Seruling Sakti Jilid 36-40

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

36 – Menjadi Murid Resmi

Tengah hari sudah lewat dua jam lalu, Jaka sudah menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak. Setelah berbenah, pemuda ini segera menuju rumah gurunya.
Begitu pintu diketuk, tak berapa lama terdengar langkah mendekat, dan ternayata Ki Lukita sendiri yang membukanya.
“Masuk saja, kau sudah ditunggu.”
Jaka mengangguk, dia merasa tidak enak juga ternyata para ‘penyidik’ dirinya belum pulang dari tadi, padahal Jaka meninggalkan mereka ada sekitar lima jam. Jaka mana tahu kalau berkumpulnya para anggota ini adalah untuk membahas teori-teori ilmu silat, pada muda mudi dan anggota lain paling suka jika pembahasan ini di lakukan oleh Ki Gunadarama. sebab selain uraiannya enak, cara menjelaskannya pun gampang dicerna.

Jaka turut duduk di barisan belakang, setelah mendengarkan macam-macam ulasan, pemuda ini menjadi kagum dengan luasnya pengetahuan Ki Gunadarama. Memasuki ulasan tentang sifat-sifat ilmu mustika, Jaka menyimak dengan penuh konsentrasi. Ki Gunadarama usai dengan pembahasannya, suasana tak sehening tadi, dan Jaka lebih tertarik menanyakan sesuatu yang dari tadi lupa dia tanyakan.
“Apakah keluarga guru yang lain, ada yang menguasai ilmu mustika?” tanya Jaka.
“Ada beberapa. Kalau cucu, baru satu orang, itulah dia…” Ki Lukita menunjuk kearah seorang pemuda berusia dua puluh delapan tahun. “Namanya Pranayasa, dia menguasai ilmu Jari Sakti Tanpa Tanding. Mungkin dua cucuku yang lain akan bersama-sama dengan dirimu menuju Gunung Kaki Angin untuk mencoba keberuntungan mendapatkan ilmu mustika.”
Gadis baju biru yang duduk hanya berselang enam bangku dari Jaka, walau samar wajahnya kelihatan bersemu merah, namun kakeknya bisa melihat tingkahnya. Ki Lukita terkekeh perlahan,
“Perjalanan kalian nanti mungkin akan banyak mendapatkan pengalaman aneh dan hebat.” Jaka tidak mengomentari, karena ia tidak tahu kemana arah pembicaraan gurunya.
“Tapi sekali lagi kutekankan, seterdesak apapun keadaanmu, kau tidak boleh menggunakan ilmu mustika yang belum mendapat pengakuan dari Dewan Pelindung…” kata Ki Lukita sungguh-sungguh.
Jaka mengiyakan. “Tapi… mungkin saja suatu saat, jika sudah tiada kemungkinan menghindar, mau tak mau saya akan menggunakannya.”
“Eh,” Ki Lukita terkesip, “Kau cari masalah?”
“Bukan begitu, maksud saya… jika tiga ilmu mustika berhasil dilebur, apakah ada yang mengenalinya?”
“Kurasa jarang.” Sahut gurunya, mendadak ia sadar maksud ucapan Jaka. Tapi pertanyaannya didahulu sang rekan—Ki Glagah.
“Maksudmu kau berhasil melebur ketiga ilmu mustika itu?”
“Tidak bisa dikatakan melebur, rasanya masih terlalu dini. Saya baru menemukan kunci untuk mengarahkan pada ‘melebur’. Mungkin jika ada waktu luang, saya bisa lebih mendalami, jika beruntung… meleburnya.”
“Wah, jika berhasil tentu hebat sekali,” seru Ki Gunadrama sambil mengambil tempat duduk didekat Jaka.
Jaka menggeleng, “Tidak juga, semua ini terjadi karena hukum sebab-akibat.”
“Rasanya tidak berhubungan…” gumam Pertiwi, diamini yang lain. Orang-orang kembali ikut menyimak perbincangan itu.
“Maksudku, karena adanya ujian seperti tadi pagi, aku baru bisa menemukan jalan untuk menyatukan ilmu mustika. Jika tidak ada kejadian seperti ini, mana mungkin ‘kunci melebur’ bisa kutemukan.”
“Sebab-akibat yang kau maksudkan, adalah tiga pertandingan tadi?” tanya Ki Benggala.
“Benar, tapi bukan dua pertandingan awal tadi. Maaf, saya tidak bermaksud merendahkan…”
“Ya aku paham.” Potong Kinanti.
“Saya harus berterima kasih pada paman Benggala, sebab serangan paman memancing se-seluruh tenaga saya. Dan itulah jalan yang saya dapatkan untuk melebur tiga tenaga ilmu mustika.”
Beberapa sesepuh saling pandang. Mereka bisa memahami jika pemuda itu belum mengeluarkan seluruh tenaga, tapi dari kegugupan bicaranya, kiranya mereka bisa meraba sampai dimana ketangguhan hawa murni Jaka.
“Memang seharusnya begitu,” gumam Ki Gunadarma.
“Apa maksudmu?” tanya Ki Benggala berbisik.
“Saat menahan lima racun dahsyat di kuil ireng, tenaga yang diperlihatkan lebih dari tenaga tadi.”
“Ah…” Ki Benggala terkejut.
“Entah sekuat apa anak ini, bukannya aku merendahkan kita sendiri. Tapi, kurasa otot-otot tua kita bisa menandinginya jika enam orang maju serentak.” Sela Ki Glagah, membuat para tetua makin tertegun. Tentu saja mereka bercakap-cakap tanpa bisa terdengar orang lain termasuk Jaka.
“Lalu, akan kau namakan apa gabungan ilmu itu nantinya?”
Jaka memandang sesaat pada gadis yang bertanya, ia termenung mendengar pertanyaan Ayunda. “Entahlah, belum terpikirkan… ehm, mungkin saja bakal kunamakan Mentari Kutub Hawa Mayat.” Desah Jaka sambil tertawa.
“Seram, tapi kedengaran bagus juga. Kenapa kau namakan seperti itu?” tanya Ki Benggala sambil tertawa, sebagai orang yang mumpuni lahir batin, dia sudah membuang kekesalan hatinya karena di kalahkan Jaka, apa lagi mengingat Jaka akan jadi anggota mereka.
Jaka menyeringai, dia tadi menjawab asal saja, tak tahunya Ki Benggala tanya alasannya segala. “Tak tahulah paman, mungkin karena gabungan ilmu itu akan menghasilkan hawa panas dan dingin yang bertolak belakang, maka kunamakan Mentari dan Kutub, sedangkan Hawa Mayat, kuambil karena bantuan dari paman,”
“Bantuan dariku?” potong Ki Benggala heran, yang lainpun tidak mengerti ucapan Jaka.
“Ya, sebab panas keras dan dingin keras, ibarat air dan minyak. Air dan minyak tak mungkin disatukan, tapi jika air itu dicampur bahan lain, misalnya telur dan tepung, minyak juga akan larut dalam adonan. Begitulah kondisi saya tadi… saat paman mengeluarkan hawa membunuh, terpikir oleh saya serangan paman mungkin merupakan jalan untuk melebur hawa panas dan dingin… ternyata tak meleset, lalu saya mencoba mengeluarkan daya upaya untuk mengerahkan tiga hawa murni berbeda, secara serentak.”
“Ooh…” sahut Ki Benggala dengan tertegun.
Kupikir hanya dua ilmu hawa dingin saja yang ia satukan, tak tahunya Hawa Bola Sakti juga ikut dileburkan? Benar-benar bakat aneh.. aku jadi ingin tahu sampai dimana ia bisa berkembang. Pikir Ki Lukita, juga sesepuh lainnya.
“Kalau boleh kutahu, bagaimana kau menahan dua pukulanku tadi?” tanya Wiratama dengan suara datar—kaku, meski demikian dalam pendengaran Jaka suara itu tidak mengandung dendam seperti yang disangkanya tadi.
Mungkin memang itu pembawaannya, pikir Jaka. Karena itu Jaka-pun segera menjawab dengan bersahabat.
“Hawa Bola Sakti yang kukuasai walau sudah sampai ke tingkat akhir namun kurasa belum sehebat yang dibayangkan. Saat menerima pukulan saudara, aku mengerahkan tenaga lemas dan lembut untuk meniadakan akibat gempuran. Sebenarnya Hawa Bola Sakti memang diperuntukkan menahan tiap gempuran keras, tapi aku kawatir kalau kita berdua sama-sama luka parah, jadi aku menyerap tenaga panas pukulan saudara untuk digabungkan dengan tenaga panasku. Karena itulah kita sama sama tidak terluka akibat benturan tadi…”
Penjelasan Jaka memuaskan Wiratama, tapi bagi tokoh-tokoh tua, penjelasan Jaka itu kedengarannya sungkan sekali. Sebab kata ‘kita berdua sama-sama luka parah’ sesungguhnya hanya untuk menjaga harga diri Wiratama karena ilmunya kalah jauh dari Jaka. Para tetua berpendapat, jika Jaka bersungguh-sungguh mengerahkan Hawa Bola Sakti sampai tingkat sebelas, Wiratama pasti sudah terluka parah, karena tingkat akhir ilmu itu dapat membalikkan tenaga serangan sebesar apapun pada penyerang. Mereka dapat berpendapat seperti itu karena sahabat mereka yang berjuluk Manusia Karet sudah masuk ke tingkatan seperti itu. Dan Jaka yang masih berusia dua puluh tahun sudah disejajarkan dengan Manusia Karet yang memiliki nama besar sejak setengah abad lalu!
“Kurasa sudah cukuplah perbincangan kali ini, sekarang harus segera diadakan upacara penerimaan murid dan anggota!” Ucapan Ki Lukita mendapat persetujuan dari yang lain, mereka masuk kedalam ruangan.
Terlihat ruangan sudah disiapkan sedemikian rupa, mungkin sepeninggalan Jaka tadi, mereka sibuk menata ruangan, begitu mereka semua sampai di ruang tengah, peralatan yang diperlukan untuk upacara penerimaan murid, sudah tersedia.
Meja dari kayu jati hitam itu mengingatkan Jaka pada perabotan dikamarnya. Pemuda ini melihat diatas meja ada beberapa cawan, jarum dan baskom dari perak yang berisi air serta gayung bertangkai panjang yang terbuat dari perak juga. Melihat benda-benda itu, Jaka sudah bisa mengira apa saja yang akan dilakukan nanti.
Tak membuang waktu, mereka duduk bersila, bersiap melakukan upacara. Seperti tamu undangan pesta saja, pikir Jaka.
“Calon murid dan anggota harap maju ke depan!” Suara Ki Gunadarma berkumandangan. Tanpa ragu-ragu Jaka maju ke depan, dan gadis jelita berbaju biru juga mengikutinya, kemudian gadis kedua dan ketiga ternyata juga gadis-gadis cantik. Lalu Jaka menoleh lagi, wah… gadis keempat… fiuw, jantungnya berdebar lebih cepat. Empat orang gadis cantik!
Gadis terakhir itu berbaju merah, wajahnya agak pucat—roman mukanya dingin, dan kelihatannya dia pendiam. Saat kembali melihat gadis itu, jantung Jaka merasa berdebar lebih cepat, Kenapa aku ini? Apakah aku pernah kenal dengan dia? Kenapa perasaanku akrab dengannya? ia berpikir keras, karena tak juga menemukan jawabannya, ia abaikan perasaan itu.
Perlu apa berpikir yang tidak-tidak, lebih baik merasakan bagaimana punya saudara perguruan cantik-cantik.… pikir Jaka sambil tersenyum. Melihat senyuman itu, Ki Lukita bisa membaca pikiran Jaka.
Punya selera bagus juga anak ini. Pikir Ki Lukita merasa geli.
“Berlutut!” perintah Ki Gunadarma. Ke lima orang itu menurut, mereka berbaris memanjang. Di sebelah kiri dua orang gadis cantik berdiri dengan wajah di tundukkan, sedangan di sebelah kanan Jaka, ada gadis baju biru dan merah.
Ki Gunadrama segera menyilahkan ketujuh sesepuh lainnya untuk berdiri didepan ke lima calon murid dan anggota perkumpulan mereka. Lalu Ki Gunadarma sendiri juga berdiri nomor dua dari ujung.
Jaka sempat melirik sesaat, ia melihat urutan baris delapan sesepuh itu. Ki Glagah urutan pertama, gurunya kedua, lalu empat orang baris berikutnya Jaka tidak kenal, orang ketujuh dan ke delapan adalah Ki Gunadarma dan Ki Benggala. Kelihatannya mereka ini disebut Delapan Sahabat Empat Penjuru… pikir Jaka.
“Pertiwi, sudah bulatkah hatimu menjadi murid dari Perkumpulan Garis Tujuh Laut?” tanya Ki Glagah.
Jaka terkesip mendengarnya, Jadi ini dinamakan perkumpulan Garis Tujuh Laut? Kalau begitu, mereka menguasai barisan kuno kelima, dan keenam. Hm, jadi barisan Lima Langit Menjaring Bumi dan barisan Langit Tunggal merupakan barisan kelima dan enam.
“Sudah, tekad saya sudah bulat!” jawab gadis yang berada di ujung kanan Jaka.
”Apapun yang menjadi peraturan perkumpulan ini mau kau taati?!”
“Selama kebenaran dijunjung tinggi, murid akan selalu patuh!”
“Bagus, jika melanggar peraturan, beranikah kau menanggung hukuman yang sudah ditetapkan?”
“Murid berani!”
Jaka setuju dengan semua jawaban gadis itu kecuali yang terakhir tadi, sebab terlalu banyak lika-likunya alasan untuk menempuh suatu hukuman.
“Andini, sudah bulatkah hatimu menjadi murid Perkumpulan Garis Tujuh Laut?”
“Sudah! murid tidak akan menyesal!”
“Perintah perkumpulan tidak boleh dilanggar, sanggupkah kau menjalaninya?”
“Murid sanggup melakukannya selama peraturan yang dibuat tidak menyalahi kaidah dan norma yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran!” Jaka juga setuju dengan ucapan sang gadis.
Suasana hening sesaat, Jaka berdebar juga, dan untuk menghilangkan rasa canggung, ia berpikir, Oh, jadi gadis disamping kiriku ini namanya Andini, yang diujung itu namanya Pertiwi, entah siapa pula nama dua gadis disamping kananku ini…
“Jaka…”
Pemuda ini tidak menyahut, tapi ia menegakkan badannya, dan menatap Ki Lukita yang memanggil namanya.
“Walau kau tahu tentang Perkumpulan Garis Tujuh, tapi kau belum paham dengan seluk beluk perkumpulan kita ini, karena itu aku akan menjelaskannya dengan ringkas lebih dahulu… Perkumpulan kita ini dinamakan Garis Tujuh Laut, perkumpulan ini sudah berdiri hampir satu setengah abad lamanya, tiada orang yang mengetahui bahwa perkumpulan kita ini ada—kecuali sesama Perkumpulan Garis. Boleh dikatakan perkumpulan ini tergolong organisasi rahasia. Tujuan perkumpulan kita ini adalah menyelidiki setiap gerakan yang dapat membahayakan dunia persilatan, juga menyebar mata-mata ke seluruh penjuru untuk menampung berita terbaru.
“Kita berpegang teguh pada perinsip keluhuran budi pekerti, keadilan, dan kebenaran. Begitu rahasianya perkumpulan ini, orang-orang dari perkumpulan yang sealiran dengan kita—misalnya Garis Tujuh Api—juga tidak tahu banyak mengenai kita, begitu juga kita… kita tidak tahu banyak mengenai mereka. Semuanya sudah memiliki tugas dan porsinya sendiri. Karena itu kita memiliki tanda pengenal, dan kode berbeda-beda dalam melakukan tugas. Kira-kira begitulah garis besarnya, lebih jelasnya kau bisa menanyakan setelah upacara ini selesai.”
Jaka mengangguk paham setelah mendengarkan penjelasan Ki Lukita yang jelas dan tegas itu.
“Jaka Bayu, sudah bulatkan tekadmu masuk ke perkumpulan ini?” tanya Ki Glagah mengambil alih kembali pertanyaan wajib.
“Sudah!” jawab Jaka singkat.
“Kalau begitu apa yang menjadi peraturan dan sanksi yang ada dalam perkumpulan ini dapat kau patuhi dan kau jalani?”
“Selama masih menyadari kaidahnya sebagai manusia yang tahu untuk apa dia ada, murid tidak akan ingkar!”
Mereka merasa aneh mendengar jawaban Jaka yang tak lazim. Tapi toh alasan Jaka diterima.
“Ayunda, sudah bulatkah tekadmu masuk ke perkumpulan Garis Tujuh Laut?”
“Sudah eyang guru!”
“Tidak akan menyesal jika harus menjalani peraturan yang berat dan hukuman berat jika melanggarnya?”
“Tidak, asal semua itu memang adil dan wajar, serta masih dalam batas-batas kemanusiaan. Murid akan mencoba mematuhinya, jika aturannya sudah meleceng dari yang digariskan, murid tidak akan segan untuk berontak!”
“Terakhir, Diah Prawesti, sanggupkah engkau menjadi anggota perkumpulan ini dan menaati semua yang berlaku didalamnya?”
“Saya bersedia! Dengan alasan, serupa yang dia dikatakan.” Kata gadis ini sambil menoleh ke arah Jaka.
Para tetua mengangguk puas, sesi pertama upacara penerimaan murid dan anggota barus sudah terlaksana.
“Bagus, jawaban kalian semua menandakan keteguhan jiwa kalian. Sekarang bersumpahlah.”
Uh.. sumpah apa lagi? gerutu Jaka, sebab lututnya tiba-tiba gatal, kalau dia menggaruknya tentu akan mengurangi kekusyukan upacara.
“Aku bersumpah, demi membela kebenaran dan keadilan, aku tidak akan ragu mengorbakan jiwa dan raga…”
Jaka dan empat gadis saudara seperguruannya mengikuti apa yang diucapkan delapan sesepuh itu.
“Aku bersumpah untuk bersungguh-sungguh menjalankan tugas mulia menegakkan kejujuran, dan menjunjung tinggi budi luhur!”
Mereka mengikutinya lagi, tapi diam-diam timbul pertanyaan dalam benak Jaka. Menjunjung tinggi kejujuran dan budi luhur? Kalau begitu harus bisa mengangkat nama agar bisa tenar dan diberi predikat ‘jujur dan berbudi pekerti’? Wah-wah, berat. Memangnya hidup ini bisa dengan mudah dilewati begitu saja dengan kejujuran? Bagiku itu bukan masalah, mungkin bagi orang lain sebuah masalah!
Kalau sudah begitu kuyakin bukan kejujuran lagi yang diutamakan, tapi kemujuran selalu diharapkan, kalau sudah begitu mana bisa hidup dengan hati yang lurus lagi?
Usai mengucap sumpah, orang deretan keempat, mengambil cawan kecil dan jarum. Orang deretan keempat itu mungkin usianya hanya selisih dua atau tiga tahun dari Ki Lukita.
Melihat benda-benda itu dengan seksama, Jaka menghela nafas tertahan. Mata pemuda ini berkilat sekejap, ia mendadak merasa… begitu banyak rahasia yang diketahui membuatnya tak nyaman.
“Cucurkan darahmu ke cawan ini!” perintah kakek itu pada Diah Prawesti.
Gadis jelita ini mengangguk, lalu ia menusukkan ujung jarum pada lengannya. wajahnya yang putih halus agak berkerenyit, menahan sakit, darah segera bercucuran. Wajahnya yang pucat memerah sekejap, Jaka yang memang dari tadi melirik padanya, makin berdebar tegang melihat wajahnya yang berseri bagai kuntum melati. Setelah lima tetes, gadis itu menyerahkan cawan dan jarum pada Ayunda.
Gadis ini pun melakukan hal yang sama. Setelah selesai, ia menyerahkan cawan dan jaurm pada Jaka.
Jaka menerima cawan dan jarum itu, tangan mereka bersentuhan saat cawan dan jarum berpindah tangan. Jantung Jaka berdebar lebih cepat, dan lamat-lamat wajah Ayunda juga bersemu merah, gadis itu kembali menunduk, namun Jaka melihat di ujung bibirnya yang manis itu tersembul senyuman untuknya.
Sial, jantung macam apa ini. Hanya dapat senyumnya saja, sudah berdebar begini rupa! Gerutunya dalam hati. Pemuda ini menanggapi senyuman tadi dengan anggukan. Lalu tanpa ragu-ragu Jaka menusukkan jarum tepat tengah telapak tangan, tepatnya sebelah kanan.
Kalau cuma menusuk, itu tak seberapa, hanya saja begitu Jaka menusukkan jarum itu, ia sedikit menarik jarumnya ke samping, sehingga lukanya bukan hanya sebuah titik kecil saja, tapi sebuah sayatan luka cukup lebar. Darah segar segera mengucur deras. Mungkin kucuran darah Jaka ada tiga puluh tetes lebih. Diah, Ayunda dan dua gadis lainnya, kelihatan mengerinyitkan kening, hati mereka agak ngeri melihat perbuatan Jaka.
Selesai mengucurkan darah, Jaka menekan telapak tangannya yang tergores dalam itu. Aneh.. darah langsung berhenti mengalir dan luka yang tadi menganga lebar, kini tertutup rapat seolah tidak pernah ada luka di situ—hanya menyisakan garis tipis.
Empat gadis itu terkesip melihat kebolehan pemuda ini. Padahal Jaka tidak bermaksud untuk pamer, ia hanya ingin melakukan sesuatu yang ia sendiri tahu gunanya—tentu demi kebaikan. Jaka menyerahkan cawan dan jarum pada Andini.
Gadis itu menerima sambil tersenyum tipis, setelah melakukan hal yang sama, iapun menyerahkan cawan dan jarum pada Pertiwi. Setelah cawan tersebut diserahkan kembali kepada kakek yang tadi menyerahkan pertama kali pada Ayunda.
“Dengan darah dan niat suci, resmilah kalian menjadi murid delapan tetua dan menjadi anggota Perkumpulan Garis Tujuh Laut!”
Setelah ucapan itu bergema, cawan yang tadi berisi darah, ditumpahkan ke dalam baskom perak. Air yang tadi jernih kini berwarna kemerahan. Baskom perak itu diletakkan tepat di pertengahan—dihadapan Jaka.
“Rendam tangan kalian!” perintah Ki Benggala. Tanpa ragu, Jaka segera merendamnya, lalu menyusul Ayunda, Diah, Andini dan Pertiwi. Karena mereka serempak merendam pada satu baskom, tentunya kelima orang muda ini harus berlutut saling berdesakan. Dan tentu saja Jaka beruntung karena diapit, Ayunda dan Andini.
Harum sekali, desah Jaka dalam hati begitu Ayunda dan Andini, merapat kesisi kiri-kanan. Tampak olehnya kedua gadis yang merapat padanya itu wajahnya merah dadu.
Makin cantik saja, puji Jaka dalam hati. Pemuda ini bukan seorang yang suka pipi licin, tapi Jaka sangat mengagumi keindahan dan kecantikan, karena itu ia memuji dengan pikiran bersih bukan nafsu yang berbicara.
“Dengan bersatunya daging dan darah yang tercampur, serta persentuhan kulit dengan darah, maka dengan ini kalian resmi menjadi anggota Perkumpulan Garis Tujuh Laut.”
Karena belum ada perintah untuk mengangkat tangan dari rendaman baskom perak itu, lima muda mudi itu pun tetap merendamkan tangannya.
Jaka hampir-hampir bersin, karena rambut panjang Andini sebagian jatuh ke pundaknya dan mampir di depan hidungnya. Mati-matian Jaka menahan bersin, wajahnya merah padam.
Tentu saja Andini dan Ayunda salah paham, dikiranya Jaka grogi karena terlalu dekat dengan mereka. Tiba-tiba saja terpikir oleh mereka untuk menggoda Jaka, bagaikan dikomando dua gadis itu menyandarkan tubuhnya lebih rapat, dan kepala mereka dimiringkan hingga menyandar dibahu Jaka, sepintas kilas orang tidak akan menyadari apa yang diperbuat dua gadis itu, sebab hakikatnya saat berendam tangan itu, kepala mereka itu tertunduk dan saling berdekatan, jadi hampir-hampir tidak dapat dibedakan apakah kepala itu menyadar ke pundak orang lain atau tidak.
Tentu saja Diah dan Pertiwi tahu hal itu, keduanya tampak tersenyum. Hanya saja senyum Diah Prawesti diselingi dengan kerutan dahinya, mungkin dia tidak suka dengan kelakukan dua saudaranya atau mungkin hal lainnya.
Sial, kenapa mesti begini? Kelihatannya mereka menggodaku… pikir Jaka gemas, tapi ia tidak berani bercuit, sedikit saja bersuara, saat itu juga pasti ia bersin.
Setelah sekian lamanya, akhirnya Ki Glagah, Ki Lukita, dan enam orang lainnya memasukkan bubuk putih ke dalam baskom lebar itu. Begitu delapan orang tetua itu selesai memasukkan bubuk, Ki Gunadarma berseru,
“Angkat!”
Dengan perasaan lega lima muda-mudi ini segera mengangkatnya, dan alangkah heran hati mereka karena melihat air yang bercampur darah pada baskom itu lambat-laun makin jernih. Agaknya itu pengaruh dari bubuk yang dimasukkan oleh delapan sesepuh tadi.
Namun kini ada masalah baru, yakni dua tangan yang tadi mereka rendam, sampai sebatas pergelangan tangan, berwarna merah darah. Dan warna itu menyusup ke pori-pori dan agaknya tak bisa dihilangkan.
“Kalian pasti heran,” tanya Ki Wisesa—orang keenam, tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan. “Darah kalian berlima telah menyatu dan setelah berbaur kembali ketangan masing-masing. Itu artinya nasib kalian berlima ditentukan oleh kerja kalian sendiri,”
Ki Alit Sangkir—orang kelima menyambung, “Meskipun kalian sudah jadi murid salah seorang delapan tetua, juga menjadi anggota perkumpulan, kalian juga sudah menjadi kelompok kecil yang berdiri sendiri. Saudara kalian yang sebelumnya sudah mengikatkan diri menjadi murid dan anggota perkumpulan, juga memiliki kelompok kecil. Dalam kelompok kecil itu, diangkat seorang ketua,”
“Kelompok kecil kalian juga memperoleh tugas wajib,” sambung Ki Sugita—orang keempat. “Yakni mencari anggota! Tentu saja untuk mencari anggota diperlukan persyaratan yang ketat, pertama; dia haruslah orang baik-baik dan memiliki kejujuran. Kedua; memiliki kemahiran di bidangnya masing-masing, dan harus memiliki ilmu silat lihay, itu sangat membantu dalam melakukan setiap tugas. Ketiga; usahakan anggota kalian bukan orang sembarangan, artinya mereka adalah keturunan orang terpandang atau murid dari perguruan besar. Tapi kalau tidak bisa, tidak apa-apa, itu tidak diharuskan. Tapi, usahakan sebisa mungkin, sebab syarat ketiga itu merupakan salah satu kunci dari keberhasilan tiap pekerjaan. Dengan demikian sang anggota memiliki pelindung yang bisa diandalkan, yakni perguruannya sendiri.”
Jaka paham dengan maksud yang dituturkan tiap tetua, hanya saja dia merasa sungkan, masa harus kerja di antara wanita? Memang menyenangkan, tapi, wah.. bagaimana dengan dirinya nanti? Tahan atau tidak? Apanya yang tahan, apanya pula yang tak tahan?

—ooOoo—

37 – Menabur ‘Salah Paham’

“Tugas pertama yang kalian emban saat pertama kali menjadi anggota—seperti saat ini—adalah menyiasati keadaan. Dalam perkumpulan kita sudah ada delapan kelompok kecil. Rata-rata dari mereka sudah memiliki anggota lebih dari dua belas orang. Jadi dengan kelompok baru ini sudah ada sembilan. Kalian berlima harus dapat menentukan pendirian, sebab dalam perkumpulan kita, bagi yang gagal menjalankan tugas, akan memperoleh sanksi dan jika berhasil tentu saja memperoleh pahala—tentu imbalannya memuaskan,”
“Maaf…” tiba-tiba saja Jaka menyela sambil bangkit berdiri. Sampai saat itu kelima muda mudi tersebut masih berlutut, namun pada saat bicara tanpa mengurangi rasa hormat kepada delapan tetua, Jaka memutuskan untuk berdiri.
Semua orang berkerut kening melihat tingkah Jaka yang dinilai kurang sopan juga tidak bertata krama. Tapi menurut pandangan delapan tetua justru tidak begitu.
“Ada yang ingin kau sampaikan?!” tanya Ki Banaran—orang ketiga.
“Benar!” Jawab Jaka tegas, wajah yang biasanya penuh senyum kini terlihat sangat serius, bahkan Ki Lukita yang paham perangai Jaka—diantara mereka, tidak tahu pergolakan apa yang membuat pemuda itu jadi begini serius.
Padahal, mereka mana tahu, Jaka kembali memainkan peranan tadi pagi… seorang pemuda yang mudah meledak-ledak. Tadinya, Jaka hendak menyudahi peran karakter eksplosifnya, tapi mana kala dia melihat jarum yang digunakan dalam upacara, pertimbangan Jaka-pun kembali ditinjau. Dia sangat kenal dengan jarum itu, bahkan sebelumnya pernah merasakan derita tanpa ujung gara-gara jarum itu… menjadi sebuah masalah menarik manakala jarum itu muncul di dalam perkumpulan yang mengatasnamakan kebenaran. Jaka berminat menyelidikannya sampai tuntas.
“Kalau tugas seperti yang disampaikan tetua ke empat, maka dengan penuh hormat saya lebih suka mengundurkan diri dari perkumpulan ini, dan dengan menyesal pula saya menolak menjadi murid Aki Lukita!”
Perkataan Jaka bagi empat orang gadis—yang mengikuti upacara bersamanya, rasanya bagaikan halilitar di siang bari bolong. Bagitu juga dengan yang mengikuti jalannya upacara tadi, sesaat mereka berharap salah dengar… ternyata tidak!
Namun bagi delapan tetua, ucapan Jaka tentu saja memiliki dasar tertentu, karena itulah mereka tidak merasa heran.
“Bisa kau jelaskan mengapa?” tanya Ki Banaran dengan suara lunak.
“Kalau tujuan yang dilandasi dengan keadilan dan kebenaran—seperti pedoman perkumpulan—‘dirusak’ dengan pelaksanan tugas berimbalan, dan hukuman, sudah jelas pelaksanaannya tidak akan sebersih yang diharapkan! Kebenaran dan keadilan tidak tumbuh dari pamrih, tapi dari sini…” Jaka menunjuk dadanya. “Jika untuk jangka panjang kondisi seperti ini terus dipertahankan, akan banyak orang munafik di tempat ini, semuanya akan berpikiran, bahwa; ‘setelah tugas selesai, aku akan mendapatkan ini-itu’, itu tidak baik. Seharusnya tanam dalam-dalam, hakikat kebenaran di dada masing-masing, sebelum membuat peraturan yang menurut saya konyol. Hal itu akan mempengaruhi kinerja kelompok, kita akan selalu mengerjakan tugas kita dengan sebaik mungkin hanya karena rasa takut mendapat hukuman, kalau begitu dimana rasa keadilan? Mungkin ini bagus bagi pembinaan disiplin, tapi tidak untuk jangka panjang.
“Lagipula—sedikit-banyak—dalam hati, kita akan menginginkan imbalan yang tentu akan makin banyak dari waktu ke waktu, jika sekarang puas dengan yang kecil, besok dia tidak akan merasa puas! Dia akan menuntut imbalan tidak tanggung-tanggung, yang menurut pikiran sesuai dengan hasil kerja. Kalau sudah begitu, saat menjalankan tugas, tentu tidak segan menghalalkan segala cara! Hal inilah yang saya hindari! Saya sangat berterima kasih atas perhatian para tetua. Cuma, saya masih belum kehilangan pertimbangan, saya tak sanggup hanya mengiyakan sebuah aturan!”
Senyap… semua orang terpana dengan ucapan Jaka, memang apa yang dikatakan Jaka benar adanya. Dan mereka yang menjadi ketua kelompok kecil juga merasakan kebenarannya, sebab selama menjalankan tugas, tak sedikit cara buruk yang mereka kerjakan—walaupun dalam hati diam-diam menyangkal ketidak adilan cara mereka sendiri.
Tapi anehnya delapan tetua itu tenang-tenang saja mendengar alasan Jaka. “Kalau memang tugas yang digariskan seperti itu, kau benar-benar ingin keluar?”
“Ya!” sahut Jaka tegas.
Ki Wisesa yang mengajukan pertanyaan tadi tersenyum, sepertinya ia memahami sesuatu.
“Kau tidak ingin tahu imbalan apa yang diberikan seandainya tiap tugas berhasil?”
Meskipun Jaka sedang memainkan peranan sebagai pribadi yang lain, mendengar pertanyaan Ki Wisesa, mendadak Jaka merasa peranan kali ini, dia memutuskan membiarkan dirinya terhanyut dalam sifat eksplosive.
Wajah pemuda ini menampilkan mimik tawar, seolah merasa jemu, tapi sebagai angkatan muda, Jaka tidak akan bertindak kurang hormat, karena itu menanggapi pertanyaan Ki Wisesa ia hanya menggeleng.
“Imbalan yang diperoleh adalah mustika-mustika tak ternilai harganya, salah satunya sebuah mustika yang menjadi impian kaum pesilat, yakni Akar Bunga Gurun. Mustika ini mempunyai kasiat luar biasa, bagi yang mempelajari tenaga dalam, dengan meminum ramuan Akar Bunga Gurun, tenaga dalamnya akan bertambah tujuh puluh tahun hasil latihan, dan mustika ini juga bisa menyembuhkan orang yang sudah sekarat.”
Mendengar keterangan itu, Jaka tersenyum dingin, bukannya tertarik, tapi makin kecewa!
“Oh ternyata begitu..” gumamnya.
“Ya, bukankah ini imbalan yang setimpal?” tanya Ki Wisesa menyelidik.
Pemuda ini menggeleng. Masa, bisa menyembuhkan orang sekarat? Nasib Rubah Api yang sekarat kelihatannya tak terpikir. Kelihatannya ada banyak kebijakan yang perlu dibenahi. Sebuah tugas lebih berharga dari pada nyawa? Tugas macam apa? Sungguh komitmen ngawur hanya dimiliki prajurit yang cuma bisa mengiyakan perintah! Padahal tugas itu belum tentu penting untuk orang banyak. Pikir Jaka menganalisis.
“Kau tidak tertarik?” tanya Ki Wisesa heran.
“Tidak!” sahut Jaka dingin. “Kalau sekedar meningkatkan tenaga dalam sebesar tujuh puluh tahun hasil latihan, saya bahkan bisa meningkatkannya lebih besar, tak perlu menggunakan mustika segala!”
Perkataan Jaka yang dingin dan hambar itu membuat hati semua orang tercekat, mereka merasa sangsi. Dari dulu hingga sekarang mana ada orang sanggup melatih atau membuat dirinya bisa mencapai tenaga dalam yang lebih dari seratus tahun hasil latihan? Kalaupun ada, secara normal, tentunya orang itu sudah berusia seratus tiga puluh tahun, dan ia memiliki hasil latihan seratus lima belas tahun, atau karena ia mendapatkan mustika sejenis Akar Bunga Gurun. Tapi kalau yang mengucapkan adalah seorang pemuda berusia 20-an tahun, siapa bisa percaya?
“Apalagi hanya untuk menyelamatkan orang sekarat, saya juga bisa! Sungguh menyesal saya memasuki perkumpulan yang memiliki prinsip kebenaran kerupuk!” sambung Jaka dengan suara getas, makin terhanyut dengan peranannya.
Ucapan Jaka yang terakhir itu membuat orang-orang selain delapan tetua dan empat gadis yang ada di sampingnya, marah besar.
“Tutup mulutmu!” bentak lelaki berusia empat puluh tahun. Lelaki itu adalah orang yang pernah membukakan pintu untuk Jaka.
“Tarik kembali ucapanmu!”
Bentakkan yang keras dan sarat hawa membunuh itu tak membuat Jaka menoleh atau menggubrisnya. Padahal orang itu sengaja berteriak untuk membuat Jaka sadar dan insyaf atas cacian yang kelewatan.
“Bocah keparat!” geramnya marah. Tanpa disangka oleh siapapun, lelaki itu menghantamkan sebuah pukulan ke punggung Jaka. Pukulan itu disertai lima bagian tenaganya.
“Menyingkar Jaka!” seru Diah Prawesti dengan panik.
Orang-orang terkejut dengan seruan peringatan si gadis dingin ini. Mereka paham jika sedang ada upacara seperti saat ini, kecuali para tetua, yang lain tidak boleh bersuara. Tapi gadis itu bahkan bersuara keras.
Tapi dia mana perduli dengan peraturan perkumpulan. Karena dia tahu benar lima bagian tenaga si penyerang sangat berdaya bunuh besar, dan ia mengawatirkan keselamatan Jaka.
Bagi orang yang menguasai ilmu mustika, lima bagian tenaga sudah sangat dahsyat untuk ukuran kaum persilatan—apalagi orang yang menyerang itu memiliki tenaga sakti hasil latihan sebesar delapan puluh tahun, bisa dibayangkan bobot lima bagian atau sekitar 500 kilo melabrak manusia, entah jadi apa!
Suara berkesiuran angin terdengar deras sekali. Empat gadis yang masih berlutut disamping Jaka segera bangkit berdiri dan menyingkir, wajah mereka tampak pias—jelas sekali kalau mereka mencemaskan keadaan Jaka, tapi mereka tidak berani lancang bertindak. Delapan tetua juga bergerak menyingkir kesamping. Hanya Jaka yang tidak menyingkir.
Melihat itu, Diah hendak menuburuk Jaka supaya bisa terhindar pukulan tadi. Tapi tindakannya dicegah Ayunda, mereka saling berpandangan, wajah kedua gadis ini tampak pias. Merasa bahwa dua perasaan gadis ini ternyata sama, keduanya jadi malu.
Tinggal sejengkal lagi pukulan itu sampai di punggung Jaka, dan saat itu juga…
Blang!
“Aiih…” Ayunda dan Diah terpekik kaget.
Punggung Jaka terpukul telak, tapi pemuda itu sama sekali tidak terpental, jangankan terpental, tergetarpun tidak. Lelaki yang menyerang Jaka terbengong-bengong takjub juga heran.
“Gila, tenaga yang bisa menghancurkan batu karang, dapat ditahan sebaik itu?” pikirnya dengan hati diliputi perasaan jeri.
Dilihatnya Jaka membalikkan tubuh, tiap orang bisa melihat seulas senyum di bibir pemuda itu. Tapi ada yang aneh, senyum itu tak sehangat biasanya, tapi berbau bencana, mungkin.. kematian!
“Selama berkelana, saya tidak pernah memukul orang dari belakang. Prinsip saya, melakukan segala sesuatu itu tidak selalu didasari dengan kekerasan. Kelihatannya kali ini saya harus melanggar prinsip sendiri, saya melihat apa yang disebut kebenaran di sini belum lagi lahir!” kata Jaka sambil menghela nafas panjang.
Namun ucapan yang tenang dan tidak memiliki emosi itu membuat bulu kuduk tiap orang berdiri.
“Kelihatannya saya memiliki prinsip yang tidak sama dengan perkumpulan ini. Apa yang saya katakan, tak pernah saya ingkari! Seorang manusia lebih unggul dari segala macam ketergantungan pada benda mustika yang banyak diharapkan orang. Akan kutunjukan apa yang kuucapkan tadi bukan bualan! Meski tanpa mustika, manusia sanggup membangkitkan potensinya. Akan kuperlihatkan sebuah perbedaan besar… kurasa tenaga lebih dari seratus tahun latihan, cukup memadai.” desisnya.
Usai bicara, tangan Jaka bergerak pelan, gerakan tangan Jaka yang membentuk sebuah ritme mirip tarian, begitu pelan dan sangat teratur, tapi terlihat seolah digantungi beban berat. Dari gerakan itu mereka bisa merasakan sebuah kekuatan dahsyat perlahan berpendar keluar.
Gila! Kekuatan ini mungkin ada lima kali lipat dari hawa dingin yang ia keluarkan tadi! Pikir tiap orang merasa kagum, juga… ngeri.
Tentu saja yang paling bergidik adalah dia yang menyerang Jaka. Baru gerakan pelan saja, tubuhnya sudah tergetar nyaris terdorong, konon lagi kalau Jaka menghempaskan pukulannya? Mau jadi apa dirinya? Tapi sebagai murid Naga Kepalan Baja, tentu nyali orang itu tidak kecil, dengan penuh keberanian, ia bersiap memapaki pukulan Jaka.
Gerakan Jaka makin lama makin lambat. Tapi hawa yang dipancarkan Jaka benar-benar membuat tiap orang merasa dirinya terancam. Bangunan rumah yang kokoh itu berderak perlahan. Lantai yang dipijak Jaka sudah melesak sebatas betis. Mereka bisa menduga sehebat apa pukulan Jaka jika mengenai orang, diam-diam mereka mengeluh.
“Cukup Jaka!” bentakan halus yang mendengung itu membuat gerakan tangan Jaka terhenti, sesaat ia melihat Ki Lukita yang berdiri dengan wajah serius, tak seramah sebelumnya. Di punggung Ki Lukita menempel tujuh tangan yang siap melontarkan tenaga dalam gabungan apabila Jaka nekat melepaskan pukulan pada murid kedua Ki Lukita.
Jaka tertegun, dia merasa yang dilakukannya tadi diluar kendalinya. Dia memang sengaja menghanyutkan diri dalam peranan sebagai orang yang gampang meledak-karena itulah karakter masa lalunya, tak disangka dirinya ternyata hampir lepas kendali. Astaga, apakah aku sangat emosi? Apakah aku marah? tanyanya dalam hati. Dia memejamkan matanya dan mengatur pernafasannya agar teratur kembali, berusaha menenteramkan perasan hatinya yang tiba-tiba bergolak, padahal selama ini pemuda ini jarang marah. Terbayang di benaknya saat tukang angon kuda di rumahnya memberi wanti-wanti padanya.
‘Tuan muda, bagaimanapun keadaan tuan, cobalah jangan sekali-kali tuan marah… berlatihlah untuk sabar, dan berpikiran jernih, sebab jika tuan marah kebenaran akan tertutup di pelupuk mata, banyak yang menjadi korban. Kecuali… kecuali…’
Jaka terngiang nasehat si tukang angon kuda—yang ia sebut kakek baik hati—saat ia berusia tujuh tahun, sebagai nasehat seorang yang sayang pada dirinya. Jaka mengingat-ingat apa yang pernah ia dengar dari mulut bijak si pengangon kuda di rumahnya.
Ya, hanya satu nasehat, jangan marah… jangan terbawa emosi! Belajar bersabar! Nasehat itulah yang selalu didengungkan di telinga Jaka dari kecil hingga ia berusia sembilan tahun.
Kenapa aku bisa lupa? Aku lupa nasehat kakek… pikir pemuda ini sambil memejamkan mata, tangannya mengepal kencang. Orang lain mana tahu pergolakan batin pemuda itu, karena di luarnya Jaka tak menampilkan perasaannya.
Tiba-tiba mereka terbelalak, kaki Jaka yang terbenam sampai pertengahan betis, mendadak terangkat, tanpa digerakan pemuda itu! Seolah ada tali gaib yang menarik Jaka ke atas.
Diah mendekati Jaka dan menyentuh lengannya. Wajah yang biasanya pucat sesaat merona merah, namun kembali memucat.
Sesaat kemudian, pemuda ini membuka matanya. Ia menoleh, dilihatnya Diah sedang mencengkeram erat lengannya. Gadis itu melihat dirinya sambil menggeleng, lalu perlahan ia lepas cengkramannya.
Jaka tersenyum sambil mengangguk, ia melihat orang-orang sudah berdiri didekat pintu, bahkan beberapa orang sudah ada yang keluar. Jaka menatap lelaki yang tadi menyerangnya, “Maaf…” katanya sambil menjura.
Mereka bingung melihat perubahan sikap Jaka. Mereka pikir apakah itu karena Diah atau…?
Sikapnya begitu membingungkan… sebentar seperti orang sedang murka, tapi dilain saat begitu tenang. Herannya, pergolakan perasan pemuda itu tak terlihat dari luar. Kali ini Jaka sangat sukses menanamkan karakternya di benak mereka.
Murid kedua Ki Lukita, segera balas menjura. “Seharusnya saya yang meminta maaf, saya bertindak kelewat ceroboh.. maklum saja, sejak muda hal yang tidak pernah kumiliki adalah kesabaran.” Jaka menanggapinya dengan senyuman saja.
“Jaka kita perlu bicara…” ujar Ki Lukita sambil mendekati pemuda itu. Jaka mengangguk tanpa menjawab.
Begitu Ki Lukita berkata demikian, serentak orang-orang yang masih ada diruangan itu segera keluar. Di dalam ruangan itu tinggal Jaka dan empat gadis cantik serta delapan tetua.
Tanpa diminta, empat gadis itu masuk ke ruang dalam, dan dengan cekatan, dalam beberapa saat saja tiga belas kursi sudah ada di situ. Tiga belas orang itu duduk saling berhadapan, Jaka dan empat orang adik seperguruannya duduk bersebelahan, sementara delapan tetua duduk di depan mereka dengan posisi kursi agak melingkar.
Suasana hening sekali, bahkan orang-orang yang ada di luar juga diam semua, tidak ada yang bercakap-cakap. Andai jarum jatuh di ruangan pun, tiap orang bisa mendengarnya.
“Apa yang membuatmu begitu gusar?” tanya Ki Lukita.
“Hh,” Jaka menghela nafas sambil memejamkan matanya. “Entahlah, dalam sekejap tadi semua rasa dan pertimbangan emosi saya sepertinya lenyap. Mungkin salah satunya dipicu oleh syarat perkumpulan ini yang tidak cocok dengan prinsip dasar.”
“Kau tidak bisa disalahkan,” ujar Ki Lukita sambil menghela nafas getun. “Semuanya memang sudah peraturan sejak jaman perkumpulan ini didirikan. Dulu, saat aku dilantik menjadi anggota perkumpulan ini beserta rekanku yang lain juga merasa janggal dengan apa yang dicetuskan terakhir tadi. Namun para orang tua kami mengatakan, kalau semuanya sudah merupakan aturan leluhur…”
“Aturan leluhur memang perlu dilestarikan, tapi kalau sudah usang, tak cocok untuk generasi berikutnya, harus dilakukan pembenahan di sana sini. Terus terang saja, tentang satu imbalan dan hukuman dalam mengerjakan tugas, memang ada segi baiknya, tapi lebih banyak segi buruk. Dengan pamrih bernilai besar, tiap tugas dapat dikerjakan sempurna. Kelihatannya berdedikasi dan berdisiplin tinggi, dengan ketepatan waktu dalam penyelesaian masalah.
“Tapi dampak buruk pengerjaannya sudah pasti tak bisa dimaklumi! Segala cara dipakai, mungkin berupa pemaksaan, penganiayaan. Kalau digunakan pada seorang durjana, masih bisa dipertimbangkan. Tapi kalau untuk orang yang benar-benar tidak bersangkutan—anggaplah untuk kekeliruan sebuah informasi—bukankah akan ada korban? Di samping itu cara memberi imbalan untuk tiap tugas yang sukses, juga lambat-laun akan membentuk esensi keadilan hilang, niat yang luruh perlahan menjadi bengkok, hatinya kian tercemar.
“Hati yang dulunya tidak berpamrih, kini mulai ada angan-angan untuk mendapatkan ini-itu. Apabila jalan menempuh angannya terbentang lebar, akan timbul cara-cara keterlaluan, bahkan biadab!”
“Mungkin dia yang membuat peraturan ini, masih diliputi sebuah kejadian, nafsu… dia berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang besar! Sayang gagal, karena itu dia lampiaskan kepada anggota perkumpulan yang dibentuknya. Dan yang saya herankan, tidakkah pada anggota menyadari semua ini? Memang terlihat sederhana, mendapat imbalan jika berhasil, hukuman jika gagal… tapi masalah ini jadi sangat rumit kalau dilihat dari prinsip kebenaran! Karena itulah saya mengatakan semua itu hanya kebenaran semu, kamuflase semata… sebenarnya sasaran apa yang akan dicapai perkumpulan ini? Kelihatannya lambat laun makin jauh dari sumpah—atau bahkan dari awalnya memang sudah melenceng?”
Analisa Jaka, atau lebih tepat dikatakan unek-uneknya, membuat delapan tetua paham dengan kegalauan hatinya.
“Apa yang kau katakan benar, memang ada beberapa peraturan yang bertentangan dengan prinsip dasar perkumpulan. Tapi terus terang saja kami tidak berani merubahnya, bukan karena takut, tapi karena segan dengan warisan leluhur.”
“Ah, lagi-lagi masalah menyandang nama keluarga,” desah Jaka dengan nada berat. “Manusia lahir tanpa nama, tanpa kehormatan, tanpa harga diri, begitu sirna ia ingin semuanya diingat orang lain. Sebenarnya bukan itikad jelek, hanya…” pemuda ini mendesah lagi.
Ki Lukita dan beberapa orang lainnya juga mendesah perlahan mendengar ucapan Jaka tadi, “Keinginan manusia itu beragam, ada yang kelihatan dan terdengar janggal, namun kalau dikaji secara seksama bisa mendapatkan pengertian yang dapat ditoleransi. Kalau dipikir-pikir, apa yang kau cemaskan tidak akan terjadi jika pelaksanaannya benar-benar diawasi dengan ketat.”
“Semoga demikian,” desah Jaka gundah.
Suasana kembali hening, “Kalau begitu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian sudah memutuskan bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan kalian atau tidak?” Ki Wisesa memecahkan keheningan dengan bertanya pada keempat gadis yang duduk di samping Jaka.
Mereka saling berpandangan, akhirnya sepakat. Mereka mengangguk. “Dalam peraturan leluhur, tidak ada istilah batal kalau sudah menjadi seorang anggota perkumpulan. Karena itu tentu saja kami berempat juga terlibat dengan masalah saat ini.” Kata Ayunda yang menjadi juru bicara.
“Dan apa pun keputusan yang diambil Jaka, kami mengikutinya.” Sambung Diah Prawesti.
“Kalau begitu, kalian sudah menganggap Jaka sebagai ketua kelompok kalian?”
“Benar! Karena dia laki-laki dan memiliki potensi, sebelumnya kami memang sudah sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok kecil. Dan karena masalah ini ditimbulkan oleh ketua kami, maka sebagai anggota kami tidak mungkin berlepas tangan.” Jelas gadis cantik berparas dingin itu lagi. Para tetua mengangguk membenarkan.
“Apalagi sebelumnya kami juga sudah bersumpah untuk selalu loyal pada perkumpulan, dan pada kelompok kami sendiri.” Sambung Pertiwi.
Diam-diam Jaka merasa terharu, tapi juga merasa menyesal melibatkan gadis-gadis cantik itu dalam prototipe rancangan penyelidikannya. Kenal akrab pun belum, tapi mereka sudah begitu kompak, apa mungkin karena peraturan? Pikirnya tak tenang, dengan tatapan mata terima kasih, Jaka menyapu wajah-wajah cantik yang sedang memasang raut serius.
Sepertinya mereka paham dengan maksud hati Jaka, “Dengan catatan, kami mengharapkan kau sebagai ketua untuk tidak menyia-nyiakan kesetiaan kami. Kami ikut mendukung karena apa yang ketua kemukakan tadi memang sejalan dengan pikiran kami.” Kata Andini menjawab tatapan mata Jaka.
Pemuda ini menghela nafas panjang sambil mengangguk berulang kali. “Jadi kesimpulannya saya sudah bukan anggota perkumpulan ini lagi, tentunya untuk keluar dari keanggotaan ada persyaratan tertentu. Apakah setelah itu hubungan kita akan berubah saya rasa waktu yang akan menjawabnya. Tapi kalau bisa memilih, saya lebih memilih bersahabat…”
Ki Lukita dan yang lainnya saling berpandangan, akhirnya mereka memutuskan agar Ki Glagah yang bicara. “Bisa bersahabat, juga bisa menjadi murid kami,” kata orang tua ini dengan nada halus. “Ada sebuah peraturan keras dalam perkumpulan kami, bahwa tiap anggota yang sudah menjalani upacara tradisi, tidak dibolehkan keluar dari perkumpulan, dengan alasan apa pun. Jika dia ingin keluar, maka hukumannya sangat berat, apa lagi dia sudah bersumpah darah…”
“Jadi…?!” potong Andini dan tiga rekannya bersamaan.

—ooOoo—

38 – Konklusi ‘Kesalahpahaman’

“Ya, hukumannya adalah meniadakan ingatan si anggota tentang adanya perkumpulan ini.”
Jaka terkesiap, mendengar keterangan Ki Glagah. Jika menuruti kemauan mereka, andai ingatan tentang apa yang terjadi hari ini ditiadakan, tidaklah berpengaruh besar manakala menggunakan hipnotis.. tapi karena Jaka memiliki ilmu dan tenaga dalam mumpuni, hipnotis tidak akan banyak pengaruhnya, dengan demikian jalan satu-satunya adalah menggunakan totokan pada syaraf kecil dalam kepala, dan sudah jelas ini akan mengakibatkan palsy-kelumpuhan, itu bagi mereka yang hanya mengetahui sekelumit saja.
Bagi Jaka sendiri, dia paham benar; dalam pertabiban disebutkan pada syaraf ke tujuh otak kecil akan dimampatkan bebeberapa lama, hingga kejadian yang berjangka satu-dua hari dari saat itu akan lenyap tak berbekas dan tidak bisa diingat kembali.
Tentu saja Jaka keberatan kalau memang dirinya harus menjalani hal seperti itu, sebab efek pemampatan syaraf otak kecilnya, dapat membuat rasio dan petimbangan otaknya hilang keseimbangan untuk beberapa waktu, mungkin paling lama tiga bulan. Dan dalam waktu tiga bulan itu, kemungkinan Jaka bisa jadi orang linglung. Padahal dalam jangka waktu itu masih banyak persoalan yang harus ia kerjakan dengan memeras otak.
Jadi Jaka memutuskan untuk menolak sanksi tersebut jika memang ia harus menjalaninya, kemungkinan setelah persoalan yang menggayuti otaknya selesai semua, baru Jaka mau menerima sanksi tersebut. Itulah keputusan sementara yang diambil Jaka, mungkin saja bakal terjadi bentrokan kalau ada silang pendapat antara mereka, dan Jaka sudah siap jika itu terjadi.
Sementara empat dara yang sebelumnya memang dibesarkan oleh perkumpulan, sudah tahu seluk beluk tiap peraturan. Karena itu mereka tidak heran dengan penjelasan Ki Glagah, dan mereka juga menganggap enteng sanksi tersebut. Andai saja mereka memiliki pemikiran Jaka, dipastikan merekapun akan menolak mentah-mentah.
Namun ucapan Ki Glagah berikutnya, membuat semua pertimbangan Jaka jadi tak berguna…
“Tapi tentunya kami tidak bisa melaksanakan keputusan itu padamu Jaka, juga pada kalian,” ujar Ki Glagah riang.
“Kenapa?” tanya Jaka heran, dalam pikirannya bakal ada perdebatan alot dengan delapan sesepuh.
“Sebab kau mengerti benar seluk beluk tujuh barisan yang di andalkan oleh Tujuh Malaikat Gunung Api.”
“Memangnya kenapa kalau begitu?” tanyanya lagi.
“Karena yang mendirikan perkumpulan Garis Tujuh Langit adalah murid bungsu dari ketujuh orang sakti dari gunung Api.. ”
“Segara Sarpa?”
“Benar! Kami semua—termasuk perkumpulan Garis Tujuh Lintasan, Garis Tujuh Bujur, dan, Garis Tujuh Api—adalah keturunan langsung dari murid-murid Tujuh Malaikat Gunung Api. Pada tiap perkumpulan Garis Tujuh, ada mencantumkan sebuah peraturan istimewa,”
“Apa itu eyang?” tanya ke empat gadis cantik itu serempak, untuk peraturan yang satu itu mereka tidak mengetahui.
“Jika ditemukan seseorang yang mewarisi ke tujuh barisan milik Tujuh Malaikat Gunung Api, maka orang itu bisa disamakan dengan hadirnya Tujuh Malaikat Gunung Api kembali, jadi secara langsung atau tidak, orang itu adalah atasan dari tiap perkumpulan Garis Tujuh.”
“Oh, jadi karena Jaka menguasai ke tujuh barisan itu maka dia tidak dikenakan hukuman? Bahkan dia bisa menjadi ketua tiap perkumpulan Garis Tujuh?” tanya Ayunda bersemangat.
“Benar, dan dengan demikian, karena kedudukan Jaka setara dengan Sesepuh Segara Sarpa, maka dia dapat merubah peraturan yang sudah tidak berlaku, dan peraturan yang tidak sesuai!”
Jaka mendesah, ia bahkan tidak menyangka ada kejadiannya semacam ini. Pada dasarnya pemuda ini selalu ingin bebas, tak ingin terikat dengan perkumpulan macam apa pun–termasuk perkumpulannya sendiri, dan ia sama sekali tidak mengharapkan sebuah kedudukan ketua perkumpulan rahasia yang sudah berdiri satu abad lebih!
Dan dua hal itu kembali membuat pertentangan dalam batinnya, antara menerima jabatan atau menolaknya. Tapi kalau melihat posisinya saat ini, sulit rasanya untuk menolak, karena Jaka harus menghadapi banyak persoalan pelik. Belum tentu dia memiliki waktu untuk mensurvei kembali tiap peraturan dan mengubahnya.
Jaka gundah memikirkannya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengesampingkan keinginan bebasnya, sebab jika semuanya sudah selesai, mungkin saja dirinya dapat melepaskan kedudukannya itu—juga kedudukan yang lain.
“Bagaimana Jaka?”
“Saya menerimanya, tapi apakah Aki sekalian percaya bahwa saya menguasai ketujuh barisan itu?”
“Kami mempercayaimu, tapi seluruh anggota perkumpulan ini belum tentu percaya.”
“Aku percaya.” Sahut Diah singkat.
“Kami juga.” Seru Pertiwi mewakili yang lain.
“Jadi bagaimana untuk membuat yang lain percaya?” gumam Ki Lukita. Tujuh tetua lainnya terpekur, agaknya mereka sedang memikirkan sesuatu.
“Tidak perlu memaksakan kehendak pada mereka guru, bagi saya ini bukanlah hal penting.” Tukas Jaka
Sang Guru menggeleng, “Mungkin memang bukan hal penting bagimu, tapi bagi kami, ini berkaitan dengan perbawa wibawa sesepuh, semua orang sudah melihat engkau menolak, adalah tidak mungkin tiada sanksi yang tak dikenakan padamu, mengingat sumpah sudah terucap.”
Jaka mengerti
“Ah.. aku ingat!” seru Ki Banaran, mengagetkan semua orang.
“Apa yang kau ingat?” tanya Ki Glagah.
“Tidakkah kalian ingat cerita dan gambar yang ditunjukan oleh para angkatan tua kita dulu, tentang sebuah lencana emas dan pedang emas yang menjadi lambang kebesaran dan tanda kuasa Tujuh Malaikat Gunung Api?”
“Ah…” ucapan Ki Banaran membuat tujuh orang itu tersentak. “Ya, kau benar..!” Jaka dan empat gadis di sampingnya, keheranan melihat tingkah delapan tetua itu.
“Kau tak usah khawatir, kita mendapat caranya.” Kata Ki Gunadarma bersemangat, orang tua ini memang sangat menyukai Jaka.
“Cara apa paman?”
“Jika kau bisa mendapatkan lencana emas dan pedang emas yang merupakan lambang dari Tujuh Malaikat Gunung Emas, maka empat perkumpulan Garis Tujuh akan tunduk padamu.”
Jaka manggut-manggut, “Tapi saya tidak bermaksud untuk menguasai perkumpulan.” Kata pemuda ini.
“Kami tahu maksud hatimu,” sahut Ki Gunadarma sembari tersenyum. “Kami percaya penuh pada kebersihan hatimu.”
“Terima kasih,” sahut Jaka terharu.
“Lalu dimana dua benda itu?” tanya Ayunda pada kakeknya.
“Tentu saja di Gunung Api, bocah bodoh!” jawab Ki Lukita sambil tertawa.
“Kalau begitu kita harus cepat-cepat kesana!” usul Andini bersemangat. Jaka tersenyum rikuh, ucapan gadis itu benar-benar membuatnya kelabakan. ‘Kita’ berarti mereka berlima yang akan datang ke gunung api, kalau sudah sampai di tempat terpencil itu lalu kesasar bagaimana selajutnya? Wah, bersama empat gadis jelita ditempat sunyi bisa mendatangkan setan, apalagi kalau sempat ada acara kesasar segala, bisa gawat… pikir Jaka.
“Kalian berempat tidak bisa ikut!” kata Ki Glagah tegas.
“Kenapa kek?” tanya Pertiwi, agaknya gadis itu adalah cucu Ki Glagah.
“Menurut cerita sesepuh, dari kaki gunung sampai tempat tetirah kakek buyut kalian itu, dipasang beragam formasi barisan penjebak. Makin ke atas makin sulit… bagi orang yang tidak tahu semua barisan atau tahu hanya sedikit, seumur hidup tidak akan bisa keluar! Gunung api itu seolah-olah diperuntukkan pewaris asli dari ketujuh tokoh sakti itu.”
“Tapi Jaka kan bisa membawa jalan buat kami.” Bantah gadis itu masih membandel.
“Aih, anak bodoh.. apakah kau kira kakang seperguruanmu ini bisa menggendong kalian berempat dari kaki gunung sampai puncaknya?” ujar Ki Glagah membuat wajah empat gadis itu merah jengah.
“Kenapa mesti begitu?” tanya Pertiwi masih membadel.
“Karena jika salah selangkah saja atau berselang selangkah dari garis hidup barisan yang menjadi jalan, maka kalian akan tersesat entah kemana. Dan tiap garis hidup itu hanya ada satu jalan untuk satu orang. Jadi tak mungkin Jaka memanggul kalian semua seperti barang!”
Akhirnya Pertiwi menyerah, walaupun dalam hatinya—mungkin dalam hati gadis lainnya—merasa penasaran karena tidak bisa mengikuti Jaka.
“Jadi harus ada dua benda itu ya?” gumam Jaka.
“Benar,” Ki Gunadarma menjawabnya. “Kukira, dua benda itu mungkin sudah diperuntukkan buatmu Jaka, kalau bukan orang yang benar-benar menguasai tujuh barisan kuno dan pecahan barisan lain, jangan harap bisa mendapatkannya. Bahkan murid-murid tujuh tokoh sakti itu belum pernah menginjakkan kaki di bangunan utama yang menjadi tempat tetirah guru mereka.”
“Tapi, bukankah kedua benda itu tidak sangat penting?” tanya Jaka.
“Dalam kasusmu memang, tapi untuk mengikat kepercayaan sesama anggota, ini menjadi penting. Tapi kalau yang kau maksud dua benda mustika itu menjadi tidak penting… karena kau tak mungkin langsung mengambilnya, itu benar.”
“Maksud saya memang itu… mungkin entah berapa lama lagi baru saya ambil. Masih banyak persoalan yang harus saya selesaikan.”
“Tak masalah kalau begitu.” Seru Ki Benggala.
Jaka menghela nafas, rasanya ia tidak sepepat tadi. Kepalanya menunduk, dan melihat kedua telapak tangannya yang masih berwarna merah darah.
“Mengenai mencari anggota baru… apakah selain kami mereka yang beranggota paling sedikit dua belas orang, merekrut anggota dari luar? Apa tidak kawatir kalau-kalau anggota itu mengetahui rahasia perkumpulan ini dan membelot?”
“Pertanyaan bagus.” Kata Ki Glagah. “Tentu saja mencari anggota tambahan, dibutuhkan orang dari luar perkumpulan. Kau jangan salah paham Jaka, mereka—anggota baru, bahkan sama sekali tidak paham—tidak mengetahui adanya perkumpulan ini, jadi cuma anggota keluarga perkumpulan ini saja yang tahu.”
“Oh, dengan kata lain semuanya memang masih keluarga? Lalu bagaimana dengan murid-murid dari tetua sekalian, mereka kan bukan keluarga?”
“Benar, tapi mereka memiliki kesetiaan, dan lagi dengan suka rela mereka menelan pusaka racun keluarga ini sebagai tanda kesetiaan.”
“Pusaka racun?”
“Ya, sejenis obat beracun yang memiliki jangka satu tahun sekali kambuh total, dan tiap dua puluh hari harus menjalankan pernafasan yang kami ajarkan—supaya racun itu tidak menyakiti badannya. Kami tidak memaksa mereka, tetapi mereka dengan suka rela menelannya sendiri.”
“Rasanya kurang adil?”
“Memang. Tentu saja kami tidak sekejam itu. Semua murid yang kami miliki adalah orang yang kami pungut sejak kecil, mereka adalah orang-orang pilihan. Mereka tidak punya orang tua lagi, karena itu mereka menganggap kami sebagai orang tuanya. Dan mengingat hal itulah, pusaka racun kami cabut jauh-jauh hari—itu kejadian puluhan tahun yang lalu.” Tutur Ki Glagah menerangkan, ia melirik pada Ki Alit Sangkir. Orang tua itu tampak mengangguk.
“Kalian tahu, kenapa tangan kalian masih merah?” tanya Ki Sugita.
Muda-mudi ini menggeleng bersamaan.
“Itu semua karena pengaruh salah satu pusaka racun.”
“Bubuk yang ditaburkan tadi?” tanya Andini.
“Benar, dan ini penangkalnya…” Ki Sugita mengambil bungkusan dari tangan Ki Alit Sangkir.
“Kenapa eyang memberi kami pusaka racun?” tanya Ayunda berkerut kening.
“Karena satu-satunya murid yang tidak diambil sejak kecil adalah Jaka. Maka menurut peraturan, dia harus menerima pusaka racun sebagai antisipasi jika berkhianat…”
“Tapi bagaimana mungkin berkhianat kalau…”
“Itu antisipasi anakku.” Potong Ki Sugita sambil tersenyum mendengar pembelaan cucunya—Diah Prawesti, terhadap Jaka. Gadis ini merasa jengah, ia menunduk lagi.
Jaka dari tadi cuma diam, ia tidak menanggapi cerita ‘tangan masih merah’.
“Jadi kali ini Aki sekalian mau memunahkan racun itu?” tiba-tiba saja Jaka memotong perkataan Ki Sugita.
“Benar.”
“Saya rasa tidak perlu…” sahut Jaka.
“Hei.. kau jangan begitu, biarpun kau tahu segala macam racun, untuk yang satu ini harus dengan penangkal dari kami.” Seru Ki Lukita kawatir.
“Guru jangan kawatir, guru kira untuk apa saya mesti meneteskan darah banyak-banyak? Itu semua sebagai penangkal pusaka racun.”
“Ha…” semua terkejut dengan pengakuan Jaka. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Guru lupa? Karena belajar pertabiban, mau tak mau hidung saya jadi sangat peka terhadap racun dan obat.”
“Maksudmu?”
“Saya bisa mencium bau racun dan obat dari jarak tertentu.”
“Hebat, bukankah darahmu tidak mengandung apa pun? Maksudku tidak mengandung mustika yang bisa melebur racun?”
Jaka terdiam sesaat ia ragu mengutarakan. “Memang benar, tapi sisa lima racun yang masih ada di tubuh saya…”
“Maksudmu yang kemarin malam?” potong Ki Gunadarma.
Jaka mengangguk, “Sisa lima racun itu menjadi penangkal kuat bagi beberapa racun paling ganas, termasuk yang memiliki reaksi lambat seperti bubuk tadi.”
“Tapi kan belum tentu sesuai?” ujar Ki Benggala.
“Memang, semua tergantung panjang pendeknya jangka racun. Dan itulah yang membuat sisa racun dalam tubuh saya bisa menjadi penangkal semua racun.”
“Oh, aku mengerti!” seru Pertiwi. “Karena bubuk pusaka racun tadi, ditaburkan dalam waktu yang pendek. Apalagi sebelumnya engkau sudah mengeluar-kan darah sebagai penetralisir.”
“Anak pintar.” Puji Jaka tersenyum. Pertiwi tersenyum masam mendengar pujian Jaka.
“Jadi penangkal ini tidak perlu?” tanya Ki Sugita.
“Berikan saja pada mereka Ki..” kata Jaka menunjuk keempat gadis yang disebelahnya. Sebenarnya mereka juga tidak keracunan, karena sudah ditawarkan darah Jaka, tapi warna merah dalam tangan kalau tidak di hilangkan tentu membuat mereka sebagai gadis merasa malu.
Ki Sugita segera mengoleskan ramuan penawar itu pada Andini, Pertiwi, Diah dan Ayunda, dalam sekejap saja warna merah itu hilang.
“Kau harus tahu Jaka, warna merah itu tidak bisa dihilangkan walau dengan cara apapun sebelum tiga hari.” Ujar Ki Lukita.
“Meski dengan tenaga panas?”
“Meski dengan tenaga panas!” Ki Lukita mengangguk menandaskan.
Jaka tersenyum, dan dia memandang tangannya, lamat-lamat warna merahnya memudar dan akhirnya hilang sama sekali.
Ki Lukita melegak sejenak. “Dasar..” gerutunya, dia tertawa. Suasana jadi hangat kembali, semua pihak sudah bisa menerima kondisi masing-masing, jadi tidak ada yang perlu dicemaskan.
Mendadak terlintas pertanyaan aneh di benak Jaka. “Paman, apa memang sesulit itu untuk menguasai barisan kuno?”
Ki Gunadrama dan Ki Benggala saling pandang. “Ah, kau ini…” desah Ki Gundarama sambil tersenyum. “Kalau memang mudah menguasainya, tidak akan ada empat perkumpulan Garis Tujuh, tak bakal mereka dibagi dalam menguasai tiap barisan. Kalau memang mudah menguasai barisan itu, tak mungkin selama dua abad lamanya ketujuh barisan itu disohorkan sebagai barisan kuno yang hebat dan dahsyat? Diantara kami berdelapan saja, masing-masing hanya sanggup menguasai satu barisan yang ada, dari dua barisan yang dipilihkan. Orang pertama sampai keempat menguasai Lima Langit Menjaring Bumi dan sisanya menguasai barisan Langit Tunggal. Sedangkan keturunan serta murid-murid kami juga hanya menguasainya satu-satu, itupun belum tentu bisa, seharusnya kami mempertanyakan kemampuanmu itu, bagaimana kau bisa menguasainya dengan matang ketujuh barisan itu? Padahal umurmu baru 20-an tahun!”
Jaka menggaruk kepalanya. “Entahlah paman, saya mempelajari sama halnya dengan orang lain belajar, saya cuma membaca dan menelaah saja.” tuturnya polos.
“Wah, hebat… saat aku mempelajari formasi Lima Dewa Menjaring Bumi harus memakan waktu tiga tahun, hanya untuk mencernanya,” kata Ayunda menatap Jaka dengan kekaguman berlipat ganda. Begitu juga dengan yang lain.
“Itu juga sudah hebat, dibanding orang lain, kau termasuk jenius.” Puji Jaka menimpali, dia merasa risih jika dipuji-puji seperti itu.
“Aku penasaran dengan caramu mempelajarinya Jaka..” ujar Ki Lukita.
Pemuda ini menghela nafas panjang. “Tak ada trik khusus. Tapi memang ada satu dasar pemikiran saya yang mungkin berbeda dengan orang lain,”
“Apa itu?” tanya empat gadis cantik yang kini resmi jadi anggota Jaka, dengan serempak.
Jaka yang ditodong dengan pertanyaan setelak itu tersipu-sipu. “Setiap ilmu yang terdapat di muka bumi ini bukankah kembangan dan ciptaan manusia sendiri, yang diamati langsung dari alam? Karena itu saya selalu berpendapat, kalau orang lain bisa mencipta sebuah ilmu mengapa saya tidak?! Dengan demikian, mudahlah bagi saya mempelajari sesuatu dan mencipta sesuatu.” Tutur Jaka menjelaskan.
Delapan tetua menghela nafas gegetun, Tiap orang juga berpikir begitu, hanya saja sampai sejauh mana daya pikir, dan daya cipta memang tiap orang ada batasannya. Entah dengan pemuda yang satu ini, pikir mereka.
“Jaka.. kalau boleh, kami ingin tahu darimana kau peroleh semua kitab-kitab berharga itu?”
”Sudah saya katakan, semua kitab berada di perpustakaan saya,” kata Jaka setengah mengumam, agaknya ia memang sedang memikirkan hal lain. “Tapi memang ada keanehan, kakakku… dia juga seorang kutu buku dan suka silat, tapi kenapa dia tidak menemukan kitab-kitab itu, padahal hampir tiap hari dia pergi ke perpustakaan. Saya bahkan merasa kitab itu diberikan oleh seseorang, dengan perantara orang dalam…”
Penjelasan Jaka yang setengah menggumam itu membingungkan orang. “Jadi maksudmu kitab itu seolah-oleh dikirim orang lain, kusus diperuntukkan bagimu?” tanya Ki Glagah.
“Benar Ki! Dan karena pertanyaan Aki-lah baru sekarang saya sadar.” tentu saja lika-liku kejadian sebenarnya tidak Jaka ceritakan.
“Kira-kira siapa yang kau curigai memberikan kitab itu padamu?” tanya Ki Sugita.
“Entahlah…” sahut Jaka sambil menerawang. “Mungkinkah beliau?” gumam pemuda ini setengah tak percaya.
“Siapa?” tanya mereka serempak.
“Seorang kakek yang bekerja di istal kuda di rumahku. Dari lisannya, saya memperoleh banyak nasehat berharga, kalau kuingat-ingat rasanya kakek itu tidak cocok bekerja seperti itu, dia lebih cocok jadi seorang yang selalu ditaati orang lain. Tapi, mungkin cuma sangkaanku saja.”
“Coba kau terangkan ciri-cirinya.” Pinta Ki Glagah.
“Berusia sekitar tujuh puluh tahunan, wajahnya terang, seperti seorang piyayi, ada bekas luka yang menggaris dari dahi kiri sampai pipi kanan. Biarpun sudah tua, tapi masih tangkas bekerja, tak ada yang memperhatikan keanehan itu. Ya-ya…” seru Jaka tersentak sambil memukul pahanya. “Aku ingat, dulu aku pernah terjatuh dari lereng bukit, tapi entah kenapa tiba-tiba saja sudah berada di kamar… menurutnya, aku hanya mimpi dan jatuh dari tempat tidur, padahal aku yakin sekali. Karena saat itu aku sedang bermain di bukit belakang rumah, ya-ya… semua itu terjadi waktu aku berusia enam tahun.” Jaka berbicara seolah tidak berhadapan dengan orang, pemuda ini sedang mengingat hal-hal yang janggal. Jaka mengerutkan kening, membayangkan masa lalunya.
Kiri setengah langkah, kanan melompat, kiri menendang kanan menyapu, pikir Jaka mengulang-ulang perkataan itu. Ya Tuhan… benar, memang benar! Memang kakek itu! Rupanya sejak kecil dialah yang mendidikku belajar ilmu silat, hanya saja di luarnya beliau selalu mengatakan kalau itu olah tubuh supaya badan tetap sehat.
Mereka saling pandang, para tetua memahami-nya, mereka membiarkan Jaka bergelut sendiri dengan pikirannya. Kelihatannya perasaan pemuda ini sedang tegang. Tapi setelah sekian lama, Jaka hanya terlihat merenung saja.
“Jadi memang benar dia orangnya?” tanya gurunya.
“Ya, saya yakin!” sahut Jaka singkat.
“Ehm, dari ciri-ciri yang kau tuturkan, aku tidak tahu kalau ada tokoh seperti itu, kemungkinan besar dia sedang menyamar, tak mungkin dia tampil dalam wujud aslinya, mungkin ada sesuatu yang dihindarinya.”
Jaka menyetujui pendapat Ki Alit Sangkir, “Kalau begitu apakah beliau ada hubungannya dengan Dewan Pelindung Ilmu Mustika?”
“Mungkin ada, mungkin tidak,” jawab Ki Alit Sangkir mengambang. Kelihatannya ada yang ia pikirkan.
“Apakah dalam masa dua puluh tahun belakangan ini ada peristiwa besar yang berkaitan dengan Dewan Pelindung?”
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Kalau begitu aneh… berarti tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk,” ujar pemuda ini.
“Bukankah lebih baik lagi kalau ditanyakan langsung?” tanya Ayunda.
“Memang,” sahut Jaka. “Tapi aku yakin, beliau sudah tidak ada di rumah lagi, beliau pasti sudah pergi. Karena ia menyadari lambat laun aku bisa mengetahui kejanggalan dirinya.”
Ayunda setuju dengan jawaban Jaka. “Jadi apa yang akan kau lakukan?”
“Sudah terlanjur memasuki berbagai babak persoalan besar, aku mesti mengurusnya hingga selesai. Masalah siapa aku ini, bisa diurus belakangan.”
“Kau tidak kawatir terlambat?” tanya Ki Lukita.
“Maksudnya?”
“Andai saja sampai saat ini orang tua kandungmu masih hidup dan pada saat kau menemukannya mereka sudah tiada bagaimana?”
Jaka tergetar, seteguh apapun hatinya, memang sulit untuk membendung keinginan hatinya untuk bertemu dengan mereka yang membuat dirinya ada didunia, orang tuanya!
Dengan menghela nafas panjang, pemuda ini menggeleng. “Untuk saat ini belum dapat saya mencarinya, memang kemungkinan yang dikatakan guru bisa saja terjadi. Tapi biarlah Tuhan yang mengatur segalanya, namun saya berharap masih banyak kesempatan untuk berjumpa dengan kedua orang tuaku!” Ujar pemuda ini sudah kembali tenang. Sementara Ki Lukita bisa tersenyum lega, nampaknya perasaan sang murid sudah kembali seperti semula.
“Lalu kapan akan kau cari kedua orang tuamu?” tanya Pertiwi sambil menatap Jaka dengan pandangan iba, juga bercampur pandangan yang menyiratkan perasaan lain.
Jaka tersenyum—kebiasaannya muncul. “Aku tidak akan melepaskan burung di tangan, untuk mengejar burung di udara. Soal yang kini kuhadapi, sudah tahu bagaimana penyelesainya, jadi mustahil kutinggal. Urusan mencari jejak orang tuaku biarlah kutangguhkan untuk dua-tiga bulan ini, semoga masih sempat.”
“Semoga! Kudoakan mudah-mudahan berhasil.” Tukas Pertiwi tulus.
“Terima kasih, doa gadis cantik pasti manjur,” kata Jaka berseloroh.
“Huu..” Sungut Pertiwi mencibir. Sementara Diah yang memang jarang berbicara, hanya memperhatikan Jaka sesekali. Cerita Jaka yang satu ini membuat dirinya merasa bersimpati padanya. Padahal saat bertemu pertama kali dengan Jaka—saat Jaka ditanya satu persatu anggota perkumpulan, Diah memandang Jaka seperti halnya dia memandang lelaki lainnya, ia hanya kagum dengan kesabaran pemuda ini. Tetapi kini ia sadar, ada sesuatu yang sedang berkembang dalam hatinya. Dan ini membuatnya gelisah, ia merasa tak nyaman, perasan seperti itu ingin ia buang, tapi begitu terbetik pikiran semacam itu, ia merasa berat. Barulah ia sadar kalau selama ini hatinya kosong, dia membutuhkan harapan seperti itu untuk menunjang hidupnya. Dan harapan itu sudah datang…
“Eh, tadi kau bilang sudah tahu bagaimana penyelesaiannya?” tanya Ayunda dengan alis berkerut.
“Ya, tapi hanya dalam perkiranku saja. Kalau tak ada kejadian di luar dugaan, semua kekacauan ini tidak akan berlangsung lama.”
“Kau yakin?” tanya gadis ini memastikan.
“Ya, apalagi jika kalian mau membantuku.”
“Dengan senang hati, kami kan sudah menjadi anggotamu.” Kata Ayunda mengingatkan, tiga saudara Ayunda juga mengangguk membenarkan.
“Jaka,” Ki Gunadarma buka suara, setelah sekian lama ia diam.
“Ya,”
“Waktu pertemuanmu dengan banyak orang di Kuil Ireng, aku mengikuti diam-diam, apa yang kau bicarakan dengan orang berkedok itu, aku tidak paham, bisa kau jelaskan?”
“Saya juga ingin menjelaskannya paman, tapi tak bisa… sebab ini sudah kesepakatan kami. Bukan karena saya tak ingin mengemukakan pada semuanya. Karena sedikit orang yang mengetahuinya, maka lebih baik.”
Ki Gunadarma memahaminya, tapi dia merasa kecewa. “Kalau begitu kuharap kau tidak keberatan menjawab keherananku mengenai Tumis Ikan Arang yang kau bicarakan dengan orang itu…”

—ooOoo—

39 – Muasal Tenaga Semu

Jaka tersenyum, tapi orang lain terheran-heran. Mereka tidak tahu, apa hubungan rencana Jaka dengan sebuah masakan? Ikan Arang pula?! Tetua lainnya juga terheran-heran, rupanya Ki Gunadarma belum menceritakan bagian rencana Tumis Ikan Arang itu.
“Saya sudah berjanji tidak menceritakannya, tapi saya akan memberi isyarat pada paman, jadi paman sendiri yang menebak.”
“Baiklah!” seru Ki Gunadarma bersemangat.
“Paman kan seorang pemilik rumah makan, tentu tahu keistimewaan Tumis Ikan Arang bukan?”
“Biarpun belum pernah mencoba, sedikit banyak aku tahu tentang masakan itu.”
“Bagus, saya tidak perlu menjelaskannya lagi. Sekarang apa yang dapat paman perkirakan, apabila ada masakan hangus?”
“Sudah tentu dibuang!”
“Dan?”
“Tentu sudah tak berguna, kucingpun enggan mengendus masakan hangus.”
“Tepat, coba paman kaitkan sendiri dengan rencana saya.”
Ki Gunadarma mengerutkan keningnya, dia berpikir keras. “Kalau begitu yang kau maksud sebagai ikan adalah mereka dari perkumpulan entah apa itu?”
Jaka tidak menjawab tapi ia tersenyum, dan itu sudah merupakan isyarat bagi Ki Gunadarma bahwa tebakannya tepat.
“Kau akan memasaknya… maksudku api besar yang membakar mereka itu akan membuat ‘ikan-ikan’ hangus, kau datang mengumpulkannya, dan menampung ikan-ikan itu untuk dimasak. Tapi, datangnya api besar itu, belum dapat kutebak.”
Jaka tak menanggapi, ia tersenyum.
“Kalau begitu, artinya kau memanfaatkan tenaga musuh untuk menghantam kelompok mereka sendiri?”
“Paman hebat…” puji Jaka, dan itu merupakan jawaban buat Ki Gunadarma.
“Oh, tahulah aku!” seru lelaki paruh baya itu. “Dengan semua rencanamu itu, kau akan membuat orang-orang yang bergerak rahasia saling serang satu sama lain! Rencana luar bisa!”
“Ayah… apa maksudnya rencana ikan hangus? Jelaskan pada kami semua,” pinta Andini.
“Mana bisa kujelaskan, bukankah Jaka tidak mau menjelaskannya pada kita?”
Andini merengut, mulutnya terbuka, rupanya dia akan merayu ayahnya, tapi Jaka mendahului bicara.
”Kali ini saya toh tidak memberitahu paman, paman sendiri yang menebak rencana saya. Tentu paman boleh menjelaskan pada yang lain, karena itu buah pikiran paman sendiri.”
“Baiklah, kuharap kau memberi tanda jika uraianku ada yang salah.”
Jaka tak menjawab.
Kemudian Ki Gunadarma mengisahkan semua kejadian yang ia saksikan dari pertama sampai terakhir, termasuk urusan Jaka dengan Mahesa Ageng, Seta Angling berserta paman gurunya dan Si Kedok. Semua di ceritakan, dan itu membuat Jaka jengah, seakan dirinya sedang dipromosikan Ki Gunadarma.
“…begitulah, apa yang direncanakan Jaka dengan orang kedok adalah cara menggulung perkumpulan misterius—setidaknya perkumpulan yang ada di kota Pagaruyung. Dan rencana ikan arang yang dimaksud Jaka adalah, menggunakan jasa tenaga orang-orang perkumpulan gelap untuk memukul balik kawannya sendiri.”
Mereka paham dengan penjelasan itu. “Tapi ayah, rencana ikan hangus itu,” kata Andini seraya tersenyum geli. “Penjelasan ayah baru garis besarnya saja, aku tidak paham …”
“Ayah juga tidak begitu jelas, tapi biarlah ayah coba memperkirakannya. Begini, dengan cara membuat orang-orang dari perkumpulan itu merasa terbuang dari kelompoknya sendiri—ini yang dimaksud dengan terbakar hangus—Jaka akan memanfaatkan mereka dan menampung mereka—ini yang dinamakan dengan membumbui masakan hangus atau menumisnya—akhirnya Jaka akan menggunakan tenaga mereka untuk menyerang kelompoknya sendiri. Tentu saja ayah tidak tahu rincinya, singkatnya… entah dengan cara apa, Jaka akan membuat sekelompok oranisasi rahasia saling baku hantam. Dan pada saatnya Jaka datang untuk membantu mereka—pihak yang kalah. Mereka yang merasa dirugikan tentu akan datang untuk membalas dendam dengan dipelopori Jaka dan Si Kedok. Itulah garis besar rencana tumis ikan arang.”
Jaka tak memberikan isyarat, cuma terlihat berkerut kening—mungkin artinya, apa yang diceritakan Ki Gunadarma ada benarnya. Memang kira-kira seperti itulah rencana Jaka, tapi masih ada sebagian besar yang tak terungkap, tentu pemuda ini tidak akan mengungkapnya.
“Wah, kelihatannya apa yang kau persiapkan dalam satu hari ini benar-benar persiapan jangka panjang buat kami, Jaka.” Kata Ki Glagah mengakui kehebatan semua rencana Jaka—biarpun tidak secara langsung diceritakan olehnya.
“Ah, cuma kebetulan Ki, mumpung ada api besar, muncul pula angin kencang yang sewaktu-saktu jadi badai, kenapa tidak dimanfaatkan?”
“Kau benar, tapi bagi orang lain, belum tentu dapat membaca situasi secermat dirimu..”
“Ah, saya rasa tiap orang bisa melakukannya,” tukas Jaka cepat-cepat, agar Ki Glagah tidak sibuk menyanjung terus. “Lagi pula semua itu juga terpulang dari guru. Jika saya tidak menjumpai beliau… belum tentu saya datang ke Telaga Batu dan berjumpa dengan orang-orang Perguruan Naga Batu.”
“Jadi, persoalan kemunculan organisasi misterius, bisa diatasi sementara.” Kata Ki Benggala, menolong Jaka dalam suasana canggung. “Persoalan penting yang harus kita cermati sekarang adalah, bagaimana membuat Jaka bisa bertarung tanpa menggunakan ilmu mustika. Bukan mustahil kau akan terlibat pertempuran keras lawan keras dengan orang yang kau temui Jaka.”
Pemuda ini membenarkan.
“Bukankah dengan tiga ilmu yang kau lebur itu bisa diandalkan?” tanya Andini.
“Memang bisa, tapi jika sudah benar-benar terlebur. Itupun hanya berlaku untuk tenaga yang kugabung saja. Mengenai jurus serangan, aku belum sempat memikirkannya, menurutku gerakan atau kembangan jurus tidak terlalu penting.”
“Menahan serangan tanpa serangan?” Tanya Diah dengan kening berkerut.
Jaka tersenyum. “Jika serangan tak mengenai sasaran, bukankah itu lebih baik bagiku?”
“Tapi tidak selamanya hal itu terjadi.”
“Ya… tapi butuh banyak waktu untuk membuat gerakan baru. Dalam pertarungan nanti, bisa saja aku ngawur mengeluarkan sembarang jurus, namun hasilnya akan jauh dari harapan sebab jurus ngawur belum tentu dapat dipetik manfaatnya dalam suatu kondisi tertentu.”
Ah, anak ini bicara membuat jurus seperti membeli nasi saja, apakah semudah itu? Aku yang tua saja butuh waktu untuk membuat rangkaian ilmu yang bagus mutunya. Pikir delapan tetua saling berpandangan kagum juga heran.
“Jurus yang kau maksud itu bagaimana?” Tanya Pertiwi.
“Seperti, serangan refleks. Jika ada orang memukulmu, dengan segera kau menangkis, atau membalas. Begitu maksudnya…”
“Kalau dasarnya kuat, jurus asal-asalan juga termasuk berbobot, mungkin bisa membingungkan musuh.”
“Itu hanya teori. Hasilnya belum tentu begitu, terus terang saja selama ini aku belum pernah bentrok keras lawan keras. Aku lebih suka menghindari perkelahian,” kilah Jaka.
“Tapi saat sekarang ini mana bisa kau terapkan teori seperti itu?”
”Benar! Karena itu bila kau tidak keberatan, aku ingin kau mengajariku ilmu silat dasar yang kau kuasai dengan sempurna.”
“Kenapa tidak minta pada ayahku?”
“Seharusnya demikian, tapi untuk mempelajari ilmu silat dari tingkatan yang sudah matang seperti yang dimiliki paman Gunadarma, butuh waktu banyak untuk mengambil pokok gerakannya, karena itu lebih baik aku mencari yang masih muda,” Ucapan Jaka itu membuat wajah Andini bersemu, mulutnya menjengit hendak mengomel.
“Eh, jangan salah sangka, maksudku adalah mencari yang dasarnya belum lama terbentuk, walau menurutmu itu sudah sempurna. Padahal, belumlah sekokoh milik paman Gunadarma, atau tetua lain. Dengan begitu akan mudah menyerap, dan mungkin mencipta jurus-jurus baru.”
”Oh,” ujar Andini paham. “Apakah apa yang dipelajari Ayunda, Diah, dan Pertiwi juga dibutuhkan?”
“Kalau dasar ilmu silat mereka tidak sama, aku membutuhkannya, tentu kalau mereka setuju…”
“Aku setuju.” Jawab Ayunda cepat-cepat. Pertiwi juga menjawab hampir bersamaan. Hanya Diah yang berlaku tenang, tapi ia terlihat mengangguk.
Delapan Tetua yang melihat tingkah muda mudi itu tersenyum geli, Kelihatannya perang asmara sudah mulai… pikir mereka sambil membayangkan apa yang terjadi kalau Jaka memberi perhatian lebih, pada satu gadis diantara keempatnya.
“Kalau begitu, alangkah baiknya kalau dimulai sekarang.” Kata Ki Benggala mengusulkan.
“Benar,” sahut Ki Lukita menyetujui.
Mereka berdiri, dan akan segera keluar. Tapi tiba-tiba saja Ki Wisesa berpaling kearah Jaka.
“Ada yang ingin kutanyakan,” Kata orang tua ini. Mereka yang tadi hendak beranjak, menghentikan langkah, kembali duduk untuk memperhatikan percakapan itu.
“Silahkan Ki,”
“Tadi kau bilang, engkau dapat menciptakan atau membuat tenaga dalam setara dengan hasil latihan selama dua ratus tahun tanpa bantuan mustika, apa itu benar?”
Jaka menghela nafas, “Apa yang saya katakan tadi anggap saja omong kosong.”
“Tidak bisa.” Seru Ki Wisesa. “Seandainya aku ingin menganggap ucapanmu hanya bualan saja, itupun tak masalah, tapi dengan bukti bahwa kau bisa mengerahkan tenaga lebih dari yang kami miliki, rasanya sudah cukup alasanku untuk mengajukan pertanyaan seperti itu.”
Jaka menghela nafas panjang, “Yah, anggap saja benar, cuma… sejauh ini saya cenderung berfikir kalau hasil yang saya peroleh adalah kebetulan.”
“Kok..?”
“Memang tenaga murni yang hampir saya keluarkan adalah tenaga murni setara dengan hasil latihan dua ratus tahun. Tapi tenaga itu adalah Tenaga Semu..”
“Tenaga Semu?” seru semuanya bersamaan, tentu saja mereka heran, sebab selama ini di dunia persilatan mana ada istilah yang berkaitan dengan tenaga dalam, dengan nama Tenaga Semu.
“Benar!”
“Kenapa bisa disebut Tenaga Semu?” tanya Ki Wisesa.
“Karena tenaga itu hanya bisa digunakan dalam satu waktu tertentu saja, tidak bisa terus terus-menerus, karena itulah dinamakan Tenaga Semu.”
“Apakah Tenaga Semu itu kau peroleh dari kitab pertabiban?” tanya Ki Lukita dengan kagum, sebab dia mendapatkan seorang murid yang benar-benar luar biasa.
“Ya dan tidak,” jawab Jaka ngambang.
“Apa maksudnya? ”
“Tenaga Semu adalah hasil pemikiran saya sendiri, sedangkan ide itu, saya dapatkan setelah membaca kitab pertabiban, di sana banyak terdapat teori.”
Ki Lukita mengumam paham.
“Tapi, kenapa harus bernama Tenaga Semu?” tanya Ayunda.
“Sesuai dengan namanya, menggunakan Tenaga Semu tidak semudah menggunakan tenaga murni yang dapat kita latihan sejak kecil. Karena Tenaga Semu merupakan ledakan tenaga yang dihasilkan oleh otot, sendi, tulang dan syaraf dan kemudian disalurkan keluar dengan serentak.”
“Ehm, ledakan dari syaraf itu bagaimana, beri contoh satu saja.” Pinta Pertiwi.
Jaka termenung sesaat. “Begini, kita misalkan saja kelopak mata. Kita bisa membuka dan menutup kelopak mata karena kita punya tenaga. Dan semua itu disalurkan lewat, darah yang berada pada syaraf. Nah… dari hal-hal seperti itu, seluruh tenaga dikumpulkan pada satu titik… tangan misalnya, untuk kemudian dilontarkan atau digunakan bagi hal lain.”
“Rumit sekali.” Gumam Diah.
“Memang,” sahut Jaka. “Kesalahan sedikit saja dari penarikan tenaga lewat seluruh saraf bisa membuat orang cacat atau lumpuh total. Perlu diketahui pelontaran tenaga seperti itu, bisa mematikan fungsi saraf yang bekerja, misalnya pada syaraf kelopak mata. Saking bahayanya tahapan ini, orang yang harus menjalani latihan ini juga harus dalam kondisi di antara hidup-mati. Untung saja tahapan itu sudah bisa kulewati dengan baik.”
“Hh…” mereka yang mendengar terkesip kagum, sampai-sampai tanpa sadar menghela nafas.
“Tahap hidup mati?” tanya Ki Alit Sangkir.
“Benar.”
“Seperti apa tahapan itu?”
“Ya..” Jaka merasa sulit menceritakannya. “Tahapan itu tidak bisa dikatakan bisa tercipta oleh kita sendiri. Sebab bagaimanapun juga, manusia selalu memiliki keinginan untuk hidup, selama dia bernafas itulah keinginan hidupnya. Dan tahapan hidup mati ini datang jika memang takdir menghendaki.”
“Oh, jadi…”
“Ya,” Potong Jaka. “saya sudah mengalaminya.” Ujarnya dengan tatapan mata menerawang. “Bahkan berkali-kali.” Sambungnya dengan suara datar, tak teraba artinya.
“Berkali-kali…” desis Diah tiba-tiba seperti teringat sesuatu.
Jaka menoleh ke arahnya, ia mengangguk.
“Seperti misalnya hampir mati di dasar laut?” tanya si gadis.
Alis Jaka terangkat, tapi dia mengangguk.
“Kau mengalami hal-hal seperti itu?” tanya gurunya.
“Ya, dan tidak bisa dibanggakan. Karena itu saya mengatakan kalau ilmu ini didapatkan kebetulan, atau mungkin sudah takdir, hanya Tuhan yang tahu.”
Saat yang lain sedang terpekur berfikir, tiada yang memperhatikan Diah, gadis wajah pucat ini merona berulang kali. Seolah ada kejadian yang mengoncang hatinya. Ekor matanya secara sembunyi-sembunyi juga berulang melirik Jaka.
“Kau hampir mati di dasar laut?” desisnya hanya bisa didengar dirinya. Ekor matanya kembali melirik Jaka. Bola mata si gadis yang jernih kini terlihat berbinar. Jika ada yang cermat memperhatikan dirinya, maka akan mendapati kenyataan, bahwa gadis ini tidak sepucat sebelumnya.
“Tapi sejauh ini, kau tidak apa-apa menguasai ilmu itu?” terdegar oleh Diah, Ki Glagah bertanya.
Jaka mengangguk. “Cuma kata menguasai tidak dapat saya terima, karena yang saya kuasai, belum lagi sempurna.” Sambung pemuda ini.
Kini perhatian Diah sudah kembali terfokus, pikirannya tidak melayang-layang lagi.
“Belum sempurna?!” pekik Ayunda kaget. Tapi disisi lain ia juga… bangga, entah kenapa dia merasa bangga terhadap Jaka, benar-benar perasaan yang mengganggu, tapi membuatnya merasa lebih sempurna menjalani hidup ini, perasaan anak perempuan memang sulit ditebak.
“Benar, memang belum sempurna, jika sudah sempurna tenaga yang dikeluarkan entah setara dengan apa aku juga tidak tahu… mungkin sebesar seribu tahun hasil latihan, mungkin malah tidak daya… entahlah, aku juga tak ingin tahu.”
”Ah..!” semua orang tercengang. Udara untuk sesaat seperti tersirap karena terkejut, begitu pula dengan semua orang di dalam ruangan itu.
Sebagai perbandingan, yang dimaksud hasil latihan adalah, apa yang didapat seorang pesilat saat berlatih dalam jangka waktu tertentu. Dan sebagai ukuran—bagi pesilat sejati—satu tahun latihan bisa menambah tenaga dalam/hawa murni—jika diukur pada daya pukulan, paling tidak sepuluh sampai duapuluh kati (1 kati=1 kilo). Daya sebesar itu, berbeda dengan tenaga tekanan secara fisik, yang membedakan adalah daya rusaknya. Jika pukulan orang awam, maksimal bisa mencapai empatpuluh kati, saat terkena, langsung dapat dirasakan… dan lukanyapun terbatas luka luar—terlepas apakah bagian dalam kena atau tidak. Jika pukulan dalam, proporsi lukanya lebih parah, dan baru disadari beberapa saat kemudian. Perbedaan mendasar lain adalah, pada tenaga dalam; makin lama berlatih, daya yang terkandung makin besar. Pada tenaga fisik/tenaga luar… berapa lama-pun kau berlatih, kemajuannya tak seberapa.
Pada kasus Jaka, untuk menambah tenaga dalam sebesar itu harus dilewati dengan latihan berat dan sungguh-sungguh. Bisa dibayangkan andai ada orang yang memiliki tenaga dalam setara hasil latihan seribu tahun, maka kekuatan tenaga murninya sama dengan sepuluh sampai duapuluh kati di kali seribu, yakni sepuluh ribu sampai duapuluh ribu kati. Sungguh sebuah kekuatan yang sulit dinalar dan akibatnya tentu saja bisa dibayangkan, dengan kekuatan seperti itu, seseorang dapat menghancurkan sebuah bukit atau gunung kecil dengan beberapa hantaman saja!
Semua tercekam membayangkan, seandainya Jaka benar-benar memiliki tenaga sebesar itu.
“Kalau begitu, menuju tingkat tanpa tanding?” ujar Pertiwi kagum, setelah sekian lama mereka diam.
“Entahlah, mungkin tanpa tanding mungkin juga tidak… dunia tidak selebar daun kelor. Tapi bagiku, kata tanpa tanding adalah pantangan terbesar bagi manusia, rasa sombong bisa membuat kita lupa segalanya. Padahal masih ada Sang Pencipta.” Ujar Jaka sambil menerawang sekejap. “Hanya saja, sayang…”
“Sayang kenapa?” tanya ketiga gadis itu bersamaan.
“Makin sempurna Tenaga Semu, maka akibatnya semakin fatal. Tadi, jika aku tidak menghentikan pengerahan Tenaga Semu, mungkin dalam waktu satu-dua hari aku tidak boleh menggunakan tenaga murni, karena semua tenagaku pada waktu itu lenyap akibat pengerahan Tenaga Semu, untung saja pengerahan tenagaku hanya sesaat.”
“Itu adalah kondisi terbaik dalam Tenaga Semu, yang lebih parah lagi, jika mengerahkan tenaga terlalu lama, dalam waktu satu-dua bulan berikut, ada kemungkinan aku tidak sanggup menggerakkan tubuh, makan juga harus disuapi. Tapi setelah semuanya lewat, kelumpuhan itu akan sembuh dengan sendirinya, dan tenaga murni akan muncul kembali. Dan mungkin…”
“Seandainya kau mengerahkan hawa murni juga?” tanya Pertiwi memotong.
“Tentu saja aku bakal tersesat.”
Mereka paham apa yang dimaksud Jaka, istilah tersesat bagi kalangan persilatan yang mempelajari tenaga dalam, adalah peringatan keras yang wajib diperhatikan. Karena tersesat, menggambarkan tenaga dalam yang biasanya terkumpul dua jari di bawah pusar, akan membuyar dan lari ke sekujur tubuh, tanpa orang tersebut bisa menariknya lagi. Kalau sudah begitu, dipastikan kelumpuhan akan menjadi bagian hidupnya, sebab tenaga yang terpencar itu saling bentrok dan dapat membuat semua saraf dalam tubuh membengkak atau menyusut tak beraturan. Bagi kaum pesilat jika lumpuh sudah diderita, lebih bagus dia mati. Sebab tenaga dalam dipandang sama tingginya dengan nyawa.
“Lalu jika sudah sempurna apa ada akibat lebih besar lagi?” tanya Ayunda.
Jaka mengangguk. “Ya, jika sudah sempurna maka akibat yang dideritanya menurut perhitunganku, tak sadar selama setahun, mungkin lebih. Kalau tidak ada yang mengurusnya, dapat dipastikan dalam jangka empat hari, selesailah… tak sadar setahun itu akibat paling ringan. Dan yang lebih parah lagi setelah mengerahkan tenaga setara dengan seribu tahun, saat itu juga segera mati dengan seluruh saraf di sekujur tubuh meledak. Kalau langsung mati tentu saja sudah cukup beruntung, tapi kutemukan kenyataan dari semua perhitungan teori, bahwa sebelum kematian datang menjelang, siksaan karena syaraf hancur akan datang selama tujuh belas hari, baru setelah itu kematian datang menjemput!”
“Ih, mengerikan sekali…” gumam Ayunda.
“Karena itu aku takut menuntaskannya, sebab sewaktu-waktu ada kemungkinan aku mengerahkan semua tenaga. Jika itu terjadi, wah… selamat tinggal dunia.” ujar pemuda ini dengan roman muka masam dibuat-buat.
Mereka yang merasa ngeri, mau tak mau hilang juga rasa ngerinya mendengar penuturan Jaka yang berkesan tak serius.
“Kalau kau bisa menciptakan Tenaga Semu, tak mustahil kau dapat menciptakan pula tenaga lain yang dapat mencegah akibat dari Tenaga Semu itu?!” kata Ki Lukita.
“Guru benar,” jawab Jaka mengangguk. “Beberapa waktu lalu saya memeras otak mencari jalan untuk membuatnya, tapi belum juga dapat, mungkin tidak bisa. Tapi entahlah… saya sendiri tidak tahu, mungkin Tuhan sengaja menutup kecerdasan saya, sebab tidak mustahil jika sudah berhasil menciptanya, saya jadi sambong, takabur, selalu dipenuhi nafsu jahat dan tak tertutup kemungkinan, timbul niat jahat saya.”
“Bagus!” puji Ki Glagah. “Kalau sebelumnya hatimu sudah waspada pada kenyataan seperti itu, kemungkinan besar kau dapat memecahkan masalahmu sendiri.”
“Mudah-mudahan saja Ki… bagaimanapun juga saya hanya manusia. Manusia mana yang tidak bisa kilaf?” Semuanya setuju dengan ucapan Jaka.
Diam-diam para tetua menghela nafas. Orang mencipta dasar sebuah ilmu, butuh waktu bertahun-tahun, sebagai pengembangannya juga butuh waktu cukup lama. dengan usianya yang masih duapuluhan, anak ini hanya perlu ‘beberapa waktu’ untuk memecahkan kebuntuannya? Jika saja tak ada kejadian seperti tadi, kami pasti tak percaya! Kali ini dia belum berhasil, tapi lain waktu? Bisa jadi dia berhasil mewujudkan. Hh, bocah mengerikan.
“Tadi, kau hendak meneruskan penjelasanmu, tapi keburu dipotong Pertiwi, bagaimana kelanjutannya?” tanya Ki Glagah.
“Oh… saya memang agak ragu untuk mengatakannya. Sebab semua itu belum tentu benar.”
“Tidak ada salahnya kau jelaskan pada kami, toh tidak berdosa.” Kata Ki Glagah sambil tertawa. Jaka juga tertawa.

—ooOoo—

40 – Upaya Penyembuhan Rubah Api

“Menurut perhitungan saya, tiap kali mengalami cedera akibat mengerahkan Tenaga Semu, dengan sendirinya, tenaga murni saya akan mengembang setengah kali lipat.”
“Oh, seandainya kau punya tenaga empat puluh tahun hasil latihan, maka setelah sembuh kau akan memiliki tenaga sebesar enam puluh tahun?!”

“Benar, tapi semua itu hanya dalam perhitungan saja, belum tentu benar. Lagi pula kalau memang benar, saya bahkan tidak ingin mencobanya, terlalu besar resikonya hanya demi menambah Hawa Murni. Lagi pula hidup toh tidak tergantung dari Hawa Murni?” Para sesepuh setuju dengan ucapan Jaka.
“Jika bertambah setengah kali lipat, apakah saat mengerahkan… paling tidak seperlima Tenaga Semu?” tanya Ayunda.
“Benar!”
“Jadi, andai seluruh Tenaga Semu dikerahkan—maksudku sampai setara seribu tahun hasil latihan, bagaimana pula kemajuannya?”
“Aku tak tahu, tepatnya tak ingin tahu.” Jawab Jaka bergumam. “Makin besar Tenaga Semu dikeluarkan—andai sembuh—peningkatan Hawa Murni mungkin makin besar. Dan aku tidak ingin memperkirakannya, aku takut tergoda. Sekarang aku masih teguh memegang prinsip, besok siapa tahu? Aku mengawatirkan perubahan pendirianku. Mungkin saja pendirianku berubah karena alasan tertentu. Kemungkinan ini kupikir bisa saja terjadi, tapi aku berharap semoga tak terjadi.”
Ayunda paham, “Kalau begitu Tenaga Semu itu membawa efek baik dan buruk, ya?”
“Mungkin, tapi kukira lebih banyak efek buruk. Apa sih kebaikannya? Hanya menambah hawa murni, itu tidak sepadan dengan pengorbanan yang kau lakukan.” Ujar Jaka.
Mereka heran mendengar ucapan Jaka, bagi pemuda ini Hawa Murni tidak membuatnya tertarik. Namun bagi orang lain Hawa Murni atau Tenaga Sakti adalah harta tak ternilai.
Justru lantaran Jaka tak memperdulikannya, tidak ngoyo, maka Hawa Murninya entah berbobot berapa lipat lebih hebat dari latihan sebenarnya. Para tetua baru saja tersadar akan dalil itu, ‘Jika seseorang terlalu memaksakan kehendak untuk mengejar sesuatu, maka hanya kehampaan yang ia dapatkan, tapi Jika ia bersikap biasa dan menerima apa adanya, maka dia akan mendapatkan lebih dari yang dibayangkan.’ Bukankah itu sama dengan firman Tuhan yang mengatakan; …jika engkau bersyukur akan nikmat-Ku, niscaya Aku akan menambahnya. Ternyata dalil ilmu pun ada korelasi dengan ungkapan ilahiyah-Nya.
Diam-diam mereka menghembuskan nafas gegetun, benar-benar bocah aneh, entah apa yang dia pikirkan? Apa pula tujuannya untuk hidup?
“Bahkan terciptanya Tenaga Semu itu sendiri pun merupakan efek buruk…” sambung pemuda ini.
“Buruk?” kembali mereka terkejut. Jika ada orang yang mencela hasil karya yang diakui orang lain kehebatannya, maka cuma Jaka-lah orangnya. Sejak dulu, walau dia seorang tokoh dari golongan putih, jika dia dapat menciptakan sesuatu yang hebat, kebanggaan akan menyelimuti hatinya. Tapi Jaka? Apakah sikapnya itu hanya pura-pura saja?
“Tenaga Semu merupakan tenaga merusak, sejak menguasai tenaga itu, hati saya lebih sering khawatir, rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Kata beberapa teman, apa yang kudapatkan adalah berkah, jangan disesali, mereka mengatakan ‘ibarat gunung emas yang sewaktu-waktu bisa digunakan’. Terdengar bagus, sangat menggoda. Terkadang saya ingin menggunakan tenaga itu sekedar mencoba—tapi saya sadari itu hanya sekedar nafsu belaka. Jika memang harus digunakan, mungkin akan datang saat yang tepat.”
“Ya… saat yang tepat itu, bilamana hatimu tak lagi merasa terbebani memilikinya, kau tak merasa khawatir atas tenaga itu.”
Jaka mengiyakan takzim atas nasehat Ki Glagah. “Tapi perasaan itu saya tak yakin kapan datangnya. Tahukah tetua, apa yang pernah terlintas di pikiran saya karena tenaga ini?”
Mereka diam saja, rupanya para tetua itu, sadar dengan ‘curhatnya’ Jaka, jadi tak menanggapi.
“Kadang saya ingin mencoba tenaga ini pada sebuah perguruan. Keinginan itu terlintas jika saya berjumpa dengan anak murid sebuah perguruan yang bertingkah seenaknya. Saya ingin menegur pada sang guru, apa sih yang diajarkan… sampai-sampai anak muridnya bertindak begitu? Perasaan semacam itu kadang terasa menyiksa. Membuat hati tidak tenang. Untung saja, sejauh ini keinginan itu dapat saya tekan. Ya, dengan kehidupan tentram dan menerima hidup apa adanya.”
“Semudah itu?” Tanya Pertiwi.
“Tentu tidak. Kata orang tua; menjadi kewajaran jika pemuda memiliki darah panas, bahkan terkadang tak pernah berpikir panjang. Aku juga pernah begitu… tapi pengalaman mengajarkan, setiap kejadian harus membuat kita bertindak makin arif dan bijak.”
“Aku tak mengira kalau kau adalah pemuda yang meledak-ledak…” ujar Ki Lukita.
Jaka tersenyum. “Ya, dulu…” Jawabnya dengan girang, karakter yang diperlihatkan tadi, sudah melekat sempurna dalam alam pikiran mereka.
Mereka tercengang dengan jawaban Jaka, dulu? Bukankah usia Jaka masih 20-an? Jika saat ini dia mengatakan dulu, begitu cepatkan masa pancaroba—cobaan terberat, seorang pemuda bernama Jaka? Diusia berapa? 15, 16, atau 17? Pemikiran itu benar-benar mengelitik, dan ingin segera ditanyakan. Tapi tak satu pun yang mau mengawalinya, kecuali Pertiwi.
“Dulu? Yang benar saja! Apa kau ini orang yang berangasan waktu masih 10-an tahun?”
Jaka tertawa geli. “Di usia semuda itu, tiap anak pasti mengalami masa-masa terbengal—paling bandel. Waktu seusia itu, aku ibarat anak tak punya telinga.”
Gurunya tersenyum. “Kau tak bisa dinasehati?”
Jaka tersipu. “Ya, saya pikir masih wajar.”
Mereka tertawa mendengar jawaban Jaka. Ya, mereka sudah ‘membuktikannya’, bahwa sifat Jaka memang eksplosif—meledak-ledak.
“Sekarang, apa kau masih merasa selalu ingin menang?” Tanya Ki Alit Sangkir.
“Terkadang keinginan itu timbul.”
“Itu wajar saja.” Komentar Ki Gunadarma.
“Dan seperti yang saya katakan, hidup dengan ambisi seperlunya, dan selalu bersyukur, adalah obat mujarab penangkal keresahan hati. Tuhan memang Maha Pengasih, keinginan aneh-aneh lenyap dari benak saya. Yah, paling tidak saya bisa menganggap jerih payah mendapatkan Tenaga Semu, hanya untuk mengisi waktu luang saja.”
Sampai ucapan Jaka yang tadi, Delapan Tetua kembali menghela nafas tertahan. Mengisi waktu luang? Lalu bagaimana jika dia serius mengerjakan sesuatu?
“Jadi dengan anggapan demikian, saya tidak pernah merasa bahwa Tenaga Semu sudah saya kuasai. Mungkin karena saya selalu menginginkan ‘sesuatu’ yang lebih baik, bukan hanya tenaga murni, tapi akan lebih baik lagi jika ‘sesuatu’ itu dapat lebih berguna, lebih membangun, jika dibanding dengan kemampuan hawa murni.”
Tentu saja yang dimaksudkan Jaka, bukanlah sebuah ilmu sakti atau semacamnya, tapi lebih kepada kemampuan mencipta ‘iklim’ yang menentramkan.
Para sesepuh menghela nafas gegetun, Tenaga Semu yang begitu hebatnya dia cela, padahal tenaga itu belum lagi sempurna. Ai, entah kemajuan seperti apa yang bakal dimiliki anak ini, sesuatu yang dipandang sangat berharga bagi orang lain, justru bagai sampah bagi dirinya. Benar-benar pemuda aneh…
Tak ada lagi yang bertanya, berbagai penuturan Jaka, membuat mereka berpikir, menimbang sesuatu yang sebelumnya tak pernah diacuhkan. Mereka memutuskan untuk mengakhiri bincang-bincang tadi.
Semuanya berdiri, Jaka cs memberi hormat pada para sesepuh, dan mereka melangkah keluar, namun sesaat sebelum pintu terbuka, Jaka berseru.
“Tunggu Ki…”
Semua menoleh.
“Ada apa?” tanya Ki Glagah yang baru saja hendak membuka pintu.
“Ehm.. ada yang ingin saya sampaikan..” kata Jaka dengan ragu-ragu.
”Katakan saja,”
“Sebelum berlatih, tidakkah sebaiknya menyembuhkan Rubah Api? Tidak mustahil banyak rahasia yang dapat kita peroleh.”
“Oh, kau ingin menyembuhkannya?” tanya Ki Glagah heran.
“Kalau diperkenankan.”
“Oh, tentu boleh…” tanya kakek itu agak ragu.
“Setidaknya saya coba, rasanya sia-sia saya mempelajari pertabiban, jika tak mencobanya.”
“Perlu kau ketahui, kondisi Rubah Api parah sekali, di luarnya dia seperti orang tidur. Hh, keadaan sesungguhnya dia sekarat. Mungkin, gerakan yang mengagetkan, atau salah pengobatan, bisa mencabut nyawanya.”
Jaka termenung sesaat.
”Ucapan Aki benar, tapi kalau tidak dicoba, toh akhirnya Rubah Api juga akan meninggal. Lebih baik ia meninggal lebih cepat, untuk mengakhiri deritanya—andai saya gagal. Dari pada dia harus menunggu mati untuk satu-dua tahun tanpa manfaat…” Ucapan Jaka memang beralasan, para tetua bimbang sesaat.
“Baiklah,” Ki Lukita yang membuka suara setelah sekian lamanya mereka terdiam. “Mudah-mudahan apa yang kau pelajari dapat membuatnya sembuh, setidaknya ia dapat membuka mata dan berbicara.”
Jaka setuju, namun masih ada yang mengganjal dalam batinnya. “Maaf kalau pertanyaan saya keterlaluan…”
“Silahkan.”
“Bukankah di perkumpulan ini memiliki mustika yang katanya, bisa menyembuhkan orang, sekalipun sedang sekarat?” Tanya Jaka sedikit menyindir.
Para tetua saling pandang dan kemudian tersenyum, mereka paham, rupanya kedongkolan Jaka, belum semuanya keluar.
“Kau jangan salah paham Jaka,” kali ini Ki Alit Sangkir yang menjelaskan. “Kami bukannya tidak berusaha, bahkan sudah dua sekaligus yang di minumkan, tapi tidak bereaksi sama sekali! Tak bisa dipungkiri, kami sangat menghemat pemakaian mustika Akar Bunga Gurun, tapi untuk masalah hidup mati, kami juga belum kehilangan hati nurani…”
Penjelasan Ki Alit Sangkir membuat dada Jaka lega. “Maaf…” ucapnya tertunduk.
“Tidak apa.” Ujar Ki Alit Sangkir tersenyum.
“Apapun namanya, tiap mustika memang memiliki batasan sendiri.” Gumam pemuda ini.
“Benar katamu,” sahut Ki Alit Sangkir. “Biarpun Akar Bunga Gurun dikatakan dapat menyembuhkan orang sekarat, mungkin itu terjadi pada satu keadaan tertentu saja. Dari sini terlihat betapa semua benda yang dipandang berhargapun ada batasnya!” Jaka setuju dengan pendapat Ki Alit Sangkir.
Kali ini mereka keluar tanpa terhambat percakapan yang tertunda lagi. Di luar, delapan belas orang yang tadi keluar ruangan lebih dulu, sedang duduk dengan sikap serius. Kelihatannya mereka memandang urusan Jaka termasuk urusan penting.
“Bagaimana guru?” tanya orang yang menjadi murid kedua Ki Lukita.
Aki Lukita menggoyangkan tangan kirinya, “Semuanya sudah beres, tidak ada lagi yang perlu diributkan.”
“Syukurlah…” ucap orang itu dengan nada lega. Karena sesungguhnya sejak ia melihat Jaka, orang itu sudah merasa simpatik. Dia tidak ingin mereka bermusuhan, dengan jawaban gurunya tadi ia dapat mengambil kesimpulan, Jaka sudah resmi menjadi adik seperguruannya.
“Adik, maafkan kelancanganku tadi,” kata orang itu pada Jaka sambil menjura. Pemuda ini tersenyum, alangkah jujur dan terbukanya orang ini, pikir Jaka.
“Tidak apa-apa kakang, saya bahkan kagum dengan keteguhan kakang yang menjunjung tinggi kesetiaan perkumpulan.” Kata Jaka buru-buru sambil balas menjura.
Kemudian, mereka melangkah masuk keruang belakang. Sebelumnya Jaka pernah memasuki ruangan itu, tapi karena malam, Jaka tidak leluasa memperhatikan tiap sudut.
Kini Jaka bisa mengamati dengan jelas, ternyata ruang belakang tidak kalah luasnya dengan ruang tengah. Lebar dan lapang.
Tapi dalam pandangan Jaka ada sedikit keanehan, Entah disingkirkan kemana meja dan kursinya… pikir pemuda ini.
Mula-mula Jaka agak bingung melihat semuanya berkumpul di ruangan itu. “Apakah Rubah Api mau diangkat kesini?” pikir pemuda ini lagi.
Tapi kebingungannya terjawab saat itu juga, karena gurunya tiba-tiba saja membungkuk dan menyentuh lantai.
Pantas… puji pemuda ini dalam hati. Kiranya ada ruangan bawah tanah. Sungguh tak terpikir olehku. Dilihat cara guru membuka, sepertinya gampang. Tapi, mungkin saja sebelumnya beliau menyentuh alat rahasia lain.
Satu persatu masuk ke dalam ruangan bawah tanah, dan Jaka adalah orang kedua terakhir yang memasuki ruangan itu—Ki Benggala yang paling akhir, karena ia harus menutup pintu ke ruangan itu.
Pemuda ini melangkah dengan memperhatikan tiap bagian ruangan. Ternyata lebar dan luas ruangan bawah tanah itu, lebih luas dari ruangan diatas. Entah berapa lama membangun ruangan rahasia itu. Menurut Jaka, pembangunan ruang seperti itu setidaknya ada satu-dua orang awam yang melihatnya, karena letak rumah Ki Lukita ada di pusat kota. Tapi, tak tertutup kemungkinan, tiada satu orangpun yang tahu.
Mungkin saja mereka yang tahu, bisa jadi esok harinya ‘lupa’… Jaka tak ingin menduga lebih lanjut. Biarlah urusan itu menjadi rahasia pribadi kelompok itu.
Semula Jaka pikir akan merasakan pengap dan gerah, karena tanah selalu menyimpan panas matahari. Tapi Jaka harus mengakui kepiawaian arsitek yang mendesign ruangan bawah tanah itu. Karena ia tidak merasakan hawa panas secuilpun, bahkan sebaliknya di ruangan bawah tanah itu kesejukan merebak dimana-mana.
Bahkan samar-samar seperti ada angin yang melintasi lorong bawah tanah itu. Sebagai jalan udara, ruangan ini pasti berhubungan dengan bagian luar, yang jelas tempat itu dipastikan sejuk, tidak terkena cahaya matahari secara langsung, mungkin dekat sungai. Pikir Jaka menduga.
Lorong yang dilewatinya cukup panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan lebar, tiap sudutnya terdapat pintu-pintu dan lorong-lorong masuk.
Wah, kalau ada maling masuk pasti tak bisa mengambil apa-apa. Pintu yang tertutup dan lorong yang terbuka di sekeliling dinding ruangan ini pasti memiliki rahasia lagi.
Tak menunggu lama, Ki Lukita yang memimpin mereka, masuk kedalam pintu—pintu ke tujuh. Jaka sempat menghitungnya begitu ia keluar dari lorong pertama.
Memasuki pintu itu juga harus melewati selasar cukup panjang, dan akhirnya sampai disebuah ruangan yang bersih dan nyaman.
Semua orang berbaris merapat tembok ruangan, sehingga Jaka dapat melihat dengan jelas kalau ruangan kamar itu terdapat pembaringan besar, dan disampingnya ada rak-rak besar yang mungkin saja berisi bahan-bahan obat.
Masa Rubah Api ditinggal sendirian disini? pikir Jaka heran. Namun belum lagi keheranannya terjawab, tiba-tiba saja dari balik dinding dekat dengan pembaringan, terbuka pintu lain.
Dari pintu rahasia itu keluar dua orang berpakaian kuning-kuning, usia mereka paling tidak empat puluhan. Kepala keduanya gundul licin, mungkin jika lalat mampir di kepala bisa terpeleset. Dua orang itu membungkuk kearah para tetua.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ki Lukita.
“Tidak ada perubahan semenjak hari pertama.” Salah seorang dari mereka menjawab.
Mulanya Jaka tidak begitu tertarik melihat kemunculan kedua orang gundul itu, tapi begitu keduanya mendongkakkan kepala, Jaka terkejut. Sebab mata mereka berkilat tajam, ternyata mereka ahli tenaga murni.
Gila, kekuatan perkumpulan ini melebihi enam belas perguruan terkemuka! Kelihatannya, mereka yang terlemah setara dengan pendekar kelana. Hh… benar-benar pilih tanding! Pikir Jaka dengan hati kagum.
Sebagai perbandingan, para pendekar kelana memiliki kelihayan setara dengan murid tingkat 3—dari 16 perguruan terkemuka. Dan murid tingkat 3, paling tidak memiliki tenaga dalam hasil latihan sebanyak 30 sampai 40 puluh tahun. Adalah pantas, jika Jaka merasa kagum. Jika orang yang paling lemah saja setara dengan pendekar kelana, maka dipastikan kelihayan Perkumpulan Garis Tujuh ini di atas semua perguruan.
Delapan tetua berdiri disamping pembaringan Rubah Api. Sebenarnya Jaka ingin sekali melihat bagaimana rupa Rubah Api, yang membuat orang perkumpulan rahasia ini membelanya.
Pasti bukan hanya peta rahasia itu saja, mungkin Rubah Api banyak menyimpan rahasia. Pikir Jaka menduga.
“Kemari,” kata Ki Lukita sambil melambaikan tangannya pada Jaka.
Pemuda ini bergegas datang, ia berdiri di kanan pembaringan—di samping gurunya. “Kau periksalah keadaannya.”
Jaka mengangguk tanpa menjawab. Pemuda ini memperhatikan orang yang disebut Rubah Api. Orang ini memang cocok disebut dengan julukan Rubah Api. Seluruh rambut, kumis, dan alisnya merah mencorong, wajahnya lonjong dengan raut muka gagah, usianya mungkin sekitar akhir lima puluhan—sebaya dengan Ki Banggala.
Kebanyakan wajah seperti ini dimiliki orang baik, batin Jaka. Mudah-mudahan saja dia benar-benar orang baik.
“Guru, apa tidak terlalu panas begitu banyak orang diruangan ini?” tanya Jaka.
“Maksudmu, mereka mengganggumu?” ujar sang guru heran. Jaka tersipu, karena maksud hatinya tertebak.
“Jangan kuatir,” kata sang guru. “Ruangan ini cukup lebar, tidak akan membuatmu gerah, apalagi sampai mengganggu proses pengobatan. Lagi pula semua orang juga ingin menyaksikan metoda pengobatanmu.”
Jaka mengangkat bahunya, apa boleh buat, pikirnya. Tak menghiraukan puluhan tatapan ingin tahu, Jaka segara memeriksa nadi tangan dan nadi leher Rubah Api. Cara memeriksanya unik. Jaka tak menyentuhnya, dia meniupnya. Tapak tangannya diletakkan diatas nadi tangan dan leher.
Wajah pemuda ini berubah setelah memeriksa nadi Rubah Api. Gawat, seharusnya luka yang dideritanya tidak terlalu parah. Aih, terlalu lama didiamkan, ditambah luka beracun, kemungkinan untuk hidup kecil.
Jaka melepas menyobek pakaian Rubah Api dengan hati-hati, hanya bagian auratnya saja yang ditutupi sehelai kain. Terlihat olehnya samar-samar jalur berwarna biru dan hitam yang muncul dari simpul perut kecil sampai kedada. Jaka menekan dada Rubah Api untuk beberapa lama.
Astaga, apa mereka tak tahu cara merawat orang sakit? Gerutu Jaka begitu menyadari kondisi Rubah Api. Memangnya setiap orang sekarat bisa sembuh hanya mengandalkan Akar Bunga Gurun? Dasar pengobatan itu adalah mengunakan obat yang sesuai dengan luka. Tapi ini, wah… ini menyulitkanku mengobati Rubah Api. Rupanya dia dipaksa menelan mustika. Hh, tambah susah.
Untuk sesaat Jaka termenung. Kejap berikutnya dia mengetuk tiap ruas tulang Rubah Api, bahkan batok kepala dan dahi juga diketuk. Telinganya didekatkan pada tiap ruas yang diketuk, Jaka mendengarkan reaksi ketukan dengan seksama. Secercah senyum menyembul, Jaka menghela nafas lega.
Tidak sesulit yang kuduga. Pikirnya girang. Ya, bagi dia memang tidak sulit, tapi bagi orang lain? Ki Lukita dan Ki Glagah bukannya orang yang buta pengobatan, bahkan dalam dunia persilatan dulu mereka termasuk orang tenar, karena pandai mengobati. Toh, mereka tetap tak sanggup mengobati Rubah Api.
Karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, mereka bersepakat memberikan dua buah mustika akar Bunga Gurun, dengan harapan dapat menyembuhkan Rubah Api, tapi harapan tinggal harapan.
Perlahan, Jaka mengurut tiap ruas sambungan tulang, seperti lutut, bahu, dan lengan. Jaka berdebar! Dia merasa tegang, sebab baru kali ini pengobatannya ditonton banyak orang, seperti tukang pijat keliling saja! Selesai mengurut, Jaka menotok lambung dan iga dua kali.
Ruangan itu memang sejuk, tapi Jaka merasa gerah. Dengan hati-hati ia mengelap keringat yang membasahi dahinya. Untuk beberapa saat, Jaka mendiamkan Rubah Api, pemuda ini menyeret bangku kecil yang ada di ujung pembaringan. Ia duduk sambil berkipas-kipas dengan tangannya.
Mereka yang menyaksikan cara pengobatan Jaka merasa tegang juga, sebelumnya mereka pernah menyaksikan pengobatan yang dilakukan oleh Ki Glagah dan Ki Lukita. Tiap disentuh, saat itu Rubah Api melonjak-lonjak seperti orang kesurupan. Dan kali ini mereka merasa aneh saat Jaka menyentuh—bahkan mengurut, sebab orang itu tidak bereaksi.
Jaka meraba pinggangnya, ia melepas sabuk yang melilit pinggangnya. Beberapa orang saling lirik, mereka tak dapat menduga apa yang akan dilakukannya. Mereka dapat melihat, di pinggang Jaka masih terdapat sabuk lain berwarna kuning gading dengan lurik-lurik hijau. Itulah tongkat bambu lentur!
Jaka juga melepas tongkat bambu lentur yang dibuatnya menjadi ikat pinggang. Setelah melepas yang mengikat pinggangnya, celana Jaka agak kedodoran, cepat-cepat Jaka mengikat kembali ikat pinggang yang pertama.
Pemandangan yang sekejap itu membuat banyak orang merasa geli. Pemuda yang mereka pandangan sebagai orang berbakat aneh itu, untuk beberapa saat keripuhan karena celananya hampir melorot.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: