Seruling Sakti Jilid 41-45

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

41 – Menuntaskan Pengobatan Rubah Api

Diah, si gadis berwajah beku, tampak tersenyum kecil. Beberapa orang yang melihatnya, merasa heran melihat perubahan Si Gadis Salju. Dalam satu bulan, orang terdekat si gadis, bisa menghitung perubahan roman wajahnya yang beku—paling banyak dua atau tiga kali, dan anehnya untuk hari ini Diah Prawesti sudah tertawa, cemberut, bahkan berbicara, biasa ia hanya bicara satu-dua patah kata. Sebagai gudangnya orang cerdik, tentu saja mereka sudah menduga kalau perubahan diri gadis ini karena kedatangan Jaka—ini yang membuat mereka tak habis pikir.
Banyak pemuda gagah tampan yang berusaha membuatnya lebih ceria, tetapi usahanya selalu nihil. Tapi kedatangan Jaka merubah segalanya, pemuda itu bahkan tidak perlu mengajak bicara atau merayu segala. Dengan demikian, beberapa pemuda yang naksir berat, harus mundur teratur, agaknya mereka tahu diri kalau si gadis sudah menjatuhkan pilihan hatinya, tapi Jaka mana tahu?!


Kalau Diah, hanya tersenyum tipis, lain lagi dengan Pertiwi dan Ayunda, mereka berdua lebih bebas, tawa geli keduanya, membuat wajah Jaka serasa terbakar.
Sial! Umpatnya dalam hati merasa gemas.
Tak memikirkan kejadian tadi, Jaka meluruskan tongkat bambunya, lalu mengguncangnya, seolah mengeluarkan isinya—dan memang bermaksud begitu.
Dua benda jatuh di tepi pembaringan, semua orang dapat melihat salah satu benda itu adalah seruling bambu. Mereka baru sadar, yang melilit dipinggang Jaka adalah bambu lentur.
Delapan tetua dan beberapa lelaki paruh baya terkesip kaget. Mereka menegaskan pandangan, ternyata memang benar sebatang bambu, bambu lentur!
Dua benda yang tadi, segera diambil. Jaka menyelipkan seruling kesayangannya di pinggang, lalu benda yang kedua adalah bungkusan kain—yang juga berwarna seperti bambu lentur itu, kuning—sepanjang dua jengkal. Besar gulungan kain itu lebih kecil dari rongga bambu, karena itu dapat dimasukkan ke dalam.
Namun ada satu pertanyaan melintas di tiap benak orang, dengan cara bagaimana tiap benda yang terdapat di dalam bambu lentur itu tidak terlihat menonjol dari luar?
Mereka sempat melihat bambu lentur yang dijadikan ikat pinggang Jaka, sangat tipis, seperti layaknya sebuah ikat pinggang. Dalam kasus seperti itu hanya ada satu penjelasan, yakni apapun benda yang terdapat di dalam tongkat bambu lentur, pastilah memiliki sifat yang sama dengan bambu tersebut. Jika tidak? Mereka berniat menanyakan pada Jaka seusai pengobatan.
Jaka membuka gulungan kain itu, tiap hadirin merasa heran melihat apa yang terdapat didalam bungkusan itu. Tadinya mereka mengira isinya paling tidak ramuan obat-obatan, mungkin juga pil. Tapi tak disangka dalam bungkusan itu hanya berisi puluhan jarum besar dan kecil, kemudian empat buah pisau kecil yang berkilauan saking tajamnya, pisau itu sepanjang kelingking. Lalu ada beberapa tabung kecil, juga terbuat dari bambu.
Jaka mengambil pisau pertama. Dengan tindakan yang halus dan berhati-hati, Jaka menyayat tiap sambungan tulang Rubah Api yang sebelumnya sudah ditotok. Darah keluar begitu pisau kecilnya menggores. Setelah selesai, Jaka mengambil bambu kecil seperti bambu tulup, ukurannya sejari kelingking bayi, kecil sekali.
Bambu itu ditusukkan pada tiap sayatan di ruas tulang, para wanita berkerenyit ngeri melihat cara Jaka mengobati. Bahkan Rubah Api yang tadinya seperti orang mati, jari tangan dan kakinya memberikan reaksi dengan gerakan kecil. Tak berapa lama selesailah pekerjaan itu. Jaka duduk dan mendiamkan untuk sesaat, pemuda ini nampak sedang memikirkan sesuatu.
Iseng-iseng, Ki Benggala menghitung bambu yang menancap di tubuh Rubah Api. Tujuh belas buah! Pikirnya, wah… andai aku yang mengalami kejadian seperti ini, lebih baik kuurungkan saja. Siapa tahu ada cara pengobatan yang lebih baik.
Setelah satu menit didiamkan, bambu-bambu kecil yang menancap itu terlihat bergetar sedikit.
Jaka tahu apa artinya, pemuda ini segera bangkit, lalu ia mengambil jarum besar dan kecil. Belum sempat orang menduga apa yang akan dilakukan dengan jarum-jarum itu, tangan Jaka bergerak cepat ke sekujur tubuh Rubah Api, dalam lima hitungan, puluhan jarum sudah menancap dari kepala sampai ujung kaki. Orang awam mungkin hanya melihat gerakan tangan mengulap sepintas di atas tubuh Rubah Api.
“Ih..” beberapa wanita terdengar ngeri. Kondisi Rubah Api kali ini mengingatkan orang dengan seekor landak. Para wanita memang patut merasa ngeri, sebab puluhan jarum itu ada yang menancap miring, tegak lurus, bahkan menancap dalam. Tapi ada bagian yang tidak ditancapi jarum-jarum. Bagian ulu hati tempatnya, jarum yang menancap hanya ada di sekitar dada.
“Tahap pertama selesai…” gumam Jaka kembali duduk.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Ki Benggala bertanya, ia tidak tahan untuk menanyakan keheranan hatinya.
“Tidak apa-apa, besok juga sudah sembuh…” sahut Jaka ringan. Mau tak mau orang yang mendengar jawaban Jaka yang begitu entengnya, jadi heran.
“Besok sembuh?” ulang Ki Benggala tak percaya.
“Ya, saya tadi mengira kondisi Rubah Api sudah sangat parah, ternyata tidak begitu mengkhawatirkan. Memang harus diakui jika dia tidak mendapatkan pengobatan tepat, sampai waktu ajalnya nanti, dia akan tetap seperti mayat hidup…”
“Sebenarnya apa yang membuat Rubah Api seperti itu?” tanya Ki Benggala memotong penjelasan Jaka.
“Begini,” Jaka memulai penjelasannya dengan mimik serius. “Kondisinya bisa dijelaskan dalam empat hal. Pertama; sebelumnya dia sudah terluka parah saat melarikan diri. Untuk perbandingan, luka yang dia derita, baru sembuh jika sudah beristirahat dan melakukan pengobatan rutin selama satu bulan. Nah, bisa kita bayangkan luka seperti apa yang dideritanya.” Hadirin mengangguk paham.
“Kedua; saat terluka parah, dia memaksakan diri untuk melakukan serangan mendadak, akibatnya otot saraf pada tangan-kakinya, menggembung secara mendadak dan tiba-tiba menciut, sehingga darah bersih tak bisa mengalir sebagaimana mestinya. Sebenarnya luka seperti itu belum dapat dikategorikan parah, walau bisa membahayakan nyawa.
“Alasan ketiga, membuatnya jadi kategori luka parah, yakni serangan racun Panah Bunga Batu,”
“Wah, kalau tidak salah racun seperti itu hanya dipunyai ketua cabang atau wakil, dari perkumpulan…” tukas Ki Benggala.
“Paman benar,” tukas Jaka.
“Tapi, dari mana kau tahu itu racun Panah Bunga Batu?”
“Mudah saja mengetahuinya,” kata Jaka sambil tersenyum simpul.
“Apakah dari pemeriksaanmu tadi?” tanya Ki Benggala tak sabaran.
“Sebagian. Tapi pemeriksaan tidak bisa secepat itu jika kondisi korban begini parahnya. Memang dengan pemeriksaan, bisa diketahui racun apa yang mengendap didalam tubuh, namun harus dilihat berapa lama racun itu mengendap, makin lama racun itu mengendap, makin lama pula kita mengetahui racun jenis apa yang menyerang si korban. Saya tahu yang ada di tubuh Rubah Api adalah racun Panah Bunga Batu, karena sebelumnya saya pernah mendengarnya dari mulut Bergola.”
“Oo, begitu…” ujar Ki Benggala sembari tertawa.
“Hal keempat;” Jaka melanjutkan penjelasannya yang terputus. “Rubah Api memasuki kategori sangat parah karena dua mustika yang sempat ditelan oleh Rubah Api.”
Jaka tidak membahaskan ‘dipaksakan masuk’, namun ia mengatakannya ‘sempat ditelan’, karena ia tidak ingin menyinggung perasaan para tetua.
“Jadi mustika itu yang membuatnya makin parah?” tanya Ki Glagah heran.
“Sebenarnya tidak, tapi dalam kasus ini… dalam kondisi Rubah Api saat ini, adalah pengecualian. Seandainya Aki bisa menormalkan saraf kaki dan tangan Rubah Api, kasiat mustika itu pasti sangat berguna untuk pemulihan. Tapi berhubung saraf kaki dan tangan tertutup, kasiat mustika itu malah menjadi pemicu darah pada seluruh tubuh.”
“Pemicu?” Tanya Ki Benggala.
“Maksud saya, karena darah yang seharusnya mengalir pada kaki dan tangan tidak bisa masuk, maka dengan adanya dua musika, peredaran darah di seluruh tubuh makin cepat dan makin cepat. Akhirnya pada batas tertentu darah itu tidak bisa lagi mengambil udara yang terdistribusi oleh paru-paru, karena hawa dua mustika itu menghalanginya. Ohya, perlu diketahui sifat hawa mustika ini adalah nyaris hampa, em.. sebenarnya bukan hampa, tapi terlalu padat… jadinya hampir serupa hampa. Makanya aliran udara dalam darah sulit melewatinya.”
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Kita tunggu saja, syukurlah Rubah Api belum sampai dua puluh hari dalam kondisi seperti ini,”
“Memangnya kenapa kalau sampai lewat dua puluh hari?”
“Darah dalam tubuhnya membusuk, karena tak sanggup mendapat udara, dalam keadaan seperti itu, pengobatannya akan memakan waktu sangat lama, bisa dua tahun, sampai sepuluh tahun. Tergantung… ehm, tergantung bagaimana kondisi tubuh Rubah Api.”
Ki Glagah tersenyum mendengar uraian Jaka. Mengenai kalimat terakhir tadi, hanya sebagai pembanding, bukan bermaksud menyombongkan diri, dan itu diketahui para tetua.
“Kau tahu semua kondisi Rubah Api seolah kau sendiri yang mengalaminya?!” komentar Ki Sugita. Dan kalimat itu, merupakan ‘pertanyaan’ yang ingin diketahui tiap orang. Ketika mereka mendengar uraian Jaka, mereka menyimpulkan, bahwa Jaka mengetahui semuanya semudah melihat telapak tangannya sendiri.
“Bagi yang mempelajari ilmu pengobatan, tentu saja akan tahu kondisi apa yang sedang dialami oleh pasiennya.” Jelas Jaka apa adanya, ia tak ingin mengatakan panjang lebar.
“Aku dan Adi Lukita juga mempunyai ilmu pengobatan, dalam dunia persilatan, kami juga dikenal dengan nama Tabib Manjur segala. Tapi kenapa kami tidak tahu kondisi Rubah Api?”
Jaka melengak mendengar uraian juga pertanyaan Ki Glagah. “Wah ini, ini…” Pemuda ini gelagapan, untuk sesaat ia tak bisa mengatakan sesuatu. “saya rasa Aki berdua hanya terlupa sesuatu. Biasanya kondisi kritis seseorang bisa membuat kita tegang dan melupakan hal penting…” kata pemuda ini sambil tersenyum serba salah.
“Terlupa?” ujar Ki Glagah tersenyum penuh arti. Dia sengaja bertanya seperti itu untuk memancing Jaka berterus terang dengan kemahirannya, agar dia bisa mengangkat harga dirinya di mata orang-orang perkumpulan. Sebab menurut pandangan Ki Glagah, mungkin ada anggota lain yang tetap memandang rendah dirinya, biarpun sudah berulang kali terpampang bukti. Tapi rupanya Jaka lebih suka dipandang rendah oleh orang lain.
Ki Glagah sudah kembali hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba tubuh Rubah Api bergetar.
Selamat… pikir Jaka. Ya, kondisi Rubah Api menyelamatkan dirinya untuk tidak menjawab pertanyaan Ki Glagah yang sanggup membuatnya serba salah.
Kaki dan tangan Rubah Api bergetar lebih keras dari reaksi yang pertama.
“Maaf, mohon Aki sekalian menjauh…” pinta Jaka.
Delapan tetua segera mundur sampai enam tindak, sebelumnya mereka berdiri hanya satu tindak dari samping pembaringan.
Setelah semua orang mundur, Jaka tempelkan telapak tangannya kirinya ke bagian dada—bagian yang tidak ditancapi jarum. Pemuda ini mengambil nafas dalam-dalam, semua orang yang ada didalam ruangan mendengar tarikan nafas pemuda itu. Mereka merasa tegang.
“Hih!” dengan seruan tertahan, Jaka menyalurkan tenaga dalamnya ke dada Rubah Api.
Crat-crat-crat..!
Begitu tenaga dalam Jaka masuk, dari bambu-bambu kecil yang menancap di seluruh sendi, tiba-tiba menyemburkan darah berwarna hitam kental. Darah itu jatuh berhamburan di lantai, ada yang membasahi pembaringan.
Semua hadirin terkesip, mereka terkesip karena darah yang keluar bukan lagi berwarna merah, tapi hitam! Hitam seperti tinta! Dapat dibayangkan betapa parahnya luka yang diderita Rubah Api.
“Gila…” seru Ki Gunadarma terkejut begitu melihat lantai yang terpercik darah.
Jaka tidak menanggapi seruan itu, pemuda ini kembali menghentakkan hawa murni lebih besar lagi. Dan darah kembali menyebur deras seperti keluar dari pancuran.
Bulu kuduk semua orang makin berdiri menyadari bahwa dalam darah hitam itu ada sesuatu yang hidup, yang bergerak mengeliat seperti cacing, tapi ukurannya lebih kecil. Ternyata darah hitam itu terdapat semacam belatung. Kaum wanita memalingkan wajah agar tidak melihat pemandangan menjijikan itu.
Semburan darah itu berlangsung sampai delapan kali. Orang-orang baru sadar, Jaka yang berdiri dekat sekali dengan semburan darah itu, seharusnya terkena cipratannya. Tapi tak setitik warna hitam-pun terdapat pada baju.
Saat semburan yang keenam sampai kedelapan, barulah orang melihat dengan jelas mengapa Jaka tidak tersembur darah hitam. Karena tiap darah yang menyembur ke tubuhnya, dalam jarak satu jengkal, langsung menguap tanpa bekas.
Hawa Pelindung yang luar biasa! Puji tiap orang dalam hati. Mereka makin tak bisa menjajaki seberapa lihay pemuda bernama Jaka Bayu itu.
Hawa Pelindung adalah tenaga murni yang terpencar dengan sendirinya jika ada bahaya atau sesuatu yang mengincarnya dari luar tubuh. Para Pemilik Hawa Pelindung, biasanya adalah tokoh berusia lebih dari enam puluhan, itupun belum tentu sehandal yang diperlihatkan Jaka. Dengan kejadian tadi mereka dapat mengira-ira, seberapa tangguh tenaga dalam Jaka. Mungkin lebih dari seratus tahun hasil latihan.
“Apakah itu Tenaga Semu?” pikir mereka yang sudah mendengar penjelasan Jaka.
Jaka melepas telapak yang menempel di dada, orang-orang melihat Jaka dengan kening berkerut. Saat itu, Jaka sedang mengamati darah hitam yang berceceran di pembaringan.
Dengan tangannya Jaka menjumput segumpal darah. Lalu melumatnya dengan jarinya, pemuda ini dapat merasakan darah itu kental, rasanya seperti memegang daging cair.
Sejauh ini cukup baik, pikirnya dengan lega.
Lalu ia melepas semua jarum dan bambu yang menancap di sekujur tubuh Rubah Api. Jaka segera menelungkupkan Rubah Api. Seperti tadi, pemuda ini juga menancapkan puluhan jarum dan juga tujuh belas bambu, ke tubuh belakang Rubah Api.
Kalau sebelumnya, begitu ia selesai menancapkan jarumnya, Jaka harus menunggu lama, kali ini ia tidak menunggu lama lagi. Sebab begitu semuanya selesai menancap, tubuh Rubah Api langsung berekasi. Tanpa banyak pikir lagi, Jaka menampar pelan ubun-ubun lelaki itu.
Pemandangan menakjubkan segera terpampang di depan semua orang. Kecuali tujuh belas bambu, jarum-jarum yang menancap di tubuh Rubah Api mencelat dan jatuh—bagai sudah diatur—di sisi pembaringan, tidak satupun yang jatuh ke lantai.
Secercah senyum tipis tersungging di bibir Jaka, dengan gerakan cepat, Jaka menotok beberapa urat nadi dan syaraf di punggung dan leher Rubah Api. Selang sepuluh hitungan kemudian, tujuh belas bambu kecil juga turut mencelat dan jatuh tergulir di samping pembaringan. Dari lubang yang dibuat oleh tujuh belas bambu kecil itu, menyemburlah darah hitam. Tapi hanya sekali saja, pada semburan kedua, darah sudah merah, normal! Lagi pula tidak sekental darah pertama!
Pemuda ini menyeka keringat di keningnya, ia kembali membalikkan Rubah Api agar terlentang. Dari gulungan kain, ia mengambil empat bilah pisau kecil. Dengan hati-hati, Jaka menancapkan pisau itu di kedua lengan dan kedua telapak kaki. Lalu puluhan jarum yang jatuh tadi, segera ia tancapkan di bagian kaki dan tangan.
Racun sudah sirna, luka sudah sembuh. Sayang, tenaga dalamnya punah. Semoga dua mustika yang sudah dia telan sanggup memulihkannya. Batin Jaka sambil meraba leher dan bawah telinga Rubah Api, tapi begitu meraba dada dan simpul kecil perutnya, kening Jaka berkerut. Rupanya aku keliru.
Satu menit Jaka menunggu reaksi Rubah Api, namun orang itu tidak menunjukkan rekasi apa-apa. Enam menit kemudian, Rubah Api menunjukkan getaran tubuh, walau tak jelas.
Untung, pikir Jaka. Andai lima menit kemudian kau belum juga menunjukan reaksi, maka seumur hidupmu kau hanya bisa berbaring saja.
Jaka segera bertindak, kedua tangannya serentak menghentak dada dan perut Rubah Api. Dalam tujuh hitungan saja, bagian lengan dan kaki Rubah Api, tiba-tiba membengkak dua kali lipat. Hadirin terkejut sekali melihat kejadian itu.
Jaka tidak terpengaruh dengan perubahan itu, ia tetap menyalurkan hawa murni untuk mencairkan dua mustika yang masih menggumpal di lambung dan usus halus. Dari seluruh pori-pori tubuh Rubah Api, mengeluarkan banyak keringat. Lengan dan kaki—sebatas betis, masih tetap menggembung—bahkan makin besar, seakan sebuah aliran air yang terbendung dan sedang mencari jalan untuk menjebol bendungan.
Jaka menarik tangannya, dia menyedot nafas dalam-dalam hingga bunyi mendesis terdengar. Untuk sesaat, Jaka menahan nafasnya dan memperhatikan lengan dan kaki Rubah Api. Ternyata begitu aliran tenaga murninya berhenti, tangan dan kaki Rubah Api hanya kempes sedikit.
Banyak juga pembuluh darah yang tersumbat, pikir pemuda ini. Dengan lengkingan tertahan, Jaka menghentakkan tangannya lagi ke dada dan perut. Kali ini hentakkan tanganya tidak selembut tadi, bahkan keras sekali. Orang-orang sampai mendengar suara ‘buk-krak’, seolah-olah pukulan Jaka menghancurkan tulang dan melukai isi perut Rubah Api.
Begitu arus tenaga yang lebih besar lagi masuk, tangan dan kaki Rubah Api tiba-tiba mengejang sampai terangkat, dan membengkak lima kali lebih besar! Pada saat itu juga jarum dan pisau yang menancap juga jatuh tergulir ke samping pembaringan.
“Iih..!” beberapa orang tampak terpekik kaget, sebab bukan tangan dan kaki saja yang mengejang sampai terangkat keatas, bahkan leher Rubah Api juga menggembung, sampai-sampai kepala Rubah Api juga ikut terangkat.
Melihat kejadian itu Jaka tersenyum tipis, ia mencuci tangannya lalu segera bergerak menjauhi pembaringan dan berdiri dekat dengan para sesepuh.
“Ada apa ini?” tanya Ki Benggala cemas juga bingung.
“Tidak apa-apa paman, itu hanya tahap akhir pengobatan, setelah ini, Rubah Api sembuh seperti sedia kala. Bahkan kemungkinan besar tenaga dalamnya bertambah kuat, dari tenaga semula.”
“Oh…” Bukan hanya Ki Benggala saja yang terperanjat, tapi hampir semua orang juga terkejut.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Ki Banaran.
“Itu berkat dua mustika yang sempat ia telan.” Jelas Jaka. “Saya meleburkan mustika itu dalam darahnya sehingga tenaga dalam yang seharusnya punah, terhimpun kembali dan juga bertambah kuat. Kalau saya tidak salah hitung, sekarang, paling tidak Rubah Api memiliki tenaga setara seratus tahun hasil latihan.”
“Wah, beruntung benar dia…” gumam orang tua itu.
“Ditambah lagi ia tidak ada masalah dengan darahnya.” Sambung Jaka.
“Maksudnya?”
“Harus diketahui, mustika akar bunga gurun bisa membuat siapa yang memakannya tidak akan kekurangan darah lagi, misalnya saja dengan pengobatan tadi. Darah dalam tubuh Rubah Api sudah keluar hampir sepertiganya. Dalam kondisi normal, dia sudah sangat kritis, sebuah keajaiban jika masih hidup. Tapi berkat mustika tadi, jumlah darah dalam tubuhnya akan pulih seperti sedia kala—dalam tempo singkat.”
“Oh, begitu rupanya…” gumam Ayunda yang dari tadi memperhatikan Jaka dengan serius.
“Sayang…”
“Kenapa?”
“Tenaga besar yang dimiliki Rubah Api, hanya bisa dikeluarkan tujuh atau delapan bagian saja.”
“Sebab apa?” kali ini Ki Lukita yang bertanya.
“Karena Rubah Api memiliki kekuatan dalam kondisi kritis seperti saat ini, jadi hanya pada saat seperti inilah seluruh bagian tenaganya baru bisa dia keluarkan.”
“Maksudmu jika dia hampir mati, baru bisa mengeluarkan tenaga besarnya itu?”
“Benar. Itu juga tergantung dirinya. Pada saat terdesak bisa saja dia mengeluarkan tenaga itu asal dalam pikirannya ia beranggapan sudah tidak bisa lolos, maka tenaganya bisa terbebas seluruhnya.”
Semuanya mengangguk-angguk paham. “Apakah kondisi seperti ini hanya untuk Rubah Api?” tanya Pertiwi.
“Tidak juga, orang lain juga bisa… tapi kita juga harus melihat kondisinya dulu… tapi apapun itu, yang jelas kemalangan ini memang keberuntungan buat Rubah Api, andai dia tidak dalam kondisi luka parah, biarpun menelan sekarung mustika Akar Bunga Gurun, tenaganya paling hanya maju sampai dua puluh tahun hasil latihan.”
“Eh, kenapa begitu?” ujar Ki Lukita terkejut.
Jaka tersenyum sambil meraba pinggangnya—itu gerakan kebiasaan jika seruling ada di pinggangnya.
“Memang harus diakui, bahwa Akar Bunga Gurun merupakan mustika yang memiliki kasiat banyak, dan dapat menambah tenaga dalam setara dengan lima-enam puluh tahun hasil latihan. Namun ada kenyataan yang harus diketahui, bahwa kasiat mustika itu akan benar-benar tercerna seluruhnya tergantung pada kondisi susunan tulang, otot, dan saraf, masing-masing orang.”
“Jadi…”
“Ya,” Jaka menukas ucapan gurunya. “Lima atau enam puluh tahun hasil latihan menurut saya, itu adalah hasil maksimal mustika itu. Kemungkinan besar, orang yang pernah menelan mustika itu—atau semua mustika yang bersifat membangkitkan tenaga tersembunyi, hanya bisa berkembang paling banyak empat bagian saja.”
“Kalau begitu…”
”Kalau begitu, orang yang pernah menelan mustika serupa, hanya bisa mengembangkan kasiat maksimal sebesar empat bagian.” Potong Jaka menjelaskan lagi. “Dan saya menemukan dan melihat, Rubah Api tidak memiliki kecocokan dengan khasiat mustika. Seperti yang saya katakan, biarpun sekarung mustika yang ia telan, tenaganya tak lebih hanya maju dua puluh tahun hasil latihan…”
“Susunan tubuhnya tidak cocok?” ujar Ki Glagah.
“Benar.”
“Jika analisamu benar, kenapa sekarang bisa berkembang begitu hebat?”
“Karena dia dalam keadan terluka.”
“Oo… jadi,”
“Benar!” Jaka memotong lagi. “Tiap orang dapat memaksimalkan kasiat tiap mustika jika dia dalam keadaan hampir mati. Namun keadaan sekarat juga bukan jaminan untuk mengembangkan kasiat tiap mustika!”
Tiada lagi yang bertanya, sebab pikiran mereka sedang sibuk dengan penjelasan Jaka.
Diam-diam orang-orang yang pernah menelan mustika itu menghela nafas getun. Pantas saja selama ini aku merasa kurang ada kemajuan, ternyata tenagaku hanya bertambah paling banyak tiga atau empat puluh tahun hasil latihan, pikirnya.
Bagi mereka—orang-orang perkumpulan Garis Tujuh—naiknya tenaga murni hampi 40 tahun hasil latihan bukan kemajuan, namun bagi kaum dunia persilatan, kekuatan orang-orang ini merupakan kekuatan seorang mega bintang. Seorang yang juga dikategorikan memiliki kesaktian dahsyat.
“Tapi apakah semua orang harus mengalami sekarat lebih dulu?” tanya wanita berusia 30-an.
Jaka menoleh, ia tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya. “Dalam hal ini, saya bisa menjelaskannya dengan istilah jodoh. Jodoh dalam arti kata, bahwa orang itu memiliki susunan tulang, otot, saraf dan nadi yang cocok untuk sebuah mustika tertentu. Jadi dengan demikian, hanya dengan ditelan mentah-mentah saja, mustika itu akan mengembangkan potensinya sampai batas paling tinggi.”
Bukan cuma wanita itu yang mengangguk paham, kelihatannya semuanya juga mengangguk penjelasan Jaka membuka pikiran mereka.
“Apakah mustika yang sudah ditelan bisa dikembangkan lagi potensinya?” tanya murid kedua Ki Lukita.
“Bisa dan tidak,” jawab Jaka. “Bisa, jika dalam keadan tertentu. Dan, tidak… juga dalam keadaan tertentu.”
“Misalnya?” tanya Pratiwi bingung.
“Bisa yang kumaksud adalah, manakala waktu kau memakan akar mustika itu belum terlalu lama, dengan sendirinya.. kasiatnya belumlah terbuang percuma.”
“Ooo…” gadis ini manggut-manggut. “Dan, kau bisa melakukannya? Memaksimalkannya?” sambungnya dengan mata berbinar.
Jaka tak menjawab, ia berpikir sejenak lalu pemuda ini mengangguk, “Mungkin bisa…” Mau tak mau bukan cuma orang itu saja yang terkesip, semuanya juga terperanjat dengan kepastian Jaka.
Pemuda ini kembali berkonsentrasi penuh dengan kondisi Rubah Api. Jaka memegang lengan dan kaki serta leher yang membengkak besar sekali. Anggota tubuh yang membengkak itu juga mengejang, sehingga sepintas lalu, kaki, tangan, dan kepala, diikat dengan benang dan digantung di atas, terlihat memprihatinkan.. juga menggelikan.
Satu dua jam kemudian, jarum dan pisau baru terlepas dengan sendirinya, pikir Jaka setelah memeriksa dengan seksama. Lalu pemuda ini berjalan menghampiri gurunya. “Guru, lebih baik kita keluar dari kamar ini.”
“Eh, memangnya kenapa?”
“Kondisi Rubah Api tidak akan berubah sampai beberapa lama. Bukankah kita bisa mempergunakan waktu ini untuk hal lainnya?”
“Benar juga!” gumam Ki Lukita. Ki Glagah dan sesepuh lainnya juga setuju.

—ooOoo—

42 – Siasat Mematik Api

Jalan Setapak di Telaga Batu
Kita tinggalkan Jaka sejenak..
Sore itu, diantara banyak orang yang sedang asik mencari aren, terlihat dua orang penduduk nampak sedang menyambit rerumputan, dan memetik daun pohon lumbu, tidak ada yang istimewa dari mereka… sesekali keduanya saling melempar canda. Tak berapa lama, penuhlah keranjang mereka dengan rumput dan daun lumbu. Masih membicarakan hal yang tak jelas keduanya berlalu dari jalan setapak Telaga Batu.
Setelah mereka berlalu, muncul dua orang yang menggunakan pakaian penduduk setempat pula, yang satu memakai ikat kepala kuning yang satunya membiarkan rambut panjangnya tergerai, mereka terlihat mencari-cari sesuatu, wajah mereka menegang mana kala apa yang dicari tidak ada.
“Kau yakin, tidak salah lihat?” ujar orang berikat kepala kuning pada temennya.
“Aku yakin sekali, makanya aku buru-buru memanggilmu.” Katanya dengan gundah.
“Tanda yang kau lihat paling jelas ada dimana?”
“Di sini,” tunjuk si rambut gondrong pada temannya, dia menunjukan semak-semak dekat pohon randu. Mereka melihat semak-semak itu terlihat bersih… rerumputan disana sudah terbabat.
“Sial!” makinya tertahan, mereka sadar, ternyata tukang rumput tadi menghilangkan tanda yang dia lihat tadi.
Dahi orang berikat kepala kuning berkerut, dia merasa aneh dengan kondisi itu. “Coba kau ingat-ingat, dimana saja, tanda-tanda itu kau lihat.”
Orang berambut pajang ini lalu sibuk menunjukannya. Dan mereka terbelalak, mengetahui dimana mereka melihat tanda itu, ternyata sudah di babat oleh tukang rumput tadi.
“Ah, mereka bukan warga biasa!” desis si ikat kepala kuning terkejut. Bagaimanapun dia tak ingin kehadirannya, membuat orang-orang yang asik menderes aren jadi mengamati mereka.
“Apa perlu dikejar?” lelaki berambut panjang ini bertanya ragu.
“Tak perlu, aku yakin mereka tak bertindak sebodoh itu, membiarkan dirinya dapat di kejar.”
“Kelihatannya mereka penduduk asli sini…” gumam si rambut panjang ini. “Cara mereka tadi, sangat wajar dan tidak dibuat-buat.” Duganya.
“Bisa jadi…” ujarnya, dan mereka memutuskan untuk berlalu dari situ. Sebenarnya apa yang mereka cari? Jalan itu adalah jalan yang dilalui Jaka, saat dia dikuntit, pemuda ini sengaja berjalan lambat, pemuda itu belaku seperti itu bukan tanpa sebab, selain untuk membuat penguntit-nya bosan, dia juga mengumpulkan isyarat-isyarat yang ditingalkan teman-temannya. Dia juga meninggalkan isyarat yang sama. Itulah cara Jaka berkomunikasi dengan teman-temannya…
Instruksi yang diberikan pada Mintaraga kelihatannya sudah di terjemahkan dengan sempurna. Bahwasanya, Jaka meminta Mintaraga untuk mengumpulkan semua informasi yang berkaitan dengan apapun yang ada di situ, termasuk pergerakan sekecil apapun, siapa saja yang keluar-masuk kota, dan begitu banyak detail yang diinginkan Jaka. Maka metoda yang digunakan Mintaraga adalah dengan merunut kembali jejak Jaka Bayu.
Dugaannya sangat tepat, sebab disana dia menemukan tanda-tanda, ‘instruksi’ tambahan yang diminta Jaka. Bahkan beberapa anak buah Si Penikam sudah memberikan simbol jawab pada Jaka, tentang siapa Bergola, dan siapa yang menjadi penghubung, atasan, dan dengan siapa dia harus melaporkan tugasnya, yang sudah diterima Jaka pada saat membuat gemas para penguntitnya.
Tak disangka gerakan Mintaraga juga di mata-matai oleh orang lain, entah dipihak siapa si gondrong dan si ikat kepala kuning itu. Begitu mereka berlalu. Muncul pula dua orang yang asik duduk ongkang-ongkang di atas pohon berdahan tinggi.
“Kau tahu apa yang sedang berlaku disini?” Tanya lelaki yang berusia enampuluhan pada orang disebelahnya.
“Ya, kelihatannya hajatan yang dilakukan Perguruan Naga Batu kelewat besar… sampai-sampai para pendatang beradu muslihat.” Jawabnya, dengan tertawa. Orang ini berpenampilan menarik, usianya sekitar akhir tigapuluhan.
“Aku tertarik dengan tukang rumput tadi.” Ujar orang yang lebih tua dengan pandangan menerawang ke depan. “Mereka nampaknya memiliki pimpinan hebat.”
“Haha… tak perlu menduga-duga Ayah…, apakah dia orang hebat atau tidak, biarlah kita nilai pada saat berjumpa nanti.”
Ternyata mereka ayah dan anak, “Aku berharap, bisa berjumpa dengan pimpinan mereka, kau lihat sendiri… kerja mereka sangat cekatan.”
“Ya…” sahutnya. “Ayah, tahukah kau tadi aku berselisih jalan dengan siapa?” tanyanya dengan nada prihatin.
Sang ayah menggeleng.
“Aku berjumpa dengan Beruang…” ujarnya dengan mimik muka aneh.
Sang ayah terlihat kaget, dia paham, yang dimaksud Beruang ini, bukan sebangsa hewan… tapi julukan nama bagi orang, dan orang itu berjuluk Beruang. Seorang manusia yang sangat sulit dihadapi. Konon, Beruang pernah berprofesi sebagai pembunuh bayaran, sebelum akhirnya menyatakan, bahwa membunuh karena uang itu tidak menarik. Menurut kabar, Beruang saat ini sedang menekuni hobi baru… bertaruh nyawa. Beruang kadang menyatroni tempat-tempat yang sering dijadikan kongkow pada ahli beladiri. Bukan saja Beruang penciumannya sangat tajam, pengetahuan orang ini juga luas, entas kau sedang menyamar seperti apa, katanya dia bisa mengenali dirimu… makanya para tokoh yang punya nama besar kadang-kadang kalau berselisih jalan dengan Beruang lantas sipat kuping. Sebab mereka enggan diajak bertaruh, mereka pun masih sayang nyawa.
“Aneh, belum pernah kudengar Beruang sampai ke daerah sekitar sini, bukannya dia berkelana di daerah Cakradenta?”
“Itu yang kuherankan ayah, mungkin kali ini dia akan membuat onar di Perguruan Naga Batu.” Duganya.
“Ah biar sajalah, biarkan semua mengalir apa adanya, saat ini kita hanya memerlukan orang yang akan menjadi pelengkap untuk dua tahun ke depan.” Ujar sang ayah.
“Semoga saja cepat didapatkan…” Jawab sang anak singkat. “Situasi di kota ini kita ketahui dengan baik, tetapi tidak dengan atasan tukang rumput tadi.”
“Ya, karena itu kupikir jangan bertindak gegabah, jangan ikut campur urusan yang tidak perlu. Dan jangan sekali-kali bentrok dengan siapa pun. Terus terang saja aku sangat mengkhawatirkan kelompok penyambit rumput tadi.”
“Ya, ayah.”
“Kau kenal dengan orang yang tadi sibuk mencari-cari tanda?”
“Tidak dapat kuduga ayah, tapi rasanya dari aura si ikat kuning, aku mengenal pola ilmunya.”
“Hm,” sang ayah mengumam. “Kurasa, kalau kau menguntit mereka, kau bisa tahu mereka tak lebih dari anak-anak murid Garis Lintang Perak…”
“Ayah benar.” Tukas si anak dengan tersenyum.
Keduanya tak bercakap-cakap lagi, mereka berkelebat cepat kearah timur. Menuju ke sebuah lereng bukit. Dan kemudian masuk ke salah satu rumah sederhana, diantara beberapa rumah yang berdekatan.
Tiba-tiba saja sesuatu meluncur dari atas pohon yang hanya berjarak dua puluh tombak dari dua orang misterius tadi. Bayangan jangkung itu merapat pada batang pohon.
Apakah ini api yang dimaksud tuan? Batinnya.
Mendadak dia melesat kearah dua orang tadi pergi. Tak berapa lama dia sudah berada di depan rumah di mana keduanya tadi masuk. Rumah itu memang tidak cukup besar untuk ukuran orang kaya, tetapi desain rumah itu sangat bagus dan kokoh.
Orang itu mengeluarkan secarik kain dari balik bajunya. Dia bukannya menutupi sebagian mukanya, tetapi seluruh wajahnya! Termasuk mata! Aneh… kalau dia tak ingin dikenal, kan cukup matanya saja yang diperlihatkan, kalau matanya tertutup, bagaimana dia bisa melihat? Oh, ternyata kain yang menutupi mata, terlihat lebih jarang—menyerupai jaring. Benar-benar cara yang bodoh dan aneh, jika terlihat orang, tentunya sangat mencurigakan, sore masih terang begini… jikalau dia adalah pejalan malam, maka dia keluar telalu cepat!
Dengan langkah tenang, dia mendekati rumah itu, lalu mengetuk pintu.
Satu kali…
Dua kali…
Tidak ada sahutan.
Tiga kali… ketukannya lebih panjang, diselingi nada kecil ketukan lain.
“Siapa?” Tanya orang dari dalam.
“Tamu sore hari.” Sahutnya, kedengaran janggal.
“Kami tidak terima tamu.”
“Tolonglah, aku ingin menginap, aku datang dari utara yang berhawa dingin.” Aneh, jawaban orang ini tak lazim pula.
“Pergilah!” bentak orang dalam rumah.
“Hh… sungguh sayang, padahal aku punya informasi tentang orang yang ingin kalian ketahui.” Gumamnya sedikit keras, agaknya supaya si tuan rumah ikut mendengar.
Tak berapa lama pintu terbuka.
“Silahkan masuk!”
Orang itu masuk tanpa ragu. Kelihatannya ruangan itu cukup luas, tanpa sungkan dia duduk. Sungguh tamu yang tak sopan, mana kedoknya tidak dicopot lagi.
Tak berapa lama, dari dalam muncul tujuh orang berbadan besar. Mereka segera berdiri di belakang orang berkedok, seperti mengurungnya. Tapi dia tetap tenang, seolah tidak ada apa-apa. Dari ruangan dalam muncul dua orang. Oh, kelihatannya ayah dan anak yang tadi.
“Informasi apa yang kau ketahui?” tanya Sang Anak dengan santai.
“Banyak, yang jadi pertanyaan… kenapa aku harus memberikan padamu?”
“Karena kau masuk kesini.” Tandas sang anak.
“Ah, sayang kalau begitu. Lebih baik aku pergi saja.” Ujarnya sambil berdiri. Tapi lelaki dibelakangnya yang menghadang sejak tadi, tiba-tiba mencengkeram bahunya. Kelihatan seperti cengkraman biasa, tapi pada tiap ujung jarinya terdapat benda runcing. Kalau kena, tentu habislah bahunya.
Tapi luput… entah bagaimana cengkeraman cepat itu tak mengenai orang berkedok. Jika kebanyakan orang, setelah lolos dari serangan seperti itu pasti akan membalas, atau meloloskan diri. Tapi orang ini tidak, dia malah mendekati ayah dan anak tadi.
“Apa maumu?”
Orang berkedok ini tertawa. “Kau tanya apa mauku?”
“Benar.”
“Kau pasti memberikannya?”
“Harus kupikir dulu.”
“Baik, aku ingin batok kepalamu.” Sahut orang ini masih sambil tertawa. “Bisa kau pikirkan itu? Atau kau secara suka rela, mau memberikan padaku?”
“Tidak perlu kupikir lagi.” Sahutnya. Mendadak lelaki ini mengipatkan tangannya, selarik sinar putih menyerang Si Kedok. Jarak mereka hanya dua jangkauan saja, kalau bukan orang yang memliki kelihayan di atas rata-rata, tak mungkin lolos dari serangan secepat kilat itu.
Tapi Si Kedok entah orang hebat atau bodoh, jika orang hebat, dia bisa menangkis atau balas menyerang sama cepatnya, tapi Si Kedok sama sekali tidak menangkis, tidak menghindar, diam saja! Dia biarkan dirinya diserang.
Srt!
Oh, ternyata sinar putih itu adalah kain sutra. Kain itu membelit Si Kedok. si tuan rumah segera menyentaknya. Tentu saja Si Kedok ikut terbawa maju.
“Kau mau, jika batok kepalamu yang kuberikan?” tanya si tuan rumah dengan suara dingin.
Si Kedok tertawa ringan. “Kau mau membunuhku? Bodoh! Jika kau berikan kepalaku padaku, bukankah sama saja aku tidak jadi kau bunuh?”
“Hh!” si tuan rumah mendengus. “Kalau begitu anggap kau berutang padaku.”
“Kenapa aku harus berutang?”
“Karena nyawamu kuampuni.”
“Lucu…” sahut si kedok tertawa geli. “Kau pikir seranganmu itu benar-benar mengenaiku?” Usai berkata seperti itu, dia mundur dua langkah. Kain yang membelitnya, terjatuh ke tanah.
“Kau lihat itu?”
Sang tuan rumah mengangkat alisnya, dia kelihatan tak terkejut. “Lumayan juga.”
Memang sesaat dia terkejut, sebab yang bisa menghindari serangan itu, hanya tokoh-tokoh tertentu saja, serangan kainnya itu, adalah lontaran mendadak yang disentak ke kiri denganan ujung jari, sehingga laju kain tidak lurus, tapi menyamping dan membelit pada saat mendekati sasaran, jika sasaran telat menghindar, otomatis akan terbelit. Tadi dia terkejut juga melihat lawannya tidak terbelit, tapi barulah dia tahu kalau si lawan sebelumnya sudah mengira serangannya, dan bergerak memutar berlawan dengan arah serangan, lalu dia bergerak maju lagi, sehingga seolah-olah dia terbelit, padahal kainnya hanya menempel di bajunya saja. Tentu saja saat disentakkan, dia ikut maju ke depan.
“Kau juga lumayan.” Ujar Si Kedok sambil menjura. Ya, dia memang harus menghormati si tuan rumah, karena tahu cara yang ia pakai untuk lolos.
Lelaki ini terheran-heran. “Kenapa kau bilang aku lumayan.”
“Sebab jerih payah ayahmu tidak sia-sia, bukankah begitu?” katanya, tapi kepalanya mengarah pada si kakek yang duduk di sebelah lelaki itu.
Kali ini, tuan rumah baru kelihatan terkejut. “Kau tahu?”
“Jangan heran, kenapa aku tahu rahasiamu. Sebab kau juga mengetahui sedikit rahasia, bukankah begitu?”
“Apa yang kau ketahui?”
Si Kedok tetawa, lalu dia duduk berhadapan dengan kakek tua itu. “Sejauh yang ingin kalian ketahui, mungkin itulah pengetahuanku.”
“Omong kosong!” Bentak sang anak, kelihatannya dia sudah tidak setenang tadi.
“Sabar.” Gumam sang ayah sambil mengangkat tangannya. Dari tadi dia diam saja melihat situasi, dan kini dia sudah merasa kalau dirinya harus turut campur.
“Sekali lagi aku bertanya, sejauh apa kau tahu tentang kami.”
Si Kedok tak menjawab, dia hanya manggut-manggut. “Kalian ingin tahu siapa atasan tukang rumput tadi?”
Kakek ini melegak. “Tidak, tapi kurasa sebentar lagi pasti tahu.”
Si Kedok tertawa, “Benar… kuberitahu sedikit, dia seorang pemuda…”
Mereka berdua terkejut mendengar ucapan Si Kedok. “Tetap saja saat ini aku tak mau tahu.” Jawab sang ayah ketus.
Si Kedok kembali manggut-manggut. “Benar, apakah karena sebentar lagi akan saling bersua?”
“Tahu diri juga kau.”
Tapi Si Kedok tertawa bergelak. “Justru perbedaan itu—yang sebentar lagi—dapat kupastikan, akan menghancurkan dirimu.”
“Apa maksudmu?”
“Kau ingat tadi aku bicara soal apa?”
“Kau mau beri kami infomasi tentang pemuda itu.”
“Benar.”
“Bukankah itu artinya sesaat lagi kami pasti tahu. Suka atau tak suka.”
“Aih, salah umpan, salah umpan…” gumam Si Kedok tak jelas artinya.
Mereka tak paham maksudnya, tapi toh tak ditanyakan apa arti ucapan Si Kedok.
“Lalu siapa dia?” Tanya tuan rumah. Si Kedok menggeleng.
“Apa artinya itu?!” seru si anak berang.
“Tenanglah…” ayahnya menyabarkan lagi.
“Aku hanya ingin memberi tahu kalian satu hal, mungkin besok malam, pemuda itu akan mengunjungi kalian.”
“Ah…” alangkah kaget hati keduanya, tak bisa ditahan lagi. Mereka datang sebagai penduduk, mereka bertingkah seperti rakyat, tetapi orang di depan mereka berbicara seolah tahu semua rahasianya.
“Apa artinya itu?” Tanya si kakek.
“Artinya dia tahu semuanya tentang kalian. Karena itu aku datang ke sini.”
“Lalu apa maksudmu datang kesini, mengejek kami?”
“Tentu saja tergantung keadaan, dan aku yakin tergantung sikap tuan rumahnya juga. Kalau kalian ingin tahu, aku ini cuma perantara saja, hanya kurir yang datang menyampaikan pesan, supaya kedatangan beliau tidak mengagetkan kalian.”
Ayah dan anak itu saling berpandangan. “Beliau, hm?”
“Kenapa memangnya, kalian keberatan kalau orang hebat, kupanggil dengan sebutan hormat?”
“Terserah kau, aku tak ikut campur.”
“Hah, tahu diri juga kau!” seru Si Kedok dengan nada yang sama dengan si tuan rumah tadi.
Mereka mendengus samar. “Aku hanya ingin tahu, tepatnya, kapan dia datang?”
“Besok malam, kentongan kesembilan.”
Suasana jadi hening seketika. “Dan kau, siapa kau sebenarnya?”
“Seperti yang kubilang tadi, hanya perantara.”
“Bukan itu maksudku. Kenapa kau sebut pemuda itu sebagai beliau?”
“Oh, aku paham yang kau maksud. Kau ingin tahu apa aku mengenal baik beliau?”
“Terserah bagaimana kau menafsirkan pertanyaanku.”
“Ah, sebenarnya aku tak ingin memberi tahu, tapi kalian pasti penasaran setengah mati.” Setelah itu Si Kedok terbahak.
“Apa yang lucu?!” bentak si tuan rumah.
“Kau tahu apa yang membuatku tertawa?” mereka tak menyahut. “Aku cuma sedang membayangkan, ada orang bekerja secara rahasia, tapi rahasianya sudah diketahui orang lain. Apa itu tak lucu?”
“Tutup mulutmu!”
Si Kedok tertawa lepas. “Baiklah, supaya kau tidak mati penasaran, kalian tentu ingin tahu apakah aku bekerja untuknya?”
Mereka mengangguk.
“Dugaan kalian benar. Aku memang bekerja untuknya.”
“Sebagai apa?”
Si Kedok tertawa, ia tak menjawab pertanyaan tadi. “Kalian tahu kenapa dari tadi aku tertawa? Tak lain, karena melihat sikap kalian tidak sesuai sebagai tuan rumah. Tapi tak masalah, teka-teki seperti apapun sulitnya, pasti akan terpecahkan.” Dua orang itu terlihat tertegun, kelihatannya mereka tak menduga Si Kedok bicara begitu.
“Kau tak menjawab pertanyaan kami…”
“Kenapa aku harus menjawab.” Tukas Si Kedok getas. “Kalian tahu jawabannya, jadi tidak perlu bertanya sendiri. Dan lagi, menurutku kalian belum pantas.”
“Bangsat, tutup mulutmu!”
“Baik, jangan marah-marah begitu. Aku minta maaf..” seru Si Kedok dengan gaya dibuat-buat, siapapun tahu kalau permintaan maafnya hanya olok-olok.
Keduanya berpandangan, alis mereka berkerut. Entah memikirkan apa. Kelihatannya mereka sangat dongkol, tapi terpaksa harus menahan diri. Sungguh aneh, anak dan ayah dengan sifat seperti orang sebaya.
Si Kedok memperhatikan dua orang itu lebih seksama. Ia membatin, tidak salah… tidak salah, aku memang selalu yakin dengan keterangannya. Benar-benar orang hebat, tak sia-sia, sungguh hidupku tak sia-sia…
“Kelihatannya tidak ada yang perlu didiskusikan lagi. Tugasku sudah selesai.”
Mereka terdiam, tak menanggapi. “ Cuma seperti itu?” Gumam sang ayah dengan bengis.
“Toh pesan sudah kusampaikan, dengan sendirinya, aku harus pergi sekarang.”
“Silahkan…” si kakek berdiri hendak mengantar.
Saat Si Kedok juga berdiri dan melangkah ke pintu, satu hawa kuat menerepa puggungnya.
“Keparat!” bentaknya kaget. Secepat kilat, dia segera membalik badan, geser kesamping, dan beringsut ke belakang. Tapi di belakangnya juga ada serangan hawa dingin menyayat kulit. Oh, tujuh lelaki berbadan besar yang dari tadi diam, juga ikut menyerang.
”Pengecut!” bentaknya gusar. Untung aku waspada, dasar kalian manusia-manusia rendah! Batin Si Kedok.
Si Kedok melejit ke atas, gerakannya sungguh ringan, serangan pedang ke tujuh lelaki tadi lolos, tapi serangan si tuan rumah, segera menyusul. Dalam keadaan melayang seperti itu, sulit sekali berkelit dari dua serangan dahsyat. Tanpa banyak pikir, Si Kedok mengkerutkan tubuhnya, dan menangkis serangan dari kanan kirinya.
Blar! Braak!
Tubuhnya terpental ke belakang dan menghantam dinding rumah, sungguh kuat tenaga dua orang itu. Untung saja dinding bagian atas terbuat dari kayu, bukannya dari batu. Dinding itu pecah dan tubuh Si Kedok terhubalang menembus, hingga jatuh terguling keluar.
Belum lagi dia berdiri sempurna, satu serangan menerpanya, rupanya ada beberapa orang yang sudah berjaga-jaga di luar, dan begitu ada bayangan tak dikenal keluar dari rumah, serentak mereka menyerang Si Kedok.
Tapi bacokan yang hampir saja memotong tubuhnya, dapat dihindari dengan gerakan canggung. Maklum saja, dia masih harus menahankan sakitnya akibat menahan dua gempuran hebat tadi.
Merasa cukup aman karena bisa lolos dari serangan tadi, dia menghela nafas lega, tapi belum lagi kelegaan dirasakan lebih lanjut…
“Jangan mimpi kau bisa lolos!” desis sang ayah, bengis. Dia memburu keluar bersama anak dan pengawalnya. Di dahului tujuh pengawalnya, mereka menyerang Si Kedok dengan gerakan cepat.
Pengawal pertama dan kedua membacoknya dari kiri kanan. Dengan terhuyung Si Kedok menghindar dengan gerakan memutar cepat. Bukan gerakan memutar ke belakang, tetapi ke kiri! Serangan pengawal ke satu, hanya selisih seujung jari.
Pengawal itu kaget sekali kalau lawannya begitu dekat dengan dirinya. Dengan gerakan tergesa, dia menarik goloknya, dan menyerang punggung Si Kedok dengan gagang golok. Tapi Si Kedok bukan orang bodoh, dia sudah memperhitungkan serangan itu, dengan manis, dia meloloskan diri dari bawah ketiak lawannya.
“Serangan tolol!” ejeknya, begitu menghindar serangan itu, langsung melenting, berjumpalitan ke belakang. Dia tahu ada tiga orang yang hendak menyerang dirinya.
Tapi kali ini Si Kedok skak mat, dia terkepung! Rupanya serangan tiga orang itu hanya pancingan, supaya Si Kedok menghindar, sementara yang lain mengantisipiasi gerakan berikut dengan mengurung tempat berdirinya yang berikut.
Orang ini terkejut, sungguh tak sangka pengawal yang kelihatan hanya mengandalkan badan besarnya, bisa bekerja sama seapik itu.
Sret!
Sebuah anak panah kecil berkesiuran menyerangnya lagi. Si Kedok menghindar dan mengibaskan lengan bajunya. Tapi, buuk!
Rupaya serangan itu hanya kamuflase, dan serangan sebenarnya adalah kibasan kain sutra tanpa suara, menghantam dadanya. Itulah serangan si tuan muda.
“Manusia rendah! Kelihatannya kalian hanya layak dihadapi dengan cara-cara kaum rendah!” bentak Si Kedok dengan terbatuk-bantuk, sungguh tak sangka dirinya dikibuli dengan siasat usang.
Belum lagi dia kembali beraksi, Sang Ayah dan anak tak memberinya waktu untuk menghindar, dua orang ini menyerang dengan dahsyat.
Sebisa mungkin Si Kedok mengelak. Tubuhnya meliuk-liuk, melenting dan kadang tengkurap di tanah, sungguh gerakan menghindar tak lazim, aneh, juga terlihat buruk, tapi justru gerakan seperti itu sangat ampuh untuk menghindari serangan, namun, lama kelamaan serangan kedua orang itu bisa mendesaknya.
Seharusnya dia masih bisa bertahan tiga atau empat puluh jurus lagi, jika mau menghindar mundur, tapi Si Kedok tidak melakukan itu, sebab dia tahu, jika dirinya mundur, para pengawal yang mengepung pasti menyambut tubuhnya dengan bacokan.
Untuk menghindari serangan pengawal, mudah baginya, tapi tidak mudahnya kalau dua orang tuan rumah juga ikut menyerangnya. Itu sama saja, sudah jatuh minta ditimpa tangga.
“Kena kau!” seru si kakek menghantamkan tapaknya ke dada Si Kedok pada saat dia sedang menghindari serangan anaknya.
“Kau yang kena!” desisnya sambil menyambut serangan tapak itu dengan siku kanannya. Sebelumnya, dia memang sedang terhuyung karena menghindari serangan anaknya, begitu lolos, dia melihat sang ayah hendak menyerang. Sambil menyeringai karena girang—juga lantaran punggungnya sakit—dia merogoh saku baju dan memasang sesuatu pada sikunya.
Plak!
“Ah…!” sang ayah menjerit terkejut, dan segera mundur. Sang anak juga tak melanjutkan serangan. Terlihat ayahnya memandangi telapak tangan dengan sorot mata kaget.
Kesempatan sebagus itu, tidak disia-siakan Si Kedok dengan menghirup udara sekuat mungkin, lalu dia mengeluarkan benda seperti buah anggur, dari balik bajunya.
“Selamat tinggal!” serunya sambil terbahak.
Mereka melihatnya, dan sadar apa yang akan dilakukan. “Awas!” teriaknya gusar.
Terlambat!
Buum!
Si Kedok sudah membantingnya. Asap putih pekat mengulung tebal. Pada lingkup sepuluh tombak, segera tercemari asap tebal.
Mereka—tuan rumah dan pengawalnya—mundur teratur, khawatir kalau Si Kedok memanfaatkan situasi itu untuk menyerang.
Entah terbuat dari bahan apa, asap itu bukannya membuyar setelah agak lama, tapi tetap saja seperti awal, tebal pekat. Setelah sepeminuman teh kemudian, barulah asapnya menipis, tapi toh, belum membuat mereka lega, sebab asap itu belum diketahui beracun atau tidak.
Sebab beberapa dari mereka yang menghisapnya, berulang kali bersin dan batuk.
“Dia lolos!” geram si tuan rumah muda.
“Mengerikan… sungguh mengerikan,” desis sang ayah, sambil menatap tangannya.
Rupanya, saat dia berbenturan dengan Si Kedok, telapak tangannya terkena semacam selusub, jarum kecil setipis bulu jika ditusuk pelan, pasti tak terasa. Tapi lantaran dia memukul dengan tapak dan mengerahkan tenaga pula, rasanya seperti disengat kalajengking, dan gatalnya bukan main.
Mungkin itu yang dimaksud Si Kedok, bahwa lawannya layak dihadapi dengan cara-cara kaum rendah.
“Eh, aneh…” gumamnya.
“Ada apa?”
“Lihat…” ia sorongkan tangan yang tadinya bengkak, kini perlahan mengempis dan kelihatan racunnya mulai mengendap, sirna. Hanya tinggal setitik warna merah di tengah telapak, mungkin disitu asal serangan balik Si Kedok.
“Aneh…” anaknya mengumam pula.
Tak berkomentar lagi, mereka masuk kembali ke dalam rumah. Bagian atas rumah yang bolong, dengan cepat ditembel para pengawal.
Sore kian temaram, sungguh kejadian didunia ini banyak ragamnya. Ada mata-mata, tetapi dia sendiri dimata-matai orang lain.
Dan kini ada satu lagi!
Sosok tubuh terbungkus kain kelabu bergerak melayang dari atap rumah. Gerakannya sungguh ringan, kelihatannya berkali lipat lebih hebat dari Si Kedok tadi. Kalau dia sudah ada di atas sana lebih dulu dari Si Kedok, berarti tuan rumah tidak menyadari kehadirannya. Jika dia datang setelah semua berkumpul, maka orang-orang di dalam rumah tadi tidak ada yang becus—termasuk Si Kedok. Sebab, mereka tak mengetahui adanya penyusup.
“Aneh, sungguh aneh…” gumamnya pula.
Apakah dia juga merasa aneh dengan racun tadi, atau dengan situasi yang terjadi? Atau karena hal lain?
Entahlah, tidak ada yang tahu secara pasti. Begitu banyak kejadian yang membuat bingung… siapa mengintai siapa, siapa mengincar siapa, belum diketahui. Bahkan Jaka sendiri yang sudah malang melintang dengan teman-temannya di dunia mata-mata juga tak akan menduga sama sekali apa yang bakal terjadi nanti!

—ooOoo—

43 – Bertutur Kisah Lampau

Ruang bawah tanah

Kembali pada Jaka..

Dengan di iringi hadirin, mereka keluar kamar. Di ruangan tengah—ruangan yang dindingnya terdapat banyak pintu dan lorong, Ki Glagah mengajak yang lainnya untuk duduk—lesehan, sebab tak ada kursi.

Ki Alit Sangkir masuk ke salah satu lorong, tak berapa lama kemudian ia keluar.

Satu menit setelah Ki Alit Sangkir keluar dari lorong, empat orang wanita separuh baya dan dua lelaki botak—yang dandanannya serupa dengan dua orang di kamar Rubah Api, muncul. Mereka membawa nampan dan kendi serta gelas yang terbuat dari tanah liat. Berbincang-bincang tanpa ada cemilan, rasanya ada yang kurang.

Alis Jaka terangkat satu, diam-diam Jaka tersenyum senang. Kebetulan, aku sudah mulai lapar. Kali ini aku tak perlu malu untuk makan banyak, pikirnya.

Ki Gunadarma memperhatikan senyuman pemuda ini, lelaki itu tertawa geli. “Apa yang membuatmu tersenyum Jaka?”

Jaka terkejut mendengar pertanyaan Ki Gunadarma, sekejap, wajahnya memerah. “Saya pikir menyenangkan sekali berbincang-bincang sambil makan. Soalnya di penginapan makanannya payah sekali.” Jawaban Jaka yang lugas tanpa menyembunyikan apa yang ia pikirkan, membuat beberapa orang tersenyum geli.

Benar-benar polos! pikir mereka. Tapi ada juga yang berpendapat kalau itu memalukan.

Tak berapa lama kemudian, makanan ringan seperti onde-onde, bakwan, tahu goreng, pisang goreng dan berbagai makanan yang lezat telah terhidang.

“Silahkan.”

Begitu dipersilahkan, tanpa sungkan Jaka mengambil makanan kesukaannya, bakwan udang.

Beberapa orang tertawa melihat ulah Jaka, namun dimata para sesepuh, tindakan Jaka jauh dari munafik.

“Nah, saatnya berbincang.” Kata Ki Benggala setelah ia meminum habis air aren dalam kendi.

“Benar, dan kebetulan banyak pertanyaan yang akan kutanyakan padamu.” Sambung Ki Lukita.

“Silahkan,”

“Kulihat kau menggunakan tongkat bambu lentur sebagai ikat pinggang, bambu itu kau dapat dari mana?”

Ah, Jaka mendesah dalam hatinya. Agak diluar dugaan juga ternyata para tetua bertanya masalah ini. “Saya mendapatkan dari seseorang,”

“Siapa dia?” hampir serentak delapan sesepuh itu bertanya. Jaka terperangah. Aneh, pikirnya. Jangan-jangan tak sesepele yang kusangka?

Begitu juga dengan anggota lain, mereka sering berkumpul dengan sesepuh, tentu saja tahu seperti apa sifatnya. Saat ini para sesepuh menunjukkan antusias besar, tentang bambu lentur milik Jaka. Pasti ada apa-apanya. Beberapa orang yang tadinya bosan, kini tertarik dan mengikuti perbincangan dengan serius.

Jaka termenung sesaat, sekilas rona wajahnya agak berubah. Perubahan sekejap itu tak lepas dari mata tiap orang. Dan, masing-masing memiliki kesimpulan sendiri. Ada yang beranggapan bahwa masalah itu memalukan untuk diutarakan, juga ada yang beranggapan mungkin bersangkutan dengan soal pribadi.

“Sebenarnya agak riskan untuk saya ceritakan,” Kata pemuda ini sambil termenung sesaat.

“Apakah ada syarat tertentu untuk mendengar ceritamu itu?” tanya Ki Lukita cepat tanggap.

“Guru memang pengetian.” Sahut Jaka sambil tersenyum simpul. “Saya memang memiliki syarat tertentu.”

”Beratkah?”

“Bagi yang dapat dipercaya, syarat saya ringan saja. Tapi bagi mereka yang tak biasa pegang janji, ini mungkin berat.”

”Maksudmu kau ingin kami yang mendengar ceritamu, tidak menceritakan pada siapapun?” tanya gurunya.

“Benar. Bukan sekedar janji, tapi sumpah; bahwa siapa yang mendengar cerita ini tidak mengutarakan dalam bentuk apapun, pada siapa dan apa.”

Siapa, dan apa? Diam-diam 8 tetua mengagumi kecerdikan Jaka. ‘Siapa’ yang dimaksud tentu manusia. Dan ‘apa’, adalah sesuatu—selain manusia. Bagi orang awam, syarat Jaka ini agak ‘miring’. Masa selain manusia, bisa jadi curahan hati untuk menyampaikan rahasia? Maksudnya bukan demikian. Misal, jika kau tak tahan merahasiakan, lalu menulisnya pada batu, bukankah sama dengan memberitahukan pada ‘apa’?! Jadi, maksud Jaka sudah jelas. Tak ada jalan untuk mengutarakan rahasia, kecuali disimpan di hati.

Tentu saja anggota lain tahu maksud Jaka. “Hh, berbelit-belit.” Gerutu seseorang.

Jaka mendengarnya, dia segera menyambung penjelasannya. “Jika memang harus disampaikan, tentu harus dipilih mana yang perlu diutarakan, dan mana yang harus disimpan.”

“Jadi kami harus bersumpah?” tanya Ki Gunadarma.

Pemuda ini tersenyum. “Tidak perlulah, saya percaya, janji dalam hati rasanya cukup. Jika enggan menerima syarat, tapi ingin mendengarkan, cukup ditimbang dengan hati saja, syarat tadi. Enteng kan? Lagi pula Tuhan Maha Tahu, saya tak perlu pusing-pusing harus bertanya apakah kau sudah bersumpah atau belum.”

Mereka tercengang mendengar ucapan Jaka yang banyak mengisyaratkan maksud dan arti berlainan.

“Baiklah, akan saya mulai…”

“Aku heran denganmu Jaka,” Ki Lukita memotong ucapannya. “kalau tahu apa yang akan kau utarakan merupakan rahasia, kenapa kau ceritakan juga?” ia bertanya heran, namun Jaka tahu pertanyaan itu juga untuk mengujinya.

“Saya percaya! Saya pikir orang-orang yang ada dihadapan saya bisa dipercaya. Seandainya pikiran saya keliru, ya… itu resiko.” Ucapan Jaka terdengar ringan, tapi bagi mereka terdengar seperti tamparan. Benar-benar bocah kurang ajar, pikir mereka.

“Lagi pula antara guru dan murid tak ada rahasia. Guru meminta, murid memberi. Murid Meminta, guru memberi. Guru mengajar, murid meresapkan dalam hati dengan baik. Karena itu saya tidak memiliki rahasia yang perlu disimpan. Setidaknya, selama pertanyaan tidak berkaitan erat dengan pribadi, dan pribudi kelahiran manusia bernama Jaka Bayu ini.”

Bagi orang berpengalaman, paham dengan apa yang diucapakan Jaka, Ki Lukita merasa terharu. Tapi mereka yang muda tidak begitu paham dengan ungkapan Jaka.

“Maksudmu bagaimana?” tanya Wiratama tak paham.

“Jika guru bertanya padaku mengenai rahasia pribadiku yang berkaitan erat dengan adanya aku didunia ini—artinya bersangkutan dengan orang tua, silsilah keluarga dan lain sebagainya, maka aku tidak harus, bahkan dapat menolak memberitahu pada guru. Apabila ada orang yang memintaku untuk menyimpan rahasia, maka aku-pun tidak akan mengemukakannya walaupun guru berbudi yang menanyakan hal itu.”

“Jadi kisah yang akan kau ceritakan itu, apakah ada hubungannya dengan seseorang yang memintamu untuk menyimpan rahasia?”

“Ada dan juga tidak, beliau memintaku agar apa yang terjadi saat itu tidak disebarluaskan. Dengan sendirinya memintaku untuk tidak bercerita pada orang, namun karena beliau tidak meminta secara langsung untuk merahasiakannya, dalam hal ini ada satu isyarat yang beliau berikan padaku, bahwa kejadian itu boleh diketahui oleh orang tertentu. Yakni mereka yang dapat mengambil hikmah dari kejadian yang akan saya kemukakan. Saya pikir, andika(anda) sekalian adalah manusia paripurna, sudah pasti dapat memiliah, dan memilih hikmahnya. ”

“Kenapa pada awalnya kau ingin kami bersumpah?” tanya Ayunda.

“Karena kata ‘tidak boleh disebarluaskan’-lah yang membuatku berlaku hati-hati saat hendak menceritakannya. Akupun harus membatasi diri…”

“Maksudnya?”

“Hanya sekali ini saja persoalan tersebut keluar dariku, untuk selanjutnya tidak akan pernah lagi. Walau diperbolehkan menyampaikan pada orang-orang tertentu, supaya bisa mengambil hikmah.”

“Aku tak begitu paham…” desah gadis itu.

“Pengalaman memang membedakan semuanya,” sahut Ki Lukita. “Apa yang dikemukakan Jaka merupakan tata kesopanan cara menghormati amanat yang diberikan seseorang padanya. Kalau kita bertindak bijaksana, maka apapun yang menjadi janji dalam hati, dan rahasia dalam diri, bisa di sampaikan dengan benar—tanpa rasa bersalah—pada orang yang dapat dipercaya.”

Semua—mereka yang tak paham—mengangguk, kini pandangan mereka pada Jaka berubah, mereka tidak lagi memandang bahwa kharisma yang ditimbulkan Jaka karena kehebatannya saja, tapi karena kebijakkannya menimbang segala sesuatu, dan menempatkannya pada bagian yang sesuai.

“…yang memberikan bambu ini adalah seorang kakek. Beliau berbadan besar dan tegap, semua rambutnya sudah memutih. Sayangnya walau sudah beberapa lama tinggal dengan beliau, saya lupa menanyakan namanya. Hh, sungguh ceroboh…”

“Terus dimana kau berjumpa dengan beliau?” ujar Ki Benggala. Dalam pertanyaan itu terkandung rasa hormat. Jaka terkesip mendengar nada hormat dari pertanyaan Ki Benggala.

“Waktu itu saya berada di sebuah gunung, sayang tak bisa saya sebutkan di gunung mana. Kata orang, di gunung itu banyak hal-hal menarik, saya segera bergegas kesana. Tidak tahunya begitu sampai di lambung gunung, saya dihadang puluhan orang yang memakai tutup kepala, sikap dan tindak tanduk mereka aneh. Mata kiri tiap orang itu ditutupi kain. Semula saya pikir, mungkin seragam penutup mata itu, sekedar simbol saja. Tapi dugaan saya salah, mata kiri mereka terluka.

Mereka menghadang, dan mengatakan pada saya bahwa gunung itu tidak boleh dimasuki orang. Tentu saja saya heran, para penduduk mengatakan gunung itu senantiasa terbuka untuk tiap orang, tidak ada larangan apapun. Penduduk kaki gunung juga tidak pernah mengatakan di gunung itu ditinggali sekelompok orang. Kalaupun ada, pasti dia seorang penduduk desa yang senang hidup digunung. Karena penasaran maka saya bertanya pada orang-orang itu,

“Eh, sebenarnya darimana tuan-tuan ini? Kenapa saya tidak boleh naik keatas gunung?”

“Tak usah banyak bacot, pergi kau!”

“Eh, tapi bac.. mulut saya cuma satu tuan.”

Sampai disini banyak orang tertawa, cara Jaka bercerita seolah ada dua orang disitu, bahkan percakapan yang ia ceritakan juga berlainan tinggi rendah suaranya.

“Tak perduli segara omongan setanmu, pergi kau dari sini sebelum terlambat!”

”Lho, kenapa omongan saya omongan setan? Saya kan manusia, bukankah saya tidak bisa diusir?”

”Bangsat! Kami penguasa gunung ini, tahu! Setiap keputusan terserah dengan kemauan kami, orang udik tolol!”

Kembali banyak orang tertawa, tak terkecuali Diah Prawseti. Beberapa pemuda yang naksir berat dengannya, menghela nafas berat. Jaka benar-benar saingan tangguh! Pikir mereka.

“Jawaban mereka benar-benar membuat gemasnya. Tapi saya terus mencecar mereka dengan pertanyaan.

“Tapi setahuku gunung ini tidak pernah dihuni sekelompok orang. Kalau sekelompok monyet memang ada.”

“Monyet busuk!”’ maki orang itu makin kasar saja. Karena makian itu makin lama makin tak senonoh, saya makin senang menggoda mereka.

“Bukan, bukan… kata penduduk kaki gunung, bukan sekelompok monyet busuk. Cuma monyet… tidak busuk!”

“Waktu itu saya mengatakannya dengan tingkah makin menyebalkan. Saya tidak perduli mereka sudah pasang tampang galak—padahal tampang mereka itu lebih mirip penjual ikan ketimbang centeng. Sungguh aneh, kenapa orang semacam mereka bisa menjadi pengawal?

“Kau pemuda dogol! Sudah kukatakan disini tidak ada apa-apa!” ‘ maki mereka gusar, tapi bagi saya mereka terlihat menahan tindakan kasar. Ini mengherankan, sebab dalam perkiraan saya, kemampuan mereka lebih hebat ketimbang caican mereka. Maka, saya simpulkan mereka anak buah seseorang yang ditakuti. Mungkin, karena sebelumnya sang pimpinan memberi mandat supaya tidak berbuat onar digunung itu. Untuk memancing agar mereka bertindak lebih kasar lagi, saya-pun mulai memaki mereka.”

“Memaki?” ujar Andini dengan bibir mencibir.

“Kenapa?” Jaka bertanya heran.

“Tidak dapat kubayangkan orang seperti kau memaki…” kata gadis ini blak-blakan. Sesaat kemudian barulah ia sadar, dari ucapannya mengartikan dia memperhatikan Jaka, wajah gadis itu merah jengah. Tapi dia adalah gadis pendekar, bukan gadis pingitan, sikapnya sudah kembali seperti semula.

Beberapa orang terlihat tersenyum geli melihat perubahan air muka Andini. Tapi ada juga yang makin cemberut.

Jaka, untuk urusan berkenaan dengan perasaan wanita, boleh dikatakan tidak paham. Karena itu ucapan Andini dianggap sebagai komentar seorang pendengar.

“Memaki memang bukan kegemaranku. Dan aku juga enggan memaki mereka. Mungkin lebih tepat lagi dikatakan menyindir. Kukatakn pada mereka,

‘ “Oh, begitu. Sebenarnya saya datang kemari karena mendengar kabar diluar sana…” ‘

‘ “Kabar apa?” ‘ tanya seorang dari mereka. Sedikit-banyak perhatian mereka terpancing juga. Karenanya, saya terus membual mengenai satu cerita.

‘ “Katanya disini banyak terdapat tanaman mustika, salah satu jamur yang tiap hari warnanya bisa berubah. Lalu untuk beberapa hari kemudian lenyap, layu dan menghilang tanpa bekas.” ‘

‘ “Benarkah?” ‘ kelihatannya mereka tertarik. Dari situ saya dapat memastikan mereka adalah sekumpulan orang-orang yang hanya tahu bertindak tanpa berpikir.

“Coba bayangkan mana ada jamur mustika seperti yang saya sebutkan tadi. Apa yang saya sebutkan adalah ciri kebanyakan jamur tanah. Bukankah beberapa jenis jamur ada yang hanya bisa tumbuh dalam lima hari saja dan tiap harinya warnanya berubah? Dan setelah lebih dari lima hari jamur itu akan mati… artinya sama dengan lenyap?!”

Mereka mengangguk membenarkan. Tentu saja mereka juga tahu penjelasan alasan Jaka. Cuma, mereka tak menyangka Jaka adalah orang yang suka berbelit-belit. Ambil saja contoh alasan jamur tadi, nampaknya sederhana, padahal butuh penjelasan seperti tadi.

“Untuk sesaat saya ragu meneruskan cerita saya tadi, maklum saja… boleh jadi mereka orang kasar, namun kita tidak boleh menilai orang hanya dari melihat tampang saja.” Kata Jaka meneruskan penuturan ceritanya.

‘ “Dimana letak benda yang kau sebut tadi?”‘ mereka bertanya dengan penuh antusias.

‘ “Entahlah, kalau aku tahu sudah dari dulu-dulu kemari. Kata orang, tanaman mustika itu ada di sekitar daerah sini, tapi entah dimana.” ‘

‘ “Benar begitu?” ‘ Saya membenarkan.

‘ “Konon tanaman itu dipelihara orang dan di jaga segerombolan hewan piaraan.” ‘

‘ “Omong kosong!” ‘ seru seseorang membentak.

‘ “Lho, ini bukan omong kosong! Tap-tapi.. memangnya kenapa?” ‘

‘ “Didaerah sini selain…” ‘ orang itu tidak meneruskan bicaranya karena kawan yang disebelah menyikut iganya. ‘ “Pokoknya tidak ada orang yang tinggal disini, kami biasa memastikan itu!” ‘

‘ “Mungkin saja engkau benar, tapi bagaimana dengan kawanan binatang yang berkeliaran menjaganya?” ‘ saya sengaja bertanya seperti itu untuk menyindir mereka. Itupun kalau mereka merasa tersindir.”

Mereka yang menyimak cerita Jaka, paham prihal sindiran itu. Kalau disebutkan daerah itu tak ada lagi orang menghuni, tentu yang dimaksud dengan ‘binatang yang berkeliaran’ adalah mereka sendiri. Dan dari cerita itu, mereka bisa berkesimpulan, orang yang dihadapi Jaka memang komplotan yang jarang menggunakan otaknya.

Situasi yang dialami Jaka saat itu memang cocok buat pemuda ini. Jaka memang tak suka basa-basi, tapi main kayu—bermain kata, bersiasat—mungkin jagonya.

‘ “Eh, yang benar saja…” ’ sahut mereka tak banyak pikir.

‘ “Kalau begitu menjaga tanaman mustika adalah mereka, binatang itu! Aku jelas manusia, berarti bukan aku yang menjaga. Kalau begitu, jangan-jangan kalian yang menjaga mustika itu!?” ‘

‘ “Apa maksudmu?” ‘

‘ “Bukankah kau bilang daerah ini tertutup untuk manusia, dan aku bilang ada yang tinggal disini dengan para penjaganya, tentu saja penjaganya itu bukan manusia dan kali ini aku bertemu dengan segerombolan orang yang aku curigai sebagai penjaga mustika…” ‘

“Mereka saling berpandangan, sejauh itu mereka belum tahu apa yang saya bicarakan. Tentu saya kesal, sudah banyak waktu saya buang hanya untuk membual. Dari kejadian itu saya bisa mengambil pelajaran berharga, yakni; ada kalanya akal muslihat bisa memperdaya orang, tetapi perhitungan orang pintar kadang tak berlaku bagi orang bodoh, sebab orang bodoh tidak pernah memperhitungkan apa yang ia perbuat. Karena mereka tak kunjung mengerti, saya menyindir terang-terangan.

‘ “Maksudku adalah; kalian ini mungkin saja penjaga mustika. Apa kalian memang menjaganya? Tapi, karena daerah ini tertutup bagi manusia, maka kusimpulkan kalian ini memang bukan manusia! Hm, mungkin sejenis hewan penjaga mustika yang berbentuk seperti manusia.” ‘

“Kalau ucapan sejelas itu belum paham, saya tak tahu cara apa membuat mereka marah. Untungnya mereka paham dengan ucapan saya. Begitu selesai berkata, sialnya mereka langsung memanah saya. Untung saya waspada, begitu panah dilolos, saya segera kabur. Namun ada keanehan, mereka tidak mengejar saya. Padahal kalau dipikir-pikir jarak saya dengan mereka hanya terpaut lima tombak saja. Karena penasaran, malam harinya saya menyusup keatas, kebetulan tidak ada penghalang.”

“Apa yang terjadi disana?!” tanya Andini tak sabaran.

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Jaka perlahan. Jawaban itu membuat Andini jadi berkerut alis. “Maksudnya itulah kesan pertamaku.” Katanya pada gadis cantik itu, lalu ia kembali meneruskan ceritanya.

“Lebih jauh masuk kedalam, saya menemukan sebuah benteng besar. Sebuah benteng yang terbuat dari batu cadas, sangat kokoh, kuat. Sepengetahuan saya, tidak ada satupun penduduk yang pernah bercerita tentang adanya benteng itu. Dengan demikian saya berkesimpulan bahwa keberadaan mereka, mestinya tanpa sepengetahuan penduduk. Mungkin mereka juga berusaha menghindari penduduk. Menilik bangunannya, mungkin sudah berusia puluhan tahun. Saya sangat kagum, entah bagaimana cara mereka menutupi mata penduduk.

“Dua puluh tombak dari benteng, ada barisan penghambat berdaya gaib. Mulanya saya tidak tahu barisan apa itu, tapi setelah memasukinya, baru paham, ternyata gubahan barisan Enam Muskil Menjelma…”

“Eh…”

Beberapa orang tetua terperanjat, tapi Jaka enggan menanyakan sebab kekagetan mereka. Menurutnya, mereka kaget lantaran barisan itu pernah tersohor pada waktu yang lampau.

“Singkatnya, saya bisa melewati barisan itu dan menyusup kedalam benteng. Lalu, apa yang saya lihat benar-benar membuat bulu kuduk berdiri, dan jantung berdebar lebih cepat. Di situ banyak tubuh bergelimpangan, saat itu saya tidak tahu apakah itu mayat atau bukan. Tapi keadaan mereka benar-benar mengenaskan. Lalu ada seorang kakek yang sedang dikeroyok tujuh orang sebayanya. Ilmu mereka benar-benar luar biasa. Paling tidak, menurut taksiran saya, mereka berdelapan memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Pertarungan itu adalah pertarungan paling dahsyat yang pernah saya saksikan.

“Tujuh orang pengeroyok itu memiliki ilmu barisan penyerang amat dahsyat, yang jelas tiap kali kakek yang dikeroyok itu menyerang, serangannya dapat diatasi dengan mudah, padahal menurut saya, tenaga kakek itu paling tidak ada satu kali lipat dari lawannya. Hh, pertarungan itu benar-benar menyita seluruh perhatian saya..

“Anehnya setelah sekian lama, kedua belah pihak tidak dapat mendesak satu sama lain. Menurut perkiraan saya, rasanya sangat mustahil ketujuh orang yang memiliki tenaga dalam seratus tahun lebih, tak dapat memenangkan pertarungan, apalagi didukung barisan penyerang lihay. Walau kakek yang dikeroyok tenaganya hampir satu kali lipat lebih besar dari seorang penyerangnya, diapun sanggup bertahan lama. Kesan yang saya peroleh, mereka seperti sedang berlatih, tapi itu tak benar, mengingat banyak korban bergelimpangan.

“Saat itu saya tak ambil pusing dengan pertarungan itu, yang jelas, mereka yang menjadi korban harus segera ditolong. Tak banyak pikir akibatnya, saya masuk dan memeriksa mereka satu-persatu. Untungnya, tak ada yang tewas, anehnya keadaan mereka seperti mati suri. Kondisi mereka seperti orang mati yang sudah dibalsem lama. Itu merupakan kasus baru bagi saya! Jumlah korban dua puluh tujuh orang. Saya kumpulkan mereka disatu sudut ruangan. Saat itu saya tidak menyadari, pertarungan sudah berhenti. Perhatian saya tercurah hanya untuk menolong para korban. Beberapa lama kemudian, saya dapat menolong salah satu korban. Hh, sungguh memeras keringat! Untungnya saya berhasil mendapatkan metoda pengobatan singkat efektif. Waktu pengobatan yang saya perlukan hampir selama empat kentungan. Mereka siuman, kelihatannya sehat-sehat saja. Rasa penasaran, membuat saya ingin mengetahui persoalan dalam benteng itu hingga detail. Saya bertanya kepada mereka,

‘ “Apa yang terjadi disini?” ‘ tanya saya pada salah satu korban. Tapi orang itu cuma menggeleng lemah, begitu menghibakan. Tak mendapat jawaban memuaskan, saya tidak berani mendesak. Karena belum menemukan jalan terbaik mengetahui apa yang terjadi, saya juga ikut-ikutan diam.

‘ “Siapa kau anak muda?” ‘ tiba-tiba seseorang menegur dari belakang. Saya baru sadar pertarungan mereka terhenti karena kedatangan orang asing—sayalah orangnya. Atas pertanyaan tadi, saya sangat terkejut, kedatangan mereka tidak terdeteksi, kalau mereka mau, saya yakin waktu itu saya sudah terkapar karena bokongan.

“Saya menyadari situasi tak menguntungkan, saya segera berdiri dan menghormat dua kali—saat itu mereka berdiri dalam dua kelompok terpisah, kelopok pertama tujuh orang pengeroyok, dan kelompok kedua adalah satu orang yang dikeroyok.

‘ “Saya hanya seorang pengelana.” ‘

‘ “Bagaimana kau bisa sampai disini?” ‘ tanya orang yang dikeroyok itu.

‘ “Tentu saja lewat jalan yang disediakan.” ‘

‘ “Maksudmu kau melewati barisan yang kami buat?” ‘

‘ “Ya, memangnya kenapa, bukankah barisan itu merangkap sebagai jalan? Tentu saja sebagai jalan digunakan untuk dilewati. Supaya bisa masuk, sudah tentu saya harus melewatinya, masa dalil sederhana tak bisa dipahami.” ‘

‘ “Kau… mustahil! Kau mampu melewati barisan kami, dasar pembual! Katakan siapa yang memberi tahu kunci barisan itu!” ‘

‘ “Kenapa harus minta tolong orang kalau saya bisa lewat sendiri?” ‘

‘ “Mustahil! Aku tak percaya kalau barisan kami itu kau lewati segampang itu!” ‘

‘ “Kami?! Memangnya…” ‘ berulangkali ucapan itu dikeluarkan salah satu kakek pengeroyok, membuat saya heran, namun saya tak berani lancang bertanya.

“Saya tambah bingung melihat mereka—dari dua kubu berlawanan—saling pandang heran. Saat itu saya dibingungkan dengan ‘keakuran’ mereka. Kejadian itu membuat saya berkesimpulan; kemungkinan besar mereka kenal baik satu sama lain, entah karena apa bisa sampai gontok-gontokan seperti itu.

‘ “Jangan banyak tanya!” ‘ hardik seorang dari tujuh pengeroyok.

“Saya-pun tak banyak omong lagi, karena situasi tak mengijinkan.

‘ “Anak muda, kau seorang tabib?” ‘ tanya orang tua yang tadi dikeroyok.

‘ “Boleh dikatakan begitu kek.” ‘

‘ “Kurasa jawaban yang tepat adalah ya!” ‘ ujar kakek itu sambil tersenyum ramah.

‘ “Tidak mungkin! Pembual macam dirimu bisa menjadi tabib? Puih!” ‘ seseorang mengejek sambil meludah. Sesabar apapun saya, panas juga perut ini. Kalau ada kesempatan, rasanya ingin kulempar kotoran apa saja kewajahnya.”

Jaka bercerita sambil cemberut, ekspresinya sulit ditebak, sebentar seperti anak-anak yang merajuk minta mainan, sebentar meringis seperti monyet kebakaran ekor. Roman mukanya bisa serius dan kaku bagai batu karang. Jika dimisalkan ia sebagai aktor watak, maka Jaka salah satu yang terbaik.

Ki Lukita yang baru menjadi gurunya, mau tak mau harus mengevaluasi penilaiannya pada sang murid. Orang lain yang melihatnya juga menilai dengan pertimbangan masing-masing. Bahkan ada yang memisalkan Jaka adalah, api, air, atau angin… seperti namanya.

Kupikir anak ini lugu dan polos, ternyata sedikit bengal juga. Pikir Ki Lukita tersenyum kecil.

Jaka kembali meneruskan ceritanya, “Saya melihat kenyataan bahwa ada perbedaan besar antara dua kelompok itu. Kakek yang dikeroyok ternyata orang yang supel dan ramah, sedangkan ketujuh kakek lainnya begitu garang dan terlihat bengis. Menanggapi ejekan tadi, saya balas menyindir.

“Terserah apa kata andika, mungkin saya ini pembual seperti apa yang dikatakan andika. Tapi yah… anggap saja memang pembual seperti saya kebetulan bisa menyembuhkan penyakit.” ‘

‘ “Aku yakin kau pasti tabib sakti!” ‘ sergah kakek ramah tadi dengan wajah serius.

‘ “Ah, itu hanya dugaan kakek saja, saya bukan tabib, apalagi disebut sakti… tapi, kalau mau dibilang tukang obat keliling, boleh jugalah.” ‘ Saya menanggapi ucapan kakek ramah itu setengah bergurau.

‘ “Aku tak bermaksud memujimu, aku yakin pasti kau tabib terkenal! Apakah kau tahu mereka lumpuh karena apa? Mereka—anak buahku—lumpuh karena Racun Asap Kayangan, kau sudah pernah dengar nama racun itu?” ‘

“Saya benar-benar tak tahu ada nama racun seperti itu, memang jenisnya saya kenal, tapi kan yang ditanya nama racun, tentu saja saya tak kenal. Jadi saat saya menggeleng, saya merasa tak bersalah.

‘ “Baru kali ini saya dengar kek.” ‘

“Kakek itu terlihat sedih, ia menghela nafas panjang, saya pikir banyak beban yang ia pikul.

‘ “Jaman memang sudah berubah, ombak didepan selalu dihempaskan ombak dibelakangnya. Racun begitu hebat pun bisa dengan mudah ditawarkan… Yah, memang tidak bisa disalahkan, dulu racun itu menjadi kebanggaan partai kami. Jarang—bahkan tak ada, ada orang yang bisa lolos dari racun itu. Karena itu penggunaan racun tersebut tidak diperbolehkan apabila bukan dalam kondisi sangat terdesak. Kini sudah tiada orang yang mengenal racun ini, namanya tertelan jaman sedikit demi sedikit. Memang sudah wajar,” ‘ Desah kakek itu dengan tatapan menerawang jauh.

‘ “Adakah didunia ini yang bisa abadi?” ‘ Nada kakek itu terlihat sangat rawan saat mengucapkan kata terakhir tadi

‘ “Tutup mulutmu adi!” ‘ bentak salah seorang pengeroyok.

‘ “Kakang, jangan coba menutupi kenyataan. Perguruan Macan Lingga sudah lenyap ratusan tahun silam, jangan kau buka kembali lembaran pahit para leluhur kita!” ‘

“Apaaa…?!” Jerit kekagetan para tetua, mengejutkan Jaka.

—ooOoo—

44 – Kisah Perguruan Macan Lingga

“Ada apa?” tanya Jaka heran.

“Apa kau tidak salah dengar?!” ujar Ki Glagah suara bergetar.

“Maksud Aki?”

“Kau tidak salah dengar pembicaraan mereka?” tanya Ki Glagah menyakinkan.

Alis Jaka terangkat mendengar pertanyaan itu, mulutnya cemberut. Para tetua yang merasa tegang mendengar cerita Jaka, sama tertawa geli melihat mimik Jaka. Mereka seperti melihat anak kecil mau… menangis.

“Tidak! Saya masih yakin telinga saya sehat.” Sungut Jaka masih dengan bibir cemberut.

“Bukan maksudku menyangsikan pendengaran-mu, hanya saja… astaga!” desah Ki Glagah menimpali.

“Sebenarnya ada apa kek?” tanya Pertiwi penasaran.

Ki Glagah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. “Luar biasa, sungguh luar biasa, tak nyana kau bisa dapat rejeki begitu besar.” Mulutnya bergumam seperti itu berulang kali.

“Kek?!”

Ki Glagah menatap cucunya, “Sebaiknya kita dengarkan cerita Jaka sampai tuntas, setelah itu baru kujelaskan kenapa kami begitu terkejut.”

Semuanya setuju, dan Jaka juga harus melanjutkan ceritanya.

‘ “Kau bodoh!” ‘

“Apa?!” ujar Pertiwi tidak tanggap.

Muka Jaka memerah menahan geli, pemuda ini berkata seperti itu adalah untuk menyambung percakapan dalam ceritanya, jadi bukan bermaksud memaki orang dalam ruangan itu. Namun sebelum Jaka memberikan penjelasan lebih lanjut, Ayunda segera menyikut Pertiwi, gadis itu menjelaskan maksud ucapan Jaka. Barulah Pertiwi mengangguk-angguk dengan wajah panas.

Ki Glagah mengangguk, artinya; Lanjutkan.

‘ “Apa maksud kakang mengatakan aku bodoh?”‘ tanya kakek yang ternyata orang termuda dari mereka.

‘ “Untuk membangun kekuatan yang sama seperti dulu, kita sudah memiliki modal utama! Salah satunya, kami memiliki anak buah yang setia! Tersebar seantero negeri. Mereka dapat disejajarkan dengan para pendekar kosen.” ‘

‘ “Sehebat apapun rencana yang andika sekalian susun, tidak akan membuktikan apa-apa. Apakah andika ingin kebusukan Macan Lingga makin lama dikenang dari jaman ke jaman?” ‘

‘ “Kau salah mengerti rencana kita adi,” ‘

‘ “Tidak, saya sangat paham rencana andika!” ‘

‘ “Kau tahu apa!” ‘bentak orang tua itu dengan bengis.

“Saya makin tegang mendengar percakapan delapan orang itu. Saya bisa menduga, mereka ingin mendirikan kembali partai leluhur, kemungkinan besar ingin menguasai dunia persilatan. Namun pikiran itu, kali ini saya hilangkan.”

“Kali ini?” Tanya sang guru.

“Ya, karena ternyata dunia persilatan memiliki Perkumpulan Garis Tujuh. Ditambah Enam Belas Perguruan terkemuka, tentu tak semudah itu menaklukkan dunia persilatan.”

Ki Lukita tersenyum mendengar penjelasan Jaka. Lalu pemuda ini melanjutkan ceritanya.

“Karena tak tahu kemana arah pembicaraan mereka, saya memberanikan diri menyela.

‘ “Maaf, kalau saya tidak sopan…” ‘

‘ “Kau memang tak sopan!” ‘ damprat salah satu kakek pengeroyok.

“Sungguh panas perut saya, mendengar nada bicara orang tua itu. Sejauh itu, saya bicara masih dengan tata kesopanan, tapi yang diajak bicara benar-benar tak tahu sopan santun, kan rugi kalau saya buang-buang tenaga. Saya menyahut dengan jengkel,

‘ “Tapi saya lebih sopan dari andika, saya tidak suka mengeroyok orang.” ‘ Balas saya tandas. Rasanya jawaban saya sudah cukup kasar, dan memang langsung membuat kakek itu melotot marah.

“Berulang kali saya yakinkan dalam diri saya, untuk bersabar. Jika saja bukan orang sabar, tentu bisa keguguran saking kesalnya.

“Keguguran?” tanya Diah dengan alis berkerut.

Jaka memandang sesaat kearah si gadis salju. Wajah pemuda ini memerah sesaat. “Maaf, itu istilahku untuk mengungkapkan kejengkelan. Kau tahu, wanita hamil keguguran bagaimana rasanya? Seperti itulah perasaanku pada orang tua tak tahu aturan itu. Untungnya tiap ucapan mereka, tak membuatku lepas kendali.”

“Tapi tidak sopan!” sahut si gadis, ketus.

“Maaf, aku tidak bermaksud demikian…” sahut Jaka membela diri. Si gadis tak mengatakan apa-apa, hanya saja wajahnya memerah, dan ia melototi Jaka sekejap, lalu melengos ke arah lain.

Kejadian kecil itu tak luput dari pengelihatan tiap orang, kembali mereka menghela nafas kagum, tapi juga.. jengkel—khususnya pada pemuda yang jatuh hati pada Diah Prawesti.

Jaka… Jaka, kau pakai pelet apa sih? pikir mereka gemas. Jaka memang saingan berat, pikir mereka.

‘ “Sebenarnya apa yang sedang dibicarakan?” ‘ tutur Jaka kembali meneruskan ceritanya.

‘ “Mereka adalah kakang seperguruanku,” ‘ jelas kakek baik hati itu dengan ramah. “ ‘Mereka ingin agar aku…” ‘

‘ “Diamlah adi!” ‘ bentak salah seorang diantaranya.

Melihat suasananya yang tak begitu bersahabat, rasanya untuk berbicara satu patah kata saja bisa menimbulkan masalah, tapi saya memang sudah memutuskan agar dapat mengetahui persoalan sebenarnya.

‘ ”Maaf, bisakah kakek diam sejenak agar saya bisa mendengarkan cerita sebenarnya?” ‘ saya bertanya dengan suara lantang, saking dongkolnya melihat sikap mereka.

“Mendengar bentakkan saya, wajah mereka sedikit pucat. Saya paham dengan rekasi itu, mereka pasti sangat terkejut karena saya begitu berani. Ucapan saya memang bisa diartikan menantang.

‘ “Hooo.. berani kurang ajar kau ya?” ‘

‘ “Saya tidak kurang ajar, saya rasa sikap saya ini lebih sopan ketimbang andika bertujuh!” ‘

“Ucapan saya yang tegas dan tandas, membuat ketujuh kakek itu makin tercengang. Mereka pikir saya berani berbicara begitu karena punya pegangan berarti. Berpikir begitu ketujuh kakek itu saling pandangan dan samar-samar mengangguk.

‘ “Bocah, apakah kau benar-benar ingin tahu cerita yang sebenarnya?” ‘

‘ “Tentu saja, siapa tahu aku bisa bercerita pada tukang ikan dipasar.” ‘ sahut saya membuat mereka melotot marah, tapi pancingan saya tidak membuat mereka bereaksi.

‘ “Kau tidak menyesal?” ‘

‘ “Kenapa saya harus menyesal, bukankah jika ada orang yang butuh informasi ini, saya bisa mendapatkan uang banyak darinya?” ‘ saya makin ngawur menanggapi ucapan mereka.

‘ “Kau anak keparat!” ‘

Jaka mengatakan itu dengan mimik tegang, orang sama tertawa mendengar cara Jaka mengucapkan itu. Kalau saja ada orang yang baru mendengar dan melihat Jaka bercerita, dia bisa mengira Jaka memaki padanya.

“Saya tertawa mendengar makian kakek itu, timbul niat saya untuk menggodanya makin lama. ’ “Oh, kenapa andika menyebut saya keparat? Apakah anda mau menjadi kakek saya?” ‘

Kali ini banyak tawa meledak diruangan bawah tanah itu, mereka paham maksud Jaka—dengan memaki tak langsung, bahwa Jaka ingin mengatakan kalau anaknya keparat, kan bapaknya lebih parah lagi? Lalu apa sebutan untuk kakeknya, kalau anak-cucunya adalah keparat? Tentu lebih-lebih parah!

‘ “Dasar anak set…” ‘ mereka ingin memaki saya, tapi tak jadi, saya jadi geli sendiri. Sebenarnya menyenangkan juga bermain kata dengan kakek-kakek itu, tapi saya sadar situasinya tidak menguntungkan, jadi saya langsung mengajukan pertanyaan yang dinanti mereka.

‘ “Maaf, kalau saya membuat andika sekalian marah. Tapi saya memang berniat tahu cerita sebenarnya. Dan silahkan ajukan syaratnya, saya sudah menunggu dari tadi.” ‘

‘ “Pemuda cerdik, kau sudah begitu tanggap, maka aku tidak perlu banyak menjelaskan lagi. Karena kau ingin mengetahui latar belakang persoalan kami, dengan sendirinya, latar belakang perguruan kami harus diceritakan padamu juga. Kalau sudah begitu sebagian dari banyak rahasia perguruan tentu bocor padamu…” ‘

‘ “Dengan demikian andika sekalian memiliki alasan untuk mencelakai saya setelah mendengarkan cerita itu bukan?” ‘ potong saya tak sabar. Begitu mendengar ucapan saya, wajah orang yang bercerita tadi agak berubah—hanya sekejap, namun tak luput dari mata saya.

‘ “Ah, kami tidak seburuk itu!” ‘ kilahnya.

‘ “Jadi apa syaratnya?” ‘

‘ “Kau harus bisa menerima lima jurus serangan dari tiap orang diantara kami,” ‘

‘ “Lalu?” ‘ potong saya cepat.

‘ “Hm, kau sungguh pemuda cerdik, baru satu yang aku kasih sudah sepuluh yang kau paham.” ‘

‘ “Terima kasih atas pujianmu, tapi saya tidak berminat dengan pujian itu, saya hanya ingin tahu semuanya. Jangan bertele-tele!” ‘

“Mendengar saya cukup ketus dan tak terlihat jeri, muka tujuh kakek itu berubah merah padam. Mereka sangat marah, mungkin merasa dilecehkan orang yang jauh lebih muda.

‘ “Kalau kau sanggup menghadapi lima jurus tiap orang diantara kami, selanjutnya kau harus menghadapi tujuh orang sekaligus.” ‘

‘ “Kakang! Apakah itu tidak keterlaluan?” ‘ seru kakek ramah dengan nada kawatir.

“Mereka tidak menjawab, namun dengan tajam mereka menatap saya, seolah mengatakan; ‘ Tidak tidak perlu dikawatirkan, kalau pemuda itu mati, jangan salahkan kami. Tapi salahkan kepandaian terlalu rendah!‘

“Muak dengan sikap mereka, saya tidak tanggung menyindirnya.

‘ “Bagi mereka saya yakin itu tidak keterlaluan kek, hakekatnya mereka selalu ingin memuaskan diri sendiri. Pikirannya menang dan menang, tidak akan melihat kanan kiri, tidak tahan disentil, tidak tahan di koreksi orang lain.” ‘

“Rupanya ucapan saya itu tepat mengenai borok mereka, wajah ketujuh kakek itu berubah bengis. Anehnya, mereka tidak bereaksi apa-apa. Saya tahu apa sebabnya, mereka hanya bisa melotot untuk mempertahankan harga diri.

“Saya tahu apa yang mereka pikirkan saat itu, dan untuk membungkam kesombongannya, saya juga perlu menawarkan harga yang sangat mahal.

‘ “Andika menawarkan syarat yang begitu ringan, ini benar-benar penghinaan buat saya, syarat itu terlalu merendahkan saya!” ‘ kata saya dengan nada mencemooh. ‘“Apakah tidak ada syarat yang lebih berat lagi? Misalnya, masing-masing andika menyerang saya selama lima puluh jurus?” ‘

“Tentu, saya menantang mereka karena terpaksa, demi untuk membungkam kesombongan dan keangkuhan. Mereka selalu memandang rendah orang lain!

‘ “Oh, sungguh besar pambekmu bocah cilik!” ‘ bentak salah seorang dari mereka. ‘ “Kalau kau memang sanggup, kenapa tak kita lakukan saja?!” ‘

“Tantangan itu sebenarnya hanya untuk memukul harga diri mereka—yang notabene adalah tokoh besar, masa harus merendahkan begitu rupa demi untuk menghajar saya?! Benar-benar tak habis pikir! Tapi saya juga harus setuju dengan usul saya sendiri.

‘ “Anak muda, kau sangat ceroboh. Apakah karena kau melihat aku sendirian tidak bisa dirobohkan mereka, lalu kau menantang mereka tiap orang lima puluh jurus?” ‘

‘ “Bukan begitu Ki,”‘ Jawab saya, karena saya memang bersimpati dengan kakek itu. ‘“Biarpun saya sudah menelan nyali naga dan macan sekalipun, kalau tidak memiliki kemampuan yang menjadi pegangan, tentu saya tidak akan menantang mereka begitu rupa.” ‘

‘ “Jadi?!” ‘

‘ “Saya percaya, bisa mengatasinya.” ‘

“Namun saya melihat kakek baik hati itu ragu, karena itu ia bertanya pada saya, ‘ “Sudah berapa lama kau belajar ilmu silat?” ‘

’ “Kalau belajarnya terhitung latihan dan teori, saya sudah lima tahun belajar silat.” ‘

‘ “Lima tahun?! Masya Allah, kau pikir bisa menghadapi mereka yang memiliki tenaga hasil latihan lebih dari seratus tahun itu?!” ‘

‘ “Jangan kawatir Ki, saya bisa mengatasinya.” ‘

“Agar kakek itu tidak merintangi dengan macam-macam pertanyaan saya langsung berbalik dan menghadapi mereka bertujuh.

‘ “Jadi pada saat anda sekalian MENGEROYOK saya,” ‘ Sengaja saya tekan kata mengeroyok, agar kesombongan mereka makin tenggelam. ‘ “Apakah akan menggunakan senjata, atau tangan kosong?” ‘

“Pertanyaan itu sangat manjur, wajah mereka membesi. Apa jadinya ‘mantan’ tujuh tokoh besar mengeroyok pemuda ingusan, bila tersiar di kalangan persilatan? Mau dikemanakan muka mereka? Tapi, kelihatannya mereka tak begitu mengkhawatirkan perasaan itu, untuk melawan satu orang saja belum tentu mampu menghadapinya, apalagi saya menantang bertanding lima puluh jurus. Kemungkinan untuk membunuh pun makin besar. Berpikir seperti itu membuat wajah mereka kembali tenang, dengan kembali dihiasi senyuman sinis—meremehkan, jemu benar saya melihatnya.

‘ “Kita gunakan tangan kosong saja. Senjata tak bermata, bisa berbahaya menggunakannya.” ‘

‘ “Oh, jadi andika sekalian takut menggunakan senjata? Takut terluka?” ‘ ejek saya agak dongkol. Omong kosong yang dikatakan kakek itu sungguh kelewatan, dia seolah mengasihani saya, padahal niat sesungguhnya memang untuk melenyapkan saya. Karena saya sudah mereka duga, banyak mengetahui persoalan mereka. Tapi mereka tetap saja tak menanggapi ejekan saya.

‘ “Tunggu dulu!” ‘

“Rupanya kakek baik hati itu masih juga sangsi, beliau menghalangi berdiri di depan saya dengan wajah cemas.”

‘ “Kau yakin melakukan ini?” ‘

‘ “Saya yakin Ki!” ‘

‘ “Katakan padaku, apa yang menjadi andalan kepandaianmu. Agar aku sedikit tenang…” ‘

“Sungguh, kakek itu sangat perhatian padaku, saya yakin, bila pada kesempatan lain kami berjumpa, tentu saya bisa banyak menimba pelajaran darinya. Agar beliau tidak resah, saya menghiburnya.

‘ “Saya memang lebih senang mengobati orang dari pada melukai orang, karena itu sejak belajar silat lima tahun lalu, saya hanya mempelajari ilmu olah langkah dan peringan tubuh saja.” ‘

‘ “Olah Langkah dan peringan tubuh? Itu belum cukup!” ‘ serunya dengan kawatir.

‘ “Ki, tenang saja. Apa yang saya pelajari itu sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri. Kalau saya tidak bisa menghindar, bukankah saya masih bisa lari?” ‘

‘ ”Lari, kau pikir semudah itu lari dari mereka?” ‘ tanya sang kakek simpatik itu.

‘ “Ehm, kakek tapi perlu kawatir, ada pepatah mengatakan; jangan takut dengan anak kura-kura.” ‘

‘ “Maksudmu?” ‘ kakek itu tidak tahu maksud saya, padahal saya mana tahu ada pepatah kura-kura.

Ki Lukita tertawa geli. “Oh.. jadi pepatah ngawurmu itu hanya untuk menyindir saja?”

“Benar guru.”

“Jadi yang kau maksudkan ada dua hal?”

“Dua?” ujar Jaka tak mengerti. Tapi tiba-tiba dia merasa jengah, ia mengangguk. “Saya rasa bisa dikatakan begitu.”

“Eh, tunggu dulu. Dua bagaimana?” tanya Ki Benggala pada Jaka.

Pemuda ini salah tingkah, ia menatap gurunya penuh harap, agar orang tua itulah yang menjelaskannya.

Ki Lukita terlihat mesam-mesem geli. “Jaka berkata begitu maksudnya jelas, kura-kura kan tidak mungkin berlari cepat?”

“Benar Juga.” Ki Benggala menyahut. “Dan maksud yang kedua?”

Sayangnya Jaka menyebut itu sebagai pepatah, jika ada yang paham logatnya—untuk daerah tertentu—pasti paham apa yang dikatakan Jaka.

“Maksudnya apa si kek?” tanya Ayunda.

Sebelum Ki Lukita menjawab, Jaka sudah buru-buru berkata dengan gugup. “Maaf, bukan maksud saya begitu, tapi saya memang berucap asal saja. Tidak ada dalam pikiran bahwa mereka itu adalah seperti germo segala.” Pemuda ini terjengah, ia menunduk malu.

“Oh, jadi anak kura-kura itu germo?” ujar Pertiwi mengulang penjelasan Jaka tanpa sadar, tapi mendadak dia sadar, wajahnya merah, sambil melotot gemas kearah Jaka.

“Sudah… tak usah dilanjutkan. Lalu bagaimana kelanjutannya?”

Jaka bersyukur ditolong Ki Alit Sangkir dari suasana canggung yang memalukan. “Tentu saja mereka marah pada saya. Saya mana tahu mereka berfikir bahwa saya mengolok-olok mereka sebagai germo segala.” Sampai disitu wajah Jaka agak merah.
Bocah aneh, pikir beberapa orang di ruangan itu, hanya berkata seperti itu saja sudah begitu likat—malu, cara bagaimana kau mau menjalin hubungan dengan gadis kelak?

‘ “Tidak semudah itu kau lari!” ‘ sergah salah seorang kakek yang akan saya hadapi berseru marah pada saya—Jaka melanjutkan ceritanya.

‘ “Memang tidak semudah itu.” ‘ Sahut kakek ramah itu mengiyakan.

‘ “Semoga mudah. Ingat pepatah saya tadi.” ‘

‘ “Dasar bocah keparat!” ‘ maki salah satu kakek itu terlihat marah, tapi anehnya dia tidak menyerang saya, mungkin mereka masih menaruh segan pada kakek ramah yang membela saya. Kakek ramah itu menasehati saya katanya,

‘ “Kelihatannya tidak mungkin kau meloloskan diri dari mereka. Ingat! Yang kau hadapi adalah orang-orang tangguh yang memiliki tenaga dalam sangat handal dan mumpuni.” ‘

‘ “Apa yang Aki katakan benar, dari segi yang satu itu saja saya sudah kalah jauh, tapi Aki melupakan satu hal.” ‘

‘ “Apa itu?” ‘

‘ “Sehebat apapun pukulan seseorang, jika tidak kena sasaran tidak akan berpengaruh apa-apa.” ‘

“Kakek itu terhenyak mendengar alasan saya, namun akhirnya dia mengangguk-angguk dengan tersenyum, kelihatannya untuk terakhir kalinya, saya bisa membuatnya paham.

‘ “Kalau begitu kudoakan semoga kau berhasil. Kalau mereka sampai bertindak keterlaluan, aku pasti membelamu. Sebagai ungkapan terima kasih, karena kau menyembuhkan keluargaku.” ‘ Kakek baik hati itu berkata dengan sungguh-sungguh dan begitu tulus.

“Saya yakin semua orang yang terluka itu bukan keluarganya—paling tidak hanya beberapa orang saja—selebihnya, anak buah. Beliau benar-benar seorang pemimpin yang baik, karena menganggap bawahan sebagai salah satu bagian dirinya, dengan demikian siapapun yang bekerja padanya tak merasa dirugikan, dan bersedia bertaruh nyawa demi membela kehormatan sang majikan.

‘ “Ah, masalah menyembuhkan keluarga Aki, tidak perlu diungkit lagi. Untuk apa saya mempelajari pengobatan, kalau bukan didermakan bagi yang membutuhkan. Saya bisa jadi orang tak berguna, jika ilmu pengobatan yang saya pelajari, tidak bermanfaat. Mungkin saya tak sebaik yang Aki sangka, tapi melihat korban begitu banyak, saya jadi kasihan.” ‘

“Beliau tertawa panjang. ‘ Kau benar-benar pemuda baik. Mudah-mudahan kita berjodoh…” ‘ kata kakek itu sambil berjalan menepi.

“Saya tidak paham ucapan kakek itu. Saya tidak memikirkan ucapan itu, karena saya anggap itu hanyalah rasa terima kasih saja.

“Bodoh…” hampir bersamaan Ki Gunadarma dan Ki Lukita berseru sambil tersenyum kecil. Jaka sempat tertegun. Tapi dia tidak memikirkan maksud ucapan dua tetua tadi, ia kembali bercerita.

“Begitu beliau menyingkir, tujuh kakek aneh itu mendekati saya.”

‘ “Kita mulai sekarang!” ‘

“Tentu saja saya harus menyetujuinya.

‘ “Siapa yang akan melawan saya lebih dulu?” ‘ Tak menunggu lebih lama lagi, kakek berwajah bersih dengan muka merah maju kehadapan saya. Kalau melihat tindak kakinya saat melangkah, saya yakin benar, paling sedikit kakek itu memiliki tenaga diatas seratus tahun hasil latihan. Meski usianya paling banyak baru akhir enam puluhan. Saya kira dia banyak menggunakan mustika untuk mendongkrak tenaganya.

‘ “Setan cilik! kau harus hati-hati!” ‘ seru kakek lawan saya memperingati.

‘ “Apakah masih dengan ketentuan tadi? Bahwa tiap pertandingan ini hanya lima jurus saja atau lima puluh jurus seperti yang saya usulkan?” ‘

‘ “Tentu saja!” ‘ dari suaranya yang ketus saya tahu dia tersinggung sekali. Tapi yang ia katakan ‘tentu saja’ bisa saja lima atau lima puluh jurus. Sungguh tak disangka orang yang kelihatan pemarah, memiliki pertimbangan cermat. Diam-diam saya mewaspadai seluruh tindak tanduk mereka. Mungkin saja dalam pikiran mereka, untuk menghadapi orang seperti saya, satu jurus sudah cukup! Kalau dilihat dari roman wajah yang tidak menyiratkan apapun, siapapun menduga hal itu tidak berlebihan.

“Singkat cerita, saya beruntung dapat menghadapi mereka. Biarpun tidak jadi dikeroyok, tapi lima jurus dapat saya atasi—walau dengan, yah… kalau bisa disebut kebetulan. Sungguh! Kekuatan satu orang dari mereka bukan main dahsyatnya. Saya pikir, dalam lima puluh jurus tak bakal bisa saya lalui dengan selamat. Saya yakin… saya tidak bermaksud merendahkan para penguasa ilmu mustika—karena saya sendiri salah satunya, yang jelas, kekuatan mereka lebih hebat dari orang yang memiliki ilmu mustika. Kalau Paman Benggala yang sudah termasuk jago kosen dalam dunia persilatan memiliki kekuatan begitu hebat, maka ketujuh orang itu memiliki rata-rata kekuatan sekitar lima atau enam tingkat diatas paman.”

“Wah… kalau begitu hebat sekali!” seru Ki Wisesa terkagum-kagum tapi hatinya berdebar miris.

“Dan kini yang kuherankan, bagaimana kau bisa seberuntung itu melawan mereka?” Tanya gurunya.

Jaka terdiam sesaat. “Sudah saya katakan…”

“Kebetulan?” sahut sang guru.

Jaka hendak mengangguk, tapi pandangan tiap orang menginginkan jawabannya. “Ah, bagaimana saya hendak menjelaskan? Ini benar-benar sulit.”

“Ceritakan saja apa adanya.” Pinta gurunya.

“Ah,” Jaka menggaruk kepanya, ia merasa serba salah.

“Baiklah, tapi… sebelumnya maaf, saya bukan bermaksud merendahkan…”

“Tidak apa, aku mengerti maksudmu.” Sahut gurunya.

Pemuda ini menghela nafasnya. “Masih ingat pertarungan saat saya diuji paman Benggala?”

“Kau aneh, tentu saja kami, aku ingat.” Ki Benggala sendiri yang menyahut.

“Begitulah saat saya menghadapi kelima orang itu.”

“Cuma itu?”

“Ya.”

“Sesingkat itu?” seru Ki Gundarma tak puas.

“Memang demikian adanya.”

Beberapa tetua saling berpandangan. Mereka pikir Jaka memang tidak ingin menceritakan hal sebenarnya, dan mereka bisa mengira pertarungan itu pasti sangat seru.

“Kau hadapi dengan apa?” Tanya Ki Benggala.

“Dengan olah langkah.”

“Tidak mungkin, bukankah kau mengatakan, melawan mereka seperti halnya saat melawanku?”

“Benar. Hanya ada bedanya, saat melawan mereka saya tidak sungkan lagi. Waktu itu tak terpikir oleh saya untuk menggunakan ilmu mustika.”

“Oh, kau tak menggunakannya?” Tanya sang guru.

Jaka mengangguk.

—ooOoo—

45 – Kisah Perguruan Macan Lingga 2
(Perjumpaan Yang Mengesankan)

Ki Benggala terdiam, dia maklum dengan apa yang dikatakan Jaka, ‘tidak sungkan’ tadi, sungguh ucapan yang memukul perasaan. Bukankah artinya, saat melawan dirinya Jaka tidak serius?

“Hanya dengan olah langkah saja?” gumamnya dengan perasaan miris.

“Tidak.”

“Lalu…”

“Seperti yang saya katakan tadi, ingat saja pertandingan kita paman..”

“Tentu saja sudah, dan akan tetap kuingat.”

“Dengan itulah saya melawan mereka.”

Mereka diam, Jaka tadi mengatakan dirinya tidak menggunakan ilmu mustika. Lalu dengan apa dia melawannya? Cuma olah langkah? Mustahil! Apalagi lawannya lebih jago dari Ki Benggala, tujuh orang lagi!

“Aneh… apa sih yang dimaksudkan?” gumam Ki Gunadarma tak paham.

“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi.” Seru Jaka.

Sementara Jaka berbicara, Ki Glagah berulang kali mengerutkan kening dan menghela nafas.

“Ada apa kakang?” Tanya Ki Lukita.

“Ah, bukan apa-apa. Tapi, entahlah… mudah-mudahan saja dugaanku salah.” Gumamnya tak jelas.

“Maksudmu?” Ki Lukita minta penjelasan.

“Coba kau fikirkan ucapan Jaka kembali, jika kau tidak menangkap maksudnya seperti yang kupikirkan tadi, mudah-mudahan hal itu yang ingin dia sampaikan. Tapi jika bukan, aku berharap kita tidak salah melangkah.”

Ki Lukita makin tak paham dengan ucapan kakangnya. Toh, dia tetap memikirkan teka-teki ucapan Jaka tadi.

“Cuma yang membuatku merasa aneh, bagaimana bisa mereka punya ilmu lebih hebat dari ilmu mustika?” terdengar Ki Benggala kembali bertanya, agaknya dia sadar kalau Jaka tak ingin didesak. Jadi dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.

“Saya tidak tahu paman, tapi menurut hemat saya, ilmu di dunia ini banyak ragamnya, mungkin saja ada yang tidak kita ketahui, dan tidak pernah muncul ke permukaan. Sekali muncul, barulah kita sadar kalau ada langit diatas langit.”

“Kau benar. Tapi, kalau kau memandangnya begitu hebat, bagaimana kau bisa seberuntung itu?” gumam Ki Benggala, ia tidak bertanya pada Jaka, tapi ucapannya kembali menyadarkan banyak orang.

“Ya, benar! Pasti ada apa-apanya!” sahut Pertiwi menuntut penjelasan Jaka.

“Sudah kubilang, seperti penjelasan saya tadi. Kuhadapi mereka dengan olah langkah dan, saya memang benar-benar beruntung. Di dunia ini kan banyak kejadian kebetulan.” Jawab Jaka sambil tersenyum. Pemuda ini kembali bersikap begitu karena memang tidak ingin menceritakannya. Sebab ada hal-hal yang memang ia pandang tak perlu dikemukakan.

“Jangan ucapakan kata-kata itu Jaka,” sang guru menyahut tak puas. Sebab dari tadi ia tak bisa mengungkap teka-teki ucapan Jaka. “keberuntungan itu datang karena pertolongan Tuhan, kadang kita tidak melihatnya sebagai pertolongan, tapi kejadian yang kebetulan, kau harus membedakan itu.”

Jaka mengangguk hikmat, “Nasehat guru akan saya ingat terus.”

“Jadi?” tanya sang guru menuntut jawaban pertanyaan Pertiwi.

Jaka menggaruk kepalanya. “Seperti yang saya ceritakan tadi, dengan olah langkah, begitulah…”

“Cuma itu?” sang guru menegaskan.

“Ya, dan dengan kondisi seperti pertandingan saya dengan Paman Benggala.”

“Masa cuma begitu?”

“Habis bagaimana lagi…” jawab pemuda ini tak yakin. Ia memang enggan menceritakan semuanya, sebab menurutnya kejadian itu secrecy, privasi dan tentu saja biar tidak dianggap sombong. Syukur kalau mereka tak bisa menebak ceritanya tadi, kalau bisa, ya.. mau bilang apa lagi?

Tentu saja para tetua menyadari akan hal itu, buru-buru mereka menyahuti. “Baiklah—anggap saja kau memang beruntung, lalu bagaimana kelanjutannya?” Tanya Ki Gunadarma.

Pertanyaan itu membuat hadirin—selain delapan tetua, kecewa, bagaimanapun mereka ingin mendengar cerita pertandingan itu. Tentunya, jika para tetua sudah memutuskan untuk tidak mendesak, mana berani mereka mendesak Jaka?

“Setelah pertandingan itu, ketujuh kakek itu mengundurkan diri dari gunung. Saya melihat dengan jelas, mereka rasa marah pada adik seperguruannya, lebih-lebih pada saya. Saya kira, setiap saat mereka pasti akan berusaha melenyapkan saya. Sebagai pemuda yang tak punya modal apa-apa, saya merasa bangga disebut sebagai salah satu batu sandungan orang seperti mereka.

Mendengar itu, gurunya menggeleng penuh sesal. Anak ini tidak punya rasa takut, sungguh ceroboh! Pikirnya.

“Sebelum mereka turun gunung, satu diantaranya sempat berkata, ‘tunggu saja satu tahun dimuka…’ saya yakin mereka pasti hendak datang kegunung itu lagi. Sudah jelas maksud kedatangannya, mereka ingin membuat masalah lagi dan yang jadi persoalan adalah, masalah apa yang akan mereka timbulkan? Saya yakin, pasti lebih besar dari pada keributan saat itu. Mau tak mau, ngeri juga membayangkannya. Sebelum saya tanyakan pada yang bersangkutan, kakek itu berkata pada saya,

‘ “Nak, kamu ini orang berkemauan keras dan keberuntunganmu banyak. Kelak jika engkau menjumpai tujuh kakang seperguruanku, bersikaplah seperti biasa.” ‘

“Ucapan beliau memang tidak ada salahnya.” Gumam Ki Benggala. Jaka melongo sesaat, lalu ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ceritanya memang banyak disela dengan ucapan-ucapan tetua. Tanpa berkomentar, Jaka meneruskan ceritanya.

‘ “Maksud kakek bagaimana?” ‘

‘ “Kau tahu kenapa mereka berkata agar kita menunggu satu tahun dimuka?” ‘

“Saya menggeleng, terus terang saja saya terkejut, kata, kita yang diucapkan kakek itu mengartikan bahwa saya telah terlibat dalam persoalan yang sangat besar. Namun sejauh itu saya tidak menemukan tanda-tanda persoalan itu. Karenanya, saya bertanya lagi,

‘ “Kek, sebelum kakek menjelaskan maksud mereka mendatangi kita satu tahun dimuka, lebih baik kakek jelaskan pada saya, persoalan yang kakek hadapi. Bagaimanapun juga saya sudah terlibat, tidak ada salahnya saya mengetahui masalah ini. Siapa tahu bisa membantu meringkankan beban.” ‘

‘ “Aku percaya padamu nak, tapi aku terikat sumpah. Aku tak dapat menerangkan padamu. Tapi, mudah-mudahan saja satu tahun mendatang kau akan mengetahuinya. Aku memang butuh bantuan. Banyak bantuan …” ‘

“Setelah berkata begitu, tanpa banyak mengucap kata, kakek misterius itu menggandeng tangan saya supaya masuk kedalam benteng. Jika pada cerita dongeng, ada manusia yang pernah melihat bagaimana kayangan tempat tinggal para dewa-dewa, mungkin seperti itulah perasaan saya. Dari luar benteng itu tersamar bagaikan rimbunan pohon yang tumbuh puluhan tahun, tentu saja semua itu karena adanya barisan yang ampuh.”

“Ehm.. bagaimana benteng itu?” tanya Ki Alit Sangkir tidak memberi kesempatan pada Jaka untuk bicara bertele-tele.

“Hebat Ki, saya tak dapat melukiskannya.”

“Bagaimana hebatnya?” tanya murid pertama Ki Lukita.

Pemuda ini menerawang sejenak, matanya kelihatan terpejam. “Jika andika pernah melihat air mengalir deras, dan air diam tak bergelombang, begitulah keindahan yang terdapat di benteng itu. Sampai saat ini saya bahkan belum pernah terpikir bagaimana orang yang membangun benteng itu dapat membuat ide luar biasa seperti itu…”

Penjelasan Jaka bagi mereka yang masih dangkal pengalaman kesusastraan dan filsafat—tak hanya muda-mudi bahkan yang tua—ucapan pemuda ini akan mendatangkan cemoohan. Siapa sih orangnya yang tidak pernah melihat aliran air? Tapi bagi mereka yang paham, mencoba menerawang dan membayangkan keindahannya… mereka mencoba mengetahui bagaimana air saat mengalir dan bagaimana dengan sifat air itu sendiri.

Kadang kita tidak sadar, benda yang kadang remeh, justru merupakan alat yang paling vital. Di saat kita membutuhkan barulah terasa bahwa air itu sangat berguna. Memang begitulah kebanyak sifat manusia, gampang lupa oleh nikmat yang diberikan oleh-Nya, bahkan kadang kita lupa kalau kita bernafas. Terasakah oleh kita saat melakukan sesuatu yang tak halal, dengan nafas terhembus? Seharusnya dengan keadaan itu kita bisa sadar bahwa Dia yang memberikan kita nafas—memberikannya tidak untuk sekedar tarik dan hembus nafas—yakni sebagai cerminan untuk apa kita hidup? Ini patut menjadi renungan.

“Kalau memang seperti itu keadaannya, untuk apa dibilang sebagai suatu yang luar biasa?!” ujar seseorang.

Jaka tidak menanggapi, pikirannya sedang melayang mengenai kejadian di benteng Gunung itu.

“Kau bisa berkata begitu karena kau tidak tahu Pranayasa!” seru Ki Lukita pada cucu lelakinya.

“Apa yang perlu dipahami dari itu?” ujar Pranayasa dengan suara mendengus pelan, rasanya ia tak terima kalau sang kakek membela orang lain.

Ki Lukita menggeleng kepalanya, “Seharusnya kau berpikir, apakah kau bisa hidup tanpa air?” ucapan kakeknya kontan saja membuat pemuda yang memiliki pembawaan angkuh itu terhenyak. “Kalau kau memang sudah bisa hidup tanpa air, bolehlah kau berkata begitu.”

Pemuda ini terlihat menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tahu apa yang dimaksudkan air bukan terbatas pada air untuk keperluan sehari-hari, tapi apapun yang mengandung air.

“Jadi,” Ki Lukita meneruskan ucapannya. “Keindahan air itu tiada taranya, jika kalian melihat air disungai, maka kalian akan mendapatkan pengertian yang sangat luas,”

“Benar!” sahut Ki Glagah. “Kadang kala air disungai bergerak deras, kadangkala begitu tenangnya. Jika kalian waspada, hanya melihat air saja, ilmu silat kalian bisa meningkat satu bagian bahkan lebih, karena itu dalam dunia persilatan, kalian tentu pernah mendengar ada perguruan-perguruan yang beraliran Air, Api, Tanah, Angin, Logam, Cahaya, Udara, dan banyak lagi, kesemuanya itu berpangkal pada alam semesta.”

“Kenapa bisa begitu kek? Bukankah banyak juga yang mengambil inti silatnya dari binatang? Lalu apa bedanya?” tanya Pertiwi.

“Ha-ha… kau ini malas berpikir. Kita ambil contoh, air. Kau tahu, air bergerak tanpa ada putusnya, begitu ada celah, terus masuk. Jika dalil itu kalian terapkan dalam ilmu silat, maka dari jurus ke jurus kalian akan mendapatkan kembangan yang kian sempurna. Dan, kau tanyakan apa bedanya dengan aliran yang mengambil unsur binatang? Jawabannya sangat mudah. Karena binatang masih membutuhkan air, udara, dan unsur alam lainnya. Karena itu sehebat apapun, sesempurna apapun perguruan silat beraliran binatang, masih kalah setingkat dengan perguruan dengan perguruan yang memiliki aliran alam semesta.”

“Perkumpulan kita ini masuk kemana kek?” kembali gadis ini menanya.

“Aih, dasar malas. Coba kau pikirkan sendiri. Memang kalian—anak-anak keturunan Garis Tujuh Laut—di beri pelajaran ilmu silat dasar dari perguruan lain, bukan karena kita tidak memiliki ilmu dasar, atau pokok, tetapi akan datang pada masanya, kalian bisa membandingkan satu sama lain, jika mungkin malah menggabungkannya. Sehingga, kalian yang memiliki dasar ilmu lain, bisa memiliki kemajuan dan kelihayan berbeda. Tapi ingat, perbedaan itu bukan karena pilih kasih. Tetapi tergantung dengan kemajuan kalian sendiri. Lagi pula, perkumpulan Garis Tujuh dinamakan Langit, Laut, Api, Lintasan dan Bujur juga ada maksudnya. Dan masing-masing dari kalian akan menemukan itu cepat atau lambat. Semuanya tergantung pemahaman kalian pada semesta.”

Mereka mengangguk paham, tentu saja anggukan orang pekumpulan ini, lain dengan anggukan orang awam. Mereka rata-rata punya kecerdasan lebih, dari bayangan orang. Buktinya delapan dari sepuluh orang perkumpulan, memiliki salah satu ilmu mustika. Bisa dibayangkan kehebatan mereka, sulit diukur. Padahal untuk mendapatkan ilmu mustika, perbandingan yang disebutkan para tetua persilatan adalah satu banding lima ribu.

Bisa dikatakan, semua orang yang berkumpul di Perkumpulan Garis itu adalah orang-orang yang terpilih dari ribuan orang. Benar-benar prestasi hebat! Padahal dalam dunia persilatan, tersiar kabar kalau ilmu mustika sudah tidak bertaring lagi. Karena jarangnya pewaris yang bisa menunjukkan kehebatan ilmu mustika.

Andai kata mereka melihat bahwa puluhan orang dalam perkumpulan ini menguasai beragam ilmu mustika, tentunya pandangan kaum persilatan akan berubah. Hanya saja entah kapan pandangan mereka itu akan berubah, karena perkumpulan ini memang berjalan serupa dengan perkumpulan yang didirikan Pisau Empat Maut… rahasia!

“Lalu bagaimana setelah kau memasuki benteng?” kembali Ki Alit Sangkir bertanya pada Jaka.

Jaka mengangkat bahunya, “Terus terang saja, pada bagian inilah saya merasa paling menyesal.”

“Eh, kenapa pula?”

“Saya lebih banyak menikmati keindahan gedung dan taman didalamnya. Padahal banyak kata-kata kakek baik hati itu yang menyiratkan sesuatu yang penting. Saya menyesal, seandainya saja saya memperhatikan lebih serius. Saya yakin bahwa apa yang menjadi ganjalan kakek itu, paling tidak saya bisa memberikan pemikiran sebagai bahan pertimbangan untuk menyelesaikan masalah yang beliau hadapi.

“Kakek itu mengatakan pada saya, bahwa saya boleh tinggal disitu berapa lama saya mau. Terang saja saya senang. Tapi karena banyak permasalahan yang saya pikirkan, saya putuskan esok pagi, saya harus pergi. Puas berbincang dan menikmati keindahan gedung, saya diperbolehkan melihat-lihat kamar dan ruangan-ruangan rahasia yang terdapat didalam gedung itu. Saya tidak paham jalan pikiran kakek itu, sebab beliau langsung memberikan peta gedungnya yang juga ada jalan-jalan rahasianya beserta jebakannya. Sungguh tak ada habisnya saya mengagumi gedung itu. Sehari semalam saya tidak tidur. Dalam hati, saya mensyukuri keputusan saya untuk permisi esok harinya. Karena semua penghuninya menaruh hormat berlebihan pada saya, begitu berjumpa mereka membungkuk memberi hormat dan menyapa ramah. Saya tidak tahan dengan sikap seperti itu, walaupun mereka berbuat demikian karena rasa terima kasih. Paginya ketika saya hendak berpamitan, kakek itu menarik saya agar mengikuti kedalam kamar beliau. Disana beliau banyak bercerita,

‘ “Jaka, sedikit banyak engkau tahu perselisihan yang dialami kami. Semua hanya karena nama, kedudukan, harta dan mungkin saja wanita. Karena itu aku harap kau bisa menjaga sikapmu kelak.”‘

“Wasiat yang beliau katakan pada saya tak jelas tujuannya kemana. Tapi, tentu saja saya sangat menghormati pribadi beliau yang bersungguh hati mau menasihati saya yang baru dikenalnya satu hari. Banyak nasihat yang beliau berikan pada saya, sampai akhirnya beliau mengatakan tujuannya samar-samar,

‘ “Pada masa lalu Macan Lingga adalah salah satu perguruan utama yang sangat ditakuti orang. Kau tentu saja belum lahir saat itu, singkatnya karena kewibawaan yang begitu besar dan juga kekuatannya yang tidak tanggung-tanggung, Macan Lingga dapat berdiri sampai dua ratus dua puluh satu tahun. Hingga akhirnya pada masa kepemimpinan orang diatasku—yakni guruku, perobahan perguruan terlihat jelas.

‘ “Sebuah kekuatan yang tak jelas tujuan dan bentuk perannya, menyusup dalam perguruan. Penyusup itu mulai ikut mempengaruhi pemikiran-pemikiran para tetua. Hasilnya,” ’ kakek itu menggeleng sedih. ‘ “tak bisa kupercaya, dalam waktu dua tahun, partai yang begitu tenar, begitu megahnya, jatuh dalam gengaman kekuatan misterius. Pembunuhan besar-besaran mulai dilakukan anggota partai. Orang yang sadar dengan keganjilan itu adalah adik seperguruan guruku, aku sendiri dan beberapa orang anggota lainnya.

‘ “Tapi apa daya kami? Membendung hasrat iblis yang sudah bersimaharaja di hati mereka? Akhirnya saat itu juga—tepatnya enam puluh tiga tahun lalu—puncak dari segala kebobrokkan moral terlihat. Keinginan ketua perguruan, dan orang-orang dibelakangnya—kukira merekalah si penyusup itu—untuk menguasai perguruan lain, diutarakan terang-terangan. Mereka ingin menguasai semuanya! Benar-benar kacau…

‘ “Memang dengan akal yang begitu licik dan siasat yang begitu lihay, keinginan mereka hampir terwujud. Hingga sebuah ‘sesuatu’—yang hingga saat ini tak diketa¬hui hal apakah itu—menghentikan ambisi mereka. Tetapi itu cuma menghentikan saja, belum menghancurkannya, mereka sewaktu-waktu dapat bangkit kembali. Dan orang-orang yang terlibat dengan ambisi itu juga menghilang entah kemana.” ‘

“Kakek itu terlihat murung, jika saya bayangkan kejadiannya, kiranya tak berlebihan situasinya, andai suatu saat enam belas perguruan utama dikuasai dari dalam—tapi untuk yang satu ini kekuatannya jauh lebih besar dari perkumpulan apapun, begitu kesimpulan saya. Terdengar beliau melanjutkan ceritanya lagi,

‘ “Hingga akhirnya kami dapat bertemu dengan ketua, ternyata pikiran beliau sudah berubah. Ambisi yang meledak-ledak, sudah lenyap. Tak ada lagi keangkuhan—sejak semula sang ketua adalah orang yang sangat angkuh. Beliau mengajak kami untuk membentuk satu kekuatan yang kelak dapat menangani kekuatan yang pernah menyusupi perguruan kami—mereka masih ‘tertidur’. Selama itu pula kami terus waspada. Tapi sejauh ini belum ada gerakan mencurigakan dari mereka, karena ‘sesuatu’ yang membela kami dulu juga belum bergerak. Tapi, jika kau lihat kondisi saat ini, apa yang sudah kami pupuk saat itu, tak bisa lagi dapat dikatakan sebuah kekuatan untuk membendung laju orang-orang misterius. Kami sudah lemah! Aih, semua ini bisa dikatakan akibat ulah saudara-saudara seperguruanku.”’

“Saya memberanikan diri menyela dan mengatakan pada beliau, ‘Apa tidak mungkin saudara kakek hanya alat seseorang atau sekelompok orang?”’

“Beliau kelihatannya sangat prihatin. ‘Aku juga berpikir demikian. Sejak semula, apa yang mereka kerjakan selalu mendapat pembenaran yang tak masuk akal. Kupikir mereka mendapat sandaran kekuatan besar. Ah… entahlah, yang jelas, satu tahun kedepan, kau akan tahu sendiri seberapa kacau dia bisa berbuat. Tapi kita masih memiliki satu harapan. Untunglah, dulu… masih ada yang bisa diselamatkan,” ‘

“Sampai disitu saya tak dapat mencerna maksud kakek itu. Apa yang bisa diselamatkan? Saya bahkan tak dapat gambarannya. Dengan tindak cekatan, kakek itu masuk kedalam ruangan kecil yang disekat dalam kamarnya itu. Tapi begitu keluar beliau tidak membawa apa-apa.

‘ “Sudah berapa lama kau berkecimpung didunia persilatan?” ‘

“Saya menjawab tidak tahu, hakikatnya selama dua tahun itu saya sama sekali tidak berhubungan dengan dunia persilatan, paling-paling juga cekcok sana-sini. Karena itu saya menjawab,

‘ “Kalau kakek bertanya berapa lama saya merantau, saya bisa menjawabnya, tapi kalau bertanya begitu, saya tak bisa menjawabnya, sebab selama perantauan, saya tidak mengadakan kontak dengan siapapun dan tak terlibat dalam pergolakan apapun di dunia persilatan.” ‘

“Beliau mengangguk paham. ‘Setidaknya kau mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para kaum pesilat bukan?” ‘

‘ “Kalau itu sih saya tahu sedikit-sedikit.” ‘

‘ “Bagus, setidaknya kau benar-benar dapat membaurkan diri jika itu diperlukan nanti.” ‘

‘ “Tentu saja.” ‘ jawab saya memberi harapan. Beliau bercerita macam-macam tentang dunia persilatan, dan terus terang, saya senang sekali. Sebab kisah para pendekar yang terlibat langsung dengan petualangnya, sangat minim bagi saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami berujung pada permasalahan yang dihadapi kakek itu.

‘ “Dalam perantauan, kau tidak membekali senjata?” ‘

‘ “Tidak, saya tak suka menakut-nakuti orang, saya juga tidak ingin menyakiti orang.” ‘

‘ “Paling tidak kau memiliki alat untuk membela diri.” ‘

“Saya pikir kalau pembicaraan berkisar tentang senjata, tentu kakek itu hendak memberikan suatu senjata pada saya, karena itu agar tidak kecewa, saya mengatakan padanya,

‘ “Meski tidak suka senjata, saya paling suka senjata tumpul. Seperti tongkat misalnya… atau,” ‘

“Saya dikejutkan dengan tawa ringannya. Beliau terbahak sesaat. ‘ Ya, Tuhan memang Maha Adil! Engkau memang berjodoh denganku.” ‘ Kakek itu tertawa girang. Saya benar-benar tidak paham, sampai akhirnya beliau menepuk pinggangnya, lalu ikat pinggang itu dilepasnya. ‘ “Karena itulah aku ingin menghadiahkan tongkat ini padamu.” ‘ Tentu saja saya tercengang, karena mulanya saya pikir itu adalah ikat pinggang yang bagus. Begitu terlepas, ‘ikat pinggang’ itu tiba-tiba menegang dan lurus. Mulanya saya mengira beliau mengalirkan tenaga dalam ke benda itu, tapi begitu benda itu saya sentuh, nyatanya tidak dialiri tenaga sama sekali.

‘ “Kau tak usah heran, itu adalah Bambu Lentur. Bambu itu bisa keras bisa lemas tergantung engkau sendiri. Jika kau ingin menyandangnya seperti kebanyakan tongkat lain, kau bisa menyelipkan begitu saja, karena sifat bambu ini, jika ia ditegakkan—tidak dilengkungkan, maka kerasnya seperti bambu pada umumnya, tapi jika kau lengkungkan, maka bisa berubah lentur melebihi kelenturan rotan.” ‘

“Tentu saja, saya senang sekali mendapat hadiah seperti itu. Seperti yang sudah kita lihat, bambu lentur itu mirip dengan bambu kuning dan warnanya juga cocok dengan saya. Saat itu, tiba-tiba timbul dalam pikiran saya ingin mendapatkan bambu yang serupa, hanya saja berukuran lebih kecil. Karenanya saya segera meminta kakek itu, mulanya saya menduga kakek itu mungkin menolak, nyatanya tidak.

‘ “Oh, boleh. Berapa banyak yang kau perlukan?” ‘ beliau malah menantang saya agar mengambil seberapa yang saya suka.

‘ “Ah, hanya sedikit saja ki.. saya ingin membuat seruling, dan beberapa puluh jarum dari bambu.” ‘ Tanpa menunggu lebih lama, saya segera dibawa menuju taman yang sebelumnya pernah saya singgahi.

‘ “Kau ambil seberapa kau suka,”‘ lalu beliau menyerahkan pisau kecil pada saya untuk memotong bambu itu. Singkat cerita, saya sudah selesai dengan keperluan saya itu. Lalu saya pamitan… tapi tak saya sangka saat hendak berpamitan, seluruh penghuni benteng—paling tidak ada lebih dari seratus orang—keluar mengantar saya.

‘ “Aku sangat berharap kau datang kemari lagi. Saat itu kita akan membicarakan berbagai persoalan lebih jelas lagi.”‘

‘ “Akan saya usahakan Ki,” ‘

‘ “Kalau bisa sebelum satu tahun yang dijanjikan saudara-saudara seperguruanku itu. Lebih baik lagi jika kau datang sebelum menjelang kedatangan mereka.” ‘

‘ “Baik, saya pasti datang.” ‘ ucapan saya yang pasti membuat sang kakek lega.

‘ “Oh, aku hampir terlupa sesuatu,” ‘

‘ “Apa itu?” ‘

‘ “Tolong jangan kau sebar luaskan keberadaan kami disini, paling tidak bagi kebanyakan orang.” ‘

‘ “Amanat kakek pasti saya jaga…” ‘ Lalu saya pergi,

“Begitulah pengalaman saya mendapatkan bambu lentur ini.” Kata Jaka sambil tersenyum, ia juga menepuk pinggangnya.

Sebenarnya masih banyak cerita yang enggan ia utarakan, apa yang diutarakan tadi, menurutnya hanya hal remeh.

Ada sebuah kejadian yang tak bakal Jaka ceitakan pada orang lain, kejadian yang membuat hatinya terasa hangat saat mengingatnya. Saat ia hendak pergi, muncul seorang nona berparas elok luar biasa, tindak tanduknya pun halus. Memang, sebelumnya Jaka sudah bertemu muka dengan nona itu, begitu pula saat mengobatinya. Tapi, waktu itu dia tak memperhatikan, lagi pula dia juga lupa bertanya namanya pada sang kakek. Meskipun mereka pernah berbincang sesaat, tapi rasanya terlalu canggung. Waktu hendak pergi, jauh didasar hati Jaka, rasanya ingin melihat sang nona lagi, tapi itu tak mungkin dia ungkapkan.

Karena itu Jaka sangat terkejut mendapati si nona menemui dirinya dan menatap matanya dengan pandangan penuh misteri.

Nona itu menyerahkan pena, sapu tangan, dan tujuh buah pisau kecil yang gagang dan batangannya penuh ukiran bagus, Jaka yakin salah satunya pernah dipakainya untuk membuat seruling.

‘Terimalah ini,‘ katanya begitu singkat.. suara lirihnya membuat Jaka terhanyut sesaat. Sang nona memandang Jaka sekejap, dua tatapan bertaut sesaat, tapi berikutnya ia menunduk. Setelah benda itu diterima Jaka, ia bergegas kembali kedalam benteng. Lalu terdengar oleh Jaka kata-kata sang kakek yang membuat hatinya berdebar dan membuat mukanya merah padam.

‘Jaka, itulah benda kesayangan cucuku. Kuharap kau menjaganya seperti cucuku yang selalu menjaga benda itu. Jangan lupa, jika kau datang nanti bawalah benda apa saja sebagai balasannya. Sekalipun benda tak berharga, asal itu adalah milikmu.‘ Tentu saja Jaka bukan pemuda bodoh, ia dapat mengartikan ucapan sang kakek yang hendak mengatakan bahwa; cucunya ingin mempercayakan hatinya pada Jaka.

Tentu saja jika cerita seperti itu ia ceritakan, pasti sangat runyam. Apalagi karena tanpa banyak pikir, waktu itu Jaka memberikan seruling buatannya pada sang kakek,

‘Saya tak tahu kapan lagi datang kemari. Saya tidak bisa membalas pemberian seharga dengan benda-benda ini. Hanya ini yang bisa saya berikan.’ Ujarnya saat itu. Beruntung Jaka membuat seruling dari bambu lentur dua buah, sehingga ia tak perlu repot-repot lagi membuat dari bambu lain.

Seruling buatan Jaka, sederhana tapi terlihat begitu lembut, halus. Apa lagi sesaat sebelum menyerahkannya Jaka mengukir beberapa patah kata dan lukisan di seruling itu. Tak heran kakek yang begitu banyak pengalaman itu sampai terkagum-kagum.

‘Bagus sekali! Akan kusampaikan pada cucuku.’ Setelah itu ia beserta penghuni benteng lainnya melambaikan tangan pada Jaka, pemuda ini balas melambai dan ia segara menuruni Gunung Temanggung yang sedikit-banyaknya telah mengubah jalan hidupnya.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: