Pedang Tetesan Embun 06

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

06 – Berjumpa Dengan Kakek

Tak mungkin menghindar, tanpa pikir panjang, tangan kanannya dilintangkan menutupi wajah. Crap! Seberkas sinar bagai kilat itu segera menancap! Dan, bagai tetes air bersatu dengan sumbernya, benda itu menyusup di telapak tangan pemuda itu.

“Arrrgh!” jeritan bagai raungan hewan terluka memecahkan gemuruh hujan lebat, rasa sakit yang belum pernah dirasakan membuat Yoga meraung kesakitan, melupakan adiknya yang tengah tertidur.

Raungan Yoga jelas mengagetkan Bayu, pecah pula tangis bayi meningkahi derasnya hujan. Gemuruh petir yang saling sahut ternyata tidak bisa menelan jeritan Yoga.

Jauh dari tempat Yoga menerima musibah, kakek yang tengah duduk bersila mengerutkan kening, dia mendengar pekikan itu. “Ah, sebuah kematian yang lain…” gumamnya dengan kerut makin bertambah di keningnya.

More

Pedang Tetesan Embun 05

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

05 – Menerobos Lembah Angin

Yoga makin dalam masuk ke Lembah Angin. Jarak pandangnya hanya sejengkal, mungkin lebih, tapi tidak cukup membantu, sebab dia hanya bisa me1ihat tangannya sendiri, satu langkah kedepan, sama sekali tak bisa dia lihat. Kabut begitu pekat, dan menyesakkan pernafasan. Hanya berbekal kepekaan rasa sajalah, membuat Yoga dapat menempatkan kakinya di permukaan tanah yang keras.

Berhubung dia sudah sangat letih, kehati-hatiannya tak urung makin turun. Sebelah kakinya terperosok ke dalam lumpur, membuat dia kehilangan keseimbangan dan nyaris saja jatuh terjerembab.

More

Pedang Tetesan Embun 04

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

04 – Melarikan Diri

Tapi Suta Sena tidak pernah muncul lagi, satu hari, satu minggu, satu bulan, hingga empat bulan! Hal itu yang membuat keluarga Suta Sena jadi makin kawatir, sebab sikap semua orang tak lagi sungkan, bahkan dengan terang-terangan berani menghina dan makin mengintimidasi.

Tentu saja sebagai anak sulung, Yoga Sena harus melindungi ibu, dan adiknya yang masih bayi.

Tapi lambat launpun dia bisa membaca situasi, orang-orang itu akan mencelakai mereka. Diam-diam dia sudah merencanakan untuk kabur, adalah sebuah keuntungan, karena mereka adalah keluarga pelayan, tempat tinggalnya justru ada di luar komplek keluarga Dahanagni.

More

Pedang Tetesan Embun 03

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

03 – Pertarungan

Suta Sena berkacak pinggang. “Jangan lupa, aku hanya menghadapimu dengan jari kelingkingku saja!” katanya tak ambil pusing dengan perubahan aura lawannya.

Seluruh orang di ruangan itu merasakan tekanan sangat hebat berpendar dari tubuh Manda Paradipa, lamat-lamat muncul asap kemerahan.

“Huh! Api Pembakar Dunia tingkat berapapun yang kau punya, silahkan kau pakai!” seru Suta Sena tetap menganggap remeh, padahal tiap orang disitu mengetahui, Ilmu Api Pembakar Dunia adalah, salah satu sembilan ilmu mustika.

More

Pedang Tetesan Embun 02

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

02 – Bibit Masalah

Dalam dunia persilatan ada lima keluarga yang tenar karena keahliannya. Pertama: Sandhaka, mereka adalah keluarga yang mengkhususkan pada kemahiran pedang. Kedua: Jawaraga, mereka adalah para pencipta senjata, dan ahli bangunan. Ketiga: Tumparaka, para ahli golok selalu merujuk pada keluarga ini. Keempat: Gumilata, begitu banyak benda aneh diciptakan keluarga ini, mulai dari senjata rahasia sampai racun mematikan. Dan terakhir, yang kelima: Dahanagni, tidak ada yang tahu apa kemahiran khas keluarga itu. Mereka dicantumkan sebagai salah satu keluarga besar dalam dunia persilatan, karena satu hal. Sapang Saroruha. Ya, nama legendaris dari penolong dunia persilatan pada tiga belas dasawarsa lampau, membuat keluarga Dahanagni bisa menancapkan kewibawaan di dunia persilatan.

More

Pedang Tetesan Embun 01

PEDANG TETESAN EMBUN

Oleh: Didit

01 – Prolog

Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
Dan bahwa seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,
 Dan bahwa usaha itu kelak akan diperlihatkan
Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,
Dan bahwa kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu,
Dan bahwa dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
Dan bahwa Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
Dan bahwa Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.
Dari air mani, apabila dipancarkan.
(Serat Lintang, larik-38 sampai larik-46)

Di sebuah hutan, tampak seorang kakek tua menghela nafas, dia membaca penggalan kalimat itu dengan penyakinan dan perenungan mendalam. Secarik tulisan dari kulit kambing yang ada di tangan kakek itu sudah kusam, tulisannyapun tidak sama dengan yang dikenal masyarakat pada umumnya. Membaca tulisan itu lagi, wajah tuanya terlihat damai, meski ada segurat luka menghiasi parasnya.

More