Terusan ADBM Jilid 409

Terusan ADBM

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-409/)

Jilid 409

Untuk sejenak raksasa itu tertegun. Bagaimanapun juga ilmu Ki Rangga yang dipelajarinya dari kitab Ki Waskita itu nyaris sempurna. Bukan hanya ujud-ujud semu yang hanya dapat mengelabuhi pandangan mata wadag saja, namu kedua ujud Ki Rangga itu juga mempunyai kemampuan ilmu yang sama dengan ujud aslinya.

Raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Suaranya bagaikan auman berpuluh-puluh singa gurun yang kelaparan.

“Ki Rangga,” katanya kemudian dengan suara yang menggelegar. Gaungnya sampai jauh memantul ke bukit-bukit dan lembah di sekitarnya, “Engkau mencoba mengelabuhi aku dengan ilmu kakang pembarep adi wuragil. Jangan harap aku akan tertipu. Dengan sangat mudah aku akan dapat menemukan ujudmu yang asli.”

“Silahkan, Panembahan,” jawab Ki Rangga dengan mengerahkan tenaga cadangannya sehingga suaranya terdengar menggelegar, “Aku hanya berusaha mengimbangi ilmu Panembahan yang tiada taranya. Namun aku yakin, setinggi apapun ilmu itu kalau digunakan pada jalur yang tidak diperkenankan oleh Yang Maha Agung, pasti akan hancur juga.”

“Omong kosong!” bentak Panembahan Cahya Warastra. Suaranya bergulung-gulung bagaikan guntur yang meledak di langit, “Engkau tidak usah merajuk, Ki Rangga. Perlawananmu akan segera berakhir. Walaupun engkau mampu meningkatkan ilmumu selapis dua lapis lagi, itu semua tidak ada artinya menghadapi aji Brahala Wuru.”

“Belum tentu Panembahan,” sahut Ki Rangga, “Betapapun tinggi ilmu seseorang, pasti mempunyai kelemahan, dan kelemahan aji Brahala Wuru itulah yang sedang aku jajagi sekarang ini.”

Panembahan Cahya Warstra tertawa pendek, namun suaranya cukup mengguncang medan sekitarnya, “Jangan bermimpi Ki Rangga, hari masih terlalu siang untuk bermimpi. Hadapi sajalah kenyataan ini. Engkau telah dengan deksura berani menjadi talang patinya Juru Mertani yang licik itu. Engkau tidak usah menyesali diri lagi.”

Selesai berkata demikian dengan disertai suara bentakan yang mengguntur kaki Panembahan Cahya Warastra itu menginjak ujud Ki Ragga Agung Sedayu yang berdiri paling dekat.

Ujud Ki Rangga yang terdekat itu memang ujud yang asli. Panembahan Cahya Warastra memang dengan mudah dapat menemukan ujud asli Ki Rangga, namun betapapun mudahnya, tetap saja Panembahan Cahya Warastra memerlukan waktu sekejap untuk menilai ujud ketiga lawannya, dan itu sangat berarti sekali bagi Ki Rangga Agung Sedayu.

Dengan cepat Ki Rangga melenting menghindari serangan lawannya justru mendekati ke arah kedua ujudnya yang lain. Dengan bergerak saling menyilang, ketiga ujud itu saling merapat untuk kemudian berpencar lagi.

Sejenak kemudian perang tanding itu pun berkobar kembali dengan sengitnya. Ki Rangga yang telah mengetrapkan aji kakang pembarep adi wuragil benar-benar memanfaatkan keberadaan ketiga ujudnya untuk mempengaruhi penalaran lawannya. Ketiga ujud Ki Rangga itu berloncatan saling menyilang untuk bersatu kemudian berpecah lagi menjadi tiga. Ketika Panembahan Chaya Warastra sedang menilai ketiga ujud Ki Rangga untuk mencari ujud yang asli, sebuah ledakan yang tidak terdengar tapi dari ketiga ujung cambuk itu telah meluncur tiga larik cahaya kebiru-biruan dan menghantam bagian tubuh raksasa itu. Satu di bagian dada, satu di bagian punggung dan yang terakhir di bagian perut.

Raksasa itu terlihat tidak gentar dengan serangan beruntun dari ketiga ujud lawannya. Dengan tanpa menghiraukan serangan lawannya, raksasa itu mengejar kemanapun ujud Ki Rangga yang asli berada. Walaupun Panembahan Cahya Warastra mampu mengenal ujud Ki Rangga yang asli, namun waktu yang sekejap itu telah digunakan sebaik-baiknya oleh Ki Rangga untuk mencoba membalas serangan lawannya.

Dalam pada itu pertempuran antara kedua pasukan yang sempat terhenti sebentar, perlahan telah berkobar kembali. Pasukan Panembahan Cahya Warastra bagaikan mendapat tambahan tenaga baru. Mereka bertempur sambil bersorak-sorai seakan-akan kemenangan telah berada di tangan mereka. Sementara para perwira prajurit Mataram dengan susah-payah harus mengembalikan semangat pasukannya untuk bertempur kembali dengan tidak terpengaruh oleh perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra.

“Jangan terpengaruh!” teriak Ki Tumenggung Surayudha, “Perang tanding itu tidak menentukan akhir dari perang ini. Kita masih punya kekuatan berlebih untuk menghancurkan Panembahan Cahya Warastra.”

“Jangan takut!” Ki Tumenggung Singayudha ikut memberi semangat para prajuritnya, “Masih ada Ki Patih Mandaraka yang belum turun ke medan. Selebihnya, junjungan kita Panembahan Hanyakrawati tentu tidak akan membiarkan Mataram hancur karena pokal orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra.”

“Apakah kalian yakin?” tiba-tiba terdengar suara tertawa di antara riuhnya pertempuran.

Ki Tumenggung Singayudha berpaling. Tampak seorang yang berperawakan tinggi dengan kumis melintang berdiri dengan kaki renggang beberapa langkah di samping kanannya.

Ki Tumenggung Singayudha tersenyum sambil menghadap penuh ke arah orang itu. Sedari tadi dia sudah melihat orang itu berada di seputar tempat itu. Namun agaknya orang itu salah satu dari pemimpin pasukan Panembahan Cahya Warastra menilik sikapnya yang begitu yakin akan kemampuannya serta ketenangannya dalam menghadapi pertempuran di sekelilingnya. Dia terlihat memberi aba-aba dan perintah terlebih dahulu tanpa tergesa-gesa menerjunkan dirinya dalam kancah pertempuran.

“Selamat sore Ki Sanak,” sapa Ki Tumenggung Singayudha, “Sedari tadi aku sudah melihat Ki Sanak di seputar arena pertempuran ini. Suatu kehormatan bagiku untuk menghadapi Ki Sanak dalam sebuah pertempuran besar seperti ini.”

Orang itu sejenak mengerutkan keningnya, namun dengan sebuah senyuman dia kemudian menjawab, “Menilik pakaian yang Ki Sanak kenakan, Ki Sanak pasti seorang prajurit yang berpangkat Tumenggung. Namun masih harus dibuktikan apakah kemampuan Ki Sanak sesuai dengan pakaian yang Ki Sanak kenakan?”

Ki Tumenggung Singayudha menarik nafas dalam-dalam. Dadanya sedikit berdesir mendengar ucapan orang itu. Namun Ki Tumenggung berusaha untuk mengendapkan perasaannya agar tidak mudah terpancing. Jawabnya kemudian, “Engkau benar Ki Sanak. Aku Tumenggung Singayudha yang membantu Ki Tumenggung Surayudha untuk memimpin pasukan Mataram menghadapi segerombolan orang-orang yang tidak jelas tujuannya dan juga tidak jelas perjuangannya dengan mengabaikan sendi-sendi kehidupan kawula Mataram yang telah tertata dan terbina dengan baik selama ini.”

“Omong kosong!” bentak orang itu dengan wajah memerah, “Apa yang Ki Tumenggung ketahui tentang arti sebuah perjuangan? Apakah Ki Tumenggung bisa merasakan penderitaan kawula alit di seluruh pelosok negri ini? Mengapa banyak Adipati-Adipati yang memberontak? Semenjak pemerintahan Panembahan Senapati berdiri, sudah berapa banyak nyawa yang melayang dengan sia-sia akibat keserakahan dan ketamakan para pemimpin Mataram? Bagaimana mungkin Kadipaten-Kadipaten bawahan Mataram mengangkat senjata padahal para pejabat yang diangkat untuk menduduki jabatan itu masih terbilang kerabat istana? Bahkan adik Panembahan Hanyakrawati sendiri yang berkedudukan di Panaraga juga memberontak melawan kakandanya sendiri? Berpikirlah Ki Tumenggung, agar kehidupan di sekitarmu tidak meracunimu sehingga engkau terlena dan tidak peka lagi dengan penderitaan para kawula alit.”

Untuk beberapa saat Ki Tumenggung Singayudha tercenung. Apa yang dikatakan orang yang berdiri di hadapannya itu memang benar dan sesuai dengan kenyataan. Semenjak pemerintahan Mataram berdiri, silih berganti perang demi perang terjadi yang berawal pada perebutan kekuasaan sehingga waktu telah bergulir dengan sia-sia, hampir tidak ada kesempatan untuk memikirkan apalagi meningkatkan kesejahteraan para kawula. Yang terjadi adalah ketamakan, keserakahan, ketidak-puasan dan nafsu untuk meraih kekuasan tertinggi di Mataram walaupun untuk itu harus ditebus dengan darah dan nyawa.

“Bagaimana Ki Tumenggung?” pertanyaan lawannya telah membuyarkan lamunan Ki Tumenggung Singayudha.

“Perubahan pemerintahan menuju yang lebih baik pada dasarnya aku setuju,” jawab Ki Tumenggung, “Namun cara Panembahan Cahya Warastra ini yang aku tidak setuju. Mengapa harus melalui pertumpahan darah? Bukankah perubahan pemerintahan menuju ke arah yang lebih baik dapat dilakukan dengan cara lain?”

Lawannya tertawa pendek. Katanya kemudian, “Tidak ada cara yang lebih baik dan lebih cepat untuk mengganti pemerintahan Mataram yang sudah tidak berlandaskan pada keinginan para kawula alit. Panembahan punya kekuatan, apa salahnya jika mengambil jalan pintas ini agar perubahan segera terwujud.”

Ki Tumenggung menggeleng, “Itu terserah pendapat Ki Sanak. Sekarang sebut nama dan gelar Ki Sanak sebelum menjadi bebanten dalam perang brubuh ini.”

Lawannya mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Alangkah sombongnya Ki Tumenggung. Ketahuilah, aku Wasi jaladara dari perguruan Liman Benawi di Madiun siap mengantarmu ke liang lahat untuk menjadi contoh bagi orang yang berani berdiri berseberangan dengan Panembahan Cahya Warastra.”

Dada Ki Tumenggung berdesir tajam. Dia sudah mendengar nama itu, nama yang cukup menggetarkan di daerah sekitar Madiun selain nama Panembahan Cahya Warastra itu sendiri.

Sejenak kemudian keduanya segera terlibat dalam sebuah pertarungan sengit untuk mengadu liatnya kulit dan kerasnya tulang.

Dalam pada itu Ki Jayaraga yang telah melintasi regol padukuhan induk yang sudah hangus terbakar segera mendekati lingkaran perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan saudara kembar Kecruk Putih.

Sebenarnyalah ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra telah mendekati sempurna. Sebagaimana ilmu kebal Panembahan Alit ketika melawan Kiai Gringsing. Ilmu kebal itu telah tersalur sampai kepada pakaian yang dikenakan sehingga sehebat apapun benturan ilmu lawannya tidak akan mampu menyobek pakaian lawannya apalagi sampai melukai kulitnya.

Ki Rangga Agung Sedayu yang menyadari kelebihan ilmu kebal lawannya tak henti-hentinya berpikir untuk mencari kelemahannya. Gurunya, Kiai Gringsing pernah memberinya pesan bahwa setinggi-tingginya ilmu seseorang, pasti ada kelemahannya, dan ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra ini pasti ada titik lemahnya.

“Panembahan Alit pada waktu itu telah tewas dalam keadaan yang utuh, tidak ada luka segorespun pada kulit Panembahan yang ternyata lebih sakti dari Panembahan Agung, itu menurut pengamatan Ki Waskita,” bertaka Ki Rangga dalam hati sambil berloncatan menghindari serangan lawannya, “Memang tubuhnya utuh, namun menurut keterangan guru pada waktu itu, tubuh bagian dalam Panembahan Alit telah hancur terkena serangan ilmu cambuk guru.”

“Aku akan mencoba kekuatan sorot mataku untuk menembus ilmu kebalnya yang nyaris sempurna,” tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran dalam benak Ki Rangga.

Berpikir sampai disitu, Ki Rangga segera melaksanakan rencananya untuk menguji sampai dimana kekuatan ilmu kebal lawannya. Ki Rangga akan menyerang dengan berbagai ilmu yang dikuasainya, baik melalui ujung cambuknya maupun lewat sorot matanya.

Sekali waktu ujud Ki Rangga yang satu menyerang kepala lawannya dengan lontaran puncak ilmu cambuknya, sedang ujud yang satunya menyerang dengan sorot matanya mengarah ke dada, sedangkan ujud yang terakhir telah menghentakkan ujung cambuknya langsung ke arah lutut dengan kekuatan penuh untuk mengganggu gerak langkah lawannya.

Ternyata serangan Ki Rangga kali ini ada pengaruhnya. Tampak raksasa itu menggeram sambil berusaha memburu ujud Ki Rangga yang asli.

Kejadian itu terus berulang. Setiap selesai menyerang, ketiga ujud Ki Rangga segera bersatu untuk kemudian berpencar menyerang lawannya lagi. Ki Rangga benar- benar menjaga jarak yang sangat dekat dengan lawannya agar memudahkan ketiga ujud itu bergerak mengaburkan pengamatan Panembahan Cahya Warastra.

Lawannya benar-benar kewalahan menghadapi ketiga ujud Ki Rangga yang bergerak sangat lincah menyusup di sela-sela kaki raksasa itu. Setiap kali ketiga ujud Ki Rangga itu bersatu, Panembahan Cahya Warastra berusaha menyerangnya. Namun dengan cerdik Ki Rangga yang asli bersama ujud yang satunya telah meloncat ke arah yang berbeda dan membiarkan saja salah satu ujudnya yang lain terkena serangan lawan karena itu hanya ujud semu yang tidak terpengaruh oleh rasa sakit. Justru ujud Ki Rangga yang sedang diserang itu telah membalas serangan lewat sorot matanya langsung ke mata Panembahan Cahya Warstra, sedangkan kedua ujud Ki Rangga yang asli dan yang lainnya telah menyerang punggung dan kakinya.

Raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra memang nyaris sempurna, namun menghadapi gempuran puncak ilmu cambuk perguruan Windujati serta ilmu yang terpancar dari sorot mata ketiga ujud Ki Rangga itu, ternyata kekuatan ilmu kebal saudara Kecruk Putih itu mulai goyah. Memang pada ujud wadag Panembahan itu tidak terlihat luka segorespun, namun di balik kulitnya yang tidak mempan segala jenis senjata dan sentuhan ilmu itu, daging dan tulangnya terasa remuk dan berpatahan. Walaupun demikian Panembahan Cahya Warastra masih berbuat seolah-olah tidak terpengaruh oleh serangan lawannya.

Ketika sekali lagi ujud-ujud Ki Rangga itu berloncatan saling menyatu untuk kemudian berloncatan ketiga arah yang berbeda, Panembahan Cahya Warastra kembali menerima serangan dari tiga arah yang berbeda.

Kali ini ketiga ujud Ki Rangga ternyata telah melontarkan sorot matanya bersama-sama mengarah ke satu titik, ke arah dada lawannya sehingga kali ini Raksasa itu tidak kuat lagi untuk menahan gempuran lawannya hanya dengan mengandalkan ilmu kebalnya. Sejenak kemudian untuk pertama kalinya raksasa itu telah melangkah mundur untuk menghindari serangan lawannya.

“Demit, iblis, gendruwo, tetekan..!” geram Panembahan Cahya Warastra. Dia benar-benar merasa dipermainkan oleh ketiga ujud Ki Rangga yang dapat bergerak dengan sangat lincah itu.

Sejenak raksasa itu terdiam. Namun belum sempat Ki Rangga bernafas lega karena raksasa itu telah melangkah surut, tiba-tiba saja dengan sekali renggut, di tangan kanan Panembahan Cahya Warastra telah tergenggam sebatang pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa.

Ki Rangga tertegun beberapa saat begitu mengetahui di tangan kanan lawannya telah tergenggam sebatang pohon yang besar. Panembahan Cahya Warastra dalam ujudnya yang meraksasa itu mencabut pohon sebesar dua pelukan orang dewasa bagaikan mencabut sebatang rumput saja.

Agaknya Panembahan itu telah memutuskan untuk menghalau ketiga ujud lawannya menjauhi dirinya dengan menggunakan sebatang pohon sebagai senjatanya. Dengan bertempur dari jarak jauh, dengan mudah Panembahan dapat mengenali ujud Ki Rangga yang asli serta akan mengurangi pengaruh tekanan dari sentuhan ilmu Ki Rangga.

“Ternyata aku harus menyerang bersama-sama pada titik yang sama sehingga pengaruhnya akan berlipat tiga kali dari pada aku menyerang pada tiga tempat yang berbeda, karena ilmu kebal panembahan ini nyaris sempurna,” berkata Ki Rangga dalam hati sambil mengawasi lawannya yang mulai memutar batang pohon yang ada di tangan kanannya. Suara deru angin yang tercipta dari putaran itu bagaikan angin puting beliung.

“Gila!” desis Ki Rangga dalam hati, “Alangkah dahsyatnya. Apakah aku mampu menembus pusaran angin itu dengan lontaran ilmu cambuk perguruan Windujati?”

Belum sempat Ki Rangga mendapat jawaban dari pertanyaan dalam hatinya, tiba-tiba dengan teriakan mengguntur raksasa itu mengayunkan senjatanya menerjang ujud Ki Rangga yang asli.

Dengan cepat Ki Rangga melenting kesamping. Ketika raksasa itu mengejarnya dengan tendangan kakinya yang sebesar pohon kelapa itu, Ki Rangga segera meluncur turun. Sementara kedua ujud Ki Rangga yang lain telah memutar cambuknya untuk mengambil ancang-ancang melepaskan ilmu puncak perguruan Windujati.

Ki Rangga dalam ujudnya yang asli begitu menjejakkan kedua kakinya di atas tanah segera mengikuti gerakan kedua ujud semunya, memutar cambuk untuk bersama-sama melontarkan puncak ilmu perguruan Windujati pada satu titik sasaran yang sama, kali ini lutut kiri raksasa itu yang menjadi sasaran.

Ketika tiga larik sinar meloncat bagaikan tatit di udara menerjang lutut kiri Panembahan Cahaya Warastra, raksasa itu menggeram dengan dahsyatnya. Geramannya bagaikan auman puluhan singa gurun yang sedang menerkan mangsanya. Ternyata sekali lagi ilmu kebal Panembahan Cahya Warastra yang hampir sempurna itu telah tertembus oleh hantaman ilmu tertinggi perguruan Windujati, gabungan dari ketiga ujud Ki Rangga Agung Sedayu.

Demikian raksasa itu tertatih-tatih karena tempurung lutut kaki kirinya bagaikan remuk, Ki Rangga Agung Sedayu dengan kedua ujud semunya telah meloncat mendekat untuk mengulangi serangannya kembali. Namun agaknya kali ini perhitungan Ki Rangga agak tergesa-gesa. Dia menyangka raksasa itu sudah tidak berdaya, sehingga ketika tiga larik sinar kembali meloncat dari ujung cambuk ketiga ujud Ki Rangga, Panembahan Cahya Warastra telah mengayunkan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu membabat ujud Ki Rangga Agung Sedayu yang asli.

Ki Rangga Agung Sedayu terkejut bukan buatan begitu batang pohon mahoni itu menyambar tubuhnya. Tidak ada kesempatan sama sekali bagi dirinya untuk menghindar. Yang dapat dilakukan Ki Rangga hanyalah mengetrapkan ilmu kebalnya setinggi-tingginya serta menghilangkan bobot tubuhnya sehingga sedikit banyak akan dapat mengurangi akibat dari benturan itu.

Benturan itu telah melemparkan Ki Rangga jauh melayang keluar arena perang tanding. Tubuh Ki Rangga yang seolah olah tanpa bobot itu meluncur menghantam dinding padukuhan induk. Dinding itu pun hancur berantakan bersamaan dengan terbantingnya tubuh Ki Rangga ke atas tanah yang berdebu. Untuk sesaat, Ki Rangga merasakan tubuhnya bagaikan remuk dan tulangnya berpatahan serta pandangan matanya gelap berkunang-kunang.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang sedang mengawasi jalannya perang tanding terkejut begitu mengetahui Ki Rangga telah terlempar dan menabrak dinding padukuhan induk. Namun baru saja Ki Jayaraga akan berlari mendapatkan Ki Rangga yang tergolek tak berdaya di dekat dinding padukuhan yang runtuh, dengan teriakan bagaikan guntur yang membelah langit, Panembahan Cahya Warastra dengan terpincang-pincang telah meloncat mengejar lawannya sambil mengayunkan pohon di tangan kanannya menghantam ke tempat Ki Rangga tergeletak.

Ki Rangga yang belum menyadari dirinya sepenuhnya masih sempat mendengar teriakan lawannya. Namun pandangan mata Ki Rangga masih gelap dan belum dapat melihat arah serangan lawannya sehingga Ki Rangga hanya dapat menunggu apa pun yang akan terjadi. Sementara ujud kakang pembarep dan adi wuragil dari Ki Rangga sendiri telah lenyap tak berbekas bagaikan asap tertiup angin sejalan dengan terganggunya pemusatan penalaran Ki Rangga ketika terlempar dan jatuh membentur dinding padukuhan.

Dalam keadaan yang sedemikian gawatnya, Ki Jayaraga yang berdiri di luar arena perang tanding itu memutuskan untuk menolong Ki Rangga, apapun nanti yang akan dikatakan orang tentang dirinya, dia tidak peduli. Nyawa Ki Rangga Agung Sedayu harus diselamatkan.

Namun sebelum Ki Jayaraga sempat melontarkan ilmu puncaknya untuk mengganggu langkah Panembahan Cahya Warastra yang memburu ke tempat Ki Rangga tergeletak, pandangan mata Ki Jayaraga sempat melihat tubuh Ki Rangga menggeliat dan melenting ke arah kiri sejauh tiga tombak.

Hanya berjarak sekejap mata begitu Ki Rangga melenting ke arah kiri, pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa di tangan Panembahan Cahya Warastra itu menghantam tanah tempat Ki Rangga tergeletak sebelumnya.

Akibatnya sangat dahsyat. Tanah tempat Ki Rangga tergeletak itu bagaikan terbongkar dan membentuk sebuah parit sedalam “dedek pengawe”. Batu-batu kerikil bercampur debu dan daun-daun kering berhamburan sehingga sejenak pandangan menjadi gelap tertutup debu.

Ki Rangga Agung Sedayu yang telah terhindar dari serangan dahsyat lawannya itu menjadi heran dengan keberadaan dirinya sendiri. Ketika serangan lawannya itu meluncur ke arahnya, seolah-olah dia dapat merasakan ke arah mana serangan lawannya itu walaupun pandangan matanya masih gelap. Dengan mengikuti isyarat yang diterimanya, Ki Rangga telah mampu bergerak menghindar ke arah yang tepat.

“Agaknya aji sapta panggraitaku telah bekerja dengan sendirinya pada saat yang gawat. Aji sapta panggraita ini telah terlebih dahulu mengetahui arah gerak lawan sehingga aku mampu membaca arah serangan Panembahan tanpa melihatnya,” berkata Ki Rangga dalam hati dengan penuh rasa syukur kepada Yang Maha Agung yang telah berkenan menolongnya dari maut.

Ketika sekali lagi Panembahan Cahya Warastra dengan menyeret kaki kirinya memutar senjatanya menebas Ki Rangga yang sedang mencoba berdiri di atas kedua kakinya, Ki Rangga pun tanpa melihat arah serangan lawannya telah meloncat ke tiga arah yang berbeda. Ternyata Ki Rangga telah mengetrapkan aji kakang pembarep dan dan adi wuragil kembali.

Raksasa itu menggeram marah begitu serangannya mengenai tempat kosong. Dengan cepat diputarnya batang pohon mahoni itu untuk melibat lawannya yang telah meloncat menghindar pada tiga arah yang berbeda.

Ki Rangga menyadari sepenuhnya bahwa dengan senjatanya itu, Panembahan Cahya Warastra akan sulit untuk didekati. Putaran batang pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu sulit ditembus. Ki Rangga tidak mau mengulangi kesalahannya lagi terkena sambaran senjata lawannya itu.

Atas dasar perhitungan itulah Ki Rangga telah mulai memikirkan untuk mengetrapkan ilmunya yang lain, ilmu yang diwarisi dari kitab gurunya, kitab perguruan Windujati.

“Aku harus bersembunyi lebih rapat lagi dari kejaran raksasa ini, sehingga aku akan mendapat kesempatan untuk mendekatinya dan melontarkan serangan,” berkata Ki Rangga dalam hati. Pandangan matanya secara perlahan telah mulai pulih, sementara rasa sakit yang mendera di sekujur tubuhnya akibat sabetan lawannya mulai berkurang, walaupun punggungnya rasa-rasanya masih terasa bagaikan patah.

Demikianlah akhirnya, di saat Matahari mulai condong dan sinarnya yang kemerah-merahan mulai menyentuh pucuk-pucuk pepohonan, selembar demi selembar telah turun kabut di sekitar arena perang tanding Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra.

Pada awalnya Panembahan Cahya Warastra tidak memperdulikannya. Namun ketika kabut itu semakin lama menjadi semakin tebal dan mulai menghalangi pandangan matanya untuk menemukan tempat di mana lawannya berada, saudara kembar Kecruk Putih itu mulai menyadari bahwa lawannya telah mengetrapkan sejenis ilmu yang dapat mengaburkan penglihatan lawan.

“Anak iblis!” geram Panembahan itu, “Dari mana engkau dapatkan ilmu pengecut ini, he..! Dalam sebuah perang tanding, seorang yang jantan tidak akan bertempur sambil bersembunyi.”

“Ma’afkan aku Panembahan, aku tidak mempunyai kemampuan untuk membengkakkan diriku seperti Panembahan, maka tidak ada salahnya jika aku menggunakan ilmuku ini untuk bersembunyi dari ilmu Panembahan yang tiada taranya.” Jawab Ki Rangga sambil melangkah mendekat. Ki Rangga harus mengetrapkan kemampuannya untuk menyerap segala bunyi sehingga lawannya tidak akan menyadari kalau dia telah melangkah semakin dekat.

Panembahan Cahya Warastra menggeram marah. Kabut itu begitu tebalnya dan Panembahan Cahaya Warastra belum menemukan rahasia untuk menembusnya.

Dalam pada itu Ki Rangga Agung Sedayu harus berkejaran dengan waktu. Sebelum Panembahan mampu mengetahui rahasia ilmu kabutnya, Ki Rangga sudah harus bisa melumpuhkannya.

Demikianlah, ketiga ujud Ki Rangga segera melangkah semakin dekat. Kabut yang sangat tebal di seputar arena perang tanding itu telah menghalangi pandangan Panembahan Cahya Warastra. Sambil memutar cambuknya, ketiga ujud Ki Rangga itu siap melontarkan kembali puncak ilmu perguruan Windujati. Setelah lutut kiri, lutut kanan Panembahan Cahya Warastra kini yang menjadi sasaran. Ki Rangga benar-benar ingin membuat Panembahan itu tidak mampu lagi untuk mengejarnya, sebelum melumpuhkannya.

Panembahan Cahya Warstra yang masih belum mampu menembus ilmu kabut dari perguruan Windujati menjadi semakin wuru. Diputarnya pohon mahoni sebesar pelukan orang dewasa yang tergenggam di tangan kanannya. Pusaran angin yang ditimbulkannya memang telah memutar kabut itu dengan dahsyat namun tidak mampu melemparkan atau pun menyibak kabul tebal yang bergulung-gulung di seputarnya.

“Iblis, demit, gendruwo, tetekan..!” umpat Panembahan Cahya Warastra. Gema suaranya menggelegar memenuhi udara medan pertempuran.

Dalam pada itu, Ki Jayaraga yang mengawasi jalannya perang tanding menjadi semakin berdebar-debar. Ki Jayaraga tidak mempunyai kemampuan untuk menembus kabut itu. Dia sadar bahwa ilmu perguruan Windujati memang tiada taranya dan dia yakin Ki Rangga Agung Sedayu akan mampu mengatasi raksasa yang mengerikan itu.

Ketika sudut pandang mata Ki Jayaraga kemudian menangkap dua sosok bayangan orang yang sedang berlari-lari ke arahnya dari arah regol padukuhan induk, Ki Jayaraga pun segera berpaling. Ternyata Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi sedang berlari-larian menuju ke tempatnya berdiri.

“Bagaimana, Ki?” bertanya Ki Gede setibanya di tempat Ki Jayaraga mengawasi perang tanding itu.

“Ki Rangga Agung Sedayu tadi sempat terjatuh terkena sambaran pohon mahoni di tangan Panembahan Cahya Warastra,” jawab Ki Jayaraga sambil menunjuk dinding padukuhan induk yang hancur tertimpa tubuh Ki Rangga, “Namun agaknya Ki Rangga telah berhasil menguasai dirinya sehingga pertempuran telah berlangsung kembali.”

Selesai berkata demikian, Ki Jayaraga kemudian menunjuk ke arah arena perang tanding yang diselimuti oleh kabut yang sangat tebal.

Ki Gede dan Kiai Sabda Dadi sejenak mengerutkan kening sambil memandang kabut tebal yang melingkupi arena perang tanding. Ternyata kedua orang tua itu tidak mampu untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam kabut yang tebal itu.

“Bagaimanakah keadaan Ki Rangga sekarang?” kini Kiai Sabda Dadi yang bertanya.

Ki Jayaraga menggeleng lemah, “Aku tidak tahu. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk menembus kabut itu. Namun menilik dari suara Panembahan yang terus mengumpat-umpat, agaknya Ki Rangga telah membuat lawannya kebingungan.”

Kedua orang tua itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Memang mereka berdua sebelum tiba di tempat itu juga telah mendengar suara Panembahan Cahya Warastra yang berteriak dan mengumpat-umpat.

Dalam pada itu, Ki Patih Mandaraka yang berdiri di atas tanggul mengamati jalannya perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra dari kejauhan telah mengajak para prajurit pengawal kepatihan untuk turun dari atas tanggul mendekati arena perang tanding.

“Marilah,” berkata Ki Patih kepada para prajurit pengawal kepatihan, “Sudah waktunya kita untuk mendekat. Agaknya perang tanding itu sudah mendekati puncaknya.”

Beberapa prajurit pengawal kepatihan itu masih berdiri termangu-mangu ketika Ki Patih telah meloncat turun dari atas tanggul. Dengan tergesa-gesa, orang yang di masa mudanya lebih dikenal dengan nama Ki Juru Martani itu berjalan melintasi tanah-tanah pesawahan yang kering mendekati arena perang tanding.

Dengan berloncatan para prajurit pengawal kepatihan segera menyusul langkah Ki Patih. Bagaimanapun juga dada para prajurit pengawal itu menjadi berdebar-debar ketika mereka semakin dekat dengan arena perang tanding. Namun mereka percaya sepenuhnya bahwa Ki Patih akan dapat mengatasi setiap permasalahan yang mungkin timbul sebagai akibat dari perang tanding itu.

“Aku yakin Ki Patih pasti memiliki ilmu simpanan yang dapat meredam aji brahala wuru,” berkata salah seorang prajurit pengawal kepatihan dalam hati, “Bahkan tidak menutup kemungkinan justru Ki Rangga Agung Sedayu yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang tanding ini.”

Namun sesungguhnya para prajurit pengawal kepatihan itu hanya dapat berangan-angan. Mereka tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam gumpalan kabut yang bergulung-gulung itu.

Beberapa saat kemudian Ki Patih Mandaraka beserta para prajurit pengawal kepatihan telah mendekati arena perang tanding. Dengan tergopoh-gopoh ketiga orang-orang tua itu pun segera menyambut mereka.

“Terima kasih,” berkata Ki Patih kemudian sambil menerima salam dari ketiga orang-orang tua itu, “Marilah kita agak mendekat. Kelihatannya Ki Rangga sudah mendapat titik terang untuk melumpuhkan Aji Brahala Wuru.”

Ketiga orang itu hanya saling pandang. Mereka tidak dapat mengatakan apapun tentang perang tanding yang sedang berlangsung, karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menembus ilmu kabut Ki Rangga Agung Sedayu.

Ki Patih agaknya menyadari. Maka katanya kemudian, “Bersiaplah, Tampaknya sebentar lagi Ki Rangga akan menyelesaikan perang tanding ini.”

Dada ketiga orang-orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka yakin bahwa Ki Patih Mandaraka mempunyai kemampuan untuk menembus kabut tebal yang menyelimuti arena perang tanding itu.

Sebenarnyalah pandangan tajam Ki Patih Mandaraka telah melihat ketiga ujud Ki Rangga mengambil sikap yang sama, memutar cambuk mereka di atas kepala sebelum akhirnya dengan sebuah lecutan sendal pancing, tiga larik sinar meloncat dari masing-masing ujung cambuk itu dan menyambar lutut kanan Panembahan Cahya Warastra.

Panembahan Cahya Warastra yang sedang mencoba mengurai ilmu kabut Ki Rangga itu terkejut ketika sudut matanya tiba-tiba menangkap tiga berkas cahaya menyilaukan dari arah samping kanannya. Sebelum Panembahan Cahya Warastra sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba saja dari balik kabut yang bergulung-gulung tiga larik sinar meluncur bagaikan tatit yang meloncat di udara menyambar lutut kanannya.

“Anak iblis.!” Teriak Panembahan Cahya Warastra menggelegar. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, raksasa itu mengayunkan pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa yang berada di genggaman tangan kanannya, mendatar ke arah tiga larik sinar itu berasal.

Namun ternyata Ki Rangga Agung Sedayu sudah memperhitungkan akan serangan balasan dari Panembahan Cahya Warastra. Sambil membungkukkan badannya dalam-dalam menghindari sambaran pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu, Ki Rangga pun kemudian bersiap kembali mengulangi serangannya.

Panembahan Cahya Warastra yang kesakitan karena lutut kanannya terkena lontaran ilmu puncak pergururan Windujati itu kembali mengumpat ketika sambaran senjatanya tidak mengenai sasaran. Sementara tempurung lutut kanannya terasa pecah dan kini kedua kakinya rasa-rasanya sudah hampir tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Ketika sekali lagi cambuk di tangan ketiga ujud Ki Rangga itu meledak tanpa memperdengarkan suaranya, kembali tiga larik sinar menyambar lutut kanannya.

“Gila, pengecut..!” teriak Panembahan Cahya Warastra sambil terhuyung-huyung ke belakang. Sejenak raksasa itu mencoba bertahan berdiri di atas kedua kakinya yang goyah. Namun akhirnya raksasa itu pun kemudian terjatuh pada kedua lututnya.

Untuk beberapa saat kedua orang tua itu masih ragu-ragu untuk mendekat. Namun akhirnya Ki Patih Mandaraka berdesis perlahan, “Marilah, kita harus meyakinkan bahwa Panembahan ini sudah tidak berbahaya lagi.”

Ki Jayaraga tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk. Kemudian kedua orang tua itu pun berjongkok di sebelah menyebelah tubuh saudara kembar Kecruk Putih yang telah membeku itu.

Ketika tanpa disadarinya Ki Jayaraga menjulurkan tangan kanannya menyentuh dada kiri Panembahan Cahya Warastra, alangkah terkejutnya guru Glagah Putih itu. Dengan tergesa-gesa ditariknya tangan yang sudah terjulur itu.

“Ada apakah Ki Jayaraga?” bertanya Ki Patih dengan terheran-heran melihat Ki Jayaraga terkejut ketika menyentuh dada kiri Panembahan Cahya Warastra.

KI Jayaraga memandang Ki Patih sekilas. Sambil menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dia menjawab, “Ampun Ki Patih, aku menjadi sangat terkejut ketika menyentuh dada kiri Panembahan ini. Dada itu seakan akan tidak bertulang. Seolah olah hanya seonggok daging yang terbungkus kulit.”

Ki Patih tersenyum. Sambil mengamat-amati tubuh Panembahan yang terbujur diam, Ki Patih berkata, “Itulah kelemahan ilmu kebal yang dimiliki oleh Panembahan ini. Baju dan kulitnya memang tidak mempan segala macam senjata dan juga benturan ilmu sekuat apapun, namun tidak demikian dengan tubuh bagian dalamnya. Kekuatan ilmu Ki Rangga mampu menembus kekebalan kulitnya dan menghancurkan bagian dalam tubuh Panembahan, sehingga kulit luarnya saja yang tampak utuh, bahkan pakaiannya pun masih dalam keadaan utuh. Namun daging dan tulangnya hancur terkena kekuatan ilmu Ki Rangga Agung Sedayu.”

Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Jayaraga memang tidak mendalami ilmu kebal karena menurut pendapatnya seseorang yang mempunyai ilmu kebal itu cenderung untuk mengandalkan ilmu kebalnya dan kurang memperhatikan peningkatan pada ilmu yang lain. Namun semuanya itu tidak mutlak. Ada beberapa orang yang tetap memperhatikan peningktan ilmunya yang lain sejalan dengan peningkatan ilmu kebalnya, Ki Rangga Agung Sedayu salah satu contohnya.

“Bagiku mempelajari ilmu kebal hanya membuang-buang waktu saja,” berkata Ki Jayaraga dalam hati, “Lebih baik waktu yang ada digunakan untuk meningkatkan ilmu pamungkas yang dimiliki sehingga benar-benar matang dan dapat menembus ilmu kebal setinggi apapun.”

Namun Ki Jayaraga agaknya menyadari bahwa ada beberapa orang yang lebih senang membetengi dirinya dengan ilmu kebal atau pun sejenisnya.

“Namun itu semua kembali kepada diri masing-masing,” berkata Ki Jayaraga kembali dalam hati, “Bagiku lebih baik menekuni ilmu pamungksa dari pada ilmu kebal.”

Demikianlah, setelah merasa cukup meyakinkan keadaan Panembahan Cahya Warastra, kedua orang tua itu pun kemudian berdiri dan berjalan beriringan menuju ke padukuhan induk untuk melihat keadaan Ki Rangga Agung Sedayu.

Dalam pada itu, para prajurit Mataram dibantu oleh para pengawal Menoreh yang berada di sayap kanan dan lebih dekat dengan arena perang tanding Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra telah bersorak dengan riuhnya. Mereka melihat dari kejauhan Ki Patih Mandaraka dan Ki Jayaraga telah meninggalkan arena perang tanding, sedangkan Panembahan yang sudah kembali kepada ujud aslinya itu tampak terbujur diam di atas tanah yang berdebu.

“Panembahan Cahya Warastra telah mati..!” teriak para pengawal Tanah Perdikan Menoreh ditingkah oleh sorak sorai prajurit Mataram.

“Panembahan Cahaya Warastra telah mati..!” suara itu terdengar bersahut-sahutan di seluruh penjuru medan.

Segera saja seluruh medan pertempuran menjadi gempar. Para pengikut panembahan Cahya Warastra terutama para cantrik padepokan Cahya Warastra benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Bagaimana mungkin Panembahan yang sakti dan mempunyai ilmu bertiwikrama sebagaimana Sri Kresna dari cerita babat Mahabarata dapat dikalahkan oleh Ki Rangga Agung Sedayu, seorang prajurit Mataram yang hanya perpangkat Rangga, di bawah pangkat Tumenggung?

“Pasti ada kecurangan,” geram seorang cantrik padepokan Cahya Warastra dalam hati, “Selain ilmu Brahala Wuru, Panembahan juga kebal atas segala jenis pusaka dan senjata tajam. Panembahan sudah kalis dari segala rasa sakit bahkan kematian sekalipun.”

Sekali lagi cantrik itu menggeram. Namun dia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa memang Panembahan yang sakti itu kini telah terbujur diam tak bergerak.

Namun ternyata para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang lain tidak tinggal diam. Ki Ageng Blarak Sineret yang berada di pusat gelar dengan jelas melihat bagaimana Ki Rangga terlontar dari arena perang tanding sampai jauh ke dalam padukuhan induk. Walaupun Ki Ageng Blarak Sineret tidak mampu menembus ilmu kabut Ki Rangga, namun dari kejauhan pandangan mata Ki Ageng yang tajam dengan dilandasi oleh aji sapta pandulu telah melihat Ki Rangga telempar jauh melewati dinding padukuhan induk.

Atas dasar pengamatannya itulah, Ki Ageng pun segera berteriak keras di lambari dengan aji sengguruh macan, “Ki Rangga Agung Sedayu juga tewas! Keduanya sampyuh..!”

“Sampyuuh..!” teriakan Ki Ageng telah diikuti oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra yang berada di pusat gelar.

“Sampyuh..!”

“Sampyuuh..!”

Suara teriakan itu pun kemudian membahana ke seluruh medan pertempuran.

Dalam pada itu Glagah Putih dan Rara Wulan yang di tempatkan di sayap kiri gelar menjadi sangat terkejut mendengar teriakan para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Benarkah Kakang Agung Sedayu telah gugur?” pertanyaan itu telah melingkar-lingkar di dalam dada Glagah Putih dan telah mempercepat detak jantungnya.

Lawannya, Kiai Sadaksada justru telah memberinya kesempatan untuk merenung. Dengan cepat Kiai Sadaksada meloncat ke belakang sambil berkata, “Silahkan ngger, untuk mengamati keadaan. Berita tentang sampyuhnya kedua orang yag sedang berperang tanding itu memang sangat mengejutkan. Namun aku yakin, kalau tidak ada kecurangan, Panembahan Cahya Warastra tidak mungkin dapat dikalahkan, bahkan oleh orang yang bernama Juru Mertani itu sekalipun.”

“Belum tentu,” potong Glagah Putih cepat., “Kakang Agung Sedayu juga mempunyai segudang ilmu yang sudah sangat jarang dimiliki orang pada saat ini. Aku yakin orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itu pasti menemui ajalnya dan Kakang Agung Sedayu mungkin hanya pingsan saja atau bahkan hanya terluka ringan.”

Kiai Sadaksada tertawa pendek, “Silahkan saja berandai-andai, ngger. Namun kenyataan berbicara lain. Perang tanding itu sudah selesai dan dinyatakan sampyuh. Lebih baik kita tidak usah mempersoalkan mereka lagi. Yang perlu diselesaikan adalah persoalan di antara kita sekarang ini. Apakah dengan kematian Kakangmu itu engkau akan menyerah?”

“Omong kosong!” bentak Glagah Putih, “Kakang Agung Sedayu tidak mati dan aku juga tidak akan menyerah. Justru Kiai lah yang seharusnya menyerah karena sudah jelas Panembahanmu itu sekarang sudah terbujur menjadi mayat.”

Selesai berkata demikian, Glagah Putih menunjuk ke arah arena perang tanding di dekat dinding padukuhan induk sebelah kiri. Samar-samar dalam keremangan senja tampak sesosok tubuh terbujur diam membeku.

“Persetan!” geram Kiai Sadaksada, “Kematian Panembahan Cahya Warastra tidak menyurutkan tekad kami untuk berjuang menegakkan keadilan di tanah ini. Mataram harus runtuh dan kami akan membangun pemerintahan baru yang benar-benar mengedepankan kepentingan para kawula alit.”

“Syukurlah,” berkata Glagah Putih menanggapi kata-kata lawannya, “Kapan Kiai akan mulai membangun cita-cita itu?”

“Tutup mulutmu!” bentak Kiai Sadaksada, “Engkau harus menyadari dengan siapa engkau berhadapan, anak muda!”

Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Agaknya lawannya sudah mulai terpancing kemarahannya. Maka katanya kemudian, “Baiklah Kiai, kita akan bertempur dengan sungguh-sungguh agar segera diketahui, siapa di antara kita yang masih tegak berdiri dengan gagahnya di akhir pertempuran nanti.”

“Alangkah sombongnya!” geram Kiai Sadaksada, “Jadi, sejak tadi engkau menganggap perkelahian ini hanya sebagai main-main saja? Akan kita buktikan siapakah yang masih berdiri dengan tegak di atas kedua kakinya setelah pertempuran ini berakhir.”

Glagah Putih tidak menjawab. Diedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan. Tampak di sebelah kirinya agak jauh sekitar lima tombak, istrinya sedang bertempur dengan sengitnya melawan seorang yang bertubuh tinggi besar bersenjatakan sepasang bindi.

Namun Glagah Putih tidak sempat berangan-angan, karena serangan lawannya telah datang membadai. Dari telapak tangan Kiai Sadaksada itu meluncur angin lembut yang sangat dingin. Sebelum telapak tangan yang terbuka merapat itu menyentuh tubuh Glagah Putih, pada jarak dua jengkal terasa angin yang sangat lembut dan dingin bagaikan ribuan jarum telah menusuk-nusuk kulitnya dan menembus daging.

“Gila!” geram Glgah Putih sambil meloncat ke samping kanan menghindari serangan lawannya.

Dengan bertumpu pada kaki kanannya, kaki kiri Glagah Putih pun menyapu kaki kiri lawannya yang digunakan sebagai tumpuan sewaktu menyerang ke depan.

Namun lawannya telah memperhitungkan dengan seksama akan kemungkinan serangan balasan dari Glagah Putih. Dengan menggeser kaki kirinya selangkah ke depan, sapuan kaki Glagah Putih hanya mengenai tempat kosong.

Demikian lah kedua orang yang mempunyai perbedaan umur cukup jauh itu telah kembali terlibat dalam pertempuran yang sangat dahsyat. Masing-masing mulai merambah pada penggunaan tenaga cadangan dan landasan ilmu yang semakin tinggi.

Dalam pada itu, Rara Wulan yang bertempur beberapa tombak jauhnya dari suaminya tidak sempat memikirkan keadaan Ki Rangga Agung Sedayu. Walaupun dia mendengar teriakan dari kedua belah pasukan tentang perang tanding antara Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra, namun Rara Wulan benar-benar dibuat sangat sibuk menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar dengan bersenjatakan sepasang bindi yang mengerikan.

Kedua bindi itu terayun ayun mengerikan menutup setiap lobang yang memungkinkan Rara Wulan untuk dapat membalas serangan. Rara Wulan yang bersenjatakan selendang itu memang mendapat kesulitan untuk melawan senjata lawannya yang berupa sepasang bindi. Tidak mungkin bagi Rara Wulan untuk sesekali membenturkan senjatanya. Walaupun terbesit juga keinginan untuk membelit salah satu bindi itu, namun Rara Wulan masih belum yakin akan kekuatan tenaga lawannya. Seandainya tenaga lawan lebih kuat, tentu selendangnya yang akan terampas dan akan dapat memperlemah perlawanannya.

“Menyerahlah anak manis,” berkata lawannya yang telah memperkenalkan diri sebagai Pemimpin perguruan jambu alas, Ki Rudraksa, sebelum mereka berdua terlibat dalam pertempuran yang dahsyat itu, “Aku tidak tega untuk melukai kulitmu yang halus mulus itu. Biarkanlah aku membelainya dengan kedua belah tanganku, bukan dengan kedua bindiku ini.”

“Tutup mulut kotormu,” bentak Rara Wulan sengit sambil melecutkan selendangnya mengarah dada.

Dengan tenang Ki Rudraksa memiringkan dadanya sehingga ujung selendang Rara Wulan tidak mengenai sasaran.

“Ikutlah denganku ke perguruan Jambu alas,” berkata Ki Rudraksa kembali sambil mengayukan bindinya, “Engkau akan kujadikan Ratuku. Aku akan siap melayanimu apa saja yang engkau inginkan dan kapan saja engkau membutuhkan.”

“Diaaam!” kembal Rara Wulan membentak. Dia benar-benar merasa risih dengan kata-kata lawannya yang penuh rayuan.

Mendapat bentakan Rara Wulan, Ki Rudraksa hanya tertawa pendek sambil berkata, “Semakin marah, engkau terlihat semakin cantik dan manis. Lihatlah, betapa kedua pipimu menjadi kemerah-merahan. Wajahmu yang tertimpa cahaya senja seolah-olah bersinar menerangi hatiku yang telah lama gelap merindukan cahaya cinta dari seorang perempuan cantik seperti dirimu.”

“Diam..diam..diam!” Rara Wulan benar-benar sangat terganggu, nafasnya mulai memburu dan keringat dingin pun telah membasahi sekujur tubuhnya.

Glagah Putih yang sedari tadi selalu gelisah melihat keadaan istrinya segera mengetrapkan aji pameling untuk memberikan petunjuk.

“Sebaiknya engkau tidak usah mendengarkan kata-katanya, Rara,” berkata Glagah Putih dalam aji pameling.

Rara Wulan yang tiba-tiba mendengar suara Glagah Putih berdenging di telinganya menjadi agak tenang. Jawabnya kemudian, “Aku sudah mencobanya Kakang. Namun orang ini terlalu kasar dan gila. Dia mulai menyebut hal-hal yang sangat kotor dan menjijikkan.”

“Sumbatlah kedua telingamu dengan kain selendangmu. Engkau tidak usah bersenjata. Gunakan aji pacar wutah puspa rinonce untuk menghancurkan senjatanya.” Berkata Glagah Putih selanjutnya.

Rara Wulan segera menyadari maksud suaminya. Sejenak kemudian Rara Wulan pun telah meloncat mundur mengambil jarak.

Lawannya yang melihat Rara Wulan meloncat mundur tidak memburunya. Kedua tangannya yang memegang bindi itupun dikembangkan selebar-lebarnya sambil berkata, “Kemarilah manis, lebih baik engkau berkeringat dalam pelukanku dari pada berdarah darah terkena sambaran bindiku ini. Jangan khawatir, aku akan memperlakukanmu dengan selembut mungkin dan tidak akan memaksakan kehendak jika engkau memang belum siap saat ini. Marilah kita berdua menyingkir dari medan terkutuk ini untuk menikmati kebersamaan kita agar tidak ada seorang pun yang mengganggu.”

Namun Rara Wulan sudah tidak mendengarkan celoteh orang tinggi besar itu. Selendangnya telah dibebatkan di lehernya serta kedua ujungnya telah digunakan sebagai sumpal untuk menyumbat kedua telinganya.

“Teruslah mengoceh, aku tidak akan mempedulikan lagi,” berkata Rara Wulan kemudian sambil mengetrapkan aji pacar wutah puspa rinonce, “Aku peringatkan untuk yang terakhir kalinya. Bersiaplah, aku akan mengetrapkan ilmuku walaupun belum terhitung ilmu pamungkas, namun jika tidak ingin menyesal, lebih baik engkau mempersiapkan diri.”

Ki Rudraksa tertawa berkepanjangan demi mendengar peringatan Rara Wulan. Jawabnya kemudian, “Silahkan Cah Ayu, akan aku sambut ajimu itu dengan segenap jiwa raga. Semoga engkau mengerti akan kehendak hatiku, yang telah lama terbuang dalam jeritan dan perasaan rindu.”

Rara Wulan benar-benar sudah tidak menunda lagi. Bagaikan tatit yang meloncat di udara, tubuhnya melesat kedepan dengan tangan kanan terjulur lurus siap melancarkan aji pacar wutah puspa rinonce.

Ki Rudraksa agaknya masih akan berkata-kata lagi jika saja matanya yang tajam itu tidak melihat sekilas sinar menyilaukan terpancar dari telapak tangan kanan Rara Wulan yang terbuka dengan jari-jari merapat.

“Gila!’ umpat Ki Rudraksa. Dengan tergesa-gesa disilangkan kedua senjatanya di atas kepala untuk melindungi terjangan lawannya.

Tangan kanan Rara Wulan yang terjulur lurus itu telah mengeluarkan butiran-butiran air yang lembut dan berkilauan tertimpa cahaya temaram senja. Butiran-butiran yang lembut itu telah menyusup ke dalam pori-pori senjata bindi Ki Rudraksa yang terbuat dari kayu berlian yang sangat keras. Namun ternyata kekuatan aji pacar wutah puspa rinonce itu telah mampu menembus dan meremukkan kedua bindi yang bersilang di atas kepala Ki Rudraksa, sehingga kedua bindi yang terbuat dari kayu yang sangat keras itu telah berubah menjadi butiran debu.

Itulah kekuatan aji pacar wutah puspa rinonce yang sebenarnya. Aji itu tidak menghentak atau pun memukul sasarannya dengan keras, namun aji itu bagaikan ribuan jarum yang menyelusup dan menusuk-nusuk sasarannya serta menghancurkannya menjadi selembut debu.

Kalau saja Ki Rudraksa tidak segera meloncat mundur sejauh-jauhnya, tentu sebagian dari pengaruh aji pacah wutah puspa rinonce itu akan menembus kepalanya.

“Perempuan iblis!” geram Ki Rudraksa sambil membuang senjata bindinya yang hanya tersisa di kedua genggaman tangannya saja. Kini kedua orang itu telah kembali berhadap-hadapan hanya dengan tangan kosong, namun kemampuan mereka telah merambah pada penggunaan aji jaya kawijayen yang nggegirisi.

Glagah Putih yang melihat istrinya telah terbebas dari pengaruh buruk lawannya kini semakin tenang menghadapi lawannya yang jauh lebih tua namun masih mempunyai kekuatan dan kelincahan sebagaimana anak muda. Gerakannya bagaikan burung sriti yang beterbangan menyambar bilalang di tengah padang.

Dalam pada itu Kiai Sabda Dadi dan Ki Jayaraga yang tengah memburu arah jatuhnya Ki Rangga telah mendapati adik Senapati yang berkedudukan di Jati Anom itu terlentang tak bergerak di halaman sebuah rumah kosong yang telah ditinggal penghuninya mengungsi.

“Ki Rangga..!” hampir bersamaan kedua orang tua itu berteriak sambil berlari mendekat.

Sambil berlutut di sisi tubuh Ki Rangga yang terbujur diam, Kiai Sabda Dadi yang mempunyai kemampuan pengobatan itu segera meraba dadanya. Sejenak wajah tua itu tampak berkerut-kerut dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bagaimana, Kiai?” bertanya Ki Jayarga yang ikut berlutut di sisi yang lain.

Sambil tetap meletakkan telapak tangan kanannya di dada sebelah kiri Ki Rangga, Kiai Sabda Dadi menjawab perlahan, “Detak jantungnya hampir tak terdengar. Pada awalnya aku mengira jantungnya sudah tidak berdetak lagi. Namun ketika aku mencoba merabanya lagi dengan sentuhan batinku, aku masih menemukan detak itu walaupun sangat jauh dan lemah di dasar jantungnya.”

Ki Jayaraga menjadi semakin berdebar-debar. Katanya kemudian, “Jadi bagaimana, Kiai? Apakah harapan itu masih ada?”

Kiai Sabda Dadi untuk beberapa saat masih merenung. Namun akhirnya kakek Damarpati itu pun segera menentukan sikap.

“Ki Jayaraga dapat membantu aku,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil mengambil tempat duduk bersila di sebelah kiri Ki Rangga Agung Sedayu yang terbujur diam, “ Aku akan mengalirkan tenaga cadanganku untuk membantu jantung Ki Rangga yang sangat lemah ini agar dapat berdetak kembali secara normal. Ki Jayaraga dapat mengalirkan tenaga cadangan dari kedua telapak kaki Ki Rangga untuk membantu menghangatkan darahnya agar dapat mengalir kembali ke jantung. Kita lakukan perlahan-lahan terlebih dahulu agar tidak justru membuat jantung Ki Rangga meledak.”

Ki Jayaraga tidak menyahut, hanya kepalanya saja yang terangguk tanda sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Kiai Sabda Dadi. Dengan tergesa-gesa Ki Jarayaga pun kemudian duduk bersila di depan kedua telapak kaki Ki Rangga. Setelah menempelkan kedua telapak tangannya pada kedua telapak kaki Ki Rangga, Ki Jayaraga pun telah bersiap mengalirkan tenaga cadangannya.

Sejenak kemudian, kedua orang tua itu telah tenggelam dalam usahanya untuk membantu memperlancar peredaran darah Ki Rangga yang bagaikan membeku. Perlahan tapi pasti, hawa panas yang tersalurkan melalui tenaga cadangan kedua orang tua itu telah mengencerkan darah sehingga jantung Ki Rangga pun perlahan mulai berdenyut kembali.

Dalam pada itu, Ki Patih Mandaraka dan Ki Gede Menoreh yang tidak ingin mengganggu kedua orang tua itu dalam membantu Ki Rangga Agung Sedayu mencapai kesadarannya telah menyingkir beberapa langkah dari tempat Ki Rangga terbaring. Keduanya tampak sedang membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.

“Ki Gede,” berkata Ki Patih kemudian, “Perang ini tidak akan selesai dalam waktu dekat dan bahkan bisa berlarut-larut sampai jauh malam. Ini tidak boleh terjadi. Kematian Panembahan Cahya Warastra hendaknya dijadikan cermin bagi para pengikutnya bahwa mereka sudah tidak ada harapan lagi untuk memenangkan pertempuran ini.”

“Ampun, Ki Patih,” sahut Ki Gede Menoreh, “Apakah tidak sebaiknya Ki Patih turun ke medan dengan membawa para prajurit pengawal kepatihan serta para pengawal Menoreh yang tersisa? Dengan demikian diharapkan para pengikut Panembahan Cahya Warastra akan menyadari keadaan yang sebenarnya.”

Ki Patih tersenyum, jawabnya kemudian, “Aku memang sedang memikirkan hal itu. Setidaknya kehadiranku di medan akan mempengaruhi ketahanan jiwani para pengikut Panembahan Cahya Warastra sehingga dengan penuh kesadaran mereka akan menyerahkan diri.”

“Memang demikian harapan kita semua, Ki Patih,” berkata Ki Gede Menoreh sambil mengangguk-anggukkan kepala, “Pertumpahan darah ini harus dicegah semampu kita agar tidak semakin banyak anak-anak yang kehilangan bapaknya, atau perempuan-perempuan yang kehilangan suaminya.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandang ke arah Ki Rangga Agung Sedayu terbaring dan sedang diobati oleh Kiai Sabda Dadi dibantu Ki Jayaraga.

“Marilah kita mendekat,” berkata Ki Patih kemudian, “Sebelum turun ke medan aku ingin meyakinkan keadaan Ki Rangga Agung Sedayu terlebih dahulu.”

Selesai berkata, Ki Patih pun kemudian berjalan diikuti oleh Ki Gede menuju ke tempat Ki Rangga terbaring.

“Bagaimanakah keadaan Ki Rangga, Kiai?” bertanya Ki Gede Menoreh sesampainya mereka berdua di samping Kiai Sabda Dadi.

“Alhamdulillah, puji syukur atas pertolongan Yang Maha Agung,” desis Kiai Sabda Dadi sambil memberi isyarat kepada Ki Jayaraga untuk melepaskan tangannya dari kedua belah kaki Ki Rangga.

Nafas Ki Rangga yang semula tertutup, kini perlahan telah longgar sejalan dengan derasnya aliran darah dalam tubuhnya. Namun agaknya sejauh ini Ki Rangga Agung Sedayu masih belum sadarkan diri.

“Apakah Ki Rangga belum bisa diusahakan untuk sadarkan diri?” bertanya Ki Patih begitu melihat Ki Rangga masih terbujur diam. Dadanya saja yang terlihat bergerak naik turun.

“Ampun Ki Patih, aku tidak berani memastikan,” jawab Kiai Sabda Dadi, “Sebaiknya Ki Rangga di bawa kembali ke kediaman Ki Gede Menoreh. Aku membutuhkan sebuah pedati, karena tulang-tulang Ki Rangga tampaknya di beberapa bagian telah berpatahan dan kita harus sangat berhati-hati dalam membawanya agak tidak semakin parah.”

Orang-orang tua yang ada di sekitar itu sejenak terkejut. Dengan tergesa-gesa Ki Jayaraga pun bertanya, “Benarkah Kiai? Bukankah Ki Rangga mempunyai ilmu kebal? Bagaimana mungkin Ki Rangga bisa mengalami cidera?”

Kiai Sabda Dadi menarik nafas dalam-dalam sambil bangkit berdiri. Jawabnya kemudian, “Menilik keadaan tubuh Ki Rangga, aku yakin Ki Rangga memiliki ilmu kebal. Seandainya tidak, mungkin tubuh Ki Rangga sudah hancur tak berbentuk terkena sambaran senjata Panembahan Cahya Warastra yang berupa pohon mahoni sebesar dua pelukan orang dewasa itu.”

Sejenak orang-orang tua itu saling berpandangan mendengar keterangan Kiai Sabda Dadi. Mereka menyadari betapa dahsyatnya kekuatan Panembahan Cahya Warastra dalam ujudnya yang nggegirisi itu.

“Baiklah, kita memang memerlukan sebuah pedati,” berkata Ki Gede Menoreh akhirnya, “Sebaiknya anakku Pandan Wangi ikut bersama Ki Rangga dibawa pulang ke rumah. Dengan demikian Kiai Sabda Dadi dapat merawat keduanya dengan seksama.”

Kiai Sabda Dadi mengangguk. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Patih dia bertanya, “Ampun Ki Patih, bagaimanakah dengan pertempuran ini? Kelihatannya langit sudah mulai gelap dan belum ada tanda-tanda pertempuran ini akan selesai.”

Ki Patih tersenyum. Jawabnya kemudian, “Aku sudah membicarakannya dengan Ki Gede. Aku memutuskan untuk turun ke medan pertempuran bersama dengan para prajurit pengawal kepatihan dan sisa-sisa pengawal Menoreh yang ada sekedar untuk memberikan tekanan jiwani terhadap pasukan musuh yang telah kehilangan pemimpinnya.”

“Jika diperkenankan, aku akan ikut dalam barisan Ki Patih,” tiba-tiba Ki Jayarag menyahut.

Ki Patih tertawa pendek. Katanya kemudian, “Silahkan-silahkan. Tidak ada salahnya kita yang sudah tua-tua ini ikut meramaikan medan pertempuran. Jangan lupa untuk membawa tongkat dan obor untuk sekedar membantu langkah kita yang mulai gemetar dan pandangan mata yang mulai rabun.”

“Ah!” hampir bersamaan ketiga orang tua itu tertawa.

“Baiklah,” berkata Ki Gede kemudian, “Siapakah yang akan mencari pedati?”

“Biarlah aku saja yang mencari pedati,” sahut Kiai Sabda Dadi, “Aku minta seorang pengawal Menoreh menemaniku.”

Ki Gede Menoreh mengangguk tanda setuju. Kemudian dilambaikan tangannya memanggil salah seorang pengawal Menoreh yang berdiri termangu-mangu beberapa tombak di belakang Ki Gede.

“Ikuti Kiai Sabda Dadi,” perintah Ki Gede kepada pengawal itu sesampainya dia di depan Ki Gede, “Kiai Sabda Dadi memerlukan sebuah pedati untuk mengangkut Ki Rangga yang sedang terluka.”

“Ya Ki Gede,” jawab pengawal itu sambil berjalan mengiringi Kiai Sabda Dadi meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal Kiai Sabda Dadi, Ki Jayaraga telah menyediakan diri untuk menunggui Ki Rangga yang masih terbaring lemah dan belum sadarkan diri.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Jayaraga, “Biarlah aku menunggui Ki Rangga. Jika Ki Patih berkenan turun ke medan, ada Ki Gede Menoreh yang akan menjadi pendamping. Setelah Ki Rangga nanti dibawa ke kediaman Ki Gede, aku akan menyusul.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpaling ke arah Ki Gede, “Marilah Ki Gede, tenaga tua kita ternyata masih dibutuhkan. Semoga penyakit tulangku tidak kambuh selagi kita di medan pertempuran.”

“Ah,” Ki Gede tertawa pendek. Katanya kemudian, “Walaupun Ki Patih sedang terkena penyakit tulang sekalipun, aku yakin Ki Patih masih mampu membakar hutan dan mengeringkan lautan.”

“Ah,” sekarang Ki Patih lah yang tertawa berkepanjangan. Namun kemudian kedua orang tua yang sudah putus segala ilmu agal maupun alus itu segera meninggalkan tempat itu untuk menyusun sebuah pasukan kecil yang siap turun ke medan.

Dalam pada itu, Kiai Sabda Dadi dibantu oleh seorang pengawal Menoreh telah menemukan sebuah pedati serta dua ekor lembu penariknya di sebuah rumah yang agak jauh dari medan pertempuran. Agaknya penghuninya demikian tergesa-gesa sehingga tidak sempat membawa beberapa lembunya untuk ikut mengungsi. Namun pemilik ternak-ternak itu telah meninggalkan beberapa gunduk rumput yang cukup untuk makanan ternak-ternaknya selama ditinggal beberapa hari.

“Kita akan segera mengembalikan ke pemiliknya begitu perang ini selesai,” berkata Kiai Sabda Dadi kepada pengawal Menoreh yang menyertainya.

“Ya, Kiai,” jawab pengawal yang sudah mengenal dengan baik kakek Damarpati itu sejak mereka menetap di Menoreh.

“Engkau orang Menoreh asli, setidaknya engkau mengenal rumah siapa ini,” berkata Kiai Sabda Dadi selanjutnya sambil melepas ikatan dua ekor lembu yang gemuk-gemuk.

“Aku mengenalnya sebagai tempat tinggal Ki Parta Lemu,” jawab pengawal itu.

Kiai Sabda Dadi mengerutkan keningnya mendengar penjelasan pengawal itu. Katanya kemudian, “Mengapa mesti Parta Lemu?”

Pengawal itu tertawa. Jawabnya kemudian, “Ada beberapa orang yang bernama Parta di Padukuhan induk ini, dan kami membedakannya dengan cara memberi tambahan nama di belakangnya sesuai dengan ciri-ciri orang itu.”

“O..,” seru Kiai Sabda Dadi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku bisa menduga orang yang kalian beri nama Parta Lemu ini orangnya pasti gemuk, segemuk lembu-lembunya.”

Sekarang pengawal itulah yang mengerutkan keningnya sambil menggeleng, “Dugaan Kiai keliru, Ki Parta Lemu ini orangnya kurus kering.”

“He!” kembali Kiai Sabda Dadi berseru. Sebelum meneruskan kata-katanya, Kiai Sabda Dadi memasang kedua lembu itu pada pasangan pedati yang telah siap di sebelah kandang.

“Kurus katamu? Apakah pertimbangan kalian sehingga kalian menyebutnya Parta Lemu? Bukan Parta Kurus?”

Pengawal itu tersenyum sambil memandang penuh arti kepada Kiai Sabda Dadi. Jawabnya kemudian, “Itulah cara kami memberi julukan. Kami memberi julukan yang berseberangan dengan keadaan seseorang dengan harapan orang itu bisa berubah keadaannya sesuai dengan nama julukan yang kami berikan.”

“Ooo..,” sekarang Kiai Sabda Dadi mengerti akan maksud orang-orang padukuhan memberi julukan Parta Lemu, “Agaknya orang-orang padukuhan berharap Ki Parta yang kurus bisa berubah menjadi gemuk.”

“Begitulah kira-kira, Kiai,” berkata Pengawal itu sambil mulai naik ke atas pedati. Diraihnya cambuk yang tergantung di plagrangan di bawah atap pedati. Dengan sekali lecut, lembu-lembu itu pun mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah Ki Parta Lemu. Sementara Kiai Sabda Dadi telah meloncat dan naik dari arah bagian belakang pedati.

Dalam pada itu, Ki Patih Mandaraka dengan didampingi Ki Gede Menoreh serta sepasukan kecil gabungan prajurit pengawal kepatihan dan pengawal Menoreh sedang berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke medan pertempuran. Sementara langit telah semakin buram namun pertempuran semakin lama menjadi semakin sengit.

Beberapa Prajurit pengawal kepatihan dengan sengaja telah membawa obor sekedar untuk menerangi jalan. Namun sebenarnyalah Ki Patih telah memerintahkan membawa beberapa obor untuk menarik perhatian kedua pasukan yang sedang bertempur dengan sengitnya itu.

Memang perhitungan Ki Patih tidak meleset sama sekali. Ternyata kedatangan pasukan kecil yang dipimpin oleh Ki Patih Mandaraka itu telah menarik perhatian kedua belah pihak.

“Ki Patih Mandaraka berkenan hadir..!” tiba-tiba terdengar sebuah teriakan memecah udara diantara suara denting senjata beradu serta sumpah serapah.

“Ki Patih Mandaraka hadir.!” Segera saja suara itu disahut oleh yang lainnya.

“Ki Patih hadir..!”

“Ki Patih hadiir..!”

Suara itu pun telah bergema bersahut-sahutan diseluruh medan pertempuran. Kehadiran Ki Patih Mandaraka ternyata telah mengguncang medan pertempuran.

Para pengikut Panembahan Cahya Warastra menjadi berdebar-debar. Kali ini mereka tidak dapat membalas teriakan pasukan Mataram dan Menoreh. Mereka tidak mungkin membalas dengan teriakan bahwa pemimpin mereka Panembahan Cahya Warastra hidup kembali dan telah hadir di medan pertempuran. Mereka hanya dapat berharap kepada para pemimpin perguruan yang lain untuk segera dapat menyelesaikan lawan-lawannya. Namun sejauh ini, belum tampak adanya kemajuan yang berarti di pihak para pengikut saudara kembar Kecruk Putih itu.

Beberapa pemimpin perguruan dan murid-muridnya menjadi ragu-ragu. Setelah tewasnya Panembahan Cahya Warastra yang mereka yakini tidak mempan segala jenis senjata bahkan telah kalis dari segala bentuk sakit bahkan kematian itu, mereka menjadi gelisah dan mulai memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri. Terutama para murid perguruan Cahya Warastra.

“Panembahan yang sakti itu telah gugur,” demikian seorang cantrik dari perguruan Cahya Warastra berkata dalam hati, “Sedangkan orang kedua di perguruan kita, Ki Bango Lamatan juga tidak tampak batang hidungnya sejak penyerbuan pagi tadi.”

Seorang kawannya yang sedang bertempur di sebelahnya melihat gelagat yang aneh dari kawannya segera memperingatkan, “He! Jangan melamun di medan pertempuran. Kepalamu bisa hilang selagi engkau bermimpi indah.”

“Aku tidak melamun,” geram Cantrik itu, “Aku sedang membuat pertimbangan tentang kenyataan yang kita hadapi di medan pertempuran ini.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Dia paham maksud Cantrik itu. Perguruan Cahya Warastra telah kehilangan pemimpin utamanya dan sekaligus orang kedua yang sama sekali tidak tampak selama pertempuran telah berlangsung.

“Mungkin Ki Bango Lamatan berada di tempat yang lain dalam pertempuran ini,” pikirnya. Namun dia ragu-ragu dengan perkiraannya itu.

“Nah,” seorang Lurah prajurit wira tamtama dari Mataram menengahi, “Apakah kehadiran Ki Patih Mandaraka di medan pertempuran ini mempunyai arti tersendiri bagi kalian? Sebaiknya kalian mulai menilai diri kalian sendiri. Tidak ada gunanya melawan atau bertempur sampai titik darah penghabisan. Menyerahlah, kami atas nama Mataram akan memperlakukan kalian dengan sebaik-baiknya.”

“Omong kosong!” bentak cantrik itu sambil mengayunkan senjatanya mematuk dada, “Kalian prajurit Mataram memang licik. Kalian berkata seolah olah hati kalian putih bersih tidak ada noda setitik pun. Namun jika kami sudah menyerah, besok pagi kalian dengan gembira dan bersuka ria menyiapkan tali-tali gantungan di alun-alun Mataram.”

“Tentu tidak,” jawab Lurah prajurit itu, “kami bukan segerombolan penjahat yang tidak mengenal paugeran. Kami akan memperlakukan kalian sesuai dengan paugeran yang berlaku.”

Kawan cantrik yang yang bertempur di sebelahnya tertawa sambil menyahut, “Engkau benar Ki Sanak. Aku yakin jika kalian akan memperlakukan kami sesuai dengan paugeran yang berlaku. Namun sayang, paugeran itu yang membuat adalah kalian sendiri sehingga hanya hukuman gantunglah yang paling pantas bagi para pemberontak seperti kami ini.”

Lurah prajurit itu memiringkan dadanya untuk menghindari patukan senjata Cantrik dari perguruan Cahya warastra itu. Lalu katanya kemudian, “Kalian terlalu berprasangka. Seandainya kalian mau sedikit berpikir, tentu kalian tidak akan membunuh diri. Apa yang kalian sebut sebagai perjuangan ini telah selesai dan tidak mungkin akan terwujud sepeninggal Panembahan Cahya Warastra.”

“Tutup mulutmu!” teriak cantrik itu sambil mengayunkan senjatanya dengan deras menyilang membabat lambung.

Tentu saja Lurah prajurit itu tidak akan membiarkan lambungnya robek terkena senjata lawannya. Dengan menghindar selangkah ke samping, lambungnya telah terhindar dari sabetan senjata lawannya.

Dalam pada itu Glagah Putih yang sedang bertempur dengan Kiai Sadaksada telah merambah pada salah satu ilmu yang telah diserapnya dengan tuntas dari salah satu gurunya, Ki Jayaraga.

“Aku akan mengungkapkan kekuatan udara, air dan api untuk mengimbangi ilmu orang tua ini,” berkata Glagah Putih sambil mengindar dari serangan lawan yang mengarah ke kepala. Tamparan udara dari serangan lawannya terasa bagaikan ribuan jarum yang menusuk kulit kepalanya.

Sedangkan Kiai Sadaksada yang telah mendengar akan kehadiran Ki Patih Mandaraka di medan pertempuran menjadi gelisah. Kehadiran orang yang semasa mudanya bergelar Ki Juru Mertani itu sedikit banyak telah mempengaruhi medan, terutama pengaruh jiwani terhadap para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Sementara sejauh ini belum tampak tanda-tanda kemenangan di pihak pasukan Panembahan Cahya Warastra.

“Siapakah yang mampu membendung Ki Patih Mandaraka?” bertanya Kiai Sadaksada dalam hati, “Tidak mungkin Ki Ageng Blarak Sineret maupun Ki Wasi Jaladara. Mereka berdua tentu juga sedang terlibat dalam pertempuran yang sengit menghadapi lawan-lawannya.”

Kiai Sadaksada benar-benar menjadi semakin gelisah. Ketika pada suatu kesempatan dia mencoba mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling medan pertempuran yang menjadi semakin gelap, alangkah terkejutnya kakak seperguruan Ki Rudraksa itu. Dalam keremangan malam, tampak beberapa pemimpin perguruan telah berusaha bergeser menjauhi medan pertempuran.

Beberapa perguruan tampak mulai bertempur sambil bergeser mundur. Setapak demi setapak mereka mulai menjauhi bulak dan naik ke atas tanggul. Beberapa murid-murid perguruan beserta guru-guru mereka bahkan ada yang telah menjauhi petak-petak sawah yang kering menuju ke padang rumput di sebelah hutan yang masih cukup lebat.

“Gila!” geram Kiai Sadaksada sambil terus melayani serangan- serangan Glagah Putih, “Mereka telah berkianat dan ingin menyelamatkan diri mereka sendiri. Agaknya mereka sudah tidak dapat berharap banyak setelah kematian Panembahan Cahya Warastra.”

Menyadari hal itu, Kiai Sadaksada segera memberi isyarat kepada adik seperguruanya serta para murid-murid padepokan jambu alas.

Sejenak kemudian udara malam di atas medan pertempuran itu telah dikoyak oleh suara suitan panjang dua kali berturut turut. Suara suitan itu ternyata mampu mengatasi riuhnya pertempuran diantara suara denting senjata beradu, teriakan marah dan umpatan serta caci maki.

Ki Rudraksa begitu mendengar isyarat dari kakak seperguruannya sejenak masih ragu-ragu. Hatinya benar-benar telah terpikat oleh kecantikan dan kemolekan tubuh lawannya. Walaupun Rara Wulan sudah tidak terpengaruh lagi dengan segala bualannya, namun pemimpin perguruan jambu alas yang masih membujang dalam usia yang hampir menjelang setengah abad itu masih berharap Rara Wulan memberikan sedikit perhatian kepadanya.

Ketika suitan panjang itu berulang lagi, Ki Rudraksa dengan setengah hati mulai bergeser mundur. Beberapa muridnya segera menyesuaikan diri. Mereka bersama sama akan menghentakkan kemampuan mereka untuk yang terakhir kalinya sebelum meloloskan diri dari arena pertempuran.

Demikianlah akhirnya, ketika untuk yang ketiga kalinya suitan itu membelah udara malam di atas arena pertempuran, murid-murid padepokan jambu alas pun bagaikan wuru. Mereka menyerang lawan-lawan mereka bagaikan banteng ketaton sehingga lawan-lawannya itu telah terdesak beberapa langkah mundur. Kesempatan itu ternyata tidak disia-siakan, murid-murid perguruan jambu alas itu pun kemudian telah berlari-larian tak tentu arah meninggalkan lawan-lawan mereka yang belum menyadari sepenuhnya apa yang sebenarnya telah terjadi.

Glagah Putih yang terkejut mendapat serangan yang membadai dari Ki Sadaksada segera mengambil jarak dengan meloncat mundur beberapa langkah. Dalam sekejap Glagah Putih telah siap dengan ilmu yang berlandaskan pada kekuatan udara, air dan api.

Namun alangkah terkejutnya Glagah Putih begitu menyadari lawannya ternyata telah menghilang dari hadapannya. Belum sempat Glagah Putih memutuskan untuk mengejar lawannya yang terlihat menyusup di antara murid-murid perguruan jambu alas yang berlari-larian tak tentu arah, terdengar sebuah jeritan yang berasal dari istrinya, Rara Wulan.

Lawan Rara Wulan yang telah kehilangan sepasang bindi nya ternyata telah mencabut sebilah keris luk sembilan yang terselip di balik bajunya. Karena lawannya telah menggenggam senjata lagi, tidak ada jalan lain bagi Rara Wulan untuk menggunakan selendangnya kembali.

Dan yang terjadi kemudian adalah sama sekali diluar dugaan Rara Wulan. Ketika lawannya telah menghentakkan serangannya dengan menjulurkan keris luk sembilan itu lurus mengarah dada, dengan tangkasnya Rara Wulan meloncat ke samping sambil menggerakkan ujung selendangnya menggeliat melibat keris yang tergenggam di tangan lawannya. Dalam perhitungan Rara Wulan, tentu lawannya akan menarik kembali serangannya. Namun yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan dan hampir tidak masuk akal. Ternyata Ki Rudraksa telah melepaskan keris luk sembilannya yang telah terlibat oleh ujung selendang Rara Wulan.

Sambil meloncat sejauh-jauhnya dan kemudian berlari menyusup di antara murid-murid jambu alas yang bergerak berseliweran tak beraturan, Ki Rudraksa telah meninggalkan sebuah pesan yang cukup menggetarkan hati Rara Wulan.

“Sengaja aku tinggalkan kerisku untukmu sebagai pertanda. Suatu saat aku akan kembali untuk mengambilnya bersama dengan sebongkah hatimu,” berkata Ki Rudraksa sambil menghilang di antara riuhnya pertempuran.

Glagah Putih yang melihat istrinya terpekik sambil meloncat mundur segera berlari mendapatkannya. Hanya dengan dua kali lompatan, Glagah Putih telah sampai di samping istrinya.

“Ada apa Rara?” bertanya Glagah Putih sesampainya di sisi istrinya.

Rara Wulan masih tampak terkejut dengan kejadian yang dialaminya. Selendangnya dengan tergesa-gesa telah ditarik dan didekap di dadanya, sementara keris luk sembilan Ki Rudraksa telah terjatuh dan tergeletak di atas tanah selangkah di depannya.

“Rara,” kembali Glagah Putih bertanya dengan lembut sambil menyentuh pundaknya, “Apa yang terjadi?”

Mata Rara Wulan masih nanar menatap keris luk sembilan yang tergolek di depannya. Ketika terasa tangan suaminya dengan lembut menyentuh pundaknya, bagaikan tersadar dari sebuah mimpi buruk, Rara Wulan pun kemudian segera menghambur ke dalam pelukan suaminya.

“Kakang, keris itu kakang, keris itu” terbata-bata Rara Wulan berkata diantara isak tangisnya.

“Ada apa dengan keris itu?” bertanya Glagah Putih sambil berusaha menenangkan tangis Rara Wulan. Dibelainya dengan lembut rambut Rara Wulan sambil matanya memandang ke arah keris luk sembilan yang tergeletak di antara debu.

“Buanglah keris itu Kakang, buanglah jauh jauh,” pinta Rara Wulan sambil berusaha menahan tangisnya.

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Dia memang tidak begitu menaruh perhatian terhadap peristiwa yang terjadi antara Ki Rudraksa dan istrinya di saat-saat terakhir, karena dia juga sedang menghadapi Kiai Sadaksada yang sedang menghentakkan segenap kemampuannya sebelum menyingkir dari medan.

“Biarlah keris itu aku yang menyimpannya,” akhirnya dengan suara yang sareh Glagah Putih menjawab permintaan istrinya.

“Jangan Kakang, jangan!” sedikit terpekik Rara Wulan sambil melepaskan pelukannya, “Dia berjanji akan mengambilnya kembali bersama..”

Sampai disini kata-kata Rara Wulan terputus. Sejenak dia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.

Glagah Putih tersenyum sambil menggenggam erat kedua tangan istrinya. Katanya kemudian, “Kalau dia berjanji mengambil kerisnya kembali, aku sudah siap. Justru itulah aku akan menyimpannya. Suatu saat jika dia datang, aku akan menyelesaikannya dengan tuntas.”

Sejenak Rara Wulan termangu-mangu. Kata-kata suaminya itu sedikit banyak telah menenangkan hatinya. Memang dia percaya sepenuhnya dengan suaminya yang mempunyai ilmu lebih tinggi dari dirinya. Namun sebagai seorang perempuan, hatinya tetap saja gelisah sebelum orang yang bernama Ki Rudraksa itu hilang dari permukaan bumi.

“Sudahlah, Rara,” berkata Glagah Putih kemudian sambil membungkuk memungut keris luk sembilan itu, “Pertempuran di sayap kiri ini kelihatannya hampir selesai. Para pengikut Panembahan Cahya Warastra sebagian telah melarikan diri. Agaknya mereka berpikir tidak ada lagi kesempatan untuk memenangkan pertempuran sepeninggal Panembahan Cahya warastra.”

Rara Wulan menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan gejolak di dalam dadanya. Ketika dilihatnya suaminya membungkus keris luk sembilan itu dengan secarik kain yang tercecer di antara tanah yang berdebu, dia hanya dapat pasrah kepada keputusan suaminya.

“Marilah, Rara. Aku ingin segera mengetahui keadaan Kakang Agung Sedayu,” berkata Glagah Putih kemudian sambil melangkah meninggalkan medan pertempuran di sayap kiri.

Rara Wulan tidak menjawab. Dengan langkah-langkah kecil disusulnya suaminya yang telah terlebih dahulu melangkah. Sementara pertempuran di sayap kiri itu benar benar telah selesai. Beberapa pengikut Panembahan Cahya Warstra yang telah kehilangan kesempatan untuk melarikan diri telah menyerah. Sepeninggal Kiai Sadaksada dan Ki Rudraksa, pasukan Panembahan Cahya Warastra yang terdiri dari beberapa perguruan itu telah lumpuh. Mereka memilih menyerah dengan harapan masih ada kemungkinan untuk mendapatkan pengampunan.

Ki Tumenggung Tirtayudha yang memimpin pasukan di sayap kiri juga telah kehilangan lawannya, seorang yang tidak mau menyebut nama dan gelarnya, namun mempunyai kemampuan ilmu yang sangat ngedab edabi. Ketika beberapa pemimpin perguruan beserta murid-muridnya mulai bergerak mundur untuk meninggalkan medan pertempuran, ternyata lawannya itu telah ikut arus pasukan panembahan Cahya Warastra untuk meninggalkan medan.

“Ma’afkan aku Ki Tumenggung,” berkata lawannya yang tidak mau menyebut nama maupun gelarnya, “Aku harus ikut arus pasukan yang meninggalkan medan. Namun aku berharap, di suatu waktu dan di suatu tempat kita dapat bertemu kembali.”

Selesai berkata demikian, sebelum Ki Tumenggung Tirtayudha menyadari apa yang akan diperbuat oleh lawannya, tiba-tiba saja dari kedua telapak tangan lawannya yang teracu ke depan, meluncur asap hitam pekat bergulung-gulung menerjang ke arah tempatnya berdiri.

Sekejap Ki Tumenggung segera menyadari, asap itu pasti asap beracun menilik dari baunya yang menyengat sebelum asap itu sampai ke tempatnya berdiri. Tidak ada jalan lain bagi Ki Tumenggung selain meloncat mundur sejauh-jauhnya.

Demikian Ki Tumenggung telah tegak kembali di atas kedua kakinya yang renggang, lawannya itu ternyata telah hilang dari pandangan matanya.

Sejenak Ki Tumenggung Tirtayudha berdiri termangu-mangu. Ketika pandangan matanya kemudian beredar ke sekeliling medan pertempuran, tampak beberapa prajuritnya sedang menawan beberapa orang yang telah menyerah.

“Perlakukan mereka dengan baik,” perintah Ki Tumenggung Tirtayudha kepada kedua orang Lurah prajurit yang mengurusi para tawanan, “Aku akan membuat hubungan dengan induk pasukan untuk menetukan langkah kita selanjutnya.”

Kedua Lurah prajurit itu hanya mengangguk-anggukkan kepala saja tanpa menjawab sepatah katapun.

Dalam pada itu di pusat gelar, kedatangan rombongan Ki Patih Mandaraka juga telah mengguncang keseimbangan medan. Ki Ageng Blarak Sineret dan Ki Wasi Jaladara benar-benar menemui kesulitan untuk mengendalikan pasukan yang berada di pusat gelar. Mereka telah bergerak menurut perhitungan mereka sendiri-sendiri. Hal ini memang sudah sewajarnya terjadi karena mereka bukan berasal dari sebuah kesatuan yang utuh, namun mereka terdiri dari bermacam-macam aliran perguruan yang mempunyai panutan dan kepentingan yang berbeda-beda.

“Jangan terpengaruh..!” teriak Ki Ageng Blarak Sineret sambil terus bertempur melawan Ki Tumenggung Surayudha, “Sepeninggal Panembahan, masih ada Ki Bango Lamatan yang akan menuntaskan pertempuran ini!”

Namun teriakannya tenggelam dalam riuhnya gerak mundur pasukannya. Mereka tidak memperdulikan lagi keutuhan dan kesatuan pasukan. Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana dengan secepat-cepatnya meninggalkan medan, sebab sudah tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk menandingi Ki Patih Manadaraka sepeninggal Panembahan Cahya Warastra.

“Pengecut..!” teriak Ki Ageng Blarak Sineret sambil memutar tombak pendek di tangannya untuk menangkis serangan lawan yang mematuk dada, “Kalian benar-banar memalukan. Belum ada darah yang menetes seujung kuku, ternyata kalian telah melarikan diri dari medan.”

“Kami tidak ingin menjadi banten yang sia-sia,” tiba-tiba terdengar jawaban yang berat dan dalam dari sebelah kiri Ki Ageng Blarak Sineret, “Silahkan membunuh diri. Kami masih mempunyai harapan untuk melanjutkan perjuangan di lain kesempatan.”

Ketika Ki Ageng Blarak Sineret berpaling, sekejab dadanya berdesir tajam. Tampak Ki Bagaswaras sedang bergerak mundur bersama dengan murid-muridnya. Beberapa saat kemudian Ki Bagaswaras beserta murid-muridnya itu pun telah hilang dalam kegelapan malam meninggalkan medan pertempuran.

“Gila! Gila!Gila..!” umpat Ki Ageng Blarak Sineret sambil mencoba menekan lawannya. Namun Ki Tumenggung Surayudha telah tanggap dengan keadaan medan yang semakin kisruh. Dia tidak akan memberikan kesempatan sekejap pun kepada Ki Ageng untuk meloloskan diri.

Dalam pada itu beberapa tombak dari arena pertempuran Ki Ageng melawan Ki Tumenggung Singayudha, Ki Wasi Jaladara yang merasa bertanggung jawab untuk mengendalikan seluruh pasukan Panembahan Cahya Warastra sedang terikat dalam sebuah perang tanding yang dahsyat melawan Ki Tumenggung Singayudha.

“Menyerahlah,” berkata Ki Tumenggung Singayudha sambil menghindari sambaran telapak tangan lawannya, “Tidak ada gunanya lagi kalian melawan. Sebaiknya kalian segera menyerah. Kami bukan sekumpulan orang-orang liar yang akan berbuat semena-mena terhadap para tawanan. Kami adalah parajurit yang sangat memegang teguh paugeran.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Wasi Jaladara. Kedua telapak tanganya yang terbuka merapat itu susul- menyusul menyerang ke arah bagian-bagian yang berbahaya dari tubuh lawannya.

Ki Tumenggung Singayudha yang menyadari betapa berbahayanya kedua telapak tangan lawannya itu dengan sekuat tenaga berusaha untuk menghindar. Kelihatannya pemimpin perguruan Liman Benawi dari Madiun itu telah merambah pada puncak ilmunya, aji tapak liman.

Demikianlah ketika Ki Wasi Jaladara mendapat kesempatan sekejap, segera disilangkan kedua tangannya di depan dada. Sejenak kemudian, pemimpin perguruan liman benawi dari Madiun itu telah siap melepaskan ilmu puncaknya, aji tapak liman.

Ki Tumenggung Singayudha yang melihat lawannya telah siap melepaskan aji pamungkasnya segera mempersiapkan diri. Hanya dalam waktu sekejap, Ki Tumenggung Singayudha telah melambari dirinya dengan sebuah aji yang pernah menggegerkan kekuasaan Demak lama ketika Sultan Trenggana masih bertahta, aji tameng waja.

Aji tameng waja memang menjadi salah satu aji yang dimiliki oleh Sultan Trenggana. Setelah Mas Karebet yang mampu mencuri hati Putri Sekar Kedaton kemudian diambil menantu oleh Sultan, aji tameng waja ini pun kemudian diwariskan kepada menantunya itu. Ketika kekuasaan Demak kemudian berakhir dan pemerintahan di pindahkan ke Pajang oleh Mas Karebet yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya, aji tameng waja ini pun diwariskan juga kepada anak angkat terkasih Sultan Pajang, Raden Sutawijaya yang bergelar Mas Ngabei Loring Pasar.

Demikianlah, setelah Raden Sutawijaya menjadi penguasa Mataram dan bergelar Panembahan Senapati, aji tameng waja ini menjadi kebanggaan dan merupakan piandel yang dimiliki oleh kerabat Istana dan juga para sentana dalem yang masih mempunyai kekerabatan dengan Istana.

Dalam pada itu, Ki Wasi Jaladara ternyata telah memutuskan untuk segera mengakhiri pertempuran. Disertai dengan bentakan menggelegar serangan Ki Wasi Jaladara yang dilambari kekuatan aji tapak liman telah meluncur bagaikan tatit yang meloncat di udara menyambar Ki Tumenggung Singayudha.

Sejenak kemudian sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Sebuah ledakan yang mengguntur dan memekakkan telinga telah membuat orang-orang di seputar arena pertempuran terkejut dan meloncat ke belakang untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Kesempatan ini ternyata tidak disia-siakan oleh Ki Ageng Blarak Sineret untuk meloloskan diri dari arena pertempuran. Begitu menyadari lawannya meloncat mengambil jarak, hanya dengan beberapa kali loncatan saja Ki Ageng Blarak Sineret telah lenyap dalam kegelapan malam serta tenggelam dalam hiruk pikuk pertempuran yang semakin kisruh dan tak terkendali.

Ki Tumenggung Surayudha tertegun sejenak begitu menyadari lawannya telah meninggalkan medan, namun perhatian Ki Tumenggung segera tercurah kepada sahabatnya Ki Tumenggung Singayudha yang baru saja menyabung nyawa dengan lawannya.

Ternyata benturan itu telah melemparkan keduanya. Aji tapak liman yang mempunyai kekuatan berpuluh-puluh telapak kaki gajah itu bagaikan telah membentur benteng baja setebal satu jengkal. Kekuatan yang tersalur pada telapak tangan pemimpin perguruan Tapak Liman itu telak membalik dan menghantam dadanya sendiri. Akibatnya adalah sangat mengerikan, dada Ki Wasi Jaladara bagaikan tertimpa sebuah bukit anakan. Tubuhnya telah terlempar ke belakang beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh terlentang tak bergerak.

Sementara Ki Tumenggung Singayudha yang telah mengetrapkan aji tameng waja setinggi-tingginya telah tergetar surut. Sejenak Ki Tumenggung masih terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang sebelum akhirnya jatuh terduduk sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Adi Tumenggung..!” teriak Ki Tumenggung Surayudha sambil berlari mendapatkan sahabatnya.

Sejenak Ki Tumenggung Singayudha masih mencoba bertahan pada kedudukannya. Namun ternyata ketahanan tubuhnya sudah jauh menyusut sehingga perlahan-lahan Ki Tumenggung pun jatuh terguling.

Dengan sigap Ki Tumenggung Surayudha yang telah berada di sisi sahabatnya itu segera menangkap tubuh yang hampir terjatuh itu. Kemudian dengan perlahan tubuh Ki Tumenggung Singayudha yang lemah itu pun dibaringkan di atas tanah yang berdebu.

“Kelihatannya Ki Tumenggung Singayudha telah terluka dalam yang cukup parah,” tiba-tiba terdengar suara yang berat dan dalam dari arah belakang.

Ki Tumenggung Surayudha yang sedang berjongkok di sisi Ki Tumenggung Singayudha itu segera berpaling ke belakang. Tampak Ki Patih Mandaraka dan beberapa prajurit pengawal kepatihan berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sedangkan Ki Gede Menoreh beserta beberapa pengawal Tanah Perdikan tampak berdiri agak jauh di belakang.

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Surayudha sambil bangkit berdiri dan merangkapkan kedua tangannya di depan dada, “Pertempuran di induk pasukan ini kelihatannya sudah hampir berakhir. Jika diijinkan, kami membawa Adi Tumenggung ke garis belakang pertempuran untuk mendapatkan perawatan.”

“Pergilah,” jawab Ki Patih, “Bawalah beberapa prajurit untuk menemanimu serta membantu membawa Ki Tumenggung Singayudha ke balai pengobatan di padukuhan induk. Ki Gede Menoreh dibantu para prajurit pengawal kepatihan dan para pengawal Menoreh akan mengambil alih medan pertempuran yang sudah semakin sepi ini.”

Ki Tumenggung Surayudha kembali menyembah sambil menjawab, “Terima kasih Ki Patih, hamba mohon diri.”

Selesai berkata Ki Tumenggung Surayudha pun segera mengundurkan diri bersama beberapa prajurit untuk membawa Ki Tumenggung Singayudha ke padukuhan induk.

Sepeninggal Ki Tumenggung Surayudha, Ki Patih segera memerintahkan para prajurit Mataram yang masih ada di medan segera mengamankan para tawanan. Sedangkan Ki Gede Menoreh mengawasi para pengawal Tanah Perdikan untuk mulai mengumpulkan mereka yang gugur dan menolong mereka yang terluka, baik kawan maupun lawan.

Demikianlah ketika para prajurit dibantu pengawal Menoreh sedang sibuk mengamankan bekas medan pertempuran, tampak dua orang dengan langkah ragu-ragu mendekati Ki Patih Mandaraka.

“Ampun Ki Patih, jika diperkenankan kami mohon menghadap,” tiba-tiba dengan suara gemetar salah satu dari kedua orang itu berkata beberapa langkah di belakang Ki Patih.

Ketika Ki Patih Mandaraka kemudian membalikkan badan, tampak dua orang yang bediri termangu-mangu sambil menundukkan kepala dan merangkapkan kedua tangan mereka di depan dada.

“Siapakah kalian?” bertanya Ki Patih kemudian.

“Ampun Ki Patih, kami adalah murid-murid perguruan Liman Benawi dari Madiun,” salah seorang yang bertubuh kekar menjawab. Kemudian lanjutnya, “Beberapa saudara seperguruan kami telah tewas dalam pertempuran, demikian juga dengan guru kami Ki Wasi Jaladara.”

Sejenak Ki Patih Mandaraka mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Jadi kalian dari perguruan Liman Benawi? Apakah kalian bermaksud menyerahkan diri?”

Beberapa saat kedua murid perguruan Liman Benawi itu tergugu. Namun dengan segera salah seorang menjawab sambil menghaturkan sembah, “Ampun Ki Patih, kami mohon pengampunan. Ijinkanlah kami berdua kembali ke padepokan kami sambil membawa jasad guru kami.”

Sekarang giliran Ki Patih yang terdiam sejenak. Sambil memandang tajam ke arah kedua murid Liman Benawi itu bergantian, Ki Patih pun akhirnya mengambil keputusan, “Pergilah! Jadikanlah peristiwa ini sebagai cermin bagi perguruan kalian untuk menentukan langkah di masa mendatang. Aku mengijinkan kalian untuk meninggalkan medan ini bukan berarti kalian bebas dari segala tanggung jawab atas perbuatan kalian. Namun lebih dari itu, Mataram akan tetap mengawasi perguruan Liman Benawi. Atas ijin Panembahan Hanyakrawati penguasa tertinggi Mataram, aku akan memerintahkan Adipati Madiun untuk meminta pertanggung jawaban atas peristiwa ini kepada perguruan Liman Benawi.”

Kedua murid Liman Benawi itu hanya dapat menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Berbagai perasaan bergejolak dalam dada mereka. Sesungguhnya lah kepergian mereka jauh-jauh dari Madiun menuju Tanah Perdikan Menoreh itu hanya atas perintah guru mereka, yang ternyata telah tewas dalam pertempuran. Dan kini mereka tinggal berdua saja setelah kawan-kawan seperguruan mereka juga telah menjadi korban dalam pertempuran yang dahsyat di padukuhan induk Menoreh.

“Terima kasih Ki Patih,” hampir tak terdengar salah satu dari kedua orang itu menjawab, “Kami sudah pasrah dengan nasib yang akan menimpa kami. Namun lebih dari itu, ijinkan kami untuk menyelenggarakan jasad guru kami di padepokan Liman Benawi dengan layak.”

Ki Patih Manadaraka menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Kemudian sambil berpaling ke arah salah satu prajurit pengawal kepatihan yang berdiri paling dekat, Ki Patih pun berkata, “Kawal kedua orang dari perguruan Liman Benawi ini sampai keluar dari daerah pertempuran. Yakinkan bahwa mereka berdua tidak mendapat kesulitan untuk membawa jasad Ki Wasi Jaladara kembali ke Madiun.”

“Sendika dawuh, Ki Patih,” jawab prajurit itu sambil menyembah. Kemudian dengan sebuah isyarat, dia mengajak kedua murid perguruan Liman Benawi itu untuk mendekat ke tempat Ki Wasi Jaladara terbujur diam.

Dalam pada itu, pertempuran di sayap kanan ternyata masih berlangsung dengan dahsyatnya. Beberapa perguruan memang telah menarik diri dari medan pertempuran. Namun masih cukup banyak yang bertahan untuk tetap bertempur dengan dendam yang setinggi gunung.

Ketika beberapa pemimpin perguruan dan murid-muridnya memutuskan untuk menarik diri dari medan pertempuran sehubungan dengan tewasnya Panembahan Cahya Warastra, ternyata Alap Alap Siwurbang memilih untuk tetap tinggal. Alap Alap Siwurbang sama sekali tidak berusaha untuk lolos dari arena pertempuran. Kemarahan yang mencapai ubun-ubun telah membuat dirinya membulatkan tekad untuk menuntaskan lawannya, walaupun mereka berdua tidak pernah berjanji sebelumnya untuk melakukan perang tanding. Namun pertempuran itu tidak ubahnya dengan sebuah perang tanding yang mempertaruhkan antara hidup dan mati.

“Mengapa Ki Sanak tidak ikut lari bersama para pengikut Panembahan Cahya Warastra?” bertanya Mlayawerdi disela-sela kesibukannya menghindari serangan lawannya.

“Aku bukan pengecut..!” teriak Alap Alap Siwurbang sambil memutar trisulanya mencoba untuk mengait senjata Mlayawerdi.

Mlayawerdi tersenyum sambil menarik pedangnya untuk menghindari jepitan trisula lawannya. Katanya kemudian, “Persoalannya bukan masalah pengecut atau pemberani. Namun keselamatan diri itu yang lebih penting.”

“Gila..!” bentak lawannya, “Aku akan merobek mulutmu dengan ujung trisulaku ini. Teruslah mengoceh, aku tidak perduli.”

“He! Sudah berapa kali Ki Sanak ingin merobek mulutku?” bertanya Mlayawerdi sambil merunduk dalam-dalam menghindari sambaran trisula yang mengarah kepala, “Aku khawatir justru ujung pedangku inilah yang terlebih dahulu akan menyayat dadamu.”

“Omong kosong..!” kembali Alap Alap Siwurbang membentak. Dihentakkannya segenap kemampuannya untuk membenturkan trisulanya dengan pedang lawannya.

Namun Mlayawerdi bukan anak kemarin sore yang baru belajar olah kanuragan selangkah demi selangkah. Kemampuannya bermain pedang sangat mengagumkan walaupun harus diakui bahwa tenaga lawannya sangat besar. Namun dengan kecerdikannya Mlayawerdi selalu berusaha menghindari benturan dengan senjata lawannya.

Beberapa tombak dari tempat Mlayawerdi menyabung nyawa, Ki Citra Jati dengan sangat tenang melayani pemimpin perguruan Jambe Wangi, Ki Bagus Lelana. Agaknya lawan Ki Citra jati ini tidak bertempur dengan sungguh-sungguh menilik dari sikapnya yang tidak tenang. Berkali-kali Ki Bagus Lelana ini berpaling ke arah pertempuran antara anak-anak Nyi Citra jati melawan murid-murid perguruan Pamulatsih.

“Ki Bagus Lelana,” berkata Ki Citar Jati kemudian, “Aku sama sekali tidak mengerti. Mengapa Ki Bagus kelihatannya tidak tertarik bertempur melawan orang tua seperti aku ini?”

Ki Bagus Lelana tertawa pendek sambil melompat mundur. Jawabnya kemudian, “Aku memang tidak tertarik sama sekali untuk bertempur melawan orang tua sepertimu Ki,” dia berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Aku lebih tertarik untuk bertempur melawan gadis-gadis itu. Mereka tampak sangat cantik dan menarik.”

Ki Citra Jati menarik nafas panjang. Dugaannya memang tidak meleset. Melihat sinar mata yang liar dan wajah yang bersih serta terkesan sedikit pesolek, ayah angkat Glagah Putih dan Rara Wulan ini dapat menebak bahwa lawannya adalah seorang laki-laki yang senang bermain perempuan.

“Nah,” berkata Ki Bagus Lelana kemudian, “Apakah kita masih perlu meneruskan pertempuran ini?”

“Ya,” jawab Ki Citra Jati mantap, “Aku tidak akan membiarkan Ki Bagus Lelana menyentuh anak-anakku.”

“He..!” Ki Bagus Lelana terkejut, “Apa katamu? Gadis-gadis itu anak-anakmu? Bagaimana mungkin, engkau sudah tua bangka dan mereka masih sangat muda dan cantik. Tidak pantas menjadi anakmu bahkan cucumu sekalipun.”

Ki Citra Jati menarik nafas dalam-dalam. Lawan di depannya ini sesungguhnya sangat berbahaya, bukan karena ketinggian ilmu kanuragannya, namun sifatnya yang senang bermain-main dengan perempuan muda dan cantik akan sangat membahayakan kehidupan bebrayan.

“Ki Bagus Lelana,” akhirnya Ki Citra Jati segera mengambil keputusan, “Aku tidak akan membiarkan engkau menyentuh anak-anakku walaupun hanya seujung rambut. Aku masih memberimu kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar dengan satu syarat, buang jauh-jauh sifat jahat yang telah terpendam sekian lama dalam relung hatimu. Bertobatlah dengan sepenuh kesungguhan hati, semoga Yang Maha Agung memberimu ampunan dan menunjukkan jalan-Nya yang terang benderang.”

Ki Bagus Lelana mengerutkan keningnya sejenak mendengar sesorah lawannya. Tiba-tiab saja sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Beberapa saat kemudian tawanya pun meledak.

“Ki Citra Jati,” katanya kemudian di sela-sela tawanya yang berderai-derai, “Sudah berpuluh kali aku mendengar sesorah seperti ini dan aku tahu apa yang harus aku perbuat untuk selanjutnya.”

Kembali orang tua angkat Glagah Putih itu mengerutkan kening. Katanya kemudian dengan nada sedikit ragu-ragu, “Apakah yang akan engkau perbuat, Ki bagus Lelana?”

Ki Bagus Lelana sudah tidak tertawa lagi. Pandangan matanya tajam menatap lawannya yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Tiba-tiba dengan sebuah teriakan menggelegar dia menerjang ke depan.

“Aku akan membunuhmu..!” teriak pemimpin perguruan Jambe Wangi itu sambil mengayunkan tangannya yang terkepal menghantam kening.

Ki Citra Jati sama sekali tidak terkejut mendapat serangan mendadak dari lawannya. Dengan sedikit memiringkan kepala, serangan itu lewat sejengkal dari sasarannya. Sebagai gantinya, dengan cepat siku kanan Ki Citra Jati menusuk lambung ki bagus Lelana yang terbuka.

Tentu saja Ki bagus Lelana tidak akan membiarkan lambungnya terkena serangan lawannya. Sambil berkelit ke samping kanan, lutut kaki kirinya terayun ke atas menghantam lambung.

Demikianlah kedua orang yang mempunyai perbedaan umur yang cukup jauh itu kembali terlibat dalam pertempuran yang sengit.

Dalam pada itu, Nyi Citra Jati dibantu oleh Putut Darpa dan Putut Darpita melawan sepuluh orang Putut yang terpilih dari perguruan-perguruan yang bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra telah mengalami kegoncangan yang dahsyat. Kesepuluh Putut itu agaknya telah mendapat bekal yang cukup untuk bertempur dalam kelompok. Mereka berputar, bergeser dan menghindar dalam gerakan yang sangat teratur dan rapi. Nyi Citra Jati dan kedua Putut itu memang telah terkepung dalam lingkaran lawan. Mereka bertiga hanya dapat bertahan dan saling membantu satu sama lain jika lawan-lawan mereka bergerak bersama menyerang dalam susunan yang aneh namun rapi dan sangat membingungkan.

Senjata-senjata lawan yang berputaran, menebas, menusuk dan sesekali secara bersamaan kesepuluh senjata itu susul menyusul bergerak tegak berjajar-jajar bagaikan sebuah pagar yang mengurung ketiga lawannya.

Cambuk di tangan Putut-Putut itu tak henti-hentinya meledak-ledak memekakkan telinga. Sementara Nyi Citra jati melayani lawan-lawannya hanya dengan tangan kosong.

“Aku harus membuka kepungan ini,” berkata Nyi Citra Jati dalam hati, “Aku yakin dengan aji pacar wutah puspa rinonce, lingkaran yang membingungkan ini akan pecah berantakan.”

Berpikir sampai di sini, Nyi Citra Jati segera mengetrapkan aji pacar wutah puspa rinonce. Namun Ibu angkat Rara Wulan ini tidak mengetrapkan kekuatan ajinya sampai puncak. Dia hanya mengerahkan kekuatan aji pacar wutah puspa rinonce hanya setengahnya saja.

Sejenak kemudian ketika seorang lawannya mendekat dengan sebuah serangan mendatar pada lambungnya, dengan tangkasnya Nyi Citra Jati berkelit ke kiri. Seorang lawannya yang lain segera menyusul dengan sebuah tusukan ke arah leher. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh NyI Citra Jati. Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, tusukan itu lewat hanya setebal jadi dari lehernya. Pada saat yang bersamaan, telapak tangan kanan Nyi Citra Jati meluncur menghantam dada.

Kejadian itu sangat cepat. Belum sempat Putut itu menarik kembali pedangnya, sebuah hantaman yang dahsyat telah mendera dadanya.
Terdengar sebuah keluhan tertahan sebelum akhirnya tubuh Putut itu terhuyung beberapa langkah ke belakang dan jatuh terlentang dengan dada bersimbah darah bagaikan ditusuk ribuan jarum sampai tembus ke jantung.

Segera saja lingkaran pertempuran itu menjadi gempar. Kawan-kawannya yang melihat kedahsyatan dari akibat aji pacar wutah puspa rinonce itu menjadi gentar. Salah seorang putut yang dituakan untuk memimpin kawan-kawannya segera memberi isyarat dengan sebuah suitan yang pendek dan melengking tinggi menyakitkan telinga.

Beberapa saat kemudian sebelum Nyi Citra jati dan kedua putut itu menyadari apa yang akan diperbuat lawan-lawan mereka, tiba-tiba saja lawan-lawan mereka telah bergerak bersama-sama dalam irama aneh. Mereka telah membenturkan pedang-pedang mereka satu sama lain sambil berteriak-teriak dan bergerak meloncat kesana-kemari tidak karuan. Ketika Nyi Citar Jati masih dibingungkan oleh tingkah polah lawan-lawannya, tiba-tiba terdengar sebuah keluhan tertahan dari mulut Putut Darpita yang berdiri beberapa langkah di samping kirinya.

Ternyata tingkah yang aneh itu hanyalah sebuah cara untuk mengalihkan perhatian lawan. Ketika Putut Darpa dan Darpita masih terpesona dengan tingkah polah lawan-lawan mereka, tanpa sebuah ancang-ancang, senjata salah seorang lawannya telah menggores pundak Putut Darpita. Sementara Putut Darpa yang lebih tua dan berpengalaman masih sempat bergeser setapak ke samping ketika sebuah ujung pedang hampir saja melobangi dadanya.

Putut Darpa menggeram marah begitu melihat adiknya terluka. Dengan cepat diputar cambuknya untuk menekan lawan-lawannya agar bergeser mundur mengambil jarak. Kemudian dengan sebuah hentakan sendal pancing, ujung cambuknya menggeliat mematuk dada lawannya yang berdiri paling dekat.

Ternyata lawannya telah waspada sebelumnya. Dengan tangkasnya dia melompat ke kanan dan justru mengarahkan senjatanya kepada Putut Darpita yang telah terluka.

Nyi Citra Jati terkejut. Tentu saja dia tidak akan membiarkan Putut Darpita mengalami kesulitan sementara dia sedang berusaha mengobati lukanya. Dengan sebuah loncatan panjang, Nyi Citra Jati memotong arah serangan lawan yang meluncur mengarah ke Putut Darpita.

Benturan yang keras telah melontarkan pengikut Panembahan Cahya Warastra yang ingin mencederai Putut Darpita itu. Sekali lagi aji pacar wutah puspa rinonce telah memakan korban. Aji yang dahsyat itu telah menghantam tubuhnya dan melemparkannya jatuh terjengkang dengan nyawa yang telah lepas dari tubuhnya.

Kembali jumlah para Putut perguruan-perguruan yang tergabung dalam pasukan Panembahan Cahya Warastra itu berkurang. Melihat gelagat yang kurang menguntungkan, Putut yang dituakan diantara mereka segera bersuit nyaring. Sekali ini nadanya panjang melengking membelah udara malam.

Sebelum Nyi Citra Jati bersama kedua Putut dari padepokan Jati Anom itu mengambil sikap, dengan sangat cepatnya lawan-lawan mereka telah menyelinap di antara gerumbul-gerumbul perdu yang banyak bertebaran di medan dan menghilang dalam gelapnya malam.

“Adi Darpita, engkau tidak apa-apa?” bertanya Putut Darpa setelah lawan-lawan mereka sudah tidak tampak lagi.

“Tidak kakang,” jawab Putut Darpita, “Namun aku kesulitan menaburkan obat untuk memampatkan aliran darah ini karena tempat lukanya diluar jangkauanku.”

“Biarlah aku yang mengobatimu,” berkata Putut Darpa kemudian sambil menerima bumbung kecil dari tangan adiknya. Dengan perlahan dan sangat hati-hati, salah satu murid orang bercambuk dari padepokan Jati Anom itu menaburkan serbuk yang berwarna kehijau-hijauan ke tempat luka.

Sejenak Putut Darpita berdesis perlahan sambil menggeretakkan giginya menahan pedih yang terasa menyengat. Namun beberapa saat kemudian dengan perlahan terasa perasaan pedih itu menghilang dan sebagai gantinya perasaan sejuk terasa di sekitar luka yang cukup lebar dan dalam itu.

“Marilah,” berkata Nyi Citta Jati yang ternyata telah melangkah mendekat, “Pertempuran ini kelihatannya sudah hampir selesai, hanya tinggal dua lingkaran pertempuran yang masih berlangsung dengan sengit.”

Kedua Putut dari Jati Anaom itu sekilas berpaling. Ketika mereka kemudian mengedarkan pandangan mata ke seluruh medan pertempuran di sayap kanan, tampak Mlayawerdi sedang bertempur dengan sengitnya melawan seorang yang tandangnya sangat cekatan bagaikan seekor burung alap-alap. Sedangkan lingkaran pertempuran yang lain tampak anak-anak Nyi Citra jati sedang bertempur berkelompok melawan murid-murid perguruan Pamulatsih. Sementara beberapa tombak dari tempat Mlayawerdi bertempur, Ki Citra Jati tampak sedang berjongkok merenungi sesosok tubuh yang terbujur diam.

Ketika Nyi Citra Jati dan kedua Putut dari Jati Anom itu mendekat, dengan perlahan Ki Citra Jati bangkit berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku terpaksa membunuhnya. Orang ini mempunyai watak yang kurang baik. Aku sudah memberinya kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki tingkah lakunya yang sangat berbahaya bagi kehidupan bebrayan, terutama bagi para perempuan muda dan gadis-gadis. Namun agaknya dia bersikeras untuk mempertahankan sikapnya sehingga aku telah memutuskan untuk mengakhiri perlawanannya.”

Nyi Citra Jati dan kedua Putut itu diam diam bergidik. Mereka membayangkan betapa berbahayanya orang itu seandainya dia masih dibiarkan hidup dan berkeliaran dalam kehidupan bebrayan? Akan sangat banyak perempuan yang akan menderita seumur hidup dan tercampakkan bagaikan sampah di mata para kawula walaupun apa yang sebenarnya telah terjadi itu bukan kesalahan mereka dan bahkan bukan kehendak mereka.

“Marilah kita melihat anak-anak kita dan Mlayawerdi,” berkata Ki Citra Jati setelah beberapa saat mereka terdiam, “Agaknya mereka membutuhkan perhatian kita.”

Demikianlah dengan beriringan keempat orang itu berjalan mendekati dua lingkaran pertempuran yang belum ada tanda-tandanya akan berakhir.

Dalam pada itu, sebuah pedati sedang berjalan dengan malasnya menyusuri jalan padukuhan induk yang gelap dan sepi menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh. Kiai Sabda Dadi yang duduk di belakang bersandaran dinding pedati tampak menjulurkan kedua kakinya sambil memejamkan kedua matanya. Sementara Pandan Wangi yang duduk di dalam tampak memeluk lutut sambil matanya menerawang, entah apa yang sedang dipikirkan oleh putri satu-satunya kepala Tanah Perdikan Menoreh itu.

Ki Rangga Agung Sedayu yang masih belum sadarkan diri terbaring diam di atas tumpukan jerami kering yang empuk tepat di depan Pandan Wangi yang duduk sambil memeluk lutut. Goncangan roda pedati yang sesekali mengguncang tubuhnya ternyata tidak membuatnya segera tersadar dari pingsan.

Sesekali pandangan mata Pandan Wangi menyambar seraut wajah orang yang tergolek di depannya. Entah sudah berapa kali Pandan Wangi tak bosan-bosannya memandangi wajah yang baginya sama sekali tidak banyak mengalami perubahan sejak pertama kali mereka bertemu. Wajah yang luruh dan rendah hati.

Pandan Wangi menarik nafas dalam sekali. Entah mengapa perasaan yang telah dipendamnya bertahun tahun itu seolah-olah menggeliat dan muncul ke permukaan hatinya. Hati yang untuk ke sekian kalinya telah dikecewakan oleh suaminya, sehingga terkadang terbesit sebuah dendam untuk membalas perlakuan suaminya terhadap dirinya selama ini.

“Ah,” Pandan Wangi berdesah dalam hati, “Tidak sepantasnya aku membalas perlakuan Kakang Swandaru kepadaku selama ini. Apalagi jika pembalasan dendam itu ternyata justru akan menyakiti hati orang lain, hati Sekar Mirah.”

Kembali Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dihembuskannya kuat-kuat seolah-olah ingin ditumpahkan seluruh permasalahan yang telah membelit hatinya selama ini.

“Nyi Pandan Wangi,” tiba tiba terdengar suara Kiai Sabda Dadi membuyarkan lamunan Pandan Wangi, “Sebaiknya Nyi Pandan Wangi berbaring saja di sebelah Ki Rangga. Nyi Pandan Wangi masih membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga. Nyi Pandan Wangi telah kehilangan banyak darah sehingga memerlukan istirahat yang cukup.”

“Terima kasih,” jawab Pandan Wangi, “Aku sudah beristirahat cukup lama di padukuhan induk tadi. Aku lebih senang duduk saja dari pada berbaring di sisi Ki Rangga agar tidak mengganggunya.”

Kiai Sabda Dadi hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Sebagai orang yang telah menekuni ilmu pengobatan bertahun-tahun, dia mengetahui dengan pasti bahwa Pandan Wangi memerlukan istirahat, namun agaknya putri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu merasa segan untuk berbaring bersebelahan dengan Ki Rangga Agung Sedayu.

Kembali suasana dicekam oleh sepi. Hanya suara derit roda pedati yang bergerak melindas jalur sepanjang jalan ditingkah dengan suara bergemerontangnya klinting lembu penarik pedati.

“Kiai Sabda Dadi,” tiba-tiba Pengawal Menoreh yang menjadi sais pedati berkata dengan suara sedikit keras, “Di depan ada dua orang yang berdiri menghalangi jalan kita.”

Kiai Sabda Dadi mengerutkan keningnya sambil bangkit merenggangkan punggungnya dari dinding pedati. Katanya kemudian, “Mungkin mereka hanya para Petani yang sedang mengairi sawahnya di malam hari.”

“Mungkin,” desis pengawal itu, “Namun aku tidak yakin kalau mereka itu para Petani yang sedang mengairi sawah. Tidak seharusnya mereka berdiri di tengah-tengah jalan dan seolah olah ingin menghentikan jalannya pedati ini.”

“Engkau jangan terlampau berprasangka,” potong Kiai Sabda Dadi, “Mungkin mereka merasa aneh saja dan ingin mengetahui siapa yang mengendarai pedati malam-malam begini. Setelah mereka mengetahui bahwa yang ada di dalam pedati ini adalah Nyi Pandan Wangi putri satu-satunya Ki Gede Menoreh dan Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang terluka, mereka pasti akan segera menyingkir dan meminta maaf atas kelancangan mereka menghentikan jalannya pedati ini.”

Sejenak pengawal itu terdiam. Namun ketika pedati itu semakin dekat dengan dua orang yang berdiri menghadang di tengah jalan, jantung pengawal itu pun berdegup menjadi semakin kencang.

Ketika pedati yang membawa Ki Rangga Agung sedayu dan Pandan Wangi itu semakin dekat, tampak kedua orang yang berdiri di tengah-tengah jalan itu mengangkat tangannya.

“Berhentilah Ki sanak, aku ingin berbicara,” berkata salah seorang dari keduanya.

Pengawal itu sejenak berpaling ke belakang, namun agaknya Kiai Sabda Dadi sedang sibuk memeriksa Ki Rangga yang masih terbaring diam.

Akhirnya dengan perlahan pengawal Menoreh itu menarik tali kekang lembu-lembu itu untuk menghentikan jalannya pedati.

“Adakah sesuatu yang penting Ki Sanak?” bertanya Pengawal Menoreh itu sambil meloncat turun.

Kedua orang yang berdiri di tengah-tengah jalan itu segera melangkah mendekat. Salah seorang yang berperawakan lebih tinggi berkata sambil membentak, “Jangan banyak cakap! Kami masih mempunyai rasa belas kasihan kepada selembar nyawamu. Sekarang pergilah jauh-jauh dan jangan pernah kembali. Kami ingin memiliki pedati ini beserta seluruh isinya.”

Pengawal Menoreh itu mengerutkan keningnya. Ditebarkan pandangan matanya ke sekeliling untuk melihat barangkali mereka itu tidak hanya berdua. Keadaan akan berkembang semakin buruk jika ternyata orang-orang itu adalah para pengikut Panembahan Cahya Warstra yang telah melarikan diri dan mengetahui bahwa Ki Rangga Agung Sedayu berada di dalam pedati dalam keadaan terluka.

“Ki Sanak,” berkata Pengawal Menoreh itu setelah sejenak terdiam, “Pedati ini bukan milik kami. Kami meminjamnya dari seseorang di padukuhan induk untuk mengangkut beras dan beberapa peralatan dapur untuk para prajurit Mataram dan pengawal Menoreh yang baru saja selesai bertempur. Mereka harus segera mendapatkan ransum makan malam karena seharian mereka belum makan sama sekali.”

“Bohong!” bentak yang bertubuh tinggi, “Aku akan mencekikmu sampai mati jika engkau berbohong!”

“Aku tidak berbohong, ki Sanak,” jawab pengawal itu, “Aku bersama kawanku akan pergi ke kediaman Ki Gede Menoreh untuk mengambil beras dan beberapa peralatan yang diperlukan.”

“He!” tiba-tiba yang bertubuh agak pendek ikut membentak, “Berapa orang yang berada di dalam pedati itu!”

“Kami hanya berdua,” jawab pengawal Menoreh itu sambil berpaling ke belakang. Namun ternyata Kiai Sabda Dadi belum menampakkan diri.

Dalam pada itu Kiai Sabda Dadi ternyata telah berpikir dengan cepat. Katanya kemudian kepada Pandan Wangi yang masih duduk memeluk lutut, “Maafkan aku sebelumnya Nyi. Keadaan mungkin akan berkembang menjadi semakin gawat. Aku mohon sudilah kiranya Nyi Pandan Wangi untuk berbaring di sebelah Ki Rangga. Aku akan menimbuni kalian berdua dengan sisa-sisa jerami yang ada agar tidak tampak dari luar pedati akan keberadaan kalian.”

Sejenak rona merah mewarnai wajah cantik itu. Jawabnya kemudian dengan sedikit kesal, “Aku masih sanggup bertempur, Kiai. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang pengecut.”

“Bukan maksudku Nyi,” cepat-cepat Kiai Sabda Dadi memotong, “Kita belum tahu siapa mereka dan berapa kekuatannya. Silahkan untuk membela diri jika itu memang terpaksa. Namun aku sarankan Nyi Pandan wangi untuk tetap berbaring di sebelah Ki Rangga dengan tujuan mengaburkan pengamatan mereka. Jika keadaan memaksa, Nyi Pandan wangi dapat menyerang dengan tiba-tiba dari tempat berbaring siapapun yang mencoba memasuki pedati ini.”

Pandan Wangi termenung. Berbagai perasaan bergejolak dalam dadanya. Ada perasaan malu dan risih. Namun entah mengapa, tidak dapat dipungkiri jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam telah terdengar lagu cinta yang mendayu-dayu untuk menyambut permintaan Kiai Sabda Dadi itu.

“Marilah, Nyi. Agak cepat sedikit,” berkata Kiai Sabda Dadi membuyarkan mimpi indah Pandan Wangi, “Aku harus segera keluar dari pedati ini agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang menghadang di tengah jalan itu.”

Pandan Wangi masih tetap ragu-ragu. Namun ketika didengarnya sekali lagi suara bentakan menggelegar, Pandan Wangi sudah tidak mempunyai pilihan lagi. Dengan tergesa-gesa dibaringkan tubuhnya di sisi kiri Ki Rangga yang masih belum sadarkan diri. Luka di lengan kirinya yang sudah dibebat oleh Kiai Sabda Dadi kadang masih terasa menyengat sehingga Pandan Wangi harus berbaring agak miring ke arah kanan agar lengan kirinya tidak bersentuhan langsung dengan lantai pedati.

Dengan cepat Kiai Sabda Dadi segera menimbuni kedua orang itu dengan sisa sisa jerami yang ada. Sehingga sejenak kemudian ketika kedua orang itu sudah tidak tampak lagi, Kiai Sabda Dadi pun segera meloncat keluar dari pedati.

Sepeninggal Kiai Sabda Dadi, Pandan wangi bebar-benar harus berjuang melawan dirinya sendiri. Gemuruh di dalam dadanya telah menyesakkan dada dan menghentak-hentak jantung sehingga nafas Pandan Wangi menjadi terengah-engah bagaikan nafas seekor kuda betina yang sedang dipacu di tengah padang yang gersang.

Sesekali Pandan Wangi mencoba mengubah kedudukan tubuhnya yang miring ke kanan dengan sedikit menggeser tubuhnya ke kiri agak menjauh dari tubuh Ki Rangga Agung Sedayu yang terbujur diam. Namun ketika dia mencoba menggeser tubuhnya dengan bertumpu pada tangan kanannya yang berhimpitan dengan bahu Ki Rangga, ternyata tanpa disengaja bagian dadanya telah bersentuhan dengan bahu Ki Rangga.

Tiba-tiba sebuah desir tajam telah menghujam jantungnya. Darah yang mengalir dalam tubuhnya terasa menjadi semakin cepat dan hangat sehingga beberapa saat kemudian tubuh Pandan Wangi pun bagaikan menggigil kedinginan karena menahan hasrat yang dahsyat menghentak-hentak dadanya.

“Tidaak..!” teriak Pandan Wangi dalam hati mencoba menahan getaran aneh yang mulai merayapi sekujur tubuhnya, “Ini tidak boleh terjadi. Semoga aku diberi kekuatan untuk melewati hal yang tersulit dalam hidupku ini.”

Dengan mengerahkan segenap kekuatan batinnya, Pandan Wangi mulai memusatkan segenap nalar budinya untuk meredam getaran-gataran aneh yang telah membuat jantungnya berpacu melonjak-lonjak tak terkendali.

Dalam pada itu Kiai Sabda Dadi dan Pengawal Menoreh terlihat sedang menghadapi dua orang yang tak dikenal yang berusaha untuk merampas pedati mereka.

“Sudahlah Ki Sanak,” berkata Kiai Sabda Dadi yang sudah berdiri di sebelah Pengawal Menoreh, “Kalian tidak usah berbelit-belit. Katakan saja maksud dan tujuan Ki Sanak menghentikan pedati kami. Kami tidak punya waktu lagi untuk melayani kalian. Kami harus kembali ke padukuhan induk dengan membawa beras dan perbekalan lainnya untuk pasukan Mataram dan Menoreh besuk pagi.”

“Kami tidak peduli,” geram yang berperawakan lebih tinggi, “Serahkan pedati kalian dan kami akan mengampuni nyawa kalian yang tidak berarti.”

“Kalian salah,” jawab Kiai Sabda Dadi kemudian, “Justru nyawa kami sangat berharga saat ini untuk mengemban tugas menolong pasukan yang kekurangan bekal. Sebaiknya kalian segera menyingkir dari jalan sebelum kami memutuskan untuk menangkap kalian dan menyerahkan kepada para peronda yang mungkin akan segera lewat di daerah ini.”

Kedua orang itu sejenak mengerutkan kening dalam-dalam sambil memandang satu dengan yang lainnya. Tiba-tiba yang bertubuh agak pendek maju ke depan selangkah sambil membentak, “He! Tahukah kalian dengan siapa kalian sekarang ini berhadapan? Kami adalah sepasang iblis bertangan badai dari tepian kali dadung. Sebaiknya kalian segera menyadari kekerdilan kalian di hadapan kami. Segeralah menyingkir, mumpung tingkah laku kalian belum memancing kemarahan kami untuk membunuh kalian berdua.”

Sejenak Kiai Sabda Dadi dan Pengawal Menoreh itu saling pandang. Keduanya merasa belum pernah mendengar gelar yang terdengar sangat aneh di telinga mereka. Namun demikian Kiai Sabda Dadi pada dasarnya tidak pernah menganggap remeh lawannya. Oleh karena itu katanya kemudian, “Maafkan kami sebelumnya Ki Sanak. Rasa-rasanya kami berdua belum pernah berurusan dengan sepasang iblis bertangan badai dari tepian kali dadung. Aku mohon kita masing-masing dapat menahan diri karena sebenarnya lah kita memang belum pernah bertemu dan tidak mempunyai sangkut-paut dalam masalah apapun.”

“Tutup mulutmu!” bentak yang bertubuh tinggi memotong ucapan Kiai Sabda Dadi, “Kami memang sengaja membuat masalah dengan kalian. Kami tidak akan berbelit-belit lagi. Persetan dengan segala alasan yang kalian buat. Serahkan Ki Rangga Agung Sedayu dan kalian boleh melanjutkan perjalanan kalian.”

Terkesiap Kiai Sabda Dadi dan Pengawal Menoreh itu demi mendengar kata-kata salah seorang yang bertubuh lebih tinggi. Kini mereka berdua sadar bahwa tidak menutup kemungkinan perjalanan mereka membawa Ki Rangga Agung Sedayu menuju ke kediaman Ki Gede Menoreh telah tercium oleh para pengikut Panembahan Cahya Warastra.

“Apakah kalian pengikut Panembahan Cahya Warastra?” bertanya Kiai Sabda Dadi mencoba meyakinkan dugaannya.

“Itu bukan urusan kalian. Yang jelas kami berdua datang jauh-jauh ke bukit Menoreh ini dengan membawa dendam sedalam lautan untuk membalas perbuatan Ki Rangga Agung Sedayu yang telah membunuh Guru kami.”

Sejenak Kiai Sabda Dadi termenung. Tanpa disadarinya sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari bibirnya, “Siapakah Guru Ki Sanak?”

Kedua orang yang bergelar sepasang iblis bertangan badai dari tepian kali dadung itu untuk beberapa saat membeku. Hanya dua pasang mata yang bergerak liar itu menatap Kiai Sabda Dadi dengan garangnya.

“Aku pernah mendengar seorang pemimpin perguruan yang sangat sakti di ujung kali dadung,” tiba-tiba saja Kiai Sabda Dadi berkata memecah kebekuan, “Pideksa, ya..orang itu bernama Pideksa yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Ajar Kumuda.”

Sepasang iblis itu masih berdiam diri. Agaknya mereka berusaha menyamarkan jati diri mereka menilik tanggapan yang mereka berikan terhadap kata-kata Kiai Sabda Dadi.

Ketika Kiai Sabad Dadi akan meneruskan kata-katanya, tiba-tiba sepasang iblis yang bertubuh agak pendek telah membentak sambil meloncat menyerang, “Tutup mulutmu atau aku yang akan menyumbat mulut kotormu itu dengan tumitku.”

Mendapat serangan mendadak itu tenyata tidak membuat Kiai Sabda Dadi gugup. Dengan tenang kakek Damarpati itu menggeser tubuhnya miring ke samping sehingga tendangan lawannya mengenai tempat kosong.

Begitu melihat kawannya yang bertubuh pendek telah memulai menyerang Kiai Sabda Dadi. Iblis dari tepian kali dadung yang satunya segera melangkah mendekati Pengawal Menoreh.

“Menyerahlah,” berkata iblis itu, “Aku akan membunuhmu dengan cara yang tidak menyakitkan. Dengan sekali tusuk, jantungmu akan pecah dan hanya sekejap saja engkau akan mengalami kesakitan.”

Pengawal itu tertawa pendek sambil berpaling sekilas ke arah Kiai Sabda dadi yang sudah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Jawabnya kemudian, “Aku akan sangat berterima kasih Ki Sanak jika memang benar engkau akan memperlakukan aku sedemikian baiknya di saat-saat terakhir. Namun yang sekarang menjadi beban pertanyaan di hatiku adalah, apakah tidak sebaiknya Ki Sanak saja yang menyerah? Kami tidak akan membunuh kalian, karena itu memang bukan wewenang kami. Kalian akan kami serahkan kepada Pemerintahan Mataram yang mempunyai hak untuk mengadili kalian.”

“Omong kosong!” bentak iblis yang bertubuh tinggi itu, “Engkau jangan mimpi dapat mengalahkan kami. Sebelum ayam berkokok untuk yang pertama kali, aku jamin kalian berdua sudah terbujur kaku menjadi mayat.”

Pengawal Menoreh itu tersenyum sambil memandang wajah lawannya dalam keremangan malam. Katanya kemudian, “Tidak usah terlalu banyak sesorah Ki Sanak. siapapun kalian dan apapun julukan kalian, iblis , setan atau pun gendruwo tetekan, kami orang-orang Menoreh sudah terbiasa menghadapi sebuah pertempuran. Tidak usah membual. Sebentar lagi para peronda akan melewati tempat ini dan kalian sudah tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.”

“Omong kosong!” kembali iblis yang bertubuh tinggi itu membentak, “Orang-orang Menoreh memang sombong dan licik. Namun satu hal yang kalian akan segera menyadari, Ki Rangga Agung Sedayu yang kalian agung-agungkan itu akan segera mati di tangan kami tanpa perlawanan yang berarti.”

“Bukankah itu curang namanya?” bertanya Pengawal Menoreh itu, “Kalau memang kalian berdua jantan, tunggulah Ki Rangga sampai sembuh. Dengan senang hati Ki Rangga tentu akan menerima tantangan kalian.”

“Kami tidak bodoh,” geram orang itu, “Begitu kami menunggu Ki Rangga sampai sembuh, kalian seisi Tanah Perdikan Menoreh ini tentu akan beramai-ramai menangkap kami seperti laku menangkap para pencuri.”

“Tentu tidak,” jawab Pengawal itu dengan serta merta, “Kami bukan segolongan orang-orang yang pengecut. Kalian tentu sudah mendengar berapa kali Ki Rangga menerima tantangan orang-orang berilmu tinggi dan Ki Gede Menoreh serta para pengawal selama ini tidak pernah ikut campur.”

“Kakang!” tiba-tiba iblis bertangan badai yang sedang bertempur melawan Kiai Sabda Dadi berteriak, “Jangan layani ocehannya. Dia mencoba mengulur waktu sambil menunggu para peronda yang barangkali akan melewati tempat ini. Cepat selesaikan orang tidak berguna itu dan kita segera membawa Ki Rangga meninggalkan tempat ini.”

“Gila!” geram iblis bertanagn badai yang dipanggil Kakang itu, “Ternyata aku terpancing dengan akal licikmu. Terimalah kematianmu sekarang juga.”

Selesai berkata demikian tanpa menunggu jawaban lawannya, iblis bertangan badai yang bertubuh tinggi itu segera meluncur menerjang lawannya.

Segera saja dua buah lingkaran pertempuran yang dahsyat terjadi. Ternyata kedua orang yang menyebut dirinya sepasang iblis bertangan badai dari kali dadung itu telah meninggalkan medan pertempuran begitu Panembahan Cahya Warastra jatuh tersungkur di medan perang tanding melawan Ki Rangga Agung Sedayu. Mereka berdua yang sempat melihat Ki Rangga terlempar jauh melewati dinding padukuhan induk segera berusaha lolos dari medan dan mengejar ke tempat jatuhnya Ki Rangga.

Namun ternyata gerak mereka terlambat karena kedua orang itu tidak mungkin langsung menyeberangi medan pertempuran yang riuh menuju padukuhan induk. Kedua orang itu harus menempuh jalan melingkar untuk sampai ke tempat Ki Rangga terjatuh. Dengan berlindung di antara lorong-lorong dan dinding-dinding rumah di padukuhan induk, kedua orang itu akhirnya berhasil mendekati tempat terjatuhnya Ki Rangga.

Namun alangkah kecewanya mereka. Sesampainya mereka berdua di tempat itu, Ki Rangga ternyata telah dibawa ke sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat balai pengobatan sementara.

Demikianlah sambil terus melihat dan mengawasi perkembangan keadaan dari tempat persembunyian mereka, kedua orang itupun akhirnya berencana untuk mencegat Ki Rangga di tengah bulak yang menuju kediaman Ki Gede Menoreh begitu mereka melihat sebuah pedati telah digunakan untuk mengangkut Ki Rangga yang terluka parah.

“Hanya dua orang yang ikut di pedati itu,” desis salah satu iblis bertangan badai kepada kawannya.

“Bagaimana dengan perempuan itu?” bertanya kawannya begitu melihat Pandan Wangi ikut naik ke atas pedati.

“Tidak ada gunanya. Perempuan itu sudah hampir mati. Lihatlah wajahnya yang pucat pasi. Kelihatannya dia telah kehabisan banyak darah karena lukanya di lengan kiri itu.”

“Alangkah sombongnya,” sahut kawannya kembali, “Mereka seharusnya membawa pengawal segelar sepapan untuk mengawal Ki Rangga yang terluka parah.”

“Mungkin mereka beranggapan keadaan sangat aman karena mereka berada di daerah mereka sendiri.”

Kawannya sejenak termenung. Namun kemudian sebuah senyum kecil menghias bibirnya. Katanya kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepala, “Ternyata kelengahan mereka akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi kita. Dendam setinggi gunung dan sedalam lautan ini akan segera terbalaskan.”

Kawannya tidak menyahut. Namun kedua orang itu dengan tergesa-gesa segera bergeser dari tempat persembunyian mereka untuk mengikuti pedati yang tampak mulai bergerak meninggalkan balai pengobatan.

Demikianlah akhirnya sepasang iblis bertangan badai dari kali dadung itu telah berhasil menghentikan pedati yang membawa Ki Rangga di tengah-tengah bulak.

Dalam pada itu pertempuran telah meningkat dengan cepat. Kedua iblis itu telah membuktikan bahwa julukan mereka bukanlah tanpa arti. Dari kedua tangan iblis itu telah berputaran dengan dahsyat angin yang mengandung hawa panas dan melibat lawan-lawan mereka kemanapun lawan-lawan mereka itu mencoba menghindar.

Yang kemudian menjadi sangat terdesak adalah Pengawal dari Menoreh itu. Dia hanya dapat meloncat mundur dan mundur terus. Kemampuannya dalam olah kanuragan masih belum dapat disejajarkan dengan kemampuan lawannya, iblis bertangan badai dari kali dadung.

Kiai Sabda Dadi yang menyadari betapa gawatnya keadaan pengawal Menoreh itu belum dapat berbuat banyak. Lawannya telah membatasi gerak Kakek Damarpati itu dengan mengurungnya dari segala penjuru. Pusaran angin yang keluar dari kedua belah telapak tangan lawannya benar-benar nggegirisi. Ketika pada suatu saat serangan lawannya dapat dihindari dan mengenai sebuah dahan pohon di pinggir jalan yang menjorok rendah ke jalan, dahan itu pun bagaikan terpluntir dan hancur berpatahan. Memang terbesit keinginan dari Kiai Sabda Dadi untuk membenturkan ilmunya, namun Kiai Sabda Dadi sendiri masih harus menjajagi kekuatan lawan jika ingin membenturkan ilmunya langsung dengan ilmu lawannya.

Sebenarnyalah keadaan pengawal Menoreh itu sudah sedemikian gawatnya. Lawannya benar-benar tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengambil nafas. Serangannya datang beruntun bagaikan ombak yang menerjang tebing di pantai terjal, susul menyusul tak henti-hentinya.

“Nah,” tiba-tiba iblis bertangan badai itu menghentikan serangannya begitu melihat lawannya telah berdiri dengan lutut gemetar dan nafas tersengal sengal, “Engkau akan segera mati. Bukan kebiasanku untuk membunuh lawan dengan senjata. Aku akan memluntir lehermu sampai putus dan melemparkan kepalamu ke tengah sawah agar besuk pagi menjadi santapan burung-burung liar.”

Pengawal Menoreh itu tidak menjawab hanya matanya saja yang menatap kosong ke arah lawannya yang hanya berdiri beberapa langkah di depannya. Semangatnya benar-benar sudah hilang dan terbang bersama dengan sekelompok kelelawar yang tampak bersliweran di langit yang buram mencari mangsa.

Dalam pada itu Pandan Wangi yang masih terbaring diam di sisi Ki Rangga Agung Sedayu ternyata sedikit demi sedikit telah berhasil menguasai perasaannya. Ketika debar jantungnya telah menjadi tenang kembali, dia berusaha untuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya, terutama keadaan di luar pedati. Dengan perlahan Pandan Wangi pun kemudian merayap ke depan. Sesampainya Pandan Wangi di bagian depan pedati, sejenak jantung Pandan Wangi menjadi berdebar-debar kembali, namun kali ini yang membuatnya menjadi berdebar-debar bukan Ki Rangga Agung Sedayu, akan tetapi keadaan pengawal Menoreh yang sudah berada di ujung maut.

Ternyata iblis bertangan badai yang menjadi lawan pengawal Menoreh itu telah memutuskan untuk mengakhiri perlawanan lawannya. Sambil tertawa sekeras-kerasnya iblis bertangan badai itu pun berteriak, “Tataplah langit dan peluklah bumi untuk yang terakhir kali. Jangan rindukan lagi terbitnya matahari esok pagi.”

Menyadari bahwa pengawal Menoreh itu benar-benar dalam keadaan yang gawat, tidak ada pilihan lain bagi Pandan Wangi kecuali dengan sekuat tenaga untuk menolongnya.

Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yang masih lemah, dengan cepat Pandan Wangi segera bangkit berdiri. Kemudian dengan tergesa gesa dia segera meloncat turun sambil berteriak sekuat tenaganya, “Tunggu! Pengawal itu bukan lawanmu. Akulah lawanmu!”

Ternyata usaha Pandan Wangi untuk menunda kematian Pengawal itu berhasil. Lawannya yang sudah mengangkat tangan untuk meluncurkan serangan pamungkasnya, sejenak tertahan begitu mendengar teriakan Pandan Wangi.

Ketika iblis itu kemudian berpaling ke belakang, sejenak keningnya menjadi berkerut-merut begitu melihat dalam keremangan malam seseorang dengan terhuyung-huyung sedang berlari menuju ke arahnya.

“He!” iblis itu terkejut begitu menyadari bahwa yang sedang berlari ke arahnya itu ternyata seorang perempuan dalam pakaian khusus.

Segera saja diputar tubuhnya sambil membentak, “He, perempuan gila! Apakah engkau mencari mati? Untuk berjalan tegak saja engkau masih belum mampu. Pergilah! Aku tidak mempunyai urusan denganmu.”

Pandan Wangi yang telah sampai di depan iblis bertangan badai itu tidak segera menjawab. Dengan segera diatur nafasnya yang tersengal-sengal. Untuk beberapa saat kepalanya masih terasa pening, namun dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya itu di hadapan lawannya.

“Nyi Pandan Wangi!” tiba-tiba terdengar Pengawal Menoreh itu berseru, “Jangan hiraukan aku. Kembalilah ke pedati. Keselamatan Nyi Pandan Wangi itu yang lebih penting.”

“He!” tiba-tiba iblis itu memotong, “Jadi inikah puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang terkenal itu?” sejenak iblis itu berhenti. Kemudian lanjutnya, “Agaknya aku harus mengubah rencanaku. Selain membawa Ki Rangga ke Padepokan di ujung kali dadung untuk menerima hukuman atas segala dosa yang telah diperbuatnya, aku juga akan membawa puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang cantik ini sebagai hadiah para cantrik yang ada di padepokan.”

Sebuah desir tajam menggores jantung Pandan Wangi. Baginya lebih baik mati terbunuh dalam sebuah pertempuran dari pada hidup menjadi seorang tawanan.

“Nah, Nyi Pandan Wangi,” berkata iblis bertangan badai yang bertubuh tinggi itu kemudian, “Lebih baik Nyi Pandan Wangi menyerah. Aku bukanlah segolongan laki-laki kasar yang senang memperlakukan perempuan diluar kewajaran, apalagi Nyi Pandan Wangi sedang terluka. Dengan senang hati aku akan mengajak Nyi Pandan Wangi bertamasya menyusuri lembah dan ngarai, bukit dan gunung menuju padepokan kami di ujung kali dadung.”

Pandan Wangi tidak menjawab, kedua telapak tangannya telah melekat erat menggenggam ke dua gagang sepasang pedangnya. Dalam keadaan terpaksa, secepat kilat sepasang pedang itu akan keluar dari sarungnya.

Sambil tetap waspada terhadap gerak-gerik lawannya, dipusatkan seluruh nalar budinya untuk mengetrapkan puncak ilmunya walaupun keadaan tubuhnya masih lemah, namun Pandan Wangi tidak mempunyai pilihan lain. Jika lawannya itu mendekat, serangan pertamanya harus berhasil menembus jantung atau dia tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk membela diri karena keadaan tubuhnya yang tentu akan menjadi semakin memburuk sejalan dengan pengerahan ilmunya yang diluar batas.

Beberapa langkah dari tempat Pandan Wangi berdiri, Kiai Sabda Dadi bertempur dengan gelisah. Bukan karena memikirkan keselamatan dirinya, namun justru keselamatan putri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itulah yang menjadi beban pikirannya. Tidak ada pertimbangan lain bagi Kiai Sabda Dadi selain segera menyelesaikan lawannya itu dengan ilmu pamungkasnya kalau tidak ingin semuanya menjadi terlambat.

Namun sebelum Kiai Sabda Dadi memusatkan segenap nalar dan budinya untuk mengungkapkan ilmu puncaknya yang nggegirisi, sebuah aji yang tak bernama dan tidak pernah dikenal dalam dunia olah kanuragan, tiba-tiba pendengaran Kiai Sabda Dadi yang tajam melebihi orang-orang kebanyakan telah menangkap desir langkah mendekati tempat mereka, tidak hanya satu orang.

Sepasang iblis itupun ternyata juga mendengar desir langkah yang mendekati tempat itu. Sejenak kemudian dalam keremangan malam tampak dua orang meloncat dari balik tanggul di pinggir jalan dan dengan tergesa-gesa melangkah mendekati arena perkelahian.

“Wareng, Punjul, hentikan pertempuran!” tiba-tiba salah seorang dari kedua orang yang muncul dari balik tanggul itu berseru.

Dengan segera lawan Kiai Sabda Dadi meloncat surut sambil memandang tajam ke arah bayangan kedua orang yang datang mendekat. Rasa-rasanya dia mengenal suara itu. Demikian juga iblis yang berdiri di hadapan Pandan wangi, sejenak wajahnya menjadi berkerut merut.

Kiai Sabda Dadi yang menyadari lawannya telah meloncat mundur mengambil jarak menjadi berdebar-debar. Menilik kedua orang yang datang kemudian itu telah menyebut nama yang sebenarnya dari sepasang iblis itu, tidak menutup kemungkinan yang datang itu adalah kawan-kawan mereka.

“Kakang Secaprana dan Kakang Secabawa!” tiba-tiba iblis bertangan badai yang menjadi lawan Pandan Wangi itu berseru sambil mundur beberapa langkah begitu pandangan matanya membentur pada dua raut wajah yang sudah sangat dikenalnya.

Ternyata dua orang yang datang kemudian itu adalah murid utama perguruan Kumuda yang terletak di ujung kali Dadung.

Kiai Sabda Dadi yang mendengar seruan lawan Pandan Wangi itu jantungnya berdegup menjadi semakin kencang. Kakek Damarpati itu tidak menyangka bahwa usahanya untuk membawa Ki Rangga Agung Sedayu dari padukuhan induk menuju kediaman Ki Gede Menoreh akan mengalami rintangan yang sedemikian berat.

“Kemarilah,” berkata salah seorang yang lebih tua, Secaprana kemudian, “Kami berdua memang sengaja mengikuti perjalanan kalian menuju ke Menoreh begitu kami mendengar bahwa kalian berdua yang menjadi tamu di perguruan kami justru telah meninggalkan padepokan di ujung kali dadung tanpa sepengetahuan kami.”

Sejenak kedua iblis yang ternyata bernama Punjul dan Wareng itu saling pandang sambil melangkah mendekat. Sesampainya di depan kedua orang itu, Punjul lah yang mendahului menjawab, “Kakang, kami sengaja meninggalkan padepokan Kumuda untuk memenuhi undangan Panembahan Cahya Warastra.”

“Kalian telah membuat sebuah kesalahan,” berkata Secaprana, “Undangan untuk bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya warastra itu berlaku untuk perguruan kami, perguruan Kumuda, tidak untuk kalian dan guru kalian yang sedang menjadi tamu-tamu kami.”

“Kakang benar,” sahut Punjul, “Namun menurut hemat kami, kami juga mempunyai sangkut paut dengan perguruan Kumuda karena guru kami adalah saudara seperguruan Ki Pideksa. Kami merasa terpanggil untuk mewakili perguruan Kumuda. Sedangkan Kakang berdua yang menjadi pimpinan perguruan sepeninggal Ki Ajar Kumuda ternyata justru tidak menanggapi undangan itu.”

“Itu tidak benar,” Secabawa lah yang sekarang berkata, “Kami bersedia bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra namun tidak untuk saat ini. Kami masih harus membenahi perguruan kami terlebih dahulu sepeninggal Ki Ajar Kumuda,” Secabawa berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, “Selain itu kalian tidak mempunyai hak untuk menempatkan diri kalian menjadi perwakilan kami walaupun guru kami dan guru kalian telah berguru kepada orang yang sama ketika mereka masih muda. Namun dalam perkembangannya ternyata mereka telah menemukan guru mereka masing-masing dan landasan ilmu mereka telah berkembang ke arah yang berbeda. Walaupun demikian semasa hidupnya, Ki Ajar Kumuda tetap menganggap guru kalian Kiai Damar Sasongko sebagai saudara seperguruan.”

Kedua iblis bertangan badai itu sejenak termangu-mangu. Kesempatan itu ternyata telah dipergunakan oleh Kiai Sabda Dadi dengan sebaik-baiknya. Dengan perlahan dan tidak menimbulkan kecurigaan, dia bergeser mendekat ke tempat Pandan Wangi berdiri sambil berusaha mengetrapkan aji sapta pangrungu untuk mengetahui keadaan sekelilingnya. Sejauh itu Kiai Sabda Dadi tidak mendengar kehadiran orang lain selain kedua murid perguruan Kumuda yang sekarang berdiri di hadapan kedua iblis dari kali dadung itu.

“Semoga tidak ada lagi kawan-kawan mereka yang hadir di tempat ini,” berkata Kiai Sabda Dadi dalam hati sambil berdiri merapat di sebelah pandan Wangi.

“Berhati-hatilah, Nyi,” bisik Kiai Sabda Dadi kemudian kepada Pandan Wangi tanpa berpaling, “Keadaan dapat berkembang semakin buruk.”

Pandan Wangi hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara pengawal Menoreh yang berdiri tidak jauh dari Pandan Wangi ternyata juga telah tanggap dengan keadaan yang semakin tidak menentu. Dengan hati-hati dia juga berusaha untuk bergabung dengan Kiai Sabda Dadi dan Pandan Wangi.

“Nah,” berkata Secaprana kemudian setelah beberapa saat terdiam, “Ternyata di Menoreh kalian akan melakukan perbuatan yang dapat mencoreng nama baik perguruan Kumuda yang selama ini selalu menjunjung kejantanan,” Secaprana berhenti sebentar, kemudian lanjutnya, “Membunuh Ki Rangga Agung Sedayu selagi dalam keadaan terluka parah adalah sebuah perbuatan pengecut.”

“Tapi kakang,” kini Wareng yang menyela, “Bukankah dendam perguruan Kumuda harus terbalaskan? Sebagai perguruan yang mempunyai ikatan dengan perguruan Kumuda, kami hanya membantu untuk membalaskan dendam itu.”

“Silahkan kalau kalian memang mampu berperang tanding secara jantan melawan Ki Rangga Agung Sedayu,” geram Secaprana, “Bukan dengan cara seorang pengecut yang hanya berani membunuh orang yang sedang tidak berdaya. Itu jauh dari apa yang dipesankan oleh guru kami Ki Ajar Kumuda sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.”

“Kakang Secaprana benar,” sahut Secabawa, “Aku menjadi saksi pada waktu itu, bagaimana guru berpesan untuk tidak membalas dendam karena kemampuan kami yang masih jauh di bawah Ki Rangga. Namun itu tidak berarti bahwa kami akan berpangku tangan saja mengalami penghinaan itu. Kami akan membalas dendam jika saatnya sudah tiba, saat kami sudah mampu menguasai ilmu Tapak Prahara dengan sempurna.”

“Omong kosong!” tiba-tiba terdengar bentakan menggelegar dari atas tanggul di seberang jalan, “Hentikan semua omong kosong itu. Sampai mati pun kalian murid-murid perguruan Kumuda tidak akan mampu menguasai ilmu Tapak Prahara sampai sempurna.”

Serentak orang-orang yang berada di tengah bulak itu berpaling. Alangkah terkejutnya mereka begitu menyadari ternyata dalam keremangan malam seseorang yang bertubuh tinggi besar telah berdiri di atas tanggul sambil bertolak pinggang.

Sebuah desir tajam telah menggores jantung Kiai Sabda Dadi. Kehadiran orang yang terakhir itu ternyata telah luput dari pengamatan Kiai Sabda Dadi. Kalau sebelumnya Kiai Sabda Dadi mampu mendengar desir langkah murid-murid perguruan Kumuda, namun kehadiran orang tinggi besar itu sama sekali tidak terpantau oleh pendengaran Kiai Sabda Dadi yang berlandaskan aji sapta pangrungu.

—ooOoo—

1 Comment (+add yours?)

  1. Isone ngritik tok
    Apr 06, 2016 @ 07:09:55

    Rara wulan nampak lemah mental/emosional, tdk cocok dg banyaknya pengalaman yg sdh dia dptkan.
    Biasanya Glagah Putih tdk ceroboh menghadapi lawan2nya, apa sikapnya yg ragu2 dn tidak tegas itu sama dg Agung Sedayu? Pasangan suami istri ini jg terkesan rendah ilmunya, padahal ilmu lawannya jg cmn segitu saja.
    Puncak ilmu cambuk jg terkesan remeh, lalu apa kelebihannya dibanding kitab Ki Waskita?

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: