Terusan ADBM Jilid 412

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-412/)

Jilid 412

Dalam pada itu, Ki Patih yang telah menghentakkan seluruh kekuatannya untuk menghentikan perlawanan Ki Ajar ternyata mengalami kelelahan yang sangat luar biasa sehingga tumpuan kedua lututnya menjadi goyah. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah terdorong ke belakang dan rebah di atas tanah. Sejalan dengan mengendornya pemusatan nalar dan budi Ki Patih, bayangan-bayangan semu yang semula bertebaran di seluruh medan perang tanding itu pun perlahan-lahan telah menghilang bagaikan asap tertiup angin.

“Ki Patih!” hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Jayaraga berseru sambil meloncat memasuki medan perang tanding. Sedangkan Raden Mas Rangsang serta kedua cucu Ki Patih dengan tergesa-gesa telah berlari mendekat.

“Ampun Ki Patih, bagaimana kah keadaan Ki Patih?” desis Ki Gede perlahan sambil berlutut di sisi tubuh Ki Patih yang terbujur diam diikuti oleh Ki Jayaraga.

Ki Patih tidak menjawab. Hanya dada Ki Patih saja yang terlihat bergelombang tak beraturan. Sementara wajah Ki Patih terlihat sangat pucat.

“Eyang Patih?” hampir bersamaan Ki Lurah Mandurareja dan Ki Lurah Upasanta berdesis perlahan sambil berlutut begitu keduanya sampai di samping tubuh Ki Patih Mandaraka. Sementara Raden Mas Rangsang tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya berlutut sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam dengan wajah yang sangat tegang.

Ki Patih yang tampak wajahnya sangat pucat itu perlahan-lahan membuka matanya. Sebuah senyum kecil segera saja tersungging di bibirnya begitu pandangan Ki Patih menangkap bayangan orang-orang yang mengerumuninya. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, nafas Ki Patih menjadi sedikit longgar dan mulai teratur walaupun belum sepenuhnya.

“Bantu aku duduk,” tiba-tiba terdengar Ki Patih bergumam perlahan.

Beberapa orang yang sedang mengerumuninya itu dengan segera membantu Ki Patih untuk duduk. Sejenak kemudian Ki Patih pun telah duduk bersila dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

Dalam pada itu Matahari telah memanjat semakin tinggi. Panasnya terasa mulai menggatalkan kulit. Ki Tumenggung Surayudha yang tidak ikut menunggui Ki Patih telah memerintahkan beberapa prajurit untuk mengangkat jasad Ki Ajar yang tertelungkup di antara semak belukar. Sementara beberapa prajurit yang lain telah diperintahkan untuk mencari keris Kanjeng Kiai Sarpasri yang terlepas dari genggaman Ki Ajar.

Beberapa prajurit segera mengangkat tubuh Ki Ajar dan membawanya ke tempat yang agak lapang. Para prajurit yang menyentuh tubuh Ki Ajar itu pun telah dibuat menjadi berdebar debar.

“Tubuh ini nyaris tak bertulang,” bisik seorang prajurit yang berkumis tipis dan tampan sambil membantu kawan-kawannya mengangkat tubuh Ki Ajar dari semak-semak.

“Mengerikan,” desis kawan di sebelahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kekuatan aji Ki Patih telah meremukkan tubuh bagian dalam Ki Ajar. Seandainya Ki Ajar tidak memiliki ketahanan tubuh yang kuat, tentu tubuhnya telah hancur menjadi sayatan daging dan pecahan tulang.”

“Nggegirisi,” gumam prajurit yang lain, “Mungkin Ki Ajar memiliki semacam ilmu kebal sehingga tubuhnya tidak hancur.”

“Menurut perhitunganku Ki Ajar tidak mempunyai ilmu kebal,” sahut prajurit di sebelahnya, “Buktinya tangan Ki Ajar ini terluka oleh serangan ilmu Ki Patih.”

“Mungkin Ki Ajar belum mengetrapkan ilmu kebalnya sampai ke puncak pada saat Ki Patih berhasil melukai pergelangan tangan kanannya,” seorang prajurit yang agak gemuk menyahut.

“Dengan keris pusaka di tangannya, Ki Ajar memang terlalu menganggap remeh Ki Patih,” yangang lain ikut menimpali.

Demikianlah sambil tetap berjalan mengangkat jasad Ki Ajar yang telah membeku, para prajurit itu pun tak henti-hentinya membicarakan perang tanding yang baru saja usai.

“Siapakah yang lebih tinggi ilmunya? Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?” tiba-tiba saja seorang prajurit yang bertubuh kurus yang sedari tadi diam saja telah mengajukan sebuah pertanyaan.

Sejenak kawan-kawannya bagaikan membeku mendengar pertanyaan itu. Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Akhirnya dengan perlahan-lahan dan sangat hati-hati mereka pun kemudian meletakkan jasad Ki Ajar di atas tanah yang agak lapang.

“Bagaimana pendapat kalian?” kembali prajurit yang bertubuh kurus itu bertanya sambil menegakkan tubuhnya.

“Pendapat yang mana?” bertanya kawannya yang lain hampir bersamaan sambil berpaling ke arahnya.

“Perbandingan ilmu itu,” jawab prajurit kurus itu sambi mengerutkan keningnya, “Ilmu siapakah yang lebih tinggi, Ki Patih atau kah Ki Rangga Agung Sedayu?”

Kawan kawannya tidak segera menjawab, mereka hanya saling pandang sambil mengerutkan kening.

Akhirnya seorang parjurit yang rambutnya sedikit beruban mencoba menjawab, “Mereka berdua tidak dapat di perbandingkan. Ki Rangga masih termasuk muda dibanding dengan Ki Patih sehingga masih banyak kemungkinan untuk mencapai tataran yang lebih tinggi. Sedangkan Ki Patih semasa mudanya dahulu adalah seorang yang tanpa tanding kecuali dengan Sultan Pajang yang pada masa mudanya bergelar Mas Karebet atau Jaka Tingkir.”

Para prajurit yang sedang mengerumuni jasad Ki Ajar itu tampak mengangguk-angguk. Demikian juga dengan prajurit yang bertubuh kurus itu. Agaknya dia dapat memahami apa yang disampaikan oleh kawannya itu.

“Namun seumur hidupku, aku baru menyaksikan sebuah aji yang nggegirisi,” gumam prajurit yang bertubuh kurus itu kemudian, “Ilmu Panembahan Cahya Warastra memang ngedab-edabi yang mampu mengubah bentuk wadagnya menjadi raksasa. Akan tetapi ternyata Ki Rangga mampu mengatasinya. Ki Rangga dapat berubah wujud menjadi tiga, itu juga sebuah ilmu nggegirisi yang belum pernah aku saksikan seumur hidupku.”

“Bagaimana dengan Ki Patih yang dapat memecah dirinya menjadi berpuluh-puluh bahkan mungkin sampai ribuan?” kawan yang di sebelahnya ganti bertanya.

“Itu mungkin sejenis aji bala srewu,” jawab prajurit yang bertubuh kurus itu, “Sepanjang pengetahuanku aji bala srewu itu hanya sebuah tipuan saja, sebuah ilmu yang mampu mengungapkan bentuk-bentuk semu namun tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap lawannya.”

“Dari mana engkau tahu?” kembali seorang prajurit bertanya.

“Aku pernah mempelajarinya walaupun tidak tuntas,” jawab Prajurit yang bertubuh kurus itu dengan enteng.

“Ah, macam kau!” sergah kawannya

Kawan-kawannya yang telah melangkah pergi dari tempat itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mereka tanpa menanggapi angan-angan dari prajurit yang bertubuh kurus itu.

Dalam pada itu Ki Patih yang telah selesai dalam mengatur tata letak urat syaraf serta pernafasannya terlihat semakin segar. Sambil tersenyum Ki Patih pun kemudian mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada dan bangkit berdiri.

“Agaknya kita memerlukan beberapa lubang kubur lagi,” berkata Ki Patih kemudian sambil memandang ke arah kedua cucunya yang juga telah ikut berdiri.

“Hamba Eyang Patih,” jawab Ki Lurah Upasanta, “Kami akan perintahkan beberapa prajurit untuk menggali lagi. Sementara itu, apakah pemakaman sudah dapat dimulai?”

“O, tentu-tentu,” jawab Ki Patih cepat, ” Perintahkan orang-orang yang sedang menunggu di gerbang padukuhan induk itu untuk segera menuju ke sini.”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, kedua Lurah Wira Tamtama yang merupakan cucu dari Ki Patih itu segera mundur dan meninggalkan tempat itu untuk melaksanakan perintah Ki Patih.

Sepeninggal kedua cucunya, sejenak Ki Patih masih berdiri termangu-mangu. Ketika pandangan matanya kemudian tertumbuk pada sesosok anak muda yang berkulit sedikit gelap dengan wajah yang menyiratkan sebuah wibawa yang agung, tiba-tiba saja Ki Patih tertawa pendek.

“Cucunda Buyut, masalah yang kita hadapi telah berlalu. Mengapa wajahmu masih terlihat gelisah dan tegang?” sapa Ki Patih kepada seorang anak muda yang berdiri di sebelahnya.

Anak muda yang tak lain adalah Raden Mas Rangsang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Aku gelisah memikirkan masa depan Mataram. Kanjeng Eyang Buyut sudah sedemikian sepuh namun masih mampu menunjukkan kemampuan yang diluar jangkauan kami yang muda-muda ini. Kami tidak dapat mengingkari garis dari Yang Maha Agung, bahwa suatu saat Kanjeng Eyang Buyut pasti akan meninggalkan kami semua, dan belum ada seorang pun dari kami yang muda-muda ini yang dapat dikatakan mempunyai kemampuan mendekati atau pun bahkan sejajar dengan Kanjeng Eyang Buyut.”

“Ah,” kembali Ki Patih tertawa pendek, sementara Ki Jayaraga dan Ki Gede hanya tersenyum saja mendengar ucapan calon penerus trah Mataram itu.

“Raden,” berkata Ki Patih kemudian sambil menepuk bahu Raden Mas Rangsang, “Pemimpin yang sejati itu pasti akan muncul dengan sendirinya jika memang Yang Maha Agung telah menetapkan waktunya. Ingat lah leluhur Wangsa Rajasa, Ken Arok. Kalau Yang Maha Agung sudah menghendaki dia menjadi Raja, tidak ada seorang pun manusia yang dapat menghalanginya pada waktu itu,” Ki Patih berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Bagaimana dengan Bekel Gajah Mada? Dia telah berhasil mempersatukan Nusantara dari ujung timur sampai ke ujung barat di bawah panji-panji kebesaran kerajaan Majapahit. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa dari seorang prajurit yang berpangkat Bekel kemudian dapat mencapai kedudukan menjadi seorang Maha Patih Hamangkubumi. Gajah Mada adalah sebuah contoh keteladanan tentang seorang abdi yang setia kepada Rajanya. Seandainya Gajah Mada mempunyai nafsu pribadi untuk menjadi Raja, alangkah mudahnya melenyapkan Hayam Wuruk yang pada saat dia naik tahta masih berusia sangat muda. Namun jiwa pengabdian Maha Patih Gajah Mada memang luar biasa. Dia bekerja tanpa pamrih, hanya mengabdi demi kejayaan Majapahit.”

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Patih itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka semua sudah paham tentang kisah Maha Patih Gajah Mada dari babat-babat yang mereka baca. Seseorang yang dianugrahi oleh Yang Maha Agung kecerdasan dan kemampuan ilmu olah kanuragan yang dahsyat tiada taranya. Dengan aji lembu sekilan yang dimilikinya, Maha Patih Gajah Mada telah mampu menggulung jagad dan mempersatukan negeri-negeri kecil yang tersebar luas di seluruh Nusantara di bawah panji-panji kebesaran Majapahit.

“Mengapa Maha Patih Gajah Mada sendiri tidak berniat untuk menjadi Raja?” tiba-tiba saja pertanyaan itu telah menggelitik hati Raden Mas Rangsang.

Agaknya Ki Patih dapat membaca pikiran Raden Mas Rangsang. Maka katanya kemudian, “Seseorang yang sudah mampu mengendapkan hatinya dari gejolak keinginan pribadi, dan sudah membulatkan tekadnya bahwa seluruh hidupnya akan dipersembahkan hanya untuk mengabdi, tidak akan tergoda oleh gebyarnya dunia. Maha Patih Gajah Mada telah menempatkan dirinya sebagai pendamping Raja Hayam Wuruk dan tidak ada terbesit niat sebiji sawi pun di dalam hatinya untuk meraih kamukten melebihi dari apa yang telah diterimanya walaupun dia mampu untuk melakukan itu. Karena dia sadar, bahwa seorang Raja adalah pilihan langsung dari Yang Maha Agung melalui Wahyu Keprabon. Tanpa Wahyu Keprabon, walaupun dia trah seorang raja sekali pun, dia tidak akan dapat menduduki singgasana, demikian juga sebaliknya.”

Raden Mas Rangsang dan kedua orang tua-tua itu hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam. Sudah banyak kejadian, dimana seseorang yang mengaku trah dari Majapahit telah berusaha menggalang kekuatan untuk membangun kembali kejayaan kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara ini, namun mereka tidak pernah berhasil.

“Berhati-hati lah dengan orang-orang yang masih mempunyai mimpi seperti itu,” berkata Ki Patih selanjutnya, “Engkau telah mendengar sendiri dari mulut Ki Ajar sebelum perang tanding tadi, bahwa menurut Ki Ajar dan kelompoknya yang berhak atas tahta di negeri ini adalah trah dari Pangeran Sekar Seda Lepen. Di kemudian hari, mereka akan dapat menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Mataram.”

Raden Mas Rangsang dan kedua orang tua itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala mereka tanpa menjawab sepatah kata pun. Ketika rombongan iring-iringan jenasah dari arah pintu gerbang padukuhan induk itu telah mendekati tanah pekuburan, perhatian mereka pun segera tertuju kepada iring-iringan jenasah itu.

“Marilah,” berkata Ki Patih kemudian sambil melangkah, “Sebaiknya kita segera menyelenggarakan pemakaman yang sempat tertunda beberapa saat tadi.”

“Hamba Ki Patih,” hampir berbareng kedua orang tua itu menjawab. Sementara Raden Mas Rangsang mengikuti saja langkah Ki Patih mendekati orang-orang yang mulai berkerumun di tanah pekuburan.

Demikianlah akhirnya jenasah jenasah itu pun segera dipersiapkan untuk dikebumikan sebagaimana mestinya. Para prajurit telah menggali beberapa liang kubur lagi untuk jasad Ki Ajar Serat Gading dan Kiai Sambiwaja serta beberapa murid perguruan Serat Gading yang telah menjadi korban.

Setelah seorang yang dituakan dari Padukuhan Induk memanjatkan doa, dengan segera para prajurit dibantu oleh beberapa laki-laki penghuni padukuhan induk yang ikut hadir untuk menutup lubang-lubang kubur itu dengan tanah-tanah gundukan bekas galian yang banyak tersebar di tanah pekuburan itu.

Ketika Ki Tumenggung Surayudha mendapat kesempatan mendekati Ki Patih yang sedang memperhatikan pelaksanaan pemakaman itu, dengan segera dia berbisik perlahan, “Ampun Ki Patih, kami tidak dapat menemukan keris pusaka Ki Ajar.”

Sejenak Ki Patih mengerutkan keningnya. Namun sejurus kemudian dia tersenyum sambil berdesis, “Biarlah Ki Tumenggung. Kemungkinannya keris itu telah dipanggil kembali oleh pemiliknya yang disebut Eyang Guru oleh Ki Ajar. Sebagaimana yang pernah terjadi di masa pemerintahan Panembahan Senapati.”

Ki Tumenggung Surayudha menarik nafas dalam-dalam. Hatinya sedikit tergetar. Kekuatan keris Kanjeng Kiai Sarpasri itu benar-benar sangat nggegirisi.

Dalam pada itu, ketika orang-orang yang berada di tanah pekuburan itu baru saja selesai menyelenggarakan pemakaman dan akan berkemas-kemas untuk kembali ke padukuhan induk, tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh suara derap kaki seekor kuda yang dipacu dengan sangat kencang. Segera saja semua pandangan mata tertuju ke arah gerbang padukuhan induk.

Sejenak kemudian mereka yang berada di tanah pekuburan itu pun telah melihat seorang penunggang kuda muncul dari balik gerbang padukuhan induk yang telah roboh dan langsung saja memacu kudanya dengan kencang menuju ke arah tanah pekuburan.

“Siapakah penunggang kuda itu?” pertanyaan itu berputar-putar hampir di setiap kepala orang-orang yang berada di tanah pekuburan itu.

Namun pertanyaan itu segera terjawab ketika tiba-tiba saja Ki Gede Menoreh berseru dengan nada yang penuh kegembiraan, “Ah, kiranya Ki Waskita yang telah hadir!”

Penunggang kuda yang memang adalah Ki Waskita itu segera mengurangi laju kudanya begitu mendekati kerumunan orang-orang yang ada di tanah pekuburan. Dengan tangkasnya dia meloncat turun begitu kuda itu telah berhenti. Sambil menuntun kudanya, Ki Waskita pun dengan bergegas segera menuju ke tempat Ki Patih dan orang-orang tua itu berdiri.

Sesampainya Ki Waskita di depan Ki Patih, dengan sedikit membungkukkan badannya, Ki Waskita pun kemudian berkata sambil tersenyum, “Ampun Ki Patih. Agaknya hamba telah terlambat. Namun sokorlah semuanya dalam keadaan selamat.”

Ki Patih tertawa tertahan sambil menunjukkan luka di lengan kirinya. Katanya kemudian, “Ternyata aku telah menjadi semakin lamban dan sedikit pikun. Lawanku telah berhasil memberikan sebuah kenang-kenangan untuk aku ingat seumur hidupku.”

“Ah,” orang-orang yang mendengar kelakar Ki Patih itu telah tertawa.
Demikian juga Ki Waskita. Namun katanya kemudian, “Ampun Ki Patih, luka itu sepertinya mengandung racun walaupun aku percaya racun itu tidak akan mampu menjalar lebih jauh lagi. Namun alangkah baiknya kalau sekalian saja racun itu dikeluarkan dari luka agar kelak di kemudian hari tidak menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan.”

“Engkau benar Ki Waskita,” jawab Ki Patih sambil meraba lukanya, “Racun yang mengeram di sekitar luka ini harus dikeluarkan. Jika dibiarkan, suatu saat dapat menyerang kembali jika ketahanan tubuhku melemah.”

Orang-orang yang berada di sekitar Ki Patih telah mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka juga mempunyai pendapat yang sama. Sebaiknya racun itu memang dibersihkan sama sekali dari luka yang berada di lengan kiri Ki Patih.

“Biarlah Tabib keprajuritan di padukuhan induk nanti yang akan mengobati luka ini,” berkata Ki Patih kemudian, “Sebaiknya kita segera kembali ke padukuhan induk.”

Kemudian katanya kepada Ki Tumenggung Surayudha, “Persiapkan pasukan Mataram untuk kembali ke kota Raja. Untuk membantu pengamanan Tanah Perdikan Menoreh dan menjaga kemungkinan keadaan yang dapat berkembang diluar pengamatan kita, engkau dapat menempatkan sepasukan prajurit untuk membantu para pengawal menjaga padukuhan induk dan sekitarnya.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung Surayudha, “Apakah Ki Patih berkenan kembali ke Kota Raja bersama pasukan Mataram?”

Ki Patih tersenyum sambil menggeleng. Sambil berpaling sekilas ke arah Ki Gede Menoreh, ki Patih pun menjawab, “Aku akan menjenguk keadaan Ki Rangga Agung Sedayu terlebih dahulu. Nanti menjelang senja, bersama dengan Raden Mas Rangsang aku akan kembali ke Kota Raja dengan pengawalan dari prajurit pengawal kepatihan saja.”

Orang-orang yang berdiri di sekitar Ki Patih itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Nah, sekarang marilah kita berbincang bincang sambil berjalan kembali ke padukuhan induk,” berkata Ki Patih kemudian sambil mengayunkan langkahnya.

Demikian lah akhirnya mereka yang telah selesai melaksanakan pemakaman itu telah berbondong-bondong meninggalkan tanah pekuburan. Sementara Ki Patih dan orang-orang tua beserta Raden Mas Rangsang yang berjalan di urutan paling belakang itu telah terlibat dalam pembicaraan yang riuh.

“Aku dengar Ki Waskita baru saja sakit,” berkata ki Gede Menoreh.

“Benar Ki Gede,” jawab Ki Waskita sambil menuntun kudanya, “Kita tidak bisa mengelabui umur. Dengan semakin bertambahnya umur, semakin lemah pula wadag seseorang.”

“Tidak semuanya benar,” potong Ki Gede dengan serta merta, “Siapapun tahu kalau Ki Patih Mandaraka adalah priyagung yang sudah melewati batas umur rata-rata manusia, bahkan paling sepuh di antara kita. Namun dengan seijin Yang Maha Agung, Ki Patih masih diberi kekuatan untuk berperang tanding melawan Ki Ajar Serat Gading, orang yang mengaku keturunan perguruan Nagaraga.”

“Ah,” Ki Patih yang mendengar gurauan Ki Gede tertawa masam, “Jujur saja aku akui, jika ki Ajar tidak terlalu meremehkan lawannya, aku tidak tahu apakah aku sekarang ini masih bisa berjalan bersama-sama dengan kalian?”

“Ampun Ki Patih,” Ki Waskita menyahut, “Untuk ukuran Ki Patih, tentu saja kami tidak berani dengan deksura membandingkan diri kami yang sudah tua bangka ini, karena menurut pengamatan kami, tentu Ki Patih mempunyai suatu rahasia untuk dapat memiliki umur yang panjang dan tetap awet muda.”

Orang-orang di sekitar Ki Patih saling pandang. Namun Ki Jayaraga lah yang menyahut, “Ampun Ki Patih. Mohon Ki Patih berkenan memberi petunjuk kepada kami yang sudah tua bangka ini, kira-kira sejenis obat atau reramuan apakah yang telah dipergunakan oleh Ki Patih sehingga Ki Patih tetap kuat dan awet muda?”

Orang-orang yang mendengar pertanyaan Ki Jayaraga itu hampir tidak dapat menahan tawa. Demikian juga Ki Patih, sebuah senyum telah tersungging di bibirnya. Namun ketika Ki Patih baru saja akan menjawab pertanyaan Ki Jayaraga, tiba-tiba saja Ki Gede Menoreh yang berjalan di sebelah kirinya bergumam perlahan namun cukup mengejutkan orang-orang yang mendengarnya, “Ampun Ki Patih, untuk urusan awet muda, aku kira jawabannya ada pada diri Ki Waskita. Bukankah baru beberapa bulan yang lalu Ki Waskita telah menikah lagi?”

Kali ini orang-orang yang mendengar pertanyaan Ki Gede itu benar-benar tidak dapat menahan tawa. Sejenak kemudian meledaklah tawa yang berkepanjangan di sepanjang jalan menuju padukuhan induk. Namun ketika mereka menyadari bahwa suasana masih dalam keadaan berkabung, dengan serta merta mereka segera menyesuaikan diri walaupun di sana sini beberapa orang masih belum dapat menghapus senyum dari wajah mereka.

Ki Patih yang mendengar kata-kata Ki Gede itu sejenak tersenyum sambil mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “O, aku baru mendengar sekarang ini kalau Ki Waskita telah menikah lagi. Selamat Ki Waskita, semoga Ki Waskita dapat memulai kehidupan baru dalam keadaan bahagia dan sejahtera. Itulah agaknya mengapa sekarang ini Ki Waskita terlihat lebih muda dari usia yang sebenarnya.”

“Ah,” Ki Waskita yang menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian segera menjawab, “Ampun Ki Patih, perempuan yang aku nikahi itu umurnya sudah setua aku. Pertimbangan yang aku ambil ketika menikahinya adalah agar ada seseorang yang dapat membantuku dalam menyiapkan kebutuhanku sehari-hari.”

“Mengapa Ki Waskita tidak menikah dengan perempuan yang masih muda?” bertanya Ki Patih kemudian, “Dengan demikian kebutuhan Ki Waskita yang lain pun akan tercukupi.”

“Ah,” kembali terdengar tawa yang tertahan-tahan. Memang kebanyakan orang akan memilih perempuan yang masih muda jika mereka harus menikah lagi. Tentu saja semua itu dengan berbagai macam alasan dan pertimbangan.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Waskita kemudian dengan raut muka yang terlihat bersungguh-sungguh, “Pertimbanganku pada waktu itu adalah, bagaimana aku mendapatkan ketenangan dalam menjalani sisa hidupku yang hanya tinggal beberapa saat lagi.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata Ki Waskita ini menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-angguk. Mereka menyadari, betapa sulitnya menjalani kehidupan di hari tua tanpa seorang pun pendamping. Memang untuk urusan segala macam tetek bengek rumah tangga mereka dapat mengambil beberapa pelayan. Namun keberadaan seorang pelayan tentu saja sangat berbeda perannya dengan seorang istri.

Tanpa terasa langkah-langkah mereka telah mendekati regol padukuhan induk. Beberapa orang penghuni padukuhan induk dibantu oleh para prajurit tampak sedang memperbaiki regol yang telah roboh dan terbakar.

“Kayu mahoni cukup kuat untuk sebuah gerbang,” desis Ki Patih ketika mereka melewati regol yang sedang diperbaiki itu.

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede, “Kami belum sempat mencari bahan yang terbaik untuk regol ini. Namun kekuatan kayu Mahoni kami rasa sudah cukup memadai.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika tanpa disadarinya dia telah berpaling ke arah orang-orang yang sedang bekerja itu, ternyata mereka telah menghentikan pekerjaan mereka sejenak dan hanya berdiri mematung sambil menundukkan kepala.

“Apakah kami mengganggu?” bertanya Ki Patih, “Teruslah bekerja! Kami hanya lewat saja.”

“Sendika Ki Patih,” jawab seorang prajurit tertua yang mewakili rombongan pekerja itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.

Demikianlah ketika orang terakhir telah melewati regol yang sedang diperbaiki itu, para pekerja dibantu oleh beberapa prajurit pun segera meneruskan pekerjaan mereka.

Dalam pada itu, di langit Matahari telah memanjat semakin tinggi. Ketika bola api raksasa itu telah berada tepat di atas ubun-ubun, panasnya pun bagaikan membakar seluruh permukaan bumi.

Di tegal kepanasan pebukitan Menoreh, seseorang tampak sedang berdiri dengan gagahnya. Matanya yang setajam burung elang sesekali terlihat memandang kekejauhan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

“Menurut Begawan Cipta Hening, orang yang harus aku bunuh itu baru akan datang besuk siang di tempat ini,” orang yang bertubuh tegap dan kekar itu berdesis perlahan, “Jika memang Begawan Cipta Hening memiliki sebuah ilmu yang disebutnya dengan nama Sulih Nyawa itu, tentu Mataram akan gempar begitu menyadari Panembahan Cahya Warastra telah bangkit kembali dari kematiannya.”

Orang yang berbadan tegap dan kekar itu sejenak tersenyum. Seolah-olah sudah terbayang kemenangan di depan matanya.

“Dan dengan sangat mudahnya aku akan membunuh Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang tergolek tak berdaya di atas pembaringannya,” kembali orang itu berangan-angan, “Semoga saja dia tidak mati terlebih dahulu agar dengan tanganku sendiri aku dapat mengakhiri kesombongannya.”

Untuk sejenak orang itu termenung. Terbayang kembali apa yang telah terjadi di dalam sebuah goa yang tersembunyi di puncak Suralaya dekat Tegal Kepanasan beberapa saat tadi.

“Engkau sudah sangat terlambat Bango Lamatan,” berkata orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu, “Seharusnya engkau bawa jasad Panembahan Cahya Warastra ke tempat ini sebelum cahaya pertama dari sinar Matahari menyentuh bukit Suralaya.”

“Ampun Begawan,” jawab Bango Lamatan sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Aku baru berhasil mengambil jasad Panembahan dari bekas medan pertempuran menjelang tengah malam. Dalam perjalanan membawa jasad panembahan ini pun aku harus sangat berhati-hati jangan sampai ada yang mengikuti perjalananku. Aku benar-benar mohon maaf atas keterlambatan ini.”

Terdengar orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam keremangan goa yang cukup gelap, sebenarnya bukanlah halangan yang berarti bagi Bango Lamatan untuk mengenali wajah Sang Begawan. Namun entah sudah berapa kali Bango Lamatan selalu gagal untuk mengenali wajah orang yang sedang duduk di atas sebuah batu besar hanya beberapa langkah di hadapannya.

“Bukankah engkau adalah orang kedua dalam perguruan Cahya Warastra?” bertanya Begawan Cipta Hening dengan suara yang berat dan dalam setelah sejenak mereka berdiam diri. Terdengar suaranya yang bergaung itu memantul dinding-dinding goa dan menciptakan suara-suara aneh yang menyeramkan.

“Benar Begawan,” jawab Bango Lamatan dengan perlahan, “Namun sesungguhnya aku bukanlah murid asli dari perguruan Cahya Warastra, jalur ilmu kami sangat berbeda.”

“Walaupun jalur ilmu yang engkau tekuni berbeda dengan jalur perguruan Cahya Warastra. Namun kenyataannya bahwa Panembahan Cahya Warastra telah mengangkatmu menjadi orang kedua dalam susunan kepemimpinan perguruannya itu merupakan bukti bahwa tingkat ilmumu memang patut diperhitungkan. Jadi urusan membawa jasad Panembahan itu ke sini sebelum Matahari terbit bukanlah soal yang rumit bagimu,” kembali suara berat dan dalam itu bergaung ke seluruh sudut-sudut goa dan memantulkan suara mirip geraman berpuluh-puluh ekor serigala.

Bango Lamatan menarik nafas dalam-dalam mendengar ucapan Sang Begawan. Sejenak pandangan matanya tertuju ke arah jasad Panembahan Cahya Warastra yang tergeletak di lantai goa yang lembab dan basah. Sepercik keragu-raguan mulai muncul dalam hatinya. Benarkah orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening ini mempunyai sejenis ilmu yang ngedab-edabi itu? ilmu yang mampu membangkitkan jasad yang sudah membeku untuk bisa bangkit kembali?

Kalau seandainya saja Panembahan Cahaya Warastra dapat memenangkan perang tanding itu, tentu dia tidak perlu menghadap seseorang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening di bukit Suralaya dekat Tegal Kepanasan.

Akhirnya setelah menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu, dengan sangat hati-hati Bango Lamatan pun menjawab, “Maaf Begawan, pada saat aku akan mengambil jasad Panembahan, ada seseorang yang sedang berada di dekat bekas medan perang tanding itu. Malam memang sangat gelap pada saat itu. Namun tampaknya dengan sengaja orang itu telah menampakkan dirinya dan hanya berdiri diam di bawah sebatang pohon. Tidak ada suatu usaha pun untuk menyamarkan dirinya terhadap lingkungan di sekitarnya. Dari sikapnya yang sombong itu aku dapat menarik sebuah kesimpulan, orang itu pasti memiliki keyakinan yang tinggi atas kemampuan ilmunya.”

“Atau justru sebaliknya, dia hanyalah seorang dungu yang tersesat sampai ke bekas medan pertempuran. Mengapa tidak engkau bunuh saja orang gila itu, he!” terdengar Begawan Cipta Hening itu menggeram. Getaran suaranya seakan-akan meruntuhkan dinding-dinding goa.

Untuk sejenak dahi Bango Lamatan berkerut-merut. Dia memang hanya melihat orang di bekas medan perang tanding itu berdiri termangu-mangu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sikapnya yang terlalu tenang itu lah yang telah menggelisahkan Bango Lamatan.

“Maaf Begawan,” jawab Bango Lamatan kemudian, “Sebelum aku memutuskan apa yang akan aku perbuat terhadap orang itu, tiba-tiba saja dalam keremangan malam ada dua bayangan yang terlihat mendekati bekas arena perang tanding itu.”

“Bodoh! Mereka tentu para prajurit yang bertugas mengumpulkan korban di medan pertempuran,” kali ini terdengar Begawan Cipta Hening membentak, “Seharusnya engkau bunuh sekalian kedua orang itu!”

Untuk sejenak Bango Lamatan harus menekan dadanya yang terasa sesak bagaikan tertimbun berbongkah-bongkah longsoran batu padas di lereng pegunungan. Suara bentakan orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu bagaikan suara halilintar yang meledak tepat di depan hidungnya.

“Aku tidak sempat berpikir terlampau jauh, Begawan” sahut Bango Lamatan kemudian setelah dadanya terasa lapang, “Dalam keadaan yang serba tidak pasti itu, aku segera mengambil keputusan untuk mengambil jasad Panembahan, sebelum kedua orang yang datang kemudian itu semakin dekat. Dan anehnya orang pertama yang hadir di bekas medan pertempuran itu ternyata tidak berbuat apa-apa. Dia hanya diam saja ketika aku membawa jasad Panembahan Cahya Warastra itu pergi.”

“Berarti dugaanku benar, dia hanyalah orang dungu yang tersesat ke tempat itu!” kembali terdengar orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu menggeram sambil menghentakkan salah satu kakinya ke lantai goa. Akibatnya adalah sangat dahsyat, goa itu bagaikan diguncang gempa sehingga di beberapa bagian dari dinding-dinding goa itu telah runtuh berguguran.

“Itulah bodohnya engkau, Bango Lamatan!” kembali Begawan Cipta Hening membentak. Suaranya bagaikan auman berpuluh singa di padang gurun, “Engkau belum dapat membedakan orang yang berilmu tinggi dan orang yang dungu. Akibatnya kedatangan jasad Penembahan ini sudah sangat terlambat, dan aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi!”

Jantung Bango Lamatan bagaikan terlepas dari tangkainya. Musnah sudah harapannya untuk membalas dendam terhadap orang-orang Mataram dan Menoreh. Ada sebuah penyesalan di dalam hatinya, mengapa dia sampai terlambat membawa jasad panembahan Cahya Warastra.

“Kecuali..” tiba-tiba terdengar nada suara Begawan menurun, “Nyawa Panembahan ini harus ditukar dengan nyawa dari seseorang yang sangat berharga. Nyawa dari seseorang yang telah diramalkan akan merajai tanah Jawa.”

Bango Lamatan tertegun sejenak. Berbagai dugaan muncul dalam benaknya. Siapakah orang yang dimaksud oleh Begawan Cipta Hening itu?

“Pergilah!” tiba-tiba terdengar suara Begawan Cipta Hening seperti salak seekor anjing hutan, melengking tinggi menyakitkan telinga, “Carilah calon Raja Jawa itu. Besok setelah Matahari tergelincir sejengkal, engkau akan menjumpai orang itu di tegal kepanasan. Bunuhlah dia sebagai pengganti dari nyawa Panembahan Cahya Warastra. Ilmu Sulih nyawa yang aku kuasai mengisyaratkan pengganti nyawa Panembahan adalah nyawa dari orang itu.”

Bergemuruh dada bango Lamatan begitu mendengar perintah begawan Cipta Hening. Walaupun secara pribadi bango lamatan belum mengenal Sang Begawan, terutama tingkat ilmunya. Namun menilik salah satu kemampuannya yang mampu menghindarkan diri dari pengamatan bango Lamatan, itu sudah menunjukkan akan ketinggian ilmunya. Apalagi Panembahan Cahya Warastra semasa hidupnya juga mengakui akan ketinggian ilmunya, terutama ilmu Sulih Nyawa yang dipercaya dapat membangkitkan orang dari kematian.

Namun tiba-tiba saja terbesit niat dari bango Lamatan untuk mencoba kedahsyatan ilmu orang yang menyebut dirinya Begawan Cipta Hening itu.

Maka katanya kemudian, “Baiklah Begawan, aku mohon diri. Aku akan menghadang orang yang Begawan maksud besok siang di Tegal Kepanasan. Aku yakin kali ini aku tidak akan gagal lagi.”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan dalam sekejap telah memusatkan segenap nalar dan budinya untuk mengetrapkan aji Halimunan sambil bergeser keluar goa.

Namun alangkah terkejutnya Bango lamatan, tanpa menyadari dari arah mana datangnya, tiba-tiba saja ada sebuah kekuatan yang luar biasa dahsyat mendorongnya sehingga dia telah terlempar dan jatuh terguling-guling keluar dari goa.

Bersamaan dengan itu terdengar sebuah tawa yang mirip suara hantu yang bangkit dari liang kuburnya, “Apa yang ingin kau tunjukkan kepadaku Bango Lamatan? Sekali lagi engkau berani bersikap deksura di hadapanku, aku tidak akan mengampuni selembar nyawamu.”

Bango lamatan yang masih tertatih-tatih bangkit berdiri segera menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah pintu goa sambil berkata, “Ampun Begawan, maafkan sikap hamba yang deksura. Hamba berjanji tidak akan mengulangi lagi.”

Tidak terdengar jawaban dari dalam goa. Hanya suara angin lembut yang berdesir menyibak dedaunan dan membelai rumput-rumput ilalang yang banyak tumbuh rapat berjajar-jajar di lereng bukit Suralaya.

Dalam pada itu, di padukuhan induk Ki Patih dan rombongannya telah selesai mendapat jamuan makan siang. Ki Tumenggung Surayudha dan Ki Tumenggug Singayudha yang mendapat sedikit cedera ternyata telah mempersiapkan pasukan Mataram segelar sepapan untuk kembali ke kota Raja. Sementara sepasukan khusus prajurit mataram telah ditinggalkan di padukuhan induk menoreh untuk membantu menjaga keamanan Tanah Perdikan Menoreh.

Sejenak kemudian, di halaman banjar padukuhan induk telah berkumpul para prajurit Mataram yang akan kembali ke kota Raja. Mereka berbaris dengan rapi dan teratur menurut tataran pangkat dalam keprajuritan. Halaman banjar padukuhan induk yang cukup luas itu ternyata tidak mampu menampung seluruh pasukan sehingga sebagian yang lain telah menempatkan diri di jalan-jalan di depan banjar dan halaman rumah-rumah yang berada di sebelah menyebelah banjar. Sementara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang hanya hadir sebagian karena harus menjaga keamanan di seluruh sudut-sudut padukuhan induk dan sekitarnya, telah di tempatkan di barisan paling kiri di halaman banjar.

Sedangkan para penghuni padukuhan induk yang telah kembali dari tempat pengungsian mereka dan ingin menyaksikan acara pelepasan para prajurit mataram kembali ke kota Raja telah hadir sejak tengah hari tadi. Mereka tidak memperdulikan panas Matahari yang menyengat. Perempuan-perempuan sambil menggendong anaknya yang masih bayi mencoba berteduh di bawah rindangnya pepohonan yang ada di seputar banjar. Para laki-laki lebih senang berdiri berjajar-jajar merapat ke dinding pembatas halaman banjar yang rendah. Sementara gadis-gadis dengan agak malu-malu berdiri berlidung di balik punggung biyung mereka, namun mata mereka tak pernah lepas mengamati para prajurit-prajurit muda yang tampak gagah perkasa dan berwibawa.

Demikianlah setelah semuanya tertata rapi, Ki Patih dan beberapa orang-orang tua telah keluar dari ruang dalam melalui pintu pringgitan menuju ke pendapa.

Ki Tumenggung Surayudha yang telah selesai melihat persiapan pasukan Mataram segera menghadap Ki Patih.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung kemudian sesampainya dia di hadapan Ki Patih, “Persiapan pasukan telah selesai, kami menunggu perintah dari Ki Patih.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh dia bertanya, “Apakah Ki Gede ingin menyampaikan sesuatu sebelum pasukan Mataram berangkat kembali ke kota Raja?”

“Demikianlah Ki Patih,” jawab Ki Gede dengan serta merta, “Jika hamba memang diijinkan untuk menyampaikan rasa terima kasih kami atas bantuan pasukan Mataram yang tak terhingga kepada Tanah Pedikan ini.”

“Silahkan, Ki Gede,” berkata Ki Patih kemudian sambil mempersilahkan Ki Gede untuk maju ke depan.

“Terima kasih, Ki Patih,” berkata Ki Gede sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam dan bergeser beberapa langkah ke depan.

Selama Ki Gede menyampaikan sesorahnya, suasana tampak cukup tenang kecuali anak-anak yang tampak berdesak-desakan di pinggir pendapa. Mereka sama sekali tidak takut atau pun peduli atas peringatan orang-orang tua mereka untuk berdiri sedikit agak mundur. Anak-anak itu ingin melihat dari dekat dan sekaligus mengagumi para prajurit Mataram yang terlihat gagah dan mengagumkan.

“Besok kalau sudah besar aku juga mau jadi prajurit,” bisik seorang anak laki-laki berambut keriting kepada teman di sebelahnya.

“Ah, macam kau mau jadi prajurit,” sergah temannya sambil mencibir, “Pergi ke pakiwan malam hari saja engkau masih minta diantar biyungmu.”

“Itu kan sekarang, aku masih kecil,” jawab anak yang berambut keriting tak mau kalah, “Besok kalau sudah besar, aku tentu jadi anak yang pemberani.”

“Belum tentu,” sahut teman lainnya yang berbadan gemuk, “Aku lihat kemarin engkau menangis meraung-raung di belakang dapur karena kakimu dipatuk ayam.”

Anak-anak yang bergerombol itu tertawa mendengar ucapan anak yang gemuk sehingga seorang Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari anak-anak itu harus memberi isyarat kepada mereka untuk lebih tenang.

Namun anak-anak itu hanya dapat tenang sejenak. Anak yang berbadan gemuk itu ternyata melanjutkan kata-katanya namun dengan setengah berbisik, “Bagaimana mau jadi prajurit, kalau sama ayam saja kalah. Padahal untuk jadi prajurit harus berani berkelahi melawan harimau?”

“Melawan harimau?” hampir berbareng anak-anak itu berseru keras sehingga Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka itu telah berpaling dan membelalakkan matanya ke arah mereka, sebagai isyarat agar mereka diam.

Agaknya kali ini anak-anak itu menjadi agak takut kepada Lurah prajurit yang berdiri tidak jauh dari mereka sehingga mereka menjadi sedikit lebih tenang.

“Demikianlah,” terdengar Ki Gede mengakhiri sesorahnya, “Atas nama seluruh penghuni Tanah Perdikan Menoreh, kami mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan dari Mataram dalam menjaga keamanan dan keutuhan wilayah Tanah Perdikan Menoreh. Kami, seluruh penghuni Tanah Perdikan Menoreh selalu siap sedia berjuang di bawah panji-panji kebesaran Mataram.”

Segera saja tepuk tangan yang riuh menggema memenuhi udara di sekitar banjar Padukuhan induk menyambut kalimat terakhir dari pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu.

“Terima kasih Ki Gede,” sambut Ki Patih sambil menyalami Ki Gede diikuti oleh para orang-orang tua begitu ayah Pandan Wangi itu selesai memberikan sesorahnya dan kembali ke tempatnya semula.

“Hamba Ki Patih,” Ki Gede menyambut salam ki Patih dan para orang-orang tua, “Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.”

Ki Patih tidak menjawab hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian kepada Ki Tumenggung Surayudha, “Nah, sekarang aku akan mengucapkan terima kasih kepada para penghuni Tanah Perdikan Menoreh terutama para pengawal serta memberi sedikit bekal kepada para prajurit agar mereka semakin mantap dalam menatap masa depan.”

“Hamba, Ki Patih,” berkata Ki Tumenggung sambil mempersilahkan Ki Patih Mandaraka.

Demikianlah setelah Ki Patih dalam sesorahnya mengucapkan terima kasih atas bantuan para penghuni Tanah Perdikan Menoreh terutama para pengawal serta memberikan sedikit bekal mental untuk para prajurit dalam mengemban tugas-tugas di masa mendatang, acara pelepasan para prajurit Mataram itu pun selesai. Para Lurah Wira Tamtama segera membawa pasukannya secara berangsur-angsur meninggalkan halaman banjar padukuhan dan sekitarnya untuk bersama-sama kembali ke kota Raja.

“Bukankah rakit-rakit itu masih berada di tepian kali Praga?” bertanya Ki Tumenggung Surayudha kepada Ki Tumenggung Tirtayudha yang berjalan di sebelahnya.

“Aku rasa tidak akan ada orang yang berani memindahkannya,” jawab Ki Tumenggung Tirtayudha, “Biarlah pasukan jalamangkara nanti yang menyeberang paling akhir. Mereka harus mengatur kuda-kuda mereka terlebih dahulu.

Ki Tumenggung Surayudha mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika tanpa sadar dia memandang ke depan, tampak Ki Tumenggung Singayudha sudah meninggalkan mereka jauh di depan.

“Agaknya lukanya tidak terlalu parah,” desis Ki Tumenggung Surayudha perlahan tanpa sadar.

Ki Tumenggung Tirtayudha yang berjalan di sebelahnya berpaling.

“Siapa?” tanyanya kemudian dengan kening yang berkerut-merut.

Sejenak ki Tumenggung Surayudha menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian sambil tersenyum dan berpaling ke arah sahabatnya itu, “O, Ki Tumenggung Singayudha maksudku.”

Ki Tumenggung Tirtayudha tidak berkata sepatah kata pun. Hanya kepalanya saja yang terangguk-angguk serta pandangan matanya yang terlempar jauh ke arah ki Tumenggung Singayudha yang sudah berada di depan.

Sepeninggal pasukan Mataram yang kembali ke kota Raja, banjar padukuhan induk pun menjadi sepi kembali. Para penghuni padukuhan induk yang menyaksikan pelepasan pasukan Mataram itu telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal beberapa pengawal yang menjaga banjar terlihat sedang berbincang-bincang di depan regol. Sementara para prajurit pengawal kepatihan terlihat sedang beristirahat di gandhok sebelah menyebelah.

Dalam pada itu di ruang tengah banjar padukuhan induk, Ki Patih beserta para orang-orang tua itu masih terlihat bercakap-cakap.

“Ampun Ki Patih. Di manakah Raden Mas Rangsang?” tiba-tiba Ki Gede mengajukan sebuah pertanyaan.

Ki Patih tersenyum sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh. Jawabnya kemudian, “O, aku benar-benar sudah mulai pikun. Aku lupa menyampaikan permohonan maaf dari Raden Mas Rangsang. Selepas makan siang tadi, sebelum kita mengantar para prajurit kembali ke kota Raja, dia secara khusus telah menghadapku untuk memohon arahan sehubungan dengan wangsit yang diterima melalui mimpinya dan mohon pamit untuk kembali ke Kota Gede. Agaknya Raden Mas Rangsang harus mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melakukan perjalanan besuk pagi sebelum Matahari terbit dari Kota Gede menuju ke pebukitan Menoreh.”

Mereka yang mendengar keterangan Ki Patih itu menarik nafas dalam-dalam. Memang putra Mataram itu telah diramalkan akan menjadi Raja Besar yang menguasai tanah Jawa.

“Ampun Ki Patih. Apakah tidak ada prajurit yang mengawalnya?” bertanya Ki Waskita kemudian.

Ki Patih menggeleng, “Raden Mas Rangsang lebih senang berjalan sendiri. Aku sudah menawarkan beberapa prajurit untuk mengawalnya sebagaimana berlaku atas seorang Putra Mahkota, namun dengan tegas Raden Mas Rangsang telah menolaknya.”

Kembali kepala orang-orang yang ada di ruang dalam itu terangguk-angguk. Agaknya jiwa petualangan dari Kakeknya, Panembahan Senapati telah mengalir dalam diri Putra Makota itu.

“Nah,” berkata Ki Patih kemudian untuk mengalihkan pembicaraan, “Sekarang kita mempunyai waktu yang cukup untuk menjenguk keadaan Ki Rangga Agung Sedayu di kediaman Ki Gede.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede dengan serta merta, “Sudilah kiranya Ki Patih berkenan untuk berkuda agar perjalanan ini semakin cepat.”

Ki Patih tertawa pendek. Katanya kemudian, “Apakah Ki Gede khawatir jika kita hanya berjalan kaki, baru minggu depan kita akan sampai di tujuan?”

“Ah,” orang-orang yang mendengar canda Ki Patih itu tertawa. Namun sebenarnya mereka setuju dengan usul ki Gede agar perjalanan semakin cepat sementara Matahari telah semakin condong ke barat.

Demikianlah akhirnya beberapa ekor kuda telah dipersiapkan walaupun kuda-kuda itu tidak setegar dan sekuat kuda-kuda pasukan Jalamangkara. Namun untuk menemani perjalanan orang-orang tua menuju ke kediaman ki Gede Menoreh agaknya cukup memadai.

Ketika orang-orang tua itu telah selesai berbenah dan keluar ke halaman banjar, ternyata di halaman telah siap empat ekor kuda lengkap dengan peralatannya.

“He!” tiba-iba saja Ki Patih berseru heran ketika tiba-tiba saja seorang Pekatik dengan terbungkuk-bungkuk menuntun seekor kuda yang paling tinggi dan besar menghadap Ki Patih.

“Mengapa aku diberi kuda yang paling besar?” bertanya Ki Patih terheran-heran, “Bukankah aku ini sudah cukup tua? Aku sudah tidak berani lagi menaiki kuda yang sebesar dan setegar ini.”

Orang-orang tua itu menahan senyum, namun Ki Gede segera menjawab, “Ampun Ki Patih. Sudah sepantasnya jika Ki Patih mengendarai kuda yang terbaik di antara kami.”

“Kuda ini terlalu besar untukku,” sahut Ki Patih, “Aku takut jika nanti bukan aku yang membawa kuda ini, tapi justru kuda inilah yang membawaku lari tanpa terkendali.”

“Ah,” kali ini orang-orang tua di sekitar Ki Patih benar-benar tidak dapat menahan senyum.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede kemudian, “Bagaimana dengan para prajurit pengawal Kepatihan? Apakah mereka diperkenankan untuk ikut.”

Sejenak ki Patih berpaling ke arah seorang Lurah prajurit pengawal Kepatihan yang berdiri termangu-mangu di samping pendapa menunggu titah Ki Patih.

“Tidak perlu,” jawab Ki Patih sambil memberikan isyarat kepada Lurah prajurit pengawal Kepatihan itu untuk meninggalkan tempat, “Aku sudah dikawal oleh orang-orang pilih tanding. Ada Ki Gede Menoreh dengan tombak pusakanya yang mampu meruntuhkan bukit, ada Ki Waskita yang mampu membakar hutan hanya dengan tatapan matanya, dan Ki Jayaraga yang mampu mengungkapkan kekuatan air, api dan angin sehingga mampu membuat angin prahara bercampur api sekaligus.”

Orang-orang tua yang mendengar kelakar Ki Patih itu hanya saling pandang sambil tersenyum kecut. Namun Ki Waskita lah yang kemudian menjawab, “Demikian juga priyagung Mataram yang kami kawal tak kalah dahsyatnya. Selain ilmu bala srewu yang mampu membuat ujud seribu kali, ada ilmu yang tak kalah dahsyatnya. Ilmu untuk melawan waktu sehingga tetap awet muda dan bersemangat.”

“Ah,” Ki Patih tertawa. Sambil menunjuk Ki waskita dia menjawab, “Bukankah aku belajar ilmu awet muda itu dari Ki Waskita?”

Kali ini orang-orang yang ada di halaman banjar padukuhan induk itu pun tertawa berkepanjangan.

Dalam pada itu di kediaman ki Gede Menoreh, kiai Sabda dadi yang sedang berusaha menolong Anjani benar-benar menemui kesulitan. Berkali-akli dicobanya untuk memeriksa denyut nadi di beberapa bagian tubuh Anjani, namun tidak ada hasilnya. Bahkan Kiai Sabda Dadi telah berusaha mengerahkan tenaga cadangannya melalui telapak kaki Anjani untuk membuat tubuh perempuan muda itu hangat juga tidak berhasil.

Sekar Mirah yang melihat kesulitan Kiai Sabda dadi segera berkata, “Kiai, jika diijinkan aku akan membantu. Aku dapat menyalurkan tenaga cadanganku langsung ke jantung Anjani lewat dada sebelah kirirnya. Aku tahu Kiai Sabda Dadi pasti tidak mungkin melakukan itu.”

Kiai Sabda dadi menarik nafas dalam dalam sambil bangkit dan melangkah mundur. Katanya kemudian, “Benar Nyi, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku akan keluar bilik dan selanjutnya Anjani aku serahkan kepada Nyi Sekar Mirah. Namun ingat pesanku. Lakukanlah dengan perlahan-lahan agar tidak terjadi gonjangan yang mendadak sehingga dapat berakibat kurang baik terhadap jantung Anjani.”

“Ya, Kiai,” jawab Sekar Mirah sambil mengambil tempat duduk bersila di sisi pembaringan. Sementara Kiai Sabda Dadi telah melangkah menuju pintu untuk keluar dari bilik.

Namun baru saja Kiai Sabda Dadi sampai di depan pintu, ternyata Pandan Wangi sedang melangkah untuk memasuki bilik.

“O, silahkan ngger,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian sambil menepi memberi jalan Pandan Wangi, “Agaknya Nyi Sekar Mirah memerlukan kawan untuk menyadarkan Anjani.”

“Terima kasih, Kiai,” jawab Pandan Wangi sambil melangkah masuk.

Sekar Mirah yang sedang bersiap-siap untuk mengerahkan tenaga cadangannya telah berpaling ke arah pintu. Begitu melihat Pandan Wangi memasuki bilik, seketika wajahnya menjadi berseri-seri.

“Marilah mbokayu, kita bantu Anjani agar segera sadar kembali,” berkata Sekar Mirah kemudian.

Sejenak Pandan Wangi masih berdiri diam termangu-mangu. Namun ketika dia kemudian menoleh ke arah pintu, ternyata Kiai Sabda Dadi sudah keluar serta pintu bilik telah ditutup dari luar.

“Baiklah,” jawab Pandan Wangi kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam dan melangkah mendekati tempat Anjani terbaring.

Demikianlah akhirnya, kedua perempuan yang mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi itu telah duduk bersila di sebelah menyebelah tubuh Anjani yang terbujur diam. Dengan memusatkan segenap nalar dan budi, kedua perempuan yang berilmu pinunjul ing apapak itu telah menyalurkan tenaga cadangan mereka untuk menghangatkan darah Anjani dan menggetarkan jantungnya agar dapat berdegup kembali.

Waktu merambat terasa sangat lamban. Matahari yang berada di langit telah bergeser semakin jauh ke barat. Kiai Sabda dadi yang duduk di ruang tengah menunggu kedua perempuan itu membantu Anjani menemukan kesadarannya kembali menjadi sedikit gelisah. Waktu yang diperlukan kedua perempuan itu bagi Kiai Sabda Dadi telah lebih dari cukup namun belum ada tanda-tandanya bahwa mereka berdua telah selesai.

Ketika kegelisahan Kiai Sabda Dadi itu semakin memuncak, tiba-tiba saja pendengaran kakek Damarpati yang terlatih itu mendengar derap beberapa ekor kuda yang sedang dipacu menuju ke kediaman ki Gede Menoreh.

“Siapakah yang berkuda di sore hari seperti ini?” bertanya Kiai Sabda Dadi sambil bangkit berdiri dan menuju ke ruang pringgitan. Sementara suara derap kuda-kuda itu semakin keras dan semakin dekat.

Ketika Kiai Sabda Dadi kemudian membuka pintu pringgitan dan melangkah ke pendapa, bersamaan dengan itu para pengawal yang menjaga regol kediaman Ki Gede telah berdiri berjajar di sebelah menyebelah regol sambil membungkuk memberikan penghormatan.

“Ki Patih Mandaraka berkenan berkunjung di kediaman Ki Gede!” seorang pengawal dengan lantang telah memberi sebuah peringatan.

Rombongan orang berkuda itu memang ki Patih Mandaraka beserta orang-orang tua dan Ki Gede Menoreh sendiri.

Tanpa turun dari kudanya Ki Patih membalas penghormatan para pengawal penjaga regol. Demikian berturut-turut di belakang Ki Patih adalah Ki Gede Menoreh sendiri, kemudian diikuti oleh Ki Waskita dan Ki Jayaraga di urutan yang paling belakang.

Kiai Sabda Dadi yang melihat orang berkuda di paling depan adalah Ki Patih Mandaraka dengan tergopoh-gopoh segera berlari menyeberangi pendapa dan turun ke halaman. Seorang pengawal dengan segera menyambut tali kendali kuda Ki Patih begitu Ki Patih meloncat turun dari kudanya.

“Terima kasih,” berkata Ki Patih sambil tersenyum dan mengulurkan tali kendali kudanya. Dengan cepat pengawal itu pun segera menerima tali kendali kuda itu sambil membungkuk dalam-dalam.

“Selamat datang, Ki Patih,” berkata Kiai Sabda Dadi sambil melangkah menyambut dan kemudian menyalami Ki Patih, “Mungkin Ki Patih masih ingat hamba, ketika bersama-sama menyaksikan perang tanding antara Ki Rangga Agung Sedayu melawan Panembahan Cahya Warastra.”

“O,” berkata Ki Patih dengan wajah berseri menerima uluran tangan Kiai Sabda Dadi, “Aku memang belum begitu mengenal Kiai pada waktu kita di medan perang kemarin. Namun Ki Gede Menoreh telah memberitahuku tentang Kiai Sabda Dadi yang masih keturunan Waliyullah dari Juwana Pati, Ki Ageng Ngerang.”

“Ah,” desah Kiai Sabda Dadi, “Ampun Ki Patih, beliau memang Pepunden kami. Tapi mohon jangan samakan aku yang lemah dan bodoh ini dengan para Leluhur yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu.”

Ki Patih hanya tertawa pendek mendengar jawaban Kiai Sabda Dadi. Sementara Ki Gede Menoreh yang telah turun dari kudanya segera mempersilahkan Ki Patih dan orang-orang tua itu untuk menaiki pendapa.

“Ampun Ki Patih. Apakah tidak sebaiknya kita langsung saja menuju ke bilik Ki Rangga?” tiba-tiba saja Ki Jayaraga mengajukan sebuah usul.

“Terserah saja. Aku disini seorang tamu. Ki Gede lah yang mempunyai kewenangan untuk mengarahkan kita,” jawab Ki Patih sambil tersenyum dan berpaling ke arah Ki Gede.

Dengan segera Ki Gede mempersilahkan tamu agung dari Mataram itu untuk memasuki pringgitan. Sementara Kiai Sabda Dadi yang bertanggung jawab atas perawatan Ki Rangga segera mendahului untuk memberitahu Ki Rangga bahwa priyagung dari Mataram, Ki Patih Mandaraka berkenan untuk menjenguk Ki Rangga.

Demikian Ki Patih dan rombongan orang-orang tua itu memasuki bilik, ternyata Kiai Sabda Dadi telah membantu Ki Rangga untuk duduk di atas pembaringannya sambil bersandaran pada dinding dengan beberapa bantal yang ditumpuk-tumpuk untuk menopang tubuh Ki Rangga yang masih lemah.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Rangga begitu ki Patih menghampiri pembaringannya, “Hamba tidak bisa menyambut kunjungan Ki Patih sebagaimana mestinya.”

“Jangan pikirkan segala suba sita, Ki Rangga,” jawab Ki Patih sambil mengambil tempat duduk yang diangsurkan oleh Kiai Sabda Dadi, “Semua memaklumi bahwa Ki Rangga masih dalam keadaan sakit.”

Orang-orang yang ada di bilik itu mengangguk-anggukkan kepala. Mereka dapat mengerti keadan Ki Rangga yang masih sangat lemah.
Sejenak kemudian orang-orang yang ada di dalam bilik itu segera mengambil tempat duduk masing-masing di sebelah menyebelah Ki Patih.

“Kiai,” berkata Ki Patih kemudian sambil berpaling ke arah Kiai Sabda Dadi yang duduk di ujung pembaringan, “Berapa lama waktu yang diperlukan oleh Ki Rangga untuk mendapatkan kesehatannya kembali? Permasalahannya adalah kesiapan Mataram dalam menelusuri pelarian orang yang mengaku bernama Pangeran Ranapati. Kami sangat membutuhkan tenaga dan pikiran Ki Rangga. Sebelum pecah perang di Menoreh kemarin, Sinuhun Panembahan Hanyakrawati secara khusus telah memberi tugas Ki Rangga untuk memburu Pangeran Ranapati.”

Kiai Sabda Dadi menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Ki Patih. Terlihat ada sesuatu yang ingin disampaikan namun terlihat Kiai Sabda Dadi agak ragu-ragu.

“Ampun Ki Patih,” akhirnya Kiai Sabda Dadi menjawab, “Sebelumnya hamba memperkirakan lebih dari sebulan waktu yang di perlukan oleh Ki Rangga untuk memulihkan kesehatannya kembali. Tetapi ternyata Ki Rangga mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa, dengan seijin Yang Maha Agung, Ki Rangga mungkin hanya memerlukan waktu tidak lebih dari dua pekan untuk memulihkan kesehatannya kembali. Namun..”

Ki Patih dan orang-orang tua itu menjadi berdebar-debar begitu Kiai Sabda Dadi tidak melanjutkan kata-katanya. Demikian juga dengan ki Rangga sendiri. Dia belum mengetahui apa yang dimaksud oleh Kiai Sabda Dadi.

“Apa maksud Kiai?” bertanya Ki Gede dengan serta merta.

Sejenak Kiai Sabda Dadi masih ragu-ragu. Namun akhirnya dia pun menjawab, “Seseorang telah memberi tenggang waktu satu bulan kepada Ki Rangga untuk memulihkan kesehatannya. Setelah satu bulan lewat, dia akan datang ke Tanah Perdikan ini untuk menantang perang tanding melawan Ki Rangga.”

Semua yang ada di dalam bilik itu terkejut kecuali Ki Waskita. Dia telah mendengar ancaman orang yang menyebut dirinya Kiai Damar Sasongko dari perguruan Sapta Dhahana di lereng gunung Tidar itu kepada Ki Rangga Agung Sedayu dari Kiai Sabda Dadi sendiri.

“Siapakah yang Kiai maksud?” bertanya Ki Rangga dengan jantung yang berdentangan. Sudah berapa kali Ki Rangga mengalami hal yang sama, urusan balas dendam yang tidak berkesudahan.

“Kiai Damar Sasongko dari perguruan Sapta Dhahana di lereng gunung Tidar,” jawab Kiai Sabda Dadi sambil mengamati perubahan wajah orang-orang yang ada di dalam bilik itu, “Aku dan Nyi Pandan Wangi telah bertemu dengan orang itu ketika kedua muridnya mencegat pedati yang kami bawa untuk mengangkut Ki Rangga yang masih belum sadarkan diri.”

“Aku tidak mengenal orang itu,” Ki Rangga Agung Sedayu lah yang pertama-tama menanggapi, “Dan sepanjang ingatanku, aku tidak mempunyai urusan dengan orang yang menyebut dirinya Kiai Damar Sasongko itu.”

Orang-orang yang ada di dalm bilik itu sejenak saling pandang. Namun Kiai Sabda Dadi tidak mau berteka-teki lebih lama lagi. Maka katanya kemudian, “Ki Rangga, memang Kiai Damar Sasongko itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan Ki Rangga. Namun dari pengakuannya sendiri pada waktu itu, dia adalah saudara muda seperguruan dari Ki Ajar Kumuda, walaupun pada perkembangan berikutnya Kiai Damar Sasongko telah berguru kepada orang lain. Namun ikatan yang pernah terjadi antara saudara seperguruan itulah yang telah mendorongnya untuk menuntut balas.”

Untuk beberapa saat suasana di dalam bilik itu menjadi hening. Masing-masing sedang sibuk dengan angan-angannya. Sementara Ki Rangga Agung Sedayu sendiri segera teringat kepada Ki Ajar Kumuda, musuh bebuyutan dari Gurunya semenjak mereka berdua masih sama-sama muda.

“Aku pernah mendengar nama Damar Sasongko,” tiba-tiba saja suara Ki Patih telah memecah kesunyian di dalam bilik itu, “Damar Sasongko memang pada saat masih muda pernah seperguruan dengan Pideksa, namun Damar Sasongko yang pada saat mudanya bernama Pinunjul itu tidak tuntas menyerap ilmu perguruan Kumuda dan telah pergi merantau yang pada akhirnya berguru di lereng Tidar, perguruan Sapta Dhahana.”

“Ampun Ki Patih, apakah Ki Patih mengenal ciri-ciri perguruan Sapta Dhahana itu?” bertanya Ki Gede Menoreh kemudian.

Sejenak Ki Patih terdiam. Kelihatannya orang yang semasa mudanya bernama Ki Juru Martani itu mencoba mengumpulkan ingatannya. Memang waktu sudah cukup lama berlalu dan agaknya Ki Patih tidak pernah terlibat hubungan khusus dengan perguruan Sapta Dhahana.

“Aku kurang begitu jelas dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh perguruan Sapta Dhahana,” jawab Ki Patih kemudian, “Namun ada sebuah berita yang pernah aku dengar, perguruan Sapta Dhahana itu mempunyai sebuah ritual untuk memuja api. Mungkin kekuatan ilmu mereka juga berlandaskan pada kekuatan api.”

“Hamba Ki Patih,” sahut Ki Waskita, “Sewaktu hamba masih muda dulu, hamba pernah lewat sekitar lereng gunung Tidar. Pada waktu itu para penghuni padukuhan sekitar padepokan Sapta Dhahana sedang ramai mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk di serahkan ke dalam padepokan. Agaknya perguruan Sapta Dhahana dalam melaksanakan ritual telah meminta bantuan penduduk sekitarnya.”

“Apakah Ki Waskita pada saat itu mendapat kesempatan melihat secara langsung ritual mereka?” kali ini Kiai Jayaraga yang bertanya.

“O, tidak tidak,” jawab Ki Waskita cepat, “Penduduk sekitar padepokan itu saja belum pernah ada yang tahu ritual apa yang mereka lakukan setiap bulan sekali pada saat bulan menghilang dari langit. Apalagi aku sebagai orang asing yang kebetulan sedang lewat di daerah itu.”

Orang-orang yang berada di dalm bilik itu menjadi semakin berdebar-debar mendengar keterangan Ki Patih dan Ki Waskita. Dengan demikian mereka dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa perguruan Sapta Dhahana adalah sebuah perguruan yang beraliran hitam yang menggunakan kekuatan api sebagai landasan ilmu mereka.

“Yang perlu diwaspadai adalah, sejauh mana kekuatan api itu mendukung kemampuan ilmu mereka,” berkata Ki Patih kemudian, “Sebagaimana perguruan-perguruan lain yang menggunakan kekuatan yang bersumber dari selain Yang Maha Agung, kekuatan itu akan hancur jika berhadapan dengan ilmu yang beraliran putih, yang selalu memasrahkan semua permasalahan kepada sumber hidupnya,” Ki Patih berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Ada perguruan yang bertumpu pada kekuatan seekor ular, ada juga yang menyerap kekuatan sinar Matahari atau pun sinar Bulan pada saat purnama dan sebagainya. Kita harus berusaha mengetahui kekuatan yang tersembunyi di balik perguruan Sapta Dhahana yang mempunyai ritual memuja api itu agar dalam perang tanding nanti Ki Rangga sudah mempunyai bekal yang memadai untuk menghadapinya.”

Orang-orang tua itu saling pandang. Mereka dapat mengerti arah pembicaraan Ki Patih. Namun siapakah yang dalam waktu dekat ini sanggup menyelidiki kekuatan perguruan Sapta Dhahana di lereng gunung Tidar?

“Ampun Ki Patih,” kali ini Kiai Sabda Dadi yang mengajukan pendapat, “Gunung Tidar tidak terlalu jauh dari Menoreh. Jika ditempuh dengan berkuda hamba rasa hanya memerlukan waktu tidak lebih dari dua hari, itu pun sudah cukup waktu bagi kuda maupun penunggangnya untuk beristirahat. Namun mohon arahan, siapakah sebaiknya yang berangkat ke lereng gunung Tidar? Mumpung dua pekan lagi waktunya bulan gelap. Pada saat itulah sesuai keterangan ki Waskita mereka akan mengadakan pemujaan api sehingga pada saat itu dapat dijajagi kekuatan apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam perguruan Sapta Dhahana.”

Untuk beberapa saat suasana di dalam bilik itu sepi. Mereka menunggu titah Ki Patih, siapakah sebaiknya yang ditunjuk untuk menyelidiki perguruan Sapta Dhahana di lereng Tidar.

Namun sebelum Ki Patih mengeluarkan titahnya, tiba-tiba saja terdengar ketukan lembut di pintu bilik yang terbuka. Ketika semua orang yang berada di dalam bilik itu berpaling, tampak Pandan Wangi sedang berdiri di tengah-tengah pintu sambil membawa sebuah nampan yang berisi beberapa mangkuk minuman hangat. Sedang di belakangnya seorang pembantu perempuan Ki Gede membawa nampan berisi beberapa potong makanan.

“Wangi!” sedikit terkejut Ki Gede Menoreh begitu melihat putri satu-satunya itu berdiri di tengah-tengah pintu bilik, “Engkau sudah sehat?”

“Sudah Ayah,” jawab Pandan Wangi dengan kepala tunduk. Kemudian sambil mengangguk dalam-dalam ke arah Ki Patih, Pandan Wangi pun berkata, “Ampun Ki Patih, perkenankan hamba menghaturkan minuman hangat dan beberapa potong makanan.”

“O, silahkan silahkan,” jawab Ki Patih sambil mengangguk-angguk. Kemudian sambil mengamati lengan kiri Pandan Wangi yang dibebat, Ki Patih pun bertanya, “Agaknya engkau sempat terluka dalam pertempuran kemarin. Apakah lukamu cukup parah, Wangi?”

“Ampun Ki Patih, sebenarnya luka ini cukup dalam,” jawab Pandan Wangi sambil meletakkan mangkuk-mangkuk minuman hangat itu di meja kayu yang terletak di sudut bilik, “Kiai Sabda Dadi telah memberikan obat untuk memampatkan luka ini. Semoga dalam sepekan luka ini sudah berangsur sembuh.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika pembantu perempuan Ki Gede itu kemudian juga meletakkan nampan yang berisi beberapa potong makanan di sebelah minuman-minuman hangat itu, tiba-tiba saja Ki Patih memandang ke arah Ki Gede dan bertanya, “Di manakah Glagah Putih dan istrinya?”

Sejenak Ki Gede dan orang-orang di dalam bilik itu mengerutkan kening. Namun ternyata Pandan wangilah yang menjawab, “Ampun Ki Patih, Glagah Putih sedang berada di gandhok kiri untuk mengurusi jasad tawanan yang telah terbunuh siang tadi.”

Semua orang di dalam bilik itu terkejut, kecuali Kiai Sabda Dadi. Dengan segera Kiai Sabda Dadi memberikan penjelasan, “Ampun Ki Patih, siang tadi ada seorang tawanan yang kabur dari bilik penyimpanannya dengan melukai beberapa pengawal yang menjaganya. Pada saat dia berusaha kabur melalui pintu butulan yang menuju ke ruang tengah, ternyata Anjani telah memergokinya sehingga terjadilah pertarungan antara keduanya. Ketika keduanya kemudian memutuskan untuk membenturkan puncak ilmu mereka, ternyata kemampuan Anjani masih selapis tipis di atas lawannya, sehingga tawanan itu telah terbunuh. Sedangkan Anjani sendiri tidak sadarkan diri.”

Selesai berkata demikian pandangan mata Kiai Sabda Dadi segera tertuju ke arah Pandan Wangi. Agaknya Kiai Sabda Dadi ingin mengetahui perkembangan Anjani.

Pandan Wangi yang merasa Kakek Damarpati itu sedang bertanya melalui sorot matanya segera menjawab dengan tersenyum dan mengangguk.

Sedangkan Ki Patih yang mendengarkan keterangan Kiai Sabda Ddi dengan seksama tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Anjani?” desis Ki Patih kemudian perlahan seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Siapakah Anjani? Rasa-rasanya nama itu masih asing di telingaku?”

Sejenak suasana menjadi hening. Ki Rangga merasakan dadanya berdesir tajam setiap kali ada orang yang menyebut nama Anjani. Ketika tanpa disadarinya pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Pandan Wangi, tiba-tiba saja puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sudah cukup berumur tapi masih terlihat cantik itu telah tersenyum kecil sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Gila!” geram Ki rangga dalam hati sambil cepat-cepat memalingkan wajahnya.

“Ampun Ki Patih. Anjani adalah murid Resi Mayangkara dari gunung Kendalisada,” Ki Gede lah yang akhirnya menjawab setelah beberapa saat tidak ada seorang pun yang memberikan keterangan tentang Anjani.

“Resi Mayangkara?” bertanya Ki Patih dengan raut wajah yang sedikit terkejut, “Seingatku nama Resi Mayangkara itu hanya ada dalam dongeng.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede kemudian, “Namun kami sudah melihat sendiri bahwa Resi itu memang ada dan Anjani adalah murid satu-satunya.”

Ki Patih tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun pertanyaan berikutnya dari Ki Patih ternyata telah membuat dada Ki Rangga bagaikan meledak.

“Untuk apa Anjani dan gurunya itu sampai di tanah Perdikan ini? Apakah ada sesuatu yang sedang mereka cari?”

Tidak ada seorang pun yang berusaha menjawab. Sebenarnya Ki Rangga ingin memberikan keterangan, namun sepercik keragu-raguan telah menjalar di hatinya, sedangkan Pandan Wangi yang sedikit banyak telah mengetahui Anjani dari cerita Ki Rangga sendiri, telah memilih untuk berdiam diri.

“Memang kadang-kadang para tokoh aneh di dunia ini mempunyai kebiasaan dan keinginan yang aneh-aneh,” berkata Ki Patih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lanjutnya kemudian, “Kita tidak tahu apa yang dicari oleh tokoh aneh itu bersama muridnya. Semoga saja ini pertanda baik bagi tanah Perdikan Menoreh.”

Kembali orang-orang yang ada di dalam bilik itu mengangguk-angguk, kecuali Ki Rangga yang terlihat sedikit tegang dan Pandan Wangi yang justru menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan sebuah senyum kecil yang tersungging di bibirnya.

“Ah, sudahlah,” berkata ki Patih kemudian, “Aku yakin Resi Mayangkara sudah pergi dan hanya tinggal muridnya saja, Anjani yang tinggal di Menoreh. Bukankah dugaanku ini benar?”

“Hamba Ki Patih,” Kiai Sabda Dadi lah yang menjawab, “Resi Mayangkara telah kembali ke gunung Kendalisada sedangkan Anjani masih terluka akibat benturan ilmu dengan tawanan yang melarikan diri siang tadi.”

“Siapakah tawanan itu?” bertanya Ki Patih begitu Kiai Sabda Dadi selesai memberikan penjelasan.

“Ampun Ki Patih. Kami belum tahu jati diri tawanan itu. Dia kami tangkap ketika dia berempat menyerbu ke rumah ini dengan terlebih dahulu menebarkan sirep dini hari sebelum pecah pertempuran di padukuhan induk,” kali Ki Gede Menoreh yang menjawab pertanyaan ki Patih sambil memberi isyarat kepada Pandan Wangi dan pembantu rumah tangganya yang masih berdiri termangu-mangu untuk meninggalkan bilik. Setelah kedua perempuan itu melangkah keluar bilik, barulah Ki Gede melanjutkan kata-katanya, “Dua orang terbunuh, yang satu tertangkap dan yang satunya berhasil meloloskan diri.”

“Apakah Ki Gede dapat menduga siapa di balik peristiwa penyerbuan dini hari itu?” bertanya Ki Patih kemudian.

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Gede, “Mereka kemungkinannya adalah para pengikut Panembahan Cahya Warastra. Salah satu yang berhasil lolos itu menurut Kiai Sabda Dadi mengaku bernama Bango Lamatan.”

“Bango Lamatan?” seru Ki Rangga terkejut sehingga hampir saja dia bangkit dari pembaringan. Untung dengan cepat Kiai Sabda Dadi yang duduk di ujung pembaringan segera mencegahnya.

Ki Patih mengerutkan keningnya dalam-dalam sambil memandang ke arah Ki Rangga Agung Sedayu. Tanyanya kemudian, “Apakah engkau mengenalnya Ki Rangga?”

Sejenak Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya kemudian, “Ampun Ki Patih, Bango Lamatan pernah menjadi utusan Panembahan Cahya Warastra pada masa Guru masih hidup. Kami bertemu di tepian kali opak. Tujuan Bango Lamatan menemui guru atas perintah Panembahan Cahya Warastra adalah untuk membujuk Guru agar bergabung dengan Madiun atau setidaknya Guru tidak ikut campur dalam pertikaian Mataram dengan Madiun pada waktu itu.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang tidak dapat dipungkiri peran Kiai Gringsing terhadap perkembangan kerajaan-kerajaan di tanah Jawa ini walaupun Kiai Gringsing yang lebih dikenal dengan nama orang bercambuk itu lebih senang memilih hidup di antara orang kebanyakan.

“Kiai Gringsing mempunyai jalur trah Majapahit,” berkata Ki Patih dalam hati, “Itulah agaknya yang mendorong orang bercambuk itu selalu berpihak ketika terjadi perselisihan perebutan kekuasaan di tanah ini. Namun semua itu dilakukan tanpa pamrih, sehingga pada akhirnya guru Ki Rangga itu lebih senang memilih hidup di antara orang kebanyakan.”

“Ampun Ki Patih,” suara Ki Jayaraga membuyarkan angan-angan Ki Patih, “Jika diperkenankan, hamba akan melihat jasad tawanan itu. Barangkali hamba sedikit banyak dapat mengenalinya ataupun paling tidak ada ciri-ciri tertentu yang hamba kenal.”

Semua orang yang ada di dalam bilik itu mengangguk-annguk. Mereka menyadari bahwa Ki Jayaraga adalah orang yang pernah hidup di dunia hitam sehingga pengenalannya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan dunia itu lebih luas.

“Silahkan, Ki Jayaraga,” jawab Ki Patih kemudian, “Jangan lupa setelah selesai, bawa Glagah Putih ke bilik ini. Ada tugas khusus untuknya.”

“Hamba Ki Patih,” berkata Ki Jayaraga sambil bangkit dari tempat duduknya. Setelah membungkuk hormat terlebih dahulu kepada Ki Patih, guru Glagah Putih itu pun kemudian melangkah ke luar bilik.

Sepeninggal Ki Jayaraga, pembicaraan pun telah bergeser ke masalah yang lain.

“Sinuhun Panembahan Hanyakrawati pernah mengutarakan maksudnya kepadaku untuk melanjutkan cita-cita pendahulunya, Panembahan Senapati untuk menundukkan Surabaya di bawah panji-panji kebesaran Mataram,” berkata Ki Patih memulai sebuah permasalahan yang sedang dihadapi Mataram setelah Panaraga.

“Ampun Ki Patih, kadipaten Surabaya letaknya cukup jauh dari Mataram,” Ki Gede memberikan pendapatnya, “Apakah tidak sebaiknya Mataram terlebih dahulu menundukkan Kadipaten-kadipaten kecil yang terletak sepanjang jalur menuju Surabaya sehingga dapat dijadikan sebagai pancadan untuk menyerang Surabaya?”

“Ki Gede benar,” jawab Ki Patih sambil menarik nafas dalam-dalam, “Setidaknya Mataram sudah mendapat dukungan dari kadipaten Panaraga dan Madiun. Yang belum dapat kita pastikan adalah jalur dari Madiun ke Surabaya. Menurut laporan prajurit sandi yang telah aku terima, di lereng gunung Pawitra sebelah utara di dekat petirtaan Jalatunda, terdapat sebuah perguruan besar yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan Kadipaten Surabaya. Banyak para prajurit terutama para perwira di Kadipaten Surabaya yang berasal dari perguruan tersebut. Kalau aku tidak salah, nama perguruan itu mengambil nama candi yang terdapat di sekitar daerah itu yaitu perguruan Jalatunda dengan dipimpin oleh seorang yang bergelar Ki Ageng Jalatunda. Keberadaan perguruan itu dapat menjadi batu sandungan bagi Mataram jika nantinya Mataram bermaksud menyerbu Surabaya.”

Orang-orang yang hadir di dalam bilik itu tampak mengangguk-angguk. Penyerbuan ke Surabaya memang harus benar-benar dihitung dengan njlimet dan tidak grusa-grusu. Selain jarak yang cukup jauh, jalur yang akan dilalui oleh para prajurit Mataram pun harus diyakinkan benar-benar aman.

“Mataram akan membentuk sebuah pasukan sandi yang bertugas menyelidiki keberadaan perguruan Jalatunda,” berkata Ki Patih kemudian, “Pasukan sandi ini akan bergerak sendiri-sendiri atau dalam kelompok-kelompok kecil pada saat berangkat ke timur. Namun di suatu tempat yang telah disepakati sebelumnya, pasukan sandi itu akan berkumpul dan kemudian merencanakan untuk menghancurkan perguruan Jalatunda.”

Orang-orang di dalam bilik itu hampir bersamaan telah menarik nafas dalam-dalam. Perang selalu menjadi pilihan terakhir untuk menyelesaikan segenap masalah yang timbul, dan para kawula alitlah yang pada akhirnya akan menjadi semakin menderita.

“Ampun Ki Patih, apakah untuk menghancurkan perguruan Jalatunda diperlukan pasukan segelar sepapan?” bertanya Ki Waskita yang sedari tadi hanya berdiam diri saja.

“Itu tergantung Ki Waskita,” jawab Ki Patih, “Jika yang berangkat ke timur itu nantinya adalah Ki Waskita, Ki Jayaraga, Ki Gede Menoreh dan Kiai Sabda Dadi serta Ki Rangga Agung Sedayu sendiri, tentu tidak diperlukan seorang prajurit pun untuk mendampingi para sesepuh yang sudah putus segala kawruh lahir maupun batin itu.”

“Ah,” orang-orang di dalam bilik itu sejenak tertawa pendek.

Namun Ki Waskita lah yang ternyata menanggapi kelakar Ki Patih, “Ampun Ki Patih, hamba kira dengan aji bala srewu, cukup Ki Patih seorang diri sudah dapat menjadikan perguruan Jalatunda rata dengan tanah.”

“Ah,” kali ini Ki Patih yang tertawa tergelak. Jawabnya kemudian dengan sedikit bersungguh-sungguh, “Alangkah senangnya bisa mengulangi masa lalu. Berpetualang menyelusuri lembah dan ngarai, mendaki pebukitan serta menyusup ke hutan rimba yang masih jarang disentuh manusia. Namun semua itu bagiku hanya tinggal kenangan,” Ki Patih berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Perguruan Jalatunda bukanlah perguruan biasa. Aku yakin tentu banyak orang-orang linuwih di dalamnya selain Ki Ageng Jalatunda sendiri. Untuk itu aku akan meminta kesediaan para pini sepuh untuk mendampingi para prajurit dan Senapati yang masih muda muda dalam menghadapi perguruan Jalatunda nantinya.”

Orang-orang yang ada di dalam bilik itu sejenak termangu-mangu. Di usia mereka yang hampir senja itu, ternyata tenaga dan pikiran mereka masih diperlukan.

“Kecuali Ki Waskita,” tiba-tiba Ki Patih bergumam perlahan.

Hampir bersamaan oang-orang tua itu mengangkat kepala sambil memandang ke arah Ki Patih dengan kening yang berkerut-merut.

Ki Patih yang menyadari orang-orang di dalam bilik itu kebingungan, segera menjawab sambil tersenyum, “Bukankah Ki Waskita sedang berbulan madu? Jadi kita tidak akan mengganggunya untuk sementara.”

“Ah,” kali ini yang terdengar adalah gelak tawa yang berkepanjangan. Sementara Ki Waskita hanya tersenyum masam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dalam pada itu matahari telah merambat turun mendekati cakrawala. Cahaya merah lembayung bercampur kuning telah menerobos sela-sela dinding bilik Ki Rangga Agung Sedayu. Seorang pelayan laki-laki telah memasuki bilik dan menyalakan dlupak yang terletak di ajug-ajug.

Para perempuan pembantu di rumah Ki Gede segera menyiapkan makan malam. Di ruang tengah telah digelar tikar pandan yang putih bersih. Beberapa peralatan makan telah diletakkan di atas tikar pandan itu. Beberapa perempuan pembantu ki Gede tampak sibuk berlalu-lalang dari dapur ke ruang tengah dan sebaliknya.

Sekar Mirah yang masih menunggui Anjani telah beranjak dari duduknya. Anjani sudah siuman dari pingsannya walaupun tubuhnya masih sedikit menggigil kedinginan akibat benturan ilmu dengan Ki Lurah Sanggabaya.

“Aku akan ke dapur sebentar,” berkata Sekar Mirah sambil bangkit dari tempat duduknya, “Berselimutlah untuk mengurangi pengaruh dingin di dalam tubuhmu. Aku akan meminta seorang pelayan membuatkan minuman hangat dan bubur hangat untukmu.”

“Terima kasih, Nyi,” berkata Anjani dengan mata yang tampak berkaca-kaca, “Keberadaanku di Menoreh ini ternyata hanya menjadi beban bagi keluarga Ki Gede.”

“Sudahlah,” sahut Sekar Mirah sambil melangkah ke pintu bilik, “Banyak-banyaklah beristirahat. Nanti akan aku beritahukan keadaanmu kepada Kiai Sabda Dadi.”

Anjani tidak menjawab. Hanya tampak kepalanya saja yang terangguk kecil.

Sepeninggal Sekar Mirah, beberapa kali Anjani menarik nafas dalam-dalam. Kain panjang yang digunakannya sebagai selimut telah ditarik menutupi sekujur tubuhnya kecuali bagian kepala. Beberapa saat dia masih termenung sambil memandang ke langit-langit bilik.

Ketika seorang pelayan perempuan kemudian menghidangkan semangkuk minuman panas, segera saja dia bangkit dan duduk di pembaringan.

“Terima kasih, Bibi,” berkata Anjani sambil menerima semangkuk air hangat.

Diminumnya beberapa teguk sebelum mangkuk itu kemudian dikembalikan kepada pelayan rumah Ki Gede yang menaruhnya di atas meja di sebelah pembaringan. Terasa cairan yang hangat itu menelusuri sekujur tubuh Anjani sehingga dia merasakan tubuhnya menjadi sedikit segar.

“Bubur hangatnya masih dibuatkan, Nini,” berkata pelayan itu, “Mungkin memerlukan waktu beberapa saat.”

“Terima kasih Bibi,” jawab Anjani sambil meluncur turun dari pembaringannya, “Apakah aku dapat pergi ke pakiwan sebentar?”

“O, tentu tentu,” jawab pelayan itu, “Pakiwan ada di halaman belakang.”

“Apakah aku dapat pergi ke pakiwan lewat selain pintu yang menuju dapur?” bertanya Anjani kemudian, “Aku takut jika lewat dapur nanti mengganggu Bibi-Bibi yang terdengar sedang sibuk menyiapkan makan malam di ruang tengah.”

Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk. Jawabnya kemudian setengah berbisik, “Kami memang mempunyai tamu istimewa, Ki Patih Mandaraka dari Mataram. Itulah yang membuat kami sibuk. Kami berusaha menyiapkan makan malam dengan sebaik mungkin,” pelayan itu berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Marilah aku tunjukkan pintu butulan samping itu.”

Anjani mengangguk. Sebenarnya Ajani hanya berusaha menghindari bertemu dengan Sekar Mirah atau Pandan Wangi. Kemungkinan besar kedua perempuan yang berilmu tinggi itu sedang berada di dapur untuk memberikan pengarahan kepada para pelayan dalam menyiapkan jamuan bagi tamu agung dari Mataram.

Sejenak kemudian, kedua perempuan itu telah melangkah keluar bilik. Begitu mereka berada di luar bilik, di ruang tengah tampak kesibukan para pelayan yang sedang menyiapkan jamuan makan malam bagi tamu agung dari Mataram itu.

“Itulah pintu samping itu,” berkata pelayan itu sambil menunjuk pintu butulan yang berada di ujung lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan longkangan.

Untuk beberapa saat Anjani termangu. Dari pintu butulan itulah siang tadi tawanan yang berusaha melarikan diri itu muncul. Namun cepat-cepat Anjani berusaha menghilangkan kesan apapun di wajahnya. Katanya kemudian, “Terima kasih Bibi.”

“Jangan lupa setelah keluar dari pintu butulan engkau harus belok kanan. Setelah melalui lorong yang tidak terlalu panjang, di ujung lorong itu ada pintu lagi, pintu seketeng yang menghubungkan dengan halaman belakang,” pesan pelayan itu. Kemudian sambil melangkah kembali ke dapur dia melanjutkan pesannya, “Jangan keliru belok kiri, engkau akan sampai ke gandhok kanan.”

Anjani tidak menjawab. Dengan sedikit tergesa Anjani pun kemudian mengayunkan langkahnya menuju pintu butulan samping.

Dalam pada itu Ki Jayaraga yang sedang berada di gandhok kiri tampak mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sambil berjongkok di sisi tubuh yang membeku, Ki Jayaraga telah berusaha mengenali wajahnya dengan cara melepas ikat kepalanya dan meraba wajah yang pucat itu.

“Ambilkan aku air,” kata Ki Jayaraga kepada Glagah Putih yang berjongkok di sebelahnya.

Dengan segera Glagah Putih berdiri. Ketika dia kembali, di tangannya ada sebuah kendi yang berisi air yang diambilnya dari geledek bambu di salah satu bilik yang berada di gandhok kiri.

“Terima kasih,” berkata Ki Jayaraga sambil menerima kendi dari muridnya.

Dengan perlahan, Ki Jayaraga pun kemudian menuangkan air dari dalam kendi ke atas wajah yang telah membeku. Beberapa tetes air telah membasahi wajah mayat itu. Setelah dirasa cukup, Ki Jayaraga pun kemudian meletakkan kendi itu di lantai. Dengan penuh ketelitian, telapak tangan kanan Guru Glagah Putih itu pun berusaha mengusap noda-noda yang kelihatannya memang dengan sengaja telah dibuat untuk menyamarkan wajah itu dengan cara meratakan air keseluruh wajah mayat itu.

Alangkah terkejutnya Ki Jayaraga begitu dia menggunakan ujung kain panjangnya untuk mengusap wajah mayat yang tak dikenal itu. Warna hitam dan noda-noda coreng-moreng yang sengaja dilumurkan di wajah mayat itu telah luntur dan seraut wajah yang sangat dikenal oleh Ki Jayaraga telah muncul.

“Ki Lurah Sanggabaya?” seru Ki Jayaraga hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Glagah Putih yang berjongkok di sebelahnya ikut terkejut. Dia segera teringat dengan seorang Lurah prajurit di kesatuan pasukan khusus yang berkedudukan di Menoreh yang pernah berselisih dengannya pada saat awal-awal dia dan istrinya memasuki lingkungan keprajuritan.

“Marilah,” berkata Ki Jayaraga kemudian sambil bangkit berdiri, “Kita segera melaporkan hal ini kepada Ki Patih,” Ki Jayaraga berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian sambil memandang muridnya, “Engkau ikut menghadap. Agaknya Ki Patih akan memberimu sebuah tugas khusus.”

Dada Glagah Putih menjadi berdebar-debar. Walaupun sudah berulang kali dia dan istrinya mendapat tugas khusus langsung dari Ki Patih Mandaraka, namun jantungnya tetap saja berdebar-debar.

ketika Guru dan murid itu kemudian melangkah keluar gandhok, tampak dua orang pengawal berdiri termangu-mangu di depan pintu gandhok.

“Kami sudah selesai,” berkata Ki Jayaraga kepada kedua pengawal itu, “Kalian dapat menyelenggarakan mayat itu sebagaimana mestinya. aku akan melaporkan pengamatanku kepada Ki Patih.”

“Ya, Ki,” jawab kedua pengawal itu hampir bersamaan.

Sejenak kemudian kedua orang itu telah melanjutkan langkahnya meninggalkan gandhok kiri menuju ke ruang dalam.

“Guru,” berkata Glagah Putih kemudian sambil menjajari langkah Ki Jayaraga menuju ke ruang dalam, “Kelihatannya dalam melaksanakan tugas khusus ini aku akan sendirian. Biaralah Rara Wulan beristirahat di Menoreh. Sudah waktunya dia meluangkan waktu untuk mengurus dirinya sendiri.”

Ki Jayaraga berpaling sambil mengerutkan keningnya dalam-dalm. Katanya kemudian sambil tersenyum dan menepuk bahu muridnya, “Bersyukurlah kepada Yang Maha Agung. Agaknya doa kalian berdua telah dikabulkan. Semoga kehadirannya akan semakin menambah keceriaan dan perekat cinta kasih dalam keluarga.”

Glagah Putih yang berjalan disebelahnya hanya mengangguk-angguk tanpa menjawab sepatah katapun. Namun di dalam hatinya, telah terungkap rasa syukur yang tiada terkira atas karunia yang telah diberikan oleh Yang Maha Agung.

Ketika mereka berdua kemudian telah memasuki bilik Ki Rangga melalui pintu butulan yang berada di samping kiri bangunan induk, ternyata Ki Patih dan para sesepuh sedang membersihkan diri secara bergantian ke pakiwan yang berada di halaman belakang.

“Apakah kita akan ke pakiwan terlebih dahulu, Guru?” bertanya Glagah Putih kepada Gurunya sesampainya mereka di bilik Ki Rangga.

“Baiklah,” jawab Gurunya. Kemudian sambil berpaling ke arah Ki Rangga yang telah berbaring kembali, Ki Jayaraga pun berkata, “Kami ke pakiwan dulu Ki Rangga. Apakah Ki Rangga memerlukan kawan berbincang?”

“O, tidak perlu, Ki,” sahut Ki Rangga cepat, “Tinggalkan saja aku sendiri. Nanti akan ada pelayan yang mengambilkan aku makan malam sambil menemaniku beberapa saat.”

Ki Jayaraga dan Glagah Putih hampir bersamaan mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak kemudian keduanya pun telah melangkah keluar bilik menuju ke pakiwan yang terletak di halaman belakang.

Dalam pada itu, Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang sedang sibuk di dapur segera memerintahkan beberapa perempuan pembantu rumah Ki Gede untuk mulai membawa makanan dan minuman yang telah siap ke ruang tengah untuk ditata dan disajikan.

Ketika Sekar Mirah yang sedikit tidak telaten melihat perempuan-perempuan itu bekerja telah ikut membawa makanan ke ruang tengah, sejenak pandang mata Sekar Mirah pun telah tersangkut pada pintu bilik Anjani yang sedikit terbuka.

“Bagaimanakah keadaan Anjani?” bertanya Sekar Mirah dalam hati sambil mengayunkan langkahnya melewati pintu bilik itu.

Setelah meletakkan makanan itu di atas tikar pandan yang telah dibentangkan di ruang tengah, dengan berbegas Sekar Mirah segera menuju ke bilik Anjani.

Alangkah terkejutnya istri Ki Rangga itu begitu dia mendorong pintu bilik, ternyata bilik itu kosong. Tidak ada seorang pun yang berada di dalamnya. Hanya tampak kain panjang yang digunakan oleh Anjani untuk berselinut tadi, tergeletak di atas lantai di sebelah pembaringan.

“Kemanakah Anjani?” pertanyaan itu berputar-putar dalam benak Sekar Mirah.

Selagi Sekar Mirah termangu-mangu di dalam bilik itu sendirian, tiba-tiba terdengar pintu bilik berderit perlahan. Ketika Sekar Mirah kemudian berpaling, tampak Pandan Wangi sedang berdiri termangu-mangu di tengah-tengah pintu.

“Ada apa Mirah?” bertanya Pandan Wangi kemudian sambil melangkah masuk.

“Aku tidak menemukan Anjani,” jawab Sekar Mirah, “Apakah mbokayu melihatnya?”

Pandan Wangi menggeleng. Sejenak putri satu-satunya Kepala Tanah Perdikan itu memandang ke sekeliling bilik. Diamat-amatinya setiap barang yang ada di dalam bilik itu. Semuanya tidak ada yang berubah. Semua masih tetap seperti biasanya, tidak ada sesuatu yang tampak aneh dan mencurigakan.

“Apakah Anjani tidak menulis pesan atau apapun yang dapat dijadikan petunujk kemana perginya Anjani?” bertanya Pandan Wangi kemudian sambil berjalan berkeliling bilik untuk mengamati barangkali ada sebuah petunjuk.

“Aku belum melihatnya mbokayu,” jawab Sekar Mirah dengan nada yang mulai sedikit gelisah, “Mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku terlebih dahulu?”

Pandan Wangi berpaling sejenak ke arah Sekar Mirah. Tampak kegelisahan mulai membayang di wajahnya.

“Siapakah yang terakhir melihat Anjani?” tiba-tiba saja Pandan Wangi melontarkan sebuah pertanyaan yang tak terduga.

Bagaikan tersengat lebah, Sekar Mirah pun segera teringat kepada perempuan pembantu rumah Ki Gede yang telah disuruhnya untuk membuatkan bubur hangat dan minuman panas untuk Anjani.

“Mbok Sukinem!” seru Sekar Mirah sambil bergegas menuju ke dapur. Sedangkan Pandan Wangi hanya mengikutinya saja dari belakang.

Sesampainya di dapur, segera saja Sekar Mirah menemui mbok Sukinem yang tampak sedang menjerang air.

“Ada apa Nyi?” bertanya mbok Sukinem sambil mencari pegangan untuk bangkit dari duduknya.

“Duduk sajalah mbok,” berkata Sekar Mirah sambil menahan pundak mbok Sukinem, “Aku hanya ingin bertanya tentang Anjani.”

“O. Nini Anjani?” desis mbok Sukinem sambil kembali duduk, “Buburnya sudah siap diantar. Biarlah aku yang mengantarkannya selagi yang lain sibuk menyiapkan jamuan bagi para tamu.”

“Jangan diantar dulu mbok,” sahut Sekar Mirah, “Anjani tidak ada di kamarnya.”

“O, aku lupa memberitahu Nyi Sekar Mirah,” berkata mbok Sukinem sambil menepuk jidadnya, “Anjani tadi pamit ke belakang sebentar. Apakah dia belum kembali?”

Sejenak Sekar Mirah dan Pandan Wangi saling pandang. Jawab Sekar Mirah kemudian dengan ganti bertanya, “Maksud mbok Sukinem Anjani pergi ke pakiwan?”

“Ya, Nyi. Dia pamit ke pakiwan sebentar.”

“Tapi mengapa kami tidak melihatnya melewati dapur? Bukankah jika Anjani akan ke pakiwan dia akan melewati dapur sehingga kami akan melihatnya?”

Sekejap perempuan paro baya itu tertegun. Namun jawabnya kemudian, “Nini Anjani tidak ingin mengganggu kita yang sedang bekerja di dapur sehingga dia ke pakiwan lewat pintu butulan samping.”

Berdesir dada kedua perempuan yang berilmu tinggi itu. Tampaknya ada kesengajaan dari Anjani untuk menghindar dari pengamatan mereka berdua.

“Sudahlah mbok,” berkata Sekar Mirah kemudian, “Kembalilah bekerja. Anjani urusan kami. Mungkin dia masih di belakang sekedar jalan-jalan untuk menyegarkan tubuhnya.”

Selesai berkata demikian, Sekar Mirah segera menggamit Pandan Wangi untuk keluar menuju pakiwan yang terletak di halaman belakang lewat pintu dapur. Sedangkan mbok Sukinem yang masih belum jelas tentang keberadaan Anjani hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meneruskan pekerjaannya.

Dalam pada itu, perlahan tapi pasti langit di atas padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh menjadi semakin buram. Burung-burung telah terbang secara berkelompok-kelompok untuk kembali ke sarang masing-masing. Sedangkan beberapa kelelawar dan burung-burung malam tampak mulai muncul menghiasi langit yang mulai gelap.

“Kita mulai dari mana mbokayu?” bertanya Sekar Mirah begitu keduanya sampai di halaman belakang yang mulai gelap.

“Aku mempunyai panggraita kalau Anjani tidak benar-benar pergi ke pakiwan,” jawab Pandan Wangi sambil berjalan ke arah kebun belakang yang rimbun, “Kita lihat pintu butulan belakang. Biasanya diselarak oleh para penjaga regol sebelum hari mulai gelap.”

Dengan langkah yang tergesa-gesa keduanya pun segera berjalan sambil merunduk-runduk di antara semak dan pohon-pohon perdu yang tumbuh agak liar di halaman belakang. Agaknya tukang kebun kediaman ki Gede belum sempat menjamah dan merapikan tempat itu.

Dengan jantung yang berdebaran keduanya pun kemudian mendekati pintu butulan itu. Ketika Pandan Wangi kemudian meraih pintu butulan itu, ternyata dugaan Pandan Wangi benar, pintu itu tidak diselarak dari dalam.

“Menurut dugaanku, Anjani telah pergi melalui pintu ini,” berkata Pandan Wangi sambil mendongak mengamati dinding belakang kediaman Ki Gede yang tampak tinggi menjulang dalam keremangan malam. Tidak mungkin bagi orang kebanyakan untuk melompati dinding itu.

Sekar Mirah yang juga ikut membuka pintu butulan itu menjadi semakin berdebar-debar ketika dia mencoba melongok keluar. Tidak tampak sesuatupun kecuali kehitaman yang pekat. Ketika dia mencoba mengerahkan ilmunya untuk mempertajam penglihatannya, yang terhampar di hadapannya hanyalah gerumbul dan semak serta pepohonan tinggi yang semuanya terlihat hitam.

“Bagaimana mbokayu? Apakah kita akan melanjutkan pencarian kita di luar dinding?” bertanya Sekar Mirah kemudian dengan nada sedikit ragu.

Sejenak Pandan Wangi termenung. Pandangan matanya kosong menatap kegelapan di hadapannya. Berbagai pertimbangan sedang bergolak di dalam dadanya.

Sekar Mirah yang berdiri di sebelahnya terlihat sangat gelisah menunggu jawaban Pandan Wangi. Berkali-kali dia mencoba menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi debar jantungnya, namun tetap saja kegelisahan itu melanda dadanya.

Ketika Sekar Mirah hampir saja mengulangi pertanyaannya, tiba-tiba saja sudut matanya menangkap sesosok bayangan hitam yang bergerak tanpa menimbulkan suara sedikit pun dari arah samping kirinya. Seolah-olah bayangan itu adalah bagian dari angin malam yang sedang bertiup lembut. Begitu saja bergerak dan melayang dalam kegelapan malam.

“Mbokayu..” desis Sekar Mirah dengan suara gemetar sambil menggamit istri Kakak kandungnya itu.

Ternyata Pandan Wangi pun telah melihatnya. Katanya kemudian dengan setengah berbisik, “Tenanglah Mirah, aku juga melihatnya. Kita jangan berbuat apapun. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Kita tidak tahu dengan siapa kita sedang berhadapan.”

Sekar Mirah terdiam. Namun pandangan matanya tidak lepas dari bayangan hitam yang seolah-olah melayang dalam tiupan angin malam.

Namun ketika jarak bayangan itu dengan dua orang perempuan yang berilmu tinggi itu tinggal kira-kira dua tombak, Sekar Mirah hampir saja terpekik kecil ketika dia lamat-lamat dapat mengenali siapakah bayangan itu walaupun hanya dari bentuk tubuhnya.

Hampir saja Sekar Mirah meneriakkan sebuah nama. Namun sebersit keragu-raguan telah menyelinap ke dalam hatinya. Sekar Mirah tidak begitu yakin dengan pengamatannya yang hanya berdasarkan bentuk tubuh. Banyak orang yang mempunyai perawakan yang hampir sama. Sehingga untuk beberapa saat Sekar Mirah justru hanya berdiri membeku di tempatnya dengan jantung yang berdebaran.

Pandan Wangi yang berdiri di sebelahnya ternyata mempunyai tanggapan yang sama. Orang yang berdiri diam dua tombak di depannya itu memang rasa-rasanya seperti sudah sangat dikenalnya. Namun sebagaimana Sekar Mirah, Pandan Wangi pun juga dihinggapi keragu-raguan karena hanya mengenali bentuk tubuhnya tanpa melihat wajah yang sebenarnya.

Sejenak mereka berdua hanya berdiam diri sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara angin malam yang lembut bertiup menerobos dedaunan dan menimbulkan suara gemerisik. Bulan tua yang belum muncul telah menambah kegelapan di halaman belakang itu. Sedangkan sinar bintang gemintang yang lemah tidak mampu menerobos rimbunnya pepohonan di halaman belakang rumah Ki Gede Menoreh.

Ketika Sekar Mirah kemudian dengan memberanikan diri mencoba maju dua langkah untuk meyakinkan penglihatan matanya, bayangan itu pun ternyata telah ikut bergerak mundur dua langkah.

“Siapa?” begitu saja sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Sekar Mirah dengan nada sedikit bergetar.

Bayangan itu tetap diam. Namun terlihat bayangan itu beberapa kali menggelengkan kepalanya.

Pandan Wangi yang sedari tadi hanya diam saja menjadi tidak sabar. Dengan pertimbangan bahwa tidak menutup kemungkinan orang yang hanya terlihat hitam sekujur tubuhnya itu adalah salah satu dari sekian orang yang selama ini menaruh dendam kepada Ki Rangga Agung sedayu, ataupun orang yang mempunyai maksud buruk kepada Ki Patih Mandaraka yang sedang berada di rumahnya, Pandan Wangi pun segera mengambil sikap.

Demikianlah akhirnya dengan menghentakkan kemampuannya, Pandan Wangi pun dengan penuh kewaspadaan telah meloncat jauh ke depan mendekati bayangan hitam itu.

Namun alangkah terkejutnya Pandan Wangi. Belum sempat kedua kakinya menyentuh tanah, bayangan hitam itu tanpa memerlukan ancang-ancang telah mendahului melenting tinggi dan kemudian hinggap di atas dinding. Sejenak bayangan itu masih sempat berpaling ke arah kedua perempuan yang berdiri termangu-mangu di bawah dinding sebelum akhirnya meluncur turun hilang di balik dinding.

Bagaikan berjanji sebelumnya Sekar Mirah dan Pandan Wangi pun telah berpacu mengejar bayangan hitam itu menuju ke pintu butulan. Hanya dengan beberapa kali lompatan, kedua perempuan berilmu tinggi itu telah mencapai pintu butulan. Ketika keduanya kemudian meloncat keluar untuk menilai keadaan, yang tampak di hadapan mereka hanyalah hamparan kegelapan malam.

Dalam pada itu Ki Patih dan orang-orang tua telah duduk melingkar di atas sehelai tikar pandan yang lebar dan putih bersih. Beberapa macam hidangan dan minuman telah disediakan di tengah-tengah bentangan tikar itu. Tak ketinggalan Glagah Putih yang memang khusus di panggil oleh Ki Patih telah ikut duduk di sebelah Gurunya.

Dalam kesempatan itu Ki Jayaraga juga telah melaporkan hasil pengamatannya atas tawanan yang melarikan diri siang tadi.

“Jadi, tawanan itu sebenarnya Ki Lurah Sanggabaya dari barak pasukan khusus?” bertanya Ki Patih begitu Ki Jayaraga selesai memberikan keterangan.

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Jayaraga, “Itulah agaknya mengapa sewaktu hamba menghadap ke barak pasukan khusus untuk meminta bantuan keamanan telah ditolaknya,” Ki Jayaraga berhenti sebentar. Kemudian lanjutnya, “Ki Lurah Sanggabaya bersikukuh bahwa keamanan Tanah Perdikan sepenuhnya berada di tangan para pengawal. Sedangkan pasukan khusus yang hanya tinggal sebagian kecil itu hanya bertugas menjaga keamanan barak dan sekitarnya.”

Ki Patih menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sekembalinya aku ke kota Raja nanti, akan aku sampaikan kepada Tumenggung Singayudha untuk membenahi prajurit khusus yang berkedudukan di Menoreh. Tentu saja Ki Tumenggung Singayudha tetap harus memberitahu Ki Rangga Agung Sedayu terlebih dahulu sebagai Senapati pasukan khusus. Namun karena Ki Rangga sedang sakit, untuk sementara tugas itu akan diambil alih oleh Ki Tumenggung Singayudha. Akan segera ditunjuk pengganti Lurah Sanggabaya dan kemungkinannya akan diadakan pembersihan bagi para prajurit yang terlibat langsung dengan Ki Lurah Sanggabaya.”

“Ampun Ki Patih, bagaimanakah tata cara pendadaran calon prajurit di Mataram sehingga masih saja terjadi penyusupan pihak-pihak yang mempunyai pamrih pribadi maupun kepentingan golongannya?” bertanya Ki Jayaraga kemudian.

Sambil menguyah makanan yang berada di mulutnya, sejenak Ki Patih menggelengkan kepalanya. Sejurus kemudian Ki Patih baru menjawab, “Itulah persoalan yang selalu terjadi berulang. Jika Mataram ingin mencari calon prajurit yang benar-benar bersih dari pengaruh apapun, Mataram harus mengambil para pemuda yang benar-benar belum tercemar oleh pengaruh apapun. Dengan demikian diperlukan waktu yang panjang untuk menempa mereka menjadi prajurit yang tangguh dan tanggon,” Ki Patih berhenti sejenak. Diteguknya wedang sere yang hangat itu beberapa tegukan sebelum melanjutkan kata-katanya, “Namun jika Mataram ingin mendapatkan prajurit yang telah mempunyai bekal yang cukup, bahkan kadang-kadang lebih dari cukup, Mataram harus berani menerima calon prajurit yang bersumber dari berbagai perguruan yang banyak tersebar di bumi Mataram. Namun kita tidak tahu, apa sebenarnya maksud yang tersembunyi di dalam hati orang-orang yang ingin mengikatkan dirinya dalam dunia keprajuritan itu.”

Orang-orang yang hadir dalam jamuan makan malam di ruang tengah itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka dapat mengerti persoalan yang dihadapi Mataram dalam setiap pendadaran calon prajurit.

“Ampun Ki Patih,” kali ini Ki Argapati yang berkata, “Apakah tidak sebaiknya Mataram meniru langkah Kadipaten Surabaya yang telah mempercayakan pendadaran prajuritnya melalui perguruan-perguruan yang dapat dipercaya? Sebagaimana yang telah Ki Patih sampaikan beberapa saat yang lalu, bahwa Kadipaten Surabaya mempunyai ikatan yang kuat dengan sebuah perguruan di lereng gunung Pawitra sebelah utara, perguruan Patirtan Jalatunda.”

“Benar, Ki Gede,” jawab Ki Patih sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang dalam membentuk jati diri seorang prajurit, kita dapat bekerja sama dengan perguruan-perguruan yang dapat dipercaya kesetiannya terhadap Mataram. Dengan demikian Mataram tinggal menentukan jenjang keprajuritan apa yang sedang dibutuhkan. Apakah itu prajurit wira tamtama, ataukah setingkat lurah prajurit, Rangga atau bahkan Tumenggung sekalipun. Sehingga kita tinggal membandingkan tingkat ilmu mereka di padepokan dengan susunan kepangkatan di kalangan prajurit. Cantrik setara ilmunya dengan prajurit wira tamtama, Putut setara dengan lurah prajurit dan seterusnya. Namun semua itu tetap melalui pendadaran serta tidak serta merta menyandang pangkat sesuai dengan tingkat ilmunya, namun lebih dari itu tetap dituntut adanya sebuah bukti pengabdian dan kesetiaan terhadap pemerintahan Mataram.”

Kembali kepala orang-orang yang hadir dalam jamuan makan malam itu tampak terangguk-angguk.

“Ampun Ki Patih,” tiba-tiba Ki Waskita memberikan pendapatnya, “Salah satu kelemahannya adalah jika kelak di kemudian hari ternyata ada usaha makar yang justru datangnya dari perguruan-perguruan yang dipercaya itu, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Namun jika kemungkinan yang sangat kecil itu benar-benar terjadi, untuk menghancurkan sebuah Kerajaan hanya suwe mijet wohing ranti.”

“Ah,” tanpa sadar orang-orang yang berada di ruang tengah itu berdesah, demikian juga Ki Patih.

“Itulah agaknya jarang sekali sebuah pemerintahan hanya menggantungkan kekuatan pasukannya dari satu sumber,” sahut kiai Sabda Dadi yang sedari tadi hanya diam saja.

“Memang benar,” jawab Ki Patih, “Mataram pun tidak gegabah menerima setiap calon prajurit walaupun sudah memiliki bekal olah kanuragan yang cukup. Kita akan menelisik terlebih dahulu asal usul calon prajurit itu sebelum memutuskan untuk menerimanya dalam lingkungan keprajuritan,” Ki Patih berhenti sebentar sambil merapikan peralatan makan yang telah selesai digunakan. Agaknya Ki Patih telah menyelesaikan santap malamnya. Lanjutnya kemudian sambil sedikit menggeser duduknya ke belakang, “Kecuali Glagah Putih dan Rara Wulan. Kami sudah tahu latar belakang kehidupan maupun tingkat ilmu mereka. Namun demikian mereka berdua juga tetap mengikuti tahapan pendadaran sebagaimana para calon prajurit yang lain.”

Glagah putih yang duduk di antara para sesepuh itu hanya dapat menundukkan wajahnya.

Pembicaraan itu terhenti sebentar ketika tiba-tiba saja mereka melihat Sekar Mirah dan Pandan Wangi muncul dari lorong yang menghubungkan ruang tengah dengan pintu butulan samping kiri. Dengan tergesa-gesa tanpa memperdulikan keadaan di sekelilingnya, kedua perempuan itu pun kemudian segera memasuki bilik Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang sakit.

“Wangi!” Ki Argapati yang tidak mampu menahan hatinya itu ternyata telah berseru memanggil putri satu-satunya.

Namun agaknya hati kedua perempuan itu begitu tegangnya sehingga mereka tidak mendengar panggilan Ki Gede.

Beberapa orang tua yang duduk menemani Ki Patih Mandaraka bersantap malam itu ikut menjadi heran. Apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga kedua perempuan yang berilmu tinggi itu terlihat begitu gugup dan tergesa-gesa.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede kemudian, “Agaknya telah terjadi sesuatu. Ijinkan hamba berbicara dengan mereka.”

“Silahkan Ki Gede,” jawab Ki Patih, “Semoga saja tidak terjadi suatu apapun. Mungkin mereka berdua hanya lupa menyiapkan makan malam bagi Ki Rangga.”

Beberapa orang tersenyum mendengar kata-kata Ki Patih itu. Namun sebenarnyalah hati beberapa orang-orang tua itu menjadi berdebar debar.

Ternyata Ki Waskita yang ikut gelisah melihat Sekar Mirah dan Pandan Wangi tergesa-gesa memasuki bilik Ki Rangga segera menghaturkan sembah sambil berkata, “Ampun Ki Patih. Jika diperkenankan, hamba akan ikut melihat keadaan Ki Rangga.”

“Silahkan-silahkan. Tetapi aku harap ki Jayaraga dan Glagah Putih tetap tinggal di tempat. Aku akan memberikan beberapa gambaran tentang tugas yang akan diemban oleh Glagah Putih.”

Demikianlah akhirnya jamuan makan malam itu telah selesai. Ki Gede dan Ki Waskita serta Kiai Sabda Dadi segera menuju ke bilik Ki Rangga. Sedangkan Ki Patih telah memilih tempat di pringgitan untuk membicarakan tugas yang akan diemban Glagah Putih karena ruang tengah yang dipakai untuk bersantap malam belum sempat dibersihkan. Sementara Ki Jayaraga sebagai guru Glagah Putih telah diperkenankan oleh Ki Patih untuk ikut dalam pembicaraan itu.

Dalam pada itu Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang telah memasuki bilik Ki Rangga sejenak menjadi termangu-mangu. Di hadapan mereka tampak Ki Rangga yang terlihat sedang tidur nyenyak di pembaringan dengan kedua tangan bersilang di dada.

“Mbokayu,” bisik Sekar Mirah kemudian sambil pandangan matanya tidak lepas dari wajah suaminya, “Tidak mungkin kalau orang yang kita temui di halaman belakang tadi itu Kakang Agung Sedayu. Kenyataannya dia sedang tidur nyenyak di dalam bilik ini.”

Sejenak Pandan Wangi mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sahutnya kemudian juga dengan berbisik, “Tapi kalau menurut bentuk tubuhnya, aku yakin orang itu tadi Kakang Agung Sedayu.”

Sekar Mirah terdiam. Sebagi seorang istri, hatinya tidak dapat dikelabui bahwa orang yang mereka jumpai di halaman belakang rumah ki Gede beberapa saat yang lalu itu adalah suaminya, Ki Rangga Agung Sedayu. Namun jika melihat kenyataan bahwa suaminya sekarang ini sedang terbaring sakit, Sekar Mirah menjadi ragu-ragu.

Ketika kedua perempuan yang berilmu tinggi itu masih kebingungan dengan apa yang baru saja mereka alami, tiba-tiba saja terdengar langkah beberapa orang yang sedang berjalan menuju ke bilik Ki Rangga.

Ketika kedua perempuan itu kemudian berpaling, tampak Ki Gede dan Ki Waskita sedang melangkah memasuki bilik. Sedangkan Kiai Sabda Dadi baru menyusul kemudian.

“Ayah,” desis Pandan Wangi begitu melihat Ki Gede melangkah masuk.

Dengan segera kedua perempuan itu menepi memberi jalan kepada ketiga orang tua yang baru datang. Sejenak kemudian ketiga orang-orang tua itu pun telah berdiri selangkah mengelilingi pembaringan Ki Rangga.

“Wangi, apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga kalian berdua terlihat sangat tergesa-gesa memasuki bilik ini?” bertanya Ki Gede kemudian sambil memandang tajam ke arah putri satu-satunya itu.

Pandan Wangi yang merasa ditegur oleh ayahnya menjadi sedikit gugup sehingga dia telah memberikan jawaban diluar dugaan, “Anjani telah hilang, Ayah.”

“He?” hampir bersamaan ketiga orang tua itu berseru terkejut.

Kiai Sabda Dadi yang berdiri paling dekat dengan pintu bilik tanpa sadar telah meloncat keluar dan bergegas menuju ke bilik Anjani. Sejenak kemudian kakek Damarpati itu telah kembali sambil menggelengkan kepalanya.

“Nyi Pandan Wangi benar, Anjani tidak ada di biliknya,” berkata Kiai Sabda Dadi kemudian dengan wajah yang berkerut-merut.

Hampir bersamaan Ki Gede dan Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam sambil memandang Pandan Wangi.

Pandan Wangi yang sudah menjadi tenang segera memberi penjelasan, “Ayah, sewaktu kami mempersiapkan jamuan makan malam untuk Ki Patih, kebetulan kami berdua tidak menjumpai Anjani di biliknya. Ketika kami tanyakan kepada mbok Sukinem yang terakhir melihatnya, Anjani sedang pergi ke pakiwan.”

“Apakah angger kemudian menjumpai Anjani benar-benar di pakiwan?” potong Ki Waskita.

Pandan Wangi menggeleng, “Kami tidak mencarinya ke pakiwan, Ki Waskita. Kami justru mempunyai panggraita kalau Anjani memang sengaja pergi meninggalkan rumah ini.”

Untuk beberapa saat mereka yang ada di dalam bilik itu saling berdiam diri. Masing-masing sibuk berangan-angan membayangkan Anjani yang sedang terluka itu berjalan seorang diri tertatih-tatih menyusuri bulak panjang dalam kegelapan malam yang pekat.

“Mengapa engkau mempunyai dugaan seperti itu, Wangi?” tiba-tiba pertanyaan Ki Gede memecah kesunyian.

Pandan Wangi sejenak menarik nafas panjang. Jawabnya kemudian, “Ayah, kami berdua menjumpai pintu butulan di halaman belakang tidak diselarak. Biasanya para penjaga regol depan menyelaraknya sebelum gelap. Sehingga aku mengambil kesimpulan Anjani telah meninggalkan rumah ini dengan sengaja lewat pintu butulan belakang.”

Sejenak Ki Gede termenung. Katanya kemudian perlahan seolah ditujukan dirinya sendiri, “Mengapa Anjani melakukan semua ini? Apakah Anjani merasa tidak nyaman tinggal di Menoreh?”

Tiba-tiba saja Ki Gede teringat pada sesuatu sehingga dia pun kemudian bertanya kepada Pandan Wangi, “Mengapa kalian terlihat tergesa-gesa memasuki bilik Ki Rangga? Ada hubungan apakah Ki Rangga dengan hilangnya Anjani?”

Pandan Wangi dan Sekar Mirah untuk sejenak saling pandang. Akhirnya Sekar Mirahlah yang menjawab, “Ma’afkan kami Ki Gede, jika pada saat kami memasuki ruang tengah tadi telah meninggalkan suba sita. Kami tergesa-gesa memasuki bilik ini untuk meyakinkan bahwa Ki Rangga masih berada di pembaringannya.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Dengan nada sedikit keheranan dia pun bertanya, “Apa maksudmu, Mirah?”

Sekar Mirah memandang Pandan Wangi sejenak, namun agaknya suami kakak kandungnya itu telah menyerahkan persoalan itu kepadanya. Maka jawabnya kemudian, “Pada saat kami sedang berada di halaman belakang mencari Anjani, tiba-tiba saja kami melihat sesosok bayangan hitam yang bergerak bagaikan tanpa bobot mendekati kami.”

“Bayangan hitam?” hampir bersamaan ketiga orang tua itu mengulang kata-kata Sekar Mirah.

Untuk beberapa saat orang-orang tua itu menjadi berdebar-debar. Dua orang perempuan itu adalah bukan perempuan kebanyakan. Mereka berdua mempunyai ilmu yang tinggi. Namun jika keduanya menilai sesosok bayangan hitam itu bergerak bagaikan tanpa bobot, itu menunjukkan bahwa orang itu mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

“Apakah kalian dapat mengenalinya?” bertanya Ki Waskita kemudian. Sebagai orang yang diberi kelebihan melihat sesuatu diluar jangkauan nalar, Ki waskita mulai dapat meraba apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Tidak Ki Waskita,” jawab Sekar Mirah. Lanjutnya kemudian, “Tapi kami berdua mempunyai anggapan yang sama berdasarkan bentuk tubuh bayangan hitam itu. Rasa-rasanya kami berdua sudah sangat mengenal orang yang mempunyai bentuk tubuh seperti itu.”

Ketiga orang tua itu mengerutkan keningnya. Sedangkan Ki waskita yang mempunyai panggraita yang sangat tajam melebihi yang lain justru telah berpaling ke arah Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang terbaring diam dengan kedua tangan bersilang di depan dada.

Sebelum Sekar Mirah meneruskan penjelasannya, tiba-tiba saja Ki Waskita telah berdesis perlahan namun telah membuat semua orang di dalam bilik itu terkejut bukan alang kepalang.

“Ki Rangga Agung Sedayu. Bukankah ujud yang kalian lihat itu mirip ujud Ki Rangga Agung Sedayu?”

“Dari mana Ki Waskita tahu?” hampir bersamaan pertanyaan itu meluncur dari bibir Pandan Wangi dan Sekar Mirah.

“Sudahlah, ngger,” berkata Ki Waskita kemudian sambil memandang Sekar Mirah dan Pandan Wangi bergantian, “Urusan ini biarlah kami orang-orang tua yang menangani. Aku jamin Ki Rangga tidak apa-apa. Sedangkan Anjani kalau memang itu sudah menjadi keputusannya untuk pergi, kita tidak dapat berbuat apa-apa selain mendoakan semoga dia mendapatkan apa yang selama ini ingin diraihnya.”

Semua orang yang hadir di dalam bilik itu tampak mengangguk angguk. Hanya Sekar Mirah yang terlihat masih gelisah memikirkan kepergian Anjani.

“Apakah ada ucapan atau perbuatanku yang menyakiti hatinya?’ bertanya Sekar Mirah dalam hati, “Bukankah setiap permasalahan dapat dibicarakan kemudian? Jika Anjani mempunyai permasalahan, mengapa dia tidak berbagi dengan aku. Anjani sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Jasanya dalam menyelamatkan keluargaku tidak mungkin terbalaskan sepanjang hidupku.”

Sedangkan Pandan Wangi justru merasa sedikit lega walaupun dia juga menyayangkan kepergian Anjani yang masih dalam keadaan terluka. Jika Anjani mau agak bersabar, mungkin masih ada jalan untuk memecahkan persoalan yang membelit antara Anjani dan Ki Rangga Agung Sedayu.

“Banyak prajurit bawahan Kakang Agung Sedayu di pasukan khusus yang masih belum berumah tangga. Mungkin seorang prajurit wira tamtama ataupun bahkan seorang Lurah prajurit jika memang Anjani berkenan membuka hati,” berkata Pandan Wangi dalam hati.

“Wangi,” tiba-tiba Ki Gede berkata membuyarkan lamunan Pandan Wangi, “Engkau aku ijinkan untuk meninggalkan bilik ini. Ajaklah beberapa pelayan untuk membersihkan ruang tengah.”

Pandan wangi yang menyadari bahwa pembicaraan selanjutnya menyangkut urusan orang-orang tua itu segera mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ayah. Aku mohon diri,” Pandan Wangi berhenti sejenak. Kemudian sambil berpaling ke arah Sekar Mirah dia melanjutkan, “Marilah Mirah, bukankah engkau belum menengok Bagus Sadewa?”

Sekar Mirah tersenyum begitu nama anaknya disebut. Sambil mengangguk ke arah orang-orang tua itu dia pun berkata, “Aku juga mohon diri. Agaknya Bagus Sadewa tetap memerlukan perhatianku walaupun Damarpati dan Rara Wulan selalu siap mengasuhnya.”

“Silahkan, silahkan,” jawab orang-orang tua itu hampir berbareng.

Demikianlah sejenak kemudian Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah meninggalkan bilik Ki Rangga Agung Sedayu. Sepeninggal kedua perempuan berilmu itu, Ki Gede segera mempersilahkan ki Waskita dan Kiai Sabda Dadi untuk mengambil tempat duduk.

Untuk beberapa saat ketiga orang tua itu terhanyut oleh angan masing-masing. Sementara Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang tidur dengan menyilangkan kedua tangannya di dada masih terlihat tenang tidak bergerak.

Dalam pada itu di tepi hutan sebelah utara padukuhan induk, seorang perempuan muda tampak sedang menyusuri sebuah jalan setapak di antara lebatnya gerumbul perdu serta ilalang yang tumbuh rapat berjajar-jajar. Dia berjalan cepat tanpa menghiraukan dadanya yang masih terasa sakit. Sesekali dihirupnya udara malam dalam-dalam agar dadanya yang terasa sakit itu menjadi sedikit longgar.

“Agaknya jalan setapak ini sering dilalui oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan dengan hutan ini,” berkata perempuan itu dalam hati. Sepasang matanya yang indah bagaikan bintang timur itu menatap hutan lebat yang membujur di sebelah kanannya, “Mungkin para pemburu atau pun orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan ini yang sering lewat di jalan setapak ini. Aku yakin bahwa hutan ini sudah sering dijamah manusia dan sudah tidak berbahaya lagi.”

Namun ketika terdengar lolongan serigala yang bersahut-sahutan walaupun terdengar jauh di dalam hutan, wajah yang memiliki kecantikan luar biasa itu terlihat sejenak mengerutkan keningnya.

“Mungkin masih ada beberapa jenis binatang buas di hutan ini,” berkata perempuan itu dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Setidaknya para penghuni padukuhan terdekat tidak memasuki hutan di malam hari. Atau pun jika ada yang ingin berburu di malam hari, mereka pasti melakukannya dengan berkelompok dan membawa persenjataan yang lengkap.”

Ketika kembali terdengar lolongan Serigala yang terdengar semakin dekat, ternyata perempuan cantik itu sama sekali tidak terpengaruh. Dia sama sekali tidak menjadi gentar ataupun ketakutan. Langkahnya tetap terayun menyusuri jalan setapak menuju ke pebukitan Menoreh.

“Semoga Ki Gede Menoreh tidak tersinggung karena aku pergi tanpa pamit,” kembali perempuan muda itu berangan-angan sambil terus melangkah, “Seandainya aku berpamitan kepada Nyi Sekar Mirah, aku yakin dia pasti akan menahanku. Selain karena keadaan luka dalam dadaku yang belum sembuh, Nyi Sekar Mirah merasa sangat berhutang budi kepadaku, sehingga aku telah dianggapnya sebagai pahlawan bagi keluarganya,” perempuan muda yang tak lain adalah Anjani itu menarik nafas dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak sampai hati merusak kebahagiaan keluarga Nyi Sekar Mirah. Apa yang harus aku katakan kepadanya seandainya suatu saat nanti dia ingin mengetahui tujuanku yang sebenarnya.”

Angin malam bertiup lembut membelai anak rambut di kening Anjani. Bulan tua yang belum terbit telah membuat malam terlihat gelap. Sementara bintang gemintang yang mulai muncul dan memperlihatkan kerlap-kerlip sinarnya tidak mampu membuat malam yang gelap itu menjadi sedikit terang.

“Aku tidak ingin membuat Kakang Agung Sedayu bersedih,” kembali Anjani berkata dalam hati. Setiap kali teringat Ki Rangga Agung Sedayu, hati Anjani pun bagaikan sebuah belanga yang jatuh di atas tanah berbatu-batu, hancur berkeping-keping.

Masih jelas terngiang kata-kata Ki Rangga Agung Sedayu ketika dia memberanikan diri untuk memasuki bilik Ki Rangga tanpa seijin Sekar Mirah.

“Anjani.., cobalah berpikir tentang masa depanmu. Itulah yang lebih penting sekarang ini. Aku telah berjanji membawamu ke Menoreh. Bukankah engkau sekarang ini sudah di Menoreh? Hidup di antara keluargaku? Sesungguhnya di antara kita memang tidak ada suatu ikatan apapun. Aku minta maaf jika tidak dapat memenuhi harapan yang mungkin sempat melambung di hatimu. Tapi percayalah, jika memang engkau ingin menjadi bagian dari keluargaku, dengan senang hati aku akan menerimanya.”

Anjani berdesah perlahan sambil menekan dadanya yang terasa perih dengan telapak tangan kanannya. Luka dalam dadanya terasa semakin menyengat jika teringat olehnya kata-kata Ki Rangga. Namun dia tidak merasa sakit hati atau pun dendam atas sikap Ki Rangga itu. Justru Anjani menjadi semakin kagum akan keteguhan dan kebijaksanaan ki Rangga dalam menghadapi setiap permasalahan.

“Setidaknya aku telah membalas budi kebaikan Ki Rangga yang telah membebaskan aku dari cenkeraman kekejaman kedua guruku,” kembali Anjani berangan-angan saat dia untuk pertama kalinya bertemu dengan Ki Rangga, “Untunglah Ki Rangga berhasil memenangkan perang tanding itu. Seandainya kedua guruku yang keluar sebagai pemenang, aku tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya.”

Anjani terus melangkah. Sesekali tampak keningnya berkerut-merut. Sebenarnyalah sejak keluar dari padukuhan induk tadi, panggraitanya yang tajam telah menangkap sebuah isyarat yang cukup mendebarkan.

Beberapa kali Anjani mencoba meyakinkan bahwa seseorang telah mencoba mengikutinya, namun setiap kali Anjani selalu gagal. Bahkan ketika sesekali Anjani mencoba melihat ke belakang dengan berpaling cepat, namun pemandangan yang terhampar di belakangnya hanyalah kegelapan yang pekat.

“Gila!” desis Anjani, “Apakah orang ini sengaja mempermainkan aku ataukah dia memang menunggu saat yang tepat ketika aku sedang lengah?”

Dengan dada yang bedebaran Anjani terus melangkah. Sesekali di berjalan agak cepat. Ketika pada suatu kesempatan dia melewati gerumbul-gerumbul perdu yang rimbun, dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh pandangan mata wadag, tiba-tiba saja tubuhnya telah lenyap bagaikan ditelan bumi.

Sejenak suasana menjadi sangat sunyi. Dengan mengerahkan kemampuannya untuk menyerap segala bunyi yang dapat ditimbulkan oleh pergerakan tubuhnya, perlahan-lahan Anjani pun mencoba mengintip di antara rimbunnya dedaunan perdu. Namun jalan setapak itu tetap lengang. Hanya suara binatang malam yang terdengar bersahut-sahutan dalam irama ajeg dan kadang ditingkah lolongan serigala yang terdengar sayup-sayup jauh di tengah hutan.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Anjani pun kemudian keluar dari dalam gerumbul perdu. Sesekali ditekannya dadanya yang masih terasa sakit. Beberapa saat kemudian, Anjani telah berada di jalan setapak itu kembali.

Namun Anjani tidak segera meneruskan langkahnya. Dia justru berdiri dengan kaki renggang dan kedua tangan bertolak pinggang menghadap kearah padukuhan induk. Katanya kemudian dengan suara lantang, “Ki Sanak! Kalau memang Ki Sanak mempunyai urusan denganku, silahkan menampakkan diri. Jangan bermain petak umpet!”

Suara Anjani terdengar bergaung dan memantul-mantul di dalam hutan yang membujur ke utara. Suara gaung itu terdengar jauh sampai ke ujung hutan.

Untuk beberapa saat Anjani menunggu, namun tidak terdengar jawaban. Hanya semilir angin yang berhembus menerobos dedaunan di pinggir hutan itu sehingga terdengar suara gemerisik yang berkepanjangan.

Anjani menggeretakkan giginya. Dia benar-benar sudah kehabisan kesabaran menghadapi orang yang sedang menguntitnya itu dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan wajah yang merah padam menahan kemarahan, Anjani pun segera berbalik dan meneruskan perjalanannya.

Ketika jalan setapak itu mulai terlihat samar-samar dan kemudian hilang di antara rumput ilalang yang tumbuh rapat berjajar-jajar, tanah pun mulai terasa semakin mendaki. Bebatuan mulai tampak bermunculan di antara tanah yang bergelombang serta hutan di sisi utara padukuhan induk itu terlihat mulai menipis. Tanpa terasa Anjani telah sampai di kaki pebukitan Menoreh.

Sejenak Anjani menghentikan langkah sambil mengangkat wajahnya memandangi pebukitan Menoreh dalam kegelapan malam yang terlihat hitam membujur ke utara bagaikan raksasa yang sedang tidur. Sebersit keragu-raguan tiba-tiba saja telah menyelinap ke dalam hatinya.

“Aneh,” berkata Anjani kemudian dalam hati, “Rasa-rasanya orang ini telah mengikuti aku sejak aku keluar dari padukuhan induk. Akan tetapi mengapa sejauh ini dia tidak berbuat apa-apa? Tempat ini sudah cukup jauh dari padukuhan induk, dan sebentar lagi akan mendaki pebukitan Menoreh. Jika memang dia ingin berbuat jahat atau pun sekedar menemui aku karena suatu kepentingan, saat inilah sebenarnya yang tepat untuk melaksanakan rencananya itu.”

Berpikir sampai disitu, Anjani memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya. Dengan perlahan Anjani kemudian justru telah berjalan mendekati sebuah pohon dan duduk di atas sebuah batu besar yang teronggok di bawahnya.

Sambil meluruskan kakinya, Anjani berusaha mengetrapkan kemampuannya untuk mendengarkan getar alam sekitarnya. Dicobanya untuk mempertajam pendengarannya dengan mengetrapkan Aji Sapta pangrungu. Demikian juga untuk mempertajam penglihatannya, dia telah mengetrapkan aji sapta pandulu. Walaupun masih dalam tingkat permulaan, namun Resi Mayangkara memang telah mengajarkan Anjani untuk meningkatkan kemampuan panca indranya.

Namun alangkah terkejutnya Anjani ketika baru saja dia berusaha memusatkan segenap nalar dan budinya, tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam telah muncul beberapa langkah di hadapannya.

Bagaikan disengat ribuan kalajengking, Anjani pun segera meloncat berdiri dari tempat duduknya. Dengan kaki renggang dan kedua tangan teracu ke depan, perempuan muda murid Resi Mayangkara itu telah siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun bayangan itu sepertinya telah kehilangan bentuk. Perlahan-lahan ujud yang belum sempat dikenali oleh Anjani itu memudar seiring dengan bertiupnya angin malam yang cukup kencang di pinggir hutan itu.

“Gila!” geram Anjani sambil maju selangkah, “Permainan apa pula ini?”

Namun tidak terdengar sebuah jawaban pun. Bayangan hitam itu benar-benar telah lenyap sebelum Anjani mengenali dan membuat perhitungan dengannya.

Sejenak Anjani masih berdiri termangu-mangu di tempatnya. Berbagai dugaan silih berganti dalam benaknya. Sekilas teringat olehnya Ki Rangga Agung Sedayu yang sedang tergolek di pembaringannya.

“Ki Rangga mampu menggandakan ujud dirinya menjadi tiga,” berkata Anjani teringat perang tanding Ki Rangga dengan kedua gurunya beberapa waktu yang lalu.

Namun angan-angannya itu dibantahnya sendiri, “Tidak mungkin jika yang melakukan semua ini Ki Rangga. Ki Rangga sedang sakit,” angan-angannya berhenti sejenak. Kemudian sambil menggelengkan kepalanya dia berkata dalam hati, “Ah, sudahlah. Mungkin juga Eyang Resi yang ingin mendampingi perjalananku.”

Berpikir sampai disitu, tanpa menghiraukan lagi keadaan di sekitarnya, Anjani segera mengayunkan langkahnya. Tujuannya pasti, menyeberangi pebukitan Menoreh menuju gunung Kendalisada.

Dalam pada itu ketiga orang tua yang sedang menunggu Ki Rangga tampak menjadi sedikit gelisah. Beberapa kali Ki Rangga terlihat berdesah bahkan tidak jarang tubuh yang terbujur diam itu seolah-olah tergetar dan menggigil keras.

“Ki Waskita,” desis Ki Gede begitu melihat keadaan Ki Rangga, “Aku tidak yakin kalau Ki Rangga sekarang ini sedang dalam keadaan tidur yang sebenarnya. Aku merasakan ada sebuah getaran aneh yang menyelimuti sekujur tubuh Ki Rangga.”

Ki Waskita yang dapat dikatakan termasuk salah satu guru Ki Rangga walaupun hanya sekedar meminjamkan kitabnya untuk dibaca segera menjawab, “Ki Gede benar, Ki Rangga memang sedang tidak tidur. Ki Rangga sedang memusatkan seluruh nalar dan budinya untuk mengetrapkan sebuah aji yang disebut aji pengangen-angen.”

“Aji pengangen-angen?” ulang Ki Gede. Sementara Kiai Sabda Dadi hanya mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Ya, Ki Gede,” jawab Ki Waskita kemudian, “Seperti telah kita ketahui, Ki Rangga sudah menguasai Aji Kakang Pembarep Adi Wuragil dengan hampir sempurna. Ki Rangga mampu memancarkan kekuatan ilmunya lewat kedua ujudnya itu sehingga dalam pengetrapannya, kemampuan Ki Rangga menjadi berlipat tiga kali, sebagaimana yang telah kita saksikan pada pertempuran kemarin.”

Ki Gede termenung sejenak. Sedangkan Kiai Sabda Dadi yang juga ikut menyaksikan pertempuran antara Ki Rangga melawan Panembahan Cahya Warastra kemarin masih saja berdebar-debar jika mengenang benturan ilmu yang sangat langka itu.

“Kedua-duanya menguasai ilmu yang sudah sangat jarang dimiliki orang saat ini,” berkata Kiai Sabda Dadi dalam hati, “Aji Brahala wuru adalah sebuah ilmu yang bersumber dari kegelapan. Sedang apa yang ditunjukkan oleh Ki Rangga waktu itu adalah ilmu dari perguruan aliran putih yang sudah punah. Menurut ciri-ciri yang aku lihat, aku yakin ilmu cambuk itu bersumber dari perguruan Windujati. Sedangkan ilmu kakang pembarep dan adi wuragil itu dari perguruan mana aku tidak tahu.”

“Namun apa yang sedang dilakukan Ki Rangga saat ini adalah mengetrapkan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya,” berkata Ki Waskita kemudian membuyarkan lamunan kedua orang tua itu, “Aku yakin, Ki Rangga mencoba mempelajari sebuah ilmu baru. Namun kekuatan wadag Ki Rangga belum mendukung karena masih lemah akibat benturan yang dahsyat dengan Panembahan Cahya Warastra,” Ki Waskita berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Itulah sebabnya Sekar Mirah dan Pandan Wangi menjumpai ujud Ki Rangga hanya berupa sesosok bayangan hitam, belum berupa ujud Ki Rangga yang sebenarnya.”

Kedua orang tua itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka. Bagi mereka Ki Rangga Agung Sedayu itu masih termasuk golongan angkatan muda namun sangat cemerlang dalam menguasai ilmu kanuragan.

“Dulu masih ada Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa yang mengusai ilmu mereka hampir tuntas,” berkata Ki Gede dalam hati, “Namun semenjak kedua Priyagung itu wafat, sepertinya tidak ada lagi penggantinya. Semoga Raden Mas Rangsang yang digadang-gadang merajai Tanah Jawa ini dapat memenuhi harapan kita semua.”

Untuk beberapa saat suasana menjadi sepi. Ketiga orang tua itu tampak sedang merenungi Ki Rangga yang terlihat terbujur diam namun tidak sedang dalam keadaan tidur. Berbagai tanggapan telah muncul di masing-masing benak dari ketiga orang tua itu.

“Swandaru akan semakin jauh tertinggal dari Ki Rangga Agung Sedayu,” Ki Gede Menoreh berkata dalam hati, “Walaupun keduanya mewarisi ilmu dari guru yang sama, Kiai Gringsing. Aku yakin orang bercambuk itu tidak mungkin mempunyai niat walau hanya sebiji sawi pun untuk memperlakukan murid-muridnya emban cinde emban silatan. Semua ilmu telah diturunkan secara tuntas. Namun agaknya dalam perkembangan selanjutnya Ki Rangga memiliki beberapa kelebihan dari adik seperguruannya itu.”

Sementara Ki Waskita yang dapat dikatakan sebagai guru kedua Ki Rangga menjadi semakin bangga dan terharu dengan semangat Ki Rangga dalam mengembangkan ilmunya.

“Aji pengangen-angen ini sangat luas dalam pengetrapannya,” berkata Ki Waskita dalam hati sambil memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada diri Ki Rangga yang terlihat sedang tertidur, “Aku dan Panembahan Agung hanya mampu menguasai pada penciptaan bentuk-bentuk semu yang tidak banyak berarti. Namun Ki Rangga telah mampu merambah pada Aji Kakang Pembarep dan Adi Wuragil, dan sekarang agaknya Ki Rangga akan semakin mengembangkan Aji pengangen-angen itu dalam bentuk semu yang tidak mengenal batas dan jarak. Berbeda dengan aji kakang pembarep dan adi wuragil yang masih terikat pada jarak dengan sumbernya.”

Sedangkan Kiai Sabda Dadi yang terlihat banyak berdiam diri, sesungguhnya telah terjadi pergolakan di dalam hatinya.

“Dengan susah payah aku dan Damarpati telah menempuh perjalanan panjang hanya untuk memenuhi pesan Guru,” kakek Damarpati itu berangan-angan dalam hati, “Walaupun aku sudah tidak dapat bertemu dengan Kiai Gringsing atau orang lebih mengenalnya dengan sebutan orang bercambuk, namun ternyata murid utamanya ini menurut pengamatan para sesepuh angkatan tua, kemampuan ilmunya bahkan telah melampaui kemampuan orang bercambuk itu sendiri. Namun aku tidak sampai hati untuk menyampaikan maksudku yang sebenarnya untuk meminta bantuan. Ki Rangga telah banyak disibukkan oleh tugas-tugas keprajuritannya.”

Ketika mereka yang berada di dalam bilik itu sedang disibukkan oleh angan masing-masing, pendengaran mereka yang tajam melebihi pendengaran orang kebanyakan telah menangkap langkah-langkah yang menuju ke bilik Ki Rangga.

Begitu ketiga orang tua itu berpaling ke arah pintu bilik yang terbuka lebar, tampak Ki Patih Mandaraka sedang melangkah memasuki bilik diikuti oleh Ki Jayaraga dan Glagah Putih di belakangnya.

Dengan serta merta ketiga orang itu pun segera berdiri untuk menyambut Priyagung dari Mataram itu.

“Silahkan Ki Patih,” berkata Ki Gede kemudian sambil menyiapkan sebuah tempat duduk untuk Ki Patih.

“Terima kasih Ki Gede,” jawab Ki Patih sambil tersenyum, “Agaknya waktu sudah sirep bocah. Aku harus kembali ke Kota Gede sebelum wayah sire uwong.”

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede sambil membungkukkan badan dalam-dalam, “Kami akan sangat bersyukur jika Ki Patih berkenan bermalam di gubuk kami.”

Ki Patih tersenyum menanggapi tawaran Ki Gede. Jawabnya kemudian, “Terima kasih atas tawaran Ki Gede. Akan tetapi aku tidak boleh terlalu lama di luar Istana. Sewaktu-waktu Sinuhun Panembahan Hanyakrawati memerlukan kehadiranku.”

Semua orang yang hadir di dalam bilik itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Semua menyadari bahwa peran Ki Patih dalam pemerintahan Mataram sangat penting, bahkan jauh sebelum Kerajaan Mataram itu berdiri.

Sejenak Ki Patih masih berdiri termangu-mangu. Dingklik kayu yang diangsurkan oleh Ki Gede dibiarkannya saja. Agaknya Ki Patih sedang memikirkan sesuatu. Pandangan matanya tidak lepas dari tubuh Ki Rangga yang terbujur diam dengan kedua tangan bersilang di dada.

Ketika mereka yang berada di dalam bilik itu sedang menunggu titah Ki Patih. Tiba-tiba saja terdengar Ki Rangga berdesah dalam tidurnya.

“Ki Waskita,” tiba-tiba Ki Patih berkata sambil memandang ke arah Ki Waskita, “Aku tidak ingin mengganggu istirahat Ki Rangga. Namun jika dia sudah terjaga nanti, sampaikan pesanku agar Ki Rangga tidak terlalu memaksakan diri. Keadaan wadagnya masih lemah.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Waskita sambil membungkuk. Sementara orang-orang tua yang ada di dalam bilik itu tampak mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka menyadari, Ki Patih yang mempunyai panggraita melebihi orang-orang kebanyakan itu pasti mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri Ki Rangga Agung Sedayu.

“Sudahlah,” berkata Ki Patih kemudian, “Sudah waktunya aku harus kembali. Malam telah semakin larut. Namun sebaiknya ada yang menemani Ki Rangga.”

“Hamba Ki Patih,” dengan cepat Ki Waskita segera menyahut, “Biarlah hamba yang tinggal untuk memantau keadaan Ki Rangga.”

Ki Patih mengangguk-anggukkan kepalanya. Maka katanya kemudian, “Marilah, mungkin ada beberapa orang yang akan menemani perjalananku ke padukuhan induk. Selebihnya dapat melakukan kegiatannya masing-masing.”

“Hamba Ki Patih,” hampir serentak orang-orang yang hadir di bilik itu menjawab sambil menganggukkan kepala dalam-dalam.

Demikianlah akhirnya Ki Patih dan beberapa orang-orang tua telah meninggalkan bilik Ki Rangga untuk bersiap-siap kembali ke padukuhan induk, kecuali Ki Waskita. Sedangkan Kiai Sabda Dadi sengaja ikut rombongan Ki Patih kembali ke padukuhan induk dengan pertimbangan masih banyak yang memerlukan pertolongannya disana. Sementara Glagah Putih yang tidak ikut rombongan orang-orang tua itu segera bergegas mencari istrinya untuk menyampaikan perintah Ki Patih sehubungan dengan tugas baru yang telah diterimanya.

Sepeninggal Ki Patih dan orang-orang yang hadir di bilik itu, Ki Waskita segera menutup pintu bilik rapat-rapat dan diselarak dari dalam. Kemudian dia segera duduk di atas sebuah dingklik kayu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam serta kedua tangan bersilang di depan dada.

Sejenak kemudian bilik itu pun menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas perlahan dan teratur dari Ki Waskita serta Ki Rangga Agung Sedayu.

Ketika Ki Waskita kemudian telah mengangkat kepalanya dan mengurai kedua tangannya yang bersilang di depan dada, Ki Rangga pun tampak berdesah sambil membuka kedua matanya.

“Engkau sudah terbangun Ngger?” berkata ki Waskita sareh sambil mendekat dan duduk di tepi pembaringan Ki Rangga.

Untuk beberapa saat Ki Rangga tidak menjawab. Pandangan matanya masih terasa kabur dan tubuhnya telah basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Sementara tulang belulangnya terasa bagaikan terlepas dari setiap persendian yang ada di sekujur tubuhnya. Ki Rangga benar benar telah mengalami kelelahan yang sangat luar biasa.

Setelah mengejap-kejapkan kedua kelopak matanya beberapa saat, pandangan mata Ki Rangga pun mulai menjadi semakin jelas. Barulah Ki Rangga menyadari bahwa yang duduk di tepi pembaringannya itu adalah Ki Waskita.

“Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian sambil mengurai kedua tangannya yang bersilang di dada, “Di manakah aku sekarang ini?”

Ki Waskita tersenyum. Orang tua yang secara tidak langsung telah menjadi guru kedua dari Ki Rangga itu maklum bahwa Ki Rangga baru saja mengalami gonjangan kejiwaan dalam mengetrapkan Aji Pengangen-angen.

“Angger berada di dalam sebuah bilik di rumah Ki Gede Menoreh,” jawab Ki Waskita kemudian, “Aku tahu angger telah mengalami kejutan jiwa pada saat aku menuntun angan-angan Ki Rangga agar dapat pulang kembali.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya sambil berdesah. Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali agar rongga dadanya menjadi longgar, Ki Rangga pun kemudian berkata, “Ki Waskita, apakah aku bisa minta tolong untuk mengambilkan air minum?”

“O, tentu, tentu,” jawab Ki Waskita sambil bangkit berdiri. Diraihnya sebuah kendi yang terletak di atas meja di samping pembaringan Ki Rangga.

“Minumlah ngger, agar tubuhmu menjadi segar,” berkata Ki Waskita kemudian sambil membantu Ki Rangga mengangkat kepalanya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya yang membawa kendi dengan perlahan-lahan menuangkan air minum itu ke mulut Ki Rangga.

“Jangan terlalu banyak dulu ngger,” berkata Ki Waskita sambil perlahan-lahan merebahkan Ki Rangga kembali ke pembaringan-nya. Sementara kendi itu telah dikembalikan ke tempatnya.

Ki Rangga yang telah berbaring kembali itu merasa tubuhnya menjadi sedikit segar. Perlahan-lahan Ki Rangga pun mulai mengingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya.

“Ki Waskita,” berkata Ki Rangga kemudian, “Aku merasakan suatu hal yang aneh telah terjadi pada diriku sewaktu aku sedang tidur tadi,” Ki Rangga berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Lanjutnya kemudian, “Sewaktu aku berada di alam bawah sadar, tiba-tiba aku teringat akan isi kitab yang telah dipinjamkan oleh Ki Waskita kepadaku dahulu. Aku mencoba mengingat-ingat sebuah ilmu yang menurutku sangat menarik.”

“Apakah angger kemudian mencoba mengetrapkan ilmu itu walaupun angger sadar bahwa angger belum memenuhi persyaratan baik laku lahir maupun laku batinnya?” bertanya Ki Waskita.

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Akhirnya dengan nada sedikit ragu-ragu Ki Rangga pun menjawab, “Aku hanya tertarik untuk mengikuti petunjuk yang ada di dalam kitab itu yang telah aku hafal tanpa memikirkan akibat yang dapat timbul kemudian. Karena ilmu itu mirip dengan ilmu yang telah aku kuasai sebelumnya, aji kakang pembarep dan adi wuragil.”

Ki Waskita mengangguk-anggukkan kepalanya. Kening ayah Rudita itu tampak semakin berkerut merut. Katanya kemudian, “Ya ngger, aku bisa menebak bagian mana dari isi kitab itu yang telah menarik perhatian angger dan agaknya angger ingin mempelajarinya lebih jauh.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya sejenak. Dia menjadi sedikit berdebar-debar bahwa Ki Waskita bisa menebak isi hatinya. Maka katanya kemudian, “Ki Waskita, bagaimana Ki Waskita dapat menebak ilmu yang sedang ingin aku pelajari? Padahal aku belum mengatakannya?”

Kembali orang tua itu tersenyum sareh. Jawabnya kemudian, “Pada awalnya para sesepuh yang sedang duduk-duduk bersama Ki Patih di ruang tengah telah melihat Sekar Mirah dan Pandan Wangi yang memasuki bilik ini dengan tergesa-gesa. Atas ijin Ki Patih, aku dan Ki Gede serta Kiai Sabda Dadi segera menyusul kedua perempuan itu ke dalam bilik ini,” Ki Waskita berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Di dalam bilik ini aku melihat angger yang sedang tidur dengan kedua tangan bersilang di dada. Aku sudah pernah mempelajari ilmu ini ngger walaupun tidak sampai tuntas sehingga panggraitaku telah mengatakan bahwa angger tidak sedang tidur dalam arti yang sebenarnya.”

Ki Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa saat Ki Rangga masih merenungi kata-kata Ki Waskita. Namun tiba-tiba Ki Rangga teringat sesuatu, maka katanya kemudian, “Ki Waskita, ketika aku mengikuti petunjuk yang ada di dalam kitab itu, sebagaimana aji kakang pembarep dan adi wuragil, ujudku dapat memecah, namun kali ini hanya menjadi dua. Aku bisa melihat ujud asliku yang tetap terbujur diam di atas pembaringan. Sedangkan ujud yang satunya, yang aku rasakan sebagai ujudku sendiri, seolah-olah melayang dan dapat menembus batasan apapun yang ada di sekitarku,” Ki Rangga berhenti sejenak sambil mencoba menggali ingatannya tentang kejadian aneh yang baru dialaminya. Maka lanjutnya kemudian, “Ketika aku memutuskan untuk keluar dari bilik ini, aku tidak harus melalui pintu bilik. Dinding bilik ini dapat aku tembus dengan mudahnya. Namun yang membuat aku kebingungan adalah ketika di halaman belakang aku menjumpai Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Aku mencoba menyapa mereka, namun aku tidak dapat mengeluarkan suara sepatah kata pun, bahkan kedua perempuan itu terlihat ragu-ragu mengenali ujudku.”

Ki Waskita terenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Ki Rangga. Sambil menghirup udara malam untuk memenuhi rongga dadanya, Ki Waskita pun kemudian berkata dengan sareh, “Angger agung Sedayu, menurut cerita dari Sekar Mirah dan Pandan Wangi, mereka telah bertemu dengan seseorang yang mempunyai perawakan sangat mirip dengan angger di halaman belakang. Namun ujud itu tidak dapat dikatakan sebagaimana ujud manusia biasa, hanya sebuah bayangan hitam yang sulit dikenali wajahnya,” Ki Waskita berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Berdasarkan keterangan mereka berdua itu lah aku dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa angger sedang mencoba mengetrapkan sebuah ilmu yang dapat menjadi perantara untuk mewujudkan angan-angan kita.”

“Angan-angan kita?” tanpa sadar Ki Rangga mengulang dengan kening yang berkerut-merut.

“Ya ngger, untuk mewujudkan setiap angan-angan kita,” Ki Waskita berhenti sejenak sambil mengamati kesan di wajah Ki Rangga. Kemudian lanjutnya, “Itulah ngger, mengapa di lingkungan perguruan kami, aji itu diberi nama Aji pengangen-angen, karena dengan berbekal ilmu itu, seseorang dapat mewujudkan apa yang ada dalam angan-angannya walaupun itu juga ada batasannya. Setiap cabang ilmu yang bersumber dari kekuatan Aji pengangen-angen mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.”

“Aji Pengangen-Angen,” perlahan ki Rangga mengulang.

Tiba-tiba Ki Rangga seperti teringat sesuatu, maka tanyanya kemudian, “Mengapa di dalam kitab Ki Waskita tidak pernah disebut nama Aji pengangen-angen itu?”

“Memang di dalam kitab itu tidak pernah menyebut nama Aji pengangen-angen,” jawab Ki Waskita, “Itu adalah sebutan yang diberikan oleh para murid di perguruan kami. Sebutan yang disesuaikan dengan sifat dan watak dari ilmu itu sendiri.”

“Jadi maksud para murid di perguruan Ki Waskita, jika mereka telah menguasai ilmu itu mereka akan mampu mewujudkan apapun sesuai dengan angan-angannya?”

“Itu adalah harapan mereka, ngger,” sahut Ki Waskita, “Mereka tidak sepenuhnya benar. Aji pengangen-angen untuk menguasai-nya memerlukan tahapan demi tahapan. Memang tidak dijelaskan secara rinci di dalam kitab itu. Guru kami lah yang akan memberikan penjelasan hanya kepada murid-muridnya yang telah dianggap mumpuni.”

Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Hatinya semakin tertarik untuk mendalami aji pengangen-angen itu.

“Sudahlah ngger,” berkata Ki Waskita kemudian setelah sejenak mereka berdua terdiam, “Beristirahatlah. Apakah angger tadi sore sudah sempat makan?”

“Sudah Ki,” jawab Ki Rangga sambil tersenyum, “Walaupun hanya beberapa suap namun aku sudah makan,” Ki Rangga berhenti sejenak. Agaknya masih ada sesuatu yang akan disampaikan kepada Ki Waskita. Maka katanya kemudian, “Ki Waskita, jika memang aku masih diperkenankan untuk mempelajari aji pengangen-angen ini, apakah ki Waskita berkenan membimbing aku?”

Ki Waskita yang sudah hampir bangkit dari tepi pembaringan Ki Rangga menjadi urung. Jawabnya kemudian, “Aku memang pernah mempelajari ilmu itu, ngger, namun masih terbatas sekali. Apa yang dapat aku lakukan adalah sekedar menampilkan ujud semu sesuai dengan keinginan angan-anganku, namun tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap lingkungan sekitarnya. Sedangkan angger sudah merambah pada aji kakang pembarep adi wuragil yang merupakan pancaran dari kekuatan ilmu angger sendiri. Aji pengangen-angen ini mempunyai kemiripan dengan aji kakang pembarep dan adi wuragil, sehingga apa yang akan angger tekuni nanti seolah-olah berkesinambungan dengan apa yang telah angger pelajari sebelumnya,” Ki Waskita berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Lanjutnya kemudian, “Namun angger tetap harus menjalani laku baik lahir maupun batin dalam mendalami ilmu ini. Karena setiap ilmu mempunyai sebuah laku yang khusus. Namun semua itu terserah angger, keadaan wadag angger masih lemah, lebih baik tidak usah memaksakan diri. Ki Patih Mandaraka juga berpesan demikian ketika menyempatkan diri menengok angger sebelum kembali ke padukuhan induk.”

“Ki Patih Mandaraka?” bertanya Ki Rangga kemudian, “Apakah Ki Patih sudah kembali ke kota Raja?”

Ki Waskita menggeleng, “Mungkin Ki Patih baru sampai di padukuhan induk sekarang ini. Namun agaknya Ki Patih akan kembali ke kota Raja malam ini juga.”

Ki Rangga kembali menarik nafas dalam-dalam. Berbagai pertimbangan sedang menyelimuti benaknya. Ada keinginan yang kuat untuk segera mendalami aji pengengen-angen itu, namun dia harus mempertimbangkan kekuatan wadagnya yang masih lemah.

“Ah, sudahlah,” berkata Ki Waskita pada akhirnya, “Ki Rangga perlu istirahat. Apakah angger perlu seorang kawan? Aku akan memanggil Sekar Mirah jika memang angger menghendaki.”

Sejenak Ki Rangga berpikir. Akhirnya Ki Rangga pun mengambil keputusan. Katanya kemudian, “Baiklah Ki, aku perlu baju yang kering dan mungkin semangkuk minuman hangat. Jika Ki Waskita tidak berkeberatan, sampaikan kepada istriku.”

“O, tentu saja tidak ngger,” jawab Ki Waskita sambil bangkit dari tepi pembaringan Ki Rangga, “Beristirahatlah yang cukup. Kita akan membicarakan aji pengangen-angen ini dilain waktu. Sementara aku akan memanggil Sekar Mirah untuk menemani angger.”

Selesai berkata demikian Ki Waskita segera melangkah keluar bilik dan menutup pintu bilik itu dari luar sebelum akhirnya menuju ke bilik yang terletak di belakang untuk menyampaikan pesan Ki Rangga.

Dalam pada itu rombongan Ki Patih telah mendekati banjar padukuhan induk. Mereka sengaja tidak memacu kuda-kuda mereka agar tidak memberikan kesan yang mendebarkan kepada para penghuni padukuhan induk yang telah kembali dari tempat pengungsian mereka. Kuda-kuda itu berderap dengan irama yang sedang menuju ke banjar padukuhan induk dimana para prajurit pengawal kepatihan sedang menunggu.

Beberapa pengawal serta prajurit yang berjaga di regol segera berloncatan dan membentuk barisan kawal kehormatan di sebelah menyebelah regol ketika rombongan Ki Patih muncul dari kelokan jalan di depan banjar. Prajurit tertua yang sedang berjaga saat itu segera memberi aba-aba penghormatan begitu rombongan itu lewat di depan mereka.

“Terima kasih,” berkta Ki Patih sambil membalas penghormatan barisan kawal kehormatan itu.

Begitu kuda-kuda itu berderap memasuki halaman banjar yang luas, Ki Patih dan rombongan yang masih berada di atas punggung kuda itu telah dikejutkan oleh beberapa orang yang tampak sedang berdiri di tangga pendapa menyambut kedatangan Ki Patih.

Ki Jayaraga yang berkuda di belakang Ki Patih dan Ki Gede Menoreh itu sejenak mengerutkan keningnya begitu mengenal salah seorang yang berdiri di tangga pendapa tersebut.

“Ki Gede Ental Sewu,” desis Ki Jayaraga dengan dada yang berdebaran.

Demikian kuda-kuda itu hampir mencapai tonggak-tonggak tempat untuk menambatkan kuda yang berada di samping kanan pendapa, beberapa prajurit pengawal kepatihan yang berada di halaman itu segera berlarian menyambut tali kendali kuda Ki Patih dan orang-orang tua yang ikut dalam rombongan itu. Setelah menyerahkan tali kendali kudanya, Ki Patih diikuti oleh para sesepuh segera melangkah menuju ke pendapa.

“Selamat malam Ki Patih,” sapa Ki Gede Ental Sewu yang segera turun dari tangga pendapa diikuti oleh kedua muridnya yang masih sangat muda, Sindang Wangi dan Bantar Kawung.

“Terima kasih,” jawab Ki Patih sambil menerima salam dari Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya itu. Namun kening Ki Patih sejenak menjadi berkerut-merut ketika tampak seseorang yang sudah menjelang senja menghampirinya.

“Kami juga menyampaikan selamat malam dan selamat datang kembali ke padukuhan induk, Ki Patih,” berkata seorang laki-laki yang sudah ubanan mewakili kawan-kawannya, “Semoga dalam perjalanan tadi tidak ada satu aral pun yang melintang.”

“Terima kasih,” jawab Ki Patih sambil menerima salam laki-laki yang rambutnya sudah beruban semua itu.

Sejenak Ki Patih mengedarkan pandangan matanya. Di belakang laki-laki ubanan itu ada seorang perempuan yang tak kalah tuanya dengan laki-laki beruban itu. Kemudian di sebelah menyebelah perempuan tua itu berturut-turut seorang laki-laki yang sudah cukup berumur dan tiga orang gadis yang masih remaja. Sedangkan di belakang perempuan tua itu tampak berjajar-jajar enam orang gadis yang juga terlihat masih remaja.

Serentak mereka yang berdiri di belakang laki laki yang sudah ubanan itu segera membungkukkan badan mereka dalam-dalam begitu Ki Patih memandang ke arah mereka.

“Terima kasih,” berkata Ki Patih kemudian sambil menganggukkan kepala membalas penghormatan mereka. Kemudian sambil berjalan menaiki tlundak pendapa, Ki Patih pun melanjutkan kata-katanya, “Marilah. Menjelang sepi uwong ini agaknya masih ada juga urusan yang harus mendapatkan perhatian.”

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede Ental Sewu kemudian sambil mengikuti langkah Ki Patih, “Kami memang sengaja menunggu kehadiran Ki Patih di pendapa banjar padukuhan induk ini untuk memohon petunjuk Ki Patih.”

Ki Patih mengerutkan keningnya. Rasa-rasanya Ki Patih memang belum mengenal Ki Gede Ental Sewu. Ketika Ki Patih kemudian berpaling ke arah Ki Gede yang berjalan di samping kirinya, Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu pun kemudian tersenyum sambil mengangguk. Semetara Ki Jayaraga yang berjalan di belakang Ki Patih hanya dapat menarik nafas dalam-dalam sambil mengayunkan langkahnya mengikuti Ki Patih.

—ooOoo—

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: