Seruling Sakti Jilid 61-65

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 61 Sampai 65

61 – Menjumpai Sobat Dari Sampar Angin

“Kupikir sekarang sudah tiba masanya…” pikir Jaka. Lalu dia melangkah menyusuri tepi sungai.

Tengah hari, dia punya janji dengan orang-orang dari Perguruan Sampar Angin. Sebenarnya Jaka enggan melakukan pekerjaan yang belum tentu ada manfaatnya, tapi diapun sadar, jika terlalu serius mengerjakan sesuatu, maka ‘kehangatan’ dari hasil karya tidak akan pernah muncul. Karena itu, ia kira apa salahnya mencari kawan sebanyak mungkin, bukankah lebih beruntung?

Tapi dia pun tahu, di dunia ini jarang ada kawan yang mau diajak menangis bersama. Sekalipun dia dikelilingi banyak orang yang menyanjung, mengagumi dirinya, dia tetap merasa kesepian. Sungguh, rasa sepi seperti itu bukanlah hal yang menyenangkan.

Sebab ada kalanya kita harus menyandarkan kepala untuk istirahat sejenak, dan sandaran terbaik yang diperoleh adalah kepercayaan. Tapi, sungguh tidak mudah mendapatkan sebuah kepercayaan, apa lagi orang yang dipercaya…

Jaka sampai ditempat yang sudah dijanjikan. Sekalipun waktu pertemuan masih sekitar satu jam lagi, tapi Jaka bisa memaklumi kalau mereka sudah datang.

Di tepi Sungai Batu, sekitar seratus meter dari simpang jalan setapak terdekat, ada dibuat gardu tak berdinding. Suasana di situ sungguh asri.

Pemandangan di depan membentang luas, di seberang Sungai Batu, masih ada aliran air dangkal lain yang dipisahkan delta (dataran tanah yang lebih tinggi dari permukaan air) yang cukup luas. Di seberang aliran sungai kedua masih ada lembah hijau nan landai. Terlihat disana ada beberapa orang tengah mengail ikan, menebang pohon yang sudah tua, ada juga yang tengah mengumpulkan kayu bakar.

Damar Kemangi dan Danu Tirta sudah melihat kedatangan Jaka dari kejauhan. Mereka merasa agak kecewa saat melihat orang yang mereka tunggu. Ketika perjumpaan pertama kali, dalam bayangan mereka Jaka adalah orang yang berpenampilan perlente, karena mereka merasakan wibawa besar saat berhadapan, walau kurang jelas melihat raut wajahnya.

Kini setelah melihatnya, orang yang bernama Jaka Bayu ternyata seorang pemuda berpenampilan sederhana, apa adanya. Bajunya tak menyiratkan kesan apapun, sama seperti yang dikenakan kebanyakan orang.

Setelah jarak tinggal belasan langkah, barulah mereka tahu mengapa mereka merasa sungkan saat berhadapan malam itu. Sekalipun pemuda itu berdiri diantara ratusan orang, mereka pasti segera paham bahwa orang itulah yang akan ditemui. Jika ada orang yang dilahirkan untuk sifat kharismatik, mungkin Jaka bisa dikatakan salah satunya.

Buru-buru Danu Tirta menyambut Jaka.

“Saudara Jaka?” Tanya memastikan.

Pemuda ini mengiyakan. “Kelihatannya kita sama-sama datang terlalu cepat.” Ujarnya.

“Tidak jadi soal. Makin cepat makin baik.” Sahut Damar Kemangi.

Jaka tak mengomentari, Danu Tirta mempersilahkan dirinya masuk ke dalam Gardu. Di dalamnya sudah ditata makanan untuk jamuan. Alis Jaka terangkat satu, dia merasa agak di luar dugaan.

Melihat tamunya merasa heran atau mungkin kurang suka dengan jamuan itu, Damar Kemangi segera berkata. “Jangan salah sangka, kami menata makanan ini bukan cuma untukmu.”

“Oh?” pemuda ini heran juga. “Kalian menerima tamu lain?”

“Bukan, tapi beberapa orang yang sudah kami kenal.”

“Ehm,” Jaka mendehem kikuk. “Kelihatannya lima orang sahabat lainnya tidak ikut kesini?”

Mereka tahu yang dimaksud Jaka Lima Pelindung Putih. “Mereka ada keperluan sebentar, tak lama kemudian juga akan kemari.”

Mereka duduk saling berhadapan.

“Seperti yang kukatakan malam itu, rasanya kita harus saling mengenal lebih dalam.” Kata Danu Tirta memulai.

Jaka tersenyum. “Mengikat persahabatan di mana saja ya… kelihatannya kegemaran kita sama.”

Danu Tirta tertawa. “Silahkan..” ujarnya sambil mengambil minumannya.

Jaka juga tak sungkan. Ia menuang minumannya, dan menyesapnya sedikit. “Jadi apa yang akan kita bicarakan? Kalau menurut kegemaranku, aku paling senang mendengar.”

“Bagus,” ujar Damar Kemangi tertawa. Dia menyadari kalau Jaka secara halus mempersilahkan mereka untuk memperkenalkan diri lebh dulu.

“Seperti yang kau ketahui, kami berasal dari Perguruan Sampar Angin. Kau tahu perguruan kami?”

“Ya, bukankah termasuk dari enam belas perguruan terkemuka?”

“Benar. Harus kau ketahui juga, tiap anak murid perguruan terkemuka, belum boleh keluar dari pintu perguruan jika belum menempuh satu ujian kelulusan,”

“Kalau begitu kalian pasti sudah selesai menimba ilmu, kurasa kalian lulusan terbaik.” Sahut jaka.

Damar Kemangi tertawa sambil menutup mulutnya. “Lulusan terbaik mungkin benar, tapi selesai menimba ilmu itu tidak benar. Apa yang kami dapatkan hakikatnya belum apa-apa, dibanding para sesepuh perguruan kami, karena itu, kami keluar perguruan juga hanya untuk mencari pengalaman saja.”

“Benar,” timpal Danu Tirta. “Terlalu lama belajar, tanpa mengendorkan saraf, menurutku tidak baik.”

“Tidak mesti begitu, semua itu tergantung dari mana kau memandangnya.” Sahut Jaka.

“Maksudnya?”

“Jikalau kau merasa butuh dengan apa yang kau pelajari, kau tak akan merasa jenuh karenanya.”

Dua pemuda itu terdiam sesaat, apa yang dikatakan pemuda ini memang benar. Mereka cuma heran, bagaimana Jaka bisa mengatakan hal sebijak itu?

“Kurasa kau benar.” Gumam Danu Tirta.

“Masa’ kau baru menyadari kalau ucapanku itu masuk akal?” Seru Jaka.

Keduanya nyengir, mereka tahu kalau Jaka hanya bercanda. Untuk ukuran orang berkharisma, pemuda bernama Jaka ini termasuk aneh, begitu pikir mereka. Kebanyakan dari orang yang berwibawa, selera humornya terhitung rendah. Tapi Jaka tidak.

“Jadi saat ini kalian keluar untuk bersenang-senang atau ada tugas belajar?” Jaka bertanya blak-blakan.

“Ha, tugas belajar?” Danu Tirta tertawa. “Bisa juga kau menyindirku.” Ujarnya geli.

“Kenapa kau bilang aku menyindirmu?”

“Lantaran aku kena sergap orang, kau mengatakan kalau aku ada tugas belajar, kau pasti juga ingin mengatakan, sekali pun sudah tamat belajar di perguruanku, toh ilmuku belum cukup memadai untuk menghadapi orang-orang itu. Benar begitu?”

Jaka tertawa, bukan tersenyum… biasanya dia hanya tersenyum, kali ini dia tertawa lepas. Baru bicara berapa saat saja dia sudah merasa suka dengan Danu Tirta.

“Aih, sekali pun aku ingin mengejekmu, tapi kau pun sudah mengaku, apa yang perlu kukatakan lagi?”

“Bisa juga kau.” Seru Danu Tirta tertawa.

“Dan kau sendiri bagaimana?”

“Bagaimana apanya?’ Tanya Jaka menanggapi pertanyaan Damar Kemangi.

“Katanya tadi malam, mau berjumpa dengan temanmu, mau apa kalian di sana malam-malam?”

Dari nadanya, Damar Kemangi memang sedang menyelidik, kalau orang lain mungkin bisa tersinggung, tapi Jaka tidak, justru keterusterangan seperti itu yang disukainya, menambah keakraban.

“Masa kau percaya omonganku tadi malam?”

“Hah, jadi?”

“Itu kan hanya alasan saja, aku cuma kebetulan lewat. Sungguh tak disangka aku bisa bertemu macam-macam orang, dan juga kalian ini.” Nada Jaka juga terdengar akrab sekalipun sedikit bernada mencemooh.

“Orang-orang macam apa?”timpal Danu Tirta.

“Orang aneh… kalian juga kugolongkan ke dalamnya.”

“Sialan.” Maki Damar Kemangi pura-pura ketus.

“Masa kalau bukan orang aneh, bisa berkumpul di kebun orang larut malam? Kan tidak mungkin orang macam kalian cari buah di kebun orang, malam-malam lagi!”

“Hahaha… kau benar, tapi kau juga aneh, masa kau bisa keluyuran tengah malam di kebun orang.”

“Kalau begitu kita sama-sama aneh.” Seru Damar Kemangi.

“Eh, tidak bisa begitu… kalau aku keluar malam-malam karena iseng, tak ada tujuan lain. Entah dengan kalian…”

“Ah, sama saja, itu juga mencurigakan.”

“Benar, kalau mau iseng kan ke tempat lebih ramai.”

Jaka manggut-manggut. “Benar juga, buktinya aku ketemu kalian di tempat itu… kan jadi ramai?”

“Bisa saja kau…” Seru Damar Kemangi memaki geli.

“Masih mungkir juga ya?” Mereka bercakap-cakap dengan akrab, terlalu akrab untuk orang-orang yang baru saja bertemu. Justru itu enaknya jadi orang yang merantau ke mana-mana, banyak kawan yang didapat, sekali pun pengalaman pahit juga tak kalah banyak.

“Menurutmu, apakah situasi kota ini wajar?” Tanya Danu Tirta, setelah sekian lama mereka bicara kesana-kemari tak keruan juntrungannya.

“Jelas tidak wajar!” potong Damar Kemangi.

Jaka mengangguk membenarkan, sambil menimpali. “Kelihatannya banyak sekali orang-orang dari perguruan terkemuka datang kemari. Apa ada kaitannya dengan Perguruan Naga Batu?”

“Perguruan Naga Batu?” mereka berseru bersamaan, lalu berpandangan.

Jaka merasa heran melihat mereka bersikap seperti itu. “Kenapa kalian, apa kalian tidak tahu?”

“Justru itu masalahnya!” seru Damar Kemangi. “Kami tahu, mungkin lebih paham ketimbang dirimu, hanya saja yang kuherankan justru karena kau juga mengetahuinya. Tapi… apa benar kau tahu?”

Jaka mengangguk. dalam hati Jaka mencatat point ini, ternyata ‘hajatan’ Perguruan Naga Batu hanya diperuntukkan buat kalangan tertentu saja.

“Kalau begitu kau bukan orang luar.” Sahut Danu Tirta. Jaka tahu kalau maksud mereka dirinya adalah salah satu anggota perguruan terkemuka.

“Tidak, aku orang biasa yang kebetulan saja senang merantau.”

“Tidak mungkin,” seru Damar Kemangi. “Kau tahu, hanya orang-orang dari perguruan terkemuka saja yang paham adanya pergantian pejabat di Perguruan Naga Batu. Pesilat bebas atau pengelana tak mungkin tahu masalah ini. Karena undangan yang dikirimkan dari pihak Perguruan Naga Batu sangat terbatas.”

“Oh,” Jaka hanya bisa mendesah. “Apakah tidak tertutup kemungkinan bagi warga kota mengetahuinya?”

“Kemungkinan itu kecil, sebab murid-murid perguruan yang tinggal di kota ini pun belum tentu tahu adanya perubahan dalam perguruan mereka.”

Satu point penting lagi, pikir Jaka. “Kalau menurut ceritamu tadi, aku dapat menduga analisa kalian benar.”

“Eh, kau dapat berita ini dari siapa? Tidak mungkin kau mengetahuinya kalau bukan dari orang yang menerima undangan.”

Jaka mengangguk. “Ada seorang sahabat yang memberitakan padaku tentang hal ini. Mungkin dia salah satu anggota enam belas perguruan terkemuka.”

“Masa kau tak tahu dia berasal dari perguruan mana.”

“Sekalipun aku ingin tahu, tapi terpaksa keinginan itu kubuang jauh-jauh, jika yang bersangkutan tak ingin kita mengetahui latar belakang dirinya.” Keduanya mengangguk.

“Bukankah tiap orang punya rahasia?” sambung Jaka lagi.

“Benar. Kau sendiri punya rahasia?”

Jaka diam sesaat. “Tentu saja. Aku yakin kau pasti punya. Kita semua punya rahasia.”

“Misalnya…”

Jaka tertawa mendengar ucapan Danu Tirta. “Kalau aku mengatakannya, sudah pasti bukan rahasia lagi.”

Danu Tirta tertawa jengah. “Kalau kau sendiri berasal dari mana?”

“Eh… jangan-jangan itu rahasia juga.” Potong Damar Kemangi.

“Tentu saja itu bukan, aku dulu tinggal di Kota Kunta.”

“Kunta?” gumam keduanya seretak.

“Ya,”

“Apakah kota Kunta yang dekat Rangkas Sabang.”

“Bukan…”

“Jadi yang dekat Indrahilir?”

“Benar.”

“Oh,” Danu Tirta bergumam seperti memahami sesuatu.

“Ada apa, apakah ada sesuatu yang kau ketahui tentang kota tempat tinggalku?”

“Tidak.” Damar Kemangi yang menjawab. “Hanya saja, kami punya saudara di kota itu.”

Jaka tersenyum. “Siapa dia, barang kali saja aku kenal, dan siapa tahu aku sudah bersahabat dengannya, bukankah dengan demikian hubungan kita sudah terjalin jauh-jauh hari?”

“Kau benar, tapi aku ragu kalau kau mengenalnya.”

Alis Jaka terangkat.

“Sebab dia seorang wanita.”

“Oh, kau benar… temanku dari kalangan wanita memang sedikit.”

“Bagaimana kalau pasangan hidup?” Tanya Danu Tirta.

Jaka tertawa agak tersipu. “Orang seperti aku yang hidup tak menentu arah, belum memikirkan untuk berkeluarga segala. Apalagi aku masih terlalu muda untuk itu.”

Damar Kemangi segera menyela. “Di daerahku ada pemuda seusiamu sudah punya anak dua.”

Jaka tertawa geli. “Kau ini aneh, jangan samakan aku dengan pemuda di daerahmu. Mungkin saja dia memang sudah merasa mampu untuk berkeluarga, ya tidak masalah, kenapa pula tidak segera menikah?”

“Dan kau belum mampu?”

Jaka tertawa geli. “Kalau bicara masalah mampu atau tidak, itu bukan hal yang prinsip, yang paling penting, apakah memang kita sudah menemukan jodoh yang tepat.”

“Wah kalau begitu, tua di tengah jalan.”

“Maksudmu cari jodoh yang dianggap tepat itu sulit?”

“Benar, sulitnya minta ampun. Apalagi laki-laki dan wanita kan jalan pikirannya berbeda. Sekalipun kau merasa cocok dengannya belum tentu di lain waktu merasa cocok lagi.”

Jaka menggumam membenarkan.

“Karena itu, perbedaan mendasar diantara keduanya harus ditemukan titik temunya. Dan itulah yang akan menjadikan kekayaan batin keduanya.” Timpal Danu Tirta.

“Ehm, hebat. Kau bicara seperti sudah menikah saja. Eh, jangan-jangan kalian sudah punya istri?”

“Ah… yang benar saja!” seru keduanya serempak. Tapi tiba-tiba mereka seperti menyadari sesuatu.

“Tentu saja belum,” seru Danu Tirta buru-buru.

“Belum menikah.” Tegas Damar Kemangi.

Jaka tertawa. “Kenapa sih kalian? Sudah menikah apa belum kan bukan urusanku, memangnya aku ini mak comblang yang mau mencarikan jodoh buat kalian? Sampai tegang begitu…”

“Sialan…” seru keduanya gemas. Dan mereka bertiga tertawa, merasa hal yang mereka bicarakan itu konyol.

“Kalau begitu, kau sendiri sudah mendapatkan jodoh yang tepat?” Tanya Damar Kemangi.

“Wah,wah… kau ini memang cocok jadi tukang tagih utang, bertanya begitu detail.” Gerutu Jaka. Lalu ia menjelaskan, “Terlepas dari sudah atau belum menemukannya, sejauh ini aku belum memikirkan untuk berkeluarga. Aku percaya jika sudah saatnya, pasti akan datang padaku jodoh yang terbaik. Sampai saat ini aku lebih banyak berpikir bagaimana membuat diriku sebagai manusia yang baik, dan dapat bersikap adil, itu saja.”

“Cita-cita baik. Tapi sayang sekali…” ujar Danu Tirta.

“Kenapa sayang?”

“Sebenarnya aku ingin mengenalkan adik atau saudaraku padamu, siapa tahu dia atau kau tertarik, atau bahkan saling tertarik.”

Jaka tersenyum, dengan bercanda ia berkata, “Terima kasih banyak, tapi aku yakin adikmu atau siapapun tak akan tertarik padaku. Aku cukup percaya diri mengatakan itu.”

“Hh.. dasar pembual.” Gerutu Damar Kemangi.

“Eh, tadi kau bilang dulu?”

“Dulu apa?”

“Maksudnya, dulu kau tinggal di Kuntapraja, berarti sekarang tidak?”

“Tentu saja tidak, kau kan lihat sendiri sekarang aku sedang melayani bicara dua orang yang tak karuan wujudnya.” Jawab Jaka bercanda. Wajah keduanya merah. “Cuma bercanda… jangan dimasukkan hati.”

“Aku tahu maksudmu, tapi apa benar kau sudah pindah dari sana?”

Jaka tahu kalau mereka mengejar jawabannya, walau tak bersedia mengatakan, toh dia pikir, mereka pasti tak tahu latar belakang mengapa dia tak lagi di Kuntapraja.

“Ya, aku memang sudah pindah.”

“Dimana kau tinggal sekarang?”

Jaka mengangkat bahu, “Aku bersama pamanku.” Sahutnya singkat.

Keduanya paham, kalau Jaka enggan memberi penjelasan, dan merekapun tahu diri. Suasana jadi lebih akrab, tak kala obrolan mereka mengalir lepas tak jelas paran dan tujuannya.

Sampai pada akhirnya Jaka meminta diri untuk pamit. “Kurasa sudah terlalu lama aku disini, masih banyak yang harus kukerjakan.”

“Memangnya apa kerjamu?”

“Belanja di pasar, jalan-jalan di warung juga termasuk pekerjaan.” Jawab Jaka sembari tertawa, keduanya juga tertawa mendengar jawaban Jaka.

Lalu Jaka bangkit, sebelumnya dia menghabiskan air tehnya. “Terima kasih kalian sudi mengobrol denganku.”

“Ah, itu bukan apa-apa, dengan senang hati kami akan menerimamu kapan saja.”

“Terima kasih.” Ucapnya sekali lagi.

Jaka membalikkan tubuhnya, dan dia meninggalkan kedua orang itu.

“Hei Jaka…”

“Ya?” pemuda ini menoleh.

“Kalau ada waktu, mampirlah ke tempat kami.”

“Ya, di perguruan Sampar Angin tentunya.” Sambung Damar Kemangi.

“Aku akan kesana, mungkin bukan dalam waktu dekat ini, tapi pasti aku akan ke sana.”

“Kami tunggu…”

Jaka mengangguk sekali lagi dan melangkah makin jauh, dia bukannya menuju jalan umum yang dilewati orang, tapi justru ke tepi sungai, menyeberang, dan menuju bukit di seberang sungai. Kedua pemuda tadi memperhatikan Jaka sampai dia hilang dari pandangan.

“Benar-benar tak disangka.” Gumam Danu Tirta.

Damar Kemangi manggut-manggut.

“Aku dulu marah sekali…” Danu Tirta menerawang. “Sampai ingin mengamuk pada siapa saja. Tapi kini aku mengerti alasannya. Aku juga paham kenapa dia harus melakukannya.”

Damar Kemangi tidak berkomentar, dia hanya duduk sambil menghabiskan makanan.

Apa yang dimengerti oleh Danu Tirta? Siapakah yang dimaksud dengan ‘Dia’? Apakah ada hubungannya dengan Jaka?

—ooOoo—

62 – Kampung Misterius Di Tengah Kota

Setelah beberapa lama jalan, dan sudah berada di balik bukit, Jaka berhenti dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dalam beberapa hari ini sudah terlau banyak kejadian yang harus dia telaah satu persatu dan menyelesaikannya tanpa mengganggu rencana satu sama lain.

Merasa sedikit santai dia merebahkan badannya di dekat pohon rindang, lamat-lamat ia mendengar suara serangga di kejauhan. Mula-mula ia berpikir, masalah Perguruan Enam Pedang, Perguruan Naga Batu, Perkumpulan Rahasia Garis Tujuh, Telik Sandi Kwancasakya, Swara Nabya, Riyut Atirodra, orang yang menginginkan informasi tentang bola asap, pemilik pancawisa mahatmya, dan perkumpulannya sendiri… Terlalu banyak… kau terlalu banyak tahu masalah orang, dan membuat otakmu mati dengan mencari masalah sendiri, pikirnya.

Jaka mendesah, dalam hal mengorganisasi masalah, dia sama sekali tak pernah memperhatikan. Apapun yang akan dia temui, itulah yang akan dia urus—sebenarnya tergantung kondisi juga. Dan kali ini dia sadar sudah menimbukan kesulitan bagi dirinya sendiri.

Bukan kesulitan, tapi bencana, bodoh. Jaka hanya bisa nyengir saat memikirkannya, yah, apa boleh buat, dari pada tidak melakukan apa-apa, lebih baik bekerja sedikit berlebihan, pikirnya membela diri.

Baiklah, sekarang aku harus melakukan sesuatu. Dan ia mengeluarkan secarik kertas dari pakaiannya lalu menuliskan beberapa patah kata—entah untuk apa, lalu bergegas pergi entah kemana.

Jika anak buahnya selalu mendapati Jaka bergerak lamban, kiranya kali ini bisa dikecualikan. Jika dia enggan bergerak, maka orang malaspun bisa terlihat lebih giat dibandingkan dengannya. Tapi saat dia bergerak, entah siapa yang bisa dibandingkan dengan gerakannya?

Selang beberapa saat saja, dari ujung-ujung bukit itu muncul beberapa orang.

“Kemana dia?”

Rekannya yang ditanya menggeleng. “Kurasa dia kabur terlalu cepat.”

“Ya, tak ada yang bisa menyalahkan kita.” Ujar orang ke lima yang muncul belakangan. Sekalipun mereka agak kesal, tapi mereka tak terlihat dongkol.

“Hei, aku menemukan sesuatu.”

Empat orang lainnya merubung, “Ah…” mereka berseru tertahan.

“Jadi ini yang membuat kawatir beliau ya?” gumam orang yang pertama mendekat.

“Kurasa bukan ini.” Sahut yang lain.

“Akan lebih tepat jika kau berkata ‘kurasa bukan cuma ini’, bukankah begitu?”
Mereka semua mengangguk.

Memangnya apa yang ditemukan mereka? Jika orang lain menemukanya mungkin tidak banyak berarti, justru hanya orang-orang macam merekalah, membuat petunjuk yang ditinggalkan Jaka jadi punya makna.

Jaka menggoreskan beberapa patah kata di atas tanah. Ikuti aku kalau bisa.
Bagi orang lain, kalimat itu tak ada apa-apanya, tapi bagi mereka berlima? Sama saja dengan cibiran… kena kau! Ya, jejak mereka sudah ketahuan sejak awal.

Dari mana pula Jaka tahu akan hal itu? Hanya hal kecil yang membuat Jaka tahu kalau ada beberapa orang yang selalu mengawasinya. Saat dia memasuki bukit, tak ada suara burung atau serangga.

Ada suara serangga, tapi jauh dari tempatnya masuk. Seharusnya suara serangga saling saut menyahut, tapi kenapa hanya saling menyahut di bagian timur saja. Memangnya semua serangga sudah pindah?

Tiadanya suara burung memang wajar, tapi tidak wajar kalau ada burung kutilang tak ribut saat kedatangannya. Burung-burung semacam itu selalu bersuara saat sesuatu yang asing muncul. Satu-satunya alasan adalah, beberapa dari mereka mengusirnya, padahal saat menuju bukit, tanpa sengaja Jaka melihat beberapa kutilang terbang diseputar bukit.

Lalu siapa pula kelima orang itu? Mereka meninggalkan bukit tanpa tergesa, karena merasa tak sanggup mengejar Jaka.

“Kau ingat saat kita bertemu dengan Si Kayu Satu Jengkal?”

Kurasa orang itu aku sebut si A saja, rupanya Jaka tak kabur jauh-jauh. Baginya menyaksikan siapa orang yang menguntitnya dan mengetahui mereka suruhan siapa, jauh lebih menyenangkan dari pada kabur—selain capek, ia juga tak bakal mendapat informasi siapa mereka.

“Memangnya kenapa?”

Aha, biarlah dia kusebut si B.

“Orang itu cukup licin, dan punya keberanian.”

Eh, si C sedang bicara.

“Ya, tadinya aku mengira dia tak cukup pintar untuk berurusan dengan kita. Rupanya nyalinya yang menantang otaknya untuk beradu.”

Dia si D

“Ya, orang licin macam dia entah kemanapun bisa kita lacak, sayangnya waktu itu tak ketemu.”

Nah dia sudah pasti si E

“Justru kita temukan di rumah kita sendiri. Lucu tidak?”

“Hh, sama sekali tak lucu.” Dengus si C

Tiba-tiba saja, keempat orang lainnya menegang, tanpa dikomando, mereka bertindak waspada sambil mengedarkan matanya ke segala penjuru. “Mungkin saja orang itu masih disini.” Bisik si C menyadari ketegangan yang lain.

Mereka tak menjawab, tapi tampang mereka memang sudah cukup menjelaskan. Rupanya percakapan mereka tadi mengingatkan pada kondisi yang sebenarnya. Persembunyian yang tak terduga adalah ditempat lawannya sendiri, dalam hal ini, jika Jaka ingin sembunyi cukup kabur beberapa belas meter dari bukit itu dan kembali lagi. Dan itulah yang akhirnya disadari mereka.

Sesaat kemudian, sesuatu melayang jatuh dekat mereka. Kelimanya bergerak menjauh dan menatap dengan pandangan bertanya-tanya.

Matilah kalian!!! Dibawah tulisan itu ada lukisan dua cakra berjajar. Wajah kelimanya menjadi pucat pasi. Tanpa banyak cakap mereka lari secepat mungkin, dan kelimanya mengambil arah berlawanan!

“Pintar, cukup pintar.” Ujar Jaka melihat kelimanya tak lagi bersama, rupanya mereka tak mau ambil resiko dikuntit orang, jadi mereka berpencar.

Jaka yang menyaksikan itu tertawa geli, memang dia yang menjatuhkannya dari atas pohon, dia sendiri bersembunyi di pohon yang lain. Kali ini Jaka tahu kalau yang menguntit dirinya adalah orang-orang tingkat 3. Artinya mereka tidak perlu dirisaukan, karena mereka begitu takut dengan tanda dua cakram yang merupakan lambang telik sandi adipati daerah setempat. Tapi bisa juga dirinya salah sangka—mana mungkin orang biasa tahu tanda itu? Orang persilatanpun jarang yang tahu, jika mereka tahu, artinya mereka adalah orang yang banyak tahu rahasia orang lain. Berbahayakah?

Jaka cuma menduga kalau ia harus memikirkan kehadiran lawan tambahan. Lawan penggembira? Menyedihkan kedengarannya, tapi dia belum yakin akan hal itu.
Jika orang lain, mungkin sudah mengikuti salah satu diantara mereka, tapi Jaka tidak, dia kembali untuk memperhatikan tempat persembunyian mereka. Dengan teliti Jaka mengamatinya, sampai akhirnya dia memperoleh kesimpulan.

“Lumayan untuk hari ini.”

Pemuda ini berjalan santai keluar dari bukit, sambil bersiul-siul, Jaka mengedarkan pandangan matanya ke sana kemari. Heran, semenjak datang kesini, kenapa aku selalu dijadikan target orang lain? pikirnya menggerutu. Selang berapa lama kemudian Jaka sudah ada di sebelah selatan kota itu, dia berniat mengunjungi Gua Batu.

Memang benar seperti yang dikatakan Ki Lukita, bahwa beberapa bagian gua itu dijaga ketat oleh prajurit keraton Pagaruyung. Semula Jaka mengira gua itu merupakan satu kesatuan bagian. Ternyata tidak, gua batu terdiri beberapa belas gua kecil dan tujuh gua besar—yang dijaga prajurit.

Memulai penyelidikan dari tempat ini? Yang benar saja. Satu gua kecil saja entah tembus sampai kemana. Syukur buntu, kalau tidak… kalau banyak celah? Jaka enggan memikirkannya. Niat untuk melihat-lihat gua batu jadi surut, Jaka berjalan kembali melewati kerumunan orang-orang yang hendak memasuki gua batu. Kapan-kapan saja, pikirnya, mungkin ia akan mengirim beberapa orang kesitu untuk menyelidiki.

Jaka memandang langit, beberapa jam lagi mentari akan tenggelam, ia berniat istirahat dan malam nanti berkunjung ke tempat orang. Tapi Jaka tak buru-buru, dia menepi dan duduk di pinggir jalan. Kadang kala memandangi orang berlalu-lalang, membawa keasyikan tersendiri.

Tak terasa ia duduk hampir satu jam, sampai akhirnya ia merasa bosan. Jaka berdiri sambil menepuk—membersihkan—celananya, kemudian meneruskan langkahnya pulang ke penginapan.

Sambutan mengagetkan menunggunya, saat tinggal beberapa langkah dari penginapan—yakni dengan munculnya Arseta, lelaki separuh baya yang pernah menanyakan perlihal Perguruan Naga Batu padanya.

“Saudara Jaka, bisa kita bicara sebentar?”

“Di sini?”

“Tidak, di tempat yang nyaman tentunya.”

“Sayang sekali aku harus mandi, makan, istirahat—tidur, dan kalau bisa mau pijat…”

“Tempatku lebih nyaman, apapun yang saudara mau ada disana.”

Jaka tersenyum simpul. “Nampaknya rejeki tak boleh ditampik, silahkan.”

Arseta mengangguk dan tersenyum girang, dia segera berjalan dimuka, Jaka segera mengikuti. Mulanya Jaka mengira dirinya akan dibawa jauh dari penginapan, ternyata ia salah duga, Arseta membawanya hanya beberapa blok dari penginapan. Jaka tak pernah tahu kalau di belakang penginapannya, ada bangunan yang luas.

Melihat bangunan itu, Jaka sadar kalau penginapan yang ia sewa, hanya ‘gerbang’ menuju bangunan itu. Luas bangunan itu hanya dua belas ribu meter persegi (120 meter x 100 meter). Tanah seluas itu termasuk kecil untuk ukuran pinggir kota, tapi di tengah kota?

Jaka menghela nafas dingin. Sekalipun dia merasa percaya diri, namun apa yang akan dihadapinya selalu membuatnya tertarik dan khawatir, itu yang harus membuat dirinya waspada.

“Kelihatannya bangunan ini jarang dikunjungi orang.” Gumamnya.

“Engkau paham?” Tanya Arseta tanpa menoleh.

“Sekalipun aku orang bodoh juga saat ini harus paham, kurasa bangunan yang akan kita tuju tak akan ketemu jika tak melewati jalan ini.”

Ya, bangunan itu tak akan bisa ditemu jika tak melewati banyak jalan kecil—itupun jika masih bisa disebut jalan, karena lebarnya tak lebih dari setengah meter. Di belakang penginapan, masih ada rumah penduduk yang menghadap arah yang berlawanan—jadi saling membelakangi. Dengan demikian, tak satupun orang tahu kalau ada jalan lain di antara celah dua bangunan. Sekalipun orang lewat disitu, apakah akan meneruskan langkahnya, manakala jalan itu terlihat buntu karena adanya pintu?

Dan Arseta memasuki pintu itu. Jaka juga mengikutinya. Pemuda itu tersenyum saat mengetahui pintu itu dipasang hanya sebagai kamuflase saja. Seolah dibalik pintu adalah ruangan, ternyata pintu itu hanya menutupi pertigaan ‘jalan’.

Arseta mengambil jalan kekanan, dan beberapa saat kemudian mereka sudah tiba didepan tembok setinggi satu setengah tombak, jalan sudah buntu. Lelaki itu melompat, tentu saja Jaka ikut melompati tembok.

Dan…

Jaka terperangah menyadari Arseta tidak ada, tapi dia lebih terperangah lagi, melihat dibalik tembok itu ternyata ada sungai kecil—sebut saja selokan—selebar satu meter. Tak ingin tercebur, saat melayang, Jaka memutar tubuhnya mendekati dinding tadi, kakinya memancal dan melesat ‘menembus’ tembok di seberang.
Oh ternyata tembok yang ditembus Jaka, hanya kain tebal yang dilukis mirip dengan tembok. Jaka tak mau gegabah seperti tadi, dia berhenti tepat setengah meter didepan dinding kain itu.

Halaman cukup luas terlihat olehnya. Ia juga mendapati Arseta tengah mengamati dirinya sambil tersenyum.

“Sudah kuduga, kau memang layak…” kata lelaki itu.

Jaka tak menanggapi, dia masih diselimuti keheranan yang makin bertambah, ketika melihat banyak orang keluar masuk dari bangunan utama, seperti pasar saja! Jaka mengedarkan pandangannya, akhirnya dia bisa mengambil kesimpulan. Mungkin ini saja bangunan ini milik salah satu sesepuh kota atau orang penting yang ada kaitannya dengan kota Pagaruyung.

“Silahkan.” Arseta meminta Jaka mengikutinya.

Jaka berjalan dengan mengamati sekeliling bangunan yang dikelilingi tembok setinggi satu setengah tombak. Pemuda ini menggeleng-geleng kagum. Dia pernah memelihat barisan-barisan hebat yang mengecoh, tapi bangunan sederhana ini benar-benar membuat ia terkesan. Tiada jebakan, tiada tanda-tanda aneh, tiada sesuatu yang menyolok, semuanya dibuat sangat sederhana, yakni dengan membuat bangunan yang saling mendukung dan menutupi, sehingga kesan bangunan utama tidak pernah ada.

Apapun semua persoalan dibalik itu—mengapa ada bangunan aneh didalam kota—Jaka memuji orang yang membuatnya, sebab orang itu hanya memanfaatkan kelemahan physiology manusia, yakni; bahwa manusia memiliki rasa tahu diri, dibalik keingintahuannya yang besar. Hal itu bisa dilihat dengan pintu kamuflase, dan tembok kain yang dilewati Jaka. Bukankah jika orang yang tahu diri saat melihat pintu didepannya, akan segera mengundurkan diri—apa lagi jika ia menyadari kalau dirinya menyusup ke jalan yang tak lazim. Cukuplah dari hal sederhana itu, Jaka bisa menilai orang-orang macam apa yang mungkin akan ia temui.

Diam-diam Jaka mengeluh, bisakah aku beristirahat? Sekalipun ia merasa bersemangat menghadapi kejutan yang akan dihadapinya, tapi mengistirahatkan pikiran dan badan, saat ini adalah ‘menu utamanya’, mengingat dia harus ‘bergadang’ lagi.

Mereka melewati pintu masuk pertama. Oo… Jaka merasa makin kagum, kesan bangunan itu memang tidak megah, tapi anggun dan luas, sekalipun banyak orang disekitar bangunan, suasana benar-benar lengang dan sunyi. Jaka makin heran melihatnya.

Tapi begitu ia melangkah makin kedalam, Jaka tahu kenapa begitu banyak orang, namun suasana lengang. Aroma obat, menguar keras. Ia bisa menyimpulkan, pasti ada orang sakit yang butuh ketenangan, dan yang jelas siapapun orang itu, pasti seorang tokoh. Mungkin juga seorang keturunan tokoh ternama.

“Silahkan duduk.” Arseta menyilahkan.

Jaka menggeleng.

“Kenapa?”

“Seperti yang kukatakan, aku ingin istirahat, mandi, dan mungkin dipijat. Itu bukan basa-basi. Kalau aku dibawa kesini hanya untuk duduk, dimana-mana aku juga bisa duduk.”

Arseta terhenyak bingung. “Baiklah, harap mau menunggu sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Jaka, Arseta masuk kedalam.

Jaka sama sekali tidak duduk, dia memandang seputar ruangan, mengamatinya, dan berusaha mendapatkan kesimpulan. Kelihatanya seluruh perabot rumah ini tidak ada yang baru. Mungkin yang paling baru berkisar tiga puluhan tahun lalu. Sekalipun demikian, penataan dan kualitas perabot tak perlu diragukan lagi. Jaka mengelus kursi didepannya, ukiran yang bagus dan halus. Pemuda ini menyedot napas dalam-dalam, hawa yang sejuk, meski bercampur aroma obat yang cukup keras.

Alis pemuda ini berkerut, ia mengenal bau obat-obatan itu, dan dia bisa sedikit menyimpulkan sakit apa yang diderita orang itu. Diam-diam ia menghela nafas panjang.

Sambil geleng-geleng kepala, Jaka tertawa. Tak bisakah ada waktu luang untukku?
Dia memang orang yang senang menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Membantu kesusahan orang juga hobinya. Hatinya tak akan tentram jika ada masalah yang menggantung.

Apa mungkin Arseta sudah tahu latar belakangku, makanya dia membawa diriku kesini? Jaka menduga-duga demikian. Walau sedikit kawatir, toh Jaka sama sekali tak menggubris jika memang itu terjadi. Tapi yang dia kawatirkan adalah kemungkinan rahasia orang lain bisa terbuka, perkumpulan gurunya, Ki Lukita.

“Maaf menunggu lama.” Aresta muncul dari dalam.

“Tak apa-apa, bisakah aku membersihkan badan sekarang?”

Arseta mengangguk sembari menyibakan gorden terbuat dari batu manik. “Silahkan, semuanya sudah disediakan.” Arseta tidak banyak bicara lagi, dia memberi isyarat agar Jaka masuk dan mengikutinya. Jaka mengangguk.

Sungguh luas ruangan itu, dari ruangan pertama ke kedalam perlu puluhan langkah, begitu masuk kedalam terlihat ada empat selasar, kanan-kiri, dan dua selasar didepan. Mereka mengambil selasar kiri. Berjalan cukup ‘jauh’, sampailah di sebuah ruangan ukuran empat kali enam, Jaka dipersilahkan masuk.

Mulanya ia berpikir mungkin ini kamar mandi yang dimaksudkan tapi begitu memasukinya dugaannya salah. Ternyata ruangan itu adalah sauna. Pada masa itu tentu saja belum ada listrik, membuat ruangan sauna juga hanya kebetulan saja, karena letak bangunan itu tepat di atas aliran artesis air yang bersimpangan dengan jalur lahar dalam bumi—itu yang membuatnya panas. Pembuatan ruangan sauna itu sangat tepat, di samping menjaga agar sewaktu-waktu jalur artesis tidak membuka jalur baru—yang menyebabkan letupan, jika letupan terjadi dikedalaman kurang dari tujuh meter tak masalah, tapi karena tekanan air artesis sangat deras, dan tentu saja karena kedalaman aliran artesis lebih dari tiga puluh meter dari permukaan bumi, jika terjadi letupan akibatnya akan guncangan yang cukup menganggu.

Tentu saja Jaka tak berpikir sejauh itu, pemuda ini langsung jatuh cinta begitu melihat ada tempat seperti itu. Badannya seolah meronta ingin kebebasan menikmati uap panas yang menyegarkan.

“Kau benar sekali…” mendadak Jaka berkata pada Arseta.

Orang ini tersenyum, dia paham maksud Jaka. Pandangan matanya menyiratkan ucapan, tentu saja apa yang kukatakan benar. Bukankah semua ini lebih baik dari pada beristirahat di penginapan?

“Bolehkah aku…”

“Silahkan, tak perlu sungkan.”

“Terima kasih.”

Arseta menutup pintu. Didalam ruangan itu sudah disediakan semuanya, kain tebal—sebagai handuk, seperangkat pakaian. Jaka tersenyum, rupanya tadi Arseta menyediakan semua ini untuk dirinya, dia mencium aroma harum, oh ternyata cairan untuk pembersih badan.

“Benar-benar nyaman.” Tak menunggu lama, Jaka melepas pakaiannya, sekalipun ia tak menaruh curiga pada Arseta, tapi tongkat bambu lenturnya itu—yang baru saja dia ketahui—adalah barang pusaka, ia belitkan di pinggang. Dengan perasaan santai, Jaka membuka pintu ruangan dan menuju hawa hangat.

Uap ada dimana-mana, seluruh ruangan benar-benar mirip hujan kabut, bahkan untuk melihat setengah meter ke depan juga tak bisa.

“Jika disini ada serangan mendadak…” Terpikir juga oleh Jaka. Dan saat itu juga…

Terdengar deritan cukup kencang, tapi tidak menyerangnya, hanya tertuju kekanan kirinya, itupun masih beberapa langkah didepannya. Otot-otot tubuh Jaka menegang, dia menunggu reaksi berikutnya, tak ada suara lain, tak ada sesuatupun yang mencurigakan.

Jaka mengibaskan tangannya, uap tersibak sesat, dan pemuda ini tersenyum geli.
Kupikir apa, ternyata pintu menuju ruangan lain sedang terbuka. Memang suara berderit itu ternyata engsel pintu yang terbuka, jatuh ke depan Jaka. Jadi pintu dalam ruangan sauna bukan dibuka dari kanan ditarik kedalam atau didorong keluar, tapi dari atas di turunkan—dengan penahan rantai. Dan rupanya Arseta yang menggerakkan dari luar.

Jaka bergegas masuk kedalam ruangan di dalam ruangan sauna, semula dia pikir ruang sauna itu sudah cukup luas, tapi begitu masuk keruangan lainya, Jaka terperangah kagum.

Dibandingkan ruangan sauna tadi, bagian luar jauh lebih luas dan indah. Uap mengepul tinggi diruang bebas, ya itulah kolam air hangat. Belum lagi taman di sekeliling kolam yang dibuat dengan tatanan sempurna.

“Mudah-mudahan senyaman yang kulihat.” Tanpa ragu Jaka segera masuk kedalam kolam. Hangat, nyaman dan kini ia benar-benar merasa rileks. Jaka mendesah panjang. Rasanya kepenatan yang ia alami setimpal juga jika bisa berendam dalam kolam air hangat senyaman itu.

Jaka bersandar di dinding kolam, tubuhnya terasa rileks. Sambil menggosok-gosok pelan, pemuda ini bersenandung lirih. Tiba-tiba terdengar deritan dari depan, Jaka terkejut. Rupanya masih ada pintu serupa, dan kelihatannya ada orang yang akan mandi juga.

“Tuan Jaka?” suara merdu memanggilnya.

“Ada keperluan apa?”

“Tuan muda ke lima, meminta saya untuk melayani keperluan tuan hingga tuntas.”

Apakah Arseta tuan muda kelima? Pikir Jaka. “Kau bisa apa saja?”

Dari balik uap air itu, muncul siluet tubuh dua orang, mereka wanita.

“Kami mahir memijat.”

“Ah, bagus sekali. Kalau begitu tolong tunggu disitu… biarkan aku menyelesaikan mandiku.”

“Apakah mandi tuan, tidak ingin kami layani?”

Jaka tertawa. Dia tahu, itu adalah kebiasan keluarga besar menyambut tamu terhormat. “Tidak, terima kasih. Aku lebih senang sendiri.”

“Kalau begitu kami permisi. Jika tuan sudah selesai, cukup bunyikan lonceng kecil di ujung kolam.”

“Baik!”

Jaka mandi dengan santai, air hangat membuat ototnya rileks. Beberapa saat kemudian, meski ia merasa cukup, Jaka belum mau keluar dari kolam. Kesempatan langka semacam itu membuatnya ingin berlama-lama. Tanpa disadari hawa murni panasnya mengalir keluar seiring olah nafas yang dia lakukan.

“Aw!” mendadak jeritan halus menyentakkan Jaka.

Pemuda ini terjaga dari olah nafasnya, dia menegaskan pendengarannya. Lamat-lamat terlihat olehnya di depan ada semacam dinding pemisah. Jaka tahu, itu pemandian kaum hawa. Rupanya aliran air menjadi satu, pantas saja…

“Bibi, siapa yang menambah air panas?” seru suara dari balik dinding. Jaka nyengir mendengarnya, tak mungkin dirinya mengaku, kalau hawa murninya berulah…

Terdengar suara tergopoh, lalu bergemerisik. Jaka bisa membayangkan nona itu pasti sedang mengenakan pakaian, dan sang bibi terburu-buru mendatanginya. Sayup-sayup terdengar percakapan olehnya.

“Tidak ada yang menambah, Non.”

“Kenapa, air mendadak panas?”

“Masa?”

“Ah,” terdengar sang bibi memekik juga. “Aneh, mungkin bara api sudah terlalu lama. Jadi api kembali berkobar.”

Jaka nyaris tertawa mendengar ulasan sang bibi.

“Ah, sudahlah. Aku sudah selesai!” suara manja itu terdengar marah.

Jaka juga merasa dia sudah terlalu lama, setelah menggosok tubuhnya beberapa saat, dia keluar dari kolam itu. Setelah mandi, kurasa memijat badan tak ada salahnya, pikirnya. Usai berpakaian, Jaka membunyikan bel di pojok kolam. Tak berapa lama, dua orang pelayan keluar.

“Anda ingin dipijat tuan?”

“Ya. Apakah harus disini?”

“Silahkan ikut kami, tuan.”

Jaka mengikuti dari belakang. Mereka keluar dari kolam panas, melewati sauna, dan akhirnya sampai pada ruangan sebelah. Ruangan itu juga terdapat kolam kecil, tapi kesannya lebih sejuk. Jaka cuma mengenakan sehelai kain yang diselempangkan begitu saja di tubuhnya, meski dia merasa tak nyaman dengan ketelanjangannya, tapi kalau ingin dipijat memang harus ‘minimalis’. Dua telapak tangan yang halus menyentuh badannya, satu memijat punggung, yang lain memijat lengan.

“Ih…” terdengar pekikan kaget.

Jaka tertawa dia paham kenapa dua pelayan itu kaget.

“Ke-kenapa dengan tubuhmu tuan?” tanya salah seorang pelayan.

“Ah, hanya luka kecil…” jawab Jaka sekenanya. Kedua pelayan itu saling pandang, mereka paham jawaban Jaka hanya asal, karena luka yang terdapat di sekujur tubuhnya tidak mungkin sekedar luka kecil.

Sebab di sekujur tubuhnya begitu banyak parutan luka, memanjang, ada bekas bacokan, cambukkan, bahkan luka yang seperti sengaja digoreskan juga ada. Rupanya tujuan Jaka selalu menggunakan pakaian rapat adalah untuk menutupi luka-lukanya.

Tapi begitu selembar kain disibakkan, kedua pelayan itulah yang pertama kali menyadari bahwa Jaka bukanlah lelaki lembek, paling tidak, luka-luka di tubuhnya yang berbicara. Rupanya itu yang membuat dua pelayan ini kaget, mungkin ngeri.

“Ap-apakah masih sakit?” tanya seorang diantaranya.

“Tidak.” Jawab Jaka singkat. Pemuda ini memejamkan matanya, dia berusaha menikmati pijatan dua pelayan cantik itu. Dalam benaknya, Jaka berpikir apa yang akan dipinta tuan rumah darinya. Tak terasa dua jam, berlalu, pijitan tadi benar-benar membuat Jaka santai dan merasa nyaman.

“Terima kasih.”

Kedua pelayan itu tersenyum sambil mengangguk. Mereka membenahi alat-alat yang tadi digunakan untuk memijat.

“Boleh saya berkomentar tuan?”

Jaka tersenyum geli. “Seharusnya aku yang berkomentar atas keahlian pijat kalian yang luar biasa. Silahkan…”

“Selama ini kami melayani banyak tamu, tapi belum pernah kami jumpai tamu seperti tuan.”

“Maksudmu, dengan badan penuh luka?” tegas Jaka.

“Itu hanya salah satunya saja…”

“Oo, lalu apa yang lain?”

“Tuan tidak usil.”

Mendadak wajah Jaka merah, tapi hanya sesaat saja. Meski begitu kedua pelayan sempat melihat, dan itu membuat mereka heran.

“Aku memang bukan lelaki usil.” Gumam Jaka.

“Ma-maaf, bukan begitu maksud saya…”

“Ya?”

“Kadang kesempatan seperti ini selalu dimanfaatkan untuk mengorek keterangan tentang tuan rumah,”

“Oo…”

“Meski kadang kami memang digoda…” Sambung satunya.

“Itu sudah wajar,” sahut Jaka.

“Wajar?”

“Dalam ruangan seperti ini, siapa yang tak akan tergoda jika dilayani dua wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian minim?”

“Ah, tuan terlalu menyanjung.” Sahutnya dengan wajah tersipu.

“Tidak, itu kenyataan.” Ujar Jaka dengan serius. Membuat wajah mereka makin merah. “Karena itu tanpa sadar, si tamu sendiri yang mengungkapkan titik lemah dirinya” Sambungnya seraya menghela nafas, membuat ketersipuan si pelayan lenyap.

“Paling tidak, kalian sudah bisa memberikan informasi pada tuan rumah, bahwa aku tidak senakal yang dipikirkan, bukankah begitu?” tanya Jaka seraya tersenyum.

Keduanya tak menjawab, mereka cepat-cepat bergegas. Memandang lekuk tubuh yang menghilang dari balik pintu, Jaka menghela nafas.

“Setidaknya sudah ada yang melihat lukaku…” gerutunya. Dia bukannya merasa malu karena tubuhnya penuh luka, tapi bagi lelaki—apalagi kaum pendekar, luka (bukan cacat) adalah kebanggaan. Dan Jaka tak ingin disebut pamer.

—ooOoo—

63 – Ketua Bayangan Perguruan Naga Batu

Dari sekian banyak orang yang menjadi temannya, hanya empat orang saja yang tahu kondisi fisiknya, kali ini bertambah lagi dua gadis pemijat ini. Jaka memutuskan untuk menyudahi acara pijat, hal penting yang akan dilakukan kali ini sudah pasti berbincang dengan Arseta yang kelihatannya sangat mendendam dengan Perguruan Naga Batu.

Jaka mengenakan bajunya lagi, kesegaran yang dia dapat kali benar-benar membuatnya tidak merasa diuntungkan, karena sebentar lagi ada orang yang akan menggali keuntungan dari dirinya. Sebab dia mencium aroma yang pernah diciumnya menempel pada pakaiannya, dan aroma harum itu pernah tercium di kapal Naga Batu, tepatnya aroma gadis-gadis cantik yang menyambutnya… sebuah permainan nampaknya akan segera digelar lagi, desah pemuda ini merasa senang.

Dengan diiringi dua gadis yang tadi memijatnya, Jaka memasuki sebuah ruangan yang kosong, tidak ada kursi, tidak ada benda apapun yang bisa membuatnya mengidentifikasi, siapakah pemilik rumah ini. Dalam kilasan detik yang sama, Jaka sadar bahwa ruangan ini adalah tempat berlatih silat. Diam-diam ia menghembuskan nafas dingin… di masa lalu, entah berapa banyak orang yang selalu memaksanya untuk bergebrak barang satu dua jurus, tapi dia memang malas untuk bergerak… terpaksalah Jaka mematikan gerakan mereka dengan cara sesingkat mungkin. Kali ini dia sedang malas untuk mengerahkan tenaga; biarlah kuikuti saja permainan Arseta, pikirnya.

Tak menunggu lama, Arseta beserta empat orang yang usianya hampir sepantaran dirinya memasuki ruangan itu, selain Arseta mereka membawa tikar, kain dan makanan. Lelaki paruh baya itu menyilahkan Jaka duduk. Sepoci cangkir teh hijau tersaji untuk Jaka, mencium aroma teh itu Jaka diam-diam nyengir, kejadian yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu benar-benar membuatnya tak habis mengerti, entah ada intrik apa di balik semua ketenangan mencekam itu?

“Silahkan,” kata Arseta ramah.

Tak menunggu lama, Jaka meminum teh itu. Pemuda ini paham, setelah meminum sajian air itu seharusnyalah dia terlelap sejenak… sebab dia paham aroma dalam teh tersebut adalah sebuah penawar untuk Bubuk Pelumpuh Otak. Jaka-pun ‘terlelap’ dan dengan segera pemuda yang membawa kain, membungkus dirinya dengan kain, kepalanya juga dibebat dengan kain basah beraroma harum, Jaka melepaskan kewaspadaannya, dia tahu proses yang sedang mereka kerjakan adalah untuk menawarkan pengaruh bubuk tersebut.

Diam-diam Jaka menghela nafas magsul, untuk mendapatkan Bubuk Pelumpuh Otak, jikalau ada proses jual beli, maka harga tiap bungkus kecilnya bisa mencapai ribuan keping emas. Racun ini bukanlah barang yang gampang didapat, ada semacam bahan yang hanya bisa didapatkan di sebuah pulau.. pulau di mana dulu dia pernah menerima cobaan sangat berat.. selain bahan yang sulit itu, campuran bahan lain juga perlu perhitungan yang cermat untuk menjadikannya ‘pelumpuh otak’, bagi Jaka, ini benar-benar sebuah kejutan yang tidak menyenangkan.

Sebab dia menduga akan berjumpa dengan ‘kawan lama’, meracik Bubuk Pelumpuh Otak tidak bisa sembarang diwariskan kepada orang, dia tahu itu. Sebodoh-bodohnya si peracik bubuk itu, dia sadar ada sebuah pantangan besar baginya untuk membagi ilmu meracik itu untuk orang lain, pantangan yang akan membuatnya tak akan bisa hidup tenang, pantangan yang akan membuatnya diburu seumur hidup. Membuatnya mati tidak hidup-pun tidak. Sekalipun kau bisa sembunyi di ujung langit, kau tak akan sanggup menghilangkan kekhasan aroma tubuh bagi para peracik bubuk, dan aroma khas itulah yang digunakan untuk melacak jejaknya. Pengejaran itu akan dilakukan manakala pantangan itu dilanggar, dan Jaka yakin peracik bubuk itu mengerti hal mendasar yang sudah seharusnya diketahui oleh ‘keluarga besarnya’.

Maka, Jaka sudah bisa menduga ada sebuah rencana besar yang sedang berjalan dengan sangat hati-hati… cara ‘jalan’ mereka tak ingin diketahui oleh pihak lain, pihak lain yang ditakuti. Dan Jaka tahu siapa pihak yang ditakuti mereka. Api dan Angin sudah kudapat, pikir Jaka agak terhibur.

Tak berapa lama, Jaka kembali ‘terjaga’ dia menatap dengan heran orang-orang di sekelilingnya. “Apakah aku tertidur?” tanyanya dengan lugu.

“Ya, kau tidur dengan lelap.” Sahut Arseta menjelaskan.

“Kenapa bisa sama dengan kejadian di kapal itu ya…” Jaka mengumam dengan bingung, sudah tentu pemuda ini cuma pura-pura.

“Begitulah orang-orang yang terkena Serbuk Peluluh Jiwa,” terang Arseta.

Alis Jaka terangkat, wajahnya menyiratkan tanya, padahal dia paham serbuk peluluh jiwa hanya namanya saja yang berbeda, isi lama kemasan baru. “Kau, pernah dijamu orang-orang Naga Batu, dengan sendirinya kau pernah menghirup Serbuk Peluluh Jiwa.”

“Oh, tapi aku tidak memiliki masalah dengan mereka, kenapa mereka harus memberiku serbuk itu?” Tanya Jaka tak mengerti.

Arseta menghela nafas panjang, wajahnya tiba-tiba sayu. “Semua ini disebabkan ambisi yang terlalu besar. Aku tidak pernah menyetujui rencana macam itu…”

“Sebentar-sebentar, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi… bisa dijelaskan dengan lebih terperinci?” potong Jaka.

Arseta menatap Jaka, dia merasa bimbang, tapi apa boleh dikata dia memang harus melakukan itu. “Sebelum kuceritakan, tentunya kau merasa heran dengan keberadaan kami bukan?”

Jaka mengangguk. “Ya, tapi jika andika, tak mau menjelaskan akupun memakluminya, ini adalah rahasia kalian, dengan sendirinya tidak perlu diungkap.”

“Rahasia hanya akan menjadi sampah, manakala info berharga tidak kau olah.” Sahut Arseta. Setelah mendehem sejenak, dia mengeluarkan sebuah lempengan besi kekuningan, ah ternyata sebuah lencana emas berukir naga. “Kau memiliki ini?” Tanya Arseta.

Jaka mengangguk, dari lipatan baju dalamnya, Jaka mengeluarkan lencana yang diberikan oleh Sadewa. Kedua lencana itu sama persis, kecuali milik Arseta terbuat dari emas murni, milik Jaka terbuat dari perunggu. Setelah melihat lencana Jaka, Arseta memandang pemuda itu sejenak. “Mereka menganggapmu sangat bermanfaat…”

Jaka paham, jika lencana naga emas menandakan tingkat teratas, kemungkinan besar perunggu hanya dua tingkat di bawah lencana tersebut.

“…sejauh ini aku hanya bisa membawa enam orang yang diberi lencana semacam itu, selain dirimu.” Jaka menatap empat orang pemuda yang duduk di samping Arseta. Lelaki paruh baya ini tersenyum senang, ternyata Jaka paham dengan maksudnya.

“Maaf, mereka mendapat lencana apa?” Tanya Jaka.

“Lencana besi, dua orang yang lain—tak hadir disini, mendapatkan lencana perak.” Jelas Arseta. “Baiklah, aku akan mulai dengan lencana ini dulu… mungkin kau sudah menduga, tingkatan orang-orang yang mendapat lencana semacam ini. Emas, bagi yang diprioritaskan untuk jadi pembantu utama—semacam jendral; Perak, untuk orang-orang yang mengepalai kelompok-kelompok kecil; Perunggu, untuk kurir dan mata-mata; Besi, diberikan pada bidak yang disiapkan untuk pertarungan, mereka yang berada di garis depan; Kayu, diberikan pada para pengumpul informasi… dan terakhir lencana yang ditanam, berbentuk rajah atau tato… untuk yang terakhir ini aku sendiri belum begitu jelas, kurasa racun yang terdapat pada mereka tak jauh beda dengan yang pernah kau hirup, menurut informasi yang kudapat, mereka yang di dalam tubuhnya terdapat tato naga, mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.”

Jaka termenung, dia paham kenapa bisa ada efek seperti itu, yang menjadi masalah, siapa saja orang-orang yang dirajah naga itu? Menurut pendapatnya, jika ‘sesuatu itu’ terdesak, para pemilik rajah naga inilah kartu trufnya—pelindungnya, boleh jadi mereka semacam sandera yang digunakan untuk mencari sandera pula. Mau tak mau Jaka harus mencari cara lebih hati-hati manakala menghadapinya. Sepotong keterangan Arseta benar-benar berharga!

“Aku mendapatkan lencana perunggu, tapi sejauh ini aku tidak merasa dimanfaatkan menjadi kurir atau mata-mata?” Jaka bertanya penasaran.

“Mungkin sebentar lagi akan datang orang padamu untuk melakukan ini itu, toh kau sendiri baru tiga hari disini? Kupikir mereka masih menimbang tugas apa yang cocok buatmu.”

Jaka menyeringai, Arseta tahu dirinya baru tiga hari disini, pastinya Sugiri—si pelayan di rumah makan Ki Gunadarma, sibuk menguntit dirinya dan mencatat kegiatannya. Jaka tahu itu, dia pernah memergoki gerakan Sugiri, bahkan dari isyarat yang ditinggalkan teman-temannya juga mengatakan demikian. Manakala teman-temannya memutuskan untuk menindak Sugiri, Jaka menolak, sebab dia tidak merasa terganggu. Pemuda ini justru menganggap Sugiri adalah tali penghubung pada simpul jaringan. Si pelayan itu adalah jalan menuju informasi yang mungkin saja mereka perlukan.

“Selanjutnya bagaimana?”

Arseta terdiam sesaat, “Perlu kau ketahui, aku adalah pengurus teras Perguruan Naga Batu, tapi itu dulu… sebelum para petinggi Naga Batu merubah kebijakan.”

“Sudah berlangsung berapa lama?” Tanya Jaka makin tertarik.

“Keanehan baru kuketahui dua tahun yang lalu, persisnya kapan, akupun tidak tahu. Tapi, sejak empat tahun lampau, begitu banyak perubahan mendasar dalam perguruan, dimulai dari cara rekrut murid-murid yang berbeda dari biasanya. Lalu tata cara penerimaan tamu juga dirubah, dan masih banyak lagi… dan, kau sendiri berjumpa dengan siapa?”

Jaka tahu yang dimaksud Arseta, “Aku menjumpai orang bernama Sadewa, Kunta Reksi dan Kundalini, serta beberapa orang pengikut atau murid mereka, semuanya gadis-gadis muda.”

Wajah Arseta nampak kuyu. “Dulu, kami bersahabat sangat akrab…” gumamnya.

“Apakah sekarang tidak?” sela Jaka.

“Semenjak mereka memilik hobi mengumpulkan anak muda berbakat, aku memisahkan diri darinya.”

Jaka merasa heran dengan nada Arseta. “Berarti andika masih bisa keluar masuk Perguruan Naga Batu dengan leluasa?”

‘Sekalipun demikian, toh aku lebih suka menjauh dari sana.” Desah Arseta lesu, semula ia ingin menceritakan latar belakang apa yang terjadi, tapi dengan tanya jawab ini dia malah merasa ini lebih baik.

Jaka paham, “Sudah berapa lama?”

“Dua tahun.”

“Tapi, bangunan ini pasti berumur lebih dari dua tahun.” Gumam Jaka.

Arseta menyipitkan mata mendengar cara bicara Jaka, dia tahu pemuda itu ingin mengatakan, ‘bangunan ini tidak ada hubungannya dengan Perguruan Naga Batu, lebih-lebih dengan dirinya yang keluar dari perguruan—baru dua tahun silam. Entah dari mana datangnya, mendadak Arseta memiliki gairah baru, lecutan semangat itu datang dari pemuda di hadapannya. Dia merasa pemuda ini bisa diharapkan lebih dari yang disangka semula.

“Ya, bangunan ini berusia hampir sama dengan kota ini. Sebuah kota tak boleh dibangun tanpa benteng perlindungan.”

Jaka terkagum mendengarnya, pemuda ini memohon ijin sejenak untuk berjalan berkeliling. Dia memegang saka kayu yang jadi penopang bangunan. Terlihat menghitam dan berkilat. Kayu trembesi macam ini hanya dapat terlihat mengkilat dan kehitaman, manakala sudah memasuki usia lebih dari limapuluh tahun. Jaka kembali duduk di depan Arseta.

“Sepertinya lebih tua dari yang kubayangkan.” Ujarnya dengan tersenyum. “Tentunya, urusan Perguruan Naga Batu bukan masalah lagi…” ucapan pemuda ini membingungkan empat pemuda lain, tapi tidak bagi Arseta.

Mata lelaki separuh baya ini memercik api semangat. “Ya, urusan Perguruan Naga Batu memang masalah kecil saja… sayangnya antisipasi yang sudah dimiliki para pendahulu bisa diantisipasi pula oleh pihak lain. Dengan sendirinya, kami kurang leluasa bergerak.”

Kepala Jaka mendadak terasa gatal, sungguh dia ingin sekali menguji pengetahuan Arseta dengan simbol yang dia pakai untuk mengusir penguntit setelah dia berjumpa Danu Tirta dan Damar Kemangi. Tapi Jaka menahan diri untuk tidak melakukannya, sebab setidaknya sampai saat ini di mata Arseta, dirinya hanya memiliki peringan tubuh handal.

“Sudah terantisipasi? Hm, menarik sekali… mungkin ada hubungannya dengan bau obat yang kucium pada saat masuk ke sini.” Gumam Jaka perlahan.

Tapi dalam pendengaran Arseta, ucapan Jaka seperti petir meledak di telinganya, hampir saja dia terbangun untuk meminta kejelasan Jaka. Tapi sebagai orang yang cukup berpengalaman, Arseta berusaha tak memberi reaksi.

“Memangnya kau mencium bau obat apa?” selidik Arseta.

Jaka tersenyum, dia tahu orang ini ingin mengujinya, tapi dia tak akan membiarkan Arseta tahu. “Hanya samar-samar, aku cuma menduga seperti bau obat.” Sahut Jaka pendek.

“Dimana kau cium bau samar-samar itu?” Arsetan bertanya dengan mata berkilau, nampaknya dia sudah memahami sesuatu.

Jaka tersenyum ewa, agaknya dia terlalu memandang rendah lelaki ini, “Baru saja,” katanya dengan perlahan. Terdengar helaan nafas Arseta, nampaknya jawaban Jaka tidak sesuai dengan perkiraannya. “Aku ingin latar belakang hal yang berkaitan dengan Perguruan Naga Batu, andika ceritakan… kalau tidak keberatan.” Sambung Jaka mengalihkan pembicaraan.

Arseta mengangguk. “Seperti yang kuceritakan tadi, ada perubahan kebijakan dalam tubuh Perguruan Naga Batu, aku merasa semua pihak yang berkaitan dengannya memiliki persepsi yang sama dalam waktu bersamaan pula. Ini membuatku curiga, sepulangku dari tugas di luar, semua berubah secara lamban tapi pasti, aku seolah tidak mengenali lagi mereka…”

“Dan kini, ada undangan bagi enam belas perguruan besar untuk menghadiri pelantikan para pengurus Perguruan yang baru…” Sambung salah satu dari pemuda yang duduk tepat di samping Arseta.

Jauh-jauh hari saat mengetahui Perguruan Naga Batu ternyata pernah bersinggungan dengan Perguruan Enam Pedang, membuat Jaka yakin… ada motif yang sama di balik semua ini. Jaka bisa menduga apa isi dalam hantaran itu, tapi dia belum begitu yakin, sebab sejauh ini barang kiriman itu belum menunjukkan peranan penting.

“Apakah perubahan pengurus dalam perguruan, harus melibatkan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Ya, mereka bertindak sebagai saksi. Ini memang sudah wajar dilakukan oleh masing-masing perguruan, apalagi Perguruan Naga Batu sudah menjalin hubungan erat dengan enam belas pilar utama.” Jawab Arseta.

“Apakah undangan itu boleh diwakilkan?” Tanya Jaka.

“Undangan dengan disisipkan emas murni satu peti, ingin diwakilkanpun tidak mungkin lagi.” Ujar Arseta.

“Oo…” Jaka baru tahu ternyata ada kejadian semacam itu, sungguh menarik.

“Jadi kapan acara itu akan dimulai?”

“Empat hari dari sekarang.”

“Andika sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya?”

‘Aku tidak berani menduga terlalu jauh, sebab situasi Perguruan Naga Batu tidak ada yang berubah. Semua tenang-tenang saja…”

Jaka tersenyum. “Begitu… tentunya jika andika berhasil menyelamatkan saya dan enam orang lainnya dari serbuk beracun, andika tahu mereka-mereka yang lainnya ada di mana…”

“Aku belum tahu bisa mendeteksi keberadaan orang-orang itu, semua yang berhasil kuselamatkan juga karena sejak awal kami memata-matai gerakan pendatang baru.”

“Termasuk diriku?” Tanya jaka polos.

“Tak terkecuali!” tegas Arseta. “Sayangnya, cara kerja mereka sangat khas, akupun tak kuasa lagi menyerap informasi yang benar.”

“Kenapa tidak bekerja sama dengan pihak lain?” Tanya Jaka.

“Memangnya ada pihak lain?”

“Bukankah ada enambelas pilar utama? Enam orang yang andika selamatkan, bukankah bisa menjadi penghubung?”

“Itu sudah kupikirkan…”

“Lalu apa yang andika bimbangkan?” cecar Jaka.

“Masalahnya tiap perguruan dari enam orang ini, berlepas tangan dengan kejadian tersebut.” Ujar Arseta tak semangat.

“Aku paham…” Jaka mengerti kenapa mereka melepas diri, sebenarnya tidak benar-benar melepas diri, tapi bertindak hati-hati. Bagaimana pun menuduhkan hal yang belum jelas hanya akan memperkeruh masalah, dan kekeruhan inilah yang dibutuhkan oleh para perancang kekalutan ini. “Lalu, apa tujuan andika membawaku kemari?”

“Aku ingin meminta tolong padamu, untuk tetap bertingkah seolah masih dalam cengkraman mereka.”

“Lalu apa yang kulakukan?”

“Nantinya akan ada yang memberitahu langkah-langkah selanjutnya padamu, aku meminta kerjasamamu—bukan balas jasa, untuk memberitahu kami jika sudah ada orang yang memberimu tugas ini itu.”

“Cara bagaimana aku memberi tahu kalian?” Tanya Jaka selugu orang yang tak mengenal urusan apa pun.

Arseta mengeluarkan gulungan kertas. “Di sini ada caranya, lambang yang bisa kau gunakan ada disini, aku harap kau menghafalkannya sesegera mungkin, aku tak bisa meminjamkan ini padamu terlalu lama.”

Jaka membaca gulungan itu, beberapa saat dia sudah menghafal semua… dan Jaka juga pernah menemukan di sepanjang jalan selama ke Pagaruyung, ada tanda-tanda semacam ini. Dia mengingat-ingat lambang apa saja yang pernah dijumpainya, dan kemudian ia translasikan dengan arti yang baru saja dia pahami. Diam-diam Jaka meminta maaf dalam hati, karena memanfaatkan pengetahuan Arseta. Pemuda ini menyerahkan kembali. ”Apakah hanya ini saja?”

“Sebenarnya ada hal lain, aku ingin kau bertemu dengan seseorang…” Arseta bangkit diikuti semua orang.

“Ikut aku…” katanya pada Jaka.

Pemuda ini berjalan di belakang Arseta. Mereka memasuki ruang belakang tempat berlatih, ada selasar panjang selebar bahu orang… sangat pas dilalui satu orang. Dan mendadak Arseta lenyap di dinding sebelah kiri, demikian juga empat pemuda yang mengikutinya. Jaka ragu sejenak, dia melihat dengan seksama.. ternyata ada semacam tuas di lantai untuk membuka pintu dorong yang bentuknya menyerupai dinding, begitu tuas diinjak, bahu Jaka segera mendorong, ‘dinding’ tersebut… dan dia berhasil masuk.

Tercengang adalah hal pertama terjadi, di balik dinding itu ternyata ada dunia lain… begitu banyak orang yang berlalu lalang dalam ruangan seluas 10 x 20 meter itu, ruangan itu semacam kantor administrasi yang sangat sibuk, di sana sini terdapat meja kursi yang dipenuhi kertas dan alat tulis, ada juga orang-orang yang sedang sibuk membahas sesuatu.

Jaka sadar, dia sedang memasuki kawasan yang tidak akan mudah dia kembali dengan kondisi semula, selain dirinya memiliki nilai tawar yang bisa digunakan oleh mereka. Mereka sudah tiba di ujung ruangan dan masuk ke dalam ruangan lain lagi, dengan cara yang sama.

Di balik dinding itu ada orang-orang yang duduk berjaga… ruangan ini semacam tempat menerima tamu, dikatakan semacam karena tamu yang bisa masuk kemari harus dipandu tuan rumah dulu. Aroma obat makin kuat menyengat. Jaka menghela nafas dingin… dia sangat paham dengan aroma khas semacam ini.

Arseta menyilahkan Jaka duduk, dia sendiri masuk di balik kelambu yang memisahkan ruangan itu dengan bagian yang lain. Tak berapa lama Arseta muncul diikuti seorang lelaki berusia pertengahan tiga puluhan. Jaka memperhatikan wajah lelaki gagah berjenggot itu, matanya bersinar tajam, ada wibawa besar menyelimutinya.

“Perkenalkan, beliau adalah Ketua Bayangan dari Perguruan Naga Batu.” Kata Arseta dengan hormat.

Jaka bangun dan menghormat, sikapnya biasa saja, tidak terkejut tidak pula ingin bertanya ini itu, seolah dia memang benar-benar tidak mau tahu urusan. “Salam kenal, ketua, saya Jaka Bayu.” Katanya.

Lelaki itu mengulurkan tangan, Jaka menyalaminya, dan seperti dugaannya.. lelaki itu berminat mengujinya. Sebersit tenaga yang sangat tajam menyusup dari balik telapak tangannya dan ‘mematuk’ Jaka. Pemuda ini merasakan tangannya pedih dan kebas, ternyata tenaga orang ini setegar cadas dan berdaya rusak tinggi.

Jaka tidak menghindari tenaga itu, dia menerima tenaga itu dengan satu tarikan nafas, dan rasa pedih membuyar perlahan… namun demikian dalam hati Jaka merasa terkejut, sebab tenaga itu tak bisa dibuyarkan begitu saja dalam tubuhnya, tenaga itu malah makin meresap menyesak ulu hatinya. Wajah pemuda ini memerah sesaat, dan mendadak… wajah Ketua Bayanganlah yang berganti kejut… seolah-olah dia terpatuk ular.

“Terimakasih,” Jaka melepas tangan sang ketua yang tak lagi mengalirkan hawa serangan.

“Kau anak murid Arwah Pedang?” Tanya Ketua Bayangan dengan penasaran.

Jaka tersenyum sembari menggeleng, “Bukan, tapi aku pernah diajari satu dua jurus olehnya.”

Mendadak, Ketua Bayangan mengibas tangan kirinya, selarik sinar merah melecut Jaka dengan begitu cepat… Jaka tak terkejut, dia diam saja. Dan sinar itu berhenti tepat di depan hidungnya… hanya berjarak satu ruas jari. Oh ternyata sinar kemerahan itu adalah rumbai baju Ketua Bayangan.

“Kenapa tak menghindar?”

“Sebab aku memang tidak perlu menghindar.”

Jawaban Jaka membingungkan mereka. Tapi Ketua Bayangan paham, dia mengerti sebab untuk bertemu dirinya dilalui proses yang lama dan berbelit, dan tak mungkin pula tamu tersebut dianiaya tanpa alasan, sebuah kesimpulan tentang Jaka sudah diperolehnya.

—ooOoo—

64 – Menyambung Kepingan Informasi

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku disini?” Tanya Ketua Bayangan Naga Batu seperti ingin menguji Jaka.

“Aku tidak tahu apa-apa, aku juga tidak tahu seperti apa Perguruan Naga Batu, aku cuma kebetulan terseret arus pertikaian orang saja… jika ketua ingin menjelaskan, aku dengarkan, jika tidak akupun tak keberatan.”

Jawaban Jaka yang masa bodoh, membuat Ketua Bayangan itu gerah juga. Dia pikir, untuk orang yang pernah belajar satu dua jurus dari Arwah Pedang, pembawaan pemuda ini kurang begitu meyakinkan, masa Arwah Pedang yang dingin dan tertutup itu asal memberi petunjuk?

“Baik! Singkatnya, aku membutuhkan tenagamu untuk membantuku menyelesaikan urusan di Perguruan Naga Batu.”

“Aku tak keberatan, cuma harus diketahui, aku tidak tahu apa-apa mengenai itu.” Jaka beralasan.

“Kau cukup mengikuti saran dari kami, manakala datang perintah padamu, saat itupula kau harus ikut dalam rencana kami.”

Jaka menilai orang ini selain berwibawa, tapi pembawaannya terlalu memaksa, bermain dengan orang semacam ini membuatnya teringat pada seseorang. Diam-diam pemuda ini tersenyum.

“Baiklah, informasi apa yang bisa aku dapatkan untuk memudahkan tugasku?”

“Saat dirimu mulai mengadakan kontak dengan kalangan Naga Batu pertama kalinya, perhatikan saja setiap orang yang terlibat didalam rancangan mereka, ingat baik-baik siapa mereka.”

“Itu masalah mudah, tapi bukankah andika merupakan Ketua Bayangan? Aku membayangkan andika mengetahui lebih banyak hal, dari pada informasi yang akan kuberikan nantinya.”

Ketua Bayangan tertawa masam, “Apa yang kau katakan tidak salah, tapi kekuasaanku kali ini sangat terbatas. Benar, aku bisa setiap saat datang dan pergi, tapi gerakanku mau tak mau harus dibatasi, sebab begitu banyak orang yang membelaku, kini berbalik membelakangiku… dengan sendirinya, caraku mengamati tak mungkin semudah biasanya.”

“Bukankah ada orang yang serupa dengan diriku? Apa tugas mereka?”

Ketua Bayangan paham maksud Jaka, “Mereka juga menyerap informasi dengan cara yang sama… tiap seksi akan menghasilkan informasi berbeda. Dan sekecil apapun informasi, akan sangat berharga bagi kami.”

Jaka mengangkat bahunya. “Hm… aku tak keberatan, cuma… berhasil tidaknya rencana andika, apa mempengaruhi orang lain pada umumnya?”

“Ini tergantung mau kemana arah mereka.” Ujarnya dengan pandangan menerawang. “Tapi aku melihat ada ambisi besar, jika maksudmu adalah; mempengaruhi kaum persilatan pada umumnya bisa aku benarkan…”

Jaka ikut menghela nafas, nampaknya apa yang dipikirkan orang ini terlalu jauh, tapi dia tak menyalahkannya, sebab memang harus seperti itu. Ditinjau dari bubuk yang dipakai golongan ini saja, sesuatu yang bergerak didalam Perguruan Naga Batu, tergolong sangat istimewa. Jaka sudah memutuskan untuk merangkum Bergola dan kelompoknya ke dalam konflik Perguruan Naga Batu. Ada sebuah ciri khas sementara yang bisa Jaka ambil, pihak Perguruan Naga Batu, hanya merekrut orang-orang yang berharga dan memiliki sumber daya bagus. Bergola terlalu ceroboh, sekalipun dia bertindak cukup rahasia. Dia tidak cukup berharga di mata penggagas konflik Perguruan Naga Batu. Tapi justru orang sok tahu semacam Bergola-lah yang cocok jadi ujung tombak Jaka.

Sebuah rencana baru tersusun perlahan dalam benak Jaka, tabiat orang dihadapannya ini telah memberi inspirasi, bagaimana dia harus bergerak nantinya.

“Jika demikian adanya, aku tak keberatan. Apakah aku harus selalu melakukan kontak dengan salah satu dari kalian?” Tanya Jaka lugu.

“Sudah pasti.” Jawabnya singkat.

“Hh… padahal aku kemari hanya untuk jalan-jalan saja.” Gerutu Jaka, mendadak Jaka menjatuhkan sesuatu dari balik bajunya. Begitu menyadari apa yang terjatuh itu, semua orang menatap pemuda ini dengan pandangan aneh. Lebih-lebih Ketua Bayangan… dia menatap Jaka seolah sedang menatap mahluk lain.

“Dari mana kau dapat ini?” katanya sambil memungut benda yang jatuh tadi. Jaka menyeringai, dia mendapat sebuah benang merah yang tak disangkanya. Pemuda ini memang sengaja menjatuhkan batangan emas yang memiliki stempel pengesahan.

“Bukankah setiap orang bisa memiliki emas?” Jaka balik bertanya, sembari meminta emas batanganya.

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan tidak mengerti. “Tapi emas dengan stempel ini hanya bisa di keluarkan oleh pihak tertentu, manakala kau memiliki jaminan sangat besar. Sebab emas ini mengemban nama baik stabilitas sebuah kerajaan…” jelasnya dengan menyerahkan emas itu.

Jaka manggut-manggut, dia mengerti maksud Ketua Bayangan. Lempengan emas murni yang di pegangnya memang sama persis dengan emas yang beredar diluar, disinyalir telah diedarkan untuk melakukan pembayaran pengiriman barang. Uang emas semacam ini tidak bisa digunakan untuk pembayaran pada sembarang tempat, ada semacam tempat penukaran uang untuk mencairkan nilai emas itu. Memiliki satu lempeng emas dengan stempel pengesahan itu, sama saja berhubungan dengan orang yang memiliki kekuatan menghamburkan uang.

Dan cap pada lempeng itu justru sama persis dengan emas yang diberikan sekelompok orang pada biro Pengiriman Golok Sembilan. Jaka ingin memancing dari Ketua Bayangan—si sumber berharga, tentang seberapa jauh keterlibatan pihak pengacau Perguruan Naga Batu dengan pihak pemberi mandat pengiriman ke Perguruan Enam Pedang.

“Aku tidak begitu paham apa yang andika cakapkan, tapi aku mendapat ini dari seorang teman, kebetulan waktu itu memang sedang kehabisan bekal, dia memberikan ini padaku.”

Ketua Bayangan menatap Jaka dengan pandangan menyelidik, sesaat kemudian dia menghela nafas. “Dan kau merasa berterimakasih setelah diberi emas itu?”

Alis Jaka mengerinyit, orang semacam Ketua Bayangan, tidak mungkin mengatakan hal yang sia-sia, dia yakin ada sesuatu dari ucapannya itu. “Tentu saja, aku bukan orang yang tidak tahu diri.” Jawab Jaka agak ketus.

Lelaki itu tersenyum tipis. “Jika kau tahu pesan apa yang terdapat dalam emas itu, kau pasti akan menyumpahi orang yang memberi emas itu.”

“Oh ya? Apakah ada sebuah rahasia dalam kepingan emas ini?” Tanya Jaka pura-pura bodoh. “setahuku, bahasa emas seperti ini cuma satu.. gunakan aku, dan kau kaya.”

“Aku tak ingin membahasnya sekarang.” Tegas Ketua Bayangan. “Aku ingin kau, menjadi ujung tombak kami. Dengan perubahan akhir-akhir ini, menurut perkiraanku, paling banter malam nanti sudah ada orang yang akan menjumpaimu.”

“Ya, aku memang berjumpa dengan banyak orang..” ujar Jaka masa bodoh.

“Bukan itu maksudku..’

“Aku paham,” cetus Jaka. “Akan kujalankan seperti yang andika pesan, jangan kawatir… aku tahu aku harus bertindak apa, aku tahu budi ini harus kubalas…” ujarnya sembari tersenyum.

“Bagus kalau kau paham, dan satu lagi… memasuki tempat ini bukanlah hal yang bisa dilakukan setiap orang. Ini bukan tempat rahasia, tapi ini adalah tempat orang-orang segolongan…”

“Aku tidak bodoh,” Jaka menukas lagi. “Apakah ada sesuatu yang harus aku telan?” ujarnya dengan polos.

Ketua Bayangan menggerakkan rahangnya, baru kali ini dia menghadapi anak muda yang bersikap masa bodoh, tidak tahu takut seperti Jaka ini. “Dengar Jaka, semua yang kami berikan padamu itu memiliki harga… kau pikir penawar yang kami berikan itu tinggal beli di pasar? Mengertilah, ini harga yang harus kau berikan kepada kami, dan kami harus berspekulasi! Kami harus titipkan kepercayaan kami padamu, tapi aku tidak tahu kau siapa… mereka juga tidak tahu kau ini siapa” ujarnya sembari menunjuk Arseta. “Jadi kau harus maklum, jika aku memintamu sementara, memberikan kepercayaanmu pada kami…”

Jaka manggut-manggut. “Ya, aku paham… kepercayaanku pada kalian adalah, ada sesuatu yang harus aku telan untuk kemudian aku harus menelan lagi semacam penawarnya. Cukup beralasan.. aku tak keberatan.” Ujar pemuda ini tanpa ekspresi.

Ketua Bayangan menyerahkan sebuah kantung hijau pada Jaka. “Telan satu biji saja.”

Jaka membuka kantong itu dan mengambilnya, diamati dengan sekejap. Satu butir buah kering yang membuat Jaka berkerut kening.

“Kenapa?” tanya Ketua Bayangan dengan sinis. “Bukannya kau tadi paham maksud ku?” sambungnya dengan nada datar, Jaka nyaris mendengar sebuah sindirian ditujukan padanya.

Pemuda ini tersenyum, “Aku paham kok, aku cuma sedang mengira-ira, seperti apa rasanya buah ini.. begitu pekat dan kisut.. mungkin rasanya seperti tahi kambing?” ujarnya.

“Telan saja, jangan banyak tanya.” Dengus Ketua Bayangan dongkol.

Jaka nyaris tertawa mendengar tensi lelaki itu meninggi. Dengan pura-pura menahan nafas, Jaka menelannya. “Hm, tidak buruk.. rasanya manis.”

“Didalam kantung ada tiga buah kering berwarna hijau, tiap dua malam sekali, kau cukup menelan satu.”

“Kalau aku tak menelannya?”

“Nasibmu tidak akan semanis rasa buah itu.” Dengus Ketua Bayangan.

“Mungkin aku bisa bertanya pada Arwah Pedang, siapa tahu dia mengerti cara memunahkan ini.” Gumam Jaka.

“Tidak boleh!” desis Ketua Bayangan sembari menatap Jaka tajam.

“Kenapa tidak?” tanya Jaka heran, padahal dia tadi cuma iseng saja berkata begitu, dia sudah tahu efek buah jalanidhi—buah kering yang ditelannya itu, bisa dipunahkan dengan meminum setegukan air laut.

“Aku tidak mengijinkan!” dengusnya ketus.

“Ah, aku tahu… mungkin andika punya ganjalan dengan salah satu guruku… baiklah, biar urusan ini tidak berlarut-larut, aku akan memenuhi keinginanmu menelan buah jalanidhi ini.” Jaka berkata sambil tersenyum.

Tapi paras orang yang mendengar ucapan terakhir Jaka, benar-benar seperti habis kena tampar.

“Kau tahu nama buah itu?” tanya Arseta terkejut.

“Semua orang ditempatku sudah pasti tahu ini buah apa.” Ujar Jaka polos.

“Memangnya kau berasal dari mana?” tanya Ketua Bayangan penasaran.

“Yang jelas, aku pernah hidup di sebuah pulau…”

Cukup mendengar ini saja, maka Ketua Bayangan bisa membayangkan pulau macam apa yang ditinggali Jaka. Pandangannya pada Jaka kembali berubah. Dia berpikir, pantas saja Arwah Pedang tertarik dengan anak ini.

“Kau boleh pergi.” Kata Ketua Bayangan sembari member isyarat pada orang lain untuk membawa Jaka keluar.

Ruangan itu hening, kini tinggal Ketua Bayangan dan Arseta yang ada disitu.

“Kukira manisanmu ini cukup langka,” ujar Ketua Bayangan sambil mengambil buah serupa dengan yang ditelan Jaka, lalu mengunyahnya perlahan.. selanjutnya dia mengambil yang berwarna hijau, demikian berulang kali, selang seling antara yang berwarna hitam dan hijau di makan berurutan.

Arseta tertawa getir. “Aku mana tahu dia hidup di gugusan Pulau Kendriya.”

Ketua Bayangan menghela nafas perlahan. “Jalanidhi memang buah aneh, jikau kau memakan yang hitam tanpa memakan yang hijau, satu hari kemudian tubuhmu lemas, kakimu bengkak, dan matamu sayu, ingin tidur sewaktu-waktu, dan pada saat kau terlelap, untuk membuka matapun tenaga sudah tidak ada…”

“Buah aneh memang.” Komentar Arseta. “dan kujamin tidak banyak orang yang tahu, bahkan jika dia orang kepulauan Kendriya itu sendiri.”

Hening sesaat. “Apa karena dia berhubungan dengan Arwah Pedang?” gumam Arseta lagi.

“Tidak bisa kusimpulkan sejauh itu, tapi setahuku Arwah Pedang tidak pernah berkelana ke pulau-pulau.”

“Seberapa akurat informasimu itu?” tukas Arseta. “apa akhir-akhir ini kau berhubungan dengan Arwah Pedang?”

Rahang ketua Bayangan menggelembung, nampaknya di menyimpan ganjalan dengan Arwah Pedang. “Hanya setan yang mau berhubungan dengan dia!”

Arseta tertawa tanpa suara. “Aku akan mengutus Paksi Welirang untuk membuntuti Jaka, kita lihat apakah pengetahuannya tentang buah jalanidhi hanya sebuah kebetulan, atau memang kita sedang dikecohnya…”

Ketua Bayangan tersenyum. “Boleh saja kau berpikir demikian, tapi penawar Serbuk Peluluh Jiwa juga punya takaran keras, jika dia tidak terkena Serbuk Peluluh Jiwa, kau pikir penawar itu tidak akan melumpuhkan tenaganya? Tadi awalnya aku merasa tenaganya memang lemah, tapi mendadak muncul sangat tajam, menyengat seperti lebah, tidak ada satu titik tenaga terhambur sia-sia. Pemusatan tenaga itu yang kutahu butuh latihan sangat dalam, dan sabar… Arwah Pedang punya ciri seperti itu, dan Jaka juga memiliki ciri yang sama.”

“Tapi itu, tidak cukup menjadi bukti dia terkena Serbuk Peluluh Jiwa. Kau bilang orang semacam Arwah Pedang, tidak menyia-nyiakan tenaganya, cukup pemusatan ke satu titik. Aku paham benar, sekalipun penawar ini membuat lemah tenaganya, bukan berarti dia tak bisa mengeluarkan hawa murninya, cara pemusatan dalam satu titik serangan itu, bukankah jauh lebih efektif dilakukan orang yang tenaganya sedang dalam gangguan?”

“Kau benar.” Ujar Ketua Bayangan setelah berpikir beberapa saat.

“Satu lagi, kau pernah mencium aroma obat di balairung depan?”

Ketua Bayangan menatap Arseta dengan tatapan heran. “Tidak, memang kenapa?”

“Jaka menciumnya.” Lirih suara Arseta, tapi dalam pendengaran Ketua Bayangan seperti petir menggelegar.

“Kau tanyakan padanya bau apa yang dia cium?”

“Tidak, sebab dia tidak memberiku kesempatan untuk bertanya lebih jauh.”

Ketua Bayangan menghela nafas panjang, “Apakah keputusan kita salah?”

“Kuharap tidak.” Sahut Arseta pendek, tapi dia sudah tahu apa yang akan dilakukannya. “Akan kusuruh Kiwa Mahakrura untuk mendampingi Paksi.”

Ketua Bayangan menatap Arseta dalam-dalam, dia paham, tidak boleh ada satu kesalahan dalam rencana mereka, jika Jaka adalah sebuah kesalahan, maka yang paling tepat adalah mengutus Kiwa Mahakrura, orang ini disebut dalam perkumpulannya sebagai Tukang Sapu, sebab perkerjaannya memang membersihkan debu.. debu-debu yang menghalangi usahanya. Dan sejauh ini tak satupun debu bisa menghalangi Kiwa Mahakrura. Kiwa Mahakrura memiliki tangan kiri yang sangat kuat, dan dia juga tidak pernah ragu dengan keputusannya, tegas, kejam dan bengis benar-benar karakter yang sesuai dengan namanya, krura—buas, kasar, kejam.

“Kuharap, Arwah Pedang tidak mengetahui ini.” Gumamnya merasa miris. Arseta juga paham, jika Arwah Pedang sampai tahu orang yang memiliki kekerabatan dengan dirinya lenyap, banjir darah pasti tidak terelakkan.

“Apa kubatalkan saja?” tanya Arseta meminta pertimbangan.

“Tidak, tetap seperti rencanamu semula. Dalam masa kritis ini, memang banyak resiko yang kita tanggung, kita tidak boleh lembek!”

“Baiklah…” Arseta segera mengundurkan diri dari situ.

Begitu ditinggal sendirian, Ketua Bayangan segera duduk termenung, matanya menyorot tajam kearah pintu. Dia tadi memperhatikan gerak-gerik Jaka, langkahnya mantap, sorot matanya bersahabat, dan kalimat-kalimatnya membuat dia terkadang mati kutu, orang semacam ini tidak mungkin sepolos kelihatannya. Dia ingin sekali melihat Jaka berhadapan dengan Kiwa Mahakrura… atau, siapa tahu Jaka bisa benar-benar menjadi anggotanya yang bisa diandalkan.

—ooOoo—

65 – Momok Wajah Ramah

Jaka dibawa keluar dengan mata tertutup, pemuda ini tahu jika dirinya dibawa keluar dengan jalan berbeda. Tak berapa lama kemudian dia disuruh duduk, telinganya cukup peka untuk membedakan suara keramaian disekelilingnya itu bukanlah pasar, tapi sebuah rumah makan yang sangat ramai. Begitu ada isyarat membolehkannya melepas ikatan pada matanya, Jaka memandang berkeliling, dan dia terkejut ternyata rumah makan tempatnya berada sekarang, hanya selisih satu bangunan dengan tempatnya menginap.

Tak terburu-buru, Jaka segera memesan sup, jika orang lain tentunya akan bertanya-tanya, kenapa orang-orang disektar sini tidak heran dengan kondisi matanya harus tertutup? Jawabannya cukup dipahami Jaka, sebab rumah makan ini milik Arseta, atau entah siapapun dia, yang jelas masih berkaitan dengan pemilik bangunan misterius tadi.

Malam itu memang cukup dingin, Jaka menyantap sup kaldu ayam dengan perlahan, pandangan matanya, menyapu sekeliling ruangan. Jaka menyadari, keramaian dalam rumah makan itu secara perlahan menipis dan akhirnya hening, senyap, padahal didalam ruangan itu terdapat demikian banyak orang.

Nampaknya ada permainan yang ingin ditunjukkan padanya, setidaknya begitulah pendapat Jaka.

Tak perlu menunggu lama, muncul seorang berpakaian biasa, layaknya penduduk kota, tapi tak cukup biasa dimata Jaka, dia memesan makanan dan duduk di depan Jaka—karena itu satu-satunya meja yang masih kosong. Pemuda ini memperhatikan orang itu sejenak.

“Aku yakin kau memesan seperti yang kumakan.” Kata Jaka.

“Dari mana kau tahu?” ujarnya menarik muka, kelihatannya dia tak begitu suka bicara.

“Mudah saja, kau masuk kesini, kau melihat semua bangku penuh, dan kau melihat aku sedang menikmati makanan ini dengan nikmat. Dimalam yang dingin ini, kaldu memang pilihan tepat.”

“Hm..” orang itu tidak berkomentar, sebab pesanannya datang, dan segera saja dia mencobanya sesuap.

“Padahal, jika kau mau bertanya lebih lanjut, kau akan tahu kenapa dugaanku tepat…” Jaka menyambung lagi, dia tak perduli meskipun lelaki ini tak memberi komentar. “Pertama, memang inilah satu-satunya makanan yang tersisa…” katanya sambil tertawa lebar. “Anak-anak pun bisa menduga hal ini..” Jaka menyeruput kopinya, lalu lanjutnya. “Tapi tahukah kamu, ini bukan satu-satunya makanan yang tersisa, tahukah kamu kenapa kamu harus pesan makanan ini?” bisik pemuda ini dengan suara dilirihkan, tak cukup lirih untuk orang yang duduk di meja seberang. Lelaki itu tak ambil perduli, meskipun suapan tangannya sempat terhenti.

“Tapi aku tak akan memberitahumu kenapa,” pemuda ini tertawa lebar, dia sama sekali tidak canggung dengan suasana yang hening itu. “Sebab setelah selesai makan, kau akan merasa sangat mengantuk…”

Setelah berkata demikian, Jaka bangkit dan dia memberikan beberapa keping uang. “Dia kutraktir.” Katanya.

Jaka berlalu dengan senyum mengembang makin lebar. Jika Arwah Pedang melihat senyum pemuda ini, maka dia akan segera pusing, sebab dia paham benar, akan ada ‘korban’ jatuh. Jaka memiliki kebiasaan yang kurang baik—begitu menurutnya, yakni; manakala lawannya tak cukup sebanding dengan dirinya, dan menyebalkan pula, maka Jaka biasanya membuat orang itu kehabisan akal, putus asa, buntu, tidak ada jalan keluar, dan kelihatannya itulah rencananya saat ini.

Begitu kaki pemuda ini menapak keluar rumah makan, detik itu juga tubuhnya lenyap, seolah-olah dia bisa menghilang.

Lelaki yang semeja dengan Jaka, tidak memperdulikan omongan Jaka, tapi manakala dia melihat satu goresan dimejanya, dengan sendirinya, suapannyapun terhenti. Sebisa mungkin dia usahakan rona wajahnya tak berubah, dengan wajar, ia habiskan sup tadi dan selanjutnya keluar.

Begitu lelaki ini keluar, seluruh orang dalam rumah makan pun turut keluar, jika ini disebut penguntitan, maka ini adalah penguntitan terbodoh sepajanjang masa, sebab cara mereka menguntit demikian terang-terangan, tak perduli lelaki ini berhenti dan menoleh kepada mereka, mereka pun turut berhenti dan ikut menoleh kebelakang pula.

“Apa yang kalian inginkan?” tanya lelaki ini dengan geram.

Rombongan penguntit itu diam saja, mereka bahkan sudah membuat suatu lingkaran yang mengurung lelaki itu.

“Jalan begini lebarnya, siapa bilang kami perlu sesuatu darimu? Kau toh bukan siapa-siapa…” ujar salah seorang penguntit dengan ketus.

Rahang lelaki ini mengembung, giginya saling beradu, hari ini benar-benar dia merasa sial tujuh turunan. Dilain pihak, amarahnya ingin dilampiaskan, tapi jika dia melakukan itu, maka terbongkarlah pekerjaan besarnya di kota ini. Maka sebisa mungkin dia tahan kekesalannya.

“Ya sudah, terserah kalian saja!” Ujarnya dengan dingin, sambil berlalu dengan hati panas. Tak perduli mereka menguntit, lelaki ini tetap berjalan… dia berjalan sesuai petunjuk coretan yang di tinggalkan Jaka.

—oOo—

Di Telaga Batu.

Sebuah rombongan terpisah berjalan beriringan menuju telaga batu. Perjalanan menuju Telaga Batu bukannya dekat, jika tak ingin melewati jalan utama, maka harus memutar melalui bukit, dan jika dia berjalan memutar, maka akan memakan waktu banyak, dan dia akan kehilangan sesuatu yang penting. Maka mau tak mau dia tetap melewati jalan utama. Dan seperti dugaannya, melewati jalan utama berarti menarik perhatian orang, Kota Pagaruyung itu tetap hidup di malam hari, begitu ada iringan yang aneh, sudah tentu mereka-mereka yang melewatkan malam di keda-keda turut serta pula menguntit di balakang. Lelaki itu tidak perduli lagi, seberapa banyak orang mengikuti dirinya, yang ada dalam benaknya sekarang, dia harus menemui Jaka!

Sebenarnya apa yang Jaka tulis?

Pemuda ini tidak menggoreskan sebuah tulisan, dia hanya menggoreskan sebuah kode sandi, kebetulan kode sandi ini dimiliki oleh perkumpulannya. Dan sialnya, kode itu biasa digunakan oleh atasannya.

Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi atasannya? Hal yang paling mungkin adalah sebuah kebocoran informasi telah terjadi diwilayah kerjanya! Itu yang harus di selidiki lelaki ini.

Mendekati, Telaga Batu, samar-samar terlihat ada pantulan cahaya, lelaki ini berkerut kening, bahkan rombongan penguntit inipun sama-sama heran, sebab suasana telaga batu biasanya gelap gulita, jikapun ada sinar, paling satu dua nelayan yang sedang menangkap ikan. Tapi, makin mendekati tepian telaga, cahaya tersebut makin terang…

Dan akhirnya, sampailah lelaki itu di tepi telaga, keterkejutan membuncah dadanya, telaga batu berubah menjadi lautan cahaya, bahkan di tengah telaga, terdapat begitu banyak perahu nelayan, di pinggiran telaga pedagang tiban juga banyak, suasana begitu meriah, mirip pasar malam.

“Sial! Ini kan acaran malam akhir bulan,” Terdengar salah satu penguntit memaki. “bukankah sudah enam bulan ini tidak pernah di lakukan lagi? Kenapa harus sekarang?” makinya lagi.

Para penguntit ini sibuk menoleh kesana kemari memperhatikan situasi, dan mereka sadar, lelaki yang mereka ikuti sudah menghilang entah kemana, kemungkinan besar dia menyusup ditengah kerumunan orang.

“Cari dia!” perintah salah seorang penguntit. Dan rombongan itupun menyebar, demikian juga dengan orang-orang yang ikut-ikutan menguntit, mereka menyebar kedalam kerumunan, berbaur dengan aktifitas pasar tiban.

Sementara itu, Jaka asik duduk didepan penjual ronde, di sampingnya ada lelaki yang dari tadi sibuk mencarinya. Pemuda ini tidak berkata apa-apa sampai minumannya habis. Lalu dengan tanpa bersalah dia bertanya.

“Kau mencariku?”

“Bukankah kau yang menyuruhku mencarimu?” tanyanya geram.

“Ah, masa? Memangnya aku melakukan apa?” Jaka berpura-pura bodoh sambil membuka kulit kacang.

“Kau…” desis lelaki ini marah sekali. Tapi kemarahannya harus ia telan kembali, dirinya tak tahu sama sekali pemuda itu, jika bertindak ceroboh, bisa jadi dirinya benar-benar lebih sial dari sebelumnya.

Pemuda ini tertawa, dia geleng-geleng kepala, lalu dari balik bajunya dia mengeluarkan bungkusan daun kering, yang ternyata didalamnya berisi sebuah kain, lalu dia serahkan pada lelaki itu. “Aku mau kau melakukan ini…”

Lelaki itu bingung, dia membolak-balik kain itu, tidak ada tulisan tidak ada petunjuk apapun.

Jaka memberi isyarat dengan menyentuh hidungnya. Lelaki ini mencium kain itu. Jika orang lain di keremangan cahaya tidak bisa melihat rona wajah, maka Jaka sanggup melihat, dan dia tahu, lelaki ini terkejut.

“Apa yang kau dapatkan?”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Kau tahu siapa aku? Kau tidak salah orang?”

Jaka tertawa lebar. “Tidak, aku bahkan tahu kau berasal dari mana, aku tahu seharusnya kau akan pergi kemana dan aku tahu kau sedang mencari apa. Ini bukan kesalahan, ini cuma hari sialmu saja…”

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan tak mengerti, darimana pemuda ini tahu siapa dirinya?

“Kau pasti ingin bertanya darimana aku mengenalmu?” sambung Jaka sembari mengunyah kacang. “Aku pernah melihatmu berjalan bersama temanmu yang ceroboh itu, siapa sebutannya itu ya? Ah, Panah …”

Kesabaran lelaki ini habis, belum selesai Jaka bicara, sebuah pukulan dilayangkan tepat kewajah pemuda ini, gerakannya cepat dan akurat, jika berganti orang diposisi Jaka, pukulan yang hanya berjarak satu jangkauan, dipastikan mengenai sasaran. Tapi sayang, yang dihadapi ini Jaka, pemuda yang kemahirannya bahkan Si Hastin-pun tak mau jika harus menghadapinya.

Jaka menggeser kepalanya kesamping, pukulan itu lewat disisi wajahnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. “Jika aku jadi kau, pasti tak mau melakukan tindakan bodoh…” ujar pemuda ini masih tenang-tenang mengunyah kacangnya.

Lelaki ini menatap Jaka, satu pukulannya cepatnya dilewatkan begitu saja, dan dia yakin serangan lainnyapun akan dihindari dengan cara yang sama pula. “Apa yang kau inginkan dariku?”

Jaka menatap lelaki itu dengan tersenyum. “Kau tidak tuli, apa yang kuperintahkan kau sudah tahu. Aku menanti kabar baik esok hari…”

“Atas dasar apa kau memerintahku?!” serunya dengan suara direndahkan, sebab dia kawatir, banyak orang akan curiga.

“Mau tahu alasannya? Kusebutkan satu saja… jika perkerjaanmu terganggu, kau tidak naik peringkat, jika orang tahu siapa dirimu, bukan saja kau akan dikejar atasanmu, sobatmu yang ceroboh itu pasti akan memulai pencarian dari pekerjaanmu yang terakhir disini, dan yang paling penting, kau takut dengan Kelompok Kilat dari Sampar Angin, cukup kubocorkan apa yang pernah kaulakukan pada salah satu anak muridnya, kau bisa bayangkan sendiri kelanjutannya…”

Jaka tersenyum, padahal pemuda ini mengatakan aku menyebut satu alasan, tapi yang dia kemukakan sudah terlalu banyak, dan membuat lelaki ini pucat pasi. “Ah aku lupa, satu lagi, satu-dua hari kedepan, ada tiga pendekar utama berjuluk, Kepalan Maut, Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh datang mengiringi seorang tokoh termasyur, aku ingin kau menguntit mereka.”

“Ah…” lelaki ini kembali terkejut.

“Aku ingin, kau membuat mereka tidak nyaman di kota ini…”

Ucapannya yang terakhir membuat lelaki ini terheran-heran, dia pikir Jaka pasti sedang bercanda. Manakala melihat pemuda itu memerintah dengan wajah serius, dia yakin, pemuda ini serius.

“Kau pasti heran, kenapa perintahku sama dengan perintah atasanmu yang bodoh itu, siapa namanya? Ah, kalau tidak salah Sora Barung, saat ini kelihatannya dia masih aktif sebagai anggota Perguruan Naga Batu ya…”

Mendengar ini, wajah lelaki itu makin pias, Jaka telah menyebut nama! Dan lelaki itu sadar dirinya sudah masuk dalam posisi sulit. Meski dalam kelompoknya mereka tidak tahu menahu siapa atasannya, tapi manakala ada anggota mengetahui siapa atasan mereka, sudah cukup bagi perkumpulan untuk menjatuhkan hukuman berat padanya. Dan sialnya kali ini dirinya harus dipaksa tahu, oleh pemuda yang tak dikenalnya ini.

“Jadi, sekarang kau ada disisi siapa?” Jaka bertanya.

Lelaki ini mengepalkan tangan, mendadak saja dia tersenyum. “Baik, aku disisimu!” tegasnya.

“Begitu baru benar,” sahut Jaka puas. “Tak sia-sia orang memanggilmu sebagai Momok Wajah Ramah.” Sambung Jaka dengan tersenyum.

Bahwa pemuda itu mengaku kenal dengan dirinya, dia masih curiga, setelah kode anggota ‘Panah’ dilontarkan pemuda itu, dia pun masih memiliki rasa sangsi—mungkin saja pemuda ini salah orang, tapi ucapan terakhir tadi sudah meruntuhkan semua antisipasi dalam dirinya, julukan yang dikenal hanya dalam perkumpulan, pemuda itu mengetahuinya.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: