Seruling Sakti Jilid 101-105

SERULING SAKTI

Oleh: Didit

Jilid 101 Sampai 105

101 – Labrak!

Pemuda bercincin itu melesat ke dalam rimba di pinggiran batas kota, gerakannya bagai geliat naga—gagah mempesona—selincah burung srikatan, dan begitu pesat. Jaka benar-benar harus memberikan apresiasi tinggi bagi peringan tubuh itu, sungguh tidak disangka semuda itu dapat menguasai ilmu luar biasa.

Meski Jaka bisa mengatasi pemuda itu, tapi dia juga bukan orang yang ceroboh tanpa perhitungan, ‘orang tua’ yang mereka maksud pasti memiliki kemahiran yang jarang ada bandingannya. Jaka sengaja meningggalkan kode di setiap jalan yang mereka lewati, siapa tahu ada kondisi yang membuat dirinya membutuhkan dukungan kekuatan.

Berbagai tempat sudah didatangi, nampaknya dia sedang mencari ‘orang tua’ yang khusus didatangkan untuk menghadapi Jaka Bayu. Tapi pencariannya tidak kunjung mendapatkan hasil. Dalam penguntitan itu Jaka menggerutu, sebab tengah hari nanti dia harus bersua dengan Sadewa sekalian, jika pencarian ini tidak membuahkan hasil, dia berminat untuk meninggalkannya—meski itu dengan berat hati.

Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah lembah penuh bunga, seorang lelaki tampak sedang memetik bunga dengan perasaan riang. Keranjang di punggungnya tampak penuh dengan aneka bunga dan rerumputan. Jaka memperhatikan orang itu dengan seksama, gerak-geriknya lambat, tapi Jaka bisa merasakan urat-urat yang menonjol dari balik bajunya tidak bisa menyembunyikan himpunan hawa sakti yang amat kuat. Jaka benar-benar senang dengan apa yang lihatnya, jika ada pertarungan tentu ini menjadi pustaka pengalaman yang menyenangkan.

“Paman…” pemuda bercincin itu memanggil dengan hormat.

Lelaki itu menoleh dengan gerakan acuh, “Hm… perlu apa?”

“Mohon bertemu dengan Ki Di..”

“Tidak bisa!” potong orang itu tegas dan ketus. “Semua kepentingan aku bisa mewakilinya, jangan kau buang-buang waktunya yang berharga!”

Pemuda bercincin itu nampak gelisah. “Tapi ini ada kaitannya dengan kepentingan Bhre…”

“Aku tidak perduli! Biarpun beliau ada sangkutannya dengan Bhre, untuk setiap urusan yang sudah dipasrahkan beliau untuk kuwakili, dapat kuselesaikan tanpa menganggu waktunya!”

Kegelisahan makin menggerogoti tingkahnya, “Tapi untuk urusan ini paman jelas tidak bisa mewakili beliau… aku takut tidak sanggup.”

Perkataan itu kontan menyulut amarah lelaki itu. “Kecuali terhadap beliau, tidak ada yang kutakuti! Aku bisa hadapi semuanya!”

Pemuda bercincin ini nampak tersenyum tipis, nyatanya pancingannya berhasil. “Baiklah jika begitu, tapi jika paman tak sanggup menghadapinya, berjanjilah padaku untuk mengundang beliau mengadapi musuh kami…”

Wajah lelaki paruh baya itu nampak mengeras. “Kau dapatkan janjiku!” tegasnya. “Dimana aku harus menghadapi musuhmu?!”

Bola mata pemuda itu nampak berputar sejenak, “Kupikir di Kuil Tua saja…” usulnya itu membuat lelaki paruh baya itu mengernyitkan keningnya, Kuil Tua itu terlalu dekat dengan Perguruan Naga Batu, pertarungan di tempat yang selalu dilalui jalur perondaan perguruan yang dibangun oleh Adipati Cakra Sapta itu, terlalu riskan.

“Baik, aku akan kesana! Pastikan lawanku ada disana…” akhirnya dia memutuskan untuk menyetujui.

“Itu akan kami usahakan.” Sahutnya, pemuda ini tidak sadar ada penyakit pada ucapannya, jangan disangka orang yang mudah diprovokasi itu tak berpikir panjang, nyatanya dia melihat kelemahan pada ucapan itu.

“Ah… jadi selama ini kalian sudah dirugikan dan tidak yakin pula dengan kesanggupan kalian untuk membawa musuh ke Kuil Tua? Sungguh menyedihkan!” Sindir lelaki ini membuat wajah pemuda bercincin itu bak kepiting rebus. “Tapi itu urusan kalian, aku tidak perduli, pastikan dua jam kedepan, dia sudah ada disana! Jika tidak, kurasa ini adalah akhir dari hubungan beliau dengan Bhre!”

Ucapan yang terakhir itu membuat pemuda ini pucat. “Paman, jangan berbicara sembrono begitu…” desisnya.

“Haha.. sembrono bagaimana? Perjanjian yang pernah terjalin antara beliau dengan Bhre, hanya untuk satu kali tindakan saja. Hati-hatilah dalam meminta hal yang tidak perlu!”

Atas peringatan itu, mulut pemuda ini terkunci, tak bisa mendebatnya, sebab itu memang hal nyata! Dengan pikiran tak sefokus tadi, dia memohon diri. Dalam hatinya dia merasa beruntung bahwa orang yang dihadapannya itulah yang akan mewakili rencana pertarungannya dengan Jaka. Jika orang itu kalah, itu tidak ada hubungannya dengan beliau. Berpikiran demikian membuatnya sedikit tenang.

Tentu saja Jaka tidak turut serta pergi. Setelah memperhatikan keadaan dan memastikan hanya ada mereka berdua, Jaka memunculkan diri memperhatikan lelaki tua yang sedang asik memetik bunga yang beraroma lembut.

“Boleh kuminta satu tangkai?” pinta Jaka seraya mendekat.

Reaksi lelakti tua itu tidak seperti saat menghadapi pemuda bercincin, kali ini keterkejutan terpeta jelas di wajahnya, dengan sigap dirinya menurunkan keranjang tempat bunga dari punggungnya, dan memperhatikan tamu tak diundang itu dengan sikap siaga, maklum saja, kehadiran Jaka benar-benar tidak dia rasakan.

“Siapa kau?” tanyanya dengan nada setengah membentak.

“Hanya orang lewat, aku benar-benar ingin setangkai bunga yang paman petik, bolehkah?”

Wajah pemuda itu sangat simpatik, membuat lelaki paruh baya itu mengendorkan kewaspadaannya. Dengan gerakan perlahan dia melempar bunga itu kepada Jaka, lemparan yang biasa, tapi lajunya pesat tidak kepalang.

Tap! Dengan mudah Jaka menangkap bunga itu tanpa merusak kelopak dan tangkai. Pemuda ini tidak terkejut, apa yang dilakukan lelaki itu memang sudah dalam perkiraannya.

“Bunga bagus… aku benar-benar menyukainya.” Gumam Jaka sambil menghirup aroma bunga itu dalam-dalam.

Kewaspadan yang tadi ditarik, kembali disiagakan lagi, sangat tidak mungkin pemuda yang tak jelas asalnya dari mana ini muncul begitu saja, belum lagi cara munculnya yang tidak biasa—menumpulkan indera perasaannya.

“Kuulangi, siapa kau?!”

Jaka menyimpan bunga itu di atas telinga kanannya. “Namaku Jaka Bayu, aku adalah lawan yang seharusnya kau hadapi di Kuil Tua,” katanya tanpa basa basi.

Tentu saja lelaki itu terkejut. “Berani sekali kau kemari! Dari mana kau tahu tempat ini?!”

Jaka mengangkat bahunya, “Gerakan pemuda yang tadi menemuimu memang cepat, tapi bukan berarti aku tak bisa mengikuti. Lagi pula kedatanganku adalah untuk menolong tuanmu…”

“Sembarangan bicara!” bentak lelaki paruh baya itu sambil meninju ke muka, Jaka tidak merasakan ada hawa atau pukulan apapun menerpa dirinya, tapi beberapa saat kemudian udara di sekeliling tubuhnya seolah tersedot ke dalam sebuah pusaran yang menghempas tepat ke wajahnya!

Tidak sempat terkejut, Jaka meliukkan tubuhnya dengan gerakan menyamping dan melakukan kibasan menetralisir efek pukulan jarak jauh lelaki itu.

Blar! Sebuah letupan berkumandang membuat keduanya mempertimbangkan berbagai hal untuk melakukan tidakan lanjutan.

“Hebat sekali!” puji pemuda ini sambil menatap dalam-dalam lawannya. “Kau tahu, aku tidak tertarik dengan pertarungan yang mereka rencanakan. Itu karena mereka terlalu bodoh dalam menyusun rencana, sampai-sampai aku bisa melihat rencana mereka seperti barang di sakuku sendiri… apa kau perlu membela orang seperti itu?”

Jika saja Jaka mengucapkan hal itu sebelum serangan dibuka oleh lelaki paruh baya ini, mungkin orang itu akan mempertimbangkannya, tapi pukulan yang menjadi kebanggaannya bisa dihidari semudah itu, membuat rasa penasarannya bangkit.

Tanpa berkata apa-apa, lelaki ini melesat cepat ke hadapan Jaka dan menyerangnya dengan gerakan bertubi-tubi, Jaka bisa merasakan udara disekitarnya seperti tersedot oleh setiap gerakan orang ini, tapi Jaka tidak berminat untuk membenturkan tenaganya pada tiap serangan yang datang membadai itu.

Belasan jurus terhambur dengan sia-sia, selain Jaka bisa menghindar dengan mudah, pemuda ini lebih banyak berkerut kening melihat cara tarung lelaki itu. Rasanya Jaka pernah melihat caranya bertarung, tapi entah dimana… dia tak sanggup mengingatnya.

“Apa kau tidak bisa membalas?!” bentak lelaki itu dengan amarah membakar dada.

“Untuk apa? Apakah kita bermusuhan?” Tanya Jaka dengan ringan.

Sambil menggertak gigi, lelaki ini berkata. “Setidaknya, kau harus membalas seranganku karena menghancurkan bajumu!”

Alis Jaka terangkat, ucapan lawannya itu membuatnya sadar, ternyata rasa sejuk yang sedikit demi sedikit dirasakan saat menghindari semua serangan itu, karena meluruhnya inci demi inci baju yang dikenakannya, saat ini baju yang dikenakan pemuda itu sudah terbang terhempas dalam bentuk serpihan kecil.

Jaka berdecak kagum, “Ilmumu sangat hebat paman…” ucap Jaka tulus.

Tapi lelaki itu tidak mengatakan apapun, dia terlalu terkejut karena melihat bekas luka di sekujur tubuh pemuda itu. Begitu banyaknya luka yang membekas di tiap jengkal daging pemuda itu membuat bulu kuduknya meremang. Dia bisa membayangkan, dengan bekas luka-luka seperti itu, sangat jarang kiranya ada orang yang hidup karenanya, tapi tenyata dihadapannya ada seseorang itu! Ditatapnya pemuda itu sekali lagi, sebuah kesadaran baru menyeruak dalam benaknya. Jelas tidak mungkin orang yang memiliki luka demikian banyak dengan bekas yang begitu berat dan dalam, hanya orang kebanyakan yang bicara sembarangan, rasanya tidak ada salahnya dia mendengarkan orang itu. Lagi pula jika melihat caranya menghindari tiap serangan pun membuat lelaki paruh baya ini berpikir ulang untuk menempurnya kembali.

“Katakan alasanmu, kau datang untuk menolong beliau?!”

Jaka menarik sisa kain yang masih melekat pada ikat pinggangnya. “Jujur, apa yang kukatakan adalah ide yang datang dari ucapanmu, paman…”

Wajah lelaki itu mengeras lagi, nampaknya tempramennya jauh lebih keras dari Hastin.

Jaka buru-buru memberi isyarat bicaranya belum selesai. “Kau tadi mengatakan, hubungan beliau dengan Bhre hanya terikat oleh satu perimintaan saja.” Lelaki itu mengangguk. “Aku mengartikan itu, bahwa; Bhre memegang kelemahan majikanmu, dan menekannya dengan sebuah janji untuk melakukan sesuatu hal baginya, benar begitu?”

“Memang demikian.” Jawabnya tergagu kagum, tidak heran perkumpulan Bhre bisa diacak-acak pemuda ini, pikirnya. Nyatanya dari beberapa patah kalimat saja pemuda ini bisa menganalisa sampai sejauh itu.

“Janji itu tidak akan akan gugur, jika kau datang ke Kuil Tua,” ujar Jaka dengan sungguh-sungguh.

“Maksudmu?”

“Paman, tidakkah kau ingat sudah mengatakan, ‘kecuali terhadap beliau, tidak ada yang kutakuti! Aku bisa hadapi…’, maaf bukan sedang meninggikan diriku sendiri. Arti ucapanmu itu; manakala majikanmu tidak datang, dan pertarungan sudah kita lakukan, terlepas hasilnya nanti. Majikanmu tetap memiliki hutang… tapi jika nanti majikanmu datang sendiri, terlepas apapun hasilnya, dia sudah tidak memiliki kewajiban terhadap Bhre. Paham dengan maksudku?”

Lelaki paruh baya itu manggut-manggut. “Ya, aku mengerti! Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Tolong sampaikan kepada beliau, untuk menjumpaiku sesuai tempat dan waktu yang telah ditentukan. Dengan sendirinya beliau akan memiliki nilai tawar yang tinggi, aku pastikan tidak akan ada pihak yang turun tangan kecuali beliau!” janji Jaka.

Lelaki ini menatap lawannya dengan perasaan tidak percaya, kecuali Bhre yang dia tidak bisa menjajaki kelihayannya, orang-orang yang berada disekitar Bhre adalah para tokoh yang memiliki kepandaian luar biasa.

“Apa ucapanmu bisa dipercaya?” tanyanya dengan nada ragu.

Jaka tersenyum dengan mengangguk, “Itu permintaanku paman, terserah dengan keputusanmu, apakah kau atau beliau yang akan datang nanti… aku permisi!” Jaka sengaja mengembangkan peringan tubuh pada puncaknya—itu adalah hal yang paling jarang dilakukan.

Lelaki paruh baya itu berseru, “Lebih baik kau gunakan bajuku…” tapi matanya terbelalak, dia seolah melihat pemuda itu masih berada di hadapannya, pada saat tangannya mengulurkan baju, bayangan itu membuyar diterpa angin.

“Gila!” desisnya dengan kekaguman menyeruak di hati, hari ini benar-benar penuh kejutan. Terburu-buru, lelaki ini segera melejit masuk ke dalam lembah. Dari gelagatnya, permintaan Jaka telah menjadi pertimbangan utama.

===oOo===

Hastin sudah mengenakan baju dalam balutan warna biru gelap, badannya yang kekar dan lebar nampak ringkas, satu tegukan air nira panas membuat dadanya terasa hangat. Perasaannya hari ini sangat riang, tentu saja itu berhubungan dengan kepalannya yang akan segera beraksi.

“Apa perlu kutemani?” Tanya Cambuk.

Hastin menyeringai, “Kau sudah memiliki tugas sendiri, lakukan saja tugasmu. Saat ini aku ingin bersenang-senang sejenak.” Katanya sambil melambai seraya masuk kedalam kereta sapi. Kereta itu biasa digunakan oleh Mintaraga mengangkut hasil bumi untuk dijual ke Pasar Joropasa.

Cambuk tersenyum dengan menggeleng-geleng, dia benar-benar suka dengan orang yang jarang berpikir panjang itu, cara yang ceroboh itu terkadang memangkas perhitungan tak perlu.

Di tengah jalan, Hastin turun dari kereta itu, memastikan tidak ada yang mengikuti, tubuhnya yang besar berkelebat menyusuri rimbunnya belantara hutan, tujuannya sangat jelas. Sebuah rumah peristirahatan milik bangsawan. Apa yang dituturkan Jaka padanya, sejelas dia melihat tapaknya sendiri.

Sesampainya di depan pintu gerbang yang berdiri kokoh, Hastin segera mengetuknya sekali. Tapi, dalam sepuluh hitungan tidak ada orang yang membukakan pintu, bagi Hastin itu sudah cukup untuk berkesimpulan, bahwa mereka tidak akomodatif, maka kepalannya—untuk yang pertama kali dalam beberapa hari terakhir—beraksi lagi!

Brak! Sebuah pukulan ringan membuat gerbang selebar tiga meter dengan tinggi dua meter terjebol sempurna, serpihan kayu pintu gerbang itu menabrak para pengawal yang ada di balik pintu, bahkan beberapa orang yang ada di bangunan utama juga terkena lesatan kayu pecahan, membuatnya jatuh pingsan.

Hastin menikmati hasil karyanya sejenak, dengan bibir menyeringai senang lelaki perkasa ini melangkah ringan. Pagi itu mentari belum lagi muncul secara penuh, apa yang dilakukan Hastin hanya berselang sesaat, setelah Jaka meninggalkan bangunan itu untuk mengikuti pemuda bercincin.

“Hei, siapa kau?!” bentak seseorang dari dalam, orang itu adalah Pradipa.

Hastin tidak menjawab, dia menyongsong kedatangan orang itu dengan sebuah pukulan sederhana, dan akibatnya langsung terlihat. Tubuh Pradipa yang sedang melesat seperti ditabrak bongkahan batu. Tubuhnya jatuh terguling-guling beberapa kali dan akhirnya diam.

“Aku Hastin,” jawab lelaki ini dengan suara lirih memperhatikan korbannya, beberapa hari bergaul dengan Jaka, mereka banyak memperbincangkan beragam teori. Hastin benar-benar dibuat gereget oleh Jaka saat pemuda itu dengan mudah menguraikan kelemahan dan kelebihan ilmunya. Meskipun dongkol—tapi Hastin sangat berterima kasih atas kritik Jaka, bahkan pemuda itu memberinya pintu masuk yang sangat berharga. Dan kali ini adalah saat yang tepat untuk mencoba buah pikirnya.

Lelaki ini tidak berusaha masuk ke dalam bangunan, Hastin tidak begitu bodoh untuk masuk ke sana, pastinya ada banyak jebakan di dalam sana, dia cukup menunggu diluar saja. Sambil memukulkan tangannya lagi, Hastin melancarkan pukulan jarak jauh.

Duk! duk! pukulannya menerpa tembok depan bangunan megah itu, dan kelanjutannya bisa diperkirakan, seperti layaknya diguncang gempa saja, tembok dengan ketebalan setengah meter itu runtuh.

Suasana dalam bangunan itu, jangan dikira gaduhnya seperti apa, beberapa orang sudah terbangun gara-gara ledakan pertama, dan kegaduhan yang kedua ini membuat mereka semua terbangun siaga. Dalam belasan hitungan saja, sudah ada sembilan orang datang dengan lesatan tubuh begitu pesat mengurung Hastin.

“Bangsat! Apa kau tahu ini tempat apa? Berani bikin keonaran di sini! Sebutkan namamu!” bentak suara dengan nada begitu menekan.

Hastin paling benci suara keras yang ditujukan padanya. Dulu waktu tetangganya membentaknya gara-gara dia mencuri mangganya, Hastin mengakuinya dengan cara menampar mulut tetangganya itu. Setelah sadar apa yang dia lakukan, barulah Hastin meminta maaf. Apakah kesalahanmu satu atau dua kali, bagi Hastin meminta maaf cukup sekali saja. Sangat efektif, bukan?

Begitupula dengan orang yang baru saja membentaknya, dari lagaknya, Hastin menduga orang itu mungkin saja Dwisarpa yang menyiksa Ki Sampana. Sedetik setelah orang itu selesai mengatakan kalimat terakhir, Hastin sudah ada di depan kedua orang bertampang bengis itu, dan kejadian berikutnya sudah bisa diduga!

Plak! Plak! Sebuah tamparan keras melanda dua orang itu, secepat tamparan itu melanda, secepat itu pula Hastin kembali ke tempatnya.

“Persetan ini tempat siapa! Ini tak lebih hanyalah sarang bajingan tengik yang membuat suasana di kota ini jadi panas begini!” Hastin balas membentak.

Karuan saja Dwisarpa, orang orang yang disegani sebagai petugas lapangan (sebutan lain dari juru siksa), dibuat murka oleh penghinaan yang dilakukan Hastin. “Mati kau!” bentak mereka berbarengan.

Keduanya menyerang Hastin dari kanan dan kiri, tapi mereka tidak bisa bergerak lebih dari dua detik, sebab pukulan Hastin datang menerpa mereka, tepat di hidung masing-masing. Buk-buk!

Keduanya terjatuh dengan menggeliat-geliat kesakitan, tidak perduli kau memiliki hawa sakti kuat, saat hidungmu remuk, rasa sakit pasti akan menyengat sampai ubun-ubun.

“Benar-benar bajingan tengik! Tidak berguna sama sekali… ciuh!” ujar Hastin sembari meludah.

Kiwa Mahakrura dengan Paksi nampak saling pandang, keraguan menyergap hati mereka. Dwisarpa itu bukan orang yang sedemikian mudah dihabisi tanpa perlawanan. Keduanya memiliki tenaga dan keahlian mumpuni, tapi mengapa menghadapi orang ini seperti laron menerjang api? Seolah semua kemahiran Dwisarpa tidak ada artinya?

“Mana itu pemilik pukulan Triagni Diwangkara, kalau hanya cecurut seperti ini, seratus orang juga bisa kuhabisi dalam waktu singkat!” seru Hastin membuat dada tiap orang berkobar tersulut amarah.

“Kau manusia tak bermata,” desis Kiwa Mahakrura.

Pemuda ini segera menghimpun sirkulasi hawa saktinya dengan cepat, tapi kecepatan penghimpunan itu benar-benar tidak bisa menandingi rekasi yang dilakukan Hastin, lelaki ini sudah mendengar dari Jaka tentang ciri-ciri ilmu hebat itu, tak menunggu lama hingga berkembang, Hastin sudah melesat ke hadapan Kiwa Mahakrura. Gerakan yang pesat dan tak seimbang dengan besar badannya itu ditanggapi oleh Paksi dengan cekatan.

Apa yang akan dilakukan sang lawan pada adiknya bisa dia baca dengan sempurna, Jari Embun yang menjadi andalan pemuda ini membuat langkah Hastin sedikit tersendat, menurut Paksi, seharusnya sang lawan menghindari jemari yang datang dengan gerakan mengebor bagai gurdi es itu, tapi alangkah terkejutnya saat jemarinya menyentuh ulu hati lawannya, bukan aliran darah yang dia rasakan—untuk dihentikan lajunya, tapi sebuah desakan dengan hawa bagai kobaran api membuat dirinya menarik jari cepat-cepat. Sementara himpunan sirkulasi hawa sakti yang sedang dibangun oleh Kiwa Mahakrura, belum lagi usai, akibatnya…

Buk! Buk! Satu kali pukulan yang dilacarkan Hastin membuat kedua pemuda itu jungkir balik dengan kondisi mengenaskan. Pukulan Hastin tepat menghantam perut Kiwa Mahakrura, menghentikan laju sirkulasi dalam penghimpunan Pukulan Triagni Diwangkara, sementara sikut Hastin menerpa dahi Paksi.

Apa yang dilakukan Hastin tidak berhenti begitu saja, selesai dengan keduanya, Hastin menghamburkan pukulan-pukulan jarak jauh bertubi-tubi pada kelima orang pengurungnya yang masih terbelalak kaget.

Desh! Desh! Desh! Berturut-turut mereka jatuh terkapar terkena pukulan Hastin. Lelaki ini menyeringai dengan perasaan senang, sungguh tidak disangka Tinju Kerbau-nya menjadi seampuh ini setelah menerapkan masukan dari Jaka.

Bukan karena para pengurungnya itu tidak memiliki kemampuan, tapi karena Tinju Kerbau milik Hastin ini-lah yang dipenuhi kegaiban. Sebelum menerapkan masukan dari Jaka, tinju Hastin ini dikenal karena kekuatannya yang sangat mematikan. Tapi Jaka lebih cenderung memandang itu sebagai pemborosan tenaga, ibarat memecah telur dengan membanting sekuat tenaga itu adalah hal sia-sia.

Teknik tambahan yang disisipkan oleh Jaka adalah, pengekangan laju tenaga yang berlebihan pada pukulannya. Dan kekuatan kekang itu dialihkan untuk mencengkeram dan menotok lawan—nyaris serupa dengan kemampuan Beruang, bedanya timing dan daya cengeram hawa pukulan Hastin itu mengunci simpul hawa sakti lawan, hal itulah yang diherankan Paksi, kenapa saat menghadapi Hastin, seolah-olah mereka seperti anak kecil menumbuk batu—karena semua hawa sakti mereka macet!

“Terkutuk! Berani kau nodai kesakralan tempat ini?!” bentak satu suara membuat Hastin berpaling memperhatikannya.

Ada dua orang yang keluar, satu orang berperawakan agak kurus dengan wajah sedikit lonjong, mataya agak sipit Hastin bisa memastikan orang inilah yang disebut Duhkabhara. Sementara satu orang lainnya, dia tidak tahu.

“Sakral? Tahi anjing!” maki Hastin sambil meludah. “Kalian berani membunuh, dengan cara sangat pengecut! Sudah seharusnya aku menghancurkan sarang anjing kalian!”

Duhkabhara memperhatikan situasi dengan seksama, dia sangat memahami kemampuan orang-orang yang barusan ditaklukkan pengacau itu. Diam-diam hatinya dirambati rasa cemas.

“Dari mana kau datang?!” Tanya orang di sebelah Duhkabhara, dialah Pratisara.

Orang itu sengaja datang menemui Duhkabhara, demi menyokong ide penggunaan tenaga ‘orang tua’ dalam menghadapi musuh yang mulai meruntuhkan sendi-sendi kerahasiaan operasi mereka.

“Dari mana kau datang?!” ujar Hastin menirukan dengan suara yang sama persis.

“Bangsat! Jangan main-main!” bentak orang itu lagi.

“Bangsat! Jangan main-main!” kata Hastin masih menirukan.

“Kubunuh kau!” geram orang itu dengan kepalan menggeletar saking marahnya.

“Kubunuh kau!” ujar Hastin dengan cara dan logat yang sama. Beberapa patah kalimat itu seolah diucapkan oleh orang yang sama seolah ada gema—pantulan bunyi.

Duhkabhara menatap Hastin dengan pandangan aneh. “Kau, anggoata Lembah Halimun? Swara Nabhya?”

“Kupikir kau orang tolol!” kali ini Hastin tidak menirukan suara orang lagi. “Kau sudah melewati batas yang sudah kami tentukan. Pertama mengganggu orang yang kami lindungi, meski pengganggu yang melakukan tugas ternyata tidak becus sama sekali!”

Wajah Pratisara dan Duhkabhara berubah, apa yang dimaksud orang yang mereka kira datang dari Lembah Halimun, adalah kegagalan yang dialami Kiwa Mahakrura. Jika si Nomer Empat yang menjadi lawan Kiwa—dan juga orang yang sama menyusup dalam kedai Pradipa, ada dalam dukungan kekuatan Swara Nabhya dari Lembah Halimun, tidak disangsikan lagi fakta itu membuat mereka harus berpikir ulang dan harus menata banyak hal.

Lembah Halimun adalah tempat yang membuat orang sama pusing kepala jika menghadapinya. Apakah mungkin seumur hidup, kau tidak akan bicara? Apakah mungkin seumur hidup kau tidak pernah mendengar suara? Jika kau membuat salah kepada orang-orang dari Lembah Halimun, menjadi bisu dan tuli adalah hal terbaik! Sebab, semua suara yang di dengar, akan ditirukan mereka, perduli itu suara angin, suara kentut, suara manusia, suara binatang. Pendek kata, tiap suara yang didengar; apa lagi, jika kau bicara… itu semua akan ditirukan dengan sempurna oleh mereka. Mereka tidak membunuh, sampai akhirnya kau putus asa dan minta dibunuh oleh mereka, barulah mereka melakukan tindakan.

Tidak disangka saat ini mereka bisa melihat cara ‘pembalasan’ dari Swara Nabhya benar-benar brutal dan mengerikan. Lebih dari itu, kemampuan yang diperlihatkan anggota Lembah Halimun ini membuat mereka tidak berani secara gegabah melakukan perlawanan secara langsung. Baru satu orang saja sudah membuat pusing, apa lagi nanti datang sekelompok?!

“Aku memberi peringatan pada kalian, selama adik Ketua Bayangan Naga sebagai orang yang kami lindungi, maka kami akan mendukung dengan seluruh kekuatan tiap gerakan dan rencananya. Jika kalian berani main gila… apa yang kulakukan saat ini bukanlah ancaman! Ini hanya perkenalan saja!” ujar Hastin sambil mendengus penuh ancaman.

Lelaki ini membalikkan badan meninggalkan mereka begitu saja. Sebenarnya jika mau menuruti kata hatinya, Hastin ingin sekali menghajar kedua orang itu, tapi menanamkan kesimpulan yang salah pada mereka adalah hal terpenting yang dipesankan Jaka—dia tak boleh mengacaukan itu. Lebih dari itu, dia tidak ingin aksinya ditunggangi pihak lain, yang menurut Jaka ada yang mengawasinya saat ini.

Duhkabhara menatap Pratisara meminta pertimbangan apakah mereka harus menghentikan orang itu. Pratisara nampak bimbang, akhirnya dia menggeleng. Dalam hati Duhkabhara, sangat bersyukur bahwa mereka tidak jadi melawan si pendatang. Tapi demi gengsinya dia berkata.

“Sungguh beruntung kau…” desisnya.

Tapi sungguh sial, Hastin memang berwatak kerbau, dia mendengar ucapan Duhkabhara, Hastin menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.

“Aku menunggu!” katanya sambil mengembangkan tangan lebar-lebar, sikapnya yang provokatif, membuat Duhkabhara memucat.

Tapi agaknya, Pratisara lebih berkepala dingin, tidak mengacuhkan tantangan Hastin, dia lebih memilih masuk ke dalam bangunan yang bagian depannya sudah rusak. Karuan saja Duhkabhara kelimpungan, mentalnya sudah jatuh lebih dulu jika harus berhadapan seorang diri dengan orang dari Lembah Halimun. Buru-buru orang ini menyusul langkah Pratisara.

“Huh!” dengus Hastin sambil meludah, dia meninggalkan rumah itu dengan langkah ringan, meskipun kurang puas, tapi secara keseluruhan hari ini adalah saat-saat terbaik dalam sebulan terakhir. Tugasnya berakhir sudah.

===oOo===

Jaka sudah menunggu di Kuil Tua, pemuda itu masih bertelanjang dada. Suasana ditempat kuno itu benar-benar sepi dan sakral, dari kejauhan Jaka bisa menyaksikan pemuda bercincin mendatangi tempat itu dengan terburu-buru.

“Apakah kau berusaha mencariku kemana-mana?” Tanya Jaka menegur pemuda itu setibanya di halaman Kuil Tua.

“Aaaah…” pemuda itu memejamkan mata melihat kondisi Jaka yang tanpa baju dan lebih hebatnya lagi tubuh pemuda itu penuh luka. Dengan wajah memerah—entah karena lelah ke sana kemari, entah karena hal lain, pemuda bercincin itu menegur Jaka. “Sedang apa kau disini?”

Jaka tertawa. “Menunggu orang…”

Jawaban itu membuat pemuda itu pucat.

“Siapa yang kau tunggu?”

Jaka mengangkat bahunya, dengan kemalas-malasan Jaka bersandar pada dinding yang mulai tersorot mentari pagi. “Mungkin anak muda, mungkin orang tua…”

Jawaban itu membuat pemuda bercincin benar-benar makin pucat, terbayang dalam benaknya setiap langkah yang mereka lakukan ternyata sudah bisa dibaca oleh orang ini, bulu kuduknya meremang secara perlahan.

Tiba-tiba saja percakapan mereka terhenti oleh suasana yang menjadi aneh, suara kicau burung dan derik serangga tersirap begitu saja—seolah mati secara bersamaan, Jaka masih adem ayem. Tapi pemuda bercincin itu sangat gelisah, karena tanda-tanda sehebat itu hanya jika ada seorang tokoh sangat hebat datang.

Jangan-jangan, orang tua itu? pikirnya dengan cemas. Kedatangan ‘orang tua’ itu bisa membuat seluruh rencana Bhre buyar.

Dan benar saja, sesaat kemudian sesosok tubuh nampak menyeruak dari atas stupa Kuil Tua, caranya turun benar-benar seperti dewa. Jaka menatap dengan terpesona, matanya agak disipitkan karena dia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang disiram oleh gemilang sinar mentari pagi.

“Celaka…” desis pemuda bercincin itu terkejut menyadari ternyata memang benar si ‘orang tua’ yang hadir, tanpa menunggu lebih lama lagi dia segera melesat cepat—dia harus mengundang Bhre ke Kuil Tua, untuk melakukan pencegahan.

Jaka sendiri akhirnya berhadapan dengan ‘orang tua’ yang disebut-sebut oleh pemuda bercincin.

“Ah… ternyata kau!” seru Jaka dan ‘orang tua’ itu bersamaan—keterkejutan jelas menyentak mereka berdua.

—oo0O0oo—

102 – Adu Licin

Sebelum kakinya menapak dengan sempurna, Jaka menyambut kehadiran sosok itu dengan sebuah lontaran energi padat. Tidak bermaksud membentur secara langsung, sebab lontaran energi pemuda ini menanjak tegak lurus menuju kaki, jika orang itu cukup punya nyali–mengacuhkan kemungkinan kakinya remuk diterpa himpunan hawa itu, dia akan memanfaatkan energi Jaka sebagai pijakan, jika kemahiran orang itu seperti yang dipikirkan Jaka, maka energinya akan diserap.

“Hmp… Kurang ajar!” seru orang itu dengan suara tajam.

Ujung kakinya dia biarkan diterpa gumpalan hawa murni lawan yang melesat pesat. Warna dan bentuk hawa yang dilontarkan pemuda itu seperti himpunan embun pagi, begitu tersentuh ujung kaki orang tua itu, serangan itu tersedot begitu cepat, dan lenyap begitu saja.

Tapi sontak wajah orang tua itu berubah, “Hiaaah!” dengan pekikan membahana, dia menghempaskan tangannya ke permukaan tanah. Tubuhnya yang belum lagi menjejak tanah melambung kembali, dan kali ini telah menjejak tanah dengan kokoh.

Wajahnya tidak berubah dengan apa yang baru saja terjadi, tapi keningnya berkerut dalam. Dengan dingin orang tua itu berkata: “Kau tahu kenapa aku disebut sebagai Adiwasa Diwasanta?”

Jaka mengangkat bahunya seolah tak perduli. “Ya, Penghenti Malam… Aku cukup mengerti artinya,” jawabnya ringan.

Wajah pemuda ini terlihat cerah, pertanyaan dalam benaknya terjawab sudah. Saat dia menghindari pukulan-pukulan lelaki paruh baya itu, badai tenaga yang ditimbulkan oleh serangan itu, bukan menghempas, tapi menyedot, membuat nafas sesak. Jaka merasa pernah melihat tenaga semacam itu, tapi dia tidak ingat siapa yang melakukannya, maklum saja pukulan yang dilakukan Adiwasa Diwasanta–saat membuang tenaga sakti milik Alpanidra, memiliki tingkatan yang lebih tinggi jika dibandingkan serangan lelaki paruh baya itu. Maka serangan tadi dilakukan untuk membenarkan dugaannya.

“Bagus! Dan kau masih berani menghadapiku sekarang?!”

Jaka tersenyum. “Saat ini masih terlalu jauh dari malam, bagaimana aku tidak berani?” katanya dengan bahasa bersayap dan provokatif.

Orangtua itu memperhatikan Jaka dengan seksama, baru disadarinya pemuda itu tidak mengenakan baju–hanya bertelanjang dada. Tapi bekas luka-luka itu… Wajah orang tua ini berubah serius.

“Hm… jadi dengan cara ini, kau mencoba menekanku?!” dengusnya mengomentari penampilan Jaka.

Jaka tertawa panjang. “Aku tidak bermaksud begitu, kebetulan saja bajuku hancur terkena pukulan-pukulan paman itu…” Jaka menunjuk ke belakang orang tua itu.

Tanpa menoleh Adiwasa Diwasanta paham, murid tertuanya memang mengikuti dia. Sempat diceritakan olehnya tentang kehadiran pemuda yang bermaksud aneh, dia hampir menduga jika itu adalah Jaka. Tapi saat muridnya menyatakan pemuda itu bisa menghindari serangan yang mengandung ilmu Menerobos Jazad Emas, orang tua itu menyangsikan dugaannya sendiri. Dalam pikirannya saat itu, kemungkinan besar yang menyambangi muridnya adalah tuan muda dari Pisau Empat Maut—jika benar begitu, akan sangat gawat baginya, karena itu dia bergegas untuk berangkat.

Tapi begitu sekarang bertemu, ada kelegaan di hatinya—bahwa dia bukan tuan muda dari Pisau Empat Maut. Di lain sisi, amarahnya muncul, sungguh berani anak muda itu mempermainkan dirinya! Di tengah amukan rasa dongkol dan marah, dia jadi teringat perbincangannya dengan Jaka.

Pemuda itu menyatakan tekniknya nyaris sempurna, dan sungguh tidak disangka saat ini dia membuktikan ucapannya. Seharusnya teknik Menerobos Jazad Emas miliknya, bisa menyerap energi dalam bentuk apapun, meski itu hawa beracun! Dengan kemampuan itu, dia bisa menyalurkan hawa beracun itu sesukanya. Tapi kali ini berbeda.. gumpalan energi yang diserap dari Jaka, rasanya—seperti menelan duri—tidak menyakitkan tapi sangat tidak nyaman. Perasaan seperti itu benar-benar harus dienyahkan sesegera mungkin. Itulah yang membuat dia tanpa banyak pikir harus menyemburkan energi hasil serapannya secepat mungkin.

Seharusnya dengan teknik Menerobos Jazad Emas, penyaluran tenaga lawan bisa dilakukan dengan mudah, tapi rupanya tenaga yang dikerahkan Jaka seperti benalu, begitu terserap, langsung mengikat hawa murninya.

Akibatnya saat dia menghempaskan tenaga, tak sedikit tenaga sendiri yang turut terbuang sia-sia. Pemuda itu benar-benar membuktikan ucapannya, dia berhasil mengunci kemampuan Menerobos Jazad Emas secara sempurna! Kelemahannya terungkap tanpa pemuda itu harus menjelaskan.

Kemarahannya mereda perlahan, anak muda itu benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Saat ini, dia harus mencari tahu motivasi apa yang membuat Jaka berani ‘menantang’ dirinya. Apa dia benar-benar akan ‘menolongnya’?

Lelaki paruh baya yang menjadi lawan Jaka melemparkan baju berwarna putih kepada pemuda itu. Tidak ada kesan permusuhan di wajahnya. “Tadi, aku bermaksud memberikan ini padamu… tapi kau pergi begitu cepat.”

Jaka menangkap dan segera mengenakan baju itu. “Sangat pas, terima kasih banyak…” katanya sambil merapikan bajunya.

“Jadi, apa tujuanmu?” orang tua ini bertanya tanpa basa-basi.

“Memijakkan kaki pada dua buah perahu itu berbahaya,” kata Jaka perlahan.

“Kau tidak perlu mengajariku!” sahut orang tua ini berang, ucapan Jaka itu benar-benar satu tamparan buatnya. “Katakan, apa maksud semua tindakanmu?!”

Jaka menghela nafas pendek. “Jika kau suka dengan posisimu yang ditekan seseorang bernama Bhre, aku akan berlepas tangan dari urusan ini,” Kata Jaka membuat orang tua ini merasa pemuda itu seperti serigala, benar-benar licik.

Ucapannya seolah tidak memiliki tendensi, tapi betapapun Adiwasa Diwasanta adalah orang yang sudah kenyang pengalaman, memiliki nama yang ditakuti, dan sejauh ini belum memiliki lawan sepadan! Dia menyadari betapa berat ucapan Jaka. Jika dia mendebat ucapan pemuda itu, berarti dirinya lebih suka di‘perbudak’ Bhre, dan kelanjutannya, dia bisa merasakan dalam ucapan itu ada bencana yang lebih besar. Jaka memiliki piutang janji dengan tuan muda dari Pisau Empat Maut. Dan memiliki posisi sejajar dengan tuan muda yang dia ikuti. Adiwasa Diwasanta tak perlu berpikir panjang, untuk menyadari bahwa; sepatah kata dari Jaka bisa membuat dirinya terpojok dalam posisi sangat sulit.

Tapi di lain sisi, jika dia menyetujui rencana Jaka, bukankah sama artinya; dia harus mengaku kalah di depan pemuda yang pantas menjadi cucunya itu?! Karena pada akhirnya Bhre akan memerintah dirinya untuk melawan pemuda itu, dengan sendirinya dia harus melakukan itu untuk menunaikan hutang janjinya pada Bhre—apapun yag terjadi. Pada saat pertarungan nanti, jika dia berhasil memojokkan lawan, tentu Jaka akan menggunakan akal untuk memberitahukan pada tuan mudanya; bahwa dirinya berhubungan dengan perkumpulan lain. Amarah dalam dada membuatnya berniat membunuh Jaka, tapi nalarnya masih cukup kuat untuk berpikir bahwa; hal itu jelas tidak mungkin dilakukan, sebab jelas-jelas tuan mudanya sedang mengikat perjanjian dengan Jaka. Membunuhnya akan membuat urusan makin sulit dan rumit!

Kesana-kemari yang ada hanya jalan mati, baru kali ini seorang Adiwasa Diwasanta berada dalam posisi disudutkan begini, sudah jatuh tertimpa tangga! Benar-benar sialan! Orang tua itu menggeretakkan gigi hingga berderit.

“Aku tidak penah suka dalam tekanan orang—siapapun dia, tapi aku selalu memegang janjiku!” desis orang tua itu menjelaskan sikapnya dengan perasaan campur aduk. Jelas seluruh amarahnya bisa sewaktu-waktu tertumpah pada pemuda itu, tapi diapun sadar itu tak mungkin dilakukan secara sembarangan.

“Kau orang terhormat…” Puji Jaka.

“Tentu saja!” ujarnya dengan geraham menggembung. Orang tua ini benar-benar ingin menghajar wajah Jaka yang selalu tersembul senyuman itu. Senyum simpatik itu seolah-olah sedang mengasihani dirinya yang serba terjepit.

“Karena kau orang terhormat, maka aku akan melepaskanmu dari situasi sulit ini. Aku hanya meminta persetujuanmu. Apa kau mau ikut atau tidak?”

Ucapan Jaka itu seperti todongan pedang.

“Sialan, tentu saja aku ikuti rencanamu!” akhirnya orang tua yang biasanya memiliki wibawa menekan setiap insan persilatan itu, harus setuju dengan Jaka.

“Bagus!” tukas Jaka. “yang kita lakukan saat ini, adalah menunggu…” gumam Jaka kembali pada tempatnya berdiri, bahkan pemuda ini merebahkan diri di bawah sengatan mentari pagi.

Melihat sikapnya yang luwes dan tidak merasa terancam dengan kehadirannya membuat orang tua itu kesal. Dia ingin sekali melayangkan satu gaplokan ke wajah pemuda itu, tapi ucapan Jaka yang menyatakan dirinya adalah orang terhormat, sudah cukup menghentikan tindakan-tindakan konyol yang mungkin akan dia lakukan.

“Keparat!” makinya dalam gumam, membuat sang murid terheran-heran.

===oOo===

Beberapa jam sebelumnya…

Beruang dan Serigala, secara harfiah merupakan hewan-hewan yang memiliki insting pemburu. Keduanya memiliki penciuman tajam. Begitu pula ‘Beruang’ dan ‘Serigala’ yang mendapat tugas memata-matai semua pergerakan Alpanidra, keduanya memang jago mengendus jejak. Jaka tidak meminta kepada mereka untuk memata-matai perkumpulan Pisau Empat Maut, itu akan sangat membahayakan kerjasama yang mereka jalin. Jaka lebih cenderung meminta mereka menguntit Alpanidra dan kawannya.

Sebelum meminta mereka untuk mengikuti Alpanidra, Jaka sudah cukup menaruh kecurigaan kepada keduanya. Saat berjumpa dengan mereka secara tak sengaja, kondisi Jaka yang cukup gawat membuatnya kurang fokus berpikir. Dan pada saat pertemuan dengan rekan-rekannya, barulah Jaka menyadari kepergian mereka itu, kalau bukan untuk memata-matai bangunan peristirahatan, jelas mereka akan bertandang sebagai tamu. Untuk memastikan hal itu, Jaka meminta tolong pada kedua orang itu.

Keduanya sama-sama type orang yang jarang berbicara, perjalanan mereka benar-benar sunyi. Melakukan perjalanan bersama merupakan pengalaman pertama kali bagi mereka, keduanya memperhatikan lingkungan sekitar. Penikam adalah petugas penyapu wilayah, dia menyapu seluruh wilayah Kota Pagaruyung dan sekitarnya, untuk mengidentifikasi seluruh tanda rahasia. Tugas untuk memecahkan arti kode-kode tersebut dilakukan bersama dengan Cambuk.

Tentu saja Jaka yang pertama kali diberitahu mengenai penemuan mereka dan menjelaskan kode yang tersebar di seluruh wilayah itu. Kepada Beruang dan Serigala, Jaka menjelaskan ciri-ciri yang mungkin digunakan perkumpulan Pisau Empat Maut.

“Ini pekerjaan omong kosong!” Gumam Beruang setelah mencari kesana kemari tidak mendapatkan apapun.

Serigala tidak berkomentar, dia juga sependapat.

“Bagaimana jika kita berpencar?” ujar Beruang setelah sekian lamanya mereka tak mendapatkan hasil.

“Kurasa itu ide bagus.” Gumam Serigala tanpa banyak bicara segera memisahkan diri, Beruang pun tak banyak komentar lagi, dia segera bertindak menjauh.

Ada beberapa tanda yang dia temukan disana, Beruang mengikuti, dan langkahnya menuju pada sebuah penginapan terpencil. Sebuah penginapan yang sepi pengunjung, Beruang tahu tentang penginapan itu, hanya ada tujuh belas kamar dengan lokasi yang jauh dari keramaian seakan disengaja oleh pemiliknya. Langkah lebar Beruang makin mendekat, keheranan membuncah dadanya, dia tidak melihat seorangpun di penginapan itu. Makin kedalam, makin heranlah dirinya, sebab tanda-tanda kehidupan tak terlihat, seolah penginapan itu ditinggal begitu saja. Apa mungkin karena masih terlalu dini dia datang? Sekitar halaman depan dan bagian dalam nampak banyak daun berserakan, paling tidak sudah seharian tidak disapu, Beruang mengetahui ada enam orang yang bertugas disana, tapi tak satupun nampak menyambut dirinya.

Beruang agak terkejut menyadari ada satu orang nampak duduk dipojok pekarangan belakang, dengan mencangkung kaki di kursi goyangnya, lelaki dengan uban menghias kepala menyedot tembakau dalam-dalam. Beruang menyapanya, tapi orang itu seolah tidak melihat dirinya. Kening lelaki ini berkerut, Beruang memutuskan untuk memeriksa orang itu secara seksama. Himpunan hawa sakti yang dimiliki lelaki itu tidak lemah, jemarinya juga berkuku rapi bersih, ujung jarinya meruncing, pada kedua ibu jarinya ada ada lekukan kecil memanjang.

Ciri-ciri itu membuat Beruang makin heran, dia tahu orang itu kemungkinan besar adalah pembunuh gelap, Beruang pernah hidup sebagai pembunuh. Lekukan pada ibu jarinya cukup baginya untuk mengidentifikasi bahwa orang itu sering menggunakan benang atau besi kecil untuk memotong korbannya. Tapi saat ini, kondisi orang itu seperti mayat hidup, tidak perduli dirinya dijamah oleh Beruang. Sungguh aneh.

Akhirnya Beruang memutuskan untuk melakukan penyelidikan, dalam keremangan dini hari itu, Beruang menyadari ada bekas pertempuran disana, lebih tepatnya bekas amukan seseorang, sebab dia tidak melihat adanya bekas lawan yang diamuk. Pada akhirnya Beruang menyimpulkan jika orang yang bagai mayat hidup itu beberapa saat lalu pernah melawan hantu. Tentu saja bukan hantu betulan, tapi orang yang sangat hebat ilmu peringan tubuhnya.

Tapi sehebat apapun peringan tubuh, selama dia berkeringat, disekitar tempat itu akan meninggalkan aroma. Dan itu yang dilakukan Beruang, dia mengkuti jejak aroma yang membawanya meninggalkan penginapan aneh itu.

Di waktu bersamaan, Serigala-pun menjumpai jejak yang sama. Dan jejak itu justru membawanya menuju air terjun watu kisruh, tempat yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab Arwah Pedang. Serigala memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, rasanya saat ini masih terlalu dini.

===oOo===

Jaka sudah membuka mata, dia mendengar ada beberapa orang mendatangi Kuil Tua, dengan ekor matanya dia juga melihat orang tua itu dan muridnya menyadari ada tamu mendatangi mereka.

Orang tua itu bertindak cepat, dia memberi isyarat pada muridnya untuk segera mengalihkan perhatian pendatang itu. Dari cara pendatang itu bergerak, Jaka tahu mereka adalah peronda dari Perguruan Naga Batu.

“Mereka dalam perjalanan …” gumam Jaka masih tetap tiduran. Adiwasa Diwasanta menggumam tak jelas, dia juga menyadari tekanan beberapa himpunan hawa sakti mendekat mengidentifikasi tingkatan orang-orang yang datang.

Tiga orang tampak sudah hadir, pemuda bercincin, seorang lelaki dengan pakaian sederhana tapi memiliki wibawa besar—Jaka menduganya sebagai Bhre, dan terakhir kakek tua berwajah seperti pinang dibelah dua dengan Adiwasa Diwasanta—kecuali tubuhnya yang lebih bungkuk.

Jaka terkejut melihat orang tua itu, dia melihat Adiwasa Diwasanta dan orang tua kembarannya berulang kali, mereka benar-benar kembar!

“Apakah dia saudaramu?” Tanya pemuda ini pada orang tua itu.

Orang tua itu mengangguk dengan wajah datar tanpa perasaan, Jaka sudah merasa ini adalah saatnya untuk menyapa para tamu, sambil meregangkan badannya pemuda ini bangun, masih sambil menguap. Di kejauhan sana nampak murid orang tua itu kembali, agaknya dia sudah membereskan para peronda.

“Jadi, ini tokoh yang dipanggil Bhre? Luar biasa! Selamat datang… akhirnya aku berjumpa juga denganmu!” sambut Jaka dengan tersenyum lebar. Dengan gaya seenaknya pemuda ini masih saja menguap.

Lelaki itu menatap Jaka tanpa bicara, “Terima kasih.” Katanya singkat.

“Akan lebih menyenangkan jika kau mau membuka kedok yang menempel di wajahmu…” kata pemuda ini dengan wajah berseri, tapi ucapannya membuat wajah pengikut Bhre nampak berubah. Tapi Bhre sendiri nampak adem ayem.

“Kau tahu, penggunaan topeng kulit di wajah lebih dari dua jam akan membuat timbul ruam merah di seluruh wajahmu. Hari ini aku memastikan untuk menahanmu lebih dari dua jam di tempat ini, itu pasti. Jangan membuat dirimu kesulitan dalam penanganan masalah kulit wajah, itu sangat merepotkan…” lanjut Jaka membuat Bhre nampak bergeming.

“Dari mana kau tahu aku mengenakan topeng, ini adalah kulit!” tegas Bhre.

Jaka tertawa panjang, ucapan orang itu bersayap, penjajagan awal ini sudah cukup memberikan peringatan buat Jaka, jika orang itu sangat berbobot! Dia mengatakan itu memang kulit, tapi tak mengatakan ‘ini wajah asliku’. Mengelak tanpa berbohong, itu jawaban cerdik menurut Jaka.

“Baik, itupun tidak masalah. Tapi aku akan menawarkan satu hal yang akan membuatmu memiliki keuntungan lebih.”

“Katakan!”

“Kau buka topengmu, aku buka bajuku…” ujar Jaka membuat beberapa orang melihat ke arah pemuda itu dengan tatapan mata heran—mereka berpikir pemuda itu mungkin sudah gila.

Tentu saja Jaka tidak sembarangan berbicara, Bhre pun pasti akan mempertimbangkan ucapan Jaka bukan hanya sekedar bicara, apa yang ditawarkan pemuda itu pasti memiliki nilai, dia nampak menoleh ke arah pemuda bercincin, seperti meminta pertimbangan. Dengan ragu-ragu dia mengangguk.

“Baik!” katanya menyetujui.

Jaka berjalan mendekat, hal itu membuat pemuda bercincin dan kakek bungkuk itu waspada, mereka bergerak dua langkah ke depan, seperti melindungi sang Bhre.

Jarak mereka hanya tinggal lima langkah, kedua mata saling tatap. “Kulit yang kau gunakan terbuat dari daging kelelawar, bagus sekali! Perajin yang khusus menyamak kulit itu di daerah ini tidak ada, kurasa bisa kukatakan sementara… kau datang diluar kerajaan Rakahayu dan Kadungga, tapi aku tahu jenis kelelawar yang digunakan untuk membuat topeng kulit itu… aku tahu dari mana kau memesan itu.”

Jaka berjalan menjauh. “Sangat beruntung…” gumamnya.

Setiap patah kata Jaka membuat kedua pengikut Bhre nampak tertekan, Jaka-pun bisa melihat Bhre terprovokasi dengan ucapannya.

“Apa maksud ucapan terakhirmu?” Tanya si bungkuk, sekali orang itu membuka suara, Jaka merasa udara disekitarnya mengalami tekanan yang hebat, orang itu benar-benar hebat!

“Tadi aku hanya memastikan kulit yang digunakan bukan kulit manusia!” ujarnya. “Dari situ aku bisa mengambil keputusan tindakanku pada kalian…” ucapan yang datar dan terkesan menganggap remeh, berkesan kemampuan pemuda itu bisa mengatasi mereka.

Tapi ucapan itu tidak membuat Bhre dan kedua pengikutnya tersinggung, mereka menjadi lebih waspada. Lebih-lebih pemuda bercincin itu menyadari setiap gerakannya sudah berada dalam pantauan Jaka, dia menganggap ucapan Jaka layak untuk mereka pertimbangkan—bukan sekedar omongan kosong biasa.

“Hmp, memangnya apa yang akan kau lakukan!?” lagi-lagi orang tua bungkuk itu membuka suara mewakili Bhre. Kali ini tekanan udara makin berat.

Jaka tidak berkata apa-apa, dalam keadaannya yang tanpa dukungan, mengambil inisiatif mengendalikan situasi adalah hal terpenting. Pemuda itu mengambil dua batu di dekat kakinya. Dalam telapak tangannya, kedua batu itu meleleh—lalu menjadi satu. Benar-benar leleh! Lalu mengeras dengan cepat, sebuah peringatan yang sangat jelas. Jaka ingin mengatakan, topeng itu selamanya akan menjadi wajah Bhre.

Dengan santai Jaka melemparkan batu itu ke hadapan Bhre, masih ada kepulan asap tipis. Tanpa sungkan Bhre mengambil batu itu mengamati dengan seksama.

Wajah tiap orang berubah dengan serius, terutama si Penghenti Malam. Dia memiliki pengertian sangat dalam terhadap tiap teknik hawa murni. Tapi saat Jaka melelehkan batu, dia tidak bisa merasakan tekanan hawa sakti berpendar dari tubuh pemuda itu, sebelumnya dia mengira Jaka memiliki lima jenis hawa murni—seperti yang diperlihatkan saat melawan Alpanidra. Tapi kali ini; tanpa tanda, tanpa ciri, tanpa tekanan, tanpa ancang-ancang, sebuah tenaga terpusat pada tangannya dan melelehkan batu tanpa mereka sadari. Jika Jaka menghancurkan batu membuatnya menjadi serpihan debu, semua orang yang ada saat ini sangat bisa melakukan itu, tapi yang dilakukan saat ini membuat derajat pemuda itu dalam pandangan mereka membumbung tinggi.

“Apakah kau ada hubungannya dengan Sapang Saroruha?” Tanya Bhre membuat semua tokoh terkejut. Jaka pun dibuat terkejut, tentu saja pemuda ini terkejut bukan karena Bhre menyebutkan nama Sapang Saroruha, tapi karena Bhre bisa mengenali cara Jaka melelehkan batu, dan itu ada dalam catatan kitab yang pernah dia pelajari. Bhre benar-benar tokoh yang memiliki pengetahuan luas!

Untuk sesaat, Jaka tidak menjawab, dia mempertimbangkan apakah akan mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’. Dilain sisi, dia pernah memperkenalkan dirinya sebagai keturunan Tabib Hidup-Mati (dan itu diketahui Adiwasa Diwasanta), tapi disisi lain, dirinya meminta tolong pada Hastin untuk menyebarkan kabar bahwa dia adalah adik dari Ketua Bayangan Naga.

“Kurang lebih begitu…” Akhirnya Jaka pun menjawab dengan kalimat yang bias, biar mereka mengambil kesimpulan sendiri.

Jawaban Jaka membuat Adiwasa Diwasanta berkerut kening makin dalam, dia pernah mengalahkan salah satu keturunan Tabib Hidup mati, tapi kemampuan seperti yang ditunjukkan Jaka, dia tak menjumpainya pada saat melawan mereka.

Bhre juga mengalami keadaan yang sulit, menurut pemuda bercincin tiap gerakan mereka bisa dibaca pemuda itu dengan sempurna, tidak menutup kemungkinan jika mereka tidak berdamai dengan pemuda itu, akan membuat segalanya makin rumit. Dan kali ini, dengan hadirnya Adiwasa Diwasanta membuat dirinya kian sulit mengambil keputusan. Untuk mundur teratur jelas bukan gayanya, dan dia tidak rela, tapi untuk menghadapi pemuda itu secara langsungpun dia masih ragu. Sapang Saroruha adalah pertimbangannya. Pun seandainya dia harus menghadapi Jaka, siapa yang akan diajukan sebagai lawannya? Jika dia meminta pada Adiwasa Diwasanta, jelas dirinya akan kehilangan bala bantuan yang sangat berharga, sebab Adiwasa Diwasanta hanya berhutang satu janji padanya. Dan dia tak bisa menekan tokoh tersebut lebih dari itu.

“Jadi, untuk apa kita bertemu?” Tanya Jaka kembali memprovokasi. “Apakah hanya berkenalan? Ayolah… jangan buat aku kecewa! Bertarung akan lebih baik… apalagi kalian bisa menggunakan bangunan milik orang-orang penting Kerajaan Kadungga,” ucapan Jaka yang ini mengkonfirmasi pada Bhre bertiga bahwa Jaka sudah tahu dan pernah menyusup kesana.

“Artinya kalian memiliki jaringan yang luas. Dan aku jamin, akupun memiliki jaringan yang cukup baik pula, cukup untuk menyusupi tiap lubang—mungkin dalam perkumpulanmupun aku punya mata-mata…”

Ucapan Jaka memang sengaja menebar penyakit dalam hati Bhre. “Pertemuan saat ini harus menghasilkan sesuatu!” tegasnya.

Wajah Bhre tidak menampilkan perubahan apapun—tentu saja itu karena topeng kulitnya, tapi Jaka tahu, lelaki itu akan mengambil keputusan penting.

Dengan tindakan luwes dan pasti, tangan Bhre mengelupas wajahnya, dia berinisiatif melepas topengnya lebih dulu. Sebentuk wajah tampan dengan garis yang tegas nampak terlukis. Bukan berarti menyukai sesama lelaki, Jaka mengagumi ketampanan lelaki itu.

“Giliranmu!” kata Bhre dengan tandas.

Jaka tertawa, dia melepas bajunya dan berdiri menyamping di hadapan mereka bertiga. Mereka hanya bisa melihat sisi kiri tubuh Jaka, dan melihat mulai pergelangan tangan Jaka, terdapat banyak luka sayatan dan nampak bekas bacokan pula. Tapi yang menarik, dua baris warna biru kehitaman dan merah kehitaman menggurat dari pangkal lengan sampai siku.

“Sialan, cara macam apa itu?!” bentak orang tua bungkuk protes.

“Aku toh sudah membuka baju, kalian bisa mengamati dengan beranjak dari sana, kan?” ujar Jaka masa bodoh.

Jaka memaksa Bhre bertiga harus bergerak mengamatinya dalam jarak lima-enam langkah. Apa yang dilakukan pemuda itu menurut Adiwasa Diwasanta merupakan cara yang cerdas, dalam berbagai hal dia melihat pemuda itu sudah mengendalikan situasi—karena berhasil membuat Bhre mengikuti keinginannya.

Jaka mengamati tiap perubahan pada wajah Bhre, luka di tubuhnya memang bukan sembarang luka, jika Bhre cukup cerdas, dia akan mengambil kesimpulan seperti yang diinginkan Jaka.

“Kau pernah berhadapan dengan Raja Jagal?” Tanya Bhre dengan nada ragu.

Jaka tertawa kecil, Bhre cukup cerdas mengambil kesimpulan itu. “Kau pintar, bagi kebanyakan orang, dia cukup menakutkan, tapi saat ini… dia tidak lebih jadi alas kakiku.”

Ucapan Jaka jelas membuat suasana makin tidak nyaman, Raja Jagal hingga saat ini adalah legenda pembunuh yang tidak pernah tersentuh nilai keadilan—apapun yang dia lakukan tak satupun bisa membendungnya, menurut kabar Raja Jagal masih cucu murid dari Tabib Malaikat, jadi masih berkerabat dengan Sapang Saroruha Si Tabib Hidup-Mati yang merupakan adik seperguruan Tabib Malaikat. Tidak akan penah ada kabar korban yang selamat dari tangan Raja Jagal, tapi dengan entengnya pemuda itu menyatakan Raja Jagal sudah menjadi alas kakinya. Terlepas apakah itu omong kosong atau bukan, ciri luka yang tertera pada dada Jaka memang membuat siapapun bergidik. Sebuah garis yang dalam—dan kali ini sudah ditumbuhi daging baru, tertera dari pertengahan tulang belikat (atas dada), sampai ke pusar. Melulu dari bekas luka itu saja, orang akan sama-sama menyangsikan siapapun yang terkena bisa hidup panjang. Tapi kenyataan itu saat ini terpampang.

Bhre bisa mengenali luka itu memang ciri khas Raja Jagal, karena pada bagian terdalam sayatan pedang yang tertera, menimbulkan pola bercak seperti bintang. Di masa lalu, dia pernah melihat satu orang korban—tewas—dengan cara serupa, korban itu memiliki nama dan kemampuan amat tinggi, melihat luka itu, kembali mengugah ingatannya.

Jaka membenahi bajunya lagi. “Kau tentu bisa mengambil kesimpulan, apa yang harus dilakukan saat ini.”

Bhre menggertak gigi, kedua pengikutnya nampak heran dengan kelakuan tuannya, sangat tidak biasa bagi orang yang memiliki emosi terkontrol dengan kecerdasan tinggi, harus menunjukkan emosi berlebihan seperti itu.

“Paman, kau hadapi dia!” nyatanya Bhre lebih suka memerintahkan kembaran Adiwasa Diwasanta untuk menghadapi Jaka, dia tidak ingin tenaga yang sangat berharga lepas dari genggamannya.

Keputusan itu membuat Jaka berkerut kening, Adiwasa Diwasanta-pun merasa itu diluar dugaan. Kelihatannya Bhre lebih suka mengambil resiko menghadapi Jaka secara langsung, latar belakang pemuda itu diacuhkannya!

“Bagus! Aku memang sudah menunggunya…” desis orang tua bungkuk itu maju ke hadapan Jaka.

Sesaat lagi pertarungan terjadi, Jaka mendesah… rencananya kali ini meleset menghadapi kekerashatian Bhre. Pagi ini dia akan bertarung paling tidak tiga kali. Orang tua bungkuk, Adiwasa Diwasanta dan terakhir Bhre, akan jadi lawannya. Jakapun bersiap.

—ooOoo—

103 – Menghentikan Satu Pergerakan

Kembaran Adiwasa Diwasanta memperhatikan Jaka dengan waspada, hatinya merasa sangat marah melihat sikap pemuda itu yang sangat meremehkan dirinya. Jaka berdiri sambil menatap langit, tidak melihat dirinya!

“Palingkan wajahmu!” bentak Kembaran Adiwasa Diwasanta geram.

“Kau tidak tahu kalau ini adalah pembukaan Ilmu Naga Menerima Wahyu? Benar-benar pengetahuanmu teramat cetek,” Kata Jaka, membual.

Lawan Jaka tidak berkomentar, melawan mulut tajam pemuda itu dia sadar, dirinya tak akan unggul.

Jaka sengaja bersikap seperti itu, bahkan matanya dikatupkan. Dia sama sekali tidak meremehkan lawan, itu pantangan baginya. Jaka justru sangat ingin mengetahui bagaimana pola serangan kembaran Adiwasa Diwasanta.

Warsopama, begitu si bungkuk disebut. Dia memilik julukan yang artinya ‘Bagaikan Hujan’, bukan tanpa alasan itu disematkan padanya. Adiwasa Diwasanta paham benar, julukan saudara kembarnya itu ada karena tidak pernah satu orangpun lepas dari serangannya. Begitu pula saat seseorang menyerangnya, tak ada satupun yang bisa mengenai dirinya. Itulah alasannya mengapa Beruang tidak menemukan apapun pada jejak ‘pertarungan tunggal’ di penginapan terpencil itu.

Kepada Alpanidra, dia pernah menyatakan ingin melihat ‘apakah orang itu (maksudnya Jaka) patut dilayani’, dia sudah melihat sekarang. Dari penampilannya dia berkesimpulan Jaka cukup berharga dilayani. Tapi caranya memprovokasi lawan, sungguh membuat dia yang pengalaman luas pun bergolak emosinya.

“Cerdas sekali…” gumam Adiwasa Diwasanta menyaksikan Jaka yang menutup mata, serangan dan elakan Warsopama itu mengandung unsur ilusi yang amat kental, menggunakan mata hanya akan merepotkan.

Jaka tentu saja tidak menyadari ilmu apa yang dimiliki lawannya, dia hanya merasa hawa sakti orang itu timbul tenggelam, seperti bayangan dalam kabut. Tadi dia merasakan tiap kata yang terucap olehnya menimbulkan tekanan udara yang membuat nafas berat, dan itu cukup bagi Jaka untuk memikirkan cara mengatasi ilmu tersebut.

“Kau tidak menyerang?” Tanya Warsopama heran.

“Untuk apa, fungsi ilmuku justru menerima semua serangan.” Sahut Jaka sembari mengelak tiap serangan Warsopama.

Saat Jaka mengatakan ‘apa’, tebasan miring tangan kanan Warsopama bergerak memenggal leher Jaka, gerakannya sangat cepat. Tapi tanpa memutuskan kalimatnya, Jaka turut bergerak mengikuti serangan Warsopama, jarak lehernya dengan batas akhir tebasan itu hanya satu ruas jari saja, karena posisi Jaka yang merendah memudahkan Warsopama melihat kelemahan gerakan pemuda itu, sebuah tendangan kaki kiri memapaki gerakan elak Jaka, saat itu Jaka sedang mengatakan ‘fungsi ilmuku’, serangan itu menggencet dari atas dan bawah! Tapi gerakan Jaka—yang masih memejamkan matanya, lebih aneh lagi; tubuhnya melintir mencelat, seperti bola karet yang lepas dari gencetan atas-bawah.

Tubuh Jaka belum berdiri dengan sempura, kakinya belum lagi menjejak penuh dan kalimat ‘justru menerima’ sedang dia ucapkan. Warsopama telah memburu dengan sangat pesat dengan satu langkah lebar pada kakinya yang gagal menyarangkan tendangan, kaki kanan mencuat membuat satu tendangan lurus, tepat mengarah ulu hati Jaka. Posisi tubuh yang belum sempurna itu bagi orang lain akan sangat sulit untuk menghindari serangan ketiga yang datang begitu cepat! Tapi lagi-lagi Jaka mengelak dengan memelintirkan tubuh, berputar seperti gasing, dan tapaknya menepis tendangan Warsopama memukul tepat di urat tungkainya! Saat itu Jaka mengatakan kata terakhir; ‘semua serangan’, dan telah berdiri dengan sempurna.

Sementara Warsopama harus melejitkan kakinya lebih tinggi untuk menghindari tebasan Jaka pada tungkainya. Gerakan serang dan hindar itu berlaku tak lebih dari dua hitungan, keduanya menyerang dan menghindar dengan dinamis, kelihatannya seimbang!

Warsopama tidak berupaya menyerang kembali, dilihatnya Jaka masih menghadap ke atas dengan mata tertutup. Keraguan merasuki hatinya, pemuda itu benar-benar luwes dan mengalir, mengikuti kecepatannya, bahkan bisa menyerang balik dengan kecepatan sepadan.

“Tuan….!” Mendadak dari kejauhan terdengar satu seruan, dua sosok tubuh nampak berkelebat mendekat. Jaka mengenali mereka sebagai Dukhabhara dan sosok satunya jelas derajatnya satu tingkat diatas Dukhabhara.

Pemuda bercincin tampak melihat keduanya dengan kening berkerut. “Ada apa paman?” tegurnya pada Pratisara.

Orang itu membisikkan sesuatu yang membuat wajah Bhre berubah, rona kejut terpeta jelas. “Kembali!” serunya pada Warsopama.

Warsopama terlihat ragu, pemuda itu nampak menyeringai padanya seolah mengatakan, ‘kau beruntung’. Jemari Warsopama mengepal kencang, untuk mundur begitu saja jelas bukan caranya bertarung.

“Mundur!” bentak Bhre, mengingatkan lagi.

Akhirnya dengan perasaan apaboleh buat Warsopama berjalan mendekati Bhre, dan sekelumit ucapan lelaki tampan itu membuat Warsopama terkejut lalu menoleh menatap Jaka dengan seksama.

Pemuda ini menghembuskan nafas lega, dia tidak perlu membuang tenaga sia-sia untuk menghadapi Warsopama. Serangan dan elakan orang itu membuat Jaka kawatir pertarungan bisa memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Keputusan Bhre untuk menarik mundur Warsopama sepenuhnya dimengerti Jaka, tentunya Hastin sudah mengobrak-abrik sarang mereka, dan menanamkan informasi yang salah.

“Kenapa tidak kita lanjutkan? Aku bahkan belum mulai apa-apa…” Tanya Jaka kembali memprovokasi.

Wajah Bhre terlihat sangat suram, informasi terbaru yang didapati membuat dia harus memikirkan semua keputusannya. Jika dia bersikeras untuk melawan Jaka, berbuat salah pada pemuda yang memiliki Swara Nabhya sebagai tulang punggungnya, jelas satu hal yang harus dia pertimbangkan secara serius. Dia tak mau membahayakan kelompoknya!

“Adiwasa Diwasanta, saatnya kau turun tangan!” akhirnya sepatah perintah yang ditunggu-tunggu Jaka dan orang tua itu, keluar juga!

“Ini perintah?” Tanya Adiwasa Diwasanta memastikan.

“Ya, kalahkan dia! Aku ingin kau mengorek semua keterangan darinya!” perintah Bhre.

“Artinya?” Adiwasa Diwasanta kembali memastikan.

“Hutang janjimu padaku, impas!” jawab Bhre dengan mata mencorong tajam, nampaknya kejadian demi kejadian yang tidak dia perhitungkan membuatnya harus melakukan langkah drastis, dengan terpaksa pula harus melepaskan asset terbesarnya—tenaga seorang Adiwasa Diwasanta! Tapi di luar itu semua, dia merasa ‘aman’ jika berhasil berlepas tangan dari jangkauan Swara Nabhya, saat ini kelompoknya jelas tidak terlibat pada ‘aksi peringkusan’ pada orang yang ada dalam perlindungan Swara Nabhya.

“Bagus!” seru Adiwasa Diwasanta terbahak. “Bersiaplah anak muda!” bentak Adiwasa Diwasanta dengan belasan pukulan jarak jauh membahana menghunjam sekujur tubuh Jaka Bayu.

Adiwasa Diwasanta sadar, ilmu Menerobos Jazad Emas tidak berguna dalam menghadapi pemuda itu, maka pukulan yang membuatnya ditakuti semua kalangan di penjuru dunia persilatan terhambur mencengkram udara, membetot tiap kebebasan gerak lawan. Pukulan Nisturanisphala (kekerasan yang tidak berguna). Jika sebelumnya Jaka pernah melihat ilmu itu dilepaskan murid si orang tua, kali ini tingkat kedahsyatan benar-benar seperti langit dan bumi!

Jaka merasakan semua gerakannya ditahan oleh kehampaan yang sangat mendadak, kecepatannya hilang, kakinya menjadi lemah. Tapi dari awal pemuda itu memang tidak berupaya menghindar, melainkan membalasnya dengan satu pukulan sederhana yang memapaki belasan gumpalan hawa padat itu.

Bress! Satu benturan pukulan saling beradu, hawa sakti milik Jaka lenyap begitu saja seperti asap, sementara sisa pukulan Adiwasa Diwasanta menerobos pertahanan hawa murni pemuda itu dan langsung menghajarnya dengan bertubi-tubi!

Suara letupan bagai petasan terdengar dari tubuh pemuda itu, langkahnya tersurut mundur hingga belasan kali, sebelum akhirnya jatuh terguling-guling dan rebah terdiam.

Suasana begitu hening, senyap… apakah pemuda yang memilki tulang punggung kekuatan dari Lembah Halimun, terkalahkah? Tewas?

“Di-dia kalah?” Tanya pemuda bercicin itu pada Bhre dengan suara tergetar.

Wajah lelaki itu nampak tidak pasti, sampai akhirnya dia mengangguk membenarkan. “Nampaknya dia kurang beruntung… sayang sekali kita tidak bisa mendengar keterangan apa saja yang bisa dia berikan…”

“Lalu… akan kita apakan?” pemuda bercincin bertanya lagi.

Sebelum Bhre menjawab, tubuh Jaka Bayu bergerak… darah pemuda itu nampak berlumuran diwajahnya. “Betul sekali, aku sudah kalah!” katanya sambil berdiri.

Bhre terkejut sekali melihat lawan yang terkena Pukulan Nisturanisphala masih bisa bergerak, bahkan kini berjalan dengan entengnya. Dia sadar betul Pukulan Nisturanisphala selain menghilangkan udara yang beredar didalam tubuh lawan—hingga menimbulkan efek lemas, juga memiliki kekuatan himpitan yang sanggup menghancurkan organ dalam lawan. Tapi selain wajah pemuda itu belepotan darah—karena semburan dari mulutnya, dia tidak melihat ada luka lain.

“Kau sudah mengatakan aku kalah, aku juga sudah mengakui diriku kalah… artinya, kau tak lagi memiliki cara untuk mengikat Adiwasa Diwasanta… menyedihkan sekali.” Ujarnya sambil menatap Adiwasa Diwasanta yang masih terdiam dengan posisi memukul.

Semua orang baru merasa heran dengan posisi Adiwasa Diwasanta yang membeku tidak bergerak, beberapa belas hitungan kemudian terdengar teriakan membahana dari mulut orang tua itu, dan belasan pukulan terhambur kembali kedepan, sayangnya Jaka sudah tidak ada disitu, pukulan itu menghancur leburkan semua objek yang dikenainya.

“Selamat! Kau sudah tidak di bawah kendali orang itu lagi…” kata Jaka menyadarkan ketermanguan Adiwasa Diawasanta.

Wajah orang tua itu nampak terpukul, apa yang terjadi pada Alpanidra ternyata terjadi pula dengan dirinya. Tidak disangka belum lagi satu hari, pemuda itu sudah bisa menyempurnakan pukulan anehnya. Pada saat menghadapi Alpanidra, Jaka masih memerlukan beberapa belas gerakan ancang-ancang sebelum melepaskan pukulan yang membekukan, dan harus memukulkan secara langsung. Tapi kali ini Jaka tidak perlu lagi mengenai obyek serangannya, pukulan aneh pemuda itu bahkan merambat melalui jalur hawa sakti Pukulan Nisturanisphala.

Bhre menatap Jaka dengan pandangan aneh. “Jadi, kau membuat semua ini terjadi hanya untuk melepaskan dia dari kendaliku?”

“Betul!” sahut Jaka mengelap darah yang ada di mulut dan beberapa bagian wajahnya.

“Kau… kau… benar-benar menganggap remehku!” geram Bhre, pemuda itu melangkah mendekati Jaka, mereka kini berhadapan. Tatapan Bhre menyiratkan amarah dan kekuatan yang ingin segera melumat Jaka, tapi tatapan Jaka yang dalam dan tenang seolah menelan semua itu.

Dari tubuh Bhre terdengar letupan berderak, Jaka bisa merasakan hawa sakti pemuda itu meluap mengambur. Sebuah pukulan yang sangat lambat, lurus mengarah dada Jaka. Seantero kemarahan dan luapan hawa sakti yang terbit mengiringi.

Kesederhanaan pukulan itu mengingatkan Jaka pada cara yang biasa dilakukan Hastin, Jaka tidak menghindar, penyakitnya ingin tahunya muncul lagi! Dengan satu tarikan nafas yang cepat membuat sirkulasi hawa murninya berkumpul di dada.

Desh! Pukulan itu menerpa dada Jaka, pemuda itu merasakan sensasi yang pernah dirasakan pada pukulan Kiwa Mahakrura, bedanya ini jauh lebih kuat. Energi yang menyertai pukulan itu meletup menghambat seluruh jalur hawa murni, menerobos paksa pertahanan Jaka dan begitu cepat menembus jantung, dengan sentakan-sentakan bagai ledakan pada tiap sendinya dan seantero isi dada, membuat orang yang tidak paham cara menaklukkan jenis serangan itu, lumpuh. Jaka sudah siap mengantisipasi hal itu, serangan yang senada dengan ilmu Kiwa Mahakrura berhasil dihalau dengan sistem pernafasan Melawat Hawa Langit.

Tapi mendadak wajah Jaka nampak berubah pucat diliputi penuh keterkejutan, sistem olah nafas Melawat Hawa Langit adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju kedalam—kesekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa di luar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti. Tapi disekujur tubuh Jaka seolah diselimuti hawa yang sangat solid, padat! Membuat Jaka tidak bisa menyerap hawa dari luar untuk memperkuat pertahanannya. Buru-buru Jaka menarik nafas panjang.

Kali ini wajah Bhre yang menampilkan reaksi terkejut, kecepatan sirkulasi hawa murni Jaka benar-benar membuatnya percaya apa yang disampaikan pemuda bercincin, bahwa; lawannya memiliki kemampuan untuk menjiplak gaya dan ilmu. Kali ini sirkulasi dalam ilmu Triagni Diwangkara dilakukan Jaka untuk melawan ilmu yang sama!

Krek! Trak-trak! Suara berkerotokan seperti letupan bakaran ranting berkumandang di sekujur tubuh Jaka. Tinju Bhre yang masih menempel di dada Jaka terpental! Lelaki itu terjajar beberapa tindak ke belakang, memperhatikan Jaka dengan tatapan bingung. Bagaimana dia tidak bingung, tenaganya yang dikerahkan menyerang jantung, dibalikkan dengan sempurna dengan hempasan yang begitu padat. Dan dia merasakan itu adalah tenaganya sendiri!

Jaka mengelus dadanya. “Ilmu yang hebat… sangat hebat!” gumamnya sambil menyedot nafas dalam-dalam. “Hhhh!” sebuah hempasan nafas yang dalam, membuat wajah pucat Jaka kembali merah merona.

“Sebenarnya, tujuanku tidak hanya itu…” kata Jaka.

Bhre paham, yang dimaksud Jaka adalah; melepaskan Adiwasa Diwasanta di bawah kendalinya. Diapun merasa tidak ada gunanya mempertahankan Adiwasa Diawasanta, pertama; seseorang yang mendapatkan dukungan Swara Nabhya ternyata begitu ngotot membantu orang tua itu. Ini sangat tidak menguntungkan dirinya. Kedua; diluar kehebatan olah kanuragannya yang membuat Wasopama ragu dalam bertindak; cara pemuda itu bereaksi pada tiap situasi, dan caranya bicara, membuat Bhre harus menelan semua amarah dan ketidakpuasannya. Dia dipaksa mendengar perkataan pemuda itu lebih lanjut.

“Aku ingin kau mundur dari kancah ini…”

Geraham Bhre langsung mengembung begitu mendengar ucapan Jaka. “Kau pasti sedang bermimpi! Kau tidak sadar dengan ucapanmu?!”

Jaka menggeleng, “Aku sangat sadar. Akupun paham kau sudah mengerahkan biaya dan pikiran untuk kegiatan yang saat ini kau jalankan. Tapi kau harus mengerti, ada banyak pergerakan di tengah pusaran badai kekacauan ini. Aku harus menghentikan semua pergerakan yang ada, dan menangkap pengganggas semua kegilaan ini. Aku tidak melihat kau sebagai otak di balik kejadian demi kejadian… maksudku apa yang ada di Perguruan Naga Batu. Kau hanya orang sekedar lewat dan memanfaatkan pergolakan yang ada, tapi kau tidak sadar… apa yang kau lakukan inipun berada dalam perhitungan orang lain! Setiap tindakanmu di bawah kendali orang!”

“Omong kosong!” bentak Bhre tidak percaya.

“Seorang putri telah diculik satu bulan yang lalu, sebuah lawatan persahabatan antar kerajaan telah dilaksanakan kurang lebih tujuh hari lalu, dan seorang putri kerajaan kembali hilang, dua kerajaan menegang. Situasi panas memudahkan segala sesuatu…”

“Dari mana kau tahu rencana itu?” potong Bhre dengan wajah berubah, berdasarkan jaringannya yang sudah bergerak ke segenap penjuru, dia berhasil memetakan beberapa masalah yang sedang terjadi.

Tentu saja Jaka tidak akan mungkin mengatakan itu adalah hasil kerja keras Cambuk dalam mengartikan simbol dalam peta gua batu yang mereka dapatkan. “Jika kau bisa menyimpulkan seperti itu, akupun bisa. Bukan hanya kau yang memiliki jaringan…”

Bhre terdiam. Apa yang dikemukakan Jaka memang sama persis dengan kesimpulan-kesimpulan yang mereka ambil.

“Aku menginginkan kau mundur bukan berarti menghalangi langkahmu dalam melakukan usaha-usaha tersembunyimu! Kau bisa melakukan itu setelah mendapatkan tanda dariku…”

“Tidak bisa! Apa kau pikir aku bekerja di bawah dirimu?!” bentaknya seperti kehilangan kendali.

Jaka terdiam sesaat. “Kau adalah manusia merdeka. Aku tidak perlu mengikatmu dengan macam-macam hutang janji…” katanya menyindir pola kerja Bhre.

“Tapi saat ini, tolong… tolong jangan paksa aku mengerahkan kekuatanku untuk beradu dengan gerakanmu. Itu akan merugikan kita berdua, kau dapat telanjang di pentas ini, dan akibatnya aku juga terpaksa memberangus semua orang yang terlibat disini. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah!”

“Lagakmu seolah kau ini yang paling berkuasa!” ketus Bhre.

Jaka tertawa, “Kita sama-sama berkuasa.” Wajah pemuda yang biasanya murah senyum ini kini mengeras dengan penuh ancaman. “Aku tahu kau memiliki kemampuan yang tak mengecewakan, tapi jika kau harus melawanku saat ini.. kemenangan yang mungkin bisa kau peroleh akan dibayar dengan mahal… sangat mahal!”

Pada saat mengatakan ‘sangat mahal’, semburat hawa panas keluar dari tubuh Jaka, menggulung sampai dua puluh kaki disekitar mereka berdiri, menghanguskan semua kehidupan disekitar itu. Hawa sepanas gejolak merapi itu tapi pada sepuluh kaki disekeliling Jaka dipenuhi uap putih membekukan—melindungi rerumputan dari hempasan hawa panas, wajah yang nampak mengeras itu nampak meredup dengan tatapan mata beku, buram, dan tidak bersemangat. Dan dalam beberapa kejap saja, seluruh hawa panas dan dingin yang berpendar hebat, lenyap begitu saja seolah ada daya hisap dari tubuh pemuda ini.

Bhre adalah orang yang sangat pintar, dia menguasai beragam ilmu, dia bisa mengambil apapun yang diinginkan, dia bisa menyuruh siapapun untuk melakukan apapun aksinya, tapi menyaksikan kondisi lawan yang ada dihadapan saat ini, membuatnya harus berpikir panjang. Meditasi Batu Mulia yang bercampur dengan gabungan beberapa hawa sakti, bukan hal mudah yang bisa ditaklukannya begitu saja. Kecerdasan lawan yang lebih muda itulah yang lebih menakutkan dari semua ilmu yang diperlihatkan tadi.

“Aku tidak rela jika harus mundur begitu saja!” gumam Bhre dengan mengambil sikap tempur pula.

Jaka bisa merasakan kekuatan mencengkram udara begitu menekan muncul secara cepat, agaknya Pukulan Triagni Diwangkara yang dikuasai Kiwa Mahakrura jika dibandingkan dengan orang ini, seperti langit dan bumi, tapi Jaka bisa melihat jalur yang berbeda. Satu kesamaan yang bisa diidentifikasi adalah kecepatannya dalam menghimpun hawa murni, seolah Sang Bhre memiliki cadangan hawa sakti yang tak terbatas, selama masih bisa mengolah nafas, dia bisa menghimpun sekehendak hatinya.

Wajah Adiwasa Diawasanta berubah, ancang-ancang yang dilakukan Bhre adalah ilmu Lima Kipas Terkembang. Sungguh tidak disangka semuda itu menguasai ilmu langka yang sudah punah. Lima Kipas Terkembang dibagi dengan lima tingkatan, jika seseorang sudah berhasil menguasai satu jalur kipas terkembang, tiap serangannya akan mengeluarkan debur angin yang membuat pohon pun tercabut hingga akar-akarnya. Jalur kedua, bisa mencabik objek yang dituju, jalur ketiga menghanguskan, jalur keempat membekukan. Dan jalur kelima adalah gabungan keempat tingkatan sebelumnya.

Meskipun Adiwasa Diwasanta merasa dirugikan oleh kedua pemuda itu, dia merasa sayang jika salah satu dari keduanya harus luka atau mati. Kondisi mereka berdua seperti anak panah yang siap dilepas, pergolakan hawa sakti keduanya membuat situasi di sekitar Kuil Tua itu begitu muram dan menakutkan.

Jaka melirik sepintas ke arah Adiwasa Diwasanta, bibirnya tersungging senyum tipis. “Hiaah!!” Dengan bentakan nyaring, pemuda ini menghamburkan pukulan, sebuah inisiatif serangan yang sangat jarang di lakukan.

Bhre-pun melakukan hal yang sama, tenaga yang tercurah membuat tanah disekelilingnya terbongkar.

Adiwasa Diawasanta bergerak cepat, dua buah tenaga yang tercurah itu direnggutnya dengan kekuatan Menerobos Jazad Emas, kedua kekuatan yang amat dahsyat itu dibelokkan oleh orang tua itu ke depan.

Blar!! Dentuman memekakkan telinga membuat semua orang terdiam dengan berbagai perasaan teraduk.

Bhre menatap Adiwasa Diawasanta dengan pandangan berterima kasih, Jaka juga tersenyum pada orang tua itu.

“Kalian berdua merupakan sendi-sendi masa depan dunia persilatan… saling bertarung ditengah himpitan banyak masalah yang merugikan, itu perbuatan tolol!” seru Adiwasa Diawasanta menasehati.

Semua orang bisa merasakan hawa sakti Bhre sudah mereda, demikian pula dengan Jaka, pemuda itu terlihat seperti orang yang tidak pernah bertarung.

“Kau dapatkan keinginanmu!” mendadak Bhre memutuskan menyetujui permintaan Jaka. Dia merasa memaksakan egonya hanya akan membawa kepada kehancuran dan kerugian yang sangat besar.

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Terima kasih banyak…”

Tanpa mengucapkan kata-kata lagi, Bhre melesat meninggalkan tempat itu diikuti empat orang pengikutnya.

“Jaka…” panggil Adiwasa Diawasanta. “Boleh aku memanggil namamu?” seperti itu.

“Itu memang namaku Ki,” kali ini Jaka merubah panggilan dari ‘kau’ menjadi ‘Ki’, artinya apa yang sudah terjadi tadi sepenuhnya adalah cara untuk mengontrol situasi. Dengan sendirinya Jaka selalu menghormati orang yang lebih tua.

“Kenapa kau sengaja tidak menggunakan tenaga yang bisa menyegel Menerobos Jazad Emas?”

Jaka tersenyum, tidak menjawab.

“Kau sengaja, melakukan itu untuk memancingku bergerak?!” tanya Adiwasa Diawasanta memastikan. Melihat pemuda itu tidak menjawab kecuali hanya tertawa, membuat orang tua ini geregetan.

“Ilmu Ki Adiwasa Diawasanta benar-benar hebat, aku tak sepenuhnya bisa menyegel daya sedot tenagamu…”

Ki Adiwasa Diawasanta tahu Jaka hanya membual untuk menyenangkan dirinya. Tapi diapun tidak bermaksud mendebat ucapan sembarangan Jaka. Orang tua itu hanya menghela nafas panjang.

“Aku harus permisi Ki, ada pekerjaan yang harus kulakukan…” kata Jaka sambil menghormat. “Sayang sekali paman, bajumu harus rusak lagi…” kata pemuda ini pada murid Ki Adiwasa Diawasanta.

“Jika kau tak keberatan, kau bisa gunakan bajuku…” kata lelaki paruh baya ini.

“Terima kasih atas kebaikanmu, dengan senang hati.” Sahut Jaka menerima baju yang digunakan murid Ki Adiwasa Diawasanta.

Dengan menganggukkan kepalanya, pemuda itu meninggalkan guru dan murid yang masih disekap berbagai pertanyaan.

“Dia mengaku kalah dariku… sialan! Benar-benar sialan!” gerutu Ki Adiwasa Diawasanta dengan hati rusuh, bersama muridnya dia memutuskan meninggalkan Kuil Tua secepat mungkin, ledakan terakhir itu pasti akan memancing orang-orang dari Perguruan Naga Batu untuk mendekat.

Kesunyian kembali melingkupi Kuil Tua, aura sakral kembali berpendar, seolah kedatangan sekelompok orang-orang tadi menekan wibawa kuil yang sudah berusia ratusan tahun itu.

Dan burung-pun kembali bersenandung…

—oo0O0oo—

104 – Domino Effect : Dua Bakat

Kota Skandhawara—Pusat Pemerintahan Kerajaan Kadungga.

Tiga bulan sebelumnya…

Sebuah kulit kambing yang digulung dengan pita kuning emas tertulis dengan tinta hitam, menggoreskan nama sebuah jabatan. Dia merasa tidak puas dengan apa yang baru saja diperoleh, wajahnya menyiratkan dengan jelas. Lelaki tua berwajah bijaksana itu duduk dihadapannya, memperhatikan kegelisahan orang itu.

‘Kenapa, aku hanya mendapatkan jabatan setingkat ini saja?’ pikirnya dengan kemarahan membuncah didada.

“Apa yang raja tolol itu berikan padamu?” Tanya lelaki tua ini sambil meraih gulungan kulit kambing itu.

“Jabatan tidak berarti!” geramnya. “Aku sudah mengabdi selama lima belas tahun dalam berbagai situasi, aku pernah menyelamatkan kerajaan ini… tapi balasannya sungguh tidak setimpal!”

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya lelaki tua ini dengan kening berkerut, agaknya diapun merasa jabatan yang diperoleh orang itu kurang memuaskan. Ini menjadi sebuah kendala bagi rencananya pula.

“Kau tidak perlu tahu! Aku bukannya tidak paham, kehadiranmu disini hanya berperan sebagai bara yang membakar pertimbanganku. Beberapa hari kemarin kau masih bisa berguna, tapi saat ini tidak lagi! Saat ini kau cukup menyaksikan, pertimbanganmu tidak kubutuhkan!” ujar lelaki ini tandas tanpa basa-basi.

“Bagus… bagus! Kau merasa sudah bisa mengembangkan sayap sendiri, aku hargai pemikiranmu!” tukas lelaki tua ini datar, meski tersembunyi rona kecewa dan marah didalamnya, sembari berjalan menuju pintu, dia menoleh lagi. “Sangat jelas bagiku, kau tidak lagi membutuhkan diriku, semoga tidak menyesal!”

Lelaki itu mendengus, “Pergilah! Aku tidak menyesal! Ada atau tidak adanya dirimu, tidak berpengaruh bagiku.”

Tanpa mengatakan sesuatupun lagi, lelaki tua itu lenyap dikegelapan malam.

‘Aku harus bergegas, rencana berikut harus kujalankan!’ pikirnya. Malam itu juga, dia keluar dari ruangan kerjanya, menuju istal. Ada prajurit yang selalu berjaga di tempat itu.

Dua orang prajurit tengah memainkan dadu, mengisi waktu, membuang kantuk. Melihat lelaki yang menjabat sebagai Pratyadhiraksana (pengawal ulung—biasanya jabatan seperti itu menjadi kepercayaan dewan pertimbangan kerajaan) datang menghampiri, mereka segera berdiri dengan sikap sempurna dan membuang dadunya entah kemana.

“Selamat malam tuan…”

Lelaki itu mengangkat tangannya, melambai tegas. “Siapkan kuda-kudaku!” perintahnya.

“Baik!” keduanya segera menuju istal menyiapkan kuda yang di minta. Tidak mengherankan lagi bagi mereka jika seorang Pratyadhiraksana harus keluar larut malam, nampaknya kali ini ada tugas penting. Keduanya membawa empat ekor kuda kehadapan lelaki itu. sepert

Sambil mengangguk, lelaki itu segera meraih kekang-kekang kudanya dan menghela meninggalkan tempat itu. Dia memacu kudanya dengan perlahan sampai keluar dari pusat kota, ditengah jalan, nampak empat orang lelaki datang menghampiri. Mereka berjalan bersama sampai di tengah padang rumput.

“Kalian sudah siap?” tanyanya menatap wajah keempat anak buahnya.

Mereka mengangguk yakin.

“Kali ini tidak seperti biasanya… saat ini adalah tugas hidup-mati bagi kalian, lebih baik mati dari pada gagal!”

“Siap!”

Lelaki itu menyerahkan keempat kudanya—termasuk yang ditunggangi, memandang kepergian empat anak buahnya yang memacu kuda kearah berlainan, diapun mengembangkan peringan tubuh melesat cepat, meninggalkan padang rumput itu.

===oOo===

Pagi itu di Perguruan Lengan Tunggal terjadi kegemparan, satu butir kepala kambing tergantung di pintu masuk. Tentu saja kegaduhan itu tidak akan membuat suasana menjadi kacau, jika saja bekas penggalan pada kepalanya tidak rata. Tapi ini sebaliknya, sebutir kepala kambing yang tergantung tepat di pegangan pintu gerbang, dipotong sangat rata, dan tanpa mencecerkan darah. Seolah-olah urat diantara leher dan kepala, terikat sempurna.

Seorang murid melaporkan penemuan itu pada penanggung jawab peronda, dan berikutnya dia melaporkan pada tingkatan atas. Tapi informasi itu berhenti sampai disana, tidak merambat lagi lebih jauh. Semua murid yang mengetahui perihal kepala kambing itu, mendadak mendapat tugas untuk keluar perguruan dan tidak pernah kembali. Sayangnya, ada tiga orang anggota baru Perguruan Lengan Tunggal yang mengetahui tentang kepala kambing itu, namun mereka tidak menyatakan diri, bahwa mereka mengetahui. Ketiganya mendapatkan tugas membersihkan lingkungan sekitar perguruan.

“Kau tahu kemana kepala kambing itu pergi?” bisik Kaliagni pada Ludra saat dia menyambit rumput di dekat kaki saudaranya itu.

Si Macan Terbang menggelengkan kepala. “Semalaman aku menunggui, tapi hanya karena terkantuk sekejap, kepala itu lenyap! Sialan… kurasa ada setan lewat!” sungutnya sambil memotong ranting-ranting yang mulai pajang menjela.

Terdengar tawa tertahan Kaliagni.

“Nampaknya isu yang beredar di perguruan ini memang benar adanya, Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat. Merupakan hal yang paling misterius di perguruan ini.” Gumam Mintaraga membantu mematahkan ranting. Mereka berlaku seperti halnya orang awam pada umumnya.

“Apa yang kau sebutkan tadi, apakah mereka sekelompok orang, kakang?” tanya Kaliagni.

“Pastinya begitu, perguruan ini menyimpan banyak hal yang menakutkan. Kita harus waspada…” nasehat Mintaraga pada kedua adik angkatnya. Mereka berpencar dengan mengerjakan tugas masing-masing.

===oOo===

Sementara di sebuah ruangan tersembunyi di dalam perguruan, Tujuh Ruas sedang memperhatikan kepala kambing itu dengan seksama.

“Tidak disangka tanda ini muncul lagi…” gumamnya, dia lelaki dengan wajah pucat seperti penyakitan. Matanya sayu seperti orang yang selalu mengantuk. Tujuh Ruas merupakan kode panggilannya. Kemahirannya tidak banyak, hanya menginterogasi orang, dan menyisakan tujuh ruas yang masih normal.

“Tepat hari ini… sudah dua puluh tahun.” Gumam lelaki dengan uban menghias seluruh kepala. Usianya baru lima puluh tahun, tapi banyaknya uban membuat diantara mereka, dia disebut Sembilan Belantara, wajahnya tidak terlalu mengesankan, ada bopeng bekas cacar di sekitar pipinya. Pada masa lalu tugasnya menyelinap di banyak perguruan, mengumpulkan informasi yang beredar di sana, jika sempat dia akan mencuri beberapa ilmu silat andalan. Tak heran perkembangan pustaka ilmunya paling luas diantara temannya.

“Haruskah kita melakukan gerakan lagi?” gumam lelaki berwajah lonjong, berkumis tipis bermata agak sipit. Empat Serigala adalah kode panggilanya, sifatnya peragu; bukan ragu memutuskan suatu masalah, tapi lebih kepada; jika kau adalah pihak yang sedang dihadapinya, dan dia ragu untuk memutuskan apa yang akan diperbuat padamu, maka cara yang paling sering dilakukan adalah melukai dengan mencabik leher korban—mirip serigala. Membuatmu dalam keadaan ragu—apakah kau akan mati atau hidup. Perguruan Lengan Tunggal sudah menampung dirinya lebih dari dua puluh tahun, dan membuatnya berbakti dengan menyeleksi bibit-bibit calon pesilat terbaik di seluruh negeri.

“Kurasa harus kita sampaikan padanya…” ujar Tujuh Ruas dengan tidak yakin. “Kau yakin, ini adalah cara Pratisamanta Nilakara?” tanyanya pada Sembilan Belantara.

Lelaki beruban itu mengangguk. “Mutlak, meski kebiasaannya lain, tapi caranya sangat benar dan tidak mungkin salah.” Katanya mengkonfirmasi.

Ketiganya mendesah gundah, Pratisamanta Nilakara secara harfiah berarti raja taklukan berwarna biru, bukan sebuah jenis ilmu yang maha sakti, tapi lebih kepada cara menotok yang amat rumit. Korban yang terkena totokan ini ibarat raja yang takluk—dan totokan ini hanya dikhususkan di daerah kepala (raja dari tubuh), menutup aliran udara di sebagian syaraf otak, membuat korban menjadi pucat—kebiruan. Jika korban masih hidup, menjadi idiot adalah efek paling ringan yang mungkin terjadi, sayangnya kebanyakan orang tidak akan hidup setelah kena totokan itu. Bagi sebagian kalangan maha guru silat, cara totok itu juga disebut Raja Diraja, karena hingga saat ini tidak diketemukan bagaimani cara memunahkan jenis totokan itu. Setelah pembuluh menutup sempurna, pada saat leher dipenggal, tidak ada setetespun darah keluar. Pada bagian tubuh yang terpenggal, selama beberapa saat aliran darah masih akan bersirkulasi dan jantung masih berdenyut—sampai akhirnya udara dalam darah habis.

“Kita masih terikat sumpah, aku bukannya takut…”

“Omong kosong!” Sembilan Belantara memotong ucapan Empat Serigala. “Kita semua harus jujur jika ingin lebih maju! Kekuatan kita jika dibandingkan orang itu seperti langit dan bumi!”

Empat Serigala menunduk, dilihatnya segaris tipis luka di nadi tangannya. “Aku bersumpah akan membalas mereka!” desisnya.

Sembilan Belantara tertawa pendek—lebih kepada mentertawakan dirinya sendiri, “Sepertinya itu tidak mungkin…” ujarnya tenggelam dalam keputusasaan.

Tujuh Ruas sangat paham apa yang sedang dirasakan rekannya, “Nasibmu seperti nasib kita semua… Pedang Tetesan Embun terlalu hebat untuk ditandingi…” ucapnya.

“Bukan pedangnya, tapi orang yang memegangnya!” ralat Sembilan Belantara.

“Terserahlah… tapi aku menilai, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan!” tegas Tujuh Ruas diamini oleh Empat Serigala.

Sembil Belantara nampak berpikir sejenak. “Baik, jika menurut kalian… tanda ini menjadi kesempatan bagi kita untuk membalas, aku akan melaporkan pada Dua Bakat.”

“Secepatnya!” ketus Empat Serigala menekankan.

Lelaki beruban itu mengangguk, kepala kambing itu dia bungkus dengan hati-hati. Benar kata Empat Serigala, dia harus secepatnya melaporkan ini kepada Dua Bakat, pimpinan mereka. Sebab ‘sinyal’ dari pimpinan masa lalu mereka sudah kembali bergaung. Entah ini menjadi pertanda baik atau pertanda buruk, dia akan memberikan pertimbangan terbaiknya pada Dua Bakat.

===oOo===

Dua Bakat, dia sebut seperti itu karena memiliki dua kemampuan sangat menonjol. Bersalin rupa, meniru wajah seseorang yang pernah dilihatnya—cukup sekali, dan mencuri barang-barang yang sangat sulit didapat. Asal kau tahu dimana tempatnya, tidak perduli serapat dan setangguh apapun penjagaannya, Dua Bakat memastikan bisa mendapatkan barang itu. Bayarannya tidak mahal, hanya seluruh harta bendamu—berikut baju yang melekat di tubuhmu. Tidak mahal kan? Sebab dia tidak meminta nyawamu.

Kepala kambing itu seperti sebuah beban di hatinya, sambil memandang Sembilan Belantara, orang yang tidak pernah menampilkan wajah aslinya pada siapapun ini bertanya. “Apa rekomendasimu?”

Lelaki beruban ini menghela nafas panjang. “Jika mengacuhkannya, kita jelas bersalah. Kemarahannya tak terbayangkan. Tapi jika kita lakukan ini, aku kawatir pemilik Pedang Tetesan Embun akan datang pada kita, satu-satunya cara, kita harus melakukannya dengan diam-diam—seperti biasanya..”

“Apakah cara itu bisa mengelabui pemilik Pedang Tetesan Embun?” potong Dua Bakat dengan nada tajam.

Sembilan Belantara terdiam. “Kita akan bertindak lebih tersembunyi, lebih tenang… tanpa meninggalkan tempat ini.”

Dua Bakat menghela nafas panjang. “Orang itu memang siluman, sudah beragam cara aku mencoba keluar dari sini, tapi tidak lebih dari satu pal aku melihat tandanya ada dimana-mana. Itu memaksaku untuk kembali…” katanya dengan pahit. “Tidak disangka perguruan ini justru jadi penjara bagi kita!”

Sembilan Belantara menunduk, “Mu-mungkinkah dia bisa menandai ciri khas penyamaranmu itu?”

“Entahlah…” ujar Dua Bakat dengan putus asa. Biarpun dia ingin menjawab panggilan pimpinannya tapi diapun tak punya keberanian untuk keluar dari Perguruan Lengan Tunggal.

“Bagaimana jika kita mengutus murid-murid Perguruan Lengan Tunggal?” usul Sembilan Belantara. “Tua bangka itu sudah memeras cukup banyak tenaga kita untuk kepentingannya, saat ini… giliran kita peras dia!”

Dua Bakat terdiam sesaat, lalu menggeleng. “Memeras dan mengancamnya tidak akan menyelesaikan masalah kita. Selama ini aku mengikuti perkataannya bukan karena aku takut dengan ancaman, tapi aku sedang menunggu saat-saat seperti ini. Setiap kali usulku dipakai olehnya aku mencoba melemparkan umpan keluar… aku berharap tanda yang dibawa anak-anak murid perguruan ini akan dilihat beliau… jika saat ini beliau menjawab dengan mendemonstrasikan Pratisamanta Nilakara, sangat tidak sopan jika aku tidak menjawab panggilan itu!”

“Aku akan mengutus anak murid yang paling tidak berguna, untuk melakukan tugas ini.” Gumam Sembilan Belantara.

“Apa alasanmu?”

“Jika tiap gerakanmu dipantau oleh pemilik Pedang Tetesan Embun, artinya; setiap orang yang memiliki kemampuan yang mendapat tugas dari perguruan ini akan mendapat perhatian. Berbeda jika kita mengutus orang biasa, kupastikan dia tidak akan mengurus hal sesepele itu.”

Dua Bakat tercenung, “Begitupun baik…” lalu dia menuliskan sepucuk surat yang tidak mungkin dibaca orang lain, sebab tulisan itu hanya bisa diartikan oleh pimpinannya. “Berikan ini pada orang yang kau tunjuk. Kita akan menunggu hasilnya!”

Sembilan Belantara membawa surat itu kedalam ruangannya, dia mencoba mengartikan tulisan yang digoreskan Dua Bakat, tapi tak sepatah katapun dia bisa membacanya, entah huruf apa yang digunakan.

===oOo===

Macan Terbang terkaget-kaget saat dirinya dipanggil oleh penanggungjawab lingkungan perguruan, dengan hati berdebar takut, dia melangkah memasuki ruangan yang biasa digunakan untuk mendistribusikan kebutuhan rutin perguruan. Dalm hatinya dia khawatir penyamarannya sudah diketahui pihak Perguruan Lengan Tunggal.

Mereka bertiga diselundupkan ke perguruan itu dengan perhitungan sangat matang, Sora Barung dan Sena Wulung yang diketahui sebagai Ketua Sembilan dan Ketua Sepuluh telah menyiapkan dengan sangat seksama. Meskipun mereka menekan ketiganya dengan menyandera seluruh keluarga mereka, untuk melakukan penyelundupan ini seluruh riwayat hidup ketiga orang itu mereka gubah sedemikian rupa.

Tidak aneh, saat pihak Perguruan Lengan Tunggal melakukan verifikasi secara langsung ke lokasi yang diinformasi ketiganya, mereka tidak menemukan ada kebohongan. Setiap warga yang mereka tanya, kenal baik dengan Ludra bertiga, bahkan mereka bisa menceritakan masa kecil ketiganya. Bagaimana mungkin Perguruan Lengan Tunggal bisa menemukan kejanggalan, jika seluruh penduduk desa adalah kaki tangan jaringan Ketua Sembilan dan Sepuluh?

Itu alasan ‘sederhana’ kenapa Tujuh Ruas, Empat Srigala, Sembilan Belantara dan Dua Bakat tidak memeriksa kembali latar belakang orang-orang yang akan mereka gunakan, sebab mereka percaya penuh dengan cara penilaian pihak Perguruan Lengan Tunggal, terhadap anak murid atau orang-orang yang dipekerjakan di perguruan itu. Itu juga yang menjadi alasan mengapa tingkat kebocoran informasi pada Perguruan Lengan Tunggal sangat minim. Sayangnya, penyelundupan Ludra bertiga adalah kekecualian.

Ternyata Ludra mendapatkan tugas untuk memesan kain di toko kelontong yang berjarak cukup jauh, dia juga ditugaskan untuk membeli seluruh kebutuhan perguruan, mulai dari hal penting sampai tetek bengek lainnya. Tentu saja Ludra menyatakan keberatannya untuk melakukan tugas itu sendiri, dia meminta kedua saudaranya untuk ikut.

Sejak saat itu, selain memata-matai Perguruan Lengan Tunggal, mereka bertiga secara bergilir mendapatkan tugas untuk membeli macam-macam hal, dan tanpa sadar dimanfaatkan menjadi kurir Dua Bakat.

===o0o===

Seperti biasa, setelah beberapa saat menjadi kurir Ludra melapor bahwa dirinya sudah kembali, dan menyerahkan daftar belajaan serta hal-hal tidak penting lainnya. Ada beberapa barang yang dicurigai oleh Ludra bertiga, tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk menebak atau memecahkan apa arti barang itu. Barang apa itu? Kambing! Bukan hanya mereka, siapapun yag melihat kambing cuma bisa menafsirkan dua hal, dipotong atau dipelihara.

Cuma kali ini kambing itu hidup, dan Ludra harus bersusah payah menariknya sepajang jalan. Kalau hanya satu ekor, itu urusan kecil. Tapi dua belas? Walau keringat mengucur deras dan membuatnya memeras tenaga, caci maki Ludra tidak berhenti berhamburan sepanjang jalan… membawa dua belas ekor kambing yang terus membagal (mogok jalan) tiap lima langkah membuatnya hampir hilang sabar.

Setelah serah terima, beberapa saat kemudian barulah pengurus perguruan mengumumkan hal yang membuat hampir semua penghuni Perguruan Lengan Tunggal bersorak, mereka akan mengadakan pesta. Hari itu sang ketua tepat berusia enam puluh tahun, nampaknya hidangan kambing menjadi tema utama.

Jika semua penghuni perguruan bersuka cita, keempat tokoh yang bersembunyi dalam Perguruan Lengan Tunggal itu menanti dengan debar jantung berkejaran. Kambing adalah jawaban yang ditunggu, nampaknya pimpinan mereka berhasil menemukan cara menyusupkan kabar yang paling efektif—dengan lolos dari pengamatan pemilik Pedang Tetesan Embun. Dalam kesehariannya, mereka memang bertugas sebagai penanggung jawab bahan mentah dan menu di dapur, tentu saja urusan menjagal kambing adalah tanggung jawab mereka.

Kambing sudah dikelupas dengan sempurna, isi perut juga sudah dikeluarkan. Pada masa lalu, mereka berempat adalah tokoh yang memiliki wibawa cukup disegani, tidak disangka kali ini mereka harus berkubang dengan kotoran kambing demi mencari ‘jawaban’ dari sang pimpinan.

“Aku dapat!” desis Empat Serigala mengakhiri pencarian mereka. Setelah membereskan semuanya, mereka kembali ke peristirahatan masing-masing, sebelum akhirnya bertemu di ruangan tersembunyi.

Dengan berdebar, Dua Bakat membuka gulungan kulit yang dibungkus dengan kulit kayu, mereka menemukannya pada empat ekor perut kambing. Dua Bakat membaca dengan sangat seksama, wajahnya nampak memerah, dengan mengepalkan tangannya seluruh lembaran kulit itu hancur lebur. Tentu saja ketiga rekannya kaget.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sembilan Belantara dengan nada meninggi.

Dua Bakat tidak menjawab. “Kita pergi hari ini!” tegasnya tidak menjawab pertanyaan tadi.

Melihat wajahnya yang mengeras penuh emosi, Sembilan Belantara tidak berani mendesak lebih jauh, mereka bersiap pergi dengan jantung berdebar.

Pagi harinya, para penghuni Perguruan Lengan Tunggal digegerkan dengan kosongnya mangkuk-mangkuk sarapan pagi mereka. Pesta yang direncanakan juga dipastikan batal. Orang yang biasanya ditugaskan untuk mengurus masakan sudah menghilang. Tentu saja itu bukan kehebohan yang cukup berarti bagi penghuni Perguruan Lengan Tunggal. Hanya ketua Perguruan Lengan Tunggal saja yang menggeram penuh amarah dan rasa kawatir.

“Apakah mereka sudah menemukan tokoh sandarannya kembali?” pikirnya dengan gelisah, pembalasan keempat tokoh yang dia pahami kekejamannya, membuat Ketua Perguruan Lengan Tunggal harus bersiap sedini mungkin.

===oOo===

Masih segar dalam ingatan mereka, sebatang pedang yang sangat tipis dan berhawa dingin sudah menghancurkan nyali mereka hingga berkeping-keping, setiap langkah selalu dihantu bayangan pedang itu, tak heran tiap langkahnya mereka begitu berhati-hati, kegelisahan dan kewaspadaan meningkat tiap detiknya. Keheranan melanda mereka saat tak melihat adanya tanda-tanda kehadiran pemilik Pedang Tetesan Embun, seperti yang selalu dikeluhkan Dua Bakat.

Akhirnya dengan mengembangkan peringan tubuh tertinggi keempat tokoh itu lenyap di telan kerimbunan hutan, sebuah asa pembalasan dendam mulai bersemi di hati mereka. Dengan pasti mereka menuju sebuah tempat yang hanya diketahui Dua Bakat.

Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di sebuah bangunan yang cukup mewah. Bangunan itu lebih cocok disebut rumah peristirahatan kaum bangsawan yang biasa berburu. Tanpa ragu Dua Bakat mendorong pintu rumah itu dan masuk, terlihat oleh mereka lelaki yang dibalut dengan pakaian kelabu. Sesosok itu berusia empat puluhan, bertubuh kekar dengan bahu lebar, roman wajah tak terlalu tampan, namun terlihat begitu perkasa, orang yang memperhatikan wajahnya akan selalu timbul rasa hormat.

Dua Bakat nampak tercengang, dia tidak mengenali pimpinannya lagi. Rasanya itu bukan orang yang dia kenal. ”Siapa kau?” tanyanya dengan kewaspadaan meninggi.

”Aku adalah orang yang membongkar kebodohanmu!” ketus orang itu. ”Duduk!” perintahnya.

Dua Bakat bukan orang yang bisa diperintah sembarangan, tapi keadaan orang itu membuat dirinya harus menahan sabar.

”Dua puluh tahun terperangkap di Perguruan Lengan Tunggal, hanya karena takut dengan bayang-bayang.. konyol sekali!” gumam orang itu membuat Dua Bakat menunduk. ”Orang yang kau kawatirkan, tidak pernah mengunjungi wilayah Perguruan Lengan Tunggal selama dua puluh tahun terakhir, dia hanya menyewa orang-orang untuk menyebarkan dan melepas tanda-tanda khas miliknya, dalam waktu yang acak. Dan sangat menggelikan, itu membuatmu ketakutan…”

Barulah Sembilan Belantara dan kedua rekannya mengetahui, mengapa Dua Bakat begitu marah setelah selesai membacanya.

”Tapi, itu bukan urusanku! Aku memiliki tugas besar untukmu.” katanya dengan nada sangat mengintimidasi.

”Kau memiliki kemahiran yang cukup kukagumi. Aku ingin kau menculik Prawita Sari!”

”Siapa dia?” tanya Dua Bakat heran, dua puluh tahun tanpa keluar dari Perguruan Lengan Tunggal sudah membuatnya seperti katak dalam tempurung.

”Tidak perlu tahu! Dua hari sejak sekarang, kau cukup menunggu disini untuk menculiknya…”

”Hanya itu?” tanya Dua Bakat dengan keheranan mengembang, kalau hanya untuk urusan culik menculik wanita, orang itu sampai rela menghabiskan waktu untuk ’berkoresponden’ secara teratur dengannya, aneh sekali!

Lelaki itu mengangguk. ”Tugas berikut, akan kuberitahukan pada saatnya.” katanya sambil meninggalkan empat orang yang masih terheran-heran dengan semua kejadian ini. Orang itu melangkah melewati Tujuh Ruas dan Empat Serigala yang berdiri menghadang pintu.

Hawa sakti yang berpendar di seluruh tubuh orang itu benar-benar membuat kedua tokoh yang dipaksa mengasingkan diri itu, buru-buru menyingkir. Tangan lelaki ini nampak melambai tanpa tenaga. Mendadak…

Kraaak! Suara berderak lirih membuat empat pasang mata melihat kearah pohon yang ’dilambai’ oleh lelaki itu. Terlihat satu lubang kecil yang membuat retakan dengan pola melingkar keatas batang hingga akhirnya mematahkan dahan yang berada di ketinggian lebih dari enam meter.

Wajah Dua Bakat berubah, ”Pratisamanta Nilakara…” desisnya.

“Kau sudah paham artinya,” ujar lelaki itu sambil melirik tajam, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.

Sembilan Belantara memeriksa lubang yang dihasilkan akibat lambaian tangan orang itu, wajahnya sangat terkejut. ”Bagaimana mungkin Pratisamanta Nilakara dilakukan pada benda selain manusia? Selain kepala?” katanya sambil menatap Dua Bakat dengan bingung.

Dua Bakat menggeleng penuh rasa sesal. “Orang itu bukan seperti yang kupikirkan, tapi mengapa dia tahu keberadaan kita?” gumamnya. “Dia juga menguasai Pratisamanta Nilakara yang dikuasai junjungan kita…”

“Mungkin dia adalah muridnya?” sambung Tujuh Ruas.

“Aku tidak tahu.” Jawab Dua Bakat pendek, otaknya terasa ruwet.

Desau angin gunung membuat keempat orang itu merasa bahwa, urusan yang sedang mereka hadapi lebih memusingkan dari pada yang terlihat.

“Dia memang sangat berbakat…” tiba-tiba terdengar satu suara yang mengejutkan mereka, buru-buru mereka menoleh dan melihat lelaki tua yang berpenampilan bersahaja, dan berwajah bersih—menatapnya menimbulkan satu perasan aneh, antara lega dan takut.

“Aaah, tuan…!” seru mereka hampir bersamaan. Mereka berebut memburunya, dan bersimpuh dihadapan lelaki tua itu. Rasa haru nampak menguasai hati mereka. Lelaki tua itu pun bukan tanpa perasaan, dia menyentuh kepala mereka satu persatu. Lalu berdiri membelakangi mereka.

“Sudah lama sekali…” gumamnya dengan mata menerawang, wajah yang terlihat penuh kasih itu, menampilkan sebuah seringai yang membuat bulu kuduk meremang.

—oo0O0oo—

105 – Domino Effect : Prawita Sari

“Saya bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” Tanya Dua Bakat pada orang tua itu.

Wajah lelaki tua ini menampilkan rona kemerahan, seringaiannya sudah menghilang dari bibir, berganti wajah tua yang menampilkan kesan arif bijaksana. “Aku mencari orang berbakat yang kupikir bisa membantu usahaku. Aku mendapatkannya, dia sangat berbakat… terlampau berbakat malah. Tapi ambisinya berbeda dariku, aku tidak bisa mengarahkannya lagi.”

“Lalu, apakah saya harus menaati perintahnya?”

Nampaknya hanya Dua Bakat saja yang berhak bicara dengan orang tua itu, ketiga rekannya masih duduk dilantai mendengarkan percakapan itu.

Sesaat orang tua ini tidak menjawab, kemudian katanya, “Selain sangat hati-hati dan penuh perhitungan, dia sangat jenius, orang ini bisa memecahkan masalah pelik,” ujarnya, tidak menjawab pertanyaan Dua Bakat, lelaki tua ini malah memberi peringatan dini pada Dua Bakat sekalian.

“Kalian lakukan saja rencananya. Sebenarnya… aku sudah menahan dia untuk tidak melakukan hal ini, tapi nampaknya tidak bisa.”

“Menculik orang, bukannya pekerjaan yang sangat mudah?” gumam Dua Bakat seperti bertanya pada dirinya sendiri—untuk membangkitkan semangat, maklum saja sudah dua puluh tahun dia tidak bergerak melakukan seluruh kebiasaannya, dia khawatir keahliannya sudah memudar.

“Sangat mudah… siapapun bisa melakukan! Tapi ada alasannya kenapa dia harus menunjukmu…”

Wajah Dua Bakat sekalian menampilkan rasa bingung. “Harus saya? Mengapa harus begitu?”

“Untuk kalangan tertentu, kau memiliki nama yang berharga, kau orang yang sangat dicari…” tukas orang tua itu berkata lambat.

Dua Bakat memucat seketika. “Apakah dia… ma-maksudku… yang mencariku adalah… adalah… pemilik Pedang Tetesan Embun?”

Orang tua ini menghela nafas. “Aku tidak tahu,” jawabnya singkat.

Dan itu membuat Dua Bakat lemas, bukan tanpa alasan dia dan teman-temannya ketakutan menghadapi pemilik Pedang Tetesan Embun, tujuh orang teman seangkatan mereka dibuat hidup segan matipun tak mau, orang itu tidak pernah membunuh, tapi begitu kau berhadapan dengan dirinya, kau justru akan mengharapkan semoga dia membunuhmu. Pemilik Pedang Tetesan Embun merambatkan rasa takut tak terkira di hati mereka.

“Kau tak perlu kawatir! Menurutku, itu bukanlah dia. Baginya, namamu bukan sesuatu hal yang berharga…” tukas orang tua ini lagi membuat Dua Bakat tersenyum pahit, ada rasa senang bahwa dia tak cukup berharga di mata pemilik Pedang Tetesan Embun. “Itulah alasannya, mengapa dia hanya melakukan trik kecil untuk menakut-nakuti kalian…”

Dua Bakat menundukkan kepalanya, mengingat akan hal itu hatinya sungguh sakit, tapi diapun tak menyangkal, dua puluh tahun lebih ‘mendinginkan’ kepala di Perguruan Lengan Tunggal sudah banyak mengurangi ambisi dan kelakuannya.

“Kalau orang itu mengerti bahwa ini hanya trik kecil yang dilakukan pemilik Pedang Tetesan Embun, kenapa harus repot-repot berhubungan dengan saya, bahkan harus menarik perhatian dengan melepaskan Pratisamanta Nilakara?”

Orang tua itu mengerti, siapa yang di maksud dalam pertanyaan itu. Tentu saja dia tak akan memberitahu alasan sebenarnya, ‘trik kecil’ itu bukan saja sudah mengecoh Dua Bakat, bahkan dirinya! Kalau bukan karena ketelatenan lelaki tadi, trik tersebut tidak akan dipecahkan oleh mereka.

“Tujuan utamanya melakukan Pratisamanta Nilakara adalah, untuk menjajagi situasi. Dia bukan cuma mencari cara untuk melakukan kontak dengan kalian, tapi juga menyelidiki keadaan… benarkah orang itu, masih memantau kalian…”

Dua Bakat paham, kenapa pimpinannya tak mau menyebut kata Pedang Tetesan Embun, orang itu sudah merusak semua rencana yang sudah disusun tuannya. Secara psikologis menyebut nama musuhnya hanya akan menurunkan semangat juang sendiri.

“Setelah sekian lama ditelusuri, ternyata orang itu tidak pernah memantau kalian, tapi caranya berkomunikasi dengan kalian terus dilakukan. Dia menyadari ternyata ada beberapa pergerakan aneh di perguruan Lengan Tunggal, dia tak mau ambil resiko…”

Dua Bakat mengangguk, dirinya juga menyadari ada kejanggalan-kejanggalan ditempatnya bernaung itu, tapi sepanjang tidak ada hubungannya dengan mereka, dia malas mencari tahu dan tak akan ambil pusing.

Dengan menghela nafas panjang, cahaya matanya meredup. “Aku menyadari, usaha-usaha yang dulu kulakukan tidak pernah berhasil, karena satu hal…”

Mereka mendengarnya dengan seksama.

“Aku telah menodai keadilan dan kebenaran…” ujarnya membuat Dua Bakat saling pandang dengan rekan-rekannya dengan rona terkejut.

Di masa lalu; sang pimpinan adalah orang yang sangat tegas dalam memisahkan batas antara kekejaman dan keharusan bertindak—demi tercapainya rencana, dia tidak perduli apakah orang yang menjadi sumber beritanya mati, yang penting info yang dicari dia dapatkan. Orang itu pula yang mengajari Tujuh Ruas, menjadi ‘Tujuh Ruas’ yang sebenarnya, kemampuan melolosi tulang, didapati dari orang tua itu. Dan sekarang pimpinan mereka mengatakan hal yang sangat bertolak belakang, rasanya seperti matahari terbit dari barat! Tidak mungkin!

“Ma-maksudnya?” tanya Dua Bakat tak mengerti.

“Melihat ambisi muridku, dan itu menjadi kaca bagiku… bahwa yang telah kulakukan di masa lalu begitu buruk… sangat buruk!” desisnya hampir tak terdengar. Akhirnya mereka bisa mendapatkan kepastian jika lelaki perkasa tadi merupakan murid sang majikan.

“Apakah bukan karena pemilik…” Dua Bakat tidak bisa meneruskan ucapannya manakala melihat rahang orang tua itu mengeras sesaat. Pemilik Pedang Tetesan Embun bukan hanya menggoreskan rasa takut di hati Dua Bakat sekalian, nampaknya sang pimpinan itupun merasakan hal yang sama.

“Orang itu memang membuatku terpaksa bersembunyi, selama dua puluh tahun ini dia tidak henti-hentinya mencariku. Semua rencanaku dapat diantisipasi dengan baik, sampai akhirnya aku lelah… aku menyadari aku harus berhenti.” Ujarnya dengan tatapan menerawang, agaknya dia sedang menumpahkan isi hati. “Aku harus menghentikan kegilaan muridku…” tegasnya. Lalu dengan menatap satu demi satu wajah anak buahnya, ia berkata dengan nada rendah. “Apakah kalian masih bersamaku?”

Tanpa ditanya dua kali, Dua Bakat mengangguk pasti. “Apapun keputusan tuan, kami akan ikuti!” sahutnya mantap.

“Baik, jika demikian ada satu tugas penting bagimu…”

Dua Bakat mendengarkan dengan seksama.

“Pertama, pergilah ke Perguruan Merak Inggil, cari Anusapatik…”

“Bu-bukankah orang itu sudah menghilang sejak dulu? Jika sampai saat ini dia tak terdengar kabarnya, berarti sudah hampir empat puluh tahun lalu?” Tanpa sadar Dua Bakat memotong.

Lelaki tua ini tertawa perlahan, nampaknya reaksi Dua Bakat membuatnya senang. “Bagi orang-orang yang mencarinya, dia memang sudah menghilang… tapi bagiku, dia tak pernah kemana-mana. kau tinggal memberikan ini padanya…”

Sebuah batu sebesar sekepalan tangan anak kecil berwarna abu-abu, diserahkan pada Dua Bakat.

“Kuberikan kepada dia? Tapi bagaimana?”

“Masukkan kedalam kolam, dia akan mencari dirimu.”

“Lalu penculikan yang murid tuan perintahkan, bagaimana?”

“Kau bisa melakukannya tugasku lebih dulu, menjumpai Anusapatik tidak akan memakan waktu lama.”

Dua Bakat mengangguk, kebingungan masih melanda otaknya bertubi-tubi… tugas-tugas ini semuanya sangat mudah baginya, dia merasa ada yang tidak benar, tapi entah di bagian mana, dia juga tidak tahu. Kepalanya tertunduk menekuri lantai kayu dengan pikiran bercabang.

“Tugas kedua, akan kuberitahu setelah kau berhasil menculik Prawita Sari…”

Itulah ucapan terakhir sang pimpinan, Dua Bakat baru menyadari setelah sekian lama suara orang tua itu tidak terdengar, mendongakkan kepala dia menoleh kesana kemari mencari bayangan sang pimpinan, nampaknya orang tua itu sudah pergi. Dua Bakat bangkit dari duduknya.

“Bagaimana menurut kalian?”

Pertanyaan Dua Bakat sontak membuat ketiga rekannya menampilkan wajah bingung. “Aku tidak bisa menilai apapun, sudah terlalu lama kita jauh dari dunia yang pernah kita geluti. Saat ini aku merasa seperti anak kecil yang harus dituntun… kepekaanku tumpul, aku tak bisa memberi pertimbangan …” gumam Sembilan Belantara.

“Apa yang mendasarimu berkata begitu?”

“Banyak hal… argh! Aku bahkan tak bisa merincinya, otakku terlalu dibingungkan dengan kehadiran tuan…” sungut Sembilan Belantara.

“Kurasa aku bisa menjelaskan beberapa keheranannya.” Kata Empat Serigala sambil menepuk bahu Sembilan Belantara. “Pertama, perubahan sifat tuan… ini sangat janggal, aneh…” lelaki ini menoleh kanan kiri sebelum meneruskan bicaranya, dengan merendahkan suaranya dia melanjutkan. “Sangat tidak masuk akal, kekejamannya sirna begitu saja, bahkan terlihat begitu… begitu… agung, membuatku merasa takut..” uraian itu diamini anggukan oleh ketiga rekannya. “Kedua, orang yang ditunjuk sebagai muridnya… aku merasa mereka seperti satu jalan, tapi entah kenapa… entah kenapa… aku melihatnya seperti ada sandiwara disini, ini.. ini.. hanya pikiranku saja, entah dengan kalian.” Empat Serigala memperhatikan reaksi mereka, nampaknya untuk dugaan keduanya tak menemukan kesepakatan. “Ketiga; Anusapatik… orang ini adalah bajingan busuk, kita sudah mendengar kabarnya bahkan saat kita baru berkecimpung di dunia persilatan. Lalu untuk apa? Untuk apa tuan harus menjalin hubungan dengan Anusapatik? Jika dia memang menyesali perbuatan masa lalunya? Aku tidak paham…”

Dua Bakat tidak mengomentari pikiran rekannya. Setelah beberapa saat, sambil mendengus dia berkata. “Aku tidak memikirkan itu, aku hanya mengikuti perintah beliau!”

Empat Serigala terdiam, kalimat tadi sudah cukup menjadi peringatan baginya. “Kurasa kau harus berangkat sekarang.” Katanya mengingatkan Dua Bakat, sekaligus mengalihkan perhatian Dua Bakat dari pendapatnya tadi.

“Ide bagus…” gumam Dua Bakat dengan pikiran tak tentu. “Kalian waspadai situasi disini…” perintahnya.

===oOo===

Perguruan Merak Inggil

Beberapa dasawarsa lalu, perguruan ini pernah dihebohkan dengan penyerbuan mendadak yang melibatkan banyak tokoh berkasta tinggi, titik pangkal masalah berada pada seorang Anusapatik, dia mengumpulkan para tokoh yang memiliki satu visi, menguasai kesadaran banyak orang dengan racun.

Dua Bakat melakukan perjalanan dengan melesatkan peringan tubuh tanpa henti. Mendapat tugas pertama dari tuannya—setelah sekian lama, ia ingin membuktikan dirinya belum habis. Dari rumah dalam hutan sampai ke perguruan itu hanya membutuhkan perjalanan delapan jam saja.

Sore sudah dijelang, Dua Bakat benar-benar mempraktekkan bakatnya, hanya sekali melihat seorang penjaga, dia bisa menirunya dengan sempurna. Baginya memasuki Perguruan Merak Inggil semudah membalikkan telapak tangan.

Bangunan utama perguruan itu tidak memiliki banyak perubahan dari masa lalu, namun demikian dirinya tak tertarik untuk memperhatikan apa saja yang terdapat didalamnya. Fokusnya haya satu, mencari kolam.

Selama menyusup, Dua Bakat sudah bersalin rupa sebanyak enam belas kali. Pada akhirnya ketekunannya mencari membuahkan hasil, sebuah kolam ikan seluas dua kali tiga meter terletak dibalik rerimbunan pohon trembesi, semak disekitar kolam begitu tinggi. Kalau saja Dua Bakat, tidak memiliki inisiatif untuk menyibaknya, mungkin dia tak pernah menemukan kolam itu.

Dengan terheran-heran, orang ini menyaksikan betapa kolam kecil itu ternyata menimbulkan rasa seram dalam hatinya, akar pohon trembesi yang sudah berusia puluhan tahun, nampak menonjol diantara dinding-dinding kolam, tapi bukan itu yang membuatnya jadi menakutkan, airnya yang jernih menjadikan dirinya bisa melihat sampai dasar kolam. Dua Bakat mengerutkan keningnya, warna dasar kolam itu terlalu muda untuk ukuran lumpur, dan itu tidak bisa mengelabui pandangan matanya, lumpur itu terbentuk akibat serpihan daging yang membusuk; kolam itu merupakan tempat pembuangan mayat, dimasa lalu! Pertanyaannya, masihkah saat ini digunakan? Dua Bakat bahkan tidak mencium adanya bau yang aneh pada kolam itu.

Mencermati situasi lebih dulu, akhirnya Dua Bakat melemparkan batu yang diperoleh dari sang junjungan. Air kolam yang semua jernih lamat-lamat menjadi keruh, dan meski tipis tercium bau seperti belerang. Dua Bakat menjauh dari pinggir kolam, dia masih memperhatikan keadaan sekitar dengan waspada. Sementara desir suara yang aneh membuatnya harus memalingkan wajah kearah kolam.

Dua Bakat terkesip, saat menyaksikan semak-semak disekitar rumput itu layu, bukan layu karena hangus tapi layu karena kehilangan kekerasannya sebagai daya dukung, warna yang makin hijau pada semak itu membuat Dua Bakat terheran-heran. Belasan jenis serangga keluar dari dalam kolam itu, nampaknya batu yang dilemparkan kedalam, mengganggu ketenangan mereka. Dua Bakat memperhatikan pucuk pohon trembesi, satu demi satu burung-burung yang hinggap disana juga mengepakkan sayap pindah kelain pohon, agaknya merekapun merasa terganggu.

Hatinya tidak yakin, apakah dengan perubahan setipis itu akan memberi tanda bagi Anusapatik untuk muncul? Dua Bakat menunggu dengan hati berdebar-debat, dia sudah mengambil tempat persembunyian yang menurutnya paling strategis.

Satu jam berlalu sudah…

“Akhirnya datang juga…” seru sebuah suara mengejutkan Dua Bakat.

Dengan terburu-buru dirinya berbalik dan menyaksikan seorang lelaki tua sudah ada dibelakangnya. Tanpa bisa ditahan keringat dingin menitik didahi, jika saja orang tua itu tak bersuara, sampai saat ini, dia tidak pernah tahu ada orang berdiri dibelakangnya. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan rimbunan pohon, seolah orang itu merupakan bayangan itu sendiri.

“Berikan ini padanya!”

Dua Bakat tidak bisa menegaskan pandangannya untuk mencermati wajah orang itu, setelah melemparkan sesuatu, bayangannya pun menghilang. Betul kata tuannya, mencari orang itu sangat mudah. Pikir Dua Bakat dengan tersenyum getir, harga dirinya yang masih bersisa, kini bagai dihembus angin, dia merasa tidak berguna, hanya sekedar mendeteksi keberadaan orang-pun dirinya tak sanggup. Apa orang itu sehebat tuan? Pikirnya sambil mengambil barang yang dilemparkan padanya, sebuah kain yang membalut sebuah benda, entah benda apa. Dia tak berani membuka sebelum tuannya.

Dia sudah mendengar reputasi Anusapatik, tapi tentang apa dan siapa orang itu, bagaimana kelihayannya, dia tak pernah tahu. Tapi kini Dua Bakat bisa sedikit meraba seperti apa orang itu, orang yang tak bisa dirasakan himpunan hawa saktinya, kalau bukan orang mati, tentu orang itu sudah melampaui tingkatan Nibhawiçâla (menyerupai kilauan), seingat dirinya, ada empat tingkatan dalam menjelaskan tingkat kehebatan himpunan hawa sakti seseorang, namun Dua Bakat hanya mengingat satu nama saja.

Tak mau membuang waktu, orang ini segera bergegas keluar dari Perguruan Merak Inggil. Dua Bakat tidak pernah menyangka, benda yang dilemparkannya itu membuat delapan orang yang lewat disekitarnya mati dengan wajah seperti tercekik, namun tak satupun yang perduli dengan tempat itu. Seolah-olah, kolam yang dikelilingi rerimbunan pohon trembesi adalah wilayah terlarang.

===oOo===

Sebuah rombongan berkuda berjalan santai diantara rerimbunan hutan yang masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Kadungga. Diantara rombongan itu, ada dua orang wanita yang nampak sangat senang dengan perjalanan itu. Salah satu dari mereka memakai atribut sebagaimana pelayan kerajaan pada umumnya, sedangkan gadis satunya memakai baju kuning gading. Rambutnya yang panjang menjela pinggang berkilauan di timpa sinar mentari. Nampak cudaratna (pemata perhiasan yang diletakkan didahi) berwarna biru berkilauan, membuat wajahnya yang memang sudah cantik, menjadi lebih anggun. Di pinggang kanan kirinya ada pedang tergantung rapi.

“Winarsih, temani aku!” seru gadis ini sambil menghela kudanya lebih dulu, masuk hutan lebih dalam lagi. Wanita yang disebut sebagai Winarsih, tersenyum dia menyusul gadis yang menjadi junjungannya.

“Hamba, putri…” sahutnya sambil membedal kuda mengejar gadis itu.

Dengan sendirinya, para pengawal turut membedal kudanya. Hanya ada dua orang paruh baya yang memperhatikan rombongannya berlalu, mereka tidak turut serta.

Tak berapa lama kemudian, gadis itu beserta rombongan sudah kembali. “Guru, lihat apa yang kudapatkan!” serunya pada lelaki paruh baya dengan bibir mengembang senyum manis.

Orang yang di panggil guru oleh sang putri menganggukkan kepala, dia memperhatikan kelinci yang diserahkan muridnya, terlihat seulas senyum tipis, tangannya mengusap sesaat, tubuh kelinci yang meregang kaku itu, tiba-tiba bergerak, kemudian dilepasnya kembali. “Nampaknya kau sudah siap untuk tingkat yang lebih tinggi…”

“Benarkah?” serunya dengan nada riang, suaranya bagai kicau burung yang menyejukkan telinga.

“Tentu… ayahmu, pasti bangga dengan kemajuanmu.” Katanya lagi.

Wajah gadis ini nampak berbinar-binar senang, dia tidak suka berlatih silat, tapi cara yang diajarkan gurunya itu sangat elegan dan tidak kasar, baru berlatih enam bulan saja dia sudah bisa berlari sekencang kuda tanpa lelah. Lebih dari itu, tarian pedang yang dilatih dalam sepekan terakhir secara khusus, telah menampakkan hasil. Dia tidak suka melakukan latihan yang bertujuan menyakiti atau bahkan membunuh, ayahnya pusing setengah mati saat membujuk anaknya supaya mau melakukan latihan. Untung saja kerabat jauh sang ayah—yang kini menjadi gurunya, memiliki metode latihan yang bisa menggugah minat sang putri. Ilmu totok dan peringan tubuh menjadi hal yang paling disuka gadis ini.

Lambat laun, Prawita Sari menyukai seni bela diri yang lain—cuma kodratnya sebagai perempuan yang terbiasa dilayani, menjadikannya palah-pilih dalam latihan, dia enggan berlatih jika itu membuatnya repot. Padahal melatih hawa sakti tidak merepotkan, hanya membutuhkan kesabaran tinggi. Dan itu sangat dihindari Prawita Sari, padahal sang guru menilai anak didiknya sangat berbakat dalam pengolahan hawa murni.

Pagi itu Prawita Sari sedang melakukan serangkaian uji pada ilmu yang dipelajarinya. Sang Guru menyatakan, jika dia berhasil menotok perut hewan yang sedang berlari—dengan pedangnya, maka latihan tingkat berikut akan segera dimulai, tapi jika dirinya gagal, sang putri harus mengulangi selama dua pekan kedepan, sebelum ijin percobaan totokan diberikan.

“Ada beberapa catatan yang harus kau perhatikan; Totokanmu memang halus, himpunan hawa murnimu juga sudah mulai merata, sangat disayangkan kau tak mau menghimpun hawa sakti… kelemahannya cukup fatal, hanya dengan menambah sedikit tenaga pada si korban, dia akan segera terbebas.”

Prawita Sari cemberut, wajahnya yang cantik nampak semburat merah, perkataan sang guru yang terakhir—menyindir kemalasannya, membuat dia malu. “Menyebalkan jika aku harus berdiam diri duduk berjam-jam; hanya untuk berpikir bahwa diperutku seolah-olah ada udara panas yang bergerak mengililingi tubuh… geli, tahu!”

Mau tidak mau sang guru tertawa. “Dasar kau ini…” katanya sambil menggelengkan kepala berkali-kali, “Kita kembali sekarang?”

“Ayolah guru…. Baru sampai sudah mau kembali? Yang benar saja!” sungut Prawita Sari kesal. “Aku ingin, menuju ke pondok peristirahatan.” Katanya tanpa menunggu jawaban sang guru, dia segera membedal kudanya dengan kencang.

Tentu saja Winarsih segera memburu majikannya, dia takut terjadi sesuatu dengan putri, hutan bukanlah tempat yang ramah buat seorang putri yang takut pada serangga dan katak. Dan semua rombongan pun akhirnya mengikuti arah pergi Prawita Sari.

“Anak itu terbiasa dimanjakan!” gerutu sang guru, segera menyusul memasuki hutan. Dia melesat dengan gerak bagai sambaran kilat.

===oOo===

Sembilan Belantara mengikuti kepergian rombongan itu dengan perasaan campur aduk, semua orang bisa dia atasi sendiri, kecuali sang guru dan seorang lelaki lainnya, yang tak bisa dia raba kedalaman hawa saktinya. Itu cukup membuatnya kawatir. Dia segera memencet kepala kumbang kayu yang dipegangnya. Jerit kumbang kayu segera mendenging keras, itu cukup menjadi tanda bagi Dua Bakat dan rekan lainnya untuk bersiap-siap.

—oo0O0oo—

2 Comments (+add yours?)

  1. pirimiri
    Feb 07, 2012 @ 08:41:44

    mumet bcanya gak dr awal. .

    Reply

  2. eds5
    Feb 07, 2012 @ 09:31:50

    Maaf bro, baru blajar bikin blog… :p

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: