Seruling Sakti Jilid 123

Seruling Sakti

Episode: Elegi Perguruan Naga Batu

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

(Sumber: serulingsakti.wordpress.com)

—ooOoo—

123 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – D

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuBayangan itu bergerak cepat, lurus. Menerobos hutan, tak perduli pepohonan menghalangi, dia tetap berlari lurus, batang yang menghalangi ditabrak hingga hancur berantakan. Saat mendaki lereng bukit pun, tak perduli batu menghalangi langkahnya, semua diterjang begitu saja, membuatnya rengkah. Dia tak ingin mengurangi kecepatannya, seolah esok sudah tiada hari lagi untuknya. Deru nafas tak beraturan membuat dada mengombak liar, hingga akhirnya di sebuah pondok di salah satu sudut lembah Gunung Khumbaira.

Pondok itu kecil, tapi di belakangnya, ada benteng dikelilingi tembok alami, tebing. Pondok kecil itu tak lebih hanya pintu masuk. Rasanya tak cukup kuat menahan serangan dari orang awam sekalipun. Tapi, lelaki yang memiliki peringan tubuh hebat ini tak berani melangkah lebih jauh, dia duduk bersila di depan pondok sambil mengatur nafas. Sebelum mendapatkan izin, selangkahpun tak berani dia tapakkan. Garis pada tanah padas sepanjang setengah tombok di hadapannya, menjadi aturan baku, ‘barang siapa melewatinya, jangan pernah memikirkan kehidupan selanjutnya’, orang ini masih ingin hidup, dia tak ingin dikurung dalam benteng di belakang pondok itu.

Saat orang itu datang, waktu adalah tengah hari, tapi hingga malam haripun tak ada orang keluar dari pondok, hingga akhirnya pagi dijelang. Pintu pondok terbuka. Bunyi keriyutan pintu yang sudah mulai usang itu serasa menjadi alunan suara paling merdu bagi lelaki ini, matanya berbinar melihat ke depan.

Terlihat sebatang bambu hitam sebesar lengan keluar lebih dulu dari dalam, selanjutnya dia melihat satu langkah kaki, terlihat begitu berat. Tak berani memandang, orang ini menundukkan kepala. Matanya hanya berani melihat hingga sebatas lutut saja, pandangannya terfokus pada bambu hitam dengan lurik hijau tua, yang lamat-lamat mengeluarkan suara berderak. Sekeliling bambu itu sudah terlihat pecah, hingga saat mendapatkan tekanan tenaga dari atas, saling melengkung, tapi tidak patah. Kelenturan bambu itu tak jauh beda dengan rotan—bahkan melebihinya. Lelaki ini tahu sekelumit, ada banyak rahasia di balik kisah bambu sederhana itu. Tapi kisah Bambu Lentur berwarna kuning tentunya tidak sekelam bambu hitam ini.

Prak! Prak! Derak bambu terdengar makin kencang, seolah muncul beban ratusan kati yang harus disangga. Meski ujung bambu menempel di tanah, tapi tak sekalipun menimbulkan goresan.

“Hiaaaa!” mendadak si penghuni pondok berteriak kencang, hawa sakti bergulung-gulung saling tumpuk membuncah, membuat tanah dalam radius dua puluh tombak retak merata. Membuat lelaki yang tengah bersimpuh ini terpelanting berguling-guling. Hempasan hawa sakti bagai letusan mortar bergulung-gulung melanda seputar dua puluh tombak ke depan. Belasan pohon sepelukan orang dewasa miring, nyaris tercabut dari akarnya.

Lelaki itu hanya bisa menyingkir dengan lutut gemetar, hanya pelepasan udara untuk menghela hawa sakti saja sudah membuat kondisi runyam begini, apalagi jika dia bersungguh-sungguh. Setelah dirasa tak ada hempasan hawa sakti, dia mendekat dan duduk berlutut lagi.

Hening menggigit. Desau angin seolah tak bisa mendekat pada wilayah di seputar lelaki bertongkat bambu.

“Kemari!” katanya dengan suara yang lembut, membuat dia makin bergetar, konon orang itu akan timbul sikap kejinya saat berbicara ramah padamu.

Dengan takut-takut, si pendatang mendekat, kepalanya belum berani diangkat sejak tadi. Iapun tidak berani berbicara—takut salah, dengan cekatan diletakkan bungkusan yang digendongnya tadi. Bungkusan itu menyegel sebuah tempurung kelapa.

Penghuni pondokan bambu ini berkerut kening, diguncangnya secara perlahan, tidak ada terbit suara dari dalam. Dengan sekali remas, tempurung itu hancur, menyisakan selembar gulungan.

Hanya ada tulisan singkat. ‘Gunakan dia.’

Membuat penghuni pondok ini tersenyum tipis. “Maafkan aku.” Katanya seraya menyerahkan lembaran itu.

Tidak berprasangka apa pun, dibacanya tulisan itu. “Ma-maksudnya apa?” untuk kali pertama dia baru berani mendongakkan kepala dengan tangan sedikit bergetar.

Hampir saja dia menjerit kaget, bukan karena tampang si penghuni pondok, tapi karena dia bisa merasakan senyum tipis dari wajahnya adalah keramahan yang membawa berita tak baik baginya. Keinginan bertahan hidup merupakan indera terpeka yang dimiliki manusia, demikian pula dengan si pendatang, begitu melihat senyum, dia berupaya mundur sekuat tenaga. Peringan tubuh andalannya terkembang sempurna, tubuhnya melejit ke belakang dengan pesat.

Kurang dalam satu helaan nafas saja, tiga puluh tombak sudah ditempuh dalam kondisi masih menghadap si penghuni pondok bambu. Saat tubuhnya membalik, untuk kembali menghela dengan kecepatan maksimal, baru dirasakan ada keanehan. Tubuhnya tak lagi bisa bergerak, seolah ada tangan tak terlihat menahan gerakan. Perlahan tubuhnya yang sedang melayang, turun menyentuh tanah.

Masih dalam kondisi membelakangi, dia terseret perlahan menuju penghuni pondok bambu, terseret makin mendekati rumah bambu. Pada saat garis yang menggores tanah sudah terlewat, rasa putus asa sudah melingkupi dirinya.

‘Dari pada aku harus menjadi budaknya seumur hidup, lebih baik aku mati dengan gegap gempita!’ pikirnya dengan tekad bulat. Tubuhnya segera membalik, lalu ditubruknya si penghuni pondok itu sekuat tenaga.

Kemahiran paling menonjol adalah peringan tubuh, dengan sendirinya hawa sakti orang ini tak cukup bagus saat difokuskan pada pukulan yang bersumber dari Perguruan Walet Hijau, Hawa Membuyar Berkirim. Hanya karena tenaga yang terfokus pada kaki untuk melejitkan peringan tubuh, memang sangat baik, membuat bobot pukulannya dapat naik berkali lipat. Tinju menderu dengan kuat, memecah angin di kanan kiri, langsung mengarah kepala si penghuni pondok.

Buuk! Pukulan mendarat mentah-mentah di wajah, membuat lelaki keluaran Perguruan Walet Hijau ini menyeringai. Pukulan miliknya merupakan salah satu ilmu andalan perguruan, jika dipukulkan pada benda, bisa merembet pada objek di belakangnya. Jika dipukulkan secara langsung, bisa dirambatkan sesuka hati ke organ lawan. Dan saat ini pukulannya dirambatkan ke jantung lawan. Membuatnya pecah!

“Nyaman sekali.” Desis si penghuni pondok membuat senyum girang segera lenyap dari wajah orang itu. Ternyata pukulan itu tak membawa hasil, kengerian langsung terbayang di wajahnya, manakala penghuni pondok itu mencengkeram kepalan pukulan, menariknya dengan kuat membuat dia berlutut dengan kepala mendongak.

“Ilmu hebat, sayang sudah pernah kurasakan di masa lalu, ini tidak berguna buatku,” katanya sambil mencengkeram ubun-ubun lawan. “Kau harus merasa terbormat, akan menjadi bagian diriku,” desisnya lirih.

Di saat bersamaan lelaki dari Perguruan Walet Hijau merasakan seluruh himpunan hawa murninya tersedot keluar melalui ubun-ubun.

“Aaarhg!” raungan kesakitan memantul melalui dinding-dinding tebing. Dalam sela-sela kesakitannya karena hawa murninya bobol sederas itu. Lelaki ini mengutuk membabi buta. “Aku menyesal telah mempercayaimu… sungguh keji, sungguh keji! Kau… seorang Delapan Sahabat…”suaranya tercekat sesaat. ‘…Empat Penjuru akan membayar ini semua!” Merasakan tenaganya berkurang drastis, satu tangannya yang bebas, meraba ke balik baju, diambilnya sebuah benda sebesar ujung kelingking.

Si penghuni pondok bambu, membiarkan kelakuan korbannya. Dia tidak merasa terancam sama sekali. Saat ini dia sedang mencerna dan menikmati curahan hawa murni korban.

“Hiaaa!” dengan sekuat tenaga lelaki itu melemparkan bola itu ke atas dengan mengibaskan tangan ke belakang, kekuatan terakhir hawa murni yang masih tersisa dan keputusasaan membuatnya tak perduli jika lengannya harus patah akibat lemparan yang bertolak belakang itu.

Saat bola itu sudah mencapai titik tertinggi, barulah penghuni pondok bambu itu menyesalkan kecerobohannya. Bola itu meletus memancarkan asap putih, membuat burung-burung di seputar lembah itu segera terbang berkumpul mengerumuni asap. Bola itu seperti isyarat pemberitahuan, Perguruan Walet Hijau memiliki cara yang sangat unik dalam berkirim kabar. Saat bola asap itu dirumuni burung, dan burung-burung itu akan menjadi daya tarik sejumlah burung lain, hingga akhirnya kumpulan burung yang banyak itu akan menarik perhatian orang, mereka akan berputar-putar seperti membentuk payung raksasa di sekitar ledakan bola asap, hingga berhari-hari lamanya.

Menyaksikan burung-burung mulai berputar-putar di atas sana, lelaki ini malah tersenyum. Meskipun nanti akan banyak gangguan, tapi itu tak membuatnya khawatir, makin banyak orang datang kemari, makin banyak ‘santapan’ bergizi yang bisa dicernanya. Dengan langkah sangat lambat, orang ini kembali masuk ke dalam pondoknya sambil menyeret tubuh sang korban.

===o0o===

Arwah Pedang sedang melintas di seputar Gunung Khumbhira, dia memperoleh permohonan dari salah seorang karibnya untuk mencari adiknya yang hilang, kabar terakhir menyatakan sang adik yang berprofesi menjadi petugas telik sandi Kerajaan Rakahayu. Langkah Arwah Pedang tersendat karena melihat kumpulan burung-burung berputar-putar di angkasa secara tidak wajar.

Adik sang kawan, pernah menjadi murid Perguruan Walet Hijau, atas tanda yang ditimbulkan burung-burung itu membuat Arwah Pedang curiga. Ada kemungkinan, dia sedang dalam kesulitan. Segera diburunya tempat di bawah burung-burung itu berputar berkeliling.

Langkah kaki Arwah Pedang telah membawanya menuju pondok kecil, tiba-tiba kuduknya dibangkitkan oleh semacam perasaan yang misterius. Selama hidup, Arwah Pedang tidak pernah merasakan takut. Tapi entah kenapa, pondok kecil itu mendatangkan rasa seram di hatinya. Lamat-lamat dari dalam lelaki jangkung ini bisa merasakan ada letupan hawa murni yang terbit dan membuyar bersama udara. Letupan hawa murni itu cepat sekali menghilang dan secepat itupula timbul, membuat Arwah Pedang tak berani melangkahkan kaki lebih dalam.

Dulu, dia pernah mendengar cerita, jika merasakan aura hawa sakti yang memendar redup dan kuat secara simultan, mengartikan ada seseorang menguasai semacam teknik terlarang yang sanggup menyedot hawa murni lawan. Tak perduli kau menyerang beberapa kali, tiap hawa sakti yang menghampirinya akan disedot tuntas.

Tanpa sadar keringat dingin mengucur membuat punggung Arwah Pedang basah, dia tak pernah ragu dalam bertindak, tapi tiba-tiba saja dia harus menghadapi keraguan terbesar dalam hidupnya. Dengan perlahan lelaki jangkung ini mengundurkan langkah, dia benar-benar tidak berani melanjutkan langkah mendekati pondok itu.

Padahal, seandainya keputusan untuk memasuki pondok bambu dibuat Arwah Pedang, dia bisa menghindarkan bencana dalam dunia persilatan. Di dalam pondok, lelaki yang sudah menguras tuntas hawa murni seorang murid Perguruan Walet Hijau, terlihat sedang kesulitan mencerna tenaga saktinya. Desakan dari belasan jenis hawa murni yang sudah diserapnya membuat simpul-simpul penguasaan hawa itu tak kuat menampung. Saat ini, kondisinya berada pada titik terlemah.

===o0o===

Jaka sedang meneliti gulungan yang diperoleh dari bawah kandang sapi. Berkali-kali dahinya berkerut, seluruh isi tulisan menggunakan bahasa bersayap dan umum, terlihat tidak begitu penting, tapi Jaka paham, ini semua sangat penting. Sehingga harus disamarkan secara rumit. Pemuda ini merasa sedang membaca sebuah cerita, judulnya sangat aneh: Lintasan garis dalam tujuh tautan. Hingga akhirnya atas pengetahuan dari ragam sandi yang juga ada dalam rontal-rontal tersebut, Jaka bisa menyimpulkan tentang hal-hal yang coba diurai dalam catatan tersebut. Sebuah garis dengan tujuh lintasan…

Dalam cerita itu, Jaka bisa sedikit mengambil kesimpulan ada semacam transaksi yang pernah, sedang, dan akan berjalan antara orang yang menulis cerita dengan sebuah garis dengan tujuh lintasan. Jaka tidak tahu, macam apa garis dengan tujuh lintasan itu. Namun dalam kisah yang diceritakan ini, fungsi garis dengan tujuh lintasan seperti pengawas, pemberi peringatan, dan sesekali mengeksekusi. Atas fungsi-fungsi itupun Jaka baru bisa mengambil kesimpulan dengan susah payah setelah mentranslasikan dengan simbol dan kode dalam rontal sebelumnya.

“Kota Pagaruyung?” pikirnya setelah harus mengutak-atik kalimat—membongkar lalu menyusun dengan kalimat lain. Pagaruyung ada salah satu yang dihasilkan dari utak-atik gatuk itu, dan Jaka tahu, kota itu adalah kota terujung Kerajaan Kadungga yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Rakahayu. “Apakah yang disebut garis ini ada di sana?”

Jaka menimang-nimang apakah dirinya perlu ke sana untuk memperjelas segala sesuatunya. Tapi mestinya, pihak Sandigdha—Keluarga Tumparaka, sudah mengambil tindakan antisipasi, mengingat tempat persembunyian mereka sudah diacak-acak.

Tok-tok!

Pintu kamarnya diketuk, “Sebentar!” sahut Jaka sambil membereskan gulungan itu dan menyimpannya. Dia segera membuka pintu, terlihat wajah Ki Alih sangat serius. “Ada apa paman?” Tanya Jaka dengan kening berkerut.

“Kita harus segera bergegas menuju Pratyantara.” Katanya tegas.

Jaka tak banyak bertanya, pasti ada hal penting yang membuat Ki Alih begitu serius. Cambuk menyertai perjalanan Jaka dan Ki Alih. Dari rumah batu markas sementara Jaka, untuk mencapai tempat yang disinyalir sebagai kantor pusat Pratyantara, bagi orang-orang seperti mereka cukup dalam satu hari satu malam, mereka sudah tiba.

Mereka pernah menggunakan nama Pratyantara untuk transaksi dengan Kerajaan Kadungga, tak disangka sekarang harus menuju markas mereka untuk meneliti sesuatu. Tak jauh dari bangunan yang disinyalir sebagai markas Pratyantara. Seorang lelaki bertubuh gemuk menyambut ketiganya.

“Yang manakah Mahapandra?” dia bertanya, maklum saja mereka dalam kondisi menyamar, maka orang itu tak mengenal.

Jaka tidak menjawab, hanya mengangkat tangannya memberi isyarat.

“Mohon mengikuti saya…” katanya dengan hormat.

Ki Alih beserta Cambuk saling pandang, mereka membiarkan Jaka masuk ke dalam bangunan.

“Kau tidak memberitahukan apa pun padanya, kakang?” Tanya Cambuk pada Ki Alih.

“Aku tidak berani.” Sahutnya singkat.

Cambuk mengerutkan kening, meskipun Jaka orang yang sangat terkendali, tapi manakala menghadapi suatu kabar yang mengejutkan, entah reaksi apa yang akan dilakukannya? Mereka menerima kabar dari mata-mata yang ditugaskan Penikam, beberapa penyusup yang ditanamkan di perkumpulan Pratyantara, sudah disapu bersih, dan itu termasuk Ratnatraya.

Ratnatraya bukan dari kalangan persilatan, bukan pula kerabat Jaka, tapi wanita berusia pertengahan tigapuluhan itu sangat dekat dengan Jaka, pada suatu kesempatan Jaka pernah mengatakan pada mereka, bahwa; dia bersyukur punya kakak perempuan yang memperhatikan segala sesuatu urusannya. Cambuk tahu, yang dimaksud kakak perempuan adalah Ratnatraya. Seorang wanita yang diselamatkan Jaka dari sekapan pejabat gila. Ratnatraya ditahan dengan belasan orang wanita lain, mereka dijadikan budak nafsu seorang pejabat yang memiliki hubungan dengan kalangan tokoh hitam. Ratnatraya sekalian dijadikan alat untuk mengorek informasi dari tokoh-tokoh pesilat. Setiap hari mereka harus mengkonsumsi obat perangsang. Pendek kata, Ratnatraya sudah mati sebelum kematian itu sendiri datang.

Bahkan setelah diselamatkan Jaka Bayu, wanita itu lebih memilih mati. Tapi atas ketelatenan Jaka dalam mengentaskan kecanduan atas obat perangsang yang mematikan syaraf-syarafnya, membuat Ratnatraya memilih mengikuti Jaka.

Ki Alih masih teringat dialog yang membuat dadanya sesak.

“Kau sudah menyelamatkanku, membuatku kembali menjadi wanita normal, memberikanku sebuah pengormatan pula… jika tidak kau izinkan aku mengikutimu, lebah baik aku mati,” ucap Ratnatraya tegas.

Waktu itu Jaka tidak punya pilihan lagi. “Mengikutiku akan sangat menyulitkan kehidupanmu.” Katanya saat itu

Ratnatraya tertawa getir. “Bagiku, saat ini tidak ada kehidupan sulit yang melebih kesulitanku sebelumnya…”

Ya, Ki Alih dapat membenarkan alasan itu, bagi seorang wanita, dipaksa melacur—membuatnya harus terkena beragam penyakit kelamin, kecanduan perangsang, dan tak lagi punya pengharapan hidup, jelas merupakan puncak siksaan hidup. Memangnya apa lagi yang lebih sulit dari pada itu?

Jaka menerimanya, perhatian pemuda itu pada Ratnatraya memang dilakukan semata-mata supaya wanita itu memiliki semangat hidup lagi. Hubungan keduanya sangat dekat, bukan sebagai kekasih tentunya, tapi seperti kakak beradik. Ratnatraya membalas penghormatan Jaka dengan mencurahkan segenap perhatiannya untuk kebaikan Jaka Bayu. Mulai dari pakaian, makanan, hingga memaksa pemuda itu beristirahat jika sudah masanya. Dan pada suatu ketika, Ratnatraya meminta pada Jaka untuk diberikan tugas tertentu. Dia merasa malu hanya menjadi beban Jaka.

Jaka tahu, penolakannya akan membuat Ratnatraya mengancam untuk bunuh diri lagi. Maka dia berdiskusi dengan Penikam, tempat manakah yang paling baik dan aman untuk wanita seperti Ratnatraya. Dan jawaban waktu itu adalah Perkumpulan Pratyantara. Ratnatraya sudah empat bulan berada di sana, dia berprofesi sebagai mata-mata yang merangkap menjadi juru masak. Dan hingga kini…

Ki Alih menghirup udara dalam-dalam. Dia memperhatikan rumah itu terus, menduga-duga apakah yang akan dilakukan Jaka dengan situasi saat ini? Dari dalam rumah muncul lelaki yang tadi meminta Jaka untuk masuk.

“Tu-tuan, bisakah anda berdua masuk?”

Cambuk saling pandang dengan Ki Alih, tanpa bertanya keduanya mengikut masuk. Mereka hanya melihat punggung Jaka di ruangan paling belakang, pemuda ini berdiri di pintu masuk kamar membelakangi mereka. Dia berdiri tertegun.

Cambuk mencoba mengintip dari sisi tubuh Jaka, terlihat di pembaringan sosok wanita yang sudah membujur kaku, tertutup kain menyisakan wajah cantiknya yang sudah membeku.

“Paman Alih,” Jaka memanggil dengan suara parau.

“Ya?”

“Mulai saat ini, Pratyantara menjadi tanggung jawabmu.”

Ki Alih mengiyakan. “Apakah aku harus mencari pembunuhnya?” lanjutnya bertanya.

Jaka tidak menjawab. Hanya mengangguk.

“Apa yang harus kulakukan padanya?”

Jaka membalikkan badan, dalam sekilas mereka bisa melihat tatapan Jaka seperti mengeluarkan percikan api, begitu tajam menakutkan. Pemuda ini mengatupkan matanya sesaat. “Temukan motifnya, kenapa dia harus membunuh orang-orang kita… membunuh Ratnatraya!” desis Jaka dengan suara dalam.

“Dia terbunuh karena apa?” Cambuk bertanya dengan wajah meringis, karena pinggangnya disikut Ki Alih secara mendadak. Kepalan Arhat Tujuh terlihat mendelik, mengingatkan Cambuk supaya tidak bertanya di saat seperti ini.

“Tidak apa paman…” gumam Jaka sembari menutup pintu kamar. Dia menoleh kepada lelaki gemuk. “Aku sendiri yang akan memakamkannya, kau dan teman-temanmu tidak perlu repot.”

Sambil mengangguk mengiyakan takzim, si gemuk undur diri.

Jaka duduk dengan perasaan tegang, tangannya terkepal erat. Membuat Cambuk merasa bersalah atas pertanyaan tadi.

“A-aku sudah memeriksanya…” kata Jaka dengan parau. “Dia meninggal karena keletihan… keletihan yang luar biasa!” setelah berbicara demikian Jaka menghembuskan nafas panjang. “Aku akan memakamkannya sekarang, setelah itu aku akan kembali. Paman sekalian urus persoalan di sini hingga tuntas!” katanya singkat dan berlalu dari hadapan mereka.

Ki Alih dan Cambuk hanya bisa mengiyakan saja, Cambuk terbelalak saat tanpa sengaja tangannya menyentuh kursi yang tadi diduduki Jaka. Kursi dari kayu jati yang keras itu sudah menjadi bubuk, rupanya pemuda yang sehari-hari sangat terkendali inipun, tengah bermasalah menahan marah, membuat kursi harus hancur lebur karena tak kuat menahan pancaran hawa saktinya.

Jaka masuk ke kamar itu lagi. Di tepi pembaringan, Jaka menatap Ratnatraya dengan mata berkaca-kaca. “Kau hampir mengakhiri hidup karena rasa malumu… kenapa pula sekarang karena mengikutiku, kau harus meninggal dengan cara begini?” sesal Jaka menyalahkan dirinya.

Pemuda ini sudah melakukan pemeriksaan, Ratnatraya tewas karena kecanduan lagi, dan keletihan. Letih karena harus bercinta terus menerus. Entah berapa lelaki yang menggilir wanita malang itu. Mengingat hal itu, membuat amarah Jaka meluap lagi. Tapi pemuda ini menahannya, dia tidak ingin karena rasa marah, membuat dirinya melakukan pembalasan. Dan bertindak semena-mena.

Dari luar, Ki Alih dan Cambuk mendengar ‘dak-duk’ di dalam kamar, nampaknya Jaka berniat membuat makam di dalam kamar. Mereka berdua tidak berani masuk membantu. Keduanya membiarkan Jaka memberikan penghormatan terakhir pada Ratnatraya.

===oOo===

Ki Alih membagi tugas dengan Cambuk. Pratyantara adalah bagian Ki Alih, sedangkan Cambuk mulai mencari jaringan dalam pemerintahan di sekitar, berkoordinasi dengan mereka, melakukan transaksi informasi, berupaya menambal kebocoran jaringan mereka dari sisi yang lain. Hal pertama yang diselidiki oleh Ki Alih adalah; bagaimana jenazah Ratnatraya bisa sampai ke markas? Ternyata, dari dalam bangunan yang disinyalir sebagai kediaman Jung Simpar, enam belas mayat telah dikeluarkan bersamaan dengan pengiriman barang yang ditujukan ke tempat lain.

Penyimpanan jenazah itu sangat rapi, tidak tercium, tapi semua anak buah Penikam tidak pernah lalai dari tugasnya, mereka yang diberi tugas hanya untuk memperhatikan jalan, tidak akan pernah mencoba untuk mengalihkan perhatian ke tempat lain. Karena merekalah, jaringan Penikam bisa tahu ada enam belas jenazah yang dibuang begitu saja saat kereta barang melintasi pinggir jurang. Dengan susah payah mereka mengambil semua jenazah. Membawa ke markas dengan sembunyi-sembunyi.

Mereka tahu, jenazah itu akan banyak ‘bicara’, dengan tergesa mereka mengirim kabar kepada Penikam yang saat itu masih berada di wilayah Kerajaan Kadungga. Anak buah Penikam harap-harap cemas menanti kabar berita balasan, berhubung ada mayat yang mulai rusak dan harus dikebumikan. Kedatangan Jaka bertiga disambut gembira oleh mereka.

Setelah Jaka mengebumikan Ratnatraya, barulah pemuda ini sempat memeriksa seluruh jenazah, membuat satu catatan ikhtisar untuk pedoman Ki Alih dalam menyelidik. Membaca catatan Jaka, lelaki paruh baya ini hanya bisa menggeleng-geleng kepala—kagum. Dia merasa, telah muncul Sadhana yang lain.

Dalam catatan Jaka—kecuali Ratnatraya, lima belas jenazah tewas dalam berbagai posisi. Mereka tertikam saat tidak siap. Ada yang sedang dalam posisi duduk, minum, dan tidur, satupun tidak dalam kondisi yang melakukan perlawanan, tidak ada racun, tidak ada obat-obatan pelumpuh lain. Mereka tewas dibunuh begitu saja. Tapi, pada masing-masing jenazah, dapatlah Jaka baca pola pengerahan tenaga yang membuat otot mereka tegang, artinya; sebelum mati, mereka melakukan satu tindakan—seperti tusukan. Lalu dalam rentang waktu tak berapa lama mereka terbunuh. Dengan kata lain, masing-masing bertindak saling membunuh, atau berurutan dalam membunuh. Ini aneh.

Jaka menuliskan satu kalimat dengan huruf lebih besar; ‘berhati-hati dengan lisan seseorang. Mereka terbunuh karena pengaruh orang lain.’

Ki Alih sudah cukup membaca ikhtisar itu. Sekalipun tidak ada petunjuk dari Jaka, lelaki tua ini sudah kenyang oleh ragam pengalaman aneh, kejadian-kejadian yang membuat adrenalin naik, baginya adalah hal biasa. Ki Alih memperhatikan wajah salah satu jenazah dengan seksama, orang tua ini akan menggunakan wajah tersebut sebagai penyamaran. Selain ingin melihat reaksi orang-orang, penyamaran Ki Alih-pun sangat berguna untuk keluar masuk rumah Jung Simpar. Jatuhnya korban yang harus dibuang diam-diam, jelas tidak mungkin diketahui semua penghuni rumah itu. Pasti hanya orang-orang tertentu saja.

===o0o===

Hati Jaka terasa panas, meski dirinya biasa berada dalam tekanan yang mengharuskan berpikir jernih, namun saat harus turut merasakan kehilangan atas orang-orang yang terlibat dengan kegiatannya, rasa bersalah itu membuat Jaka marah. Dan dia butuh pelampiasan. Tentu bukan sembarang pelampiasan. Terkadang untuk memancing ikan, kau tidak perlu mencarinya di air yang jerniah. Air keruh pun jadi. Makin dikeruhkan air itu, ikan akan menyembulkan kepala sekedar menghirup udara—tanpa hambatan.

Sepanjang perjalanan menuju markas di Kerajaan Kadungga, Jaka berpikir cara terbaik untuk membuat semua pihak keluar sarang. Selama ini Jaka menyadari strateginya terlalu lembek, dia cenderung bergerak dengan menunggu mangsa memakan umpan-umpan yang sudah ditebar. Kali ini Jaka akan bertindak sebagai pemangsa. Dia akan mendahului.

Gerakannya dipercepat, malam itu juga, pemuda ini sudah sampai pada tempat yang dituju; sebuah Kandang Sapi. Jaka berminat akan menggebrak Keluarga Tumparaka. Entah ada hubungan apa antara Wuru Yathalalana dengan mereka, dari dokumen yang dipelajari, Jaka banyak mendapat pencerahan tentang kejadian-kejadian masa lalu—meski itu tak dia percayai seluruhnya, namun sebagai bekal pengetahuan, itu sangat berharga.

Sepanjang perjalanan menuju Kandang Sapi, Jaka menebar tanda sandi. Ada banyak hal-hal yang ingin dia ketahui dari Sandigdha, Tua Bangka, dan orang yang nyaris mengalahkan dirinya. Mungkin dengan cara ini, pihak yang tak diketahui pun akan muncul. Sebelum mencapai tujuan, Jaka berkeliling memperhatikan situasi. Hal-hal yang sempat lepas dari perhatian pemuda ini dalam beberapa hari lalu, adalah; dampak yang ditimbulkan atas ‘sumbangan’ harta Sandigdha. Sejauh mana hal tersebut akan merubah situasi, secara spesifik Jaka belum memberikan perintah kepada Penikam untuk menyelidikinya.

Tidak ada seorangpun manusia hidup yang muncul di sekitar Kandang Sapi, kalau mayat ada belasan. Jaka menghitung ada sembilan belas. Racun yang ditebarkan di sekitar kandang itu sudah memakan korban! Padahal baru terjadi beberapa hari lalu. Dengan seksama pemuda ini meneliti seluruh korban. Tak satupun ciri identitas tertinggal di badan mereka, tapi Jaka bisa mengenali korban-korban itu dari telapak tangannya. Dalam kondisi seperti ini, apa yang dipelajari Jaka dari Sadhana benar-benar bermanfaat.

Lima dari Sembilan belas jenazah, memiliki tangan yang kasar dengan daging di bawah jempol lebih keras, dengan jemari terlihat berotot—sudah agak membengkak karena racun, tapi Jaka masih cukup mengenali ciri seperti itu. Mereka cukup ahli dalam permainan golok. Enam jenazah yang lain memiliki ujung-ujung jari sedikit mengeras, kuku terpotong rapi. Mereka menguasai jurus tangan kosong yang baik. Sisanya tidak memiliki ciri khusus, tapi pada ujung-ujung jemari kaki mereka terlihat penebalan yang tak biasa. Seorang ahli peringan tubuh. Kesimpulan sementara tiga kelompok berbeda yang datang kemari.

Jaka memeriksa batang-batang pohon tinggi di sekitar kandang sapi hingga radius tiga puluh tombak, hanya ada dua tanda sandi yang didapat, itupun tak diketahui artinya apa. Mungkin Penikam bisa mengetahuinya. Jaka masuk ke dalam kandang sapi, seingatnya dia pernah melihat bubuk belerang dalam jumlah cukup besar, rasanya benda itu akan berguna. Di lantai paling dasar, Jaka belum melihat ada perubahan situasi dari yang terakhir dikunjunginya. Semua masih berserakan. Pemuda ini memeriksa lagi dengan seksama tiap jengkal ruangan itu.

Sebuah patrem—picau kecil yang biasa digunakan wanita, terselip diantara harta yang terserak. Patrem itu membuat kening Jaka berkerut dalam. Dengan bergegas, dikeluarkan pisau pemberian cucu Ki Gede Aswantama yang selalu menemani dia. Ada kemiripan! Bedanya pada badan pisau yang ditemukan kali ini, ada goresan melintang panjang. Jaka menyimpan benda itu dengan hati-hati, dia akan menanyakan asal-usulnya nanti pada Cambuk.

Bubuk belerang diambilnya, lalu ditebarkan dari lantai dasar, hingga kandang sapi, dan beberapa tombak di sekitarnya. Jaka menyebarkan tipis-tipis. Pemuda inipun menyeret mayat-mayat itu ke dalam kandang sapi, diletakkan dalam tingkatan-tingkatan berbeda. Usai melakukan itu, Jaka duduk mencangkung di dahan pohon tertinggi sembari beristirahat. Seluruh indera disiagakan untuk menyerapi kondisi sekitar. Dia yakin akan ada lagi orang yang datang.

Hingga matahari tinggi, orang yang diprediksi pemuda ini akan datang, belum lagi muncul. Belerang yang ditebarkan oleh Jaka di satu sudut tertentu, sengaja ditumpukkan dengan dahan dan daun kering, garangnya sinar mentari yang menyorot, membuat bubuk belerang itu memercikkan api.

Blab! Lalu api itu menjalar secara luas. Cara paling ampuh untuk menghilangkan tebaran racun, kalau tidak dengan api, tentu dengan air. Di bawah sinar matahari yang menerbos dedaunan, Jaka melihat kerlip pada tanah-tanah yang mulai dijilat api. Ah, racun yang ditebar bereaksi dengan api! Racun itu membuat nyala api berwarna hijau.

Meski panas luar biasa, Jaka tetap tidak bergerak dari tempatnya, dengan bajunya pemuda ini melindungi pernafasan, dia bersikeras ingin melihat hasil karyanya menghanguskan kandang sapi. Dalam sesaat, seluruh tempat yang ditebari bubuk belerang—maupun racun, telah terjangkau api, membuat sekitar kandang sapi menjadi lautan api.

Asap bergulung-gulung terbawa angin, api yang juga telah menjalar hingga kandang sapi, sudah membakar tingkat-tingkat di bawahnya pula, menimbulkan letupan-letupan yang teredam, membuat suasana tidak lagi terlalu hening. Dalam hati Jaka berkali-kali memohon ampun kepada para korban yang tak sempat dikebumikan secara layak, sembilan belas jenazah itu turut terbakar pula di bawah kandang sapi.

Kecuali gemertak ranting yang dilalap api, Jaka bisa merasakan ada gerakan yang menghampiri tempat ini. Orang yang ditunggu sudah datang!

Dua orang itu cukup Jaka kenal, mereka adalah orang yang datang bersama Sandigdha. Mereka terlihat gelisah dengan kebakaran itu. Kondisi keduanya yang masih terpaku atas kebakaran kandang sapi, membuat Jaka pemuda yang begitu tinggi dalam penguasaan peringan tubuh ini, dengan mudah menyelinap di belakang keduanya dalam jarak yang aman.

“Kenapa bisa begini?” Tanya salah seorang dalam gumamnya. “Siapa yang melakukan ini semua?”

Rekannya tak menjawab, dia memandang berkeliling. “Aku tidak melihat adanya korban. Berarti setelah pemabuk gila itu datang, tidak ada lagi yang kemari?”

“Aku menyangsikannya, sebenarnya aku berharap orang-orang yang datang bersama si pemabuk menjadi korban! Apa kau bisa mengenali mereka?”

“Tidak. Tapi, mereka benar-benar lawan yang tangguh!”

….

===o0o===

Rasa lapar mendera Jaka, tapi diacuhkannya. Dengan sabar pemuda ini menanti dua orang itu bergerak, mereka tak melakukan apa pun kecuali menunggu api padam. Sayangnya api tak juga kunjung padam, beberapa orang terlihat datang menyusul, mereka kenal satu sama lain—meski tak saling menyapa. Dari semula, Jaka menyangka bahwa itu adalah tempat penyimpanan harta Keluarga Tumparaka, tapi kehadiran satu orang yang terakhir ini, membuat dugaan Jaka goyah.

Orang itu mengenakan tutup kepala dari secarik kain warna hitam, baju tanpa lengannya, memperlihatkan otot lengan yang terkembang sempurna. Pada punggungnya terdapat dua pedang bersilang. Di pinggang sebelah kanan tergantung golok, sementara sebelah kirinya tergantung timang—lencana berbentuk bulat, terbuat dari emas. Postur tubuhnya kokoh bagai karang. Sekali pandang saja Jaka tahu, orang ini sangat tangguh. Wajahnya tidak memiliki ciri khusus yang bisa dikenali, pemuda ini segera paham, ada selembar topeng yang melapisi.

Langkah kaki lelaki itu begitu ringan, berbanding terbalik dengan tubuh berototnya. Dibandingkan dengan empat orang lainnya, kekuatan si kekar jelas jauh lebih unggul. Lelaki kekar itu, mencabut goloknya. Lebar golok itu mencapai satu setengah jengkal, baru kali ini Jaka melihat golok model demikian, di ujungnya membelah—membentuk cagak. Lelaki kekar itu membolang balingkan golok itu sejenak, namun sesaat kemudian disabetkannya golok tersebut ke depan.

Nguuung! Suara mendengung merobek panasnya api, angin dari sabetan golok terasa sangat membekukan. Jaka terbelalak, ternyata lelaki itu menguasai ilmu yang serupa dengan dirinya. Dingin membekukan, mengeraskan arang-arang kayu yang semua masih memercik lelatu api. Betapa tinggi himpunan hawa saktinya, sungguh Jaka merasa kagum.

Api yang masih membakar seluas dua puluh tombak persegi, meredup perlahan. Seperti kompor yang sumbunya mendadak memendek. Diam-diam hati Jaka merasa cemas, bukan cemas karena takut, tapi cemas karena pada masa-masa krusial seperti sekarang ini, keinginannya untuk mengenal kehebatan si kekar itu tak bisa tertahankan.

Kadang kala Ki Alih sering menyindir hobi pemuda itu, serupa dengan kegilaan. Tapi Jaka tak menanggapinya. Baru kini dirasakan, ucapan Ki Alih ada benarnya juga. Gatal benar rasanya jika dia harus melepaskan kesempatan ini. Namun pertimbangan nalar Jaka masih jernih, kedatangan lelaki itu tentu jauh lebih penting.

Tak ada percakapan di antara mereka, Jaka berkesimpulan lelaki kekar itu mungkin semacam penanggung jawab tertinggi, dalam sebuah golongan. Mereka menunggu sesaat—hingga situasi benar-benar kondusif, sampai akhirnya si lelaki kekar mendahului, mereka berlima memeriksa bagian bawah kandang sapi.

Begitu tingkat paling bawah diperiksa, bau menyengat karena daging gosong segera membuat mereka waspada. Si kekar menoleh pada dua orang yang datang lebih awal.

“Racun kalian tidak lagi berfungsi?”

“Apakah tuan ingin membuktikan sendiri?” jawaban pedas segera tercetus.

Si kekar menatap lawan bicaranya sekalias, lalu mendengus. Dia tak punya waktu untuk melakukan pekerjaan sia-sia. Goloknya ditancapkan ke tanah dengan satu hentakan hawa murni yang luar biasa dahsyat. Selebar dua tombak segera retak.

Krrrk! Blaar! Buuum! Tanah yang dipijak si kekar hancur berturut-turut, amblas! Hingga ruangan paling dasar bisa dicapai oleh mereka.

Orang yang tadi bicara dengan ketus terlihat pucat. Meski si kekar tidak mengatakan apa-apa, tapi dia segera sadar diri, apa yang ditampilkan orang itu terlampau hebat untuk ditandingi. Lalu si kekar mengibaskan tangan, seperti menarik tali dengan sentakan. Detik itu juga asap dalam ruangan tersedot dan dibuang keluar lubang. Jaka yang melihat gerakan si kekar makin terkesiap lagi. Diapun menguasai pola gerakan seperti itu, meski sudah banyak hal yang dirubah dan ditambah, namun pokok dasar dari gerakan menyedot seperti itu sangat dipahami.

Jaka paham, ilmu yang dikuasainya memiliki sebuah hubungan tertentu dengan satu golongan, mungkin saja si kekar termasuk di dalamnya. Rasa gatal ingin membenturkan diri dengan lelaki itu makin kuat mencengkeram hasrat pemuda ini.

Suasana dalam dasar ruangan masih terasa pengap, tapi semua orang bisa melihat arang kayu dimana-mana, sementara harta benda berserakan dilantai.

“Kumpulkan, dan ambil lebih dulu!” Perintah si kekar pada dua orang yang datang bersama dengannya.

Keduanya bergerak melangkah, tapi desing penuh ancaman sebuah benda membuat mereka menghentikan langkah.

“Diam di tempat kalian!” bentak dua orang yang sekelompok dengan Sandigdha mencegah. “Apa-apaan ini, kenapa kau bertindak lancang seperti itu?” tegurnya pada si kekar.

Terdengar nada dingin dari mulut lelaki kekar. “Niratiçaya Ksatriya hanya berkawan dengan orang-orang kuat, tidak dengan para pecundang. Penyimpanan kalian dibobol orang, racun pun tidak sanggup menjadi pelindung. Lalu aku harus mengandalkan apa?” ujar si kekar menyindir, membuat dua orang ini terdiam.

Jika-pun pertarungan harus terjadi, mereka jelas tak akan sanggup menghalangi orang yang menyebut dirinya sebagai golongan Niratiçaya Ksatriya itu.

“Jadi… kalian meremehkan kami? Keluarga di belakang kami?” ujar salah seorang dari mereka.

Si kekar termangu sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan ringan. “Kalian tidak masuk dalam hitunganku. Keluarga kalian juga bukan kelompok lemah, kebetulan selain Niratiçaya Ksatriya membutuhkan kawan yang kuat, lawan yang kuat juga dibutuhkan. Membuat keluarga kalian menjadi lawan bagi kami, rasanya cukup setimpal!”

Kalimat itu bagi Jaka seperti lonceng kematian, pada detik yang sama Jaka bisa melihat dalam tubuh si kekar mencul tenaga hisap yang membuat dua orang itu terseret ke depan.

“Berdermalah padaku!” bentak si kekar dengan melakukan sentakan dengan dua tangannya ke belakang, bagai segumpal asap yang demikian mudah dihisap, kedua orang itu tanpa sanggup berbuat banyak, terseret hebat hingga masuk ke dalam jarak rengkuh.

Jaka tertawa dalam hati, ini adalah saat yang tepat baginya untuk membenarkan alasan meraih sebuah pertarungan baginya—sebuah pelampiasan.

Dari atas, pemuda ini meluncur dengan pukulan dahsyat menghantam tanah, membuat daya hisap tersentak sesaat, lalu kejap berikutnya, dengan tubuh meluncur ke bawah Jaka menyentakkan tangan ke atas, membuat dua orang itu terlontar keluar dari lubang—lepas dari jarak hisap si kekar. Tidak berhenti sampai di situ, Jaka bersalto dan segera melakukan tendangan keras menyapu wajah si kekar.

Duak! Tak terhindar, tendangan kaki pemuda ini menghantam hidung si kekar, itu cukup membuat gerakan reflek si kekar terhenti sesaat, ditambah lagi tendangan ini menjadi pijakan buat Jaka untuk naik ke atas. Sejak serangan Jaka datang sampai dia berdiri di bibir lubang, terjadi kurang dari dua hitungan, begitu cepat dan efesien, membuat si kekar dan kawannya terperangah.

Marah karena secara kurang ajar si pendatang menginjak hidungnya, si kekar bergegas menyusul keluar dari lubang. Dilihatnya, pendatang itu menepukkan tangan ke bahu calon-calon korbannya.

“Pergilah kalian, nanti aku menyusul!” kata Jaka pada mereka.

Keduanya tidak mengenal Jaka, tapi dari cara pemuda ini melepaskan jerat hisap yang mengungkung tadi, membuat mereka percaya, tentulah ‘keluarga’ yang mengutus orang ini menolong mereka. Tanpa sangsi keduanya mengangguk dan bergegas kabur.

Sementara si kekar hanya bisa memandang mangsanya kabur dengan geraham menggembung.

“Siapa kau?!” bentak si kekar gusar.

Jaka tidak menjawab, ekor mata pemuda ini memperhatikan dua orang kawan si kekar yang masih melirik ke bawah lubang, agaknya mereka tertarik untuk mengumpulkan harta benda yang masih berserakan itu.

“Kau ingin tahu siapa aku? Mudah. Kalahkan aku, kau akan dapat dua keuntungan. Diriku dan kotoran yang bertebaran itu,” kata Jaka sambil menunjuk harta di lantai dasar.

Atas ucapan Jaka, lelaki kekar ini menjadi sangat waspada. Hanya orang-orang dengan kepercayaan tinggi—yakin dengan kemampuan sendiri serta memiliki ‘nilai’ jual, berani mengatakan hal seperti itu. Dari caranya mengatakan harta sebagai kotoran pun sebenarnya sebuah sindiran dan hinaan bagi mereka. Apakah golongan Niratiçaya Ksatriya akan mengambil ‘kotoran’? Jika ya, memang demikianlah mereka membenarkan tuduhan Jaka.

“Tuan, serahkan orang ini pada kami!” geram dua orang yang menyadari ke mana arah bicara Jaka.

Si kekar menatap Jaka, diapun merasa ragu untuk melawan pendatang itu. Bukan karena takut, tapi waspada. Instingnya menyatakan pendatang itu lawan yang sulit. Terbukti dari tendangan yang tadi menghajar hidungnya. Ilmu yang sedang dia kerahkan menimbulkan satu pusaran hisap yang amat kuat, serangan apa pun justru akan mudah dinetralisir oleh tenaga hisapnya, karena sifat hisapnya juga turut membetot tenaga lawan yang nantinya akan dipantulkan dan diserap sebagian. Tapi tendangan sang lawan tadi, kehadirannya tak bisa dirasakan. Menumpulkan reflek, datang begitu saja—meski tanpa hawa sakti. Tapi penghinaan semacam itu tak bisa diterima.

“Berhati-hatilah!” ujar si kekar memutuskan untuk melihat lebih dulu kemampuan sang lawan.

Jaka tertawa panjang, sebelum lawan bergerak, pemuda ini sudah melesat menubruk. Datang menerkam begitu saja. Berkaitan dengan kecepatan, tak banyak orang sanggup menandingi pemuda ini. Demikian juga dengan lawan-lawannya kali ini, mereka terperanjat dengan gerakan itu. Terburu-buru, keduanya melontarkan serangan yang mengeluarkan hawa hisap juga, tapi jauh lebih lemah dari milik si kekar. Jaka tersenyum senang, serangan itu justru mempercepat gerakannya berkali lipat. Membuat tangan Jaka dalam sekejap sudah menempel di ulu hati keduanya. Detik itu juga mereka jatuh menggelosoh seperti karung basah.

“Selesai! Ayo kita mulai…” Kata Jaka mengalihkan pandangan pada si kekar. “Kau memang pintar, manusia macam mereka hanya berguna membawa kotoran…”

Pandangan si kekar melebar, dia tak percaya anak buahnya dikalahkan dalam sekejap. Di dunia persilatan, mencari orang yang bisa menjatuhkan keduanya cukup sulit, tapi sang lawan kali ini bahkan tidak berkeringat untuk membuat mereka jatuh.

“Tak perlu khawatir, mereka tidak tewas. Hanya tidur, mungkin sedang bermimpi membawa kotoran anjing,” ujar Jaka sengaja menyulut amarah si kekar.

Dan memang hati si kekar ini panas luar biasa, tapi dia justru menjadi prihatin menghadapi orang-orang semacam itu. Untuk menjajagi kekuatan lawan, dia menyebrak—melakukan gerakan menarik ke belakang dengan mendadak. Satu daya hisap langsung timbul dan menyedot Jaka.

Pemuda ini membiarkan dirinya terhisap, menunggu si kekar kesenangan karena serangannya memiliki efek, dia membiarkan Jaka melakukan hantaman ke dada. Buuk! Wajah si kekar berubah, karena dia tak bisa menyedot tenaga lawan, seperti menghisap udara saja, semua kosong. Tapi tenaga serangan Jaka sanggup dipantulkannya secara sempurna. Jaka merasakan segulung hawa dingin menembus buku jari dan merambat bagai kilat mencengkeram jantung.

Terkejut dengan pola serangan yang tidak sama dengan dugaannya, membuat Jaka bereaksi dengan mengibaskan tangan kirinya yang bebas menghantam dada sang lawan lagi. Buuuk! Terbit hawa dingin dari pukulan itu. Si kekar pun terperanjat dengan kesanggupan sang lawan untuk membalikkan tenaga dinginnya.

Tapi lagi-lagi si kekar sanggup membalikkannya dengan sempurna, lewat tangan Jaka yang masih menempel di dadanya. Kali ini ada dua jalur hawa dingin merambat cepat—lewat tangan kanan dan kiri Jaka, berupaya meremas daya hidup paru-parunya.

Jaka sangat terkejut dengan sifat unik serangan lawan, karena kedua tangannya masih menempel di dada lawan, dengan sendirinya Jaka mengangkat lututnya melakukan serangan ke perut lawan.

Buuuk! Serangan Jaka serupa menambah garam pada luka sendiri. Tenaga yang dipancarkan dari serangan lutut, dikembali dengan tiga jalur hawa dingin yang kembali merambat ke paru-paru Jaka. Pemuda ini cukup panik menyadari dia tak bisa lepas dari hisapan si kekar. Posisi Jaka sekarang sangat aneh, dia hanya memiliki kaki kiri sebagai tumpuan, kedua tangan dan lututnya menempel di tubuh lawan. Jaka bertindak cepat, dengan susah payah dia segera menyalurkan tiga gempuran hawa dingin itu dengan melepaskan tendangan ke dagu si kekar. Tendangan itu mencuat begitu saja, mencambuk seolah pemuda ini tidak memiliki lutut, tiga hawa dingin yang merambat melalui kedua tangan dan lututnya, sukses dibelokkan dengan serangan terakhir itu.

Jaka melakukan perjudian, kalau saja serangan inipun menempel pada dagu si kekar, dia akan melakukan hisapan pula untuk memantulkan tenaga-tenaga itu.

Duaak! Tendangan Jaka yang membawa tiga hawa dingin itu-pun menghantam dagu dengan begitu keras, tapi detik itu juga kakinya menempel di dagu sang lawan. Karena posisi Jaka jadi menggantung, dengan sendirinya tubuh si kekar jadi condong ke depan seolah mau jatuh tertelungkup.

Guncangan tubuh si kekar cukup memberikan momentum bagi Jaka untuk mengolah empat jalur hawa dingin yang kembali menghempas mencengkeram paru-parunya. Jaka mengerahkan pola hisap hawa dingin, dan dengan seketika menghempas membalkan, tenaga lawan.

Blaar! Tubuh mereka terpisah, Jaka terpental cukup jauh, namun dengan salto yang manis Jaka bisa menjejakkan kembali kaki di tanah. Sementara si kekar terguncang dua langkah saja.

“Hebat!” puji Jaka dengan tulus. Semangatnya bergelora untuk memecahkan keanehan tenaga lawan.

Si kekar memiliki metoda hawa murni yang serupa Jaka, tapi pola serangannya begitu berbeda. Kaki dan tangan Jaka masih terasa sakit akibat ledakan dua tenaga yang dipaksakan terjadi di dalam tubuh. Jemari pemuda ini masih bergetar keras, buku-buku jarinya terasa seperti dilolosi. Hawa dingin bukan masalah baginya, tapi sisa tenaga yang dibalikkan ke tubuhnya, merupakan empat jenis tenaga perusak dikali dua. Empat serangannya sendiri ditambah empat tenaga si kekar. Ini sangat membebani tubuh Jaka, khususnya tenaga si kekar, seolah di dalam tubuhnya ada putaran-putaran yang membuat organ tubuh Jaka menjadi terasa bagai dipilin. Untunglah himpunan hawa murni Jaka lebih dari cukup untuk menetralisir. Dalam beberapa tarikan nafas, Jaka bisa menormalkan kembali kondisi tubuhnya—meski buku jemarinya masih terasa sakit.

Keempat serangan yang dilakukan Jaka tadi, ternyata juga cukup menimbulkan efek bagi si Kekar, dia belum pernah melakukan hisapan berkali-kali, demikian pula belum pernah membalkan tenaga lawan hingga lebih dari satu kali. Biasanya cukup satu kali, dan tuntas sudah. Tapi empat tingkat hisapan yang ternyata tak membawa hasil, cukup membuat wadag hawa murninya kempis dan membutuhkan waktu untuk normal lagi. Ini serupa orang menyedot air lewat pipa, tapi sayang pipa terlampau besar dan panjang, akibatnya pipi kempot, dada sesak. Itu pula yang tengah dirasakan si kekar, tenaganya belum bisa dihimpun dengan sempurna, tersendat di sana-sini. Karena bersamaan dengan hisapan dia harus meretur balik tenaga lawan pula, efek ini cukup membebani tubuhnya.

Jaka tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang, dia masih menganalisa keunikan tenaga lawan. Mungkin bagi orang lain itu tindakan bodoh, tapi Jaka berpendapat berbeda. Ini adalah saat-saat yang tepat untuk memikirkan, menerapkan, memperbaiki kekurangan dirinya. Kondisi yang serba mempet, tegang dan menyentak adrenalin, bagi Jaka adalah saat yang tepat untuk memaksa dirinya selangkah demi selangkah untuk maju. Itulah alasannya, mengapa dia bisa begitu banyak mengetahui kazanah pengetahuan ilmu silat—tanpa harus mengetahui namanya. Setiap lawan adalah ‘guru’ baginya, mayat-pun bisa menjadi ‘guru’ baginya. Pengetahuan anatomi manusia dan pertabiban adalah kunci dari khazanah ilmu-ilmu Jaka.

Keduanya saling pandang, perjumpaan mereka ini seperti sebuah takdir yang aneh. Si kekar selalu tinggi dalam menilai dirinya, tapi kali ini dia harus menghentikan pola pikir semacam itu.

“Jadi, Niratiçaya Ksatriya adalah kelompok yang hebat?” tanya Jaka membuat si kekar menyadari, Jaka bukanlah segolongan dengan dua calon korbannya tadi.

Si kekar tetap membisu, menghadapi lawan yang aneh, dengan himpunan hawa murni yang makin lama semakin kacau, membuat dia tak berani bertindak gegabah.

“Ksatriya itu golongan kedua, masih di bawah para Brahmarsi—pendeta dari kasta brahma. Tapi kalian menganggap diri kalian Niratiçaya—tertinggi. Ini aneh bagiku. Apakah kalian juga masih di bawah kendali orang?” Tanya Jaka langsung pada pokok permasalahan.

“Kau siapa?” si kekar tidak menjawab, malah balas bertanya.

Jaka tersenyum, keengganan si kekar untuk menjawab merupakan permakluman bagi pemuda ini, bahwa kemungkinan itu benar adanya. “Pernah dengar Keluarga Keenam?”

“Hhgg!” dengus si kekar tidak berkomentar, diam-diam dia terkesiap, beberapa hari terakhir memang terdengar kabar santer betapa gebrakan Keluarga Keenam itu demikian menghebohkan, tak disangka hari ini dirinya juga ketanggor batu, bernama; Keluarga Keenam. Untuk mundur jelas bukan gayanya, tapi berbenturan lagi dengan Jaka, jelas dia tidak memiliki keyakinan apapun.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan yang sanggup bertahan dari salah satu ilmu mustika, Hawa Dingin Penghancur Sumsum. Tapi itu bukan berarti aku akan mundur, aku meminta ketegasan darimu, apakah kau sudah membulatkan tekad untuk menjadi lawan Niratiçaya Ksatriya?” si kekar coba mengulur waktu untuk memperbaiki hawa murninya. Memberikan sebuah ‘gertakan’ atas nama besar ilmu mustika itu diharapkan membawa hasil.

Jaka memang terkesima dibuatnya, ternyata Hawa Dingin Penghancur Sumsum merupakan ilmu mustika, dan itu pula yang dikuasainya?! Tapi cara seperti itu, tak cukup bagi lawan untuk membuat Jaka Bayu goyah.

“Bukankah Niratiçaya Ksatriya membutuhkan lawan yang kuat pula?” balas Jaka balik bertanya membuat si kekar tercengang. “Keluarga Keenam tidak pernah menolak lawan paling kuat sekalipun. Makin kuat lawan kami, makin pesat pula kami tumbuh!” kalimat terakhir betul-betul penuh percaya diri, dan si kekar sudah merasakan betapa anehnya sang lawan ini, dia percaya apa yang diutarakan Jaka memang hal yang sebenarnya.

“Kami menghormati lawan-lawan kami.” Kata si kekar manggut-manggut sambil menggengam timang emas di pinggangnya. Pada saat itu sebenarnya dia terpikir untuk menggunakan golok atau sepasang pedangnya, tapi karena jalinan hawa muninya belum lagi normal, pikiran tersebut langsung ditepis. Jalan mundur yang paling aman adalah, membuat satu teka-teki pada sang lawan untuk dipikirkan.

“Kuharap kau tidak ada hubungannya dengan si tua Bangka yang saat ini coba dihindari Sandigdha.” Jaka pun ingin membuat kesimpulan setelah melihat reaksi lawan, kedatangan si kekar ke Kandang Sapi membuat Jaka bisa melihat alurnya, si kekar kenal dengan Keluarga Tumparaka, dan bisa dipastikan kenal Sandigdha pula.

Timang emas yang digenggamnya terlihat bergetar. “Kau tahu tentang dia?” si kekar balas bertanya pula.

“Siapapun yang menghalangi jalan Keluarga Keenam, pasti kita ketahui. Sandigdha sudah ada di tangan kami, apapun yang direncanakan, dihindari, ditakuti, tak satupun terlepas dari pantauan kami.” Jaka mulai membuka satu rahasia untuk memancing rahasia yang lain. “Pergerakan Sandigdha akan membuat Tua Bangka salah langkah, dan itu kami tunggu. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan tokoh masa lalu yang menggetarkan!” kalimat terakhir hanya kesimpulan Jaka tentang Tua Bangka, tapi itu cukup menggetarkan si Kekar.

“Benturan kalian akan menguntungkan kami.” Jawab si Kekar singkat menutupi keterkejutannya.

Jaka tertawa. “Benar, begitu pula dengan Kwancasakya.” Pemuda ini sudah bisa mengambil kesimpulan dari reaksi psikologis singkat si kekar. Dia tahu—dan mungkin berhubungan dengan si Tua Bangka.

Cukup dari jawaban Jaka, si kekar sudah cukup dalam mengambil kesimpulan. Keluarga Keenam tidak bisa dianggap remeh. Meski beda umur cukup jauh, dia sendiri merupakan kawan seperjuangan Anusapatik, sebutan Niratiçaya Ksatriya pun merupakan sandi bagi orang-orang yang mencoba bangkit lagi setelah kekalahannya di masa lalu. Mengenai hubungan Anusapatik dengan Tua Bangka yang sedang dihindari Sandigdha, sudah jelas merupakan kawan sehaluan. Tapi dengan adanya lawan kuat yang menyelip di antara mereka, akhirnya si Kekar tahu alasan Sandigdha, kenapa dia harus ‘membelot’ dari Tua Bangka. Dia sudah membuktikan betapa ‘bencana Keluarga Keenam’ yang menimpa Sandigdha memang tidak bisa di tangani secara sembarangan.

Kalau sudah begini, selain harus fokus kepada pemilik Pedang Tetesan Embun, merekapun harus fokus kepada Keluarga Keenam. Memecah konsentrasi untuk menghadapi lawan-lawan hebat jelas perbuatan gegabah. Kekalahan masa lalu pernah mereka alami karena hal serupa, jelas tidak mungkin hal tersebut terulang lagi.

Si kekar melempar timang emas kepada Jaka.

“Untuk apa?” Tanya Jaka dengan alis berkerut.

“Niratiçaya Ksatriya akan melihat dari luar kalangan untuk sesaat. Tapi bukan berarti kami nanti tidak ikut campur untuk segala kepentingan yang dianggap perlu.”

Jaka tak menjawab, dia membiarkan si kekar membawa pergi dua rekannya. Gemertak lelatu api disekitar Kandang Sapi menemani pemuda ini dalam perenungannya.

Kalau dia tidak salah mengartikan, sebuah kekuatan sudah diundurkan untuk sesaat. Tapi, apakah mereka mundur hanya untuk melakukan ancang-ancang untuk menyerang lebih dahsyat, Jaka tidak tahu. Tapi cukuplah dari penguasaan ilmu mustika si kekar, pertanyaan tentang Wrhaspati kini mengemuka di benak Jaka.

Wrhaspati adalah salah satu dari sembilan tetua pada Dewan Penjaga Sembilan Mustika, yang disinyalir terlibat atas perbuatan aniaya pada Wuru Yathalalana. Kenapa orang yang menyatakan sebagai Niratiçaya Ksatriya menguasai ilmu mustika? Pastilah mereka pernah bersinggungan dengan para anggota dewan itu. Atas dasar apa pula mereka mendapatkan ilmu itu? Mencuri kitab mustika jelas sebuah kemustahilan.

===o0o===

Undurnya si kekar ternyata berdampak sangat besar dalam pergerakan si Tua Bangka. Kekuatan yang sudah disusun Tua Bangka melalui Dua Bakat, sedikit demi sedikit tergerus. Ki Alih sukses melenyapkan Benconapaya di Pratyantara, membuat kabar yang seharusnya selalu terkirim dari dalam perkumpulan itu, terputus total. Sementara Jalada dengan sukses menghabisi Tuhagana.

Jalada yang mendapat tugas untuk mengikuti ‘benang merah’, sempat bertarung dengan si codet Ekajâti, sayangnya dia lolos. Si Baginda begitu gusar karena sumber beritanya harus terputus, dia memutuskan untuk mengejar Ekajâti, untuk memberikan pertanggungjawaban kepada Jaka.

Sebuah kesalahan dari Sandigdha yang terus menerus menghindar, membuat tua Bangka bermaksud untuk menarik seluruh sumber-sumber yang dimiliki si bendahara. Tapi atas kedekatannya dengan mantan muridnya, membuat Tua Bangka terpaksa mengurungkan niat. Membuatnya berpaling kepada Kwancasakya untuk bekerja sama!

Masuknya Jaka mengatasnamakan Keluarga Keenam, membuat pihak Anusapatik dipelopori oleh si kekar untuk menarik diri dalam sesaat. Seperti yang sudah disampaikannya kepada Jaka, mereka akan melihat dari luar kalangan. Tapi itu bukan berarti mereka diam. Pandangan Anusapatik diarahkan pada sebuah Biro Pengiriman Golok Sembilan. Dia menghimpun dana yang sangat besar untuk menyerahkan sebuah benda, sehingga membuat opini berkembang liar.

Pihak-pihak berkepentingan ada yang menduga, bawah; orang-orang yang membawa emas kepada Biro Pengiriman Golok Sembilan adalah, kalangan Walkali, atau Wrddhatapasa. Anusapatik juga menebar teror dengan ciri pengerahan ilmu mustika yang dikuasai teman-temannya, sehingga ada pula pihak yang menganggap Dewan Penjaga Sembilan Mustika-pun turut serta dalam kericuhan yang senyap ini.

Pendek kata, Anusapatik mengkamuflasekan tiap gerakannya dengan menyebarkan isu. Atas kesibukan Anusapatik yang menciptakan situasi rusuh dengan berbagai isu, membuatnya lengah. Ada pihak yang sudah menggerakkan Kosamasangkya, lewat penemuan simbol Kosamasangkya yang dilakukan pejabat Pratyadhiraksana. Semuanya sudah diatur demikian rupa, membuat setiap orang seolah bergerak atas inisatif sendiri, tapi sebenarnya sudah terkontrol sedemikian rupa.

Munculnya Keluarga Keenam memang sebuah anomali rencana yang tak terduga, meskipun nanti akan cukup merepotkan si penggagas rencana, tapi baginya itu hanya masalah waktu saja. Semuanya akan beres!

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. By dian
    Apr 27, 2016 @ 18:40:58

    Jilid awal emang sm sekali g mnrk,tp stlh prtarungan jaka memunahkan racun d kuil ireng br crtny mulai mnrk ntuk d ikuti n bkn pnsran dgn stiap langkah yg d ambil jaka bay dlm setiap mslh yg ad

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: