Seruling Sakti Jilid 91-95

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 91 Sampai 95

91 – Pembunuhan

Jaka menarik nafas lega sembari tersenyum, saat mendengar laporan dari Macan Terbang, bahwa; penyebaran informasi tentang Ki Sempana adalah anggota mata-mata, sudah tersebar di kalangan telik sandi.

“Kenapa tuan harus membuat orang yang tidak ada kaitannya, disebutkan sebagai telik sandi?” Tanya Macan Terbang.

Jaka diam saja, tapi Penikam yang akhir-akhir ini selalu menyertai Jaka, menjawab pertanyaan itu. “Justru itu untuk keselamatan Ki Sempana sendiri.” Sahutnya singkat.

“Lho, bukankah itu lebih membahayakan jiwanya?” Tanya Macan Terbang tak habis pikir.

Penikam tertawa. “Coba kau renungkan, seorang yang sudah seharusnya mati dalam tumpukan puing, tiba-tiba saja selamat dan nantinya dia akan kembali mendirikan rumah ditempatnya semula… apakah itu tindakan berani atau justru bodoh?”

“Wah.. sa-saya tidak berani mengatakan itu tindakan bodoh, tapi itu.. rasanya juga kurang cerdas…” kata Macan Terbang tanpa pikir. “Eh, mm, tapi itu menurut pikiran saya…” sambungnya, baru menyadari jika dia mengatakan itu adalah tindakan kurang cerdas, sama artinya dia mengatakan keputusan Jaka kurang perhitungan.

“Jangan kawatir, setiap orang akan mengatakan itu adalah tindakan bodoh. Tapi disaat sekarang ini, justru itu adalah tindakan paling cerdas. Sebab orang yang tadinya menyiksa Ki Sempana akan berpikir ulang jika mereka akan mendatanginya, mereka pasti berpikir orang-orang dibelakang Ki Sempana merupakan kekuatan yang menakutkan, sampai-sampai membiarkan Ki Sempana kembali ketempatnya.”

“Bukannya itu benar?” tukas Macan Terbang polos.

Jaka tersenyum, Penikam juga terbahak. “Ya, mungkin saja kekuatan kita ini memang bisa dikatakan sebagai kekuatan menakutkan, tapi kita tidak selamanya akan ada disini. Pencitraan sebagai kekuatan yang menakutkan ini, akan membantu Ki Sempana manakala kita tidak disini lagi.“

Macan Terbang manggut-manggut mendengarkan penjelasan Penikam. Mendadak, dari luar melangkah seseorang memberi isyarat kepada Penikam. Lelaki ini segera menghampirinya, terlihat kepalanya mengangguk. “Baiklah, kau kembali ketempatmu.“ Katanya pada orang itu. Dia mengangguk dan memberi hormat pada Jaka, lalu menghilang dari balik pintu.

Penikam kembali duduk disamping Jaka.

“Ada laporan apa paman?“ tanya Jaka.

“Nampaknya, tuan harus segera bergabung dengan anak-anak muda yang dikumpulkan Arseta,” tutur Penikam singkat.

“Oh, nampaknya Arseta sudah menangkap pergerakan Sadewa.“ Gumam Jaka. Pemuda ini memiliki janji dengan Sadewa bertiga, untuk datang ke Pesanggrahan Naga Batu, pada hari kelima waktu tengah hari. Dan saat perjumpaan itu sudah dekat.

“Saya rasa begitu,“ sahut Penikam.

“Aku harus bergegas..” kata Jaka sembari berdiri, dan menepuk bahu Penikam. Lelaki itu menatap punggung Jaka sesaat, dia segera mengetahui apa yang harus dilakukannya. Rumah Mintaraga pun kembali diliputi keheningan.

 ***

Sore sudah dijelang, di pojokan sebuah tanah kosong terlihat sesosok tubuh berdiri disaput bayangan pohon. Nampak kokoh dan dingin, seolah menyatu dengan alam sekitar. Dia sudah berdiri disana sekitar satu jam. Matanya dipejamkan, kondisinya benar-benar kokoh seperti batu karang, dari kejauahan sana terdengar gemertak suara dan itu cukup membuatnya terjaga.

“Berhenti disana!” ujarnya ketus, tapi perkataan yang singkat itu mengandung bobot cukup berwibawa.

Dua sosok bayangan yang sedang melesat, begitu terperanjat, mengetahui ada orang yang menghentika mereka, dengan meningkatkan kewaspadaan mereka segera berhenti, hanya berjarak lima meter dari pohon rindang itu, suasana sore dengan cahaya yang berangsur mengabur itu membuat mereka bergidik.

“Apa kalian orang-orang Naga Batu?” tanya sosok yang berdiri dibawah pohon ini.

Keduanya saling pandang dan tidak menjawab, pertanyaan orang itu bagi mereka bisa bermakana ganda.

“Siapakah kau?” tanya salah seorang diantaranya.

Dia tak menjawab, tapi sesaat kemudian berujar. “Tahukah kalian, Perguruan Naga Batu, memiliki Janapada-Janapadi… kebanyakan dari mereka tak berguna.”

Keduanya saling pandang, sebutan orang itu secara tak langsung mengarah kepada mereka. Janapada-janapadi adalah sebutan bagi bawahan, pembantu.

“Siapa diantara kalian yang merupakan Janapada?” tanya orang dibawah pohon ini.

Keduanya benar-benar bingung, pertanyaan orang itu mencakup hal-hal baru dari banyak hal yang baru mereka pahami dan menjadi tanggung jawab mereka. Tiba-tiba orang itu menjentikkan jari, sebuah koin jatuh tepat diantara keduanya. Ah… ternyata sebuah lencana, terbuat dari besi, berukir siulet naga.

“Orang sendiri?” tanya salah satunya sembari menjumput lencana itu, dan dan melihat sisi lainnya, tertera nomor 58.

“Ya, kita orang sendiri…” tiba-tiba saja lelaki dibawah pohon sudah berada sangat dekat dengan mereka.

Merasa terancam, keduanya segera bergerak mundur saling berlawanan arah. Tapi gerakan itu ternyata tidak ditanggapi oleh lelaki ini, dia hanya memperhatikan pada orang yang memegang lencananya.

“Kau tahu, lencana lepas dari badan artinya mati…” katanya dengan dingin sembari menjulurkan tangannya meminta lencananya lagi.

“Ah…” katanya baru sadar dia masih memegang lencana itu, dengan terburu dilemparnya lencana itu pada lelaki tadi.

“Kau nomor berapa?” tanya si penghadang ini.

“60.” Sahut si pelempar lencana tadi, tapi anehnya penghadang yang memiliki lencana 58 ini tidak bertanya pada orang yang satunya. Setelah lencana itu di genggam dan disimpannya kembali, barulah dia mengalihkan pandangan pada orang kedua.

“Sebenarnya aku bisa bersenang-senang dengan kalian dalam waktu yang cukup lama, tapi aku diburu waktu.” Katanya dengan nada yang dingin.

“Apa maksudmu?” tanya salah satu dari keduanya merasa ada yang tak beres.

Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa, menghunus pedangnya dengan lambat. Melihat gelagat tak menguntungkan itu, si pendatang mundur dua langkah, pada ekor matanya dia melihat rekannya yang tadi memungut lencana diam tak bereaksi. Hatinya menjadi cemas menyaksikan itu.

“Hati-hati!” teriaknya pada rekannya.

“Lebih baik kau perhatikan dirimu!” desis si penghadang sudah berada satu jangkauan dengan dirinya.

Dengan gugup lelaki itu mengisarkan langkah kesamping dan tangannya menebas miring mengarah leher, tapi si penghadang ini menghindar dengan gerakan hampir serupa dengan orang itu.

“Kau dari Perguruan Angin Tanpa Gerak?” tanya si penghadang ini dengan seringai sadis.

“Persetan!” bentaknya sambil mencabut senjatadan langsung menusuk keperut si penghadang itu.

Trang! Sebuah tangkisan yang sangat kuat, membuat pedang lelaki yang di senyalir datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak, terpental. Begitu lengannya terpental, sebuah serangan tusukan sangat sederhana mengarah jantung dengan gerakan sangat cepat!

Tapi lagi-lagi dengan olah langkahnya yang serba canggung lelaki itu bisa menghindar, tubuhnya melengkung kebelakang membentuk gerakan kayang, dan dilain kejap, kakinya menghentak dan melejitkan tenaga untuk mundur.

Si penghadang ini agak terkesima juga melihat cara menghindar lawannya. “Memang gerakan dari ilmu Angin Tanpa Arah, tidak bisa diremehkan.” Gumamnya makin bersemangat. Mendengar ucapan itu, lelaki yang memang datang dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini, terkesip. Sungguh tidak disangka beberapa gerakannya itu ternyata bisa dikenali lawan dengan cepat.

Sambil maju setindak, lelaki ini memasukan pedang dengan cepat, lalu perlahan tangan kirinya terangkat dengan lengan tertekuk kesamping sejajar bahu, jemari mengepal menempel dada, tangan kanannya memegang siku kirinya-tepatnya jemarinya menjumput siku.

“Hiaat..” dengan pekik kecil, tangan kanan yang memegang siku kirinya mencuat dalam kepalan dengan gemuruh laksana guntur, meluncur deras mengarah samping kanan lawan. Sebuah serangan yang aneh, sebab jangkauan serangannya masih terlalu jauh dari lawan, dan bidikannyapun jauh dari presisi.

Orang ini terheran-heran melihat serangan itu, tapi kelenaanya dalam satu detik itu sudah sangat cukup bagi si penghadang untuk melejit sangat dekat dengannya. Lengan kiri yang masih tertekuk itu mencuatkan sambaran sebuah pukulan yang langsung mengarah ke batok kepala, sebuah pukulan yang sederhana, dan keji!

Lelaki dari Perguruan Angin Tanpa Gerak ini dengan sigap melejit kekiri, tapi mendadak saja dia terkejut, saat gerakannya tertahan. Bahunya yang membentur hawa tek telihat itu seperti tersengat pukulan. Barulah disadari serangan yang tanpa alasan tadi ternyata menciptakan selapis dinding hawa sakti untuk mengurung gerakannya!

Karena gerak hindar terhenti, dengan sedirinya serangan tangan kiri lawan masih tetap mengincar kepala, tidak ada waktu untuk berkelit lagi, dengan mengerahkan segenap tenaga sakti Awan Berkubang Mendung, dia menghadang serangan itu.

Plaaak! Benturan keras terjadi begitu dahsyat, sungguh tidak disangka serangan yang sederhana dari si penghadang itu ternyata melancarkan tenaga bagai petir, menyambar setiap benteng hawa saktinya. Dari kepalan tangan yang tertangkis tapak berisi hawa sakti Awan Berkubang Mendung, terasa ada sambaran tenaga yang tiada habisnya menggedor pertahanannya, benturan yang terlihat hanya sekali itu, pada kenyataannya dia rasakan hampir belasan kali gedoran serupa pukulan jarak jauh menghantam pertahanan hawa saktinya.

Tak terasa, kakinya mundur sampai dua langkah, sementara tangan lawannya masih mendorong telapaknya, seharusnya dia masih akan terus terdorong, dan pada saat itu dirinya bisa mempersiapkah himpunan hawa sakti yang berikutnya untuk menyerang, tapi dari belakang lagi-lagi tertahan oleh dinding energi yang sebelumnya diciptakan oleh si penghadang ini, sungguh mimpipun dia tak pernah mendengar ada ilmu seperti ini.

Wajah sang lawan menyeringai padanya sudah sangat dekat! Dia merasa detik-detik itu seperti mimpi buruk, sadar dengan bahaya yang akan menimpanya, tangan yang masih memegang pedang melemparkan senjata itu keatas dan menarik tangannya sejajar pinggang, dia tak lagi memikirkan pertahanan, itu adalah serangan terakhir.. dan pada kejap berikutnya sebuah tendangan menyambar pinggang, tak sempat mengelak, sebuah tendangan telak langsung mematahkan pinggang, dan kejap berikutnya bunyi ‘krak’, di sekitar kepala adalah bunyi terakhir yang dia dengar.

Tapi pada detik yang bersamaan saat serangan si penghadang menghantam kepalanya, pedang yang dikibaskan keatas menukik dengan desingan keras mengancam ubun-ubun si penghadang itu, tanpa melihat kearah serangan terakhir, si penghadang mengisarkan kaki kesamping dan menepis. Tapi sungguh aneh… pedang itu memang tertangkis, tapi hawa yang tajam tetap mengikuti dirinya dan menyayat lengan kirinya sepanjang satu jengkal.

Orang ini, menatap lukanya dengan terkejut. “Jika saja latihannya sudah mahir, menghadapi ilmu Perguruan Angin Tanpa Gerak benar-benar sulit…” Pikirnya, padahal lengan kirinya penuh dengan hawa sakti, tapi hawa pedang lawan masih sanggup penggoreskan luka disana. Tatapan matanya yang tajam dan kejam itu menyapu tubuh lawan yang tergeletak dengan setiap lubang dikepala mengalirkan darah. Dengan menggetak gigi, lelaki itu menyobek kedua lengan baju dan membungkus luka itu, tanpa sadar pada lengannya terlihat menyembul sedikit rajah dengan sisik hitam.

Dengan tergesa, di geledah seluruh tubuh lawannya, sambil menyeringai senang dia memungut lencana yang tergantung di leher, dilihatnya lencana besi itu, ternyata bernomor 63. Dengan berjalan perlahan, kali ini dia menghampiri satu orang yang lain.

Keadaan orang itu sungguh aneh, dia tidak bereaksi terhadap kematian rekannya, hanya diam termenung.

“Apa yang kuucapkan tadi adalah hal sebenarnya, lencana lepas dari badan artinya mati! Kau memang belum melepas lencanamu—itu hanya masalah waktu, tapi sebelumnya kau sudah melepaskan lencanaku.” Katanya sembari menyeringai, dia menggeledah sekujur tubuh orang itu, tanpa ada perlawanan!

Dilihatnya lencana yang sudah didapat, memang benar bernomor 60. “Hm… 58, 60, dan 63 sudah kudapat. Tinggal satu orang lagi pemilik lencana besi, selanjutnya, satu pemilik perunggu dan dua pemilik perak.” Pikirnya dengan langkah lugas menghilang dari balik kerimbunan pepohonan.

Burung sudah kembali kesarang, suara serangga malam mulai berkumandang menderik disetiap penjuru, desau angin sore yang makin lemah senada dengan sang mentari yang kian temaram, kembali keperaduannya. Kejadian tadi hanya sekejap saja, dua nyawa yang masih bugar kini hanya tinggal seperempat, ya.. ternyata si pemungut lencana yang dilemparkan si penghadang, sudah dibalur racun, dan itu membuatnya sekarat, sebab racun itu berjalan lambat, merambat lewat pori-pori, mematikan sistem motorik dan akhirnya akan menghentikan denyut jantung untuk beberapa waktu kedepan.

***

Jaka duduk di kedai makan, dimana dia pernah bertemu Arseta. Dengan sendirinya pemilik kedai paham, siapa yang akan ditemu Jaka. Tak berapa lama kemudian, seorang pelayan menyapa Jaka dan menyilahkan pemuda itu untuk duduk di dalam ruangan yang lebih pribadi. Bagi kebanyakan orang, kedai yang penuh cita rasa itu memang enak untuk disinggahi, tapi bagi orang macam Jaka, kedai itu adalah pintu masuk ke dalam dunia yang berbeda.

Tak berapa lama kemudian Arseta muncul dengan wajah tersaput muram. Jaka berdiri dan menyalami orang itu. “Silahkan duduk…” kata pemuda ini pada Arseta.

Melihat wajah yang tidak seperti biasanya itu, Jaka menduga ada banyak perubahan telah terjadi. “Apakah usaha kalian sudah tercium pihak lain?” tanya pemuda ini dengan menuangkan secangkir teh dan diberikan pada Arseta.

Sembari menghela nafas panjang, Arseta menyesap tehnya, lalu menatap Jaka sesaat. “Kami kehilangan pemilik lencana besi nomor 58…” katanya.

Jaka tidak bereaksi, pemuda ini mengambil lencana perunggu yang di berikan oleh Sadewa padanya, baru disadari olehnya ternyata lencana itu memiliki nomor. Miliknya adalah nomor empat.

“Ada indikasi, nomor-nomor yang lain juga akan menghilang.” Katanya sambil menatap Jaka.

“Aku akan berhati-hati,” tukas Jaka.

Arseta mengangguk, dia tidak akan mencemaskan Jaka, karena ada Arwah Pedang di belakang pemuda itu. Dalam mimpi pun Arseta tidak menyangka, pemuda ini tidak pernah mengandalkan orang lain untuk keselamatannya sendiri, justu orang lain-lah yang seharusnya berhati-hati saat menghadapi anak muda bernama Jaka Bayu itu.

“Lalu… apa arti kehilangan itu bagi kalian?”

“Banyak sekali,” Arseta kembali menyesap air tehnya. “Ada yang sudah tahu apa yang sedang kami lakukan, itu pasti. Pihak ini bisa jadi dari luar, bisa jadi dari dalam.”

“Sudah ada yang dicurigai?”

“Saat pemeriksaan jenasah pegang lencana, Ketua sudah memiliki nama, cuma dia masih belum yakin, begitu banyak hal bias yang kutemukan.. aku sendiripun jadi ragu, tidak bisa menyimpulkan apapun.”

Jaka segera berdiri, “Ayo…”

Arseta bengong, tidak mengetahui apa maksud pemuda itu. “Kemana?”

“Tentu saja ketempat penyimpanan jenazah, kalian belum menguburkannya kan?” tanya Jaka. Arseta menggeleng masih dengan perasaan bingung. “Aku akan melihatnya, siapa tahu ada kesimpulan yang bisa membantu kalian.”

Lelaki paruh baya itu terdiam sesaat, “Baiklah…” merekapun meninggalkan kedai untuk menuju ke tempat penyimpanan jenazah.

***

Hastin dan Cambuk sedang mencermati beberapa lembaran yang mereka dapati dari gua batu. Sebuah catatan sejarah yang tidak mengambarkan apapun. Cambuk hampir putus asa, dia sudah membacanya bolak-balik sampai lima belas kali, tak juga mendapatkan apapun.

“Anda mendapatkan sesuatu?” tanya Cambuk pada Hastin.

Tampang lelaki bertubuh besar ini malah lebih mengenaskan ketimbang Cambuk. “Benar-benar sialan, aku paling tidak suka pekerjaan konyol macam begini!” katanya seraya mencampakkan gulungan lontar yang sudah dibaca jauh lebih banyak dari jumlah Cambuk.

Cambuk hanya bisa menghela nafas, ditatapnya lembaran lontar yang dilempar Hastin, tanpa berusaha mengambilnya lagi. Keheningan meliputi mereka dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya Cambuk seperti diingatkan sesuatu.

“Tolong, anda balik semua lembaran!” seru Cambuk pada Hastin, dengan bersemangat lelaki ini mengambil lembaran yang di buang Hastin, di lembaran depan memang tercantum banyak tulisan, masing-masing tulisan itu ada yang ditulis dengan tinta yang ditekan lebih kuat, membuat huruf-huruf tertentu menjadi lebih tebal. Cambuk membalik lembaran itu, di baliknya terlihat titik-titik tinta yang meresap, menimbulkan titik-titik yang tidak beraturan. Cambuk segera mencari ururtan-urutan pada halaman.

“Aku sudah selesai dengan tulisan sialan ini, memangnya mau kau apakan?” tanya Hastin heran.

“Tolong susun sesuai urutan halaman.” Kata Cambuk tanpa menoleh, dia sedang mengamati titik-titik dibalik lembaran itu, dalam banyak hal seolah di benaknya muncul jawaban dari hal yang sedang dicari, tapi begitu di lihat lebih dalam, dia sendiri bingung… entah apa yang sebenarnya sedang dicari.

Semua lembaran sudah di balik dan di susun berdasarkan urutannya, dibalik lembaran-lembaran yang lain itu juga terdapat titik-titik bekas rembesan tinta. Cambuk segera meletakan lembaran terakhir yang masih di tangannya.

“Apa yang anda lihat?” tanya Cambuk dengan tatapan mata tidak lepas dari lembaran itu.

“Kecuali, titik-titik tak jelas, memang ada yang lain?” ujar Hastin dengan kening berkerut dalam.

“Aku seperti mengingat sesuatu, tapi apa ya…” gumam Cambuk menggaruk kepalanya berkali-kali.

“Ah….” Tiba-tiba Hastin berseru. “Peta!” keduanya berseru bersamaan.

Dengan terburu, Cambuk mengeluarkan peta gua batu yang di dapat dengan cara menyogok, peta itu diletakkan di atas lembaran-lembaran lontar yang sudah tersusun sesuai halaman. Enam lembar membentuk kolom, sisanya membentuk baris dengan diletakan memanjang, keseluruhan lembaran itu ada enam. Luas lembaran lontar itu pas benar dengan gulungan peta yang didapatkan Cambuk.

Keduanya saling pandang, “Paham?” tanya Cambuk pada Hastin dengan wajah penuh tawa.

Hastin juga tertawa, “Tidak!” jawabnya, membuat tawa Cambuk makin keras.

“Titik-titik ini adalah pelengkap peta Gua Batu, jika kita salin ulang, akan tercipta peta dengan keterangan sangat akurat.”

“Darimana datangnya keterangan itu?”

“Tentu saja dari tulisan-tulisan yang ada dibaliknya.” Kata Cambuk dengan puas, bisa membuat Hastin harus berkali-kali bertanya.

“Menurutmu kegunaan peta itu untuk apa lagi?”

“Kurasa, semacam rancangan untuk sebuah pergerakan yang akan di lakukan secara serempak atau bertahap…” jawab Cambuk menganalisa. “Waktunya berkerja…” sambungnya sambil menyiapkan tinta dan lembaran kulit kambing untuk menyalin peta.

Hastin menguap, pandangannya terlihat bosan, dia benar-benar ingin bertarung.. kalau pekerjaan semacam ini bisa membuatnya mati mengantuk.

—oo0O0oo—

92 – Autopsi

Jaka tercenung didepan jenazah yang terbaring kaku dihadapannya. Itupun kalau masih bisa dibilang jenazah, sebab kondisinya begitu mengenaskan. Kaki kiri terpotong, luka tercabik hampir ada disekujur tubuhnya. Tulang pipi remuk, wajah jenazah yang tampan itu terlihat menakutkan. Jemari sepasang tangannya nampak terlepas engselnya.

Di sekitar pemuda ini, ada Arseta dan Ketua Bayangan Naga serta seorang lelaki tua mencermati apa yang sedang dikerjakan pemuda itu.

Dengan menggunakan sarung tangan yang disamak dari kulit sapi, Jaka tidak merasa jijik saat memegang potongan kaki, mencermati bekas luka pada kaki. Setelah di amati dengan seksama, pemuda ini melepas sarung tangannya, dari balik bajunya, dikeluarkan gulungan kain yang berisi jarum-jarum dalam rupa panjang-pendek berbeda. Dengan gerakan sangat cekatan, di tancapkan enam jarum disekitar lambung dan jantung.

Cara kerja Jaka Bayu yang hampir tanpa jeda, membuat Ketua Bayangan Naga dan lelaki tua disampingnya terlihat makin perihatin, mereka paham benar, hanya orang-orang yang sudah sangat terbiasa dengan ilmu pertabiban yang bisa berlaku seperti itu. Pantas saja, waktu diberi buah jalanidhi, pemuda ini hanya bersikap biasa. Dengan adanya Arwah Pedang disekitar anak muda itu, identitas Jaka Bayu menjadi istimewa di mata mereka. Bahkan Ketua Bayangan Naga bisa memastikan, pemuda itu bukan orang yang secara aksidental direkrut Sadewa, boleh jadi justru pemuda inilah yang mencari Sadewa, menarik perhatian untuk membuat mantan rekannya itu merekrut dirinya.

Lalu dengan menghela nafas panjang, Jaka menyalurkan hawa murni dari mulut jenazah itu, terdengar gemertak lirih suara dari rongga dada, pemuda ini mencermati jarum-jarumnya dengan mendengar setiap perubahan suara yang ada di dalam tubuh jenazah itu. Setelah dirasa puas dengan pengamatannya, Jaka mencabuti jarum-jarum dan membersihkan, lalu memasukkan lagi kedalam tempat penyimpanannya.

“Kau mendapatkan apa?” tanya Arseta.

“Banyak hal menarik…” papar Jaka sembari melangkah menjauhi jenazah, mereka duduk berkeliling di ruangan depan tempat penyimpanan jenzah. “Korban ini, berasal dari Perguruan Cadas Merapi..”

“Kau tahu dari mana?” Arseta bertanya heran, mereka jelas tahu asal-usul orang-orang yang direkrutnya, tapi kepada Jaka, keterangan semacam itu seingat dirinya belum pernah di berikan.

“Dari jemarinya… Perguruan Cadas Merapi memiliki ilmu yang sangat khas, Tapak Bangau Batu, pada tingkatan sebelum tapak, ada tingkatan jari. Pada tingkatan ini jari tengahnya akan terlihat lebih pipih dari biasanya, sedangkan ujung jemarinya lebih besar dari kebanyakan orang, kondisi ini akan normal saat dia sudah mencapai tingkatan tapak. Kulihat seluruh jemarinya lepas dari engsel, sementara tulang pergelangan tangan tidak, artinya; dia sengaja menggetarkan tenaga saktinya sampai kelewat batas, pada jemarinya, tapi terhadang tenaga lawan, sehingga tak kuat menahan desakan dari luar…

Baiklah, aku akan mulai penjelasan dari luka-lukanya. Seluruh luka cabikan yang ada di sekujur tubuh, dilakukan setelah korban mati. Untuk membedakan luka cabikan dilakukan sebelum dan sesudah kematian korban, adalah dengan mencermati jaringan pembuluh darah. Aku tidak menemukan adanya jaringan yang menegang di setiap mulut luka. Jaringan yang terputus akibat luka pada saat korban hidup, akan menunjukan bekas ketegangan pada otot dan jaringan disekitarnya, tapi pada kasus ini tidak.

Berikutnya, kaki yang terpotong ini memiliki pola yang hampir umum, dilakukan dengan bersih, dan cepat.. bahkan sangat cepat, tidak ada daging yang tercerai, potongan itu tepat di sambungan sendi, menandakan pelaku sangat teliti dan terbiasa dalam caranya. Aku hampir bisa menyimpulkan orang itu berprofesi sebagai pembunuh.. mungkin pembunuh bayaran. Dari cara ini saja, tak banyak orang yang bisa melakukan hal itu. Potongan kaki yang sangat lurus ini dilakukan oleh pelaku pada saat dia berguling ditanah, dan memapas dengan mendatar, gerakannya sangat cepat, dari pola serangannya aku bisa menyimpulkan senjata yang digunakan adalah golok. Sebab penggunaan pisau atau pedang pada hasil sayatan semacam ini, akan menimbulkan bekas irisan pada tulangnya. Dan jurus yang dikenakan pelaku adalah Memapas Bukit Secara Melintang. Ini jurus umum, tapi penggunaan golok yang sangat tajam dan efektif membuatnya memiliki ciri khas tersendiri. Kalian bisa simpulkan siapa yang memiliki cara seperti itu.

Sementara, luka pada jantung korban, terkena oleh himpitan tenaga sakti dua jenis, pertama dia terkena pukulan yang tenaga merusaknya sangat halus dan hanya bisa dialirkan dari benturan pukulan, sementara jenis kedua tenaga yang keras yang dilakukan pada saat pelaku menghentakkan kaki untuk pemusatan tenaga pada pukulan lurus. Apakah di sekitar tempat kejadian ada bekas lekukan kaki yang dalam?” tanya Jaka.

Arseta mengangguk berkali-kali. “Memang benar, memang benar…” ujarnya.

“Pukulan itu tidak mengenai secara langsung, tapi pelaku memukulkan lebih dulu pada lengannya sendiri baru merambatkan hawa perusaknya kejantung sang korban. Kusadari, otot jantung korban, mengalami kerusakan fatal.. nyaris semuanya putus, sebab aku tidak bisa merasakan aliran hawa murniku, mencapai jarum-jarum yang tadi kutancapkan.”

“Kenapa pelaku harus memukul lengannya sendiri baru memukul korban?” tanya Arseta tidak paham.

“Jenis pukulan yang diyakni pelaku tergolong ilmu yang sangat keras, saking kerasnya jika dia menghantam langsung kepada korban, sisa tenaga pukulan akan membalik melukai si pengguna. Pada tingkat pemula, jenis pukulan ini tidak bisa sering-sering digunakan. Maka untuk mengurangi daya pantul yang merusak itu, harus di pukulkan lebih dulu pada anggota tubuh yang sudah siap dengan cara ini. Tentu saja pada saat dia memukul, anggota tubuh yang jadi media perambatan tenaga, harus sangat kuat.”

“Kira-kira, lengan sebelah mana yang digunakan sebagai media pukulan itu, apa kau dapat mengidentifikasinya?” tiba-tiba Ketua Bayangan Naga bertanya.

Jaka tersenyum, seharusnya Ketua Bayangan Naga tidak perlu bertanya, karena dia cukup melihat bekas jejak yang tertera disana itu kaki kanan atau kiri. Tapi memastikan kaki apa yang sebagai tumpuan Jaka sudah dapat menduga bahwa pelaku menggunakan lengan kiri-nya sebagai media pukulan.

“Dari jenis luka yang mendapat serangan rambatan hawa sakti dari kanan, maka lengan yang digunakan pelaku jelas sebelah kiri.” Jaka menjelaskan. Dan penjelasan Jaka membuat wajah Ketua Bayangan Naga berubah menjadi tak sedap.

“Kenapa harus saat ini?” desisnya mengepalkan tangan. Membuat Jaka tidak paham, maksud orang itu.

“Pukulan Triagni Diwangkara …” ujar orang tua disebelah Ketua Bayangan Naga. Triagni Diwangkara, berarti mentari tiga api.

“Oh, jadi yang digunakan oleh pelaku adalah pukulan itu?” tanya Jaka. Orang tua itu mengangguk.

“Pada puncaknya, pukulan itu bisa menghanguskan korban, hangus sama sekali, tidak bersisa seperti arang!” katanya dengan emosi.

“Aki pernah melihat pukulan itu?” tanya Jaka.

Lelaki itu menegakkan sandaran duduknya. “Dimasa aku muda, aku pernah melihatnya. Orang yang menguasai ilmu itu pada akhirnya juga mati karena ilmunya sendiri.”

“Apakah, dia mati karena ilmunya membalik?” tanya Jaka.

“Kurasa begitu, saat itu dia bertarung dengan adik seperguruannya. Kurasa sifat-sifat ilmu itu membuatnya saling bertolak belakang dan pada akhirnya menjadi senjata makan tuan.” Tutur lelaki tua itu, yang hingga saat ini Jaka tidak tahu, posisinya sebagai apa.

“Lalu apa yang membuat pipinya remuk?” tanya Arseta.

“Pancaran tenaga yang sama, sifat tenaga yang di miliki pelaku ini menyebar seperti jaring, kerusakan paling parah ada di jantung dan hati, tapi jangkauan terjauh dari imbas tenaga pelaku ini bukannya mengendor malah makin menimbulkan efek perusak lebih tinggi, hal ini dikarenakan serangan pertama yang merambat pada benturan-benturan pertama, dan pada akhirnya di ledakkan oleh Pukulan Triagni Diwangkara.”

Jaka menatap wajah-wajah dihadapannya, “Apakah keteranganku bisa menyimpulkan pada sesuatu? Mungkin, nama pelaku?”

“Apakah kau tahu, kira-kira luka cabikan itu dilakukan untuk alasan apa, dan kapan kejadiannya setelah kematian?” tanya Arseta tidak menanggapi pertanyaan Jaka.

Pemuda ini maklum dengan rentetan pertanyaan itu, “Dari mulut luka yang belum membiru, sebagian luka yang dilakukan paling awal dari kematian berjarak satu jam. Jika kau tanya apa alasannya, analisaku begini: kecuali pelaku ini sakit jiwa, satu-satunya alasan yang terpikir olehku adalah, ada pihak lain—mungkin pelaku yang sama, menggunakan jenazah ini sebagai alat untuk memeras orang lain. Apakah jenazah ini ditemukan jauh dari lokasi pertempuran atau bergesar dari lokasi yang sebenarnya?”

Arseta berpikir sesaat, “Kurasa memang bergeser dari tempatnya. Dilihat dari jejakan kaki si pelaku saat melakukan pukulan, jenazah korban justru tergeletak jauh dari sana..”

“Kalau begitu, kalian bisa mencari hal-hal yang mungkin hilang, berkaitan dengan korban, atau malah dengan kalian sendiri…” tukas Jaka. “Baiklah, tugasku selesai, aku pamit lebih dulu.” Kata pemuda ini sambil berdiri, karena tidak bisa ditahan lagi, maka Arseta mengantarkan Jaka keluar ruangan.

“Dia bernama Kiwa Mahakrura…” tiba-tiba Arseta berkata pada Jaka saat akan melepas pergi pemuda itu. Nama yang dari tadi sudah ada diujung lidah, akhirnya disebut juga.

“Hm, nama tersangka yang menarik…” sahut Jaka. “Ah, aku terlupa satu hal.. sungguh ceroboh!” ujar Jaka dengan menepuk dahinya.

“Apa?”

“Ada luka memar di punggung korban, dari jenisnya luka ini terjadi lebih dulu…”

Arseta tampak kaget mendengar penjelasan Jaka. “Apakah beracun?”

“Tidak, tapi luka itu sangat fatal… mengingat satu jam kemudian dia harus bertempur dengan… Kiwa Mahakrura.

Wajah Arseta tampak pias.

“Ada yang salah?” tanya Jaka.

“Apakah lukanya membekukan darah?” tanya Arseta.

Mata Jaka terpicing sejenak. “Tidak membekukan, tapi kurang lebih dampaknya serupa, aku tidak tahu itu jenis tenaga apa, tapi saat korban mengerahkan tenaga sakti, akibat yang ditimbulkan luka itu akan menyendat sirkulasi darahnya, jika diteruskan darah yang dipompa dari jantung bisa meledakkan sekitar daging luka tersebut.”

“Ah…” Arseta tampak terduduk dengan lemas.

“Ada yang salah?” ulang Jaka bertanya.

“Paksi…” desis Arseta dengan kepala tertunduk.

“Maksudmu, yang melakukan itu adalah Paksi?” tanya Jaka memastikan.

“Aku berharap tidak, tapi dari keteranganmu, aku bisa memastikannya.. sebab orang itu memiliki ilmu Jari Embun, orang yang terkena serangan itu pada saat bergerak, luka yang seharusnya cuma setitik bisa menjadi selebar telapak…”

Jaka manggut-manggut, “Pada mulanya aku mengira luka memar itu karena penggumpalan darah korban karena posisi tubuhnya. Tapi setelah tadi kupikir-pikir, luka itu beda dengan penggumpalan darah pada umumnya.”

Jaka urung berangkat, dia masih memperhatikan Arseta yang masih terduduk lemas. “Kami sudah kecolongan dua kali…” desisnya.

“Apakah dari awal, pihak kalian tidak melakukan pendalaman pada orang-orang itu?” tanya Jaka.

“Sudah, Paksi dan Kiwa Mahakrura kami golongkan sebagai Tukang Sapu, sebab tugas mereka memang membersihkan kotoran-kotoran yang mengganggu. Latar belakang Kiwa Mahakrura sendiri aku tidak begitu paham, menurutku orang itu masih keturunan trah ningrat. Ketua Bayangan Naga membolehkan dia bergabung dengan kami, berarti sudah tidak masalah lagi. Sedangkan Paksi adalah orang yang aku rekrut sendiri, aku mengenalnya dari kecil, jadi kecil kemungkinan jika orang ini menjadi penghianat. Tapi keteranganmu tadipun aku tak mungkin mengabaikannya…”

“Nampaknya kita memiliki masalah sendiri-sendiri…” desah Jaka, lalu pemuda ini kembali pamit. Dia menghilang dalam kegelapan malam.

***

Ketua Bayangan Naga nampak masih menggeram sengit, kemarahannya seolah tak bisa dibendung lagi. Penjelasan Jaka yang panjang lebar itu membuka wawasannya, dan juga meletupkan amarah.

“Aku sudah pernah mengatakan padamu, dia tidak bisa dipercaya, tapi kau masih juga menerima orang-orangnya…” kata lelaki tua itu pada Ketua Bayangan Naga.

“Kupikir, kehormatannya bisa menjadi jaminan bagiku…” Katanya dengan singkat membela diri.

Lelaki tua itu tertawa rawan. “Kehormatan itu kebanyakan di bangun atas dasar rasa sakit banyak orang, tapi dilain sisi ada juga orang yang hanya tinggal menikmatinya. Sungguh tidak adil! Kau harus bisa membedakan kehormatan yang didapat dengan susah payah, dengan kehormatan yang didapat atas limpahan.”

Lelaki ini terpekur mendengar nasihat dari pamannya. “Aku sudah tahu sifat dasar anak itu, selain dia kejam dan telegas, pikirannya pun terkadang licin. Aku mengerti jika suatu saat dia akan menjadi lawanku. Tapi di saat-saat seperti ini, mengapa dia harus berbalik menyerangku? Aku… aku…” lelaki itu mengepalkan tangan, seolah-olah ada benda yang akan diremukan.

“Sebelum kedatangannya, kesimpulan apa yang kau peroleh dari jenazah tadi?” tanya sang paman mengalihkan perhatian sejenak.

Dengan menghela nafas pepat, lelaki ini menjawab. “Aku hampir mengira itu dilakukan oleh kaum Riyut Atirodra, mengingat cara mereka kadang-kadang diluar batas kemanusiaan. Tapi penjelasan pemuda itu… aku sangat berterima kasih atasnya, tapi aku juga kecewa dengan hasilnya…”

“Apakah kau akan membunuh Kiwa Mahakrura?” tanya pamannya.

Lelaki ini tercenung, “Tidak! Membunuhnya, hanya akan membuat tanganku kotor… orang seperti dia pasti ada yang menghentikannya. Aku akan mengatur satu langkah supaya dia membayar mahal perbuatannya!”

“Itu lebih baik…” gumam sang paman.

***

Jaka tahu, keheningan malam itu membuatnya harus berhati-hati, keluar dari tempat persembunyian Arseta membawa konsekwensi logis bagi keselamatannya sendiri, mengingat orang-orang yang di rekrut lelaki itu, mengalami nasih naas.

Pemuda ini berhenti dan menoleh arah kegelapan malam. “Kau mencariku?” tanya pemuda itu dengan tenang.

Muncul bayang-bayang hitam dengan siluet makin tegas. “Kau nomor berapa?” dia bertanya pada Jaka tanpa basa basi.

Jaka segera mafhum, siapa lelaki didepannya. “Aku nomor empat…” katanya singkat.

“Bagus.. bagus!” desis orang itu segera menyerang dengan satu pukulan secepat kilat mengarah dada Jaka.

Pemuda ini terbiasa menghindari segala serangan dengan olah langkahnya, tapi kali ini dia berubah pikiran, saat ini darahnya menggelora ingin mencoba kekuatan yang disebut sebagai Pukulan Triagni Diwangkara. Mungkin saja kali ini lawannya mengerahkan kekuatan pukulan yang menururt analisanya merupakan pukulan yang beraliran sangat keras.

Desss! Dua pukulan beradu, terdengar jeritan dari pihak penyerang, antara rasa kaget dan sakit. “Siapa kau sebenarnya?” bentaknya dengan suara bergetar, sebab dirasakan olehnya denyut jantungnya berdegub belasan kali lipat lebih kencang, rasanya benar-benar tidak enak dan membuat mual.

“Aku nomor empat…” sahut Jaka Bayu santai.

—oo0O0oo—

93 – Meruntuhkan Semangat Lawan

Kiwa Mahakrura berusaha menegaskan pandangan, tapi kegelapan malam mengaburkan sosok dan raut wajah orang yang baru saja keluar dari tempat Arseta. Jika biasanya, dia yang harus memburu orang dengan tanpa susah payah, baru satu kali benturan saja dengan orang itu, sudah membawa alamat sulit buatnya.

“Apakah kau akan berdiri di situ sampai esok hari? Sampai terang tanah?” ucap Jaka menyindir.

“Diam!” bentak Kiwa Mahakrura dengan getas.

Jaka tertawa dalam gumam, “Caramu membunuh itu tidak cerdas, kasar dan bodoh, aku melihat potensimu cukup besar, tapi dengan sifatmu yang seperti babi ini, kau sama dengan penggali lubang tinja, tidak lebih.”

Gigi Kiwa Mahakrura bergemertuk mendengar cemooh lawan, tapi dia masih cukup berakal sehat untuk tidak menumpahkan kemarahan pada serangannya. Lain dari itu, harga diri yang mencegah dia melakukan cara yang tidak elegan. Dia dilahirkan dalam lingkungan istana, bahkan dasar keturunan yang dimilikianya bukanlah sembarangan, cuma lantaran sifatnya yang terlalu tertutup, sulit bergaul dan cenderung ganas, membuat kalangan istana memutuskan jika kerabat mereka itu paling cocok menjadi eksekutor, pada usia dua belas tahun, Kiwa Mahakrura sudah membunuh sebelas orang yang menjadi buronan keluarga mereka, dan pada usia sebesar ini—dua puluh enam tahun, korbannya memang bertambah, tapi diapun sudah memiliki gaya tersendiri dalam membunuh, jika bukan orang yang berilmu, dia tak mau. Alhasil ilmunya dari tahun ketahun meningkat sangat pesat.

Lelaki itu memang sudah mendengar, jika dalam lingkungan ‘telik sandi’ dadakan Arseta ketambahan satu orang lagi, dan orang inilah yang ada dihadapannya sekarang. Dia juga pernah mendengar dari anak buah kalangan Arseta, bahwa Arwah Pedang masih ada hubungan dengan Arseta, entah hubungan yang bagaimana, mungkin saja malah berhubungan dengan Ketua Bayangan Naga.

Maka, pada saat menjajal Arwah Pedang, dia menanyakan apakah Arwah Pedang adalah ‘teman-nya?’, nya yang dia maksud, adalah Arseta atau Ketua Bayangan Naga, sementara Arwah Pedang merasa itu ditujukan pada Jaka, tapi keduanya sama-sama tidak memperjelas siapa ‘nya’ yang di maksud itu. Tapi tak disangka, Kiwa Mahakurua harus menghadapi ‘nya’ yang ada dalam alam pikiran Arwah Pedang. Jika saja dia tahu, Jaka mempunyai hubungan dengan lawan yang pernah memberinya pil pahit, tentu saat ini dia tidak akan melakukan tindakan ceroboh dengan menyergapnya, paling tidak, Kiwa Mahakrura akan membawa kawan-kawan setingkat. Tapi itu sudah terlambat…

Sungguh tidak disangka, orang yang dikiranya lawan setara dengan anak-anak murid enam belas perguruan utama, ternyata lebih menyulitkan. Lebih-lebih lidah orang itu mudah sekali menyulut emosinya. Kiwa Mahakrura teringat pertempurannya dengan Arwah Pedang, dia tidak pernah tahu siapa orang yang dilawannya itu, dia merasa lawannya itu sungguh sangat berat dan berkelas, jika dia sungguh-sungguh, mungkin tak sampai dua jurus nyawanya sudah melayang, harga dirinya sungguh terluka dengan cara lawan menghadapinya.

Berangkat dari perasaan tak mau kalah, dia berpikir dan mencoba mengingat-ingat kembali cara orang itu menempurnya, beberapa jam kemudian dia mencoba berbagai metoda, dan usaha kerasnya cukup membuahkan hasil, beberapa korbannya dalam dua belas jam terakhir dia selesaikan dengan cara yang baru saja didapatkan.

Kali inipun Kiwa Mahakrura akan menggunakan cara serupa, lelaki yang pernah mengalahkannya itu memiliki ciri khas penyembunyian pancaran tenaga dan penggunaan tenaga sangat efektif. Diam-diam dia sudah mulai mengalirkan hawa saktinya kesekujur tubuh dalam beberapa putaran sirkulasi, lalu memusatkan pada kaki, menarik seluruh hawa sakti dari sekujur tubuh kedalam satu titik serangan, dan membuat tenaga sakti yang lain dalam kondisi siaga—tapi tanpa gerak, dilain sisi diapun mengembangkan pertahanan pada lengan kirinya yang paling biasa dia gunakan sebagai perlindungan.

Dalam satu tarikan nafas, akhirnya Kiwa Mahakrura memutuskan menyerang! Dia sudah melesat sangat cepat, bahkan terlalu cepat.. kehadapan Jaka yang berdiri tidak siap. Pada gerakannya tidak terdengar deru angin, begitu halus, namun pesat. Beberapa kejap berikut, sebuah serangan yang sangat cepat, sederhana dan kejam, menerpa kepala.

Jaka cukup kaget dengan gerakan Kiwa Mahakrura yang membersitkan satu aroma yang pernah dia ketahui, kesanggupannya dalam menghindari serangan sangat bisa dilakukan, tapi Jaka benar-benar ingin tahu pola hawa sakti lawan, dan ingin kali ini keras lawan keras. Dengan melambungkan badannya setengah meter, Jaka tidak melenting kebelakang untuk menghindar, tapi pemuda ini justru menerima pukulan lawan dengan telapak tangannya.

Desh! Kepalan dan telapak kembali bertemu. Sebersit senyum dingin tersungging dari bibir Kiwa Mahkrura, dalam benaknya tadi, benturan pertama sudah cukup menjadi pelajaran, sang lawan itu ternyata bisa merambatkan serangan pada benturan, maka untuk mengantisipasi kejadian tadi dia mempertajam hawa sakti dalam satu serangan dan menariknya secepat mungkin untuk menghindarkan efek benturan yang bisa membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Dan benarlah! Dia tidak merasakan perubahan pada degub jantungnya

Dilain sisi, Jaka merasa ada sengatan sangat menyakitkan pada lengan kanannya, dan itu menyentak kesadaran pemuda ini bahwa keberadaan Kiwa Mahakrura tidaklah sesederhana kelihatannya, mungkin dia adalah Tukang Sapu, mungkin dia adalah pembunuh, tapi bagi Jaka benturan kedua itu menceritakan banyak hal!

Kejab berikut, setelah serangan tertangkis, kakinya menjejak tanah dengan lebih kuat dan memukulkan kepalan kirinya, ke perut Jaka yang masih dalam kondisi melayang. Kedua serangan itu benar-benar sangat cepat dan runtut, jarak keduanya kurang dari satu tarikan nafas, tapi toh, ternyata dengan tangan yang sama, Jaka masih bisa menyambuti serangan kedua!

Menerima serangan dalam kondisi melayang, jelas tidak akan memiliki daya jejak yang kuat, tubuh akan sangat mudah terlempar, apalagi jika serangan yang menerpa itu memiliki daya hantam sangat besar. Tapi keadaan Jaka sungguh mencengangkan bagi Kiwa Mahakrura, seolah serangannya yang dilakukan dengan cepat dan pemusatan tenaga pada lengannya itu tidak memberikan efek apapun, karena lawannya tidak terlempar sama sekali.

Dalam kondisi tubuh lawan yang akan kembali menjejak tanah, Kiwa Mahakrura menyusuli dengan lompat kecil, dengan lutut mengarah kepala lawan, tapi itu ternyata hanya gerak tipuan, kejap berikut; lututnya ditarik untuk mendapatkan lejitan pada pinggang dan kedua kepalannya menghamburkan tinju dengan kecepatan dan kekuatan penghancur yang menggiriskan, lamat-lamat Jaka merasakan ada hawa panas yang membuat dirinya sulit menghimpun hawa sakti.

“Inikah Triagni Diwangkara?” pikir Jaka sambil menerima serangan-serangan itu dengan benturan-benturan pada telapak tangannya. Dan setiap benturan itu membuat lengannya seperti disayat-sayat. Aliran tenaga Kiwa Mahakrura menerobos paksa pada pori-pori telapak tangan, dan begitu cepat menembus mengarah jantung, dengan sentakan-sentakan bagai ledakan pada tiap sendinya, membuat orang yang tidak paham cara menaklukan jenis serangan itu, lumpuh. Tapi Jaka cukup sigap mengantisipasi hal itu, memang serangan Kiwa Mahakrura membuatnya kurang leluasa dalam menghimpun tenaga, tapi dengan sistem pernafasan Melawat Hawa Langit, membuat pemuda ini bisa menghimpun hawa saktinya tanpa membebani tubuh yang terluka atau terkena racun.

“Hiaaah!” Kiwa Mahakrura berteriak sesaat sebelum memukulkan serangan terakhirnya, sebuah tusukan jari mengarah tepat pada ulu hati lawannya.

Kali ini ini Jaka merasa sangat cukup menerima serangan sang lawan, dilain sisi dia juga sedang mencerna pola hawa sakti lawannya dalam bekerja. Maka satu-satunya cara adalah menggunakan olah langkahnya yang istimewa.

Serangan terakhir yang sangat mematikan itu bisa dilewatkan Jaka, dan berikutnya Kiwa Mahakrura harus mengundurkan dirinya dengan lompatan sampai lima kali, selain karena serangannya tidak mengenai secara telak dan harus menghindari seragan balas—jika ada, dia harus melihat apa yang terjadi pada lawannya karena berani menangkis serangan yang di landasi Pukulan Triagni Diwangkara.

“Untuk beberapa hela nafas kedepan, kau akan lumpuh…” desis Kiwa Mahakrura menegaskan pandangannya lagi pada sang lawan—tapi tak juga bisa dilihat dengan jelas. Dalam hati dia sudah menghitung, dan hitungan itu sudah sampai pada tiga puluh.

“Kira-kira aku akan lumpuh dalam berapa hitungan?” tanya Jaka dengan berkacak pinggang.

Kiwa Mahkrura terkejut mendengar lawannya bicara seperti tidak pernah ada kejadian apapun.

“Kau.. kau..”

Jaka memotong ucapan Kiwa Mahakrura dengan derai tawanya. “Jangan pikirkan nasibku, aku ingin berbicang-bincang lebih dulu denganmu sebelum kita bertarung lebih lanjut. Jangan kawatir, aku paling bisa menyembunyikan rasa sakit, bisa jadi saat ini akibat dari pukulanmu sedang bekerja di tubuhku, dan aku tidak menampilkan itu.. untuk mengecohmu, itu bisa saja kan?”

Gigi Kiwa Mahakrura bergeletuk saking marahnya, ucapan lawannya itu sama saja tamparan buat dirinya, bahwa Jaka sama sekali tidak mendapatkan dampak yang diinginkan. “Kau datang dari mana?” tanpa sadar pertanyaan itu terlontar.

“Aku datang darimana aku suka, kau tak usah hiraukan itu. Aku hanya ingin membahas ilmu pukulanmu yang keras ini…” kata Jaka membuat Kiwa Mahakrura terkejut.

“Lengan kirimu sangat kuat, kau pasti terbiasa menggunakannya sejak kecil. Pola seranganmu juga sangat bagus, bisa melepaskan dampak yang bisa membuatmu mati dengan jantung pecah. Tapi dilain sisi, cara penggunaan serangan itu membuat seranganmu yang bersifat mencengkram dan menghanguskan tidak terasa. Hawa panas yang dihasilkan dalam serangan-seranganmu, tidak memiliki efek, bisa dikatakan itu bertolakbelakang. Kurasa cara yang kau lakukan dalam mengkombinasi metode serang ini masih sangat baru…”

Tidak ada setitik suara yang bisa di keluarkan Kiwa Mahakrura saat lawannya bicara panjang lebar, tepat menohok kelemahan.

“Aku ingin merasakan Pukulan Triagni Diwangkara dalam cara yang kau pelajari dari awal. Tenangkan hatimu, aku tidak akan menyerangmu… lakukan saja dengan fokus!” tutur Jaka dengan tenang, tapi kalimat itu sangat menggores perasaan.

“Keparaaat…” desis Kiwa Mahakrura dengan kemarahan sangat membuncah dada, cara Jaka bicara seolah sedang menghadapi murid atau pembantu, dan itu sudah sangat cukup menyulut kemarahan hingga puncak, berulang kali dia mengingatkan dirinya untuk tidak bertindak ceroboh, karena lawannya kali ini bukan orang kebanyakan.

Jaka tidak melihat adanya reaksi dari sang lawan, dia cukup paham seberapa tergoncang perasaan lawan menyaksikan dirinya tidak mengalami seperti yang dibayangkan. Sebenarnya itu juga tidak tepat sepenuhnya, Jaka sangat merasakan dampak dari ilmu Kiwa Mahakrura, bahkan dia mengatakan secara jujur bahwa dirinya sangat bisa menahan sakit, tapi mana ada orang yang percaya dengan omongan seperti itu? Dalam bertarung, adu nyali, adu gertak adalah termasuk seni perang psikilogis atau kejiwaan, pengendalian keadaan adalah kunci yang membuat Jaka selalu dapat mengambil inisiatif dalam keadaan sesulit apapun.

Dari pengalaman yang sudah-sudah, ‘penyakit utama’ Jaka adalah selalu berupaya mencerna hal-hal baru yang belum pernah di ketahui, ilmu-ilmu lawan yang belum pernah dia hadapi selalu ingin dirasakannya, di terima dengan rasa sakit, bagi Jaka adalah melebihi pengajaran baik lisan maupun tulisan.

Dasar pengetahuan yang dia cerna sebagai dasar olah nalar adalah anatomi, cara pemuda ini mempelajari ilmu-pun sangat bertolak belakang dari kebanyakan orang. Bahkan orang-orang terdekat pemuda ini, tidak akan ada yang menyangka, bahwa; begitu banyak pengetahuan olah kanuragan dan kesaktian dalam benak pemuda ini, diperoleh dengan cara ‘merasakan sakit’, menganalisisnya dan mengeluarkan dalam bentuk dan cita yang baru, yang lebih baik.

Kalau saja ada yang dapat menarik kesimpulan seperti itu, konklusi terdekat yang bisa mengidentifikasi mengapa begitu banyak luka di tubuh Jaka, kemungkinan terbesar adalah karena ‘kenekatan’ pemuda ini dalam menyelami rasa sakit atas ilmu lawan yang di terima. Tapi apakah benar begitu adanya?

“Aku masih menunggu…” kata Jaka mengingatkan Kiwa Mahakrura untuk menyerang.

“Baik! Kau memintaku untuk membuka pintu terlarang…” desisnya dengan tatapan mata makin nyalang. Kegelapan malam merefleksikan sinar matanya yang berkilat-kilat, Jaka diam-diam tersenyum menyaksikan keadaan lawannya, dia merasa hawa sakti Kiwa Mahakrura sudah mengelilingi tubuhnya berkali-kali dalam waktu yang amat singkat itu. Dan mengalami peningkatan drastis. Ini adalah hal baru yang membuat Jaka makin bergairah untuk menyelaminya. Mensirkulasi hawa sakti kesekujur tubuh dalam waktu singkat adalah pekerjaan sulit, tapi lawan didepannya bisa melakukan dengan tanpa kesakitan, begitu ringan, begitu mudah.

“Lakukan!” perintah Jaka sambil melangkah makin dekat. Tiap langkahnya tidak memiliki tekanan apapun, ringan dan tanpa beban, tapi bagi pandangan Kiwa Mahakrura, dia merasakan tekanan justru makin besar, tanpa sadar setindak demi setindak dia mundur.

Jaka memperhatikan setiap gerakan lawannya, saat ini Kiwa Mahakrura tengah memegang lengan kiri, cengkeraman itu nampak sangat kuat, Jaka juga melihat ada pendaran warna merah ada di tangan kanannya, dalam pandangan pemuda ini, denyut nadi sang lawan seolah mengalami sendatan dengan ritme teratur, Jaka memperhatikan diagfragma lawan, lalu beralih ke hidungnya, setiap jengkal perubahan dan gerak lawan di perhatikan secara seksama. Deru nafas Kiwa Mahakrura panjang dan sesekali tertahan, nampaknya itu adalah kunci dari ilmunya, Jaka sudah merasakan pukulan yang mengandung beberapa kelumit ilmu Triagni Diwangkara, tinggal memastikan sentuhan akhirnya saja. Tiap langkah yang dilakukan pemuda ini dalam pengamatannya, ada pengetahuan baru yang membuat dia semakin bergairah.

Jika saja Arwah Pedang sekalian melihat cara bertarung pemuda ini, mungkin akan sama merasa itu hal sia-sia. Secara kualitas dan kuantitas saja Kiwa Mahakrura bukanlah lawan sepadan, tapi kenapa pemuda ini sampai repot-repot membuang waktunya meladeni Kiwa Mahakrura? Alasan Jaka bukan terletak pada sang lawan, tapi kepada orang yang menurunkan ilmu ke Kiwa Mahakrura. mengetahui keadaan lawan, dan tahu diri sendiri; adalah kunci kemenangan. Meskipun Jaka sangat suka berspekulasi atas analisisnya, tapi jika dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan bahan pertimbangan untuk menjadi pelengkap analisa, dia tidak akan pernah mengacuhkan itu, dia akan melibatkannya.

Jaka melihat tubuh Kiwa Mahakrura menggeletar sesaat, nampaknya dia sudah cukup dalam persiapan, akan segera menyerang… dan benar! Jaka melihat jejakan kaki Kiwa Mahakrura bertumpu pada ujung jari makin menguat, seluruh otot paha, betis hingga tungkai berkontrakasi secara cepat! Jaka tersenyum, dengan menghentikan langkahnya, pemuda ini menanti pukulan Kiwa Mahakrura.

Sebuah serangan melejit bagai kilat dengan suara letupan nyaring menghambur menohok dada Jaka, serangan itu sebelumnya didahului dengan jejakan yang sangat kuat.

Dessh! Pukulan itu ternyata dilakukan langsung, tanpa ada media seperti dalam analisa Jaka kepada Arseta sekalian. Jaka merasakan sebuah sengatan yang amat sangat menyakitkan, langsung menghunjam melingkupi jantung, seolah ada tenaga yang meremasnya, dengan menghembuskan nafas yang tertahan Jaka bisa menetralisir rasa sakit. Dan dia melangkahkan kaki kesamping kanan, mengantisipasi serangan kedua yang sedang dilayangkan Kiwa Mahakrura, tapi alangkah kagetnya, saat dia merasa kakinya seperti membentur tembok tak terlihat!

“Ah, menarik!” seru Jaka, sembari memiringkan tubuhnya, pukulan kedua Kiwa Mahakrura kali ini menggunakan tangan kirinya, deru serangan itu benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Tapi karena Jaka sudah memiringkan tubuh dan berada di samping jangkauan serangan kedua, dengan sendirinya serangan kedua lewat begitu saja.

Tidak tahunya, saat pukulan itu lewat tak mengenai sasaran, Kiwa Mahakrura memukulkan tangan kanan kelengan kiri yang sudah terjulur. Detik itu juga Jaka yang berada di sebelah kiri Kiwa Mahakrura merasa ada tekanan dahsyat merambat dari lengan kiri lawannya, dan tekanan itu langsung mencengkram dirinya dan kebekuan gerak. Jaka membeku! Tak bisa bergerak!

Dan detik berikutnya, seperti petir menyambar, seluruh tulang Jaka merasa ngilu dan berderak dengan rasa membakar yang amat sangat. Kurang dari satu detik berikut, susul-menyusul rentetan pukulan bagai martir menghujani kepala Jaka. Bagi Kiwa Mahakrura serangan tadi adalah kemutlakan yang tidak mungkin terhindar, dan serangan terakhir adalah pamungkas penghabis riwayat lawan.

Tapi alangkah kaget dirinya, saat leher sang lawan meliuk-liuk dengan lincah mengindar setiap serangan, belum pernah disaksikan cara menghindar seperti itu. Tapi kekagetan yang lebih besar karena lawannya itu masih bisa bergerak, dengan sendirinya serangan berikut, mengarah selain kepala. Pukulan pertama menghantam bahu, pukulan kedua mengarah leher, pukulan ketiga dan seterusnya secara runtut menghantam dada hingga perut. Tapi secara ajaib, semua serangan itu bisa dihindari dengan jarak yang sangat tipis, hingga akhirnya Kiwa Mahakrura harus terlolong bengong, menyaksikan lawannya mundur secara teratur dan menghela nafas dengan suara keras. Dia benar-benar tidak paham bagaimana cara lawan menghindari jerat membeku dari ilmunya.

Seluruh rentetan gerakan itu seolah sangat lama, tapi itu terjadi tak lebih dalam sepuluh hitungan. Dan itu membuat Kiwa Mahakrua mendapatkan pukulan batin yang cukup berat.

“Menarik… ilmu yang sangat menarik.” Seru Jaka sambil berkeplok.

“K-kau.. siapa sebenarnya kau ini?” tanya Kiwa Mahakrura dengan perasaan tidak karuan.

Jaka tertawa berkepanjangan. “Tak usah memikirkan diriku, ayo kita lanjutkan gerakanmu…”

Jaka kembali mendekati Kiwa Mahakrura, dia mendekat dengan langkah biasa, tidak dalam ancaman tidak dalam serangan. Tapi tiap langkah lawannya itu kembali membuat tekanan yang sangat berat bagi Kiwa Mahakrura. Akhirnya dengan mengacuhkan segala pertahanan, Kiwa Mahakrura menyerang Jaka secara membuta, seluruh gerakan, seluruh tenaga dan semua kejelian dikerahkan dalam setiap pukulan, tendangan, meski selanjutnya Kiwa Mahakrura mengunus senjatanya, itu juga tak membuahkan hasil!

Jaka dapat menghindar semua pukulan itu, ada suatu kita tusukan dan tebasan yang dilakukan secara gencar seolah ingin menebas pinggang Jaka menjadi dua bagian, dapat dihindari dengan cara yang membuat Kiwa Mahakrura meneteskan keringat dingin. Bagaimana tidak, saat tebasannya datang; posisi lawan sedang setengah berjongkok, ditengah jalan tebasan itu berubah menjadi hunjaman dan serangan kedua juga menyusul dalam sebuah tusukan dengan bilah senjata yang tersembunyi… serangan tiga tingkat semacam itu sangat mustahil untuk di hindari! Tapi toh lawannya dengan ketenangan yang menakjubkan bisa memelintirkan bahunya untuk menghindari hujaman, lalu dengan liukan sangat tipis, menghindari hujaman senjata kedua yang belum pernah dikeluarkan, elakan itu secara dramatis hanya berjarak setengah ruas jari saja dari leher Jaka.

Kejap berikut dengan setengah memutar, Jaka sudah memunggungi Kiwa Mahakrura, dengan jarak yang amat tipis, dia bergerak bagai bayangan Kiwa Mahkrura, menguntit setiap gerak Kiwa Mahakrura dan sudah tentu tidak mungkin terjangkau serangan. Apakah ada serangan yang bisa mengenai bayang dalam cermin? Kira-kira itulah yang dirasakan Kiwa Mahakrura.

Semua serangan yang terhambur, membuatnya putus asa, setiap serangannya selalu dihiasi sentuhan jari lawan yang membuat jantungnya kian lama kian berdebar kencang dengan degup berlipat. Ini adalah penghinaan! Ini adalah pengacuhan luar biasa! Dan ini merupakan kejadian yang pertama dalam hidupnya!

Dengan menggertak giginya, Kiwa Mahakrura bergerak kesana kemari untuk berusaha menjangkau Jaka yang masih saja membayang di pungguhnya. Sampai pada akhirnya, Kiwa Mahakrura nekat, dengan gerakan seolah hendak membalikan badan, tangan kanannya melempar senjata secara melingkar kebelakang, membuat pedang melengkungnya berputar pesat seperti bumerang melibas lawan di belakangnya, dan disaat bersamaan dia mengecoh Jaka dengan melakukan tusakan serangan di bawah belikatnya sendiri hingga tembus! Serangan yang sangat berbahaya itu menembus bawah bahunya dengan cepat, menembus dan akhirnya mengenai Jaka. Gerakan Kiwa Mahakrura terhenti, karena rasa sakit menyengat, dia juga merasa serangan tadi turut menembus lawannya.

“Luar biasa!” seru Jaka yang entah sejak kapan sudah berpindah didepan Kiwa Mahakrura, ditangannya ada pedang melengkung yang tadi dilemparkan Kiwa Mahakrura dengan cukup akurat. “Lontaran pedangmu sangat bagus, sayang terburu-buru. Untuk melakukan serangan terakhir, dibutuhkan keberanian dan kematangan luar biasa. Nyaris saja…” kata pemuda ini membuat seri dalam hati Kiwa Mahakura menguncup dalam serpihan keputusasaan.

Jaka melemparkan pedang yang ditangkapnya tadi tepat kehadapan Kiwa Mahakrura. Dan melangkah begitu dekat, hingga jarak mereka hanya satu jangkauan saja.

“Kau bisa melihatku baik-baik…” desis Jaka menatap lawannya yang masih tertunduk.

Dengan gemuruh emosi yang luar biasa, Kiwa Mahakrura menengadahkan wajah, dia bisa melihat raut wajah lawan yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari dirinya. Seraut wajah gagah dengan sorot mata yang sangat mengintimidasi.

“Kau sudah mengingatku?” tanya Jaka dengan nada datar.

Kiwa Mahakrura menelan ludahnya berkali-kali, baru di sadari olehnya, sejak tadi sang lawan tidak pernah menyerang. Pada saat dia membututi tiap gerakannya, jika mau; dalam satu raihan saja, tangan sang lawan bisa mematahkan lehernya, tapi itu tidak dilakukan!

“Kau pikir aku akan melepaskanmu? atau kau mau menghabisi dirimu sendiri karena gagal dalam usaha membersihkan mata-mata yang ditanam Arseta dalam Perguruan Naga Batu?!” ketus Jaka membuat harga diri Kiwa Mahakrura hancur berkeping-keping.

Jaka bukanlah orang yang suka menyindir, tapi saat ini pemuda ini sengaja berkata demikian, orang semacam Kiwa Mahakrura yang berani melukai diri sendiri untuk bersepekulasi pada serangannya, tidak akan takut membunuh diri karena kegagalan. Maka cara paling bagus adalah mencemoohnya.

“Tadinya, aku mengira akan mendapatkan lawan yang sangat tangguh. Tapi ya… harus diakui, kau setangguh kecoa, sulit membuatmu menyerah kalah…” desis Jaka membuat hati Kiwa Mahakrura yang mendingin karena kekalahannya tadi, bergolak kembali.

Meskipun sakit hati dengan ucapan Jaka, namun toh Kiwa Mahakrura seolah mendapatkan titik terang kelemahan lawan. “Kau menginginkan aku menyerah?!” akhirnya Kiwa Mahakrura menemukan tujuan, bahwa ternyata sang lawan ingin dirinya menyerah, dan itu tidak akan mungkin dia berikan! Semangatnya membumbung kembali!

Jaka tertawa pendek. “Apa perlunya? Toh kau yang mengejar aku, bukan aku mengejar kau… aku hanya perlu melepasmu sekali ini dan menunggumu dalam kali berikutnya, apa susahnya? Apalagi aku bisa menjamin, bahwa hasilnya selalu sama!”

Kedekatan mereka benar-benar membuat Kiwa Mahakrura dicengkeram rasa amarah tak terkira, tapi saat ini dia tak berdaya, sebab selain semangatnya sudah runtuh, untuk mengangkat jemarinyapun dia merasakan keletihan yang amat sangat. Bukan letih karena tidak bertenaga, tapi begitu dirinya ingin menyalurkan tenaga, jantungnya menghendak dalam degub yang tak beraturan, dan itu membuat otot di sekjur tubuhnya melemah.

Jaka menyentuh bahu Kiwa Mahakrura, dan meremas lukanya. Meskipun wajah Kiwa Mahakrura seolah terpahat dengan raut dingin dan beku, remasan yang di lakukan lawannya membuat dia meringis kesakitan.

“Kau itu bukan siapa-siapa bagiku, hanya orang lewat yang iseng pamer keburukan. Tak lebih…” kata Jaka sambil berbalik membelakangi Kiwa Mahakrura, tangannya meremas batang pohon yang ada disampingnya. “Jika kau merasa dendam dengan kejadian ini, dan ingin membalas… kalau kau masih ada nyali, kau bisa mendatangi Ketua Bayangan Naga dan mengatakan maksudmu. Tapi kalau kau sungkan melakukan itu, dan tidak bisa menemukan jejakku, aku yang akan mencarimu…” kemudian Jaka melangkah, menjauh.

Kalimat terakhir seolah menggaung dalam benak Kiwa Mahakrura, bukan tantangan yang di lontarkan pemuda ini, bukan pula ancaman, tapi mengapa dirinya seolah ditodong dengan sebuah senjata yang tak bisa dihindari?

Kegelapan malam sudah menelan bayangan lawannya, dan Kiwa Mahakrura hanya bisa mendesah dengan kegetiran menggigit batin. Semula dia sangat dendam dengan perlakukan terakhir lawannya… barulah dia pahami, remasan Jaka ternyata dilambari totokan pada uratnya, mengunci pendarahan dan secara aneh merapatkan luka tusukan. Benar-benar dia tidak bisa mengerti orang yang dilawannya itu manusia macam apa. Kenapa niat membunuhnya malah dibalas dengan cara seperti itu? cara yang lebih baik dan tidak bisa ditolaknya?

“Bangsat!” desisnya secara tiba-tiba menyadari disekujur tubuhnya tak lagi tersimpan benda-benda berharga, termasuk lencana-lencana yang dia dapat dari korban-korban terakhirnya. Tapi selain memaki, apa pula yang bisa dilakukannya? Mengejar lawan jelas tak mungkin, saat ini keletihan masih menggayuti tubuhnya. Kalaupun dirinya bisa mengejar lawan, apakah dia akan mengemis-ngemis memohon semua barangnya dikembalikan? Hal itu jelas lebih-lebih tidak mungkin!

Braaak! Tiba-tiba saja Kiwa Mahakrura di kejutkan dengan tumbangnya pohon di hadapannya. Dengan langkah berat dia mendekati pohon itu, alangkah kejut rasa hatinya mendapati batang pohon itu ternyata hancur menjadi arang, hancur secara merata seluas satu hasta, dan itu yang membuat batang tersebut akhirnya tak kuat menopang beban diatasnya… hingga akhirnya rubuh.

Wajah Kiwa Mahakrura memucat pias, apa yang dilakukan lawannya kali ini jauh lebih menohok dari pada semua kekalahan tadi. Dia melihat ciri khas Pukulan Triagni Diwangkara dilakukan pada pohon itu! Seingatnya, pemuda lawannya tadi tidak melakukan ancang-ancang apapun, hanya menyentuh begitu saja, tapi dampak yang terjadi begitu mengejutkan. Hal yang bisa dilakukan gurunya itu ternyata demikian mudah dilakukan lawannya.

“Siapa dia? Siapa dia?” bisiknya berkali-kali dengan perasaan terpukul. Kiwa Mahakrura hanya bisa duduk menggelosoh bersandar pada sisa batang pohon yang tumbang.

Kepenatan lahir batin dia rasakan benar, di benaknya memang terpatri sebuah niat untuk melakukan pembunuhan pada orang tertentu, tapi kejadian hari ini membuat semangatnya runtuh total, apa yang dilakukan lawan adalah hal yang ingin dia capai dalam sepuluh tahun terakhir.

Dunia sungguh tidak adil! Pikirnya. Mengapa jika ada Kiwa Mahakrura yang jenius muncul pula orang macam dia? Geramnya dalam hati.

Dengan dada naik turun menahan kegeraman diantara ketidakberdayaan, Kiwa Mahakrura menelungkupkan wajah diantara lutut. Saat ini dia hanya ingin menenangkan batin. Malam ini benar-benar, hari tergila dalam hidupnya.

—oo0O0oo—

94 – Penguntitan

Jaka menyadari dirinya harus bergerak cepat, sengatan demi sengatan yang diterimanya dari Kiwa Mahakrura membuat lengannya sakit, bermula hanya rasa sakit ringan saja, tapi saat langkah kaki membawanya menjauh, rasa sakit itu kian menguat, dan pada akhirnya… Jaka merasakan kesakitan setengah mati! Dalam benaknya Jaka mencoba mencari tahu apa yang sedang menimpa dirinya, mutlak dengan kemampuan Kiwa Mahakrura, belum akan mampu mengguncangkan pertahananannya, berarti bukan karena ilmunya, pikir Jaka dengan rahang mengatup kian keras.

Ditubuh sang lawan ternyata mengandung racun! Dan itu membuat Racun Getah Biru yang tersimpan pada lengan Jaka—akibat serangan Pedang Baja Biru, bereaksi. Reaksi itulah yang membuat Jaka kesakitan, rasa sakit itu menjalar dengan cepat melingkupi sepanjang lengan dan sampai akhirnya membuat kebas jemarinya, kini bahkan sudah menyerang sekujur tubuh.

Terakhir racun tersebut kumat seingatnya sekitar dua bulan lalu, itu juga tidak separah saat ini. Keringat dingin mengucur berketel-ketel, Jaka paham benar laju Racun Getah Biru sulit di hadang, sungguh tak disangka racun dalam tubuh Kiwa Mahakrura yang bersifat pasif menjadi pemicu fatal bagi racun yang mengeram di tubuhnya. Seingat dia, hanya racun yang bersifat mengendalikan dan berdaya kerja sangat halus, dapat menjadi pemicu. Dalam rasa sakit yang makin menggila, Jaka akhirnya memahami bahwa; Kiwa Mahakrura merupakan pemilik tato racun—mungkin salah satunya, ya… dia adalah pion yang akan di gunakan oleh pihak tertentu untuk menjadi ujung tombak, mereka jelas tidak perduli dengan nyawa orang-orang ini, yang penting tujuan mereka tercapai.

Dalam hati Jaka menghibur diri, ‘untung saja racunku kambuh, ternyata aku jadi tahu orang yang seharusnya kucari…, tak perlu lagi repot kesana kemari mencari jejak pemilik tato racun’, pikirnya dengan getir.

Rasa sakit yang menyengat tiap sendi, membuat Jaka harus merebahkan diri di tanah, masih dengan kesadaran penuh, Jaka memilih tempat yang cukup tersembunyi. Halusinasi mulai menyerang benak pemuda ini, dengan nafas tersengal, Jaka mempertahankan pikirannya dengan mencoba menganalisa kejadian sebelumnya, dan itu cukup membantu untuk memfokuskan pikiran supaya dia tetap sadar.

Jaka teringat, Kiwa Mahakrura tidak memiliki rasa putus asa, meskipun dilihat secara akal sehat, saat itu Kiwa Mahakrura sulit untuk menang, untung dirinya tidak mendorong Kiwa Mahakrura untuk terus melakukan perlawanan, sebab makin banyak menyerang dia seperti kerbau gila yang hanya tahu lari lurus, makin lama kondisinya akan semakin memburuk dan pada akhirnya, dalam benaknya hanya ada nafsu membunuh—dan nafsu yang tak seimbang itu akan menelan Kiwa Mahakrura dalam kegilaan yang akan mencabut nyawanya. Anda saja Jaka terus memaksa Kiwa Mahakrura untuk menyerang, dia akan kehilangan jejak yang sangat berharga untuk menelusuri para pemilik tato racun. Dalam kondisi serba payah ini, Jaka masih bisa bersyukur, ada kemudahan dalam kesulitan.

‘Benar-benar dalam kesulitan ada sebuah kemudahan…’ pikirnya, dengan benak menerawang kejadian beberapa hari berselang, dia teringat Arseta memang pernah menceritakan padanya tentang kemungkinan para korban Serbuk Peluluh Jiwa—yang pada saat itu Jaka dianggap sebagai korban pula.

Memang begitulah akibat yang ditimbulkan dari racun Pelumpuh Otak, yang oleh Arseta disebut Serbuk Peluluh Jiwa. Menurut Arseta mereka yang didalam tubuhnya terdapat tato naga (beracun), mutlak hanya mendengar perintah satu orang… tak perduli kau ini saudaranya, jika datang perintah membunuh, takkan berkerut kening mereka lakukan tugas itu.

Teringat perbincangan hal ini, Jaka jadi tersenyum. Dia tersenyum bukan karena mengingat Arseta yang demikian mudah dikelabui, tapi dia teringat dua gadis yang berbincang dengannya saat mencoba mengorek informasi darinya dengan cara memijat dengan mengenakan baju sangat minim.

‘Ah’, desah pemuda ini menjadi agak rileks saat mengingat mereka, bukan karena mengingat minimnya baju yang mereka kenakan. ‘Ya, seingatku mereka mengenakan baju dengan belahan dada rendah dan paha molek yang menantang untuk dijamah… uh, sial! Kenapa aku malah mengingat-ingat yang itu?!’ Gerutu Jaka mencoba meluruskan fokus pikirannya dari deraan racun yang menggila, dia menghela nafas perlahan dan kembali mencoba mengingat kejadian itu, tapi lagi-lagi sial… tak kala ingin mengingat raut kejut keduanya saat melihat tubuh Jaka penuh dengan luka, pikiran pemuda ini malah lebih fokus bahwa; salah satu dari kedua gadis itu memiliki tahi lalat di paha kiri…

‘Ya, nampaknya benar di paha kiri, di bagian atas, dekat dengan… oh sial! Jangan berpikir itu lagi!’ gerutu Jaka.

Pemuda ini menenangkan hatinya, lebih baik aku memikirkan hal lain. Putusnya dengan memejamkan mata, tapi dalam benaknya kembali terbayang senyum gadis-gadis itu. ‘Arrgh!’ Jaka meremas kepalaya. ‘Sialan…’ makinya. ‘Nampaknya aku bisa tertelan halusinasi akibat pergolakan racun ini.’

Jaka kembali fokus pada Kiwa Mahakrura, dalam analisisnya, lawannya tadi memiliki kasta ilmu yang tinggi, ilmu semacam itu hampir sama dengan ilmu-ilmu keluarga yang diajarkan secara turun temurun, ilmu rahasia. Jelas penyelidikan untuk membongkar jaringan ini akan sangat berkaitan erat dengan semua aktifitas Kiwa Mahakrura.

Sadewa ‘sudah’ memberinya racun dalam dosis rendah, yang membuatnya ‘harus’ tunduk pada mereka, sementara baru diketahui ternyata Kiwa Mahakrura diberi racun dalam dosis yang tinggi, tapi apakah Kiwa Mahakrura akan mendengarkan ucapan Sadewa dan teman-temannya? Jika memang mereka yang memberi racun itu pada Kiwa Mahakrura, mutlak orang itupun akan tunduk pada Sadewa. Tapi jika tidak, siapa yang memberikannya?

Jaka tahu benar, proses pemberian tato racun tidak semudah membalikan tangan, korban yang akan di tato harus berendam dalam larutan semacam cuka selama dua belas jam. ‘Aku bisa coba memancing Sadewa dengan informasi adanya pemilik tato racun ini’ pikir Jaka berkeputusan.

Rasa sakitnya sudah agak mereda, tapi pemuda ini paham benar, reda ini hanya sementara, berikutnya akan ada amukan yang lebih menyakitkan lagi. Pemuda ini tak mau menyia-nyiakan situasi, dengan segera Jaka mengambil tempat duduk, menghela nafasnya panjang-panjang, dan mulai menghimpun tenaga sakti Melawat Hawa Langit.

Sistem olah nafas yang dimiliki Jaka adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa diluar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti. Gelegak rasa sakit berhasil dia tekan, tapi kondisi saat ini cukup menyulitkan dirinya bergerak tanpa harus mengerahkan hawa sakti yang berkesinambungan. Benar-benar sebuah pemborosan. Meskipun dirinya sanggup mengerahkan hawa sakti terus menerus tanpa membebani tubuh, tetap saja itu akan melelahkan otot-ototnya, kondisi yang cukup kontradiktif, sebab saat ini Jaka harus merilekskan otot dan syaraf, tapi dilain sisi jika dia tidak mengerahkan hawa saktinya, kemungkinan untuk kambuh, pasti akan sangat cepat.

‘Aku akan membatasi diriku dalam keadaan ini sampai malam ini berakhir…’ Pikir Jaka sembari bangkit, dia kembali ketempat pertarungan dengan Kiwa Mahakrura, untung saja belum begitu jauh.

Saat ini Jaka benar-benar ingin menyerahkan tugas penyelidikan latar belakang Kiwa Mahakrura pada kawan-kawannya, keadaannya yang kurang memungkinkan saat ini, membuatnya tidak leluasa untuk memulai.

Jaka sudah sampai di tempat tadi, dilihatnya Kiwa Mahakrura masih duduk tertunduk, nampaknya dia masih mencoba memulihkan tenaga. Jaka cukup paham, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk lepas dari pengaruh libatan jurus Karudhiran Rudita miliknya—jurus yang berarti Lumuran Darah yang Meratap adalah hasil jerih payah setelah menyaksikan dan merasakan ragam kemampuan Tujuh Satwa Satu Baginda, dalam tempo yang cukup panjang.

‘Muridnya’ saat ini pun hanya Ki Alih, seorang guru besar ilmu pukulan, bukan tanpa alasan Jaka memberi tahu kunci menguasai jurus itu, dia merasa ada kelemahan dari cara yang di terapkannya, berhubung dalam waktu dekat ini tak mungkin baginya untuk mendalami beragam hal baru dalam jurus itu, membuat Jaka memutuskan bahwa Kepalan Arhat Tujuh-lah satu-satunya kandidat paling meyakinkan dalam penyelidikan lebih lanjut.

Jaka berada dibalik kegelapan, mengawasi setiap gerak-gerik Kiwa Mahakrura, setengah jam kedepan mantan lawannya itu akan terbebas dari pengaruh yang membelenggu degup jantungnya.

Dari persembunyian, Jaka bisa merasakan tatapan nanar pemuda itu dan raut pucat lesi nampak berubah lebih fokus, perlahan namun pasti Kiwa Mahakrura sudah menemukan tenaganya lagi. Dengan berdiri perlahan Kiwa Mahakrura berjalan secara tergesa ke arah timur, bermula hanya berlari-lari kecil, lama kelamaan tenaganya dirasa sudah lancar, Kiwa Mahakrura menggunakan peringan tubuh dengan pesat. Tentu saja Jaka segera mengikutnya dengan sangat leluasa. Peringan tubuh adalah ‘nama tengah’ Jaka, tidak ada urusan yang membuatnya kesulitan jika harus mengunakan kemampuan yang satu itu.

Tak berapa lama kemudian Kiwa Mahakrura sudah berdiri di sebuah bangunan diantara rimbunan pohon, pemuda ini nampak ragu memasuki bangunan besar itu, namun pada akhirnya dia memberanikan diri untuk memasukinya, beberapa orang penjaga pintu gerbang terlihat mengangguk hormat pada orang itu.

Pintu selebar tiga meter sudah didorong hingga membuka, Jaka tak mau ketinggalan, dia memperhatikan sekitar bangunan itu, dan akhirnya menggerutu. ‘Ternyata orang yang punya rumah ini benar-benar sangat berhati-hati.’ Pikir Jaka saat melihat sekeliling tembok yang berfungsi sebagai pagar luar ternyata tidak terdapat satupun pohon, yang dapat memudahkan Jaka untuk menyelinap.

Pemuda ini tidak kehabisan akal, dia mencari pohon terdekat dan menaikinya hingga puncak, Jaka bisa melihat kondisi bagian dalam bangunan itu yang ternyata demikian terang. ‘Bagus!’ pikirnya. Penerangan yang berlebih, justru sangat membantu menyamarkan jejaknya diluar lingkup bias cahaya. Terlihat penjagaan juga disana sini, termasuk dibagian tembok. Dari ciri bangunan dan para penjaganya, Jaka bisa menyimpulkan, tempat itu adalah hunian keluarga kerajaan, semacam rumah peristirahatan.

Jaka tidak mau kehilangan jejak Kiwa Mahakrura, hal-hal lain di dalam bangunan itu dia tidak perduli—setidaknya untuk malam ini saja, bila berganti hari, lain cerita. Jaka pasti akan dengan senang hati mengaduk-aduk rahasia bangunan itu.

Dalam kondisinya yang teraliri hawa sakti terus menerus membuat segala sesuatu yang dilakukan Jaka dengan mudah dilakukan, namun dia juga harus berlomba dengan waktu, karena jika ototnya mengalami keletihan maka sistem pertahanan tubuhnya akan terganggu oleh bergolaknya Racun Getah Biru.

Jaka menghitung jarak pohon tempatnya mengintai dengan bangunan utama, kira-kira hampir lima belas tombak atau tiga puluh meter. ‘Aku bisa.’ Pikirnya dengan hati bergemuruh senang.

Dengan cekatan, Jaka memilih ranting beserta daun kering, lalu melemparkannya dengan penuh perhitungan, detik itu juga Jaka segera melejit mengejar ranting yang tadi dilemparnya, lalu menapak dengan ringan sebagai dasar pijakan, lalu melempar ranting lain, dan kembali dia melejit… demikan seterusnya, dan akhirnya Jaka sampai di atas bangunan utama.

Pemuda ini menghela nafas lega, dia menyaksikan penjaga di lingkungan halaman nampak terheran-heran, saat melihat ranting terjatuh dan beberapa daun kering melayang-layang.

“Hei, bukankah tidak ada angin?” seorang penjaga berkata pada kawannya.

“Ya.” Sahut kawannya pendek.

“Lalu dari mana datangnya ranting dan daun-daun ini?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang penjaga mendongakkan wajah mereka, tapi tatapan mereka tidak bisa menghasilkan objek apapun yang patut dicurigai, malahan mata mereka agak silau karena terangnya cahaya obor yang melingkupi sekitar halaman. Tapi lamat-lamat mereka mendengar kepak sayap burung.

“Burung membawa daun dan ranting sebagai sarangnya..” ujar salah satu penjaga itu berkesimpulan, dan teman-temannya juga sepakat dengan kesimpulan itu.

“Ya, sayang terjatuh…” sahut temannya sambil meneruskan rondanya.

‘Kalian pintar!’ puji Jaka tersenyum geli, pemuda ini segera menyusup ke dalam wuwungan bangunan utama, matanya berkisar mencari dimana adanya Kiwa Mahakrura, dan Jaka mendapatkan pemuda itu tengah berbicara dengan pemuda sepantaran.

“Kau kelihatan tidak seperti biasanya?” tanya rekannya perhatian.

Kiwa Mahakrura nampak gelisah sebelum menjawab, untuk menjawab secara jujur jelas dia malu, mengatakan tidak ada apa-apa, lebih-lebih tidak mungkin. Pemuda itu hanya mengangkat bahunya saja. “Paksi, aku harus berbicara dengan Duhkabhara!” tegas Kiwa Mahakrura.

Ah, ternyata dia yang bernama Paksi, batin Jaka merasa dirinya sangat beruntung. Berarti hasil analisa fisiknya tidak meleset.

“Kau begitu terburu-buru, apa begitu penting?” Tanya Paksi tidak bereaksi.

Kiwa Mahakrura mengigit rahangnya hingga berkriyut. “Tugasnya ternyata sangat sulit,” pada akhirnya Kiwa Mahakrura mengatakan hal yang bias membuat harga dirinya jatuh.

Wajah Paksi menapilkan rona tidak percaya. “Kau… mengeluh sulit? Dimana kesulitannya? Bukankah aku juga membantu tiap langkah yang kau lakukan?”

Kiwa Mahakrura menggeram. “Kau hanya melepaskan Jari Embun anak murid Cadas Merapi.”

“Kau salah, pada kesempatan lain, aku sudah menanam benih Jari Embunku pada semua mata-mata Arseta.”

Kiwa Mahakrura terdiam.

“Itu menjadi alasan bagimu, kenapa kau mudah melumpuhkan korban-korbanmu…”

Jaka yang mendengar sendiri dari mulut Paksi terperanjat, berarti semua mata-mata Arseta tinggal menanti hari ajal saja, sedikit saja mereka mengerahkan tenaga murni yang berlebih, ilmu Jari Embun milik Paksi akan membuat aliran darah mampat di berbagai tempat, selanjutnya korban hanya merasa pegal, pada kali kedua mereka mengerahkan tenaga murni, itu adalah saat-saat terakhir.

“Apa kau sudah berjumpa dengan nomor empat?” sergah Kiwa Mahakrura dengan nada dalam.

Paksi terdiam dan mengingat-ingat. “Apa dia orang yang direkrut oleh Sadewa?”

Kiwa Mahakrura mengangguk, “Ya, orang terakhir yang bisa diselamatkan Arseta…”

“Aku belum pernah menjumpainya…” Paksi secara jujur mengakui

“Itu keberuntunganmu…” dengus Kiwa Mahakrura. “Aku tidak punya waktu, aku harus berjumpa Duhkabhara, sekarang!”

Paksi akhirnya mengalah, dia paham sifat Kiwa Mahakrura, ya.. bagaimanapun hanya seorang kakak yang paham dengan sifat adiknya. Mereka masuk kesebuah ruangan yang tidak ada lagi penjaganya.

Jaka merayapkan tubuhnya dengan hati-hati mengikuti keduanya, setiap kayu wuwung yang dipinjak sebisa mungkin tidak menimbulkan getaran, hingga meruntuhkan debu dari langit-langit. Meski Jaka dapat saja mengadapi mereka, namun itu tak akan menghasilkan apa-apa. Bagaimanapun juga menghadapi orang-orang yang tidak ada keraguan membunuh, kewaspadaan adalah hal utama yang harus diperhatikan. Kau tidak akan pernah tahu cara apa yang akan digunakan oleh orang macam mereka.

Keduanya masuk kedalam sebuah ruangan yang hanya terhalang pintu kayu, Jaka melihat situasi sebentar, merasa aman dengan ringan Jaka melompat turun dan merapat kedinding ruangan, didengarkan dengan seksama seluruh percakapan.

“Kau sudah kembali, seharusnya aku mendengar kabar baik.” Terdengar suara bernada dingin dan ketus, Jaka mengasumsikan itu sebagai Duhkabhara.

Senyap beberapa saat, tidak ada jawaban dari Kiwa Mahakrura.

“Ada dua hal…” suara Kiwa Mahakrura memecah keheningan. “Aku sudah menyelesaikan tiga orang.”

“Bagus! Mana?” tanya Duhkabhara, Jaka tahu orang itu pasti meminta bukti. Sayang sekali bukti itu ada padanya sekarang.

“It-itulah hal kedua…” kata Kiwa Mahakrura dengan tersendat.

“Heh?!” dua suara dengan maksud berbeda terdengar Jaka, pemuda ini tahu, jika Paksi terkejut karena tidak percaya, Duhkabhara terkejut karena misi Kiwa Mahakrura gagal.

“Bukti-bukti dan beberapa tanda penting hilang…”

“Apa kau terjatuh saat berjalan?!” sergah Duhkabhara sinis. “Apa kau lupa mengemasi setelah selesai bercinta? Haram jadah! Perkerjaan mudah begitupun kau tidak bisa melakukan dengan benar!”

“Harap tenang paman… pasti ada alasan yang belum dia beritahu pada kita.” Kata Paksi menengahi.

“Korban keempatku… maksudku, calon korban, mengalahkanku dengan sempurna… sangat sempurna…” Kiwa Mahakrura mengatakan dengan suara lirih, Jaka bisa membayangkan pemuda itu tengah menundukkan mukanya.

“Anak perguruan mana?” tanya Paksi membantu mencairkan situasi.

“Aku tidak tahu, dia memiliki lencana perunggu nomor empat. Baru direkrut oleh Sadewa empat hari lalu, dan selanjutnya diselamatkan Arseta…”

“Kau pernah bertemu dengannya?” Dukhabara bertanya pada Paksi.

“Belum..” jawabnya singkat.

“Ada yang pernah mengetahui apa kegiatan orang itu selama disini?” tanya Dukhabara.

“Aku sudah mencarinya, tapi… jangan-jangan ada hubungannya dengan dia?” ujar Kiwa Mahakrura menduga-duga.

“Siapa?” tanya Paksi mendesak.

Kiwa Mahakrura menceritakan ciri-ciri orang yang pernah bertarung dengannya, dia juga menceritakan bagaimana dengan sangat mudah orang itu melumpuhkannya. Begitu selesai bercerita, wajah Dukhabara terlihat berubah.

“Paman mengenalnya?” tanya Paksi.

“Arwah Pedang…” katanya singkat. Dan jawaban itu cukup membuat dua anak muda itu bungkam dengan keterkejutan besar.

“Apa orang yang mengalahkanmu adalah anak murid Arwah Pedang?” tanya Duhkabhara menyelidik.

“Mutlak bukan, mereka berdua ada hubunganpun ini cuma dugaanku saja.”

“Bagaimana perbandingan ilmu Arwah Pedang dengan lawanmu itu?” tanya Paksi lagi.

“Tidak bisa kubandingkan, hanya saja orang itu jauh lebih menakutkan dibanding Arwah Pedang…” Jawab Kiwa Mahakrura dengan suara lirih.

“Dia mengalahkanmu dengan cara apa?” akhirnya Dukhabhara tertarik menyelidik.

“Aku tidak dapat melihat pola serangan orang itu, dia hanya menghindar dan membentur seranganku.”

“Bukankah seharusnya orang itu menerima dampak dari tiap benturan?” ujar Paksi.

Kiwa Mahakura menghela nafas, lalu dia menceritakan pertarungannya dengan Jaka. “…pada akhirnya, dia melakukan apa yang seharusnya bisa kulakukan dalam beberapa tahun kedepan.” Kataya dengan suara lemah.

“Maksudmu?” tanya Paksi tak paham.

“Pukulan Triagni Diwangkara dengan sempurna dia lakukan…”

Tidak ada komentar dari keduanya. Tapi Jaka cukup paham, mereka sedang dilanda keterkejutan tidak kecil.

“Aku hilang kepercayaan diri, aku takut jika harus berhadapan dengan dia lagi…” kata Kiwa Mahakrura.

“Dia mengatakan apa saja?” tanya Duhkabara dengan nada sedikit tinggi.

“Tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan kita. Hanya saja, dia sempat mengatakan menunggu pukulanku yang sangat keras. Seolah orang itu sudah mengerti aku akan melakukan pukulan Triagni Diwangkara..”

“Berarti dia sudah melihat mayat anak murid Cadas Merapi.” Tukas Paksi berkomentar. “Arseta membawa jenasah itu ke ruang penyimpanan. Aku bisa bertanya padanya nanti…”

“Aku tidak akan melakukan itu!” desis Kiwa Mahakrura. “Arseta sekalian pasti sudah mencium ketidakberesan ini, dan kau yang tersangkut dengan semua kejadian, cepat atau lambat akan terendus!”

“Tak perlu kau kawatirkan itu, dia menganggapku seperti anak kandung sendiri, perasaan itu aku bisa manfaatkan sejauh mungkin…”

“Kau bisa simpulkan kejadian yang menimpa Kiwa Mahakrura sebagai apa, Paksi?” tiba-tiba Dukhabara bertanya.

“Dugaan Kiwa bahwa dia ada hubungan dengan Arwah Pedang, tak boleh juga kita kesampingan. Yang menjadi titik perhatianku adalah, dia mengambil seluruh barang Kiwa. Itu akan menceritakan banyak hal mengenai kita, orang yang bisa meniru mentah-mentah ilmu lawannya pada saat pertarungan terjadi, adalah sosok yang menakutkan. Kepada siapa dia bekerja, untuk apa barang-barang itu dirampas? Dan hubungan seperti apa yang terbina antara dia dengan Ketua Bayangan Naga, akan memperjelas kesimpulan kita. Aku khawatir pergerakannya akan sangat mempengaruhi pekerjaan kita.”

“Itu menjadi tugasmu mulai detik ini!” kata Duhkabhara pada Paksi.

“Baik!”

“Apakah kau masih bisa melakukan pekerjaan lain?” Duhkabhara bertanya pada Kiwa Mahakrura.

“Dapat!” jawabnya tegas.

“Kau lacak dari mana datangnya asap di gua batu, jangan melakukan pembunuhan yang tidak perlu! Ketidaktelitian yang di lakukan Dwisarpa sangat fatal bagi kita… gerakan kita ternyata sudah terpantau oleh pihak lain.”

Informasi itu bagi Jaka hampir tidak membicarakan banyak hal, tapi dia bisa membuat satu jebakan karena mengetahui rencana-rencana mereka. Mendadak telingannya yang peka menangkap bunyi dari arah belakangnya, Jaka dengan sigap segera melejit keatas dan bersembunyi di wuwungan.

Dari pintu lain, Jaka melihat dua orang masuk. Wajah mereka terlihat tegas dan keras, bahkan mendekati sadis. Jaka hampir dapat menyimpulkan mereka berdua adalah Dwisarpa yang dimaksud Duhkbarhara. Begitu pintu tertutup kembali, Jaka kembali turun untuk menyadap informasi apa yang di bawa kedua orang itu.

“Apa yang kalian dapatkan?” tanya Dukhabhara pada keduanya.

“Orang yang kemarin lolos di tolong oleh penduduk setempat, tapi jejak selanjutnya menghilang setelah melalui Pasar Joropasa…”

Aha, ternyata keduanya adalah orang yang menyiksa Ki Sempana, batin Jaka. Dia yakin berikutnya akan banyak informasi yang dapat diserapnya, informasi yang menyatakan ciri pergerakan kelompok ini.

Tapi, tiba-tiba wajah Jaka berubah.

‘Gawat, kenapa harus sekarang?’ pikirnya dengan gundah, rupanya Racun Getah Biru mendadak bergolak dengan geliat yang membuat syaraf dan otot Jaka menggeletar nyaris tak terkontrol. Kondisi itu jelas sangat menyulitkannya untuk tidak diketahui dalam aksi pengintaian. Untuk mendapatkan otot yang rileks, membiarkan dirinya tidak dialiri hawa sakti jelas solusi paling mudah, tapi dalam kondisi saat ini jelas tidak mungkin!

Jaka merambat dengan sangat perlahan, dalam hati dia ingin sekali segera keluar dari tempat itu, karena penderitaan yang mulai mendera saat ini membuat dia harus melakukan hal-hal yang tidak mungkin dilakukan di tempat itu!

Pemuda ini sudah sampai di tempat dimana dia pertama kali ‘hinggap’, di atap itu masih ada sisa ranting dan daun kering yang tadi dikumpulkannya. Dengan merebahkan tubuh pada genting bangun itu, Jaka melepaskan hawa saktinya perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian bergolaknya racun bisa mereda, tapi otot belum cukup rileks untuk menerima getaran hawa saktinya lagi. Dengan menenangkan hati, Jaka mengatur nafas sesuai kaidah Melawat Hawa Langit, dengan sangat perlahan. Pernafasan itu memang tidak membebani kondisi tubuh yang sedang terluka atau mengalami kondisi separah apapun, tapi cara membangkitkan hawa sakti itu yang membuat syaraf Jaka harus menggeletar tegang, pada kondisi normal itu tidak ada efek apapun. Tapi saat ini?

‘Sial…’ pikir pemuda ini sambil menghembus nafas panjang. Jika harus menenangkan otot dan syaraf maka waktu yang dibutuhkan berkisar dua sampai tiga jam, dan jelas itu tidak mungkin baginya.

‘Ah, kenapa aku tidak menggunakan cara yang dilakukan Kiwa Mahakrura?’ pikirnya dengan harapan membuncah.

Jaka mulai menarik nafas panjang. Lalu menyendatnya secara perlahan, berulang kali dengan jeda yang teratur, kemudian membangkitkan hawa saktinya seperti pola sirkulasi yang dilakukan Kiwa Mahakrura, jika sebelumnya Jaka terbiasa menghimpun dari luar kedalam, saat ini dia melakukannya dalam kondisi yang berbeda, dari dalam keluar. Pada pusat hawa saktinya tersimpan, seolah menyembur ledakan hawa saktinya dan itu ditanggapi oleh otot dan syarafnya dengan menegang kencang.

Begitu ketegangan dimulai Jaka tahu, bab paling sulit adalah menenangkannya, maka dengan penggunaan meridian olah nafasan yang biasa dia lakukan, Jaka menekan gejolak otot dan syarafnya. Kondisi pengolahan hawa sakti keras dan lembut yang hampir bersamaan itu membuat tubuhnya merasa menggelembung penuh Hawa Sakti yang harus di lepaskan, Jaka tahu saat ini syarafnya dalam kondisi ‘membeku’ dalam kepadatan tenaga. Dan itu cukup baginya untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Dengan keringat bercucuran dari dahinya, Jaka meraih daun dan ranting, kemudian dileparkannya dengan kekuatan terukur. Detik berikut, seperti ledakan asap, tubuhnya melejit mengejar benda yang dilemparnya, memijaknya dan melejit kembali, melakukan hal itu sampai, daun dan rantingnya habis.

Pada pijakan terakhir, Jaka mendarat di pepohon yang memiliki pucuk paling tinggi, dengan mendapatkan pijakan yang padat, lejitan pemuda ini membawanya menjauh dari bangunan itu dengan pesat. Jaka tahu dia harus membuang ‘kebekuan’ dalam syarafnya, tapi itupun tak boleh dihabiskan sehingga kepadatan tenaga dalam syarafnya melemah, dan saat ini dia harus menghentikannya lajunya!

Apa jadinya tubuh yang masih melayang dengan pengerahan hawa sakti pada peringan tubuh, tiba-tiba daya itu hilang?

Tubuh Jaka terjatuh dengan luncuran pesat, untungnya pemuda ini sudah bersiap-siap pada benturan itu, dengan memanfaatkan cengkraman jemarinya yang kuat, Jaka meraih batang pohon yang dilewatinya, akibatnya tubuh yang sedang meluncur itu terhenti dengan sentakan keras, dan itu membuat pergelangan tangan dan sendi lengan pemuda ini ngilu!

Tapi rasa sakit itu cukup sepadan dengan pendaratan tubuh yang baik. Jaka menjejakkan kaki dengan sempurna, dan detik itu juga, jarinya segera melakukan berbagai teknik totok pada sekujur tubuhnya sendiri dan remasan pada jantungnya.

“Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen?” tiba-tiba terdengar seruan suara yang diliputi keterkejutan.

—oo0O0oo—

95 – ‘Peralatan Masak’ Gelombang Dua (?)

Jaka tidak terkejut, manakala dia mendarat, dia memang mengetahui ada beberapa orang disitu, mungkin mereka musuh, mungkin pula bukan siapa-siapa. Tapi persetan dengan semua itu! Jaka lebih memikirkan kondisi tubuhnya. Jemarinya kembali menari-nari dengan gerakan tusuk, cubit, getar.

“Ah, itu bagian Taiyin tangan yang tersembunyi… titik Zhongfu, Yunmen dan Tianfu…” gumam suara itu lagi nyaris saja memecah konsentrasi Jaka. Pemuda ini tergoda untuk melihat siapa kiranya orang yang bisa menyebutkan titik-titik rumit syaraf secara runtut itu.

“Ohya?” orang satunya mengomentari dengan tidak antusias. “Lalu apa pula artinya kalimat yang kau katakan tadi?”

“Maksudmu, Neijing Huang Ti Nei Ching Su Wen? Itu artinya azas umum pengobatan yang di lakukan oleh Huang Ti—seorang kaisar masa lalu di daratan jauh sana. Huang Ti Nei Ching Su Wen sendiri adalah judul sebuah kitab kuno, yang membahas pengobatan tusuk jarum dengan beragam teknik, juga lebih kepada..”

“Baik-baik, itu sudah cukup…” kata rekannya memotong.

Sambil mengangkat bahunya, orang itu kembali berkata. “Kau tahu, yang dilakukan saat ini adalah teknik Zhen atau menggetar, dan Chan emm… artinya menggigil, secara bersamaan, sungguh terampil!” dia berkata pada orang disebelahnya. “Hm, dia melakuan Rou dan Nie dengan sangat sempurna, tepat ke syaraf.”

Orang itu menggumam tak jelas, penjelasan rekannya tak membuat dia paham lebih banyak, menurutnya bahasa yang digunakan terlalu asing di telinga. Tapi dia tahu Rou berarti pijit, dan Nie artinya cubit. Rekannya sering menggunakan kedua cara itu padanya—dengan mengatakan berkali-kali sampai dirinya hapal betul—saat dia pegal-pegal.

Rekannya itu memang mempelajari banyak bahasa asing, dan dengan sendirinya pengetahuan dari bangsa asing dipelajari pula. Diluar dari penjelasan itu, dia bisa mengidentifikasi yang dilakukan Jaka dengan jemarinya pada bagian lengan dan bahu, adalah cara untuk menahan aliran hawa murni.

Rasa penasaran melingkupi hati Jaka, tapi dia cukup bisa menahan diri untuk tetap menggetarkan berbagai titik dalam lengan kiri-kanan, dan sekitar bahu.

Hampir tiap gerakan Jaka diikuti oleh kedua orang itu, bahkan beberapa gerakan yang terakhir, dikomentari pula secara detail. “Shaocung, Shaoze dengan teknik penguatan Qi? Ah bukan itu… itu lebih kepada titik Yanglao dipadukan dengan titik Shenmen? Tidak mungkin! Tapi… caranya menuju kepada arah perpaduan dua titik berjauhan. Teknik apa yang digunakan?” serunya terkaget-kaget sendiri pada rekan disebelahnya.

“Uh, jangan kau tanya aku…” ujarnya menjawab tak semangat.

Jaka bisa menyimpulkan sedikit dari pembicaraan itu, tapi gerakannya tak berhenti. Meski dia masih harus berkonsentrasi dengan apa yang dilakukan, Jaka sudah bisa mengalihkan perhatian dengan menegaskan pandangan matanya.

Di kegelapan malam, berangsur-angsur setelah bisa menyesuaikan pandangannya, Jaka bisa melihat mereka secara jelas. Dua orang, dengan sosok tinggi besar dan satu agak membungkuk. Agak menyipitkan mata, akhirnya Jaka mengatahui bahwa salah seorang diantaranya dia sudah pernah melihat, bahkan berbincang. Dia lelaki bertampang biasa yang menjadi lawan bicara pemilik Pancawisa Mahatmya. Orang kedua, lebih berumur—kalau tak ingin dikatakan renta. Cara berdirinya tidak tetap, Jaka menduga orang itu agak pincang.

Akhirnya Jaka menghembuskan nafas panjang-panjang secara cepat dan lambat, dengan tempo berbeda-beda. Gejolak dalam tubuh sudah mereda—meski hanya sementara. Saat ini tubuhnya di penuhi dengan tenaga yang sewaktu-waktu harus dimutahkannya. Karena oleh hawa murni yang dilakukan tadi dengan beragam teknik totokan, membuat tubuhnya mengembang, padat energi—seperti roti yang dipanggang, makin terkena panas, makin mengembang. Hal itu sengaja dilakukan Jaka untuk tetap membuat kondisi otot dan syarafnya ‘membeku’dalam bungkusan hawa sakti yang padat, setelah terbiasa dengan kondisi itu, Jaka bisa menekan pengaruh Racun Getah Biru sepenuhnya. Sebenarnya, dalam kilasan sesaat tadi.. Jaka sempat memikirkan untuk menekan pergolakan Racun Getah Biru dengan Tenaga Semu, tapi dengan kondisi saat ini yang membutuhkan pergerakan aktif, itu jelas bukan solusi terbaik—sementara dampak penggunaan Tenaga Semu bisa membuatnya harus berdiam diri berhari-hari.

“Hebat!” seru pemuda ini sambil bertepuk tangan. “Pengetahuan tuan sungguh luas. Kalau boleh, aku akan menambahkan sedikit…” Hal pertama yang diucapkan pemuda bukannya bertanya siapa dia, sedang apa disitu; tapi malah lebih memilih ‘meluruskan’ komentar orang itu.

“Shaochung, Shaofu, dan Shenmen…” kata Jaka sambil menunjuk titik-titik pada jari kelingking tangan kanannya, pangkal jari kelingking dan punggung tapak tangan. “berjumpa dengan Shouze, Quangu, Houshi, Wangu, Yanggu dan Yanglao…” sambil menunjuk titik-titik pada jemari kiri, dengan urutan yang sama seperti tadi, hanya saja ini mencapai pangkal pergelangan dan satu titik pada sambungan lengan. “untuk mendapatkan perlakuan Zhen dan Nie, karena itu sebagai dasar untuk membangkitkan Chan pada syaraf Jiquan dan Jianzhen…” Jaka menunjuk bawah ketiak sebelah kirinya.

“Ah ya… diantara titik Shaohai dengan titik Jiquan ada Qingling, titik ini harus dalam keadaan diam tanpa tambahan Qi…” Jaka menunjuk sendi sambungan lengan kanan dengan bawah ketiak kanan, Qingling sendiri terletak diataranya.

“Itu sulit!” seru orang itu berkomentar.

“Bukan berarti tak bisa dilakukan,” jawab Jaka dengan tersenyum. “Lebih jelasnya pada saat menambahkan Qi, untuk menutup antara jalur Shaohai dengan Qingling, lakukan lejitan Qi pada Fengmen…” terangnya memutar badan sambil sambil memegang tulang belakang ruas pertama. “Dengan sendirinya, lejitan Qi itu akan menghubungkan Jiquan, melewati Qingling…” kata Jaka sambil menghadap kemuka lagi.

“Ah…” seru orang itu terkesima.

“Kemudian lakukan sedikit lejitan Qi lagi untuk membangkitkan cara Bo, pada Qingling…”

“Tunggu! Bukankah kau bilang Qingling harus diam tanpa tambahan Qi?”

“Penambahan Qi dengan lejitan itu berbeda jauh, Qingling memang diam… tapi bukan berarti dia tidak bisa melontarkan Qi yang melewatinya, dia bisa menjadi pijakan untuk melejit. Gerakan itu akan menimbulkan Bo bersamaan dengan itu Mo juga muncul. Sesudah itu terjadi, gunakan Zhuo pada Dazhui..” lanjut Jaka kembali memutar tubuhnya sambil menunjukan satu titik di punggung, berjarak satu telapak tangan dari tengkuk.

“Ah, cara merenggut dan menggesek yang rumit…” gumam orang itu.

“Ooo.. jadi, Bo itu artinya merenggut, dan Mo adalah menggesek?” sahut lelaki berwajah biasa menimpali dengan gumaman.

Rekannya mengangguk tanpa komentar. “Lanjutkan, anak muda…”

“Pada akhirnya, sebelum Qi merambat ke Shaohai lagi, lakukan ledakan Qi beberapa saat sebelumnya dengan totokan pengunci.” Terang Jaka menutup pejelasannya.

“Ah…” tiba-tiba orang itu merasa penjelasan Jaka ternyata ada satu kejanggalannya. “Itu bunuh diri?!” serunya.

Jaka tidak menjawab.

“Kenapa kau berkesimpulan itu bunuh diri?” tanya temannya.

“Titik-titik yang dilewati beragam teknik itu, ditutup untuk menghalau tenaga, juga berguna untuk memacu fungsi jantung, biasanya itu hanya terjadi dalam waktu seratus hitungan, jika kau sampai melewati hitungan keseratus, pecah pembuluh darah di lengan kanan kiri adalah hal paling wajar yang terjadi…”

“Ah sialan! Dari tadi aku juga tahu teknik yang dilakukan pemuda itu untuk memampatkan tenaga, cuma pembicaraan sialan kalian ini membuatku pusing setengah mati!” Gerutu orang itu membuat rekannya tertawa terbahak.

“Puas, sungguh puas… berbicara denganmu membuat diriku memperoleh manfaat baru!” kata orang tua bertubuh agak bungkuk ini.

Jaka menganggukkan kepala. “Sama-sama, saya juga menginginkan hal serupa…” kata Jaka berdiplomasi, mengatakan bahwa dirinya juga inginkan informasi baru mereka.

“Boleh, cuma kau harus beritahukan kepadaku, kenapa harus menggunakan cara itu?”

“Ada cara yang bisa dan harus dilakukan, ada juga yang terlarang… tapi sebenarnya itu bisa dilakukan setiap saat.”

“Kau mengatakan dengan sangat samar, anak muda…”

“Akan kuperjelas saat mengetahui nama-nama kalian berdua.” Jawab Jaka sambil tersenyum kecil.

“Ah, cara meminta yang pintar…” gumam orang ini. “Kau bisa menyebutku, Adiwasa Diwasanta.”

Mendengar itu, Jaka seperti melihat kilat petir di malam hari. “Aku pernah mendengar nama itu. Menjadi kehormatan besar buatku…” sanjung Jaka dengan kejut tak berperi.

Ki Alih pernah bercerita sekilas, pada masa dia terjun ke dunia persilatan ada sesosok yang menurutnya menakutkan—dan dia sangat beruntung karena belum pernah bersua muka, orang itu dikenal dengan nama Adiwasa Diwasanta; yang berarti penghenti malam. Nama aslinya entah siapa, tapi semenjak orang ini mengalahkan salah satu anak keturunan Tabib Hidup Mati—dalam sebuah pertarungan yang beritanya hanya diketahui dari mulut kemulut—kemunculan namanya menjadi sebuah pertanda yang memusingkan. Senyumnya selalu ditafsirkan sebagai alamat maut buat orang yang dituju, kehadirannya menjadi bintang sial bagi siapapun itu, caranya bertindak tidak pernah diketahui. Informasi orang ini sangat tertutup rapat. Karena berbeda masa, derajatnya sudah tentu diatas Arwah Pedang sekalian. Bukan tanpa alasan nama ‘penghenti malam’ disematkan padanya, karena setiap orang yang dituju olehnya, tidak akan pernah bisa melewati malam hari berikutnya, dan pameo itu tidak pernah meleset.

Jaka menegaskan pandangan mata lagi untuk menyaksikan, sebuah legenda yang tidak pernah teraba itu, sesosok orang tua yang pada pandangan pertama akan sangat mengesankan kerentaan, tapi dikegelapan malam, Jaka masih bisa melihat setitik sinar bagai bintang dari matanya—menyaksikan itu, dalam hati Jaka bisa meraba ada semacam rasa sunyi, perasaan sunyi yang biasanya dimiliki jago yang belum pernah kalah. Diam-diam Jaka menghela nafas dingin dengan bulu kuduk meremang.

“Kita sudah pernah berjumpa, aku Alpanidra…” Kata orang yang bertampang biasa ini dengan nada lambat.

Jaka mengiyakan. Pemda ini merasa ada kekawatiran merambati hatinya, lelaki paruh baya bernama Alpanidra ini sejak awal dalam pandangannya memang memiliki bobot, melihat kondisinya saat ini yang bisa beriring jalan dengan Adiwasa Diwasanta, orang itu sudah tentu pilih tanding. Pemuda ini merasa kawatir bukan untuk dirinya, tapi dengan teman-temannya… Arwah Pedang sekalian, terkadang memiliki ego yan besar. Saat mereka menyaksikan ada nama besar yang hanya pernah didengar, semangat untuk ‘mencoba’ akan lebih besar dari biasa.

“Baik, aku sudah mendengar nama kalian berdua. Namaku sendiri Jaka Bayu. Mengenai alasan mengapa aku melakukan hal tadi, ehm… sebenarnya ini adalah tindakan pencegahan saja. Seperti yang sudah kukatakan tadi, ada cara biasa, ada cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat. Bagi kebanyakan orang, cara yang kugunakan mutlak bunuh diri, tapi bagiku adalah jalan hidup… inilah yang kumaksud dengan cara terlarang yang bisa dilakukan setiap saat.”

“Pertanyaannya adalah, mengapa?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan sangat penasaran, untuk ukuran pengetahuan yang dikuasai, Jaka terlalu muda.

“Sulit dikatakan…” sahut Jaka dengan suara agak sumbang.

“Haha… dari kemarin, waktu kau berkenalan dengan kawanku itu, aku sebenarnya juga ingin menjajal dirimu, sepertinya malam ini benar-benar jodoh untukku…” kata Alpanidra seolah mengetahui maksud Jaka, dan langsung dia tanggapi. Orang ini maju satu tindak kehadapan Jaka.

“Tu-tunggu… aku tak akan melakukan itu..” seru Jaka sambil mengangkat kedua tangannya. “Anggap saja aku kalah…” katanya.

“Tidak bisa! Ini toh bukan pertarungan untuk menentukan kalah-menang, tapi untuk mengetahui alasanmu melakukan hal-hal itu…” tukas Alpanidra bersikeras.

Jaka merasa apa boleh buat, “Lakukan dengan perlahan saja.” Kata pemuda ini.

“Terserah dirimu!” balas Alpanidra tertawa pendek, penjelasan Harsa Banggi—nama yang berati ‘suka akan bahaya’—lelaki bermata seperti ikan mati yang sempat menjajal Jaka, membuat dia merasa tertantang, sayangnya pada saat itu bukan waktu yang tepat untuk menyatakan antusiasme. Saat ini Alpanidra benar-benar akan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Jaka selalu memiliki jalan keluar dalam kondisi-kondisi sulit, kali ini pun dia memilikinya. “Kita hanya akan melakukan dalam tiga jurus, bisa tidaknya anda menarik kesimpulan dari sana tergantung pemahamanmu.”

Tidak menanti Alpanidra menjawab, Jaka menarik kaki kesamping, jemari kanan mengepal mengacung kedepan dengan buku jari tengah agak mencuat, sementara tangan kiri ditarik sejajar pinggang dengan telapak membuka kesamping dan kelingking tertekuk, lututnya agak merendah.

“Wah-wah… tangan kiri bersiap Merengkuh Arwah Rembulan, tangan kanan Kibasan Lengan Tunggal, kaki menggunakan persiapan Langkah Tujuh Raja.. dan tenaga itu, hm… terus berubah, sangat menarik…” Ujar Adiwasa Diwasanta memperhatikan setiap detail gerakan Jaka, dia merasa pemuda ini adalah orang paling menyentak minatnya dalam tiga puluh tahun terakhir.

Tidak menunggu Alpanidra berkomentar lebih jauh, Jaka memulai inisiatif penyerangan yang jarang dia lakukan. Dalam tiap ruas tulang yang melejitkan gerak, Jaka menggunakan perobahan beragam. Saat tangan kanan mengibas kedepan disusul dengan sapuan tangan kiri kemuka, tapi baru ditengah jalan gerakan itu ditarik kembali dengan kecepatan tak teraba, sehingga kedua tangan sejajar pinggang! Dalam kilasan detik gerakannya seperti menebar, dan gerak cengkeraman—menarik tangan sejajar pingang, membuat dadanya membusung dengan suara berderak. Sementara kakinya membuat tendangan menyamping, memotong pinggang Alpanidra.

Alpanidra tidak melihat ada hal aneh, pada serangan itu, dimatanya itu sama dengan tendangan dengan pembukaan gerak tidak berguna. Kecepatan tendangan itu sulit dielakkan, apa boleh buat dia harus menangkisnya dengan mengibaskan tangan kanan.

Tidak tahunya begitu tendangan itu hampir sampai, Jaka menarik balik tendangan itu sampai-sampai badannya memutar, dan akhirnya berganti kaki kiri menendang. Waktu yang dibutuhkan untuk menarik serangan tendangan dan meluncurkan tendangan lain, hampir tidak ada satu detik! Tapi Alpanidra merasakan tekanan sangat fokus pada tulang panggul dengan kekuatan berkali lipat.

Jelas itupun dia tak sanggup untuk mengelak, terlalu cepat! Yang bisa dilakukan hanya mengempos tenaga sakti melingkupi sekujur tubuhnya, dengan rencana serangan balasan, begitu benturan terjadi. Sebab tangan kirinya juga tak sempat lagi melakukan tangkisan!

Tapi lagi-lagi, Jaka menarik serangan itu membuat badannya berputar lagi dengan arah kebalikan, dan begitu kaki menyentuh tanah, tubuhnya mencondong kemuka pada saat bersamaan kedua tangan memukul dengan posisi badan miring.

Gerakan demi gerakan aneh itu terjadi kurang dari satu helaan nafas, bagi orang yang biasa, hanya akan melihat satu gerak serangan pukulan terakhir sebagai jurus pertama, padahal Jaka sudah melakukan tiga jurus dalam kombinasi yang sangat rumit dan beragam.

Dessh!

Tidak ada pilihan bagi Alpanidra kecuali menerima serangan itu dengan hawa sakti terpusat pada dadanya! Seluruh rencana dalam benaknya buyar seketika begitu merasakan gumpalan-gumpalan tenaga sakti lawannya menerobos hampir seluruh pembunuh darah. Tidak ada rasa sakit yang dialami, hanya tiba-tiba saja seluruh pembuluh darah terasa melebar dan pada kejap berikut tenaga serangan itu menciut sama sekali—hilang tidak berbekas, membuat syaraf-syarafnya merespon dengan hal yang sama—menciut.

Dampak yang dirasakan Alpanidra tubuhnya seolah lumpuh, padahal himpunan hawa saktinya masih berputaran disekujur tubuh, tapi serangan Jaka yang tidak menimbulkan rasa sakit itu seolah merenggut bagian dalam dirinya. Membuat dirinya keras diluar, hancur didalam!

“Sudah tiga jurus…” gumam Jaka dengan tubuh berdiri sempurna sembari mememperhatikan Alpanidra.

Alpanidra masih berdiri termangu, pada hitungan kelima, tiba-tiba dia berteriak keras dan melancarkan pukulan kedepan. Dalam alam pikirnya, Jaka masih berdiri tepat didepannya, padahal saat ini Jaka berada disamping.

Brak! Gemuruh suara batang pohon dilanda pukulan Alpanidra membuat Jaka terkagum-kagum. Batang pohon itu meledak dengan serpihan berhamburan kemana-mana. Jika pukulan Triagni Diwangkara menghancurkan objek serangan dengan pola menghanguskan lebih dulu, maka pukulan Alpanidra seolah meluluh lantakan dalam bentuk aslinya, jelas itu pekerjaan lebih sulit, karena dibutuhkan himpunan tenaga sakti yang sangat besar.

“Hiaaat!” Alapanidra berteriak kembali dengan melakukan pukulan kedepan.

“Cukup!” bentak Adiwasa Diwasanta melesat cepat kehadapan Alpanidra dengan mencengkeram kepalan tangan rekannya.

Jaka sangat terkejut melihat tindakan Adiwasa Diwasanta yang ceroboh, tapi dilain saat, pemuda ini terkagum-kagum saat orang tua agak bungkuk itu mengibaskan tangannya yang lain, sebuah angin yang membadai terbit dari kibasannya dan membuat ranting, bebatuan dan beberapa batang pohon meledak!

“Luar biasa… seperti Mengalir Menembus Besi…” gumam Jaka dengan bertepuk tangan terkagum-kagum. Ternyata, Adiwasa Diwasanta dapat menyalurkan serangan Alpanidra lewat kibasannya tadi, hebatnya lagi cengkeraman tangannya membuat pergolakan tenaga dalam tubuh Alpanidra yang meliar akibat serangan Jaka, reda seketika!

“Kau tahu teori Mengalir Menembus Besi?” tanya Adiwasa Diwasanta dengan tatapan menyelidik—merasa tertarik dengan ucapan Jaka. Setelah melakukan gerakan yang cukup berat tadi, tak juga terlihat adanya engahan berarti orang tua ini.

Jaka mengangguk. “Tapi yang tuan lakukan lebih hebat daripadanya,” tukas Jaka. “Kulihat rambatan tenaga lawan, selain bisa dimanfaatkan sesuka hati, tuan pun bisa menggunakan untuk keperluan pribadi…” sambungnya dengan maksud yang absurd.

Adiwasa Diwasanta tertawa, hatinya senang bukan kepalang! Untuk kali pertama dalam hidupnya dia akhirnya menemukan orang yang bisa diajak ‘bicara’ dalam banyak hal. “Katakan padaku, apa maksud keperluan pribadi?” tanyanya dengan senyum masih mengembang.

“Jika itu terjadi pada orang lain, tiap serangan lawan akan digunakan untuk mendobrak kebuntuan pada syaraf-syaraf ditubuhnya. Sebuah teknik nyaris tanpa cela…”

Adiwasa Diwasanta mengangguk-angguk. “Masih nyaris ya?” ujarnya. “Ternyata belum sempurna…” gumamnya.

“Ya, nyaris…”

“Apa kau sanggup mengungkap kelemahan kemampuanku?” Adiwasa Diwasanta bertanya tanpa basa-basi.

“Jika saja tadi aku harus menghadapi tuan, akan sulit buatku. Tapi, tadi aku sudah cukup menyaksikan, dan ini cukup buatku.” Jawab Jaka tidak langsung, membuat Adiwasa Diwasanta termenung sambil menghela nafas. Jika itu keluar dari mulut orang lain, dia akan menghajar sampai setengah mati karena omong kosongnya. Tapi bobot Jaka Bayu dimatanya saat ini berbeda, pemuda yang bisa melakukan teknik pembekuan syaraf tanpa harus menghambat gerak, adalah sebuah pembenaran bahwa kemampuan Menerobos Jasad Emas miliknya masih bisa dilumpuhkan.

“Apa yang terjadi?” tiba-tiba saja Alpanidra berseru mengejutkan mereka. Lelaki ini seperti disentak kesadarannya matanya berulang kali diusap.

“Kau terjebak dalam ilusi tenagamu sendiri..” jawab Adiwasa Diwasanta menjelaskan.

“Terjebak?”

“Ya, tiap gerakan yang di lakukan anak muda itu membuat syarafmu terlena dan akhirnya kaupun terjebak kebelakang, apa yang kau lakukan lebih lambat dari seharusnya, jika itu terjadi pada pertempuran sesungguhnya, kau sudah mati. Karena syarafmu merespon serangan lawan dengan lambat…”

“Ah….” Desah Alpanidra akhirnya menyadari sesuatu. “Aku paham…” tiba-tiba Alpanidra berseru. “Jadi, kau melakukan teknik pada dirimu sendiri, selain membekukan tenaga, juga untuk memeliharanya… maksudku supaya tidak menghilang, dan bisa digunakan sewaktu-waktu.. ah bukan-bukan.. maksudku..”

“Aku sudah menangkap maksudmu, dalam mengamati sesuatu kau memang tanpa cela!” sela Adiwasa Diwasanta sambil menepuk bahu sahabatnya. “Jelaskan padaku dalam bahasmu anak muda…” katanya seraya menatap tajam pemuda ini.

Jaka terdiam, dia merasa sungkan menjelaskan hal-hal yang mungkin saja bisa disalah pahami mereka. “Masih sulit kuungkap dengan bahasa… tapi jika tuan sudah memahaminya, tetaplah seperti itu.”

Geraham Adiwasa Diwasanta menggembung, dalam masa hidupnya, hampir semua permintaannya selalu dituruti orang, siapapun dia. Tapi sikap pemuda ini membuatnya merasa geram, tapi dilain sisi ada rasa sungkan yang membuat hatinya tak sanggup memaksakan kehendak.

“Baiklah, bisakah kira berbagi informasi?” tanya Jaka tanpa basa-basi.

Masih dengan perasaan bingung—karena gelombang hawa murni dalam tubuhnya yang naik turun akibat serangan Jaka, Alpanidra menghela nafas lalu berbicara. “Kau pernah mendengar nama Lindu Wastu dan Wingit Laksa?”

Jaka mengangguk.

“Mereka sudah ada di tangan kami, satu benang merah sudah didapat. Seolah semua yang terjadi di Perguruan Naga Batu tumpang tindih tak karuan, pandangku sekarang bisa kupertegas padamu. Jika kemarin kukatakan ada tiga kelompok dan mengasumsikan kelompok ketiga adalah dirimu, maka saat ini aku menyatakan kelompok ketiga adalah orang lain.”

Jaka termenung. “Apakah ada yang mengetahui kabar tentang kaum Riyut Atirodra?” pertanyaan itu membuat keduanya terkejut.

“Bukankah mereka sudah tidak ada diseputaran kota pagaruyung lagi?” tanya Alpanidra.

“Seharusnya,” jawab Jaka. “tapi aku merasa mereka akan kembali ke kota ini lagi.”

“Merasa? Itu tak bisa dibenarkan sebagai dasar pikiran. Tentu kau punya alasannya anak muda!” tandas Adiwasa Diwasanta.

Jaka menghembuskan nafas perlahan. Lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Kanayana—anggota Riyut Atirodra yang di hajar sampai konyol oleh Hastin Hastacapala. “Mereka memang bukan anggota penting, tapi jika mereka sampai hilang dari pantauan penanggungjawabnya, ini akan memancing pergerakan salah satu hulubalangnya… aku mengkhawatirkan itu.”

“Akan kuselidiki informasimu…” kata Alpanidra. “Lalu, kau sendiri sedang apa disini?” dia balas bertanya. Dan Jaka juga menceritakan apa adanya, tanpa ada yang ditutupi—kecuali pertarungannya.

“… Duhkabhara merupakan tokoh sentral sementara, sebelum kita bisa memegang kepala mereka yang sebenarnya. Besok siang aku akan berjumpa dengan para tokoh Perguruan Naga Batu, petang esok hari aku akan menemui tawanan kalian.” Pungkas pemuda ini.

“Para wakil dari enam belas perguruan utama sudah ada disini semua, apakah kau atau kami yang akan mengurus mereka?”

“Lebih baik kalian saja.” Ucap Jaka menjawab pertanyaan Alpanidra.

“Oh satu lagi, kau tadi menyebutkan Pratyantara?”

“Ya, ada apa dengan mereka?” tanya Jaka.

“Besok kau bisa berjumpa Jung Simpar, mungkin ada hal baru yang bisa kau korek…” ucapan Alpanidra memang seperti tiada maksud apa-apa, tapi bagi Jaka, itu seperti tamparan.

Jung Simpar sudah menjadi tanggung jawab Ki Alih dalam ‘mengurusnya’, bagaimana mungkin mereka mendapatkannya—menawannya? Apakah hanya sekedar gertakan? Apakah ada kebocoran dalam perkumpulannya?

“Baik, kita tetapkan seperti itu saja.” Kata pemuda ini sambil menangkan goncangan hatinya. “Aku permisi lebih dulu…” tanpa menunggu jawaban, Jaka melangkah menjauh, tapi mendadak pemuda ini kembali membalik badan.

“Oh satu lagi…” katanya menirukan gaya ucapan Alpanidra. “Aku berterima kasih atas apa yang kau lakukan pada Momok Wajah Ramah…”

Selesai berkata begitu, tubuh Jaka sudah telan kegelapan malam. Meninggalkan Alpandira yang menatap bayangan pemuda itu dalam keterkejutan.

“Bagaimana dia bisa tahu, aku yang melakukan?” tanyanya pada Adiwasa Diwasanta dengan rona masih terheran-heran.

“Mana aku tahu?! Setan yang tahu!” dengus Adiwasa Diwasanta merasa perbincangannya dengan Jaka masih sangat kurang, dia ingin mencari pemuda itu, menanyakan beragam hal.. jika perlu mengorek benaknya! Jika benar ada—cela pada ilmu Menerobos Jasad Emas miliknya jelas tidak boleh terjadi!

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: