Seruling Sakti Jilid 56-60

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 56 Sampai 60

56 – ‘Mengkonfirmasi Identitas’, Menarik Simpati

Hari Ketiga

Jaka sudah sampai di penginapannya kembali. Saat ini sudah masuk hari ketiga—memasuki dini hari—semenjak dirinya masuk ke Pagaruyung. Laparnya… pikir Jaka. Pemuda ini menginap di tingkat ke tiga. Ia belum berminat untuk tidur atau memesan makanan di kamarnya.

Seperti dugaannya, suasananya ternyata tidak seperti biasanya. Untuk ukuran penginapan besar seperti itu, ramai, memang bukan situasi aneh, tapi pada waktu dini hari?

Jaka memandang berkeliling, dia melihat paling tidak ada belasan orang ‘biasa’ dan beberapa orang dari golongan persilatan. Jaka melirik lagi, dan.. aha, apa yang ia dapatkan, ternyata lelaki yang pernah membuat onar dengan mengejek orang dari Perguruan Pedang Mentari, di sebuah rumah makan. Dan celakanya lagi, orang-orang yang diejeknya juga ada disitu.

Jaka menghela nafas panjang, “Aih, kadang untuk bersantai pun tak bisa.” Gumam Jaka sambil duduk di sudut ruangan yang kebetulan kosong.

Melihat ada tamu yang menginap disitu masuk, seorang pelayan segera menghampiri Jaka, dia sudah membawakan air jahe dan setampah makanan. Jaka mengucapkan terima kasih, tanpa basa-basi dia segera makan.

Seorang lelaki separuh baya mendekati Jaka, dia duduk berhadapan dengan Jaka. “Kau keberatan?”

Jaka menggeleng.

“Terima kasih.” Dan diapun memesan makanan yang sama dengan Jaka. Tak berapa lama, keduanya sudah menyelesaikan makannya.

“Tahukah kau siapa aku?” tiba-tiba saja lelaki itu bertanya pada Jaka suaranya lirih tertahan. Jaka tak kelihatan heran, dia tersenyum. Dan mengangguk.

Si lelaki mengerinyitkan keningnya. “Lalu siapa aku?”

“Manusia.” Sahut Jaka singkat.

Wajah lelaki itu terlihat merah padam, tapi dalam sesaat dia bisa mengerti kemudian tertawa perlahan. “Aku tahu, mungkin lantaran kau tidak suka dengan kelakuanku kemarin, lantas kau bersikap begini?”

Jaka tertawa, dia tahu lelaki itu yang menyerang dirinya secara menggelap dari belakang dengan butiran air. “Kau keberatan?”

Lelaki itu melengak, kata-kata bersayap Jaka bisa saja berarti dirinya keberatan dia bersikap demikian, atau dirinya keberatan disebut manusia.

“Tidak, tentu tidak.” Terburu-buru ia menyahut. Anak ini tidak bisa dianggap enteng, pikirnya. Dari ucapan-ucapannya saja, lelaki ini bisa menilai manusia macam apa Jaka itu.

“Apakah kita saling mengenal?” kali ini giliran Jaka bertanya.

“Aku mengenalmu.” Sahut lelaki ini singkat, jawaban itu menimbulkan banyak hal yang bisa saja mencurigakan.

Jaka tertawa. “Aku senang, kalau aku dikenal orang.” Ujarnya perlahan sambil menyesap air jahenya. Dia tak menanyakan dari mana si lelaki tahu siapa dia, kalau orang lain pasti akan penasaran. Itu yang membedakan orang cerdik dengan orang bijak, sebab Jaka termasuk salah satunya, mungkin keduanya.

Sekali lagi lelaki itu harus mengakui kalau dirinya bukan tandingan Jaka dalam urusan berbicara.

“Kau tahu, aku mengenalmu, bahwa kau bernama Jaka.”

Jaka manggut-manggut, “Benar. Kau pasti bekerja keras untuk mengetahui namaku.” Lalu dengan tersenyum penuh arti Jaka menyambung. “Atau dengan sendirinya kau sudah tahu namaku…”

Benar-benar dia tak habis pikir dari mana Jaka bisa menerka setepat itu.

Padahal kalau dipikir—menurut Jaka—itu mudah saja. Sesampainya di kota ini, yang mengetahui namanya hanya, Ki Lukita, Sugiri—si pelayan, atau sebut saja si mata-mata. Dari keduanya, yang paling mungkin memberikan informasi adalah Sugiri. Jaka menyebutnya bekerja keras, mengartikan bahwa, setelah serangannya gagal, dan dia merasa penasaran, maka lelaki itu segera mencari tahu siapa dirinya. Lalu Jaka menyebutnya tahu dengan dengan sendirinya, dimaksudkan karena Sugiri atau siapapun namanya, memberi tahu padanya, bahwa ada seorang pemuda yang begini-begitu dan seterusnya, yang mungkin saja bisa dimanfaatkan.

Lelaki itu kehabisan daya, untuk mengajak Jaka bicara. “Baiklah, kelihatannya aku tak bisa bernegosiasi denganmu. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

“Silahkan.”

Lelaki itu agak ragu sekejap. “Apa yang kau bicarakan dengan orang-orang dari Perguruan Naga Batu.”

Jaka tak terkejut dengan pertanyaan itu, dia hanya berpikir keheranan, sebenarnya dipihak mana lelaki itu berdiri? Kalau dia hanya berpura-pura bersikap begitu, padahal dirinya berpihak pada Tiga pelindung hukum dari Naga Batu, bukankah keadaannya tidak sebebas semula, karena tindakannya diawasi?
Tapi jika dia bukan seperti orang yang dibayangkan, dipihak mana dia berdiri? Sudah jelas dia berdiri pada pihak yang sama dengan Sugiri, tapi pihak dari mana?

“Kau ingin tahu apa yang kami bicarakan?”

“Benar.”

“Apa kau keberatan, kalau aku ingin tahu apa alasanmu—bahwa kau harus tahu urusanku?” tanya Jaka sambil lalu.

Lelaki itu terperangah, jika memang Jaka tak mau kan cukup di jawab tidak, tapi dengan sungkan—padahal tindakannya tidak mencermin-kan rasa itu—lelaki itu tahu sikap itu hanya untuk menghormat saja, mungkin karena menghormati usianya yang lebih tua.

“Aku tak perlu menceritakan latar belakangnya, cuma ada yang harus kau ketahui, aku…” dia menoleh kekanan dan kiri dengan tindakan tidak kentara. “Aku mencurigai mereka bertiga.”

“Siapapun bisa dicuriga dalam situasi yang kau pikirkan.” Ujar pemuda ini. “Kalau aku mencurigai orang, tentu bukan karena rasa itu timbul dari diriku, butuh bukti yang mendukung. Bukankah seharusnya aku mencurigaimu, saat ini?”

“Ah…” lelaki itu menggeleng-geleng. “aku tahu, situasinya memang tidak tepat, dan aku tak dapat menceritakannya lebih panjang.”

“Tak masalah,” sahut Jaka. “Aku hanya berbincang-bincang dengan mereka, tak lebih dari itu.”

“Tidak ada keanehan?”

“Tidak, mereka hanya bilang suka pada orang-orang berbakat, lalu untuk menghargai bakatnya mereka mengundangku bertamu. Dan kebetulan menurut mereka aku ini juga berbakat.”

Lelaki itu menatap Jaka lekat-lekat tapi tak bisa lama. Dalam hati, dia memang tidak meragukan pandangan tiga orang dari perguruan Naga Batu. Lebih detailnya, dia tak tahu bakat Jaka entah dibidang apa, tapi siapapun juga yang menatap pemuda semacam Jaka, akan timbul rasa suka, menurutnya mungkin itu bakat yang paling besar.

“Jadi tidak ada keanehan?”

“Tidak…” tentu saja Jaka menjawab dengan kapasitas dirinya sebagai orang awam, orang awam kan tidak menyadari bahwa digelasnya terdapat racun Pelumpuh Syaraf Otak?

“Kalau begitu aneh sekali… apa kau juga tidak menyadari sesuatu, apapun itu, apakah ada sesuatu yang aneh pada dirimu setelah bertemu mereka?”

Jaka manggut-manggut, biarpun dia belum yakin bahwa lelaki itu bisa dipercaya, tapi kelihatannya saat bicara, dia tidak berpura-pura.

“Yah.. bagaimana ya, aku tidak merasakan keanehan. Oh, hanya satu hal… mungkin kau bisa menganggapnya aneh, setelah jamuan, aku agak mengantuk dan tertidur sesaat, memang tidak lama…”

“Tertidur? Atau memang sebelumnya kau sudah mengantuk?”

Jaka menatap langit-langit, ”Rasanya sih tertidur, kau tahu, di telaga seindah itu, rasa kantuk tak akan muncul.”

“Itu dia!” desis si lelaki bersemangat.

“Ada apa?” Tanya Jaka berpura-pura heran.

Lelaki itu menatap Jaka lekat-lekat. “Maaf… aku tak bisa mengatakan padamu. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak bermaksud buruk padamu.”

Jaka manggut-manggut. “Aku percaya.”

Lelaki itu berdiri. “Aku harus pergi.” Lalu ia melangkah, tapi menoleh lagi pada Jaka.

“Ada yang terlupa?” Tanya pemuda ini.

“Kau benar-benar tahu siapa aku?”

Jaka mengangkat bahunya. “Selain bahwa kau ini manusia, dan tentunya seorang lelaki, aku juga baru tahu kalau kau terlalu gugup menyatakan urusanmu tadi. Selain itu, aku tak tahu jelas siapa kau…”

Lelaki ini tertawa, rupanya Jaka juga punya rasa humor tinggi. “Namaku Arseta.”

“Salam kenal, rasanya tak perlu aku memperkenalkan namaku.”

Arseta tersenyum. “Memang… sampai jumpa lagi.”

Jaka balas terenyum dan ia mengangguk. “Silahkan, maaf… tak bisa mengantar.”

Tak berapa lama kemudian Jaka berdiri, ia berjalan menuju kasir dan membayar. Sekalipun dia tak melirik, dia tahu kalau ada yang memperhatikannya, yang jelas mereka tidak menaksir dirinya.

Jaka mulai menapak tangga, baru dua tangga ia lampaui, lalu dia berbalik dan menghampiri orang… ternyata yang dihampiri adalah lelaki separuh baya yang kemarin membuat onar.

Pemuda ini menatapnya lekat-lekat, tapi lelaki itu hanya diam saja—masih duduk dengan posisi kepala tertunduk, sesekali disesap minumannya, dia bahkan sama sekali tak mengacuhkan kedatangan Jaka, orang itu terlihat santai-santai saja. Dan anehnya, pemuda inipun diam, dia tetap menatap seolah rambut orang itu tiba-tiba mekar bunga.

Satu menit, dua menit…

Seperempat jam,

Satu detik yang lalu dengan sekarang pasti beda, begitu juga orang yang didekati Jaka, jika semula dia terlihat rileks, sekarang tidak lagi.

Setengah jam berlalu…

Kini, orang-orang mulai menyadari ada yang tidak beres.

Satu jam…

Gila! Mereka bahkan tidak bergerak sama sekali! Ruangan besar yang semula penuh dengan suara percakapan, sedikit-demi sedikit senyap.

Satu seperempat jam…

Beberapa dari pengunjung penginapan ada yang keluar, mungkin merasa bosan, mungkin juga mau memberitahukan pada temannya, kalau ada kejadian aneh.
Satu setengah jam…

Beberapa orang terlihat masuk kedalam penginapan, mereka memesan makanan kecil dan minuman. Anehnya, meski situasi disitu begitu hening tak wajar, para pendatang itu tak menghiraukan kejadian yang sedang jadi pusat perhatian.

Dua jam…

Mereka yang sudah mengantuk, justru banyak yang menggerutu perlahan, kenapa? Karena kantuk mereka sirna melihat ada adegan monoton yang aneh, tapi siapapun tahu pasti akan terjadi sesuatu. Bahkan orang goblok sekalipun tahu kalau ada situasi tegang diantara mereka. Jika wajah Jaka masih tetap tenang dan bibirnya tetap tersungging senyum tak senyum—seolah sejak lahir wajahnya memang sudah dipahat begitu, si lelaki separuh baya itu sudah mengerutkan dahinya, bibirnya sudah membuat satu garis tipis. Ketegangan sudah tergurat diwajahnya.

Siapapun yang melihat sekilas kondisi keduanya—mirip orang sedang berbincang, tak akan mengerti ketegangannya, tapi bagi mereka yang menyaksikannya dari awal, pasti sudah mengira bakal ada pertengkaran, atau pertarungan?

Beberapa pendatang mendengus, saat melirik Jaka. Mereka tidak memperhatikan kedua orang itu lagi. Tapi… sekalipun ingin bersikap dingin, rasa ingin tahu mengalahkan sikap acuh tak acuh mereka. Dengan kesan seolah tak memperhatikan, mereka berulang kali melirik kedua orang itu.

Senyap merayap makin tua. Bahkan suara derik serangga di luar sana, seakan terdengar lebih keras.

“Apa maumu?” akhirnya lelaki itu tak sabar juga, tapi ia bertanya tanpa mengangkat wajahnya.

Jaka tidak menyahut, dia tetap bungkam.

“Kau…” akhirnya lelaki ini berdiri dan menatap Jaka lurus-lurus.

“Ada apa denganku?” tanya Jaka seraya tersenyum.

“Apa maumu?”

Jaka tertawa tanpa suara, “Kalau kukatakan aku tertarik dengan rambutmu, dan aku memandangimu lama, kau keberatan?” tanpa menunggu jawaban, dia duduk di depan si lelaki, mau tak mau lelaki itu juga duduk. Lelaki itu tak menyahuti ucapan Jaka, sebab dia tahu jika ia mendebat ucapan Jaka, sama saja dia menyerah kalah dari situasi aneh tadi.

Jaka mengambil cangkir air si lelaki. Orang itu menatap perbuatan Jaka dengan mimik aneh.

“Sekarang, kau tahu apa mauku?” sahut Jaka sambil menempelkan cangkir itu pada bibirnya, lalu di tenggak habis—atau seperti itu kelihatannya!

“Terima kasih…” desisnya sambil berdiri.

Tanpa mengucapkan apapun, Jaka melangkah meninggalkan lelaki itu yang masih mengawasinya dengan bingung, sekilas Jaka melirik empat orang dari Perguruan Pedang Mentari, Merak Inggil dan Awan Gunung, lalu ia mengangguk.

Swatantra—orang tertua diantara mereka, segera bangkit dan menjura. Sambil mengucapkan terima kasih.

Tentu saja mereka yang menyaksikan tambah bingung, tiga rekannya juga tak mengerti maksud kawannya itu. Tapi lelaki paruh baya itu terlihat wajahnya berkerut, lalu dia tertawa terbahak.

Di suasana sehening itu tiba-tiba ada orang tertawa keras, mungkin kau akan mengira dia orang gila, tapi siapapun tak akan menuduh lelaki itu gila. Sebab mereka tahu lelaki itu tertawa karena satu sebab, yakni bertindak aneh si pemuda.

“Bagus! Mata balas mata, sabar balas sabar.” Gumamnya. Ia menyambar cangkirnya… tapi mendadak di lepasnya lagi. Matanya membelalak, wajahnya pucat.

Orang-orang yang masih memperhatikan tingkahnya tertarik, mereka yang dekat dengannya, melirik cangkir si lelaki. Wajah merekapun menampilkan rasa keheranan dan takjub.

Takjub?

“Orang macam apa dia itu?” desisnya. Mereka yang melihat cangkir si lelaki juga bertanya serupa, dalam hatinya.

Sebenarnya apa yang dilihat lelaki itu? Apa didalam cangkirnya tiba-tiba tumbuh mata? Tentu tidak! Merasa agak tertekan, ia sambar cangkirnya sendiri, tak sadar Jaka sudah meminumnya.

Saat hendak diminum, sentuhan pertama pada cangkir, adalah panas suam-suam, tapi begitu cangkir tergenggam, ia merasa ada keanehan… ternyata permukaan air jahenya sudah membeku!

Bukan cuma itu keanehannya, saat cangkir diangkat, dasarnya amblas! Yang digenggam olehnya hanya cangkir kosong, benar-benar kosong, seperti tong dengan dua sisi atas-bawah bolong.

Dimeja, sisa air yang ada di cangkir, terlihat membeku. Tapi kenapa pembekuan seperti itu bisa menghancurkan dasar cangkir? Apa karena saking dinginnya? Rasanya tidak mungkin, karena sesaat tadi ia masih merasakan panas suam-suam. Lelaki ini mengamatinya lebih seksama, dan… didapatinya, dasar cangkir itu berwarna hitam meranggas, seperti dibakar suhu tinggi. Wajahnya berubah lebih serius, sungguh ia tak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Jaka.

Kenapa pembekuan air itu, tidak mempengaruhi hawa panas yang menghancurkan dasar cangkir? Bahkan uap yang samar-samar mengepul terasa panas dan dingin?
Lelaki itu tahu, tiap kaum persilatan yang memiliki tenaga dalam handal, tentu bisa membekukan air dalam gelas, dia sendiri sanggup. Tapi yang dimaksud membekukan adalah, membuatnya tak bergerak saat dimiringkan—tenaga murni, yang menahan agar air tetap pada tempatnya, membuat hukum alam—bahwa air menuju tempat yang lebih rendah—tidak berlaku.

Tapi membekukan air—benar-benar beku layaknya es, dengan suhu panas menghancurkan dasar cangkir, siapa yang bisa?

Sepanjang ingatannya, hanya tokoh pemilik ilmu mustikalah yang dapat melakukan hal itu, dan itupun hanya segelintir saja. Tapi dia ragu, bagaimana mungkin orang semuda Jaka bisa menguasai ilmu mustika? Lagi pula dia bisa mengerahkan dua hawa berlawanan dalam waktu bersamaan? Dan dalam obyek yang sama pula—tangan kanannya! Itu tidak mungkin terjadi!

Dia tahu mungkin saja ada ilmu semacam itu, bahkan ilmu mustika Badai Gurun Salju yang memiliki dua kutub berbeda, panas dan dingin, juga tak bisa dikerahkan bersamaan! Bagaimana bisa orang semuda Jaka bisa mengunakan bersamaan? Lalu apa yang dikerahkannya? Ilmu mustikakah? Rasanya tidak mungkin. Atau justru ilmu yang lebih hebat? Lebih tidak mungkin lagi, pasti ada trik lain, pikirnya.

“Rasanya aku sudah terlalu tua.” Gumamnya perlahan. Lalu dia bangkit, membayar makan minumnya, lalu keluar ruangan. Mungkin sedikit udara malam bisa menenteramkan, pikirannya.

Suasana kembali seperti semula, keheningan sudah terpecahkan. Banyak orang bercakap-cakap selepas lelaki itu keluar. Empat orang dari perguruan kenamaan juga sedang memperbicangkan sesuatu.

“Kakang, kenapa kau tadi berterima kasih pada pemuda aneh itu?”

“Kau tidak paham juga?”

“Apa sih maksudnya?”

“Dia membalaskan kedongkolan hati kita saat di rumah makan tempo hari.”

“Oh, kurasa waktu itu dia satu ruangan dengan kita.”

“Benar…” sahut Swatantra. “Tapi kita tidak memperhatikannya.”

“Rasanya itu satu pelajaran lagi.” Gumam pemuda satunya yang dari tadi diam.

“Ya, amati keadaan sekelilingmu. Jadikan suasana saat itu, sebagai sahabat. Dan kau lihat hasilnya bukan?”

Mereka bertiga mengangguk. Jika saja sehari yang lalu, pertarungan antara mereka dengan lelaki itu batal, tidak akan ada kejadian seperti tadi.

“Apakah artinya kita bisa menarik pemuda itu ke pihak kita?” ujar seorang lagi dengan suara menggumam.

“Dia tidak bodoh.” Jawab Swatantra singkat.

“Kalau begitu harus ada pendekatan?”

“Aku kuatir tidak bisa.” Ujar Swatantra setengah merenung.

“Kenapa?”

“Sudah kubilang, dia tidak bodoh.”

Barulah ketiganya paham, mereka belum mengenal siapa pemuda tadi, dan dengan gegabah ingin menjadikannya satu golongan, kan tidak mungkin. Lagi pula jika dipikir-pikir, tindakan pemuda tadi pasti ada apa-apanya, tidak mungkin hanya sambil lalu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan kakang?”

“Diam saja.”

“Diam?”

“Ya, tidak perlu melakukan apa-apa.”

“Sampai dia menghampiri kita.” Sahut pemuda yang kemarin sempat bertarung dengan lelaki yang didatangi Jaka.

“Benar.”

Sebenarnya apa yang sedang mereka cakapkan? Kedengarannya nada terima kasih tidak ada dalam perbincangan mereka, mengingat kalau Jaka sudah menyelamatkan muka mereka dari hinaan seseorang.

Dan memangnya Jaka membalaskan perbuatan lelaki tadi, karena iseng? Tentu tidak. Jaka juga punya rencana, dan siapapun tak bisa menebaknya.

Di satu sisi, dia harus menjaga kerahasiaannya dari orang luar, kalau dirinya tak bisa ilmu silat selain peringan tubuh. Di sisi lain, dia sudah memperlihatkan hawa saktinya pada lelaki tadi.

Jadi, apa sebenarnya rencanamu Jaka?

Beberapa orang kembali ke kamar masing-masing. Juga termasuk beberapa pendatang tadi. Oh, rupanya mereka juga menginap di lantai tiga, sama dengan Jaka.

—ooOoo—

57 – Menggeser Bidak Pemabuk Berkaki Cepat

Kicau burung di pagi hari benar-benar menyejukkan hati siapa saja, tak terasa empat jam telah lewat, sejak kejadian di penginapan dini hari tadi. Jaka sudah bangun setengah jam lalu. Dia sedang mempersiapkan agendanya untuk hari ini. Pertama, bertemu dengan rekannya. Kedua, dia harus menepati janji bertemu dengan orang-orang dari Perguruan Sampar Angin. Dan selanjutnya, Perguruan Naga Batu akan jadi sasaran penyelidikannya.

Jaka membuka jendela kamarnya, kebetulan jendela kamarnya menghadap timur, dengan demikian Jaka bisa menikmati sinar pertama mentari sepuas hati.

Sesaat Jaka meregangkan badannya, lalu dia keluar kamar.

“Tolong, sediakan air hangat untuk mandi.” Pintanya saat berpapasan dengan pelayan.

Tak berapa lama kemudian Jaka sudah selesai membersihkan diri, dan siap-siap turun. Walau tidak menyapukan pandangannya keseluruh sudut rumah makan penginapan itu, Jaka tahu kalau dirinya jadi perhatian. Tapi dia tidak perduli.

Bahkan saat melewati orang-orang dari Perguruan Pedang Mentari, yang tadi malam ‘ditolong’, Jaka tidak menoleh, mengangguk atau menyapa, seolah dia tak pernah melihat orang itu sebelumnya.

Dia duduk tengah ruangan, sebenarnya Jaka lebih suka duduk disudut ruangan, tapi karena penuh semua, ya, apa boleh buat. Kali dia benar-benar menjadi pusat perhatian, tapi Jaka tetap adem ayem. Beberapa orang yang menginap satu lantai, bergabung dengan Jaka.

Pesanan Jaka datang, dia segera menyantapnya. Beberapa orang yang duduk satu meja dengannya tampak melirik satu sama lain, lalu salah satu dari mereka bertanya.

“Kau datang dari mana anak muda?”

Jaka tak menyahut, dia tetap makan—mengunyah.

“Kau dengar pertanyaanku?” ujar orang itu tak sabaran.

Jaka mengangguk, dia menunjuk mulutnya yang sedang mengunyah. Orang itu paham maksud Jaka, Jaka masih mengunyah, dia tak bisa menjawab. Jaka meneguk minumannya. “Aku tak punya daerah tetap.” Jawabnya kemudian.

Orang itu tersenyum. “Paling tidak kau punya tempat saat dilahirkan.”

“Kau benar, aku lahir di kota Kunta.”

“Oh, dekat dengan daerah Indrahilir kalau begitu.”

Jaka manggut-manggut, tapi dia tak berkomentar.

“Hei, aksimu tadi malam sangat hebat.” Seseorang ikut berbicara.

Dalam sekejap suasana seolah jadi lebih tenang, kelihatannya mereka sedang mengikuti pembicaraan itu.

Jaka tertawa, “Terima kasih.”

“Sebenarnya kau sedang apa sih, tadi malam?”

Sebelum Jaka menjawab, teman disebelahnya menjawab. “Kau ini bagaimana, tentu dia ada sangkut pautnya dengan empat orang yang tadi malam, salah seorang diantaranya mengucapkan terima kasih padanya.”

Jaka manggut-manggut.

“Tebakanku benar?”

“Salah.” Sahut Jaka.

“Lho…”

“Kalian tahu, orang yang aku goda tadi malam adalah kenalan lamaku, sudah lama dia tak bertemu denganku, mungkin waktu itu aku masih berusia enam tahun.”

“Kenalan?” orang itu bertanya bingung, bagaimana mungkin kenalan Jaka lebih tua puluhan tahun, dan Jaka sudah mengenalnya pada usia enam tahun? Aneh.

“Kau tak perlu memikirkannya, dia mungkin masih bingung dengan tidakanku, tapi nanti juga sadar.” Jaka cepat-cepat menghabiskan airnya, lalu dia berdiri. “Maaf, tidak bisa menemani lebih lama.” Tanpa menanti jawaban Jaka berdiri dan berlalu.

Jaka berjalan melewati empat orang dari perguruan terkemuka tadi. “Tuan, bisakah anda duduk dengan kami sekejap.” Swatantra berdiri, meminta Jaka bergabung dengan dirinya.

Jaka berhenti lalu menoleh kearahnya. “Kenapa aku harus duduk dengan kalian?” ia bertanya hati-hati.

“Kami ingin berbincang sejenak…”

“Tapi aku tidak, andika keberatan?!” Sahut Jaka singkat, lalu dia berjalan menuju kasir dan membayar makanannya. Swatantra berdiri dengan terbengong-bengong, lalu dia duduk dengan wajah merah padam.

“Kenapa kau mendekatinya?” Tanya pemuda di samping Swatantra.

“Melihat gelagatnya tadi, kupikir dia lebih mudah dari yang kukira.” Ujarnya dengan nada rendah.

“Kenyataannya?”

“Dia keras… ya, lebih keras.”

“Kakang yakin perbuatannya tadi malam ada sangkut pautnya dengan kita?”

Swatantra merenung sejenak. “Entahlah, aku jadi bingung kalau mendengar ucapannya barusan.”

“Tidak perlu memikirkan hal-hal yang tak ada gunanya.” Dengus pemuda satunya lagi dengan suara dingin.

“Kau benar Adi Pancaksi.” Sahut Swatantra singkat.

Dan mereka kembali menikmati makanan dengan tenang. Tapi apakah pikirkan mereka setenang itu?

Usai membayar, Jaka sudah keluar dari penginapan. Ada beberapa orang juga ikut membayar makanan lalu mereka keluar. Tidak ada yang aneh… Sampai beberapa orang yang lain juga ikut keluar.

Empat orang itu saling pandang. Kelhatannya yang tertarik dengan pemuda itu cukup banyak. “Kita keluar?” Seru pemuda yang dipanggil Pancaksi.

“Tidak.”

“Apa maksudmu, adi Kagendra?”

“Kita tidak punya kepentingan dengannya.”

Tiba-tiba Pancaksi mendengus. “Memangnya kita keluar mau membuntuti bocah sombong itu?”

Swatantra menggebrak meja perlahan. “Benar, kita tidak ada urusan dengan dia, sekalipun jalan dibelakangnya juga bukan berarti ada urusan dengan dia!” Tanpa menanti jawaban yang lain, Swatantra beranjak dari tempat, yang lain mengikutinya, tapi salah satu dari mereka yang dari tadi tak ikut bercakap, membayar rekening, lalu dia keluar menyusul.

Saat dia menyusul sampai diluar, dilihatnya Swatantra seperti orang kebingungan.
“Ada apa kakang?” tanyanya sambil mengiringi langkah rekan-rekannya.

Orang ini tak menjawab, dia hanya menunjukkan sesuatu, sebuah lencana terbuat dari kayu dengan ukiran sederhana. Ukiran sebuah garis melintang. Bahkan jika dilihat lebih teliti, benda itu tak patut disebut lencana. Wajah pemuda ini juga menampilkan rasa bimbang.

“Siapa yang memberi Tanda Silam ini?” bisiknya.

“Itu dia…” Pancaksi menunjuk seseorang yang duduk dibawah pohon sambil menjual panganan.

“Biar aku tanya..”

“Tidak perlu adi Galih.”

“Kakang sudah menanyakannya?”

Sawatika mengangguk. “Katanya yang menitipkan benda ini, seorang lelaki yang memakai pakaian hijau, wajahnya biasa saja, pokoknya semua serba biasa. Ciri-cirinya, tak seperti orang-orang yang kita kenal.”

Dwiya Galih berpikir keras. “Siapa saja yang kenal tanda ini?” gumamnya.

“Hanya perguruan kita masing-masing.” Sahut Kagendra.

“Kalau begitu pasti salah seorang utusan dari perguruan.”

“Itu tidak mungkin!” Sahut Pancaksi. “Coba kau pikir baik-baik, tanda silam hanya keluar kalau ada keadaan darurat tingkat empat. Sepanjang empat tahun ini, lencana itu belum pernah beredar lagi. Kalau sekarang beredar, pasti ada alasan bagus,”

“Berikan alasanmu…” potong Swatantra.

“Pertama, tanda itu hanya akan diserahkan kepada pihak yang bertanggungjawab pada perguruan masing-masing. Untuk Perguruan Awan Gunung, hanya paman guruku yang punya hak memegang lencana itu. Seandainya orang lain diberi hak untuk memegangnya, pasti ada ciri lain pada lencana, dan tanda itu tidak terdapat disini. Kalau begitu, keterlibatan perguruanku diabaikan. Kedua; keterlibatan Perguruan Pedang Mentari, dan Merak Inggil, juga kusangsikan, sebab setahuku yang memegang lencana itu guru tingkat tiga, bukankah demikian?”

Swatantra dan Dwiya Galih mengangguk. Pancaksi meneruskan penjelasannya. “Kalau begitu kusimpulkan lencana itu palsu…”

“Tunggu, tak bisa terburu-buru kau ambil kesimpulan seperti itu.” Potong Dwiya Galih.

“Apa alasanmu?”

“Dahulu, saat lencana tanda silam diturunkan tidak ada pemberitahuan sama sekali. Dan hanya kalangan tertentu dalam perguruan yang tahu. Kita berempat adalah orang-orang yang dipercaya oleh perguruan masing-masing, kita adalah orang-orang yang terpilih. Kita tidak perlu harus tahu, mengapa lencana itu bisa muncul. Tugas kita justru menyelidiki kenapa lencana itu bisa muncul. Dan jika benar—kalau bisa—tugas kita pulalah menyelesaikannya.”

“Bagaimana kakang?” Tanya Kagendra.

Memang uraian Dwiya Galih terdengar masuk akal. Swatantra juga manggut-manggut. “Alasan adi Galih masuk akal, alasan adi Pancaksi juga masuk akal. Aku hanya bisa memutuskan kita menyelidikinya sambil lalu, ingat kita puya tujuan lain di tempat ini.”

“Kalau begitu, kakang menganggap lencana ini tidak penting?” Tanya Pancaksi.

“Tentu saja bukan begitu. Coba kau pertimbangkan baik-baik, seandainya kita ambil kejadian ini dengan serius, akan kita mulai dari mana?” melihat ketiganya masih memandang bingung, Swatantra menjelaskannya lagi.

“Baiklah, misalkan saja kita usut orang yang memberikan lencana ini, menurutku, itu hal percuma! Bisa saja lencana ini dikirimkan berantai, siapapun dia, akan memberikan pada orang lain yang juga tak dikenal, dan orang itu disuruh memberikan pada yang lain, sampai pada akhirnya kita yang mendapatkannya.”

“Menurut kakang, seandainya lencana ini benar, apakah akan ada jejak berikutnya?” Tanya Dwiyan Galih.

“Pasti. Tapi aku yakin keadaan darurat tingkat empat tidaklah separah yang kita kira, coba ingat apa yang pernah terjadi dulu…” mereka bertiga mengangguk paham.

“Jadi apa rencana kita selanjutnya?”

“Seperti yang sudah ditetapkan. Dan jangan lupa buka mata dan telinga kalian, tambahan informasi sekecil apapun sangat berguna bagi kita.”

“Baik kakang…” ketiganya menjawab serempak, dan berpisah. Rupanya empat orang itu sudah sepakat jalan sendiri-sendiri.

***

Jaka sedang memeluk anak yang jadi perantara lencana pada penjual kue tadi, dia juga memberikan kue pada anak itu.

“Kau sangat pintar Gama..” pujinya pada anak itu, gama berarti; bertindak. Ya, anak berusia tujuh tahun itu memang cekatan, Jaka sangat kagum dengan cara Si Penikam menggunakan semua sumber daya. Gama bukan siapa-siapa, tapi dia dan teman-temannya adalah penyampai kabar dari Si Penikam kepada Jaka, demikian juga sebaliknya.

“Sekarang bisa tidak aku meminta tolong lagi?” pinta Jaka.

“Kata Paman Sunu, Gama harus mendengar apapun ucapan kakak..” kata anak itu dengan memandang Jaka. Paman Sunu adalah panggilan Gama pada Si Penikam.

“Sekarang tolong bilang Paman Sunu, kakak sudah menjirat tali pada kawan orang tukang mabuk.”

“itu saja?” gumam si anak dengan bingung.

“Ya, coba kau ulangi.” Ujar pemuda ini, dan Gama mengulanginya sampai dua kali. “Bagus, kakak akan mengijinkanmu meminta mainan pada Paman sunu.”

“Benarkah?” mata anak itu berbinar.

Jaka menganguk-angguk, tak menanti lama, Gama berlari dengan memegang kayu yang diseret. Pemuda ini meneruskan langkahnya dengan hati gembira. Kejadian dini hari tadi adalah umpan untuk Pemabuk Berkaki Cepat.

Pemabuk Berkaki cepat bukanlah julukan orang, itu adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang tidak ada hubungan apa-apa dengan kasus yang dihadapi, tapi mereka bersikap sok tahu dan kepingin ikut campur, yang menjadi dasar kalimat ‘berkaki cepat’ adalah; berhubungan dengan latar belakang mereka yang bukan sembarangan. Mereka adalah Swatantra dan kawan-kawan. Dari mulut merekalah, Jaka ingin meminjamkan penyiaran kabar.

Benteng Ilusi yang misterius, dan Tanda Silam… mereka akan menghubungkan dua hal itu cepat atau lambat, pada saat mereka menyadari itu, ada sebuah permainan menarik yang sudah disiapkan Jaka. Pemuda ini mengistilahkan sebagai rencana menarik angin, rencana yang sudah dibicarakan dengan si kedok misterius.

Orang yang sengaja dikerjai Jaka dini hari tadi disinyalir sebagai, Wakil Tetua Perkumpulan Pengemis cabang selatan, artinya.. dia atasan Bergola. Untuk memastikannya, Jaka menguji kevalidan informasi yang didapat anak buah Si Penikam, dia ingin si tersangka mengejar dirinya… dan begitu keluar dari penginapan sudah ada beberapa orang menguntit dirinya, tapi dengan mudah dia melepaskan diri dari kuntitan mereka dan kembali ke depat penginapan, untuk bertemu dengan Gama.

Sejauh ini Jaka belum mendapatkan umpan balik yang diharapkan, dari si tersangka, dia mulai ragu. apakah mereka yang sempat menguntitnya tadi ada hubungan dengan orang yang dia kerjai?

Pertimbangan Jaka lebih pada analisa; jika dia bukannya orang-orang dari kelompok Panah, mengapa pula mencari urusan dengan para ‘pemabuk berkaki cepat’ ini?

***

Jauh di timur kota Pagaruyung…

Sosok tubuh terbalut baju gelap, tampak berjalan tergesa, dia bukannya menuju pusat kota, tapi malah menjauhi keramaian.

Orang itu bermuka lonjong kurus, tubuhnya tinggi jangkung. “Aku harus sampai ke tempat tujuan sebelum lukaku makin gawat.” Pikirnya dengan muram. Ya, walaupun tak terlihat parah, tapi kondisinya tubuhnya memang tak sehat, wajahnya juga sedikit pucat.

Sebelum dia melangkah lebih lanjut, didepan ada seorang lelaki berpakaian abu-abu menghadangnya. Anehnya dia memunggunginya. Karena merasa tidak ada urusan, lelaki ini tidak menghiraukan, diapun lewat disampingnya.

Mendadak saja si penghadang menyabet dengan tangan kanannya. Walau sudah waspada, tak urung dia kaget juga. Tanpa tergesa orang ini melakukan gerakan setengah putaran, dan melompat kebelakang. Tapi si penghadang juga melakukan lompatan kedepan, jadi jaraknya tetap sama, dan serangan itu tetap akan mengena.

Lelaki ini mengeluh dalam hati, sungguh sial dirinya hari ini kepentok dengan orang lihay. Menyadari tak akan sempat menghindari lagi, dia mengibaskan tangan kearah wajah si penghadang. Kibasan itu kelihatan lemah, tapi kalau kena wajah, hidung juga tak berbentuk hidung lagi.

Kibasan itu datangnya tak terduga, sipenghadang jadi terperanjat, tapi dia cukup memiringkan sedikit kepalanya, dan lewatlah serangan itu. Tapi… rupanya masih ada satu serangan lagi, tendangan tumit lelaki jangkung itu menyapu dari atas kebawah, mengincar bahu.

Rupanya serangan pertama hanya untuk mengelabui saja, sedangkan serangan kedua yang sebenarnya. Menyadari tendangan tingginya mudah dihindari karena gerakannya terlalu berlebihan, makanya dia harus mengkamuflase dengan serangan tipuan. Waktu sedetik sudah cukup baginya untuk mengembangkan tendangan tinggi ini hingga sempurna.

Kali ini si penghadang benar-benar kaget melihat serangan sederhana, bisa begitu terlihat mematikan. Buru-buru dia merendahkan tubuh dan tangannya menonjok keatas, tiada keraguan lagi rupanya dia ingin beradu.

Lelaki jangkung ini bimbang sesaat, dia tak tahu apakah tumitnya lebih menang dibanding kepalan lawan. Sedetik sebelum kakinya beradu, secara aneh, dia bisa menggeser kakinya setengah meter kekanan, secepat kilat pula badannya memutar balik, masih dalam keadaan melayang, kaki kirinya menyepak wajah lawan.

“Hebat!” seru penghadang ini kagum, tak ada jalan lain kecuali dia mundur.
Lelaki jangkung ini tidak menyerang lebih lanjut. Dia menatap orang itu, kalau orang lain pasti bertanya, ‘Kenapa kau menyerangku?’ tadi lelaki ini tidak, dia justru berkata. “Bisakah aku lewat?”

Si penghadang terkesip, pada awalnya dia sengaja mencari gara-gara, tapi menyadari dirinya berimbang dengan lawan, ia juga harus berpikir lagi untuk melaksanakan rencananya.

“Ini jalan umum, seharusnya siapa saja bisa lewat, tapi aku punya kepentingan denganmu.”

Lelaki ini merenung sesaat, “Baik, silahkan bicara.”

“Sebenarnya bukan aku yang akan bicara denganmu, tapi majikanku. Aku hanya memastikan kalau keinginan majikanku tidak ada halangan.”

Orang ini mengangguk. “Kau anak buah yang baik.”

“Terima kasih…”

“Sayangnya aku tidak bisa.”

Wajah yang semula tersenyum itu, membeku dalam sesaat. “Kau menolak bicara dengan majikanku?” dia bertanya dengan suara bengis.

Lelaki ini mengeluh dalam hati. Ah, urusan jadi gawat begini, aku pasti terlambat bertemu tuan.

“Kalau saja aku tidak ada kepentingan lain, tentu sangat bersedia menemui majikanmu.”

“Kau tidak perlu membantah lagi!”

Ia menghela nafas panjang, “Kau tahu apa pendapatku tentang majikanmu?” Si penghadang tak menyahut, dia ingin tahu rupanya.

“Majikanmu tak lebih hanya orang tukang paksa. Kalau dia orang bijak, pasti bisa membedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Dan dengan mengutus engkau, aku jadi bisa menarik kesimpulan sejelas ini.”

Wajah penghadang ini merah padam. “Kurang ajar, mulutmu memang harus kau cuci dulu sebelum bicara.”

Dia menyeringai. “Aku hanya memberi pendapatku saja, setiap orang boleh bicara bukan?”

Tanpa menanti apa kata si penghadang, lelaki ini lewat disisi penghadangnya. “Sampai jumpa lagi.”

Lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa, kalau dia kembali menghadang, sama saja dia membenarkan ucapan lawannya bahwa majikannya tukang paksa orang. Dengan dongkol dia hanya bisa berjalan mengikuti si jangkung.

Tapi si jangkung membiarkan saja, pikirnya, kalau orang ini sudah melihat tuannya orang macam apa, mungkin saja dia akan terus mengundurkan diri. Si jangkung tidak berpikir lebih lanjut, karena hadangan muncul kembali. Sementara orang yang mengikutinya langsung berseri wajahnya, mengetahui siapa yang menghadang.

“Kau harus merasa tersanjung. Ternyata majikanku mau menemuimu sendiri.” Katanya dari belakang, lalu dia lari mendahului untuk menyambut majikannya.

Si jangkung tak menyahut, dia hanya mengangkat bahunya. Sesampai didepan orang itu, diapun berhenti. Dia tidak bertanya ada kepentingan apa mereka menghadang, dia hanya mengamati orang itu.

Orang yang disebut sebagai majikan oleh lawannya, adalah lelaki berusia tiga puluh lima, wajahnya tampan, tapi menyiratkan wibawa dan keangkuhan. Mereka tidak bertegur sapa, seolah saling mengukur kemampuan satu sama lain. Si jangkung tahu, jelas saja lelaki didepannya itu jauh lebih lihay dari pembantunya, tapi jika perlu dia juga harus melawan.

“Senang bertemu dengamu.” Orang itu bersuara. Suaranya berat dan kereng berwibawa, tipe orang yang selalu mengatur.

Lelaki jangkung ini mengiyakan, biarpun dia tak tahu orang macam apa lelaki itu, tapi dia juga harus menghormatinya dengan kapasitas sebagai pemimpin orang lain.

“Kau tahu keperluanku ingin bertemu denganmu?”

si Jangkung menggeleng.

“Aku ingin tahu seperti apa tuanmu itu,” ujarnya singkat.

—ooOoo—

58 – Munculnya ‘Kerabat Dekat’

Si jangkung terkesip, wajahnya memucat seketika. Biarpun dia sedang dalam perjalanan menemui tuannya, tapi adalah mustahil lelaki ini tahu kalau dirinya adalah bawahan seseorang. Atau dia tahu karena kebetulan? Tak mau ceroboh, dia memutuskan untuk melihat situasi baru bicara. Dia menghela nafas panjang.

“Kenapa tuan bertanya begitu?”

Lelaki itu menatapnya sekejap, lalu dia menyahut malas-malasan. “Seandainya aku tak melihat kelakuanmu mungkin aku tak ingin bertemu siapa-siapa.”

Si Jangkung berpikir keras, melihat dirinya? Orang itu melihat dirinya, dimana, kapan? Saat dia sedang melakukan apa? Dia tahu tak mungkin dirinya bertanya kelakuanku yang mana, tapi… tunggu dulu.

Ah, rupanya kejadian sore kemarin, pikirnya merasa tegang juga. Biarpun sudah tahu apa yang dimaksudkan orang itu, tapi dia tak mau terpancing mengatakannya dulu, siapa tahu di sebenarnya tidak tahu apa-apa.

“Kenapa tuan harus bertemu dengan tuanku yang belum tentu aku punyai?”

“Sekali pun kau menyangkal, aku tahu tuanmu akan mengunjungi tempat itu lagi nanti malam.”

Jelas sudah, lelaki itu memang tahu kejadian itu, pikir si jangkung risau. “Kalau sudah tahu, kenapa masih ngotot ingin bertemu sekarang, bukankah dengan menghadang nanti malam kau juga akan bertemu?”

Wajah orang itu terlihat mengeras sesaat. Rupanya dia tidak suka cara bicara lelaki di depannya. Bahwa si jangkung sebelumnya memakai kata ‘tuan’, tapi sekarang diganti ‘kau’, merupakan penurunan derajat baginya.

“Jika aku memaksamu, bagaimana?”

Ia tahu pada waktunya cepat atau lambat lelaki itu akan mengatakan demikian, sekarang dirinya harus sebisa mungkin meloloskan dari.

“Percuma…”

“Apa maksudmu?” bentak lelaki ini.

“Sekalipun kau memaksaku juga tak ada hasilnya, jika kau ingin bertemu dengan tuanku, cukup kau sebut saja keinginan itu dalam hati, dan tuanku akan menemui.”

“Apa yang kau cakapkan?” kali ini orang yang bertarung dengan si jangkung yang bertanya.

“Artinya, majikanmu itu tak perlu repot-repot memaksa aku, karena tuanku sekarang sudah datang!” dan si jangkung mengedipkan sebelah matanya, jauh kebelakang kedua orang itu, seolah memang ada orang lain di sana.

Waktu satu detik sudah cukup baginya, saat keduanya memalingkan wajah menoleh ke belakang.

Buuum!

Si jangkung membanting peledak asap. Seketika itu juga asap menyebar tebal.

“Keparat!” dengus si majikan marah karena dikibuli.

“Bagaimana ini tuan…”

“Diam di tempat! Asap ini tidak berbahaya, dia hanya memanfaatkan asap ini untuk…” dia terdiam, karena saat itu juga rongga dadanya terasa sangat gatal.

“Kurang ajar! Mundur…” mereka berdua segera menjauhi lingkungan yang dicemari asap kuning itu.

“Tak kusangka asapnya bisa beracun seperti ini..”

“Ini asap beracun tuan?”

Lelaki itu mengangguk, dia mengeluarkan kotak dari balik bajunya, dan membuka, oh, ternyata sejenis balsem. Dioleskan balsem itu di bawah hidungnya, lalu dia menghirup udara dalam-dalam. Dalam sekejap rasa gatal di rongga dada hilang. Dia juga menyerahkan balsem itu pada anak buahnya, dan lelaki itu segera meniru cara majikannya.

“Kita pergi…” Lelaki itu segera melangkah pergi, diikuti anak buahnya.
Tapi baru seratus meter mereka berjalan, di tikungan, ada seseorang yang menghadang mereka.

“Kakang, sedang apa kau disini?” seru lelaki tadi. Ternyata orang yang menghadang mereka adalah kakak lelaki si majikan.

Orang itu berperawakan tinggi kurus, usianya mungkin pertengahan empat puluh, wajahnya juga tampan, yang menakutkan adalah matanya.. masih mendingan kalau terlihat licik, tapi mata itu seperti mata orang mati, dingin menyorot langsung menusuk ke dalam, orang yang berhadapan dengannya, tanggung tak bisa bohong. Sepertinya tidak ada kejadian apapun di dunia ini yang bisa membuatnya bereaksi.

Orang ini memberi tanda pada anak buah adiknya, dan dia tahu diri, dengan segera menjauh dari lingkungan pembicaraan orang.

“Ada keperluan apa kakang kemari?”

Lelaki ini tidak menjawab, dia menunjuk sesuatu di sampingnya.

“Oh…” sang adik terkejut sekali. Rupanya si jangkung itulah yang tergeletak—tertotok di semak-semak. “Terima kasih kakang.”

Lelaki ini mengangguk, “Seharusnya kau lebih waspada,” ujarnya.

Suaranya lembut, tak seperti matanya yang menakutkan—tapi justru kombinasi seperti itulah yang paling menakutkan.

“Aku memang lengah.” Sahutnya dengan kepala tertunduk.

Lelaki ini menepuk bahu adiknya. “Ada urusan apa, sampai mengejar orang yang tak setimpal jadi lawanmu?”

“Dia memang tak setimpal, tapi atasannya sangat setimpal. Dia yang ingin kutemui.”

“Macam apa orangnya?”

“Aku belum pernah lihat.”

Si kakak mengerutkan kening. “Kau melihat hal menarik apa pada dirinya?”

“Bola Asap…” jawabnya menggantung.

“Bola asap?”

“Ya, orang itu membawa Bola Asap. Dan kakang tahu, hanya kenalan kita yang punya benda seperti itu.”

Alis sang kakak terangkat satu, dia mendekati si jangkung yang masih tak sadarkan diri. Dengan cepat dibebaskan totokannya. Tak berapa lama kemudian, orang itu mendusin.

“Apa yang…” ia tak meneruskan ucapannya melihat orang yang di sebut majikan ada didepannya.

“Aku tanya satu hal, dan kau cukup menjawab apa adanya.”

Tentu saja si jangkung tahu kalau apa adanya yang dimaksud adalah jujur. Lagi pula tanpa diminta dia juga akan bicara jujur, bukan apa-apa—meski orang yang bertanya padanya punya keseraman yang tak terurai, paling yang ditanya, seputar tuannya, kalau itu bukan masalah, sepanjang tidak mengganggu rencana mereka.

“Aku yakin kau dapat benda berasap tadi dari tuanmu,” ujar si mata beku membuka kata.

Si Jangkung mengangguk.

“Siapa dia?”

Si Jangkung baru tahu titik persoalannya, kiranya kedua orang ini tertarik karena bola asap.

“Kalian tak akan percaya kalau aku menjawab…” si jangkung duduk menyandar batu dibelakangnya. “Sejauh ini aku sendiri tidak tahu siapa tuanku.”

“Orangnya…” desis si adik.

“Kalau rupa orangnya, aku tahu. Maksudnya asal usulnya, tiada seorang pun yang tahu. Memang pada setiap orang beliau bilang berasal dari kota Kunta, dan aku percaya.”

Si jangkung menatap orang bermata beku itu, kelihatannya jawabannya tidak memuaskan. “Kau tak akan percaya sebelum berjumpa dengan beliau.”

“Beliau?” gumam si mata beku.

“Ya, kubilang kalian tak akan percaya karena beliau masih sangat muda, mungkin dia sepantar usia anak kalian.”

“Delapan belas tahunan?”

Si jangkung menggeleng. “Dua puluhan.”

Sang adik menghela nafas. “Dan dia memberikan bola asap padamu?”

Si Jangkung mengangguk.

“Berapa banyak?”

“Tidak pasti, tergantung tugas yang aku emban. Kadang tujuh, paling banyak dua belas.”

“Dia yang membuatnya?”

Si Jangkung mengangguk lagi, dan suasana menghening perlahan, kedengarannya ketua orang itu bukanlah teman yang mereka maksud. Tapi kenapa bisa punya benda yang sama? Apa masih satu keturunan?

“Kenapa kau tidak tahu dia?” Tanya si mata beku terdengar dingin, nyaris terkesan ketus.

Orang ini mengerinyitkan kening, agak aneh juga dia bertanya begitu ingin tahu. Lalu ia menghela nafas. “Sebab kami saling menghargai. Beliau tahu siapa aku, tapi dia pura-pura tak tahu menahu latar belakangku. Tapi kalau aku, benar-benar tak tahu siapa dia, yang kutahu, dia adalah lelaki sejati, dialah pimpinan kami. Tak kuragukan lagi, aku siap berkorban nyawa untuknya.”

Si mata beku belum bertanya lagi, tapi di menyadari ada satu kejanggalan. “Pimpinan? Kami?” ujarnya bertanya.

Merasa telah kelepasan omong, si jangkung diam saja.

“Dia pimpinan dari apa?”

Si Jangkung diam.

“Jawab!” sang adik membentak tawanannya.

Sang kakak menekan bahu sang adik, “Tidak usah kau paksa dia. Pada saatnya dia akan mengatakannya pada kita…” lalu si mata beku memberi isyarat pada si jangkung untuk pergi.

“Kau biarkan dia pergi?” Tanya adiknya.

“Ya…”

Sekalipun dirinya adalah seorang bawahan, tapi si jangkung punya harga diri, sebelum berlalu, dia menoleh seraya berkata. “Untuk kalian ketahui… aku tidak akan mengatakan keterangan apapun padamu. Sekalipun aku tidak tahu siapa kalian, beliau pasti tahu. Cepat atau lambat, apapun kalian ini kita akan bersua lagi, percayalah. Dan saat itu kalian akan tahu… dengan siapa kalian berhadapan.”

Si mata beku tak berkomentar, dia hanya mengibaskan tangan supaya orang itu cepat berlalu. Setelah si jangkung pergi, adiknya bertanya.

“Kakang akan mengikutinya?”

“Tidak. Aku percaya kata-katanya, suatu saat kita memang akan bertemu dengan majikannya. Entah kapan, tapi hal itu pasti terjadi.” Setelah berkata seperti itu ia juga pergi meninggalkan adiknya. Tinggal orang ini sendiri yang tertegun diam, dan dia pun pergi ke arah yang berlawanan dengan kakangnya.

Sudah jelas maksudnya, dia menguntit si jangkung. Tapi berhubung harga diri yang mentasbihkan dirinya sebagai seorang pimpinan, dia mengutus anak buahnya lebih dulu untuk memata-matai keadaan. Tinggal dirinya mengikuti tanda yang ditinggalkan untuknya.

***

Si Jangkung berjalan tanpa tergesa. Memangnya dia tidak takut kalau ditangkap lagi? Kalau dijawab sejujurnya, tentu saja dirinya khawatir. Tapi dia melogika peristiwa tadi; sebagai seorang pimpinan besar, orang yang tadi menangkapnya, tidak bakal kembali menangkap untuk kedua kalinya. Tentu saja harga diri yang mencegah itu. Jika dia melakukannya, sama saja menjilat ludah sendiri, ih, apa enaknya?

Dia mengira-ngira saat itu masih empat jam menjelang tengah hari—sekitar jam delapan pagi, masih sekitar satu jam lagi baru dirinya akan menjumpai majikannya.

“Lebih baik aku memulihkan kondisi di sini saja.” Gumamnya sambil duduk di bawah pohon randu. Sekali pun dia tak tahu apakah dirinya dikuntit atau tidak, si jangkung tetap memasang kewaspadaan. Bisa jadi, kali ini bukan orang yang sama, membuat repot dirinya. Mungkin saja, malah pihak yang dia ganggu tadi malam.

Ah, perduli amat! pikirnya masa bodoh. Kalau kalian mau menangkap diriku, paling tidak harus merasakan seluruh peledakku. Memangnya aku cuma punya bola asap?

Tak terasa satu jam sudah berlalu, si jangkung bergegas. Seperti segumpal asap saja, dia melejit kearah timur. Tanpa dia sadari, beberapa sosok tubuh juga ikut melejit ke arah timur.

Hanya memerlukan waktu seperempat jam saja, si jangkung sudah berdiri di tepi sungai batu. Beberapa saat yang lalu, tuannya memberi tanda supaya ia menuju sungai batu. Orang ini termangu, karena yang ditunggu belum muncul juga, merasa ada yang aneh dia hendak tinggalkan tempat, namun tiba-tiba dia melihat tiga daun hijau hanyut terbawa air. Bagi orang lain, daun-daun itu tak berarti apa-apa, tapi bagi si jangkung itulah tanda dari sang majikan. Bukankah aneh, daun yang masih hijau bisa hanyut, terkecuali kalau daun itu sengaja dihanyutkan, artinya sengaja dipetik.

Si Jangkung tersenyum melihat daun itu, tak banyak berpikir lagi, dia melesat ke hulu—sumber air sungai batu. Dari kejauhan, lamat-lamat terlihat sosok tubuh.
Makin dekat, sayup-sayup terdengar alunan suara seruling. Makin dekat lagi, sudah terlihat orang berpakaian biru duduk di batu besar di tengah gemercik air sungai. Orang berpakaian biru itu duduk menghadap titik-titik air yang jatuh dari sela-sela batu dan akar.

Si Jangkung tersenyum, dia lega bisa menemui sang majikan. Entah mengapa, bila dia bertemu dengan sang majikan, hatinya terasa senang. Seperti mendapat kehormatan bila bisa berjumpa dengan lelaki—yang sebenarnya jika dilihat dari umur—lebih pantas sebagai anaknya.

Ia duduk mengambil tempat di tepi sungai, sambil menikmati suara seruling. Nada itu bukan nada lagu yang sengaja dicipta, tapi nada itu tercipta karena penghayatan pada alam. Dia tahu, sang majikan sedang menuangkan rasa kagum lantaran titik mata air.

Dulu dia pernah bertanya, ‘kenapa tuan selalu mudah merasa kagum?’

Jawabannya sangat sederhana, ‘sebab rasa itu membuat kita jauh dari sombong’. Memang sederhana, tapi rasakan maknanya. Itulah penghayatan rasa ke-Tuhan-an.
Seperti telah mengetahui kehadiran orang, suara seruling itu berhenti. Lelaki muda itu memutar badannya.

“Sudah lama paman?” tanyanya dengan senyum menghias bibirnya. Si Jangkung menggeleng.

Salah satu dari sekian banyak hal yang dikagumi olehnya adalah, bahwasannya sang majikan sendiri selalu membahasakan siapa saja, yang usianya lebih tua dengan sebutan menghormat. Padahal mereka adalah bawahan, yang selalu siap mengorbankan jiwa raga untuk membela lelaki muda itu.

“Ada kabar apa?”

Si Jangkung hendak segera melaporkan, tapi lelaki ini mengangkat tangannya, sebagai tanda supaya ia tak melanjutkan laporannya. Jari jemarinya bergerak cepat menotok beberapa titik darah di dada dan lengan.

“Bagaimana?”

Si Jangkung mengatur nafas sebentar, wajahnya yang semula agak pucat sudah sedikit memerah dan akhirnya diapun merasa lega, luka yang dideritanya benar-benar nyaris hilang seluruhnya. Walaupun dia sanggup menyembuhkan sendiri, tapi memakan waktu banyak.

“Terima kasih, luka saya sudah sembuh…” katanya, dan dia kembali hendak meneruskan laporan. Tapi lagi-lagi lelaki itu mengangkat tangannya, tak membiarkan dia bicara lebih lanjut.

“Sebentar, kita kedatangan tamu, bukankah lebih baik paman persilahkan mereka?”

Si Jangkung terkejut, tapi dia sadar kalau perjalanannya pasti sudah dia kuntit oleh kaki tangan ‘si tuan entah siapa’.

—ooOoo—

59 – Juragan-Hartawan Anityapura (Tak Kenal Maaf)

Terdengar gelak tawa membahana. “Tak usah kau persilahkan, aku memang sudah kepingin keluar dari tadi.” Bersamaan habisnya suara, melesat dua sosok tubuh. Si Jangkung makin terkejut karena salah satu dari mereka memanggul sosok tubuh. Dan dia makin terkejut, ketika orang itu menurunkannya.

“Ah.. dia.” Serunya kaget.

Lelaki muda ini mengerutkan kening melihat reaksi si jangkung. Dia menatap orang yang menggelosoh lemas di dekat batu, wajahnya kembali seperti biasa. Agaknya dia sudah bisa meraba apa yang terjadi.

Ia memperhatikan dua lelaki yang baru saja menampakkan diri, mereka berusia sekitar lima puluhan, mungkin lebih, tapi lantaran mereka kelihatannya sering tertawa, wajahnya kelihatan lebih muda dari seharusnya. Tubuh mereka juga tidak istimewa, berpotongan tinggi sedang, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus, yang bisa diperhatikan lebih detail adalah sorot mata mereka yang berkesan menyelidik dan waspada.

Sambil sedikit membungkuk hormat, pemuda ini berkata. “Selamat berjumpa. Sebelumnya kuucapkan Terima kasih, tuan-tuan mau bersusah payah membalaskan kedongkolan hati temanku.”

Senyum yang masih terulas di bibir mereka, segera membeku. Sungguh tak sangka, pemuda itu tahu orang yang mereka bawa adalah si penghadang yang sempat bertarung dengan si jangkung. Padahal mereka yakin kalau si jangkung belum menceritakan apa-apa. Dan mereka lebih yakin kalau pemuda itu sama sekali tidak ada di tempat kejadian.

Karena keduanya tanpa sengaja mengikuti kejadian yang menarik, maka mereka memutuskan untuk mengikutinya terus. Dan dasarnya mereka adalah orang-orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain, lelaki yang berperan sebagai penguntit pun mereka sikat, sesaat sebelum mendekati tempat yang dituju.

“Ada keperluan apa tuan-tuan menemuiku?”

Sekali lagi mereka diam terpaku. Keduanya bahkan tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka datang ke situ, mungkin hanya rasa tertarik, itu saja. Tapi, kini persoalannya tidak sesederhana itu, padahal mereka hanya menampilkan diri, dan pemuda itu bisa menebak empat langkah ke depan.

Sekali pun itu bukan tantangan, tapi ego sebagai orang yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, membuat keduanya jadi merasa tertantang untuk menguji si pemuda.

Mereka saling pandang sejenak, “Kami datang untuk melihat-lihat saja, apa tidak boleh?”

Pemuda ini tersenyum tipis. “Silahkan, tidak ada yang melarang.” Lalu dia melompati batu-batuan kali, gerakan lompatannya tidak ada yang istimewa, seperti orang awam. Dua orang itu melihat dengan kening berkerut.

Si jangkung sudah melompat lebih dahulu ke seberang sungai, ia mengambil tempat yang enak. Setelah berada di depan si jangkung, pemuda ini pun segera duduk di depan anak buahnya.

“Jadi apa yang membuatmu jadi kelihatan serba salah begini paman?” Tanya pemuda ini tak menghiraukan adanya dua pendatang itu.

Sedikit banyak si jangkung sudah tahu adat pemuda di depannya, dia juga segera duduk.

“Ada banyak hal…” orang ini menoleh ke arah dua pendatang itu.

Jaka tahu maksudnya, “Tak usah paman cemaskan, mereka tidak punya kepentingan dengan kita. Teruskan ceritamu paman.”

Tapi si jangkung tetap saja merasa gelisah, sekalipun tuannya merasa tak apa-apa, menurutnya urusan yang akan dibicarakan ini termasuk rahasia.

“Begini…” tapi ia masih merasa ragu.

“Tak apa, lanjutkan saja.”

“Kejadian sore kemarin rupanya ada yang tahu, dan mereka tertarik dengan bekal yang tuan berikan pada saya.” Sungguh pintar si jangkung menyingkat laporan, dengan demikian sekalipun ada orang yang mendengarkan juga tak tahu apa-apa.

Jaka manggut-manggut, dia paham apa yang dimaksud bekal, tak lain adalah bola asap.

“Tidak apa-apa. Aku tahu cepat atau lambat, pasti ada yang tahu. Ada hal lain?”

“Angin baru, saya kira badai…” sahut si jangkung dengan nada prihatin.

“Oh…” pemuda ini mendesah, entah kaget atau merasa senang. Senang?

“Sesudah atau sebelum?”

Pertanyaan Jaka jika didengarkan, tidak ada kaitannya sama sekali, tapi si jangkung tahu maksudnya, pasti maksudnya sesudah kejadian pengintaiannya atau sebelum.

“Sesudah… tak berapa lama.”

Jaka menghela nafas panjang, dia paham maksud ‘tak berapa lama’, berarti orang itu yang bertanya tentang bola asap. “Kadang-kadang untuk mewujudkan cita-cita selalu ada rintangan. Kau paham paman, cepat atau lambat sesuatu yang seharusnya ada pasti akan muncul di depan kita.”

Orang ini manggut-manggut. “Kau benar.” Gumamnya pula.

“Dan itu pula yang menjadi faktor penentu keberhasilan.”

“Benar, makin berat rintangan, makin terlihat seberapa besar usaha yang dirintis.” Sambung Si Jangkung, diiyakan oleh Jaka.

“Hei anak muda!” salah satu dari dua pendatang tadi menyela.

Jaka berdiri, “Ada yang bisa kubantu tuan?” sahut Jaka ramah.

“Mau kau apakan orang ini?” keduanya menunjuk orang yang menggelosoh tertotok.

Jaka menghampiri orang itu, ia membungkuk sedikit, lalu menepuk perlahan bahunya. Dan totokannya terbebas.

Dua lelaki yang tadi membawa orang itu terkejut sekali melihat cara Jaka memunahkan totokan. Tak banyak orang yang bisa memunahkan totokan yang tak diketahui letaknya hanya dengan sembarang menepuk bagian tubuh untuk memunahkannya.

Orang yang menguasai hal seperti itu kebanyakan adalah tokoh sesepuh. Dan mereka menyaksikan sendiri pemuda yang usianya baru duapuluh-an, bisa melakukan yang seharusnya hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu.

“Sebaiknya kau dan teman-temanmu pergi, kelihatannya kehadiranmu di sini tidak diinginkan banyak orang. Sampaikan pada atasanmu apa yang kau lihat, dan suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya.”

Orang yang menantang si jangkung tadi, menatap Jaka beberapa lama, ada rasa terkejut di raut wajahnya. Entah dia terkejut karena ucapan Jaka, atau lantaran saat dia duduk lemas karena tertotok, serasa bayangan pemuda itu melingkupi seluruh dirinya. Dia pikir, mungkin lantaran dirinya dalam keadaan duduk. Dan saat dia berdiripun, dia melihat pemuda itu lebih besar dari pikirannya, padahal perawakannya biasa saja. Dicobanya menatap mata pemuda itu. Sorot mata yang hangat dan bersahabat itu tak sanggup ditatap lebih lama, sama seperti saat dia menatap kakak majikannya, ia pun tak sanggup menatap lama..

“Baik. Akan saya sampaikan apa yang saya lihat,” ujarnya beberapa saat kemudian, lalu ia menjura dan pergi begitu saja.

Menatap punggung orang itu, Jaka menghela nafas. Entah karena lega, atau gundah.

“Dia datang dengan kawannya?” ujar si jangkung bingung, sebab dia tidak melihat satu pun dari orang yang dimaksudkan Jaka.

Jaka mengangguk. “Dia datang dengan tiga orang kawannya. Mereka bergerak pada arah yang berbeda… dan sekarang mereka sudah pergi.”

Jaka mengangguk pada dua orang itu. “Terima kasih atas perhatian saudara tadi.”

Keduanya balas mengangguk. “Kau tadi mengatakan apakah ada yang bisa kau bantu untuk kami?”

“Benar.”

“Apa ucapanmu masih berlaku sampai sekarang?”

Jaka mengangguk.

Keduanya tertawa lebar. “Jujur saja, entah sampai kapan kami bisa bertemu orang sepertimu. Karena itu aku dan kawanku ini ingin menguji kebolehan masing-masing.”

“Bertanding?”

“Benar. Lebih tepatnya lagi bertarung.”

Jaka mengangkat satu alisnya. “Baik, kalau itu yang saudara berdua inginkan.”

“Tapi aku khawatir engkau tak mau meluluskan permintaan kami…”

“Ah…” mendadak saja si jangkung mendesah kaget, rupanya dia teringat sesuatu.

Jaka menoleh, “Ada apa?”

“Aku ingat siapa mereka!” serunya masih dengan suara tegang.

“Ya?”

“Mereka adalah Juragan-Hartawan Anityapura (tak kenal maaf)! Mereka…” Jaka mengangkat tangannya.

“Aku mengerti, tak perlu kawatir.”

Dua orang itu tertawa lebar. “Kelihatannya kawanmu itu tahu siapa kami anak muda.”

“Aku pun tahu…”

“Ah, jadi tidak enak kalau kau tahu kami, sedangkan kami tidak tahu dirimu.”

“Namaku Jaka Bayu.”

“Aku Pratihata, dan kawanku ini Apratima.” Sahut orang yang berpakaian hijau muda, menunjuk temannya yang berpakaian biru tua.

Jaka tersenyum, sungguh cocok nama mereka dengan julukannya, yang satu, pemberani (Pratihata), dan satunya, tak ada lawan (Apratima).

“Aku sudah mendengar julukan sudara berdua. Konon kalau bertarung, selalu bertaruh dengan lawannya. Dan selama ini selalu memenangkan pertaruhan.”

Keduanya tertawa bersamaan. “Syukurlah kau tahu maksud kami. Kami ingin bertaruh, jika kau kalah, kau punya dua hutang pada kami. Suatu saat kami bisa menagihnya, apa pun permintaannya.”

Jaka mengangguk sambil tersenyum. “Baik aku menerima.”

“Kau sendiri, apa taruhanmu?”

Jaka menggeleng. “Tidak perlu. Bagiku, kita hanya bertanding.” Ujarnya kalem.

Jawaban pemuda ini bagai tamparan untuk mereka. Artinya, jika Jaka memenangkan pertarungan, mereka yang sudah malang-melintang di dunia persilatan sama sekali tak terpandang olehnya? Karena pemuda ini menolak untuk bertaruh. Dengan demikian, bukankah Jaka menganggap remeh mereka?

“Baik, kalau itu keputusanmu. Tapi kau jangan menyesal!” ujar Pratihata.

“Tidak. Silahkan memulai, jangan sungkan.”

Baru saja Jaka berkata ‘jangan sungkan’, Pratihata sudah melompat ke depan dan menghantamkan satu pukulan lurus. Pukulan sederhana. Jaka menyadari saat itu juga, nama orang itu memang tidak salah. Pukulannya sederhana, tapi kesannya sangat berani sesuai namanya. Deruan angin dan deburan pukulan lurus itu sungguh menggoncang hati. Gerakan sederhana tanpa perubahan justru lebih menakutkan dari gerakan yang meliuk-liuk dengan tipu daya. Gerak tanpa perubahan, justru merupakan perubahan itu sendiri. Satu dalil sederhana ini pernah dipahami Jaka.

Tapi Jaka adalah Jaka, jika anak buahnya menganggap dia tak pernah beradu kekerasan, maka saat ini adalah keberuntungan bagi siapa yang dapat melihat langsung.

Pukulan lurus itu bukan dihindarinya, tapi dihadapi dengan jantan. Bahkan terlalu jantan! Jaka menyorongkan kepalannya untuk menangkis pukulan itu.

Dalam waktu sepersekian detik Pratihata terkesip kaget, tapi waktu sesaat itu bisa dimanfaatkan Jaka untuk berkelit ke samping, gerakannya sangat cepat. Bahkan lebih cepat dari gerakan terjangan Pratihata sendiri.

“Hei!” mendadak saja Pratihata sadar kalau Jaka tidak menyerang dirinya, tapi pemuda ini berkelit untuk melompat ke samping… dan menyerang Apratima!

“Gila!” desis orang itu mengelak mundur dengan gerakan tak kalah cepat pula. Saat orang itu bergerak mundur, Jaka juga bergerak makin cepat! Tapi dia bukannya memburu Apratima, melainkan berbalik menyongsong Pratihata yang juga sedang memburu dirinya. Kepalan pemuda ini menderu kencang. Hakikatnya tidak ada deruan pukulan dengan suara berdebur sekeras itu.

Brrrt! Terdengar suara kain sobek.

Gerakan kedua orang itu kelewat cepat, si jangkung yang mengikuti pertatungan itu pun dibuat terkesima oleh gerakan sang tuan. Dia hanya melihat keduanya saling berpapasan dalam sedetik dan terpisah saat itu juga.

Selama dia mengikuti Jaka, baru kali ini dia tahu tuannya bergerak lebih dulu, menyerang lebih dulu, dan mengambil inisiatif menteror psikis lawan lebih dulu! Sebab biasanya pemuda itu selalu mengandalkan olah langkahnya yang ajaib. Olah langkah yang sejauh ini belum mendapat tandingan.

Kini keduanya saling membelakangi. Wajah Pratihata kelihatan lebih tua sepuluh tahun. Si Jangkung mencari-cari apa yang terjadi pada Pratihata. Oh, rupanya kain di bagian dadanya sobek! Jika sobek sedikit, tak mengherankan, tapi ini lain! Sobekannya aneh… kain itu seperti disayat ke samping atas, sehingga pakaian Pratihata dari bagian dada sampai bahu, terkoyak lebar.

“Jurus apa yang kau gunakan?” Tanya orang itu pada Jaka.

Pemuda ini membalikkan tubuh, bertepatan dengan Pratihata membalikannya pula.
Jaka tersenyum. “Jika saudara mengira itu jurus, maka, aku harus menganggap serangan pertama saudara apa? Kita adalah sama—aku, juga engkau—tak mengeluarkan satu jurus pun, kita hanya bergerak mengikuti naluri. Aku hanya meniru gerakanmu yang berani.”

Orang itu termangu-mangu. “Hh…” desahnya tertahan. “Kelihatannya yang pemberani bukan cuma aku, tapi kau pun lebih berani daripada aku.”

Jaka membungkuk memberi hormat. Ia tak mengatakan apa-apa. Sebab memang dia tak perlu mengatakannya.

Kalau lawannya mengakui keunggulan dirinya apakah dia harus menghiburnya? Tidak! Hal itu malah bisa dianggap penghinaan bagi Pratihata. Karena itu Jaka diam saja.

Mula-mula si jangkung merasa heran dengan tindakan Jaka dan ucapan lawan majikannya. Setelah meneliti sobekan baju orang itu lebih seksama, barulah dia sadar apa yang terjadi.

Rupanya, saat pukulan Jaka hendak mengenai dada lawannya, dengan gerakan lebih cepat dari pukulan yang dilancarkan, Jaka merubah gerakkannya, dan menarik kesamping. Si jangkung tahu, kalau kepalan tuannya tak bakal membuat sayatan di baju seperti sayatan pedang. Justru lantaran gerakan tangan Jaka terlampau cepat, maka angin pukulan yang melewati baju Pratihata bagai sebilah sayatan pedang. Coba bayangkan, baru angin pukulan saja sudah setajam itu, bagaimana kalau hantaman itu tak dibelokkan Jaka?

Pratihata tak perlu banyak berpikir untuk mengetahui dirinya kalah, dia sudah cukup bijak untuk mengakuinya, walau samar. Sebab meskipun dia masih punya nyali untuk meneruskan pertandingan, tubuhnya sudah tak memungkinkan bergerak secepat tadi. Karena sampai saat ini dia masih gemetar. Ya, itulah rasa gentar yang pertama kali dia alami.

Apratima maju mendekati Jaka. “Kau tahu arti namaku?”

Jaka mengangguk.

“Sampai saat ini akupun masih tetap Apratima.”

“Aku paham.”

Baru habis ucapan Jaka, secepat kilat lelaki itu menerjang Jaka dengan gerakan sulit dipercaya. Laksana sambaran petir kakinya menendang selangkangan, dan secepat itu pula tangan kiri menghamburkan sesuatu, benda berkerlip menyambar cepat ke arah muka Jaka.

Jarak mereka hanya satu setengah meter, tapi serangan itu datang begitu cepat, hakikatnya siapa pun yang menerima serangan ini tak mungkin mengelak. Begitu pula dengan Jaka.

—ooOoo—

60 – Mengelola Informasi Terkini

Dia sadar serangan itu bukannya sebuah jurus, melainkan pengalaman puluhan tahun mempertahankan nyawa di medan laga. Jaka merapatkan lutut.

Duuk!

Kaki orang itu berbenturan dengan kedua lututnya. Dalam tempo seperseribu detik, sebuah benda sudah ada di depan matanya. Sesaat sebelum mengenai, Jaka merendahkan kepalanya.

Crap! Crap!

Suasana hening mencekam, detik itu juga kedua belah pihak tidak bergerak. Si jangkung menatap majikannya dengan cemas.

Keadaan akhir kedua orang itu sangat menarik. Kalau Apratima dalam keadaan melangkah, maka Jaka sedang dalam kondisi dua lutut setengah menekuk dan kepala tertunduk. Tapi pelan-pelan dia berdiri kembali dengan tegap. Kepalanya juga sudah tidak tertunduk lagi.

Si jangkung melongo melihat di dahi tuannya tertancap dua buah jarum. “Biadab!” serunya geram. Dengan loncatan panjang, dia sudah ada di depan Apratima, kelihatannya orang ini sudah bersiap mengadu jiwa.

“Tahan, paman…” seru Jaka.

“Mengapa harus dibiarkan?” desis orang ini dengan kemarahan tak bisa ditutupi. Tapi dia pun heran, Jaka masih sanggup bersuara dengan dahi tertancap jarum.

Jaka tidak menyahut, sebab dia tetap memandangi Apratima, dan si jangkung juga memandangi orang itu. Kondisi lelaki itu masih saja tetap dalam keadan seperti sedang melangkah. Mendadak saja dia jatuh terduduk.

“Bukankah tuan tidak menyerangnya?” Tanya si jangkung terheran-heran.

Jaka hanya tersenyum, ia hendak menyahut…

“Lantaran tangkisan lututnya sangat keras, itupun sama saja dengan serangan.” Jelas Pratihata mendahului.

Jaka tak mengomentari ucapan orang itu, hanya saja si jangkung-pun sekarang paham. Dia paham satu teori baru, bahwa; jika tangkisan lebih kuat dari serangan lawan, itu sama saja dengan serangan. Sederhana, tapi jika kau melihat dan mengalaminya sendiri; artinya apa yang kau dengar, sudah kau pahami. Sebuah teori ilmu sehebat apapun, tidak akan berguna jika kau menggunakan pada saat yang salah. Sebuah ilmu atau teori baru bisa dikatakan berguna, jika kau tahu caranya, dan pada saat yang tepat kau menggunakannya.

Apratima beringsut berdiri, wajahnya berkerut-kerut menahan sakit. “Sekali pun pergelangan kakiku patah, kau pun tak luput dari maut…” desis orang itu dengan mata melotot menatap Jaka.

Jaka tahu apa maksud orang itu, dia mengangsurkan tangannya ke depan. Saat itu juga seluruh tubuh Apratima gemetar, dia seperti melihat hal paling mengagetkan seumur hidupnya. Wajahnya bagai tak dialiri darah lagi, dia pun menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Mendadak dia tertawa keras, kedengarannya ada yang lucu, tapi orang yang mendengarkannya tak merasa lucu, bahkan prihatin. Lalu, ia menghela nafas getir. “Kelihatannya hari ini Apratima sudah tidak Apratima lagi.” Gumamnya lesu.

Memangnya apa yang diperlihatkan Jaka? Oh… ternyata kutungan jarum yang menyerang mata Jaka. Tapi bagaimana jarum itu bisa di tangan Jaka, bukankah jarum itu masih tertancap di dahi?

Saat Apratima menghampirinya, kedua tangannya terkepal kencang, tapi tangan kirinya tidak begitu kencang mengepal. Saat itu juga Jaka sudah merasa curiga. Dan saat Apratima mengibaskan tangan, Jaka sudah tahu bahwa sesuatu mengincar keselamatan jiwanya. Dengan gerakan mendahului kibasan tangan Apratima, Jaka sudah mengibaskan dulu lengan bajunya. Angin lengan bajunya berdesing sangat kuat sehingga saat itu juga ujung kedua jarum rahasia patah sebelum mengenainya. Dan dengan gerakan cepat pula, Jaka sudah menangkap kutungan jarum.
Saat kutungan jarum itu mengenai dahi, tenaganya sudah berkurang sangat banyak. Sehingga Jaka terpaksa harus mengernyitkan dahinya, supaya jarum itu terlihat ‘menancap’… alias, jarum itu terjepit lantaran kening Jaka berkerut.

Si jangkung menatap kutungan jarum di telapak tangan majikannya dengan terpesona. Sampai saat ini, dia dan kawan-kawannya yang lain, tidak tahu seberapa hebat tuannya, sebab dia jarang bertindak, sekali pun pernah, jarang yang menyaksikannya. Kini dia merasa sangat beruntung bisa melihat kejadian langka itu.

Dan kali ini dia percaya penuh dengan ucapan Si Arwah Pedang—salah seorang kepercayaan Jaka—bahwa mencari orang hebat, sakti, jenius itu mungkin tak sulit, tapi mencari orang seperti tuan kita, jangan harap engkau bisa melihatnya kecuali engkau menatap orang yang bernama Jaka Bayu itu sendiri, begitu ucap Si Arwah Pedang.

Kesan si jangkung melihat pertarungan itu tadi adalah gabungan dari kecerdasan—lantaran berpikir cepat dengan mematahkan jarum rahasia, ketenangan—karena bisa menghindari serangan total frontal dari Pratihata, dan kebijakan—disebabkan dia tak bertindak sembarangan. Namun jika menyimak pertarungan tadi, dia mengambil kesimpulan bahwa itulah pertarungan tersingkat, dan sangat mendebarkan yang pernah ia lihat.

“Kita pergi paman,” Jaka berucap lembut menyadarkan keterpanaan si jangkung.

“Baik.” Ia tak bertanya kenapa Jaka tidak berbicara sepatah katapun kepada kedua lawannya. Sebab dia menyadari kalau keduanya butuh ketenangan untuk memikirkan segala tindakan mereka yang ceroboh. Dan tuannya memberikan kesempatan itu.

Dia memang selalu memberikan kesempatan, pikir si jangkung dengan kagum. Mereka melangkah pergi, tapi baru beberapa tindak..

“Tunggu dulu!”

Jaka membalikkan badan. “Ya, ada yang bisa saya bantu?”

Si jangkung yang meyaksikan tuannya dari samping, diam-diam tersenyum bangga. Memang beginilah sikapnya pada tiap orang, sekalipun kau mencela, mengejek, bahkan menyakitinya, dia tak akan membalas kecuali dengan sikap baik.

“Kami kalah! Apa maumu kini?” Tanya Apratima dengan mengatupkan rahangnya.

Jaka mengeleng sambil menghirup nafas dalam. “Sudah saya bilang sejak semula kita hanya bertanding, tidak ada taruhan.”

“Apa pun yang kau ucapkan, peraturan, tetap peraturan. Kami menghendaki engkau menerima dua permintaan kami jika kau kalah. Tapi karena kami kalah, maka kau punya dua permintaan pada kami. Apa pun permintaanmu, pasti kami luluskan!” ucap Pratihata.

Jaka termenung sesaat. Orang-orang macam mereka, jika keinginan mereka tak diluluskan, bila orang tahu, mungkin hanya penghinaan yang akan mereka terima. “Saudara berdua tidak menyesal dengan permintaan itu?”

Keduanya menggeleng, ada sebersit kehampaan di wajah mereka.

“Oo, inilah ego karena nama besar.” Gumam Jaka merasa menyesal. Si jangkung diam mendengar ucapan tuannya. “Kalau begitu, permintaan saya yang pertama, hilangkan kebiasaan bertaruh.”

Mata keduanya melotot!

“Apa kau gila? Kau bercanda?” seru mereka serentak.

Jaka menggeleng. “Kupikir itu demi kebaikan semata. Jika aku meminta supaya… maaf, supaya kalian mau menirukan tingkah bintang selama setahun, apakah akan dilakukan? Apakah itu keinginan kalian demi memuaskan ego, ‘tak pernah ingkari taruhan, tak pernah kalah taruhan’?”

Dua lelaki paruh baya itu mendengar ucapan Jaka dengan wajah merah padam. Memang, jika pemuda itu meminta demikian, apakah mereka harus mengabulkan? Mereka pikir, lebih baik memenggal leher, dari pada hidup terhina—jika itu terjadi.

“Hanya itu?” ujar Apratima serak.

Jaka mengangguk. “Jika itu sudah cukup memuaskan saudara berdua, bahwa saya sudah memenuhi taruhan yang terakhir ini.”

“Tapi masih ada satu permintaan lagi…” desak Pratihata.

“Akan saya pikirkan. Permisi…” Jaka melangkah pergi disertai si jangkung yang mengekor di belakang.

Gemercik air terdengar indah, dua lelaki itu saling pandang. Mereka sama-sama menghela nafas.

“Ya, baru sekarang aku merasa lega. Ternyata kalah juga ada enak…” gumam Pratihata memecah keheningan.

Apratima mengangguk, “Aku tak menyesal kalah dari orang macam dia.”

“Orang itu… biarpun sengaja kita cari, juga sulit didapat. Aku tak menyesal.” Sahut Pratihata.

“Ya, mulai sekarang tidak ada lagi Juragan-Hartawan Anityapura.”

Pratihata tertawa. “Benar, dipandang dari manapun kita dulu memang hanya seorang juragan. Tidak ada tanpa maaf segala (anityapura)!”

“Ya, ya… sekalipun aku menyesal, tapi tak ada waktu untuk membalas, tak ada kesempatan untuk menebus kekalahan.”

“Ah, kelihatannya aku sudah terlalu tua.” Gumam Pratihata. “Kupikir sudah saatnya aku lebih memikirkan keluargaku.”

“Kau benar.”

Pratihata meraih pergelangan kaki kawannya. “Ehm, kupikir kakimu patah lantaran beradu, tapi ini hanya cedera urat saja.”

“Ya, dia sengaja membatasi tenaga benturan.”

Lelaki ini mengurut kaki kawannya beberapa saat. “Masih sakit?”

Apratima berdiri, dia berjalan bolak-balik. “Tidak, terima kasih.”

Pratihata hanya tertawa, dia menepuk bahu sahabatnya. “Ayo kita pergi.” Keduanya melangkah meninggalkan tempat itu. Kalau kedatangan mereka secepat kilat, pulangnya mereka berjalan perlahan, seperti sedang menikmati keindahan pinggir sungai batu.
“Eh, aku punya pikiran aneh…” ujar Pratahita, di sela-sela desau angin pagi. “… bagaimana menurutmu?” Tanya pada Apratima.

“…baik sekali.” Sahut kawannya tak jelas, ditimpali dengan suara tawa pendek. Angin pagi berhembus makin kencang…

****

“Jadi begitu…” gumam Jaka setelah mendengar laporan lengkap.

“Saya kawatir kalau orang itu akan mengganggu rencana, tuan.”

Pemuda ini tertawa. “Paman ini bicara apa, justru kehadiran orang-orang seperti mereka, sangat membantu kita. Apa pun alasannya, mau tak mau pihak itu akan menggagalkan rencana besar di kota ini.”

Lelaki ini terdiam tak paham. “Kenapa bisa begitu?” gumamnya masih bingung. Jaka tidak menyahut, dia menatap si jangkung sekilas, lalu memandang jauh ke depan.

“Bagaimana keluarga paman?”

Orang ini heran mendengar pertanyaan tuannya tak sejalan dengan pembicaraan tadi. “Mereka baik-baik saja, anak-istriku selalu bersyukur masih bisa hidup saat ini. Kami merasa berterima…”

“Bukan itu yang kumaksudkan.”

“Lantas?”

“Aku menanyakan kabar keluarga paman, lantaran ingin mengingatkan satu hal pada paman.”

“Oh, maksud tuan karena perbuatan orang-orang itu? Orang-orang yang menyekap keluargaku dan keluarga saudara-saudaraku?”

“Benar. Paman Mintaraga, paman Ludira dan engkau sendiri paman Kaliagni, tentu sampai saat ini merasa dendam.”

“Benar.” Gumam si jangkung yang bernama Kaliagni. Beberapa bulan lalu, Kaliagni dan kedua saudaranya diselamatkan oleh kawan Jaka. Kondisi mereka saat itu sangat parah, beruntung Jaka dapat menyembuhkan mereka. Dalam waktu satu bulan, ketiganya sembuh—walau belum pulih benar. Dan lebih menggembirakan lagi, keluarga mereka yang disandera sudah kembali. Entah bagaimana cara Jaka membebaskan mereka. Karena merasa berterima kasih, ketiga bersaudara itu bersumpah mengabdi, menjadi pelayan atau apa saja untuk menebus budi.

Jaka keberatan, karena dia menolong memang sudah seharusnya. Tapi ketiganya ngotot, mereka bersama keluarga mereka bahkan meminta Jaka suka menerima pengabdian mereka. Dengan hati berat, Jaka menerimanya. Sejak saat itu hubungan mereka sudah seperti satu keluarga besar. Boleh dibilang dari sinilah Jaka memiliki koneksi luas di Kota Pagaruyung.

“Dendam boleh saja, tapi harus paman pikirkan, karena dendam banyak pihak tak bersalah akan jadi korban. Menurutku, lebih baik pihak yang berakal dan berbudi, yang lebih dulu memutuskan lingkaran dendam.”

“Tapi aku belum sanggup.”

Jaka tersenyum. “Itu wajar paman, belum sanggup artinya akan terus mencoba untuk sanggup, bukan begitu?”

Kaliagni menatap Jaka. Pandangan mata pemuda ini terlalu lembut untuk ukuran orang yang memiliki kehebatan mengumpulkan ratusan orang. Kadang kala, dirinya merasa Jaka tidak cukup tegas, tapi sekarang dia paham, kenapa Jaka tak pernah bersuara keras pada rekan-rekannya, lantaran apa yang dilakukan, dan apa yang di ucapkan itu tak pernah berseberangan. Makanya, mereka mau mengerti.

“Ya…” sahutnya lirih.

“Aku bukannya menyuruh paman supaya mengasihi musuh, tidak begitu. Aku hanya tak ingin, keturunan paman menanggung dendam tak berkesudahan. Kalau saja paman pernah merasakan dendam begitu besar, begitu berdarah, begitu ingin membunuh, tapi paman melepaskan kesempatan itu semua, melepaskan keinginan nafsu kita. Paman akan menemui bahwa hidup ini lebih cerah, kita akan sadar kalau mentari bersinar selalu lebih cerah dari hari ke hari.” Jaka berkata sambil menatap sinar matahari di sela-sela pohon.

Kaliagni memandang wajah tuannya dari samping. Saat itu ia baru menyadari wajah Jaka terlihat berseri, seperti seri mentari menyinari bumi.

Tak satu orang pun tahu latar belakang pemuda ini. Tapi jika mendengar nasehatnya tadi, Kaliagni bisa mengambil kesimpulan, bahwa Jaka adalah orang yang membawa bara dendam begitu besar. Tapi dia sanggup melepaskannya, dia tak menghiraukan dendam itu. Sebab hanya orang yang pernah merasakan api kebencian dan dendamlah, yang bisa mengucapkan nasehat semacam itu.

Tanpa terasa mata Kaliagni terasa hangat, ia mengerjap-kerjap lalu menyekanya dengan tak kentara.

“Ya, saya paham…” kali ini dia bersuara dengan mantap.

Jaka menatap sekilas lelaki itu. “Syukurlah.”

Hening sejenak.

“Sebenarnya, orang macam apa yang melumpuhkan paman?”

“Seumur hidup tak akan kulupa tatapan orang itu.”

“Aku tak bertanya rupanya, tapi bagaimana dia melumpuhkan paman.”

Kaliagni menggeleng-gelengkan kepala. “Hakikatnya satu jurus pun tak ada.”

“Saat itu, paman sedang berlari mengerahkan peringan tubuh?”

“Benar.”

“Kalau begitu kemunculan orang itu, sangat mendadak?”

“Ya, dia muncul di depanku seperti setan saja.”

“Dan karena kaget, paman segera menyerang?”

“Ya, aku menyerangnya dengan gerakan Gempuran Selaksa Tapak.”

“Saat itu juga paman merasa tubuh lunglai?”

“Benar sekali.”

“Baik, coba sekarang paman menyerangku seperti saat itu.”

Jaka melangkah bersembunyi di balik pohon, Kaliagni tahu maksud tuannya. Diapun berlari menjauh, setelah dirasa cukup jauh, dia segera mengembangkan peringan tubuhnya. Begitu kecepatannya mencapai titik maksimal, mendadak saja di depannya terlihat satu sosok bayangan. Sekalipun dia tahu kalau itu Jaka, tapi tak urung jantungnya berdetak keras. Tanpa sadar dia mengerahkan jurus Gempuran Selaksa Tapak. Detik itu dia melepaskan serangan, detik itu juga dia merasa lemas. Kaliagni jatuh menggelosoh, tapi sebelum menyentuh tanah, Jaka sudah menyambutnya. Pemuda ini segera membebaskan totokannya.

“Begitukah?” Tanya pemuda ini.

Kaliagni masih tercengang, mendengar pertanyaan Jaka segera dia mengangguk berulang kali. “Persis sekali tuan.”

Jaka diam termangu. “Kalau sedang berhadap-hadapan dengan orang itu, paman bisa menandingi berapa jurus?”

“Jika aku segera mengerahkan Cakar Darah Mayat, paling banter hanya belasan jurus.”

“Kalau tanpa ilmu itu?”

“Kurasa, hanya empat jurus, mungkin kurang dari itu.”

Jaka menggumam. “Ditilik dari gerakannya saja, dia memang tokoh yang hebat, benar-benar hebat.”

Kaliagni tertawa mendengar ucapan Jaka.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Kalau tuan bisa menirukannya, bukankah tuan lebih hebat lagi?”

“Sembarangan.” Gerutu Jaka.

Kaliagni masih tertawa, hatinya merasa kagum juga heran. Kagum, karena di usia semuda itu Jaka bisa menguasai begitu banyak pengetahuan. Heran; jika kehebatannya dipuji, dia selalu salah tingkah.

“Apa rencana kali ini tuan?”

Jaka menghela nafas. “Aku selalu merepotkan paman, tapi aku belum memberi satu pegangan berarti untuk berjaga-jaga.”

“Ah, jangan berkata begitu. Olah langkah dan bola asap yang tuan berikan sudah lebih dari cukup.”

Jaka mendesah. “Itu saja belum cukup, karena kusadari tugasmu kian bertambah berat, maka aku berniat menyempurnakan ilmu Cakar Darah Mayatmu paman.”

“Ah…” Kaliagni terkejut. “Ma-maksud tuan… tuan menguasai ilmu itu juga?”

Jaka menggeleng. “Tidak, aku pernah membaca teori semacam itu, dan hanya paham garis besar teorinya saja. Mungkin tambahan beberapa gerakan, dan satu kunci latihan hawa murni, bisa menambal keganasan ilmu paman.”

Kaliagni masih merasa heran. Dia heran, karena gurunya sendiri berkata, kalau ilmu itu adalah milik leluhur gurunya yang diturunkan secara turun temurun, tanpa pernah singgah kepada orang lain, bagaimana mungkin Jaka bisa memahami teorinya?

Padahal Jaka sendiri bukannya orang serba bisa. Dia bermaksud mengajarkan pernafasan murni tentu dengan banyak pertimbangan. Jika dia asal memberikannya, sama saja dengan menjerumuskan Kaliagni, sebab tiap orang memiliki aliran hawa murni tersendiri, jika aliran itu berbeda, bukankah sama dengan mencelakainya?

Jaka bermaksud memberikan tambahan olah hawa muni, karena dia tahu apa yang dikuasai Kaliagni makin lama makin berbahaya, semakin tinggi tingkatan Cakar Darah Mayat, selain ampuh, tapi semakin mematikan bagi penggunanya.

Mungkin bagi pendengaran Kaliagni, Jaka seperti paham dengan ilmunya. Dalam kenyataan tidaklah demikian, karena latar belakang Jaka adalah pengetahuan syaraf—pengobatan, maka dengan sendirinya Jaka tahu apakah latihan ‘nafas’ Kaliagni baik bagi tubuhnya. Jaka hanya ingin ‘menambah’ dan ‘meluruskan’ latihan hawa murni Kaliagni, pendek kata pemuda ini hanya mengecilkan resiko mempelajari ilmu itu. Tanpa mengetahui secara mendalam, mutlak bagi Jaka tak akan bisa merubah ‘prosedur’ latihan ilmu itu.

“Eh, aku.. aku merasa heran…”

“Paman pasti akan bertanya bagaimana aku tahu teori ilmu itu?” ujar Jaka dengan pandangan menerawang. Kaliagni mengangguk.

“Dulu aku pernah mendengar cara paman bertarung dari Paman Alih, kehebatan ilmu itu tak perlu kusangsikan. Hanya saja, aku melihat celah fatal dalam penghimpunan hawa sakti ilmu paman.”

“Saya juga menyadarinya.” Ujarnya terkejut, dia pikir hanya dengan mendengar saja sudah tahu kurang-lebihnya ilmu itu, bagaimana jika sudah benar-benar mengamatinya? Tentu saja Kaliagni tidak bakal menyangka bahwa kemampuan Jaka didapat dari hal paling dasar, sebuah sebab akibat dari denyut syaraf. Setiap pergerakan manusia, selalu membuka celah kuat dan lemah, dan itu dipahami Jaka, dengan sendirinya ilmu yang tidak terlampau rumit gerakannya, dengan mudah dapat diselami kelebihan dan kekurangan olah nafasnya.

“Kalau tak salah ilmu itu bisa juga disebut pamungkas hidup-mati?”

“Benar. Seandainyapun aku menang pertarungan dengan ilmu itu, kalau selamat, kondisinya juga sangat buruk. Kekurangan darah, banyak luka otot di sana sini.”

“Itulah yang kumaksud, semakin tinggi paman menguasainya, semakin beresiko. Mungkin latihan yang akan aku berikan nanti, bisa menyingkirkan penggunaan darah sebagai peningkat kekuatan secara drastis.”

“Tapi bagaimana mungkin hal yang paling penting dibuang, harap tuan ketahui ilmu Cakar Darah Mayat itu bertumpu pada penggandaan tenaga.”

“Aku paham, karena itu aku akan mengajarkan satu latihan khusus untuk meningkatkan tenaga, sama seperti pada ilmumu. Bedanya, latihan ini mungkin sedikit lebih baik, dari pada penggunaan darah sebagai penambah tenaga. Jika berhasil, paman tidak perlu mengalami cacat lantaran mengunakan ilmu Cakar Darah Mayat.”

“Oh…” Kaliagni terperangah. Jika saja yang bicara bukan Jaka, lebih baik dia menyingkir.

“Harus paman ketahui, latihan khusus yang akan paman pelajari, wajib rutin dilatih. Mungkin tak tertutup kemungkinan kekuatan ilmu itu jauh melebihi perkiraan paman.”

“Masa ada hal seperti itu?”

“Percayalah, latihan menggunakan pemusatan pikiran, untuk mengontak tenaga aliran darah, lebih bermanfaat ketimbang menghamburkan darah untuk membangkitkan tenaga.”

“Butuh berapa lama untuk membuat latihan itu memperlihatkan hasil?”

“Tergantung ketekunan paman.”

Kaliagni manggut-manggut.

“Lagipula, jika paman menggunakan ilmu itu pada orang yang melumpuhkan paman, aku yakin engkau akan mati lemas.”

“Hh…” lelaki ini menghela nafas getun.

“Pernah dengar pameo, ‘sehebat-hebatnya serangan, jika tidak kena, tak ada gunanya’?”

“Tentu saja pernah, bakul jamu-pun tahu pameo itu!” Seru Kaliani geli-geli dongkol.

“Coba bayangkan, sekalipun tenaga paman meningkat drastis, sepuluh atau seratus kali, jika seranganmu tak kena, bukankah sama dengan menghamburkan darah cuma-cuma?”

“Benar.”

“Aku tak tahu apa maksud diciptakan ilmu itu. Dengar-dengar ilmu itu sudah punah, dan kali ini pamanlah yang menguasai.”

“Ya, ilmu itu memang sudah punah. Karena kalau bukan keturunan langsung, tidak akan diajarkan.”

“Jadi paman keturunan langsung dari pencipta itu itu?”

“Bukan, keturunan terakhir adalah guruku. Tapi beliau tidak memiliki anak, untuk menghindari lenyapnya ilmu ini, maka diturunkanlah ilmu ini padaku. Sayangnya aku belum juga sempurna menyakininya.”

“Menurutku makin sempurna makin berbahaya.”

“Aku juga berpikir demikian tuan, tapi menurut guru, leluhur ketiga yang menciptakan ilmu ini sanggup menyempurnakan. Sehingga bukan saja kekuatan bisa meningkat dua puluh kali lipat, tapi darah yang digunakan pun, bukan darah sendiri, tapi darah musuh.”

Jaka menghela nafas. “Mengerikan.”

“Lalu, bagaimana dengan gurumu paman, apakah beliau juga sesempurna itu penguasaannya?”

“Entahlah, aku belum pernah melihat guru mengerahkan ilmu itu. Oh… kecuali waktu dulu beliau disatroni musuh besarnya, cuma ilmu Cakar Darah Mayatnya tak seseram yang kukeluarkan.”

Jaka tersenyum. “Kalau begitu, hasil dari yang akan dilatih, mungkin sama dengan milik beliau. Setelah tambahan olah nafas kuberikan, paman bisa bertukar pikiran dengan guru paman, siapa tahu beliau sanggup menambal kekurangan, dan mungkin saja membuat ilmu itu makin sempurna.”

Kaliagni mendengarkan penuh minat. “Kalau begitu ajarkan saya tuan.”

“Sayangnya tidak saat ini.”

Kaliagni paham, mengajarkan hal seperti itu bukanlah pekerjakan gampang.

“Kapan?”

“Nanti, saat pertemuan dengan seluruh ketua dan wakil, aku berniat memberi mereka sedikit masukan.”

Lelaki ini menatap Jaka dengan tatapan mata bingung, sungguh dia tak paham, sebenarnya Jaka itu orang macam apa.

Jika orang lain tak percaya bahwa Jaka adalah lelaki yang tak bisa melakukan hal-hal sulit, maka dia adalah orang pertama yang mempercayai bahwa Jaka sanggup. Sekalipun dia menjadi anak buah Jaka termasuk pada gelombang akhir, dari cerita yang dihimpun kawan-kawan yang lebih dulu masuk, dia bisa sedikit membayangkan bagaimana pribadi tuannya, dan sampai dimana kehebatannya.

Konon, tokoh yang bernama Kepalan Arhat Tujuh saja jadi pendukungnya. Para petinggi yang dibawahi Jaka langsung—sampai saat ini, dirinya hanya pernah berjumpa dengan tokoh bernama Arwah Pedang. Sebelum ia menjadi anak buah, orang-orang macam Arwah Pedang, Kepalan Arhat Tujuh, hanya pernah dia dengar namanya besarnya, tak terjangkau. Mereka adalah pentolan-pentolan di suatu wilayah, juga kepala rumah tangga sebuah perkampungan besar. Kepandaian mereka konon belum lagi ada tandingannya. Baru setelah bergabung dengan Jaka, tahulah dia bawa orang-orang yang dikabarkan belum ada tandingannya, pernah bertekuk lutut di depan Jaka. Begitu menurutnya.

“Apa rencana tuan sekarang?”

“Sebentar lagi aku harus menjumpai beberapa orang. Paman kembalilah.”

“Baik.” Kaliagni segera melesat pergi.

Jaka menatap langit. Alangkah birunya, pikirnya. Entah kenapa aku mau mengikat diri dengan semua urusan ini. Hh, bukankah bergerak dan bertindak bebas merdeka lebih menyenangkan? Sekalipun Jaka berpikir seperti itu berkali-kali, dia selalu memiliki jawabannya.

Jikalau engkau memiliki kekuatan, kekuasaan, gunakan semuanya dengan bijak untuk merubah keadaan sekitarmu jadi lebih baik. Dengan demikian hatimu bisa lebih lega, dengan melakukan tindakan yang sesuai kemampuan, dari pada kau bebas lepas dari semua urusan. Jika semua orang berpikir untuk lepas dari semua urusan, bersikap acuh tak acuh, apa jadinya dunia ini? Karena itu harus ada seorang aktor intelek yang harus bekerja keras membuat tatanan hidup baru yang lebih baik.

Dulu, saat dia mengira dengan begitu banyak pengetahuan yang dibaca, dia mengira pola berpikir bebas dengan menentukan aturannya sendiri adalah keberhasilan. Dan mungkin saja, kelak buah pikirannya merupakan salah satu karya besar. Tapi karena suatu kejadian, tak pernah lagi terpikir untuk hidup bebas, individualis, menganggap bahwa ‘aku yang terbaik’ tidak! Kini pikirannya sama sekali tak terbetik sedikit pun ke arah itu. Karena, manusia diciptakan untuk saling mengenal dan membantu. Teori sederhana itu, sudah lama dia baca, tapi baru beberapa tahun terakhir ini dia pahami dan resapi maknanya.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: