Pedang Tetesan Embun 06

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

06 – Berjumpa Dengan Kakek

Tak mungkin menghindar, tanpa pikir panjang, tangan kanannya dilintangkan menutupi wajah. Crap! Seberkas sinar bagai kilat itu segera menancap! Dan, bagai tetes air bersatu dengan sumbernya, benda itu menyusup di telapak tangan pemuda itu.

“Arrrgh!” jeritan bagai raungan hewan terluka memecahkan gemuruh hujan lebat, rasa sakit yang belum pernah dirasakan membuat Yoga meraung kesakitan, melupakan adiknya yang tengah tertidur.

Raungan Yoga jelas mengagetkan Bayu, pecah pula tangis bayi meningkahi derasnya hujan. Gemuruh petir yang saling sahut ternyata tidak bisa menelan jeritan Yoga.

Jauh dari tempat Yoga menerima musibah, kakek yang tengah duduk bersila mengerutkan kening, dia mendengar pekikan itu. “Ah, sebuah kematian yang lain…” gumamnya dengan kerut makin bertambah di keningnya.

Tapi kerut itu terhapus dengan rasa heran yang tiada habisnya, sebab jeritan yang didengar itu tanpa jeda, panjang, dan dia bisa menangkap suara itu sebagai ungkapan rasa marah dari pada rasa sakit.

“Eh…” dengan sigap kakek ini segera berdiri, sesaat keraguan menyelinap, apakah dia akan mendekati pusat suara itu, atau membiarkan saja menghilang dengan sendirinya? Biasanya, Lembah Angin memang selalu diliputi kematian, kebanyakan orang yang datang kesini adalah penjahat yang sudah tidak memiliki daya lagi. Dan mereka menjadi santapan bagi hewan-hewan raksasa penghuni rawa, dan hutan!

Tapi pemilik raungan itu jelas bukan seseorang yang tengah putus asa, amarah yang muncul dari suara itu, membuat dia memutuskan untuk melakukan hal yang dalam dua puluh tahun terakhir tak dilakukannya, yakni; menolong orang!

Di masa depan, keputusan saat itu selalu dikenangnya sebagai hal penting yang tentu akan disesali jika dia abaikan. Hanya dalam satu kejapan mata tubuh kakek itu menghilang dari mulut gua. Lembah Angin bagaikan garis di tangannya, tidak ada satupun yang tidak dia ketahui. Tentu saja dalam sekejap kakek ini sudah bisa menemukan dimana letak suara berada.

Yoga tengah meraung dengan jemari kiri mencekal erat lengan kanannya. Dalam suramnya kabut, mata tajam si kakek bisa melihat kejadian yang tengah menimpa pemuda itu. Terlihat olehnya telapak tangan pemuda itu mengembang dua kali lebih besar dari yang seharusnya. Agaknya sebuah racun hebat tengah menyerangnya. Kakek itu belum ingin menolong, sebab dia masih bisa melihat pemuda itu belum membutuhkannya. Pikiran pertama yang terbetik, adalah; alangkah baiknya jika dia berani memotong tangannya sendiri.

Rasa kejut, membuat kakek itu bergerak makin mendekat, manakala menyadari bangkai ular yang membujur itu adalah jenis açani açubanimitta (kilat yang memberi alamat buruk). Tatapan matanya dipertegas lagi.

“Astaga…! Itu raja diraja açani açubanimitta.” Pikirnya dengan gundah. Kakek ini bukan gundah atas kematian ular itu, tapi jelas dia gundah dengan keselamatan bayi dalam pondongan si pemuda.

Yoga bukan tidak sadar ada langkah mendekatinya, tapi dia sama sekali belum bisa bereaksi dengan gerakan itu, seluruh daya dan hawa saktinya masih dikerahkan untuk menangkal sesuatu yang bergerak berputar, menggeliat dan mencoba menerobos melalui tangan kanannya. Dengan begitu mudahnya, sang adik lepas dari pondonganya.

Rasa sakit dan amarah meluap, membuat pemuda ini melupakan bahwa dirinya tengah menahan gempuran misterius di tangan kanannya.

“Kembalikan!” bentak Yoga sambil menerjang si kakek, yang tengah memperhatikan bayi yang baru saja dirampasnya.

Sambaran cakar tangan kanan Yoga dielakan dengan mudah. Hanya dengan meredahkan bahunya, kakek itu membiarkan cakar si pemuda lewat begitu saja. “Buruk sekali, kau bisa lebih baik lagi!” Gumam si kakek, membuat amarah Yoga meluruh separuh.

Padahal hujan begitu deras, tapi suara kakek itu menyusup dengan jelas di telinganya, jika bukan orang luar biasa, kakek itu pastilah hantu! Dan di dunia ini, jelas tidak ada hantu! Dengan meneguhkan hati, Yoga memandang sosok dihadapannya. Rasa sakit yang berputar-putar di lengan kanannya, masih dengan liar dan kasar selalu ingin menerobos. Tapi dengan hawa saktinya, pemuda ini masih sanggup membendung.

Tangannya masih gemetar—antara pengerahan hawa sakti, dengan sentakan-sentakan dari seberkas cahaya kilat yang tadi menerobos. Kabut tebal yang menyelimuti wilayah itu, kini memudar. Bukan pudar secara alami, tapi Yoga bisa melihat itu karena hadirnya si kakek. Pendaran hawa dari tubuh si kakek, membuat kabut menguap, bahkan butiran hujan yang menerpa tubuhnya sanggup diuapkan dengan seketika!

“Hebat sekali hawa saktinya.” Pikir pemuda ini sambil meringis menahan sakit, dia tidak berani menggenggam tangannya, takut membuat sesuatu yang merasuk itu makin sulit untuk dikeluarkan.

Tiba-tiba saja kakek itu menototok dahi Yoga, karuan saja pemuda ini terperanjat. Dengan sigap, Yoga memiringkan kepala ke kiri. Gerakan si kakek yang lebih dulu itu cepatnya bukan kepalang, tapi jangkauan tangan, jelas masih lebih pendek dari pada jangkauan kaki, Yoga segera membalasnya dengan tendangan dengan bobot ribuan kati. Gerakan kaki itu menimbukan desir keras, tapi berkesan cepat. Si kakek tampak tersenyum, kakinya diangkat dan menekuk melakukan sebuah tangkisan.

Yoga mengharapkan ada benturan, karena dari sanalah dia akan mengambil momentum gerak pental. Tapi apa lacur, begitu kakinya menghantam tulang kering si kakek, sebuah daya hisap yang membuat dirinya terseret maju, nyaris menghilangkan keseimbangan.

Serangan demi serangan yang silih berganti menerpa si kakek, begitu mudah diantisipasi. Saat menyentuh tubuh si kakek, dia merasa ada satu uluran tenaga yang menjembatani hentakan hawa saktinya. Seperti jabat tangan. Bukan keras tidaknya genggamanmu, tapi sebuah cengkeraman kokoh yang melindungilah yang dirasakan oleh Yoga.

Pemuda itu baru sadar, jika geliat benda misterius yang ada di lengan kanannya, melemah seiring dengan pertarungan antara dirinya dengan si kakek. Mendadak, Yoga kehilangan jejak si kakek. Wajahnya menjadi pias, teringat sang adik masih berada dalam dukungan si kakek. Mengejar membabi buta jelas tidak akan menolong. Yoga memutuskan untuk memusatkan nalar dan pikiran, agar dapat merasakan jalur hawa sakti yang tadi terhambur. Seperti sulur pohon yang mengikuti arah terbit mentari, ada desakan kuat dalam diri Yoga untuk bergerak menuju satu arah. Ya, dalam benaknya, pemuda ini sudah bisa ‘melihat’ kemana arah perginya tenaga itu.

Nyaris dengan mata terpejam, pemuda ini bergerak mengikuti jalur tenaga. Makin jauh dia melangkah, Yoga menyadari bahwa kakek itu sengaja menuntun langkah kakinya. Untuk tokoh sehebat dirinya, mematikan jejak tenaga adalah hal mudah, kalau sudah begitu, jelas tidak mungkin bagi dia, untuk melacak kemana perginya orang tua itu.

Yoga menegaskan pandangan matanya, dia kini berdiri di sebuah gua yang memiliki pahatan bagai pintu gerbang.

“Masuklah, nak…” terdengar suara dari dalam. Berkesan ramah, dan tidak menimbulkan ancaman. Tapi, meskipun itu adalah ancaman, Yoga akan tetap menerjang masuk. Dirinya jelas tidak mengizinkan, sang adik bersama orang asing!

Begitu memasuki gua, hawa hangat menyambut dirinya. Barulah Yoga merasa, bahwa; perjalanan melarikan diri, telah berakhir. Hawa hangat itu, mengingatkan pemuda ini dengan perasaan ‘pulang’. Seolah-olah hatinya meneriakkan kalimat, ‘aku pulang’. Lelah lahir dan batin, membuat pemuda ini mengatupkan mata dengan ikhlas, membuat tubuhnya terhuyung dan bersandar di pintu masuk. Sebelum tubuh pemuda itu jatuh, si kakek bergegas menangkapnya. Ternyata, pemuda itu pingsan!

Mata tuanya mempertegas pandangan, hampir saja dia berteriak antara percaya dan tidak. “Suta?” gumamnya. “Ah, tidak mungkin… dia masih begitu muda. Suta paling tidak berusia akhir tigapuluhan.”

Pada saat dia mengamati tiap serangan pemuda itu, dia menemukan unsur serangan yang cukup membuatnya curiga, bahwa pemuda itu masih memiliki hubungan keluarga dengan dirinya. Tapi, kemurnian serangan itu tidak terlalu jelas. Seperti roti daging, kau tidak akan tahu enaknya rasa daging, jika hanya menyantap pembungkusnya saja. Tapi, ‘rasa’ dari daging itu masih bisa kau kecap. Demikian pula perasaaan si kakek pada pemuda itu. Kemiripan wajah pemuda itu dengan anaknya, membuat dia yakin. Kemungkinan besar, anak muda itu adalah cucunya.

Sebuah rasa haru mendadak menyekap dirinya. Baru disadari olehnya, hampir dua puluh tahun terakhir ini tak ada satupun kerabat yang pernah berjumpa dengan dirinya. Dia memang menghindari itu, dia tidak mau terikat dengan masa lalu. Tapi, kini masa lalu menghampirinya. Dibaringkan tubuh pemuda itu dengan hati-hati, bajunya basah kuyup, kakek itu segera mengganti dengan seperangkat baju miliknya.

Hujan di luar sana makin menggila, bahkan pohon yang berdiri kokohpun serasa tak sanggup menerima guyuran yang begitu dahsyat. Mata si kakek nampak menerawang jauh, pikirannya melintas mengulang masa lalu. Tapi, erangan sosok mungil membuatnya terjaga.

“Ah, kau lapar?” gumamnya. Sesampainya di gua, kakek ini segera mengeringkan bayi itu, sosoknya yang mungil dan menggemaskan membuat kakek itu jatuh hati. Madu yang ada dalam belitan kain bayi itu disuapkan setetes demi setetes.

Menyakiskan bayi itu terlelap lagi, kakek ini menghela nafas. “Betapa manusia itu sesungguhnya suci dan murni, sungguh disayangkan… orang tua, keadaan, dan masa lalu membuat warna yang berbeda pada kesucian manusia. Semoga kau menjadi orang yang pemaaf.” Gumam kakek itu memanjatkan doa. Doa bagi orang yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, terkadang lebih menyentuh dari sekedar untaian kata-kata mutiara yang indah.

Kali ini erangan sakit membuat perhatian kakek ini teralihkan. “Jangan banyak bergerak. Lakukan asas Pancakara Agrahya!” tegasnya, membuat Yoga tersentak.

Pancakara Agrahya (lima bentuk tak terlihat) adalah dasar ilmu keluarga, dasar dari hawa sakti, demikian juga dasar untuk mengokohkan hawa murni. Bagaimana kakek itu bisa tahu? Tapi Yoga tidak sempat mencari tahu bagaimana bisa begitu, karena tangan kanannya berdenyut lagi, rasa sakit menyayat, datang kembali.

Bergegas bangun, Yoga duduk bersila dengan tangan kanan menyangga tubuhnya. Dia duduk bersila dengan kondisi mengapung—disangga tangan kanannya. Sementara tangan kiri menekan ulu hati dengan cengkeraman seolah-olah akan membetot isi dada.

Kakek itu terkesima dengan bentuk Pancakara Agrahya yang berbeda. Pada masanya, Pancakara Agrahya berarti lima bentuk yang bisa diwakilkan dengan telapak tangan, telapak kaki, dan terakhir… kepala. Bisa dimengerti jika kaki atau tangan yang menjadi tumpuan, masing-masing memiliki unsur panca (lima), tapi kepala? Disinilah istimewanya Pancakara Agrahya, terlihat tapi tidak terlihat. Semua orang tahu jari kaki-tangan ada lima, tapi sangat jarang orang memfungsikannya dengan baik, demikian pula dengan kepala. Bukankah ada dua mata, dua telinga dan satu hidung? Kelimanya harus difungsikan dengan baik, selaras, dan berkesinambungan. Melihat dengan mata, mendengar dengan telinga bukan berarti kebenaran mutlak, mencium dengan hidung pun jangan kau anggap sebagai kebenaran mutlak. Pandangan, pendengaran dan indera penciuman bisa menipumu, tapi manakala ‘kelimanya’ difungsikan selaras—dalam arti, menggunakan kebijaksanaan, maka arti dari Pancakara Agrahya (lima bentuk tak terlihat), telah sempurna diterapkan. Inti dari Pancakara Agrahya adalah kebijaksaaan. Puncak dari kebijaksanaan adalah saat dirimu bisa memahami, umur itu terbatas, yang dengan sendirinya, akan membatasi kekuatan, pada saat usia menjelang di ujung, apakah gelimang hartamu dapat menyelamatkan dirimu?

Dasar dari olah nafas keluarga si kakek jelas seperti itu. Tapi, kenapa pemuda ini memperaktekkannya jauh berbeda? Tangan dalam lima jemarinya yang menyangga tubuh memang bisa diartikan Pancakara Agrahya. Tapi lima bentuk apakah yang sedang dihilangkan di sini? Kenapa pula jemari yang lain harus berpose dalam laku ‘mencabut’ jantung?

Sebagai orang yang paham lahir batin olah kanuragan dalam ragam pecahannya, kakek ini bisa segera mengambil kesimpulan; ‘jantung’ termasuk dalam ‘nadi’ kehidupan. Tangan menyangga tubuh merupakan, tiang kokoh yang menopang sebuah asa, sebuah pertahanan, tunggal dalam lima elemen—diwakili oleh lima jemari. Sekilas tidak ada yang salah, tapi hal itu jika dibandingkan dengan tujuan akhir ‘kebijaksanaan’, menjadi sebuah sistem olah nafas yang sombong. Pantas saja dia tidak melihat ada kemurnian didalamnya.

“Cara ini akan membuatnya meraih tingkatan yang tidak mungkin dilakukan orang-orang seusianya, tapi inipun menjadi cara paling menyedihkan yang akan mematikan jantungnya… mematikan salah satu sumber hidupnya.” Pikir orang itu dengan sedih. Pada akhirnya orang-orang yang menguasai kemahiran semacam itu akan menjadi kalangan yang pilih tanding, tapi nalarnya akan mudah dikaburkan nafsu.

Saat menatap tangan yang tengah menyangga tubuh itu, kakek ini menyipitkan matanya. Dia tahu lengan itu terdapat inti dari ular jenis açani açubanimitta. “Apakah ini menjadi rezki atau musibah?” gumamnya lagi. Dia memutuskan tidak akan ikut campur.

Yoga memasuki alam pikiran yang berbeda dari biasanya, jika sebelumnya akan timbul semangat yang menghempaskan segala macam kepenatan dan membuat dirinya lebih segar, penuh semangat, kali ini sangat berbeda. Ada semacam rasa penat yang membuat dia ingin melepaskan seluruh himpunan tenaganya. Rasa penat itu membuat otot tangannya tak kuat menyanga tubuh. Giginya berderak mengatup, jemarinya mencengkeram alas, membuat pembaringan batu tercerai amblas beberapa inchi.

Di saat bersamaan, Kakek itu terkejut melihat, lapisan warna merah bersaput kuning pucat melintas di dahi anak muda itu. “Terlalu cepat, terlalu cepat!” ujar si kakek. “Ini bisa menghancurkan dirinya!” tak menunggu lama, jemarinya menari-nari menimbulkan desingan di sisi telinga Yoga.

Desingan itu bagi Yoga seperti ketukan yang penuh ritme ajaib, desingan yang menyendat nadi dengan jeda yang sangat teratur, menimbulkan goncangan yang tadi bergolak dahsyat, terhempas sirna. Nafasnya tak lagi menderu, semangatnya perlahan pulih, disusul rasa penat yang berangsur menghilang.

Pemuda ini membuka mata, apa yang baru saja dialami masih terekam nyata di benaknya. Jelas sudah, kakek itu bukan musuh. Kakek itu membantu dengan cara yang sangat akrab baginya, cuma jika kau menanyakan seakrab apa, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

“Si-siapakah anda?” Tanya Yoga sambil berdiri sempurna.

Orang tua ini menghela nafasnya dalam-dalam. “Aku kakekmu…”

“Ah!” Yoga sangat terkejut, terburu-buru pemuda ini menjatuhkan lututnya. “Maafkan kesilafan saya eyang, saya terlalu kawatir dengan adik saya.”

“Oh…” kakek menggumam sambil tersenyum, semula dia mengira bayi itu adalah anak dari cucunya. “Ceritakan, apa yang membuatmu datang mencariku…” Tanya orang tua ini dengan dada berdebar tak teratur. Dari gelagat sang cucu, apa yang dikhawatirkan selama ini, nampaknya telah terjadi.

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. cipto
    Jul 18, 2012 @ 10:13:15

    hmmm…akhirnya ada update lagi…
    tengkiu masbro…udah sempat update …
    kita2 cuman bagian baca dan monitoring updatenya..
    keep spirit…
    Semoga tambah maju dan berkembang………….

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: