Seruling Sakti 116-118

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

Jilid 116 sampai 118

116 – Domino Effect : Lembah Halimun (1)

Meski pada akhirnya Jaka memutuskan untuk tidak mengungkapkan pengalaman itu, tapi pemuda ini pun harus menceritakan latar belakang kenapa mereka harus meminum ‘serum’ yang dibuatnya tadi.

“Apa yang paman sekalian minum adalah sebuah bibit racun.” Jaka tidak menjawab pertanyaan Ki Alih.

Tidak ada yang terkejut dengan ucapan Jaka, biasanya pemuda ini melakukan segala sesuatu dengan sangat terukur dan tidak pernah sembarangan. Mereka menunggu dengan tenang. Di saat bersamaan Penikam menyedot nafas dengan begitu kerasnya, membuat perhatian semua orang teralihkan pada dirinya.

“Uhuuuk!” beberapa kali batuk dan bangkis membuat Penikam menyudahi pengaturan nafasnya.

“Apa yang kau rasakan?” Cambuk buru-buru bertanya.

Penikam menggerak-gerakkan badan, lalu mengalirkan hawa murninya ke sekujur tubuhnya untuk memastikan. “Syukurlah, aku sudah tidak apa-apa. Sebelumnya untuk mengerahkan hawa murni, tiap organ tubuhku terasa sakit seperti disayat, sekarang tidak lagi.” Jawabnya dengan wajah cerah.

Jaka manggut-manggut, “Duduklah bersama kami, paman.” Kata pemuda ini merasa lega, apa yang disusun dalam angannya ternyata sesuai dengan kenyataan.

Penikam duduk di antara mereka, dan Jaka meneruskan penjelasannya. “Bibit racun yang paman sekalian minum berguna sebagai penawar pada racun yang diidap Phalapeksa.”

“Apa yang mendasari keputusanmu, bahwa kami harus meminum bibit racun itu?” Tanya Jalada dengan dahi berkerut.

“Seperti yang aku katakan tadi paman, kita akan mengalami badai besar, dan sangat dimungkinkan kita akan bersinggungan dengan pemilik racun ini. Bersinggungan dengan sangat sering!” kata Jaka dengan tegas, kemudian menghela nafas panjang. “Racun yang diidap Phalapeksa merupakan salah satu racun masa lampau yang menakutkan.” Lalu Jaka menceritakan kejadian yang dialaminya siang tadi, bagaimana dia harus berjibaku dengan keganasan racun itu. “Racun yang menyerangku sifatnya sama dengan racun dalam tubuh Phalapeksa.” Kata Jaka menutup ceritanya.

“Apakah kita berbicara tentang keluarga Gumilata yang ahli racun itu?” Tanya Ki Alih merasa pembahasan Jaka kali ini sangat penting.

“Mungkin tidak, aku tidak tahu banyak tentang keluarga itu paman. Yang jelas, racun ini pernah digunakan oleh Raja Jagal. Sepengetahuanku, Raja Jagal memiliki sumber racun dari Tabib Malaikat.”

Ki Alih tampak berkerut kening. “Pengetahuanku mengenai Raja Jagal sedikit lebih lengkap dari keteranganmu, mungkin ini bisa kau pakai untuk mengambil kesimpulan lebih mendekati kebenaran.” Kata Ki Alih secara tak langsung menyatakan kesimpulan Jaka terlalu premature dan terburu-buru.

Jaka menatap Ki Alih dengan takjub, dia paham maksud tersirat dari ucapannya. Jaka tidak keberatan dirinya ditegur, bahwa; penuturannya bisa saja salah, tapi kebijaksanaan Ki Alih menghalanginya untuk bertindak sefrontal itu di hadapan orang banyak, dan pemuda ini sangat menghargai sikap tersebut. Jaka sungguh ingin tahu tambahan informasi dari Ki Alih mengenai Raja Jagal, sebab dia hanya tahu sekelumit sekedar julukan saja—meski pada kenyataan Jaka pernah bertarung mati-matian dengan orang itu, diapun hanya meraba kemahiran racun Raja Jagal berdasarkan jalur himpunan kitab pertabiban yang dipelajarinya. “Silahkan paman.”

“Tabib Malaikat dan perguruannya merupakan satu rahasia dunia persilatan yang rumit, tapi kita tidak membahas itu.” Tutur Ki Alih mulai menjelaskan. “Kira-kira tiga generasi setelah para tabib itu lenyap, ada seorang tokoh yang menjuluki dirinya Raja Jagal, orang itu muncul bagai hantu melakukan pembunuhan sembarangan. Tapi… aku, maksudku; guruku, memiliki padangan lain tentang hal itu. Dia memiliki pola dalam melakukan pembunuhan, tidak asal. Meski korban yang jatuh sangat acak, tidak melulu dari kalangan persilatan saja, guruku menyimpulkan para korban itu memiliki temali hubungan yang sangat rahasia. Hingga kini beliau tidak tahu hubungan itu seperti apa, seolah telah mendapatkan benang merah penyebab pembunuhan, tapi begitu ditelusuri lebih lanjut malah bingung sendiri. Pada saat guruku memutuskan untuk melacak itu semua, kabar terputus begitu saja. Menurut informasi yang didapatkan, Raja Jagal keburu didesak oleh kalangan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika, dari berita mulut ke mulut, orang itu tewas. Tapi anehnya dua puluh tahun berikutnya Raja Jagal muncul kembali. Diapun melakukan pembunuhan yang sangat acak. Bedanya, begitu badai pembunuhan itu usai, tiada terdengar kabar apapun mengenai penindakan yang dilakukan kalangan tertentu, maksudku dari Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika.”

Jaka terpekur mendengar itu. “Paman bisa mengira berapa usia Raja Jagal yang terakhir?”

“Kurasa akhir limapuluhan. Sayang guruku tidak mewariskan informasi ini secara mendetail, tapi beliau pernah menyatakan. ‘dunia persilatan ini penuh dengan intrik berbahaya’, dia berpesan padaku; ‘jangan pernah percaya pada masa lalu’.” Jawab Ki Alih.

“Nasehat yang bijaksana.” Ujar Jalada, diamini semua orang. Diamnya Jaka membuat hening menyeruak di malam hari itu.

Pemuda ini menghela nafas, dia bisa meraba sedikit kesimpulan dari cerita Ki Alih. Mengacu pada kejadian yang dialaminya, Raja Jagal adalah sebuah nama yang diusung dari generasi ke generasi. Itu pula kesimpulan yang didapat saat berjumpa dengan Raja Jagal. Orang yang dia hadapi pada saat itu adalah generasi terakhir Raja Jagal. Orang itu masih cukup muda, berusia akhir tiga puluhan. Kematangan ilmunya jangan ditanya, luar biasa dahsyat.

Jaka menyedot nafas dalam-dalam. Ingatannya melayang kepada sosok bernama Raja Jagal, sebersit perasaan marah, kasihan, dan menyesal menyelimutinya. Perjumpaan mereka berkesudahan dengan pertarungan amat sengit ternyata membentuk satu jalinan perasaan aneh yang tidak bisa diungkapkan, perasaan saling menghormati muncul di akhir pertarungan. Tidak ada pembicaraan penting, hanya ratusan jurus dan hawa sakti berdesing silih berganti untuk mengungkapkan rasa suka cita yang menyelinap secara aneh.

Jaka bisa menangkap ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Raja Jagal. Tapi tradisi di belakangnya tidak memungkinkan dia berbicara secara berterang, hanya pukulan, tendangan, bacokan, dan kemahiran pembunuh-lah yang bisa dia curahkan. Seolah dari sanalah dia berteriak mengungkapkan perasannya. Dan akhirnya, Jaka mengambil satu kesimpulan berani. Bagi orang lain menerima luka mematikan, jelas perbuatan konyol, super tolol. Tapi Jaka melakukannya, dia tidak sedang berjudi dengan nyawanya, tapi dari pertarungan panjangnya pemuda ini bisa ‘membaca’ ada sebuah kepentingan lebih besar di belakang Raja Jagal, yang jika rencana itu dilakukan, kesalahpahaman akan melahirkan dendam, dan dendam akan menimbulkan suatu badai penuh darah.

Pada akhirnya, sebuah keputusan yang mengatasnamakan Generasi Raja Jagal, meminta Jaka untuk menerima serangan mematikannya dengan tangan kosong. Jika pemuda itu berhasil mengatasi (bukan menghindar), maka apapun rencana di belakang Raja Jagal, akan berhenti di tempat itu, pada saat itu juga! Jaka menyanggupinya, dan keputusan itu berkesudahan meninggalkan satu baris luka menganga di dadanya. Tapi di lain pihak Jaka juga berhasil memukul Raja Jagal, pukulan yang bisa membuatnya mati, tapi itu tidak dilakukan. Di akhir pertarungan, Jaka mendapatkan janji lelaki itu selaku Generasi Raja Jagal, bahkan memperbolehkan pemuda ini menggunakan nama Raja Jagal untuk keuntungannya.

“Baik, kulanjutkan uraianku.” Lanjut Jaka memecah keheningan. “Aku sudah memeriksa tiap jengkal luka dalam tubuh Phalapeksa, tapi tidak satupun menjadi penyebab racun, hanya ada satu titik luka saja. Dari sanalah aku memulai langkah pengobatan. Setitik racun ini sungguh sangat lihai, bukan maksudku menyatakan hanya racunnya saja yang lihai, tapi menempatkan luka itu sendiri merupakan tataran kazanah ilmu yang tinggi…” sampai disitu, Jaka terdiam. Dia teringat dengan lukanya sendiri yang berupa empat garis sayatan di dada kiri. Padahal hanya sentuhan cakar yang sangat kecil, tapi menimbulkan dampak begitu hebat. Luka yang diderita Phalapeksa itu hanya setitik saja, setitik jarum. Tapi berada di bawah telinga, menembus hingga pertengahan leher. Jika saja waktu itu Jaka tidak memeriksanya dengan seksama, luka itu akan terlewat.

“Paman sekalian, bisakah kalian memeriksa luka ini sebentar?” pinta Jaka seraya membuka bajunya sebagian. Ekabaksa tidak perlu memeriksa untuk mengetahui itu luka akibat apa, dia siang-siang menyatakan, tidak tahu. Berturut-turut Cambuk, Penikam, Jalada dan terakhir Ki Alih.

“Apa kesimpulan kalian?” Tanya pemuda ini.

“Andai saja ada Sadhana…” gumam Cambuk sambil menggeleng atas pertanyaan Jaka. Penikam-pun tidak tahu. Hanya Jalada dan Ki Alih yang masih merasa ragu dengan kesimpulan mereka.

“Bagaimana?” desak Jaka lagi.

“Aku tidak yakin.” Ujar Jalada. “Tapi masa, iya?” gumamnya membuat Jaka bingung.

“Aku juga tidak yakin…” timpal Ki Alih.

“Baiklah, daripada kita semua bingung, ketidakyakinan kalian boleh diutarakan keluar.” Kata pemuda ini mendesak lagi.

“Pukulan Naga Beracun…” kedua pesilat kawakan ini menjawab hampir berbarengan, nyatanya kesimpulan mereka sama.

Jaka belum pernah mendengar pukulan itu. “Ilmu seperti apa itu?”

“Akupun tidak begitu tahu, tapi dari ciri-cirinya sepertinya itu memang Pukulan Naga Beracun.” Jawab Jalada.

Pandangan Jaka bergeser kepada Ki Alih. “Paman?”

Ki Alih menghela nafas panjang, sebagai maestro pukulan yang dijuluki Kepalan Arhat Tujuh, perbendaharaan ilmu pukulan Ki Alih jelas sangat luas, demikian pula dengan pengetahuan tentang pukulan. “Pukulan Naga Beracun adalah salah satu dari ilmu mustika. Aku meragukan bekas ilmu ini digunakan padamu, karena setahuku, ilmu mustika ini tidak pernah keluar dari pintu Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika. Ilmu ini terlalu ganas, maka setiap orang yang lolos dari seleksi, selalu disodorkan delapan ilmu mustika lain sebagai pilihan.”

“Berarti Ilmu Mustika Naga Beracun merupakan tingkatan paling tinggi?” Tanya Ekabaksha.

“Bukan berarti demikian.” Jawab Ki Alih sambil menggeleng. “Para dewan sengaja menyegel ilmu itu karena daya rusak yang ditimbulkan. Sebenarnya masing-masing ilmu mustika saling mengatasi satu sama lain. Hanya saja… Naga Beracun ini justru ilmu paling aneh, jika dibuat urutan, kita bisa menempatkannya di urutan terbawah. Tapi jika menghadapi ilmu lain yang setingkat lebih rendah, daya rusak Naga Beracun, jauh lebih cepat dari ilmu mustika lainnya.”

Jaka mengumam membenarkan, mengingat dia sendiri terluka cukup parah karena cabikan yang menyayat kulit. Kalau bukan karena pengalaman dan kesigapannya, mungkin dia bakal menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk melakukan penyembuhan.

“Jika ada orang lain di luar pengetahuan dewan yang menguasai… berarti ada kebocoran dalam dewan penjaga itu sendiri.” Gumam Jaka dengan mata berbinar. “Ini sangat menarik!” katanya sambil menggebrak meja, membuat Ki Alih kawatir dengan penjelasannya tadi.

“Tapi, aku-pun bisa saja salah…” sambung Ki Alih terburu-buru. “Kau jangan menganggap ini adalah kesimpulan final.” Ki Alih pantas merasa kawatir, jika dugaannya dijadikan dasar pijakan penyelidikan Jaka, bisa dipastikan Dewan Penjaga Sembilan Ilmu Mustika akan disusupi pemuda ini! Dan kejadian berikutnya dia tak bisa membayangkan!

Jaka tertawa, dia bisa meraba sampai dimana kekawatiran orang tua itu. “Urusan kita masih terlampau banyak, saat ini aku tidak akan kemana-mana.” kata pemuda ini. “Yang jelas, luka yang baru saja kualami, sama persis dengan luka yang dialami Phalapeksa.”

“Tapi aku tidak melihat ciri yang sama dari luka kalian?” Tanya Ki Alih.

“Ini masalah teknis paman, orang yang melukaiku tingkatannya jauh dibawah orang yang melukai Phalapeksa. Dia bisa mengatur caranya melukai lawan sesuka hati. Bisa kupastikan orang ini sangat menakutkan. Itu pula-lah yang membuatku berkeputusan, paman sekalian harus memperoleh bibit racun. Cepat atau lambat kita akan berhadapan dengan mereka.” Jaka lalu menjelaskan secara terperinci, sumber luka Phalapeksa hanya satu titik yang mematikan.

“Tapi, bagaimana mungkin Pukulan Naga Beracun bisa digubah menjadi satu titik serangan mematikan?” gumam Penikam.

“Orang itu pasti sudah lepas dari pakem teori, peyakinannya sudah sangat mendarah daging. Dan seperti kata Jaka, sesuka hati.” Jelas Ki Alih. Lalu lelaki paruh baya ini menatap Jaka. “Aku hanya mengidentifikasi berdasarkan pola pukulan dan luka, tidak kepada racun yang menyertainya. Kau lebih paham tentang itu.”

Jaka mengangguk. “Karena itulah, aku menyatakan kita menghadapi orang-orang yang belum jelas keinginannya. Tapi, aku sudah mengarahkan mereka kepada tembok yang cukup tebal.” Ujar pemuda ini sambil tersenyum.

“Kau pikir, mereka benar-benar akan mencari Kwancasakya dan Keluarga Gumilata?” Tanya Penikam.

Jaka mengangguk memastikan. “Kalangan dengan kemungkinan mendekati kebenaran untuk mendalami tentang jenis racun ini, hanya dua golongan itu saja. Sengaja kuciptakan satu golongan yang merendahkan Kwancasakya dan Gumilata. Dengan sendirinya, siapapun mereka ini… akan melacak melalui kedua golongan itu. Terus terang aku tidak tahu kita akan menghadapi apa, sebelum mereka menyapu banyak kalangan secara membabi buta, lebih baik aku arahkan pada tujuan yang jelas, kita bisa memantaunya dengan lebih cermat.”

“Cerdas!” seru Ekabaksha. “Yang penting, pada saatnya nanti, aku bisa bertarung sepuas hati.” Kata lelaki gemuk ini membuat Jaka tertawa lebar, dan suasana menjadi lebih cair.

“Berkaitan dengan racun,” Sambung Jaka lagi. “Aku menjadi khawatir dengan maksud mereka. Apakah sekedar menguji coba racun? Atau ingin menarik pihak tertentu dari persembunyian? Atau membalas dendam?”

“Kupikir, pilihan balas dendam tidak layak.” Sahut Cambuk. “Phalapeksa jelas bukan orang yang tepat untuk dijadikan sasaran tokoh kasta tinggi.”

Jaka mengiyakan.

“Namun demikian, keterangan menjelang dia pingsan, bisa menjadi dasar pijakan kita.” Sambung Cambuk.

“Tapi, bisa saja dari Phalapeksa-lah mereka meminjam mulut untuk membelokkan kabar sebenarnya.” Bantah Penikam. “Jangan lupa perinsip di dunia kami adalah; informasi salah yang didapat dengan susah payah akan dianggap sebagai kebenaran. Dan itu akan sangat mudah membelokkan fakta.”

Jaka-pun mengiyakan pendapat ini. Penikam adalah mata-mata kelas wahid, jam terbang kegiatannya jelas tidak perlu diragukan. Masukkan tadi masuk akal. Pada saat sekelompok orang mengambil kesimpulan salah sebagai sebuah fakta, kehancuran sudah ada di depan mata.

“Baiklah, kita bisa menarik kesimpulan, saat ini sedang menghadapi; kelompok yang mengetahui jalur pengetahuan racun dari Tabib Malaikat, mereka juga termasuk golongan orang yang paham ilmu mustika. Dan satu lagi, kemungkinan masih memiliki hubungan dari jalur Raja Jagal.” Papar Jaka.

“Lalu apa persiapan kita?” Tanya Jalada. “Maksudku selain bibit racun yang sudah kau dapatkan dengan susah payah.” Sambungnya menambahkan.

Jaka termenung sesaat. “Kupikir, jika Phalapeksa memunculkan diri, mereka akan segera mengejar orang tua itu. Jika dugaanku tidak meleset, mereka akan mengarah padaku, secara pribadi.”

“Kau pribadi? Apakah karena kau sanggup memunahkan racun mereka?” Tanya Ki Alih.

“Itu salah satunya.” Jawab Jaka singkat.

Tatapan semua orang menuntut jawaban dari Jaka.

“… sebab aku adalah satu-satunya orang yang sanggup menahan dan memunahkan racun mereka.” Sambung pemuda ini dengan lambat. “Jika aku tidak salah duga, aku sudah menghancurkan salah satu harapan yang dipupuk mereka. Sejak awal, kemunculan mereka jelas sedang mencari diriku.” Pungkas Jaka.

Ki Alih sekalian menelan ludah. “Se-sebenarnya kau sudah melakukan apa?” Tanya Ekabaksha dengan suara kering.

Jaka tidak menjawab secara langsung. Dia hanya berkata. “Aku telah mencoreng kehormatan tokoh pujaan yang dianggap sangat suci bagi mereka. Aku tidak membenarkan tindakanku, tidak pula menyalahkan mereka, selama rencana masih dalam tataran wacana, tindakanku memang terlampau cepat. Tapi jika aku membiarkan mereka…” Jaka menghela nafas, tangannya mengepal, “mungkin hingga kini Jaka Bayu tidak berani muncul di hadapan paman sekalian, aku tidak pernah ada. Harga nyawa tidak ada harganya saat kita menunduk di depan kezaliman!”

“Sebenarnya apa? Apa yang kau bicarakan?” tanya Ekabaksha makin bingung.

Jaka terdiam sesaat.

“Apakah orang itu… Raja Jagal?” Tanya Ki Alih hati-hati.

“Dia memang tokoh luar biasa dahsyat, tapi wibawa dan tindakannya belum bisa digolongkan menjadi ‘orang suci’, untuk anggotanya.” Jelas Jaka mementahkan dugaan Ki Alih. Tentu saja jawaban ini makin membingungkan.

“Sudahlah, tak perlu dibahas.” Jaka mengulapkan tangan. “Dalam jangka waktu dekat ini, kita akan segera berjumpa dengan pemilik racun hebat. Sebisa mungkin tiap anggota mendapatkan bibit racun sebagai antisipasi.” Putus Jaka membuat mereka kecewa. Bagaimanapun kejadian di Gunung Tumenggung—Gunung Manggala—Gugusan Pulau Kendriya, terlalu kompleks untuk diuraikan. Sampai saat ini Jaka terus menyimpannya dalam hati, hingga tiba saatnya untuk diurai secara tuntas. Sebab jauh di dasar hatinya, ada satu kenyataan yang dia sendiri belum bisa mengartikan. Mungkin pada saat kepingan fakta makin banyak, Jaka bisa menetapkan hati untuk melakukan hal yang terbaik.

Hingga larut, mereka membahas bagimana harus bertindak. Ekabaksha paling semangat untuk mencari orang yang melukai Jaka, tapi pemuda ini merasa itu tindakan sia-sia. Menurut Jaka, saat Phalapeksa muncul kembali di rimba hijau, kelompok itu akan segera mendekat.

Saat Jaka lepas dari jerat racun—(belakangan Jaka sekalian baru mengetahui bahwa racun mematikan itu diciptakan oleh Saudara Satu Atap), pemuda itu merupakan satu-satunya korban yang lolos dari kelinci percobaan Saudara Satu Atap. Sayangnya karena menganggap Jaka hanya sekedar kelinci percobaan, mereka tidak pernah memperhatikan latar belakang korban secara detail, termasuk wajahnya. Maklum saja, biasanya tak satupun orang bisa selamat dari jeratan mereka.

===o0o===

Dua Bakat memaki panjang pendek dalam hati, meskipun dia percaya dengan sang majikan, bukan berarti dia merasa nyaman dengan kepolosan tubuhnya. Demi rencana penghancuran Lembah Halimun terlaksana, sang majikan mengupayakan kesembuhan bagi Dua Bakat dengan metoda yang belum pernah dia lakukan. Tentu saja demi menjaga gengsi, dirinya menyatakan pada Dua Bakat, metode ini adalah cara rahasia yang belum pernah dirinya lakukan. Karena itulah sebelumnya dia menyatakan tidak bisa membebaskan totokan sang murid, karena ragu menggunakan cara ini.

Benak Dua Bakat menggambarkan cara yang mungkin akan dilakukan sang majikan adalah dengan penyaluran hawa, dari kulit ke kulit! Sial, bukankah artinya mereka harus bersentuhan satu sama lain, tanpa busana?! Wajah Dua Bakat memucat, meskipun dia sangat menghormati sang majikan, dia tetap lelaki normal! Memikirkannya lagi, membuat tubuh Dua Bakat panas dingin.

“Kau, kemari!” suara sang majikan terdengar dari balik bilik. Membuat Dua Bakat merasa sangat tertekan. Dengan langkah terasa berat, lelaki ini melangkah ke dalam bilik. Ternyata di dalam bilik beris gentong air sebesar dua pelukan orang dewasa tengah dipanasi.

“Masuk!” perintah sang majikan dengan tegas. Tidak perlu dua kali perintah, Dua Bakat sudah masuk kedalam gentong yang mulai menghangat. Air didalam gentong ternyata sudah bercampur dengan ragam rempah. Proses itu terasa berjalan lambat, Dua Bakat mulai menyalurkan hawa murninya secara berkala untuk menahan air yang makin panas. “Bersiaplah…” desis sang majikan, telunjuknya teracung ke arah api, dan mendadak Dua Bakat merasakan sengatan puluhan kali lipat lebih panas dari sebelumnya. Dengan sendirinya dia pun meningkatkan hawa murni secepat mungkin. Pada saat itulah satu sengatan menerjang ulu hati, membuatnya terasa sangat mual, dan..

“Uh-huuk…” segumpal dahak berwarna kemerahan terbatuk. Rasa sesak yang melingkupi ulu hati sejak beberapa hari lalu sedikit berkurang. Tidak menanti perintah sang majikan, Dua Bakat segera keluar dari gentong, dan melakukan semadi dengan tubuh terbalik, satu tangannya menyangga tubuh, tangan yang lain tentu saja menutupi auratnya. Seharusnya tidak begitu, tapi kondisi hawa murni yang dipaksa menyentak cepat, membuat ‘itunya’, pun menjadi terpaksa ‘menyentak’ pula.

“Cih!” sang majikan terasa geli melihat kondisi anak buahnya, dia melangkah keluar menunggu Dua Bakat selesai dengan semadinya.

Tak berapa lama kemudian Dua Bakat sudah keluar dengan wajah agak memerah karena posisi semadinya yang terbalik, tentu saja dia tak lagi telanjang.

“Bagaimana?” sang majikan bertanya dengan nada datar.

“Sa-saya rasa ada perubahan, cuma sejauh apa, sayapun tidak tahu cara memeriksanya.” Kata Dua Bakat dengan hati-hati, takut menyinggung sang majikan, bagaimanapun upaya tadi sangat dia hargai.

“Kau tidak perlu kawatir, aku memang tidak bisa membebaskan secara permaen, tapi kau tak perlu kawatir, untuk tiga bulan ke depan, kau aman!” tegas sang majikan.

Dua Bakat menghela nafas lega. Saat itu juga sang majikan memberikan kotak kecil yang berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu, sebuah peta menuju Lembah Halimun-pun sudah dikantongi Dua Bakat. Sang Majikan memberikan keterangan sangat mendetail tentang keadaan Lembah Halimun. Pada dasarnya Dua Bakat buta sama sekali dengan daerah Lembah Halimun. Jadi tiap keterangan sang majikan ditelan bulat-bulat.

Dengan dilepas sang majikan, Dua Bakat segera melakukan perjalanan. Dia sadar, kemungkinan tugasnya kali ini lebih banyak sial dari pada selamatnya. Tapi sebagai orang yang sudah berkecimpung di dunia penuh intrik, Dua Bakat tidak takut menghadapi rintangan yang akan menghadangnya.

Sayangnya, Dua Bakat tidak mengetahui, bahwa sang majikan sama butanya dengan dia. Orang tua itu tidak pernah menginjakkan kaki di Lembah Halimun. Tapi saat menerangkannya, dia seolah-olah sudah pernah masuk kesana berkali-kali. Pada dasarnya orang inipun tidak terlalu mengharap tugas Dua Bakat akan tuntas secara sukses. Caranya menjalankan rencana seperti dua sisi mata uang, masing-masing bergerak bersamaan. Parwwakalamahatmya adalah bonus utama, tapi menggerakkan tiap insan yang terhubung antara dirinya dan Anusapatik, adalah tujuan utama. Dua Bakat-pun tidak lebih dari bidak catur yang sudah diatur sesuka hatinya.

===o0o===

Lembah Halimun selalu diselimuti kabut setiap saat, letak lembah itu tidak sulit ditemukan, tidak pula tersembunyi. Lembah Halimun termasuk di dalam gugusan Pegunungan Nabhastalamaya, mungkin karena setiap saat pegunungan itu selalu diselimuti kabut, masyarakat menamainya Nabhastalamaya yang berarti; terdiri atas kabut. Mungkin dari keunikan geografis itulah, seseorang berinisiatif membentuk golongan Swara Nabhya (suara dalam kabut). Dan itu sudah berlalu ratusan tahun silam, hingga sekarang kalangan itu seperti ada dan tiada. Jika kau mengatakan Swara Nabhya hanya tinggal cerita, sewaktu-waktu kaupun bisa dikunjungi para penghuni Lembah Halimun.

Tidak ada yang tahu kemunculan kalangan Swara Nabhya, tahu-tahu mereka ada, terkadang membantu, terkadang menyulitkan. Tapi, kalangan persilatan sama-sama memaklumkan Swara Nabhya adalah pelindung barang bukti. Silih berganti tokoh menjungkir balikkan dunia persilatan, tapi tak ada satupun yang berani menginjakkan kaki mendekati Lembah Halimun.

Dua Bakat sudah sampai di tapal batas pegunungan Nabhastalamaya, sepanjang perjalanan, dia sudah bersalin rupa sebanyak tiga puluh tujuh kali—termasuk busananya. Orang ini sadar, tiap saat berjumpa dengan orang lain, bisa jadi dia adalah mata-mata dari Lembah Halimun. Dari pada mengambil resiko, lebih baik Dua Bakat melakukan kemahiran bersalin rupa untuk keselamatannya.

Sang Majikan tidak pernah menerangkan, kenapa parwwakalamahatmya bisa menjadi titik fatal bagi Lembah Halimun. Tapi Dua Bakat segera menyadarinya, kabut di sana tidak sama dengan kabut pada umumnya. Makin jauh Dua Bakat berjalan, dia makin menyadari daya pandangnya tak lebih dari lima langkah saja, apa yang ada di depan sana, dia tak tahu ada halangan apa. Hanya saja, tercium bau seperti telur itik yang menandakan sejenis gas metana tercampur dalam kabut, yang senantiasa menyelimuti daerah itu. Mungkin itulah alasannya parwwakalamahatmya menjadi senjata mematikan bagi kabut di Lembah Halimun. Nampaknya sifat parwwakalamahatmya adalah mengikat gas, itu pula yang terjadi saat sang majikan mengerahkan ilmu Suksmasukabhitahetu.

Meski Dua Bakat tidak mengetahui sifat ilmu sang majikan, setidaknya dia bisa meraba, bahwa; daya bunuh atas racun yang berpendar pada ilmu Suksmasukabhitahetu bersifat sama dengan kabut ini. Berpikir demikian, Dua Bakat segera mengeluarkan kotak kecil berisi parwwakalamahatmya yang sudah menyatu. Benar saja! Tiba-tiba saja kabut-kabut itu seperti menguap, dan membuat jarak pandang Dua Bakat meluas. Tapi pemandangan berikutnya membuat bulu kuduk lelaki ini bangun. Bagaimana tidak, setiap kabut-kabut hilang, setiap unsur tumbuhan yang disinggahi kabut menjadi layu karena bereaksi dengan parwwakalamahatmya.

“Ini gila…” gumam Dua Bakat seraya menyurutkan langkahnya, keraguan kembali menyelinap di hati. Meski selama dalam perjalanan dia sudah menghafal mati peta Lembah Halimun, tetapi sesampainya di tempat itu, gambaran sang majikan sama sekali tidak berguna! Dua Bakat mengeluh…

—ooOoo—

117 – Domino Effect : Lembah Halimun (2)

Tersibaknya kabut hanya sesaat, parwwakalamahatmya berpendar lagi, seberkas asap tipis bergulung-gulung keluar dari dalam kotak. Kali ini ada persentuhan langsung, kontak antara kabut dengan parwwakalamahatmya membuatnya mengeluarkan kilatan tipis berwarna biru kehijauan. Dua Bakat siang-siang sudah menjauhkan diri. Kali ini area seluas puluhan meter persegi terbebas dari kabut, Dua Bakat bisa melihat kondisi Lembah Halimun dengan lebih jelas, kehidupan seluas itu pula nampak layu.

Tidak berbeda dengan dengan lembah pada lereng gunung pada umumnya, bedanya, seluruh kehidupan dalam lembah itu, memilik pola dua warna, kelabu dan biru. Persentuhan dengan parwwakalamahatmya membuat dedaunan menghijau sebelum akhirnya layu kelabu.

Sang majikan tidak pernah mengatakan, jika terlalu lama dirinya memegang racun parwwakalamahatmya—meski itu hanya kotaknya saja, akan membuat tubuhnya makin renta sedikit demi sedikit, dan tentu saja akan sangat berpengaruh pada tenaganya. Meski parwwakalamahatmya hanya bereaksi pada sejenis gas tertentu dalam Lembah Halimun, tapi bukan berarti tubuh manusia tidak terkena dampaknya.

Dua Bakat terlalu taklid (percaya secara membuta) dengan sang majikan, dia tidak berpikir, jika benda aneh yang dibawanya, bisa bereaksi dengan tiap mahluk yang selalu bersentuhan dengan kabut di dalam Lembah Halimun, bukankah dirinya-pun bakal menjadi korban pada urutan terakhir manakala pusat kabut sudah dia temukan. Yang jelas dirinya tidak mungkin pula bertanya kepada orang, sebab siapapun manusia yang berada di sekitar Lembah Halimun, boleh jadi merupakan kalangan Swara Nabhya itu sendiri.

Rasa kesal karena peta sang majikan ternyata tidak berguna, membuat Dua Bakat melemparnya jauh-jauh ke depan. Melesat menembus kabut. Tapi, sebersit ingatan membuatnya mengurungkan niat, dan terburu-buru memburu arah lemparannya. Dirinya terlalu percaya diri karena sudah membekal parwwakalamahatmya, sayangnya jurang dihadapannya jelas bukan solusi bagi jenis racun apapun.

“Aaah…!” keterkejutannya menimbulkan pekik yang menggema melingkupi Lembah Halimun, sebagai tokoh yang berpengalaman sekalipun, Dua Bakat tetap tidak sanggup bereaksi menurut keadaan, bukan karena dia kurang ilmu, sama sekali tidak, tapi karena Lembah Halimun merupakan salah satu anomali alam yang memiliki jebakan fatamorgana akibat kabut dan uap yang tersebar di seluruh penjuru.

Tubuh Dua Bakat meluncur deras! Celananya sempat tersangkut pada sebuah ranting pohon, membuat tangan Dua Bakat segera meraih ranting itu… tapi, terlalu getas, ranting itu tak kuat menahan beban tubuhnya, hanya mengurangi luncuran jatuh untuk sesaat. Dia berputusasa atas hidupnya yang diujung tanduk. Dalam kondisi melayang jatuh, ekor matanya melihat catatan yang tadi dibuang melayang, tepat didepan hidungnya, menari-nari seolah mengejek ketololannya. Meski tahu dirinya mungkin saja sudah tidak memiliki kesempatan, dengan cekatan Dua Bakat meraih, menyimpannya dan.. bress!

Tubuh Dua Bakat membentur benda yang menghantarkan informasi pada otaknya bahwa; itu adalah beberapa temali yang terjalin begitu rupa. Jatuh dengan gaya bebas seperti itu—dengan lengan menyangkut tali, jangan ditanya rasanya seperti apa! Tapi Dua Bakat jelas tidak mau berleha-leha. Mendapatkan kesempatan sebaik itu, dengan cekatan, tangannya mencengkeram temali, kakinya berayun membuat tali yang melintang itu menggelayut sesaat sebelum menimbulkan daya pantul. Dua Bakat terlempar kedepan, kabut yang mengayut disetiap jengkal membuat orang ini berlaku sangat waspada, dia tidak tahu jarak dirinya dengan dinding tebing.

‘Andai saja…’

Brak! Belum selesai kilasan dalam benaknya usai, tubuhnya menghantam dinding tebing, ketidaksiapan dirinya membuat Dua Bakat merasakan sakit menyengat sampai ubun-ubun, tapi tangannya tidak berhenti. Jemarinya segera mencengkeram dinding tebing untuk mencari pegangan… Crak! Berhasil! Meski agak berguncang sedikit, tubuhnya kini menggelantung di tebing! Untuk tokoh sekelas Dua Bakat, membenamkan jemari ke batu-batuan jelas mudah… tapi ketegangan atas rentetan demi rentetan kejadian tadi, membuat jemarinya terlasa lemah. Helaan nafas lega Dua Bakat memecah hening, mengawali pengerahan pondasi tenaga dengan lebih mantap.

Berturut-turut tangannya menyentak keatas, sungguh tak pernah disangka, ternyata dia terjerumus cukup dalam. Tebalnya kabut membuat lelaki ini tidak bisa memastikan berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh. Tapi makin lama, cengkeraman terhadap dinding tebing kehilangan daya tembusnya, apa mau dikata kelelahan sudah menggerogoti semangat dan tenaga. Mendadak, terdengar kesiur angin di hadapannya, dengan sigap Dua Bakat mengelak kesamping dan menempelkan tubuhnya rata dengan dinding tebing. Kabut sedikit tersibak. Ah, ternyata sepotong tali!

Kuduk Dua Bakat merinding, tidak mungkin tali muncul sendiri, siapa orang yang ada di ujungnya? Apakah penghuni Lembah Halimun? Itu sudah jelas!

‘Mati aku!’ Pikirnya dengan putus asa mulai merambati hati. Tunggu punya tunggu, tak ada reaksi apapun, meski tahu bahaya menghadang, kesempatan hidupnya di atas tebing jelas jauh lebih besar dari pada tergantung begini rupa. Dua Bakat memutuskan untuk merambati tali itu. Tak mau ceroboh, lelaki ini merambat dengan sangat perlahan.

Dua Bakat terus meraba-raba tali untuk yang kesekian kalinya, dan saat ini tertambat pada ujung tebing, ah.. sudah sampai! Pikirnya tak kehilangan kewaspadaan. Meski kedengaran konyol, Dua Bakat jelas tidak mau menyerahkan nyawa karena kesalahan kecil. Saat tangannya mencapai bibir tebing, detik itu juga tubuhnya melesat ke depan, lalu menggelinding, dia tidak perduli meskipun lautan golok menghadang, karena dia siap! Tapi, setelah sekian lama menunggu dengan hawa sakti mengelilingi tubuhnya secara penuh, tidak terjadi apa-apa! Sungguh mengherankan… siapakah yang menolong dirinya? Kalau sang majikan, jelas tidak mungkin. Dia bisa menilai gerakan orang itu terbatas, lagipula untuk apa harus dirinya yang berangkat jika akhirnya orang tua itu yang datang sendiri? Kusut masai rasa pikiran Dua Bakat, meski banyak pertanyaan menggayut benak, dia tidak pernah mengira, akan begitu senangnya saat menjejakkan kaki di tanah datar.

Kabut yang menyelimuti sekeliling dirinya, membuat Dua Bakat memutuskan untuk menggunakan parwwakalamahatmya lebih cepat. Ketakutan terhadap keselamatan dirinya membuat setitik belas kasihan yang semula tumbuh di hati, terampas habis. Jika sebelumnya benda itu bisa bereaksi meski masih terbungkus dalam kotak, Dua Bakat memutuskan untuk membukanya. ‘Persetan dengan kehidupan yang ada, kabut sialan ini harus enyah dari pandanganku.’ Hanya itu yang terbetik dalam benak orang ini.

Tak bisa dipungkiri, rasa putus asa itu bisa menggelapkan kepekaan nurani, tapi jika kau menarik nafas lebih dalam, memenuhi rongga paru-parumu, merasakan setiap hisapan udara masuk kedalam tubuh dengan rasa syukur, kau akan mengerti hidup itu sebenarnya adalah anugerah. Merasa miskin dengan anugerah sangat istimewa seperti itu, merupakan kobodohan. Kebanyakan orang menyerahkan keputusan berdasarkan amarah, rasa putus asa, dan hanya mengandalkan pertimbangan akal, itu jelas tidak menjadi solusi akhir, cobalah kau berdamai dengan nuranimu. Bertanyalah padanya… manakala baik sepotong benda dalam tubuh manusia, maka akan baik pula seluruhnya, benda itu bernama hati (nurani). Selanjutnya, buat keputusan!

Dua Bakat jelas sudah kehilangan pertimbangan nurani karena guncangan rasa takut, dengan tangan gemetar, dikeluarkan parwwakalamahatmya, seperti sinar yang menembus kepekatan malam, pendaran hawa dari dalam kotak itu langsung menyibak kabut sejauh dua langkah. Orang ini berpikir, jika dirinya membuka kotak, tentu kabut akan bergerak lebih jauh lagi. Masih dengan jemari bergetar…

“Hm!” satu gumaman membuat Dua Bakat berjingkat kaget, jemarinya segera mencengkeram kotak—kawatir ada yang berupaya merampas, memasukkannya dalam kantong kulit khusus dan menyembunyikan di balik baju. Kabut yang sempat tersibak kembali menyelimuti sekitar Dua Bakat. Rasa kebas yang merambati jemarinya, tidak diindahkan. Ketegangan atas hadirnya pihak lain di lembah ini jelas menyita perhatian lebih banyak. Dengan sangat perlahan Du Bakat bergeser menjauh dari tempatnya berdiri.

Dua Bakat jelas tidak ingin bertindak bodoh dengan bertanya siapa orang itu, seluruh indera pendengaran dan kepekaannya dipusatkan untuk merasakan lingkungan seluas dua puluh langkah, tapi dia tidak merasakan apapun. Begitu senyap, seolah hanya tebaran batu-batu yang tersembunyi di balik kabut.

Mendadak dari balik kabut muncul setitik cahaya, pendaran cahaya hanya terang sesaat, dan meredup seperti kunang-kunang dari balik malam. Cahaya itu bukan hanya satu, tapi banyak dan berjajar menjalar seperti titik-titik api yang secara simultan hidup, menjalar. Meskipun dia bodoh—pada kenyataannya jelas tidak—Dua Bakat bisa melihat itu adalah ‘jalan setapak cahaya’, titik cahaya pertama sudah padam. Meski tidak tahu cahaya itu akan menuntun kemana, Dua Bakat segera melesat mengikuti jalan itu.

Di ujung cahaya, Dua Bakat menemui kenyataan titik cahaya itu hanya segumpal benda yang habis karena terbakar, entah terbuat dari apa. Tapi yang jelas kehadirannya sudah diketahui warga Lembah Halimun, tapi mengapa dirinya tidak dikuntit, sebagaimana cerita-cerita yang selama ini beredar di luaran?

“Lihat petamu!” terdengar suara lirih menyusup ke telinganya, namun menimbulkan gaung di kepala Dua Bakat, membuat lelaki ini menjadi pening, sungguh dunia dalam Lembah Halimun penuh dengan kemisteriusan, entah siapa orang yang berulang kali ‘menyelamatkannya’. Lagi-lagi dalam hatinya timbul syak wasangka, apa mungkin itu sang majikan? Minimal orang suruhannya… tapi, lagi-lagi dugaan itu dia mentahkan sendiri.

Dengan menajamkan matanya Dua Bakat melihat peta dari sang majikan, pada catatan awal tertulis, ‘lepas dari cahaya, dua langkah ke kiri, raba sebuah nisan.’ Karuan saja Dua Bakat melongo membaca itu, seolah antara: tali, cahaya, dan peta sang majikan, ada jalinan kisah yang membentuk simpul mati! Dan membuat hatinya terasa rumit. Kuduknya meremang, kali ini dia sadar betul, dirinya mutlak menjadi pion yang hanya bisa berjalan lurus. Tak ada jalan mundur. Entah nanti hidup atau mati, itu juga menjadi pertanyaan besar. Berpikir begitu, malah membuatnya lebih tenang. ‘persetan!’ desisnya sambil menggertak gigi.

Dua Bakat mulai melangkah ke kiri, kaki dan tangannya meraba-raba dalam kepekatan kabut, tapi dia tidak membentur sesuatupun, kembali ke tempatnya, Dua Bakat mengganti arah dan menggeser kekiri, demikian seterusnya, pada kali ketiga—saat tubuhnya sudah membalik 180 derajat dari tempat kedatangannya tadi, barulah dia merasakan ada batu. Aha.. ini dia! Cetusnya gembira.

Dia belum tahu setelah diraba, hendak diapakan? Belum lagi benaknya memutuskan untuk melihat peta, sebuah gerakan di bawah kakinya membuat Dua Bakat kaget, sebuah lubang menganga menjerumuskan dirinya yang masih diliputi keterkejutan. Tangannya meraih kesana-kemari, tapi tak juga mendapatkan sesuatupun untuk digunakan sebagai penahan tubuh.

Bluk! Dua Bakat sampai diujung dasar dengan dada berdesir lega, untunglah lubang itu tak terlalu dalam, pikirnya. Paling tidak hanya dua tombak saja. Di dalam lobang tidak ada kabut, itu membuat secercah harapan kembali bersemi di hati. Dua Bakat, tahu harus kemana. Ternyata peta dari sang majikan, menggambarkan jalan bawah tanah! Tapi, jika jalan hanya ada satu ruas terbentang, apakah peta diperlukan?

Dalam tiap langkahnya, Dua Bakat berpikir; ‘Apakah ada golongan dalam Lembah Halimun yang mendukung rencana sang majikan? Orang luar menyusup ke dalam lembah ini tanpa diketahui, jelas tidak mungkin. Sepanjang perjalanan, Dua Bakat sudah puluhan kali menyamar, tiap orang yang dia jumpai, diduplikasi sedemikian rupa, untuk mengaburkan perhatian pihak Swara Nabhya. Tapi, makin mendekati lembah itu, dia tak menjumpai satupun orang. Dan kondisi seperti itu justru mencemaskannya, mau berapa kali pun menyamar, jika tidak ada orang yang bisa disamarkan, kehadirannya sebagai orang asing, tetap bisa terendus.

Setelah beberapa puluh langkah, suara desir tertangkap telinga lelaki itu, ketegangan kembali mencekam dirinya. Boleh dibilang Lembah Halimun adalah sarang hantu, mungkin sampai sekarang, hanya dirinya yang sanggup masuk sejauh ini—terlepas dari banyak keganjilan yang membantunya. Diam-diam Dua Bakat merutuk dalam hati, entah kenapa tugas semacam ini-pun dia mau mengerjakan. Kesetiaan pada sang majikan memang landasan utama, tapi sikap aneh orang tua itu akhir-akhir ini, membuat dia menjadi ragu-ragu dalam bersikap.

Desir suara itu bagai gemuruh di dadanya, Dua Bakat paham betul dengan perasaan ini, desakan yang memaksanya harus mengerahkan hawa sakti—dengan lari terbirit-birit, jelas merupakan pekerjaan orang, bukan keanehan alam. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berlari, dan berlari. Persetan dengan gelapnya lorong bawah tanah! Persetan pula dengan air yang mulai menggenangi kakinya!

Dua Bakat dihadapkan dengan lorong cabang lima, yang tanpa pikir panjang diambilnya lorong paling kiri—setidaknya itu tertera dalam peta sang majikan.

“Setan alas! Buntu!” desisnya dengan ketakutan merambat dada. Gemuruh karena tekanan hawa sakti seseorang masih membangunkan bulu kuduk, kini ditambah lagi jalan buntu. Seluruh otot dalam tubuhnya mengejang. “Sial!” geramnya dengan geraham mengatup.

Tak teringat ada tulisan dalam peta, supaya menghantam tanah tepat pada dinding penghalang. Kepalan tangan menghantam dinding dihadapannya. Desssh! Curahan hawa sakti karena desakan rasa takut dan panik, membuat ledakan tenaga dari tubuh Dua Bakat berlipat ganda. Dinding penghalang yang terhantam, secara aneh meluruh dalam debu, menyibak lapisan belakang penghalang yang membuat bunyi gemuruh menggaung tiba-tiba memenuhi lorong itu.

“Lebah!” pekik Dua Bakat dengan kuduk meremang kian dalam. Sebisa mungkin dirinya meminimalisir nafas, membuatnya seperti batu, selapis demi selapis hawa saktinya ditarik supaya tidak memancarkan gelombang. Bakat tertinggi Dua Bakat jelas ilmu menyamarnya, bahkan kondisi batu-pun, dia bisa menyerupainya. Dingin, kokoh, diam dan membeku. Lebah-lebah beterbangan di sekeliling Dua Bakat tanpa melakukan apapun.

Gelapnya lorong tidak bisa menyembunyikan siluet tubuh lebah, dari ekor matanya, Dua Bakat bisa melihat betapa besar lebah yang keluar dari lubang pukulannya. Paling tidak sebesar kepalan tangan. Hatinya terguncang, tapi lantas dengan segera dikatupkan lagi matanya. Dia harus membuang jauh-jauh penglihatan tadi, karena mempengaruhi pikiran, dan itu akan menimbulkan keringat. Setitik keringat akan membuat lebah itu mendekatinya. Sungguh konyol rasanya orang seperti dirinya harus mati disengat lebah. Dua Bakat hanya bisa tersenyum pahit, gejolak hatinya mereda, seluruh pikiran ruwetnya perlahan mengabur, hilang… ditelan getar kepak sayap lebah.

Entah berapa lama Dua Bakat berada dalam kondisi membantu, perlahan ototnya menggeliat, dan berapa saat kemudian matanya terbuka. Instingnya bisa meraskan lebah-lebah itu tidak kembali ke dalam lubang yang tadi dibuatnya.

‘Apa boleh buat…’ pikir Dua Bakat serba salah, mundur jelas tidak mungkin, jalan satu-satunya hanya masuk dengan memperbesar lubang yang sudah dibuatnya.

Desh! Desh! Desh! Rentetan pukulan bertubi-tubi dan sangat terukur memperlebar lubang yang sebelumnya sudah dibuat. Hawa sakti yang dimiliki Dua Bakat ternyata sanggup menggerus dan mengurai batu karang hingga menjadi debu. Tapi pekerjaan itu jelas bukan hal mudah, dia harus berhenti cukup lama untuk mengembalikan tenaga yang tadi dihamburkannya.

Saat Dua Bakat masuk ke dalam lubang, pemandangan pertama yang menyapa bola matanya jelas sebuah ruang kosong nan gelap. Untuk menyalakan api di tempat selembab itu jelas cukup sulit, untung saja matanya cukup tajam. Berangsur-angsur retinanya bisa beradaptasi dengan kegelapan, dan citra dalam lorong di balik penyekat itu membuat kuduknya kian meremang.

Betapa tidak, semilir angin yang mendesir dengan hawa lembab; ternyata adalah aliran air yang menembus masuk ke lorong bawah. Seperti air terjun, namun kedapnya lorong itu membuat gemercik suaranya tersekap begitu rupa.

Saat dirinya termangu-mangu, dengung lebah sudah kembali! Dua Bakat jelas menginginkan dirinya kembali dalam kondisi membatu, tapi dia tidak lagi sanggup memfokuskan pikirannya. Sebab desakan tenaga yang tadi menghilang, kembali menyerang dirinya!

‘Kurang ajar!’ pikirnya. Apa boleh buat, akhirnya Dua Bakat berasumsi, di balik aliran air itu pastilah ada ruang kosong. Sebelum melompat menerobos, Dua Bakat melepaskan pukulan jarak jauh!

Brak! Aliran air itu dengan mudah tersibak, pukulan tadi menembus sesuatu dibaliknya, menghancurkan lapisan itu dan membuatnya menjadi buta sesaat! Secercah sinar menyilaukan langsung diserap oleh retinanya begitu saja. Dua Bakat jelas ingin menggosok matanya, tapi dengung di belakangnya yang kian dekat membuatnya tidak memiliki pilihan selain harus menerobos ke depan! Dengan gaya loncatan bagai harimau menerkam, tubuhnya masuk melalui celah yang dibuat oleh pukulan tadi.

Tapi, hatinya terasa tenggelam… karena dia tidak merasakan ada hamparan daratan untuk mendarat, seolah dirinya masuk kedalam ruangan tanpa batas, dan kesadarannya memudar seketika.

===o0o===

Empat orang itu duduk bersila dengan tenang, mereka sedang menunggu sang atasan menemui. Sungguh tidak biasa mereka harus menunggu selama itu. Hampir sepenanakan nasi kemudian, barulah pintu di hadapan mereka terbuka. Mereka berempat segera menghaturkan sembah.

Orang itu mengulapkan tangannya. “Bagaimana dengan tugas kalian?”

Satu demi satu melaporkannya, ternyata keempat orang ini memiliki tugas seperti halnya Dua Bakat, mereka mengambil keping demi keping lencana untuk diserahkan kepada seorang tukang jagal sapi. Mencari kepingan yang dimaksudkan sang atasan, jelas sebuah permasalahan tersendiri, tapi mereka sukses dengan tugasnya.

“Jadi, dia sudah menerimanya?” gumam orang ini sambil menekan dadanya yang masih terasa sesak. Benturan yang terjadi dengan sosok mencurigakan—setelah menjumpai Sandigdha, sampai saat ini belum bisa dienyahkan. Padahal Pukulan Pratisamanta Nilakara yang berhasil diyakini, sangat pilih tanding.

“Sudah, tuan…” jawab keempatnya serempak, masing-masing memang menyerahkan kepada orang yang sama—dalam waktu berlainan.

“Bagus!” ujarnya dengan seringai suka cita. Mimpi untuk menguasai berlaksa tanah dengan mahkota menghias kepalanya, sudah terlalu sering menganggu tidur. Tapi dengan keterangan para anak buahnya yang terpercaya, mimpi itu makin dekat di ambang mata.

“Kalian tidak menjumpai kesulitan?” Tanya Pejabat Pratyadhiraksana menyambung, sambil menyapukan pandangan mata pada keempat anak buahnya.

Mereka menggeleng dengan mantap. Keempat orang ini jelas bukan tokoh sepele, bahkan dua diantaranya merupakan tokoh kasta tinggi dari Perguruan Naga Batu. Meskipun mereka terkadang mempertanyakan keanehan kelakukan sang atasan, namun ketinggian ilmu orang itu menundukkan hati mereka. Masing-masing menceritakan, betapa pencarian keping yang dimaksud tidak membawa bahaya, tapi penuh teka-teki. Dan saat menemukan benda—yang ternyata dibagi menjadi empat itu, masing-masing tersimpan begitu saja di rumah penduduk biasa. Setidaknya kesimpulan itu mereka dapatkan, setelah melakukan penyelidikan selama beberapa hari.

Pejabat Pratyadhiraksana mengerutkan kening, mendengar keterangan tersebut. Bagaimana mungkin, lambang sepenting itu, disembunyikan secara sembarangan? Keluarganya menghimpun ragam informasi yang cukup mendetail, dan demi ambisnya, sejak masa mudanya dia sudah mempelajari semua informasi itu dengan seksama. Secara umum, lambang pada lencana yang mereka cari adalah; sebuah lingkaran dengan satu garis vertikal dan tiga garis horizontal berjajar. Tapi, dari catatan yang ditemukan dalam perpustakaan istana, mengambarkan lambang tersebut masih ditambah gambar latar lain. Perbedaan itu menjadi pertimbangan selama beberapa hari ini, tapi bertumpuknya masalah membuat dia tak lagi memikiran hal tersebut.

‘Ah, biarlah…’ pikirnya dengan kening masih berkerut. “Ada hal lain?”

Dua orang dari mereka saling pandang, “Ada yang aneh… tapi tidak ada kaitannya dengan tugas kami.”

“Ceritakan!”

Secara bergantian mereka mengisahkan perjumpaannya dengan seorang lelaki paruh baya (penyamaran Jaka Bayu) yang memiliki kemampuan sangat menjengkelkan, berkali-kali mereka memukul, tapi selalu saja mengarah pada titik yang itu-itu saja. Lebih mengesalkan lagi, pukulan mereka tidak menimbulkan dampak apapun.

Wajah Pejabat Pratyadhiraksana nampak berubah. “Apakah dia menyatakan sesuatu?” dalam hatinya dia sudah memiliki dugaan, tapi terlalu dini jika harus diungkap sekarang.

“Tidak, hanya diam. Bahkan memprovokasi saya untuk turut menyerang.” Lalu berceritalah ia secara runtut apa yang terjadi.

Tidak yakin dengan apa yang didengar anak buahnya membuat orang ini hanya manggut-manggut saja. “Kemungkinan besar aku mengenal orang itu, tak perlu kalian risaukan.” Bagaimanapun dirinya harus menjaga wibawa di depan mereka. Mengatakan tidak tahu, jelas mencederai ‘kebesarannya.’

“Sekarang, apa yang harus kami lakukan?” salah seorang bertanya.

Pejabat Pratyadhiraksana termenung sejenak, agaknya orang yang bertempur dengan anak buahnya cukup menyedot perhatian. “Kalian amati setiap gerak langkah di sekeliling bendahara.” Ujarnya dengan datar.

“Sendika tuan.”

“Dan manakala kalian bertemu orang yang kebingungan mencari jejak seperti ini, bawa dia ke tempat biasa.” Pejabat Pratyadhiraksana menunjukan satu gambar lingkaran dengan beberapa garis mengelilinginya, citra seperti itu seperti gambar matahari yang dibuat anak-anak.

“Sendika tuan.” Secara serempak keempatnya menyembah dan segera berlalu dari hadapan Pejabat Pratyadhiraksana.

Menatap kepergian anak buahnya, orang ini menghela nafas dalam-dalam. Ada rasa senang, tapi ada juga kekawatiran. Lambang pada lencana yang sudah ditemukan anak buahnya, adalah Kosamasangkya. Secara harfiah, berarti gudang harta tak terhitung. Kosamasangkya memiliki kedalaman informasi yang sangat berharga. Dia sendiri tidak mengetahui secara persis, tapi dari jalur keluarganya, Pejabat Pratyadhiraksana memastikan memiliki petikan-petikan informasi berharga dari tiap barang yang dianggap remeh. Dalam gudang kerajaan didapatkan secarik infomasi tentang keberadaan Kosamasangkya—dalam selipan kidung asmara, yang bagi para petinggi kerajaan dan anak keturunan raja, sama sekali tidak memiliki arti.

Kidung itu menyiratkan; taring yang tersembunyi di balik taburan air, menunggu saat untuk membayar upeti. Sepenggal kalimat itu tidak memiliki makna apapun, tapi dengan kecerdikan orang ini, dia bisa mengartikan bahwa; taring—mengartikan ancaman. Hal tersembunyi dibalik taburan air, adalah kabut. Dan satu-satunya tempat berkabut yang membahayakan adalah Lembah Halimun. Dan ‘menunggu’, menurutnya adalah; kurir yang bertugas menjemput segala macam urusan dari luar Lembah Halimun. Jadi orang ini berasumsi, ada pihak yang menunggu untuk membayar upeti, atau hutang. Dia ada di balik Lembah Halimun. Tentu, sewaktu-waktu orang semacam ini hanya bisa keluar tenaga saat Kosamangkya datang. Kosamangkya merupakan lencana hutang, dan pada kesimpulan akhir, kau bisa memanfaatkan golongan berhutang dari Swara Nabhya untuk kepentinganmu.

Sudah jelas, Swara Nabhya memiliki sebuah aturan yang ketat, lencana hutang tidak akan berarti apapun, saat hutang yang ditagihkan merugikan Swara Nabhya. Maka, lelaki dengan jabatan Pratyadhiraksana ini, merancang sedemikian rupa muslihat secara halus—dengan meminjam tangan. Dia hanya ingin, siapapun orang yang mendapatkan Kosamasangkya dari si tukang jagal, dapat memberi pertolongan demi pertolongan bagi orang yang berkunjung ke Lembah Halimun dalam waktu dekat ini. Dan itu, jelas tidak akan merugikan Swara Nabhya, karena mereka tidak tahu bahwa sang tamu membawa parwwakalamahatmya.

Bagi pejabat Pratyadhiraksana. Tukang Jagal Sapi hanya kurir. Tapi, jelas dia bukan orang sembarangan. Jika ada daftar seratus tokoh terkemuka di dunia persilatan dewasa ini, tak ada satupun yang sanggup masuk ke dalam Lembah Halimun. Tapi orang itu ternyata bisa. Derajatnya jelas bukan main-main.

Rencana mantan gurunya sangat jelas terbaca olehnya. Dia mengerti benar, mantan gurunya ingin mengguncang dunia persilatan dengan memanfaatkan Swara Nabhya—entah dalam bentuk rencana apa. Dalam waktu yang khusus, dia pernah menuturkan bahwa dirinya memiliki salinan peta dalam Lembah Halimun, yang didapatkan dari usaha mata-mata. Bukan mudah usaha penyelundupan itu, sebab selalu saja mengalami kegagalan tiap tahunnya. Tapi, bukan tak memiliki hasil—tiap nyawa yang terkorban selalu membuahkan titik-titik informasi—meski terbatas.

Selembar peta yang kali ini berada di tangan Dua Bakat, adalah hasil dari pengorbanan nyawa puluhan orang, dengan rentang waktu puluhan tahun pula. Dirinya tak pernah mengambil hati ambisi mantan gurunya, tapi pada suatu kesempatan, tanpa sadar, dia menyebutkan: saat parwwakalamahatmya datang, hanya ada dua pilihan bagi Swara Nabhya. Menang jadi arang atau, kalah jadi abu. Dari situ, tidak perlu menjadi cerdas untuk mengetahui, seberapa berbahayanya parwwakalamahatmya. Cukup dari perkataan itu, membuat Pejabat Pratyadhiraksana meletakan pondasi rencananya, menunggangi segala kepentingan mantan gurunya!

Bukan tanpa alasan, dirinya membelenggu Dua Bakat sekalian dengan totokan khusus, orang yang pernah diandalkan oleh mantan gurunya di masa lalu, tentu akan menjadi alat berharga baginya pula. Totokan khas keluarganya yang dimodifikasi dengan ilmu Pukulan Pratisamanta Nilakara, tentu tidak akan sanggup dibuka mantan gurunya. Kemampuan totokan yang membatasi fungsi jantung dengan waktu yang sangat terbatas, membuat dia bisa memata-matai seluruh gerakan Dua Bakat sekalian. Sebab; orang yang keselamatannya tergantung pada dirinya, pasti akan melacak jejak—yang sengaja ditinggalkannya. Dan sudah tentu mantan gurunya, akan bergerak di belakang Dua Bakat sekalian.

Orang ini mengepalkan tangan dengan senyum lebar, seluruh rencana si tua Bangka jelas ada dalam genggaman! Dia bisa mengatur alur tiap rencana sekehendak dirinya. Paling tidak, itu yang ada di benaknya. Sama sekali tidak disadari, misi yang diemban oleh Dua Bakat, adalah mengambil racun yang justru merusak secara tak langsung impiannya! Alangkah ironis, sementara tiap pertolongan yang ada di Lembah Halimun adalah atas andilnya, tapi di waktu yang berbeda, Dua Bakat akan menimpakan buah simalakama padanya.

===o0o===

Sebuah lonceng sudah dibunyikan, tukang jagal sapi itu mendesah sedih. Dia duduk termangu sambil membayangkan kerusakan apa yang akan ditimbulkan karena ditemukannya Lencana Kosamasangkya. Seharusnya dia bisa menghentikan ini, tapi janji leluhur mengikatnya, demikian pula dengan belasan jiwa keluarganya yang kini dijadikan jaminan. Apa yang bisa dilakukannya saat ini hanya berharap ada pihak yang sanggup menghentikan laju rencana gila ini.

Lencana Kosamasangkya merupakan suara yang bertalu-talu, merambat dalam gema yang sunyi, dengan kecepatan melebihi perkiraan siapapun, sebuah rentetan dari tali temali rencana yang telah disusun sedemikian rupa dari puluhan tahun silam. Saat lencana ditemukan, saat lencana sampai di Lembah Halimun, maka pada saat itu pula-lah harta berupa emas segera bertebaran di segenap penjuru. Bukan sebagai pengganti atau ganti rugi atas tutupnya usaha—seperti yang terjadi pada Biro Pengiriman Golok Sembilan, tapi emas yang beredar itu justru sebagai penanda bagi setiap kalangan yang berkaitan dengan rencana awal. Tanda untuk bergerak!

Emas, tidak mungkin mampir di tempat-tempat remeh, apalagi didapatkan oleh orang-orang remeh. Emas akan mencari majikan yang setara. Golok Sembilan Bacokan telah salah mengira, dia berpikir harga yang akan dikeluarkan para pengirim barang itu adalah untuk menghilangkan jejak perguruannya. Emas yang telah dibagi-bagikan kepada anak muridnya, kini telah berpindah tangan. Ada banyak cara mendapatkan 144 batang emas murni, kebanyakan dari kejadian ‘perampokan’, sebagian yang lain berpindah tangan karena judi.

===o0o===

Racun dalam diri Phalapeksa sudah terlalu dalam dan terlampau lambat untuk ditangani, membuat Jaka harus bersabar. Banyak pertanyaan di benak pemuda ini, yang mungkin saja Phalapeksa bisa menjadi rujukan jawaban.

Ada satu beban dalam hati pemuda ini yang hingga kini belum bisa dia ungkap, yakni; mengenai kemungkinan adanya mata-mata di dalam kelompoknya sendiri. Korban yang telah berjatuhan di pihak Jaka, mutlak karena adanya pihak ketiga yang mengetahui rencana yang akan dijalankan. Antisipasi mereka membuat Jaka harus merelakan sahabat-sahabatnya menjadi korban.

Kesalahan seperti itu tak mungkin lagi dilakukan Jaka, bukan karena dia sangat hebat. Tapi pemuda ini tidak mengijinkan dirinya untuk menghadapi korban lebih banyak lagi. Biarlah kali ini ‘lubang’ masih menganga di tubuh kelompoknya, tapi dengan cara mengikuti tali yang menarik jerat, tentu akan diketahui siapa yang turut menarik keuntungan didalamnya.

Jaka menitipkan Phalapeksa secara khusus kepada Ekabaksha, meski orang itu sangat tidak sabaran dan cenderung berangasan, tapi pada dasarnya apapun permintaan Jaka tidak pernah tidak dia laksanakan. Tentu bukan tanpa tujuan Jaka menugaskan Ekabaksha, Phalapeksa bisa saja dihilangkan karena dia merupakan saksi kunci.

Kambing hitam. Ya, Jaka kini sedang menyaksikan ‘kambing hitamnya merumput’, pemuda ini tengah menyaksikan Sembilan Belantara mondar-mandir diantara ramainya pengunjung pasar. Orang seperti dia jelas sedang berupaya bertemu dengan teman-temannya. Persis seperti yang di pinta oleh Jaka, supaya dia bergerak bersama teman-temannya.

“Ah, orang itu lagi…” gumam Jaka saat melihat salah seorang dari penyerangnya tengah berada di dalam pasar pula. Sepertinya bukan kebetulan dia berkunjung kesana. Sebab baju kebesarannya sebagai prajurit tidak ditanggalkan.

Pemuda ini segera menyusup mendekat, ekor matanya bisa melihat di tangan sang prajurit tergenggam gambar bulatan dengan garis beraturan yang mengililinginya, gambar matahari. Sangat remeh.

Kejadiannya hanya sesaat, prajurit itu berjalan berpapasan dengan Sembilan Belantara, dan beberapa detik kemudian ‘kambing hitamnya’ segera menguntit si prajurit. Jaka menyeringai, kejadian semacam ini bisa dibilang karena nasib baik sedang berpaling kearahnya. Kondisi Sembilan Belantara yang dalam keadaan tertotok, sudah cukup memberikan penjelasan pada Jaka. Mungkin kali ini adalah hari akhir dari masa totokan. Jadi, harus diperbaharui. Dan tentu saja Jaka bisa dengan leluasa melihat siapa orang yang melakukan totokan itu.

‘Menyenangkan…’ pikirnya sembari membeli beberapa jajanan pasar lalu, mengikuti kambing hitamnya dengan santai.

Pasar itu masih tetap ramai. Jika Sembilan Belantara mengikuti si prajurit, maka Jaka menguntit Sembilan Belantara. Tapi ada beberapa orang lagi yang turut menguntit Sembilan Belantara, dan dia tidak menyadari Jaka menjadi bagian dari mereka.

—ooOoo—

118-Domino Effect : Menjangkau Ufuk Masalah

Jika ada orang tertawa karena lucu, itu biasa. Tapi manakala ada orang lain sedang terbungkuk-bungkuk kesakitan, sedang dia tetap tertawa, itu sakit! Sembilan Belantara sudah mulai merasakan nyeri menusuk jantung, serasa ada bilah yang menyayat sedikit demi sedikit mengores tiap sudut, mengembunkan beribu bintik keringat di sekujur tubuh.

Wajahnya belum lagi terlalu tua, tapi penderitaan yang teramat sangat membuatnya terlihat dua puluh tahun lebih tua. Dari kejauhan Jaka mengernyitkan dahinya, pada saat dia berbincang dengan Sembilan Belantara, dia melihat adanya anomaly pada sekitar dadanya, lebih dekat lagi saat dia menyentuh nadi leher dengan sekali usap, pemuda ini tahu ada sesuatu yang menarik.

Tentu saja Jaka tidak terus bertindak untuk menyelamatkan Sembilan Berlantara, dia harus menunggu pemeran utama muncul. Dalam perkiraannya, tidak mungkin para prajurit itu mencari Sembilan Belantara hanya sekedar bermain-main. Sudah semestinya, mereka mendapat mandat untuk membawa Sembilan Belantara dan tiga orang rekannya ke sebuah wilayah yang bebas. Jaka mengedarkan pandangan mata, dia mencari kemungkinan rekan-rekan Kambing Hitamnya mengikuti.

“Totokan di dadamu akan mereda sesaat lagi, ada empat jenis rasa sakit yang akan kau nikmati. Masing-masing hanya berselang satu jam.” Salah seorang prajurit menerangkan.

Sembilan Belantara tidak tahu harus bicara apa, tapi dia paham, waktu tersisa untuk dirinya masih ada tiga jam lagi. Dan selama itu pula waktu yang dimiliki ketiga rekannya yang lain. Dalam rasa sakit yang mendera jantung, Sembilan Belantara masih sempat mengedarkan pandangannya menyapu keadaan sekitar.

Tak ada satu orangpun rekannya dijumpai, mungkin mereka terlambat mengikuti jejak, atau bisa jadi kehilangan jejak. Padahal kemarin, mereka masih bahu-membahu menguntit orang yang ditunjuk oleh si topeng (Jaka Bayu) yang membuatnya batuk setengah mati, dan menelanjangi para telik sandi milik sang bendaharawan tersebut. Diam-diam dirinya mengeluh, menyesalkan kenapa memperturutkan hawa nafsu, kini dia berpendapat; lebih baik ’terkurung’ di Perguruan Lengan Tunggal, dari pada harus mati tanpa arti. Sudah dimanfaatkan murid sang majikan, kini dimanfaatkan pula oleh orang bertopeng tak dikenal.

Di dasar hatinya, timbul letupan rasa marah karena kebodohan yang dilakukan. Meskipun rasa sakit membuat tenaganya tidak ada lagi, tapi matanya menyorot nyalang. Ditatapnya dua orang prajurit itu lekat-lekat.

“Mau menghafal wajah kami?” ujar salah seorang sambil mencengkeram leher baju Sembilan Belantara dan menyentak ke hadapannya. “Lihat baik-baik!” desisnya. “Siapa tahu jika tuan berkenan memperpanjang masa hidupmu, kau bisa menempur kami setelahnya!”

Sembilan Belantara tidak dapat mengatakan sepatah katapun, tapi matanya masih hidup! Seolah melontarkan ribuan kata menyambuti tantangan tersebut.

Prajurit tersebut menghempaskan Sembilan Belantara, seraya menoleh kepada rekannya. “Apa kita masih diperlukan di sini?”

“Tidak, beliau akan mengurus orang-orang ini sendiri,” sahut temannya.

“Baiklah… kurasa tiga orang yang lain akan segera menyusul kemari.” Gumamnya sembari beranjak meninggalkan Sembilan Belantara. “Tugas kita hanya mengamankan tempat ini saja!”

Mereka pergi entah kemana, meski demikian Jaka tidak beranjak, dia tahu tak jauh darinya dua orang rekan Sembilan Belantara sudah jatuh tengkurap sambil mencengkeram dadanya. Mereka bergulingan kesana kemari, dengan mata membeliak. Jelas keadaan mereka tidak sama dengan Sembilan Belantara. Satu totokan percobaan Jaka yang diusapkan secara rahasia pada Sembilan Belantara, ternyata memberikan satu perbedaan.

Keputusan Jaka untuk tidak keluar dari persembunyiannya membuahkan hasil. Pemuda ini mendeteksi adanya satu tekanan tenaga menghampiri tempat itu—mungkin hanya dia sendiri yang menyadari.

Satu sosok bayangan berkelebat dan dalam lain kejap sudah berdiri di hadapan Sembilan Belantara. Dia menenteng dua tubuh lainnya, lalu melemparkan begitu saja bersisian dengan Sembilan Belantara.

Sembilan Belantara tercekat, menyadari dua sosok itu adalah Empat Serigala dan Tujuh Ruas. Orang itu menatap Sembilan Belantara dengan alis berkerut, namun perubahan wajahnya itu tidak terlihat, karena kepalanya ditutupi caping berumbai yang menghalangi wajah.

“Dengan siapa kau bertemu?!” tanpa basa-basi orang ini bertanya pada Sembilan Belantara dengan tandas.

Karuan saja lelaki paruh baya itu mengejap bingung. “Ma-maksud tuan?” katanya balik bertanya dengan suara tersendat.

“Seharusnya kau masih seperti ini,” ujarnya dengan suara getas sembari menunjuk dua sosok lain yang masih mengerang dan bergulingan.

Sembilan Belantara tergagu, kini dia paham sudah! Orang yang menganggapnya sebagai Kambing Hitam ternyata benar-benar bisa menawarkan totokan murid junjungan mereka! Meski tipis, suaranya menyiratkan keterkejutan. Dia bukan orang bodoh, situasi seperti ini harus dimanfaatkan.

“Oh… ma-maksud tuan, dd-di-a?” Tanya orang ini setengah mengerang. Lelaki bercaping itu jelas cukup sabar menunggu kelanjutan ucapan Sembilan Belantara, dia tidak berkomentar, siapa gerangan ‘dia’ yang dimaksud. “Sa-saya bertemu secara tidak sengaja… dia mengancam saya untuk mematai-matai gerakan seseorang dan kelompoknya…”

“Kau tidak mengenalnya?” tanyanya dengan nada tajam.

Sembilan Belantara menggeleng pelan. “Dugaanku, dia orang yang cukup terkenal di kalangan tertentu.” Lalu orang ini menjelaskan perawakan Jaka Bayu. “… matanya terlihat biasa, bukan seperti kalangan pesilat pada umumnya. Meski menutupi wajahnya, dari kerut matanya saya dapat menduga orang itu gampang tersenyum.”

“Ciri lain?” kejarnya lagi.

Sembilan Belantara seperti mendapat berkah, tidak disia-siakan permintaan orang itu. Apa yang disaksikannya—saat Jaka membuat Sandigdha harus bertekuk lutut untuk kesekian kalinya—diutarakan semua, tentu saja dengan bumbu-bumbu yang tidak penting. Dilebih-lebihkan sedemikian rupa, sehingga mencitrakan bahwa orang yang dia jumpai benar-benar tokoh yang menakutkan.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

Sembilan Belantara jelas tidak tahu, apa yang Jaka lakukan terhadap dirinya, tapi itu dapat menjadi bekal untuk membual memberikan tekanan psikologis pada murid sang majikan!

“Dia hanya menyatakan, saya tertotok dengan cara yang khas. Lalu melakukan usapan di punggungku… ah tidak, lebih tepatnya tepukan. Sa-saya tidak tahu apakah itu memberikan perbedaan atau tidak. Tapi sebelum meninggalkan saya, dia tertawa gembira, katanya: ‘benar-benar menyenangkan… ada orang yang membuat teknik demikian, nampaknya dia cukup berharga untuk melihat bayanganku,” tutur Sembilan Belantara dengan hati sedikit gembira, paling tidak dia bisa ‘memaki’ meski harus mengatasnamakan orang lain.

“Kurang ajar!” geram orang bercaping ini, nampaknya cara penyampaian Sembilan Belantara cukup membakar hatinya. Demikian juga Jaka, pemuda ini hanya bisa menggerutu dalam hati mendengar penuturan Sembilan Belantara yang jauh dari kebenaran.

Meski hati dibakar penasaran, lelaki bercaping itupun segera menyadari anak buah sang guru itu kurang satu! 

“Dimana dia?”

Atas pertanyaan yang membingungkan itu Sembilan Belantara gelagapan. “Maksud tu-tuan, orang itu? Ti-tidak tahu…” tapi saat mendengar dengusan orang itu, barulah dia menyadari jawabannya salah. “Dia sudah lebih dulu datang kemari.”

“Aku tahu, tapi dimana saat ini?”

“Itu.. itu.. saya tidak tahu. Ti-tidak ada tanda-tanda yang ditinggalkan. Mungkin dia sedang mengikuti majikan…”

Lelaki bercaping ini mengerutkan kening, dia yakin sang guru tak akan dapat membebaskan totokan yang digubah dari jalur keluarganya. Tapi, kali ini ada orang yang sanggup membuat totokannya berubah fungsi dari tubuh Sembilan Belantara, bergeser dengan sangat tipis. Dan kemampuan menggeser totokan, dia pandang lebih sulit dari membebaskannya. Dari penemuan inipun membuat kebanggaannya sebagai pemilik raja diraja totok, meluruh separuh. Mau tak mau, kemungkinan sang guru sanggup melakukan hal sama dengan yang terjadi pada Sembilan Belantara, bisa terjadi.

Tangan lelaki bercaping itu bergerak bagai penari, menjentik-jentik sebelum akhirnya melakukan satu gedoran di dada ketiga orang itu. Baik Sembilan Belantara, Tujuh Ruas dan Empat Serigala, langsung merasakan sebuah kelonggaran pada pernafasan mereka, rasa ngilu dan sakit menyayat pada jantung hilang seketika. Ketiganya buru-buru menghirup nafas, seolah itu adalah hal terakhir yang bisa mereka lakukan.

“Seperti biasa, aku memperpanjang kemungkinan hidup kalian,” ucapan itu cukup membuat semangat tiga orang itu meluruh lagi.

“Apa yang harus kami lakukan?” kali ini Empat Serigala yang lebih dulu pulih dari keterkejutan, bertanya.

Lelaki bercaping itu nampak diam sesaat. “Kalian pernah mendengar Keluarga Keenam?”

Ketiganya saling pandang. “Baru akhir-akhir ini…” jawab Empat Serigala diamini kedua rekannya.

“Cari jejak mereka!”

“Jika kami menemukannya?”

“Kalian tahu harus mencariku dimana. Jika punya keberanian, boleh coba-coba beradu tenaga dengan mereka,” jawab lelaki bertopeng ini dengan nada lebih lunak. Kemudian dia membalikkan tubuh, melesat pergi begitu cepat.

Di saat yang sama, Jaka tidak mau kehilangan kesempatan bagus ini. Ada kalanya pemuda ini tidak mau beradu tenaga, dia lebih suka menggunakan otaknya untuk membuat lawan tidak nyaman. Tapi, lelaki bercaping ini jelas sebuah kekecualian. Tubuh Jaka ikut melejit mengikuti pesatnya peringan tubuh lelaki bercaping. Baru belasan hitungan Jaka mengikuti orang itu, sebersit tenaga menyerangnya begitu pesat!

Sebuah caping melabrak Jaka dengan tekanan tenaga luar biasa. Pemuda ini terkesip, dalam tekanan tenaga itu ada daya sedot yang cukup masif, membuatnya kehilangan waktu sedetik untuk menghindar! Jaka berpikir cepat, jelas orang itu tidak mau jejaknya dikuntit! Waktu sedetik itu bisa membuat jarak mereka terpisah jauh. Pemuda ini bergegas menyambitkan seruling dari balik bajunya, bukan untuk membentur caping, tapi mengarah punggung lelaki itu.

Suara gaung yang keluar dari lubang seruling bagai belasan sendaren yang dilepas bersamaan, membuat lelaki yang menyambitkan caping itu, tidak mau ceroboh asal menghindar. Bunyi mengaung itu membuat dirinya sulit menentukan asal serangan dalam waktu sesingkat ini. Mau tidak mau dia harus membalikkan badan untuk memastikan benda yang mengincar dirinya tertepis.

Brak! Plak!

Secara bersamaan dua bunyi memecah kesiur angin serangan. Caping itu hancur berantakan sebelum menyentuh tubuh Jaka, demikian juga seruling pemuda itu lebur menjadi serpihan kecil. Kurang dari sedetik, kedua tubuh yang semula terpisah cukup jauh, sudah saling berhadapan.

Jaka tidak menyangka lelaki bercaping itu masih menggunakan kedok, sama seperti dirinya.

“Kau…” desis lelaki itu terkejut, sepertinya dia mengenali Jaka. Tentu bukan karena wajah pemuda ini—sebab dia menutupnya dengan kedok kain pula, tapi dia teringat dengan cerita Sembilan Belantara.

Jaka manggut-manggut. “Hari ini sungguh luar biasa, harapanku terkabul lebih cepat.”

“Apa maksudmu?” tandas lelaki itu tajam.

“Aku ingin berkenalan dengan pemilik totokan unik.” Sampai disini, Jaka belum pernah menduga bahwa lelaki ini adalah orang yang sama, orang yang pernah dia hadapi pada saat mengintai kediaman Sandigdha.

Tawa dingin terdengar begitu meremehkan, jelas cara bicara orang ini tidak seperti orang normal. Dia menyembunyikan ciri yang kemungkinan bisa dikenali dengan sangat baik. “Keinginanmu, dapat menjadi doa terakhir bagimu!”

Jaka balas tertawa pula. “Kau mengatakan ‘dapat’, artinya kau tidak cukup percaya diri menghadapiku. Ini sudah cukup buatku untuk mengukur tingkatanmu. Tidak menyenangkan sama sekali…” Tandas pemuda ini membuat tawa lelaki itu jadi sirap.

“Kau menginginkan bahaya yang tidak pernah kau duga!” Gumam lelaki berkedok itu dengan bola mata kian nyalang menatap Jaka. 

Pemuda ini merasa dari sekujur tubuh lawannya memancarkan aliran tenaga yang sangat halus, saking halusnya hampir-hampir Jaka tidak dapat membedakan dengan hembusan angin, tekanan tenaga lawannya membuat Jaka dengan cepat menganalisa macam apa tenaga sang lawan.

Satu kibasan perlahan dengan hawa hangat berpendar, hampir saja membuat Jaka terpekik antara kaget dan gembira. Nyatanya dia menghadapi lawan yang sama! Bedanya pada malam itu, Jaka masih sanggup merasakan tekanan tenaga sang lawan, tapi kali ini perbedaannya sangat mencolok.

Dengan cara yang sama seperti saat pertama kali mereka berhadapan, pemuda ini menepukkan kedua tangannya di depan hidungnya, seraya berkata. “Bahaya adalah nama tengahku. Aku sangat menyukainya!”

“Ih!” lelaki itu terperanjat seraya melakukan kibasan dengan hawa lebih hangat dua kali dan melejit mundur. Terakhir kali dia melihat lawannya menepuk seperti itu, sebuah luka yang tak pernah diduga membuatnya harus menghentikan banyak aktivitas. Kali ini jelas sebuah ketololan besar, jika dia terjerumus pada kesalahan serupa.

Angin pertama kibasan lelaki itu menekan Jaka dengan pola yang sangat aneh, seolah-olah Jaka masuk ke dalam labirin penuh dengan sarang laba-laba. Untungnya tekanan itu dapat dia netralkan dengan tekanan serupa yang mendorong secara lembut. Cara mendorong benda yang lunak memang harus demikian, kau bisa membayangkan seperti menyentuh sehelai kain yang tergantung, apakah harus dengan gerakan cepat atau dengan usapan lembut untuk merasakan kualitasnya? Tentu saja dengan usapan yang lambat, untuk merasakan teksturnya.

Cara seperti ini jelas dapat dimengerti banyak kalangan pesilat, tapi kalau semudah itu, lelaki misterius ini jelas hanya setingkat tokoh ecek-ecek. Tapi, pada kenyataannya tidak demikian. Begitu Jaka mendorong secara lambat, tekanan yang dihasilkan dalam lambaian itu mengedutkan ragam jenis tenaga yang berupaya menyusup ke dalam pertahanan Jaka, tanpa bisa dibendung! Pemuda ini merasa, upaya yang dilakukannya cukup baik, tapi nyatanya apa yang pernah dilakukan malam sebelumnya, tidak menimbulkan hasil yang sama. Rambatan tenaga yang dihasilkan oleh serangan ringan lelaki itu membuat Jaka terkesiap, sebab cara ini hampir sama dengan apa yang dia lakukan untuk menyerang lawannya pada pertemuan pertama! Saat itu Jaka mengerahkan ilmu mustika Badai Gurun Salju Panas Keras dan Hawa Dingin Penghancur Sumsum secara bersamaan, panas dan dingin bertemu, menyebarkan getaran yang merambat beresonansi pada pukulan lawan.

“Hiah!!” Dengan teriakan keras, Jaka memukulkan tinju ke udara. Pukulan yang penuh tenaga dan membuat dua tekanan susulan terangkat secara tuntas. Dalam waktu yang sangat sedikit itu, Jaka dapat melihat satu celah kelemahan, bahwa serangan ‘cengkeraman’ tenaga yang tak terbendung itu hanya datang dari depan—menyesuaikan tekanan tenaga Jaka yang muncul melindungi diri dari depan saja. Dan cukup satu tekanan besar yang melontarkan, ternyata sanggup membuat Jaka terlepas secara tuntas. Kejadian ini tentu saja berjalan sangat cepat.

Di lain sisi, lelaki berkedok itu menemukan kenyataan bahwa rambatan tenaga yang dipancarkan dari tepukan Jaka sangat mudah dia halau, hanya karena rasa kejut—saat menyadari sang lawan adalah orang yang pernah melukainya, membuat dia menyerang secara beruntun.

Mereka berhadapan dan saling menilai kekuatan. “Sekarang, apakah kau masih dapat menepuk dada, bahwa bahaya adalah karibmu?”

Jaka termangu sambil menatap lawannya. “Kau sungguh jenius!” akhirnya pemuda ini memuji seraya manggut-manggut, tidak menjawab sindiran lawannya.

Tidak memperdulikan pujian Jaka, lelaki ini kembali melambai… bukan, semula gerakan tangannya melambai, tapi mendadak berubah mengibas, mengepal dan dipukulkan secara tegas ke depan, hingga badannya sedikit menjorok ke depan. Dengan sigap, Jaka menepuk lagi. Kali ini hawa hangat serangan lelaki berkedok itu, bagai nila pada air jernih, menyebar dan tak terbentung, menerobos dengan lebih dahsyat, tidak cepat tapi lebih lambat, mencengkeram lebih luas dengan daya rusaknya lebih besar. 

“Kau bisa memujiku lagi!” desisnya ingin melihat antisipasi lawan terhadap Pukulan Pratisamanta Nilakara yang kembali sudah dia gubah, setelah di waktu lalu mendapat kerugian dari Jaka.

Tepukan Jaka seperti sebelumnya, tidak ada perubahan apapun, hanya mengandalkan tekanan dua tenaga yang saling berbenturan hingga menimbulkan kehampaan diantaranya. Berfungsi untuk beresonansi dengan serangan lawan, tapi kali ini Jaka tidak bisa merambatkan serangannya pada jalur hawa pukulan lawan. Dan selanjutnya gerakan Jaka berhenti, seperti patung.

Lelaki itu mengerutkan kening, mengamati sejenak memastikan tidak ada gerakan pada lawannya. Memang dengan serangan tadi, gerakan sang lawan bukan saja dibekukan, tapi cengkeraman hawa saktinya berfungsi menotok.

“Kukira, kali ini kau tidak bisa lagi memuji!” gumamnya sambil berjalan mendekat, aura membunuh dapat terlihat dari tatap matanya yang menampilkan rona kemerahan. Pertarungan mereka jika disaksikan kalangan pesilat biasa, sangat tidak nyaman dilihat, tidak seru, tidak ada benturan hawa sakti, tidak ada gerakan silat yang dapat disadap untuk dijadikan referensi. Namun, di mata para ahli, apa yang ditampilkan keduanya lebih rumit dan merupakan pertarungan yang jarang tergelar, meski itu di dalam perkumpulan para ahli. Seperti pedang dengan sarungnya, keduanya saling melengkapi, saling mengatasi. Mengatasi? Tidak! Sepertinya, Jaka kali ini harus menerima kekalahannya…

“Sungguh sayang, memiliki lawan seperti dirimu, membuatku tak enak tidur,” pikir lelaki itu ingin mengakhiri segalanya dengan satu hantaman di kepala. Penyakit orang yang merasa dia berilmu tinggi, adalah; meremehkan lawan yang dikira sudah tak berdaya.

Wuss! Pukulan yang menghantam kepala lawan, ternyata hanya sampai depan hidungnya saja! Dia yakin, memecahkan kepala orang dengan pukulan sederhana seperti itu tak mungkin salah. Tapi kenapa bisa luput?

“Kurang ajar!” dengan geram, lelaki itu memukul bertubi-tubi! Tapi, semua serangan itu luput. Perasaannya terguncang, kejadian ini sangat memalukan jika dilihat anak buahnya. Lawan yang masih bersikap seperti patung dengan tangan menakup di depan dada, tidak bisa dia pukul! Seperti memukul kapas, begitu kira-kira perasaan orang ini. Tiap kali pukulannya menderu, secara aneh tubuh sang lawan juga bergeser. Tidak dilihatnya lawan itu menggerakkan kakinya, tapi semua serangannya tak dapat menjangkau.

‘Kali ini, apa kau bisa menghindari Pratisamanta Nirawadha!’ batinnya dengan geram. Pukulan yang dilakukan dalam jarak satu langkah itu menggebu dengan gerakan lebih lambat dari pukulan yang sebelumnya membekukan Jaka.

Jika sebelumnya, tiap pukulannya seperti menghempaskan tubuh lawannya, kali ini dia tidak melihat reaksi. Tap! Bahu sang lawan terjamah. Rasa senang jelas menghinggapi dirinya. Tapi, tiba-tiba mata lelaki ini melebar. Rasa kejut membuatnya harus mundur berkali-kali.

Siapapun orang yang terkena Pukulan Pratisamanta Nilakara dapat dipastikan, jalan kematian memang menjadi tujuan akhir. Tapi betapa sulitnya dia harus menjangkau sang lawan dengan pukulan itu, sampai-sampai dia harus mengerahkan Pratisamanta Nirawadha, tingkat kedua dari Pukulan Pratisamanta Nilakara. 

Jika Pratisamanta Nilakara secara harfiah mengartikan raja taklukan berwarna biru, bukan sebuah jenis ilmu yang maha sakti, tapi lebih kepada cara menotok yang amat rumit. Korban yang terkena totokan ini ibarat raja yang takluk—dan totokan ini hanya dikhususkan di daerah kepala (raja dari tubuh), menutup aliran udara di sebagian syaraf otak, membuat korban menjadi pucat—kebiruan. Jika korban masih hidup, menjadi idiot adalah efek paling ringan yang mungkin terjadi, sayangnya kebanyakan orang tidak akan hidup setelah kena totokan itu. Bagi sebagian kalangan maha guru silat, cara totok itu juga disebut Raja Diraja, karena hingga saat ini tidak diketemukan bagaimana cara memunahkan jenis totokan itu. Setelah pembuluh menutup sempurna, pada saat leher dipenggal, tidak ada setetespun darah keluar. Sementara pada bagian tubuh yang terpenggal-pun, selama beberapa saat aliran darah masih akan bersirkulasi dan jantung masih berdenyut—sampai akhirnya udara dalam darah habis. Dia sanggup menggubah Pratisamanta Nilakara menjadi ragam pukulan yang dapat dilakukan seenak hati dalam ragam cara, membuatnya lebih dahsyat dari awalnya. 

Lebih jauh lagi, lelaki ini sanggup menapaki tingkat Pratisamanta Nirawadha, cara ini didapatkan justru setelah bertarung dengan Jaka. Luka yang dideritanya justru mendatangkan inspirasi. Sedikit banyak dia merasa berterima kasih pada Jaka. Pratisamanta Nirawadha berarti, raja taklukan tanpa halangan. Bernama seperti itu, jelas karena sifat tenaga yang dipancarkan lelaki ini bersifat membakar, menghancurkan, di lain saat juga membekukan setiap rintangan. Seperti api ribuan derajat yang mencairkan timah, seperti dingin yang menghancurkan tiap kehidupan, tembok pertahanan seperti apapun diyakininya tidak akan sanggup menahan. Masih menggunakan nama ‘raja taklukan’, karena memang sifatnya lebih kepada pernyataan gerakan yang tidak mengandung unsur kekerasan. Seorang raja yang menyatakan kekalahannya, pasti tidak akan melakukan perlawanan secara terang benderang.

Tapi apa yang membuatnya terkejut?

Tangan yang semula menakup di depan dada, kali ini bergerak dan menyentuh bahu yang tadi terkena pukulan, mengibasnya berkali-kali seperti ada kotoran menempel di sana. “Kau benar-benar jenius!” puji Jaka membuat lelaki itu kehilangan kata-kata. “Bukankah ini yang ingin kau dengar?”

Harga dirinya sebagai orang yang sanggup menyusun beragam rencana mengaduk Kerajaan Kadungga, runtuh saat itu juga. 

“Kau tentu sudah mendengar ucapan dari orang yang kau totok… kau memang cukup berharga melihat bayanganku.” Kata Jaka memulai perang psykologisnya. “Satu hal lagi, kau tidak perlu jauh-jauh mencari Keluarga Keenam. Aku ini salah satu panglima Keluarga Keenam. Jika kau punya keberanian, boleh coba-coba beradu tenaga denganku…” Jaka mengulangi kalimat orang itu yang ditujukan pada Sembilan Belantara.

Jika menuruti nafsu, saat ini juga dia akan menyerang Jaka dengan ragam kemampuannya. Tapi jika itu dilakukannya, besar kemungkinan sang lawan dapat meraba dari jalur mana dia berasal. Itu berbahaya! Dan sangat dihindari olehnya. Tiap rencana yang tersusun dengan mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya, tidak boleh begitu hancur karena kecerobohan sesaat!

“Hg!” dengusnya. “Menempurmu hanya menghabiskan waktuku yang berharga!” ujarnya menjawab sinis, mencoba membangun kembali harga dirinya.

Jaka manggut-manggut. “Benar, aku bisa melibatmu di sini selama kapanpun aku suka.” Jawaban pemuda ini membuat lelaki itu makin gusar. 

“Kau mau membuktikan?” tantang Jaka saat melihat lawannya ingin mengatakan sesuatu.

“Masih ada lain waktu!” katanya hampir setengah berteriak, lalu melesat cepat. Kabur?

Jaka tidak mengejar, dia menatap kepergian sang lawan. Beberapa saat setelah itu, pemuda ini masih saja diam, tidak beranjak, seolah sedang menunggu orang. “Kau tidak perlu datang mengintai, aku tahu kau akan datang ke sini lagi memastikan kondisiku,” ucap pemuda ini seraya menoleh ke samping.

Ah, lelaki berkedok itu datang menghampirinya lagi. Jarak mereka kini hanya terpaut lima langkah.

“Aku hampir saja tertipu!” serunya dengan suara gembira.

“Oh ya?” Tanya Jaka tak antusias, suaranya agak lesu.

“Kau sangaja menekanku, untuk membuatku cemas, jika aku melawanmu harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga.”

“Kau memang jenius…” puji Jaka mengulang kembali kalimat sebelumnya.

“Tapi, haha… kurang ajar! Ternyata itu hanya akal bulusmu saja. Pukulanku yang terakhir pasti membawa dampak bagimu!”

“Tepat sekali!” kata Jaka sambil bertepuk tangan, membuat lelaki berkedok itu melengak. 

Mana ada orang mengakui kesalahan strateginya di hadapan lawan? Kecuali orang itu sudah putus asa. Tapi dia melihat Jaka bukan lawan yang seperti itu. Ini sungguh aneh.

“Jadi, saat ini kau sudah luruh! Kalah total! Keluarga Keenam tak lebih dari badut belaka.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, kau benar.”

“Heh?!” pembenaran yang diucapkan lawannya membuat dia curiga.

“Aku katakan itu benar, jika dilihat dari logikamu. Bagaimana jika sekarang kau dengar logikaku?” ujar Jaka dengan nada lelah, seperti orang yang habis berlari seharian.

“Katakan!”

“Dari pada aku harus mengejarmu, bukankah lebih baik aku menunggumu di sini? Tiap ucapanku hanya berguna untuk orang semacam dirimu yang memiliki harga diri tinggi. Kau pasti berpikir, apa yang kuucapkan berbeda dari kenyataan sebaliknya.”

“Hhg!” dengusnya, tapi dia membenarkan. Memang pikirannya sempat gundah. Bagaimanapun dia sangat tidak puas dengan hasil pertarungan tadi, mana mungkin Pratisamanta Nirawadha ditaklukkan orang? Lagi pula dari tadi ia tidak melihat Jaka bergerak dari tempatnya berdiri! Dan ini menjadi pembenaran dugaannya.

“Kau tidak sadar, justru kaulah yang sedang kujebak.” Berbicara demikian, suara Jaka berubah lebih bersemangat. Kakinya juga melangkah ke samping, pemuda ini menggeliat, seperti orang baru bangun tidur!

Melihat lawannya tidak luka. Karuan saja lelaki berkedok ini memasang sikap waspada. “Dalam pertarungan tadi, aku merasa kau menyadap beberapa caraku yang sebelumnya. Maka itulah kau kupuji sebagai seseorang yang jenius. Pada benturan pertama tadi, aku pun melakukan satu perlawanan dengan cara yang baru. Sayangnya benturan itu baru bisa dilihat efeknya setelah setengah jam kemudian.”

Mendengar penjelasan Jaka yang terakhir, membuat lelaki ini terkejut bukan kepalang. Dia kembali teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu yang membuatnya harus kehilangan moment-moment berharga, karena luka keparat yang diderita! Jika saat ini sang lawan berbicara demikian, jelas dia tidak mungkin mengacuhkannya! Padahal, mana dia tahu, bahwa: Jaka-pun tidak mengetahui hal yang ditimbulkan akibat tangkisannya di pertemuan pertama mereka.

“Sebelum setengah jam, kau sudah pergi… tapi karena kau tidak yakin akan pertarungan tadi, di tengah jalan kau kembali untuk memastikan keadaanku. Setidaknya hingga saat ini, waktu yang kubutuhkan untuk melihat reaksi tangkisanku, hanya tinggal beberapa saat lagi…” tutur Jaka kembali menjelaskan, suara sangat normal tidak terdengar lelah. Membuat orang berkedok ini merasa yakin jika dirinya memang diakali Jaka untuk kembali datang ke tempat ini.

Keringat dingin menitik di kepala lelaki berkedok ini. ‘Persetan dengan omongannya!’ pikirannya bergulat dengan ketakutannya sendiri. “Tapi… Jika memang dia benar, seluruh rahasiaku bisa terungkap. Hancur pula namaku di dunia persilatan!’

Tanpa mengucapkan apapun, lelaki berkedok itu melesat lebih pesat dari sebelumnya. Jaka tertawa perlahan. Kali ini dia yakin benar lawannya benar-benar telah pergi. Pemuda ini terbatuk, dan darah segar menyembur dari mulutnya. “Sungguh lawan yang tangguh, jenius…” pikirnya sambil tersenyum getir, seraya mencari tempat yang tepat untuk menyembuhkan dirinya. 

Hari ini Jaka mendapatkan pelajaran berharga. Sejak pertemuan pertama, Jaka sangat ingin berjumpa kembali demi mempertegas ‘ciri’ hawa sakti sang lawan. Sungguh tidak terduga kali ini dia kembali bersua, kesempatan sebaik ini jelas tidak mungkin dia sia-siakan. Sifat buruknya kumat! Menerima luka demi meresapi rasa sakit akibat pukulan lawan-pun kembali bergelora. Jika saja Ki Alih atau sahabatnya yang lain ada disisinya, pasti akan mendamprat pemuda ini habis-habisan.

Apa yang diderita Jaka hari ini memang sangat merepotkan, tapi Jaka-pun dapat menangkap di antara samarnya pukulan sang lawan, ada setitik cahaya yang membuat dia merasa yakin, dia sedang melihat ufuk dari masalah-masalah yang sedang dan akan timbul. Ada perasaan akrab pada pukulan terakhir tadi. Satu hal yang pasti, Jaka memutuskan segera menyelidiki asal muasal lelaki berkedok itu.

Berjumpa dengan Sembilan Belantara dan teman-temannya jelas merupakan prioritas utama. Sayangnya saat dia kembali ke tempat itu, jejak ketiga orang tadi sudah lenyap. Ada bekas pertarungan di sana. Pemuda ini menghela nafas seraya menyeringai bodoh, teringat olehnya kritikan Ekabaksha. “Kalau sudah tahu ini menarik, kenapa kau tidak bertanya sampai jelas?” Ya, lelaki gemuk itu menyarankan pada Jaka untuk mengorek keterangan siapa sebenarnya Sembilan Belantara, tapi pemuda ini mengacuhkannya.

“Ha-ha.. sudahlah…” gumam Jaka sambil berlalu. 

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. cipto
    Jun 27, 2012 @ 16:48:52

    Hmm…,akhirnya muncul juga update nya….,trima kasih mas Bro..,ane penggemar berat cerita ini dari dulu yg smpat lama tenggang ampe sekarang.
    Tetap semangat mas Bro ea…,sambil nunggu update berikutnya…wkwkwk
    Maju terus sontang ….

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: