Terusan ADBM Jilid 411

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-411/)

Jilid 411

“Nah,” berkata Kanjeng Sunan kemudian, “Aku akan melanjutkan perjalananku mendaki pebukitan Menoreh. Terserah kepadamu anak muda, apakah engkau akan mengikuti aku ataukah melanjutkan perjalananmu sendiri menemui Ki Rangga Agung Sedayu?”

Untuk beberapa saat anak muda itu masih termangu-mangu. Namun ketika orang yang dipanggil Kanjeng Sunan itu mulai bergerak melangkahkan kakinya, dengan tanpa berpikir panjang, anak muda itu pun segera menyusul sambil berkata, “Ampun Kanjeng Sunan, jika diijinkan, perkenankan hamba mengikuti kanjeng Sunan mendaki pebukitan Menoreh.”

Kanjeng Sunan tidak menjawab. Hanya sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Sejenak kemudian kedua orang itu telah berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir hutan menuju ke pebukitan Menoreh.

*****

Dalam pada itu di padukuhan induk, Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh sedang mempersiapkan pemberangkatan pemakaman para korban baik dari pihak prajurit Mataram dan pengawal Menoreh, maupun dari pasukan Panembahan Cahya Warastra. Dari pihak Mataram telah hadir pula Ki Tumenggung Surayudha.

“Ki Patih Mandaraka menyampaikan permohonan maafnya tidak bisa menghadiri pemberangkatan pemakaman ini, Ki Gede,” berkata Ki Tumenggung Surayudha saat mereka bertiga berdiri di pendapa banjar padukuhan induk, tempat para jenazah disemayamkan untuk sementara, “Ki Patih masih membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan Raden Mas Rangsang.”

Ki Gede tersenyum. Jawabnya kemudian, “Kami sudah sangat berterima kasih atas kehadiran Ki Tumenggung.”

“Sudah seharusnya kami hadir di sini,” sahut Ki Tumenggung Surayudha, “Bukan karena ada beberapa prajurit kami yang gugur, namun ini adalah sebuah bentuk penghormatan dari Mataram atas bantuan dari pengawal Tanah Perdikan Menoreh dalam menghancurkan pasukan Panembahan Cahya Warastra yang dapat menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Mataram di masa yang akan datang.”

Mereka yang hadir di pendapa banjar padukuhan induk itu pun mengangguk-anggukkan kepala.

“Apakah keluarga para prajurit Mataram yang gugur sudah dihubungi?” bertanya Ki Gede kemudian.

Ki Tumenggung Surayudha menggeleng. Jawabnya, “Itu membutuhkan waktu. Bagi seorang prajurit, gugur di medan tugas adalah akibat yang wajar dari sebuah pekerjaan. Sejak kali pertama mereka memasuki lingkungan keprajuritan, kemungkinan seperti itu sudah ditanamkan sejak dini. Demikian juga keluarga para prajurit, mereka sudah menyadari akibat paling buruk yang dapat menimpa anggota keluarga mereka jika salah satu dari anggota keluarga telah membulatkan tekat untuk mengikatkan diri menjadi seorang prajurit,” Ki Tumenggung berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Namun demikian kami atas nama pemerintah Mataram akan menghubungi keluarga mereka setelah kita kembali ke ibu kota. Segala sesuatunya telah diatur dalam sebuah paugeran termasuk santunan yang berhak diterima oleh para keluarga korban.”

Hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga mengangguk-anggukkan kepala.

“Apakah keluarga dari para pengawal Menoreh yang gugur juga telah dihubungi?” sekarang Ki Tumenggung Surayudha yang ganti bertanya.

“Sudah Ki Tumenggung,” jawab Ki Jayaraga yang berdiri di sampingnya, “Kita sedang menunggu kedatangan mereka.”

Ki Tumenggung Surayudha mengangguk anggukkan kepalanya, sementara Ki Gede Menoreh telah menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya yang sayu menatap kosong ke titik-titik di kejauhan. Seolah-olah terbayang kembali beberapa puluh tahun yang lalu ketika api membakar Tanah Perdikan Menoreh karena pertikaian keluarga. Seandainya dengan dada tengadah dan niat baik, Sidanti pada waktu itu menghadap kepadanya dan meminta untuk diangkat menjadi kepala tanah Perdikan menggantikan dirinya, mungkin sejarah dapat berubah. Tidak ada secuwil niat pun di dalam hatinya untuk membedakan antara Sidanti dengan Pandan Wangi. Namun semuanya telah berlalu, dan untuk kesekian kalinya Tanah Perdikan Menoreh harus berduka kembali, karena putra-putra terbaiknya telah gugur dalam menegakkan dan mempertahankan tanah kelahiran mereka.

“Ternyata kedatangan orang-orang bercambuk itu telah menorehkan sejarah panjang Tanah Perdikan ini,” gumam Ki Gede Menoreh dalam hati, “Khususnya Ki Rangga Agung Sedayu jasanya terhadap tanah ini benar-benar tidak dapat dihitung dan dinilai dengan apapun. Tidak salah sebenarnya kalau Pandan Wangi pada waktu itu telah menjatuhkan pilihan kepadanya. Yang salah adalah waktu, mengapa puteriku terlambat mengenal Ki Rangga Agung Sedayu sedangkan gadis dari Sangkal Putung itu telah menarik hati Ki Rangga terlebih dahulu.”

“Ki Gede,” tiba-tiba kata-kata Ki Jayaraga telah membuyarkan lamunan Ki Gede Menoreh, “Agaknya para keluarga korban telah berdatangan.”

Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya yang sudah berkeriput. Tampak berpuluh-puluh orang, baik laki-laki maupun perempuan bahkan kanak-kanak telah berhamburan memasuki halaman banjar padukuhan. Segera saja suasana menjadi sangat gaduh. Jerit tangis yang memilukan pun segera meledak begitu mereka mulai menaiki tangga pendapa dan mencoba mengenali keluarga mereka yang telah menjadi korban. Perempuan-perempuan menangis sejadi-jadinya sambil menjerit-jerit dan berteriak memanggil-manggil nama suami atau pun anak laki-laki mereka. Tak terkecuali kanak-kanak yang masih belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, telah ikut menangis karena biyung-biyung mereka juga menangis. Sedangkan para lelaki tampak hanya menahan getaran yang melanda rongga dada mereka dengan menahan nafas dan tangan yang dikepal keras-keras untuk menahan jatuhnya air mata.

Beberapa pengawal dibantu oleh prajurit Mataram telah membimbing dan mencoba menenangkan perempuan-perempuan yang telah kehilangan kendali. Mereka menangis meraung-raung disisi jenasah Ayah, suami ataupun saudara kandung mereka yang telah gugur dalam menunaikan tugas.

Seorang perempuan muda sambil menggendong bayinya yang masih berumur beberapa bulan tampak berdiri termangu-mangu di tangga pendapa. Air matanya berlinangan membasahi wajahnya bagaikan sumberan air di musim penghujan yang tidak pernah kering. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan bibir yang bergetar hebat namun tak sepatah kata pun yang terucap. Tidak terdengar jeritan atau teriakan, bahkan sebuah isak tangis pun. Hanya pandangan matanya yang tampak redup itu dengan nanar menjelajahi ke seluruh sudut-sudut pendapa. Dicobanya untuk mengenali barangkali dia dapat menemukan keberadaan suaminya dari tempatnya berdiri. Dia merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melangkahkan kakinya mendekati mayat-mayat yang terbujur diam berjajar-jajar diatas lantai pendapa beralaskan tikar pandan dalam balutan putihnya kain kafan.

Ki Gede yang melihat seorang perempuan muda sedang berdiri termangu-mangu di tangga pendapa, segera mengayunkan langkahnya. Sesampainya Ki Gede di depan perempuan muda itu, beberapa saat Ki Gede tidak tahu harus berbuat apa. Perempuan muda itu tampak linglung karena goncangan yang dahsyat telah mendera jantungnya.

“Nyi,” akhirnya dengan sangat berhati-hati Ki Gede mencoba menyapa, “Apakah ada sesuatu yang dapat aku bantu?”

Perempuan itu masih tetap termangu seolah tidak mendengar sapa Ki Gede. Baru ketika Ki Gede mengulangi pertanyaannya, dengan perlahan dia berpaling. Begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, bagaikan bendungan yang pecah diterjang banjir di musim hujan, tangisnya pun meledak tak tertahankan lagi. Tubuhnya limbung ke kiri, kalau saja Ki Gede tidak dengan segera menahan tubuh yang limbung itu dengan cara memegangi lengan kirinya, tentu perempuan muda yang sedang menggendong bayinya itu sudah jatuh terjerembab di tangga pendapa.

Beberapa pengawal segera memburu untuk membantu Ki Gede. Dengan perlahan-lahan akhirnya perempuan muda itu pun dibantu untuk dapat duduk bersimpuh di tangga pendapa. Tangisnya terdengar sangat memilukan hati. Apalagi ketika bayi dalam gendongannya terbangun dari tidur lelapnya dan ikut menangis melengking-lengking, suasanapun menjadi semakin kisruh.

Ki Gede masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sejenak dipandanginya perempuan muda yang bersimpuh selangkah di hadapannya itu dengan jantung yang bagaikan diremas-remas. Perang memang selalu membawa korban dan kebanyakan para kawula alit lah yang paling menderita.

“Sudahlah Nyi..,” akhirnya dengan kata-kata sedikit ditekan Ki Gede mencoba menghibur sambil berjongkok di depan perempuan muda itu, “Sebaiknya engkau lebih mengedepankan nalarmu dari pada mengikuti perasaanmu. Lihatlah, bayimu ikut menangis dan kelihatannya membutuhkan perhatianmu. Mungkin dia merasa haus. Sebaiknya engkau rawat dulu bayimu.”

Mendengar Ki Gede menyebut bayinya, perempuan muda itu seolah-olah baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk. Dengan segera dipeluknya bayi yang sedang menangis melengking-lengking dalam gendongannya dan dicium kedua pipinya agar menjadi sedikit lebih tenang.

“Masuklah ke pringgitan,” berkata Ki Gede kemudian sambil berdiri, “Di sana engkau dapat memberi minum bayimu dengan lebih leluasa.”

Perempuan muda itu hanya menganggukkan kepalanya sambil bangkit berdiri. Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan tangisnya. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang masih menyangkut di tenggorokannya sehingga nafasnya menjadi tersengal-sengal. Ketika seorang pengawal kemudian mempersilahkannya ke pringgitan lewat samping pendapa, dia pun hanya menurut saja.

Ketika bayangan perempuan muda itu telah hilang di balik pintu pringgitan, barulah Ki Gede beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju ke tempat Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Surayudha berdiri menunggu.

“Ki Gede, apakah pemberangkatan jenasah sudah dapat dimulai?” bertanya Ki Jayaraga sesampainya Ki Gede di hadapannya.

Ki Gede belum menjawab. Sejenak ditebarkan pandangan matanya ke seluruh pendapa. Perempuan-permpuan masih menangis walaupun tidak sekeras pada saat pertama kali mereka datang, sedangkan beberapa laki-laki sudah dapat menguasai perasaan mereka dan mulai membantu menyiapkan pemberangkatan jenasah. Beberapa orang telah membantu para pengawal dan prajurit menyiapkan alat pengusung jenasah yang terbuat dari bambu yang sederhana karena dibuat dengan sangat tergesa-gesa.

Ketika Ki Gede masih menilai kesiapan peralatan yang akan digunakan untuk mengusung jenasah, tiba-tiba dari arah regol banjar padukuhan induk tampak beberapa orang sedang berjalan memasuki halaman.

“Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang berkenan hadir!” terdengar seorang prajurit berseru.

Hampir bersamaan ketiga orang yang berdiri di pendapa itu berpaling kearah regol halaman banjar padukuhan. Tampak Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang sedang berjalan melintasi halaman dikawal oleh para prajurit kepatihan.

Dengan tergopoh-gopoh Ki Gede bersama Ki Jayaraga dan Ki Tumenggung Surayudha segera menyambut kedatangan kedua bangsawan itu.

“Merupakan suatu anugrah bagi kami atas berkenannya Ki Patih dan Raden Mas Rangsang hadir di tempat ini,” sambut ki Gede Menoreh sambil menyalami kedua bangsawan Mataram itu.

“Mereka adalah pahlawan bagi Mataram,” sahut Ki Patih sambil menyambut uluran tangan Ki Gede, “Sudah selayaknya dan juga merupakan suatu kewajiban bagi kami untuk menghormati mereka sampai ke peristirahatan yang terakhir.”

Beberapa orang yang mendengar kata-kata Ki Patih itu menarik nafas dalam-dalam. Beberapa keluarga korban bahkan merasa sedikit terhibur mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Patih.

Setelah mereka menempatkan diri di depan pintu pringgitan, Ki Gede pun kemudian mempersilahkan Ki Patih Mandaraka untuk memberikan sesorahnya.

“Setiap jiwa akan kembali menghadap Sang Pencipta, “ berkata Ki Patih Mandaraka memulai sesorahnya, “Hanya saja kita tidak diperkenankan untuk mengetahui kapan dan bagaimana cara kita kembali menghadapNYA.”

Orang-orang yang hadir di pendapa itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mereka yang terbaring di pendapa ini, telah lulus dari segala ujian yang diberikan oleh Yang Maha Agung. Kini mereka dapat pulang kembali ke haribaanNYa untuk menikmati apa yang telah mereka sumbangsihkan kepada negara dan bangsa serta amal ibadah selama mereka hidup di dunia. Di dunia mereka akan selalu kita kenang sebagai pahlawan, dan di kehidupan yang langgeng mereka akan mendapatkan balasannya berupa derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka,” Ki Patih Mandaraka berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Atas nama Penguasa Tertinggi Mataram, kami mengucapkan bela sungkawa yang sangat dalam disertai dengan permohonan doa kepada Yang Maha Kuasa, semoga diampuni segala dosa mereka serta diterima segala amal ibadah mereka. Bagi keluarga yang ditinggalkan, baik dari prajurit Mataram maupun pengawal Tanah Perdikan Menoreh, kami doakan semoga tabah dalam menerima cobaan ini dan selalu mendekatkan diri dan pasrah serta menerima dengan ikhlas segala sesuatu yang telah menjadi ketentuanNYA.”

Suasana benar-benar hening. Sudah tidak ada lagi isak tangis di antara mereka. Agaknya apa yang telah disampaikan oleh Ki Patih Mandaraka sedikit banyak telah mendinginkan dada mereka yang hadir di pendapa pagi itu.

“Selanjutnya,” Ki Patih Mandaraka meneruskan sesorahnya, “Untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran hari kemarin, Pemerintah Mataram akan memberikan penghargaan berupa santunan bagi para ahli waris yang berhak. Jangan lah menilai penghargaan ini terlalu dangkal dalam ukuran duniawi, namun lebih dari itu, mereka tentu akan menerima pahala yang jauh lebih baik di sisi Tuhan mereka. Semoga apa yang dapat diberikan oleh Pemerintah Mataram ini nantinya bermanfaat dan selanjutnya dapat untuk membantu menopang kehidupan para ahli warisnya dalam meneruskan kehidupan bebarayan. Setelah pemakaman ini selesai, para ahli waris dapat berhubungan dengan Ki Lurah Panyarikan.”

Ki Lurah Panyarikan yang berdiri di ujung pendapa segera maju dua langkah sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam agar para keluarga korban dapat mengenalinya dan pada saatnya nanti dapat menghubungi untuk kepentingan mengurus hak para ahli waris.

“Nah, kiranya tidak ada lagi yang perlu kami sampaikan,” berkata Ki Patih kemudian, “Untuk selanjutnya, marilah dengan penuh khidmat kita hantarkan jenasah para pahlawan ini ke peristirahatan yang terakhir.”

Demikianlah akhirnya, setelah seorang sesepuh dari padukuhan induk yang ikut hadir di situ memimpin doa, dengan berangsur-angsur para pengawal dan prajurit yang sedang bertugas dibantu oleh sebagian laki-laki keluarga korban segera mengangkat jenasah satu persatu turun dari pendapa. Sejenak kemudian iring-iringan itu pun telah keluar dari halaman banjar padukuhan induk menuju ke tempat pemakaman umum yang terletak agak jauh di sebelah timur tanah pesawahan bersebelahan dengan padang perdu di pinggir hutan yang masih cukup lebat.

Dalam pada itu di tengah hutan yang masih lebat yang bersebelahan dengan padang perdu dekat pemakaman padukuhan induk, sekelompok orang tampak sedang beristirahat sambil bersandaran pada batang-batang pohon yang menjulang. Sebagian lagi telah merebahkan diri beralaskan pada rumput-rumout kering serta dedaunan.

“Kiai, ternyata kita sudah terlambat,” berkata seorang yang berperawakan pendek kekar.

Orang yang dipanggil Kiai itu tertawa pendek. Katanya kemudian, “Bukan kita yang terlambat, namun orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra itulah yang bergerak terlalu cepat.”

Orang yang berperawakan pendek kekar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kemudian seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Lebih baik kita kembali pulang saja dari pada duduk-duduk di sini tanpa arti.”

“Siapa bilang kehadiran kita di sini tanpa arti?” tiba-tiba terdengar suara berat dan dalam dari arah kiri. Ketika mereka berpaling, tampak seseorang yang berperawakan tinggi besar sedang melangkah ke tempat mereka.

“Guru,” hampir bersamaan orang-orang yang sedang duduk-duduk di sekitar itu bergumam perlahan.

Sedangkan orang yang dipanggil Kiai itu telah bangkit berdiri sambil berkata, “Selamat datang Ki Ajar Serat Gading. Walaupun kedatangan kita sudah sangat terlambat dan tidak menjumpai hiruk pikuknya pertempuran.”

“Terima kasih, Ki Sambi,” jawab orang yang dipanggil Ki Ajar Serat Gading itu sambil berjalan mendekat, “Kita tidak terlambat, justru kita lah yang akan membuat sejarah di tempat ini. Sebentar lagi jasad penerus trah Mataram itu akan tergeletak tak bernyawa di padang rumput itu bersama dengan jasad orang yang sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Mataram itu sendiri, Ki Juru Martani yang sangat cerdik namun juga licik.”

Orang-orang yang sedang beristirahat di dalam hutan itu menjadi berdebar-debar. Mereka belum mengetahui apa maksud dari ucapan Ki Ajar Serat Gading.

Sejenak Ki Ajar Serat Gading masih menebarkan pandangan matanya yang setajam burung elang itu ke seluruh sudut hutan. Murid-muridnya yang telah berdiri dengan serentak begitu guru mereka hadir di situ, tidak ada seorang pun yang berani menentang pandangannya. Semuanya telah menundukkan kepala dalam-dalam. Sementara Kiai Sambiwaja hanya dapat berdiri termangu-mangu sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Duduklah,” perintah Ki Ajar Serat Gading kemudian sambil tetap berdiri di tempatnya. Sementara Kiai Sambiwaja masih berdiri termangu-mangu.

“Silahkan Kiai,” berkata Ki Ajar mempersilahkan Kiai Sambiwaja. Yang dipersilahkan pun kemudian kembali duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah,” berkata Ki Ajar Serat Gading selanjutnya ketika semua telah duduk, “Keterlambatan kita ternyata membawa keberuntungan. Aku memang sengaja membiarkan kalian berangkat terlebih dahulu bersama Kiai Sambiwaja. Namun sebenarnyalah aku telah menyempatkan diri untuk menghadap Eyang guru terlebih dahulu sebelum menyusul kalian ke Menoreh.”

Semua mendengarkan dengan seksama sambil menduga-duga, apakah Ki Ajar berhasil menghadap Eyang gurunya yang sudah sangat sepuh dan telah menjadi pertapa di puncak gunung lawu.

“Dan ternyata aku telah diperkenankan oleh eyang guru menghadap,” berkata ki Ajar selanjutnya, “Inilah buktinya.”

Semua mata segera saja tertuju ke arah tangan kiri Ki Ajar Serat Gading yang perlahan-lahan menyingkapkan baju dan mengambil sesuatu dari balik bajunya. Segera saja di tangan kiri Ki Ajar tergenggam sebuah pusaka yang masih tersimpan dalam wrangkanya. Ketika Ki Ajar kemudian mengangkat pusaka itu di atas kepalanya terlebih dahulu, maka sejenak kemudian mereka yang hadir di situ telah dikejutkan oleh sebuah sinar yang menyilaukan yang keluar dari wrangka itu ketika Ki Ajar dengan perlahan mencabut pusaka itu dengan tangan kanannya.

“Keris Kanjeng Kiai Sarpasri..!” hampir setiap mulut menyebut nama pusaka itu dengan jantung yang berdebaran.

Kiai Sambiwaja yang duduk paling dekat dengan Ki Ajar sampai terlonjak berdiri. Dengan seksama diamat-amatinya keris yang tergenggam di tangan kanan Ki Ajar. Sebuah keris yang berbentuk naga sebagaimana keris Nagasasra, Naga Kumala dan Naga Geni. Yang membedakan adalah Keris Sarpasri ujudnya lurus tidak mempunyai luk sama sekali. Pada ujung ekor naga yang merupakan ujung keris itu terbuat dari emas berkilauan. Beberapa butir permata tampak menghiasi tubuh naga itu di antara ukiran sisik-sisiknya. Sementara kedua matanya terbuat dari sepasang intan yang gemerlapan. Demikian juga di antara gigi-giginya yang tajam terdapat beberapa butiran intan.

Sejenak Kiai Sambiwaja masih mengerutkan keningnya dalam-dalam. Namun akhirnya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Sambiwaja pun kemudian duduk kembali sambil berdesis perlahan, “Memang benar Keris kanjeng Kiai Sarpasri, keris yang hampir saja mengakhiri keangkuhan Panembahan Senapati pada waktu itu.”

“Kiai benar,” sahut Ki Ajar sambil menyarungkan kembali keris Kiai Sarpasri ke dalam warangkanya sebelum terlebih dahulu mengangkat keris itu di atas kepalanya. Lanjutnya kemudian, “Seandainya Panembahan Senapati pada waktu itu tidak sempat mengambil pusaka Mataram Kanjeng Kiai Plered, tentu Mataram sekarang hanya tinggal namanya saja.”

Orang-orang yang hadir di dalam hutan itu terlihat menahan nafas. Mereka memang pernah mendengar cerita tentang kedahsyatan keris Kiai Sarpasri yang hampir saja berhasil membunuh Panembahan Senapati pada saat salah seorang murid perguruan Nagaraga berhasil memasuki bilik peraduan Panembahan Senapati. Namun sejauh ini mereka hanya mendengar namanya saja dan mengetahui ciri-cirinya. Secara kewadagan mereka belum pernah melihat ujud asli keris itu. Sedangkan Kiai Sambiwaja yang mempunyai kemampuan untuk mengenal jenis-jenis pusaka segera yakin bahwa keris yang berada di tangan ki Ajar adalah Kanjeng Kiai Sarpasri.

Pengaruh kekuatan keris Kiai Sarpasri itu memang luar biasa sebagaimana yang telah diakui sendiri oleh Panembahan Senapati pada waktu itu. Yang sangat mendebarkan adalah ujud keris itu pada setiap geraknya. Keris itu seolah-olah telah berubah menjadi seekor naga yang tidak seberapa besar namun mampu menyemburkan api dari mulutnya. Api yang beracun yang keluar dari mulutnya itulah yang ternyata mampu menekan kekuatan ilmu lawannya.

Memang murid perguruan Nagaraga yang berhasil menyusup ke bilik peraduan Panembahan Senapati pada waktu itu sempat menunjukkan kemampuan ilmunya yang cukup tinggi. Dengan dilambari kekuatan keris yang berada di tangannya, murid perguruan Nagaraga itu mampu memaksa Panembahan Senapati untuk bertempur beberapa lama sebelum akhirnya Panembahan Senapati menyadari kekuatan nggegirisi yang terpancar dari keris lawannya. Sebelum persoalannya menjadi semakin rumit, Panembahan Senapati pun akhirnya memutuskan untuk mengimbangi pusaka lawannya dengan pusaka terbesar Mataram.

Dengan cerdik Panembahan Senapati pun kemudian telah memancing lawannya untuk bertempur keluar bilik. Demikian lawannya telah berada di luar bilik, dalam kesempatan yang tak terduga, Panembahan Senapati ternyata justru telah meloncat memasuki biliknya kembali. Ketika lawannya dengan kemarahan yang menghentak dada kemudian menyusul ke dalam bilik, di tangan Panembahan Senapati telah tergenggam pusaka Mataram yang mempunyai kekuatan tiada taranya, kanjeng Kiai Plered.

“Nah,” berkata Ki Ajar selanjutnya sambil masih tetap berdiri, “Di Menoreh tidak ada pusaka yang mampu menandingi kedahsyatan Kanjeng Kiai Sarpasri. Ki Patih Mandaraka tidak akan mampu melawan pengaruh pamor dari Kanjeng Kia Sarpasri, apalagi Raden Mas Rangsang yang masih ingusan. Dengan demikian akan tuntaslah dendam perguruan Nagaraga yang telah dihancurkan oleh pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Singhasari pada waktu itu.”

“Bagaimana dengan Kiai Nagaraga sendiri?” tiba-tba Kiai Sambiwaja menyela, “Pemimpin Agung perguruan Nagaraga pada waktu itu tidak terbunuh di tangan pangeran yang sombong itu, akan tetapi justru di tangan orang bercambuk.”

“Kiai Gringsing maksud Kiai?” bertanya Ki Ajar sambil tertawa pendek, “Orang itu sudah mati karena sakit tua, namun setelah aku berhasil membunuh Ki Juru Mertani dan Raden Mas Rangsang, aku akan menantang murid utama perguruan orang bercambuk itu, Ki Rangga Agung Sedayu.”

Kiai Sambiwaja mengerutkan keningnya. Jawabnya kemudian, “Ki Ajar, Ki Rangga Agung Sedayu sampai saat ini belum terdengar beritanya. Apakah dia masih sanggup bertahan hidup setelah berperang tanding melawan Panembahan Cahya Warastra, kita belum tahu. Sementara berita lain yang aku dengar, murid kedua orang bercambuk juga sedang menderita luka yang cukup parah dan dirawat di padepokan Jati Anom.”

“Persetan!” geram Ki Ajar Serat Gading, “Aku akan menantang berperang tanding salah satu atau bahkan kedua-duanya kalau perlu. Kalau mereka memerlukan waktu untuk menyembuhkan luka atau meningkatkan ilmu terlebih dahulu, aku tidak akan berkeberatan, asalkan tidak lebih dari tiga kali purnama.”

Kiai Sambiwaja kembali mengerutkan keningnya. Menurut perhitungannya, ilmu Ki Ajar Serat Gading mungkin masih selapis tipis di bawah ilmu perguruan orang bercambuk. Namun dengan bantuan keris pusaka Kanjeng Kiai Sarpasri, keadaan akan dapat berbalik. Orang yang memiliki ilmu dan ketahanan batin setingkat Panembahan Senapati pun masih perlu imbangan kekuatan dengan menggunakan pusaka terbesar Mataram, Kanjeng Kiai Plered. Apalagi perguruan orang bercambuk, sepanjang pengetahuannya mereka tidak memiliki sejenis pusaka apapun selain senjata andalan mereka, cambuk.

“Sekarang kita akan mengatur siasat untuk menjebak Ki Juru Martani dan Mas Rangsang,” Ki Ajar berhenti sejenak. Lalu katanya, “Berapa jumlah kawanmu semuanya, Jabung?”

Orang yang dipanggil Jabung itu ternyata orang yang berbadan pendek dan kekar yang duduk di dekat Kiai Sambiwaja. Segera saja dia bangkit berdiri sambil menjawab, “Empat puluh orang, Guru.”

Ki Ajar Serat Gading mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Sebelum menuju tempat ini, aku tadi sempat menyusup sampai di dekat banjar padukuhan induk. Para Pengawal Menoreh dibantu prajurit Mataram tampak sedang sibuk mempersiapkan pemberangkatan para korban perang dari kedua belah pihak. Aku melihat Ki Juru dan Mas Rangsang ada di antara mereka. ini adalah kesempatan yang langka. Sebentar lagi iring-iringan jenasah itu pasti akan menuju kemari, dan aku yakin kedua bangsawan Mataram yang menjadi sasaran kita itu pasti akan ikut dalam iring-iringan itu. Lebih baik kita segera mempersiapkan diri, sebagian dari kalian bersembunyi di dalam hutan ini dan yang lain akan menunggu di tanah pekuburan itu.”

Beberapa orang telah melemparkan pandangan mata mereka ke tanah pekuburan di sebelah padang perdu yang hanya berjarak sekitar sepuluh tombak. Dari tempat mereka bersembunyi, tampak sekitar sepuluh orang penggali kubur sedang duduk-duduk melepaskan lelah di antara gundukan-gundukan tanah sambil menunggu kedatangan iring-iringan jenasah.

“Bagaimana dengan para penggali kubur itu?” bertanya Kiai Sambiwaja.

Ki Ajar tertawa. Jawabnya kemudian, “Apakah keberatan Kiai? Beberapa orang dari kita akan merayap mendekati mereka dari arah belakang dan membungkam mereka untuk selama-lamanya. Setelah itu sebagian dari kita akan menyamar sebagai penggali kubur dan menunggu kesempatan membunuh kedua Bangsawan Mataram itu.”

Tidak ada seorang pun yang membantah perintah Ki Ajar Serat Gading. Murid-murid perguruan Serat Gading sudah terbiasa dengan kehidupan yang bergelimangan dengan darah. Bagi mereka adalah suatu kebanggaan tersendiri dapat melaksanakan dengan tuntas setiap perintah dari pemimpin tertinggi mereka.

Sedangkan Kiai Sambiwaja yang berasal dari luar perguruan Serat gading ternyata sependapat dengan siasat Ki Ajar. Bagi orang-orang yang telah menenggelamkan diri mereka dalam kehidupan yang kelam, segala cara akan ditempuh tanpa mempertimbangkan hak dan kepentingan orang lain.

“Baiklah Ki Ajar,” berkata Kiai Sambiwaja kemudian, “Jika diijinkan, aku sendiri yang akan memimpin penyergapan ini. Menilik jumlah para penggali kubur yang tidak lebih dari sepuluh orang, aku memerlukan kawan paling banyak separo dari jumlah mereka. Kami hanya perlu waktu sekejab untuk membinasakan mereka. Dengan sekali ayunan atau tebasan, kepala mereka pasti sudah terpisah dari badan mereka.”

Ki Ajar mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun katanya kemudian, “Kiai, sebaiknya Kiai membawa sepuluh orang agar pekerjaan ini segera cepat selesai. Jangan beri kesempatan mereka berteriak atau meminta bantuan dengan cara apapun. Sebentar lagi iring-iringan jenasah itu tentu sudah berangkat dari banjar padukuhan induk.”

“Baiklah Ki Ajar, aku akan membawa sepuluh orang agar pekerjaan ini selesai dalam sekejab.”

Selesai berkata, Kiai Sambiwaja segera memberi isyarat kepada Jabung dan kawan-kawannya untuk bergerak.

Demikianlah, sejenak kemudian sepuluh orang dipimpin oleh Kiai Sambiwaja telah merayap di antara gerumbul-gerumbul perdu serta batang-batang ilalang yang tumbuh merapat berjajar-jajar di padang perdu sebelah tanah pekuburan.

Dalam pada itu di kediaman Ki Gede Menoreh, Sekar Mirah tampak sedang menggendong bayinya sambil berjalan tergesa-gesa memasuki bilik Ki Rangga Agung Sedayu. Di dalam bilik itu telah berkumpul Ki Waskita, Kiai Sabda Dadi, Pandan Wangi dan sepasang suami istri Glagah Putih dan Rara Wulan yang baru saja tiba. Mereka tampak sedang bercanda dengan gembira menyambut Ki Rangga Agung Sedayu yang telah tersadar dari pingsannya.

“Inilah yang ditunggu-tunggu!” seru Pandan Wangi tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya begitu Sekar Mirah melangkah memasuki bilik.

“Ah, betapa lucunya..!” seru Rara Wulan. Dengan penuh suka cita dia bergegas menyongsong Sekar Mirah. Dengan tanpa disadarinya kedua tangannya telah terjulur ingin menggendong bayi dalam pelukan Sekar Mirah.

“Sebentar Rara,” dengan halus Sekar Mirah menolak sambil tersenyum, “Biarlah Kakang Agung Sedayu melihatnya terlebih dahulu.”

“Oh..maaf..maaf. Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya,” desis Rara Wulan dengan wajah bersemu merah. Sementara orang-orang yang ada di dalam bilik itu justru telah tertawa.

“Agaknya Rara sudah tidak sabar lagi ingin segera mendapat momongan,” gurau Ki Waskita yang duduk di sebelah Kiai Sabda Dadi.

Yang mendengar gurauan Ki Waskita tertawa tergelak. Sedangkan Glagah Putih yang duduk agak di sudut hanya tersenyum masam. Ketika pandangan matanya kemudian bertemu dengan sepasang mata istrinya yang kebetulan juga sedang menatapnya, hampir bersamaan keduanya pun kemudian telah tersenyum.

“Marilah Ki Rangga, aku bantu untuk duduk,” berkata Kiai Sabda Dadi sambil membantu Ki Rangga yang masih lemah untuk duduk. Sedangkan Ki Waskita telah menahan punggung Ki Rangga dengan menggunakan beberapa bantal yang disusun pada sandaran tempat tidur.

“Terima kasih,” desis Ki Rangga Agung Sedayu perlahan sambil tersenyum.

Sekar Mirah yang melihat suaminya telah duduk di atas pembaringan bersandaran pada tumpukan bantal segera maju. Setelah duduk di bibir pembaringan, bayi yang ada di gendongannya pun kemudian diangsurkan kepada suaminya.

“Inilah Kakang, buah hati kita,” berkata Sekar Mirah kemudian, “Aku belum menyiapkan nama untuk anak kita ini. Aku harap Kakang sudah menyiapkannya.”

Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum bahagia. Dengan tangan yang masih lemah dibelainya kepala bayi mungil itu. katanya kemudian, “Mirah, aku akan memberi nama sesuai dengan nama kakeknya, Sadewa. Apakah engkau setuju?”

“Setuju, kakang. Aku setuju sekali,” jawab Sekar Mirah dengan serta merta. Lanjutnya kemudian, “Bagaimana kalau di depan nama itu ditambah Bagus? Jadi lengkapnya Bagus Sadewa.”

“Bagus Sadewa,” hampir bersamaan orang-orang yang ada di dalam bilik itu bergumam perlahan.

Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum sambil memandang orang-orang yang hadir di dalam bilik itu. Tanyanya kemudian kepada Ki Waskita, “Bagaimana Ki Waskita? Apakah menurut isyarat yang Ki Waskita terima, anak ini nantinya akan memiliki masa depan yang cerah?”

“Ah,” Ki Waskita tertawa pendek, “Aku sudah semakin tua, ngger. Karunia yang aku terima mungkin juga semakin susut sejalan dengan susutnya daya nalar dan ingatanku.”

“Atau mungkin justru sebaliknya, Ki,” sela Kiai Sabda Dadi, “Semakin tua umur seseorang, justru semakin mengendap hatinya sehingga ketajaman batinnya menjadi semakin meningkat.”

Kembali Ki Waskita tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Yang aku rasakan sekarang ini tak ubahnya seperti orang-orang kebanyakan, tua dan sedikit pikun. Rasa-rasanya perjalananku memang sudah hampir sampai ke batas. Tidak ada satu kekuatan pun yang akan mampu melawan jika saatnya telah tiba.”

“Ki Waskita benar,” sahut Kiai Sabda Dadi, “Namun biarlah yang berlaku itu kehendakNYA, bukan kehendak kita. Kita semua hanyalah menunggu kapan saat itu akan datang kepada kita. Selebihnya di dalam menunggu, hendaknya kita selalu mengikuti segala perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA.”

“Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran,” desis Ki Rangga Agung Sedayu perlahan.

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian, “Sekarang sebaiknya kita beri kesempatan Ki Rangga untuk beristirahat. Aku telah meramu obat untuk memperkuat daya tahan tubuh terutama bagian perut Ki Rangga yang telah lama tidak terisi makanan agar dapat bekerja kembali seperti sediakala.”

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Walaupun mereka masih ingin bercengkerama lebih lama lagi dengan Ki Rangga, terutama Sekar Mirah, namun mereka harus menyadari bahwa Ki Rangga memerlukan pengobatan khusus dari Kiai Sabda Dadi serta istirahat yang cukup untuk mengembalikan kesehatannya.

Sekar Mirah yang duduk di bibir pembaringan segera beringsut sambil berkata, “Beristirahatlah Kakang. Biaralah Bagus Sadewa aku bawa dulu. Nanti kalau Kakang sudah sembuh, Kakang dapat mengendongnya seharian penuh.”

“Ah,” serentak orang-orang yang berada di dalam bilik itu tertawa. Sahut Ki Waskita kemudian, “Aku kira Ki Rangga memerlukan sebuah latihan khusus, karena selama ini Ki Rangga belum pernah belajar menggendong bayi.”

“Aku kira tidak jauh berbeda dengan apa yang telah aku lakukan selama ini,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum penuh arti.

Sejenak orang-orang yang berada di dalam bilik itu mengerutkan kening. Ternyata Pandan Wangi lah yang tidak dapat menahan diri, tanyanya kemudian dengan nada sedikit ragu-ragu, “Apakah yang telah Kakang lakukan selama ini?”

“Menggendong ibunya,” jawab Ki Rangga perlahan.

Segera saja gelak tawa memenuhi bilik tempat Ki Rangga dirawat. Sementara Sekar Mirah hanya dapat menundukkan wajahnya sambil tersipu-sipu.

Dalam pada itu, Anjani yang berada di bilik yang berseberangan dengan bilik Ki Rangga telah mendengar gelak tawa yang berasal dari dalam bilik Ki Rangga.

“Agaknya Ki Rangga benar-benar telah menemukan kesadarannya kembali,” berkata Anjani dalam hati, “Alangkah berbahagianya Nyi Sekar Mirah. Seandainya saja aku dapat bergabung dengan mereka sekarang ini.”

Untuk sejenak Anjani termenung. Ingatannya segera kembali pada saat dia diberi tugas oleh Resi Mayangkara untuk menyadarkan Ki Rangga Agung Sedayu dengan mengetrapkan aji seribu bunga.

“Untunglah aku masih ingat suba sita dan tidak melanggar tata kesopanan dalam bebrayan ini walaupun sebenarnya Kakang Agung Sedayu tidak akan menyadari apa yang terjadi di sekitarnya,” desis Anjani dalam hati, “Seandainya itu benar-benar terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri dan aku merasa tidak pantas untuk bertemu dengan Kakang Agung Sedayu kembali.”

Kembali Anjani termenung. Hatinya benar-benar resah dan gelisah. Dia tidak tahu apa yang akan dikerjakannya di Tanah Perdikan Menoreh ini. Sebenarnya dia mempunyai banyak pilihan sebagaimana yang telah ditawarkan oleh Resi Mayangkara, namun ada satu hal yang masih memberati hatinya dan ingin diungkapkan di hadapan Ki Rangga sendiri jika suatu saat nanti dia memperoleh kesempatan untuk bertemu berdua saja.

Lamunan Anjani terputus ketika tiba-tiba saja pintu bilik berderit terbuka. Seorang pembantu perempuan Ki Gede Menoreh yang rambutnya sudah ubanan memasuki bilik sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Perempuan tua itu tersenyum begitu Anjani turun dari pembaringan. Sambil meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja kayu di sudut bilik, perempuan tua itu pun kemudian berkata, “Silahkan Nini. Kami telah membuatkan bubur halus ini khusus untuk Nini agar segera sehat kembali.”

“Terima kasih, Bibi,” jawab Anjani sambil memegang lengan pembantu perempuan Ki Gede itu, “Jangan terlalu merepotkan.”

“Ah, tidak,” jawab perempuan tua itu sambil tersenyum, “Nini adalah tamu di rumah ini. Sudah sewajarnya lah kalau kami menghormat tamu selagi kami mampu.”

“Terima kasih,” sekali lagi Anjani menjawab sambil mengantar perempuan tua pembantu rumah Ki Gede itu sampai ke pintu bilik.

Ketika bayangan perempuan tua itu telah hilang di balik pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur, tiba-tiba saja pintu bilik Ki Rangga terbuka dan tampak lah Rara Wulan dengan riang gembira mengendong Bagus Sadewa keluar dari bilik.

“Ayo, mBokayu, kita bawa Bagus Sadewa ke halaman belakang,” berkata Rara Wulan sambil berjalan bergegas. Kemudian katanya kepada Glagah Putih yang mengikutinya dari belakang, “Kakang, tolong ambilkan tikar pandan untuk digelar di bawah pohon jambu air di dekat perigi.”

Glagah Putih yang berjalan di belakangnya hanya menganggukkan kepala. Sementara Sekar Mirah telah ikut keluar dari bilik menyusul sepasang suami istri itu yang telah hilang di balik pintu dapur.

Anjani yang berdiri di dekat pintu biliknya segera bergeser agak ke dalam agar terhindar dari pengamatan sepasang suami istri yang belum dikenalnya itu. Ketika Sekar Mirah terlihat ikut keluar dari bilik, hampir saja dia menyapanya, namun niat itu segera diurungkannya begitu melihat seorang perempuan paro baya yang terlihat masih cantik melangkah keluar bilik di belakang Sekar Mirah.

“Nyi Pandan Wangi,” desis Anjani dalam hati sambil melangkah mundur. Namun usahanya untuk menghindarkan diri dari pandangan Pandan Wangi ternyata gagal. Pandan Wangi justru telah melihatnya terlebih dahulu dan melangkah menuju ke biliknya.

Entah perasaan apa yang bergejolak dalam dadanya begitu menyadari Pandan Wangi telah memasuki bilik. Darah di sekujur tubuhnya serasa membeku sehingga Anjani hanya diam mematung di tempatnya berdiri begitu Pandan Wangi menghampirinya.

“Engkau belum makan?” pertanyaan itu lah yang pertama-tama meluncur dari bibir Pandan Wangi begitu dia melihat makanan dan minuman di atas meja kayu di sudut bilik yang terlihat masih utuh belum tersentuh sama sekali.

Anjani menarik nafas dalam-dalam untuk mengurai getar di rongga dadanya. Jawabnya kemudian perlahan, “Aku belum lapar, mBokayu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Dipandanginya Anjani dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan tatapan yang tajam, setajam tatapan mata elang yang sedang mengintai mangsanya.

“Engkau memerlukannya untuk mengembalikan kekuatan tubuhmu agar segar kembali,” berkata Pandan Wangi kemudian tanpa melepaskan tatapan matanya, “Atau memang engkau memiliki ketahanan tubuh melebihi orang-orang kebanyakan, itu aku tidak tahu.”

“Ah, itu tidak benar, mBokayu,” jawab Anjani dengan serta-merta, “Tubuhku memang terasa sangat lemah namun aku tidak mempunyai selera makan sama sekali.”

“Itu karena engkau terlalu memaksakan diri untuk mengangkat beban diluar kemampuanmu, diluar jangkauan nalarmu.”

Sebuah desir tajam terasa menggores jantung Anjani, namun dia berusaha untuk menghilangkan kesan apapun dari wajahnya. Maka katanya kemudian untuk mengalihkan pembicaraan, “mBokayu, apakah Ki Rangga benar-benar telah sadar? Dan apakah keadaannya telah semakin membaik?”

Kembali sebuah kerut-merut tampak di kening Pandan Wangi. Jawabnya kemudian, “Ki Rangga baik-baik saja dan sudah dalam perawatan Kiai Sabda Dadi. Kita yang tidak terlalu berkepentingan, untuk sementara sebaiknya tidak usah mengganggunya.”

Kembali sebuah desir tajam menggores jantung perempuan muda berlesung pipit itu. Setelah sejenak mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba saja melonjak-lonjak, dengan sedikit menekan kata-katanya, akhirnya Anjani perlahan berkata, “Aku hanya ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya, agar usahaku dalam melaksanakan tugas yang telah dibebankan oleh Eyang Resi kepadaku untuk membantu menyadarkan Ki Rangga tidak sia-sia. Hanya itu, aku hanya melaksanakan sebuah tugas, tidak lebih dan tidak kurang.”

Sekarang giliran jantung Pandan Wangi yang berdesir. Namun tidak ada perubahan sama sekali pada raut wajahnya. Puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu hanya menarik nafas dalam dalam sambil berdesis, “Engkau memang benar, Anjani. Engkau hanya melaksanakan tugas, dan memang dalam hal ini kita semua hanya bisa berusaha dan berdoa. Yang Maha Agung lah yang menentukan semua itu.”

Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun dia menyadari bahwa kata-kata Pandan Wangi itu seolah-olah mengabaikan perannya dalam membantu Ki Rangga menemukan kesadarannya kembali. Namun hal itu tidak menjadikan persoalan dalam hatinya. Maka katanya kemudian, “Marilah, mBokayu. Kita dapat bercakap-cakap sambil duduk.”

Selesai berkata demikian Anjani segera melangkah menghampiri sebuah dingklik kayu di dekat pembaringan dan kemudian mendudukinya.

Sedangkan Pandan Wangi dengan langkah yang sedikit segan mengambil tempat duduk di dekat meja kayu di sudut bilik.

“Anjani,” berkata Pandan Wangi kemudian setelah membetulkan letak duduknya, “Apakah sebenarnya yang membawamu sampai ke Tanah Perdikan Menoreh ini?”

Jantung Anjani yang sudah tenang segera saja bergejolak kembali. Pertanyaan Pandan Wangi kali ini benar-benar telah menyudutkannya. Untuk beberapa saat Anjani justru telah terdiam sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ada sedikit perasaan iba di hatinya. Bagaimana pun juga Pandan Wangi adalah juga seorang perempuan yang pernah merasa mempunyai harapan yang berlebih terhadap Ki Rangga Agung Sedayu, dan agaknya kini Anjani akan merasakan sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Pandan Wangi pada waktu itu, kecewa.

“Anjani,” perlahan Pandan Wangi berkata sambil memandang tajam ke arah Anjani, “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu tentang latar belakang dirimu dan untuk tujuan apa dirimu datang ke tanah Perdikan Menoreh ini. Namun ada satu hal yang ingin kusampaikan kepadamu dan aku harap engkau menyadarinya dengan sepenuh hatimu,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Sedikit banyak Kakang Agung Sedayu telah bercerita kepadaku tentang dirimu. Namun saat ini aku tidak ingin membuat sebuah penilaian terhadap dirimu karena memang itu bukan kewenanganku. Yang ingin kusampaikan kepadamu adalah bahwa Kakang Agung Sedayu adalah suami dari seorang perempuan yang bernama Sekar Mirah, dan Sekar Mirah itu adalah adik iparku karena suamiku, kakang Swandaru adalah kakak kandung Sekar Mirah. Jadi aku mohon dengan sangat, jauhilah kakang Agung Sedayu. Jangan ganggu keluarga mereka betapa pun aku menyadari perasaanmu yang paling dalam terhadap Kakang Agung Sedayu.”

Untuk sejenak Anjani bagaikan membeku di tempatnya. Dia sama sekali tidak menduga kalau ternyata Pandan Wangi begitu tega menyampaikan hal yang sangat pribadi itu kepadanya, walaupun Anjani menyadari hubungan kekeluargaan antara Ki Rangga Agung Sedayu dengan Pandan Wangi. Namun jauh di lubuk hatinya, Anjani merasa Pandan Wangi tidak mempunyai hak untuk melarang dirinya mendekati Ki Rangga.

Maka setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu untuk mengurangi debar di dalam rongga dadanya, akhirnya dengan kata-kata yang penuh tekanan, Anjani pun menjawab, “Nyi Pandan Wangi, tidak ada seorang pun di dunia ini yang berhak mengatur perasaan seseorang. Demikian juga perasaanku kepada Kakang Agung Sedayu. Namun aku menyadari batasan mana yang tidak boleh aku langgar justru karena aku menyadari bahwa Kakang Agung Sedayu telah berumah tangga.”

Selarik warna merah tampak membayang di wajah puteri satu-satunya kepala Tanah Perdikan Menoreh itu. Untuk beberapa saat Pandan Wangi justru telah terdiam. Jauh di dalam lubuk hatinya dia pun mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengatur perasaan seseorang. Bahkan sampai saat ini pun hatinya masih belum bisa berpaling dari Ki Rangga Agung Sedayu.

“Pandan Wangi,” demikian terdengar suara dari dasar hatinya, “Bukankah selama ini dalam mendampingi suamimu Swandaru Geni engkau hanya menganggap sebagai menjalankan tugas semata yang dibebankan kepadamu? Engkau menganggap semua itu hanya sebagai bentuk tanda baktimu kepada orangtuamu? Serta selebihnya adalah sebagai sarana untuk membalas budi kebaikan orang-orang bercambuk yang telah menolong Tanah Perdikan ini dari kehancuran karena pertikaian antara keluarga sendiri?”

Pandan Wangi berdesah perlahan sambil menggeleng lemah. Hatinya benar-benar galau. Dia tidak dapat mengingkari suara hatinya yang tidak bisa berpaling dari bayang-bayang Ki Rangga Agung Sedayu. Apa yang selama ini dijalaninya adalah lamis, walaupun dengan sepenuh hatinya dia berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik, namun pada kenyataannya justru suaminya lah yang telah berpaling kepada perempuan lain.

“Sekar Mirah adalah cinta pertama kakang Agung Sedayu,” kembali terdengar suara hatinya, “Sedangkan aku adalah korban sebuah cinta yang tersia-sia. Sebenarnyalah dalam hal ini Kakang Agung Sedayu tidak dapat dipersalahkan. Akan tetapi mengapa tanggapan kakang Agung Sedayu pada waktu itu begitu meyakinkan hatiku? Ataukah aku yang terlalu berperasaan sehingga menanggapi sikap Gupita pada saat itu dengan berlebihan?”

Seolah terbayang kembali di rongga mata Pandan Wangi saat dirinya dengan Gupita berlari-larian menyelamatkan diri dari kejaran anak buah Ki Peda Sura. Dengan bergandengan tangan mereka berdua berlarian di antara pematang sawah dan sesekali meloncati parit-parit yang cukup lebar. Genggaman tangan Gupita pada saat itu dirasakannya bagaikan seonggok bara yang panasnya menjalar ke sekujur tubuhnya dan menghangati hatinya yang selama itu dingin dan beku.

Bulan bulat di langit yang bersinar dengan cerahnya telah menambah suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga menjadi semakin cerah dan ceria. Seolah-olah ingin dijelajahinya seluruh pelosok Tanah Perdikan Menoreh pada malam itu sampai pagi menjelang. Seandainya saja Gupita tidak mengingatkan tugasnya sebagai prajurit yang bertanggung jawab penuh atas pasukannya, tentu dirinya lebih senang duduk-duduk berdua saja di atas pematang yang becek di bawah cerahnya sinar bulan purnama.

“Mungkin aku saja yang telah terjebak sendiri dalam perasaanku,” berkata Pandan Wangi dalam hati, “Setidaknya pada waktu itu, kakang Agung Sedayu hanya memainkan perannya sebagai seorang gembala yang bernama Gupita. Aku yakin , gurunya telah memainkan peran dalam setiap peristiwa yang terjadi di tanah ini pada saat itu. Kemunculan Gupita yang tiba-tiba pada saat aku terdesak dalam pertempuran melawan Ki Peda Sura tidak mungkin terjadi hanya kebetulan saja. Kiai Gringsing tentu sudah dapat mengukur ketinggian ilmu Ki Peda Sura sehingga dia tidak akan mungkin melepaskan muridnya begitu saja untuk menghadapi Ki Peda Sura.”

Berpikir sampai disini tiba-tiba saja wajah Pandan Wangi menjadi semburat merah kembali. Namun cepat-cepat kesan itu segera dihilangkan dari wajahnya.

“Alangkah malunya,” desisnya dalam hati, “Mungkin pada saat itu Kiai Gringsing dari jarak tertentu telah mengikuti kami berdua yang sedang berlari-larian sepanjang pematang dan meloncati parit-parit yang berair bening sambil bergandengan tangan.”

“Ah,” tiba-tiba saja tanpa disadarinya Pandan Wangi telah berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maafkan aku mBokayu,” tiba-tiba suara Anjani telah membuyarkan lamunannya, “Apakah kata-kataku tadi menyinggung perasaan mBokayu?”

Pandan Wangi tersenyum, betapapun pahitnya. Jawabnya kemudian sambil menggeleng, “Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Aku mohon maaf jika aku terlalu mencampuri urusanmu. Bukan maksudku untuk menghalangimu berhubungan dengan Ki Rangga, namun apa yang aku sampaikan hanyalah sebatas saran dan nasihat kepadamu, pandai-pandailah membawa diri sehubungan dengan keberadaan Ki Rangga yang sudah berumah tangga,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya dia melanjutkan, “Aku mohon diri, Anjani. Jika engkau memang mempunyai kepentingan yang mendesak, engkau dapat menjenguk Kakang Agung Sedayu sekarang, selagi masih ada Kiai Sabda Dadi dan Ki Waskita.”

Selesai berkata demikian, tanpa menunggu jawaban dari Anjani, Pandan Wangi segera melangkah menuju pintu bilik. Sementara Anjani dengan tergesa-gesa segera bangkit berdiri dan mengantar Pandan Wangi sampai ke pintu dengan pertanyaan yang menggumpal di dalam dada. Mengapa Pandan Wangi menyarankan dirinya untuk bertemu dengan Ki Rangga selagi di dalam bilik masih ada orang lain? Padahal apa yang ingin disampaikan adalah urusan pribadi yang tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Ketika langkah Pandan Wangi hampir saja mencapai pintu, tiba-tiba saja dia berbalik sambil menatap tajam ke arah Anjani. Katanya kemudian, “Anjani, kita adalah sama-sama perempuan. Engkau tentu menyadari betapa sakitnya hati seorang perempuan ketika cintanya diduakan. Aku tidak ingin melihat hati Sekar Mirah terluka, sebagaimana yang pernah terjadi pada diriku.”

Anjani terkejut mendengar kata-kata Pandan Wangi. Dengan serta merta dia menyahut, “Maksud mBokayu.?”

“Ah sudahlah. Lupakan saja,” tukas Pandan Wangi cepat begitu menyadari keterlanjurannya. Kemudian katanya sambil melangkah keluar bilik, “Makanlah! Usahakan engkau dapat makan walaupun hanya sesuap nasi dan seteguk air, agar kesehatanmu pulih kembali.”

“Terima kasih mBokayu,” jawab Anjani sambil mengangguk.

Diikutinya saja langkah Pandan Wangi yang hilang di balik pintu yang menghubungkan ruang dalam dengan dapur dengan pandangan kosong. Terasa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ucapan Pandan Wangi yang terakhir. Benarkah puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pernah terluka hatinya? Anjani hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sepeninggal Pandan Wangi, Anjani segera menutup pintu biliknya rapat-rapat namun tidak diselarak dari dalam. Sambil duduk termenung di tepi pembaringan, angan-angan Anjani pun kemudian melayang. Bayangan berbagai macam bentuk dan corak telah hilir-mudik dalam benaknya. Bayangan masa lalunya yang kelam maupun kejadian-kejadian yang baru saja terjadi atau harapan-harapan yang telah tumbuh dalam hatinya serta angan-angan dan cita-citanya untuk meraih masa depan.

Dalam pada itu, Kiai Sambiwaja yang memimpin sepuluh orang murid-murid perguruan Serat Gading sedang merayap di antara gerumbul-gerumbul perdu serta batang-batang ilalang yang tumbuh merapat berjajar-jajar yang bersebelahan dengan tanah pekuburan. Dengan gerakan yang senyap mereka berusaha mendekati para penggali kubur yang sedang melepaskan lelah dan duduk-duduk di atas gundukan-gundukan tanah.

“Kiai,” bisik Jabung sambil merayap di sebelah Kiai Sambiwaja, “Aku kira jarak antara kita dengan mereka sudah cukup dekat. Sebaiknya Kiai segera memberi isyarat kepada kawan-kawan kita untuk menyerbu.”

“Belum,” jawab Kiai Sambiwaja sambil merunduk di sebelah gerumbul perdu yang cukup lebat, “Kita maju beberapa langkah lagi. Dengan demikian kita dapat menyelesaikan perkerjaan kita dengan sekali loncat.”

Jabung tidak menjawab. Bagaimana pun juga debar jantungnya telah berpacu kencang walaupun dalam perhitungannya lawan yang akan dihadapi tidak lebih dari para penggali kubur.

Sejenak kemudian, ketika terdengar suara jengkerik yang cukup keras dari balik sebuah gerumbul, tiba-tiba saja dari gerumbul-gerumbul yang berserakan di sebelah tanah pekuburan itu telah bermunculan murid-murid perguruan Serat Gading dengan menggenggam senjata telanjang.

Bagaikan burung-burung sikatan yang beterbangan di padang ilalang, mereka segera berloncatan menerjang para penggali kubur itu tanpa ampun.

Namun alangkah terkejutnya para murid perguruan Serat Gading itu begitu senjata-senjata mereka terayun deras, dengan sangat cekatan orang-orang yang mereka sangka sebagai penggali kubur itu hampir bersamaan telah berguling menjauh. Demikian mereka melenting berdiri, di tangan kanan mereka telah tergenggam senjata masing-masing.

“Gila!” geram Kiai Sambiwaja, “Siapakah kalian sebenarnya?”

“Siapa kami itu tidak penting,” jawab seorang yang berdiri paling dekat dengan Kiai Sambiwaja, “Menyerahlah! Kalian pasti sisa-sisa pengikut Panembahan Cahya Warastra yang tidak mau melihat kenyataan.”

“Persetan!” teriak Kiai Sambiwaja. Kemudian perintahnya kepada murid-murid Serat Gading, “Bunuh semua orang gila ini!”

Demikianlah akhirnya telah pecah pertempuran yang dahsyat di atas tanah pekuburan itu. Kiai Sambiwaja menjadi terheran-heran dan tidak habis pikir, justru pada benturan pertama pasukan kecilnya telah terdesak hebat.

“Setan, Gendruwo, Tetekan..!” umpat Kiai Sambiwaja sambil menghindari terjangan lawannya, seorang yang sudah cukup berumur dengan bersenjatakan sebuah keris luk sebelas.

“Perlawanan kalian sia-sia saja,” berkata orang yang sudah cukup berumur itu sambil mendesak lawannya, “Menyerah sajalah. Mungkin Ki Patih Mandaraka akan mempunyai sedikit pertimbangan untuk mengampuni kalian.”

“Tutup mulutmu, iblis..!” geram Kiai Sambiwaja sambil berloncatan menghindar. Lawannya benar-benar tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk mengambil jarak. Serangannya datang membadai susul-menyusul bagaikan ombak yang menghantam karang di bibir pantai yang terjal.

Beberapa langkah dari Kiai Sambiwaja, Jabung dan kawan-kawannya benar-benar harus berjuang keras untuk menahan gempuran orang-orang yang mereka sangka sebagai penggali kubur itu. Gerakan mereka begitu tangkas dan cekatan serta bergerak dalam satu irama yang membingungkan sehingga murid-murid Serat Gading itu harus bertahan mati-matian.

“Siapakah mereka ini sebenarnya?” geram Jabung dalam hati sambil menunduk menghindari sambaran senjata lawannya. Belum sempat Jabung menilai keadaan lawannya, sebuah tendangan keras meluncur ke arah dadanya.

Jabung tidak mau mengambil keputusan gegabah dengan meloncat mundur atau pun menggeser tubuhnya selangkah. Namun apa yang dilakukan Jabung adalah memotong serangan kaki lawannya dengan tebasan senjatanya.

Ternyata tendangan keras ke arah dada itu hanyalah sebuah pancingan. Dengan cepat lawannya menarik kakinya, sebagai gantinya senjatanya justru telah menyambar pundak.

Terdengar umpatan keras dari mulut Jabung. Dengan tergesa-gesa dia segera melompat ke belakang sambil meraba pundak kanannya. Terasa sesuatu yang cair dan hangat telah membasahi telapak tangan kirinya, darah.

“Gila!” umpat Jabung dengan mata nanar memandang ke arah lawannya yang tegak berdiri beberapa langkah di hadapannya. Kelihatannya lawannya sengaja membiarkan Jabung untuk menilai keadaan dengan tidak melancarkan serangan susulan.

“Setiap tetes darah tebusannya adalah nyawa!” geram Jabung dengan gigi bergemeretakkan.

“Silahkan Ki Sanak,” jawab lawannya tenang, “Namun sebaiknya Ki Sanak segera menyadari keadaan yang sebenarnya. Menyerahlah! Kami prajurit Mataram tidak akan memperlakukan para tawanan dengan semena-mena justru karena kami telah terikat kepada sebuah paugeran yang harus kami junjung tinggi.”

“He!” seru Jabung hampir berteriak, “Jadi kalian adalah para prajurit Mataram?!”

Beberapa orang yang mendengar teriakan Jabung menjadi berdebar-debar. Apalagi Kiai Sambiwaja yang bertempur hanya beberapa langkah saja dari Jabung segera menyadari keadaan yang sebenarnya, bahwa mereka ternyata telah salah dalam menilai kekuatan orang-orang yang mereka sangka hanya sebagai penggali kubur.

Berpikir sampai di situ, Kia Sambiwaja segera memutuskan untuk meminta bantuan kepada Ki Ajar Serat Gading beserta murid-muridnya yang masih bersembunyi di hutan. Sejenak kemudian segera saja terdengar suara suitan nyaring yang memekakkan telinga dua kali berturut-turut membelah udara pagi.

Dalam pada itu, Ki Ajar Serat Gading beserta murid-muridnya yang masih menunggu di dalam hutan menjadi gelisah. Dari kejauhan mereka hanya dapat menyaksikan pertempuran yang sengit di atas tanah pekuburan tanpa dapat menilai keseimbangan pertempuran itu sendiri.

Sebenarnyalah Ki Ajar telah mengetrapkan aji sapta pandulu untuk menilai pertempuran yang sedang berlangsung. Namun pengenalannya atas kemampuan orang-orang yang dia sangka sebagai penggali kubur itu ternyata telah mendebarkan jantung.

“Siapakah sebenarnya mereka itu?” geram Ki Ajar sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam, “Mengapa Kiai Sambiwaja memerlukan waktu sekian lama hanya untuk membunuh cecurut-cecurut itu?”

Namun yang terjadi kemudian adalah benar-benar diluar perhitungan Ki Ajar. Dua kali suitan berturut-turut dari Kiai Sambiwaja telah menjawab semua pertanyaan yang selama ini menghentak dada. Ternyata Kiai Sambiwaja beserta sepuluh orang murid perguruan Serat Gading tidak mampu mengatasi orang-orang yang mereka sangka sebagai penggali kubur itu.

“Marilah,” berkata Kiai Serat Gading kemudian begitu suara suitan itu menghilang, “Agaknya kita memang harus mengeluarkan sedikit keringat untuk membuat jebakan bagi Ki Juru dan Mas Rangsang.”

Selesai berkata demikian, Ki Ajar berserta muird-muridnya segera bergerak keluar dari hutan. Mereka tidak perlu lagi bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Dengan mengeluarkan teriakan seperti para pemburu yang sedang mengejar seekor pelanduk, mereka berlari-larian di antara gerumbul- gerumbul dan semak belukar sambil mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi.

Para penggali kubur yang ternyata adalah para prajurit Mataram itu sangat terkejut ketika mendapati berpuluh-puluh orang berlari-larian menerjang gerumbul dan semak belukar menuju ke arah tanah pekuburan sambil menghunus senjata yang tampak berkilat-kilat mendebarkan jantung ditimpa sinar Matahari pagi.

“Ki Lurah!” prajurit yang bertempur menghadapi Jabung segera berteriak ke arah lawan Kiai Sambiwaja, seorang yang sudah cukup berumur dengan bersenjatakan sebilah keris luk sebelas.

Yang dipanggil Ki Lurah hanya tersenyum. Dengan sebuah isyarat dia segera memerintahkan seorang prajurit yang sedang bertempur beberapa langkah di samping kirinya. Agaknya prajurit itu segera tanggap. Dengan segera dia melompat ke belakang sejauh-jauhnya untuk mengambil jarak. Ketika lawannya kemudian mencoba memburunya, seorang prajurit yang lain segera menghadangnya, sehingga prajurit itu untuk sementara telah menghadapi dua orang lawan sekaligus.

Dua orang murid perguruan Serat Gading yang melawannya mencoba untuk menekan dengan menyerang dari arah yang berlawanan. Namun dengan tangkasnya prajurit itu dapat menghindari kedua serangan itu dengan sempurna. Justru beberapa saat kemudian, serangannya lah yang datang membadai menerjang kedua lawannya.

Dalam pada itu prajurit yang telah terbebas dari lawannya segera mengambil busur dan anak panah yang dengan sengaja telah mereka sembunyikan di dalam lubang-lubang galian. Sejenak kemudian, sekali lagi udara pagi telah digetarkan oleh bunyi panah sendaren yang meraung-raung di langit padukuhan induk.

Ki Patih Mandaraka yang berjalan beriringan bersama Raden Mas Rangsang dan Ki Gede Menoreh mengerutkan keningnya. Tanpa sesadarnya dia menoleh ke belakang. Tampak Ki Tumenggung Surayudha yang berjalan di samping Ki Jayaraga telah menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arahnya.

“Agaknya perhitunganmu tentang orang-orang tak dikenal itu benar-benar terjadi, Ki Tumenggung,” berkata Ki Patih kemudian sambil memperlambat langkahnya.

Ki Tumenggung Surayudha segera mempercepat langkahnya. Sambil menjajari langkah Ki Patih, katanya kemudian, “Hamba Ki Patih. Kami telah menempatkan sepuluh orang prajurit dari kesatuan Jalamangkara di bawah pimpinan Ki Lurah Upasanta yang menyamar sebagai penggali kubur.”

Ki Patih Mandaraka tersenyum sambil mengangguk-angguk. Sementara mereka yang mendengar nama Ki Lurah Upasanta disebut telah ikut tersenyum. Ki Lurah Upasanta adalah salah satu cucu dari Ki Patih Mandaraka.

“Apakah rombongan orang-orang tak dikenal itu termasuk perguruan-perguruan yang sedianya akan membantu Panembahan Cahya Warastra?” bertanya Ki Patih selanjutnya.

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Surayudha, “Sejak rombongan orang-orang tak dikenal itu menyeberangi kali praga menjelang tengah malam tadi, para prajurit sandi terus memantau pergerakan mereka dan telah memberikan laporan secara berkala kepada kami,” Ki Tumenggung berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Menilik pergerakan mereka yang langsung menuju Tanah Perdikan Menoreh, memang dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa mereka sedianya akan bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra.”

“Ma’af Ki Tumenggung,” tiba-tiba Ki Argapati yang sedari tadi hanya menjadi pendengar memotong, “Apakah para prajurit sandi dapat memberikan gambaran tentang mereka? Maksudku ciri-ciri yang mereka kenakan dapat menunjukkan dari mana asal perguruan mereka?”

Ki Tumenggung menggeleng, “Tidak Ki Gede. Para prajurit sandi hanya melakukan pengamatan dari jarak yang cukup jauh sehingga agak sulit mengenal ciri-ciri yang mereka pergunakan.”

“Kalau pengamatan mataku yang sudah tua dan rabun ini tidak salah, mereka sepertinya sisa-sisa perguruan Nagaraga yang telah dihancurkan Mataram beberapa saat yang lalu pada saat pemerintahan Panembahan Senapati,” tiba-tiba saja Ki Patih Mandaraka berkata perlahan namun cukup mengagetkan orang-orang yang mendengarnya.

“Perguruan Nagaraga?” beberapa mulut telah mengulang nama perguruan yang telah lama tenggelam itu.

“Ya,” sahut Ki Patih sambil terus mengayunkan langkahnya mengikuti irama langkah orang-orang yang berbondong-bondong mengantarkan jenasah-jenasah itu menuju peristirahatan mereka yang terakhir.

“Ampun, Ki Patih,” Ki Tumenggung segera mengajukan pertanyaan, “Para prajurit sandi belum melaporkan siapakah sebenarnya mereka itu. Hamba mohon petunjuk seandainya Ki Patih telah mendapat laporan terlebih dahulu.”

Ki Patih tersenyum. Jawabnya kemudian, “Tadi pagi ketika kita sedang berkumpul di banjar padukuhan induk, ada salah satu orang yang sangat menarik perhatianku. Dia berbaur dengan para keluarga korban dan penghuni padukuhan induk yang sudah kembali. Namun dari panggraitaku aku dapat menangkap sesuatu kekuatan yang sangat mengerikan dari orang itu. Sebuah getaran yang nggegirisi terpancar dari sebilah keris yang terselip di ikat pinggangnya.”

“Sebilah keris?” tanpa sadar Raden Mas Rangsang yang berjalan di sebelah kiri Ki Patih berdesis.

“Ya, Cucunda Buyut. Getaran itu sama dengan getaran yang pernah aku rasakan pada saat aku menyimpan keris yang dibawa oleh salah satu murid perguruan Nagaraga yang berhasil memasuki bilik peraduan Panembahan Senapati.”

“Keris Kiai Sarpasri..!” tiba-tiba Ki Gede Menoreh berseru tertahan.

“Ya Ki Gede, keris Kiai Sarpasri yang telah hilang dengan sendirinya ketika aku menyimpannya.”

Orang-orang yang mendengar keterangan Ki Patih menjadi berdebar-debar. Jika apa yang telah diraba oleh kemampuan panggraita Ki Patih itu benar, berarti lawan yang akan dihadapi tidak dapat dipandang dengan sebelah mata.

“Bagaimana dengan panah sendaren itu?” bertanya Ki Patih kemudian ketika rombongan pengantar jenasah itu hampir mencapai regol padukuhan induk yang telah roboh.

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Surayudha, “Telah kami tempatkan enam puluh prajurit di belakang dinding padukuhan induk di bawah pimpinan Ki Lurah Mandurareja. Dengan adanya isyarat bunyi panah sendaren itu, sekarang mereka tentu telah bergerak menuju ke medan pertempuran untuk membantu permasalahan yang mungkin timbul kemudian.”

Kembali sebuah senyuman menghiasi bibir Ki Patih Mandaraka. Ki Lurah Mandurareja adalah kakak dari Ki Lurah Upasanta yang juga merupakan cucu dari Ki Patih Mandaraka.

Dalam pada itu, Ki Ajar Serat Gading dan murid-muridnya telah mencapai tanah pekuburan. Dengan teriakan yang gegap gempita mereka segera membantu Kiai Sambiwaja dan kawan-kawannya yang sedang dalam kesulitan.

Namun belum sempat Kiai Sambiwaja menarik nafas lega dengan adanya bantuan dari Ki Ajar dan murid-muridnya, mereka yang sedang bertempur di atas tanah pekuburan itu dikejutkan oleh sorak sorai yang membahana dari arah padukuhan induk. Sejenak kemudian tampak sepasukan prajurit di bawah pimpinan seorang Lurah Wira Tamtama sedang berlari-larian menuju ke medan pertempuran dalam gelar glathik neba.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, prajurit di bawah pimpinan Ki Lurah Mandurareja telah tiba di medan pertempuran. Mereka segera menyesuaikan diri dengan keadaan medan.

“Marilah Ki Sanak,” berkata Ki Lurah Mandurareja sesampainya di depan Ki Ajar Serat Gading yang berdiri termangu-mangu dengan wajah yang tegang, “Menilik sikap dan umur Ki Sanak, Ki Sanak adalah pemimpin dari kelompok ini. Lebih baik Ki Sanak segera mengambil keputusan untuk menyerah agar dapat kita hindari jatuhnya korban yang sia-sia.”

“Aku tidak sudi berbicara dengan cecurut-cecurut!” geram Ki Ajar Serat Gading, “Mana Ki Juru Martani? Katakan padanya, keturunan perguruan Nagaraga siap membalas dendam atas perlakuan Panembahan Senapati terhadap leluhur kami beberapa puluh tahun yang lalu.”

Ki Lurah Mandurareja mengerutkan keningnya. Nama perguruan Nagaraga memang pernah didengarnya dari cerita Eyangnya, Ki Patih Mandaraka. Maka jawabnya kemudian, “Aku sudah mendengar tentang perguruan Nagaraga yang telah dibasmi dari muka bumi pada jaman Panembahan Senapati. Perguruan itu memang pantas menerima hukuman dari Mataram pada waktu itu karena telah berani mencoba membunuh pemimpin tertinggi Mataram.”

“Omong kosong!” bentak Ki Ajar Serat Gading, “Mataram memang pantas dihukum karena telah lancang melampaui kewenangan Panembahan Madiun sebagai pewaris yang sah dari keturunan Sultan Demak.”

Ki Lurah Mandurareja menarik nafas dalam-dalam. Persoalan trah itulah yang dari jaman ke jaman selalu dipersoalkan, padahal kenyataannya wahyu kedaton memang telah bergeser.

“Sudahlah, Ki Sanak,” akhirnya Ki Lurah Mandurareja berkata, “Kita harus melihat kenyataan. Sesuai dengan ramalan seorang Wali yang waskita, keturunan Demak memang akan berakhir pada pemerintahan Sultan Pajang sebagai menantu Sultan Trenggana. Sebagai gantinya, bumi Mataram diramalkan akan merajai tanah Jawa.”

“Persetan dengan Mataram!” kembali Ki Ajar Serat Gading membentak, “Sebentar lagi Mataram akan runtuh karena Kadipaten-Kadipaten di bang wetan tidak mau tunduk kepada Mataram dan telah bersatu-padu untuk suatu saat menggempur Mataram.”

“Jangan berangan-angan terlalu jauh Ki Sanak,” potong Ki Lurah Mandurareja, “Hadapilah kenyataan dengan pikiran yang jernih. Kalian kalah jumlah. Sebentar lagi pasukan segelar sepapan yang sedang beristirahat di padukuhan induk akan datang ke medan pertempuran ini dan kalian akan kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.”

“Aku tidak peduli!” geram Ki Ajar, “Aku tantang Ki Juru Martani untuk berperang tanding kalau memang orang dari Sela itu masih mempunyai sedikit harga diri.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Lurah Mandurareja kemudian, “Kita sedang dalam sebuah pertempuran. Kita bertempur dalam satu kesatuan utuh, jadi buang saja mimpimu itu untuk dapat berperang tanding dengan Eyang Patih.”

“He!” seru Ki Ajar dengan wajah yang semakin tegang, “Mengapa engkau menyebut orang dari Sela itu Eyang? Apakah engkau masih termasuk cucunya?”

Ki Lurah Mandurareja tersenyum. Jawabnya kemudian sambil menganggukkan kepalanya, “Aku memang cucu Ki Patih Mandaraka. Nah, apa kata Ki Sanak sekarang? Ki Sanak tidak perlu bersusah payah untuk mencari Eyang Patih, cukup aku saja sebagai cucunya yang akan menghadapi Ki Sanak.”

Sejenak Ki Ajar mengerutkan keningnya. Namun yang terdengar kemudian adalah suara tertawanya yang meledak memenuhi udara medan pertempuran di tanah pekuburan itu.

Begitu suara tertawanya mereda, Ki Ajar Serat Gading segera membentak keras, “Minggirlah! Aku masih mempertimbangkan untuk membunuhmu. Aku tidak mau merendahkan diriku dan mengotori tanganku hanya untuk sekedar membunuh seekor cecurut. Agaknya rencanaku tidak berjalan sebagaimana mestinya,” Ki Ajar berhenti sejenak. Kemudian sambil berpaling ke arah regol padukuhan induk yang telah roboh dia melanjutkan kata-katanya, “Lihatlah! Agaknya ada beberapa orang yang tertarik dengan pertempuran kecil ini. Aku melihat orang yang selama ini aku cari ada diantara mereka yang mendatangi tempat ini.”

Dengan sedikit ragu-ragu namun tidak melepaskan kewaspadaan, Ki Lurah Mandurareja segera berpaling ke arah padukuhan induk. Tampak rombongan pengantar jenasah itu telah berhenti beberapa tombak di depan regol padukuhan induk yang telah roboh. Sementara Ki Patih Mandaraka dan Raden Mas Rangsang didampingi oleh orang-orang tua dan sepasukan prajurit pengawal kepatihan sedang berlari-larian menuju ke tempat itu.

“Eyang Patih dan Raden Mas Rangsang,” tanpa sesadarnya Ki Lurah Mandurareja berdesis perlahan.

“Nah, Eyangmu telah datang mencari jalan kematiannya sendiri,” berkata Ki Ajar Serat Gading sambil tertawa tertahan, “Minggirlah! Lebih baik engkau kembali ke rumah untuk mencari perlindungan di balik pinjung biyungmu.”

Merah padam wajah Ki Lurah Mandurareja mendengar ejekan lawannya. Namun sebelum dia menjawab, terdengar gemerisik langkah-langkah kaki yang mendekat dari arah belakang. Ketika Ki Lurah kemudian berpaling ke belakang, rombongan Ki Patih ternyata telah tiba di tanah pekuburan itu.

Dengan tergesa-gesa Ki Patih pun segera mendekati Ki Lurah dan berkata dengan nada yang dalam dan penuh wibawa, “Cucunda, biarlah Eyangmu saja yang menemani orang ini. Agaknya dia memerlukan kawan berbincang-bincang yang sepadan.”

Menyadari bahwa Eyangnya tentu telah mempunyai perhitungan yang matang tentang kemampuan lawannya, sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan getaran di dalam rongga dadanya, Ki Lurah Mandurareja pun kemudian segera bergeser ke samping sambil menjawab, “Ampun Kanjeng Eyang Patih, cucunda hanya berusaha menemaninya sejenak sambil menunggu kehadiran Eyang Patih. Untuk selanjutnya terserah kepada Eyang, cucunda sudah tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang ini.”

“Tutup mulutmu!” bentak Ki Ajar Serat Gading menggelegar, “Nyawamu sudah berada di ujung ubun-ubun masih menyombongkan diri. Kalau tidak karena belas kasihanku, tentu tubuhmu sudah terbujur tak bernyawa di tanah pekuburan ini.”

“Sudahlah, Mandurareja,” sela Ki Patih sambil maju beberapa langkah lagi begitu melihat cucunya akan menanggapi kata-kata Ki Ajar, “Bantulah saudaramu. Usahakan tidak banyak korban yang jatuh dengan sia-sia. Mereka harus melihat kenyataan bahwa jumlah dan kekuatan mereka jauh di bawah para prajurit Mataram. Perlakukan mereka dengan baik jika mereka memutuskan untuk menyerah.”

“Sendika Eyang,” jawab Ki Lurah Mandurareja sambil bergeser mundur. Sementara Ki Ajar hanya dapat memandangnya dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan.

“Ki Sanak,” berkata Ki Patih kemudian setelah Ki Lurah Mandurareja meninggalkan tempat itu, “Siapakah Ki Sanak ini dan apakah hubungan ki Sanak dengan Panembahan Cahya Warastra?”

Sejenak Ki Ajar tidak menjawab. Dipandanginya Ki Patih yang berdiri di hadapannya. Kemudian pandangan matanya beralih kepada Raden Mas Rangsang yang berdiri dua langkah di belakang Ki Patih diapit oleh Ki Gede Menoreh dan Ki Jayaraga. Sementara Ki Tumenggung Surayudha berdiri agak jauh sambil mengamati keadaan medan pertempuran secara keseluruhan.

“Persetan dengan orang yang menyebut dirinya Panembahan Cahya Warastra!” geram Ki Ajar beberapa saat kemudian sambil memandang penuh kebencian kepada Ki Patih, “Aku datang jauh-jauh dari lereng gunung Lawu hanya untuk menuntaskan dendam yang setinggi gunung dan sedalam lautan. Hari ini semua orang yang hadir di perdikan Menoreh ini akan menjadi saksi. Aku, Ki Ajar Serat Gading keturunan perguruan Nagaraga akan menghapus nama Juru Mertani dari muka bumi ini untuk selamanya melalui sebuah perang tanding yang jantan,” Ki Ajar berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Taruhannya adalah Mas Rangsang. Karena aku memang akan memusnahkan seluruh keturunan Mataram sebagai balasan atas tindakan Panembahan Senapati yang telah menghancurkan perguruan Nagaraga beberapa tahun yang lalu.”

Ki Patih Mandaraka sejenak mengerutkan keningnya. Tanpa sadar dia berpaling ke belakang memandang ke arah Raden Mas Rangsang. Namun cucu Panembahan Senapati itu sama sekali tidak terlihat gentar ataupun gelisah.

“Ki Ajar,” jawab Ki Patih kemudian, “Ki Ajar harus melihat kenyataan. Sebentar lagi pasukanmu tidak akan berdaya menghadapi pasukan Mataram. Lebih baik Ki Ajar menyuruh mereka menyerah agar kita dapat mengurangi jatuhnya korban yang sia-sia.”

“Aku tidak peduli!” geram Ki Ajar, “Aku tantang Ki Juru untuk berperang tanding secara jantan. Kita tidak terikat lagi dengan pasukan kita masing-masing. Yang ada adalah Juru Mertani dan Ajar Serat Gading. Kita akan berperang tanding secara jujur dan jantan dengan Mas Rangsang sebagai taruhan.”

“Mengapa Ki Ajar menentukan Mas Rangsang yang harus sebagai taruhan?” bertanya Ki Patih.

“Bukankah sudah aku katakan tadi, itu sebagai balasan atas penghinaan Panembahan Senapati yang telah mengancurkan padepokan Nagaraga.”

“Itu tidak adil,” potong Ki Patih, “Di pihak kami, Ki Ajar meminta Raden Mas Rangsang sebagai taruhan. Bagaimana dengan pihak Ki Ajar sendiri? Apakah yang dapat kami peroleh seandainya kami berada di pihak yang menang?”

Tanpa berpikir panjang Ki Ajar meloloskan keris pusakanya yang masih berada dalam warangkanya dengan tangan kanannya. Sambil mengangkat keris pusaka itu tinggi-tinggi ki Ajar pun berkata lantang, “Kanjeng Kiai Sarpasri sebagai taruhanku selain nyawaku sendiri. Perang tanding ini akan berakhir sampai salah satu dari kita terbujur menjadi mayat. Selanjutnya yang keluar sebagai pemenang berhak untuk mendapatkan taruhannya.”

Ki Patih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Ki Ajar, kami merasa berada di pihak yang dirugikan. Maksudku taruhan dari perang tanding itu tidak sepadan. Bagaimana mungkin Raden Mas Rangsang hanya dihargai dengan sebilah keris? Aku tidak bersedia menerima perang tanding ini. Lebih baik Ki Ajar segera menyerahkan diri. Kami akan mempertimbangkan hukuman yang paling ringan bagi Ki Ajar jika Ki Ajar dapat menyadari kesalahan Ki Ajar selama ini dan berjanji untuk bersetia kepada Mataram.”

“Tutup mulut iblismu!” bentak Ki Ajar dengan suara menggelegar, “Aku sudah menyangka bahwa Ki Patih Mandaraka yang tersohor itu memang hanya pandai bersilat lidah namun tidak mempunyai kemampuan sama sekali. Dan selebihnya, orang dari Sela memang terkenal sangat pengecut dan licik,” Ki Ajar berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Masih ingat peristiwa terbunuhnya Adipati Harya Penangsang? Adipati yang sakti mandraguna itu tewas karena ulah licik dan tipu muslihat dari orang yang bernama Juru Mertani. Bagaimana mungkin kuda tunggangan Loring Pasar pada waktu itu justru kuda betina yang dipotong ekornya? Bukan kuda jantan yang gagah dan perkasa? He! Coba katakan kepadaku, adakah selama ini orang yang pergi berperang itu menunggang seekor kuda betina?”

Selarik warna merah sekilas membayang di wajah Ki Patih Mandaraka. Namun sesepuh Mataram itu segera mampu menguasai keadaan. Jawabnya kemudian, “Memang pada waktu itu banyak orang yang mencela mengapa Jebeng Loring Pasar aku suruh mengendarai kuda betina, bukan kuda jantan yang tangguh? Jawabannya sangat sederhana, tidak ada aturan dalam sebuah peperangan harus menggunakan tunggangan berupa kuda jantan, demikian juga tidak ada larangan untuk menggunakan tunggangan kuda betina. Jadi pada saat itu aku memutuskan Jebeng Loring Pasar lebih baik menggunakan tunggangan kuda betina saja.”

“Tetapi mengapa ekor kuda itu harus dipotong?”

“O, tidak tidak. Ekor kuda itu tidak dipotong, hanya digulung ke atas agar memudahkannya dalam bergerak.”

“Omong kosong!” teriak Ki Ajar menggelegar dengan lambaran aji gelap ngampar sehingga seolah-olah bumi yang dipijak ikut terguncang, “Semua orang tahu itu adalah akal licikmu untuk mempengaruhi kuda tunggangan Adipati Jipang yang terkenal garang, Kiai Gagak Rimang, sehingga kuda itu menjadi liar tak terkendali yang menyebabkan Adipati Jipang kehilangan kendali atas tunggangannya.”

“Sudahlah Ki Ajar,” sahut Ki Patih mencoba mengalihkan pembicaraan, “Peristiwa itu sudah lama berlalu. Apapun yang terjadi, pertikaian antar keluarga itu memang patut disesalkan. Sekarang marilah kita berbicara demi kepentingan negeri ini, negeri yang harus kita jaga bersama agar dapat kita wariskan kepada anak cucu kita dalam keadaan yang lebih baik.”

“Persetan dengan segala omong kosong itu!” geram Ki Ajar, “Tekatku sudah bulat, keturunan Panembahan Senapati harus tumpas walaupun untuk itu aku sendiri akan menjadi bebanten, namun trah yang berhak atas negeri ini harus diluruskan. Keturunan Sultan Demak harus kembali merajai tanah Jawa.”

Kembali Ki Patih menarik nafas panjang. Dalam benak Ki Patih terlintas sebuah dugaan bahwa Ki Ajar ini ada kemungkinannya tidak berdiri sendiri. Mungkin ada sebuah kekuatan besar yang masih tersembunyi dan berada di balik semua peristiwa ini. Sedangkan Ki Ajar beserta murid-muridnya hanyalah sebagai pancingan untuk menentukan langkah langkah berikutnya.

“Mengapa Ki Ajar menyebut trah Sultan Demak? Ada hubungan apakah Ki Ajar dengan keturunan Raden Patah itu?” tiba-tiba pertanyaan Ki Patih telah mengguncang dada pemimpin perguruan Serat Gading itu.

Untuk sejenak Ki Ajar Serat Gading membeku. Ada sedikit penyesalan atas keterlanjurannya menyebut trah Sultan Demak. Namun semua itu sudah terlanjur diucapkan, tidak akan mungkin untuk ditarik kembali.

“Sudahlah Ki Patih,” jawab Ki Ajar kemudian dengan suara lantang, “Jangan mencoba membelokkan permasalahan. Sekali lagi aku tantang Ki Patih untuk berperang tanding, dengan ataupun tanpa taruhan karena taruhan yang utama adalah nyawa kita masing-masing.”

“Bagus, aku setuju,” jawab Ki Patih cepat begitu dia menyadari tidak ada jalan lain untuk menghentikan Ki Ajar Serat gading yang keras kepala itu, “Perang tanding ini tidak melibatkan siapapun dan tidak untuk mempertaruhkan apapun selain nyawa kita masing-masing.”

“Terima kasih Ki Patih telah sudi menerima tantanganku , ” berkata Ki Ajar sambil tersenyum penuh kemenangan. Seolah-olah sudah terbayang dalam rongga matanya, orang kedua di Mataram itu akan terkapar tak berdaya terkena kedahsyatan keris pusaka Kanjeng Kiai Sarpasri.

Dalam pada itu, pertempuran tampaknya hampir berhenti. Di sana sini tampak murid-murid perguruan Serat Gading yang sebagian besar telah menjadi tawanan karena tidak berdaya menghadapi para prajurit Mataram yang kekuatannya dua kali lipat. Sementara beberapa orang telah terluka bahkan menjadi korban pertempuran di atas tanah pekuburan itu. Hanya tersisa satu lingkaran pertempuran yang masih berlangsung dengan sengitnya, pertempuran antara Ki Lurah Upasanta melawan Kiai Sambiwaja.

“Sudahlah,” berkata Ki Lurah Upasanta sambil merunduk menghindari sambaran senjata lawannya, “Engkau harus melihat kenyataan Ki Sanak. Kawan-kawanmu sudah tidak berdaya semua. Sebagian telah terluka bahkan mungkin ada yang terbunuh. Sisanya telah menyerah. Sebaiknya Ki Sanak segera mengikuti jejak mereka.”

“Tutup mulutmu!” bentak Kiai Sambiwaja sambil meningkatkan serangannya. Dengan derasnya senjata yang tergenggam di tangannya membabat lambung Ki Lurah Upasanta.

Ki Lurah yang menyadari lawannya semakin waringuten segera menghentakkan tenaga cadangannya untuk mengimbangi tandang lawannya.

Dalam pada itu di kediaman Ki Gede Menoreh, Ki Rangga Agung Sedayu terlihat semakin segar setelah mendapat obat dari Kiai Sabda Dadi. Ketika seorang pelayan menghidangkan semangkuk bubur yang sangat halus dan cair serta minuman hangat, dengan dibantu Kiai Sabda Dadi, perlahan-lahan Ki Rangga Agung Sedayu pun untuk pertama kalinya setelah tidak sadarkan diri beberapa lama mulai menyuapi mulutnya dengan makanan dan minuman.

“Sebaiknya jangan terlalu dipaksakan dulu,” berkata Ki Waskita yang sedari tadi mengamati Kiai Sabda Dadi membantu menyuapi Ki Rangga, “Agaknya selera makan Ki Rangga memang belum pulih seperti sediakala.”

Kiai Sabda Dadi tersenyum mendengar ucapan Ki Waskita. Katanya kemudian sambil mengakhiri suapannya ke mulut Ki Rangga, “Ini yang terakhir Ki Rangga. Sebaiknya memang jangan terlalu banyak dulu. Aku tahu Ki Rangga sama sekali belum berselera untuk makan banyak. Namun aku percaya, setelah obat yang Ki Rangga telan bekerja beberapa saat lagi, lambat laun selera makan Ki Rangga akan kembali.”

“Terima kasih Kiai,” jawab Ki Rangga sambil berusaha menelan makanan terakhir di dalam mulutnya. Betapa pun sulitnya.

“Nah sekarang sebaiknya kita meninggalkan Ki Rangga sendirian agar dapat beristirahat dengan tenang,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil mengemasi peralatan makan yang telah digunakan dan meletakkan kembali di atas meja di sudut bilik.

“Aku akan ke padukuhan induk,” berkata Ki Waskita tiba-tiba sambil bangkit berdiri, “Sebaiknya Kiai Sabda Dadi tetap di kediaman Ki Gede ini agar apabila sewaktu-waktu Ki Rangga memerlukan perawatan lebih lanjut, Kiai dapat dicari dengan mudah.”

“Ah,” Kiai Sabda Dadi tertawa pendek, “Apakah aku masih termasuk kanak-kanak yang senang bermain petak umpet? Aku tidak akan kemana-mana Ki Waskita. Aku mungkin akan ke pendapa atau ke gardu penjagaan depan untuk sekedar berbincang-bincang dengan para penjaga.”

“Marilah,” berkata Ki Waskita kemudian, “Silahkan Ki Rangga beristirahat. Kami berdua akan keluar bilik. Jika Ki Rangga memerlukan sesuatu, kami akan meninggalkan pesan kepada para pembantu Ki Gede yang ada di dapur agar memperhatikan jika ada panggilan dari Ki Rangga.”

“Ah, itu tidak perlu Ki Waskita,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum, “Agaknya aku menjadi terlalu manja dan merepotkan banyak orang.”

“Tentu tidak,” jawab Kiai Sabda Dadi dengan serta merta, “Sudah seharusnya semua yang ada di rumah ini membantu perawatan Ki Rangga agar segera pulih kembali.”

“Ya, Ki Rangga. Semua berharap Ki Rangga segera sembuh. Tentu lingkungan keprajuritan pun juga sudah menunggu.” Sahut Ki Waskita sambil memandang ke arah Kiai Sabda Dadi.

“Ah,” kali ini Ki Rangga tertawa tertahan, “Seolah-olah aku ini sekarang menjadi orang yang begitu penting sehingga kehadiranku benar-benar ditunggu-tunggu.”

Untuk sejenak kedua orang tua itu saling pandang. Kiai Sabda Dadi memang masih belum sampai hati untuk menyampaikan permasalahan yang berhubungan dengan Kiai Damar Sasongko, pemimpin perguruan Sapta Dhahana.

“Biarlah hal itu akan aku sampaikan dalam dua atau tiga hari lagi sambil melihat perkembangan kesehatan Ki Rangga,” berkata Kiai Sabda Dadi dalam hati.

“Sudahlah, ngger. Kami akan keluar bilik,” akhirnya Ki Waskita berkata sambil tersenyum lebar, “Pergunakan waktu sehari ini untuk beristirahat dengan sebaik-baiknya. Kami mohon diri.”

“Silahkan, silahkan,” jawab Ki Rangga sambil mengikuti langkah kedua orang tua itu dengan pandangan matanya.

Setelah menutup pintu bilik terlebih dahulu, kedua orang tua itu pun akhirnya melangkah menyeberangi ruang tengah yang cukup luas menuju ke pendapa. Ketika mereka berdua melintas di depan bilik Pandan Wangi yang tertutup rapat, tanpa sadar Ki Waskita telah berpaling sejenak. Namun Ki Waskita sama sekali tidak menghentikan langkahnya.

Sepeninggal kedua orang tua itu, Ki Rangga mencoba untuk memejamkan matanya. Namun ternyata berbagai macam dan corak bayangan kejadian-kejadian yang baru saja berlalu telah hilir mudik di dalam rongga matanya.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk meredakan getar di dalam dadanya yang tiba-tiba saja melonjak-lonjak begitu bayangan seorang perempuan muda dan cantik telah hadir di rongga matanya.

“Anjani,” desis Ki Rangga dalam hati, “Kehadirannya di Menoreh ini akan menimbulkan permasalahan baru yang seharusnya tidak perlu terjadi.”

Ketika Ki Rangga sedang merenungi perempuan muda yang memiliki mata berbinar bagaikan bintang timur itu, tiba-tiba saja telinga Ki Rangga yang sangat terlatih telah menangkap desir lembut langkah-langkah kecil menuju ke biliknya.

“Agaknya orang ini berusaha untuk menyerap bunyi yang timbul akibat dari desir langkahnya,” berkata Ki Rangga dalam hati, “Menilik kemampuannya dalam menyerap bunyi, orang ini tentu memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Namun menilik irama langkahnya, yang datang ini seorang perempuan.”

Untuk sejenak Ki Rangga menjadi berdebar-debar. Berbagai dugaan muncul dalam hatinya. Banyak perempuan yang berkemampuan tinggi yang sekarang sedang berada di kediaman Ki Gede. Namun untuk tujuan apakah dia mencoba menyamarkan kedatangannya dengan menyerap segala bunyi di sekitarnya?

“Jika yang datang itu Sekar Mirah atau Pandan Wangi, tidak mungkin mereka berusaha menyembunyikan kehadirannya di hadapanku,” berkata Ki Rangga dalam hati. Sementara langkah-langkah kecil itu telah sampai di depan bilik Ki Rangga.

Ketika pendengaran Ki Rangga yang sangat tajam melebihi kemampuan orang-orang kebanyakan itu mendengar sebuah desir lembut dari arah pintu bilik, dengan perlahan dari tempatnya berbaring Ki Rangga pun segera mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu.

Sebuah desir tajam segera saja menggores jantungnya ketika dalam bayangan sinar Matahari yang masih setinggi pucuk-pucuk pepohonan yang menerobos melalui celah-celah dinding papan, tampak sesosok bayangan perempuan muda yang sangat cantik berdiri termangu-mangu di tengah-tengah pintu bilik.

“Anjani,” desis Ki Rangga perlahan hampir tak terdengar.

Orang yang datang ke bilik Ki Rangga itu memang Anjani. Dengan memberanikan diri Anjani ternyata telah berusaha untuk menemui Ki Rangga di biliknya sendirian.

“Masuklah, Anjani,” berkata Ki Rangga kemudian begitu menyadari Anjani masih tetap berdiri termangu-mangu di tengah-tengah pintu bilik yang terbuka lebar.

“Terima kasih, Kakang,” jawab Anjani sambil melangkah mendekat.

Alangkah merdunya suara Anjani itu terdengar di telinga Ki Rangga. Seolah-olah suara lembut Anjani itu mampu menembus setebal apapun ilmu kebal Ki Rangga dan langsung menukik menembus dada dan meremas jantung.

Ketika Anjani melangkah semakin dekat, tiba-tiba saja indera penciuman Ki Rangga telah menangkap semerbak harum seribu bunga yang samar-samar namun cukup menggetarkan dada.

“Duduklah, Anjani,” berkata Ki Rangga sambil memandang sekilas ke arah pintu bilik yang dibiarkan terbuka lebar, “Sebelumnya aku mohon maaf jika kehadiranmu di Menoreh ini tidak mendapat sambutan sebagaimana layaknya seorang tamu.”

“Ah,” desah Anjani sambil tersenyum tipis dan kemudian mengambil tempat duduk, “Aku bukan seorang tamu agung, Kakang. Aku hanyalah seorang kleyang kabur kanginan yang mencoba mengadu nasib menyangkutkan masa depan di tanah Perdikan ini.”

Kembali sebuah desir tajam, setajam ujung sembilu menggores jantung Ki Rangga. Masa depan Anjani itulah yang selama ini telah membebani pikirannya.

“Anjani,” berkata Ki Rangga kemudian sambil mencoba mengendapkan getar di dalam dadanya, “Engkau bukan seorang kleyang kabur kanginan, engkau mempunyai masa depan yang dapat engkau pilih sendiri menurut kata hatimu. Dengan sepenuh hati kami semua yang ada di Menoreh ini akan berusaha membantumu sekuat tenaga dalam meraih masa depanmu.”

Sepasang mata yang berbinar indah itu sejenak menatap sepasang mata Ki Rangga yang juga sedang menatapnya. Namun dengan cepat Anjani segera melemparkan pandangan matanya ke sudut bilik di atas lampu dlupak yang tampak kotor kehitam-hitaman.

“Kakang,” berkata Anjani kemudian setelah sejenak keduanya terdiam, “Pada awalnya aku memang masih mempunyai harapan tentang masa depanku ketika Kakang telah berjanji untuk membawaku ke Menoreh. Aku mengatakan semua ini bukan bermaksud untuk menagih janji yang telah Kakang ucapkan. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam menafsirkan janji itu sehingga aku telah terpuruk dengan angan-anganku sendiri,” Anjani berhenti sejenak untuk mengambil nafas dalam-dalam. Lanjutnya kemudian, “Namun kini aku menyadari, apa sebenarnya arti dari janji itu dan aku memang telah meletakkan semua harapan dan impianku selama ini. Biarlah waktu nanti yang akan membawaku entah ke mana.”

Untuk sejenak Ki Rangga Agung Sedayu terdiam. Berbagai macam pertimbangan bergolak dalam dadanya.

“Anjani..,” akhirnya dengan perlahan Ki Rangga berdesah, “Cobalah berpikir tentang masa depanmu. Itulah yang lebih penting sekarang ini. Aku telah berjanji membawamu ke Menoreh. Bukankah engkau sekarang ini sudah di Menoreh? Hidup di antara keluargaku?” Ki Rangga Agung Sedayu berhenti sejenak. Nafasnya menjadi sedikit tersengal, namun kemudian lanjutnya, “Sesungguhnya di antara kita memang tidak ada suatu ikatan apapun. Aku minta maaf jika tidak dapat memenuhi harapan yang mungkin sempat melambung di hatimu. Tapi percayalah, jika memang engkau ingin menjadi bagian dari keluargaku, dengan senang hati aku akan menerimanya.”

Anjani tergugu. Air yang bening mulai menetes dari sudut matanya yang indah. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah dadu itu terkatup rapat. Sedangkan kepalanya tertunduk dalam dalam sehingga gerai rambutnya yang panjang hampir menyentuh dada ki Rangga Agung Sedayu yang masih tergolek lemah di atas pembaringan.

Sejenak kemudian, dengan menguatkan hatinya, Anjani berkata perlahan sambil mengangkat kepalanya, “Kakang, aku memang tidak pernah sekali pun memahatkan sebuah harapan di dinding hatiku. Aku tahu betapa kotornya diriku sehingga tidak sepantasnya aku berharap lebih dari apa yang telah kuraih sekarang ini, yaitu kebebasanku. Justru sekarang ini aku memberanikan diri menjenguk kakang yang sedang sakit tanpa seijin mbokayu Sekar Mirah untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas pertolongan Kakang yang telah membebaskan aku dari kekejaman kedua Guruku, dan selanjutnya aku mohon maaf kalau selama ini telah membuat hati Kakang menjadi galau dan bersedih.”

Ki Rangga Agung Sedayu tersenyum tipis. Ketika pandangan Ki Rangga kemudian tersangkut pada seraut wajah perempuan muda dan cantik yang duduk di atas dingklik kayu di samping pembaringannya, dada Ki Rangga pun berdesir tajam. Sepasang mata yang indah dan bening itu pun ternyata sedang memandangnya pula dengan seribu satu macam perasaan yang bergejolak di dalam dada.

“Kakang,” kembali Anjani melanjutkan kata-katanya sambil berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh berderai, “Aku mohon pamit. Aku akan menyusuri jalan yang terbentang di hadapanku dan semoga aku tidak tergoda untuk menengok ke belakang kembali,” Anjani berhenti sejenak sambil menahan nafas agar bendungan air di kedua pelupuk matanya tidak pecah. Lanjutnya kemudian, “Aku mohon doa restu, Kakang. Semoga aku selalu diberi kekuatan oleh Yang Maha Agung dalam menjalani sisa hidupku ini. Aku akan terus berjalan dan berjalan sampai aku temui akhir dari jalan itu sendiri.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit bilik yang terbuat dari anyaman kulit bambu yang terlihat begitu rumit namun terkesan sangat rapi.

Selagi kedua orang itu sedang terhanyut oleh angan masing-masing, tiba-tiba pendengaran Ki Rangga yang sangat tajam telah menangkap langkah orang yang sedang berlari dengan tergesa-gesa dari arah gandhok sebelah kanan. Setelah melewati longkangan, langkah-langkah itu terdengar menuju ke arah pintu butulan yang terhubung dengan rumah induk.

Tiba-tiba suasana yang hening itu telah dikejutkan oleh suara jeritan seorang perempuan dari arah pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah. Dengan cepat Anjani yang sedang berada di dalam bilik Ki Rangga segera meloncat berdiri dan berlari ke arah pintu.

Alangkah terkejutnya Anjani. Sesampainya dia di depan pintu, tampak beberapa langkah di depan pintu butulan samping yang terbuka lebar, sedang berdiri seseorang dengan garangnya sambil menggenggam senjata yang berlumuran darah. Sedangkan di tengah-tengah pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah, tampak seorang perempuan paro baya pembantu rumah Ki Gede jatuh terduduk bersandaran pada kusen pintu dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetaran.

“He! Kau?” tiba-tiba orang yang menggenggam pedang itu berseru keras dengan nada penuh kemarahan begitu melihat Anjani tiba-tiba muncul dari salah satu bilik yang ada di ruang tengah itu. Agaknya orang itu telah mengenal Anjani.

Tersirap darah anjani sampai ke ubun-ubun. Pandangan matanya sejenak hinggap di wajah yang garang dengan sepasang mata yang merah menyala. Anjani segera teringat kepada orang yang telah dilumpuhkannya beberapa saat yang lalu ketika terjadi penyerbuan di rumah Ki Gede Menoreh.

“Bukankah orang ini telah ditawan oleh para pengawal dan dimasukkan ke bilik khusus?” bertanya Anjani dalam hati dengan jantung yang berdebaran, “Bagaimana mungkin orang ini dapat meloloskan diri?”

Orang yang berdiri dengan garangnya itu memang Ki Lurah Sanggabaya. Setelah Anjani berhasil melumpuhkannya, atas perintah Ki Gede para pengawal telah menempatkannya di bilik khusus di belakang gandhok kanan. Beberapa pengawal secara bergiliran telah di tempatkan di seputar bilik untuk menjaga tawanan itu. Sejauh itu tidak ada seorang pun yang mengenalinya karena Ki Lurah Sanggabaya memang tidak sedang mengenakan pakaian keprajuritan serta telah menyamarkan sedikit wajahnya sehingga agak sulit dikenali.

“Perempuan gila! Kau harus mampus!” tiba-tiba Ki Lurah Sanggabaya mengumpat sambil memburu ke tempat Anjani berdiri. Pedang yang berlumuran darah itu diangkatnya tinggi-tinggi siap untuk melancarkan serangan dahsyat.

Anjani yang masih berdiri di tengah-tengah pintu bilik Ki Rangga segera tanggap. Dia harus melindungi keberadaan Ki Rangga Agung Sedayu yang masih tergolek lemah di pembaringan. Jangan sampai lawannya mengetahui bahwa yang berada di dalam bilik itu adalah salah satu orang penting bagi Mataram. Dengan cepat dia segera meloncat beberapa langkah ke depan menyambut serangan lawannya.

Agaknya Ki Lurah Sanggabaya benar-benar memendam dendam sedalam lautan kepada Anjani. Dengan berbekal senjata di tangan kanannya serta aji lembu sekilan yang dibangga-banggakan, tanpa rasa belas kasihan, pedang yang ada di tangan kanannya berputaran mengurung Anjani.

Anjani maklum kalau lawannya memiliki aji yang dapat melindungi dirinya dari serangan lawan. Namun Anjani yakin aji lembu sekilan itu tentu tatarannya tidak setinggi yang dimiliki oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang semasa mudanya bernama Mas Karebet. Aji lembu sekilan Ki Lurah ini pasti masih dalam tataran yang dapat ditembus.

Menyadari lawannya langsung menyerangnya dengan tataran tinggi ilmunya, Anjani pun kemudian segera mengetrapkan aji yang pernah dipergunakan untuk melumpuhkan Ki Lurah beberapa saat yang lalu, aji seribu bunga.

Sejenak kemudian, di ruang tengah itu segera tercium bau harum semerbak yang memabokkan. Karena Anjani memang sengaja mengerahkan aji seribu bunga itu untuk mempengaruhi penalaran Ki lurah, maka yang mengalami akibat paling parah adalah ki Lurah Sanggabaya sendiri.

“Perempuan iblis!” umpat Ki Lurah begitu menyadari bau harum itu telah mengacaukan penalarannya. Dia tidak mau untuk kedua kalinya diperdaya oleh lawannya. Waktunya sangat sempit. Dia harus segera meloloskan diri dari tempat itu.

“Aku tidak mau tertahan lagi oleh perempuan iblis ini,” geram Ki Lurah dalam hati, “Secepat mungkin perempuan ini harus segera disingkirkan. Sebelum ajinya yang memabokkan ini semakin dalam mempengaruhi penalaranku.”

Berpikir sampai di situ, dengan cepat Ki Lurah segera melompat ke belakang. Senjata yang ada di tangannya segera dibuang ke samping. Sejenak Ki Lurah segera memusatkan segenap nalar dan budinya untuk mengungkapkan aji pamungkasnya yang nggegirisi. Namun bau wangi yang tajam menusuk nusuk hidungnya serta menggetarkan syaraf-syaraf di otaknya telah memacu degup jantungnya menjadi semakin cepat sehingga pengetrapan ajinya menjadi sedikit terganggu.

Anjani yang hampir meloncat memburu lawannya segera menahan langkah begitu melihat lawannya mengambil sikap. Tidak mau hancur diterjang oleh ilmu pamungkas lawannya, dengan tergesa-gesa Anjani pun segera memusatkan segenap nalar budinya untuk mengetrapkan puncak ilmunya yang telah dipelajari semasa dia masih tinggal di gunung Kendalisada, aji mundri. Aji yang diturunkan oleh seorang sakti yang keberadaannya dipercaya oleh sebagian orang hanya sebagai dongeng belaka, Resi Mayangkara.

Dalam pada itu, jerit perempuan pembantu rumah Ki Gede beberapa saat yang lalu itu ternyata telah menarik perhatian beberapa orang. Para pengawal yang berada di regol depan bersama Kiai Sabda Dadi dengan segera berlari-larian menghambur ke dalam rumah Ki Gede. Demikian juga Sekar Mirah, Pandan Wangi dan Rara Wulan serta Damarpati yang berada di halaman belakang dengan tergesa-gesa telah memasuki rumah dari arah dapur.

Ketika Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang terlebih dahulu tiba di dalam dapur, segera melihat beberapa perempuan pembantu Ki Gede telah mencoba menolong seorang perempuan parobaya yang terduduk setengah pingsan di tengah-tengah pintu yang menghubungkan dapur dengan ruang tengah.

“Bawalah dia menepi!” perintah Pandan Wangi.

Dengan susah payah perempuan parobaya itu pun akhirnya berhasil dibawa menepi dan kemudian didudukkan di atas amben bambu yang berada di sudut dapur.

“Minumlah!” berkata seorang kawannya sambil menyodorkan sebuah kendi.

“Terima kasih,” gumam perempuan parobaya itu hampir tak terdengar. Dengan kedua tangan yang masih gemetar diterimanya kendi itu. Namun bayangan laki-laki dengan mata menyala dan pedang yang berlumuran darah di tangan kanannya masih belum hilang di rongga matanya.

Dalam pada itu, Anjani yang tidak mau terlambat justru telah meloncat menyerang terlebih dahulu. Bagaikan tatit yang meloncat di udara, tubuhnya melesat dengan tangan kanan diangkat tinggi-tinggi siap melepaskan ajinya yang ngedab-edabi, aji mundri.

Sedangkan Ki Lurah Sanggabaya yang sedikit menemui kesulitan dalam pemusatan nalar budinya, pada saat terakhir telah berhasil mengendapkan gelora dadanya yang bagaikan mendidih karena pengaruh bau wangi aji seribu bunga. Ketika pandangan matanya menangkap bayangan Anjani yang meluncur deras ke arahnya, dengan segera disambutnya dengan membenturkan ayunan tangan kanannya dalam lambaran aji pamungkas.

Sejenak kemudian sebuah benturan dahsyat telah terjadi. Getarannya telah mengguncangkan seisi rumah. Seolah-olah ada gempa bumi dahsyat yang sedang melanda. Tubuh Ki Lurah pun telah terlontar ke belakang beberapa langkah karena hentakan kekuatan ilmu lawannya, sebelum akhirnya tubuh itu terputar dan terbanting jatuh tertelungkup di atas lantai.

Sedangkan Anjani yang membentur aji pamungkas lawannya telah terpental ke belakang. Tubuhnya melayang bagaikan layang-layang putus sebelum akhirnya menabrak dinding bilik Ki Rangga sehingga dinding bilik yang terbuat dari papan kayu jati tebal itu sebagian telah hancur berantakan.

Untuk beberapa saat Anjani masih menggerang sambil berusaha bangkit bertelekkan pada kedua siku tangannya. Namun ketika darah segar kemudian menyembur dari mulutnya, tubuh yang mungil itu pun segera jatuh terkulai dan diam tak bergerak.

Beberapa orang yang memasuki ruang tengah itu masih sempat menyaksikan benturan yang dahsyat antara Anjani dan Ki Lurah Sanggabaya. Mereka bagaikan terkesima begitu melihat kedua orang yang telah saling membenturkan puncak ilmunya itu terlempar dan kemudian jatuh tersungkur tak bergerak.

“Anjanii..!” hampir bersamaan Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang telah menyadari keadaannya segera meloncat menghambur ke arah tubuh Anjani yang terbujur diam.

Kiai Sabda Dadi yang juga sempat menyaksikan benturan dahsyat itu segera berlari ke tempat Anjani terjatuh sambil berseru, “Mohon Anjani jangan disentuh, Nyi! Mungkin dia menderita luka dalam yang cukup parah sehingga guncangan sekecil apapun akan dapat berakibat memperparah lukanya!”

Sekar Mirah yang sudah tiba di tempat Anjani terjatuh ternyata telah mendengar seruan Kiai Sabda Dadi. Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk tidak menyentuh Anjani dan hanya berlutut di sisi tubuh yang tergolek diam itu. Sementara Pandan Wangi pun segera ikut berlutut di sisi adik iparnya.

“Biarlah aku periksa keadaannya,” berkata Kiai Sabda Dadi sesampainya di sisi tubuh Anjani.

Dengan sangat hati-hati Kiai Sabda Dadi segera berlutut dan meraba pergelangan tangan Anjani untuk mencoba merasakan denyut nadinya, namun tidak ada tanda-tanda bahwa nadinya masih berdenyut. Ketika Kiai Sabda Dadi kemudian mencoba memeriksa di bagian tubuh Anjani yang lain, tanda-tanda kehidupan itu pun ternyata juga tidak ada.

“Aneh, tubuhnya terasa sangat dingin, padahal benturan ilmu itu terjadi baru beberapa saat yang lalu. Seharusnya tubuh Anjani masih terasa hangat.” berkata Kiai Sabda Dadi dalam hati, “Atau mungkin pengaruh kekuatan ilmu lawannya yang dapat membekukan aliran darahnya. Semoga saja aku masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Agung untuk menolongnya.”

Untuk beberapa saat Kakek Damarpati itu termenung dengan kening yang berkerut-merut.

“Bagaimana Kiai?” pertanyaan Sekar Mirah membuyarkan lamunan Kiai Sabda Dadi, “Mengapa Kiai hanya diam saja? Segeralah menolong Anjani. Aku telah berhutang budi kepadanya sebanyak tiga kali, dan aku tidak tahu dengan cara bagaimana aku dapat membalasnya.”

Kata-kata Sekar Mirah itu ternyata telah menyengat jantung Pandan Wangi yang sedang berlutut di sisinya. Berbagai tanggapan telah muncul dalam benaknya.

Dalam pada itu para pengawal yang telah datang di ruang tengah kediaman Ki Gede bersama-sama Kiai Sabda Dadi segera merubung tubuh Ki Lurah Sanggabaya yang tertelungkup. Dengan sangat hati-hati, salah seorang segera membalikkan badan Ki Lurah.

“Apakah dia masih hidup?” seorang pengawal bertubuh kurus bertanya kepada kawannya yang berjongkok di sisi tubuh Ki Lurah.

“Entahlah,” jawab kawannya sambil mencoba meraba dada sebelah kiri Ki Lurah, “Tubuhnya masih hangat tapi aku tidak dapat merasakan detak jantungnya.

“Bukankah dia adalah tawanan yang berada di bilik khusus yang berada di belakang gandhok kanan?” tiba-tiba salah seorang pengawal yang ikut merubung itu menyelutuk.

Belum sempat salah seorang pengawal menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar langkah beberapa orang yang sedang berlari-larian dari arah pintu butulan samping.

Sejenak kemudian dari arah pintu butulan samping yang terbuka lebar, muncul beberapa pengawal yang bertugas menjaga tawanan di bilik khusus dengan wajah tegang sambil menghunus senjata.

“Di mana tawanan itu, he!” salah seorang pengawal yang bermuka berewok berseru sambil mengacungkan senjatanya, “Dia telah berhasil meloloskan diri dengan melukai kawan-kawan kita. Salah seorang pengawal bahkan terluka sangat parah sehingga dapat mengancam jiwanya. Akan aku bunuh tawanan itu, siapapun dia sebenarnya aku tidak peduli!”

Tidak ada seorang pun yang menjawab. Namun ketika pengawal yang berwajah berewok itu akan mengulangi pertanyaannya, tiba-tiba saja pandangan matanya tertumbuk pada sesosok tubuh yang terbujur diam di tengah-tengah kerumunan kawan-kawannya yang bertugas di regol depan.

“Gila!” geram pengawal yang berwajah berewok itu sambil melangkah mendekat, “Apakah kalian telah membunuhnya?”

Kembali tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya. Hanya saja kali ini para pengawal yang merubung Ki Lurah Sanggabaya serentak memalingkan wajahnya ke arah Anjani yang sedang diangkat oleh Sekar Mirah dengan hati-hati menuju ke bilik Pandan Wangi semasa dia masih remaja dahulu.

Pengawal berwajah berewok itu tertegun. Sepasang matanya tidak berkedip menelusuri wajah Anjani yang bagaikan golek kencana. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat perempuan secantik itu.

Demikian juga para pengawal lainnya ikut terkesima memandang Anjani yang seolah bagaikan Bidadari yang sedang tertidur dalam gendongan Sekar Mirah. Berpasang-pasang mata mengikuti setiap langkah Sekar Mirah yang mendukung Anjani sampai hilang di balik pintu bilik.

Baru ketika Kiai Sabda Dadi yang berjalan di belakang Sekar Mirah itu terbatuk-batuk kecil, mereka bagaikan terbangun dari sebuah mimpi indah. Mimpi berjumpa dengan seorang bidadari dari sorga yang telah berkenan turun ke dunia.

Selagi orang-orang itu terpesona dengan Anjani, ternyata Pandan Wangi telah menyempatkan diri untuk menjenguk ke dalam bilik Ki Rangga.

“Wangi,” bertanya Ki Rangga begitu puteri satu-satunya Ki Gede menoreh itu berdiri di sisi pembaringannya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi? Aku telah mendengar sebuah pertempuran dahsyat, namun hanya berlangsung sangat singkat. Agaknya mereka telah membenturkan ilmu puncak masing-masing untuk segera menyelesaikan pertempuran itu.”

Pandan Wangi tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga. Dengan perlahan dia duduk di bibir pembaringan Ki Rangga. Sepasang mata yang sayu itu pun kemudian menatap tajam ke arah Ki Rangga Agung Sedayu. Seolah olah ingin dijenguknya isi dada orang yang pernah singgah di relung hatinya itu justru di saat pertama dia baru mengenal perasaan cinta.

Pandan Wangi tersenyum mendengar pertanyaan Ki Rangga. Dengan perlahan dia duduk di bibir pembaringan Ki Rangga. Sepasang mata yang sayu itu pun kemudian menatap tajam ke arah Ki Rangga Agung Sedayu. Seolah olah ingin dijenguknya isi dada orang yang pernah singgah di relung hatinya itu justru di saat pertama dia baru mengenal perasaan cinta.

Berdesir dada Ki Rangga Agung Sedayu begitu tatapan mata mereka beradu. Sejenak mereka berdua seakan-akan telah terlempar ke masa bertahun-tahun yang lalu. Ki Rangga Agung Sedayu dapat merasakan betapa tatapan Pandan Wangi kepadanya itu tetap tidak berubah, tatapan mata seorang gadis yang sedang tumbuh kepada seorang penggembala yang bernama Gupita.

“Wangi,” cepat-cepat Ki Rangga berdesis agak sedikit keras sebelum getaran kedua pasang mata yang saling bertaut itu dapat menjerat mereka ke dalam suasana yang semakin mendebarkan, “Ceritakanlah kepadaku, apakah sebenarnya yang telah terjadi?”

Untuk beberapa saat Pandan Wangi menarik nafas dalam, dalam sekali. Seolah ingin dipenuhinya rongga dadanya dengan udara pagi yang mulai merambat siang. Dilemparkan pandangan matanya ke arah dinding bilik yang sebagian telah hancur sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga.

“Kakang,” akhirnya dengan nada sedikit tersedat pandan Wangi berkata, “Apakah sebenarnya yang telah membuat Anjani mengikuti Kakang ke Tanah Perdikan ini?”

Pertanyaan yang tak terduga dari Pandan Wangi itu ternyata telah membuat Ki Rangga untuk sejenak terdiam.

“Engkau belum menjawab pertanyaanku, Wangi.” berkata Ki Rangga kemudian berusaha untuk mengembalikan arah pembicaraan.

“Kakang,” kembali Pandan Wangi melanjutkan kata-katanya tanpa mempedulikan pertanyaan Ki Rangga, “Anjani adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan masih muda. Apakah Kakang pernah mencoba untuk memahami apakah sebenarnya keinginan Anjani mengikuti kakang sampai sejauh ini?”

Ki Rangga mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia benar-benar tidak menduga kalau Pandan Wangi masih melanjutkan pertanyaannya seputar Anjani.

“Anjani adalah seorang perempuan yang berani memperjuangkan cita-citanya,” berkata Pandan Wangi kemudian tanpa mempedulikan tanggapan Ki Rangga, “Berbeda dengan aku yang terlalu kerdil dan pengecut. Aku tidak berani memperjuangkan cita-citaku pada waktu itu. Aku terlalu pasrah dengan keadaan dan menerima nasib apa adanya. Seandainya pada waktu itu aku mempunyai semangat seperti Anjani, mungkin garis hidupku akan berbeda.”

“Apakah masa lalu itu masih perlu dibahas, Wangi?” potong Ki Rangga Agung Sedayu, “Sudah seharusnya kita menerima garis nasib yang telah ditentukan oleh Yang Maha Agung tanpa harus berandai-andai, karena hanya akan menimbulkan penyesalan yang tidak berujung.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sejenak puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu terdiam, namun pandangan matanya yang sayu itu menatap Ki Rangga dengan seribu satu macam persoalan yang menderu dalam dadanya.

“Kakang,” akhirnya Pandan Wangi itu pun kemudian berkata perlahan setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Aku tidak menyesali dengan apa yang telah digariskan dalam hidupku, namun aku menyesali diriku sendiri, ternyata aku tidak bisa menjadi seorang istri yang baik.”

Berdesir dada Ki Rangga mendengar kata-kata istri adik seperguruannya itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam untuk menurunkan getar di dalam rongga dadanya, Ki Rangga pun kemudian menyahut, “Wangi, engkau adalah seorang istri yang baik bagi suamimu. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri padahal engkau telah berbuat yang terbaik bagi suamimu.”

“Tidak Kakang,” tiba-tiba suara Pandan Wangi terdengar agak tersendat dan bergetar, “Aku bukan seorang istri yang baik. Pada awalnya memang aku telah berusaha dengan segenap jiwa ragaku untuk berbuat yang terbaik bagi suamiku. Namun aku tidak mampu untuk menipu diriku sendiri. Pekerjaan yang paling sulit dan tidak mungkin aku lakukan adalah menipu kata hatiku, menipu suara hatiku yang sejak semula memang telah aku sadari kepada siapa sebenarnya hati ini ingin berlabuh,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Tampak kepalanya tertunduk dalam dalam sementara kedua tangannya mulai sibuk mengusap air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya. Sambil sedikit menahan nafas, Pandan Wangi pun kemudian melanjutkan kata-katanya, “Aku adalah seorang istri yang tidak dapat membuat Kakang Swandaru bahagia. Mungkin Kakang Swandaru dapat membaca hatiku dan menilai sikapku yang tidak sepenuhnya dapat melayaninya dengan tulus, sehingga dia telah tega berpaling kepada perempuan lain.”

Sampai di sini Pandan Wangi sudah tidak mampu lagi untuk menahan gelora dalam dadanya yang melonjak-lonjak. Walaupun dengan sekuat tenaga dia telah berusaha untuk menahan tangisnya, namun beban di dalam hatinya yang telah sekian lama dipendam, tidak mampu lagi untuk ditahannya.

Untuk beberapa saat Ki Rangga Agung Sedayu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun dan hanya terbaring diam sambil memejamkan kedua matanya. Suara tangis Pandan wangi yang tersendat-sendat terasa bagaikan berbongkah-bongkah batu padas yang meluncur turun dari bukit dan menimpa dadanya susul menyusul. Berbagai pertimbangan telah muncul di dalam benaknya, namun selalu saja ada keragu-raguan yang membelenggu hatinya.

Jauh di dalam lubuk hati Ki Rangga telah tumbuh sebuah penyesalan, mengapa dirinya pada saat memerankan seorang gembala yang bernama Gupita terlalu bersikap terbuka dan bahkan cenderung memberi harapan kepada gadis puteri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu? Bahkan dengan sangat deksura dan meninggalkan suba sita dia telah berani dengan sengaja menggenggam tangan gadis dari Menoreh itu.

“Aku memang terlalu berlebihan dalam memerankan seorang Gupita pada waktu itu,” berkata Ki Rangga dalam hati.

Namun sebenarnya lah di sudut hatinya yang lain telah berkata, “Bukankah engkau pada waktu itu memang sangat tertarik dengan gadis Menoreh itu? Sikapnya yang sopan dan menghargai siapa pun, tutur katanya yang lemah lembut namun tegas serta sifatnya yang rendah hati sangat berbeda dengan gadis dari Sangkal Putung yang telah menyentuh hatimu untuk pertama kali. Bahkan pandangan matanya yang terlihat sayu dan selalu diliputi oleh kesedihan itu telah menggerakkan hatimu untuk selalu ingin menghiburnya dan membuatnya selalu tersenyum agar wajahnya yang cantik itu tidak terlihat murung dan bersedih?”

“Ah,” desah Ki Rangga dalam hati, “Ternyata lebih mudah menghadapi seorang musuh setangguh Panembahan Cahya Warastra dari pada menghadapi seorang perempuan dengan segala permasalahannya yang rumit dan njlimet.”

Dalam pada itu, Pandan Wangi ternyata telah berusaha dengan keras untuk menguasai dirinya. Sebagai seorang perempuan yang mempunyai kelebihan dari perempuan kebanyakan, dirinya telah terlatih untuk menghadapi persoalan yang menyangkut ketahanan lahir maupun batin. Dengan memusatkan segenap nalar dan budinya, Pandan Wangi pun kemudian mencoba untuk mengurai getaran-getaran yang telah melanda jantungnya.

Demikianlah akhirnya Pandan Wangi benar-benar telah mampu menguasai dirinya. Setelah mengusap tetes air matanya yang terakhir, dengan mata yang masih merah dan sembab Pandan Wangi pun kemudian berdiri sambil berkata perlahan, “Sudahlah Kakang, engkau memang benar. Tidak ada lagi yang perlu dibahas sehubungan dengan masa lalu kita. Biarlah sekarang ini kita meniti jalan kita masing-masing. Aku akan belajar ikhlas dalam menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh Yang Maha Agung. Semoga dalam menyongsong hari-hari tua kita, kita selalu diberi tuntunan dan bimbingan agar selalu dapat meniti di jalan yang diridhoiNya.”

Ki Rangga Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk kecil tanpa berusaha menanggapi kata-kata Pandan Wangi. Ketika Pandan Wangi kemudian bergeser dari samping pembaringannya, tanpa sadar kedua pasang mata itu pun kembali beradu. Tiba-tiba saja sebuah senyum yang teramat manis telah tersungging di bibir puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu.

Tersirap darah Ki Rangga rasanya sampai ke ubun-ubun. Senyum yang telah lama hilang dari wajah cantik puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu kini telah merekah kembali. Sejak dia dipersunting oleh anak laki-laki Ki Demang Sangkal Putung itu, Ki Rangga Agung Sedayu memang sangat jarang melihat Pandan Wangi tersenyum manis seperti semasa mereka masih sama-sama muda. Dan kini seakan-akan yang berdiri di sisi pembaringan ki Rangga bukanlah istri adik seperguruannya, namun gadis berpedang rangkap yang sedang berlarian-larian sambil bergandengan tangan dengannya di bawah siraman sinar bulan purnama.

“Wangi,” tiba-tiba tanpa disadarinya Ki Rangga berdesah perlahan, “Engkau sangat cantik sekali.”

“Ah, Kakang,” desah Pandan Wangi sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Tiba-tiba saja Pandan Wangi merasakan jantungnya bergejolak dan aliran darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya sehingga tubuhnya menjadi sedikit menggigil.

Ki Rangga yang menyadari keterlanjurannya segera berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Katanya kemudian, “Maafkan aku Wangi. Bukan maksudku untuk bersikap deksura kepadamu. Aku hanya mengungkapkan apa yang terlintas dalam benakku. Sekali lagi aku mohon maaf.”

Sambil tetap menundukkan wajahnya, Pandan Wangi pun kemudian menjawab, “Sudahlah Kakang, aku mohon diri. Sebaiknya aku menengok keadaan Anjani untuk mengetahui keadaannya.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit bilik. Berbagai bayangan hilir mudik di rongga matanya. Bayangan perempuan-perempuan yang pernah dekat dalam kehidupannya, Sekar Mirah, Pandan Wangi dan yang terakhir adalah Anjani, perempuan muda yang sangat cantik dan kini sedang terluka parah.

“Wangi, seberapa parahkah luka Anjani?” bertanya Ki Rangga kemudian setelah keduanya sejenak terdiam.

Pandan Wangi menggeleng lemah, “Aku tidak tahu Kakang, tapi benturan ilmu puncak Anjani dengan lawannya yang terjadi tadi sangat dahsyat. Aku tidak berani menduga apakah kedua-duanya dapat bertahan.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Aku tadi mendengar suara Kiai Sabda Dadi. Semoga Kiai Sabda Dadi dapat memberikan pertolongan kepada Anjani.”

“Ya Kakang,” jawab Pandan Wangi masih dengan menundukkan wajahnya, “Sekar Mirah telah membawa Anjani ke dalam bilik tempatku dahulu dan agaknya Kiai Sabda Dadi sedang berusaha membantu menolong Anjani.”

“Semoga Yang Maha Agung meridhoi usaha dan doa kita semua,” desis Ki Rangga hampir tak terdengar.

Pandan Wangi tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk.

Untuk beberapa saat keduanya menjadi terdiam. Masing-masing terbawa arus angan-angan yang melambung tinggi, setinggi awan yang berarak-arak di langit biru.

“Kakang,” berkata Pandan Wangi kemudian memecah kesepian, “Aku mohon diri.”

“Silahkan, Wangi,” jawab Ki Rangga sambil tetap memandang langit-langit bilik, “Tolong sampaikan kepada Sekar Mirah untuk datang ke sini. Ada yang ingin aku bicarakan.”

Berdesir lembut jantung puteri Kepala Tanah Perdika Menoreh itu. Berbagai prasangka muncul dalam benaknya, namun cepat cepat perasaan itu dibuangnya jauh-jauh. Katanya kemudian, “Ya Kakang. Pesan Kakang akan aku sampaikan kepada Sekar Mirah.”

Demikianlah akhirnya, puteri satu satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pun kemudian meninggalkan Ki Rangga sendirian di dalam biliknya.

Dalam pada itu di tanah pekuburan perang tanding antara Ki Patih Mandaraka melawan Ki Ajar Serat Gading semakin lama menjadi semakin sengit. Ki Ajar dengan berbekal ilmunya yang tinggi serta pengaruh dari keris pusaka Kanjeng Kiai Sarpasri benar-benar telah membuat Ki Patih harus mengerahkan segenap kemampuannya. Keris Kiai Sarpasri itu seolah-olah telah berubah ujud menjadi seekor naga yang tidak begitu besar namun dari mulutnya yang menganga telah meluncur gumpalan-gumpalan api berbisa yang siap melumatkan apa saja yang diterjangnya.

Orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu dari pinggir arena hanya dapat menahan nafas. Ki Gede Menoreh yang telah banyak makan asam garamnya pertempuran itu pun telah dibuat berdebar-debar. Pengaruh keris itu memang sangat luar biasa. Pengaruh getaran dari ungkapan ilmu Ki Ajar serta panas yang ditimbulkan oleh keris Kiai Sarpasri terasa telah membakar arena perang tanding.

“Ki Gede,” tiba-tiba Ki Jayaraga yang berdiri di sebelah Ki Gede berbisik, “Agaknya gumpalan-gumpalan api yang ditimbulkan oleh keris Kiai Sarpasri itu tidak hanya menimbulkan panas saja, namun juga mengandung racun yang sangat ganas.”

Sejenak Ki Gede mengerutkan keningnya sambil mengamati jalannya pertempuran. Memang gumpalan-gumpalan api yang menerjang Ki Patih itu selalu dapat dihindarinya. Namun akibat yang ditimbulkan benar-benar sangat nggegirisi. Ketika gumpalan-gumpalan api itu tidak mengenai sasarannya dan menerjang semak belukar yang banyak tumbuh berserakan di tanah pekuburan itu, akibatnya sangat mengerikan. Semak belukar itu tidak hanya terbakar, namun daun-daun dan batang-batangnya yang setengah terbakar itu tiba-tiba saja telah meleleh dan kemudian hancur menjadi bergumpal-gumpal cairan yang berwarna kehitam-hitaman.

“Luar biasa!” desis Ki Gede begitu menyadari kedahsyatan keris Kiai Sarpasri, “Semoga Ki Patih segera menemukan jalan keluar untuk menghancurkan kekuatan keris itu.”

“Ya Ki Gede,” sahut Ki Jayaraga penuh harap, “Kita semua berharap Ki Patih segera mampu mengatasi kedahsyatan keris Kiai Sarpasri. Menurut dugaanku, sebenarnya kemampuan ilmu kanuragan Ki Ajar tidak begitu menyulitkan Ki Patih. Namun dukungan kekuatan keris Kiai Sarpasri yang seolah-olah telah menyatu dengan Ki Ajar, itulah yang menyulitkan Ki Patih untuk menundukkan lawannya.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Raden Mas Rangsang yang berdiri tidak jauh dari kedua orang tua itu hanya dapat mengawasi jalannya perang tanding dengan wajah yang sangat tegang dan gigi bergemeretakkan.

Dalam pada itu, tandang Ki Ajar semakin lama semakin nggegirisi. Udara di seputar medan perang tanding itu ternyata telah menjadi semakin panas. Bahkan beberapa orang yang berdiri di pinggir arena telah mundur beberapa langkah akibat pengaruh panas yang terasa menyengat sampai di tempat mereka berdiri. Agaknya Ki Ajar telah merambah sampai pada puncak ilmunya sehingga dia telah membakar medan perang tanding itu.

Ki Patih Mandaraka sebenarnya telah menyadari sejak awal bahwa ilmu Ki Ajar lambat laun pasti akan membakar medan dengan harapan akan dapat membuat pertahanan lawannya semakin melemah. Namun tampaknya Ki Patih sudah memperhitungkan semua itu dengan cermat. Tandangnya masih tetap trengginas serta bayangan semunya yang semakin banyak jumlahnya itu sedikit banyak telah menghambat Ki Ajar dalam mengenali keberadaan Ki Patih.

Demikianlah, ketika Matahari memanjat semakin tinggi, perang tanding itu pun telah merambah sampai pada puncaknya. Serangan Ki Ajar yang terpancar dari keris Kiai Sarpasri bukan lagi berupa gumpalan-gumpalan api berbisa yang meluncur susul-menyusul, namun sudah berupa pancaran api yang berkobar-kobar mengejar ke arah mana pun lawannya menghindar.

Ki Patih menyadari bahwa satu-satunya jalan untuk menghentikan serangan lawannya adalah dengan cara menghentikan sumbernya, yang dalam hal ini adalah keris Kiai Sarpasri. Ki Patih harus mencari cara untuk memisahkan keris itu dari tangan lawannya. Tanpa keris Kiai Sarpasri di tangan Ki Ajar, kemampuan ilmu Ki Ajar akan jauh menyusut dan bagi ki Patih tidak akan banyak menemui kesulitan untuk menundukkannya.

“Ki Patih agaknya belum menemukan cara untuk menghentikan serangan lawannya yang berasal dari keris Kiai Sarpasri itu,” gumam Ki Gede perlahan sambil pandangan matanya tidak lepas dari medan perang tanding.

“Sebenarnya kemampuan ilmu Ki Ajar tidak akan melampui kemampuan ilmu Ki Patih,” Ki Jayaraga menambahkan, “Namun dukungan keris Kiai Sarpasri sangat berpengaruh dalam mengungkapkan ilmu puncak Ki Ajar. Aku yakin, dengan ,memisahkan keris itu dari tangan Ki Ajar, Ki Patih tidak akan banyak menemui kesulitan dalam menghentikan perlawanan lawannya.”

Ki Gede mengerutkan keningnya sambil berpaling sekilas ke arah Ki Jayaraga yang berdiri di sampingnya. Katanya kemudian, “Bagaimana mungkin memisahkan keris itu dari tangan pemiliknya?”

Ki Jayaraga hanya menggeleng lemah sambil menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Itu yang sedang aku pikirkan. Semoga Ki Patih pun telah menyadari kekuatan inti dari ilmu lawannya dan segera menemukan cara untuk mengatasinya.”

Ki Gede tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk. Ketika pandangan matanya sekilas menyambar ke tempat Raden Mas Rangsang berdiri, jantung Pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu pun tiba-tiba telah berdesir tajam.

Tidak jauh dari tempat kedua orang tua itu berdiri, tampak Raden Mas Rangsang berdiri dengan wajah yang sangat tegang sambil memperhatikan jalannya perang tanding yang sedang berlangsung dengan dahsyatnya. Samar-samar pandangan mata Ki Gede telah melihat sesuatu yang mendebarkan jantung.

“Ki Jayaraga,” perlahan Ki Gede berbisik kepada Ki Jayaraga yang berdiri di sebelahnya, “Aku melihat sesuatu yang mendebarkan pada diri Raden Mas Rangsang.”

Ki Jayaraga yang perhatiannya sedang tertumpah sepenuhnya pada jalannya perang tanding itu mengerutkan keningnya. Dengan tetap memperhatikan jalannya pertempuran dia balik bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada diri Raden Mas Rangsang, Ki Gede?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Ki Jayaraga. Sambil tetap berbisik, jawabnya kemudian, “Lihatlah, Ki. Aku pernah mendengar sebuah cerita tentang leluhur yang telah menurunkan Raja-Raja di tanah Jawa. Seorang Raja besar yang memiliki ciri-ciri seperti yang tampak pada diri Raden Mas Rangsang sekarang ini. Apakah ini sebuah pertanda dari Yang Maha Agung bahwa Raden Mas Rangsang memang telah terpilih untuk memimpin Nusantara ini menuju puncak kejayaannya kembali?”

Ki Jayaraga terkejut. Tanpa membuang waktu, dia segera berpaling ke arah Raden Mas Rangsang berdiri. Alangkah terkejutnya guru Glagah Putih itu begitu dia melihat tanda-tanda sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ki Gede Menoreh itu.

“Luar biasa,” desis Ki Jayaraga, “Menurut cerita yang pernah aku dengar, tanda-tanda itu memang sama dengan yang pernah terlihat pada diri seorang penyamun penguasa Padang Karaotan yang pada akhirnya mampu merayap menduduki tahta setelah dia memperistri seorang perempuan yang terlahir sebagai Nareswari, seorang perempuan yang dipercaya menurunkan raja-raja di tanah jawa ini.”

“Ya, Ki,” jawab Ki Gede, “Namun bagaimana dengan Raden Mas Wuryah? Bukankah Panembahan Hanyakrawati pernah bersumpah untuk menjadikan keturunan dari putri Panaraga itu sebagai Putra Mahkota?”

“Entahlah Ki Gede,” jawab Ki Jayaraga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Padahal sebelum Raden Mas Wuryah lahir, jabatan Adipati Anom itu telah diberikan kepada Raden Mas Rangsang.”

Sejenak kedua orang tua itu terdiam. Ketika pandangan mata kedua orang tua itu kembali tertuju ke medan perang tanding, ternyata telah terjadi perubahan yang sangat luar biasa.

Ketika Ki Ajar yang sedang dalam puncak ilmunya itu mengejar kemana pun bayangan Ki Patih berpindah tempat di antara bayangan-bayangan semunya, tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu yang mendebarkan pada diri Raden Mas Rangsang yang sedang berdiri di pinggir arena.

Sekejap Ki Ajar bagaikan terpesona melihat cahaya kemerah-merahan yang muncul di antara asap putih yang mengepul di ubun-ubun pewaris trah Mataram itu. Ternyata dalam ketegangan dan kemarahan yang luar biasa, tanpa disadarinya Raden Mas Rangsang telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa yang dianggap sebagian orang sebagai tanda-tanda akan munculnya kembali seorang Raja besar yang akan menguasai Nusantara.

“Agaknya memang benar ramalan seorang Wali yang waskita pada saat Pajang masih berkuasa dahulu bahwa keturunan Mataram lah yang akan menguasai tanah Jawa ini. Kalau memang wahyu keprabon telah berpindah, akan sia-sia lah perjuangan Eyang Guru untuk meneruskan trah Sekar Seda Lepen,” berkata Ki Ajar dalam hati.

Namun perhatian Ki Ajar yang terpecah walaupun hanya sekejap itu ternyata harus dibayar dengan sangat mahal. Serangan Ki Ajar yang berupa pancaran api yang berkobar-kobar itu telah tersendat beberapa saat sehingga kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Ki Patih yang berada di sebelah kiri Ki Ajar. Sejenak kemudian, selarik sinar kebiru-biruan telah meluncur menerjang dada sebelah kiri Ki Ajar.

Bagaikan disengat ribuan lebah, ki Ajar terkejut bukan alang kepalang begitu menyadari serangan lawannya tinggal sejengkal dari dadanya. Dengan kecepatan yang tidak kasat mata, Ki Ajar pun segera meloncat mundur. Namun apa yang terjadi kemudian adalah diluar perhitungan Ki Ajar sendiri. Dada sebelah kiri Ki Ajar memang selamat dari terjangan ilmu lawannya, namun selarik sinar kebiru-biruan yang gagal menggapai dada kiri Ki Ajar itu justru telah menghantam pergelangan tangan kanan Ki Ajar yang sedang memegang keris Kanjeng Kiai Sarpasri pada saat dia meloncat mundur.

Akibatnya sangat diluar dugaan Ki Ajar sendiri. Sambaran ilmu lawannya itu telah membakar dan meremukkan pergelangan tangan kanan Ki Ajar sehingga Ki Ajar tidak mampu lagi untuk mempertahankan senjatanya. Keris Kanjeng Kiai Sarpasri yang selama ini menjadi sumber kekuatannya itu pun telah terlepas dari genggamannya dan terlontar beberapa langkah kemudian jatuh tergeletak di atas tanah.

“Iblis, setan, gendruwo, tetekan!” umpat Ki Ajar tak henti-hentinya sambil berdesis menahan rasa sakit yang mendera pergelangan tangan kanannya.

Ki Patih Mandaraka tidak menanggapi umpatan ki Ajar. Tekadnya sudah bulat untuk segera mengakhiri perang tanding yang melelahkan itu, sebelum tenaganya sendiri menjadi semakin menyusut seiring dengan dukungan wadagnya yang semakin melemah. Namun melihat lawannya sudah tidak memegang pusaka andalannya lagi, sejenak Ki Patih menjadi ragu-ragu. Ki Patih tidak ingin menyerang lawan yang sudah tidak berdaya.

“Menyerahlah Ki Ajar,” akhirnya Ki Patih kemudian berkata, “Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kami selalu memperlakukan para tawanan dengan baik dan berpegang pada paugeran yang berlaku. Masih ada jalan kembali bagi Ki Ajar.”

“Persetan dengan sesorahmu!” geram Ki Ajar dengan mata menyala, “Aku belum kalah dan hanya kematian yang dapat mengakhiri perang tanding ini.”

Ki Patih tertegun. Agaknya kekerasan hati Ki Ajar telah memburamkan penalarannya, dan hanya kematian yang dapat menghentikan polah tingkahnya.

Sejenak kedua orang yang sedang menyabung nyawa itu masih saling menunggu. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh ki Patih untuk memulihkan tenaganya walaupun tidak sepenuhnya. Dengan menarik nafas dalam-dalam berkali-kali, tubuh Ki Patih yang telah rapuh dimakan usia itu pun menjadi sedikit segar kembali.

Dalam pada itu, Ki Ajar yang menyadari sepenuhnya akan ketinggian ilmu Ki Patih segera mengambil sikap. Tanpa keris kanjeng Kiai Sarpasri di tangannya, ilmunya tidak akan mampu mengimbangi ilmu lawannya.

Namun apa yang dilakukan oleh Ki Ajar kemudian justru telah membuat Ki Patih terkejut. Menurut perhitungan Ki Patih, lawannya itu pasti akan berusaha untuk meraih senjatanya kembali yang telah terjatuh. Namun apa yang dilakukan oleh lawannya itu benar-benar di luar dugaan ki Patih.

Selagi Ki Patih masih menunggu pergerakan lawannya, tiba-tiba saja hampir tidak dapat diikuti oleh pandangan mata wadag, tangan kiri Ki Ajar dengan cepat telah menyusup ke balik bajunya dan sejenak kemudian beberapa pisau kecil telah meluncur bagaikan tatit susul menyusul menerjang ke arah Ki Patih.

Ki Patih Mandaraka yang sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan seperti itu menjadi sedikit gugup. Pisau pertama dan kedua masih mampu dihindarinya, namun pisau berikutnya ternyata Ki Patih agak terlambat menghindar sehingga ujung pisau yang sangat tajam itu telah berhasil menggores lengan kirinya.

Sejenak Ki Patih terhuyung ke belakang beberapa langkah. Sebuah desis tertahan terdengar dari mulut Ki Patih. Memang tidak banyak darah yang tertumpah dari luka itu. Namun justru dengan demikian Ki Patih segera menyadari bahwa pisau itu pasti mengandung racun yang sangat kuat.

Ternyata serangan pisau-pisau itu hanya sebuah cara dari Ki Ajar untuk mengalihkan perhatian Ki Patih. Begitu usahanya berhasil, dengan sebuah lompatan yang panjang, Ki Ajar berusaha meraih keris kanjeng Kiai Sarpasri yang tergeletak beberapa langkah di depannya.

Begitu tangan kiri Ki Ajar berhasil meraih keris pusaka kanjeng Kiai Sarpasri, segera terdengar kembali suara tertawanya yang meledak memenuhi udara tanah pekuburan. Sementara Ki Patih yang lengan kirinya terluka oleh pisau beracun itu telah terjatuh pada kedua lututnya dengan kepala tertunduk dan kedua tangan menggantung di kedua sisi tubuhnya. Agaknya racun yang sangat kuat telah mulai bekerja menyerang ketahanan tubuh Ki Patih.

“Juru Mertani!” teriak Ki Ajar sambil mengangkat keris di tangan kirinya tinggi-tinggi, begitu melihat lawannya sudah tak berdaya, “Tidak ada satu obat pun yang mampu menawarkan racun pada senjataku. Cepat atau lambat, engkau pasti akan mati. Namun aku akan mempercepat kematianmu dengan keris pusaka Kanjeng Kiai Sarpasri. Maka tataplah langit dan peluklah bumi. Jangan rindukan lagi terbitnya Matahari esok pagi.”

Sebenarnya racun yang terdapat pada pisau belati Ki Ajar itu memang sangat kuat dan jahat. Sebagai keturunan seorang Wali linuwih pendiri Giri Kedaton, tentu saja Ki Patih Mandaraka yang semasa mudanya bernama Juru Mertani itu mempunyai darah yang kebal terhadap segala macam racun. Namun begitu kuatnya racun itu menyerang kekebalan tubuhnya sehingga telah terjadi pergulatan yang dahsyat di dalam tubuh Ki Patih yang menyebabkan darahnya bergolak dan tubuhnya gemetaran.

Ki Patih sendiri sempat terkejut ketika merasakan tubuhnya gemetar dan seluruh persendiannya bagaikan terlepas. Untuk menahan agar tubuhnya tidak limbung dan jatuh terguling, Ki Patih justru telah mengambil sebuah keputusan yang menguntungkan dirinya, membiarkan dirinya terjatuh pada kedua lututnya.

Agaknya racun yang merasuki tubuh Ki Patih itu begitu kuatnya sehingga diperlukan beberapa saat untuk memulihkan kekuatannya sebelum racun yang mengeram dalam tubuh Ki Patih terdesak oleh penawar racun yang mengalir dalam darahnya.

Ki Jayaraga dan Ki Argapati yang berdiri di luar arena perang tanding itu menjadi semakin berdebar debar. Mereka melihat Ki Patih telah terjatuh pada kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar keras dan wajah sepucat kapas. Namun mereka tidak yakin kalau perlawanan Ki Patih telah berakhir. Tentu ada suatu siasat yang sedang dijalankan oleh Ki Patih.

“Tentu racun itu sangat kuat sehingga Ki Patih memerlukan waktu untuk mengatasinya,” berkata Ki Jayaraga dalam hati.

Berpikir sampai di situ, Ki Jayaraga segera berteriak lantang dari pinggir arena, “Tunggu Ki Ajar! Ki Ajar tentu tidak berkeberatan jika aku yang akan menjadi lawan Ki Ajar berikutnya!”

Ki Ajar yang mendengar terikan Ki Jayaraga dari pinggir arena perang tanding itu telah menunda serangannya. Dengan kening yang berkerut-merut, ki Ajar pun sejenak memandang tajam ke arah Ki Jayaraga. Sambil menunjuk ke arah Ki Jayaraga dengan keris di tangan kirinya, Ki Ajar pun kemudian berteriak lantang, “Apa peduliku, he! Setelah membunuh Ki Juru, tentu aku akan membunuh kalian semua. Tidak ada seorang pun di seluruh tlatah Mataram ini yang mampu menandingi kedahsyatan keris Kanjeng Kiai Sarpasri!”

“Tentu tidak!” teriak Ki Gede memotong ucapan Ki Ajar. Agaknya Ki Gede pun tanggap dengan sikap Ki Jayaraga. Sambil mengangkat tombak pendeknya tinggi-tinggi, Ki Gede pun kemudian berteriak tak kalah lantangnya, “Tombak pendek pusaka Menoreh ini pasti akan mampu menandingi pusakamu.”

Ki Ajar yang sudah merasa di atas angin itu kembali tergelak. Katanya kemudian di sela-sela tawanya, “He! Dengar kalian orang-orang dungu! Hanya tombak pusaka terbesar Mataram Kanjeng Kiai Plered sajalah yang mampu menandingi kesaktian pusakaku ini. Aku katakan sekali lagi, hanya mampu menandingi, bukan mengalahkan. Semuanya tergantung kepada orang yang menggunakannya.”

Kedua orang tua itu tidak menjawab. Ketika sudut mata mereka melihat wajah Ki Patih sudah tidak sepucat tadi, hampir bersamaan Ki Jayaraga dan Ki Gede telah menarik nafas dalam-dalam. Ternyata usaha kedua orang tua itu untuk mengulur waktu agar Ki Patih mendapat kesempatan beberapa saat untuk mengembalikan kekuatannya telah berhasil. Namun ternyata ki Patih telah mengambil keputusan untuk tetap berdiri pada kedua lututnya dengan kedua tangan yang menggantung lemah di sisi tubuhnya.

Ketika racun yang akan menjalar itu telah terhenti karena desakan kekuatan penawar racun yang mengalir dalam darah Ki Patih dan hanya menggumpal di sekitar luka di lengan kirinya, Ki Patih pun dengan tanpa menarik perhatian lawannya segera memusatkan segenap nalar dan budinya serta dilambari ketulusan dan kepasrahan kepada Yang Maha Hidup, untuk mengungkapkan ilmu puncaknya.

Demikianlah akhirnya, Ki Ajar yang sedang menikmati kemenangan kecilnya itu teryata telah lengah menilai sikap Ki Patih. Dalam perhitungannya, Ki Patih sudah tidak akan mampu lagi mengadakan perlawanan akibat racun yang telah menjalar di dalam tubuhnya.

Setelah melihat kedua orang tua yang berdiri di pinggir arena perang tanding itu tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya berdiri termangu-mangu, dengan teriakan yang menggelegar, Ki Ajar pun kemudian telah mengangkat kembali keris pusaka di tangan kirinya tinggi-tinggi dan siap melontarkan ilmunya yang nggegirisi.

Orang-orang yang berdiri di seputar arena perang tanding itu menjadi semakin berdebar-debar menanti akhir dari perang tanding itu. Bahkan Ki Jayaraga dan Ki Argapati yang telah yakin akan keadaan Ki Patih masih juga dihinggapi rasa was-was. Sementara Ki Lurah Mandurareja dan Ki Lurah Upasanta telah menggenggam tangkai senjata mereka erat-erat. Bagaimana pun juga, Ki Patih adalah Eyang mereka yang sangat mereka cintai dan hormati. Keduanya telah berjanji dalam hati, jika sesuatu terjadi pada Eyang mereka, mereka telah memutuskan untuk menyabung nyawa dengan orang yang menyebut dirinya keturunan dari perguruan Nagaraga itu.

Dalam pada itu di pinggir hutan yang masih lebat yang bersebelahan dengan padang perdu dekat pemakaman padukuhan induk, hampir tidak tampak oleh mata wadag, dua orang sedang berdiri melekat pada sebatang pohon besar yang tumbuh menjulang di pinggir hutan.

“Mengapa Ki Ajar tiba-tiba saja menjadi seperti kanak-kanak yang cengeng?” seorang yang berperawakan tinggi besar dengan gelang-gelang besi di kedua lengannya berdesis perlahan, “Apa untungnya mengulur-ulur waktu hanya untuk membunuh seorang Juru Mertani?”

Kawannya yang di sebelahnya tertawa tertahan. Jawabnya kemudian, “Apa engkau belum mengenal sifat Ki Ajar yang sebenarnya? Dia terbiasa mempermainkan korbannya terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Agaknya kali ini pun dia ingin menikmati kegemarannya itu.”

“Aku menjadi tidak telaten!” geram orang yang pertama, “Sebaiknya Ki Ajar segera membunuh orang dari Sela itu agar kita dapat segera tampil di medan untuk membantunya mencabut nyawa cecurut-cecurut Mataram.”

Kawannya yang berdiri di sebelahnya tersenyum sambil mengangguk anggukkan kepala. Katanya kemudian, “Yang harus dibunuh setelah Juru Mertani adalah Mas Rangsang. Dengan demikian akan putuslah trah Mataram dan selanjutnya trah Sekar Seda Lepen yang akan merajai tanah Jawa ini.”

Orang yang bergelang besi itu mengerutkan keningnya sambil berpaling. Dengan sedikit ragu-ragu dia mengajukan pertanyaan, “Bagaiman dengan Mas Wuryah?”

“Ah! Pangeran bebal itu? Pangeran yang satu itu sama sekali tidak masuk hitungan Eyang Guru. Jangankan memikirkan pemerintahan Mataram, untuk mengenali diri sendiri saja Mas Wuryah tidak akan mampu.”

Orang yang bergelang besi itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika tanpa disadarinya dia telah berpaling ke belakang, pandangan matanya yang tajam itu segera saja mengenali beberapa orang yang sedang bersembunyi di antara lebatnya pepohonan dan pepatnya gerumbul gerumbul semak belukar.

“Lima belas orang,” desisnya kemudian.

Kawannya tersenyum. Katanya kemudian, “Sudah lebih dari cukup. Kita akan membebaskan Jabung dan kawan-kawannya terlebih dahulu sebelum membunuh orang-orang Mataram, sehingga kekuatan kita akan bertambah.”

Orang yang bergelang besi itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang tampak terangguk-angguk.

“Agaknya perhitungan Eyang Guru mendekati kebenaran,” berkata kawannya itu kemudian sambil berpaling ke belakang mengamati-amati orang-orangnya yang sedang bersembunyi, “Ki Ajar dan murid-muridnya ternyata telah terlambat dan tidak sempat bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra. Adalah sangat mengherankan ketika kita beserta beberapa orang telah diperintahkan oleh Eyang Guru untuk menyusul Ki Ajar. Eyang Guru mungkin memperhitungkan sifat Ki Ajar yang keras kepala yang ingin melampiaskan dendam perguruan Nagaraga kepada keturunan Panembahan Senapati, apapun yang terjadi. Sayang, kedatangan kita pun juga terlambat untuk bergabung dengan Ki Ajar. Kita datang ketika perang tanding itu telah berlangsung.”

Kembali orang bergelang besi itu tidak menjawab, pandangan matanya tetap saja lurus ke depan, ke arah tanah pekuburan. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang. Bahkan tanpa disadarinya dia telah maju beberapa langkah agar dapat lebih jelas melihat apa yang sedang terjadi di arena perang tanding.

Kawannya yang melihat orang bergelang besi itu maju beberapa langkah menjadi terkejut. Dengan tergesa-gesa dia segera menyusul. Namun baru saja dia mengayunkan langkah, terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga dari arah tanah pekuburan.

“Gila!” tiba-tiba orang yang bergelang besi itu mengumpat keras, “Apa yang sebenarnya telah terjadi, he..?”

Kawannya dengan ragu-ragu dan sedikit memicingkan mata mencoba untuk mengamat-amati apa yang sedang terjadi di arena perang tanding itu. Alangkah terkejutnya dia ketika pandangan matanya tidak lagi menangkap sosok Ki Ajar yang berdiri tegak dengan tangan kiri mengangkat keris pusakanya tinggi-tinggi. Ki Ajar tidak tampak lagi di medan perang tanding, yang tampak hanya lah Ki Patih yang rebah di atas tanah serta beberapa orang yang tampak sedang mengerumuninya.

“Kemana Ki Ajar?” tanpa sadar pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Orang yang bergelang besi itu menggeram keras sambil mengeluarkan sebuah umpatan yang sangat kotor. Kemudian sambil berpaling ke arah kawannya yang telah berdiri di sebelahnya dia berkata setengah membentak, “Itulah akibatnya kalau Ki Ajar terlalu menuruti hawa nafsunya. Ki Ajar harus membayar kelengahannya dengan nyawanya!”

Kawannya terkejut. Dengan jantung yang berdebaran dicobanya sekali lagi mengamati arena perang tanding. Ketika tampak beberapa prajurit berlari-larian menuju ke sebuah gerumbul yang agak lebat, barulah dia melihat samar-samar seseorang telah tertelungkup yang sebagian tubuhnya berada di dalam semak belukar.

“Ki Ajar kah itu?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar menahan gejolak di dalam dadanya, “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?”

Orang yang bergelang besi itu sekali lagi mengumpat. Kemudian sambil bergegas melangkah ke dalam hutan dia berkata, “Tidak ada gunanya lagi kita berada di sini. Membuang-buang waktu saja. Lebih baik kita segera kembali dan melaporkan apa yang telah terjadi di sini.”

Sejenak kawannya masih berdiri termangu-mangu. Ada sebersit keraguan di dalam hatinya bahwa seseorang yang tertelungkup itu adalah Ki Ajar. Dia benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin Ki Ajar yang sudah tampak menguasai lawannya itu justru telah terbunuh. Namun ketika para prajurit telah mengangkat tubuh yang tertelungkup itu dan membawanya ke tempat yang agak lapang, barulah dia yakin bahwa tubuh yang sudah tak bernyawa itu adalah Ki Ajar.

“Gila!” sekarang giliran orang itu yang mengumpat.

Untuk beberapa saat dia masih menunggu perkembangan. Ketika dia kemudian berpaling ke belakang, tampak orang yang bergelang besi itu bersama-sama dengan yang lainnya telah meninggalkan tempat.

“Agaknya Ki Ajar telah salah perhitungan,” berkata orang itu dalam hati sambil melangkah menyusul kawan-kawannya, “Ki Ajar begitu yakin dengan kekuatan racun yang terdapat di pisau belatinya. Ternyata Ki Juru Mertani sangat cerdik dan telah berhasil mengelabui Ki Ajar.”

Ketika langkahnya hampir mencapai hutan yang masih cukup lebat itu, tiba-tiba saja langkahnya telah terhenti. Sejenak dia berpaling ke arah tanah pekuburan, namun kemudian langkahnya pun kembali terayun menyusul kawan-kawannya yang telah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu.

“Eyang Guru pasti akan memanggil keris Kanjeng Kiai Sarpasri itu kembali,” berkata orang itu dalam hati, “Aku tidak perlu mencarinya.”

Demikian lah akhir dari perang tanding itu. Ki Ajar ternyata telah salah perhitungan dalam menilai sikap Ki Patih. Yang terjadi kemudian adalah sangat diluar dugaan Ki Ajar Serat Gading. Belum sempat dia menghentakkan puncak ilmunya melalui keris Kanjeng Kiai Sarpasri di tangan kirinya yang telah diangkatnya tinggi-tinggi, dengan gerakan yang hampir tidak kasat mata, Ki Patih telah menghentakkan puncak ilmunya lewat kedua tangannya yang teracu kedepan.

Ki Ajar yang sudah merasa akan segera dapat mengakhiri perang tanding itu dengan mudah, ternyata telah dikejutkan oleh selarik cahaya kebiru-biruan yang meluncur mengarah ke dadanya.

Tidak ada kesempatan sama sekali bagi Ki Ajar untuk menghindar. Yang dapat dilakukannya hanyalah menghimpun tenaga cadangannya setinggi-tingginya untuk melindungi tubuhnya dari kehancuran.

Sejenak kemudian terdengar sebuah ledakan dahsyat di tanah pekuburan itu. Tidak terdengar sebuah keluahan pun dari mulut Ki Ajar. Tubuh Ki Ajar itu bagaikan terdorong oleh sebuah kekuatan raksasa dan terlempar ke belakang beberapa tombak sebelum akhirnya jatuh terpuruk di antara semak dan belukar. Sementara keris Kanjeng Kiai Sarpasri yang berada di tangan kirinya telah terlempar entah ke mana.

Dalam pada itu, Ki Patih yang telah menghentakkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan perlawanan Ki Ajar ternyata mengalami kelelahan yang sangat luar biasa sehingga tumpuan kedua lututnya menjadi goyah. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah terdorong ke belakang dan rebah di atas tanah. Sejalan dengan mengendornya pemusatan nalar dan budi Ki Patih, bayangan-bayangan semu yang semula bertebaran di seluruh medan perang tanding itu pun perlahan-lahan telah menghilang bagaikan asap tertiup angin.

“Ki Patih!” hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga berseru sambil meloncat memasuki medan perang tanding. Sedangkan Raden Mas Rangsang serta kedua cucu Ki Patih dengan tergesa-gesa telah berlari mendekat.

“Ampun Ki Patih, bagaimana kah keadaan Ki Patih?” desis Ki Gede perlahan sambil berlutut di sisi tubuh Ki Patih yang terbujur diam diikuti oleh Ki Jayaraga.

Ki Patih tidak menjawab. Hanya dada Ki Patih saja yang terlihat bergelombang tak beraturan. Sementara wajah Ki Patih terlihat sangat pucat.

“Eyang Patih?” hampir bersamaan Ki Lurah Mandurareja dan Ki Lurah Upasanta berdesis perlahan sambil berlutut begitu keduanya sampai di samping tubuh Ki Patih Mandaraka. Sementara Raden Mas Rangsang tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya berlutut sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam dengan wajah yang sangat tegang.

Ki Patih yang tampak wajahnya sangat pucat itu perlahan-lahan membuka matanya. Sebuah senyum kecil segera saja tersungging di bibirnya begitu pandangan Ki Patih menangkap bayangan orang-orang yang mengerumuninya. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, nafas Ki Patih menjadi sedikit longgar dan mulai teratur walaupun belum sepenuhnya.

“Bantu aku duduk,” tiba-tiba terdengar Ki Patih bergumam perlahan.

Beberapa orang yang sedang mengerumuninya itu dengan segera membantu Ki Patih untuk duduk. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah duduk bersila dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

Dalam pada itu Matahari telah memanjat semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Ki Tumenggung Surayudha yang tidak ikut menunggui Ki Patih telah memerintahkan beberapa prajurit untuk mengangkat jasad Ki Ajar yang tertelungkup di antara semak belukar. Sementara beberapa prajurit yang lain telah diperintahkan untuk mencari keris Kanjeng Kiai Sarpasri yang terlepas dari genggaman Ki Ajar.

Beberapa prajurit segera mengangkat tubuh Ki Ajar dan membawanya ke tempat yang agak lapang. Para prajurit yang menyentuh tubuh Ki Ajar itu pun telah dibuat menjadi berdebar debar.

“Tubuh ini nyaris tak bertulang,” bisik seorang prajurit yang berkumis tipis dan tampan sambil membantu kawan-kawannya mengangkat tubuh Ki Ajar dari semak-semak.

“Mengerikan,” desis kawan di sebelahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kekuatan aji Ki Patih telah meremukkan tubuh bagian dalam Ki Ajar. Seandainya Ki Ajar tidak memiliki ketahanan tubuh yang kuat, tentu tubuhnya telah hancur menjadi sayatan daging dan pecahan tulang.”

“Nggegirisi,” gumam prajurit yang lain, “Mungkin Ki Ajar memiliki semacam ilmu kebal sehingga tubuhnya tidak hancur.”

“Menurut perhitunganku Ki Ajar tidak mempunyai ilmu kebal,” sahut prajurit di sebelahnya, “Buktinya tangan Ki Ajar ini terluka oleh serangan ilmu Ki Patih.”

“Mungkin Ki Ajar belum mengetrapkan ilmu kebalnya sampai ke puncak pada saat Ki Patih berhasil melukai pergelangan tangan kanannya,” seorang prajurit yang agak gemuk menyahut.

“Dengan keris pusaka di tangannya, Ki Ajar memang terlalu menganggap remeh Ki Patih,” yangang lain ikut menimpali.

Demikianlah sambil tetap berjalan mengangkat jasad Ki Ajar yang telah membeku, para prajurit itu pun tak henti-hentinya membicarakan perang tanding yang baru saja usai.

“Siapakah yang lebih tinggi ilmunya? Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?” tiba-tiba saja seorang prajurit yang bertubuh kurus yang sedari tadi diam saja telah mengajukan sebuah pertanyaan.

Sejenak kawan-kawannya bagaikan membeku mendengar pertanyaan itu. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Akhirnya dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati mereka pun kemudian meletakkan jasad Ki Ajar di atas tanah yang agak lapang.

“Bagaimana pendapat kalian?” kembali prajurit yang bertubuh kurus itu bertanya sambil menegakkan tubuhnya.

“Pendapat yang mana?” bertanya kawannya yang lain hampir bersamaan sambil berpaling ke arahnya.

“Perbandingan ilmu itu,” jawab prajurit kurus itu sambi mengerutkan keningnya, “Ilmu siapakah yang lebih tinggi, Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?”

Kawan kawannya tidak segera menjawab, mereka hanya saling pandang sambil mengerutkan kening.

Akhirnya seorang parjurit yang rambutnya sedikit beruban mencoba menjawab, “Mereka berdua tidak dapat di perbandingkan. Ki Rangga masih termasuk muda dibanding dengan Ki Patih sehingga masih banyak kemungkinan untuk mencapai tataran yang lebih tinggi. Sedangkan Ki Patih semasa mudanya dahulu adalah seorang yang tanpa tanding kecuali dengan Sultan Pajang yang pada masa mudanya bergelar Mas Karebet atau Jaka Tingkir.”

Para prajurit yang sedang mengerumuni jasad Ki Ajar itu tampak mengangguk-angguk. Demikian juga dengan prajurit yang bertubuh kurus itu. Agaknya dia dapat memahami apa yang disampaikan oleh kawannya itu.

“Namun seumur hidupku, aku baru menyaksikan sebuah aji yang nggegirisi,” gumam prajurit yang bertubuh kurus itu kemudian, “Ilmu Panembahan Cahya Warastra memang ngedab-edabi yang mampu mengubah bentuk wadagnya menjadi raksasa. Akan tetapi ternyata Ki Rangga mampu mengatasinya. Ki Rangga dapat berubah wujud menjadi tiga, itu juga sebuah ilmu nggegirisi yang belum pernah aku saksikan seumur hidupku.”

“Bagaimana dengan Ki Patih yang dapat memecah dirinya menjadi berpuluh-puluh bahkan mungkin sampai ribuan?” kawan yang di sebelahnya ganti bertanya.

“Itu mungkin sejenis aji bala srewu,” jawab prajurit yang bertubuh kurus itu, “Sepanjang pengetahuanku aji bala srewu itu hanya sebuah tipuan saja, sebuah ilmu yang mampu mengungapkan bentuk-bentuk semu namun tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap lawannya.”

“Dari mana engkau tahu?” kembali seorang prajurit bertanya.

“Aku pernah mempelajarinya walaupun tidak tuntas,” jawab Prajurit yang bertubuh kurus itu dengan enteng.

“Ah, macam kau!” sergah kawannya

Kawan-kawannya yang telah melangkah pergi dari tempat itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mereka tanpa menanggapi angan-angan dari prajurit yang bertubuh kurus itu.

Dalam pada itu Ki Patih yang telah selesai dalam mengatur tata letak urat syaraf serta pernafasannya terlihat semakin segar. Sambil tersenyum Ki Patih pun kemudian mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada dan bangkit berdiri.

“Agaknya kita memerlukan beberapa lubang kubur lagi,” berkata Ki Patih kemudian sambil memandang ke arah kedua cucunya yang juga telah ikut berdiri.

“Hamba Eyang Patih,” jawab Ki Lurah Upasanta, “Kami akan perintahkan beberapa prajurit untuk menggali lagi. Sementara itu, apakah pemakaman sudah dapat dimulai?”

“O, tentu-tentu,” jawab Ki Patih cepat, ” Perintahkan orang-orang yang sedang menunggu di gerbang padukuhan induk itu untuk segera menuju ke sini.”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, kedua Lurah Wira Tamtama yang merupakan cucu dari Ki Patih itu segera mundur dan meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah Ki Patih.

Sepeninggal kedua cucunya, sejenak Ki Patih masih berdiri termangu-mangu. Ketika pandangan matanya kemudian tertumbuk pada sesosok anak muda yang berkulit sedikit gelap dengan wajah yang menyiratkan sebuah wibawa yang agung, tiba-tiba saja Ki Patih tertawa pendek.

“Cucunda Buyut, masalah yang kita hadapi telah berlalu. Mengapa wajahmu masih terlihat gelisah dan tegang?” sapa Ki Patih kepada seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya.

Anak muda yang tak lain adalah Raden Mas Rangsang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku gelisah memikirkan masa depan Mataram. Kanjeng Eyang Buyut sudah sedemikian sepuh namun masih mampu menunjukkan kemampuan yang diluar jangkauan kami yang muda-muda ini. Kami tidak dapat mengingkari garis dari Yang Maha Agung, bahwa suatu saat Kanjeng Eyang Buyut pasti akan meninggalkan kami semua, dan belum ada seorang pun dari kami yang muda-muda ini yang dapat dikatakan mempunyai kemampuan mendekati atau pun bahkan sejajar dengan Kanjeng Eyang Buyut.”

“Ah,” kembali Ki Patih tertawa pendek, sementara Ki Jayaraga dan Ki Gede hanya tersenyum saja mendengar ucapan calon penerus trah Mataram itu.

“Raden,” berkata Ki Patih kemudian sambil menepuk bahu Raden Mas Rangsang, “Pemimpin yang sejati itu pasti akan muncul dengan sendirinya jika memang Yang Maha Agung telah menetapkan waktunya. Ingat lah leluhur Wangsa Rajasa, Ken Arok. Kalau Yang Maha Agung sudah menghendaki dia menjadi Raja, tidak ada seorang pun manusia yang dapat menghalanginya pada waktu itu,” Ki Patih berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Bagaimana dengan Bekel Gajah Mada? Dia telah berhasil mempersatukan Nusantara dari ujung timur sampai ke ujung barat di bawah panji-panji kebesaran kerajaan Majapahit. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa dari seorang prajurit yang berpangkat Bekel kemudian dapat mencapai kedudukan menjadi seorang Maha Patih Hamangkubumi. Gajah Mada adalah sebuah contoh keteladanan tentang seorang abdi yang setia kepada Rajanya. Seandainya Gajah Mada mempunyai nafsu pribadi untuk menjadi Raja, alangkah mudahnya melenyapkan Hayam Wuruk yang pada saat dia naik tahta masih berusia sangat muda. Namun jiwa pengabdian Maha Patih Gajah Mada memang luar biasa. Dia bekerja tanpa pamrih, hanya mengabdi demi kejayaan Majapahit.”

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Patih itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka semua sudah paham tentang kisah Maha Patih Gajah Mada dari babat-babat yang mereka baca. Seseorang yang dianugrahi oleh Yang Maha Agung kecerdasan dan kemampuan ilmu olah kanuragan yang dahsyat tiada taranya. Dengan aji lembu sekilan yang dimilikinya, Maha Patih Gajah Mada telah mampu menggulung jagad dan mempersatukan negeri-negeri kecil yang tersebar luas di seluruh Nusantara di bawah panji-panji kebesaran Majapahit.

“Mengapa Maha Patih Gajah Mada sendiri tidak berniat untuk menjadi Raja?” tiba-tiba saja pertanyaan itu telah menggelitik hati Raden Mas Rangsang.

Agaknya Ki Patih dapat membaca pikiran Raden Mas Rangsang. Maka katanya kemudian, “Seseorang yang sudah mampu mengendapkan hatinya dari gejolak keinginan pribadi, dan sudah membulatkan tekadnya bahwa seluruh hidupnya akan dipersembahkan hanya untuk mengabdi, tidak akan tergoda oleh gebyarnya dunia. Maha Patih Gajah Mada telah menempatkan dirinya sebagai pendamping Raja Hayam Wuruk dan tidak ada terbesit niat sebiji sawi pun di dalam hatinya untuk meraih kamukten melebihi dari apa yang telah diterimanya walaupun dia mampu untuk melakukan itu. Karena dia sadar, bahwa seorang Raja adalah pilihan langsung dari Yang Maha Agung melalui Wahyu Keprabon. Tanpa Wahyu Keprabon, walaupun dia trah seorang raja sekali pun, dia tidak akan dapat menduduki singgasana, demikian juga sebaliknya.”

Raden Mas Rangsang dan kedua orang tua-tua itu hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam. Sudah banyak kejadian, dimana seseorang yang mengaku trah dari Majapahit telah berusaha menggalang kekuatan untuk membangun kembali kejayaan kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara ini, namun mereka tidak pernah berhasil.

“Berhati-hati lah dengan orang-orang yang masih mempunyai mimpi seperti itu,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Engkau telah mendengar sendiri dari mulut Ki Ajar sebelum perang tanding tadi, bahwa menurut Ki Ajar dan kelompoknya yang berhak atas tahta di negeri ini adalah trah dari Pangeran Sekar Seda Lepen. Di kemudian hari, mereka akan dapat menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Mataram.”

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: