Seruling Sakti Jilid 124

Seruling Sakti

Episode: Elegi Perguruan Naga Batu

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

(Sumber: serulingsakti.wordpress.com)

—ooOoo—

124 – Domino Effect : … akhir sebuah awal – E

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuSebuah helaan nafas panjang mendesis, mengagetkan tupai yang merayap di ranting, binatang pengerat itu melompat cepat menghilang dari pandangan. Kabut abadi yang menggantung di Lembah Halimun serasa sebuah penjara, bukan mengikat jasmani, tapi mengikat jiwa. Kemanapun kau pergi, seperti ada sebuah rantai yang mengharuskanmu menarik diri dari dunia luar, kembali kepada keheningan yang mencekam dalam kabut. Lembab, basah, dan suram. Tidak ada masa depan pasti di sini, semua ditentukan saat kau menerima sebuah perjanjian untuk menyelesaikan masalah yang tak terselesaikan. Swara Nabhya datang, menyelesaikan itu semua, dan dirimu akan mengabdi di lembah itu selamanya. Tanpa rasa sesal. Memangnya, masalah apa yang membuat kau rela gadaikan kebebasanmu untuk mengabdi kepada tempat yang sesuram itu?

Helaan nafas penjang dan berat kembali membuyarkan kabut sesaat. Pandangan matanya melihat sesaat pada sebuah lukisan yang dikeluarkan dari dalam bumbung bambu. Lencana Kosamasangkya. Bambu yang menyimpan lukisan itu diremasnya. Terdengar riuh gemertak, namun tidak membuat bambu itu hancur, padahal remasan yang dilambari ilmu paling aneh yang pernah muncul dalam dunia persilatan, dapat menghancurkan semua benda yang terkena. Ilmu itu membawa uap tipis kebiruan, membuat segala sesuatu yang tersentuh menjadi debu. Tapi bambu itu tidak. Karena terlampau kenyal, terlampau lentur. Pandangannya beralih ke tangan sebelah kiri yang memerah saga, saat mengepal uap kemerahan menyambar bambu lentur itu, membuatnya kering kerontang.

Kreess! Bambu yang begitu sulit dihancurkan, sekarang bagai sehelai daun kering. Tangan yang memerah saga itu mendadak berubah warna menjadi lebih gelap, tepatnya kelabu. Uap tipis dengan pendaran hawa dingin menusuk membuat kabut di sekitar mengeras dan hujan salju dalam dua kaki tercipta karena terpengaruh hawa sakti lelaki ini.

Nafasnya dihempas lagi. Agaknya rasa putus asa benar-benar melingkupi hati. “Aku tak bisa maju lebih jauh lagi. Gabungan tiga ilmu mustika pun hanya sampai begini saja,” gumamnya kecewa. “Duhai sang lila… kenapa harus begini?’ keluhnya.

Kenapa dia begitu kecewa? Di dunia persilatan, mencari orang yang sanggup menguasai satu ilmu mustika-pun begitu sulit, apalagi tiga. Dan orang ini sudah sanggup menggabungkan dengan pemahaman luar biasa. Tapi kekecewaan mendalam tetap saja dipendamnya.

Gambar Lambang Kosamasangkya ditatap dengan pandangan termangu. Jika sang waktu telah tiba, Kosamasangkya merupakan kunci kebebasannya dari Lembah Halimun, dia bisa berkecimpung lagi di dunia persilatan. Membawa sebuah perubahan pada Dunia Persilatan, perubahan yang dikehendakinya.

“Aaaaargh…” sebuah raungan yang panjang dan memilukan bergaung di seantero Lembah Halimun. Jeritan yang muncul dari dasar hati membuat setiap insan yang mendengar turut menghela nafas sedih.

Jeritan itupun didengar oleh lelaki yang berada di balik dinding batu. Ditangannya memegang sebuah kotak berisi parwwakalamahatmya. Diapun tahu, jeritan itu disebabkan karena apa. Sebab dirinyalah yang membuat orang itu mau dengan sukarela mengikatkan kebebasannya dengan segala aturan Lembah Halimun.

“Apakah aku harus memberitahu padanya, tentang munculnya Kosamasangkya?” pikir lelaki di balik dinding ini dengan hati magsul.

===o0o===

Kemarahan Jaka atas meninggalnya Ratnatraya belum sepenuhnya reda. Kali ini menjadi saat yang tepat menjumpai dombanya. Tapi dari mana Jaka harus memulai mencari Sandigdha? Dia tidak pusing dengan hal itu. Tangan pemuda ini sempat menyentuh kedua bahu lelaki yang pernah bersama Sandigdha—saat menyelamatkan mereka dari ilmu aneh si kekar. Pada tangan Jaka ada sebuah aroma khusus, yang diciptakannya untuk melakukan pelacakan.

Tentu saja bukan Jaka yang melacak, tapi anjing. Penikam sudah memberikan sepasang anjing kampung yang sudah terlampau gemuk. Dibanding langkah lambatnya yang membuat Jaka geregetan, mulut sepasang anjing itu lebih sering menguap. Alis Jaka makin berkerut melihat anjing itu berjalan terlampau lambat. Pasti ada alasannya Penikam memberikan hewan malas ini.

Benar saja, itu memang bukan anjing biasa! Saking gemasnya Jaka hampir saja menendang dua ekor anjing itu. Selain lambat, keduanya bahkan selalu kencing di sepanjang jalan. Bahkan pemuda ini merasa geli-geli dongkol menyadari dirinya mau saja menunggui anjing buang kotoran! Tapi kesabaran pemuda ini akhirnya terbayar tuntas, bau yang sudah ‘diprogramkan’ pada dua anjing itu membawa hasil, kedua hewan itu menggonggong perlahan, lalu berlari luar biasa pesat. Jaka hampir-hampir tak bisa percaya melihat anjing segemuk itu memiliki kegesitan melebihi anjing pelacak.

Belum pernah Jaka melihat ada anjing dengan stamina kuda, sudah empat jam pemuda ini menguntit lari dua hewan itu. Lamat-lamat Jaka bisa menyadari bobot dua anjing itu menyusut seiring berjalannya waktu, dan pemuda ini akhirnya menyadari, badan gemuk itu memang diciptakan untuk menyimpan cadangan tenaga—lebih dikhususkan untuk bergerak tanpa henti selama berjam-jam ke depan, entah metoda macam apa yang Penikam terapkan pada kedua anjing itu, Jaka sungguh mengaguminya.

Pemuda ini sudah keluar jauh dari wilayah Kerajaan Kadungga, mendekati sebuah gunung pada wilayah Kerajaan Rakahayu, Jaka tahu Gunung itu bernama Khumbaira. Mata Jaka menyipit melihat ada hal yang aneh di udara, burung dalam jumlah cukup besar berputar-putar di udara, dia pernah mendengar ciri-ciri aneh itu ditimbulkan oleh bau yang dihasilkan oleh ledakan yang diciptakan secara khusus sebuah perguruan. Tanda itu tidak mungkin muncul kalau bukan karena kejadian penting. Dua anjing itu sudah berhenti berlari, lidahnya terjulur dengan nafas memburu, badan mereka tak lagi gemuk. Keduanya menyalak berkali-kali sambil menerobos masuk ke dalam semak. Tetap menyalak dan tidak keluar dari dalam semak.

Jaka langsung tanggap, segera disibak semak-semak itu. Diusirnya dua hewan yang menarik-narik baju untuk menyeret keluar sosok tubuh. Mata pemuda ini membesar, keterkejutan benar-benar menyergap dirinya. Jarak perpisahan antara Jaka dengan kedua orang yang memiliki hubungan dengan Sandigdha itu, hanya berselang satu hari, tapi kini… mereka sudah membujur kaku menjadi mayat. Mayat itu belum menimbulkan bau, Jaka segera memeriksa.

Badan keduanya masih cukup lemas—belum kaku, Jaka segera tahu keduanya tewas kurang dari sejam, belum lama. Kewaspadaan segera meningkat, pendengaran pemuda ini dipusatkan untuk mendengar gerak-gerik yang mencurigakan di sekitar tempat itu. Ternyata, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Jaka tidak perlu memeriksa mereka lagi, simpul himpunan hawa murni keduanya hancur total. Kelihatannya hawa sakti dua orang itu dikuras habis-habisan. Tapi kematian itu ditimbulkan karena leher keduanya patah, pada bahu keduanya ada bekas cengkeraman yang kecil. Jari yang mencengkeram itu nampaknya terlampau kecil. Jelas itu bukan pekerjaan si Kekar. Kematian dua orang ini jelas memutus jejak keberadaan Sandigdha, meskipun Jaka percaya masih ada cara untuk melacaknya, tapi untuk saat yang singkat ini, jelas dia tak mungkin melakukan hal tersebut.

Wajah Jaka menegang, dia hampir saja melupakan hal paling sederhana. Jika kau menguasai pernafasan kura-kura, deteksi gerak dan suara menjadi tak berguna atasnya! Meskipun pendengaran berkali lipat bisa menjangkau hingga bermil-mil, tapi betapa lembut dan menyatunya si pemilik pernafasan kura-kura dengan alam sekitar, jelas tak mungkin Jaka deteksi. Pemuda ini sangat mengerti itu, karena dia juga menguasai metode umum tersebut, bahkan sudah menggubah metoda pernafasan kura-kura menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Berdasarkan waktu kematian yang kurang dari satu jam, si pembunuh boleh jadi ada di sekitar tempat ini.

Kelemahan pernafasan kura-kura ada pada kesederhanaannya. Dia tidak terdeteksi, selama si pengguna tak bergerak, tak mengerahkan hawa murni berlebihan. Untuk memeriksa radius lima ratus langkah disekitarnya, adalah hal mudah bagi Jaka.

Hawa Dingin Penghancur Sumsum, ilmu yang menurut si kekar merupakan salah satu mustika, segera dikerahkan oleh Jaka. Pemuda ini belum pernah mengerahkan ilmu itu hingga ke puncaknya, pertemuannya dengan si kekar benar-benar membuka mata Jaka. Ternyata Hawa Dingin Penghancur Sumsum bukan melulu ilmu yang digunakan menyerang lawan dengan hanya lontaran hawa dingin saja, tapi dapat pula dengan menyedot, membalikkan tenaga lawan berdasarkan sifat beku yang sanggup membungkus hawa serangan lawan dan dikembalikan dengan satu hentakan pada hawa sakti. Berdasarkan pengetahuan anatomi tubuh; Jaka tahu, cara yang dilakukan si kekar masih banyak kekurangan, maka itu; hari ini adalah kesempatan dimana dia dapat mempraktekkan penemuannya. Mumpung tubuhnya masih mengingat cara kerja hawa sakti si kekar.

Pendaran hawa dingin segera membuncah, merekah, meledak-ledak menghambur ke segala arah, melibat tiap jalinan angin, menurunkan suhu sangat drastis, dan dalam satu waktu menimbulkan satu pusaran angin yang berputar balik, terhisap kembali. Menjadikan Jaka sebagai pusat. Hisapan itu masih lemah, tidak sekuat milik si kekar, hanya saja bedanya pada saat tenaga hisap si kekar dikerahkan, hawa dingin berkurang drastis. Milik Jaka, saat hisapannya bekerja, hawa dinginnya justru naik berkali lipat. Pemuda ini menerapkan lontaran tenaga hisap hingga empat tingkat, membuat hawa dingin yang sudah dikeluarkan, diserap lagi, dikeluarkan lagi… begitu seterusnya hingga empat kali putaran, membuat daya hisap berkurang, tapi memiliki tingkat pembekuan ekstrim.

Jaka cukup percaya, hawa dingin ini akan membuat seseorang meningkatkan perlindungan tubuh, menambahnya dengan himpunan hawa sakti. Dan betul! Satu pergerakan berada tepat di atas Jaka, tidak menunggu lama, pemuda ini meloncat. Dalam sekejap melesat ke atas, menerobos dedaunan, dan hinggap di salah satu dahan. Dia segera dapat melihat seseorang tengah duduk bersila dengan mulut terkatup.

Bibir tipisnya terlihat membeku. Dia perempuan, berusia akhir dua puluh, wajahnya cantik mempesona, namun berkesan dingin. Matanya menatap nyalang atas kehadiran Jaka. Dari posisi duduknya pemuda ini segera tahu, kenapa wanita itu tidak segera pergi setelah menghisap habis hawa kedua korbannya. Kelihatannya dia butuh waktu lama untuk menyerap tenaga yang baru saja dihisapnya. Jaka dapat melihat ada kesulitan tak kecil tengah membelitnya.

“Jika aku menjadi dirimu, aku tidak akan melawan hawa dingin ini,” kata Jaka perlahan. “Hawa sakti yang kau serap, tidak akan dapat kau cerna. Meskipun kau berusaha sampai seminggu ke depan, juga tidak ada gunanya. Turunlah.”

Wanita itu tidak menanggapi ucapan Jaka, sebagai gantinya, tangannya mengibas, selarik sinar putih secepat kilat mengarah mata pemuda itu. Serangan gelap itu tentu saja tidak menyulitkan Jaka, tatapan matanya tidak dikisarkan sedikitpun dari wajah sang lawan.

“Kecantikanmu berbanding terbalik dengan prilakumu…” Kata Jaka sambil mengebutkan tangan, membuat senjata itu seperti tertahan dinding tanpa bentuk, berhenti begitu saja. Lalu Jaka mengambil senjata itu.

Jaka tersentak kaget! Senjata itu sama persis dengan milik seorang gadis dalam sebuah benteng. Seorang gadis berparas cantik dengan kelembutan menghanyutkan yang memberikan kesan mendalam. Saat itu mereka tidak punya waktu untuk bercakap-cakap, hanya tegur sapa pendek, namun mata mereka sudah bicara banyak. Ditatapnya wanita yang juga sedang melihat Jaka dengan pandangan kaget. Jaka tidak menemukan adanya persamaan wajah di antara mereka. Menghentikan serangan dalam jarak dua langkah dengan dinding hawa sakti jelas tidak mungkin dimiliki tokoh sembarangan, wanita ini termangu mengawasi Jaka lebih seksama.

“Turunlah… aku tidak ingin memaksa!” tegas Jaka lagi.

Wanita itu berdiri, tiba-tiba melejit ke belakang peringan tubuhnya sungguh dahsyat. Dalam sekejap, tubuhnya melesat dua puluh tombak, Jaka dapat melihat ada gelombang serupa fatamorgana laksana mengasap di belakang tubuh si wanita, serupa pula dengan ledakan udara—menandakan betapa cepat gerakan tersebut. Tapi yang dihadapinya adalah Jaka, pemilik peringan tubuh yang tidak lumrah manusia. Saat wanita ini menoleh dia tak melihat adanya bayangan mengikuti, rasa girang sudah tercermin diwajahnya, tapi sebuah suara membuat wajahnya menjadi pucat.

“Berhentilah, aku tidak ingin memaksa!” Sekali lagi Jaka memberikan peringatan.

Dia tahu, lelaki paruh baya itu ternyata bukan lawan yang mudah, satu-satunya jalan mundur, hanyalah menurut, dalam dunia persilatan, mungkin hanya lima orang saja yang dapat menandingi gerakannya.

“Apa maumu?” bentak wanita ini begitu mendarat.

Jaka diam mengawasi, dia menatap pisau yang masih dipegangnya dengan termangu. “Kenapa kau menghabisi mereka?”

“Bukan urusanmu!” bentaknya, meski dia sangat emosi, tapi nalar wanita ini masih cukup jernih. Orang yang sanggup dapat melampaui peringan tubuhnya, sudah tentu bukan lawan ringan.

“Sekarang sudah menjadi urusanku, mereka berdua adalah budakku!” sahut Jaka dengan nada ketus.

“Matilah!” desisnya mengibas lagi. Bagai pelangi, puluhan kerlip perak bertaburan menyerang pemuda ini.

Serangan itu sudah diduga Jaka saat menilik dari genggaman si wanita sudah mengetat perlahan, pemuda ini segera memukul ke depan, membentuk sebuah perisai udara padat.

Cring-cring! Serangan wanita itu terhenti, tapi Jaka tidak berhenti, jemarinya mengetuk ubun-ubun.

Tak! Sebersit tenaga bagai tetesan es, menyusup mematuk syaraf jantung, meremas pembuluh dalam sesat, membuat wajah wanita ini memucat sesaat, lalu memerah lagi. Hingga akhirnya…

Huuuak! Darah segar tersembur hingga dua kali.

Jaka mundur lima langkah. Memperhatikan.

“Kenapa kau menolongku?” Tanya wanita itu setelah memutahkan darah sekali lagi, agaknya dia paham. Tadi itu bukan serangan, tapi sebuah uluran bantuan.

“Bukankah aku sudah mengatakan padamu, tenaga itu tidak akan mungkin dapat kau cerna?”

“Lalu, apa urusanmu?” ketus si wanita.

“Sudah kukatakan, aku harus tahu alasanmu menghabisi budak-budakku. Maka aku menghilangkan pengaruh tenaga mereka darimu…”

“Kau… kau…” wanita ini menatap Jaka seperti melihat hantu. “Kau hancurkan usahaku…” rintihnya.

“Mungkin, tapi kau tidak sadar, tenaga yang kau serap itu akan menggerogoti tenagamu sendiri, hingga tanpa sadar kau tak sanggup mengerahkan hawa murni.”

“Be-benarkan?” ujarnya tak percaya.

“Apa yang kau rasakan ini?” Jaka balik bertanya.

Wanita itu mengatur nafasnya lebih seksama, dia merasa kesulitan-kesulitan dalam penghimpunan hawa murni yang akhir-akhir ini terjadi, sudah tidak ada lagi. Dia menatap lelaki itu dengan beragam pertanyaan.

“Apakah kau masih kesulitan menghimpun tenaga?” tanya Jaka.

Wanita itu menggeleng dengan perasaan bingung, dia tak yakin lelaki itu entah akan jadi lawan atau kawan.

Jaka terdiam. “Apa yang sedang kau upayakan? Masih untung kau baru menyerap dua himpunan hawa murni, sehingga aku mudah melepaskan pengaruhnya,“ ujar Jaka. “Senjatamu tidak beracun, peringan tubuhmu hebat, kau juga punya pisau yang terbuat dari bahan baik. Jika budakku melakukan perbuatan tercela, tidak usah menunggu lama, aku sendiri yang menghancurkan kepala mereka!”

Atas perkataan itu, wanita ini tergagu sesaat. “K-kau… siapakah dirimu?”

“Kau tidak sopan, aku bertanya lebih dulu, tidak kau jawab,” ketus Jaka lagi.

“Maaf…” akhirnya wanita menyadari, bahwa orang di depannya itu tidak sejahat yang dikira. “Maafkan aku, aku tak dapat mengatakan siapa diriku. Tapi… orang-orang itu…” ucapannya terputus dengan tatapan yang nyalang. “Mereka sudah membantai keluargaku…!” katanya dengan mendesis.

Jaka mengerutkan kening, jika dua orang itu selalu menjadi bayangan Wuru Yatalalana, bagaimana pula mereka bisa membantai orang lain? Apakah mereka menghalang-halangi upaya penyelamatan yang dilakukan pihak lain saat keluarga wanita ini sedang dibantai oleh Wuru Yatalalana?

“Kau yakin mereka pelakunya?”

“Yakin sekali! Saat itu aku bertarung dengan mereka… saat itu… aku belum seperti sekarang…”

Jaka mengumam tak jelas. “Apakah musuhmu yang berikut adalah seorang lelaki tua, dengan aroma arak?”

Wanita itu menatap Jaka dengan mata terbelalak. “Ka-kau tahu itu?”

Pemuda ini memperhatikan wanita ini dengan seksama, memperhatikan reaksinya. Cukup meyakinkan, tidak dibuat-buat. Tapi Jaka masih curiga dengan satu hal… himpunan hawa murni wanita itu seperti pernah dikenal, tapi entah dimana. Jaka tidak ingat.

“Siapa nama orang itu?” Jaka bertanya lagi.

“E-entahlah…”

Jaka diam saja memperhatikan.

Kondisi seperti saat ini benar-benar membuat suasana jadi kikuk. Wanita ini juga dengan berani meneliti lelaki paruh baya yang ada dihadapannya. “Sekarang, apa maumu?”

“Kau cukup cantik…” desis Jaka tidak menjawab pertanyaan itu.

Wanita itu melangkah undur setindak. “Apa keinginanmu?” katanya setengah membentak.

Jaka tertawa, dia menyerang si wanita dengan gencar. Bertubi-tubi melakukan satu pukulan. Tentu saja wanita ini tidak ingin konyol begitu rupa, dia menarik sesuatu dari pinggangnya. Sebilah bambu berwarna kuning.

Bambu lentur!

Jaka hampir saja bersorak, dan terus mendesak, membuat wanita itu keripuhan, membuatnya mengerahkan beragam kemampuan yang tersembunyi. Tujuan Jaka tak lain adalah melakukan penelitian mendalam terhadap identitas si wanita. Cukup dari pisau dan bambu lentur yang serupa dengan miliknya saja, secara gegabah Jaka dapat mengambil kesimpulan wanita ini mungkin masih ada hubungan kerabat dengan Ki Gede Aswatama!

Ah…. Begitu teringat Sang Purwaduka Ki Gede Aswantama, Jaka segera tahu, jalinan hawa sakti yang serupa ini pernah dia temui di benteng. Saat itu Ki Gede Aswantama pernah mengujinya.

Serangan bambu lentur tercurai bagai hujan, sabetan-sabentannya menggaung laksana dengung tawon, mematuk bagai paruh elang, dengan sifatnya yang lentur, dapat bergerak tak tentu arah membingungkan lawan. Jika saja Jaka tak melakukan penelitian terhadap sifat-sifat bambu lentur, tentu dengan serangan seperti itu Jaka tidak akan sanggup melakukan desakan lagi, dia harus konsentrasi mengelak. Tapi karena sudah paham dengan sifat bambu lentur, cara mengelak Jaka-pun membuat wanita ini terbelalak.

Tiap tangkisan lelaki paruh baya ini, membuat bambu lentur menjadi kaku mengejang, tak lagi sanggup disebatkan serupa cambuk. Di akhir serangan, Jaka mengerahkan Hawa Dingin Penghancur Sumsum untuk membuat kaku gerakan lawan, dan menyedot senjata.

Tap! Leher wanita itu dicengkeram dengan ketat, tidak menyakitkan tapi membuat tubuhnya kaku.

Wajah mereka hanya terpisah setengah jengkal saja. Wanita itu merasa lelaki paruh baya ini akan melecehkannya, dia tidak sanggup menghadapi kejadian ini, tapi tak ingin pula memejamkan mata, dia ingin melihat wajah lawannya. Hingga suatu saat jika dia sudah sanggup melawan, tak akan lupa dengan raut wajah sang lawan! Tapi… baru disadari olehnya bahwa lelaki paruh baya ini memiliki mata yang begitu jernih cemerlang, untuk ukuran orang tua, mata itu sangat mustahil dimiliki.

“Ah, kau ternyata tidak cukup cantik….” Gumam Jaka membuat bulu kuduk wanita ini meremang. “Kau cantik sekali…” ucapan dengan nada rendah ini tepat di samping telinga, membuat wanita ini merasakan sensasi yang aneh. “Meski budak-budakku bersalah, kau tetap harus memberikan pertanggungan padaku.” Kata Jaka sembari melepaskan cengkeraman pada leher wanita itu, dan mundur dua langkah.

Sambil memegang lehernya yang masih kaku wanita ini menatap lawannya dengan perasaan campur aduk, tangannya terkepal. Di satu sisi dia merasa terhina, di sisi lain, ada sebuah keinginan aneh untuk mengetahui lebih dalam lelaki paruh baya dengan mata sejernih air itu.

Tidak berdaya dengan kondisi aneh ini, akhirnya wanita ini bertanya. “Pertanggungan jawab apa yang harus kuberikan?”

Jaka tertawa, dia sungguh ingin menggoda lebih lanjut, tapi jika teringat nasib malang Ratnatraya, membuat keinginan itu lenyap bagai tersapu angin. “Bambu lentur itu sungguh menyimpan banyak cerita. Tapi gerakanmu itu dicuplik dari beragam perguruan utama, sungguh mengagumkan. Lelaki beraroma arak itu aku tahu jejaknya, jika kau ingin melakukan pertanggungan jawab secara rela, pergilah menuju Perguruan Enam Pedang, carikan aku setiap betik keterangan.”

“Setiap keterangan? Keterangan macam apa?” tanyanya tidak paham.

“Ya, semuanya. Kau dapat memulai dari kebiasan masing-masing penghuni perguruan…”

Wanita ini termangu-mangu. “Untuk apa aku harus ke sana?” baru tersadar, dia baru menanyakan atas alasan apa dirinya harus ke sana.

“Kemungkinan besar, latar belakang kenapa keluargamu dilenyapkan, akan muncul pula.”

Mata indah itu terlihat membesar sesaat. “Sungguhkah?”

Jaka mengangguk. ”Pergilah…” perintah pemuda ini.

Sesaat ragu menyergap hati wanita ini. “Namaku Sumanohara Ratri…” lantas dia melangkah pergi, lalu berhenti sesaat sembari menoleh. “Aku berharap, saat kita berjumpa lagi, kau mau memperlihatkan wajah aslimu padaku.” Katanya sambil menatap lekat sesaat, lalu melesat cepat menembus rimba yang pekat.

Jaka terdiam. “Sumanohara Ratri… malam yang cantik jelita… dia memang sungguh jelita.” Gumam pemuda ini pula. Sesaat Jaka merasa bersalah harus mengirim seorang wanita ke Perguruan Enam Pedang, entah akan ada sambutan macam apa di sana. Tapi mengingat betapa lihaynya wanita itu, hati Jaka merasa tentram.

Pemuda ini melesat, menuju tempat dimana rombongan burung masih terbang berkeliling menaungi. Meski Jaka tidak tahu apa yang akan menyambutnya, lambang permintan tolong yang dikirim itu membuat Jaka yakin, ini semua masih berhubungan. Wanita itu jelas tidak akan mendiamkan sebuah pemandangan seaneh itu, tapi Jaka tidak mau mendesak lebih jauh. Lebih baik dia merangkai jawabannya sendiri.

Pemuda ini sudah tiba pada tempat yang dinaungi burung. Seperti halnya Arwah Pedang, Jaka merasakan hawa sakti berpendar menekan, dengan aura yang mencekam, menyesakkan, membuat tidak nyaman. Tangan Jaka terkepal, tangannya bergetar ini adalah rasa takut… sudah terlalu lama Jaka tidak merasakan perasaan ini lagi. Bibirnya tersenyum getir. Merasakan dera rasa takut membuatnya teringat bermacam hal di masa lampau, ada suka dan duka terselip di sana.

Bagi orang lain, rasa takut itu sebuah kelemahan, hal yang tidak perlu diketahui dan harus dijauhi. Tapi bagi Jaka, dia malah bersyukur masih dapat merasakan hal itu. Rasa takut akan membuatmu lebih menyadari bahwa kau bukan apa-apa, membuatmu jauh dari sifat sombong, dan perlahan jika kau dapat mengelola dengan baik, rasa takut akan membuat daya dobrakmu dalam mengatasi kelemahan makin kokoh. Sudah lama Jaka merasa ada tembok yang menghadang dirinya. ‘Tembok’ itu membuat kemampuannya sulit sekali untuk naik. Boleh dibilang, kemampuan Jaka bukannya menanjak, tapi melebar. Tidak menaikkan kualitas, hanya memperbanyak ragam jenis ilmu. Terkadang pemuda ini berpikiran untuk mengunci diri, untuk membuat satu lompatan tataran bagi dirinya. Tapi beragam persoalan mencegah niatnya, pun semisal ada waktu tersedia, dengan begitu banyak kazanah yang sudah diserap olehnya, tetaplah membutuhkan waktu tidak sedikit untuk mengerucutkan semua itu menjadi sebuah titik pamungkas.

Maka, mendapatkan tekanan rasa takut justru merupakan berkah bagi Jaka. Makin tertekan dirinya, makin terbuka peluang dirinya untuk maju. Prinsip; di dalam kesulitan ada kemudahan, sudah dibuktikan berulang kali oleh pemuda ini.

Akibat tekanan hawa sakti yang begitu besar, Jaka membiarkan rasa takut menguasai sanubari dalam sesaat, getaran di tubuhnya terasa makin keras. Pada saat sebuah perasaan khawatir meliputimu, nalarmu tak akan bekerja dengan baik. Kondisi semacam itu sudah sering kali dialami Jaka Bayu. Kondisi dicekam rasa kawatir, cemas, takut silih berganti akan memunculkan dua hal, putus asa atau semangat untuk bangkit. Setelah melalui yang pertama—putus asa, pada akhirnya Jaka selalu memilih yang terakhir. Kondisi putus asa itu telah memberikan sebuah pelajaran berharga untuknya, bahwa; seseorang tidak akan berubah, jika bukan dia sendiri yang merubah takdirnya.

Getaran pada tangan Jaka makin keras, sampai-sampai pemuda ini harus mendekapkan tangannya satu sama lain untuk menghentikan getaran. Matanya mengamati dengan seksama, kondisi di sekeliling pondok bambu yang membelakangi dinding-dinding tebing. Begitu senyap, bahkan di sekeliling bangunan sederhana itu tidak terdapat kehidupan, seolah rumput pun tidak dapat tumbuh. Jaka paham dengan kondisi itu, justru karena hawa dari dalam pondok bambu itu terlalu padat dan menumpulkan daya tumbuh, maka radius sekeliling bangunan itu serupa dengan tempat mati.

Debar dalam hati karena rasa takut sudah berhasil ditekan, pandangan pemuda ini menyisir tanah, dia mendapati garis yang membentang. Baru disadari olehnya garis itu merupakan pemisah antara wilayah pondok bambu, dengan bagian luar. Di luar garis, rumput-rumput liar tumbuh dengan subur, sementara di bagian dalam, tak ada satu pun yang tumbuh. Jadi, manakala kakinya melangkah melewati garis, Jaka yakin penghuni pondok bambu akan mengetahui kehadirannya.

Langkah sudah diayun, kaki sudah ditapakkan. Detik itu juga dari dalam pondok, terdengar suara berderit—suara lincak yang kehilangan beban, dalam benak Jaka tergambar seseorang sedang bangkit dari duduknya. Sudah lama sekali, Jaka tidak merasakan debaran yang begitu menegangkan. Adrenalin mengalir deras menyentak pembuluh darah, membuat keringat mengembun di seluruh tubuh.

Langkah yang berat membawa debu bergulung tipis, membuat pemuda ini dapat mengkalkulasi seberapa besar hawa yang berpendar dalam kondisi normal. Decak kagum tak kuasa terlontar. Kondisi orang itu mengingatkan Jaka pada orang yang siap dengan anak panah terentang pada busur—sewaktu-waktu siap bertarung. Bedanya, kondisi semacam itu pada orang biasa jelas menguras tenaga jasmani dan rohani, tapi bagi penghuni pondok bambu, hal seperti itu adalah kondisi normalnya, dapat dibayangkan betapa dahsyat jika dia sengaja menghempaskan tenaga sampai tataran puncak.

Keringat dingin memercik dahi, meski kini Jaka terasa sulit untuk menelan ludah—saking tegangnya, tapi rasa senang yang aneh membuatnya tak berniat untuk mundur. Bertarung dengan lawan yang memiliki kemampuan di atas dirinya, terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Kau diutus olehnya?” tanya orang itu pada Jaka.

“Tidak…” sahut Jaka dengan suara kering, dia menelan ludah sesaat untuk membasahi tenggorokan. Entah siapa pula ‘nya’ yang dimaksud orang itu. “Aku penasaran dengan burung-burung itu,” sambungnya sembari menunjuk ke atas.

“Ini menjadi hari sialmu…” kata orang itu sembari melangkah kian dekat, tiap langkah yang terayun membawa sebuah tekanan yang makin besar.

Meski merasa terdesak, karena debar dada terasa kian menghentak tanpa kehendak, pandangan teliti pemuda ini dapat membedakan, antara tenaga murni dengan tenaga yang tidak murni. Ada ketidak stabilan pada sulur-sulur tenaga yang merembes dari tiap sudut tubuh orang itu.

“Kenapa menjadi hari sialku?” tanya Jaka dengan hati yang kian mantap.

Orang itu menatap Jaka, seorang paruh baya yang cukup gagah. “Anggap saja, kau akan melakukan satu sumbangan padaku.”

Jaka menggumam sesuatu, cukup dari ucapan itu, kini dia tahu, tenaga yang tidak stabil pada orang itu berasal dari orang lain. “Ah… kaukah yang akhir-akhir ini membuat banyak kalangan tertentu menghilang?” tanya pemuda ini mengambil kesimpulan, sudah tentu Jaka tidak tahu siapa yang menghilang, tapi dari beberapa jenis bobot tenaga yang belum lagi tercerna dengan sempurna, juga atas penemuan pada daya hisap tenaga milik Sumanohara Ratri, Jaka dapat membayangkan orang ini memiliki kebiasaan serupa.

“Oh… kau tahu hal itu? Tapi tidak berguna. Sebentar lagi kau juga akan bergabung dengan mereka,” ucapan yang santai itu bagi Jaka membawa ancaman yang sangat serius.

Tapi ini malah menguntungkan Jaka, atas rasa percaya diri tinggi si penghuni pondok, membuat pemuda ini malah dengan leluasa mengorek keterangan.

Jaka tertawa kering. “Benar, mungkin tidak berguna, setidaknya jika kau cukup berani… katakan padaku siapa-siapa saja yang sudah menjadi korbanmu.”

Penghuni pondok itu menatap Jaka dengan seksama, dari awal mereka bicara, bahkan sebelum itu, dia sudah merasakan betapa si pendatang ini cukup terpengaruh atas auranya, tapi saat ini, dia sepertinya sudah terbiasa dengan daya tekan darinya.

“Hm, kau orang yang unik. Baiklah, anggap saja ini jual-beli yang setimpal,” kata orang itu membuat alis Jaka berkerut.

“Ah… kau menganggap diriku sebagai barter atas pengakuanmu?”

Orang ini mengangguk. “Setiap orang yang sudah terlanjur melampaui garis, tidak pernah lepas dari cengkeramanku. Hakikatnya, saat ini kau sudah menjadi milikku.”

“Oh…” Jaka tercengang, lalu dia tertawa lagi. “Kalau begitu, kuucapkan selamat untukmu …”

Atas santainya sikap calon korban, penghuni pondok bambu ini sebenarnya sudah menaruh perasaan waspada, tapi jika mengingat sehebat apapun tokoh yang datang kemari, tak pernah lepas dari cengkeraman, dia mengabaikan perasaan itu. “Permintaanmu tadi, aku ingin sekali memberitahumu siapa-siapa saja mereka itu… sayangnya aku tidak kenal mereka. Tapi aku cukup paham dengan cara mereka bertarung, bisa dibilang enam belas perguruan utama sudah menyumbang cukup banyak untukku.”

Atas ucapan jujur itu membuat bulu kuduk Jaka meremang. “Adakah pengguna ilmu mustika yang menjadi penderma?” baru saja tercetus ucapan itu, tiba-tiba Jaka teringat pula dengan si kekar yang pernah menyatakan ‘berdermalah padaku’ pada dua orang yang sudah menjadi korban Sumanohara Ratri. Apakah si kekar-pun ada hubungannya dengan orang ini?

“Sayangnya belum… padahal aku sangat menunggu kesempatan itu,” kata orang ini dengan suara datar.

Setelah bersusah payah membasahi tenggorokan dengan ludahnya, pemuda ini berkata: “Jika kau tidak keberatan, tolong beritahu aku, siapakah dirimu?”

Dengusan tertahan penghuni pondok, membuat Jaka merasakan sentakan pada hawa murninya. Berbicara sekian lama dengan orang itu, sebenarnya sudah cukup menjadi beban bagi pemuda ini—karena dia harus mengatur hawa murni yang saling berkesinambungan untuk melindungi isi dada, tanpa membebani aktivitas bicara. Tapi Jaka sangat pandai menyembunyikan hal itu, dia dapat terlihat seolah pembicaraan mereka, tanpa beban sama sekali.

“Sebelum menjadi penghuni lorong gelap, mungkin ada baiknya kau mengetahui hal ini. Aku dulu seorang kinalulutan bagi keluargaku, tapi atas intrik seseorang, semua fakta yang terjadi menyatakan diriku menjadi tersangka, menjadi seorang penjahat…” berkata begitu, Jaka merasakan damparan gelombang tenaga bagai terpaan badai, hampir saja dia melangkah undur. “Dari kinalulutan… menjadi penjahat… nasi… sudah… menjadi bubur, tak satupun orang… yang percaya padaku…. terlanjur sudah…” setiap penjelasannya begitu terpatah-patah, tapi tiap katanya membawa satu lecutan hawa sakti yang membuat Jaka keripuhan. “Akhirnya aku membuat dia tertawa… aku mengakui diriku menjadi… penjahat… keparat… persetan…!” kalimat terakhir hampir serupa bisikan, tapi Jaka merasa betapa isi dadanya bergetar keras.

“Dari seorang yang dicintai… menjadi penjahat… tentu sebuah kenyataan yang pahit bagimu…” kata Jaka dengan terbata, bukan karena dia meniru, tapi memang saat ini Jaka tengah menahan ledakan tenaga yang mendadak terhambur tanpa kendali dari tubuh si pemilik pondok bambu. “Tapi… karena kau membenarkan tuduhan itu… akhirnya, dia memegang kendali atas dirimu.”

“Kau tahu apa!” bentak orang itu dengan tenaga kembali terhambur liar, membuat tubuh Jaka seperti diseruduk kerbau, untung saja kakinya kuat mencengkeram tanah, sehingga dia sanggup bertahan.

“Aku… tidak tahu apa-apa… tapi aku pernah merasakan perasaanmu itu. Aku pernah menjadi korban fitnah keji… aku seolah hidup tanpa harapan, tapi aku sadar… aku tidak pernah putus harapan… aku tidak pernah lupa, bahwa Tuhan itu tidak buta, tidak ada kejahatan yang abadi, cepat atau lambat kebenaran akan muncul ke permukaan!” makin lama berbicara, semangat Jaka makin terbawa, dia tidak perduli lagi dengan damparan hawa sakti yang membuat dadanya menyesak, permakluman Jaka untuk orang itu kini lebih besar, dia dapat mengerti sikap aneh orang ini.

Penghuni pondok itu termangu-mangu, dalam sekejap dia seolah melihat sebuah cahaya, tapi benaknya kembali gelap. “Ucapanmu tadi… seolah aku ini orang yang menyedihkan… ya, memang. Tapi aku tidak mau dikasihani oleh siapa pun!”

Jaka tertawa terputus-putus. “Dengan kemampuanmu ini… tidak ada satu pun orang yang patut… memberikan belas kasihan padamu…. Justru kaulah… yang harus banyak-banyak… memberikan belas kasih pada orang lain!”

Disinggung masalah kemampuan, membuat orang ini sadar kembali, ada sebuah kelemahan besar pada dirinya. “Bagaimana dengan peringan tubuhmu?” dia bertanya tanpa juntrungan.

“Tidak… jelek…” Jawab Jaka sedikit terbata.

“Kalau begitu, kau bisa kupakai.”

“Itu tergantung semua keteranganmu…” balas Jaka membuat penghuni pondok ini berkerut kening, orang di depannya itu seolah sanggup menandingi dirinya, seolah sanggup lolos dari cengkeramannya.

“Kau ingin tahu apa lagi?” tanyanya dengan kening berkerut.

“Kau punya hubungan apa dengan Sumanohara Ratri?”

Pertanyaan Jaka membuat orang itu terperanjat. “Kau kenal dia?”

Atas pertanyaan itu, Jaka tidak perlu bertanya lebih jauh, entah apa pun hubungannya Ratri dengan orang ini memang berkerabat. “Tidak, aku baru saja bertemu dengannya. Dia membunuh orang-orangku, menghisap habis tenaganya. Tapi aku menolong dirinya terbebas dari belitan tenaga hisapannya… dia tidak sadar, tak semua tenaga sanggup dicerna. Untung masih sempat…”

Penjelasan Jaka membuat mata orang itu bercahaya. “Kau dapat membebaskan pengaruh Gaganantala Ruwag Kalawaça?”

‘Hm, jadi ilmu yang bisa menghancurkan wadag penyimpanan hawa murni adalah Gaganantala Ruwag Kalawaça—seolah memecah angkasa dengan mempercepat kematian, nama yang seram,’ pikir Jaka. “Tidak, aku tidak bisa… yang terjadi pada Ratri karena dia baru pertama kali menghisap tenaga orang lain, membuatku dengan leluasa menolongnya.”

“Kenapa kau menolongnya?”

“Demi kemanusiaan,” jawab Jaka singkat sambil memperbaiki himpunan hawa murni yang agak terburai, nampaknya setiap emosi orang ini berubah, damparan tenaganya akan menguat pula.

“Ta-tapi… kau, anak buahmu sudah dibunuhnya…” cecar penghuni pondok ini dengan terheran-heran.

“Kalau anak buahku bersalah, hingga membuat nyawa orang lain hilang… aku mewajibkan diriku untuk melenyapkan mereka,” jawab Jaka tandas.

“Oh…” lagi-lagi penghuni pondok ini seolah melihat kilasan cahaya, bahwa calon korbannya bisa bersikap sebijak itu. “Omong kosong!” bentaknya tiba-tiba, masa lalu yang membuatnya terjerumus dalam fitnah keji, membuatnya tidak percaya dengan perkataan Jaka. Dulu, orang yang paling dia hormati justru menjadi pemulus jalan intrik keji. Sikap bijaksana Jaka justru menjadi titik kecurigaan orang ini.

“Aku… tidak menyuruhmu percaya…” kata Jaka dengan suara sedikit tersendat. ”Kau pikir, dari mana aku bisa tahu nama gadis itu, jika bukan karena dia dengan suka rela memberitahu padaku?”

Penghuni pondok bambu itu termangu-mangu, atas meluapnya tenaga sakti yang berlebihan membuat otaknya sulit untuk mencerna hal-hal yang berkaitan dengan logika.

“Kalau kau tidak keberatan, lanjutkanlah kisahmu…” pinta Jaka lagi.

Mencari orang yang sanggup berbicara dengan dirinya dalam kondisi seperti ini, jelas hal langka, mungkin ada baiknya dia sedikit mencurahkan ganjalan hati. “Aku terikat sumpah, aku tidak akan membicarakan darimana aku berasal. Cukuplah kau tahu bahwa aku menjadi seperti sekarang ini adalah atas fitnah keji.”

“Jadi, memperdalam ilmu Gaganantala Ruwag Kalawaça adalah upayamu untuk menghapus fitnah keji ini?” Tanya Jaka.

“Benar!” tegas orang itu.

“Tapi sayangnya, kau justru tidak bisa bergerak leluasa?” ujar Jaka membuat orang itu terperanjat.

“Darimana kau tahu?”

“Bukan hal sulit.” Jawab Jaka dengan menghembuskan nafas panjang-panjang, sepertinya emosi penghuni pondok itu agak membaik, karena Jaka tidak merasakan tekanan tenaga sekuat sebelumnya. “Kau bergerak terlalu lambat karena beban dari hawa sakti yang kau serap. Aku sempat memperhatikan sekilas dari kejadian yang menimpa Ratri. Makin banyak kau menyerap tenaga orang, seharusnya kau memiliki himpunan tenaga lebih besar dua kali untuk mencacah dan mencernanya lebih jauh. Tapi nampaknya kau tidak sabar… kau melepaskan segenap penjagaan terhadap hawa sakti lain, membiarkan tenaga-tenaga itu berkumpul dan bersatu dengan tenagamu secara langsung, membuatmu kesulitan untuk mencerna nilai lebih dari tenaga itu. Apa gunanya hawa sakti yang meluap-luap sekokoh gugur gunung ini, jika lawanmu berada jauh dari ruang serangmu?”

Penjelasan Jaka membuat orang itu terbelalak, seolah dia baru sadar bahwa selama ini yang dilakukan itu adalah hal sia-sia.

“Tadi kau bertanya padaku, apakah peringan tubuhku bagus… aku sudah tahu kemana arahmu. Kau menginginkan tenaga orang-orang yang memiliki peringan tubuh tangguh, dengan harapan dapat membuatmu bergerak lebih lincah, betul begitu?”

“Ya…” jawabnya setelah beberapa lama.

“Tapi itupun tidak akan berguna banyak,” lanjut Jaka. “Sebab, setiap hawa sakti yang kau peras itu hanya akan menjadi tambahan beban bagi gerakanmu. Tubuhmu ibarat senjata yang sudah siap membacok, sayangnya tanpa kendali, setiap kali kau kerahkan tenaga, kau sendiri sulit untuk mengarahkannya. Semua tenaga bergerak masing-masing, dengan cirinya tersendiri menyerang serabutan. Pola seperti itu untuk menghadapiku, jelas lebih dari cukup. Tapi, semua itu tidak berguna banyak untuk menghadapi lawanmu yang sesungguhnya. Kau pasti tahu maksudku…”

Lelaki itu tertegun. Helai demi helai kenyataan dikupas oleh sang lawan yang tidak diketahui asal usulnya. “Aku harus bagaimana?” tanpa sadar pertanyaan putus asa itu terucap.

Jaka tersenyum, meski dia belum bisa menjajagi kedalaman hati lawan, setidaknya orang itu masih memiliki nurani yang sedikit ‘bercahaya’. Jaka bisa mengambil kesimpulan itu, manakala orang itu menyatakan dirinya akan menjadi penghuni ‘lorong gelap’, artinya seluruh korban yang pernah dihancurkan wadag hawa murninya, masih hidup.

“Mungkin aku bisa menolongmu…” ujar Jaka sedikit ragu.

“Katakan! Jika kau bisa memberikan sedikit perubahan, kebebasanmu adalah jaminan!”

Jaka terdiam sesaat. “Aku tidak pasti dengan caranya. Tapi, dengan bertarung… mungkin aku dapat mengambil kesimpulan.”

“Tapi…” giliran lelaki penghuni pondok itu yang ragu.

“Ya?”

“Bagamana caraku untuk menahan tenaga? Aku khawatir kau tidak akan sanggup bertahan.” Katanya dengan khawatir. Sebab jika satu-satunya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah diperbuatnya lenyap, dia tidak tahu harus kemana lagi mencari orang semacam Jaka.

Kalau saja ada yang mendengar percakapan dua orang itu, mereka pasti segera memahami, pembicaran itu memiliki hanya memiliki keuntungan satu arah. Hanya untuk Jaka Bayu saja. Pada akhirnya, meski mereka harus bertarung Jaka dapat ‘menahan’ lawan untuk tidak mengerahkan tenaganya yang kelewat dahsyat saat menghadapinya.

Dalam hati Jaka merasa malu, meski harus diakui dia sedikit ‘curang’ dalam memulai pertarungan ini, tapi secara jujur, baik itu bencana atau keuntungan yang ada di balik pertarungan nanti, semuanya akan membawa manfaat bagi dirinya. Jaka merasa ada ‘tembok’ yang harus dilompati, sementara di lain sisi lawannya juga memerlukan pengendalian atas tenaga-tenaga sakti yang sudah diserapnya. Mereka seperti tumbu ketemu tutup. Klop sudah.

“Bersiaplah…” desis penghuni pondok bambu sambil mengisarkan kaki ke samping.

Burung-burung yang terbang berputar, mendadak seperti mendapat damparan angin keras, gerakan hawan-hewan udara itu menjadi lebih berat dan perlahan membuyar. Padahal jarak arena pertempuran dengan burung-burung itu lebih dari dua puluh tombak. Jaka menatap kagum sang lawan, pada pengerahan awal tenaga saja, desakannya seolah melangitkan gumpalan-gumpalan energi tanpa batas. Keringat dingin menitik dari dahinya. Bukan kali ini saja Jaka mengalami masalah sulit, tapi baru kali inilah dirinya harus menjalani pertarungan yang tak terbayangkan. Ada rasa takut terselip, tapi rasa rindu saat harus memecah kebuntuan karena suatu permasalahan, jauh lebih besar menguasai gemuruh di dada.

Dari sekian banyak pengalaman yang menakutkan, saat ini adalah sesuatu yang dapat dikategorikan ke dalamnya. Dalam pandangan Jaka, lonjakan tenaga lawannya tidak lagi sekedar liar, tapi meletup meluap seolah tanpa batas. Secara teori, menyerap tenaga tanpa membebani tenaga sendiri itu sangat sulit dilakukan, selain tenaga sendiri juga digunakan untuk menyedot, harus ada tenaga cadangan lain yang berfungsi sebagai pencacah, penyaring tenaga dari luar. Orang itu seolah memilik ukuran wadag yang sangat besar, sehingga sanggup menampung sedemikian banyak tenaga. Makin banyak menampung tenaga, berdampak pada perlambatan gerak. Ini pula yang terjadi pada penghuni pondok bambu, tapi ada kondisi istimewa yang disadari oleh Jaka merupakan sebuah anomaly—keanehan. Tenaga liar yang meluap itu terus membuncah tanpa henti, dan itu sepertinya tak membebani wadag, Jaka baru bisa menduga ‘sepertinya’, karena dia belum bersentuhan langsung dengan himpunan-himpunan yang seolah tanpa batas itu.

Percakapan singkat mereka sebelumnya, sangat membantu Jaka terhindar dari akibat yang lebih buruk, juga untuk memahami dan menelaah kondisi yang terjadi. Sang lawan-pun agaknya sedang berusaha sangat serius untuk tidak memfokuskan energi bukan kepada Jaka. Tapi tetap saja dampak dari pengerahan tenaga itu seperti hempasan yang menampar.

Debar di dada begitu kencang, pemuda ini menghela nafas perlahan-lahan. Ini seperti sedang berdiri di arus sangat deras, apalagi perlahan-lahan sang lawan kini sanggup memfokuskan tenaga, dengan lebih baik. Sayangnya bukan kepada obyek mati, tapi pada Jaka! Ini tidak seperti yang direncanakan. Jaka tertawa getir, dalam hatinya masih ada setitik kebanggaan mengenai peringan tubuh yang nyaris tanpa cela, tapi dengan mencermati kondisi saat ini, peringan tubuh adalah satu-satuhnya hal yang tak boleh dilakukan, menjadi sebuah kemustahilan dia dapat bersinggungan dengan sang lawan dengan arus tenaga padat dan seliar ini!

Sementara untuk mendiagnosa kondisi sang lawan, kontak langsung jelas harus dilakukan. Di masa-masa yang telah lampau, pemuda ini kebanyakan menguras tenaga lawan dengan olah langkah yang amat lihay, jika taktik seperti ini dilakukannya saat ini, mungkin pertarungan mereka akan selesai tujuh hari kemudian, dengan kekalahan telak ada pada pihak Jaka.

Berpikir ke sana ke mari tidak ada hal yang menguntungkan, Jaka hanya dapat melakukan satu hal. Dia akan membuka pikiran, melapisi titik-titik vital dengan tenaga dan pada akhirnya membuka diri selebar-lebarnya atas kemungkinan terburuk yang terjadi. Detik itu juga, seluruh pengetahuan yang pernah dicerna bagaikan sebuah slide, kembali berputar dari awal hingga akhir.

Penghuni pondok bambu itu menghembuskan nafas panjang, panjang, dan panjang… seolah tanpa akhir. Jaka memperhatikan dengan seksama, gumpalan energi yang tak terkira padatnya telah membentuk sebuah titik-titik udara terkompresi dalam paru-paru, ini akan membuat orang itu memiliki tenaga yang tak akan pernah habis. Jaka nyaris putus asa dalam menemukan celah. Satu hembusan nafas panjang saja, sudah membuat kulit pemuda ini serasa dihempas angin tajam. Sungguh tidak pernah disangka, di dunia ini ada manusia semacam itu.

Jaka menampar pipinya sendiri, lalu berteriak panjang… membangun semangat untuk diri sendiri. Meski tubuhnya serasa menabrak tembok tebal, Jaka memaksakan untuk melangkah setapak demi setapak.

Agaknya sang lawan merasa sangat tertarik melihat kondisi Jaka, baru kali ini ada orang yang tak dapat dihisap dengan hempasan awal tenaganya. “Kau sungguh menarik…” di sela-sela hembusan panjang nafasnya, orang ini masih sanggup berbicara.

Jaka hanya bisa membalas dengan senyum getir, hakikatnya untuk berbicara-pun sangat berat baginya. Langkah pertama, membuat logika ilmu yang sudah dipersiapkan Jaka jungkir balik. Bagaimana tidak, meski dengan cara yang didapati secara singkat saat menghadapi si kekar membuatnya terlindung dari daya hisap, tapi tidak sanggup melindungi daya hempas yang membuat ngilu seluruh tulang. Lawan belum bergerak saja, sudah membuat pemuda ini kewalahan, apalagi jika dia bergerak?

Bergerak? Tunggu sebentar! Jaka nyaris menabok kepalanya sendiri, bukankah masalah utama penghuni pondok itu adalah kesulitan bergerak? Dia merasa tolol dengan berpikir keras untuk melakukan usaha ini-itu dengan sia-sia.

“Aku paham, aku paham!” teriak Jaka di sela-sela langkah keduanya yang membuat isi perut serasa diaduk-aduk.

“Kau paham apa?” Tanya sang lawan dengan antusias.

“Tak dapat kujelaskan, kau seranglah aku dengan segenap tenagamu! Tapi tidak dengan cara berdiri di tempat, tapi bergeraklah!” teriak Jaka dengan gigi bergemertak, tenaga sakti pelindung yang mengelilingi tubuh, entah sudah berapa belas kali dihancurkan oleh hempasan tenaga sakti sang lawan, dan entah berapa belas kali pula Jaka harus menghimpunnya kembali. Untuk mencapai dua langkah mendekati sang lawan, ternyata harus menghabiskan himpunan hawa murni sangat besar!

Pertarungan semacam ini baru kali ini di lakukan oleh Jaka. Untung saja dia sudah memahami sebuah teori baru yang dicupliknya dari si kekar—juga dari jalur tenaga yang sempat dirasakan saat menotok ubun-ubun Sumanohara Ratri. Itu teori umum tapi sangat sulit untuk dilakukan. Teori ini di beberapa bulan ke depan secara mudah akan membuat tokoh sekaliber Ki Adiwasa Diwasanta menjadi dongkol setengah mati. Membuat dia kesal karena ilmu yang sangat dibanggakan ternyata tidak berpengaruh pada Jaka.

Jaka merasa ini adalah ‘tembok’ yang harus dilompatinya, tidak… bukan dilompati, tapi didobrak! Tahap pertama; hanya menerima dan menepis. Ini teori yang setiap pelaku beladiri pasti mengerti. Tapi, saat kau harus menerima beban sebesar rumah, pertanyaan klise adalah; apakah sanggup? Jika kau sanggup, cara bagaimana kau mengembalikannya? Daya lontar beban itu, makin bertambah sesuai kecepatannya. Makin cepat dia terlontar, kemungkinan beban itu meningkat menjadi puluhan kali lipat pun bukan hal mustahil. Kalau sudah begitu, kau harus memiliki reaksi puluhan kali lipat di kali dua, untuk mengembalikannya. Terlepas dari bobotnya, kedengarannya sangat mudah. Tapi menjadi sangat sulit, saat tenaga yang menghambur ke arahmu bukan saja bersifat menghisap, tapi juga menempel seperti lem paling kuat yang pernah ada! Saat kau menerimanya, dengan kecakapan dan kecepatan seperti apa pun, tenaga itu akan meninggalkan jejak dan melekat. Entah itu selebar telapak tangan, entah itu cuma setitik, yang jelas kau tidak akan mungkin membuangnya secara tuntas. Manakala satu jalinan tenaga masih melekat—meski setipis rambut, akan memudahkan serangan kedua menghantam dirimu secara telak, karena ada satu jalur ikatan hawa serangan yang sudah terbentuk.

Demikian juga dengan kesulitan yang dialami Jaka, langkah ketiga telah ditapakkan. Pemuda ini lebih memilih melepaskan salah satu titik vital demi melindungi jantung dan nadi utama dari tenaga betot pemilik pondok bambu itu. Perlahan cairan asin terasa mengalir di bibirnya, Jaka tak sanggup untuk menahan darah mengalir lewat sela-sela bibirnya.

‘Ah, sudah berapa lama aku tidak terluka seperti ini?’ pikir Jaka dengan perasaan lega. Bagi orang yang akhir-akhir ini jarang mengalami kekalahan, perasaan takut kalah pun menjadi semacam penyakit psikis. Jaka-pun tak lepas dari perasaan semacam itu. Tanpa sadar, karena keengganan untuk kalah, membuat pemuda ini cenderung untuk mengurangi benturan langsung. Tapi momentum yang datang saat ini, benar-benar disyukuri Jaka Bayu. Meski isi perut terasa makin tak karuan, darahpun sudah tersembur kian banyak. Tapi semangat Jaka justru makin berkobar.

Pola tenaga sang lawan benar-benar unik dan tak bisa dinalar, di saat dia menghempas, Jaka melawannya dengan memaksakan diri melangkah ke depan, tapi detik itupula langkah Jaka seperti sebuah perjalanan memasuki jebakan, tenaga hempas mendadak menjadi hisap. Dengan sendirinya, Jaka harus melawan tenaga hisap itu dengan tetap melangkah. Dalam satu langkah, entah berapa belas kali perubahan hisap dan hempas itu terjadi, dan secepat itu pula Jaka harus menyesuaikan diri. Kalaulah ini terus menerus terjadi, bisa dipastikan sebelum pemuda ini menjangkau sang lawan, tenaganya akan menguap.

Telah disadari Jaka, satu-satunya cara untuk mempercepat langkah tanpa harus membebani diri, adalah dengan mengikuti daya betot itu. Bukan menyerahkan diri sepenuhnya, tapi memberikan beban seperlunya, untuk mengurangi kecepatan hisap. Pemuda ini memberatkan tubuh dengan mengolah daya hisap lawan, dengan daya hisap darinya. Meski level kekuatan dua daya hisap itu memiliki tingkatan beda, tetap saja akan menimbulkan daya tolak—meskipun itu sangat kecil. Dan itu sangat membantu Jaka dalam menyeret tenaga lawan untuk lebih variatif dalam ragam gerak hisap. Meski Jaka sudah memberikan intruksi pada sang lawan untuk bergerak, agaknya dia sangat sulit untuk melakukan gerakan-gerakan besar, maka menjadi ‘tugas’ Jaka-lah, untuk membuat sang lawan bergerak.

Manakala daya pantul akibat pertemuan dua hisapan sampai pada momentumnya, Jaka cukup memiliki jeda jarak yang bisa membuat dia melangkah ke samping, menepiskan tenaga lawan yang kian terasa membelit. Ikatan jalur hawa murni lawan pada tubuh Jaka sudah seperti benalu yang mencengkeramkan akar pada pohon induk, kurang dari sedetik itu, memaksa Jaka untuk membekukan ikatan hawa murni lawan. Tapi akselerasi hawa dingin yang terlampau cepat—tidak bisa mencapai puncaknya, dan sudah tentu tak sanggup memutuskan ikatan hawa yang membelit Jaka.

Pada saat momentum pantul itu lenyap, daya hempas membuncah dahsyat, mengikis ikatan beku yang semula dimaksudkan Jaka untuk membebaskan diri. Tentu saja pemuda ini harus segera mempertahankan diri, supaya langkah kaki yang sudah dengan susah payah dilakukannya tidak lagi surut.

Dengan satu tarikan nafas, daya hempas itu dihisap dengan membuka simpul-simpul Dashu, Fangmen, Feishu, Gaohuang, Xianshu, Geshu, Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu—semuanya ada pada sepuluh titik tulang belakang yang menjadi ‘pengikat’ rusuk, dalam melindungi isi dada.

Pengetahuan Jaka mengenai anatomi, membuatnya cukup leluasa dalam mengambil resiko-resiko paling kecil, di antara resiko terbesar. Daya hempas itu diikatkan pada simpul Dashu—tiga cun di bawah leher. Jangan ditanya sakitnya seperti apa, membiarkan tenaga liar masuk menerobos begitu saja dan ‘disimpan’ pada sebuah titik punggung, ini sama saja membiarkan lehermu dikalungi celurit. Decit tenaga dengan ketajaman yang menyayat, membelit titik itu. Membuat seluruh tulang Jaka ngilu serasa dilolosi—belum lagi sensasi sayat pada tiap mili uratnya. Tapi di lain saat, daya hempas itu lenyap begitu saja—karena ‘disibukkan’ dalam sebuah jalur yang sulit dan panjang. Sekedar informasi, titik Dashu sangat berkaitan dengan kesadaran, ingatan, dan isi dada. Bukan tanpa alasan Jaka mengarahkan tenaga ini ke titik Dashu, sentakan yang menyakitkan pada titik ini akan memperkuat ingatan, mengokohkan kesadaran dan memberikan otot-otot jantung daya yang lebih besar untuk pulih. Puluhan ribu jalur syaraf yang membentang antara Dashu hingga Weishu, memberikan ‘pekerjaan’ pada jalur hempas untuk melaluinya, dan hingga akhirnya tenaga hempas itu lenyap dimakan ‘panjangnya’ jarak syaraf dalam titik Dashu.

Tapi Jaka segera sadar, menyadari hilangnya daya hempas, detik berikutnya bisa dipastikan muncul daya hisap. Karena sudah ada tenaga hempas yang terikat di dalam titik Dashu, Jaka langsung mengarahkannya kepada daya hisap. Membiarkan tenaga lawan terhisap sendiri, akan membuat fenomena ‘sendakan’. Ini sama saja saat kau harus meminum segelas air besar dalam satu tegukan besar, dan mendadak kau sadar masih ada air dalam gelas itu, lalu kau paksakan diri untuk tetap menelan. Biasanya, kalau tidak tersedak—hingga air keluar dari hidung, ya cegukan. Dan akibatnya…

Sreek! Satu langkah besar dibuat oleh penghuni pondok bambu dalam sebuah seretan kaki, sebuah langkah yang tidak dikehendakinya.

Betapa besar pengorbanan Jaka untuk menyeret sang lawan hanya untuk melakukan sebuah langkah, tentu saja memiliki konsekuensi imbal balik yang cukup. Momentum itu membuat tenaga hisap dan hempas menghilang dalam waktu dua detik, itu sangat cukup untuk Jaka dalam menambah dua langkah. Bersamaan pula pemuda ini melakukan himpunan tenaga yang memiliki daya membal, sebuah Ilmu Mustika Hawa Bola Sakti yang sangat jarang dikerahkan.

“Bagus!” teriak pemilik pondok bambu, antara girang dan geram. Girang karena ternyata Jaka dapat membantu dirinya secara paksa untuk bergerak, tapi mengakibatkan wadag hawa saktinya berguncang. Membuat fokus tenaganya membuyar. Geram, karena ini sama saja mencoreng harga dirinya!

Sebelum langkah lebih jauh dilakukan Jaka, sebuah ledakan tenaga orang ini kembali menghempas Jaka. Pemuda ini sudah mengantisipasi datangnya serangan tenaga itu, hanya saja Jaka tidak pernah memperkirakan besarnya tenaga yang tercurah itu! Strategi mencancang tenaga lawan pada sepuluh titik di punggungnya jelas akan diulangi lagi. Kali ini tenaga yang amat dahsyat itu langsung menghantam wajah Jaka!

Pemuda ini menerima dengan gerakan menepis, untung saja sejak awal Hawa Bola sakti sudah dikerahkan. Efek serangan teramat dahsyat itu sedikit terguncang, sebelum akhirnya membuat tenaga yang tak terbayangkan itu menerobos masuk secara bebas melalui lengan kanan, langsung dibelokkan begitu saja pada simpul Fangmen—satu ruas tulang belakang di bawah Dashu.

Namun ternyata satu titik Fangmen tidak cukup menampung arus yang luar biasa menggila itu, dengan menggigit bibir menahan kesakitan berkali lipat dari sebelumnya, Jaka memecah tenaga itu kepada empat simpul yang lain—Feishu, Gaohuang, Xianshu, dan Geshu.

Saat ini Jaka sedang merasakan siksaan paling menyakitkan yang pernah dia terima, tapi penghuni pondok bambu tengah tertegun dengan perasaan nyaman yang mendadak membuat langkahnya menjadi sedikit ringan.

Hamburan tenaga yang tak terkendali itu, terikat tuntas di dalam simpul yang membahayakan nyawa Jaka, karena di saat bersamaan, setiap kali Jaka ‘mencancang’ tenaga lawan, itu sama saja mengeratkan ikatan hawa sakti lawan dengan tubuhnya. Jadi, serangan apa pun akan langsung berdampak buruk pada Jaka, jika pemuda ini masih tetap menggunakan cara yang sama.

“Tadi kau memintaku bergerak, baik… aku akan melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Jika kau beruntung, kau akan hidup dengan tubuh lumpuh tanpa perlu kehilangan tenaga…”

“Ji..ka t-tid..ak ber..un..tung?” Tanya Jaka dengan suara lirih, bagaimanapun tubuhnya sudah hampir mencapai batas yang bisa ditoleransi.

“Mati.. tanpa bentuk!” desisnya dengan menggerakkan tangan ke belakang seperti sedang menarik sesuatu. Jaka segera teringat gerakan si kekar, bedanya tidak ada hawa dingin sama sekali pada daya hisap orang itu! Tapi dada pemuda ini rasanya seperti sedang diremas oleh tangan-tangan besi.

Krkkk! Krkkk! Dada Jaka terdengar berderak, kakinya terseret dengan mudah, meskipun menyakitkan, tapi rasa semacam itu sudah sangat familier bagi Jaka, dan itu bisa dinetralisir sedikit demi sedikit. Jaka tidak bisa lagi membenturkan daya hisap dengan daya hempas yang sedang diikatkan pada lima simpul yang lain, karena tenaga yang terakhir itu masih berputar-putar liar tiap syaraf tulang belakangnya. Akibat hisapan sang lawan—jika dihitung dalam langkah—Jaka sudah memasuki langkah ke sembilan, dua langkah terakhir merupakan pertaruhan yang membahayakan jiwa!

Penghuni pondok bambu ini termangu-mangu menatap Jaka. Ternyata sang lawan tidak menjadi lumpuh karenanya, tidak pula mati tanpa bentuk. Dia melangkah mendekat dengan gerakan jauh lebih gesit dari sebelumnya.

Setibanya di hadapan Jaka, kening orang ini kian berkerut saat melihat pada wajah Jaka yang penuh bercak darah, juga terkelupas. Sama sekali dia tak menyangka bahwa itu adalah rias penyamaran Jaka yang telah menjadi rusak.

“Baru kali ini aku menghadapi lawan seperti dirimu…” kata penghuni pondok bambu itu yang hanya berjarak satu jengkal dengan Jaka.

“T-te…ri…ma ka-kka…sih…”

“Kau adalah lawan yang cukup membuatku repot. Aku berterima kasih atas pengurangan-pengurangan tenaga liar yang tidak perlu… tapi setelah kupikir-pikir, kaupun akan menjadi batu sandunganku di masa depan… aku lebih memilih melenyapkan dirimu, dari pada usahaku gagal!”

Dengan lemah, Jaka menatap sang lawan. “Ja-ja…wa…ban i-it-tu su…dah kuduga p-pu-pula…” gumam pemuda ini dengan lemah.

“Tapi tetap tidak berguna ya?” ujar sang lawan dengan menyeringai.

Dengan lemah, Jaka memperhatikan tawa orang itu, ada semacam kegilaan dan histeria di dalamnya. “Me..nu…rut…mu?” Jaka balik bertanya.

“Matilah!” desis orang itu memukulkan telapak tangan kanan dan kiri, dia ingin menepuk hancur kepala Jaka. Gerakan itu sangat cepat, meski tidak membawa desakan hawa sakti seperti sebelumnya—yang dapat menghancurkan kepala pemuda ini tanpa perlu menyentuh.

Jaka hanya bisa menatap lemah serangan itu…

Plak!

Tepukan itu tidak mengenai kepala, tapi tertahan oleh lengan kiri pemuda ini secara melintang. Tangan kiri penghuni pondok itu mengenai siku Jaka, sedangkan tapak kanannya, terhalang kepalan tinju. Sementara Kepala Jaka menunduk dalam.

Bersamaan serangan itu tertangkis, lengan baju kiri Jaka langsung hancur lebur. Belasan luka gores dan bacok membuat penghuni pondok bambu terkejut sesaat, tapi dia lebih terkejut lagi menyadari ada keanehan pada pangkal lengan sang lawan, warna merah kehitaman dan biru kehitaman yang menggaris hingga siku sepertinya menyiratkan sebuah intrik.

Jaka masih menundukkan kepala dengan kening berkerut menahan sakit. Serangan secara langsung yang dia terima ternyata tak sanggup dihadang oleh himpunan hawa saktinya, Jaka bisa merasakan lengan kirinya patah, dengan pergelangan retak.

Sementara sang lawan sedang tercengang menyaksikan di tengah-tengah telapak tangan kanannya timbul bintik sebesar buah jambe, berwarna merah-biru kehitaman.

“Racun?” bisiknya dengan tatapan tak percaya. Dia tak percaya ada racun yang sanggup menyusup ke tubuhnya. Menyadari ada perubahan pada kulit yang tiba-tiba terkelupas dan dalam waktu singkat menimbulkan ruam, hingga menjalar sampai pergelangan, dengan teriakan antara kaget, dan marah, dihempaskannya tenaga untuk membendung menjalarnya racun itu. Tapi ternyata racun itu bukan hanya menjalar di tangan kanan, tapi tangan kiri-pun juga terjangkit.

“Terkutuk!” bentaknya bengis sambil melotot ke arah Jaka.

Jaka melihat sang lawan yang masih sibuk menahan menjalarnya racun dengan pikiran melayang. Sungguh tidak disangka, luka akibat sayatan Pedang Baja Biru, kali ini menyelamatkan nyawanya. Meskipun akibat pengerahan tenaga berlebihan pada lengan kirinya, membuat keseimbangan Racun Getah Biru menjadi terganggu. Jaka tak mengacuhkan lawannya, dia merebahkan diri di tanah sambil mengerahkan tenaga himpunan Melawat Hawa Langit untuk menentramkan gejolak racun.

Setelah beberapa lama menenteramkan racun, Jaka akhirnya beringsut duduk. Tubuhnya masih terasa ngilu, tenaganya pun sudah menyusut drastis, untuk berdiri saja rasanya sangat sulit. Sentakan-sentakan pada enam simpul di tulang belakangnya membuat kepala Jaka berdenyut kesakitan. Jika sebelumnya dia bisa meredam pergolakan hawa liar sang lawan, tapi karena tenaga yang digunakan untuk meredam, harus dialihkan untuk menenteramkan racun, membuat lonjakan hawa liar itu kian menjadi.

Jaka mengerang kesakitan, tubuhnya kembali merebah dan berkelojotan.

Penghuni pondok bambu menyaksikan kejadian itu dengan seringai sadis, kondisinya sekarang pun dalam keadaan ‘tersandera’ akibat racun sang lawan, membuatnya tak leluasa mengerahkan tenaga sembarangan. Sebenarnya dia bisa saja langsung membunuh Jaka, tapi mengingat betapa cepat menjalarnya racun di kedua tangan, membuat dia harus senantiasa memfokuskan tenaga untuk menekan rambatan racun yang sangat aneh. Sekali saja dia lena dengan mengerahkan tenaga untuk melakukan aktifitas lain, kemungkinan kehilangan kedua tangan jelas tak mau diambil. Masih ada dendam membuncah yang harus diselesaikan.

Meski dia tak dapat bertindak terhadap Jaka Bayu—lawan anehnya, menyaksikan sang lawan berkelojotan cukup menghibur hati. “Cepatlah mampus!” harapnya dalam desis.

Jaka bukannya tak mendengar ‘doa’ sang lawan, sebenarnya dia ingin membalas ucapan sang lawan, sayang saat ini dirinya masih berkutat dengan desakan tenaga liar. Kalau saja masih ada tenaga tersisa, Jaka pasti tak mau kehilangan kesempatan emas, untuk menyalurkan lonjakan-lonjakan liar itu untuk memperbesar wadag hawa murni. Tapi sayangnya itu tak bisa dilakukan.

Apa yang menyebabkan dirimu merasakan kesakitan? Itu karena otak selalu memberi sugesti bahwa kesakitan itu tidak wajar. Tapi bagaimana jika itu dibalik? Jika kesakitan itu adalah hal yang wajar? Dan sehat adalah tidak wajar? Jaka teringat dengan metoda hipnosis simple itu. Ditariknya nafas dalam-dalam, diawali dengan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, lalu disugestilah dirinya berulang kali, bahwa rasa sakit yang dialami adalah sebuah keharusan, sebuah kondisi yang memang setiap hari hingga akhir hayat, akan menjadi bagian yang tak terpisah.

Perlahan… perlahan… perlahan, gerakan tubuh yang liar itu melemah, hingga akhirnya diam sama sekali.

“Mati?” gumam penghuni pondok bambu sambil mengoyang-goyang tubuh Jaka dengan kakinya. Tiba-tiba dia tersentak kaget, sungguh tak disangka gerakan kecil saja membuat laju racun menimbulkan satu titik ruam baru. “Benar-benar racun gila!” makinya panjang pendek sambil menghempaskan pantat di samping Jaka.

===o0o===

Senja sudah dijelang, akhirnya setelah bersusah payah mensugesti dirinya baik-baik saja, Jaka duduk sambil meregangkan tangan, seperti baru bangun tidur. Lengan kirinya yang patah-pun tak dia rasakan lagi.

“Kau gunakan racun jahanam apa?!” Tanya pemilik pondok bambu dengan terheran-heran menyaksikan betapa bugarnya kondisi lawan.

Seperti kebiasaan semula, Jaka tertawa. Mendengar pertanyaan itu, membuat Jaka terpikir satu ide yang baik. “Aku tak akan menjawab, bukankah kau menginginkan untuk sanggup mengarahkan tenaga kepada satu titik?”

“Tapi bukan dengan cara ini!” bentaknya.

“Tidak ada cara yang gampang untuk menyembuhkan ketergantunganmu dengan tenaga yang kau serap dari orang-orang. Kecuali kau dengan suka rela mau menghancurkan wadag hawa murnimu, urusan bisa selesai!”

“Keparat! Itu tidak mungkin!”

Jaka mengangguk-angguk. “Karenanya, bersabarlah…” Ujar Jaka datar.

Atas jawaban-jawaban yang bersahabat dari Jaka membuat orang ini termangu. “Sampai kapan aku harus begini?” tanyanya dengan suara lebih lunak.

“Aku tidak tahu tahu, tergantung dirimu sendiri. Jika bukan kau yang kuhadapi, cara semacam ini hanya akan menimbulkan korban. Tapi kau istimewa… tenagamu seolah tidak pernah habis. Media racun yang ada di dua tanganmu ini, akan membuat kau berupaya dengan keras untuk memusatkan pada satu titik. Hingga pada puncaknya, racun itu dapat kau hilangkan.”

“Aku tidak mengerti…”

“Kau kurang paham tentang apa? Oh, mungkin tentang hawa murnimu sendiri? Begini… tenagamu itu ibarat pohon besar, dia akan menjulang lurus dengan ranting-ranting menghias di tiap sudutnya. Jika kau menginginkan pohon itu tumbuh lurus—sama halnya kau menginginkan supaya tenagamu dapat diatur, potonglah seluruh ranting-rantingnya secara bertahap. Tenaga liar yang bergolak dalam dirimu adalah ranting. Racun yang menyerang tanganmu, adalah cara yang tepat untuk memotong liarnya rantingmu…” Kata Jaka sembari berdiri.

“Bukan itu maksudku!”

“Oh?” Jaka melegak. “Jadi apa?”

“Kenapa kau tetap bersikap baik padaku?”

Pemuda ini tertawa. “Kau kurang percaya dengan orang lain, itu urusanmu. Aku percaya setiap orang memiliki hati yang bisa berubah.”

Penghuni pondok bambu ini tercenung. “Apa yang kau harapkan dariku?” tanyanya menyelidik.

‘Tidak ada.” Jawab Jaka singkat.

“Jika nanti aku dapat menyelesaikan ini…” katanya sambil menatap dua tangannya. “Aku tidak akan menjamin diriku akan memiliki belas kasih yang sama sepertimu!”

Jaka mengangguk-angguk. “Biarlah waktu yang akan menjawab niatmu. Aku tidak memiliki hak apa pun, tapi… aku meminta satu hal…”

“Apa itu?”

“Saat kau ingin membunuh orang, ada baiknya kau ingat apa yang terjadi hari ini.”

“Hari dimana aku kau permalukan?” ujarnya sengit.

Jaka menggeleng. “Bukan itu.”

“Lantas?”

“Bahwa rasa sakit tidak menghalangi orang untuk menebarkan kasih sayang.”

“Hh… omong kosong kaum puritan!” desisnya menghina.

“Seharusnya kau melihatku lebih baik lagi…” kata Jaka melangkah mendekat, karena hari sudah menjelang temaram, selama percakapan Penghuni pondok bambu itu nyaris tidak pernah memperhatikan perubahan fisik pada lawannya.

“Eh…!” mau tak mau Penghuni pondok bambu terkejut saat menyadari dari tiap lubang di wajah lawannya terus menerus mengalirkan darah. Dia tidak perlu bertanya, apa yang dilakukan Jaka saat pertarungan tadi, dapat dicernanya dengan baik. Yang mengherankan justru kejadian setelahnya, mengapa sang lawan seolah-olah tidak apa-apa? “Tapi… tapi… apakah kau tak merasa menderita?”

Jaka tertawa getir. “Aku tidak bisa menjawab itu… saat ini aku harus pergi untuk mencari tempat untuk memulihkan diri.” Kata Jaka sambil berjalan perlahan-lahan menjauhi Penghuni pondok bambu.

Lelaki paruh baya ini termangu-mangu menyaksikan langkah terseok sang lawan. “Ada baiknya kau berjumpa dengan Delapan Sahabat Empat Penjuru, mereka ada di ujung perbatasan antara Kerajaan Rakahayu dan Kadungga…”

Jaka menghentikan langkah tertatihnya, dia membalikan tubuh. “Untuk apa?”

“Aku tahu kau sedang mencari sesuatu. Mereka bisa membantumu…”

Jaka mengumam tak jelas, lalu berjalan menjauh setapak demi setapak.

Menyaksikan tubuh yang berjalan kadang terhenti karena rasa letih itu, tak membuat Penghuni pondok bambu ini menyesal atas sarannya. Dia menatap pisau yang sempat diambil dari balik baju Jaka. Pisau itu bercerita banyak. Dia ingin sekali percaya pada Jaka, tapi… pisau itu ‘menghalanginya’. Biarlah Delapan Sahabat Empat Penjuru yang akan menghabisinya. Anggap saja dia membayar hutang budi—tidak jadi membunuh Jaka, dengan memperpanjang nyawa pemuda itu dengan menyerahkan kepada ‘ahlinya’. Lebih baik mereka yang ‘mengurus’ Jaka.

Tangannya melambai, melesatkan pisau yang tadi sempat diambilnya. Himpunan hawa sakti yang tiada tara memudahkan Penghuni pondok bambu ini menyisipkan pisau diantara robekan baju sang lawan yang berlalu belum begitu jauh. Atas perbuatan reflek tadi, Penghuni pondok bambu termangu-mangu takjub. Nyatanya, belum lagi satu hari dia mengerahkan tenaga terus menerus untuk menahan racun, daya fokus untuk melontarkan senjata yang tak pernah digunakan—karena meluapnya tenaga liar, bisa dengan mudah dilakukan. Ada setitik rasa sesal telah melakukan keputusan ‘brutal’. Hanya setitik saja, selebihnya dia dibuai rasa girang. Karena langkahnya kini tak lagi berat saat melangkah masuk kedalam pondok.

Jika saja Arwah Pedang menyaksikan keputusan Jaka, mungkin lelaki itu akan diam-diam kembali ke dalam pondok untuk menghabisi penghuni pondok bambu. Entah keputusan Jaka dengan tidak ‘menghabisi’ Penghuni pondok bambu apakah akan memiliki dampak baik, atau buruk. Jaka tidak perduli, dia hanya melakukan sesuai suara hati. Tapi di lain sisi… selalu ada perhitungan matang yang dia lakukan, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Jaka Bayu, kelak.

===o0o===

‘Niat baik’ Penghuni pondok bambu untuk meminjam tangan orang dalam membunuh lawannya, jelas gagal total. Setiap mata-mata yang dikirim ke pondok bambu oleh salah satu Delapan Sahabat Empat Penjuru—yang juga berfungsi sebagai ‘santapan’ sang penghuni pondok, tidak membuahkan hasil. Lelaki paruh baya yang dimaksud, tak pernah muncul di Kota Pagaruyung.

Beberapa bulan kemudian, salah seorang Delapan Sahabat Empat Penjuru justru mengangkat orang luar sebagai muridnya. Berita ini membuat Penghuni pondok bambu gelisah, sebab bisa menghambat rencana-rencana yang sudah disusun bersama. Di lain sisi konon katanya sang murid memiliki kemahiran peringan tubuh yang istimewa, dia ingin sekali mendapat ‘kunjungan’ murid baru yang ahli peringan tubuh itu, karena meskipun daya fokus tenaga saktinya makin membaik, kemampuan peringan tubuh yang selama ini diserap dari ragam orang, justru tidak sanggup digunakan secara optimal saat ditumpangkan dengan tenaga yang tengah di ‘rapikan’. Mau tak mau, menunggu adalah rutinitas yang kembali menjadi pekerjaannya.

Entah bagaimana reaksi Penghuni pondok bambu, jika tahu orang yang mungkin nanti akan mengunjungi dia adalah orang yang sama?

===o0o===

Jaka terbaring dengan nafas lemah di bawah pohon besar, sugesti terhadap dirinya sudah dicabut. Rasa sakit membuat dirinya tak sanggup lagi bergerak. Wadag hawa murninya saat ini masih kosong. Jaka benar-benar heran, dengan metoda Melawat Hawa Langit seharusnya, dia sudah sanggup menghimpun hawa murni. Karena sistem olah nafas Melawat Hawa Langit adalah dari luar menuju pusat, bukan dari pusat menuju ke dalam—ke sekujur tubuh, artinya; pemuda ini sanggup memanfaatkan hasil serapan hawa di luar lingkungan tubuhnya sebagai tambahan daya sakti.

Ini pasti memiliki hubungan dengan tenaga liar yang masih menyentak enam simpul diruas tulang belakang, sentakan-sentakan itu menerobos liar ke segenap syaraf, membuat olah nafas Jaka kacau. Hingga akhirnya, Jaka membiarkan begitu saja hawa liar itu bertingkah sesuka hati. Menurut perhitungannya, saat hawa liar itu kehilangan daya, dia akan sanggup menghimpun lagi tenaganya. Tapi kondisi itu tak kunjung datang.

Pemuda ini kembali mensugesti dirinya, kalau itu tak dilakukan, bagaimana dia harus melanjutkan hidup tanpa makan minum? Tapi meskipun pikiran menyatakan ‘tidak sakit’, kondisi fisik tidak bisa berbohong. Meski Jaka dapat berjalan hingga menuju tepi sungai, tapi tenaga untuk menangkap ikan pun sudah tak ada lagi. Ini benar-benar ironis. Pisau yang sudah ada ditangan untuk berburu ikan, kembali dimasukkan ke dalam bambu lentur yang melingkari pinggang dengan susah payah.

“Sudahlah… kupasrahkan kepada-Mu.” Gumam Jaka menceburkan diri ke dalam sungai. Setelah meminum sepuasnya, Jaka membiarkan mulutnya terbuka di dalam sungai, dia berharap dengan cara bodoh demikian ada ikan yang cukup ‘pintar’ mengira mulutnya sebagai lubang persembunyian.

Tapi belum lagi cara antiknya membawa hasil, gemuruh air bah bergulung-gulung dari hulu membuat Jaka terbelalak. Tubuhnya digulung banjir bandang, terhanyut begitu deras, menabrak batu berkali-kali, bahkan kepalanya sempat bertubrukan dengan batang kayu yang ikut hanyut digulung air bah. Hilang sudah kesadarannya…

===o0o===

Entah berapa lama Jaka tak sadarkan diri, begitu sadar, mulutnya tercekik rasa asin. Ah, ternyata dia terjepit di antara batu dan batang kayu yang juga tertimpa batu besar, dan kini ada di dasar laut! Tidak dalam, paling hanya sekitar sepuluh tombak, tapi dengan kondisi yang lemah seperti ini—tanpa bisa menggerakkan anggota badan, agaknya hanya kematian yang ada di depan mata.

Pasrah dengan kondisi semacam ini, justru membuat plong pikiran Jaka, mendadak satu jalur simpul pada tulang punggung, terasa mengedut lemah, Jaka tahu simpul itu adalah titik Ganshu, simpul yang masih kosong dari pembagian tenaga liar, sungguh aneh… simpul yang tidak dialiri hawa liar justru memberikan respon positif terhadap kebutuhannya akan udara.

Jaka sudah tidak bisa berpikir lagi, udara yang tersimpan dalam paru-paru sudah sangat menipis. Dia hanya merasakan berturut-turut pada simpul Ganshu, Danshu, Pishu dan Weishu, timbul pusaran tenaga yang seolah menyentak kembali simpul Weitao—di antara kantung kemih dan kemaluan, membuat olah nafas Melawat Hawa Langit aktif kembali.

Tapi manusia itu bukan hewan air, keterbatasan udara membuat Melawat Hawa Langit pun sia-sia. Di batas ambang antara sadar dan tidak, keruhnya air laut membuat Jaka seperti berhalusinasi. Dia seolah merasakan ada sebuah bibir lembut menghembuskan bergulung-gulung udara, yang membuat olah nafas Melawat Hawa Langit, benar-benar melangitkan tenaganya hingga ke puncak, menghancurkan batu dan batang kayu yang menjepit badannya, membuat bibir yang telah menghembuskan nafas padanya menjauh.

Jaka tidak tahu selanjutnya apa lagi, dalam kondisi yang samar-samar itu rasanya arus bawah laut yang cukup kuat membawa dirinya entah kemana. Hingga akhirnya terdampar di pantai.

Lamat-lamat Jaka mendengar seseorang berteriak dengan suara lembut melengking memanggil seseorang, tapi ini pasti mimpi, pikir Jaka.

“Pertiwi, dimana kau?” teriak suara itu mencari-cari.

“Aku disini Diah…” terdengar jawaban dari kejauhan.

“Bukankah kau yang tadi tenggelam?” terdengar suara berkesan dingin, bertanya keheranan.

“Tidak, aku memang berenang, tapi aku baik-baik saja…” jawab gadis yang dipanggil Pertiwi menjawab keheranan.

“Hah, masa?! Jadi siapa yang kuberi bantuan nafas?” tanya Diah tercekat kaget.

“Memangnya ada?” Pertiwi balik bertanya. “Mungkin kau berciuman dengan ikan tengiri…” sambungnya dengan tawa mengikik, mengantarkan Jaka terlelap lebih pulas. Sungguh mimpi yang aneh.

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. Dian
    Apr 27, 2016 @ 20:08:23

    Siapa 2 orang yg sdng m’asing kan dr d lmbh halimunan,dan ap hbngn mrk dgn sang lila ?
    Siapa pmlk awl bambu lntr yg skrng ad pda jaka bay,ratri,ki gede aswatama n pmlk pndk bmbu jg org lmbh hlmunan ? Ap pmlk bmbu lntr kning n htm msh org yg sm atw b’bd ?
    Ap hbng pmlk pndk bmbu dgn ki lukita sekalian ?

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: