Seruling Sakti Jilid 46-50

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 46 Sampai 50

46 – Kisah Perguruan Macan Lingga 3

(Ki Gede Aswantama)

Urutan kelima, ya.. kejadian di Gunung Tumenggung masuk dalam daftar pekerjaan Jaka. Dia berjanji dalam hatinya, akan membereskan hal itu. Karenanya, sambil bergerak sebisa mungkin Jaka menyirap berbagai kabar dari dunia persilatan, lewat teman-temannya.

Satu hal, kenapa Jaka harus merahasiakan tempat.. karena terlalu banyak detail yang harus di selidiki dulu, lagipula urusan Gunung Tumenggung tidak ada kaitannya dengan Perkumpulan Garis. Meski demikian pun, Jaka tetap tidak menyebutkan waktu kejadian sebenarnya. Dia menceritakan bahwa kejadian berlangsung pada satu tahun yang lalu, sesungguhnya Jaka bertemu dengan kakek yang menyerahkan bambu lentur itu saat ia berusia sembilan belas tahun. Kini dia berusia duapuluh dua tahun.

Berarti itu sudah—kurang lebih—tiga tahun yang lalu. Kekawatiran Jaka untuk tidak menceritakan hal sebenarnya, timbul karena orang-orang perkumpulan garis adalah manusia cerdik pandai, kesalahan sedikit saja bisa mengorek rahasia, dan karena tempat itu tak mungkin diketahui umum maka Jaka menyimpan rahasia itu rapat-rapat.

Memang ada satu kejanggalan, kenapa Jaka merubah waktu pertemuan dengan kakek dalam ceritanya, sedangkan waktu kedatangan saudara perguruan dari kakek itu, ia kisahkan yang sebenarnya?

Tentu saja Jaka punya maksud, sebagai antisipasi. Diantara tiga puluh orang yang mendengarkan, pasti ada yang sangat perhatian dengan ceritanya. Sebagai orang yang bergerak dalam, jejaring pengumpulan informasi, mereka tentu akan melacak keberadaan benteng yang diceritakan Jaka.

Tindakan Jaka—dengan membuka mata dan telinga lebar-lebar mengenai kejadian yang akan datang—adalah untuk mengetahui situasi dunia persilatan karena sedikit banyaknya ia merasa sangat menghormati sang kakek, juga mungkin karena dia merasa berhutang budi. Mengapa ia merasa berhutang budi? Bukankah seharusnya pihak benteng itulah yang berhutang budi?

Sebab selain menyerahkan Bambu Lentur padanya, kakek itu juga banyak memberikan wejangan, nasehat, bahkan dia berkeinginan mengoperkan tenaga saktinya pada Jaka. Tapi dasar Jaka tak begitu tertarik dengan hal-hal seperti itu, dengan halus ia menolaknya. Keinginan kakek itulah yang membuat dirinya sangat berterima kasih dan merasa berhutang budi.

Penolakan Jaka bukannya membuat sang kakek kecewa, namun malah sangat mengagumi sikap Jaka. Sebab bagi para pesilat, tenaga sakti itu lebih berharga dari harta benda. Karena itu sang kakek berketetapan hati untuk menyalurkan tenaganya apapun yang terjadi, tentunya tanpa sepengetahuan Jaka. Berhasil memang… sayang tak semulus yang dia sangka.

Sebelum Jaka mendapat pengoperan tenaga sakti, kekuatan tenaga dalam pemuda ini paling tidak sudah setara dengan enam puluh tahun hasil latihan. Tentu saja karena latihan Jaka berbeda dengan latihan orang pada umumnya, maka perkembangan tenaga saktinyapun berlipat ganda. Padahal untuk ukuran normal, paling tidak Jaka hanya memiliki tenaga sakti sepuluh atau dua belas tahun hasil latihan. Namun disebabkan pemuda ini menemukan cara yang sangat efisien-lah yang membuat latihan yang dijalankannya menghasilkan tenaga murni begitu besar.

Tapi ini tak disadari Jaka, dia cuma berpikir bagaimana caranya dapat mengetahui susunan tubuh manusia kemudian menemukan metode menyembuhkan orang secara cepat dan tepat. Sama sekali tak terpikir olehnya, bahwa ekses tiap percobaan—yang ia lakukan pada tubuhnya sendiri, membuat hawa murinya makin kokoh.

Tentu saja tenaga yang ada pada diri Jaka tidak sama dengan tenaga pada umumnya, tenaga anak muda ini bersifat lentur, sangat fleksibel. Artinya, bisa digunakan kapan saja, tanpa orang tahu bahwa dia sedang menggunakannya. Metoda yang digunakan, banyak menjungkir balikkan dalil umum.

Apalagi saat itu Jaka juga mendapatkan pengoperan tenaga murni setara dengan seratus tahun hasil latihan, karuan saja hawa murni pemuda ini makin tinggi, cuma itu tak disadarinya.

Sebenarnya pengoperan hawa murni itu sangat berbahaya, karena dapat mengakibatkan kematian bagi orang yang mengoperkannya. Pengoperan itu sama halnya dengan memberikan seluruh tenaga yang sudah dipupuk sejak dini dan yang dapat mengakibatkan si pelaku lemas, itu jika beruntung, kalau sedang sial setelah mengoper tenaga orang itu akan lumpuh. Tetapi agaknya hal itu tidak berlaku bagi kakek baik hati itu. Si kakek memiliki metoda pengoperan tenaga dalam yang jauh lebih lihay dari miliki siapapun.

Walau tenaga dalam dioperkan seluruhnya pada Jaka, ia tak akan mati atau mengalami kekurangan apapun, sebab begitu tenaga murni dalam dirinya kosong, ia dapat menghimpunnya kembali seperti sedia kala—walau membutuhkan waktu lama.

Kemampuan seperti itu juga dikenal oleh tiap orang persilatan, tetapi itu berlaku hanya jika dimiliki oleh orang yang memiliki tenaga dalam paripurna. Tapi teori seperti itu jika di terapkan pada diri si kakek, atau saudara-saudara seperguruannya, tidak akan berfungsi.

Tak disangkal mereka memiliki tenaga murni handal, dan dapat mengoperkan hawa murni dengan selamat, namun biasanya tenaga murni yang kembali terserap balik tidaklah seperti sebelumnya, jika beruntung paling banter hanya setengahnya. Tapi lupakan saja! Masalahnya, siapa yang mau dengan cuma-cuma mengoper tenaga? Sebab, manusia mana yang mau tenaga yang diperoleh dengan susah payah lenyap.

Tapi teori semacam itu tak berlaku untuk menilai mereka yang dijumpai Jaka. Karena mereka memiliki kemampuan spektakuler yang disebut Resapan Udara Murni, orang yang memiliki ilmu ini, tenaganya tidak dapat punah walau sekujur tubuhnya mengalami kelumpuhan total! Dalam tubuhnya terdapat semacam pusaran hawa murni yang berkesinambungan, sekalipun kau oper tenaga itu terus menerus sampai hawa sakti dalam tubuhmu habis, maka hawa itu juga akan kembali tak berapa lama.

Namun, meski Resapan Udara Murni sangat hebat, tapi hanya bisa digunakan tiga kali saja, lebih dari itu syaraf tubuh orang yang mengoper hawa murni akan pecah dengan sendirinya. Itulah kekurangannya. Sifat hawa saktinya adalah permanen dapat digunakan sesuka kapan saja, tak sama dengan Tenaga Semu yang di miliki Jaka.

Menurut perkiraan Jaka, kakek bernama Ki Gede Aswantama ini, memiliki hawa sakti sampai dua ratus tahun hasil latihan, bahkan lebih, padahal usianya paling banter akhir delapan puluhan. Mungkin ia banyak memperoleh rejeki dengan banyak mustika-mustika yang memberi tambahan hawa murni.

Sebelumnya kakek itu sudah menyalurkan pada satu orang, saat menyalurkan pada Jaka, Ki Gede hanya dapat menyalurkannya sebagian saja. Bukannya Ki Gede sayang atau karena tak percaya pada Jaka. Semua itu terjadi karena tubuh Jaka memilik hawa pelindung yang aneh, fungsinya sudah tentu, melindungi masuknya semacam tenaga liar.

Begitu Ki Gede hendak menyalurkan seluruhnya, pergolakan tenaga pelindung dalam diri Jaka yang begitu hebat, membuat orang tua itu kesulitan untuk mengoperkan semua tenaga saktinya. Mungkin semua itu disebabkan latihan pernafasan Jaka yang berbeda dengan siapapun. Penolakan tenaga itu terjadi mungkin karena pemuda ini telah menguasai dasar Tenaga Semu.

Tak bisa dijelaskan sebabnya, tapi ada keuntungan besar dari kejadian tadi. Ki Gede Aswantama-lah yang menarik keuntungan besar. Pertama; karena ia gagal menyalurkan tenaganya, dengan sendirinya penggunaan Resapan Udara Murni kali ini tidak bisa dihitung yang kedua. Kedua; akibat membaliknya tenaga sakti yang hendak ia oper pada Jaka, tenaga sakti itu kembali menghantam diri sendiri dan menjadikan hawa murninya naik satu tingkatan. Tentu saja hal itu tak disadarinya. Bahkan sampai sekarangpun Jaka tidak menyadari dalam dirinya sudah bertambah ada hawa murni permanen sebesar separuh tenaga Ki Gede.

Saat penyaluran tenaga, Ki Gede hanya menyentuh bahu Jaka. Waktu itu Jaka hanya merasa kalau Ki Gede cuma menepuk dan bahunya terasa berat, seketika itu juga dia langsung menahannya. Jaka berpikir, mungkin Ki Gede ingin menguji sampai seberapa jauh kemampuannya.

Andai saat itu Ki Gede meminta Jaka tidak mengeluarkan tenaga untuk menahan, kemungkinan besar pengoperan tenaga murninya sukses. Kenyataannya, Jaka telah menolak permintaan dirinya untuk memberikan tenaga murni, maka dengan sendirinya ia mencari jalan bagaimana pengoperan tenaga murni dapat terjadi sewajar mungkin tanpa diketahui Jaka. Tapi, gagal juga.

Dan kemungkinan karena bertambahnya tenaga murni itulah, maka Jaka dapat bertahan tanpa tergetar dari serangan murid kedua Ki Lukita. Saat hendak menyerang balikpun, sesungguhnya Jaka belum mengeluarkan Tenaga Semu—iapun tak menyangka hal itu, tenaga murni yang dikeluarkan Jaka adalah hasil penyaluran tak sempurna dari Ki Gede.

“Sayangnya saya benar-benar lupa menanyakan nama kakek itu, andai saja saya tahu siapa beliau…” gumam Jaka setelah ia selesai bercerita beberapa lama.

“Namanya Ki Gede Aswantama.” Rupanya yang menyahut ucapan Jaka adalah Ki Benggala.

“Paman kenal?”

“Kenal sih tidak, cuma aku pernah berjumpa satu kali. Walau cuma sekilas saja.”

“Bagaimana dengan beliau itu?” tanya Jaka tak jelas maksudnya.

Ki Benggala tahu maksud Jaka. “Beliau adalah orang yang dikenal kaum pesilat dengan julukan Purwaduka, sebab dimanapun dia berada, selalu saja ada orang-orang yang kesulitan hatinya dientaskan. Lebih detailnya, apa yang di lakukannya pasti berkaitan dengan persoalan besar.”

“Tadi saya melihat Aki sekalian begitu tertarik melihat Bambu Lentur ini, ada apa gerangan?”

“Sebenarnya jawabannya sudah ada pada ceritamu tadi.” Kata Ki Glagah.

“Lho, yang mana?”

“Bukankah menurutmu Ki Gede ada mengatakan ‘masih ada yang bisa diselamatkan’ benar begitu bukan?”

“Memang, tapi apa hubungannya?”

“Justru erat sekali, karena yang dimaksudkan adalah pusaka Perguruan Macan Lingga. Dan salah satu pusakanya adalah Tongkat Bambu Lentur itu.”

“Ah, masa iya?” seru Jaka. “Membuat pusaka dari tumbuhan yang bisa ditanam dimana saja?”

Para tetua saling pandang, angggota lainnya juga begitu. Mereka bukannya merasa aneh dengan pertanyaan Jaka, tapi mereka merasa aneh dengan reaksi Jaka. Pemuda ini bukan seperti orang terkejut, dia bertanya seperti itu seolah menghormati tetua yang telah menyampaikan kabar padanya.

Dengan sendirinya, mungkin saja Jaka sudah tahu rahasia itu, atau tidak perduli. Dan rasanya alasan pertama yang lebih masuk akal.

“Kau sudah tahu rahasia itu?”

“Belum.” Jawab Jaka dengan alis mata terangkat. “Kenapa Aki bertanya begitu?” tanya pemuda ini pada Ki Alit Sangkir.

“Aku heran, lantaran reaksimu tak seperti biasanya.”

Para tetua tersenyum mendengar ucapan rekannya. Untuk hal blak-blakan, memang itu urusan K Alit Sangkir, kakek satu itu tak bisa menyimpan unek-unek hatinya.

Jaka agak heran dengan ucapan tetua itu. Pemuda ini tersenyum. “Oh, maksud aki, saya harus terkejut?”

“Setidaknya begitu.”

“Apakah harus begini?” Jaka menekan dadanya dan bahunya terangkat, tapi mimiknya tidak sedikitpun serupa dengan orang terkejut, lebih mirip kena bengek—asma.

“Tentu saja tidak begitu.” Seru Ki Alit Sangkir tertawa masam, demikian juga dengan yang lain. Suasana jadi geger penuh tawa.

Anggota yang lain tak habis pikir, bagamana bisa seorang anggota baru perkumpulan, begitu mudah menyesuaikan diri dengan mereka, mendapat kepercayaan besar, membuat para tetua tertawa, bahkan membawa banyak hal menarik pula. Kejutan yang tak menyenangkan bagi anggota senior. Sebab mereka tidak pernah benar-benar sedekat itu.

“Maaf Ki, bukan maksud saya menyepelekan pemberitahuan tadi…” ujar pemuda ini setelah suasana reda.

“Karena kau sudah tahu?” potong gurunya.

“Tidak! Saya hanya tidak ingin tahu.” Jawab Jaka menegaskan.

“Tapi kenapa…”

“Saya tidak perduli.” Potong Jaka.

“Maksudnya?”

“Saya tak memerdulikan hal itu.” Tegasnya sekali lagi.

“Kenapa?”

“Sebab, itu tidak menyelesaikan masalah, justru menambah masalah. Betul tidak?”

Gurunya saling pandangan dengan tetua lainnya. “Kenapa kau berpendapat seperti itu?”

“Yah, menurut saya memang harus seperti itu. Tidak ada alasan lain.”

Gurunya tak menyahut, tapi masih memandang Jaka. Pemuda ini tahu kalau gurunya masih menginginkan jawab.

Jaka menghela nafas. “Mengetahui persoalan rahasia bukanlah suatu hal yang enak. Pikiran kita jadi tak tenang, nafsu ingin tahu melebihi biasa, dan yang paling tidak enak lagi, jika rahasia itu menyangkut aib orang lain, syukur kalau orang itu masih hidup, tapi, jika sudah mati? Turunannya yang menanggung semua perbuatan leluhur. Dosa leluhur yang tak mereka lakukan akan terus menghantui. Itu baru satu contoh. Masih akan banyak contoh yang akan menyusul tergantung rahasia apa yang diketahui.”

“Tapi, ada juga sebuah rahasia yang membawah berkah bagi banyak orang.” Sahut gurunya.

“Misalnya?” Tanya Jaka.

“Hm…” Ki Lukita tak langsung menjawab, dia tahu muridnya itu orang cerdik, dan dia tahu pertanyaan itu diajukan untuk menguji. Sungguh kurang ajar, guru diuji murid. “Kita misalkan saja bambu lentur itu.”

“Tunggu, jangan bambu ini lagi, saya sudah cukup mengetahui sedikit rahasianya. Tidak perlu diuraikan lagi.”

“Kenapa?”

“Saya takut.”

“Takut?” gurunya bertanya heran. “Pada siapa kau takut?”

“Saya takut pada saya sendiri.”

“Ah…” banyak orang mendesah antara kaget, heran, juga mencemooh. Tapi yang paling tahu adalah para tetua, seperti yang sudah Jaka ceritakan sebelumnya dihadapan para tetua, seperti misalnya; bahwa dirinya memiliki Tenaga Semu, dan Jaka mengatakan kalau dia takut menggunakan, dan menyempurnakan lebih lanjut. Pemuda ini takut kalau ambisinya akan mengambil alih pertimbangan hatinya. Dan tentu saja kali ini jawaban Jaka sangat masuk akal.

Kunci menjawab teka-teki rahasia tongkat lentur, semua sudah berada ditangannya. Jika dia tahu rahasianya, bukankah itu sama saja dengan menabur benih rasa ingin tahu, yang sedikit demi sedikit bisa menjadi ambisi, dan keinginan menguasai?

Para tetua tahu, kalau Jaka menjawab tak ingin tahu karena alasan itu. Tapi mereka juga sadar satu hal yang tak dipahami Jaka. Bahwa selama orang itu sadar, dengan resiko yang akan ditimbulkannya, segala sebab-akibat yang akan terjadi, maka selama itulah dia akan tetap berada di jalan yang benar. Dan Jaka mengekang dirinya begitu rupa, seolah-olah dia takut lepas dari jalan yang lurus.

Memangnya apa yang ditakuti Jaka? Dirinya yang lepas kontrol, atau alasan lain? Sungguh pemuda yang sulit ditebak.

“Baiklah,” akhirnya Ki Lukita memutuskan untuk tidak mengusik Jaka lagi. “Kumisalkan saja ada satu rahasia persilatan, disitu tersembunyi kitab-kitab sakti. Jika kitab itu kau temukan dahulu, bukankah kau tidak akan kawatir kalau kitab itu jatuh ketangan orang sesat?”

“Em, rasanya begitu…”

“Kalau begitu apa masalahnya? Kenapa kau tidak menginginkan rahasia itu? Bukankah dengan begitu kitab itu aman?”

“Guru benar, juga keliru. Lantaran kitab itu jatuh ketangan saya, tentu saja saya berani menjamin kitab itu aman. Tapi masalahnya, jika ada orang yang tahu kitab itu berada pada saya…”

“Jadi kau takut orang lain memburu dirimu?” potong Wiratama yang dari tadi menyimak pembicaraan Jaka.

“Bisa dikatakan begitu.” Sahut Jaka tersenyum, sebuah umpan untuk kesimpulan sudah ditebar lagi, dengan jawaban itu, orang-orang akan mengira dirinya, ‘pengecut’. Mereka kembali dibuat heran dengan ucapan Jaka. Sungguh membingungkan pribadi pemuda ini.

“Katakan yang sebenarnya Jaka.” Gurunya meminta.

“Didunia ini, banyak orang yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Tak perduli baik atau buruk, yang penting keinginannya tercapai, puaslah hatinya. Mungkin saja, saya bisa menjadi alat orang-orang semacam itu.” Jawab Jaka tak langsung.

“Oh, maksudmu kekawatiranmu yang paling besar, bahwa kau tidak bisa melihat orang lain dikorbankan untuk dibarter dengan kitab atau apapun itu?!”

“Ya, semacam itu…”

“Tentu saja jika itu terjadi, hanya orang-orang yang dekat denganmu yang bisa dijadikan… anggaplah sandera, bukan begitu?”

“Bisa ya, bisa tidak.”

“Eh, apa pula itu?”

“Harus guru ingat, apapun yang dijadikan sandera—jika itu terjadi—dia adalah manusia, dan kita harus menghormati nyawa manusia, sekalipun dia orang yang tidak baik.”

“Kalau begitu, kau sangat mudah diserang.” Cetus Ki Glagah. Tentu saja maksud tetua ini adalah, mudah diserang secara physics—kejiwaan, karena kelemahan hati—bukan fisik.

Jaka tetawa. “Mungkin begitu, mungkin tidak.”

Kembali mereka terhenyak tak paham, adakah orang seaneh Jaka? Ia mengatakan kelemahan dirinya, tapi dengan mudah pula—seolah—memasa bodohkan, mengacuhkannya. Seperti angin, cepat berubah, dan itu cocok dengan nama belakangnya, Bayu.

“Jadi kau benar-benar tidak ingin tahu rahasianya?”

Jaka mengangkat pundaknya sambil tersenyum. “Tidak ingin, tapi saya pikir sekarang tidak ada bedanya.”

“Tidak ada bedanya bagaimana?” cetus Ki Alit Sangkir.

“Sebab, tak seorangpun yang tahu rahasia sebenarnya, semua berdasarkan kabar-kabar yang beredar diluar sana. Jadi tak ada halangan saya mengetahui kabar itu.”

“He, kau ini anak aneh, tadi kau bilang takut, sekarang malah ingin dengar.”

“Tadi dan sekarang, kan persoalan yang berbeda. Lantaran banyak yang tahu, jadi bukan rahasia lagi. Benar tidak?”

Ki Lukita mengelengkan kepalanya. Anak yang sulit ditebak, gerutunya.

“Baiklah, kalau begitu aku ingin tanya satu hal, tentang bambu lenturmu. Selain menyimpan rahasia entah apa, tentu saja bambu itu punya kasiat lain. Coba kau pikir, menurutmu ada banyakkah tumbuhan seperti itu?”

“Saya rasa sedikit, mungkin jarang…”

“Nah, tentu saja ada alasan tertentu mereka membuat pusaka dari tanaman langka itu, apalagi kau juga membuat seruling dari tumbuhan yang sama. Mungkin saja, satu tahun kedepan baru kau ketahui rahasianya.” Tutur Ki Glagah menjelaskan.

“Begitu,” gumam pemuda ini setengah merenung. “lalu, apa Aki tahu kegunaan kusus atau kasiat dari tongkat ini?”

Pertanyaan Jaka itu bobotnya biasa, tapi bagi pendengara para tetua ini, seperti pertanyaan ujian. Apa yang diminta untuk dijawab adalah sebuah urusan rahasia–seperti yang mereka sampaikan tadi. Seandainya mereka tak bisa menjawab, bagaimana mungkin mereka bisa disebut sebagai, perkumpulan rahasia yang banyak mengetahui rahasia dunia persilatan?

“Menurut kabar, tongkat itu tidak bisa diputus walau oleh pedang pusaka. Kekenyalannya tidak bisa ditembus benda apapun. Tentu kita belum bisa membuktikan benar tidaknya. Ada juga yang mengatakan kalau tongkat itu bisa menawarkan racun. Aku rasa kabar itu benar, sebab pada masa lalu, pernah terdengar kegemparan akibat tongkat bambu lentur itu.”

Jaka mendengar dengan seksama, dia meraba tongkatnya yang masih melingkari dipinggang. Wah, kalau begitu, aku membawa benda rebutan orang, mudah-mudahan tidak membuat kegemparan, aneh juga, benda macam inipun bisa diperebutkan orang.

“Berapa banyak orang yang tahu dengan keberadaan tongkat bambu lentur ini?” tanya Jaka.

“Tak banyak yang tahu, yang jelas hanya mereka yang berkaitan dengan kejadian-kejadian besar saja yang tahu perihal tongkat itu.”

“Termasuk Perkumpulan Garis yang lain?”

“Benar! Karena itu hati-hatilah, manusia itu tidak bisa ditebak kelakukannya. Dilain saat ia bisa menjadi temanmu, tapi suatu saat bisa juga menjadi musuhmu.”

“Nasehat guru akan saya ingat, walau begitu rasanya saya tak perlu kawatir.”

“Kenapa?”

“Sebab yang mengetahui keberadaan bambu ini hanya Perkumpulan ini saja, jadi saya tidak akan kawatir kalau beritanya tersebar keluar.”

Mendengar ucapan Jaka, mereka saling pandang. Delapan tetua pun menghela nafas getun. Anak setan yang cerdik, gerutu Ki Lukita tersenyum.

Semua orang sudah mafhum apa yang dimaksudkan. Dengan kata lain Jaka hendak mengatakan, ‘Kalau kabar ini tersiar, kan yang patut dicurigai pertama kali adalah perkumpulan ini.’ Karena itu, mereka sadar, makin banyak melihat, mendengar, dan menyelidiki apa, dan siapa Jaka, makin berhati-hatilah mereka jika hendak membuat sengketa dengannya.

“Ngg, guru… bukankah tadi guru hendak menceritakan seperti apa Perguruan Macan Lingga itu?” tanya Jaka setelah beberapa saat terdiam. Beberapa orang mendukung permintaan Jaka.

“Baiklah, tapi sebelumnya, aku hendak bertanya padamu. Sebelum ini bukankah kau bilang kalau apa yang hendak kau ceritakan paling tidak bisa sebagai pelajaran berharga untuk yang mendengarnya? Sejauh ini aku belum menangkap apa yang harus dijadian pelajaran, selain waspada dengan keinginan yang terlalu berlebihan, harta, kekuasan, dan wanita.” Ucapan Ki Lukita itu memang bernada mengingatkan orang-orang akan inti cerita Jaka, namun juga ada nada menguji sampai sejauh mana Jaka dapat menangkap, apa yang diungkapkan oleh kakek dalam gedung itu.

Jaka tersenyum. “Kalau saya tak salah menilai, tentunya ada dua hal lagi yang menjadi pokok pelajaran yang harus kita ambil,”

“Tunggu dulu…” potong Ki Banaran.

“Ada apa Adi?” tanya Ki Glagah.

“Apa tidak lebih baik kalau anak murid kita yang menjawab lebih dulu?”

Untuk sesaat beberapa orang tetua saling berpandangan, kemudian mereka tersenyum dan anggukkan kepala. Ucapan Ki Banaran memang beralasan dan juga mengandung perbandingan yang ingin mereka lihat.

“Kau benar Adi…” seru Ki Lukita setuju.

“Eh, tunggu dulu,” Kali ini yang menyelak adalah Ki Gunadarma.

“Ada apa lagi?”

“Apa tidak lebih baik kalau pendapat dan jawaban mereka ditulis?”

Kata-kata Ki Gunadarma kontan saja membuat tujuh tetua lainnya tersadar. Seandainya satu demi satu anggota mereka ditanya dan ternyata tidak dapat menjawab dengan benar, bukankah akan membuat rendah diri atau merasa diremehkan, dan jika ternyata apa yang diutarakan Jaka benar, berarti akan terlihat kalau para tetua condong dan cenderung selalu membela Jaka, dengan kejadian seperti itu dapat membuat persatuan mereka agak renggang.

“Usul Adi Gunadarma tepat sekali!” seru Ki Glagah. Lalu tanpa banyak komentar, begitu Ki Glagah bicara begitu, dari dalam muncul dua wanita yang tadi menyediakan tajilan (jajanan). Keduanya membawa setumpuk kertas polos dan pena serta tinta. Tanpa banyak komentar, keduanya segera membagikan pada orang-orang selain delapan tetua.

Saat Jaka hendak diberi pena, pemuda ini menolak dengan sopan, ia mengatakan kalau ia sudah memiliki pena. Ia hanya meminta tinta saja.

“Baiklah, sekarang kalian tuliskan.” Kata Ki Lukita.

“Tunggu dulu kek,” seru Ayunda.

“Ada apa?”

“Kalau Jaka juga ikut menuliskannya, bukankah sudah jelas jawabannya yang paling benar? Karena dialah pelaku dalam cerita tadi. Apakah tidak lebih baik kalau kakek bersama Aki sekalian dan Jaka yang menjadi juri saja?”

“Benar-benar..” beberapa orang menyahut setuju.

Delapan tetua saling pandang, dan mereka menghela nafas getun. Maksud hati mereka adalah ingin melihat perbandingannya saja, mereka ingin melihat sejauh mana anggota yang tadi mendengar cerita Jaka dapat menangkap maknanya.

Tapi mereka juga membenarkan usulan Ayunda, sebab bagaimanapun juga mungkin ada bagian-bagian tertentu yang tidak diceritakan Jaka, dan mungkin saja bagian itulah yang menjadi salah satu dari nasehat yang perlu di simak baik-baik. Tapi menurut pendapat Ki Lukita bagian yang paling penting dan perlu diketahui tak mungkin disembunyikan Jaka. Kalau memang Jaka berniat menyembunyikan bagian terpenting, bukankah lebih baik ia tak usah menceritakan asal usul datangnya tongkat bambu lentur?

”Baiklah..” akhirnya Ki Glagah memberi keputusan.

—ooOoo—

47 – Sedikit Pengungkapan Aktifitas Rahasia

Mereka segera menuliskan jawaban. Tak berapa lama kemudian kertas pun dikumpul. Delapan tetua serta Jaka memeriksanya, tentu saja Jaka tak berani duduk berendeng (bersampingan) dengan delapan tetua, sebab bisa membuat penafsiran jelek. Boleh jadi ada orang yang melihatnya merasa kalau kedudukan Jaka setara dengan delapan tetua. Hal seperti itulah yang dihindari Jaka, karenanya, pemuda ini duduk agak jauh dan menunggu para tetua selesai memeriksa jawaban. Setelah jawaban selesai diperiksa, barulah Jaka membacanya dengan cermat.

Pemuda ini tampak mengangguk-angguk kecil dan tersenyum tipis, saat memeriksanya. Memang lagaknya tak kentara, tapi puluhan pasang mata yang tajam toh melihatnya juga.

“Bagaimana Jaka?” tanya Ki Glagah. Dari pertanyaan itu, semua orang sudah tahu kalau delapan tetua menyerahkan keputusan pada Jaka.

“Saya sungguh kagum Ki, semua jawaban tak jauh beda dan memang itulah yang menjadi inti dari nasehat yang hendak disampaikan kakek itu pada kita semua,”

Mereka yang menjawab tampak puas, tapi tidak dengan gadis ayu berusia dua puluh empat tahun, kelihatannya dia mengerutkan keningnya yang halus. Gadis itu bernama Nawang Tresni, salah satu cucu Ki Glagah.

“Kalau tidak salah bukankah kau mengatakan ada dua inti nasihat yang perlu diketahui, selain waspada dengan keinginan yang berlebihan, harta, kedudukan dan wanita serta menjaga rahasia tanpa menyampaikan pada orang lain biarpun yang terdekat, juga kita diharuskan melihat tiap persoalan dengan kepala dingin, lalu satu lagi apa?”

Jaka menatap Ki Glagah, kakek itu tersenyum. “Kau saja yang menjawab,” Ia berkata begitu karena tahu apa arti tatapan Jaka yang meminta agar dirinya yang menjelaskan pertanyaan sang cucu.

“Ini hanya persoalan sederhana, nasihat kedua ini bukan tersirat dari cerita kakek yang saya temui. Tetapi dari apa yang saya lihat di sekitar benteng. Yakni abstraksi air… air itulah nasehat yang pokok yang menjadi pengingat tiap orang dalam benteng itu. Kita semua tahu air itu selalu datang dari tempat yang tinggi, dan ada kalanya dengan media berbeda air bisa menanjak. Semua itu harus dilihat faktor-faktor yang membuat dan mempengaruhinya. Air juga kadang tenang kadang bergelombang… makin jauh air mengalir akan berubah kandungan dan sifatnya.

“Bukankah makin dekat dengan laut, air yang tadinya tawar menjadi asin? Lalu setelah air tertampung sampai di laut akan terjadi proses yang membuat kita makin mengerti air itu. Proses yang kita kenal sebagai hujan… dan belum pernah kita dengar hujan turun asin rasanya, karena pada saat penguapan zat yang membuatnya jadi asin tertinggal didasar laut. Dan proses seperti itu patut dipikirkan. Matahari yang menguapkan air laut, lalu uap itu tertiup kedaerah yang lebih dingin, kemudian hujan.

“Hujan membuat tanaman tumbuh, hujan dapat membuat segala sesuatu yang kering menjadi segar, dan hujan dapat membuat… banjir besar melanda. Itu semua adalah adalah perputaran alam yang memang terus terjadi terus menerus sejak dulu. Dan itu semua hendak disampaikan pada kita, bahwa; kita harus dapat bersikap dengan melihat keadaan, kita harus bisa bertindak tepat pada saat yang tepat. Pada suatu saat kita mungkin tak ingin membunuh apa yang namanya mahkluk bernyawa, tapi suatu ketika kita akan melakukannya karena kebutuhan.

“Mungkin seperti halnya saya, saya tak ingin menyakiti orang lain, saya tak ingin membunuh, tapi ada kalanya hal itu diperlukan jika memang sudah tidak ada pilihan lain. Itulah yang tercermin dari hujan/air yang membuat suatu daerah menjadi banjir… lalu air hujan yang tidak asin merupakan simbol paling kuat yang hendak disampaikan, yakni kita harus sadar dengan sifat asli kita sebagai manusia, dari tanah pasti akan kembali ketanah juga. Untuk apa kita diciptakan Tuhan, apa untuk berbuat kerusakan? Kalau memang begitu, kenapa kita diciptakan? Tuhan kan tidak bodoh seperti mahluk-Nya, Tuhan juga tidak berawal dan tidak berakhir. Dan artinya cepat atau lambat makhluk bernyawa pasti mati, omong kosong kalau ada orang yang bisa hidup abadi.

“Terpupuk bagaiamanapun suatu kekayaan, jika yang namanya ajal sudah datang, harta tak akan bisa dibawa, masih banyak lagi yang menjadi perlambang dari air untuk menentukan bagaimana kita bersikap.” Tutur pemuda ini mengakhiri keterangannya.

Para tetuapun mengangguk setuju dengan penjelasan Jaka yang panjang lebar itu. Dan mereka yang juga sudah terpikir mengenai air, tambah mengerti dengan apa yang dijelaskan Jaka tadi.

Hanya saja, manusia tidak menyangka atau tepatnya tak pernah sadar, kadang air yang hanya tinggal kita teguk, ternyata memiliki arti yang begitu besar dan pengajaran yang sangat berguna.

“Baik, itulah yang menjadi inti dari nasehat yang samar-samar hendak diberikan beliau yang dijumpai Jaka, pada kita yang mendengarnya. Sekarang akan kukisahkan bagaimana awal mulanya Perguruan Macan Lingga. Tentu saja kisah yang kuceritakan ini jauh dari lengkap karena memang tak banyak orang yang tahu tentang perguruan utama itu. Bahkan orang yang diatas kami para tetua, juga belum tentu tahu lebih jelas.” Kata Ki Lukita menerangkan.

“Seperti yang diceritakan Jaka, pada masa enam puluh tahun lalu pernah terjadi huru hara yang luar biasa. Kalian pasti tahu bagaimana kekuatan salah satu enam belas perguruan besar, karena adanya huru hara itu, enam belas perguruan bersatu untuk menghadapi kekuatan yang hingga saat ini belum jelas asal usulnya. Bayangkan, seperti apa hebatnya jika enam belas perguruan bersatu padu, belum lagi tujuh perguruan besar dan puluhan perkumpulan kecil lainnya. Namun mereka sama sekali tidak dapat membendung kekuatan ‘sesuatu’ yang tiba-tiba saja bisa memecah belah persatuan tiap perguruan.

“Kondisi saat itu benar-benar gawat. Satu sama lain saling menuduh, pembunuhan terjadi dimana-mana… celakanya mayat yang ditemukan itu selalu tertera tanda bekas pukulan dari salah satu perguruan. Karuan semua orang saling mencurigai. Akhirnya dibuat satu keputusan mutlak bahwa apapun yang terjadi, para ketua perguruan harus memantau gerak-gerik dalam tubuh perguruannya masing-masing, karena siapa tahu ada penyusupan. Tapi sejauh itu tidak ditemukan hal-hal mencurigakan. Akibatnya, perselisihan antar perguruan makin meruncing, tentu saja yang menjadi korban adalah perkumpulan kecil. Sungguh kasihan… mereka hancur, tapi untungnya saat ini sudah ada pewaris yang membangun perguruannya kembali.

“Pertentangan tak dapat diakhiri begitu saja, perguruan besar gontok-gontokan sendiri. Bahkan mereka berlaku seperti musuh bebuyutan saja. Untung saja pada saat gawat, Panembahan Suropati, Panembahan Buyut Ireng dan Panembahan Menak Cemeng, muncul melerai…”

“Kek, siapa ketiga Panembahan itu?” tanya Ayunda.

“Mereka adalah salah satu sesepuh diatas para tetua partai, Panembahan Suropati dari Perguruan Walet Hijau, Panembahan Buyut Ireng dari Perguruan Pedang Tunggal sedangkan Panembahan Menak Cemeng dari Perguruan Angin Tanpa Gerak. Mereka bertiga merupakan orang-orang yang masih hidup dari Enam Belas Dewa.”

Mereka manggut-manggut, tentu saja tiap orang tahu siapa itu Enam Belas Dewa. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka dari enam belas partai besar. Kemampuan mereka jangan ditanya lagi, pokoknya benar-benar luar biasa. Adalah wajar jika mereka ingin mendapat predikat terbaik, hingga enam belas orang itu selalu mengadu ilmu tiap tahun sekali. Tetapi tetap saja tak berubah, ke-enam belas orang itu tetap saja berimbang, sampai akhirnya mereka bosan sendiri dan menyatakan tidak bertarung lagi. Tentu saja sebagai orang-orang golongan putih, walaupun bertanding dengan mati-matian, mereka tidak saling bermusuhan. Karena kekosenannya dan juga belum pernah terkalahkan itu, maka Dunia Persilatan menjuluki mereka Enam Belas Dewa.

Semua orang dalam ruangan itu boleh tahu siapa Enam Belas Dewa, tetapi Jaka tidak, biarpun ia sudah menyerap begitu banyak informasi di dunia persilatan, tapi perihal kejadian lampau, boleh dibilang dia masih buta. Wajar saja, pemuda ini masih awam dengan kondisi dunia persilatan masa lalu—begitu pula dengan yang lain. Sebenarnya Jaka ingin bertanya siapa saja Enam Belas Dewa itu, namun karena suasana tak mengijinkan, akhirnya pemuda itu bertanya lain.

“Keadaan saat itu pasti sedang gawat, lalu bagaimana reaksi tiga anggota Enam Belas Dewa itu?”

“Rekasi mereka berbeda dengan anggota perguruannya. Sebagai golongan tua, pikiran mereka jauh lebih tenang dan sanggup memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Kemunculan mereka membuat para tokoh dari partai besar lega. Apalagi tiga orang itu menyatakan bahwa yang membuat huru hara itu adalah kumpulan orang yang secara kebetulan pernah mendapat ilmu-ilmu tinggi dari partai besar.

“Tapi sejauh itu belum lagi dapat dipastikan siapa mereka itu. Kemudian, lambat laun orang makin jelas, bahwa sumber dari pergerakan menyesatkan itu ada pada Perguruan Macan Lingga. Enam belas tokoh dari perguruan besar datang kesana untuk menyelidiki sekaligus berkunjung, karena bagaimanapun juga belum ada bukti kuat bahwa partai itulah yang membuat ulah.

“Dari penyelidikan, terdapat kenyataan yang sangat mengejutkan, yakni dalam partai itu sedang ada goncangan-goncangan kepemimpinan. Ada empat kelompok yang berkuasa di Perguruan Macan Lingga yang beda pendapat. Dari bukti itu, mereka tak dapat menunjuk bahwa perguruan yang sedang rusuh bisa membuat enam belas partai besar berantakan. Tapi biarpun sudah timbul kembali kepercayaan pada masing-masing partai, kekuatan yang mereka rasa menimbulkan huru-hara itu, tetap saja tak hilang.

“Banyak saja persoalan yang timbul diantara partai, beruntung rasa kebersamaan mereka sudah menguat, hingga tidak terjadi pertikaian besar. Hingga akhirnya, keadaan dunia persilatan jadi serba runyam, kekuatan yang menggerakan ‘sesuatu’ tak satupun orang yang mengetahuinya.” Ki Lukita mengakhiri ceritanya.

Beberapa orang tampak tak puas karena kisah menarik itu menggantung begitu saja. Tentu saja para sesepuh tahu apa yang dipikirkan anggota perkumpulan. Karena itu Ki Lukita kembali menyambung ceritanya,

“Memang keadaan itu waktu itu sama parahnya seperti kisah saat muncul tiga tokoh kejam yang pandai ilmu tabib. Kalau dibuat perbandingan, kondisi saat itu benar-benar sedang payah, dan bagai membalik telapak tangan, seharusnya mudah saja bagi ‘sesuatu’ itu bergerak untuk menguasai apa saja. Pokoknya saking mudahnya, tak perlu lagi mereka bercapai-capai melakukan penyerangan pada kekuatan yang dipandang kokoh. Tapi hingga saat ini, satu persoalan itulah yang menjadi tanda tanya. Kenapa mereka tidak meneruskan rencana mereka yang semula? Apakah tujuan mereka hanya mengacau saja? Benar-benar pusing kepala jika kita memikirkan hal itu.”

“Kalau begitu klop-lah dengan cerita yang dikemukakan Jaka tadi.” Sambung Ki Alit Sangkir. “Menurut penuturan Ki Gede Aswantama, dalam partainya saat itu memang ada pergolakan. Kekuasaan yang sah dengan berada dalam kondisi kritis. Tapi entah mengapa, kekuatan ‘sesuatu’ itu tidak melanjutkan usahanya dalam mengambil alih perguruan besar itu. Karena cerita Jaka tadi, persoalannya menjadi agak gemblang. Kita tidak perlu lagi mencari, apakah ‘sesuatu’ itu datangnya dari Macan Lingga atau bukan. Karena dengan adanya konflik dalam tubuh perguruan itu sudah menjadi jawabannya, bahwa ‘sesuatu’ itu bukan dari Macan Lingga. Tetapi dari pihak luar.”

“Jadi kesimpulannya?” tanya Diah Prawseti, lagi-lagi gadis ini mengejutkan orang termasuk kakeknya yang lagi cerita.

“Kesimpulannya, pasti ada perkumpulan yang mengorganisir seluruh perkumpulan rahasia di seluruh negeri. Dan mereka pasti sangat dekat dengan kekuasaan raja-raja muda. Bisa jadi apa yang sedang terjadi disini merupakan sinyal dari kebangkitan ‘sesuatu’ itu.”

Suasana hening seketika, jika benar apa yang diuraikan Ki Alit Sangkir, maka huru-hara yang akan terjadi, lebih besar dari huru-hara yang pernah terjadi dimasa munculnya tiga tabib gila—satu setengah abad lalu.

Setelah mendengar uraian tadi, Jaka segera berfikir kemungkinan yang terjadi, mengapa sang ‘sesuatu’ itu tak meneruskan pergerakannya. Dengan modal yang begitu besar, mustahil orang dibalik layar menghentikan begitu saja usahanya, tentu ada hal-hal luar biasa yang membuat orang itu jadi gulung tikar sejenak.

“Benar kata guru, benar-benar membuat pusing…” desah Jaka, ia tak lagi mengira-ira apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sebab ia sadar, sebaik apapun tebakannya—semasuk akal apapun itu—tidak akan bisa membuktikan kebenaran kejadian yang lampau.

“Guru, bagaimana dengan reaksi perkumpulan ini saat itu?” tanya Jaka gamblang.

Pertanyaan itu memang yang dinanti-nantikan tiap orang, bagi anggota perkumpulan bertanya seperti itu seperti halnya mengorek borok sendiri. Tentu saja mereka tak mau melakukannya, tapi bagi Jaka yang berstatus anggota baru, tentu saja hal seperti itu tak terpikir olehnya.

Mendengar pertanyaan Jaka, Ki Lukita mendesah magsul. “Jawaban pertanyaanmu itu memang sangat kami harapkan sejak dulu…”

Dari ucapan ini saja semua orang sudah tahu bahwa delapan tetua sama sekali tidak tahu reaksi yang diberikan perkumpulan rahasia ini. Tentu saja yang paling penasaran adalah Jaka.

“Ehm maaf, tapi apakah beliau-beliau, angkatan diatas para tetua tidak menceritakan hal ini pada turunannya?” Jaka bertanya lagi, dan Ki Lukita menjawab dengan menggeleng penuh perasaan magsul.

“Wah, aneh benar…” gumam Jaka. “Pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Benar-benar menarik!”

Ucapan Jaka membuat orang pada mengerutkan alis. Menurut mereka jika memang terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada saat itu dalam partai ini, lebih baik mereka tak usah tahu. Rasanya tidak enak mengorek luka lama. Namun merekapun tak bisa mencegah, karena dalam hati kecil, mereka memang ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sementera tiap orang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, Jaka asyik berpikir sambil menerawang. Mulutnya terlihat sesekali tersenyum. Nawang Tresni yang melihat hal itu menyenggol tangan Ayunda dan menunjuk Jaka.

“Lihat ketuamu itu, kelihatannya sedang miring…” bisiknya menggoda. Ayunda segera melihat Jaka, dan memang ia melihat Jaka sedang melihat langit-langit dengan sesekali nyengir.

Jaka mana perduli akan hal itu, biarpun orang-orang pada menatapnya dengan pandangan aneh. Sebab dalam otaknya sekarang tercipta rekonstruksi awal kejadian dan banyak rencana besar—tentu saja ia merekonstruksi sesuai dengan latar belakang kemampuannya. Dan terpikir olehnya satu hasil besar, jika ia menggunakan rencananya…

Menurutnya, kejadian yang sedang bergolak di dalam Perguruan Naga Batu saat ini hakikatnya belum ada secuil dari persoalan yang dihadapi oleh dunia persilatan pada masa kejayaan Perguruan Macan Lingga. Pemikiran itulah yang membuat Jaka sangat bergairah menyelesaikan urusan ‘kecil’ di kota Pagaruyung dengan hasil sesempurna mungkin.

“Apa yang kau pikirkan Jaka?” tanya Ki Benggala.

Jaka tak menyahut, pemuda ini malah melamun sambil mencomot makanan, gila!

“Jaka…” panggilan Ki Benggala tetap tak digubrisnya.

“Jakaaa..!” akhirnya bukan cuma Ki Benggala saja yang memanggil, bahkan seluruh anggota perkumpulan, karuan saja suaranya keras sekali.

Pemuda ini menggeregap kaget dan wajahnya merah padam, “Haah, apa? ada apa?” ujarnya kaget. Kalau saja ia bisa, rasanya saat itu ia ingin masuk kedalam tanah, ia kepingin sembunyi disitu agar terhindar dari rasa malu.

“Maaf… ada apa?” tanyanya kembali sambil meringis.

Ki Benggala tertawa melihat wajah Jaka yang merah padam tak keruan. “Aku tanya, kau sedang berpikir apa sampai-sampai kupanggil dua kali tak menyahut.”

Untuk sesaat Jaka terdiam, tak mungkin saat itu ia mengatakan tak memikirkan apa-apa. “Ehm.. begini, saya sedang berpikir tentang beberapa kemungkinan yang terjadi pada enam puluh tahun lalu. Setelah berpikir begitu, saya kembali membandingkannya dengan persoalan Partai Dewa Darah, rasa-rasanya seperti mencelup dari sungai ke genangan air. Entah bagaimana, saya merasa kalau masalah yang sedang kita hadapi saat ini tidak begitu sulit.. ehm, tentu saja itu baru perkiraan. Dan saya harap benar, karena menurut saya, orang-orang yang tergabung dalam partai Dewa Darah, saya misalkan mereka adalah anak buah rendahan dari pembuat huru-hara pada enam puluh tahun lalu. Jadi logikanya, menangkap pembantu lebih mudah dari menangkap majikan. Karena itu saya berpikir..”

“Dari tadi asyik berpikir saja,” gerutu Pertiwi memotong ucapan Jaka. Karuan ucapan si gadis membuat muka Jaka panas.

“Tiwi?!” hardik sang kakek lembut.

“Iyalah..” sungut gadis itu cemberut, karena sang kakek lebih condong pada Jaka.

“Jadi apa yang kau pikirkan?” tanya Ki Benggala kembali tertawa geli melihat muka Jaka seperti orang baru makan nasi basi.

“Ini semua masih dugaan saja, jika kelompok rahasia yang beraksi saat ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan kelompok masa lalu, andai saja kita bisa memberantas kelompok yang sekarang sedang menancapkan pengaruhnya. Saya yakin orang yang pernah membuat huru-hara enam puluh tahun lalu pasti akan tertarik, dan dia akan mencoba menitahkan anak buahnya untuk kembali menancapkan pengaruhnya. Seandainya usaha yang kedua juga gagal, dapat dipastikan saat itu juga dia akan muncul. Saya berharap dalam satu tahun ini saya bisa mendapat masukkan perihal perkumpulan Dewa Darah. Apalagi menurut guru perkumpulan itu merupakan perkumpulan ketiga tertinggi, jadi bisa kita bayangkan, bagaimana perkumpulan utamanya. Karena berpikir seperti itulah,”

“Berpikir lagi…” gerutu Pertiwi, hanya saja kali ini Jaka tidak menanggapi, karena sedikit banyaknya ia tahu memang begitulah sifat Pertiwi yang ceplas-ceplos.

“… maka rencana saya harus lebih matang lagi. Lebih matang lebih baik, atau mungkin makin hangus makin baik pula.”

Bagi mereka yang sudah mendengar garis besar rencana Tumis Ikan Arang, ucapan Jaka tadi tidak membuat mereka heran, namun tidak dengan mereka yang belum mendengarnya.

Mereka membatin, Sepertinya karena banyak berpikir jadi begitu akibatnya—otaknya hangus.

“Jadi dengan ini kau yakin mengatasi masalah Dewa Darah?” tanya Ki Glagah.

“Memang tak yakin seratus persen, setidaknya saya punya bayangan bahwa apa yang saya lakukan nanti lebih banyak berhasilnya dari pada gagal.”

“Berdasarkan apa kau bicara begitu?” tanya gurunya.

“Fakta dan keadaan guru.” Lalu Jaka terdiam sesaat, ia menghela nafas panjang. “Memang tidak enak kalau menyimpan rahasia…”

“Rahasia? Memangnya ada apa? Kau memiliki rahasia lagi?” tanya sang guru. Jaka mengangguk ragu, mulutnya terbuka—ia akan berbicara, tapi tak jadi, begitu berulang kali sampai tiga kali. Orang jadi geli melihat tingkah Jaka, tingkahnya seperti orang kecemplung saja.

“Hh.. baiklah,” Jaka menghela nafas panjang, akhirnya ia memutuskan untuk bicara. “Saya akan membuka sedikit rahasia. Terus terang saja saya sudah menyusun kekuatan yang sanggup membuat perguruan tangguh seperti—ambil contoh Lengan Tunggal, bisa saya porak-porandakan. Tanpa mereka sadari.”

“Ah.. kau tidak membual?” ujar gurunya heran.

“Tentu tidak, kalau tidak percaya juga tak apa.” Jaka tertawa. “Dan semuanya memang kebetulan…”

“Kebetulan lagi…” gerutu Ki Gunadarma dan Ki Benggala hampir bersamaan.

“Jadi, sementara saya disini berbincang-bincang. Teman-teman saya sudah banyak mendapat hasil. Ambil contoh, Bergola… orang yang kemarin kesini, ternyata bawahan si Ketua Tujuh Belas, dan andika sekalian tahu siapa dia? Tak lain adalah Wakil Tetua Perkumpulan Pengemis cabang selatan.”

“Ah.. tidak mungkin!”

“Kenapa tidak? Silahkan andika sendiri merunut kebenarannya. Dengan kejadian tadi, saya makin yakin siapapun orangnya, patut dicurigai, tentu saja kita yang ada di sini dikecualikan… ” Kata Jaka seraya tertawa lebar—tawa itu menyiratkan arti tersendiri. Memang ia mengetahui hal itu karena laporan dari temannya, sepulang dirinya dari Telaga Batu.

“Aku masih heran, dari mana kau dapatkan teman-temanmu itu?”

“Tentu saja dari sepanjang perjalanan saya. Pendek kata saya bahkan mampu mengetahui rahasia yang ada di tiap perguruan.”

“Masa?” seru Pertiwi sambil mencibir.

“Tidak percaya? Tidak apa-apa, toh tidak berdosa.” ujarnya sembari tersenyum. “Saya ingin tanya, apa guru tahu apa arti Tujuh Ruas, Dua Bakat, Empat Srigala dan Sembilan Belantara?”

“Eh..” gurunya dan tetua lainnya berseru kaget. Itu adalah kelompok anggota rahasia dalam Perguruan Lengan Tunggal? Batin para tetua.

“Bagaimana kau tahu? Murid-murid dari perguruan itu pun tidak tahu kalau sang guru adalah salah satu anggota kelompok rahasia itu.”

Jaka tersenyum. “Kalau guru bertanya darimana saya tahu? Bukankah saya juga bisa bertanya sebaliknya?”

“Maksudmu…”

“Benar, anggap saja kita sama-sama punya perkumpulan yang mengetahui banyak rahasia orang.” Kata Jaka dengan tersenyum seperti biasa. “Tentu saja termasuk rahasia perkumpulan ini.” Gumam Jaka dengan memejamkan matanya.

“Kau…!” banyak yang berseru marah mendengar ucapan Jaka.

Jaka mengangkat tangannya, memohon hadirin tak ribut. “Eh, jangan tersinggung. Aku kan bukan mata-mata, aku hanya menunjukan bukti bahwa masalah yang ada dikota ini masih terlalu sepele, jika kita menghadapi masalah besar yang cepat atau lambat datang!” jelas Jaka tegas.

Mereka bisa mengerti dengan alasan Jaka, kini pandangan orang-orang—termasuk delapan tetua, menjadi berubah kalau melihat Jaka yang sekarang. Jika semula mereka melihat Jaka terasa menyenangkan, kini… mereka merasa pemuda ini seperti ular berbisa. Makin lama makin menakutkan.

“Apakah aku salah memilih?” gumam Ki Lukita.

Jaka mendengar itu. “Tidak guru, mudah-mudahan guru tidak salah memilih, demikian pula saya… sayapun berharap demikian. Karena tujuan kita semua hanya pada kebenaran! Tidak perlu merisaukan segala sesuatu yang belum-dan akan terjadi.”

“Kau benar.” Ujar gurunya, sambil menoleh kepada tujuh tetua lainnya. Agaknya merekapun berpendapat sama. Suasana agak sunyi, sesaat perasaan orang dicekam rasa waswas.

“Lalu… mengenai rencanamu tadi, apa tidak berpikir jika gagal?” Ki Banaran bertanya memecahkan suasana yang tak enak, dia merupakan orang paling pendiam diantara semua tetua.

“Tentu saja kemungkinan seperti itu harus sudah saya pikirkan. Saya sudah membuat rencana pamungkas. Tapi rasanya rencana itu, tidak perlu terjadi, jika sampai saya lakukan, artinya semua rencana terdahulu gagal dan juga memakan korban sangat banyak,”

“Korban?” Tanya gurunya.

“Ya, walau berasal dari pihak lawan.”

Delapan tetua kembali menghela nafas gegetun. Rencana pertama saja kelihatannya sudah begitu rapi dan bagus, bagaimana dengan bentuk rencana pamungkas?

“Kalau memang begitu baguslah… paling tidak kau harus menghindari jatuhnya korban sesedikit mungkin.”

“Tentu saja Ki, saya berani memastikan seandainya tujuh bagian rencana pertama saya berjalan, maka tidak akan ada korban. Tapi… yah, bagaimana nanti saja.” Ujar pemuda ini setengah mengumam, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Eh, kalau tidak salah, ehm…” Jaka tak meneruskan bicaranya. “Tapi mungkin bukan…”

“Ada apa?” tanya gurunya. Lambat laun Ki Lukita telah memahami cara berpikir Jaka, jika ia bergumam sesuatu yang tak jelas, tandanya Jaka sedang memikirkan sesuatu yang pelik, tapi jika seperti saat ini, bertanya tapi tak jadi, mungkin saja hatinya sudah memiliki ketetapan pada pemikirannya.

“Saat ini sejauh mana pengaruh Perkumpulan Dewa Darah sanggup menyusup? Kalau orang-orang tahu bagaimana wajah perkumpulan Dewa Darah seperti kita, bukankah tidak akan mudah pergerakannya?”

“Ucapanmu benar, tapi kau melupakan satu hal. Kita adalah perguruan rahasia, kita memiliki pengetahuan pergerakan dunia persilatan lebih dari orang lain. Jadi kalau dari tadi kita selalu menyebut Perkumpulan Dewa Darah dengan begitu saja—yang menimbulkan kesan ketidak rahasiaan, maka itu hanya terbatas dalam partai kita saja. Diluaran sana partai Dewa Darah sama rahasianya dengan rahasia yang disimpan tiap orang. Tentang pergerakan mereka, harus diakui kalau mereka memang cepat merebut pengaruh dalam segala bidang.

“Jika kau makan mungkin kau tak sadar kalau dirimu diperhatikan orang lain. Bagi orang awam cara makan, cara jalan dan cara memandang kaum pesilat tidaklah berbeda dengan orang lain. Tetapi bagi kami dan kaum macam partai Dewa Darah, cara-cara seperti itu sudah dikuasai dengan baik. Jadi mereka bisa menjaring mangsa dan merangkulnya dengan berbagai tanda dari ciri khas yang didapat.” penuturan gurunya sembari memperhatikan wajah Jaka dengan seksama, seolah sedang menjelajah tindakan Jaka pagi tadi.

Pemuda ini tak terpancing. Raut wajahnya tak berubah, harus diakui kalau keterangan seperti itu benar-benar berharga. Ki Lukita segera menyambung penjelasannya kembali.

“Mengenai pengaruh, bagi rakyat kecil sama sekali tak terasa, tetapi bagi kaum pembesar kabupaten, orang-orang kerajaan, partai-partai setingkat Dewa Darah sudah melebarkan sayapnya sampai kesitu. Kabarnya jalur perdagangan di wilayah Kadipaten Giri Manuk sudah dikuasai sepenuhnya.”

“Kalau begitu modal mereka sangat kuat?”

“Benar. Karena itu keanggotaan terus bertambah dan orang-orang yang memiliki ilmu silat seperti para pendekar kelana, banyak tertarik karena upah yang diterima selama sepekan sebanyak lima ratus keping perak sampai dua puluh keping emas.”

“Hebat!” seru Jaka. Harus ia akui orang yang mampu membuat jaringan seperti itu, bahkan mengupah orang-orang berstatus keroco dengan uang sebanyak itu, tentu benar-benar memiliki otak brilian.

Harga sebuah kuda adalah 200 keping perak, sementara 1 keping emas setara dengan 1000 keping perak, benar-benar jumlah yang bukan main-main kalau hanya untuk menggaji keroco persilatan.

“Lagipula menurut kabar, perkumpulan itu sudah mulai menyusup kepada susunan pemerintahan kerajaan. Tentu saja mereka menyusup dengan berbagai cara. Sampai saat ini cara penyusupan mereka sudah kita dapatkan seluruhnya…”

“Biar saya tebak,” ujar Jaka tiba-tiba.

“Silahkan saja..” tentu saja sang guru juga ingin tahu sejauh mana perhitungan dan pemikiran Jaka.

“Pertama; mereka menyuap para pejabat, kedua; mereka memaksa para pejabat yang memiliki kesetiaan tinggi, tentu saja cara pemaksaan ini dengan menyandera keluarga atau kerabat terdekat. Ketiga; dengan memfintah orang yang mereka tuju, sehingga pada saatnya mereka memunculkan diri sebagai pahlawan karena membersihkan fitnahan itu. Keempat; dengan cara menteror sasarannya, kemudian mereka muncul sebagai penyelamat atau katakanlah mereka membuka suatu biro keamanan, dengan bayaran murah dan yang penting menarik hati para pejabat. Lalu cara kelima; menurut saya ialah cara yang paling keji.. sebab mereka membunuh sasarannya lalu menyaru sebagai orang itu. Tentu saja cara seperti ini hanya berlaku bagi sasaran yang memiliki nilai tinggi. Seperti penasehat adipati, atau bahkan raja.”

Ki Lukita bertepuk tangan, sambil tersenyum memuji.

“Benar-benar tepat, memang kelima cara itulah yang kami ketahui dengan berbagai penyelidikan. Tak nyana kau juga mengetahuinya.”

Banyak diantara anggota partai tampak tak puas dengan pujian Ki Lukita yang terang-terangan. Tentu saja Jaka melihat hal itu, karenanya, ia sangat mengharapkan satu pertanyaan, yang membuat suasana menjadi enak, ia sangat mengharapkannya.

Ki Lukita-pun akhirnya menyadari akibat pujiannya. Sebelum ia sempat berpikir bagaimana cara mencarikan suasana itu, Ki Glagah sudah bertanya.

“Cara bagaimana kau tahu kelima hal itu?”

Jaka tersenyum, inilah pertanyaan yang ditunggu-tunggu. “Tentu saja saya tahu itu, karena pernah membaca buku catatan riwayat perjalanan guru yang dipinjamkan pada saya.”

“Huuu..” terdengar cemoohan orang tapi bernada geli. Kupikir juga dia sangat hebat, tapi tak tahunya sebelumnya ia memang sudah mengetahui dari catatan Ki Lukita. Begitu pikir tiap orang. Tentu saja pikiran Ki Lukita berbeda sama sekali, ia tahu dalam kitab keduanya tidak terdapat catatan seperti itu.

Karena jawabannya tadi, Jaka punya dua keuntungan dan satu kerugian. Keuntungan pertama; orang-orang makin tahu bahwa Jaka bukan termasuk orang munafik, karena ia bersikap jujur. Kendatipun dalam buku Ki Lukita sama sekali tidak terdapat catatan mengenai hal yang ia tebak tadi. Keuntungan kedua; para sesepuh makin yakin dengan dirinya, karena mereka menilai Jaka dapat berbuat sesuatu dengan bertindak menurut situasi, tanpa menghiraukan harga dirinya yang dicemooh orang.

Sedangkan kerugiannya, adalah; dua murid tertua Ki Lukita dan murid-murid sesepuh lain yang setingkat murid Ki Lukita, merasa tidak suka dengan Jaka. Sebab mereka menilai Ki Lukita terlalu menganakemaskan Jaka, padahal Jaka orang baru.

Memang dalam perkumpulan itu, setiap tetua memiliki buku catatan yang kelak dipinjamkan kepada murid-muridnya atau murid tetua lainnya. Dan karena buku catatan Ki Lukita telah dipinjamkan (padahal sudah diberikan pada Jaka, walau baru jilid kedua) pada Jaka, maka rasa ketidakpuasan murid-murid tertua para tetua tentu akan ditumpahkan pada Jaka.

“Tapi menurut saya, kelima cara itu tergolong cara usang. Seandainya saya yang menjadi pentolan mereka, akan kugunakan cara yang lebih halus dan cespleng.”

“Ah.. banyak omong.” Seru Wiratama.

Jaka tak menanggapi.

“Kalau begitu apa?” tanya Nawang Tresni menantang.

“Tentu saja rahasia, tapi biarlah kuberi satu cara. Ehm… misalnya dengan kamu..”

“Aku?” seru Nawang Sari—saudara sepupu Nawang Tresni—heran.

“Ya, engkau kan cantik, aku akan menggunakan kecantikanmu untuk memikat orang-orang yang dimaksud, tentu saja harus dilihat jenis dan karakter orang itu. Dan yang penting apakah kau sendiri mau atau tidak…” tuturnya sambil tersenyum geli.

“Ih.. sialan, siapa sudi.” Seru gadis ini cemberut, tapi ia tidak marah, mungkin karena Jaka bilang dirinya cantik. Kadang omongan sepintas lalu, lebih berat bobotnya ketimbang pujian yang ‘berat’.

“Jadi kesimpulan untuk kasus ini, sudah banyak hal yang disusupi partai rahasia itu guru?” tanya Jaka mengembalikan perbincangan pada soal tadi.

“Benar! Karena itu hati-hatilah jika bertindak diluaran, jangan terlalu mengumbar adat sendiri.”

“He-eh..” Jaka mengiyakan dengan senyum serba salah, sebab kalau saja gurunya tahu bahwa sang murid sangat suka mengumbar hobi berbahayanya dengan membuat rencana kejutan-kejutan.

“Yah.. setidaknya kau tidak membuat dirimu terlihat mencolok agar tak menarik perhatian orang-orang partai rahasia itu.”

“Sudah terlambat…” gumam Jaka.

“Memang, tetapi itu hanya di kota ini saja. Sebisa mungkin kau bekerja dibalik layar, dan biarkan orang lain mengerjakannya. Karena makin rahasia tindakanmu, maka pemusatan perhatian partai rahasia untuk mencari dirimu juga makin ketat. Dengan demikian pengawasan pada bidang lain bisa berkurang.”

Jaka memahami pengertian itu, memang sederhana, cuma resiko dikejar-kejar orang bukanlah hal enak. Tetapi sudah terlanjur masuk kedalam persoalan yang ia anggap menyenangkan itu, tak mungkin ia melepaskan begitu saja. Paling tidak harus dapat ia berantas sampai setengah bagian, agar pengaruh partai rahasia itu tak terasa pada orang-orang kebanyakan.

“Tapi bekerja dibalik layar tidak semudah itu. Apalagi sudah banyak orang yang tahu identias saya.”

“Ah, tak sebanyak yang kau kira.” Ujar Ki Gunadarma.

“Paman memang tak menyadari, tapi bukan tidak mungkin saat pertemuan di Kuil Ireng jumlah orang yang datang lebih banyak dari yang kelihatan? Boleh jadi orang diluar partai rahasia tak mengetahuinya, tetapi bagaimana dengan orang lain? Bukankah mereka akan menyebarkan kemunculan diri saya baik secara berantai atau terang-terangan.”

“Tapi waktu itu kau menggunakan identitas sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati.” Kata Ki Gunadarma.

“Ya, saya harap untuk sementara tidak bocor, paling tidak untuk enam hari ini. Bukan mustahil keturunan orang yang saya tiru, bisa muncul,” ujar Jaka menduga. Memang pemuda ini cuma menduga, tapi kenyataan mengatakan bahwa itu memang benar.

*****

KETURUNAN TABIB HIDUP-MATI MEMANG SUDAH LAMA MUNCUL DI DUNIA PERSILATAN. HANYA SAJA KEMUNCULANNYA TAK BANYAK ORANG TAHU. KARENA KESALAHPAHAMAN ITU, JAKA HARUS MENDAPATKAN BANYAK KESULITAN DARI BERBAGAI PIHAK. HAL INI AKAN TERJADI SETELAH MASALAH DI KOTA PAGARUYUNG SELESAI.

*****

—ooOoo—

48 – Jejak Pedang Baja Biru

“Jadi bagaimana?”

“Tidak apa-apa, masih aman untuk saat ini. Lagi pula saya mengenalkan diri sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati juga karena satu alasan tersendiri.” Tentu saja ucapan Jaka itu selain buat menghibur dirinya dan juga diri orang lain agar tidak berkawatir padanya.

Bagaimanapun juga Jaka agak menyesal juga mengenalkan diri sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati. Biarpun pengetahuan yang ia miliki tentang Tabib Hidup-Mati dan saudara seperguruannya, mungkin lebih lengkap dari keturunan orang-orang sakti itu. Tapi, dampak yang ditimbulkan mungkin bisa merugikan kelompoknya, Jaka tak pernah berkawatir dengan dirinya pribadi.

“Tapi kau mengatakan, yang terjadi disini adalah persoalan kecil, bagaimana kau bisa meremehkan itu?” tanya Ki Banaran.

“Sebab mereka tidaklah semisterius itu.” sahut Jaka dengan tersenyum.

“Maksudnya?”

“Seperti yang saya katakan, semua yang saya peroleh selama ini, juga saat ini.. tentang Perkumpulan Dewa Darah memang tergolong mengerikan bagi mereka yang baru tahu seluk beluknya, tapi bagi saya… kita, mereka sama seperti perkumpulan lainnya, cuma saja kita tidak tahu bagaimana roda operasi perkumpulan mereka jalankan.

“Tapi itu bukan masalah, yang menjadi masalah adalah, kenapa perkumpulan Dewa Darah bisa dicurigai masuk kedalam Perguruan Naga Batu? Sementara perguruan itu kekuatannya tak kalah dengan enam belas partai besar? Jawabannya mudah, sebab perguruan itu sudah ada enam puluh tahun yang lalu.”

“Apa hubungannya?” tanya Ki Banaran.

“Sangat dekat, seperti yang tetua sekalian ceritakan, bahwa enam puluh tahun silam ada kekuatan ‘sesuatu’ yang sanggup melakukan apa saja semudah membalik telapak tangan. Tapi tinggal selangkah lagi kenapa mereka mengurungkannya? Menurut andika sekalian bagaimana?”

“Siapa yang tahu kalau bukan otak setanmu.” Gerutu Pertiwi cemberut. Ia merasa kesal bukan karena cerita Jaka yang menarik, tapi ia kesal kenapa makin lama mendengar cerita, eksperesi, dan tingkah-laku Jaka, hatinya kian berdesir tak karuan. Karena itulah untuk mengalihkan perasaannya itu, ia selalu menyela omongan Jaka.

Sementara Jaka hanya bisa tersenyum serba salah mendengar komentar Pertiwi. “Jawabannya mudah. Dan saya punya banyak jawaban. Pertama; ada perpecahan di dalam tubuh kekuatan tersebut. Kedua; mereka menjalankan rencana domba. Ketiga…”

“Tunggu.” Potong Diah—kembali mengejutkan orang. “Apa maksudmu rencana domba, aku yakin itu karanganmu sendiri, setahuku, tidak ada rencana seperti itu di sepanjang sejarah kerajaan atau perkumpulan.”

Jaka tertegun, ia menggaruk kepalanya. Teliti benar anak satu ini, pikir Jaka.

“Ya, kau benar. Itu hanya istilahku sendiri. Artinya, mereka memelihara sesuatu dan menggunakannya jika sudah saatnya.” Lalu Jaka meneruskan penjelasannya tadi.

“Dan jawaban ketiga; selain konflik antara sesama anggota atau pengurus, kekuatan itu mengalami pengeroposan didalamnya. Seperti yang terjadi dalam tubuh Perguruan Macan Lingga. Keempat; salah satu sumber dana yang mereka miliki lenyap tanpa bekas. Kelima; hilangnya satu tanda pengenal kekuasaan untuk mengendalikan kekuatan yang begitu besar. Dan terakhir—yang keenam; jika mereka adalah orang yang menepati janji, maka mereka tidak bisa unjuk gigi karena kalah taruhan.”

“Eh, maksudmu?” Diah bertanya lagi. Orang-orang kembali menghela nafas gegetun, perubahan gadis salju itu benar-benar jelas. Untuk hari ini saja rasanya Diah Prawesti sudah terlalu banyak bicara jika dibandingkan hari biasa.

“Jika kau seorang ksatria, atau katakanlah masih memiliki sifat ksatria, apa jadinya kalau di tantang seseorang untuk beradu kepandaian dengan satu taruhan tertentu? Tentu saja kalau dia memiliki gengsi tinggi, taruhan itu akan diterimanya. Dan apa taruhan itu? Tidak lain adalah, bahwa dia—orang yang menantang taruhan—meminta ketua dari kekuatan ‘sesuatu’ tersebut, untuk menunda rencananya. Tentu saja dalam kurun waktu tertentu, mana mungkin si ketua menerima begitu saja kalau si penantang memasang taruhan—jika ia kalah, maka tak boleh unjuk gigi selamanya, atau dalam jangka waktu tertentu. Mengambil kesimpulan itu, maka saya yakin benar kekuatan itu akan bangkit paling lama dua atau tiga tahun lagi.”

Mendengar penjelasan Jaka yang panjang lebar, terbukalah pikiran mereka.

“Tapi itu hanya jawaban, tanpa alasan yang nyata, kan?” ujar Ki Glagah, tentu saja sanggahan orang pertama dari perkumpulan rahasia ini bobotnya lain.

Jaka mengangguk paham. “Saya mengerti maksud Aki, tapi apa yang saya kemukakan tadi berdasarkan pengamatan saya selama bertahun-tahun.”

“Eh…” hampir semua tetua tersentak kaget.

Jaka diam sesaat, ia sengaja telah membuka satu rahasia lagi, apa yang baru saja dikatakan adalah sebuah identitas dirinya yang lain.

“Tapi bukankah kau baru dua puluhan tahun?” seru Ki Banaran tertegun bingung.

“Maaf Ki, tak bisa saya terangkan lebih lanjut, tak mungkin saya bisa kemukakan hal itu. Mungkin suatu saat saya akan menceritakannya pada guru dan tetua sekalian. Tapi saat ini saya hanya akan menjelaskan kenapa saya menuturkan enam jawaban tadi.”

Tidak ada yang mendesak Jaka supaya bercerita, sebab makin mereka tahu siapa Jaka, mereka makin penasaran dan curiga, untuk menghilangkan perasaan seperti itu, kiranya memang tindakan bijak jika mereka tak mendesak Jaka untuk bicara.

“Kita mulai dari jawaban terakhir, andika sekalian tahu, kenapa kekuatan ‘sesuatu’ harus berhenti. Seperti yang tadi saya kemukakan, taruhan yang jadi penyebabnya. Ada seseorang atau kelompok, yang tahu semua kegiatan di dunia persilatan ini, seseorang yang tahu semua rahasia. Dia membuat kekuatan, menyebar ketakutan, menyusupkan mata-mata, jauh dari perkiraan orang. Dia pula yang bisa membuat ‘sesuatu’ itu takluk.”

“Maksudmu seperti perkumpulan rahasianya Dewa Empat Maut?” sahut Ki Lukita.

“Bukan, dia lebih hebat dari apapun yang pernah dibayangkan.”

“Kau bisa bicara seperti itu apa buktinya?”

Jaka tersenyum, lalu ia menggulung lengan baju kirinya, sampai sebatas bahu. Hadirin terkejut menyaksikan dari mulai pergelangan tangan Jaka, terdapat banyak luka sayatan dan nampak bekas bacokan pula. Tapi yang menarik, dua baris warna biru kehitaman dan merah kehitaman menggurat dari pangkal lengan sampai siku.

“Ini buktinya.”

Mereka terperanjat. Ki Lukita segera mendekat dan memegang bahu Jaka. “Mustahil!” kejutnya menoleh kearah Ki Glagah. “Coba kakang lihat.”

Kakek itu juga mendekat, lalu ia merabanya. “Astaga, sesungguhnya apa-apa yang akan kita hadapi?” gumamnya bingung. Orang tua itu adalah orang paling tenang, bagaimana mungkin dia bisa kelihatan putus asa seperti itu?

“Kakek apa yang sedang dibicarakan? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Pertiwi bertubi, dia juga ikut mendekat.

Ki Glagah memandang Jaka, “Kau saja yang menjelaskan.”

Pemuda ini menggeleng. “Tidak, Aki saja lebih dulu, saya akan menyambung penjelasan aki.”

Kakek itu termenung sejenak. “Baiklah,” akhirnya ia setuju. “Kalian lihat warna biru dan merah yang menggaris di lengan Jaka?”

Semuanya mengangguk, wajah-wajah ingin tahu mereka membuat Jaka merasa risih.

“Pernah dengar Pedang Baja Biru?” tanya kakek ini lagi.

Banyak dari mereka yang menggeleng, tapi para murid senior, mengangguk, salah satu dari mereka menjawab. “Itu adalah pedang legenda yang pernah muncul jauh sebelum adanya enam belas partai besar. Pemilik pedang itu satu angkatan dengan para pemilik ilmu sembilan mustika. Konon racun Getah Birunya bisa membunuh gajah hanya karena kibasan angin saja. Racun itu ada pada pedangnya.”

“Lalu apa hubungannya kakang?” tanya Kinanti.

“Pedang itu pernah muncul dua kali.. mungkin ini yang ketiga kalinya dengan apa yang menimpa Jaka. Dan jika diperhatikan setiap kemunculannya, selalu mengawali munculnya masalah besar.”

“Maksudnya, akan ada badai yang lebih hebat?” tanya gadis ini lagi.

“Mungkin, tapi aku tidak yakin dengan luka itu.” Gumam orang ini sambil memperhatikan luka Jaka.

Jaka menghela nafas panjang. “Aku juga tidak ingin percaya. Kalau memang luka ini karena racun dari Pedang Baja Biru yang andika (kamu) ceritakan, bukankah aku sudah mati dari dulu?”

“Benar.”

“Tapi kenapa aku tidak mati, dan itu yang membuat andika ragu?”

“Benar sekali.”

Jaka menoleh pada gurunya, “Guru, bolehkah saya minta seekor binatang hidup?”

“Untuk apa?”

“Sebagai bukti.”

“Bagaimana kalau ayam..”

“Bisa juga.”

Ki Lukita menepuk tangan dua kali. Dari dalam ruangan muncul dua lelaki botak, mereka adalah orang yang sama saat menjaga Rubah Api.

“Bawa kemari dua ekor ayam..”

“Baik, tetua.” Sahut keduanya, lalu mereka berbalik. Beberapa saat kemudian mereka membawa dua ekor ayam, dan segera diserahkan pada Jaka.

“Sayang.. ayam bagus begini.” Gumam pemuda itu sambil mengelus-elus kepala dua ekor jago itu.

“Apa yang akan kau buktikan dari itu?”

Jaka tak menjawab, dia mengambil pisau kecil dari lipatan bajunya. Dengan tindakan perlahan, Jaka menyayat kulit lengan kirinya darah segera meleleh keluar. Jaka mengambil darah dengan ujung pisau itu.

“Andika lihat, ini apa?”

“Tentu saja darah.” Jawab kakak Kinanti masam.

“Tentunya darah tidak bisa membunuh bukan?” tanya Jaka. Orang itu melegak heran, tapi mengangguk.

Jaka menghela nafas, “Apa yang kau utarakan tadi memang benar.”

“Apanya?”

“Mungkin racun itu bisa membunuh gajah walau dengan kibasan angin.”

“Apa maksudmu?”

Jaka tak menjawab, ia meneteskan darah yang hanya setitik itu ke kepala ayam jago.

Ceees!

Bunyi seperti bara dimasukkan kedalam air membuat hadirin terkejut, juga makin merinding, karena dalam dua hitungan saja, ayam jago itu sudah leleh dan hangus tanpa ujud. Lalu ayam kedua yang terkena kepulan asap lelehan ayam pertama, juga mengalami nasib serupa, hanya saja prosesnya tak secepat yang langsung terkena tetesan darah Jaka.

“Gila..” gumaman ketidak percayaan memenuhi ruangan itu. Ruangan yang hening jadi ribut.

Ki Glagah mengangkat tangannya, seketika itu juga suara sirap. “Kau percaya?” tanya kakek itu pada murid Ki Banaran.

“Tap-tapi.. bagaimana, ia..” ujarnya masih dilingkupi rasa heran.

“Biar Jaka yang menjelaskan.” Ujar kakek ini bijaksana.

Semua mata mengarah kembali pada Jaka. Pemuda ini tidak segera menjawab, ia memberi tanda kepada dua lelaki botak tadi untuk membersihkan sisa bangkai hangus tadi.

Keduanya mendekat agak ragu, mereka kelihatannya masih ngeri dengan pertunjukan tadi. “Apakah ini masih beracun?”

“Tidak, tidak beracun..” gumam Jaka. Lalu keduanya segera membersihkan, setelah itu mereka masuk kedalam kembali.

“Bagaimana Jaka?” ulang gurunya bertanya.

“Itu semua kebetulan..”

“Jangan kau jawab dengan kalimat itu Jaka.“ Kata Ki Gunadarma, raut mukanya serius, agaknya ia benar-benar ingin tahu.

“Saya memang akan menjelaskannya.. seperti yang saya bilang, semuanya kebetulan. Kebetulan saya menguasai pertabiban dan saya juga sangat akrab dengan racun. Dengan sendirinya, saya terhindar dari racun itu.”

“Tapi racun itu tidak mungkin bisa dihindari.” Seru murid kedua Ki Lukita—orang yang tadi menyerang Jaka.

“Tidak ada kata tidak mungkin jika Tuhan menghendaki.” Jawab Jaka kalem. “Saya percaya pada Tuhan, karena Dia pasti akan membela yang benar dan lemah.”

“Tapi..”

“Tidak ada penjelasan untuk itu.” Potong Jaka cepat. “Saya hanya akan menceritakan kenapa saya sampai terkena racun ini.”

Pemuda ini menghela nafas panjang. “…pada saat saya melakukan perjalanan yang kesekian kalinya, saya berjumpa dengan dua orang, kupikir mereka adalah suami-istri, usianya awal empat puluhan. Rasanya sulit melupakan wajah mereka, sang pria, begitu gagah dan berwibawa, wajahnya tampan matanya begitu tajam. Saya rasa siapapun yang berjumpa dengannya akan menundukkan kepala. Sedangkan istrinya, menurut saya benar-benar wanita yang… hebat, keibuan, wajahnya lembut, tatapan matanya itu tidak akan bisa saya lupakan. Saat berpapasan, beliau menegur saya. Kami terlibat percakapan yang saya rasa tidak perlu diutarakan. Setelah itu yang lelaki menyela, dia mengatakan bahwa apakah saya pantas hidup.”

“Hei, aneh benar! Baru bertemu kok bilang begitu?” celetuk Andini merasa gemas.

“Entahlah, setelah itu sang lelaki menyerangku. Jurus tinju, tapak, tendangan, sapuan serta segala macam gaya yang tak pernah kukenal tercurah seluruhnya. Tapi aku beruntung memiliki olah langkah. Kami sama-sama frustasi.”

“Sama-sama?” tanya gadis itu lagi.

“Ya, itulah kali pertama olah langkahku diuji begitu berat, biasanya aku bisa menghindari serangan dengan jarak lebih dari satu jengkal. Tapi serangan itu hanya bisa kuelakkan satu ujung jari saja. Gerakan lelaki itu sangat cepat dan, kuyakin hanya satu dua orang yang sanggup bertahan jika melawannya. Maaf, aku bukan bermaksud menyombongkan diri, itu hanya sebagai tolok ukur saja.”

“Kami mengerti, teruskan.” Pinta Ki Lukita.

“Dan lelaki itu pun agaknya putus asa, karena seluruh jurusnya tak bisa mengenai saya, dia pun merasa terhina, karena saya sama sekali tidak menyerang, padahal kami sudah bergebrak lima ratus jurus lebih. Saya sama sekali tidak bermaksud menghinanya, tetapi hanya itulah yang bisa saya lakukan. Kalau saya menyerang justru sama saja membuka peluang untuk bunuh diri.”

“Bunuh diri?” tanya Ki Benggala.

“Pada saat saya menciptakan olah langkah, yang terpikir oleh saya adalah, menghindari serangan sehebat apapun tanpa membalas. Tentu saja itulah kelemahan olah langkah itu, tidak mungkin saya menyerang lelaki itu hanya untuk bunuh diri. Sebab celah yang terlihat akan sangat jelas.”

“Tapi itu hanya terlihat oleh mereka yang berpengetahuan tinggi, begitu tentunya?” ujar Ayunda.

“Mungkin, aku tidak tahu hal itu. Yang jelas kami bertarung, tepatnya saya menghindarinya sampai lima ratus jurus. Di awal jurus lima ratus lima, lelaki itu berteriak keras sekali, begitu lengkingannya hilang, wanita yang sejak tadi melihat kami saling serang, turut mengeroyok. Hh…” Jaka menghela nafas panjang.

“Ada apa?” tanya sang guru.

“Saya tidak menyayangkan kekalahan saya..”

“Kalah?” seru gurunya.

“Ya, saya sama sekali tidak menyayangkan kekalahan saya, yang saya sayangkan adalah, mengapa mereka menyerang saya, padahal kami sudah bercakap-cakap—walau hanya sebentar, tapi saya sangat menyukai mereka. Sayang sekali…”

“Cara bagaimana kau kalah?”

“Tentu saja karena Racun Getah Biru itu.” Jawab pemuda ini sambil menurunkan lengan bajunya.

“Kau tahu bagaimana bentuk pedang yang menyerangmu?” tanya kakak Kinanti.

Kurasa dia mengujiku, pikir Jaka. “Kalau di bayangkan, rasanya agak mustahil. Saya pikir mereka tidak membawa senjata apa-apa, tetapi mendadak saja ada senjata di tangan mereka. Panjang pedang itu..”

“Tunggu dulu!” potong Ki Banaran. “Kau bilang senjata ditangan mereka? Apa ada dua buah pedang?”

Jaka mengangguk. “Benar, pedang itu berwarna biru dan merah. Keduanya tidak lazim disebut pedang, panjangnya sama seperti tombak, tapi bentuknya tipis. Di sisi kanan kiri pedang itu memancar hawa racun sangat kuat. Sepanjang pertengahan badan pedang terlihat garis putih mengkilat terang.”

“Ah.. sepasang Pedang Baja sudah ditemukan, mereka sudah muncul!” desis Ki Banaran dengan wajah miris.

“Mudah-mudahan tidak sejahat yang pernah dikabarkan orang.” Gumam Ki Lukita.

Jaka melegak sesaat. “Saya yakin mereka bukan orang jahat.”

“Bagaimana bisa kau mengatakan kalau orang yang menyerangmu bukan orang jahat, jelas-jelas dia berniat membunuhmu!” tandas Diah.

“Pendapatmu benar, tapi kalau memang ingin membunuhku kan tak perlu bertarung sampai ratusan jurus, cukup dia keluarkan pedang itu.. matilah aku. Tapi entah kenapa dia tidak melakukannya.”

“Kau benar,” sahut Diah setelah terdiam beberapa saat.

“Yang jelas begitu pedang mereka dikeluarkan, saya hanya bisa bertahan dua puluh jurus, setelah itu masing-masing pedang menggores lengan. Saya pikir, disitulah akhir hidup saya, tubuh ini tak bisa bergerak. Kepala saya serasa meleleh, tak bisa berpikir apapun, tapi kesadaran saya masih utuh, telinga saya masih bisa mendengar. Mereka membicarakan saya,

“Di atas langit masih ada langit, jika kau adalah pohon maka kami adalah gunung, tapi masih ada awan diatas kami dan mendung diatas kepalamu, sebelum engkau bisa menatap langit. Jika beruntung engkau akan hidup, jika tidak maka jiwamu lenyap.. semuanya sirna, tiada harapan, tiada kegalauan lagi, karena semua sudah menjadi sebuah ketakutan. Lama, ketakutan yang sangat lama… sebelum muncul…” ‘ kalimat selanjutnya tak bisa saya dengarkan karena kepala saya mendadak pusing. Tapi ucapannya yang terakhir menyentak kesadaran saya.

‘ “Kau adalah kau, tidak lebih dari seorang manusia. Jika kau bisa lolos dari semua ini, maka kau pantas hidup. Harapan ada padamu, semuanya ada padamu, semuanya kuserahkan padamu..” ‘

“Lelaki itu mengulang-ulang ucapannya. Kepala saya terasa berat, saat sang wanita mengusap kepala saya, saya tak ingat apapun.”

“Setelah itu apa yang terjadi?” tanya Ki Benggala.

“Saya sadar dan andika sekalian percaya apa yang kurasakan? Saya merasa seolah tubuh ini tanpa tangan dan kaki, untuk bernafas sepelan apapun membuat dada sakit. Beruntung saya menguasai pernafasan Melawan Hawa Langit, maka racun itu tak sampai menyebar ke seluruh tubuh.”

“Eh, bukannya pernafasan Sembilan Putaran Nadi?” tanya Ki Gunadarma menimpali.

“Itu kan karangan saya paman.” Sahut Jaka sambil nyengir.

“Lalu yang tadi?”

“Karangan juga,”

“Apa bedanya.”

“Tidak ada, cuma nama saja yang membedakan. Hakikatnya sama seperti yang saya jelaskan waktu di kuil ireng.”

“Itulah kali pertama saya bertarung serius, kali pertama merasakan racun terganas dan kali pertama saya terkapar tiga hari tiga malam tanpa ada siapapun yang bisa kumintai pertolongan. Beruntung tempat dimana saya terkapar adalah padang rumput, nampaknya mereka meletakkan saya tepat dibawah pohon yang rindang.”

“Sungguh ceroboh.” Kata Ki Lukita.

“Sepintas memang begitu guru, andai kita tidur dibawah pohon besar dalam keadaan biasa—sehat, mungkin akan keracunan, setidaknya merasakan pusing. Tapi saat itu saya sedang keracunan parah, jadi tindakan mereka tepat sekali. Jalannya racun bisa dihambat walau sedikit. Dan kelihatannya selain pernafasaan saya, bantuan pohon rindang itu juga faktor penentu. Oh.. saya hampir terlupa, pohon rindang itu adalah Pohon Dewandaru Hitam, guru pasti tahu kalau racun yang ada di pohon itu bisa membunuh makhluk hidup yang ada di sekitarnya.”

Sang guru mengangguk paham. “Oh,jadi begitu.”

Karena tidak ada penjelasan ilmiah pada masa itu, penjelasan Jaka sudah masuk akal. Mereka tahu atau yang dimaksudkan Jaka, yakni; kalau pada malam hari pohon besar akan menyerap Oksigen hampir 70%, jadi jika ada manusia yang tidur dibawahnya, udara dalam paru-parunya bisa tersedot habis, atau dia bakal keracunan, karena unsur karbondioksida yang dilepaskan tumbuhan akan terserap kedalam darah, itulah yang bisa membuat tubuh keracunan, sebab senyawa karbon bisa mengikat nitrogen dalam darah, jika terlalu banyak nitrogen di darah, hal pertama yang terjadi adalah keracunan dengan tubuh bengkak. Jadi, karena dalam saraf, terdapat oksigen yang berlebih, dan tekanan karbondioksida, maka selain keracunan, saraf juga akan pecah… mati.

Tapi keadaan Jaka berlainan, racun yang didalam tubuh sangat dahsyat, dalam keadaan lemah seperti itu, ia mendapat racun halus dari hawa pohon Dewandaru yang bergerak lambat, tapi dorongannya tak terhentikan. Karena ada racun lain yang bergerak mendesak, peredaran Racun Getah Biru terhambat.

Memang, jika ingin dibuat perbandingan, racun pohon Dewandaru Hitam dengan Getah Biru, ibarat bumi dengan langit. Racun Getah Biru jauh lebih dahsyat dari racun pohon itu. Tapi yang membuat racun jadi seimbang justru karena kondisi Jaka yang sangat lemah, peredaran darahnyapun melambat, sehingga Jaka bisa memanfaatkan kedua racun itu dengan olah nafasnya, untuk menyelamatkan jiwa.

“Lalu bagaimana, kau katakan tadi kau beruntung ada di sebuah padang rumput.”

“Benar, pagi hari keempat, ada seseorang yang menggembala sapinya. Dari pertolongan beliaulah saya dapat hidup, beliau memberikan susu sapinya sebanyak yang saya butuhkan..”

“Beliau?” tanya sang guru.

“Ya, kakek penggembala sapi. Dan baru kali ini saya sadari kalau dia bernama hampir sama dengan guru, hanya nama belakang saja yang beda. Namanya Sasro Ludira.”

“Di rumah beliau pula saya bisa beristirahat, memulihkan tenaga dan menghilangkan racun.”

“Menghilangkan racun? Tidak mungkin.. bukankah tadi darahmu bisa membunuh ayam?” tanya kakang seperguruan Jaka.

“Memang benar, saya bisa menekan seluruh racun dan di kumpulkan pada tempat dimana asal racun itu—dilengan saya, karenanya terlihatlah guratan warna biru dan merah di lengan ini. Seluruh tubuh saya bersih dari racun, tapi tidak dengan bagian lengan kiri saya. Racun itu tidak akan hilang sampai ada sebuah benda yang kekuatan racunnya juga sama, mengenai saya.”

“Kalau begitu keselamatanmu senantiasa terancam?” tanya Diah, nadanya datar, tapi siapapun tahu kalau gadis itu mengkhawatirkan Jaka.

—ooOoo—

49 – Menebar Takut Berbalut Lisan

“Tidak, racun itu sudah menjadi bagian dariku, tidak akan meracuni diriku. Bahkan bisa membantuku.”

“Membantu?”

“Jika aku mau, maka racun ini bisa disebarkan ke seluruh tubuh, dan jadilah aku manusia racun, apa yang kusentuh apa yang terkena hembusan nafasku, bisa teracuni.”

“Wah…” banyak orang berdecak ngeri juga kagum.

“Jadi saat kau menghadapi lima racun itu..”

“Jangan salah sangka paman Gunadarma, itu tidak ada hubungannya, kalau saya mengalirkan racun ini untuk menahan kelima racun itu, bisa-bisa kadar racun di lengan saya bertambah besar dan tak mungkin terobati.”

“Oh.. jadi kau sendiri belum bisa mengobati?”

“Sebenarnya bisa, tapi seperti yang saya bilang, harus ada racun yang kekuatannya setara dengan racun ini. Lagi pula harus dengan teknik khusus melakukannya, tapi saya kira kalau memang ingin menghilangkannya, toh tinggal mencari racun yang sebanding, lagi pula, rasanya sayang harus berpisah dari racun ini… bagaimanapun juga racun ini tak berbahaya bagi saya, lama kelamaan racun ini akan hilang sendiri dan menyatu dengan darah, dengan sendirinya—apabila sudah menyatu dengan darah saya, racun apapun yang berkekuatan d ibawah racun ini, tidak akan sanggup mencederai saya.”

“Hebat.” Puji Ayunda.

“Tapi, semua itu butuh waktu, proses pembauran racun dalam darah, mungkin sebentar, tapi mungkin juga lama. Siapa tahu sesudah aku punya cucu, baru bisa menyatu.”

“Hi-hi, punya cucu?! Umurmu saja masih seumurku!” kata Andini terkikik. “Tapi apa penyatuan itu sama sekali tidak beresiko?” sambungnya bertanya.

“Tidak. Juga tidak berbahaya bagi istri dan keturunanku kelak.” Penjelasan Jaka di mengerti mereka semua, memang bagi mereka yang bermasalah dengan darahnya, bisa mengakibatkan keturunan dan istrinya tertular. Dan mereka mengerti akan hal itu.

“Nah, berhubung aku bebas racun.. siapa yang berminat?” tentu saja ucapan Jaka kali ini mendapat reaksi, ada yang tertawa ada pula yang diam-diam memaki. Sebab dengan perkataan yang sebelumnya, artinya Jaka mengatakan siapa yang mau jadi istriku.

“Ih.. omongan macam apa itu.” Seru Diah dengan wajah merah padam. Kalau saja ada yang tahu bahwa dalam hatinya gadis ini menjawab ucapan Jaka dengan ‘aku berminat’—penuh antusias, pasti mereka tak percaya.

“Ah-Ha… aku hanya bercanda kok.” Kata pemuda ini sambil menggaruk kepalanya. “Biar tidak terlalu tegang.”

Orang tertawa melihat keadaan wajah pemuda ini yang runyam, sebentar merah sebentar meringis seperti orang salah makan.

Ki Lukita juga tertawa geli, tapi ia segera meneruskan percakapan tadi. “Tak kusangka pengembaraanmu begitu hebat. Lalu semua itu apa ada hubungannya dengan jawabanmu yang terakhir tadi?”

Jaka seperti tertolong, sikap pemuda ini kembali seperti biasa. Sungguh hadirin jadi heran melihat sikap pemuda ini yang gampang berubah, sekejap seperti orang ketahuan ngupil, tapi berikutnya sangat serius, seperti orang yang menghadapi persoalan yang amat gawat.

“Seperti yang saya bilang, kalau ada kekuatan yang lebih kuat lagi yang sanggup membuat ‘sesuatu’ itu mau tunduk. Mungkin suami-istri yang saya temui waktu itu juga salah satu dari kekuatan tersembunyi. Karenanya, saya bisa mengambil kesimpulan kalau apa pun yang membuat mereka menghentikan tindakannya karena ada orang yang jauh lebih menakutkan.”

“Jadi kau mau mengatakan kalau ada kendali di atas kendali?”

“Benar, semuanya memang begitu. Tapi itu tak usah dibahas lebih lanjut. Akan saya jelaskan jawaban kelima saya, yakni kemungkinan hilangnya sebuah tanda kekuasaan. Waktu itu saya dan beberapa orang sahabat, menghadapi persoalan yang sama. Ada beberapa kelompok yang menyerang para pedagang besar, pejabat, merampok perguruan-perguruan kecil, dan banyak hal yang sama dengan motif sama. Mereka mencari sesuatu, atau mungkin mengumpulkan sesuatu. Kejanggalan itu kami temukan pada tiap-tiap pencurian yang juga dilakukan pada pedagang-pedagang miskin. Mereka juga mengambil barang yang paling berharga..”

“Semua maling kan memang begitu.” Celetuk Wiratama.

“Memang begitu, tapi apa tidak aneh, kalau kain jarit, barang-barang tidak berharga, dan tak terpakai lainnya juga ikut diambil. Mereka mencari sesuatu tapi menutupinya dengan pencurian lain. Kegiatan itu tidak mencurigakan, sampai akhirnya saya menemukan bukti. Dan itu membuat saya berkesimpulan demikian.”

“Kemudian, alasan jawaban keempat..”

“Tunggu dulu, apa buktinya?” tanya Ki Alit sangkir.

“Maaf, tak bisa saya katakan, bukan saya tak percaya, tapi semua ini semata-mata untuk menjaga keefisienan kerja saya dan juga teman-teman yang lain.” Sahut pemuda ini tegas, lalu ia meneruskan penjelasannya.

“Untuk alasan jawaban keempat, saya kira sumber dana mereka hilang. Ada banyak hal, pertama; seluruh bandar judi dan rumah-rumah judi di kerajaan Rakahayu, Singgarmala, Kencana Urip, Rayicakya, dan banyak kerajaan lainnya, tutup.”

“Eh, kenapa kau tahu itu.” Tanya gurunya.

“Guru juga tahu?”

“Ya, agak aneh memang. Sebab disini juga rumah-rumah judi lenyap. Kami heran, cara bagaimana bandar judi yang begitu kayanya, mau mengungsi hanya dengan pakaian yang melekat di badannya.”

“Kasihan.” Sahut Jaka tertawa. “Seharusnya guru juga menempatkan orang-orang perkumpulan ini di tempat tak beres seperti itu.”

“Sudah, tapi kekalahan besar itu tak kami ketahui. Yang kutahu, mereka gulung tikar itu saja.”

Jaka manggut-manggut. “Saya rasa guru harus berterima kasih pada kami.” Kata pemuda dengan roman tertawa tak tertawa.

“Kau?”

“Benar, kami mengadakan perjanjian dengan bandar-bandar besar dengan taruhan besar. Kami meminjam harta dari pejabat korup dan kami menang taruhan.”

“Begitu mudah? Tanpa gelombang? Tanpa reaksi?” tanya gurunya heran.

“Maaf, bukan bermaksud merebut penyelidikan dan meremehkan kerja perguruan ini. Tapi kami bekerja cukup efisien.”

“Seefisien apa?” tanya Ki Benggala menimpali, orang inilah yang sangat penasaran, sebab seluruh keamanan dan kejadian seluruh kota baik yang terang-terangan atau rahasia, tanggung jawab berada di pundaknya, bagaimana mungkin ia tak mengetahui kalau ada kejadian sebesar itu?

“Untuk membuat siapa pun tak berani berkutik, adalah dengan memegang kelemahannya, itu hal yang jamak. Kami semua mempunyai catatan buruk para bandar yang mereka lakukan secara diam-diam, tentu saja jika tersiar, akan membuat malu. Bisa dipastikan mereka akan dihukum baik oleh aparat atau perkumpulan…. apa pun namanya.”

“Jadi begitu?”

“Ya, kami bekerja tanpa terdengar, tanpa reaksi, tanpa terlihat. Maaf, bukan saya menyombongkan diri, tapi memang itulah yang kami lakukan. Kami datang, kami bereskan, dan kami pergi dengan banyak uang, selesai.”

“Tak ada keributan, dan mereka lenyap, hebat… lalu berapa yang kau kumpulkan dari tempat judi di kota-kota besar, termasuk kota ini?”

“Tak banyak, menurut perhitungan terakhir dua juta keping emas dan seratus ribu keping perak.”

“Fiuuw.. bisa membuat perkampungan besar.” Gumam Ki Gunadarma.

“Benar paman.”

“Kalau bandar judi di kota ini, mereka punya kekayaan sampai berapa?”

“Entahlah paman, saya tak menghitungnya. Mungkin sekitar dua ratus ribu keping emas.”

“Aneh, bagaimana bisa sebuah bandar di kota Pagaruyung memiliki harta begitu banyak?”

“Itu yang seharusnya dicurigai, bahkan kalau mungkin para orang kaya—yang menurut wajar, seharusnya ia tak memiliki harta sebanyak itu.”

“Kalian kerja begitu rapi, apa sudah membentuk jaringan tersendiri?”

“Sudah, ehm… dan saya rasa akan segera terbentuk lebih baik. Niat kami, mengimbangi kelompok rahasia dengan perkumpulan rahasia pula. Mereka mengirim mata-mata, kami juga mengirim mata-mata.”

“Bagaimana cara kalian menentukan kalau satu perkumpulan sudah disusupi atau seorang pejabat yang menjadi kaki tangan perkumpulan rahasia?”

“Wah.. itu rahasia paman, selain penyelidikan, kecermatan dan keyakinan, yang berperan penting disini adalah naluri. Cuma itu yang bisa saya beri tahu.”

Ki Gunadarma memaklumi jawaban Jaka, ia kembali bertanya mengenai persoalan tadi. “Kalau begitu hasil yang kalian capai untuk mengurus seluruh bandar judi sangat besar?”

“Tak tahulah. Sejauh ini menurut saya, cukup besar. Kami terpaksa mengelompokkan sampai tujuh belas peti besar, masing-masing peti ada delapan juta keping emas dan setengah juta keping perak.”

Mereka terpekur, untuk sesaat menghitung nilai nominalnya. Gila, jumlah yang sangat besar! Satu peti saja bisa membeli tiga kota semacam kota Ganyu. Hebat, bisa membuat kerajaan sendiri.

“Banyak sekali…” desah Pratiwi tak percaya.

“Memang banyak, belum lagi kalau digabung dengan harta benda yang kami sita dengan paksa.”

“Sita paksa?” beberapa orang bertanya sama.

“Benar, seperti lintah darat, pejabat korup—seperti yang saya katakan tadi, atau kami memeras raja-raja muda yang memiliki rencana untuk berkhianat atau menyembunyikan rahasia besar yang memalukan. Dan satu hal yang harus dicatat, jalan operasi kami sama dengan jalannya operasi perkumpulan rahasia pada umumnya. Mereka memeras dengan rahasia, kami juga. Kami memeras tidak tanggung-tangung seperti mereka. Harta itu hampir mencapai dua kalinya, dari hasil mengeruk bandar judi.”

“Ih.. gila!” hampir semua orang terpekik kaget.

“Apa itu bukan bualanmu?” tanya Wiratama.

Jaka tertawa. “Kalau tidak percaya anggap saja bualan, habis perkara.” Jawabnya, membuat orang tak mengerti.

“Lalu bagaimana maksudmu dengan. Memeras tidak tanggung-tanggung?”

“Oh, untuk yang satu itu harus dilihat dari sudut pandang permasalahan yang dihadapi. Perkumpulan yang memeras beberapa raja muda, selalu meminta upeti perbulan sebanyak seratus ribu keping emas tiap bulan. Tapi kami tidak, karena kami tidak mungkin pergi bolak-balik terus menerus, dengan sendirinya, kami meminta uang sebatas seluruh kekayaan yang dimiliki orang itu.”

“Jika mereka menolak?”

“Ya, kami biarkan.. tetapi entah kenapa keesokan harinya seluruh penghuni rumah—kecuali orang yang pernah kami mintai uang, keracunan.” Kata Jaka sambil mengangkat bahunya dengan nada apa boleh buat.

“Kau yang membuat mereka begitu?”

“Yah.. mau bagaimana lagi? Korban juga harus dipilih-pilih, kira-kira yang sudah cukup umur, yang jelas dia bukan orang baik.”

“Masa kau bisa menentukan takdir orang?” tanya sang guru dengan kening berkerut.

“Bukannya begitu, tapi hanya membuat mereka berubah dan kalau bisa bertobat, dengan sedikit ancaman. Paling tidak racun yang saya buat, bisa berguna.”

“Dengan kejadian itu mereka menerima permintaan kalian?”

“Syukurlah mereka tidak keras kepala.. lagi pula kami katakan, maksud kami memeras mereka adalah untuk membantu mereka sendiri.”

“Dari mana kau dapat dalil meminta semua duit orang untuk membantu?” tanya Ki Glagah geli.

“Memang agak aneh, tapi jika dikupas lebih lanjut, semua itu masuk akal. Karena kami cukup mengatakan… ‘semua ini demi keselamatan kalian, dari pemeras yang lain. Mereka tidak akan memeras lagi kalau kau sudah tak punya harta.’ Agaknya mereka paham dengan maksud saya.” Tutur pemuda ini dengan wajah polos.

Ki Lukita dan tetua yang lain menggeleng, benak mereka berpikir. Kukira anak satu ini lugu dan polos, nyatanya keluguan dan kepolosannya sangat berduri. Sungguh tak nyana, tiap kebenaran yang dikatakan bocah ini punya lika-liku yang rumit. Sungguh berbahaya kalau ingin bermain api dengannya…

“Semua pemerasan yang kalian lakukan dengan modus yang sama?”

“Benar, tapi juga ada yang tidak sama. Pernah kami salah memeras, maksudnya, pejabat korup yang kami peras itu tidak pernah diperas oleh pihak perkumpulan manapun.”

“Kau tetap memerasnya?”

“Tentu saja, sebab saya kawatir kalau tidak begitu dia akan terus merongrong rakyat dan pemerintah. Semua harta, kecuali apa yang ia dapat dari gajinya, kami angkut. Hm, kalau diingat wajahnya waktu itu, sungguh kasihan, tapi jika mengingat wajah-wajah rakyat yang kelaparan, mau tak mau saya harus tega.”

“Bagus juga perbuatanmu, tapi uang sebanyak itu mau kau kemanakan, mau kau gunakan untuk apa?”

“Tentu saja banyak hal yang sudah saya gunakan, saya yakin paman sudah bisa memikirkan kemana arahnya, tapi prinsip kami adalah; mendahulukan rakyat baru mengurus kepentingan lain.”

“Memang benar… Kalau boleh kami tahu seberapa banyak anggota perkumpulan kalian dan siapa ketuanya?”

Jaka berpikir sejenak. “Sebenarnya saya tidak boleh memberitahukan ini, tapi karena saya juga menjadi anggota perkumpulan ini, tidak ada salahnya saya beri tahu sedikit… seperti juga kelompok ini, kami membagi diri menjadi tujuh belas kelompok. Tiap kelompok memiliki tugas tersendiri, mereka punya keistimewaan tersendiri pula.

“Ada banyak hal lain yang tak terduga dari kelompok-kelompok yang kami bentuk—mungkin seperti yang andika sekalian duga, mereka bisa saja pengemis, pelayan, pemilik rumah makan atau penginapan, dan mungkin juga menyamar sebagai, maaf… pelacur, atau bahkan sebagai ketua perkumpulan. Tujuh belas kelompok itu diketuai oleh teman-teman saya.”

“Oh, kau yang menjadi ketua mereka?” tanya sang guru.

“Itu semua berkat kecintaan sahabat-sahabat, sehingga mereka mau dipimpin manusia macam saya.”

“Pilihan tepat, walau aku tak tahu macam apa mereka, kuyakin dari apa yang sudah dikerjakan mereka—lewat penuturanmu tadi, pemimpin mereka lebih berbahaya.”

“Ah, guru jangan mengatakan saya berbahaya, saya toh tidak menggigit, tidak pernah menggonggong..”

“Bukan itu maksudku..” ujar gurunya tertawa. “Rasanya, kau memimpin mereka dengan cukup baik. Lalu berapa jumlah anggotamu seluruhnya?”

“Saya tak tahu pasti, catatan yang terbaru belum dibuat. Tapi catatan satu tahun yang lalu, masih berjumlah kurang lebih delapan ratus orang.”

“Gila, itu sudah sangat banyak.” Seru Ki Gunadarma. “Bagaimana kau menarik mereka sebagai anggota?”

“Tak banyak yang saya katakan, saya hanya memberi contoh kepada mereka dengan kelakuan saya. Dan dengan pengertian, itu saja.”

“Dan mereka menjadi anggota?”

“Sebenarnya bukan anggota, tapi sebagai teman sebagai sahabat yang saling mengingatkan jika salah satu dari kami melenceng. Entah berapa banyak kata seperti itu kami ucapkan, sehingga tak terasa juga teman kami makin banyak.”

“Kalau salah pilih bagaimana? Maksudku, orang yang kau ajak itu mata-mata dari perkumpulan lain atau bahkan telik sandi Kwancasakya..”

“Kami tidak perlu kawatir, justru kami malah ingin menjaring orang-orang seperti mereka, dan kalau bisa kami arahkan untuk menjadi manusia seutuhnya. Dengan sendirinya, kami juga mengetahui banyak hal dari mereka.”

Suasana hening seketika, mereka memandang kedepan.. aura ruangan jadi sedikit berubah, seorang pimpinan perkumpulan yang tidak kalah rahasianya dengan perkumpulan mereka sendiri, kini menjadi anggota mereka, bahkan anggota terendah! Sungguh tak bisa disangka ada kejadian macam ini.

“Berapa banyak mata-mata yang terjaring?”

“Tak terhitung dan mereka terdiri dari banyak golongan.. kami tidak pernah palah-pilih untuk menentukan siapa yang menjadi teman, selama dia manusia yang masih bisa diajak ke jalan yang benar.”

“Lalu mereka insyaf?”

“Bukan insyaf, tapi menyadari tindakannya keliru, sesudah itu baru insyaf. Dan mereka menceritakan semua yang pernah mereka lakukan. Dari situlah lahir ide-ide untuk mengimbangi perkumpulan rahasia. Lalu kami berkembang… dan berkembang makin besar.”

“Kalian tak kawatir kalau perkumpulan kalian diketahui pihak lain?”

“Kami tidak perlu kawatir, sebab kami dikatakan menjadi perkumpulan rahasia oleh orang yang mengetahui keberadaannya. Kami hanyalah kumpulan orang-orang yang bertujuan sama. Tindakan kami juga terorganisir, jika kami mengadakan pertemuan, banyak orang yang tahu keberadaan kami, jadi menurut saya, kelompok kami itu bukan perkumpulan rahasia.”

“Tapi, sepanjang penyelidikan kami, belum pernah melihat gerakan seperti perkumpulanmu.”

Jaka tertawa. “Mungkin belum sempat bertemu.”

Mereka saling pandang, jawaban Jaka bisa berarti banyak. Bisa saja Jaka meragukan cara kerja mereka, atau memang kelompok Jaka benar-benar rahasia, atau lebih parah lagi, memang tidak ada.

“Lalu tindakan kalian saat melakukan satu rencana?” tanya gurunya.

“Kami tidak pernah melakukan hal-hal merusak, kami hanya bertukar informasi dan mengambil tindakan yang dirasa perlu. Misalnya saja saat ini… saya datang kemari dan mendapatkan informasi dari guru, bukankah pada mulanya kita tidak saling kenal? Begitu juga antara saya dengan anggota lain..”

“Oh, jadi hubungan yang terjalin diantara kalian begitu lepas? Begitu bebas dan mudah, tanpa syarat tertentu?!”

“Benar.” Jawab pemuda ini. Tentu saja tak perlu kusebut lika-likunya, sambungnya di hati.

“Tapi kau bilang dua tahun yang lalu?”

“Ehm… benar.”

“Kau bilang, selama dalam perantauan sejak keluar rumah lebih suka menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan alam.” Ujar gurunya merasa tak enak, kalau begitu selama ini penuturan Jaka adalah bohong.

“Saya tahu maksud guru, dan bukan maksud saya berdusta. Tapi memang benar apa yang saya katakan itu, tapi saya kan bisa mengurus segala sesuatunya sambil lalu, tidak harus berada di satu tempat tertentu. Saya rasa hanya kamilah—perkumpulan yang tidak punya markas, kami seperti angin, berhembus kemana saja, disitulah perkumpulan kami.”

“Begitu, jadi bagaimana kalau ada anggota ingin menyampaikan informasi? Sedangkan ketuanya keluyuran terus?”

“Mereka bisa menemukan saya.” Jawab pemuda ini singkat.

“Bagaimana caranya?”

“Ya, begitulah…” pemuda ini tak ingin menjelaskan yang sesungguhnya. “Mungkin caranya seperti yang aki pikirkan. Begitulah mereka bisa menyampaikan informasi pada saya.”

Wah, tak nyana anak ini begitu cermat menyusun segala sesuatunya. Puji Ki Gunadarma dalam hati merasa kagum.

“Jadi keberadaanmu disini..”

“Jangan kawatir Tiwi, aku kan bukan orang yang tanpa pertimbangan. Aku juga punya kode etik tersendiri. Keberadaan-ku disini tidak ada yang tahu selama aku tidak menginginkannya.”

“O…” gadis ini paham. “Jadi engkau mengendalikan anggotamu, sesuka hati.”

“Bukan sesuka hati, tapi bisa saling mengatur. Mereka manusia seperti kita, punya keinginan, punya kewajiban. Ada saatnya mereka harus menunaikan kewajiban, tapi kuyakin lebih banyak waktu mereka untuk keluarga atau bersantai—sampai saat itu.”

“Sampai saat itu?”

“Ya, sampai pada batas keadaan yang kritis. Kita tahu sendiri, kapan terakhir ada pergolakan yang mencurigakan, maka itulah batas waktu kami bersantai.”

“Kalau begitu sembilan bulan yang lalu?” tebak gadis ini.

Jaka tak menjawab, “Kini tugas kami makin banyak.” Gumam Jaka, dan itu adalah jawaban untuk Pertiwi.

“Tentu sudah banyak memakan tenaga dan pikiran untuk melakukan hal-hal besar seperti menguras harta tak halal seperti yang kau dapatkan dari bandar judi.” Ki Alit Sangkir menegas.

“Benar, kami lelah dan muak dengan rencana kami sendiri, tapi itu harus kami lakukan demi masa yang lebih baik.”

“Lalu harta yang begitu banyaknya kau simpan dimana?” tanya Ki Alit Sangkir. “Tapi maaf.. aku bertanya bukan untuk mencari tahu.”

“Saya paham.. tentu saja harta itu kami simpan di sebuah tempat yang aman. Ada sebagian yang sudah kami bagi-bagikan dalam bentuk barang, atau bahan makanan, untuk membantu korban bencana alam, banjir.., bukan saya mau menonjolkan ini, tapi memang itulah kewajiban yang kami pandang harus dilakukan.

“Hh… sayangnya harta begitu banyak, tapi banyak pula upaya dan daya yang kami keluarkan untuk menebus semua itu, sungguh tidak sebanding, sungguh tidak sebanding…” ujar pemuda ini menghela nafas panjang, seperti gusar.

“Kenapa kau katakan begitu?” tanya Ki Lukita.

“Sebab, banyak teman saya tewas! Padahal saya yakin benar dengan tingkat kepandaian mereka, tapi bagaimana bisa mereka mati dengan begitu mudahnya? Tidak ada racun, tidak ada trik lain, saya yakin mereka didatangi lawan yang mengerikan, lalu empat orang itu dibunuh tanpa bisa melawan. Hh.. mengerikan, tapi dengan kejadian itu kami jadi makin berhati-hati bergerak. Karena boleh jadi Telik Sandi Kwancasakya mengintai tiap pergerakan kami.”

“Oh.. begitu, jadi dari kegiatan itu kau tahu adanya telik sandi itu?”

“Benar.”

“Kalau begitu tinggal tiga belas kelompok?” tanya Ayunda tiba-tiba nyeletuk.

“Tidak, tetap tujuh belas kelompok.. wakil dari ketua yang tewas menggantikan kedudukan sementara, sampai pada saatnya nanti, kalau perlu akan kurombak.”

Baru saja pembicaraan hendak dilajutkan, tiba-tiba saja terdengar suara melengking nyaring.

—ooOoo—

50 – Persiapan Melatih Ilmu Dasar

“Sudah waktunya…” seru Jaka merasa lega, sudah capai mulutnya bercerita kesana kemari, ia kawatir banyak rahasia yang keluar. Pemuda ini bergegas masuk ke dalam kamar.

Sebagian dari mereka yang ingin menyaksikan hasil pengobatan Jaka, juga ikut masuk. Sebagian lagi tetap duduk di ruangan tadi sambil membicarakan masalah tadi, mereka tak menyangka kalau pemuda semacam Jaka sudah memiliki jaringan demikian rumitnya.

Tampak oleh mereka tubuh Rubah Api yang menggembung besar sudah kempis, pisau-pisau yang menancap di tubuhnya yang sebelumnya memang sudah mencelat jatuh dipembaringan, kini berserak di lantai. Nafas orang itu terlihat memburu.

“Apakah sudah pulih?” tanya Ki Benggala.

“Saya rasa begitu,” sahut Jaka sambil mengambili jarum, pisau dan tujuh belas bambu kecil yang tak memiliki ruas. Setelah semuanya terkumpul, Jaka merendam benda-benda itu ke dalam air panas yang sudah disediakan. Sudah jelas, tentu agar alat-alatnya steril.

Jaka segera memeriksa nadi di pergelangan tangan dan di leher. “Proses pemulihan sedang berjalan,” gumamnya. Lalu ia menoleh pada gurunya.

“Guru, sekarang kondisi Rubah Api sudah lima puluh persen membaik. Akan lebih baik lagi jika direndam air hangat. Sore nanti, bisa saya pastikan kondisinya sudah pulih, dan untuk proses penyembuhan, paling tidak memakan waktu sebulan.”

“Ooh,” desah Ki Lukita terbengong.

“Jika guru ingin menanyakan apa-apa saja yang perlu ditanyakan, saya pikir jangan terlalu cepat. Dia masih terkejut dengan keadaannya.”

Sang Guru mengangguk, lalu ia memerintahkan pada Ayunda untuk memanggil dua lelaki gundul yang merawat Rubah Api. Tak berapa lama kemudian, mereka datang dari pintu rahasia. Dengan tindakan cermat, keduanya mengangkat Rubah Api. Tentu saja sebelumnya mereka harus menyelimuti tubuh Rubah Api, karena sebelumnya Rubah Api memang tak mengenakan baju, hanya auratnya saja yang ditutup.

Orang-orang menatap kepergian Rubah Api yang dipondong dua lelaki gundul.

“Nanti sore?” gumam Ki Benggala setengah tak percaya.

“Benar paman, mungkin dia bisa siuman lebih cepat lagi. Dan jangan heran kalau bekal makanan di dalam sini bakal habis…” Kata Jaka sambil tersenyum.

“Dia penyebabnya?”

“Benar, bagi orang yang sudah lama dalam kondisi seperti orang mati, begitu sadar, yang diperlukan adalah pemupukan tenaga jasmani, tentu saja hal yang diperlukan olehnya adalah makan dan minum sebanyak-banyaknya.”

Mereka bercakap-cakap sambil keluar dari kamar tempat Rubah Api dirawat. “Setelah kondisinya pulih nanti, saya harap guru sekalian, segera menanyakan hal-hal penting. Kita harus dapat memperoleh semua keterangan yang ada pada Rubah Api.”

“Dengan memaksanya?” tukas Ki Glagah dengan alis terangkat.

“Tentu saja tidak.” Sahut Jaka sambil tersenyum kecil. “Rubah Api pasti sadar dengan kondisi terakhirnya, apalagi guru pernah bilang kalau Rubah Api masih ada hubungan dengan sahabat guru sekalian. Jadi mudah saja bukan? Apalagi dia berhutang budi pada Aki sekalian. Jadi tidak ada alasan untuk tidak memberikan keterangan pada kita. Apalagi keinginan kita sesuai dengan keinginannya, yakni menghancurkan.”

Mereka manggut-manggut paham, “Kau sendiri bagaimana?” tanya gurunya.

“Lebih baik saya bertanya setelah semua keterangan yang diperlukan oleh Aki sekalian terpenuhi. Lagi pula, saat ini saya ingin sekali mempelajari ilmu dasar perkumpulan.”

Semuanya paham, “Tapi bagaimana dengan keteranganmu tadi?”

“Akan saya lanjutkan kapan-kapan, lagi pula dari semua fakta yang saya utarakan tadi tetua sekalian pasti bisa mengambil kesimpulan sendiri untuk menentukan penyelidikan lebih lanjut. Saya juga akan melanjutkan penyelidikan saya sendiri.”

“Jadi, sekarang juga kau ingin mempelajari gerak dasar perkumpulan ini?” tanya Ki Banaran, membelokkan percakapan.

“Kalau tak keberatan…” ujar pemuda ini lega, ia merasa sudah terlalu banyak bicara, walau rahasia besar masih aman.

“Tentu saja tidak. Kalau memang ingin cepat-cepat, kau bisa minta pada siapa saja untuk mengajarimu. Tak terbatas pada empat anggotamu.”

“Terima kasih Ki,” sahut Jaka cepat-cepat.

“Dan kau harus berhati-hati…” pesan kakek ini.

“Ya, eh… apa maksudnya?” tanya Jaka bingung.

“Tak ada penjelasan untuk itu.” Kata gurunya meniru ucapan Jaka tadi, ia tersenyum sambil menepuk bahu Jaka.

Lalu mereka keluar dari ruangan bawah tanah itu. Tetapi, Jaka dan beberapa orang lainnya tidak, mereka hanya pindah ruangan saja, sebab ia ingin mempelajari ilmu silat mereka.

Ki Lukita dan beberapa tetua lainnya menatap punggung pemuda itu yang menghilang di belokan ruangan.

“Anak apa yang kudapat? Andai kata semua orang tahu kalau dia itu adalah segunung intan—sangat bernilai… bagaimana kondisi dunia persilatan kelak?” gumam kakek ini.

“Adi, kita cuma bisa berharap, agar kita bisa waspada.” Kata Ki Glagah menepuk pundak adiknya. “Kau ingat, apa yang dilakukan pemuda ini apa yang dikatakan selalu punya maksud sendiri. Kenapa ia ceritakan semuanya pada kita… pada ketiga puluh orang anggota perkumpulan kita ini? Kuyakin dia punya tujuan sendiri, dan percayalah.. itu tujuan baik.”

“Aku selalu mengharapkan begitu kakang.”

“Aku sependapat. Jadi jangan kawatir kakang,” sahut Ki Banaran. “Kalau aku yang menjadi dia, tak akan kuceritakan apa yang ada di benakku, karena keadaanku ibarat orang telanjang, rugi! Tapi Jaka melakukannya, aku yakin ada maksudnya menceritakan semua itu.”

“Kita semua yakin akan hal itu.” Gumam Ki Benggala mengurut dagunya. “Kalau kuingat ucapannya tadi, seharusnya aku merasa sakit hati.” Ujarnya sambil tertawa.

“Ucapan yang mana?” Tanya Ki Glagah.

“Waktu dia bilang dia menghadapi tujuh orang dari Macan Lingga dengan bersungguh hati, tapi entah kesungguhan hati macam apa. Kakang sekalian tentu paham artinya bukan? Artinya dia tidak pernah benar-benar menggunakan tenaganya. Entah macam apa tenaganya itu.”

Semua terlihat terpekur. “Kau benar, jika sebelumnya aku bisa mengukur tingkat ketangguhan seseorang dari tenaganya, kali ini aku tak sanggup.” Ujar Ki Gunadarma.

Yang lain terdiam. “Ah…” tiba-tiba saja Ki Lukita terhenyak kaget.

“Ada apa?”

Ki Lukita memandang Ki Glagah, lalu Ki Benggala. “Aku paham… aku paham.”

“Kau paham apa kakang?” Ki Benggala bertanya penasaran.

Ki Lukita menepuk-nepuk bahu Ki Benggala, tapi tak menjawab. Kakek itu hanya mengangguk-angguk. Lalu berlalu dari situ.

“Ada apa dengannya?” Tanya lelaki ini terheran-heran. “Kenapa tangannya gemetar?”

Ki Glagah menghela nafas panjang. “Dia sangat terkejut.”

“Sangat terkejut?” keenam rekannya bertanya serentak.

“Kalian tahu apa yang artinya, bersungguh hati yang dimaksudkan Jaka tadi?”

Mereka menggeleng. “Tak lain adalah, semacam ilmu seperti milikmu adi.”

“Punyaku?” gumam Ki Benggala.

“Kau tahu, kenapa Jaka mengharuskan kita mengingat kembali pertandingan denganmu?”

Ki Benggala terdiam. “Oh… aku paham! Tapi, tapi… itu tidak mungkin!”

“Lalu, kenapa dia sama sekali tidak terpengaruh Hawa Mayat Tanpa Batas?”

Ki Benggala tak menjawab, kini dia sudah tahu sebabnya.

“Kenapa?” Tanya Ki Banaran.

“Karena dia memiliki hawa membunuh lebih besar dari Adi Benggala.”

“Tidak mungkin!” seru kakek itu terperanjat.

“Kenapa tidak mungkin? Biar kutunjukan faktanya padamu… pertama; Jaka mengharuskan kita mengingat pertarungannya dengan adi Benggala. Kedua; sehebat apa ilmu mustika Hawa Mayat Tanpa Batas, kita sudah tahu! Kitapun tak sanggup menghadapi ilmu adi Benggala secara langsung! Jadi, sehebat apapun orang yang menghadapi ilmu itu, sedikit banyak, pasti terpengaruh. Tapi kenapa Jaka tidak? Kesimpulannya hanya satu, dia memiliki apa yang dimiliki adi Benggala.”

Semuanya terpana. “Oh, begitu rupanya. Pantas dia tidak mau gamblang menjelaskannya.” Gumam Ki Alit Sangkir.

“Dia tak ingin disebut sombong, juga tak ingin menyinggung perasaanku, yah… walau kupikir dia sudah menyinggungnya sekali.” Ujar Ki Benggala menanggapi dengan tertawa, tapi mereka tahu kalau tawa itu bukan karena lucu, tapi prihatin.

“Aku masih sulit mempercayainya.” Ujar Ki Banaran.

“Kalau saja kau melihat dia saat menahan racun, di kuil ireng. Bagiku, sekarang jelas sudah…” sambung Ki Gunadarma.

“Belum lagi Tenaga Semu.” Ki Wisesa yang dari tadi diam, ikut bicara.

Kali ini, mereka merasa kesimpulannya masuk akal. Tenaga murni yang entah sampai mana kehandalannya, hawa membunuh yang belum diketahui sebatas apa kengeriannya. Lalu kecerdikan, kebijakan, juga kelicikan, dan, pribadi yang sulit ditebak. Sungguh komplet, namun terasa mengerikan, jika hanya melihat satu sikapnya, tanpa melihat sisi yang lain.

“Anak macam apa dia…” gumam Ki Wisesa.

“Kurasa namanya memang tepat, anak itu adalah badai. Tak ada yang bisa mengikat badai, tapi tak mustahil untuk mengarahkannya. Agar badai itu tak merusak.” Ki Benggala menjawab ucapan kakangnya.

Semua tetua setuju dengan pendapat rekannya, mereka segera meninggalkan ruangan dalam tanah, dan kembali ke atas, dengan dibebani berbagai persoalan baru yang dikemukakan Jaka.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: