Seruling Sakti Jilid 125

Seruling Sakti

Episode: Elegi Perguruan Naga Batu

Oleh: Didit Setiawan Andrianto

(Sumber: serulingsakti.wordpress.com)

—ooOoo—

125 – Epilog Domino Effect

Seruling Sakti - Elegi Perguruan Naga BatuMatahari sudah condong ke arah barat, waktu sudah menjelang magrib, akhirnya Jaka siuman setelah pingsan dalam waktu cukup lama. Damparan lembut gelombang laut yang menghempas wajah secara simultan, membuat dia lebih cepat siuman. Perlahan-lahan pemuda ini beringsut duduk, mencermati kondisinya dengan seksama, mengantur nafas secara teratur, rupanya sistem olah nafas sudah bisa bekerja seperti biasa, membuat luka dalam hampir pulih. Simpul pada punggungnya-pun tidak menunjukan gejala-gejala aneh, tenaga liar yang diikatkan di sana, sudah sirna. Kecuali tangan kirinya yang patah—dan butuh pengobatan lebih lanjut, pemuda ini tidak merasakan ada cedera lain. Racun dalam tubuhnyapun tetap stabil.

Pertarungan terakhir nan unik membuat Jaka termenung, bukan karena dia menyesali kekalahannya, bukan pula karena dia girang dengan hasilnya—karena dapat ‘menyegel’ tokoh yang dapat menjadi biang onar. Pemuda ini berpikir keras atas satu nama yang menjadi referensi penghuni pondok bambu; delapan sahabat empat penjuru. Kedengarannya mereka tokoh-tokoh baik, tapi kenapa harus selalu memberi ‘makan’ tokoh yang bisa menghisap tenaga lawan ini? Mengapa mereka ‘memelihara’ tokoh yang demikian unik dan mengerikan, apa maksudnya?

Perlahan Jaka berdiri, meregangkan badannya lalu berjalan perlahan meninggalkan pesisir pantai. Kejap kemudian, tubuhnya melesat pesat kian menjauh. Melewati daerah-daerah sunyi penduduk, melakukan pergerakan cepat yang nyaris tidak pernah dilakukan sebelumnya. Entah kenapa Jaka memiliki perasaan tidak enak. Dia harus segera sampai di tempat dimana mereka berkumpul.

===o0o===

Dari kejauhan bangunan itu sudah terlihat, Jaka tersenyum. ‘Pulang’ menjadi kata yang nyaris tidak pernah terpikir olehnya, tapi bangunan itu mengingatkan Jaka tentang pulang. Karena disana ada teman yang menunggunya. Terkadang dia ingin lepas dari libatan semua orang. Menjauhi teman-teman yang terkadang menyebalkan, membuat pusing kepala, tapi pikiran seperti itu hanya timbul sesaat… nyatanya baru berpisah beberapa saat saja sudah membuahkan rasa rindu.

Rumah batu itu tetap berdiri seperti biasa, kokoh, menyendiri. Dari kejauhan Jaka merasakan ada keanehan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan! Tanpa pikir panjang, Jaka segera mendobrak masuk. Pemuda ini terpana melihat kondisi didalam rumah itu. Seluruh isi rumah batu sudah tidak ada yang utuh, hancur total. Kemanapun mata menyapu, tak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan utama. Jaka merasa serluruh tubuh menjadi lemas. Memastikan sekali lagi, tiap ruangan segera diperiksa. Sama saja, tidak ada yang utuh!

Ekabhaksa… dimana lelaki gemuk itu? Jaka segera menuju ruangan bawah tanah, kondisinya juga sama. Siapapun yang datang kemari, sepertinya sudah paham dengan kondisi di dalamnya. Tapi tak ada satupun orang! Tidak Wuru Yatalalana, tidak Phalapeksa, tidak pula Ekabhaksa! Kekawatiran yang teramat sangat atas keselamatan Ekabhaksa membuat pertimbangan Jaka nyaris tidak logis. Tangannya terkepal kencang, semburat hawa sakti yang tanpa disadari Jaka telah memiliki lonjakan kepadatan tenaga, sudah mengikis tembok batu ruang itu. Kemarahan yang tidak pernah terlontar, membuat dia ingin sekali menghancurkan seluruh bangunan. Tapi ingatan akan sesosok kakek tua yang berwajah damai membuat hatinya dingin. Sabar…

Lelah lahir dan batin, kondisi semacam ini sudah sering dilaluinya. Tapi saat itu hanya menyangkut keselamatan diri sendiri, dia tak pernah menghiraukan. Tapi sekarang? Sudah banyak orang yang terlibat dengannya, keselamatan mereka menjadi tanggung jawab Jaka. Pemuda ini percaya, meski selalu ada kemungkinan untuk mengalahkan Ekabhaksa, tapi rasanya sangat sulit bagi orang lain untuk membuat salah satu tokoh dari Tujuh Satwa Satu Baginda menemui ajal—atau mengalami kekalahan. Jika dia mati, dimana mayatnya? Apa yang diincar oleh pengacau itu?

Jaka menuju kamarnya, aneh… hanya kamar itu yang tak tersentuh kerusakan, bahkan posisi kursi yang agak menyimpang—saat dia terburu-buru bangkit untuk mengetahui kabar Ratnatraya, juga belum berubah. Ini aneh! Apakah para perusak begitu terburu-buru hingga ruangannya yang kebetulan ada pada ujung ruang bawah tanah, tidak diperhatikan? Jaka bergegas memeriksa tempat penyimpanan barang-barang pribadinya. Dilihatnya satu persatu… tidak ada yang kurang. Untuk sesaat, Jaka kehilangan paham.

Jaka menghela nafas perlahan, matanya dikatupkan sejenak. Dia sadar apa yang barusan dilakukan, sangat ceroboh. Kurang hati-hati. Ini menjadi koreksi untuk dirinya… betapa melihat kelemahan orang lain itu jauh lebih mudah, dibanding melihat kelemahan sendiri. Diendapkan segala kekisruhan hati.

Hening… hingga akhirnya rasa sunyi memasuki relung hati

Tenang… membuat dirinya tenteram kembali lebih cermat.

Sabar… ikhlas, memastikan akal dan fikir menyadari hingga kedasar pengertian bahwa; semua yang bernyawa memang akan ajal.

Demikian Jaka menghempaskan segala keruwetan demi keruwetan dalam keheningan, segala ikhtiar tentu harus dilakukan, sebelum akhirnya dia memasrahkan diri.

Bagaimana mungkin sebuah perusakan yang demikian kacau, tidak menimbulkan jejak? Jaka kembali keluar. Mengamati kondisi sekeliling, dia ingat Penikam pernah menggali beberapa lubang, sedianya itu untuk menjebak babi liar yang sering berkeliaran di sekitar rumah, tapi karena tidak satu pun babi hutan bisa ditangkap, akhirnya Penikam membuat lubang yang sudah digalinya sebagai perangkap—untuk manusia.

Mata Jaka berbinar, meski bagian belakang rumah, tidak memperlihatkan perangkap-perangkap itu tak memperlihatkan hasil, tapi ada beberapa jejak yang tercetak pada beberapa titik—diatas perangkap. Jelas, si pengacau ini sangat terkejut menyadari tanah yang diinjak tiba-tiba melesak. Jejak-jejak itu hanya mencetak motif selapis tipis alas kaki yang digunakan pelaku. Alas kaki yang digunakan terlihat penuh dengan motif tak beraturan, seolah-olah hanya sebuah ukiran ngawur. Tapi saat Jaka menegaskan pandangan, dia mendapatkan ada beberapa ciri khas Jaka menggambarnya pada secarik sobekan kain.

===o0o===

Tidak menunggu lama, Jaka membuat satu tanda berkumpul bagi Penikam. Memiliki rekan seperti Penikam memang satu keberkahan luar biasa bagi dirinya. Orang yang sangat berpengalaman itu memiliki jalur-jalur tak terbayangkan dan pustaka informasi yang bisa jadi sangat dibutuhkan oleh perkumpulan manapun.

Tapi… setelah dua hari, Penikam-pun tak muncul juga. Jaka benar-benar cemas. Kecemasan atas nasib kawan-kawannya makin memuncak, saat rumah batu kedatangan seorang tamu. Saat itu Jaka tengah mengheningkan diri untuk mengurai segala keruwetan tenaga yang terkadang masih muncul dalam tubuhnya. Pada kondisi seperti itu, bagi orang lain merupakan satu kemutlakan tak boleh melakukan aktifitas lain, bahkan memencarkan perhatian-pun tak boleh. Tapi cara dan sistem meditasi yang dibangun oleh Jaka, benar-benar berbeda, jika dimungkinkan, dia bahkan dapat bertarung dalam kondisi bermeditasi. Dimana pada kondisi tersebut tenaganya sedang diurai tuntas.

Pendengaran Jaka memiliki sensifitas cukup baik, tapi dia baru merasakan kehadiran orang lain saat aura tenaga sang tamu menyentuh pintu masuk. Seolah orang itu ingin menyatakan jika dia tak ingin diketahui kehadirannya, pasti dapat setiap saat dilakukan. Cukup terkesip Jaka menyadari ada orang yang lolos dari perhatiannya hingga sebegitu dekat. Tangannya melambai, membuat pintu tersedot dan membuka sendiri.

Begitu pintu terbuka, satu sosok segera masuk. Tatapannya tertuju pada sudut ruangan yang berantakan—dimana Jaka duduk. “Jadi ini Keluarga Keenam?!” dia bertanya dengan nada dingin.

Debar di dada Jaka menyentak tak teratur dalam sesaat, dia bisa merasakan tamu tak diundang ini memiliki himpunan hawa sakti yang luar biasa. Masih dalam kondisi bermeditasi—duduk bersila, Jaka menjawab. “Kau benar.”

“Sepertinya baru kedatangan tamu? Atau Kecurian?” Tanya sang tamu menyindir.

Jaka tersenyum. “Yang mana pun benar. Ya tamu… ya pencuri, tidak ada bedanya.”

“Oh…” ujarnya merasa di luar dugaan mendengar jawaban Jaka. Sangat sarkastik, secara langsung menuduh dirinya sebagai tamu juga sebagai pencuri.

“Hm… kelihatannya kau cukup keras hati. Baiklah, aku tidak akan bertele-tele. Kau butuh orang, aku pun demikian,” katanya singkat.

Jaka menghela nafas perlahan-lahan hingga memunculkan uap keputihan dari mulut dan hidungnya. “Orang seperti apa yang kau inginkan, dan orang seperti apa yang kuinginkan?”

Jawaban Jaka yang sangat berbelit-belit juga terkesan tidak mau bernegosiasi membuat orang ini naik darah. “Kau tidak memperdulikan nyawa kawan-kawanmu?”

“Perduli,” Sahut Jaka singkat, dengan uap makin banyak keluar dari ubun-ubun.

Kondisi Jaka yang seperti itu membuat sang tamu tertegun, sungguh tak disangka ada orang yang sanggup melakukan penguraian tenaga hingga tubuh sendiri dalam kondisi kosong, dengan cara sesantai ini.

“Tapi jawabanmu menyatakan sebaliknya!”

“Dari mana aku tahu kau bukan pihak yang mengail di air keruh? Mudah sekali mengarahkan opini pada orang yang sedang tertimpa musibah. Siapa yang melakukan ini, dan siapa yang meminta, bisa berbeda golongan. Kau tentu tahu maksudku.”

“Hh! Sudah kuduga hal murahan seperti ini, akau kau kemukakan!”

Jaka tertawa panjang, membuat uap yang sempat menyelubungi wajahnya membuyar sesaat. “Benar ini memang murahan, tapi efektif membuatmu menyatakan diri sebagai penanggung jawab,” katanya tandas, tegas. Meski Jaka sangat mencemaskan nasib penghuni rumah ini, tapi itu tak mungkin dia perlihatkan.

“Kau tentunya mengenal ini!” sebuah bungkusan dilempar ke hadapan Jaka.

Pemuda ini menggerakkan tangan kirinya—yang sebelum ini patah, dengan mengepalkan berulang kali. Bunyi berkerotokan nyaring sarat tenaga—seolah menyiratkan betapa pulihnya tangan tersebut. Setelah membuka bungkusan, Jaka terkesip. Tapi di luarnya dia tertawa.

“Aku mengenal ini, tapi tak membuktikan apa pun. Sama saja kau memungut sampah dari sekitar sini lalu memberikan padaku dengan menyatakan ini barang-barangku… sungguh lucu!”

“Kau benar-benar tidak inginkan keselamatan kawan-kawanmu?” Tanya sang tamu dengan geram melihat reaksi Jaka.

“Oh itu tidak benar, aku sangat perduli. Cuma kau harus berusaha lebih keras untuk meyakinkan diriku!”

“Apakah aku harus memotong salah satu tangan kawanmu?” tukas orang ini makin ketus.

Jaka makin gelisah, tapi dia tetap tertawa. “Itu juga bisa, tapi tak menutup kemungkinan kau mencari orang di jalan untuk sekedar kau potong tangannya. Ini menggelikan.”

“Apakah aku harus memotong kepalanya?!” geramnya lagi

“Kalau kopotong kepalanya, untuk apa semua pembicaraan ini? Kau cukup letakkan kepala orang yang kau sangka sebagai teman-temanku di sini, supaya aku menyakinkan itu benar adanya… lalu menangisinya, dan selanjutnya kita bertarung. Itu lebih mudah, dari pada bicara tak jelas seperti ini.”

“Setan alas! Kau benar-benar sialan!”

Jaka tertawa lagi. “Sudah banyak yang mengatakan begitu. Keluarga Keenam tidak ada yang takut mati, mungkin saja salah satu anggota kami ada padamu, tapi itu tak membuat diriku harus merasa sungkan denganmu.”

“Jadi, aku tak bisa mengancammu dengan sandera?”

“Oh, jadi kau punya sandera? Aku baru tahu…”

“Kau… kau memang…!” rasa percaya dirinya menguap sudah. Dari perbincangan barusan, sudah membalikkan perhitungan yang ada. Dia pikir, posisinya sudah di atas angin, sehingga bisa meminta macam-macam. Tapi tapi ternyata, orang yang dihadapinya benar-benar membuat perut kaku.

Jaka mengamati dengan seksama, sejauh ini dia pun memiliki pertimbangan sendiri, pemuda ini sudah cukup membuat lawan menjadi dongkol, dan sejauh ini dia masih berminat untuk meneruskannya—meski khawatir jika Ekabaksha sekalian menjadi korban.

Keheningan di antara mereka membuat pikiran Jaka lebih terbuka, ketenangan yang biasa menjadi bagian dirinya perlahan kembali. Setiap sudut ruangan yang diselidikinya perlahan terpampang di benak. Menyusun sendiri fakta-fakta yang pada akhirnya menjadi pertimbangan tindakan lanjutan. Senyum Jaka makin lebar.

“Aku sungguh bodoh…” katanya tergelak. Rupanya dampak psikis akibat pertarungan sebelumnya, ternyata membuat nalar juga ikut terguncang.

Sang lawan melihat Jaka dengan tatapan terheran.

“Kau memang bodoh! Tidak menyadari situasi ini!” timpalnya dengan perasaan bingung.

Jaka masih tertawa. Tapi perlahan-lahan uap yang menyelimuti wajahnya menipis, bersamaan dengan itu sang lawan bisa merasakan hentakan energi padat mulai merembes dari sela-sela tubuh Jaka. Tenaga itu menjalin berpilin dengan tekanan merata pada tiap inci tubuh sang lawan. Dia merasa terancam, tapi tindakan Jaka selanjutnya membuat dia makin tidak paham. Pemuda ini membalikkan badan, mengacuhkan lawan begitu saja mengambil teko di sudut ruangan lalu menuangkan isinya.

“Mari minum dulu, tak perlu tegang begitu. Kau tadi mengatakan ingin mencari orang. Aku bisa bantu, meskipun kawan-kawanku tidak ada padamu,” ujar Jaka sambil menyesap minuman.

“Kau mengatakan seolah mengetahui kejadian sebenarnya. Orangmu…”

“Orangku tidak ada padamu!” potong Jaka dengan percaya diri.

“Harus dengan apa aku menyatakan kesungguhan kabar ini?!” teriak orang ini dengan kemarahan meledak-ledak, Jaka bisa merasakan ketajaman hawa sakti sang lawan menyambar dirinya. Dengan tenang Jaka melemparkan cawan berisi air. Cawan itu melayang berputar perlahan seperti dipegang oleh orang yang kasat mata.

“Kubilang, minum dulu. Tenangkan pikiranmu!” tandas Jaka membuat orang tu terperanjat. Bukan karena kalimat getas sang lawan, tapi karena cawan yang berpilin itu menerobos wilayah pertahanan hawa saktinya dengan begitu mudah.

Mau tak mau tangannya terjulur menerima cawan itu dengan pengerahan tenaga. Kreeek! Cawan itu hancur, mencecerkan air yang tiap titiknya tak jatuh ke bawah, melainkan terburai mengambang dan menguap. Lelaki itu mengerutkan kening, dia merasa tertipu. Dikiranya cawan itu masih sarat dengan tenaga, tapi nyatanya saat terpegang, tenaga yang mendorong cawan itu lenyap sama sekali. Ini memaksanya berpikir ulang, untuk menekan Jaka dengan kekerasan. Sebab dia sangat paham dengan jenis hawa saktinya, setiap tenaga lawan dapat dinetralkan begitu membenturnya, tapi orang itu bisa menyusupkan cawan ke dalam lingkaran hawa saktinya, dan dengan perhitungan menakjubkan bisa menetralkan tenaga yang menyelubungi cawan, membuatnya terkecoh harus menghancurkan cawan dengan tanaga sakti. Untuk kalangan tertentu, melihat pola tenaga lawan bisa dikatakan sebagai keuntungan di muka. Meski dia menyangsikan ada orang yang bisa melawan himpunan hawa saktinya. Tapi melihat apa yang sudah dilakukan Jaka, kemungkinan besar, orang itu termasuk dalam kalangan tertentu yang sedikit itu.

Jaka tersenyum tipis. Harus diakui, dalam kondisi tertentu tenaga sang lawan ini membuat dirinya di lain hari mungkin akan berpikir ulang untuk langsung membenturnya—Jaka lebih suka menghadapi dengan akal, tapi pertempuran terakhir membuat Jaka memiliki pegangan untuk menghadapi lawan semacam apa pun. Kesadaran yang terbentuk akibat pertarungan dengan penghuni pondok bambu, membuat Jaka memiliki kazanah pengertian jenis hawa sakti yang baru, dan saat ini dia rasakan manfaatnya. Mungkin, karena penghuni pondok bambu sudah menyerap puluhan jenis tenaga murni, dengan sendirinya membuat pemuda ini dipaksa untuk memahami tenaga sang lawan. Dan hasil pertarungan hari itu, membuat pandangan Jaka menjadi lebih terbuka terhadap ilmu-ilmu lawan.

Orang itu duduk dengan perasaan campur aduk, di hadapan Jaka.

Pemuda ini masih tersenyum simpul. “Jadi menururtmu apakah Keluarga Keenam itu mudah dibuat mainan?” sebuah pertanyaan yang menohok.

“Hmk!” dengus orang itu tak sanggup menjawab.

“Aku hanya salah satu dari orang-orang yang dipimpin oleh beliau. Kuharap kenyaatan ini bisa menjadi pertimbanganmu saat ingin menghubungkan dengan Keluarga Keenam,” kata Jaka dengan datar, melemparkan fakta palsu.

Suasana kaku dan hening membuat sang tamu menjadi tak kerasan. “Kau tahu orang macam apa yang kucari?” akhirnya dia memecah keheningan.

“Tidak. Dan apakah kau tahu, orang macam apa yang menjadi kawan-kawanku?” Tanya Jaka.

“Maksudmu?”

“Apakah kau melihat, apakah kau berbincang langsung, dengan penghuni rumah ini?” Tanya Jaka lagi.

“Untuk apa? Tidak ada perlunya aku turun tangan langsung!”

Jaka tertawa. “Itulah yang kumaksud!”

Sang tamu termangu, pantas saja si tuan rumah berkeras orang-orangnya tidak ada pada dirinya.

“Tapi kan sama saja?”

“Bagaimana jika orang yang kau anggap sebagai anak buah, ternyata anak buah orang lain?”

“Omong kosong!” sentaknya.

“Bagaimana ciri anak buahmu?” Tanya Jaka dengan runtut.

“Kau pikir aku gila, mau menyatakan padamu? Dan kau akan melacak mereka?” dengusnya sinis.

“Bukan. Maksudku begini, bagaimana ciri kemampuan anak buahmu? Apakah kemampuannya tak jauh beda dengan dirimu? Maksudku… cara yang kalian lakukan sama?”

Pertanyaan Jaka membuat sang tamu mengerinyitkan dahinya. Dia bukan orang bodoh. Dan pertanyaan itu membuatnya terkesip. Pantas saja Jaka membuat dirinya ‘dipaksa’ menghancurkan cawan. Rupanya ciri serangannya sedang diteliti oleh si tuan rumah. Dengan pandangan berkeliling dia memeriksa kekacauan yang terjadi di seluruh ruangan.

Setiap benda yang porak-poranda dan hancur berantakan, masih menyisakan sisa pecahan-pecahan yang berhamburan kesana kemari, jika itu disusun lengkap, pecahan itu tidak ada yang hilang. Tapi jika dirinya atau anak buahnya yang melakukan kekacauan, pastilah tidak tersisa lagi serpihan kecil. Sebab tenaga sakti mereka bisa meleburkan benda yang tersambar olehnya.

“Kini kau mengerti, kenapa kukatakan orangku tidak ada padamu?”

Sang tamu tidak menjawab.

“Aku tidak sedang mengatakan bahwa dirimu sedang dipermainkan orang, atau anak buahmu ternyata berkhianat,” kata Jaka memojokkan sang tamu. “Yang ingin kusampaikan, ada orang yang sudah menahan orangmu sebagai jaminan, dan dia melemparkan dirimu kepada Keluarga Keenam.”

Sang tamu menatap Jaka dengan pandangan terperangah.

“Untung saja Keluarga Keenam adalah orang-orang bijaksana. Kami memang pembunuh, tapi kami membunuh orang-orang yang layak untuk dilenyapkan. Orang-orang yang tidak diperlukan di bumi ini lagi,” tutur Jaka membuat lidah sang tamu makin terkunci.

“Aku justru mencemaskan anak buahmu. Kemungkinan besar, orang yang mengarahkan dirimu datang ke sini—jika dia anak buahmu, pastilah hanya wajahnya saja yang mirip. Jika dia bukan anak buahmu, pastilah kau sedang dijebak dalam intrik yang mereka bangun,” tutur Jaka sambil menyesap air lagi, kali ini dia menyediakan cawan yang baru dan menuangkannya pada sang tamu. “Kami, Keluarga Keenam di wilayah ini sedang meluruskan rencana keji yang sedang digagas orang lain. Jelas pihak ini merasa terganggu dengan tindakan kami, maka… kau yang tidak ada sangkup pautnya pun dihadirkan untuk menghambat pekerjaan kami. Kurasa saat ini, kaupun bisa mengambil kesimpulan jika orang yang sedang kau cari juga ditahan mereka…”

“Tapi siapa mereka?” akhirnya sang tamu bertanya dengan suara serak.

“Dari mana kau tahu tempat ini?” Jaka tak menjawab, tapi balas menyelidik.

“Dari anak buahku.”

“Kau perhatikan orangnya? Atau kau mendapatkan surat?”

“Sebuah surat.” Jawabnya pendek.

“Hm… pastinya surat ini dibubuhi lambang kelompokmu, yang membuatmu percaya,” gumam Jaka. “Aku bisa menyimpulkan yang menggagas masalah ini datang dari siapa…”

Sang tamu cukup tahu diri untuk tidak bertanya ‘siapa dia’—meskipun perasaan ‘tahu diri’ itu lebih bersifat kawatir begitu melihat kemampuan si tuan rumah.

“… aku bisa membantumu, tapi ini bukan bantuan yang cuma-Cuma,” tukas Jaka di akhir kalimat.

“Kau minta apa?” sambarnya buru-buru.

Jaka tersenyum simpul, melihat begitu sembrononya si tamu dan begitu khawatirnya dia, Jaka bisa menyimpulkan orang yang dicari, kalau bukan anak ya istrinya.

“Belum bisa kukatakan sekarang, tapi ada baiknya kau jelaskan ciri-ciri orang yang ingin kau cari, disini…” dari bawah puing-puing meja, Jaka mengambil kain bahkan sedang mencari-cari arang tulis.

“Tak perlu repot-repot. Kau tinggal baca saja,” ujar sang tamu sambil menyerahkan lembaran rontal, tensi sang tamu kini sudah tidak meledak-ledak lagi.

Jaka meneliti lukisan wajah itu dan membaca apa yang ada didalamnya, benarlah dugaan dia, yang dicari ternyata anaknya! Di akhir keterangan ada tulisan. Goresan membuat tanda semacam obor, dengan jumlah garis… tujuh.

“Garis Tujuh Api?” Tanya Jaka.

“Kau tahu ternyata….” Ujarnya dengan terheran-heran.

Jaka tersenyum. “Aku cukup memahami kelompok Garis Tujuh Lintasan. Anggap saja karena kita masih berhubungan jauh, aku akan membantumu cuma-cuma.”

Atas pernyatan Jaka, sang tamu tampak terperangah. “Kita masih berhubungan?”

“Aku pribadi, bukan dari Keluarga Keenam,” jelas Jaka. “Jika suasana memungkinkan, kita akan berbincang dalam situasi yang memungkinkan. Sekarang izinkan aku untuk memulai penyelidikan menghilangnya kawan-kawanku.”

Sang tamu cukup tahu diri, meskipun kedatangannya mengunjungi Keluarga Keenam tidak menghasilkan apa-apa, setidaknya dia tahu… orang yang akan dilabraknya ternyata masih kerabat—entah kerabat dari jalur mana. “Baiklah, semoga kita akan berjumpa lagi, aku minta maaf atas kesalahpahaman ini.”

Jaka mengangguk, mereka berpisah dengan jabat tangan erat.

Pintu sudah tertutup, Jaka tak perlu memeriksa lagi, itu hanya alasan, saat ini dia hanya butuh isitirahat. Karena setelah bugar dan membereskan semua kekacauan di rumah ini, dia akan menuju Kota Pagaruyung, mengunjungi Delapan Sahabat Empat Penjuru!

3 Comments (+add yours?)

  1. lukito
    Feb 05, 2014 @ 16:10:03

    Bos, lanjutan seruling sakti 126 kapan munculnya

    Reply

  2. abas
    Feb 14, 2014 @ 08:39:44

    Lanjutannya dong kang didit…

    Reply

  3. Ruf
    Jul 22, 2014 @ 21:25:03

    lanjut donk bang didit, penasaran neh

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: