Terusan ADBM Jilid 404

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-404/)

 

Jilid 404

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Ki Rangga Agung Sedayu memutuskan untuk berterus terang, “Pandan Wangi, orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu telah menghimpun perguruan-perguruan yang sehaluan dengannya untuk menghancurkan Mataram di tepian Kali Praga sebelah barat dengan menduduki beberapa padukuhan kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.”

Seketika wajah Pandan Wangi menjadi merah padam begitu mendengar penjelasan Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan lantang dia berteriak, “Kakang, apa maksud semua ini? Mengapa aku tidak diberitahu kalau Menoreh sedang dalam bahaya, sementara ayah Argapati sedang sakit? Malam ini juga aku akan ke Menoreh untuk bahu-membahu dengan seluruh rakyat untuk mengusir orang-orang yang telah menduduki beberapa padukuhan di tepi barat kali Praga.”

“Sabarlah Pandan Wangi,” berkata Ki Widura sareh, “Semua harus dihitung dengan cermat. Apabila kita salah dalam melangkah, akan jatuh korban sia-sia.”

“Paman Widura benar,” sahut Ki Rangga, “Besuk pagi aku akan berangkat menghadap Ki Patih Mandaraka untuk menerima perintahnya. Aku yakin sasaran orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu adalah Mataram bukan Menoreh. Menoreh hanya sebagai pancadan saja. Namun demikian kita tidak akan membiarkan bumi Menoreh diinjak-injak oleh orang-orang yang tidak berhak.”

Dada Pandan Wangi masih bergemuruh. Dia benar-benar mencemaskan nasib rakyat Menoreh, apalagi ayahnya, Ki Gede Menoreh selaku pemimpin tertinggi Tanah Perdikan itu sedang sakit dan Prastawa telah berangkat ke Panaraga memimpin sepasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang diperbantukan ke Mataram.

“Di Menoreh masih ada Ki Jayaraga dan seorang yang bernama Kiai Sabda Dadi,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Aku telah mendengar berita itu sebelumnya dari prajurit sandi. Aku kira keduanya telah mengambil langkah-langkah pengamanan yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyat Menoreh.”

Kata-kata Ki Rangga Agung Sedayu itu bagaikan titik-titik embun di teriknya sinar Matahari. Untuk sejenak gejolak hati Pandan Wangi agak mereda. Namun tiba-tiba dia bertanya dengan nada penuh kekhawatiran, “Kakang, bagaimana dengan Sekar Mirah? Bukankah dia sedang dalam keadaan mengandung tua?”

Ki Rangga Agung Sedayu dan Ki Widura sejenak saling berpandangan. Namun akhirnya Ki Rangga lah yang menjawab, “Atas ijin Yang Maha Agung dan atas karuniaNya yang tiada taranya, insya Allah Sekar Mirah telah melahirkan dengan selamat.”

“He?” Pandan Wangi terkejut, “Dari mana Kakang mendapat berita ini?”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah Pamannya, namun kelihatannya Ki Widura menyerahkan jawaban itu sepenuhnya kepada dirinya.

“Wangi,” akhirnya Ki Rangga menemukan jawaban atas pertanyaan Pandan Wangi itu, “Ada yang telah memberitahukan kepadaku atas kelahiran anakku dengan selamat, demikian pula aku berharap Sekar Mirah tak kurang suatu apa,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Nah, yang lebih penting dari itu adalah bagaimana langkah-langkah kita selanjutnya menghadapi situasi yang cukup gawat ini.”

Pandan Wangi terdiam sejenak. Setelah beberapa saat kemudian dia baru berkata, “Kakang, aku akan ikut Kakang Sedayu besuk ke Mataram. Aku titipkan Kakang Swandaru kepada Paman Widura. Sebelumnya aku mohon ma’af telah merepotkan penghuni Padepokan ini, tapi aku tidak melihat jalan lain selain aku harus kembali ke Menoreh.”

Hampir bersamaan Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Mereka menyadari suasana hati Pandan Wangi pada saat itu, dan memang Pandan Wangi telah memilih pada pilihan yang sulit antara suaminya dan Ayahnya serta rakyat Menoreh.

“Baiklah Pandan Wangi,” akhirnya Ki Widura memberikan tanggapannya, “Bagaimanapun juga engkau jangan meninggalkan suamimu begitu saja, engkau harus meminta ijin terlebih dahulu kepadanya.”

Sambil menundukkan wajahnya Pandan Wangi hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun Ki Widura dan Ki Rangga Agung Sedayu melihat perubahan yang terjadi pada wajah putri Kepala Perdikan Menoreh itu walaupun hanya sekilas.

“Kelihatannya Pandan Wangi tidak membutuhkan ijin itu,” berkata Ki Rangga dalam hati.

Sejenak suasana menjadi sunyi. Angin malam yang bertiup perlahan menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitar halaman Padepokan. Bunga arum ndalu yang ditanam di sebelah kanan pendapa mengeluarkan bau yang semerbak mewangi, sementara suara binatang-binatang malam terdengar bersahut-sahutan dengan irama yang ajeg. Sesekali terdengar suara burung kedasih yang ngelangut di kejauhan.

Ketika kemudian dari gardu perondan di padukuhan sebelah yang terletak di ujung jalan yang menuju padepokan itu memperdengarkan suara kentong dengan nada dara muluk, ketiga orang itu pun segera menyadari bahwa waktu telah menjelang tengah malam.

“Marilah kita beristirahat,” berkata Ki Widura kemudian, “Kita masih memerlukan tenaga yang segar untuk besuk pagi, terutama angger berdua yang akan melaksanakan perjalanan jauh.”

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi mengangguk.

Demikianlah akhirnya ketiga orang itu kemudian telah menuju ke bilik mereka masing-masing untuk beristirahat.

Dalam pada itu di gunung Kendalisada, Resi Mayangkara tampak berdiri tegak bagaikan patung batu di tengah malam yang pekat di depan pondoknya. Sedangkan Anjani yang telah selesai melaksanakan mandi keramas dengan landa merang dan sesuci kemudian memakai sinjang pethak. Kain putih yang hanya selembar itu dibalutkan ke tubuhnya sebatas dada sampai lutut. Rambutnya yang panjang dan masih basah dibiarkan saja jatuh terurai menutupi punggungnya yang putih bersih bagaikan pualam.

“Sudah waktunya, Anjani,” tiba-tiba Resi Mayangkara yang berdiri tegak di tengah-tengah halaman itu menyapa Anjani begitu perempuan cantik itu keluar dari pondoknya, “Marilah aku antar engkau menuju goa pertapaan. Ingat, engkau akan berjalan dalam kegelapan goa dan tidak diperkenankan membawa penerangan apapun karena laku tapa kungkum ini juga sekaligus pati geni.”

“Aku mengerti Eyang,” jawab Anjani sambil berjalan mendekat. Langkahnya agak tersendat sendat karena kain putih yang membalut tubuhnya itu begitu ketat.

Dengan langkah satu-satu keduanya pun kemudian menuju ke belakang pondok yang selama ini ditempati oleh Resi Mayangkara. Tepat di belakang pondok itu terdapat sebuah goa yang tidak seberapa besar. Anjani harus membungkuk untuk memasuki goa itu.

“Jaga dirimu jangan sampai tertidur selama melaksanakan tapa kungkum,” pesan Resi Mayangkara begitu Anjani mulai memasuki goa, “Sendang di dalam goa itu tidak terlalu dalam. Ada sebuah batu besar di dasarnya yang dapat engkau jadikan sebagai tempat duduk.”

Anjani yang mulai menelusuri dinding goa yang gelap dan licin itu tidak menyahut. Dengan meraba raba dinding goa, Anjani melangkah satu-satu. Ternyata hanya mulut goa itu yang sempit, setelah masuk ke dalamnya Anjani dapat berjalan dengan berdiri tegak, tidak harus terbungkuk-bungkuk.

Semakin masuk ke dalam, Anjani merasakan hawa yang aneh menyelimuti sekujur tubuhnya. Rasa rasanya sekujur tubuhnya telah dicengkeram oleh sesuatu yang tidak tampak sehingga hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang sumsum itu telah membuat Anjani menggigil. Ketika kemudian lamat-lamat Anjani mendengar suara gemericik air, dia mulai berpengharapan untuk segera menemukan sendang itu.

Ketika jalanan mulai menurun dan berkelok ke kiri, suara gemericik air itu semakin keras. Dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, Anjani mencoba meraba apa yang ada di depannya dan ternyata Anjani telah menyentuh air.

“Inilah sendang itu,” berkata Anjani dalam hati. Dengan sangat hati-hati Anjani melangkah lagi satu langkah. Ketika kakinya sudah terasa menyentuh bibir sendang kecil yang terdapat di dalam goa itu, Anjani pun dengan mantap telah melangkahkan kaki yang satunya turun ke dalam sendang.

Segera saja air yang sedingin banyu sewindu menyergap kulit kakinya. Namun Anjani tidak mempedulikan semua itu. Setelah dia benar-benar berada dalam sendang yang ternyata hanya sedalam pinggang orang dewasa itu, Anjani pun telah melepas satu satunya selembar kain putih yang membalut tubuhnya dan kemudian dilemparkannya selembar kain yang telah basah itu ke samping sendang.

Dengan tubuh yang polos Anjani mencoba meraba raba dasar sendang dengan kakinya untuk mencari batu besar yang terdapat di dasar sendang. Setelah agak jauh ke tengah sendang, barulah kakinya terantuk pada batu yang dimaksud oleh Resi Mayangkara itu. Dengan perlahan Anjani pun kemudian naik ke atas batu dan duduk bersila di atasnya untuk memulai laku tapa kungkum dan sekaligus pati geni.

Setelah sejenak memusatkan nalar dan budinya disertai dengan doa permohonan agar laku yang dijalaninya itu mendapat anugerah dari Yang Maha Agung, Anjani pun memulai laku yang sangat berat itu.

Sejenak suasana yang hening di dalam goa itu sangat membantu Anjani dalam memusatkan nalar dan budinya. Air sendang yang beriak perlahan sebatas lehernya terasa bagaikan membelai-belai lehernya yang jenjang itu. Ketika kemudian Anjani mencoba semakin menukik ke dalam keheningan, tiba-tiba jantungnya berdesir tajam ketika terasa sesuatu menyentuh punggungnya.

Anjani mencoba mengabaikan perasaan itu. Dengan segenap kemampuannya dicobanya untuk kembali memusatkan nalar dan budinya, namun alangkah terkejutnya ketika kini justru bagian dadanya yang tersentuh oleh sesuatu itu.

Hampir saja Anjani berteriak dan meloncat keluar dari sendang, namun niat itu ditahankannya dengan kuat. Dia menyadari semua itu pasti bagian dari cobaan laku yang sedang dijalaninya, dan Resi Mayangkara memang sengaja tidak menjelaskan cobaan apa saja yang akan dialaminya di dalam sendang itu.

“Mungkin sejenis ikan atau belut,” demikian Anjani berkata dalam hati untuk menenteramkan gejolak hatinya.

“Bagaimana kalau yang menyentuhku tadi seekor ular?” tiba-tiba pikiran itu menyelinap dalam benak Anjani.

“Ah, tidak mungkin,” pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Kalau memang di sendang ini ada ularnya, Resi Mayangkara pasti sudah tahu dan tidak akan menjerumuskan aku dalam bahaya seperti itu karena beliau tahu aku bukan seorang yang kebal racun.”

Mendapat pemikiran demikian itu Anjani menjadi sedikit lebih tenang. Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah benar-benar suatu kejadian yang hampir tak tertahankan oleh Anjani. Sentuhan-sentuhan itu semakin sering dan hampir di sekujur tubuhnya. Anjani benar-benar hampir pingsan karena menahan rasa geli yang tiada taranya dan akhirnya berubah menjadi sebuah ketakutan yang mencengkam jantungnya.

Dalam keadaan yang hampir tak tertahankan itu, tiba-tiba Anjani teringat akan sebuah ilmu yang telah diajarkan oleh Resi Mayangkara, aji seribu bunga.

“Akan aku coba mengetrapkan aji ini,” berkata Anjani dalam hati, “Kalau udara saja bisa dipengaruhi oleh aji ini dengan bau wangi yang sangat menyengat, mungkin air sendang ini akan berubah berbau sangat wangi sehingga memabokkan binatang-binatang yang ada di dalamnya.”

Mendapat pemikiran demikian, segera saja Anjani mengetrapkan aji yang telah dipelajarinya dari Resi yang aneh itu. Perlahan tapi pasti, tubuh Anjani telah menyebarkan bau semerbak mewangi seribu bunga. Semakin lama bau itu semakin tajam dan menyengat karena Anjani telah mengetrapkan aji itu sampai ke puncak.

Ternyata pengaruhnya sangat luar biasa. Air sendang di sekitar tubuh Anjani bagaikan berubah menjadi minyak kasturi, dan kini tidak terasa lagi sentuhan-sentuhan yang mengerikan itu. Anjani benar-benar terbebas dari perasaan ngeri yang mencengkam jantungnya.

Sejenak Anjani dapat bernafas lega. Kini dia menyadari mengapa Resi Mayangkara telah menurunkan ilmu seperti itu kepadanya, ternyata dalam menjalani laku yang sangat berat ini, ilmu itu sangat menolongnya.

Kini Anjani dapat kembali memusatkan nalar dan budinya untuk memohon kepada Yang Maha Agung agar mendapatkan amarahnya dalam menjalani laku yang sangat berat itu sampai tuntas.

Dalam pada itu Glagah Putih dan Rara Wulan yang masih tertahan di tepian Kali Praga sedang mencoba mencari jalan untuk menyeberang ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Rara,” berkata Glagah Putih dari atas tebing sambil mengamati tepian Kali Praga yang hanya kelihatan hitam pekat tersaput malam yang tanpa bulan, “Apakah kita perlu memakai jasa tukang satang untuk menyeberang?”

“Aku ragu Kakang,” jawab Rara Wulan, “Kalau mereka adalah bagian dari Panembahan Cahya Warastra, kita akan mendapat kesulitan.”

Sejenak Glagah Putih merenung. Kemudian katanya, “Bagaimana kalau kita menyeberang besuk pagi-pagi bersama para pedagang yang akan pergi ke Menoreh?”

Rara Wulan mengerutkan keningnya sambil memandang ke bawah, ke arah rakit-rakit itu biasanya di tambatkan, tapi yang tampak hanya kegelapan. Katanya kemudian, “Aku tidak yakin kalau besuk masih ada pedagang yang mau menyeberang ke Menoreh. Setidaknya berita yang terjadi di Menoreh ini pasti sudah sampai ke telinga mereka dan mereka tidak mau mengambil resiko, karena bisa saja justru dagangan mereka yang akan dirampas bahkan sekalian dengan nyawa mereka.”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Engkau benar Rara. Kalau kita menyeberang lewat penyeberangan yang biasanya ini, kita pasti dicurigai. Lebih baik kita mencari jalan lain.”

“Maksud Kakang?”

“Kalau perlu kita berenang untuk menyeberang.”

“Ah, engkau ini ada-ada saja Kakang. Rasa rasanya malas bersentuhan dengan air di malam yang dingin ini.”

“Percayalah Rara, itu hanya awalnya saja, setelah beberapa saat berenang, perasaan dingin itu akan hilang dengan sendirinya.”

“Silahkan saja kalau mau berenang. Aku mau tidur saja.”

Selesai berkata demikian, Rara Wulan kemudian merapikan rumput-rumput kering yang dikumpulkannya tadi sore untuk alas tidurnya. Sejenak kemudian Rara Wulan pun telah merebahkan tubuhnya beralaskan rumput-rumput kering di bawah sebatang pohon yang cukup besar yang tumbuh di atas tebing itu.

Glagah Putih sejenak masih mengamati bawah tebing yang gelap pekat, namun pandangan mata Glagah Putih yang tajam mampu menembus kegelapan itu sehingga dengan jelas dia melihat di mana rakit-rakit itu ditambatkan beserta tukang-tukang satang yang tidur meringkuk berselimutkan kain panjang di atas rakit mereka.

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam, dia benar-benar belum menemukan cara yang aman untuk menyeberangi kali Praga. Panembahan Cahya Warastra pasti telah menempatkan orang orangnya di sepanjang tepian Kali Praga sebelah barat. Dengan demikian mereka yang tidak sehaluan dengan Panembahan itu akan sangat sulit untuk menembus pagar betis itu. Ketika kemudian terdengar Rara Wulan terbatuk batuk kecil, Glagah Putih pun akhirnya meninggalkan tempat pengintaiannya dan mengayunkan langkahnya menuju ke tempat Rara Wulan berbaring.

Namun baru saja Glagah Putih akan merebahkan tubuhnya yang terasa penat di sebelah istrinya, tiba-tiba di antara suara jeritan binatang-binatang malam, terdengar lengkingan suara yang sudah sangat dikenal oleh Glagah Putih, suara rinding. Memang suara rinding dengan nada melengking tinggi itu hanya sekejab, kemudian menghilang ditingkah oleh suara binatang malam. Namun bagi Glagah Putih itu sudah cukup memberikan isyarat bahwa seseorang atau bahkan mungkin sekelompok orang yang pernah sangat dekat dengan sepasang suami istri itu sedang berada di sekitar tempat itu.

Rara Wulan yang tampaknya belum tidur telah mengangkat kepalanya. Katanya kemudian setengah berbisik, “Kakang? Benarkah pendengaranku ini? Aku mendengar suara rinding.”

Glagah Putih tidak menjawab. Dengan hati-hati dikeluarkannya sebuah rinding yang disimpan di saku bajunya bagian dalam. Kemudian tanpa ragu-ragu ditiupnya rinding itu dengan nada yang sama dengan yang baru saja terdengar, melengking tinggi namun hanya dalam waktu yang sangat pendek.

Sejenak mereka berdua masih menunggu. Glagah Putih segera duduk di sebelah Rara Wulan yang telah bangkit dari tempat berbaringnya dan duduk sambil memeluk lutut.

Malam semakin dalam. Sementara angin yang dingin terasa menggigit kulit, namun kedua orang yang duduk di bawah pohon di atas tebing itu masih tetap bertahan sambil menunggu yang mereka harapkan untuk muncul, dan ternyata harapan itu memang tidak sia-sia.

Pendengaran mereka yang tajam segera mendengar suara beberapa orang sedang mendaki tebing. Walaupun pendakian itu telah dilaksanakan dengan sangat hati-hati, namun Glagah Putih dan Rara Wulan mampu menangkapnya dengan jelas.

Glagah Putih dan Rara Wulan segera bangkit berdiri ketika beberapa bayangan yang masih samar tampak telah mencapai puncak tebing dan melangkah mendekati tempat di mana mereka berdua telah berdiri menunggu.

Ketika orang-orang yang mendaki tebing itu sudah semakin dekat, dengan setengah berlari sepasang suami istri itu pun segera menyongsong mereka. Hampir saja mereka tidak mampu mengendalikan diri dalam pertemuan yang tak terduga duga itu.

Jerit tangis berbaur dengan tawa gembira hampir saja meledak di tempat itu kalau saja seorang yang terlihat paling tua di antara mereka tidak segera memperingatkan mereka dengan berdesis perlahan, “Kendalikan diri kalian, kita sedang berada di daerah yang tidak aman.”

Rara Wulan yang sedang dikerubuti oleh empat orang perempuan itu hanya dapat meneteskan air mata bahagia tanpa sepatah kata pun yang mampu keluar dari bibirnya.

Seorang perempuan yang sudah cukup tua telah berbisik di telinganya, “Bagaimana keadaanmu selama ini, nduk? Bukankah engkau berdua selalu dalam lindungan Yang Maha Agung?”

Rara Wulan hanya berdesis pelan, seolah olah suaranya tertelan oleh isak tangisnya yang tertahan tahan, “Alhamdulillah, Ibu. Kami berdua sehat-sehat saja.”

Perempuan tua itu memang ibu angkat Rara Wulan yang lebih dikenal dengan nama Nyi Citra Jati, dan tentu saja ketiga perempuan muda yang ikut merangkul Rara Wulan adalah anak-anak Nyi Citra Jati yang lainnya yaitu Padmini, Baruni dan Setiti.

Sementara Glagah Putih segera menyalami Ki Citra Jati yang telah memperingatkan mereka tadi agar selalu waspada di daerah yang belum mereka kenal sebelumnya. Selanjutnya di belakang Ki Citra Jati adalah Mlaya Werdi yang berdiri termangu mangu.

“Selamat datang Ayah, Ibu, Kakang Mlaya Werdi dan adik-adik semua,” berkata Glagah Putih kemudian sambil mempersilahkan mereka mencari tempat duduk sendiri-sendiri. Sedangkan Rara Wulan masih saja berangkulan dengan adik-adik perempuannya seolah olah mereka tidak mau berpisah lagi.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, barulah Glagah Putih teringat pada seseorang, “Aku tidak melihat Adi Pamekas? Apakah dia memang sengaja tidak diajak ke Menoreh?”

Ki Citra Jati tersenyum, jawabnya kemudian, “Karena Mlaya Werdi ingin mengikuti kami ke Menoreh, maka Pamekas kami tinggal di Padepokan untuk mengawani Ki Wasesa agar Padepokan tidak kosong selama ditinggal Mlaya Werdi.”

Glagah Putih dan Rara Wulan hanya dapat mengangguk anggukkan kepala mereka.

Dalam pada itu, di bawah tebing di tepian sebelah barat Kali Praga tampak sebuah bayangan hitam yang berdiri tegak di balik sebuah pohon sedang mengamati keadaan di atas tebing sebelah timur kali Praga. Bayangan itu tampak mengamati dengan seksama kejadian yang sedang berlangsung di atas tebing. Walaupun jarak itu cukup jauh, namun orang itu kelihatannya telah mengetrapkan aji sapta pandulu dan sapta pangrungu untuk mengetahui keadaan sebenarnya yang sedang terjadi di atas tebing.

“Lebih dari lima orang,” berkata orang itu dalam hati, “Agaknya telah terjadi sebuah pertemuan rahasia di atas sana. Siapakah sebenarnya mereka itu?”

Dengan perlahan orang itu membungkuk untuk mengambil sebuah batu kerikil. Dengan tanpa menimbulkan suara, batu kerikil itu telah dilemparkannya dan jatuh mengenai salah seorang tukang satang yang sedang meringkuk di atas rakitnya berselimutkan kain panjang.

Sejenak tukang satang yang terkena lemparan batu kerikil itu menggeliat. Kemudian dengan perlahan dia duduk sambil menyingkapkan kain panjangnya. Dengan sangat hati-hati dilepaskannya tali pengikat rakit yang tertambat pada sebuah patok di tepi sungai. Setelah tali pengikat itu terlepas, kemudian dikayuhnya rakit itu meluncur menuju ke tepian sebelah barat.

Ketika rakit itu telah menepi di sisi barat tepian Kali Praga, dengan tanpa menimbulkan suara berisik orang yang sedang mengamati sisi tebing sebelah timur Kali Praga itu telah meloncat ke atas rakit sambil berdesis perlahan, “Marilah kita lihat, siapa yang berada di atas tebing itu?”

Tukang satang yang mulai mengayuh rakitnya itu mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Siapakah yang Ki Lurah maksud?”

“Kita akan segera tahu, siapakah mereka dan apa kepentingannya berada di atas tebing sebelah timur Kali Praga ini,” jawab orang yang dipanggil Ki Lurah itu sambil berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Sejenak kemudian rakit itu meluncur menembus kepekatan malam di atas arus air Kali Praga yang tidak begitu deras. Hanya dalam waktu sekejap rakit itu pun kemudian telah merapat di tepian Kali Praga sebelah timur.

“Bangunkan kawan kawanmu,” perintah Ki Lurah sambil melangkah perlahan di tepian yang berpasir.

Dengan tergesa-gesa, tukang satang itu segera membangunkan kawan kawannya yang berjumlah tiga orang.

“Ada apa?” bertanya seorang tukang satang yang berbadan kurus dengan wajah yang masih mengantuk.

“Ki Lurah memerlukan kita,” jawab tukang satang yang menyeberangkan Ki Lurah itu sambil beranjak membangunkan kawannya yang lain.

Beberapa saat kemudian di tepian yang berpasir itu telah berkumpul empat orang tukang satang dan orang yang dipanggil Ki Lurah itu.

“Aku melihat gerakan yang mencurigakan di atas tebing itu,” berkata Ki Lurah kemudian sambil menunjuk ke tempat Glagah Putih dan Rara Wulan bersembunyi, “Kemungkinannya jumlah mereka lebih dari lima orang tapi tidak akan sampai sepuluh orang.”

“Apakah kita perlu memanggil kawan-kawan kita yang berjaga jaga di sisi barat Kali Praga, Ki Lurah?” bertanya salah seorang tukang satang itu.

“Itu tidak perlu,” geram Ki Lurah, “Ingat, kita tidak terikat dengan jumlah, akan tetapi kemampuan masing-masing orang yang akan menentukan. Takaranku adalah lawan sebanyak lima orang, sisanya nanti terserah kalian berempat.”

Hampir bersamaan keempat tukang satang itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka sudah mengenal betul dengan perangai Ki Lurah. Sebenarnyalah menurut pengamatan mereka selama ini Ki Lurah itu termasuk orang yang berilmu cukup tinggi, namun kesombongannyalah yang kadang-kadang membuatnya kurang perhitungan.

“Marilah,” berkata Ki Lurah sambil melangkah ke arah tebing, “Kita datang dengan dada tengadah, tidak usah mengendap-endap seperti laku seorang pencuri.”

Dengan tanpa menyamarkan kedatangan mereka, kelima orang itu pun akhirnya mulai mendaki tebing sebelah timur Kali Praga dari arah sisi barat yang medannya cukup terjal.

Dalam pada itu Glagah Putih dan kawan kawannya yang sedang berada di atas tebing telah mendengar hadirnya orang-orang yang tidak diundang itu sejak mereka masih berada di tepian. Ki Citra Jati yang sudah menduga hal itu akan terjadi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sementara anak-anak Nyi Citra Jati segera berkumpul di dekat ibu mereka untuk mendapatkan pengarahan.

“Baruni dan Setiti,” berkata Nyi Citra Jati, “Kalian berdua jangan terlalu jauh dengan mbokayu kalian Padmini. Sementara biarlah Rara Wulan berpasangan dengan Glagah Putih. Sedangkan Pamanmu Mlaya Werdi akan melindungi kalian dari belakang,” Nyi Citra Jati berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Aku dan Ayahmu akan berada di luar lingkaran untuk melindungi kalian kalau-kalau masih ada di antara mereka yang datang dengan sembunyi-sembunyi.”

Kedua gadis itu mengangguk tanpa menjawab. Keduanya segera bergeser merapat ke dekat Padmini. Sedangkan Nyi Citra Jati telah bergeser menjauh dan berlindung diantara semak-semak yang cukup lebat diikuti oleh Ki Citra Jati.

Glagah Putih yang maklum dengan siasat yang digunakan oleh Nyi Citra Jati segera tanggap. Bersama Rara Wulan, dia segera melangkah ke tempat yang cukup lapang sambil menunggu kedatangan orang-orang yang sedang mendaki tebing itu. Sedangkan Mlaya Werdi yang sedari tadi masih duduk di atas sebongkah batu padas, dengan perlahan bangkit dari tempat duduknya dan bergeser di belakang para keponakannya.

Ketika orang-orang yang mendaki tebing itu sudah mulai terdengar semakin dekat, Glagah Putih dan Rara Wulan yang sudah menanggalkan penyamaran mereka sejak Matahari terbenam tadi memang merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan jati diri mereka. Dengan penuh kewaspadaan, sepasang suami istri dan kawan-kawannya itu pun mulai mempersiapkan diri.

Agaknya kelima orang yang mendaki tebing itu benar-benar penuh percaya diri. Itu terbukti mereka tidak berusaha menyembunyikan kehadiran mereka, dengan langkah yang mantap dan penuh keyakinan akan kemampuan mereka, Ki Lurah yang berjalan paling depan telah berhenti beberapa langkah di depan Glagah Putih. Malam yang pekat ternyata tidak menghalangi pandangan Ki Lurah untuk mengenali lawan lawannya yang berdiri beberapa langkah saja di depannya.

Tiba-tiba tawa Ki Lurah meledak mengoyak malam yang sepi. Di sela-sela derai tawanya yang berkepanjangan Ki Lurah itu pun berkata, “Ah, ternyata yang kita temukan di sini adalah sekumpulan perempuan-perempuan cantik dan dua laki-laki entah sebagai pengawal atau pelayan mereka, aku tidak tahu,” Ki Lurah berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Walaupun kalian memakai pakaian laki-laki, namun aku tetap bisa membedakan, manakah yang lelaki tulen dan manakah yang menyamar sebagai laki-laki.”

Glagah Putih yang berdiri di paling depan segera menyahut, “Ma’afkan kami Ki Sanak kalau kehadiran kami di atas tebing ini mengganggu keberadaan Ki Sanak yang berada di bawah tebing sana. Kami sekeluarga berasal dari Prambanan dan berniat untuk menengok saudara kami yang sedang sakit di Menoreh.”

Sejenak Ki Lurah mengerutkan keningnya, katanya kemudian setengah membentak, “Jangan membual. Aku tidak bertanya siapa diri kalian. Sekarang juga kalian harus mengikuti kami turun ke tepian. Kawan-kawan kami sudah hampir sepekan berjaga-jaga di tepian Kali Praga ini, dan agaknya mereka membutuhkan hiburan.”

“Gila..!” tiba-tiba justru Rara Wulan lah yang balas membentak, “Tutup mulutmu yang kotor. Jangan berpikir bahwa kami perempuan-perempuan murahan yang dapat seenaknya kalian perlakukan.”

Ki Lurah hanya tertawa pendek. Sambil menunjuk ke arah Rara Wulan, katanya kemudian, “Apa katamu tentang empat perempuan muda dan dua laki-laki di larut malam begini dan di tempat yang sepi seperti ini? Aku sudah terbiasa mendapat jawaban seperti ini dan akhirnya kalian pasti akan segera membuka kedok kalian setelah tercapai kesepakatan di antara kita.”

“Gila, gila, gila,” teriak Rara Wulan sejadi-jadinya sambil dihentak-hentakkannya kakinya ke tanah. Untunglah Rara Wulan masih sadar sehingga tidak menggunakan tenaga cadangannya ketika menghentakkan kakinya ke tanah.

“Sudahlah Ki Lurah,” tiba-tiba salah seorang Tukang Satang itu menyeletuk, “Malam semakin dingin dan tiba-tiba saja aku menjadi sangat bergairah. Kita jangan membuang-buang waktu terlalu banyak. Kita dapat melakukannya di sini atau di atas rakit agar lebih hangat. Terserah mereka.”

“Tutup mulutmu..!” Rara Wulan yang sudah tidak dapat menahan diri itu telah meloncat secepat tatit yang meluncur di udara menampar Tukang satang yang berdiri di sebelah kiri Ki Lurah.

Akibatnya adalah di luar dugaan semua orang yang hadir di atas tebing itu. Dengan deras ayunan tangan Rara Wulan yang terbuka menerjang wajah Tukang Satang itu sehingga kepalanya telah terpeluntir ke kanan bersamaan dengan terdorongnya tubuh tukang satang itu terjengkang ke belakang.

Sejenak orang-orang itu bagaikan membeku di tempatnya. Dengan dada yang berdebar debar mereka mengamati Tukang Satang yang terkapar tak bergerak di tanah yang berdebu.

“Mati?” seru Ki Lurah sambil melangkah mendekat. Sambil berjongkok, dirabanya dada Tukang Satang itu yang ternyata jantungnya telah berhenti berdetak.

Ternyata kemarahan Rara Wulan yang tersinggung harga dirinya sebagai seorang perempuan telah mengungkapkan tenaga cadangannya hampir sampai ke puncak sehingga akibatnya sangat mengerikan, leher Tukang Satang itu telah patah dan rahangnya terlepas bersamaan dengan lepasnya nyawa dari raganya.

Ki Lurah menggeram keras sambil berdiri. Kemarahannya benar-benar sudah sampai ke ubun-ubun. Kini sadarlah Ki Lurah dengan siapa dia berhadapan. Ternyata perempuan yang menyerang salah satu Tukang Satang itu berilmu sangat tinggi, terbukti dengan sekali pukul leher Tukang Satang yang malang itu telah patah. Padahal para Tukang Satang itu bukan Tukang Satang yang sebenarnya. Mereka adalah anak buah Ki Lurah yang telah malang melintang dalam dunia hitam. Kemampuan olah kanuragan mereka tidak dapat dianggap enteng. Mereka selalu berhasil melakukan perampokan di padukuhan-padukuhan yang terbilang cukup kaya. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan para pengawal Padukuhan. Akan tetapi mereka selalu berhasil menuntaskan tugas mereka.

Kini Ki Lurah harus membuat perhitungan yang cermat. Di pihaknya telah jatuh satu korban, sementara di pihak lawan masih segar dan jumlahnya pun berlebih.

Menyadari akan kedudukannya itu, segera saja Ki Lurah melontarkan isyarat untuk meminta bantuan. Sejenak kemudian malam yang sepi itu terkoyak oleh suara suitan nyaring yang membelah udara malam. Suaranya terdengar sampai di tepian kali Praga sebelah barat tempat berkumpulnya para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang berjaga jaga.

Namun alangkah terkejutnya Ki Lurah ketika suara suitan itu belum mereda, terdengar suara lengkingan rinding yang ditiup oleh Ki Citra Jati dari balik gerumbul tidak jauh dari tempat itu.

Glagah Putih dan kawan kawannya sadar bahwa suara rinding dari Ki Citra Jati itu adalah sebuah isyarat agar mereka segera bergerak sebelum lawan mereka mendapatkan bantuan dari tepi barat Kali Praga.

Sejenak kemudian benturan pun segera terjadi dengan dahsyat. Para Tukang Satang yang telah tanggap dengan keadaan segera mencabut senjata masing-masing. Sementara Ki Lurah telah mencabut sebuah keris yang cukup panjang yang bercahaya kemerah-merahan di tengah malam yang pekat.

Anak-anak Nyi Citra Jati selain Rara Wulan telah mengurai senjata masing-masing. Padmini dan Baruni yang selalu membawa busur yang disilangkan di depan dadanya segera menggenggam busur mereka di tangan kiri yang digunakan sebagai perisai untuk menangkis serangan lawan. Sedangkan di tangan kanan mereka tergenggam sebatang anak panah yang digunakan sebagai senjata seperti sebuah pedang untuk menyerang lawan mereka.

Sedangkan Setiti yang selalu membawa bawa sumpit telah menggenggam sumpit itu di tangan kanan. Tidak seperti biasanya, sumpit itu tidak terbuat dari bambu namun terbuat dari baja pilihan yang dapat digunakan sebagai senjata yang mirip dengan tongkat baja putih milik Sekar Mirah namun tanpa kepala tengkorak di ujungnya.

Selebihnya, apabila dalam keadaan mendesak mereka akan melepaskan senjata-senjata mereka dan lebih mengandalkan pada kemampuan puncak mereka, Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Sementara Ki Lurah yang sudah waringuten segera menyerang Rara Wulan yang berdiri beberapa langkah saja di samping kirinya. Dengan sebuah tusukan ke arah dada, Ki Lurah meloncat disertai dengan suara teriakan yang menggelegar.

Rara Wulan yang mendapat serangan dari Ki Lurah segera menggeser kaki kirinya selangkah kebelakang. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya sehingga tusukan keris ke arah dadanya itu hanya lewat sejengkal di depannya, tangan kanan Rara Wulan bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan Ki Lurah yang menggenggam keris.

Tentu saja Ki Lurah tidak akan membiarkan lawannya merebut senjatanya. Dengan tergesa-gesa ditariknya keris itu sambil kaki kanannya terayun deras mengarah ke lambung Rara Wulan.

Ada keinginan Rara Wulan untuk membenturkan siku tangan kirinya dengan kaki Ki Lurah yang terayun deras ke arah lambungnya, namun niat itu segera diurungkan. Dengan sekali lompat kebelakang, Rara Wulan sudah terbebas dari serangan Ki Lurah. Ketika Ki Lurah kemudian bermaksud memburu lawannya, ternyata di tangan Rara Wulan sudah tergenggam senjata andalannya, sebuah selendang yang cukup panjang.

Sejenak Ki Lurah tertegun dan menghentikan langkahnya. Senjata di tangan Rara Wulan itu sangat mendebarkan hatinya. Hanya orang-orang yang benar-benar sudah mumpuni saja yang mampu memainkan senjata sejenis itu dalam sebuah pertempuran yang sebenarnya.

Keraguan Ki Lurah itu ternyata terbaca oleh Rara Wulan. Dengan sengaja diputarnya selendang itu di atas kepalanya untuk mempengaruhi ketahanan batin lawannya. Putaran selendang itu begitu dahsyatnya sehingga menimbulkan pusaran angin dan suara berdengung bagaikan dengung seribu lebah hutan yang sedang mengamuk.

“Persetan,” geram Ki Lurah, “Aku bukan anak kecil yang takut dengan segala macam pengeram-eram. Selendangmu itu akan segera putus terbabat oleh kerisku yang tajamnya melebihi pitung penyukur.”

“Aku meragukan itu, Ki Sanak,” jawab Rara Wulan tanpa menghentikan putaran selendangnya, “Justru kerismu yang kau agung agungkan itu yang sebentar lagi akan berpindah ke tanganku.”

“Jangan banyak membual,” sekali lagi Ki Lurah menggeram sambil meloncat mengayunkan kerisnya membabat ke arah putaran selendang Rara Wulan.

Demikianlah akhirnya mereka berdua segera terlibat dalam sebuah perkelahian yang sengit. Ki Lurah benar-benar dibuat kerepotan dengan senjata Rara Wulan. Selendang itu kadang-kadang meliuk-liuk bagaikan seekor ular yang hidup yang berusaha membelit tangannya, kadang lehernya, bahkan kakinya yang sedang meloncat di udara pun hampir saja terbelit dengan selendang itu. Namun suatu saat dengan tidak terduga duga selendang itu tiba-tiba berubah mengeras bagaikan sebuah tongkat baja dan mendera dadanya.

Glagah Putih yang menyaksikan perkelahian itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Tanpa sadar kakinya bergeser menjauhi lingkaran perkelahian. Dia sudah yakin istrinya itu tidak akan mendapatkan kesulitan dalam mengatasi lawannya.

Tanpa sadar Glagah Putih justru mengayunkan langkah mendekati lingkaran pertempuran anak-anak Nyi Citra Jati yang lain. Betapa Padmini, Baruni dan Setiti telah membuat para Tukang Satang itu kebingungan. Beberapa kali senjata-senjata anak-anak Nyi Citra Jati itu mulai menyentuh tubuh- tubuh mereka sehingga yang dapat dilakukan oleh para pengikut Ki Lurah itu hanyalah bertahan sambil mundur dan mundur terus.

Namun mereka menyadari bahwa tidak mungkin untuk bertahan sambil bergerak mundur terus karena di belakang mereka adalah lereng tebing yang cukup terjal. Jika mereka sampai terjatuh, akibatnya akan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka.

Dengan pertimbangan seperti itulah, akhirnya para Tukang Satang itu pun memutuskan untuk menghentakkan segenap kemampuan mereka untuk mendesak anak-anak Nyi Citra Jati. Namun Padmini yang lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari adik adiknya segera memberi aba-aba untuk memperketat serangan mereka sehingga sejenak kemudian pertempuran itu pun bagaikan meledak dengan dahsyatnya.

Mlaya Werdi yang berdiri tidak seberapa jauh dari tempat pertempuran anak-anak Nyi Citra Jati itu sama sekali tidak lengah. Sesuai dengan pesan Nyi Citra Jati untuk mengamati keadaan jika ada bantuan lawan yang datang dengan diam-diam. Namun sejauh itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Dalam pada itu di tepian sebelah barat kali Praga, para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang berjaga-jaga telah mendengar isyarat dari Ki Lurah. Dengan tergesa-gesa mereka segera menarik beberapa rakit yang disembunyikan diantara semak belukar. Sejenak kemudian tiga buah rakit itu telah diturunkan ke Kali Praga dengan penumpangnya masing-masing rakit sekitar sepuluh orang.

Demikianlah rakit-rakit itu pun kemudian telah meluncur dengan cepat di atas air Kali Praga yang keruh. Hanya dalam waktu sekejab rakit-rakit itu telah merapat di tepian timur kali Praga. Dengan sigap para penumpangnya segera berloncatan ke tepian yang berpasir basah. Ketika kemudian sekali lagi terdengar suitan nyaring dari arah tebing, para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu pun segera berlari-larian menuju ke arah suara suitan itu berasal.

Memang Ki Lurah yang merasa tidak akan dapat mengatasi lawannya telah melontarkan isyarat sekali lagi. Namun dengan demikian isyarat itu pun bagi Rara Wulan dan anak-anak Nyi Citra Jati merupakan pertanda bahwa mereka harus segera menyelesaikan lawan-lawan mereka sebelum bala bantuan datang.

Ketika di bawah tebing mulai terdengar hiruk pikuk orang-orang yang memanjat naik, sekali lagi terdengar sebuah lengkingan bunyi rinding membelah udara malam. Dengan tanpa membuang waktu, Rara Wulan dan adik-adik angkatnya pun segera menyelesaikan lawan-lawan mereka.

Para Tukang Satang itu tidak sempat melihat bagaimana anak-anak Nyi Citra jati itu mempergunakan senjata mereka. Tiba-tiba saja dua orang Tukang Satang merasakan sesuatu telah hinggap di dada sebelah kiri. Ternyata anak panah Padmini dan Baruni telah menembus jantung mereka.

Sejenak kedua orang tukang Satang itu masih sempat mengumpat keras sambil terhuyung-huyung memegangi dada mereka sebelum akhirnya jatuh terjerembab tak bergerak untuk selamanya.

Sementara Setiti yang bersenjatakan sumpit telah menggunakan senjatanya itu sebagaimana mestinya. Segera saja sebuah paser kecil telah melesat dengan kecepatan yang luar biasa menembus leher lawannya.

Racun yang ada di ujung paser itu kekuatannya setara dengan racun ular bandotan macan. Hanya dalam sekejap sebelum lawannya menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tubuhnya tiba-tiba merasa kejang dan nafasnya pun telah tersumbat. Tukang Satang yang terakhir itu pun kemudian roboh berkelojotan mati.

Ki Lurah yang sempat melihat sekilas anak buahnya telah terbujur menjadi mayat menjadi semakin wuru. Dengan mengangkat kerisnya tinggi-tinggi seolah olah ingin menembus langit, dipusatkannya segala nalar budinya untuk menghentakkan ilmu pamungkasnya.

Ketika kemudian serangannya yang membadai menerjang Rara Wulan, dari ujung keris itu seolah olah telah memancar lidah api yang sangat panas. Ujung lidah api itu ternyata telah mendahului dari ujud keris itu sendiri. Sehingga ketika keris yang ada di tangan Ki Lurah itu belum menyentuh tubuh Rara Wulan, lidah api itu telah menghanguskan ujung baju Rara Wulan.

Rara Wulan segera menyadari watak dari ilmu lawannya. Dia tidak ingin kehilangan waktu terlalu banyak sementara orang-orang Panembahan Cahya Warastra justru telah mulai memanjat tebing.

Setelah meloncat beberapa langkah ke samping menghindari kejaran jilatan api yang keluar dari ujung keris Ki Lurah, dalam waktu yang hanya sekejab Rara Wulan segera mengetrapkan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Sejenak udara di sekitar arena pertempuran itu bagaikan dipampatkan. Ketika udara yang telah dipampatkan itu kemudian berputar dan membentuk butiran-butiran air yang sangat panas, Ki Lurah ternyata telah terlambat menyadarinya. Langkahnya terhenti ketika butiran-butiran lembut air yang sangat panas itu menerjang tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa Ki Lurah meloncat ke belakang sejauh jauhnya sambil memutar senjatanya untuk melindungi dirinya dari terjangan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce.

Namun ternyata kecepatan Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce itu melebihi usaha Ki Lurah menghindarkan diri dengan meloncat kebelakang. Butiran-butiran air panas yang sangat lembut itu telah menyusup di sela-sela putaran kerisnya dan langsung menghunjam ke dalam tubuh Ki Lurah lewat lubang-lubang di kulitnya.

Untuk sejenak Ki Lurah telah terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah. Butiran-butiran lembut air panas itu telah menyusup ke dalam pembuluh darahnya dan menghancurkan jaringan urat darah di sekujur tubuhnya.

Akhir yang sangat mengerikan bagi Ki Lurah. Seluruh pembuluh darahnya seakan meledak dan darah pun mengalir deras keluar dari lubang-lubang di kulitnya. Dengan mengeluarkan teriakan kesakitan yang luar biasa, Ki Lurah pun akhirnya jatuh tertelungkup bermandikan darah dan tak bergerak lagi untuk selama lamanya.

Dalam pada itu, para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang sedang mendaki tebing telah semakin dekat dengan tempat pertempuran. Ketika kemudian mereka telah mencapai bibir tebing dan berlari-larian menuju ke medan pertempuran, alangkah terkejutnya mereka, ternyata medan pertempuran yang tadinya terdengar hiruk-pikuk kini telah menjadi sepi. Hanya bekas-bekas pertempuran saja yang masih mereka jumpai dan beberapa sosok mayat yang terbujur malang-melintang.

Dengan cepat mereka segera menyebar untuk memburu orang-orang yang telah membunuh kawan-kawan mereka. Hampir setiap jengkal tanah di atas tebing itu tidak luput dari pengamatan mereka. Sesekali mereka menemukan jejak-jejak kaki namun sudah sangat kabur dan susah dikenali. Demikian juga arah jejak kaki itu tidak jelas kemana arah tujuannya. Seolah olah jejak-jejak itu hanya melingkar-lingkar saja di atas tebing.

“Ki Lurah..!” tiba-tiba seorang yang wajahnya bulat dan berambut keriting berteriak lantang begitu mengenali sesosok mayat yang tertelungkup dalam keadaan yang mengenaskan.

Beberapa orang segera berlari ke tempat di mana orang yang wajahnya bulat itu menemukan mayat Ki Lurah. Mereka tidak yakin bahwa Ki Lurah yang menurut pengenalan mereka selama ini termasuk orang yang berilmu cukup tinggi telah terbunuh. Jika memang Ki Lurah ikut menjadi korban, berarti lawan yang dihadapinya pasti bukan orang kebanyakan.

Sesampainya di depan mayat yang tertelungkup itu, dengan tergesa-gesa seseorang segera membalikkannya. Dengan dada yang berdebar debar mereka melihat betapa keadaan mayat itu sangat mengerikan, sekujur tubuhnya bersimbah darah.

Beberapa orang berusaha mencondongkan tubuh ke depan agar lebih jelas melihat wajah mayat itu, sedangkan yang lainnya justru telah berjongkok di sisi mayat itu untuk meyakinkan penglihatan mereka bahwa tubuh yang telah terbujur kaku itu adalah Ki Lurah.

“Ki Lurah..!” seseorang berdesis perlahan setelah dia yakin dengan penglihatannya.

“Ya, benar. Ini memang Ki Lurah,” yang lainnya menyahut hampir bersamaan.

“Gila..!” terdengar beberapa orang telah mengumpat, “Ilmu apakah yang telah membunuh Ki Lurah?”

Seseorang yang rambutnya sudah ubanan melangkah maju sambil menyibakkan orang-orang yang sedang berkerumun dan kemudian berjongkok di sisi tubuh Ki Lurah yang telah membeku. Sejenak diamatinya sekujur tubuh yang telah dingin itu. Dicobanya mencari bekas-bekas luka yang mungkin terdapat pada tubuh Ki Lurah, namun tidak tampak segores luka pun yang terdapat pada mayat itu.

“Aneh,” desis orang yang rambutnya sudah ubanan itu, “Tidak ada segores luka pun, namun darah yang keluar dari pori-pori kulitnya bagaikan diperas,” orang itu berhenti sejenak. Dikerahkan kemampuan daya ingatnya untuk mengenali jenis ilmu yang telah membuat Ki Lurah terbunuh. Gurunya sering bercerita tentang berjenis jenis ilmu yang ada di muka bumi ini sebagai pengetahuan bagi murid-muridnya. Dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit dan aneh, aneh dalam kemampuannya menghancurkan lawan maupun aneh dalam memberikan nama aji itu sendiri.

Tiba-tiba bagaikan disengat oleh seekor kalajengking sebesar ibu jari kaki orang dewasa, orang yang rambutnya sudah ubanan itu terlonjak berdiri sambil berteriak, “Aji Pacar Wutah Puspa Rinonce! Ya.., Pacar Wutah Puspa Rinonce, aku yakin itu.”

Orang-orang yang mengerumuninya itu terkejut. Seorang yang berperut buncit mendesak maju sambil bertanya, “Apakah engkau yakin Kakang Dumuk? Kalau memang Ki Lurah telah terbunuh dengan aji Pacar Wutah Puspa Rinonce, kita harus segera melaporkan peristiwa ini kepada Guru.”

“Engkau benar Adi Walang” jawab orang yang rambutnya sudah ubanan yang ternyata bernama Dumuk, “Hanya guru yang dapat mengatasi aji ini. Kita masih jauh di bawah tataran orang yang telah membunuh Ki Lurah ini, kecuali Kakang Labda Gati, ilmunya mungkin sudah mencapai tataran setingkat dengan Guru.”

Beberapa orang yang mendengarkan pembicaraan itu mengangguk angguk. Sementara beberapa orang yang lainnya telah sibuk menggali tanah di atas tebing itu dengan peralatan seadanya. Betapa pun kelamnya hati mereka serta jalan hidup yang mereka tempuh selama ini sangat jauh dari tuntunan hidup bebrayan, namun mereka masih mempunyai setitik rasa kesetia-kawanan terhadap kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dalam menjalankan tugas.

Demikianlah akhirnya, Dumuk yang merupakan orang yang dituakan dalam rombongan itu telah memerintahkan untuk mengubur lima orang kawan mereka yang telah terbunuh di atas tebing sebelah timur kali Praga. Dengan peralatan seadanya mereka pun kemudian mengubur kelima kawan mereka itu dalam satu lubang.

Sejenak kemudian, setelah mereka merasa tidak ada lagi yang perlu dilakukan, mereka pun kemudian segera menuruni tebing dan kembali menyeberang ke tepi barat kali Praga.

 

****

 

Dalam pada itu di padepokan Jati Anom, malam telah sampai ke ujungnya. Burung-burung mulai terbangun dan keluar dari sarangnya sambil memperdengarkan kicau yang merdu menyambut terbitnya sang fajar.

 

Setelah menunaikan kewajibannya sebagai hamba kepada Penciptanya, Ki Rangga Agung Sedayu mulai mempersiapkan perjalanan ke Mataram untuk menghadap Ki Patih Mandaraka. Empat ekor kuda yang tegar telah disiapkan di halaman padepokan. Putut Darpa dan Putut Darpita pun telah siap dengan perbekalan mereka dan duduk di pendapa menunggu Ki Rangga dan Pandan Wangi keluar.

 

Kedua Putut kakak beradik itu tidak terlihat membawa pedang, namun senjata mereka adalah senjata ciri khas perguruan orang bercambuk, sehelai cambuk yang dililitkan pada pinggang mereka dan disembunyikan di bawah baju.

 

Ketika kemudian Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi muncul dari balik pintu pringgitan, kedua Putut itu segera berdiri dan menganggukkan kepala.

 

“Apakah kalain sudah makan pagi?” bertanya Pandan Wangi sambil melangkah mendekat.

 

Putut Darpa ternyata yang menjawab, “Kami tadi sudah makan di dapur Nyi. Jika Ki Rangga dan Nyi Pandan Wangi belum makan pagi, kami akan menunggu.”

 

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi tersenyum. Sambil berjalan melintasi pendapa Ki Rangga kemudian menuju ke tempat kuda-kuda mereka ditambatkan. Katanya kemudian, “Marilah, mumpung hari masih pagi. Semoga kita sampai di Mataram sebelum gelap.”

 

Kedua Putut itu hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Ki Rangga. Sejenak kemudian keduanya pun segera menuju ke kuda masing-masing dan mempersiapkan segala uba rampe untuk sebuah perjalanan yang cukup jauh.

 

Pandan Wangi yang telah mendapat ijin dari suaminya itu telah memakai pakaian khususnya dengan sepasang pedang di lambung. Rambutnya yang masih hitam lebat namun di sana sini sudah mulai dihiasi dengan rambut yang berwarna putih itu disanggul tinggi dan diikat dengan secarik kain berwarna merah saga. Pandan Wangi masih terlihat sangat cantik di usianya yang sudah mendekati setengah abad.

 

Demikianlah, keempat orang yang akan melakukan perjalanan ke Mataram itu masih harus menunggu Ki Widura untuk berpamitan. Agaknya Ki Widura masih ada keperluan sebentar di belakang. Setelah beberapa saat menunggu, barulah Ki Widura muncul dari balik pintu pringgitan dan berjalan mendekati keempat orang yang masih belum menaiki kuda-kuda mereka.

 

“Ma’af, aku tadi masih ada keperluan di belakang,” berkata Ki Widura sesampainya di depan mereka berempat, “Apakah masih ada yang tertinggal sebelum kalian berangkat? Tolong jika kalian bertemu Glagah Putih dan Rara Wulan, katakan aku sudah sangat rindu untuk menimang cucu.”

 

“Ah,” hampir bersamaan mereka yang mendengar pesan Ki Widura itu tertawa. Bahkan Pandan Wangi yang berdiri di sebelah Ki Rangga Agung Sedayu menimpali, “Bukankah Ki Widura sudah bertambah cucunya dari Kakang Agung Sedayu?”

 

“Ya,. ya..,” sahut Ki Widura cepat, “Namun biarlah kebahagiaan orang tua ini bertambah lengkap setelah mendapat cucu dari Glagah Putih.”

 

Kembali keempat orang itu tertawa.

 

“Baiklah, Paman,” akhirnya Ki Rangga berpamitan, “Kami mohon diri. Aku titip Adi Swandaru. Obat yang aku tinggalkan cukup untuk persediaan satu bulan. Semoga sebelum satu bulan aku sudah bisa kembali ke Padepokan.”

 

Ki Widura mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian sambil melangkah menuju ke regol dia berkata, “Keadaan Mataram sangat gawat sehubungan dengan kehadiran pengikut Panembahan Cahya Warastra. Tidak menutup kemungkinan Menoreh akan terkena pengaruhnya.”

 

Sambil menuntun kuda-kuda mereka, keempat orang itu berjalan perlahan-lahan mengikuti Ki Widura menyeberangi halaman Padepokan yang cukup luas.

 

Ketika kemudian mereka telah sampai di depan regol, Ki Widura pun menghentikan langkahnya sambil berpesan, “Hati-hatilah di jalan. Lebih baik kalian menghindari persoalan yang mungkin timbul di sepanjang perjalanan agar kedatangan kalian di Mataram tidak terlambat.”

 

“Ya Paman,” sahut Ki Rangga sedangkan yang lain hanya mengangguk anggukkan kepala mereka.

 

Setelah sekali lagi minta diri kepada Ki Widura, keempat orang yang akan melakukan perjalanan jauh itu segera meloncat ke atas punggung kuda masing-masing. Sejenak kemudian mereka berempat telah berderap menyusuri jalan-jalan di Kademangan Jati Anom yang masih sepi.

 

“Apakah kita akan mampir ke rumah Kakang Untara?” bertanya Pandan Wangi yang berkuda di sebelah Ki Rangga. Sedang kedua Putut kakak beradik itu berkuda beberapa langkah di belakang.

 

“Aku kira tidak perlu, Wangi,” jawab Ki Rangga, “Kakang Untara tidak ada di tempat. Dia ikut melawat ke Panaraga bersama sama dengan pasukan Mataram yang lain.”

 

Pandan Wangi hanya mengangguk anggukkan kepalanya.

 

Sementara itu embun pagi mulai terusir oleh sinar Matahari yang mulai mengintip dari balik bukit. Walaupun sinarnya masih sangat lemah, namun perlahan-lahan embun-embun yang masih bergelayutan dengan manja di pucuk-pucuk dedaunan mulai menguap bersamaan dengan warna langit yang mulai cerah.

 

Keempat orang yang sedang melakukan perjalanan ke Mataram itu masih belum merasa perlu untuk berpacu di atas jalan yang berbatu batu. Namun ketika kemudian mereka telah keluar dari regol Kademangan Jati Anom dan menyusuri sebuah bulak yang cukup panjang, mereka pun segera memacu kuda-kuda mereka semakin cepat.

 

Sementara Pandan Wangi yang berkuda di sebelah Ki Rangga tampak sangat menikmati perjalanan itu. Wajahnya yang masih terlihat muda dari usia yang sebenarnya itu terlihat sangat cerah. Sebuah senyum kecil selalu tersungging di bibirnya yang merah bak delima merekah. Dilemparkan pandangan matanya jauh kedepan dengan sinar mata yang berbinar-binar. Betapa perjalanan ini mengingatkannya pada kenangan jauh ke masa lalu sewaktu dirinya masih seorang gadis yang mempunyai kesenangan berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan, berburu di hutan di pinggir tlatah Tanah Perdikan Menoreh ditemani oleh pemomongnya yang setia, Kerti.

 

Sesekali dari sudut matanya dia melihat Ki Rangga Agung Sedayu yang berkuda di sebelahnya tampak menundukkan kepalanya. Wajah Ki Rangga sepertinya sedang memendam sebuah beban yang sangat berat. Bahkan berkali-kali tanpa disadarinya Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

 

“Apakah sebenarnya yang sedang dipikirkannya?” bertanya Pandan Wangi dalam hati, “Apakah dia sedang memikirkan Kakang Swandaru yang masih sakit di Padepokan Jati Anom? Atau dia gelisah karena ingin segera bertemu dengan Sekar Mirah yang justru sekarang sudah mendapatkan momongan?”

 

Berbagai pertanyaan bergulat di dalam dada Pandan Wangi, namun sejauh itu dia tidak mendapatkan jawabannya, bahkan hatinya pun telah ikut menjadi gelisah.

 

“Mungkin Kakang Agung Sedayu sedang memikirkan tugas apa yang akan diembannya dari Ki Patih Mandaraka,” kembali Pandan Wangi berkata dalam hati, “Atau Kakang Agung Sedayu sedang memikirkan cara untuk menembus pertahanan Panembahan Cahya Warastra yang telah menduduki tepi barat kali Praga.”

 

Sampai di sini Pandan Wangi menjadi sangat gelisah. Terbayang Ayahnya yang sedang terbaring sakit sementara kekuatan yang ada di Tanah Perdikan Menoreh sangat lemah, hanya ada Ki Jayaraga dan Kiai Sabda Dadi.

 

“Aku belum mengenal kemampuan Kiai Sabda Dadi itu secara pribadi,” demikian Pandan Wangi melanjutkan angan angannya, “Kemampuannya dalam bidang pengobatan pun aku kira masih di bawah Kiai Gringsing.”

 

Tiba-tiba angan-angan Pandan Wangi menjadi berantakan bagaikan awan yang tertiup angin kencang ketika Ki Rangga berkata, “Wangi, lebih baik kita mengambil jalan ke kiri menghindari padukuhan-padukuhan yang ada di depan kita. Kita akan menyusuri tepi hutan yang masih cukup lebat namun aku yakin sudah jarang ada binatang buas yang berkeliaran mencari mangsa di tepi hutan itu.”

 

“Baiklah Kakang,” sahut Pandan Wangi. Sambil menoleh ke belakang dia berkata kepada kedua Putut kakak beradik itu, “Kita akan mengambil jalan ke kiri.”

 

Kedua Putut itu hanya mengangguk tanpa mengurangi laju kuda mereka.

 

Ketika kemudian mereka berempat telah berbelok ke arah kiri dan menyusuri jalan setapak di pinggir hutan yang cukup lebat, mereka dikejutkan oleh suara ringkik kuda di belakang mereka. Hampir bersamaan keempat orang itu telah berpaling. Ternyata seorang penunggang kuda dengan mengenakan caping lebar yang menutupi hampir seluruh wajahnya, muncul dari kelokan jalan setapak di belakang mereka dan membuntuti mereka hanya dalam jarak beberapa puluh langkah saja.

 

Ki Rangga Agung Sedayu yang sempat berpaling sekilas sejenak berpandangan dengan Pandan Wangi, namun tidak ada satu pun kesan yang dapat ditangkap dari sinar mata Puteri Tanah Perdikan Menoreh itu. Namun panggraita Ki Rangga Agung Sedayu yang tajam segera bisa mengenali bahwa penunggang kuda itu sama dengan penunggang kuda beberapa waktu yang lalu yang telah membuntuti dirinya dan Ki Ageng Sela Gilang ketika mereka baru saja keluar dari padukuhan Ngadireja.

 

“Siapakah sebenarnya penunggang kuda itu?” pertanyaan itu berputar putar dalam benak Ki Rangga, demikian juga dengan ketiga kawan seperjalanannya.

 

Demikianlah penunggang kuda yang aneh itu terus membuntuti keempat orang yang akan pergi ke Mataram itu sampai Padukuhan Nglipura, Padukuhan kecil sebelum mereka menyeberangi Kali Opak. Sementara Matahari sudah memanjat semakin tinggi. Sinarnya yang panas mulai terasa menggatalkan kulit, sedangkan titik-titik keringat pun mulai terasa membasahi punggung.

 

Ketika mereka berempat sudah hampir mendekati regol padukuhan Nglipura, Ki Rangga Agung Sedayu segera mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi sebagai isyarat agar mereka mengurangi laju kuda masing-masing.

 

Begitu mereka memasuki regol Padukuhan Nglipura yang sepi, hampir bersamaan mereka telah berpaling ke belakang. Namun alangkah terkejutnya mereka, ternyata penunggang kuda yang aneh itu sudah tidak ada di tempatnya.

 

“Gila,” geram Ki Rangga Agung Sedayu, “Apa maksud semua permainan ini?”

 

Pandan Wangi yang berkuda di sebelahnya ikut mengerutkan keningnya dalam-dalam, katanya kemudian, “Kita kehilangan pengamatan kita atas orang berkuda itu justru karena suara-suara telapak kaki kuda-kuda kita sendiri yang cukup keras. Sehingga ketika dia berhenti di tikungan atau berbalik arah kita tidak menyadarinya.”

 

“Mungkin,” jawab Ki Rangga, “Namun aku yakin penunggang kuda itu bukan orang kebanyakan. Dia mempunyai kemampuan untuk mengelabuhi Aji Sapta Pangrungu, sehingga aku telah kehilangan jejaknya.”

 

Pandan Wangi sadar kalau Ki Rangga Agung Sedayu adalah orang yang sangat mumpuni dalam olah kanuragan. Jika masih ada orang yang mampu mengelabuhi Ki Rangga Agung Sedayu dalam hal menyadap bunyi di sekitarnya melalui Aji Sapta Pangrungu, berarti orang itu benar-benar memiliki kemampuan yang ngedab-edabi.

 

Tanpa terasa keempat orang itu telah semakin jauh memasuki padukuhan Nglipura yang sepi. Di sepanjang jalan padukuhan mereka hanya sekali dua kali saja berpapasan dengan orang-orang yang berjalan kaki, selebihnya adalah regol-regol yang tertutup rapat-rapat.

 

Ketika jalanan mulai menurun dan berbatu batu, mereka sudah dapat mencium bau air Kali Opak yang tidak terlalu dalam dan deras. Di beberapa tempat bahkan dapat diseberangi tanpa harus turun dari kuda.

 

Demikianlah akhirnya mereka berempat telah turun dari kuda masing-masing dan menuntun kuda-kuda itu di antara batu-batu besar yang berserakan. Batu-batu besar itu berasal dari letusan Gunung Merapi beberapa waktu lalu ketika pecah perang antara Pajang dan Mataram.

 

Sambil menuntun kudanya di sebelah Pandan Wangi, Ki Rangga berdesis perlahan lahan, “Kita akan beristirahat sejenak untuk memberi kesempatan kepada kuda-kuda kita untuk sekedar beristirahat dan minum air Kali Opak.”

 

“Ya Kakang,” jawab Pandan Wangi sambil menuntun kudanya mengikuti langkah-langkah saudara tua seperguruan suaminya itu.

 

Perlahan mereka mulai menapak di atas tanah berpasir yang lembab. Air Kali Opak yang tidak begitu dalam dan deras telah memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk minum. Setelah puas meminum air Kali Opak, kuda-kuda itu pun kemudian di tambatkan di tepian agar dapat merumput secukupnya.

 

Sambil melepaskan lelah, Ki Rangga duduk diantara batu-batu yang berserakan di tepian. Sambil sesekali diedarkan pandangan matanya berkeliling kalau-kalau dia dapat menemukan sosok seorang penunggang kuda yang telah sekian lama membuntutinya itu.

 

Sementara itu Pandan Wangi justru telah duduk di atas sebongkah batu hitam sambil merendam kedua kakinya. Sambil memainkan kedua kakinya di dalam air, sesekali tampak ikan-ikan kecil yang berseliweran menyentuh jari-jari kakinya sekilas namun kemudian segera berenang menjauh bersembunyi di antara ceruk-ceruk bebatuan dan dasar sungai yang berpasir lembut.

 

Tidak jauh dari tempat Pandan Wangi duduk melepaskan lelahnya, kedua Putut kakak beradik itu tampak sedang mengamat-amati beberapa ikan yang cukup besar berenang renang di sela-sela bebatuan yang terendam air sungai hanya sebatas lutut orang dewasa.

 

Dalam pada itu, di balik batu-batu padas yang menjorok ke sungai dan gerumbul-gerumbul perdu yang lebat agak jauh beberapa puluh langkah di seberang Kali Opak, sekitar sepuluh orang dengan senjata teracu telah merayap mendekati tempat Ki Rangga dan kawan kawannya beristirahat melepaskan lelah.

 

“Guru,” bisik seseorang yang berbadan pendek dan gempal, “Berilah kesempatan kepadaku untuk berperang tanding melawan Ki Rangga Agung Sedayu. Aku merasa cara ini adalah cara seorang pengecut yang tidak mempunyai harga diri sama sekali.”

 

“Tutup mulutmu, Dugel!” orang yang dipanggil Guru itu sedikit membentak, “Engkau belum tahu kekuatan sebenarnya yang tersimpan dalam diri Ki Rangga Agung Sedayu. Sudah tak terbilang lawan-lawan yang tangguh dan tanggon binasa ditangannya. Engkau tentu tahu takaran seorang Ajar Tal Pitu. Dibandingkan dengan kemampuanmu, engkau tidak ada apa apanya dengan Ajar yang mampu mengubah dirinya menjadi seekor serigala raksasa yang liar dan ganas itu.”

 

“Tapi itu sudah berlalu cukup lama, Guru,” kembali Dugel berdesis perlahan, “Sejak aku menguasai Aji Gumbala Geni, rasa rasanya apapun bisa aku lumatkan menjadi debu dengan aji itu.”

 

“Jangan takabur,” potong Gurunya sambil mengamati jauh ke depan, ke tempat Ki Rangga dan kawan kawannya duduk-duduk melepas lelah, “Aku akui memang ilmumu telah meningkat semakin pesat akhir-akhir ini, tapi jangan lupa, Ki Rangga Agung Sedayu pun telah meningkatkan ilmunya semakin tinggi.”

 

“Guru,” kini Dugel telah beringsut setapak mendekati Gurunya, “Aku berguru ilmu olah kanuragan ini tidak hanya bersumber dari Guru seorang. Namun aku juga telah menyadap berbagai ilmu dari guru guruku yang lain. Aku kira bekalku lebih dari cukup untuk menghadapi seorang Rangga yang menjadi agul agulnya Mataram.”

 

“Diamlah, Dugel,” hardik Gurunya dengan suara sepelan mungkin, “Engkau akan kuberi kesempatan untuk beradu dada dengan Ki Rangga Agung Sedayu setelah semua pengikutnya kita binasakan. Kita tidak harus berlaku jantan karena kita memang dari kalangan dunia hitam yang mengabaikan nilai-nilai kejujuran dan kejantanan. Kalau engkau tidak mampu mengatasi Ki Rangga Agung Sedayu sendirian, masih ada saudara-saudara seperguruanmu. Dan jika masih kurang, aku akan ikut menentukan akhir dari pertempuran itu.”

 

Dugel hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam dalam hatinya ada sedikit kegusaran dengan salah satu dari sekian Gurunya itu. Dia merasa disepelekan padahal menurut pengamatannya, ilmu Gurunya itu sekarang sudah dilampauinya sejalan dengan timbunan ilmu yang diperolehnya ketika merantau ke seluruh pelosok negeri ini.

 

Demikianlah sambil merayap perlahan-lahan mereka berusaha mendekat tanpa diketahui oleh Ki Rangga dan kawan-kawannya. Mereka akan memberikan kejutan pada serangan pertama sehingga lawan-lawan mereka lengah dan tidak siap menghadapi serangan mendadak itu sehingga kurban pun akan jatuh dipihak lawan.

 

Sebenarnyalah Ki Rangga Agung Sedayu sudah mengetahui kehadiran mereka sejak dia dan kawan-kawannya turun ke tepian Kali Opak. Panggraitanya yang tajam seakan mampu menembus gerumbul-gerumbul perdu dan tebing-tebing yang menjorok dan melihat ada apa di baliknya. Akan tetapi pada dasarnya Ki Rangga adalah orang yang selalu berusaha untuk menjauhkan diri dari segala prasangka buruk kepada siapapun. Dia hanya berharap orang-orang yang bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu dan tebing-tebing yang menjorok itu tidak sedang menunggu dirinya dan kawan-kawan seperjalanannya.

 

Namun ketika pendengaran Ki Rangga dan Pandan Wangi yang tajam mendengar desir lembut betapapun mereka mencoba menyamarkan, keduanya segera menyadari bahwa bahaya telah mengancam mereka.

 

Dengan sebuah isyarat, Ki Rangga telah memberitahu kedua Putut itu untuk bersiap. Mereka tidak beranjak dari tempat mereka dan tetap melakukan kegiatan masing-masing, namun apabila diperlukan dalam waktu yang hanya sekejap, senjata-senjata mereka akan segera tergenggam di tangan masing-masing siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

 

Demikianlah, ketika orang-orang yang akan melakukan penyergapan itu sudah merasa yakin bahwa kehadiran mereka belum disadari oleh lawan-lawan mereka, dengan sebuah isyarat, orang yang dipanggil Guru oleh Dugel itu telah memerintahkan semua muridnya untuk bersiap. Dengan sebuah lompatan yang panjang dan teriakan mengguntur, mereka berharap dapat mengejutkan Ki Rangga dan kawan kawannya sehingga untuk sejenak mereka akan kehilangan daya penalarannya dan dengan segera senjata-senjata yang sudah teracu itu akan menembus dada.

 

Namun, yang terjadi kemudian adalah di luar perhitungan Guru Dugel dan murid-muridnya yang lain. Bahkan Ki Rangga dan kawan-kawannya pun tidak menduga sama sekali akan terjadi peristiwa seperti itu. Belum sempat Guru Dugel memberi isyarat untuk menyerang, dari arah tebing sebelah kiri Kali Opak yang agak landai tiba-tiba telah meluncur bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya seekor kuda dengan penunggangnya yang mengenakan caping bambu hampir menutupi seluruh wajahnya.

 

Kuda itu berlari seolah-olah tidak menjejak tanah. Bagaikan seekor kuda terbang, dengan dahsyatnya kuda beserta penunggangnya itu meluncur dan menerjang orang-orang yang bersembunyi di balik gerumbul-gerumbul perdu dan batu-batu padas yang menjorok di seberang tepian Kali Opak.

 

Dengan mengayun-ayunkan tongkat hitamnya orang yang bercaping itu membongkar gerumbul-gerumbul perdu dan bongkah-bongkah batu padas yang terdapat di seberang tepian kali Opak sehingga debu dan tanah pun ikut berhamburan. Beberapa orang yang tidak sempat menghindar telah terpelanting terkena sambaran tongkat hitam itu. Tubuh-tubuh mereka terlempar dan jatuh tersungkur tidak bergerak lagi, entah pingsan atau mati.

 

Sementara Dugel dan Gurunya yang mempunyai kemampuan lebih, hampir bersamaan telah meloncat ke arah yang berbeda. Ketika kaki-kaki mereka telah menjejak tanah, bagaikan seekor bilalang, mereka pun kemudian melenting dengan cepat dan menyambar ke arah orang yang berkuda itu dengan serangan yang dahsyat.

 

Mendapat serangan dari dua arah yang berbeda tidak membuat penunggang kuda itu menjadi gugup. Dengan sekali sentak kudanya meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Sambil menarik kendali kudanya ke arah kiri, penunggang kuda itu pun kemudian menghentak kudanya berbelok ke kiri untuk menerjang Dugel yang sedang meloncat menerjang ke arahnya. Sementara serangan Guru Dugel dari arah lain ternyata hanya lewat beberapa jengkal saja dari punggungnya.

 

Dugel terkejut melihat lawannya ternyata mengarahkan terjangan kaki depan kudanya tepat ke arah dada. Sambil membungkuk dalam-dalam, akhirnya Dugel pun berguling ke samping untuk menghindari terjangan kaki kuda lawannya.

 

Namun alangkah terkejutnya Dugel ketika dia mencoba melenting berdiri, terasa sesuatu telah menyentuh pundaknya. Segera saja pundak kiri Dugel terasa bagaikan lumpuh dan agak sulit digerakkan.

 

“Gila..!” umpat Dugel sambil meraba pundak kirinya. Walaupun tidak menitikkan darah, namun luka memar itu telah mempengaruhi pergerakan tangan kiri Dugel.

 

Sementara penunggang kuda yang menyadari bahwa agaknya Ki Rangga dan kawan kawannya masih berdiri termangu mangu di tepian kali Opak sambil menyaksikan pertempuran yang berlangsung begitu cepat, telah berteriak sambil berpaling ke arah Ki Rangga, “Jangan pedulikan kami, cepatlah berangkat! Orang-orang ini sengaja dikirim untuk menghambat perjalanan kalian.”

 

“Persetan..!” bentak Guru Dugel sambil meloncat dengan kaki kanan terjulur lurus mengarah lambung lawannya, sementara Dugel yang telah menyadari bahwa tongkat lawannya telah melukai pundak kirinya pada saat dia berguling telah menggeram keras dan mengambil ancang-ancang.

 

“Guru..!” teriaknya sambil memusatkan nalar budinya, “Pengacau ini harus segera dimusnahkan kalau tidak tugas kita akan berantakan.”

 

Selesai berkata demikian, Dugel segera menggosok-gosokkan kedua belah telapak tangannya. Sejenak kemudian dari kedua belah telapak tangan Dugel pun telah memancar gumpalan-gumpalan api yang membara dan langsung menerjang lawannya yang masih tetap bertahan di atas punggung kuda.

 

Agaknya Gurunya pun telah mengambil keputusan yang sama, ketika serangannya hanya mengenai tempat yang kosong karena lawannya justru sekali lagi telah memutar kudanya, dari kedua belah telapak tangannya juga telah meluncur gumpalan-gumpalan api yang sangat panas dan siap untuk melumatkan lawannya menjadi debu.

 

“Pergilah!” penunggang kuda itu masih sempat memperingatkan Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan kawannya sebelum meloncat turun dari kudanya untuk menghindari terjangan gumpalan-gumpalan api yang membara.

 

Yang terjadi kemudian adalah sebuah peristiwa yang dapat menggetarkan setiap jantung dari mereka yang ada di tepian kali Opak. Kuda orang yang bercaping itu hanya sempat meringkik pendek sebelum kemudian tubuhnya terjengkang roboh dalam keadaan hangus terbakar.

 

Ketika dengan bangganya guru dan murid itu masih menikmati kemenangan kecilnya, tiba-tiba orang bercaping itu telah memutar tongkatnya dengan cepat. Angin pun segera berputar dengan dahsyatnya bagaikan angin puting beliung melibas ke arah Dugel dan Gurunya.

 

Sementara itu Ki Rangga segera dapat menilai. Agaknya orang bercaping itu berniat baik kepada mereka berempat. Dia mencoba menahan orang-orang yang mencoba untuk mencegatnya di Kali Opak. Menyadari hal demikian, Ki Rangga Agung Sedayu segera memberikan isyarat kepada Pandan Wangi dan kedua Putut itu untuk segera menyingkir.

 

Dengan sigap keempat orang itu segera meraih kendali kuda masing-masing. Sejenak kemudian keempat orang itu telah berderap menyeberangi kali Opak yang dangkal di penghujung musim kemarau.

 

Melihat buruannya akan terlepas dari tangannya, Dugel segera berteriak kepada saudara-saudara seperguruannya yang masih tersisa dan justru telah menyingkir agak menjauhi medan pertempuran.

 

“He..! Kalian murid-murid dungu! Cepat kejar mereka. Aku dan Guru akan segera menyelesaikan orang gila yang mencampuri urusan kita ini!” teriak Dugel sambil menghentakkan Aji Gumbala Geni untuk ke sekian kalinya menyambar ke arah dada lawannya.

 

Tentu saja lawannya tidak akan membiarkan dadanya hangus terbakar. Sambil memutar tongkatnya melindungi dada, orang bercaping itu dengan gerakan yang tidak kasat mata, tangan kirinya telah menaburkan tiga buah pisau belati sekaligus yang menyambar ke arah leher, dada dan perut Dugel.

 

Gurunya yang melihat Dugel mendapat serangan tiga arah sekaligus segera menolong Dugel dengan melancarkan Aji Gumbala Geninya menyambar pisau-pisau belati yang mengarah ke bagian tubuh Dugel yang berbahaya. Segera saja ketiga buah pisau belati itu pun runtuh berjatuhan ke atas tanah tersambar oleh Aji Gumbala Geni.

 

Orang bercaping yang menyadari bahwa pisau-pisau belatinya tidak banyak berpengaruh terhadap lawannya, segera memutar tongkatnya kembali. Sejenak kemudian angin yang menderu kembali meluncur menerjang Dugel.

 

Dugel terkejut mendapat serangan dahsyat dari angin puting beliung yang melibatnya dengan cepat. Sedikit saja dia terlambat, serangan lawannya itu dapat merontokkan isi dadanya. Oleh karena itu, dengan mengandalkan kecepatannya dalam bergerak dan kelincahannya, dia berloncatan dengan cepat ke segala arah untuk mengelabuhi serangan lawannya. Tidak jarang dia bahkan harus bergulingan di atas tanah ketika pusaran angin itu menyambar bagian atas tubuhnya. Ketika kemudian dia mempunyai kesempatan walaupun hanya sekejab, dari kedua belah telapak tangannya yang terbuka, kembali meluncur gumpalan-gumpalan api yang siap menghanguskan tubuh lawannya.

 

Sementara Guru Dugel telah berbuat serupa dengan muridnya. Untuk mengalihkan perhatian orang bercaping itu, dia justru telah meloncat berputar-putar mengitari arena pertempuran. Sesekali serangannya menerjang ke arah lawannya dari sudut yang kadang tak terduga.

 

Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang sudah bergerak agak jauh meninggalkan tepian kali Opak menjadi bimbang. Dilihatnya beberapa orang tengah berlari-lari mengejarnya dengan senjata teracu, sementara orang bercaping yang menolong mereka telah terdesak menghadapi serangan kedua Guru dan Murid itu.

 

Ketika Ki Rangga telah memutuskan kembali ke tepian kali Opak untuk membantu orang bercaping itu, tiba-tiba dari arah tikungan seberang kali Opak terdengar derap seekor kuda yang melaju kencang. Sejenak kemudian muncul seorang penunggang kuda yang bercaping lebar hampir menutupi seluruh wajahnya.

 

Semua orang yang ada di tepian itu terkejut bukan buatan. Bahkan saudara-saudara seperguruan Dugel yang sedang mengejar Ki Rangga dan kawan-kawannya pun sejenak telah menghentikan langkah mereka. Penunggang kuda itu benar-benar mirip dengan orang yang sedang bertempur dengan Dugel dan Gurunya, baik dalam cara berpakaian maupun bentuk tubuhnya yang tinggi besar.

 

Ternyata penunggang kuda yang terakhir ini telah menunjukkan ketangkasannya dalam menunggang kuda. Ketika kudanya hampir mencapai tepian kali Opak yang berbatu batu, dengan tangkasnya dia melenting dari atas kudanya dan dengan lincahnya dia kemudian berloncatan di atas batu-batu yang berserakan di sepanjang kali Opak menuju ke tempat terjadinya pertempuran.

 

Dugel dan Gurunya mengumpat keras-keras begitu orang bercaping yang kedua itu kini telah berdiri beberapa langkah saja di dekat orang bercaping yang pertama.

 

“Gila..!” teriak Dugel, “Permainan yang sangat memuakkan. Marilah, berapapun kawan kalian yang akan berdatangan. Kami sanggup melumat kalian menjadi debu.”

 

Orang bercaping yang baru datang itu ternyata tidak menanggapi kata-kata Dugel. Bahkan dia berpaling dan berteriak ditujukan kepada Ki Rangga, “Menjelang dini hari nanti api akan dinyalakan. Berangkatlah, jangan hiraukan kami agar kalian tidak sampai terlambat.”

 

Ki Rangga Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata orang bercaping yang datang kemudian itu. Kata-kata orang bercaping yang datang kemudian itu adalah bahasa sandi yang sering digunakan dalam lingkungan keprajuritan khususnya di lingkungan prajurit sandi yudha. Dan kini orang bercaping itu telah memberitahukan kepadanya bahwa dini hari nanti Panembahan Cahya Warastra dan perguruan-perguruan yang telah dihimpunnya akan menggempur ibu kota Mataram.

 

Sadar akan waktu yang semakin sempit untuk mempersiapkan pasukan segelar sepapan jika memang benar Panembahan Cahya Warastra akan menggempur ibu kota Mataram dini hari nanti, Ki Rangga segera memberi isyarat kepada kawan-kawan seperjalanannya untuk segera meninggalkan tempat itu dengan pertimbangan kedua orang bercaping itu tentu akan mampu mengimbangi kekuatan dua orang lawannya yang mempunyai kemampuan bermain-main dengan gumpalan-gumpalan api.

 

Pandan Wangi dan kedua Putut itu segera tanggap. Digebraknya kuda-kuda mereka berpacu mengikuti Ki Rangga yang sudah memacu kudanya terlebih dahulu beberapa langkah di depan mereka, sedangkan orang-orang yang berusaha memburu mereka ternyata telah jauh tertinggal di belakang.

 

“Penunggang kuda yang aneh itu ternyata ada dua orang,” desis Ki Rangga dalam hati sambil memacu kudanya semakin cepat memasuki wilayah Padukuhan yang kecil namun sangat asri, Padukuhan Cupu Watu.

 

Sambil menjaga agar jarak antara dirinya dan kawan-kawan seperjalanannya tidak terlampau jauh, Ki Rangga kembali berangan-angan, “Ternyata selama ini aku telah dikelabuhi mereka. Aku berpikiran kalau mereka itu hanya satu orang saja sehingga dengan mudah mereka ganti berganti menghilangkan jejak kemudian dengan tidak terduga duga muncul lagi di tempat yang terbuka sehingga membuat pengenalanku atas keberadaan mereka menjadi kabur.”

 

Tanpa disadarinya Ki Rangga mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian lanjutnya dalam hati, “Sebenarnya aku dapat lebih mempertajam aji sapta panggraitaku untuk melacak keberadaan salah satu dari mereka ketika berada di tepian kali Opak itu, namun ketika aku akan lebih mempertajam panggraitaku, penunggang kuda yang satunya justru telah muncul di tempat lain sehingga perhatianku telah terpecah kepadanya. Suatu permainan yang menarik yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah mumpuni secara lahir maupun batin.”

 

Kini Ki Rangga yakin, dengan berdua mereka akan mampu menahan gempuran Dugel dan Gurunya. Sementara murid-murid yang lain tidak akan banyak membantu. Mereka justru hanya akan mengganggu Dugel dan Gurunya saja jika ikut turun ke medan pertempuran di antara orang-orang yang berilmu tinggi.

 

Demikianlah akhirnya, ketika Matahari mulai tergelincir dari puncaknya, mereka berempat telah mendekati hutan tambak baya yang semakin ramai. Dari jauh sudah tampak lorong yang memang sengaja dibuat untuk menghubungkan hutan yang masih cukup lebat itu dengan daerah-daerah di sekitarnya. Sebuah kedai tampak ramai dikunjungi pembeli di dekat lorong masuk ke hutan itu. Sementara agak jauh beberapa langkah di samping kanan kedai, tampak tiga ekor kuda yang berwarna cokelat gelap ditambatkan di antara tanaman-tanaman perdu yang tumbuh liar di sekitar kedai.

 

Keasyikan orang-orang yang sedang berbelanja dikedai itu terganggu sejenak ketika mereka lamat-lamat mendengar derap kaki-kaki kuda yang dipacu dengan kencang. Beberapa orang bahkan telah berdiri dari duduknya dan memandang ke arah jalan yang menghubungkan hutan tambak baya itu dengan daerah timur dan selatan. Bersamaan dengan munculnya debu yang mengepul, di ujung jalan itu tampak empat ekor kuda sedang dipacu dengan kecepatan yang tinggi.

 

Beberapa orang yang ada di kedai itu ternyata telah menaruh perhatian terhadap kedatangan empat ekor kuda yang melaju dengan kencang. Salah seorang yang berbadan kurus tapi berkumis tebal telah menyempatkan diri untuk turun dari kedai dan melangkah ke pinggir jalan.

 

Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang berpacu dengan waktu itu pun menyadari bahwa tidak selayaknya mereka berpacu dengan kecepatan tinggi ketika memasuki tempat keramaian, di mana sedang banyak orang yang berbelanja di kedai yang terdapat di mulut lorong. Untuk itulah Ki Rangga segera memberi isyarat agar mereka memperlambat laju kuda-kuda mereka.

 

Sejenak kemudian Ki Rangga dan tiga orang kawannya telah berderap dengan kecepatan sedang lewat di muka kedai tanpa berhenti dan langsung memasuki lorong hutan Tambak Baya.

 

Orang yang kurus dan berkumis tebal itu terkejut bukan buatan bagaikan disengat kalajengking sebesar ibu jari kaki orang dewasa begitu mengenali orang yang berkuda di paling depan.

 

“Ki Rangga Agung Sedayu,” desisnya dengan bibir bergetar, “Gila..! Ternyata Perguruan Gumbala Geni tidak mampu menahannya di pinggir Kali Opak.”

 

Menyadari hal itu, dengan tergesa-gesa orang yang kurus dan berkumis tebal itu segera kembali ke kedai. Dua orang kawannya dengan tergesa-gesa segera menyongsongnya.

 

“Bagaimana Ki Dukut?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

 

“Burung Garuda itu terlalu perkasa bagi perguruan Gumbala Geni, kita harus mengirim isyarat kepada Ki Ajar Andong Puring,” jawab orang yang di panggil Ki Dukut itu.

 

Selesai berkata demikian, Ki Dukut beserta kedua kawannya dengan setengah berlari segera mendekati kuda-kuda yang ditambatkan di sebelah kanan kedai. Ternyata mereka telah menyimpan busur beserta anak panahnya di kantung pelana kuda mereka. Sejenak kemudian terdengar suara raungan merobek udara siang yang terik tiga kali susul menyusul. Ternyata mereka telah mengirimkan isyarat melalui panah sendaren.

 

Ki Rangga Agung Sedayu yang mulai merambah hutan Tambak Baya itu sejenak tertegun mendengar suara raungan panah sendaren tiga kali berturut turut. Sambil tetap mempertahankan derap kaki kudanya, dia berpaling ke arah kawan-kawan seperjalanannya, “Hati hatilah. Mungkin suara panah sendaren itu ada hubungannya dengan kita. Tidak ada salahnya kalau kita berhati hati.”

 

Pandan Wangi yang berada beberapa langkah di belakangnya hanya mengangguk. Kemudian dihela kudanya maju beberapa langkah untuk menjajari Ki Rangga Agung Sedayu. Sambil berkuda di sebelah Ki Rangga, kedua tangannya setiap saat telah siap untuk mencabut sepasang pedangnya.

 

Dalam pada itu di tengah hutan Tambak Baya, Ki Ajar Andong Puring dan murid-muridnya telah mendengar isyarat panah sendaren dari Ki Dukut dan kawan kawannya. Sejenak Ajar yang memimpin Padepokan Andong Puring di lereng gunung Gede itu tertegun. Sambil menarik nafas dalam-dalam dia berpaling ke arah murid muridnya yang berjumlah tujuh orang, katanya kemudian, “Ki Rangga Agung Sedayu adalah orang yang mumpuni. Perguruan Gumbala Geni itu tidak mampu memahatnya. Namun di sini kita tidak sendirian, ada Kiai Naga Geni yang menemani kita bermain main dengan murid utama orang bercambuk itu.”

 

Kiai Naga Geni yang disebut-sebut namanya oleh Ki Ajar Andong Puring hanya tertawa masam. Tanpa mengubah letak duduknya, bersila di atas rerumputan kering di bawah sebatang pohon besar sambil memejamkan matanya, dia menyahut, “Mengapa kita begitu ketakutan dengan orang yang disebut murid orang bercambuk? Apakah cambuknya itu terbuat dari baja pilihan, sedangkan sebilah pedang yang terbuat dari baja pun akan leleh tersambar oleh aji Naga Geni.”

 

Ki Ajar dan murid-muridnya hanya saling berpandangan. Dari uraian kata katanya saja sudah tampak betapa sombongnya orang yang menyebut dirinya Kiai Naga Geni itu. Memang Kiai Naga Geni itu masih keturunan ketiga Kiai Nagapasa dari Blambangan yang namanya pernah menggetarkan Demak lama. Namun ternyata kehebatan nama Kiai Nagapasa dengan aji kebanggaan-nya yang juga diberi nama Aji Nagapasa pada waktu itu harus lenyap tersapu Aji Sasra Birawa yang dimiliki oleh murid perguruan Pengging yang gemilang, Ki Kebo Kanigara.

 

Kehadiran Kiai Naga Geni jauh-jauh dari Blambangan sebenarnya selain menghadiri undangan Panembahan Cahya Warastra, dia juga membawa dendam lama dari pendahulunya, Kiai Nagapasa untuk mencari keturunan perguruan Pengging dan sekaligus membalaskan dendam perguruan yang sudah puluhan tahun terpendam.

 

Ketika kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda yang gaungnya terdengar melingkar lingkar di hutan yang masih cukup lebat itu, Ki Ajar Andong Puring pun telah memberikan isyarat kepada murid-muridnya. Dengan sigap ketujuh murid perguruan Andong Puring itu pun kemudian segera berloncatan ke tengah jalan setapak yang membentuk lorong yang panjang yang menghubungkan alas Tambak Baya dengan alas Mentaok.

 

Sementara Kiai Naga Geni tampak masih duduk bersila dengan tenang di bawah pohon sambil memejamkan matanya. Walaupun dia mencoba menenangkan hatinya, namun debar jantungnya seakan akan memukul-mukul rongga dadanya. Betapapun juga, dia telah mendengar nasehat dari gurunya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya karena usia tua, untuk sedapat mungkin menghindari silang seketa dengan perguruan orang bercambuk. Masih menurut penuturan Gurunya, orang bercambuk guru Ki Rangga Agung Sedayu itu di masa mudanya bersahabat dekat dengan murid perguruan Pengging, Ki Kebo Kanigara.

 

Kiai Naga Geni menyadari bahwa pesan gurunya yang telah tiada itu cukup beralasan. Perguruan orang bercambuk atau yang dikenal dengan nama perguruan Windujati di masa kejayaan Majapahit adalah perguruan besar yang sangat disegani pada waktu itu. Namun kini dengan perkembangan jaman dan munculnya perguruan-pergururan baru, nama perguruan Windujati seakan telah tenggelam.

 

“Aku tidak perduli..!” geram Kiai Naga Geni dalam hati, “Sebelum menemukan anak turun perguruan Pengging, murid orang bercambuk ini pun sudah merupakan hiburan untuk menuntaskan dendam, justru karena guru-guru mereka telah bersahabat di masa muda.”

 

Lamunan Kiai Naga Geni terputus ketika terdengar bentakan menggelegar dari Ki Ajar Andong Puring untuk menghentikan Ki Rangga Agung Sedayu dan rombongannya yang telah tiba di tempat itu.

 

Ki Rangga terkejut. Bentakan orang yang berdiri beberapa langkah menghadang jalannya ini mirip dengan aji Gelap Ngampar atau Senggara Macan. Namun menilik ujud lahiriahnya yang mirip dengan auman seekor harimau loreng, aji ini lebih mendekati aji Senggara Macan yang bersifat melemahkan nyali lawannya. Berbeda dengan aji Gelap Ngampar yang getarannya dapat merontokkan isi dada orang yang mendengarkannya.

 

Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu tanpa turun dari kudanya telah berpaling ke belakang. Dilihatnya kedua Putut yang masih muda itu mengerutkan keningnya dalam-dalam dengan wajah yang tegang.

 

“Mereka perlu pengalaman semacam ini,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Jika mereka hanya terkungkung saja di dalam dinding Padepokan, mereka akan menganggap ilmu yang telah mereka serap tidak ada duanya di dunia ini. Padahal dunia ini sangat luas dan berisi beraneka ilmu yang kadang sangat sulit untuk dinalar.”

 

“Ki Sanak,” tiba-tiba Ki Ajar Andong Puring berteriak lagi namun teriakan yang sewajarnya sehingga membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Aku minta kalian semua turun dari kuda-kuda kalian. Serahkan semua barang berharga dan juga kuda-kuda kalian. Kami jamin kalian dapat lewat dengan selamat.”

 

Ki Rangga sejenak merenung. Ketika kemudian dia berpaling ke arah Pandan Wangi, dilihatnya Putri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk sekilas.

 

Akhirnya sambil menarik nafas dalam-dalam Ki Rangga pun meloncat turun dari kudanya diikuti oleh Pandan Wangi, sedangkan kedua Putut itu masih ragu-ragu sejenak. Namun ketika Ki Rangga mengangguk ke arah mereka berdua, mereka pun segera mengikuti Ki Rangga dan Pandan Wangi meloncat turun dari kuda mereka.

 

“Silahkan, Ki Sanak,” berkata Ki Rangga selanjutnya, “Sebenarnyalah kami membutuhkan kuda-kuda ini, namun jika Ki Sanak lebih membutuhkan, kami akan menempuh sisa perjalanan kami ini dengan berjalan kaki.”

 

Ki Ajar Andong Puring dan murid muridnya justru telah membeku mendengar jawaban Ki Rangga. Mereka berharap Ki Rangga dan kawan kawannya akan mempertahankan diri sehingga mereka mempunyai alasan untuk segera terlibat dalam sebuah pertempuran.

 

Sebelum Ki Ajar memutuskan untuk mengambil suatu sikap, tiba-tiba terdengar tertawa yang berkepanjangan. Kiai Naga Geni yang tadinya duduk bersila dengan tenang di bawah sebatang pohon, kini telah berdiri dan tertawa berkepanjangan sambil berjalan menghampiri mereka yang sedang dicekam ketegangan.

 

“Persetan dengan segala omong kosong ini,” geram Kiai Naga Geni sesampainya di sebelah Ki Ajar berdiri. Kemudian katanya kepada Ki Ajar, “Ki Ajar, kita tidak usah berbelit-belit untuk mencari perkara dengan mereka. Katakan saja bahwa kita memerlukan nyawa mereka untuk tumbal dari sebuah perjuangan.”

 

“Nah, itu lebih baik Ki Sanak,” sahut Ki Rangga Agung Sedayu cepat sambil mengangguk hormat ke arah Kiai Naga Geni, “Kalau mungkin Ki Sanak tidak berkeberatan, ijinkanlah kami mengetahui nama atau gelar Ki Sanak.”

 

Kiai Naga Geni justru tertegun melihat sikap Ki Rangga yang begitu tenang padahal maut sewaktu waktu dapat merenggut nyawanya.

 

“Kau sombong sekali, Ki Rangga Agung Sedayu, Pemimpin pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh,” Kiai Naga Geni berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Jangan pernah mengharap di sini engkau akan dilindungi oleh pasukan khususmu yang segelar sepapan itu. Engkau berhadapan dengan Kiai Naga Geni dari perguruan Nagapasa Nusakambangan. Nah, apa katamu sekarang.”

 

Ki Rangga Agung Sedayu tertegun. Nama perguruan Nagapasa dari Nusakambangan pernah disebut oleh Gurunya. Salah satu perguruan yang pernah berseteru dengan perguruan Pengging pada jaman Kesultanan Demak lama. Namun Kiai Gringsing tidak pernah menyebut hubungan khususnya dengan perguruan yang pernah mengalami jaman keemasan pada saat Pangeran Handayaningrat atau lebih dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging Sepuh menjadi pemimpin pemerintahan di Kadipaten Pengging.

 

“Ma’afkan aku, Kiai Naga Geni,” berkata Ki Rangga Agung Sedayu setelah sejenak terdiam, “Aku rasa kita tidak pernah saling bersengketa. Perguruanku dan perguruan Nagapasa tidak pernah saling mengenal. Jadi untuk apa sebenarnya kita harus bertengkar di sini?”

 

“Tutup mulutmu,” bentak Kiai Naga Geni, “Aku datang jauh jauh dari Nusakambangan untuk menuntaskan dendam pendahuluku. Ketahuilah, Kakek Guru kami, Kiai Nagapasa telah dibunuh dengan curang oleh murid perguruan Pengging, Ki Kebo Kanigara. Nah, sekarang ini siapapun yang mempunyai sangkut paut dengan perguruan Pengging akan aku musnahkan.”

 

Kembali Ki Rangga Agung Sedayu tertegun. Katanya kemudian, “Aku tidak mengerti Kiai, apakah hubungannya antara perguruanku ini dengan masalah balas dendam yang engkau sebut sebut itu?”

 

“Jangan berpura pura,” kembali Kiai Naga Geni membentak, “Gurumu yang bergelar orang bercambuk itu adalah sahabat karib Ki Kebo Kanigara pada saat jaman kejayaan Demak lama. Tidak mustahil Gurumu pun ikut berperan dalam peristiwa terbunuhnya Kiai Nagapasa.”

 

Ki Rangga Agung Sedayu benar-benar binggung dan tak habis pikir. Kiai Gringsing tidak pernah bercerita tentang riwayat hidupnya kepada para muridnya. Yang diketahui oleh Ki Rangga adalah, bahwa perguruan orang bercambuk itu ternyata adalah jalur lurus pewaris dari perguruan Windujati. Itu terbukti dari Kitab warisan perguruan Windujati yang sekarang mereka miliki.

 

“Nah, apakah engkau sekarang sudah menyadari?” bertanya Kiai Naga Geni begitu melihat Ki Rangga Agung Sedayu tidak berkata sepatah kata pun dan hanya diam termangu-mangu.

 

Sementara Pandan Wangi yang ada disebelahnya hanya mengatupkan giginya rapat rapat. Kalau pertempuran sudah tidak dapat dihindarkan lagi, sudah semestinya dia menghadapi orang yang disebut dengan Ki Ajar itu, sedangkan Ki Rangga akan menghadapi Kiai Naga Geni. Namun yang menjadi permasalahan sekarang adalah kedua Putut kakak beradik itu, mereka berdua harus melawan tujuh orang sekaligus. Keadaan yang benar-benar tidak seimbang.

 

Ki Ajar Andong Puring yang sedari tadi diam saja tiba-tiba telah memberi isyarat kepada murid-muridnya untuk menyebar. Tujuh orang murid perguruan Andong Puring itu pun kemudian segera mencabut senjata masing-masing. Dengan gerakan yang teratur dan rapi, ke tujuh murid Ki Ajar Andong Puring bergerak mengepung Ki Rangga dan kawan-kawannya.

 

Diam-diam Ki Rangga mulai menghitung kekuatan. Dia hanya berempat sedangkan di pihak lawan ada sembilan orang. Jika dia bertempur hanya terpusat pada lawannya Kiai Naga Geni, yang akan segera menjadi kurban adalah kedua Putut itu. Maka setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya Ki Rangga pun berkata, “Kiai, aku tidak tahu menahu soal dendam itu. Tapi yang sedang terjadi sekarang ini adalah kami telah dihadang untuk bisa masuk ke Mataram. Apapun yang terjadi, kami akan membela diri dan berusaha untuk melanjutkan perjalanan kami.”

 

Selesai berkata demikian, Ki Rangga segera bergeser mendekati Pandan Wangi, sedangkan kepada kedua Putut itu diberinya isyarat untuk beradu punggung menghadapi lawan yang mengepung dari arah belakang.

 

Pandan Wangi yang berdiri di sebelahnya mengerutkan keningnya. Menurut perhitungannya, mereka akan sulit sekali untuk bergerak saling melindungi, justru karena lawan-lawan mereka dengan bebas akan berputar putar memilih orang yang paling lemah diantara mereka.

 

Namun sudah tidak ada jalan lain lagi untuk menahan gempuran lawan. Oleh karena itu, tiba-tiba saja Pandan Wangi telah mengambil keputusan sendiri. Dengan tangkasnya Pandan Wangi segera melepas tali kendali kudanya dan meloncat kebelakang. Dengan serta merta dilecutnya kudanya kuat-kuat sehingga kuda itu terkejut dan meringkik keras kemudian meloncat berlari sekencang kencangnya ke arah Ki Ajar Andong Puring yang berdiri beberapa langkah saja di depannya.

 

Ki Ajar terkejut mendapat terjangan kuda yang lari bagaikan kesetanan itu. Namun dengan tangkasnya dia telah melenting kesamping sehingga kuda yang berlari dengan binal itu lewat hanya sejengkal dari tubuhnya.

 

Namun yang terjadi kemudian adalah diluar perkiraan Ki Ajar itu sendiri. Kuda yang berlari dengan kencang itu memang berhasil dihindari oleh Ki Ajar, akan tetapi bagi seorang muridnya yang berdiri di samping kiri Gurunya ternyata telah bernasib kurang baik. Kuda itu ternyata telah melanggar sebagian tubuhnya sehingga tanpa ampun murid Ki Ajar yang malang itu telah terputar dengan dahsyat kemudian terlempar beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya terbanting ke tanah tidak bergerak lagi.

 

Ki Rangga yang melihat peristiwa itu tersenyum ke arah Pandan Wangi. Ternyata usaha Pandan Wangi untuk mengurangi jumlah lawannya berhasil. Namun perbandingan itu masih terlampau jauh.

 

Murid murid Ki Ajar Andong Puring yang lainnya sejenak bagaikan membeku melihat salah seorang kawannya terjatuh dilanggar kuda Pandan Wangi yang berlari bagaikan kesetanan. Ketika mereka bergerak ingin menolong kawannya yang malang itu, Ki Ajar ternyata justru telah membentak mereka, “Biarkan saja anak bodoh itu! Tetap pada kedudukan kalian. Jangan sampai mereka lolos dari kepungan kalian.”

 

Ki Rangga yang mendengar teriakan Ki Ajar itu segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk mendorong kuda-kuda mereka agar bergerak menyingkir dari arena pertempuran. Sementara Pandan Wangi yang telah kehilangan kudanya kemudian telah mencabut sepasang pedangnya, sedangkan kedua Putut yang tegang itu pun kemudian telah mengurai senjatanya pula, selembar cambuk yang disembunyikan di bawah baju mereka.

 

Kiai Naga Geni yang melihat kedua Putut itu mengurai cambuknya telah tertawa berkepanjangan. Katanya kemudian, “Ternyata kita benar benar berhadapan dengan perguruan orang orang bercambuk. Namun aku masih meragukan, apakah mereka benar-benar menguasai senjata mereka ataukah sekedar gembala gembala yang bodoh dan sombong yang tidak menyadari dengan siapa mereka berhadapan.”

 

Selesai berkata demikian, dengan langkah satu-satu Pemimpin Perguruan dari Nusa Kambangan itu mendekati arena pertempuran. Dengan tajamnya dia memandang ke arah Ki Rangga Agung Sedayu yang masih belum mengurai cambuknya.

 

“Manakah senjata ciri khas perguruanmu, Ki Rangga?” bertanya Kiai Naga Geni dengan nada mengejek, “Ataukah engkau lupa membawanya setelah selesai menggembalakan kambing kambingmu?”

 

Ki Rangga hanya menarik nafas dalam-dalam mendengar ejekan lawannya. Jawabnya kemudian, “Aku tidak terbiasa menggunakan cambukku untuk melawan orang yang tidak bersenjata. Kalau Kiai ingin menggunakan senjata, silahkan. Nanti akan aku pertimbangkan untuk menggunakan cambukku atau tidak setelah melihat ujud senjata Kiai.”

 

“Iblis.!” Umpat Kiai Naga geni, “Kesombongan perguruan orang bercambuk benar-benar memuakkan. Senjataku adalah kedua belah tanganku ini. Jika aku menghendaki, aku dapat membakar hutan dan mengeringkan lautan dengan ilmuku.”

 

Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab bualan lawannya. Sebenarnyalah dia ingin menggunakan cambuknya. Sesuai dengan sifat dari senjata itu sendiri yang panjang dan lentur serta dapat digerakkan untuk menjangkau ke segala arah. Dengan demikian kemungkinan untuk menolong kedua Putut itu apabila mereka dalam keadaan bahaya sangat terbuka lebar. Namun ternyata lawannya justru tidak bersenjata, maka yang dapat dilakukannya saat ini hanyalah mengetrapkan ilmu kebalnya untuk melindungi dirinya dari kemungkinan pancaran ilmu lawannya. Namun Ki Rangga tidak tergesa-gesa mengetrapkan ilmu kebalnya tersebut sampai ke puncak karena dia belum dapat mengukur sampai dimana tingkat ketinggian ilmu lawannya.

 

Sementara Pandan Wangi yang sudah menggenggam sepasang pedangnya mulai menggeser kaki kanannya selangkah ke samping. Disilangkannya kedua pedang tipisnya itu di depan dada. Setelah kaki kirinya ditekuk sedikit kedepan, pedang yang ada ditangan kanannya pun kemudian bergerak lurus kedepan, siap untuk mematuk dada lawannya.

 

Ki Ajar Andong Puring yang berdiri beberapa langkah saja dari tempat Pandan Wangi berdiri seolah olah terkesima dengan gerakan pembukaan yang diperagakan oleh satu satunya putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Pandan Wangi benar-benar terlihat masih mempesona di usianya yang mendekati setengah abad. Wajahnya yang putih bersih itu terlihat berbinar cerah dengan sepasang mata yang tajam. Tubuhnya yang langsing terlihat masih penuh padat berisi sehingga membuat Ki Ajar Andong Puring beberapa kali harus menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat kering, sekering sawah dan pategalan di musim kemarau.

 

“Nah, apakah engkau sudah siap, Ki Ajar?” pertanyaan Pandan Wangi telah membuyarkan lamunan Ki Ajar.

 

Sejenak pandangan mata Ki Ajar menyambar wajah Pandan Wangi namun kemudian segera dipalingkannya pandangan matanya ke arah murid-muridnya yang sudah siap melakukan serangan pertama.

 

“Marilah, agaknya kita memang sudah ditakdirkan untuk saling melukai di tempat ini,” berkata Ki Ajar tanpa berani menentang mata Pandan Wangi, “Apapun akibatnya harus kita terima demi terwujudnya sebuah cita-cita mulia.”

 

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Katanya kemudian tanpa meninggalkan kewaspadaan sedikit pun, “Apakah cita-citamu itu Ki Ajar?”

 

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Pandan Wangi, “Bukan aku pribadi yang mempunyai cita-cita itu, namun kami semua yang tergabung dalam barisan yang menginginkan perubahan, perubahan pemerintahan yang semakin baik dan yang lebih penting lagi adalah adanya perubahan taraf hidup kawula Mataram yang semakin makmur.”

 

“Apakah menurut penilaian Ki Ajar, pemerintahan Panembahan Hanyakrawati sekarang ini kurang baik?”

 

Ki Ajar tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Setiap kawula Mataram yang peduli dengan lingkungannya akan menjawab ya, bukankah bukti-bukti telah ada di sekitar kita? Kehidupan yang semakin sulit, gagal panen di mana-mana, penyakit yang merajalela di kalangan kawula alit sementara para bangsawan dan kalangan istana hanya hidup berfoya-foya dan saling memperebutkan kedudukan dan kemewahan,” Ki Ajar berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Bukankah penyebab terjadinya ketegangan antara Mataram dan Panaraga karena adanya keinginan untuk memiliki kedudukan yang bukan haknya? Dan itu hanya terjadi pada segelintir kalangan istana, sementara perang yang terjadi nanti akan sangat merugikan kawula alit, para prajurit rendahan yang akan menjadi kurban, banyak perempuan yang akan menjadi janda, anak-anak akan terlantar karena kehilangan Ayahnya. Lalu siapakah yang akan menanggung semua itu? Semua akan kembali menjadi tanggungan para kawula alit yang telah lama hidup menderita.”

 

Pandan Wangi termangu-mangu mendengarkan penjelasan Ki Ajar Andong Puring. Sejenak ingatannya kembali ke puluhan tahun silam ketika terjadi pertikaian antara keluarga sendiri di Tanah Perdikan Menoreh. Betapa luka akibat pertikaian itu nyaris menghancurkan sendi-sendi kehidupan di Tanah kelahirannya itu. Kakak satu-satunya harus terbunuh di ujung pedangnya sendiri, justru pada saat Pandan Wangi mulai berangan angan untuk menyatukan keluarganya yang tercerai-berai karena dendam dan perbedaan kepentingan.

 

Ki Rangga Agung Sedayu yang menyadari Pandan Wangi sedang terhanyut oleh kenangan masa lalunya segera terbatuk-batuk kecil. Katanya kemudian sambil mengerahkan getar tenaga cadangannya dalam tekanan suaranya, “Wangi, waktu kita sangat sempit. Sebelum Matahari terbenam kita sudah harus sampai di tujuan.”

 

Pandan Wangi bagaikan tersadar dari sebuah mimpi buruk mendengar kata-kata Ki Rangga. Dengan mempererat genggaman pada hulu pedangnya, dia pun akhirnya berkata, “Baiklah Ki Ajar, simpan dulu ceritamu itu untuk besuk kalau kita masih sempat bertemu kembali. Benar-benar sebuah cerita yang menarik. Sekarang marilah kita melihat kenyataan, kita telah terlanjur berhadapan sebagai lawan.”

 

Diam-diam Ki Ajar mengumpat dalam hati. Usahanya untuk mempengaruhi Pandan Wangi ternyata dengan mudah telah digagalkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu.

 

Ketika kemudian Ki Ajar sudah tidak melihat kemungkinan lain selain menundukkan lawannya dengan kekerasan, segera Ki Ajar mencabut senjatanya, sebuah keris luk sembilan yang berwarna hitam kelam. Keris itu tampak mengerikan dengan pamor yang ungu gelap. Seolah olah ada kekuatan dari kegelapan yang menyelimuti keris itu.

 

Pandan Wangi sejenak tergetar hatinya melihat ujud keris itu. Namun dengan menguatkan hati dan memohon pertolongan kepada Yang Maha Hidup, Pandan Wangi telah memasrahkan segala persoalan itu langsung kepada sumber hidupnya.

 

Demikianlah akhirnya, ketika Pandan Wangi sudah bersiap menghadapi serangan pertama dari Ki Ajar Andong Puring, ternyata justru Kiai Naga Geni yang memulai pertempuran terlebih dahulu. Dengan teriakan yang menggelegar, tubuhnya melesat bagaikan seekor naga yang terbang mematuk mangsanya. Dengan jari-jari yang membentuk cakar naga, Kiai Naga Geni menerjang Ki Rangga Agung Sedayu ke arah dada.

 

Ki Rangga Agung Sedayu yang melihat kecepatan lawannya dalam bergerak diam-diam terkejut. Lawannya itu benar-benar seperti seekor ular raksasa yang terbang menggeliat di udara. Bahkan dengan cepat Kiai Naga Geni mampu mengubah serangannya selagi dia masih melayang di udara, benar-benar seperti tingkah seekor naga.

 

Namun yang menjadi lawannya kini adalah Ki Rangga Agung Sedayu, murid utama perguruan orang bercambuk yang telah tuntas menyadap ilmu dari gurunya, Kiai Gringsing. Selain itu ilmu yang telah dipelajarinya dari kitab Ki Waskita serta ilmu warisan leluhur dari jalur Ayahnya sendiri Ki Sadewa, juga telah luluh dan menyatu dalam dirinya menjadi sebuah kekuatan yang nggegirisi.

 

Gerak Ki Rangga sudah tidak terpaku pada satu jalur ilmu tertentu. Seakan akan semua gerak yang dilakukannya adalah pancaran dari ketiga jalur ilmu yang berbeda beda itu. Kadang gerakannya aneh dan sulit di duga, kadang pelan tapi bertenaga bagaikan tenaga seekor gajah. Namun suatu saat justru kelincahan gerak dan tandangnya membuat lawan menjadi kebingungan karena Ki Rangga seolah olah hanya tinggal bayangannya saja.

 

Kiai Naga Geni yang merasa dirinya tanpa tanding di tlatah Nusakambangan dan sekitar ujung kulon benar-benar merasa terhina. Dengan cepat ditingkatkan ilmunya beberapa lapis untuk mengejutkan lawannya. Namun alangkah kecewanya Kiai Naga Geni itu ketika ternyata Ki Rangga dengan cepat masih dapat menguasai diri dan bahkan telah membalas dengan serangan-serangan yang membadai dan membuatnya berkali kali harus meloncat mundur.

 

Sementara Pandan Wangi yang telah mewarisi ilmu yang utuh dari jalur Menoreh dan telah dikembangkannya sendiri berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Kiai Gringsing ketika orang tua itu masih hidup dan sering mengunjungi Sangkal Putung, telah membuat ilmu pedang rangkapnya semakin meningkat pesat. Dengan kekuatan tenaga cadangannya dan pemusatan nalar budinya, kalau dia menghendaki, serangan ujung pedangnya dapat mendahului ujud wadag dari pedang itu sendiri sejauh satu jengkal. Sehingga lawan tidak akan mengira ketika ujung pedang itu masih kurang satu jengkal dari tubuhnya, ternyata kulitnya telah tertembus dan robek mengalirkan darah.

 

Ki Ajar yang belum menyadari kekuatan yang tersimpan dalam diri lawannya telah mencoba mendesak Pandan Wangi dalam sebuah pertempuran jarak pendek. Selain memang jangkauan senjatanya lebih pendek dari pedang Pandan Wangi, Ki Ajar tidak ingin memberikan kesempatan pada lawannya untuk mengembangkan permainan ilmu pedangnya. Dengan serangan-serangan pendek dan cepat, keris luk sembilan di tangan Ki Ajar berubah menjadi berpuluh-puluh dan mengurung Pandan Wangi dari segala penjuru.

 

Pandan Wangi yang mendapat perlakuan seperti itu sejenak memang mengalami kesulitan untuk mengembangkan permainan pedang rangkapnya. Tidak mungkin baginya untuk meloncat mundur dan mundur terus justru beberapa langkah di belakangnya kedua Putut itu sedang berjuang menghadapi gempuran enam orang murid perguruan Andong Puring. Maka yang dapat dilakukannya kemudian adalah menghentakkan segenap kekuatannya untuk menahan laju gempuran Ki Ajar Andong Puring yang beruntun.

 

Ki Rangga Agung Sedayu segera melihat kesulitan yang dialami oleh Pandan Wangi. Tidak ada jalan lain selain menolong Pandan Wangi dengan memaksa lawannya mundur beberapa langkah sehingga Pandan Wangi mendapat kesempatan untuk mengambil jarak dan mengembangkan permainan ilmu pedangnya.

 

Demikianlah ketika Ki Rangga mempunyai kesempatan membalas serangan lawannya, dengan sebuah serangan yang membadai Ki Rangga telah menggulung lawannya. Ketika Kiai Naga Geni yang mendapat serangan membadai dan beruntun itu telah meloncat kebelakang untuk mengambil jarak, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Dengan sebuah lompatan panjang dia telah meninggalkan lawannya dan memotong arah serangan Ki Ajar Andong Puring yang meluncur kearah Pandan Wangi.

 

Ki Ajar terkejut ketika menyadari Ki Rangga telah berusaha memotong arah serangannya. Dengan cepat diubahnya arah serangan senjatanya yang semula ditujukan ke arah Pandan Wangi, kini justru mengarah ke lambung Ki Rangga.

 

Ki Rangga tidak terkejut melihat perubahan arah serangan itu. Namun dia tidak akan membiarkan lambungnya tertembus oleh senjata lawannya walaupun dia yakin hal itu tidak akan terjadi karena tubuhnya sudah dilindungi dengan ilmu kebal. Dengan sedikit menggeser tubuhnya, ujung keris itu hampir menyentuh ujung bajunya. Kemudian dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, Ki Rangga berusaha mencengkeram pergelangan tangan lawannya yang menggenggam senjata andalannya itu.

 

Tentu saja Ki Ajar tidak ingin senjatanya terlepas dari genggamannya. Dengan sebuah lompatan yang panjang, Ki Ajar pun mundur beberapa langkah kebelakang menghindari cengkeraman Ki Rangga Agung Sedayu.

 

Ketika kemudian Ki Ajar telah berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kokoh, ternyata Pandan Wangi telah mengambil tempat beberapa langkah di depannya sambil menjulurkan pedang tipisnya ke arah ulu hati. Kini Pandan wangi benar-benar telah mengatur jarak dengan lawannya sehingga tidak akan terdesak lagi dengan serangan jarak pendek lawannya.

 

Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu yang masih berdiri termangu mangu ternyata telah dilanda serangan dahsyat dari Kiai Naga Geni. Dengan teriakan menggelegar, Kiai Naga Geni dengan kemarahan yang memuncak menerjang Ki Rangga Agung Sedayu dengan jari-jari yang membara, Ki Rangga pun segera mengetrapkan ilmu kebalnya sampai ke puncak.

 

Segera saja hawa panas memancar dari tubuh Ki Rangga Agung Sedayu. Kiai Naga Geni yang sudah terlanjur meluncur itu terkejut ketika tiba-tiba saja serangkum hawa panas menyergapnya. Akan tetapi apa boleh buat, dia tidak akan menghentikan serangannya ke arah dada lawannya.

 

Ternyata Ki Rangga tidak membiarkan saja dadanya dalam keadaan terbuka menerima serangan Kiai Naga Geni. Walaupun tubuhnya sudah dilindungi dengan ilmu kebal, namun Ki Rangga belum tahu sampai dimana kekuatan yang tersimpan dalam diri Kiai Naga Geni itu. Dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada, maka sejenak kemudian sebuah benturan dahsyat dari kedua orang yang berilmu tinggi itu pun telah terjadi.

 

Hampir saja Kiai Naga Geni berteriak kegirangan ketika dia melihat lawannya terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian yang terjadi adalah sebuah pengeram-eram. Ki Rangga yang mencoba menahan hantaman Kiai Naga Geni dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada itu ternyata telah terhuyung beberapa langkah surut kemudian jatuh pada kedua lututnya. Ketika kemudian dengan sigap Ki Rangga meloncat berdiri, orang-orang yang ada di seputar arena pertempuran itu hampir tidak percaya dengan penglihatan mereka sendiri. Ternyata yang bangkit berdiri tidak hanya seorang Ki Rangga saja, tubuh Ki Rangga telah terpecah menjadi tiga orang.

 

Untuk sejenak pemimpin perguruan dari Nusakambangan itu terkesiap. Aji kakang kawah adi ari-ari memang sudah jarang ditemui pada jaman itu. Kalau ternyata Ki Rangga mampu menguasainya dengan baik, dia benar-benar akan menjadi orang yang sulit dicari bandingnya di seluruh tlatah Mataram.

 

Belum sempat pemimpin perguruan dari Nusakambangan itu menentukan sikap dan menyadari apa yang seharusnya dilakukan untuk menghadapi ilmu yang sudah hampir punah itu, ujud Ki Rangga yang paling dekat dan ada di hadapannya tiba-tiba telah melancarkan sebuah serangan balasan yang dahsyat. Dengan sisi telapak tangan kanannya, ujud Ki Rangga yang ada di depannya telah meloncat maju dan dengan deras menghantam dada lawannya.

 

Segera terdengar sebuah keluhan tertahan. Tubuh Kiai Naga Geni itu terhuyung-huyung kebelakang, namun ketahanan tubuhnya memang luar biasa. Dengan cepat dia meloncat beberapa langkah kebelakang untuk menghindari kemungkinan dari serangan susulan lawannya.

 

Namun ternyata Ki Rangga tidak memburunya. Justru kedua ujud Ki Rangga yang lain telah meloncat ke belakang dan membantu kedua Putut itu untuk menghadapi serangan lawan lawannya yang semakin menekan. Keenam murid perguruan Andong Puring itu menyerang secara bergelombang susul menyusul ke arah kedua lawannya. Untunglah kedua Putut yang berasal dari Kademangan Jati Anom itu sudah dibekali ilmu cambuk yang cukup mapan, sehingga mereka tidak gugup dalam menghadapi serangan-serangan yang beruntun. Secara bergantian ujung-ujung cambuk itu menggelepar dengan memperdengarkan suara yang memekakkan telinga. Ternyata keduanya memang sudah terbiasa bertempur berpasangan sehingga secara bergantian dan saling mengisi, ujung-ujung cambuk yang berkarah itu menghalau setiap serangan yang dilancarkan oleh murid-murid Andong Puring.

 

Ketika kedua ujud Ki Rangga Agung Sedayu itu telah meloncat dan berdiri tegak diantara kedua Putut dan lawan lawannya, yang terjadi kemudian adalah sebuah pertunjukan yang aneh. Ke-enam murid Ki Ajar itu justru telah berdiri membeku bagaikan tersihir melihat Ki Rangga yang telah berubah ujud menjadi tiga orang. Demikian juga kedua Putut itu, mereka belum pernah melihat ilmu yang sedahsyat dan seaneh itu sehingga untuk sejenak pertempuran pun seolah telah terhenti.

 

Pandan Wangi yang sudah pernah melihat ilmu kakang kawah adi ari-ari yang dimiliki oleh Ki Rangga masih juga tergetar hatinya. Dalam panggraitanya, dia masih belum mampu membedakan manakah ujud yang asli dan manakah ujud yang palsu.

 

Sementara Ki Ajar yang melihat Ki Rangga telah berubah ujud rangkap tiga, diam-diam telah memusatkan nalar budinya untuk menemukan ujud asli Ki Rangga yang sebenarnya. Dia akan membuat kejutan dengan menyerang ujud asli Ki Rangga secara tiba-tiba sehingga dapat melumpuhkan perlawanan murid utama perguruan orang bercambuk itu. Namun alangkah terkejutnya Ki Ajar, walaupun dia telah mengerahkan segenap kemampuannya, panggraitanya tidak mampu mengurai ujud-ujud Ki Rangga sehingga yang tampak adalah Ki Rangga benar-benar telah berubah menjadi tiga orang.

 

Demikianlah sebenarnya yang telah terjadi. Dalam perjalanan mematangkan salah satu ilmu yang telah dipelajari dari isi kitab Ki Waskita, Ki Rangga Agung Sedayu telah menyempurnakannya dengan berbagai laku terutama pengenalan atas ilmu itu sendiri lebih menukik ke kedalaman sehingga kedua ujud Ki Rangga itu kini bukan lagi sekedar ujud-ujud semu yang hanya dapat membingungkan lawan yang masih belum mapan kemampuan olah kanuragannya, namun dalam perkembangannya, ujud kakang kawah dan adi-ari-ari atau kadang disebut kakang pembarep adi wuragil itu merupakan pancaran ilmu dari dalam diri Ki Rangga Agung Sedayu sendiri. Sehingga setiap sentuhan dari salah satu ujud Ki Rangga, akan mempunyai akibat yang sama secara kewadagan karena merupakan kepanjangan dari ilmu Ki Rangga Agung Sedayu yang sebenarnya.

 

Itulah sebenarnya kelebihan dari Ilmu Kakang Pembarep Adi Wuragil dibandingkan dengan ilmu bayangan semu yang telah dikuasai oleh Ki Waskita. Sentuhan Ilmu Bayangan Semu tidak akan berpengaruh secara wadag, namun justru kekerdilan jiwa seseorang yang akan terpengaruh oleh ilmu itu. Namun kelebihan dari Ilmu Bayangan Semu itu adalah orang yang menguasai ilmu ini dapat mengambil bentuk-bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluan pada saat itu, sedangkan Ilmu Kakang Pembarep Adi Wuragil hanya mengambil bentuk yang sama dengan dirinya, namun dalam perkembangannya jika seseorang dapat menguasainya sampai tingkat yang sempurna, akan menjadi ilmu yang sangat nggegirisi karena kemampuan orang yang memiliki ilmu ini akan menjadi berlipat lipat.

 

Kiai Naga Geni yang telah mampu menguasai dirinya segera memusatkan nalar budinya. Dengan kemampuan panggraitanya, dia berusaha mengetahui ujud asli Ki Rangga, dan inilah kesalahannya. Kiai Naga Geni terlalu tergesa-gesa untuk menarik sebuah kesimpulan. Dia yakin ujud asli Ki Rangga Agung Sedayu adalah yang baru saja menyerangnya dan sekarang berdiri beberapa langkah di depannya. Dengan teriakan mirip seekor naga yang sedang marah, Kiai Naga Geni pun kemudian meluncur menerjang ujud Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang berdiri dihadapannya.

 

Tubuh Kiai Naga Geni menggeliat bagaikan seekor naga yang sedang terbang di udara. Jari-jari kedua tangannya yang membentuk cakar naga terlihat membara, sedangkan dari mulutnya benar-benar menyemburkan api yang berkobar kobar menerjang ke arah lawannya. Inilah aji kebanggaan perguruan Nusakambangan, Aji Naga Geni.

 

Namun ternyata ujud Ki Rangga yang ada di depannya sama sekali tidak ada usaha untuk menghindar dari terjangan lawannya. Bahkan ujud Ki Rangga itu justru telah meloncat menyambut serangan lawannya.

 

Kiai Naga Geni terkejut. Semburan api dari aji naga geni yang mampu meluluh lantakkan senjata yang terbuat dari baja sekalipun ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh lawannya, bahkan cengkeramannya yang mengenai pundak lawannya rasa rasanya seperti mencengkeram angin saja. Dalam keadaan seperti itulah sebuah hantaman dari ujud Ki Rangga itu telah mengguncang dadanya.

 

Sebenarnyalah Kiai Naga Geni sudah yakin dengan ilmunya dia akan dapat melumat Ki Rangga Agung Sedayu. Namun kesalahan yang dilakukannya benar-benar berakibat sangat parah. Ujud Ki Rangga yang ada di depannya itu adalah bentuk semu namun yang telah dilambari dengan pancaran ilmu Ki Rangga Agung Sedayu sehingga mempunyai kemampuan dan daya serang yang sama dengan diri Ki Rangga sendiri namun yang tidak dapat dilukai secara wadag, justru karena itu hanyalah sebuah ujud semu.

 

Kesadaran Kiai Naga Geni akan kemampuan dan sifat-sifat ilmu kakang pembarep adi wuragil ini sudah terlambat. Sudah dicobanya untuk menahan gempuran ujud Ki Rangga pada dadanya dengan menyilangkan tangan kirinya di depan dada, sementara tangan kanannya yang sedang mencengkeram bahu lawannya ternyata hanya mencengkeram bayangan kosong belaka.

 

Sekali lagi tubuh Kiai Naga Geni terlempar kebelakang dengan dahsyatnya sebelum akhirnya terbanting ke tanah dengan memuntahkan darah segar. Sejenak Kiai Naga Geni masih menggeliat sambil menggeram. Dengan bertelekan pada kedua tangannya dia berusaha duduk untuk mengatasi pernafasannya yang tersumbat karena dadanya rasa rasanya bagaikan tertimpa sebuah gunung anakan.

 

Ki Ajar yang melihat keadaan Kiai Naga Geni segera berlari mendekat. Dibantunya pemimpin perguruan Nusakambangan itu untuk duduk bersila. Sejenak kemudian Kiai Naga Geni pun tenggelam dalam usahanya mengatur pernafasannya dan mengurangi rasa sakit yang mendera dadanya.

 

Pertempuran benar-benar telah berhenti. Ki Rangga Agung Sedayu yang menyadari tidak ada gunanya lagi untuk tetap mengetrapkan aji kakang pembarep adi wuragil segera melepaskan ilmunya itu perlahan lahan. Sejenak kemudian ketiga ujud Ki Rangga itu pun akhirnya saling mendekat dan bersatu menjadi Ki Rangga Agung Sedayu yang asli.

 

Murid-murid Andong Puring dan kedua Putut yang masih belum banyak berpengalaman dalam dunia olah kanuragan terutama pengetahuan mereka terhadap berjenis jenis ilmu, masih tetap berdiri termangu mangu di tempatnya. Berbagai tanggapan muncul dari dalam benak mereka. Murid-murid Andong Puring merasa putus asa untuk memenangkan pertempuran itu dengan dikalahkannya Kiai Naga Geni oleh Ki Rangga Agung Sedayu. Kini hanya tinggal Gurunya Ki Ajar Andong Puring yang kemampuannya masih jauh di bawah Ki Rangga. Sedangkan ke dua Putut itu justru telah berangan angan suatu saat mereka akan mampu mencapai tataran seperti yang telah ditunjukkan oleh kakak seperguruan mereka dari perguruan orang bercambuk, Ki Rangga Agung Sedayu.

 

Sementara menunggu Kiai Naga Geni memulihkan pernafasannya, Ki Ajar telah memberi isyarat kepada murid muridnya untuk menolong salah satu kawannya yang tergeletak pingsan diterjang kuda Pandan Wangi.

 

Dengan tergesa-gesa murid-murid Andong Puring itu segera menyarungkan senjata masing-masing kemudian setengah berlari mereka mendekati kawannya yang masih tergeletak pingsan.

 

Ki Rangga Agung Sedayu agaknya tanggap dengan perkembangan keadaan. Segera dia memberi isyarat kepada kawan kawannya untuk meneruskan perjalanan.

 

Kuda Pandan Wangi sudah lari entah kemana. Akhirnya kedua Putut itu yang harus mengalah dan menggunakan satu ekor kuda untuk berdua, sedang kuda mereka yang satunya digunakan oleh Pandan Wangi.

 

Demikianlah akhirnya mereka berempat segera berderap kembali di lorong hutan Tambak Baya meninggalkan lawan lawannya yang hanya dapat berdiri termangu mangu sambil memandangi debu putih yang mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berderap cepat.

 

Ketika mereka hampir mendekati ujung lorong hutan Tambak Baya, tiba-tiba Pandan Wangi berseru keras, “Kakang, lihat! Itulah kudaku!”

 

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil menyahut, “Engkau benar Wangi, agaknya belum ada orang yang lewat, sehingga kudamu masih aman merumput di pinggir lorong hutan ini.”

 

Sejenak kemudian Pandan Wangi telah menarik tali kekang kuda yang ditungganginya ketika sudah tinggal beberapa langkah saja jaraknya dari kudanya yang sedang asyik merumput.

 

Setelah meloncat turun dan menyerahkan kendali kuda kepada Putut Darpa yang telah meloncat turun terlebih dahulu, Pandan Wangi pun kemudian dengan perlahan mendekat agar tidak mengejutkan kudanya yang sedang asyik merumput.

 

Kuda itu meringkik perlahan begitu Pandan Wangi membelai surinya yang hitam dan lebat. Setelah menepuk nepuk leher kudanya agar menjadi lebih tenang, Pandan Wangi pun kemudian segera meloncat ke atas punggung kudanya dan siap berderap kembali menuju ke Mataram.

 

“Marilah,” berkata Ki Rangga kemudian, “Hari sudah menjelang sore. Semoga sebelum gelap turun kita sudah dapat menghadap Ki Patih Mandaraka.”

 

Sejenak kemudian mereka berempat telah memacu kuda-kuda itu keluar dari hutan Tambak Baya menuju ke alas Mentaok yang telah ramai menjadi sebuah negeri yang bernama Mataram.

 

Dalam pada itu, di padukuhan kecil sebelah utara Tanah Perdikan Menoreh tampak dua orang sedang berjalan di tengah-tengah bulak yang panjang. Terik sinar Matahari sore masih terasa panas menyengat kulit kedua orang itu sehingga tampak merah terbakar. Keringat bagaikan terperas telah membuat tubuh kedua pejalan kaki itu basah kuyup.

 

“Kita berhenti sebentar di bawah pohon nyamplung itu, Ayah,” berkata salah seorang yang ternyata seorang perempuan. Wajahnya yang berkeringat bercampur debu itu tampak kotor

namun tidak dapat menyembunyikan kecantikan alami yang dimilikinya. Selendangnya yang panjang dibalutkan di atas kepalanya untuk mengurangi panasnya sengatan Matahari.

 

“Baiklah, kita beristirahat sejenak,” berkata orang yang dipanggil ayah itu sambil mengayunkan langkahnya menuju pohon nyamplung yang tumbuh di pinggir parit sebelah kiri tanggul.

 

Di sepanjang bulak itu memang terdapat parit di sebelah menyebelah yang cukup lebar. Di musim kemarau parit itu airnya memang sangat kecil, tidak cukup untuk mengairi tanah-tanah pesawahan yang terlihat kering dan bera. Rumput-rumput liar yang tumbuh tampak kekuning kuningan terbakar Matahari. Hanya rumput-rumput yang tumbuh di sepanjang tanggul dekat parit itu sajalah yang tampak masih menghijau dan sering digunakan oleh para penggembala untuk menggembalakan ternaknya.

 

Ketika kemudian kedua orang itu duduk melepas lelah di atas akar-akar yang menonjol di bawah bayangan teduh pohon nyamplung itu, semilir angin yang sepoi-sepoi ternyata telah membuat kedua pejalan kaki itu terkantuk kantuk.

 

Namun belum sempat kedua pejalan kaki itu menikmati semilirnya angin lebih lama lagi, tiba-tiba mereka mendengar derap kaki kuda dari arah Padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

 

Sambil menggeliat orang yang dipanggil ayah itu mencoba melongokkan kepalanya memandang ke arah jalan yang menuju ke padukuhan induk. Tampak debu yang mengepul tinggi pertanda ada beberapa ekor kuda yang sedang dipacu menuju ke arah mereka yang sedang duduk-duduk di bawah pohon nyamplung.

 

“Siapakah mereka, Ayah?” bertanya perempuan itu sambil tetap duduk di tempatnya.

 

“Aku tidak tahu,” jawab Ayahnya sambil kembali menyandarkan punggungnya ke pohon nyamplung.

 

“Mungkin para pengawal Padukuhan induk sedang nganglang,” desis perempuan itu perlahan seolah ditujukan kepada dirinya sendiri.

 

“Mungkin,” jawab Ayahnya acuh saja sambil memejamkan matanya.

 

Sementara tiga ekor kuda yang dipacu menyelusuri bulak panjang yang menghubungkan antara padukuhan induk dengan padukuhan kecil disebelah utara Tanah Perdikan Menoreh itu telah semakin dekat dengan tempat kedua pejalan kaki itu beristirahat.

 

Ketiga penunggang kuda itu memang para pengawal Padukuhan induk menilik dari ciri-ciri yang mereka kenakan. Ketika ketiga pengawal itu telah semakin dekat, tampak kerut merut di wajah mereka yang tegang.

 

“Siapakah mereka itu, Kakang Dama?” bertanya salah seorang pengawal yang bertahi lalat di pipi kirinya sambil memandang ke arah kedua orang yang duduk terkantuk kantuk di bawah pohon nyamplung.

 

“Itulah yang sedang aku pikirkan,” jawab pengawal yang bernama Dama itu, “Disaat Padukuhan induk dalam keadaan gawat, kita harus selalu waspada terhadap perkembangan yang terjadi di sekeliling kita.”

 

“Marilah kita mendekat,” berkata pengawal yang satunya lagi.

 

Dengan perlahan mereka menghela kuda-kuda itu mendekati kedua pejalan kaki yang sedang duduk terkantuk kantuk di atas tanggul di bawah pohon nyamplung yang tumbuh rimbun di dekat parit.

 

Ketika kemudian mereka bertiga sudah berada di bawah tanggul yang rendah, dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian meloncat turun dan menambatkan kuda-kuda mereka pada batang-batang perdu yang mengering di pinggir jalan.

 

Dama sebagai pengawal yang tertua rasa rasanya tidak sabar ingin segera mendaki tanggul dan menyapa kedua pejalan kaki itu. Walaupun wajah kedua orang itu berlumuran debu bercampur keringat, namun Dama dapat mengenali siapakah mereka berdua itu.

 

“Empu Wisanata? Bukankah aku berhadapan dengan Empu Wisanata?” hampir berteriak Dama menyapa kedua pejalan kaki itu sesampainya dia di atas tanggul yang tidak seberapa tinggi, sedangkan kedua temannya menyusul di belakangnya.

 

Lelaki tua yang dipanggil Empu Wisanata itu terkejut. Dengan cepat dia bangkit berdiri sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Oh, kiranya para pengawal padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Terima kasih masih mengenal kami. Kami memang sengaja beristirahat sejenak disini sebelum memasuki padukuhan induk.”

 

Ketiga pengawal itu segera maju beberapa langkah dan mengulurkan tangan untuk menyambut salam dari Empu Wisanata, sedangkan perempuan yang ternyata adalah Nyi Dwani hanya bangkit berdiri dari tempat duduknya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

 

“Selamat datang kembali di Tanah Perdikan ini,” berkata Dama setelah masing-masing mencari tempat duduk di bawah naungan rindangnya pohon nyamplung, “Kemanakah kalian berdua selama ini? Rumah kalian tampak sepi setiap kami meronda mengelilingi padukuhan induk.”

 

Sejenak Empu Wisanata menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah Nyi Dwani. Namun Nyi Dwani hanya menundukkan kepalanya saja tanpa berani memandang ke arah ayahnya.

 

“Kami memang telah memutuskan untuk menengok keluarga yang tinggal di ujung kali Keduwang,” akhirnya Empu Wisanata yang menjawab pertanyaan Dama, “Sengaja kami pergi dengan diam-diam karena tidak ingin merepotkan keluarga Ki Rangga Agung Sedayu. Kami berharap hanya dalam waktu sepekan kami sudah dapat kembali ke Menoreh. Ternyata rencana kami tidak berjalan dengan lancar, kami harus tertahan hampir sebulan lamanya di padepokan yang terletak di ujung kali Keduwang itu karena suatu urusan.”

 

Dama dan kedua kawannya hanya mengangguk anggukkan kepala mereka. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin mereka sampaikan sehubungan dengan kepergian ayah dan anak itu, namun pertanyaan itu hanya disimpan dalam hati saja justru mereka tahu bahwa persoalan itu pasti menyangkut persoalan keluarga.

 

“Apakah Empu Wisanata mengalami kesulitan ketika akan memasuki Tanah Perdikan ini?” bertanya Dama kemudian setelah sejenak mereka terdiam.

 

“Ya,” dengan serta merta Empu Wisanata menjawab, “Kami melihat persiapan pasukan segelar sepapan di padukuhan-padukuhan yang terdekat dari tepian kali Praga. Bahkan kami harus berjalan memutar dan tidak berani langsung menuju ke gerbang utama padukuhan induk.”

 

Dama dan kedua kawannya saling berpandangan sebelum akhirnya pengawal yang mempunyai tahi lalat di pipi itu menyahut, “Menurut keterangan Ki Jayaraga, ada seorang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra dan telah mengumpulkan berbagai perguruan yang sehaluan dengan dirinya dari seluruh penjuru negeri ini untuk menggempur Mataram di saat ibu kota Mataram kosong ditinggal para prajuritnya melawat ke Panaraga.”

 

Empu Wisanata mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Menurut perhitunganku, ibu kota Mataram tidak mungkin kosong. Ki Patih Mandaraka adalah seorang yang mumpuni dalam mengatur siasat. Tidak mungkin ibu kota dibiarkan kosong sedangkan Panembahan Hanyakrawati berada di istana. Justru aku yakin itu adalah bagian dari siasat Ki Patih untuk menjebak orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu.”

 

Para pengawal itu sejenak termangu mangu. Mereka memang tidak sampai berpikir sejauh itu. Yang mereka dengar ibu kota Mataram sekarang ini memang sedang kosong sehingga seandainya ada musuh yang menyerang, mereka dengan leluasa akan dapat menguasainya. Namun ternyata pendapat Empu Wisanata itu telah membuka pikiran mereka, memang tidak mungkin membiarkan ibu kota Mataram dalam keadaan benar-benar kosong.

 

“Ah, sudahlah,” akhirnya Empu Wisanata bangkit dari tempat duduknya, “Kami sudah cukup beristirahat dan akan melanjutkan perjalanan yang tinggal sejengkal lagi.”

 

Selesai berkata demikian Empu Wisanata berpaling ke arah Nyi Dwani dan agaknya anak perempuannya itu tanggap dan segera mengikuti ayahnya berdiri.

 

Dama dan kawan kawannya pun kemudian ikut bangkit dari tempat duduk mereka. Sambil mengibas-ngibaskan kain panjangnya yang terkena debu, Dama pun berkata, “Sebaiknya Empu Wisanata dan Nyi Dwani mampir dulu di rumah Ki Gede. Tentu Ki Jayaraga akan sangat gembira menyambut kedatangan kalian berdua.”

 

“Terima kasih,” sahut Empu Wisanata, “Kami memang berencana demikian. Semoga tenaga kami yang tidak seberapa ini dapat membantu menjaga keamanan di lingkungan sekitar tempat tinggal kami.”

 

Demikianlah akhirnya mereka pun kemudian berpisah. Ketiga pengawal itu segera meneruskan perjalanan mereka meronda ke daerah Tanah Perdikan sebelah utara. Sementara Empu Wisanata dan Nyi Dwani dengan langkah satu-satu kembali menyusuri bulak panjang di bawah siraman sinar Matahari sore yang mulai meredup menuju ke padukuhan induk.

 

Dalam pada itu di Kepatihan, Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi telah diterima menghadap oleh Ki Patih Mandaraka di ruangan khusus, sedangkan kedua Putut yang mengawani perjalanan mereka berdua telah di tempatkan di bangunan penjagaan samping untuk sekedar melepaskan lelah.

 

Setelah menanyakan keselamatan mereka berdua selama dalam perjalanan menuju Mataram, dengan menarik nafas dalam-dalam, Ki Patih pun berkata, “Agaknya orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu telah mendapat laporan melalui petugas sandinya tentang perjalanan kalian. Untunglah Yang Maha Agung masih melindungi kalian semua.”

 

“Demikianlah Ki Patih,” jawab Ki Rangga sambil menyembah, “Namun masih ada hal yang membuat hamba penasaran. Siapakah kedua orang bercaping yang menolong kami di tepian kali Opak itu?”

 

Ki Patih tertawa perlahan mendengar pertanyaan Ki Rangga. Jawabnya kemudian, “Bagaimana mungkin aku tahu, sedangkan kalian yang mengalami peristiwa itu sendiri tidak tahu siapa mereka.”

 

“Ampun Ki Patih,” cepat-cepat Ki Rangga menyela, “Bukan maksud hamba untuk menanyakan hal ini kepada Ki Patih. Namun menilik kemampuan kedua orang bercaping yang membantu kami di tepian Kali Opak itu, mereka berdua pasti bukan dari lingkungan orang kebanyakan.”

 

Ki Patih mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Ki Rangga. Namun kemudian sambil tersenyum Ki Patih berkata, “Sudahlah. Dari manapun mereka berasal itu tidak penting. Yang jelas mereka telah berhasil melaksanakan tugasnya.”

 

Ki Rangga tertegun mendengar kalimat terakhir dari Ki Patih. Sambil mengangkat kepalanya, sejenak dipandanginya Ki Patih yang ternyata juga sedang memandanginya sehingga dengan tergesa-gesa Ki Rangga pun kemudian segera menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Agaknya pandangan mata Ki Rangga yang penuh dengan tanda tanya itu terbaca oleh Ki Patih. Sehingga akhirnya Ki Patih pun tidak dapat mengelak lagi, “Memang akulah yang telah menyuruh mereka berdua untuk turun gunung dan membantu Ki Rangga. Selama ini mereka berdua itu lebih senang menyepi di gunung-gunung dan hutan-hutan sunyi. Aku telah memberi pengertian kepada mereka bahwa sebaik-baiknya menjalani sebuah laku tapa itu adalah tapa ngrame. Hati kita, jiwa kita tetap dalam kedudukannya sebagaimana seorang pertapa yang tidak tergoyahkan oleh nafsu duniawi, namun raga kita, badan kita ini akan selalu berbuat untuk kebaikan umat dan menolong sesama sebagaimana seorang satria yang selalu tampil di depan dalam membela kebenaran kejujuran dan keadilan. Itulah yang disebut seorang Satriya Pinandita.”

 

Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi hanya saling pandang ketika Ki Patih telah menyebutkan bahwa kedua orang bercaping itu ternyata adalah utusan Ki Patih Mandaraka. Tapi siapakah sebenarnya kedua orang itu? Mereka berdua masih menunggu keterangan lebih lanjut dari Ki Patih.

 

Sementara itu Matahari masih menyisakan sinarnya walaupun sangat lemah. Sejenak kemudian ketika Matahari telah benar-benar terbenam, terdengar suara panggilan untuk menunaikan kewajiban kepada Yang Maha Agung dari arah Masjid Kepatihan.

 

“Marilah,” berkata Ki Patih kemudian sambil bangkit berdiri, “Kita hentikan sejenak pembicaraan ini. Setelah makan malam, kita akan benar-benar membicarakan persoalan yang menyangkut keamanan ibu kota Mataram ini dengan sungguh-sungguh.”

 

“Hamba Ki Patih,” hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi menjawab.

 

Ketika Ki Patih kemudian beranjak menuju ke ruang dalam, Ki Rangga dan Pandan Wangi pun kemudian mengundurkan diri. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke Masjid Kepatihan yang terletak di samping kanan dari bangunan induk istana Kepatihan.

 

Sambil berjalan menuruni tlundak pendapa samping, Pandan Wangi berkata, “Kakang, apakah tidak sebaiknya kita membersihkan diri dulu di pakiwan?”

 

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. Katanya kemudian, “Wangi, di dekat Masjid Kepatihan engkau akan menjumpai pakiwan khusus untuk perempuan. Engkau dapat menggunakannya sebelum memasuki Masjid.”

 

Pandan Wangi mengangguk anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Baiklah Kakang kalau begitu. Aku ikut Kakang saja langsung ke Masjid.”

 

“Marilah,” ajak Ki Rangga sambil mengayunkan langkahnya.

 

Ketika kemudian mereka telah selesai menunaikan kewajibannya selaku hamba yang bersyukur kepada Penciptanya, Ki Patih Mandaraka pun kemudian mengajak Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi makan malam bersama di ruang khusus bagian dalam istana Kepatihan.

 

“Menurut berita yang dibawa para prajurit sandi yang bertugas di Menoreh,” demikian Ki Patih memulai pembicaraan setelah selesai santap malam, “Orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu akan mengumpulkan seluruh perguruan yang sudah tergabung dalam pasukannya sore ini. Belum ada kepastian kapan mereka akan menyeberang Kali Praga dan menyerbu ibu kota Mataram.”

 

“Ampun Ki Patih,” Ki Rangga menyela sambil menyembah, “Berapakah jumlah prajurit yang berada di ibu kota Mataram? Kita harus segera membuat perhitungan.”

 

Ki Patih tersenyum sambil mengangguk angguk. Katanya kemudian, “Ki Rangga, pasukan cadangan yang ditugaskan untuk menjaga keamanan kota lebih dari cukup,” Ki Patih berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Memang disengaja, yang bertugas meronda di ibu kota dan sekitarnya hanya beberapa prajurit berkuda saja. Demikian juga regol-regol telah di kurangi penjaganya dengan tujuan untuk memberikan kesan seolah olah ibu kota Mataram sedang kosong. Tapi sebenarnya pasukan cadangan telah disiagakan di barak-barak. Mereka dilarang melakukan kegiatan di luar barak tanpa seijin Perwira yang bertugas.”

 

Ki Rangga dan Pandan Wangi saling pandang sejenak. Tampak kerut merut di kening keduanya semakin dalam. Namun setelah mereka menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari rencana Ki Patih untuk mengelabuhi Panembahan Cahya Warastra, keduanya pun kemudian mengangguk anggukkan kepala sambil menarik nafas dalam-dalam. Rasa rasanya dada mereka yang selama ini pepat telah menjadi sedikit longgar begitu mendengarkan keterangan dari Ki Patih.

 

“Nah,” berkata Ki Patih kemudian, “Malam ini kita harus menyeberang ke Menoreh, dan ini menjadi tugasmu Ki Rangga.”

 

Ki Rangga sejenak tertegun. Menyeberangi Kali Praga di malam hari serta harus melewati penjagaan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang bersiaga di seberang Kali Praga bukanlah pekerjaan mudah. Maka kemudian katanya, “Ampun Ki Patih. Di seberang Kali Praga telah dijaga oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Bagaimana kita menyeberang tanpa ketahuan oleh mereka?”

 

“Berenang,” jawab Ki Patih sambil tersenyum.

 

“Berenang?” tanpa sesadarnya Ki Rangga mengulang kata-kata Ki Patih. Bahkan Pandan Wangi yang selama ini hanya mendengarkan sambil menundukkan kepalanya telah mengangkat wajahnya sambil memandang ke arah Ki Patih dengan terheran heran.

 

“Ya, berenang,” jawab Ki Patih mantap, “Dengan berenang apalagi menyelam beberapa jengkal di bawah permukaan air Kali Praga, aku yakin akan sulit untuk diketahui oleh musuh. Kita akan mengambil di tempat yang jarang digunakan untuk penyeberangan sehingga pengawasan disitu agak longgar.”

 

“Bagaimana dengan buaya-buaya kerdil yang sering tampak di tempat-tempat yang agak dalam?” bertanya Pandan Wangi yang sedari tadi diam saja. Sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Menoreh, dia hafal betul dengan keadaan Kali Praga.

 

Ki Patih tersenyum sambil memandang Pandan Wangi. Jawabnya kemudian, “Jangan kawatir. Ada semacam ramuan yang akan membuat binatang-binatang air itu menyingkir bila mencium aroma ramuan itu. Sebelum turun ke air, semua orang wajib melumuri tubuhnya dengan ramuan itu.”

 

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi mengangguk angguk. Terbayang dalam benak mereka, rintangan yang sangat berat yang harus mereka dilalui. Tidak hanya buaya-buaya kerdil itu yang dapat membahayakan keselamatan mereka, namun juga para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang telah menunggu mereka di tepian dengan senjata terhunus.

 

“Baiklah,” berkata Ki Patih Mandaraka selanjutnya, “Kita perlu Ki Tumenggung Tirtayudha untuk hadir disini. Ki Tumenggung Tirtayudha adalah perwira yang membawahi Prajurit Jalamangkara, prajurit yang mempunyai kemampuan sangat khusus, yaitu mampu bergerak di air dengan kemampuan yang luar biasa. Sedangkan di darat mereka adalah prajurit-prajurit tangguh tanggon yang mampu menyerang dengan cepat kemudian menyingkir dengan cepat pula.”

 

Ki Rangga Agung sedayu dan Pandan Wangi sejenak termangu mangu mendengarkan keterangan Ki Patih. Ki Rangga memang pernah mendengar rencana untuk membentuk sepasukan prajurit Jalamangkara yang mempunyai kemampuan bertempur di bawah air. Mereka bergerak bagaikan ikan dan mampu bertahan di bawah air dengan menggunakan alat khusus. Namun sejauh ini Ki Rangga belum pernah bertemu dengan para prajurit Jalamangkara, apalagi dengan Ki Tumenggung Tirtayudha.

 

Ki Patih agaknya mengerti jalan pikiran kedua tamunya. Maka katanya kemudian, “Aku telah menyuruh seorang prajurit jaga untuk memanggil Tumenggung Tirtayudha agar hadir disini.”

 

Belum selesai Ki Patih melanjutkan kata katanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Sejenak kemudian seorang yang berperawakan sedang dengan kumis tipis melintang di atas bibirnya telah memasuki ruang khusus tempat Ki Rangga dan Pandan Wangi menghadap Ki Patih. Setelah menyembah terlebih dahulu, orang itupun kemudian duduk beberapa jengkal di sebelah Ki Rangga menghadap Ki Patih Mandaraka.

 

“Nah, inilah Ki Tumenggung Tirtayudha itu,” berkata Ki Patih sambil tersenyum. Orang yang disebut Tumenggung Tirtayudha itu segera menganggukkan kepalanya kearah Ki Rangga dan Pandan Wangi.

 

Segera saja Ki Rangga dan Pandan Wangi membalas anggukan Ki Tumenggung Tirtayudha itu.

 

“Ki Tumenggung Tirtayudha,” berkata Ki Patih kemudian, “Apakah pasukanmu sudah siap? Malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh.”

 

Hampir bersamaan Ki Rangga dan Pandan Wangi menoleh ke arah Ki Tumenggung Tirtayudha, Tumenggung yang usianya tidak terpaut jauh dengan Ki Rangga Agung Sedayu sendiri.

 

Sambil melakukan sembah, Ki Tumenggung Tirtayudha pun kemudian menjawab, “Ampun Ki Patih. Pasukan Jalamangkara sudah siap untuk sewaktu waktu digerakkan. Tinggal menunggu titah dari Ki Patih.”

 

Ki Patih mengangguk anggukkan kepalanya, kemudian katanya sambil menoleh ke arah Ki Rangga Agung Sedayu, “Ki Rangga, malam ini kita akan menyeberang ke Menoreh. Tugas pasukan Jalamangkara adalah bergerak dengan senyap kemudian menghancurkan para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berjaga di tepian sebelah barat Kali Praga,” Ki Patih berhenti sejenak kemudian lanjutnya, “Ki Rangga dan Ki Tumenggung Tirtayudha masing-masing akan membawa sepasukan parajurit Jalamangkara untuk menyeberang di tempat yang tidak diperhitungkan oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Kalian harus berpacu dengan waktu. Hancurkan para pengawas musuh yang ada di tepian barat Kali Praga tanpa suara. Jangan sampai para pengawas itu sempat melontarkan isyarat ke padukuhan terdekat yang dijadikan landasan para pengikut Panembahan Cahya Warastra.”

 

Ki Rangga dan Ki Tumenggung mengangguk anggukkan kepala mereka. Keduanya sudah mendapat gambaran bagaimana mereka harus membawa pasukannya menyeberang Kali Praga tanpa diketahui oleh lawan dan kemudian sekaligus menghancurkan mereka.

 

Sementara Pandan Wangi yang hanya menjadi pendengar telah terusik. Tanpa sesadarnya dia telah mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Ki Patih yang justru sedang memandanginya sambil tersenyum. Agaknya Ki Patih telah menduga apa yang tersirat dalam dada anak perempuan satu satunya Ki Gede Menoreh itu.

 

“Pandan Wangi,” berkata Ki Patih akhirnya, “Engkau tidak aku tugaskan untuk ikut menyeberang dengan berenang bersama Ki Rangga,” Ki Patih berhenti sejenak sambil mencoba melihat kesan yang tersirat di wajah Pandan Wangi, tampak seleret rona merah menghias wajah perempuan setengah baya itu. Sambil menahan senyum, Ki Patih pun kemudian melanjutkan kata katanya, “Aku telah menerima laporan dari prajurit sandi yang bertugas di tepian sebelah timur, mereka telah mengadakan hubungan dengan Glagah Putih dan Rara Wulan serta beberapa kawan kawannya. Tugasmu adalah bergabung dengan mereka. Tunggulah isyarat dari Ki Rangga maupun Ki Tumenggung. Jika tepi barat Kali Praga telah dibersihkan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra, tugas kalian adalah melumpuhkan para tukang satang yang ada di sebelah timur tepian Kali Praga, kemudian dengan menggunakan rakit-rakit yang ada, kalian dapat menyusul Ki Rangga menyeberang ke Menoreh.”

 

Tanpa disadarinya Ki Rangga telah menarik nafas dalam-dalam mendengar keterangan Ki Patih Mandaraka, walaupun sebelumnya Ki Rangga telah menduga bahwa tidak mungkin Pandan Wangi akan diikut sertakan dalam gerakan pasukan Jalamangkara, namun tak urung hatinya merasa lega begitu Ki Patih telah menjatuhkan titah.

 

“Baiklah,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Gerakan penyusupan kalian ke tepi barat Kali Praga ada kemungkinannya akan diketahui oleh pihak lawan. Tidak menutup kemungkinan para pengawas lawan akan berhasil mengirimkan isyarat ke padukuhan terdekat sehingga pasukan lawan akan berdatangan bagaikan lebah yang diganggu sarangnya dan pertempuran di tepi barat Kali Praga pun tidak mungkin dielakkan lagi.”

 

“Ampun Ki Patih,” Ki Tumenggung Tirtayudha menyela, “Bukankah tujuan kita menyeberang ke tepi barat itu untuk mengalihkan tempat pertempuran keluar dari ibu kota Mataram?”

 

“Engkau benar, Ki Tumenggung. Namun sebenarnyalah aku menginginkan sebuah kejutan bagi orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu. Setelah melumpuhkan para pengikutnya yang berjaga di tepi barat Kali Praga, begitu Matahari terbit, kita akan menyerbu padukuhan yang dijadikan landasan para pengikut Cahya Warastra itu.”

 

Ki Tumenggung Tirtayudha mengangguk anggukkan kepalanya. Sementara Ki Rangga segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih. Kita memerlukan berpuluh puluh rakit untuk menyeberangkan pasukan cadangan yang sekarang masih berada di barak-barak.”

 

“Ya,” jawab Ki Patih cepat, “Sementara kalian berdua menyeberang ke tepian sebelah barat, aku sendiri yang akan memimpin pasukan cadangan dan sebagian pasukan dari Kadipaten dan Kademangan-Kademangan yang tidak jadi diberangkatkan ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka yang kurang memenuhi syarat waktu itu untuk ikut bertempur ataupun karena suatu hal yang lain, namun sekarang mereka telah siap untuk terjun ke medan perang sedahsyat apapun.”

 

Ki Rangga dan Ki Tumenggung hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk anggukkan kepala. Ki Patih ternyata telah memperhitungkan semua itu dengan cermat. Pasukan cadangan yang ada di ibu kota Mataram sengaja disimpan di barak-barak dan tidak diperkenankan untuk keluar menampakkan diri kecuali ada ijin khusus dari Perwiranya. Demikian juga pasukan-pasukan yang tidak jadi dikirim ke Panaraga karena keadaan kesehatan mereka atau suatu hal yang lain, kini telah siap untuk diturunkan ke medan pertempuran.

 

“Kesan yang tampak di ibu kota Mataram memang sangat lemah,” gumam Ki Rangga dalam hati, “Penjagaan dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lemah. Hanya beberapa penjaga yang terlihat di gerbang Timur dan gerbang Barat. Sedangkan prajurit yang meronda pun hanya tiga atau empat orang dengan berkuda. Berbeda dengan biasanya yang terdiri dari lima belas sampai dua puluh prajurit berkuda.”

 

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Kapankah pasukan Jalamangkara diperkenankan bergeser ke tepian Kali Praga untuk memulai pergerakan menyusup ke daerah lawan?”

 

Sejenak Ki Patih menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Ki Tumenggung Tirtayudha. Jawabnya kemudian, “Wayah sirep uwong pasukan Jalamangkara sudah harus di tepian sebelah timur Kali Praga. Kalian berdua harus memilih tempat yang terpisah jauh dan akan dipandu oleh para prajurit sandi yang telah mengenal daerah sepanjang tepian Kali Praga,” Ki Patih berhenti sejenak untuk mengambil nafas, kemudian lanjutnya, “Sementara pasukan cadangan ditambah dengan pasukan yang tidak jadi berangkat ke Panaraga, mungkin jumlahnya mendekati dua Bregada, secara berangsur angsur akan bergerak secara berkelompok agar tidak banyak menarik perhatian, sudah harus tiba di tepian sebelum tengah malam.”

 

“Bagaimana dengan rakit-rakit itu, Ki Patih?” bertanya Ki Rangga dengan nada sedikit ragu-ragu. Menyeberangkan pasukan sejumlah hampir dua bregada memerlukan sekitar delapan puluh buah rakit.

 

Ki Patih tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga. Jawabnya kemudian sambil tetap tersenyum, “Kita bersyukur bahwa Panembahan Cahya Warastra telah berbaik hati membuatkan kita rakit-rakit yang tersimpan di tepian sebelah barat Kali Praga. Rencananya rakit-rakit itu akan digunakan oleh para pengikut Cahya Warastra itu untuk menyeberang ke Mataram pada saat penyerbuan tiba. Adalah tugas Ki Rangga dan Ki Tumenggung untuk melumpuhkan para penjaganya dan sekaligus menguasai rakit-rakit itu untuk selanjutnya didorong ke tepian sebelah timur sebagai sarana mengangkut pasukan kita,” sampai di sini Ki Patih berhenti sejenak sambil berpaling ke arah Pandan Wangi. Kemudian lanjutnya, “Dan itu adalah tugasmu Pandan Wangi. Engkau akan dibantu oleh Glagah Putih bersama kawan kawannya.”

 

Mereka yang hadir di ruangan itu hampir bersamaan telah mengangguk-anggukkan kepala mereka. Agaknya para prajurit sandi Mataram telah mendapatkan keterangan yang lengkap tentang keadaan di tepian sebelah barat Kali Praga.

 

“Apakah masih ada sesuatu yang membuat kalian ragu-ragu atau kurang jelas?” bertanya Ki Patih setelah sejenak mereka yang berada di ruangan itu terdiam.

 

Ki Rangga yang duduk bersila tepat di depan Ki Patih segera beringsut setapak maju. Sambil menyembah katanya kemudian, “Ampun Ki Patih. Setelah pertemuan ini selesai, ijinkanlah hamba bersama dengan Ki Tumenggung untuk menemui pasukan Jalamangkara di barak mereka. Kami berdua masih memerlukan waktu untuk menjelaskan rencana kita kepada para pemimpin prajurit agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam melaksanakan rencana sesuai petunjuk Ki Patih.”

 

Ki Patih tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Jawabnya kemudian, “Memang demikianlah seharusnya Ki Rangga. Namun ingat, gerakan kita ini adalah bersifat sangat rahasia. Hanya para pemimpin prajurit sajalah yang wajib mengetahui arah gerakan kita. Untuk selanjutnya, para prajurit akan diberi penjelasan yang lebih mendalam setelah kalian berada di tepian sebelah timur Kali Praga.”

 

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. YUSRIZAL
    Jul 23, 2016 @ 08:28:52

    KOK PANGKAT AGUNG SEDAYU JADI TURUN LAGI MENJADI RANGGA, SEBELUMNYAKAN SUDAH JADI TUMENGGUNG DAN JUGA CERITANYA SAMA DENGAN LANJUTAN ADBM MBAH MAN?

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: