Seruling Sakti Jilid 120

Seruling Sakti

Episode: Elegi Perguruan Naga Batu

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

(Sumber: serulingsakti.wordpress.com)

—ooOoo—

120 – Domino Effect : … Akhir Sebuah Awal – A

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuSemua orang menatap Wuru Yathalalana dengan tatapan kasihan, lucu, juga sebal. Cambuk memasak bubur ayam spesial dalam jumlah banyak, sedianya untuk dimakan beramai, tapi semua dihabiskan tanpa sisa oleh si pemabuk.

Jaka memperhatikan dengan seksama, sejauh ini tidak ada reaksi penolakan atas makanan yang masuk. Agak ragu, Jaka menuangkan arak putih dengan kadar tinggi. Tanpa pikir panjang Wuru Yathalalana menyambar dan menenggaknya, tapi belum lagi habis mengaliri kerongkongan, arak yang diminumnya tersembur.

Dengan tatapan nanar Wuru Yathalalana melihat gelasnya, nafasnya terengah pendek-pendek, matanya berkaca-kaca. “Akhirnya… setelah dua puluh tahun, setelah dua puluh tahun…” katanya dengan bibir gemetar, suara serak. Lalu menyendok bubur ayam dengan lebih lahap, rasa buburnya memang gurih, kali ini bercampur asin karena tetesan air matanya yang tak berkesudahan.

Jaka menghembuskan nafas lega, dia memberi isyarat kepada semua orang untuk membiarkan Wuru Yathalalana sendirian.

“Kau berhasil…” puji Ki Alih sambil menepuk bahu Jaka.

Pemuda ini tersenyum tipis, tak menanggapi. “Kita patut bersyukur atas kesembuhannya…” gumam Jaka sambil duduk, tatapannya terpaku pada langit-langit, entah apa yang sedang berkecamuk dalam benaknya. “Kita harus melakukan satu keputusan tegas!” kata pemuda ini sambil menegakkan tubuhnya, satu persatu dipandangi semua orang.

“Harus ada prioritas tindakan,” seperti biasa, Jalada mengambil kesimpulan sangat awal.

“Besok, aku akan memintal bulu domba,” desis Jaka membuat Ekabhaksa hampir bersorak, beberapa hari ini hanya melakukan pertarungan tanggung membuat kepalanya sakit.

Domba yang dimaksud Jaka sudah tentu Sandigdha. Dengan perkembangan terakhir, Ekabhaksa hampir bisa memastikan, di sekeliling Sandigdha telah muncul sanak dan kerabat tangguh! Setidaknya ada dua orang yang dicurigai bertindak sebagai ‘bayangan’ Wuru Yathalalana, yang menjadi orang dekat Sandigdha.

“Apa kau juga akan menyambangi orang yang hampir mengalahkanmu?” Tanya Jalada.

“Jika memungkinkan,” sahut Jaka mantap.

“Tidak khawatir atas pukulan anehnya?” sambung Ki Alih.

Jaka menggeleng. “Pukulannya memang luar biasa, dia juga sanggup menyadap cara bertarungku sebelumnya. Tapi, yang berkembang bukan hanya dia,” jawab Jaka dengan kepercayaan diri tinggi.

“Kau bisa mengatasinya?” kejar Ki Alih lagi.

Jaka mengangguk pasti. “Aku ingin tuntaskan satu hal, ingin kupastikan beberapa hal, dan akan kumulai satu hal mendasar.”

“Seperti biasa, kau bicara dengan kiasan…” gerutu Ekabhaksa. “Hanya setan yang tahu!” sungutnya, membuat Jaka tertawa perlahan

“Hal mendasar yang kumaksud adalah, fakta-fakta yang muncul akhir-akhir ini. Aku merasa ini menjadi satu lingkaran setan, tak berkesudahan! Dan memang seperti itulah rencana yang digagas oleh seseorang. Menurut paman, mengapa harus Sandigdha yang menjadi simpul dari masalah ini?”

“Apa karena dia masuk dalam salah satu kerajaan yang memiiki kekuatan tangguh?” ungkap Jalada.

“Itu bisa. Lalu?”

“Sudah tentu karena latar belakangnya sebagai Keluarga Tumparaka,” sahut Ekabhaksa.

“Benar. Ada lagi?”

“Kemampuan orang itu dalam menyesuaikan diri, kemahiran membuat rencana, kurasa menjadi daya tarik tersendiri bagi tiap golongan untuk merekrut dirinya,” sambung Ki Alih.

“Semua kemungkinan itu memang bisa terjadi. Tapi ada satu hal yang cukup menggangguku… paman, bagaimana hasilnya?” tanya Jaka pada Penikam.

Penikam mengiyakan, kemudian dia berlalu dari ruangan itu untuk mengambil sesuatu. “Ini yang kutemukan, sedikitpun aku tidak mengerti, kenapa aku harus bersusah payah demi bunga semacam ini…”

Semua orang memperhatikan bunga seperti seruni tapi berwarna ungu muda, tangkainya hanya setengah sejengkal masih memiliki empat daun. Aromanya cukup harum, tapi terkadang tecium seperti aroma buah nangka pula. ”Ini bukan bentuk yang sempurna…” pikir Jaka. ”Apakah tidak ada bunga sejenis?”

”Tidak ada, hanya seperti ini, aku menemukannya dalam jumlah cukup banyak, tapi kupikir cukup membawanya satu saja.”

Jaka manggut-manggut. ”Adakah dari bunga-bunga yang paman lihat memiliki tangkai lebih panjang dari ini?”

”Tidak.” jawab Penikam tegas.

”Berwarna ungu lebih pekat?”

”Tidak ada, warna ungu yang kuambil ini lebih tua dari yang lain.”

”Memangnya kau sedang mencari apa?” tanya Ki Alih kebingungan.

”Sebenarnya ini ada kaitannya dengan luka yang diderita Phalapeksa, aku mencurigai, tak jauh dari sini ada seseorang atau sekelompok orang sedang mencoba membuat racun. Bukan sembarang racun, tapi meniru dari bentuk aslinya…”

“Kenapa harus meniru? Kalau mereka bisa membuat racun, bukankah akan lebih mudah mengerjakan yang baru?”

“Duganku pun serupa itu paman,” kata Jaka menjawab pemikiran Cambuk. “Setelah kupikir-pikir, kurasa mereka menyadari satu hal, racun yang baru tidak akan membawa manfaat apa pun.”

“Uh! Pusing aku mengikuti penjelasanmu!” sungut Ekabhaksa sembari menenggak airnya.

Jaka tersenyum. “Jika aku mencuri uang dalam jumlah besar, si pemilik akan mencarinya kemana?”

“Sudah tentu, ke tempat dimana perputaran uang besar terjadi!” sahut Ekabhaksa ketus.

“Tepat sekali! Racun yang ditiru ini jelas untuk memancing keluarnya si pemilik racun. Sesederhana itu. Paman sekalian tentu ingat, Sandigdha memberikan biang racun hati merak dan penawar racun padaku. Aku sudah menelitinya, tidak ada masalah dalam biang racun, kekuatannya memang hebat. Yang menjadi masalah, justru penawarnya …”

“Memangnya ada apa?” Tanya Ekhabhaksa penasaran.

“Bunga yang Penikam berikan padaku, meninggalkan ciri yang tipis pada penawar itu. Ini menjadi masalah buatku.”

“Semua memang bisa menjadi masalahmu!” dengus Jalada. “Katakan secara lebih jelas.” Lelaki ini mau tak mau meniru cara Ekabhaksa dalam bertanya.

Jaka termenung sejenak. “Jika orang menggunakan penawar Sandigdha, dia tak akan mengalami masalah, sampai akhirnya ada orang yang menggunakan pemicu. Penawar itu mudah digunakan, bisa dioles, diminum—dicampur dengan air, bahkan kau masukkan ke dalam makanan pun tak akan merubah rasa.”

“Apa pemicunya?” Tanya Ki Alih.

Jaka tak buru-buru menjawab. “Baru dugaanku, nanti akan kita ketahui.”

“Aku masih kurang jelas, dari mana kau bisa menyimpulkan, ada pihak yang sedang meniru racun?” Tanya si Ular—Ekabhaksa mengulang.

Berbicara dengan si ular yang tambun itu memang harus ekstra rinci dan sabar, Jaka sangat memahami itu. “Kan tadi sudah kujelaskan, aku mengambil asumsi dari luka yang diderita Phalapeksa.”

“Bagaimana jika asumsimu salah?” kejar Ekabhaksa lagi.

“Itu sangat mungkin. Karena itu aku menyuruh Penikam untuk mencari bunga ini. Bunga ini adalah semacam tambahan yang tidak boleh kurang, dalam meramu racun yang kusangkakan tersebut.”

“Oooo….” Barulah Ekabhaksa manggut-manggut.

“Semua hal terjadi begitu komplek, dan berurutan. Itulah alasanku mengapa paman sekalian harus meminum bibit racun yang kubuat. Memang, tidak akan banyak membantu dari pengaruh racun yang asli, tapi ramuan dari si peniru ini, dapat kita tangkal.”

“Padahal luka yang diidap Phalapeksa sangat parah, tapi ternyata itu hasil dari racun tiruan saja?” gumam Jalada. “Sungguh sukar dipercaya!” tak ada yang menimpali ucapan si Baginda, terbayang oleh mereka betapa Jaka-pun kerepotan oleh luka sayatan yang diderita. Luka yang katanya memiliki racun jenis sama yang diidap Phalapeksa.

“Apakah kau bermaksud mencegah munculnya si pemilik racun?” Ki Alih berkesimpulan, setelah suasana hening dalam waktu yang cukup lama.

Jaka terkesima sesaat oleh kesimpulan Ki Alih, pemuda ini diam termenung sesaat lalu mengangguk perlahan. “Ya, mungkin begitu niatku. Hanya saja… aku merasa itu tak sepenuhnya benar. Tapi untuk sementara, tujuan itu lebih baik!”

Terdengar deheman dari belakang, Wuru Yathalalana berjalan menghampiri. “Tidak keberatan aku bergabung?”

Mereka menggeleng, Ki Alih langsung mempersilahkan si pemabuk untuk duduk. “Bagaimana perasaanmu?” Tanya Ki Alih.

“Kenyang!” jawabnya dengan tertawa lebar, membuat Ki Alih tergelak.

Jaka tersenyum, agaknya orang itu memang diciptakan untuk menularkan rasa optimisme, wajahnya terlihat lebih berseri. Membuat situasi pun jadi lebih cair.

“Maaf, aku mendengar pembicaraanmu,” kata Wuru Yathalalana sambil duduk di samping Ki Alih. “Dan aku benar-benar ingin bertukar pikiran dengan kalian.”

“Apakah itu bisa membantu dirimu?” Tanya Jaka.

“Aku tak tahu, tapi… mungkin akan berguna bagi kalian. Dulu, orang yang membuatku jadi pemabuk, mengatakan begini: ‘saat kau tak lagi mabuk, itu adalah kematianmu. Tapi, jika kau masih hidup. Akan terjadi banyak perubahan, bahkan aku akan dengan senang hati menyerah padamu tanpa syarat.”

“Oh, jadi kau akan membalaskan penderitaan mabuk itu?” tanya Jaka lagi.

Wuru Yathalalana terdiam. “Apakah tidak boleh?” tanyanya dengan suara parau. “Aku kehilangan kesadaranku, tiap gerak-gerikku dikendalikan, dan selanjutnya… aku tak tahu apa yang harus dilakukan selain menangis, meminta ampun kepada mereka yang anggota keluarganya kusakiti… apa aku tidak boleh membalas?”

Jaka terdiam. “Kau sangat boleh membalas, sangat. Tapi sebelumnya, kisahkan pada kami, apa yang terjadi selama kau mabuk.”

Wuru Yathalalana menghela nafas panjang. “Hal itu pula yang membuat aku ingin bertukar pikiran dengan kalian…”

Lelaki ini menoleh ke arah Jalada. “Saudara, tampangmu kaku sekali… apakah aku membuat kesalahan padamu?” mantan pemabuk ini mencoba akrab dengan Jalada.

Jalada mendengus. “Setahuku, manusia yang memiliki otak, akan berterima kasih pada orang yang menolongnya,” katanya dengan ketus menyindir kelakukan Wuru Yathalalana.

“Ya.. ya.. aku memang bersalah, tapi orang yang menolongku lebih banyak mendapatkan manfaat dari pada diriku, masa aku yang harus berterima kasih malah?” atas jawaban Wuru Yathalalana semua orang—kecuali Jaka, memasang tampang tak sedap. Tapi lelaki ini tidak perduli, dia malah mengambil minuman milik Jalada yang belum sempat disentuhnya.

Jaka tertawa, sifat orang tua ini memang unik, dia jadi bisa sedikit meraba, kemana tujuan orang yang membuat lelaki itu menjadi pemabuk tulen!

“Kau benar sekali, aku mendapatkan manfaat tak terbatas atas kasusmu,” kata pemuda ini membuat Ki Alih tidak suka dengan cara bicara Jaka—baginya, sebagai seorang yang memimpin mereka, Jaka harus menjaga harga diri. “Dan aku berterima kasih…”

Wuru Yathalalana tertawa penuh kemenangan, sambil melirik Jalada yang membuang muka.

“Akupun kini mengerti alasannya, kenapa kau dijadikan pemabuk,” ujar Jaka membuat senyum di wajah Wuru Yathalalana menghilang.

“Kau tahu?” tanyanya dengan raut tak percaya.

Jaka mengangkat bahunya. “Kisahkan saja ceritamu…” katanya tak menanggapi.

Wuru Yathalalana menatap Jaka lekat-lekat, lalu lelaki ini menggumam sambil tertawa kecil. “Kalian pikir aku ini orang buta, aku tahu identitas kalian…” gumamnya. Lalu dia menyebutkan semua orang satu persatu kecuali Jaka. “Luar biasa! Orang-orang tenar berkumpul pada satu himpunan. Meski ciri khas kalian berubah, itu tak ada artinya! Pandanganku tak bisa dikelabui…”

“Hh! Kami memang tidak pernah sembunyi dari siapa pun,” dengus Cambuk tersinggung dengan lagak Wuru Yathalalana.

“Tolol!” desis Penikam sembari melotot pada Cambuk.

Wuru Yathalalana tertawa bergelak. “Benar sekali, kau terlalu tolol! Mudah sekali terpancing!” katanya sambil tertawa-tawa sendiri. “Aku hanya ingin tahu sebenarnya orang-orang macam kalian ini ada urusan apa, kok bisa bergabung begini rupa? Jika kau menyatakan tak pernah sembunyi, artinya kalian memiliki tujuan yang tak takut diketahui orang. Bisa kukatakan pula, ini mungkin urusan besar.”

Dari caranya bicara, Jaka segera tahu dugaan awalnya salah… orang ini ternyata tidak hanya bisa menularkan optimisme, tapi juga mudah memperkeruh suasana hati orang.

“Bisa kau tanyakan pada orang yang selalu menyertaimu, Keluarga Keenam itu kumpulan orang macam apa!” Ketus Ekabhaksa dengan perut panas. Kalau tahu orang yang ditolong Jaka, ternyata orang semacam ini, siang-siang dia bunuh, habis perkara!

“Segala macam omong kosong bisa kau katakan, aku tetap tidak percaya! Keluarga Keenam itu tak pernah ada!” Dengus Wuru Yathalalana.

“Kau benar,” Jaka segera menimpali. “Kami ini memang tidak pernah ada, tidak ada yang mengobatimu—kau sembuh dengan sendirinya, manakala kau tak bisa mabuk lagi, pasti ada orang yang mencarimu lalu bertanya: ‘Kenapa tidak minum?’ lalu kau menjawab. ‘Aku tidak bisa.’ Atas jawabanmu, mungkin mereka tak percaya, dan akan membuatmu mabuk lagi, memaksamu supaya kau hilang kesadaran dan melakukan tugas yang sudah dua puluh tahun dibebankan di pundakmu. Tapi, tentu saja akan berbeda. Mabukmu kelak, dengan mabukmu yang lalu… kemampuan dalam menghilangkan rasa sakit akibat pukulan lawan, hilang karena kesembuhanmu. Kecepatan juga menurun, bobot pukulan juga lebih lembek. Kupikir hampir setiap pesilat kelas tiga bisa mengalahkan dirimu. Itu pula yang membuatku merasa tidak pantas mendapatkan ucapan terima kasih darimu.”

Ringan cara Jaka menyampaikan, tapi tiap patah katanya membuat kawan-kawan Jaka tersenyum, dan membuat raut Wuru Yathalalana membeku. “Karena itu, segala macam omong kosong yang berkaitan dengan kami, tak usah kau bahas. Sekarang kita membahas urusan dirimu saja, bagaimana?”

“Ba-baiklah…” ujar Wuru Yathalalana dengan suara lemah.

“Siapa yang membuatmu menjadi pemabuk?” Tanya Jaka langsung ke inti permasalahan.

“Aku tidak tahu, tapi mungkin ada kaitannya dengan Wrhaspati.” Wajah semua orang—kecuali Jaka terlihat berubah. Melihat Jaka tidak bereaksi, Wuru Yathalalana memperjelas. “Dalam Dewan Penjaga Sembilan Mustika, ada sembilan orang tetua yang masing-masing memiliki kekuatan besar dalam memutuskan benar-salahnya seseorang—atau kelompok. Dan Wrhaspati adalah salah satu dari sembilan tetua.”

Jaka manggut-manggut. Menjadi masuk akal, jika selama ini pembunuhan, penganiayaan dan perusakan yang dilakukan Wuru Yathalalana tidak direspon oleh Dewan Penjaga Sembilan Mustika. Tapi bagaimanapun itu baru dugaan. “Kenapa kau menduga dia yang terlibat?”

“Aku mempunyai hubungan cukup baik dengan kalangan Wrddhatâpasa. Orang ini…” Wuru Yathalalana menggertakkan giginya. “Memukulku dengan menyatakan; ‘orang-orang sok suci itu, apakah akan membantumu atau diam saja’?”

Jaka tidak berkomentar, mengaitkan Wrddhatâpasa dalam hubungan yang kadang membaik dan memburuk dengan Dewan Penjaga Sembilan Mustika—dalam hal ini Wrhaspati, tak akan menolong dalam memecahkan misteri mabuknya Wuru Yathalalana. Saat ini, Jaka hanya bersikap mendengar saja. Tapi, pikiran lain orang tidak serupa dengan Jaka, Ki Alih misalnya; dia menyimpulkan orang-orang yang melingkupi Sandigdha—jika mereka memang si bayangan yang selalu menjaga Wuru Yathalalana—tentu ada kaitannya dengan Wrhaspati. Rasanya menjadi masuk akal, hanya orang yang memiliki kekuasaan besar sajalah yang bisa ‘menjaga’ misi aneh Wuru Yathalalana dalam membunuh, merusak, menganiaya tokoh-tokoh tertentu.

Ki Alih menatap Jaka dengan pandangan aneh, apakah pemuda ini memiliki kemampuan melihat masa depan? Jaka menyatakan akan memintal bulu domba—Sandigdha—tidak berupaya mencari tahu siapa si tua Bangka, atau bahkan mencari hubungan dengan Kwancasakya, lebih-lebih pemuda ini tidak mencari orang yang nyaris mengalahkannya. Jika ketiga pihak itu bisa ditelusuri, tentu hasilnya lebih baik. Tapi tidak, Jaka bersikeras kembali kepada dasar permasalahan. Entah ini ada kaitannya atau tidak, antara luka yang diderita Phalapeksa, keterkaitan Sandigdha—secara tidak langsung—dengan Wrhaspati, atas hubungannya dengan Wuru Yathalalana. Lebih dari itu, apa yang dikemukakan dan dilakukan Jaka secara sporadis, lalu dikerucutkan pada sebuah nama kosong Keluarga Keenam, ternyatanya sebagai antisipasi akan hal-hal yang muncul; seperti kasus Wuru Yathalalana ini? Setiap tindakan sepertinya sudah diantisipasi demikian cermat, padahal sejauh ini Ki Alih sendiri baru sanggup merabanya setelah Wuru Yathalalana berkisah. Apakah Jaka mengetahui fakta-fakta itu hanya dari bukti luka Phalapeksa? Dari ‘pembicaraannya’ dengan Sandigdha? Atau Dari pertempuran dengan lelaki pemilik pukulan aneh yang nyaris mengalahkan Jaka?

Ki Alih diam-diam menghembuskan nafas dingin, bahkan mereka yang menjadi satu kesatuan dengan seorang Jaka saja, tidak bisa meraba tindakannya. Konon nanti ‘lawan’ yang akan dihadapi Jaka? Bagaimana mereka akan mengantisipasi setiap langkah pemuda ini? Menanti kemungkinan demikian, membuat semangat Ki Alih makin berkobar. Memang tidak rugi memang mengikuti pemuda ini…

“Dan selanjutnya kau berangsur-angsur menjadi pemabuk?” Jaka bertanya lagi.

Wuru Yathalalana mengangguk.

“Sebelum kegagalan kemarin, korban terakhirmu siapa?”

“Aku tidak tahu siapa namanya, tapi dia orang tua.”

Wajah Jaka menjadi serius. “Dengan cara apa kau lukai dia?”

“Tidak ingat, tahu-tahu dia jatuh. Begitu aku tersadar, aku takut orang itu meninggal, maka kubawa dia ke perbatasan kota ini.”

Kecuali Jaka, semua orang terkejut. Tapi Jaka membuat isyarat supaya mereka tidak mengatakan apapun. “Kau cukup punya tenaga untuk bertarung?” Tanya Jaka.

“Sekarang?” Tanya Wuru Yathalalana heran.

“Kecuali pencernaanmu yang kacau, aliran tenagamu normal,” gumam Jaka mematahkan kemungkinan penolakan Wuru Yathalalana.

Lelaki itu ini menggertak gigi. “Baiklah!” dia berdiri menjauhi tempat duduk, Jaka memandanginya dari belakang lalu meloncat menepuk leher Wuru Yathalalana.

Ketepatan Jaka menepuk leher lelaki membuat Wuru Yathalalana mengerang dan segera membalikkan badan, melancarkan cakaran pada Jaka. Ekabhaksa sekalian bisa melihat bola mata Wuru Yathalalana memutih, rupanya Jaka membuat orang itu menjadi tak sadar, membuat orang tua itu mengerahkan kemampuan secara total.

Tiap cakaran dan gerakan Wuru Yathalalana seharusnya sanggup memporak-porandakan apa pun yang terkena angin serangannya, tapi akibat pengobatan yang dilakukan Jaka membuat Wuru Yathalalana melemah, tenaganya hanya tersisa tiga bagian. Jaka meliuk-liuk menghindar, tiap serangan. Sejak jurus pertama Wuru Yathalalana hanya mengeluarkan jurus cakar, namun setelah Jaka secara sengaja menampar kepalanya, mendadak cakar itu berubah menjadi jurus totokan, tiap kali jemari mengibas, desingan tajam cukup membuat orang-orang terkesip.

Jaka segera menangkis, lalu berputar mengisar ke belakang lalu menampar leher Wuru Yathalalana lagi. Gerakan yang seringan itu membuat mantan pemabuk ini, terjerumuk hampir saja nyungsep.

Lelaki itu menatap Jaka dengan pandangan antara marah, kagum, juga jeri. “Kau lakukan apa padaku?”

“Tidak ada, hanya memeriksa,” kata Jaka sambil membalikkan badan lalu mengambil tempat duduknya lagi. “Memang orang ini… tapi bukan dia…”

“Bicara yang jelas!” desak Jalada.

“Dia memang terkena luka totokan—ilmu totokannya memang istimewa, membuat luka tapi tak menimbulkan bekas, jadi sulit untuk diperiksa. Tapi tidak menimbulkan kematian, tidak pula beracun, dan di saat bersamaan, ada serangan lain yang menyasar ke lehernya, serangan yang sangat beracun, menggunakan cara yang sama dengan orang yang telah menggoreskan luka cakar padaku. Entah apa maksudnya melukai dia secara sembunyi-sembunyi…”

Dia yang dimaksud Jaka adalah Phalapeksa, sengaja Jaka tidak menyebutkan secara berterang—untuk menghindari pertanyaan Wuru Yathalalana, tapi sahabat pemuda ini mengetahuinya.

“Pada saat kau menyerang si korban, apakah ada yang mengganggu tindakanmu?”

Wuru Yathalalana terdiam mengingat-ingat. “Rasanya tidak.”

“Terakhir, kenapa kau menyerang orang yang ada dalam perlindungan, ‘bayang-bayangmu’ sendiri?”

Orang ini mengingat-ingat lagi. “Tapi itulah perintahnya, setiap kali aku harus membunuh, atau melakukan hal lain, selalu saja ada surat atau perintah langsung yang datang. A-aku tidak bisa berpikir, begitu datang perintah… ya kulakukan saja.”

“Baik, terima kasih atas kerjasamamu. Silahkan beristirahat…” kata Jaka.

“Tapi aku…”

“Silahkan beristirahat…!” kali ini kata-kata Jaka penuh tekanan, membuat Wuru Yathalalana tak bisa mendebat.

Menanti pintu kamar Wuru Yathalalana tertutup, Jaka sekalian pindah ke dalam ruangan bawah tanah. Di  sana juga Phalapeksa menjalani perawatan. Jaka menatap orang tua yang terluka itu dengan pikiran memenuhi benaknya.

“Kenapa kau tidak bertanya secara mendetail?” Tanya Jalada.

“Percuma. Dia tidak akan ingat apa yang dilakukannya, kecuali raut wajah korbannya. Aku pun tadi mencoba caranya menyerang korban untuk memastikan, apakah Phalapeksa luka karena orang ini…”

“Dan ternyata tidak?” Tanya Cambuk.

Jaka mengangguk. “Seperti yang tadi kujelaskan, ada pihak lain. Dan perintah terakhir untuk membunuh Sandigdha-pun bisa kupastikan datang dari pihak lain.”

Jaka menghela nafas. “Tapi… sekarang kita bisa membaca persoalan lebih jelas.”

“Tapi, aku masih belum jelas!” erang Ekabhaksa.

Jaka tidak menjawab, dia memeriksa kondisi Phalapeksa, mengumpankan hawa murninya sendiri untuk melihat jalur tenaga orang tua itu, begitu hawa murninya disambut—meski lemah, Jaka cukup gembira dengan perkembangan itu. Dia mengamati aliran hawa murni Phalapeksa di bagian pusatnya. “Jadi ini pemicunya…”

“Apa itu?” Tanya Ki Alih antusias, pertanyaan tadi akan segera terungkap.

“Seperti yang kusebutkan sebelumnya, ciri bunga yang tercampur selapis tipis pada penawar Sandigdha, ternyata akan terpicu manakala korban didesak untuk melakukan himpunan-himpunan hawa murni dengan pengolahan nafas yang dalam.”

“Rasanya semua pesilat seperti itu…” koreksi Ki Alih.

“Ya… tapi aku tahu ada beberapa golongan yang tak melakukan itu—tapi tak akan kita bahas sekarang. Manakala hawa murni menjalar, kekhususan dari bunga itu akan menampakkan hasil; menyendat hawa murni, mengacaukan nafas, dan membuat halusinasi.”

“Kau mengambil kesimpulan dari kondisi Phalapeksa?” kejar Ki Alih lagi.

Jaka mengangguk. “Setiap orang yang mendalami pengobatan, bisa mendeteksi kejanggalan dalam sendatan peredaran hawa murni. Pada saat hawa murninya tersendat, bertepatan dengan totokan Wuru Yathalalana mengenai leher, setelahnya ada satu setitik serangan yang memicu kefatalan hingga berkali lipat dalam diri Phalapeksa.” Usai menjelaskan itu Jaka tersenyum girang, seperti orang yang baru mendapatkan hadiah.

“Apakah… itu baik, atau buruk?” Tanya Ki Alih ragu dalam menafsirkan senyum Jaka.

“Baik dan buruk!” tegas Jaka. “Kita memiliki dua kelompok yang bisa diadu, sambil menanti apa yang akan terjadi.”

“Aku bisa gila mendengar penjelasanmu! Satupun aku tak paham!” Ekabhaksa menggeram.

Ki Alih tertawa, kali ini dia yang menjelaskan. “Begini, orang yang meninggalkan setitik luka pada Phalapeksa, dan orang yang membuatkan penawar bagi Sandigdha adalah dua kelompok yang berbeda. Begitu, Jaka?”

Pemuda ini mengangguk. “Kabar buruknya, mereka menguji pada orang yang sama! Setelah Wuru Yathalalana ‘menghabisi’ Phalapeksa, berturut-turut ada dua golongan yang datang memeriksa. Kabar baiknya, mereka mengambil kesimpulan yang salah tentang kehebatan racun masing-masing!” Jaka duduk sambil tertawa kecil. “Ini celah yang baik bagi kita untuk ikut bermain,” gumamnya lagi.

“Baiklah, aku bisa mengerti itu. Jadi, kapan kita memintal bulu domba?” Tanya Ekabhaksa dengan semangat menggelora.

“Sekarang juga!” tegas Jaka sembari bangkit.

“Kalau begitu, jangan malas-malasan!” ujar Jalada sudah mendahului keluar. “Aku juga ikut!”

“Heh?!” semua orang terheran-heran dengan turut sertanya Si Baginda. Orang ini paling benci dengan urusan mengintai, menginterogasi—pendek kata urusan tetek bengek yang njelimet, tumben kali ini sukarela menjadi martir.

“Tolong jangan kacaukan urusan nanti, paman!” seru Jaka meningkahi bunyi pintu yang tertutup.

“Sialan! Kau pikir aku tak punya otak?!” ketus Jalada dari luar, membuat pemuda ini tertawa.

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. cipto
    Feb 27, 2013 @ 15:48:36

    Terima kasih Mas Didit.., monggo dilanjut.. ,
    menanti episode berikutnya..

    Salam persaudaraan dan moga tetap diberi kesehatan
    buat Mas Didit sekeluarga.

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: