Terusan ADBM Jilid 407

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-407/)

Jilid 407

SEJENAK Ki Ajar Wiyat masih termangu mangu sambil menatap Ki Gede Menoreh yang tegak bediri tak tergoyahkan bagaikan sebuah bukit. Pemimpin perguruan dari Tumapel itu seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Tenaga lawannya tak ubahnya dengan tenaga seekor gajah walaupun Ki Gede terlihat sudah sangat tua dan lemah.

“Baiklah, perhitunganku mungkin sedikit keliru,” akhirnya Ki Ajar Wiyat berkata sambil mulai mempersiapkan serangan berikutnya, “Namun semua ini tidak akan menggoyahkan ilmuku, tidak ada sekuku ireng dari ilmu yang telah sempurna aku kuasai. Berdoalah Ki Gede, umurmu tidak akan lebih dari suwe mijet wohing ranti.”

Ki Gede Menoreh tidak menjawab. Dibiarkan saja lawannya itu membual sepuas hatinya. Dengan sedikit merendahkan lututnya, Ki Gede berusaha untuk tidak banyak bergerak dan bergeser agar cacat di kakinya tidak kambuh lagi. Dengan bertumpu pada permainan tombak pendeknya, Ki Gede yakin akan mampu mengimbangi permainan lawannya.

Ketika lawannya kemudian telah meloncat menyerang dengan disertai teriakan yang menggelegar, Ki Gede Menoreh pun sudah siap menyongsong dengan ujung tombak pendeknya.

Demikianlah akhirnya kedua orang yang sudah menapaki hari-hari tua itu ternyata masih mampu bertempur dengan dahsyatnya. Saling serang untuk mencari kelengahan lawan. Silih ungkih singa lena.

Dalam pada itu, Empu Wisanata yang sedang menyusup di antara riuhnya pertempuran di sisi kiri gerbang padukuhan induk telah dikejutkan oleh pertempuran yang tidak seimbang antara sekelompok pengawal Menoreh dengan seseorang yang memiliki kemampuan yang ngedab-edabi.

Orang yang sudah cukup umur itu seolah olah mempunyai mata tidak hanya sepasang dan mampu berada di beberapa tempat pada waktu yang bersamaan. Kecepatan geraknya sungguh sangat mengagumkan. Di suatu saat dia terlihat sedang menangkis sebuah tombak yang terjulur lurus mengarah lambung hanya dengan tangan kosong. Pada saat yang bersamaan pedang seorang pengawal yang menyambar kepalanya telah berhasil dirampasnya, sedangkan seorang pengawal yang lain yang berusaha menusuk punggungnya dari belakang tiba-tiba saja telah mengeluh tertahan dan terdorong ke belakang beberapa langkah karena perutnya bagaikan tertimpa sebongkah batu hitam dan menjadi mual karena terkena tumit lawannya.

Dengan demikian para pengawal Menoreh yang mengeroyoknya merasa heran dengan gerakan lawan yang tidak dapat diikuti oleh pandangan mata itu. Sepuluh orang pengawal ternyata tidak mampu menghentikan tandang orang yang sudah cukup umur itu. Beberapa kali di antara mereka dibuat jatuh bangun. Agaknya orang itu tidak begitu bernafsu untuk membunuh. Dia terlihat hanya bermain-main saja menghadapi sepuluh pengawal yang mengepungnya.

Melihat keadaan para pengawal yang kebingungan dalam menghadapi lawannya yang hanya seorang itu, Empu Wisanata pun tergerak hatinya untuk segera membantu. Dengan langkah satu-satu ayah Nyi Dwani yang masih terlihat kokoh dan tegap walaupun usianya sudah melewati setengah abad itu segera bergeser semakin dekat dengan lingkaran pertempuran.

Sebelum para pengawal menyadari kehadiran Empu Wisanata, tiba-tiba saja orang yang sudah cukup berumur itu telah meloncat mundur sambil tertawa. Katanya kemudian, “Cukup anak-anak. Kalian menyingkirlah. Agaknya ada seseorang yang merasa memiliki ilmu yang cukup mumpuni untuk bermain main sejenak denganku.”

Mendengar kata-kata lawannya itu, barulah para pengawal menyadari bahwa di tengah-tengah mereka telah hadir Empu Wisanata.

“Selamat datang Empu,” berkata pengawal yang tertua mewakili kawan kawannya, “Kami sudah cukup dibingungkan dengan lawan yang hanya seorang ini. Selanjutnya terserah kepada Empu. Sedangkan kami akan membantu kawan-kawan kami yang lain yang mungkin sedang dalam kesulitan.”

“Terima kasih,” sahut Empu Wisanata tanpa melepaskan kewaspadaannya terhadap calon lawannya yang begitu yakin akan kemampuannya, “Sekarang kalian dapat membantu kawan-kawan yang lain. Usahakan tetap mengadakan hubungan dengan Ki Jayaraga untuk menghadapi setiap perubahan yang mungkin terjadi secara tiba-tiba di medan pertempuran ini.”

“Baik Empu,” jawab pengawal tertua itu, “Kami mohon diri.”

Sebelum Empu Wisanata sempat menjawab, tiba-tiba saja terdengar tawa yang berderai derai dari lawannya. Katanya kemudian sambil bertolak pinggang, “He! Apakah kalian akan berunding dulu untuk menentukan langkah-langkah dalam menghadapi peperangan yang semakin kisruh ini? Aku masih cukup bersabar untuk menunggu kalian berunding, asal jangan sampai melewati waktu sampai Matahari tergelincir. Aku sudah berjanji kepada Panembahan Cahya Warastra untuk membuka jalan ke Menoreh tidak lebih dari waktu Matahari tepat di atas ubun-ubun kita.”

“Marilah Ki Sanak,” dengan cepat Empu Wisanata menyahut sambil memberi isyarat kepada para pengawal untuk menyingkir, “Aku Empu Wisanata memberanikan diri untuk menghadapi Ki Sanak walaupun aku menyadari sepenuhnya bahwa lawanku adalah seorang yang pilih tanding. Namun itu bukan berarti tidak mungkin terkalahkan. Setinggi apapun ilmu seseorang, pasti mempunyai kelemahan, dan bagian dari kelemahan Ki Sanak itulah yang akan aku pelajari sambil menanti saat yang tepat untuk mengalahkan ki Sanak.”

Sekarang orang yang cukup berumur itu benar-benar tertawa terbahak bahak sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ternyata Ki Sanak sangat berbakat untuk mendongeng. Aku senang sekali dengan orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi, walaupun pada kenyataannya tidak akan mampu berbuat apa-apa dalam sebuah medan pertempuran yang sebenarnya. Namun setidaknya Ki Sanak sudah cukup puas dengan khayalan itu.”

“Aku tidak sedang mengkhayal Ki Sanak,” tukas Empu Wisanata, “Disadari atau pun tidak, selama kita masih berujud manusia pasti mempunyai kelemahan. Tidak ada seorang pun yang sempurna di muka bumi ini.”

“O..” seru lawannya sambil tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya, “Pendapat Ki Sanak memang ada benarnya. Namun yang akan menjadi bagian tersulit untuk mewujudkan angan-angan Ki Sanak adalah bagaimana cara Ki Sanak untuk menemukan kelemahanku. Mungkin seharian penuh Ki Sanak berusaha mencari kelemahanku dan belum tentu berhasil, sementara itu tubuh Ki Sanak sudah terkapar tak bernyawa.”

“Belum tentu,” kembali Empu Wisanata menyanggah, “Demikian juga sebaliknya, jangan berharap terlalu mudah bagi Ki Sanak untuk menemukan kelemahanku. Aku pun akan berusaha sedapat mungkin untuk menutupi kelemahanku dan justru Ki sanak lah yang mungkin terlebih dahulu akan terkapar tak berdaya sebelum Matahari sampai puncaknya.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan wajah yang merah padam. Agaknya usaha Empu Wisanata untuk memancing kemarahannya cukup berhasil, “Engkau akan mengalami penyesalan yang sangat sebelum ajal menjemputmu. Engkau akan menghadapi sebuah ilmu yang belum pernah engkau bayangkan sebelumnya. Bersiaplah, tataplah langit dan peluklah bumi untuk terakhir kali. Jangan harap engkau masih akan dapat melihat terbitnya matahari esok pagi.”

Bergetar juga dada Empu Wisanata mendengar sesumbar lawannya. Namun sebagai orang yang telah banyak makan asam garamnya kehidupan, Empu Wisanata dengan hati yang tatag telah siap menghadapi apapun kemungkinan yang akan terjadi.

“Nah,” berkata lawan Empu Wisanata kemudian dengan sebuah senyum mengejek menghiasi bibirnya, “Kalau tadi Ki Sanak sudah memperkenalkan diri sebagai Empu Wisanata, perkenalkan namaku Bango Lamatan, orang kedua setelah Panembahan Cahya Warastra. Aku harap Ki Sanak tidak menjadi pingsan atau menggigil ketakutan setelah menyadari dengan siapa Ki Sanak berhadapan. Lebih baik kalian semua menyerah dan bergabung bersama kami untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang lebih adil dan sejahtera. Yang lebih mengedepankan pada kepentingan kawula alit serta menjunjung tinggi paugeran yang berlaku di atas semua golongan.”

Empu Wisanata mengerutkan keningnya mendengar kata-kata lawannya yang ternyata adalah Bango Lamatan. Keinginan dari Panembahan Cahya Warastra dan para pengikutnya untuk memperbaiki tata pemerintahan yang sudah ada serta mengedepankan kepentingan kawula alit adalah cita-cita yang mulia namun tidak harus dengan jalan pertumpahan darah.

“Ki Bango Lamatan,” akhirnya Empu Wisanata memberikan tanggapan, “Aku sangat setuju jika tata pemerintahan yang sekarang ini diperbaiki untuk menuju yang lebih baik serta kawula alit lebih diperhatikan lagi kesejahteraannya. Namun cara yang diambil Panembahan Cahya Warastra inilah yang aku tidak setuju. Perbedaan pendapat tidak harus disampaikan dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah. Bukankah perang pada akhirnya hanya akan menyengsarakan kawula alit? Kehidupan mereka yang sudah berat, akan semakin berat dengan adanya peperangan yang silih berganti di atas tanah ini. Mereka tidak dapat dengan bebas menggarap sawah dan ladang mereka karena selalu dihantui dengan perasaan tidak aman, sementara beban pajak yang mereka pikul akan semakin berat setiap timbul sebuah peperangan. Karena setiap peperangan tentu memakan biaya yang tidak sedikit dan semua itu akan dibebankan kepada kawula alit melalui pajak yang semakin tinggi dan mencekik.”

“Mengapa Empu berpikiran sesempit itu?” bertanya Bango Lamatan, “Bukankah sebuah perjuangan itu pasti memerlukan pengorbanan? Lihatlah apa yang terjadi sejak Mataram berdiri. Pemberontakan demi pemberontakan silih berganti yang bersumber pada perebutan kekuasaan antara keluarga istana. Apapun yang menjadi alasan mereka untuk memberontak, namun yang jelas para bangsawan itu tidak dapat dijadikan contoh yang baik. Mereka seharusnya sudah sangat bersyukur dilahirkan di dalam kalangan istana yang bersumber pada trahing kusuma rembesing madu. Seharusnya mereka bersatu padu untuk menjadikan Mataram semakin besar, bukannya saling berebut untuk menduduki singgasana yang pada akhirnya hanya memberikan contoh yang memuakkan bagi para kawula Mataram. Untuk itulah Panembahan Cahya Warastra telah menghimpun perguruan-perguruan yang sealiran dengannya untuk memperbaiki tata pemerintahan yang sudah carut marut ini. Tidak ada lagi yang peduli dengan nasib negeri ini. Sekarang ini yang terjadi hanyalah bagaimana dapat memperjuangkan nasib golongan mereka sendiri dan hasilnya nanti juga untuk mereka nikmati sendiri.”

Sejenak Empu Wisanata menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disadari, dipandanginya Bango Lamatan yang berdiri beberapa langkah di depannya. Katanya kemudian sambil mengangguk anggukkan kepalanya, “Aku menyadari apa yang telah dan sedang terjadi di dalam keluarga istana Mataram. Namun bagiku, memperbaiki tatanan pemerintahan yang sudah ada ini tidak perlu dengan perang. Itu sama saja dengan pemberontakan, dan pemberontakan itu apapun alasannya tidak akan pernah dibenarkan oleh paugeran yang berlaku di suatu Negara.”

“Persetan dengan segala macam paugeran,” umpat Bango Lamatan, “Semua paugeran itu dibuat hanya untuk menguntungkan para Bangsawan dan Penguasa, kita sebagai kawula biasa tidak akan pernah mendapatkan tempat di jajaran para bangsawan dan penguasa itu. Selebihnya mereka adalah orang-orang yang hanya mementingkan diri mereka sendiri dan golongannya. Memang keadaan negeri ini sudah sedemikian parahnya dan hanya dengan sebuah perjuangan dan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh Panembahan Cahya Warastra inilah, masa depan tanah ini akan dapat diperbaiki.”

Empu Wisanata menggeleng lemah, “Walaupun kalian menyebutnya ini adalah sebuah perjuangan untuk membela kawula alit atau karena alasan yang lain, aku tetap tidak sejalan dengan pemikiran kalian. Bagiku, tata pemerintahan ini masih dapat dipertahankan dan dikembangkan ke arah yang lebih baik. Kawula alit sudah terlalu banyak menderita dan siapakah yang dapat menjamin bahwa seandainya Panembahan Cahya Warastra dapat menduduki tahta kemudian pemerintahannya akan lebih baik dari sekarang? Aku justru cenderung melihat ketamakan dan keserakahan lah yang akan muncul ke permukaan dari masing-masing perguruan yang merasa paling berjasa terhadap Panembahan Cahya Warastra.”

“Tutup mulut kotormu!” bentak Bango Lamatan menggelegar memenuhi udara medan pertempuran sehingga membuat orang-orang yang sedang bertempur di dekat itu terkejut dan merasakan telinga mereka sejenak menjadi sakit serta rongga dada yang terasa pepat.

Sementara Empu Wisanata yang berdiri paling dekat dengan Bango Lamatan dadanya bagaikan tertimpa berbongkah-bongkah batu padas yang berguguran dari lereng bukit. Namun ketahanan tubuh Empu Wisanata memang luar biasa serta dengan segera mengerahkan Aji Tameng Wajanya, perlahan tapi pasti pengaruh himpitan di dalam rongga dadanya itu pun menjadi reda.

“Luar biasa,” desis Empu Wisanata perlahan lahan sambil tersenyum, “Aji Gelap Ngampar Ki Bango Lamatan benar-benar hampir meremukkan rongga dadaku. Untunglah Yang Maha Agung masih melindungiku.”

“Alangkah sombongnya,” geram Bango Lamatan, “Jangan mengira bahwa aku sudah menunjukkan puncak ilmuku. Aku percaya bahwa Empu masih mampu memunahkan kekuatan ajiku dengan mudah. Tapi untuk selanjutnya aku tidak akan bermain main lagi. Aku sudah memberi kesempatan kepada kalian orang-orang Menoreh untuk bergabung dengan perjuangan kami. Kini kesempatan itu sudah tertutup. Kalian tinggal meratapi nasib buruk yang akan menimpa Tanah Perdikan ini.”

Empu Wisanata tidak menjawab. Dilihatnya lawannya itu sudah mulai menggeser kedudukannya dan siap untuk melontarkan serangan yang pertama.

Demikianlah ketika kaki kanan Bango Lamatan yang terjulur lurus itu melesat mengarah dada, Empu Wisanata tanpa membuang waktu segera menggeser tubuhnya miring ke kanan. Ketika serangan lawannya lewat sejengkal di depan dadanya, dengan kecepatan yang tinggi, tangan kanan Empu Wisanata pun meluncur menebas tengkuk lawannya.

Tentu saja Bango Lamatan tidak akan membiarkan tengkuknya menjadi sasaran lawan yang akan dapat berakibat sangat parah. Dengan sedikit merendahkan kepalanya dan tangan kiri di angkat sejajar kepalanya untuk melindungi dari kemungkinan adanya serangan susulan, Bango Lamatan mengubah arah serangannya dengan cara menarik kaki kanannya yang tidak mengenai sasaran itu sehingga seolah olah tubuhnya telah melambung ke kanan. Ketika Empu Wisanata masih terkejut dengan gerakan lawannya itu, tiba-tiba dengan menggunakan tangan kanannya Bango Lamatan memukul ulu hati lawannya.

Empu Wisanata terkejut mendapat serangan susulan yang tiba-tiba itu. Tidak ada kesempatan baginya untuk mengelak. Yang dapat dilakukannya hanyalah menggeser kedudukan tangan kirinya merapat tepat di depan ulu hati sambil mengetrapkan aji tameng waja separo dari kekuatan sebenarnya untuk sekedar menjajagi kekuatan lawan pada saat benturan pertama.

Benturan itu ternyata telah mengakibatkan Empu Wisanata terdorong surut beberapa langkah, sehingga akibat dari benturan itu telah membuat Empu Wisanata terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya dengan cepat dia segera memperbaiki kedudukannya agar tidak sampai jatuh terjengkang.

Sedangkan Bango Lamatan merasakan pukulannya bagaikan membentur batu-batu padas di gerojokan. Sejenak pergelangan tangan kanannya rasa rasanya bagaikan lumpuh dan tidak bertenaga. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya itu mempunyai benteng pertahanan yang sedemikian kuat walaupun dirinya pada saat membenturkan kekuatannya tadi juga belum mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Sejenak Empu Wisanata yang terdorong surut beberapa langkah mencoba untuk menarik nafas sedalam dalamnya agar getar yang memenuhi rongga dadanya akibat benturan tadi segera mereda. Ketika pandangan matanya menangkap gerak lawannya yang telah mempersiapkan serangan berikutnya, Empu Wisanata pun kemudian semakin meningkatkan kekuatan Aji Tameng Wajanya.

Dalam pada itu di tepian Kali Praga, Ki Rangga Agung Sedayu tampak sedang berjalan mondar mandir di atas tepian yang berpasir dengan gelisah. Sesekali ditengadahkan wajahnya ke langit. Matahari sudah naik cukup tinggi dan selama itu belum ada tanda-tanda akan ada penyerbuan dari para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Mungkin isyarat yang aku terima salah,” desisnya dalam hati, “Atau memang aku yang belum mampu untuk menguraikan isyarat yang aku terima itu sehingga yang muncul dalam hatiku hanyalah sebuah kegelisahan.”

Kembali Ki Rangga Agung Sedayu menengadahkan wajahnya ke langit yang biru bersih tanpa selembar awan pun yang menggantung. Ketika tanpa disadarinya dia berpaling ke arah Pandan Wangi yang duduk di atas sebuah batu hitam sambil menyelonjorkan kedua kakinya ke dalam air Kali Praga yang keruh, sekejap jantung suami Sekar Mirah itu bagaikan berhenti berdetak.

Alangkah cantiknya Pandan Wangi di usianya yang sudah tidak muda lagi itu dalam pandangan Ki Rangga Agung Sedayu. Sinar Matahari yang berkilauan di atas riak-riak air Kali Praga dan memantul ke seraut wajah cantik yang diam termangu, seolah olah Ki Rangga Agung Sedayu melihat sebuah golek kencana yang indah namun yang selalu terlunta-lunta dan disia-siakan oleh pemiliknya.

“Seharusnya Adi Swandaru bersyukur mempunyai istri yang cantik dan setia,” kembali angan-angan Ki Rangga Agung Sedayu mengembara, “Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh sudah dalam genggaman kekuasaannya. Apa lagi yang kurang pada diri Adi Swandaru? Mengapa dia begitu tega mengkhianati istrinya?”

Lamunan Ki Rangga Agung Sedayu sejenak menjadi buyar ketika telinganya yang tajam mendengar desir langkah mendekatinya. Ketika dia berpaling ke belakang, tampak Pandan Wangi telah berdiri termangu mangu beberapa langkah saja di belakangnya.

Ketika Ki Rangga Agung Sedayu kemudian memutar tubuhnya menghadap penuh ke arah Pandan Wangi, tanpa sadar kedua pasang mata itu pun telah bertatapan disertai dengan degup jantung yang berdentangan seakan akan dapat merontokkan isi dada.

“Kakang,” tiba-tiba Pandan Wangi berdesis perlahan sambil melemparkan pandangan matanya ke titik-titik di kejauhan, “Sampai kapan kita akan menunggu di tepian ini? Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ayah di Menoreh. Kalau memang diijinkan, aku akan mendahului ke padukuhan induk lewat jalan memutar. Aku sudah mengenal dengan baik daerah ini sejak aku masih kanak-kanak, sehingga tidak akan ada kesulitan yang berarti untuk mencari jalan pulang tanpa harus melewati padukuhan di depan yang telah dikuasai oleh Panembahan Cahya Warastra.”

Sejenak Ki Rangga Agung Sedayu termenung. Pandan Wangi memang lahir dan dibesarkan di Menoreh. Kegemarannya pergi berburu semasa dia telah beranjak dewasa telah menambah wawasannya tentang tanah kelahirannya itu dari ujung ke ujung. Nyaris tidak ada satu tempat pun yang tidak pernah dikunjungi Pandan Wangi walaupun hanya sebatas lewat atau mengetahui letak suatu tempat dari tempat yang lain.

“Wangi,” akhirnya Ki Rangga menjawab dengan suara yang sareh, “Keadaan sekarang ini sangat gawat. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra telah ada di depan mata kita. Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga tersebar di tempat-tempat yang tidak kita ketahui. Kemungkinan terburuk dapat saja terjadi pada saat engkau mencari jalan pintas untuk menuju ke padukuhan induk.” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Aku tahu bagaimana perasaanmu tentang Ki Gede Menoreh yang sedang sakit. Namun untuk sementara ini, marilah kita serahkan keadaan Ki Gede kepada Yang Maha Agung. Semoga doa kita selalu didengar dan kita selalu dalam lindungan dan karuniaNYA.”

Pandan Wangi tampak menggigit bibirnya untuk menahan gejolak dalam dadanya setiap kali teringat akan Ayahnya. Tanpa sadar ditengadahkan wajahnya untuk menahan air mata yang hampir saja tumpah. Sejenak ditariknya nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya dengan udara tepian Kali Praga yang segar agar perasaan pepat yang ada di dalam dadanya sedikit longgar.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi kemudian setelah getar dalam dadanya mereda, “Bukan maksudku untuk meninggalkan kewaspadaan dan mengabaikan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, namun semua itu semata mata karena terdorong oleh kekhawatiran seorang anak terhadap orang tua satu satunya yang sedang sakit.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepalanya. Kemudian sambil mengajak Pandan Wangi duduk di bawah sebatang pohon yang rindang tidak jauh dari tepian untuk menghindari sinar Matahari yang mulai terasa menyengat, Ki Rangga berkata perlahan, “Wangi, aku akan berterus terang kepadamu. Aku mohon engkau menilaiku dengan jujur.”

Pandan Wangi untuk beberapa saat terdiam. Dia tidak mengetahui kemana arah pembicaraan Ki Rangga Agung Sedayu. Tiba-tiba saja hatinya menjadi berdebar debar. Kenangannya kembali ke masa bertahun tahun silam ketika dia masih seorang gadis putri Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Ketika terjadi pergolakan di tanah kelahirannya yang memaksa dirinya untuk berdiri berseberangan dengan kakaknya yang sangat dikasihinya, Sidanti.

Kenangan itu tidak akan mungkin terhapus dari ingatan Pandan Wangi. Bagaimana mungkin dia melupakan peristiwa yang telah mematahkan angan angannya, bahkan harapannya sebagai seorang gadis terhadap laki-laki yang telah menarik hatinya?

Masih tergambar jelas dalam benak Pandan Wangi, ketika dalam sebuah perjalanan berdua, Ki Rangga Agung Sedayu yang pada waktu itu menggunakan nama Gupita telah mengajaknya berhenti di sebuah bulak yang sepi kemudian mereka berdua menyusup masuk ke dalam sebuah pategalan untuk menghindar dari perhatian orang lain yang mungkin tanpa sengaja melewati bulak itu.

Sikap yang sama kini dilihatnya pada diri Ki Rangga Agung Sedayu di tepian Kali Praga. Hanya bedanya pada waktu itu harapan Pandan Wangi sebagai seorang gadis yang telah mengenal Gupita beberapa waktu sempat melambung tinggi. Pandan Wangi berharap Gupita mendengar jeritan hatinya yang selalu gelisah dirundung ketidak pastian. Dia benar-benar ingin mendengar dari mulut Gupita sendiri tentang kepastian hubungan mereka selama itu dalam hubungan antara seorang gadis dan laki-laki yang sama-sama telah dewasa.

Namun harapan itu ternyata telah hancur bagaikan sebuah belanga yang jatuh di tanah berbatu batu, hancur berkeping keping. Ternyata Gupita pada waktu itu sama sekali tidak menyinggung hubungan mereka berdua, tetapi Gupita justru telah menyediakan dirinya membantu adik seperguruannya untuk memadukan kedua hati yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan sama sekali.

Tiba-tiba Ki Rangga Agung Sedayu yang duduk hanya beberapa jengkal di sebelahnya berpaling sekilas sambil berkata, “Wangi, akhir-akhir ini aku digelisahkan oleh suatu keadaan tentang diriku yang aku sendiri kurang memahami.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil berpaling ke arah Ki Rangga. Dipandanginya wajah Ki Rangga Agung Sedayu yang menunduk sambil jari jarinya mempermainkan rerumputan yang ada di depannya. Wajah itu masih tetap seperti dulu, wajah yang penuh keragu raguan dan pertimbangan yang terlalu panjang. Namun memang itulah Agung Sedayu yang telah dikenalnya dulu sampai sekarang.

Karena lama Pandan Wangi tidak menanggapi kata katanya, Ki Rangga pun kemudian berpaling ke arahnya. Sejenak kembali dua pasang mata itu bertemu. Entah gejolak apa yang sedang berkecamuk dalam rongga dada mereka masing-masing. Namun ternyata Ki Rangga Agung Sedayu lah yang segera membuang pandangannya jauh ke depan, ke arah bulak panjang yang menghubungkan tepian Kali Praga dengan padukuhan terdekat.

“Mengapa engkau diam saja, Wangi?” bertanya Ki Rangga sambil tetap memandang ke depan.

Pandan Wangi menarik nafas panjang sambil menggeleng, “Engkau ini dari dulu memang aneh Kakang. Engkau belum menceritakan apa yang telah membuatmu gelisah akan tetapi engkau telah meminta aku untuk menanggapinya. Bagaimana mungkin?”

“Ah,” Ki Rangga tertawa hambar begitu menyadari kesalahannya. Katanya kemudian dengan nada yang bersungguh sungguh, “Akhir-akhir ini aku sepertinya mendapat firasat atau getaran-getaran dari suatu persoalan yang sedang terjadi jika aku sedang mencoba merenunginya. Namun aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menguraikan isyarat atau pun getaran-getaran yang aku terima melalui mata hatiku itu.” Ki Rangga berhenti sejenak, lalu, “Aku jadi teringat dengan Ki Waskita. Ki Waskita adalah salah satu dari sekian banyak orang yang dikaruniai kemampuan untuk membaca masa depan walaupun hanya berupa isyarat yang masih harus diuraikan kembali. Kadangkala uraian itu mendekati kebenaran atau bahkan salah sama sekali, itu tergantung dari ketajaman batin seseorang. Apakah pengaruh kemampuan Ki Waskita itu sekarang telah mulai menular kepada diriku? Bagaimana pun juga, Ki Waskita adalah guruku yang kedua setelah Kiai Gringsing walaupun aku tidak menerima tuntunan ilmu langsung darinya. Aku hanya diijinkan untuk membaca kitabnya dan berusaha memahatkan apa yang tertera dalam kitab itu di dinding hatiku untuk aku ingat. Sehingga suatu saat ingatan itu dapat aku ungkap kembali untuk kemudian aku pelajari.”

Pandan Wangi tertegun sejenak. Serba sedikit dia memang sudah tahu hubungan antara Ki Waskita dengan Ki Rangga Agung Sedayu. Namun sejauh itu Pandan Wangi tidak pernah menyangka kalau Ki Waskita itu dapat dikatakan sebagai guru kedua dari Ki Rangga Agung Sedayu setelah Kiai Gringsing walaupun menurut pengakuan Ki Rangga, dia hanya diijinkan untuk membaca kitab Ki Waskita. Namun ternyata seluruh isi kitab itu telah terpahat di dinding hatinya yang pada suatu saat dapat dipelajari kembali sesuai dengan keinginannya.

“Engkau harus bersyukur, kakang,” perlahan Pandan Wangi memberikan tanggapan, “Jarang sekali seseorang itu diberi karunia oleh Yang Maha Pemurah kemampuan seperti itu. Untuk mengasah kemampuan itu diperlukan waktu yang sangat panjang. Kemampuan itu sangat berhubungan erat dengan kebersihan dan keluhuran hati seseorang. Aku hanya dapat berpesan, tekunilah kemampuan itu sambil jangan lupa selalu mensyukuri nikmatNya karena kemampuan seperti itu nantinya akan sangat banyak menolong sesama dalam kehidupan bebrayan ini.”

“Kalau aku boleh jujur, Wangi. Sesungguhnya kemampuan seperti ini sangat menakutkan bagiku. Aku takut jika seseorang yang meminta pertolongan untuk melihat masa depannya kepadaku nantinya akan menjadi kecewa setelah mengetahui masa depannya itu menurut isyarat yang aku terima tidak sesuai dengan cita-cita atau harapannya. Demikian juga jika ternyata aku yang salah dalam mengartikan isyarat itu. Itu sama saja dengan memberikan harapan kosong dan menjerumuskan seseorang dalam kebohongan.”

“Bukan begitu Kakang. Sejauh pengetahuanku, Ki waskita tidak pernah menyatakan dirinya secara mutlak mengetahui masa depan. Hanya isyarat-isyarat yang masih harus diuraikan dengan cermat. Dan itu tidak pernah disampaikan secara bulat dan utuh karena apa yang dilihat oleh Ki Waskita hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang yang itu pun belum tentu dapat diuraikan dengan jelas dan benar. Selebihnya kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh Ki Waskita dan telah terbukti banyak membantu orang-orang yang membutuhkannya adalah kemampuan untuk menangkap getaran-getaran yang ditimbulkan oleh benda-benda atau apapun yang berhubungan antara satu dengan lainnya. Sehingga Ki Waskita dapat dikatakan mempunyai kemampuan untuk menemukan barang-barang yang hilang atau dicuri. Bahkan mungkin kakang masih ingat peristiwa hilangnya putera satu satunya Ki Waskita, Rudita, yang diculik oleh para pengikut Panembahan Agung. Ki Waskita dengan tepat dapat memberikan arah kepada pasukan Mataram yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan pasukan Menoreh yang dipimpin oleh ayah Argapati mengenai letak padepokan Panembahan Agung.”

“Ya, aku masih ingat,” sahut Ki Rangga, “Getaran antara ayah dan anak akan sangat kuat untuk menuntun arah di mana pada waktu itu Rudita disembunyikan.”

“Nah, jika demikian. Apalagi yang kakang takutkan? Kakang tidak usah memperdulikan masa depan, karena masa depan itu memang rahasia Yang Maha Hidup. Sedangkan kemampuan untuk menangkap getaran dari benda-benda bahkan orang di sekitar kita itu memang ada ilmunya dan dapat dipelajari.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi rongga dadanya. Pendapat Pandan Wangi itu memang ada benarnya. Namun persoalan yang sedang melanda hatinya ternyata tidak sesederhana itu.

“Wangi,” berkata Ki Rangga kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Aku memang sedang mempelajari salah satu bagian dari kitab Ki Waskita yang mempelajari tentang getaran benda-benda di sekitar kita. Namun dalam perkembangannya itulah yang telah menakutkan diriku. Pagi tadi sebelum matahari terbit, ketika aku sedang merenung dan memikirkan Sekar Mirah, tiba-tiba saja isyarat itu datang tanpa aku minta. Seolah olah aku melihat ada darah di mana-mana di sekeliling istriku yang sedang duduk bersimpuh sambil menggendong bayinya. Aku juga melihat Ki Gede yang sedang menjinjing tombak pendeknya dengan wajah yang merah membara. Bukankah menurut kabarnya Ki Gede sedang sakit? Isyarat seperti itulah yang telah menggelisahkan hatiku karena aku tidak mampu menolak kehadirannya dan juga tidak mampu menguraikannya.”

Tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi menegang begitu mendengar Ki Rangga menyebut ayahnya dalam isyarat yang telah diterimanya itu. Katanya kemudian dengan kata-kata yang sedikit bergetar, “Kakang, apakah yang terjadi pada Ayah Argapati? Mengapa beliau terlihat begitu marah dalam isyarat kakang itu? Dan bagaimana dengan Sekar Mirah? Mengapa dia bersimpuh dalam genangan darah?”

“Wangi,” potong Ki Rangga sambil menggeleng gelengkan kepalanya, “Seperti yang sudah aku katakan tadi. Aku tidak mampu untuk menguraikan isyarat yang telah aku terima itu. Dan satu lagi yang membuatku sangat gelisah. Selain Sekar Mirah dan Ki Gede, dalam isyarat itu pun aku melihat wajah seorang perempuan yang justru sedang tersenyum. Aku benar-benar tidak mengerti.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dengan serta merta dia bertanya, “Siapakah perempuan yang kakang maksud?”

Sejenak Ki Rangga tertegun. Dia menyadari keterlanjurannya menyebut seorang perempuan dalam isyarat yang diterimanya itu yang belum pernah dikenal oleh Pandan Wangi.

Namun Ki Rangga sudah tidak mampu lagi untuk mengelak. Maka jawabnya kemudian dengan kata-kata yang hampir tak terdengar, “Nama perempuan itu Anjani.”

“Siapa Kakang..? Anjani..? Rasa rasanya nama itu baru aku dengar,” sergah Pandan Wangi dengan cepat. Kemudian dengan suara yang terdengar penuh dengan tekanan dan sedikit bergetar dia melanjutkan, “Kakang, aku tidak tahu siapa perempuan yang bernama Anjani itu. Namun kalau memang perempuan itu telah menjadi duri dalam keluarga Kakang, aku yang pertama kali akan menghadapinya. Aku tidak peduli siapa Anjani itu. Tapi yang jelas, aku tidak rela jika Sekar Mirah sampai diganggunya walaupun hanya seujung rambut. Aku benar-benar tidak rela.”

Kata-kata Pandan Wangi yang tegas dan jelas itu bagaikan palu godam yang meremukkan dada Ki Rangga Agung Sedayu. Jauh di lubuk hatinya, memang tidak ada niat sebiji sawi pun untuk melukai perasaan Sekar Mirah sehubungan dengan kehadiran Anjani dalam lingkaran kehidupannya. Namun di sisi lain, Ki Rangga terikat dengan janjinya untuk membawa Anjani ke Menoreh.

“Kakang,” Pandan Wangi meneruskan kata katanya begitu melihat Ki Rangga Agung Sedayu hanya diam termangu, “Kalau aku boleh tahu, siapakah sebenarnya Anjani itu? Dan ada hubungan apakah dengan Kakang?”

Sejenak kebimbangan terpancar dari wajah Ki Rangga. Agaknya memang sudah waktunya bagi Ki Rangga untuk berbagi cerita dengan orang lain, dalam hal ini adalah Pandan Wangi yang bagi Ki Rangga nantinya akan dapat membantu menjelaskan perihal Anjani ini kepada istrinya.

Setelah berkali-kali menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dengan secara singkat Ki Rangga menceritakan perjalanannya ke Panaraga sampai dengan peristiwa perang tanding dengan murid Ajar Tal Pitu sehingga dia telah terbebani dengan keberadaan Anjani disisinya. Namun yang membuat Pandan Wangi benar-benar tidak habis mengerti dengan jalan penalaran Ki Rangga adalah mengapa Ki Rangga mengusulkan Anjani sebagai taruhan dalam perang tanding itu?

“Kakang,” katanya kemudian, “Mengapa Kakang mengusulkan Anjani sebagai taruhan?”

“Wangi,” jawab Ki Rangga, “Bukan maksudku untuk mengambil Anjani dengan sungguh-sungguh. Aku hanya berolok-olok saja pada waktu itu dengan maksud untuk memancing kemarahan kedua murid Ajar Tal Pitu itu, karena aku tidak yakin mereka akan berlaku jujur dalam perang tanding itu, dan terbukti yang terjadi kemudian adalah mereka berdua telah melanggar janji.”

“Apakah Kakang tidak pernah memikirkan akibat yang akan timbul kemudian dengan meminta Anjani sebagai taruhan?”

“Aku tidak berpikir sejauh itu, Wangi. Aku hanya mempunyai perhitungan dengan meminta Anjani sebagai taruhan, kedua gurunya akan marah sehingga sedikit banyak akan mengurangi daya penalaran mereka pada saat bertempur. Namun yang terjadi diluar perhitunganku adalah Anjani itu sendiri. Aku menyangka dia akan bela pati terhadap kedua gurunya atau paling tidak akan menolak dijadikan sebagai taruhan.”

Kembali Pandan Wangi terpekur. Dia dapat mengerti jalan pemikiran Ki Rangga sejauh itu. Namun sebagaimana Ki Rangga, Pandan Wangi sendiri pun juga heran dengan kesediaan Anjani untuk dijadikan taruhan dan bahkan ingin diajak ke Menoreh.

“Dimanakah Anjani sekarang?” pertanyaan itu begitu saja meluncur dari bibir Pandan Wangi setelah sejenak mereka berdua terdiam.

Untuk beberapa saat Ki Rangga bagaikan membeku mendapat pertanyaan itu. Namun lambat laun Ki Rangga mampu menguasai dirinya kembali dan akhirnya menjawab dengan perlahan, “Semalam dia ada di tepian ini.”

“He!’ Pandan Wangi benar-benar terlonjak kaget sehingga telah bangkit dari tempat duduknya.

Ki Rangga yang melihat Pandan Wangi bangkit dari duduknya segera berkata dengan sareh, “Duduklah Wangi.”

“Tidak Kakang,” jawab Pandan Wangi tegas, “Mengapa kakang tidak memberitahukan hal ini kepadaku semalam? Apakah suara tangis perempuan yang kami dengar semalam itu adalah tangisan Anjani?” Pandan Wangi berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang tiba-tiba memburu. Lalu lanjutnya kemudian, “Jadi selama ini kakang telah membawa Anjani secara diam-diam sejak dari Sangkal Putung, tapi mengapa Kakang tidak memberitahukan kepadaku? Apakah yang sebenarnya telah terjadi diantara kalian berdua? Aku tidak dapat membayangkan betapa kecewanya Sekar Mirah jika mengetahui hal ini.”

“Wangi,” tiba-tiba Ki Rangga Agung Sedayu bangkit berdiri, dipandanginya sepasang mata Pandan Wangi yang membara namun di kedua sudut matanya tampak titik-titik air mulai mengembang. Kemudian katanya dengan nada yang sangat dalam, “Apakah engkau sudah tidak percaya lagi kepada Kakangmu ini? Apakah engkau mulai membandingkan diriku dengan adi Swandaru? Tidak wangi, aku tidak akan melangkah sejauh itu. Aku sangat menyayangi keluargaku. Dan aku siap berkorban apapun demi untuk kebahagiaan Sekar Mirah.”

Begitu Pandan Wangi mendengar nama suaminya disebut, tangisnya pun meledak bagaikan bendungan yang pecah diterjang banjir di awal musim penghujan.

Ki Rangga Agung Sedayu begitu terkejut melihat akibat dari keterlanjurannya. Dengan tergesa-gesa dia segera berkata dengan nada lembut, “Wangi, maafkan aku. Bukan maksudku untuk mengungkit kejadian di masa lalu. Aku mengerti bagaimana perasaan seorang istri jika suaminya telah menduakan cintanya. Untuk itulah aku benar-benar menjaga jarak terhadap Anjani. Aku akan sangat bersyukur jika di Menoreh nanti Anjani dapat menemukan masa depannya yang lebih gemilang.”

Sambil berusaha menahan isak tangisnya, Pandan Wangi mencoba untuk menelaah kata-kata kakak seperguruan suaminya itu. Dia sadar, tentu Ki Rangga tidak ingin menyakiti hati Sekar Mirah setelah sekian lama berumah tangga. Adalah sangat menyakitkan dan tak mungkin akan termaafkan seandainya benar Ki Rangga telah menjalin hubungan dengan Anjani justru di saat rumah tangga mereka sedang menyongsong kebahagiaan setelah penantian panjang yang seolah tak berujung dengan hadirnya buah hati mereka, buah cinta Ki Rangga Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Sudahlah Wangi,” kembali Ki Rangga membujuk Pandan Wangi untuk menghentikan tangisnya, “Aku sungguh-sungguh sangat menyesal atas kejadian tadi. Semoga engkau memaafkan aku. Marilah kita lupakan sejenak urusan pribadi di antara kita. Keselamatan Menoreh sekarang ini memerlukan perhatian kita.” Ki Rangga Agung Sedayu berhenti sejenak sambil berpaling ke arah Pandan Wangi yang kelihatannya sudah mulai dapat menguasai dirinya. Lanjutnya kemudian, “Beberapa saat ketika masih di tepian tadi, aku mencoba menelusuri gejala yang mulai tampak pada ilmu yang sedang aku tekuni dari kitab Ki Waskita untuk mencoba melihat apa yang sedang terjadi di padukuhan depan. Masih menurut getaran isyarat yang aku terima, padukuhan di depan kita itu kelihatannya sudah dikosongkan beberapa saat yang lalu. Namun aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada Ki Patih Mandaraka, karena dasar yang aku gunakan bukan hasil dari pengamatan prajurit sandi, hanya berdasarkan isyarat yang aku terima yang kebenarannya masih perlu diuji.”

Mendengar Ki Rangga Agung Sedayu mencoba mengalihkan arah pembicaraan, Pandan Wangi pun dengan sekuat tenaga mencoba untuk menghentikan tangisnya. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali agar getar-getar di dalam rongga dadanya mereda, akhirnya Pandan Wangi pun menjawab, “Kakang, benar atau tidak isyarat yang kakang terima, sebaiknya tetap disampaikan kepada Ki Patih Mandaraka agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Sementara itu para prajurit sandi tentu juga tidak akan tinggal diam. Mereka tentu akan segera melapor jika ada kejadian-kejadian yang perlu untuk segera ditindak lanjuti.”

Sejenak Ki Rangga mengerutkan keningnya mendengar saran Pandan Wangi. Sambil mengangguk anggukkan kepalanya dia menyahut, “Engkau benar Wangi. Seharusnya aku tetap menyampaikan apa yang telah aku terima melalui getaran isyarat ini walaupun cara penyampaiannya kepada Ki Patih harus berbeda agar tidak ada kesan seolah olah aku telah mempunyai kemampuan untuk melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang kebanyakan. Aku dapat saja menyampaikan hal ini atas dasar perhitungan dan pertimbangan-pertimbangan nalar serta firasat sebagai prajurit yang telah terbiasa dalam medan pertempuran.”

“Ya, kakang. Marilah kita segera menghadap Ki Patih agar beliau dapat mengambil keputusan yang tepat menghadapi keadaan yang tidak menentu ini.”

“Marilah,” berkata Ki Rangga kemudian sambil bangkit berdiri diikuti oleh Pandan Wangi. Keduanya pun kemudian dengan tergesa-gesa menyusuri tepian Kali Praga yang berpasir lembut menuju ke tempat Ki Patih Mandaraka beristirahat.

Namun sebelum keduanya sampai di tempat Ki Patih Mandaraka, mereka telah dikejutkan oleh bunyi derap kuda yang sedang dipacu menuju ke tepian. Ketika Ki Rangga dan Pandan Wangi kemudian mengarahkan pandangan mata mereka ke ujung bulak, dari kejauhan tampak seekor kuda sedang dipacu dengan kecepatan tinggi. Debu pun mengepul tinggi di belakang kaki-kaki kuda itu.

“Apakah yang sebenarnya sedang terjadi?” hampir bersamaan kedua orang itu berdesis.

Beberapa prajurit yang sedang bertugas jaga segera berloncatan ke tengah jalan dengan senjata terhunus. Dalam keadaan yang tidak menentu ini, segala kemungkinan dapat saja terjadi.

Namun para prajurit itu segera menepi begitu melihat penunggang kuda itu memberikan isyarat dengan lambaian tangan tiga kali berturut turut yang menandakan bahwa penunggang kuda itu adalah prajurit sandi yang sedang bertugas mengamati padukuhan di depan.

Para prajurit yang sedang berdiri di sebelah menyebelah jalan segera menutup hidung sambil memalingkan wajah begitu kuda yang masih berlari kencang itu melintas di hadapan mereka. Setelah mengurangi laju kudanya ketika kaki-kaki kuda itu sudah mulai menginjak tanah berpasir, penunggang kuda yang ternyata adalah salah satu dari prajurit sandi yang sedang bertugas mengamati keadaan di padukuhan depan itu segera meloncat turun. Seorang prajurit segera menyambut tali kekang kudanya dan membawa kuda itu menepi.

Dengan tergesa-gesa Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi segera menyusul ke tempat Ki Patih. Ternyata disitu telah hadir Ki Tumenggung Tirtayudha dan beberapa perwira yang membawahi pasukan cadangan.

“Kemarilah,” berkata Ki Patih kepada Ki Rangga dan Pandan Wangi begitu mereka berdua datang mendekat.

Setelah menghaturkan sembah, keduanya pun kemudian duduk di atas bebatuan yang berserakan di tepian Kali Praga. Sementara prajurit sandi yang juga telah menghadap Ki Patih telah dipersilahkan untuk menyampaikan laporannya.

“Ampun Ki Patih,” berkata prajurit sandi itu sambil berusaha mengatur nafasnya, “Menurut pengamatan kami, ternyata pasukan Panembahan Cahya Warastra telah meninggalkan padukuhan beberapa saat yang lalu. Kami menjumpai perapian yang masih hangat, bahkan bekas-bekas tempat makanan dan minuman masih tergeletak si sana sini. Kelihatannya mereka meninggalkan padukuhan itu dengan tergesa-gesa sehingga tidak sempat membereskan peralatan makan dan minum yang telah mereka pergunakan.”

Ki Patih Mandaraka tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sementara itu Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi hanya dapat saling berpandangan. Ternyata isyarat yang diterima oleh Ki Rangga itu benar adanya, Panembahan Cahya Warastra telah meninggalkan padukuhan yang selama ini mereka tempati.

“Ampun Ki Patih,” tiba-tiba Ki Tumenggung Tirtayudha berkata sambil menghaturkan sembah, “Apakah tidak sebaiknya kita segera menyusul para pengikut Panembahan Cahya Warastra sebelum mereka mencapai padukuhan induk Menoreh?”

Ki Patih menggeleng, “Kita tidak perlu tergesa-gesa menyusul mereka. Aku sudah menyiapkan enam puluh ekor kuda yang telah diseberangkan ke tepian ini beberapa saat setelah tepian ini dapat kita kuasai pagi tadi.” Ki Patih berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Empat puluh ekor kuda dengan penunggangnya empat puluh prajurit Jalamangkara aku kira sudah cukup untuk mengejar para pengikut Kecruk Putih itu. Biarkan pasukan Kecruk Putih itu berbenturan dengan para pengawal Menoreh terlebih dahulu. Kita akan mengejutkan mereka justru pada saat mereka sedang sibuk menyerang padukuhan induk. Pasukan berkuda Jalamangkara akan menyerang dari arah belakang dan menghancurkan gelar yang telah mereka susun. Dengan hancurnya gelar mereka, diharapkan para pemimpin pasukan lawan akan sulit mengendalikan pasukannya sehingga pada saat pasukan cadangan Mataram yang berjalan kaki tiba di medan pertempuran, dengan mudah kita dapat menghancurkan musuh.”

“Ampun Ki Patih, bagaimana dengan kuda-kuda yang lain?” kembali Ki Tumenggung Tirtayudha bertanya.

“Engkau akan memimpin pasukan Jalamangkara itu sendiri, sedangkan sebagian kuda yang tersisa akan digunakan oleh Ki Rangga Agung Sedayu dan kawan kawannya untuk melakukan tugas khusus.”

Terkejut Ki Rangga mendengar titah Ki Patih Mandaraka. Dengan segera dirangkapkan kedua tangannya sambil berkata, “Ampun Ki Patih, tugas khusus apakah yang harus hamba emban dan siapa sajakah yang harus menemani hamba?”

“Ki Rangga,” jawab Ki Patih, “Nanti akan aku sampaikan setelah pasukan Jalamangkara berangkat.”

Kemudian kata Ki Patih kepada Ki Tumenggung Tirtayudha, “Berangkatlah! Atur pasukanmu agar tidak terlalu dekat dengan ekor pasukan lawan. Begitu benturan dengan para pengawal Menoreh terjadi, pasukanmu harus segera menyerbu ekor dari gelar pasukan lawan sehingga perhatian mereka akan terpecah.”

“Hamba Ki Patih, ijinkan kami berangkat,” sembah Ki Tumenggung Tirtayudha sambil mengundurkan diri dari tempat itu untuk mengumpulkan para prajurit Jalamangkara.

Sepeninggal Ki Tumenggung Tirtayudha, Ki Patih Mandaraka segera mengajak Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi untuk menghadap Sinuhun Panembahan Hanyakrawati yang berada di pesanggrahan yang sangat sederhana tidak jauh dari tempat itu.

Namun sebelum beranjak meninggalkan tempat itu, Ki Patih telah memberikan beberapa arahan secara singkat kepada para perwira pasukan cadangan yang hadir di tempat itu.

“Segera kumpulkan para prajurit. Berangkatlah tanpa harus menunggu aku. Ki Tumenggung Ranakusuma aku minta untuk memimpin pasukan yang berjalan kaki. Engkau dapat memilih perwira pendampingmu. Usahakan jangan terlalu dekat dengan pasukan Jalamangkara yang sedang menyusul gerak pasukan lawan. Tugasmu adalah menghancurkan ekor gelar pasukan lawan yang telah terlebih dahulu diobrak-abrik oleh pasukan berkuda Jalamangkara.” Berkata Ki Patih memberi arahan.

“Hamba, Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Ranakusuma sambil beranjak mengundurkan diri bersama para perwira yang lain.

Sejenak kemudian Ki Patih Mandaraka bersama Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi telah menyusuri tepian kali Praga yang berpasir lembut menuju ke sebuah pesanggrahan yang didirikan sementara untuk tempat peristirahatan Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang.

Setibanya mereka di pesanggrahan yang dijaga kuat oleh para prajurit kawal istana, Ki Patih Mandaraka segera mengucapkan salam sambil berdiri di depan tirai yang melindungi pintu masuk ke pesanggrahan.

“Cucunda Panembahan, hamba bersama Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi mohon diperkenankan menghadap,” berkata Ki Patih.

“Silahkan Eyang Patih, kami memang sudah menunggu kedatangan Eyang Patih,” terdengar suara yang bernada dalam dan sangat berwibawa dari dalam pesanggrahan.

Sejenak kemudian, sambil memberikan isyarat kepada Ki Rangga dan Pandan Wangi untuk mengikutinya, Ki Patih pun kemudian melangkah masuk sambil menyingkapkan tirai yang membatasi pintu masuk ke pesanggrahan.

Ketika Ki Rangga dan Pandan Wangi kemudian berjalan mengikuti Ki Patih masuk ke dalam pesanggrahan, alangkah terkejutnya mereka berdua terutama Ki Rangga Agung Sedayu. Ternyata di dalam pesanggrahan itu selain Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang, telah hadir seseorang yang berpakaian serba putih dengan mengenakan sorban yang berwarna putih pula sedang duduk dengan penuh wibawa di sebelah kiri Panembahan Hanyakrawati.

Tercekat hati Ki Rangga Agung Sedayu begitu mengenali siapakah yang duduk di sebelah Panembahan Hanyakrawati itu. Orang itulah yang telah menemuinya beberapa waktu yang lalu ketika dirinya sedang bertugas di Panaraga, serta yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi dan telah meninggalkan secarik kain gringsing peninggalan gurunya kepada ki Dukuh Merjan.

Dengan tergopoh-gopoh ki Rangga dan Pandan Wangi pun kemudian mengikuti Ki Patih menyampaikan sembah sebelum akhirnya keduanya duduk terpekur di belakang Ki Patih Mandaraka.

“Eyang Patih,” bersabda Panembahan Hanyakrawati setelah ketiga orang itu duduk, “Aku tidak bisa mengikuti gerakan pasukan Mataram sampai ke padukuhan induk Menoreh sehubungan dengan berita yang telah kita terima pagi tadi. Semalam Kadipaten Panaraga telah jatuh dan Adimas Pangeran Jayaraga telah menyerah di bawah kekuasaan Adimas Pangeran Pringgalaya.” Panembahan Hanyakrawati berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Sebelum berangkat melawat ke Panaraga, aku memang telah berpesan kepada Adimas Pangeran Pringgalaya untuk membujuk Adimas Pangeran Jayaraga agar mengurungkan niatnya untuk memberontak. Namun jika hal itu sudah tidak memungkinkan lagi, aku telah memberikan kuasa kepada Adimas Pangeran Pringgalaya sebagai duta pamungkas.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk anggukkan kepalanya. Memang tadi pagi ketika Ki Patih menghadap ke pesanggrahan, ternyata Panembahan Hanyakrawati telah kedatangan seorang tamu yang sangat dihormati, seorang Wali yang waskita yang membawa berita tentang keadaan Panaraga. Sementara Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi menjadi berdebar debar begitu mendengar berita bahwa Kadipaten Panaraga telah jatuh.

“Bagaimanakah dengan orang yang selama ini menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati?” bertanya Ki Rangga dalam hati, “Apakah dia ikut menjadi korban peperangan di Panaraga?”

“Ampun Cucunda Panembahan,” sembah Ki Patih kemudian membuyarkan lamunan Ki Rangga, “Bagaimanakah nasib yang menimpa Cucunda Pangeran Jayaraga setelah Panaraga jatuh di bawah kekuasaan prajurit Mataram?”

Sejenak Panembahan Hanyakrawati berpaling ke arah tamunya. Ketika orang itu tersenyum sambil mengangguk, Panembahan Hanyakrawati pun kemudian melanjutkan sabdanya, “Adimas Pangeran Jayaraga telah menuai hasil dari perbuatannya. Untuk waktu yang tidak terbatas biarlah Adimas merenungi kesalahannya di masjid watu yang berada di Nusa Kambangan.”

Suasana sejenak menjadi sepi. Masing-masing tenggelam dalam angan angannya. Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi yang tidak terlibat secara langsung pertikaian antara keluarga istana itu dapat merasakan, betapa pertikaian dalam keluarga hanya akan menyebabkan semakin ringkihnya kekuatan Mataram itu sendiri. Kekuatan yang ada diantara para putra Panembahan Senopati yang seharusnya dapat bersatu dan semakin memperkokoh keberadaan Mataram di mata kadipaten-kadipaten bawahan Mataram serta kerajaan-kerajaan lain yang belum bersatu di bawah panji-panji kebesaran Mataram, kini justru semakin memperburuk citra Mataram itu sendiri karena ulah para generasi penerusnya.

“Ampun Cucunda Panembahan,” sembah Ki Patih setelah untuk beberapa saat mereka terdiam, “Hamba telah membawa Ki Rangga Agung Sedayu menghadap untuk menunggu titah dari Cucunda Panembahan.”

Panembahan Hanyakrawati sejenak menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Rangga Agung Sedayu yang duduk sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam beberapa langkah di belakang Ki Patih Mandaraka bersebelahan dengan Pandan Wangi. Sabdanya kemudian, “Ki Rangga Agung Sedayu, aku meletakkan kepercayaan di atas pundakmu untuk melakukan tugas khusus ini. Mungkin Eyang Mandaraka belum menyampaikan secara rinci tugas khusus yang harus engkau emban, namun sebagai prajurit yang telah matang ditempa dalam segala medan, aku percaya engkau akan dapat melaksanakan tugas ini dengan baik.”

Jantung Ki Rangga Agung Sedayu rasa rasanya telah berdentang semakin kencang. Dia belum dapat membayangkan tugas khusus apakah yang harus diembannya. Ketika tanpa disadarinya terbayang seraut wajah cantik istrinya namun yang tampak sedang duduk termenung dengan wajah yang murung, hatinya pun bagaikan teriris sembilu, pedih tak terperikan.

“Aku belum sempat menengok anak istriku walaupun hanya sekejab, dan kini sudah mendapatkan tugas baru yang entah sampai kapan aku dapat menyelesaikannya,” desah Ki Rangga dalam hati. Namun sebagai prajurit, dalam keadaan bagaimanapun juga dia harus selalu siap mengemban tugas, terlepas dari perasaan senang atau pun tidak senang, karena bagi seorang prajurit sejati, mendapatkan tugas dari atasan apalagi langsung dari Panembahan Hanyakrawati adalah suatu bentuk dari kehormatan.

“Ki Rangga,” sabda Panembahan Hanyakrawati membuyarkan lamunannya, “Tugas ini harus secepatnya engkau laksanakan. Engkau boleh membawa kawan sekiranya memang engkau perlukan dalam perjalanan. Ketahuilah, dalam perang Panaraga melawan Mataram, orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati telah lolos dari pertempuran begitu Adimas Pangeran Jayaraga menyerah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya sekarang. Tugasmu adalah melacak jejak pelariannya dan sekaligus menangkapnya, hidup atau mati, karena tidak menutup kemungkinan dia akan menghimpun kekuatan lagi untuk mewujudkan impiannya merebut tahta. Selama orang yang menyebut dirinya Pangeran Ranapati itu masih hidup, dia akan menjadi duri dalam pemerintahan Mataram.”

“Hamba Sinuhun Panembahan,” sembah Ki Rangga, “Hamba akan melaksanakan tugas yang dibebankan ke pundak hamba dengan sepenuh hati. Namun jikalau hamba diperkenankan mengajukan permohonan, adakah berita dari para prajurit sandi yang pernah melihat Pangeran Ranapati di suatu tempat atau suatu daerah yang kira-kira dapat hamba jadikan sebagai pancadan untuk memulai tugas ini?”

Mendengar pertanyaan Ki Rangga Agung Sedayu, tanpa sesadarnya Panembahan Hanyakrawati telah berpaling ke arah Wali yang waskita yang selama ini hanya diam membisu.

“Ki Rangga,” tiba-tiba Wali yang waskita itu memulai pembicaraan, “Dalam dirimu telah berkumpul segala kemampuan baik olah kanuragan maupun olah kajiwan, baik itu yang engkau sadari maupun yang masih belum engkau sadari sebagai akibat atas ketekunanmu dalam memperdalam sebuah ilmu. Kembangkanlah ilmu itu, ilmu yang mampu membaca getaran antara hubungan manusia dengan alam sekitar. Getaran yang mampu meraba keberadaan seseorang atau sebuah benda dalam hubungannya dengan orang atau benda yang lain yang mempunyai keterikatan secara tidak kasat mata. Kemampuan itu memang masih belum dapat engkau kendalikan sepenuhnya menurut naluri keinginanmu. Kemampuan itu datang sendiri secara tiba-tiba tanpa engkau memintanya. Atau bahkan sebaliknya, ketika engkau dengan sengaja mencoba mengetahui rahasia di balik sebuah peristiwa, isyarat-isyarat itu justru menjadi kabur.”

“Hamba Kanjeng Sunan,” berkata Ki Rangga sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Getaran-getaran itu memang datang tanpa hamba minta, namun ketika dengan sengaja hamba memusatkan nalar dan budi untuk memperjelas getaran itu, justru getaran itu semakin melemah bahkan kemudian menghilang sama sekali.”

Kanjeng Sunan tersenyum, katanya kemudian, “Itu pertanda bahwa engkau memerlukan ketajaman mata hatimu dan kebersihan jiwamu untuk menerima karuniaNya yang tak terhingga. Sebagaimana apabila engkau ingin bercermin pada hatimu, engkau harus membuat cermin itu bersih dan jernih sehingga bayangan yang tampak nantinya adalah kenyataan yang memang seharusnya ada sehingga engkau tidak akan salah dalam membaca isyarat yang engkau terima.”

“Hamba Kanjeng Sunan,” jawab Ki Rangga Agung Sedayu, “Jika hamba diperkenankan bertanya, bagaimanakah caranya agar hati yang ibaratnya sebagai cermin itu bisa bersih dari noda dan dapat memantulkan bayangan sebagaimana mestinya?”

Kanjeng Sunan tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga, pertanyaan yang sama yang sudah sekian puluh kali ditanyakan oleh orang yang berbeda beda.

Sambil beringsut setapak, Kanjeng Sunan menjawab pertanyaan Ki Rangga, “Ketahuilah Ki Rangga, setiap kali manusia berbuat kesalahan melanggar batas-batas peraturan yang telah digariskan oleh Yang Maha Agung, baik peraturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan Penciptanya maupun hubungan dengan sesamanya, maka akan timbul sebuah titik noda hitam yang disebut “RONA” dalam hatinya. Demikian seterusnya apabila orang tersebut terus berbuat pelanggaran dan tidak ada niat dalam hatinya untuk bertaubat, noda hitam yang bernama rona tersebut akan semakin banyak dan akan menutupi seluruh hatinya. Namun jika dia menyadari kesalahannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka akan hilanglah satu titik noda dari hatinya, demikian itu seterusnya sampai hatinya kembali bersih dan jernih.”

Ki Rangga Agung Sedayu mengangguk anggukkan kepalanya, sementara Pandan Wangi yang duduk di sebelahnya hanya dapat mengerutkan keningnya dalam-dalam. Baginya keterangan dari orang yang disebut Kanjeng Sunan itu sangat sederhana dan mudah dimengerti, namun dalam pelaksanaannya sungguh sangat sulit dan membutuhkan kesungguhan hati. Benar-benar harus bisa menjauhkan diri dari segala perasaan dendam, iri, dengki dan segala macam penyakit hati yang justru biasanya sangat akrab dalam kehidupan keseharian dengan manusia.

“Baiklah,” sabda Panembahan Hanyakrawati mengakhiri pertemuan itu, “Aku ijinkan Eyang Patih untuk mengundurkan diri bersama Ki Rangga dan Pandan Wangi. Aku yakin Eyang Patih pasti dapat mengatasi ontran-ontran yang sedang berlangsung di Menoreh. Aku masih ingin tinggal sejenak di pesanggrahan ini bersama Kanjeng Sunan. Aku mohon sudilah kiranya Kanjeng Sunan memberikan sedikit wejangan kepada Rangsang sebagai bekal masa depannya.”

Kanjeng Sunan hanya tersenyum sambil mengangguk angguk saja menanggapi permintaan Panembahan Hanyakrawati. Sementara Ki Patih Mandaraka beserta Ki Rangga Agung Sedayu dan Pandan Wangi segera beringsut mundur sambil menghaturkan sembah.

“Kami mohon diri Cucunda Panembahan,” berkata Ki Patih sambil bergeser mundur. Kemudian lanjutnya, “Kami juga mohon diri dan mohon doa restu kepada Kanjeng Sunan, semoga Yang Maha Agung selalu merestui setiap niat baik langkah kita dalam menciptakan ketentraman dan kedamaian di seluruh wilayah Mataram.”

Hampir bersamaan Panembahan Hanyakrawati dan Kanjeng Sunan menganggukkan kepala.

Sepeninggal ketiga tamunya, kembali Panembahan Hanyakrawati mengulangi permintaannya kepada Kanjeng Sunan untuk memberikan sedikit wejangan sebagai bekal kepada Raden Mas Rangsang yang telah dinobatkan sebagai Putra Mahkota.

“Raden,” berkata Kanjeng Sunan kepada Raden Mas Rangsang yang sedari tadi hanya duduk terpekur sambil menundukkan wajahnya, “Membangun sebuah negara adalah tidak mudah. Ada tujuh pilar yang dapat dijadikan sebagai penyangga tegaknya sebuah negara dan pilar-pilar itu harus saling memperkuat antara satu dengan yang lainnya.” Sejenak Kanjeng Sunan berhenti. Kemudian lanjutnya, “Pilar-pilar itu merupakan perwujudan dari sifat-sifat manusia yang apabila sifat-sifat itu melekat pada segolongan orang-orang yang tepat, pengaruhnya akan sangat luar biasa terhadap kehidupan bebrayan ini.”

Raden Mas Rangsang untuk beberapa saat tertegun, namun kemudian dengan setengah ragu dia bertanya, “Ampun Kanjeng Sunan, apakah ketujuh pilar yang merupakan perwujudan dari sifat-sifat manusia itu harus melekat pada diri satu orang saja atau segolongan orang saja?”

“O, tidak Raden,” sahut Kanjeng Sunan cepat, “Masing-masing sifat mempunyai kekhususan yang juga sebaiknya dimiliki oleh orang-orang khusus saja.”

“Apakah dengan demikian tidak menutup kemungkinan seseorang mempunyai beberapa sifat yang dimaksud?” Panembahan Hanyakrawati ternyata telah ikut berbicara.

Kanjeng Sunan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan. Setelah terlebih dahulu menarik nafas dalam-dalam, Kanjeng Sunan pun memulai wejangannya, “Kemungkinan itu memang ada, namun sebenarnyalah masing-masing sifat itu saling terkait dan memperkuat dalam membangun kejayaan sebuah negara,. Sifat yang pertama adalah adil. Sifat adil ini dapat melekat pada diri siapa saja, orang kaya, orang miskin, orang kebanyakan atau pun orang yang berpengaruh. Namun sifat adil ini manfaatnya akan sangat terasa bagi kehidupan bebrayan apabila melekat pada diri seorang penguasa, seorang raja. Maka pilar pertama yang akan menyangga sebuah negara yang kuat, adil dan makmur adalah seorang raja yang adil.”

Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang tampak mengangguk anggukkan kepala mendengar uraian Kanjeng Sunan. Memang seorang Raja yang adil pengaruhnya akan sampai ke pelosok negeri jika dibandingkan dengan orang kebanyakan yang mempunyai sifat adil, pengaruhnya mungkin hanya sebatas di sekitar lingkungan tempat tinggalnya saja.

“Sifat kedua adalah dermawan,” Kanjeng Sunan melanjutkan kata katanya, “Seseorang yang mempunyai sifat dermawan itu sangat baik dan dianjurkan. Namun apalah artinya jika sifat itu melekat pada diri kawula alit yang serba kekurangan. Memang tidak menutup kemungkinan seorang yang miskin mempunyai sifat dermawan, namun dalam kehidupan keseharian dia akan sangat sulit untuk menyalurkan sifat dermawannya justru untuk kehidupannya saja sangat sulit. Sebaliknya akan sangat terasa manfaatnya jika sifat dermawan ini melekat pada diri orang-orang yang kaya raya, para pengusaha sehingga sebagian hartanya akan sangat bermanfaat membantu sesama manusia yang hidup serba kekurangan. Kepedulian mereka sangat diharapkan untuk meringankan beban hidup yang semakin hari terasa semakin berat. Mereka dengan sadar akan mengeluarkan sebagian dari harta mereka sebagai haknya kaum papa sebagaimana yang selalu dianjurkan oleh Junjungan kita. Inilah pilar kedua, orang-orang kaya yang dermawan yang dapat membantu sebagai penyandang dana dalam meringankan beban negara yang berkewajiban menyantuni kaum papa.”

Sejenak suasana menjadi hening, sementara Matahari telah memanjat langit semakin tinggi, udara di sekitar tepian kali Praga pun mulai terasa panas.

“Sifat ketiga adalah mutawarik atau hati-hati, yang dimaksud disini adalah hati-hati dalam menyampaikan pendapat atau petunjuk untuk selalu ditimbang untung ruginya serta kemanfaatannya bagi kemaslahatan umat,” Kanjeng Sunan berhenti sejenak, lalu, “Sifat ini sebaiknya dimiliki oleh para ulama, para Kyai dan para sesepuh serta yang dituakan dalam masyarakat. Ingatlah, para kawula akan sangat patuh dan taat manakala ucapan itu keluar dari lesan seorang ulama atau Kyai. Keberpihakan seorang ulama terhadap golongan tertentu atas dasar pertimbangan apapun yang ujung ujungnya hanya mengedepankan urusan duniawi, sebaiknya dihindarkan jauh-jauh, karena akan sangat mempengaruhi pendapat maupun fatwa yang akan diucapkan oleh seorang ulama terhadap permasalahan yang sedang timbul di masyarakat, padahal ucapannya tersebut akan dianut oleh umatnya. Ini akan sangat berbahaya dan dengan mudah akan memicu perselisihan antara para kawula sehingga dapat mengganggu ketentraman dan kedamaian yang dengan susah payah selalu kita pupuk dan kita lestarikan. Jadi pilar ketiga adalah para ulama atau Kiai yang sangat hati-hati dalam menyampaikan pendapatnya dan petunjuk petunjuknya yang berhubungan dengan kemaslahatan umat.”

Panembahan Hanyakrawati mengerutkan keningnya. Agaknya masih ada persoalan yang mengganjal hatinya, maka dengan sedikit ragu-ragu putera Panembahan Senapati itu bertanya, “Kanjeng Sunan, akhir-akhir ini banyak para ulama yang bersilang pendapat dalam memutuskan suatu perkara, bagaimanakah seharusnya para umat menyikapi hal ini? Sekarang ini para umat terpecah belah menjadi beberapa golongan sehingga dengan sangat mudah akan saling dibenturkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan sengaja mengail di air keruh.”

Kanjeng Sunan menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdesis perlahan, “Memang saat ini perkembangan jaman sudah sedemikian parahnya dalam menuju akhir jaman. Banyak orang yang merasa dirinya lebih cakap dan bijak dari pada Kanjeng Nabi Junjungan kita. Terbukti mereka lebih mengedepankan akal dan nalar manusia yang sangat dangkal ketika memutuskan suatu masalah dari pada berkiblat pada pemahaman terhadap Kitab Suci dan Sunnah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Junjungan kita. Mereka dengan beraninya menyelisihi isi Kitab Suci maupun Sunnah dengan dasar akal pikiran mereka sendiri. Ini sangat mengkhawatirkan bagi pemahaman para generasi muda yang kurang tekun dalam belajar mendalami agama.”

Hampir bersamaan Panembahan Hanyakrawati dan Raden Mas Rangsang mengangguk anggukkan kepala mereka. Dalam benak mereka terbayang berbagai permasalahan yang timbul silih berganti dan itu semua diperlukan dukungan dan kerjasamanya antara pilar-pilar yang sebagian telah diuraikan oleh Kanjeng Sunan.

“Pilar yang keempat adalah sifat sabar,” berkata Kanjeng Sunan selanjutnya, “Kira-kira segolongan manusia manakah yang sebaiknya memiliki sifat sabar ini, Raden?”

Mendapat pertanyaan dari Kanjeng Sunan, sejenak Raden Mas Rangsang berpikir. Sejurus kemudian barulah dia menjawab, “Ampun Kanjeng Sunan, sifat sabar itu baik untuk semua orang, karena menjadi orang yang sabar akan selalu merasa dekat dan berharap akan selalu mendapat bimbingan serta petunjuk dari Yang Maha Agung.”

Kanjeng Sunan tersenyum mendengar jawaban Raden Mas Rangsang ini. Tanpa disadarinya dia berpaling ke arah Panembahan Hanyakrawati yang juga sedang tersenyum ke arahnya.

“Raden,” berkata Kanjeng Sunan, “Pemikiran Raden tidak salah. Sifat sabar memang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang ingin selalu dekat dengan Penciptanya. Namun dalam hubungannya dengan tegak dan berhasilnya dalam membangun sebuah negara dan bangsa, sifat sabar ini sebaiknya melekat pada diri kaum duafa, kaum buruh, kaum miskin, para kawula alit yang hidupnya masih dikatakan belum sejahtera.”

Kerut merut di dahi Raden Mas Rangsang semakin dalam. Tiba-tiba seolah olah begitu saja kata katanya meluncur dari bibirnya, “Bagaimana mungkin mereka bisa bersabar jika janji-janji dari para penguasa dan mereka yang bertanggung jawab atas kesejahteraan kawula alit tidak pernah terwujud? Sudah sewajarnyalah jika mereka kemudian mbalela dengan segala bentuk keonaran dan keributan yang mereka ciptakan dengan tujuan menarik perhatian para penguasa dan para nayaka praja yang bertanggung jawab atas masa depan dan nasib mereka.”

“Untuk itulah sifat sabar itu harus benar-benar melekat pada diri mereka. Mereka harus sabar dalam menjalani kehidupan ini. Mereka harus sabar dan percaya kepada para penguasa maupun nayaka praja yang selalu memperjuangkan nasib mereka, sehingga mereka tidak ngongso-ongso dan nggege mongso. Minta semua kesulitan mereka segera teratasi, segera hidup enak kepenak seperti orang-orang kaya, padahal semua itu membutuhkan waktu. Dengan mengedepankan sifat sabar dalam menjalani kehidupan ini, mereka telah membantu para penguasa dan para nayaka praja untuk bekerja dengan tenang dan tidak terganggu dengan segala bentuk keributan, segala bentuk ketidak percayaan mereka kepada yang sedang memperjuangkan nasib mereka. Tidak ada lagi buruh yang meminta upah melebihi kemampuan juragannya, atau bahkan para buruh itu menentukan sendiri upahnya tanpa mempertimbangkan keadaan lingkungan kerja dan kemampuan juragan mereka. Mereka juga tidak pernah mau berpikir, sudah sejauh manakah kemanfaatan yang mereka berikan kepada juragannya itu.”

“Ampun Kanjeng Sunan,” Raden Mas Rangsang menyela, “Tidak sedikit para juragan yang bertindak semena-mena terhadap kaum buruh sehingga mereka hanya mendapatkan sedikit dari apa yang telah mereka kerjakan untuk para juragan itu. Bukankah itu hak mereka untuk menuntut perbaikan nasib?”

“Raden,” jawab Kanjeng Sunan dengan sareh, “Sudah aku katakan pada awal-awal pembicaraan kita, bahwa masing-masing pilar ini harus saling mendukung dan memperkuat. Para orang kaya atau pengusaha harus melekat pada mereka sifat dermawan. Jika para pengusaha itu sudah menetapi sifat dermawannya, apakah masih ada para buruh yang akan mbalelo, kurang bersyukur dengan upah yang telah diterima dan selalu minta melebihi kemampuan juragan mereka?”

Raden Mas Rangsang menarik nafas dalam-dalam. Memang segala sesuatu itu pasti ada ujung pangkalnya di dunia ini. Segala permasalahan dapat diselesaikan jika kita mau duduk bersama dan mencari ujung dan pangkal setiap persoalan yang timbul dengan runtut dan niat hati yang bersih.

“Sifat kelima adalah sifat malu,” Kanjeng Sunan melanjutkan, “Golongan manakah menurut panggraita Raden yang sebaiknya memiliki sifat malu ini?”

Raden Mas Rangsang sejenak memandang Ayahandanya, namun Panembahan Hanyakrawati hanya tersenyum dan kelihatannya menyerahkan jawabannya kepada putranya yang telah diangkat menjadi Putra Mahkota itu.

Akhirnya dengan nada sedikit ragu Raden Mas Rangsang menjawab, “Mohon ampun Kanjeng Sunan, menurut panggraita hamba, sifat malu itu dimiliki hampir semua orang walaupun tingkatan serta pengetrapannya dalam keadaan yang berbeda beda dan juga menurut keadaan yang berlaku pada waktu itu.”

Kanjeng Sunan tersenyum sambil mengangguk angguk, “Sifat malu ini sebaiknya melekat pada kaum perempuan. Mereka harus memiliki rasa malu yang melebihi dari kaum laki-laki. Sifat malu yang memang sudah menjadi kodrat perempuan sejak perempuan itu diciptakan. Sesuai dengan sabda Kanjeng Nabi Junjungan kita bahwa perempuan itu adalah aurat, apabila dia keluar rumah maka syetan akan menghias-hiasinya. Oleh karena itu para perempuan muslimah diwajibkan untuk selalu menjaga auratnya dengan menutupinya sesuai yang telah diwajibkan baik dalam kitab suci maupun sunnah sehingga mereka akan menjadi perempuan-perempuan yang terjaga, dan kelak jika tiba saatnya untuk menurunkan generasi penerus, akan menurunkan generasi yang tangguh dan tanggon dalam menghadapi segala situasi yang menerpa negeri ini. Mereka adalah ibu dari anak bangsa. Pada diri kaum perempuanlah terletak masa depan bangsa ini. Jika mereka tidak dapat menjaga budi pekerti mereka sendiri, bagaimana mereka akan menjaga budi pekerti keturunannya, bagaimana mereka akan mewariskan sifat-sifat luhur itu kepada anak anaknya?”

Sejenak suasana menjadi hening. Sesekali hanya terdengar suara helaan nafas Raden Mas Rangsang yang kelihatannya begitu tersentuh dengan nasehat dari Kanjeng Sunan. Sementara Panembahan Hanyakrawati sesekali tersenyum kecil sambil mengangguk anggukkan kepalanya. Panembahan Hanyakrawati benar-benar gembira dengan perkembangan jiwani dari Putra Mahkota ini dan harapan seluruh kawula Mataram untuk menuju negeri yang aman dan makmur seolah olah sudah di depan mata begitu melihat Putra Mahkota yang sangat mereka cintai dan sekaligus sangat mereka banggakan itu semakin hari terlihat semakin dewasa, santun dan selalu patuh pada ajaran agama serta telah tumbuh pula sifat-sifat yang bijaksana.

“Sifat keenam adalah sifat Ksatria atau Prawira dalam menghadapi situasi yang sesulit apapun bahkan yang dapat berujung pada maut,” Kanjeng Sunan melanjutkan nasehatnya, “Sifat ini hendaknya dimiliki oleh para Nayaka Praja, para pembantu Penguasa atau Raja, baik yang berada di pusat pemerintahan maupun yang ada di seluruh pelosok negeri. Mereka dituntut untuk memiliki jiwa ksatria atau perwira dalam melaksanakan tugas tugasnya melayani para kawula. Kalau mereka berbuat kesalahan, harus berani bertanggung jawab sebagai bentuk nyata atas kepercayaan rakyat yang diberikan kepada mereka untuk mengurusi segala keperluan dalam kehidupan bebrayan ini. Jangan saling melempar kesalahan atau pun mencari cari alasan untuk menutupi kesalahan yang telah mereka perbuat baik sengaja maupun tidak disengaja. Manusia memang sangat akrab dengan kesalahan, namun sebaik baiknya manusia yang berbuat salah adalah mereka yang berani mengakui kesalahannya dan kemudian bertobat.”

“Yang terakhir adalah sifat pemberani. Ingat bahwa seseorang yang mempunyai sifat berani itu tidak akan mempengaruhinya sehingga akan dapat memperpendek umurnya. Keberaniannya dalam mengungkapkan kebenaran, serta mendobrak hal-hal yang sekiranya tidak sesuai baik ditinjau dari segi tuntunan ajaran agama maupun aturan-aturan yang berlaku di negeri itu, tidak akan membuat dirinya mendapatkan banyak musuh sehingga kemudian dikhawatirkan akan mempercepat kematiannya. Demikian juga sebaliknya, jika seseorang lebih memilih menjadi penakut, sifat penakut ini pun tidak akan memperpanjang umurnya.”

Panembahan Hanyakrawati agaknya sangat tertarik dengan sifat yang ketujuh ini sehingga beliau telah mengungkapkan sebuah pernyataan, “Ma’af Kanjeng Sunan, alangkah senangnya jika semua kawula di Mataram ini mempunyai sifat pemberani. Namun agaknya sifat yang sedemikian ini menurut panggraitaku lebih condong dimiliki oleh kaum muda, para pemuda yang darahnya masih menggelegak dan panas. Semangatnya masih tinggi dalam membangun negeri mereka.”

“Sinuhun benar,” jawab Kanjeng Sunan, “Sifat pemberani ini hendaknya melekat pada diri kaum muda yang masih kuat jiwa dan raga mereka untuk mengawal negeri ini. Membuat kemajuan-kemajuan serta pembaharuan-pembaharuan di segala bidang dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik.”

Kembali suasana menjadi hening. Masing-masing telah tenggelam dalam angan-angan mereka. Tampak Raden Mas Rangsang sedang meresapi apa yang telah disampaikan oleh Kanjeng Sunan.

“Nah, Raden Mas Rangsang,” berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Ketujuh pilar yang akan membantumu kelak dalam memimpin negeri ini adalah; Raja yang adil yaitu dirimu sendiri; para pengusaha atau orang-orang kaya yang dermawan yang sangat peduli dengan nasib kawula alit; para ulama dan sesepuh yang sangat mutawarik atau hati-hati dalam menyampaikan hukum dan fatwanya, tanpa terpengaruh oleh gejolak dunia; para kaum miskin yang sabar dan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemerintahan yang ada bahwa pemerintah pasti memikirkan nasib mereka dan berupaya dengan segala kemampuan yang ada untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka; para perempuan yang terjaga sehingga dapat menurunkan generasi bangsa yang tangguh dan tanggon; para nayaka praja yang bekerja semata mata mengabdi kepada rakyat dan negara sehingga setiap jengkal perbuatan mereka dapat dipertanggungjawabkan; dan yang terakhir adalah para pemuda yang berani menyampaikan kebenaran, berani membuat perubahan-perubahan yang sekiranya dapat memajukan tatanan negeri ini tanpa harus mengorbankan tuntunan dan ajaran agama serta sendi-sendi kehidupan.”

Raden Mas Rangsang mengangguk anggukkan kepalanya, katanya kemudian, “Terima Kasih Kanjeng Sunan, semoga nasehat Kanjeng Sunan ini akan bermanfaat dan dapat hamba jadikan pedoman untuk bersama sama dengan seluruh kawula Mataram menuju kehidupan yang lebih baik.”

Kanjeng Sunan tidak menjawab hanya tersenyum kecil sambil mengangguk angguk. Lalu katanya kemudian kepada Panembahan Hanyakrawati, “Panembahan, aku mohon pamit. Semoga pertemuan kita kali ini membawa manfaat dan barokah.”

“Aamiin,” hampir bersamaan Raden Mas Rangsang dan Ayahandanya menyahut.

Demikianlah, setelah mengucapkan salam perpisahan, Kanjeng Sunan pun kemudian berdiri dan keluar dari pesanggrahan yang sangat sederhana di tepi kali Praga itu.

Sepeninggal Kanjeng Sunan, Raden Mas Rangsang segera keluar untuk mengatur para prajurit pengawal Raja untuk mempersiapkan rombongan Panembahan Hanyakrawati yang akan kembali ke ibu kota Mataram.

Dalam pada itu, Matahari sudah hampir sampai ke puncaknya. Sinarnya yang membara seakan akan membakar dan menghanguskan permukaan bumi. Namun pertempuran di padukuhan induk Menoreh itu seolah olah tidak terpengaruh oleh teriknya sinar Matahari. Senjata-senjata yang berkilat kilat tertimpa sinar Matahari dan terayun ayun dengan ganas terlihat sangat mendebarkan jantung. Suara dentang senjata beradu ditingkah dengan teriakan, umpatan dan sumpah serapah serta jerit kesakitan hampir mewarnai seluruh medan pertempuran. Sedangkan korban yang jatuh di kedua belah pihak sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Sementara Ki Jayaraga yang diberi kepercayaan oleh Ki Gede Menoreh untuk memimpin pasukan pengawal Menoreh mulai berpikir untuk segera menurunkan pasukan cadangan.

Ketika kemudian Ki Jayaraga memberi isyarat kepada pengawal penghubung yang bertempur berpasangan tidak jauh dari tempatnya. Pengawal penghubung itu pun segera meloncat kebelakang untuk mengambil jarak. Lawannya memang mencoba untuk memburunya, akan tetapi seorang pengawal yang bertempur berkelompok telah meninggalkan kelompoknya dan menggantikan kawannya yang telah dipanggil Ki Jayaraga.

Ki Gede Ental Sewu yang melihat gelagat itu segera menghentakkan kemampuannya untuk menghalang-halangi kesempatan Ki Jayaraga memberikan perintah kepada pengawal penghubung itu. Namun Ki Jayaraga yang sudah lolos dari segala bentuk medan pertempuran yang paling dahsyat sekalipun tidak kehilangan akal. Dengan berteriak dalam kata-kata sandi dan tanpa meninggalkan kewaspadaannya terhadap serangan lawannya, dia telah menjatuhkan perintah kepada pengawal penghubung yang masih berdiri termangu-mangu beberapa langkah di belakangnya.

Agaknya pengawal penghubung itu telah mengerti dengan kata-kata sandi yang telah disepakati. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia segera bergegas berlari meninggalkan medan pertempuran yang hiruk-pikuk.

“Permainan licik apalagi yang akan engkau tunjukkan kepadaku, he setan tua?” geram Ki Gede Ental Sewu sambil meningkatkan serangannya semakin dahsyat.

Ki Jayaraga hanya tertawa pendek mendengar geraman lawannya. Sambil memiringkan tubuhnya menghindari serangan lawannya yang menderu di sisi tubuhnya, dia menjawab, “Kakang, dalam setiap medan pertempuran kita harus pandai-pandai membaca perubahan medan. Tidak ada kesengajaan sama sekali untuk berbuat licik, namun jangan salahkan aku kalau pasukanmu sebentar lagi akan tercerai-berai tanpa terkendali lagi.”

“Omong kosong!” bentak Ki Gede Ental Sewu, “Bango Lamatan adalah orang kepercayaan langsung di bawah Panembahan Cahya Warastra. Pengalamannya bertempur di segala medan yang sesulit apapun tentu akan menjadikan dirinya selalu waspada menghadapi akal licikmu itu.”

“Ah,” desah Ki Jayaraga sambil meloncat mengambil jarak, “Jangan sebut kata-kata licik itu, Kakang. Kita sedang dalam sebuah pertempuran, sebaiknya Kakang menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pertimbangan kepada orang yang kakang sebut sebagai tangan kanan Panembahan Cahya Warastra itu agar dia bersiap-siap untuk mendapatkan kejutan dari pasukan pengawal Menoreh.”

Sejenak Ki Gede Ental Sewu tidak memburu lawannya yang mengambil jarak dan hanya berdiri diam dengan kaki yang renggang. Sorot matanya tajam memandang ke arah Ki Jayaraga seolah olah ingin dijenguknya isi dada orang yang sangat dibencinya itu.

“Mengapa engkau memberikan kesempatan kepadaku untuk mengirim petugas penghubung kepada Bango Lamatan? Kenapa Pradapa? Apakah engkau mencoba melunakkan hatiku yang sudah sekeras batu padas ini karena menanggung dendam?” Ki Gede Ental Sewu berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Jangan harap aku akan berubah pikiran, aku akan tetap membunuhmu, bukan hanya karena pengaruh dendam, namun juga karena sudah menjadi tugasku di setiap medan perang untuk membunuh setiap lawanku tanpa ampun.”

Bergetar dada tua Ki Jayaraga mendengar kata-kata Ki Gede Ental Sewu yang di masa mudanya bernama Respati Mintuna itu. Ternyata hati orang ini benar-benar telah kelam karena dendam. Benar-benar sudah tidak ada jalan lain untuk mengajak pemimpin perguruan Ental Sewu ini berdamai. Yang ada hanyalah membunuh atau dibunuh.

Ki Gede Ental Sewu masih belum bergerak sama sekali. Kelihatannya dia memang sengaja memberi kesempatan kepada Ki Jayaraga untuk merenungi kata-katanya. Namun sebenarnyalah Ki Jayaraga yang sudah kenyang makan asam garamnya kehidupan segera dapat menguasai dirinya dan sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Ki Gede. Pada dasarnya Ki Jayaraga dulu adalah orang yang pernah berpetualang di dunia yang hitam, sehitam kisah hidupnya itu sendiri sebelum dia berjumpa dengan Kiai Gringsing, orang yang telah berjasa mengubah pandangan hidupnya dan sekaligus guru dari orang yang justru telah membunuh sebagian murid-muridnya.

“Nah, setan tua,” geram Ki Gede kemudian, “Tidak ada gunanya bagiku untuk menghubungi Bango Lamatan. Dia pasti sudah tahu apa yang harus dikerjakan seandainya engkau mencoba berbuat licik dalam pertempuran ini. Lebih baik engkau segera menyerah dan mengakui segala dosamu agar perjalananmu menuju ke alam akhirat akan menjadi sedikit lapang.”

Ki Jayaraga sejenak menarik nafas dalam-dalam mendengar kata-kata Ki Gede. Dicobanya untuk mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan pertempuran yang semakin kisruh. Ketika pandangan Ki Jayaraga kemudian menyentuh ujung bulak di kejauhan melalui regol padukuhan induk yang telah runtuh, dada Ki Jayaraga menjadi berdebar debar. Jarak itu memang masih cukup jauh, namun pandangan tajam Ki Jayaraga telah mengenali sesuatu yang sangat mendebarkan jantung. Di antara debu yang berhamburan, lamat-lamat tampak bayangan sebuah pasukan yang cukup besar sedang berlari-larian menuju padukuhan induk.

“Siapakah mereka?” bertanya Ki Jayaraga dalam hati dengan jantung yang berdegub semakin kencang.

Agaknya Ki Gede Ental Sewu juga memperhatikan gerak-gerik lawannya. Ketika Ki Gede kemudian mengikuti arah pandang lawannya ke ujung bulak, pemimpin perguruan Ental sewu itu pun mengerutkan keningnya dalam-dalam. Pandangan matanya yang tajam segera mengenali bahwa yang bergerak di antara debu yang berhamburan menuju padukuhan induk Menoreh itu adalah sebuah pasukan segelar-sepapan.

Segera saja sebuah senyum tersungging di bibir Ki Gede. Menurut perhitungannya, tidak mungkin itu pasukan Mataram, karena untuk menuju padukuhan induk mereka terlebih dahulu harus menembus pertahanan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang menduduki padukuhan kecil di dekat tepian kali Praga. Pasukan segelar-sepapan yang sedang bergerak itu pasti pasukan Panembahan Cahya Warastra yang telah berhasil mengelabuhi pasukan Mataram sehingga Ki Patih Mandaraka dan para perwira pemimpin pasukan Mataram tidak menyadari bahwa padukuhan kecil tempat mereka bertahan itu telah ditinggalkan.

Dengan jantung yang berdebaran Ki Jayaraga menunggu datangnya pasukan segelar-sepapan yang mulai terdengar suaranya riuh rendah membahana menghentak-hentak setiap sudut hati yang bernyali kecil.

Dengan riuhnya pasukan yang baru datang itu bersorak-sorai untuk meruntuhkan nyali pasukan lawan. Mereka berlari-larian dalam gelar Glathik Neba sambil berteriak-teriak dan mengacungkan senjata-senjata yang berkilat-kilat tertimpa sinar Matahari. Ketika pasukan itu semakin dekat, segera saja pasukan di bawah pimpinan Bango Lamatan menyambut kedatangan mereka dengan gegap-gempita. Memang pasukan yang datang itu adalah pasukan yang langsung dipimpin oleh Panembahan Cahya Warastra sendiri. Panembahan Cahya Warastra telah memutuskan untuk menggempur padukuhan induk Menoreh dan berusaha menguasainya sebagai pancadan untuk menggerakkan pemberontakan melawan Mataram.

“Nah,” berkata Ki Gede sambil tertawa pendek, “Nasibmu kurang beruntung kali ini, Timur Pradapa. Pasukan Panembahan Cahya Warastra ternyata telah hadir disini. Aku tidak yakin kalau pasukanmu akan dapat bertahan dalam waktu lebih lama dari sepemakan sirih.”

“Tentu tidak kakang Respati,” jawab Ki Jayaraga, “Medan yang sempit di antara lorong-lorong padukuhan dan halaman- halaman rumah tentu akan berpengaruh terhadap pergerakan pasukan Panembahan Cahya Warastra. Sementara para pengawal Menoreh justru dapat mengambil keuntungan dari keadaan medan yang seperti ini. Kami dapat bergerak dengan cepat di sela-sela rumah atau pekarangan, bahkan kami dapat memanfaatkan dinding- dinding yang tinggi sebagai jebakan terhadap musuh yang kurang begitu mengenal medan.”

“Pengecut!” teriak Ki Gede Ental Sewu, “Marilah bertempur dengan beradu dada, jangan seperti laku seorang pencuri di malam hari yang suka bermain petak umpet.”

Ki Jayaraga tidak menjawab. Tiba-tiba terdengar teriakan aba-aba dari Ki Jayaraga dalam bahasa sandi yang kemudian diteruskan ke seluruh medan secara sambung-bersambung melalui para pemimpin-pemimpin kelompok pasukan pengawal Menoreh.

Sejenak kemudian pasukan pengawal Menoreh telah membuat gerakan mundur. Mereka semakin masuk ke dalam padukuhan induk di antara lorong-lorong jalan serta pekarangan yang terbuka. Beberapa kelompok pengawal justru telah masuk ke sebuah halaman rumah yang cukup luas dengan beberapa bangunan yang ada di dalamnya.

Perubahan itu ternyata cukup mengejutkan pasukan Panembahan Cahaya Warastra yang di pimpin oleh Bango Lamatan. Mereka memang berusaha mengejar pasukan lawan yang mundur, namun dengan cermat para pengawal Menoreh telah menggunakan regol-regol dan dinding-dinding untuk berlindung dari serangan lawan.

Sementara pasukan yang dipimpin sendiri oleh Panembahan Cahya Warastra ternyata telah tertahan di luar dinding padukuhan. Jumlah mereka yang cukup besar ternyata tidak dapat sekaligus menyerbu musuh. Mereka harus menyesuaikan dengan medan yang sempit dan berkelok-kelok, di antara rumah-rumah dan lorong-lorong jalan padukuhan.

Ketika pasukan yang dipimpin oleh Bango Lamatan itu terus mendesak para pengawal Menoreh yang sedang bergerak mundur, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sorak sorai dari arah dalam padukuhan induk. Ternyata pasukan cadangan yang telah disiapkan oleh Ki Gede Menoreh telah tiba dan langsung menyambut lawan yang sedang berusaha mengejar kawan-kawan mereka terdahulu.

Serangan itu memang cukup mengejutkan pasukan Bango Lamatan. Mereka sedang memusatkan perhatian untuk mengejar para pengawal Menoreh yang sedang bergerak mundur ketika tiba-tiba saja dari arah yang tidak disangka-sangka muncul pasukan cadangan yang menyerang dengan dahsyatnya.

“Gila,” geram Ki Gede Ental Sewu yang melihat peristiwa itu dari tempatnya berdiri, “Engkau memang licik Pradapa. Engkau pancing pasukan Bango Lamatan untuk semakin masuk ke dalam padukuhan induk, namun ternyata di sana telah siap pasukan yang lain. Ini benar-benar licik.”

“Terserah Kakang Respati menilainya,” jawab Ki Jayaraga, “Bagiku di dalam sebuah pertempuran, kita harus selalu bertindak dengan cepat dan tepat dalam menghadapi keadaan yang setiap saat dapat berubah-ubah.”

“Kita tidak terikat dengan pertempuran ini,” tiba-tiba Ki Gede menyela, “Persetan dengan perebutan kekuasan di tanah ini. Aku sudah muak. Sekarang yang ada hanyalah aku dengan engkau, setan tua. Aku tantang engkau berperang tanding sampai mati sebagai bentuk pengungkapan tanggung-jawabmu atas kejadian yang telah menimpa Niken Larasati.”

Ki Jayaraga terkejut mendengar tantangan Ki Gede Ental Sewu. Memang hal tersebut sudah diduga sebelumnya, namun menghadapi keadaan medan yang tidak menentu ini, dia tidak boleh tenggelam dalam kesibukannya sendiri sehingga tidak dapat mengamati keadaan medan dengan lebih seksama.

“Tantanganmu tidak aku terima, Kakang Respati,” jawab Ki Jayaraga sambil menggeleng lemah, “Kita sedang di dalam sebuah medan pertempuran. Kita tidak boleh memilih lawan tertentu dengan mengabaikan lawan yang lain. Siapapun yang kita hadapi di medan pertempuran, itulah lawan kita, suka atau tidak suka.”

“Engkau memang terlalu banyak alasan, setan tua!” bentak Ki Gede sambil meloncat menerjang lawannya, “Matilah bersama dengan kesombonganmu itu!”

Suara menderu dahsyat terdengar bersamaan dengan lontaran kaki Ki Gede yang terjulur lurus mengarah dada.

Tentu saja Ki Jayaraga tidak akan membiarkan dadanya retak terkena gempuran lawannya. Dengan sedikit menggeliat, tumit lawannya lewat sejengkal dari dadanya. Ketika tubuh lawannya masih mengapung di udara, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh guru Glagah Putih itu untuk segera melancarkan serangan balasan.

Demikianlah akhirnya kedua orang yang sudah pantas menimang cucu itu kembali bertempur dengan dahsyatnya seakan-akan mereka telah lupa bahwa mereka pernah hidup dalam sebuah naungan yang sama, naungan perguruan Ental Sewu.

Dalam pada itu, pasukan yang dipimpin oleh Panembahan Cahya Warastra masih kesulitan untuk memasuki padukuhan induk dengan lancar. Selain pasukan yang cukup besar jumlahnya itu tidak mungkin masuk melalui regol padukuhan induk yang telah hancur itu secara sekaligus, sesekali mereka juga harus meloncati mayat-mayat yang bergelimpangan serta korban-korban yang terluka dari kedua-belah pihak dan belum sempat menyingkir dari medan.

Pergerakan pasukan yang dipimpin oleh Bango Lamatan dalam mengejar pasukan Menoreh yang bergerak mundur itu ternyata telah membantu pasukan Panembahan Cahya Warastra untuk memasuki padukuhan induk. Dengan berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata mereka, pasukan itu segera menerobos pintu gerbang yang telah runtuh serta celah-celah dinding padukuhan induk yang jebol akibat terkena hantaman ilmu Ki Gede Ental Sewu.

Namun baru saja sebagian mereka memasuki padukuhan induk, tiba-tiba lamat-lamat terdengar suara gemuruh yang semakin lama semakin keras dan semakin dekat. Beberapa saat kemudian tampak dari kejauhan sepasukan prajurit berkuda lengkap dengan umbul-umbul dan panji-panji kebanggaan kesatuan prajurit Jalamangkara yang berkibar-kibar tertiup angin melaju bagaikan anak panah yang dilepas dari busurnya.

“Jalamangkara,” hampir setiap mulut menyebut nama itu. Nama sebuah kesatuan prajurit Mataram yang dibentuk dengan kemampuan khusus. Mereka mampu bertempur di darat, di atas punggung kuda dan bahkan bertempur di dalam air.

Demikianlah ketika ekor pasukan Panembahan Cahya Warastra itu belum sempat memasuki padukuhan induk Menoreh, pasukan berkuda Jalamangkara telah melaju semakin dekat siap untuk memporak-porandakan pasukan lawan.

“Kalian yang di ekor pasukan, berbaliklah. Segera bentuk gelar Gedhong Minep. Hancurkan setiap lawan yang masuk ke dalam gelar,” tiba-tiba diantara hiruk-pikuk itu terdengar Panembahan Cahya Warastra memberikan perintah.

Sejenak kemudian para pemimpin perguruan yang berada di ekor pasukan segera berbenah. Mereka mengatur anak buah masing-masing untuk membentuk sebuah gelar yang telah diperintahkan oleh Panembahan Cahya Warastra, Gedhong Minep.

Benturan pertama yang terjadi benar-benar sangat dahsyat. Gelar Gedhong Minep yang dipasang di ekor pasukan Panembahan Cahya Warastra itu ternyata tidak mampu mengatasi kecepatan gerak pasukan berkuda kebanggaan Mataram. Kuda-kuda yang dipacu dengan kencang kemudian dengan cepat berubah arah kemudian menukik dan menerjang pasukan lawan yang hanya berdiri di atas tanah ternyata telah mengguncang dinding-dinding dari gelar Gedhong Minep sehingga untuk beberapa saat gelar itu pun bagaikan terbelah.

Pasukan berkuda itu memang bergerak dalam satu irama. Kuda-kuda yang sangat terlatih dan seolah-olah sudah menyatu dengan kehendak penunggangnya benar-benar telah membuat ekor pasukan Panembahan Cahya Warastra kebingungan. Pasukan berkuda itu bergerak dalam gelar Cakra Bhyuha yang bagaikan sebuah cakra dengan gerigi-gerigi yang tajam siap merobek-robek dinding dari gelar Gedhong Minep.

“Gila!” umpat Panembahan Cahya Warastra yang berdiri di dekat gerbang padukuhan induk yang telah runtuh, “Orang-orang Mataram memang gila. Aku harus menghentikan kegilaan ini.”

Ki Ageng Blarak Sineret yang berdiri tidak jauh dari Panembahan Cahya Warastra segera mendekat. Katanya kemudian, “Ma’af Panembahan. Apa tidak sebaiknya gelar Gedhong Minep itu segera diubah? Ekor pasukan kita agaknya kesulitan untuk mengimbangi gerak pasukan musuh yang menggunakan kuda.”

Panembahan Cahya Warastra mengerutkan keningnya sejenak sambil tetap mengawasi keadaan yang sedang terjadi di ekor pasukan. Sambil mengangguk-angguk akhirnya Panembahan itu pun menyahut, “Memang sungguh sangat tidak seimbang. Seharusnya kita dapat mengikat setiap penunggang kuda itu dengan kelompok-kelompok yang terpencar- pencar di seluruh medan. Dan gelar yang sangat sesuai dengan itu adalah gelar Glathik Neba.”

Ki Ageng Blarak Sineret tersenyum sambil mengangguk-angguk, “Panembahan benar, mereka harus diikat dalam sebuah pertempuran berkelompok sehingga antara satu dengan yang lainnya tidak bisa saling berhubungan dan saling membantu, karena kekuatan mereka yang sebenarnya ada pada kesatuan yang utuh.”

“Baiklah, perintahkan kepada setiap pemimpin kelompok yang ada di ekor pasukan untuk segera mengubah gelar,” perintah Panembahan Cahya Warastra kemudian.

Tanpa menunggu waktu, Ki Ageng Blarak Sineret segera berteriak keras sambil mengangkat tombak pendeknya tinggi-tinggi. Teriakan Ki Ageng yang dilambari dengan tenaga cadangan ini ternyata telah terdengar oleh para pemimpin perguruan yang ada di ekor pasukan. Ketika kemudian mereka berpaling, tampak Ki Ageng Blarak Sineret yang sedang mengangkat tombak pendeknya tinggi-tinggi itu sejenak telah memutar ujung tombaknya membuat sebuah lingkaran kecil dua kali, kemudian ujung tombak itu membuat gerakan menyilang dari kiri ke kanan dan dari depan ke belakang.

Para pemimpin perguruan itu segera tanggap bahwa mereka harus segera mengubah gelar Gedhong Minep menjadi gelar glathik neba. Dengan cepat pasukan yang masih berada di luar dinding padukuhan induk Menoreh itu membuat gerakan menyebar. Ketika pasukan berkuda Jalamangkara itu belum menyadari berubahan yang akan dibuat oleh lawannya, pasukan Panembahan Cahya Warastra yang telah menyebar itu segera membentuk kelompok-kelompok kecil terdiri dari tiga atau empat orang untuk menghadapi setiap prajurit Jalamangkara yang bertempur dari atas punggung kuda.

Ki Tumenggung Tirtayudha yang memimpin empat puluh prajurit berkuda jalamangkara itu terkejut melihat perubahan gelar lawannya. Namun sebagai senapati perang yang telah kenyang makan asam garamnya berbagai pertempuran segera mengambil sikap.

“Jangan layani serangan mereka! Tetap dalam barisan gelar Cakra Bhyuha!” teriaknya kemudian sambil memutar pedangnya menangkis sebuah tombak yang terjulur ke arahnya.

Para prajurit Jalamangkara yang telah terlatih itu segera menggebrak kuda-kuda mereka untuk mempercepat gerakan mereka dalam membuat lingkaran berlapis yang semakin lama semakin lebar. Kuda-kuda itu dipacu dengan cepat sambil penunggangnya menangkis serangan yang datang dari lawan yang membentuk kelompok-kelompok kecil. Prajurit-prajurit Jalamangkara itu tidak pernah berhenti walaupun hanya sekejab untuk melayani serangan-serangan lawan. Mereka tetap memacu kuda-kuda mereka sambil menangkis atau bahkan menyerang jika memang kesempatan itu ada.

Kelompok-kelompok kecil yang dibentuk oleh para pemimpin perguruan dengan murid-muridnya itu memang berusaha menerobos lingkaran yang dibuat oleh pasukan berkuda Mataram. Sesekali para pemimpin perguruan yang mempunyai kelebihan dari orang kebanyakan itu dengan mengejutkan telah memotong pergerakan kuda-kuda itu. Namun sebelum mereka berhasil menjatuhkan salah satu kuda beserta penunggangnya, prajurit yang berada di lingkaran lapis kedua dan ketiga telah menghentak maju dan muncul di sela-sela lingkaran pertama untuk membantu kawan-kawannya yang mengalami kesulitan. Demikianlah kejadian itu berulang-ulang sehingga lingkaran gelar Cakra Bhyuha yang bergerak memutar itu semakin lama menjadi semakin luas dan mendesak lawan dalam kelompok-kelompok kecil itu semakin mundur dan tercerai-berai.

“Marilah Ki Ageng,” Panembahan Cahya Warastra yang sudah tidak telaten lagi melihat ekor pasukannya kocar-kacir segera melangkah menjauhi regol padukuhan induk yang telah runtuh itu, “Sebaiknya kita pecahkan saja gelar Cakra Bhyuha ini agar lawan tidak semakin sombong dan pasukan kita tidak kehilangan nyali.”

Ki Ageng Blarak Sineret yang mendengar ajakan Panembahan Cahya Warastra segera mengikutinya dari belakang.

Ketika kemudian kedua orang linuwih itu telah mendekati lingkaran gelar cakra bhyuha. Tanpa memerlukan ancang-ancang, kedua orang tua itu tiba-tiba saja telah meluncur menghantam dua orang penunggang kuda yang berpacu melintas di hadapan mereka.

Akibatnya sungguh luar biasa. Dua prajurit Jalamangkara itu terlempar dari punggung kuda mereka dan jatuh terjerembab di atas tanah yang berdebu dan tidak bergerak sama sekali. Sementara kuda-kuda yang telah kehilangan penunggangnya itu telah terkejut dan meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sebelum akhirnya berlarian dengan liar tak terkendali.

Para prajurit Jalamangkara yang melihat kedua kawannya terlempar dari kuda dan jatuh tak bergerak lagi menjadi waringuten. Dengan kemarahan yang meluap-luap, segera saja dua ekor kuda menerjang kedua orang tua yang masih berdiri dengan tenangnya di luar gelar cakra bhyuha.

Sekali lagi medan pertempuran di luar dinding padukuhan induk itu menjadi gempar. Sekarang yang terlempar bukan hanya penunggangnya, namun ternyata kedua ekor kuda beserta penunggangnya telah terlempar beberapa tombak sebelum akhirnya mengalami nasib yang sama dengan kawan-kawan mereka yang terdahulu. Kedua prajurit Jalamangkara yang bernasib malang itu hanya sempat melihat kedua orang tua yang mereka terjang itu mengangkat tangan kanan mereka. Seleret sinar kebiruan tampak muncul dari telapak tangan mereka sebelum semuanya kemudian menjadi gelap seiring dengan suara bergemuruh yang menghantam kuda-kuda itu beserta para penunggangnya.

Tumenggung Tirtayudha yang menyadari kemampuan kedua orang tua itu segera mengambil langkah-langkah penyelamatan.

“Mundur! Biarkan burung-burung tanpa sayap yang akan menghadang mereka!” teriak Tumenggung Tirtayudha dalam bahasa sandi.

Sejenak kemudian gelar Cakra Bhyuha yang telah berkurang empat orang itu pun kemudian serentak bergerak mundur. Namun dalam gerakannya yang cepat itu mereka masih sempat mengambil busur dan anak panah yang mereka bawa di saku pelana bagian belakang. Setiap prajurit Jalamangkara memang dilengkapi dengan peralatan perang selengkap mungkin. Selain pedang dan pisau-pisau kecil, busur dan anak panah adalah peralatan wajib yang harus selalu mereka bawa.

Ketika Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret menyadari pasukan berkuda Mataram itu akan bergerak mundur, keduanya pun kemudian memutuskan untuk segera mengejar.

Namun alangkah terkejutnya mereka berdua, ketika baru saja kaki kedua orang tua itu bergerak untuk meloncat, tiba-tiba saja dari arah depan, berpuluh-puluh batang anak panah meluncur menerjang ke arah mereka.

Namun tidak ada kesulitan yang berarti bagi kedua orang yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu menghadapi hujan anak panah dari pasukan berkuda Jalamangkara. Dengan kekuatan batin yang tinggi, seolah-olah anak-anak panah itu sebelum menggapai sasarannya telah runtuh terlebih dahulu bagaikan sulung mlebu geni.

Ki Tumenggung Tirtayudha terkejut melihat anak-anak panah itu sama sekali tidak berarti bagi kedua orang linuwih itu. Tidak ada jalan lain bagi Ki Tumenggung Tirtayudha selain untuk menarik pasukannya terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan jatuh kurban yang berikutnya.

Ketika Ki Tumenggung kemudian memberi aba-aba pasukannya untuk mundur sejenak, kedua prajurit Jalamangkara yang berpangkat Lurah segera mendera kuda mereka maju mendampinginya.

“Ki Lurah Mandurareja dan Ki Lurah Upasanta,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha kemudian, “Marilah kita sambut kedua orang linuwih itu. Ingat, kita bertiga hanya menahan mereka agar tidak mengoyak-koyak keutuhan pasukan kita. Selebihnya tetap sesuai rencana, pasukan kita akan bergerak untuk memecah-belah ekor pasukan lawan.”

Kedua Lurah prajurit yang terhitung masih muda itu mengangguk. Kemudian dengan sigapnya keduanya segera memacu kuda-kuda mereka mengikuti Ki Tumenggung untuk menahan gempuran Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret.

Sejenak kemudian pasukan berkuda Jalamangkara itu bagaikan teraduk. Mereka bergerak dengan cepat hilir-mudik saling menyilang namun sangat teratur dan dengan gerakan yang cepat. Agaknya mereka telah mengubah gelar dari Gelar Cakra Bhyuha menjadi Gelar Capit Urang.

Ki Tumenggung Tirtayudha sendiri yang berada di ujung kepala gelar diapit oleh kedua Lurah kepercayaannya untuk menahan kedua lawan yang ternyata mempunyai kemampuan yang nggegirisi, sedangkan di masing-masing capit telah ditempatkan dua orang Lurah prajurit yang lain.

Dengan cepat kedua capit dari gelar itu bergerak maju kemudian melengkung dari kedua sisi dan menyerang kedua orang yang agaknya tidak gentar menghadapi perubahan gelar lawan. Sementara Ki Tumenggung dibantu dengan kedua Lurah kepercayaannya telah mencoba menyerang Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret dari arah depan.

Namun yang terjadi kemudian sungguh sangat mengejutkan bagi pasukan Panembahan Cahya Warastra. Ternyata Gelar Capit Urang itu hanya sebuah tipuan. Ketika kedua capit itu hampir bertemu, pasukan berkuda Jalamangkara kembali mengubah gelarnya menjadi Gelar Cakra Bhyuha. Dengan demikian, Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret seolah-olah dengan sengaja telah dijebak dan dipisahkan dengan pasukannya serta dikurung dalam Gelar Cakra Bhyuha.

Dalam pada itu, gelar glatik neba dari pasukan Panembahan Cahya Warastra ternyata tidak tinggal diam melihat pemimpin mereka terkurung dalam Gelar Cakra Bhyuha. Dalam kelompok-kelompok kecil mereka telah mencoba dengan sekuat tenaga memecahkan gelar lawan dan menjerat pasukan berkuda Jalamangkara dalam pertempuran berkelompok.

Dengan menggunakan tombak-tombak panjang dan senjata-senjata panjang lainnya, kelompok-kelompok itu mencoba untuk memotong setiap gerak pasukan berkuda Jalamangkara. Namun sesuai dengan perintah atasan mereka, pasukan berkuda itu tidak pernah berhenti untuk melayani serangan lawan. Mereka terus bergerak berputar dengan cepat sambil berusaha menangkis dan sesekali menyerang apabila ada kesempatan.

Sejenak kemudian, pertempuran di luar dinding padukuhan induk itu pun kembali berkobar. Debu-debu yang berhamburan dari kaki-kaki kuda pasukan Jalamangkara memang sangat menyulitkan pasukan Panembahan Cahaya Warastra untuk mendekati lawan mereka yang berada di atas punggung kuda. Bahkan jika mereka lengah sedikit saja, tak jarang senjata dari pasukan berkuda yang terayun-ayun itu lah yang justru telah menyentuh tubuh mereka.

“Gila!” umpat seorang Putut dari salah satu perguruan pengikut Panembahan Cahya Warastra yang pundaknya tergores ujung pedang, “Pasukan berkuda ini benar-benar memuakkan.”

Dengan kemarahan yang meluap-luap, diedarkan pandangan matanya untuk mencari prajurit yang telah berhasil melukai pundaknya. Namun prajurit yang melukainya itu telah berlalu dan sebagai gantinya penunggang kuda yang lain telah datang melaju dan menyambar kepalanya dengan sebilah pedang yang berukuran cukup besar dan panjang.

“Gila, gila, gila!” sumpah serapah tak henti-hentinya keluar dari mulut Putut itu sambil merundukkan kepalanya menghindari sambaran pedang lawannya. Ketika kemudian dia mencoba membalas dengan menjulurkan tombaknya mengarah dada, ternyata lawannya telah menggebrak kudanya dan berlari menjauh. Sementara seorang prajurit yang lain dengan tangkasnya dari atas punggung kuda telah menghantam tombak yang terjulur itu dengan sebuah bindi.

“Setan, gendruwo, tetekan..!” Putut itu memaki-maki dengan geram ketika tombaknya yang berbenturan dengan bindi lawannya itu hampir saja terlepas.

Demikianlah pertempuran itu terlihat menjadi sangat kacau-balau. Namun sebenarnyalah keadaan seperti itu yang ingin diciptakan oleh pasukan berkuda Jalamangkara. Pertempuran yang dapat membuat lawannya kehilangan akal sehingga mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbenah atau pun mengubah gelar.

Dalam pada itu, di tengah gelar Cakra Bhyuha Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret hanya tersenyum kecil ketika mendapatkan diri mereka telah terkepung di tengah-tengah gelar. Tidak tampak rasa was-was di wajah-wajah yang mulai berkeriput itu. Dengan tenangnya mereka berdua tetap berdiri kokoh di atas kedua kaki yang renggang.

Ki Tumenggung Tirtayudha dan kedua Lurah pembantunya yang telah berhadapan dengan kedua orang tua itu segera mempersiapkan serangan yang pertama, namun Ki Tumenggung menjadi ragu-ragu sejenak ketika menyadari salah seorang lawannya ternyata sama sekali tidak bersenjata, sedangkan lawan yang satunya bersenjatakan sebuah tombak pendek yang dijinjing di tangan kirinya.

“Ki Sanak berdua,” berkata Ki Tumenggung Tirtayudha sambil memberi isyarat kepada para pembantunya untuk menunda menyerang, “Aku persilahkan Ki Sanak yang belum bersenjata untuk mencabut senjatanya. Sebagai prajurit, kami menjunjung tinggi sifat-sifat ksatria untuk tidak menyerang lawan yang tidak bersenjata.”

“Omong kosong!” bentak Ki Ageng Blarak Sineret, “Apa katamu tentang menjunjung tinggi sifat ksatria sedang kalian telah mengeroyok kami yang hanya berdua?”

“Ki Sanak,” berkata Ki Tumenggung menanggapi kata-kata Ki Ageng, “Dalam sebuah pertempuran kita tidak bisa memilih lawan, dan juga dalam sebuah pertempuran dibenarkan untuk bertempur secara berkelompok.”

“Sudahlah Ki Ageng,” berkata Panembahan Cahya Warastra menengahi, “Biarkan saja mereka mengerahkan seluruh pasukan berkuda ini untuk mengeroyok kita berdua. Semoga mereka masih sempat melihat Matahari terbenam hari ini.”

Ki Tumenggung mengerutkan keningnya dalam-dalam mendengar ucapan Panembahan Cahya Warastra. Untuk sesaat dia menjadi ragu-ragu ketika mencoba mengenali wajah Panembahan Cahya Warastra. Dia belum mengenal siapakah orang itu, namun wajah itu terlihat begitu tenang dan meyakinkan sehingga nalurinya sebagai seorang prajurit telah memberitahukan bahwa lawannya itu adalah orang yang pinunjul ing apapak.

Agaknya keragu-raguan yang hanya sekilas terbayang di wajah Ki Tumenggung itu dapat dibaca oleh Ki Ageng Blarak Sineret. Maka katanya kemudian sambil tersenyum, “Ki Sanak ini pasti seorang prajurit berpangkat Tumenggung, aku dapat mengenali dari tanda-tanda keprajuritan yang Ki Sanak sandang,” Ki Ageng berhenti sejenak, lalu, “Pangkat Tumenggung adalah pangkat yang tinggi dalam tataran keprajuritan, namun aku tidak yakin apakah kemampuan Ki Sanak secara pribadi sebanding dengan pangkat yang Ki Sanak sandang?”

Sejenak rona merah membersit di wajah Ki Tumenggung Tirtayudha. Dia tahu arah pembicaraan lawannya yang berusaha untuk menyinggung harga dirinya sehingga dia akan kehilangan penalaran dan terpancing untuk bertempur satu lawan satu.

Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba saja menjadi sesak, Ki Tumenggung pun menjawab dengan tenang, “Ki Sanak tidak mempunyai kewenangan untuk mengukur kemampuan seorang prajurit, bahkan yang paling rendah tatarannya sekalipun. Jadi tidak ada gunanya Ki Sanak mempertanyakan kemampuan kami.”

“Sudahlah,” kembali Panembahan Cahya Warastra menengahi, “Tidak ada gunanya untuk saling mengejek atau pun membanggakan kemampuan diri yang masih harus dibuktikan kebenarannya. Itu hanya akan membuang-buang waktu saja.” Panembahan Cahya Warastra berhenti sejenak, kemudian sambil mengedarkan pandangannya sekilas ke arah luar gelar Cakra Bhyuha dia melanjutkan kata-katanya, “Aku lebih senang bertempur dari pada membual yang tidak ada ujung pangkalnya. Bersiaplah, aku tidak memerlukan senjata apapun. Kedua tanganku ini sudah cukup untuk merenggut nyawa kalian semua.”

Ki Tumenggung tidak menjawab. Sejenak diedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan pertempuran. Agaknya gelar Cakra Bhyuha itu kini telah semakin terdesak dengan semakin banyaknya kelompok-kelompok pasukan lawan yang mendesak dan mencoba memisahkan setiap prajurit Jalamangkara yang sedang bergerak berputar dengan cepat di atas punggung kuda.

Dengan tombak-tombak yang panjang setiap anggota kelompok para pengikut Panembahan Cahya Warastra itu mencoba menghentikan laju kuda yang lewat di depan mereka. Ada beberapa kelompok pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berusaha mempengaruhi kuda-kuda yang sedang dipacu itu agar menjadi liar dan tidak terkendali. Dengan beramai-ramai mereka berteriak dan bersorak setiap kali ada kuda yang lewat di dekat mereka. Ternyata usaha mereka ada yang berhasil. Seekor kuda menjadi ketakutan sehingga menjadi liar dan sulit dikendalikan. Kesempatan itu tidak disia-siakan, pada saat kuda itu menjadi liar, sekelompok pasukan Panembahan Cahya Warastra segera datang menyerang.

Prajurit yang berada di atas punggung kuda itu tentu saja tidak tinggal diam. Dengan tetap berusaha menenangkan kuda tunggangannya, dia menangkis setiap serangan yang terjulur ke arah tubuhnya. Namun karena kudanya agak sulit dikendalikan, maka prajurit yang berada di atas punggung kuda itu tidak menyadari bahwa dia telah terlepas dari gelar Cakra Bhyuha beberapa langkah. Tentu saja kawan-kawannya tidak akan membiarkan dia terperosok dalam kepungan kelompok-kelompok pasukan lawan. Dengan cepat beberapa ekor kuda segera berpacu dan menyelamatkan kawannya yang hampir saja terseret arus serangan lawan.

Ki Tumenggung Tirtayudha menahan nafasnya begitu menyadari kesulitan yang dialami oleh anak buahnya. Agaknya lawan telah melakukan siasat dengan cara menakut-nakuti kuda-kuda tunggangan prajurit Jalamangkara. Mereka berteriak-teriak dan bersorak seperti sedang berburu seekor kelinci di padang perdu. Bagaimana pun terlatihnya kuda-kuda itu, mereka tetap saja binatang yang pada suatu saat karena terpengaruh oleh suatu keadaan akan kembali ke sifat alami mereka, liar dan binal.

Menyadari hal itu, Ki Tumenggung Tirtayudha agaknya tidak dapat menunda-nunda lagi. Setelah memberi isyarat kepada kedua Lurah pembantunya yang terpercaya, ketiga orang itu pun segera menggerakkan kendali kuda masing-masing untuk berpencar.

Namun baru saja mereka yang berada di tengah-tengah gelar Cakra Bhyuha itu bersiap untuk mengadu nyawa, sekali lagi mereka yang ada di luar gerbang padukuhan induk itu dikejutkan oleh suara genderang dan sangkakala serta sorak-sorai yang membahana dari arah ujung bulak. Ternyata pasukan Mataram telah mencapai ujung bulak.

Dengan sengaja memang pasukan itu bergerak secara diam-diam dari tepian Kali Praga melewati padukuhan yang telah dikosongkan oleh Panembahan Cahya Warastra. Setelah menyusuri hutan yang tidak seberapa lebat dan sebagian telah dibuka untuk lahan pertanian, pasukan itu pun kemudian segera merayap mendekati bulak yang menghubungkan padukuhan kecil itu dengan padukuhan induk Menoreh.

Begitu pasukan Mataram itu mencapai bulak, Ki Bekel Sidokepung, seorang Bekel dari Kademangan Candisari yang diperbantukan sementara pada pasukan cadangan selama pasukan Mataram melawat ke Panaraga segera tampil ke depan untuk memimpin pasukan genderang sangkakala. Segera diperintahkannya beberapa prajurit yang bertugas untuk meniup sangkakala dan menabuh genderang sekeras-kerasnya sebagai pertanda kehadiran pasukan Mataram dan sekaligus untuk mempengaruhi ketahanan jiwani pasukan lawan.

Sejenak pertempuran di depan gerbang padukuhan induk itu bagaikan terhenti. Mereka terkesima melihat datangnya pasukan segelar-sepapan walaupun masih cukup jauh di ujung bulak namun suara genderang dan sangkakalanya serta sorak-sorai pasukan itu telah menggetarkan langit.

Dalam pada itu, di ujung pasukan segelar sepapan yang sedang bergerak dengan gegap gempita menuju ke padukuhan induk, tampak sekelompok orang-orang berkuda yang berpacu mendahului pasukan dengan tergesa-gesa. Mereka berpacu dengan kencang di atas jalan berdebu sehingga tampak debu mengepul tinggi di belakang kaki-kaki kuda mereka.

Ketika kemudian sekelompok orang-orang berkuda yang mendahului pasukan itu hampir mencapai medan pertempuran di luar gerbang padukuhan induk, tiba-tiba saja dada setiap orang yang berada di medan pertempuran itu telah diguncang oleh bunyi ledakan cambuk yang menggelegar bagaikan bunyi seribu guruh membelah langit di atas padukuhan induk Menoreh.

“Ki Rangga Agung Sedayu,” hampir setiap mulut telah menyebut nama itu.

Sebenarnyalah Ki Rangga Agung Sedayu memang berada diantara rombongan orang-orang berkuda itu. Dengan seijin Ki Patih Mandaraka, Ki Rangga Agung Sedayu yang akan berpamitan kepada keluarganya terlebih dahulu sebelum mengemban tugas khusus dari Panembahan Hanyakrawati, telah bergabung dengan pasukan Mataram untuk membebaskan Padukuhan induk Menoreh dari serangan para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Apakah Ki Rangga akan menempuh jalan melingkar untuk menghindari pertempuran menuju kediaman Ki Gede Menoreh?” bertanya Ki Patih Mandaraka pada saat Ki Rangga mengungkap-kan maksudnya untuk berpamitan kepada keluarganya sebelum berangkat mengemban tugas khusus.

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Rangga, “Jika Ki Patih mengijinkan, sebelum mengemban tugas dari Sinuhun Panembahan Hanyakrawati, hamba ingin ikut bergabung dengan pasukan Mataram terlebih dahulu.”

Ki Patih Mandaraka tersenyum mendengar jawaban Ki Rangga. Katanya kemudian, “Itulah sebenarnya yang aku harapkan, karena kita belum mendapat gambaran yang jelas akan kekuatan yang tersembunyi di dalam pasukan orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu. Jika orang itu memang Kecruk Putih yang telah mati beberapa waktu yang lalu kemudian hidup lagi, aku benar-benar memerlukan kawan untuk menghadapinya. Selain ilmunya yang tentu saja akan sangat nggegirisi, ada satu hal yang membuat aku ketakutan. Aku belum pernah bertempur melawan hantu atau apapun namanya, tapi yang jelas orang itu telah bangkit dari kubur.”

“Ah,” desah Ki Rangga sambil tersenyum, “Ampun Ki Patih, apakah memang benar ada kemampuan yang membuat seseorang itu dapat hidup kembali? Atau kah ini hanya permainan seseorang untuk tujuan tertentu?”

“Entahlah,” jawab Ki Patih, “Namun aku cenderung berpikir bahwa orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu bukan Kecruk Putih. Aku yakin benar bahwa orang itu telah mati. Namun jika ada orang yang mengaku bernama Kecruk Putih, aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya.”

Ki Rangga Agung Sedayu sejenak terdiam. Kemudian katanya, “Ampun Ki Patih, jika diperkenankan, hamba akan mengajak beberapa orang untuk menyusul pasukan berkuda Jalamangkara yang telah berangkat terlebih dahulu.”

Untuk beberapa saat Ki Patih mengerutkan keningnya. Namun akhirnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dia menjawab, “Baiklah Ki Rangga, masih ada beberapa ekor kuda yang dapat kita pergunakan. Aku sendiri yang akan memimpin kelompok berkuda ini, sedangkan pasukan yang berjalan kaki biar dipimpin oleh Ki Tumenggung Singayudha dan Ki Tumenggung Surayudha.”

Demikianlah akhirnya, kelompok berkuda itu dipimpin sendiri oleh ki Patih Mandaraka. Beberapa orang yang ikut di dalamnya adalah Ki Rangga Agung Sedayu sendiri, Pandan Wangi, Glagah Putih dan istrinya Rara Wulan, Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati, kemudian ketiga gadis-gadis anak-anak mereka, serta tak ketinggalan paman gadis-gadis itu, Ki Mlayawerdi. Sedangkan Putut Darpa dan Putut Darpita telah bergabung dengan pasukan cadangan Mataram yang berjalan kaki.

Kelompok berkuda itu sengaja berangkat bersama-sama dengan pasukan yang berjalan kaki agar pergerakan mereka tidak terpantau oleh pasukan Panembahan Cahya Warastra. Derap kaki-kaki kuda itu diusahakan sepelan mungkin sehingga gemanya tidak sampai ke telinga pasukan lawan yang telah mencapai padukuhan induk. Setelah melampaui hutan yang tidak seberapa lebat, barulah kelompok berkuda itu kemudian berpacu dengan kencang di bulak panjang menuju padukuhan induk seiring dengan bergemanya suara genderang dan sangkakala pasukan Mataram.

Dalam pada itu, Ki Gede Ental Sewu yang sedang bertempur dengan Ki Jayaraga telah terkejut mendengar bunyi ledakan cambuk yang bagaikan guruh merobek langit. Dengan segera dia meloncat ke belakang untuk mengambil jarak.

Ki Jayaraga yang juga mendengar bunyi ledakan cambuk itu tanpa disadarinya telah menarik nafas dalam-dalam, dalam sekali. Dada tua itu rasa-rasanya telah mendapat guyuran berpuluh-puluh gayung banyu sewindu. Sambil mengangguk-angguk dan tersenyum tipis, dia berkata perlahan, “Ki Rangga Agung Sedayu telah hadir di medan. Aku yakin, tidak ada seorang lawan pun yang akan mampu menahannya.”

“Omong kosong!” bentak Ki Gede Ental Sewu dengan sinar mata yang membara, “Nama Ki Rangga Agung Sedayu bagiku terlalu dibesar-besarkan. Padahal aku tahu pasti, kemenangan demi kemenangan yang diraihnya itu hanyalah kebetulan saja karena tingkat kemampuan lawan-lawannya memang belum dapat disejajarkan dengan kemampuan orang-orang berilmu tinggi .”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya, katanya kemudian, “Bagaimana dengan Ki Ajar Kumuda? Apakah Kakang meragukan kemampuan orang yang semasa mudanya bernama Pideksa itu?”

“Persetan dengan Pideksa!” geram Ki Gede Ental Sewu, “Sudah menjadi kebiasaan Pideksa untuk selalu meremehkan kemampuan lawan-lawannya yang lebih muda dari umurnya. Dia menganggap kemampuan Ki Rangga pada waktu itu tidak lebih baik dari kemampuan murid-muridnya sendiri. Kemampuan seorang murid menurut anggapannya tidak akan dapat menyamai gurunya, sehingga dia telah lengah dan mengalami kekalahan. Bahkan kelengahan itu harus ditebus dengan nyawanya.”

Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepalanya walau pun dalam hati dia meragukan keterangan Ki Gede. Menurut pengamatan Ki Jayaraga, kemampuan Ki Rangga Agung Sedayu justru telah melampaui gurunya, karena selain menyadap ilmu dari orang bercambuk, Ki Rangga Agung Sedayu juga telah mempelajari ilmu dari jalur Ki Waskita dan juga ilmu turun-temurun dari jalur Ki Sadewa, ayahnya sendiri.

“Timur Pradapa,” berkata Ki Gede Ental Sewu membuyarkan angan-angan Ki Jayaraga, “Sebenarnyalah tugasku di medan pertempuran ini adalah untuk mencari Ki Rangga Agung Sedayu. Sedangkan untuk membunuhmu dapat aku lakukan kapan saja setelah urusanku selesai dengan agul-agulnya Mataram itu. Jadi sebaiknya aku menunda dulu untuk mencabut nyawamu sampai urusanku dengan Ki Rangga Agung Sedayu selesai.”

Ki Jayaraga mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kakang Respati Mintuna, apa yang membuat Kakang terlalu yakin akan dapat mengalahkan Ki Rangga Agung Sedayu? Sedangkan untuk dapat lolos dari tanganku saja Kakang belum tentu akan mendapat kesempatan.”

“Gila!” bentak Ki Gede Ental Sewu, “Engkau terlalu sombong Pradapa. Kalau aku menghendaki, sejak tadi pasti engkau sudah terbujur menjadi mayat dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalangiku untuk meninggalkan tempat ini.”

Ki Jayaraga yang sudah tua itu tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan lawannya. Sambil memegang perutnya yang terguncang-guncang, dia pun menjawab, “Kakang Respati, Kakang tidak usah menakut-nakuti aku seperti anak kecil. Kalau memang Kakang ingin meninggalkan tempat ini, aku tidak keberatan, namun dengan satu syarat.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Pada dasarnya Ki Gede adalah orang yang sangat angkuh dan tidak mau orang lain mengatur dirinya. Namun bagaimana pun juga dia tetap bertanya, “Apakah syarat itu?”

Ki Jayaraga menegakkan badannya sambil berdesis perlahan namun suaranya cukup jelas di telinga Ki Gede, “Urusan di antara kita cukup sampai di sini saja. Aku tahu, kakang sangat menyayangi Niken Larasati demikian juga aku. Lebih baik kita lupakan sejenak masalah ini. Namun aku berjanji, setelah perang ini selesai dan aku masih diberi umur panjang, aku akan mencari siapa sebenarnya yang telah menjadi dalang dibalik kematian Niken Larasati.”

“Tutup mulut kotormu!” bentak Ki Gede Ental Sewu dengan wajah merah padam. Dengan teriakan menggelegar, serangannya pun kembali datang membadai menerjang Ki Jayaraga.

Ki Jayaraga yang selalu waspada menghadapi segala gerak-gerik Ki Gede Ental Sewu segera bergeser ke samping menghindari terjangan lawannya yang bagaikan banjir bandang. Dengan bertumpu pada tumit kaki kanannya, kaki kiri Ki Jayaraga pun berputar setengah lingkaran membabat lambung Ki Gede.

Demikianlah akhirnya pertempuran antara kedua orang yang memiliki hubungan khusus di masa muda itu kembali berkobar. Masing-masing tidak hanya mengandalkan liatnya kulit dan kerasnya tulang untuk menjatuhkan lawannya. Sesekali benturan yang terjadi antara kedua orang itu telah merambah ke ilmu yang tidak kasat mata, ilmu yang diperoleh dengan cara mesu raga dan laku yang rumit.

Beberapa puluh tombak dari tempat pertempuran antara Ki Gede Ental Sewu melawan Ki Jayaraga, Bango Lamatan yang sedang bertempur dengan sengitnya melawan Empu Wisanata ternyata juga telah terpengaruh oleh bunyi ledakan cambuk Ki Rangga Agung Sedayu.

Dengan cepat Bango Lamatan meloncat ke belakang untuk mengurangi tekanan serangan lawannya. Empu Wisanata yang melihat lawannya mengambil jarak beberapa langkah kebelakang tidak mengejar. Dibiarkan saja lawannya itu mengambil jarak, namun Empu Wisanata tidak melepaskan kewaspadaannya agar tidak lengah seandainya lawan akan mengetrapkan ilmu andalannya.

Ledakan cambuk Ki Rangga Agung Sedayu yang mengguntur itu ternyata telah mendebarkan dada Bango Lamatan. Sebersit keragu-raguan tampak di wajahnya. Kenangan lama atas kekalahannya sewaktu berperang tanding di tepian Kali Opak masih jelas tergambar dalam ingatannya.

“Persetan!” geram Bango Lamatan dalam hati, “Aku telah menyempurnakan Aji Halimunan yang tiada taranya, dan kini tidak akan ada seorang pun yang akan mampu menembus ilmuku.”

“Bagaimana dengan Ki Rangga sendiri?” tiba-tiba sebuah pertanyaan menggelitik dari dasar hatinya, “Ki Rangga tentu tidak berpangku tangan selama ini. Ilmunya tentu semakin melesat jauh meninggalkan tataran orang-orang berilmu seusianya. Itu terbukti dengan Ki Ajar Kumuda yang telah dikalahkannya.”

“Ki Ajar Kumuda,” tanpa sadar Bango Lamatan mengulang nama itu. Nama yang termasuk dari angkatan tua dan sangat ditakuti dan sekaligus dikagumi karena kedahsyatan ilmunya, tapak prahara.

“Bagaimana Ki Bango Lamatan?” tiba-tiba pertanyaan dari Empu Wisanata menyadarkannya, “Apakah Ki Bango Lamatan memerlukan waktu beberapa saat untuk beristirahat? Kalau memang demikian, aku akan memberimu waktu untuk sekedar merenung, agar Ki Bango Lamatan tidak semakin dalam terjerumus dalam cita-cita yang selama ini engkau anggap sebuah perjuangan padahal tidak lebih dari sebuah dongeng ngayawara dan tidak berdasar sama sekali.”

“Tutup mulutmu!” bentak Bango Lamatan, “Empu mungkin belum menyadari dengan siapa Empu berhadapan. Kalau selama ini Empu masih bisa berdiri dengan kedua kaki di atas tanah, itu hanya karena belas kasihanku saja. Sekarang sudah waktunya aku menyelesaikan pertempuran yang memuakkan ini. Bersiaplah, tataplah langit dan peluklah bumi. Jangan rindukan lagi Matahari terbit esok pagi.”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan segera bersiap. Agaknya kegalauan hatinya telah ditumpahkan kepada Empu Wisanata. Dia hanya memerlukan waktu sekejap untuk mengungkapkan ilmunya yang nggegirisi, ilmu yang mampu membakar dan melumatkan sasarannya menjadi debu.

Sejenak kemudian, tangan kanan Bango Lamatan telah terangkat ke atas. Seleret cahaya kemerah-merahan meluncur dari telapak

Empu Wisanata terkesiap. Namun ayah Nyi Dwani itu adalah petualang dalam dunia olah kanuragan yang telah menjelajahi dari ujung pulau ini sampai ke ujung yang lainnya. Pengalamannya selama mengarungi kehidupan yang keras telah memberinya peringatan bahwa kekuatan ilmu lawannya ini tidak akan mampu ditahan dengan ilmu tameng wajanya.

Menyadari akan kekuatan lontaran ilmu lawannya, dengan cepat Empu Wisanata menghindar ke samping. Hampir saja sambaran ilmu lawannya itu mengenai tubuhnya seandainya dia kurang sigap menghindar. Terasa hawa yang panas, sepanas api dari tempurung kelapa menyambar lewat sejengkal dari tubuhnya. Ketika Empu Wisanata telah tegak kembali di atas kedua kakinya, alangkah terkejutnya Ayah Nyi Dwani itu ketika mendapatkan ujung lengan bajunya telah hangus menjadi abu.

“Gila,” geram Empu Wisanata. Untung kulitnya tidak ikut hangus terbakar karena masih terlindung oleh Aji Tameng Waja. Namun dalam hati Empu Wisanata mengakui dengan jujur bahwa kekuatan ilmu lawannya itu tidak akan mampu dilawan dengan Aji Tameng Wajanya.

Bango Lamatan yang melihat lawannya terkejut mendapatkan ujung lengan bajunya hangus terbakar telah tersenyum sambil berkata, “Nah, Empu. Apakah Empu menganggap pertempuran ini masih perlu untuk dilanjutkan?”

Empu Wisanata sekali lagi menggeram. Namun sebelum dia menjawab, tiba-tiba terdengar suara yang bernada dalam dari sebelah kirinya, “Ma’afkan aku Empu kalau aku mengganggu. Sebenarnya lah Nyi Dwani memerlukan perhatianmu. Biarlah Ki Bango Lamatan ini aku temani untuk bermain-main. Sesungguhnya kami berdua belum puas bermain-main tadi pagi di kediaman Ki Gede Menoreh.”

“Kiai Sabda Dadi,” hampir berbareng Empu Wisanata dan Bango Lamatan berdesis.

“Ya, Empu,” jawab Kiai Sabda Dadi yang ternyata telah selesai mengobati anak perempuan Empu Wisanata dan kini telah hadir di medan pertempuran, “Dengan pertolongan Yang Maha Agung Nyi Dwani telah berhasil melalui masa-masa yang sulit dan menegangkan. Namun aku sarankan sebaiknya Empu Wisanata untuk sementara menemani Nyi Dwani agar dia merasa aman dan sekaligus untuk menguatkan hatinya,”

Empu Wisanata menarik nafas panjang. Kalau saja yang berkata itu bukan Kiai Sabda Dadi yang telah menolong putrinya, tentu dia akan tersinggung. Namun dia menyadari akan kemampuan lawannya dan menurut pengakuan Kiai Sabda Dadi, mereka berdua telah pernah bertemu di kediaman Ki Gede Menoreh tadi pagi.

“Selamat bertemu kembali, Kiai Sabda Dadi,” tiba-tiba Bango Lamatan yang sedari tadi mendengarkan percakapan kedua orang itu menyela, “Aku gembira sekali dapat bertemu kembali dengan Kiai,” Bango Lamatan berhenti sejenak, kemudian lanjutnya “Aku memerlukan kawan bermain-main yang sepadan di medan pertempuran ini. Untunglah Kiai Sabda Dadi segera datang, jika tidak, aku tidak tahu harus bagaimana melawan kebosanan menghadapi lawan-lawan yang sama sekali tidak seimbang dengan kemampuanku.”

Merah padam wajah Empu Wisanata. Namun sebelum dia menjawab, Kiai Sabda Dadi telah mendahului berkata, “Apakah Ki Bango Lamatan juga mengalami kebosanan pada saat bermain-main denganku pagi tadi sehingga Ki Bango Lamatan memutuskan untuk meninggalkan halaman rumah Ki Gede Menoreh?”

Kini wajah Bango Lamatan lah yang menjadi kelam. Dengan menggeretakkan giginya dia menjawab, “Baiklah Kiai. Kita tuntaskan permainan kita pagi tadi yang sempat terputus karena memang keadaanku yang tidak menguntungkan. Tapi percayalah, kali ini Kiai tidak akan lepas dari tanganku.”

Kiai Sabda Dadi hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Bango Lamatan. Kemudian katanya sambil berpaling ke arah Empu Wisanata, “Silahkan Empu. Putrimu memerlukan bantuanmu agar kekuatan batinnya menjadi semakin mapan.”

Empu Wisanata mengangguk perlahan. Ketika kemudian Empu Wisanata melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, dia masih sempat berpaling sekilas ke arah lawannya. Tampak sebuah senyuman tersungging di bibir Bango Lamatan, namun Empu Wisanata tidak memperdulikan lagi dan tetap meneruskan langkahnya.

Sepeninggal Empu Wisanata, seorang pengikut Panembahan Cahya Warastra yang agaknya bertindak sebagai penghubung dengan tergesa-gesa mendekati Bango Lamatan.

“Pasukan Panembahan Cahya Warastra sebagian telah memasuki padukuhan induk. Namun ekor pasukan itu masih tertahan di luar dinding padukuhan induk karena mendapat serangan dari pasukan berkuda Jalamangkara Mataram,” berkata penghubung itu sambil berusaha mengatur deru nafasnya.

Sejenak Bango Lamatan mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Apakah Ki Rangga Agung Sedayu ikut dalam pasukan berkuda Jalamangkara?”

“O, tidak,” jawab penghubung itu cepat, “Ki Rangga Agung Sedayu terdapat dalam pasukan berikutnya yang datang bersama dengan Ki Patih Mandaraka. Tetapi mereka tidak ikut dalam pasukan Mataram yang berjalan kaki. Ki Patih Mandaraka dan Ki Rangga serta beberapa orang telah berkuda mendahului pasukan Mataram yang berjalan kaki.”

Kembali Bango Lamatan mengerutkan keningnya. Lamat-lamat dari tempatnya berdiri terdengar bunyi genderang sangkakala yang ditabuh dengan riuh rendah ditingkah dengan sorak-sorai yang gegap gempita. Pasukan Mataram baginya memang sangat membingungkan. Mereka terbagi dalam kelompok-kelompok secara terpisah namun saling mendukung dan mengisi pada saat mereka mengadakan penyerbuan.

“Ini pasti ulah orang dari Selo itu,” geram Bango Lamatan dalam hati.

“Mengapa pasukan Jalamangkara itu tidak kalian hancurkan saja di depan pintu gerbang padukuhan induk?” bertanya Bango Lamatan setelah sejenak terdiam sambil memandang tajam ke arah penghubung itu.

“Mereka berkuda dan bergerak dengan sangat cepat. Mereka bergerak dengan teratur dalam gelar cakra Bhyuha,” jawab penghubung itu, “Kuda-kuda itu bergerak dengan gesit dan cepat sehingga kita selalu menemui kesulitan setiap akan menghentikan laju kuda-kuda itu.”

“Apakah Panembahan Cahya Warastra tidak berusaha mengubah gelar untuk menyesuaikan dengan gelar lawan?”

Penghubung itu mengangguk, “Panembahan Cahya Warastra telah mengubah gelar gedong minep menjadi gelar Glathik neba.”

Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika kemudian suara genderang dan sangkakala yang ditabuh dengan riuh rendah itu semakin jelas terdengar, maka Bango Lamatan pun segera menjatuhkan perintahnya, “Kembalilah ke kelompokmu. Sampaikan kepada Panembahan Cahya Warastra bahwa pasukan yang ada di dalam padukuhan induk akan aku tarik mundur keluar gerbang padukuhan untuk membantu menghadapi pasukan Mataram yang datang kemudian.”

Penghubung itu menganguk. Memang pasukan yang dibawah kendali Bango Lamatan tidak dapat bergerak dengan leluasa karena pasukan pengawal Menoreh dibantu dengan pasukan cadangan telah memancing pasukan lawan untuk bertempur semakin ke dalam padukuhan, diantara rumah-rumah serta lorong-lorong sempit.

Demikianlah, tanpa menunggu lagi penghubung itu dengan cepat telah bergerak meninggalkan tempat itu, menyelinap di antara hiruk- pikuknya pertempuran.

Sepeninggal penghubung itu, Bango Lamatan segera melambaikan tangannya kepada salah seorang pengikutnya yang sedang bertempur berpasangan. Orang itu agaknya membawa panah sendaren. Dengan cepat orang itu mendekat. Setelah menerima perintah dari Bango Lamatan, sejenak kemudian udara di atas padukuhan induk itu telah digetarkan oleh suara panah sendaren yang meraung-raung tiga kali berturut-turut.

Kiai Sabda Dadi yang sedari tadi mengikuti gerak-gerik lawannya hanya dapat berdiri termangu-mangu. Sesuai dengan paugeran peperangan, seorang senopati yang memimpin pasukan memang harus diberi kesempatan untuk mengatur pasukannya.

Ketika dilihatnya Bango Lamatan telah selesai, Kiai Sabda Dadi pun segera melangkah mendekat. Ketika jarak keduanya tinggal empat langkah, Kiai Sabda Dadi kemudian berhenti sambil bergumam perlahan, “Nah, Ki Bango Lamatan. Apakah engkau sudah siap?”

Bango Lamatan tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Pertanyaan Kiai kedengarannya sangat aneh. Kita sedang berada di tengah-tengah medan pertempuran yang liar. Setiap saat kita harus selalu siap. Sekejap saja kita lengah, nyawa bisa melayang.”

Kiai Sabda Dadi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin tahu, apakah Ki Bango Lamatan sudah siap bertempur sebenar-benarnya bertempur? Dan tidak akan meninggalkan aku lagi sendirian merenungi medan pertempuran ini?”

“Persetan,” umpat Bango Lamatan, “Kali ini aku tidak akan meninggalkan medan pertempuran sebelum orang yang menyebut dirinya Kiai Sabda Dadi itu terbujur menjadi mayat.”

“Terima kasih,” sahut Kiai Sabda Dadi sambil tersenyum, “Kata-kata Ki Bango Lamatan akan aku jadikan pegangan. Hanya salah satu dari kita yang akan meninggalkan medan ini dalam keadaan masih bernyawa.”

Bango Lamatan menggeretakkan giginya sambil menggeram, “Aku setuju. Agaknya Kiai lah yang akan bernasib buruk kali ini. Tadi pagi aku memang sengaja meninggalkan halaman rumah Ki Gede Menoreh karena waktuku sangat terbatas. Begitu Matahari terbit aku sudah harus memimpin penyerbuan ke padukuhan induk Menoreh. Jadi, pertemuan kita yang kedua kalinya ini, dengan senang hati aku akan mengantarkan Kiai menuju ke alam kelanggengan.”

Kiai Sabda Dadi kembali tersenyum, jawabnya kemudian, “Hidup dan mati sudah menjadi ketentuan Yang Maha Hidup, dan kita tidak tahu kapan dan bagaimana cara kita menghadapi kematian. Namun yang jelas, setiap yang bernyawa pasti akan mati.”

“Terima kasih atas sesorahmu,” potong Bango Lamatan, “Kemungkinan besar kedua tanganku inilah yang akan menjadi perantara kematianmu.”

“Ah,” Kiai Sabda Dadi tertawa pendek. Sambil menggelengkan kepalanya dia menanggapi kata-kata lawannya, “Semua kemungkinan dapat terjadi dalam sebuah medan pertempuran. Begitu juga akhir dari pertempuran ini. Mungkin Ki Bango Lamatan yang justru mendahului menghadap Sang Pencipta untuk mempertanggung-jawabkan segala tingkah laku yang telah Ki Bango Lamatan perbuat.”

“Omong kosong!’ bentak Bango Lamatan, “Marilah kita buktikan, siapakah yang masih dapat berdiri tegak sampai akhir pertempuran nanti.”

Kiai Sabda Dadi tidak menanggapi kata-kata lawannya karena melihat lawannya telah menggeser kedudukan kakinya. Sejenak kemudian sebuah lontaran yang dilambari dengan tenaga cadangan telah meluncur menerjang dada Kiai Sabda Dadi.

Agaknya Bango Lamatan langsung mengetrapkan ilmunya pada tataran tinggi. Segera saja udara yang sangat panas menyambar dengan dahsyat ke arah dada Kiai Sabda Dadi.

Kiai Sabda Dadi yang menyadari betapa berbahayanya serangan lawannya itu segera menggeser mundur kaki kirinya selangkah kesamping. Ketika serangan itu hanya lewat sejengkal dari dadanya, dengan cepat Kiai Sabda Dadi berusaha memotong serangan lawannya dengan menghantam pundak kiri Bango Lamatan yang terbuka.

Tentu saja Bango Lamatan tidak akan membiarkan pundaknya hancur terkena pukulan lawan. Dengan bertumpu pada tumit kaki kanannya, dia berputar ke arah kiri, sebelum akhirnya tangan kirinya berusaha mencengkeram pergelangan tangan Kiai Sabda Dadi yang terjulur ke arah pundaknya.

Kiai Sabda Dadi yang menyadari pergelangan tangannya akan dicengkeram oleh lawannya ternyata telah menarik serangannya. Sebagai gantinya, kaki kiri kakek Damarpati itu meluncur deras menghantam lambung lawan.

Bango Lamatan yang melihat pergerakan kaki kiri lawannya menebas ke arah lambung segera menggeliat ke samping. Kemudian dengan telapak tangan kanan yang terbuka, dihantamnya punggung Kiai Sabda Dadi yang agak condong ke kanan karena terdorong oleh pergerakan kakinya.

Menyadari serangan lawannya yang mengarah punggung selagi tubuhnya condong ke samping kanan karena serangan kaki kirinya mengenai tempat kosong, Kiai Sabda Dadi segera membungkukkan badannya dalam-dalam. Sambil dalam keadaan berjongkok, salah satu kakinya menyapu kedudukan kaki lawannya.

Tidak ada jalan lain bagi Bango Lamatan selain meloncat mundur untuk menghindari serangan lawannya. Ketika kemudian dia telah tegak kembali di atas kedua kakinya yang kokoh, orang kepercayaan Panembahan Cahya Warastra itu pun segera mempersiapkan serangan berikutnya.

Demikianlah kedua orang yang sudah pernah mengadu kerasnya tulang dan liatnya kulit di halaman rumah Ki Gede Menoreh itu kembali terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Dalam pada itu, kelompok berkuda yang dipimpin langsung oleh Ki Patih Mandaraka telah mendekati arena pertempuran di luar dinding padukuhan induk. Dengan cepat pasukan berkuda Jalamangkara segera membuka jalan dan membiarkan kelompok berkuda itu memasuki gelar Cakra Bhyuha.

Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret yang berdiri termangu-mangu terkepung rapat di tengah-tengah gelar menjadi berdebar-debar ketika rombongan berkuda itu semakin dekat menuju ke tempat mereka berada.

Ki Patih Mandaraka yang masih berada di atas punggung kudanya tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sebuah desir yang tajam telah menggores jantungnya begitu pandangan matanya tertumbuk pada seraut wajah yang sudah tidak asing lagi baginya, wajah orang yang sedari dulu menginginkan kematiannya.

“Kecruk Putih,” desis Ki Patih Mandaraka dalam hati dengan dada yang berdebar-debar, “Apakah benar orang itu Kecruk Putih? Apakah benar berita yang selama ini terdengar bahwa Kecruk Putih yang bergelar Panembahan Cahya Warastra itu sudah terhindar dari segala macam rasa sakit dan bahkan kematian?”

Dengan dada yang berdentangan Ki Patih pun kemudian menghela kudanya berderap dengan langkah satu-satu diikuti oleh rombongan berkuda itu mendekati tempat Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret berdiri menunggu.

Ketika kuda Ki Patih berderap semakin dekat, tiba-tiba pandangan tajam Ki Patih Mandaraka melihat sekilas perbedaan yang sangat tipis antara Kecruk Putih yang dulu telah tewas di tangannya dengan orang yang sekarang sedang berdiri tegak menunggu rombongan berkuda itu datang. Wajah itu terlihat sedikit agak gemuk dan bersih, walaupun secara sekilas orang akan sulit membedakan antara Kecruk Putih yang diyakini telah tewas beberapa saat yang lalu dengan orang yang sekarang berdiri beberapa tombak di hadapannya itu.

Ketika sekali lagi Ki Patih Mandaraka mengamati wajah itu dengan seksama, ada satu hal yang kemudian membuat Ki Patih Mandaraka yakin bahwa orang yang mengaku bernama Panembahan Cahya Warastra itu bukan Kecruk Putih yang selama ini dikenalnya. Perbedaan yang mencolok justru terletak pada sorot matanya. Sorot mata orang itu tidak segarang sorot mata Kecruk Putih yang telah tewas dalam pertempuran beberapa waktu yang lalu.

Ki Rangga Agung Sedayu yang berkuda di sebelahnya pun ternyata merasakan hal yang sama. Tanpa disadarinya dia telah berpaling ke arah Ki Patih sambil berdesis perlahan, “Ampun Ki Patih, menurut pengamatan hamba, agaknya orang yang sedang berdiri di depan kita itulah yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra. Walaupun hamba sedikit ragu-ragu.”

Ki Patih berpaling sekilas sambil tersenyum hambar. Katanya kemudian, “Apakah yang membuatmu ragu-ragu, Ki Rangga?”

“Ampun, Ki Patih. Orang itu mempunyai kemiripan wajah dan bentuk tubuh dengan Panembahan Cahya Warastra yang telah menyerbu ke Menoreh beberapa waktu yang lalu,” Ki Rangga berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Namun ada satu hal yang meragukan hati hamba. Sorot mata orang ini tidak segarang sorot mata Panembahan Cahya Warastra yang dulu.”

“Apakah engkau yakin Ki Rangga?”

“Ampun Ki Patih, hamba yakin dengan panggraita hamba bahwa orang ini memang bukan Panembahan Cahya Warastra, namun menurut hemat hamba, yang menjadi persoalan utama sekarang ini bukanlah kemiripan wajahnya atau pun hubungan yang mungkin ada antara dirinya dengan Panembahan Cahya Warastra yang dulu. Namun yang perlu kita cermati adalah kemampuan yang tersimpan di dalam dirinya, karena yang kita pertaruhkan adalah kelangsungan pemerintahan Mataram.”

Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian tanpa berpaling, “Engkau benar Ki Rangga. Aku tidak peduli lagi siapa dia sebenarnya. Adalah haknya untuk menggunakan nama apa saja. Namun yang terpenting bagiku sekarang ini adalah, menghentikan segala tingkah polahnya yang mengganggu tegaknya Mataram.”

Ki Rangga Agung Sedayu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk.

Demikianlah akhirnya langkah kaki-kaki kuda itu pun semakin dekat dengan tempat Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret berdiri menunggu. Ketika jarak di antara mereka tinggal dua tombak, tiba-tiba Ki Patih memberi isyarat untuk berhenti.

Dengan cepat Ki Patih segera meloncat turun diikuti oleh seluruh rombongan. Beberapa prajurit Jalamangkara yang terdekat segera tanggap dan ikut turun dari kuda-kuda mereka. Sambil tetap memegangi kendali kuda mereka, dua orang prajurit Jalamangkara segera mendekat dan mengambil alih kendali kuda Ki Patih dan Ki Rangga.

Perlahan dengan langkah satu-satu serta dengan tidak meninggalkan kewaspadaan, kedua orang yang sudah hampir putus segala kawruh lahir maupun batin itu pun kemudian mendekati Panembahan Cahya Warastra dan Ki Ageng Blarak Sineret.

Ketika kemudian Ki Patih Mandaraka telah berhadap-hadapan dengan Panembahan Cahya Warastra, sambil tersenyum ramah Ki Patih justru telah menyapa terlebih dahulu, “Selamat siang, Ki Sanak. Maafkan kami, jika kedatangan kami di tempat ini telah mengganggu Ki Sanak berdua.”

Panembahan Cahaya Warastra mengerutkan keningnya sambil memandang kedua orang yang berdiri di hadapannya ganti-berganti. Katanya kemudian dengan sikap yang acuh, “Aku tidak mengenal kalian berdua, dan memang aku tidak ingin mengenalnya. Kalau kalian masih ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini, lebih baik kalian segera menyingkir.”

Ki Patih Mandaraka menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah Ki Rangga Agung Sedayu yang berdiri di sebelahnya. Ucapan orang yang mengaku Panembahan Cahya Warastra ini sekaligus telah mengungkapkan jati dirinya bahwa dia memang bukan Kecruk Putih yang telah tewas di tangan Ki Patih beberapa waktu yang lalu.

Sementara Ki Ageng Blarak Sineret yang berdiri di sebelah Panembahan Cahya Warastra terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu. Sebenarnyalah Ki Ageng Blarak Sineret mengetahui rahasia dibalik nama Panembahan Cahya Warastra, namun dia berharap sahabatnya itu mengenali Ki Patih Mandaraka walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya sehingga penyamaran sahabatnya itu tidak dengan mudah terbongkar begitu saja.

“Panembahan,” cepat-cepat Ki Ageng Blarak Sineret menyela, “Apakah Panembahan tidak lagi mengenali orang yang selama ini Panembahan cari? Ki Patih Mandaraka yang semasa mudanya lebih dikenal dengan sebutan Ki Juru Martani?”

Sejenak rona wajah Panembahan Cahya Warastra berubah, namun hanya sekilas. Sambil tertawa pendek, katanya kemudian dengan sikap yang masih acuh tak acuh, “Persetan dengan segala macam nama. Apa itu Juru Martani, atau pun Patih Mandaraka, aku tidak peduli. Tidak ada gunanya kita bermain petak umpet lagi. Segalanya akan segera kita selesaikan dengan tuntas. Kalau pun ada seribu Juru Martani di dunia ini, mereka semuanya harus mati, karena selama orang yang bernama Juru Martani itu masih hidup, negeri ini tidak akan pernah aman dari fitnah keji dan akal liciknya.”

Ki Patih Mandaraka yang semasa mudanya bernama Juru Martani itu kembali mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Maafkan aku sebelumnya Ki Sanak. Aku juga tidak peduli dengan siapa aku berhadapan kali ini. Apakah orang itu Kecruk Putih yang bergelar Panembahan Cahya Warastra, ataukah seorang pengecut yang hanya berani bersembunyi di balik nama Panembahan Cahya Warastra sekedar untuk menumpang kebesaran namanya namun pada kenyataannya Kecruk Putih itu tinggal namanya saja. Sedangkan ilmu yang diagung-agungkan itu tidak lebih dari permainan kanak-kanak, permainan beradu gasing yang membuat anak-anak ketakutan karena desir putarannya dan debu yang dilontarkannya.”

“Setan alas,” geram orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu, “Jangan mencoba membuat perbandingan ilmu antara aku dan Kecruk Putih. Kami memang saudara kembar, namun sejak kecil aku telah mengikuti guruku, seorang pertapa dari lembah Bidadari, lembah yang terletak di negeri Jambu Dwipa, jauh di tanah seberang yang tak mungkin terjangkau oleh nalar kalian.”

Ki Rangga Agung Sedayu terkejut mendengar negeri Jambu Dwipa disebut oleh Panembahan Cahya Warastra. Negeri Jambu Dwipa adalah sebuah negeri yang sangat jauh dan terkenal dengan ilmu bayangan semunya. Semasa gurunya masih hidup, Ki Rangga Agung Sedayu sering mendapatkan cerita-cerita tentang segala macam ilmu kesaktian dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit dan tidak masuk akal. Salah satu sumber ilmu yang rumit dan tidak masuk akal adalah dari negeri Jambu Dwipa, negeri asal kisah-kisah kepahlawanan Mahabarata dan Ramayana.

Sedangkan Ki Patih Mandaraka sama sekali tidak terkejut. Sudah sering Ki Patih mendengar bahkan mengalami sendiri di masa mudanya bertemu dengan para pertapa dari negeri Jambu Dwipa. Mereka menguasai ilmu yang sangat aneh, ilmu yang mampu menguasai penalaran seseorang sehingga orang itu akan melihat atau mengalami sesuatu yang sebenarnya tidak ada menjadi seolah-olah ada.

“Orang ini pasti menguasai sejenis ilmu itu sehingga merasa dirinya tak terkalahkan,” berkata Ki Patih dalam hati, “Ilmu yang hanya dapat dilawan dengan ketajaman hati dan kebersihan jiwani. Betapa pun kuatnya ilmu itu, namun karena sifat ilmu itu yang cenderung berpihak pada kekuatan hitam, hanya batin yang bersih dan selalu bersandar kepada Yang Maha Agung yang akan mampu menundukkannya.”

Dalam pada itu, pasukan Bango Lamatan yang telah ditarik mundur keluar dari dinding padukuhan induk secara berangsur-angsur telah bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra. Induk pasukan Panembahan Cahya Warastra yang sebagian telah memasuki padukuhan induk pun ternyata telah ikut keluar untuk menyambut pasukan Mataram yang baru datang.

Ki Ajar Wiyat yang sedang bertempur dengan sengitnya melawan Ki Gede Menoreh ternyata telah membuat perhitungan sendiri dengan adanya suara panah sendaren yang meraung-raung di angkasa tiga kali berturut-turut.

Dengan menghentakkan ilmunya, dia telah menyerang Ki Gede Menoreh dari segala arah. Menurut perhitungan Ki Ajar Wiyat, tidak mungkin Ki Gede Menoreh akan mengejarnya jika dia menarik diri dari pertempuran itu dan bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang berada di luar dinding padukuhan induk. Menilik sikap Ki Gede dalam menghadapi setiap serangannya selalu berpijak pada langkah-langkah yang pendek dan hanya menggeser kakinya selangkah-selangkah. Jika dengan sengaja dia meloncat mundur karena serangan Ki Gede yang tak tertahankan olehnya, Ki Gede tidak pernah memburunya, hanya sekedar menjulurkan tombak pendeknya sejauh jangkauan tombaknya saja.

Dengan berbekal perhitungan inilah Ki Ajar Wiyat segera melaksanakan rencananya untuk lolos dari pertempuran, namun dengan memberi Ki Gede beberapa goresan luka yang tidak akan pernah dilupakan oleh lawannya itu seumur hidup.

Ketika sekali lagi dia menyerang dengan dahsyatnya, keris luk sebelas di tangannya yang bagaikan menyala itu meluncur deras ke dada Ki Gede Menoreh.

Ki Gede Menoreh adalah orang yang sudah mengalami medan pertempuran yang paling berat sekalipun. Melihat lawannya bergerak dengan senjata terjulur lurus ke arah dadanya dia tidak menjadi gugup. Segera disongsongnya keris lawannya itu dengan ujung tombak pendeknya. Ketika kedua senjata itu beradu, Ki Gede mencoba mengungkit keris lawannya sehingga arah serangannya sedikit berbelok. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ki Gede ketika melihat dada lawannya sedikit terbuka.

Dengan sebuah hentakan yang kuat, Ki Gede maju selangkah sambil menjulurkan ujung tombaknya menggapai dada lawannya.
Ki Ajar Wiyat yang menyadari serangan lawannya dengan tergesa-gesa memiringkan dadanya ketika ujung tombak lawannya masih berjarak satu jengkal dari tubuhnya. Menurut perhitungannya, ujung tombak itu masih jauh dari jangkauan untuk melukai dadanya. Namun alangkah terkejutnya Ki Ajar Wiyat ketika menyadari ternyata sesuatu telah menyentuh dadanya.

Dengan cepat Ki Ajar Wiyat meloncat kebelakang untuk melihat apakah sebenarnya yang telah menyentuh dadanya itu.
Namun sekali lagi perhitungan Ki Ajar Wiyat meleset. Menurut perhitungannya selama ini Ki Gede tidak pernah memburu lawannya yang meloncat mundur walaupun kesempatan itu ada. Namun yang terjadi kemudian adalah sebuah kesalahan yang harus ditebus dengan sangat mahal. Selagi Ki Ajar Wiyat mencoba melihat segores luka yang cukup dalam merobek dadanya, sebuah serangan dahsyat dari Ki Gede datang melanda.

Ki Ajar Wiyat yang masih sempat melihat serangan itu dari sudut matanya mencoba menangkis dengan keris luk sebelasnya. Namun kekuatan yang terpancar pada serangan tombak Ki Gede tidak mampu ditangkis sepenuhnya. Sekali lagi ujung tombak pendek itu menyentuh pundaknya.

“Gila!” umpat Ki Ajar Wiyat begitu menyadari pundaknya telah terluka.

Dengan cepat dia mencoba memperbaiki kedudukannya yang terdorong ke belakang akibat hentakan ujung tombak pada pundaknya itu dengan cepat-cepat menggeser kakinya ke samping. Namun agaknya Ki Gede sudah tidak sabar lagi untuk menuntaskan pertempuran itu. Bukan maksud Ki Gede untuk menjadi seorang pembunuh yang tidak mengenal belas kasihan, namun keselamatan Tanah Perdikan Menoreh yang berada di bawah tanggung jawabnya harus diutamakan.

Sejenak kemudian sebuah serangan dahsyat kembali dilancarkan oleh Ki Gede Menoreh. Dengan menghentakkan segenap kemampuannya, pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang telah menapaki hari-hari tua itu ternyata masih segarang seekor singa di padang gurun. Ki Ajar Wiyat yang terlalu meremehkan kemampuan lawannya ternyata harus menebus kelengahannya itu dengan sangat mahal.

Darah yang mengalir deras dari kedua lukanya ternyata dengan cepat telah memperlemah pertahanannya. Ketika dia mencoba menangkis dengan mengangkat keris luk sebelasnya untuk sekedar membelokkan arah ujung tombak Ki Gede yang mengarah ke dada, ternyata tenaganya telah jauh susut sehingga arah ujung tombak itu sama sekali tidak berubah dan tetap dengan deras meluncur menghunjam ke dada.

Terdengar sebuah keluhan pendek begitu ujung tombak itu menembus dadanya. Untuk beberapa saat tubuh Ki Ajar Wiyat terdorong beberapa langkah ke belakang. Ketika dengan sebuah sentakan yang kuat Ki Gede kemudian mencabut tombaknya, tubuh yang sudah tak berdaya itu pun akhirnya terhuyung-huyung ke depan dan jatuh terjerembab ke atas tanah yang berdebu.

Sejenak Ki Gede Menoreh masih berdiri tegak dengan dada yang bergelombang. Rasa-rasanya tenaganya bagaikan terkuras setelah Ki Gede menghentakkan segenap kemampuannya untuk mengakhiri perlawanan Ki Ajar Wiyat. Setinggi apapun ilmu seseorang ternyata tidak akan mampu melawan waktu.

Untuk beberapa saat Ki Gede Menoreh masih merenungi tubuh lawannya sambil mengatur pernafasannya. Ketika pandangan matanya kemudian diedarkan ke seluruh medan pertempuran, tampak para pengawal Menoreh sedang mengejar pasukan Bango Lamatan yang menarik diri dan berusaha keluar dari dinding padukuhan induk.

Beberapa orang yang terlambat memang telah menjadi sasaran kemarahan para pengawal Menoreh. Ternyata gerak mundur pasukan Bango Lamatan itu tidak berjalan sesuai rencana karena mereka kurang menguasai medan. Beberapa pengawal Menoreh sengaja telah memotong gerak mundur pasukan lawan dengan cara menempuh jalan pintas melalui halaman-halaman rumah yang telah ditinggalkan oleh penghuninya. Tak jarang mereka harus melompati pagar-pagar rendah agar dapat menyusul pasukan Bango Lamatan yang bergerak mundur melalui lorong-lorong padukuhan.

Namun pasukan Bango Lamatan tidak berdiam diri saja mendapat serangan dari balik dinding-dinding dan regol-regol rumah di sepanjang lorong padukuhan. Mereka telah melakukan perlawanan sengit sambil bergerak mundur untuk mencapai dinding padukuhan induk.

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: