Terusan ADBM Jilid 413

Karya: mbah_man

(Sumber: cersilindonesia.wordpress.com/tadbm-413/)

Jilid 413

Demikianlah, akhirnya Ki Patih dan orang-orang tua itu segera menempatkan diri duduk bersila di atas sehelai tikar pandan yang terbentang di tengah-tengah pendapa. Sementara Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya serta orang-orang yang lain telah ikut pula duduk bersila melingkar menghadap ke arah Ki Patih.

Dalam pada itu, di antara gerumbul dan semak belukar yang bertebaran di belakang dinding banjar padukuhan induk, dua sosok bayangan tampak merayap mendekati dinding pembatas yang berada di belakang banjar.

“Apakah kita perlu meloncati dinding, kakang?” bertanya orang yang agak gemuk dan berwajah bulat.

Yang dipanggil kakang itu sejenak mengerutkan keningnya. Setelah mengamati keadaan sekelilingnya terlebih dahulu, akhirnya dia pun berbisik, “Sebaiknya aku dulu yang meloncati dinding. Engkau mengawasi keadaan.”

Kawannya tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang terlihat terangguk.

Beberapa saat kemudian, kedua orang itu telah berdiri melekat dinding. Dengan penuh kewaspadaan keduanya pun berusaha mendengarkan segala desir yang mungkin terdengar di luar maupun di dalam dinding.

Ketika orang yang berwajah bulat itu kemudian memandang wajah kawannya sambil mengangguk, maka dengan merendahkan kedua lututnya, kawannya itu pun telah mengambil ancang-ancang untuk meloncat ke atas dinding.

Sejenak kemudian, bagaikan seekor burung rajawali, orang itu pun telah terbang dan hinggap dengan tubuh tertelungkup di atas dinding. Untuk beberapa saat dia sama sekali tidak bergerak namun pendengarannya yang tajam segera mendengar derit pintu yang terbuka. Seleret sinar dlupak tampak muncul dari sela-sela pintu yang terbuka. Namun sesaat kemudian sinar itu pun segera lenyap seiring dengan tertutupnya kembali pintu dapur itu.

Apa yang terdengar kemudian adalah langkah seseorang yang tergesa-gesa menuju ke perigi yang terletak di halaman belakang banjar. Ketika orang yang menelungkup di atas dinding itu mengangkat kepalanya, terdengar seseorang sedang menimba air di perigi untuk mengisi pakiwan.

Tiba-tiba terdengar pintu dapur berderit kembali. Seseorang yang lain agaknya ke luar dari dapur dan berjalan menuju ke halaman belakang.

“Apakah air di pakiwan sudah penuh?” terdengar seseorang bertanya.

“Belum,” jawab orang yang sedang menimba di perigi itu, “Tinggal sedikit lagi. Apakah Ki Patih berkenan ke pakiwan sekarang?”

“Belum,” jawab orang yang baru keluar dari dapur, “Mungkin nanti pada saat akan berangkat Ki Patih memerlukan pakiwan ini.”

Kembali suasana menjadi sunyi. Yang terdengar hanyalah derit senggot bambu dalam irama yang ajeg serta sesekali suara air yang tertumpah ke dalam pakiwan.

Ketika sekali lagi terdengar derit pintu dapur, orang yang menelungkup di atas dinding itu segera berbisik kepada kawannya yang menunggu di bawah, “Aku kira aku tidak perlu meloncat masuk. Kita sudah mendapat keterangan yang cukup.”

“Apakah engkau yakin, kakang?” bertanya kawannya yang menunggu di bawah dinding.

Orang yang sedang menelungkup di atas dinding itu tidak segera menjawab. Tiba-tiba saja tubuhnya telah melayang turun dan berdiri tegak di samping kawannya.

“Aku kira kita sudah cukup mendapat keterangan tentang Ki Patih,” katanya kemudian sambil tangannya sibuk membersihkan debu yang melekat di pakaiannya, “Ki Patih akan kembali ke Kota Raja malam ini juga. Kita harus segera melaporkan kepada Ki Lurah agar Ki Lurah segera dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian kedua orang itu segera bergeser menjauhi dinding. Dengan berlindung pada gerumbul perdu serta semak belukar, kedua orang itu pun semakin jauh meninggalkan dinding belakang banjar padukuhan induk.

Ketika kedua orang itu telah semakin jauh meninggalkan dinding banjar padukuhan induk, tiba-tiba saja dari gelapnya rimbunan bayangan pohon sawo kecik yang tumbuh beberapa langkah dari dinding telah muncul bayangan seseorang.

Bersamaan dengan itu, pintu dapur pun terdengar berderit dan seseorang telah keluar menuju halaman belakang sambil membawa dlupak yang menyala.

“Apakah Ki Patih sudah bersiap untuk berangkat?” bertanya orang yang sedang menimba di perigi itu sambil menuangkan air ke jambangan yang ada di dalam pakiwan.

“Ya, sebentar lagi,” sahut orang yang membawa dlupak sambil masuk ke pakiwan. Sejenak kemudian orang itu pun telah keluar dari pakiwan dan meninggalkan dlupak itu di atas ajug-ajug di salah satu sudut pakiwan.

“Air di jambangan sudah penuh,” berkata orang itu kemudian kepada kawannya yang masih berdiri termangu-mangu di dekat perigi, “Namun sesuai perintah Ki Lurah, kita tetap di halaman belakang ini untuk menjaga segala kemungkinan.”

Orang yang berdiri di dekat perigi itu hanya menarik nafas dalam-dalam sambil memandang ke arah bayangan rimbunan pohon sawo kecik. Agaknya orang ini telah melihat seseorang keluar dari gelapnya bayangan rimbunan pohon sawo kecik dan berjalan mendekat ke arah mereka.

“Tugas kalian telah selesai,” berkata orang yang keluar dari gelapnya bayangan rimbunan pohon sawo kecik itu, “Kita menunggu Ki Patih pergi ke pakiwan untuk meyakinkan bahwa tidak ada hal-hal yang diluar perhitungan kita,” orang itu berhenti sejenak. Lanjutnya kemudian, “Perintahkan kepada kawan-kawanmu yang masih bersembunyi di halaman belakang ini untuk segera berkemas.”

“Baik Ki Lurah,” jawab orang yang berdiri di dekat perigi. Sejenak kemudian orang itu pun telah melangkah ke tempat yang telah dijadikan oleh kawan-kawannya untuk bersembunyi sambil mengamati keadaan.

“Ki Lurah,” berkata orang yang keluar dari dapur setelah kawannya pergi, “Apakah tidak sebaiknya perjalanan Ki Patih ditunda sampai besok? Kita tidak tahu dengan pasti sedang berhadapan dengan siapa dan berapa sebenarnya kekuatan mereka.”

Orang yang dipanggil Ki Lurah itu segera melangkah mendekat. Katanya kemudian, “Ki Patih sendiri yang menghendaki permasalahan ini diselesaikan sampai tuntas malam ini juga. Ketika prajurit sandi yang bertugas di tepian kali Praga tadi sore melaporkan adanya gerakan beberapa orang yang mencurigakan di dalam hutan dekat tepian kali Praga, aku sudah mempunyai gagasan seperti itu. Namun ketika Ki Patih yang baru saja hadir tadi aku beri laporan, Ki Patih menghendaki semuanya harus terungkap secara jelas, agar di lain waktu tidak membuat persoalan semakin besar dan rumit.”

Orang yang diajak bicara oleh Ki Lurah itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sebenarnyalah sore tadi seorang prajurit sandi yang bertugas di tepian kali Praga telah memberi laporan kepada Ki Lurah prajurit pengawal Kepatihan di banjar padukuhan induk. Prajurit sandi itu telah melihat adanya gerakan yang mencurigakan dari orang-orang yang berada di dalam hutan dekat tepian kali Praga.

“Berapakah jumlah mereka?” bertanya Ki Lurah kepada prajurit sandi itu.

“Yang terlihat sekitar lima belas orang, namun selebihnya aku tidak tahu karena tidak mungkin bagiku untuk masuk ke dalam hutan lebih dalam lagi,” jawab Prajurit sandi itu, “Aku belum dapat memastikan siapakah mereka sebenarnya. Ada kemungkinannya mereka adalah sisa-sisa pengikut Panembahan Cahya Warastra atau mungkin justru kelompok lain yang berusaha mengail di air yang keruh.”

Ki Lurah mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Terima kasih atas laporan ini. Akan aku laporkan kepada Ki Patih jika Ki Patih telah kembali dari kediaman Ki Gede Menoreh. Untuk selanjutnya engkau dapat kembali ke tempat tugasmu. Usahakan untuk selalu mengadakan hubungan dengan kami jika ada perkembangan atau perubahan sewaktu-waktu”

“Baik Ki Lurah,” jawab prajurit sandi itu.

Demikianlah ketika Ki Patih dan rombongannya telah duduk di pendapa beserta orang-orang yang menunggu kehadiran Ki Patih, secara khusus Ki Lurah prajurit pengawal kepatihan segera menghadap dengan cara duduk hanya beberapa jengkal di belakang Ki Patih.

Agaknya Ki Patih tanggap bahwa ada sesuatu hal yang perlu segera mendapatkan perhatian. Maka sambil berpaling ke belakang Ki Patih pun berdesis perlahan, “Apakah ada sesuatu hal yang penting?”

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Lurah sambil beringsut setapak maju dan menghaturkan sembah, “Tadi sore ada prajurit sandi yang telah melaporkan perkembangan di sekitar tepian kali Praga.”

Kemudian Ki Lurah pun secara singkat segera melaporkan perkembangan yang ada di tepian kali Praga.

“Usahakan untuk menyelesaikan masalah ini malam ini juga,” perintah Ki Patih tetap dengan suara berbisik kepada Ki Lurah, “Perjalanan ini tidak boleh ditunda. Berikan kesan kepada mereka bahwa kita tetap kembali ke kota Raja malam ini sehingga kita segera tahu siapa sebenarnya mereka dan apa tujuannya.”

“Sendika Ki Patih,” berkata ki Lurah kemudian sambil beringsut mundur.

Demikianlah akhirnya ketika para prajurit yang sedang berjaga di banjar padukuhan induk malam itu melihat ada dua orang yang mencurigakan sedang mendekati dinding belakang banjar, Ki Lurah pun kemudian memerintahkan untuk membuat kesan bahwa Ki Patih tetap pada rencana semula untuk kembali ke kota Raja malam itu juga.

Dengan menyebarkan sebagian prajuritnya bersembunyi di halaman belakang banjar , Ki Lurah sendiri ternyata telah turun tangan untuk mengamati keadaan dan menunggu kedua orang yang mereka curigai itu memasuki halaman belakang banjar.

Demikianlah akhirnya usaha Ki Lurah dan anak buahnya dalam memberikan kesan kepada kedua orang yang menyusup ke halaman belakang banjar dapat dikatakan berhasil, menilik kedua orang yang dicurigai itu telah meninggalkan tempat.

Dalam pada itu, di pendapa agaknya Ki Patih telah memberikan titahnya.

“Ki Gede Ental Sewu,” berkata Ki Patih, “Setelah mendengarkan tujuan kalian ke Menoreh ini untuk mencari Ki Jayaraga dan bukan semata-mata bergabung dengan pasukan Panembahan Cahya Warastra, aku berjanji akan membantu kalian mengajukan pertimbangan kepada Sinuhun Panembahan Hanyakrawati untuk memohon keringanan atas kesalahan kalian terhadap Mataram,” Ki Patih berhenti sejenak sambil memandang ke arah Ki Gede Ental Sewu yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Lanjutnya kemudian, “Namun dengan demikian bukan berarti kalian bebas dari segala tuduhan. Pernyataan kalian untuk bersetia kepada Mataram masih harus diuji.”

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Gede Ental Sewu, “Perguruan Ental Sewu di lereng gunung Sindoro siap menerima hukuman apa saja yang akan dijatuhkan oleh pemerintahan Mataram. Namun permohonan kami pribadi, ijinkanlah kami meluruskan permasalahan perguruan kami dengan Ki Jayaraga agar tidak ada lagi syak wasangka di antara kami.”

“Itu urusan Ki Gede,” sahut Ki Patih cepat, “Namun semua itu dapat ki Gede lakukan setelah urusan Ki Gede dengan Mataram selesai. Untuk itu aku akan membawa Ki Gede dan kedua muridmu malam ini juga bersama-sama dengan prajurit pengawal Kepatihan menuju ke Kota Raja. Untuk selanjutnya nanti terserah kepada Sinuhun Panembahan Hanyakrawati untuk mengabulkan permohonanmu.”

Sejenak wajah Ki Gede Ental Sewu memerah. Namun hanya sekejap wajah itu kembali tampak pasrah dan ikhlas menerima keputusan Ki Patih Mandaraka.

“Hamba Ki Patih,” berkata Ki Gede Ental Sewu kemudian sambil menghaturkan sembah, “Kami akan menjunjung tinggi setiap keputusan yang akan diambil oleh pemerintahan Mataram.”

Ki Patih tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Ki Jayaraga yang duduk di sebelah Ki Gede Menoreh hanya dapat menarik nafas dalam-dalam dengan kepala tertunduk.

“Ampun Ki Patih,” berkata Ki Gede Menoreh kemudian setelah sejenak mereka terdiam, “Sebelumnya kami mohon ijin untuk memperkenalkan sepasang suami istri yang ikut menghadap Ki Patih malam ini,” Ki Gede Menoreh berhenti sejenak. Kemudian sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah laki-laki dan perempuan yang rambutnya sudah putih semua itu, Ki Gede melanjutkan kata-katanya, “Sepasang suami istri itu adalah Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati beserta anak-anak angkat mereka.”

Sejenak Ki Patih mengangkat alisnya sambil melemparkan pandangan matanya ke arah orang-orang yang duduk di sekitar sepasang suami istri itu. Tanyanya kemudian sambil tersenyum, “Sebanyak itu?”

“Ampun Ki Patih,” Ki Citra Jati lah yang dengan serta merta menyahut sambil menyembah, “Tiga orang gadis-gadis inilah anak angkat kami, sedangkan Mlayawerdi ini termasuk paman mereka,” Ki Citra Jati berhenti sejenak. Kemudian sambil berpaling ke belakang dia melanjutkan, “Sedangkan keenam gadis-gadis yang duduk di belakang kami adalah para anak murid perguruan Pamulatsih.”

“Perguruan Pamulatsih?” ulang Ki Patih dengan nada sedikit ragu-ragu, “Bukankah perguruan itu tidak menerima murid kecuali perempuan?”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Citra Jati sambil berpaling ke arah salah satu murid perguruan Pamulatsih yang duduk di belakangnya.

Salah satu murid perguruan Pamulatsih yang berwajah bulat dan bertahi lalat di dagu segera beringsut maju. Katanya kemudian setelah menghaturkan sembah terlebih dahulu, “Ampun Ki Patih, hamba mewakili saudara-saudara seperguruan, mohon ijin menyampaikan permohonan kami.”

“Katakan,” sahut Ki Patih cepat.

Untuk sejenak gadis berwajah bulat itu justru telah membeku. Ketika saudara seperguruannya yang duduk di sebelahnya menggamit, baru lah dengan suara sedikit bergetar dia berkata, “Mohon ampun Ki Patih. Perguruan Pamulatsih telah bersalah membantu Panembahan Cahya Warastra. Untuk itu kami murid-murid Perguruan Pamulatsih dengan penuh kesadaran telah menyerahkan diri,” gadis itu berhenti sejenak untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja menjadi sangat kering. Lanjutnya kemudian, “Guru kami Nyi Ayu Rahutri telah tewas dalam pertempuran kemarin. Jika Ki Patih mengijinkan, mohon dapatlah kiranya jasad Nyi Ayu Rahutri kami semayamkan di padepokan Pamulatsih.”

Untuk beberapa saat Ki Patih terdiam sambil mengerutkan keningnya dalam-dalam. Sambil berpaling ke arah Ki Gede Menoreh, akhirnya Ki Patih pun bertanya, “Siapakah yang bertanggung jawab atas perguruan Pamulatsih sepeninggal Nyi Ayu Rahutri?”

Ki Gede Menoreh yang merasa mendapat pertanyaan dari Ki Patih justru sejenak telah menjadi bingung. Tanpa sadar Ki Gede Menoreh pun kemudian telah berpaling ke arah Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati.

“Ampun Ki Patih,” Nyi Citra Jati yang merasa bertanggung jawab atas keenam murid perguruan Pamulatsih itu segera menyembah sambil membungkukkan badan dalam-dalam. Katanya kemudian, “Hamba yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini, Ki Patih. Hamba telah membujuk mereka untuk menyerah sepeninggal Nyi Ayu Rahutri. Bahkan hamba berkeinginan untuk mempersaudarakan mereka berenam dengan anak-anak kami.”

Kembali Ki Patih mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepala, Ki Patih akhirnya berkata, “Baiklah. Untuk perguruan Pamulatsih aku serahkan pengawasannya kepada Ki Citra Jati dan Nyi Citra Jati. Mewakili pemerintahan Mataram, aku mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian dalam menghadapi pasukan Panembahan Cahya Warastra kemarin. Dan sekali lagi pemerintahan Mataram membutuhkan bantuan kalian untuk mengawasi perguruan Pamulatsih.”

Orang-orang yang hadir di pendapa itu tampak mengangguk-angguk. Sepeninggal Nyi Ayu Rahutri mereka memang beranggapan bahwa kekuatan perguruan Pamulatsih telah jauh menyusut. Yang tertinggal hanyalah murid-muridnya yang berada pada tataran yang masih jauh di bawah guru mereka.

“Nah,” berkata Ki Patih kemudian, “Kalian murid-murid perguruan Pamulatsih selanjutnya akan berada di bawah bimbingan Nyi Citra jati. Jika kalian berkeinginan mengebumikan jasad Nyi Ayu Rahutri itu di padepokan kalian, sebaiknya kalian membicarakannya terlebih dahulu dengan Nyi Citra Jati. Bukankah padepokan kalian terletak jauh di sebuah pulau kecil di ujung timur pulau Jawa? Pertimbangkanlah baik-baik masalah ini sebelum kalian memutuskannya.”

Kembali orang-orang yang berada di pendapa itu mengangguk-angguk.

Demikianlah akhirnya pertemuan di pendapa itu telah selesai. Ki Patih sejenak telah menyempatkan diri pergi ke pakiwan. Sedangkan Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya segera berkemas untuk mengikuti perjalanan Ki Patih kembali ke kota Raja. Sementara Ki Citra jati dan Nyi Citra Jati telah mengajak anak-anak angkatnya beserta keenam murid perguruan Pamulatsih kembali ke rumah yang sementara ini mereka gunakan sebagai tempat tinggal.

Dalam pada itu di dalam hutan dekat tepian kali praga, tampak telah berkumpul orang-orang yang berwajah keras, sekeras batu padas di gerojokan. Seorang yang berperawakan tinggi tegap dengan gelang-gelang besi di kedua belah tangannya tampak sedang membangunkan seseorang yang sedang tidur mendengkur bersandaran sebatang pohon. Orang itu terlihat sudah sangat tua sekali. Tubuhnya kecil bahkan cenderung agak bongkok. Namun yang membuat orang tinggi besar dengan gelang-gelang besi di kedua belah tangannya itu dadanya tergetar hebat adalah ketika pandangan matanya menangkap sebilah keris yang tampak terselip di lambung kiri orang tua renta itu, keris Kanjeng Kiai Sarpasri.

“Luar biasa,” desis orang tinggi besar itu dalam hati, “Eyang Guru baru saja tiba beberapa saat tadi menjelang sirep bocah. Bagaimana mungkin keris Kanjeng Kiai Sarpasri ini sudah kembali kepadanya?”

Namun orang tinggi besar itu tidak terlalu lama merenungi keris yang terselip di lambung kiri orang yang disebut Eyang Guru itu. Dengan perlahan orang tinggi besar itu segera berjongkok dan menyentuh kaki orang yang disebut Eyang Guru itu.

“Eyang Guru?” perlahan orang tinggi besar itu berdesis sambil menyentuh kaki Eyang Guru, “Petugas sandi kita telah datang dan mengabarkan bahwa malam ini juga Ki Patih Mandaraka akan kembali ke kota Raja.”

Eyang Guru itu ternyata tidak bergerak sama sekali. Bahkan suara dengkurnya terdengar menjadi semakin keras.

Sejenak orang tinggi besar itu ragu-ragu. Ada perasaan segan untuk kembali membangunkan Eyang Guru. Namun waktu telah berjalan terus dan malam telah mendekati pusatnya.

Ketika orang tinggi besar dengan gelang-gelang besi di kedua belah tangannya itu kemudian bangkit berdiri, tiba-tiba saja seseorang telah menggamitnya dari belakang.

Dengan cepat dia kemudian memutar tubuhnya, tampak seseorang sedang berdiri termangu-mangu di hadapannya.

“Rombongan Ki Patih telah mendekati kelokan jalan di pinggir hutan itu,” berkata orang yang menggamitnya itu kemudian.

Orang tinggi besar itu tidak menjawab. Sejenak dia menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah Eyang Guru yang masih terlihat tidur pulas bersandaran sebuah pohon.

“Apakah sebaiknya kita menyergap rombongan itu di padang perdu yang luas sebelum jalan menurun menuju ke tepian?” bertanya orang tinggi besar itu akhirnya.

Namun sebelum kawannya menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara tertawa lirih di belakang mereka.

Serentak kedua orang itu berpaling. Tenyata Eyang Guru itu telah duduk bersila di bawah pohon tempatnya bersandar. Sambil tetap terkekeh, Eyang Guru itu pun kemudian berkata, “Apakah kalian ingin membunuh diri?”

“Maksud Eyang Guru?” hampir bersamaan kedua orang itu bertanya sambil berlutut dan kemudian duduk bersila di hadapan Eyang Guru.

Eyang Guru sejenak memandang kedua orang yang telah duduk bersila di hadapannya. Katanya kemudian, “Orang dari Sela itu terlalu pengecut untuk pulang ke kota Raja hanya dengan pengawalnya. Ki Gede Menoreh dan para pengawal Tanah Perdikan ternyata telah mengawal rombongan itu,” Eyang Guru berhenti sejenak. Kemudian lanjutnya, “Selain itu di tepian kali Praga juga telah menunggu pasukan yang cukup besar jumlahnya. Dengan sekali isyarat, mereka akan berdatangan ke padang perdu itu untuk membantai kalian.”

Kedua orang yang duduk di hadapan Eyang Guru itu hampir bersamaan telah mengerutkan kening. Hampir saja terloncat sebuah pertanyaan dari mulut mereka. Namun mereka segera menyadari, tentu Eyang Guru mereka itu lebih tahu dari pada para petugas sandi.

“Jadi, bagaimana selanjutnya Eyang Guru? Di manakah sebaiknya kita mencegat rombongan Ki Patih?” bertanya orang yang tinggi tegap itu kemudian.

Untuk beberapa saat Eyang Guru terdiam. Sambil menebarkan pandangan matanya ke sekitarnya, Eyang Gurur pun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Marilah kita tinggalkan tempat ini. Agaknya malam ini kita kurang beruntung. Orang dari Sela itu terlalu pengecut untuk menghadapi perang tanding beradu dada denganku. Kita masih banyak kesempatan di lain waktu.”

Selesai berkata demikian, tanpa mempedulikan kedua orang yang masih duduk bersila di atas tanah yang lembab, Eyang Guru pun kemudian melangkah menerobos lebatnya hutan menuju ke arah timur.

Kedua orang yang sedang duduk bersila di atas tanah yang lembab itu hanya dapat saling pandang. Namun mereka berdua tidak berani membantah keputusan yang telah dibuat oleh Eyang Guru mereka. Maka keduanya pun kemudian segera berdiri dan memberi isyarat kepada kawan-kawan mereka yang sedang bersembunyi di dalam hutan itu untuk segera bergerak ke arah timur mengikuti Eyang Guru mereka.

Dalam pada itu Ki Patih dan rombongannya telah mencapai kelokan jalan setapak yang menjelujur di pinggir hutan sebelah utara padukuhan induk. Ki Gede Menoreh dan Ki Jayaraga beserta sekelompok pengawal Menoreh ternyata telah menyertai perjalanan Ki Patih sampai ke tepian kali Praga.

“Jalan-jalan akan semakin ramai jika hutan di sebelah timur ini mulai dibuka untuk sebuah padukuhan, Ki Gede,” berkata Ki Patih yang berkuda di sebelah kanan Ki Gede Menoreh.

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede Menoreh, “Memang kami telah berencana untuk membuka sebagian hutan sebelah timur ini untuk sebuah padukuhan. Dengan demikian hubungan antara penyeberangan kali Praga dan Padukuhan kecil yang berada di sebelah utara Padukuhan induk tidak terputus. Selama ini hanya jalan setapak di tepi hutan inilah yang menjadi jalan penghubung.”

Ki Patih mengangguk-anggukakn kepalanya. Sesekali pandangan matanya terlempar jauh ke depan, ke kegelapan yang membentang seolah tak berujung.

“Apakah sudah ada tanda-tanda kehadiran mereka?” tiba-tiba Ki Patih berbisik kepada Ki Lurah Prajurit pengawal Kepatihan yang berkuda beberapa langkah di belakangnya.

“Ampun Ki Patih,” jawab Ki Lurah sambil sedikit memacu kudanya ke depan mendekati Ki Patih, “Menurut berita dari prajurit sandi sore tadi, mereka berada di ujung hutan dekat tepian kali Praga. Menurut hemat hamba, mereka tidak akan mungkin menyerang rombongan ini di dekat tepian, karena Ki Tumenggung Tirtayudha telah menempatkan sepasukan prajurit Jalamangkara di sekitar tepian.”

Ki Patih menarik nafas dalam-dalam sambil mengerutkan kening. Berbagai pertimbangan memang sempat bergolak dalam dada orang yang semasa mudanya bergelar Ki Juru Mertani itu. Ada keinginan untuk segera mengetahui siapakah sebenarnya sekelompok orang yang berada di ujung hutan dekat tepian itu? Namun dengan pengamanan yang telah dilakukan oleh Ki Tumenggung Tirtayudha sepanjang perjalananya, kemungkinannya sangat kecil jika sekelompok orang-orang yang tak di kenal itu akan mencegat perjalanannya.

Sebenarnya Ki Patih telah memerintahkan untuk memancing sekelompok orang tak dikenal itu sore tadi kepada Ki Lurah prajurit pengawal Kepatihan. Namun agaknya Ki Tumenggung Tirtayudha yang memegang kendali pengamanan perjalanannya sampai ke kota Raja tidak mau mengambil tindakan gegabah.

“Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan trah Sultan Demak itu?” berkata Ki Patih dalam hati sambil terus memacu kudanya dengan derap yang ajeg, “Ki Ajar Serat Gading telah menyebutnya. Jika memang ada sekelompok orang yang sedang memperjuangkan trah Sultan Demak untuk kembali bertahta di negeri ini, sebenarnya lah mereka hanya bermimpi di siang hari.”

Kembali pandangan mata Ki Patih terlempar jauh ke arah kegelapan di hadapannya. Ingatannya kembali ke masa kerajaan Pajang masih tegak berdiri. Sejak Ki Gede`Pemanahan memutuskan untuk meninggalkan istana Pajang dan membuka alas Mentaok, Ki Patih Mandaraka yang pada waktu itu masih bergelar Ki Juru Mertani sudah dapat merasakan akan adanya perpecahan dan persaingan yang sangat tajam dalam memperebutkan kekuasaan di negeri ini.

Tanpa terasa kaki-kaki kuda rombongan Ki Patih itu telah mulai melintasi padang perdu yang cukup luas. Untuk beberapa saat mereka dapat memacu kuda-kuda mereka lebih cepat. Setelah mencapai jalan yang sedikit menurun, mulailah kaki-kaki kuda mereka menginjak tanah yang sedikit berpasir pertanda bahwa rombongan Ki Patih itu telah mendekati tepian kali Praga.

Tanpa sadar, hampir setiap orang yang ada dalam rombongan itu telah menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya kekawatiran yang selama ini menghantui perjalanan mereka telah sirna. Ki Patih dan para prajurit pengawal Kepatihan akan segera menyeberangi kali Praga dengan pengawalan ketat sepasukan prajurit Jalamangkara.

Beberapa prajurit yang berjaga di tepian itu segera menyambut kedatangan rombongan Ki Patih. Kuda-kuda mereka telah dipisahkan dan dinaikkan ke rakit khusus serta dijaga oleh beberapa prajurit. Sedangkan ki Patih dan Ki Tumenggung Tirtayudha serta Ki Gede Ental Sewu dan kedua muridnya akan berada dalam satu rakit. Sementara para prajurit pengawal Kepatihan berada di rakit yang lain.

“Terima kasih Ki Gede Menoreh,” berkata Ki Patih kepada Ki Gede yang bediri beberapa langkah di depan Ki Patih sambil memegangi kendali kudanya, “Atas nama Mataram, aku mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dharma bhakti yang ditunjukkan Tanah Perdikan Menoreh kepada pemerintahan Mataram.”

“Hamba Ki Patih,” jawab Ki Gede Menoreh sambil membungkuk, “Demi tegaknya panji-panji kebesaran Mataram di atas tanah ini, kami para penghuni Tanah Pedikan Menoreh rela berkorban jiwa dan raga.”

Ki Patih tersenyum mendengar janji kepala tanah Perdikan Menoreh itu. Katanya kemudian sambil berpaling ke arah Ki Jayaraga, “Atas nama Mataram, aku juga mengucapkan terima kasih atas bantuan Ki Jayaraga selama ini.”

“Sendika Ki Patih,” jawab Ki Jayaraga sambil membungkukkan badannya dalam-dalam, “Hamba bukanlah orang yang pantas mendapatkan perlakuan khusus. Hamba tidak lebih dari salah satu penghuni tanah Perdikan Menoreh.”

“Ah,” Ki patih tertawa pendek. Jawabnya kemudian, “Seorang penghuni Tanah Perdikan Menoreh yang mampu membakar hutan dan mengeringkan lautan.”

Sejenak ki Jayaraga mengerutkan keningnya mendengar kelakar Ki Patih. Katanya kemudian, “Ampun ki Patih, hamba tidak berani membakar hutan karena selain akan dapat menimbulkan banjir, tentu ki Gede Menoreh tidak akan pernah mengijinkan. Sedangkan untuk mengeringkan lautan hamba tidak tahu harus memakai alat apa.”

Orang-orang yang mendengar kelakar ki Jayaraga pun tidak dapat menahan tawa mereka.

“Baiklah,” berkata Ki Patih kemudian, “Semoga disisa perjalanan malam ini tidak ada satu pun aral yang melintang.”

“Hamba Ki Patih,” hampir bersamaan orang-orang yang berada di tepian itu menjawab.

Demikianlah akhirnya rombongan Ki Patih segera menaiki rakit masing-masing, sedangkan Ki Gede Menoreh dan Ki Jayaraga serta para pengawal Tanah Perdikan Menoreh segera bersiap-siap untuk kembali ke padukuhan induk.

Ketika Ki Patih mulai menaiki rakit dan menyeberangi kali Praga yang airnya tampak kehitam-hitaman dalam kegelapan malam, lamat-lamat dari padukuhan kecil di seberang kali Praga terdengar suara kentongan dipukul dengan nada dara muluk yang menandakan bahwa malam telah sampai pada pusatnya.

“Kita akan sampai di kota Raja menjelang dini hari,” berkata Ki Patih kepada Ki Tumenggung Tirtayudha yang berdiri di sebelahnya.

“Sendika Ki Patih,” jawab Ki Tumenggung, “Memang kita tidak mungkin berpacu terlalu cepat di malam hari melewati padukuhan-padukuhan. Apalagi jika kita sudah memasuki kota Raja, akan dapat menimbulkan kegelisahan kepada para penghuni kota Raja, dan bahkan tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan kesalah pahaman dengan para prajurit yang sedang bertugas.”

Ki Patih tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ketika Ki Patih kemudian melemparkan pandangan matanya ke seberang, tampak dalam gelapnya malam sepasukan prajurit telah siap menyambutnya.

“Pengawalan yang berlebihan,” desis Ki Patih perlahan. Namun desis yang hanya perlahan itu ternyata telah membuat Ki Tumenggung Tirtayudha mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Ampun Ki patih,” berkata Ki Tumenggung kemudian, “Kami tidak mau mengulangi kesalahan yang telah terjadi di tanah pekuburan pagi tadi. Perang tanding itu seharusnya tidak perlu terjadi karena keselamatan Ki Patih di atas segala-galanya. Kami tidak ingin kejadian itu terulang lagi malam ini. Kekuatan lawan belum dapat kita jajagi sepenuhnya sehingga kami telah memilih langkah pengamanan terlebih dahulu.”

Ki Patih tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang tampak terangguk-angguk. Agaknya ki Patih dapat mengerti jalan pikiran ki Tumenggung yang lebih memilih keselamatan dirinya dari pada membuat permainan yang ujung-ujungnya akan menghadapkan dirinya untuk berperang tanding dengan lawan yang belum diketahui kekuatannya.

“Nah, Raden! Jangan merajuk. Tataplah langit peluklah bumi, jangan rindukan lagi Matahari esok pagi!”

Selesai berkata demikian, Bango Lamatan pun segera melancarkan serangannya. Dengan sebuah loncatan panjang, kaki kirinya lurus meluncur deras mengarah ke dada Raden Mas Rangsang yang berdiri beberapa tombak di hadapannya.

Raden Mas Rangsang yang telah mempersiapkan diri sebelumnya sebera menggeser kedudukannya selangkah ke kiri. Ketika kaki kiri lawannya yang terjulur lurus itu lewat sejengkal dari dadanya, kedua tangan Raden Mas Rangsang itu pun telah berusaha untuk menangkap pergelangan kaki lawannya.

Bango Lamatan yang sudah kenyang makan asam garamnya pertempuran itu segera menggeliat di udara sambil menarik kakinya yang terjulur lurus. Demikian kaki kirinya itu berhasil ditarik, sebagai gantinya tangan kanan Bango Lamatan terayun deras memukul tenguk.

Tentu saja perawis tahta Mataram itu tidak akan membiarkan tenguknya patah terkena sambaran serangan lawan. Dengan sedikit merundukkan kepalanya, tangan kanan Raden Mas Rangsang yang justru telah mengancam ulu hati Bango Lamatan.

Demikianlah sejenak kemudian pertempuran di tegal kepanasan itu semakin lama menjadi semakin sengit. Walaupun Raden Mas Rangsang masih terhitung sangat muda, namun kemampuan olah kanuragan serta kekuatannya benar-benar ngedab-edabi. Ketika sesekali terjadi benturan yang tak terelakkan antara keduanya, Bango Lamatan benar-benar dibuat terkejut bukan alang-kepalang. Kekuatan Pangeran Pati Mataram itu benar-benar setara dengan kekuatan seekor banteng ketaton.

Dalam pada itu Matahari telah berada tepat di atas ubun-ubun. Sinarnya yang garang telah membakar tegal kepanasan, namun kedua orang yang sedang menyabung nyawa itu benar-benar sudah tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Keduanya bagaikan dua ekor singa yang sedang berlaga mempertaruhkan nyawa, hidup atau mati.

Namun Bango Lamatan adalah tokoh angkatan tua yang jauh lebih berpengalaman dari pada Raden Mas Rangsang. Penggunaan nalar serta perhitungannya lebih matang dari lawannya yang masih muda, sehingga lambat laun keadaan pewaris tahta Mataram itu sedikit demi sedikit terlihat mulai terdesak.

“Raden,” berkata Bango Lamatan kemudian sambil terus melancarkan serangan mendesak lawannya, “Lebih baik Raden menyerah. Aku berjanji tidak akan menyakiti Raden di saat-saat terakhir Raden.”

“Diam!” bentak Raden Mas Rangsang sambil menloncat mundur beberapa tombak.

Melihat lawannya mengambil jarak, Bango Lamatan tidak mengejar. Dia justru hanya berdiri tegak di atas kedua kakinya yang renggang sambil tertawa berkepanjangan.

“Sudahlah Raden. Tidak ada gunanya. Menyerahlah!” berkata Bango Lamatan kemudian masih sambil tertawa.

Namun suara tertawa Bango Lamatan itu tiba-tiba saja terputus begitu dia menyadari ada sesuatu yang tidak wajar sedang terjadi pada diri lawannya. Tampak sebuah asap tipis kemerah-merahan mengepul dari ubun-ubun Putra Mahkota itu. Sementara dari kedua bola matanya yang sedang memandang tajam ke arahnya, muncul selarik sinar kebiru-biruan bagaikan mata seekor kucing yang bersinar dalam gelap.

“Sebuah pertanda telah menyatunya wahyu keprabon dalam diri anak muda ini,” berkata Bango Lamatan dalam hati dengan jantung yang berdegup semakin kencang.

“Ki Bango Lamatan!” terdengar Pangeran Pati itu menggeram membuyarkan lamunan lawannya, “Atas nama pemerintah Mataram, menyerahlah! Aku akan mengusahakan keringanan hukuman di hadapan Ayahanda Panembahan Hanyakrawati jika engkau menyerah dengan baik-baik. Namun kalau engkau tetap bersikukuh ingin membunuhku, jangan salahkan aku kalau petualangan seorang Bango Lamatan akan berakhir di tegal kepanasan ini.”

BERSAMBUNG…

—ooOoo—

6 Comments (+add yours?)

  1. Hari
    Mar 11, 2016 @ 14:35:38

    ceritanya bagus, cuman klo diperpanjang terus tanpa ending rasa2nya jadi njlimet, bikin kepala pusing…saya lebih menyukai perubahan judul seperti yg dilakukan mas agus(mataram binangkit), krn puncak alur cerita sdh hampir mencapai klimaks

    Reply

  2. yadi
    Mar 16, 2016 @ 09:10:25

    tuntasin saja saja sampai nasib Pangeran Ranapati jelas. Artinya tugas Agung Sedayu dan Glagah Putih juga tuntas.
    Adapun kalau mau dilanjut dengan judul baru, ialah jodohkan saja Sukra dengan Anjani, biar pembaca cemburu sama Sukra……….. lol

    Reply

  3. Moxer
    Apr 03, 2016 @ 06:42:49

    versi mbah man ini yg plg menarik.
    saran:jgn segan mmbuat ker.mataram ini menjadi waaah, setidaknya mnjd ker.terbesar setelah majapahit.so, musti ada armada lautnya nih buat mmperluas teritori. jgn terpaku pd sejarah(masak cmn ilmu/aji aja yg di wah🙂
    Agung S musti jg brperan aktif dlm pembangunan dn perluasan, jgn hny dijadiin bodyguard/tukang pukul.dia kan pny bakat ruaarr biasaa :))
    maaf klo ada kata yg salah, trims

    Reply

  4. Log on
    Apr 05, 2016 @ 09:44:03

    Peperangan demi peperangan yg terjadi sejak awal berdirinya Mataram selalu karena konflik antar saudara/keluarga, rasanya menjengkelkan sekali😦
    seringkali cerita2 silat yg pernah saya baca(tdk hny adbm) selalu tidak logis dlm hal waktu/usia seseorang dirunut dr kejadian demi kejadian, juga dlm hal generasi yg selalu lbh tinggi ilmu kanuragannya dibanding generasi sebelumnya padahal alur jaman menunjukkan degradasi🙂, yg meningkat hanyalah kecerdasan berpikir

    Reply

  5. Kendilwesi
    Apr 10, 2016 @ 11:43:44

    Kapan mbah Man… jilid2 selanjutnya nih. 👍👍👍 mau dikluarin. Sy selalu tunggu top markotop.

    Reply

  6. dik Har
    Jun 18, 2016 @ 17:40:34

    Saya setuju dengan komentar nya mas Hari dan yang lainnya di atas.

    Tolong tuntasin deh maksimal dalam 10 jilid lagi. Alasan saya : MUNGKIN pembaca serial ADBM ini kebanyakan adalah ” remaja ” di tahun 80 – an. Jadnya kepenginnya ada yang ” baru”.

    Boleh tanya , siapakan jati diri Mbah Man ini ???

    Ditelisik menurut tutur bahasanya ( mohon maaf kalau salah) , Mbah Man ini kira -kira sahabat dari alm. Bapak SH.Mintarjo , kayak Ki Tanu Metir dengan Ki Waskita begitu.

    “MBAH MAN ” , apakah benar Mbah Man itu “kakek buyutnya ” Sangadji dan Titisasi , murid utama pendekar pejuang nomor wahid dari dari Banten Kyai Kasan Kosambi ???
    Salam

    Reply

Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: