Seruling Sakti Jilid 96-100

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 96 Sampai 100

96 – Hari Kelima

Jaka duduk termenung memperhatikan peta yang sudah berhasil di salin ulang oleh Cambuk. Lelaki itu nampak terkantuk-kantuk menunggu komentar Jaka, maklum saja sejak dia mendapatkan ide dalam penulisan keterangan peta, sampai dini hari ini sudah berlangsung delapan jam. Hari yang melelahkan.

“Bagus sekali paman, silahkan beristirahat…” kata Jaka sembari menyandarkan punggung dan memejamkan mata sekejap, dengan ekor matanya Jaka melihat Hastin juga sedang tidur mendengkur. Pemuda ini tertawa dalam gumam, dalam hati dia sangat berterima kasih bahwa tokoh dengan nama bagai mega di angkasa itu mau memberikan sumbangsih tenaganya.

Menjelang dini hari adalah waktu yang sangat baik untuk melakukan koreksi atas segala tindakan, pemuda ini membasuh wajahnya dengan air, sebersit kesegaran menyirnakan rasa kantuk, setelah menyeka wajah, dia mengambil tinta dan membuat catatan-catatan yang harus mereka diskusikan sebelum fajar menjelang.

1. Momok Wajah Ramah, berhasil dilumpuhkan dengan sendirinya kedatangan Sakta Glagah sudah terpantau—jika ada orang-orang kita yang menjumpainya, bawa dia ke Kuil Ireng.
2. Resep yang diberikan kepada Sakta Glagah, akan membuat guncangan pada Perkumpulan Garis Tujuh Laut bersama Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka akan segera bergerak.
3. Jika Garis Tujuh Laut bergerak dengan sendirinya perkumpulan Garis yang lain akan ikut bergerak memanaskan suasana.
4. Orang-orang Ketua Bayangan Naga, akan mulai memburu Paksi dan Kiwa Mahakrura, kita akan memberikan petunjuk pada Paksi, tentang adanya aku. Bahwa aku adalah adik dari Ketua Bayangan Naga.
5. Kiwa Mahakrura harus dilumpuhkan di pada saat mencari informasi kejadian diGua Batu, dari mulutnya akan kita sebarkan informasi, Swara Nabya yang turun tangan.
6. Pisau Empat Maut, harus segera memberikan bantuan-bantuan padanya sesegera mungkin. Adiwasa Diwasanta bisa menjadi ujung tombak yang mematikan. Kita juga harus berhati-hati dengan posisi mereka, saat ini masih menjadi kawan, entah besok.
7. Meraup tenaga Pemabuk Berkaki Cepat yang sudah berhasil di provokasi. Mengarahkan mereka untuk mengepung Perguruan Naga Batu, buat suasana menjadi sangat meriah.
8. Riyut Atirodra, harus kita dapatkan jejaknya!
9. Bagaimana kondisi Jung Simpar saat ini?
10. Jejak Golok Sembilan Bacokan akan disebar di kota ini.

Sepuluh point yang di tulis Jaka masih memiliki banyak sisa pada halaman bawah, itu yang akan ditambahkan Ki Alih sekalian. Pemuda ini merebahkan badannya, dan memejamkan mata sekejap.

****

“Apakah kita memiliki catatan mengenai anak muda itu?” tanya Adiwasa Diwasanta pada Alpanidra, mereka nampak keluar dengan santai melalui pintu gerbang dari bangunan yang baru saja ditinggalkan Jaka. Beberapa orang dengan sangat hormat mengantarkan mereka keluar dari gerbang!

“Tidak, kecuali informasi yang keluar dari mulutnya sendiri apapun kita tidak memiliki ikhtisar mengenai Jaka Bayu.” Sahut Alpanidra.

“Apakah tidak ada yang mengikuti pergerakannya?”

“Pernah ada, tapi kepergok olehnya… dari pada kita membangunkan harimau tidur terlalu dini, lebih baik saat ini fokus pada masalah yang terjadi saja.”
Adiwasa Diwasanta mengumam perlahan. “Anak itu sangat.. jenius.. ah bukan, mungkin lebih kepada cerdik dan jeli.. hm, entah bahasa apa yang tepat untuknya …”

“Pertemuan pertamaku juga menyimpulkan begitu. Kupikir, tadi sewaktu dia menghadapiku, akan mengeluarkan jurus yang pernah mengejutkan Harsa Banggi, tidak tahunya ilmu setan…” gerutu Alpanidra. “Kau dan dia setali tiga uang!” Sambungnya.

Orang itu tertawa. “Jika kau berkesimpulan begitu, maka aku akan sangat hati-hati padanya. Tahukah kau, gerakan yang di lakukan sebelum pukulannya menghentikan laju tenaga saktimu itu adalah enam belas macam gerakan dari dua belas perkumpulan berbeda?”

Alpandira tidak memberi komentar. Semula dia kira beberapa gerakan rumit yang ditarik berulang kali oleh Jaka adalah gerak tipu. Tapi setelah dipikir ulang, rentetan gerakan yang mengandung beberapa ciri gerak dari berbagai perkumpulan, adalah semacam ancang-ancang menuju satu titik kekhasan sebuah ilmu. Dulu saat dirinya menguasai ilmu pukulan yang sangat diidam-idamkan orang, untuk melepaskannya, lebih dulu butuh pengerahan dua belas gerakan khas dari pukulan tersebut, sebelum merambat menuju puncak. Saat ini dia sudah menyederhanakan menjadi satu gerakan saja. Dia berkesimpulan, apakah Jaka telah membuat dirinya menjadi ‘kelinci percobaan’ pukulan barunya? Karena untuk ukuran sebuah ilmu pukulan andalan, ancang-ancang yang dilakukan pemuda itu terlampau banyak—meski itu dilakukan dengan sangat cepat.

“Tapi yang paling menarik adalah, ada lima jenis tenaga yang berputar sangat cepat dalam lontaran pukulannya. Aku melihat sedikitnya ada tiga macam hawa sakti, yaitu; Hawa Dingin Penghancur Sumsum, Badai Gurun Salju, dan Hawa Bola Sakti, dua hawa sakti lainnya aku kurang tahu. Kelimanya berputar dengan sangat cepat, aku merasakan sebelum pukulan anak itu mengenai dirimu, paling tidak dia sudah melakukan dua kali sirkulasi kelima hawa murninya…”

Kali ini Alpanidra benar-benar terkejut. “Dia menguasai tiga ilmu mustika?”

Pertanyaan itu disambuti anggukan rekannya.

“Pantas saja dia sanggup menahan Pancawisa Mahatmya…” desisnya.

“Meski aku melihat hawa itu selapis tipis, pandanganku tak bisa disangkal! Mungkin dari catatan Wrddhatapasa, kita bisa melihat masa lalu anak itu…” timpal Adiwasa Diwasanta.

“Ah…” Alpanidra tak berani berkomentar, Wrddhatapasa adalah sebutan umum pada Pendeta Tua, tapi yang di sebut Wrddhatapasa yang dimaksud rekannya itu hanya ada satu orang. Dia salah satu sesepuh Dewan Pelindung Ilmu Mustika, mungkin hanya Adiwasa Diwasanta yang bisa bebas ngobrol dengan orang yang disebut Wrddhatapasa.

****

Momok Wajah Ramah berada dalam kebimbangan besar, memasuki pusat kota di malam hari tak membuatnya merasa nyaman. Kali ini dia bahkan merubah caranya berpakaian dan raut wajahnya dengan samaran.

Dengan hati gelisah orang itu berjalan dengan mata berkisar waspada, seluruh tanda rahasia perkumpulannya bertebaran di tiap jalan. Beberapa dari tanda itu bahkan di buat oleh Bergola yang menyatakan: “Mencari rekan.”

Dalam banyak hal, Momok Wajah Ramah merasa bisa mengontrol Bergola, tapi setelah dirinya runtuh habis-habisan seperti saat ini, dia menjadi sangat kawatir jika berjumpa dengan rekannya itu. Dilain sisi, orang yang sudah melucuti dirinya juga merupakan kekawatiran terbesar baginya, untuk melakukan satu tindakan busuk lagi Momok Wajah Ramah harus berpikir ulang seratus kali.

Momok Wajah Ramah berpapasan dengan penjual gorengan yang memikul bakulnya, penjual itu pulang dengan wajah riang, nampaknya laku semua. Mereka berselisih jalan dalam jarak sangat dekat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Momok Wajah Ramah berpikir; apakah dirinya harus mencari uang dengan cara berjualan?

Manakala pikirannya melayang kesana, penjual gorengan itu dengan kecepatan bagai kilat memukulkan pikulannya kepinggang Momok Wajah Ramah, lelaki ini terkesip. Dengan reflek dia menjatuhkan tubuhnya kedepan, mengambil kerikil dan disambitkan pada penyerangnya! Sayang, gerakan itu hanya terjadi diangan-angannya, sebab sabetan penjual gorengan itu datang lebih cepat. Tubuh Momok Wajah Ramah menggelosoh.

Sebelum tubuh itu jatuh, penjual gorengan itu sudah menangkap bahu lawannya. “Kau kenapa, apa kurang sehat tuan? Mari biar saya antar…” katanya dengan suara sumbang.

Mulut Momok Wajah Ramah terkunci gagu, dia ingin memaki kalang kabut, dia ingin supaya orang lain yang baru saja berpapas dengan mereka mengetahui bahwa dirinya di serang. Tapi orang itu hanya berhenti sejenak, melihat mereka berdua lalu berjalan menjauh.

“Jika ingin menyamar, lebih baik kau potong kakimu…” Momok Wajah Ramah hanya mendengar satu kalimat itu sebelum akhirnya dia tak bisa mendengar apa-apa. Ya, pikirnya, tubuh yang lebih tinggi dari kebanyakan orang, memang menjadi ciri khasnya. Pantas saja orang itu menyarankan dirinya untuk memotong kaki. Momok Wajah Ramah hanya bisa merasa ketakutan dan keputusasaan melingkupi dirinya dengan sempurna.

****

Sakta Glagah sudah ditinggalkan ketiga pengawalnya, dia memasuki sebuah rumah penginapan. Seorang gadis yang nampak kelelahan dan lemah tergolek di pembaringan. Hati lelaki ini nampak bergemuruh melihat ketidak berdayaan itu, tapi dilain sisi, dia juga merasa ada harapan tersemai saat melihat bungkusan kain dalam genggamannya. Bungkusan yang di serahkan seorang sahabat barunya yang aneh.

Lelaki ini meraba tuas yang terletak di belakang kanvas lukisan, begitu tuas ditarik, suara gesekan lirih di lantai menyingkapkan sebuah tuas pintu lain. Dengan tindak hati-hati, dibukanya tuas itu, serbuah udara pengap dari pintu yang terbuka itu menerobos kamar. Ternyata sebuah jalan rahasia bawah tanah. Begitu sirkulasi udara dalam lorong itu cukup baik bagi pernafasan orang yang sakit, Sakta Glagah mendukung gadis itu dengan sangat hati-hati, dan masuk kedalam lorong.

Tuas penutup pintu sudah dia tekan dari dalam lorong, kondisi kamar itu kembali sedia kala, bedanya kedua penghuni sudah tidak ada.

Dengan langkah terburu, Sakta Glagah menerobos kian dalam, setelah berjalan dengan lika-liku dengan banyak persimpangan yang memusingkan, akhirnya lelaki ini sampai pada pintu bercat putih. Perlahan didorongnya kemuka, pintu itu membuka keatas bukan kesamping, gerakan daun pintu menekan sebuah tuas kecil yang terhubung dengan tali.

***

Ting! Denting lirih di salah satu rumah sesepuh Kota Pagaruyung membuat penghuninya saling pandang. Denting itu berarti ada sebuah pintu dalam ruangan bawah tanah yang terbuka.

“Dia sudah datang…” kata seorang perempuan tua pada suaminya dengan kegembiraan membuncah.

Ki Glagah mengangguk tersenyum, “Semoga dia dalam keadaan baik…”

Mereka berdua beranjak dari duduk dan masuk kedalam dapur, ternyata disanalah pintu masuk kedalam lorong tersembunyi. Keduanya bergegas menuju ruangan pertemuan, di sana sudah menunggu Ki Lukita yang turut merespon bunyi ‘ketukan meminta masuk’.

—oo0O0oo—

97 – Kesimpulan Awal

Tak lama kemudian, Sakta Glagah muncul dengan membopong gadis yang kondisinya makin melemah. “Ayah…” suara lelaki gagah perkasa terdengar serak, dia menjumput jemari keriput Ki Glagah, dan diciumnya. Dengan satu tangan memeluk ibunya yang sudah mulai renta.

“Siapa dia?” tanya Ki Lukita setelah Sakta Glagah menyalaminya.

“Aku tak bisa menjelaskan sekarang, bisakah ayah dan paman menolongnya?” pinta Sakta Glagah mendesak.

Ki Lukita cepat tanggap, dia memeriksa nadi gadis itu, sebagai orang yang dijuluk Tabib Manjur—bersama Ki Glagah, pendeteksian penyakit, atau luka dari nadi adalah sebuah kekhasan ilmu mereka.

“Aneh…” desis orang tua ini dengan kening berkerut. Sambil memastikan hasil pemeriksaan, Ki Lukita kembali memegang nadi di pergelangan tangan. Kerut pada keningnya makin dalam. Dengan seksama lelaki tua ini memperhatikan nafas gadis itu, terlihat panjang dan tersendat, kadang beraturan kadang pendek tak memiliki jeda, seolah sedang tenggelam.

“Kapan mulai mengalami pernafasan seperti ini?” tanya Ki Lukita membuat Sakta Glagah menggeregap.

“Mungkin, kemarin…”

“Aku tidak ingin mendengar kata mungkin, pastikan!” tandas Ki Lukita tegas membuat Sakta Glagah tergagu kawatir.

“Sebentar…” gumam lelaki ini memejamkan mata mengingat-ingat. Pada saat dia mendapat hadangan seorang yang aneh memasuki perbatasan Kota Pagaruyung, gadis ini masih bisa berkata-kata. Tapi teringat olehnya terkadang ada helaan panjang saat dia hendak mengatakan sesuatu, seolah itu pekerjaan paling berat.

“Dua hari lalu…”

“Kau yakin?” tegas Ki Lukita.

“Ya, paman! Sebelumnya hanya tubuh terasa melemah, tapi selanjutnya untuk bernafas juga mulai ada kesulitan, puncaknya sesampainya saya disini.”

Ki Lukita mengangguk, dia memperhatikan pernafasan gadis itu lagi. Wajah tuanya terlihat menua beberapa tahun, dan itu tidak lepas dari pengelihatan Sakta Glagah.

Sakta Glagah melihat dengan sangat tegang, “Apakah ada yang salah?” tanyanya dengan kekawatiran kian membuncah.

Ayahnya menatap sang anak dengan heran, dia sangat mengenal pribadi anaknya yang sangat tenang dan penuh perhitungan, tapi apa yang ditampilkan saat ini sangat bertolak belakang, semua ketenangan berganti dengan ketidaksabaran berbalut ketergesaan.

Ki Lukita tak menjawab pertanyaan Sakta Glagah, dia memberi isyarat pada Ki Glagah untuk memeriksa. Dengan cekatan orang tua itu segera melakukan tindakan yang sama. Bermula nadi leher, lalu nadi pada pergelangan tangan. Ki Glagah nampak terkejut, dia menatap saudaranya dengan pandangan meminta ketegasan. Ki Lukita mengangguk perlahan.

“Ap-apa yang sebenarnya terjadi, ayah? Apa yang menimpa dirinya?” Sakta Glagah bertubi-tubi bertanya. Begitu besar kekawatirannya, membuat dia terlupa, masih ada resep yang bisa jadi meringkankan beban hatinya.

Sang ayah dan pamannya tidak menjawab, mereka memberi isyarat kepada ibu Sakta Glagah untuk membopong gadis itu keruangan lain. Jangan di lihat tubuhnya yang renta dengan gerak-gerik lambat, menghadapi ketegangan seperti itu, nyatanya wanita tua tersebut bergerak segesit macan kumbang. Gadis berbobot cukup berat itu di angkatnya tanpa kesulitan sama sekali.

“Tunggu disini!” kata ayahnya dengan tegas, membuat langkah Sakta Glagah terhenti, dengan kegelisahan menjadi, lelaki perkasa itu hanya bisa termangu dengan berjalan mondar-mandir.

****

Pada waktu yang bersamaan…

Dini hari itu ruangan di rumah Mintaraga menjadi tempat berkumpul para tokoh yang memiliki nama menjulang mega, kecuali Jaka Bayu—yang tidak ternama sama sekali, semua yang duduk mengeliling meja itu adalah para ksatria yang memiliki perbawa menggetarkan. Kebanggaan membuncah dada sang tuan rumah, berganti hari dan kondisi lain, untuk melihat para tokoh ini berkumpul, adalah kemustahilan.

Kertas yang di tulis Jaka, kini berisi tulisan lebih banyak lagi. Tiap orang menuangkan buah pikirannya disitu. Karena itulah yang akan mereka bahas kali ini—hingga tuntas.

“…dari mana kau bisa mengambil kesimpulan itu?” tanya Sadhana sang Serigala, setelah menyimak cerita Jaka tentang pertemuannya dengan Adiwasa Diwasanta dan Alpanidra. Yang dimaksud kesimpulan disini adalah, ‘tuduhan’ Jaka kepada Alpanidra bahwa orang itu yang ‘mengamakan’ aksi Momok Wajah Ramah.

Jaka mengusap hidung. “Aku sudah bersua dengan Momok Wajah Ramah sebelumnya, ada racun yang khas yang dia bawa. Pada saat berjumpa dengan Alpanidra-pun aku mencium aroma yang sama. Sangat mudah menarik kesimpulan kalau dua orang itu sudah bersua, terlepas apapun yang terjadi diantara mereka.”

Sadhana mengangguk-angguk, dia menoleh ke Beruang yang dari tadi seperti ingin berbicara. Mendapat kode dari rekannya, Çudhakara mendehem sejenak. “Aku bersua dengan beberapa kenalanku dimasa lalu.”

“Maksudnya, mereka yang paman bawa?” tegas Jaka.

Çudhakara mengangguk. “Ya! Dulu mereka ada sekelompok, sekarang tinggal tiga orang saja. Dan saat ini mereka bekerja karena ditekan orang lain. Tapi bukan itu yang ingin kubahas…” lelaki itu mengeluarkan kain yang di lipat rapi. “Aku ingin kau memeriksa ini.” Katanya pada Jaka.

Jaka membuka bungkusan itu dengan antusias, sebuah noda kecoklakan dan kehitaman yang ada dalam dua cuil kain terbungkus jadi satu. Sebelum memeriksa lebih lanjut, Jaka menatap pada Beruang meminta penjelasan lebih lanjut.

“Itu adalah mutahan yang keluar dari lambung mereka, dan lainnya darah hidup yang sengaja kukeluarkan dari mulut mereka.” Tutur Çudhakara menjelaskan.

Jaka mengeluarkan pisau setipis kertas dan jarum perak dari balik bajunya—menatap pisau itu terulaslah senyum tipis, pemuda ini teringat wajah jelita nan sendu. Jaka menjangkau api penerangan dalam ruangan dengan tangan kosong, seperti sulap saja pemuda ini bisa mengambil api dengan tangan kosong, pada telapak tangan pemuda ini berkobar api dengan nyala yang merata, bermula berwarna merah, lamat-lamat hadirin bisa melihat api itu berwarna biru kehijauan. Jaka menggosokkan kedua tapak tangan yang dipenuhi kobaran api itu, dua cuil kain berbeda jenis entah sejak kapan sudah ada dalam gengamannya. Anehnya kain itu tidak terbakar sama sekali, seolah ada lapisan hampa udara yang melindunginya!

Mereka yang ada dihadapan Jaka adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, tapi yang diperlihatkan Jaka benar-benar sebuah teknik sulit, teknik tenaga di dalam tenaga. Satu tenaga panas ada diluar, satu tenaga yang melindunginya dari panas ada didalam kobaran hawa panas itu. Dan lamat-lamat, mereka seperti melihat ada uap yang keluar dari dalam kain itu melayang-layang.

“Ah, ternyata tiga tingkat…” gumam Ki Alih dengan menggeleng kagum. Tadinya dia berpikir apa yang dilakukan Jaka adalah mengerahkan tenaga di dalam tenaga, tapi tidak tahunya tenaga yang di sembunyikan untuk melindungi kain dalam kobaran api itu, masih terdapat satu tenaga lagi! Dan itu difungsikan untuk melindungi uap yang dihasilkan dari dua macam proses yang sudah terjadi, semacam proses ekstrak kondensasi yang sangat sulit.
Jaka mengibaskan tapaknya, dengan gerakan sangat cepat, buliran cairan yang didapat dari proses kondensasi itu, di tangkap dengan punggung pisau yang sudah disiapkan. Hanya ada dua jenis titik bulir air di punggung pisau, tentu saja Jaka tidak menangkap buliran itu dengan cuma-cuma, sebentuk tenaga yang membekukan sudah mengalir pada pisau—untuk menahan penguapan. Semua hadirin hampir-hampir menahan nafas mengikuti betapa sulitnya proses yang terjadi.

Dengan sangat hati-hati, Jaka mencelupkan jarum peraknya pada bulir pertama yang dihasilkan dari mutahan. Dengan seksama, Jaka melihat perubahan pada ujung jarumnya yang mulai menghitam dan akhirnya membuat jarum peraknya berkarat. Wajah pemuda ini terlihat sangat serius, dengan hati-hati, dia mencabut jarum kedua dan di masukkan kedalam bulir cairan kedua—yang dihasilkan dari mutahan darah hidup. Tidak ada reaksi apapun, kecuali ada warna semu hijau yang sangat tipis tersaput diujung jarumnya.

“Aku berterima kasih dengan apa yang sudah paman bawa ini.” Kata Jaka memecah keheningan. “Kita memperoleh kemajuan untuk menyimpukan persoalan bias ini…”

“Apa yang kau dapat?” Tanya Çudhakara kebingungan.

Jaka menghela nafas sejenak. “Pernah dengar, Saudara Satu Atap?” Tanya Jaka dengan menatap wajah-wajah dihadapannya.

Semua orang menggeleng, hanya Sadhana saja yang mendadak wajahnya memucat. “Kau dengar itu dari mana?”

Terulas senyum pahit di bibir pemuda itu, “Aku tidak mendengar, aku mengalami…” desisnya. “Silahkan paman jelaskan!” pinta Jaka dengan nada penuh tekanan, membuat pertanyaan yang diujung lidah Sadhana tertelan kembali.

Lelaki ini menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Saudara Satu Atap… sejauh yang aku tahu adalah perkumpulan paling tua yang pernah ada. Kalian mungkin pernah mendengar cerita asal muasal saudara seperguruan Tabib Hidup-Mati dan gurunya. Apa pendapat kalian?” tak menunggu jawaban orang lain, Sadhana meneruskan ulasannya. “Pada akhirnya kita akan mengambil kesimpulan bahwa; dasar dunia persilatan yang ada saat ini, dibentuk oleh mereka. Dengan cara penyeragaman—satu visi, satu pikiran, dan penghilangan terhadap hal yang menentang pola pikir mereka.“ Sadhana menarik nafas sejenak. “Tapi jika harus membicarakan Saudara Satu Atap… apakah ada yang tahu bahwa guru Tabib hidup-Mati adalah anggota Saudara Satu Atap?”

Keterangan itu benar-benar membuat semua hadirin terkejut. Sang tabib dipandang oleh sebagian kalangan, seperti dewa. Kebolehanya dalam beragam disiplin ilmu membuatnya bisa melakukan hal yang dianggap mustahil, termasuk menciptakan dan menggembleng seorang berjuluk Tabib Hidup-Mati yang pada akhirnya menumpas pergerakan para saudara seperguruannya.

“Sebenarnya itu perkumpulan macam apa?” Tanya Pariçudha dengan tenggorokan tiba-tiba terasa kering. Tanpa sadar diraihnya segelas air, entah sejak kapan ketegangan merambati hatinya.

“Tidak ada yang tahu itu perkumpulan macam apa, tapi mengingat Sang Lila adalah anggota mereka…”

“Sang Lila itu julukan guru Tabib Hidup Mati?” potong Ki Alih bertanya.

Sadhana mengangguk. “Ya, julukan yang berarti pelaku kesenangan… konon semua yang dilakukan hanya untuk kesenangan semata. Aku tidak tahu lebih lanjut keterangan mengenai perkumpulan itu. Hanya saja setelah Jaka menyinggung perkumpulan tertua itu, aku jadi teringat tentang beberapa masalah yang mengganjal di benakku, dan dapat sedikit menyimpulkan hal aneh…”

Tidak ada yang mencoba menyela ucapan seorang Jirnnodhaçakti (ahli membangun hal-hal yang hancur—ahli rekontruksi). “Bagaimana jika Sang Lila ternyata mendapat perintah dari Saudara Satu Atap untuk membasmi seluruh insan persilatan? Maksudku, mereka-mereka yang tahu perihal Saudara Satu Atap?! Coba kalian pikir, apa gunaya dia menelurkan tiga orang murid yang kemudian mengaduk-aduk insan persilatan dengan racun ganas, sebelum akhirnya dia ‘munculkan’ murid terakhir sebagai juru selamat? Kita mungkin menganggap itu sebagai penyesalannya, untuk memperbaiki keadaan, tapi pada akhirnya semua jalur ilmu para tokoh yang menjadi korban mereka kuasai, dengan alas an untuk mewariskannya kembali pada keturunan para korban. Kedengaran seperti pahlawan…” sampai disini Sadhana setengah menggeram.

“Tapi, semua kabar yang beredar itu terdengar dibagiku itu adalah cerita sampah! Aku mengetahui informasi inipun dari seorang tua yang masih hidup pada zaman kekelaman itu, saat ini dia sudah meninggal.. tapi dia mewariskan kepadaku fakta-fakta yang harus kurangkai… yang tak juga selesai hingga kini. Sampai saat ini aku tidak pernah berani berpikir bahwa kejadian masa lalu memang untuk ‘membungkam’ tentang keberadaan Saudara Satu Atap.”

“Itu akan kita bahas nanti paman…” sela Jaka. “Kurasa semua orang sudah paham dengan maksudku, siapa gerangan Saudara Satu Atap.” Kata pemuda ini menatap rekan-rekannya dengan tajam. “Jika kesimpulanku benar, kita akan menghadapi badai pembunuhan kedua… kali ini, akan jauh lebih dahsyat dari masa lalu!”

Perlahan namun pasti bulu kuduk mereka meremang. Hastin yang paling malas mendengarkan segala macam ulasan pun menjadi lebih memfokuskan perhatiannya.

“Apa yang diambil dari tawanan paman Çudhakara, adalah racun yang dipakai oleh Saudara Satu Atap. Racun ini sangat murni, sama sekali tidak ada perubahan dalam pembuatannya. Aku cenderung menyimpulkan orang yang menggunakan racun ini tidak tahu menahu sejarah dibalik pembuatannya. Pengetahuan ini mutlak tidak mungkin di simpulkan oleh orang lain, kecuali para kerabat Tabib Hidup-Mati yang paham benar dengan cara kerja Saudara Satu Atap. Apakah sudah ada yang menangkap apa yang ingin kukatakan?”

Semuanya menggeleng.

Jaka menghembuskan nafas begitu perlahan. “Ada pihak yang mengetahui secara jelas hal yang menjadi larangan… larangan itu adalah untuk mencari tahu keberadaan Saudara Satu Atap.”

Jaka kembali menatap rekan-rekannya dengan sorot tegas. “Siapapun mereka, jika ada sepercik informasi tentang kalangan yang berhulu kepada Saudara Satu Atap… mereka—Saudara Satu Atap akan memburu mereka, dan melenyapkannya seperti yang telah disimpulkan paman Sadhana.”

“Tapi, camkan ini! pihak ini—pihak perancang keonaran ini, justru menginginkan sisa-sisa pengetahuan tentang Saudara Satu Atap dibangkitkan lagi! Pihak ini menyadari, untuk melawan Saudara Satu Atap adalah sebuah kemustahilan. Hal yang paling mungkin adalah memberi rangsangan-rangsangan kejadian disetiap penjuru, untuk mencari tahu siapa-siapa saja yang sanggup mengambil kesimpulan secara benar—setidaknya mendekati kebenaran! Jika pihak-pihak itu telah ditemukan… dan jika kita ternyata dapat mengambil kesimpulan benar, maka detik ini juga kita sudah menjadi bidak catur orang itu! Sadar atau tidak, kita akan digunakan sebagai alat untuk melawan Saudara Satu Atap!” tutur Jaka menutup penjelasannya, membuat ketegangan makin terasa.

“Tentunya, menjadi bidak bersamaan dengan kerabat Tabib Hidup-Mati…” gumam Hastin berkesimpulan.

“Tepat!” seru Jaka dengan darah bergelora, terbakar semangat. Sebab sebuah penggalan epik kejadian di masa depan yang akan menguncang sendi-sendi kemanusiaan harus mereka lindungi mati-matian. “Aku tinggal menyimpulan satu hal untuk memastikan bahwa pembicaraan kita ini, benar!”

“Apa itu?” Tanya Ki Alih. “Ah… jangan kau katakan bhawa itu adalah resep obat yang kuberikan pada Sakta Glagah?!” seru Ki Alih tak dapat membayangkan tokoh semacam Sakta Glagah digunakan menjadi batu uji bagi kesimpulan Jaka.

“Sayang sekali paman, memang itu yang kumaksud!” kata Jaka dengan tersenyum. “Kita akan menunggu hasil pengobatannya!”

****

Istri Ki Glagah sudah melepaskan seluruh pakaian yang dikenakan gadis itu, kini dia hanya mengenakan selembar kain putih yang di tutupkan begitu saja.

“Kau siap adi?” Tanya Ki Glagah pada Ki Lukita, guru Jaka Bayu itu mengangguk dengan tegang.

Apa yang akan mereka lakukan adalah menutup Sembilan puluh empat saraf yang tersebar dari Jiangming-Chingming, hingga Zhiying-Chihyin yang bermuara pada meridian kandung kemih—dari kepala, punggung hingga tulang ekor—itu adalah enam puluh tujuh bagian yang akan dikerjakan Ki Lukita. Sementara Ki Glagah sendiri menangani dua puluh tujuh titik dari mulai Yongquan-Jungchuan hingga Shufu yang bermuara pada meridian ginjal—itu ada dibagian dagu hingga lambung.

Jumlah yang akan dikerjakan Ki Glagah lebih sedikit bukan berarti lebih mudah, justu itu bagian paling sulit, karena dia harus menyesuaikan tiap penutupan syaraf yang di lakukan oleh Ki Lukita. Keduanya saling tatap dan menyelaraskan nafas, kesalahan dalam penyelarasan nafas dapat membuat jeda waktu totokan berbeda, dan itu akan mengakibatkan cacat permanen pada si gadis.

Ibu Sakta Glagah menatap keduanya dengan tegang, tugasnya adalah menyambung simpul tenaga yang di lakukan kedua orang itu. “Mulai!” desisnya dengan konsentrasi memuncak.

Kedua orang itu membentak bersamaan, dan detik itu juga, desingan totokan menyayat kebekuan udara di bawah tanah. Bahkan Sakta Glagah di luar kamar dapat mendengar desingan-desingan totokan. Suara yang sangat biasa baginya, kini membuat keringat didahi jatuh berderai tak henti-henti dengan kecemasan memuncak.

Waktu yang dibutuhkan orang tua dan pamannya untuk melakukan proses itu tidak sampai seratus hitungan, tapi lelaki perkasa ini seolah merasa itu adalah saat paling berat dan mencekam dalam hidupnya. Dia lebih suka dirinya yang mengalami kejadian itu.

Pintu kamar terbuka, degup jantung Sakta Glagah makin berkejaran. Menyaksikan ketiga wajah tua itu mengerut penuh peluh.

“Bagaimana ayah?” tanyanya dengan terburu.

Ayahnya mengangkat tangan sebagai isyarat baginya untuk bersabar. Barulah Sakta Glagah menyadari, ketiga orang tua itu dalam kondisi kuyu dan terengah. Padahal dia tahu benar ilmu-ilmu ketiga orang tua itu jelas lebih matang darinya, tentu pengobatan yang dilakukan tadi benar-benar menguras tenaga.

“Sementara dia aman ngger…” ibunyalah yang menyahut.

Jawaban ibunya membuat Sakta Glagah menghela nafas lega, seolah beban yang selama ini menekan batinnya terhempas sama sekali.

“Tapi itu tidak bisa bertahan lama, kita harus mencari obat yang tepat!” sambung ibunya lagi.

“Ah, alangkah bodohnya aku!” seru Sakta Glagah dengan suara girang, dia buru-buru mengeluarkan kain yang di dapati dari sahabat yang aneh. Diserahkan kain berisi resep itu pada ibunya.

Wanita tua itu membaca dengan hati-hati, wajahnya menampilkan rona tak percaya.

“Biar kulihat,” pinta suaminya.

Ki Glagah membacanya, sebuah resep tertulis bahan-bahan yang mustahil didapat, jika itu bukan perkumpulan mereka! Itulah yang membuat Sakta Glagah sangat terkejut saat membaca resep tersebut. Akar Bunga Gurun, Daun Kurumbhagi, dan Buah Jalanidhi. Ketiga unsur itu hanya ada di perkumpulan mereka. Buah Jalanidhi mungkin termasuk hal umum—meski sulit didapat—tapi bukannya tidak bisa dicari, buah ini dapat digunakan sebagai obat bius. Sedangkan Akar Bunga Gurun jelas merupakan produk yang tak mungkin ditemukan oleh pihak manapun, kecuali kau mengatahuai adanya Perkumpulan Garis Tujuh Lintasan. Teristimewanya Daun Kurumbhagi, daun langka berbentuk seperti pisau; berkhasiat untuk menghentikan pendarahan seketika, itu tidak akan bisa ditemukan ditempat lain, kecuali di Kalangan Garis Tujuh Laut, perkumpulan mereka!

“Siapa yang memberikan resep ini?” Tanya Ki Glagah dengan nada prihatin, dari ulasan dalam resep tersebut, Ki Glagah bisa menyimpulkan orang yang menulis itu adalah orang yang sangat paham tentang pengobatan dan berpengalaman luas. Dan yang jelas kemungkinan orang itu mengetahui keberadan mereka, di Kota Pagaruyung.

Sakta Glagah menceritakan pengalamannya saat melintasi perbatasan kota itu. “… satu hal yang menyita perhatianku hingga kini adalah pukulan yang dilakukan orang itu. Bermula aku mengira dia dapat membuat detak jantungku dipacu belasan kali lebih cepat, tapi kupikir-pikir kemampuan semacam itu adalah mustahil, tanpa ada bentrokan langsung. Saat ini aku berkesimpulan, kedatanganan orang itu adalah untuk meminta perhatianku.”

“Apakah ada kemungkinan orang itu ada dalam pihak yang sama?” gumam Ki Lukita dengan berpikir keras.

“Maksud paman?” Tanya lelaki ini kurang jelas.

“Orang yang melukai gadis itu, dan pemberi resep obat adalah pihak yang sama…” simpul Ki Lukita.

Sakta Glagah tercenung, “Aku tak dapat menyimpulkan hingga sejauh itu. Sebab siapapun orang itu, akan sangat bodoh berupaya mengusik kalangan kita!” tegasnya dengan mata berkilat. “Lalu… apakah resep itu memang cocok?” sambungnya dengan nada penuh harap.

“Ya,” Jawab Ki Lukita membuat kegembiraan Sakta Glagah membuncah. “Sayangnya kami tak dapat melakukan itu…” kalimat terakhir membuat harapan Sakta Glagah seolah musnah.

“Tapi kau tak perlu cemas, murid pamanmu dapat melakukannya.” Kata sang ibu memastikan.

“Murid?” Sakta Glagah bertanya penuh keheranan. “Apakah paman mengangkat muid baru tanpa sepengetahuanku?”

Ki Lukita mengangguk. “Belum sampai sepekan ini.” Katanya sambil tersenyum, mengingat Jaka Bayu yang penuh gairah dalam melakukan berbagai hal, membuat lelaki tua ini rindu dengan murid barunya itu, dan kejadian saat ini dapat menjadi alasan memanggil murid terakhirnya itu untuk pulang.

Sakta Glagah menatap pamannya dengan tercengang, memangnya murid yang diangkat dalam waktu satu pekan, dapat mewarisi kemahiran macam apa? Keingintahuan tentang murid baru sang paman menggelitik batinnya.

Ki Lukita menekan tuas di bawah meja, tak berapa lama muncul laki-laki paruh baya menghadap.

“Ada tugas apa, Ki?”

“Undang pulang murid terakhirku…” perintah Ki Lukita.

“Baik.”

Langkah menjauh pesuruh itu membuat Sakta Glagah makin penasaran dengan sosok murid sang paman. Ah persetan, pikirnya. Toh sebelum sore nanti aku akan berjumpa dengan dia! Pikirannya melayang-layang memastikan apa yang harus dia lakukan jika murid baru sang paman ternyata tidak becus dalam upaya penyembuhan!

—oo0O0oo—

98 – Jalada, Sang Baginda

Pariçuddha membaca kesimpulannya sendiri berulang kali, tapi dia masih tidak terlalu yakin. “Aku masih kurang memahami dengan rencana Ketua Bayangan Naga, sebenarnya apa yang harus mereka percepat?”

“Banyak hal paman,” jawab Jaka. “Bagi mereka yang memiliki penopang informasi yang sudah cukup mengakar di kota ini, tidak mengetahui latar belakang para penghianat—atau yang dimungkinkan berkhianat, adalah kemustahilan.”

“Jadi, Kiwa Mahakrura dan Paksi sudah dapat mereka endus?”

“Pasti!” tegas Jaka, pemuda ini memang sudah menceritakan hasil dari pekerjaannya. “Mungkin mereka memang harus membayar mahal dengan siasatnya, tapi aku yakin, dia tidak akan membiarkan ini terjadi. Arseta itu lelaki yang memiliki tulang…” kata Jaka dengan tersenyum.

Hadiri paham dengan apa yang dikatakan Jaka, ‘memiliki tulang’ adalah kiasan untuk pekerja keras, atau berhati keras.

“Kalau begitu, apakah Kiwa Mahakrura, akan menjadi tanggungan kita atau Ketua Bayangan Naga?” Tanya Cambuk dengan mata masih merah, rasa kantuk belum sepenuhnya hilang.

“Kita tidak akan bertindak apapun pada orang itu, sudah menjadi tanggung jawab Ketua Bayangan Naga untuk membereskan kekacauan di tubuhnya sendiri.”

“Uh…” Hastin merasa kecewa dengan keputusan Jaka.

Jaka tersenyum. “Aku paham engkau bosan paman,”

“Bosan setengah mati!” sungut Hastin.

“Membiarkan pihak lain untuk mengurusi, bukan berarti kita diam saja, paman.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan? Terus terang aku sangat malas, bosan, capek untuk mematai-matai orang!”

Jaka menganguk-angguk. “Aku paham, kini saatnya membiarkan mereka mengetahui jejak kita!”

Keputusan itu membuat Hastin tertawa lebar.

“Apa kau gila?” seragah Penikam. “Ini sangat tidak bisa diterima, akan membahayakan pergerakan kita disini!”

“Aku tidak setuju dengan pendapatmu!” Kata Hastin pada Penikam. “Membiarkan mereka tahu tentang kita bukan berarti membahayakan kegiatan kita. Sebab aku akan memastikan itu tidak akan terjadi, benar begitu Jaka?!” kata Hastin penuh tekanan.

Jaka tertawa. “Jika itu yang diharapkan… maka jadilah!” ujar pemuda ini menyetujui. Orang seperti Hastin memang tidak mungkin di kekang kebebasan geraknya, hal yang paling tepat untuk orang semacam Hastin adalah melabrak Kiwa Mahakura dan para kerabatnya.

“Lalu untuk memberikan mereka kesan bahwa, kita ada… apa yag akan kau lakukan paman?” taya Jaka memastikan.

Hastin Hastacapa menyeringai. “Aku tidak menyombongkan diri, tapi kepalanku sangat terkenal. Aku akan membekuk anak itu di tempat yang hanya diketahui kalangan mereka sendiri!”

Jaka diam termenung, maksud Hastin sangat jelas dia akan melabrak di sarang mereka sendiri, “Begitupun baik!”

“Tapi pihak Ketua Bayangan Naga bukankah tidak akan tinggal diam?” sela Pariçudha.

“Benar. Mereka akan bergerak mengurus Kiwa Mahakrura, paman Hastin juga akan mengurusnya. Dan nantinya akan ada orang yang mengurus kalian…” Hastin hampir menyela ucapan Jaka tapi pemuda ini mengangkat tangannya memberi isyarat dirinya belum selesai bicara. “Mereka bisa jadi adalah pihak penggagas keributan disini. Aku tidak tahu apakah mereka ada dipihak yang sama dengan pemilik bunga di Perguruan Naga Batu, atau tidak… akan kita pastikan setelah hal itu berlangsung.”

Hastin nampak masih penasaran. “Aku tidak suka jika ada orang yang bermain dibelakangku, apa aku harus menghajar mereka juga atau aku harus berpura-pura kalah? Argh! Aku tidak bisa belaku seperti itu!”

“Tentu saja tidak…” jawab Jaka tertawa geli. “Merupakan kebebasan penuh bagi paman untuk melakukan apapun bagi para penguntit… menghajar mereka pun menjadi cara yang tepat untuk memberitahu sekelumit keberadaan kita. Ohya, hampir aku lupa… selain keberadaan kita, Swara Nabhya juga dilibatkan, paman…” Jaka juga menunjuk pada catatan yang sudah dibuatnya, supaya Hastin tidak terlupa, disana disebutkan bahwa; dia, akan dimunculkan dalam rumor sebagai adik Ketua Bayangan Naga

“Baik! Bagus sekali!” seru Hastin berkali-kali sambil mengiyakan, jika ada orang yang paling suka bertempur dalam segala kondisi, hanya Hastin Hastacapala orangnya.

“Jaka, aku masih tidak paham dengan obat yang kau berikan padanya…” tiba-tiba Pariçudha meminta kejelasan tentang obat yang di berikan pada adik iparnya.

“Saat aku memasuki tempat mereka aku mencium bau obat yang khas, tak perlu kujelaskan itu obat macam apa, tapi aku tahu bahwa mereka meramu secara salah, dengan tempat pengobatan yang salah pula! Apa yang sedang mereka buat itu obat yang digunakan untuk menunda racun bekerja, paling lama enam hari… dan aku memberikan obat yang serupa dengan takaran dan cara lebih tepat, serta dosis lebih besar.”

“Oh, itu mengapa kau mengatakan itu hanya sementara?”

Jaka mengangguk. “Dari aroma obat itu aku dapat menyimpulkan bahwa; pergerakan Ketua Bayangan Naga sebenarnya tersandera. Aku hanya melonggarkan ikatan pada mereka, akan kita amati apa yang akan mereka lakukan… ini adalah titik balik rencana kita.”

“Aku tidak melihat adanya titik balik!” seru sebuah suara yang dingin membuat orang-orang berpaling kepada sosok tinggi besar dalam balutan baju putih.

“Ah, ayolah paman Jalada… kau membuat ini tampak sulit.” Kata Jaka dengan tertawa lebar, sosok bernama Jalada lebih dikenal dengan julukan Baginda, orangnya sangat sulit diajak berbicara—hampir seperti Hastin, tapi lebih keras kepala, sulit di redam jika sudah ada kemauan, begitupula jika ada sesuatu yang disimpulkan, akan sulit untuk merubah pola pikirnya. Baginda baru saja sampai dari pekerjaan yang membosankan—begitu menurutnya.

“Aku tidak ingin menerangkan secara detail, karena waktu kita tidak banyak. Jadi begini, kenapa kukatakan sebagai titik balik? Karena obat yang kuberikan itu akan menerangkan banyak hal… sangat banyak, itu saja!”

“Jelaskan!” desak Jalada dengan nada tajam.

“Ah…” Jaka menggeleng-geleng kehabisan akal, mengadapi orang satu ini, dia sering mati kutu. “Baiklah, baiklah…” katanya menyerah.

Beberapa orang tampak tersenyum, kehadiran Baginda terkadang menyebalkan—jika tak ingin disebut sangat dihindari, tapi pada waktu-waktu tertentu—dimana Jaka tidak ingin mengatakan lebih detail, kehadiran Jalada—Baginda si tukang paksa, sangat diperlukan.

“Kukatakan tadi, pembuatan obat ini harus dengan aroma tepat dan pada tempat yang tepat. Dengan resep yang kuberikan, mereka akan bergerak mencari tempat yang tepat untuk menghasilkan aroma obat yang pas. Dalam waktu yang sangat singkat ini daerah yang paling memungkinkan mereka tuju hanya, Sungai Batu. Tepatnya air terjun Watu Kisruh.”

“Bagaimana bisa begitu?!” Tanya Baginda membuat Jaka seperti di todong.

Jaka menghela nafas panjang antara dongkol dan geli. “Obat yang kuberikan adalah penangkal racun jenis lembita—mengantung, racun ini berdaya rusak ganas, jika pengobatannya salah, satu demi satu ruas tulang tak akan terikat otot lagi. Tapi salah satu kelemahan racun jenis lembita ini pun sangat fatal, dengan dosis tepat dan tempat yang tepat, penyembuhannya hanya akan berlangsung dalam setengah hari saja, meski kau terperangkap racun selama bertahun-tahun. Hawa yang dihasilkan air terjun dengan suara deru yang menghentak dada, ditambah obat yang tepat, akan sangat cepat menguraikan racun ini. Tabib yang di miliki Ketua Bayangan Naga pasti bisa memahami cara pengobatan yang kuberikan itu.”

“Aku sudah paham, lalu kaitannya dengan titik balik?!” seru Baginda tak sabar.

“Racun itu tidak sembarangan kau dapat, meski itu adalah kerabat Tabib Hidup Mati, dia tidak akan pernah terpikir untuk membuat racun ini, sebab ada satu jenis bahan pembuatannya yang hanya di kuasai oleh golongan tertentu.” Jaka mengangkat jarinya memberi isyarat pada Baginda untuk tidak menyela. “Aku tidak tahu itu golongan apa, tapi jika benar racun itu yang digunakan… kita dapat melihat ekor penggagas kekacauan ini!”

“Aku masih tidak paham dengan titik balik!” kali ini Hastin berseru tidak sabar, membuat Jaka tertawa.

“Aku memang belum menjelaskannya,” ujar pemuda ini. “adalah mutlak, Ketua Bayangan Naga dalam pengawasan pihak ini… pada saat mereka menuju air terjun Watu Kisruh, merekapun akan datang kesana untuk mengawasi.”

“Ah…” Penikam berseru tanggap, dia segara keluar dari ruangan untuk segera mencari orang-orangnya, menempatkan mereka di sekitar air terjun Watu Kisruh. Jaka tersenyum senang melihat reaksi Penikam yang cepat.

“Saat korban terbabas dari racun, mereka akan sangat antusias bertanya dari mana datangnya penangkal.”

“Bertanya?” ujar Hastin kurang paham.

“Aduh paman, kenapa kau tanyakan bahasa bertanya segala? Itu sama dengan bahasa yang kau gunakan, mungkin lebih dari itu…” jelas Jaka setengah dongkol.

Beberapa orang tertawa, bahkan Baginda orang yang sangat kaku itupun tersenyum tipis, bahasa tanya milik Hastin adalah kepalannya, dia tidak pernah menyampaikan ‘pertanyaan’ dalam kalimat yang wajar.

“Jadi..” lanjut Jaka. “Kita akan mengikuti tiap orang yang datang-pergi, dari dan ke air terjun Watu Kisruh!”

****

“Dia bernama Prawita Sari…” Sakta Glagah mulai menjelaskan pada orang tua dan pamannya. “Calon Ratu Kerajaan Rakahayu…”

“Itu belum menjelaskan kenapa kau begitu panik!” desis ayahnya dengan nada tajam.

“Dia… putriku!” kata Sakta Glagah perlahan dengan wajah tertunduk.

“Apaaa?” ketiga orang tua itu terkejut bukan kepalang.

Sakta Glagah sudah memiliki keluarga, dengan dua orang anak, putra-putri. Dan semuanya ada bersama mereka, di kota Pagaruyung ini. Bagaimana mungkin datang satu orang anak lagi?

“Kau harus menerangkan dengan sangat jelas… sejelas-jelasnya!” kata Ki Glagah dengan nada penuh tekanan, wajahnya nampak berkerut tidak senang.

****

Pada waktu bersamaan…
Wangkar—si Momok Wajah Ramah, mengejapkan matanya berulang kali, ruangan yang terang itu membuat dia harus menyesuaikan pengelihatan. Dia bersumpah akan menguliti orang yang sudah memperlakukan dirinya seperti pesakitan.

“Ah, kau sudah sudar?” sebuah suara asing menyapanya.

“Siapa kau?!” Tanya Wangkar dengan kegeraman memuncak.

“Maafkan aku jika membuatmu tidak nyaman, tapi ini demi keselamatanmu sendiri… aku butuh bantuanmu!” kata orang itu sambil membebaskan totokan pada Wangkar.

Lelaki ini menatap si penyergap dengan otak yang mengaduk-aduk ingatan. “Kau.. kau… Netracurik?!”

“Ya, ini aku. Kita sudah pernah bekerjasama…” pada saat mengatakan ‘bekerjasama’ Netracurik sudah mencekal pergelangan tangan Wangkar yang melakukan pergerakan kecil—nyatanya orang ini sangat teliti dan waspada. “Jangan coba-coba!” desisnya. “Jika aku bermaksud membunuhmu, kau sudah mati dari tadi!”

Wangkar menghela nafas, apa yang dilakukannya adalah reflek. Saat ini dia benar-benar hilang pertimbangan. Dia tak tahu harus melakukan apa. “Katakan padaku, apa yang membuatmu melakukan hal ini padaku?”

Netracurik melepaskan gengamannya, dia memberikan secangkir air jahe pada Wangkar. “Kau tahu, jika dirimu sedang dijadikan umpan?”

Pertanyaan itu membuat Wangkar hampir saja tersendak. “Maksudmu?”

“Apa tugas terakhirmu?” Tanya Netracurik.

Wangkar menelan ludahnya berkali-kali. Netracurik mengingatkan dirinya pada tugas terakhir yang merupakan keruntuhan total seorang Momok Wajah Ramah.

“Katakan padaku, apa kau sudah melakukan hal itu atau belum?!” desak Netracurik dengan nada meninggi. Nampaknya dari pertanyaan terakhir Netracurik sudah tahu apa tugas Wangkar.

“Ak-aku sudah melakukannya…” jawab Wangkar dengan menggertak gigi.

“Apa yang terjadi?” kejar Netracurik dengan tegang.

“Tidak ada…”

“Apa maksudmu tidak ada?!”

“Dengar! Momok Wajah Ramah sudah mati! Aku gagal! Kau dengar?!” teriak Wangkar setengah membentak dengan berdiri. Lalu dia terduduk dengan tubuh lunglai, melakukan hal jujur memang berat, tapi setelah dia katakan itu, dadanya terasa ringan.

“Oh, syukurlah…” Netracurik merasa sangat lega.

“Apa apa denganmu?!” bentak Wangkar dengan suara meninggi.

“Dengar, aku sudah di jebak oleh Lindu Wastu untuk melakukan kegilaan yang tidak pernah kusadari akibatnya. Untung saja aku diselamatkan oleh keadaan…” Netracurik tidak mau mengatakan kenapa dirinya gagal, sebab dia merasa keberadaan Jaka Bayu sekalian bisa menjadi pelindung baginya. “Secara diam-diam aku mendengar tugasmu dari Bergola. Dia sedang melaporkan kelakuanmu pada pimpinannya. Kupikir Bergola akan kena semprot karena merasa tidak nyaman dengan prilakumu, tak tahunya ketua kalian menjawab, ‘dia akan jadi batu loncatan yang berharga’… aku tidak berani mendengar lebih jauh, kemampuan ketua kalian diatasku, aku kawatir kepergok.”

“Apa alasanmu dengan tindakanmu ini? Memperingatkanku?!”

“Kau ini tolol atau apa?” bentak Netracurik. “Aku memang bukan orang baik-baik, tapi aku memegang janjiku pada istriku—Winarsih!”

Wangkar hendak mengatakan sesuatu tapi dia tak jadi, nama Winarsih membuatnya membeku… dia memiliki seorang adik yang sangat dicintai, dan adiknya itu menikah dengan seorang bajingan besar seperti dia. Wangkar tak bisa menerima itu, bagaimanapun buruk prilakunya, dia tetap menginginkan adiknya hidup bahagia dengan orang biasa. Dia tidak pernah tahu orang macam apa suami adiknya itu, tapi dia bersumpah jika orang itu menelantarkan adiknya, dia akan membunuh tanpa ampun. Namun adiknya berhasil menyembunyikan diri dengan baik, bahkan suaminyapun bisa menutup identitas dengan baik. Sungguh tidak disangka Netracurik adalah suami adiknya!

“Aku berjanji pada istriku untuk menjaga dirimu!” desis Netracurik.

Wangkar tergagu dengan perasaan campur aduk. “Bagaimana keadaannya?” Tanya Wangkar dengan suara serak.

“Aku… aku meninggalkannya beberapa waktu terakhir ini… tapi dia baik-baik saja.” Tutur Netracurik dengan wajah tertunduk, saat ini dia tak ingin menjelaskan derita dirinya dalam upaya kembali menjadi ‘seorang lelaki sejati’, sampai-sampai dimanfaatkan Lindu Wastu tanpa sadar.

Sepi menggigit dikeheningan pagi itu.

“Kau mau aku melakukan apa?” Wangkar bertanya dengan suara lemah.

“Bukan, kau. Tapi kita!” tegas Netracurik sambil mengecilkan lentra di ruangan itu. “Aku memiliki satu rahasia yang harus kubuktikan sebelum akhirnya kita serahkan pada pihak yang tepat!”

Alis Wangkar terangkat satu, “Rahasia?”

Netracurik menggigit bibirnya. “Aku tidak akan menceritakan sekarang, bagaimanapun juga aku tak mungkin tolol dengan percaya begitu saja padamu!”

“Ya, kau memang harus begitu…” ujar Wangkar dengan tersenyum pahit.

“Tapi kau bisa mengetahui satu hal,” ujar Netracurik dengan menatap Wangkar dalam-dalam. “Kerajaan Rakahayu dengan Kadungga akan segera berperang!”

Wangkar tampak tidak antusias. “Bukan urusanku…” gumamnya.

“Harus! Sebab Winarsih dianggap menjadi mata-mata Kadungga saat Prawita Sari hilang dari istana!”

Wangkar jatuh terduduk, dengan wajah tampak tidak percaya. Dulu, dia dengan Bergola pernah ditugaskan untuk menculik Prawita Sari, sebelum akhirnya tugas itu di gantikan oleh tiga orang yang pada akhirnya digagalkan Sakta Glagah. Tragisnya dia malah ditugaskan untuk menganggu kedatangan tiga orang dari Perguruan Sampar Angin yang mengiringi tokoh besar! Lebih tidak di sangka lagi, ternyata adiknya menjadi dayang di istana!

“Kau bajingan pembohong! Kau bilang tadi dia baik-baik saja!” Wangkar memukul Netracurik dengan membabi buta. Dan lelaki itu tidak berusaha menghindar, bagaimanapun kejadian itu memang kesalahannya. Rasa sakit yang dideranya itu adalah hukuman yang wajar, bahkan kurang!

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” bisik Wangkar dengan terengah-engah melihat wajah Netracurik lebam, pikirannya buntu.

—oo0O0oo—

99 – Kesimpulan Sementara

“Mengenai Jung Simpar…” Jaka menatap Ki Alih meminta pejelasan.

Lelaki tua itu mengangguk. “Aku melepaskan tiga jenis Jung Simpar untuk dapat diikuti dan diamati.”

“Aha…” Jaka bertepuk gembira. “Jadi, paman membuat samaran tiga orang Jung Simpar?” Tanya Jaka meminta ketegasan.

“Betul!”

“Bagaimana dengan yang asli?”

“Orang itu memang keparat pengecut, dia lebih suka kita tahan dari pada harus menghadapi kejadian-kejadian yang membuat perkumpulannya mengalami kerugian.”

“Nampaknya penyelundupan yang dilakukan olehmu membuat dia jera?”

“Tidak juga, dia lebih takut kepada Swara Nabhya. Menurut Jung Simpar, perkumpulannya pernah disatroni oleh penghuni Lembah Halimun gara-gara ada anak buah wanitanya mencuri barang yang dilindungi Swara Nabhya…”

“Hm, patas saja gadis-gadis itu ketakutan waktu disinggung tentang Swara Nabhya..” gumam Hastin mengingat kejadian beberapa hari lalu saat dia berjumpa dengan anak buah Jung Simpar.

Jaka termenung, dia memang memiliki kesepakatan dengan Swara Nabhya untuk menuntaskan rasa penasaran mereka.

“Apakah sudah ada hasil dari ketiga orang itu?”

“Ketiga-tiga lenyap, masing-masing di tangkap di Perguruan Enam Pedang, dan Lengan Tunggal. Dan yang terakhir, berita yang kau bawa…”

“Kita bisa simpulkan sesuatu disini?” Tanya Jaka menginginkan detail.

“Bisa dan sangat jelas! Kedua perguruan itu memiliki kepentingan terhadap berita terakhir yang masuk ke perkumpulan Jung Simpar.” Jelas Ki Alih.

“Apa yang paman dapat selama ada di tempat Pratyantara?”

“Selain rencana perampokan yang penuh gaya, kebanyakan permintaan untuk mencuri barang-barang berharga. Tapi yang terakhir ini jelas memiliki kaitan dengan perjalananmu ke Perguruanan Enam Pedang.”

Jaka tidak menyela.

“Bermula aku mengira, pembayaran yang luar biasa atas pengiraman barang pada Biro Pengiriman Golok Sembilan akan menjadi sasaran Pratyantara, tapi ternyata bukan. Sebuah informasi yang masuk kepada Jung Simpar menyatakan, nilai dari barang yang dikirim itu jauh lebih tinggi dari pada ongkos pembayarannya. Tanpa menyelidiki lebih lanjut sebenarnya itu barang apa, Pratyatara bergerak melalui jaringan mitranya. Akibatnya bisa dibayangkan, kehebohan adanya barang yang bernilai sangat tinggi beredar di kalangan bawah tanah. Cukup dari berita ini saja, membuat telik sandi dari beberbagai perkumpulan rahasia memanfaatkan momentum untuk membuka celah kepentingan masing-masing.”

“Emas yang kuberikan padamu berasal dari pembayaran yang di lakukan sekelompok Walkali yang datang menyerahkan pembayaran pada Golok Sembilan Bacokan…”

“Walkali? Bukannya mereka serombongan pendeta lelaki? Kenapa berubah menjadi pendeta perempuan?” potong Arwah Pedang dengan penasaran.

“Semula aku berpikiran begitu, tapi coba renungkan baik-baik. Jika kau ingin menitipkan sesuatu yang berharga, pihak mana yang akan kau hubungi pertama kali?” Tanya Ki Alih pada Parçuddha.

“Wrddhatapasa…” gumam Arwah Pedang.

“Ya, Wrddhatapasa adalah orang yang bisa dan layak dipercaya, selain sebagai sesepuh Dewan Penjaga Sembilan Mustika, dia juga memiliki sekelompok pendeta yang bisa bekerja menyelesaikan sesulit apapun pengiriman barang. Cirinya sangat khas… tapi bagaimana mungkin orang-orang itu menyerahkan kiriman yang menjadi tanggungan seorang Wrddhatapasa? Dengan karisma dan pengaruh Wrddhatapasa, sangat tidak mungkin ada orang yang mau mencari setori dengan memalsukan nama mereka… tapi ternyata ada!”

“Jadi para pengikut Wrddhatapasa dipalsukan oleh sekelompok Walkali—pendeta wanita, yang entah berasal dari mana?” Tanya Jaka.

“Tentang hal ini, aku tidak ada informasi…” kata Ki Alih sambil menghela nafas.

“Jadi, sementara kita berkesimpulan seperti Jaka. Sebuah kesimpulan yang umum…” ujar Sadhana membuat Jaka meringis. “Sama halnya dengan kesimpulanku tentang Saudara Satu Atap dan kesimpulan Jaka tentang hal itu… karena Wrddhatapasa adalah kalangan yang tidak banyak orang tahu dan hanya kalangan tertentu yang mengenal namanya, kurasa kegiatan yang sangat mahal itu dilakukan untuk penyaringan saja…”

“Maksud paman, ada orang gila yang berani membuang-buang emas sedemikian banyak untuk menggiring opini para pemilik telik sandi, bahwa Wrddhatapasa-lah yang melakukan transaksi dengan Biro Pengiriman Golok Sembilan?” Tanya Jaka menarik benang merah.

“Ya…”

“Aku tidak sepenuhnya setuju.” Tukas Ki Alih setelah berpikir beberapa saat. “seperti yang tadi disimpulkan adi Sadhana, bahwa ini adalah kegiatan penyaringan yang sangat mahal. Dan tiap telik sandi akan menolak kesimpulan mereka sendiri, bahwa; bagaimana mungkin kalangan terhormat melakukan kegiatan segila itu? Dan kita akan mencari-cari jawaban yang tidak pernah ada. Kita akan mencari kemungkian ada pihak yang memalsu kalangan Wrddhatapasa…”

“Maksud Kakang Alih, pihak itu adalah Wrddhatapasa itu sendiri?” Tanya Sadhana tidak percaya.

“Tepat!”

“Tapi, bukannya kakang juga menolak kesimpulan seperti itu?” debat Sadhana.

“Ya, tadi aku memang mengingkari kesimpulan awalku dan mencoba mencari kambing hitam. Tapi setelah kupikir baik-baik, tidak ada pihak yang dirugikan selain Wrddhatapasa sendiri…” tegas Ki Alih. “Dan kita bisa membalikan logika pertanyaan dengan hal yang sama; pihak yang dirugikan akan memperoleh simpati dari kalangan banyak, dan secara keuangan keuntungan yang akan dia peroleh jelas lebih besar!”

“Cukup masuk akal bagiku,” gumam Jaka. “Pertanyaan berikut; tidak mungkin seseorang melakukan kegiatan seaneh itu jika tidak yakin mendapatkan keuntungan berlipat dari yang dikeluarkannya… selain uang, apa yang akan di dapat Wrddhatapasa?”

Pembicaraan sudah memasuki babak krusial yang menyimpulkan beragam hal kegiatan aneh yang mendasari pergerakan mereka. Tapi sejauh ini kesimpulan yang didapat pun harus menanti hasil observasi yang masih bertebaran di lapangan.

“Mungkin bisa kutambahkan sedikit.” Ujar Baginda tiba-tiba. “Kadang kala kita disesatkan oleh anggapan kalangan Wrddhatapasa hanya sekelompok laki-laki tua, tidakkah kalian berpikir Walkali juga bisa di bentuk oleh Wrddhatapasa?”

Senyap, tak ada yang menanggapi, tapi beberapa diantara mereka mengangguk mengiyakan.

“Kurasa lebih baik kita kerucutkan pada kesimpulan awal. Bagaimana jika ternyata… Wrddhatapasa dan para kerabatnya menggagas usaha perlawanan terhadap Saudara Satu Atap? Apakah mereka memiliki kemampuan untuk itu?” ujar Jaka bertanya untuk membuka gagasan lebih luas lagi.

“Ya, mereka mutlak memilikinya!” sahut Ki Alih dan Baginda hampir bersamaan.

“Nama, kedudukan, jaringan, dan kekayaan, tidak akan sulit dihimpun oleh Wrddhatapasa…” gumam Sadhana. “Tapi apa keuntungan mereka dengan melakukan perlawanan terhadap Saudara Satu Atap?”

“Kurasa untuk jawaban itu akan kita dapatkan jika kita bisa berbicara dengan salah satu hulubalang Riyut Atiodra.” Ujar Jaka.

“Darimana kau dapatkan ide sengawur itu?” cetus Pariçuddha.

“Paman ingat, apa yang membuat mereka keluar kandang?”

“Aku tidak ingat sama sekali,” jawab Pariçuddha dengan wajah masam. “Bukankah kau tidak jadi mendengar keterangan Kanayana?”

“Ah, maafkan aku paman…” kata Jaka dengan tersenyum. “Waktu itu Kanayana mengatakan; ‘…pelanggaran sekecil apapun dari kalangan luar, sudah merupakan aib’, itu sudah cukup bagiku untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada mereka.. seperti yang kita tahu, Riyut Atriodra adalah perkumpulan yang pantang di ganggu, satu gangguan kecil saja akan membuat mereka keluar. Nah, saat mereka keluar kandang… ini adalah makanan empuk penggagas semua keributan ini untuk mengganggu mereka lebih jauh, dan pada akhirnya akan menarik semua kekuatan Riyut Atirodra keluar kandang. Mereka akan diarah sedikit demi sedikit menghadapi Saudara Satu Atap… jika ini sampai terjadi, seperti yang kukatakan tadi… akan terjadi pertumpahan darah yang lebih besar dari kejadian masa lalu!”

Jaka menatap wajah mereka satu persatu, “Dan tahukah kalian, apa sebenarnya yang menjadi kekayaan dari Riyut Atirodra?”

“Loyalitas dan kumpulan dari beragam golongan?” jawab Ki Alih.

“Betul, tapi masih ada jawaban yang lebih tepat…”

“Rahasia…” gumam Sadhana. “Kumpulan rahasia!” cetus lelaki ini dengan bersemangat. “Mereka adalah golongan terbuang, ada banyak dari mereka yang sebenarnya tidak pantas bergabung disana, tapi dipaksa oleh keadaan dan badai fitnah, akhirnya mereka tidak punya pilihan!”

“Betul paman! Beragam rahasia yang dihimpun oleh Riyut Atirodra itu merupakan ‘pusaka’ tak ternilai. Tentu saja siapapun yang menginginkan itu butuh mengolah informasi dan memilahnya, apakah informasi rahasia yang dikumpulkan Riyut Atrirodra, adalah kejadian nyata atau hanya ilusi.”

“Jadi, siapapun penggagas rencana keji ini akan mendapakan banyak keuntunga?” gumam Baginda.

“Ya… dan tugas kita semua untuk mencegah itu terjadi. Terlepas dari kesimpulan kita benar atau salah, Riyut Atirodra benar-benar harus kita lindungi!”

Itu adalah kesimpulan akhir, tentu saja untuk sementara. Masing-masing membuat catatan yang diedarkan untuk saling dibaca. Koordinasi, pemahaman dan penyeragaman ide disaat kritis ini adalah sebuah kemutlakan yang tidak boleh diingkari.

“Aku masih heran darimana mereka tahu jika Jung Simpar ada kaitannya denganku?” gumam pemuda ini bertanya sendiri.

“Kau lupa siapa yang kau hadapi, Perkumpulan Pisau Empat Maut itu memiliki jaringan yang luas! Cikal bakal mereka juga hidup di masa-masa sulit pada saat Sang Lila membuat kekacauan dunia persilatan.” Timpal Sadhana.

“Aku tahu itu paman, aku hanya mencoba mencari tahu dimana letak kebocoran kita…”

“Bukan kebocoran pada kita, tapi berita itu ada pada anak buah Golok Sembilan Bacokan!” sahut Baginda menimpali.

Jaka membenarkan kesimpulan itu. Apa yang mereka saksikan pada saat Ki Alih membuka samarannya—sebagai kusir, dihadapan orang banyak, cukup layak dijadikan informasi yang sangat bernilai.

“Jadi, kita masing-masing akan membagi tugas…” Jaka menutup pertemuan dini hari itu dengan rasa kantuk datang kembali. “Paman Pariçuddha akan pergi ke air terjun Watu Kisruh, Paman Hastin akan memastikan Kiwa Mahakrura dan atasannya mengambil kesimpulan salah. Paman Sadhana dan Paman Çudhakara akan memata-matai semua pergerakan yang dibuat oleh Alpanidra… meskipun mereka menyatakan menjadi sekutuku, tapi bukan berarti aku menutup mata dengan semua pergerakan mereka.”

“Paman Jalada, memantau semua yang datang ke Perguruan Naga Batu. Ki Alih akan mencari jejak Riyut Atirodra…”

“Lalu aku?” Tanya Cambuk tak sabar.

“Memastikan apa yang tercantum dalam peta itu sukses!” tegas Jaka.

Cambuk mengangguk, tentu saja yang dimaksud Jaka adalah membuat tiap rencana itu lancar dengan antisipasi yang sudah mereka lakukan. Hal ini juga menghindari kecurigaan pihak yang berada di Gua Batu tentang sudah terendusnya rencana-rencana mereka.

“Kau sendiri bagaimana?” Tanya Hastin sambil menguap.

“Aku akan bersenang-senang…” jawab Jaka dengan menyeringai. “Sadewa dan teman-temannya pasti memiliki keterangan yang layak untuk kita tahu.”

“Hm, kurasa semua sudah ada bagiannya…” gumam Hastin berdiri meninggalkan ruangan itu, sebelum ‘bertanya’ pada kalangan Kiwa Mahakrura, hal pertama yang dilakukannya adalah tidur.

****

“…begitulah ayah, ibu. Bukan aku bermaksud menghianati perkawinan yang sudah kulakukan, tapi kondisi yang kritis saat itu dengan hal-hal yang harus dilakukan secara cepat membuat aku harus melakukannya tanpa ragu.” Tutur Sakta Glagah menjelaskan tentang latar belakang pernikahan dengan putri Kerajaan Rakahayu.

“Kenapa saat kunikahkan dulu, kau tidak mengatakan bahwa kau sudah menikah?” tuntut Ayahnya.

“Aku tak mungkin mempermalukan ayah di depan orang banyak, lagi pula tugasku sebagai penanggungjawab prajurit dan telik sandi kerajaan tak memungkinkan aku untuk mengatakan pernikahanku dengan anak sang raja… bahkan, kalangan keluarga raja sendiri tidak mengetahui bahwa akulah ayah calon ratu mereka!”

Ketiga orang tua itu saling pandang, nampaknya mereka bisa menerima alasan Sakta Glagah.

“Aku juga minta tolong pada ayah-ibu dan paman untuk tetap merahasiakan identitas Prawita Sari yang sebenarnya.”

Ketiganya mengangguk, sang ibu bahkan merasa iba pada anaknya. Bagaimana mungkin seorang ayah tidak bisa menyapa sang buah hati dengan cara yang semestinya, tentu perasaan seperti itu merupakan sebuah siksaan yang menyakitkan.

“Lalu apa yang terjadi dengan cucuku?” Tanya sang ibu memahami keputusan yang di ambil anaknya.

“Ada pihak-pihak tertentu yang membutuhkan keberadaan Prawita Sari, dan Luh Siwi untuk dijadikan jaminan. Untunglah aku bisa menggagalkan usaha itu, sayang sekali Luh Siwi tertawan oleh mereka. Tapi aku sungguh tak menyangka mereka berani menggunakan racun!”

Ki Lukita menghela nafas, dia bisa membayangkan tulang tuanya akan ikut bergejolak lagi. Jika putri mahkota Kerajaan Kadungga—Raden Roro Luh Siwi, tertawan oleh pihak yang belum diketahui, tentu akan banyak gesekan-gesekan yang terjadi antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga, sebab selain bertetangga baik secara politik dan budaya, kedua kerajaan itu tidak pernah mendapat kata sepakat. Itu adalah api dalam sekam yang tertanam sejak dulu. Kejadian saat ini bisa membuat api perang berkobar lebih cepat.

“Racun yang digunakan oleh para penyerang bersifat sangat lambat, selama hidup aku belum pernah menjumpai racun semacam ini…” ujar Ki Lukita. “Resep yang kau peroleh dengan penjelasannya memang sangat masuk akal dan aku yakin itu akan berhasil… yang mengganggu pikiranku adalah, apakah kau tahu siapa yang menyerangnya? Jika pihak itu hanya sebatas menginginkan tebusan, rasanya penggunaan racun langka dan sangat sulit ini, sebuah harga yang terlalu mahal…”

“Aku sudah memiliki dugaan, tapi ucapan paman membuatku tak berani menduga lebih jauh.” Jawab Sakta Glagah dengan gundah. “Paman… apakah kau yakin muridmu bisa menyembuhkan anakku?”

Ki Lukita mengangguk pasti. “Kau tenangkan dirimu, kondisi anakmu tidak terlalu mengkhawatirkan saat ini. Pengobatan yang dilakukan Jaka Bayu—jika Tuhan mengizinkan, akan menyembuhkannya seperti sedia kala.”

Ucapan yang penuh percaya diri itu membuat Sakta Glagah tenang. Jadi dia bernama Jaka Bayu, pikirnya. Entah seperti apa orangnya. Desahnya dengan kegelisahan terus merebak.

—oo0O0oo—

100 – Mengenalkan Identitas

Tidur dua jam membuatnya merasa segar lagi, sebelum fajar menyingsing Jaka sudah melesat menuju Pasar Batu Galur. Pemuda ini ingin memastikan kebenaran hipotesanya, masih segar dalam ingatan, entah pihak itu Arseta atau Perguruan Naga Batu sudah menyewa orang-orang untuk menguntit dirinya, mereka adalah informan lepas. Sebelum pertemuannya dengan Sadewa sekalian, Jaka berniat mencari tahu, apakah kabar tentang dirinya lewat delapan penguntit yang sengaja dilepaskannya sudah merambat dengan lambat ke dalam Perguruan Naga Batu?

Keramaian pasar itu cukup mengubur kepenatan Jaka, dia turut berdesak-desakan, pemuda ini tentu saja memilih warung yang masih berada dalam ‘naungannya’. Ternyata sepagi ini sup ayam sudah siap, dengan lahap pemuda ini memakannya, sesekali matanya beredar kesana kemari mencermati situasi. Pagi yang cukup dingin itu sungguh sangat pas dengan minuman jahe panas dengan gula aren, pemuda ini menyesapnya perlahan-lahan.

Mendadak bola mata Jaka agak melebar, saat melihat seorang yang rasanya sempat dia jumpa—tapi tidak bertegur sapa, dalam situasi yang kurang menyenangkan. Apa bukan dia? Pikir Jaka menegaskan pandangan matanya lagi.

Dan memang benar, orang itu adalah pemuda sepantaran dirinya. Jaka menjumpai orang itu di rumah makan, pertama kali dirinya sampai di Kota Pagaruyung. Saat itu ada keributan yang dilakukan guru Bergola, orang itu tidak bereaksi sama sekali, tapi pada saat Jaka menatapnya—padahal dia tidak bermaksud seperti itu—pemuda itu terlihat gelisah. Orang itu tengah duduk di kedai persis di seberang tempatnya makan.

Jaka buru-buru menghabiskan minumnya, dan membayar. Dia langsung bergegas mencampurkan diri dalam kerubutan penjual dan pembeli yang berlalu lalang, sambil merapat ke warung dimana pemuda itu nampak sedang menikmati sarapannya. Dia terlihat sedang bercakap-cakap dengan sebayanya, Jaka hampir saja berteriak senang saat melihat siapa lawan bicara orang itu, Pradipa! Salah satu penguntit yang sengaja dia bebaskan. Pradipa bertugas menyusup di Perguruan Naga Batu untuk mencari buku tamu dalam rentang empat tahun sampai dua tahun kebelakang.

“…dilaksanakan hari ini…” Jaka mendengar pemuda itu mengatakan pada Pradipa dengan suara lirih.

Jaka memperhatikan gerak bibir Pradipa.

“Aku akan mencari tahu, jika memang orang yang sama, aku tidak berani…” itu kalimat yang Jaka tangkap.

Dari belakang, saat tangan pemuda itu melambai, Jaka bisa melihatnya mengenakan cincin di jari manisnya, sayangnya tidak terlihat cincin itu memiliki mata warna apa. Tak terdengar dia mengatakan apa pada Pradipa, Jaka hanya bisa menduga ucapan orang itu berdasarkan gerak bibir Pradipa yang menyatakan: “Kuusulkan untuk menarik diri, ini sudah terlalu keruh…”

Itu cukup buat Jaka untuk melenyapkan diri, tentu saja maksud dia melenyapkan diri tidak seperti kebanyakan orang. Jaka justru masuk ke dalam kedai itu! Dengan santai, Jaka duduk di sebelah pemuda yang bercakap-cakap dengan Pradipa. Dalam kilasan detik, Jaka bisa merasakan suasana mereka membeku sesaat, sebelum akhirnya Pradipa mencairkan kebekuan sikap pemuda lawan bicaranya dengan menyapa Jaka.

“Ada yang bisa kubantu, tuan?”

“Bagaimana jika kau ceritakan semua yang kau ketahui, setelah berpisah dariku malam itu,” Jawab Jaka tanpa basa basi.

Wajah Pradipa memucat, Jaka tak mencoba mencari tahu reaksi pemuda disebelahnya, dengan ekor matanya Jaka bisa melihat bahwa mata cincinnya berwarna biru tua.

“Ak-aku ti-tidak.. tidak ikut serta dalam kegiatan itu lagi, aku benar-benar menghindari itu,” Katanya dengan suara rendah.

Jaka manggut-manggut, “Kalau aku yang menyewamu dan kau kabur sebelum memberikan jawaban memuaskan, apakah aku akan diam begitu saja? Kurasa yang menyewa dirimu pun akan bertindak serupa denganku… jika saat ini adalah caramu menghindarkan diri, aku bisa mengatakan ini omong kosong! Hanya berkecimpung di bidang yang sama, dengan mencari sandaran yang lebih kuat-lah, baru kau bisa menghindari mereka! Betul tidak?” saat mengatakan kalimat terakhir Jaka menoleh pada pemuda disebelahnya, jika ada orang yang memperhatikan bisa segera menyimpulkan mereka ada dalam kelompok yang sama.

Jaka berbicara begitu bebas tanpa berupaya merendahkan suara. Karuan saja Pradipa yang kelabakan, dia melihat orang-orang disekitarnya yang mulai memperhatikan Jaka, dan tentu saja orang di sekeliling Jaka—si pemuda dan Pradipa sendiri.

“Tidak perlu risau, kau tahu kekuatanku sangat besar. Tidak ada yang bisa menandingi caraku bekerja, tidak ada lubang yang tidak bisa kususupi, bagiku tidak ada rahasia yang tersimpan rapat bertahan lebih dari satu hari. Dan satu lagi, tidak ada yang berani bermain gila padaku!” Jaka menekankan kalimat terakhir.

“Aku tahu kau memiliki ingatan bagus, tentu kau tidak akan melupakan apa yang kau alami dalam beberapa hari terakhir ini.”

Jaka berdiri sambil mengambil serenceng uang, “Aku pasti membeli informasi darimu dengan harga yang layak.”

Satu potong emas dengan beberapa belas potong perak cukup membuat orang-orang di kedai itu terbelalak. Tapi yang membuat orang lebih terbelalak lagi, di antara uang itu ada beberapa lencana berukir naga.

“Ups… maafkan kecerobohanku.” Kata Jaka dengan nada merasa bersalah, tapi pemuda di sebelahnya sudah melihat adanya lencana perunggu, besi, dan perak berukir naga di kantung uang Jaka, juga ada sebentuk cincin bermata hitam.

Tapi saat ini yang paling mengenaskan adalah Pradipa, apa yang dilakukan Jaka adalah mendorongnya ke sudut mati, kecuali menggabungkan diri dengan pemuda itu, dan melakukan apa yang diinginkannya, dia tidak berdaya. Sebab semua orang di kedai itu sudah melihatnya dalam wujud yang sebenarnya. Pradipa yakin, para pengunjung di kedai itu ada beberapa orang telik sandi yang akan segera melaporkan kejadian itu. Karirnya tamat sudah!

“Aku menunggumu di Pesanggrahan Naga Batu setelah tengah hari. Kita akan membicarakan banyak hal.” Berkata begitu Jaka melirik pada pemuda bercincin biru itu. “Aku juga tidak keberatan jika kau membawa orang lain…” usai berkata begitu Jaka keluar dengan santainya dan menghilang di balik kerumunan orang.

Geraham pemuda bercincin itu nampak bergemertak, tangannya mengepal kencang, agaknya kejadian yang begitu cepat ini di luar sangkaannya. Pradipa seperti melihat sinyal dari pemuda itu, dengan gerakan gesit bagai geliat kijang, Pradipa meremas pengaduk masakan hingga menjadi beberapa keping lalu melemparkan ke daun pintu dan jendela.

Brak-Brak! Pintu dan daun jendela tertutup seketika, dalam waktu yang bersamaan, pemuda bercincin itu mengibaskan tangan ke belakang tanpa mengubah caranya duduk. Tujuh orang pengunjung kedai itu membeku dalam beragam pose. Ada yang sedang menyendok makanan, ada yang hendak melompat keluar dari kedai itu, ada juga yang baru bangkit dari duduknya.

Pemuda ini membalikkan badannya, dia melihat keadaan yang baru saja ditimbulkan. Beragam posisi yang membeku akibat kibasan totokan anginnya cukup memberikan gambaran. “Amankan dua orang ini!” perintah pemuda itu pada Pradipa.

Pradipa segera menyeret kedua orang yang berpose dalam keadaan berdiri dan hendak melompat keluar, dari gerakan terakhir itulah nampaknya pemuda bercicin ini menentukan bahwa mereka adalah telik sandi dari golongan lain.

Keduanya digiring ke belakang kedai, Pradipa memasukkan keduanya ke sebuah tempayan besar! Begitu tutup tempayan dibuka, ada sepasang tangan terjulur menerima tubuh kedua orang itu. Nyatanya kedai sesederhana itupun memiliki tempat rahasia.

Pradipa berniat untuk membuka kembali daun pintu dan jendela, tapi melihat pemuda bercincin itu masih duduk dengan raut muka tegang dan terlihat menakutkan, dia mengurungkannya.

“Apa keadaannya seperti yang dibicarakan?” pertanyaan sederhana, tapi pandangan matanya setajam sembilu.

Jemari tangan Pradipa terlihat bergetar, dengan mulut terkunci dia hanya mengangguk-angguk. Sebenarnya bisa saja dia mengatakan bahwa Jaka itu pembohong, tapi kalimat yang sudah ada di ujung lidahnya, tak bisa dia keluarkan. Teringat olehnya betapa pemuda itu memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan! Satu jawaban sembarangan bisa membuat nasibnya benar-benar tidak beruntung.

“Kau tahu kesalahanmu?” pertanyaan itu tandas membuat bulu romanya meremang, seolah nada tanya sesimpel itu datang dari dasar neraka.

Pradipa menelan ludah berkali-kali sebelum bisa menjawab. “Maafkan aku.. ak-aku sungguh tak menyangka dia bisa melacak sampai kemari…”

Pemuda bercincin itu tampak menghembuskan nafas perlahan-lahan, seolah kemarahan yang membakar dadanya hendak dipadamkan dengan tarikan nafasnya. “Kau tidak melaporkan tentang dirinya padaku? Nampaknya dalam hatimu sudah timbul penyakit…”

“Ti-tidak… sungguh! Berganti haluan, berpikir pun aku tidak pernah… waktu itu, aku… aku hanya meyakini kejadian malam itu tidak memiliki dampak…”

“Tapi kau sudah melihat dampaknya!” ketus si pemuda bercincin dengan amarah yang mulai mereda.

“Aku mengaku salah…” Paradipa menatap pemuda bercicin itu sekilas, tidak ada tanggapan, tapi matanya seperti memberi perintah padanya untuk terus bicara. Sambil mengumpulkan nyalinya Pradipa kembali bertutur, “saat itu, aku mendapat order mengikuti dia dari Arseta dan Sadewa, seperti yang kau perintahkan… aku bisa menempatkan posisi diriku sesederhana mungkin sehingga orang-orang hanya menggunakan jasa remeh, mereka tidak tahu jika aku banyak bekerja di beberapa pihak sekaligus. Sungguh sebuah kebetulan yang jarang terjadi, dua belah pihak yang berlawanan bisa memintaku untuk mengikuti orang yang sama… aku hanya mendapatkan informasi bahwa ilmu peringan tubuhnya termasuk pada tataran tinggi, karena itulah aku menghubungi beberapa teman lain untuk mempersiapkan peringkusannya… tapi,” Pradipa tertawa rawan.

“Benar-benar hari sial, bukannya kami yang meringkus, tapi dia balik menjaring kami… memalukan…” ujar Pradipa dengan tertunduk.

“Bagaimana cara dia meringkusmu?”

Pradipa menunduk, kemudian dia menceritakan bahwa mereka berdelapan dibuat mati kutu oleh gerakan Jaka dan akhirnya dipaksa untuk menyerah, lebih dari itu Jaka memiliki profile mereka berdelapan.

“…ah sebelum itu dia juga menundukkan orang lain, orang itu cukup hebat, tapi nasibnya lebih mengenaskan dari kami. Bahkan pemuda itu menaklukkan orang itu tanpa mengangkat jemarinya… aku terlalu takut menceritakan itu. Karena kupikir jika aku menceritakan hal ini, kau akan membuat antisipasi yang berlebihan, dan itu akan membuat pergerakanmu lebih cepat dicium olehnya… sebab kekuatan telik sandi di belakangnya cukup menakutkan.”

Pemuda bercincin itu termenung, mengenalisa keterangan Pradipa. “Aku bisa menerima alasanmu…” gumamnya memutuskan.

Sebenarnya bukan karena alasan Pradipa, tapi lebih kepada karena dirinya tak sanggup bereaksi saat Jaka duduk disisinya, seharusnya dia sanggup melakukan itu.

Tapi entah kenapa, tubuhnya seolah membeku, daya refleknya menjadi tumpul. Dengan sendirinya saat refleknya menurun, dia membutuhkan tambahan waktu untuk konsentrasi yang lebih mendalam saat mencoba membangkitkan tenaga saktinya. Tapi lagi-lagi itupun tak sanggup dilakukannya, karena konsentrasinya buyar total, kehadiran Jaka tidak bisa dirasakan olehnya, padahal pemuda itu sedang berbicara di sebelahnya! Ini yang membuat dia memutuskan untuk diam saja.

“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” Tanya Pradipa. “Anda jelas tidak mungkin bertemu dengan Sadewa, dia akan langsung mengenali anda…”

Pemuda itu terdiam. “Kau ikuti saja apa maunya, kecoh dia!” Katanya sambil berlalu.

Tangannya mengibas, dan orang-orang yang membeku karena totokannyapun terbebas dengan perasaan bingung, seolah-oleh mereka baru saja terlelap.

Pradipa gundah dengan keputusan itu, sambil kembali membuka jendela, dia masih mencemaskan cara apa yang bisa dilakukan untuk mengecoh Jaka. Akan sulit sekali mengelabui orang yang memiliki sumber informasi sendiri, pikirnya. Setelah para pelanggannya membayar, Pradipa menutup kedai senjenak, dia ingin menggeledah dua orang yang tadi ditotok pemuda bercincin itu.

“Sial!” umpat Pradipa sesampainya di ruangan bawah tanah.

Dua orang yang seharusnya masih tertotok sudah tidak ada, malah penjaga ruangan itulah yang sekarang terlihat membeku dengan posisi duduk.

Pradipa bergegas keluar untuk mencari pemuda bercincin, kecolongan kali ini benar-benar membuatnya takut!

===oOo===

Jaka memperhatikan dua orang yang masih lumpuh karena pengaruh totokan pemuda bercincin, bukan orangnya yang menjadi perhatian, tapi totokan pemuda itulah yang menjadi perhatian Jaka.

Dengan seksama, Jaka memeriksa tubuh mereka. Tidak ditemukan adanya sumbatan syaraf atau apa pun, Jaka bisa saja dengan caranya sendiri membebaskan mereka, tapi itu sama saja menghilangkan ‘barang bukti’, cara pemuda bercincin itu menotok sangat menarik. Jaka sudah mengikuti pembicaraan mereka dari awal hingga akhir—tentu saja tanpa diketahui mereka. Sungguh tidak pernah disangkanya, pemuda yang kelihatannya kikuk itu memiliki kemampuan hebat, Jaka bisa memastikan kemahirannya di atas Kiwa Mahakrura.

Pemuda ini memeriksa leher, dan kepala keduanya, seulas senyum muncul penuh rasa puas. Rupanya totokan yang dilakukan pemuda itu benar-benar teknik yang tinggi, jika dibandingkan cara totok si Matahari Dua Bukit, orang tua itu masih tertinggal jauh. Kibasan yang dilakukan pemuda bercincin itu disarangkan tepat di batang otak, empat cun (empat ruas tulang) di atas leher. Itupun bukan serangan yang menyumbat, tapi hanya menjepit secara halus—menghentikan fungsi dengan tekanan udara pada banyak titik, semacam akupresur tanpa sentuhan. Jika membebaskan dengan menyalurkan tenaga justru akan makin mengencangkan japitan (karena perbedaan tekanan tenaga—sebab orang tidak tahu seberapa besar tekanan tenaga yang digunakan pemuda bercincin itu).

Jaka sangat beruntung bisa mengetahui fakta itu, mengatur tenaga dengan seksama Jaka mengibaskan tangan yang menimbulkan daya tekan udara, ke sekitar kepala keduanya. Tidak sampai pada hitungan kesepuluh, keduanya siuman. Tentu saja keduanya siuman dengan perasaan terheran-heran. Saat itu Jaka sudah jauh dari mereka, pekerjaan menguntit orang yang disangka sebagai telik sandi itu, biarlah dikerjakan anak buah Penikam.

Sebelum berjumpa dengan Sadewa, Jaka memutuskan; memperoleh informasi tambahan tentang pemuda bercincin adalah pekerjaan yang cukup berharga. Jarak yang dibuat Pradipa dengan dirinya dipangkas dengan cepat, saat ini Jaka sedang membayangi orang itu dalam jarak yang aman dan tanpa diketahui, terlihat olehnya Pradipa sedang kebingungan mencari pemuda bercincin itu.

Jalan yang diambil Pradipa sangat familier bagi Jaka, dan ternyata tak berapa lama kemudian orang itu sudah ada di gerbang bangunan yang kemarin malam baru saja ditinggalkan Jaka. Tidak menunggu Pradipa yang sedang mengetuk pintu gerbang, Jaka melesat dengan gerakan amat pesat ke wuwungan bangunan dan segera menyusup kedalamnya, penyelidikan terakhir sudah membuatnya sedikit paham keadaan bangunan itu.

Pemuda ini merambat dengan lembut dan penuh perhitungan, tiap ruangan dijenguk dengan harapan dapat melihat sesuatu yang menarik. Pintu dimana Kiwa Mahakrura dan Paksi menemui Duhkabhara sudah Jaka buka dengan perlahan, dengan pengamatannya yang sangat sensitive, Jaka mengetahui dalam kamar itu tidak ada apa-apa.

Menyelinap dengan cepat, Jaka membuka jendela sedikit supaya ada celah cahaya pagi masuk ke dalam. Ruangan itu cukup luas dengan perabotan dua lemari dan satu set meja kursi, pemuda ini melihat banyak catatan terserak di atas meja. Dengan cekatan Jaka segera memeriksa, membaca beberapa belas lembar pertama membuat Jaka menggeleng kagum atas kecakapan kerja Cambuk dalam mengartikan symbol di peta dan gulungan yang dia bawa dari Gua Batu, ternyata apa yang tertera di atas meja itu serupa benar dengan analisa Cambuk.

Saat hendak memeriksa lebih lanjut, Jaka mendengar desir langkah menuju ruangan itu, otaknya bereaksi cepat, dua lemari di pojok ruangan dibuka perlahan, tidak ada celah untuk bersembunyi disana mengingat bentuk lemari berisi rak dengan jarak yang pendek, Jaka segera melesat ke atas langit-langit, bergantungan pada kayu di sana dan membuka lubang penutup (man-hole) papan yang berfungsi sebagaimana eternit, saat Jaka sudah masuk ke dalam lubang, pintu terbuka. Dua orang masuk dengan langkah lebar, dari dalam persembunyiannya Jaka bisa melihat si pemuda bercincin dengan orang setengah baya, mungkin dia Duhkabhara.

“Apakah kita akan langsung melawan orang itu secara berterang? Gerakannya benar-benar mengganggu rencana Bhre!” kata pemuda bercincin ini sambil mondar-mandir.

Duhkabhara tidak berkomentar, sesaat kemudian dia berkata, “Jika dugaanku tidak salah, orang yang kau temui itu adalah orang yang sama…”

“Maksudmu?”

Duhkabhara menuturkan kisah kalahnya Kiwa Mahakrura secara tragis. “…yang menjadi catatan Kiwa adalah; kesanggupannya meniru pukulan Triagni Diwangkara. Menurut Kiwa, orang itu seperti ular… tiap lubang bisa dia masuki. Arseta yang memiliki tempat sedemikian tersembunyi saja, dia bisa menyelundup… aku khawatir dia sudah bisa melacak keberadaan kita.”

Geraham pemuda bercincin ini nampak mengeras, “Ya… aku bisa memastikan, dia adalah orang yang sama! Aku melihat cincin hitam ada padanya..” katanya mendesis.

Pemuda ini teringat saat Jaka memberikan uang pada Pradipa, ada beberapa lencana dan cincin yang sengaja dia keluarkan. “Orang itu benar-benar gila… dia sengaja mengeluarkan beberapa barang yang diperolehnya dari Kiwa! Dipikirnya aku akan terpancing dengan permainan itu? Jangan harap!” gumamnya dengan perasaan campur aduk.

Duhkabhara menggeleng-geleng, “Kiwa Mahakrura terlalu membawa adatnya sendiri, dikiranya setiap orang-orang baru yang direkrut Arseta haya anak-anak murid utama enam belas perguruan utama, si nomer empat itu benar-benar duri yang menghalangi kita.”

Tok-tok! Terdengar pintu diketuk.

“Masuk!” seru Duhkabhara.

Jaka melihat Pradipa nampak masuk dengan wajah pucat.

“Ada apa?” Tanya Duhkabhara dengan nada tidak senang.

“Aku ingin sampaikan berita…” katanya denga menunduk.

Duhkabhara nampak melirik pemuda bercincin itu. Setelah melihat orang itu mengangguk, Duhkabhara mengizinkan.“Bicaralah…”

“Tawanan kita hilang…” katanya sambil bersimpuh.

Pemuda bercincin itu tampak terkejut. “Tidak mungkin! Apa sudah kau cari di sekeliling pasar? Tidak ada yang bisa melepaskan totokanku, kecuali aku sendiri!”

“Sudah, bahkan aku sudah mengerahkan teman-teman kita untuk mencari, tapi tak terlihat dimanapun. Satu hal lagi… orang kita yang menjaga di bawah, ditotok dengan cara seperti halnya cara tuan…”

Duhkabhara tampak saling pandang dengan pemuda bercincin itu dengan sorot mata terkejut, kali ini mereka yakin, bahwa pemuda yang mengalahkan Kiwa Mahakrura dan orang yang tadi baru saja menemuinya, adalah orang yang sama! Nampaknya pendapat Kiwa Mahakrura memang benar, lawannya seperti ular, tidak ada lubang yang tidak dia masuki.

“Apakah tawananmu adalah orang penting?” Tanya Duhkabhara.

Pemuda bercincin itu menggeleng. “Kau berdirilah..” katanya pada Pradipa yang sudah siap menerima hukuman.

“Mereka bukan tawanan penting,” katanya pada Duhkabhara. “Aku lebih kawatir dengan cara musuh yang bisa meniru kebiasaan…”

Nyatanya Jaka sudah dianggap sebagai musuh oleh mereka, dalam persembunyianya pemuda ini tertawa masam. Tapi dia tidak menyalahkan sikap mereka, perang mata-mata memang penuh dengan ketegangan dan terkadang memuakkan.

“Apa akan kita lanjutkan kerja kita ini?” Tanya pemuda itu meminta pertimbangan pada Duhkabhara.

“Orang itu sudah mendapatkan beberapa benda penting dari Kiwa, dia juga berhasil masuk hingga pintu tersembunyi markasnya. Cepat atau lambat, semua jejak itu akan membawanya ke sini…” ujar Duhkabhara.

“Apakah perjalananmu di kuntit?” Tanya Duhkabhara pada Pradipa.

“Tidak, aku yakin kita aman…” jawab Pradipa dengan perasaan tidak yakin pula, jika Kiwa Mahakrura idolanya ternyata bisa ditumbangkan oleh lawan yang mempermalukan dengan pembebasannya, persembunyian pada tempat tetirah bangsawan ini hanya menunggu waktu untuk ditemukan!

“Kukira, aku akan meminta pada orang tua itu untuk menghadapinya. Jika dia tidak bisa mengatasinya, aku akan mengusulkan pada Bhre untuk menghentikan kegiatan kita… menghentikan untuk sementara!” ujar Pemuda bercincin itu memutuskan.

“Begitupun baik, aku akan mendukung usulmu, Pratisara pasti akan menyetujui ini.” Kata Duhkabhara sambil keluar dari ruangan.

Jaka mengikuti tiap detik dengan debar senang, pada dasarnya dia tidak suka bertarung, tapi jika ada lawan yang belum pernah dia ketahui ilmunya, itu menjadi sebuah kesenangan yang secara aneh merambati hatinya, Jaka bersumpah untuk mengikuti pemuda bercincin itu—dia benar-benar penasaran dengan ‘orang tua’ yang mereka maksud, jangan-jangan ada hubungannya dengan Wrddhatapasa?

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: