Seruling Sakti Jilid 119

SERULING SAKTI

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

119 – Domino Effect : Setitik kesadaran

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuApa yang membuatmu teringat tentang mati? Apa yang menjadi perhatian utamamu? Apakah kau akan membawa harta kekayaan? Anakmu? Istrimu? Kisah seorang istri yang bersedia satu liang kubur dengan suami sudah tentu omong kosong. Begitu liang lahat selesai tertimbun, hanya isak tangis yang mengiringimu. Selanjutnya apa? Apakah kau memiliki manfaat selama hidup?

Pikiran berseliweran tidak jelas memenuhi benak Dua Bakat, pikirannya berangsur-angsur pulih. Rasa sakit di sekujur tubuh membuat dia yakin kehidupan masih menjadi bagian darinya.

“Kau sudah datang?” sebuah suara seperti terdengar dari dasar neraka membuat kuduknya bergidik.

Mata Dua Bakat bekerjap, membiasakan suasana gelap dalam liang tempat dia jatuh. Sebuah helaan nafas panjang, seolah melepas beban yang menghimpit hati, terdengar begitu dekat dengan telinganya. Karuan saja orang ini segera beringsut mundur, sampai akhirnya dinding cadas menahan tubuhnya.

Matanya sudah dapat memandang kondisi di sekeliling, dia tahu ucapan tadi bukan ditujukan padanya. Dalam pekatnya gelap, Dua Bakat masih dapat mengenali, ucapan yang entah datang dari mana ditujukan pada seseosok tubuh yang terdengar menghela nafas panjang pula.

“Betapa hidup ini menjadi sia-sia. Oh, waktu… pantaslah Yang Kuasa bersumpah atasnya.” Gumam sosok itu membuat Dua Bakat heran.

Bagaimana tidak? Sebagai pendatang gelap di Lembah Halimun, seharusnya nasibnya tak sebaik ini… diacuhkan demikian rupa—dalam kondisi sehat pula. Mendadak. lelaki ini menampar kepalanya sendiri dengan menyeringai, ‘alangkah bodoh pikiranku!’ ujarnya dalam hati. Dia seharusnya bersyukur masih hidup, bukannya menjadi ‘heran’ atas nasib yang baik-baik saja.

“Benda berbahaya sudah sampai di tempat ini, sekalipun ada perbedaan di antara kita, tidak semestinya sebuah kehidupan terenggut olehnya.” Kata satu suara yang tak diketahui sosoknya terdengar jelas oleh Dua Bakat. Meski ucapan itu ditujukan kepada sosok pendatang itu, tapi Dua Bakat-pun paham, secara tak langsung teguran itu dialamatkan padanya.

Orang ini tidak dapat berkata apa-apa, keberaniannya sudah menguap entah kemana. Sambil menunduk, Dua Bakat hanya mengikuti percakapan yang ada di dalam ruangan itu. Dia sama sekali tak ada ide, untuk melakukan kelanjutan rencana sang majikan.

“Datangnya Kosamasangkya, memiliki dua kemungkinan. Bahaya dan manfaat. Dari mana datangnya bahaya yang bisa menghilangkan kehidupan?” ujar sesosok itu bertanya.

Tidak ada jawaban hanya helaan nafas, “Berikan padaku…” suara itu membuat tubuh Dua Bakat bergetar dan tersedot ke depan menempel pada dinding. Sesaat kemudian daya sedot itu hilang, dan Dua Bakat jatuh terduduk dengan lutut lemas. Sungguh tak pernah dibayangkan ada aliran tenaga semacam itu. Meski sang majikan dan orang yang menotok jatungnya juga memiliki kemampuan mengerikan, tapi aliran tenaga tadi memiliki ciri unik dan berbeda. Tidak mengerikan, tapi membuatnya tidak memiliki keberanian lagi, rasa takut segera melingkupi hatinya.

Tangannya merogoh ke dalam baju, dan menyerahkan kotak berisi parwwakalamahatmya, dengan gemetar Dua Bakat menjulurkan tangannya ke depan dinding cadas. Mata lelaki paruh baya ini terbelalak saat melihat sepotong tangan terjulur menembus dinding cadas menyambuti kotak itu. Dirinya yakin benar, saat tubuhnya tersedot dan menempel, yang dirasakan olehnya adalah dinding cadas. Bagaimana mungkin ada manusia yang dapat menembus dinding cadas tanpa menimbulkan lubang? Dua Bakat yang terkenal cerdas dan banyak akal ini tergugu kehilangan paham.

“Sebuah benda yang beraroma kematian,” gumam suara dari balik dinding. “Apa yang kau inginkan?”

Terdengar suara terkejut dari si pendatang yang tadi berbicara dengan suara dari balik dinding.

Lebih-lebih Dua Bakat, dia bahkan sudah lupa apa tujuannya datang ke Lembah Halimun. Begitu pertanyaan itu dilontarkan, pikirannya segera bekerja. “Se-sebuah.. ra-racun,” kata Dua Bakat dengan tergagap.

“Hm… benda semacam itu terlalu banyak di luar sana!” ujarnya dengan nada getas, membuat Dua Bakat tercekam.

“Sa-saya tidak tahu jenisnya… ta-tapi tentu tuan lebih tahu,” buru-buru Dua Bakat menjawab.

Terdengar dengusan lagi. “Pergilah!” sebuah kekuatan menghempaskan Dua Bakat ke ujung ruangan, dan terus terdorong lebih jauh, hingga akhirnya telinga lelaki ini menangkap debur derasnya aliran air. Karena terlalu tegang, Dua Bakat sempat tidak sadar bahwa tangannya sudah menggenggam sebuah kotak terbuat dari keramik. Sebelum tubuhnya masuk ke dalam aliran air, Dua Bakat buru-buru memasukkan kotak tersebut ke dalam kantung penyimpanan dalam bajunya. Dan sesaat kemudian, dia terhanyut entah kemana.

“Kenapa, kau berikan benda itu?” tanya sang pendatang kepada sosok di balik dinding.

Tidak ada jawaban, hanya desahan nafas panjang, sesaat kemudian dia menjawab lirih. “Kau pasti tahu, benda ini sanggup menarik kekuatan di lembah ini untuk keluar…”

“Aku tahu!” seru si pendatang dengan singkat.

“Dan ini sangat serasi dengan Kosamasangkya…” jawaban terakhir itu begitu dingin dan terkesan tidak memperdulikan apa pun.

“Kau.. kau tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti?”

“Hmk! dengan kejadian yang menimpaku. Pembalasanku ini jauh lebih baik!” kata orang dari balik dinding dengan tawa dalam gumam. Sebuah tawa yang getir.

“Pada benda yang kau dapatkan, kau mengkhawatirkan keselamatan orang… tapi kenapa?!” seru si pendatang dengan sengit.

“Kau tidak tahu isi hati orang,” jawabnya getas, lalu dengan nada menyindir, dia melanjutkan. “Bertahun-tahun menjaga kembalinya Kosamasangkya merupakan hal yang sia-sia. Apa yang kau dapatkan dari sana?”

Si pendatang terdiam. Ucapan orang itu memang benar. Semua itu hanya sia-sia. “Persetan!” dengusnya. “Tapi, aku bersumpah… jika saja kehidupan di sini menjadi cerai berai karenamu, aku bersumpah…” ucapannya terhenti.

“Kau akan membunuhku?” Tanya orang di balik dinding.

“Membunuhmu tidak ada gunanya. Kau pasti tahu aku akan melakukan apa… jangan pernah lupakan siapa diriku sebelum ini!” si pendatang membalikkan tubuh dan melesat pergi begitu saja.

Sebuah helaan nafas berat menggayut dari balik dinding. Di dalamnya, sosok lelaki dengan kepala dipenuhi uban nampak termangu, lalu menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. “Apakah aku melakukan hal yang benar? Duhai Sang Lila, benih yang kau tebarkan menuai hasil begitu dahsyatnya… ” sebersit air mata meleleh dari sela-sela jarinya.

===o0o===

Keluarga Keenam. Sebuah nama fiktif yang tiba-tiba menyeruak di kentalnya aroma permusuhan dua kerajaan. Bahkan pertikaian antar golongan persilatan. Penikam bekerja dengan sangat rapi dan tak terdeteksi. Semua ini bermula dari ide Ekabhaksa yang serampangan.

“Aku ingin nama Keluarga Keenam ini bukan hanya sebuah kalimat tanpa isi!” ujar lelaki gemuk itu sambil menggebrak meja.

“Untuk apa?” tanya Jalada dengan kening berkerut. “Permainan setan kemarin saja sudah cukup membuat nama Keluarga Keenam terkenal.”

“Masih kurang… masih kurang!” gumam Ekabhaksa.

“Kurang apanya?”

“Cuma kau yang mereka bicarakan.” Ketus Ekabhaksa pada Jalada, wajah lelaki ini kelihatan semakin bulat saat sedang marah. Jaka tertawa mendengar alasan lelaki gemuk itu.

Sekalipun Ekabhaksa tidak terlalu memikirkan ketenaran, tapi tiap Penikam pulang, Keluarga Keenam yang jadi pembicaraan adalah lelaki yang sanggup melelehkan emas, kalau bukan si Baginda, siapa lagi? Meski semula Ekabhaksa tak ambil pusing, tapi lama kelamaan perutnya mulas juga.

“Jadi, usul paman bagaimana?” Tanya Jaka.

Mata Ekabhaksa tampak lebih bercahaya. “Aku tahu satu hal, yang kalian tidak tahu tentangnya. Khususnya dirimu!” dengus lelaki ini melirik Penikam sambil menyeringai penuh kemenangan.

“Oh ya? Coba saja!” ujarnya menantang.

“Ada yang pernah dengar nama Wuru Yathalalana?” Ekabhaksa memulai infonya.

“Oh, si mabuk sesuka hati itu?” Tanya Pernikam.

Lelaki gemuk ini mengangguk.

“Apa dia terkenal?” Ekabhaksa tidak bertanya kepada yang lain, hanya kepada Penikam, karena di ruangan ini, hanya Penikam yang memiliki jaringan informasi luas.

“Sangat terkenal,” jawab Penikam. Jaka sangat tertarik dengan obrolan itu.

“Apa yang membuatnya terkenal?”

“Huh! Selain dia jawara mabuk, lain hal tidak ada,” jawab Penikam.

Mata Ekabhaksa bersinar. “Betul, selain mabuk, apapun tidak dilakukannya. Dalam satu hari hidupnya, lebih sering mabuk dari pada sadar. Tapi tahukah kau, pada saat sadar apa yang dilakukannya?”

Penikam menggeleng.

“Dulu, aku pernah mendengar selentingan kabar, katanya Riyut Atriodra pernah berhubungan dengan Wuru Yathalalana, tapi sejauh mana kebenaran informasi itu, sepertinya semua tertinggal dalam genangan arak,” tutur Ekabhaksa.

“Kadang, pada saat mabuk. Kau bisa melakukan hal apapun yang tidak berani kau lakukan pada saat sadar,” timbrung Jaka.

“Betul sekali,” kata Ekabhaksa. “Pada saat dia sadar, dia menangis, dan berkeliling mencari jejak-jejak kejahatannya, menebus dengan harta, bahkan menyiksa dirinya. Tapi, racun minuman keras sudah terlalu kental dengan darahnya, dia tak sunggup menghindari keinginan untuk mabuk.”

“Kemana arah pembicaraan kita? Aku tidak tertarik dengan manusia bernama Wuru Yathalalana,” ketus Jalada.

Ekabhaksa memukulkan tinju ke tapak tangannya dengan perasaan riang. “Itu maksudku! Tentu kalian tidak pernah tahu, pada saat dia mabuk, belum pernah ada yang sanggup membendung tindakannya.”

“Aku tidak percaya!” ujar Jalada merasa tertantang.

“Dengar dulu penjelasanku… mungkin bagi dirimu, Wuru Yathalalana tidak seberapa, entahlah… akupun tidak tahu sampai dimana tingkat kehebatannya saat mabuk. Tapi, saat dia mabuk, setiap orang yang mencoba menghalangi tindaknya, selalu dicegah oleh sekelompok orang!”

“Ah…” Jaka mendesah, dia sudah menangkap kemana arah pembicaraan Ekabhaksa. “Lanjutkan paman.”

“Aku yakin, kelompok ini ada hubungannya dengan hal-hal yang pernah dibicarakan Riyut Atriodra pada Wuru Yathalalana. Mungkin ada sesuatu yang tak boleh diketahui pihak-pihak tertentu, dan mereka—sekelompok orang yang selalu menghalang-halangi, ingin mencari celah pada tiap tindakan Wuru Yathalalana. Entah celah seperti apa, tapi mereka seolah menjadi bayangan Wuru Yathalalana selama sepuluh tahun terakhir …”

“Sebenarnya, itu bukan urusan kita,” tegas Jalada sudah bisa membaca kemana arah ide Ekabhaksa.

“Kau salah, itu tujuan dari orang-orang yang memiliki hati nurani,” kata Ekabasha dengan semangat. “Terlepas dari latar belakang yang dilakukan Wuru Yathalalana, tiap pembunuhan yang dilakukannya tak pernah mendapat sorotan dari enam belas perguruan besar, apa kalian tidak heran dengan hal itu?”

“Apa korbannya, orang-orang yang bisa diacuhkan?” Tanya Penikam.

Ekabhaksa menggeleng. “Tidak demikian, mereka memiliki nama yang cukup disegani pada beberapa wilayah.”

“Darimana paman mendapat keterangan itu?” tanya Jaka.

“Ada seorang kawanku yang pernah lolos dari tangan maut Wuru Yathalalana. Anehnya, dia pun tak berminat untuk membalas dendam. Ini seperti ada kepentingan yang saling menyandera.”

Jaka menggeleng-gelengkan kepala. “Kita sudah cukup pusing dengan hal ini, tolong jangan paman campur adukkan lagi dengan permasalahan lain.”

Ekabhaksa termangu-mangu. “Sayang sekali, saat ini Wuru Yathalalana ada di kota ini…” gumamnya membuat tiap orang saling pandang.

“Argh! Kenapa kau lemparkan ide seperti itu?! Aku tak bisa mencegah diriku untuk tidak ikut campur,” kata Jaka sambil mendekapkan telapak tangan di wajahnya.

“Baiklah! Paman Ekabhaksa yang akan mengurus Wuru Yathalalana. Apakah kami dibutuhkan?” tanya Jaka.

“Sangat…” katanya dengan bersemangat.

===o0o===

Malam itu juga Ekabhaksa sudah duduk di sebuah kedai terpencil di perbatasan kota, di hadapannya duduk mengelosoh lelaki seumuran, tangannya mencekal bumbung bambu, dari mulutnya berulang kali terdengar suara tersendak.

“Aku menunggu…” Ekabhaksa ikut-ikutan minum arak, masing-masing sudah menghabiskan enam belas gentong, tapi tak juga ada tanda-tanda berhenti. Wajah pemilik kedai sudah sangat pucat, soalnya persediaan arak untuk enam bulan ke depan hampir habis. Sudah berulang kali dia ingin menyetop dua tamunya, tapi satu kibasan tangan dari salah satunya membuat dia sadar, mereka tidak bisa diganggu. Apa boleh buat dia hanya bisa duduk termangu menanti, keduanya meminta arak lagi.

Wuru Yathalalana sudah mabuk, Ekabhaksa masih segar bugar, jangankan mabuk, minum duapuluh gentong lagipun dia masih sanggup. Dari kawannya dia tahu dimana harus menemui Wuru Yathalalana, dan selanjutnya, obrolan ringan yang merambat kepada saling tantang kekuatan minum terjadi — dan itu memang direncanakan.

Tujuan Ekabhaksa jelas bukan Wuru Yathalalana, bukan pula perbuatannya yang aneh, tapi sekelompok orang misterius yang berupaya mencegah orang lain ikut campur-lah, yang menjadi pusat rencananya. Menurut penyelidikan sahabatnya, sekelompok orang itu sudah menjadi bagian Wuru Yathalalana dalam kurun waktu yang lama, jelas ini bukan urusan sepele. Jelas pula bagi Ekabhaksa jika mereka bukan orang-orang yang bisa dianggap remeh.

Bagi dunia bawah tanah, nama Keluarga Keenam mulai dikenal, Ekabhaksa ingin mereka yang berkecimpung di dunia itu lebih mengenal lagi, lebih menaruh respek pada Keluarga Keenam. Sebenarnya terdengar konyol, menyematkan atribut hebat pada nama fiktif, tapi itulah umpan yang sejak semula ditebarkan Jaka, dia ingin ikut ‘menghiasnya’, memberi pernah-pernik kewibawaan dari nama kosong.

Ekabhaksa memperhatikan Wuru Yathalalana dengan seksama. Menurut kawannya, manakala sudah sampai pada puncak mabuknya—dengan pertanda muntah-muntah, orang itu akan menjadi beringas dan akan segera berlari.

“Huuuak…” Wuru Yathalalana muntah sangat banyak, kaki Ekabhaksa sampai basah dibuatnya. Lalu lelaki gemuk ini melihat keanehan pada biji mata Wuru Yathalalana, bola matanya memutih total, jelas kesadaran orang ini sudah punah.

“Aaaaargh!” terdengar teriakan menyayat dari Wuru Yathalalana, dan berikutnya orang itu menghambur ke dalam gelapnya malam.

Ekabhaksa dengan cekatan membuntuti Wuru Yathalalana, dalam kondisi tidak sadar kecepatan dan kegesitan si tukang mabuk sungguh mengagumkan, kalau saja Ekabhaksa tidak melihat sendiri, dia tak akan percaya ada orang semacam itu. Dan arah si pemabuk membuat jantung Ekabhaksa berdegup cepat.

Sandigdha! Pemabuk ini menuju tempat si bendahara! Jaka yang turut menguntitpun terhenyak dengan kejadian itu, sungguh sebuah keanehan. Wuru Yathalalana langsung menerobos masuk ke dalam rumah yang penuh dengan penjagaan, tapi tak satupun yang bisa menahan kelakuannya, dia mengobrak-abrik seluruh rumah mencari-cari sesuatu… atau seseorang.

“Arrrrgh….!” lengkingan panjang membuat dinding-dinding rumah sang bendaharawan serasa bergetar, sebelum akhirnya si pemabuk itu keluar dan berlari lagi. Ekabhaksa jelas tidak mau ketinggalan. Dan pada akhirnya, sebuah tempat membuat lelaki gemuk ini terhenyak. Kandang Sapi! Tempat dimana beberapa kelumit harta Keluarga Tumparaka digasak Sandigdha.

Dan di sana, Ekabhaksa bisa melihat Sandigdha sedang duduk bersimpuh di hadapan dua orang lelaki paruh baya. Wuru Yathalalana jelas tidak perlu bertanya apapun, begitu melihat Sandigdha, tubuhnya segera berkelebat menubruk tanpa aturan. Karuan saja Sandigdha terkejut, tapi belum lagi dirinya bergerak, dua orang yang berada di hadapannya sudah mengibaskan tangan.

Wuss! Wuss! Satu damparan angin panas menghentikan gerakan Wuru Yathalalana. Saat ini sifat si pemabuk, tidak seperti manusia, dia hanya berteriak-teriak dan kembali menyerang kedua orang itu bertubi-tubi. Tubuhnya melenting dengan geraman memekakkan, tangannya membentuk satu cakar. Tiap sabetan tangan si pemabuk membuat tanah terkelupas, batu pecah menyerpih, bahkan pepohonan yang terkena desauan angin dari cakarnya, turut tersayat.

Ekabhaksa melihat pertarungan itu dengan kening berkerut, kenapa sekelompok orang yang katanya selalu menjadi ‘bayangan’ Wuru Yathalalana tidak tampak? Tidak menyerang dua orang yang mencoba melindungi Sandigdha? Pertarungan itu berjalan seru, Wuru Yathalalana tampak sangat ngotot menyerang Sandigdha, setiap ada celah dari dua orang lawannya, dia akan mencoba menerobos melakukan satu cabikan pada Sandigdha. Angin tajam menyayat yang merobek keheningan malam itu dengan mudah dihindari Sandigdha, karena pada saat bersamaan sebuah tendangan sudah menghantam tangan si pemabuk, membuat pukulan cakar jarak jauhnya meleset.

Di persembunyiannya, Ekabhaksa merasa bimbang, matanya berkeliaran mencoba mencari dimana Jaka bersembunyi.

“Ssst… aku di sini,” bisik Jaka dari atas Ekabhaksa membuat lelaki tambun itu terperanjat. “Sementara ini jangan lakukan apapun. Jika sudah waktunya, kita akan turun tangan untuk membantu Wuru Yathalalana.”

“Heh?!” Ekabhaksa terkesip. “Kenapa?” tanyanya dalam bisik.

“Nanti saja penjelasannya,” tukas Jaka sambil mengerobongi kepalanya dengan kain gelap. Mau tak mau, Ekabhaksa meniru cara Jaka.

Pertarungan itu memasuki klimaksnya, Wuru Yathalalana dikeroyok tiga orang, tapi karena kegilaan yang ditimbulkan mabuknya, membuat dia tak ambil pusing dengan beberapa bagian tubuh yang terkena serangan lawan. Saat itu, sebuah bacokan golok bergerigi milik Sandigdha memotong ruang hindarnya, dua tebasan tangan yang berisi hawa sakti mengarah leher dan kemaluan Wuru Yathalalana. Sebelum serangan-serangan itu mencapai sasaran, Jaka sudah bergerak diikuti Ekabaksha. Lesatan Jaka langsung menumbuk punggung salah satu penyerang, sementara dalam waktu bersamaan Jaka menendang tepat mengarah kepala penyerang yang lain. Gerakan itu dilakukan sangat cepat, bersamaan dengan serangan yang diarahkan pada Wuru Yathalalana.

Karuan saja keduanya merasa lebih baik menghindari serangan gelap dari pada harus menghantam Wuru Yathalalana. Sementara Ekabhaksa dengan lincahnya sudah berhasil mendaratkan satu bogem mentah tepat di hidung Sandigdha, membuat bendaharawan ini berteriak kesakitan. Serangan mendadak seperti itu benar-benar tak pernah dia bayangkan bisa muncul di salah satu tempat keluarga Tumparaka!

Gerakan Jaka tidak berhenti, dia langsung menotok ubun-ubun Wuru Yathalalana, dan kejap berikut, menyerang Sandigdha menggenjot perutnya dengan sebuah pukulan, membuat dua orang paruh baya itu berteriak cemas, dan segera melancarkan serangan pada Jaka, meskipun posisi mereka sangat sulit, jelas meski serangan itu mengenai Jaka, tak akan berakibat fatal. Tapi mendadak, di tengah jalan, Jaka membatalkan serangan lalu berbalik, memapaki dua serangan lelaki paruh baya itu.

Dessh! Dessh!

Mereka terpental dengan dua kaki tertekuk, terseret sampai beberapa tombak. Jaka tidak mengejar keduanya dengan serangan lebih lanjut, dia hanya memandangi mereka, lalu berkata. “Main-main dengan urusan Keluarga Keenam, mau cari mati?” lalu kepalanya menoleh kepada Sandigdha, memberi isyarat supaya dia pergi.

Sandigdha jelas sangat paham atas situasi genting ini, tak perlu isyarat itupun, dia segera mengerahkan ilmu peringan tubuh sekencang mungkin untuk kabur. Sementara kedua lelaki paruh baya saling pandang. Beberapa gebrak yang dilakukan si pendatang, sudah berbicara banyak. Mereka menghadapi lawan tangguh! Keduanya bimbang, apakah akan meneruskan pertarungan yang jelas-jelas akan berakhir dengan kekalahan, atau kabur? Agaknya opsi terakhir mereka pilih dengan berat hati. Jaka membiarkan mereka hilang begitu saja. Kegelapan malam menyamarkan segalanya, pemuda ini tak bisa mengenali wajah mereka.

“Apakah aku perlu mengejar mereka?” tanya Ekabhaksa.

Jaka melepas kedok kainnya, “Tak perlu paman, lagipula keinginan paman untuk menanamkan wibawa Keluarga Keenam makin dalam, sudah tercapai, kan?” tanya Jaka membuat Ekabhaksa meringis. Meskipun benar, tapi bukan begitu keinginannya, tapi sudahlah!

Pemuda ini segera memeriksa keadaan Wuru Yathalalana. “Menurutku, mereka adalah bayangan Wuru Yathalalana.”

“Tapi, kenapa mereka bersama Sandigdha?” gumam Ekabhaksa seperti bertanya pada dirinya.

“Aku juga tidak tahu, mungkin paman pemabuk ini bisa membantu kita,” kata Jaka sambil mengangkatnya.
Mereka segera melesat pesat menuju rumah batu persembunyian mereka. Jaka tahu, dua lawan yang kabur tadi, pasti berniat mengikuti dirinya, tapi atas kelihayan Ekabhaksa yang mengambil arah berkelok-kelok tak karuan, membuat mereka kehilangan jejak.

—ooOooo—

“Jadi ini, yang namanya Wuru Yathalalana?” tanya Watu Agni atau Jalada dengan suara dingin. “Sama sekali tidak menarik!” ketusnya.

Jaka tersenyum kecut. “Kau mungkin benar, tapi membiarkan orang yang memiliki dasar begini bagus, tenggelam dalam kenistaan mabuk, aku tak bisa tinggal diam,” kata Jaka sembari memeriksa badan Wuru Yathalalana. Nafasnya dihempas keras-keras.

“Gila…” gumamnya.

“Kenapa?” Tanya Ekabhaksa ingin tahu.

“Orang ini mabuk bukan karena dia ingin, tapi karena dia terpaksa,” ujar Jaka dengan prihatin.
Penjelasan yang singkat ini menarik perhatian semua orang. Jalada, Cambuk, Ki Alih, dan Penikam mengambil tempat duduk di dekat Ekabhaksa. Bagi mereka, saat Jaka memberikan sebuah ulasan sebab musabab sebuah luka atau penyakit, adalah waktunya menyerap pengetahuan baru. “Aku menemukan pada sanjiao Wuru Yathalalana mengalami pembalikan teramat parah.”

“Tolong dengan bahasa normal…” potong Jalada dengan wajah mengeras, membuat Jaka tertawa.

“Sanjiao, itu artinya tiga pemanas dalam tubuh kita. Jiao bagian atas itu bagian mulut lambung, tugasnya jelas, hanya memasukkan, tidak mengeluarkan. Jiao bagian tengah, adalah bagian tengah lambung, fungsinya untuk perubahan pencernaan panas dari daging, cairan dan sayuran, juga termasuk lendir ludah. Tugas jiao tengah sangat fital, dari perubahan tadi dialirkan ke paru-paru untuk diubah menjadi darah…”

“Oh begitu, dan darah itulah yang menjadi sumber makan seluruh tubuh, menjadi tenaga…” kata Ki Alih.

“Tepat sekali!” jawab Jaka senang, penjelasannya ternyata dapat dicerna dengan baik.

“Kalau begitu, Jiao Bawah, tentu tugasnya hanya untuk mengeluarkan saja?” Tanya Cambuk.

Pemuda ini mengangguk-angguk. “Jiao bawah, keluar dari mulut atas usus besar, dan tugasnya memang hanya mengeluarkan, tidak memasukkan,” kata Jaka menambahkan penjelasannya. “Wuru Yathalalana mengalami pembalikan fatal, Jiao atas mengeluarkan, Jiao bawah memasukkan. Coba paman sekalian bayangkan, manakala makanan masuk, tapi tak pernah bisa dicerna, apa yang terjadi?”

“Mati?” jawab Jalada.

“Benar, tapi dalam kasus Wuru Yathalalana, yang bisa dicerna hanya cairan. Dan cairan yang harus masukpun bukan sembarangan, cairan ini harus keras, harus merangsang cairan dalam lambung supaya memaksanya bekerja, memaksa Jiao Tengah melakukan tugasnya, mengalirkan makanan ke seluruh tubuh. Tapi hanya dengan arak yang sangat keras sajalah, baru bisa membuat lambung Wuru Yathalalana melakukan tugasnya.”

Penjelasan yang runtut itu membuat mereka bisa mengambil kesimpulan, kenapa lelaki itu disebut sebagai Wuru Yathalalana, dimana-mana dia harus mabuk, dia bukan mabuk karena ingin, tapi karena harus! Karena dipaksa! Karena jika tidak bisa mabuk, maka dia akan mati, karena tidak ada asupan apapun yang bisa membuat paru-parunya mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Diam-diam mereka semua bergidik. Penikam tahu benar, julukan Wuru Yathalalana sudah tersemat sejak duapuluh tahun lalu, jadi selama itu pulalah sebenarnya lelaki ini menderita.

Tenggorakan Ekabhaksa terasa kering, dia meminum air banyak-banyak. “Lalu pertanyaannya, apa yang membuat sanjiao Wuru Yathalalana berubah?”

“Aku tidak tahu paman, tapi kesimpulanku begini; ada sebuah tepukan yang berisi tenaga sangat halus meremas lambung Wuru Yathalalana, remasan itu bersifat sinanggraha linumbir. Membuat fungsi lambung berhenti sebentar, membuat makanan yang masuk macet, lalu tenaga yang tersimpan dalam lambung, akan meledakkannya ke arah yang berlawanan. Pada saat itu korban biasanya hanya merasakan mulutnya kecut, sampai pada akhirnya makanan apa pun yang ditelan akan dimuntahkan kembali.”

Mereka mengangguk-angguk, sinanggraha linumbir berarti; disiapkan untuk dibiarkan. Penjelasan Jaka tadi sangat masuk akal, demikian juga dengan analisanya mengenai kemungkinan penyebabnya.

“Apakah ada yang tahu, ilmu semacam itu apa namanya, dan dikuasai oleh siapa?” tanya Jaka.

Pertanyaan itu tidak diajukan kepada semua orang, tapi hanya pada Ki Alih, sebagai seorang ‘ahli’ pukulan, sifat-sifat ilmu pukulan yang ada di seantero dunia persilatan, paling tidak Ki Alih sudah pernah mendengarnya.

Ki Alih menghela nafas. “Kenapa kau harus memungut segala masalah aneh, Jakaaa?” gumam lelaki tua ini dengan wajah terlihat kian menua.

Semua orang merasa apa yang akan diungkapkan Ki Alih cukup mengejutkan.

“Paman tahu?” tanya Jaka antusias.

“Ciri-ciri ilmu yang kau sebut itu digolongkan oleh para tetua dalam ilmu sesat. Itu ilmu Durwiweka Punarbhawa (tolol menjelma lagi).”

“Nama ilmu yang menarik…” kata Jaka dengan suara kering, dari namanya saja; Durwiweka Punarbhawa berarti; tolol menjelma lagi, Jaka bisa mengambil kesimpulan, ilmu itu pasti dikhususkan untuk menghancurkan himpunan-himpunan hawa murni. “Apakah ilmu itu diciptakan untuk menghancurkan hawa murni?”

“Itu akibat paling ringan. Lebih parah lagi, ilmu itu bisa membuatmu lumpuh hanya menyisakan tulang di balut kulit. Organmu tak lagi berfungsi, tapi anehnya, untuk mati karena dampak ilmu itu sangat sulit. Ini yang membuat para tetua menggolongkannya sebagai ilmu sesat. Karena sekali orang menjadi korban, maka orang lain—atau kerabatnya, dipaksa untuk menjadi pembunuh.”

Jaka manggut-manggut. “Ya, lumpuh dengan seluruh organ tak berfungsi memang lebih buruk dari mati, karena sulit mati, juga tak bisa bunuh diri, maka si korban akan meminta tolong orang untuk membunuhnya. Lalu… siapa yang menguasainya?”

“Dia disebut Pâpahara…”

“Ho, penawar kejahatan? Kenapa pula digolongkan sesat?“ tanya Ekabhaksa heran.

“Aku tak tahu, tapi menurut kabar burung, karena terdesak oleh sesuatu, Pâpahara akhirnya bergabung dengan Riyut Atriodra,” papar Ki Alih lagi.

Suasana menjadi hening, bahwasanya di hadapan mereka ini ternyata ada korban dari ilmu Durwiweka Punarbhawa, sudah sulit dipercaya. Lebih sulit dipercaya lagi, ada kabar burung yang menyatakan Wuru Yathalalana pernah berjumpa dengan golongan Riyut Atirodra apakah ini sebuah benang merah? Wuru Yathalalana juga melakukan pembunuhan-pembunuhan yang tidak pernah dicegah oleh Enam Belas perguruan Utama, bahkan Dewan Penjaga Sembilan Mustika, mengapa pula? Dan terakhir, Wuru Yathalalana memburu Sandigdha yang sedang diintai oleh tiga golongan (Si Tua Bangka, Kwancasakya, dan pemilik pukulan Pratisamanta Nilakara). Ini apa artinya? Jaka tertawa kering. Dia benar-benar memungut sebuah masalah besar.

“Baiklah-baiklah! Bukankah kunci semua pertanyaan ada pada orang ini? Tinggal kau sembuhkan, cari cara supaya dia bicara, habis perkara!” simpul Jalada dengan nada ketus seperti biasa.

“Ya-ya… kau benar sekali paman, benar sekali…” Kata Jaka tersenyum kecut, menyembuhkan orang memang keahliannya, tapi bagaimana dengan fungsi lambung yang terbalik? Dia belum pernah melakukannya. Ini tantangan.

“Arrrgh….” Erangan Wuru Yathalalana memecah konsentrasi Jaka, pemuda ini segera mendekat menatap orang tua bernasib menyedihkan itu dengan ragu. Akhirnya setelah menghela nafas panjang berkali-kali, Jaka menetapkan hati.

Tangan Jaka bergetar hebat, tiap jemarinya mengeluarkan suara derak berkali-kali, hingga akhirnya suara itu tak lagi ada. Semua orang tahu, seluruh tenaga, nalar dan budi Jaka Bayu dipusatkan pada jemarinya. Pada dasarnya, dengan mempelajari tubuh manusia secara detail adalah jalan bagi Jaka untuk mencapai ragam tataran ilmu yang aneh-aneh. Dengan mengetahui sebab luka pada Wuru Yathalalana, dan sekelumit keterangan dari Ki Alih, khazanah ide kemungkinan untuk penyembuhan akibat ilmu Durwiweka Punarbhawa terbuka lebar. Getaran pada tangan Jaka sudah berhenti, tadinya setiap orang bisa merasakan betapa besar beban hawa sakti yang sedang ditahan Jaka, tapi lambat laun, tenaga itu mengecil… mengecil… dan akhirnya tidak terasa sama sekali. Tapi berbanding terbalik dengan itu, wajah Jaka memucat, keringat bercucuran deras dari dahinya.

Jaka menyentuhkan jemarinya dengan perlahan ke lambung Wuru Yathalalana, menekannya sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tiap orang terbelalak, saat melihat jemari Jaka amblas ke dalam perut Wuru Yathalalana. Tidak-tidak… bukan amblas, tapi seolah-olah seperti amblas, ternyata jemari pemuda ini menekan perut Wuru Yathalalana sedemikian rupa, membuatnya terlihat menembus. Mata Jaka terpejam, nadi pada tangan terlihat berdenyut begitu kencang. Kejadian itu berlaku hampir satu jam, dan wajah Jaka makin pucat dengan seluruh tubuhnya basah karena keringat.

Sampai pada akhirnya Jaka menarik tangannya, lalu dia menghempaskan badan di sebelah Wuru Yathalalana, semua orang bisa melihat betapa menderu pernafasan pemuda ini. Ekabhaksa segera mencengkeram tangan Jaka, dia mulai menyalurkan hawa murninya untuk menopang laju hawa murni pemuda ini.

“Tak usah paman…” kata Jaka dengan suara lirih.

Namun saat semua perhatian orang tertuju pada Jaka Bayu, tiba-tiba saja Wuru Yathalalana membuka matanya, lalu berkata dengan lemah. “Ehm… se-sepertinyaaa… aku mencium bau bu-bubur ayam… ah, bagus-bagus-bagus…”

Jaka tertawa mendengarnya, cukup dari ucapan Wuru Yathalalana dia bisa menyatakan eksperimennya telah membawa hasil baik!

Bersambung…

2 Comments (+add yours?)

  1. jannotama
    Feb 21, 2013 @ 12:51:19

    120 dan 121 udah ada di web ss loh..😀

    Reply

  2. eds5
    Feb 27, 2013 @ 02:03:58

    Terimakasih mas Didit…

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: