Seruling Sakti Jilid 71-75

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 71 Sampai 75

71 – Serigala

Pada dua puluh tahun lampau, ada seorang lelaki yang sangat gemar berpetualang. Wajahnya elok, digandungi banyak wanita. Ciri yang paling khas darinya adalah kayu hitam yang selalu setia berada dalam genggaman tangannya. Entah dia sedang makan, entah sedang mandi, entah sedang bercinta, kayu itu tak pernah lepas dari tangan kirinya. Tapi jangan bayangkan waktu dia buang air besar, sudah jelas kayu itu dia pindahkan dari tangannya.

Tentu saja apa yang dia lakukan itu bukan untuk sok-sokan belaka, tapi memang keharusan, sebab itulah caranya memperdalam ilmu. Bagi orang yang tak mengetahui, mungkin saja kelakuannya itu supaya cepat dikenal orang lain. Maklum saja, selain kayu itu benar-benar gaman yang sangat tidak cocok untuk menebas, ternyata digunakan oleh orang itu untuk menebas layaknya pedang, dan sasaran yang dia tebas pun bukannya hancur atau tercecer, tapi rata layaknya terkena benda tajam.

Kriyadwaya adalah seorang pembawa kabar di dunia persilatan masa itu yang terkenal, dan terpercaya pula, dia juga memiliki banyak anak buah untuk menyiarkan kabar terbaru yang sedang ‘in’. Ada sebuah potongan berita yang dia kabarkan tentang kemunculan seorang pemuda bertongkat kayu hitam sepanjang seperempat tombak (50cm) dengan lebar dua ruas jari (2cm). Pada berita pertamanya, disebutkan olehnya; ‘memenggal dengan tongkat adalah tindakan bodoh’. Tapi tiga bulan kemudian dia membuat beritanya yang menimbulkan peristiwa cukup menggegerkan; ‘korban dengan leher terpotong rata tanpa kerut pada daging biasa di lakukan oleh gaman yang tajam, biasanya pedang dengan bilah tipis dan berbobot ringan saja yang dapat melakukan hal itu, dengan ayunan cepat dan tepat pula.’ Waktu itu, karena yang terbunuh adalah tokoh ternama, maka orang-orang ramai mencari tahu ‘tersangka’ seperti yang tersebut dalam berita. Tentu saja kejadian itu cukup menjadikan polemik berkepanjangan, sebab ‘tersangka’ yang ternyata tokoh terhormat tidak terima dengan berita itu. Dia menantang Kriyadwaya untuk mengemukakan bukti otentik bukan berdasarkan asumsi.

Saat itu situasi tegang dan sangat kental aroma permusuhan, mendadak muncul pemuda bertongkat hitam itu, dia membunuh Kriyadwaya, dengan sekali ayunan tongkatnya! Dan hasilnya membuat semua orang terbelalak, sebab hasil tebasan tongkat itu sangat rata seperti tebasan yang dilakukan pedang dengan bobot ringan dan tipis! Terjawab sudah, ternyata pembunuh sebenarnya yang diberitakan Kriyadwaya adalah pemuda itu.

Tentu saja kejadian itu menggemparkan. Sebab, semua orang baru sadar, ternyata pembawaan hawa sakti pemuda itu sangatlah tajam.. makanya dia harus menumpulkan dengan mediasi yang berat dan tebal. Tapi, ternyata tak cukup meredam hawa saktinya. Terbunuhnya tokoh sekaliber Kriyadwaya membuat amarah orang banyak memuncak. Tapi dengan beberapa kalimatnya semua orang menghentikan tindakannya!

Waktu itu dia mengucapkan dengan dingin. “Aku membunuh otak pengganas Perguruan Pakerti Kirana.” Setelah itu dia tinggalkan beberapa bukti dihadapan semua orang. Gemparlah keadaan saat itu. Meski bukti itu membuat orang sadar dengan kenyataan, bahwa; Kriyadwaya adalah penjahat besar. Tapi kebanyakan dari mereka tidak berani bertindak jauh dengan melakukan pembersihan pada pengikut Kriyadwaya. Sebab, upaya semacam itu sudah pernah dilakukan, tapi ‘sang pahlawan’ keesokan harinya diketemukan sudah tewas terbantai beserta sanak keluarganya.

Sejak saat itu kasus Kriyadwaya tak pernah di singgung lagi. Tutup buku. Tapi tidak bagi si pemuda, sebab dia sadar Kriyadwaya adalah salah satu tokoh penting dalam organisasi misterius Kwancasakya. Sejak detik itu hidup si pemuda tak pernah tenang, sebab di senantiasa menjadi target sekelompok orang.

Tapi betapa dingin tindak tanduknya membuat orang yang ingin memberikan simpati dan dukungan padanyapun tak jadi dilakukan. Sebab, sekalipun datang padanya lima orang pembalas dendam Kriyadwaya, dia tebas leber kelimanya dengan dingin, datang padanya sepuluh orang, diapun tebas leher orang-orang itu. Kadang di bekas tiap tebasan terlihat rapi, dan halus. Kadang kala terlihat kasar dan akibatnya mengerikan. Orang yang menemukan jasad para korban bisa berkesimpulan bahwa tenaga pemuda itu makin meningkat dalam taraf yang sulit diukur. Jika di tinjau dari luka terakhir yang terdapat pada pengeroyoknya, nampaknya pemuda itu bergaman sebatang tongkat yang memiliki ketebalan satu telapak tangan (25cm). Sebab leher korban terakhir, tak lagi ada! Seolah-olah tebasannya menghancurlumatkan leher si korban. Betapa tajam dan besar hawa saktinya membuat para penyerangnya sadar, jika mereka dimanfaatkan menjadi batu asah ilmu si pemuda.

Berganti orang lain, meski sudah jatuh korban begitu banyak, kegiatan pengejaran pasti dihentikan. Tapi orang-orang dari kelompok itu tak pernah jenuh mengejar. Meski mereka sia-sia mengorbankan diri, pengejaran selalu dilakukan. Dimana terbentik kabar adanya pemuda bertongkat hitam, pasti ada saja korban dengan leher terpenggal. Sepanjang pengetahuan orang-orang persilatan, si pemuda yang pada akhirnya di juluki Serigala itu, melenyapkan diri karena jenuh membunuh.

Meski orangnya lenyap dari peredaran dunia persilatan, karya besarnya dalam mengungkap masalah pelik, membuat orang sadar, bahwa Sadhana Sang Serigala masih ada! Bahkan saat ini dengan leluasa berada di Pagaruyung.

Kali ini, Sadhana sudah berhenti di mulut hutan, didepannya terlihat Bukti Alap Cadas dengan pemandangan mempesona, sebab terlihat adanya bangunan megah yang dikenal orang sebagai Perguruan Naga Batu, bagai benteng terakhir menuju kuil tua berusia ratusan tahun itu.

Sadhana menganalisa keadaan sekitar Perguruan Naga Batu dengan tenang, dari laporan Penikam dia sudah banyak mengetahui kondisi terkini, bahkan masukan dari Jaka membuatnya meningkatkan kewaspadaan lebih. Meski kini dia jarang berpetualang, dia sangat paham dengan kekuatan Perguruan Naga Batu. Meski bukan termasuk dalam enam belas perguruan pilar utama, sesungguhnya kekuatan mereka tak jauh berbeda dari perguruan utama.

Setelah memutuskan untuk segera memulai aksi, Serigala mulai melangkah perlahan, tindakannya tenang, dan pasti. Meski dari jaraknya sampai perguruan itu masih 1 pal, kedatangannya sudah diketahui orang-orang Perguruan Naga Batu. Tak berapa lama Sadhana sudah tiba di depan gerbang utama perguruan itu.

Gerbang itu dalam keadaan terbuka, bahkan ada empat orang berdiri menghadang jalan masuk.

“Tuan berasal dari perguruan mana? Jika bermaksud menghadapi undangan, maka tuan terlalu awal.”

Sadhana tak menjawab, dia mendengus dingin lalu tancapkan tongkat hitamnya kedalam tanah. Gerakannya biasa saja, tapi tongkat itu hampir amblas separuh badan. Padahal tanah disitu adalah tanah berbatu. Akibat yang ditimbulkan gerakan ringan tadi belum berakhir, empat orang yang menghadang langkahnya terhuyung sampai dua langkah. Nyatanya hanya kibasan tangan sederhana saja membuat efek gempa kecil semacam itu.

Sudah tentu sang pendatang bukanlah tokoh kacangan. Kontan saja mereka segera waspada dan salah satunya segera masuk kedalam memberi kabar. Doa orang sisanya dengan waswas mengawasi Sadhana. Tak berapa lama kemudian muncul seorang lelaki paruh baya dengan pakaian warna putih, matanya mencorong tajam, wajahnya gagah penuh cambang.

“Siapakah saudara? Maaf jika kami tak bisa menyambut secara layak.”

Sadhana diam saja, kedatangannya memang berusaha mencari gara-gara. Padahal biasanya dia paling malas melakukan pekerjaan yang tak dia ketahui kegunaannya. Tapi demi Jaka, dia mau melakukan itu.

Diacuhkan sedemikian rupa membuat orang-orang Perguruan Naga Batu jadi keki sendiri, “Saudara, jika kau memang bertujuan mencari musuh, maka tempatmu bukan disini!”

Mendadak Sadhana menukas. “Aku ingin melihat kebun kalian!”

Berubah wajah lelaki paruh baya ini. “Kau bergurau?” ujarnya dengan wajah membesi. Nampaknya batas kesabarannya habis. Bagaimana tidak habis? Dia berkata apa, orang menjawab lain pula.

“Jangan katakan Perguruan Naga Batu yang terkenal dengan rumpun aneka bunga sejak berdirinya, kini menggantinya dengan empang!” tandas Sadhana tak mau tahu.

“Tidak sembarang orang bisa masuk ke kebun bunga kami!”

“Aku toh hanya ingin menikmati kebun bunga kalian, bukan bermain-main dengan kalian!”

“Tidak sopan!” bentak si lelaki paruh baya ini dengan sengit. Dengan mengibaskan lengannya seperti menggebah lalat, kearah Sadhana, lelaki itu memekik pula. Sebentuk hawa padat, meluruk Sadhana dengan kecepatan tinggi.

“Huh! Kibasan Lengan Batu dengan tenaga picisan macam inipun kau perlihatkan padaku?!” seru Sadhana tak menghindar.

Duk! Angin kibasan itu tepat mengenai dada Sadhana, tapi dia tak bergeming, di wajahnyapun tak menyiratkan perasaan apapun, sebaliknya yang terpental justru lawannya. Betapa kaget hati lelaki itu tak usah dikisahkan lagi. Kibasannya itu dilakukan dengan separuh tenaga saktinya, hawa padat bagai bongkahan batu yang menerjang itu bisa meremukkan batu. Tak percaya dengan kenyataan itu, lelaki ini mengibas kesamping… blar! Batu yang terkena kibasan tangannya rengkah terbelah menjadi lima bagian. Ternyata tenaganya memang berfungsi, tapi tidak berguna bagi lawannya!

“Kau ini anak murid siapa?” tegur Sadhana dengan suara getas. “Sungguh jelek permainanmu! Seharusnya seperti ini!” lalu Sadhana mengibaskan lengannya pula, gerakannya persis.

Serangkum angin dengan kecepatan tinggi menerjang lelaki itu. Dengan wajah pias, buru-buru lelaki itu menghindar kesamping.

Brak! Tangga batu terhantam hancur tanpa bentuk lagi. Jarak Sadhana dengan tangga batu di belakang lelaki paruh baya ada sekitar tiga puluh langkah, tapi kibasan ringannya bisa menghancurkan batu!

Padahal Sadhana bukan murid Perguruan Naga Batu, kenapa pula bisa melakukan jurus seperti itu? Tentu saja ini berhubungan dengan pengetahuannya yang luas. Betapa banyak lawan yang pernah ia hadapi dimasa lalu, telah membuatnya dapat menyelami kemahiran lawan setelah dia mengasingan diri. Tak heran Jaka menjulukinya Jirnnodhaçakti—ahli rekontruksi, sebab peranan penting dari seorang Jirnnodhaçakti adalah literatur pengetahuan yang sangat luas. Sadhana telah memiliki kriteria tersebut!

“Kau tidak cukup setimpal menghadapiku, kembali kedalam! Katakan pada orang yang cukup setimpal untuk bicara padaku!”

Hinaan itu dibalas dengan pekikan nyaring, kelima orang itu mengurung Sadhana dan menyerang secepat kilat dengan kibasan lengan. Perbawa serangan gabungan itu bagai gugur gunung, dari lima pasang tangan itu menderu-deru angin pukulan berdaya rusak tinggi. Tapi Sadhana cukup mengacungkan satu jarinya didepan dada, sebersit hawa sakti dengan cepat melejit menyambuti pukulan lawan.

Blaaaar! Dentuman cukup nyaring. Kesudahannya pun bisa diduga, kelimanya terkapar dengan mulut berdarah. Mereka tak bergerak. Tapi Sadhana cukup paham, lawannya hanya pingsan. Mereka perlu istirahat paling tidak satu mingguan untuk pemulihan.

“Jaka, benar-benar sialan!” gumamnya dengan dongkol. “Kupikir ilmuku sudah hilang daya gunanya, ternyata masih sehebat ini. Cuma di depan anak itu, aku di bikin gemas setengah mati!” pikirnya.

Untuk mempersingkat pertarungan, ternyata Sadhana mengeluarkan hawa sakti dari ilmu Binajra! Ilmu ini dia latih hampir dua puluh tahun dengan menggunakan mediasi kayu hitam. Tenaganya yang kelewat besar harus ditumpulkan dan ‘dijinakkan’ sehingga dapat dengan sesuka hati ditarik dan dilepas tanpa membebani tubuhnya. Dua tahun terakhir dia cukup puas dengan hasilnya, dan terlahirlah Ilmu Binajra yang bersifat mengejar hawa murni seseorang. Makin besar hawa murni lawan, makin cepat lejitan serangan hawa sakti Binajra memburu pusat hawa serangan lawan. Artinya, sebelum serangan lawan terkembang sempurna, kekuatan Sadhana akan melabraknya lebih dulu. Jadi, serangan yang seharusnya sepuluh bagian terlontar, menghadapi ilmu khas Sadhana ini, paling banter hanya bisa terkembang enam bagian saja.

Sadhana membungkuk mencabut kayu hitamnya, lalu berjalan perlahan—seolah sedang menikmati panorama, memasuki gerbang Naga Batu. Tapi, baru belasan langkah dari pintu gerbang, delapan orang sudah menghadangnya. Sadhana menghela nafas panjang. “Kadang kala aku merasa sebal kalau Jaka sudah ingin ini itu.” Pikirnya.

Perkenalannya dengan Jaka memang tak pernah disesali, sebab pemuda itu membantu menyingkirkan banyak masalah di hadapannya. Jaka juga tidak pernah berniat untuk menjadikan dirinya sebagai pembantu, hanya saja,dia tidak mau berhutang budi. Makanya sebisa mungkin dia dukung pergerakan Jaka didunia persilatan.

“Kakang!” seru seseorang memburu kedepan, melewati Sadhana dan berlutut di hadapan lima tubuh yang tergolek tak berdaya itu.

“Kau bunuh mereka?!” tanya pimpinan rombongan kedua itu.

Sadhana tersenyum tipis. “Kalau kau berkesimpulan seperti itu, berarti kau bodoh!” cutusnya ketus. Tak memandang para penghadangnya, Sadhana kembali melanjutkan langkah.

“Berhenti!” bentak mereka bersamaan. Tapi Sadhana tetap bergerak. Dan itu membuat mereka terpaksa mengeluarkan senjata. Ketujuh orang itu mengeluarkan tali berbandul besi. Begitu tali disentak sedikit, pada bandulnya terdapat duri-duri tajam.

Sadhana sadar, orang yang bersenjata bandul berduri, tentu memiliki kontrol sempurna terhadap senjatanya. Jika mereka menyerang bersama, tentunya pengendalian dan rasa percaya diri mereka terhadap rekan sudah mendarah daging. Orang-orang semacam itu tentu saja tak bisa di anggap remeh. Dan bagi Sadhana hal itulah yang sangat dinantinya, dia justru gembira, mengalahkan lawan dengan sekali tebasan itu membosankan, dia ingin bergerak dengan membuat dirinya berpeluh, dia ingin semangatnya kembali berkobar. Harapannya, datang ke Perguruan Naga Batu, bisa melakukan pertarungan lain dari yang lain. Pertarungan penuh dengan pembunuhan adalah masa-masa suram dan membosankan, tapi sudah setahun terakhir ini dia menyelesaikan persoalan tanpa membunuh.

Dengan tatapan tenang, Sadhana memperhatikan gerakan bandul lawan, sebelum bertemu Jaka, dia selalu menyelesaikan apapun dengan cermat dan cepat. Tapi sifat Jaka yang suka dengan hal-hal baru ternyata menular pada dirinya. Dia, kini lebih suka memperhatikan ilmu lawan-lawannya sampai tuntas, barulah dengan segenap pikiran dan ketenangan di cari kelemahannya. Sebenarnya itu sebuah kerugian, tapi jika dia bisa mengatasi lawannya, keuntungan besar ada pada dirinya. Sebuah penguasaan teknik baru.

Bandul berduri itu sudah berputar mengelilingi tubuh masing-masing pemegangnya, padahal jarak mereka hanya terpaut dua langkah saja, tapi bandul kedelapan orang ini tidak bertabrakan. Angin yang mendesau dari gerakan bandul itu membuat perih kulit Sadhana.

“Hm, kupikir ilmu baru. Ini hanya kembangan dari ilmu Cakar Batu Meremas Karang.” Ujarnya dengan dingin. “Basi!”

Karuan saja ucapannya membuat lawannya terperanjat. Sungguh tak terduga, gubangan ilmu baru yang belum pernah beredar di dunia persilatan di ketahui dengan sekali pandangan. Masing-masing saling melirik, begitu pimpinan kedelapan orang itu mengangguk, bandul berduri itu meluncur deras menghajar delapan titik mematikan diatas tubuh Sadhana.

Kepala, dada, perut, kemaluan, punggung, leher, telinga, mata kaki adalah tempat vital, jika salah satu serangan itu mengenainya, bisa dipastikan luka parah jelas diderita Sadhana.

Serigala mendengus, dengan pesat dia melompat, lalu memutar tubuhnya, dan… tring! Bentrokan delapan kali terdengar, bandul besi itu terpental oleh kibasan lengan Sadhana. Tadinya dia berpikir tangkisan itu sudah cukup, ternyata, meski sudah tertangkis.. tali pada bandul itu tak juga saling berbelit. Dengan gerakan aneh, bandul besi itu merekah, terbelah dengan cepat.

Twang! Twang! Dalam bandul itu melesat puluhan benda mengarah kesekujur tubuh Sadhana. Lelaki ini terperanjat, sungguh tak disangka perguruan lurus macam Naga Batu menyimpan permainan busuk semacam itu.

“Hiaaa!!” teriakan menguntur memecah susana keheningan. Dengan gerakan sangat cepat, Sadhana mundur dua tindak dan mengibaskan kedua tangannya membentuk lingkaran penuh, lalu saling bertepuk.

Plak! Satu tepukan itu bukan sembarang tepukan, sebab terkandung hawa sakti yang amat padat dan tajam. Hasilnya benar-bener mengguncang isi dada, benda-benda rahasia yang mengarah Sadhana-pun, bagai memasuki sebuah tabir padat, berhenti begitu saja dalam jarak dua jengkal dari tubuhnya!

Lalu runtuh perlahan seperti kapas tertiup angin. Efek serangan suara tepukan membuat kedelapan orang itu tak bisa bergerak sesaat, mereka menatap Sadhana dengan ketakutan, sebab kondisi saat itu, bahkan orang awam bisa membunuh mereka dengan mudah.

“Membunuh kalian itu semudah menginjak semut. Tapi aku malas melakukannya, sebab kalian tidak punya nilai guna!” Dengusnya, lalu Sadhana melewati mereka begitu saja. Berjalan perlahan seperti tidak terjadi apa-apa.

Menanti pengaruh getaran tak lagi terasa, kedelapan orang ini hanya bisa termang memandangi punggung Sadhana.

“Siapa dia?” tanya salah seorang dengan suara serak.

Hening sesaat, tak ada yang menjawab. “Aku tidak tahu…” mendadak salah satu berujar, sebab dia merasa suasana hening itu sangat tidak mengenakan.

“Apakah dia tokoh undangan dari ketua?” gumam seseorang.

“Bisa jadi, sebab dia tak menjatuhkan tangan jahat pada kita…” jawab pimpinan delapan orang itu.

“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Memberi laporan saja.” Ujarnya dengan lemah, lalu mereka berjalan menyusuri tangga sepanjang dua ratus meter, sebelum akhirnya sampai di pendopo. Tapi delapan orang itupun hanya bisa terbengong-bengong, saat mereka tidak melihat bayangan pendatang tadi. Pendopo juga hening. Padahal itu adalah bangunan utama untuk menerima dan memeriksa tiap lalu lalang orang. Lalu kemana perginya para penjaga pendopo? Kemana pula pendatang aneh itu?

—ooOoo–

72 – Samira

Buru-buru mereka masuk kedalam, dan ditemui olehnya orang-orang dalam pendopo tergeletak seperti orang tidur. Sungguh kejut tak terkira mereka melihat hal itu dengan buru-buru diperiksa kondisi rekan-rekannya… ternyata mereka hanya pingsan saja. Menyadari tak banyak yang bisa di lakukan, mereka membawa masuk seluruh rekan yang pingsan kedalam bangunan lain.

Senyapnya situasi bak di tengah hutan, membuat pendopo itu bagai wilayah mati, desau angin lamat-lamat membawa hawa membunuh demikian kental, cuma hawa membunuh itu berbeda dari biasanya. Perasaan menekan seperti itu tidak bisa diraba oleh sembarang orang, tapi seseorang dari balik bangunan nun jauh di belakang bangunan utama Perguruan Naga Batu bisa merasakannya.

“Apakah ini awal kehancuran yang dibicarakan adik?” gumamnya sedih. Lalu dengan membersihkan debu yang melekat pada bajunya, dia keluar dari bangunan dan berjalan perlahan, arahnya menuju ke pendopo penerima tamu.

Setibanya di pendopo, orang itu menyedot nafas dalam-dalam, dia mengumam lalu melesat dengan kecepatan bagai petir kearah barat. Kejap berikutnya dia sudah sampai disebuah gerbang yang pintunya sudah hancur porak poranda. Disepanjang jalan dia lihat pula belasan orang bergelimpangan, tapi itu tak dipusingkannya, sebab dia tahu mereka hanya pingsan saja. Tapi begitu matanya tertumbuk melihat raut wajah salah seorang korban, wajah mereka terlihat tersenyum tenang, hatinya berdetak keras.

“Samira?” bisiknya dengan terkejut.

Samira bukanlah nama orang, tapi semacam kekuatan menghisap semangat lawan, sampai-sampai jika orang itu meminta kau lepaskan nyawamu, kau akan menyerahkan dengan sukarela. Samira dengan hawa pembunuh hampir sama—serupa tapi tak sama. Bedanya jika hawa pembunuh menekan semangat orang, sampai-sampai pada tingkatan tertentu sanggup membuat liver (hati) seseorang berhenti fungsi, yang pada akhirnya gejala itu akan menjalar pada paru-paru, membuat nafas seseorang jadi tersengal-sengal, lalu mati kehabisan nafas—mati dengan sengsara. Cara samira pun hampir sama, bedanya hawa samira ini membuat korban, sudah tidak memikirkan apapun lagi, dan bersedia mati sewaktu-waktu.

“Siapa gerangan pemilik kemampuan langka ini?” gumamnya dengan perasaan makin tidak nyaman.

Dengan hati tak tentram dilangkahkan kakinya masuk kedalam gerbang. Tempat dibelakang gerbang itu adalah sebuah taman. Dulunya difungsikan sebagai tempat melepas penat seluruh kalangan perguruan, tapi beberapa tahun terakhir, tempat ini ditutup untuk umum, bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh masuk. Begitu masuk yang terlihat hanya punggung seseorang, tatapannya hanya terpaku pada punggung orang itu, tiada yang lain.

Di punggung orang itu ada tongkat, rasanya dia pernah tahu ada seseorang yang punya ciri seperti itu, tapi dilain kejap, diapun tak ingat lagi siapa orang itu. Aliran darahnya dirasa makin deras mengalir, kemampuannya istimewanya adalah sanggup ‘membaca’ aura atau hawa orang lain. Dan dia melihat hawa pemilik punggung itu demikian aneh dan tidak biasa, auranya timbul tenggelam… seperti hawa yang dimiliki bocah enam tahunan. Hawa yang wajar.

“Siapa kau?!” tegurnya.

Pemilik punggung itu tak bergeming, di malah berjalan menjauh dan memeriksa tanaman disekitar dengan seksama.

“Jangan acuhkan aku!” bentak lelaki yang baru saja masuk dengan gusar.

Dia menghirup nafas dalam-dalam lalu dengan tatapan mata nyalang difokuskannya pada pemilik punggung itu. Sebersit hawa pembunuh terkuar kuat dan melingkupi pemilik punggung itu. Biasanya orang yang terkena ancaman semacam itu dari tubuhnya akan timbul reflek perlawanan, hawa dalam tubuhnya akan menjadi tameng. Dia ingin si pemilik punggung ini mengerahkan aura, sehingga dia tahu hawa sakti macam apa yang akan dilawannya. Tapi aneh! Orang itu tetap saja tak bergeming dari ancaman hawa pembunuhnya, auranya tetap saja wajar, seolah ancaman dirinya hanya angin lalu. Padahal jika orang lain yang menghadapi desakan seperti itu, kalau tidak menjadi gugup, ya.. reaksinya adalah menyerang balik, itu harapannya.

Diam-diam keringat dingin mengalir, dia paham benar, orang yang tak bereaksi dengan hawa pembunuh itu ada dua macam saja. Pertama; orang itu gemar membunuh sehingga hawa pembunuh dianggap adalah hal biasa. Kedua; dia adalah orang awam! Kategori kedua jelas tidak mungkin disematkan pada si pemilik punggung! Apa benar si pendatang ini adalah orang yang gemar membunuh?

Tiba-tiba dilihatnya punggung si pendatang itu mengejang, lalu dia melompat kesebuah pot pohon dan tiba-tiba teriaknya. “Terkutuk! Tidak akan lolos!”

Kalau sekedar berteriak, siapapun bisa, tapi mengerahkan hawa sakti dalam teriakannya, sampai membuat jendela kayu berjarak delapan tombak bergemertak keras karena menerima pancaran gelombang suara, tak semua orang bisa melakukannya. Dalam radius duapuluh tombak, orang yang mendengar pasti mendenging telinganya.

Tak lebih dari duapuluh hitungan, taman itu telah dipenuhi anggota Perguruan Naga Batu dari berbagai tingkatan. Mereka bingung, melihat beberapa anak murid yang pingsan. Lelaki yang pertama kali mempergoki pendatang itu memberi isyarat agar semua jangan gegabah. Mereka mematuhi lelaki itu dengan membungkukkan badan, nampaknya dia termasuk salah satu orang berkedudukan tinggi.

Perlahan pemilik punggung membalikkan badan, kini semua orang bisa melihat siapa gerangan tamu tak diundang itu. Lelaki paruh baya dengan wajah tampan, memiliki sorot matanya dingin. Di wajahnya kini terpancar daya bunuh tebal.

“Siapa jahanam yang menanam pohon ini?” bibirnya bergerak perlahan, tapi semua orang dalam taman bisa mendengar, seolah suara itu di bisikkan ke telinga masing-masing.

“Sebelum tuan, bertanya seperti itu seharusnya kau perkenalkan diri dulu!” Sahut lelaki yang di tuakan menyahut.

Sadhana mendengus. “Tak sangka, salah seorang murid Si Pemisah Hujan sudah begini beraninya!”

Lelaki itu terperanjat, bahwasanya pendatang ini mengetahui identitas dirinya sekali pandang, artinya; kalau dia bukan tokoh sangat tenar, tentunya kerabat dekat Perguruan Naga Batu dari generasi lampau.

“Dimana gurumu? Apa yang terjadi disini? Kenapa ada tanaman terkutuk ini?!” pertanyaan runtut Sadhana membuat lelaki bernama Baraseta terperangah.

“Siapakah anda? Mengapa mencari guruku?” ujarnya balas bertanya, nadanya tidaklah sekeras tadi, sebab dalam perkiraanya orang ini masih kerabat dekat.

Sadhana menggumam. “Perguruan Naga Batu nampaknya sudah tercemar… sayang sekali aku tidak bisa menolong dari kehancuran ini. Nampaknya aku harus mempercepatnya!”

Usai berkata begitu, dari tubuhnya terpancar desakan sangat kuat, hawa murni sangat padat berpendar dari tubuhnya. Baraseta segera memerintahkan anggota perguruan lain untuk mundur.

Mendadak ada salah seorang anggota perguruan yang menghardik Baraseta. “Saat ini, kau tak lebih hanya anggota biasa! Tak perlu memberi komando!”

Baraseta menggeram, sungguh emosinya hampir saja terpancing, tapi dia sadar situasi saat ini tak memungkinkan dia bertengkar dengan sesama anggota. “Baiklah, ingin kulihat cara apa yang kau pakai.” Ujarnya dingin, sembari menyingkir.

“Tak usah banyak omong, menepilah!” ujarnya pada Baraseta. Lalu pada para anggota lain dia memberi komando. “Kurung bangsat itu!”

Perguruan Naga Batu memang tidak malu dipandang sebagai salah satu perguruan besar, begitu komando jatuh, detik itu juga Sadhana sudah terkurung.

Tapi lelaki ini menyeringai hina. “Tidak adakah kaum satya untuk memberi pertanggungjawaban padaku?”

Mereka yang mendengar ucapan Sadhana agak kaget, ‘kaum satya’ itu hanya panggilan untuk tingkatan dalam perguruan, yang tak setiap orang luar tahu. Jika lelaki ini mengetahuinya, berarti dia sangat paham dengan perguruan ini.

“Siapa kau?!” bentak si pemberi komando sembari mengibaskan tangannya, bersamaan dengan itu para anak buah yang mengurung ikut pula mengibas. Angin menderu bagai gugur gunung menghantam Sadhana dengan pesat.

Sadhana tersenyum sinis. bersamaan dengan itu tangannya memutar perlahan. Pelan, sangat pelan, dan kelihatan tanpa tenaga. Tapi damparan serangan pengurung itu seperti tertahan benteng raksasa. Berhenti begitu saja!

Melihat hal itu, Baraseta terkejut, dia paham, gerakan itu tidaklah seringan kelihatannya, dia ingat siapa gerangan lelaki ini. Masa hawa samira bisa dijadikan serangan? Batinnya. “Menyingkir!” teriaknya memberi peringatan.

Namun terlambat, putaran lengan Sadhana sudah menyibak kepungan dan membuat duapuluh murid Perguruan Naga Batu bergelimpangan. Jatuh begitu saja, seolah tubuh mereka tidak disangga tulang. Tak ada satupun yang bangkit. Si pemegang komando menatap tak percaya. Kibasan tanpa tenaga seperti itu membuat anak murid tingkat tiga tak berkutik.

Sadhana menatap si pemegang komando. “Kau tikus dari golongan mana?” suaranya dingin menusuk.

Dibawah tatapan tajam dan berhasrat bunuh, lelaki ini mundur dua langkah. Dia menatap kepada Baraseta. Meminta bantuan. Tapi Baraseta pura-pura tidak melihat, dia malah duduk sambil sesekali menatap Sadhana.

“Kutanya, kau tikus dari golongan mana?” ulang Sadhana, entah kapan dia bergerak, tahu-tahu saja sudah berada satu langkah didepan si pemegang komando. Tanpa sadar dia jatuh terduduk dengan terkencing-kencing. Betapa berat hawa sakti yang berpendar di sekeliling tubuh Sadhana membuat kakinya lemas tak bisa digerakkan.

“Sialan, jauh-jauh kusirapi kabar, ternyata hanya kaum rendahan yang sedang mengacau disini!” tatapan beralih pada Brajasena. “Seharusnya gurumu yang datang menyambutku!”

Baraseta berdiri dan menyoja, “Aih, mohon maaf, guruku tak bisa menyambut dengan layak. Kehadiran janottama (satria utama) Sadhana sungguh begitu mendadak…”

“Baik! Anggap saja aku sia-sia melakukan perjalanan jauh kemari, tapi kau harus tahu.. Perguruanmu diambang kehancuran!”

Baraseta terkesip mendengarnya. “Apakah tuan mengetahu pangkal penyebabnya? Jika serbuan dari luar, kiranya tak perlu kau khawatirkan…” ujarnya membela diri.

Sadhana mendengus. “Aku tahu beberapa orang yang bisa membuat perguruan ini ludes dalam ratusan hitungan, tapi hancur dari dalam itu memalukan!” usai berkata begitu, Sadhana berjalan melenggang melewati Baraseta.

Lelaki itu ragu-ragu, apakah dia akan menyerang Sadhana atau tidak, bagaimanapun juga ucapan terakhir tokoh sekaliber Serigala tidaklah mungkin sekedar gertakan tanpa dasar. “Mohon tuan sudi memberi saya petunjuk.” Katanya sambil bergerak memapak didepan Sadhana.

Dilain hari, jika ada kondisi seperti itu, pasti tebasan tongkatnya sudah mengincar leher penghadangnya, tapi Sadhana tidak bermaksud melakukan serangan besar-besaran, sebab masih ada ‘bagian’ untuk Beruang.

“Pemisah Hujan saja tidak seberani ini padaku!” Sadhana mendorong perlahan hendak menggapai bahu Baraseta.

Dalam pengelihatan Baraseta, kali ini seluruh tubuh Sadhana dilingkupi pusaran aura yang sangat kuat, pusaran itu tak teratur, bergerak liar, tapi manakala tangannya terjulur pada bahunya, pusaran hawa itu hilang—artinya Sadhana tidak mengeluarkan tenaga. Tapi bagaimana mungkin pengelihatan dan yang dirasakan berbeda? Dalam pandangannya, aura Sadhana menghilang, tapi dia justru merasa satu desakan menyengat yang tajam menerpa bahunya. Buru-buru Baraseta menyingkir, tapi dia terlambat sedikit! Bajunya di bagian bahunya meranggas gosong.

“Jika kau sebagai orang dalam bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?” tajam suara Sadhana. “Gunakan ini…” ujarnya sambil menunjuk dahi.

Sadhana kembali berlalu, dan Baraseta tak berani lancang menghalangi jalannya lagi. Tapi baru berapa tindak, Sadhana berhenti dan berpaling. “Ada baiknya kau bertemu Arseta…” ucapannya yang terakhir membuat paras Baraseta terkejut, sungguh tak disangka orang ini mengetahui nama adiknya!

Dulu adiknya yang paling ‘rewel’ dengan kondisi tidak biasa yang sedang terjadi di perguruan, waktu itu menurutnya ada musuh dalam selimut. Tapi tanggapan Baraseta saat itu biasa saja. Bahkan guru mereka, Si Pemisah Hujan juga menganggap tindakan Arseta terlalu berlebihan. Karena sang adik memberinya banyak analisa kejanggalan, dan dirasa pula itu masuk akal, maka dia mendesak sang guru mengusulkan adanya rapat luar biasa dengan kalangan petinggi perguruan, tapi dalam rapat itu dirinya dicemooh habis-habisan, akhirnya malah keanggotaan Baraseta diturunkan jadi anggota biasa. Dulu dibawahnya ada ratusan orang, kini dia bukan siapa-siapa. Sekarang, seorang berkedudukan cemerlang mendatangi perguruan mereka mencari-cari sebuah bunga, apakah tidak aneh? Lebih aneh lagi orang itu menyuruhnya bertemu adiknya? Bukankah itu sama saja Serigala mengatakan dugaan adiknya selama ini benar adanya?

“Kau biarkan dia pergi?!” seru orang yang tadi memberi komando melotot pada Baraseta.

Baraseta menoleh, lalu tertawa. “Paksi.. Paksi, aku ini hanya anggota biasa, anggota biasa itu tidak punya kemampuan apa-apa, coba lihat dirimu… sampai terkencing-kencing begitu rupa, aku takut diriku juga begitu. Makanya aku tak melakukan apa-apa…” ujarnya tergelak sambil berlalu.

“Keparat!” dengusnya geram mendengar sindiran itu, tak memperdulikan Baraseta lagi, dari balik bajunya dikeluarkan sebuah peluit. Dengan mengempos tenaganya, ditiup peluit itu sekali nafas. Suara denging yang meninggi terdengar keseantero Perguruan. Diam-diam Baraseta mengagumi kemampuan Paksi, meskipun sifat orang ini tidak baik, kemampuan silatnya termasuk lumayan juga.

Baraseta memutuskan tidak ikut campur, dia mengikuti kemana Sadhana melangkah. Tepat seperti dugaannya, dari balik tiap-tiap rumah bangunan muncul dua orang dengan gerakan sangat ringan mencegat Sadhana.

“Perlahan tuan!” seruan itu terdengar dari kejauhan, tapi orangnya justru sudah berada di depan Sadhana.

Sadhana berhenti menatap tajam dua orang yang menghadang dirinya. “Hm, ternyata guru anak murid tingkat empat. Bagus! Masih bisa tertolong.” Ujarnya.

Mereka saling pandang mendengar komentar Sadhana, tatapan keduanya diedarkan kesekeliling, dalam sekilas pandang, dampak yang di timbulkan pendatang ini cukup membuat mereka mengerti sampai dimana kemahirannya. Mereka tak ingin gegabah menghadapi pendatang ini.
“Sebenarnya ada keperluan apa tuan datang kesini?”

Sadhana diam tapi menoleh pada Baraseta. Tentu saja Baraseta jadi kelabakan di pandang sedemikian rupa, orang bisa saja menaruh prasangka jelek padanya. Tapi sebagai orang yang cukup berpengalaman, dia pun hanya tersenyum sambil melirik pada Paksi.

“Bukan aku yang meniup peluit…” gumamnya.

Sadhana terbahak mendengar ucapan Baraseta. “Cukup dari ucapanmu itu, aku memaafkan kelakukan buruk perguruan ini!” Ternyata Sadhana sangat senang dengan ‘kelicinan’ Baraseta melemparkan abu kesalahan pada Paksi.

Tentu saja Paksi serba salah menerima pandangan tajam dari delapan orang pengajar tingkat empat. Tingkat empat dalam Perguruan Naga Batu adalah satu tingkat dibawah tingkat tertinggi (tingkat kelima), dan murid tingkatan keempat sudah diperbolehkan beredar dikalangan persilatan. Sementara para pengajar tingkat empat hanya satu tingkat di bawah kaum satya, jajaran tertinggi Para Pendekar Naga Batu.

“Tu-ttu-tuan ini… membuat taman berantakan…” karena tidak tahu menahu apa yang terjadi, dan hanya itu saja yang bisa disimpulkan, maka hanya keterangan itu pula yang bisa di berikan Paksi.

“Orang tuli juga tahu apa yang terjadi!” dengus salah seorang dari mereka menatap Paksi dengan tatapan menyalahkan. Maklum saja, teriakan Sadhana cukup membuat seluruh orang perguruan mendengar.

—ooOoo—

73 – Beruang

“Bagus, jika kalian mendengar! Tentu kalangan Perguruan Naga Batu bukan berisi orang-orang bebal!” seru Sadhana. “Apapun yang berlaku disini, baik kalian pahami atau tidak, aku ingin sampaikan pesan pada kalian… kami akan berburu!”

Kata usai terucap, detik berikutnya badan Sadhana sudah melayang jauh kedepan, tapi delapan orang guru tingkat empat itu tak membiarkan Sadhana berlalu begitu saja! Enam orang saling berpegangan tangan, saat itu juga Sadhana yang sudah melejit jauh, merasakan ada desakan hawa sangat kuat menyesak punggungnya, ternyata keenam orang guru itu menggabung tenaga, dan melontar dua orang rekan mereka untuk mengejar Sadhana. Gabungan tenaga enam orang itu di tambah lejitan peringan tubuh masing-masing membuat jarak dua puluh tombak diantara mereka bisa diperpendek dalam satu detik! Berikutnya serangan ganas sudah mengarah ke punggung dan kaki Sadhana.

Serigala tidak perlu menoleh untuk merasakan desakan serangan yang dalam satu detik itu bisa menghancurkan dirinya! Dua cengkeraman jemari sekeras baja tepat mengarah tulang belikat dan punggung dia biarkan, tapi yang mengarah kedua kaki, dia pentalkan dengan kibasan tangan penuh tenaga.

Plak-plak! Dua kali benturan sarat tenaga sakti, mementalkan cakar, dan membuat tubuh tubuh Sadhana beringsut kedepan lebih pesat, dengan sendirinya cakar lawan yang menghunjam punggungnya tak lagi sanggup mengenai sasaran, jarak yang di butuhkan Sadhana untuk menghindar dari serangan itu cukup satu inchi. Detik kemudian, sudah sangat cukup bagi Sadhana untuk meloloskan diri.

“Aku tidak selera melayani orang-orang bodoh!” ketusnya sembari bersalto, tapi baru saja setengah gerakan, dengan punggung membungkuk macam udang, kakinya menyepak kebelakang mengarah kepala! Karuan kaget keduanya, dan segera menangkis dengan pukulan. Begitu pukulan mereka bentrok dengan tendangan Sadhana, saat itu juga mereka sadar, lawannya tak bakal tertangkap, sebab pukulan mereka seperti membentur sehelai kain. Tidak ada benturan, begitu lembut sepakan kaki Sadhana, padahal terdengar deruan angin dari serangannya, dan itu cukup membuatnya mendapatkan pijakan. Gerakan Sadhana memang dimaksudkan mencari batu loncatan, dengan sendirinya serangannya akan timbul perlawanan, dan dorongan pukulan itu, sudah cukup berlebih sebagai pijakan. Waktu yang sedemikian singkat sudah cukup bagi Sadhana untuk melesat. Serigala dikenal dengan hawa murninya yang berlebihan, bertarung dengannya hanya kerugian yang didapatkan lawan, sebab seberapa tangguh daya tahan lawan, Sadhana dapat melebihnya. Demikian juga dengan peringan tubuh,dia bukan ahli ilmu itu, tapi kelebihan takaran hawa murni membuatnya bisa disejajarkan dengan para ahli peringan tubuh kelas utama. Apalagi para penghadang, tidak sepadan jika disejajarkan dengannya, dengan sendirinya waktu sekejapan mata, sangat cukup untuk melepaskan diri.

Dua penyerang Sadhana saling pandang, sebenarnya terlalu singkat waktu yang mereka dapat untuk mengukur seberapa hebat pengacau itu. Tapi, ketenangannya saat dia terkejar, keputusannya untuk membiarkan punggungnya terbuka untuk diserang dan memilih berkonsentrasi pada serangan arah kakinya, menyimpulkan satu hal; dia, orang yang penuh perhitungan, teliti, dan cerdik. Terbukti tendangan tipuan tanpa tenaga tadi bisa menyerap pukulan keras mereka, bahkan membuatnya sebagai ‘batu pijakan’. Salah sedikit dalam menakar tenaga menyerap pukulan yang belum diketahui seberapa kekuatannya, bisa membuat kaki hancur, tapi lawan mereka tadi terlalu percaya diri, bahkan bisa dibilang menganggap remeh pukulan mereka.

Tak ada yang bisa diperbuat, keduanya kembali kepada rekan-rekannya. “Ada yang tahu siapa dia?” tanya salah satu dari mereka.

Semua tatapan mengarah pada Paksi, yang bersangkuan gelagapan. “Sa.. saya tidak tahu siapa dia…” jawabnya malu dengan kepala tunduk.

“Serigala…” gumam Baraseta menyahut.

“Maksudmu?” si penanya meminta kejelasan.

“Orang itu berjuluk Serigala. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, orang itu paling jarang turun tangan mencampuri masalah apapun, kecuali itu berkaitan dengan kepentingannya. Kali ini dia sampai datang ke perguruan kita, tentu kalian bisa mengambil kesimpulan sendiri…”

Mereka saling pandang satu sama lain, Baraseta dengan delapan pengajar tingkat empat itu memiliki pandangan yang sama, bahwa perguruan yang mereka cintai itu sebenarnya sedang dalam masa-masa kritis, masa perubahan yang tak jelas mau kemana arahnya, hanya saja; karena peringatan keras dari orang berkedudukan paling tinggi, menutup ruang kritis,membatasi gerak, dan tidak sanggup melakukan penyelidikan atau gerakan menentang.

“Ka-kalau ti-tidak salah di-dia tadi mengatakan kami?” ujar Paksi tergagap dengan wajah pucat. “Ap-apa maksudnya?”

Baraseta menghela nafas. “Artinya, akan ada orang selain Serigala yang akan mengunjungi kita. Bisa dibayangkan, seorang Serigala saja sudah sedemikan menakutkan dan sulit dihadapi, dari kebiasaannya yang kudengar dia selalu meninggalkan korban. Entah aku harus berterima kasih atau mencaci dia, tapi syukurlah tak ada korban disini, kecuali…” Baraseta tidak melanjutkan ucapannya, tapi matanya menatap celana Paksi.

Terang saja Paksi gusar. “Ini tidak ada hubungannya!”

Baraseta tertawa, “Aku tak menyalahkan siapapun untuk kencing dicelana sendiri, kalau memang sudah kebiasaan, apa mau dikata.” Ujarnya dengan mimik wajah penuh tawa.

“Diam kau!” sentak Paksi dengan malu, bagaimanapun juga dia tak mau mengumbar adat didepan delapan orang yang tingkatannya lebih tinggi darinya.

“Baru satu orang, entah bagaimana dengan yang lainnya?” gumam salah seorang pengajar itu dengan gundah.

Mendadak…

“Perketet penjagaan!” sebuah suara berkumandang dari salah satu bangunan utama. “Akan kudukung dengan Giri!”

Semua yang mendengar terkejut, Giri adalah salah satu nama kelompok, bisa dikatakan kelompok pemuncak di Perguruan Naga Batu. Kelompok ini nyaris tidak pernah keluar sarang, saking jarangnya kelompok ini berkecimpung baik di dalam atau diluar perguruan, orang sama mengira Giri adalah, sebuah juluk, barang, atau semacamnya. Suatu ketika ketua terdahulu pernah menyebutkan bahwa; Giri, sudah membereskan penyelundup yang masuk ke perguruan. Seluruh murid-murid palsu berhasil ditangkap, bahkan orang-orang dibelakang layar juga kena ditarik keluar. Kedengarannya sangat sederhana, tapi tidak menjadi sederhana saat mengetahui, aktor intelek dibalik layar adalah kaum militan dari kerajaan. Dan kelompok Giri berhasil membuat orang-orang itu menghilang tanpa jejak, seolah mereka tidak pernah ada. Itu kejadian pada dua puluh tahun lalu. Dan sekarang tiba-tiba, Giri akan digunakan untuk melindungi kebun bunga? Jelas ini membuat pertanyaan besar menggayut di benak anak murid Perguruan Naga Batu.

Tak berapa lama mereka bubar menuju tempat masing-masing, meskipun tidak di beri perintah, mereka mempersiapkan diri untuk menghadang hal buruk yang akan terjadi.

==oOo==

Jika Sadhana masuk melalui pintu utara, berselang satu jam kemudian Çuddhakara, Sang Beruang, mendatangi Perguruan Naga Batu melalui pintu selatan, tubuhnya yang tinggi besar dengan raut wajah dingin, tegas tanpa kompromi, mendatangkan ancaman buat siapapun yang memperhatikan. Dia menatap lurus, matanya menerawang seolah tujuannya masih jauh. Padahal pintu gerbang hanya tinggal puluhan langkah saja, pun demikian sudah menghadang enam orang di pintu gerbang. Sejak Sadhana datang mengacau, penjagaan makin diperketat. Pintu masuk biasanya dijaga dua orang, kali ini bertambah empat—jadi enam orang. Jika biasanya pos pelaporan tidak pernah ada orang, kali ini belasan orang membanjir di tiap jarak seratus meter.

“Berhenti!”

Beruang seolah menatap mereka, padahal pandangannya tetap menerawang kedepan, para penghadangnya tidak dianggap ada. Biasanya, orang yang mengenal dirinya sudah lari sipat kuping, tapi dari gelagat mereka, selain tak mengenal dirinya, juga tidak bisa menolak mandat kewajiban menjaga keamanan adalah tugas yang dibebankan atasan mereka. Beruang tidak berhenti, dia tetap berjalan dengan langkah perlahan. Namun pasti.

“Berhenti, kau!” sekali lagi bentakan gusar menggelegar menghardik Beruang. Lelaki ini menatap sekilas para penghadangnya, tapi tidak diperdulikan, dia tetap berjalan dengan tenang.

Jarak beruang dengan para penghadangnya tinggal terpaut belasan langkah saja, walau Beruang tidak melakukan apa-apa, aura seorang pembunuh sudah pasti memancarkan ancaman bagi penghadangnya. Mereka merasa ada sebilah pedang yang perlahan menusuk tenggorok, sangat tidak nyaman dengan kondisi seperti itu, tak banyak pertimbangan lagi, mereka menghunus senjata.

“Serang dia!”

Tidak sampai menunggu detik berikut, begitu ada aba-aba, enam orang begerak, melepas sejata lontar berupa paser dengan ujung berkait semacam ruit pancing. Semua lontaran paser bak hujan mengarah ke sekujur tubuh pendatang itu.

Tak-tak-tak!

Seolah batu ketemu batu, seluruh paser itu menghantam telak badan Beruang! Tapi, jangankan menancap, mengenai saja tidak, paser itu luruh dengan kondisi bengkok berjarak satu jengkal dari tubuh Beruang. Kontan saja kejadian itu membuat mereka terbelalak, pernah mereka dengar ada Ilmu Baju Besi, Ilmu Cangkang Wadas, dan beberapa ilmu sejenis, tapi kesemua ilmu itu dapat menahan serangan senjata tabur setelah mengenai tubuh, baru menghancurkan senjata itu dengan badan sekeras baja beradu dengan kerasnya senjata tabur. Tapi yang sekarang mereka saksikan ini benar-benar mencengangkan, mendengarpun mereka belum, bahwa; ada ilmu semacam itu.

Berganti orang lain, mungkin setelah diserangan seganas itu, dia akan balik menyerang, tapi tidak bagi Beruang. Lelaki ini tetap berjalan lurus melewati para penghadangnya, dia menganggap serangan tadi tidak pernah terjadi.

Meski keringat dingin mengucur, saking takutnya. Keenam penghadang itu menggertak gigi untuk mengeraskan nyali.

“Kurang ajar! Jangan kau kira bisa lewat begitu saja! Serang dia!” bentak si pimpinan dengan mendahului membacok golok besarnya. Ayunan golok menderu kencang, sebat, keras dan keji, tepat mengarah kepala Beruang, seolah ingin membelah tubuh lelaki itu!

Tak! Bacaokan itu memang tapat mengarah dahi, tapi berjarak satu jengkal dari dahi Beruang, serangan itu tak bisa maju lebih jauh. Beruang tidak bereaksi dengan serangan itu, dia tetap melangkah perlahan, kontan saja golok penyerang itu bagai didorong oleh tangan yang tak tampak, si penyerang terjengkang tepat di depan Beruang. Buru-buru dia menggulingkan badan, takut terinjak Beruang. Dalam benaknya, tanpa menyerang saja sudah demikian sakti, jika terlanggar kaki atau tertendang langkah lelaki itu, pasti tubuhnya akan terluka.

Semua orang terkesima, lagi-lagi mereka harus melihat kenyataan, bahwa bacokan yang seharusnya bisa membelah batupun ternyata tak bisa menyentuh pendatang ini. Dengan keringat dingin mengucur kian banyak, mereka dengan serempak kembali menghujani Beruang dengan serangan berbagai senjata.

Tak-tak-tak!

Pedang mengunjam badan, tongkat memukul kepala, golok menyabet leher, dengan serangan seperti itu seharusnya jadi hari terakhir bagi Beruang! Tapi lagi-lagi kejadiannya sama, seperti halnya bacokan pertama dan serangan paser tadi, begitu mengenai badan Beruang—seolah-olah kena, semua terpental dan patah. Jangankan membuat Beruang bergeming, serangan yang datang di bergelombang berkali-kali menghujam itupun tak dapat menyentuh bajunya.

Dengan langkah perlahan, tanpa melawan, Beruang tetap mendaki tangga batu, tiap serangan yang datang dari masing-masing pos penjagaan tidak dia hiraukan, kondisi para penyerang juga sama, senjata mereka rusak, dan nyalipun pecah, tidak ada lagi yang berani menyerang lelaki tinggi besar ini.

Akhirnya tangga batu ke dua ribu—tangga terakhir, tercapai sudah. Dibelakangnya lelaki ini, ada delapan puluh orang mengikutinya, bukan sebagai penyerang lagi, tapi mereka tak lebih sekedar penonton yang sudah tidak punya nyali, dengan takut-takut mereka mengawasi punggung Beruang, kawatir tiba-tiba saja lelaki itu berubah pikiran, membalikan tubuh, dan langsung menyerang. Tapi ketakutan mereka tidak terjadi… tiap langkah lelaki ini sudah menaklukkan para penjaga di masing-masing pos. Semua bernasib sama dengan penghadang pertama. Langkah lambat Beruang sudah mengguncang keberanian mereka tanpa sisa, tiap orang berpikir sama, ‘belum menyerang saja sudah demikian menakutkan, apalagi jika dia menyerang?’

Gerbang di depan Beruang tertutup, tapi seolah tidak melihat penghalang didepannya, Beruang tetap melangkah perlahan dan menabrak pintu setebal satu jengkal itu! Terkena tekanan perlahan dari langkah kaki Beruang, pintu itu mencekung serupa plastik terkena panas, dan…

Blam! Pintu itu terpental dan engsel tak sanggup menahan terjangan langkah Beruang. Terdengar jeritan kaget dari balik pintu, Beruang paham ternyata di balik pintu ada orang-orang yang menghadang, pantas saja dirinya harus menambah tenaga. Dengan mendengus Beruang melanjutkan langkahnya.

“Perlahan tuan!” suara sarat hawa murni membuat Beruang menatap pemilik suara itu.

“Hm!” lelaki ini mendengus, dia kembali mengacuhkan orang itu dan terus melangkah.

“Kau terlalu mengangap remeh kami, tuan! Kau pikir semua orang disini tidak berguna?!” bentak pengadang ini marah. Tanpa menunggu lagi, dia melompat kehadapan Beruang dan melakukan pukulan sederhana tepat ke ulu hati.

Berkilat mata Beruang melihat serangan itu, dia merasa hiburan menyenangkan akan segera dimulai. Kali ini dia tidak membiarkan pukulan itu bersarang di badannya, dengan gerakan sederhana dan tepat, Beruang menangkap pukulan itu, tepatnya menghadang kepalan lawan dengan telapak tangannya.

Tap! Dan berakhir sudah perlawanan penghadang itu. Dia merasa seluruh badannya tak bisa lagi di gerakkan. Sungguh tak di sangka cengkraman lawan pada kepalannya bisa merupakan serangan totok. Mana pernah dia dengar ada serangan totokan dengan cengkeraman tinju? Tiba-tiba dia teringat seseorang, kabarnya orang itu gemar bertarung, tiap gerakannya bisa membuat kaku lawan, ilmu silat aneh itu konon dia ciptakan manakala menempur dua puluh tujuh jago dari negeri seberang, dua hari tanpa henti. Dia.. Beruang! Bergidik tubuhnya, menyadari legenda hidup, momok bagi para orang-orang tenar itu berkunjung ke perguruannya. Sungguh dirinya menyesal dan jeri, setengah juruspun dia tak sanggup berbuat apa-apa.

Berganti orang lain, jika lawannya sudah kalah, dia pasti akan meninggalkannya, tapi Beruang tetap mencengkram tinju orang itu dan menyeretnya. Karena tubuhnya kaku, lelaki itu mandah diseret seperti balok kayu.

“Gawat! Guru tingkat dua saja dibuat tak berdaya …” bisik para penyerang Beruang yang sudah kehilangan nyali.

“Apa yang harus kita lakukan?“ bisik rekannya.

“Biarkan dia mampus diterjang Giri!” dengus seorang yang lain. Agaknya dia sangat yakin kelompok Giri bisa membendung Beruang.

Tapi siapa yang tahu kedatangan Çuddhakara selain memenuhi permintaan Jaka Bayu, juga ingin bertarung sepuas hati?

Langkah lelaki ini seperti tanah longsor, tidak terhenti apapun. Beberapa orang yang kembali menghadangnya, cukup dia hadang dengan ‘senjatanya’ yang istimewa, yakni balok manusia—korban totokannya tadi. Karuan saja, tak ada yang berani menyerang dengan senjata tajam.

—ooOoo—

74 – Menyibak Rerumputan Mengejutkan Ular

Beruang mengedarkan pandangan matanya, dia sudah ‘membuang’ senjata yang istimewa tadi. Dia sudah ada di depan taman. Pemandangan di hadapannya membuat Beruang merasa darahnya berdesir lebih cepat. Sebuah brikade, sebuah kurungan yang membuat semangatnya melecut, dan darah mulai bergelora!

Beruang, menatap rombongan yang menghadangnya dengan datar—tanpa ekpresi tertentu, yang menghadangnya itu bukan sembarangan orang, mengetahui para murid tingkat dua tidak akan membawa hasil, yang dikerahkan untuk menghadangnya adalah tiga puluh orang murid tingkat satu. Itu artinya ada tigapuluh macam orang setingkat Netracurik.

Tapi lagi-lagi seperti kejadian sebelumnya, meskipun semangatnya menggelora Beruang mengacuhkan mereka, dia cuma menatap para penghadangnya dan tetap melangkah mendekat.

“Berhenti!” bentakan dari beberapa orang penghadangnya, tak membuat langkah Beruang surut. Lelaki ini tetap berjalan,tatapannya mengartikan; kalian yang menyingkir!

Anak murid Naga Batu sadar, kalimat apapun tidak akan menghentikan tamu ini, maka; merekapun siap-siap menerjang Beruang. Dengan mengepungnya, ketigapuluh orang itu sudah siaga dalam pertempuran melawan si pendatang. Dengan jemari tangan kanan membentuk cakar, diletakkan pada pinggang kanan, sedangkan tangan kiri memegang pergelangan tangan, gerakan tangan itu seolah akan mencabut pedang dari sarungnya. Dan ‘pedang’ mereka ini adalah cakar tangannya sendiri.

Beruang tetap mengacuhkan itu, dia paham gerakan yang dilakukan mereka adalah persiapan jurus Cakar Naga Keluar Sarang, dia tahu jurus itu salah satu gerakan paling ganas dan mematikan, jika dugaannya benar, cakar-cakar itu pasti bisa menembus karang semudah mencengkeram tahu. Tapi Beruang mengacuhkan itu semua, dia menggeser langkah mendekati kepungan, jika tadinya Beruang ada dipusat kepungan,sekarang dirinya tinggal dua langkah menjangkau pengurung dihadapannya.

Tak perlu menunggu komando, mereka segera menyerang Beruang. Desir angin dari ‘Pedang’ istimewa itu cukup menggidikkan. Tiga puluh cakar mengarah sekujur tubuh Beruang. Serangan belum sampai, tapi anginnya cukup tajam dirasa oleh Beruang. Terulas segaris senyum dari bibir Beruang, dia berjalan menerjang lawan dihadapannya!

Terjangan itu hanya langkah lebar belaka, tapi gerakan Beruang sudah menyeret serangan dari berbagai penjuru mendekati garis serangan terdekat dari arah berlawanan. Tentu saja serangan orang-orang dihadapan Beruang yang pertama kali mengenai dirinya—jarak mereka hanya satu jangkauan saja!

Empat cakar berhasil menjamah tubuh Beruang, sebuah kemajuan! Sebab dari laporan sebelumnya, tak ada serangan yang bisa menyentuh tubuh lawan. Tapi belum lagi perasaan girang lenyap dari wajah mereka, kini perasaan kejut dan kesakitan menghias wajah.

“Aaah!” jeritan itu dari empat orang didepan Beruang, menyusul enam orang yang menyerang dari belakang, dan berikutnya dua orang disamping kiri, dan terakhir tiga orang samping kanan. Total serangan cakar bagai gugur gunung itu ada lima belas orang yang berhasil menyentuhnya, tapi berujung tragis. Semua orang terlempar! Bukan karena terpental,tapi terlempar karena mendadak mereka harus menahan tenaga sendiri!

Kejadian itu hanya dalam sekejap, lima belas sisanya tidak berpikir untuk menghentikan serangan, mereka menggunakan pola yang sama cuma kali ini kelihatan lebih efektif. Dua orang mencengkram bahu rekannya, tenaga mereka tersalur dalam serangan segi tiga, dan satu orang dengan gabungan tenaga menyerang satu titik.

Beruang tak bergeming juga, padahal ada lima serangan dengan pola gabungan,mengarah titik-titik mematikan. Beruang bergerak menyongsong serangan.

Clap! Clap! Clap! Cakar dengan tenaga gabungan pertama menghantam telak ulu hatinya, detik berikut serangan lain dengan gerakan memutar seperti bor, menghunjam tajam menyesak ginjal. Detik kedua, tiga serangan gabungan sudah melanda punggung, leher dan kepala!

Trak! Suara menggidikan yang menghantam kepala, tertelan jeritan-jeritan kaget, empat serangan gabungan pertama, terpental dengan berurutan. Hanya serangan terakhir yang mencengkeram kepala, tidak terpental seperti lainnya.

Hadirin, berharap serangan itu membawa hasil, tapi begitu Beruang melangkahkan kakinya, orang-orang pun terbelalak. Si penyerang sudah terguling dengan tangan masih membentuk cakar, dan dua orang rekannya masih menempel dibahunya—mereka rubuh dalam kondisi tertotok.

Suasana jadi lengang, tiga puluh serangan beruntun yang tak mungkin dihadapi dengan berdiam diri, ternyata benar-benar dilakukan tanpa balasan! Lelaki ini menatap para penyerangnya satu per satu, dia menunggu ada yang menyerangnya lagi. Tapi kelihatannya nyali mereka sudah pecah. Para penyerangnya hanya bisa mengawasi Beruang dengan tatapan beragam perasaan; marah, gemas, dan ngeri.

Seperti biasa, tanpa sepatah katapun, Beruang kembali melangkah memasuki pintu gerbang selatan, tinggal satu pintu lagi dia sudah ada dikebun bunga yang sebelumnya telah dikunjungi Serigala.

Baru belasan langkah, dihadapannya ada tiga orang menghadangnya. Diwajah Beruang menampilkan satu perubahan, jika ada yang melihat, mungkin dia mengira lelaki ini kaget atau takut, tapi siapa yang mengira bahwa Beruang sedang kegirangan? Hidung Beruang itu termasuk istimewa, dia bisa mencium hawa sakti lawan, manakala hawa lawan tak tercium lagi, artinya; dia akan memberi perhatian serius, karena lawannya kemungkinan memiliki tataran yang tinggi.

Orang yang ditengah menghadang langkah Beruang dengan ucapan yang membuat Beruang tertegun. “Itu adalah Menepuk Gelombang Memisah Air…”

“Dia memiliki kemampuan itu kakang?” sahut sebelah kirinya.

Orang ditengah-tengah mengangguk prihatin. “Dia bisa sesuka hati mengatur tenaga serangan lawan untuk di salurkan ke lain tempat, dalam hal ini dia mengarahkan tenaga serangan ke penyerang berikutnya…”

“Pantas! Makin banyak lawannya, kelihatannya makin tak bermanfaat menghadapinya..” sahut orang sebelah kanan.

“Makanya cukup kita bertiga saja, aku yakin kita bisa mengatasinya!” tegas si orang yang ada ditengah, kelihatannya dia yang jadi pimpinan.

Beruang tak berkomentar, sejak dia masuk, tak sepatah katapun terlontar dari mulutnya. Lelaki ini lebih suka mengamati. Tiba-tiba tersembul satu seringai cemooh dari bibirnya, kini dia tahu siapa lawannya. Sebab dia pernah mendengar suara mereka, melihat cara bibir mereka bergerak.. Itu kejadian yang sudah lama sekali. Kejadian yang tak pernah dia pikirkan, karena pada saat itu dia adalah pembunuh, seorang pemburu para pembunuh.

“Dibawah pohon mengintai rumah, kehilangan tujuh orang..” desis Beruang dengan tatapan mata berubah, lamat-lamat cahaya menggidikkan tersaput, semacam niat membunuh.

Mendengar ucapan Beruang, wajah ketiganya berubah jadi jelek sekali. “K-kau…” hampir bersamaan ketiga orang itu tersurut saking kagetnya.

“Ya, ini aku!” sahut Beruang. “Dua puluh lima tahun lalu, kalian sepuluh saudara angkat hanya sanggup bertahan dua jurus. Apa lagi sekarang? Hanya bertiga? Huh! Sangat menghina diriku!” dengus Beruang, dengan melangkah kian dekat.

Ketiga orang itu mundur-mundur sampai akirnya mereka berdiri menghadang di pintu masuk kebun bunga. Tapi Beruang tak perduli, dia tetap melangkah menerobos masuk. Kalau perlu malah menabrak penghalangnya!

Ketiga orang ini serba salah, sungguh mereka ingin melawan, tapi sumpah dan janji yang sudah terucap hampir tiga dasawarsa lalu membebaninya.

“Sebentar! Aku ingin bicara..” Seru orang yang menjadi pimpinan.

Beruang berhenti, menantap ketiganya bergantian. “Kalian lari kesini tentunya memiliki tulang punggung baru, apa yang di takutkan?” ejek Beruang.

Ketiganya saling berpandangan. “Bisakah kita tidak bertarung?”

Beruang mendengus. “Mutlak tidak mungkin! Kecuali…”

Ketiganya menunggu apa yang akan diucapkan Beruang.

“Kecuali, kalian menyingkir dari sini, dan aku akan melakukan pemeriksaan kedalam!”

Paras ketiganya berubah pias, justru kehadiran mereka untuk menghalangi siapapun masuk ke dalam kebun bunga, tapi tak disangka… orang yang datang adalah lawan yang pernah mengampuni nyawa mereka, bahkan membuat mereka bersumpah untuk melakukan apapun yang diperintah Beruang. Kebimbangan mereka ternyata diketahui oleh pihak lain. Mendadak..

“Apa kalian berani membangkang?!” terdengar suara dari salah satu bangunan yang mengelilingi kebun bunga.

Beruang yang mendengar suara itu memiringkan kepalanya, dia mengingat-ingat apakah pernah mendengar suara itu, tapi rasanya dia belum pernah dengar suara itu. Setelah mendengar sauara itu, Beruang memperhatikan ketiga wajah lawannya. Wajah mereka makin pias.

“Kami tak bermaksud membangkang, tapi.. tapi.. kami memiliki kesulitan..” seru lelaki yang bertindak sebagai pimpinan mengumam.

“Hmk! Kesulitan apapun jika sudah menjadi Giri, seharusnya tidak ada kesulitan lagi!” ucapan tak mau tahu itu membuat ketiganya tertunduk.

Ternyata ketiganya adalah anggota Giri! Orang yang dipandang sangat misterius dalam kalangan Perguruan Naga Batu! Orang mana tahu jika ketiganya sehari-hari hanya berprofesi sebagai tukang kebun, koki, dan tukang cuci baju.

Dari dialog singkat tadi, Beruang sangat paham kondisi macam apa yang dialami ketiga orang itu. Dia yakin, pastinya yang memerintah mereka sudah mengikat ketiganya dalam satu perjanjian, atau sebuah racun dengan kadar tertentu telah ditelan, membuat mereka harus tunduk dan patuh. Sebab dia cukup mengenal mereka, ucapan mereka bisa dipercaya. Tak berpikir panjang, dengan tindakan cepat, Beruang menyerang ketiganya dengan tusukan jari. Wess!

“Kau!!” sungguh gusar ketiganya, menyadari Beruang menyerang tanpa aba-aba! Dengan cekatan, mereka melompat kearah samping, menghindari arah serangan jemari Beruang. Tapi serangan Beruang ini ternyata sangat aneh, tusukan jarinya yang lurus memang bisa mereka hindari, tapi ketiganya mendadak tersirap kaku. Tak bisa bergerak lagi! Mereka merasa ada angin yang sangat tajam justru menghantam punggung mereka.

“Dulu aku menghadapi kalian hanya dua jurus, jika sekarang kurang dari dua jurus kan sudah seharusnya!” ketus Beruang, tak memperhatikan mereka lagi, dia pun bisa masuk ke dalam kebun bunga itu dengan leluasa. Seperti hanya Serigala, Beruang mencari-cari bunga yang ciri-cirinya seperti yang dikemukakan Jaka.

“Terkutuk! Akan kuratakan tempat ini!” bentaknya, seusai dia menemukan bunga yang di maksud. Beruang mengempos lima bagian tenaganya menghantak ke kanan dan kekiri.

Brak! brak! seluruh barang yang terlewati pukulan Beruang hancur lebur, bahkan tembok kebun bunga itu hancur dengan serpihan menjadi debu.

“Pengacau! Kau memang cari mati!” seru satu suara, suara itu yang tadi mencemooh Giri.

Beruang mendengus. “Siapa yang mencari mati belum ketahuan! Seharusnya kau sudah diberi tahu oleh majikanmu, jika bunga ini harus dirawat sungguh-sungguh, tidak boleh terkena angin terlalu banyak apalagi dipindahkan. Jika tidak, kasiatnya tidak akan seperti yang diharapkan.” Omongan lelaki ini seperti melantur, tidak nyambung dengan ucapan manusia yang tersembunyi di balik bangunan.

“Apa yang kau bicarakan?!” seru suara itu marah.

“Yang kubicarakan adalah, siapapun yang menanam bunga ini adalah orang tolol! Dia tidak tahu apa yang sedang diharapkan, tapi dia juga mengira bisa menggunakan kasiat bunga ini pada waktunya…” usai berkata begitu Beruang membalikkan tubuhnya. “Kupikir aku akan menjumpai hal yang luar biasa… ternyata hanya orang tolol yang suka main racun. Hm-hm!”

Ucapan Beruang tentu saja, tidak seperti yang Jaka perintahkan, tapi dia sudah bisa meraba, persoalan yang diembannya itu mengarah kemana. Dengan kesimpulannya sendiri, Beruang menggertak siapapun kekuatan di balik pihak Peguruan Naga Batu. Mungkin tidak seperti yang dia duga, tapi ia merasa kesimpulannya itu sedikit banyak ada benarnya. Ucapannya itu memang serupa dengan tujuan Jaka, yakni mengejutkan musuh, membuat mereka berjaga-jaga, sampai akhirnya memperlihatkan kelemahannya sendiri.

Belum lagi Beruang sampai di pintu keluar, mendadak dihadapannya telah berdiri satu orang menghadangnya. Dia berpakaian hijau gelap,usianya paruh baya.

“Memangnya orang disini sudah mati semua, jika aku tak bisa membuatmu menyerah maka ak..”

Belum habis ucapannya, Beruang sudah berkelebat cepat, ada didepan orang itu lalu menamparnya. “Banyak bacot!” dampratnya.

Tamparan Beruang memang berbeda dengan orang lain, karena tiap gerakannya membuat tubuh lawan bisa menjadi kaku, berefek sama dengan totokan. Orang itupun, membeku gerak dengan kepala menoleh kekanan.

Kedatangan Beruang benar-benar menggoncang Perguruan Naga Batu. Jika orang lain,setelah tujuan tercapai, maka dia akan bergegas pergi. Tapi Beruang memang berniat untuk melemaskan otot, dia sengaja menunggu lawan lebih banyak..

Dilihatnya ada enam orang berlari mendatangi. Kali ini Beruang tak lagi pasif. Dia menyongsong lawan dengan gerakan cepat, tinjunya menggelegar membelah udara. Cukup satu tinju, gerakan enam orang itu terhenti, dan mereka melompat serentak untuk menghindar dari desingan serangan itu.

Tapi nasib keenamnya serupa Giri, begitu melompat surut, yang dirasakan justru desakan angin yang tajam dari belakang. Seperti sudah berjanji, keenamnya jatuh berurutan dengan tubuh kaku. Beruang melirik kesebelah kirinya, ada empat orang mendatanginya dengan ilmu peringan tubuh amat pesat. Baju mereka putih dengan lengan diikat kain merah.

“Huh, akirnya ada juga sakya yang muncul!” desis Beruang merasa girang.

Ilmu silat lelaki ini mengandalkan efektifitas, tiap pukulan, tebasan, apapun serangannya memiliki daya guna ganda, saking tajamnya angin pukulannya, serangannya seolah bisa menembus tubuh lawan, dan bagian tubuh belakang yang justru kena serang. Perinsip serangannya semacam bumerang yang bisa bergerak melingkar dan kembali pada si pelontar.

Usai mengalahkan enam orang, Beruang meloncat pesat kearah empat orang sakya, dengan tendangan memutar mengincar orang paling kiri. Mereka terkejut, tapi orang yang diincar Beruang, justeru melompat kearah sebaliknya untuk menghindar begitupun tiga orang lainnya, dalam detik itu juga Beruang sudah ada dalam formasi kurung.

Beruang berdiri membelakangi orang yang tadi diserangnya, dia berkonsentrasi pada tiga orang lainnya. Empat orang itu dia kenal sebagai Dua Pasang Ular, meski tak sehebat Giri, Beruang ingin memastikan berita diluar, tentang kelincahan lawannya. Tidak menunggu lama, Beruang menerjang salah satunya, terjangan Beruang cukup cepat, tapi ketiganya segera menghindar, melenting kebelakang dengan pesat. Tiga orang itu terheran-heran melihat seorang kawannya diam saja. Beruang mendiamkan mereka saat bertindak hati-hati mendekati kawannya yang diam saja.

Betapa terkejutnya mereka, menyadari rekannya tertotok. Padahal jelas-jelas mereka melihat dia menghindar dari serangan Beruang.

“Bosan!” seru Beruang, lalu dia membalikkan tubuh mendekati Giri yang masih tertotok. Tapi baru beberapa langkah saja, terdengar seruan marah dari ketiga lawannya, mereka menyerang Beruang. Salah satunya melenting mendahului langkah Beruang dan langsung menendang kemaluan, bacokan dari arah belakang mengarah leher, dan cengkaman mengarah pusat punggung.

Beruang tertawa dalam hati, lawannya benar-benar amatir, ucapannya tadi sudah membakar amarah lawan. Beruang mengangkat kakinya memapaki tendangan lawan, sementara tangan melindungi leher dengan telapak tangan mengarah keluar.

Duk! Tendangan tertangkis. Kejap berikut serangan bacokan menghantam telapak tangan Beruang. Tapi, serangan kepunggung dia biarkan.

“Ahh…” ketiganya terpekik dan terjajar surut.

Betapa kagetnya mereka. Bagaimana mungkin tendangan yang membentur kaki lawan, rasanya seperti dicengkeram oleh tenaga yang dia kenal. Sementara serangan bacok memberi efek seperti sedang membelah batu, ‘gumpalan batu’ itu mendorong dengan rasa bagai tersengat! Sementara si penyerang cakar pada punggung merasa seperti ada bacokan yang menyayat jemarinya. Ketiganya tertegun menatap Beruang dengan pandangan terheran-heran bercampur jeri.

“Aku sudah selesai dengan kalian, membosankan!” ujar Beruang dengan dingin. Lalu dia menghampiri Giri, menenteng dua orang dan membebaskan totokan seorang lainnya.

“Kau mau apakan saudaraku?” seru si pimpinan Giri setelah terbebas dari totokan.

“Kubawa kemana aku suka!” ketus Beruang, lalu dengan entengnya menenteng dua orang Giri.

Tentu saja langkah Beruang di ikuti oleh pimpinan Giri—dia mengkawatirkan saudara-saudaranya. Dalam waktu singkat mereka sudah keluar dari Perguruan Naga Batu. Sebenarnya Beruang menginginkan perlawanan serius, dia terheran-heran, menyadari tak ada orang yang menghalangi lagi. Menurutnya, entah siapapun yang memegang kekuasaan disana, dengan caranya membawa sandera, seharusnya mereka merintangi. Tapi ternyata tidak. Dengan perasaan apa boleh buat Beruang meninggalkan tempat itu.

===oOo===

“Apakah kita biarkan dia berulah disini?” tanya seseorang berbaju kelabu pada sosok yang membelakanginya.

“Ini, diluar dugaan..” jawabnya. “Lagipula aku tak mau mengeluarkan kekuatan kita hanya untuk menghadapi satu orang… belum saatnya! Kau tahu siapa dia?”

“Dua jam lagi kita akan tahu, murid yang menerima totokan pertama orang itu sepertinya tahu..”

“Terlalu lama!” gumam lelaki ini.

“Tuan biarkan Giri menjadi tawanan orang itu? Apa kita tak perlu mengutus orang untuk membuntuti mereka?”

“Kau tak perlu memikirkan itu, Kuntareksi dan anak buahnya yang akan mengurus.”

“Saya kawatir, banyak informasi bocor jika terlalu lama Giri diluar…”

“Jika mereka masih sayang nyawa tentu kekawatiranmu tak beralasan. Aku tak mencemaskan itu, hanya saja..” dia terdiam sesaat, sembari menatap keluar lewat celah gordyn jendela. “Menurutmu, apa langkah kita terlalu ceroboh?”

“Saya pastikan, tidak!” sahutnya mantap.

“Tapi, ada dua orang pendatang mencari Bunga Baruni..” ujarnya dengan suara tajam.

Lelaki berbaju kelabu tergagu. “Jangan-jangan, salah satu Saudara Satu Atap?”

Meski berdiri membelakangi si baju kelabu, tubuh lelaki itu kelihatan bergetar. “Kupikir, jejak kita sudah cukup tersembunyi. Apakah memang benar-benar sulit menghindari mata dan hidung mereka?” ujarnya dalam gumam. Bukan mata dan telinga yang dia sebutkan, tapi hidung. Sebab Saudara Satu Atap memiliki metoda lacak yang unik, yakni dengan indra penciumannya.

“Saya masih bimbang dengan ucapan pengacau tadi..” ujar si baju kelabu mengingatkan pimpinannya.

Orang ini menganggukkan kepalanya. “Siapa dibelakang orang-orang itu?” desis orang ini dengan mata menyipit. “Kau sampaikan perintahku pada Sadewa dan kawan-kawan, dalam satu hari ini, lacak seluruh keberadaan orang asing sampai sepuluh pal diluar perbatasan kota!”

“Baik tuan..” dalam sekejap si baju kelabu sudah menghilang dari ruangan itu.

Sepi menggigit suasana ruangan, bahkan suara jantungnya sendiri, dia bisa mendengarnya. “Apakah ini ulah Ketua Bayangan?” pikirnya. “Dia masih ada tanggungan orang padaku, tak mungkin berani macam-macam!” gumamnya percaya diri.

“Tapi, bagaimana jika benar-benar Saudara Satu Atap?” pikirnya gelisah sambil terduduk. Dia paham benar cara kerja organisasi Saudara Satu Atap. Jika memang begitu, bisa dipastikan, dirinya sulit untuk mengelak.

Padahal orang ini sanggup mengendalikan Perguruan Naga Batu, bahkan menyusupkan kekuatan merasuk sampai pusat pemerintahan Pagaruyung. Tapi dia begitu kawatir dengan Saudara Satu Atap. Entah organisasi macam apa lagi itu?

—ooOoo—

75 – Arwah Pedang

Tubuh tinggi kurus dengan baju hijau pupus di dunia persilatan merupakan ciri yang mudah dikenal. Lelaki itu bernama Pariçuddha, lebih dikenal sebagai Arwah Pedang. Untuk menjumpai lelaki ini sangat sulit jika dia tak menginginkan untuk bertemu.

Tapi beberapa hari ini kaum persilatan yang ada di kota Pagaruyung, sering melihat orang yang disinyalir sebagai Arwah Pedang, muncul disana sini,meskipun dia tak memakai baju hijau, bahkan pedang juga tak tampak tersoren. Meski orang menyangka dia mirip dengan Arwah Pedang, tapi tak satupun berani memastikan dengan bertanya.

Saat ini, dia sedang terlihat duduk di sebuah rumah makan. Arwah Pedang memesan air jahe dengan nasi ketan. Meskipun Jaka sudah menerangkan detail arah bangunan, dimana Ketua Bayangan tinggal, dia lebih suka kedatangannya diundang. Tentu saja dia punya cara bagaimana anak buah Ketua Bayangan menjumpai dirinya.

Hari ini dia duduk di rumah makan yang diduga pengelolaannya ditangani kelompok Ketua Bayangan. Di tempat itu pula Jaka berjumpa dengan Momok Wajah Ramah. Simbol cara Arwah Pedang minta bertemu orang, diperoleh dari Jaka, sementara pemuda itu memperolehnya dari Arseta. Setelah wedang disajikan, Arwah Pedang menyelup jemarinya dan meneteskan ke meja sebanyak tiga tetes. Dan itu dilihat oleh pelayan saat mengantar nasi ketan. Lelaki ini percaya, sebentar lagi ada balasan serupa.

Nampaknya dia tak perlu menunggu lebih lama, sesaat kemudian masuk lelaki muda, dia duduk di seberang meja Arwah Pedang. Air yang dia pesan adalah air daun salam, uap yang mengepul dari gelas tanah liat itu tertampung oleh penutup gelas, lalu pemuda itu membuka tutup, mencecerkan dua butir air disamping gelas.

Arwah Pedang melihat itu, dia bergegas membayar lalu keluar, berjalan santai. Ternyata simbol yang dilakukan tadi adalah tanda ingin bertemu orang, jika si pelayan yang melihat tanda itu tidak memberi respon, Pariçuddha beranggapan dia salah tempat. Tapi ternyata tanda yang dia buat tadi mendapat balasan cepat, dua tetes air berarti: ikuti aku.

Tak berapa lama kemudian, pemuda dalam rumah makan juga keluar, berjalan cepat dan melewati Arwah Pedang, dipertigaan depan, dia berbelok kekiri. Pariçuddha segera mengikuti dengan tak kentara. Tak berapa lama, dia sampai di sebuah hutan pinus, terlihat pemuda itu berhenti menunggu dirinya.

Tangan pemuda itu diudara membuat suatu tanda bulatan, dengan jari manis. Pariçuddha melakukan hal sama dengan ibu jari. Pemuda itu membungkuk, “Harap tunggu sejenak.” lalu dia membalikan tubuh dan melepas bajunya. Saat sudah berhadapan dengan Arwah Pedang lagi, dia sudah mengenakan baju coklat ketat. Wajahnyapun tak lagi seramah tadi.

Arwah Pedang pada dasarnya memang bertampang dingin, serius, sifatnya juga nyentrik. Tapi sejak berkumpul dengan Jaka semua sifat itu tidak ada. Kini dihadapannya ada pemainan semacam ini, membuat kebiasaannya kembali. Dari tadi belum sepatah katapun keluar dari mulutnya, dia juga tak bertanya apapun.

“Di hari biasa, kami pasti akan menyilahkan tamu-tamu yang mengetahui simbol kami, tapi saat ini adalah kekecualian!” Kata pemuda itu dengan tawar, dia menatap Arwah Pedang penuh selidik.

Lelaki ini mengerutkan keningnya, dia teringat simbol tertentu, lalu tangannya bergerak dengan dinamis, jemarinya satu per satu bergerak bergiliran. Wajah pemuda itu berubah, tanda yang dilakukan orang didepannya itu adalah kesepakatan paling baru yang dibuat oleh Arseta sendiri. Apakah orang ini kawan dari Arseta? Jelas tidak mungkin. Setelah kedatangan seorang tamu yang diterima Ketua Bayangan, Arseta tak pernah keluar, jadi satu-satunya kesimpulan adalah; orang itu berhubungan dengan tamu terakhir. Sebab tamu terakhir mempelajari simbol rahasia terbaru. Dengan ragu pemuda ini menatap lelaki itu.

“Kau temannya?”

Arwah Pedang, tidak tahu ‘nya’ yang dimaksud adalah siapa. Tapi jika itu bisa membawanya menjumpai adik iparnya, diapun mengangguk.

“Hm.. Kebetulan sekali, aku belum sempat berjumpa dengannya, sempat kudengar sedikit sanjung puji atas dirinya. Kupikir harus kubuktikan lebih dulu, aku mohon pengajaranmu!” tegas dan getas ucapan pemuda ini.

Arwah Pedang terheran-heran dengan ketusnya sikap pemuda itu, dia menangkap rasa iri didalamnya. Dengan perasaan apa boleh buat lelaki ini mulai mengawasi pemuda dihadapannya dengan seksama.

Ada yang mengejutkan dari penampilan pemuda itu. Sosoknya tidak setinggi Jaka, tapi raut dan sikapnya, cukup berbobot, wajahnya juga tampan, cuma berkesan dingin. Lamat-lamat Pariçuddha merasa ada hawa beku merembes dari tubuh si pemuda, padahal sinar mentari juga cukup menyorot hutan pinus, hawa itu sangat tipis nyaris tak bisa dirasakan, jika saja dirinya tidak pernah melewati puluhanan pertempuran hidup mati, tentu hawa semacam itu tak akan bisa dirasakan. Diam-diam Arwah Pedang mempertinggi kewaspadaan, sikapnya pun jadi prihatin. Hawa yang merembes dari tubuh lawanya, semacam cikal bakal hawa membunuh, bisa dirasakan olehnya, tak lebih dari sepuluh tahun kedepan pemuda itu pasti sanggup melampauinya.

Pemuda lawannya itu seperti batu mulia yang belum terbentuk. Sikapnya yang kokoh dan teguh, membawa satu perbawa cukup menakutkan. Perlahan tangan kirinya terangkat dengan lengan tertekuk kesamping sejajar bahu, jemari mengepal menempel dada, tangan kanannya memegang siku kirinya-tepatnya jemarinya menjumput siku. Melihat itu, berubah wajah Pariçuddha, sikap pembukaan itu dikenal Arwah Pedang sebagai Silat Baginda.

Terkesip juga lelaki ini menyaksikan gerak selanjutnya, dia pikir mungkin saja lawannya cuma mencangkok gerakan, tapi gerakan jemari yang sekelumit tadi memastikan kemurniannya. Silat Baginda adalah olah gerak yang hanya dimiliki kalangan bangsawan. Para leluhur mereka yang waskita telah mencipta olah gerak berdasarkan kewibawaan, sementara sistem pernafasan untuk membangun hawa sakti konon hanya bisa dilakukan oleh trah darah biru.

“Hiat!” pekik bagai lengking hewan, menusuk timpani telinga. Dengan melesat cepat kearah Arwah Pedang, tangan kanan yang memegang siku kirinya mencuat dalam kepalan dengan gemuruh laksana guntur.

Arwah Pedang terkesip menyaksikan jurus itu, dia pernah bertarung dengan orang yang memiliki jurus serupa, tapi perbawanya tak sedahsyat ini! Penasaran ingin melihat tataran ilmu lawannya, Arwah Pedang memapaki kepalan lawan dengan tapak tangannya, sebuah jurus sederhana yang digunakan oleh pintu perguruan manapun, ‘Mendorong Selaksa Angin’, cuma bedanya jika jurus itu seharusnya digunakan dengan jari lurus mengarah langit, Arwah Pedang menggunakannya dengan tapak miring ke kiri.

Plak! Benturan keras terjadi, terjangan si pemuda seperti batangan besi yang tak tertahankan, lengan Arwah Pedang sampai menekuk, tergempur! Ternyata gempuran pemuda itu belum selesai, dari bahunya mengedut sekali, dan Arwah Pedang merasa seperti disembur satu pukulan jarak jauh,tapi dengan jarak sedekat itu Telapakannya terasa kebas.

Tak mau dirugikan, telapak tangan lelaki ini memutar kebawah, dan ibu jari serta kelingkingnya mengait kepalan si pemuda yang terus saja mengeluarkan tenaga kedut dari bahu.

Dan seiring tenaga itu terhambur, tangan Arwah Pedang seperti sedang dipukul-pukul dengan besi. Kaitan pada kepalan dia kencangkan, sementara jari telunjuknya sudah menyentuh nadi pemuda itu.

Seperti dugaan Arwah Pedang, begitu jarinya menempel pada nadi, kepalan tangan kiri yang menempel didada begitu sebat mengibas, serangan itu terlampau mendadak, bahkan lebih dahsyat dari serangan pertama, pemuda itu sudah memiringkan tubuh, memanjangkan poros tubuh! Dia memukul kepala Arwah Pedang. Tapi agaknya pemuda ini lupa, kepalannya sedang dikait dan nadinya sudah disentuh Arwah Pedang.

Lelaki ini memiliki keistimewaan dalam pengerahan tenaga, dia tidak pernah melakukan hal yang sia-sia, semuanya selalu pas, tak lebih-tak kurang, hanya setitik saja. Sentuhan jarinya juga pas, tidak lebih untuk menghentikan serangan susulan, tidak kurang untuk membekukan gerakan pemuda itu selama satu tarikan nafas…

“Tangan kirimu kuat sekali.” Puji Arwah Pedang disamping si pemuda yang masih membeku, sesaat kemudian dia bisa bergerak, dan terburu-buru menjauhi Arwah Pedang.

“Kau bisa panggil aku Kiwa Mahakrura.” Dengus si pemuda merasa tak puas dengan kekalahannya, namun diapun harus bersikap jantan untuk tak meneruskan gebrakan.

Arwah Pedang menghela nafas dingin. “Tahukah kamu, sebutan itu bisa memendekkan usiamu?”

“Bukan urusanmu!” seru Kiwa Mahakrura ketus. “Ikuti aku!”

Arwah Pedang tak banyak bicara, dia mengikuti pemuda itu, melalui jalan yang pernah Jaka lalui, tak berapa lama Arwah Pedang pun terheran-heran dan takjub dengan keadaan disitu.

Sebuah bangunan tua cukup luas, dikelilingi bangunan lain sebagai dinding pelindung, lantai halaman yang kehitaman dan licin. Arwah Pedang, tahu batu lantai adalah kuarsa kasar, tapi sudah sedemikian licin, lelaki ini memperkirakan paling tidak, sepuluh dasa warsa adalah hitungan minimal keberadaan bangunan itu. Diantara keheningan yang mencekam, aroma kayu kuno juga teruar, membuat kesan bangunan itu begitu misterius. Arwah Pedang tak lagi memperhatikan kemana Kiwa Mahakrura, setelah puas melihat diapun duduk di sebuah kursi kayu jati.

Tak berapa lama, muncul lelaki dari dalam. Menyaksikan tamunya, wajahnya terperanjat. Dia memang dapat laporan ada orang berpenampilan mirip Arwah Pedang, tak disangka dugaan itu malah nyata. Buru-buru dia datang dan menjura. “Mohon maaf jika kedatangan tuan, tidak mendapat sambutan yang pantas.”

Arwah Pedang mengulap tangannya. “Aku tak ingin berbasa-basi, aku perlu bertemu Ketua Bayangan..”

Wajah Arseta nampak berubah, dia tak bisa menduga apa maksud Arwah Pedang, cuma jika dikaitkan dengan Jaka, bisa jadi kedatangannya untuk membalas dendam?

“Kau tak perlu memikirkan, kedatanganku gara-gara buah Jalanidhi atau bukan.” Arwah Pedang bisa membaca kecanggungan Arseta.

“Kalau demikian, mari.. Ikuti saya.” Setelah bimbang, Arseta memutuskan untuk membawa tamunya ke dalam. Tapi bukan tempat dimana Jaka pernah masuk, melainkan ruang yang berbeda.

Pada saat Jaka datang kesitu, memang sudah timbul rencana mereka untuk merekrutnya, dengan atau tanpa persetujuan. Maka ruangan yang lebih pribadi diperlihatkan. Tapi tokoh sekaliber Arwah Pedang jelas tidak bisa disamakan dengan Jaka. Cuma, ucapannya tentang buah Jalanidhi, memberi ilham aneh pada Arseta. Jangan-jangan kita salah bertindak? Pikirnya makin gundah.

Arwah Pedang sudah duduk dalam ruangan dibelakang bangunan utama, ada sebuah taman yang cukup luas disana. Meski dirinya cukup dingin menghadapi semua persoalan, tapi berpikir akan menjumpai adik iparnya, membuat denyut jantung lebih cepat.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: