Seruling Sakti Jilid 86-90

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 86 Sampai 90

86 – ‘Peralatan Masak’ Gelombang Pertama

Sebuah penginapan yang sepi pengunjung nampak asri, dari tujuh belas kamar yang tersedia, hanya dua yang terisi, lokasi yang jauh dari keramaian seakan disengaja oleh pemiliknya. Salah satu tamunya nampak duduk dipojok pekarangan belakang, dengan mencangkung kaki di kursi goyangnya, lelaki dengan uban menghias kepala menyedot tembakau dalam-dalam. Dihadapan lelaki menjelang separuh abad itu ada seseorang yang tengah tertunduk.

“Jadi, kau terpaksa menyerahkan pasukanmu padanya?” ujar lelaki itu dengan menghembuskan asap kuat-kuat.

“Benar paman… sebenarnya bisa saja saya menolaknya, tapi dia memiliki lencana perintah. Jika kutolak, engkau tahu sendiri akibat yang kuterima.”

Lelaki itu mengangguk-angguk. “Tapi, aku tidak pernah menyangka kau bertindak terlalu bodoh…” desisnya dengan tatapan mata berkilat, seolah ada secercah hawa dingin menyambar lelaki itu, membuatnya tertunduk kian dalam.

“Mo..mohon petunjuknya paman…” ujarnya dengan suara menggeletar, manakala nada lelaki di hadapannya berubah, mengartikan suasana hati yang berubah pula, jika sudah demikian, orang itu bisa menjelma menjadi orang paling kejam.

Ya, lelaki yang menunduk itu adalah Bergola. Ketidakpuasannya terhadap Momok Wajah Ramah membuat dirinya harus menyambangi seorang kerabat jauh dari ayahnya. Dia tidak tahu mereka berkerabat macam apa, tapi ayahnya mengenalkan bahwa orang itu masih pamannya. Sejauh ini Bergola tidak tahu dari mana datangnya sang paman. Pernah sekali dia menganggap remeh lelaki dihadapannya itu dengan mengirimkan seorang anak buah untuk memata-matai, tapi tak sampai setengah hari, muncul kurir menyerahkan barang hantaran yang membuatnya mual hampir satu minggu.

Bagaimana tidak, barang hantaran itu ternyata belanjaan ayahnya, yang ditempatkan dalam dua belas bagian peti, tapi pada masing-masing peti terdapat dua belas bagian anggota tubuh manusia terbungkus rapi tanpa darah, yang dapat dia kenali sebagai anak buahnya! Sejak saat itu Bergola tidak mau menyinggung sang paman, bahkan dia tak ingin berhubungan. Tapi kondisi yang membuatnya buntu, mau tak mau menghantar langkahnya menemui lelaki itu.

”Kau mengira, disini hanya dirimu sendiri yang bermain?” tanya lelaki itu dengan nada tajam.

Bergola tentu saja tidak terlalu bodoh untuk menjawab itu, namun dia belum sanggup memastikannya, adalah pertanyaan itu yang cukup berat baginya. ”Saya rasa… tidak demikian, ta-tapi jika paman beratnya kenapa bisa kujawab begitu, sayapun tidak tahu..”

Lelaki itu menatap kedepan, dengan menghela nafas dalam-dalam dia berujar. ”Dibandingkan Wingit Laksa, kau masih terlalu bodoh…”

Bergola makin tertunduk mendengar ucapan itu, dalam hati dia sangat terkejut mengetahui sang paman mengetahui hubungan dirinya dengan Wingit Laksa, bahkan ayahnya sendiri juga tidak tahu!

”Wingit Laksa dapat melakukan segala sesuatunya dengan sabar dan sedikit demi sedikit. Anak itu sadar, bahwa cita-cita besar memerlukan tenaga, waktu dan kesabaran. Usahanya sejauh ini sangat bisa kumengerti. Tapi kau…” lelaki itu menggeleng. ”Kau memainkan peranan yang tidak terlalu baik, kurang cerdas! Kau berupaya mengaduk kota ini dengan mengusik sesepuh kota. Pernahkah terpikir olehmu, selemah-lemahnya sesepuh kota, dia memiliki hubungan seperti apa dengan banyak kalangan? Dengan pemerintahan? Itu yang pertama! Syukurlah kau cukup pintar membaca situasi dengan tidak jadi mendatangi Kuil Ireng pada beberapa malam lalu…”

Bergola makin tertunduk.

”Jika saja kau mendatangi Kuil Ireng, maka permainanmu tidak akan pernah berlanjut!” tegas lelaki itu.

”Apa yang terjadi disana? Ketua memang mengatakan pada saya, ada banyak perubahan…” tanya Bergola.

”Aku tidak tahu.” sahut lelaki ini singkat.

Dia tak mungkin memberitahu pada Bergola, betapa pada waktu itu, dirinya tidak memiliki keberanian memasuki wilayah itu. Sebagai seorang yang terlatih dalam urusan membunuh, perasaannya sangat tajam dalam mencium keadaan sekitarnya. Waktu itu dia merasakan hawa yang sangat berat menekan hatinya, seolah-olah menggayuti kehendaknya untuk menjauh dari tempat itu, kala itu kebimbangan sempat mengambang lama di benaknya, namun setelah menimbang berdasarkan kepentingan yang lain, akhirnya dia menghilang dari sana. Pagi hari setelahnya, dia bersama kawannya kembali datang ke Kuil Ireng, tidak ada orang disana, tapi dari kawan yang bisa melacak jejak, memberitahu padanya, bahwa; orang-orang yang berdiam di Kuil Ireng sehari berselang adalah para tokoh yang tak pernah terpikirkan akan ada di sebuah tempat dalam waktu bersamaan! Itupula yang membuat dirinya makin hati-hati di kota itu. Saat ini Kota Pagaruyung seolah menjadi sarang naga dan harimau.

”Momok Wajah Ramah lelaki yang cukup berbahaya, sejauh ini dia bisa bekerja sama denganmu karena dia mengharapkan manfaat darimu, pada saatnya kau dipandang tidak lebih baik dari sampah, usiamu pun tinggal menghitung hari.”

”Aku tidak takut dengan orang itu!” seru Bergola dengan jantung berdetak lebih kencang, kemarahan seolah sudah membakar hatinya jika mengingat Momok Wajah Ramah.

”Kau pernah mengukur kelihayan rekanmu?” tanya lelaki beruban itu.

Bergola menggeleng. ”Tapi aku tidak takut!” katanya lagi.

Lelaki itu mendesis, ”Kau memang tolol! Tidak takut, dengan bertindak cerdik itu sangat berbeda. Aku pernah melihat Momok Wajah Ramah membunuh orang saat dia sedang tertawa, bahkan pada saat dia berbincang… kelihayannya yang utama kau sudah tahu, kelicikannya! Kewaspadaanmu sangat buruk, dia sewaktu-waktu bisa membunuhmu, maka itulah… pergunakan sikapnya sendiri saat kau bertemu dengannya!”

”Aku harus membunuh orang itu?” kata Bergola dengan nada ragu.

”Benar!”

”Ta-tapi, bagaimana dengan ketua nanti?”

Lelaki itu tersenyum sesaat. ”Pimpinanmu saat ini dipusingkan dengan banyak hal, kehilangan Momok Wajah Ramah tidak akan membuatnya berat hati! Kau pikirkan bagaimana caranya kau membuat situasi yang mendukung alasan bagimu untuk membunuhnya!”

Bergola mengangguk-angguk. ”Bi-bisakah paman membantuku?” pintanya dengan ragu.

Lelaki itu menatap Bergola sesaat. ”Bukankah kau memiliki pasukan sendiri? Kenapa itu tidak kau gunakan untuk menyerang?”

Bergola tertunduk. ”Saya tidak yakin untuk menggunakannya paman, bukan karena saya menyangsikan keberhasilannya, mengingat tugas terakhir Momok Wajah Ramah justru untuk mengganggu tokoh-tokoh yang sedang berkunjung kesini. Saya kawatir, rentetan dari peristiwa itu akan merambat pada Wingit Laksa, cepat atau lambat itu pasti akan bermuara kesana.”

Lelaki itu menatap Bergola sejenak. ”Baiklah, aku akan membantumu! Kecintaanmu pada Wingit Laksa membuatku tergerak…”

”Terima kasih paman.” kata Bergola dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Dia meminta diri pada sang paman, dengan tergesa Bergola menaiki kudanya dan menghelanya cepat-cepat.

Lelaki ini kembali menghisap tembakaunya dalam-dalam, tiba-tiba dari sudut matanya dia melihat orang bergerak didalam ruangan, jarinya sudah menegang, sebuah jarum sudah ada diantara jari telunjuk dan jari tengah, dia perhatikan sesaat orang itu dengan seksama, akhirnya niat untuk membungkam orang yang disangka mencuri pembicaraan, di urungkan. Ternyata bayangan dalam ruangan tadi adalah pelayan penginapan, dia lelaki sepantaran dirinya dengan kaki timpang. Dengan membawa nampan air dan beberapa rebusan ubi, pelayan timpang itu menghampiri dirinya.

”Silahkan tuan….” katanya sambil meletakkan makanan di meja sebelahnya.

”Hm…” gumam lelaki beruban itu mengiyakan, tiba-tiba matanya membeliak saat melihat tatakan gelasnya ada secarik kertas.

”Tunggu!” serunya.

Pelayan itu berhenti dan membalikkan badannya, ”Ada yang kurang tuan?”

”Darimana barang ini?” ujarnya sambil menunjuk secarik kertas yang dilipat rapi menjadi tatakan gelasnya. Pelayan itu nampak heran, dengan langkah pincang dia menghampiri kembali.

”Ah…” desahnya. ”saya tidak tahu tuan, saya sendiri yang menyiapkan air ini. Bagaimana mungkin ada benda lain?” ujarnya dengan wajah bingung.

Lelaki itu ragu-ragu mengambil gelasnya. ”Kau buka kertas itu.” perintahnya pada pelayan timpang itu.

Dengan ragu-ragu, pelayan itu mengangkat gelas dan memindahkan kesamping, lalu dia mengambil kertas itu. ”Dibuka?”

Lelaki beruban itu mengangguk, punggungnya tak lagi menempel pada kursi goyangnya. Dengan penuh perhatian dia mengawasi pelayan timpang itu membuka lipatan kertas yang dibuka perlahan.

”Kosong…” gumam pelayan itu sambil menyerahkan kertas itu pada lelaki beruban. Namun dirinya tak lekas menerima kertas kosong itu.

”Buang saja!” perintahnya. Mungkin aku terlalu curiga, pikirnya. Sebagai orang yang berkecimpung dengan kalangan hitam, kewaspadaan selalu menjadi bagian dari dirinya, tak pernah sekalipun dia mengendorkan perhatian, seolah-olah dirinya adalah anak panah yang siap lepas dari busur, kapan saja. Dengan perlahan lelaki beruban itu menghempaskan punggungnya ke kursi goyang itu.

Mendadak wajahnya berubah sangat buruk, wajahnya yang beroman datar seolah tanpa perasaan, tiba-tiba menggambarkan perasaan terkejut, marah dan takut. Pelayan berkaki timpang itu memperhatikan paras orang dihadapannya dengan heran.

”Kau lihat sesuatu dibelakangku?” tanya lelaki beruban dengan suara tegang.

”Tidak… tidak ada siapapun tuan..” sahut pelayan berkaki timpang itu terheran-heran.

Tiba-tiba saja lelaki beruban itu bergerak, sungguh pesat gerakannya, tangannya bagai ular yang mendadak membelit pergelangan tangan pelayan berkaki timpang. Seperti menghadapi impian buruk saja, pelayan itu menyeringai kesakitan karena pergelangan tangnnya seolah retak dalam cengkraman tamu itu.

”Tu..tuan?” rintihnya dengan pandangan tak mengerti.

Lelaki beruban itu menatap si pelayan dengan seksama, perlahan-lahan dia mengendorkan cengkeramannya, tapi belum sama sekali dilepas. Biasanya dia tidak pernah ragu dalam membunuh, lebih baik salah membunuh seratus orang dari pada melepaskan orang yang akan menjadi beban pikirannya.

”Pergilah…” ucapannya memang sederhana, dengan melepas pergelangan tangan pelayan timpang itu, dirinya mengibas perlahan. Sebuah jarum melesat sangat cepat, menghunjam dada pelayan itu.

”Uh…” pelayan itu hanya merasakan sebuah sengatan kecil, lalu dengan menyeringai kesakitan dia mundur-mundur, baru beberapa langkah tiba-tiba tubuhnya terjengkang jatuh dengan wajah berkerut kesakitan. Matanya membeliak dengan tubuh menggeliat-geliat beberapa saat, lalu diam.

Lelaki beruban itu memperhatikan pelayan timpang itu dengan tatapan mata dingin. Dia tidak perlu memeriksa pelayan itu, karena racun dalam jarumnya bahkan bisa membunuh kerbau dalam sepuluh hitungan saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dia kembali duduk, tapi teringat tadi waktu punggungnya menyentuh kursi goyang ada hawa dingin menerobos syaraf di pungunggnya, seolah ada sebatang pedang ditodongkan padanya, dengan seksama diperiksa sandaran kursi itu. Tidak ada apa-apa, tapi ekor matanya menangkap ada perubahan didalam kertas yang tergeletak di lantai, bukankah tadi kertas itu kosong, tapi ternyata sekarang ada beberapa baris tulisan!

’Diamlah, jangan berulah jika masih sayang nyawamu!’

Wajah lelaki beruban itu berubah sangat jelek, apalagi saat dia menyadari mayat pelayan pincang itu sudah tidak ada lagi.

”Kemana mayatnya?” desisnya dengan kewaspadaan meninggi.

Dia sempat membelakangi mayat pelayan itu untuk memeriksa sandaran kursi, tidak lama.. paling banyak dua puluh hitungan, tapi dalam jangka waktu sesingkat itu, mengapa ada tulisan yang muncul di kertas kosong dan mayat si pelayan timpang pun menghilang?

Dengan terburu-buru, lelaki beruban itu memburu kedalam penginapan. Tiba-tiba matanya membeliak. Dia melihat pelayan pincang itu sedang menyapu lantai.

”Apakah ada yang kurang dengan air minumnya tuan?”

Mulut lelaki beruban itu seolah terkunci rapat, betapapun dirinya seorang yang sangat berpengalaman, tapi menghadapi kejadian yang baru saja dia alami, dirinya benar-benar mati akal.

”Mampuslah!” desisnya dengan kaki menjejak lebih dalam, dan tubuhnya dengan sangat pesat menabrak pelayan timpang itu! Bukan sembarang tubrukan, sebab pada bagian depan pakaian lelaki ini sudah terpasang jarum bulu kerbau! Jarum beracun!

Brak! Tubuh pelayan pincang itu ditubruk dengan sangat mudah, dia tak sempat mengeluarkan pekik kesakitan atau apapun, menerima serangan mendadak seperti itu. Tubuhnya terlempar ke pintu keluar disisi lain!

Tak mau kecolongan seperti tadi, lelaki beruban itu memburu keluar, dan lagi-lagi matanya membeliak. Dia tidak melihat tubuh pelayan timpang itu!

”Apakah air teh tadi kurang gula?” mendadak dari dalam ruangan bergema suara yang membikin keringat dingin menitik di kening lelaki beruban itu, dia percaya itu suara pelayan berkaki timpang tadi.

”Siapa kau sebenarnya?!” bentak lelaki beruban ini dengan perasaan tak karuan, dia masih saja melihat pelayan itu menyapu dengan lambat-lambat, seolah-olah serangannya tadi tidak pernah ada.

Pelayan itu menatap lelaki beruban dengan tatapan bingung. ”Saya pelayan disini tuan, bukankah sejak awal tuan masuk kemari sudah mengetahuinya?”

”Tingkah pura-puramu, membuatku muak!” geram lelaki beruban itu dengan tangan menggeletar. Belum pernah seumur hidupnya dia dipermainkan seperti ini.

”Saya berpura-pura?” pelayan itu melegak dengan wajah makin heran. ”Kau aneh tuan, sejak dua puluh tahun lalu saya memang menjadi pelayan, kenapa harus berpura-pura?”

Gigi lelaki beruban itu berderak, dia tak lagi memaki, dirinya sadar sedang berhadapan dengan orang berkemampuan sangat tinggi, adalah sebuah kesia-siaan dia harus memaksakan diri untuk mengetahui kepura-puraan yang sudah terang benderang itu. Meskipun dia tahu, pelayan itu hanya berlagak, tapi jika si pelayan selalu menyangkal, dan dirinya juga tak bisa memaksa, bukankah artinya dia harus menerima alasan pelayan itu?

Kepalan tangannya makin mengencang, berikutnya sebuah pukulan yang menerbitkan angin berhawa sangat panas menerpa dada pelayan itu. Kejadian itu hanya dalam kejapan mata saja, lelaki beruban itupun mendengar suara berderak seolah patah terhempas pukulan jarak jauh lelaki beruban ini. Tidak menanti tubuh pelayan itu jatuh menyentuh lantai, lelaki beruban ini melepaskan kembali pukulan jarak jauhnya berkali-kali. Terdengar suara bak-buk berkali kali menerpa tubuh si pelayan timpang itu sebelum dia jatuh terpental keluar dan terhempas ke tanah. Lelaki beruban ini sudah gelap mata, meskipun pelayan itu sudah bergulingan dan terdiam, dengan kejam lelaki beruban ini mengeluarkan golok dari sarungnya.

Singg! Suara berdenging saat golok terlepas dari sarungnya masih menggantung diudara, tapi bacokan dengan tenaga sangat kuat sudah datang membelah tubuh pelayan timpang itu.

Crak! Bacokan itu benar-benar mengenai pinggang pelayan timpang itu! Tapi lelaki beruban inipun harus membelalakan mata lagi, ternyata dia hanya membacok tanah! Dalam pandangan matanya tadi, dia berhasil menebas pinggang si pelayan timpang, bahkan memenggalnya! Tapi kenapa dikejap berikutnya apa yang disaksikan itu hanya tanah? Dengan mengerjapkan mata berulang kali, lelaki ini mengedarkan pandangannya, tiba-tiba keringat dingin keluar tanpa bisa dia cegah lagi. Dari ujung kakinya dia bisa merasakan hawa dingin yang pelan-pelan merambat ke jemarinya. Tangannya mengeletar hebat. Dirinya merasa ingin kencing, tapi ditahannya. Dia tahu benar, apa yang di saksikan itu telah menerbitkan rasa takutnya… seumur hidup, baru kali ini dia merasakan ketakutan luar biasa!

Seorang pelayan timpang dengan wajah yang sama, baju yang sama sedang menyapu lantai ruangan. Pelayan itu menyapanya dengan suara yang khas, ”Ada lagi yang tuan inginkan?”

Lelaki beruban itu seolah berada dalam impian yang menakutkan, jika ini adalah mimpi buruk, dia ingin selekasnya bangun. Tapi berkali-kali dia mencubit lengannya untuk memastikan bahwa dirinya tak sedang tertidur, membuatnya makin ketakutan. Langkah timpang si pelayan yang mendekati dirinya membuatnya mundur dan terus mundur… sampai dia sadar kakinya sudah menyentuh kursi goyang yang tadi dipakainya.

Tanpa sadar, pantatnya terhempas kedalam kursi dan punggungnya menyender dengar perasaan sangat tegang. Pelayan itu berdiri dihadapnnya.

”Tuan, harus memakan ubi ini…” kata pelayan itu dengan suara tetap menghormat, sikap selayaknya seorang pelayan.

Lelaki beruban ini merasa mulutnya kelu, ”I-iya…” jawabnya dengan serak, padahal sikap atau mata pelayan itu tak memancarkan ancaman, tapi kejadian yang aneh dan bertubi-tubi sudah meruntuhkan nalarnya.

”Silahkan…” kata pelayan timpang itu mengingatkan dirinya untuk menyantap ubi rebusnya.

Seolah tangannya digayuti timah, lelaki beruban itu menjamah sepotong ubi rebus, ternyata masih hangat. Rasa hangat itu kembali menyentakkan kesadaran dirinya bahwa apa yang dia alami benar-benar nyata. Ternyata kejadian tadi begitu cepat, dirinya dipermainkan oleh seseorang yang tidak dapat diukur kelihayannya. Jika saja pelayan timpang itu mau bersungguh-sungguh menyerang, mungkin masih ada kebanggaan dalam dirinya—meskipun nanti kalah, tapi sekarang ada bedanya… bedanya harga dirinya runtuh total. Tidak ada lagi kebanggaan dihati saat menyebut dirinya sebagai Pembunuh Bayangan.

Sebuah deheman dari dalam ruangan membuat pelayan itu menyisihkan diri, dia berdiri disebelah lelaki beruban yang sedang mengunyah ubi dengan perasaan sangat berat.

Seorang lelaki dengan perawakan sedang datang mendekat, wajah lelaki itu biasa saja, tidak mencerminkan apapun, wajah yang sangat umum, kau bisa menemukan wajah dua-tiga orang dengan wajah seperti itu, dipasar. Lelaki beruban ini sudah tidak memiliki tenaga lagi, dia merasa kakinya lemas karena dicekam ketakutan luar biasa. Kali ini dia melihat dengan perasaan lebih jernih bahwa, orang yang mendatangi merekapun bukan sembarangan.

”Sudah saatnya, kau melaksanakan tugas.” kata pendatang itu kepada pelayan berkaki timpang. Diapun menyerahkan beberapa lembar daun lontar.

”Baik tuan,” sahut pelayan kaki timpang menganggukkan kepala sambil menerima kertas dari lontar itu. Dalam sekejap pelayan itu membaca dan menggumam berkali-kali. ”Menarik sekali….” katanya sambil menggenggam daun lontar itu, genggamannya seolah mengeluarkan hawa menyengat, namun hanya sesaat saja, daun lontar itupun terurai dalam bentuk yang sangat halus.

”Benar, memang sangat menarik!” sahut pendatang itu dengan tersenyum. ”Kali ini kujamin kau tak akan kecewa.”

”Seumur hidup melayani, itu memang tugasku. Tapi, akupun akan melihat lebih dulu apakah orang itu layak kulayani.” jawab pelayan berkaki timpang itu berjalan tertatih masuk ke ruangan penginapan.

Si pendatang itu menatap punggung pelayan timpang dengan tatapan mata kagum. ”Kau memang orang yang tak mudah diselami.” lalu dengan tatapan mata sebagaimana pelayan timpang, si pendatang itu berkata pada lelaki beruban. ”aku yakin kau tidak akan kemana-mana, benar?”

Lelaki beruban itu menatap sesaat lalu mengangguk, dengan terbata-bata dia berkata. ”Ya..ya, agaknya aku sudah terlalu tua untuk keluar…”

”Bagus, jika kau mengerti. Tetaplah disini!” katanya tegas, dengan langkah sebagaimana dia datang tadi, lelaki itupun sudah lenyap dari hadapan Pembunuh Bayangan.

Rentetan kejadian tadi bagai sebuah impian buruk, disadari tenggorokannya terasa sangat kering, meneguk air teh yang di sediakan pelayan timpang itu, barulah rasa kering di kerongkongannya sirna. ”Siapa orang-orang itu?” pikirnya dengan gundah, dia sudah tidak memikirkan janjinya pada Bergola lagi. Sebab saat ini dia sadar, dirinya sudah menjadi ’tahanan’ orang-orang aneh itu. Sebagai orang yang sarat dengan beragam pengalaman, melarikan diri dari orang-orang semacam itu hanya akan menyiksa batinnya dengan ketakutan yang lebih besar lagi.

Satu-satunya jalan menghindar hal itu hanya mengikuti apa kata mereka. ”Aku memang sudah tua… benar-benar tua.” gumamnya. Masih dengan perasaan berat, lelaki beruban itu menggoyangkan kursinya dengan perlahan.

—ooOoo—

87 – Wingit Laksa

Momok Wajah Ramah memperhatikan jalanan dengan seksama, dia merasa bimbang apakah ini adalah waktu yang tepat untuk mengganggu orang. Mengingat banyaknya orang-orang lihay datang ke kota Pagaruyung. Perintah ketuanya dan perintah anak muda yang dia temui adalah sejalan, artinya dia tidak memiliki kesulitan apapun untuk membuat alasan kepada mereka mana kala ada kesulitan. Tapi justru karena perintahnya sama, apapun yang terjadi dia harus melakukannya. Ada satu hal yang Momok Wajah Ramah tidak tahu, dia hanya paham mengenai informasi bahwa kota Pagaruyung akan kedatangan tokoh-tokoh dari Perguruan Sampar Angin, sama sekali tidak diketahui olehnya jika Sakta Glagah, rajanya para pengguna kepalan turut hadir bersama ketiganya.

Jalanan menuju Kota Paruyung dikala terik memang sepi, kegelisahan Momok Wajah Ramah membuat dia memutuskan untuk bertindak lebih cepat. Peritis yang dimiliki Bergola sudah di identifikasi. Seluruhnya ada empat belas orang, beruntung mereka hanya mengenal tanda perintah tanpa melihat orang. Keempat belas orang itu memiliki anak buah, tapi Momok Wajah Ramah tidak memerlukan anak buah mereka untuk turut serta dalam pengepungan kali ini. Mereka memiliki tugas masing-masing yang tak kalah penting. Meski dirinya bukan orang kaya, tapi harta simpanannya cukup untuk membiayai pergerakannya kali ini, tentu saja Momok Wajah Ramah tak mungkin bertindak bodoh dengan menggunakan harta bendanya lebih dulu, mutiara yang di mintanya dari Bergola benar-benar membawa manfaat banyak!

Dengan koneksi yang luas Momok Wajah Ramah berhasil mengumpulkan orang-orang bayaran untuk melakukan berbagai tindak kerusuhan di Kota Pagaruyung. Tentu saja dia sadar, hal yang dilakukannya itu tidak boleh diketahui pemuda yang memberi tugas serupa dengan atasannya. Harus diakui, tunduk dibawah orang sangat tidak menyenangkan, tapi dirinya kali ini benar-benar harus lepas dari semua kepentingan-kepentingan orang lain. Entah itu pimpinannya, atau pemuda aneh yang menakutkan itu. Kerusuhan di dalam kota akan membuat perhatian orang agak berpaling sedikit, dia bisa melakukan hal yang harus di lakukan sejak lama, sebelum menghilang.

Pada saat itu dalam hitungan jam saja, beberapa kerusuhan yang tidak pernah terjadi di Kota Pagaruyung pun pecah. Beberapa bangunan dalam kota dijarah oleh orang-orang berkemampuan tinggi, kejadian itu malah seperti api dalam sekam. Begitu ada kerusuhan, seolah-olah gerakan yang semula ada dibawah tanah, hampir seluruhnya menyeruak, meluluh lantakkan para perusuh. Kebanyakan dari mereka justru menumpas para perusuh, termasuk anak murid dari Perguruan Naga Batu yang menjadi sendi-sendi keamanan Kota Pagaruyung. Hasilnya pun cukup memuaskan, massa perusuh yang digerakan oleh Momok Wajah Ramah ditumpas sebelum mereka menggembangkan gerakan makin besar. Hampir seluruh pendekar yang sedang ada di kota itu pun, turut menangkap para perusuh yang di datangkan Momok Wajah Ramah dari beragam perkumpulan.

Momok Wajah Ramah jelas mengikuti perkembangan itu, dia sadar hasil dari pemeriksaan para perusuh akan menyeret pihak tertentu, yang jelas dia akan dengan senang hati menikmati hasilnya. Kali ini, tiap orang sedang bersiaga dengan serangan susulan yang boleh jadi akan segera datang. Dan tentu saja Momok Wajah Ramah akan mendatangkan serangan bergelombang. Mutiara yang didapat dari Bergola mampu mendatangkan lebih dari lima ratus orang perusuh dengan beragam tingkat kemahiran.

Momok Wajah Ramah nyaris lepas kendali atas aksinya kali ini, ketakutan yang melingkupi hatinya membuat dia membabi buta dalam bertindak. Tapi, orang ini memang bisa menggunakan akal dengan sebaik-baiknya, dia tetap melakukan tugas yang dibebankan oleh sang atasan—juga Jaka, sebagai jalan keluar. Apa yang dilakukannya kali ini adalah sebagai hak jawabnya, seandainya ada dari mereka mencium apa yang tengah dilakukannya dia bisa berkelit bahwa dirinya tak terlibat karena berkonsentrasi mengganggu tiga orang dari Perguruan Sampar Angin.

”Kau yakin dengan rencanamu ini?” tanya seorang pemuda berusia akhir duapuluhan pada Momok Wajah Ramah.

”Aku yakin ini berhasil, siapapun yang terlibat akan memusingkan kondisi terakhir sebelum mereka mulai mencari siapa yang mendalangi semua ini.” Tutur Momok Wajah Ramah menjelaskan.

Pemuda itu mengangguk-angguk. ”Tapi kau bertindak terlalu jauh, apa kau belum mendengar jika di perguruanku datang serangan bergelombang?”

”Apakah itu penting?” tanya orang ini dengan kening berkerut.

”Ya, sangat penting. Sebab orang-orang yang datang keperguruanku bukanlah tokoh-tokoh kemarin sore! Kau harus waspada dengan mereka yang mungkin saja akan mendatangimu.” desis anak muda itu mengingatkan.

Momok Wajah Ramah tersenyum, ”Aku cukup paham dimana aku harus menempatkan diri, jadi aku tidak pernah mengkawatirkan apa yang terjadi di perguruanmu berimbas padaku.”

”Tapi, kau harus camkan benar-benar, bahwa kejadian itu tak boleh kau abaikan…”

”Aku tidak perlu dengan perguruanmu!” jawab Momok Wajah Ramah dengan datar, membuat kening pemuda itu berkerut, nampak selapis hawa amarah di tahan olehnya. ”Saat ini kita bekerja sama demi kepentingan masing-masing! Jadi aku akan melakukan apapun yang kupandang perlu!”

”Aku hanya datang memperingatkan dirimu, jika kau bertindak terlalu jauh, hingga mengganggu urusan yang sudah di tetapkan dari jauh-jauh hari, percayalah, akan datang padamu saat yang tepat…”

”Kau mengancamku Wingit Laksa?” potong Momok Wajah Ramah dengan wajah mengeras.

”Terserah padamu, kau artikan ucapanku sebagai apa. Kau tahu aku bisa lakukan apa saja, seperti yang kau bilang, kita bekerja sama atas kepentingan masing-masing. Tapi jika tindakanmu terlalu jauh, meskipun itu tak membawa kemanfaatan apapun bagiku. Aku bersumpah, akulah yang pertama kali akan memburumu!”

”Kau bisa mengatakan apapun…” begitu kalimat ’apapun’ mengambang, tangan Momok Wajah Ramah sudah melesat menyambitkan senjata rahasia mengarah kepala pemuda itu.

Wajah Wingit Laksa berubah, dia benar-benar lupa dengan siapa dia sedang berbicara. Momok Wajah Ramah adalah lelaki yang dalam kondisi apapun bisa melakukan serangan mendadak dan mematikan. Dengan gerakan cepat dia mengelak menundukkan kepala, di detik yang sama pemuda ini mencabut senjata dan menyambitkan kedepan. Gerakannya sangat cepat, tidak kalah cepat dengan gerakan Momok Wajah Ramah.

”Akh!” beberapa jeritan terdengar dibelakang Wingit Laksa, pemuda ini tidak berani menoleh sebelum dia melihat kondisi Momok Wajah Ramah, dia tidak berharap lawannya terluka dengan serangan yang terburu-buru tadi, dirinya sangat paham dengan kelihayan Momok Wajah Ramah yang jarang di ketahui orang. Dan benar saja! Senjata yang dilemparkannya nampak di genggang dengan enteng oleh lawannya.

”Kau masih berguna bagiku, maka tidak ada untungnya aku harus turun tangan terhadapmu. Tapi kau terlalu ceroboh dengan membawa pengikut, mereka tidak ada kepentingan denganku!” desis Momok Wajah Ramah dengan dingin, dilemparkannya kembali pedang pemuda itu. Ternyata serangan tadi bukan dimaksudkan untuk menyerang pemuda itu, tapi orang-orang yang mengikutinya.

Dengan cekatan Wingit Laksa menerima kembali senjatanya, selanjutnya dengan hati-hati pemuda ini menoleh. Dia bisa melihat beberapa rumpun semak nampak merunduk lebih rendah, seolah-olah tertimpa sesuatu, samar-samar dia bisa melihat beberapa tubuh rebah.

”Kau terlalu menggampangkan nyawa orang!” desis Wingit Laksa dengan kemarahan mengguncang dada, bagaimanapun orang yang dibawanya memang dimaksudkan untuk mengikuti segala macam aktivitas Momok Wajah Ramah, sungguh tak disangka, lelaki itu mengetahui apa yang dilakukannya.

”Sama-sama!” tukas Momok Wajah Ramah. ”Kau kira yang kau lakukan tidak menggampangkan nyawa orang? Pergilah! Aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Kau lakukan saja tugasmu!”

Dengan menggertakkan gigi Wingit Laksa mundur perlahan, begitu sudah mencapai jarak aman, pemuda ini berbalik dan melesat pergi. Memandang kepergian pemuda itu Momok Wajah Ramah menghela nafas lega. Dihadapan pemuda itu, dirinya harus bersandiwara bahwa dia sangat menganggap remeh Wingit Laksa, padahal dia tahu pemuda itu memiliki kemahiran yang jarang bisa ditandingi anak muda seusianya.

”Tapi, apakah Wingit Laksa bisa menghadapi pemuda itu?” pikirnya saat mengingat Jaka, dia belum tahu sampai dimana kemahiran Jaka, tapi dari caranya mengelak dan membandingkan dengan kemahiran Wingit Laksa, menurutnya mereka sebanding.

Momok Wajah Ramah bersiul menirukan suara burung, dari kejauhan terdengar siulan serupa. Persiapannya sudah selesai, sehebat apapun tiga orang yang akan dihadangnya, menghadapi pembunuh gelap yang menjadi perintis Bergola, dirinya sangat yakin, bukan saja mampu menganggu, bahkan membunuh ketiganya.

”Jika aku bisa memberangus siapa-siapa yang kuinginkan, untuk apa pula aku harus menyesuaikan diri dengan perintah orang lain?” pikirnya dengan keberanian mulai timbul.

Untuk mengadapi Wingit Laksa, dia sanggup, tapi jika harus beradu kelicikan dengan pimpinannya dan pemuda yang mempecundanginya, dia belum sanggup. Selain pengetahuannya tentang mereka sangat sedikit, dia juga tak berani ambil resiko. Hanya saja kehadiran pasukan perintis itu membuat dia makin percaya diri.

Bergola mengira dirinya cukup cerdik, dia mengandalkan uang untuk mengikat kesetiaan pasukan perintis. Tak tahunya begitu mereka berada di bawah pimpinannya, beberapa pimpinan perintis menyatakan kesetiaan padanya, tentu saja itu bukan tanpa sebab. Jika kau mampu menggengam kelemahan setiap orang dan mempergunakannya, hanya menunggu waktu saja kau akan mendapatkan pengabdiannya. Momok Wajah Ramah memang mampu menyelami keinginan para pimpinan perintis, dengan janji dan ancaman yang halus, dia mampu meyakinkan mereka, bahkan dirinya memperlakukan mereka dengan lebih layak—satu hal yang jarang di lakukan olehnya, sebab Momok Wajah Ramah tahu, sedingin apapun perasaan orang, apalagi dia berprofesi sebagai pembunuh bayaran, jika orang itu diberi perhatian terus menerus, kebekuan hatinya akan cair.

Itu pula yang dilakukan Momok Wajah Ramah, dia memastikan orang-orang itu untuk mengikuti dirinya, karena banyak keuntungan yang di dapat, selain tentu saja dengan ancaman terselubung. Tapi dirinya tak akan mungkin disebut sebagai Momok Wajah Ramah, jika dia tidak membuat orang-orang itu keracunan tanpa mereka sadari, sebuah racun bekerja lambat yang dia dapatkan dari gurunya, sudah digunakan sebagai jalan terakhir ancamannya.

Sesosok bayangan mendekati tempat persembunyiannya, Momok Wajah Ramah memperhatikan dan memberi isyarat. Orang itu mendekat.

”Ada kereta berkuda yang dikawal oleh tiga orang.” lapornya.

”Seperti apa cirinya?” tanya Momok Wajah Ramah ingin kepastian.

”Seorang berbadan tegap, kemudian yang lain berkepala polos, dan terakhir memiliki wajah sangat tirus. Kupikir itu orang yang kau tunggu.”

Momok Wajah Ramah mengangguk-angguk. ”Benar itulah mereka! Apakah mereka menunggang kuda?”

”Tidak, mereka berjalan mengiringi kereta yang berjalan perlahan.”

”Hm, kurasa mereka membawa sesuatu.”

”Mengiring sesuatu, kupikir mereka mengawal barang atau orang.” ralat orang yang memberi laporan pada Momok Wajah Ramah.

”Apakah kau melihat langkah kuda agak tersendat?” tanya Momok Wajah Ramah meminta kepastian.

Orang itu mengingat sejenak. ”Kuda-kuda itu nampak ringan menarik beban.”

”Berarti yang dibawanya bukan barang, tapi orang.” Ujar Momok Wajah Ramah berkesimpulan.

Orang itupun mengangguk-angguk. ”Apa yang akan kita lakukan pada mereka?”

”Jika kalian sanggup, bunuh saja! Aku akan urus apa yang mereka bawa…” desis Momok Wajah Ramah dengan wajah penuh senyuman.

”Baik!” seru orang itu.

”Kalian bersiaplah! Aku tidak tahu sampai dimana kemahiran mereka bertiga, tapi mengingat betapa masyur namanya, kalian harus hati-hati!”

Orang itu mengiyakan, dengan mengundurkan diri perlahan seperti fatamorgana yang kabur ditiup angin dingin, bayangan orang itu lenyap dari hadapan Momok Wajah Ramah.

Dari kejauhan derap suara kereta sudah terdengar, Momok Wajah Ramah sudah bersiap-siap di persembunyiannya, seluruh senjata rahasia dipersiapkan di tempat yang mudah dijangkau. Dengan mata menyipit lelaki ini mengerutkan kening, dia sudah melihat kereta kuda itu berjalan perlahan, tapi tiga orang yang dilaporkan pasukan perintisnya, tidak terlihat sama sekali.

”Apa dia salah lihat?” pikirnya gundah, sebagai orang yang selalu waspada dan mudah curiga, situasi seperti itu—tiadanya para pengiring kereta membuat Momok Wajah Ramah sangat berperasangka bahwa mereka sudah berjalan lebih dahulu. ”Tapi itu tidak mungkin,” dia membantah pikirannya sendiri. ”Ini adalah jalan satu-satunya, jika mereka mendahului, tak mungkin kami tidak melihat gerakan mereka!”

—ooOoo—

88 – Pertarungan Sunyi

Momok Wajah Ramah memperhatikan jalanan lagi, tapi dia tidak melihat ada orang lain selain kereta kuda yang berjalan sangat perlahan. Dalam keadaan begini entah dia akan menunggu atau tidak, keretapun akan tetap berjalan lambat, dengan penuh kebimbangan, Momok Wajah Ramah memutuskan menunggu, dia tidak ingin memunculkan diri.

Tapi beberapa bunyi yang sangat tidak alami membuatnya curiga, dengan mengundurkan diri secara perlahan, Momok Wajah Ramah menuju salah satu pos persembunyian pimpinan pasukan perintis.

Alangkah kaget hatinya menyaksikan orang yang dipercaya untuk menyergap, kini dalam keadaan terbaring! Langkah kaki lelaki ini tak bisa lagi berlanjut saat dia merasa di belakangnya dirasa ada kehadiran seseorang. Tak menunggu orang menyerang dirinya, Momok Wajah Ramah mengibaskan dua tangan kebelakang dua kali berturut-turut dan tubuhnya menggelinding kedepan, berlindung pada batu di belakang sosok salah satu pimpinan perintis yang tergeletak.

Gerakan yang di lakukan Momok Wajah Ramah sangat cepat, dia bahkan merasa belum pernah melakukan gerakan semacam itu seumur hidupnya. Dengan seksama dia memperhatikan tempat tadi, tapi sayang tidak ditemukan apa-apa. Dengan wajah kecewa, lelaki ini keluar dari persembunyian.

”Apa aku salah?” pikirnya dengan perasaan tidak tenang, baru saja dia berpikir begitu, dirasakan olehnya ada tiupan pada leher!

Wajah Momok Wajah Ramah menegang, kali ini dia menjejakkan kaki kebelakang tanpa menoleh, begitu kaki menyepak, tubuhnya merunduk pula, menggelinding lagi kedepan untuk mencari keamanan buat diri sendiri, sebelum sempat dia melihat keadaan, tangannya menyambitkan senjata rahasia andalan kedepan dan belakangnya. Masih dalam keadaan menunduk, Momok Wajah Ramah tak mendengar suara apapun menanggapi senjata rahasia yang tadi dilepaskan empat kali berturut-turut. Lagi-lagi dia harus kecewa. Tidak ada siapapun disana! Tapi nalurinya tak bakal salah, seharusnya ada orang di belakang dia.

Sambil berdiri perlahan, akhirnya lelaki ini memutuskan bahwa nalurinya salah, meskipun dia menyangsikan hal itu. Dengan tergesa-gesa diperiksa sosok salah satu pimpinan perintis itu. Tubuhnya dingin, tapi masih hidup, dia masih bisa merasakan denyut nadinya. Nampaknya cuma tertotok, tapi sejauh ini dia tidak bisa membuka totokan itu, sudah tentu Momok Wajah Ramah sangat bisa menduga orang yang melumpuhkan anak buahnya ini adalah tokoh berkasta tinggi.

”Siapa orang itu?” pikirnya sambil menghubungkan dengan menghilangnya tiga orang yang sengaja dia hadang.

Momok Wajah Ramah buru-buru menghampiri pos berikutnya, tapi lagi-lagi dia merasa ada tiupan di leher belakangnya.

”Keparat!” runtuknya dengan sengit, tapi kali ini dia membiarkan saja tiupan itu. Karena kelengahannya, langkah Momok Wajah Ramah terhenti dengan wajah berubah sangat jelek. Rupanya ada hawa dingin menempel di lehernya, hawa dingin itu hanya setitik saja.

Keringat dingin bercucuran, dalam benaknya ada sebatang pedang menempel di lehernya. Dia tak berani bergerak lagi, tak berani bersuara, dalam keadaan begini biasanya orang yang sedang menodongnya akan bersuara, pada saat seperti itu Momok Wajah Ramah menyakinkan dirinya dia bisa mengambil kesempatan untuk balik menyerang, karena dia tahu dimana letak lawannya.

Tapi sejauh ini dia tidak mendengar suara apapun, hanya desir angin saja yang membuat susut keringatnya.

”Apa tidak ada orang?” pikirnya dengan sangat was-was, dengan memberanikan diri Momok Wajah Ramah menggerakan tubuhnya, dia mencoba meraba belakang lehernya. Tidak ditemukan apa-apa! Hanya saja dia mendapati sebatang jarum menyisip di leher baju.

”Ah…” wajahnya kembali memucat saat menyadari jarum yang menyisip di leher baju tadi adalah jarum beracun miliknya! Tapi lehernya tadi hanya tersentuh bagian belakang jarum, bagian yang tidak beracun. Makin berkejaran detak jantung Momok Wajah Ramah, dia menyadari jika orang itu mau membunuhnya, nampaknya itu semudah membalik telapak tangan.

Menyadari keadaan itu, barulah Momok Wajah Ramah menyadari, entah siapapun orang itu, sedang memberi pesan padanya. Sebuah pesan yang beresonansi lemah tapi sangat jelas terpeta dalam hatinya. Pesan itu sebuah ancaman lunak.

”Apakah dia orang yang menyertai Wingit Laksa?” pikirnya menduga-duga. ”Ah, tidak mungkin! Jika dia adalah orang Wingit Laksa, pasti kepalaku sudah berpindah tempat. Wingit Laksa sangat pendendam!” tapi kesimpulan itupun dirasa tidak tepat, sebab dia tahu sekalipun Wingit Laksa sangat mendendamnya, selagi musuhnya masih memberi kemanfaatan buat dirinya, dia akan pelihara itu. Sifat Wingit Laksa boleh dibilang sama persis dengan dirinya. Kadang-kadang dia malah berpikir bahwa mereka boleh jadi bersaudara, lagipula usia mereka berpaut cuma delapan tahun saja.

”Persetan!” desisnya dengan hati masih menggeletar ketakutan. Langkahnya makin dipercepat menuju pos berikut. Meski jauh didasar hatinya dia memiliki dugaan bahwa anak buahnya kemungkinan juga sudah dilumpuhkan, tapi lelaki itu masih memilikin harapan bahwa dugaannya salah.

Tapi apa lacur, anak buahnyapun sudah meringkuk dalam kondisi seperti orang tidur, Momok Wajah Ramah langsung merasa cemas, dengan kaki lemas dia berjongkok memeriksa salah satu anak buahnya. Kondisinya pun sama dengan yang pertama tadi, tertotok seperti orang pingsan dengan tubuh dingin.

”Apakah dua belas orang yang lain mengalami keadaan serupa?” pikirnya dengan kawatir, tentu saja dia bukan mengkawatirkan keselamatan anak buahnya, meskipun mereka mampus semua dia juga masih sanggup tertawa, yang dikawatirkan adalah keselamatannya sendiri! Empat belas orang pimpinan pasukan perintis menurutnya cukup kuat sekalipun harus menghadapi tokoh paling kuat.

Momok Wajah Ramah berdiri dengan perasaan gundah, lagi-lagi wajahnya memucat, dia merasa ada setitik sentuhan di lehernya, dengan terburu-buru segera dirabanya, dia menemukan jarum yang di lepaskannya! Biasanya setelah beraksi Momok Wajah Ramah selalu mengambil kembali senjata rahasianya, dulu dia sanggup mencari jarum beracunnya karena tak perlu repot, sebab semua tertanam dalam tubuh musuhnya. Tapi pada saat melakukan serangan tadi, dia tak berharap senjata yang telah dibuat dengan susah payah dan memiliki racun mematikan itu, akan didapat kembali. Sungguh tak terkira, kini senjatanya bisa dia dapat tanpa kerepotan, sayangnya kondisi itu malah makin menghancurkan nyalinya.

Lelaki itu ingin berteriak melapiaskan kepepatan hatinya, tapi diapun sadar jika itu dilakukan, bukankah dirinya menjadi orang paling bodoh? Mana ada menyergap lawan dengan memberi tahu tempat persembunyiannya lebih dulu?

”Apakah aku akan melanjutkan pekerjaan ini?” kali ini dia memikirkan jalan mundur yang aman. ”Ketua, tidak mungkin tahu jika aku lenyap.” pikirnya dengan wajah agak cerah, nampaknya ide itu bukan hal buruk. ”Mereka tidak akan mengejarku… selagi keadaan Perguruan Naga Batu dalam kondisi tegang seperti ini.”

Manakala Momok Wajah Ramah memutuskan hal itu, teringat pula olehnya akan pemuda misterius yang menaklukannya. ”Ah… jangan-jangan ini adalah perbuatannya?” pikir lelaki ini dengan hati bergetar. ”Tapi tidak mungkin, bukankah dia menyuruhku untuk mengganggu orang-orang dari Perguruan Sampar Angin? Kenapa pula dia harus menghalangi maksud tujuannya sendiri?!”

Kali ini Momok Wajah Ramah merasa dirinya tidak memiliki pegangan apapun, bersembunyi salah, melakukan penyergapan lebih salah lagi, sebab dia sudah tidak memiliki keyakinan, mengingat dirinya berkesimpulan seluruh anak buahnya sudah dilumpuhkan orang… apa yang bisa dilakukan kali ini adalah mengikuti keadaan yang ada dihadapannya.

”Apa aku harus menyerah?” selintas pikiran itu langusng ditentang habis oleh batinnya, meski dirinya orang yang licik dan menghalalkan segala cara untuk membunuh lawan, kabur dari masalah merupakan satu pantangan bagi dirinya!

Lelaki itu termangu-mangu, pada saat itulah dia menyadari anak buah yang tadi menggeletak sudah tidak ada di tempatnya lagi! Kondisi anak buahnya tidak mungkin bisa bergerak sendiri pasti ada orang lain yang membawa tanpa sepengetahuan dirinya! Kejadian itu sudah merupakan tanda positif bahwa dirinya sedang berhadapan dengan tokoh entah macam apa. Dengan berdebar, dia memandang berkeliling, meski seudah sekian kali dirinya kecolongan, tapi kewaspadaannya kembali ditingkatkan sampai sedemikian rupa. Setelah memandang berkeliling dan tidak menemukan apa-apa, Momok Wajah Ramah memutuskan memeriksa tempat yang lain, dalam benaknya sudah melupakan tiga orang yang hendak disergapnya.

Takut dengan kejadian sebelumnya, begitu melihat ada tubuh tergeletak, dia tak memeriksanya lagi, dengan cepat dia berpindah ke tempat lain, berturut-turut sampai empat belas tempat dia periksa, kondisi anak buahnya tak jauh beda! Di sela-sela langkahnyapun seluruh jarum yang dia hamburkan untuk menyerang lawan misterius tadi sudah kembali ke tangannya dengan cara yang sama persis seperti awal!

”Nampaknya usahaku tidak bisa dilanjutkan…” pikirnya dengan putus asa, tapi dia juga cukup cerdas untuk berpikir, bahwa baik atasan atau pemuda misterius itu tidak bisa mentoleransi kegagalannya, karena tidak ada bekas-bekas usahanya!

Tidak mungkin dia melabrak ketiga orang dari Perguruan Sampar Angin hanya untuk mencari mati. Satu dari mereka saja sudah cukup untuk membuat dirinya pontang panting.

”Aku mencium bau darah disini…” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membuat Momok Wajah Ramah membeku dtempatnya, dia tak berani banyak bergerak. Dengan sangat perlahan di lihatnya siapa pendatang itu. Ternyata seorang berbadan tegap denga bahu lebar, dari ciri-cirinya dia mengenal orang itu sebagai Kepalan Maut, konon kesempurnaan pukulannya mampu menghancurkan apapun yang di hantamnya. Nampak lelak itu sedang berbicara dengan orang berwajah tirus, Momok Wajah Ramah mengenal orang itu sebagai Pecut Sakti Ekor Tujuh.

Pecut Sakti Ekor Tujuh tidak menyahuti ucapan Kepalan Maut, dia sedang berjongkok memeriksa tubuh yang terlentang membeku itu. ”Orang ini masih hidup, kondisinya sama dengan yang lain…” desisnya. ”Bau darah bukan disini.”

”Tapi petunjuk yang kita terima justru mengarah kemari.” tukas Kepalan Maut. ”Rasa-rasanya aku juga bisa mencium setitik bau darah, tapi belum kutemukan dimana tempatnya.”

”Hidungmu memang terlampau tajam…” ujar Pecut Sakti Ekor Tujuh sambil berdiri memandang berkeliling.

”Ya, untung saja dia mencium bau darah, jika tidak, boleh jadi kita kerepotan dengan apa yang terjadi disini.” satu suara terdengar dari balik pohon, muncul lelaki berkepala polos, dia Elang Emas! Momok Wajah Ramah makin cemas menyaksikan kemunculan orang terakhir itu, justru karena Elang Emas dikenal sebagai orang yang memiliki ketajaman mata dan pengamatan jauh lebih baik dari orang kebanyakan, dirinya makin tak berani berkutik, bahkan untuk bernafas pun dilakukan dengan sangat hati-hati, takut jejaknya terungkap!

”Bagaimana hasil pencarianmu?” tanya Kepalan Maut.

”Ada tiga orang tewas keracunan, akupun menemukan sebab-sebabnya.” kata Elang Emas mengeluarkan tiga jarum yang di bungkus dengan daun.

Kedua rekannya melihat benda itu dengan kening berkerut. ”Untung saja kau menyadari ada bau anyir darah.” gumam Pecut Sakti Ekor Tujuh pada Kepalan Maut. ”Aku tidak mau direpotkan dengan kejadian-kejadian aneh lagi, tapi tak disangka orang-orang yang nampaknya sudah menunggu kita ini sudah dibereskan lebih dahulu.”

Dari pembicaraan mereka barulah Momok Wajah Ramah bisa menarik kesimpulan, ternyata serangannya pada pengikut Wingit Laksa-lah yang membuat ketiga orang itu menjadi waspada, padahal apa yang dihasilkan dari serangan jarum beracunnya hanya titik darah yang mengembun, sungguh tak disangka, setitik darah saja sudah disadari oleh Kepalan Maut. Dia tak tahu kemahiran lelaki berjuluk Kepalan Maut ini adalah mengendus jejak, indra penciumannya sangat tajam, dari jarak satu pal saja, dia bisa membaca kondisi lingkungan dari angin yang membawa aroma ke hidungnya.

”Aku kenal dengan barang ini… ini Jarum Embun,” gumam Kepalan Maut.

”Ya,” sahut Elang Emas. ”Beberapa tahun lalu aku pernah bertarung orang yang menggunakan benda ini.”

”Apakah dia berbahaya?” tanya Pecut Sakti Ekor Tujuh.

”Tidak, meski cukup merepotkan Tupai dari Kalapandan sudah kukirim kebalik tanah.” terang Elang Emas membuat paras Momok Wajah Ramah berubah, tak disangka kakak seperguruan yang dicari-cari sejak lama sudah dibunuh oleh Elang Emas! ”Orang itu cukup licin, racunnya juga beragam… kutahu gurunya adalah lelaki yang tak pernah mau disebut namanya.”

”Oo.. maksudmu si Ulat Bulu itu?” timpal Kepalan Maut. ”Bukannya orang itu juga sudah mati?”

”Aku tak tahu, tapi sejauh ini dia sudah melakukan kesalahan pada salah seorang kerabat Dewan Penjaga Sembilan Mustika, sejak saat itu dia diburu, berita selanjutnya aku tidak tahu.”

Mendengar keterangan itu barulah Momok Wajah Ramah paham kenapa gurunya tidak pernah mau keluar dari tempat tetirahnya, menghadapi orang-orang dari Dewan Penjaga Sembilan Mustika memang lebih gawat dari apapun.

Tiba-tiba dirasakannya ada sebuah sentuhan yang membuah iganya kesemutan, dengan gerakan reflek lelaki ini bergerak mengibas kebelakang, dan sentuhan ujung dahan yang tak tahu muncul dari mana itupun terlepas, sayang gerakan itu membuyarkan persembunyiannya sendiri!

”Siapa disitu?!” bentak Kepalan Maut.

Momok Wajah Ramah tak mungkin mengelak lagi, di segera turun dari persembunyian, seluruh tubuhnya menegang. Dia takut ketiga orang itu mengenalnya, tapi detik itu juga kesadaran dalam benaknya berbicara lain, selama ini dia tak pernah berkecimpung dalam perkumpulan yang terbuka, tentu saja kondisi dirinya secara umum tak mungkin dikenali orang-orang itu. Sambil menjura, Momok Wajah Ramah mengambil resiko dengan keputusannya.

”Mohon maaf membuat kalian terkejut, saya terpaksa bersembunyi karena begitu banyak penyergap yang menyulitkan saya…”

Ketiga orang itu saling pandang, Kepalan Maut melangkah maju, dia mengamati Momok Wajah Ramah dengan seksama. ”Siapa kau?”

Dengan seulas senyum terkembang, lelaki ini kembali menjura. ”Nama saya Wangkar, saya datang dari daerah Suramajan.” jawab Momok Wajah Ramah dengan luwes, dia bisa menyebut beribu nama, tapi lelaki ini memutuskan untuk menyebut nama asli, kecuali sang guru tak satupun orang tahu namanya.

”Jadi kau menyaksikan orang-orang itu bersembunyi?” tanya Kepalan Maut lagi.

”Ya, saya juga sempat bentrok dengan mereka.” jawab Momok Wajah Ramah dengan sangat lugas, dia mulai berharap banyak apa yang sedang dibawakannya merupakan satu satu jalan keluar.

”Apakah kau melihat bagaimana mereka dilumpuhkan?”

Sebuah kebimbangan menyergap sesaat, tapi akhirnya lelaki ini memutuskan mengambil resiko. ”Saya tidak sengaja…”

Dengan jawaban itu, maka ketiganya mengambil kesimpulan bahwa Momok Wajah Ramah yang melumpuhkan semua.

”Tuan dari perguruan mana?” tanya Kepalan Maut yang agaknya menjadi juru bicara yang lain.

Momok Wajah Ramah sadar, meeka adalah orang-orang berilmu tinggi, salah menjawab saja bisa membuat kebohongannya terbongkar. ”Saya bukan dari perguruan ternama, hanya seorang murid petani saja.” lelaki ini mengucapkan dengan menunduk, tentu saja bukan karena malu, tapi takut kebohongannya dibongkar oleh orang yang melumpuhkan pasukan perintisnya!

Murid petani bermakna sangat luas tapi di kalangan dunia persilatan, murid petani hanya mengarah pada satu golongan khusus, dia bernama Argamas. Seorang tokoh yang disegani karena begitu mudah menempatkan diri ditiap golongan.

”Hm…” Kepalan Maut mengumam dengan kening berkerut.

—ooOoo—-

89 – Melucuti Kedok

Sore sudah dijelang, Jaka sedang termangu di depan lelaki tua yang kali ini sudah mulai membuka matanya.

“Aku… masih hidup?” suara lelaki tua itu sangat lirih, hampir-hampir tak terdengar.

Jaka mengangguk dengan tersenyum. “Syukurlah, Tuhan masih memberi kesempatan pada kita, untuk berjumpa.”

Lelaki tua itu mengerjapkan matanya berulang kali, nampaknya dia pernah mendengar suara itu. “Apakah kau adalah dia?” tanyanya dengan suara hampir tidak terdengar.

Jaka tercenung mendengar pertanyaan itu, dia masih kenal dengan lelaki tua itu, seorang tukang ronde yang dititipi Momok Wajah Ramah saat masih pingsan ditepi Telaga Batu. Mintaraga dan anak buahnya juga sudah memberi laporan padanya, dan pertanyaan sederhana itu cukup memberi keterangan luas pada dirinya.

“Apa yang mereka inginkan?” pemuda ini balas bertanya.

Sambil mengambil nafas dalam-dalam, lelaki tua itu mencoba beringsut duduk. Jaka membantu memayangnya. “Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, mereka bertanya tentangmu dengan sangat rinci, apakah aku kenal denganmu, apa yang kau bicarakan…” tuturnya dengan tersendat.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Jaka sambil meletakkan tangannya di lutut lelaki tua bernama Ki Sempana. Masih kuat dalam ingatan lelaki tua itu betapa dirinya disiksa secara keji, justru kaki dan lututnya yang menjadi sasaran mereka. Hampir saja dia berteriak kesakitan saat telapak tangan pemuda itu menyentuhnya, tapi yang terjadi dia merasakan hawa sejuk yang membuatnya sangat nyaman.

Dengan memejamkan matanya, Ki Sempana menikmati kesejukan yang secara aneh meresap ke luka-lukanya, membuat dia merasa tak terlalu pedih dan ngilu. Sambil setengah terpejam, Ki Sempana menuturkan bahwa yang dia katakan hanya yang diingatnya saja.

“… kujelaskan pada mereka bahwa, aku hanya mengingat kau berkata begini, ‘jika perkerjaanmu terganggu, kau tidak naik peringkat… kau akan di kejar atasanmu… memulai pencarian dari pekerjaanmu yang terakhir disini kau takut dengan Kilat… Ada… Maut, … Emas, dan … Ekor apa, mereka mengiringi seorang tokoh termasyur’ aku juga mengatakan pada mereka bahwa kau sempat mengatakan ‘Bu..buat mereka tidak nyaman di kota ini…’, aku juga sempat menyebutkan nama ‘Sora’…” katanya terengah-engah dengan mata terpejam.

“Baiklah, aku paham…” Kata Jaka sambil menarik tangannya dari lutut pak tua itu. Pemuda itu memberi isyarat kepada anak buah Mintaraga untuk mengurus Ki Sempana kembali.

Sambil berjalan menuju ruang tengah, Jaka bertanya pada Cambuk yang saat itu mengikuti dirinya. “Bagaimana menurutmu paman?”

“Aku rasa, ada sekelompok orang yang sudah memperhatikanmu dari lama.” Kata Cambuk dengan menatap Jaka. “Apakah kau teringat sesuatu?”

Jaka menghela nafas, “Aku tidak pernah menarik perhatian siapapun…”

“Hm…” desah Cambuk dengan tatapan tak percaya.

“Akhir-akhir ini…” lanjut Jaka.

“Bagaimana dengan masa lalu?” tiba-tiba Hastin menimpali. Baginya, dengan kemampuan Jaka yang begitu unik dan mencengangkan, masa lalu pemuda ini sangat menarik baginya.

Jaka menatap Hastin sejenak, lalu mengangguk. “Boleh jadi mereka adalah bagian masa laluku,” kata pemuda ini.

“Apakah ini akan mengganggumu?” Tanya Hastin lagi.

Jaka tercenung, “Ini bukan persoalan mengangguku atau tidak, tapi orang-orang yang tidak berkaitan dengan masalah ini, menuai dampaknya…”

“Kau tidak bisa menyalahkan diri seperti itu, segala sesuatu memiliki dampak…” tukas Cambuk. Jaka mendesah dan mengiyakan.

Hastin menatap Cambuk dengan tatapan aneh, dia merasa hirarki dalam organisasi perkumpulan Jaka sangat aneh, kalau semua orang sangat takzim dan mengakui Jaka sebagai pimpinan, seharusnya tata cara bicara merekapun berubah. Ada kalanya Hastin melihat semua orang sangat menghormati Jaka, tapi dilain saat—seperti kali ini, mereka yang menjadi anak buahnya, bisa bersikap seperti seorang kerabat, seorang paman, atau seorang ayah, pada Jaka.

“Pada tiap-tiap pilihan memang memiliki harga tersendiri,” ujar pemuda ini dengan tatapan menerawang.

“Kejadian yang menimpa Ratnatraya memang membuat kita semua terpukul, tapi bukan berarti kita harus melangkah mundur…”

Ucapan Cambuk membuat Jaka tercenung, pemuda ini berjalan ke sisi jendela jemarinya nampak bergetar. Tak ada ucapan apapun dari mulut pemuda ini, hanya helaan nafas yang berulang kali.

Mulut Hastin sudah terbuka, dia hendak menanyakan tentang Ratnatraya (permata tiga buah), tapi Cambuk membuat isyarat supaya dirinya tak berkata apa-apa.

“Terkadang aku merasa ragu, orang-orang yang tidak berkaitan dengan apa yang kulakukan, dan kerabat yang mungkin tersangkut… harus menjadi korban.”

“Kau memiliki aku, kau mendapatkan pengabdianku… tak perlu memikirkan hal-hal yang membuatmu ragu bertindak. Lakukan seperti biasanya!”

Jaka membalikkan badan, dia tersenyum dan menepuk bahu Cambuk. “Terima kasih paman. Jika nyawa sudah tak dipikirkan, artinya; luka tak menjadi berarti lagi..” pada saat mengatakan itu, matanya bercahaya.

Cambuk menepuk dahinya, “aduh..” gumamnya, terkadang jika mata pemuda itu bercahaya karena rasa senang, ada kejadian yang membuat dirinya—dan banyak orang, harus sibuk luar biasa.

“Apakah berarti, semua kejadian ini bisa menjadi keuntungan buat tuan?” tanya Mintaraga bingung dengan pembicaraan kedua orang itu.

Cambuk tertawa, demikian pula Jaka. “Ya, nama Sora yang diucapkan pak tua itu memang akan jadi titik tolak penelusuran mereka. Ini akan sangat menarik… baiklah!” Jaka berdiri matanya bersinar penuh gairah. “Paman Mintaraga, aku mengharapkan titik-titik rawan pada kota ini, tidak perlu mendapat perhatian kusus.”

“Kenapa?” hampir bersamaan Mintaraga bersama Hastin bertanya.

“Ada pihak lain yang tidak suka urusannya dicampuri, kita harus membiarkan mereka menyelesaikan urusan pribadinya.” Sahut Jaka dengan wajah tersenyum. “Saat ini kita hanya perlu fokus pada hasil lain.”

Hasil lain yang dimaksud Jaka tentu saja umpannya yang ditebarkan pada orang yang membuat Jaka merasa bersalah dengan hal itu, karena apa yang dilakukan tenyata memakan korban pada orang yang tidak terlibat—seperti Ki Sempana.

****

Momok Wajah Ramah berjalan perlahan di depan tiga orang kenalannya. Sebenarnya dia ingin sekali menjenguk apa isi dalam kereta itu, tapi keinginan itu harus dia tutup rapat-rapat, selain bisa membuka kedoknya, hal itu juga bisa membuat dirinya celaka. Saat ini hatinya merasa kebat-kebit, karena seluruh langkahnya sudah dijegal oleh orang yang misterius, dia benar-benar tak bisa berbuat banyak hal selain meneruskan sandiwaranya, bahwa dirinya adalah salah seorang pengikut kalangan petani—Argamas.

“Kau tahu mereka dari kelompok mana?” tanya Kepalan Maut pada Momok Wajah Ramah.

Sebelum menjawab, lelaki ini melirik kesekeliling, bagaimanapun orang yang mengacaukan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa, adalah ancaman terbesar dirinya.

“Kukira, mereka adalah pembunuh bayaran..” baru saja ucapan itu diselesaikan, pinggangnya terasa sakit sekali seperti ada jarum panjang yang menembus dengan perlahan, wajahnya berkerut, dia terheran-heran, kenapa ada kejadian seperti itu.

“Kau terluka?” tanya Kepalan Maut pada Momok Wajah Ramah.

“Ti-tidak…” ujar lelaki ini dengan kening makin berkerut, dia sangat yakin apa yang sedang menimpa dirinya pasti karena orang yang mengacaukan rencananya. Berkali-kali orang itu sanggup menyentuh dirinya tanpa di sadari, dengan sendirinya Momok Wajah Ramah memaklumi begitu ada hal aneh menimpa dirinya.

“Sangat mencurigakan, pembunuh bayaran berkeliaran disekitar sini, dan ternyata harus kau bereskan sendiri.” Mendadak Elang Emas berkata sambil lalu, ucapannya yang sangat bersayap membuat Momok Wajah Ramah makin berdebar.

“Sudah kukatakan, akupun hanya karena kebetulan lewat dan mempergoki mereka, maka aku harus bertarung dengan mereka.” Usai berkata begitu, rasa sakit di pinggangnya makin menjadi, Momok Wajah Ramah harus menghentikan langkahnya, begitu dia berhenti, rasa sakit itu reda.

“Berarti kau sangat hebat.” Ujar Kepalan Maut ikut berhenti, dan Pecut Ekor Tujuh juga menghentikan laju kereta.

“Luka yang mereka derita adalah totokan yang tidak mematikan, tapi simpul utama mereka terkunci dengan teknik sangat tinggi, teknik ini aku pernah lihat dikuasai oleh golongan yang telah menyucikan diri. Dan Argamas bukanlah golongan yang menyucikan diri.” Kata Elang Emas dengan menatap tajam.

Momok Wajah Ramah terkesip mendengar ucapan itu, “Kau terlalu mengagulkan pengetahuanmu, bukan berarti aku tidak pernah belajar dari orang lain!” Sahutnya dengan sengit.

“Betul, dan aku tidak mengatakan kau tidak menguasai.” Sahut Elang Emas sembari tertawa pendek. “Mungkin memang benar kau menguasai, mungkin kau memang sudah sangat mahir sampai-sampai kami tidak bisa melihat ciri itu ada padamu.”

“Seseorang yang memiliki ilmu totok jenis itu memiliki peringan tubuh sangat mahir, badan seringan kapas, gerakan secepat kilat, tindakan mantap, mata tajam, dan nafas yang sangat halus, tidak pernah terengah.” Timpal Pecut Ekor Tujuh.

Sampai disini, barulah sadar bahwa dirinya sudah ditelanjangi. Mau tak mau Momok Wajah Ramah memang mengakui bahwa pelakunya memiliki ciri-ciri seperti yang baru saja disebutkan tadi, saking lihaynya si pelaku, dia bahkan tidak tahu tengah mengadapi siapa.

“Semua ciri itu tidak terdapat pada dirimu… mengingat kau mengakui menjatuhkan para pembunuh bayaran itu, tapi dari caramu bergerak kau tidak memiliki kemahiran itu.”

Kalimat terakhir Pecut Ekor Tujuh adalah vonis bagi dirinya. Momok Wajah Ramah merasa wajahnya memerah, dengan tertawa dia membalikan badan. “Sepertinya, caraku berbohong tak bisa mengelabui kalian…”

Begitu kalimat ‘tak bisa’ dia ucapkan, tangan Momok Wajah Ramah sudah melepaskan jarum embun yang beracun, gerakannya begitu cepat dan tidak terduga, saat kalimat ‘mengelabui kalian’ terlontar puluhan jarum disertai sambitan tujuh pisau mengarah mata dan jakun ketiga orang yang hanya terpisah lima langkah darinya.

Ketiga orang yang diserang Momok Wajah Ramah bukanlah orang biasa, dari awal mereka tidak begitu bodoh percaya begitu saja dengan keterangan lelaki itu, tapi sungguh tidak disangka, serangan mendadaknya begitu mematikan!

“Hiaah!” Kepalan Maut menepukkan kedua tangannya menciptakan lapisan hawa dan resonansi gelombang untuk menolak belasan jarum yang mengarah kesekujur tubuhnya, tapi pisau yang datang belakangan justru sampai lebih dulu, dengan sangat terperanjat, lelaki ini memutar tubuhnya, pisau itu begitu tipis melawati sisi tubuhnya, hanya berkisar seujung jari dari dahinya.

Elang Emas yang mendapat serangan serupa, segera melejit kebelakang dan tangannya membentuk satu putaran dan mengibas kedepan, seketika itu juga jarum yang dilepaskan Momok Wajah Ramah, runtuh. Tapi ada satu yang tak terpengaruh kibasan energi Elang Emas, jarum itu melesat menancap tepat di pinggang.

Clap-Trak! Wajah Elang Emas berubah pias, untung saja serangan pisau yang mengarah padanya tak begitu sulit dihindari.

Yang paling beruntung adalah Pecut Ekor Tujuh, posisinya yang berada di belakang kedua rekannya membuat dirinya leluasa menghindari serangan mendadak itu. Letupan pecutnya yang memiliki tujuh rumbai itu, menggelegar menyapu sisa serangan Momok Wajah Ramah.

Dengan sendirinya setelah melakukan serangan, Momok Wajah Ramah tidak berdiam diri disana, detik yang sama begitu serangan terlontar dengan seringaian menghina, lelaki ini melejit meninggalkan tempat itu. Sayangnya dia lupa ada orang didalam kereta, orang itu kemahirannya berada jauh diatas ketiga orang yang diserang Momok Wajah Ramah.

Begitu badannya melenting dan peringan tubuh terkembang, kakinya terasa dilibat sesuatu. Dengan menendangkan kaki kirinya, Momok Wajah Ramah seolah ingin melepas jeratan di kaki kanannya, tapi begitu kakinya menendang angin, barulah dia sadar, yang melibat kakinya bukan benda (dalam bayangnnya itu adalah bendang tipis), tapi sebuah hawa sakti yang amat liat.

Sentakan yang amat kuat membuat tubuh Momok Wajah Ramah tertarik dan hampir saja dia jatuh terguling, untungnya begitu kaki menapak tanah, lelaki itu masih sempat mengatur keseimbangannya.

Dengan wajah pias, dan nafas memburu, Momok Wajah Ramah memperhatikan seseorang dari dalam kereta, tapi setelah ditunggu beberapa saat, orang itu tak juga keluar.

“Kau melakukannya perananmu dengan baik, tapi jika ingin keluar dari sini, jangan harap bisa kau lakukan dengan mudah.” Terdengar suara dengan nada rendah dari dalam kereta.

Keringat deras mengucur dari dahi Momok Wajah Ramah, kalimat itu memang tidak mengerikan, bahkan suaranya terkesan lembut, tapi pada setiap patah kalimat yang diucapkannya, jiratan dikaki kanannya mengencang dan membuat setiap jengkal kulitnya merasa perih, demikian juga dengan tulangnya, rasa ngilu yang menusuk membuat dia merasa tulang diseluruh tubuhnya seperti dilolosi.

“Kau bisa mengancamku, tapi anakbuahmu pun tak akan bernasib baik…” desis Momok Wajah Ramah dengan suara mendesis.

Suara tawa dari dalam kereta meledak begitu saja. “Ha-ha.., matamu memang kurang awas, coba kau perhatikan lagi.”

Mata Momok Wajah Ramah terbelalak, dia melihat Elang Emas masih berdiri tegak, padahal siapapun yang terkena jarum embunnya, hal pertama yang akan terjadi adalah tubuh menjadi kaku sebelum akhirnya secara lambat memucat dan akhirnya berkerut kering.

Elang Emas meraba pinggangnya, “Jarummu memang hebat, sayangnya aku memakai baju khusus pula.”

Momok Wajah Ramah menampilkan mimik aneh saat Elang Emas mencabut jarumnya. Bagitu jarum tercabut, matanya menyipit. “mampuslah…!” desisnya dengan nada riang yang tak bisa di tutupi.

Elang Emas menatap Momok Wajah Ramah dengan mimik riang pula. “Tak perlu kau menghitung sampai sepuluh, aku tahu Jarum Embun milikmu berbahaya, tapi saat ini, siapapun yang menyentuh jarummu tak akan mendapatkan efek yang kau harapkan.”

Momok Wajah Ramah benar-benar seperti menelan pil pahit, dalam kilasan detik saja dia sudah memahami kenapa jarumnya tidak memiliki efek lagi, seseorang yang mengganggunya tadi! Dia mengembalikan jarum-jaum itu padanya, dengan seksama di periksanya kembali jarum yang belum sempat di lontarkan.

“Keparat!” seru Momok Wajah Ramah dengan marah, disadari olehnya ternyata jarum beracun itu sudah netral sama sekali.

Kepalan Maut adalah orang yang cukup teliti, dia menyadari keanehan yang terjadi pada Wangkar. “Kurasa aku tahu apa yang menimpamu. Kau tidak menyadari jarummu sudah tidak berguna, artinya kau sudah di tipu mentah-mentah oleh lawanmu atau justru kawanmu, yang berikutnya; bisa jadi orang-orang ini adalah teman-temanmu, tapi mereka entah kenapa dilumpuh oleh seseorang atau sekelompok orang. Dan saat itu, kau berada di dua pilihan, terus menyergap kami atau harus menghindar… seharusnya kau menghindar, tapi ada sesuatu yang membuatmu jadi terpaksa memunculkan diri.”

Kesimpulan Kepalan Maut memang tak jauh berbeda dengan apa yang menimpa dirinya, tapi seluruh uratnya merasa mengejang, dia bahkan tak bisa menggerakkan gerahamnya untuk mengucap kata.

“Orang ini sudah tidak berguna lagi…” timpal Pecut Ekor Tujuh.

Ucapannya bagi orang lain terdengar tidak beralasan, tapi bagi rekan-rekannya itu masuk akal. Seseorang yang dilibat tenaga sakti Sakta Glagah, akan mengalami pembalikan sirkulasi tenaga dengan sangat lambat, bayangkan; seseorang yang biasa menghimpun hawa sakti dengan menyebarkan hawa tersebut pada seluruh tubuh, tiba-tiba dari sekujur tubuhnya muncul tenaga sedot yang membuat pusat tenaga harus menyuplai tenaga terus menerus.

Momok Wajah Ramah merasa tubuhnya melemah, dia tidak merasa lagi jiratan hawa pada kakinya, tapi sekujur tubuhnya begitu berat untuk digerakkan.

“Apakah kita akan tinggalkan orang ini?” Tanya Elang Emas dengan menoleh kearah kereta.

“Ya, dia hanya menjadi beban,“ ucapnya lirih.

Mereka kembali bergerak dengan perlahan, Sakta Glagah menyadari, terdapat perubahan mendasar dengan situasi Kota Pagaruyung, sebersit keraguan sempat muncul dalam hatinya, tapi keraguannya menimpis manakala mengingat dia baru saja mendapat ‘sahabat’ yang aneh.. sahabat yang memberikan sepercik asa padanya.

—oo0O0oo—

90 – Bhre

Kesunyian yang mencekam membuat Momok Wajah Ramah tak nyaman, baru kali ini dia merasa takut mati! saat ini tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan, seolah seluruh fungsi tubuhnya luruh semua. Tapi, telinganya masih bisa membedakan mana bunyi wajar dan mana yang tidak, dengan sendirinya dia sangat paham ada langkah kaki yang mendekat.

“Kalau sudah begini, apa yang membuatmu berguna?“ warna suara yang asing itu nampak sangat familier baginya, tapi karena wajahnya miring dia tidak tahu siapa orang itu, saat ini dia hanya bisa mengingat langkah kaki orang itu, sangat khas, tap-tap, tap tap tap, ada jeda kecil diantara langkahnya.

Sing…! suara yang menggaung di udara itu mereprentasikan sebuah senjata yang keluar dari sarungnya, sebuah bayangan terpeta dalam benak Momok Wajah Ramah, ‘matilah aku‘, pikirnya panik. Tapi…

Ting! Berselang satu detik atau mungkin pada detik yang sama, suara benturan yang sangat lembut membuat suara-suara lain mengabur dengan cepat. Momok Wajah Ramah kembali dicekam dalam hening. Dia bukan orang bodoh, apa yang terjadi dalam waktu yang singkat itu, ia bisa menduga, entah siapapun orang yang menyelamatkannya, dia sangat berterimakasih. Saat ini, dia hanya bisa memfokuskan pikiran untuk menahan daya sedot yang selalu menguras pusat tenaganya.

Tapi tidak berguna, makin dilawan, daya sedot itu makin ganas, tubuhnyapun lunglai. Pada akhirnya, dalam keputusasaannya Momok Wajah Ramah mencoba cara ekstrim, dia ingat sewaktu hendak menyerangi ada rasa sakit yang menyerang pinggang, sakit itu muncul saat dirinya mengalirkan tenaga pada lengan. Dengan menahan betotan tenaga Momok Wajah Ramah kali ini fokus untuk membangkitkan rasa sakit dalam pinggangnya, detik berikut.. seolah ada bacokan membelah pinggangnya. Tanpa bisa menahan lagi, Momok Wajah Ramah menjerit keras.

Rasa sakit itu mendera cukup lama, setelah mereda; hal pertama yang dirasakan ternyata dirinya bisa menggerakkan jemarinya, dalam beberapa hitungan kedepan, kepalanya sudah bisa ditolehkan kesana kemari, dan pada akhirnya dia bisa duduk dan beringsut.

“Rasa ingin hidup, harus kau ingat baik-baik!“ sebuah suara membuat Momok Wajah Ramah yakin, bahwa orang itulah yang menolong dirinya, tapi sayang lehernya masih sangat sulit untuk digerakkan dengan leluasa. Kesunyian kembali menjadi teman, ternyata di ujung kematian timbul sepercik kesadaran, bahwa ternyata hidup memang berharga.

Setelah beberapa saat, Momok Wajah Ramah mengatur nafas, dia bisa bangkit berdiri, diedarkan pandangan matanya kian kemari, baru sadar ternyata disamping tempatnya terbaring tadi tergeletak jarum-jarum beracunnya. Dengan perasaan tidak karuan, lelaki ini memungut jarum, ditatapnya jarum yang selama ini menemani dalam setiap tindakan. Dicium dengan ragu, seperti dugaannya racun dalam jarum itu sudah tidak ada lagi, Momok Wajah Ramah bukan orang bodoh, hal itu adalah peringatan terselubung untuknya. Racun adalah pengejawantahan dari nilai kejahatan, penyerang gelapnya dapat menghilangkan racun yang cukup dikenal di dunia persilatan dalam tempo singkat, artinya; orang itu bisa kapan saja ‘menjemput‘ nyawanya.

“Apa aku harus berubah? Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?” pikirnya gundah.

Dengan langkah tertatih, lelaki bernama asli Wangkar menapakkan kaki satu demi satu dalam kegundahan pikirannya.

****

Di sebuah bangunan cukup besar dengan masing-masing ruangan cukup besar, nampak beberapa orang tengah duduk merundingkan sesuatu.

“Apakah Duhkabhara belum ada kabar?” tanya salah seorang pada bawahannya.

“Belum tuan,” jawabnya singkat.

Duhkabhara, bukanlah nama sebenarnya, itu adalah julukan. Arti julukan itu sendiri adalah kesusahan yang besar atau penderitaan yang besar, tapi bukan berarti orang yang dijuluki hal itu merupakan orang yang hidupnya payah dan dalam kesulitan, tapi justru orang itu selalu mendatangkan kesulitan bagi orang lain, kesulitan yang sangat besar!

“Benar-benar tidak berguna!“ desis lelaki ini dengan marah.

Tapi, baru saja dia selesai berucap demikian, muncul tiga orang menerobos masuk kedalam ruangan itu.

“Pratisara, kau selalu terburu-buru dalam setiap pekerjaan!“ Dengus seseorang yang baru saja menerobos masuk.

Dengan langkah yang tegap, lelaki ini menarik kursi dan duduk di depan lelaki yang dipanggil Pratisara. Sementara orang yang menyertai Pratisara tadi sudah mengundurkan diri.

“Jika kau mencermati kejadian akhir-akhir ini, maka kau harus mengambil keputusan dengan cepat!“ Kata Pratisara dengan nada tegas.

“Untuk hal ini aku setuju denganmu,“ sahut Duhkabhara. “Langsung saja, kita temukan satu nama yang cukup terkenal, Sora… aku duga dia adalah Sora Barung.“

“Cukup berguna, aku tahu orang itu, itu cukup jadi salah satu jalur informasi. Sayang cara kerja anak buahmu tidak rapi.”

Duhkabhara terkejut dengan pernyataan Pratisara, dalam kelompok mereka Pratisara atau panglima, bertindak sebagai penyelia, tanpa orang itu, mereka tidak bisa berhubungan dengan tingkat atas. Dengan agak gusar, Duhkabhara menoleh pada dua orang yang ikut dengan dirinya.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Tidak ada yang salah, semua bersih, jadi arang!” sahut salah satunya.

“Apa kau sudah memeriksa ulang?” tanya Pratisara dengan tajam.

“Tidak perlu, sekalipun belum mati terbakar, dia sudah mati kehabisan darah!” sahutnya dengan ketus.

“Aku tidak menanyakan sumbermu mati atau tidak, tapi sejak kapan puing rumah yang berisi satu orang, tidak terdapat bekas-bekas tubuh orang?”

Keterangan itu membuat kedua orang yang merupakan petugas eksekusi di lapangan, terkejut. “Mustahil!” seru keduanya bersamaan.

“Muncul satu lubang setelah kalian meninggalkan rumah itu, dari lubang itulah korban kalian diselamatkan…” kata Pratisara dengan datar. “Lebih celaka lagi, korban kalian bukan sekedar penjual wedang ronde, tapi perantara informasi.”

“Aku akui itu sebuah keteledoran, tapi itu tidak akan menguak identitas kita,” kata Duhkabhara membela diri.

Pratisara tidak berkomentar, “Kita tunggu petunjuk beliau saja,” katanya datar.

Duhkabhara cukup sadar kali ini akan ada pembicaran sangat serius, dia memberi isyarat supaya dua orang yang menyertainya mengundurkan diri.

Suasana ruangan itu jadi hening, tak berapa lama dari balik kelambu muncul satu orang, dia tidak berkata apapun, tapi langsung membereskan segala sesuatu yang di atas meja, lalu membentangkan sebuah kulit kambing, dalam kulit kambing itu ada banyak tulisan, tapi baik Pratisara dan Duhkabhara tak berani memandang tulisan tersebut.

Sesaat kemudian muncul lelaki dari dalam, dan langsung duduk. Dia tidak menyilahkan Pratisara dan Duhkabhara untuk duduk, melainkan dibacanya lebih dulu tulisan dalam kulit kambing itu. Setelah selesai, dia mengibaskan tangannya memberi isyarat untuk duduk.

“Terima kasih Bhre…“ kata keduanya duduk dengan punggung tegak, dalam posisi siaga. (Bhre merupakan panggilan untuk raja)

“Aku ingin dengar perkembangan terakhir,“ katanya singkat.

Pratisara mengiyakan dengan sangat hormat. “Kita memiliki keadaan yang di luar dugaan, sejauh ini sudah ada enam kelompok yang bergerak di sini. Pertama, mereka bergerak di sekitar Perguruan Naga Batu, ada tiga golongan; kesatu, sempalan dari Perguruan Naga Batu, kedua; pendukung sempalan kelompok Perguruan Naga Batu, disinyalir merupakan kumpulan golongan-golongan sesepuh para pendiri kota ini, dan ketiga adalah telik sandi bebas, mereka biasa digunakan oleh banyak pihak, ini yang menyulitkan, telik sandi semacam ini kebanyakan dari pihak Kwancasakya.

Kemudian, ada dua golongan yang kemungkinan bergerak di dalam Perguruan Naga Batu, pihak pertama; adalah golongan lama yang ingin bangkit kembali, mereka digerakkan oleh anak murid Perguruan Naga Batu sendiri. Kemudian yang, kedua; adalah pihak yang belum diketahui, mereka merubah kebijakan yang ada di dalam perguruan. Kami belum bisa mengambil informasi sampai sejauh itu, sebab setap orang yang dikirim untuk menyelidiki kondisi tersebut, lenyap.

Dan pihak yang terakhir; golongan yang membuat onar di Perguruan Naga Batu, saya tidak tahu apakah mereka menjadi satu golongan atau tidak, sebab Beruang dan Serigala adalah dua pribadi berbeda, tidak pernah diketahui saling bekerja sama.“

Lelaki yang dipanggil Bhre manggut-manggut, jari manisnya yang menggunakan cincin dari batu hijau mengetuk-ngetuk meja.

”Kalian melupakan tanda pertarungan di pintu masuk kota ini?“ tanya lelaki separuh baya ini.

“Saya tidak bisa mengambil kesimpulan, karena terlalu bias dan kabur…” sahut Pratisara tertunduk.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Sang Pimpinan pada Duhkabhara.

“Tujuh satwa satu baginda, setidaknya itu yang bisa saya baca Bhre… tapi seperti kata Pratisara, itu semua sangat kabur. Kemiripan tanda itu sembilan puluh bagian mendekati kebenaran, apalagi ada kabar munculnya Serigala dan Beruang di kota ini, saya rasa menjadi penegasan akan kebenaran tanda itu.”

“Aku belum menangkap inti pembicaranmu!” tandas lelaki ini menatap tajam Duhkabhara.

Duhkabhara menundukkan kepalanya, sehari-hari dia dikenal sebagai orang yang sangat sadis dan bertindak tanpa pandang bulu, tapi menghadapi sang junjungan yang dapat mengalahkannya dalam dua jurus, dia sama sekali tidak berani berkutik.

“Maksudnya, kita menghadapi ancaman serius. Jika memang tujuh satwa satu baginda benar-benar nyata, maka orang yang dihadapi mereka ini adalah ancaman terbesar…” kata Pratisara menyelamatkan situasi.

“Orang dengan kemampuan sebesar itu apa tidak bisa dilacak?”

“Sama sekali tidak, sejauh ini kami tak bisa menemukan tanda-tandanya, tapi ada beberapa tokoh yang menjadi perhatian kami, menghilang.. apa mungkin ada kaitannya dengan tokoh ini, saya tidak tahu,” tutur Pratisara menjelaskan.

“Bagaimana dengan yang terakhir?”

Pratisara dan Duhkabhara saling pandang, mereka tidak paham dengan pertanyaan sang junjungan. “Apakah maksud Bhre tentang lolosnya sumber informasi?”

Sang Junjungan tidak menjawab, tapi itu sudah cukup bagi Pratisara untuk meneruskan bicara. “Ini memang keteledoran kami, sungguh tidak disangka… orang itu bisa diselamatkan. Tapi dari kondisinya, saya meragukan orang itu bisa berguna.”

Selesai berkata begitu Pratisara menundukkan kepala, sementara dalam hatinya Duhkabhara merasa berterima kasih, karena kesalahan mereka ditanggung oleh Pratisara.

“Kalian tahu apa yang terlewat?” tiba-tiba Sang Junjungan berdiri sambil membelakangi mereka.

Keduanya tak berani menjawab.

“Gua batu didatangi orang, ada beberapa hal yang hilang di dalam sana. Asap yang digunakan merupakan pekerjaan golongan yang tidak sembarang bertindak. Apa kalian pernah menyalahi mereka?”

Pratisara dan Duhkabhara terkejut, mereka saling pandang. “Kami tidak mendapatkan laporan itu…” kata Pratisara terbata, dengan keringat dingin menitik.

“Tak bisa menyalahkan kau, kabar ini kudapat dengan tidak mudah,” kata Sang Junjungan sambil melangkah keluar ruangan, dan menghilang dari balik kelambu.

Sepeninggalan Sang Bhre, mereka Pratisara segera menoleh kepada Duhkabhara, “Segera percepat pengumpulan informasi, jika perlu lakukan dengan berbagai cara!“

Duhkabhara mengangguk, biasanya dia sering berbantah kata, tapi pertemuannya dengan Sang Bhre membuatnya tak punya selera untuk membantah. Tak mengeluarkan sepatah katapun, Duhkabhara keluar dari ruangan.

Anak buah Pratisara kembali masuk menjumpai pimpinannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Temui, Kiwa Mahakrura! Kau tahu apa yang harus dilakukan…” perintahnya singkat.

“Baik!” sahutnya sembari mengundurkan diri.

—oo0O0oo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: