Seruling Sakti Jilid 106-110

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

Jilid 106 sampai 110

106 – Domino Effect: Memastikan Kegagalan Rencana

Dua Bakat dan dua orang rekannya sudah melihat rombongan yang kini memasuki tempat persinggahan. Nampak olehnya lelaki paruh baya—yang beberapa saat kemudian diketahui sebagai guru Prawita Sari tengah mengendalikan situasi.

“Tahan, jangan buru-buru masuk!” serunya membuat langkah tiap orang terhenti, meski Prawita Sari terkadang suka membawa adatnya sendiri, terhadap gurunya dia cukup penurut.

Lelaki paruh baya itu memeriksa situasi rumah persinggahan, sejauh ini dia tak menemukan adanya kehadiran orang lain. Tapi itu belum membuatnya lega.

“Ada apa guru?” Tanya Prawita Sari dengan heran.

“Tempat ini pernah didatangi orang.” Katanya singkat, lalu dia menoleh kepada orang sepantaran dirinya. “Kapan tempat ini terakhir digunakan?” tanyanya.

“Satu bulan lalu.” Sahutnya pendek.

Guru Prawitsa Sari mengedarkan pandangan matanya, dia memeriksa pintu masuk bangunan dan menemukan setidaknya ada empat jejak baru. Dua Bakat hampir saja berteriak memaki ketololannya sendiri. Jejak mereka meski samar, namum bagi orang yang bertindak cermat seperti guru sang putri, pasti akan terlacak.

“Apa yang kau temukan?” teman seperjalanan guru sang putri membuka suara.

“Waspadalah! Jejak ini sangat baru. Mereka memiliki peringan tubuh sangat baik, kemampuannya saling mengatasi satu sama lain.” Lelaki itu menoleh, melihat kesekeliling, akhirnya dia menemukan satu titik lubang pada pohon yang memiliki retakan keatas. Dari pintu masuk sampai ke lubang yang ditemukan terpisah belasan langkah, kalau bukan orang ini, mungkin jejak yang dilepaskan murid junjungan Dua Bakat tak bisa ditemukan.

“Mustahil!” gumamnya.

“Apanya guru?” Tanya Prawita Sari mengikuti setiap langkah sang guru.

“Kau lihat titik ini?” ujarnya menunjuk setitik lubang sebesar jari kelingking. “Menurutmu, apa yang membuatnya ada disini?”

Prawita Sari mengamati dengan seksama, lalu katanya. “Lubang ini jelas tidak mungkin dibuat dengan besi dan dipalu, sebab aku tidak melihat adanya jejak disekitar ini. Bagi orang yang memaku, pasti membutuhkan pijakan kaki saat mengayunkan pemukulnya—ini akan menimbulkan bekas. Semisal ditemukan pijakan kakipun, hal ini tidak mungkin dilakukan dengan besi dan pemukul, efek yang ditimbulkan tidak bisa membuat retakan begini teratur dengan bentuk melingkar. Aku tidak tahu cara yang digunakannya, apakah mungkin ada orang yang melontarkan pukulan jarak jauh… ah bukan, maksudku totokan jarak jauh?” pungkas Prawita Sari membuat gurunya tersenyum.

Tidak mengurangi kewaspadaannya, lelaki paruh baya ini memuji kesimpulan muridnya. “Alasanmu masuk akal. Dugaanmu yang terakhir lebih mudah diterima. Perhatikan baik-baik…” katanya masih mengedarkan pandangan matanya kesana kemari untuk sesaat. “Kau tahu kenapa aku berkata mustahil?”

Gadis itu menggeleng.

“Seharusnya caramu berpikir dimulai dari kalimatku…” Kata sang guru, kondisi seperti saat ini akan lebih mudah menularkan pengalaman pada muridnya. “Aku sudah memeriksa sekitar tempat ini, selain empat jejak yang ada dalam rumah, tidak kutemukan jejak lain. Artinya orang yang melepas setitik lubang ini, jelas bukan empat jejak dalam rumah.”

“Kenapa bisa begitu guru?” Prawita Sari berkerut kening memikirkan ucapan gurunya. “Ah, aku tahu…” serunya menjawab sendiri. “mungkin karena untuk melepaskan totokan seperti itu—dengan jarak sekian ini, membutuhkan pemusatan tenaga yang sangat baik, eh… tapi seharusnya ada jejak langkah orang itu disini, maksudku… jejak waktu dia memusatkan tenaganya…” gadis ini bingung sendiri dengan kesimplannya.

“Kau pintar, hanya karena kau belum mengetahui cara menghimpun hawa sakti sajalah maka jawabanmu jadi salah… ada dua cara dalam menghimpun hawa sakti, pertama; himpunannya membuat tubuh menjadi berat dan kokoh—sehingga bisa meninggalkan jejak. Kedua; membuat tubuh menjadi ringan, tapi tidak kehilangan kekokohannya. Pada kasus ini, orang yang melepaskan serangan pada pohon itu, menguasai ilmu yang memupuk hawa sakti dengan cara menghabiskan nafas. Kau harus bersemadi dalam kondisi nafas yang terkuras, sampai akhirnya kau menemukan cara untuk menghabiskan udara di paru-paru tanpa membebani tubuhmu…”

“Sulit sekali.” Timpal gadis ini sambil bergidik, dia tak sampai hati membayangkan dirinya harus belajar sampai seperti itu. Maaf saja, kalau aku disuruh latihan begitu! Pikirnya.

“Singkat kata, keempat jejak yang tertinggal disini, mutlak tidak mungkin melontarkan kemampuan seperti itu. Jadi, kau bisa menyimpulkan; adanya orang lain! Bisa kupastikan dia tokoh hebat. Di seputar kerajaan kita, hanya tiga orang yang memiliki dasar seperti itu.”

“Apa guru termasuk diantara ketiga orang itu?” Tanya Prawita Sari dengan mata berbinar. Sang guru tak menjawab. Gadis ini tak menyerah untuk membuat gurunya mengatakan tentang kemahiran dirinya.

“Orang menyebutmu sebagai Pemisah Hujan, selain kemampuan guru memang luar biasa untuk menganalisa semua masalah, aku tahu kelebihan utama guru bukan cuma itu…” puji gadis ini dengan tertawa-tawa.

Kini, Dua Bakat sekalian tahu, siapa guru sang sasaran, tapi mereka tidak mengenal nama Pemisah Hujan, kemungkinan besar orang itu muncul setelah mereka dipaksa sembunyi dalam Perguruan Lengan Tunggal. Meski mereka tidak mengenal nama Pemisah Hujan, dari caranya menganalisa dan gerakannya yang cekatan, mereka sama-sama mengeluh. Menculik Prawita Sari nampaknya akan menjadi tugas sangat berat.

“Jangan bicara hal yang tidak perlu!” tegur sang guru, tapi gadis itu tak menghiraukannya. Dia malah mengatakan, tidak perlu mempersoalkan siapa yang melepaskan pukulan itu segala, toh saat ini tidak ada apa-apa… kalau saja gurunya tidak melotot padanya, Prawita Sari masih saja berkicau.

Ternyata guru Prawita Sari adalah salah satu sesepuh dari Perguruan Naga Batu, seperti yang dikisahkan sebelumnya. Sang Raja memiliki kekerabatan dengan guru putrinya, jalur kekerabatan ini bermula dari adipati Cakra Sapta sang pendiri Perguruan Naga Batu, adalah kakak dari Raja Kadungga pada masa itu. Seharusnya Cakra Sapta menjadi pewaris tahta Kadungga, tapi dia lebih memilih mengurus satu wilayah kecil saja. Dan sejak saat itu Kota Pagaruyung menjadi kota dengan otonomi khusus, dan Adipati Pagaruyung memiliki hak untuk memberi pertimbangan langsung kepada raja. Lazimnya guru-murid yang memiliki selisih usia jauh dengan murid, pada Pemisah Hujan tidak demikian, dia memiliki murid yang beda usianya hanya berselisih enam tahun, mereka adalah Arseta dan Baraseta. Kadang ketiganya seperti kakak beradik, tapi karena status Pemisah Hujan sendiri sebagai keturunan langsung pendiri Perguruan Naga Batu, kekuasaannya sangat besar dalam menentukan maju tidaknya perguruan itu, tapi sampai sejauh ini dia lebih suka menjadi pengawas.

“Kemudian, bagaimana guru?!” desak muridnya menunggu ulasan sang guru.

Pemisah Hujan mencermati lantai kayu di depan pintu masuk, debu disekitar situ lebih banyak dari sisi lain. “Tenaga yang dipancarkan menyedot udara disekitarnya dengan sangat halus, debu yang terkumpul disini sangat alami—tidak tercecer,” katanya seraya terdiam sesaat. “Aku menarik pernyataanku tadi; belum tentu di wilayah kerajaan kita ada yang memiliki kemahiran sampai tingkat seperti ini.” Katanya dengan suara dalam.

“Dia mengarahkan serangannya dari jarak ini…” Pemisah Hujan berjalan menuju pohon, dan menghitungnya. “Tepat enam belas langkah.” Katanya seraya kembali kedepan pintu. Lalu tangannya mengibas.

Crap! Satu lobang tercipta tepat di sebelah lubang yang ada. Lubang itu tidak menciptakan retak yang melingkar keatas, hanya lurus tanpa berkelok.

Brak! Satu ranting jatuh berderak terkena efek kibasan Pemisah Hujan. Lelaki ini nampak termangu-mangu.

“Guru?” tegur Prawita Sari menyentak kesadaran sang guru.

“Tenaga orang itu bisa diatur sesuka hati… dia sangat hebat dalam permainan jari, tiap ruasnya mengedutkan besaran hawa sakti berbeda hingga membuat pukulan bisa berkelok membuat pola yang dia kehendaki.” Pemisah Hujan meneruskan analisanya. “Aku tidak tahu, kedatangan dia kemari untuk menemui empat orang yang pernah hadir disini, atau untuk mengancam?” gumamnya dengan mata nyalang memperhatikan situasi.

Dua Bakat merasa tenggorokannya kering, tiap kalimat yang diucapkan orang itu membuat detak jantungnya mengencang—sebab hampir seluruhnya benar. Sebisa mungkin dia dan rekannya mengendalikan perasaan—takut si Pemisah Hujan mengetahui persembunyiannya.

“Kita kembali!” perintahnya dengan tegas.

“Tapi, guru?!” protes Prawita Sari.

“Jangan membantah!” tegasnya. “Aku tidak mau mengambil resiko. Jika orang-orang itu tak berniat baik, maka kaulah sasaran yang paling diincar!”

Mulut mungil Prawita Sari terkunci, dia hanya bisa cemberut dan menoleh kearah Winarsih. “Sekali-kali keluar, hanya berkuda sebentar saja… tidak menginap sama sekali.” Gerutunya.

“Sabarlah putri, mengingat kondisi dan letaknya.. tempat ini jelas tidak cocok untuk anda..” kata wanita yang sudah matang ini menghibur.

“Darimana kau tahu itu?”

Dengan tersenyum antara geli dan kasihan, Winarsih menjawab. “Di sepanjang jalan yang tuan putri lewati, banyak katak bertebaran…”

“Ih!” jerit si gadis bergidik, membuat orang-orang tersenyum. “Ayo kita pulang!” katanya buru-buru.

Keputusan yang dilakukan Pemisah Hujan membuat Dua Bakat kehilangan akal untuk sesaat. Benar-benar tidak disangka, sedikit jejak bisa berbicara banyak. Menghentikan mereka secara paksa, jelas tidak mungkin dilakukan. Dia segara berpikir keras. Dua Bakat melihat di bagian belakang rombongan seorang prajurit menghela kudanya lebih lambat. Tidak berpikir panjang, dia segera bersiap menyergap.

Dua Bakat memberi isyarat pada rekannya untuk bersiap untuk mengganggu, memecah perhatian mereka. Lelaki ini memperhitungkan, setelah konsentrasi Pemisah Hujan dan kawannya diganggu dengan serangan mendadak, dia bisa bertindak leluasa. Sementara Sembilan Belantara akan mengganggu kuda tunggangan mereka untuk lari kearah yang telah mereka persiapkan. Bukan tanpa alasan julukan Sembilan Belantara disematkan pada lelaki beruban ini, kondisi hutan dan seluk beluknya, dia memahaminya secara mendalam. Kuda yang memiliki kekang, memang bisa berlari atas kehendak yang penunggangnya, tapi jika kuda lepas kendali?

Lima-empat-tiga-dua, lalu langkah terakhir… kuda-kuda itu telah melewati bubuk yang sudah ditebarkan oleh Sembilan Belantara. Bukan bubuk beracun, hanya lada dengan cabai kering… nafas kuda yang dipacu kencang, akan membuatnya memiliki daya sedot amat kuat saat menghirup udara, apa lagi pada saat itu kepala kuda menunduk lebih rendah, debu-debu bubuk cabai dan lada tersedot masuk kehidung, dan membuatnya tersendak. Meringkik dengan kaki depan terangkat. Kuda serupa manusia, kondisinya juga bisa dibilang sama dengan yang dialami manusia saat tersendak cabai—batuk-batuk tak karuan. Bedanya, kuda-kuda itu melampiaskan dengan cara membuang beban di punggungnya.

Pemisah Hujan menyadari situasi ini tidak wajar, dengan cekatan lelaki ini melompat dari punggung kuda, dan menepuk leher kuda yang ditunggangi muridnya. Dia tidak memikirkan orang lain, prioritas pertama adalah sang murid.

Kekacauan akibat kuda yang gila sesaat itu bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Dua Bakat, pengawal pada urutan paling belakang segera disergap. Tidak membutuhkan banyak waktu untuk melepas baju pengawal itu, Dua Bakat sudah melolosinya dengan singkat.

Di dunia persilatan, banyak orang yang ahli menyamar, Kepalan Arhat Tujuh selain ahli di bidang ilmu pukulan juga merupakan maestro dalam penyamaran, tapi satu-satunya ahli yang sanggup menyamar secara sempurna dalam tempo singkat, hanya Dua Bakat orangnya. Kali ini kuda yang semula ditunggangi pengawal itu telah berganti orang, sangat mirip dengan aslinya.

Kekacauan akibat gilanya kuda-kuda dapat diatasi, situasi sudah bisa dikendalikan. Pemisah Hujan memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan perlahan, sepertinya pada jalan-jalan yang akan dilalui ada banyak ‘penyakit’ serupa. Dan memang, kuda-kuda mereka berubah jadi liar dalam tempo hampir berurutan. Mengherankan, padahal sebelumnya mereka melewati jalur itu, tapi saat kepulangannya ada kendala yang tak terduga.

“Lebih baik kita melewati jalan yang lain.” Kata lelaki paruh baya disebelah Pemisah Hujan.

“Tidak!” jawabnya pendek, “idemu, adalah hal yang mereka inginkan…”

Baru saja, ucapan itu dikatakan, kuda mereka mengamuk lebih hebat, kekacauan itu membuat Pemisah Hujan dan rekannya bekerja cepat melumpuhkan kuda-kuda mereka.

Di saat yang bersamaan, Dua Bakat juga tengah bekerja…

“Bibi…?!” Prawita Sari memanggil berulang kali. “Ada yang lihat kemana bibi Winarsih?” teriaknya lagi, dan itu cukup menyentak kesadaran Pemisah Hujan, ada yang tidak beres. Tidak disangka bukan sang putri yang diincar, tapi malah Winarsih?

“Guru… kita harus cari bibi!” rengeknya tanpa menyadari situasi sudah berubah.

Pemisah Hujan baru menyadari ada satu orang pengawalnya yang berkurang, dan kali ini pembantu sang murid. Wajahnya menjadi beku, dia mengerti apa yang sedang terjadi, tapi tidak berupaya untuk menghentikannya. Karena dia lebih suka menangkap si pengganggu. Dalam benaknya sudah terpeta dengan jelas, pola kerja seperti ini, dilakukan oleh siapa.

“Tenanglah, dia akan kembali…”

Tidak berapa lama kemudian, nampak Winarsih keluar dari balik rimbunan pohon, sesaat dia sedang membenahi bajunya. Prawita Sari menyadari pelayannya baru membuang air. Tanpa suara, Winarsih nampak mengatakan ‘maaf’ sambil tertunduk. Dengan ekor matanya, Pemisah Hujan juga menyadari pengawal yang tadi hilang sudah kembali sambil menarik kuda dengan bersusah payah, nampaknya tadi dia mengejar hewan itu.

Pemisah Hujan tidak menampilkan reaksi apapun diwajahnya. “Lanjutkan perjalanan.” Katanya singkat. Dia berjalan paling belakang, sementara rekan sebayanya mengawal di depan. Sambil menuntun kudanya, Pemisah Hujan berjalan mendekati Winarsih. Hanya melewati saja, namun tiba-tiba jemarinya mencengkeram kearah payudara wanita itu.

Prawita Sari menjerit melihat tindakan sang guru, lebih-lebih Winarsih yang tidak menyangka tindakan itu, dia hanya memejamkan mata… ternyata cengkeraman itu tidak pernah sampai di tubuhnya.

“Hati-hatilah…” gumam Pemisah Hujan, ditangannya ada seekor ular hijau. Kepalanya hancur dijepit oleh jemari lelaki paruh baya itu. Entah darimana datangnya ular itu, tahu-tahu saja sudah menyelinap ke balik baju Winarsih.

Dengan wajah pucat wanita itu mengiyakan dan berterima kasih, tindakan Pemisah Hujan tak lepas dari para pengawal lainnya yang menatap dengan tegang. Mereka tidak menyadari rekan Pemisah Hujan tahu-tahu sudah menghilang bersama kudaya. Keheranan itu baru terpecahkan, saat perjalanan hampir mencapai ujung hutan, ternyata orang itu sudah menunggu disana.

Melihatnya, membuat Pemisah Hujan tersenyum, jemarinya kembali mencengkram Winarsih, kali ini mengarah wajah dengan deru angin menggidikkan. Bagi orang yang memiliki ilmu setinggi Pemisah Hujan, serangan yang dilakukan boleh dibilang berlebihan, untuk menjangkau lawan yang hanya dua langkah disampingnya, dia tidak perlu mengerahkan tenaga sampai menggebu suara.

Tapi kali ini Pemisah Hujan tidak menarik serangannya lagi, Winarsih-pun menyadari serangan itu bisa mencabut nyawanya. Pemisah Hujan tidak memperhatikan apakah wanita itu akan menghindar, lelaki ini lebih memperhatikan para pengawal lain, dan memang benar… serangannya itu, membuat dua pengawal lainnya menyerang dia, sementara Winarsih berhasil menghindar, dan melompat mendekati Prawita Sari, jemarinya meraih lengan tangan gadis itu!

Tapi alangkah kagetnya, saat tangan sang gadis menghindar balas mengibas kearah wajah Winarsih. Kibasan itu tidak mencerminkan kesan bahwa hawa sakti si gadis yang masih cetek, serangan itu menghimpunan tenaga yang sangat kuat. Winarsih berseru kaget, apalagi saat melihat dua orang rekannya juga terdesak hebat dibawah gempuran Pemisah Hujan. Dia bersuit dan segera mengundurkan diri, dua orang penyerang lainnya pun mengikuti tindakan itu. Beberapa gumpal benda dibanting, menyebabkan asap kelabu beraroma pedas. Prawita Sari nampak mengibaskan tangan berulang kali, dalam sekejap asap kelabu terhempas sirna, dan orang-orang yang menyamar itupun turut sirna. Situasi agak gaduh saat menyadari akibat yang ditimbulkan asap itu membuat mata pedih.

“Basuh kelopak kalian dengan ludah!” buru-buru Pemisah Hujan mengingatkan. Dia tidak berminat mengejar mereka, justru menyongsong rekannya yang sedang menunggu diujung hutan.

“Guru, permainanmu sangat menarik!” seru ‘sang rekan’ yang membuat beberapa pengawal tersisa terkejut.

Ternyata entah sejak kapan sang rekan, sudah berganti menjadi Prawita Sari, dan orang yang menjadi ‘Prawita Sari’ tentu saja adalah rekan Pemisah Hujan.

“Sejak kapan guru menyadari ada orang yang mengincar diriku?” Tanya gadis itu.

“Setelah aku menemukan keanehan di rumah singgah,” jawab gurunya. Dia memandang berkeliling, beberapa orang terlihat muncul dari balik pohon, mereka tidak mendekat hanya memperhatikan Pemisah Hujan. “Apa yang kalian temukan?”

“Tidak ada jejak, kecuali kami menemukan wanita dan tiga orang pengawal yang dilumpuhkan.” Sahut orang itu, dan mereka kembali lenyap di balik rimbunan pohon. Sudah menjadi kewajaran jika kemanapun sang putri melangkah, ayahnya akan mengirimkan orang-orang paling baik untuk melindungi, baik secara terang-terangan atau tersembunyi.

“Ada satu orang yang tidak muncul…” gumam Pemisah Hujan.

“Dia tentu berpikir ulang saat melihatmu bisa menguraikan keadaan di rumah singgah itu.” Sahut rekannya yang sudah mengganti riasannya.

“Apakah dari awal guru tahu, ada orang yang memalsu pengawal?” Tanya Prawita Sari penasaran.

“Tidak. Aku hanya mengenal ada aroma tubuh yang berbeda. Jadi, sudah jelas itu bukan orang kita … sederhana sekali.” Cetusnya membuat sang murid manggut-manggut. Pantas saja sang guru sempat mengendus tiap orang sebelum mereka berangkat. Rupanya itu caranya ‘mengenal’ orang.

Pada saat Dua Bakat masuk dalam rombongan, Pemisah Hujan menyadari ada orang asing bersama mereka. Manakala kuda-kuda mereka meronta, dan keadaan menjadi ricuh dia memberi isyarat kepada rekannya untuk bertukar posisi dengan Prawita Sari—keadaan itu dilakukan bertepatan dengan masuknya Empat Serigala dan Tujuh Ruas menggantikan posisi para pengawal lain yang sudah mereka lumpuhkan, dan dilempar kedalam semak. Sang murid merasa permainan ini menarik, diapun segera melakukan perintah gurunya, sementara rekan Pemisah Hujan cukup berkuda didepan Winarsih dengan atribut yang dikenakan Prawita Sari, dia tidak perlu menyamar, cukup menutup wajahnya dengan selendang—seperti kebiasaan wanita bangsawan pada umumnya. Sebelumnya, Pemisah Hujan sangat keberatan dengan pengawalan tambahan yang dilakukan oleh sembilan prajurit dibawah perintah ibu muridnya, tapi dengan kejadian ini, dia malah bersyukur, muslihatnya bisa berjalan dengan baik. Masing-masing pihak saling mengatur cara untuk menjebak satu sama lain, tapi kesudahannya tak satupun dari mereka yang mendapatkan hasil.

Sembilan Belantara menyaksikan dari kejauhan berlalunya rombongan itu, dia sudah bersusah payah menyiapkan jebakan pada jalanan yang lain. Tapi apa boleh buat, jebakannya tak sempat digunakan. Pemisah Hujan terlalu cerdas untuk terpancing kedalam siasatnya.

Dia kembali ke pondok persinggahan, masuk begitu saja. ketiga temannya pun sudah ada disana, duduk terpekur. Bagi orang lain, kegagalan rencana yang didapat tadi cukup untuk merontokkan semangat, tapi tidak bagi mereka. Keempat orang itu selain memiliki perhitungan jitu, juga menguasai psikologi lapangan. Jika orang lain akan beranjak jauh-jauh dari pondok itu, mereka justru kembali kesana. Logikanya mudah, seorang pencuri tidak akan bersembunyi di rumah yang dia curi. Tinggal membalik kebiasaan itu, sudah cukup bagi mereka untuk mengelabui banyak orang. Yang mereka kawatirkan hanya satu, kegagalan ini apakah bisa ditoleransi?

Dua Bakat meraba pinggangnya, disana ada benda titipan dari Anusapatik yang akan diberikan pada tuannya. Pikirannya melayang, dia masih terngiang kalimat tuannya, bahwa; alasan muridnya menggunakan jasa mereka adalah karena namanya sangat berharga? Tapi berharga untuk siapa? Dua puluh tahun cukup untuk mengubur kenangan buruk tentang mereka, adakah yang masih mengingatnya hingga sekarang? Siapa dia? Pusing kepala Dua Bakat memikirkan itu.

“Kalian gagal…” sebuah suara mengejutkan mereka. Lelaki gagah perkasa itu sudah duduk di belakang mereka tanpa disadari kehadirannya. “Aku ingin mendengar setiap detail laporanmu…”

Menata debar jantungnya yang tak teratur, Dua Bakat menghirup nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menuturkan semua yang dilihat dan didengarnya.

“Bagus! Bagus! Bagus!” berturut-turut lelaki itu memujinya. Tadinya mereka pikir akan ada kemarahan atau nada sinis, ternyata tidak. Suara orang itu seperti sedang. Tentu saja mereka tak mengerti apa maksudnya. “Aku memang sudah menyangkanya, jika orang itu ikut, kau tak akan berhasil! Lebih dari itu, aku hanya memastikan saja… aku hanya memastikan saja… bagus sekali!” katanya berulang-ulang

“Jadi, bagaimana?” Tanya Dua Bakat merasa marah, tapi ditahannya perasaan itu. Dia cukup sadar, kemampuannya belum bisa memadai murid tuannya.

“Tidak ada apa-apa lagi…”

“Maksudnya?” Dua Bakat benar benar tidak mengerti perilaku orang itu.

“Untuk saat ini, tak ada yang harus kau lakukan. Tapi terhitung satu bulan dari sekarang menculik Prawita Sari adalah keharusan!” kata lelaki perkasa ini dengan nada dalam, senyumannya sudah menghilang dari bibirnya.

Dua Bakat ternganga, “Tapi.. Tapi…”

“Saat ini dan esok hari tentu berbeda. Aku cukup mengenal reputasimu, dan untuk yang berikutnya aku tidak ingin mendengar berita kegagalan!” dari tempat duduknya lelaki ini menggerakkan tangan seperti melambai, akibatnya luar biasa… keempat orang yang memiliki kemahiran hebat itu tersedot seperti daun kering, mereka tidak sempat mempertahankan diri, karena semua itu begitu mendadak.

Tap-tap! Sebuah totokan bersarang di ulu hati masing-masing.

“Uhhuk…” empat orang itu terbatuk-batuk sampai rasanya ingin muntah, tapi tak bisa juga, yang keluar hanya dahak. Perut rasanya kembung, dan rasa pahit menjalar ke tenggorokan.

“Apa yang kau lakukan?!” seru Dua Bakat masih terbatuk-batuk.

Lelaki itu tersenyum, “Bukan apa-apa, hanya kuberikan cara supaya kalian menghamba padaku dengan ikhlas.”

Mereka saling pandang, tiap orang memiliki perasan yang sama: ‘penjara’ lama mereka tenyata lebih menyenangkan.

“Kalian akan tergantung padaku, tiap dua minggu sekali… kalian harus menjumpaiku untuk sedikit melonggarkan ikatan pada jantung.”

Nasi sudah menjadi bubur, perkataan lelaki itu membuat mereka serasa mengalami dêjavû, ya… pada masa lalu pemilik Pedang Tetesan Embun juga mengancam mereka dengan hal semacam itu, bedanya; dia menginginkan supaya mereka terpojok dan tidak banyak melakukan banyak hal—jika tak ingin mengatakannya sebagai bertobat. Kalau dibandingkan dengan lelaki ini, prilaku pemilik Pedang Tetesan Embun jauh lebih baik.

“Di..dimana kami bisa menemukanmu?” Tanya Sembilan Belantara.

Lelaki itu tertawa pendek. “Kalian bisa mencari jejakku dengan upaya yang keras.” Dengusnya datar.

Rupanya kedatangannya kali ini hanya untuk ‘mengikat’ empat orang itu, tanpa memberi kesempatan Dua Bakat sekalian untuk bertanya, bayangannya sudah lenyap ditelan temaram sore.

“Semoga tuan bisa menolong kita…” gumam Tujuh Ruas merasakan perutnya mulai penuh dengan angin, dan hampir bersamaan mereka berempat melepas kentut, makin banyak kentut, makin membuat perasaaan lega. Nampaknya bunyi ‘dut-pret’ yang saling bersahutan, akan bertahan cukup lama.

—oo0O0oo—

107 – Domino Effect : Tugas Aneh

Pagi hari sudah dijelang, Dua Bakat sekalian sudah bangun dengan perasaan yang tidak nyaman, selain perut masih berasa kembung, tenggorokan juga terasa lebih pahit.

“Kalian sudah bangun?” sebuah suara menyapa, membuat mereka bergegas bangun.

“Tuan…” serempak mereka menyapa orang tua berwajah teduh itu.

“Bagaimana dengan tugasmu?”

Dua Bakat merapikan bajunya sesaat, lalu dia mengisahkan semua kejadian dari awal sampai akhir. “… begitulah, ternyata murid tuan hanya bermaksud melihat situasi, saya pikir semula dia ingin melihat kesigapan para pengawal gadis sasarannya, tapi saya kira bukan seperti itu tujuannya.”

Orang tua itu terlihat diam sambil termenung, semua langkah ‘murid’ yang sudah diajari banyak hal tentang pengetahuan milik keluarganya, membuat dia bangga berbareng kecewa. Dia bangga melihat lelaki itu bisa mengembangkan ilmu totokan yang amat rumit menjadi sebuah kemahiran yang sangat khas, dan itu hanya dimiliki dia sendiri—itu bisa dilihat dari jenis totokan yang menimpa Dua Bakat sekalian. Tapi disisi lain, dia kecewa karena orang itu tak lagi bisa dikendalikan.

“Kalian lakukan saja apa maunya, itu akan menguntungkan bagiku untuk mencari strategi untuk menghentikannya.”

Dua Bakat mengiyakan. “… apakah tuan dapat menyembuhkan totokan ini?” tanyanya berhati-hati.

Lelaki itu itu sudah menyangka anak buahnya akan bertanya begitu. “Sayang sekali, aku tidak dapat… totokan yang menimpa kalian adalah kemahiran khas keluarganya. Aku tidak menguasainya.” Tentu saja jawaban itu hanya untuk menyelamatkan mukanya sendiri, pada hakikatnya dia kurang percaya diri untuk membuka totokan yang bersumber dari ajarannya—tanpa membuat Dua Bakat sekalian menderita atau mati.

Lelaki tua itu memberi isyarat supaya selain Dua Bakat untuk keluar, tanpa membantah ketiga orang itu keluar. “Apa yang kau dapatkan dari Anusapatik?” tanyanya setelah dalam ruangan hanya tinggal mereka berdua.

“Ini tuan…” Dua Bakat menjawab sembari mengangsurkan benda yang dia dapatkan dari Anusapatik.

Lelaki tua ini melihat barang itu dengan termangu sesaat, sebuah helaan nafas yang sarat makna mengiringi jemarinya saat membuka bungkusan. Dua Bakat bisa melihat, ternyata dalam bungkusan itu hanya potongan-potongan besi, segumpal rambut, dan gagang pisau serta lipatan kulit yang diduga berisi surat. Dua Bakat memperhatikan tindak tanduk tuannya yang dirasa cukup aneh, sebab dia juga mengeluarkan bungkusan serupa dari balik bajunya. Caranya membungkus dan warna bungkusan itu sama persis. Dua Bakat tidak tahu, entah maksud apa yang tersembunyi di balik itu semua. Sang tuan membuka bungkusannya sendiri, isinya: kepingan kayu dengan lekukan bermotif segi lima terpahat didalamnya, ikat rambut, sarung pisau, dan lipatan kulit.

Masing-masing lipatan kulit itu dibentang dan disatukan satu sama lain, Dua Bakat bisa melihat jika itu adalah gambar peta. Terlihat seulas senyum di bibir tuanya.

“Kau siap dengan tugas kedua?”

Dua Bakat tergagu dengan pertanyaan sang tuan. “Apakah itu memakan waktu?” sahutnya dengan terbata.

“Tergantung caramu kerja…” ujarnya menjawab dengan sedikit tidak senang.

“Mohon ma..maaf tuan, bukan bermaksud menolak…” katanya buru-buru menyadari nada ketidaksukaan sang tuan. “Masalahnya, tiap dua minggu saya harus menjumpai murid tuan untuk melonggarkan akibat totokannya…”

Lelaki tua ini menyumpah dalam hati, dia tidak menyangka orang yang pernah diharap menjadi kaki tangan paling diandalkan, ternyata menjadi salah satu batu sandungannya. “Kau bisa gunakan teman-temanmu untuk melajak jejak muridku. Toh tugasmu untuk menculik Prawita Sari masih satu bulan lagi.” Katanya seolah tidak perduli.

“Ba-baiklah…” katanya dengan nada apa boleh buat. “Apa yang ingin tuan tugaskan?”

Lelaki tua berwajah teduh itu memasukkan potongan-potongan besi yang didapat dari Anusapatik ke dalam kayu yang terlihat seperti cetakan itu. Ternyata potongan besi itu dengan sempurna mengisi legokan berbentuk segi lima dalam kayu itu. “Serahkan benda ini pada kasir bendahara kerajaan.”

Sambil menerima kayu yang sudah diisi potongan besi Dua Bakat mengeluh dalam hati, untuk menyerahkan benda itu, tidak semudah kelihatannya. Paling tidak dia harus menyamar belasan kali sebelum sampai ke hadapan kasir. Pekerjaan itu bukan hal yang menyulitkan buatnya, tapi mengamati situasi untuk mendapatkan samaran yang tepat saat menjumpai si kasir, jelas masalah yang lebih pelik.

“Berikan ini, pada petugas pengurus bendungan.” Lelaki tua itu memberikan gumpalan rambut yang sudah diikat rapi oleh ikat rambut tuannya.

Dua Bakat mengiyakan, dia cukup tahu bendungan yang dimaksud tuannya.

“Terakhir, kau cari sebuah besi yang pas dengan sarung dan gagangnya di Pasar Larih, lalu kau minta tukarkan itu dengan sebatang pisau dapur.”

Dua Bakat manggut-manggut. “Tuan, boleh saya bicara?” ujarnya ragu, di masa lalu perintah tuannya tidak boleh dibantah, dan ditanyakan.

Wajah lelaki tua ini nampak membayangkan kemarahan, namun hanya sedetik saja. Dua Bakat tidak menyadari itu. “Kau mau bertanya?”

“Betul tuan, ma-maaf jika saya harus bertanya. Apakah saya harus melakukan ini sesuai urutan? Atau saya lakukan lebih dulu mana-mana yang lebih mudah?”

“Mana yang menurutmu mudah, lakukan saja.” jawab sang tuan singkat.

“Ma-maaf tuan… selama dua puluh tahun otak ini tidak dipakai dengan semestinya, saya kawatir banyak pertimbangan yang menjadi tumpul. Apakah tidak ada tindakan lain yang harus saya lakukan daripada yang sudah disebutkan tadi saya berharap, semua tindakan tidak lagi ditafsirkan ulang… khawatir otak saya tidak sanggup lagi. Malah membuat rencana tuan gagal…”

Lelaki tua itu tertawa pendek. “Tidak, lakukan saja seperti yang kukatakan. Setelah kau melakukannya, kau tinggal menanti di tempat ini. Aku akan datang dengan tugas terakhir, selanjutnya, kau bebas!”

Dua Bakat terkesima, tapi diapun menyadari bebas dari sang tuan, bukan berarti bebas dari muridnya… benar-benar ucapan tidak berguna. Tentu saja dia tidak akan menyampaikan keluhan itu pada tuannya. Hanya sebuah keluhan yang tersimpan dalam hati.

“Terima kasih.” Hanya itu yang bisa diucapkannya, sepasang matanya menatap tubuh tua sang majikan yang lenyap dari balik pintu. Hatinya terasa sangat gundah. Pagi itu dia mengatur segala sesuatunya untuk melacak jejak murid sang majikan. Semuanya diserahkan pada ketiga rekannya, sementara dia sendiri harus melakukan semua tugas yang gampang-gampang susah dari sang tuan.

===oOo===

Semua tugas yang diperintahkan sang majikan, seluruhnya ada di dalam Kota Skandhawara—Pusat Pemerintahan Kerajaan Kadungga, menurut Dua Bakat ini sebuah keberuntungan. Sebelum memasuki pusat kota, menuju kearah timur ada Bendungan Çubham, memang tidak keliru dinamakan seperti itu, karena berarti; kebahagiaan. Bendungan Çubham mendatangkan kebahagian bagi semua penduduk, baik dia berprofesi sebagai: nelayan, tukang pancing, pencari pasir, sampai petani, semua merasakan manfaat dari Bendungan Çubham.

Konon, arsitek yang membangun Bendungan Çubham didatangkan dari Negeri Majusi, bangsa yang kebanyakan penduduknya menyembah matahari. Pembangunan bendungan itu sendiri memakan waktu hampir sepuluh tahun, mengingat sungai yang dibendung begitu deras. Dua Bakat melihat dari tepi sungai kemegahan bendungan itu, sebuah bangunan yang melintang sepanjang 75 tombak (150 meter) dengan ketinggian hingga 15 tombak, lebar bendungan itupun membuatnya berdecak, 5 tombak. Entah berapa banyak tenaga dan biaya yang di butuhkan untuk membangun sebuah karya yang sangat bermanfaat itu.

Mata Dua Bakat jelas lelah memperhatikan orang-orang yang sekiranya akan dia berikan barang titipan tuannya. Empat kali dirinya menyamar untuk bertanya siapa gerangan petugas pengurus bendungan, ada dua jawaban berbeda, tapi ada tiga orang menjawab lebih banyak pada satu nama, dan dia memutuskan untuk menunggu orang yang bernama Tusarasmi. Hampir saja Dua Bakat tertawa saat menyadari itu adalah nama seorang lelaki. Tusarasmi berarti bulan, lebih cocok digunakan untuk wanita. Persetan amat! Yang penting tugasku selesai. Pikir Dua Bakat sambil berjalan memasuki penjagaan yang ada di seputar bendungan.

Kalau saja bukan Dua Bakat yang masuk, mungkin prosedur yang dilakukan para penjaga akan membuat siapapun kewalahan. Tapi wajah yang digunakan Dua Bakat memang sangat familier bagi para penjaga, tentu saja tak satupun yang mempersulit lelaki yang kali ini sedang menyamar sebagai petugas ransum.

Begitu masuk, tanpa menjumpai kesulitan berarti; Dua Bakat berhasil menjumpai Tusarasmi, barulah dia paham kenapa orang itu dinamai ‘bulan’, sebab wajahnya kelewat bundar, pipinyapun montok, saat tersenyum matanya terpejam ditelan lekukan pipi yang mengembang. Sekilas orang itu terlihat sangat ramah, tapi Dua Bakat tak bisa dibohongi dengan penampilan semacam itu, hawa orang yang sering membunuh dengan yang tidak pernah, bisa dia bedakan dengan sangat jelas. Dan orang itu benar-benar membuat bulu kuduk Dua Bakat meremang. Satu pertanyaan besar kembali timbul di benaknya, kenapa tuan harus menghubungi orang-orang semacam itu? Tapi Dua Bakat tak sanggup menduga apa yang akan dilakukan tuannya, dari pada pusing memikirkan, dia lebih suka mengerjakan tanpa berpikir!

“Oh, kau… ada apa?” Tanya Tusarasmi dengan suara yang membuat Dua Bakat ingin segera berlalu dari tempat itu, suara lelaki gemuk berwajah bulat itu, persis suara wanita, sayangnya lebih melengking dan persis tikus terjepit pintu!

Dua Bakat tak menjawab sepatah katapun, dia menyerahkan sebuah bungkusan dari kain, didalamnya terdapat rambut yang sudah diikat rapi. Tusarasmi menerimanya dengan alis menjengit, diperhatikan wajah ‘anak buahnya’ sekilas, lalu dia membuka perlahan.

Bukan ekspersi terkejut yang dilihat Dua Bakat, melainkan tawa yang amat lebar, membuat Dua Bakat mengira orang itu bisa memakan buah kelapa sekali telan.

“Bagus! Bagus!” katanya entah berapa belas kali, lalu dari laci mejanya dia mengeluarkan kain hijau, dan membungkus rambut itu. Begitu selesai, dia membuang bungkusan berisi rambut itu keluar jendela. Lontarannya ringan, tapi Dua Bakat bisa menyaksikan lontaran itu disertai dengan desakan hawa sakti yang cukup besar, membuat kain yang berbobot ringan itu terlontar jauh, sebelum akhirnya jatuh dan hanyut dibawa arus sungai.

Tidak menyaksikan lebih lanjut, Dua Bakat segera memutuskan untuk pergi.

“Tunggu!” lengking suara itu membuat langkah Dua Bakat terhenti. Lagi-lagi si wajah bulat itu mengeluarkan sesuatu dari lacinya. “Gunakan ini saat kau mengambil barang paling sulit!” sebuah benda dilemparkan dengan lambat ke hadapan Dua Bakat, tidak ada pilihan lain selain harus menyambutinya. Sebuah bola berwarna hitam dengan permukaan yang sangat kasar, benda itu tidak besar, hanya seukuran jempol kaki. Dan itu sangat mirip dengan bola kabut asap yang pernah dia lemparkan pada Pemisah Hujan. Hanya saja, benda dari si wajah bulat itu, bobotnya lebih berat.

Dua Bakat mengangguk tanpa berkata apa-apa. Beberapa saat kemudian dia sudah berada jauh dari bendungan megah itu. Langkah kakinya sudah membawanya ke sebuah pasar. Dua Bakat sudah pernah ke tempat itu sebelumnya, itu terjadi sudah begitu lama. Dan Pasar Larih nampaknya belum banyak berubah, kecuali beberapa penambahan bangunan kecil di sayap barat.

Dia tahu—kalau belum pindah, penjual besi, tosan aji, benda-benda kebutuhan sehari-hari ada tepat di pojok kiri pasar, tempat paling jarang diinjak orang. Maklum saja, tidak setiap hari orang membeli pisau dapur.

Satu los bagian belakang pasar di pojok kiri, hanya terdapat empat pande besi, satu kios yang menjual tosan aji tampak sudah tutup. Siang itu, suasana cukup ramai, sedikitnya ada belasan orang sedang memilih-milih barang. Dua Bakat memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah kedai kecil di luar pintu keluar pasar, dia memesan teh.

Matanya berkeliling menyapu mencari bangku kosong, sayangnya hanya tinggal satu, apa boleh buat Dua Bakat mengambil tempat itu, kebetulan di seberang meja seorang pemuda sedang asik menyantap hidangan ayam bakar.

“Silahkan?” pemuda itu menawari Dua Bakat, membuat lelaki yang sudah terbiasa sendiri dan dalam dua puluh tahun terakhir ini bahkan tak pernah bermasyarakat, tergagu sejenak. Kebaikan yang sangat alami dari kaum awam cukup menyentuh hatinya, dengan mengangguk seraya tersenyum, dia tidak berkata apa-apa.

“Kedai ini memiliki masakan panggang terbaik,” ujar pemuda itu masih sambil mengunyah. “Tuan, saya sarankan anda memesan nasi campur dengan ayam panggang… sambalnya enak sekali..” berkata begitu, pemuda ini melambaikan tangannya. “Pelayan, dua porsi lagi!” katanya. “Aku mentraktirmu…”

“Jangan!” seru Dua Bakat terkejut melihat betapa luwesnya pemuda itu, keramahan yang tak pernah dirasa itu membuatnya lupa menaruh waspada.

Pemuda itu nampak tertegun, penolakan lelaki itu terlihat begitu tegas dan agak sedikit tegang. “Jangan kawatir tuan, aku memiliki cukup uang untuk mentraktir dua puluh orang dengan hidangan terbaik… bukan berarti aku orang kaya, tidak! Aku baru saja mendapatkan bayaran tambahan dari majikanku.”

Dua Bakat memperhatikan pemuda itu, dari posturnya—meski sedang duduk, dia bisa menebak tinggi pemuda itu sekitar 6 kaki (183 cm), dibandingkan dirinya jelas, pemuda itu lebih tinggi satu kepala—mungkin lebih. Penampilannya bersahaja, seperti pekerja pada umumnya. Tenang, orang seperti itu tidak perlu diwaspadai, pikir Dua Bakat merasa geli dengan perasaan yang tiba-tiba membisikkan kewaspadaan. Merasa kekawatirannya berlebihan, dia memperhatikan lebih lanjut, pemuda ini seperti kebanyakan orang, Dua Bakat merasa pemuda itu terlihat ramah, bibirnya terulas gurat senyum tak senyum, di dagunya terdapat gurat luka dengan belahan tipis. Hal yang paling menarik adalah, mata jernihnya yang cemerlang.

“Kalau kau bersikeras, baiklah!” kata Dua Bakat merasa tak enak untuk menolak.

Pemuda itu tersenyum, dua porsi hidangan ayam bakar menggoda hidung Dua Bakat untuk mencicipinya. Masa lalu yang membuatnya selalu harus waspada, membuat tiap tindak-tanduknya selalu berhati-hati, lidahnya mencicipi sedikit. Beragam racun dia sudah mengenal rasa dan aromanya, kali ini dia tidak menjumpai hal itu.

“Hahaha…” si pemuda tertawa lepas. “Begini caranya makan ayam panggang!” Katanya sembari menyikat paha ayam dalam gigitan besar. Tidak banyak bicara, seluruh hidangan sudah berpindah ke dalam perutnya, dengan duduk bersandar pada dinding kedai pemuda itu nampak mengeluarkan uang.

“Tuan, jika kau ingin menambah, kembalianku masih cukup untuk satu porsi lagi.” Katanya sembari berdiri setelah menghabiskan minumannya. Tanpa banyak cakap, pemuda itu pergi begitu saja.

Dua Bakat merasa berkesan dengan pertemuannya dengan pemuda itu, namun itu hanya sebuah jeda ‘hiburan’ disela-sela tugas-tugasnya yang aneh. Tidak menyia-nyiakan kebaikan hati pemuda itu, dia menambah lagi.

Satu jam sudah dilalui dengan menyenangkan, perut berisi membuat pandangan mata dan pertimbangannya lebih fokus. Dua Bakat memutuskan untuk mencoba satu demi satu para pande besi yang menjual beragam senjata dan alat kebutuhan sehari-hari itu. Jika mereka sama seperti Tusarasmi, apa yang menjadi nilai tukarnya tentu senada dengan yang diberikan lelaki berwajah bagai bulan itu.

“Aku mencari besi yang tepat dan seukuran.” Kata Dua Bakat pada salah seorang pande besi. Orang itu mencari-cari pisau yang panjangnya sama dengan sarung (dan gagang) yang diberikan Dua Bakat.

Pande besi itu tidak memiliki benda yang seukuran, dia berteriak pada kawan penjual lainnya, merekapun tidak memiliki.

“Sayang sekali, tidak ada barang seperti yang kau kehendaki…” kata pande besi itu sambil meneruskan mengasah pisau dapur.

Dua Bakat mengangkat bahunya, ternyata tugasnya cukup menguras kesabaran juga. Dia berdiri setelah membenahi sarung pisau dan gagangnya, bersiap pergi.

“Tunggu tuan,” tiba-tiba seorang pande besi memanggilnya, orang itu nampaknya sudah tua betul, jenggotnya menjela sampai ke dada. Begitu mendekatinya Dua Bakat tahu, jenggot itu bukan bulu yang tumbuh di dagunya secara alami. Diam-diam dia tersenyum senang, nampaknya dia adalah orang yang dimaksud tuannya.

“Ya?” Dua Bakat mendekatinya.

“Mungkin aku punya, mari pinjam sarungnya… biar kuukur lebih dulu.”

Dengan tegang Dua Bakat memperhatikan.

“Bagus! Bagus!” orang itu berkata berkali-kali, kejadiannya sama persis saat dia berhadapan dengan Tusarasmi. “Benar-benar pas!”

“Ya, sangat pas!” timpal Dua Bakat, dia memperhatikan sekelilingnya, tak ada yang memperhatikan mereka. “Aku minta pisau dapur…” katanya seraya memasukkan besi baru itu kedalam sarungnya, sebuah pisau bersarung lengkap sudah. Dengan cekatan pande besi itu menukar pisau bersarung itu dengan pisau dapur yang diberi sarung pula dengan dibungkus kain. Dua Bakat sempat melihat dalam bungkusan itu, terdapat sebuah benda yang sama persis dengan pemberian Tusarasmi, bedanya; benda itu berwarna merah.

“Gunakan sebelum hijau.” Bisik pande besi itu sembari menghitung uang yang diberikan Dua Bakat, ada beberapa koin perak sisa kembali dari pemuda yang tadi mentraktir, ikut diberikan pada pande besi itu.

Dua Bakat bergegas pergi, dia akhirnya tahu urutan benda-benda yang akan dia dapat dari penukaran-penukaran itu. Dan urutan penggunaan benda bulat sebesar jempol itu adalah; Merah-Hijau-Hitam. Dia sudah mendapatkannya, tinggal satu benda berwarna hijau yang menurutnya akan membawa pada petualangan menegangkan.

===oOo===

“Sudah saatnya…” gumam seorang pemacing, setelah berhasil mengail kain hijau yang terapung dipermainkan derasnya arus sungai. Kain itu jelas datang dari bendungan nun jauh di hulu sana. Tubuhnya segera melesat diantara rerimbunan pohon beringin di tepi sungai.

Dua puluh tahun terakhir, dia sudah menjadi pemancing. Awalnya dia adalah salah satu tokoh yang sangat diperhitungkan, tapi gara-gara pemilik Pedang Tetesan Embun, terpaksa dia harus menyaru menjadi tukang pancing sialan. Itu tugas yang diberikan oleh pimpinan tertingginya, tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang lain, tapi apa boleh buat… sang pimpinan memutuskan untuk membunuh seluruh anak buah yang tidak berguna, dan menggunakan tenaga yang lebih segar. Meski dirinya termasuk orang yang sudah memutuskan untuk mengabdi setulus hati pada sang pimpinan, sebutir racun berkala tetap harus dia telan, sebuah racun yang membuat dirinya harus tiap bulan menghadap pada pimpinan untuk memberikan laporan. Benar-benar racun bangsat, pikirnya geram. Untungnya sekarang sudah saatnya kami bergerak!

“Kabar bagus!” kata pemancing ini pada sosok penjual aren. Hari itu begitu banyak orang mampir ke kedainya, dia tidak bisa bersikap menghormat pada lelaki tua yang bermulut menggoreskan senyum itu.

“Kau mendapatkan hasil pancingan?” Tanya pemilik kedai sambil menuangkan minum.

“Ya, ikan yang sangat besar!” katanya dengan antusias.

Pemilik kedai manggut-manggut sambil menuangkan bumbung bambunya kembali. “Ah, arennya habis… maaf tuan-tuan, sebentar lagi saya akan tutup. Harus menderes aren untuk persediaan esok hari!” katanya dengan nada sangat sungkan dan memohon-mohon maaf pada para pelanggannya.

Beberapa tamu yang baru masuk nampak kecewa, dalam kedai tinggal beberapa orang, dan selekasnya menghabiskan minuman, mereka pergi. Kini, tinggallah pemilik kedai dengan pemancing itu berdua.

“Mana?” ujarnya dengan nada yang berkesan sangat menekan, jauh berbeda pada saat melayani pelanggan.

Pemancing itu menyerahkan kain hijau yang dia dapatkan, ikat kain itu terbuat dari kain berwarna kuning emas. Begitu dibuka, pemilik kedai aren itu tertawa dingin, wajahnya menyembulkan kekejaman.

“Mulai malam ini, kita menghubungi seluruh kawan-kawan seperjuangan!”

Pemancing itu tak begitu antusias, dia hanya menggumam saja.

“Aku tahu… aku tahu!” seru pemilik kedai aren dengan senyum masih mengembang. “Ini penawar untukmu, jika satu tahun ke depan kau masih hidup, aku akan membebaskanmu secara utuh!”

Mata Pemancing itu bercahaya, dua belas butir obat penawar racun cukup membuat semangatnya bangkit. “Aku bersumpah! Cita-cita kita yang dulu tertunda kali ini tak akan terhalang lagi!”

Sedetik sepeninggalan mereka, kedai aren itu terbakar tanpa sisa.

===oOo===

Pandai besi itu mencabut jenggot palsunya, dalam ruang kerjanya dia membakar ujung sarung pisau dan gagangnya, yang didapat dari orang asing tadi. Sebuah api berwarna kehijauan membuatnya yakin, dengan berhati-hati disayatnya sarung pisau itu, sebuah lembaran rontal tergores tinta merah, membuatnya tersenyum.

“Tuan benar-benar sudah kembali…” pikirnya, segera mengganti bajunya. Dia sudah tahu tugas apa yang harus dilakukannya.

Perkumpulan Pratyantara adalah tujuan berikutnya, dia harus menyebarkan berita yang membuat pemilik perkumpulan milik Jung Simpar heboh karenanya. Jung Simpar, Jung Simpar.. kau bersumpah tidak pernah keluar meskipun ada berita paling menarik, tapi aku akan membuatmu keluar dari sarang anjingmu! Pikir pande besi ini dengan seringai bagai serigala.

Langkahnya tegap saat meninggalkan rumah yang disewa sebagai bengkel menempa besi. Tidak heran lelatu api yang masih banyak menyala tiba-tiba menghanguskan seluruh bangunan. Janda pemilik rumah itu hanya bisa menghela nafas penuh kesedihan. Kerugiannya memang tidak seberapa, tapi dengan terbakarnya rumah itu, artinya; lenyap sudah selimut malam yang membuat gairahnya berkobar tiap saat. Ya, pande besi berjenggot panjang itu sangat pande… membuatnya terbang kelangit tujuh… kali ini, dia mungkin akan mencari pande besi yang lain.

===o0o===

Dua Bakat menggunakan kemahirannya untuk menyerap informasi dalam beragam bentuk penyamaran, dan dia sudah mengerti jika kasir bendahara kerajaan hanya hadir satu minggu sekali, untuk melakukan beragam transaksi. Menurut informasi dari penjaga, hari kemarin adalah kehadiran kasir bendahara kerajaan. Dua Bakat mengeluh, sebelumnya dia sudah menghabiskan waktu tiga hari, jika harus menunggu enam hari lagi, bukankah waktunya akan sangat terbatas? Sebab dia hanya punya lima hari sisa waktu untuk melonggarkan totokan dalam ulu hatinya. Selain jejak murid tuannya dirinya juga belum tahu, apa lima hari cukup untuk menemui si kasir? Syukur jika cukup, kalau tidak? Dia harus membuang tujuh hari berikutnya dengan harap-harap cemas.

“Sialan…” makinya gemas.

===oOo===

Malam hari di Perguruan Merak Inggil nampak sunyi senyap, sesosok bayangan berindap-indap keluar dari perguruan itu. Gerakannya sangat cepat, tapi lesatannya nampak tak leluasa, sebab dia harus berhenti dan mencermati situasi. Memasuki Gunung Kumbhira, bayangan itu nampak sangat lega, sebab dia yakin tidak ada yang mengikutinya.

Tapi langkah kakinya surut selangkah, dia ingat betul… hawa dingin itu, hawa dingin itu… wajahnya memucat, jemarinya mengepal dengan kencang.

“Aku orang paling luar biasa, kenapa aku harus dipaksa sembunyi terus menerus?” Geramnya dalam hati.

“Kali ini aku tidak akan mundur, keluarlah!” bentaknya dengan nafas mengombak dada, pandangannya nyalang menyusuri kegelapan.

“Apa kau yakin?” tiba-tiba satu suara yang amat lembut membuat keringat dingin menitik di dahi orang tua itu.

“Jahanam!” gerungnya penuh amarah, tubuhnya memancarkan sinar kekuningan, hawa panas berkobar meranggas membakar seputar lima puluh kaki darinya. Batang-batang pohon yang terkena sengatan hawa panasnya, nampak tercabik dengan sayatan tipis dan amat halus.

“Tak ada gunanya kau kerahkan ilmu mustika Jari Sakti Tanpa Tanding, latihanmu memang sudah meningkat jauh dari waktu itu… tapi tetap tidak berguna!” saat kalimat ‘berguna’ lenyap, orang tua itu merasakan satu titik hawa dingin mengincar dahinya, cuma satu titik.

Dia ingat betul, ilmu itulah yang membuatnya tak bisa bergerak leluasa dalam serangannya. Setitik serangan yang membidik dahinya membuat dia tak bisa berkonsentrasi, hawa saktinya berputar liar karena hawa satu titik itu menggoncangkan nalarnya. Putaran hawa saktinya yang tak terkendali jelas membuatnya gugup.

“Bangsat!” makinya dengan perasaan kacau, akhirnya dia memilih mundur, pada saat datang orang tua itu begitu cepat, saat kaburpun lebih cepat lagi.

Terdengar helaan nafas halus.

“Kenapa kau paksakan diri guru?” Tanya seorang lelaki pada wanita tua yang sedang duduk dengan mata terpejam.

“Aku tidak…” sekumur darah tumpah dari mulutnya.

“Guru…” seru suara wanita penuh rasa kawatir.

“Aku tidak apa-apa… hanya saja penyakit lamaku kambuh disaat bersamaan. Tidak disangka tua bangka itu berhasil menguasai puncak tertinggi dari tataran akhir Jari Sakti Tanpa Tanding. Jika dia bisa mendobrak rahasia-rahasia di baliknya, aku kawatir jarang orang bisa menghadapinya. Kalian harus hati-hati…”

“Guru tidak perlu kawatir.” Kata si lelaki dengan tegas. “Di mataku ilmu mustika tak lebih dari sampah!”

“Ai… sejak kapan kau menjadi sombong seperti itu?” Gumam sang guru membuat lelaki itu meminta maaf berkali-kali.

“Apakah dia siap menghadapi ini?” Tanya wanita tua itu dengan suara lemah.

Lelaki dan wanita itu saling pandang. “Saya yakin dia sudah sangat siap, semenjak terakhir kali kami bertemu, hingga saat ini kami tak sanggup mengendus jejaknya lagi. Dan agaknya lukayapun bukan halangan bagi dia.” Kata sang wanita.

“Bagus… bagus… bagus… “ gumamnya dengan tertawa perlahan, sambil tertatih perempuan tua itu di bimbing kedua muridnya, mereka menuju puncak Gunung Kumbhira dengan perlahan. Sebatang pedang yang menancap pada batu bergetar hebat, pancaran hawa amat dingin dari pedang itu tidak menggangu genggaman si lelaki saat menyedotnya dari jarak jauh, dia membelitkan begitu saja di pinggangnya.

—oo0O0oo—

108 – Domino Effect : Tugas Terakhir (?)

Dua Bakat tidak pernah tidur, sepanjang hari dia terus mencari informasi bagaimana cara mendekati bendaharawan kerajaan, tiap detik yang mendebarkan membuat sakit kepala menyerang kian hebat. Bendaharawan Kerajaan adalah orang nomor lima dalam hirarki kerajaan, sudah jelas untuk menemuinya seperti memanjat ke langit. Jika kau tidak punya koneksi orang dalam, sekedar mimpi bertemu sang bendaharawan jelas terlalu berlebihan.

Dua Bakat sangat paham aturan itu, karenanya dia tidak pernah membuang waktu percuma untuk mencari orang-orang di sekitar sang bendaharawan. Saat memanjat pohon, ada baiknya kau membutuhkan tangga untuk memudahkan mencapai puncaknya.

Rengu, adalah satu nama yang dia dapatkan, alamatnyapun sudah dikantongi. Sesuai namanya, tampang orang itu nampak keras dan terkesan bengis. Menurut informasi yang bisa di percaya, selain Rengu bisa jadi salah satu alat untuk bertemu sang bendaharawan, dia juga paling suka berjudi. Cara berjudi sangat unik; sabung ayam, dadu, gasing dan konon menebak ukuran dalaman wanita adalah kesukaannya.

Dua Bakat mutlak bukan orang suci, bisa dibilang bajingan kelas berat, menghilangkan nyawa orang-pun menjadi pertimbangan nomor dua puluh, dan pencuri ulung pula. Tapi, sepanjang ingatannya dia cukup menghormati wanita, itu karena dia sangat sadar, sebejat-bejatnya manusia, ibunya jelas seorang wanita. Dia menghormati wanita sama halnya menghormati sang bunda, jika Rengu ingin berjudi menebak ukuran dalaman dan bentuk tubuh wanita, dapat dipastikan dirinya menyerah lebih dulu.

Untunglah, pada saat Dua Bakat menemui Rengu, orang itu sedang tergila-gila main dadu. Rengu sudah setengah teler, selain bertampang bengis, tangannya juga terlampau gapah. Boleh jadi, orang-orang yang ikut berjudi bersamanya, sudah merasa menyesal dilahirkan—karena bertemu dengan manusia bernama Rengu. Siapapun yang sudah kalah judi, tak boleh meninggalkan tempat sampai seluruh harta benda habis ludas. Yang dimaksud habis ludas, termasuk juga baju yang dikenakan saat itu. Disekelilingnya, setidaknya ada sebelas lelaki setengah bugil—kehabisan modal. Dua Bakat tersenyum, hobi Rengu benar-benar nyaris serupa dengan caranya memeras bayaran dari orang yang menggunakan jasanya.

“Aku ikut!” Seru Dua Bakat seraya menerobos kerumunan sambil melemparkan serenceng uang ketengah meja, bandar judi segera membuka bungkusan itu. Matanya terbelalak.

“Kau mau pertaruhkan ini semua?” tanyanya tak yakin.

“Hanya, 20 keping emas, 50 haraka 10 keping perak… tidak seberapa.” Kata Dua Bakat membuat orang-orang terbelalak. 1 keping emas, sama nilainya dengan seribu keping perak dan 5 keping haraka. Sementara sebutan haraka sendiri merupakan harga satuan kalung mutiara murni yang menjadi nilai pembanding. 1 Haraka sama dengan 200 keping perak. Mata uang haraka sendiri terbuat dari campuran perak bersaput emas.

“Bagus sekali!” seru Rengu terbahak. “Kita adu dadu sampai pagi!” serunya sambil menenggak arak.

“Tapi aku tidak mau berjudi dengan kawanan setan bugil ini!” dengus Dua Bakat.

“Kalian sudah dengar? Cepat pergi!” bentak Rengu sambil membanting gelasnya diatas meja. Tidak menunggu perintah sampai dua kali, semua orang lari terbirit-birit. Di meja itu hanya tersisa Rengu, Dua Bakat dan bandar judi. Bahkan orang yang mau menonton tak berani dekat-dekat.

“Kau yakin mampu melawanku?” Tanya Rengu sombong.

Dua Bakat tersenyum. “Kita lihat saja nanti, tapi aku tak mau berjudi sampai pagi. Banyak pekerjaan yang harus kuurus… begini saja, aku bertaruh seluruh uang, dan ini!” Dua Bakat meletakkan pedangnya di meja.

Bandar judi terperanjat, jika kau berani membawa pedang di pusat pemerintahan, sama artinya menantang para prajurit. Rengu pun nampak separuh tersadar dengan taruhan orang tak dikenal itu.

“Tapi aku tak memiliki harta sebanyak punyamu.” Sahut Rengu mulai ragu, meskipun dia sangat berangasan dan ringan tangan, bukan berarti otaknya tidak jalan. Orang yang terang-terangan membawa pedang itu, nampaknya kaum kelana yang tidak kenal takut.

“Jangan kawatir, jika kau kalah, kau mampu membayarnya..” sahut Dua Bakat datar.

“Uangku hanya, 2 keping emas, 16 haraka.” Sahut Rengu.

“Kau masih memiliki hal lain, ayolah… apakah kau takut bertanding denganku?!” Dua Bakat mulai memprovokas lawannya.

“Keparat! Tidak ada kata takut dalam kamusku! Ayo kita mulai!” kesadaran Rengu benar-benar pulih, hawa murninya di edarkan disekujur tubuhnya untuk menekan pengaruh arak yang membuatnya mabuk.

Bandar judi tahu apa yang harus dilakukan. “Karena ini adalah permainan dengan sekali taruhan, maka; sistim yang berlaku adalah sekali lempar, dengan jumlah terkecil sebagai pemenang!”

“Berapa dadu?” Tanya Rengu.

“Enam!” jawab Bandar judi. Mereka berdua segera tahu, jika enam adalah nilai terkecil dan otomatis menjadi kunci kemenangan—jika masing-masing dadu bernilai satu.

“Bagus sekali…” desis Dua Bakat, meskipun dia tak begitu mahir judi, main dadu adalah hal gampang.

Dadu mulai dikocok, bandar judi sudah menentukan pemain yang mulai lebih dulu, mengundinya dengan nilai terbesar. Rengu-lah orangnya.

“Hm… makanan mudah.” Gumamnya, tangannya mulai mengoyang bumbung bambu yang digunakan sebagai media kocok dadu.

Brak! Bumbung bambu dibanting pada meja, dadu melecat dari dalam dan jatuh bergulir di meja dengan putaran yang cukup membuat orang tegang melihatnya. Satu demi satu dadu berhenti, dan masing-masing bergulir ke satu titik bernilai satu.

Enam! Ya, masing-masing dadu bernilai satu, nilai terkecil. “Kau akan menyerah atau mencoba peruntungan?” Tanya Rengu dengan tawa lebar.

Dua Bakat mendengus, untuk membuat dadu mengeluarkan angka terkecil, dia sudah mempelajari probabilitas yang mungkin timbul pada saat dadu itu berputar bermula dari angka berapa pun. Dengan mengocok dadunya secara perlahan, Dua Bakat menghentaknya dengan kuat ke atas meja. Enam dadu terlempar dan jatuh dengan posisi yang mencengangkan! Ada tiga buah pasang dadu yang jatuh saling bertumpuk dengan angka satu di atasnya. Dengan sendirinya total angka yang terlihat hanya berjumlah tiga!

“Apa bisa dihitung sebagai kemenanganku?” Tanya Dua Bakat dengan nada datar.

Rengu tak bisa bicara lagi, diapun tahu angka yang tertutup di dadu paling bawah juga, bernilai sama; satu.

“Aku tak punya uang senilai hartamu, apa yang harus kulakukan?” Gumam Rengu dengan wajah pucat, kalah judi memang biasa, tapi kalah dalam satu kali judi dengan semua modalnya, belum pernah dialami. Meski demikian, sisi positif sifat Rengu dia selalu menepati ucapannya.

“Seperti yang kukatakan dari awal, kau punya nilai yang sama dengan jumlah uangku.” Kata Dua Bakat seraya bangkit. Sambil memberesi uangnya—tentu saja uang Rengu pun masuk ke dalam kantongnya.

“Tu-tuan..” Bandar judi memanggil dengan menggeragap.

“Kau mau bagianmu?” taya Dua Bakat dengan tajam.

“Peraturan di rumah judi ini… memotong.. memotong…” Bandar judi itu tak berani mengatakannya lebih lanjut saat Dua Bakat memegang pedangnya, mengeluarkannya sedikit dari sarungnya.

“Memotong apa?!” bentak Dua Bakat.

“Me-memotong.. tumpeng, untuk memberi selamat pada pemenang..” Katanya dengan wajah pucat, seharusnya dia akan mengatakan memotong tiga puluh persen, tapi tampang Dua Bakat yang mengancam, membuatnya tak berani bicara seperti itu. Bisa-bisa lehernya yang dipotong.

Dua Bakat mendengus. “Kau makan saja nasi tumpeng itu sendiri.” Katanya sembari melirik pada Rengu. Tanpa bicara Rengu mengikuti langkah lelaki itu.

Kejadian seperti itu ditempat judi adalah wajar, nilai sebanyak yang dikeluarkan Dua Bakat juga sebenarnya normal, kehadiran penjudi model Dua Bakat pun bisa dibilang dapat ditemukan tiap hari, makanya ingatan orang-orang disanapun menjadi pendek, mereka tidak lagi memikirkan kejadian tadi.

Tapi ada satu orang yang memperhatikan semua kejadian dengan sangat seksama. Lelaki paruh baya dengan tubuh gemuk berperut buncit, berperawakan pendek paling banter tingginya tak melebihi 5 kaki (±152cm). Wajahnya bulat seperti bulan purnama sidi, mulutnya juga terlihat seperti sedang tersenyum, dari tadi dia sudah terlihat mabuk wajahnya nampak merah, matanya juga lebih banyak terpejam. Permainan judinya tak buruk, enam belas kali main, enam kali kalah. Uang kemenangan sudah dikantongi, tapi dipotong tiga puluh persen oleh Bandar judi, jumlah kemenangannya pun tak seberapa banyak—hanya dua kali modal.

Begitu Dua Bakat keluar, lelaki gemuk inipun ikut keluar dengan terhuyung-huyung. Saat punggung Rengu menghilang dari balik dinding, mata lelaki ini yang semua tidak fokus, mendadak menatap dengan nyalang, nampaknya dia jauh lebih sadar dari kondisi orang yang tidak mabuk. Tubuh gemuknya segera melesat pesat mengikuti, kedua orang itu. Gerakannya sama sekali tidak mencerminkan bobot tubuhnya.

Lelaki ini melihat keduanya masuk ke dalam rumah, dengan sangat terlatih, dia mengikuti dan masuk lewat pintu yang lain. Jalanan di sekitar rumah itu bukannya sepi, malah sangat ramai, karena rumah Rengu memang bersebelahan dengan pasar. Tapi itu justru memudahkan lelaki gemuk ini menyusup tanpa dicurigai. Mengambil tempat yang tersembunyi, dia bisa mendengarkan seluruh percakapan Dua Bakat dan Rengu.

“Kau lihat, aku tak memiliki kekayaan seperti yang kau kira…” kata Rengu sesampainya mereka di dalam rumahnya.

“Salah, kau punya!” tandas Dua Bakat menatap lelaki itu dengan tajam.

Rengu seperti sedang bermimpi buruk, dia terlambat menyadari jika Dua Bakat sudah mencengkeram pergelangan tangannya dengan kencang. Tubuhnya serasa lumpuh, dia bukanlah jagoan kacangan, ilmunya cukup tinggi, kalau hanya menghindari cengkeraman orang, itu masalah mudah. Tapi cengkeraman Dua Bakat ternyata membuat semua tulangnya serasa dilolosi, Rengu tak punya tenaga untuk meronta.

“Apa maumu?” Tanya Rengu dengan kepala terasa pusing, matanya serasa ingin terpejam terus.

“Memastikan siapa kau adanya!”

Tiba-tiba Rengu merasa tulang belakangnya bukan main ngilunya. “Apa yang kau inginkan, ak-aku bukan orang kaya…”

“Siapa kau?” Tanya Dua Bakat singkat, tapi cukup membuat Rengu kelojotan, dia tidak melihat adanya luka, tapi dia merasa dalam tubuhnya seolah timbul luka sayatan, perihnya jangan ditanya.

“Aku.. aku Rengu, aku tidak pernah berganti nama, sejak kecil orang tuaku memang memberi nama itu…” makin banyak bicara, rasa sakit yang menderanya berkurang. Rengu bukan orang bodoh, dengan sendirinya, lawan main judinya itu ingin dia bercerita, entah cerita tentang apa, tapi dia akan bicara… kalau perlu bicara sampai berbusa! Asal tidak merasakan lagi siksaan yang membuatnya terkencing-kencing.

Dengan lancar Rengu menceritakan siapa dirinya, apa yang dikerjakannya, tugas sehari-hari, kegiatan yang selalu dilakukan, siapa teman-temannya, bahkan kebiasaan mencuri dalaman wanitapun dia ungkapkan—itulah alasannya jika bertaruh urusan ukuran dalaman dan ‘perabot’ wanita dia tidak pernah kalah. Pendek kata, ‘biografi’ Rengu tanpa sisa, dia ceritakan lengkap.

“Huh sialan! Ternyata kau bukan orang yang aku cari!” dengus Dua Bakat mempersen hidung Renga dengan jotosan yang membuatnya pingsan.

Menatap orang itu sesaat, Dua Bakat tersenyum dingin. Ucapannya tadi hanya alasan untuk menutupi tujuan sebenarnya, sambil lalu Rengu menyebutkan dia punya kakak yang kerja di kerajaan. Informasi itu yang sangat diperlukan.

Dua Bakat sudah pergi meninggalkan Rengu, tapi lelaki buncit itu masih menatap Rengu dengan tatapan terheran-heran. Mungkin ini ada kaitannya, pikirnya.

Dia bergegas menghambur keluar, hidungnya mendengus-dengus, aroma Dua Bakat berhasil dia temukan. Bersamaan dengan itu lelaki buncit ini sudah bisa menguntit Dua Bakat menuju pinggiran kota, matanya terbelalak kaget. Hidungnya jelas tidak pernah salah mencium bau orang, tapi bukan yang diikuti ternyata bukan orang yang tadi. Kian penasaran lelaki buncit ini mendahului orang yang dia kira sebagai Dua Bakat, dari depan barulah keheranan lelaki buncit ini terlampiaskan.

Sialan, kalau saja aku tidak melihat mereka bersamaan.. aku mungkin sudah terkecoh. Pikirnya. Ya, yang berjalan saat ini adalah Rengu. Ternyata Dua Bakat menggunakan sosok Rengu untuk memanipulasi.

Lelaki buncit ini berpikir, menjadi masuk akal pula jika dia membutuhkan semua informasi pribadi Rengu, nampaknya dalam beberapa hari ke depan lelaki itu—Dua Bakat, akan menggunakan wajah Rengu sebagai samaran.

‘Menarik dia tentu suka dengan berita ini’, gumamnya.

Dia tidak perlu mengikuti ‘Rengu’, cukup menguntit dari aromanya saja. Saat ini, dia lebih memberatkan berbagi informasi dengan dia.

===oOo===

Sebuah rumah besar yang cukup terpencil dari keramaian ibukota menjadi tujuan lelaki buncit ini. Beberapa orang menyambut kedatangannya dengan hormat. Dengan mengangguk, lelaki ini bergegas masuk, di ruang tengah nampak sesosok pemuda tengah termenung.

“Ehm…” dehemnya memberi tahu kehadirannya. “Ck-ck-ck… kau ini terlalu ceroboh, lengah betul!”

Pemuda itu menoleh, wajahnya yang nampak kusut, mendadak cerah. “Ah, paman Ekabhaksa…” katanya seraya berdiri dan menyambut kedatangan lelaki buncit itu. “Kau nampak tergesa, sepertinya ada berita bagus?”

“Seperti itulah…” sahutnya malas-malasan, sambil menjatuhkan pantat di kursi empuk. “Bagaimana keadaannya, Jaka?”

Jaka Bayu, sebuah nama sederhana, tapi tidak menjadi sesederhana itu jika ada orang yang melihatnya bicara sangat akrab dengan Ekabhaksa yang dijuluki Ular, salah satu dari anggota Tujuh Satwa Satu Baginda. Sangat mengherankan orang yang gemuk dan kelihatan tidak punya kemampuan itu ternyata adalah Sang Ular yang amat tenar. Kebiasaan yang ada dalam dunia persilatan, adalah menjuluki orang karena kemahiran, kebiasaan, atau postur tubuhnya. Tapi julukan Ular untuk Ekabhaksa justru sangat bertentangan, secara harfiah saja ular seharusnya lincah gesit, kecil dan berbisa. Ekabhaksa justru tidak seperti itu; ya, dia memiliki kelincahan yang baik, sangat sanggup bertindak tersembunyi dan tanpa terdeteksi—seperti ular. Tapi julukannya justru karena diambil dari namanya, bukan karena beberapa hal yang tadi disebutkan.

Ekabhaksa berarti, makanan yang sejenis. Hobi Ekabhaksa sudah tentu makan, dan camilan utamanya adalah ular. Boleh dibilang sepanjang empat puluh tahun hidupnya, selama tigapuluh tujuh tahun dia selalu makan beragam jenis ular. Ekabhaksa bukan jagoan yang mempelajari ilmu dengan cara semadi, berlatih sampai bertahun-tahun atau sejenisnya, dia justru mendapat ilmu ‘tiban’ karena hobinya yang sangat konsisten. Tubuh gemuknya sangat liat, tidak mempan dibacok karena memiliki kekenyalan luar biasa, pukulan lawanpun akan dengan mudah dimembalkan, jika perasaannya sedang buruk, penampilannya tidak akan segemuk sekarang. Ya, dia bisa merubah postur tubuh; tinggi-pendek, gemuk-kurus sesuka hatinya. Tiap cengkeramannya jelas memiliki racun mematikan—efek dari hobinya memakan ular. Justru karena lelaki buncit ini serupa ular yang bisa memangsa lawanya bulat-bulat, makanya dijuluki Ular, tiap lawannya selalu kalah dalam kondisi tulang berpatahan. Ekabhaksa tak pernah membunuh orang, hanya saja tiap korbannya selalu mengakhiri perlawanan dengan bunuh diri. Jika tubuh lumpuh dengan tulang remuk di sekujur tubuh, hal apakah yang lebih baik dari mati?

Jaka Bayu menghembuskan nafas panjang-panjang. “Parah sekali, paru-parunya nyaris tidak berfungsi. Racun juga sudah menjalar hampir di seluruh tubuhnya tanpa hambatan… tipis sekali kemungkinannya selamat, hanya keajaiban yang bisa kita harapkan.” Jawab pemuda itu dengan lesu.

Ekabhaksa menatapnya dengan perasaan campur aduk, keherananannya pada pemuda itu tidak pernah tuntas. Empati Jaka pada kesusahan orang lain, terkadang membuat Ekabhaksa tak habis pikir dengan kelapangan dadanya. Entah makan apa yang membuatnya bisa bersikap seperti itu. Pikir Ekabhaksa sambil tertawa masam.

Sifat Ekabhaksa sangat nyentrik dan suka bertindak semaunya. Tapi terhadap Jaka Bayu yang tak berpamrih, kadang acuh, kadang tidak perduli dengan dirinya, lebih menyukai orang merasa menang saat menghadapinya—seperti halnya saat Ekabhaksa menghadapi Jaka Bayu setelah ditolong dari keracunan, membuat lelaki ‘yang saat ini’ buncit itu, akhirnya berkeinginan mendukung apapun cita-cita Jaka.

“Kenapa kau ambil pusing, toh dia bukan apa-apamu.” Gumam Ekabhaksa sambil menuang air jahe di hadapannya.

“Satu nyawa itu sangat berharga paman.” Ujar Jaka. “Lebih dari itu dia adalah seorang sesepuh dari Perguruan Enam Pedang.”

“Hanya perguruan kecil!” Cemooh Ekabhaksa.

“Kau ini selalu sinis pada orang lain, paman…” gerutu Jaka. “Luka racunnya itu, tidak biasa.” Sambung pemuda ini.

“Racun apapun tetaplah sama… sama-sama bertujuan untuk mencelakai, darimana pula datang racun yang tidak biasa?” ujarnya masa bodoh.

Jaka menggeleng-geleng, adat Ekabhaksa memang seperti itu, tapi dia tahu orang itu cukup memberi perindahan pada dirinya. “Apa yang kau dapatkan, paman?”

Ekabhaksa menghabiskan air jahenya lebih dulu, kemudian baru menceritakan tentang Rengu dan Dua Bakat. “… jejak racun sialan yang ada di tubuh tua bangka itu, aku belum menciumnya di seputar kota ini. Besar kemungkinan dia diletakkan orang begitu saja di perbatasan kota.”

Jaka mengangguk-angguk, dia sangat percaya pada indera penciuman Ekabhaksa, anjing pelacak paling mahir pun tak bisa menandingi ketajaman indera perasa dan penciuman lelaki itu. “Apakah tidak ada tanda-tanda kehadiran orang yang meletakkan korban, masuk ke dalam kota ini?”

“Sejauh ini tidak ada.” Sahut Ekabhaksa singkat.

Jaka mendesah, dengan apa boleh buat dia kembali masuk ke dalam kamar perawatan, di ranjang nampak tergolek orang tua dalam kondisi yang mengenaskan. Sebelum memasuki kondisi gawat seperti ini, orang tua itu sempat meminta sesuatu padanya dan menitipkan sebuah catatan yang unik. Catatan itu dimasukkan secara terpisah pada sela-sela jahitan pakaian, kalau saja Jaka tidak diberitahu tentang catatan tersebut, sudah pasti baju kumal milik orang tua itu sudah dia buang jauh-jauh.

Kedatangan Jaka ke kota ini, bukan karena kebetulan, perjumpaannya dengan Ki Gede Aswantama—tetua dari Perguruan Macan Lingga, telah menyadarkan dirinya, bahwa; terlalu banyak pihak yang memiliki niat biadab untuk membuat hancur banyak tatanan kehidupan. Saudara seperguruan Ki Gede Aswantama sendiripun termasuk dalam komplotan yang belum jelas seperti apa tujuannya, tapi perebutan pengaruh dan kekuasaan adalah hal yang paling bisa Jaka pahami. Pemuda ini bertekad untuk membongkar semuanya, sayang niat itu baru bisa dilakukan setelah dirinya pulih dari luka yang berkepanjangan. Sepanjang jalan merintis penyelidikan, Jaka memupuk kekuatan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya seperti saat ini.

Tidak disangka, seorang tetua Perguruan Enam Pedang ditemukan dengan racun yang pernah serupa menghinggapi Ki Gede Aswantama sekalian. Jaka tidak bisa mengabaikan itu, boleh jadi Perguruan Enam Pedang menjadi muara persoalan yang ingin dia bongkar. Sejauh ini Jaka tidak menyatakan kepada siapapun bahwa dia pernah melihat jenis racun itu, jika itu dia nyatakan, mau tak mau keberadaan Ki Gede Aswantama juga akan dia singgung. Sementara ini, Jaka tak ingin banyak orang tahu, bahwa Perguruan Macan Lingga masih meninggalkan pekerjaan rumah begitu besar.

Catatan yang terdapat pada baju tetua itu, menyebutkan bahwa; dirinya bernama Phalapeksa, guru dari dua Ketua Perguruan Enam Pedang yang menjabat secara bergantian. Kepergiannya dari perguruan, karena ingin menyelidiki ajaran ilmu perguruan yang konon sebagian terdapat di Gunung Manggala. Berita itu dia dapatkan secara tidak sengaja dari pertikaian anak murid Pratyantara dengan sekelompok orang. Seharusnya dia tidak perlu mencampuri urusan kedua kelompok itu, tapi dari mulut anggota Pratyantara yang sempat hidup lebih lama, orang tua itu baru tahu jika yang mereka perebutkan adalah peta dari manuskrip atau catatan-catatan silat beragam golongan, termasuk partainya sendiri. Gunung Manggala adalah petunjuk yang tertera pada peta yang direbut kelompok yang membantai anggota Pratyantara.

Bagi orang lain, tulisan itu mungkin tidak berarti, tapi bagi Jaka, nama Gunung Manggala memiliki arti yang sangat besar. Karena di tempat itu pula lah—bertahun-tahun lalu, dirinya pernah hilang kesadaran dan pada saat bersamaan saat dia siuman, sudah berada di satu pulau. Sebuah pulau yang memberinya beragam luka parah, dan juga memberinya pencerahan pada penghayatan beragam disiplin ilmu. Gunung Manggala bagi Jaka memiliki misteri yang patut untuk dibongkar.

Jaka memeriksa kondisi Phalapeksa, seandainya saja ada beberapa Akar Samwatsara Wangke (bangkai satu tahun—sebuah akar pohon yang selama satu tahun tidak menumbuhkan tunas, kondisinya di antara hidup dan mati), kemungkinan besar Jaka bisa mempertahankan jiwa orang tua ini. Semoga Penikam membawa kabar baik. Pikirnya.

Saat Jaka keluar dari kamar, Ekabhaksa sudah tidak ada, menurut anak buahnya, lelaki buncit itu akan bermain-main dengan Rengu—entah Rengu yang mana. Jaka hanya bisa tersenyum geli membayangkan keonaran apa yang akan dibuat oleh Ular. Tidak ada lubang yang tak tertembus, itu ungkapan aksi Ekabhaksa, dan Jaka percaya dengan kemampuan salah satu anggota tujuh satwa itu.

===oOo===

Lima hari berlalu tanpa kegiatan, dan Dua Bakat akhirnya dapat bernafas lega, sebab hari ini adalah hari kehadiran sang bendahara kerajaan. Dua Bakat benar-benar menggunakan kemahirannya, kali ini dia sudah menyusup masuk ke dalam rumah saudara sepupu Rengu yang berkerja sebagai salah satu asisten bendahara kerajaan. Dalam waktu singkat pula, Dua Bakat sudah berhasil masuk ke dalam ruangan kerja saudara Rengu, tentunya dengan wajah serupa penghuni sebelumnya.

Dari balik bajunya, Dua Bakat mengeluarkan kayu berbentuk segi lima yang terisi potongan besi, menyiapkan dengan seksama dan memasukkan kembali ke balik bajunya. Jantungnya memukul keras. Sebelum rutinitas dimulai, dia harus bisa menjumpai orang itu. Pintu ruangan di hadapannya sudah terbuka, belasan orang pengawal sang bendahara sudah keluar memberi perlindungan ketat. Bagaimanapun ruangan bendahara kerajaan termasuk salah satu asset kekayaan kerajaan. Timbunan emas hanya terpisah pintu setebal satu jengkal dihadapannya. Untung saja kedatangan Dua Bakat bukan untuk mencuri, maka dirinya tak ada nafsu untuk mengusik harta kerajaan.

Dari keterangan saudara Rengu yang dia peras dalam kondisi tak sadar, kebiasaan dari bendaharawan itu akan mengecek pembukuan dan transaksi terakhir sebelum dia mengeluarkan biaya yang seharusnya. Dua Bakat menghitung dalam hati. Sekarang saatnya. Ujarnya dalam hati dengan berdebar.

Dua Bakat keluar dari ruangannya, dan berjalan menuju ruang utama. Jarak ruangan itu hanya lima puluh langkah saja, tapi dalam perasaan Dua Bakat seolah dirinya sedang menempuh jarak berpal-pal jauhnya. Dia pernah menyusup ke segala tempat dengan berbagai situasi mengancam. Tapi, untuk melakukannya di dalam kerajaan, berpikirpun belum pernah. Ini adalah kali pertama baginya.

Tiap langkahnya diawasi oleh sorot mata para pengawal di sekitar ruangan bendaharawan, Dua Bakat sadar benar, para pengawal itu jelas bukan pesilat kelas teri, dari sorot matanya saja, dia sanggup mengira-ira, tiap orangnya setingkat dengan pendekar kelas satu. Dua Bakat benar-benar tidak mau ambil resiko harus bentrok dengan salah satu pengawal itu.

Sambil melempar senyum kering, Dua Bakat meraih gagang pintu. Tapi, untuk sesaat gerakannya membeku, manakala salah satu pengawal menghalanginya. Detik itu juga terbetik dalam benak, penyamarannya sudah terbongkar!

“Silahkan…”

Ah, tidak tahunya pengawal itu berupaya bertindak ramah, membukakan pintu untuknya. Hampir saja Dua Bakat menepuk dahi sendiri akibat prasangkanya. Dua Bakat mengangguk kepala sebagai rasa terima kasih, dia tak berani bersuara, takut pengawal itu mengenalinya sebagai orang asing.

Pintu telah ditutup, mata Dua Bakat disilaukan dengan cahaya kuning yang ada di belakang seorang lelaki yang tengah menunduk mencatat sesuatu. Tumpukan lantakan emas dan berpeti-peti kepingan uang membuat debar jantung Dua Bakat memukul keras. Orang hidup jelas butuh uang, bahkan di pengasingannya, Dua Bakat juga membutuhkan uang.

Tanpa melihat, sang bendaharawan menyapa. “Kau sudah datang?” sapaan itu membuat tenggorokan Dua Bakat kering.

“Ya.” Jawabnya singkat, dan tanpa basa-basi. Dua Bakat segera mendorong kayu segi lima ke hadapan orang itu.

Pena yang dipegang bendaharawan itu terlepas setelah melihat benda itu. Kekagetan nampak terpeta jelas di wajahnya. “Akhirnya datang juga…” desisnya.

Orang itu berdiri dan menatap Dua Bakat, matanya nampak menyorot tajam, jelas dia tahu bahwa orang yang ada dihadapannya bukanlah asistennya. “Kau suruhan dari beliau?”

“Pastinya.” Sahut Dua Bakat singkat.

“Kau tahu apa artinya?”

Dua Bakat menggeleng, dia masih tercengang melihat orang yang menjadi bendaharawan Kerajaan Kadungga ternyata juga seorang pesilat tangguh, rasanya dia pernah mengenal orang itu entah dimana, tapi penampilannya yang perlente membuatnya lupa siapa orang itu.

“Ini hanya salah satu kunci dari sokongan pergerakan, apakah kau yang akan membawanya atau aku yang akan mengurusnya?”

Dua Bakat tidak tahu apa yang dibicarakan orang itu, dia hanya diberi perintah untuk menyerahkan kayu segi lima, itu saja!

“Terserah dirimu.”

“Baik,” Sang Bendahara mengambil sebuah kotak kecil dari balik lemari besinya. “Kau bawa ini, dan perhatikan baik-baik semua perintah di dalamnya!”

Dua Bakat menerima benda terakhir—dari dua benda yang sebelumnya sudah dia dapat, dengan perasaaan lega.

“Mari aku antar kau keluar!” katanya singkat.

Keduanya keluar dengan pengawalan ketat, sesampainya di halaman belakang, Dua Bakat masuk ke dalam kereta kuda. Sais jelas paham kemana dia harus mengantarkan asisten bendahara. Dan selanjutnya Dua Bakat sudah menghilang dari Kota Skandhawara. Dia harus bergegas mencari rekan-rekannya, sebab pengaruh totokan murid sang majikan harus diperpanjang.

Sepanjang perjalanan, Dua Bakat lebih banyak berdoa dari pada mengumpat. Apakah itu sebuah perubahan menuju sikap yang lebih baik? Entahlah.

===oOo===

“Kenapa dia datang pada saat aku sudah menemukan ketenangan?” pikir sang bendahara dengan gundah setibanya di dalam ruangan kerjanya lagi. Lambang kayu segi lima yang berisi pecahan besi adalah simbol untuk mengambil dana, dia sudah menyiapkan dana itu sejak belasan tahun lalu. Tapi di lain sisi, rasa sayangnya terhadap emas yang akan digunakan sebagai biaya ‘perjuangan’, membuatnya harus menciptakan emas palsu pula.

Dengan terburu-buru sang bendahara segara menuju ke rumahnya, selama lima belas tahun menjabat sebagai bendahara kerajaan, tiap minggunya dia menggelapkan lima ratus keping emas, dan sedikitnya bisa membawa pula sepuluh batangan emas. Bisa dibayangkan sampai hari ini sudah berapa banyak uang yang ditimbunnya! Tentunya dia melakukan hal itu tanpa terendus, dengan perhitungan matang, serta rekap terperinci pada pembukuan kas rumah tangga kerajaan. Semua itu dia lakukan untuk mendukung perjuangan Anusapatik dan kerabatnya.

Memasuki tahun kesepuluh, rasa sayang terhadap emas yang telah dikorupsi, membuat dirinya harus menciptakan satu sekenario penipuan, tentunya dia tidak bisa bekerja sendiri, ada pejabat tinggi lain yang terlibat. Dan rencana penipuan itu agaknya harus berjalan saat ini, saat Anusapatik membutuhkan dukungan dana.

Sayangnya, sang bendahara tidak menyadari setiap langkahnya dikuntit oleh bayangan bagai hantu, seorang lelaki berperut buncit. Bahkan saat dirinya membuka tempat penyimpanan emas hasil penggelapannya, dia tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan dengan sangat seksama.

===oOo===

Ekabhaksa sudah menceritakan hasil penguntitannya terhadap ‘Rengu’, kepada Jaka. Termasuk saat dia masuk ke dalam ruangan penyimpanan harta sang bendahara. “… kita sikat saja?” tanyanya meminta pertimbangan.

Jaka termenung. “Apakah paman tahu, siapa yang menyamar menjadi asisten bendahara?” Tanya pemuda ini dengan berkerut kening.

“Tidak tahu, tapi jika dia ada di sekitarku, aku akan tahu…” jawab Ekabhaksa.

“Bisakah kau perkirakan berapa harta si kasir?”

“Entahlah, sekilas aku melihat emas batangan bertumpuk dalam belasan peti, dalam pecahan kepingan emas lebih banyak lagi!”

Jaka tersenyum, matanya juga nampak ‘tersenyum’. Dengan sendirinya Ekabhaksa juga ikut tersenyum, bahkan tertawa.

“Jadi, kita sikat dia?” Ekabhaksa mengulangi pertanyaannya.

“Tidak paman.”

“Heh?!” seru Ekabhaksa terkejut. “Apa maksudmu?”

“Kita akan melakukan lebih dari itu!” Ralat Jaka. “Jelas-jelas orang itu sudah menimbun harta kotornya. Kita akan membuatnya menjadi orang yang lebih dermawan… ehm, sangat dermawan pada kita.”

“Bagus, bagus!” sorak Ekabhaksa kegirangan. “Kapan kita beraksi?”

“Malam ini!” tegas Jaka, membuat Ekabhaksa melongo, ternyata Jaka Bayu lebih tidak sabar untuk ‘menggarong’ harta korupsi, daripada dirinya.

—oo0O0oo—

109 – Domino Effect : Intrik Dalam Intrik

Penikam sudah sampai di rumah batu, dia sedang memberikan paparan tentang segala kemungkinan jika malam ini mereka harus melakukan pencurian besar-besaran.

“Secara garis besar, keamanan di kota ini jauh lebih baik dari kota manapun, kau tak akan bisa mengumpulkan jumlah orang yang banyak tanpa diketahui orang lain. Jika ada rombongan lebih dari tiga orang, petugas keamanan akan menanyaimu sampai detail.”

Jaka mengangguk paham. “Berapa banyak kereta kuda yang kita butuhkan untuk mengangkut semua harta bendahara itu, paman?”

Ekabakhsa segera merincinya dalam benak, jika pemuda itu sudah bertanya dalam forum seperti ini, maka jawaban yang keluar dari mulut anggota adalah sebuah kepastian bukan keraguan.

“Enam belas, ukuran sedang!”

Jaka diam memikirkan itu, “Sangat tidak mungkin enam belas kereta berhenti di satu rumah.” Terdengar olehnya Penikam mengumam, Jaka-pun merasa itu mustahil.

“Berapa banyak peternak kuda di sekitar kota ini?” tiba-tiba Jaka bertanya pada Penikam.

“Dua puluh satu orang.”

“Berapa total jumlah kudanya?”

“Jika kita bicarakan 2000 kuda, aku yakin lebih.”

“Bagus!” desis pemuda ini. “Berapa sisa kas kita di sini, paman?” tanyanya pada Ekabakhsa.

“Tidak banyak, dua batang, dua ribu keping emas, enam belas haraka, 40 perak.” Jawab Ular dengan rinci.

Jaka berpikir sejenak, dengan uang sejumlah itu, tak mungkin dia belanjakan untuk membeli semua kuda. Tentu saja, Jaka tak bermaksud membeli kuda hanya untuk kemubaziran semata, Elang—salah satu anggota tujuh satwa, merupakan peternak kuda kelas besar, dia menyuplai ratusan kuda tiap bulannya ke berbagai daerah, termasuk kerajaan ini. Biarpun banyak peternak kuda, nama kesohor Elang membuat orang lebih percaya, dari pada harus mengambil di rumah ternak lain. Apalagi kebutuhan Kerajaan perihal ‘kendaraan dinas’ dan pemeliharaan angkatan perangnya, menjadikan transaksi jual beli kuda menjadi sebuah keharusan. Jaka bermaksud, ‘titip jual’ kuda, kepada Elang, memutar sisa uang kas mereka untuk mendapatkan jumlah yang lebih besar.

“Baik, begini saja… jika aku tidak kembali dalam satu jam, belanjakan semua uang kas kita untuk membeli kuda, Cambuk akan mengurus izin melintas di daerah ini, dengan kompensasi yang kurasa dia cukup bisa menegosiasikan dengan baik.”

“Kau akan kemana?” Tanya Ekabakhsa.

Jaka tertawa sejenak. “Memastikan saja! Sebelum rencana kita jalankan, Kwancasakya akan menyambangi Sang Bendahara lebih dulu.” Ujarnya membuat kening kedua orang rekannya berkerut.

“Maksudnya?” Tanya Penikam bingung.

Jaka tersenyum. “Melalui Sang Bendahara, aku ingin tahu, seberapa dekat hubungan kerajaan ini dengan telik sandi Kwancasakya.”

“Kau bermain api, Jaka…” Ekabakhsa mengingatkan.

Jaka mengangguk. “Jika kerajaan ini memiliki hubungan dengan Kwancasakya, aku yakin, bukan hanya bendahara itu saja yang akan kita kuras, beberapa orang bisa kita dapatkan pula. Kurasa jumlah kas kita akan segera meningkat tajam.”

“Kupikir, untuk memperjuangkan kebenaran, kita tidak perlu menjadi perampok.” Tiba-tiba sebuah suara menegur ide Jaka.

Tanpa menoleh-pun Jaka paham Ki Alih tengah mendatangi mereka. Menanti kehadirannya, Jaka berjalan mendekati jendela melepaskan tatapan menyapu situasi. Waktu sudah semakin tipis, dia harus segera melakukan gebrakan.

“Apa jawabnya, Jaka?” Tanya Ki Alih lagi.

Jaka membalikkan badan dan berhadapan dengan Kepalan Arhat Tujuh. “Menurut paman, dari mana si bendahara mendapatkan uang?”

“Kerajaan tentunya.”

“Lalu, dari mana kerajaan mendapatkan uang?”

“Pajak masyarakat, rampasan perang, perdagangan…”

Jaka mengangguk. “Sementara masih di wilayah kerajaan ini masih ada beberapa wilayah yang terjangkit penyakit dan bencana, itu sudah satu bulan berlalu. Kenapa pihak kerajaan tidak memberikan bantuan sama sekali?”

“Itu urusan mereka.”

“Salah, paman! Itu urusan kita sekarang… kita memiliki kemampuan, kita bisa bertindak, kita tidak perlu mengingatkan mereka. Kita akan mengambil uang dari jalur yang semestinya akan menghantam kerajaan ini dengan serangan tersembunyi. Kupikir-pikir, seharusnya Kerajaan ini malah menghadiahi mendali buat kita! Harta yang akan kita sita, tidak akan kita makan sendiri. Akupun tidak membutuhkan banyak harta, uang bagiku hanya memberatkan gerakan saja, aku makan pun cukup satu piring, rumahpun aku belum butuh.. jadi untuk apa aku harus menghimpun dana banyak?”

Ki Alih mengela nafas. “Untuk pergerakan kita, untuk modal kita.” Jawabnya singkat.

Jaka mengangguk puas. “Bukan berarti kita menghalalkan segala cara, paman. Engkau tentu lebih paham, jika dana bendahara itu terjatuh pada Kwancasakya apa yang akan terjadi?” kata Jaka sambil berajak pergi. “Aku pamit.”

Tubuhnya sudah lenyap begitu pintu tertutup, sementara Ki Alih termangu-mangu. Dengan menghela nafas panjang diapun duduk di sebelah Ekabakhsa. “Sampai sejauh ini, aku belum pernah bisa menduga kedalaman pikirannya.” Ujarnya pada si Ular.

Lelaki itu hanya tertawa pendek. “Aku orang yang bebas, tak suka berpikir pajang. Kedatangan Jaka yang mengantur banyak hal, malah kusyukuri. Ada orang yang mau berpikir panjang buat kita, kurang apa lagi?”

Ki Alih mengangguk dengan tertawa pendek pula. “Kau ini memang manusia tak lumrah.” Gumamnya ditimpali gelak tawa Ekabaksha.

===o0o===

Jaka sudah berindap-indap disekitar rumah Sang Bendahara, penjagaan disana benar-benar ketat. Pemuda ini sangat mengagumi kemahiran Ekabakhsa yang bisa berlalu lalang di liang orang tanpa ketahuan. Dari kejauhan, terdengar sebuah kereta cukup mewah, datang mendekati pintu gerbang, Jaka bersiap sejenak, lalu menyelusup di bawah roda kereta itu.

Dugaannya benar, ternyata kereta itu digunakan oleh Sang Bendahara untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Dengan ketajaman telinganya, Jaka bisa mengetahui dalam kereta ada, ada empat orang.

“Kau yakin, akan menghilangkan dana yang sudah kau himpun?” ujar sebuah suara pada seseorang—Jaka menebaknya orang itu berbicara pada Sang Bendahara. Suaranya tegas berwibawa.

“Yakin!” pungkas sebuah suara terdengar ketus. “Sudah bau tanah saja masih punya ambisi selangit, aku-pun ingin menikmati kejayaanku sendiri.” Ujarnya.

“Pikir dulu baik-baik. Jika kau merasa rencana ini cukup matang, aku akan membantu mengeluarkan hartamu. Berapa bagianku?”

Jaka mendengarnya dengan dada berdebar.

“40 persen.”

“Tak jelek, baik! Malam ini, aku akan datang dengan kendaraan dinas, kau tidak perlu repot.”

Penggalan informasi itu sudah cukup buat Jaka untuk tidak memata-matai lebih lanjut, dia melepaskan dari dari kolong kereta, saat melintasi sebuah tikungan sepi. Jaka memperhatikan kereta itu baik-baik, tidak ada tanda yang istimewa, cuma kereta itu ditarik oleh empat kuda keluaran peternakan terbaik, kuda dari peternakan Si Elang. Artinya sudah cukup buat Jaka untuk mengambil kesimpulan, bahwa orang itu pastilah orang dalam pemerintahan. Sudah sangat jamak, jika kau melakukan korupsi, kawanmupun tak akan jauh-jauh dari situ, bisa dipastikan penjahat.

Jaka baru saja pergi, saat Ki Alih memutuskan untuk pergi, pemuda ini sudah kembali. “Cepat sekali?” tegurnya. Ekabaksha tersenyum senang melihat kedatangan pemuda ini, artinya; dia tak perlu repot-repot menghabiskan uang untuk membeli kuda.

Pemuda ini tertawa, “Aku mendapatkan info yang sangat baik!” lalu pemuda ini bercerita.

Ki Alih dan Ekabakhsa saling pandang, “Tidak disangka dalam kerajaan yang cukup makmur inipun bersembunyi iblis-ilbis berhati busuk.” Gumam Ki Alih merasa kini bisa mendukung rencana Jaka 100 persen—tanpa ganjalan.

“Kita akan melakukan apa?” Tanya Ekabakhsa pada Jaka.

“Tunggu kedatangan, Cambuk. Mungkin dia memiliki ide ketimbang diriku.” Kata pemuda ini sambil duduk.

Ekabakhsa cukup mengerti keenceran otak pemuda ini, tapi diapun tak pernah memaksakan idenya harus berjalan. Dia lebih suka menggali ide dari anak-anak buahnya, sikap itulah yang dia yakin, menjadi kunci sukses menggaet anggota berkasta tinggi—termasuk dirinya.

Cambuk sudah datang dengan wajah berseri, agaknya dia mendapatkan berita bagus pula. “Sepertinya paman memiliki info baik. Aku ingin dengar…”

Lelaki itu adalah ajudan Adipati Kalagan dari wilayah Hulubekti, mungkin dibandingkan jabatan seperti Sang Bendahara, secara organisasi, Cambuk bukan apa-apa. Tapi peranan buah pikirnya dalam memajukan wilayah Hulubekti, menjadikan tiap kehadirannya dipandang seperti kedatangan Adipati Kalagan kalagan itu sendiri. Cambuk memiliki cukup nama untuk masuk ke tiap-tiap kerajaan, ide jalinan kerjasama yang dilakukan orang itu cukup mendapatkan apresiasi pada wilayah sahabat.

“Mungkin, tidak ada hubungannya dengan kelompok kita.” Kata Cambuk memulai pembicaraan. “Tapi, kukira ini bisa membuka sayap usaha kita untuk masuk kedalamnya.”

“Apakah, pengiriman barang?” tebak Jaka.

“Tepat sekali! Nilai kontrak kiriman itu, bervariasi. Cukup besar menurutku, kurasa kau bisa mengaturnya untuk dilaksanakan oleh siapa. Nanti kukenalkan orang itu pada pihak pemerintahan ini.”

Jaka saling padang dengan Ki Alih dan Ekabakhsa mereka tertawa. “Ada yang salah dengan ucapanku?” Cambuk merasa tidak senang.

“Bukan begitu paman…” lalu Jaka menuturkan informasi yang berhasil dia dapatkan. “Dengan kesepakatan paman, kita bisa masuk kedalam kerajaan tanpa dicurigai, jika sewaktu-waktu harus membawa banyak barang.”

Cambuk mengangguk-angguk. “Otak setanmu ini memang bisa saja menyambung segala urusan jadi satu.” Pujinya.

Jaka tertawa. “Aku ingin kau perkenalkan paman Alih kepada pihak kerajaan itu.”

“Sebagai apa aku nanti?” Tanya Ki Alih.

Jaka tersenyum dengan mata berkilauan. “Mati aku…” keluh Ki Alih merasa panas dingin.

“Kenapa paman, toh, aku belum mengatakan apa-apa.”

“Aku tahu, kalau kau sudah tertawa seperti itu, pasti ada kesulitan buatku…”

Jaka tertawa serba salah, dia menepuk paha Ki Alih. “Tidak paman, ini cuma ada kaitan dengan rencana kita yang lalu.”

“Menyusup ke Pratyantara?”

“Maksudmu, Ki Alih akan kukenalkan sebagai orang dari Pratyantara?” tanya Cambuk dengan suara terkejut, “Kau gila, Jaka!” katanya tak setuju. “Tak mungkin, kesepakatan ini berjalan. Kerajaan tak mau berhubungan dengan kelompok penjahat!”

“Dengar dulu penjelasanku, nanti kita timbang, apakah bisa dilakukan atau tidak. Kita juga harus melihat kondisi di lapangan… sekarang aku ingin tanya, barang apa yang akan dikawal?”

“Banyak, uang gaji juga termasuk. Tiap kerajaan pasti memiliki keperluan dalam pengiriman apapun. Kita tidak sedang bicara, barang apa… tapi semua pengiriman, akan dilakukan!”

“Nah, menjadi masuk akal pula, saat golongan Pratyantara yang mengurus ini, pihak kerajaan sudah bisa merasa aman dari gangguan, meskipun kalangan ini dicap sebagai gerombolan pencuri elit, aku yakin; jika alasan kita masuk akal, pihak kerajaan akan menerima. Lagipula, jika kita masuk dengan bendera usaha yang belum pernah mereka dengarpun, ini akan menyulitkan paman…” kata Jaka pada Cambuk. “Kurasa, paman bisa menyakinkan mereka dengan ide ini.”

Ucapan pemuda ini sepintas ngawur, tapi jika ditelisik lebih lanjut, sangat masuk akal. Pengiriman barang masa itu, tidaklah semudah membeli suatu barang. Gangguan akan selalu banyak menghadang, jika kelompok pencuri elit yang akan diajukan sebagai ‘tukang antar’, apakah ada pencurian lain yang mungkin terjadi?

“Masuk akal.” Gumam Cambuk setuju. “Alasan apa yang akan kita berikan pada mereka?”

Jaka mengangkat bahunya. “Nama baik, mungkin. Tidak ada dalam sejarah, orang ingin dipandang sebagai penjahat terus. Kita akan ‘memutihkan’ nama Pratyantara sedikit. Bagaimana?”

Ki Alih mengangguk, baginya; semua uraian Jaka memang masuk akal. Golongan Pratyantara sendiri sudah seperti barang dalam saku. Ki Alih memang sudah memata-matai kelompok itu hampir dua bulan lamanya.

Cambuk dan Ki Alih sudah pergi menemui pihak pemerintah kerajaan, kini saatnya Jaka dan Ekabaksha menyiapkan perlengkapan untuk aksi mereka, sesaat lagi.

===o0o===

Malam sudah dijelang, Ekabaksha sudah menyiapkan Kuda dari peternakan terdekat, keretapun sudah dia dapatkan. Penikam sudah menyiapkan seragam kerajaan dengan cermat. Jaka sedang mematut diri di cermin.

Pemuda ini menyeringai, membuat Penikam geli. “Kenapa?” tanyanya.

“Ah tidak, aku tak pernah menyangka, akan menggunakan pakaian seperti ini.” Kata Jaka.

Mereka mulai bergerak dari luar perbatasan, memacu kereta dengan kecepatan biasa, Ekabaksha tidak menyiapkan enam belas kereta, tapi tiga puluh. Sementara Cambuk dan Ki Alih, sudah mendapatkan kesepakatan pengiriman. Mereka menawarkan untuk kiriman pertama adalah gratis! Tentu saja, pemerintahan mana yang tidak suka dengan hal itu, karena kesepakatan itu pulalah, rencana yang sedianya akan dieksekusi malam ini oleh rekan Sang Bendahara, terpaksa urung. Karena pihak otoritas kerajaan mengumumkan tidak akan mengeluarkan kereta barang dalam beberapa hari ke depan, karena mereka yang terbiasa menggunakan kereta tersebut, dialihkan untuk ikut menjaga pengiriman perdana oleh Pratyantara yang akan dilakukan malam itu juga!

Tentu saja rekan Sang Bendahara merasa itu diluar dugaan, dia akhirnya mengutus seseorang untuk menyampaikan hal tersebut pada Sang Bendahara, bahwa rencana mereka ditunda dalam dua hari ke depan. Tapi, sudah tentu Jaka telah mengantisipasinya … Jaka sudah menyiapkan orang untuk menunggu si utusan. Melumpuhkan orang itu, dalam beberapa hari ke depan, utusan itu akan tidur pulas. Dan orang yang menggantikan utusan itu, menjumpai orang-orang kepercayaan Sang Bendahara untuk bersiap-siap melakukan pengiriman, dia mengatakan pula bahwa karena perubahan rencana dalam kerajaan, ‘sang pimpinan’ tidak akan bisa turut menyertai.

Sang Bendaharawan tidak curiga, karena diapun mendapatkan info, bahwa akan ada pengiriman kerajaan malam ini. Penikam yag menyamar sebagai utusan itu memang tukang kompor, dia menceritakan bahwa; Kerajaan yang memiliki perjanjian bisnis dengan golongan pencuri elit, akan dimanfaatkan oleh ‘sang pimpinan’ untuk membatalkan kesepakatan itu! Mereka akan menggagalkan pengiriman tanpa biaya itu, dengan ‘pola’ pencurian yang didalangi Pratyantara sendiri. Pengiriman yang selama ini dikelola ‘sang pimpinan’ merupakan sumber dalam pengumpulan dana pula. Jika pekerjaan itu dikelola orang lain, otomatis mereka akan kehilangan ‘roti’ yang cukup besar.

Sang Bendahara manggut-manggut dengan tertawa membenarkan bahwa rekannya itu pasti akan bertindak sesuatu dalam pengiriman perdana itu. Di merasa ‘rekannya’ itu cukup serakah, padahal dia telah berjanji akan memberikan 40 persen sebagai bagiannya, dan itu sangat besar! Rupanya orang itu tak mau kehilangan pekerjaan rutinitas pengiriman. Sang Bendahara paham, dalam tiap pengiriman apapun, akan ada barang yang menghilang dalam manifest—catatan pengiriman. Dan kejadian penggelapan itu diketahui betul oleh Sang Bendahara, karena mereka sudah saling memegang kartu mati masing-masing, akhirnya bisa bekerja sama dengan baik.

“Aku akan menyiapkan semuanya, kalian tak perlu repot ikut menggotong barang-barangku.” Kata Sang Bendahara pada Penikam.

“Baik!” sahut Penikam pendek, dan segera meninggalkan tempat itu dengan hati gembira. Tak disangka, karangan Penikam untuk mengelabui Sang Bendahara memang merupakan kejadian nyata yang di mungkin akan lakukan ‘sang pimpinan’. Dengan sendirinya Penikam memperingatkan Ki Alih tentang kemungkinan yang terjadi.

Ki Alih tertawa. “Cecurut macam mereka tidak akan membuat kita cukup berkeringat untuk membereskannya.”

“Tapi sepertinya pihak kerajaan akan mengirimkan prajurit-prajurit tingkat atasnya.”

“Tidak masalah!” sahut Ki Alih, “Kejadian itu malah akan menjadi keuntungan besar buat Pratyantara—bagi kita!”

Penikam cukup paham maksud Ki Alih, jika mereka bisa meringkus komplotan ‘sang pemimpin’, dengan sendirinya posisi rekan Sang Bendahara, akan terancam, dan ini artinya akan merembet pada terbongkarnya satu skandal besar! Lain daripada itu, pihak kerajaan akan sangat percaya dengan integritas Ki Alih, yang menyamar menjadi Jung Simpar!

Empat belas kereta, berderap memasuki wilayah pendistribusian di kerajaan itu, nampak jelas para prajurit berseragam lengkap mengawal kedatangan kereta kuda itu, bagaimanapun golongan Pratyantara cukup memiliki nilai busuk, mereka diberi wanti-wanti oleh pimpinan regu untuk menindak segala urusan yang mencurigakan. Ki Alih tak mau membuat rencana berantakan, dengan pengalamannya, lelaki paruh baya itu berhasil mengorganisir kereta sebanyak itu dengan sangat disiplin.

Sementara itu enam belas kereta lainnya, berjalan perlahan menyusuri jalur lain, menuju rumah Sang Bendahara, yang kebetulan berada di ujung lintasan jalan utama. Membuat semua pekerjaan mereka tidak dicurigai orang lain. Ekabaksha sudah tahu wajah Sang Bendahara, dia memberi tahu pada Jaka ciri orangnya.

Dengan tenang, Jaka segera menemui pimpinan yang mengawal keamanan pada rumah Sang Bendahara, tidak usah menunggu lama. Beberapa orang dengan sangat gesit mengangkut barang-barang ke dalam kereta.

Diam-diam Jaka tertawa, berapa keberuntungan memayunginya. Dia tak perlu mengorek keterangan Sang Bendahara, tentang apa yang akan dilakukan selanjutnya dengan uang itu. Karena dengan sigap Sang Bendahara sudah menunjukkan peta dimana uang akan disimpan, lebih dari itu tiap kereta dijaga oleh empat orang. Bagi pandangan Jaka, para pengawal itu adalah tokoh-tokoh persilatan keluaran perguruan kenamaan. Meski tidak sulit mengatasi mereka, Jaka sebenarnya sangat ingin tahu apa yang membuat Sang Bendahara ini memindahkan uang secara sembunyi-sembunyi ini. Pastinya, ada orang lain yang sangat ditakuti yang membuat Sang Bendahara melakukan kegiatan ini.

Enam Belas Kereta telah terisi penuh, dengan belasan peti pada tiap kereta, harta kekayaan Sang Bendahara memang luar biasa.

Tapi, kejadian yang tengah dialami dalam halaman rumah Sang Bendahara, diikuti dua pasang mata yang menyorot tajam, nampaknya mereka sangat puas dengan ‘kecepatan’ Sang Bendahara dalam menindak lanjuti ‘perintah’ yang disampaikan oleh Dua Bakat. Mereka akan dengan diam-diam mengikuti rombongan itu, sampai di tempat persembunyian harta itu.

Jaka menghela keretanya dengan perlahan. Sang Bendahara melepas enam belas kereta itu dengan tatapan cemas, dia hanya menyisakan dua keping emas dalam kantongnya. Meski dia mengatakan pada Jaka akan menyusul dua hari mendatang, tapi malam itu juga Sang Bendahara segera berbenah, menguntit iring-iringan kereta kuda itu.

Tidak, terbersit dalam benak Jaka, untuk berbelok ke arah lain. Selain karena dia memperhitungkan orang-orang yang turut serta dalam pengawalan, Jaka sangat yakin ada pihak lain yang turut membayangi mereka, entah siapapun mereka itu, boleh jadi ada kaitannya dengan luka-luka yang diderita oleh tetua dari Perguruan Enam Pedang.

===o0o===

Perjalanan itu hanya memakan waktu satu harian saja, dalam peta di tangan Jaka. Arah yang ditentukan Sang Bendahara tidak menyebutkan tempat apa yang digunakan sebagai muara dari kiriman dalam kereta itu.

Sebuah perkampungan yang menjadi tujuannya, Ekabaksha mengenali ciri dan baju para penghuni perkampungan itu. Mereka nampaknya ada kaitannya dengan Keluarga Tumparaka, para ahli golok selalu merujuk pada keluarga ini.

“Bertindak hati-hati, Jaka. Orang-orang di dalam sana memiliki hubungan dengan Keluarga Tumparaka.”

Jaka mengangguk, dia cukup mafhum siapa itu Keluarga Tumparaka, mereka memiliki pengaruh sangat kuat di dalam dunia persilatan.

“Selamat datang… sungguh tidak disangka, kalian datang lebih awal!” dari luar terdengar suara, dan pintu gerbang yang semula hanya terbuka separuh, kini dibentangkan lebar-lebar.

Jaka tidak terkejut menjumpai Sang Bendahara yang menyambut mereka, jika dia menjadi orang itupun, dirinya akan membayangi keberadaan hartanya dengan ketat. Jaka tidak membahas kenapa orang itu datang lebih awal.

“Dimana, harus diletakkan?” Tanya pemuda itu.

“Ikuti aku…” kata Sang Bendahara dengan riang. Mereka menuju sebuah rumah besar yang bertetangga dengan rumah-rumah pande besi, terdengar suara denting logam sedang dipukul.

“Sial, kita benar-benar kerja bakti!” gerutu Ekabaksha tak senang hati berbisik pada Jaka. Sepanjang pejalanan, Ekabaksha mengira mereka akan belok kemana untuk meletakkan uang itu, dia sudah bersiap-siap untuk melumpuhkan para penjaga. Tak tahunya, Jaka adem ayem saja, terpaksa dengan heran, aksinya tak jadi dilakukan.

“Jangan kawatir paman, harta ini biar kita titipkan disini saja, ada suatu ketika kita akan mengambilnya. Toh, tempatnya sudah kita ketahui.” Jawab Jaka dengan tenang.

“Darimana kau punya keyakinan itu? Yang jelas, aku memperingatkanmu dengan keras! Kita tak boleh menyinggung orang-orang dalam perkampungan ini, mereka dalam lindungan Keluarga Tumparaka. Bisa susah gerakan kita jika berurusan dengan mereka!”

Jaka mengangguk, “Aku tidak akan bertindak ceroboh, di sepanjang perjalanan tadi aku sudah memikirkan tingkah aneh kasir itu.” Bisik Jaka.

Ekabaksha hampir saja bertanya, tapi dia urungkan saat Sang Bendahara menyuruh mereka untuk masuk ke dalam menyicipi barang secangkir air, tak tahunya hanya air dingin yang disajikan, pelit betul! sementara orang-orang yang turut menjaga dalam perjalanan, bertindak dengan cekatan menguras isi kereta, dan menyimpannya dalam rumah.

Sambil menyerapi situasi, Ekabaksha akhirnya bertanya. “Apa yang kau pikirkan?”

“Orang itu, bertindak begini terburu-buru, karena tekanan dari tamu yang sempat kau lihat orangnya.”

“Samaran dari Rengu.” Ujar Ekabaksha meralat.

Jaka mengangguk, dengan merendahkan suaranya dia melanjutkan. “Dari keterangan yang kudengar, dia tidak mau berada dalam tekanan ‘si tua bagka’, entah siapa orang itu. Tapi, orang yang bisa menyamar seperti Rengu dan mengubah wajah dengan mudah, pasti tokoh kasta tinggi. Aku menganggapnya sebagai pesuruh saja, pasti ‘si tua bangka’ adalah tokoh hebat yang menopang gerakannya. Boleh jadi karena si kasir ketakutan atas tekanan sang utusan, dia bereaksi siap pula.”

Ekabaksha mengangguk-angguk. “Lalu, apa yang akan kita lakukan?”

“Menunggu, mencermati keadaan.” Tiba-tiba Jaka mencekal tangan Ekabaksha yang mau mengambil air minum dalam kendi. “Waspada, ada racun yang cukup tipis dalam gelas.” Bisik Jaka.

Ekabaksha terperanjat. “Kurang ajar! Biar kuhajar orang itu!” geramnya tertahan,

“Tenanglah, persiapkan saja tenaga paman untuk menguatkan lambung.” Lalu Jaka dan Ekabaksha berturut-turut memperingatkan teman-teman yang lain, mereka meminum air itu dengan cepat.

“Kami akan segera berlalu, jika terlalu lama… ketidakhadiranku di kesatuan bisa cukup memusingkan.” Kata Jaka setelah Sang Bendahara menemui mereka lagi.

Dengan diiringi senyum tipis, Sang Bendahara itu melepas kepergian Jaka sekalian. Deru kereta kuda meninggalkan perkampungan itu. “Alangkah baiknya kalian lupa dengan tempat ini!” pikir Sang Bendahara tersenyum puas. Nyatanya, racun yang dioleskan pada gelas berfungsi untuk membuat lupa. Entah seberapa banyak kadar racunnya.

Membagi harta 40 persen, jelas cuma janji isapan jempol saja. Sang Bendahara tak rela uangnya harus dibagi. “Benar-benar keberuntungan ada dipihakku, untung saja dia tidak ikut serta dalam rombongan pengawalan…” pikirnya sambil bersiap-siap meninggalkan tempat itu.

Rumah tempat penyimpanan uangnya, diyakini aman 100 persen, sebab Tumparaka adalah keluarganya. Dan fakta itu tidak diketahui orang lain! Sayang sekali, kegembiraan itu terlalu cepat.

Dua bayangan yang mengikuti rombongan itu, nampak tidak puas dengan pekerjaan Sang Bendahara. Mereka tidak mungkin masuk ke dalam perkampungan yang memiliki tulang punggung Tumparaka. Satu-satunya jalan, mereka harus menjumpai si kasir, untuk menanyakan kenapa dia harus menyimpan pada tempat yang sulit untuk diambil kembali?! Dengan sabar, keduanya menunggu Sang Bendahara keluar dari perkampungan itu, dan rencananya akan menyergap di tengah jalan!

—ooOOOoo—

110 – Domino Effect : Rejeki Tak Akan Kemana

Jaka sudah berhenti tak jauh dari sekitar Perkampungan Menur, dia memperhatikan gerakan yang mungkin terjadi di tempat yang memperoleh perlindungan dari Keluarga Tumparaka. Bersama Ekabakhsa, pemuda ini sudah membantu rekan-rekan lainnya untuk mengeluarkan racun dari dalam lambung. Jaka meminta mereka untuk kembali ke pos masing-masing, sementara dirinya bersama si Ular tetap mengintai.

“Kau yakin, dia akan kembali ke kota secepat itu?” tanya Ekabaksha pada Jaka.

“Tidak terlalu yakin paman, mestinya orang itu harus mengatur penyimpanan harta lebih dulu. Aku yakin ‘si tua bangka’ yang dia sebutkan pun sedang mengincarnya. Kita cukup menjadi saksi pertikaian mereka.”

Benar dugaan Jaka, setelah mereka menunggu hampir setengah hari Sang Bendahara keluar dari perkampungan itu dengan berkuda, di pinggangnya terselip senjata sepasang golok, menanti jaraknya sudah cukup jauh dari perkampungan, kuda yang ditunggangi Sang Bendahara meringkik dengan dua kaki terangkat, sebelum akhirnya jatuh dengan leher terkulai. Dengan cekatan orang itu melompat, gerakannya sangat ringan. Sejak awal Jaka melihat Sang Bendahara, dia yakin orang itu tidak selembek dugaan banyak orang, nyatanya dari gerakan yang sangat gesit itu, cukup bicara banyak.

Dengan tenang, Sang Bendahara menunggu, dia yakin si penyerang gelap akan dating. “Keluar kalian, aku sudah cukup sabar menunggu!” bentaknya tak sabaran.

“Seperti permintaanmu…” berkumandang satu suara dari arah belakang, dan itu membuat Sang Bendahara menggeser kaki hingga bisa mengawasi gerakan di belakangnya, dia tidak mau ceroboh membalikkan badannya.

Dua orang lelaki muncul begitu saja, seperti datang dari balik tanah, dan itu membuat wajah Sang Bendahara menjadi sangat serius. “Nekawarnnarengit…” desis Sang Bendahara dengan mata menyipit.

“Kau sudah mengenal kami, Sandigdha?” sahut salah seorang dari mereka menyebutkan nama asli Sang Bendahara.

Ekabaksha melirik Jaka dan berbisik, “dua orang itu adalah kelompok pembunuh dari Kwancasakya, sebutan Nekawarnnarengit atau aneka jenis nyamuk adalah penggambaran dimana saja mereka bisa menyusup, tidak ada tempat yang tak terjangkau.”

Jaka mengangguk. “Artinya si tua bangka punya yang disebut Sandigdha hubungan dengan Kwancasakya?” bisik pemuda ini.

“Belum tentu, organisasi Kwancasakya terlalu bias, setiap anggotanya bisa bergabung dengan perkumpulan manapun, tapi jika Sandigdha menyebutkan mereka sebagai Nekawarnnarengit, artinya; dua orang ini adalah bayaran. Tapi aku tak yakin pula…”

“Kudengar namamu sudah cukup mengguncang jagad persilatan puluhan tahun lampau, kenapa sekarang kau begitu ceroboh? Apakah karena terlalu banyak harta?”

Sandigdha diam tak menjawab. “Apakah kalian diutus olehnya?” akhirnya dia buka suara, tak menanggapi pernyataan tadi.

“Ya, kami memang tidak ada hubungan dengan semua rencana-rencana orang itu. Tapi kebaikan yang sudah dia berikan pada kami, cukup membuat pekerjaan kali ini kami berikan harga gratis untuknya.”

“Katakan, untuk apa kedatangan kalian menjumpaiku?”

“Kau tidak lupa kenapa hartamu harus berpindah tempat, bukan?”

Sandigdha manggut-manggut. “Perkampungan yang menjadi tempat pernyimpanan hartaku adalah tempat teraman, jika sewaktu-waktu dia memerlukannya, akan lebih mudah mengambilnya. Kalian harus tahu kondisiku, tak memungkinkan aku bergerak sewaktu-waktu.”

“Itu kami paham, masalahnya… tempat penyimpanan yang kau tunjuk ini punya penyakit besar!”

“Ohya? Aku tidak tahu…” pada saat kalimat terakhir diucapkan, kedua tangan Sandigdha sudah bergerak menghunus dua goloknya dan membacok dua orang yang berdiri di samping kanan kirinya. Jarak mereka sebenarnya tidak memungkinkan Sandigdha melancarkan serangan, tapi ternyata golok yang dihunusnya memiliki keistimewaan, pada gagangnya terdapat tali baja tipis, dan itu bisa dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk melepas genggamannya. Posisi golok membacok meluncur dengan kecepatan tinggi, langsung menebas leher dan pinggang kedua orang itu.

Crak! Serangan secepat kilat itu nyata-nyata hanya lewat sekejap, tidak seperti umumnya gerakan membacok, sebab kedua korban bahkan masih sempat berkata-kata, sebelum akhirnya sadar tubuh mereka terbelah.

Jaka Bayu dan Ekabaksha menyaksikan itu dengan terkesima, dari caranya bicara dan bergerak, tidak kurang hanya berlangsung sekejap mata saja, dan dua tubuh yang masih sempat melontar tanya itu, terbelah sempurna. Mati!

“Dia terlalu meremehkan diriku, hanya mengirim pembunuh gratisan, huh!” dengus Sandigdha meludah, digeledahnya tubuh kedua orang itu, tapi dia tidak menemukan apa-apa.

Tanpa menghiraukan tubuh yang bergelimpang, Sandigdha melanjutkan perjalanan menuju rumah tinggalnya, jabatannya sebagai Bendahara Kerajaan, jauh lebih penting dari segala urusan saat ini.

“Ah, aku baru ingat… orang itu berjuluk Tangan Bayangan, namanya sendiri mencerminkan arti ketidaktentuan, dia termasuk dalam kelompok lima di keluarga Tumparaka.”

“Apa itu kelompok lima?” Tanya Jaka.

“Pengeksekusi, semacam algojo.”

“Tapi, dia terlalu ceroboh…” komentar Jaka.

“Kenapa?”

“Dia mengira, hanya ada dua orang Nekawarnnarengit, dia mengira itu akan lolos dari Kwancasakya dengan mudah.”

“Bukankah mereka hanya dua orang?”

Jaka mengangguk. “Tapi ilmu goloknya yang terlampau cepat, sama halnya menunjukkan dirinya sebagai pelaku.”

Baru saja Jaka berkata demikian, dari persembunyian, mereka menyaksikan sebuah kejadian yang mendirikan bulu kuduk, perlahan-lahan tubuh kedua korban itu bergemertak, lalu bergerak sesaat.. kemudian mencair! Dan hanya tersisa baju mereka.

“Aku salah, ternyata golok yang digunakan orang itu memiliki rongga dan menyimpan racun…” gumam Jaka dengan prihatin.

“Kau tahu, itu racun apa?” Ekabaksha bertanya dengan mata masih melotot memperhatikan dua jazad yang kini tinggal berupa cairan kental saja.

“Banyak ragam, cara menghilangkan daging. Tapi kukira, dia akan menimpakan abu dari kejadian ini pada orang lain.” Kata Jaka sambil memperhatikan situasi, merasa aman, pemuda itu lalu keluar diiringi Ekabaksha. Sambil berjongkok, Jaka mengorek cairan kental itu dengan ranting.

“Kurasa sasaran Sandigdha adalah keluarga Gumilata.” Gumam Jaka. “Apakah, paman pernah tahu ada perselisihan apa antara Gumilata dan Tumparaka?”

“Itu cerita lama, konon leluhur mereka adalah kakak beradik. Tapi, konflik apa yang menjadi perselisihan, aku tidak tahu persis. Tidak heran Tumparaka cukup mengenal racun Gumilata.” Ujar Ekabaksha memperhatikan krah baju korban. Dengan sangat hati-hati, disobeknya bagian ujung krah itu, ternyata didalamnya ada gulungan kain lain. Jaka tidak memperhatikan apa yang dilakukan rekannya, wajah pemuda itu nampak berkerut dalam.

“Seharusnya tidak semudah ini…” gumam Jaka, dengan rantingnya dia melakukan gerakan bacokan serupa yang dilakukan Sandigdha, matanya terpejam dengan kening berkerut.

Ekabaksha memperhatikan pemuda itu sejenak. “Kau bisa mengambil kesimpulan apa?” tanyanya, dia paham cara yang dilakukan Jaka melacak balik sebuah serangan, adalah untuk memahami latar belakang kejiwaan pelaku. Disiplin ilmu ini dikembangkan oleh Sadhana, sang Serigala. Dan Jaka cukup banyak menimba ilmu itu darinya.

“Golok yang memiliki tali sebagai perpanjangan tangan memang cukup mengejutkan, tapi orang yang bisa melakukan gerakan membacok tanpa memegang gagang golok, lebih menakutkan lagi. Lebih dari itu, karena dalam gagang golok terdapat rongga—ruang kosong untuk menyimpan racun, caranya melontarkan senjata untuk membacok jelas lebih sulit dari kelihatannya. Ada tenaga yang harus dibungkus sedemikian rupa di ujung goloknya, dengan pengaturan waktu yang sempurna, pada saat senjata membentur sasaran, tenaga itu diledakkan dengan cepat, dan ditarik secepat kilat untuk memancarkan seluruh racun ke mulut luka lawan.”

“Dan artinya?”

“Sandigdha adalah orang yang sangat cermat, licik, bersedia dinilai rendah oleh orang lain, lebih dari itu… himpunan hawa saktinya cukup menakutkan.” Kata pemuda itu sambil melihat tempat berdiri orang itu yang tidak memimbulkan sedikitpun jejak.

“Padahal cukup besar tenaga yang dikerahkannya untuk membunuh dua orang tadi, tapi tidak menimbulkan sedikitpun jejak.” Gumam Ekabakhsa setuju dengan kesimpulan Jaka. “Orang ini sangat berbahaya!” sambungnya lagi. “Kau tidak ada keinginan untuk mengurusnya?”

“Tidak, kehadirannya justru menjadi lawan bagi ‘si tua bangka’, jika aku harus berkonfrontasi dengannya, malah akan menguntungkan orang lain. Jangan kawatir paman, kita akan membuat rencana yang sesuai untuknya…” kata Jaka sambil tersenyum, dia mengajak Ekabaksha kembali ke Perkampungan Menur. “Kau menemukan apa tadi?” Tanya pemuda ini setelah mereka jauh dari tempat kejadian.

“Sebuah sandi berita, tertulis mereka sedang mengikuti Sandigdha.”

“Paman mengambil sandi itu?”

“Aku mengembalikannya.” Jawab Ekabaksha singkat. “Dengan ini Sandigdha, memiliki dua musuh yang cukup menakutkan…”

Jaka menggeleng, “Belum tentu paman. Kwancasakya bukan sejenis organisasi yang gemar membalaskan dendam bagi anggotanya. Bagi mereka, jika kematian anggotanya ternyata memberikan keuntungan yang lebih besar bagi kelompok, mereka tidak akan keberatan.”

“Hm.. aku jadi tertarik, apa yang ditawarkan Sandigdha saat orang-orang Kwancasakya menemuinya.”

“Jika dugaanku tak salah, Sandigdha menawarkan kerajaan beserta isinya.” Kata Jaka dengan tertawa ringan.

“Omong kosong tak berguna…” dengus Ekabaksha.

Jaka tidak membalas ucapan Ekabaksha, bagaimanapun itu hanya tebakannya, benar tidaknya harus melalui pendalaman fakta lebih jauh. Mereka sudah sampai di depan pintu gerbang Perkampungan Menur.

“Mau apa, kita kesini?” Tanya Ekabaksha.

“Bukankah aku mengatakan akan membuat rencana yang sesuai untuk Sandigdha?”

“Secepat ini?” mata Ekabaksha terbelalak.

“Mumpung kita disini, buat apa harus bolak-balik?” ujar Jaka sambil tertawa, lalu pemuda ini mengetuk pintu gerbang.

Dari dalam nampak lubang intai pada pintu terbuka. “Siapa? Oh.. kalian, ada keperluan apa?” rupanya penjaga gerbang masih mengenali seragam yang dikenakan mereka.

“Kami disuruh menunggu tuan Sandigdha di tempat tadi, katanya ada perubahan rencana.”

Wajah penjaga gerbang itu nampak terkejut. “Kenapa kau sembarangan menyebutkan nama beliau?”

“Maaf, ini supaya kita tidak bicara berbelit-belit, bisakah kau buka pintu ini?”

Karena nama Sandigdha semacam azimat bagi penjaga gerbang, Jaka dan Ekabaksha tidak kesulitan memasuki perkampungan itu. Barulah kali ini mereka memperhatikan secara seksama apa yang sedang dilakukan warga Perkampungan Menur. Selain beragam senjata tengah mereka buat, alat-alat pertanian dan beberapa bau belerang jelas menyengat hidung mereka berdua.

“Untuk apa mereka membuat semua ini?” bisik Ekabaksha bertanya.

“Seperti yang kukatakan tadi, Sandigdha boleh jadi menawarkan Kerajaan Kadungga kepada Kwancaskaya, senjata ini bisa jadi digunakan untuk menyerang, kan?”

“Sembarangan menyimpulkan…” desis Ekabaksha tidak setuju.

Mereka sudah duduk di tempat sebelumnya, Jaka memperhatikan suasana. Dengan pendengarannya pemuda ini bisa mendeteksi belasan orang ada di dalam bangunan ini. “Paman, tunggu disini sebentar, aku mau ke kamar kecil…” ujar pemuda ini sambil tertawa, Ekabaksha tahu, Jaka tak mungkin sekedar buang air.

Tak berapa lama kemudian, Jaka sudah kembali duduk bersisian dengan Ekabaksha. “Giliranmu paman, tolong perhatikan hal-hal yang perlu..” bisiknya.

Ekabaksha masuk ke dalam, matanya melotot tak percaya, melihat belasan orang dalam kondisi tak bergerak, jelas itu perbuatan Jaka yang menotok mereka. Sudah tentu Ekabaksha tahu apa yang harus dilakukannya, dengan sangat terperinci, lelaki gemuk ini mulai menyisir tiap ruangan, sejengkalpun tak dia lewatkan. Waktu yang dibutuhkan Ekabaksha jelas lebih lama dari Jaka, pada saat itu beberapa orang masuk membawa nampan.

“Heh, mana temanmu?”

Jaka tidak mau repot-repot menjawab, jemarinya bergerak cepat. Tiga orang itu tertotok sempurna. Tak berapa lama kemudian Ekabaksha muncul.

“Paman temukan sesuatu?” Tanya pemuda ini.

“Kita harus bergegas pergi, aku menemukan peta!”

“Nanti dulu paman, masuk baik-baik, keluarpun harus baik-baik.” Kata Jaka mengambil minuman yang masih berada di atas nampan, diperiksanya sesaat. “Sialan, beracun juga…” gerutunya.

“Kau pikir orang-orang itu tidak curiga setelah kau totok?” dengus Ekabaksha menyalahkan pikiran naïf Jaka.

“Mereka tidak akan merasakan dampak totokan, saat bebas nanti, mereka hanya merasa seperti baru berkedip.” tukas Jaka sambil tersenyum membuat Ekabaksha cukup santai. Dia cukup tahu kemahiran Jaka yang berkaitan dengan anatomi manusia, berbicara masalah itu dengan Jaka, bisa berhari-hari anak muda itu menjelaskannya.

“Berapa lama, mereka akan sadar?”

“Sebentar lagi…”

Baru saja Jaka bicara, Ekabaksha sudah bisa menangkap suara-suara aktifitas kembali berlangsung di balik dinding itu. Dan beberapa saat kemudian, tiga orang yang membawa air juga meneruskan gerakannya.

“Ah, ternyata kau disini.. mataku silaf..” kata orang itu mengerjap matanya berulang kali.

“Aku memang duduk disini terus.” Jawab Ekabaksha agak ketus.

“Kami hanya menunggu setengah kentungan lagi, bila tuan Sandigdha belum juga menyusul kemari, kami harus segara menuju tempat yang telah ditunjuk beliau.” Kata Jaka pada pembawa nampan itu.

“Terserah kalian, tapi kami harus bagaimana saat tuan Sandigdha datang?” ujar si pembawa nampan itu.

“Katakan saja, kami sudah ke tempat yang ditunjuknya.” Kata Jaka sambil meminum air yang dia ketahui ada racunnya.

Melihat kedua tamu itu meminum air tanpa curiga, mereka menjadi lebih tenang. Setengah kentungan sudah lewat, Jaka memutuskan mereka harus segera keluar. “Kami akan pergi sekarang…” katanya pada salah seorang di dalam ruangan itu.

“Sebentar…” kata orang itu sambil kembali ke dalam, dia kembali sambil membawa nampan air. “Kalian minum dulu..”

Ekabaksha menatap Jaka meminta pertimbangan, melihat Jaka tidak ragu untuk meminumnya, Ekabaksha-pun turut serta. Mereka sudah berjalan tanpa tergesa-gesa keluar dari perkampungan itu. Setelah agak jauh, Ekabaksha bertanya pada Jaka.

“Kenapa kita harus minum dua kali di sana?”

“Minuman pembuka adalah racun ringan, jika kita tidak meminum penangkal—pada minuman terakhir tadi, beberapa hal akan kita lupakan…”

“Oh, sama dengan racun yang diberikan Sandigdha sebelumnya?”

Jaka mengangguk. “lalu, kau mendapatkan peta apa, paman?”

Ekabaksha mengambil gulungan lontar tipis dari balik bajunya. Sebuah coretan serupa dengan peta yang pernah diberikan Sandigdha pada Jaka, nampak menggambarkan sebuah jalur untuk menyimpan sesuatu.

“Aku tahu tempat ini…” kata Ekabaksha dengan senyum lebar. “Dan kurasa aku tahu apa yang sedang mereka simpan.”

Jaka mengangguk-angguk, jika tebakannya tidak salah, harta yang tadi dibawa tentu saat ini sedang disimpan pada peta yang tertera itu. Mereka bergegas mengikuti jalan yang tertera pada peta. Ekabaksha benar-benar seperti ular yang paham dengan tiap liang yang digali, jalur pada peta tidak sepenuhnya diikuti, sebab Ekabaksha mengerti jalur tembus yang lebih pendek.

Sebuah kandang sapi dengan belasan ekor sapi tampak menyambut mereka. “Apa aku salah?” gumam Ekabaksha sambil berulang kali melihat peta.

“Tidak, kita tunggu saja…” Jaka mengambil keputusan, dia bukan meragukan ketepatan Ekabaksha dalam mengambil jalur, tapi bisa jadi peta yang diambil tadi memang bukan menyatakan apapun.

Tak berapa lama kemudian, sebuah lubang nampak terkuak setelah bagian tanah di belakang kandang sapi bergeser! Ah, nampaknya lubang rahasia, dari dalam keluar belasan orang dengan wajah-wajah kuyu. Jaka masih mengenal beberapa orang, mereka ikut mengawal perjalanan kereta ke Perkampungan Menur.

Ekabaksha memandang Jaka dengan tatapan berbinar. Benar-benar rejeki nomplok, tak perlu bersusah payah, mereka kini mengetahui tempat penyimpanan harta Sandigdha. Jika Ekabaksha tidak salah duga, tentu bukan hanya harta yang baru mereka bawa, boleh jadi ada harta lain.

Mereka menunggu dengan sabar, setelah orang terakhir keluar dari dalam liang dekat kandang sapi, Jaka mendekati tempat itu. Sebelumnya dia sudah memeriksa sekitar tempat itu, tak jauh dari kandang sapi ternyata ada dua rumah yang disinyalir sebagai ‘pemilik kadang sapi’, letak rumah itu cukup tersembunyi tertutup rerimbunan pohon.

Ekabaksha sudah siang-siang menyusup masuk ke dalam lubang itu, Jaka menunggu di luar dengan sabar. Tak berapa lama kemudian, nampak kepala Ekabaksha keluar dari lubang lain, dia segara mendekati Jaka. Matanya berbinar-binar.

“Rupanya dugaanku benar! Kurasa, ini adalah salah satu tempat penyimpanan harta keluarga Tumparaka. Apakah akan kita angkut?” tanya Ekabaksha dengan bersemangat.

Jaka tertawa lebar. “Kau begitu tidak sabaran, paman… tentu saja!” tegasnya. “Tapi tidak sekarang, kita akan meminta tolong Paman Alih. Dengan caranya, mereka akan memindahkannya semua ini dengan sukarela.”

Ekabaksha menyeringai, dia paham dengan maksud Jaka, Ki Alih memang jagoan menyamar, nampaknya menyamar sebagai Sandigdha sudah menjadi ide awal pemuda ini. “Kalaupun nantinya terjadi kekerasan, kita tidak akan kesulitan.”

“Kuharap demikian, aku tidak mau kekuatan kita berkurang lagi.” Kata Jaka dengan serius.

Ekabaksha memahami benar betapa pemuda ini menanggung beban berat karena tewasnya beberapa rekan mereka. Secara pribadi, Ekabaksha tidak mengenal anak buah Jaka yang lain, tapi jika mendengar nama besarnya, tentu kelompok pembunuh yang melakukan penyergapan pada rekan-rekan mereka merupakan organisasi yang menakutkan.

Mereka sudah meninggalkan tempat itu, dan kembali ke rumah batu tempat peristirahatan si Ular. Jaka sedang menunggu kedatangan Ki Alih yang mendapat ‘order’ pengiriman perdana.

Dini hari berlalu, beberapa tubuh nampak berjalan santai mendatangi rumah batu. Jaka dan Ekabaksha masih terjaga. Pintu terbuka, Cambuk masuk dengan wajah penuh kerut, agaknya dia terlalu capai. Sementara Ki Alih tidak memperlihatkan perasaan apapun.

“Bagaimana hasil kalian?” Tanya Ekabaksha dengan antusias.

“Seperti yang diperingatkan oleh Penikam, kami memang diserang oleh para pengawal kerajaan sendiri.”

“Berapa orang yang terluka?” Tanya Jaka, dia tidak bertanya apakah Ki Alih berhasil atau tidak, sebab pemuda ini lebih cenderung memperhatikan keselamatan rekan-rekannya. Bagi Jaka, dengan adanya Ki Alih, tidak ada satu perkerjaanpun yang menyulitkannya.

“Dua, tapi sudah ditangani oleh tabib istana.”

“Oh, tabib istana.. sepertinya ini berkembang cukup jauh. Bagaimana pandangan pihak kerajaan pada pekerjaan perdana ini?” Tanya Jaka pada Cambuk.

“Sangat baik, siang nanti, kita akan diundang untuk memberikan kesaksian para pengawal yang menyerang kawalan.”

“Aku tidak, berharap kita terlampau jauh mencampuri urusan kerajaan, ini sudah terlalu rumit. Sementara urusan kita sendiri masih banyak…” lalu Jaka menceritakan hasil mereka hari itu. Baik Cambuk dan Ki Alih termenung mendengar berita cukup menghebohkan itu.

“Kau benar-benar menginginkan harta itu?” Tanya Ki Alih pada Jaka dengan sorot mata tajam.

“Ya, dan paman tahu aku akan menggunakannya untuk apa…”

Ki Alih nampak terpekur sesaat. “Kau mengatakan supaya kita tidak ikut campur masalah kerajaan, tapi dengan mengambil uang milik Keluarga Tumparaka, kau harus siap melibatkan diri dalam segenap kerumitan dalam kerajaan. Karena bagaimana pun Sandigdha akan menyeret pihak kerajaan untuk menghadapimu.”

Jaka mengangguk. “Itu akan terjadi, jika kita secara terang benderang mengambil harta itu. Pada kenyataannya tidak demikian. Sekarang kita urai lebih dahulu siapa musuh terdekat Sandigdha… dia sudah berniat membelot pada ‘si tua bangka’, dengan sendirinya dia sudah menyiapkan kekuatan yang cukup untuk melakukan perlawanan. Saat nanti Paman Alih mengambil harta dengan menyamar sebagai Sandigdha, pihak Tumparaka sendiri akan segera mengacungkan jari pada ‘si tua bangka’, kalian tentu tidak lupa, orang yang diutus ‘tua bangka’, dapat menyusup dalam beragam rupa hingga masuk kedalam istana Bendahara Kerajaan. Kita hanya memanfaatkan itu.”

“Kapan kita akan bergerak?” setelah mencerna dengan hati-hati paparan Jaka, Ki Alih menyetujuinya. Cambuk pun merasa ide Jaka ini sempurna, mereka bisa berkamuflase pada setiap kejadian.

“Nanti, bersamaan dengan pemanggilan pihak Ki Alih dalam menghadapi kesaksian, aku merasa apa yang akan terjadi, tidak sesederhana yang dibayangkan. Jika seorang petinggi kerajaan tertangkap tangan mengadakan pekerjaan kotor, tentu dia akan berupaya menggigit kesana kemari—mencari kawan senasib. Sandigdha jelas akan tertahan untuk sementara di istana, kita akan leluasa menggunakan wajahnya untuk menyusup ke sendi-sendi penyimpanan Keluarga Tumparaka.”

“Bagus!” desis Cambuk setuju seratus persen dengan pemikiran Jaka. “Jika bendahara kerajaan itu harus banyak berkelit dengan ragam alasan, kukira kita bisa mengulur waktunya lebih lama lagi.”

Jaka mengangguk setuju. “Beristriahatlah, aku akan menyiapkan keperluan kita nanti.” Kata Jaka sambil melangkah keluar.

Ki Alih menatap punggung Jaka yang menghilang dari balik pintu. “Kapan dia sendiri istirahat?” gumamnya.

Ekabaksha tertawa tanpa suara. “Dia lebih muda dari kita, tentu saja semangatnya lebih tinggi, menyuruh istirahat sama saja meminta untuk merantai kakinya.”

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: