Terusan ADBM Jilid 408

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-408/)

Jilid 408

KI GEDE Menoreh yang mengamati pergerakan para pengawal dalam mengejar lawan-lawannya itu menjadi berdebar-debar ketika pasukan lawan sudah mulai mendekati dinding padukuhan induk. Sambil bergerak mundur mereka terus mengadakan perlawanan yang sengit. Sementara para pengawal Menoreh tidak menyadari bahaya yang dapat mengancam nyawa mereka dari balik dinding padukuhan induk.

“Hentikan pengejaran!” teriak Ki Gede Menoreh mencoba menghentikan gerak maju para pengawal Menoreh yang sudah hampir mendekati dinding padukuhan induk.

More

Terusan ADBM Jilid 407

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-407/)

Jilid 407

SEJENAK Ki Ajar Wiyat masih termangu mangu sambil menatap Ki Gede Menoreh yang tegak bediri tak tergoyahkan bagaikan sebuah bukit. Pemimpin perguruan dari Tumapel itu seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Tenaga lawannya tak ubahnya dengan tenaga seekor gajah walaupun Ki Gede terlihat sudah sangat tua dan lemah.

“Baiklah, perhitunganku mungkin sedikit keliru,” akhirnya Ki Ajar Wiyat berkata sambil mulai mempersiapkan serangan berikutnya, “Namun semua ini tidak akan menggoyahkan ilmuku, tidak ada sekuku ireng dari ilmu yang telah sempurna aku kuasai. Berdoalah Ki Gede, umurmu tidak akan lebih dari suwe mijet wohing ranti.”

More

Terusan ADBM Jilid 406

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-406/)

Jilid 406

DALAM pada itu, Ki Jayaraga bersama Empu Wisanata dan Nyi Dwani masih berdiri di atas panggungan yang di dirikan di sebelah menyebelah regol padukuhan induk. Mereka bertiga tidak habis mengerti, mengapa pasukan para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu tidak kunjung menyerang? Mereka justru telah mengambil jarak yang cukup jauh dari dinding padukuhan dan sepertinya ada yang sedang mereka tunggu.

“Mengapa mereka tidak segera menyerbu padukuhan ini, Ayah?” bertanya Nyi Dwani.

More