhana itu ternyata begitu luas. Ruang depannya saja bisa buat menampung seratus orang, sedang ruang tengah dua kali lebih luas dari ruang depan.
“Kelihatannya kerabat guru bukan orang-orang biasa,” Jaka berpikir demikian, karena dari tiap susunan perabot rumah, berada dalam posisi baris lima unsur alam (dalam Hong Sui, biasa disebut Ngo Heng Tin), dua belas putaran sudut, dan beberapa tata barisan lihay lain.
Hari itu masih pagi, kira-kira baru menjelang pukul sembilan. Jaka dibawa ke ruang samping, ternyata rumah Aki Lukita memiliki beranda samping, halaman samping biarpun tidak seluas halaman belakang yang pernah ia masuki, namun jika untuk berlatih silat, kiranya sepuluh pasang orang juga masih muat. Diam-diam Jaka menggeleng kagum.
Begitu teratur… kelihatannya memiliki tradisi yang selalu terjaga.
Saat Jaka berada di beranda samping, pemuda ini terperanjat, melihat begitu banyak orang berkumpul disitu. Satu, dua, tiga, empat… tiga puluh! Semuanya ada 30 orang—sudah termasuk lelaki yang membawa Jaka. Dan mereka semua duduk saling berhadapan, yang memisahkan hanya meja sepanjang sepuluh meter. Jaka melihat hanya dua kursi saja yang belum ditempati, sekilas terpikir oleh Jaka bahwa dua kursi itu tentu seharusnya ditempati orang yang membawa dirinya, sisanya mungkin untuk ia sendiri.
Orang itu segera duduk, karena Jaka tidak dipersilahkan, sudah tentu pemuda ini sungkan untuk duduk. Lagi pula diantara empat orang yang pernah ia jumpai waktu malam (termasuk gurunya) Jaka tidak mengenal dua puluh enam orang lainnya.
Suasana pagi itu hening, suara kicau burung yang hinggap dipepohonan sekitar rumah Ki Lukita bagai sedang menyenandungkan lagu selamat datang.
Sudah beberapa saat tiada reaksi dari tiga puluh orang itu, Jaka merasa heran, pemuda ini baru menyadari, mereka menanti sesuatu. Mungkin mereka menanti reaksi dia dalam memahami situasi ini. Menyadari dirinya tidak tahu tata tertibnya, Jaka mencoba membuat dirinya senyaman mungkin, dengan menikmati kelengangan suasana.
Untuk masalah sabar, bukan hal baru baginya. Bagi kebanyakan pemuda, bersabar bukanlah hal yang populer, tapi Jaka harus dikecualikan. Sebab itulah, dia sama sekali tak berkutik dari tempatnya berdiri. Setengah jam, satu jam, satu setengah… dan akhirnya dua jam sudah berlalu.
“Silahkan duduk!” orang yang tadi membawa jalan bagi Jaka mempersilahkan Jaka duduk di kursi yang memang sudah disediakan untuknya.
Tanpa menjawab, Jaka duduk. Wajahnya tenang bagai permukaan air, berdiri hampir dua jam tanpa bergerak ternyata tidak merubah raut wajahnya, dia tak menjadi kesal karenanya. Itu sudah merupakan bukti bahwa Jaka, orang yang harus diperhitungan. Dia pemuda yang memiliki kesabaran melebihi orang lain.
Dua jam berdiri tanpa bergerak, tanpa mengerti apa tujuannya, tentu membuat hati dongkol, namun Jaka, seperti tidak mengalaminya—atau seperti itu kelihatannya.
“Kau tahu kenapa harus menunggu dua jam lamanya baru dipersilahkan duduk?” tanya Ki Glagah.
Jaka menatap orang tua itu sesaat, dengan bibir menyunggingkan senyum ia mengangguk tegas. “Saya mengerti.” katanya singkat.
“Apa yang kau mengerti?” tanya orang disebelah Ki Glagah.
“Ini merupakan tata cara golongan, sudah merupakan peraturan.” Jawabanya singkat.
“Apa alasanmu mengatakannya sebagai peraturan?” tanya orang sebelahnya lagi.
“Jika ada yang memerintah kemana kau harus pergi, jawabannya hanya dengan ya, dan tidak!” Jawaban Jaka di luar perhitungan orang-orang itu. Bagi mereka, jawaban Jaka tergolong mencari ‘aman’. Jika arti jawabnya ‘ya’ dan ‘tidak’, berarti bisa saja dia paham peraturan mereka, atau bahkan belum memahaminya.
Dari jawaban itu, mereka bisa menduga, Jaka adalah pemuda yang berhati-hati, dan selalu mengharuskan mengenal situasi yang dihadapinya.
Memang, secara tak langsung Jaka mengatakan, ‘Aku tak segera dipersilahkan duduk, tentu merupakan bagian dari peraturan kalian. Jika kalian mendiamkan aku, mana mungkin aku bertanya lebih dulu?’
“Kau tahu mengapa harus menunggu lebih lama?” orang yang bertanya adalah orang yang duduk disebelah lelaki paruh baya yang baru saja menayakan alasan Jaka.
Diam-diam Jaka berpikir, bertanya satu per satu, mungkin bagian dari peraturan. Repotnya sekali… tapi dia merasa diuntungkan. Dengan demikian, jika ada pertanyaan sensitive dapat dia hindari.
Pemuda ini segera menjawab pertanyaan tadi dengan singkat. “Dalam masalah ini, diam dan mengamati, merupakan kunci. ”
Tampak orang yang bertanya itu mengangguk perlahan. “Tahu sebab kami berkumpul disini?” tentu saja orang yang menayakan hal itu bukan orang yang sama.
Kelihatannya dugaan Jaka tentang satu hal benar, yakni tiap orang hanya bisa satu kali bertanya.
Jaka kembali mengangguk, mengiyakan. Dan itu sudah merupakan jawaban, karena itu orang tadi sudah cukup puas. Namun yang di sebelahnya ingin mengetahui apa saja yang diketahui Jaka.
“Seberapa jauh kau tahu?”
Jaka mengangkat bahunya, “Tidak banyak, mungkin sejauh mata memandang…”
Itu juga merupakan jawaban!

—ooOoo—

32 – Diuji Aliran Garis Tujuh Lintasan

Orang yang bertanya tadi kelihatannya dongkol, maksud ia bertanya tadi adalah memancing Jaka mengatakan alasannya. Eh, siapa tahu Jaka terlalu cerdik untuk diakali. Dia sudah menyadari ada yang tak beres.

Dari dua pertanyaan pertama, pemuda ini sudah menyimpulkan; bahwa mereka lambat laun dapat mengorek jati dirinya. Meski sepenggal bagian rahasia sudah diketahui Ki Lukita, meski demikian Jaka tidak mau lebih banyak orang yang tahu. Jaka bisa saja mengarang cerita bohong, tapi untuk beberapa hal prinsip, ia enggan—atau bahkan tidak dapat—berbohong. Sebab itulah sebisa mungkin jawaban Jaka bertele-tele.
“Jelaskan alasanmu…” selanjutnya orang yang di sebelahnya kembali bertanya, agaknya ia juga penasaran.
“Burung mati karena makanan, manusia bisa mati karena banyak hal, kebesaran nama dan harta, salah satunya. Alasan pertama, berkumpulnya tiga puluh pendekar beraliran Garis Tujuh Lintasan ini adalah karena; aku, karena aku, dan karena saya…” jawab Jaka singkat, tapi sunguh janggal!
Jawaban itu memberi dua bahan pertanyaan, yakni mengenai ‘beraliran Garis Tujuh Lintasan’ dan mengenai ‘karena aku, karena aku, dan karena saya’.
Beberapa orang yang sejak tadi mempertahankan ketenangannya, kelihatannya melirik ke arah Ki Lukita. Namun Jaka melihat Ki Lukita menggeleng perlahan. Jaka tahu apa artinya itu, mereka seolah bertanya, ‘Apakah kau memberitahukan asal usul kita?’
“Apa maksudmu?” tanya seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan.
Jaka tersenyum, “Kurasa itu sebuah pertanyaan,” gumamnya. “Lalu maksud apa yang ingin diketahui?” sambungnya dengan wajah berseri. “Kurasa itu sudah merupakan jawaban.” Gumamnya makin melebarkan senyuman.
Mereka baru sadar, Jaka sengaja menanggapi pertanyaan mereka dengan jawaban bertele. Dalam hati, timbul kekaguman mereka—karena Jaka begitu cepat mengerti—bahwa cepat atau lambat, mereka dapat bertanya pada sesuatu yang sangat pribadi, sehingga membuat pemuda itu menjawab dengan waspada.
Rupanya tanya jawab ini adalah semacam ujian phsyicologis—juga kemampuan berpikir seseorang, yakni tanpa mengetahui peraturan apa yang ada didalamnya. Tentu saja sudah menjadi kewajaran kalau Jaka mengalami saat-saat seperti ini karena dia akan menjadi anggota perkumpulan.
“Apa yang dimaksud aliran Garis Tujuh Lintasan, karena aku, karena aku dan karena saya?!” tanya orang kesembilan menegaskan pertanyaan wanita berusia tiga puluh tahunan tadi.
“Dua pertanyaan?” gumam Jaka dengan suara riang. Ia gembira karena pasti tak akan menjawab pertanyaan itu—walau hanya menebak, karena menurutnya tiap orang cuma boleh mengajukan satu pertanyaan, sebab orang tertua—Ki Glagah—juga hanya bertanya satu kali.
Orang kesembilan itu wajahnya memerah, ia membungkam. Agaknya ia baru sadar kalau setiap jawaban Jaka punya maksud menjebak.
“Kesimpulan mengenai Garis Tujuh Lintasan?” orang kesepuluh mengulangi pertanyaan.
Jaka terhenyak heran menyadari bukan orang itu lagi yang bertanya, ia tidak menyangka dugaannya bisa setepat itu. Dia berpikir, kalau ada kesalahan bertanya, ia tak berhak meneruskan maksudnya. Sekelumit senyum menghiasi bibirnya. Dalam hal ini aku mungkin diuntungkan, tapi harus tetap waspada, tiap pertanyaan mereka berhubungan satu sama lain. Bisa jadi peristiwa yang kualami tadi malam—sebelum ke kuil, dimintai kejelasannya… diam-diam Jaka merinding.
Memang sebelum berangkat ke Kuil Ireng, Jaka sempat memberi empat lembar kertas yang berisi beberapa rencana. Dalam penjelasan itu, karena terlalu singkat waktunya—dan juga harus menyembunyikan beberapa hal—Jaka menuliskan mengenai masalah pokok saja.
Tentang perjumpaan dengan Lima Pelindung Putih dari Perguruan Sampar Angin, juga dia singguh tersirat saja. Bisa jadi pertanyaan inilah yang mengorek keluar semua rencananya. Aku tak ingin banyak orang yang tahu rencanaku, makin banyak orang tahu, gerakanku makin tak leluasa! Pikir pemuda ini lagi. Karena terbenam dalam pikirannya terlalu lama , pemuda agak lama menjawab pertanyaan orang kesepuluh, Jaka tidak sadar kalau orang kesepuluh mengulum senyum kemenangan.
“Tak bisakah kau menjawabnya? Terlalu lama berarti menambah satu pertanyan,” kata orang tersebut dengan wajah berseri.
Alis kiri Jaka terangkat sedikit, sial! Terlalu banyak berpikir, malah rugi. Gerutunya menyesal, dengan kejadian tadi Jaka insyaf kalau ia harus menjawab cepat, tepat, dan… bertele-tele, agar mereka tidak bertanya macam-macam.
“Silahkan…” seru Jaka.
“Pertanyaan kedua, jelaskan maksudmu tentang, ‘karena aku, karena aku dan karena saya…’ ”
Jaka manggut-manggut. “Pertanyaan pertama mudah saja bagi saya untuk mengambil kesimpulan. Saya lihat di tiap sudut rumah ini, dari perabotan hingga benda lain, diatur dalam posisi barisan. Jika bukan seorang ahli, tidak mungkin bentuk tatanan ini muncul begitu saja. Karena pernah melihat barisan lihay yang langka dipasang begitu saja di depan rumah—dalam rumpun bunga, dan berbagai kombinasi barisan juga ada di halaman belakang, dugaan tentang sangkut pautnya Ki Lukita dengan orang bernama Segara Sarpa, yang merupakan cikal bakal pendiri perkumpulan Garis Tujuh Langit bisa dibenarkan. Ki Lukita memahami barisan Lima Langit Menjaring Bumi dan Langit Tunggal, saya menyimpulkan anda sekalian—yang memiliki hubungan dengan Segara Sarpa, termasuk dalam kelompok Garis Tujuh Lintasan. Apalagi dugaan saya ini diperkuat dengan perkataan Ki Glagah yang mengartikan bahwa di rumah tiap sesepuh kota ini memiliki atau dipenuhi dengan barisan lihay,” Jaka menghela nafas sebentar.
“Sepengetahuan saya, dalam Perkumpulan Garis Tujuh Langit, jika hanya memiliki dua bagian pengetahuan tentang barisan kuno, akan digolongkan dalam regu Garis Tujuh Lintasan. Kemudian jika mengetahui bagian ketiga, atau keempat saja, mereka dapat digolongkan pada Garis Tujuh Bujur, dan jika hanya mengetahui barisan ke lima dan keenam saja dia dikelompokan dalam Garis Tujuh Laut. Terakhir, jika hanya mengetahui barisan ketujuh, dikelompokan dalam Garis Tujuh Api. Dan sebagai bagian darinya, tentu anda sekalian tahu, yang mengetahui ketujuh barisan secara sempurna, akan disebut sebagai Garis Tujuh Langit. Jadi, saya hanya menduga saja, tentang kebenaran kelompok ini adalah Garis Tujuh Lintasan, atau Bujur atau Laut, atau Api, atau bahkan Langit, saya tidak tahu.” Sampai disitu Jaka menghela nafas panjang.
“Jawaban pertanyaan kedua, ‘karena aku’—yang pertama—berarti kedatangan saya kekota ini secara kebetulan, dan bertemu dengan Ki Lukita. Kebetulan saja Ki Lukita tertarik dengan kebodohan saya, maka beliau banyak bertanya, dan banyak memberitahu tentang persoalan dunia persilatan, bahkan beliau sendiri menceritakan sekelumit rahasianya pada saya.
“Lalu ‘karena aku’—yang kedua—berarti begitu banyaknya persoalan rumit yang mungkin saja menyangkut hidup-mati kaum persilatan, mulai melingkupi ke kota ini. Menurut saya, sedikit banyak berhubungan dengan keterlibatan saya dengan kaum Perguruan Naga Batu.
“Sedangkan ‘karena saya’ berarti ketertarikan Ki Lukita untuk mengangkat saya sebagai murid. Jadi dengan demikian, berkumpulnya para pendekar dirumah ini adalah untuk menyaksikan dan menjadi saksi pengangkatan murid baru, ehm bukan… saya rasa lebih tepat jika dikatakan anggota baru.”
Tiga puluh orang itu tidak memberikan reaksi atas jawaban Jaka, namun dalam hati masing-masing, memuji. Penglihatan orang cerdik pandai, tidak sama dengan pengelihatan orang awam. Apa yang dijawabnya mengartikan dia benar-benar tahu sejauh mata memandang, mengapa kami hadir di sini.
Memang kata-kata ‘aku’ yang diucapkan Jaka berarti untuk merendahkan diri didepan angkatan tua, sedangkan ‘saya’ adalah penghormatan yang diberikannya karena berjumpa dengan Ki Lukita yang memberinya petunjuk.
“Hanya… sayang,” Jaka berkata sambil mendesah, ia tidak melanjutkan ucapannya.
Kejadian ini membuat orang yang kesepuluh berkerut kening. “Sayang kenapa?” tanyanya penasaran.
Jaka tertawa ringan, “Pertanyaan ketiga?” tanyanya dengan nada mengingatkan.
Wajah orang kesepuluh itu merah padam, Sial! Pemuda cerdik, dia bisa memanfaatkan keterpanaan orang karena jawabannya! pikirnya merasa kagum juga malu atas keteledorannya sendiri.
“Apa yang kau sayangkan?” orang yang bertanya adalah orang ke-dua belas.
Jaka mengulum senyum lagi, lumayan juga dapat keuntungan, keteledoran orang kesepuluh, menjadikan hak untuk bertanya orang kesebelas hilang, pikirnya.
“Sayang sekali sejauh ini saya merasa agak letih, dan kedatangan saya tadi agak terlambat, sehingga membuat hadirin menunggu, maafkan saya.” Jawab Jaka dengan santainya.
Kontan jawaban Jaka membuat semua orang terbelalak dongkol. Sebab mereka mengira ucapan Jaka yang di putus tadi merupakan penjelasan penting. Siapa sangka Jaka sengaja putar kayun, main tipu.
“Silahkan pertanyaan berikutnya..”
Jujur, polos, dan cerdik, kombinasi yang sangat baik. Kini, dia sedang menunjukkan kelicikannya, kombinasi unik… benar-benar membuat pusing! pikir Ki Lukita gemas.
“Kau tahu cukup banyak,” orang ketiga belas adalah Ki Gunadarma. “Memang kedatanganmu kesini, bisa dijadikan wakil dari kami semua. Keterlibatanmu dengan kaum Perguruan Naga Batu membuktikan kemampuan dirimu untuk menyelesaikan sebuah persoalan besar. Sebab tidak sembarang orang bisa berhubungan dengan orang-orang tingkat tinggi di perguruan itu.
“Jauh sebelumnya, kami sudah mencurigai keterlibatan beberapa orang dari perguruan itu, tapi karena belum memiliki bukti nyata, kami harus selalu membatasi gerakan. Keterlibatanmu dengan orang-orang itu merupakan kesempatan baik, kami bisa menghemat tenaga. Menurut ceritamu, kau pernah dipaksa menelan bubuk pelumpuh otak, dengan begitu kau sudah merupakan bagian dari mereka.
“Kini kau sudah menjadi kepercayaan mereka, tapi apa dengan kejadian tadi malam, kau tidak kawatir ketahuan jati dirimu sebenarnya? Jati diri bahwa sesungguhnya kau sama sekali tidak terkena racun?”
Jaka terkesip mendengar penututran Ki Gunadarma. Dia berpikir, bahwa beliau sengaja bertutur panjang lebar untuk mempersingkat cerita yang saling berhubungan dengan keterlibatan Jaka, sehingga pertanyaan yang tidak dibutuhkan juga tidak akan dilontarakan, kalau sudah begitu berarti ancaman buat Jaka, sebab pertanyaan berikutnya akan benar-benar menjebak, dan cepat atau lambat sedikit demi sedikit rahasia Jaka tersingkap.
Sebenarnya Jaka bisa saja berdusta, tapi dia merasa tak ada perlunya, karena tanya jawab itu adalah tanya jawab yang adil dan jujur. Apalagi Jaka juga mengkawatirkan kalau tindak tanduknya sebelumnya sudah terpantau oleh salah satu dari tiga puluh orang itu, kalau ia sengaja memberikan keterangan salah, maka kepercayaan mereka padanya akan hilang dan kesempatan Jaka untuk berbuat sesuatu yang lebih besar bisa hilang.
Sementara jika menilik dari pertanyaan Ki Gunadarma yang entah bisa terjawab atau tidak, Jaka menemukan bahwa hubungannya dengan peristiwa penting, sangat dekat. ‘Penjelasan’ Ki Gunadarma bisa membuat mereka yang belum bertanya, makin jelas tentang hubungan Jaka dengan peristiwa yang dialami, dan tidak diutarakan. Tak mau berpikir lebih lama, Jaka segera menjawab.
“Mengenai kejadian tadi malam, sama sekali tidak mempengaruhi keterlibatan saya dengan orang-orang perguruan Naga Batu!” kata pemuda ini tegas. Jaka menyadari jawaban itu bisa menimbulkan seribu satu pertanyaan yang bisa mengancam rencananya, tapi dia akan berusaha menjawab dengan bertele, baginya bermain kata-kata bukanlah pekerjaan sulit.
Beberapa orang terlihat mengangguk, Jaka tidak tahu apa yang mereka pahami dari jawaban sesingkat tadi. Tapi yang jelas, dari ekspresi wajah mereka, Jaka dapat menduga, bahwa ada yang melihat, atau mengikuti apa yang dialami Jaka malam tadi. Dan orang yang mengikuti kejadian tersebut sudah tentu menceritakan semuanya pada rekan lainnya.
“Bisa kau jelaskan alasannya?” tanya orang keempat belas, dia seorang gadis, umurnya paling tidak sebaya dengan Jaka.
Sesaat pemuda ini memandang gadis itu dengan tatapan menyelidik juga mengagumi, bagaimana tidak, gadis yang bertanya tadi memang berwajah cantik bukan main, tarikan bibirnya saat bertanya, begitu lugas, tegas—tanpa ragu-ragu. Tapi wajah gadis ini terlihat sedikit pucat, dari roman mukanya dia termasuk gadis yang tak suka banyak bicara. Jaka dapat berkesimpulan, dari gerak geriknya, dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dengan apa yang dilakukannya. Menghadapi orang semacam itu, Jaka harus waspada.
“Alasannya mudah, aku yakin tidak ada anggota Perguruan Naga Batu dimana aku berada.” Jawaban yang tegas itu membuat beberapa orang tertegun.
“Kau sangat yakin dengan hal itu?” tentu saja yang bertanya orang kelima belas.
“Yakin sekali!” sahut Jaka tanpa menjelaskan alasan keyakinannya.
Tentu saja orang keenam belas sadar kalau Jaka memang sengaja mengulur pertanyaan. “Kalau dirimu begitu yakin, tentu kau tidak keberatan menceritakan alasannya bukan?”
Jaka memandang orang keenam belas itu. Seorang pemuda sebaya dengan dirinya, wajahnya tampan dan pandangan matanya tajam. Pandangan tajam itu seolah menyiratkan dirinya lebih hebat dari siapa pun. Dalam pengelihatan sekilas saja, Jaka merasa pemuda itu sulit bergaul dengan orang lain.
“Sayang sekali, aku keberatan menjelaskannya!” jawab Jaka mantap.
Pemuda itu tertegun mendengar jawaban Jaka, wajahnya yang gagah kereng memucat sesaat, tapi diapun menyadari kesalahan biacaranya. Maklum saja, dia memberi dua pilihan pada Jaka, tentu saja Jaka memilih pilihan yang menguntungkan.
“Kelihatannya kau sangat pandai memanfaatkan situasi?” ujar orang ketujuh belas.
“Terima kasih atas pujianmu tuan,” sahut Jaka dingin. “Tentunya tuan tidak akan bertanya lagi.” Ucapan Jaka yang datar itu, menyentil kesadaran orang ketujuh belas.
Keparat! Makinya, dalam hati. Dia tak sadar terlena dengan tanya jawab itu, dengan wajah dibuat setenang mungkin ia kembali berkonsentrasi mengikutinya.
Jaka sendiri berpikir, Bagus! kelihatannya lebih baik aku menjawab pertanyaan dengan singkat, pasti beberapa orang terpengaruh dan bicara yang tidak perlu, dengan demikian kesempatan bertanya mereka hilang.
Kini giliran orang kedelapan belas, agaknya ia masih bingung dengan pertanyaan yang akan diajukan. Jaka mendiamkan saja, tapi pemuda ini menyeringai girang saat menyadari orang kedelapan belas itu tidak juga bertanya.
“Terlalu lama untuk bertanya tuan?” kata Jaka.
Orang itu tersenyum, “Tidak, kali ini kau salah.” katanya dengan girang.
Jaka mengerutkan alisnya, seolah ia tidak paham.
“Perkataanmu tadi membuat aku mendapat hak untuk bertanya dua kali!” jelas orang itu.
Jaka baru mengerti, “Dan penjelasanmu mungkinkah termasuk pertanyaan pertama?” tanya pemuda ini dengan nada tajam, meminta kepastian.
Orang itu tertegun, ia sadar dengan kecerobohan-nya. Mengira dirinya sudah menang, ia mengatakan hal-hal yang tidak perlu, andai saja ia hanya mengatakan ‘tidak, kali ini kau salah’ sudah cukup bagi Jaka untuk memahami sampai dimana peraturan perkumpulan orang-orang itu, tapi dasar Jaka orangnya licin, ia sengaja berkerut alis supaya orang itu menafsirkan bahwa dia tak paham.
Dan orang itupun terpancing, ia terlalu menonjolkan kemenangan, akibatnya hak untuk bertanya dua kali, tinggal satu kali.
“Tadi malam, kau berperan sebagai apa?” tanya orang delapan belas ini tidak banyak membuang waktu.
“Generasi kelima keturunan Tabib Hidup Mati.” Jawaban Jaka singkat saja.
“Mereka percaya?” tentu saja orang kesembilan belas yang bertanya.
“Percaya, kuyakin kalau tuan menyaksikan apa yang kulakukan tadi malam, tidak akan bertanya seperti ini! Siapa orangnya yang dapat menahan racun tanpa menggunakan mustika penolak racun atau obat penawar, kalau bukan keturunan sang tabib?” ujar Jaka menjawab pertanyaan orang ke sembilan belas, tanpa bermaksud menyombong.
“Kelihatannya kau menjiwai peranmu, tapi dengan demikian orang akan semakin mengejar dan mencari tahu siapa dirimu sebenarnya, termasuk kami. Siapa kau sebenarnya?” kali ini orang ke dua puluh.
Jaka tertegun mendengar pertanyaan itu. Dalam kilasan detik, Terbetik dalam benaknya, dia harus memainkan sebuah pribadi baru disini, sifat pribadi yang dulu pernah dia pendam jauh-jauh. Sifat yang membuatnya sadar bahwa itu tidak baik. Ya, sebuah karakter emosional dan ekspolsif.
Mendadak wajah Jaka memperlihatkan rasa tidak senang, seolah agak emosi mendengar pertanyaan tadi, karena sudah memasuki teritori terlarang, kenapa pula orang tak boleh punya rahasia?
“Siapa aku, Siapa pula kau ini?” Ujar Jaka balik bertanya.
Sungguh tak di sangka mereka bakal mendengar jawaban penuh rasa tak puas.
“Hei, kau harus menaati peraturan kami!” ujar orang keduapuluh itu.
“Kalau aku tak taat?” tanya Jaka Ketus, ya pemuda ini sudah memutuskan memunculkan karakter barunya.
“Tentu saja harus dihukum!” ujarnya dengan suara mendesis.
Jaka tertawa, dia tertawa bukan karena geli, tapi dia sadar, ternyata kembali pada karakter lamanya dulu cukup menyenangkan, maka.. dengan bulat hati, Jaka saat ini memainkan peranan sebagai orang yang mudah lepas kendali.
Tawa pemuda itu memang hanya tertawa kecil, tapi bagi yang mendengar, memahaminya sebagai tertawa menghina.
“Dihukum? Aku bahkan dengan senang hati akan segera pergi dari sini, dan melupakan apa yang kulihat, kudengar, dan kupikirkan, tentang perkumpulan macam ini! Benar-benar, murahan!”
“Kau…” bukan cuma si penanya tadi yang berdiri lantaran emosi, tapi juga beberapa orang lainnya.
Ki Glagah menyadari keadan jadi tak terkendali, ia segera mengambil alih situasi.
“Tenang! Tenang…”
Para anggota segera mematuhinya, tapi Jaka tidak. Ia masih merasa kesal.
“Apa yang membuatmu marah?” Tanya kakek itu.
“Apa yang membuatku marah?!” seru Jaka dengan nada tinggi. “Kalau kutanyakan hal itu pada Aki, siapa aki sebenarnya? Apa yang akan aki jawab? Ada hak apa pula kalian disini mengorek rahasiaku?!”
Untuk sesaat, kakek itu tak bisa menjawab.
“Kau harus tahu Jaka, peraturan disini beda dengan diluaran sana. Sekalipun kau tak ingin menjawab, kau juga harus mejawab. Karena kau memasuki kelompok orang lain, hormatilah itu.”
“O… jadi aku harus menghormatinya?”
Siapapun tahu kalau Jaka sudah lepas kendali, pada awalnya dia bicara ‘saya’, dan kini kembali ‘aku’, berarti ia sama sekali sudah tidak menaruh penghargaan pada institusi mereka.
Ki Glagah tetap sabar. “Benar.” Jawabnya bersahaja.
“Dan membiarkan diriku di injak-injak?”
“Bukan begitu maksudnya…”
“Tapi apa bedanya?”
Ki Glagah tak bisa menjawab. Memang apa yang dikemukakan Jaka masuk akal. Sekalipun mereka adalah kelompok rahasia atau apapun namanya, tapi untuk mengorek rahasia orang lain, tetap saja itu hal yang tabu, tidak boleh!
“Jaka…” kali ini Ki Lukita yang bersuara.
“Tunggu sebentar.” Jaka menyela. “aku tahu kalian bertanya seperti ini lantaran ingin tahu benar orang macam apa aku ini, baik…”
Begitu ucapan ‘baik’ selesai, tangan Jaka terkepal kencang, orang-orang terdekat merasakan hawa panas menyengat, dan tanpa komentarpun mereka menyingkir. Pinggiran maja dan kursi perlahan meranggas hangus. Padahal Jaka cuma mengepalkan tangannya saja. Sekalipun orang goblok juga tahu, Jaka yang mengerahkan hawa sakti berdaya panas.
“Tenanglah Jaka…”
Pemuda ini menatap kakek yang sudah diakui sebagai gurunya. Lalu ia menghela nafas panjang…
“Maaf…” Ujarnya sambil menepuk perlahan kursi yang ada didepannya.
Mata hadirin terbeliak, bagaimana mungkin kursi jati puluhan tahun bisa hancur luluh lantak begitu rupa? Sekalipun tadi mereka merasakan hawa panas, tapi kan tidak mungkin bisa begitu.

—ooOoo—

33 – Uji Kesaktian

“Saya hanya ingin minta batasan, apapun yang kalian tanyakan jika bukan bersangkutan dengan rahasia yang tak ingin kuungkapkan, tahu dirilah!”
Ki Lukita masih terpana dengan kejadian tadi, rasanya dia paham kenapa Jaka sanggup menguasai tiga ilmu mustika, tapi ia tak menyangka bisa sedahsyat itu. Ia mengira hawa panas tadi setingkat dengan level terakhir ilmu mustika Api Pembakar Dunia.
“Baiklah Jaka, jika menurutmu kami menginjak daerah yang tidak kau perbolehkan, katakan saja bahwa kau tak ingin menjawabnya.”
Jaka mengangguk, dalam hati Jaka meminta maaf pada gurunya untuk, sikapnya tadi, sengaja Jaka melakukan hal itu, disebabkan dia harus membentuk sebuah stigma baru dalam organisasi, bagaimanapun juga berdasarkan pengalaman, Jaka paham; kesetiaan itu tidaklah mutlak. Maka sebelum melangkah jauh, Jaka membuat kamuflase bagi sifatnya, supaya perhitungan orang meleset.
“Ulangi pertanyaan tadi.” Perintah Ki Lukita.
Orang ke dua puluh mengangguk. “Seperti tadi, aku hanya mengulangi saja. Siapa kau ini?”
Menampilkan muka sedikit dongkol, sebagai pemuda yang seharusnya berjiwa besar, Jaka sudah tahu jawaban yang sangat singkat!
“Jaka Bayu!” Jawaban Jaka kontan saja membuat alis orang kedua puluh itu berkerut. Meski ia tahu kalau Jaka tak bakal menjawab, toh ia tak menyangka bahwa pertanyaannya, dibuat jadi pertanyaan tolol.
Orang keduapuluh satu, yang merupakan gadis cucu Aki Lukita, memandang Jaka sesaat, lalu melirik kesebelah dengan menganggukkan kepala. Orang berikutnya juga demikian, dan akhirnya sampai pada orang terakhir.
Jaka membatin, “Kelihatannya mereka ingin mewakilkan pertanyaan mereka pada orang terakhir.”
Dan orang terakhir itu adalah Ki Lukita. “Kau tahu, karena semuanya melemparkan hak bertanya itu padaku, maka aku berhak bertanya padamu sebanyak sepuluh pertanyaan!”
Jaka mengangguk, “Silahkan,” katanya sopan.
“Mereka ingin tahu siapa dirimu sebenarnya!”
Situasi jadi hening, sebab lantaran pertanyan tadi, mereka jadi sedikit tahu, siapa gerakan pemuda yang terlihat tenang—namun berdarah panas—ini.
Namun toh, Jaka tak memperlihatkan tanda-tanda gusar. “Aku tidak tahu!” jawab Jaka tegas.
Jawaban Jaka yang tidak disangka-sangka itu membuat orang-orang bergumam tak jelas, berbagai penafsiran terfikir oleh mereka.
“Jadi apa yang kau jelaskan padaku kemarin itu adalah bohong? Kalau memang benar begitu, apa pula alasannya, dan kalau tidak, kenapa pula kau jawab seperti itu?”
“Tiga pertanyaan sekaligus,” gumam Jaka. “Pertama, saya tidak bohong. Kedua; saya tak ingin menjawab. Ketiga; sudah tentu ada alasan yang tak bisa saya kemukakan disini.”
Jawaban Jaka yang singkat (dan memang jawaban jujur), samar-samar bisa dipahami mereka. Bahwa Jaka belum mengetahui siapa keluarganya sendiri. Tapi adalah sikap pemuda itu yang sama sekali di luar dugaan, saat Jaka mengutarakan hal sebenarnya—walau secara samar—tidak ada kesedihan atau perasaan kehilangan dalam jawabanya, semuanya terlihat datar dan tenang. Dengan begitu mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa sudah terlalu lama Jaka menindas perasaan sedihnya.
Ki Lukita mengabarkan pada mereka, bahwa Jaka lebih suka menyendiri. Menikmati keindahan panorama alam, mungkin itu salah satu pelampiasan kesedihan hatinya.
Diam-diam Ki Lukita menyesali pertanyaannya tadi; Jadi kedatangan dia kemari mungkin sekali karena melacak jejak leluhur lewat Perguruan Naga Batu… mungkinkah sebenarnya ia orang yang menjadi titik utama dalam awal masalah besar ini? Pikirnya.
“Baiklah, pertanyaan mengenai dirimu tidak perlu aku lanjutkan, sedangkan mengenai beberapa masalah pelik yang kau hadapi saat ini biarlah kami serahkan sepenuhnya pada kebijakanmu. Kuharap kau dapat menyelesaikan dengan baik tanpa banyak pertumpahan darah, karena semua itu merupakan mata rantai persoalan sesungguhnya,”
Jaka mengangguk membenarkan perkataan Ki Lukita.
“Dari pembicaraan kita, kemarin, kau mengatakan menguasai tiga dari sembilan ilmu mustika, aku ingin kau menunjukkan ketiganya!”
Ucapan Ki Lukita membuat orang-orang terperanjat kaget, mereka kelihatannya tidak percaya ada orang yang dapat menguasai tiga ilmu mustika sekaligus. Dari raut-raut wajah yang menunjukan keheranan juga ketidak pastian itu, Jaka dapat menduga bahwa selain Ki Lukita, mereka belum tahu hasil pembicaraan pertama antara Ki Lukita dengan dirinya.
“Ini permintaan?” tanya Jaka.
“Benar, setiap permintaan imbalannya lima pertanyaan ditiadakan, jadi aku masih ada kesempatan bertanya padamu satu kali lagi, karena sebelumnya sudah empat pertanyaan yang kuajukan.”
Jaka menghela nafas panjang, ia berpikir, serapat apapun dirinya menyimpan rahasia, toh akhirnya harus ada yang dibeberkan juga, mungkin ini sudah saatnya, pikir Jaka, justru merasa lega.
“Baiklah,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Selama dua tahun berkelana, Jaka baru tujuh kali menggunakan ilmu mustikanya, ia lebih banyak mengandalkan peringan tubuh, ilmu langkah ciptaannya, serta beberapa gerak cangkokan dari serangan lawan yang pernah ia temui.
Dengan perlahan, Jaka berdiri, lalu ia melangkah ke halaman samping yang lebar itu. Pemuda ini mengambil nafas panjang-panjang. Ruas-ruas tulangnya bergemeretak nyaring, seolah tubuhnya mengembang lebih besar.
“Siapa yang bersedia menguji ilmuku?” tanya Jaka sambil memandang berkeliling.
Tak menunggu lama, pemuda tampan bersorot mata dingin segera maju.
“Aku!”
Jaka tersenyum seraya mempersilahkan, “Sebaiknya saudara menguji satu saja, biarkan dua orang lainnya menguji yang lain.” Pinta Jaka.
Si penantang mengangguk, “Bersiaplah!” katanya sambil memasang kuda-kuda.
Tapi sikap pemuda itu tidak bisa di sebut kuda-kuda, sebab kaki kanannya hanya maju setengah langkah, seperti sikap itu hanya formalitas saja, dari situ, Jaka sudah bisa menduga sampai dimana kehebatan si pemuda berwajah dingin itu.
Orang yang bertarung tiada memperlihatkan apa yang dia latih, berarti sudah memasuki taraf menimpuk dengan daun. Pikir Jaka waspada.
“Aku akan menggunakan Hawa Bola Sakti…”
Begitu Jaka selesai berucap, bagai sambaran kilat pemuda bertampang dingin itu bergerak menyerang. Sikutnya, ia sodorkan dengan kecepatan bagai kilat dan langsung menggedor dada Jaka.
Tapi serangan yang amat tiba-tiba itu dengan mudahnya dihindari Jaka, tubuh pemuda ini seperti kapas terkena hembusan angin, dimana serangan lawannya hendak mengena tubuhnya, dengan sendirinya Jaka bergeser mengikuti arah serangan lawan.
Tujuh jurus telah berlalu, wajah pemuda bermuka dingin itu kelihatan memerah, rupanya dia malu karena serangan beruntunnya tak satupun mengenai sasaran, padahal sang guru—ayahnya sendiri, tak bakal bisa menahan serangannya sebanyak tiga jurus tanpa balas! Tapi Jaka… dia bahkan bisa membuat dirinya seperti mainan, tujuh jurus tanpa ada hasil! Mereka yang melihat hanya bisa berdecak kagum.
Ki Glagah, Ki Lukita, Ki Gunadarma dan Ki Benggala, sudah tahu Jaka menggunakan ilmu langkah ciptaan sendiri. Mereka kagum bukan main, selain olah langkah itu benar-benar aneh, walau sudah berkali-kali dilihat, tak juga menemukan celah kelemahannya.
Khusus bagi Ki Gunadarma, dia memiliki indera yang sangat peka yakni kemampuan menelaah sesuatu, melihat celah dan bisa segera menemukan kelemahannya—sebenarnya kemampuan seperti itu bisa dilatih, tergantung pandangan seseorang dalam membaca sesuatu. Karena kemampuan pandangan mata Ki Gunadarma benar-benar tajam maka insan persilatan menjulukinya Si Mata Api. Tapi untuk kali ini, Ki Gunadarma hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
“Bagaimana adi? Bisa kau cari dari mana sumber ilmu dan kelemahan gerak langkahnya?” tanya Ki Glagah.
Orang tua ini menggeleng. “Tidak bisa kakang, padahal tadi malam akupun mengamatinya dengan seksama. Perubahan langkah anak itu seolah tanpa batas, tiada gerakan yang sama, sepanjang tadi malam dan gerakan saat ini. Seolah…”
“Dia menciptakannya tiap waktu? Tiap dirinya diserang…” gumam Ki Lukita dengan tatapan tajam memperhatikan pertarungan itu.
“Begitulah kesimpulan saya kakang. Entah anak macam apa yang kita dapatkan ini. Mudah-mudahan perbuatan kita ini bukannya memasukkan macan ke kandang ayam.”
“Mudah-mudahan.” Gumam Ki Lukita hampir bersamaan dengan ucapan Ki Glagah.
Sementara itu pemuda berwajah dingin ini, menghentikan serangannya, ia memandangi Jaka dengan tatapan mata marah, juga kagum.
“Jangan cuma menghindar! Apa itu yang dinamakan Hawa Bola Sakti?!” seru pemuda itu dengan suara dingin, rasa malu dikalahkan rasa marahnya.
Jaka tidak menanggapi, namun tubuhnya yang selalu bergerak bagaikan kapas tertiup angin itu berhenti. “Aku memang belum mengeluarkan ilmu itu, sekarang kau bisa mencoba sampai dimana tingkatanku dalam mempelajari Hawa Bola Sakti,” kata Jaka dengan nada bersahabat.
“Hh!” hanya dengusan dingin sajalah yang keluar menanggapi ucapan Jaka. Tapi memang sudah sifat Jaka yang penyabar, ia tidak gusar dengan kelakukan lawannya.
“Kalau kau tidak yakin dengan ilmumu, harap menghindar saja!” kata pemuda itu dengan suara datar dingin, sama sekali tidak bersahabat.
“Tentu, nasehatmu akan kupenuhi.”
Dari percakapan singkat itu, orang-orang sudah dapat menilai karakter dua pemuda itu. Yang satu berangsan seperti awan yang selalu berubah-ubah, sedangkan yang satunya kokoh bagai gunung dan memiliki ketenangan seperti permukaan danau.
Pemuda berwajah dingin itu, memandang Jaka dengan tatapan tajam kelihatannya tatapan matanya makin menusuk. Tapi Jaka memandangnya dengan tatapan mata hangat. Udara hangat pagi itu mendadak saja dilingkupi hawa panas yang amat menyengat kulit.
“Ilmu apa ini?” desis Jaka terkesip.
“Seperti dirimu, aku menguasai ilmu mustika juga!” sahut si pemuda dengan ketus memberitahu.
“Api Pembakar Dunia?” gumam Jaka kaget.
“Benar, peganganku ini juga sejajar atau lebih tinggi dari dirimu. Dari sembilan tingkat tertinggi, aku sudah menguasai sampai tingkat tujuh!” kata pemuda itu dengan suara datar, tapi dari nadanya orang tahu kalau dia sangat membanggakan dirinya sendiri.
“Selamat, sungguh menyenangkan.” Ucap Jaka tulus, tapi diam-diam ia menghela nafas, Kalah dari orang ini sih tidak apa-apa, tapi kalau dia yang kalah, gawat juga, orang macam dirinya ini termasuk pendendam, pikir Jaka agak kebingungan. Sebenarnya ilmu yang cocok menghadapi, hawa panas seperti itu adalah ilmu Badai Gurun Salju. Tapi sayang, aku sudah berjanji untuk mengunakan Hawa Bola Sakti.
Mereka berhadapan dengan tatapan nyalang. Jaka memikirkan cara bagaimana agar tidak menjatuhkan ego lawannya jika kalah, maka lawannya memikirkan bagaimana ia memperoleh kemenangan dengan satu serangan.
Hawa panas menyengat itu, tiba-tiba saja makin menyengat. Wajah pemuda itu merona merah, pengerahan hawa murninya hampir mencapai puncak. Mereka yang menyaksikan merasa tegang juga, sebab mereka tahu sampai dimana taraf ilmu kesaktian Wiratama si pemuda wajah dingin itu.
Jaka-pun bukannya tidak menyadari situasi yang tidak menguntungkan itu. Menang salah, kalah juga salah… pikirnya prihatin. Apa boleh buat, aku harus melakukan serapan hawa.
Kalau tadi hanya berdiri tanpa persiapan, kali ini, tangan Jaka terangkat tinggi lalu dihempaskan perlahan kedepan, kemudian berputar di depan dada membentuk gerakan melingkar dua kali, dan menekan dada perut serta simpul perut kecilnya.
“Silahkan!” kata Jaka dengan suara tenang.
“Sambutlah!”
Begitu dia selesai berseru, tubuh pemuda itu melayang cepat bagai sambaran kilat. Mulutnya membentuk garis tipis, kelihatnya dia melengking? Suaranya hampir-hampir tak kedengaran. Wiratama sadar suaranya dapat menimbulkan masalah, maka ia menaikkan frekuensi suaranya—yang secara ilmiah hanya bisa didengar oeh binatang seperti kelelawar.
Kelihatannya hal remeh yang aneh itu tak berguna, padahal kemampuan bersuara frekuensi tinggi jarang terdapat dalam dunia persilatan, Jaka benar-benar kagum melihatnya. Hanya saja ia menyayangkan kenapa Wiratama harus melakukan hal-hal tak berguna seperti itu? Tentu saja Jaka tidak tahu, karena lengkingan itu adalah rasa frustasi Wiratama akibat serangannya mentok semua.
Deruan hawa panas menyambar bagai kilat, pukulan itu mengarah tepat ke dada Jaka. Dua tapak tangan Wiratama yang sudah membara, membahana hawa panas, menghantam dada Jaka dengan telak.
Blang!
Benturan itu terjadi dengan begitu cepat. Semua orang bisa melihat bagaimana Jaka menerima pukulan dahsyat itu. Begitu dua hantaman menderu, Jaka bukannya menghindar atau menangkis, padahal sebelumnya kedua tangan menakup didadanya, kenapa tidak untuk menangkis, anehnya kedua tangannya menyibak ke samping seolah-olah menyilahkan serangan untuk menghantamnya. Jaka menyambuti dua pukulan beruntun itu dengan dadanya.
Wiratama terpental balik, dan ia berdiri dengan tegak. Kelihatannya pemuda tampang dingin ini tidak mengalami apa-apa hanya saja terlihat kedua tangannya mengepal kencang, dan bergetar! Apakah karena marah, lemas atau terluka? Entahlah, yang jelas orang macam dia, apa pun yang terjadi, jika dirinya sempat dikalahkan-pun, ia tak ingin orang lain tahu. Benar-benar orang berego tinggi.
Ilmu yang dikuasai orang ini benar-benar hebat! Bagaimana bisa tenagaku amblas ketubuhnya? Seharusnya ilmu itu hanya bisa mementalkan segala serangan, tapi kenapa yang ini menghisap? Apakah bukan ilmu Hawa Bola Sakti? Tapi kalau bukan kenapa aku bisa dipentalkan oleh kekuatan tadi? keparat!
Jaka juga terpental, tapi ia dapat menguasai keadaannya kembali. Badannya terasa panas, rasanya seperti dipanggang, tapi perasaan itu hanya sejenak saja, dengan tarikan nafas dan pengaturan hawa murni, hawa panas itu terasa melebur perlahan… perlahan, dan lenyap.
Aku berhasil, pikirnya girang. Kupikir cara ini tak berguna, meski lambat reaksinya, tapi sesuai dengan yang seharusnya terjadi. Hh, bagaimanapun juga jurus tapaknya memang sangat hebat.
Sambil menjura, Jaka berkata. “Ilmumu sangat hebat, aku kewalahan menahannya…”
“Kau juga hebat, aku telah mengerahkan sembilan bagian tenagaku, biasanya apa saja yang terkena pukulanku, akan hangus dan hancur, tapi tenagaku malah tersedot dan menghantam balik.”
Jaka kagum dengan kelapangan hati pemuda bertampang dingin itu, ternyata sikapnya tak sekaku tampangnya, pikir Jaka.
“Aku hanya beruntung. Kalau kau tambahkan tenagamu, tentu aku sudah terkapar, aku sudah mengerahkan seluruh tenaga.” Kata pemuda ini merendah. Ucapan Jaka kontan saja membuat cuping hidung pemuda itu kembang kempis. Kelihatannya ia bangga dengan pengakuan Jaka.
Tapi bagi orang yang memiliki kemampuan hebat yang setingkat dengan Ki Gunadarma, dapat melihat situasi dengan jelas. Mereka yakin Jaka malah belum mengeluarkan separuh tenaganya, hal itu jelas menjadi pertimbangan mereka karena saat di Kuil Ireng, Ki Gunadarma menyaksikan sendiri sampai dimana kelihayan tenaga dalam Jaka saat menahan lima racun yang mematikan. Sebab menurutnya, racun pemutus nadi yang mematikan itu, belum tentu dapat ditahan oleh jagoan lihay dalam seratus hitungan. Tapi Jaka malah dapat bertahan sekian lama malah memunahkan kelima racun dahsyat itu tanpa bekas.
Dengan langkah tegap, Wiratama kembali ketempat duduknya. Kalau saja ia mau lebih cermat memandang Jaka, tentu apa yang dikatakan Jaka seharusnya merupakan tamparan bagi dirinya. Karena pakaian bagian dada yang terkena pukulan hawa panas itu tidak hangus, bahkan menghitam-pun tidak. Dari kondisi itu saja bisa diraba, sampai dimana taraf tenaga dalam Jaka.
“Berikutnya, siapa yang ingin menguji Badai Gurun Saljuku?”
Tidak menunggu lama, orang yang akan menguji dirinya sudah melayang dengan ringan, dan berhenti lima langkah dihadapannya.
“Aku! Kinanti, yang akan mengujimu.”
Ternyata gadis berusia sebaya dirinya yang akan menguji ilmu Jaka. Wajah Jaka kelihatan agak merah, bukan karena gadis berwajah ayu inilah yang sempat membuatnya terpana sesaat, tapi wajah Jaka merah karena ia agak sungkan menghadapi seorang gadis muda.
Melihat pemuda ini diam seperti orang terpana, gadis itu mengeritkan alisnya. “Apakah kau tidak puas karena lawanmu seorang gadis?” tanyanya tanpa malu-malu.
Jaka memang blak-blakan, ia tidak ingin apa yang menjadi ganjalannya disimpan terus dihati. “Maaf aku, apa yang engkau katakan benar, aku sungkan.”
Hati gadis ini terasa panas, dia merasa diremehkan. Tapi Kinanti juga mengagumi kejujuran Jaka. “Kau jangan menganggap remeh karena aku wanita, aku juga menguasai ilmu yang sama denganmu!”
Jaka terkejut, “Maksudmu Hawa Bola Sakti?”
“Bukan, tapi Badai Gurun Salju!” Jawaban gadis itu membuat Jaka terhenyak, Aneh, apa semua memiliki salah satu ilmu sembilan mustika? Pikir Jaka kagum. Melihat Jaka terpelongok heran, wajah Kinanti yang tadi berkerut karena jengkel mengetahui Jaka meremehkannya, kini kelihatannya tertawa geli.
“Hei, sampai kapan kau bengong?”
”Oh-eh…” Jaka menggeregap kaget. Tingkah Jaka yang serba runyam itu disalah tafsirkan banyak orang, mereka mengira Jaka mulai kepincut karena kecantikan Kinanti. Tapi bagi Ki Glagah dan tokoh tua lainnya, menyadari sikap Jaka itu, mereka sudah menduga kalau Jaka hanya kaget karena banyak orang yang menguasai ilmu mustika.
“Em… maaf, kalau boleh tahu, sampai dimana tingkatan nona mempelajarinya?” tanya pemuda ini.
Pertanyaan yang sopan dan amat sungkan ini, membuat orang yakin, Jaka mulai suka dengan Kinanti. Ada yang mentertawakan, tapi ada juga yang tak senang, salah satunya gadis berbaju biru, usianya paling banyak sembilan belas tahun, kalau sedang tersenyum lesung pipit muncul di kedua belah pipinya. Gadis cantik molek ini adalah cucu kesayangan Ki Lukita.
Kinanti kelihatannya berpikir sejenak mendengar pertanyaan Jaka. “Dari sepuluh tingkatan, aku baru mencapai tingkat enam, satu atau dua bulan lagi sampai di tingkat tujuh.”
“Oh…” Jaka manggut-manggut. Bagus, tapi entah sampai dimana kematangannya, pikirnya.
“Kau sendiri sampai tingkat berapa?”
“Ah, belum semahir nona, masih tingkat empat atau lima.” Kilah Jaka sungkan. Mana mungkin ia katakan bahwa dirinya sudah menguasai tingkat pamungkas? Dia takut dikira sombong.
“Oo…” gadis itu hanya mengumam saja. Biarpun Jaka mengaku baru mencapai tingkat lima, Kinanti tidak percaya. Dia bukanlah gadis bodoh egois yang mudah ditipu. Kalau dibandingkan, sesungguhnya tingkatan ilmunya dengan Wiratama hanya selisih seurat, kalau Jaka bisa menahan ilmu Wiratama, tentunya bisa pula menahan ilmu dirinya. Berpikir demikian, Kinanti tersenyum, ia memaklumi maksud Jaka hanya ingin menjaga harga dirinya.
“Aku akan memulai!”
Begitu kata selesai terucap, hawa dingin langsung bertebaran kemana-mana. Hawa sangat membekukan tulang, menyerang Jaka dari semua sudut.
Orang boleh merasakan hawa dingin menggigit itu sanggup mematikan fungsi tubuh, tapi bagi Jaka hawa itu seperti angin sepoi-sepoi, bahkan timbul keinginan Jaka untuk menyerap hawa dingin itu, dengan demikian bisa meningkatkan kehandalan ilmu Badai Gurun Salju.
Di luarnya saja Jaka terlihat keripuhan, seolah hawanya kalah dingin dibanding ilmu Kinanti, siapa tahu pemuda ini sebenarnya memanfaatkan situasi.
Walau terlihat terdesak, serangan yang silih berganti tidak mengendorkan pertahanan Jaka. Dua puluh jurus berlalu, hawa dingin Kinanti sudah sampai pada tingkat puncak yang dia kuasai, yakni tingkat enam, tapi sejauh ini dia tidak bisa membuat Jaka terdesak! Sebenarnya gadis ini merasa kesal, dia tahu lagak keteter lawannya hanya untuk mengelabui orang saja, kenyataannya dia tidak bisa menyentuh Jaka!
Memang jika dilihat orang, terkadang tangan mereka seperti berbeturan—saling serang dan tangkis, kenyataannya, begitu hampir bersentuhan, dengan kecepatan menakjubkan, Jaka menarik serangan, mereka tak bersentuhan sama sekali!
Kinanti merasa kagum dengan kelihayan lawannya, dia yakin, jika pemuda itu bersungguh-sungguh, sejak jurus pertama berlangsung ia sudah terkapar. Sampai disitu dia paham, kemampuan Jaka jauh diatasnya, ia bahkan yakin, Jaka sengaja mengalah kepada Wiratama.
Memasuki jurus kedua puluh delapan, Kinanti merasakan hawa dinginnya mendadak lenyap, dan tiba-tiba dia merasa dirinya seperti dipendam dalam liang es, yang sanggup membuat tubuhnya beku dalam sekejap. Tapi hawa dingin membekukan itu hanya berlangsung tiga hitungan saja, sesaat kemudian, lenyap tak berbekas.
Kinanti melihat Jaka menghentikan jurusnya dan melompat ke belakang, gadis ini tahu diri, diapun menghentikannya. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi Jaka mendahuluinya, sambil menjura pemuda ini berkata,
“Terima kasih atas petunjuk nona, untunglah nona mengalah.”
Mendengar ucapan Jaka, wajah Kinanti merah sekali. Gadis ini paham seharusnya dirinyalah yang berkata begitu, tapi demi menjaga harga dirinya, Jaka malah mengalah demikian rupa.
“Terima kasih…” kata gadis ayu ini dengan suara lirih sambil menunduk, dengan langkah lambat ia segera kembali ke bangkunya.
Jaka tak ambil pusing dengan sikap Kinanti, ia ingin semuanya cepat berakhir. Saat mulutnya hendak membuka, Ki Benggala sudah berdiri didepannya.
“Aku penguji berikutnya!” katanya dingin.
Dari sikapnya yang bersungguh-sungguh, Jaka paham ilmu yang akan dikeluarkan Ki Benggala tidak bakal setanggung dua lawan sebelumnya.
Jaka bersiap, “Silah..,” Belum lagi ia selesai berucap, tiba-tiba saja hawa disekitarnya terasa mencekam, membuat perasaan dingin, gerah, juga ngilu.
Sebelumnya, dia pernah merasakan perasaan ini! Jaka tahu dirinya dalam bahaya. Karena itulah hawa membunuh!
“Aku juga menguasai salah satu ilmu mustika, kau tahu Hawa Mayat Tanpa Batas?” Ucapan yang begitu datar dan tidak berperasaan itu membuat hati Jaka berdesir ngeri.
Inikah perbawaan ilmu itu? Pikirnya sambil menenangkan hati.
Hawa membunuh makin tebal, wajah Ki Benggala yang biasanya ramah, selalu tersenyum kini beku dan penuh nafsu membunuh.
Gawat, ini bukan ujian lagi… pikir Jaka. Tanpa menunggu lama, Jaka segera mengerahkan ilmu ketiganya, Hawa Dingin Penghancur Sumsum.
Ilmu Badai Gurun Salju dengan Hawa Dingin Penghancur Sumsum memiliki kesamaan, tentu saja persamaannya adalah hawa dingin. Kalau Badai Gurun Salju dapat dibagi ke dalam bagian lembut dingin dan panas keras, maka Hawa Dingin Penghancur Sumsum, cuma ada satu saja, yakni dingin keras!
Dengan kata lain, jika ada orang yang mengadu ilmu Badai Gurun Salju dengan Hawa Dingin Penghancur Sumsum—pada tingkatan yang sama—maka yang mengerahkan hawa dingin ilmu Badai Gurun Salju pasti kalah, karena dia mempelajarinya dengan membagi dua dalam tahapan keras dan lembut. Namun orang itu bisa mengimbangi Hawa Dingin Penghancur Sumsum dengan mengerahkan ilmu Badai Gurun Salju dalam tahap panas keras. Sebab dengan demikian, hawa panas keras itu akan saling bentrok dengan dingin keras yang akhirnya sama-sama meniadakan—tentu jika kondisinya imbang.
Kali ini Jaka benar-benar mengerahkan puncak kemampuannya dalam ilmu Hawa Dingin Penghancur Sumsum-nya. Tingkat tertinggi ilmu itu hanya ada lima tingkatan saja, bukan berarti mudah menguasainya. Bagi orang lain yang sudah memiliki dasar silat kokoh dan tenaga murni kuat, mungkin memerlukan waktu sepuluh tahun untuk menguasai sampai tingkat kelima, tapi pemuda aneh ini tahu bagaimana cara mempercepat membangkitkan tenaga dalam—tanpa ia pandang sebagai meningkatan hawa murni segala—yakni dengan mengandalkan pengetahuan syaraf dan organ tubuh, tanpa disadari, dia dapat menyingkat waktu latihan yang seharusnya sepuluh tahun, menjadi enam bulan saja! Lagi pula saat ia mempelajarinya juga ada kondisi tertentu yang mengharuskan dia harus sesegera mungkin untuk menguasainya… (akan diceritakan pada bagian yang lain)

—ooOoo—

34 – Improvisasi Ilmu

Hawa pembunuh makin tebal, tapi hawa dingin-pun makin merasuk tulang sumsum. Ki Glagah dan yang lain, merasakan ketegangan amat sangat. Hawa dingin yang dipancarkan Jaka benar-benar lain dengan hawa dingin yang tadi menyerang Kinanti. Dinginnya puluhan kali lipat lebih hebat!
Dua puluh sembilan orang yang berada tujuh-delapan tombak dari pertarungan itupun harus mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh dari serangan hawa dingin yang makin merasuk sumsum.
Gila, kalau dia mau sungguh-sungguh, satu juruspun aku tak sanggup menerimanya! Pikir Kinanti merasa malu dengan ulahnya tadi yang sok jago.
Sementara itu Wiratama yang sudah berbesar hati karena lebih unggul dari Jaka, juga menyadari sesungguhnya Jaka tidak serius saat menghadapi dirinya.
Sialan! Gerutunya dongkol. Tapi ia tidak akan banyak berpikir untuk memaki, karena hawa dingin kian merasuk.
“Bagaimana dengan Hawa Dingin Penghancur Sumsum tingkat tiga ini paman?” tanya Jaka dengan wajah masih dihiasi senyum.
Tentu saja Ki Benggala tidak menjawab, sebab dia sendiri keripuhan menghadapi hawa dingin yang makin menggigit. Sebagai jagoan kawakan, Ki Benggala hanya menanggapi dengan seringaian saja. Seringaian itu bermaksud meremehkan, yang berguna untuk memancing kegusaran lawan. Jika lawan bertarung dalam kondisi marah, maka sepertiga hawa murninya tidak akan bisa dikerahkan dengan lancar.
Tapi Ki Benggala salah kalau menilai Jaka semurah itu, Jaka memang baru berumur dua puluh tahun, tapi ketangguhan menahan sabarnya bukan tandingan orang sebayanya!
Hawa pembunuh makin tebal menyerang Jaka, kalau pemuda ini lengah sedikit saja, maka habislah riwayatnya. Salah satu ciri ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas adalah, kemampuan hawa pembunuh menguasai batin lawannya, agar selalu dibayangi ketakutan, dan akhirnya akan menurunkan kondisi mental, kalau sudah begitu, untuk mengalahkannya semudah membalik tapak tangan.
Pada tingkatan tertentu, ilmu ini bisa mempengaruhi lawan hanya dengan kata-kata. Ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas bisa menjadi semacam kekuatan hipnotis yang sangat kuat. Dan begitu lawan terjebak dalam pengaruh hipnotis walau sesaat, tak akan ada kesempatan lolos.
Perang sabar terus berlangsung, perlahan namun pasti, Jaka mengerahkan ilmunya sampai puncak, yakni tingkat kelima. Sedangkan Ki Benggala yang juga sudah sempurna menguasai ilmunya, mengerahkan sampai tingkat ketujuh yang merupakan tingkat paling tinggi dari ilmunya.
Perang Hawa pembunuh yang mencekam dan hawa dingin yang membekukan sumsum, membuat dua puluh sembilan penonton harus benar-benar diluar lingkup serangan dua hawa ganas itu. Andaikata masih dalam jangkauan dua hawa itu, mau tak mau mereka harus bersemadi mengerahkan hawa murninya untuk menahan serangan dari luar itu.
Keuletan dan kesabaran adalah kunci utama, dan untuk hal itu Jaka adalah pemenangnya. Pertama Ki Benggala memang bukan penyabar, dan kedua faktor usia, karena Jaka lebih muda dan lebih ulet, apalagi kesabarannya sudah teruji, maka selangkah demi selangkah Ki Benggala dapat didesak. Lamat-lamat hawa pembunuhnya makin tipis, sementara hawa dingin Jaka makin mencekam. Padahal seharusnya dalam mengadu ilmu itu, mereka berdua ada pada tingkatan yang sama. Keduanya sama-sama tangguh… tapi memang dua faktor tadi yang menentukan semuanya, yakni usia dan kesabaran, juga tenaga. Sejauh ini siapapun belum bisa mengukur sampai dimana ketinggian tenaga Jaka.
Sebelumnya aku tidak pernah menggunakan ilmu ini dalam pertarungan, dan sampai saat ini belum pernah terpikir olehku Badai Gurun Salju dan Hawa Dingin Penghancur Sumsum dapat digabung, bukankah terdapat unsur yang sama? Kenapa tidak kucoba saja? pikir Jaka.
Tanpa memperhitungkan situasi lagi, Jaka yang tadi berdiri tegak dengan kaki membentuk kuda-kuda, kini berdiri tegak dengan mata terpejam seolah pasrah.
Dengan olah pernafasan yang tidak sama dengan teknik pernafasan jago silat manapun, Jaka kembali menghimpun ilmu Badai Gurun Salju sampai tingkat terakhir, yakni kesepuluh! Hanya bagian dingin lunak yang ia kerahkan.
Tentu yang merasakan akibatnya, mereka yang ada disekitar Jaka, yang terparah sudah pasti Ki Benggala. Hawa dingin yang sudah setengah mati ia tahan itu mendadak berkali lipat lebih membekukan tulang. Wiratama si penguasa Api Pembakar Dunia tingkat tujuh saja dibikin bergemeletuk menggigil, padahal jaraknya lebih dari sepuluh meter. Dapat dibayangkan bagaimana kondisi Ki Benggala yang hanya terpaut tiga langkah dari Jaka. Wajahnya yang tadi menyeramkan, kini sudah pucat pias, kegarangannya akibat ilmu Hawa Mayat Tanpa Batas sudah lenyap.
Untuk membalikkan situasi, Ki Benggala menggeram sengit, tiba-tiba tangan kanannya meninju keatas.
Wuuut!
Deruan tinju yang terisi tenaga murninya, membuat hawa dingin Jaka membuyar sedikit. Berhasil dengan percobaannya, Ki Benggala terus memukulkan tinjunya kesegala arah, sambil mendekati Jaka.
“Terima Pukulan Serat Maut Soho Mayit ini!” Desis Ki Benggala sambil melompat tinggi. Kedua kepalannya menakup jadi satu, dan dihantamkan kekepala Jaka.
Hadirin terperanjat menyaksikan jurus ini. Terakhir menggunakan jurus ini Ki Benggala sanggup meremukkan apa saja, konon lagi hanya kepala. Dulu saat berlatih tarung dengan Ki Glagah, orang nomor satu inipun tak berani menangkis pukulan tersebut.
Sifat istimewa pukulan Ki Benggala adalah, jika ia menghantam sasaran yang kekuatannya dibawah pukulan dirinya, dengan sendirinya sasaran hancur. Tapi jika sasaran lebih kuat, tenaga pukulan akan membalik ke tubuhnya dan kembali menghantam sasaran secepat kilat dengan kekuatan dua kalinya, jika tenaga itu masih kurang, maka tenaganya akan membalik dan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Demikian seterusnya.
Tentu saja akibat pukulan itupun bukan ringan, akibat tenaga yang membalik berulang kali, bisa membuat tubuh Ki Benggala tersungkur lemas tak bertenaga, tak bisa bergerak dalam tempo cukup lama.
“Menghindar!” banyak orang memperingati Jaka. Tapi pemuda ini malah menengadahkan kepalanya. Tanpa memperhitungkan resiko, Jaka menangkis.
Dees!
Dua kepalan membentur telapak tangan Jaka. Benturan itu sangat keras, Ki Benggala terlempar dua hasta, namun ia kembali menghantam dengan tenaga dua kali lipat.
Akibat benturan tadi tak ringan buat Jaka, lututnya tertekuk satu, sepasang tangan yang menangkispun terdorong keras hingga menghunjam tanah, sungguh besar kekuatan Ki Benggala. Menyadari Ki Benggala akan menyerang lagi, cepat-cepat Jaka mengangkat lengannya.
Dees!
Benturan terjadi lagi, kali ini Ki Benggala terlontar lebih jauh, nyaris satu tombak, sedangkan posisi Jaka tetap seperti tadi, satu kaki berlutut! Cuma sebelah lengannya kembali membentur tanah.
“Tidak mungkin! Apakah dia juga memiliki tenaga seperti Adi Benggala? Kenapa tiap benturan justru Adi Benggala kalah tenaga?”
Wajah Ki Benggala menjadi sangat menakutkan, kini kepalan ketiganya memuat kekuatan tiga kali lipat dari kepalan kedua tadi.
“Roboh!” bentaknya sengit.
Melihat serangan dari atas yang kecepatannya berlipat ganda, Jaka tak mau ayal. Ia berjongkok, dan bersalto rendah, tangannya memancal tanah, lalu di hentakkan… tubuhnya terlontar saat itu juga! Agaknya Jaka akan menerima serangan Ki Benggala dengan kakinya.. tapi tunggu, mendadak tubuh Jaka bersalto di udara, dan tangan Jaka memapaki serangan ketiga itu.
Dees! Dees!
Dua benturan kali ini lebih keras dari tadi, tapi anehnya keduanya tidak terpental, malah kepalan tangan Ki Benggala menempel pada tapak Jaka.
“Hiiih!” Jaka menghentak nafas diudara, saat itu juga Ki Benggala terpental. Dia kalah. Seorang sesepuh pemegang ilmu mustika telah dikalahkan!
Walau kalah, Ki Benggala tetap menampakkan dirinya seorang kampiun. Begitu terpental, ia memutar tubuhnya dan jatuh dengan berdiri tegak. Terlihat gagah benar sosok Ki Benggala itu.
Tapi ada yang aneh, ternyata sepasang tangan Ki Benggala sampai lengannya terbungkus es besar. Wajah lelaki itu tampak berkerut dalam.
“Hiaaa!” kedua tangannya saling memukul. Pyaar! Bongkahan es itu hancur.
Ki Benggala hendak mundur, ia sadar dirinya kalah. Tapi mendadak, kakinya tak mau bergerak. Tubuhnya pun terasa kaku. Ia melihat kedepan. Dilihatnya Jaka berdiri dengan tenang, tapi matanya terpejam. Tangannya terkepal kencang. Rahangnya mengeras, agaknya Jaka sedang memahami sesuatu.
Melihat kondisi itu, Ki Benggala tidak mau berpikir panjang lagi, ia segera menghentakkan tenaganya sampai tingkat puncak, agar terbebas dari kungkungan hawa dingin yang luar biasa itu.
Tapi itu belum cukup, hawa dingin itu hanya terusir seperempat saja.
“Cukup!” sebuah bentakan membuat perasaan tegang Ki Benggala agak kendor. Tujuh bayangan melayang kesisi Ki Benggala dan menyentuh punggungnya. Mereka menyalurkan hawa murni untuk membantu melancarkan semua peradaran darah dalam tubuh Ki Benggala yang mulai beku.
“Cukup Jaka!” seru Ki Lukita, salah seorang dari tujuh bayangan tadi.
Tapi Jaka tidak menggubris, pemuda ini sudah tenggelam pada pemusatan olah nafasnya. Jadi dia tidak mendengar seruan Ki Lukita.
“Anak bengal…” geram Ki Lukita sambil maju untuk menotok beberapa jalan darah Jaka agar ia tidak melanjutkan serangan hawa dingin itu.
Tapi tinggal dua langkah dari Jaka, Ki Lukita merasakan hawa panas menghalanginya.
“Hei…” serunya kaget.
Ia pun mundur ketempat semula dengan perasaan tercengang. Sebab begitu ia mundur, bukan hawa panas lagi yang dirasakan, tapi hawa dingin yang makin membuat tubuh beku.
“Jangan ganggu dia, kelihatannya dia tak sedang menyerang, tapi mencoba melebur ilmu.”
Peringatan orang tertua itu, membuat Ki Lukita sadar. Mereka segera kembali bangku masing-masing. Hawa dingin itu juga sampai ketempat duduk mereka, tapi tidak sedahsyat saat berdekatan dengan Jaka, meski demikian semua orang harus mengerahkan hawa murni paling tidak dua bagian untuk menahan hawa dingin itu—bisa dibayangkan bagaimana hebatnya tenaga Jaka.
“Kek, apa yang dia lakukan?” tanya gadis cantik baju biru itu pada Ki Lukita.
“Mungkin dia sedang menggabung ilmu Hawa Dingin Penghancur Sumsum, dengan Badai Gurun Salju.” Jawaban Ki Lukita yang singkat itu membuat semua orang kecuali tujuh sesepuh, terperangah kaget.
“Mustahil!” seru mereka.
“Memang,” kali ini yang menyahut adalah Ki Gunadarma. “Sembilan ilmu mustika adalah ilmu yang memiliki sifat bertolak belakang, biarpun ada yang memiliki lebih dari satu, juga tidak banyak berguna. Karena penggunaannya hanya bisa satu-satu. Tapi bagi yang bisa menggabungkannya akan menimbulkan sebuah kekuatan baru, aku tidak tahu seberapa hebatnya, tapi melihat kejadian seperti ini, kurasa kalian paham sampai dimana kehebatannya. Bagi yang sudah mendapat ilmu mustika, tentu sudah membaca cerita legenda asal-usul sembilan ilmu itu bukan?”
Mereka mengangguk, meski tahu, tapi mereka lebih suka sang sesepuh menceritakannya lagi. Ki Gunadarma maklum, ia segera bertutur.
“Untuk dapat menggabungkan dua ilmu, menjadi satu, seseorang harus memiliki bakat, kecerdasan, dan kerendahan hati. Mungkin kalian mengira, bakat kalian lebih dari orang lain. Dalam hal ini bisa kubenarkan. Hh… sebenarnya penjelasan seperti ini tidak bisa diutarakan dengan sepatah dua patah kata saja. Kalian ingat baik-baik apa yang akan kututurkan, karena ini sebagai pelajaran!”
Mereka mengangguk.
“Sekalipun kalian menguasai ilmu mustika, tingkat kalian masih jauh, jika ingin menggabung-kannya dengan sebuah ilmu, tidak perlu ilmu mustika, tapi ilmu dasar kalian sendiri… pekerjaan itu tak semudah yang kalian bayangkan. Semua tergantung dengan pemahaman kalian tentang apa yang dipelajari. Selama pikiran belum terbebas dari dogma, ‘kuasai gerakan ini untuk menangkal serangan ini-itu’, taraf kalian tak akan pernah maju. Setelah mempelajari hingga usai, tingkatan berikut adalah memahami. Selanjutnya berimprovisasi, mengembangkannya… tidak lagi terikat sebuah gerakan tertentu. Jika sudah mencapai tingkatan ini, cara pandang kalian pada akan berubah.
“Banyak hal yang ingin kusampaikan, tapi itu dapat dilanjutkan lain waktu, yang ingin kukatakan adalah; bakat, kecerdasan, dan rendah hati itu belum cukup. Hal terpenting, yang menjadi syarat utama adalah, kau harus punya kemampuan mengenal diri sendiri.”
“Apa artinya?” tanya Wiratama.
“Jika kau mengenali seluk beluk dirimu sendiri, maka sejauh mana kemajuanmu, kau mungkin bisa mengukur sendiri. Disini berlaku syarat rendah hati, jika kau tak memiliki rasa rendah hati, selamanya kau akan merasa dirimu lebih hebat dari orang lain, itu penghambat paling besar! Jika sudah demikian, biarkan orang lain menilai dirimu… kau akan tahu sampai dimana kemajuan, atau kemunduranmu!
“Lalu tentang mengenal diri sendiri…” Tanya seorang gadis.
“Ya, kemampuan mengenali diri sendiri adalah pengetahuan yang luas. Kau harus mengetahui sifatmu yang sebenarnya, kau harus tahu keburukan dan kebaikan dirimu sendiri, proses mencari hal itu jauh lebih sulit dari belajar ilmu mustika…”
“Jadi, masih ada kaitan dengan rendah hati paman?”
“Benar. Mengetahui baik-buruk sifat sendiri harus orang yang memiliki jiwa besar yang bisa mengakui hal itu dengan dada lapang, tanpa ada rasa benci. Jika tingkat ini sudah kau lewati, maka tingkat selanjutnya, kau harus tahu bagaimana susunan syaraf, tulang, irama detak jantung dan banyak hal lain, pendek kata kau harus mengetahui apa yang sedang dirasakan fisikmu, bagaimana darah mengalir ke jantung, ke otak, hal semacam itulah yang harus diketahui.
“Mungkin kalian mencibir sambil berkata, tingkatan seperti itu tak akan bisa dilalui. Ya, aku tak menyalahkan pikiran seperti itu. Sebab aku sendiri belum sanggup melangkah ke sana. Orang yang memiliki kemampuan semacam itu sangat jarang di dunia!”
Wajah-wajah tak puas terpeta, di raut mereka yang mendengar penjelasan Ki Gunadarma. Lelaki ini tertawa melihatnya.
“Ya… aku tahu pikiran kalian, padahal kalian termasuk orang-orang langka, bagaimana mungkin ada yang lebih langka, bukankah begitu?” Beberapa tetua tersenyum mendengarnya, dan mereka yang merasa tak puas, rona merah menghiasi wajah, rupanya ucapan Ki Gunadarma tepat menyentil ego mereka.
“Tentu saja kalian termasuk manusia pilihan, dari sekalian ribu orang.” Sambung Ki Benggala, rupanya perasaannya sudah tenang kembali.
“Tapi orang yang kita lihat kali ini, adalah manusia aneh. Mungkin dari sekian puluh ribu orang, baru terdapat manusia semacam dia.”
Semua tertegun, kali ini tidak ada yang bertanya lagi, mungkin ada yang setuju dengan ungkapan Ki Benggala. Tapi, pasti lebih banyak yang tidak setuju. Karena hawa dingin makin menggigit, mereka malas berkomentar. Tapi pikiran mereka sama bekerja, penjelasan Ki Gunadarma membuat mereka membayangkan bagaimana susahnya mencari identitas diri, kesejatian seorang manusia. Jika kau ingin mencari/memecahkan hal misterius diluar sana, carilah hal misterius dalam dirimu sendiri. Sebagai manusia, tiap individu memiliki sisi misterius, yang berarti potensi menuju arah baik, atau buruk. Kira-kira begitulah mereka menangkap penjelasan Ki gunadarma.
“Gila, hawa ini bahkan puluhan kali lebih dingin dari yang kukuasai.” Pikir Kinanti takjub.
Sementara itu, Jaka benar-benar lupa keadaan, lupa situasi dimana ia berada. Pemuda ini sedang berupaya mengembangkan potensi dalam mencapai taraf lebih tinggi ilmu mustikanya. Setengah jam sudah berlalu, sedikit demi sedikit hawa dingin bukannya makin susut, tapi bertambah dingin dan makin dingin. Dari perut sampai kepala Jaka diliputi bunga-bunga es, tapi dari pusar ke kaki, tidak. Benar-benar aneh!
Tapi ada satu keanehan yang membuat orang-orang tak habis mengerti, yakni dua langkah dari tempat Jaka berada, rumput-rumput itu kering meranggas, kering terbakar seperti terkena hawa panas dahsyat, tapi selebihnya, rumput dan tanah sudah dipenuhi butiran salju dan es. Rerumputan itu dibungkus bunga-bunga es, seperti halnya sebagian badan Jaka.
Tiba-tiba saja Jaka menghentakkan tangan dan membuka kepalan tangan, seluruh bunga es yang menempel dibadannya menguap! Matanya yang terpejam sejak tadi, kini terbuka. Tangannya bergerak menakup didada, perlahan hawa dingin susut, dan hilang. Dari mulutnya samar-samar menguar uap tebal. Sepertinya itu uap es. Jaka menghela nafas panjang.
Tak kusangka, hampir mendapat musibah malah beruntung. Syukurlah, aku hampir berhasil menggabungkan tiga ilmu mustika, kurasa untuk saat ini cukup… pikir Jaka sambil melangkah mendekati Ki Benggala, wajah pemuda ini tidak beku dan dingin seperti tadi, melainkan penuh dengan senyum—seperti pembawaannya semula.
“Maafkan saya paman, serangan paman sangat hebat, dan itu nyaris tak sanggup kutahan. Ternyata ilmu Hawa Dingin Penghancur Sumsum, bukan tandingan dari ilmu mustika paman.”
“Masa?” Tanya Ki Benggala tak percaya, sebab sudah jelas dia yang kalah.
“Ya, itulah kejadian yang sebenarnya. Tadi, saya hampir putus asa, entah kenapa mendadak tenaga dua ilmu mustika lainnya, memberontak dan bergabung untuk menghadapi gempuran paman.”
Ki Bengala tercenung, sesaat, paling tidak hatinya terhibur dengan ucapan Jaka. “Tidak apa-apa, tidak ada yang perlu disalahkan. Eh… omong-omong, tangkisanmu tadi luar biasa. Apalagi hawa dinginmu, aku seperti terpendam di dasar gunung es, tak bisa berkutik.”
“Ah, hanya kebetulan saja.” Ujar Jaka. “Terima kasih mau memaafkan keteledoranku.”
“Tak apa, tak apa.” Sahut Ki Benggala sambil mengelus dagunya. Hh, entah apa jadinya dunia persilatan dengan kemunculan bocah ini. Pikirnya merasa kagum, tapi dia juga magsul karena ia dikalahkan Jaka.
“Pertanyaan terakhir Ki,” pinta pemuda ini dengan sikap tenang. Agaknya Jaka tidak ambil pusing kejadian barusan, bahkan sepertinya lupa kalau tadi ia habis melawan dan meminta maaf pada Ki Benggala.

—ooOoo—

35 – Informasi Terbaru

Ki Lukita-pun maklum dengan sifat Jaka. Tanpa mengomentari kejadian tadi, ia segera bertanya. “Pertanyaan terakhir, baiklah… apakah kau benar-benar ingin menjadi muridku?”
“Ya, dengan satu syarat!” sahut Jaka membuat orang-orang tercengang. Mana ada guru menerima murid dengan persyaratan? Lazimnya sang calon muridnyalah yang diberi persyaratan oleh calon guru. Apalagi sejak masa Ki Lukita tenar dulu, banyak insan persilatan harus memohon padanya untuk diterima menjadi murid, toh tetap ditolak Sepanjang hidupnya Ki Lukita hanya memiliki dua orang murid saja, kini ditambah Jaka dan cucunya, itu rekor hebat buat Ki Lukita.
“Silahkan kau kemukakan,”
“Saya ingin menjadi murid Aki, selama hakikat manusia selalu mengikuti Aki.”
Ki Lukita tahu kemana arah pemuda ini bicara, seolah Jaka ingin mengatakan. ‘Selama guru menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, maka perintah apapun akan dipatuhi olehku!’
“Aku terima syaratmu, hanya saja apa kau tidak menyesal memiliki guru yang mungkin tidak akan memenangkan muridnya?”
Jaka tersenyum, “Guru,” pemuda ini tak lagi memanggil Aki. “Tidak benar ucapan guru, belum tentu ilmu saya lebih tinggi, dan belum tentu pula saya dapat mengalahkan guru. Karena kita bersepakat menjadi satu ikatan bukan untuk saling mengalahkan.”
Ki Lukita tersenyum, senang hatinya mendengar ucapan bijak muridnya. Ia tidak perlu merasa malu pada tetua lainnya, karena murid yang didapatnya itu sangat baik, juga hebat.
Jaka sebelumnya pernah memanggil guru, saat itu dia berhadapan dengan Ki Lukita seorang diri, tidak seramai ini. Artinya Ki Lukita sendiri sudah menyetujui bahwa dirinya dianggap sebagai calon murid resmi saat percakapan kemarin berlangsung. Jadi, jika saat tanya jawab Jaka menyebut Ki Lukita sebagai guru, maka Jaka melanggar hak penolakan keluarga Ki Lukita, mungkin saja ada orang-orang yang tak setuju. Tapi setelah Ki Lukita meminta untuk menjadi murid di depan orang banyak, tak perduli apakah ada yang tak setuju, Jaka sudah menjadi muridnya.
“Andai kejadiannya seperti yang guru ucapkan tadi…, saya ingin sedikit menambahkan pendapat; Untuk menjadi murid seseorang, tidaklah penting apakah di bidang lain ilmunya melebihi sang guru. Karena bagi saya, berguru kepada seseorang, bertujuan untuk menambah pengetahuan, bukan untuk membuat kita lebih hebat, tapi lebih sadar. Apapun pendapat orang, saya berguru karena memang harus. Hidup manusia tidak bergantung pada ilmu silat. Bukankah banyak kejadian, orang yang memiliki keterampilan selain ilmu silat punya kesempatan hidup lebih baik dari pada kaum pesilat?”
Penjelasan Jaka membuat Ki Lukita terharu. “Ya, apa yang kau katakan itu memang benar..”
“Satu hal lagi, guru.”
“Katakan saja…”
“Saya tak kenal basa-basi, jika menurut saya ada sebuah perbuatan yang tidak berkenan, pasti akan segera saya utarakan. Mungkin dalam hal ini kita akan banyak perbedaan.”
“Bagus kau mengatakan lebih dulu. Tiap manusia mempunyai perbedaan, dan tiap perbedaan adalah karunia.”
“Terima kasih guru mau mengerti.” Ucap Jaka sambil membungkuk sedikit.
“Hanya saja aku menyayangkan satu hal.” Gumam Ki Lukita.
“Apa itu?”
“Saat kau memulai petualangan sesungguhnya, ilmu silat sangat diperlukan,” sambungnya dengan suara sungguh-sungguh. “Sedangkan kau sendiri tidak memiliki hak untuk menggunakan tiga ilmu mustika yang kau kuasai itu.”
“Ya, sayang sekali…” jawab Jaka
“Bukankah kau hanya memilki andalan ilmu mustika saja?”
Jaka menimbang sesaat, lalu dia mengangguk. “Karena itulah saya mengharapkan guru sudi mengajarkannya.”
Ki Lukita mengangguk, “Tentu saja, itu sudah kewajibanku. Tapi ilmu mustika tidak dapat kuajarkan padamu.”
Jaka tahu, namun toh ia tetap bertanya, “Kenapa?”
“Untuk mendapatkannya,kau harus mendaftarkan diri ke Dewan Pelindung Sembilan Ilmu Mustika, di situ kau akan diseleksi, jika lolos, akan banyak ujian lain menghadang, belum lagi syarat-syarat untuk menguasai ilmu tersebut.”
Jaka mengangguk, namun pandangan matanya menyapu kearah Wiratama dan Kinanti, Ki Lukita tentu saja tahu maksud Jaka. “Mereka juga mengikuti ujian yang dilangsungkan Dewan Pelindung… biarpun guru atau orang tua mereka menguasai ilmu mustika, mereka tidak berhak mengajarkannya. Seperti keadaan kita saat ini…”
“Guru, selanjutnya apa yang akan dilakukan?”
Ki Lukita menatap Jaka, dia tahu pemuda ini nampaknya ada kepentingan lain, “Tidak cukup mendesak, tapi mungkin banyak yang akan dibincangkan.. tapi jika kau punya keperluan lain, silahkan.”
Jaka mengangguk, “Ya, beberapa hal yang harus saya kerjakan.”
“kapan kau akan kesini lagi?”
“Saya harap, sore nanti.” Jaka menjawab pertanyaan gurunya. Ki Lukita mengizinkannya, lalu Jaka memohon pamit pada hadirin.

***
Setelah keluar dari rumah sang guru, raut muka Jaka yang semula tenang, kini mendadak jadi serius. Berjalan melintasi pekarangan belakang rumah Ki Lukita, Jaka mengembangkan peringan tubuhnya. Dalam sekejap gerak cepatnya membelah udara pagi.
Jaka bergerak menuju utara, arah utara itu cuma ada dua tempat yang menarik, Perguruan Naga Batu dan kuil tua peninggalan masa lalu yang masih dijaga oleh para murid dari Naga Batu.
Jaka harus segera kesana, karena dia sudah mendapat kabar bahwa ada informasi penting. Darimana pula datangnya informasi itu? Sudah tentu, dari orang-orang yang bergerak di sekeliling Jaka. Merekalah yang memungut tiap data kejadian kecil dan diolah menjadi sebuah petunjuk, sebuah informasi.
Di sepanjang perjalanan setelah meninggalkan Hastin Hastacapa dan Arwah Pedang, ada dua orang turut menemani Jaka (Penikam dan Cambuk), cara mereka menemani tentu saja berbeda dengan kebanyakan orang, mereka membaur dalam keramaian, mereka menyerap setiap petik kabar, sebelum Jaka sampai di Pagaruyung. Maka dari itu, dimana pemuda ini sedang berada, ada tanda-tanda khas mereka yang memberi petujuk padanya. Terakhir Jaka melihat ada sebuah tanda mana kala dirinya dikuntit orang, saat pulang dari Telaga Batu. Arti tanda itu, ‘informasi penting untuk ditinjau’.
Tak berapa lama, Jaka sudah keluar dari kerimbunan pepohonan, dia mulai berjalan biasa, hingga sampailah ia di sebuah jalan utama, sebuah komplek yang tertata rapi.
Perguruan Naga Batu terletak di Bukit Alap Cadas-tepat di depan Jaka berdiri, kurang lebih hanya berjarak 1 pal, sementara kuil tua yang terkenal itu hanya berjarak 2 pal dari Perguruan Naga Batu. Dan dari tempat Jaka berdiri, pucuk kuil itu terlihat dengan jelas. Perlahan dia melangkah membaur dengan orang-orang, dan berjalan menuju komplek pasar yang ramai, Jaka masuk ke dalam, terlihat banyak pedagang berjualan hasil bumi, pemuda ini membeli seikat daun bawang dan dua ekor ayam, dia membayar sambil mengucapkan terima kasih, kembalian sudah diterimanya pula, cuma saja ada dua lembar daun salam yang ikut dikembalikan dalam gengamannya.
Jaka paham, dia melihat sekilas lalu meremas hancur daun itu dan membuangnya. Dengan pasti dia menuju sebuah rumah makan di tengah pasar, rumah makan yang penuh sesak.. dia masuk lewat belakang. Ayam dan dan bawang yang dia beli di berikan pada koki rumah makan itu.
Pemuda ini bertingkah seperti orang yang sudah lama di kota ini, ya.. ada sebuah kebiasan unik di Pasar Batu Galur, jikalau kau ingin memakan masakan hasil bumimu sendiri, cukup bawa bahan pokoknya, dan biarkan koki yang mengolah masakan ini. Jadi semua orang yang makan di warung ini, membawa bahan masakannya sendiri.
Masih ada satu meja yang bisa dia gunakan, Jaka duduk disana, suasana yang riuh gaduh tak membuatnya terganggu, orang yang duduk semeja dengan Jaka memperhatikan sesaat, lalu tangannya menepuk pemuda ini.
“Tuan, masakan apa yang ingin kau makan?”
“Cuma sup ayam saja, kudengar koki disini sangat lezat dalam mengolah kaldu, makanya supaya badanku nyaman dan pikiranku terang, kumampir kemari saja.” Jawab Jaka sembari tersenyum kecil. Sudah ada kode disini yang dia lontarkan, tinggal menunggu umpan balik dari teman si pemberi daun salam.
“Pilihan bagus tuan, disini memang terkenal dengan olahan kaldunya, kalau mau masakan pedas, ada diwarung pojok pasar.. disana terlampau banyak orang berkeringat.”
“Ya,ya… masakan pedas memang bikin orang berkeringat.” Sahut Jaka tersenyum simpul, beberapa orang yang duduk disekitarnya juga tertawa.
Pemuda ini sudah mendapatkan yang dia inginkan, kumpulan datum, potongan data yang segera ia olah menjadi informasi. Kaldu, adalah hidangan utama: diolah dari bahan terbaik, bumbu terbaik, dan menghasilkan rasa terbaik, artinya; disinilah dia akan mendapatkan informasi terkini yang diperoleh Si Penikam. Mengenai rumah makan pojok, artinya; hanya sekedar tambahan yang tidak begitu perlu diketahui, tapi boleh jadi memiliki cakupan info cukup penting, hanya saja terlalu banyak ‘keringat’, keringat yang menjadi akibat dari ‘pedas’, jadi ada orang lain yang ‘ikut memasak’ di warung pojok. Jaka paham itu. Info yang disana masih mentah.
Tak berapa lama, sup kaldu datang dengan kepulan nasi putih… dengan perlahan, Jaka menyesap kaldu itu, masih ada hancuran tulang-tulang ayam, dan pemuda ini mengulum tiap tulang-tulang itu, setiap dia menyesap tulang, nampak lambat, seolah sedang menikmati tiap suapnya… tapi siapakah yang menduga, bahwa potongan-potongan tulang adalah informasi yang di cari Jaka? Koki rumah makan itu, memotong tulang dengan simbol-simbol, dan Jaka meraba symbol dengan lidahnya… setelah di utak-atik tiap simbol random dalam tulang ayam, ada sebuah kalimat petujuk disana, dan Jaka sudah tahu kemana harus pergi.
Tapi kini dia ingin mengunjungi rumah makan pojok sana, tepat dimana ‘keringat’ akan dikeluarkan.
Setelah berbasa-basi sejenak dengan orang-orang satu meja, Jaka membayar ongkos, dia tidak mengatakan apapun pada koki atau si kasir, hanya ; terima kasih. Sebuah kalimat singkat dan setiap orang biasa mengucapkannya, cuma saja sang koki dan kasir mengangguk dengan takzim, itu bedanya.
Berjalan berdesakan, dalam pasar akhirnya sampailah Jaka di rumah makan pojok, di rumah makan ini juga penuh sesak, nampaknya masyarakat Pagauyung juga menyukai masakan pedas. Pemuda ini membawa, sekeranjang cabe rawit, kemudian dia berikan cabai itu pada juru masak, ada sebuah kerling tak wajar yang Jaka tangkap, pemuda ini tersenyum simpul. Ternyata, ’juru masak yang lain’,
Kadang kala, Jaka selalu menunda urusan penting demi kesenangan, hobinya; dalam membongkar muslihat orang. Ia tahu, dirumah makan ini, si Penikam menyisipkan beberapa anak buahnya, dan dia bisa ‘melihat’ tanda mereka. Mana kala, Jaka masuk, ada pelayan yang menyambutnya, wajar, hanya saja begitu melihat Jaka, pelayan itu mengerutkan kening, isyarat ini dipahami Jaka, isyarat ini adalah bermaksud, ‘segera menjauh’. Tapi pemain lain yang bisa dia lihat-pun membuat Jaka gatal ingin mencoba, maka dimulailah sebuah uji coba.
“Tolong masukan semua cabai ini ke masakan andalanmu, tapi aku tak ingin pedas pula…”
“Lalu, bagaimana pula tuan menyuruh saya untuk memasukkan sekeranjang cabai ini? Bukankah perintah sia-sia?” bantah si juru masak.
“Tidak, aku sangat suka aroma cabai, tapi aku tak suka pedas pula…” mendadak Jaka menggoreskan gambar bulatan, dengan coretan tak beraturan di tengah, “mengerti?”
Si juru masak menatap sekilas gambar yang di goreskan Jaka pada tepung itu, dia tak mengerti, tapi orang dibelakangnya mendadak, berbuah sikapnya..
“Baik-baik, akan segera kami lakukan tuan, harap tunggu sejenak…”
Jaka mengangguk, dia merasa puas, umpan sudah ditebar; ternyata ada juga yang tahu symbol yang dia buat, symbol yang dia gambar tadi adalah semacam, tanda surat tugas, dari juru masak utama kerajaan, hampir setiap kerajaan memiliki symbol yang sama, mereka kadang selalu berkeliling ke tiap rumah makan, untuk menguji pengetahuan kuliner para juru masak.
Dan bagi yang dikenakan ‘ujian mendadak’, apabila mendapat pujian, maka tak lama lagi karya masakannya akan mendapat kehormatan untuk menjadi santapan para keluarga bangsawan. Itulah mengapa salah satu juru masak rumah makan ini begitu hikmat menerima permintaan Jaka.
Dan pemuda inipun sudah bisa mengambil kesimpulan, pertama; ‘pedas yang lain’ (sebutan untuk kelompok yang lain) memang sempurna dalam memainkan perannya, bahkan hal sepele seperti symbol kuliner diketahui. Kedua; kehadiran mereka sudah bias di deteksi si Penikam, tapi bukan tidak mungkin, cara kerja si Penikam juga sudah terendus. Jaka tertawa dalam hati, dia merasa girang, ada sebuah ketegangan baru yang membuatnya sangat bergairah untuk menantikan kelanjutannya.
Hampir setengah jam Jaka menunggu, dan selama itu, dia dapat menyerap informasi tambahan dari kode-kode yang di berikan anak buah Si Penikam.
Akhirnya masakan pesanan Jaka-pun datang, seporsi, cah bayam dengan daging sapi, disekeliling piring berjejer cabai hijau yang sudah direbus.. aromanya sungguh menyengat, orang yang tak tahan mencium aroma ini, kontan bersin-bersin. Masakan kali ini belum pernah disajikan sebelumnya. Jaka mengambil satu potong daging dan mengunyahnya perlahan.
‘Masih kurang…” gumamnya, dan dengan begitu saja dia tinggal pergi, tidak membayar, tidak pula mengatakan sesuatu pada kasir.
“Tuan, bisa katakan dimana kurangnya?” Tanya si juru masak berjalan mendekat, caranya mendekat memang biasa, tapi Jaka bisa merasakan ada sebersit hawa yang mengancam dirinya. Dia tahu ini hanya untuk mengetes dirinya saja, bukan bermaksud menyerang.
Dengan gerakan sengaja tak sengaja, Jaka membalik badan, dengan sendirinya hawa yang seharusnya mendorong Jaka, mengenai tempat kosong.
“Kau tidak memasak dengan hati, daging kurang empuk, terlalu banyak jahe untuk mengurangi rasa pedas cabai, terlalu banyak santan untuk mematangkan aroma cabe.. tidak enak. Apa perlu aku membayar untuk makanan yang di dibuat dengan mengomel?”
Jaka menatap si juru masak dengan penuh selidik, sebuah tatapan mata yang wajar, tapi justru tatapan mata seperti ini yang membuat juru masak itu gelagapan, salah tingkah, dirasakan olehnya, pemuda itu bukan sekedar ‘penguji masakan’ gampangan.
“Ti-tidak tuan, yang berikutnya akan saya perbaiki.” Jawabnya sambil membungkuk menyoja, Jaka tertawa. Orang ini masih ingin bermain, pikirnya, ternyata saat membungkuk tadi, serangan dengan hawa padat menghantam dada Jaka. Jaka menahan nafas sejenak, dan serangan itu lewat bagaikan menembus angin.
“Tak perlu sungkan.” Ujar Jaka sambil menempuk pundak si juru masak. Lalu dia berjalan keluar dari warung. Dan di lain saat, bayangan pemuda ini sudah hilang dari hadapan mereka.
Si juru masak masuk ke dalam, dengan pikiran bingung, sementara para tamu yang lain sudah melupakan kejadian tadi, hal seperti tadi memang sudah jamak terjadi di mana-mana.
“Kau mengujinya?” Tanya rekannya di sela-sela desis minyak yang memanas, dengan berbisik.
“Ya, dan aku tidak mendapatkan apapun, kukira dia salah satu tokoh yang di undang.” Jawabnya gundah.
Dua kalimat itu, didengar pelayan dan dia bisa mengambil kesimpulan, mereka tidak mengerti apa-apa tentang Jaka. Dan itu pertanda bagus, tadinya dia merasa kawatir kalau-kalau Jaka dikenali pihak lawan sebagai orang yang harus diwaspadai.
Jaka sendiri bergegas menuju bangunan tak jauh dari pasar, rumah itu cukup besar, dan merupakan toko kelontong. Ya, informasi dalam tulang ayam mengatakan: toko kain dekat pasar.
Begitu Jaka masuk, segera disambut dengan ramah oleh pelayan, dan dia dipersilahkan ke dalam, dengan diselingi penjelasan si pelayan tentang kualitas kain yang mereka jual. Jaka masuk kebilik kecil, disana ada orang yang duduk menunggu… dia segera berdiri dan membungkuk hormat.
Jaka menahan bahu orang itu, dia memandang sesaat… dan memeluk orang itu. “Syukurlah engkau baik-baik saja paman…” katanya dengan haru.
Orang itupun merasa haru, “Ini semua berkat tuan, jikalau tidak, nyawaku yang tak seberapa ini sudah amblas beberapa bulan lalu.”
Ternyata orang itu adalah Mintaraga, korban keganasan Sora Barung dan Sena Wulung, untung lah Sang Pocong atau Ki Alih atau si kusir misterius dari Pratyantara cepat-cepat membawa Mintaraga bertiga kepada Jaka.
Sebenarnya waktu itu Jaka sedang berniat pergi ke Perguruan Enam Pedang, mengingat seolah sesepuh perguruan itu pernah bertemu dirinya dan meminta tolong untuk menyampaikan sebuah pesan… tak disangka pesan yang seharusnya dia sampaikan sejak lama, tertunda hingga saat ini.
Kedatangan Mintaraga bertiga membuat Jaka tertarik, setelah menyimak cerita Sang Pocong, Jaka menyimpulkan kejadian ini masih berkaitan dengan potongan informasi yang dia dapatkan. (akan diperjelas beberapa bab kedepan). Dengan sendirinya, Jaka ikut mengurus korban Ketua Sembilan dan Ketua Sepuluh ini sampai sembuh.
“Bagaimana dengan kondisi kesehatan paman?” Tanya Jaka.
Mintaraga tersenyum. “Saya sangat baik tuan, terimakasih kepada anda yang sudah meluangkan waktu…”
“Tidak perlu mengatakan yang sudah-sudah paman.” Potong Jaka. “Penikam menitipkan sesuatu padamu?”
Mintaraga mengangguk, lalu dia menyerahkan lipatan kertas, lalu duduk kembali dipojokan, menunggu instruksi. Kertas itu kosong, tapi di bagian permukaannya terdapat goresan-goresan, Jaka menyapukan kertas itu di permukaan meja… debu-debu yang menempel pada kertas memperjelas goresan.
Ternyata sebuah surat yang berisi:
Benteng ilusi sudah dilihat oleh empat kelompok, pertama; rombongan dari Perguruan Sampar Angin, kedua; dua orang pengelana, diduga mereka adalah mata-mata, ketiga; Angin dari barat, dan keempat; pemabuk berkaki cepat.
Golok Sembilan Bacokan menghilang di tengah perjalananan, padahal diperkirakan 4 hari lagi sampai di Perguruan Enam Pedang.
Anak buah dari golok Sembilan Bacokan memutuskan memulihkan diri di perkampungan Hulu Atas.
Sebuah biro pengiriman baru dibuka di selatan Perguruan Enam Pedang.
Wajah pemuda ini berseri, informasi terakhir ini bener-benar membuat Jaka girang, dia hancurkan kertas itu dengan sekali remas. “Kemarilah paman.” Mintaraga datang mendekat.
“Kerahkan tenaga paman ke tangan saya.”
Tanpa bertanya, Mintaraga segera menjabat tangan Jaka, suara berkrotokan terdengar dari telapak tangannya, tubuhnya yang kurus mendadak mengembang sesaat.
“Bagus, paman sudah menguasai hawa paling murni dari ajaran paman. Sekarang lakukan seperti ini…”
Jaka memejamkan mata, dari tangannyapun bunyi berkrotokan, Mintaraga memejamkan matanya juga, dia langsung berkonsentrasi merasakan aliran tenaga Jaka memasuki syaraf-sarafnya.
Tak berapa lama kemudian, Jaka melepas genggaman tangannya. “Sudah ingat?”
Mintaraga masih memejamkan mata. “Tidak akan lupa.” Katanya dengan tegas. Dia sangat kagum dengan cara Jaka menyampaikan; ‘bagaimana cara mengolah tenaga murni’, jika diuraikan secara lisan, bisa dipastikan dia akan terlupa, tapi Jaka menyalurkan hawa murni kedalam tubuhnya, hawa murni Jaka menyusur tiap pembuluh darah dan syaraf, membuat dia ingat, cara bagaimana dia akan mengalirkan tenaga dalam untuk melatihnya.
“Baik sekali. Aku harus minta maaf pada paman… harus kembali merepotkan.”
“Ah, jangan berkata demikian tuan. Melakukan apa yang tuan pinta merupakan kehormatan bagi saya. Ada lagi yang lain tuan?”
“Tolong pasang mata di setiap penjuru kota ini, aku membutuhkan informasi setiap pendatang baru.”
“Baik.” Mintaraga paham, yang dimaksud dengan pendatang sudah pasti bukan orang asli kota ini, berhubung dirinya juga bukan asli orang Pagaruyung, tapi keluarga dari istrinya justru turun temurun sampai empat generasi dilahirkan disini.
“Apakah tuan berkenan menemui ibunda saya?” Tanya Mintaraga.
Jaka tersenyum, “Marilah, aku masih mempunyai sedikit sisa waktu.”
Mintaraga membawa Jaka masuk kedalam, disana ada seorang nenek tua berusia delapan puluh tahunan.
Jaka segera menghampirinya dan segera mencium jemari wanita tua itu. “Apakah nini sehat-sehat saja?” Tanya pemuda ini.
Nenek ini terlihat menangis, dan memeluk Jaka. “Dulu aku tak sempat mengucapkan terima kasih kepadamu, nak Jaka, terima kasih kau sudah membebaskan kami semua dari cengkraman komplotan jahat.”
“Tidak perlu sungkan, semua orang pasti akan melakukan apa yang saya lakukan.” Sahut Jaka sembari membantu duduk nenek itu lagi.
“Kau memang janottama.”
Jaka tersipu, janottama adalah sebutan bagi orang-orang utama, artinya layak jadi pimpinan.
“Saya ingin bercakap-cakap lebih lama, tapi…”
“Aku tahu, pasti banyak yang akan kau kerjakan.”
“Begitulah nini.” Setelah permisi, dengan di pandu Mintaraga, dia keluar dari ruangan itu.
“Saya…”
“Aku tahu apa yang paman pikirkan.” Jaka menepuk bahu Mintaraga. “Tidak perlu memikirkan hal yang sudah lalu, saat ini mungkin adalah saat kritis bagi paman dan keluarga paman. Sebelum ini berakhir, aku meminta paman tetap waspada, memasang mata dan telinga seperti yang kuharapkan…”
Mintaraga menatap pemuda ini sesaat, dan mengangguk paham. Dia tak habis mengerti, entah dengan cara apa pemuda ini membebaskan keluarga yang dijadikan sandera. Kemisteriusan makin meliputi pemuda bernama Jaka Bayu ini, manakala Jaka memperkenalkan Si Penikam, ‘menitipkan’ Si Penikam untuk menggunakan akses dan semua sumber daya Mintaraga mana kala dibutuhkan.
Dia tak keberatan, justru sangat bersemangat mengetahui Jaka ternyata ‘berperang’ dengan kelompok yang sangat dibencinya. Namun dia sendiri sadar, bagi kelompok itu, dirinya dan keluarganya merupakan buronan. Informasi yang dirinya dapatkan sudah terlalu banyak, dan sudah tentu tidak boleh beredar di kalangan luar.
Tapi terlambat, Jaka dan semua teman-temannya sudah menyerap habis semua info yang diketahui Mintaraga bertiga. Dengan sendirinya peristiwa Sang Pocong sudah membuat perkumpulan yang menaungi Ketua Sembilan dan Ketua Sepuluh, banting haluan, merubah kembali semua rencana, dan menjauh dari kota ini untuk sementara. Mereka sadar, rencana ini tidak mungkin dilakukan lagi, yang ada justru memata-matai pihak yang belum mereka ketahui kekuatannya itu.
Maka, sejak saat ini dirinya hanya bergerak dalam kegelapan. Menyusup dalam golongan masyarakat bawah, memasuki kehidupan yang paling biasa dari masyarakat kota itu, demi menyirap seluruh kabar.
Jaka sudah berganti pakaian baru, kini dirinya menggunakan baju singsat warna biru. Banyak informasi yang akan ‘diolah bersama’ orang-orang yang baru Jaka kenal.. ya orang-orang dari perkumpulan gurunya. Dengan berjalan santai, tanpa terburu, Jaka kembali menuju rumah Ki Lukita.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: