Seruling Sakti Jilid 81-85

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 81 Sampai 85

81 – Tamu-tamu Hebat

Mintaraga mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, dia tidak ingin mengecewakan Jaka Bayu, dewa penolongnya. Manakala pemuda itu meminta dia untuk membuka mata dan telinga untuk menyirap kabar diseluruh penjuru kota, ia lakukan itu dengan baik.

Jaka memang sudah memiliki Penikam yang sanggup menghimpun sumber daya informasi dari segala kalangan, pemuda itu tidak menyangsikannya, tapi justru karena Penikam juga pendatang di Kota Pagaruyung, maka Jaka memerlukan semacam informasi yang sudah mengakar dasar, informasi remeh, yang justru lebih dikuasai oleh Mintaraga.

Saat itu, beberapa orang kepercayaan Mintaraga menyaksikan dua orang masuk kedalam warung ronde, padahal tempat itu sudah tutup. Gerak-gerik mereka sangat luwes dan tidak mengundang rasa curiga, siapapun orangnya yang mampir di sebuah warung yang sudah tutup—hanya sekedar menjenguk—dalah sangat wajar. Tapi, jika mereka adalah orang Pagaruyung asli, tutupnya warung Ki Sempana mengartikan satu hal. Jangan ganggu aku! Tak perduli kau menangis dan berak di depan warungnya, pak tua itu tak akan keluar dari rumahnya, bahkan untuk melongok dari jendela juga tak akan dia lakukan. Itu sudah jadi pengetahuan umum di kota Pagarayung.

Dan beberapa teman Mintaraga, melihat ada orang yang masuk kedalam warung yang sudah tertutup, mereka sadar, pasti keduanya pendatang dan tidak mungkin berniat baik! Berhubung jarak mereka dengan teman-teman yang lain cukup jauh, maka keduanya berinisiatif mencari jalan masuk untuk melihat keadaan.

Suara mengaduh Ki Sempana, yang samar sempat mereka dengar, sadar dengan kemampuan yang terbatas keduanya berkeputusan untuk menggali lorong dekat jalur buangan air. Mereka memang bukan siapa-siapa, hanya kebetulan keahlian mereka justru adalah menggali, untuk menggali tanah lembek di sekitar rumah Ki Sempana sampai menuju jalur dalam ruangan, tak sampai satu jam mereka lakukan.

Mereka bukan orang-orang dunia persilatan, tapi mereka tahu, orang-orang yang berkecimpung di dunia persilatan pasti memiliki pendengaran tajam, keduanya mengira-ira waktu yang tempat untuk masuk kedalam. Begitu ’tamu-tamu’ Ki Sempana keluar dari rumah, mereka langsung mempercepat penggalian, dan disaat yang tepat berhasil meraih tubuh Ki Sempana.

Begitu sampai di luar keduanya masih merasakan dahsyatnya hawa panas yang meranggas di warung Ki Sempana, dengan tertatih mereka menggotong pak tua itu kedalam pekarangan di belakang warung. Melihat luka-luka yang diderita pak tua itu, keduanya sepakat untuk meminta pertolongan Mintaraga.

Salah seorang dari mereka memanjat pohon tertinggi di sekitar lingkungan itu, lalu mengeluarkan tembaga dan mencari-cari sinar matahari untuk memantulkan ke arah lain. Pantulan sinar matahari yang hanya beberapa kejap, ternyata ditangkap oleh orang lain di wilayah berbeda, mereka juga melakukan hal serupa. Begitu menerima balasan, orang ini turun.

”Bagaimana dengan kondisinya?”

”Sangat parah! aku tak tahu apakah orang ini masih bisa bertahan atau tidak…” jawabnya dengan panik.

”Mudah-mudahan bantuan segera datang, aku akan mengambil pedati dari rumah, kau tunggu disini..” orang yang memberi isyarat pantulan itu berkata pada kawannya.

”Bergegaslah, aku tak sanggup melihat kondisi orang ini..”

Dengan tergesa, orang ini segera pergi meninggalkan kawannya. Untung saja rumahnya hanya berjarak puluhan tombak dari warung Ki Sempana, tak berapa lama kemudian, dia membawa pedati yang ditarik seekor kerbau. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, dia terpaksa lewati jalan memutar. Keduanya segera membawa Ki Sempana untuk di baringkan kedalam gerobak pedati. Lambat laju pedati itu membuat keduanya cemas dengan kondisi Ki Sempana yang terus mengeluarkan darah, mereka sebisanya memapatkan darah dengan cara membalut dengan kain bersih.

Untunglah, beberapa langkah didepan sudah ada empat orang menyongsong keduanya. Salah satu dari mereka adalah Mintaraga.

”Apa yang terjadi?” tanya Mintaraga sembari melihat kedalam gerobak dan wajahnya menampilkan rona kejut.

Keduanya segera bergantian menceritakan apa yang terjadi, disela-sela kesibukan Mintaraga yang mencoba melakukan pertolongan lanjutan.

”Ganti kerbau itu dengan kuda… bawa dia kerumahku.” pinta Mintaraga pada kawan-kawannya. Dengan cekatan mereka segera meninggalkan Mintaraga untuk melaksanakan perintaannya.

Menyaksikan mereka meninggalkan dirinya, Mintaraga pun berlalu dengan hati galau. Kelihatannya badai sudah mulai menyelimuti kota ini, pikirnya resah.

***

Waktu sudah memasuki siang hari, jalanan bertebing menuju Kota Pagaruyung sudah sangat sepi, tapi lamat-lamat dari kejauhan terdengar derap suara kuda memecah sepi. Seperti yang terjadi sebelumnya, rombongan berkuda inipun berhenti di benteng ilusi.
Salah seorang yang berkepala polos memperhatikan dengan seksama lalu wajahnya berubah.

”Apa ada orang seperti ini?” gumamnya.

Dari dalam kereta berkuda, terdengar seseorang menegur. ”Kenapa kita berhenti? Bukankah sebentar lagi sampai?” suaranya lirih, tapi memiliki wibawa sangat kuat.

Seorang lelaki yang berdandan ala pedagang dan berwajah tirus menyahut dengan hormat. ”Ada sesuatu yang mungkin harus tuan periksa.”

Tak terdengar jawaban dari dalam, tapi beberapa saat kemudian pintu kereta kuda itu terbuka. Keluarlah sosok lelaki berusia empat puluhan, bertubuh kekar dengan bahu lebar, roman wajah tak terlalu tampan, namun terlihat begitu perkasa, orang yang memperhatikan wajahnya akan selalu timbul rasa hormat. Begitu dia keluar, yang pertama dilihat adalah bekas pertempuran yang berceceran di tanah.

Terdengar helaan nafas panjang dari hidung lelaki itu.

”Apa kesimpulanmu tuan?” tanya orang yang berperawakan mirip dirinya.

Lelaki itu tidak menjawab untuk sesaat, dia menjejakkan langkah tepat di bekas ’pusat’ serangan, seperti yang pernah Hastin lakukan. Dari sana dia memperhatikan tujuh bekas jalur serangan yang menuju kearah ’pusat’ dimana dia berdiri. Wajahnya agak berubah, tapi dia menyadari ada beberapa langkah kaki disampingnya, dan dia mengikuti langkah itu. Wajahnya nampak berubah lagi, dengan memicingkan mata pertarungan ’imajinasi’ dilakukannya berdasarkan serangan yang terpampang di tanah… usai melakukan itu lelaki ini terpekur sesaat.

Selanjutnya lelaki ini menghembuskan nafas panjang, di perhatikan dinding tebing, ada dua cekungan tapak kaki yang membuat dinding tebing melesak bagai terkena bongkahan batu raksasa. Dia melesat keatas dengan begitu ringan, memeriksanya sebentar, lalu turun.

”Menurutmu apa yang terjadi?” tiba-tiba lelaki itu bertanya pada orang yang memiliki perawakan sama dengan dirinya.

”Aku melihat jejak Tujuh Satwa menghadapi seseorang, dia sangat dominan dan mampu mengatasi serangan Tujuh Satwa.” jelasnya.

Lelaki ini mengangguk. ”Kutambahkan lagi, bukan tujuh orang… tapi sembilan. Salah seorang dari mereka adalah Baginda.” keterangan itu membuat ketiga orang yang mengiringinya terkesip. ”dan jejak terakhir yang dibuat diatas sana… dilakukan baru-baru ini, tidak satu waktu. Aku tak tahu maksudnya apa, mungkin untuk menantang atau sedang mengukur kesanggupan dirinya. Terus terang aku tidak bisa mengambil kesimpulan apapun. Tujuh Satwa Satu Baginda adalah bintang-bintang dalam dunia persilatan yang tidak boleh dipandang remeh oleh siapapun!” ujarnya dengan tegas. ”Tapi, akupun tak menutup mata bahwa ada langit di atas langit.” sambungnya dengan mantap, seolah mementahkan ucapan sendiri.

”Apakah kau bisa meladeninya?” tanya orang yang berkepala polos.

Lelaki itu tertawa, suaranya keras menggelegar, betapapun awamnya orang, akan segera tahu betapa lelaki itu memiliki himpunan hawa sakti sangat kuat. Ketiga orang yang mengikuti dirinya heran dengan tawa lelaki itu, tak biasanya dia bertindak begitu.

”Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu berdasarkan jejak ini.” katanya tak secara langsung mengatakan ’tidak’.

Suasana jadi hening, lelaki itu mengatupkan matanya, kepalanya miring kekiri dan kekanan. ”Sepertinya kita harus menunggu disini untuk beberapa waktu.” ujarnya dengan suara lirih.

”Mengapa?” tanya orang berkepala polos itu terheran-heran.

”Sebab akan datang seseorang yang mulai memanfaatkan bekas pertarungan ini. Apapun maksud tujuan orang itu, dia sangat sukses membuat semua orang harus berhenti disini.” cetus lelaki ini dengan tatapan mata melihat jauh ke ngarai disampingnya. Tentu saja yang di maksud ’nya’ oleh dia adalah, orang yang menafaatkan ’bekas pertempuran’ itu. Barulah ketiganya paham kenapa lelaki ini tertawa keras, itu adalah tanda kepada siapapun yang ingin memanfaatkan ’bekas pertarungan’, untuk segera datang ketempat mereka berada.

”Apakah, kita masih lama berhenti disini?” tiba-tiba suara yang halus lembut seperti berbisik terdengar dari dalam kereta.

Wajah lelaki itu nampak melembut mendengar suara barusan. ”Ya, kita melihat situasi sejenak.” katanya seraya masuk kedalam kereta.

Ketiga pengikut lelaki itu langsung bersiaga disekitar kereta, sebab mereka tidak tahu apa dan siapa yang akan datang menemui mereka.

Desau angin menerpa jalanan, membuat suara menggemuruh yang bisa membuat orang memicingkan mata untuk melindunginya dari debu, angin itu hanya bertiup sesaat. Dan ketiga orang itupun hanya sesaat memicingkan matanya. Namun begitu mereka menegaskan kembali pandangan mata, ketiganya terkejut sekali melihat dihadapan mereka ada seorang lelaki mengenakan baju hitam, berwajah sangat biasa, tidak membuat orang terancam—karena kehadirannya tak memberikan ancaman, juga tak membuat orang memberikan perhatian lebih. Tapi kehadiran orang semacam itu justru sangat menakutkan, karena membuat orang lengah.

”Tidak disangka, kalian akan datang sangat cepat. Kupikir paling cepat nanti sore.” suara yang datar dan tanpa tekanan nada membuat orang jadi bergidik, ketiganya segera bersiaga menghalang didepan kereta. ”Apakah kalian berjalan terus tanpa henti?” sambungnya lagi

”Siapa kau?” tanya orang berwajah tirus sembari berjalan satu langkah.

”Aku bukan siapa-siapa, hanya pembawa pesan saja.” jawab pendatang itu dengan nada yang tak sedap didengar.

”Katakan apa pesanmu.” kata orang berbadan tegap meningkatkan kewaspadaan.

”Pesanku tidak dalam kata…” beberapa patah katanya, disertai langkah yang kian mendekat.

Ketiganya orang itu segera waspada dan maju mendekat pula. ”Lalu apa?” seru lelaki berkepala polos dengan tegang. Dia bukan tokoh kemarin sore, pengalamannya berkelana di dunia persilatan sudah belasan tahun. Tapi menghadapi orang yang tak ketahuan juntrungannya itu, hatinya berdebar-debar tidak enak.

”Ini…” hanya sepatah kata itu, tapi tangannya bergerak perlahan kedepan memukul begitu perlahan.

Ketiganya yang sudah bersiap-siap-pun terkejut dengan gerakan pendatang itu. Mereka memasang tameng hawa sakti secara penuh, bukan karena mereka menyangsikan orang yang mereka kawal, tapi karena mereka saat ini berposisi sebagai pengawal! Melewati mereka bertiga artinya penghinaan tiada tara! Tapi tak disangka, orang aneh itu hanya memukul perlahan, ketiganya tidak merasakan sesuatu yang mencemaskan. Dengan heran mereka menatap penghadang itu.

”Menyingkir!” tiba-tiba dari dalam kereta terdengar bentakan menggelegar. Tanpa menoleh ketiganya segera menyibak kesamping, dan detik itu juga, kerai bagian depan kereta itu, hancur menjadi debu. Dan deruan angin pukulan secepat kilat, mengincar dada pendatang itu.

Ketiga pengawal itu sangat maklum dengan kehebatan tinju orang yang dikawal, agaknya si pendatang inipun sadar dengan kedahsyatan serangan yang dilontarkan dari dalam kereta, dengan cekatan orang itu mundur empat langkah, lalu dia melakukan pukulan lambannya lagi.

’Aku percaya pada analisamu Jaka!’ batin orang ini, ternyata dia adalah Ki Alih, si Kepalan Arhat Tujuh. Jika ingin keras lawan keras, dia sangat bisa melakukannya, tapi lelaki paruh baya ini sangat percaya dengan perhitungan Jaka Bayu. Meski sempat terbetik dalam pikirannya—dalam kilasan kurang dari satu detik itu, bahwa pukulan semacam itu tak mungkin dilawan dengan pukulan lamban ajaran Jaka.

”Ih…!!” dari dalam terdengar teriakan kaget, mendadak lelaki bertubuh kekar itu menerobos keluar dengan cepat, dia ingin melihat orang macam apa yang sanggup membuyarkan pukulannya. Bukan cuma membuyarkan, tapi malah ada semacam rambatan tenaga yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, tenaga itu tidak membahayakan, tapi bisa menyusup tanpa dia sadari dan tahu-tahu denyut jantungnya dipaksa berdetak lebih cepat, adalah sebuah kejadian yang tak pernah dialami seumur hidup!

Lelaki itu adalah Sakta Glagah si Raja Kepalan. Jika saja perjumpaan itu adalah petemuan resmi, perjumpaan maestro pukulan, antara Kepalan Arhat Tujuh dengan Raja Kepalan adalah sebuah sejarah dalam dunia persilatan. Sayangnya kini mereka berjumpa dengan tidak mengetahui kondisi masing-masing, lebih tepatnya Sakta Glagah tidak tahu dengan siapa dia berhadapan.

”Aku sudah menerima pesanmu!” kata Sakta Glagah dengan wajah datar.

Ki Alih dengan nada yang tanpa intonasi, menyahut. ”Terima kasih.”

”Apa maumu sebenarnya?” tanya Sakta Glagah heran, dia memperhatikan lelaki dihadapanannya, dicoba menggali dalam ingatannya seluruh informasi orang-orang yang memiliki kemampuan aneh seperti lelaki dihadapannya, tapi dia tak menjumpai satu nama-pun yang cocok. Dia mengira tadi adalah Pukulan Hawa Membuyar Berkirim Kabar milik Walet Hijau, tapi pukulan itu hanya mengenai rintangan didepannya, untuk memukul sasaran di belakang. Tapi jurus lelaki aneh itu tidak demikian.

”Hanya meminta perhatianmu saja.” jawab Ki Alih dengan nada mulai mencair. Dari baik bajunya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. ”Ada yang harus kau perhatikan dengan lebih seksama mulai saat ini…”

Sakta Glagah adalah lelaki yang memiliki ketegasan dalam bertindak, dia melihat orang dihadapannya tak membawa maksud jahat. Tanpa ragu, dia menerima bungkusan itu lalu diperiksanya dengan hati-hati.

Sebuah tulisan dengan goresan yang kuat, itu hal pertama yang Sakta Glagah lihat, berikutnya adalah kalimat yang menyatakan sebuah resep. Wajahnya benar-benar berubah, ketiga orang pengiringnya, yakni : Kepalan Maut lelaki berbadan tegap, si kepala polos Elang Emas, dan Pecut Sakti Ekor Tujuh yang berwajah tirus, belum pernah melihat Sakta Glagah menjadi pucat pasi seperti itu.

”Siapa sebenarnya kalian?” Sakta Glagah bertanya dengan nada sumbang.

Ki Alih masih diam, dia menatap wajah-wajah bingung di hadapannya. ”Jika mau, kau bisa anggap kami sebagai sahabat.”

Mendengar suara Ki Alih yang masih datar tanpa intonasi tidak membuat keempat orang itu merasa risih.

”Sahabat… hahaha… sahabat…” Sakta Glagah tertawa, entah tertawa riang atau tertawa prihatin. ”Baik! Memiliki sahabat seperti kau, aku tidak akan rugi!” tegasnya. ”Tapi akupun tak mau kau merasa rugi, jika aku bersahabat dengan orang lain, akupun akan melakukan hal terbaik bagi sahabatku. Hendaknya kau beritahukan padaku, dimana aku bisa menjumpai dirimu… menjumpai kalian?”

Ki Alih tidak menjawab, dia membalikkan badannya lalu melesat pesat masuk kedalam jurang. ”Manakala kau membutuhkan pertemuan, kau akan menjumpai aku. Menjumpai kami…” terdengar suara Ki Alih dari kejauhan.

Sakta Glagah masih termenung menatap arah pergi Ki Alih. ”Aih, aku tidak pernah menyangka ada manusia memiliki kemampuan demikian aneh…” gumamnya.

”Dimana keanehannya?” tanya Pecut Sakti Ekor Tujuh memecah keheningan yang kembali menyapu jalanan.

”Aku ditasbihkan orang sebagai ahli pukulan, tapi pukulan orang itu… aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mendengar, ada hal semacam itu…” lalu Sakta Glagah menceritakan perasaannya saat tadi dia mendapat ’pukulan’ lemah, dan saat pukulan dibuyarkan.

Kepalan Maut, sebagai orang yang juga menguasai beragam jenis teknik pukulan termenung mendengar rincian itu. ”Tapi, bukankah itu tidak membahayakan?” ujarnya.

”Tidak ada satu halpun yang tidak membahayakan dimuka bumi ini, tergantung dari mana kau memandangnya. Pukulan itu hanya menaikkan detak jantungku satu kali lipat, tapi jika aku mendapat kenaikan seratus kali lipat, apa jantungku mampu memompa sebanyak itu?”

Mendengar penjelasan itu, mereka baru memahami. ”Ternyata dunia itu sangat luas…” gumam Kepalan Maut dengan mata menerawang.

”Tapi, apa mungkin orang itu yang melawan tujuh satwa?” tiba-tiba Elang Emas menukas.

”Bisa jadi, tapi aku tidak akan menebak sembarangan. Sebab ini berkaitan dengan nama baik seseorang.” yang dimaksud Sakta Glagah, adalah nama baik Tujuh Satwa Satu Baginda.

”Lalu apa yang di berikan padamu?” tanya Elang Emas.

”Sebuah resep obat… obat yang sangat kubutuhkan. Benar-benar kubutuhkan…” desisnya dengan suara sumbang, wajahnya tampak mengeras menakutkan.

Lalu mereka memutuskan untuk kembali meneruskan perjalanan. Desau angin kembali menerpa dinding tebing yang menjadi saksi beragam kejadian aneh.

—ooOoo—

82 – Bertanding Lagi

Jaka mengikuti ke lima orang itu dengan cara yang unik, terkadang mereka melesat cepat, terkadang mereka berjalan perlahan. Wilayah yang mereka tuju juga tidak ada satu orangpun terlihat—atau seperti itulah keadaannya, maklum saja, mereka berjalan mendaki bukit yang nampaknya tidak pernah dijamah orang. Jaka melewati jalan yang cukup familier baginya, jika dia harus sedikit membelok di utara, maka akan sampailah di ditebing jalan masuk kearah Kota Pagaruyung. Hal itu sudah membuat pemuda ini cukup memikirkan beberapa hal. Tapi Jaka tidak ambil pusing, dia ingin segera menyelesaikan pertemuan hari ini, dan segera mengerjakan hal lain.

Akhirnya mereka sampai di sebuah dataran diatas bukit, sebuah rumah batu yang mungil cukup menjadi pokok perhatian siapapun. Para penjemput itu sudah berjalan menuju rumah. Jaka belum mengikuti, dia masih menikmati pemandangan disekitarnya. Rumah itu bersih, terawat, tidak ada lagi semak-semak liar dalam radius lima tombak dari rumah itu, beberapa bunga anggrek nampak berbunga indah di tiap sisinya.

Jaka memperhatikan itu dengan seksama, lalu mengedarkan pandangan mata lagi, dipuncak bukit yang cukup curam itu, lamat-lamat terdengar gemercik air, cukup mengherankan bagi Jaka, jarang dipuncak bukit ada mata air, jika di kaki bukit sudah bisa dipastikan. Terlihat olehnya orang-orang itu memberi isyarat padanya untuk mengikuti mereka. Semula Jaka mengira akan dibawa masuk lewat pintu depan rumah batu itu, ternyata mereka berjalan kearah belakang rumah. Salah satu dari mereka menarik tali yang tersamar di salah satu sulur-sulur liar.

Sebuah pintu di bawah pintu bagian belakang rumah terbuka, diam-diam Jaka cukup mewaspadai kejadian itu. Memasuki sebuah wilayah rahasia orang lain, membawa konsekuensi yang sangat dia pahami.

”Silahkan…” salah seorang dari kelimanya menyilahkan dirinya masuk lebih dulu.

Jika orang lain mungkin akan ragu-ragu dan curiga, tapi Jaka tidak. Dengan yakin, pemuda itu langsung masuk kedalam lubang itu, ternyata didalam ada tangga yang cukup banyak, menyambung dengan ruangan lain didalamnya.

Entah berapa lama mereka buang waktu dan tenaga untuk membuat hal ini, pikir Jaka. Dari bau dan bentuk bangunannya, Jaka bisa menduga lubang itu sudah dibuat cukup lama. Bisa jadi identitas orang berkedok pemilik Pancawisa adalah seseorang yang pernah dia duga.

Didalam ruangan bawah tanah itu, ada seseorang yang memandu Jaka untuk memasuki ruangan lain. Sepanjang perjalanan, Jaka mengedarkan pandangan, pantas saja ada seorang petunjuk jalan, jika dia berjalan sendiri mungkin akan salah jalan. Ada banyak liang dan bentuk ruangan serupa di sana. Setidaknya tiap ruangan yang di masuki ada tujuh ruangan lain. Hal itu mengingatkan Jaka pada bentuk Gua Batu yang juga memiliki banyak celah masuk.

Akhirnya, Jaka sampai pada sebuah ruangan seluas—setidaknya—15 x 15 meter. Di pojokan ruangan itu ada meja dan kursi, diatas meja penuh dengan makanan. Jaka merasa cukup heran dengan hal itu, mendadak dari dinding timur, terdengar suara bergemuruh perlahan, sebuah pintu geser, terkuak lebar. Muncul tiga orang dari dalam. Seorang berkedok yang mempunyai Pancawisa, pernah Jaka temui di kuil ireng. Sedangkan keduanya Jaka tidak pernah menjumpainya.

Tapi ada salah seorang dari mereka mendapat perhatian Jaka, dia seorang lelaki paruh baya dengan sorot mata seperti ikan mati, buram dan suram, tapi menusuk sebuah kombinasi yang menakutkan. Ciri itu pernah diceritakan oleh Kaliagni padanya. Diam-diam, pemuda ini menghela nafas dingin. Sedangkan satu orang lainnya, juga lelaki paruh baya, cirinya mengingatkan Jaka pada Ki Alih, orang itu sangat biasa, cirinya sangat umum, kau bisa dengan mudah menemukan sebelas orang berciri serupa di jalanan.

”Akhirnya kau datang juga… silahkan!” si Kedok membuka suara.

”Sebentar! Aku ingin memastikan satu hal…” lelaki dengan mata suram membuka suara. Suaranya meski lirih, tapi jernih, pengucapannya sangat sempurna.

Jaka memperhatikan mereka dengan seksama, dia memang suka dengan hal-hal baru yang cukup membuat darahnya bergelora. Dan agaknya kejadian berikutnya akan membuat dia bersemangat.

”Benarkah kau keturunan Tabib Hidup Mati?” lelaki bermata suram menatap tajam pada Jaka.

Jaka tersenyum, pengakuan ngawurnya waktu di Kuil Ireng ternyata sudah mengguncangkan sendi kelompok si Kedok. Jika lelaki itu bermaksud meminta penjelasan, tentu ada hal menarik didalamnya. Dengan sangat mantap Jaka mengangguk.

”Aku tidak percaya!” seru lelaki itu dengan tegas.

”Aku tidak pernah menyuruhmu percaya…” sahut Jaka dengan senyum makin melebar.

Hal ini cukup mengherankan bagi di kedok dan lelaki bertampang biasa. Orang-orang yang mendapat pertanyaan dari lelaki bermata suram itu, biasanya akan gugup dan gelisah, bahkan kadang mereka tak bisa menyimpan rahasia lagi. Tapi melihat tamu mereka malah balas menatap Si Mata Suram dengan wajah berseri tawa, adalah hal baru yang hanya terjadi kali ini saja!

”Karena keturunan Tabib Hidup-Mati, tidak akan bertindak setolol dirimu, mencoba memunahkan racun dengan cara bodoh!” ketusnya dengan nada yang terdengar meninggi.

”Ya, kau benar. Memang cuma orang tolol yang mau mencoba racun…” ujar Jaka manggut-manggut. Hal itu menggirangkan mereka, seolah pemuda itu sudah dipengaruhi kharisma Si Mata Suram. ”Dengan demikian, tiap orang yang tak mau mencoba racun adalah keturunan tabib mati-hidup, benar begitu?” pernyataan Jaka membuat mereka malu, tak tahunya jawaban pertama tadi hanya basa-basi demi mematahkan tuduhan di mata suram dengan mengeluarkan argumen bodoh.

Dari kalimat terakhir pemuda itu, tentu saja Si Mata Suram cukup paham dia tidak akan menang berdebat. Maka jawaban yang paling tepat untuk menuntaskan tuduhannya adalah menguji secara langsung.

”Aku akan membenarkan tuduhanku!” usai berkata demikian, Si Mata Suram sudah melangkah kedepan, langkahnya lambat, tapi tubuhnya mendadak sudah berada di hadapan Jaka. Betapa cepat gerakannya, Jaka belum pernah menyaksikan gerakan semacam itu. Tapi dalam tempo sesingkat itu, Jaka sudah memundurkan langkahnya sejengkal dan menanti apa yang akan terjadi.

Sebuah gairah yang aneh sontak muncul dari dirinya, gairah yang meletup-letup karena menemukan hal baru. Wajah pemuda ini menampilkan rona senyum, tak ada keterkejutan melihat lawan sudah begitu dekat dengannya, apalagi Si Mata Suram juga sudah mengulurkan tangan untuk mencengkeram bahunya. Gerakan itu sangat sederhana, tapi dilakukan dengan kecepatan bagai kilat, membuat siapapun tak akan bisa mengelak!

Demikian juga dengan Jaka, dia tak bisa mengelak… bukan tak bisa, tapi tak mau mengelak! Bahunya dicengkeram dengan keras, seberkas tenaga yang mengingatkan Jaka pada Beruang, melingkupi dirinya. Cengkeraman lelaki itu seperti totokan, hawa yang menjalar dari cengkeramannya juga terasa membuat otot menjadi letih dan mengantuk, hal itu kembali mengingatkan Jaka pada kemampuan Samira yang dimiliki Serigala. Orang itu ternyata juga mampu mengubah hawa membunuhnya menjadi sebuah tenaga serangan yang melumpuhkan, sangat jenius!

Jaka memajukan langkahnya kembali, hanya satu jengkal, dan langkah itu membuat Si Mata Suram sedikit tertekan dan tersurut satu langkah, tapi cengkeramannya tetap berada di bahu pemuda itu.

Mendadak Si Mata Suram melepaskan tangannya, matanya yang tanpa gelombang itu seperti beriak, ada gejolak, seolah dia sangat terkejut! Cengkeraman yang dia lepas dibarengi dengan sebuah tebasan miring dengan tapak tangan kirinya yang mengarah telinga Jaka.

Pemuda itu bisa melihat serangan Si Mata Suram benar-benar jauh dari variasi dan keindahan, namun sangat efektif. Tak menanti tebasan secepat petir itu menghajar telinganya, Jaka memajukan langkah dan menjulurkan lehernya! Karena bacokan itu kehilangan sasaran, dengan sendirinya serangan Si Mata Suram berubah menjadi rangkulan. Tiap orang merasa heran dengan tindakan bodoh Jaka Bayu. Caranya menghindar itu, bukankah sama saja menyerahkan diri untuk dilibat Si Mata Suram?

Tapi, ada sebuah keanehan… ternyata gerakan mengumpankan diri Jaka, ditanggapi lain oleh Si Mata Suram. Dia melompat kebelakang sampai tiga tindak, dan memperhatikan lawannya dengan tatapan terheran-heran.

Jaka menatap lawannya dengan bibir tersenyum. ”Kau sudah mendapatkan jawaban dari tuduhanmu?”

Si Mata Suram tidak menjawab, dia mengundurkan diri dan kembali berdiri disisi si kedok. “Aku tidak dapat memaksakan tuduhanku.” Ujarnya dengan suara dingin.

Jaka manggut-manggut. “Apapun alasannya memang tidak baik memaksakan kehendak pada orang lain…” jawaban pemuda ini yang seolah tidak pernah ada kejadian tadi, membuat mereka bertiga malu.

Keheningan sesaat melingkup sesaat, “Baiklah, silahkan duduk… banyak yang harus kita bicarakan.” Si Kedok mengambil inisiatif mencairkan suasana.

Jaka mengiyakan dengan mengambil tempat duduk, setelah ketiga orang itu duduk lebih dahulu. Orang berkedok itu mempersilahkan Jaka bersantap, tanpa basa-basi pemuda ini mengambil beberapa lauk, yang diikuti ketiga orang itu.

“Apakah kita akan membahas rencana yang lalu? Jika di luar masalah itu, mohon maaf, aku benar-benar tidak memiliki waktu untuk berbicara hal lain.” Tegas pemuda ini membatasi makna pertemuan mereka, setelah mereka selesai bersantap.

Si Kedok mengangguk. “Ya, aku juga tidak tertarik membahas hal lain.”

“Silahkan, utarakan buah pikiranmu…” ujar Jaka langsung kepada pokok masalah, tanpa basa-basi.

Si kedok tampak termenung sesaat, kemudian dia menoleh pada lelaki yang bertampang sangat biasa. “Bagaimana perkembangan terkini?” tanyanya. Jaka diam-diam menggerutu, padahal Si Kedok ini cukup mengemukakan saja, tak perlu melempar lagi pada kawannya untuk menjelaskan.

Dengan mengangguk hormat, lelaki ini melaporkan. “Perguruan Naga Batu sudah mulai bergerak, adanya serbuan yang tidak mereka perhitungkan membuat mereka bertindak cepat dengan menyambut tamu-tamu undangan, jauh dari wilayah kota ini. Setelah kita selidiki, ada tiga kelompok yang memiliki kepentingan berbeda saling bertarung dalam perguruan itu. Yang pertama; seorang pion bernama Bergola tak lebih dari kepanjangan tangan murid utama.”

“Siapa murid utama yang kau maksud?”

“Wingit Laksa..”

“Mengapa dia harus berhubungan dengan Bergola?”

“Menurut analisaku, ada hubungannya dengan Datuk Mata Merah.”

“Hei, bukankah orang itu sudah mati? Apa hubungannya murid utama Naga Batu dengan iblis itu?”

Barulah Jaka paham, kenapa lelaki itu menyuruh kawannya yang melaporkan, tanya-jawab semacam ini bisa membuat laporan jauh lebih lengkap dan tak ada sesuatupun yang tertinggal karena terlupa.

“Dari jalur informasi yang kita dapatkan, kematian iblis itu berkaitan dengan Perguruan Sampar Angin, konon katanya kelompok Kilat yang membasmi Datuk Mata Merah. Hampir semua yang berkaitan dengan Datuk Mata Merah tidak bersisa lagi, tapi kelompok Kilat melupakan satu hal…”

“Apa itu?”

“Beberapa keturunan Datuk Mata Merah dititipkan di berbagai perguruan terkemuka, mereka masuk dengan cara sebagai anak angkat dari orang-orang yang ditimpa bencana alam. Sehingga para perguruan besar itu tidak curiga dengan asal muasal calon muridnya.”

Orang berkedok manggut-manggut. “Jadi Wingit Laksa dicurigai sebagai keturunan Datuk Mata Merah?”

“Bukan dicurigai, tapi dia memang anaknya!”

Jaka menyimak tanya jawab itu dengan kening berkerut, dia memang pernah mendengar Danu Tirta sempat menyebut masalah Datuk Mata Merah yang dibasmi Kelompok Kilat dari perguruannya, cuma dia tidak menduga ada detail semacam itu. Betapa hebatnya orang-orang dihadapannya menghimpun informasi!

“Lalu, apa hubungan Bergola dengan Wingit Laksa?”

“Bergola pernah diasuh oleh Datuk Mata Merah dalam waktu yang singkat, hubungan mereka cukup dekat, seperti adik dan kakak.”

Orang berkedok itu menghela nafas panjang. “Ternyata demikian…” gumamnya. “Apa yang dilakukan Bergola bagi Wingit Laksa?”

“Bergola berguru pada wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan, itu atas ide Wingit Laksa…”

“Kenapa?”

“Wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan, memiliki tabiat yang berangasan dan tidak ingin kalah, dia sangat mudah dihasut, Bergola berhasil merebut hati orang tua itu. Dengan sendirinya tiap langkahnya selalu di ikuti gurunya, orang itu menjadi pelindung Bergola yang sewaktu-waktu bisa menyumbangkan tenaga dari perkumpulannya yang memiliki jumlah ratusan orang.”

“Oh, ternyata begitu…” gumam orang berkedok sembari menatap Jaka, dilihatnya pemuda itu sedang menyimak tanya-jawab mereka dengan khidmat. “Tapi kenapa wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan tidak lagi terdengar kabarnya? Bukankah dia sempat mampir kesebuah penginapan? Bahkan sebelumnya orang itu juga memancing onar dengan anak murid Merak Inggil dan kawan-kawannya?”

“Untuk jawaban itu, seharusnya dia yang menjawab …” ujar lelaki bertampang biasa sambil memalingkan kepala kearah Jaka.

Jaka tersenyum, dalam hati pemuda ini sangat terperanjat menyadari betapa luasnya jaringan informasi orang berkedok itu. “Mungkin orang itu sudah merasa dirinya tua, jadi sudah seharusnya dia mengundurkan diri.” Ujarnya singkat.

“Pantas…” gumam lelaki bertampang biasa ini menatap Jaka sesaat, entah kalimat ‘pantas’ itu mengiyakan ucapan Jaka, atau karena pemuda itu sangat ‘pantas’ bisa ‘menggebah’ wakil tetua perkumpulan pengemis cabang selatan dengan cara yang unik.

—ooOoo—

83 – Mencapai Kesepakatan

“Apa yang direncanakan Wingit Laksa?” orang berkedok ini kembali mencecar dengan pertanyaan.

“Dengan sendirinya dia mengincar Perguruan Naga Batu sebagai basis kekuatan utamanya..”

“Tapi?” potong orang berkedok itu merasa ada nada lanjutan dari kawannya.

“Tapi, dia tidak sadar bahwa tiap langkahnya terpantau sangat baik oleh golongan kedua yang sedang merancang konflik dalam Naga Batu.”

“Siapa yang kedua itu?”

“Kita belum tahu, tapi orang ini menggerakkan para petinggi Naga Batu dengan racun masa lampau.”

“Racun apakah itu?”

“Bubuk Pelenyap Sukma, tapi sekarang dikenal sebagai Bubuk Pelumpuh Otak.”

“Hm… aku merasa Wingit Laksa tidak bergerak sendiri, siapa yang ada dibelakangnya?”

“Aku mencurigai Kwancasakya yang menopang seluruh dana pergerakannya.”

“Kau yakin jika Kwancasakya dibelakang Wingit Laksa?”

“Tidak, tak terpikir olehku kelompok yang lain.”

“Bagaimana dengan Perkumpulan Dewa Darah?” tiba-tiba saja Jaka menyela.

Orang berkedok dan kedua kawannya menatap pemuda itu dengan tajam, seolah ada sebuah keterkejutan besar di tatapan mata itu. “Apa dasarmu mengatakan hal itu?” cecar orang berkedok.

Dalam sesaat Jaka tidak menjawab, pemuda ini menghela nafasnya dalam-dalam. “Pada saat pertemuan pertama, kau ingat aku pernah berkata begini : ‘Kala malam hujan badai, sesuatu muncul tanpa terasa, rupa tak teraba, kadang orang merasa tentram, tapi lebih banyak rasa terancam mencekamnya. Sayang… semua itu cuma masa lalu, tapi kini dia kembali!’…”

”Aku masih ingat.” Gumam orang berkedok ini sambil menebak apa yang akan di katakan Jaka.

“Dahulu ada yang bahu membahu menghancurkan Perkumpulan Dewa Darah, aku tak usah menyebutkan siapa dan perkumpulan apa yang ikut menghancurkan mereka… hm, mungkin akan lebih tepat aku mengatakan perkumpulan rahasia apa yang turut serta menghancurkan Dewa Darah…”

Penjelasan Jaka yang itu membuat wajah ketiganya berubah, tentu saja perubahan orang berkedok itu tak terlihat. “Memangnya perkumpulan apa?!” hanya pertanyaan itulah yang membuat Jaka bisa meraba keterkejutannya.

“Kau yakin aku harus menyebutnya?” Jaka balik bertanya.

“Aku rasa tidak perlu!” mendadak Si Mata Suram memotong.

Jaka tersenyum. “Baiklah, aku tak perlu mengatakannya.” Sambil menyesap minumannya, Jaka melanjutkan. “Biar kuurai sedikit sumbang saranku. Wingit Laksa bukanlah masalah penting, Perkumpulan Dewa Darah-pun—jika itu benar, juga bukan hal penting…”

“Kenapa kau anggap itu tidak penting?” potong lelaki bertampang biasa dengan wajah berubah.

“Apapun namanya, Dewa Darah hanyalah perkumpulan yang sedang mencoba bangkit lagi. Dia membutuhkan sumber daya besar, dia membutuhkan jaringan yang luas. Hal pertama yang dilakukan Wingit Laksa—jika benar demikian adanya, adalah memperluas jaringan ini dengan membuka hubungan yang sama sekali baru. Mereka tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Jadi, membayangkan mereka bergerak saat ini adalah tidak mungkin.”

“Kenapa kau bantah dugaanmu sendiri?” tanya orang berkedok terheran-heran.

Jaka tertawa. “Aku hanya menyatakan dengan bahasa lain bahwa Wingit Laksa tidak mungkin menjadi pesuruh Kwancasakya. Aku tak perlu membeberkan apa alasanku mengatakan demikian, kuyakin dari pihak kalian sendiri mengetahui alasan ini. Yang ingin kutekankan adalah, mustahil Kwancasakya merekrut orang yang tidak dalam posisi strategis.”

“Tapi Wingit Laksa memiliki posisi strategis…” potong orang berkedok meralat.

Jaka manggut-manggut. “Sebagai orang yang bertanggung jawab dengan hubungan-hubungan luar memang cukup strategis, tapi tidak memiliki daya jual. Berbeda ceritanya, jika Kwancasakya merekrut murid utama pertama…” ucapan Jaka ini cukup membuat mereka bertiga tahu, bahwa tamu mereka juga bukan bicara asal bicara, tapi dia memiliki data akurat.

“Maksudmu, orang yang disebut Ketua Bayangan?”

Jaka menyeringai. “Tapi, itu tidak mungkin terjadi.. benar?” katanya tak menjawab pertanyaan orang berkedok.

Kali ini semua orang sama-sama tahu bahwa mereka memiliki jaringan informasinya sendiri-sendiri. Menjadi tidak masuk akal, jika mereka melihat Jaka yang masih semuda itu bisa menguasai informasi yang tak sembarangan orang lain tahu. Entah jalur seperti apa yang dimiliki pemuda itu!

“Sekarang aku ingin tahu apa rencana kita selanjutnya?” Jaka langsung memasuki inti perjumpaan mereka.

“Kau berjanji padaku, akan mengumpulkan api dan angin..” desis orang berkedok mengingatkan.

“Sudah kulakukan itu.” Tegas Jaka.

“Sudah?” tanya heran. “Kapan dan bagaimana?” dia bertanya pada lelaki bertampang biasa dengan nada menuntut.

Lelaki itu tampak termenung, “Aku tidak bisa menyimpulkan. Tapi, mungkin adanya perubahan pergerakan yang terjadi di dalam Naga Batu itu sendiri yang dia maksud?”

“Bagaimana?” tanya si kedok pada Jaka dengan tatapan menyelidik.

Pemuda ini mengangkat bahunya. “Anggap saja seperti itu, bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Sebentar! Bukankah aku dulu pernah menyatakan padamu, api akan mengecil karena tertiup angin besar, dan kau tadi membenarkan jika kau juga mengumpulkan angin, bukankah itu sia-sia?!”

”Jika dikumpulkan pada saat yang bersamaan memang akan sia-sia, yang kita butuhkan hanyalah mengendalikan besar kecilnya angin, itu saja…”

Sikedok baru paham dengan maksud Jaka. “Mengenai peralatan masak yang kau inginkan, aku memilikinya! Kapan pun kau ingin menggunakannya, aku selalu siap. Masalahnya satu, kau bisa menggunakannya atau tidak.” Kali ini ucapan orang berkedok membingungkan kedua kawannya. Tapi tidak bagi Jaka, sebab dari awal dirinya memang sudah berjanji dengan orang berkedok itu akan melakukan kerjasama. Dia menyediakan, ‘api-angin-bumbu masakan’, orang berkedok menyediakan peralatannya. Tentu saja yang dimaksud peralatan masak adalah; sumber daya manusia—tenaga, dana, dan tempat yang representatif, dibawah komando Jaka.

Jaka berkelpok. “Kau sangat baik!” seru pemuda ini.

“Cuma satu hal aku ingin tahu, bumbu yang kau taburkan pada masakan… apakah sudah terkumpul lengkap?”

Jaka mengacungkan jempol. “Sedang dan terus dilakukan! Aku tanggung, cukup lezat. Sebenarnya aku sangat tidak ingin memasak tumis ikan arang, aku berharap tidak sampai memasak dengan resep itu.” Ujar pemuda ini dengan suara lambat.

Terdengar orang berkedok menghela nafas seolah ikut prihatin. Tapi kedua kawannya bingung dengan pembicaraan keduanya. Memang mereka mendapat laporan dari empat pengiring orang berkedok tentang percakapan itu, sampai sekarangpun mereka hanya bisa meraba apa yang sebenarnya sedang dipikirkan kedua orang itu. Tumis ikan arang, mungkin semacam rencana pembumihangusan?

“Menurutmu, ada penyerangan yang terjadi di Perguruan Naga Batu… siapakah yang mengacau perguruan itu?” kembali orang berkedok bertanya pada lelaki bertampang biasa. Nampaknya mereka kembali melakukan tanya jawab.

“Dari laporan, dua orang dari satwa.” Jawabnya. Diam-diam Jaka tersenyum dalam hati, nampaknya Serigala dan Beruang sudah menjalankan tugasnya dengan baik.

“Apakah ada kaitannya dengan bekas pertempuran di tebing itu?” kembali orang berkedok bertanya dengan nada mengambang.

“Tidak bisa disimpulkan seperti itu. Aku tidak mengetahui seperti apa kemampuan tujuh satwa, tapi ada satu jalur serangan yang menyatakan sebagai, satu baginda. Aku sangat paham dengan orang itu… aku menyangsikannya!”

Orang berkedok ini manggut-manggut, sambil memandang kearah Jaka. Pemuda ini seolah-olah sedang ditodong dengan tatapan itu, tentu saja Jaka tak bereaksi dengan tatapan itu.

“Apa yang kau pahami dari Satu Baginda?”

“Orang itu sangat sombong, dan harga dirinya terlalu tinggi. Dia tidak akan pernah melakukan serangan bersama orang lain!” tutur lelaki itu memberikan keterangan.

“Apakah hal itu mutlak?” kembali orang berkedok bertanya

“Mutlak!” jawab lelaki bertampang biasa ini tegas.

“Menurutmu, tokoh yang diserang tujuh satwa satu baginda orang macam apa?”

“Orang seperti itu hampir tidak ada!” kali ini yang menyahut Si Mata Suram.

“Kenapa kau berkata begitu?” tanya orang berkedok heran, dia memang sudah melihat ‘benteng ilusi’ Jaka, menurutnya orang seperti itu bisa jadi memang ada.

“Dia terlalu sempurna, hakikatnya delapan serangan bersamaan itu tidak bisa di hindari manusia.” Tandasnya.

“Adakah serangan yang tidak bisa dihindari?” tiba-tiba Jaka bertanya.

Pertanyaan itu di tujukan kepada Si Mata Suram, namun orang itu terdiam tak bisa menjawab. Jaka menghela nafas prihatin, kali ini dia bisa menilai secara utuh orang-orang di sekeliling si kedok ini ternyata tokoh yang sangat mumpuni lahir-batin, dia bisa menilai kesanggupan diri sendiri. Jika saja orang itu menjawab—apapun jawabannya, Jaka bisa menilai orang itu hanya suka memamerkan kemampuan.

“Bagaimana dengan yang ketiga?” kembali orang berkedok memecahkan keheningan diantara mereka. Tentu saja maksud pertanyaan itu adalah golongan ketiga yang bermain di dalam Perguruan Naga Batu.

Lelaki bertampang biasa itu menatap Jaka sekilas. “Jika saja dugaanku itu adalah pembenaran, maka aku bisa menyatakan orang itu adalah dia.” Katanya sambil menatap Jaka.

Pemuda ini tertegun. “Kenapa aku?” tanyanya heran. “Apakah aku memiliki kepentingan dalam konflik ini?”

Pertanyaan itu membuat mereka juga terdiam. “Aku tidak bisa mengutarakan alasannya, mungkin ini… menjadi semacam tuduhan, aku cuma merasa bahwa kau bisa jadi pihak ketiga itu!” Kata lelaki bertampang biasa dengan tegas.

Jaka manggut-manggut. “Ya, akupun berpendapat serupa dirimu…”

“Eh?” ketiganya berseru hampir bersamaan. Betapa anehnya tamu mereka ini!

“Maksudku, aku sangat berharap menjadi pihak ketiga itu…”

“Oh…” gumam orang berkedok baru paham.

“Kalian jangan pernah lupakan Ketua Bayangan, dia sewaktu-waktu meledak menjadi mata angin badai.” Timpal Jaka memperingatkan.

“Ya, itu sangat kami sadari. Sekarang akan kuperuncing hasil pembicaraan ini. Kau, akan menarik keluar seluruh golongan yang mencoba mengoyak ketenangan kota ini dari Perguruan Naga Batu, betul?”

“Aku usahakan.” Janji Jaka Bayu dengan mantap. “Bukan hanya pihak-pihak yang melingkupi perguruan Naga Batu, perkumpulan yang ada dikota ini pada umumnya!” suara pemuda ini begitu yakin, membuat lelaki bermata serupa ikan mati itu menatap tajam padanya.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu? Tidak kawatir mengusik singa tidur?” tanya lelaki berparas biasa memastikan.

Jaka menggeleng. “Ada kalanya singa juga harus bangun untuk mengaum, supaya seluruh hewan lain tahu bahwa sudah saatnya mereka berkumpul saling bahu membahu untuk menghadapi sang raja… kalau sudah begitu, bukankah sangat mudah menghadapi semua itu?”

Ucapan Jaka terlalu bersayap, lelaki bermata macam ikan mati itu adalah bagian dari kelompok rahasia yang pernah bertemu dengan Kaliagni, dengan sendiri kalimat pemuda itu seolah akan mengusik dirinya, demi memancing seluruh bibit kerusuhan yang mulai menyelimuti kota Pagaruyung.

“Kuharap kau tidak bertindak keterlaluan…” desis lelaki bermata bak ikan mati itu mengagetkan kedua kawannya. Mereka belum pernah menyaksikan lelaki itu melontarkan kata yang ‘lunak’ seperti itu.

“Kau bisa memegang ucapanku! Aku pasti akan melakukannya tanpa membuat kau.. kalian, kecewa!” Tukas Jaka sungguh-sungguh pada lelaki bermata suram. “Bukankah itu salah satu dari alat masak yang kubutuhkan?” tanyanya pada orang berkedok.

“Ya! Kau benar… satu hal lagi aku ingin mengingatkanmu sebelum kau terlampau banyak mengumbar janji…” kata orang berkedok ini dengan tegas. “Kau pernah mengatakan padaku, bahwa; kau selalu punya cadangan minyak untuk membuat api lebih besar, juga kau bisa membangun tembok untuk menghalang datangnya angin… apakah cara kerja ini akan kau penuhi?”

”Jika Tuhan mengijinkan aku berbuat demikian, aku pasti lakukan!” tegas dan tandas suara Jaka meyakinkan mereka.

Orang berkedok ini menyandarkan punggung kekursi, berbicara dengan Jaka membuatnya serasa diayun ketegangan oleh tanya-jawab yang tiada habisnya. Dia melirik kepada dua kawannya meminta pertimbangan, mereka tampak mengangguk memberi persetujuan.

”Baiklah, alat masak yang akan kau butuhkan segera kami datangkan!” katanya tegas.

Jaka mengangguk. ”Kau sudah tahu dimana mencariku..” kata pemuda ini berdiri dan memohon pamit. Akhirnya ’proposal’ kerjasama itu sudah mereka sepakati. Sebuah kerjasama aneh yang belum ketahuan apa dan bagaimana cara mereka berjalan beriringan, sebab kedua belah pihak masih saling curiga.

Dengan diantar oleh penjaga, mereka memandang punggung Jaka yang hilang dari ruangan itu. Orang berkedok ini bertanya pada lelaki bermata suram. ”Paman, kenapa kau bersikap sangat lunak padanya?”

Lelaki itu menghela nafas. ”Tahukah kalian kenapa aku memutuskan tidak mengujinya lebih lanjut?”

Keduanya menggeleng.

”Pada saat cengkeramanku mengenai bahunya, jantungku berdetak lima kali cebih cepat. Kupikir aku bisa membuatnya lumpuh dengan jurus Kemilau Pagi Pecah Tiga Kali…”

”Ah…” lelaki bertampang biasa terkejut mendengar pengakuan kawan karibnya itu. ”Kau tidak salah bertindak?” tanya memastikan.

”Tidak, kalian sendiri tahu… jurusku itu bisa membuat orang yang terkena angin gerakanku—apalagi terpegang, akan kaku! Bahkan bagi yang berkemampuan lebih rendah, bisa mati. Tapi… orang itu… aku tidak bisa mendesaknya, dari dalam tubuhnya seolah memancar sebuah aliran tenaga yang sangat halus… begitu halusnya, sampai-sampai aku tak sadar jantungku sudah berdegup lebih kencang. Makanya aku melepas cengkeramanku padanya…”

Orang berkedok terperangah mendengar uraian itu. ”Bukankah kau bisa meneruskan dengan seranganmu yang kedua?”

Lelaki itu menggeleng. ”Itu alasannya kenapa aku mundur… kalian melihat seolah aku dengan sangat mudah bisa melibat leher pemuda itu… padahal sebenarnya seluruh sendi tangan dan bahuku tiba-tiba kaku, seolah aku sedang menyaksikan kemampuanku dipakai olehnya! Begitu aku mundur rasa kaku itu hilang…”

”Jadi… itu alasanmu bersikap lunak padanya?” tanya orang berkedok ini dengan bimbang.

”Itu salah satu pertimbanganku saja. Dari pembicaraan tadi, aku bisa membaca, bahwa dia juga seperti kita—memiliki kekuatan yang cukup mencengangkan. Jika dia sudah berniat mengaduk seluruh perkumpulan rahasia yang bertebaran di kota ini, aku percaya dengan kemampuannya, dia bisa melakukan hal yang paling buruk…”

Orang berkedok membenarkan pikiran itu.

”Makanya kau memohon padanya untuk berlaku murah?” sambung lelaki bertampang biasa.

”Ya… ” jawabnya singkat.

”Jika kau lebih siap dan telah mengetahuinya lebih dalam, apakah kau siap melawannya lagi?” tanya orang berkedok.

”Entahlah, yang jelas dalam waktu dekat ini aku tidak mau berhadapan dengannya lagi…” desah lelaki ini dengan mata mengandung riak emosi. Kawannya menatap lelaki dihadapannya dengan kening berkerut, pemandangan seperti itu pernah terjadi dua puluh tahun yang lalu. Tak disangka hari ini, kawan seperjuangannya kembali menampilkan emosi berlebihan.

—ooOoo—

84 – Hastin Hastacapala

Hastin masih bengong tak jauh dari Gua Batu, dia sudah berhubungan dengan Cambuk, sungguh sialan dirinya harus mengaku sebagai ajudan Adipati Hanggana, salah satu wilayah yang dia tahu terlalu banyak pejabat kotor. Tapi dengan mengaku sebagai itu, ternyata memuluskan dirinya masuk kedalam ruangan birokrasi. Mengikuti Cambuk mengurus birokrasi, membuatnya langsung memberi penilaian, birokrasi sangat menjemukan, dengan mengobral bahasa bersayap dan janji ’suap’, Cambuk begitu mudah masuk ke salah satu tempat yang mengelola aset kota. Untuk mencari data yang dibutuhkan Hastin, demi mengefektifkan waktu, Cambuk terpaksa mengambil cara demikian, jika mereka harus satu persatu memeriksa Gua Batu… alangkah menguras energi dan memakan waktu terlalu banyak!

Seharusnya tidak setiap orang bisa meminta peta Gua Batu, detail tempat itu paling tidak hanya bisa di saksikan oleh orang-orang dalam pemerintahan sendiri dan sang pimpinan itu sendiri. Tapi Cambuk bisa mendapatkannya, Hastin sempat melihat orang itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya sebelum petugas yang menjaga peta Gua Batu memberikan satu salinan peta dengan wajah gelisah.

Begitu keluar ruangan itu, Hastin buru-buru bertanya. ”Kau gunakan apa untuk membuat dia menurut?”

Cambuk tertawa, dia keluarkan sebuah benda berwarna kuning. ”Bahasa emas itu sangat luas…” katanya.

”Sialan!” ketus Hastin sambil tertawa masam. ”Kupikir kau menggunakan jimat apa…” guraunya.

”Paling tidak aku mendapatkan informasi tidak terduga. Petugas jaga tadi ternyata memperjual belikan peta Gua Batu!”

Hastin tercenung, dia enggan berpikir terlalu rumit seperti Jaka atau teman-temannya, sekilas dia mengamati tiap orang yang dekat dengan Jaka ikut ketularan pemuda itu, menjadi rumit dan banyak berpikir! Tapi mendengar keterangan Cambuk membuat dia mau tak mau juga harus menggunakan otaknya.

”Dia menjual pada siapa saja?” tanyanya pada Cambuk.

“Tidak disebut, hanya saja dia sudah menjual tiga buah peta termasuk pada kita.”

Hastin langsung memeriksa peta di tangan Cambuk. Sebuah gambar yang rajin dengan denah cukup detail disertai keterangan mengenai beragam ruangan. Hastin menilai, Gua Batu seperti labirin yang menyesatkan jika kau tidak memiliki panduan, memasukinya akan membutuhkan banyak waktu untuk mencari jalan keluar.

“Kau yakin salinan ini sama dengan aslinya?” tanya Hastin.

”Tidak, tapi aku tahu orang itu pernah menjadi salah satu asisten juru ukur aset pemerintahan. Jadi tidak ada salahnya kita percaya…” terang Cambuk membuat Hastin berdebar.

“Wah, sialan! Masa aku harus menggantungkan keberuntungan pada orang yang mudah disuap?” gerutunya.

Cambuk tersenyum simpul. “Sebenarnya dia tidak sedemikian mudah disuap, karena takut dengan gertakanku yang mengatakan bahwa; ‘aku tahu dia sudah pernah menyerahkan salinan serupa’, maka dia memberikan padaku salinan yang lain.”

“Seharusnya, kau tak usah memberikan uangmu lagi.” Ketus Hastin tak setuju.

Cambuk menggeleng. “Orang itu memang brengsek… dia tadi memberikan aku dua pilihan, satu denah tanpa keterangan, kau tak usah membayar, sedangkan yang kedua seperti yang kita pegang sekarang… dan dia minta ongkos. Haha… dari pada aku ribut dengan orang tak jelas, lebih baik kubayar saja.”

”Tapi apa kau yakin dengan keaslian keterangan ini?” tukas Hastin kawatir.

Cambuk mengangguk. ”Jika aku belum tahu secara umum tentang Gua Batu, tentu saja aku tak berani bertindak demikian.” lelaki itu menjelaskan.

Hastin menghela nafas lega. Gua Batu termasuk salah satu cagar atau tempat yang di lindungi oleh pemerintah Pagaruyung, karena tempat itu berhubungan sangat erat dengan sejarah berdirinya Kota Pagaruyung, dan masih memiliki kaitan dengan keturunan pimpinan pertama kota itu. Sejarah yang melatar belakangi Kota Pagaruyung memang cukup mendebarkan, sebab terlampau banyak darah tertumpah di tanah itu. Maka tidak heran jika tempat-tempat yang menjadi sendi-sendi ingatan sebuah kota, di rawat sebagaimana mestinya.

Entah bagaimana caranya sebelum mereka meninggalkan bangunan sarang suap itu, Cambuk masih sempat menemui pimpinan Kota Pagaruyung, bahkan mereka sempat bertukar pikiran. Nama orang itu Ki Artanawasa, seorang lelaki paruh baya seumuran dirinya dengan wajahnya cerah dan sikapnya sangat lugas. Hastin memperhatikan, Cambuk berbicara dengan orang itu seolah mereka kenalan lama. Setelah keduanya benar-benar keluar, Hastin bertanya,

”Kau kenal dia?”

Cambuk mengangguk. ”Tapi tidak secara pribadi, pemerintahan kami saling menjalin kerjasama dengan baik. Jabatanku cukup membuat dia memandang hormat pada kita.”

Hastin menggumam tak jelas, dia memang sudah tahu jabatan Cambuk. Lelaki itu pesilat yang cukup handal, namanya juga dikenal didunia persilatan, tapi lebih dikenal sebagai murid Mpu Dwiprana, seorang ahli pembuat senjata; lebih istimewanya, Cambuk adalah ajudan Adipati Kalagan dari wilayah Hulubekti—salah satu daerah makmur yang jadi tujuan kaum kelana untuk mencari rezki. Secara fisik Cambuk memang cuma seorang ajudan, tapi buah pikirnya sangat banyak di gunakan oleh Adipati Kalagan untuk mengambil keputusan. Bisa dibilang Cambuk adalah orang kepercayaan pimpinan Kalagan. Maka, banyak orang segan padanya karena dia sangat dekat dengan kekuasan, yang dengan sendirinya memiliki hubungan-hubungan luas dengan pemerintahan lain daerah.

”Apa kita akan masuk sekarang?” tanya Cambuk, setelah mereka mengamati Gua Batu beberapa saat.

”Belum, nanti sebentar lagi…” sahut Hastin dengan tatapan nyalang menelisik lalu lalang orang disekitar Gua Batu, termasuk para penjaga.

”Kau menunggu seseorang?”

”Tidak, aku hanya menunggu isyarat yang meyakinkan.”

Menunggu Hastin merasa cukup dengan pengamatannya, Cambuk membenahi sesuatu dari kantung bajunya, beberapa bungkusan yang memiliki sumbu dia siapkan pada tempat yang mudah terjangkau jarinya. Dimasa mudanya Cambuk terbiasa membuat senjata dan beragam kerajinan tangan, tak disangka kali ini dia bisa memanfaatkan keahliannya untuk menemukan bentuk terbaik dari bahan-bahan olahan yang diberikan Jaka Bayu.

”Jaka berpesan padaku untuk melempar benda yang kau bawa, menurutnya tidak sesederhana itu, bagaimana menurutmu?” tiba-tiba Hastin bertanya.

Cambuk berpikir sejenak. Lalu dia membuka peta Gua Batu. ”Mungkin Jaka ingin memastikan apakah di dalam Gua Batu, ada lorong rahasia atau tidak….” gumamnya.

”Sebutkan alasanmu..” ujar Hastin tak paham.

”Ini…” kata Cambuk seraya memperlihatkan benda bersumbu dan bola-bola kecil ditangannya. ”adalah benda yang akan memastikan itu. Begitu benda ini dilempar, asap akan segera memenuhi seluruh lorong yang ada… sekalipun didalam ada ruangan rahasia, tidak mungkin disana kedap udara, pasti ada beberapa lubang yang dijadikan sebagai jalan udara. Dengan sendirinya, kita akan melihat hasil dari benda ini…”

Hastin menimang bulatan kecil itu. ”Seperti mengaduk sarang semut.” ujarnya.

”Tepat! Jika memang ada, mereka akan segera keluar, entah berkerumun dengan para pengunjung, atau terpencar sendiri-sendiri.”

Hastin mengerutkan kening, ”Apakah akan kita lakukan bersamaan dengan banyaknya pengunjung? Bukankah itu akan semakin rumit?”

Cambuk mengangguk, ”Tunggu sebentar…” dia berlari kearah sebuah kedai nasi kecil tak jauh dari mereka bersembunyi mengintai Gua Batu. Disana ada beberapa orang sedang makan dengan kaki diangkat, Cambuk membeli dua bungkus nasi pecel. Sesampainya di hadapan Hastin, dibukanya bungkusan daun pisang itu. Didalamnya terdapat daun lontar dengan beberapa tulisan. Cambuk segera membaca perlahan.

”Gua pertama, dua belas orang. Tiga orang datang dari selatan sisanya datang dari arah timur. Gua kedua, empat orang; seluruhnya datang dari arah timur. Gua ketiga berisi enam orang pengunjung, satu orang datang dari arah selatan, lima dari timur. Gua keempat ada tujuh belas orang, tujuh orang dari timur, lima orang dari selatan dan lima orang lainnya datang dari gua kelima. Gua ke enam sampai ke tujuh kosong.”

Hastin menyimak dengan sungguh-sungguh, dalam hati dia sangat terkesima melihat cara kerja Cambuk, sungguh dia tidak paham entah sampai sejauh mana jaringan yang dimiliki Jaka Bayu menyisir kawasan itu.

”Saat ini, tidak ada lagi pengunjung tambahan, sepertinya ini adalah saat yang tepat. Sebentar lagi ada pergantian petugas yang menjaga masing-masing mulut gua.” tutur Cambuk menerangkan.

”Apakah ada jalan lain selain jalan masuk ini?” tanya Hastin sambil meneliti peta di tangannya. ”Hm… didalam peta ini tidak ada, tapi siapa yang tahu?”

”Jangan kawatir, jika ada yang lolos dari mata kita, tidak akan lolos dari mata yang lain.” tukas Cambuk dengan yakin. ”Tugas kita memang mengaduk sarang saja, semoga tidak mendapatkan kesulitan berarti…”

Cambuk memakan nasi pecel itu dengan tergesa, membuat Hastin heran. ”Makanlah, didalam nasi ini ada penawar untuk asap ini.” katanya disela-sela kunyahan.

Dengan hati masih penuh tanda tanya, Hastin memakan nasi itu. Rasanya cukup enak, ada sedikit rasa getir di beberapa sayuran tertentu, mungkin itu salah satu penawar yang dibicarakan Cambuk. Tapi tetap saja dia tidak paham, apakah seorang telik sandi juga dibekali pemunah racun? Darimana mereka tahu Cambuk akan menggunakan ’racun’ jenis apa pada asapnya? Jikalau memang sedemikian teratur dan terpola, Hastin tak bisa menyangkal lagi, bahwa Jaka Bayu adalah sosok yang menakutkan.

”Pasti kau ingin menanyakan bagaimana si penjual nasi tahu aku akan menggunakan racun jenis apa, begitu kan?”

Hastin mengangguk sembari menatap Cambuk meminta penjelasan.

”Seperti yang kau ketahui, penjual nasi diwarung itu tentu saja orang-orang kita. Dan mereka tidak memiliki penangkal racun apapun, tugas mereka hanya mengamati dan mencatat semua kegiatan disekitar Gua Batu…”

”Kenapa kau katakan ada penawar dalam nasi ini?” tanya Hastin terheran-heran.

”Disini, aku juga tidak tahu.. aku hanya percaya saja pada Tuan Jaka.” kata Cambuk sambil menghabiskan suapan terakhir.

”Memang Jaka mengatakan apa padamu?” tanya Hastin tertarik.

”Beliau mengatakan, ’sebelum menggunakan benda ini, makanlah nasi pecel secukupnya’. Tentu saja aku paham, didalam nasi pecel ini ada tercampur tujuh jenis macam sayuran. Dan agaknya sayuran jenis tertentu, bisa menawarkan racun yang terdapat pada benda ini…” kata Cambuk sambil memperhatikan bola-bola kecil dan benda bersumbu miliknya.

Hastin menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa rumit pikiran Jaka, dia sedikit bisa menyelami, tapi pengetahuan semacam itupun dia kuasai, agaknya jika pemuda itu menginginkan untuk menjadi lebih besar lagi, hanya menunggu waktu saja. Dan pertanyaannya, apakah pemuda itu mau atau tidak, cuma itu!

Cambuk menunjuk kemuka, terlihat ada pergantian pengawal Gua Batu, dia bergegas mengajak Hastin untuk menyelinap masuk kedalam gua, tepat saat para pengawal berganti. Bagi orang-orang macam mereka biarpun bertindak di terang hari seperti ini, tidak terlalu menyulitkan jika hanya untuk menghindari pandangan orang. Dengan mudah keduanya sudah menyelinap masuk kedalam gua nomor enam. Dalam gua itu menurut pengamatan petugas mata-mata, tidak terdapat pengunjung, kosong!

Dengan meminjam cahaya dari mulut Gua, keduanya melihat peta, kalau tidak mau tiap saat harus membuka peta, Hastin mau tak mau harus menghapal tiap gores peta itu. ”Setelah ini ada satu jalan yang menembus ketujuh gua ini…” gumam Hastin melihat sebuah garis lurus tanpa putus-putus yang menghubungkan ketujuh gua. Sebuah garis yang tersamar, dan dengan penasaran Hastin meneliti tiap lekuk dinding gua, akhirnya dia sampai pada ujung gua yang tersembunyi, pada tempat yang dimaksud peta, dia melihat ada sebuah tonjolan batu, dengan ragu-ragu di tekannya tonjolan itu. Sebuah suara desir halus membuat Hastin dan Cambuk waspada, tapi ternyata tidak ada kejadian apa-apa, hanya sebuah pintu yang terbuka. Keduanya meneliti keadan disekeliling pintu yang baru bergeser.

”Ah, nampaknya pintu ini sering digunakan orang…” gumam Hastin.

Cambuk mengiyakan, dia juga melihat tonjolan batu yang tadi ditekan Hastin jauh lebih bersih dibanding batu yang lain. Lalu dengan sangat cekatan kedua orang ini segera menuju gua ke tujuh, di sana Cambuk meletakan bungkusan bersumbu, demikian pula pada saat mereka kembali ke gua nomor enam. ”Apakah kita akan langsung masuk ke gua nomor lima?” tanya Cambuk meminta pertimbangan.

Hastin berpikir sesaat, dia mengakui tugas ini tidak cocok baginya, sebab pembawaan orang ini selalu datang dari depan, hantam dulu tanya belakangan. Kalau harus berpikir begini, membuat pening saja. ”Kurasa, kita langsung ke gua nomor satu dan berturut-turut, selanjutnya kita akan keluar dari gua nomor lima.” kata Hastin yang sudah menghapal jalan berliku yang menghubungkan antar gua.

Cambuk setuju dengan ide itu. Mereka segera mengambil jalan seperti yang tertera dalam peta. ”Tak sangka manusia sialan itu jujur juga…” gumam Hastin memuji tukang jiplak peta saat harus mengingat-ingat mengambil jalan kekanan atau kekiri.

Tapi tak disangka saat mereka hendak menggabungkan diri dengan para pengunjung Gua Batu, terdengar langkah banyak orang. Mereka ingat di gua nomor satu, ada dua belas orang, dan kedua belas pengunjung itu tersebar dalam satu ruangan, sedang menikmati gambar dan pahatan dalam dinding gua, lalu dari mana datangnya derap langkah orang?

Hastin dan Cambuk bergegas menuju cekungan batu untuk menyembunyikan diri, mereka menanti siapa yang mendatangi gua nomor satu itu. Tapi tak disangka, ada sebuah pintu bergeser bergerak di samping mereka, karuan saja keduanya terkejut bukan buatan, dengan cekatan Hastin melompat mencengkeram stalaktit gua, demikian juga Cambuk. Mereka berdua menempel bagai cicak, mengikuti lengkungan langit-langit gua. Dari atas mereka melihat beberapa orang keluar dari sebuah pintu rahasia!

”Aku tidak dapat menemukan jejaknya lagi…” serbuah suara lirih terdengar dari dalam jalan yang mendadak muncul itu, dan sesaat kemudian terlihat dua orang keluar, lalu berturut-tutut tiga orang lain juga mengikuti dari belakangnya.

”Benar, seolah-olah dia lenyap dari kota ini…” timpal yang lainnya.

”Apakah kita akan mencari orang yang pernah menguntit sampai kemari?” tanya salah satu dari mereka.

”Itu pekerjaan sia-sia, pada waktu itu dia mengetahui jejak kita, tapi tak mengikuti sampai kesini. Aku yakin dia bukan seorang pendatang, sebab dia tahu lambang yang digunakan oleh kalangan kita…”

”Jangan-jangan, dia orang kita juga?” seseorang menyahut lagi.

”Mutlak tidak mungkin! Tiap anggota mengenal satu sama lain, dan sejauh ini tidak ada anggota atau tamu undangan yang tidak diperkenalkan pada kita!” sahut orang terakhir.

”Lalu kita akan lakukan apa? Peringatan dari Gusti tentang keteledoran kita membuatku tidak nyaman…” gumam orang pertama mengeluh.

Dalam keheningan, kelimanya tidak lagi berkata-kata mereka bergerak hati-hati dan terlihat berbaur dengan para pengunjung gua. Menanti kelima orang itu hilang, Hastin dan Cambuk saling pandang. Agaknya pikiran mereka sama. Seringan burung srikatan, keduanya melayang turun dan langsung menyelinap kedalam pintu yang mulai bergeser perlahan, menutup!

Cambuk menghela nafas perlahan, menyadari hampir saja punggungnya terjepit oleh pintu batu itu, mereka terheran-heran saat melihat betapa tebal pintu batu itu, tapi kenapa tidak mengeluarkan bunyi sama sekali? Namun keterkesimaan mereka tak bisa bertahan lama, menyadari ada langkah mendatangi keduanya. Seperti sudah berjanji, Hastin melompat ke pojok kanan dan Cambuk ke pojok kiri, tapi begitu mereka menyadari persembunyiaan itu kurang bagus, keduanya melompat keatas kembali mencengkeram langit-langit.. sayang keduanya kurang memperhatikan jarak antar keduanya dan sempitnya langit-langit gua. Kepala mereka saling beradu satu sama lain!

Duuk! Suara kepala saling berbentur itu tidak keras, tapi keluhan kejut keduanya yang cukup keras, ternyata sangat fatal!

—ooOoo—

85 – Mengguncang Gua Batu

”Siapa di sana?!” terdengar suara membentak dari dalam. Dan suara langkah mereka terdengar kian cepat.

Baru kali ini Hastin merasa sangat cemas karena ketakutan, tentu saja dia bukan ketakutan karena kawatir menghadapi musuh, tidak sama sekali! Dia kawatir tugas yang dibebankan Jaka padanya untuk yang pertama kali justru gagal! Kebiasaannya yang makin hantam lebih dulu benar-benar membuatnya serba kikuk jika harus main sembunyi seperti ini.

Untunglah Cambuk cepat tanggap, dengan sigap dia turun dan berjalan memapaki orang-orang yang akan mendatangi tempat itu. Dengan gerakan sangat cepat, Cambuk menutupkan sehelai kain dan mengikatnya dengan simpul bak blangkon, tapi di pancangkan di samping kiri kepalnya, rumbai ujung kain dibiarkan terjuntai panjang, entah apa maksudnya melakukan itu…

Tampak dua orang sudah berada di hadapan Cambuk, sementara Hastin tetap diam mendekam mencengkeram langit-langit dengan perasaan tegang, tangannya sangat gatal untuk memukul orang! Kedua orang itu melihat Cambuk, mereka tampak membawa sebuah benda yang berkilauan, sebangsa mutiara air laut yang sudah bercampur fosfor, cahayanya yang redup malah sangat menguntungkan Cambuk.

”Siapa kau?!” bentak keduanya dengan siaga, tapi nampaknya keduanya juga ragu-ragu melihat bayangan didepannya.

Keraguan sikap itu tertangkap jelas oleh Cambuk, dengan suara yang dingin dan terkesan sadis, Cambuk membentak. ”Terkutuk kalian, tidak mengenali aku!”

Keduanya tampak menggeregap, ”Ap-apakah tu.. tuan..”

”Keparat! Berani kau sebut namaku?!” bentak Cambuk dengan suara mendesis. ”Kalian pingin kupenggal?”

”Oh.. ternyata.. tu-tuan…” kata salah satunya dengan tergagap-gagap. ”Apakah tuan hendak memeriksa?”

Cambuk mendengus. ”Tadinya aku ingin.. tapi aku tadi sudah berjumpa dengan mereka!”

”Oh.. y-ya, mereka memang membawa tugas dari Gusti…” Kata salah seorang dengan tanggap, karena yang keluar dari pintu itu memang baru kelima orang itu.

Dengan mengumam tidak jelas—seolah sedang marah-marah Cambuk, segera menepi masih dengan lagak yang angkuh dan tangan bersedekap. Nampaknya tanda itu cukup memberi tahu keduanya untuk mengantar ’si tuan’ yang mereka kenal sebagai orang yang bengis dan mudah marah. Keduanya dengan badan terbungkuk-bungkuk lewat di samping Cambuk, nampak keduanya saling mengaitkan seutas rantai di kanan dan kiri dinding gua. Lalu dengan bersamaan pula keduanya menarik tuas kebelakang. Lalu terdengar suara bergemersik lembut, nampak pintu geser tadi mulai terbuka.

”Enyah kalian!” usir Cambuk dengan suara bengis.

”Ba-baik tuan…” keduanya seperti memperoleh pengampunan segera bergegas pergi, begitu punggung mereka berbalik, Hastin dengan cekatan turun dan menyelinap secepat kilat, gerakannya yang menimbulkan kesiuran angin membuat kedua pengawal itu menoleh. Tapi mereka melihat Cambuk nampak sedang mengibas tangan, seolah angin itu keluar dari tangannya

”Tuan.. itu sungguh garang… tidak ada masalah besar saja harus menghamburkan tenaga seperti itu…” desis salah seorang pada kawannya. Tentu saja Cambuk mendengar kalimat itu. Dengan mendengus keras, suaranya cukup membuat kedua orang yang hendak menyatroni mereka segera berjalan cepat menghilang di balik cabang gua lain. Kesempatan itu cukup buat Cambuk untuk membuang salah satu bulatan bersumbu miliknya di tempat tersembunyi itu!

Dilain kejap, Cambuk sudah keluar dari ruang rahasia, dia menghela nafas panjang-panjang, sungguh tegang rasa hatinya jika mengingat sandiwara tadi. Mengacau dengan cara membuat keributan tidak akan menyelesaikan masalah, justru orang yang dipancing oleh Jaka akan membat kesimpulan salah dan mungkin saja bisa membuat perubahan rencana yang makin rumit, dia tidak menginginkan itu!

Cambuk menatap Hastin sejenak, terlihat lelaki itu sedang memperhatikan dirinya dengan tatapan mata antara geli, heran dan takjub. ”Kau memang punya otak sialan…” ujarnya memuji, Cambuk ternyata menyimpan banyak kemahiran mengejutkan!

Dengan tertawa serba salah, Cambuk mengangkat bahunya. ”Harus kuakui, pengetahuanku tentang sistem dalam sandi di hampir setiap kerajaan sangat membantu…” jawabnya.

”Tadi kau berperan sebagai siapa?” tanya Hastin sambil mengedarkan pandangan mata mencermati kondisi disekitar.

Cambuk belum menjawab, dia mengajak Hastin kembali berjalan kembali kegua nomor dua, tentu saja sebelumnya Cambuk sudah meletakkan bungkusan bersumbu miliknya. ”Aku sebenarnya cuma asal tebak saja, satu hal yang kuketahui sebuah kekhasan sandi di kota ini adalah ikat kepala cingkrang.. misal saja mereka bukan orang-orang pemerintahan, ikat kepala yang kubuat pun akan sia-sia, dan kita sudah pasti harus meninggalkan jejak gaduh di dalam ruangan tersembunyi tadi. Untung saja Tuan Jaka sempat bercerita bahwa mereka tarkejut dengan lambang sandi cakram, jadi aku bisa menautkan bahwa entah siapapun mereka, masih ada hubungannya dengan pemerintahan tempat ini, maksudku… pemerintahan yang lampau.”

Hastin menggelengkan kepala berulang kali. ”Kalian hidup dengan cara yang sangat rumit. Aku tidak memahami sama sekali masalah seperti itu…”

Cambuk tertawa, ”Justru aku kagum pada anda… selalu bertindak tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi, terkadang malah mempersingkat masalah.”

”Tapi kadang membuatku pusing pula…” sahut Hastin disela langkah mereka yang sangat hati-hati, keduanya sudah mencapai gua ke tiga. Dengan hati-hati pula cambuk meletakkan bungkusan bersumbunya.

”Apakah kau bisa menebak, siapa yang ditakuti mereka?” tanya Hastin.

Cambuk menggelang, ”Sikap seperti yang kubawakan tadi, biasanya hanya semacam tabir saat mereka berhubungan dengan kelompok tertentu. Pada saat dia bergabung dengan kehidupan normal, boleh jadi sikap dan wataknya berbeda jauh. Sampai saat ini aku masih bersyukur bahwa ternyata ada orang bersikap tolol seperti yang kubawakan tadi…”

Hastin tertawa tanpa suara. ”Jika dibandingkan dengan kemampuan jaringan yang kalian miliki, tentu saja orang-orang yang bersembunyi dalam gua hanya orang-orang tolol!”

”Bukan maksudku meremehkan mereka…” sahut Cambuk buru-buru. ”yang kumaksud, betapa mereka menggunakan tata sandi sangat baku, terpola, sesuai ajaran dan belum berubah, seharusnya setiap periode tertentu mereka mengadakan perubahan. Entah itu dari karakter, dari sikap, dari cara bicara dan cara sapa…”

”Tapi, kau melupakan satu hal…” gumam Hastin dengan memperhatikan Cambuk yang meletakan bungkusan terakhirnya di gua ke empat dan kelima.

”Apa itu?” tanya Cambuk tanpa berpaling.

”Kau hidup di dalam sebuah ombak besar bernama perkumpulan rahasia, kau bergaul dengan beragam pikiran yang sudah terkondisi dengan pengalaman puluhan tahun dalam jaringan yang tak banyak diketahui orang, kau juga bercakap-cakap secara wajar dengan tokoh-tokoh yang sangat jarang bisa ditemui secara langsung… maka kau bisa memiliki pandangan seperti itu.”

Cambuk termenung sejenak. ”Mungkin anda benar…” sahutnya. Lelaki ini membagikan bola-bola sebesar ujung kelingking pada Hastin.

”Untuk apa ini?” tanya Hastin dengan heran.

”Menurut Tuan Jaka, anda memiliki himpunan hawa sakti yang langka,” kata Cambuk membingungkan Hastin.

”Heh?!” sergahnya bingung.

”Hawa sakti anda dapat membuat benda sepadat apapun meleleh bisa pula memercikan bunga api…” tukas Cambuk menerangkan.

Hastin tak mengira, dari jabat tangan beberapa hari lalu dan serangannya pagi tadi Jaka bisa menganalisis sedalam itu, padahal dia belum lagi mengerahkan tenaga andalannya, tapi pemuda itu ternyata bisa melihat sampai dimana jalur ilmunya akan bermuara.

Cambuk memberi petunjuk bahwa saat dirinya meletupkan bungkusan terakhirnya, maka Hastin harus melemparkan seluruh bola-bola dalam tangannya menurut jalur ilmunya. Kesetiap sudut ruangan rahasia yang saling menghubungkan tujuh gua itu. Masih dengan perasaan terheran-heran, Hastin mengangguk saja. Cambuk telah bersiap-siap, di dalam gua kelima, mereka menempatkan diri tidak terlihat dari para pengunjung, Cambuk melemparkan sebuah batu kecil tepat di sumbu bungkusannya, dan bersamaan itu pula Hastin melemparkan bola-bola kecil kesegala arah, termasuk ke jalur rahasia yang menghubungkan ketujuh gua.

Hastin tidak melempar, dia menjentikkan jarinya saja! Tapi begitu bola-bola kecil itu terlepas dari jemarinya, seleret warna merah langsung menebar warna merak membakar, bak meteor melintas langit, melesat dengan berkelak kelok. Warna kemerahan itu mula-mula menimbukan asap tipis, kemudian menimbulkan percik api yang berputar kesegala arah dan akhirnya menyambar sumbu bungkusan yang diletakkan sedemikian rupa oleh Cambuk.

Wusss! Tidak terdengar ledakan, tidak terdengar letupan hanya tiba-tiba saja asap mengepul memenuhi seluruh ruangan begitu cepatnya. Seolah-olah asap itu dihasilkan oleh sebuah kobaran api dalam sebuah kebakaran hebat yang memencar merambati udara diseluruh ruang gua.

Hiruk pikuk tak terkendali terdengar lamat-lamat, Hastin dan Cambuk tidak bergerak ditempat mereka. Keduanya fokus dengan gerakan-gerakan yang mungkin saja timbul dari dinding-dinding gua seperti yang pernah mereka alami tadi. Dan benar saja….

Srk-srk-sreek! Terdengar desiran-desiran halus terkuak dari banyak dinding gua, karena mereka ada di gua nomor lima, tentu saja keduanya tidak tahu letak pasti dimana saja kemunculan pintu-pintu itu. Setelah memperhatikan dimana adanya pintu masuk rahasia muncul di gua itu, keduanya berpindah seluruh gua yang lain untuk memperhatikan dimana tempat pintu-pintu rahasia. Asap tebal dan cukup menyesakkan pernafasan itu tidak mereka rasakan sebagai hal yang mengganggu, tapi Hastin terlihat heran melihat orang-orang yang menghirup asap itu seperti orang mabok, dan ada banyak dari mereka yang sudah jatuh pingsan, kalaupun ada yang tidak pingsan, mereka terlihat sibuk mengucek matanya berulang kali.

Cambuk memberi isyarat pada Hastin untuk kembali memasuki salah satu pintu rahasia, ternyata dorongan asap-asap dari bungkusan bersumbu Cambuk begitu hebatnya, sampai-sampai lubang angin sebesar jari kelingking saja bisa diterobos dengan kepekatan asap kian menebal. Tentu saja kondisi itu membuat orang-orang yang bersembunyi didalam ruang tersembunyi dalam Gua Batu, kelabakan. Dengan leluasa, Cambuk dan Hastin masuk kedalam tiap-tiap ruangan tanpa diketahui orang.

Mereka tidak melakukan apapun kecuali melihat, mencatat dalam ingatan apa-apa saja yang ada didalam. Bahkan Cambuk sempat melihat sebuah ruangan yang dia yakini sebagai tempat dokumentasi seluruh kegiatan. Meminjam sinar mutiara yang sudah bercampur fosfor, Cambuk meneliti satu demi satu. Hastin pun melakukan perbuatan serupa. Meski lelaki itu paling malas menggunakan otaknya untuk berpikir, bukan berarti dia bodoh. Apa yang dilakukan Cambuk dia paham sepenuhnya.

”Aku dapat…” desis Hastin. Mesti pada awalnya dia tidak tahu apa yang mereka cari, tapi melihat bentuk rupa ruangan itu, Hastin bisa menduga bahwa Cambuk kemungkinan besar mencari sebuah daftar, sebuah indeks kegiatan!

Cambuk mengangguk, tapi dia tidak menghentikan tindakannya, dengan sangat cekatan lelaki ini memeriksa satu demi satu dan mengembalikan ke tempatnya lagi dengan rapi dan teratur. Ditangannya sudah ada sebuah selongsong bambu yang dikeluarkan dari balik bajunya, dengan hati-hati Cambuk mencuil satu demi satu lembaran daun lontar yang ada disana.

Hastin menyerahkan apa yang didapat pada Cambuk dan lelaki ini memasukannya kedalam selongsong bambu, lalu keduanya bergegas keluar dari ruangan itu. Dengan sangat hati-hati, mereka kembali ke gua nomor tujuh, dimana mereka tadi mencari jalan masuk.

”Apakah kita akan keluar sekarang?” tanya Cambuk pada Hastin.

Lelaki itu menggeleng. ”Meski kabut asap ini tebal, pasti banyak orang yang menyaksikan dari kejauhan. Bila kita keluar sekarang, maka gerakan kita akan sangat mudah terlihat oleh tiap orang.”

”Apakah kita harus menunggu?” gumam Cambuk merasa ragu.

”Berapa lama asap ini bertahan?” tanya Hastin.

”Sepenginangan lagi…” sahut Cambuk membuat Hastin berkerut kening, sepenginangan boleh dibilang sama dengan setengah kentungan, atau setengah jam.

Selagi mereka ragu hendak keluar, terdengar desir langkah yang sangat ringan menuju kearah mereka. Kepekatan kabut itu sangat menguntungkan keduanya dalam bersembunyi. Adalah sebuah keanehan bagi Hastin, kabut asap sepekat ini tapi kenapa pengelihatan mereka boleh dibilang tidak terganggu sama sekali? Pertanyaan itu baru dia pahami jawabannya saat Cambuk menerangkan dibelakang hari bahwa; selagi mereka tidak terpengaruh racun bius dalam kabut asap, dengan sendirinya pengelihatan mereka normal-normal saja. Betapa anehnya!

Desir seringan kapas itu bagi pendengan Hastin yang sangat terlatih membuatnya menegang. Seingatnya, Arwah Pedang sahabatnya juga memiliki langkah seringan itu, apakah ada tokoh hebat yang mengetahui perbuatan mereka?

”Jangan menunggu terlampau lama… mari keluar..” sebuah suara membuat keduanya terkejut.

Cambuk sangat hapal dengan suara itu, sambil menggamit Hastin mereka mengikuti sosok yang membuka jalan dan akhirnya menuntun mereka keluar dari dari Komplek Gua Batu dan terus menuju sebuah bukit.

”Ah…” barulah Hastin sadar bahwa yang menuntun mereka ternyata Jaka!

Ternyata sepulang dari bertemu dengan orang berkedok, Jaka langsung memutuskan untuk datang ke Gua Batu, dia bukan menyangsikan kemampuan kedua orang yang datang kesana, melainkan pemuda ini akan meninjau kembali rencananya. Jika dia biarkan keduanya tetap didalam, bukan tidak mungkin orang yang disangka sebagai salah satu elemen penggerak atau sebut saja benalu dalam kekacauan yang sudah timbul, tak jadi menampilkan diri.

”Kenapa kau kemari Jaka? Apa kau mengkahawatirkan kami?” tanya Hastin dengan kening berkerut.

Jaka tertawa. ”Mana mungkin aku mencemaskan engkau Paman Hastin.” katanya dengan menepuk bahu lelaki itu. ”Aku hanya berpikir, terlalu lama di Gua Batu itu tak akan membawa hasil lebih…”

Cambuk memandang sekeliling, dilihatnya lamat-lamat Gua Batu dikejauhan masih dikepung asap.

”Lalu kenapa kau mengajak kami kemari?” tanya Hastin tak mengerti.

Jaka tidak menjawab, dia mengedarkan pandangan matanya seperti Cambuk. ”Justru disini kita akan melihat perubahan lain.”

Benar saja, tak lama kemudian, asap yang mengepung Gua Batu seolah-olah tersedot kedalam gua, dalam hitungan belasan saja lenyap sama sekali. Jaka berpaling pada Hastin. ”Sekarang kita tinggal menunggu kemana asap itu dibuang…” ujarnya.

Dari ketinggian bukit dimana mereka berdiri, memang sangat cocok memantau keadaan sekeliling. Dari kejauhan terdengar beberapa anjing menyalak. Cambuk terlihat menyeringai lebar.

”Ternyata Tuan juga membawa anjing Penikam?” tanyanya memastikan.

Jaka mengangguk. ”Aku sempat mampir sebentar, kupikir salah satu anjingnya akan sangat berguna…” kata pemuda ini sambil menyipitkan mata, dia seolah sedang memastikan arah suara anjing dengan sesuatu yang tampak dalam penglihatannya.

Menyimak pembicaraan itu, barulah Hastin paham. Ternyata asap yang mereka lepaskan memang hanya sebuah pancingan untuk mengetahui jalur rahasia lain. Hal paling logis dibalik lenyapnya kabut asap adalah udara dengan tekanan lebih tinggi menyebar di seluruh ruangan gua, artinya ada sebuah katup yang sengaja dibuka dari sisi lain dan karena sifat kabut asap memang mengejar udara, dengan sendirinya begitu ada ruang dengan himpunan udara lebih banyak, gumpalan asap itu akan tersedot kesana. Barulah Hastin mengatahui fungsi anjing yang dibawa Jaka. Tentunya anjing itu sudah mengenal bau kabut asap, dan salak anjing tadi menandakan kemungkinan besar disanalah letak lubang buangan!

”Kita kesana?” tanya Hastin bersiap-siap.

”Tidak paman,” sahut Jaka. ”Jika kita kesana, mereka akan waspada dan curiga. Bagaimanapun kehadiran beberapa anjing akan membuat mereka berpikir, meskipun itu tidak akan menimbulkan kecurigaan. Menanti anjing-anjing itu pergi mereka baru akan bergerak. Kita tidak perlu berjumpa dengan mereka, biar lain waktu saja kita temui mereka.”

Biarpun Hastin kurang sependapat dengan keputusan Jaka, namun dia mengerti dengan bantuan anjing-anjing tadi mereka bisa melacak kembali dimana tempat buangan asap itu. Dari sana mereka bisa melacak lebih jauh, apa-apa saja yang perlu diketahui. Dalam hati Hastin berulang kali memuji. Meski dia tidak penah terlibat dalam satu perkumpulan apapun, bukan berarti dia tidak mengetahui seluk beluknya. Dia pernah tahu ada sebuah perkumpulan yang memiliki usia cukup tua, bernama Sanatasona. Mereka memiliki keterampilan menggunakan unsur alam sebagai senjata dan alat mereka melacak jejak, terkadang mereka melacak jejak hewan buruan dari kicau burung, tapi adakalanya mereka juga melacak buruannya dengan menggunakan kaidah umum, seperti memperhatikan ranting patah dan jejak yang tertinggal.

Beberapa hari terakhir, dia melihat dalam himpunan orang-orang yang berada dalam lingkup pemuda bernama Jaka Bayu, memperlihatkan beragam metode lacak dan cara memancing jawaban yang membuat dia takjub. Entah apakah cara itu memang dibakukan menjadi sebuah metoda, atau berlahir begitu saja, yang jelas sosok pemuda disampingnya itu memang lelaki yang menyimpan beragam hal baru! Meski dia tidak pernah tertarik untuk bergabung dengan siapapun, atau organisasi macam apapun, tapi melihat begitu banyak tokoh kasta tinggi bergabung dengan Jaka membuat dirinya berpikir, tentu mereka menemukan hal baru pada diri pemuda itu—yang menjadikan nilai tambah untuk diri sendiri, seperti halnya dia.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: