Seruling Sakti Jilid 121

Seruling Sakti

Episode: Elegi Perguruan Naga Batu

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

(Sumber: serulingsakti.wordpress.com)

—ooOoo—

121 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – B

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuTengah malam, nyiur bayang pepohonan tersorot cahaya rembulan, meski cukup terang bersinar namun masih menyisakan kegelapan, menyekap suara-suara dalam sunyi. Makin dalam menuju kerimbunan hutan, sinar rembulan pun terhalang rapat dedaunan. Kesiur angin, ditingkahi gemersik lirih, menjauh dengan konstan. Sesekali cahaya rembulan menyorot bayang-bayang yang berkelebat cepat.

Jaka Bayu melesat paling depan, disusul Jalada, Ekabhaksa dan Ki Alih. Mereka mengenakan pakaian hitam, mengenakan cadar menutupi wajah. Di punggung masing-masing tersoren sepasang bilah pedang. Pedang-pedang itu memiliki ketebalan yang bisa membuat ahli pedang tercengang, selain tumpul, jelas bobot pedang itu tak cocok untuk memotong. Kecuali Jaka Bayu yang tidak pernah menggunakan pedang, ketiga orang tersebut cukup mahir menggunakan pedang, meskipun tidak semahir Arwah Pedang, tapi untuk menandingi seorang ahli pedang, kemampuan mereka cukup bisa diandalkan.

Mereka bergerak pesat menuju Perkampungan Menur. Jaka memutuskan untuk mulai ‘memintal bulu domba’. Menurut Ekabhaksa istilah itu terlalu ambigu, dia lebih suka menyebutnya ‘cari gara-gara’. Dan langkah pertama adalah menggelitik Perkampungan Menur.

Secara singkat, Jaka menyebutkan rencana mereka di perkampungan tersebut adalah menghancurkan semua senjata. Ya, untuk itulah mereka membawa sepasang pedang. Masing-masing pedang itu bukan pusaka sakti, tapi yang jelas kualitas buatan Cambuk—sang murid Mpu Dwiprana, tidak kalah dari Mpu terkenal lainnya.

Suara dentang besi dipukul berkali-kali terdengar lamat-lamat, mereka sudah kian dekat dengan Perkampungan Menur. Belasan penjaga terlihat di pintu gerbang, Jaka segera memberi isyarat, untuk menyebar mengurung perkampungan. Sebenarnya Jalada memiliki ide sangat efisien—namun telegas, dari pada repot-repot menghancurkan ribuan senjata, bukankah lebih baik membakarnya beserta seluruh perkampungan? Jelas, Jaka tidak mendukung ide itu. Bagi pemuda ini, menghancurkan senjata juga untuk melihat ‘benang’ yang tidak tampak. Tentu saja Jaka tidak akan bertindak tolol dengan menghamburkan tenaga untuk menghancurkan ribuan senjata.

Empat orang itu melayang melompati tembok tinggi yang mengelilingi perkampungan, gerakan mereka terlampau cepat untuk diikuti mata, meski para penjaga ada yang berpatroli di bagian atas-pun tak melihat mereka. Hanya saja, tahu-tahu suara denting yang bertalu-talu terdengar berbeda ritme.

Sebelumnya. Tang-tang-tang-tang-tang… mendadak berubah, trang… jeda sekejap, lalu trang… demikian seterusnya. Tidak ada yang curiga bahwa sudah ada empat orang yang masing-masing masuk ke dalam rumah pembuatan senjata, melumpuhkan semua pekerja di dalamnya, lalu menghancurkan ragam senjata yang dibuat. Lalu berpindah lagi ke rumah senjata yang lain, menghancurkan sebagian, begitu seterusnya.

Lama kelamaan, suara yang tidak biasa itu menarik perhatian penghuni perkampungan, apalagi, makin lama suara besi dipukul terdengar makin sedikit. Mereka bergerak masuk ke  dalam salah satu bangunan pembuat senjata. Sungguh sangat kebetulan, Ekabhaksa yang sedang dongkol karena perkerjaan seperti ini tidak memuaskan dirinya, jadi girang setengah mati. Lima orang yang datang, langsung dikebas sekejap, masing-masing terkena pukulan dan pingsan. Seluruh penghuni perkampungan itu hanya pengrajin, memang ada beberapa yang memiliki kemampuan hebat, tapi dibandingkan Ekabhaksa sekalian, sudah tentu tidak ada artinya.

Jaka melihat hasil kerja Ekabhaksa dan memberi isyarat supaya berhenti, cukuplah puluhan senjata yang mereka hancurkan. Berturut-turut Jaka menyambangi Jalada dan Ki Alih.

“Paman, boleh membakar salah satu dari rumah pembuatan senjata itu,” bisik Jaka pada Jalada, membuat si Baginda ini mendengus—girang tentunya. Jemarinya berkelotokan, dengan satu bentakan tertahan, kedua pukulannya menghantam ke depan.

Braaaak! Bunyi berderak karena bangunan roboh terdengar membuat penghuni perkampungan berbondong keluar, tapi tak satu pun dari mereka yang berani menghalangi tindakan Jalada sekalian, sebab mereka melihat di sekeliling empat orang itu bergeletakan puluhan orang.

Dari tangan Jalada menyambar kobaran api bagai anak panah, mengarah langsung ke lelatu api yang masih membara, hingga menyebabkan ledakan keras.

Blaaar! Jaka benar-benar mengagumi kemampuan Jalada, meski paham dengan kemampuan orang itu, Jaka baru mengerti kenapa Jalada disebut pula sebagai Watu Agni—batu api. Tangannya telah dilambari ilmu yang ditempa sejak dia belia, ilmu pasaran yang disebut Ciwapâtra Hintên—golok intan. Boleh dibilang semua orang yang berkecimpung di dunia persilatan mengenal bahkan menguasai ilmu itu. Atas kejadian yang menyulut harga diri sehingga menimbulkan keangkuhannya, membuat Jalada si Watu Agni alias Baginda, mengasah ilmu pasaran sedemikian rupa sehingga membuatnya menjadi pukulan penuh kobaran api. Saat tangan saling memukul, maka jilatan api akan segera keluar menyambar, seperti batu api yang saling memantik. Itu salah satu alasan mengapa Jalada dikenal sebagai Watu Agni.

Tak menunggu bangunan habis terbakar, Jaka mengibaskan tangan, sebersit angin dingin menggigit membekukan tulang. Kobaran api yang begitu besar segera lenyap dalam hitungan belasan kali. Jalada menoleh heran ke arah Jaka, tapi mengingat setiap tindakan Jaka selalu memiliki perhitungan sendiri, dia tak menyuarakan keheranan itu.

Kejap berikutnya, kaki Jaka menyapu secara cepat ke sekelilingnya, desakan hawa murni yang begitu besar membuat puluhan orang yang rebah tak berkutik terlempar dan terguling, namun di lain kejap, Jaka menghentakkan tangan ke belakang. Puluhan orang yang terlempar itu seperti tersedot oleh pusaran angin puting beliung. Mengarah Jaka dengan pesat. Lalu, tangan Jaka melambai dengan luwes, seperti menampar ke arah orang-orang yang tersedot ke arahnya. Tubuh mereka bertumbangan dengan ragam posisi kaku yang aneh, sebelum akhirnya mereka tertelungkup. Jaka segera memberi isyarat untuk pergi.

Apa yang mereka lakukan tak kurang dari setengah kentungan saja, semuanya terjadi begitu cepat, para penghuni Perkampungan Menur pun hanya mengira itu cuma mimpi, tapi akhirnya setelah empat orang perusuh itu pergi, barulah keheningan pecah. Hingar bingar karena khawatir dengan saudara-saudara mereka yang luka, juga karena rusaknya tempat-tempat pembuatan senjata, membuat perkampungan itu serupa rumah semut yang tiba-tiba terkena guncangan. Semua orang berhamburan keluar. Dari luar, Jaka mengamati.

“Salah satu dari mereka, akan menuju kepada benang merah yang kita cari. Kuserahkan pekerjaan ini pada Paman Jalada,” kata Jaka membuat si Baginda mendesah, agaknya dia sudah menyesal mengajukan diri untuk ikut dalam situasi ini. Meski demikian, orang ini tetap mengangguk dan melesat mengamati cerai berainya orang.

===o0o===

“Kenapa kau padamkan api Jalada? Terbakar semua kan lebih baik?” tanya Ekabhaksa tak setuju dengan tindakan Jaka.

“Sandigdha orang pintar, keluarga di belakangnya pasti ada yang lebih pintar. Cara membakar paman Jalada sangat mudah dilacak balik. Anggap saja di keluarga Tumparaka ada orang semacam paman Sadhana, aku yakin mencari jejak si Baginda hanya tinggal menunggu waktu,” jelas Jaka

“Oh, maka itu kau segera memadamkannya? Membuatnya tidak mudah terbaca?” tanya si Ular Ekabhaksa memastikan.

“Tepat sekali.”

“Lalu untuk apa pula kau tumbuk orang-orang itu?” tanya Ekabhaksa lagi.

“Hanya mencari keterangan saja.”

“Sungguh cara sialan yang aneh…” gumam Ekabhaksa, ditimpali tawa Ki Alih.

“Semua kemungkinan harus kita jajaki. Paman pernah lihat orang yang kuangkat sebagai kambing hitam-kan?” tanya Jaka disambuti anggukan Ekabhaksa. “Dia terluka oleh totokan yang sangat unik. Aku harap, dengan caraku menotok ini akan membawa kepada satu keterangan tentang siapa orang itu.”

“Ooooo….” Baik Ekabhaksa maupun Ki Alih baru paham atas tindakan Jaka yang aneh tadi.

Mereka masih memperhatikan penghuni Perkampungan Menur yang berlarian seperti anak ayam kehilangan induk. Saat menyadari Jalada sudah tidak ada di tempat pengintaiannya, mereka segera mengetahui si Baginda sudah menemukan orang yang dimaksud Jaka.

Mereka segera meninggalkan tempat itu dengan pesat, menuju kandang sapi, tempat penyimpanan salah satu kekayaan keluarga Tumparaka. Meski pemuda ini tidak menduga apa pun, tapi jika Sandigdha kembali ke tempat itu—bersama dua orang yang disinyalir sebagai bayangan Wuru Yathalalana, tentunya kandang sapi masih menyisakan misteri yang patut untuk dibongkar, kali ini Jaka tak ingin bekerja kepalang tanggung.

Tidak adanya derik serangga malam membuat kondisi begitu mencekam, Jaka segera sadar ada yang kurang beres. Pemuda ini memberi isyarat untuk berhenti. Ekabhaksa dan Ki Alih, segera melejit bersembunyi di atas pohon. Jaka sendiri dengan terang-terangan berjalan mendekati kandang sapi. Indera penciumannya bisa merasakan taburan racun di sekitar tempat itu. Padahal sebelumnya saat Wuru Yathalalana datang menyerbu, Jaka yakin tempat ini masih steril dari racun. Tapi kini berbeda.

Ekabhaksa dan Ki Alih, jelas tidak bisa sembarang bertindak, racun yang menyelimuti kawasan ini tidak akan bisa ditangani keduanya. Tapi bagi Jaka, permainan racun seperti itu seperti gurauan belaka. Jika tiba-tiba muncul racun semacam ini, boleh jadi, di bawah kandang sapi sudah bertambah benda-benda lain. Cara pengamanan dengan racun memang terlampau bodoh dan kentara, tapi sangat manjur. Sayangnya, kali ini yang menyelinap ke kandang sapi, adalah Jaka. Pemuda yang sanggup menetralisir ragam racun dengan himpunan hawa sakti unik.

Sebelum masuk ke bawah tanah, Jaka memberi isyarat kepada Ekabhaksa dan Ki Alih untuk tidak kemana-mana. Lorong bawah tanah itu hanya sepanjang sepuluh tombak saja, dan ada pintu menuju ruang bawah lagi, demikian seterusnya. Jaka benar-benar tidak pernah mengira, di bawah kandang sapi terdapat lima tingkat bangunan yang digali secara apik. Tiap lorong yang dilewati Jaka masih terasa aliran udara, tidak pengap. Pemuda ini bisa memprediksi, ruangan itu baru ditinggalkan orang, paling lama sekitar dua kentungan lalu.

Tumpukan peti, dengan perabotan cukup berkelas menghiasi ruangan paling bawah. Luasnya mencapai lima puluh tombak persegi. Membuat pemuda ini terkilas membayangkan betapa repotnya Keluarga Tumparaka harus membangun tatanan semacam ini. Cahaya yang menyinari ruangan itu datang dari kelip mutiara berukuran besar. Cukup dilihat dari jenis mutiaranya, Jaka bisa meraba, yang tersimpan disini memiliki nilai cukup besar, atau penting. Mau tak mau dada pemuda ini bergemuruh karena rasa senang.

Satu demi satu peti dibuka, begitu banyak perhiasan dan ragam emas keluaran resmi berbagai wilayah kerajaan tertata rapi. Jaka tepekur, kalau hanya sekedar harta dia tidak tertarik untuk mengusut, pengamanan dengan racun yang bertebaran di luar sana—juga di bagian-bagian lorong, rasanya terlampau berlebihan kalau hanya untuk menjaga kekayaan seperti ini. Pemuda ini menggaruk-garuk kepala, merasa ada yang janggal, tapi tak tahu itu apa. ‘Mungkin seperti itu…’ pikirnya. Dengan seksama, Jaka membongkar semua isi peti. Dia menyangka mungkin rahasia itu terletak di antara tumpukan perhiasan. Tapi, tidak ada apa pun!

“Huh…!” erangnya kesal. Tanpa sadar Jaka menendang peti itu. Brak!

Mata pemuda ini terbelalak, ternyata peti kayu itu dibuat dengan dua lapisan kayu yang di rekatkan. Dengan hati-hati, dilepasnya lapisan paling atas, hingga pemuda ini bisa melihat sebuah peta, pada masing-masing sisi. Berpindah ke peti yang lain, Jaka menemukan catatan sandi, dan ragam keterangan. Juga ada beberapa catatan yang butuh waktu khusus untuk didalami olehnya. Tak menunggu lebih lama, Jaka membongkar habis seluruh sisi dua puluh peti itu. Isi peti berserakan di tanah, ada : emas, perak, berlian dan entah perhiasan apalagi tak diperdulikannya. Pemuda ini hanya fokus dengan apa yang terdapat pada sisi-sisi peti. Seluruh lembaran yang dicatat rapi dalam gulungan kulit, sudah dikumpulkan Jaka, digulung dengan rapi, dan diikatkan di punggung.

Seperti sedang mengais sampah, Jaka tak mau bertindak ceroboh dengan meninggalkan kemungkinan ada informasi penting tertinggal. Sebuah kotak kecil sepanjang dua jengkal, dengan lebar satu jengkal, menyedot perhatian.

Kotak itu disegel dengan besi yang membalut bak benang, tak ada waktu untuk membongkar, Jaka memutuskan untuk membawanya. Sebelum keluar, Jaka memandang berkeliling sambil tersenyum. Dia bisa membayangkan betapa gusar dan kejut keluarga Tumparaka mengetahui salah satu persembunyian mereka diacak-acak orang.

Tak berapa lama kemudian, Jaka sudah berkumpul dengan Ekabhaksa dan Ki Alih, mereka tampak tercengang melihat bawaan Jaka.

“Jangan tanya dulu…” kata Jaka saat Ki Alih mulai bersuara. “Aku juga belum tahu ini berkaitan dengan apa. Setidaknya, kehadiran kita ke sini membuat perhatian Tua Bangka, akan cukup disita oleh ulah keluarga Tumparaka.”

“Apa maksudnya? Bukankah tua bangka yang seharusnya memberi perintah kepada Sandigdha, kenapa malah dia yang harus hati-hati?” Tanya Ki Alih.

“Sandigdha boleh menjadi bagian si tua bangka—meski itu hanya di luarnya, tapi keluarga Tumparaka jelas tidak di bawah kendali siapa pun. Mereka pasti bisa menyadari, hanya ada beberapa orang saja yang bisa lolos dari ragam racun keji yang ditebar pada tiap ruangan bawah tanah. Dan tersangka utama paling dekat jelas Tua Bangka…”

“Dengan catatan, Sandigdha bercerita bahwa dia berada dalam tekanan atau kendali si tua bangka,” simpul Ki Alih, dan dibenarkan Jaka.

“Serangan yang dilakukan Wuru Yathalalana, akan membuat mereka waspada dan bertanya dengan detail kepada Sandigdha,“ sambung pemuda ini lagi.

“Jadi… kita tidak bertarung sama sekali?” Ekabhkasa menyela dengan nada kecewa.

Jaka tertawa. “Jangan salah paman, bagian paling menarik baru akan kita lakukan,” kata pemuda ini sembari melesat diikuti Ekabhaksa dan Ki Alih yang bertanya-tanya dalam hati, entah kemana lagi Jaka akan membawa mereka.

===o0o===

Mata Ekabhaksa melotot menatap Jaka, sungguh tak disangka pemuda ini membawa mereka mengintai istana Kerajaan Kadungga.

“Kau gila?!” bisik Ekabhaksa tegang.

Jaka terkekeh. “Aku cuma ingin meneruskan idemu, paman. Besok nama Keluarga Keenam akan sangat terkenal. Sangat!”

“Oh Tuhan, kenapa juga aku harus terlibat dengan bocah sialan ini. Aku menyesal melontarkan ide seperti itu…” keluh Ekabhaksa membuat Ki Alih serasa turut prihatin dan menepuk-nepuk bahunya.

Belum lagi keduanya tahu, apa langkah selanjutnya yang harus ditempuh, Jaka sudah menghambur ke depan, dan dengan membabi buta menyerang prajurit yang berjaga di halaman.

“Dasar sinting!” teriak Ekabhaksa memalingkan kepala sambil menutup mata, dia benar-benar tak mau tahu. Tapi saat melihat puluhan prajurit keluar dan mengepung Jaka, mau tak mau lelaki tambun ini harus menghambur membantu. Begitupula dengan Ki Alih.

“Siapa kalian?!” bentak salah satu prajurit. Tapi suara itu hanya terdengar sesaat, kejap berikut, sebuah tamparan Jaka membuat prajurit itu roboh pingsan.

Olah langkah Jaka biasanya sangat manjur untuk menghindari serangan, tapi kali ini Ki Alih dan Ekabhaksa disuguhi tontonan yang sangat jarang diperlihatkan Jaka. Olah langkahnya ternyata demikian mudah untuk digunakan dalam menyerang, satu gerakan kaki, satu prajurit tumbang, satu kibasan tangan dua prajurit tumbang, sekali melangkah, Jaka sudah melakukan enam jenis gerakan, dan menumbangkan belasan prajurit.

Mereka prajurit terlatih dalam medan tempur, tapi menghadapi orang semacam Jaka sekalian, kemahiran mereka tak bisa digunakan. Suasana malam yang sunyi, kini diliputi bentakan-bentakan menggelegar.

Bentakan itu keluar dari mulut tiga orang perkasa. Ya, tiga senopati sudah keluar, himpunan hawa murni mereka jelas tidak bisa diremehkan. Mereka bisa melihat lawan yang paling berbahaya adalah orang pertama—Jaka Bayu. Tapi menghadapi Jaka Bayu, mereka seperti sedang melawan angin. Serangan tombak sebagai yang pertama datang, mendesing begitu kuat mengulir menyedot udara di sekitar. Dalam waktu yang singkat itu Jaka menyadari bajunya berkibar berpilin tersedot ke arah serangan tombak. Dengan sigap, pemuda ini memutar tubuh ke kiri menghindari serangan tombak, lalu memukulkan tangan kanan. Karena gerakannya begitu cepat dan memanfaatkan momentum putaran tubuh, pukulan Jaka seperti sebuah sabetan. Dibanding tangan, tombak jelas lebih panjang, tapi serangan Jaka sampai lebih dulu. Rupanya angin yang ditimbulkan sabetan tangan Jaka membuat tombak melengkung, mengulir balik ke arah penyerang, membuatnya tergetar memecahkan kayu genggaman, sebelum ahirnya mendorong si penyerang hingga belasan langkah.

Belum selesai dengan serangan itu, di saat bersamaan angin menyayat tajam mencoba memotong sabetan tangan kanan Jaka. Pemuda ini tidak mencoba menghindar, dengan cepat, dia menghantamkan tangan kirinya. Tiiing! Serangan yang ditimbulkan golok itu tertangkis angin pukulan Jaka, membuatnya melenceng jauh, mendorong ke arah si penyerang tombak. Kaget dengan kondisi tersebut, membuat senopati ketiga yang sedianya akan menghantamkan gadanya ke punggung Jaka, harus melesat lebih dulu melewati Jaka begitu saja—tanpa menyerang, dan menangkis golok senopati kedua.

Traaang! Golok beradu dengan gada, keduanya sama-sama tergetar terjajar ke samping. Namun bisa menyelamatkan senopati pertama dari luncuran golok yang tak terkendali. Ketiganya berdiri bersisian menatap sang lawan dengan tangan gemetar. Bukan saja gemetar karena benturan demi benturan, tapi gemetar karena mereka menyadari, tugas amat berat sudah menghadang di depan.

Serangan itu terjadi hanya dalam tempo kurang dari dua hitungan, tapi gerakan yang sederhana dari sang lawan membuat tiga senopati itu menyadari, lawan mereka bukan sekedar hebat, tapi cerdik luar biasa.

Jaka tertawa, dia memburu ke depan begitu cepat, belum sempat ketiganya siap, tahu-tahu senjata mereka sudah berpindah ke tangan sang lawan. Bukan itu saja, tombak senopati pertama tiba-tiba berpindah ke tangan senopati ketiga. Lalu gada senopati ketiga berpindah ke genggaman senopati kedua. Dengan sendirinya lelaki yang biasa memegang gada ini harus menggenggam golok rekannya, tanpa disadari.

Kejadian itu berlaku demikian cepat, dan Jaka sendiri berhenti mendadak di belakang tubuh ketiganya. Membuat orang-orang perkasa ini dengan reflek menghantamkan senjatanya ke belakang.

Trang! Trang! Trang! Tiga senjata saling berbenturan tak beraturan. Mereka lupa, senjata yang ada di tangan masing-masing sudah berubah. Sudah tentu penggunaan tenaga jadi tidak sesuai, dengan sendirinya arah serangan jadi melenceng tak karuan. Golok tertangkis gada, serangan gada yang berlebih tenaga tertahan oleh desingan tombak. Tiga senjata itu saling bentrok, dan berhenti hanya sejarak satu depa dari Jaka.

Lagi-lagi Jaka tertawa, membuat ketiganya meradang.

“Mampus!” teriak mereka menghamburkan pukulan sarat hawa murni.

Senopati pertama adalah keluaran Perguruan Angin Tanpa Gerak, pukulannya bertumpu pada ilmu Angin Tanpa Arah, bagai puting beliung yang berputar tak tentu arah menderu terlontar dari tinjunya, melesat begitu pesat. Senopati kedua, mengerucutkan jemarinya menghantamkan ilmu Jarum Cadas Berkobar, dari Perguruan Cadas Merapi. Angin mencicit mendesing mengiris pendengaran, ditingkahi sinar biru, menyemarakkan malam. Ditambah lagi sebuah Kibasan Tinju Tunggal dari Senopati Ketiga yang pernah memperdalam ilmu di Perguruan Lengan Tunggal, membuat orang sama menyangka inilah kisah akhir dari si pembuat onar!

Tapi, Jaka mungkin dilahirkan untuk menjadi tipe lawan yang paling dibenci. Kemahirannya dalam ‘menerima’ mungkin tidak pernah bisa ditiru oleh kalangan mana pun. Menerima di sini berarti merasakan, meresapi penderitaan, bukan menerima untuk menolak, bukan menerima untuk menangkis. Kibasan Lengan Tunggal terfokus pada satu pukulan sampai lebih dulu, Jaka menyambutnya dengan tangan terulur cepat merasakan benturan dalam sesaat, membuat syaraf di lengan menegang seakan ingin pecah menerima desakan hawa sakti serangan itu, sebelum akhirnya Jaka mengipatkan tangan, menumbukkan angin pukulan senopati ketiga kepada serangan jemari yang mencicit.

Blaaar! Tubuh senopati ketiga terpental ke samping, menumbuk lengan senopati pertama yang mengerahkan pukulan Angin Tanpa Arah-nya. Seharusnya pukulan itu akan menjangkau kepala Jaka, tapi berhubung tumbukan sang rekan membuat lengan mereka saling berbenturan, membuat pukulan-pukulan dahsyat itu cerai berai.

Kurang dari satu tarikan nafas saja, pukulan yang dilancarkan mereka tuntas dipatahkan Jaka. Ketiga orang itu termangu dengan kegagalan tadi. Pemuda ini tak menunggu, dia merasa sudah tidak perlu berhadapan dengan lawan, dengan pesat tubuh Jaka melenting masuk ke komplek istana!

Tapi belum begitu jauh Jaka bergerak, lima orang datang menyerang tanpa ampun, tekanan lima hawa sakti yang menderu bermaksud menghancurkan penyusup, membuat Jaka harus mengerahkan peringan tubuh lebih cepat lagi.

Blarrr! Blarrr! Ledakan hebat terjadi tepat di belakang tubuh Jaka, pemuda ini enggan untuk berhadapan dengan lima penghadang. Dengan peringan tubuh luar biasa, Jaka bisa menghindari mereka tanpa kesulitan. Menerobos masuk lebih dalam lagi. Perbuatan Jaka ini memang sengaja ingin menarik keluar inti kekuatan dari Kerajaan Kadungga.

===o0o===

Dari kejauhan, seseorang melihat keramaian dari atap bangunan bendahara kerajaan. Dia menghela nafas dingin. Mungkin satu-satunya orang yang paham dengan maksud serangan ke istana itu hanya Sandigdha saja. Atas berita dari Keluarga Keenam, sang raja percaya bahwa akan ada serangan ke istana, bahkan Keluarga Keenam sudah menyerahkan tanda untuk siap membantu jika pihak istana sewaktu-waktu mendapat serangan. Serangan yang muncul kali ini memang sangat hebat, Sandigdha bisa melihat para senopati dilumpuhkan dengan mudah hanya oleh tiga orang pengacau.

Sandigdha bukan orang buta, saat dia keracunan, dia melihat orang yang memberikan air kepada pemuda berkedok itu, sosok yang gemuk. Dan kini salah satu dari tiga orang pengacau memiliki postur gemuk. Sandigdha bersumpah, dia yakin para penyatron istana adalah orang yang meracuni dirinya!

Beberapa hari ini dia selalu jadi target orang, yang terakhir oleh si pemabuk. Orang ini meyakini semua itu adalah pekerjaan dari orang yang membuat dia batuk setengah mati. Batuk? Bahkan saat mengintai di atas atap bangunan-pun, Sandigdha masih terbatuk-batuk, meski tidak separah sebelumnya, tapi cukup membuat dadanya gatal dan tak dapat memusatkan perhatian.

“Kau tak bermaksud menghentikan mereka?” Tanya Sandigdha menyadari di sebelahnya sudah muncul orang lain.

“Hmk!” dengus orang itu. “Tidak perlu!” sahutnya dingin.

“Ketidakhadiranmu sebagai Pratyadhiraksana bisa membuat posisimu terancam,” kata Sandigdha, tanpa memalingkan wajah dia tahu siapa yang hadir.

“Pada saatnya kerajaan ini juga akan jatuh ke tanganku, aku tidak takut dengan segala macam ancaman,” dengusnya. “Lagipula, ada orang pintar lainnya yang menganggap ini semua bukan ancaman.”

“Maksudmu, Mangkubumi Prastarana?” tanya Sandigdha.

Terhadap orang yang baru saja disebut namanya, Sandigdha menaruh kewaspadaan yang tinggi. Mangkubumi Prastarana sama dengan mahapatih, di tangan dia pulalah, roda pemerintahan berjalan jika sang raja berhalangan. Kehadiran raja sendiri lebih kepada pemutus persoalan-persoalan genting. Kedudukannya setara dengan Widyabhre—sang wakil raja.

Terdengar geraham bergemeletuk. “Kalau bukan karena dia, tahta kerajaan ini sudah menjadi milikku.”

Sandigdha bergumam tak jelas. “Dewasa ini, gerakanku juga sangat terbatas. Aku tak bisa banyak membantu, apalagi Tua Bangka itu memata-matai terus.”

Pratyadhiraksana terdengar tertawa kecil. “Dia memiliki empat mata-mata, semuanya sudah ada di tanganku.”

“Kau yakin semudah itu dia ditangani?” tanya Sandigdha sambil terbatuk-batuk.

Orang ini tidak pernah tahu, jika Pratyadhiraksana adalah mantan murid si tua Bangka yang mengganggunya.

Lelaki itu terdiam, meremehkan mantan gurunya jelas merupakan perbuatan konyol, dia hanya mengetahui sekelumit masa lalu sang guru. Pertanyaan Sandigdha telah mengguncang sikap menganggap remehnya.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sandigdha lagi meminta kepastian, setelah situasi hening.

“Diam saja, tidak perlu bereaksi!” tegasnya.

“Tapi…” bibir Sandigdha terkunci, sebetulnya dia sangat ingin menceritakan nasib sial yang menimpanya. Tapi, berhadapan dengan Pratyadhiraksana yang licik, dia harus ekstra berhati-hati. Saat Pratyadhiraksana mengetahui nilai tawarnya melemah, dia bisa memastikan orang itu tak akan segan menjadikannya sebagai korban berikut untuk rencana ambisiusnya.

“Ya?”

“Aku hanya memikirkan posisimu saat ini, kita tahu Mangkubumi Prastarana selalu menjadi batu sandungan, dalam kekacuan ini kau pun harus memunculkan diri.”

Saran Sandigdha membuat kening Pratyadhiraksana berkerut. “Ada benarnya juga…” gumamnya.

Saat menoleh Sandigdha tidak lagi melihat lelaki itu. Diam-diam dia menghela nafas lega.

Jabatan bendahara kerajaan Kadungga memang atas andil Pratyadhiraksana, sejauh ini mereka bekerja sama untuk hal-hal yang menguntungkan. Tapi jika dipikir lebih lanjut, Sandigdha bahkan tidak mengetahui latar belakang Pratyadhiraksana. Ada kalanya dia merasa Pratyadhiraksana adalah tokoh dari kalangan terhormat, tapi mengingat sikap kejam dan liciknya, dia menyangsikan dugaan itu.

===o0o===

Jaka sudah memasuki wilayah istana. Dari perbincangannya dengan Cambuk, pemuda ini bisa mengetahui kemana dia harus pergi. Sang raja memiliki ruangan tersendiri, dengan bangunan tersendiri pula. Jaka sudah berada di jalan yang tepat untuk mencapainya.

Namun, satu sosok orang sudah menghadang dirinya. Dia orang tua berusia akhir lima puluhan, matanya tengah terpejam. Jaka berhenti sesaat, lalu berjalan menghampirinya, sampai jarak mereka hanya tinggal satu jangkauan saja. Di belakang Jaka menyusul lima orang yang tadi melepaskan pukulan untuk menghentikan pemuda ini.

Pemuda ini hanya melirik atas kehadiran lima orang itu, mereka nampaknya sangat menaruh perindahan pada lelaki yang menghadang Jaka, terbukti mereka tidak sembarang bergerak setelahnya.

Jaka tak ingin basa basi, tangan kanannya mengibas, tekanan tenaga berhawa padat menghantam orang tua itu. Matanya yang terpejam segera terbuka, nampak dia sangat kaget. Tubuhnya miring ke kiri, untuk mengelak, tapi mendadak angin pukulan itu berputar menggila tak tentu arah dan mencambuknya, rasa kejut jelas tercermin di wajahnya. Meski orang tua ini tidak kerepotan menangkis desakan angin yang memecut itu. Belum lagi habis tangannya menepis serangan dua tingkat dari Jaka, sebuah desingan meluncur pula dari dalam angin berpusing tadi, menghantam frontal menohok bahu.

“Ih!” orang tua itu merendahkan bahunya dan mengeletar sekali, menaikkan bahunya lagi untuk memapaki serangan.

Duuk! Bahunya terasa bergetar hebat. Namun di saat bersamaan terdengar teriakan nyaring dari atas. Cahaya yang menyinari ruangan itu mendadak puluhan kali bertambah lebih terang. Sebuah serangan dengan pijar bagai bola api menghantam Jaka.

Jaka terperanjat dengan datangnya serangan itu, sungguh tak dikira olehnya ada orang yang bisa menempatkan jeda serangan secermat si pendatang ini. Tiga tingkat serangan yang tadi dilancarkan Jaka, memiliki kelemahan karena berhasil ditangkis oleh si orang tua. Kelemahan itu membentuk interval jeda atas susutnya tenaga, tak disangka saat-saat yang hanya terjadi dalam beberapa detik itu, bisa dimanfaatkan oleh seseorang untuk menyerang Jaka.

Wuusss! Bola api bagai mutahan lahar tercurah langsung menghunjam kepala Jaka, pemuda ini dengan sigap menjatuhkan diri, membuat punggungnya menjadi titik rotasi, lalu menerima serangan dengan kaki, memutar dengan cara dikayuh, seperti sedang bermain bola, lalu dilontarkan kembali!

Antara serangan dan pengembalian yang dilakukan Jaka terjadi begitu cepat, detik itu juga Jaka meloncat tepat di belakang gumpalan api yang baru saja dilontarkan balik.

Duar! Buuk! Tak menyangka serangannya akan ditangkis, dengan sendirinya tak ada waktu untuk menghindar. Dengan lengannya, bola api itu ditangkis. Tapi mendadak dari tengah bola api, muncul kepalan tangan menumbuk lengannya pula!

Jaka memanfaatkan daya pantul akibat tangkisan, sambil melompat lebih tinggi. Tawanya mengalun panjang menggantung di tengah udara, selain sebagai isyarat untuk pergi pada Ekabhaksa dan Ki Alih. Jaka juga sengaja menunjukkan bahwa kepergiannya bukan karena terdesak, tapi karena dia ingin.

Senyap segera menggigit malam. Semua terjadi begitu cepat, tanpa tanda-tanda, pergerakan penyusup tidak bisa dilaporkan pula oleh telik sandi yang berberjaga di seputar istana. Pertarungan singkat tadi menarik tensi ketegangan Kerajaan Kadungga pada tingkat yang tinggi.

“Kau tahu siapa orang itu?” tanya suara dengan nada berat membuat Pratyadhiraksana—orang yang datang terakhir, menolehkan kepala.

“Mungkin, orang-orang yang dikirim oleh kerajaan tetangga?” sebuah prasangka dari Pratyadhiraksana sengaja dilontarkan. Situasi seperti saat ini, adalah waktu yang tepat untuk mengail di air keruh.

Lelaki tua itu tertawa. “Mungkin saja…” katanya sambil membalikkan badan. “Dia menyerangku dengan satu pukulan berisi tiga jenis pukulan berbeda perguruan, membuatmu terperanjat dengan menerobos benteng Tinju Matahari Meletus milikmu. Ha-ha… tentu kerajaan tetangga sangat mudah mencari orang seperti itu. Betul?” orang ini tak menunggu jawaban, dia sudah berlalu.

Pratyadhiraksana termangu-manggu. Jawaban Mangkubumi Prastarana mementahkan kesan yang ingin ditanamkan. Secara satir, pemuka kerajaan itu hendak mengatakan, dugaannya tadi mustahil terjadi. Memang, hampir tidak mungkin mencari orang yang dalam satu gerakan bisa mengeluarkan kemampuan dari ragam perguruan. Sebenarnya dia ingin menyerang dengan Pratisamanta Nilakara, tapi itu sama saja menyingkapkan satu jati dirinya pada sang Mangkubumi Prastarana. Hal itu makin membahayakan posisi dirinya. Pratyadhiraksana menatap bekas pukulan lawan, lamat-lamat terasa ada satu keakraban pada tenaga yang menghantam secara langsung itu.

Wajah lelaki ini mengeras. “Apakah dia?” pikirnya dengan hati tak tenteram.

Selama ini dia cukup tenang dalam mengeksekusi tiap rencana, tapi atas kedatangan satu lawan yang membuat dia harus terluka, dan membangkitkan rasa khawatir tak terkendali saat berjumpa untuk kedua kalinya, mengharuskan Pratyadhiraksana meninjau ulang semua rencananya.

Jika dugaannya benar, pertanyaan utama adalah: untuk apa orang yang sanggup mematahkan Pratisamanta Nilakara bermain pada ‘kolam’ yang sama?

“Keparat! Apa maunya?!” sungutnya dalam hati, seraya memeriksa kondisi di depan istana.

Serangan mendadak itu tidak menimbulkan kerusakan apapun, kecuali memukul ego para prajurit dan senopati, termasuk dirinya.

===o0o===

Sementara di dalam kamarnya, Sandigdha terlentang dengan dada bergemuruh. Dia yakin, besok; orang-orang yang menamakan diri sebagai Keluarga Keenam akan datang. Namun, Sandigdha berharap dugaannya salah.

Malam itu dilalui oleh banyak orang dengan perasaan tidak nyaman.

Pagi hari sudah dijelang, saat membuka jendela kamarnya, mata Sandigdha terbelalak. Hampir saja tersedak. Pada bangunan paling tinggi terdapat secarik kain kuning, dengan bagian atasnya terpancang seruling terbuat dari bambu wulung. Lamat-lamat angin yang bertiup melalui lubang seruling menerbitkan suara ‘ngung-ngung’ secara konstan. Itu adalah panji kebesaran Keluarga Keenam.

Jika pihak kerajaan sudah meletakkannya pada bagian tertinggi, artinya mereka mengundang Keluarga Keenam. Ini semua terjadi pasti berkaitan dengan serangan tadi malam! Serangan yang melumpuhkan titik-titik keamanan. Perlahan, Sandigdha merasakan kuduknya berdiri.

“Apa yang mereka incar?” benaknya bertanya-tanya, namun tak satupun jawaban didapat.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: